Oleh : BRM Panji Anom Resiningrum
Huruf atau carakan Jawa yakni ha na ca ra ka dan seterusnya merupakan sabda pangandikanipun) dari Tuhan YME di tanah Jawa.
A. Pembukaan Huruf Jawa
1. Huruf Ha
Berarti ‘hidup’, atau huruf berarti juga ada hidup, sebab memang hidup itu ada, karena ada yang menghidupi atau yang memberi hidup, hidup itu adalah sendirian dalam arti abadi atau langgeng tidak terkena kematian dalam menghadapi segala keadaan. Hidup tersebut terdiri atas 4 unsur yaitu:
a. Api
b. Angin
c. Bumi
d. Air
2. Huruf Na
Berari ‘nur’ atau cahaya, yakni cahaya dari Tuhan YME dan terletak pada sifat manusia.
3. Huruf Ca
Berarti ‘cahaya’, artinya cahaya di sini memang sama dengan cahaya yang telah disebutkan di atas. Yakni salah satu sifat Tuhan yang ada pada manusia. Kita telah mengetahui pula akan sifat Tuhan dan sifat-sifat tersebut ada pada yang dilimpahkan Tuhan kepada manusia karena memang Tuhan pun menghendaki agar manusia itu mempunyai sifat baik.
4. Huruf Ra
Berarti ‘roh’, yaitu roh Tuhan yang ada pada diri manusia.
5. Huruf Ka
Berarti ‘berkumpul’, yakni berkumpulnya Tuhan YMEyang juga terletak pada sifat manusia.
6. Huruf Da
Berarti ‘zat’, ialah zatnya Tuhan YME yang terletak pada sifat manusia.
7. Huruf Ta
Berarti ‘tes’ atau tetes, yaitu tetes Tuhan YME yang berada pada manusia.
8. Huruf Sa
Berarti ‘satu’. Dalam hal ini huruf sa tersebut telah nyata menunjukkan bahwa Tuhan YME yaitu satu, jadi tidak ada yang dapat menyamai Tuhan.
9. Huruf Wa
Berarti ‘wujud’ atau bentuk, dalam arti ini menyatakan bahwa wujud atau bentuk Tuhan itu ada dalam manusia yang setelah bertapa kurang lebih 9 bulan dalam gua garba ibu lalu dilahirkan dalam wujud diri.
10. Huruf La
Berarti ‘langgeng’ atau ‘abadi’, la yang mengandung arti langgeng ini juga nyata menunjukkan bahwa hanya Tuhan YME sendirian yang langgeng di dunia ini, berarti abadi pula untuk selama-lamanya.
11. Huruf Pa
Berarti ‘papan’ atau ‘tempat’, yaitu papan Tuhan YME-lah yang memenuhi alam jagad raya ini, jagad gede juga jagad kecil (manusia).
12. Huruf Dha
Berarti dhawuh, yiatu perintah-perintah Tuhan YME inilah yang terletak dalam diri dan besarnya Adam, manusia yang utama.
13. Huruf Ja
Berarti ‘jasad’ atau ‘badan’. Jasad Tuhan YME itu terletak pada sifat manusia yang utama.
14. Huruf Ya
Berarti ‘dawuh’. Dawuh di sini mempunyai lain arti dengan dhawuh di atas, karena dawuh berarti selalu menyaksikan kehendak manusia baik yang berbuat jelek maupun yang bertindak baik yang selalu menggunakan kata-katanya “Ya”.
15. Huruf Nya
Berarti ‘pasrah’ atau ‘menyerahkan’. Jelasnya Tuhan YME dengan ikhlas menyerahkan semua yang telah tersedia di dunia ini.
16. Huruf Ma
Berarti ‘marga’ atau ‘jalan’. Tuhan YME telah memberikan jalan kepada manusia yang berbuat jelek dan baik.
17. Huruf Ga
Berarti ‘gaib’, gaib dari Tuhan YME inilah yang terletak pada sifat manusia.
18. Huruf Ba
Berarti ‘babar’, yaitu kabarnya manusia dari gaibnya Tuhan YME.
19. Huruf Tha
Berarti ‘thukul’ atau ‘tumbuh’. Tumbuh atau adanya gaib adalah dari kehendak Tuhna YME. Dapat pula dikatakan gaib adalah jalan jauh tanpa batas, dekat tetapi tidak dapat disentuh, seperti halnya cahaya terang tetapi tidak dapat diraba atau pun disentuh, dan harus diakui bahwa besarnya gaib itu adalah seperti debu atau terpandang. Demikianlah gaibnya Tuhan YME itu (micro binubut).
20. Huruf Nga
Berarti ‘ngalam’, ‘yang bersinar terang’, atau terang/gaib Tuhan YME yang mengadakan sinar terang.
Demikianlah huruf Jawa yang 20 itu dan ternyata dapat digunakan sebagai lambang dan dapat diartikan sesuai dengan sifat Tuhan sendiri, karena memang seperti yang telah diuraikan sebelumnya bahwa Jawa yang menggunakan huruf Jawa itupun merupakan sabda dari Tuhan YME.
Huruf atau carakan Jawa yakni ha na ca ra ka dan seterusnya merupakan sabda pangandikanipun) dari Tuhan YME di tanah Jawa.
B. Penyatuan Huruf atau Aksara Jawa 20
1. Huruf Ha + Nga
Hanga berarti angan-angan.
Dimaksudkan dengan angan-angan ini ialah panca indra yaitu lima indra, seperti:
1. Angan-angan yang terletak di ubun-ubun (kepala) yang menyimpan otak untuk memikir akan keseluruhan keadaan.
2. Angan-angan mata yang digunakan untuk melihat segala keadaan.
3. Angan-angan telinga yang dipakai untuk mendengar keseluruhan keadaan.
4. Angan-angan hidung untuk mencium/membau seluruh keadaan.
5. Angan-angan mulut yang digunakan untuk merasakan dan mengunyah makanan.
2. Huruf Na + Ta
Noto, berarti ‘nutuk’.
3. Huruf Ca + Ba
Caba, berarti coblong (lobang) dan kata tersebut di atas berarti wadah atau tampat yang dimilki oleh lelaki atau wanita saat menjalin rasa menjadi satu; adanya perkataan kun berarti pernyataan yang dikeluarkan oleh pria dan wanita dalam bentuk kata ya dan ayo dan kedua kata tersebut mempunyai persamaan arti dan kehendak yaitu mau.
4. Huruf Ra + Ga
Raga, berarti ‘badan awak/diri’. Kata raga atau ragangan merupakan juga kerangka dan kehendak pria dan wanita ketika menjalin rasa menjadi satu karena bersama-sama menghendaki untuk menciptakan raga atau diri agar supaya dapat terlaksana untuk mendapatkan anak.
5. Huruf Ka + Ma
Kama, berarti ‘komo’ atau biji, bibit, benih. Setiap manusia baik laki-laki atau wanita pastilah mengandung benih untuk kelangsungan hidup; oleh karena itu di dalam kata raga seperti terurai di atas merupakan kehendak pria dan wanita untuk menjalin rasa menjadi satu. Karena itulah maka kata raga telah menunjukkan adanya kedua benih yang akan disatukan dengan melewati raga, dan dengan penyatuan kama dari kedua belah pihak itu maka kelangsungan hidup akan dapat tercapai.
6. Huruf Da + Nya
Danya atau donya atau dunia.
Persatuan kedua benih atau kama tadi mengakibatkan kelahiran, dan kelahiran ini merupakan calon keturunan di dunia atau (alam) donya; dengan demikian dapat dipahami kalau atas kehendak Tuhan YME maka diturunkanlah ke alam dunia ini benih-benih manusia dari Kahyangan dengan melewati penyatuan rasa kedua jenis manusia.
7. Huruf Ta + Ya
Taya atau toya, yaitu ari atau banyu. Kelahiran manusia (jabang bayi) diawali dengan keluarnya air (kawah) pun pula kelahiran bayi tersebut juga dijemput dengan air (untuk membersihkan, memandikan dsb); karena itulah air tersebut berumur lebih tua dari dirinya sendiri disebut juga mutmainah atau sukma yang sedang mengembara dan mempunyai watak suci dan adil.
8. Huruf Sa + Ja
Saja atau siji atau satu. Pada umumnya kelahiran manusia (bayi) itu hanya satu, andaikata jadi kelahiran kembar maka itulah kehendak Tuhan YME. Dan kelahiran satu tersebut menunjukkan adanya kata saja atau siji atau satu.
9. Huruf Wa + Da
Wada atau wadah atau tempat. Berbicara tentang wadah atau tempat, sudah seharusnya membicarakan tentang isi pula, karena kedua hal tersebut tidak dapat dipisah-pisahkan. Dengan demikian timbul pertanyaan mengenai wadah dan isi, siapakah yang ada terlebih dahulu.
Pada umumnya dikatakan kalau wadah harus diadakan terlebih dahulu, baru kemudian isi, sebenarnya hal ini adalah kurang benar. Yang diciptakan terlebih dahulu adalah isi, dan karena isi tersebut membutuhkan tempat penyimpanan, maka diciptakan pula wadahnya. Jangan sampai menimbulkan kalimat “Wadah mencari isi” akan tetapi haruslah “Isi mencari wadah” karena memang ‘isi’ diciptakan terlebih dahulu.
Sebagai contoh dapat diambilkan di sini: rumah, sebab rumah merupakan wadah manusia, dan manusia merupakan isi dari rumah. Jadi jelaslah bahwa sebenarnya isilah yang mencari wadah.
Sebagai bukti dari uraian di atas, dapatlah dijelaskan bahwa: kematian manusia berarti (raga) ditinggalkan isi (hidup). Bagai pendapat yang mengatakan “wadah terlebih dahulu diciptakan” maka mengenai kematian itu seharusnya wadah mengatakan supaya isi jangan meniggalkan terlebih dahulu sebelum wadah mendahului meninggalkan. Hal ini jelas tidak mungkin terjadi, apalagi kalau kematian itu terjadi dalam umur muda dimana kesenangan dan kepuasan hidup tersebut belum dialaminya.
Demikianlah persoalan wadah ini dengan dunia, karena sebelum dunia ini diciptakan (sebagai wadah) maka yang telah ada adalah (isinya) Tuhan YME. Pendapat lain mengatakan kalau sebelum diadakan jalinan rasa maka keadaan masih kosong (awangawung). Tetapi setelah jalinan rasa dilaksanakan oleh pria dan wanita maka meneteslah benih dan apabila benih tadi mendapatkan wadahnya akan terjadi kelahiran. Sebaliknya kalau wadah tersebut belum ada maka kelahiran pun tidak akan terjadi, yang bearti masih suwung atau kosong. Meskipun begitu, “hidup’ itu tetap telah ada demikian pula “isi’, dan dimanakah letak isi tadi ialah pada ayah dan ibu. Maka selama ayah dan ibu masih ada maka hidup masih dapat membenihkan biji atau bibit.
10. Huruf La + Pa
Lapa atau mati atau lampus. Semua keadaan yang hidup selalu dapat bergerak, keadaan hidup tesebut kalau ditinggal oleh hidup maka disebut dengan mati. Sebenarnya pemikiran demikian itu tidak benar, akan tetapi kesalahan tadi telah dibenarkan sehingga menjadi salah kaprah. Sebab yang dikatakan mati tadi sebenarnya bukanlah kematian sebenarnya, akan tetapi hidup hanyalah meninggalkannya saja yaitu untuk mengembalikan semua ke asalnya, hidup kembali kepada yang menciptakan hidup, karena hidup berasal dari suwung sudah tentu kembali ke suwung atau kosong (awangawung) lagi. Akan tetapi sebenarnya dapatlah dikatakan bahwa suwung itu tetap ada sedangkan raga manusia yang berasal pula dari tanah akan kembali ke tanah (kuburan) pula.
Wallahua’lam
By alang alang
Januari 21, 2009 pukul 1:29 am |
arti yang bagus dari aksara jawa
penjabaran yang bisa diterima oleh akal
Dan mengandung falsafah yang dalam
Februari 12, 2009 pukul 10:13 am |
Kayaknya cuman ngepas ngpasin sama 2 huruf awalnya nih,
mana ada bahasa jawa ” ca=cahaya” yg ada co .bukannya aji soko Bikin huruf itu untuk mengenang 2 pengasuhnya yang sama sama meninggal karena sama sama memegan teguh perintah aji soko
Februari 17, 2009 pukul 3:59 pm |
jajal tak pahamane, opo to isine? kok ra mudeng aku
Maret 13, 2009 pukul 2:18 am |
Sembah nuwun waosanipun, mugi saget dadosno mongkok lan migunani minongko ‘generasi penerus’ingkang tansah kaget lan bingung pados cepengan uger nyupurupi fenomena2 yg lebih menjanjikan. top tenan…
Maret 25, 2009 pukul 1:15 pm |
Mas mohon izin untuk menyebarluaskan tulisan ini,,
tolong dilihat di http://www.wacananusantara.org/content/view/category/9/id/280, saya sudah menerbitkannya, jika ada salah pengutipan tolong hubungi di mail saya,
web wacana nusantara mempunyai tujuan “sebagai jembatan penghubung antara masa lalu dan masa kini”
terimaksihs..ebelumnya
Soe
April 29, 2009 pukul 3:28 am |
Nggih mbah, matur Nuwun, niki keng putro ingkang saweg ngupadi ing tlatah Sumatra Nyuwun sawab donganipun. Monggo kulo aturi rawuh ing sanggar .
Mei 6, 2009 pukul 4:18 pm |
Arti yg bgus,arti yg sma yg q dptkn dr guru q,smga tman” mngrt jg,lw lum mengrti phamilah sndri,
nga ta ba ga ma
nya ya ja da pa
la wa sa ta da
ka ra ca na ha
Mei 8, 2009 pukul 2:25 pm |
jebul…sansaya akeh sing dak waca …sansaya uuuuuaaakkkiiiiiiihhh sing ora dak mangerteni…( semakin banyak yang kita baca ternyata semakin banyak yang tidak kita ketahui )…
pramila…sumangga….he para mudha taruna
ndherek nguri-uri kabudayan bangsa ben ora sirna……………..
Mei 15, 2009 pukul 2:41 pm |
Konjuk ing asma daleme simbah sing ngaciptaake wacana, nek kulo ugi lepat nyuwun ngapunten dalem. Nek kulo teliti kok yo aksara jawa kwi meh padha ro sipat Gusthi Allah sakmenika ana 20 sipat.
Aksara jawa nek tak gagas jebul isine yo gusti allah ingkang maha dumadi, hanacaraka datasawala padajayanya magabathanga (ananing dzat kuwi panggone ning kaheningan,sipat sedulur papat manungsa padha-padha saktine dadi siji ditambah lima pancer,toh mengkone yo padha bali ning ngersaning sang illahi ananing ana baline yo ra ono)
kiro-kiro pripun niku mbah alang-alang?
Mei 26, 2009 pukul 5:03 pm |
Bawana ageng dan bawana alit .tlong diterjemahkan ke dalam bahasa indonesia mas kumitir.trims
September 16, 2009 pukul 9:19 am |
ya, bisa demikian. Klo lebih diteliti lagi, aksara jawa itu menerangkan tentang proses penciptaan manusia, hidup sampai mati. Yang belum ada itu aksara yang menerangkan ikhwal manusia setelah mati, adakah……?
Oktober 30, 2009 pukul 6:09 pm |
nek ngangsu kaweruh saitik itik disek,ojo dijaluk kabeh
September 19, 2009 pukul 4:10 pm |
Rahayu..
Nyuwun sewo…isinya sangat bagus untuk wewasan kita sebagai generasi nusantara khusunya untuk jawa, mohon ijin dengan tidak mengurangi rasa hormat dan penghargaan yang tinggi, isi dari artikel ini saya upload di website kami. sebelum dan sesudahnya kami ucapkan matur suwon engkang kathah dumateng Bpk. BRM Panji Anom Resiningrum
salam rahyu….
September 28, 2009 pukul 8:44 am |
Matur nuwun kula saged ambah seserepan; nanging ingkang aksara gandheng
an kok namung dumigi LA + PA ? ingkang PA + LA —- NGA + HA mbok nyuwun dipun jlentrehaken ta MAS ALANG_ALANG, kersanipun kula dalah para
sutresna sadaya sami tuntas anggenipun ngangsu kawruh. Kadosipun saking PA + LA dumugi NGA + HA kok inggih ngemu suraos ingkang lebet saha inggil.
Lajeng menawi nggandhengipun : HA + NA —– THA + NGA kadosipun kok ugi wonten suraosipun. Menawi nalika kula taksih wonten Sekolah Rakyat :
HA NA CA RA KA = ana utusan / DA TA SA WA LA = datan suwala (benceng karepe) / PA DHA JA YA NYA = padha wanine (padha sektine) / MA GA BA THA NGA = ati bareng dadi bathang (sampyuh). Nanging kadosipun isinipun mboten namung kados mekaten; mila menawi dipun onceki malih kula kinten menika ugi ajaran ingkang sae sanget. Nuwun.
September 28, 2009 pukul 8:44 am |
Matur nuwun kula saged nambah seserepan; nanging ingkang aksara gandheng
an kok namung dumigi LA + PA ? ingkang PA + LA —- NGA + HA mbok nyuwun dipun jlentrehaken ta MAS ALANG_ALANG, kersanipun kula dalah para
sutresna sadaya sami tuntas anggenipun ngangsu kawruh. Kadosipun saking PA + LA dumugi NGA + HA kok inggih ngemu suraos ingkang lebet saha inggil.
Lajeng menawi nggandhengipun : HA + NA —– THA + NGA kadosipun kok ugi wonten suraosipun. Menawi nalika kula taksih wonten Sekolah Rakyat :
HA NA CA RA KA = ana utusan / DA TA SA WA LA = datan suwala (benceng karepe) / PA DHA JA YA NYA = padha wanine (padha sektine) / MA GA BA THA NGA = ati bareng dadi bathang (sampyuh). Nanging kadosipun isinipun mboten namung kados mekaten; mila menawi dipun onceki malih kula kinten menika ugi ajaran ingkang sae sanget. Nuwun.
Desember 20, 2009 pukul 2:28 pm |
matur nuwun snged,,kulo dados paham artosipun WAdah ing jatining Rogo. rumiyin kulo sampun nate ngimpi ken madosaken susuhing Angin,,alhamdulilah saniki pun ngertos saking waosan Wa+da=wadah.