alangalangkumitir

Javanese Manuscripts

KETERANGAN SIFAT 20


Bab 2
KETERANGAN SIFAT 20

Manusia ditakdirkan/diciptakan sempurna karena mempunyai pikiran/akal dan alat perasa serta jasmani, Maka Ulama di zaman dahulu mempunyai pendapat bahwa Allah sebenarnya yang menciptakan, dan sebahagian besar menyebutkan sifat-sifat manusia sendiri adalah panca indra seperti Mata, Hidung, Mulut, Telinga dan Lidah. Beda dengan makhluk lain seperti binatang, walaupun mempunyai alat seperti manusia tetapi tidak lengkap, oleh karena itu hidupnya makhluk-makhluk tadi ikut kodrat masing-masing, bisa melihat, berjalan dan makan tapi tidak punya akal untuk berusaha dan sudah pasti hidupnya kurang lengkap. Berdasarkan keadaan, maka para orang bijak mempunyai pendapat ; bila manusia itu sifatnya lengkap dan tidak bisa berubah artinya Allah itu tidak kekurangan sifat seperti yang diciptakan. Walaupun semua Ulama sudah sampai disatu pendapat, tetap tidak bisa menemukan Allah SWT.

Maka dalam Wirid/pelajaran, Allah itu tidak bisa dijangkau oleh alat apapun bahkan oleh pikiran/perasaan. Jadi para ulama menyebut Dat yang maha agung yang bisa menciptakan Jagad raya.

Selanjutnnya keterangan sifat 20 (dua puluh) begini; Atas nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang, terlebih dahulu dikutip dari buku Wirid Hidayat Jati tinggalan Ronggo Warsito;

Sebelum ada apa-apa yang ada hanya Allah yang berada dalam NUKAT GAIB yang diberi nama Qun, yaitu DAT sejati, Nukat artinya bibit, dan Gaib adalah samar/tidak nampak oleh mata yang disebut Nur Muhammad, yaitu Cahaya yang terang sekali tanpa bayangan, yang disebut sifat sejati QUN lalu FAYAQUN. Qun artinya Allah Bersabda (berkata) dan Fayaqun artinya Terjadi semua Afhngal (selamanya). Semua itu menjadi asalnya yang terjadi disebut Anasir Sejati. Jadi Allah memiliki 4 Anasir yaitu Dat, Sifat, Asma dan Afhngal.

Umpama penerimaan salah, pelajaran yang diatas tadi ada kata tempat di Nukat Gaib (benih yang tidak nampak) itu pasti dapat menimbulkan pendapat bahwa Allah itu berada disuatu tempat, karena disebut Layu Kayafu, itu semua salah, Allah tidak bisa disentuh atau dijangkau oleh apa saja, tidak ada yang menyerupai, karena semua itu sifat Baru (yang sudah ada).

Almarhum Kyai Agus Salim pernah berbicara; bahwa dasar agama Islam itu lebih dulu mengetahui nama Allah dan selanjutnya seluruh yang ada (Jagad Raya). Mustahil kalau tidak ada yang menciptakan, karena yang menciptakan wajib adanya (mokal dan wajib). Itu sebabnya manusia hanya menjumpai yang sudah ada dan tetap tidak bisa berubah. Kata mempunyai atau yang terjadi itu dalam bahasa Wirid/Pelajaran yaitu menyatu dan berpisah artinya sama, karena pusatnya itu Allah.

Wirid Hidayat Jati tersebut diatas akan diterangkan hanya soal 4 Anasir saja, oleh sebab itu akan dijumpai dibacaan ke-2. penelitian tentang 4 Anasir menurut catatan pelajaran agama yang tersebut dibawah ini:

1. Dat Allah yang tidak bisa dilihat tetapi mencakup/meliputi seluruh yang diciptakan semua yang dijumpai makhluk. Terbukti Layu Kayafu (tidak bisa diganggu oleh apapun), semua keterangan ada dibelakang. Umpama ada ikhtikat kepercayaan menceritakan manusia dapat / jumpa atau menghadap maju mundur dengan Allah, karena lupa dengan yang disebut Layu Kayafu.

2. Sifat itu sebetulnya perkataan sesudah ada Dat, artinya kekuasaan Dat Allah yang sebenarnya bisa menciptakan apa saja dan mempunyai sifat seluruh yang diciptakan.

Dengan kehendak Allah sifat itu apa yang telah diciptakan, sifat itu berjuta-juta (milyaran) warnanya, seperti yang tertulis dikitab Al-Quran, yang menyebutkan kekuasaan, keagungan dan Daya keperkasaan, umpanya bisa menidurkan, membangunkan,    menangiskan, menghidupkan benih. Oleh karenanya sifat-sifat yang begitu terdapat pada manusia. Para Ulama zaman dahulu kala sama-sama membicarakan satu keputusan bahwa sifat DAT yang wajib adanya itu menguasai manusia yang banyaknya 20+20+1,    maksudnya itu mempunyai sifat 20 yang wajib (tidak berubah-ubah), 20 lagi sifat    Mokal (bisa rusak/berubah) dan yang 1 adalah kuasa (wenang dalam bahasa jawa).    Jika difikir dengan benar bahwa sifat 20 itu menyatu dengan manusia, maka itulah disebut cukup alatnya. Oleh sebab itu manusia diwibawai dengan sifat 20 tadi,    umpamanya melihat, mendengar, hidup, bicara dan lain-lain. Semua sifat-sifat    Allah tersebut disebutkan dibawah ini;

SIFAT 20 ARTINYA

1. WUJUD = ADA
2. QIDAM = TIDAK ADA YG MENDAHULUI
3. BAQA = KEKAL
4. MUHALAFALIL HAWADIS = BEDA DENGAN YG BARU
5.QIYAMUH BINAFSIHI = BERDIRI SENDIRI
6. WAHDA NIYAT = MENYATU
7. QODRAT = KUASA
8. IRODAT = KEHENDAK
9. ILMU = PENGETAHUAN
10. HAYAT = HIDUP
11. SAMAK = MENDENGAR
12. BASHAR = MELIHAT
13. QALAM = BERKATA
14. QADIRAN = YANG MEMPUNYAI KUASA
15. MURIDAN = YANG MEMPUNYAI KEHENDAK
16. ALIMAN = YANG MEMPUNYAI ILMU
17. HAYAN = YANG MEMPUNYAI HIDUP
18. SAMIAN = YANG MEMPUNYAI PENDENGARAN
19. BASIRAN = YANG MEMPUNYAI PENGLIHATAN
20. MUTAKALINAN = YANG MEMPUNYAI PERKATAAN

Menurut pelajar Usuluddin bahwa sifat 20 itu diringkas menjadi 4;
1. Sifat kesatu disebut Nafsiah yaitu untuk badan (jasmani) nyata.

2. Sifat kedua sampai keenam disebut Salbiyah, yaitu sifat yang kekal.

3. Sifat Ke-7 sampai Ke-13 disebut Ma’ani, yaitu yang memiliki sifat Nafsiah, jika diteliti bekerjanya badan manusia bisa langsung bicara, mendengar dan berfikir.

4. Sifat ke-14 sampai ke-20 disebut Maknawiyah, yaitu yang memiliki sifat Ma’ani, artinya bisa bergerak, berkuasa, mempunyai kemauan dan ilmu.

Itu semua sifat yang utuh untuk menggerakkan, terdapat pada sifat ke-7 sampai ke-13, yaitu yang menghidupi badan manusia sehingga bisa bergerak dan yang menggerakkan terdapat pada sifat ke-14 sampai ke-20. Supaya jelas Dat Allah bisa menciptakan apa yang dikehendaki, lalu ada bentuk (wujud) manusia yang disebut Nafsiah, Karena hidupnya manusia mempunyai sifat-sifat 20. jadi bekerjanya sifat Ma’ani untuk manusia oleh karena manusia mempunyai sifat-sifat ke-14 dan ke-20. Tanda-tanda bukti (terbukti) sifat Qodrat (kuasa) itu sifatnya tetap berkuasa. Untuk manusia kekuasaan itu hanya memakai akibatnya daya yang memiliki kekuasaan Allah, contoh salah satunya sifat DAT. Umpama sifat ke-18 : (Sami’an) yang mendengarkan itu berada ditelinga, jadi ditelinga bisanya mendengarkan memiliki sifat Samak, dan terjadinya sifat Maknawiyah itu karena mempunyai sifat Ma’ani. Jelasnya Dayanya sifat Samak langsung bisa untuk mengetahui itu sesudah mempunyai sifat Wujud (ujud)/nyata yaitu telinga yang dimiliki manusia. Kalau salah penerimaan, kadang menjadi lupa dan menganggap Allah itu bertempat pada manusia, sebenarnya manusia itu hanya memakai Hakikatnya sifat-sifat Allah. Walaupun tidak berada ditelinga, Allah itu bisa mendengar, oleh karena Allah yang memilki semua sifat tersebut. Maka dari itu membaca Hidayat Jati itu harus dikaji, karena satu-satunya induknya pengetahuan, artinya Hidayat Jati itu tidak salah, tetapi yang membacanya saja harus berfikir. Umpama membaca sifat-sifat yang disebutkan diatas harus diulang-ulang, baru dapat merasa tentram dan terang, baru suasana menjadi merasa terbuka pikirannya, Firman Allah Qur’an surat Ar-Ra’d : 28;

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.”

Dipelajaran semua sifat tadi lalu diulas (dibahas) lagi nama dan perkataan dibawah ini;

a. Sifat ke-1 disebut sifat Jalal, artinya Maha Agung, yang dinamakan agung itu DAT yang menyelimuti/melingkupi apa yang diciptakan.

b. Sifat ke-2, 3, 4, 5 disebut sifat Jamal, artinya Maha Elok/Sempurna, yang sempurna itu sifatnya, sebab tidak ada yang sama (menyerupai). Bukan laki, bukan perempuan, bukan banci, tidak beranak, tidak diperanakan (walam yalid walam yulad walam yakullahukufuan ahad) tidak bisa dijangkau dan tidak nyata.

c. Sifat ke-11, 12, 13 dan sifat ke-18, 19, 20 disebut sifat Kamal, artinya Maha Sempurna dan Afhngal yang menciptakan keadaan tanpa cacat, sebab tidak ada makhluk yang mengherankan.

d. Sifat ke-6, 7, 8, 9, 10 dan ke-14, 15, 16, 17 disebut sifat Kahar, artinya Maha Wisesa (Maha Menguasai), melayani semua tanpa pilih kasih (tidak membeda-bedakan) walaupun Jin, syetan, Manusia, dan Hewan, oleh karena itu Allah disebut Suci, jadi siapa saja yang hidup bisa menyebut Allah dengan caranya masing-masing.

3. Asma/NAMA (julukan) itu hanya kata manusia, hanya untuk menyebut nama Allah wajib adanya, karena manusia berhak menolak dan menerima, hanya terbawa diri sendiri karena bisa bicara (ngomong) mengatakan penguasa tinggi adalah Allah. Yang Maha Kuasa disembah/dipuja dan tidak bisa dilihat (tidak nyata), karena Hakikatnya menyelamatkan umat manusia, lalu menyebutnya macam-macam menurut pengetahuan masing-masing.

Keterangan : satu-satunya orang menyebut Allah ada.

Hidayat jati menerangkan Allah hanya nama pribadinya, pribadi itu bentuk manusia yang lengkap memiliki Datnya Allah. dan Datnya Allah meliputi Jagad Raya.

Firman Allah menyatakan Qur’an surat Fushshilat (Hammim As-Sajdah) : 54

“Ingatlah bahwa sesungguhnya mereka adalah dalam keraguan tentang pertemuan dengan Tuhan mereka. Ingatlah bahwa sesungguhnya Dia Maha Meliputi segala sesuatu.”

Karena Dat itu meliputi seluruh yang ada, manusia langsung mengakui bahwa Allah itu meliputi tidak diluar dan tidak didalam, seperti sirih; akar, pohon dan daun baunya sama. Oleh karena umpama Datnya Allah itu seperti rasanya sirih, karena sulit untuk ditebak, dinyatakan “tidak diluar dan tidak didalam”

4. Afhngal (geraknya Allah).

Karena Afhngal (gerak) semua makhluk yang diciptakan apa saja, Atom, seluruh zat gaib; Syetan, Malaikat dan manusia. Semua mengandung zat Allah. Jadi Jagad raya itu tidak pernah berubah (tetap) geraknya.

Bekerjanya Dat itu yang wajib sifatnya; tertib, Tentram, Adil, Suci, tidak membeda-bedakan, benar, tidak pernah berubah kekuasaannya. Umpama mau membuktikan setiap hari; ada orang membuat mainan dari kaleng diberi perputaran (as), minyak bensin dan roda, umpama mainan dibunyikan bisa berjalan, itu kerja yang membuat bisanya jalan barang tadi pasti sudah direncanakan dan memang pintar, kepintaran membuat barang disebut hakikatnya Dat yang membuat. Allah itu maha cerdik, lalu apa yang dikehendaki pasti jadi, pasti bergerak, itu contoh lain bagi tanda saksi bekerjanya (bergeraknya) DAT wajib adanya. Dari zaman dahulu kala jutaan tahun; bumi, matahari, bulan, bintang, udara dan lain-lainnya itu tarik menarik selamanya tanpa berubah, menjadikan daya alam (hukum-hukum alam) yang tertib seperti; siang, malam, panas, dingin tidak pernah berubah, tidak dapat diukur seberapa kekuatan DAT itu. karena sangat tertibnya dan tenang lalu timbul menuju arah satu, tidak cerai berai; terhadap manusia tiap hari tetap saling membutuhkan, contohnya begini;

a. Di hutan ada lebah madu glodok, madu kesukaan manusia dan lebah.
b. Karena madu lebah untuk jamu/obat, karena membutuhkan lalu mencari kehutan.

c. Di Hutan banyak bunga-bunga, itu saling dibutuhkan manusia, lebah, kupu-kupu saling mengisap.

d. Adilnya Yang Maha Kuasa; supaya kupu-kupu tadi selamat dari serbuan lebah dan manusia, sayapnya diciptakan satu warna dengan bunga-bunga tadi agar manusia dan lebah tidak bisa membedakan mana yang bunga dan mana yang kupu-kupu dikarenakan sayap kupu-kupu seperti bunga-bunga yang ada dihutan. Lama-lama manusia berusaha supaya lebah tadi semua berkumpul kerumahnya, lalu dibuatkan rumah-rumahan dari kayu yang dibuat seperti sarangnya, oleh karena itu manusia juga mempunyai kekuasaan mengatur lebah.

Jadi terjadinya manusia sebab dari yang satu (Allah), kalau difikir betul bentuk tentran ya DAT Allah SWT dan menuju yang satu menyebabkan terjadinya benar dan selamat. Apa buktinya bila manusia mempunyai kekuatan dari Allah, kata-kata mempunyai kekuatan bisa ditafsirkan manusia itu sama dengan Allah bagi orang yang salah tafsir (salah pendapat). Yang diatas menyatakan bila Allah itu mempunyai sifat 20 wajib, 20 mokal (sebaliknya) dan sifat berkuasa (Yang Maha Kuasa / Wenang dalam bahasa jawa), kuasa artinya yang menciptakan semua yang ada didunia ini.

1. WUJUD (Ujud) artinya ada (Allah), yang telah menciptakan Jagad Raya atau sebagai tanda saksi Bumi, Langit, Bintang, Matahari, Makhluk-makhluk semua dan Manusia Makhluk sempurna dan DAT yang tidak nampak itu wajib adanya. Keterangan itu orang bisa mengatakan ada (Ujud) karena diciptakan yaitu merupakan jasmani, hanya Cuma pinjam. Karena itu kitab Usuludin mengatakan sifat Ke-1 WUJUD untuk jasmani, itu sebabnya manusia bisa bergerak-gerak, kalau tidak ada berarti mati, sebab mati itu tidak bisa mengatakan (bicara) apa-apa.

2. QIDAM / Dulu tidak ada yang mendahului, maksudnya Allah itu Allah itu tidak ada yang lebih dulu dari padanya. Jadi jika ada sifat yang mendahului itu berarti bukan Allah. Jikalau ada yang mendahului itu pasti bukan Allah (Allah lebih dari satu), Allah 1 dan Allah 2 berebut kekuasaan, jadi manusia mengatakan Allah itu tidak ada.

3. BAQA (Abadi/kekal), maksudnya tidak bisa berubah selamanya. Jagad Raya yang diciptakan tadi tetap ujud tidak pernah berubah (abadi), Allah itu tidak seperti barang. Baru itupun yang mengatakan orang yang hidup. Sifat Allah yang bisa kita rasakan; Abadi itu sifatnya Allah sendiri sifat ke-1 sampai ke-20. Bukti untuk ukuran manusia, lidah tidak bisa merasakan manis/kelat sawo itu bila dimakan (dirasakan). Jadi sawo manis dan kelat bisa dirasakan, tetapi manis dan kelat itu sifatnya (langeng dalam bahasa jawa) kekal walaupun tidak dimakan orang. Kekalnya manusia karena bergerak, kekalnya sawo karena manis. Abadi itu batasnya masih hidup (sebelum mati). Jadi adanya senang, susah, dingin, panas yang memiliki (merasakan) orang hidup. Walaupun orang sudah mati siabadi tetap disebut abadi oleh orang yang masih hidup.

4. MUHALAFAH LIL HAWADIS (beda dengan yang baru), artinya sifat-sifat Allah yang tidak bisa disamakan (diungguli) oleh siapa saja, karena semua itu ciptaannya. Untuk manusia semua beda bentuknya disebut sifat Baru (beda dengan yang baru). Manusia dilahirkan dengan sifat baru, bisa berubah-rubah karena namanya manusia didunia dimanapun beradanya pasti sama, bersuku-suku, mempunyai mata, kaki, telinga dan lain-lain. Walaupun kata-kata beda dengan yang Baru manusia, beda dengan hewan walau sama-sama hidupnya (lembu dan kambing), 10 juta lembu dan kambing ya bentuknya sama semua. Misal Manusia ada 10 juta ya sifatnya sama. Allah SWT itu jika menciptakan makhluk satu dan yang lain berbeda antara Manusia, Binatang, tumbuh-tumbuhan. Maha Bijaksana Allah menciptakan isi Alam ini bisa membeda-bedakan ciptaannya, itulah yang disebut MUHALIFAH LIL HAWADIS (beda dengan yang baru). Didunia banyak makhluk-makhluk yang mengherankan, semuanya berbeda-beda; Manusia, Lembu, Kambing, Lebah semuanya barang baru, beda dengan yang baru lagi. Semua tadi membuktikan (saksi) Allah menciptakan makhluknya menurut kehendaknya.

5. QIYAMUH BINAFSIHI (berdiri sendiri), artinya tidur nyeyak bangun sendiri, benih timbul sendiri dan Matahari, Bulan, Bintang, Siang, Malam bergerak sendiri tidak pernah berubah-ubah. Jadi yang bergerak itu mempunyai sifat Qiyamuhu Binafsihi, contoh lain Atom, Neutron, Positron, Elektron semua itu bisa (Makarti dalam bahasa jawa) atau bergerak karena mempunyai sifat berdiri dengan sendiri otomatis. Ilmu Kesehatan Plasma darah tetap jalan sendiri, sebab kena daya panas, umpama plasma itu bisa dipecah-pecah sampai halus walaupun tidak kena/tersentuh panas jika menempel ketubuh masih bisa berjalan sendiri. Semua ilmuwan mengakui bahwa Plasma-plasma itu hidup. Contoh lagi yang membuktikan memakai mikroskop ukuran 10,000 disitu terbukti Plasma tersebut bisa berjalan/bergerak-gerak (6 mm/jam). Ternyata habisnya pendapat tentang Allah yang menggerakkan makhluknya.

6. WAHDA NIYAT (satu), artinya tunggal, sifat itu mudah diterima karena bukan dua atau tiga, artinya satu itu meyakinkan bahwa adanya Allah. Untuk manusia adalah DAT, karena manusia asal dari DAT (zat) yang satu itu. Semua tujuannya benar, karena Dat Allah itu satu (Wahda niyat) yang memiliki sifat 20.

7. QODRAT (kuasa), keterangan itu begini; orang duduk dikursi akan berdiri dan langsung berdiri karena mempunyai sifat Qudrat /kuasa, sanggup memerintah dirinya. Qudrat air (kuasa air) tidak bisa memerintah, hanya mengalir ketempat yang lebih rendah dan merata (waterpass), bisa dilihat dari daya alam surya, panas, udara dingin menghembus, air (hydrogen) atom plus/minus bisa jadi elektrik. Yang Kuasa langsung membuat hukum-hukum alam yang teratur tidak bisa mengalami benturan. Qudrat itu diberikan kepada manusia tinggal pakai. Perkataan Qudrat jauh sekali, maka alat-alat manusia; Panca indra, pikiran dan nafsu itu dikodratkan oleh Allah karena manusia tadi mempunyai sifat Qudrat. Jadi semua tadi tinggal menggunakan Qudrat tadi. Qudrat Allah yang diciptakan semua sempurna dan mempunyai daya sendiri.

8. IRODAT (Kemauan/kehendak), jadi kehendak itu yang menguasai gerak, sifat Irodatnya diam (tidak bergerak), Irodatnya Allah yang melebihi (tidak wajar), umpama bayi kembar siam, bayi berkepala duapun di ciptakan.

9. ILMU (ilmu), manusia mempunyai pengetahuan karena mempunyai ilmu, dari sifat Allah Ilmu, manusia bisa membaca, menulis karena terbuka hatinya baru menulis karena terbuka hatinya baru mempunyai ilmu pengetahuan. Menuntut ilmu bisa terlaksana sempurna jika terbuka hatinya (Kijabnya), benar Firman Allah Qur’an surat An-Nissa : 126 :

“Kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan apa yang di bumi, dan adalah (pengetahuan) Allah Maha Meliputi segala sesuatu.”

Begitupun orang yang tidak tau apa itu, bukan karena bodoh, tetapi karena memang masih belum terbuka hatinya (terbuka kijabnya). Terbukanya hati terhadap orang-orang jaman dahulu terjadinya para wali Allah. Ilmuwan/sarjana, Pujangga, yang terbuka hatinya menuju kepada ilmunya Allah yang sejati. Dan ilmu lainnya hanya untuk bermasyarakat, itu setiap orang bisa belajar (mempelajari).

10. HAYAT (hidup), yang dibilang hidup ialah makhluk yang bergerak karena memiliki sifat ke-10 (HAYAT) dan sifat mokal (sebaliknya, Mati), manusia hidup lebih sempurna sifat hidupnya dari pada makhluk lain. Manusia sifat Hayat lebih sempurna dari zat-zat hewan dan tumbuh-tumbuhan, sebab manusia apa saja yang dikehendaki mesti tercapai walaupun perlahan (tidak merasakan) walaupun sifatnya gaib, sperma, basil, molekul-molekul yang tidak nampak, tetapi bisa dilihat dengan alat mikroskop maka terlihat bergerak-gerak. Itulah tanda bahwa DAT wajib adanya, sebab sifat Hayat meliputi Jagad Raya, dimana saja sifat Hayat tadi memberi daya. Intisarinya hidup itu bukan Allah, tetapi sifatnya mendayai (memberi daya) apa saja yang nampak dan tidak nampak (gaib). Gundik (jawa) Raja rayap itu dibungkus rapat dengan tanah liat sehingga tidak ada udara tetapi Raja Rayap tadi bisa hidup dan bertelur. Itu membuktikan sifat 20 meliputi seluruh keadaan, jadi hidup itu dimiliki semua makhluk, beda dengan manusia sifat hayat itu sempurna karena memilki sifat 20 yang lengkap sehingga bisa meneliti sifat-sifat Allah;

a. Tumbuh-tumbuhan hidup tetapi mempunyai sifat 20

b. Hewan hidup tetapi hanya memiliki sebagahagian sifat 20.

11. SAMAK (mendengar), memilki alat telinga mokalnya (jawa)/ sebaliknya tuli. Wirid Hidayat Jati yang asli halaman 12 baris kedua dari atas; DAT Allah Yang Maha Suci itu kalau melihat memakai mata kita, kalau mendengar melalui telinga kita, DAT ke-11 itu salah satu sifat Allah, walaupun punya telinga bila tidak dialiri sifat ke-11 (Samak) hanya telinga-telingaan. Pokok kata Dat sama walaupun tidak memakai telinga tetap mendengar, karena Allah yang memilki, manusia hanya memakai. Selanjutnya Datnya manusia adalah sifatnya Allah. Sebelum ada DAT tidak bisa mengetahui sifat (tidak ada), karena DAT Allah itu berada pada manusia dan manusia itu luhur (sempurna) karena itu hanya manusia yang memiliki sifat 20.

12. BASHAR (melihat), terhadap manusia dan hewan bekerjanya melalui mata, bukan berarti Allah melihat melalui manusia dan hewan, Allah itu melihat melalui mata kita kenapa kita tidak bisa melihat sebelum terjadi, sebab Allah melihat apa yang akan terjadi. Jadi pertanyaan salah menelaah tetapi benar, sebab terhadap umum (pendapat) pasti melihat itu karena mata yang melihat, sebab setiap melakukan pekerjaan selalu nampak jadi dinamakan Bashar. Jadi mata yang terang jika tidak dialiri sifat Allah yang namanya Bashar tentu tudak bisa melihat (buta), sifat mokal namanya. Bagaimana ukuran bagi Allah tentang sifat Bashar itu artinya Allah melihat tidak memakai mata karena Dat/sifat Bashar tadi memang sudah mempunyai daya sendiri, contoh orang tidur; mata tidak bisa melihat (bekerja) kenapa bisa melihat yang belum pernah dilihat atau mimpi (diwaktu mimpi). Jadi Dat yang memiliki sifat Bashar itu sebenarnya bekerja sendiri (Makarti dalam bahasa jawa). Dat yang bisa mengetahui tadi bisa dimiliki semua orang aktif (hidup), bekerjanya (Makartinya) tidak memerlukan pelajaran dan belajar, sebab anak-anak, orang dewasa selalu melihat yang belum pernah dilihat, sebab itu terjadinya bagi orang yang sempurna, orang bisaa bisanya melihat dengan tidak sengaja menurut kehendak Yang Maha Kuasa (Dat Bashar), sebab itu Dat Bashar itu salah satunya sifat Allah, lalu disebut Allah Yang Maha Melihat.

13. QALAM (berbicara), bicaranya Allah itu menurut sifatnya manusia bicara, burung berkicau dan lain-lain. Sifat-sifat yang baru dan semua isi Jagad Raya yang baru kehendaknya (Allah) atau sifat Allah yang dimiliki para Nabi, Wali dan Rasul-rasul Allah, yang maknanya menuju kebenaran, seperti kitab Al-Qur’an yang mengatakan Allah itu Rasullullah (Nabi Muhammad). Ukuran manusia sifat mokalnya / sebaliknya yaitu bisu, Sabda Allah menuju kebenaran. Orang yang bisa menunjukkan kesalahan menuju kebenaran adalah orang yang sudah memiliki sifat Qalam, umpama para Rasul, contoh manusia bergaul selalu salah menyalakan, Rasul lalu meluruskan (para Nabi), karena Rasul membawa Firman Allah, contohnya sifat ke-2 Qidam; dulu tidak ada yang mendahului, sifat ke-4 Muhalafah Lil Hawadis (sifat baharu/barang baru). Kata-kata yang benar itu tidak ada yang mendahului, artinya tidak ada ulur tarik dan tidak ada sifat mokal (saleh). Al-Qur’an itu semua tujuannya tdak ada yang berlawanan, terhadap perkataan yang dimiliki manusia, Wali, Mukmin yang telah sempurna, yang dibicarakan hanya perihal tentang Allah, perkataannya pasti benar, karena itu satu orang tidak sama oleh karena membuktikan, mereka mendapat Wahyu allah (sifat Qidam). Dan perkataan Allah beda dengan yang baru hanya terdapat pada manusia sendiri, artinya manusia berbicara berbeda dengan makhluk lain. Makhluk-makhluk yang memiliki sifat Qalam tidak hanya yang bisa bicara, tetapi semua bisaa bersuara karena dialiri oleh sifat Qalam.

14. QADIRAN (Yang Berkuasa), yang kuasa itu menurut ukuran manusia, umpama sudah mempunyai sifat Qudrat, karena memiliki sifat tadi, manusia bisa mengerjakan perintahnya, contoh mata; kalau tidur terpejam lalu bangun terbelalak-belalak, karena manusia mempunyai sifat Qadiran; bisa mejamkan mata dan membuka mata. Kuasanya manusia semua alat badan sebenarnya tidak tetap konsisten (tetap), tetapi berubah-ubah sebab manusia tidak bisa memerintah kodratnya mata, sewaktu mata tidak mengantuk; manusia tidak bisa membuka mata sampai lama dan pasti terasa pedih, memejamkan mata terus-menerus (lama) pasti tidak tahan karena tidak merasa mengantukl, jelas sifat Qadiran itu manusia bisa menundukkan alat tubuh jika tidak berlawanan demgan sipat kuasanya (kodratnya).

Keterangannya sipat Qadiran itu menyebabkan manusia bisa memerintah alat-alatnya karena alat sudah tercetak ucap kerja sama (constant) tidak pernah diperintah jadi yang bisa di perintah itu hanya alat-alat yang bekerja menurut kodratnya, karena manusia bisa merintahnya, itu karena memiliki sifat Qadiran. Yang lebih tinggi tingkatannya yaitu sifat Qodrat, sebab sifat Qodrat itu yang memiliki dan sifat Qadiran yang diberi.

15. MURIDAN (yang berkehendak), sifat itu terdapat (dimiliki) oleh manusia, artinya sesudah manusia memiliki sifat Irodat, Karena diberi sifat tadi (Irodat) manusia lalu disebut memilki sifat Irodat, contoh anak menulis itu mempunyai (mengerjakan), menulis itu pekerjaan (sifat). Untuk ukuran manusia sifat Muridan tadi terbukti rasa kemauan gerak, sebab dari gerak kemauan sebenarnya mannusia mempunyai sifat Irodat (kehendak), jadi bisa bicara karena mempunyai sifat Irodat, sifat Irodat bentuknya menjadi sifat sebagai yang memiliki (manusia).

Keterangan: diatas itu termasuk sifat-sifat ke-16, 17, 18, 19 dan 20, dan keterangan yang terakhir; sifat-sifat ke-1 sampai ke-20 sebenarnya hanya salah satu sifatnya Allah sendiri dan manusia seharusnya berterima kasih kepada Yang Maha Suci Allah, karena diciptakan memiliki sifat-sifat-Nya yang lengkap, begitu juga sifat Allah sendiri sifat 20+20+1; 20 Wajib + 20 Mokal (sebaliknya) + 1 Adil. Menurut para ahli, sifat-sifat yang dimiliki manusia itu disebut INGSUN (jawa), Purusha (Sansekerta), IKHEID (Belanda), Rabbi/Illahi (Arab), Pangeran/Gusti (jawa), Tuhanku (Indonesia). Bersambung ………

Sumber buku Wedaran Wirid I, Ki R.S. Yoedi Parto Yoewono. Surabaja : Djojobojo, 1962-64.
—————————
Alang Alang Kumitir

About these ads

16 Comments

  1. agung suhadi

    wahhh matur suwun mas kumitir… artikel panjenengan ndadeaken terang ing manah…. buku2 wirid 1,2,3 karangan raden joedi partojoewono menawi angsal ditampilkan ngagem boso jawi… nuwun…

  2. abdul

    jangan kuatir ilmu ALLAH……kebatilan tidak boleh menaluki kebenaran…INGAT

  3. WONG GOBLOK

    kok pada ributin aliran sih…?? kl saya tanya aliran mana yg paling benar..?? pasti masing2 aliran akan mengaku benar, di tambah dengan keterangan2-nya yang meyakinkan. mending di telaah ajah, kl menurut sampean-sampean ada yg kurang klop ya monggo di buang. ga ada yang maksa kok.
    maaf yah saya ngomong gini karena kegoblokan saya… jangankan ilmu-ilmu yang tinggi, ilmu yang anak kecil dah pada bisa ajah saya masih banyak yag gak bisa.

    *NB mas kumitir tolong bagi2 ilmuya ke email saya yah.

  4. DA'I KONTOL

    dakwah ioslam kok pada orang yang sudah beriman dan ihsan ……..! yaa gitulah orang2 yang bermimpi negara islam heheheeh LIAT AJA LIAT NAMA SAYA MUNGKIN DAAH MARAH KAAAN ….! GITU AJA KOK REPOOT ..!NUWUN SEWUU NGIIH KAANG TERUSKAKEN PERJUANGANE NIKI BUDAYA JAWA SANES BUDAYA ARAB KERANTEN ISLAM SANES ARAB INGGIH MBOTEEN……?

  5. Antox_Hooligan

    Knp suasana jd tegang??? Lebih baek di telan saja dripda tumpah ke permukaan…, Mas Kumitir hanya menjawab apa yg telah ditanykan oleh saudara qt yg laen? mungkin dengan pemaparan di atas saudra yg mbtuhkan dpt mengerti maksudx. Gk perlu dributkan…!!! meskipun berseberangan dg pemahman para pembca. jika para pembca mrsa pemahaman anda paling benar sy ykin anda akn mlah tersenyum…??? tnpa menylahkn pendpat siapapun! Krn orang yg benar tdk akn menylhkn pendpat siapapun dg menganggap pendptx sndri yg benar. yakinilah ajaran anda sndri dn hrgailah ajran n kpercyaan orang laen. jika orang laen bs Tenang. tentram dan selamat dg keyakinanx… knp hrs qt ajk utk ikt keykinan n ajran yg qt anut meskipun benar 100%. Hanya Pribadi yg tau…..???

  6. saya mengatasnamakan SIFAT KAMAL, JAMAL, JALAL DAN QOHAR.TIDAK MENGATASNAMAKAN KEPADA ALIRAN – ALIRAN,FIRQAH – FIRQAH, THARIQAH- TARIQAH APALAGI GURU – GURU YANG MATI.

  7. ando

    mas kalo ngomong tentang nama dan sifat ALLAH harus dari al qu’an dan sunnah dong… ente kaya orang yahudi aja ngalor ngidul ngomongin hal goib cuma pake akal doang… bawa bawa ayat al qur’an tapi ngga ditempatkan pada tempatnya, liat dulu tafsirnya dari para ulama ahlu sunnah. ingat kita harus memilah milih perkataan yang haq dan yang bathil dan timbangannya adalah al qur’an dan sunnah. untuk itu jangan terlalu panjang lebar dalam membahas hal ini seperti mas kumitir yang mengategorikan sifat-sifat ALLAH sekehendak hatinya sendiri. pembahasan ini telah panjang lebar dipaparkan oleh ulama ahlu sunnah dengan mengedepankan dalil yang sangat shorih ( tegas ) tanpa dita’wil ( memalingkan dari makna sebenarnya ) seperti dalam kitab majmu’ fatawa karya ibnu taymiyah, tafsir asma’ wa sifat karya syeikh as sa’diy, aqidah al wasithiyah dan kumpulan hadits-hadits tentang sifat ALLAH oleh daruqutniy dan banyak lagi yang lainnya. mas kumitir sebaiknya baca dulu kitab-kitab semacam itu, dan isi dari kitab-kitab itu sangat betolak belakang dengan yang anda jelaskan diatas tadi. seandainya forum ini memungkinkan untuk saya mengkoreksi artikel mas kumitir tentu akan saya lakukan tetapi forum ini sangat sempit sekali saya ingin sekali bertemu dengan mas kumitir untuk mengkajinya, dan terakhir buat seluruh ikhwan kita harus kembali kepada al-qur’an dan sunnah seperti perkataan nabi kita yang mulia ‘alaihi sholatu wa salam : ” ‘alaikum bi sunnati wa sunnatil khulafairosyidin al mahdiyiin “. artinya: wajib atas kalian memegang sunnahku dan sunnah khulafairosyidin yang diberi petunjuk”.
    dan perkataan seorang ulama ahlu sunnah abul ‘aliayah: wajib atas kalian kepada urusan yang awal sebab mereka belum terpecah belah( lihat kitab al amru bi itiba’i wa nahyu ‘an ibtida’i karya al imam jalaludin suyuti ).
    untuk itu kembalilah kepada aqidah awal yaitu aqidahnya para shohabat yang bersih tanpa bercampur dengan apapun. dan tulisan mas kumitir tidak berkaca padanya, sangat jauuuuh berbeda. seandainya ikhwan semua menulis suatu karya seperti mas kumitir ini yang tanpa berkaca pada alqur’an dan sunnah pasti bisa, ya saaaaangat bisa. tapi itu akan berbeda dengan aqidah yang shohih.

  8. arif

    klo pendapat mas Andrias bukaleng mengatasnamakan siapa?
    pemahaman apa yang anda pegang?
    konsep aqidah apa yang anda pegang?

  9. SINGKAP

    ah..mas andrias bukaleng ini ada ada saja.kita ini aja kadang yg kelewatan mas,mengaku islam tp mau buat cara sendiri.menafsirkan alquran menurut kita sendiri.
    e…disusuruh buat kitab dan agama sendiri takut.saya lebih salut kalau kita berani buat identitas sendiri.kalau tetap mengaku islam ya ikuti ulama yang sah dong.

  10. Komentar dari yang mengatasnamakan ahli sunnah wal jama’ah,para pembaca harap tidak di tangapi karena mereka hanya mengikuti rasullah secara dzohirnya saja sedangkan batinnya lebih para dari orang yahudi dan nasrani,di mana mereka melakukan bahkan jadi bagian dari syrik karena konsep dan aqidah mereka adalah dualisme yaitu wujud Allah dn wujud mereka,kekuasaan Allah dan kekuasan mereka.padahal satu menit yg akan datang saja mereka tidak tau bahkan mereka tidak tau akan diri mereka.

  11. slamet

    mas kumitir… matur nuwun sithek sithek kulo ajeng nyinaoni orek orekane njenengan… matur suwun.

  12. h3rm4n

    KOREKSI TERHADAP PENETAPAN SIFAT 20 BAGI ALLAH

    oleh: Abu Nu’aim Al Atsari

    Golongan Asy’irah yaitu sekelompok orang yang mengaku mengikuti aqidah Imam
    Abul Hasan Ali bin Isma’il Al Asy’ari dalam masalah aqidah khususnya sifat-
    sifat Allah, menetapkan sifat Allah hanya duapuluh. Padahal beliau hanya
    menetapkan tujuh sifat (sebelum kembali ke manhaj salaf, ahlussunnah wal
    jama’ah). Yang tiga belas itu sebenarnya tambahan dari kelompok Maturidiyyah,
    pengikut Abul Manshur Muhammad bin Muhammad Al Maturidi As Samarqandi (wafat
    333 H)

    Adappun sifat duapuluh itu adalah Wujud, Qidam, Baqa’, Mukholafatuhu Ta’ala lil
    Hawaditsi, Qiyamuhu binafsihi, Wahdaniyah, Qudrat, Iradah, Ilmu, Hayat, Sama’,
    Bashar, Kalam, Kaunuhu Qadiran, Kaunuhu Muridan, Kaunuhu ‘Aliman, Kaunuhu
    Hayyan, Kaunuhu Sami’an, Kaunuhu Bashiran, Kaunuhu Mutakalliman. Inilah yang
    dinamakan sifat wajib duapuluh bagi Allah yang wajib diyakini menurut
    Asya’irah.

    Dalam menetapkan sifat tujuh (ditambah menjadi dua puluh oleh Maturidiyyah)
    mereka (Asya’irah) hanya berdasarkan akal. Kata mereka: “Adanya makhluk ini
    menunjukkan adanya qudrah, lalu adanya sifat khusus bagi masing-masing akhluk
    menunjukkan adanya irodah, teraturnya alam ini tanda adanya ‘ilmu. Ketiga sifat
    ini tanda adanya sifat Hayyu(hidup) karena ketiga sifat itu tidak akan terwujud
    tanpan Al Hayyu. Dan sifat hayyu harus memiliki sifat berbicara, mendengar dan
    melihat. Ini adalah sifat sempurna. Atau tersifati dengan bisu, tuli atau buta,
    namun karena ini sifat tercela maka tidak mungkin Allah tersifati dengannya”.

    Bantahan Ahlussunnah (salaf) : Berbicara dalam masalah ini hanya
    berdasarkan akal mengandung konsekwensi sebagai berikut :

    1. Menyelisihi metode yang diterapkan oleh salaful ummah, generasi awal, dari
    kalangan shahabat, tabi’in, atba’uttabi’in dan para ulama setelah mereka.
    Mereka mengembalikan masalah ini kepada Al Qur’an dan Sunnah. Mereka menetapkan
    semua nama-nama dan sifat sebagaimana Allah tetapkan dalam Al Qur’an atau
    melalui sunnah Nabi-Nya tanpa diserupakan dan dita’thil. Imam Ahmad
    berkata: “Kita mensifati Allah sesuai yang telah Allah tentukan, tidak boleh
    melampaui Al Qur’an dan Hadits”.

    2. Juga menyelisihi akal itu sendiri. Karena masalah ini termasuk urusan
    ghoib. Sehingga akal tidak bisa campur tangan. Yang bisa dilakukan hanyalah
    menerima.

    3. Akan menyebabkan perselisihan dan kontradiksi yang tiada henti. Karena
    setiap orang mempunyai akal. Lalu akal mana yang dipakai? Si Fulan akan
    menetapkan sesuatu yang dinafikan oleh Fulan yang lain, begitu seterusnya. Maka
    tidak ada mizan (timbangan) yang kongkrit sebagai pijakan baku. Syaikhul Islam
    Ibnu Taimiyyah mengatakan : “Aduhai, dengan akal siapa Kitab dan Sunnah akan
    ditimbang? Semoga Allah meridhoi Imam Malik bin Anas dimana beliau
    berkata: ‘Atau apakah setiap kali ada seseorang yang lebih lihai berdebat
    mendatangi kita, lalu kita akan campakkan apa yang disampaikan Jibril kepada
    Muhammad y hanya karena mengikuti pendapatnya? Padahal sudah dimaklumi bahwa
    kontradiktifnya perkataan merupakan bukti kebatilannya”.

    4. Jika mereka(Asya’irah dan ahlikalam) mengatakan bahwa makna tangan Allah
    adalah kekuatan karena takut dikhawatirkan menyerupai tangan makhluk, maka
    mereka juga harus menta’wilkan makna kekuatan supaya tidak terjadi penyerupaan
    karena makhluk juga punya kekuatan. Jika mereka berkelit (dgn mengatakan)
    kekuatan Allah tidak sama dengan kekuatan makhluk. Kita jawab: Demikian pula
    tangan Allah tidak sama dengan tangan makhluk. Jadi tidak ada jalan untuk
    menta’wil.(Majmu’ Fatawa, bagian Taqrib At Tadamuriyah, Sayikh Ibnu Utsaimin,
    4/123-124). Allahu A’lam bish showab.

    Uraian berikut akan mencoba mengulas kesalahan madzhab mereka yang sudah
    mengakar di masyarakat. Semoga Allah masih membuka jalan bagi mereka untuk
    kembali ke manhaj ahsunnah yang hakiki.

    Nama dan sifat Allah tidak terbatas karena tidak ada dalil yang membatasi.
    Bahkan ketidak terbatasan asma’ dan sifat Allah disabdakan oleh Rasulullah y
    sendiri:

    “Aku mohon kepada-Mu dengan seluruh asma-Mu yang telah Engkau namakan untuk
    diri-Mu atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau Engkau ajarkan kepada salah
    seorang dari hamba-Mu, atau masih dalam rahasia ghoib pada-Mu yang Engkau
    sendiri mengetahuinya”

    [Hadits shahih riwayat Ahmad dalam Musnad, Ibnu Hibban dalam Mawaridu Dhom'an,
    Al-Hakim dalam Mustadrok. Dishohihkan oleh Ibnul Qayyim dalam Sifa'ul 'Alil,
    Ahmad Syakir, Al-Albani dalam Shahihah, dan Al-Arnauth dalam takhrij Zadul
    Ma'ad]

    Sesuatu yang masih berada dalam ilmu ghaib tidak ada yang mengetahuinya kecuali
    hanya Allah, sehingga tidak mungkin bagi seseorang untuk mengetahuinya, apalagi
    menghitungnya. Jelas sekali bahwa nama Allah itu tidak terbatas.

    Lalu bagaimana dengan hadits:

    “Sesungguhnya bagi Allah sembilan puluh sembilan nama, barang siapa
    menghitungnya/menghapalnya akan masuk jannah.”
    [Riwayat Bukhari:6410, Muslim:2677]

    Jawabnya: Hadits ini tidak menunjukkan pembatasan nama Allah hanya sembilan
    puluh sembilan saja. Bila demikian maka susunan kalimatnya adalah:

    “Sesungguhnya nama-nama Allah ada sembilan puluh sembilan, barang siapa
    menghitungnya/menghapalnya akan masuk jannah”

    Dengan demikian, maka makna hadits ini adalah nama-nama Allah yang sembilan
    puluh sembilan yang siapa saja dapat menghapalnya akan masuk jannah. Berarti
    masih ada nama-nama lain yang tidak diperintahkan untuk menghapalnya. Selain
    itu kalimat “.barang siapa menghitungnya/menghapalnya akan masuk jannah” bukan
    merupakan kalimat tersendiritetapi kalimat pelengkap dari sebelumnya. Kalimat
    yang semisal dengannya, seperti ucapan: “Saya mempunyai seratus ribu rupiah
    yang saya persiapkan untuk shodaqoh”. Berarti anda masih mempunyai uang yang
    lain yang dipersiapkan untuk keperluan lainnya. [Al-Qawa'idul Mutsla Fi
    Sifatillahi Wa Asma'ihi Al-Husna, Ibnu Utsaimin, hal.17. dan Al-Qawa'idul
    Muhimmat Fil Asma'I was Sifat, Ibnul Qayyim, hal.32]

    Imam Nawawi berkata: “Ulama telah bersepakat bahwa hadits ini bukan pembatasan
    nama-nama Allah. Namun bukan berarti Allah tidak memiliki nama-nama yang lain.
    Tetapi maksud dari hadits ini yaitu sembilan puluh sembilan nama ini, bagi yang
    menghapalnya akan masuk jannah. Tujuannya sekedar informasi akan masuk jannah
    bagi yang mampu menghapal 99 nama tersebut, bukan pembatasan nama. Oleh
    karenanya tersebut dalam lafadz lain: Aku memohon kepada-Mu dengan seluruh asma-
    Mu yang telah Engkau namakan untuk Diri-Mu.atau masih dalam rahasia ghoib pada-
    Mu yang Engkau sendiri mengetahuinya” [Syarah Muslim, 6/177]

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Inilah pendapat jumhur ulama’ “[lihat
    Dar'u Ta'arudhil 'Aqli Wa Naqli, juz 3 hal.323]

    Al Hafidz Ibnu Hajar berkata: “Tentang penyebutan 99 nama ini para ulama
    berselisih, apakah nama Allah sebatas itu atau lebih, namun disebutkannya
    sejumlah nama itu merupakan kekhususan sebab bagi yang
    menghapalnya/menghitungnya akan masuk jannah. Jumhur ulama memilih pendapat
    kedua (nama Allah lebih dari 99 nama). Dan An-Nawawi menukil adanya kesepakatan
    ulama’ tentang masalah ini (seperti yg disebutkan diatas). Al-Khothobi
    berkata: “Dalam hadits ini terdapat penetapan sejumlah 99 nama, namun bukan
    merupakan halangan adanya tambahan nama yang lain. Pengkhususan ini dikarenakan
    nama-nama ini sering muncul dan maknanya paling jelas”. Al-Qurthubi berpendapat
    sama dalam kitabnya Al Mufhim. Ibnu bathal menukil pendapat Al-Qadhi Abu Bakar
    bin Thayyib, katanya: “Dalam hadits ini tidak ada bukti pembatasan nama Allah
    hanya 99. Namun makna hadits ini adalah siapa yang menghapalnya/menghitungnya
    akan masuk jannah, dan yang menunjukkan tiadanya pembatasan adalah kebanyakan
    dari nama-nama itu berupa sifat, sedangkan sifat Allah tidak terbatas”.[Fathul

    Kesimpulannya bahwa nama Allah tidak terbatas. Demikian pula sifat-Nya. Karena
    setiap nama pasti mengandung sifat, berarti sifat Allah juga tidak terbatas.
    Ibnul Qayyim berkata: "Allah mempunyai nama-nama dan sifat yang disimpan pada
    ilmu ghaib di sisi-Nya. Tidak ada yang mengetahuinya, baik itu malaikat yang
    dekat dengan Allah atau nabi yang diutus, seperti disebutkan dalam hadits
    shohih: Aku mohon kepada-Mu dengan seluruh asma-Mu yang telah Engkau namakan
    untuk diri-Mu atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau Engkau ajarkan kepada
    salah seorang dari hamba-Mu, atau masih dalam rahasia ghaib pada-Mu yang Engkau
    sendiri mengetahuinya".[Al Qowa'idul Muhimmat fil Asma' Was Sifat, hal.32]

  13. nazaruddin

    per peck sangat sempurna

  14. Tinggal guharto

    semoga kita semua mendapatkan manfaat dari apa yang kita baca Amiin!

  15. Abdullah Wahab

    Sangat..sangat menarik sekali.

  16. Abdullah Wahab

    Sangat..sangat..menarik sekali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: