06.26.09
Ditulis dalam SULUK LING LUNG pada 2:30 pm oleh Mas Kumitir
SUNAN Kalijaga mendapat gelar agung sebagai guru suci Tanah Jawi. Kocap kacarita, Raden Mas Sahid putra kanjeg Adipati Tuban, sudah menjadi alim ulama yang cerdik dan pandai. Bahkan beliu sudah dapat merasakan mati di dalam hidup. Tingkatan pendakian tauhid yang sangat tinggi, dan patut diacungi jempol. Namun beliu belum puas dengan apa yang sudah didapat. Dia mempunyai himatulaliyyah atau cita-cita yang tinggi yaitu bertujuan inging memperoleh petunjuk diri seseorang yang sudah menemukan hakikat kehidupan, yang nantinya dapat mengantarkanya agar mendapat petunjuk yang dipagang para Nabi Wali atau Imam Hidayah.
Tekadnya semakin membaja, menyebabkan beliu melakukan perjalanan hidup yang tidak mempedulikan dampak atau akibat apapun yang akan terjadi, nafsunya menuntut ilmu semakin membara tak perduli samudra api menghadang. Bukankah Rasulullah pernah bersabda, “Tuntutlah ilmu biarpun harus menyeberang samudra api!”.
Ling lang ling lung, Raden Mas Sahid hatinya bimbang dan pikirannya bingung. Siapa yang tidak bingung! Segala ilmu yang diketahui dan dipahami diamalkan dengan penuh pengabdian kepada Allah, namun beliu merasa selalu tergoda oleh nafsunya, dan merasa tidak mampu mengatasinya. Berbagai usaha ditempuh agar akhir hidupnya nanti, mampu mengatasi nafsunya, jangan sampai terlanjur terlantur, hanya puas makan dan tidur. Namun tetap saja dirinya merasa hatinya kalah perang dengan nafsunya. Akhirnya beliu pasrah kepada Allah tempat berserah diri.
Ling lang ling lung, Raden Mas Sahid memohon kepada Allah Tuhan Yang Terpilih, semoga dibukakan oleh Tuhan Pembuat Nyawa, agar istiqomah hatinya, selaras dengan kehendak hatinya, jalan menuju sembah dan puji. Dan tiada putus-putusnya dia berdoa, biarpun terselip kekhawatiran dosa dan kekhilafan yang pernah dilakukannya semasa muda, mungkin tak termaafkan oleh Gusti Allah. Sekian lama beliu berdoa, namun tak ada tanda-tanda terkabulnya doa. Akhirnya beliu mawas diri. Mengapa petunjuk yang ditunggu-tunggu belum juga datang? Apakah caranya beribadah dan bersyukur yang salah? Apakah yang dilakukan selama ini acak-acakan tanpa dasar ilmu yaqin?
Ling lang ling lung, akhirnya Raden Mas Sahid diam tak mau berdoa lagi. Beliu menyendiri dan menjauhi urusan duniawi (uzlah). Buak dari laku ini, dirasanya masih saja ada gejolak batin, saling bertengkar dua sura dalam batingnya sendiri, bisikan Malaikat dan bisikan Syaitan. Pertentangan suaranya tidak lantang sebagaimana layaknya orang bertengkar, tetapi pertengkaran hebat itu tidak kunjung berhenti! Bukankah bisikan baik dan buruk saling merebut kemenangan? Apa sih yang diperebutkan? Padahal tidak ada yang diperebutkan! Perang batin ini, kalau diibaratkan seperti perebutan Kerajaan Ngastina oleh Kurawa dan Pandawa yang masih termasuk keluarga sendiri atau darah daging sendiri!
Ling lang ling lung, Raden Mas Sahid menyadari laku uzlah yang dijalankannya tak menghasilkan petunjuk yang diharapkan. Akhirnya tanpa malu-malu, karena didesak oleh hasrat mengetahui petunjuk, beliu berusaha bertapa berlapar-lapar, kalau ada teman datang, ikut makan dengan rakusnya, kalau temannya pergi tidak makan seumur hidupnya, sebab tidak ada yang dimakan. Ling lang ling lung, menuruti kesenangan memperindah diri, selalu meminta upah. Ling lang ling lung, Raden Mas Sahid meminta upah dari laku bertapa berlapar-lapar ternyata tiada hasil. Beliu akhirnya menyadari kebodohannya dan tersemyun sendiri. Mengapa sampai teganya Dia menagih tak henti-hentinya kepada Allah, padahal tanpa piutang? Gusti Allah yang ditagih wajar kalau diam saja, memang kenyataanya tidak berhutang! Biarpun yang menagih datang dan pergi, semua itu tidak ada bedanya, dan Allah Yang Maha Karya berhak tidak melunasi karena tidak pernah berhutang kepada Raden Mas Sahid. Akhirnya beliu memutuskan diri untuk berguru dengan Kanjeng Sunan Bonang, barangkali dengan itu, beliu dapat petunjuk iman hidayah.
Mulailah Raden Mas Sahid berguru kepada seseorang yang tinggi ilmunya yang bersunyi diri di Desa Bonang yang bergelar Kanjeng Sunan Bonang. Beliu mohon kepada Kanjeng Sunan Bonang untuk ditunjukkan hakikat kehidupan. Syekh Malaya disaat mulai berguru kepada Kanjeng Sunan Bonang diperintah bertapa menunggu pohon gurda dan dilarang meninggalkan tempat.
Ling lang ling lung, Syekh Malaya dapat dikatakan orang hebat, karena keinginanya yang kuat serta tekad batinnya, tak dapat dibandingkan dengan yang lainnya. Maklumlah beliu berdarah luhur, putra Kanjeng Adipati Tuban Wilwatikta II bernama Raden Mas Sahid, waktu tua bergelar Sunan Kalijaga. Rupanya sudah terlebih dahulu mendapat anugrah Kasih Sayang Gusti Allah Pencipta Nyawa yang sudah menjadi kemulian Tuhan Yang terpilih, timbul dari kasih Sayang Allah. Syekh Malaya berguru menuntut ilmu sudah cukup lama, namun merasa belum dapat manfaat yang nyata, rasanya Cuma penderitaan yang didapat, sebab disuruh memperbanyak bertapa, oleh Kanjeng Sunan Bonang, diperintah “menunggui pohon gurda” yang berada ditengah hutan belantara dan tidak boleh meninggalkan tempat, sudah dilaksanakan selama setahun.
Laku tapa yang kedua, disuruh “ngaluwat” yaitu ditanam di tengah hutan di dalam goa Sorowiti Panceng Tuban. Setelah setahun mulut gua yang mulanya ditutup dengan batu-batu, kemudia dibongkar oleh Kanjeng Sunan Bonang. Kemudian laku tapa yang ketiga, yaitu “tarak brata di tepi sungai” selama setahun, dan tidak boleh tidur ataupun makan, lalu ditinggal ke Mekah oleh Kanjeng Sunan Bonang.
Nyatanya sudah genap setahun, Syekh Malaya ditengok, ditemui masih tarak brata saja, Kanjeng Sunan bonang bersabda, “wahai siswaku sudahilah tarak bratamu, kamu mulai sekarang sudah menjadi Wali dan bergelar Sunan Kalijaga. Kamu diangkat sebagai wali Sembilan penutup maksudnya melengkapi Wali Sanga atau Wali Sembilan yang saat itu jumlah kurang satu wali. Tugasmu ikut menyiarkan agama Islam dan perbaikilah ketidakaturan yang ada. Agama itu tata krama, kesopanan untuk Kemuliaan Tuhan Yang Maha Mengetahui. Kau harus berpegang pada syariat Islam, serta segala ketentuan iman hidayah. Hidayah itu dari Gusti Allah Yang Maha Agung, yang sangat besar kanugrahan-Nya menumbuhkan kekuatan luar biasa dan keberanian, serta meliputi segala kebutuhan perang, yang demian itu tidak lain adalah anugrah yang besar, paling utama dari segala yang utama (keutamaan). Keutamaan ibarat bayi, siapapun ingn memelihara, yang mencukupi bayi, menguasai pula terhadap dirimu, tapi kamu tak punya hak menentukan, karena kau ini juga yang menentukan Gusti Allah Yang Maha Agung, karena itu mantapkanlah hatimu dalam pasrah diri pada-Nya”.
Bersanbung ……………
—————————–
Alang Alang Kumitir
Permalink
bocahbancar berkata,
Juni 27, 2009 pada 10:47 am
Hhmm….Tuban tempat kelahiran saya…
hasruL berkata,
Juni 28, 2009 pada 9:09 am
jadi teringat cerita jaman kecil saya dulu….
rahayu..
wawan setiawan berkata,
Juni 29, 2009 pada 5:32 am
Sedoyopuniko sampun kersanipun GUSTI ALLAH ingkang damel gesang…sampun kewajibpan ipun kulo kalian panjenengan sedoyo anggadai iman dumateng GUSTI ALLAH..mugi-mugi sami dipun paringi selamet wonten dunyo ngantos akhirat kalian GUSTI ALLAH
Rahmat Gilling berkata,
Juni 30, 2009 pada 8:22 am
Alhamdulillahirobbil’alamin
dedelnian berkata,
Juli 13, 2009 pada 2:58 pm
kulo nderek ng”AMIN”ni njeh mas Wawan..
salim kenal.. (karo ngelungke tangan..)
Bagus Samiaji berkata,
Juli 1, 2009 pada 7:55 am
puncak ibadah haji adalah wukuf di arofah,,,,,
Wukuf = Berhenti Arofa = faham,,,,,,
Betapa besar perjuangan seorang Sunan Kalijaga untuk bisa mencapai “aroftu (aku faham),,,,,,,,, yang kenal dirinya akan kenal Tuhan-Nya!,,,, ilmu tinemune kanthi laku,,,,
Laku pula yang membuat orang mendapatkan pencerahan bathin!!!!
Tamsil yang bagus,,,,,,
Anonim berkata,
November 2, 2009 pada 4:07 pm
lahhhhh ngawur
Bambang berkata,
Juli 5, 2009 pada 1:59 am
Osa..
Urip iku kudu eleng,nrimo lan waspodo.
Suka,duka,lara lan pati mong sak dlemo..Podo pinter2ro..
Panji anom berkata,
Juli 8, 2009 pada 6:50 am
Es krim es krim siapa mau beli,#:BAGI ANDA YG MEMBUTUH KAN KRUPUK ES KRIM,UNTUK WILAYAH SINTANG KAL-BAR, SILAHKAN HUB#:{BPK RASAM JLN SINTANG TEMPUNAK RT12/1 SINTANG }#by panji-anom
Keboireng berkata,
Juli 8, 2009 pada 6:30 pm
Nung ..nung …jiiir,
Mesak ake temen lelakune mas Said , tapane taksih darbe pengin , mestinya blajar dulu sama Alang Alang Kumitir , luwih paten dalem pasamaden.
pamukas berkata,
Juli 12, 2009 pada 4:37 pm
Yoh jenenge yo wayang manut dalang wae arep ngene arep ngono nangkono nangkene yo podo wae
refa berkata,
Juli 13, 2009 pada 1:25 pm
Wualah, dalam sekali amsalnya… perlu mikir lama.
Apik tenan…puas..puas.
DedelNian berkata,
Juli 13, 2009 pada 3:33 pm
salam guyub Kang Kumitir,
dulu saya pernah baca Suluk ini dengan “nyolong-nyolong” krn dilarang abah.mungkin krn dirasa masih kecil. eeeeeh.., lha ini malah dibukak “BYAK”
matur suwun atas refresh-nya kang..
lhah, tiwas nyolong-nyolong..(sambil garuk-garuk kepala)
deni yoga berkata,
Juli 24, 2009 pada 5:17 am
siiip…suka aku cerita ini….
Adji berkata,
Juli 24, 2009 pada 12:17 pm
Sabar, Disiplin, tekad yg kuat, serta usaha. dan patuh terhadap guru yang baik ini yang dapat saya ambil manfaatnya kalau kita ingin maju dan berhasil.
jaini berkata,
Juli 28, 2009 pada 7:27 am
SUBKHANAALLAH semuga kina yang ditinngalkan dan suatu saat meninggalkan bisa diberi ptunjuk dan jalan menuju kebenakan hakiki . dan mohon kepada yg ahlinya ajarin kami untuk mencari kebenaran
wiryo berkata,
Juli 29, 2009 pada 3:47 am
ilmu jawa itu adalah rahasia, jadi jangan merasa anda sudah menulis ini semua menjadi takabbur, ilmu itu memang tidak ada batasan bagaikan setetes tinta klau digelar luasnya melebihi lautan, semua insan pelajarilah ilmu kesempurnaan jangan mencari kesaktian, ketahuilah asal kita itu dari mana trus kembalinya nanti kemana……?
x07 berkata,
Juli 29, 2009 pada 7:17 am
Kalau masih ada orang seperti beliau, mungkin negeri ini tidak akan kehilangan jati diri.
Ada baiknya kita merenungi pesan beliau “Mulailah berpijak lebih jauh, kenali diri jauh lebih bijak”.
jaini berkata,
Agustus 5, 2009 pada 4:46 pm
para nenek moyang kita tidah kuliah ,tidak sekalah (tidah mengasah otak kiri maupun otak kanan) yang di asah adalah rasa ,rahsa hati dan kepekaan jiwa (naluri, hati) sehingga apaapun yang lakukan dan di yakini akan terwujut dan apapun yang dikatakan banyak benrnya analisa belio adalah analisa rasa bukan analisa pikir karena pikir bila di terjemahkan itu untuk urusan dunia dan hati bila di turuti akan mambawa kita ke dunia surgawi
ahmad berkata,
Agustus 10, 2009 pada 4:58 am
ngawuruk ti alif dugi wujud manusia,manusia makhluq yg penuh rahasia
CEMPLOK berkata,
Agustus 12, 2009 pada 1:32 pm
HE….EH
oyeng mbanbun berkata,
November 14, 2009 pada 7:00 pm
sae sae. rakse pooooolllll