Mangga para kadang sutrisna budaya Jawa, tinimbang nglamun ora ana paedhahe banjur mikir sing ora-ora, sing kepenak ura-ura sinambi mangan telo, dasare omahe ndesa lan uga iso kanggo cegah melek. Mangga sareng-sareng kalih kula……….. lha sumangga.
Kinanthi
Priye carane kalamun,
urip aneng jaman iki,
tumrap ingkang para mudha,
uga munggwing para mudhi,
dimen sira kasembadan,
katekan sabarang kalir.
Kaleksanan kang ginayuh,
kudu nganggo pait getir,
sadaya sampun sumadya,
kabutuhan jroning urip,
amung kari ngolah cara,
kanthi carane pribadi.
Margi rumpil kangge langkung,
mbrangkang menek mlipir-mlipir,
banjur apa sangunira,
ing marga panas kepati,
rubeda sewu cacahnya,
tekane sawanci-wanci.
Ora cukup sangu kawruh,
apa maneh amung dhuwit,
tan cukup pawitan bandha,
bandha bisa nyencang pikir,
kejaba mung budinira,
kudu luwes srawung janmi.
Ana alam aja gumun,
ana ala ana becik,
pasrawungan engganana,
andhap asor ing pambudi,
perang catur singkirana,
cidra janji aja nganti.
Aja susah aja getun,
lamun sira datan eling,
ring sesaminipun gesang,
awit titah iku sami,
karo awaknya priyangga,
padha-padha butuh urip.
Senandung Putera Pertama

Akibatnya hasilnya kosong melompong. Karena hanya mengandalkan pikirnya. Ini berarti belum mendapat tata cara hidup yang benar hakiki yang seperti ini adalah idman yang sia-sia. Bertapanya sampai kurus kering, karena sedemikian rupa caranya menggapai kematian. Akhirnya meninggalnya tanpa ketentuan yang benar. Karena terlalu serius.adapun cara yang benar adalah tapa itu hanya sebagai ragi atau pemantap pendapat. Sedangkan ilmu itu sebagai pendukung. Tapa tanpa ilmu tidak akan berhasil. Bila ilmu tanpa tapa, rasanya hambar tidak akan memberi hasil. Berhasil atau tidaknya tergantung pada penerapannya. Dicegah hambatannya yang besar, sabar dan tawakal. Bukankah banyak agamawan palsu. Ajarannya stengah-setengah. Kepada sahabatnya merasa pintar sendiri. Yang tersimpan dihati, segera dilontarkan segala uneg-unegnya. Disampaikan kepada gurunya. Penyampaiannya hanya berdasarkan pikiran belaka.
Kanjeng Nabi Khidir berhenti sejenak, lalu berkata “matahari berbeda dengan bulan, perbedaannya terdapat pada cahaya yang dipancarkannya. Sudahkah hidayah iman terasa dalam dirimu? Tauhid adalah pengetahuan penting untuk menyembah pada Allah, juga makrifat harus kita miliki untuk mengetahui kejelasan yang terlihat, ya ru’yat (melihat dengan mata telanjang) sebagai saksi adanya yang terlihat dengan nyata. Maka dari itu kita dalami sifat dari Allah, sifat Allah yang sesungguhnya, Yang Asli, asli dari Allah. Sesungguhnya Allah itu, allah yang hidup. Segala afalnya (perbuatanya) adalah bersal dari Allah. Itulah yang demaksud dengan ru’yati. Kalau hidupmu senantiasa kamu gunakan ru’yat, maka itu namanya khairat (kebajikan hidup). Makrifat itu hanya ada di dunia. Jauhar awal khairat (mutiara awal kebajikan hidup), sudah berhasil kau dapatkan. Untuk itu secara tidak langsung sudah kamu sudah mendapatkan pengawasan kamil (penglihatan yang sempurna). Insan Kamil (manusia yang sempurna) berasal dari Dzatullah (Dzatnya Allah). Sesungguhnya ketentuan ghaib yang tersurat, adalah kehendak Dzat yang sebenarnya. Sifat Allah berasal dari Dzat Allah. Dinamakan Insan Kamil kalau mengetahui keberadaan Allah itu. Bilamana tidak tertulis namamu, di dalam nuked ghaib insan kamil, itu bukan berarti tidak tersurat. Ya, itulah yang dinamakan puji budi (usaha yang terpuji). Berusaha memperbaiki hidup, akan menjadikan kehidupan nyawamu semakin baik. Serta badannya, akan disebut badan Muhammad, yang mendapat kesempurnaan hidup”.

