alangalangkumitir

Javanese Manuscripts

JAMAN KALABENDU


GEJALA MASYARAKAT YANG KEHILANGAN ARAH

Oleh : Ki Ageng Mangir

Kondisi masyarakat bangsa Indonesia saat ini sungguh sangat menyedihkan, dengan kondisi yang boleh dikatakan anarki. Aparat keamanan sama sekali tidak dianggap, tidak lagi mampu mengendalikan keadaan, tidak lagi merupakan lembaga yang kredibel bagi rakyat minta perlindungan. Di-kota-kota besar, juga dijalanan antar kota para preman dan kriminal berkeliaran mencari korban pemerasan tanpa rasa takut, setiap orang merasa was-was yang setiap saat bisa menjadi korban kriminalitas ataupun kekerasan dijalanan baik pada saat naik kendaraan maupun berjalan kaki.

 

Kita mulai mempertanyakan apa yang telah dan sedang terjadi dengan bangsa Indonesia yang membanggakan dirinya sebagai bangsa yang ramah tamah dan banyak senyum ? Apa jawaban dari gejala pertanda zaman ini ?

Mungkin kita bisa melakukan analisa dan mencoba mencari penyebabnya dan mungkin bisa menemukan obat mujarab untuk mengobati masyarakat bangsa Indonesia yang sedang sakit. Bahwa bangsa Jawa dengan warisan Budaya-nya pernah melukiskan suatu masa yang mirip dengan kondisi saat ini mungkin hanyalah suatu kebetulan ataukah suatu prediksi yang akurat bahwa kondisi seperti saat ini akan dialami oleh bangsa Jawa / Indonesia.

Penulis ber-ulang2 kali membaca Serat Centhini pada bagian tentang ramalan Jayabaya dan mencoba untuk mengerti maknanya dan relevansinya dengan zaman ini, terutama yang menjelaskan tentang masa yang dinamakan masa Kalabendu.

Note : Serat Centhini adalah buku dalam bahasa Jawa (aslinya ditulis memakai huruf Jawa) dalam bentuk tembang ‘macapat’ yang disuruh tulis oleh Pangeran Adipati Anom yang kemudian menjadi raja Surakarta – Sunan Pakubuwana V (1820 – 1823) pada kira-kira tahun 1814 yang terdiri dari dua belas jilid yang berisi kisah pelarian dari kedua putra dan satu putri dari Sunan Giri ketika kerajaan Giri di Jawa Timur dijatuhkan oleh Sultan Agung dari Mataram dan kisah perjalanan ini yang merekam banyak kisah, cerita, legenda, kepercayaan, tata-cara budaya Jawa dari ujung ke ujung Pulau Jawa yang meliputi banyak daerah pedalaman maupun pinggiran yang kadang-kadang tidak terpengaruh oleh kekuasaan kerajaan Mataram. (Sumber penulisan artikel ini adalah Serat Centhini yang sudah diterjemahkan dalam dalam bentuk huruf latin, tapi masih menggunakan bahasa Jawa madya).

Ramalan Jayabaya.

Banyak ramalan atau prediksi masa depan bangsa Jawa dan semua ramalan dinamakan ramalan
Jayabaya, penulis sendiri tidak tahu mana yang asli dan mana yang hanya sekedar dari mulut kemulut.

Satu-satunya sumber yang menjadi referensi penulis adalah yang tertulis dalam Serat Centhini pada akhir Jilid III pupuh 256 dan Jilid IV pupuh 257 dan 258.

Pada awal Pupuh 256 dikatakan :

Kalanira sang Prabu, Jayabaya Kadhiri ngadhatun, katamuan pandhita saking Rum nagri, nama Molana Ngalimu, Samsujen tahu kinaot.

Jadi ramalan yang dikemukakan oleh Prabu Jayabaya berasal dari ajaran Maulana Seh Ngali Samsujen yang dalam pupuh selanjutnya berdasarkan Kitab Musarar.

Selanjutnya dalam ramalan yang bermula dari tarih Masehi membagi zaman menjadi masing-masing tujuh ratus tahun yaitu zaman : Kaliswara, Kaliyoga, dan Kalisi- ngareki.

Masing2 tujuhratus tahun dibagi menjadi tujuh seratus tahunan sedangkan seratus tahunan dibagi menjadi tiga 33 tahunan.

Dengan pembagian tahun hanya sampai dengan tiga kali tujuh ratus tahun, Jayabaya seolah-olah meramalkan bahwa akhir zaman akan terjadi pada abad ke 21.

Sedangkan ramalan yang terjadi pada empat abad terakhir tentang tanah Jawa adalah pada pupuh 256, tembang 44 s/d 47 sebagai berikut (yang merupakan bagian dari tujuh abad zaman Kalisangireki) :

-Kaping pat arannipun, jaman Kalabendu werdinipun, estu Bebendu wahananeki, keh jalma saluyeng rembug, dumadya prang lair batos.

-Ping  lima  arannipun,  jaman  Kalasuba tegesipun, jaman suka wahananira keh jalmi, antuk kabungahan estu, rena lejar sakehing wong.

-Kaping  nem  arannipun, jaman Kalasumbaga puniku, werdi zaman Misuwur wahanineki, keh jalma gawe misuwur, mrih kasusra ing kalakon.

-Kasapta arannipun, jaman Kalasurata rannipun, werdi jaman Alus wahananoreki, akeh jalma sabiyantu, ing budining karahayon.

Jadi setelah bangsa Jawa/Indonesia melewati zaman Kalabendu akan mengalami tiga abad zaman keemasan dan kemahsyuran sampai dengan akhir zaman. Cuma kalau menurut perhitungan Jayabaya zaman Kalabendu adalah periode tahun 1800-1900, sedangkan sampai saat ini tanda-tanda zamannya masih seperti zaman Kalabendu (yang mungkin periode 1900-2000) dan setelah melewati tahun 2000 sampai dengan akhir zaman bangsa Jawa/Indonesia akan mengalami masa kejayaannya.

Selanjutnya pada pupuh 257, Jayabaya meramalkan akan ada tujuh kerajaan dimulai dari kerajaan Pejajaran di tanah Jawa dan setelah itu tanah Jawa tidak lagi ada kerajaan, yang terjadi pada saat zaman Kalabendu.

Interpretasi tujuh kerajaan adalah: Pejajaran, Majapahit, Pajang, Demak, Mataram, Surakarta, Yogyakarta dan masa kemerdekaan yang tidak ada kerajaan lagi di Indonesia.

Dalam Pupuh 257 tembang 23 tercermin peralihan dari zaman kerajaan sebagai berikut :

Sirnaning kang, kadaton jalaranipun, wawan-wawan lawan, bangsa sabrang kulit kuning, mawa srana tatunggul turun narendra.

Yang bisa diterjemahkan bahwa kedatangan bangsa sebrang kulit kuning (Jepang) sebagai sarana tidak ada lagi kerajaan di Jawa / Indonesia.

Zaman Kalabendu.

Pada pupuh 257 tembang 24 sampai dengan 44 dijelaskan secara terperinci tanda-tanda zaman Kalabendu. Penulis sendiri belum pernah membaca Serat Kalatidha karangan R.Ng. Ranggawarsita, yang kelihatannya telah disadur dan dimasukkan dalam bagian dari Serat Centhini pada bagian ini – ini sangat mungkin terjadi karena penulisan Serat Centhini terjadi pada satu masa dengan masa kehidupan R. Ng. Ranggawarsita, bahkan pembukaan Serat Centhini jilid 5, dibuat oleh beliau.

Kemungkinan lain kenapa masa Kalabendu mendapat porsi yang lebih banyak dalam Serat Centhini :

1.Interpretasi bahwa Kalabendu adalah zaman periode tahun 1800-1900 dimana saat penulisan Serat Centhini.

2. Serat Kalatidha yang disadur kedalam Serat Centhini pupuh 257 adalah sekedar ilustrasi apa yang sedang terjadi pada zaman itu oleh Ranggawarsita dan sama sekali bukan ramalan.

Ilustrasi apa yang terjadi pada masa Kalabendu sangat mirip dengan apa yang sedang terjadi pada bangsa Indonesia saat ini, oleh karena itu terbuka suatu interpretasi bahwa masa Kalabendu adalah periode yang akan berakhir pada tahun 2000. Pertanda zaman sama sekali belum terlihat tanda-tanda bahwa kita memasuki zaman Kalasuba yaitu suatu periode setelah zaman Kalabendu berakhir (seperti yang di prediksi oleh Jayabaya).

Barangkali kita bisa mencoba melihat ilustrasi dari masa zaman Kalabendu yang dimulai dari tembang 28 s/d 44 pupuh 257 Serat Centhini jilid IV :

-Wong agunge padha jail kurang tutur, marma jeng pamasa, tanpa paramarteng dasih, dene datan ana wahyu kang sanyata.

Artinya: Para pemimpinnya berhati jail, bicaranya ngawur, tidak bisa dipercaya dan tidak ada wahyu yang sejati.

-Keh wahyuning eblislanat kang tamurun, apangling kang jalma, dumrunuh salin sumalin, wong wadon kang sirna wiwirangira.

Artinya : Wahyu yang turun adalah wahyu dari iblis dan sulit bagi kita untuk membedakannya, para wanitanya banyak yang kehilangan rasa malu.

-Tanpa kangen mring mitra sadulur, tanna warta nyata, akeh wong mlarat mawarni, daya deye kalamun tyase nalangsa.

Artinya : Rasa persaudaraan meluntur, tidak saling memberi berita dan banyak orang miskin ber-aneka macam yang sangat menyedihkan kehidupannya.

-Krep paprangan, sujana kapontit nurut, durjana susila dadra andadi, akeh maling malandang marang ing marga.

Artinya : Banyak peperangan yang melibatkan para penjahat, kejahatan/perampokan dan pemerkosaan makin menjadi-jadi dan banyak pencuri malang melintang di jalan-jalan.

-Bandhol tulus, mendhosol rinamu puguh, krep grahana surya, kalawan grahana sasi, jawah lindhu gelap cleret warsa.

Artinya : Alampun ikut terpengaruh dengan banyak terjadi gerhana matahari dan bulan, hujan abu dan gempa bumi.

-Prahara gung, salah mangsa dresing surur, agung prang rusuhan, mungsuhe boya katawis, tangeh lamun tentreming wardaya.

Artinya: Angin ribut dan salah musim, banyak terjadi kerusuhan seperti perang yang tidak ketahuan mana musuhnya yang menyebabkan tidak mungkin ada rasa tenteram dihati.

-Dalajading praja kawuryan wus suwung, lebur pangreh tata, karana tanpa palupi, pan wus tilar
silastuti titi tata.

Artinya : Kewibawaan negara tidak ada lagi, semua tata tertib, keamanan, dan aturan telah ditinggalkan.

-Pra sujana, sarjana satemah kelu, klulun Kalathida, tidhem tandhaning dumadi, hardayengrat dening karoban rubeda.

Artinya : Para penjahat maupun para pemimpin tidak sadar apa yang diperbuat dan selalu menimbulkan masalah / kesulitan.

-Sitipati, nareprabu utamestu, papatih nindhita, pra nayaka tyas basuki, panekare becik-becik cakrak cakrak.

Artinya : Para pemimpin mengatakan se-olah-olah bahwa semua berjalan dengan baik padahal hanya sekedar menutupi keadaan yang jelek.

-Nging tan dadya, paliyasing Kalabendu, mandar sangking dadra, rubeda angrubedi, beda-beda hardaning wong sanagara.

Artinya : Yang menjadi pertanda zaman Kalabendu, makin lama makin menjadi kesulitan yang sangat, dan ber-beda-beda tingkah laku / pendapat orang se-negara.

-Katatangi tangising mardawa-lagu, kwilet tays duhkita, kataman ring reh wirangi, dening angupaya sandi samurana.

Artinya : Disertai dengan tangis dan kedukaan yang mendalam, walaupun kemungkinan dicemooh, mencoba untuk melihat tanda2 yang tersembunyi dalam peristiwa ini. (kelihatanya ini adalah ungkapan hati pembuat tembang ini).

-Anaruwung, mangimur saniberike, menceng pangupaya, ing pamrih melok pakolih, temah suha ing karsa tanpa wiweka.

Artinya : Berupaya tanpa pamrih.

-Ing Paniti sastra wawarah, sung pemut, ing zaman musibat, wong ambeg jatmika kontit, kang
mangkono yen niteni lamampahan.

Artinya : Memberikan peringatan pada zaman yang kalut dengan bijaksana, begitu agar kejadiannya / yang akan terjadi bisa jadi peringatan (peringatan dari R.Ng. Ranggawarsita).

-Nawung krida, kang menangi jaman gemblung, iya jaman edan, ewuh aya kang pambudi, yen meluwa edan yekti nora tahan.

Artinya : Untuk dibuktikan, akan mengalami jaman gila, yaitu zaman edan, sulit untuk mengambil sikap, apabila ikut gila/edan tidak tahan.

-  Yen  tan  melu,  anglakoni  wus  tartamtu,  boya  keduman,  melik  kalling  donya  iki,  satemahe kaliren wekasane.

Artinya : Apabila tidak ikut menjalani, tidak kebagian untuk memiliki harta benda, yang akhirnya bisa kelaparan.

-  Wus dilalah, karsane kang Among tuwuh, kang lali kabegjan, ananging sayektineki, luwih begja kang eling lawan waspada.

Artinya : Sudah kepastian, atas kehendak Allah SWT, yang lupa untuk mengejar keberuntungan, tapi yang sebetulnya, lebih beruntung yang tetap ingat dan waspada (dalam perbuatan berbudi baik dan luhur).

-Wektu iku, wus parek wekasanipun, jaman Kaladuka, sirnaning ratu amargi, wawan-wawan kalawan memaronira.

Artinya : Pada saat itu sudah dekat berakhirnya zaman Kaladuka.

Kalau kita perhatikan ilustrasi zaman Kalbendu adalah sangat mirip dengan ‘bebendu’ atau ‘kekalutan’ yang sedang terjadi saat ini yang kelihatannya tidaksatupun pemimpin yang mampu mengatasi (baik yang formal yang sedang mejalankan roda pemerintahan maupun pimpinan informal diluar pemerintahan – bahkan pimpinan ABRI yang punya senjatapun tidak mampu mengatasi masalah – bahkan cenderung seperti orang bingung / linglung – yang se-mata-mata terpengaruh oleh perbawa zaman Kalabendu yang tidak mungkin bisa dihindari).

Zaman Kalasuba.

 

Pada pupuh 258, dimulai suatu perubahan dari zaman Kaladuka ke zaman Kalasuba yang lebih baik seperti pada tembang 1 s/d 6 sebagai berikut :

-Saka marmaning Hayang Sukma, jaman Kalabendu sirna, sinalinan jamanira, mulyaning jenengan nata, ing kono raharjanira, karaton ing tanah Jawa, mamalaning bumi sirna, sirep dur angkaramurka.

Artinya : Atas izin Allah SWT, zaman Kalabendu hilang, berganti zaman dimana tanah Jawa/Indonesia menjadi makmur, hilang kutukan bumi dan angkara murkapun mereda.

-Marga sinapih rawuhnya, nata ginaib sanyata, wiji wijiling utama, ingaranan naranata, kang kapisan karanya, adenge tanpa sarana, nagdam makduming srinata, sonya rutikedatonnya.

Artinya : Kedatangan pemimpin baru tidak terduga, seperti muncul secara gaib, yang mempunyai sifat-sifat utama. (note : yang diterjemahkan banyak pihak sebagai ‘satria piningit’).

-Lire sepi tanpa srana, ora ana kara-kara, duk masih keneker Sukma, kasampar kasandhung rata, keh wong katambehan ika, karsaning Sukma kinarya, salin alamnya, jumeneng sri pandhita.

Artnya: Datangnya tanpa sarana apa-apa, tidak pernah menonjol sebelumnya, pada saat masih muda, banyak mengalami halangan dalam hidupnya, yang oleh izin Allah SWT, akan menjadi pemimpin yang berbudi luhur.

-Luwih adil paraarta, lumuh maring brana-arta, nama Sultan Erucakra, tanpa sangakan rawuhira, tan ngadu bala manungsa, mung sirollah prajuritnya, tungguling dhikir kewala, mungsuh rerep sirep sirna.

Artinya : Mempunyai sifat adil, tidak tertarik dengan harta benda, bernama Sultan Erucakra (note : penulis tidak tahu apa maksudnya, perlu interpretasi tentang nama ini), tidak ketahuan asal kedatangannya, tidak mengandalkan bala bantuan manusia, hanya kepercayaan/keimanan terhadap Allah SWT prajuritnya dan senjatanya adalah se-mata-mata zikir, musuh semua bisa dikalahkan (note: suatu indikasi bahwa pemimpin yang akan muncul adalah seorang Muslim yang sangat taat beragama, yang semata-mata iman yang sangat tebal kepada Allah SWT yang membimbingnya dan menjadi kekuatannya).

-Tumpes tapis tan na mangga, krana panjenengan nata, amrih kartaning nagara, harjaning jagat sadaya, dhahare jroning sawarsa, denwangeni katahhira, pitung reyal ika, tan karsa lamun uwiha.

Artinya : Semua musuhnya dimusnahkan oleh sang pemimpin demi kesejahteraan negara,dan kemakmuran semuanya, hidupnya sederhana, tidak mau melebihi, penghasilan yang diterima. (note : suatu indikasi bahwa kejujuran, kesederhanaan, dan tidak mau melebihi apa yang menjadi penghasilannya – tidak kurang tidak lebih – menjadi ciri utama dari pemimpin yang baru. Dalam tembang ini sangat jelas dilukiskan kelemahan pemimipin adalah sikap berlebih-lebih-an yang pada posisi sebagai pimpinan cenderung tidak menerima apa yang secara murni diberikan oleh negara sebagai penghasilannya sehingga menimbulkan banyak ‘kreativitas’ untuk mendapatkan ‘tambahan’ penghasilan yang sulit dikontrol batas-batas-nya yang merugikan rakyat banyak yang contoh nyatanya adalah situasi kehidupan para pimpinan/pejabat pemerintahan selama 32 tahun rezim Soeharto berkuasa dan juga sampai dengan saat ini).

-Bumi sakjung pajegira, amung sadinar sawarsa, sawah sewu pametunya, suwang ing dalem sadina, wus resik nir apa-apa, marmaning wong cilik samya, ayem enake tysira, dene murah sandhang teda.

Artinya : Pajak orang kecil sangat rendah nilainya, orang kecil hidup tentram, murah sandang dan pangan.

-Tan na dursila durjana, padha martobat nalangas, wedi willating nata, adil asing paramarta, bumi pethik akukutha, parek lan kali Katangga, ing sajroning bubak wana, penjenenganin sang nata.

Artinya: Tidak ada penjahat, semuanya sudah bertobat, takut dengan kewibawaan sang pemimpin yang sangat adil dan bijaksana.

Kesimpulan.

Ilustrasi zaman Kalabendu adalah mirip dengan kondisi bangsa Indonesia pada saat ini sebagai pertanda zaman dimana masyarakat kehilangan arah yang merupakan tahap akhir sebelum bangsa Indonesia bisa mengatasi dengan kedatangan pemimpin yang adil dan bijaksana. Bisa saja hal ini adalah sekedar suatu ‘angan-angan’ atau suatu harapan apabila suatu bangsa atau masyarakat mengalami tekanan kesulitan yang sangat sulit diatasi seperti pada saat ini sehinga harapan akan munculnya Ratu Adil (Satria Piningit) adalah sekedar suatu pelampiasan sumbat sosial agar masyarakat masih menaruh harapan akan datangnya suatu perbaikan.

Waktulah yang akan membuktikan bahwa apa yang menjadi ilustrasi dari budaya Jawa baik oleh Prabu Jayabaya dari Kediri maupun R. Ng. Ranggawarsita adalah sekedar ilustrasi pada masanya yang kebetulan berulang pada saat ini dan bisa saja berulang lagi dimasa yang akan datang atau merupakan prediksi yang mungkin bisa terjadi yang kita mengalami masa Kalabendu tahap akhir yang akan menuju masa Kalasuba yang penuh harapan.

Tujuan tulian ini adalah :

-Mengemukakan suatu ilustrasi zaman sesuai dengan referensi budaya Jawa.

-Mengingatkan kembali bahwa dalam menghadapi kesulitan, kebingungan, kekakhawatiran yang amat sangat pada saat ini, peringatan R. Ng. Ranggawarsita adalah sangat relevan untuk kita cermati kembali ‘luwih begja kang eling lan waspada’ yaitu kunci keselamatan agar kita tetap mampu mengontrol tingkah laku kita untuk tidak ikut-ikutan gila / edan walaupun dalam kesulitan seberapapun besarnya untuk menjaga perbuatan kita agar tetap menjaga sifat budi luhur tidak ikut-ikutan korupsi, tidak ikut-ikutan menjarah, tidak ikut-ikutan merampok dijalanan, tidak ikut-ikutan merusak, menyerahkan semuanya dengan ikhlas kepada Allah SWT yang hanya atas izinnya semata semua kejadian akan bisa berlaku apakah seseorang mendapat suatu kesulitan / musibah ataupun dipermudah jalannya. (Walaupun tidak mudah bersikap seperti ini pada zaman ini – dan ini nyata-nyata cobaan buat diri kita semua – dan tidak semua orang mampu lulus ujian melewati zaman Kalabendu dengan selamat kecuali ‘yang eling lan waspada’).

-Memberikan harapan bahwa keadaan akan lebih baik bila zaman Kalabendu berakhir dan perbawa (kewibawaan) pemimpin bisa kembali dengan datangnya zaman Kalasuba.

Note: Terjemahan dari tembang Jawa kedalam Bahasa Indonesia adalah bedasarkan interpretasi pribadi penulis dengan banyak keterbatasan pemahaman bahasa Jawa madya. Penulis menyilahkan kalau ada pembaca yang ingin memberikan koreksi untuk terjemahan/interpretasi
yang lebih akurat.

About these ads

17 Comments

  1. bolo dwo

    1.000% sy percaya sbgmn yg telah ditulis K’mas petir saloka. Percaya apa tidak, silakan2 saja, sang waktu yg membuktikan.

    S A L A M . . . . . RAHAYU……RAHAYU……. RAHAYU…..

  2. bolo dwo

    @K’Mas AAK dan @K’Mas Petir Saloka :
    Salam kenal.. mhn ijin numpang nampang hehe.. matur nuwun uraiannya ruuaaarrrr biasa namun pendapat sy dikit beda, bhw carut marut situasi/kondisi NKRI, alam lan bumi sarta jalmi mmg hrs terjadi sbgm jangka jayabaya, dan saat ini msh di jaman Kalatidha (tidha=ragu) blm masuk kalabendu (bendu=bebendu=musibah) apalagi kalasuba, pendapat sy kalabendu dimulai th baru jawa yad/suro, diawali rusuh dr arah timur berjalan kearah barat (Jkt/Ibukota), semakin jauh tambah pengikut dan ditiap kota bikin onar/kerusuhan/pepati kmd NKRI runtuh/rubuh terpecah belah ditambah alam lan bumi anetepi janji suci sbgm yg ditulis K’mas petir saloka diatas yaitu sbg bukti bhw akan adanya Pengadilan Suci dr Kang Murbeing Dumadi yg kmd memunculkan SPSW/Satriya ke 7 (perhatikan kata2… rawuhnya, nata ginaib sanyata, wijil-wijiling utama, ingaranan Naranata, kang kapisan karanya, adhege tanpa sarana, nagdam makduming Srinata dst…) sbg penunjuk jln keselamatan menuju jaman baru/kalasuba, tak berapa lama kurang lebih (8 th/sewindu) kmd SPSW madheg panditha (perhatikan… karsaning sukma, salin alamnya, jumeneng Sri Panditha) untuk persiapan mendampingi munculnya Ratu Adil Piningit (perhatikan kata2… luwih adil paraartha, lumuh mring brana artha, nama Sultan Erucakra, tanpa sangkan rawuhira…dst). Kesimpulan sy bhw kang kapisan ingaranan NARANATA/SPSW/SATRIYA KE 7 dgn yg.. luwih adil paraartha nama SULTAN H/ERUCAKRA/RA adl 2 orang yg berbeda dgn tugas dan waktu yg berbeda pula, namun persamaannya bhw beliau2 adl Sama2 Piningit nya. Nah bgm kondisi/situasi jaman Kalabendu nanti.. ?1000%

  3. orang dungu

    aduh stelah sya mmbaca tulisan mas,saya smnjdi lbih mngerti bahwa smua akan kmbali sperti dlu.sperti munculnya peradaban islam yg prtma kali dibangun oleh nabi Muhammad SAW.dan sya lbih tahu bhwa sudah sangat kacaunya negeri kita ini. tp jka smua msyarakat indonesia memegang pedoman “luwih begja kang eling lan waspodo” maka insyaallah zaman kalbendu ini akan lbih cpat dilewat.

  4. kudaputih

    keadilan alam sdh berjalan, keadilan gusti di akhir jaman, lembaran baru menyongsong di depan, sudahkah kita siap dg keadaan ?

  5. petir saloka

    Sejatine wus tinempa akhir
    Akhir jaman kalabendu
    Mlebu ning jaman suci

    Pagelaran kang bakal dimulai
    Amiwiti lelakuning alam
    Udan kang dudu mangsane
    Panas kang dudu mangsane
    Angin kang nyemplak segara
    Akeh gunung metu mawane
    Lindu sakbendinane

    Yo kuwi pratanda suci
    Pagelaran suci bakale diwiwiti
    Lor wetan kidul kulon
    Abang wernane
    Manungsa kang ora kaya manungsa
    Isuk lara bengi mati
    Bengi lara isuk mati
    Uwong pating kleler
    Ora ngerteni sanak kadang
    Uwong mati sak ngon ngon
    Ya kuwi pratanda agung
    Rubeda sengkala kang amiwiti

    Tiba titiwancine
    Surya kang ora metu cahyane
    Pratanda agung
    Bakale dimulai
    Pengadilan agung
    Kanggo ndonya rubeda

    Isuk kang kalebu awan
    Gunung bledos
    Geterke ndonya
    Geni disuntak
    Ora ana mandeke

    Awan kang katon bengi
    Lor wetan kidul kulon
    Murup cahyane
    Lemah ngolet
    Kaya disemplake
    Kabeh musna
    Ora katon warnane

    Lemah jugrug dadi gunung
    Gunung jugrug
    Sakbendinane

    Lakune lemah
    Linawas naga ngamuk
    Uwong kang dilewati
    Digawa mati
    Omah kang disruduk
    Digawa mlebu

    Segara obyak banyune
    Satus meter duwure
    Ngresiki tineba pati
    Manungsa bakale musna
    Manungsa gari seprapat
    Kabeh wis ginaris suci
    Kabeh wis kodrat agung
    Jejere suci
    Ingsun suci sejati
    Wong kang suci
    Bakale mukti
    Tineba paripurnaning suci
    Pengadilan agung wis tilaku
    Petung dina pitung wengi
    Lawase

  6. petir saloka

    Pepundene ngelmu suci
    Ngilmu rasa
    Rasa suci sejati
    Sejatine ghaib
    Pinangka ngesti sejatine rasa
    Rasa pribadi kang ngesti suci
    Suci rasa pribadi sira
    Sowan sejatine suci
    Sowan dzat agung suci sejati
    Masrahke sejatine rasa
    Rasa suci sejati
    Sejatine suci
    Ingsun suci sejati

  7. Petir Saloka

    Sejatine wus tinempa akhir
    Akhir jaman kalabendu
    Mlebu ning jaman suci

    Sejatine wus titiwancine
    Ndonya malih warnane
    Gelaran pengadilan agung
    Mlebu ning jaman suci
    Jaman kang alenggahan para gung suci
    Jaman ratu gung suci sejati
    Jaman kraton gung suci sejati
    Sejatine suci Ingsun suci sejati

    Nusantara ngancik ning sejatine suci
    Pinangka tetenger lelakuning jaman
    Jaman kang suci
    Jaman alenggahan sejati
    Sejatine suci Ingsun suci sejati

    Ndonya rubeda bakale suci
    Jejere suci kang anyekseni
    Pinangka suci lelaku sejati
    Sejatine suci Ingsun suci sejati

    Wong kabanda bakale mati
    Wong kang nista bakale musna
    Wong kang ora suci owal sejati
    Mlebu ning alam peteng
    Tineba saklawase

    Wong kang suci tinampa mukti
    Banda ndonya kang anampani
    Ngesti suci sejatine rasa
    Rasa suci jumeneng sejati
    Sejatine suci Ingsun suci sejati

    Pratanda alam wis dimulai
    Anggone ngesti tanpa kendat
    Bakale tinampa suci
    Sucining rasa kang mukti
    Mukti rasa sejati
    Sejatine suci
    Ingsun suci sejati

  8. Petir Saloka

    Jawa tineba gari seprapat
    Seprapate kalebu bangsa liya
    Ya kuwi kang wis ginaris suci
    Sejatine suci
    Ingsun suci sejati

    Nusantara tineba dadi pancering bangsa
    Kapimpin ratu gung suci sejati
    Ya kuwi kang wis kodrat suci
    Sejatine suci
    Ingsun suci sejati

    Kabeh bakale mlaku
    Mlaku ning arah suci
    Sejatine suci
    Ingsun suci sejati

    Ngancik ning tahun siji
    Sasi siji pengadilan suci
    Wis tiniba mlaku
    Laku sakjroning suci
    Titah suci sejati
    Sejatine suci
    Ingsun suci sejati

    Rubeda sengkala wis ngancik ning ndonya
    Wong lara pating kleler
    Wong mati sak ngon ngon

    Alam wis katon warnane
    Omah ambruk sakbendinane
    Banyu mlebu ning pelataran

    Awan ora kaya awan
    Bengi ora kaya bengi
    Ya kuwi tiniba titiwancine
    Pengadilan agung suci sejati
    Sejatine suci Ingsun suci sejati

    Yen ta sira kalebu suci
    Ning ngendi wae bakale tinampa mukti
    Yen ta sira ora kalebu suci
    Ning ngendi wae bakale tinampa mati
    Owal kodrat lan ginaris suci
    Mlebu ning balam peteng
    Tiniba saklawase

    Kabeh kalebu kodrat suci Ingsun
    Kabeh kalebu ginaris suci Ingsun
    Yen ta
    Kabeh bakale mlaku
    Mlaku ning arah suci
    Yen ta
    Kabeh bakale balik
    Balik ning arah suci
    Sejatine suci
    Ingsun suci sejati

  9. Petir Saloka

    ya, kita sudah memasuki jaman kalabendu dan akan masuk jaman kala suba. Sebelumnya akan terjadi gara gara atau Pengadilan Agung/Suci atau jaman saringan.

    Naga dina wus tiniba ning ndonya
    Anjalani kang kudu dijalani
    Ngalor, kidul, wetan , kulon
    Wus abang warnane
    Pratanda bakale mlaku
    Lelakon kang wus ginaris
    Sangga buwana wus ilang cahyaning
    Ratu mati Negara lebur
    Kabeh amarga tingkah polahe
    Kraton kang dadi gubuk
    Ora ana kaprabawa suci
    Sing ana rubeda sengkala

    Kraton bakale musna
    Musna sak kawulane
    Kabeh bakale dipangan buwana
    Buwana suci kang wus angenteni
    Lakuning jaman, lelakuning pati
    Pati rasa suci pribadi
    Kang ora angesteni
    Kabeh kalebu kodrat suci
    Kabeh kalebu ginaris suci

    Kabeh kalebu titi wanci
    Yen ta ndonya bakale suci
    Ngancik tahun purnama siji
    Bakale wis paripurna
    Anggone agawe raya
    Tumrap kabeh kang suci
    Bakale tinemu mukti

    Wis kalebu pratanda alam
    Yen ta
    Kabeh gunung bakale bledos
    Ngetoke geni tanpa ana mandeke
    Lemah jugrug sakbendinane
    Wis kalebu pratanda alam
    Yen ta
    Segara entek banyune
    Pindahe banyu ana pelataran
    Uwong mati pating kemampul

    Wis kalebu pratanda alam
    Yen ta
    Buwana metu saka panggone
    Lemah mlaku sak karepe dewe
    Wis kalebu pratanda alam
    Yen ta
    Manungsa gari seprapat
    Tanah jawi nyigar dadi 3
    Nusantara ciut panggone
    Ndonya rubeda malih rupane

    Kabeh wis kalebu titi wanci
    Titi wancine jaman
    Mlebu ning jaman suci
    Wong kang suci
    Bakale mukti
    Jrone sing ora suci
    Bakale mati
    Rubeda sengkala
    Kang dadi sisihane
    Metu saka kodrat lan ginaris suci
    Mlebu ning alam peteng
    Tiniba wektu saklawase

    Pepadange surya ning timur
    Wis ngancik ning dina 7
    Bakale kasambadan dening suci
    Surya nalendra cungkup suci
    Ngarcapada mulya jumeneng suci

    Tibaning rasa kang angugemi
    Bakale tinampa mukti
    Rohing diri jumeneng sejati
    Jejere suci Ingsun suci sejati

    Pinangka sangu ning ndonya rubeda
    Aja lali marang sanak kadang
    Sanak kang angugemi suci
    Kadang kang angesti suci
    Ya bakale tinampa mukti

    Sangkan paraning dumadi
    Wis kalebu ning jaman suci
    Anggone ngesti aja pada dilaleke
    Sabda suci bakale tumeka diri
    Jroning suci Ingsun suci sejati
    Sejatine Ingsun Ingsun suci sejati

    Tumekane ngancik dina ping 7 (pitu)
    Paripurnaning jeksa buwana
    Kabeh bakale anyurupi
    Pepadange surya jumeneng sejati

    Surya condro buwana
    Pancering budi
    Gumatok ning diri kang suci
    Sastro nata lintang kumitir
    Condro peksi kang amuputi
    Tirta suci nalendra gurpa
    Gemah ripah lohjinawi

  10. sukma langgeng

    Nyuwun sewu nopo wonten ingkang kagungan kitab/buku MAKLUMAT JATI? Nopo dalem saged nderek ngampil?

  11. mas….gadah kitab jayaning cipta mboten ( engkang asli )

  12. Adul

    klo aku coba simak ini bukan ramalan ,d mana hal spt ini sudah sering terjadi spnjang dunia ini ada . hal ini saya hubungkn dg ayat2 dari kitab2Nya Alloh . bhwasanya Aloh itu punya yg namanya sunatulloh (tradisi). dimana alloh selalu mnggilir gantikan suatu kondisi manusia dr yg HAQ — bathil .dr yg bathil– haq . sudah brp kali alloh mnghancurkan umatnya klo kita baca dlm AL quran dan kitab2 yg lain. pd saat apa mereka d hancurkan / d azab .yaitu pd saat manusia sudah lg mnjadikan Alloh itu satu2nya yg di taati/ d ibadahi dan meninggalkan aturanya yg berarti manusia telah menyekutukanya / musyrik.

    NB: Tunggu aj ,tinggal apakah kita menunggu dg keyakinan atau ragu ragu atau tdk percaya sama sekali ….

  13. taufikthd

    Ya kalaulah yg dipersepsikan akan kapasitas ratu adil itu ada dan sudah dipersiapkan Allah SWT kan pincang juga bila ummat belum merasa membutuhkan atau belum siap diajak ber-quantum dalam tawakal, pikir dan tindak oleh pemimpin ybs dalam kehidupan sehari-hari. karena saat ini semua merasa mampu menjadi imam dengan berlomba dgn segala cara???? Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, andaikan diturunkan SAAT bagi yang ditunjuk bila ummat belum merasa perlu maka akan sia-sia dan mungkin dicaci maki belaka. Bagi ummat menurut kami ya tunjukkan kesungguhan hati dalam do’a, sikap dan perbuatan yang sehingga Allah SWT akan menurunkan saat itu dan tidak usah mencari-cari karena tak akan mampu mengidentifikasi perfoma dan pribadi yang dicari.

  14. tegoeh.kusuma

    Nuwunsewu…
    Uluk salam taklim.

    Menyimak paparan kolobendu ini, khususnya ttg satrio piningit (sultan herucokro)…atau apapun sebutan/julukan yg mengarah kpd anggapan Ratu AdiL, sesuai dgn yg disebut yaitu Ratu AdiL…tidak ada satu pun manusia yg bisa dianggap “Ratu” (berkuasa) dan berbuat “AdiL”…
    “Ratu AdiL” ada di dalam diri setiap manusia…yg dipingit demi memuaskan nafsu dunia…terpingit oleh karena tak terlihat, meski hanya bisa dirasa oleh masing2 manusia…sang “Ratu” tidak lah ber-agama (“Ratu” yg meliputi segala sesuatu)…apalagi berbentuk partai…
    Ketika satrio piningit itu tidak lagi dipingit… manunggal sebagai “Ratu” dalam perilaku tiap manusia, itulah manifestasi dr “Ratu AdiL”…sang Hyang-Gusti-Allah swt-Tuhan-Dei-God.

    Mungkin atau tidaknya terjadi bukanlah urusan kita…namun setidaknya bisa dimulai dari diri masing2…

    Anggapan sy ini sama sekali tidaklah absolut…hanya ungkapan rasa yg dirasakan…

    Wabillahi taufiq wal hidayyah..
    Salam Damai..Salam Sejahtera..
    Semoga semua makhluk berbahagia..

    Salam SEJATi.
    ____________

  15. satria yang baik hatinya seperti shalahudin…

  16. endang hadi adi

    ….hanya kepercayaan/keimanan terhadap Allah SWT prajuritnya dan senjatanya adalah se-mata-mata zikir, musuh semua bisa dikalahkan….

    demikian juga pada ramalan sabdopalon, akan mengajar kawruh budi

    bisa jadi dzikir itu kawruh budi, misal bismilallahi wabilallahi lebih dekat merupakan pelaksanaan manunggaling kawula lan gusti

    cita2 sih supaya bisa mengenal dan dekat ratu adil dalam menyambut kalasuba

  17. ady

    Setelah membaca paparan zaman Kalabendu dan Kalasuba saya sangat terkesima, tanpa memandang itu ramalan atau bukan atau hanya sekedar ungakapan dari sang penulis pada masa itu yang menggambarkan kondisi zaman yang dialaminya dengan secercah harapan yang ditunggu kedatangannya. Memang pada saat ini (sejak tahun 1990-an s.d 2008 dst belum tahu akhirnya) saya masih merasakan berada pada zaman KALABENDU dengan adanya segala kejadian baik (ketidakadilan, kesewenangan, ankaramurka, asusila, kezaliman dll) dan adanya prahara/bencana baik dari langit maupun bumi yang bisa menggetarkan hati yang masih punya rasa. Namun demikian saya juga masih mempunyai secercah harapan dengan perjalanan sistem pemerintahan dan kondisi perpolitikan di tanah air kita saat ini sebagaimana harapan dari sang pengarang zaman KALASUBA, di sini saya milihat munculnya sosok partai yang patut untuk diperhitungkan (ini terlepas dari bicara masalah politik tapi sekedar mengkritisi perubahan zaman) yang mana partai ini mempunyai visi dan misi yang sangat jelas dan orang-orang yang tergabung di dalamnya patut untuk dijadikan teladan dari sisi ketaatan dalam beragama, kesederhanaannya, qona’ah (menerima pemberian Tuhan apa adanya) dll. Dengan demikian saya menaruh harapan dari partai ini muncul sosok pemimpin sebagaimana yang digambarkan dalam zaman kalasuba, mengingat sekarang masanya era pemerintahan modern dan bukan kerajaan/kraton – tapi tidak menutup kemungkinan munculnya sosok pemimpin dari orang kraton. Adapun partai yang saya maksud adalah PARTAI KEADILAN SEJAHTERA.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: