alangalangkumitir

Javanese Manuscripts

MENGUNGKAP SANDI ROHANI ALAS KETONGGO


 

Budaya Jawa menyimpan dan menyelinapkan tabir-tabir misteri sebagai inspirasi spirit dan mental yang berwujud sanepan dengan makna yang tersirat, bukan tersurat bagi generasi-nya, agar tidak lengkang oleh perkembangan zaman. Alas Ketonggo sebagai satu contoh yang tempatnya menyimpan legenda dan mitos di dalam angan-angan dan impian di dalam pikiran, perasaan dan budi. Ada banyak masyarakat yang hanyut pengertian dan pengetahuannya untuk meyakini dan mempercayai Alas Ketonggo dengan makna tersurat atau lahiriah. Hingga tidak tanggung-tanggung secara mentah menjadikan Alas Ketonggo sebagai ajang pencarian inspirasi demi perkembangan mental dan spiritnya.

Dimanakah letak yang hakiki untuk menyikapi Alas Ketonggo, secara tersurat atau tersirat? Guratan tinta inilah yang akan mengupas tuntas apa yang seharusnya kita mengerti dan pahami agar diri kita tidak tersesat di dalam pengetahuan dan pengertian.

Alas Ketonggo secara lokasi atau obyek bertempat di Alas Purwo. Selain itu di Kalasan Yogyakarta disebut Bathok Bolu Isi Madu, di Wonosari, di Ngawi dengan sebutan Alas Ketonggo Kapetak, di Blora di dekat masyarakat Samin juga menyebut Alas Ketonggo, juga di Temanggung tempat Angling Darmo, dll. Kesemuanya tempat itu diyakini masyarakat setempat sebagai pusat kraton gaib yang terus dibangun dan tak kunjung selesai. Inilah guratan tinta untuk menjelaskan pengertian dan pengetahuan yang sebenarnya, agar berfungsi peran di dalam pengetahuan kita bersama.

1.Alas Ketonggo, “alas” berarti hutan, dasar pokok atau keramaian. Ketonggo berasal dari kata “katon” (terlihat) dan “onggo” (makhluk halus) atau makhluk halus atau kehidupan yang halus yang katon atau kelihatan.

2.Siapapun yang meyakini kekuasaan Tuhan harus meyakini adanya alam rohani, tempat kehidupan makhluk-makhluk rohani atau gaib.

3.Ada kehidupan setelah terjadi kematian, yaitu alam kehidupan gaib atau alam rohani bagi para arwah yang telah meninggalkan dunia atau alam kehidupan jasmani.

4.Siapapun yang hendak menuju kehadirat Tuhan-nya esok sebagai tujuan atau perjalanan akhir harus memahami alam kehidupan rohani. Jelasnya, siapapun untuk tertuju kehadirat-Nya harus melewati tujuh lapisan alam kehidupan rohani atau harus melewati perjalanan langit ke tujuh.

5.Selagi dirimu hanya terbelenggu oleh pengetahuan akal alam jasmani dengan mengandalkan perangkat tubuh jasmani dan inderanya, dirimu tidak akan pernah mampu mengerti dan memahami dimensi kehidupan alam gaib itu.

6.Mengetahui alam kehidupan jasmani sebagai pijakan dasar yang tidak boleh ditinggalkan selagi menjadi manusia. Namun tujuh alam kehidupan rohani juga harus kau alami dan ketahui.

7.Untuk mengetahui kehidupan alam rohani, dirimu harus memahami sinandi Alas Ketonggo, yang sesungguhnya kehidupan buwana alit-mu.

8.Bukankah dirimu sering mengalami kekosongan, keheningan dan kesepian seperti di tengah hutan lebat yang jauh dari aktivitas manusia. Tentu di dalam kesepian, kekosongan dan keheningan akan menjumpai keramaian yang melebihi aktivitas alam jasmani yang senyatanya. Itulah pengertian dasar Alas Ketonggo.

9.Kosong adalah isi, isi adalah kosong. Maya itu katon dan katon itu maya. Itulah pokok-pokok pengertian rohani Alas Ketonggo yang sesungguhnya menyimpan rahasia atau tabir pengetahuan dan pengertian untuk cerdas dan tangkas menyikapi kehidupan bersama.

10.Memahami sifat dan peran fenomena energi hawa dan nafsu di dalam kehidupanmu akan mengungkap segala pencarian aktivitas keramaian akan mendapatkan kesepian dan mencari keheningan dan kesepian akan mendapatkan keramaian. Hanya orang yang beralaskan kesadaran saja yang mampu mengungkap rahasia itu.

11.Alas Ketonggo adalah ekspresi kehidupan jiwamu yang terdapat fenomena energi hawa dan nafsu yang harus kau kendalikan dan kau atur demi kebaikan hidupmu dan sesamamu.

12.Fenomena energi hawa dan nafsu di dalam jiwamu ada pada pikiran, perasaan dan budimu yang syarat dengan adanya kegiatan maya dan samar seperti angan-angan, harapan, khayalan, imajinasi dan impian. Bukankah fenomena energi itu seperti aktivitas makhluk halus di alam maya atau alam rohani yang sulit ditentukan oleh siapapun yang tidak mengetahui dan memahaminya.

13.Siapapun yang mampu menyatakan segala perwujudan yang maya dan samar maka disebut mengalami alas ketonggo.

14.Melihat atau menyaksikan, mengalami hingga terampil bertahan hidup di alas ketonggo (jiwa) adalah yang seharusnya kau alami dalam kehidupanmu saat ini, agar dirimu membuahkan cipta, rasa dan karsa karya nyata untuk membangun hidup dunia bagi sesamamu

15.Siapapun yang telah lulus dari alas ketonggo akan menjadi pemimpin bagi umat manusia dan segenap makhluk hidup beserta alam semesta ciptaan-Nya.

16.Jangan sampai hidupmu dikuasai oleh jagat onggo-onggo atau jagatnya para dedemit atau makhluk halus yang serba menebar kebingungan, kekhawatiran, ketakutan, mudah heran (gumunan) tetapi kita yang harus menguasainya. Oleh sebab itu, kuasailah Alas Ketonggo (jiwamu).

17.Menguasai Alas Ketonggo akan memahami pengertian Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwataning Diyu, agar dirimu tidak dikuasai oleh mereka yang menguasai segala hal yang samar atau yang tidak jelas, seperti kekhawatiran, kebingungan, ketakutan, dll.

18.Pada dasarnya ketakutan, kekhawatiran, kebingungan dan ketakutan hanyalah bagi siapapun yang belum genap pengertian dan pengetahuannya.

19.Selama dirimu mengalami ketakutan, kekhawatiran dan kebingungan, berarti dirimu masih dikuasai dan dibelenggu oleh setan atau iblis beserta walinya, yang berkarya menguasai dan membelenggu hidupmu.

20.Alas Ketonggo adalah sinandi bagimu yang harus kau ketahui rahasianya, agar dirimu genap disebut manusia yang hidup karena titah Tuhan, bukan hidup karena asal atau waton hidup.

21.Siapapun yang belum memahami apa yang tersirat dalam Alas Ketonggo akan tersesat, karena sebuah dasar pengetahuan pokok dalam melakukan perjalanan hidup yang sekaligus sebagai perjalanan rohani.

22.Sejarah serta jati diri dan identitas bangsamu tersimpan memorinya di dalam alas ketonggo. Dirimu akan mengungkapnya dengan melihat aktivitas leluhurmu di alam rohani alas ketonggo.

23.Memasuki alas ketonggo akan membuat dirimu cerdas, berpengetahuan dan berpengertian luas untuk menyelesaikan segala permasalahan yang ada.

24.Bahkan segala pengetahuan yang telah punah dan sirna oleh zaman masih tersimpan rapi di alas ketonggo, tentu mendapatkannya dengan berinteraksi di dalam pengetahuannya.

25.Siapapun yang berhasil mengupas Alas Ketonggo akan menjadi sosok pemimpin, sebab dengan pengetahuan dan pengertiannya akan membuahkan terang bagi yang mengalami kegelapan pengetahuannya dan menjadi pembebas penderitaan.

26.Bangsa yang jaya tetap terus berjuang menemukan dan mempertahankan jati diri dan identitasnya, dengan berjuang mencapai pencerahan atau kemerdekaan menuju kedamaian, ketentraman dan kemakmuran baginya.

27.Bukankah kesengsaraan dan derita adalah simbol daripada neraka dan simbol kebahagiaan, kemerdekaan, kebebasan, pencerahan, kemakmuran, kedamaian dan ketentraman adalah simbol surga

28.Satria piningit akan muncul dari alas ketonggo, dengan tanda munculnya bathok bolu isi madu adalah sinandi bagi perjalanan rohani.

29.Bathok Bolu Isi Madu adalah makna tersirat dalam Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwataning Diyu yang diawali dengan pembukaan delapan lubang atau pintu gerbang energi kehidupan agar terbuka pintu yang kesembilan.

30.Hanya Satria piningitlah dalam pengertian tersirat yang mampu membuka kedelapan pintu gerbang atau yang disebut Bathok Bolu Isi Madu.

31.32.Olehnya, ke delapan pintu gerbang terbuka di dalam bathok bolu isi madu oleh satria piningit, kemudian satria piningit mampu membuka pintu gerbang kedelapan, maka satria piningit menjadi Ratu Adil.

32.Munculnya bathok bolu isi madu sebagai tanda keberhasilan satria piningit, jika berhasil membuka pintu gerbang kebebasan dan pencerahan hidup.

33.Pintu gerbang kesembilan jika terbuka maka satria piningit akan melepaskan ikatan duniawi lapis tujuh, hingga disebut sebagai Ratu Adil atau Hingkang Sinuwun atau Ingsun.……

34.Satria piningit itu adalah dirimu atau pribadi sejatimu atau roh sejatimu yang menguasai hidupmu, yang disebut Ingsun.

Mengapa alas ketonggo menjadi sinandi pencerahan rohani dan jasmani beserta kejayaan umat manusia, di dalam pengetahuan luhur budaya Jawa?

1.Alas walaupun disebut hutan yang oleh beragam makhluk hidup seperti pepohonan, hehewanan serta makhluk halus yang berasal dari arwah-arwah para leluhur masa silam, sebagai ekspresi fenomena hawa dan nafsu kita semua, yang liar dan terkendali.

2.Sinandi alas ketonggo sebagai sinandi kehidupan jagat cilik (hawa dan nafsu-kita) dan jagat gedhe (alam semesta).

3.Alas ketonggo dalam pengertian jagat cilik adalah fenomena kehidupan kita, yang pada dasarnya sulit dikendalikan tetapi harus mampu kita kendalikan. Sedangkan alas ketonggo dalam arti makro atau dalam pengertian nyata, seperti Kraton beserta Raja-nya sebagai sentral budaya, tempat-tempat yang dimitoskan atau disakralkan dalam kegiatan peziarahan. Arti pesan yang mendalam bahwa kita tidak boleh meninggalkan budaya dan sejarah masa lalu.

4.Alas Ketonggo tempat arwah-arwah para leluhur yang telah meninggalkan dunia puluhan hingga ratusan tahun, namun belum berpulang dihadirat Tuhan, dan masih menyimpan rapi di dalam tubuh halus maniknya.

5.Banyak pengetahuan masa silam yang sebagai simbol jati diri dan identitas bangsa-mu di Alas Ketonggo. Oleh itu, kehidupan para arwah leluhur masih aristokrat, sesuai peradaban budayanya lalu.

6.Peradaban budaya beserta nilai-nilai luhur masa silamnya menyimpan potensi kekuatan identitas dan jati diri bangsa-mu. Apabila bangsa-mu ingin jaya dan menjadi terang dunia harus berpijak pada budaya atau jati diri dan identitasmu.

7.Jangan melupakan sejarah atau budaya leluhur-mu, jika melupakan sejarah dan budaya-mu dari situlah kelemahan bangsa-mu.

8.Pahamilah sandi Alas Ketonggo, sebab dialah yang menyimpan sejarah, rahasia dan kenangan masa lalu yang membantu dirimu untuk menemukan jati diri dan identitasmu.

9.Bukankah bangsamu mengalami krisis keyakinan dan kepercayaan akan jati diri dan identitasmu. Artinya bangsamu telah asing mengenali potensi dirinya.

10.Bahkan bangsamu tidak mengetahui dan menyadari kekrisisannya. Itulah bencana akibat meninggalkan pilar dan pondasi budayanya.

11.Negara dan bangsa manapun akan mengalami kejayaan jika telah menemukan jati diri dan identitasnya (budayanya) dan itu tersimpan dalam sandi Alas Ketonggo.

12.Walaupun sandi Alas Ketonggo disebut dan dikatakan mitos bagi pemahaman modern, tetap mereka jaya sebagai pusat pemikiran dikarenakan berangkat dari mitos atau yang disebut angan-angan, harapan, cita-cita, impian, dll.

13.Bangsa manapun tidak akan maju dan jaya jika meninggalkan angan-angan, harapan, cita-cita, keinginan, kehendak, harapan, impian yang kesemuanya adalah simbolmitos.

14.Lihatlah bangsa-bangsa yang telah jaya, mereka mengawali kejayaannya dengan kesadaran kolektif mitosnya di dalam jiwa pikiran, perasaan, budi dan perilaku indera jasmaninya atau cipta, rasa dan karsanya.

15.Alas Ketonggo sandi untuk menggali jati diri dan identitasnya sebagai awal mengumpulkan kekuatan untuk terbebaskan dari kesengsaraan, derita, ketidaktentraman dan ketidakdamaian, ketidakmakmuran, kemiskinan dan belenggu bangsa-mu.

16.Bangsa yang telah jaya menggali budaya asalnya sendiri melalui prosesi sinandi alas ketonggo dengan menghormati perjuangan leluhurnya.

17.Bagaimana bangsamu atau dirimu akan mendapatkan pencerahan dan kemerdekaan hidup bagi bangsamu, jika dirimu saling berjuang demi kepentingan dan kekuasaan kelompok-mu.

18.Salah satu nasehat sinandi Alas Ketonggo,“Janganlah energi jiwa hawa dan nafsumu saling bertubrukan menyalakan api kesengsaraan yang menambah dirimu atau bangsamu saling terbelenggu dan membelenggu”.

19.Jika energi jiwa hawa dan nafsumu saling bertubrukan atau bertabrakan maka dirimu akan saling memiliki kebingungan, saling memiliki kekhawatiran, saling memiliki ketakutan, sekalipun hal itu terungkap atau tidak terungkap.

20.Masuklah ke alam alas ketonggo, disitulah banyak pengetahuan yang mengisi kekurangan dan kelemahanmu, agar dirimu tidak mudah bingung, takut, khawatir, menderita dan sengsara, dll.

21.Jika dirimu mampu membuka sinandi Alas Ketonggo, ambillah potensi lebihnya dan jadikan kelemahannya menjadi hikmah, agar dirimu trampil menghimpun kekuatan dan mengerti keinginan dan kehendak energi hawa dan nafsu untuk menyelamatkan generasi muda bangsa-mu.

22.Jika telah mampu membuka sinandi Alas Ketonggo, para leluhurmu akan berinteraksi denganmu dan memberikan pengetahuan yang memubuat bangsa-mu jaya dan maju.

23.Memasuki alas ketonggo diperlukan seni ketrampilan melepaskan belenggu tubuh jasmani, jika tidak memiliki hanya akan dapat kesunyian dan aktivitas kesendirian tanpa arti dan makna seperti melamun atau menghayal.

24.Alangkah lebih lengkapnya jika dirimu yang memiliki kecerdasan akal jasmani, kemudian memiliki kecerdasan rohani di dalam pikiran, perasaan dan budimu, maka pengetahuan dan ketrampilanmu akan disebut seimbang.

25.Sungguh keseimbangan diperlukan jika memasuki alas ketonggo, agar akal jasmani dipersiapkan agar tidak mengalami gejolak keterbatasan dengan kehidupan rohani.

About these ads

26 Comments

  1. Muhammad

    Senang membaca artikel yang disampaikan.
    Di sini saya ingin mengongsi pandangan bahawasanya Alas Ketonggo yang dinyatakan ini sememangnya adalah tempat orang-orang ghaib yang berjiwa leluhur, di mana ketuanya adalah RATU ADIL (PENEMBAHAN AGUNG) yang akan zahir di akhir zaman. Di dalam Islam dirinya dikenali sebagai IMAM AL-MAHDI. Zahirnya membawa keamanan pada semesta alam.
    Sama-sama kita berdoa semuga tugasnya dapat dilaksanakan dengan sempurna.
    (Di mana kita menghadap di situlah DIA) jiwa yang terdidik tiada persoalan bagi mengetahui segala sesuatu dengan izinNYA.
    Bagi sesiapa yang pernah ketemu dengan Ratu Adil tiada ragu-ragu akan kezahirannya.

  2. sofyan

    alas ketonggo knp tidak…………
    makasih dengan artikel ini aq jadi tau ap sih alas ketonggo

  3. Yon

    Pamujining Rahayu…..
    Sembah Sungkem Dalem dumateng sedoyo ingkang sampun purun Nguri2 Budoyo Leluhur ugi Budoyo Nenek Moyang.
    Dalem Ngaturake Matur Nuwun, mugi2 para Putra Wayah mbesuk, tetep saget nerusaken lelampahanipun.

    Nuwun….
    Yon…

  4. Slamet Julianto

    dengan saling bahu membahu dengan niat sungguh-sungguh membangun Bangsa dan Negara, menghilangkan rasa iri dan dengki, juga menghilangkan rasa benci di dalam jiwa serta tidak ingin memiliki yang bukan haknya . . maka membangun Bangsa dan Negara secara bersama-sama bukanlah hal yang sulit . . yang sulit adalah menghilangkan adanya kepentingan sesaat untuk diri sendiri yang seharusnya bisa kita perangi dan kita kalahkan . . demi tujuan yang lebih besar membangun Bangsa dan Negara untuk semua orang yang sebangsa dan setanah air

  5. sezka fregoso

    sangat seneng membacanya…meskipun umurku baru 26 tahun…sangat ingin mengerti misteri alas ketonngo ngawi…tempat Pangeran Ngireng Ireng leluhurku…. hmmm..sayangnya…Alas Purwo tidak sama energinya dengan Alas Ketonggo…
    Alas Purwo adalah penjaranya mahluk mahluk tidak kelihatan…tempat manusia menyalahgunakan akal budi pemberian Tuhan…
    Alas Ketonggo adalah tempat indah untuk lelaku prihatin..lelaku yg menunjukkan bahwa manusia sangat keciiiil bgt di hadapan Allah.. krn para mahluk tidak kelihatan saja mampu membaca ayat doa dengan sempurna..mengapa manusia yg diberi akal budi panca indera malah tidak mampu…
    Terima kasih utk penulis artikel ini.

  6. Angga badai tirtana

    senajan koyo ngopo wae, awak dewe siji, siji geteh,siji tanah air yo iku darah jawa,seng ajeg jejeg abadi lan rahayu, amin.

  7. panembahan suryo negoro

    mari kita bersama sama menjaga alas ketongg

  8. wah… matur nuwun sanget para sedherek… sampun dangu mireng babagan alas ketonggo, nanging nembe sapunika saget mangertosi penafsiranipun seking sumber ingkang sahe…. kula inggih lare plosok Ngawi, punopo ingkang kulo mireng babagan alas ketonggo inggih alasipun bangso lembut, malah sampun terkenal bilih salah setunggal warga ing ndusun kulo ingkah sampun sepuh natos ical matahun-tahun wonten alas punika ngantos balinipun ing ndusun… wallahu a’lam hehehe…..

  9. ora usah bingung , iku karepe , badan iku koyo Kraton , ati iku minongko Ratu, kebijaksanaan Ratu iku minongko olah batin berati ratu kang adil lan wicaksono, sabar lan tegas iku dadeake sekabehane rakyat bakal adem ayem , subur lan makmur

  10. Sakniki nopo tasih sering tiang teng alas ketonggo.aq kepingin mriku maleh nak sampun mantuk teng jawi.

  11. Joedi Moeljanto

    hmmm …

  12. hiks, aku pernah mandi disana jam 12 malam, 1 hari sebelum coblosan pileg, hehehe

  13. heru

    mas bade ngangsu kawruh,kawulo tinggal wonten solo,nuwun

  14. asep

    mas nopo jenengan ngrtos kasampurnane gesang……..!

  15. nurit

    saya memang orang jawa,tapi baru baca alas ketanggo.setelah saya baca menurut pembelajaran saya,itu adalah sanepan yg sebenarnya ada dalam diri kita.sama seperti D4 5pancer…kira2 begitu.maaf klu salah..trim’s

  16. hidup adalah mati bagi orang yang tak tau apa arti hidup itu maka dari itu kita harus tau dari kata jawa ” URIP SEJATI KUWI OPO,SEJATINE URIP KUWI OPO LA URIP KUWI OPO”seandainya kita tau akan makna itu maka hidup kita akan tentram dan tak di kendalikan nafsu kita harus mengendalikan nafsu….

  17. Anik ajah

    saya setuju dengan mas yang nulis topik mengungkap sandi rohani alas ketonggo. Karena konsep nya akan dapat mendasari karya kita di dunia ini di awali dari budaya neneng moyang kita. agar tidak menjadi bangsa Jawan, istilah sabdo palon ketika saat perpisahan dengan Brawijaya terakhir. Dalam diri manusia bila menyadari tugas di dunia ini adalah membangun bagi kesejahteraan umat, maka di akan diberi kekuatan. Walau pada awalnya sering kita tidak sadar; tetapi karena seringnya akhirnya aku sadar juga. Terima kasih anda telah menguatkan tetang apa yang saya alami.

  18. mohon maaf kadhangku kumitir? alas purwo maupun ketenggo masing2 satu kesatuan mohon untuk tidak membedah misteri kraton blambangan di alas purwo, karna akan menimbulkan kepanikan dan polemik bagi masyarakat luar? mohon pengertian sedulurku agar kesakralan alas purwo beserta isinya terjaga kelestarianya…?

  19. tetonggo

    jo lali maknani jenenge tangga teparo aning kiwa tengen ngarep mburi yen disambung dadi ukara/dalan sing apik lan kepenak kanggo mangerteni kahanan sing dilakoni, uga niteni sing ana ngarepmu sing wujude bisa apa wae kaya sing ana meja makan utawa sing nembe liwat kaya kendaraan sing nggawa tulisan-tulisan, uga bisa yen lagi liwat krungu omongane wong utawa lelagon.
    alas iku panggonan wit (wiwitan) kang sepi bisa dimaknani nyepi saka rasan pangrasan supaya bisa nangkep maknaning gumelar.
    bisa diarani topo ngrame srana mlaku karo sila utawa sila karo mlaku

  20. Nuwun Sewu Kadhang Kumitir

    Punika kawula beber babagan sayektinipun ALAS KETANGGA, versi saking Pangageng Parentah Kraton Surakarta injih Panjenenganipun Gusti Pangeran Haryo Dipokusumo;

    KETANGGA kalebu kejawen deles. Sekawit pancen akeh
    sing mbatang, ketangga minangka jeneng laladan sepi
    (Alas Ketangga) sing mapan ing wilayah Ngawi, Jawa
    Timur. Papan iku pancen cocog kanggo menebake batin,
    laku spiritual kejawen.
    Mung wae, bareng aku ngrungokake andharane Drs GPH
    Dipokusumo, pangageng Parentah Karaton Surakarta
    Hadiningrat nalika Sarasehan Nasional Spiritual Jawa,
    ing Sasana Mulya Surakarta, ora ngira jebul ketangga
    iku unen-unen filosofis-psikologis kejawen kang
    dhuwur.
    Lire, ketangga iku dumadi saka jarwa dhosok keteging
    angga (keteging awak). Ketangga mujudake krenteging
    jiwa (cipta, rasa, lan karsa) nalika urip makarti.
    Keteging angga kuwi babaring kandha jiwa, sing
    blakasuta, ora bisa diapusi. Keteg iki mujudake wohing
    olah batin (rasa). Mula, Sinuhun Paku Buwana IV ing
    Serat Wulangreh wis dhawuh: “Rasa rasaning punika
    upayanen darapon sampurna ugi ing kauripanira.”
    Tegese, sajroning urip, manungsa prelu nguwasani rasa.
    Rasa, tumrape wong Jawa, ora liya ati, uga batin.
    Wong sing bisa ngendhaleni batin ateges “Jawa” tenan.
    “Jawa” tegese bisa ngeja hawa (nguja hawa), maca
    playune hawa nguwasani batin.
    Batin iku mobah-mosik njur nglairake osik. Lamun batin
    bisa dikuwasani kanthi pamanthenging pikir, intuisi
    bakal muncul. Intuisi kuwi prentule driya kaping nem,
    ngluwihi feeling (rasaning ati). Sing alus daya
    intuisine adat saben bisa maca glagating jaman lan
    kebat srengate wong liya.
    Wong mau kanthi lambaran ketangga bisa nguwasani
    ngelmu agal-alus. Krenteging angga kasebut bakal dadi
    nurani (net). Neting batin iki kang nuntun marang iman
    lan pandaya. Kanthi mangkono, kabeh kang ditindakake
    manungsa ora bakal selang surup, merga wis sumurup
    paraning batin.
    Parane batin iku osik. Osik mujudake polahe batin.
    Krana osik, batin dadi urip. Urip kang diwuwuhi
    ketangga. Menawa manut wejangane Kangjeng Sunan
    Kalijaga, polahe batin iku bakal thukul dadi cawang
    telu.
    Sepisan, batin cacat, iki wujud ketangga kang ora
    wening, ora istikamah. Batin ngene iki bakal
    mblusukake manungsa tekan tumindak reged utawa kleru
    arah (fallacy). Wusana manungsa kesurang-surang,
    tansah nandhang kecingkrangan batin salawase, sanajan
    urip numpuk bandha donya.
    Kapindho, batin kang garing (mati). Tegese batin sing
    nistha. Batin kasebut wis dikemonah hawa nepsu. Wong
    Jawa ngarani menungsa mau wis mati rasane. Kadhang
    kala wong mau wis ora nduwe isin, tanpa kapribaden
    Jawa. Uripe mung tansah nglantur.
    Katelu, batin urip. Tegese, polahe batin kang resik.
    Iki wujude ketangga kang suci, nuntun marang
    karahayon.
    Wong sing nguwasani polahe batin, keteging angga bakal
    murub makantar-kantar mawa cahya lungid. Dheweke nduwe
    watak eling lawan waspada. Kang ditengenake wudharing
    panembah jati. Panembah bakal nuntun marang kosmogoni
    sangkan paraning dumadi. Bab iki prelu disumurupi
    kanthi tapis, amarga unen-unen Jawa wis pratela:
    “Reretuning jagad tan bisa sinirep limpading budi”.
    Tegese, angkara murka kang mumbul saka hawa nepsu
    angel ditelukake dening nalar lan bebuden lamun ora
    dilambari panembah.
    Amrih bisa tekan anggone nyilemi ketangga, jiwa kudu
    teguh lan tinarbuka. Cak-cakane laku, ora liya patrap
    manekung (semedi, manengku puja). Krana manekung,
    batin bakal grayah-grayah. Sumurup ing rasa, munjuk
    tekan rasa sejati kawedhar. Batin saya resik, bisa
    maneges marang kasunyatan. Najan ngonoa, manungsa
    tetep pasrah. Jer unen-unen Jawa wis nyethakake:
    “Kridhane ati ora bisa mbedhah kuthaning pesthi”.
    Tegese, manungsa mung bisa mbudi daya, dene pesthi
    gumantung Kang Mahasuci. Pesthi iku sejatine tumuju
    kabecikan. Ewadene ye ana sing ala, iku dumadi saka
    wiradate manungsa.
    Ngono iku wis didhadha dening wong Jawa. Buktine, para
    luhur biyen mesthi nyasmitani, yen nulis (aksara) Jawa
    kudu nggandhul garis tur ndhoyong nengen. Nggandhul
    garis tegese mung cumadhong, pasrah sumarah. Ndhoyong
    nengen ateges tumindak kang bener.
    Yen anggone nulis aksara jejeg, dianggep ndhisiki
    kersa (nggege mangsa). Karomaneh, panulise aksara
    prayoga kandel-alus. Kandel-alus nuwuhake yen urip iku
    owah gingsir, amrih pikoleh, tinemu harmoni.
    Wong sing bisa ngerti marang ketangga ateges sumurup
    marang jati dhirine. Dheweke wis sembada ngliwati
    telung tataran urip. Sepisan, dadi “wong” (kang durung
    pati gaduk ngelmu sepuh). Celathu lakune isih sok
    ngumbar hawa, kaya kewan najan blegere wong. Iku figur
    wong pengawak kewan. Ewasemono, isih ana ketangga kang
    tumuju marang tobat. Isih ana sapletik batin, kepengin
    ndandani urip, bali marang kabecikan. Suwalike, yen
    anggone bali becik mau nganti kesuwen, ana sing sok
    ngarani pawongan mau “wong-wongan”, dudu wong.
    Yen ngene iki, ateges ketangga luwih menang amarah,
    supiyah, lan aluamahe. Mutmainahe ketutup, wusana
    uripe ora kajen.
    Kapindho, dadi “manungsa” (wis ngerti udanegara).
    “Manungsa” iku tataran madya. Keteging angga manungsa
    luwih jumulur ing watak budi luhur. Dheweke gelem
    njaga katentremen, dhemen tapa ngrame lan urip kanggo
    sapadha-padha. Watak manungsa nduwe kamanungsan, bisa
    ngrasakake lara yen dijiwit, krasa kepenak yen dialem
    (dikudang). Mulane, urip dadi saya nggenah, ora
    degsiya. Ketangga kang ngembangi uripe, bisa nyariing
    bener-luput lan ala-becik. Wusana, uripe saya kepenak,
    bisa karyanak tyasing sasama.
    Katelu, dadi “jalma”. Jalma ana tatarane maneh, yaiku
    jalma pinilih, jalma linuwih, lan jalma satriya
    pinandhita. Ing tataran iki, katangga wis munjuk
    dhuwur tekan urip sing nembang pangkur (mungkurake
    donya). Urip kanggo makrifat. Sumangga, arep dadi
    “wong”, “manungsa”, apa “jalma” -ngenut iline
    ketangga.

    Mugi sageta manfaat kangge mbengkas sanepan…
    Rahayu

Trackbacks

  1. ALAS KETONGGO « Galihsantosa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: