Arsip untuk November, 2008

MENJAUH DAN MENDEKAT

November 28, 2008

Makhluk hidup memiliki kecenderungan,
Menjauhi sesuatu yang tidak disenangi,
Mendekati sesuatu yang disenangi dan enak,
Itu adalah ciri khas nafsu,
Membuat makhluk mendekati maupun menjauhi,

Tidak ada yang salah dengan itu,
Justru itu adalah benar,
Paling tidak mekanismenya memang seperti itu,
Kalau tidak memenuhi mekanisme seperti itu berarti tidak benar,
Tidak memenuhi kaidah alamiah,

Yang dipermasalahkan dalam agama bukanlah,
Ada tiadanya nafsu,
Namun, bagaimana mengarahkan nafsu itu sendiri,
Baik kecenderungan makhluk untuk mendekat maupun menjauh,

Tumbuhan memiliki daya pembeda mendekati sumber kehidupan,
Ia akan mendekati sumber cahaya dan mendekati sumber makanan,
Itulah yang disebut sebagai daya tarik terhadap apa yang dibutuhkan atau syahwah,
Namun belum bisa menjauh dari apapun yang membahayakan,
Kecuali beberapa jenis tumbuhan,
Yang memiliki karakter hewani,

Hewan memiliki daya pembeda menjauhi bahaya,
Ia akan menjauhi sumber bahaya dan mendekati tempat dimana bahaya itu tiada,
Itulah yang disebut sebagai daya tolak atau gadhab,
Namun belum bisa membedakan dengan pembeda tertinggi,
Kecuali beberapa jenis hewan yang tingkat intelegensinya tinggi,
Yang sedikit memiliki karakter mirip-mirip manusia,

Manusia memiliki daya pembeda lebih tinggi,
Ia dapat membedakan mana sumber bahaya dan mana yang bukan,
Ia dapat membedakan mana sumber kenikmatan dan bukan,
Itulah yang disebut sebagai daya intelektual atau akal,
Namun sering sekali belum bisa membedakan mana yang haq dan bathil,
Karena tingkat fakultasnya masih di nabati,
Maupun hewani,
Termasuk diri saya sendiri ini,

Keinginan manusia untuk memenuhi hasrat seksuil,
Merupakan seuatu hal yang benar, itu tidak salah,
Namun, dimanakah ia menempatkan kecenderungan itu ingin berhubungan seksuil,
Ataukah dengan wanita pelacur,
Ataukah dengan wanita simpanan,
Ataukah dengan pegawainya,
Ataukah dengan pasangan syahnya,
Yang syah menurut hukum yurisprodensi maupun syah menurut ketentuan-Nya,

Keinginan manusia untuk menjauhi apa yang membahayakannya,
Meruapakn sesuatu hal yang benar, itu tidak salah,
Namun, dimanakah ia menempatkan kecenderungan itu untuk mempertahankan diri,
Apakah dengan memberontak terhadap tatanan yang telah ada,
Ataukah dengan memberontak terhadap tatanan negara,
Ataukah dengan memberontak terhadap aturan organiasi,
Ataukah dengan meletakkan diri dengan menjalankan tanggungjawab,
Tanggungjawab syah menurut hukum yurisprodensi maupun syah menurut ketentuan-Nya,

Tidak ada yang salah dengan penggunaan akal,
Pun menempatkan syahwah dan gadhab pada tempatnya,
Yang jadi permaalahan adalah, rukunnya atau kaidah-kaidahnya,

Bahkan dalam olah qolbu-pun harus menggunakan akal,
Karena akal adalah rukunnya,
Bagaimana bisa membedakan mana haq dan bathil apabila tidak dengan akal,
Itulah lobang keterjebakan ahli-ahli spiritual,
Mereka merasa tidak membutuhkan akal pembeda dalam berspiritual,
Jadi sering sekali Iblispun-pun dianggap malaikat,
Karena pada tingkatan yang lebih tinggi, Iblispun bisa berwujud manusia ganteng,
Dan malaikatpun bisa berbentuk garang,

Pembeda, tarik dan tolak,
Pemahaman ini diperlukan,
Seiring dengan prosesi pembersihan qolb,
Dalam tingkatan tertinggi spiritual,
Ma’rifah,
Hanya dapat diperoleh dengan kebersihan qolb,
Namun tanpa akal,
Syaithan dan Malaikatpun sama,
Yang membedakan adalah,
Malaikat mengakui eksistensi manusia,
Sedang Iblis tidak,

Mengenal diri (eksistensi manusia),
Adalah mengenal Allah (eksistensi Tuhan),
Kalau Iblis menghindarkan manusia dari mengenal diri,
Sama pula menghindarkan manusia dari mengenal Tuhan,

Jadi, mengenal diripun harus menggunakan akal,
Namun akalpun harus ada rukunnya,
Dan akal yang terbaik adalah al-Furqon,
Al-Qur’anul Kariim,
Yang dibaca dengan hikmah,
Hikmah adalah ngelmu,
Ngelmu adalah knowledge,
Knowledge hanya diperoleh melalui laku atau doing,
Dengan hikmah,
Dalam hidup inilah kita belajar hikmah,

Hikmah mengenai inti,
Dualitas daya tarik dan tolak,
Manifetasinya dalam wujud kehidupan,

Nafsu itu harus ada,
Namun katanya harus dikekang,
Sebagaimana legenda empat kuda,
Yang menarik kereta,

Empat kuda,
Ammarah, Lawamah, Sufiyah, Muthmainnah
Keempatnya penting sekali,
Untuk menarik kereta kencana Sang Raja,

Siapa bilang nafsu itu tidak boleh,
Justru diperbolehkan, dan diharuskan ada,
Selama kita masih menarik nafas,
Namun bagaimana mengaitkan tali pada keempat nafsu itu,

Konon, inilah simbol dari ikat kepala tradisional Arab,
Untuk mengikat fikiran yang menjadi sarana liarnya keempat nafsu,
Begitu pula inilah simbolisasi dari ikat kepala udeng dalam khazanah tradisional Jawa,
Blangkon sebagai simbolisasi di kraton,

Hampir semua budaya yang dilewati Islam,
Memiliki terminologi akan ikat kepala,
Karena akal berada di kepala,
Bisa mengendalikan atau dikendalikan,
Tergantung dimana memposisikan,

Dikendalikan perut ataukah mengendalikan perut,
Dikendalikan selangkangan ataukah mengendalikan selangkangan,
Nafsu, rentan ditumpangi Iblis,
Nafsu yang tidak terkendali, bisa ditumpangi Iblis,
Nafsu itu bukan Iblis, tapi Iblis bisa menguasai nafsu,

Nafsu inilah yang membawa para pengusaha Arab,
Ziarah ke Puncak di Jawa Barat,
Keliru tempat dalam memasukkan benang ke dalam lobang jarum,
Tidak bisa membedakan mana selangkangan istri dan bukan,
Namun bisa membedakan mana yang bahenol dan mana yang bukan,
Menempatkan akal tidak pada tempatnya,
Sehingga meletakkan daya tarik pada yang bukan tempatnya,
Dan terdorong pada ketertarikan yang bukan pada tempatnya,

Lalu, apakah definisi “pada tempatnya”,
Tergantung ente sendirilah membedakan,
Bukankah hidup ini adalah pembelajaran,
Disinilah kita belajar untuk membedakan,

Hidup ini bukanlah tempat untuk menafikkan kekayaan,
Pun untuk menafikkan kemiskinan,
Hidup ini bukanlah tempat untuk menafikkan pangkat keduniawian,
Pun untuk mengejarnya tanpa reserve,
Namun bagaimana meletakkan pada proporsinya,
Itulah Pekerjaan Rumah kita semua,

Saat inilah, aku mulai belajar kembali,
Menyadari bahwasanya aku kemaren-kemaren belum bisa mengendalikan nafsu,
Terutama yang berhubungan dengan perut.
Marilah bersama-sama mengendalikan nafsu,
Sebelum nafsu ditumpangi oleh Iblis,
Nafsu yang ditumpangi oleh Iblis,
Akan membawa pada nafsu pemberontak,
Karena kebencian pada sesuatu yang diberontak,
Dan pemberontakan yang paling besar adalah memberontak terhadap Allah,
Namun, kalau kita jeli, apakah mungkin kita benar-benar memberontak terhadap Allah,
Berfikirlah dab, berfikir,

Tidak mungkin,
Kalau bingung,
Cobalah gunakan berfikir pendulum,
Maupun filosofi melar mengkeret Ki Ageng Suryo Mataram,

Kalau sudah ketemu berarti,
Kamu sudah menguasai ilmu Titik,
Titik di bawah titik Ba’
Seberapapun engkau menjauh, engkau akan bertemu dengan titik,
Seberapapun engkau mendekat, engkau akan bertemu dengan titik,

HAKEKAT TITIK

November 21, 2008

Apabila,
Ma’rifat adalah penyaksian akan Allah,
Hakekat adalah ikhlas,
syukur dan sabar sebelum penyaksian Allah,
Tarekat adalah jalan pengosongan sebelum hakekat,
Syari’at adalah dalil kehidupan dalam menghormati eksistensi-eksistensi lain.


Maka,
Syari’at adalah bagaimana mewujudkan penyaksian akan Allah,
Tarekat adalah bagaimana dalam kehidupan senantiasa mengingatnya,
Hakekat adalah bagaimana ikhlas,
syukur dan sabar dalam kehidupan,
Ma’rifat adalah implementasi kehidupan dalam penyaksian dan menyaksikan-Nya.


Apabila,
Syari’at adalah bagaimana mewujudkan penyaksian akan Allah,
Tarekat adalah bagaimana dalam kehidupan senantiasa mengingat-Nya,
Hakekat adalah bagaimana ikhlas,
syukur dan sabar dalam kehidupan,
Ma’rifat adalah implementasi kehidupan dalam penyaksian dan menyaksikan-Nya.

Maka,
Ma’rifat adalah penyaksian akan Allah,
Hakekat adalah ikhlas,
syukur dan sabar sebelum penyaksian Allah,
Tarekat adalah jalan pengosongan sebelum hakekat,
Syari’at adalah dalil kehidupan dalam menghormati eksistensi-eksistensi lain.

Apabila dan Maka,
Bersatu dalam Titik,
Titik itu adalah Allah,
Syari’at-Tarekat berawal dari Titik,
Hakekat-Ma’rifat berakhir di Titik.

Billahu,
Fillahu,
Bi Idznillahu,
Minallahu,
Allahu,
Titik.

REREPEN PENGANTEN ADAT JAWA

November 19, 2008

REREPEN KIRAB KASATRIYAN

Untuk mengiringi kirab kasatriyan pada upacara penganten adat jawa, biasanya dikumandangan kidungan atau rerepan. Berikut ini salah satu rerepan dengan tembang sekar sinom.

Rerepan Kangge Nyarengi Kirab Kasatriyan
Sekar Sinom

Mijil kang pindha narendra,
den garubyuk para cethi,
mancorong ponang wadana,
pindha Komajaya Ratih,
rinengga-rengga peni,
gawok ngungun kang handulu,
sinung prabawa maya,
hangadhang mulya sejati,
jroning driya asung pamuji Hyang Suksma.

Pamujine mengku brata,
meminta sihing Hyang Widhi,
satindak lan tandukira,
mugyantuk berkahing Gusti,
uga muna lan muni,
tinebihna salah dudu,
tinuntun budi tama,
pantes tinulad para janmi,
pindha nata gya salin agem satriya.

Hageman satriya tama,
pinhane sang Gunungsari,
iku kang temanten priya,
kang putri lir ragil kuning,
prasetya trus nyawiji,
mrih lestari runtut-atut,
ngesti mengkoni putra,
tali tresna jaman mangkin,
dwi kang putra wus cukup rengganing karma.

Tindake sang sinatriya,
kairing puji hastuti,
wiraga mengku prabawa,
mrabawani kang mriksani,
hamemayu sesame,
mahambeg satriya tuhu,
yeku trah Pancasila,
ngudi mulya lahir batin,
tansah eling waspada bakti mring praja.

Widada manggih yuwana,
sari kang pindha Narpati,
rineksa pra wredha mudha,
sumunar lir Dewa-Dewi,
kongsi kaki lan nini,
paminta kapranan kalbu,
amrih bisa sembada,
ing akhir manggih Swarga di,
wiji mulya kinarya ngrengga Nagara.

Panjenenganipun para rawuh saha para lenggah, sampun handungkap prapteng unggyan ingkang tinuju, subamanggala gya sung sasmita mring sri temanten nulya kalenggahaken wonten sasana adi, sang suba manggala sumawana para kadang Wandawa binger jroning wardaya karana wus bangkit hangentasi karya mulya wangsul mring papanira sowang-sowang nedya lerem salira kanthi suka pari suka sumangga nun nuwun.

REREPEN JENGKARING SUBA MANGGALA

Rerepan Dhandhanggula
Kangge Nyarengi Jengkaring Suba Manggala

Hanyarkara sinanggit memanis,
hangrumpaka pahargyan prasaja,
dahat edi sanyatane,
sinten kang nembe mantu,
hamiwaha atmajaneki,
mahargya marang putra,
ingkang sampun dhaup,
bapak ………………………….
sekalian kang hanggung tulus marsudi,
budayaning priyangga.

Wus manunggal keblat hanyawiji,
amrih bisa lestari widada,
Sri penganten sakarone,
jinangkung ing Hyang Agung,
saniskara ingkang kaesthi,
sembada kang sinedya,
jumbuh kang ginayuh,
guyub rukun ing bebrayan,
runtut atut tumekaning kaki lan nini,
manggiha bagya mulya.

REREPEN UPACARA SUNGKEMAN

Pada acara sungkeman oleh kedua calon mempelai kepada orang tua, biasanya dialunkan rerepan atau kidungan dhandhanggula.

Rerepan Dhandhanggula
Kangge Nyarengi Upacara Sungkem

Rama ibu kang luhuring budi,
Ingkang hangukir jiwa lan raga,
Kang agung pangurbanane,
Paring pituduh luhur,
Rina wengi tansah hangesthi,
Mrih rahayuning putra,
Lulus kang ginayuh,
Sadaya ribet rubeda,
Linambaran kanthi sabarang penggalih,
Tuhu pantes sinembah.

Kadya sinendhal rasaning ati,
Panyungkeme kang putra sayuga,
Tumetes deres waspane,
Tan kanawa jroning kalbu,
Ngondhok-ondhok rasaning galih,
Alon ngandikanira,
Dhuh angger putraku,
Sun tampa panyungkemira,
Muga-muga antuk barkahing hyang Widi,
Nggonira jejodhohan.

Piwelingku aja nganti lali,
Anggonira mbangun bale wisma,
Runtut atut sakarone,
Adohna tukar padu,
Tansah eling sabarang ati,
Kuwat nampa panandhang,
Tan gampang amutung,
Dadiya tepa tuladha,
Uripira migunani mring sesame,
Hayu-hayu pinanggya.

SERAT WEDHAPRADANGGA

November 17, 2008

Riwayat wiyosipun gamelan, badhaya, lan gendhing

Serat Wedhapradangga seratanipun Raden Tumenggung (RT) Warsadiningirat aslinipun wujud buku nenem jilid kaserat ngangge aksara Jawi carik.

Warsadiningrat punika salah satunggaling empu karawitan ingkang sanget misuwur wonten ing Karaton Surakarta Hadiningrat. Tembung Wedhapradangga makaten kados sampun kaprah wonten ing jagating karawitan. Serat Wedhapradangga hangewrat bab-bab ingkang magepokan kaliyan jagating karawitan. Ingkang makaten serat minangka salah satunggaling sumber seratan tuhu ageng paedahipun, mliginipun bab cariyosing leluhur anggenipun ngonceki babagan karawitan.

Ing dhudhahan buku punika, Serat Wedhapradangga ingkang dipundhudhah sanes buku aslinipun, seratanipun RT Warsadiningrat, ingkang awujud nenem buku seratan aksara Jawi carik. Dhudhahan buku Serat Wedhapradangga punika lelandhesan tedhakan dening para nimpuna karawitan ing Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Surakarta ingkang sapunika katelah Institut Seni Indonesia (ISI) Solo. Tedhakan Serat Sujarah utawi Riwayating Gamelan Wedhapradangga (Serat Saking Gotek) punika dipunwedalaken dening STSI Surakarta ndalem taun 1990. Serat sujarah lan riwayating gamelan ingkang kawrat ing buku punika, mligi amung nyariyosaken kawontenan, boten nyariyosaken kadospundi menggah teges saha maksudipun gamelan utawi gendhing, punika boten. Karana bab maksud lan tegesipun punika ingkang langkung dhamang inggih ingkang damel piyambak. Serat Wedhapradangga jilid I amratelakaken wiwitipun ing Tanah Jawi wonten gamelan, wiwitipun wonten badhaya saha wiwitipun wonten gendhing tuwin wiwitipun wonten beksan sarimpi, pethikan Serat Pustakaraja utawi Sasadara tuwin waton-waton warni-warni saking pangandikanipun para luhur, para sepuh lan para marsudi kawruh karawitan.

Miturut andharan ing Serat Wedhapradangga, wiyosipun wiwitanipun wonten gangsa (gamelan) punika ingkang nganggit Sang Hyang Guru nalika ngejawantah, jumeneng nata wonten ing Tanah Jawi, akadhaton sapucaking Wukir Mahendra, winastan Nagari Medhangkamulan. Panganggitipun amarengi ing taun 167 tinengeran Swara Karengreng Jagat, winastan gamelan Lokananta utawi Lokanata. Ricikanipun Lonanta namung gangsal, inggih punika gendhing (kemanak), pamatut (kethuk), sauran (kenong), teteg (kendhang, kendhang ageng) lan maguru (gong).

Dene ingkang minangka laguning gendhing, saking kidung, sekar kawi utawi sekar ageng. Ingkang dipunwastani gamelan Lokananta punika sajatosipun gendhing kemanak, utawi gendhing kethuk kenong ingkang binarung ing kidung. Dados sanes gangsa Kodhok Ngorek. Ing salebeting taun Isa 256, taun Suryasangkala utawi 264, ing taun Candrasangkala Amarengi Masa Manggasri, ing Kaindran kadhawuhan mulat, tegesipun cahya pindha sasotya adi.

Werdinipun badhaya nglimputi bab kabudayan lan pulitik

Serat Wedhapradangga punika kejawi asumber saking Serat Pustakaraja utawi Sasadara ugi asumber waton-waton warni-warni saking pangandikanipun para luhur, para sepuh lan para marsudi kawruh karawitan.

Kawruh sujarah utawai riwayating gamelan sapanunggilanipun wau lajeng kaimpun dening RNg Warsapradangga II, abdi dalem mantri niyaga kapatihan. Ng Warsapradangga II wau lajeng kapundhut ngarsa dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Susuhunan Pakubuwana X, kadadosaken abdi dalem menteri ordenas (oredenans), nama RNg Atmamardawa. Lajeng kakarsakaken dados abdi dalem panewu niyaga kasepuhan, nama RNg Pradjapangrawit. Awit saking punika, Serat Wedhapradangga katelah serat saking gotek, tegesipun kaimpun saking katrangan tiyang-tiyang ingkang dhamang utawi marsudi kawruh karawitan. Amargi punika, Serat Wedhapradangga ugi hangewrat cariyos-cariyos ingkang dipunwernani kaprecayan mistik.

Serat Wedhapradangga Jilid I hangewrat cariyos wiyosipun gamelan, kawiwitan saking jaman taun Jawi 167 ngantos dumugi taun 1557, nalika jumenengipun Kangjeng Susuhunan Adi Prabu Anyakrawati (Sunan Krapyak), ing Nagari Mataram. Dene wonten ing Serat Wedhapradangga Jilid II antawisipun dipunandharaken nalika taun 1566, Ingkang Sinuhun Kangjeng Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma ing Mataram, kagungan karsa iyasa gangsa sekaten. Dene gangsa sekaten ingkang lami, iyasan ing Demak, punapa kalebur lajeng dipundamel gangsa sanesipun malih punapa kadospundi, dereng wonten katranganipun ingkang cetha. Wonten ingkang nyariyosaken bilih keceripun gangsa Sekaten wau sapriki salong taksih wonten ing Kabupaten Demak.

Kala ing taun Jawi 1565, Ingkang Sinuhun Kangjeng Sultan Agung awit saking osiking panggalih dalem lajeng badhe iyasa lelangen badhaya. Saking kupiyanipun para empuning karawitan, inggih punika Kangjeng Panembahan Purubaya, Kyai Panjangmas, Pangeran Panji Mudhabagus lan RT Alap-alap katambah pangestunipun Kangjeng Sunan Kalijaga kasil nata gendhing Katawang raras pelog pathet gangsal. Gendhing punika pantes sanget manawi kagem pahargyan jumenengan nata, utawi tinggalan jumenengan. Gendhing Katawang punika ugi kabiji ageng sanget sawabipun minangka dados tetumbaling nagari. Andayani tata tentrem loh jinawi karta raharja, ing sapanginggilipun turun-temurun boten kaselan amengkurat Tanah Jawi.

Legawing panggalihipun Kangjeng Sultan Agung, dening pikantuk sabdanipun wali linuhung lajeng karsa iyasa kemanak sapanunggalanipun. Lajeng kagungan karsa mundhut kenya putranipun para priyagung bupati wolu, kapundhut satunggal-satunggal, kapilih ingkang endah ing warni saha prigel ing solah kinarya badhaya. Karsa dalem amiwiti iyasa lelangen badhaya cacah sanga. Jangkepipun sanga mundhut putra utawi wayahipun pepatih dalem salah satunggal ingkang prigel saha endah ing warni sinartan wasis wiramaning gendhing, minangka tetindhih dados pambataking beksa badhaya.

Dene kawigatosanipun wontenipun badhaya cacah sanga wau kangge ngawuningani kabudayan Jawi bab beksan badhaya, ingkang anuntun dhateng patrap samadi. Ugi kangge ngawuningani dhateng gelaring prang, kadosta gelar prit-neba, garudha nglayang, wulan tumanggal, cakrabyuha sapanunggilanipun. Ingkang ugi dados kawigatosan inggih kangge ngawuningani dhateng karawitaning gendhing ingkang mengku raos lebet utawi adiluhung. Sanesipun punika, karsa dalem murwani badhaya Karaton Jawi ing jaman kaislaman, punapa dene minangka reraketan dhateng para manggalaning praja, nayaka wolu, sanga pepatih dalem ingkang minangka sakaguru, tansah gegandhengan kaliyan karaton. Saben badhaya temtu enget lelabetanipun para manggalaning praja wau.

Pakubuwana IV tansah anggegesang pangawikan kina

Sareng taun 1650, Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Pakubuwana Kaping II ing Nagari Surakarta Hadiningrat, misuwuring asma Ingkang Sinuhun Kombul, utawi Ingkang Sinuhun Sumare Lawiyan, kagungan karsa iyasa gangsa salendro tuwin pelog. Ingkang anggarap damel gangsa Ngabehi Nong-nong.

Sareng sampun babar lajeng kaparingan nama ingkang salendro Kyai Semarmendem, ingkang pelog Kyai Sekargadhing. Lajeng kagungan karsa iyasa lelangen beksan wireng, inggih punika Laras Panji, Laras Panji Nom, Dhadhap Kareta, Dhadhap Kanoman. Tameng Badhung lan Tameng Gleleng. Kacariyos saben lenggah siniwaka ing dinten Senen-Kemis, manawi bonten wonten wisudhan, meh kenging katemtokaken mundhut Gendhing Prawirakusuma. Gendhing punika kaanggep pusaka. Sanadyan nagari dalem ing Kartasura Adiningrat sampun wangsul tentrem, saksampunipun dipunjegi mengsah, ananging panggalih dalem taksih sakalangkung sengkel angraosaken risaking nagari saha risaking karaton dalem saisinipun, prasasat sirna sadaya. Wusana badhe pindhah karaton saking Nagari Kartasura Adiningrat tumuju Dhusun Sala, ingkang lajeng kaparingan nama Nagari Surakarta Adiningrat. Pindhah dalem dhumateng Nagari Surakarta Adiningrat lajeng kagungan karsa iyasa gendhing Boyong, Kadhaton Radya lan Hasrikaton. Lajeng kagungan karsa iyasa lelangen beksan wireng Jemparing Ageng, Dhadhap Karnatinandhing, Dhadhap Alus, Lawung Alit lan Jemparing Alit.

Sareng taun 1693, Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Pakubuwana III ing Nagari Surakarta Adiningrat, misuwuring asma Ingkang Sinuhun Swarga, kagungan karsa iyasa gangsa pelog utawi salendro. Sareng sampun babar sadaya lajeng kaparingan nama Kyai Pangasih (pelog) lan Kyai Rarasati (salendro). Sareng ing taun 1718, Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Pakubuwana IV, misuwuring asma Ingkang Sinuhun Bagus ing Surakarta Adiningrat, kagungan karsa iyasa gangsa Sekaten, kadamel langkung ageng saha kandel, angungkuli kagungan dalem gangsa sekaten iyasan Mataram. Kagungan dalem gangsa sekaten kalih wau lajeng kaparningan nama Kangjeng Kyai Gunturmadu (Sekaten ageng, ingkang suwau nama Kyai Nagajenggot) lan Kangjeng Kyai Guntursari (Sekaten alit). Kajawi iyasa gamelan lan anganggit gendhing, Ingkang Sinuhun Pakubuwana IV ugi iyasa lelangen dalem beksan, antawisipun Beksan Badhaya, Badhaya Gendhing Daradasih, Badhaya Gendhing Ela-ela lan Beksan Wireng Gelas Alit. Ingkang sinuhun kala wau ugi nampeni pisungsung beksan badhaya Gendhing Hanglirmendung. Gendhing kemanak saking Mangkunagaran.

Badhaya Mangkunagaran punika sami kaliyan badhaya ing kasentanan, inggih punika badhaya cacah pitu. Dene ingkang nganggit Gendhing Badhaya Hanglirmendhung wau Kangjeng Gusti Sambernyawa. Ingkang angladosi nganggit gendhing Kyai Demang Cakarma, demang niyaga Mangkunagaran. Mendhet saking laguning Gendhing Gadhungmlathi Badhaya, ingkang ugi winastan Gendhing Handuk, iyasan dalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Sultan Agung ing Mataram. Gendhing Hanglirmendhung wau lajeng kaparingaken putra dalem, Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Angabehi. Lajeng kagem wonten ing Ngabehan. Ingkang sinuhun wau sanadyan sampun karsa nganggit gendhing beksan sapiturutipun kasebut ing nginggil wau, ewadene boten kasupen taksih amarsudi anggegesang pangawikan kina, kadosta anggegesang beksan badhaya, wireng, sekar ageng, ngupakara gendhing-gendhing murih prayoginipun. Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Pakubuwana IV wau kagungan abdi dalem miji panggender estri, nama Nyai Jlamprang.

Sinuhun Susuhunan Pakubuwana V iyasa lelangen Sarimpi

Wiwit dereng jumeneng nata, Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Pakubuwana V, misuwuring asma Ingkang Sinuhun Sugih, sampun kathah iyasan-iyasan utawai anggitan dalem. Langkung-langkung bab gendhing Jawi, gendhing alus, gendhing prenes, endhing gecul. Lajeng kagungan karsa amiwiti iyasa lelangen dalem beksa wanita, mirip beksa laguning badhaya, kawewahan wileding ukelipun. Katindakaken para kenya cacah sekawan, pinilihan ingkang dedeg pangadegipun sami pasariran ngronje, parigel ing solah. Inggih punika ingkang lajeng winastan lelangen dalem Sarimpi.

Gendhingipun Ludira Madura dhawag Kinanthi, suwuk lajeng celuk Mijil Wastrangangrang (ladrangan), gendhing kemanak, laras pelog pathet barang. Beksan Sarimpin wiwit nyembah (dhawah gong) sampun dipunkepraki. Beksan ngadeg dumugi ngajengaken gong, lajeng dipunsenggaki saha keplok alok. Beksan pecat miring lajeng genjot pinjalan utawi prenjakan, dipunsenggaki keplok imbal angadhasih. Manawi badhaya boten mawi kakocapaken lan boten dipunsenggaki. Anggenipun ngepraki yen gendhingipun sampun minggah, utawi dhawah ladrangan saweg dipunkepraki, terkadhang babar pisan boten mawi keprak. Karsa dalem pancen kagen ambedakaken rerengganing beksa badhaya kaliyan beksaning Sarimpi.

Inggih punika mula bukanipun ing Surakarta wonten lelangen dalam Sarimpi. Wiwitipun wonten beksan Sarimpi punika, manawi miturut Serat Sastramiruda, anggitanipun swargi Kangjeng Pangeran Arya Kusumadilaga, ingkang misuwuring asma Kangjeng Pangeran Kusumadilaga Tinjomaya, kados ing ngandhap punika. Prabu Suryawisesa, nata ing Janggala, anganggit beksan dhadhap, lawung lan sapapadhane, ginawe ajaring prang, tinabuhan gendhing warna-warna. Sarta prameswaru nata Dewi Candrakirana anganggit beksane badhaya lan sarimpi, tinabuhan gamelan raras surendra, sinangkalan Katon Beksa Putrining Nata (1263). Kacariyos Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Pakubuwana V wau widagda dhareng saliring pangawikan lahir batos, agal alus, kasusastran, basa utawi tembung kawi, tuwin gendhing-gendhing miwah beksa, malah ngasta nabuh inggih baud. Sadaya ingkang dipuncaki sarwa sae, sarwa alus tur miraos. Peng-penganipun manawi angasta rebab (ngrebab). Saking saenipun ngantos binasakaken, angin mandheg, dados sanadyan angin inggin mandheg dening katarik daya panggendenging cengkok wewiledan ingkang adiluhung wau. Kacariyos kala taksih jumeneng Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Anom, saben pasewakan ing dinten Senen miwah Kemis, saderengipun miyos dalem, Kangjeng Gusti wau kapareng lenggah ing bangsal pradangga, nunggil abdi dalem niyaga, lajeng angasta rebab utawi sanesipun ingkang dados kapareng dalem. Cakipun alus angrawit sarwa miraos. Ananging manawi ingkang rama (Sinuhun Pakubuwana IV) sampun katingal lenggah ing kajogan prabasuyasa, Kangjeng Gusti wau anggenipun angasta (nabuh) lajeng kadamel-damel radi kaduk sembrana. Yen nuju angasta bonang lajeng dipunimbal, dipuncara imbaling saron paringgitan (saron wayangan), kacengkokaken ngantos gobyog sanget, adamel cingakipun ingkang sami sowan ing plataran, sami noleh tumuju ing bangsal pradangga. Sareng mangertos yen ingkang ngasta bonang Kangjeng Gusti, lajeng sami tumungkul ajrih. Saking gobyoging tabuhan, kamirengan ing ngarsa dalem ingkang sinuhun taksih lenggah ing kajogan prabasuyasa, laheng utusan andangu,”Sing mbonang iku sapa, teka anggecul kata mangkono?”. Kaunjukaken yen putra dalem Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Anom. Dhawuh dalem,” Ya wis yen si thole”.

Gendhing Larasmaya lestantun wiwit PB IX ngantos PB XI

Lelangen beksan sarimpi iyasan Sinuhun Pakubuwana (PB) VIII wonten ingkang gendhingipun mawi binarung ing sindhen tuwin wonten ingkang boten mawi binarung ing sindhen (kados kalenengan limrah). Ing antawisipun lelangen beksan sarimpi ingkang gendhingipun mawi binarung ing sindhen inggih punika, Beksa Sarimpi Gendhing Ela-ela, Beksa Sarimpi Gendhing Merak Kasimpir lan Beksa Sarimpi Gendhing Ladrang Manis.

Ewadene lelangen beksan sarimpi ingkang gendhingipun boten mawi binarung ing sindhen antawisipun Beksa Sarimpi Gendhing Bondhan, Beksa Sarimpi Gendhing Raranangis, Beksa Sarimpi Gendhing Glondhong Pring lan Beksa Sarimpi Gendhing Gandakusuma. Kejawi iyasan lelangen dalem beksa badhaya tuwin sarimpi, Sinuhun Pakubuwana VIII wau, nalika dereng jumeneng nata (taksih jumeneng Kangjeng gusti Pangeran Angabehi) iyasa lelangen beksa wireng. Jumeneng dalem nata Sinuhun Pakubuwana IX ing Surakarta Adiningrat, amarengi ing dinten Senen Legi, tanggal kaping 22 wulan Jumadilakhir ing warsa Je, angka 1790, utawi 30 Desember 1861. Ingkang Sinuhun Pakubuwana IX wau wiwit dereng jumeneng nata ngantos jumeneng nata tansah kapareng amarsudi dhateng saliring pangawikan lan kabudayan karawitan, bab gendhing-gendhing miwah beksa. Kapareng nindakaken piyambak beksa, punapa dene ngasta nabuh gambang, rebab, kendhang, kapareng ambawani (buka celuk) Gendhing Katawang Ageng Badhaya.

Kacariyos manawi anjenengi ajar-ajaran beksan badhaya tuwin sarimpi, Ingkang Sinuhun lenggah ing dhampar. Ing kanan kiringipun dhampar palenggahan dalem dipunsudhiyani rebab, gambang tuwin kendhang. Inggih punika tetabuhan ingkang dados kaparenging panggalih dalem, ingkang badhe kaasta ing ngarsa dalem. Tuhu winasis ing saniskara, ngantos misuwur. Wasising gendhing ngantos kondhang, mumpuni kidung palupi. Makaten misuwuring asma dalem. Gendhing Katawang Larasmaya iyasan Sinuhun Pakubuwana IX sareng jaman Ingkang Sinuhun Pakubuwana X wau kagem pakurmatan kondur dalem saking sitinggil (manawai miyos bakda ing sitinggil), ingkang kurmat Larasmaya wau gangsa ingkang wonten ing paningrat. Manawi sampun lenggah, gangsa suwuk. Lan jengkar dalem saking pandhapa sasana sewaka, kaurmatan Gendhing Durkajongan (Undur-undur Kajongan). Gendhing Larasmaya wau kajawi kagem pakurmatan kondur dalem saking tedhak papara utawi ameng-ameng padintenan. Mila ngagem Larasmaya, amargi jaman kaping sadasa wau dereng wonten Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Anom. Gendhing Larasmaya wau lestantun kagem pakurmatan kondur dalem, ngantos dumugi jumeneng dalem Ingkang Sinuhun Pakubuwana XI, taksih anglestantunaken ngagem. Ingkang Sinuhun Kaping IX wau taksih amarsudi saliring pangawikan, makaten ugi dhateng bab gangsa. Kala samanten kagungan karsa anyantuni gendhing ingkang kagem ing beksa badhaya, Badhaya Bontit (badhaya Gendhing Bontit). Bontit kalajengaken Turirawa, lajeng Katawang Srepegan, raras pelog pathet nem.

Jaman rumiyin saben pasamuwan sekaten ing wulan Mulud, wiwit tanggal 5 dumugi 12 (malem bakda), kagungan dalem gangsa sekaten ingkang kaungelaken wonten ing Bangsal Pradangga namung sarancak; Kangjeng Kyai Guntursari (sekaten alit iyasan dalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Sultan Agung ing Mataram. Sareng jumeneng dalem Pakubuwana IV (Sinuhun Bagus) ing Surakarta, iyasa gangsa sekaten (sekaten ageng, asma Kangjeng Kyai Gunturmadu). Sanadyan gangsa sekaten sampun kalih rancak, nanging amung malempak dados satunggal, wonten ing Bangsal Pradangga sisih kidul. Dene bangsal ingkang ler kangge pasowananipun abdi dalem jaksa. Awit saking kaparenging karsa dalem Sinuhun Pakubuwana IX, kagungan dalem gamelan sekaten Kangjeng Kyai Guntursari (Sekaten alit iyasan Mataram) ingandikakaken nata wonten ing kagungan dalem bangsal ingkang sisih ler. Dene Kangjeng Kyai Gunturmadu (Sekaten ageng iyasan Pakubuwana IV) lestari wonten kidul kados ingkang sampun, saha katemtokaken mungel rumiyin. Dados kagungan dalem gamelan sekaten lajeng dados kalih panggenan (ler-kidul).

Sinuhun Pakubuwana X amumpuni saliring pangawikan

Esuk wiwit tangi turu, Kang Soma dheleg-dheleg ana lincak ngemper omah. Sirahe krasa mumet mikirake uripe sing tambah ruwet. Atine judheg gaweyan mandheg, butuhe tambah suwe tambah seabreg. Nalika jumenengipun Sinuhun Pakubuwana X, amarengi ing dinten Kemis Wage, tanggal 12 wulan Ramelan ing taun Je 1822, utawi kaping 30 Maret 1893, kawontenanipun ing karaton sarta praja dalem ing sawewengkonipun sadaya ing Surakarta Adiningrat kathah indhaking kamajenganipun.

Kawontenan kabudayan karawitan inggih nengsemaken. Tetabuhan gangsa alus, thuthukanipun nengsemaken. Gendhingipun kathah warni-warni. Kadosta gendhing kina, gendhing baku karaton, gendhing prenes, gendhing gacul utawi gaculan dalah gendhing manca utawi pasisir inggih kacakup.Kathah pakempalan tabuhan utawi sinau nabuh gangsa, sinau gendhing-gendhing. Malah kagungan dalem Musium Sriwedari ugi ngedegaken pasinaon nabuh gamelan, inggih punika KK, cekakan saking tembung Kawruh Kaniyagan, tuwin ngawontenaken pasinaon dhalang, inggih ingkang winastan Pa-Dha-Su-Ka saking cekakaning tembung Pasinaon Dhalang Surakarta, kaayoman Radyapustaka. Makaten ugi bab sekar-sekar utawi tembang, ingkang dipunajangi pakempalan Mardiguna, manggen ing Kusumayudan. Tuwin bab beksa utawi joged. Ing karaton ngantos dumugi ing njawi, meh pundi-pundi panggenan tansah sami amarsudi, temahan andayani luhuring karaton dalem. Sajumeneng dalem Sinuhun Kaping X wau tansah anampeni pisungsung bintang saking manca nagari ngantos kathah, andayani saha tambahing kaluhuran dalem.

Panembrama
Saben mentas tampi lajeng dipunpengeti, inggih punika wonten ing Serat Panembrama, ingkang tinrap ing geronging gendhing. Nanging kala samanten dereng dipuniyasani gendhing. Dados panembrama wau lajeng tinrap ing gendhing ingkang sampun wonten, utawi gendhing lami.

Antawisipun inggih punika panembrama nalika rawuhipin sri narata ing Nagari Siyam, Kitha Bangkok, ingkang ajejuluk Sang Maha Silalon Prabu Koren Praculasom Klowa, tangga 25 wulan Sura ing warsa Jimakir angka 1826, tinrap ing gendhing Ladrang Asmaradana, raras pelog pathet barang, padhetan saking Sekar Asmaradana, salendro manyura, inggih gendhing langendriyan. Panembrama amengeti pisungsung bintang Kumandur Orde Nederlanse Leo, dinten Jumuah tanggal 20 wulan Sapar, taun Jimakir 1826, tinrap ing Gendhing Gambirsawit, raras salendro pathet sanga. Panembrama amengeti jumenengipun nata Kangjeng Rajaputri Wilhemina ing Nederlan (Nagari Walandi), tanggal 31 Agusrus 1898, amarengi Sinuhun Pakubuwana X anampi bintang Groot Ufesir Orda Oranye Nasau, tinrap ing Gendhing Kinanthi Ludira, pelog barang. Lan taksih wonten panembrama sanesipun ingkang tinrap ing gendhing lami sanesipun. Sareng jumeneng dalem Sinuhun Pakubuwana XI, sadhatengipun Nipon utawi Jepang nguwaosi Tanah Jawi, sadaya ungel-ungelan utawi pakecapan ingkang mawi basa Landi, boten kapareng. Awit saking punika, cakepanipun Gendhing Ludira wau dhawuh dalem ingandikakaken anyantuni cakepanipin Gendhing Ludira piyambak, inggih punika “Mideringrat angelangut” sapiturutipun. Mijil-ipun “Wastra ngangrang tebenging patani” sapiturutipun.  Dene Gendhing Ludira   minggah   Kinanthi  lajeng   Ladrang   Mijil  dalah sacakepanipun wau,  iyasan  dalem     Pakubuwana V.

Sampeyan Dalem Ingkang Minulya Saha Wicaksana Pakubuwana X wau kalebet amumpuni saliring pangawikan, kadosta dhateng ngelmi sepuh utawi ngelmu kasampurnan, malah sampun kapareng amaringi barkah dhumateng para putra santana saha abdi dalem (jumeneng guru). Manawi mejang wonten ing Bandengan, apal dhateng sujarah. Apal dhateng padhalangan saha wayang dalah wandaning ringgit. Kerep paring piwulang dhateng abdi dalem dhalang. Ahli dhateng tosan aji. Kagungan aji panggandan, saking katebihan saged mirsa, manawi wonten ingkang ngangge dhuwung sae. Makaten kalangkunganipun. Punapa malih dhateng bab beksa tuwin gangsa, malah inggih saged ngasta rebab. Ingkang nyerat Wedhapradanga (Prajapangrawit) nate nyumerepi piyambak, Sampeyan Dalem angasta rebab, rebab pusaka dalem Kangjeng Kyai Grantang, kala samanten gendhingipun Gambirsawit, salendro pathet sanga.

Nut angka dipunanggit jaman Sinuhun Pakubuwana X

Sajumeneng dalem Pakubuwawa X wau, kawontenanipun tindhih kamisepuh abdi dalem niyaga kasepuhan gantos-gumantos, antawisipun, Raden Riya Ngabehi Gunapangrawit, Raden Ngabehi Gunamardawa, Kyai Demang Gunasentika, Kyai Demang Mlaya, Mas Ngabehi Gunadipraja tuwin Mas Lurah Purwapangrawit inggih Mas Ngabehi Purwapangrawit.

Tetindhih abdi dalem kamisepuhipun abdi dalem gendhing pandhe gangsa antawisipun, Mas Ngabehi Gunapradangga, Mas Lurah Karyapradanga tuwin Mas Ngabehi Gunapradangga (III). Wontenipun nut angka (nut gendhing Jawi nut angka Eropah) inggih jaman Pakubuwana X wau, anggitan ing kapatihan. Dene mula bukanipun wonten nut angka wau, kacariyosaken kados makaten. Kyai Demang Karini, abdi dalem demang musik ing Mangkunagaran (Mangkunagara IV) asli saking Kamlayan. Kacariyos taksih kaleres nak-sanak kaliyan Kyai Demang Gunasentika, abdi dalem panewu niyaga kasepuhan golongan tengen.

Mila boten langka manawi Kyai Demang Karini wau saged nabuh gangsa, sinartan sugih gendhing Jawi. Lajeng gadhah anggit damel nut gendhing Jawi. Sareng sampun dados nut wau, winastan nut rante. Nut Rante wau lajeng kasukakaken kaliyan Demang Gunasentika; Kyai Demang Gunasentika nalika taksih nama Mas Lurah Sudiradraka, abdi dalem lurah niyaga Mangkunagaran (Mangkunagara IV), nama Mas Lurah Sudiradraka (karanipun Mas Lurah Dari).Nut wau sareng sampun wonten ing Gunasentikan lajeng kababaraken ing anak putu. Wasana lajeng kaaturaken ing nagari, konjuk ing pepatih dalem, minangka pratandha sumungkem saha bingahing manah anggenipun mentas kakarsakaken dados abdi dalem panewu niyaga kasepuhan golongan tengen. Kajawi ngonjukaken nut rante, gendhing-gendhing lami utawi kina, kaliyan ngonjukaken pisungsung gendhing anggitanipun, gendhing bonang salendro nem.

Nut rante wau sareng kawulangaken para putra santana ing kapatihan radi angel ing panampinipun. Awit saking punika lajeng dipun rekadaya murih gampiling panampi, dening Bandara Raden Mas Jayasudirja, inggih punika Raden Mas Tumenggung Wreksadiningrat (I). Dipunreka kaliyan prasaja, inggih punika saron pelog wilahan pitu lajeng dipunangkani, saking ngandhap manginggil, utawi saking ageng dumugi alit: 1 (panunggul), 2 (gulu), 3 (tengah/dhadha), 4 (pelog), 5 (gangsal), 6 (nem) lan 7 (barang). Manawi salendro, tanpa angka 4, nanging makaten: 1 (barang), 2 (gulu), 3 (tengah/dhadha), 5 (gangsal), 6 (nem) lan 7 (dados gembyanganipun angka 1). Sareng kadadosaken nut lajeng kalimrahaken ing saknagari Surakarta, lestari dumugi sapriki, lajeng dipunangge para abdi dalem niyaga ing Surakarta. Sarta para pamarsudi inggih kathah ingkang sami amigunakaken nut kapatihan wau.

Wontenipun kenong pepak miturut wilahan, inggih punika gulu, tengah (dhadha), gangsal, nem, barang, panunggul tuwin kenong manis. Mila winastan kenong pepak, amargi ingkang kalimrah kenong punika namung tiga, raras: 5, 6 lan barang. Wontenipun gangsa calempungan ngantos kathah warni-warni, punapa dene siter (calempung Eropah) dipun-stel kaliyan gangsa Jawi, saha wontenipun slenthom utawi slenthong, inggih punika slenthem ageng (gembyanganipun slenthem) saking gangsa, wonten ingkang saking kawat (calempung ageng sanget). Sampeyan Dalem Sinuhun Pakubuwana X anyinaokaken beksan golek Ngayogyakarta, Gendhing Montro dhawah Ladrang Asmaradana, salendro pathet manyura. Majengipun Ladrang Prabuanom, salendro manyura. Dene unduripun Giyar-giyar, pelog barang (manawi Surakarta Ayak-ayak Rangu-rangu).Lajeng anyinaokaken abdi dalem badhaya dhumateng ing Tejakusuman, Ngayogyakarta, ingandikakaken nyinau beksa sarimpi gendhing Merak Kasimpir minggah Ladrang Kembangpepe, kalajengaken Katawang Cendhaniraras (manawi Surakarta Katawang Martapuran utawi Srepegan Martapuran). Dene kapang-kapangipun majeng saha munduripun sami Ladrang Langenbranta, raras pelog bem (manawi Surakarta raras pelog pathet nem).

BABAD CARIYOS LELAMPAHANIPUN R.Ng. RANGGAWARSITA

November 14, 2008

Putra pujangga nanging mboten mangertos ”alip bengkong”

R Ng Ranggawarsita punika satunggaling pujangga ageng ing nagari Surakarta Hadiningrat. Ing Babad Cariyos Lelampahanipun Suwargi R Ng Ranggawarsita, ingkang kababar dening Komite Ranggawarsita Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, kawedalaken dening Balai Pustaka, taun 1979, dipuncariyosaken lelampahanipun sang pujangga tuwin cacariyosan bab kadibyan, kalangkungan sarta kaelokanipun sawatawis.

Dene pethikanipun serat-serat boten kalebet ing buku babad punika. Miterat andharan ing pambukaning buku, pethikan serat mboten dipunlebetaken amargi saweg bab lelampahanipun kemawon sampun kathah sanget. Isinipun babad punika bab lelampahanipun R Ng Ranggawarsita nalika puruita ngaji dhumateng kitha Ponorogo, saha dhumawahing kaelokan nalika anglampahi kungkum wonten ing lepen Watu laminipun sekawandasa dalu. Kaelokan punika limrahipun dipunwastani wahyuning kapujanggan. Lelampahan wau kacariyosaken wiwit saderengipun dhewasa ngantos dumugi sedanipun sarta mawi dipun dekeki asalsilah sawatawis ingkang nurunaken dhumateng R Ng Ranggawarsita. Nalika sugengipun, R Ng Ranggawarsita dados abdi dalem Kaliwon Kadipaten Anom saka pujangga ageng ing nagari Surakarta Hadiningrat. Nalika dereng dhewasa nama Bagus Burhan. Lairipun ing dinten Senen Legi, tanggal kaping 10, wanci jam 12 siang, wulan Dulkangidah ing taun Be, angka 1728, wuku Sungsang, dewa Sri, Wurukung Uwas, mangsa Jita, windu Sangara. Panjenenganipun punika putra pambajeng M Ng Ranggawarsita, abdi dalem Panewu Carik Kadipaten Anom.

Nalika R Ng Ranggawarsita lair, M Ng Ranggawarsita taksih dados abdi dalem jajar Carik Kadipaten Anom, nama Mas Pajangswara, kacariyos amargi saking saening swaranipun, nanging lajeng katelah nama Mas Pajangsora, putranipun pambajeng RT Sasatranagara, abdi dalem Bupati Kadipaten Anom saha abdi dalem Pujangga ing nagari Surakarta Hadiningrat.

Nalika lairipun Bagus Burhan, ingkang embah buyut Kyai Ngabei Yasadipura taksih amenangi ngantos sawatawis taun laminipun. Sareng Kyai Ngabei Yasadipura andungkap badhe seda, RT Sastranagara dipun paringi pangandikan bilih ingkang wayah, Bagus Burhan, ing tembe badhe dados pujangga panutup ing nagara Surakarta Hadiningrat. Dipunngendikakaken ugi bilih samangke misuwuring Bagus Burhan nalika kapatedhan wahyu kapujanggan badhe langkung kaliyan ingkang embah-embahipun. Sanajan ingkang putra sampun boten kekilapan bab punika, ewadene sinamun ing samudana ngatingalaken karenaning panggalihipun. Sasampunipun Bagus Burhan dipun pegeng lajeng kaparingaken dhateng Ki Tanujaya, abdi kinasihipun RT Sastranagara. Ki Tanujaya sakalangkung tresnanipun dhateng Bagus Burhan, makaten ugi Bagus Burhan, tresna sanget dhateng Ki Tanujaya. Rinten dalu sampun boten saged pisah, ngantos kasupen dhateng ingkang rama tuwin ingkang embah. Sareng Bagus Burhan andungkap yuswa 12 taun, keparengipun ingkang embah badhe kapuruitakaken ngaji dhumateng Ponorogo, kapasrahaken dhateng Kangjeng Kyai Imam Besari ing Gebangtinatar. Kyai Besari punika mantu Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Susuhunan Pakubuwana IV, saha sadherek tunggil puruitan kaliyan RT Sastranagara. Ki Tanujaya kadhawuhan ngetutaken lestari dados pamongipun.

Dumugi Panaraga R Ng Ranggawarsita lajeng sowan Kyai Besari, ngaturaken seratipun ingkang rama RT Sastranagara. M Ng Ranggawarsita kaliyan ingkang rayi, wonten ing Panaraga namung nyipeng kalih dalu, lajeng nyuwun wangsul dhateng nagari Surakarta. Pangintenipun Kyai Besari, Bagus Burhan sampun saged maos Kur’an saha kitab-kitab, dene punika wayah buyutipun pujangga ingkang sampun kasusra asmanipun. Pranyata, Bagus Burhan dereng saget ngungelaken, malah ingkang nama alip bengkong kemawon dereng mangertos babar pisan. Sareng Bagus Burhan anggenipun wonten Panaraga sampun andungkap kalih wulan laminipun, kaliyan para kancanipun sampun sami pundhuh sedaya, malah wonten ingkang supeket kados sedherek tunggil yayah rena. Salebetipun sewulan dumugi kalih wulan wau saben enjing sonten boten nate kendel anggenipun sinau, nanging sedaya ingkang sampun dipun wulangaken boten wonten ingkang kacanthel sakedhik-kedhika, paribasan saben ngadeg sampun kesupen, ngantos andadosaken kakening manahipun ingkang mulang.

Bagus Burhan tansah nglirwakaken kuwajiban sinau

Bagus Burhan remenipun ngejak kanca-kancanipun dhaten lepen angupados ulam. Menawi sekinten kantun anggenipun ngaji, kancanipun dipun weling kapurih mamitaken sengadi sakit badanipun.

Kiai Besari yektosipun sampun wuninga bilih Bagus Burhan mboten majeng dhateng ngaji. Ingkang dipun remeni namung kasenengan ingkang mawi waragad ambeborosi. Sanesipun remen ngupadi ulam, Bagus Burhan ugi remen benthik, bengkat, tor malah salajenipun remen gimer, keplek nganggur-ngangguripun ombak beji tuwin lumah kurep. Sareng ndungkap setaun ing Panaraga, sangunipun Ki Tanujaya sampun nipis. Kapalipun pisan sampun sami dipun sade kangge nguja kekajenganipun Bagus Burhan wau. Bagus Burhan anggenipun sinau sampun langkung setaun. Limrahipun lare ingkang sinau semanten laminipun sampuns aged maos Kitab Al Quran. Mangka, manawi Bagus Burhan, sampun ingkang Quran, dhateng Turutan kemawon dereng katam. Para guru lajeng caos pamrayog dhateng Kiai Besari muwih misahaken Bagus Burhan saking Ki Tanujaya. Ananging Kiai Besari mboten mentala. Ki Tanujaya piyambak rumaos sampun anetepi menapa piwelingipun ingkang embah ingkang kadhawuhaken dhateng Ki Tanujaya piyambah. Dados kawontenanipun Bagus Burhan pancen dede lepatipun Ki Tanujaya. Nguningani Bagus Burhan ingkang sansaya dinten sansaya mbeler, Kiai Besari rumaos kewran panggalihipun. Dadakaning panggalihipun lajeng andhawuhaken para siswanipun sedata supadis njothak dhateng Bagus Burhan.

Saking sedaya siswanipun Kiai Besari, namung putranipun Bupati Samarata piyambak ingkang boten ngestokaken, taksih wanuh kaliyan Bagus Burhan. Saking mboten wonten kanca ingkang saged dipun ajak dolanan kados sabenipun, wusananipun Bagus Burhan lajeng mempen wonten ing pondhokan kemawon, malah lajeng kamidilepen ajrih ngaji dhateng ngajengan. Ngungingani punika, Ki Tanujaya tuwuh raos welas ing manahipun. Ki Tanujaya lajeng damel rekadaya kawelehipun para lare ingkang sami njothak Bagus Burhan sageda sami ngajak wanuh piyambak, mboten saking dhawuhipun Kangjeng Kiai. Gelaripun anaros dhateng putranipun Ingkang Bupati Samarata, punapa sariranipun kepengin badhe sumerep dhateng lelembut ing Panaraga. Menawi kepengin, Ki Tanujaya sagah badhe nyumerepaken, nanging mawi kajanji sampun ngantos kawuningan Kangjeng Kiai. Wicantenipun Ki Tanujaya dipun sengaja wonten ngajengipun para lare kathah, pamrihipun supados sami kepengina. Ingkang putra Bupati Samarata sakalangkung bingahing manahipun, lajeng daya-daya tumunten dipunsumerepaken. Sanalika ugi lajeng dipun sumerepaken dening Ki Tanujaya. Kalangkunganipun Ki Tanujaya ingkang saged nyumerepaken bangsaning lelembut punika dangu-dangu kamirengan Kangjeng Kiai. Kiai Besari lajeng thukul dedukanipun dhateng Ki Tanujaya, kagalih ananem wiji ngelmu sikir dhareng siswa-siswanipun tuwin dhateng tiyang sanesipun.

Wusananipun Ki Tanujaya lajeng dipundhawuhi kesah saking Panaraga, dene Bagus Burhan kadhawuhan nilar badhe boten kirang ingkang kadhawuhan angopeni. Ananging amargi sakalangkung tresnanipun dhateng Bagus Burhan, ugi suwalikipun Bagus Burhan sakalangkung tresna dhateng Ki Tanujaya, kekalihipun lajeng sesarengan nilar Panaraga, tumuju dhateng Kedhiri. Kesahipun saking pesantrenipun Kiai Imam Besari kanthi cara sesidheman. Mlampahipun ing wayah dalu. Wonten sambetipun.

Ing Madiun Bagus Burhan pinanggih bakal sisihanipun

Lampahipun Ki Tanujaya lan Bagus Burhan dumugi ing tlatah dhusun Mara, anjujug griyanipun tiyang nama Kasan Ngali ingkang kaprenah sedherek misanipun Ki Tanujaya.

Ki Tanujaya lan Bagus Burhan anggenipun kampir ing dhusun Mara sampun sewulan laminipun. Sareng genep selapan dinten rerem ing dhusun Mara, Ki Tanujaya kaliyan Bagus Burhan lajeng pamitan sedya andumugekaken lampah tumuju nagari Kedhiri. Saking pamrayoginipun Kasan Ngali, Bagus Burhan lajeng badhe katitipaken rumiyin wonten Madiun, ingkang katuju nama Manguncarita, sawijining lurah peken ingkang keras manahipun, watekipun mboten kenging corok-cinorok, dhateng kawanuhan boten angekul nanging boten maelu dhateng tiyang boten gadhah. Namung wulangipun sae, saben tiyang dipunpurih nyambut damel, supados angsal kauntungan ingkang saged langkung dipuntedha sadintenipun. Ki Tanujaya lan Bagus Burhan dipunprayogakaken angentosi rawuhipun Kangjeng Pangeran Adipati Cakradiningrat saking Kedhiri ingkang tansah mampir dhateng griyanipun Ki Manguncarita.

Salajengipun Ki Tanujaya lan Bagus Burhan tumut Ki Manguncarita dhateng peken. Ki Tanujaya lan Bagus Burhan lajeng dados bakul kalithikan. Anuju sawijining dinten Kangjeng Pangeran Adipati Cakradiningrat sedya marak sowan dhateng Surakarta. Kados adat sabenipun, Kangjeng Adipati ingkang dipundherekaken garwa, putra lan abdi sawetawis, rerem wonten ing griyanipun Manguncarita. Ing kalodhangan punika, Ki Tanujaya saget kepanggih Kangjeng Adipati saha ngaturaken sedaya lelampahanipun Bagus Burhan. Sasampunipun midhanget sedaya aturipun Ki Tanujaya, Kangjeng Adipati ngendika samangke sakonduripun saking Surakarta, Bagus Burhan badhe kabekta dhumateng Kedhiri. Ing kalodhangan rerem wonten griyanipun Manguncarita, putra putrinipun Kangjeng Adipati, nama Raden Ajeng Gombak, kadherekaken embanipun, Nyai Jayasetra, tindak dhateng pasar.

Wonten ing pasar pinanggih Bagus Burhan ingkang nengga dagangan kalithikan. Raden Ajeng Gombak tumbas supe seser emas. Pawadan punika, Kangjeng Adipati paring paraban dhumateng putra putrinipun, Raden Ajeng Gombak, rare kalithikan lan sinebut Raden Ajeng Kalithikan. Sareng sampun dewasa, Raden Ajeng Gombak punika kadhaupaken kaliyan Bagus Burhan. Lajeng pikantuk nama Raden Ayu Pujangganom, karan Pajang Anom. Dumugi ing Sastranagaran, Kangjeng Adipati ngaturaken lelampahanipun Ki Tanujaya lan Bagus Burhan. Dipunaturaken ugi bilih sapunika kekalihipun mondhok wonten ing Madiun lan sedya badhe kabekta dhateng Kedhiri. RT Sastranagara ngaturaken panuwun dhumateng Kangjeng Adipati. Salajengipun, RT Sastranagara ngejak dhumateng ingkang putra, M Ng Ranggawarsita, inggih ramanipun Bagus Burhan, supados tumut mbangun tapa murih lelampahanipun Bagus Burhan samangkenipun nuwuhaken kabecikan. Wiwit punika RT Sastranagara tansah ngirang-ngirangi sare, cegah guling, makaten ugi M Ng Ranggawarsita.

Ewadene Ki Tanujaya kaliyan Bagus Burhan ingkang ngantu-antu rawuhipun Kangjeng Pangeran Adipati Cakradiningrat amanggih cuwa. Konduripun Kangjeng Adipati saking Surakarta tumuju Kedhiri mboten rerem wonten ing griyanipun Manguncarita. Ki Tanujaya sanget judhegipun. Wusananipun, Ki Tanujaya kaliyan Bagus Burhan pamit dhateng Manguncarita, sedya andumugekaken lampah dhateng Kedhiri. Lampahipun Ki Tanujaya tuwin Bagus Burhan anggening sami badhe sowan dhateng Kedhiri, sareng sampun angambah margi salebeting wana, kekalihipun lajeng sami bingung, mboten sumerep eler kidul. Dangunipun ngantos tigang dinten tigang dalu. Ing wekdal tigang dinten tigang dalu punika, Ki Tanujaya kaliyan Bagus Burhan mboten nedha, mboten ngombe tuwin mboten tilem.

Bagus Burham wangsul dhateng Ponorogo

Awit saking sakalangkung sayahipun anggenipun lumampah wonten salebetipun wana, wusana Bagus Burham (sanes Bagus Burham kados ingkang kaserat saderengipun) dhawah breg, kesambet. Bagus Burham mboten kiyat nandhang sayah, padharanipun luwe, maripatipun arip sanget, gulunipun salit, raosipun ngorong, badanipun gumeter, kringetipun gumrobyos kados tiyang adus.

Ki Tanujaya lajeng nyenyuwun dhateng Ingkang Adamel Gesang, angeningaken cipta. Sanalika andhatengaken gara-gara angin ageng agegerotan. Sasirepipun angin ageng lajeng katingal wonten teja anggameng wonten sanginggiling Bagus Burham. Saicalipun teja, woten pitulunganing Pangeran. Ki Tanujaya dipunpanggihi tiyang sepuh mangagem sarwi wulung, awewarah dhateng Ki Tanujaya, manawi ing wekdal punika Ki Tanujaya tuwin Bagus Burham sami dereng kala mangsanipun dhateng ing Kitha Kedhiri. Kekalihipun kasuwun sami wangsul malih dhateng Ponorogo. Tiyang mangagem wulung punika paring uninga dhateng Ki Tanujaya bilih samenika dukanipun Kangjeng Kiai Imam Besari sampun lilih. Mila Ki Tanujaya tuwin Bagus Burham kadhawuhan wangsul dhateng ing Kitha Madiun rumiyin. Pawadanipun, utusanipun RT Sastranagara ingkang kadhawuhan madosi Bagus Burham, Ki Jasana, sampun kapanggih kaliyan Kramaleya, utusanipun Kiai Imam Besari ingkang ugi kadhawuhan madosi Bagus Burham. Kekalihipun samenika wonten ing Kitha Madiun. Sasampunipun terang sedaya dhawuhipun, Ki Tanujaya tuwin Bagus Burham kadhawuhan merem lan lajeng kadhawuhan angelekaken maripatipun. Sareng sampun melek, tiyang kalih ngantos sami anjumbul, sarta sakalangkung pangungunipun manahipun, dene Ki Tanujaya tuwin Bagus Burham, sampun ngadeg wonten palataranipun tiyang gadhah damel, tuwin mawi dipun urmati ungeling gangsa gendhing Kebogiro angangkang, sarta lajeng dipunpapagaken kaliyan ingkang gadhah damel.

Sasampunipun Ki Tanujaya tuwin Bagus Burham sami nedha pisegahan saking ingkang kagungan damel, ingkang badhe kangge angsal-angsal kadamelaken piyambak. Sekul ulam sakroso ageng, mawi ingkung wetah setunggal, pangananipun sakroso ageng. Sareng sampun rampung perlunipun, Ki Tanujaya tuwin Bagus Burham lajeng sami pamitan wangsul dhateng ingkang gadhah damel. Antawisipun jam tiga siyang utawi Asar inggil, lampahipun Ki Tanujaya tuwin Bagus Burham sampun dumugi salebeting Kitha Madiun. Bagus Burham lajeng kepanggih Ji Jasana lan Kramaleya. Kaleresan Bagus Burham boten pangling dhateng Kramaleya. Lajeng sami anyariyosaken lelampahanipun piyambak-piyambak. Boten dipuncariyosaken wontenipun margi, sareng wanci bakda Ngisa, tiyang sekawan sampun dumugi Kitha Ponorogo. Ki Tanujaya, Bagus Burham tuwin Ki Jasana, lajeng sami anjujug ing pondhokan. Namung Kramaleya ingkang anjujug ing griyanipun piyambak. Sareng sampun ngaso lajeng lapur dhumateng Kangjeng Kiai Imam Besari, anggenipun mentas kautus. Dhatengipun Bagus Burham sarowangipun, wekdal semanten ing pondhokan saweg rame-ramenipun para murid sami anderes Kur’an. Sareng sumerep Bagus Burham saha Ki Tanujaya dhateng, anggenipun ngaji lajeng kendel, sami amurugi dhateng palinggihanipun Ki Tanujaya tuwin Bagus Burham. Lajeng sami dipun ajak nedha sesarengan.

Bagus Burham remen dhateng pandamel maksiyat

Sawangsulipun Bagus Burham dhareng pondhok ing Ponorogo ingkang kaesuh dening Kangjeng Kiai Imam Besari, pangajinipun saya bibrah, mboten wonten ingkang kalebet ing manah babar pisan.

Kadhangkala Kangjeng Kiai nylenthik kupingipun Bagus Burham supados temen-temen anggenipun ngaji. Ewadene Bagus Burham boten pisan-pisan anggatosaken dhateng pitutur prayogi. Ingkang dipunremeni namung dhateng padamelan maksiyat. Saben dinten boten gothang keplek yatra kaliyan kanca-kancanipun ingkang ugi sampun kelajeng remen dhateng pandamel maksiyat. Boten ketang dhelik-dhelikan meksa dipun temaha. Tunggil taun kaliyan mantukipun Bagus Burham saking Kitha Madiun, ing Ponorogo kadhatengan paceklik. Sedaya sabin ingkang dipuntanemi sami kaambah ing ama menthek saha lodhoh, sarta walang sangit sapanunggilipun. Warga sami kekirangan pangan. Kangjeng Kiai Imam Besari lajeng parepatan kaliyan para pinisepuh, sami kadhawuhan mbudidaya kados pundi sakecanipun ingkang dipun lampahi. Aturipun para pinisepuh warni-warni. Wonten ingkang gadhah pamanggih paring sumerep dhateng tiyang sepuhipun, wonten ingkang gadhah pamanggih nyuwun biyantu pitulunganipun pamarentah, wonten ingkang gadhah pamanggih setiyar piyambak. Kangjeng Kiai lajeng mutusaken kedah setiyar piyambak.

Para murid kadhawuhan sami musapir dhateng para priyantun, dhateng para artawan, sarta dhateng para sudagar, menapa dene dhateng sanes-sanesipun ingkang sakinten angendahaken dhateng kabangsan, mawi dipun bektani cathetan kangge tapak asmanipun ingkang sami amaringi. Bagus Burham ugi ndherek lampah musapir punika. Nalika saweg kalih dinten dumugi sewulan, golonganipun Bagus Burham ingkang kapatah musapir, angsal-angsalanipun sami racak-racak kaliyan kancanipun. Ananging dangu-dangu namung angsal sakedhik piyambak. Malah lajeng mboten angsal babar blas, andadosaken pamuring-muringing manahipun juru anampeni. Mila ngantos dipun srengeni kathah-kathah. Bagus Burham sakancaipun rare nenem, saben anglampahi tampi musapir lajeng nyaleweng dolan sakajeng-kajengipun piyambak. Adhakanipun dolan wonten pinggir lepen, sami memet ngupados ulam. Dangu-dangu patrapipun Bagus Burham sakancanipun dipun mireng Kangjeng Kiai. Sanes dinten tampinipun musapir Bagus Burham sakancanipun ingkang tigang golongan sami anglampahi tumemening manahipun. Pamrihipun sami anyadhang angsala pangalembana dhumateng juru anampeni, utawi pangalembananipun Kangjeng Kiai Imam Besari. Saya dangu, Bagus Burham saya boten manah babar pisan dhateng pasinaonipun ngaji. Rinten dalu ingkang dipun agengaken namung dhateng pandamel maksiyat.

Bagus Burham pana kasusastran lan wegig ngaos

Ki Tanujaya tuwin Kangjeng Kiai Imam Besari sakalangkung prihatos nguningani kahananipun Bagus Burham ingkang saya dangu namung saya ngagengaken dhateng pandamel maksiyat. Sareng Bagus Burham tetela boten kenging dipun ajar sae, panggalihipun Kangjeng Kiai saya boten sekeca. Wasana Bagus Burham dipuntimbali, lajeng dipundukani. Pandanguning deduka ririh, ananging adamel tatuning manah.

Bagus Burham wiwit dipun paringi enget dening Pangeran. Gadhah rumaos lingsem sanget dipunparingi pangandika kados makaten wau. Tumunten Bagus Burham wicanten dhateng Ki Tanujaya, bilih anggenipun sinau ngaji mboten tumunten saged, isin mantuk dhateng nagari Surakarta. Midhanget wicantenipun Bagus Burham, manahipun Ki Tanujaya kumepyur. Wekdal punika umuripun Bagus Burham saweg gangsal welas taun. Salajengipun, saben dinten Bagus Burham nyuwun supados Ki Tanujaya angeteraken dhateng Lepen Watu, badhe anglampahi kungkum sakuwawinipun, sarta salebetipun anglampahi, sampun ngantos dipun cawisi barang-barang. Ingkang katedha namung pisang kluthuk mentah, sedinten sedalu sauler. Kalampahan Bagus Burham saben dalu kungkum dhateng Lepen Watu. Sadangunipun kungkum ingkang kaesthi boten wonten malih kajawi nyuwun dhateng Ingkang Damel Gesang tumuntena saged anggenipun sinau ngaji. Anggenipun nglampahi boten kengguh dhateng wewernen ingkang amemengin manahipun, ngantos saged dumugi kawandasa dinten laminipun. Sareng namung kantun sedalu, Bagus Burham dipuntari kaliyan Ki Tanujaya, mangke dipun liwetaken menapa, nanging panedhanipun mangke samangsa sampun mentas saking kungkum, dados jangkep angsal kawandasa dinten. Sareng sampun lingsir dalu Bagus Burham saged tilem sakleran. Salebetipun Bagus Burham tilem, supena dipun panggihi ingkang embah buyut, Kiai Ngabehi Yasadipura. Wonten ing supenan, kadhawuhan mengleng badhe dipun paringi dhawuh. Sareng sampun mengleng, Kiai Ngabehi Yasadipura lajeng lumebet dhateng talinganipun Bagus Burham. Wusana Bagus Burham lajeng nglilir, sarta lajeng mentas amurugi dhateng palinggihanipun Ki Tanujaya. Sasampunipun nedha secekapipun, watawis jam tiga dalu lajeng sami gegancangan mantuk dhateng pondhokan, lajeng andumugekaken tilemipun.

Satanginipun tilem, tiyang kalih sami rumaos angsal kanugrahaning Pangeran. Bagus Burham kaparingan ilham saged sumerep dhateng kasusastran kalayan boten sarana mawi dipun ajar. Sastra Arab, Jawi, Walandi, satembungipun pisan, lajeng boten rumaos angel maos Kitab Al Kuran dalah samaknanipun pisan. Ki Tanujaya angsal kanugrahaning Pangeran mangertos wicantenipun kutu-kutu walang ataga. Sareng sampun wancinipun dhateng mesjid, Bagus Burham sakancanipun lajeng sami mangkat. Para kancanipun sami ambekta Al Kuran kangge ngaos mangke sabakdanipun subuh. Bagus Burham mbekta Kitab kaliyan Kur’an. Mila sami dipun garapi kancanipun. Sareng sampun dumugi ing mesjid, sadaya lajeng sami wiwit sembahyang kados adat. Dereng sapintena dangunipun, lajeng katungka rawuhipun Kangjeng Kiai. Ing kalodhangan punika, Kangjeng Kiai sanget pangunguning penggalihipun dene ing therekaning lare-lare ingkang sami sembahyang wau wonten lare ingkang sirahipun katingal sumorot kados mawa cahya, ananging Kangjeng Kiai dereng saged nyatakaken sinten ingkang sirahipun mawa cahya wau. Sabakdanipun sembahyang, Kangjeng Kiai lajeng lenggah ing surambi kados adat sabenipun, amariksani para murid ingkang sami ngaji. Pangajinipun Bagus Burham manggen wonten ing wingking piyambak. Ing kalodhangan punika Kangjeng Kiai mireng sakenaning suwantenipun murid saha cethaning pakecapanipun ingkang adatipun boten nate wonten kados ingkang nembe kamirengaken punika. Mila sedaya ingkang ngaji lajeng dipun dhawuhi kendel. Ngajinipun para murid lajeng kadhawuhan gentos-gentos satunggal-satunggal. Sareng urutipun ngaji dhawah Bagus Burham, sadaya kancanipun cingak, amargi suwantenipun bantas kanthi cengkok Buminatan, pakecapanipun aksara cetha boten anyampar, dhumawahing ayat wijang sumeleh. Sedaya sami pathing plongo kados tiyang kamitenggengen.

Bagus Burham wangsul dhateng Kitha Surakarta

Kangjeng Kiai Imam Besari sakalangkung ngungunipun nguningani Bagus Burham ingkang sakalangkung sae ngaosipun. Saking saening suwaranipun saha saening lagunipun, ngantos kenging dipunparibasakaken suwaranipun ulem arum aririh, ananging angumandhang turut usuk.

Sareng anggenipun ngaji sampun kendel, Kangjeng Kiai lajeng andhawuhaken dhateng para pinisepuh saha dhateng murid-murid sedaya, kaparengipun Kangjeng Kiai sapunika Bagus Burham dipunparingi nama Mas Ilham, sarta dipun kersakaken dados badalipun Kangjeng Kiai. Wasana Bagus Burham angsal pangaji-aji ingkang boten beda kaliyan pangaji-ajinipun dhateng Kangjeng Kiai Imam Besari, menapa dene solah bawanipun, lajeng santun salaga angetawisi bilih utusaning tiyang saged. Kawontenan lan kaelokaipun Bagus Burham wau lajeng sumber salebeting kitha Ponorogo. Para ngalim saha para mukmin, menapa dene para santri-santri sakiwa tengenipun ing kitha Ponorogo sami dhateng angalap berkah dhumateng ingkang nembe angsal kanugrahanipun Pangeran wau. Saben dinten boten wonten pedhotipun, malah indhaking pawartos sudaning titipan, kala samanten Bagus Burham wau sami dipun kabaraken panuksmanipun Seh Amongraga. Bagus Burham piyambak sasampunipun anampeni kanugrahanipun Pangeran, remenipun dhateng pandamelan maksiyat lajeng sirna kados dipun saponi. Nakaling manahipun lajeng dados tiyang sareh, alembah manah. Rinten dalu namung tansah anderes Kuran. Saben sewulan ngantos saged katam Kuran rambah kaping sekawan, mila Kangjeng Kiai lajeng ketingal asihipun sayektos.

Bagus Burham anggenipun wonten ing Ponorogo taksih andumugekaken sawatawis wulan malih, badhe nelasaken piwulangipun Kangjeng Kiai ingkang murakabi dhateng manahipun. Nalika anggenipun nyantrik wonten ing Ponorogo sampun ndungkap sekawan taun, Bagus Burham lajeng nyuwun pamit wangsul dhateng ing negari Surakarta. Kangjeng Kiai kagungan kersa badhe masrahaken Bagus Burham piyambak, ngiras pantes badhe tuwi ingkang raka RT Sastranagara, supados andadosaken leganing panggalihipun. Lampahipun Kangjeng Kiai Imam Besari tuwin Bagus Burham saking Ponorogo dhateng kitha Surakarta kendel wonten ing Panambangan Bacem, angasokaken sarira. Dene Ki Tanujaya ngrumiyini lampah dumugi dalem Sastranagaran. Sareng mireng cariyosipun Ki Tanujaya bab lelampahanipun Bagus Burham ingkang sapunika nembe lerem wonten ing Panambangan Bacem, RT Sastranagara sakaliyan ingkang putra MNg Ranggawarsita sakalangkung bingahipun.

Ingkang kapatah methuk Kangjeng Kiai Imam Besari tuwin Bagus Burham ing Panambangan Bacem inggih punika MNg Awikrama. Sareng dumugi ing Panambangan Bacem, lajeng angaturaken salam taklimipun ingkang raka, saha angaturaken kasugengan rawuhipun Kangjeng Kiai, menapa dene amaringaken pangestu dhumateng ingkang wayah Bagus Burham. Sasampunipun pepanggihan ing dalam Sastranagaran, RT Sastranagara ngaturaken sakalangung panuwunipun anggenipun Kangjeng Kiai Imam Besari sampun saged anyembadani ingkang dados pangajeng-ajeng panggalihipun. Satelasing atur wangsulanipun RT Sastranagara wau, gangsa mungel Kalaganjur, binarung ing surakipun para putra santana amawurahan. Sasuwuking Kalaganjur, Kangjeng Kiai Imam Besari lajeng dipun acarani lenggah dhahar sakaliyan ingkang raka RT Sastranagara. Sarehning sapunika pangajeng-ajeng manah sampun nama kadumugen, Bagus Burham sampun mantuk sarta angsal kanugrahaning Pangeran, mila sami badhe dipun tetepi angluwari punagi tayuban sakulawarga sadaya. Kala samanten lajeng kadadosaken tayuban. Saking keparengipun MNg Ranggawarsita ingkang kadhawuhan anjoged rumiyin Kramaleya, ingkang anglarihi Ki Tanujaya tuwin Ki Jasana, gendhingipun Cangklek Ponorogo.


Sinuhun nyobi kalangkunganipun Bagus Burham

Sawangsulipun Bagus Burham saking Ponorogo, raosing panggalihipun RT Sastranagara kados siniram tirta marta. Ananging labaning kagem bangsa luhur saha priyagung sepuh, sakathahing kabingahan wau boten kawistara ing netra.

M Ng Ranggawarsita tuwin Nyai Mas Ajeng Ranggawarsita, saking kasoking kabingahan, ngantos kesupen boten angraosaken luwe, arip tuwin ngelak, dene boten kanyanan bilih ingkang putra tumunten dhateng kalayan mbekta angsal-angsal ingkang ageng sanget aosipun. Salajengipun Bagus Burham kapundhut nunggil ingkang embah, RT Sastrangara. Rinten dalu prasasat boten nate pisah kaliyan ingkang embah. Sanajan sampun gadhah dhedhasar kasagedan saha kalangkungan, ewa dene meksa taksih dipun weleg ing kawruh warni-warni dening ingkang embah. Paribasan, kasagedanipun ingkang embah sampun dipuntumplak dhateng Bagus Burham sadaya. Sareng kasagedanipun ingkang wayah sampun kagalih cekap, kaparengipun ingkang embah badhe dipuntetakaken. Tetakanipun kagelar ing dinten Rebo Pon tanggal kaping 12 wulan Jumalakir ing taun Dal 1742. Sareng anggenipun tetak sampun saras, Bagus Burham lajeng kacaosaken suwita dhumateng ing Buminatan. Gusti Panembahan sakalangkung asih dhumateng Bagus Burham. Rinten dalu boten kenging pisah ngadhep Gusti Panembahan. Sanajan taksih lare, ananging sampun saged amrangkani penggalihipun Gusti Panembahan. Sareng pasuwitanipun angsal setaun, lajeng dipunparingi pusaka aji jaya kawijayan. Saking pangandikanipun Gusti Panembahan, pusaka punika wasiyat paring dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Pakubuwana III. Kacariyos aji jaya kawijayan ingkang dipunparingaken Bagus Burham wau sanes aji jaya kawijayan amangsulaken tapak paluning pandhe sisaning gurendha, ananging aji jaya kawijayan amangsulaken samukawis ingkang sedyanipun awon dhateng ingkang sampun gadhah aji jaya kawijayan punika.

Sawetawis wulan malih lajeng dipunparingi ngelmu kadigdayan, ngelmu kagunan tuwin kanuragan. Bagus Burham wonten ing Buminatan saya kandel pasuwitanipun. Saking asihipun Gusti Panembahan dhateng Bagus Burham, ngantos dipunpameraken raka dalem Sampeyan Dalem, sarta lajeng kasuwunaken ngalap berkah dados siswa Dalem. Sampeyan Dalem ingging sampun amarengaken. Sampeyan Dalem karsa anyobi rumiyin sapinten kalangkunganipun Bagus Burham. Sapengkeripun Gusti Panembahan, Bagus Burham kadhawuhan ngirid dhumateng ing Mantenan utawi Bantenan. Sasampunipun dumugi ing Ngarsa Dalem, pandangu Dalem dhumateng Bagus Burham warni-warni. Sareng pandangu Dalem sampun dumugi, Bagus Burham lajeng kadhawuhan majeng. Sampeyan Dalem lajeng ngasta sangandhapipun kupingipun Bagus Burham. Boten sepintena dangunipun, Bagus Burham sampun lajeng tilem kepati.

Dhawuh Dalem, Bagus Burham lajeng dipunbuntel mori karangkep pitu, kados caranipun mbuntel mayit. Sareng pambuntelipun sampun rampung, kadhawuhan nglebetaken dhumateng ing bandhosa. Bandhosa lajeng kacemplungaken dhumateng ing bandengan. Sampeyan Dalem lajeng jengkar. Sareng sampun pitung dinten pitung dalu, Bagus Burham kadhawuhan ngentasaken, sarta kadhawuhan ngedalaken saking bandhosa. Sareng bandhosa tuwin morinipun buntel dipun bikak, Bagus Burham ketingalipun kados sampun tilar donya. Sampeyan Dalem kepareng ambisiki dhumateng Bagus Burham. Boten dangu Bagus Burham lajeng nglilir, sarta lajeng saged ngadhep wonten ing Ngarsa Dalem. Dhawuh timbalan Dalem, sapunika kadhawuhan ngaso rumiyin. Sanes dinten badhe wonten dhawuh. Sareng wangsul dhateng Buminatan, Gusti Panembahan sakalangkung ngunguning penggalih uninga warninipun Bagus Burham, dene guwayanipun saya ketingal mindhak sae. Namung badanipun ketingal kera sawatawis.


Wahyu kapujanggan dhumawah dhateng Bagus Burham

Sanes dinten Sampeyan Dalem nimbali Bagus Burham supados ngendikan ing ngarsanipun Sampeyan Dalem. Ingkang kadhawuhan ngirid Gusti Panembahan kaliyan RT Sastranagara. Sareng sampun wancinipun, RT Sastranagara methuk Gusti Panembahan, lajeng sami sesarengan sowan malebet. Ingkang ndherekaken malebet namung Bagus Burham piyambak. Sadaya lajeng sami njujug ing Mantenan.

Sareng sampun wanci jam kalih welas dalu, Sampeyan Dalem lajeng tedhak dhumateng ing bale kambang. Rayi Dalem Gusti Panembahan kaliyan RT Sastranagara tuwin Bagus Burham sami kadhawuhan ndherek dhumateng ing bale kambang. Bagus Burham kadhawuhan majeng dhumateng ngarsa Dalem. Sampeyan Dalem lajeng ndangu, nalika anglampahi dhawuh Dalem kalebetaken ing bandhosa, salajengipun kacemplungaken ing bandengan pitung dinten pitung dalu, punika raos pangraosipun kados pundi, sarta anyumerepi menapa. Unjukipun Bagus Burham, sadaya raos ingkang sampun dipunraosaken, saha sadaya kawontenanipun ingkang sampun dipunsumerepi, sampun dipununjukaken boten wonten ingkang kalangkungan.

Satelasing pangandikan, Sampeyan Dalem lajeng ndangu dhumateng Bagus Burham, kados pundi wijang-wijangipun dhawuh Dalem ingkang sampun kadhawuhaken. Bagus Burham lajeng angunjukaken uninga sadaya dhawuh Dalem ingkang sampun dipuntampeni. Sadaya unjukipun sami cocog kaliyan panggalih Dalem. Bagus Burham lajeng kadhawuhan angabekti ing Sampeyan Dalem. Gusti Panembahan tuwin RT Sastranagara inggih lajeng sami angabekti. Sampeyan Dalem matedhani pangestu dhumateng Bagus Burham, benjing sapengker Dalem, tuwin satilaripun RT Sastranaga, wahyuning pujangga Dalem badhe dhumawah dhumateng Bagus Burham. Benjing samangsa sampun dados pujangga Dalem, pangreksanipun dhumateng praja Surakarta ingkang tumemen, tuwin ingkang ngatos-atos. Unjukipun Bagus Burham, nuwun sendika. Dhawuh timbalan Dalem, RT Sastranagara tuwin Bagus Burham lajeng kalilan medal. Saunduripun saking ngarsa Dalem, lajeng sami kendel wonten ing Pamantenan malih, angentosi konduripun Gusti Panembahan. Sampeyan Dalem taksih anglajengaken lelenggahan kaliyan rayi Dalem Gusti Panembahan. Sampeyan Dalem angalembana dhumateng kalangkunganipun Bagus Burham. Sarawuhipun ing dalem, Gusti Panembahan tansah nggagas dhawuhing pangandika Dalem, bilih ingkang putra Raden Ajeng Gombak kadhawuhan anarimakaken dhumateng Bagus Burham.

Sanadyan dhawuh Dalem wau nama nuju panggalihipun Gusti Panembahan, namung pangudaraosing galih, sarehning wekdal punika Bagus Burham wau taksih anyemut gatel, saupami lajeng dipundhaupaken, Gusti Panembahan taksih radi lingsem. Dene kagungan putra mantu dereng dados abdi Dalem. Makaten malih sarehning ingkang putra Raden Ajeng Gombak wau panguwasanipun taksih gumantung ingkang rama piyambak, inggih punika Kangjeng Pangeran Adipati Cakraningrat ing Kedhiri. Kaparengipun Gusti Panembahan, Bagus Burham saderengipun kaparingan tariman ingkang putra badhe kasuwunaken kamirahan Dalem dados abdi Dalem rumiyin. Ananging anggenipun nyuwunaken wau ngentosi sarengan bilih sampun wonten kaparenging karsa Dalem amisudha para kawula Dalem pamagang. Bagus Burham badhe dipunseselaken. Dados boten angatawisi bilih amenggalih sanget dhateng Bagus Burham. Dereng ngantos kelampahan kasuwunaken dados abdi Dalem, Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Pakubuwana IV surud. Mila Bagus Burham lajeng kapeksa anyarehaken manahipun. Sajumeneng Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Pakubuwana V, ingkang ngasta paprentahan kadipaten, kasampiraken dhumateng Gusti Panembahan Buninata. Sadangunipun Gusti Panembahan kasampiran panguwasa ngasta paprentahan Kadipaten, Bagus Burham sampun kasuwunaken ganjaran dados abdi Dalem rambah kaping kalih.

MITOLOGI KANJENG RATU KIDUL

November 14, 2008

Mitos Ratu Kidul dadi pancadan paprentahan ing karaton

Kacihna majune teknologi komunikasi lan informasi nuwuhake budaya anyar lan nggawe ”rusake” kabudayan Jawa, ananging wong Jawa tetep ngugemi landhesan urip kang gegayutan kalawan anane titah ora kasat mata.

Landhesan urip kang isih ngugemi anane titah ora kasat mata iki raket gandheng cenenge kalawan kepriye sejatine wong Jawa urip ing donya. Lire, kapercayane wong Jawa ing babagan urip lang panguripan ora bisa uwal saka perangan jagad cilik (mikrokosmos) lan jagad gedhe (makrokosmos), keplase uga gegayutan kalawan alam kasat mata lan alam datan kasat mata. Salah sijine kapercayan kang dikarepake yaiku wong Jawa, mligine kang urip ing tlatah Yogyakarta lan Solo, nganggep lan yakin yen samodra kidul iku awujud karaton kang dikuwasani dening Kangjeng Ratu Kidul. Tumrap wong Jawa kaprah, lire ora duwe pangerten jero babagan filosofi kebatinan Jawa lan uga adoh saka karaton, Kangjeng Ratu Kidul dianggep sawijining titah badan alus kang wujude kayadene manungsa lan nglenggahi dampar keprabon, nyekel pengauwasa ing segara kidul. Lan isih ana panganggep liya kang wusanane mbabar dadi mitos Kangjeng Ratu Kidul.

Ing buku Mitologi Kanjeng Ratu Kidul, anggitane Y Argo Twikromo, weton Nidia Pustaka, 2006, dijlentrehake filosofi-filosofi kang gegayutan kalawan mitos Kangjeng Ratu Kidul. Miturut andharan ing buku iki, mitologi Kangjeng Ratu Kidul pranyata digunakake kanggo pancadan tumrap panguwasa Karaton Kasultanan Ngayogyakarta (lan uga Karaton Surakarta-red) nalika nglakokake paprentahan. Wong Jawa nganggep manawa donya iku isine ana kang asipat wadag, pisik, bisa didulu mata lan donya kang asipat datan kasat mata, alus, ora bisa didulu mata wantah. Ananging ing donyane wong Jawa, kalorone kang asipat kasat mata lan datan kasat mata iku nyawiji dadi siji. Ing nyawijine ngalam kalorone iku kabeh sesambungan kang asipat antarane siji lan sijine padha-padha mbutuhake lan dibutuhake. Wusanane kabeh nggawe alam dadi tumata. Sesambungane manungsa ing alam kodrati (alam nyata, alam kasat mata) ora dibedakake kalawan titah ing alam adikodrati (alam supranatural, alam datan kasat mata).

Yen dipindeng kanthi srana kaca mata antropologis, mitos Kangjeng Ratu Kidul bisa dianggep minangka cultural universal kang disengkuyung dening sawetara laku budaya utawa cultural activities, kayata labuhan, crita rakyat utawa crita Panembahan Senopati, kegiyatan sosial lan kegiatan lelandhesan keyakinan agama lan maneka laku utawa ritual tradhisi liyane. Babagan iku nuduhake lan aweh tuntunan yen yektine kepriye wong Jawa mindeng mitologi Kangjeng Ratu Kidul ora bisa dipisahake saka laku ritual kang ndhasari utawa dadi panjurunge. Laku-laku kang lelandhesan keyakinan ajaran agama kang gegayutan kalawan Kangjeng Ratu Kidul, mujudake gegambaran alam pikiran lan kapercayane wong Jawa. Adhedhasar apa kang diugemi wong Jawa, mitologi Kangjeng Ratu Kidul kang urip ing ngalam pikiran lan kapercayan Jawa, digunakake kanggo sesambungan kalawan alam supranatural. Pangajabe supaya donya iki tetep harmonis, imbang lan tansah kalinton kaslametan lan karahayon. Ing bebrayan Jawa, Kangjeng Ratu Kidul iku ora mung asipat legenda. Tumrap kapercayane saperangan gedhe warga bebrayan Jawa, Kangjeng Ratu Kidul iku ana tenan. Ananging karana anane alam supranatural tumrap wong Jawa ora bisa dijlentrehake, kaprah sinebut suwung awang-awung, ndadekake anane laku-laku kang lelandhesan keyakinan agama kang ancase ngurmati panguwasa alam supranatural, kayadene Kangjeng Ratu Kidul. Ana candhake.

Keyakinan supranatural sarana ngupadi salarase donya saisine

Mitologi Kangjeng Ratu Kidul nuwuhake kapercayan tumrap wong Jawa yen ing segara utawa samodra kidul ana panguwasa kang asipat supranatural, datan kasat mata.

Kapercayan iku bisa didulu saka laku-laku kang asipat lelandhesan keyakinan agama kang dilakoni dening Karaton Ngayogyakarta (apadene Karaton Surakarta) kang ditujokake marang Kangjeng Ratu Kidul. Kanthi laku ritual kang asipat lelandhesan keyakinan agama kang biyasane mapan ing Parangkusuma iku, sacara mistis Karaton bisa mujudake imbang lan tentreme donya. Yektine, tumrap Karaton Ngayogyakarta (lan Karaton Surakarta) ora bakal bisa netepi kuwajibane yen durung bisa mujudake rasa tentrem ing batin tumrap kabeh rakyat. Rasa tentrem ing batin iku bisa kawujud kanthi laku nyedhak marang Gusti Kang Murbeng Dumadi. Kanthi mangkono, maneka rupa laku utawa ritual kang asipat lelandhesan keyakinan agama iku wusanane minangka srana kanggo nggayuh katentreman lan keslametan praja sakrakyate. Ing telenging pikir wong Jawa, raja utawa ratu duwe jejibahan ngayomi rakyate. Karana iku, raja ing Karaton Ngayogyakarta lan Surakarta tansah ngugemi laku kang asipat nyedhak kalawan daya kekuwatan supranatural. Ing bebrayan Jawa, raja iku nyangga godhan yang tanpa wates, mligine kang gegayutan kalawan panguwasane. Sanggan godhan kang asipat tanpa wates iku uga ngandhut tanggung jawab tunggal kang amba kanggo njaga murih donya tetep tumata.

Karana iku, raja kudu pinunjul. Lan tumrap wong Jawa, raja iku dianggep dadi siji-sijine paraga kang bisa mbangun lan njaga sesambungan antarane alam kodrati (kasat mata) lan alam adikodrati (datan kasat mata). Iki kang dadi pawadan ing budaya Jawa raja utawa ratu iku dianggep duwe panguwasa kang tanpa wates lan panguwasane iku ora bisa diatur kanthi cara-cara kang kaprah ing ngalam donya iki. Rakyat dhewe uga duwe pangarep-arep raja utawa ratu bisa ngrampungi sakabehing rubeda kang tuwuh saka alam kanthi srana kekuwatan gaib kang diduweni. Upaya ngugemi mitologi Kangjeng Ratu Kidul iki pranyata ora mung dilakoni dening raja utawa sentana dalem ing Karaton. Para warga bebrayan ing tlatah Yogyakarta (lan Solo) uga duwe cara dhewe kanggo ngugemi keyakinan babagan Kangjeng Ratu Kidul iki. Mitologi Kangjeng Ratu Kidul dadi sarana kanggo tumindak lan nyawiji marang alam. Iku amarga saperangan gedhe warga bebrayan duwe keyakinan religius kang padha, magepokan kalawan mitologi Kangjeng Ratu Kidul. Laku lelandhesan keyakinan agama gegayutan kalawan mitologi Kangjeng Ratu Kidul kang dilakoni warga bebrayan racake ora padha kalawan kang dilakoni pehak Karaton. Ananging kalorone bisa lumaku bareng lan nyawiji kanggo mujudake katentreman ing donya.

Lan ing kabudayane wong Jawa (ing dhudhahan buku iki ateges tlatah Yogyakarta lan Solo-red) Karaton menjila dadi punjere kosmis kang asipat keramat. Sacara mistis dununge Karaton duwe gandheng ceneng rapet kalawan karaton-karaton asipat supranatural kang ana ing sakupenge. Karaton-karaton asipat supranatural iku kayadene Karaton Segara Kidul, Karaton Merapi, Kayangan nDlepih lan Karaton Lawu. Karaton-karaton iku mujudake lima karaton kang asipat keramat lan tansah sesambungan antarane siji lan sijine. Kalimane bisa nyawiji lan mbangun tatanan donya kang tumata. Sesambungan antarane karaton-karaton iku asipat kayadene kulawarga lan sakabat. Wangunan kapercayan bebrayan Jawa kang bisa uga ditegesi agama Jawa, sejatine luwih ngeboti babagan katentreman batin, jumbuhe ngalam kodrati lan adikodrati lan imbang antarane kabeh isining ngalam. Pawadan iki, laku-laku ritual lelandhesan keyakinan agama kang dilakoni gegayutan kalawan mitologi Kangjeng Ratu Kidul digunakake kanggo ngupadi rasa tentrem, jumbuh lan salarase kabeh isining ngalam lan imbange donya saisine.

MEPER HAWA NAFSU

November 9, 2008

Hawa nepsune manungsa dijlentrehake ing jagad pakeliran

Laku pasa, ing wulan Pasa apadene ing saliyane wulan Pasa, kaprah diarani minangka salah sijine laku kanggo ngendhaleni hawa nepsu.

Tumrap wong Jawa, meper utawa ngendhaleni hawa nepsu dadi salah sijine laku tumuju dadi manungsa kang utama. Paugeran urip ing filosofi kabudayan Jawa kang nengenake sandhang tinimbang pangan mujudake salah sijine asil saka laku meper hawa nepsu.

Sing dikarepake nengenake sandhang dudu arupa menganggo lan nglumpukake sandhangan-sandhangan kang sarwa apik, ananging ateges nengenake upaya ngapikakae pribadi, mbangun citra kanthi sarana tansah ngupadi apike kapribaden lan solah bawa.

Dene ngiwakake pangan, cetha bisa ditegesi laku ngendhaleni kasenengan marang panganan utawa meper hawa nepsu kang metu saka weteng. Laku pasa mujudake salah sijine cara kang kaprah dilakoni wong Jawa kanggi meper hawa nepsu iki.

Ing filosofi kabudayan Jawa kang dadi pancadan uripe wong Jawa akeh sumadya ubarampe kanggo nyinau babagan prelune tansah meper hawa nepsu. Tumrap wong Jawa ora kangelan yen pengin nyinau, mangerteni lan ndhudhah babagan hawa nepsune manungsa kang wis dijlentrehake ing jagad pakeliran wayang kulit. Para pujangga Jawa jaman kawuri uga duwe kawigaten gedhe marang babagan hawa nepsu, saengga kabeh kang gegayutan kalawan hawa nepsu iki tansah diwulangake kanthi sarana seni pedhalangan utawa pakeliran Jawa.

Tumrap wong Jawa, kayadene kang dijlentrehake ing buku Pengendalian Hawa Nafsu Orang Jawa, anggitane Wawan Susetya, weton Narasi, Yogyakarta, 2007, babagan hawa nepsu iki dadi kawigaten karana makmur utawa rusak lan remuke donya iki gumantung hawa nepsune manungsa.

Yen ana pemimpin kang duwe watak lan kapribaden kang apik, hawa nepsune kagolong apik yaiku muthmainah, saengga bisa mujudake memayu hayuning bawana (nglestarekake lan makmurake bumi saisine). Suwalike, yen sawijining pemimpin iku tansah nguja hawa nepsu amarah utawa kamurkan, bakal numusi rusake bebrayan kang tundhone uga nemahi rusake bumi saisine. Nepsu amarah kang tansah ngejak marang laku duraka, nerak angger-angger lan mburu senenge dhewe, bebasan kayadene geni. Kanthi mangkono mung cukup pawitan penthol rek jres siji wae wis bisa ngobong apa wae. Watake wong kang dikuwasani nepsu amarah iku tansah kumawasa, pengin menange dhewe, lan kumudu-kudu minangkani hawa nepsune lan syahwat-e.

Ing jagad pewayangan utawa pakeliran wayang kulit ana paraga wayang kang dadi pralambang hawa nepsu kang tansah nggubel jiwane manungsa. Dene hawa nepsu kang tansah nggubel uripe manungsa iku kaperang dadi papat yaiku amarah, lawwamah, supiyah utawa mulhimah lan muthmainnah. Watake wayang Dasamuka kang kebak angkara dadi pralambang nepsu amarah, yaiku nepsu kang tansah ngejak manungsa marang tumindak duraka, dur angkara kanthi sarana sipate kang tansah adigang, adigung lan adiguna. Wayang Kumbakarna dadi pralambang nepsu lawwamah, yaiku hawa nepsu kang tansah nyacat salahe liyan, kalebu salahe dhewe. Hawa nepsu lawwamah iki sejatine wus nuduhake sipat kang luwih apik kang tuwuh saka kasadharane dhewe.

Watake wayang Dewi Sarpakenaka, pralambang wong wadon kang tansah kagodha dening wong lanang kang bagus praupane, mujudake pralambang nepsu supiyah utawa mulhimah. Hawa nepsu iki sejatine wis alus, saengga meh padha kalawan wisik utawa ilham, yaiku wisik kang apik lan wisik lang asipat ala. Dene wayang Wibisana mujudake pralambang saka nepsu muthmainnah, yaiku jiwa kang anteng lan jatmika ing badan wadage manungsa. Karana iku Wibisana iku kang dadi pralambang nepsu muthmainnah ora melu sedulur-sedulure, yaiku Prabu Dasamuka, Kumbakarna lan Sarpakenaka, ananging malah melu Sri Rama Wijaya, mungsuhe sedulur-sedulure. Ana candhake.

Manungsa dadi palagan paprangan nepsune dhewe

Jumbuh kalawan pralambang hawa nepsune manungsa cacah papat kang dijlentrehake ing pakeliran wayang kulit, miturut Imam Al Ghazali kaya kang diandharake ing Ihya Ulumuddin, manungsa kuwi diwernani patang kekuwatan sipat lan nepsu.

Nepsu cacah telu asipat duraka, yaiku asipat kayadene kewan asu kang nglambangake sipat galak, asipat kayadene kewan babi kang nglambangake sipat kemaruk, asipat syaithoniyah kang dadi pawadan tuwuhe sipat kewan asu lan babi iku. Dene sing pungkasan sipat rubbubiyah utawa uluhiyah kang nuwuhake rasa eling marang Gusti Allah Kang Maha Kuwasa. Sipat sing kaping papat iki yen dirembakakake lan dikemonah kanthi temen-temen bisa ngluwari sipat syaithoniyah saka pribadine manungsa. Kanthi mangkono, sejatine manungsa iku dadi palagan paprangan antarane telung kekuwatan kang asipat ala, dur angkara, duraka lan siji kekuwatan kang asipat tansah njurung lan nggeret pribadine manungsa marang kabecikan.

Hamung wong-wong pinilih wae kang bisa menangake papranganan antarane telung nepsu dur angkara lan siji sipat kabecikan iku. Paprangan iku kudu dilakoni kanthi temen-temen murih siji sipat kabecikan iku bisa menang nalika adhep-adhepan kalawan telung sipat nepsu kang dur angkara.

Gusti Allah Kang Maha Asih sejatine wus mepaki ubarampe tumrap manungsa ing alam donya supaya bisa ngemonah paprangan antarane siji sipat kabecikan kalawan telu hawa nepsu asipat dur angkara iku. Ubarampe kang dikarepake yaiku ubarampe-ubarampe rohaniah arupa akal lan nepsu. Iki kang ndadekake manungsa beda kalawan malaikat kang mung antuk ubarampe akal saka Gusti Kang Maha Kuwasa, ananging ora duwe nepsu. Samono uga beda kalawan sato kewan kang mung antuk ubarampe nepsu tanpa akal. Dene manungsa, menawa luwih ketarik marang ”tarikane langit”, tegese bakal luwih cerak marang sipat taat kayadene malaikat. Suwalike, yen manungsa iku luwih seneng marang ”tarikane bumi” utawa kadonyan, ateges dheweke luwih cerak marang sipat kewan.

Amarga manungsa iku dipepaki ubarampe akal lan nepsu, mula dheweke duwe kalodhangan dadi titah kang apik dhewe, bisa luwih apik tinimbang malaikat. Ananging, manungsa uga duwe bisa dadi titah kang drajate luwih ala tinimbang sato kewan kang mung ngudi mareme hawa nepsune. Para pujangga Jawa jaman kawuri, ya para leluhur kabudayan Jawa, akeh kang kondhang minangka insan kamil (manungsa paripurna). Iku karana para pujangga iku wus kasil meper hawa nepsune kanthi maneka rupa cara lan upaya.

Sejatine, hawa nepsu mono duwe sipat kang kas lan ketara banget. Miturut anggepane wong Jawa, ”hawa” iku ateges rasa wegah nindakake samubarang laku kang asipat nyedhak marang sipat taat (marang Gusti Allah Kang Maha Asih). Dene ”nepsu” ateges semangat kanggo nindakake laku maksiyat. Kanggo ngemonah ”hawa nepsu” iku kudu kanthi cara mindhahake ”hawa” marang ”nepsu” lan suwalike, mindhah ”nepsu” marang ”hawa”. Tegese, rasa wegah nindakake parentahe Gusti Kang Maha Asih dipindhah menyang wewengkon ”nepsu”. Saengga kang tuwuh sabanjure rasa wegah nindakake laku maksiyat. Suwalike, semangat kanggo nglakoni tumindak maksiyat (nepsu) dipindhah menyang wewengkon ”hawa”. Saengga kang tuwuh lan ngrembaka arupa semangat nindahake kabeh prentah-E. Ing jagad kabudayan Jawa, wus akeh tuladha laku mindhahake ”hawa” marang ”nepsu” lan ”nepsu” marang ”hawa” iku.

Tumrap wong Jawa, salah sijine laku kanggo meper hawa nepsu yaiku laku ngurang-ngurangi, kalebu laku pasa lan laku tapa kang nglimputi tarak brata, mesu brata, tapa brata lan pati brata. Tarak brata iki ing bebrayane wong Jawa kang sinebut ngurang-ngurangi, yaiku ngurangi mangan, ngombe lan turu (cegah dhahar lawan guling). Mesu brata yaiku lelaku kang kwalitase luwih dhuwur tinimbang tarak brata. Ing kene, wong wus ngupadi marang laku prihatin rohaniah. Tapa brata mujudake lelaku kang luwih manther marang sangkan paraning dumadi utawa manunggaling kawula gusti. Dene pati brata arupa lakune manungsa Jawa kang wus nggayuh tingkat dhuwur dhewe, yaiku wus tekan marang mangerteni lan ngenali Gusti Allah kang haq. Ing laku pati brata iki kang kabudayan Jawa sinebut wus kasil nggayuh manunggaling kawula gusti.