UNTUK YANG TERCINTA
PESAN MORAL UNTUK ANAK BANGSA
” Anakku, lihatlah stupa di puncak candi itu, manis dan indah bukan? tetapi ketahuilah, bahwa stupa itu tak kan berada di puncak candi jikalau tidak ada batu-batu dasar yang mendungkungnya. itulah ibaratnya rakyat jelata, itulah gambaran para budak dan hamba sahaya para raja. Oleh sebab itu, jikalau Tuhan memang mentakdirkan dirimu menjadi raja, janganlah kau lupa kepada rakyat jelata yang menaikkan dirimu ke atas puncak dari segala puncak kemegahan kerajaan warisan nenek moyangmu. Cintailah dan hargailah sesamamu, terutama rakyatmu yang menderita dan memerlukan uluran tanganmu”.
“Ayah dan bunda, mohon ampun bila keputusan saya tak sesuai dengan keinginan ayah-bunda, namun demi pertimbangan kemanusiaan: saya berkeberatan untuk menerima mahkota dan singgasana kerajaan”.
“Bagi saya tidaklah penting siapa yang duduk di atas singgasana dan menjadi raja, sebab kunci pelepas kesengsaraan kaum pribumi, yaitu seluruh bangsa kita tidak terletak pada soal: siapa yang menjadi raja, namun jawaban atas satu pertanyaan: siapakah yang mau berjuang membebaskan bangsa kita dari kemiskinan, kebodohan, keruwetan dan segala permasalahan ini”.


Ki Samiaji berkata,
April 13, 2008 pada 5:23 am
Paguyuban Asma’Djati Kusuma sangat mendukung sekali apa yang menjadi visi & misi dari padepokan alang-alang,”Bravo deh”dan saya pribadi jadi dapat lebih menambah wawasan & wacana tentang ilmu-ilmu kejawen,supranatural,meditasi sufi dsb.Thank’s Ki Samiaji
ki samiaji berkata,
April 21, 2008 pada 11:03 am
sebenarnya allah menciptakan manusia dengan menitipkan kehendaknya maka patutlah bagi manusia untuk tunduk dan sujud hanya kepada-NYA,ALLAH ciptakan 100 kasih sayangnya,dan hanya 1 yang diturunkan kedunia maka agungkanlah Asma yang 99 karena allah letakan disisinya.(paguyuban Asma’Djati Kusuma-Ki Samiaji)
Badhar berkata,
April 24, 2008 pada 8:57 am
sebelumnya salam kenal…. salut bisa menjaga dan melestarikan kebudayaan jawa yg mgkn bisa hilang…
begini pak saya sudah lama ingin belajar masalah kejawen ini tapi belum ada cukup waktu ,,,dan di daerah saya di kepanjen-Malang sana setiap suro ada wejangan khusus kalau boleh tahu pak apa sih yg di wejang itu… karena konon katanya kalau mendengar tampa di restui akan timbul hal-hal yg aneh apa demikian pak…apa isi ayat lima itu pak…. sholat dho’im mohon penjelasannya…
Terima Kasih
Rosadi
alangalangkumitir berkata,
April 24, 2008 pada 9:42 am
Yth para pengakses yang budiman.
Kami sangat berterima kasih atas tanggapan Bapak-Bapak, Mas-Mas dan Mbak-Mbak di Blog kami. Ini adalah sebuah sapaan yang hangat dan mesra yang bagi kami adalah sebuah bentuk komunikasi antara Bapak2/Saudara2 para kekasih-Nya dengan kami. Kami akan dengan senang hati bila kelak kita dipertemukan dalam waktu dan ruang yang senggang agar kita bisa bertukar pikiran secara lebih intens. Sebab tidak mungkin kita berdiskusi dan menerangjelaskan hal-hal yang, misalnya, berdimensi ketuhanan dengan penjelasan sederhana dan tertulis satu dua kata. Dimensi ini sangat njlimet, ruwet dan perlu kehati-hatian yang tinggi. Bisa terjerumus dalam kesalahan interpretasi dan penafsiran.
Semoga kita selalu diberi kekuatan untuk ikhlas untuk berjalan di jalan yang benar. Yaitu Jalan-Nya saja, bukan sebaliknya berjalan di jalan yang bukan Jalan-Nya.
AL & WL
mulyono berkata,
Juni 5, 2009 pada 9:53 am
ASS…MAS Kalau boleh…saya minta alamatnya…suatu saat saya ingin main….tukar pendapat..memang pelajaran KEHIDUPAN sangat njlimet,untuk memahami secara benar agar kita dapat MANUNGGAL dengat sang MAHA KEBERADAAN…Yang saya CINTAI…salam kenal sebulumnya,……….tolong kalau mau balas keimel saya.RIFALDI90@YAHOO.CO.ID.WSS
Amanto berkata,
Agustus 29, 2009 pada 3:22 am
Mas kumitir alamatnya dimana?
angsa berkata,
September 5, 2009 pada 1:10 pm
Ass. Rahayu….
Perkenalkan saya Among Projo Restu dari padepokan SANTRILOKA Mojokerto. punya usul dari Alang-alang kumitir , bagaimana kalau kita buat pertemuan berkala.
mungkin nanti kita bisa sharing dan membuat perubahan di alam indonesia tercinta ini.
kami dari dulur2 mojokerto sangat mendukung untuk terus menjaga petuah para leluhur.
bagi rekan23 atau dulur2 sekitar Mojokerto, Sidoarjo, Surabaya ataupun sekitarnya silakan berkunjung ke padepokan Santriloka.
atau Hub. saya di anang.ahmadi@gmail.com, santriloka@gmail.com.
Salam Rahayuu…………
karyono berkata,
April 25, 2008 pada 4:01 am
menanggapi alanglangkumitir berkata, saya ucapkan terima kasih, semoga dapat terlaksana dengan baik agar tidak salah interpretasi dan penafsiran, mohon maklum saya tidak mengusasai bahasa jawa, terima kasih (PIKIR) Pangudi Ilmu Kebatinan Intine Ing Roso
Cahya saputra berkata,
April 25, 2008 pada 7:32 pm
Trima ksh sblmny dgn adany situs ni sy agk trbantu..diksempatan ni sy ingin mnanyakan ttg guru sejati n kakang kawah adi ari ari 5 pancer serta ap arti ning nong ning gong.almarhum ayah sy seorg kejawen aliran guru sejati mk dr tu sy ingin tny kn arti tsb
Cahya saputra berkata,
April 25, 2008 pada 7:44 pm
sbg tmbahan dr prtanyaan saya,yg saya tahu ttg guru sejati mempunyai nama pewayangan n kbetulan guru sejati saya betara indra.apakah tu bnr2 guru sejati/jin?sebab dlm aliran ni stiap org mempunyai guru sejati yg berbeda2 n tebal tipis kitabny jg berbeda..
Cahya saputra berkata,
April 25, 2008 pada 7:54 pm
Kitab tsb gaib n membuat ttg khdupan n kamanungsan tp hny utk dri qt sndri.apakah aliran tsb trtua djawa?krn dlm aliran guru sejati tdk diwulang/bljar/minta bntuan dr org ln(org pntar/tau supranatural).mohon minta masukanny dr prtnyaan saya..trima kasih
Cahya saputra berkata,
April 25, 2008 pada 8:04 pm
Mnambah dr komentar no 3,mnurut saya mmg bnr manusia tu mempunyai sifat hewan jg.ada yg spt monyet cthny sft dsr monyet adl ingin memiliki brg(buah/makanan) milik tmnny walaupun dtanganny tlah ad.spt babi cth ingin hdp enak tnpa krja krs.anjing,musang,dll
Cahya berkata,
April 25, 2008 pada 8:05 pm
Mnambah dr komentar no 3,mnurut saya mmg bnr manusia tu mempunyai sifat hewan jg.ada yg spt monyet cthny sft dsr monyet adl ingin memiliki brg(buah/makanan) milik tmnny walaupun dtanganny tlah ad.spt babi cth ingin hdp enak tnpa krja krs.anjing,musang,dll
alang alang kumitir berkata,
April 28, 2008 pada 1:04 am
Untuk Sdr Cahaya Saputra,
Ada simpul-simpul yang bisa dijadikan patokan dan pegangan saat kita masuk ke bidang kumparan Ketuhanan. Intinya, bahwa guru sejati kita itu adalah diri sendiri yang bisa “ditemukan” dengan berbagai upaya batin. Dalam agama, kita diminta untuk mengenal diri sendiri agar mengenal Tuhan. Socrates, filsuf Yunani, mengatakan dalam ujung pencariannya tentang Tuhan dengan ungkapan, Gno seauton atau kenalilah dirimu sendiri.
Diri yang bagaimana? Itulah yang harus kita kenali. Yang jelas bahwa guru sejati itu nanti akan menuntun kita untuk menuju ke Jalan Yang Benar, yaitu Dia, Yang Maha Ada. Diri sejati yang tidak menuntun kita untuk menuju ke pintu-Nya, adalah pasti bukan guru yang sejati.
Di dalam berbagai aliran budaya jawa (kejawen), kita mengenal banyak “guru sejati’ apakah itu berbentuk sosok wayang, dewa, pendiri aliran dan lain-lain yang sebenarnya itu adalah menuntun para penghayatnya untuk menuju dimensi yang lebih abstrak. Itu sebabnya, biasanya dalam awal-awal perjalanan ruhaniah seorang murid diminta untuk menghadirkan guru tarikat (mursyid) untuk bertawassul/berdzikir. Tapi pada tahap selanjutnya, menghadirkan mursyid tidak lagi keharusan. Ini hanya latihan awal, karena mustahil kita “bertemu” Tuhan yang sangat-sangat abstrak sebelum indera (visual, auditori, kinestetik) dan rasa/qalbu sirri/ dll dilatih secara intens. Caranya ya itu tadi, menghadirkan “guru sejati” untuk selanjutnya kita tinggalkan setelah kita bertemu yang Maha Abadi. Cahaya Maha Cahaya.
Demikian sedikit uraian dari kami, semoga bermanfaat.
AL & WL
Yopy berkata,
Mei 5, 2008 pada 3:24 am
Alhamdulillah, akhirnya ketemu juga web yang berisi informasi mengenai falsafah jawa dan juga mungkin tasawuf jawa. Saya sangat mendukung. Bravo !!!!.
Karena saya bukan orang jawa asli, mohon kiranya ada versi bahasa Indonesia untuk setiap artikel.
Terima Kasih
Semoga informasi dan artikel-artikelnya terus bertambah.
bahtiarian berkata,
Mei 13, 2008 pada 2:27 am
Kulo nuwon…
Mohon izin untuk menautkan situs ini dalam situs sederhana saya.
salam kenal.
melintas.bumi berkata,
Mei 14, 2008 pada 10:38 am
Terimakasih atas jerih-payah mengumpulkan dan mengetik serat-serat jawa klasik ini.
Salam.
alang alang kumitir berkata,
Mei 16, 2008 pada 4:06 am
Silakan menautkan situs ini dalam situs rekan2 sekalian.
Bagi yang mau mengambil naskah, sebagian maupun semuanya juga boleh tanpa ijin. Ilmu memang untuk disebarkan…
Terima kasih
Alang-alang kumitir.
Anam berkata,
Mei 21, 2008 pada 5:30 am
wah aku punya ide kalo naskah2 jawa diterjemahin ke dalam bahasa inggris. dirimu rak nang inggris, ayo naskah-naskah diterjemah, jangan cuma centhini, itupun yang diambil ngeseks-nya, dasar bule… kan banyak yang lebih dari itu, termasuk centhini, jangan direduksi dong
Anam
Bangau berkata,
Mei 23, 2008 pada 5:30 pm
Mohon ijin men kopi paste ke kaskus.us forum supra
ALANG ALANG KUMITIR berkata,
Mei 27, 2008 pada 3:53 am
Terima Kasih atas semua komentar di blog kami. Naskah-naskah yang ada di blog ini sebagian besar adalah hasil karya para pujangga Jawa yang hingga kini sulit ditemukan. Kebanyakan kami mendapatkan naskah itu dalam bentuk buku dari berbagai perpustakaan baik manual maupun digital.
Kami mohon kepada pada pengakses bila ingin mengcopy paste naskah tersebut untuk kepentingan ilmiah maupun yang lain, diharap mencantumkan sumbernya yaitu http://alangalangkumitir.wordpress.com/
Terima kasih…
homescript berkata,
Mei 27, 2008 pada 6:11 am
weees mantep tenan blog ini… isinya berkualitas dan sangat aktif begitupun para komentatornya… saya sangat mengharapkan adanya pertemuan di dunia nyata untuk membahas berbagai hal yang ada disini seperti yang diutarakan sdr. alang-alang kumitir
moto:
seandainya kita mampu berbuat jahat dan memenui dunia ini dengan kejahatan kita maka sungguh tidak akan ada yang dapat kita peroleh walaupun kecil dari yang terkecil di dunia ini, namun jika kita mampu berbuat kebaikan walaupun kecil dari yang terkecil di dunia ini pasti kita akan memperoleh dari kebaikan itu
ki samiaji berkata,
Mei 28, 2008 pada 11:23 am
Sukma sejati,guru sejati,pangeran sejati,sukma kawekas,sukma purbo semuanya adalah manispestasi dari manusia itu sendiri yang menjadi pancernya energi dan daya laduni jadi jika kita ingin sukses maka galilah semua itu di dalam diri sendiri aji ning diri mangon ning lati,ilmu iku nek ora di lakoni ora dadi.
bayumariachi berkata,
Mei 30, 2008 pada 8:21 am
kulonuwun mohon izin menjadikan link ini salah satu pautan inspirasi saya.
mohon banyak petunjuk dari para sesepuh
matur suwun
bayu
R.wisnu sanjaya berkata,
Juni 5, 2008 pada 3:37 am
halam ke berapa dalam serat centhini yang berisi tentang pengobatan tradisional atau kegunaan rempah rempah.atau tanaman obat
R.wisnu sanjaya berkata,
Juni 9, 2008 pada 9:57 am
Mohon maaf untuk Suluk Malang Sumirang .kok dereng pun serat jeh.matur nuwun
dewiq berkata,
Juli 3, 2008 pada 12:06 pm
Bang, ternyata abang sungguh-sungguh hebat. dua blog abang benar-benar mengagumkan. ajarin dong
Aliefkusumajati berkata,
Juli 6, 2008 pada 5:54 am
Semoga semakin banyak jiwa yang tercerhakan dan semuga yang Kuasa mempertemukan serta menyatukan jiwa jiwa suci dimuka bumi ini. Semoga semuanya terjaga keikhlasanya. Karena keikhlasan = Kebahagiaan. amin.
Samiaji berkata,
Juli 6, 2008 pada 6:07 am
Kita adalah sama dan sekalighuus berbeda, dimanakah samanya dan dimanakah bedanya, kalo kita sama mengapa mengapa kita harus berbeda. seperti Jiwa dan raga yang menyatu. marilah kita yang sama dan marilah kita yeng berbeda? …… bersatulah, seperti bersatunya jiwa dan raga. semoga kita memahami arti tunggal tapi banyak, banyak tapi tunggal. seperti dunia yang sudah bulat.
Aliefkusumajati berkata,
Juli 6, 2008 pada 6:21 am
Mari kita menyambung dan menjalin tali yang telah dititipkan yang maha Kuasa pada kita semua, menjadi jalinan tali yang indah, bermanfaat bagi kehidupan yang lain. Saya berterima kasih kepada semua yang telah berbuat untuk hadirnya Blog ini.
cahbizu berkata,
Juli 11, 2008 pada 3:11 am
Sejatinya kata adalah tak terucapkan.
Saya tidak mendengar anda berucap, pun bercuap
Toh resonansi digital sampai ke kuping hati tanpa terdengar
Malah bisa hangatkan dinginnya hati.
kudompet berkata,
Juli 11, 2008 pada 5:06 am
Asyik masyuk juga blog ini. Menarik dan menggugah. Memang sebuah kepastian. Mari berkembang bersama.
dwi berkata,
Juli 13, 2008 pada 1:37 am
makasih udah buat blog yang informatif banget
ditunggu tulisan-tulisan selanjutnya ya
oya, kalau tahu cerita ketoprak tentang kameswara dan bhinika swasti ratu yang anaknya bisa ngalahin durga kalabandari memakai rajah kalacakra, tolong diulas juga
matur nuwun
Alas Ketel berkata,
Juli 14, 2008 pada 5:19 pm
Hidup adalah perbuatan…. tapi pak lang-lang lebih dari itu.Mohon resepnya pak dibagi ke kami yang masih mulai mencari…..alas memang ketel tapi tuk pak lang-lang tidak juga….kapan bisa jumpa langsung pak
grahakartikaaji berkata,
Juli 15, 2008 pada 3:07 am
Kumpulan Tulisan ilmu kejawen masih sanghat relevan dengan jaman sekarang dan menjadikan kaca benggala atau kompas bagi jalan hidup dan budhi pekerti kita yang saat sekarang telaH TERKIKIS oleh zaman edan zaman globalisasi ini ( Zaman yg tidak berbudaya ),agama cuma hapalan dan upacara seremonial saja ,sehingga dogma-dogma agama akan menimbulkan kekerasan dimasyarakat dimasyarakat padahal orang beragama belum tentu tahu intisari agamanya yang menuju urip sejati yang mengutamakan Cinta Kasih Kepada sesama
Ternyata leluhur kita sudah mempunyai filsafat relegius yang tinggi tidak kalah dengan filsuf-2 lainnya
Trimakasih Eyang Alang-alang kumitir
Santri Gundhul berkata,
Juli 15, 2008 pada 3:13 pm
Sugeng tetepangan dumateng Ki Alang alang Kumitir saking kulo piyantun Alit bau Kencur saking Kepanjen – Malang.
Entah apa yang menyeret saya hingga saya sampai di Blog ini yang syarat dengan karya-karya warisan Poro Leluhur. Ditengah-tengah hiruk pikuk kebanyakan manusia-manusia yang kelihatan pada LUPA dan LALAI akan KESUJATIANNYA KELUHURAN BUDAYA sendiri, ternyata Blog ini masih lekat dan begitu antusias dalam ” NGURI-URI ” warisan KABUDAYAN poro leluhur.
Terima kasih saya kepada Gusti Kang Hakaryo Jagad yang telah membuat mata saya MELEK kembali kepada KESADARAN sang PRIBADI. Dan, terima kasih saya juga saya haturkan kepada Ki Alang alang Kumitir pemilik Blog ini. Mugi Gusti Kang Moho Suci tansah peparing Pangestu lan Prayogi dumateng poro Sedulur yang masih mau MENYUARAKAN dan MENGGEMAKAN ” Kabudayan warisan Leluhur di bumi Nuswantoro tercinta.
Rahayu…rahayu…rahayu.
Salam Bocah bau Kencur
yang lagi nyawah di Kalimantan Timur.
Eros berkata,
Juli 18, 2008 pada 9:00 am
cinta hanyalah lima huruf yang sepadan dengan ihlas. Cinta tiada arti tanpa ihlas.
alang alang kumitir berkata,
Juli 18, 2008 pada 10:22 am
Keikhlasan para blogger tercinta untuk meninggalkan komentar merupakan kebahagiaan dan kehormatan bagi kami. Ikhlas adalah cahaya matahari yang menyetubuhi bumi, Ia tak memerlukan pantulan lagi. Justeru cahaya yang memantul, akan merusak sistem syaraf kesemestaan….
Sekali kami menghaturkan terima kasih.
AL
Ratu Prameswari Dewi berkata,
Juli 21, 2008 pada 8:17 am
Saya sangat mendukung dengan adanya setiap yang lahir,urip nang bumi pertiwi eling pewaris sejati siapa lagi kalau bukan anak cucu yang mewariskan tanah pusaka BUMI PERTIWI NUSWANTORO ‘ REPUBLIK INDONESIA’……..Kanjeng IBU PERTIWI, mengajak kita yang masih eling akan tanah KELAHIRAN untuk berbuat yang lebih baik untuk negara bukan apa yang bisa negara perbuat untuk kita…Betapa MENANGIS NYA KANJENG IBU akan torehan muka bangsa kita yang carut marut memalukan !!!! ….Yanga penting SATU UNTUK SEMUA , SEMUA UNTUK SATU jangan ada perbedaan sesama saudara seTANAH AIR…kita harus jadikan NEGARA TANAH PUSAKA kita menjadi NEGARA YANG KUAT DAN BERDAULAT SERTA KOKOH akan segala rintangN SERTA BADAI YANG MENGHALANG…HIDUP BANGSA KU…HIDUP TANAH PUSAKA INDONESIA…JAYALAH TERUS BUMI PERTIWI…Wassallam
Ratu Dewi Prameswari berkata,
Juli 21, 2008 pada 8:26 am
Saya sangat tertarik dengan kidung KEMARAHAN IBU…IBU PERTIWI KITA TERCINTA memang sedang sangat MERANA….Belaiu mencari para PEWARIS SEJATI untuk MEMBANTU MEMBANGKITKAN KEMBALI BANGSA KU BANGSA YANG BESAR NAN BERMARTABAT…Kelak akan datang jalannya…Sugeng Rawuh IBU PERTIWI, para anak cucumu BERSATU membangun kembali segala KERUSAKAN dimuka BUMI PERTIWI…Nyuwun Pangestu nipun IBU agar langkah kami LURUS menjalankan amanat yang DITITAHKAN PARA LELUHUR, PARA KARUHUN, PARA NENEK MOYANG TANPA KAMI DUSTAI….Doakan kami IBU , kami semua para anak cucumu akan BERJUANG untuk KEJAYAAN BANGSA KU YANG BESAR…BANGSA KU YANG SUBUR…BANGSA KU YANG BAGAI LIMPAHAN EMAS BERTABUR PERMATA…Tiada satu pun di negaraku yang tidak ada dan kekurangan… YA ALLAH telah ENGAKAU CIPTAKAN MUKA BUMI NUSANTARA KU KAYA TANPA KEKURANGAN…Sekali lagi selamat atas adanya Blog ini menjadi menyatukan para Generasi Muda akan SEJATI NING DIRI…..SEJATI NING URIP lewat media KEJAWEN…
dimas_petruk berkata,
Juli 24, 2008 pada 11:17 am
Rahayu ingkang sami pinanggih, Salam sejahtera bwat sodaraku smua,
weehhh..remen sajroning penggalih kula kang kumitir, dene penjenengan mpun keraya-raya mbudi-daya murih bisane nglestantunke tinggalane para luhere dewe, mugi ndadoske tambahing pangertosan, njembaraken cakrawalaning pamikir lan pangrasa, murih bisa tinatane olah budining jatmika, tundane dumadine gesang wonten alam ndonya kanthi adem ayem tentrem tebih saking raosing ungkul kang njalari rasa mbeda-beda-ake,sami rukun wonten brayatan, golong-gilig mujudaken ndonyanipun piyambak-piyambak miturut dawuhing gesangipun ingkang sakyektosipun,..Mugi2 Blog punika sageda mbeta karahayun kagem sdaya sagung dumadi…
Salam warass…!!kagem sedulur kula sdayanipun…..
Dalem Tengga wonten Jonggring Saloka kang…..
alangalangkumitir berkata,
Juli 24, 2008 pada 11:35 am
Trim, sama Mbak Ratu Dewi Prameswari atas kunjunganya, saya juga sangat berharap di masa yang akang datang akan terlahir seorang kesatria yang mampu untuk MEMAYU HAYUNING NUSANTARA, agar tatanan kehidupan dapat segera berubah seperti yang di idam-idamkan para leluhur dan kita semua yaitu NEGERI YANG ADIL DAN MAKMUR, GEMAH RIPAH LOH JINAWI TATA TITI TENREM KARTA RAHARJO.
Salam tetepangan Dimas Petruk, matur nuwun sanget panjenengan sampun purun mampir dateng blog kula lan mugi-mugi kulo saget ngopeni blog menika supados para sedulur lan bebrayan agung segeto nguri-nguri kabudayan lan tetingalaning paraleluhur supados lestari.
Samudra berkata,
Juli 30, 2008 pada 7:38 am
sedikit demi sedikit terungkap apa yang harus di ungkap kejayaan kerajaan jawa yang menguasai dunia selama 2000 tahun harus diwujudkan lagi. BEKTI DHARMA PALAPA NUSANTARA PRAPTA IKKA MAHAPUTRA JAWA DWIPA MAWAYU HAYUNNING BAWONO. Ksatria ksatria jawa telah lahir seiring turunnya sandi maharesi mengiringi lahirnya Noto Negoro V, ki kumitir ingsun matur suwun dateng panjenengan kang nggugah tangine satrio sat-rio jo-wo mugo kalempahan pangabekti dening leluhur kang ono sanuwantoro jo-wo tangi kabeh ndandani jagat gumelare adi pinuju agung jagat bawono aji. ugo ingsun ngabari babagan lahire bab adi – sabto jendro adiningrat. menuju mercusuar dunia bukan hanya budaya tapi juga teknologi yang mandiri berbasis sandi maharesi.
ardyanstyle berkata,
Agustus 6, 2008 pada 1:48 pm
nuwun sewu numpang liwat om
LieZMaya berkata,
Agustus 13, 2008 pada 9:29 am
numpang baca2 saya mah
kenyot adisattva berkata,
Agustus 19, 2008 pada 1:55 pm
salam.
mas, om, pak, pakde, dll.
kalau boleh minta tahu dari sini tolong dong saya di kirimi tafsirnya tembang sluku-sluku bathok!
tolong nggih!!
kirim aja ke email nasihinaziz8@gmail.com
matur nuwun sanget!!
MasTok berkata,
Agustus 20, 2008 pada 8:37 pm
Salut .. salut ditengah kondisi kering rasa membuat hati terhuyung2, warisan leluhur mampu menjadi pegangan yang nota bene aktualisasi ajaran ke tauhid an, namun jangan sampai berhenti pada kelegaan rasa, terjebak dalam romantika namun yang lebih penting mampu membangun spirit membangun peradaban bangsa ini dengan karya2 nyata yang mengedepankan ajaran2 kebajikan sesuai ajaran rasul dan leluhur. Ayo! bareng2 kang! ben no para pemimpin ne umyek dewe! mengko ben mabur dewe kaya gabah diinteri
HATI-HATI SAUDARAKU berkata,
Agustus 21, 2008 pada 7:13 am
Tolong hati2. Jangan belajar tanpa guru manusia. Anda tidak tahu pasti yang masuk ke bathin anda. Anda bisa melihat??? kalo baik gpp… Kalo Setan/Jin????? Jangan berspekulasi dan Berjudi!!! Jadi orang biasa saja. Jangan berlebihan krn manusia makhluk terbatas. jgn jauh dari Al Qur’an dan Hadist Soheh. Sekali ada tergelincir….. Siapa yang sanggup nolong anda yang sudah terlalu jauh berkelana di medan ghaib yang penuh tipu daya…….
HATI-HATI SAUDARAKU berkata,
Agustus 21, 2008 pada 7:14 am
Tolong hati2. Jangan belajar tanpa guru manusia. Anda tidak tahu pasti yang masuk ke bathin anda. Anda bisa melihat??? kalo baik gpp… Kalo Setan/Jin????? Jangan berspekulasi dan Berjudi!!! Jadi orang biasa saja. Jangan berlebihan krn manusia makhluk terbatas. jgn jauh dari Al Qur’an dan Hadist Soheh. Sekali anda tergelincir….. Siapa yang sanggup nolong anda yang sudah terlalu jauh berkelana di medan ghaib yang penuh tipu daya…….
Ki Gebang berkata,
Agustus 22, 2008 pada 3:30 am
Semua manusia memang harus hati2, mas. Tidak hanya bagi mereka yang berkelana di medan gaib saja yang harus hati2. Bagi manusia biasa yang belajar Al Qur’an dan As Sunah juga harus hati2 kan? Hati2 tidak menafsirkan secara serampangan kitab suci itu, hati2 tidak mengkafirkan orang lain, hati2 tidak menganggap dirinya paling benar, dst-dst.
Siapa pun manusia ada kecenderungan untuk berlebih2an dengan menganggap dirinya, keyakinannya, dan dirinya lebih baik dari yang lain….
So, mas Alang-Alang berkarya terus baik ada guru manusia atau guru jin, atau guru buku. Semuanya hanya Tuhan Yang Maha Tahu.
Ki Gebang
dwex berkata,
Agustus 23, 2008 pada 6:52 am
ass.wr.wb.slm sjhtera…..yg dsbut KAWERUH itu adakah tau/weruh yen weruh kudu ketok yen ketok bararti nyata…..dalam sifat tuhan ada 20 yang wjib di ketaui oleh umatnya,diantaranya WUJUD QIDAM BAQO DLL.apa pimpinan/guru besarnya kaweruh ini ada yg isa membuktikan sifat wujudnya ALLAH
cah kene berkata,
Agustus 24, 2008 pada 5:11 pm
saudaraku-saudaraku yang terhormat ….marilah kita berusaha berpijak pada arif dan bijaksana dalam menyikapi segala sesuatu yang ada tuk melangkah dalam iman yang pasti dikehidupan saat ini, semoga artikel-artikel yang dipersembahkan saudara kakang kumitir dapat menambah filter/wawasan disegala bidang yang telah ada tuk arah kesempurnaan dengan tidak melupakan/meninggalkan bimbingan… mohon maaf yang sebesar-besarnya bila ada kata yang salah
(ora ono tembung salah kangge nguri-nguri makaryone poro leluhur kito)
indo berkata,
Agustus 24, 2008 pada 5:21 pm
yth kakang kumitir bisakah dimuat artikel tentang ihtikad ahlisunnah waljamaah bila tidak keliru karangan dari syuruyudin… terima kasih
Tukriyo Budiharto berkata,
Agustus 27, 2008 pada 6:11 am
Ikutan nimbrung ah, tolong bagi siapa aja yg tau alamat Ki Sondong Mandali yg mempunyai arsip atau catatan tengtang Sangkan Paraning Dumadi. bagi yg tau tolong ke alamat sy : tukriyobudiharto@yahoo.co.id, matur nuwun nggih sakderengipun.
Marsudhi berkata,
September 1, 2008 pada 9:04 am
Ki Sondong Mandali Tilp. : (024) 7477292; HP: 08157611019; 08882572343
yudhistira berkata,
September 2, 2008 pada 4:19 am
salute mas…….
ternyata masih ada juga orng2 yg mencintai dudaya leluhur.
“pround to be pagan”
Tukriyo Budiharto berkata,
September 3, 2008 pada 4:28 am
Kepada mas Marsudhi sy mengucapkan terima kasih atas bantuannya telah memberi tahu ke sy no tlp & no hp Ki Sondang Mandali. Kalau boleh tanya lagi beliau itu tinggal di daerah mana ya, teus mas Marsudi itu apa termasuk murid atau masih keluarga beliau? Maaf ya kok saya jadi banyak nanya nih
Camelia berkata,
September 4, 2008 pada 6:55 am
sungguh Mas Kumitir baik hati dan tidak sombong e…uy
bisa bikin para leluhur bangsa Indonesia tersenyum
semoga Allah SWT melimpahkan Rahmat-Nya pada kita semua…
A- A- A-
Marsudhi berkata,
September 4, 2008 pada 11:30 am
kembali kasih
mas toto berkata,
September 5, 2008 pada 7:18 am
… kayaknya pernah kenal sama wajah cakep ini … tapi, siapa ya ???
shimering berkata,
September 6, 2008 pada 2:06 pm
salam knal smua , saya kagum dengan blog ini , saya sangat suka dengan kejawen , terima kasih mas kumitir yang telah mau membagikan pengetahuannya .
bambang berkata,
September 7, 2008 pada 5:11 am
salam kenal semua terutama kepada alang alang kumitir
saya sangat berterima kasih atas hadir nya situs ini, karena sudah lama saya mencari hal hal yang belum saya ketahui . dengan hadirnya situs ini saya bisa mendapat refrensi dan wawasan lebih banyak. saya berharap semakin banyak sastra sastra jawa yang bernilaitinggi , dan mempunyai arti yang luhur, agar saya sendiri khususnya , dan masyarakata indonesia pada umumnya tidak melupakan sejarahnya sendiri …
trim’s
Liong Budiwan berkata,
September 8, 2008 pada 5:05 am
Wow, situs yang luar biasa….
Salam Kenal dari Padepokan Sastra Jendra di Nusa Bali.
Semoga situs ini memberikan inspirasi bagi jiwa yang haus akan Kedamaian dan Kebenaran Sejati…..
Om Shanti Shanti Shanti Om………..
Yudhistira berkata,
September 10, 2008 pada 7:06 am
Aku sangat suka mas ama info infonya…..
saya dukung terus…..
jack kalijaga berkata,
September 10, 2008 pada 11:35 pm
saya mau minta informasi penerus ajaran syekh siti jenar
suwung00 berkata,
September 11, 2008 pada 5:24 am
Salam paseduluran, mas kumitir aku senang bisa baca tulisan mas tentang siti jenar. 1) Kalo bisa serat serat yang terkait dengan siti jenar dikupas tuntas. Misalnya suluk siti jenar. 2) Mas kumitir tau gak dengan kitab huwa la huwa dari al hallaj atau kitab barencong dari datu sanggul kalimantan 3) mas tolong kirimi aku alamat emai nya dong. kirim aja ke hp.nugroho@yahoo.com. Thanks
Ruang Kendalisada "Wong Daha" berkata,
September 12, 2008 pada 3:53 am
Mas kalo mau ini aku punya arsip asli dari Serat Darmogandhul dan Jayabaya Musasar (tulisan tangan asli RM Ng.Ronggowarsito),sewaktu dia berada di Kediri saat itu.
Tukriyo Budiharto berkata,
September 12, 2008 pada 4:47 am
Halo mas Toto, apa mas Toto Basuki berasal dari Sumbersari, Banyu-Urip Purworejo? kalo iya berarti njenengan ora salah, tapi saya perlu bukti, apa mas Toto kenal dengan Mas Sudjarwo, Mas Sumitro?
adi hadi berkata,
September 12, 2008 pada 4:09 pm
banyuurip?
banyuurip ciri khas sunan geseng, umumnya lokasi banyuurip dulunya pernah disinggahi sunan geseng.
klo ga salah dengar, disekitar lereng merapi merbabu andong sumbing sudah mulai muncul sumber air baru, tentu saja disengaja.
arya bajageni berkata,
September 13, 2008 pada 4:40 am
mas matur nuwun nggeh…
sabdalangit berkata,
September 14, 2008 pada 9:17 am
Tentang Guru Sejati
Guru sejati merupakan jiwa yang mengejawantah sebagai sukma sejati, sukma suci, atau ruh kita yang berhasil menguasai jasad, bukan ruh yang dikuasai jasad. Setiap ruh manusia bisa menjadi sukma sejati atau guru sejati, dengan sarat harus bisa menguasai jasad (hati dan fikiran) yang meliputi nafsu angkara, fikiran kotor, perbuatan jahat. Sebaliknya jasad yang harus mengikuti kehendak sukma untuk menyamakan gelombangnya dengan gelombang Yang Maha Suci. Sukma menjadi suci tatkala sukma kita sesuai dengan karakter dan sifat-sifat gelombang Yang Maha Suci, yakni sifat-sifat Sang Khaliq yang meliputi 20 sifat.
Tradisi Jawa mengajarkan tatacara membangun sukma sejati dengan cara ‘manunggaling kawula Gusti’, melalui mesu budi, maladihening, puja brata, tapa brata, puja rahsa agar supaya mencapai hakikat yakni meninggalkan nafsul lauwamah, amarah, supiyah, dan menggapai nafsul mutmainah. Pencapaian hidup manusia pada tataran hakikat yang intensif akan mendapat hadiah berupa makrifat. Kian jenuh makrifat diterima oleh manusia, maka mereka dapat ‘menyelam’ ke dalam tataran tertinggi yakni makna kodratullah.
Tanda-tanda pencapaian itu antara lain, kadang manusia diizinkan Tuhan untuk mengetahui apa yang akan terjadi di masa mendatang. Orang-orang zaman dahulu kemudian menuangkannya dalam berbagai karya sastra kuno; suluk, serat, dan jangka (ramalan). Jangka atau ramalan diterima oleh budaya Jawa sebagai anugerah besar dari Tuhan, terkadang dianggap sebagai peringatan Tuhan, agar supaya manusia dapat mengkoreksi diri dan melakukan langkah antisipasi.
Bagi kawruh Jawa, tataran tertinggi pencapaian ‘ilmu’ dapat diukur apabila kita dapat bertemu dengan diri kita sendiri, yang tidak lain adalah Guru Sejati kita. Kita dapat berbincang untuk mendengarkan nasehat-nasehatnya, petunjuknya yang tidak akan pernah bicara omong kosong, sebab Guru Sejati adalah sejatinya pancaran dari gelombang Yang Maha Suci. Di sana lah, kita sudah dekat dengan relung ’sastra jendra hayuning rat’ yakni ilmu linuwih, ilmunya dari segala macam ilmu, karena mata (batin) kita akan melihat dari segala yang menjadi rahasia alam semesta, dan tertutup oleh pandangan visual manusia maupun teknologi.
Salam
Setya Suroboyo berkata,
September 17, 2008 pada 7:22 am
Ass.wr.wb salam kenal sebelumnya, saya mohon izin tuk memposting serat atau ajaran yang berhubungan dengan para wali terutama walisongo di tanah jawa, silahkan berkunjung ke blog saya di http://www.mistikus-sufi.blogspot.com jika anda memberikan izin. trims
ardi cahyono berkata,
September 18, 2008 pada 2:11 pm
Mas, di mana kumpulan pidato-pidato Emha Ainun bisa saya donlot? Terima kasih. Ardi
sabda langit berkata,
September 21, 2008 pada 5:30 am
Mohon kepada Mas Kumitir; untuk menambah komentar dan mencoba menjawab pertanyaan2 mas Cahya Saputra mengenai tokoh2 wayang sebagai guru sejati.
Menurut hemat saya; tokoh wayang bukan menjadi perlambang guru sejati setiap orang (Jawa). Melainkan ‘pewayangan’ atau ‘wayangan’ yang dimiliki setiap orang Jawa. Pewayangan dapat ‘dibaca’ dengan menggunakan metode khusus yakni ditayuh, maka setiap orang (Jawa) akan muncul siluet berbentuk tokoh wayang yang merupakan gambaran karakter pribadinya. Biasanya antara pewayangan yang muncul dengan karakter pribadi ybs tepat adanya. Akan tetapi, ada hal yang belum bisa saya temukan jawabannya, yakni mengapa ‘pewayangan’ tidak muncul jika orang tersebut tidak ada darah Jawanya samasekali.
mas kumitir berkata,
September 21, 2008 pada 12:19 pm
Kami sangat berterima kasih atas tambahan penjelasan dan paparan dari Kang Sabda Langit tentang Guru Sejati. Penjelasan ini semoga bisa menambah khasanah dan wawasan kita untuk memahami secara lebih holistik apa dan bagaimana kita menemukan eksistensi diri yang sesungguhnya. Ini jelas akan membantu kita semua untuk menerangjelaskan siapa aku, dimana aku berada dan kemana aku akan pergi.
Terus terang, pengetahuan kami tentang wacana guru sejati dan pewayangan sangat kurang. Bagi kami, setiap wacana, konsep, narasi akan bermanfaat tidak hanya sekedar dipahami tetapi sekaligus dihayati sebagai sebuah proses menuju kesatuan antara eksistensi diri dengan DIRI.
Primbon Jawa yang pernah kami baca menyebutkan bahwa untuk mengetahui karakter wayang yang pas bagi kita adalah dengan mengetahui hari dan weton lahir seseorang. Ini juga bisa menambah khasanah pengetahuan.
Kami tidak memungkiri masih banyak tafsiran lain tentang wayang, guru sejati dan lain-lainnya. Semua adalah simbol, sama seperti debu, angin, matahari, manusia, hewan, rumput dan lain-lain. Simbol apa? Simbol pengejawantahan Dzat. Itulah yang kerap disebut dengan sastra cetha atau kitab teles. Simbol bisa hilang dan tidak bermakna apa-apa apabila tidak ditafsirkan. Oleh siapa? Metefisika tentang simbol mengatakan bahwa simbol berkaki dua…. Tapi yang jelas oleh manusia sebagai animal simbolicum atau penafsir simbol. Sementara Dzat adalah satu-satunya dasar dari substansi atau kenyataan sejati.
Kalau pendapat kami keliru, ya mohon dikoreksi. Matur nuwun.
sabdalangit berkata,
September 22, 2008 pada 9:00 pm
Bab Weton;
Betul sekali saudaraku Mas Kumitir. Untuk memahami karakter seseorang dapat dibaca melalui weton. Weton merupakan rumus yang diciptakan oleh para leluhur bumi nusantara yang winasis dan memiliki tingkat kaprayitnan tinggi. Per-weton-an dikupas dengan menggunakan angka-angka berikut penjumlahannya. Hasil dari penjumlahan merupakan ‘bahasa mesin’ yang dapat menceritakan karakter, watak, dan nasib seseorang. Agar supaya bermanfaat bagi siapa saja yang masih awam tentang weton, berikut ini kami paparkan rumusnya secara garis besar :
Senin = 4, Selasa = 3, Rabu = 7, Kamis = 8, Jumat = 5, Sabtu = 9, Ahad = 5
Pon = 7, Wage = 4, Kliwon = 8, Legi = 5, Pahing = 9
Angka weton merupakan hasil dari penjumlahan hari Masehi + hari Jawa (pasaran)
Jumlah weton melambangkan karakter dasar serta nasib setiap orang yang dapat dibaca dengan rumus ;
Sri, Rejeki, Gedong, Lara, Pati.
Sri ; diwelasi, disayangi banyak orang.
Rejeki ; rejekinya mudah, sekalipun sedikit tetapi selalu mengalir.
Gedong; kuat jika mendapat derajat dan pangkat tinggi. kesinungan untuk menjadi kaya.
Lara ; sering mengalami perasaan yang nelangsa, kelara-lara hatinya, atau fisiknya.
Pati ; sering mentok dalam urusan-urusannya. Riskan menderita penyakit berat, atau mengalami kegagalan yang fatal.
Cara menghitung weton diawali dari angka 1 sampai 5, kemudian diulang lagi dan seterusnya. Misalnya Kemis = 8 + Legi = 5 jumlah 13 = jatuh weton pada Gedong. Bagi pasangan suami-istri, jika akan melihat ‘angsar’nya jumlah weton istri dan suami digabung ketemunya berapa, kemudian dihitung dengan rumus di atas. Silahkan mencoba utak atik gathuk ! Bagi yang memiliki weton kurang bagus tradisi Jawa sudah menyiapkan tatacara untuk memohon wiradat Tuhan, agar garis hidupnya sesuai yang diharapkan, caranya yakni dengan tradisi ruwatan.
Simbol
Sependapat dengan saudaraku Mas Kumitir yth;
Simbol/perlambang atau tanda-tanda rahasia alam yang sinyalnya dapat ditangkap oleh manusia, kadang merupakan bahasa Tuhan. Peran manusia adalah menjadi juru tafsir atas simbol-simbol. Namun simbol atau perlambang merupakan ‘bahasa’ atau ‘pesan’ yg rumit untuk diungkapkan dan dijelaskan, karena ia merupakan ringkasan dari makna kehidupan yg sangat luas dan amat dalam. Simbol atau perlambang sudah menjadi kelaziman, dapat menghasilkan multi tafsir, dan penilaian-penilaian subyektif. Menafsiran simbol merupakan logika yang bersifat induktif. Kebenaran penafsirannya pun masih sering terjadi distorsi, karena sulitnya memilih obyek dan realitas yang relevan jika dihubung-hubungkan dengan perlambang yang pernah tampak. Tradisi moyang Jawa secara turun temurun telah berusaha mencari cara dengan tujuan supaya akurat dalam menafsirkan perlambang. Berbagai ilmu seperti ilmu titen, ilmu ramal/jongko (prediksi), nujum, wangsit, merupakan ‘pisau analisa’ yang diciptakan oleh para leluhur masa lampau untuk mengupas makna sebuah perlambang. Supaya menghasilkan penafsiran akurat atau setidaknya mendekati makna sesungguhnya yakni kodrat dan iradat Hyang Widhi, diperlukan lampah atau ‘laku’ yang berat. Maka dari itu, sejak masa lampau, pada zaman kerajaan Mataram kuno, juru tafsir menjadi profesi yang sulit dicapai. Juru tafsir; ahli nujum; penasehat raja; biasanya terdiri orang-orang waskito den prayitno yang ‘gentur bertapa’.
Orang-orang seperti itu lah; sesungguhnya di masa lalu menjadi tolok ukur sebagai orang-orang yang memiliki tataran tinggi dalam meraih derajat kemuliaan hidup. Mereka yang bijaksana, bisa ‘nggayuh kawicaksananing Gusti (menangkap bahasa/isyarat Tuhan). Sungguh, mereka manusia yang amat jarang kita temukan di bumi nusantara pada saat ini. Mudah-mudahan saudaraku Mas Kumitir menjadi salah satunya. Saya ingat ucapan Kakang Sabdapalon lan Noyogenggong; yen besuk tumekaning 500 tahun (genep tahun 2000 langkung sekedik), arep rawuh maneh momong lan ngajari anak putu, anak turun, lan sagung pro manungso ing tanah Jawi kang wus kajawan, supoyo mangerteni ngendi sing luput ngendi kang bener, yoiku pangageme gomo budi, bebuden kang luhur. Kang bakal diwiwiti sawuse glacap gunung (geger boyo Merapi) ambrol, lan suroboyo nagri meh gathuk lan meduro (krono lumpur), wiwitane ono ing tlatah mbanger warih iyo dumunung sak indenging kutha Probolinggo, lan arah mangulon; yo iku papan duk rumuhun naliko banyu banger kang disebdo Sunan Kali dadi anggondo wangi, pinangka sangune Sri Narpati Brawijaya V, malih koyo duk ing asal, dadi banger meneh ! Iku mertandani yen piwulang lan kawruh Jawa kang luhur nanging wis ditinggalake ‘majikanne’, bakal tumeko malih merbawani bumi nuswantoro luwar soko kalaning bebendu manggih wilujeng, rahayu, toto titi tentrem, gemah ripah loh jinawi, keblating dunya.
Nuwuun
sabdalangit berkata,
September 22, 2008 pada 9:04 pm
Ralat;
Jumat = 6
dwi berkata,
September 24, 2008 pada 1:04 am
Saya bukan orang yang lahir di Jawa, tetapi saya keturunan orang Jawa yang terus terang saja saya sangat haus akan kitab-kitab kuno Jawa. Seandainya ada yang punya versi Jawa dari beberapa naskah yang sudah diterjemahkan. Atau versi lengkap dari yang sudah ditampilkan ringkasannya di blog ini , bolehlah berbagi dengan saya.
Matur Nuwun
den bagus doel berkata,
September 24, 2008 pada 8:10 am
lah ini yang saya tunggu2 mas kumitir yang asli menampakkan diri sejatinya
yande berkata,
September 25, 2008 pada 8:50 am
saya salah satu penggemar sastra jawi kuna, alasannya bagi saya pribadi hanya ingin tahu sejarah dan seni sastra jawi, jadi tanpa mengurangi rasa hormat, bolehkah saya membuat link untuk blog ini, terima kasih sebelumnya
Azmi berkata,
September 26, 2008 pada 2:06 am
Dalam setiap aktivitas rintangan itu akan selalu ada. Hal ini dikarenakan Tuhan menciptakan syetan tidak lain hanya untuk menggoda dan menghalangi setiap aktivitas manusia. Tidak hanya terhadap aktivitas yang mengarah kepada kebaikan, bahkan terhadap aktivitas yang sudah jelas mengarah menuju kejahatan pun, syetan masih juga ingin lebih menyesatkan.
Pada dasarnya kita diciptakan oleh Tuhan hanya untuk beribadah dan mencari ridla dari-Nya. Karena itu kita harus berusaha untuk berjalan sesuai dengan kehendak atau syari’at yang telah ditentukan. Hanya saja keberadaan syetan yang selalu memusuhi kita, membuat pengertian dan pelaksanaan kita terkadang tidak sesuai dengan kebenaran.
Dengan demikian, kebutuhan kita untuk mencari seorang pembimbing merupakan hal yang essensial. Karena dengan bimbingan orang tersebut, kita harapkan akan bisa menetralisir setiap perbuatan yang mengarah kepada kesesatan sehingga bisa mengantar kita pada tujuan.
Mengingat pembahasan dalam ilmu haqiqat atau ilmu thariqat adalah tentang Tuhan yang merupakan dzat yang tidak bisa diindera, dan rutinitas thariqah adalah dzikir yang sangat dibenci syetan. Maka untuk menjaga kebenaran, kita perlu bimbingan seorang mursyid untuk mengarahkannya. Sebab penerapan Asma’ Allah atau pelaksanaan dzikir yang tidak sesuai bisa membahayakan secara ruhani maupun mental, baik terhadap pribadi yang bersangkutan maupun terhadap masyarakat sekitar. Bahkan bisa dikhawatirkan salah dalam beraqidah.
Allah Swt. berfirman: “Barangsiapa mendapatkan kesesatan, maka ia tidak akan menemukan (dalam hidupnya) seorang wali yang mursyid” (Al-Qur’an).
Dalam tradisi tasawuf, peran seorang Mursyid (pembimbing atau guru ruhani) merupakan syarat mutlak untuk mencapai tahapan-tahapan puncak spiritual. Eksistensi dan fungsi Mursyid atau wilayah kemursyidan ini ditolak oleh sebagaian ulama yang anti tasawuf atau mereka yang memahami tasawuf dengan cara-cara individual. Mereka merasa mampu menembus jalan ruhani yang penuh dengan rahasia menurut metode dan cara mereka sendiri, bahkan dengan mengandalkan pengetahuan yang selama ini mereka dapatkan dari ajaran Al-Qur’an dan Sunnah. Namun karena pemahaman terhadap kedua sumber ajaran tersebut terbatas, mereka mengklaim bahwa dunia tasawuf bisa ditempuh tanpa bimbingan seorang Mursyid. Sebab dunia pengetahuan agama, seluas apa pun, hanyalah “dunia ilmu”, yang hakikatnya lahir dari amaliah. Sementara, yang dicerap dari ilmu adalah produk dari amaliah ulama yang telah dibukakan jalan ma’rifat itu sendiri.
Jalan ma’rifat itu tidak bisa begitu saja ditempuh begitu saja dengan mengandalkan pengetahuan akal rasional, kecuali hanya akan meraih Ilmul Yaqin belaka, belum sampai pada tahap Haqqul Yaqin. Alhasil mereka yang merasa sudah sampai kepada Allah (wushul) tanpa bimbingan seorang Mursyid, wushul-nya bisa dikategorikan sebagai wushul yang penuh dengan tipudaya. Sebab, dalam alam metafisika sufisme, mereka yang menempuh jalan sufi tanpa bimbingan ruhani seorang Mursyid, tidak akan mampu membedakan mana hawathif-hawathif (bisikan-bisikan lembut) yang datang dari Allah, dari malaikat atau dari syetan dan bahkan dari jin. Di sinilah jebakan-jebakan dan tipudaya penempuh jalan sufi muncul. Oleh sebab itu ada kalam sufi yang sangat terkenal: “Barangsiapa menempuh jalan Allah tanpa disertai seorang guru, maka gurunya adalah syetan”.
Oleh sebab itu, seorang ulama sendiri, tetap membutuhkan seorang pembimbing ruhani, walaupun secara lahiriah pengetahuan yang dimiliki oleh sang ulama tadi lebih tinggi dibanding sang Mursyid. Tetapi, tentu saja, dalam soal-soal Ketuhanan, soal-soal bathiniyah, sang ulama tentu tidak menguasainya.
=================================
CoPas : http://www.Sufinews.com
Azmi
Jama’ah Ponpes Al-Hidayah Mojosari Mojokerto
sabdalangit berkata,
September 27, 2008 pada 5:41 am
Tanpa bermaksud ”tamu mbagekake sing duwe omah” sebelumnya saya mohon ijin kpd saudaraku mas Kumitir utk nimbrung diskusi di blog yg arif lan wocaksono ini.
Untuk yth Mas Azmi di Mojokerto:
Boleh kiranya saya mengajukan pertanyaan seputar kemursyidan. Ada hal2 yang bagi saya pribadi belum begitu saya pahami, dan jangan sampai terjadi misconclusion. Saya meletakkan pandangan pada aras yg netral agar segalanya menjadi lebih jernih jauh dari sikap emosi dan pemikiran irasional yang serba ‘pokoke’. Sebab agama Islam pada prinsip2 dogmanya (Quran & Hadist) bukanlah termasuk agama yg irasional dan serba pokoke.
Setelah membaca tulisan anda di atas saya memahami bahwa seorang ulama merupakan ahli dakwah yg menguasai ilmu agama pada tingkat tekstual, syariat, dan teksbook, berdasarkan Kitab Suci & Sunah Rasul. Ulama belum lah tentu sebagai seorang mursyid yg menguasai pemahaman habluminallah & habluminannas pada tataran tasawuf. Akan tetapi saya sering menyaksikan di televisi banyak ustad (penceramah) dan ulama (pemimpin agama) yang berbicara dalam wilayah2 tasawuf (kecuali Quraisy Sihab). Tapi ada keterangan2 yg membingungkan sebab saling kontradiksi satu sama lainnya. Pernah waktu itu di Trans TV seorang ustad mengatakan bahwa bagi siapa yang mengaku dapat melihat yg gaib (seperti jin dan mahluk halus lainnya) adalah omong kosong sebab manusia diciptakan tidak dapat melihat segala yg gaib yang menjadi rahasia Allah…. Tapi besok paginya ustad yg lain di Trans TV juga mengatakan bahwa, jika ada org yang dapat melihat yg gaib (jin dan mahluk lainnya) merupakan anugrah Allah yg luarbiasa. Saya pikir pernyataan ustad-ustad tersebut bersifat self estimate, dan beresiko membingungkan umat (yg sering di under estimet kan sebagai golongan tdk mursyid dan minim ilmu agamanya). Hal ini berbeda jauh dengan cara pandang dalam nilai-nilai luhur dan spiritualitas nenek moyang kita dahulu di bumi nusantara ini.
Pertanyaan saya;
1. Apasajakah yang menjadi kategori atau ciri atau syarat di mana seseorang (ustad&ulama) termasuk sebagai seorang mursyid ?
2. Pada tingkatan apa pemahaman seseorang dapat dikatakan mursyid sehingga diakui dan dipercaya sebagai guru spiritual tasawuf (mursyid) ?
3. Apakah kemursyidan sebagai bentuk ‘pencapaian’ pemahaman Ketuhanan dan tatacara pikir yang bersifat subyektif saja atau dapat diverifikasi secara obyektif ? Jika dapat diverifikasi secara obyektif lantas di mana parameternya obyektifitasnya ?
Terimakasih sebelumnya
alibaba berkata,
September 27, 2008 pada 7:36 am
Mas kumitir makasih atas semua isi blog ini yg sudah sangat langkah.Semoga bermanfaat bt kita semua.Amin!DARI ALI MURID K.H.JANKIWA (PENDOPO NURUTTAUHID MEDAN) http://www.alibaba180678.blogspot.com http://www.ali180678.myflexiland.com hp=081533188336 mentari 06177070837 flexi ym&fs=ali081533188336@yahoo.com nimbuzz=ali180678
Azmi berkata,
September 28, 2008 pada 7:41 am
Terima kasih sebelumnya untuk yang punya “rumah” alangalangkumitir, yang telah menyediakan forum belajar semacam ini.
Alhamdulillah tanpa mengurangi rasa hormat kami pada yang punya “rumah”, semakin berkembang saja dialog yang semakin membuka wacana pemikiran kita bersama dan semoga menambah pengetahuan kita bersama.
Menanggapi Kang Sabda Langit, kembali saya ulang kembali sedikit ulasan saya sebelumnya, bahwa dalam tradisi tasawuf, peran seorang Mursyid (pembimbing atau guru ruhani) merupakan syarat mutlak untuk mencapai tahapan-tahapan puncak spiritual. Eksistensi dan fungsi Mursyid atau wilayah kemursyidan ini memang ditolak oleh sebagaian ulama yang anti tasawuf atau mereka yang memahami tasawuf dengan cara-cara individual. Mereka merasa mampu menembus jalan ruhani yang penuh dengan rahasia menurut metode dan cara mereka sendiri, bahkan dengan mengandalkan pengetahuan yang selama ini mereka dapatkan dari ajaran Al-Qur’an dan Sunnah. Namun karena pemahaman terhadap kedua sumber ajaran tersebut terbatas, mereka mengklaim bahwa dunia tasawuf bisa ditempuh tanpa bimbingan seorang Mursyid.
Pandangan demikian hanya layak secara teoritis belaka. Tetapi dalam praktek sufisme, hampir bisa dipastikan, bahwa mereka hanya meraih kegagalan spiritual. Bukti-bukti historis akan kegagalan spiritual tersebut telah dibuktikan oleh para ulama sendiri yang mencoba menempuh jalan sufi tanpa menggunakan bimbingan Mursyid. Para ulama besar sufi, yang semula menolak tasawuf, seperti Ibnu Athaillah as-Sakandari, Sulthanul Ulama Izzuddin Ibnu Abdis Salam, Syeikh Abdul Wahab asy-Sya’rani, dan Hujjatul Islam Abu Hamid Al-Ghazali akhirnya harus menyerah pada pengembaraannya sendiri, bahwa dalam proses menuju kepada Allah tetap membutuhkan seorang Mursyid.
Masing-masing ulama besar tersebut memberikan kesaksian, bahwa seorang dengan kehebatan ilmu agamanya, tidak akan mampu menempuh jalan sufi, kecuali atas bimbingan seorang Syekh atau Mursyid. Sebab dunia pengetahuan agama, seluas apa pun, hanyalah “dunia ilmu”, yang hakikatnya lahir dari amaliah. Sementara, yang dicerap dari ilmu adalah produk dari amaliah ulama yang telah dibukakan jalan ma’rifat itu sendiri.
Pada zaman ini, tidak jarang Mursyid Tarekat yang bermunculan terutama di media-media seperti televisi seperti yang anda jelaskan sebelumnya, yang mana dengan mudah untuk menarik simpati massa, tetapi hakikatnya tidak memiliki standar sebagai seorang Mursyid yang sebagaimana di atas. Sehingga saat ini banyak Mursyid yang tidak memiliki derajat kemursyidan, lalu menyebarkan ajaran tarekatnya.
Memang di jaman seperti ini untuk mencari model seorang Mursyid setelah wafatnya Rasulullah saw. , sangatlah sulit. Sebab ukuran-ukuran atau standarnya bukan lagi dengan menggunakan standar rasional-intelektual, atau standar-standar empirisme, seperti kemasyhuran, kehebatan-kehebatan atau pengetahuan-pengetahuan ensiklopedis misalnya. Bukan demikian. Tetapi, adalah penguasaan wilayah spiritual yang sangat luhur, dimana, logika-logikanya, hanya bisa dicapai dengan mukasyafah kalbu atau akal hati. Dengan kata lain, seorang Mursyid yang bisa diandalkan adalah seorang Mursyid yang Kamil Mukammil, yaitu seorang yang telah mencapai keparipurnaan ma’rifatullah sebagai Insan yang Kamil, sekaligus bisa memberikan bimbingan jalan keparipurnaan bagi para pengikut thariqatnya.
Tetapi bukan berarti seorang Mursyid itu tidak ada. Dalam kitab Al-Mafaakhirul ‘Aliyah, karya Ahmad bin Muhammad bin ‘Ayyad, ditegaskan, — dengan mengutip ungkapan Sulthanul Auliya’ Syekh Abul Hasan asy-Syadzily ra, — bahwa syarat-syarat seorang Syekh atau Mursyid yang layak – minimal –ada lima:
1. Memiliki sentuhan rasa ruhani yang jelas dan tegas.
2. Memiliki pengetahuan yang benar.
3. Memiliki cita (himmah) yang luhur.
4. Memiliki perilaku ruhani yang diridhai.
5. Memiliki matahati yang tajam untuk menunjukkan jalan Ilahi.
Sebaliknya kemursyidan seseorang gugur manakala melakukan salah satu tindakan berikut:
1. Bodoh terhadap ajaran agama.
2. Mengabaikan kehormatan ummat Islam.
3. Melakukan hal-hal yang tidak berguna.
4. Mengikuti selera hawa nafsu dalam segala tindakan.
5. Berakhal buruk tanpa peduli dengan perilakunya.
Syekh Abu Madyan – ra- menyatakan, siapa pun yang mengaku dirinya mencapai tahap ruhani dalam perilakunya di hadapan Allah Swt. lalu muncul salah satu dari lima karakter di bawah ini, maka, orang ini adalah seorang pendusta ruhani:
1. Membiarkan dirinya dalam kemaksiatan.
2. Mempermainkan thaat kepada Allah.
3. Tamak terhadap sesama makhuk.
4. Kontra terhadap Ahlullah
5. Tidak menghormati sesama ummat Islam sebagaimana diperintahkan Allah Swt.
Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili mengatakan, “Siapa yang menunjukkan dirimu kepada dunia, maka ia akan menghancurkan dirimu. Siapa yang menunjukkan dirimu pada amal, ia akan memayahkan dirimu. Dan barangsiapa menunjukkan dirimu kepada Allah Swt. maka, ia pasti menjadi penasehatmu.”
Ibnu Athaillah as-Sakandari dalam kitab Al-Hikam mengatakan, “Janganlah berguru pada seseorang yang yang tidak membangkitkan dirimu untuk menuju kepada Allah dan tidak pula menunjukkan wacananya kepadamu, jalan menuju Allah”.
Seorang Mursyid yang hakiki, menurut Asy-Syadzili adalah seorang Mursyid yang tidak memberikan beban berat kepada para muridnya.
Dari kalimat ini menunjukkan bahwa banyak para guru sufi yang tidak mengetahui kadar bathin para muridnya, tidak pula mengetahui masa depan kalbu para muridnya, tidak pula mengetahui rahasia Ilahi di balik nurani para muridnya, sehingga guru ini, dengan mudahnya dan gegabahnya memberikan amaliyah atau tugas-tugas yang sangat membebani fisik dan jiwa muridnya. Jika seperti demikian, guru ini bukanlah guru yang hakiki dalam dunia sufi.
Jika secara khusus, karakteristik para Mursyid sedemikian rupa itu, maka secara umum, mereka pun berpijak pada lima (5) prinsip thariqat itu sendiri:
1. Taqwa kepada Allah swt. lahir dan batin.
2. Mengikuti Sunnah Nabi Saw. baik dalam ucapan maupun tindakan.
3. Berpaling dari makhluk (berkonsentrasi kepada Allah) ketika mereka datang dan pergi.
4. Ridha kepada Allah, atas anugerah-Nya, baik sedikit maupun banyak.
5. Dan kembali kepada Allah dalam suka maupun duka.
Manifestasi Taqwa, melalaui sikap wara’ dan istiqamah.
Perwujudan atas Ittiba’ sunnah Nabi melalui pemeliharaan dan budi pekerti yang baik. Sedangkan perwujudan berpaling dari makhluk melalui kesabaran dan tawakal. Sementara perwujudan ridha kepada Allah, melalui sikap qana’ah dan pasrah total. Dan perwujudan terhadap sikap kembali kepada Allah adalah dengan pujian dan rasa syukur dalam keadaan suka, dan mengembalikan kepada-Nya ketika mendapatkan bencana.
Secara keseluruhan, prinsip yang mendasari di atas adalah:
1) Himmah yang tinggi,
2) Menjaga kehormatan,
3) Bakti yang baik,
4) Melaksanakan prinsip utama; dan
5) Mengagungkan nikmat Allah Swt.
Dari sejumlah ilusttrasi di atas, maka bagi para penempuh jalan sufi hendaknya memilih seorang Mursyid yang benar-benar memenuhi standar di atas, sehingga mampu menghantar dirinya dalam penempuhan menuju kepada Allah Swt.
Rasulullah saw. adalah teladan paling paripurna. Ketika hendak menuju kepada Allah dalam Isra’ dan Mi’raj, Rasulullah Saw. senantiasa dibimbing oleh Malaikat Jibril as. Fungsi Jibril di sini identik dengan Mursyid di mata kaum sufi. Hal yang sama, ketika Nabiyullah Musa as, yang merasa telah sampai kepada-Nya, ternyata harus diuji melalui bimbingan ruhani seorang Nabi Khidir as. Hubungan Musa dan Khidir adalah hubungan spiritual antara Murid dan Syekh. Maka dalam soal-soal rasional Musa as sangat progresif, tetapi beliau tidak sehebat Khidir dalam soal batiniyah.
Karena itu lebih penting lagi, tentu menyangkut soal etika hubungan antara Murid dengan Mursyidnya, atau antara pelaku sufi dengan Syekhnya. Syekh Abdul Wahhab asy-Sya’rani, secara khusus menulis kitab yang berkaitan dengan etika hubungan antara Murid dengan Mursyid tersebut, dalam “Lawaqihul Anwaar al-Qudsiyah fi Ma’rifati Qawa’idus Shufiyah”.
Somaga berguna. Amin.
=================================
CoPas : http://www.Sufinews.com
Azmi
Jama’ah Ponpes Al-Hidayah Mojosari Mojokerto
gito berkata,
September 28, 2008 pada 9:55 pm
mas kumitir saya minta pedapat anda tentang pengertian sapto darmo karena di daerah saya banyak sekali yang terjerat dan tidak sesuai dengan ajaran yang sampean tulis. saya ingin ulasan anda biar di mengerti oleh orang yang yang membacanya, biar tidak terombang ambing dengan ajaran ajaran yang ia sampekan selama ini. tolong ya mas kumitir biar tidak ada kesalapahaman karena saya sudah menujukan blog ini kepada semua orang orang yang di ajarinya semoga ia tidak lalei terhadap tanggung jawabnya terhadap keluarganya masing masing.WASSALAM!
Suprihatin berkata,
September 29, 2008 pada 3:21 am
Ini salah satu cerminan yang saya takutkan sebagaimana yang Mas Gito sampaikan, juga HATI-HATI SAUDARAKU diatas. Mengamalkan sesuatu tanpa adanya guru. Hati-hati sekali, terutama hal-hal yang berhubungan dengan dunia ghoib. Sudah sangat banyak cerita-cerita disekitar kita orang-orang yang mengamalkan sesuatu tanpa adanya bimbingan seorang guru kemudian menjadikan rusak pada dirinya sendiri, keluarganya ataupun lingkungan sekitarnya. Sebab takaran bathiniyah seseorang berbeda-beda, bahkan seorang guru maupun seorang Mursyid pun sangat hati-hati dengan meneliti terlebih dahulu ketika memberikan ilmunya sesuai dengan kadar bathiniyahnya.
Saya sangat setuju dengan ulasan dan apa yang disampaikan oleh Azmi di Mojokerto. Penejelasannya sangat lengkap.
Wassalam.
budy santosa berkata,
September 29, 2008 pada 8:51 pm
manusia diciptakan lebih tinggi dari makhluk lainnya (setan, jin dsbnya). Bolehkah kita menaklukkan jin untuk meminta harta di dunia kita yang dikuasai oleh jin? Saya dengar banyak harta benda yang berlaku di dunia nyata kita (uang, mas dll.) dikuasai oleh jin. Bolehkah kita merebutnya?
hidayat berkata,
September 30, 2008 pada 5:24 pm
rahayu
maju terus pantang mundur……mas kumitir
salam kenal dari hidayat, selamat hari raya idul fitri 1429 H mohon maaf lahir dan batin..
wass wb
sabdalangit berkata,
Oktober 2, 2008 pada 9:40 am
Kepada yth ingkang kagungan dalem; Nak Ndulur Mas Alang-alang Kumitir
kepada seluruh commentator, seluruh pembaca pada blog ini, yang sedang merayakan hari raya Ied, saya ucapkan Selamat Hari Raya Iedul Fitri Mohon Maaf Lahir dan Batin,
1 Syawal 1429 H,
1 Oktober 2008,
Rebo Pahing 30 Pasa 1941 Jimawal:
Kurup; Asapon (1936 – 2052 M)
Windu; Kuntara
Lambang Windu; Kulawu
Tahun; Jimawal
Lambang Tahun; Respati Mintuna (Mimi)
Kumarané ; rupa Mina Cingcinggoling
Paarasan ; Lakuning Banyu
Pancasuda ; Segara Wasésa
Kamarokam; Satriya Pinayungan
Watak Sasi; Sasi Rahayu
Watak Dina; Dina Rahayu
Mangsa; Kapat (IV, Setra) 18 September – 12 Oktober
Wuku; Kuruwelut
Lintang; Surtan
Padangon; Wurung
Padéwan; Yama
Dina; Buda (Rabu)
Paringkelan; Aryang
Pasaran; Pahing
Lambang Dina; Sada
sabdalangit berkata,
Oktober 2, 2008 pada 6:41 pm
Mas Azmi Yth.
Maaf saya ada yg tidak paham ingin saya tanyakan kpd mas Azmi.
1. Penilaian kemursyidan itu bersifat subyektif atau obyektif ?
2. Ma’rifat, zuhud, wushul, itu kan wilayah gaib, tataran olah batiniah yg tentunya bersifat abstrak serta tak dapat dilihat secara visual, juga sulit di verifikasi oleh orang lain. Sedangkan patokan-patokan yg anda kemukakan bersifat lahiriah dan perbuatan nyata yg dapat dilihat mata, serta didengar telinga. Bagaimana ini kok tampak kontradikif ? Maksudnya; tidak sebanding dengan betapa sulitnya menjadi ma’rifat dan sulitnya memahami tasawuf.
3. Pertanyaan untuk mbak Suprihatin dan mas Budy Santosa;
a. siapa Guru anda?
b. Apakah anda tak pernah belajar dari buku sbg pengganti ‘guru’ ?
c. Guru itu belajar dari mana ?
d. apakah harus dari manusia (mursyid) atau bisa juga dari buku (referensi) ?
e. lantas bagaimana dengan buku2 tentang ilmu tasawuf yg sekarang banyak beredar. apakah bisa dijadikan ‘guru’?
f. Guru juga manusia, sudah tentu banyak penafsiran yg distortif, jauh dari sempurna, apakah kita boleh percaya begitu saja asalkan seseorang sudah dianggap guru ?
g. Siapa yg boleh menilai seseorang sudah menjadi guru/mursyid, apakah masyarakat (umat) atau gurunya guru atau siapa…?
Nuwun
shimering berkata,
Oktober 3, 2008 pada 4:56 am
waH makin seru aja nih
Azmi berkata,
Oktober 4, 2008 pada 7:28 am
Assalamualaikum Wr. Wb.
Di hari yang Fitri ini saya ucapkan Taqabbalallahu Minna Waminkum, Syiyamana Syiyaamakum. Minal Aidzin Wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir dan Bathin terhadap kesalahan tingkah, ucap dan tulisan salah yang secara tidak sadar, sengaja kepada semua teman-teman di forum ini.
Alhamdulillah..semoga semua ini menjadi terbuka menjadikan salah satu keberkahan Allah, khususnya untuk ilmu yang berguna. Dan apabila ada salah hanya dari saya pribadi sebagai manusia.
1. Penilaian kemursyidan itu bersifat subyektif atau obyektif ?
Kalau dikembalikan ke pertanyaan seperti ini maka jawabannya adalah subyektif yang obyektif. Saya rasa kalau anda membaca secara seksama dan mendalam ulasan yang cukup panjang lebar diatas cukup jelas, jadi tidak perlu saya ulas kembali. Memang banyak sekali kita jumpai di jaman yang sudah akhir seperti ini orang-orang yang cuman pintar ngomong tapi dalam tingkah dan lelaku amaliahnya baik terhadap Illahi Rabbi maupun ke sesama mahluk tidak terapkan sama sekali.
2. Ma’rifat, zuhud, wushul, …dst Bagaimana ini kok tampak kontradikif ?
Jawaban ini (copas: http://www.sufinews.com) saya berikan karena adanya pertanyaan anda sebelumnya yang menanyakan ciri-ciri seorang mursyid, maka saya memberikan jawaban ciri-ciri pendekatan tersebut, mungkin ada orang lain juga yang lebih menyempurnakan jawaban saya tentang ciri-ciri seorang mursyid tersebut. Kalau dikatakan tidak sebanding dengan betapa sulitnya menjadi ma’rifat dan sulitnya memahami tasawuf, mungkin tidak ada hubungannya sama sekali dengan pertanyaan awal saudara yang hanya menayakan ciri-ciri yang kemudian anda hubungkan pada proses menuju ma’rifat. Saya rasa juga cukup terwakili semua ulasan-ulasan sebelumnya kalau anda cermati secara baik, seksama dan terutama dengan penerimaan hati terbuka, bukan penolakan terhadap urgensi seorang mursyid itu sendiri.
Demikian.
Wassalam
Azmi - Cerita Cak ZhudhrunH Part1 berkata,
Oktober 4, 2008 pada 8:26 am
Cerita Menarik Cak ZudrunH – Semoga Bisa Sama-Sama Kita Ambil Hikmahnya
Selepas jamaah tarawih Cak ZhudhrunH asyik menikmati kopi hangatnya di beranda depan rumah, melepas lelah setelah seharian sibuk dalam kegiatan kerjanya. Tiba-tiba terlintas di ingatannya kenangan akan masa lalu, terlihat di roman mukanya sebuah senyum yang panjang, sebuah senyum geli, sebuah senyum getir karena teringat masa lalunya. Ya…. dia dulu seorang petualang spiritual yang selalu mencoba memuaskan dahaga jiwanya dengan melakoni berbagai metode oleh rasa yang berujung pada terungkapnya suatu kekuatan lebih pada dirinya sampai akhirnya dia terdampar di sebuah padepokan sekaligus majelis dzikir yang konon menurut pemangku padepokan itu seluruh ilmu dan dzikir yang diajarkan merupakan warisan dari para sufi terutama bersumber dari salah satu wali songo di Jawa Timur sehingga bersifat khas dan tidak ada yang menyamai dan memang menurut Cak ZhudhrunH, di padepokan itulah semua menu tersedia secara lengkap dengan nafas religius Islam. Tapi saat ini baginya semua tinggal kenangan sebagai bagian perjalanan hidup yang telah dilaluinya. Saat ini semua telah ditinggalkannya sejak dia menempuh jalan tarekat melalui baiat dari seorang mursyid di sebuah kota di Jawa Timur.
“Assalamu’alaikum….. Cak”, sejenak kelebatan pikirannya ke masa lalu buyar mendengar ucapan salam itu. Dengan segera Cak ZhudhrunH menjawabnya, “Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh, eeh… awakmu tah Di, ayo-ayo masuk”. Segera keduanya pun berjabat tangan. “Yok opo kabare Di ?” “Alhamdulillah Cak, baik”. Segera saja setelah itu mereka berdua terlibat perbincangan seru tentang kabar mereka masing-masing, maklum sudah lama mereka jarang berjumpa, diselingi seruputan wedang kopi buatan istri Cak ZhudhrunH dan nyamil jajanan seadanya.
“Oh iya Cak, sekalian saya menyampaikan salam dari sedulur-sedulur padepokan. Mereka nanyain kapan Sampeyan mau latihan lagi sama dzikiran bareng-bareng ?” “Oalah Di… Di…, awakmu kan sudah tahu to kalo aku ini sudah pensiun, Sudah enggak gitu-gituan lagi. Lha sekarang kan sudah jelas pakaianku, aku pake baju tarekat yang tentunya aku yakin seyakin-yakinnya thoriqohku lebih agung dari semua keilmuan padepokan walaupun atas nama dakwah dan syiar Islam. Lha awakmu sendiri gimana Di, kok masih terus ngelmu, apa karena sekarang kamu sudah lolos ujian kepewarisan ilmu padepokan sehingga berhak menurunkan ilmu padepokan ke khalayak ramai, bisa dakwah dan syiar Islam ? Atau kamu merasa eman atas tirakatmu selama ini yang sudah banyak kelihatan khasiatnya, apalagi sekarang muridmu sudah banyak.” “Wah ya ndak gitu to Cak, kan guru kita dahulu pernah bilang bahwa tidak masalah kalo murid padepokan menjadi jamaah atau murid tarekat, bukankah tujuannya sama-sama baik mencapai kejayaan dunia akhirat, sepanjang tarekat tersebut jelas runtutan sejarahnya, masih meng’esa’kan Allah swt, menegakkan sholat dengan benar, dan menegakkan syariat Islam dengan benar, maka apapun alirannya dan siapapun mursyidnya Insya Allah baik.”
Mendadak dada Cak ZhudhrunH terasa sesak, tetapi alhamdulillah dia segera sadar dan beristighfar, ya… mungkin memang baru sebatas itu pemahaman si Aldi walau pun sebenarnya dia juga sudah mengambil baiat dari Yai Mursyid yang sama dengan Cak ZhudhrunH. Cak ZhudhrunH tersenyum tetapi tidak menanggapi pernyataan Aldi lebih dahulu melainkan malah balik bertanya, “Di, kamu punya cita-cita endak ? Apa cita-citamu ?” “Kalo dulu sih saya pengennya jadi tentara Cak, kelihatannya kok gagah, tapi kalo sekarang sih saya sendiri bingung, apa ya cita-cita saya. Yang penting pengennya hidup saya enak Cak, gampang cari rejekinya gusti Allah, sehat dan kecukupan.” “Opo awakmu ndak punya cita-cita mati ?” “Hush…. sampeyan itu Cak-Cak, cita-cita kok mati, mati itu kan kewajiban meski banyak orang merasa terpaksa mati karena endak bisa ngelawan kematian itu. Pengennya sih hidup terus gitu loch…”
“Di… ini rahasia lho…. he… he… he…. jangan bilang siapa-siapa, siapapun orangnya, apapun prestasi keduniaannya ibarat sudah mencapai puncak kesuksesan hidup sebagaimana yang sering diperbincangkan orang, seperti misalnya dari kalangan militer dia itu jendral, panglima lagi, umpama dari kalangan pengusaha, dia itu top bangetlah pokoknya, omsetnya per bulan triliunan rupiah, umpama dari kalangan trainer, dia itu trainer kelas atas yang alumni pelatihannya sudah mencapai puluhan ribu orang, umpama dari kalangan artis sinetron, dia itu tarif per episodenya mencapai puluhan juta rupiah, umpama pendekar gitu ilmunya paling tinggi dan tidak ada yang bisa menandingi, atau juga dari kalangan lain yang dianggap sukses dan menjadi standar kemewahan hidup bagi banyak orang, ternyata akhirnya mati juga. Jatah ruang dan waktu baginya habis di dunia ini. Ternyata hidup itu menunggu mati, mati itu berarti kembali, kembali kepada yang memiliki, yang memiliki itu Allah. Masa depan kita dan masa depan hidup ini adalah Allah, cita-cita kita salah jika bukan Allah, semuanya sia-sia jika tidak dengan Allah, semuanya sia-sia jika tidak bersama Allah, semuanya sia-sia jika tidak untuk Allah, subhanallah – Allah saja yang ada yang lain tidak ada, alhamdulillah – Allah juga di balik semua yang ada.” “Wah sampeyan kok jadi puitis, filosofis dan melankolis gitu Cak, bingung aku jadinya.” “Sorry Di, lagi kumat soalnya. Lagi pula enggak usah bingung Di, gampang kok kalo bingung itu, jarene dosenku biyen cuman dua caranya, pertama gocekan mejo trus kalo masih bingung, klambimu waliken. Dijamin tambah bingung hi…. hi…. hi….” “Pancet ae sampeyan itu Cak-cak.” “Gini lho Di, yang kumaksud itu, setiap orang mesti mati to ? Lha kalo sudah mati tentunya mbalik lagi ke gusti Allah to ?” “Ya jelas Cak, trus maksude yok opo?
Azmi - Cerita Cak ZhudhrunH Part2 berkata,
Oktober 4, 2008 pada 8:27 am
“Berarti untuk kembali lagi ke gusti Allah dengan selamat kita perlu ajaran, metode dan panduan kan ? Ajaran itu namanya Islam dengan tiga pilar dasarnya yaitu iman yang disiplin ilmunya nanti menjadi teologi/tauhid, islam yang disiplin ilmunya nanti menjadi fiqih dan ihsan yang merupakan intisari dengan displin ilmunya bernama tasawuf dengan metode tarekatnya dan mursyid sebagai pemandu jalannya.” “Terus Cak ?” “Ya terusannya itu, ketika kita sudah mengambil baiat dari Yai Mursid, seharusnya yang kita turut ya Yai Mursid kita sebagai pemandu perjalanan kita menuju Allah. Lha Yai Mursid kita memerintahkan meninggalkan amalan-amalan dzikir di luar dzikir tarekat apalagi yang namanya ilmu-ilmu hikmah, apalagi kalo ilmu kejawen harus dilepas itu.”
“Tapi sedulur-sedulur lain ada juga yang menjadi murid tarekat, tapi mursyidnya membolehkan tetap dengan amalan padepokan Cak, gimana itu ?” “Nah… itulah bedanya. Awakmu tadi kan bilang kalo guru padepokan kita dahulu pernah bilang bahwa tidak masalah kalo murid padepokan menjadi jamaah atau murid tarekat, bukankah tujuannya sama-sama baik mencapai kejayaan dunia akhirat, sepanjang tarekat tersebut jelas runtutan sejarahnya, masih meng’esa’kan Allah swt, menegakkan sholat dengan benar, dan menegakkan syariat Islam dengan benar, maka apapun alirannya dan siapapun mursyidnya Insya Allah baik. Aku menangkap tiga kata kunci dari ucapanmu tadi Di. Pertama masalah tujuan, kedua aliran dan ketiga mursyid. Mulai dari yang kedua dulu ya Di, trus ketiga baru mbalik ke yang pertama ?” “Iya Cak.” “Setahuku aliran tarekat itu bisa dipertanggungjawabkan jika termasuk tarekat yang mu’tabar dalam arti mempunyai mata rantai silsilah pengajaran yang tanpa terputus menyambung terus sampai pada Rasulillah Muhammad SAW, inilah keistimewaan tarekat yang sebenarnya merupakan ajaran Nabi yang paling orisinil dan yang pertama kali diajarkan yaitu dzikir. Sedangkan yang mengajarkan dzikir itu sendiri haruslah seseorang yang mempunyai otoritas pengajaran dari Rasulullah yaitu seorang mursyid dengan kualifikasi kamil mukammil dalam arti seorang mursyid yang sempurna dan dapat menyempurnakan perjalanan ruhani murid-muridnya sampai di hadapan Allah. Banyak mursyid yang mengajarkan terakat, tapi belum tentu dia kamil mukammil sehingga malah akan membingungkan murid-muridnya dalam menempuh perjalanan spiritualnya. Jadi belum merupakan jaminan kemuliaan dari Allah walau pun pengikut tarekat itu sangat besar demikian juga mursyidnya sangat terkenal, apalagi kalo mursyid tersebut berkhadam jin, harus dihindari itu sebab sereligius apa pun seseorang jika berkhadam jin walaupun jin muslim pasti di hatinya masih ada kesombongan, nafsu dan egoisme yang malah menjadi hijab antara dirinya dengan Allah. Sedangkan tujuannya secara keseluruhan baik dalam dimensi lahir maupun batin, syariat maupun hakikatnya ya hanya untuk Allah, lillahi ta’ala. Lha kalo ada mursyid yang membolehkan muridnya mengamalkan diluar yang diijazahkan termasuk ilmu hikmah, ya itu terserah mursyid yang bersangkutan. Sing tak omongno kan dawuhnya Yai Mursyid kita yang aku sangat yakin akan kemuliaan dan keutamaan Beliau di hadapan Allah sebagai sebenar-benarnya pewaris para Nabi, yang tentunya apa yang didawuhkan dan diperintahkan kepada murid-murid Beliau aku sangat yakin bukanlah keluar dari hawa nafsu Beliau melainkan pengejawantahan dari kehendak Allah.”
“Lho Cak, dzikir yang diajarkan di padepokan kan juga sama tidak lepas dari kalimat LAA ILAHA ILALLAH, amaliyah ilmu hikmah pun kan tidak lepas dari ayat-ayat Qur’an, asmaul husna, tidak lepas juga dari shalat taubat, shalat tasbih dan dzikir lathoif malahan. Bahkan di setiap pengaturan napas pun tidak lepas dari dzikir, apalagi jurusnya kan bersumber dari huruf hijaiyah yang tentunya khadamnya malaikat kan ? Apalagi di padepokan juga diajarkan komunikasi dengan para ruh aliya, dan diajarkan membedakan nuansa ruh para auliya, malaikat atau pun jin to Cak?” “Nah itulah Di yang sering menjadi tipu daya. Pertama, hanya amalan dari seorang guru mursyid kamil mukammil yang tidak akan memberati ruhani murid-muridnya, karena beliau pasti tahu masa depan kapasitas atau volume ruhani murid-muridnya sehingga amalan yang diberikan pasti pas ibarat seorang dokter yang tahu resep untuk para pasiennya. Sedangkan amalan yang diterima dari selain itu apalagi kalo hanya dari membaca buku tidak ada jaminan barokah dan keselamatannya, coba saja Di, kamu perhatikan sedulur-sedulur padepokan bagaimana kehidupannya kemudian, pada saat ngelakoni tirakatnya pasti kuat tapi pasti ada efeknya di masa datang. Aku enggak usah ngomonglah, lihat saja sendiri atau mungkin kamu sendiri sudah mulai merasakan ? Kedua, dari segi tujuan bisakah niatmu benar-benar lillahi ta’ala, ambil contoh sederhana saja, waktu kamu dzikir rutin atau dzikir lathoif, bisa… ? lillahi ta’ala ?” “Yo bisa Cak !” “Ah engga percaya aku. Kalo memang bisa ya sudah kamu pake dzikir tarekat aja, yang itu enggak usah dipake kan katamu tujuannya sama saja ?” “Ya engga begitu Cak ?” “Takut energi bathinmu engga maksimal ya ? Trus waktu olah napas dalam gerakan jurus hijaiyah kan ada dzikir rahasianya itu, apa bisa hatimu fokus pada yang engkau dzikirkan atau malahan dirimu fokus pada energi yang kau serap hingga dzikirmu lalai – lewat begitu saja ? Bagaimana bisa Di untuk Allah kalo sejak semula diajarkan memperkuat batin itu ritual shalatnya ini-ini dzikirnya ini, untuk ajian ini tata cara ritualnya seperti ini cara menggunakannya seperti ini dan seterusnya.”
“Coba sekarang misalnya kamu punya pasien katakanlah sakit atau ada hajat hidup yang dikeluhkannya padamu, trus awakmu mbantu dia dan berhasil bagaimana perasaanmu ?” “Yo seneng Cak, tibak’e aku isok.” “Nah itu dia, egomu semakin menguat, engkau merasa bangga bahkan mungkin sombong, apalagi kalo jadinya dia bergantung padamu, iyo gak ?” “Yo iyo sih Cak”
Azmi - Cerita Cak ZhudhrunH Part3 berkata,
Oktober 4, 2008 pada 8:39 am
“Mangkane, bagaimana bisa lebur pada Allah kalo ego kita semakin kuat, padahal bisamu itu nek jare aku hanyalah fatamorgana alias semu.” “Kok bisa ? Buktine opo Cak ?” “Coba kamu ingat-ingat apakah setiap permasalahan bisa kau selesaikan dengan ilmumu, dengan amaliyahmu, dengan kehendakmu ?” “Ya ada yang ndak berhasil Cak, wong namanya manusia.” “Lha nek berhasil, awakmu gak eling nek menungso ? Itu lho buktinya bahwa kalo ada yang berhasil ada yang tidak, berarti ada mekanisme takdir Allah yang selalu bekerja dalam kehidupan kita. Kalo engkau berhasil sebenarnya kebetulan saja memang takdirnya seperti itu, sehingga mengusahakan keberhasilan tersebut dengan memperbesar ego tanpa hati yang bersandar penuh pada Allah adalah sebuah kesia-siaan. Nek berhasil bilangnya : aku kok !!! tapi kalo enggak berhasil bilangnya : lha namanya aja manusia.” “Bener juga yo Cak” “Yo mugo-mugo gusti Allah mbenerno aku Di, soale kalo aku senang engkau membenarkan perkataanku, menurut guru ngajiku itu tandanya kalo nafsuku yang bicara.”
“Mbalik maneh terusanne mau Di, yang ketiga Di, hanya orang-orang yang ikhlas saja yang hati, ruh dan sirrnya sudah full Allah saja yang bisa membedakan khadam malaikat atau khadam jin. Tidak mungkinlah malaikat bisa kita suruh-suruh sesuai kehendak nafsu kita. Bahkan walaupun diajarkan metode membedakan khadam jin, ruh atau malaikat, tapi tetap saja metode ilmu hikmah kan ? Lalu bisakah dijamin kebenarannya ? Apalagi kalo khadam jinnya memang level tinggi ya tentu tidak bisa ditembus hanya dengan ilmu terawangan biasa bahkan oleh ilmu terawang pemilik puncak keilmuan itu sendiri.”
“Tapi bukankah semua dzikir dan amaliyah padepokan asalnya juga dari para ulama sufi Cak ?” “Kalo itu memang tidak salah Di, asalnya memang dari para ulama sufi yang dikasyafkan oleh Allah tapi tidak lepas dari koridor tarekat dalam bimbingan mursyid, nuansanya tidak lepas dari penyaksian terhadap sifat, asma’ dan af’al Allah, tetap terjaga dan tidak ada bersitan untuk menggunakannya sesuai kepentingan nafsu. Yang hadir adalah benar-benar nur Allah. Tapi saat ini hal itu bagai kata pepatah : jauh panggang dari api, artinya tarekatnya ditinggal hanya ilmu hikmahnya yang diamalkan. Sehingga ibadahnya bukan demi Allah, tetapi demi nafsu memperoleh kekuatan lebih dari balik ayat-ayat suci atau wirid khusus bagi para pengamalnya. Lha kalo nuansa nafsu sudah muncul, kata guru ngajiku, yang semula nur akan berubah menjadi nar – unsur api yang tanpa disadari peran serta energi jin pasti hadir dibalik kedigdayaan atau kesaktian yang diperoleh.”
Syaikh Ibnu Athaillah As-Sakandari mengingatkan dalam kitab Al Hikam-nya : “tasyauwufuka ila maa bathana fiika minal ‘uyuubi khoirum min tasyauwufika ila maa hujiba ‘anka minal ghuyuub” – usahamu mengetahui cacat-cacat yang tersembunyi dalam dirimu lebih baik dari pada usahamu menyingkap perkara ghoib yang tersembunyi darimu.
“Trus aku kudu yok opo Cak ?” ”Ya terserah kamu Di, selama ini aku lihat kamu masih mempeng ngelmu padahal Yai Mursyid memerintahkan untuk meninggalkan. Tapi terus terang aku kuatir sama kamu Di, aku takut kalo nanti ada efeknya ke kamu. Makanya kalo memang kamu masih eman meninggalkan semua ilmumu, ya lebih baik kembalikan saja tarekatmu pada Yai Mursid, mumpung awakmu belum menikah, belum punya anak. Kalo pengen dua-duanya jalan, ya cari aja mursyid yang lain, tapi tata kramanya tetap kamu harus mengembalikan tarekatmu pada Yai Mursyid. Tapi ya eman Di kalo kamu sampai harus seperti itu, yang sejatinya agung kau tukar dengan sebuah fatamorgana.” “Yo wis tak pikire maneh Cak.”
Akhirnya memang Cak ZhudhrunH hanya bisa mendo’akan saudaranya itu biar diberi Allah tetapnya iman, terangnya hati, keselamatan dunia akhirat, ampunan dan ridhoNya sebagaimana yang selalu diajarkan Yai Mursyid. Wallahu ‘alam.
=================================
CoPas : h t t p : / / d e n m a s b a g u s . b l o g s p o t . c o m
Azmi
Jama’ah Ponpes Al-Hidayah Mojosari Mojokerto
samudro berkata,
Oktober 5, 2008 pada 7:20 am
wah makin seru aja, mas sabdalangit dan mas azmi, khok jadinya semakin asik, nimbrung dong, bagi mas berdua aku punya pertanyaan dan tolong dijawab :
1. Tuhan itu ada dimana ?
2. Apakah Tuhan butuh persembahan supaya dia dianggap tuhan ?
3. apakah proses kelahiran kita itu, malaikat punya bukunya ?
4. Agama itu letaknya dimana ?
5. Surga dan neraka itu letaknya dimana ?
ntar itu dulu ada seribu pertanyaan yang harus dijawab supaya situs in semakin ramai, matur nuwun, kagem sedoyo kemawon ugo mas kumitir
sabdalangit berkata,
Oktober 5, 2008 pada 7:56 am
Nyuwun Pangapunten njih kadhang kulo Mas Kumitir blogipun dados kebak dipun borong, kados skripsi mboten saget padet ringkes ‘tu dhe powin’. Lha kulo tiyang eSDe mboten kuwawi maos diejo-ejo tur suwi. Diskusi supados dilajeng wonten ing blog sufisme kemawon. Nanging njih terbatas sanget tur wonten sensoripun, dados mboten saget nyuntak fikiran kritis kanthi merdiko lan bebas kados kagunganipun blog ing mriki.
sabdalangit berkata,
Oktober 5, 2008 pada 8:43 am
Wah jan… mas samodra ki kok le angil to pitakonane…
Kinten-kinten mekaten menawi mboten klentu kulo tiyang bodho…maklum njih ! Langsung jawaban nggih mas ;
1. Ra sah adoh-adoh…golekono Gusti Allah ing njero sariramu dhewe. Nanging ati2 ndak kleru.. Lha…setan kuwi papane yo ora adoh, mung ono ing kalbumu dhewe, iyo ngejawantah ing pinepsumu dhewe kuwi sejatine. Mulo, yen sasi puasa, setan (nepsu) kabeh dibelenggu, lha sing mbelenggu setan iku dudu Gusti… nanging awakmu dhewe.
. Lha sisa rapelane ganjaran lan utange dosa sesok emben ditompo lan disaur ing akerat.
2. Lhadalah..Gusti Allah ra butuh opo2 soko manungso lan kabeh ciniptaan-Ne. Malah suwalike sing butuh Gusti Allah iku yo menungso lan kabeh mahluk ing dunya. Sembahyang, lan nyembah Gusti, ..iku kewajibane manungso. Manungso sing kudu mewajibkan diri nyembah Gusti. Lha wis cetho ing Qur’an bilih ‘Allah tidak akan rugi seandainya manusia (mahluk) di seluruh dunia gak nyembah Dia.
3. Wah..duh kula dereng nate tanglet malaikat, lan dereng nate kepanggih malaikat je mas. gak wani njawab ndak aing-aing.
4. Agomo, iku ageming budi. papane yo ono ing bebudenmu kang luhur kuwi lho mas. Kabeh Kitab Suci iku kanggo njejegake bebuden kang luhur. dudu kanggo ngelek2 lan ngasorake liyan, dudu kanggo nyerang lan nganioyo lian.
5. Suwargo iyo ganjaran iyo upah, lan naroko iku ukuman iyo dosa iyo denda lan sikso. Ukuman lan upah iku onone neng donya lan ing ‘kono’ akerat. Lha njur kapan anane ? Sasat pendak ndino ing donya iki kabeh uwong wis tau cashbon suwargo lan nyicil neroko to mas
Mohon disori yen jawabane nganeh-anehi ya mas Samodra. Sugeng Riyadin ! pertanyaan selanjutnya ampun angel-angel nggih mas. jan marakke mumet tenan lho…kangge kulo cah ndeso tur lulusan esde inpres.
Azmi berkata,
Oktober 5, 2008 pada 8:44 am
Iya neh..mohon maaf sebesar-besarnya sama yang punya alangalangkumitir.
Sekarang mending yang ringan-ringan aja achhh..
Dawuhe Yai “YEN KEPINGIN NOTO ATI, TOTONEN… SANDAL, BAQIYAK, SEPATUMU DISIK”
Kelihatannya sepele bahwa kita diajarkan untuk menata alas kaki kita secara rapi, tetapi hal tersebut sungguh dalam dan luas dalam aplikasinya. Bagaimana bisa menata hati yang dimensinya tidak kelihatan kalau menata hal-hal yang kasat mata di sekitar kita saja tidak bisa, mungkin itu salah satu maknanya. KERAPIAN dan KEBERSIHAN itu kata kuncinya, satu hal yang harus diperhatikan oleh seorang murid Syadziliyah, dimulai dari hal-hal yang sering dianggap sepele seperti kerapian rambut, pakaian, meja kerja, ruang kerja dan sebagainya.
sabdalangit berkata,
Oktober 5, 2008 pada 11:17 am
Yang paling sering kita anggap sepele itu kayaknya ucapan dari mulut kita…
karena kita sering mengukur dengan takaran kita sendiri yg subyektif, misalnya saat kita berucap kepada org lain; niat kita baik, tapi bahasa yg digunakan tidak pas, waktunya gak tepat,…. akibatnya orang lain tsb sakit sekali hatinya, karena ucapan yg menurut kita itu tidak apa-apa, tetapi bagi orang lain sangat menyakitkan (nylekit)….nah …
itulah…makanya seringkali orang merasa sudah peduli, baik, merasa bener kok banyak yg membenci. lebih baik kan kita ga nyalahkan org yg benci pada kita, tapi petama-tama koreksi diri, jangan samaratakan watak dan karakter orang lain tapi selami dengan cara komparasikan dengan takaran org-org banyak lainnya lagi, jangan-jangan memang takaran kita yg samtingwrong, terlalu bebal dan dungu, kurang bisa tanggap warso….kurang bisa ngemong, kurang bijaksana….
patut dicontoh sisi positif dari budaya individualisme barat (yg negatif jangan ditiru lho…ndak ‘dosa’..hmm), yakni…kalau kita mau dihormati org lain, harus menghormati org lain dulu. Kalau kita gak mau diganggu org lain ya jangan ganggu org lain juga.
Kayak gini ini malah bisa utk mengasah kepekaan sosial, ….bukan kayak orang kolektivisme spt di Indonesia, sok sosial, tapi maunya menuntut haknya terus, tapi untuk memenuhi kewajiban pada org lain kagak mau peduli. jadinya…masy individualis kepribadiannya altruis, sebaliknya masy kolektifis kepribadiannya malah egois. Dgn kata lain maunya nyadong terus tapi enggan mengulurkan tangan utk memberi. Di Indonesia ini contohnya seabrek dari pejabat sampai masy kelas bawah, contoh budaya rakus masy kolektifis. yaaah…ironis, munapik apa gmn tu nyebute angel.
TAPI..yg paling berbahaya adalah wong bodho ngaku pinter; atau sok pinter, lha paling ngeri banget yen nganggep paling bener Lan golek benere dhewe. wiiis mesthi anane bangso iki mung kepruk-keprukan, kaatosan (kekerasan), anarkisss….
mas Samudro mbok gek celathu to..panjenengan ki meneng2 ning nganyutake…ampun-ampun (maksude; ojo-ojo) njenengan niku gek mursyid nggih…amin
samudro berkata,
Oktober 5, 2008 pada 6:34 pm
saya teringat pohon mangga dihalaman rumah sebelah, ada saat dia itu berbuah dan ada saat dia itu tidak berbuah, tapi yang saya rasakan rasa buahnya enak banget, sehingga selalu saya menunggu kapan saya dapat menkmati lagi, tapi apa jawabnya, buahkulah yang menentukan prosesku, rasaku yang menentukan darimana aku memilih makanan, citarasaku yang bikin orang kangen itu yang berusaha kupertahankan, tapi yang keusahakan selalu adalah selalu berkembang dan berbuah, kasihan yang menunggu buahku karena mereka sanat suka kepadaku, sudah layaklah mereka menikmati hasilku, sehingga mereka sehat karena makan buahku yang kaya serat, aku membuat mereka hidup sehat, tuhan itulah baktiku padamu sebagai pohon mangga
BINTANG berkata,
Oktober 6, 2008 pada 5:31 am
MAAF, SAYA TIdak pintar bahasa jawa.
1.saya ingin tanya APAKAH YANG DIMAKSUD MADUNE JAGAD?
2.DAN APA ARTI DARI “PITU LORO DIGAPET” “SONGO TELU DIGAPET”?
SEPURANE SING KATAH GIH MAS, KULO GADAH PITAKON SING NGENE..
Alang Alang Kumitir berkata,
Oktober 6, 2008 pada 5:44 am
Buat para pengunjung Blog, mas Sabda Langit, ustadz Azmi, mas Samudro dll saya mengucapkan:
Selamat Hari Raya Idul Fitri, Minal Aidin Wal Faidzin. Mohon Maaf Lahir dan Batin.
Mari silahkan terus berdiskusi, saya rasa isi yang ditulis para sedulur sangat bermanfaat untuk menambah wawasan kita semua. Untuk hal-hal yang rumit dan njlimet, saya lebih suka jadi pendengar saja. Sebab komentar kami nanti malah membuat pemahaman kita tentang Tuhan, Manusia, dan Dunia semakin ribet saja.
Terima kasih.
sabdalangit berkata,
Oktober 6, 2008 pada 9:44 am
Madu jagad niku lha rak wong wedok, pawestri, perempuan yg bener-bener menjadi per–empu–an. ora mung wanita; wani ditata. nanging bisa jadi empu-nya jagad utawa madune jagad, ora mung jagad-e laki-laki naging jagad raya sak isinya. yoiku wadon kang setya tuhu ing toto lahir lan batin, memetri cagak lan jejeging kulowargo kanthi bebuden kang luhur, gemati lan ngabekti marang suami/garwo (sigaraning nyowo). Mula sampai ada sanepan; dunia akan rusak jika wanitanya rusak, dunia akan indah, damai, tenteram jika para wanitanya njejegake bebuden yang luhur.
Tepat sekali jika bumi nusantara ini kelak akan bangkit menjadi negri yg adil makmur, gemah ripah loh jinawi jika sudah dipimpin ratu adil (pemimpin perempuan).
Dene rawuhe (kelahirannya) dibarengi gunung Tidar Magelang (sbg puser bumi) meletus keluar air dan lahar, rawapening Ambarawa berkobar api, air laut naik ke daratan, hujan badai diiringi geledek-kilat gemuruh menyambar-nyambar, gunung2 memuntahkan lava pijar. semua terjadi sbg pertanda alam turut bersyukur atas kelahiran ratu adil.
samudro berkata,
Oktober 6, 2008 pada 4:15 pm
Pitu loro digapet : mungkin lho ya … mas, artinya ada 7 hari dalam kehidupan pribadi manusia, yang selalu dan senantiasa harus kita jaga dalam kondisi apapun, mulai dari awal sampai akhir itu harus selalu dipikirkan bagaimana memulainya ( baik / buruk ) dan bagaimana hasil akhirnya ( baik / buruk ), hal itu yang senantiasa harus kita perhatikan dan selalu menjadi kautaman dalam kita berperilaku sebagai pribadi yang bertanggung jawab langsung terhadap sang kaisar kehidupan dan sebagai pribadi yang berinteraksi secara sosial.
Songo telu digapet : ini juga mungkin lho mas bintang. ada sembilan bagian tubuh manusia yang juga harus dijaga dari masuk dan keluarnya, itu yang akan menentukan bagaimana dia berpikir, bagaimana dia mampu me-rasa-kan ( human being ) dan bagaimana dia berperilaku, hal itu juga selalu dibatasi oleh hal yang baik dan buruk pada awal dan akhir dari sebuah ( akan ) tindakan. Tentunya baik dan buruk itu juga sangat tergantung dari sudut pandang siapa, karena saya yakin tiap orang akan mengatakan tindakannya adalah yang terbaik pada saat itu, itu juga tidak salah, akan tetapi apa keputusannya itu akan bersinggungan dengannya sebagai pribadi sosial, itu juga saya kembalikan pada pribadi masing masing. Karena tiap pribadi mempunyai kemampuan yang berbeda dalam melihat sebuah masalah, dan saya melihat itulah dinamika pengetahuan, sehingga kita bisa mengatakan Tuhan-lah sang causa prima dari semua ini, sehingga kita sebagai manusia diwajibkan, selama kita masih bernafas, teruslah belajar, IQRO’ karena tuhan hanya bisa didekati dengan ilmu pengetahuan, yaitu ilmu rasaning pikir, ilmu tentang ruhnya berpikir, rasaning rasa, ilmu tentang ruhnya rasa dan rasaning laku, ilmu tentang ruhnya laku. artinya digapet sendiri adalah kita punya batasan baik dari ranah sosial maupun spiritual, dan kita sebagai manusia tidak boleh keluar dari kaidah itu. Digapet artinya juga di-satu-kan, maksudnya adalah satukan semua energi kehidupan, dan apapun yang kita punya, kembali ke jalur semula, sehingga kita mampu mengatakan dengan benar kata kata TUHAN itu SATU ( tapi bukan lagunya rhoma irama lho ya.. mas bintang ). dan masih ada sangkutannya, juga ini masih mungkin juga lho ya… (wani)to) artinya adalah berani menjalani kehidupan ini sesuai perjanjian kita dengan tuhan, itu nanti akan menyangkut masalah tehnologi, dan hanya bisa saya jelaskan dibab lain, mengenai ini.
buat mas azmi, mas sabdo langit dan mas kumitir, saya minta maaf bila pertanyaan saya membuat suasana menjadi tidak enak, sekali lagi saya mohon maaf, mas bintang saya yakin juga udah tahu artinya tolong saya dikasih tahu, karena ilmu yang saya punya sangat sedikit sekali, dan saya harus banyak belajar, suoro anggowo doyo ( apa yang ditanyakan menunjukkan siapa yang bertanya ) matur nuwun, rahayu…………!!!!
samudro berkata,
Oktober 6, 2008 pada 4:34 pm
Madune jagad itu kalau boleh saya urun rembug adalah rasa syukur atas apa yang kita terima dan apa yang kita cari, karena rasa syukur itu akan membikin hidup lebih hidup ( katanya star mild, lho mas ), dan rasa syukur itulah yang merupakan madu kehidupan, sehingga kita selalu akan memasang wajah yang selalu berseri, tutur kata indah dan enak di dengar, langkah kita akan selalu menapak di jalan yang dibatasi oleh ranah sosial dan spiritual, dan kita selalu bergembira atas semua hal baik itu merupakan nikmat yang berupa keburukan ( sangat tergantung daya tangkap kita, terhadap gaya bahasa tuhan ) atau kesusahan yang berupa kenikmatan ( lagi lagi bagaimana ketergantungan kita terhadap dunia materi ). Hal itu akan sangat mempengaruhi bagaimana cara kita bertanggung jawab terhadap tuhan dan tanggung jawab kita selaku makhluk sosial. Dari hal itulah akan tercermin yang namanya qur’an berjalan, sehingga tercipta keluarga yang sakinah mawadah wa rahmah dan bila itu meluas akan berefek yang sangat jelek yaitu masyarakat madani ( mawayu hayuning bawono ), dengan kata lain maduning jagad adalah dununge ilmu kuwi lantaran soko laku yang artinya baik buruknya sebuah ilmu itu harus teruji secara spiritual dan sosial, karena esa itu hak prerogatif tuhan sedang berbilang adalah hak manusia. matur nuwun, rahayu….!!!
Sabdalangit berkata,
Oktober 7, 2008 pada 7:37 am
Lha rak tenan to, memang mas samudro kuwi sugih ngelmu. katon soko pertanyaannya. sanepan (cangkriman/tebakan/kiasan) jawa memang banyak mengandung makna yg dalam dan luas, diintisarikan dalam susunan kata dan kalimat singkat, simple tapi seperti lorong menuju dunia gaib yg sangat luas. itulah namanya lorong jagad, atau jendela dunia. Madu jagad = rasa syukur kpd Tuhan. Memang, sejatinya syukur bukan terletak di lisan, dan kata-kata yg terucap, melainkan ada di dalam dimensi metafisis yakni ruhaniah (spirit) dan jiwa (soul), serta dimensi fisik jasmaniah, perilaku, dan perbuatan. Rasa syukur diartikulasikan dan diimplementasi ke dalam wujud perbuatan. Misalnya bersyukur atas kesehatan kita, maka implementasi syukur kpd Tuhan dalam wujud perbuatan gemar menolong orang sedang kesusahan, menderita, sakit. Mensyukuri nikmat berupa rezeki diimplementasikan dalam wujud suka berderma (donodriyah), beramal dalam bentuk materi kepada org2 yg sangat membutuhkan. ini merupakan sejatinya syukur kpd Tuhan. wujud syukur pada tataran tarekat dan hakekat. karena syukur tidak cukup hanya dengan mengucap 1000 kali atau 100.000 kali hamdalah. yang begini ini sama aja NATO; not action talk only.
Sabdalangit berkata,
Oktober 7, 2008 pada 8:01 am
o ya, untuk seluruh pengunjung blognya kadhang Kumitir… mas Azmi, mas Samudro, mas Bintang, mas Tompel, kadhang Kumitir dan semuanya tanpa bisa saya sebut satu persatu; mungkin anda yg pernah menemukan blog yg cukup spektakuler, cerdas, risenebel, kritis sebagai media refleksi dan implementasi kehidupan religi kita semua. setelah membaca pasti pikiran lebih fresh, jiwa menjadi lega, dan konsepsi ketauhidan kita akan semakin mendalam; tampak bahwa Tuhan itu LEBIH dari sekedar Maha Besar, Maha Kasih, Maha Bijak, Maha Adil.
Silahkan kunjungi;
http://www.religi21.blinkz.com
http://www.nurani21.blinkz.com
dan sebagai tambahan saya sedikit menyonthong di
http://www.sabdalangit7.blinkz.com
NAMUN bagi yg masih awam dalam mendalami agama, yg berjiwa muda berapi-api, yg fanatis, yg sektarian, yg picik dan tdk bijak hendaknya jangan membaca artikel-artikel tersebut.
yuyun berkata,
Oktober 8, 2008 pada 5:50 am
saya ini perna ngalakoni ajarn jawa bersama suami saya, 2bln kami jalani bersama bimbingan saudara kami sendiri,dan alhamdulillah saya menjadi lebih merasa dekat dgn gusti allah. Kemudian tiba-tiba suami saya berhenti dari ajaran tersebut, dan tiba-tiba dirinya merasa tidak nyaman setiap saat saya bertemu atau meminta bantuan saudara kami yang masih di ajaran tersebut maka isi pikirannya jadi ruet, jantung berdebar-debar seperti orang ber emosional tinggi, saya juga merasa kasihan sebenarnya akan tetapi saya sering bermimpi Almarhummah bapak saya. Karena di ajaran ini saya diajak untuk menyempurnakan ayah saya agar dpt diterima di sisi Allah. Tapi kepengennya suami saya kita hidup yang sewajarnya saja. Gimana ya pak?? sedangkan saya merasa nyaman diajaran ini, apa saya harus mengikuti ajakan suami saya??
samudra berkata,
Oktober 8, 2008 pada 10:46 am
mbak yuyun, maaf kalau boleh ngusulin sesuatu ya, kalau sepengetahuan saya ajaran jawa adalah ajaran yang sewajarnya manusia hidup, berinteraksi dengan alam, manusia, tumbuh-tumbuhan dan semua makhluk ciptaan tuhan, mugkin ada yang salah sehingga suami kurang merestui dan lebih baik dihentikan dulu, kalau memang mengganggu harmonisasi keluarga, karena jawa seharusnya membawa contoh bagi keluarga yang lain, karena prinsipnya jawa adalah harmonisasi kehidupan, seperti mbak yang suka mendengarkan musik. kita sbg orang jawa tidak boleh egois, karena basik jawa adalah kelembutan dan dikelembutan itu lah terdapat kekerasan sehingga yang ada adalah fleksibilitas tingkat tinggi, sehingga manusia jawa dikenal utun lan ulet dan jembar wadahe. Apa yang mbak yuyun rasakan mungkin egosentris, karena ada kepentingan untuk membawa bapak yang telah sedo supaya diterima disisinya, itu ndak salah sama sekali, karena mbak yuyun berusaha berbakti seperti harapan para orang tua. Akan tetapi mungkin ada,yang kurang berkenan dengan yang terjadi di masyarakat, saya akan coba membantu sebisanya, untuk orang tua yang sudah meninggal, itu haya bisa dibantu dengan 3 perkara amalan anak yang soleh, amal jariyah, ilmu yang berguna, menurut saya cari ilmu yang berguna dulu dan mungkin karena itu mbak belajar jawa, akan tetap ilmu yang berguna itu sebenarnya unuk membuka wawasan mbak yuyun bahwa hanya dengan kekuatan ruhani mbak yuyunlah orang tua dapat mnerima manfaatnya di dunia sana, dialam kelanggengan, kekuatan ruhani adalah sebagaimana mbak yuyun mampu untuk menerima semua permasalah dengan senyum dihati, bahwa itu merupakan canda sang maestro kehidupan dalam mendampingi seseorang yang dikasihinya, kita tidak tahu bagaimana dan dgn cara apa tuhan berkata, sehingga yang bisa kita lakukan adalah tersenyum dan berkata iya, karena senyum itu bukan untuk permasalahn yang ada akan tetapi senyum itu teruntuk yang mendampingi kita ( Gusti kang akaryo gesang ),karena dialah kita kuat, dan mampu melihat sampai dimana kadar orang itu dalam memahami cara tuhan berbicara. dengan ilmu yang berguna, mbak akan mampu berbuat amal saleh yang amat banyak dan akan disukai orang lain, karena perbuatan mbak yang baik sama orang lain yang notabene adalah semua makhluk ciptaan tuhan, kita harus selalu ingat, ” ojo cidro marang sa’podho ciptoane sing kuoso” dan kalau sudah begitu akan tercipta yang namanya ” sekaring jagad ” atau bahkan malaikat pun bertasbih pada sifulan karena kebaikan si….di (ngaryo)podo) / yang artinya kita sesama mahluk ciptaan tuhan tidak boleh saling menyakiti selama kita hidup didunia ini dimana kita diharapkan berkarya dan memberikan yang terbaik dari waktu ke waktu hanya untuk tuhan, karena hanya dengan melayani dialah, semua makhluk akan tersenyum pada mbak, bila dalam keluarga ada yang salah, yakinlah bahwa kitalah yang salah, bukan orang lain, bila memang yang mbak pegang adalah ageman jowo. Mbak yuyun ndak boleh bimbang, keluarga adalah prioritas utama bagi kaum jowo, rusak sebuah keluarga maka rusaklah papan pangonan, bila sudah rusak sebuah panggonan, maka rusak sebuah tatanan, yen wis rusak tatanan rusaklah kahanan, mbak teruslah belajar tapi jangan mengabaikan keluarga demi sebuah kenyamanan individu, tapi mbak sudah benar karena masuk ke alam kebimbangan atau alas gung liwang liwung jalmo moro jalmo mati, hati hati dalam bertindak, karena ageman jowo mbak sudah benar hanya mungkin mbak terlalu ekstrim, urip iku mung sak madyo, ojo ngupoyo ngani ngongso, mengko nggarai keloro loro, ngapunten mbak yuyun menawi salah, nuwun, rahayu
yuyun berkata,
Oktober 8, 2008 pada 2:46 pm
terima kasih atas responnya.. kami tingal di lingkungan yang tdk bisa menerima ajaran yang kami lakoni, darisitulah timbul masalah suami saya medapat tekanan dari keluarganya, mereka berangapan ajaran ini sesat, karena suami saya ini tipe penurut kpd ortu maka dia mengambil kesimpulan, nuruti aja lingkungan biar tdk terjadi masalah..dan tekanan seperti itu seolah olah menjadi seperti penyakit,bayangkan saja, setiap saya berhubungan dgn temen2 wargo dia mrs sakit hati,padahal sebelumnya suami dan temen2 wargo sagat dkt, melebihi saudara,saya sangat sedih dgn keadaan ini,sering saya menangisi keadaan ini”dengan cara apa saya bisa mendoakan orang tua saya yang selama ini katanya tetangga saya terlalu banyak dosa? kata temen2 warga kejawen bisa melihat roh orang tua saya d alam pengrantunan apa itu benar? terus bagaimana saya harus peduli atas kesalahan orang tua saya? apa selama ini denagan cara pengruwatan itu sudah cukup? apa bisa dengan saya mintah tolong seseorang untuk menyempurnakan roh orang tua saya?
samudro berkata,
Oktober 8, 2008 pada 6:02 pm
teori kuantum bahwa mampu menciptakan apa yang ingin diciptakan oeh apa yang diinginkan.
teori sinar bahwa manusia dan seluruh alam semesta ini terbuat dari seberkas cahaya sinar.
teori jowo bahwa keselarasan dan keseimbangan dalam mengetahui dunia materi dan imateri harus dipelajari untuk mengetahui dan menjadi pemimpin 2 alam tersebut, dan disatukan dalam satu (ro) go) nama kias badan yang selama ini diperdengarkan. Mbak coba baca lagi pesan saya diatas mengenai sekaring jagad, manusia itu yang mati hanya tubuhnya, tapi ruh nya atau ethernya akan kembali bergabung dengan alam semesta dan akan berwujud apa aja seperti apa yang mbak kehendaki dan itu terletak pada DID otak nmanusia. mbak tidak ada yang bisa mbak perbuat, menolong orang tua, nggak mungkin mbak lakukan bila mbak sendiri,dari gaya tulisan mbak terlihat panik dan sulit untuk diajak komunikasi, karena menurut mbak hal yang mbak lakukan sudah merupakan yang paling baik, karena hati mbak dalam kondisi aktif ( + ) bila mbak dalam kondisi ( – ) tidak ada yang bisa mbak lakukan. untuk ruwatan bolehlah dilakukan sesuai cara kita mengucapkan terima kasih pada Tanah Suci kita ( tempat dimana kita mencari makan dan bertempat tinggal ) that its, tidak seorangpun mampu menolong orang tua mbak, kecuali orang yang sangat sayang pada orang tua mbak, yaitu Tuhan, mbak sadar ndak, dengan semakinn banyak komentr miring mengenai ortu mbak maka aura bapak akan semakin bersinar, karena kemampuan (ro)h) dalam menyerap energi itu begitu tinggi, sehingga kadang kadang dia mempunyai kemampuan untk memperlihatkan diri bahkan mampu menggrakkan benda, itu karena dia punya energi, mbak sudah ada dilingkungan yang benar, jawa itu bangkit ditengah himpitan, seperti nabi dulu di kaum jahiliyah, gak usah sedih mbak, tuhan mungkin sayang sama mbak tapi dengan caranya, kembali kenormal lagi dan hati tetap tertuju ke tuhan itu adalah (jo)wo), jowo itu bukan (klen)ik) tapi jowo itu teknologi, dalam teknologi semua itu serba presisi, demikian juga kita berperilaku, serba hati hati, doa untuk bapak adlah berbuat baik setiap saat, tidak boleh menyia nyiakn waktu, tidak boleh menyakiti sesama ciptaaan tuhan, dan lagi tidak boleh menghujat nikmat tuhan yang berupa kesedihan karena itu juga termasuk nikmat, tapi manusia memp. persepsi tentang nikmat jadi asik deh……
Sabdalangit berkata,
Oktober 8, 2008 pada 7:17 pm
Kulonuwun, sesepuh blog kadang kumitir, sagung poro rawuh blog alang-alangkumitir ingkang dahat luhuring budi…
Untuk menangkap akar permasalahannya, terlebih dahulu saya kutip dua statement berikut;
Mas Samudro berkata,”…hati hati dalam bertindak, karena ageman jowo mbak sudah benar hanya mungkin mbak terlalu ekstrim, urip iku mung sak madyo,…
Mbak Yuyun berkata,”.. kami tingal di lingkungan yang tdk bisa menerima ajaran yang kami lakoni…
Dua kutipan dari mas samudro dan mbak yuyun di atas merupakan akar dari permasalahan yg mbak yuyun sedang hadapi saat ini. Sebelum belajar tentang ilmu jawa, sebaiknya kita pahami dulu jika tradsi dan ajaran-ajaran jawa sejak jatuhnya majapahit abad 15, dan sejalan dengan berkembangnya budaya arab di bumi nusantara, menjadikan ajaran, tradisi, dan ilmu jawa mengalami kemunduran secara kuantitas. karena secara sistematis–istilah ekstrimnya–budaya jawa dijajah oleh buadaya asing yakni belanda dan arab dengan dalih dogma agama; demi menegakkan kebenaran dan memberantas keburukan/kemungkaran. sejak saat itu budaya jawa yg di dalamnya terdapat ajaran, ilmu dan tradisi yg substansinya adalah wujud budipekerti yg luhur mulai didiskreditkan. diangga biang kebobrokan moral, kemusyrikan, kemungkaran, klenik, gugon tuhon, dst…merupakan stigma dan stampel negatif yg sengaja dibangun secara sistematis untuk tujuan akhir yakni hancur musnahnya ajaran jawa dari ‘ibu kandungnya’ sendiri. bukan berarti agama arab dan belanda tidak baik, tetapi manajemen konflik agama samawi, atau akar abrahamis, atau agama ‘langit’ slalu menekankan rasa kebencian terhadap agama samawi lainnya, maupun agama “bumi” (buda, hindu, kong hu chu, sinto, kabuyutan/agama leluhur jawa dll).
Nah..upaya-upaya mendiskreditkan ajaran jawa masih berlangsung hingga saat ini. Sederet cap negatif bertubi-tubi menghantam ajaran jawa/kejawen. namun demikian ajaran jawa bukanlah sekedar kumpulan syariat-syariat, tetapi selaras dan memiliki substansi HAKIKAT dalam memahami Gusti Allah Yang Gaib. Maka ajaran jawa tak kan pernah mati dan musnah sampai kapan pun. sebab lewat cara agama apapun setiap orang yg berusaha ‘mencari’ Tuhannya, akan selalu berjumpa dengan nilai-nilai yg selaras dan sepadan dengan kejawen. Pengingkaran nilai-nilai kejawen terjadi pada tataran taklid (ela-elu, anut grubyuk) yakni sikap asal-asalan. Argumentasinya berdasarkan pada sikap emosional ‘pokoke’ ; pokoke jangan kejawen, asal bukan kejawen, dst.
Mbak yuyun harus lebih bisa ngemong, lebih arif dan bijak dalam menghadapi situasi yg sedang dihadapi. sebab mbak berada diantara org2 yg kurang mendukung mbak yuyun. apalagi, substansi ajaran jawa bukanlah sederhana. Untuk menggapai ilmu jawa harus berangkat dari sikap toleran, rendah hati, bijak, netral, membuka pintu rasio seluas-luasnya, menutup pintu emosi rapat-rapat. maka hasilnya adalah bebuden yang luhur (agama budi).
Kejawen, meliputi sikap batin dan sikap lahir. COBA MBAK YUYUN BUKTIKAN HIPOTESIS SAYA; ilmu jawa, atau kejawen.. DALAM TATARAN BATINIAH sering ditentang oleh umat-umat beragama yg fanatik, TETAPI DALAM TATARAN LAHIRIAH akan mewujud dalam bentuk perilaku yg luhur budipekerti, kearifan sikap, serta perbuatan suri tauladan. Yg tidak hanya diterima oleh pemuja kebaikan dunia akhirat, bahkan senada dengan ikon yg diidamkan semua umat beragama. Itu artinya, ajaran kejawen ditolak dalam lingkup dogmatis, yang irasio dan emosio. tetapi diidamkan pada tataran implementasinya (rasio). Jika mau jujur, perilaku dan perbuatan dari ajaran kejawen dapat menjadi suri tauladan atau contoh perbuatan yg baik dan bernilai luhur umat manusia dalam berinteraksi dengan sesamanya (hablum minannaas) tanpa bertentangan dengan nilai agama manapun di muka bumi. Nilai kebaikan kejawen adalah nilai yang universal. Sama dengan pandangan kejawen yg memahami Tuhan Yang Maha Tunggal bersifat universe, yakni Tuhan dari seluruh mahluk ciptaanNya di jagad raya. agama adalah jalan menuju Tuhan. apapun nama jalan itu..toh semua menuju ke satu tujuan yakni Dzat yg tanpa nama, Dzat yg berbeda dengan mahluk, Dzat yang tidak memberi nama untuk diri Dzat sendiri. Dialah Dzat Yang Maha Esa, Dzat Yang Maha Kuasa, Hyang Wenang, Hyang Wening. Berada di dalam ‘tidak ada’, sebab sesungguhnya yang ‘tidak ada’ menjadi bingkainya ‘ada’. Tuhan = Dzat yg menjadikan ada.
Seyogyanya, mbak yuyun pelan-pelan dan ‘angon wayah’ dlm mengajarkan kebaikan a la kejawen. tularkanlah semua bentuk kebaikan, TETAPI hilangkan egosentrisme; tanpa perlu menyebutkan sumbernya dari mana, baik ajaran kejawen, Qur’an, Injil, Taurat, Zabur dsb toh semua mengajarkan tentang kebaikan tertinggi yakni adil bagi diri sendiri dan orang lain. Sikap ngemong, tidak egosentris, rendah hati, akomodatif, merupakan sejatinya karakter pengamal kejawen. Bukankah musuh agama bukanlah kejawen, melainkan ketidak-adilan di muka bumi.
Jika ingin melakukan ritual tradisi misalnya tumpengan, jelaskanlah makna dari tumpeng secara benar sesuai falsafah jawa yg mengenal banyak simbol dan makna. karena bagi org jawa, setiap doa diwujudkan dalam bentuk simbol dan uborampe pada upacara atau ritual.
misalnya; tumpeng=nasi putih kerucut; sebagai wujud doa yg suci tertuju hanya kepada Yang Maha Esa. maka wujud tumpeng adalah kerucut lebar di bawah bertemu dalam satu titik di atas. macam sayur ada 7=tujuh=pitu; artinya mohon pitulunga/pertolongan kepada Tuhan, telur berjumlah 11 =sebelas=sewelas; artinya memohon kawelasan/belaskasih Tuhan. Kangkung dan kacang panjang dibiarkan memanjang tidak dipotong-potong; maknanya adalah mengandung harapan dan doa agar supaya Tuhan menganugerahkan rejeki dan umur yg panjang.
Nasi tumpeng dimakan bareng-bareng kerabat, tetangga, handai taulan berjumlah 17 org=tujuhbelas=pitulas; maknanya agar mendapat pitulungan dan kawelasan dari Tuhan YME.
Semoga bermanfaat
Wilujeng Rahayu ingkang samya pinanggih
yuyun berkata,
Oktober 9, 2008 pada 5:32 am
terima kasih ats masukannya yng sgt bermanfaat sekali bg saya dan suami saya, tapi kenapa suami saya kok masi sangat sulit sekali bisa nerimo penjelasan saya,,..mungkin cara saya kurang bener kali yah… saya dan suami pengen bgt bertemu langsung dgn saudara2, saya mohon pertolongan kpd anda agar suami saya sembuh dari penyakitnya, saat ini saja suami saya sudah stress satelah bertemu saudara2 warga kejewen… saya bingung mau curhat kemana, dan harus gmn… saya merasakan kedamaian di ajaran ini kenapa suami saya engak… saat ini rumah tangga saya kurang harmonis, suami saya merasa jauh dgn saya… sempat suami saya bilang kalau kami sudah beda prinsip, dan dia mrs nga bisa hidup terus2an begini..mungkin bisa terjadi perceraian kalo saya nga nurut sama suami.. pernikahan kami baru 4 th berjalan anak kami 3th. pasti panjenengan semua bisa membayngkan posisi saya saat ini… saya berharap sekali bisa berkomunikasi langsung dgn panjenengan sedoyo…kalo nga kerberatn hub saya di no 03171890036..
samudro berkata,
Oktober 9, 2008 pada 5:21 pm
mbak benar kata kang mas sabdolangit, tapi saya nggak bisa komentar banyak, hanya beda pendapat trus mau cerai, begitu hebat sebuah budaya yang mengakibatkan sbuah keyakinan dan berakhir padda ambisi untuk kepentingan politis menguasai manusia lain, hebat….., begitu ta.. ajaran yang katanya demi kebaikan seluruh umat manusia, hebat ya…. geli saya mendengar,emang agama njanjiin apa sih….. khok segitunya, emang tinggi mana antara tuhan ama agama, tuhan yang punya agama atau agama untuk tuhan, ah emang mamalian brain, mbak saran saya, puasa rasa dulu ya… ikuti suami dulu, pertahankan mahligai keluarga mbak, kasihan sikecil, yang gak tau apa apa harus nerima akibatnya, lepas dari rasa nyaman dulu ya.. mbak, PESAN SAYA, JANGAN SAMPAI SEBUAH KELUARGA HANCUR KARENA SEBUAH IMPIAN KOSONG YANG SALAH TEMPAT, SEKARANG SUDAH TIDAK ADA AGAMA, YANG ADA ADALAH ” pada saat sangkakala ditiup, maka berbondong bondonglah, menurut kelompoknya masing masing, dan menunggu keputusan judge bao ” ya mereka hanya sekelompok zombie yang sudah nggak punya otak, harus dikendalikan dengan hati dan senyum serta apa yang diinginkannya, kasih dah……….ingat si kecil yang merupakan persatuan dan munajat cinta kalian, jangan karena sesuatu yang sepele dadi spolo mbak, eman, yang kalian pertengkarkan adalah suatu yang sia sia dan tidak masuk sama sekali dalam ranah Taologi / ketuhanan, kalian masuk ranah nafsu saling menguasai……
Sabdalangit berkata,
Oktober 9, 2008 pada 7:24 pm
mbak yuyun yg baik…
ada satu hal yg harus digaris bawahi dari saran mas samudro, yakni rasa saling mengalah.
seperti dalam serat Wedhatama dan Wulang Reh, kira-kira maknanya sbb:
1. keutuhan suami-istri hendaknya diikat dengan rasa saling berkorban dan saling memberi. bukan saling menuntut haknya masing-masing.
2. sebelum nikah, energi untuk menyatukan pasangan adalah cinta, tetapi bila sudah berumahtangga hendaknya ditambah dengan tali kasih sayang.
3. suami-istri hendaknya saling berebut mengakui kesalahan, bukan saling menyalahkan atau mencari benernya sendiri.
Apalagi akar permasalahan ada pada sistem kepercayaan. mbak yuyun…apa artinya agama…? A=tidak, gama=chaos atau kacau balau. jadi agama itu bukan dijadikan sumber perpecahan, sebaliknya agama menjadi alat utk menata. agama merupakan konsep nilai, dalam bentuk dogma yg diterima apa adanya sebagai kebenaran yg cukup diyakini (bukan untuk di verifikasi) dan tanpa upaya untuk mengkritisi. Tuhan adalah DIEN yg berkehendak tanpa ada finis/batas akhirnya. org jawa kuno juga sudah memahami hakekat DIEN ini, lihat saja patung buda di candi borobudur sekitar abad 7-11, adalah unfinished Budha. sementara agama atau kepercayaan bukan lah Tuhan, sebab Tuhan tak perlu agama. karena agama sebagai alat manusia untuk mencari Tuhan. terapkanlah ilmu jowo. jare wong jowo iku yen arep ‘ngalahke’ lawan hendaknya lawane ‘dipangku’. jadi mbak yuyun harus lebih memahami apa keinginan suami, tanyakan pada suami, anda kudu bersikap piye terhadap suami dan mertua, dan cara yg bagaimana yg bisa membuat hati pasangan menjadi bangga dan bahagia. ketuklah pintu hati suami, setelah dibuka oleh ‘tuan rumah’ baru anda masuk ke dalam relung hatinya. bukankah begitu cara anda menjadi tamu terhormat ?!
yuyun berkata,
Oktober 10, 2008 pada 5:10 am
terima kasih atas nasehat saudara2.. semoga suami saya tercinta mau membaca dan mampu memahaminya,…
Azmi berkata,
Oktober 10, 2008 pada 8:30 am
Khusu’ itu sebenarnya gejala psikologi ato gejala agama?
samudro berkata,
Oktober 10, 2008 pada 10:57 am
jian kok, kang sabdolangit, pancen hebat tenan, wah wah aku seneng temu dulur iki, kang ngapunten nggih menawi kulo lepat
boim berkata,
Oktober 10, 2008 pada 5:26 pm
apa pengetahuan anda tentang sapto darmo
gito berkata,
Oktober 11, 2008 pada 4:14 am
karena mbakyuyun masih punya rasa egoisme terhadap dirinnya sendiri apa yang dikatakan mas sabdolangit itu bener berperang bukan berartimembawa senjata tapi membawa makna seperti dalam pribahasa sambil menyelam minum air semoga tidak malah menim bukan konflik lah wong ini ajaran untuk pribadi diri sendiri jangan di jadikan tempat untuk kebenaran diri sendiri harus selalu ngalah tapi untuk menang dalam situasi yang kacau tidak akan menemukan jati diri sendiri nantinya
ki gebang berkata,
Oktober 11, 2008 pada 6:50 am
Untuk Mbak Yuyun, saya tidak memberikan komentar karena sudah dibahas oleh para sesepuh dengan sangat bijaksana. Alhamdulillah.
Saya tergelitik dengan pertanyaan Ustadz Azmi tentang Khusu’ itu sebenarnya gejala psikologi ato gejala agama. Saya yakin ustadz Azmi sebenarnya sudah lebih mengerti jawaban pertanyaan yang dilontarkan tersebut. Namun tidak salah saya memberikan urun rembug untuk menemukan formulasi ayang pas berdasarkan akal sehat (dasarnya adalah kaidah-kaidah logika yang semoga obyektif, baik itu principuim identitatis, principium non contradiktoris, principium exclusi tertii, dan principium rasio sufficientis saja) Dengan logika hegelian juga oke kan untuk menemukan sintesa dari tesa dan antitesa yang berlawanan hehehe….. Mohon maaf saya tidak menggunakan kacamata agama karena agama (dengan a kecil) bisa jadi lebih banyak dipahami secara intersubyektif yang kadar kebenarannya subyektif.
Baiklah kembali ke pertanyaan awal. Menurut saya, jawabannya dua-duanya. Yaitu bahwa khusyu’ itu gejala psikologi dan sekaligus gejala agama, dan dalam ilmu-ilmu Barat, masuk dalam ranah kajian Psikologi Agama.
Dikatakan gejala psikologi (lebih tepatnya Neurosains) bila untuk khusu’ orang harus memahami bagaimana cara otak kita untuk dalam gelombang serendah-rendahnya (Alpha, Teta) agar God Spot kita dalam bagian otak (System Limbic) tergetar dan tersungkur ekstase untuk berkomunikasi dengan Tuhan.
Dikatakan pula gejala agama karena hakekat khusyu’ itu sejatinya tidak hanya terletak pada ekstasenya diri untuk menghadap DIRI (Tuhan) melalui syariat yang telah dituntunkan, namun juga implementasi rasa khusyu’ dalam hidup sehari-hari. Maka, kelihatan bahwa orang yang khusyu’ adalah orang yang amal sehari-harinya banyak untuk memperoleh Ridho Tuhan.
Demikian sedikit dari saya, dan mari kita diskusikan.
Trims.
hamba allah berkata,
Oktober 11, 2008 pada 8:34 am
saya baru saja ngelakoni ajaran SD, tolong dong tujukin dmn tempat berkumpulnya wargo SD, biar saya bisa mengkaji ajaran ini lebih dalam lagi, cos saya dah merasakan kelebihannya ajaran ini, khususnya daera sidoarjo? jawab ya bapak2… please jangan menyembunyikan diri…..
Mas Kumitir berkata,
Oktober 11, 2008 pada 8:41 am
Sebelumnya saya mohan maaf sama Mas Boim dan Mas Gito, mungkin pengatahuan saya ttg ajaran sapto darmo hannya sedikit sekali, dan itupun saya nyari-nyari terus nemu dikit.
Dan saya berharap kepada Saudara2ku yang mengerti ttg ajaran atau pengetahuan ttg sapto darmo mohon dibantu utk menjelaskannya? trim
Dalam buku ALIRAN KEPERCAYAN DAN KEBATINAN DALAM SOROTAN karangan RAHNIP M, BA menjelaskan , “Kebatinan adalah hasil pikir dan angan-angan manusia yang menimbulkan suatu aliran kepercayaan dalam dad penganutnya dengan membawa ritus tertentu, bertujuan untuk mengetahui hal-hal yang ghaib, bahkan untuk mencapai persekutuan dgn sesuatu yang mereka anggap Tuhan secara perenungan batin, sehingga dengan demikian, menurut anggapan mereka dapat mencapai budi luhur untuk kesempurnaan hidup kini dan akan datang sesuai dgn konsepsi sendiri”.
Dari pengertian diatas didapat beberapa istilah kunci dari ajaran kebatinan yaitu :
1. Merupakan hasil pikir dan angan-angan manusia,
2. Memiliki cara beribadat (ritual) tertentu,
3. Yang dituju adalah pengetahuan ghaib dan terkadang yang
bertujuan menyatukan diri dengan Tuhan,
4. Hasil akhir adalah kesempurnaan hidup dengan konsepsi sendiri.
Secara umum kejawen (kebatinan) banyak bersumber dari ajaran nenek moyang bangsa Jawa yaitu animisme dan dinamieme, yang diwariskan secara turun temurun sehingga tdk dpt diketahui asal muasalnya.
Sapto Darmo adlah salah satu aliran besar kejawen dan pertama kali di cetuskan ole HARDJOSAPURO dan selanjutnya dia ajarkan hingga meninggalnya. Nama Sapto Darmo diambil dari bahasa Jawa; Sapta artinya kewajiban dan Darmo artinya kewajiban suci. Jadi, Sapto Darmo artinya tujuh kewajiban suci, aliran ini banyak berkembang di Jogjakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur dan bahkan sampai keluar Jawa.
Penganut Sapto Darmo meyakini bahwa manusia hanya memiliki 7 kewajiban atau disebut juga 7 wewarah suci, yaitu :
1. Setia dan tawakkal kepada Pancasila, Allah (Maha Agung, Maha
Rahim, Maha Adil, Maha Kuasa dan Maha Kekal).
2. Jujur dan suci hati menjalankan undang-undang negara.
3. Turut menyingsingkan lengan baju menegakkan nusa dan bangsa.
4. Menolong siapa saja tanpa pamrih, melainkan atas dasar cinta kasih.
5. Berani hidup atas kepercayaan penuh pada kekuatan diri-sendiri.
6. Hidup dalam bermasyarakat dengan susila dan disertai halusnya
budi pekerti.
7. Yakin bahwa dunia ini tidak abadi, melainkan berubah-ubah
(angkoro manggilingan).
Menurut pandangan Sapta Darmo, manusia harus memiliki 5 sifat dasar yaitu :
1. Berbudi luhur terhadap sesama umat lain,
2. Belas kasih (welas asih) terhadap sesama ummat yang lain,
3. Berperasaan dan bertindak adil,
4. Sadar bahwa manusia dalam kekuasaan (purba wasesa) Allah,
5. Sadar bahwa hanya rohani manusia yang berasal dari Nur Yang
Maha Kuasa yang bersifat abadi.
Pandangan Sapto Darmo tentang konsep alam meliputi 3 alam yaitu :
1. Alam Wajar yaitu alam dunia sekarang ini,
2. Alam Abadi yaitu alam langgeng atau alam kasuwargan,
3. Alam Halus yaitu alam tempat roh-roh yang gentayangan
(berkeliaran) karena tdk sanggup langsung menuju alam
kasuwargan.
KEROKHANIAN SAPTA DARMA
Sujud Asal Mula Manusia
Bila manusia ingin menjadi satria utama
Mulia dalam darma dan agung dalam pekerti
Serta mewujudkan dirinya sebagai brahmavihara
Baiklah ia berkarya dan berbudi pekerti tinggi
Tekun menghayati wewarah dan menjalankan sujud
Sujud Asal Mula Manusia adalah namanya
Karena rokhani yang suci kembali kepada Hyang Suci
Yaitu dengan duduk menghadap ke arah Timur
Yang merupakan lambang purwa kawitan manusia
Serta menjadi arah berputarnya bola dunia
Ke arah Timur itu pula dahulu Panuntun Agung menghadap
Sewaktu diajar bersujud oleh Hyang Maha Kuwasa
Dan ke arah sana pula warga Sapta Darma manembah
Sambil duduk di atas kain sanggar berwarna putih
Kedua tangan bersidakep, yang kanan di sebelah luarnya
Sesungguhnya dalam sujud yang penuh ketekunan
Dalam keadaan hening dan suasana pasrah diri
Terjadilah persatuan yang sangat didambakan
Antara air Perwita Sari dan Sinar Cahaya Allah
Yang menjadi puncak dari upacara manembah
Dari sana pula tercipta suatu daya kekuatan
Yang akan menindas nafsu dan angkara manusia
Memunahkan penyakit dan mencerdaskan pikiran
Menajamkan kewaskitaan, dan yang lebih utama
Mendekatkan hamba kepada Tuhannya
Maka dalam sujud janganlah berpamrih
Ingin melihat wahyu hingga malah berangan-angan
Demikian pula jangan biarkan adanya gangguan
Bukalah mata dan mengucap Asma Tiga
Sambil mengingat sikap tubuh dan jalan getaran
Bila telah duduk dengan hening
Bersila bagi pria dan bertimpuh bagi wanita
Luruskanlah gaya tubuh secara sempurna
Dan masuki alam hening yang indah itu
Benar-benar hening dalam kewaspadaan
Bila rasa berat terkumpul di kepala
Lalu getarannya turun ke pangkal lidah
Dan kemudian terasa di ujung lidah
Serta bibir terasa menjadi tebal
Telanlah air liur dan ucapkan:
Allah Hyang Maha Agung
Allah Hyang Maha Rokhim
Allah Hyang Maha Adil
Rasakanlah getaran halus naik perlahan
Dari tulang ekor menelusuri tulang punggung
Dan awasilah tubuh yang membungkuk ke depan
Agar tetap tegak lurus tidak melengkung
Dengan mata tertutup tetaplah hening
Kurang sejengkal dari tanah tahanlah kepala
Rasakan getaran halus memasuki otak kecil
Lalu ke otak besar dan terkumpul di ubun-ubun
Bila dilihat dengan rasa seperti kukus putih
Yang perlahan mengepul ke atas
Akan ada rasa yang masuk ke puncak kepala
Untuk bercampur dengan air Perwita Sari
Sebagai getaran turun ke pangkal dan pucuk lidah
Semua terasa nikmat sewaktu kening menyentuh tanah
Maka telanlah air liur dan ucapkan di batin:
Hyang Maha Suci Sujud Hyang Maha Kuwasa
Hyang Maha Suci Sujud Hyang Maha Kuwasa
Hyang Maha Suci Sujud Hyang Maha Kuwasa
Bila telah merasakan keagungan Tuhan
Dan keindahan penyembahan jiwa-raga
Tegakkanlah tubuh serta rasakan
Getaran yang turun perlahan
Rasanya dingin waktu meliwati dada
Demikianlah dengan tepat diulang dan dirasa
Pada bungkukan kedua dan ketiga
Hanya ucapannya itu berbeda
Pada bungkukan kedua begini:
Kesalahane Hyang Maha Suci
Nyuwun Ngapura Hyang Maha Kuwasa
Kesalahane Hyang Maha Suci
Nyuwun Ngapura Hyang Maha Kuwasa
Kesalahane Hyang Maha Suci
Nyuwun Ngapura Hyang Maha Kuwasa
Dan demikian pada bungkukan ketiga:
Hyang Maha Suci Mertobat Hyang Maha Kuwasa
Hyang Maha Suci Mertobat Hyang Maha Kuwasa
Hyang Maha Suci Mertobat Hyang Maha Kuwasa
Pada akhir pasujudan Asal Mula Manusia
Dalam keheningan rasakanlah kenikmatan
Dan keindahan dari pengalaman manembah
Lalu usaplah wajahmu dengan kedua tangan
Sebagai tanda usainya sujud
Sujud dan Dua Belas Saudara
Dalam sujud manembah yang telah diuraikan
Turunnya getaran dari kepala benar dirasakan
Terutama sewaktu melintasi jalur di dada
Tempat adanya bentuk tiga belah ketupat
Satu di atas, satu di tengah, dan satu di bawah
Yaitu yang disebut dengan istilah radar
Maka pada tiap belah ketupat itu
Terdapat getaran-getaran perwujudan
Dari sifat khusus kedua-belas saudara
Getaran berwarna hitam adalah aluwamah
Yang merah amarah, kuning suwiyah, putih mutmainah
Adapun letak dan sifat dua belas saudara itu demikian:
Hyang Maha Suci di ubun-ubun, sarana untuk menghadap
Hyang Maha Kuwasa dalam sujud dan dalam hening
Premana di dahi di antara kedua mata, untuk melihat
Segala hal yang tak tampak oleh mata biasa
Jatingarang atau Suksmajati di bahu kiri tempatnya
Gandarwaraja di bahu kanan dan bersifat kejam
Sering bertengkar serta tamak
Brama di tengah, senang marah sifatnya
Bayu di dada kanan, cirinya adalah keteguhan
Endra di dada kiri dan berpembawaan malas
Mayangkara di pusar, seperti kera suka mencuri
Merampas, mengejek, dan menghina
Suksmarasa di pinggang kiri dan kanan
Memiliki sifat halus perasaan
Suksmakencana di tulang tungging
Pengaruhnya pada gairah kebirahian
Nagatahun atau Suksmanaga di tulang belakang
Seperti ular sifatnya berbelit-belit dan berbisa
Baginda Kilir atau Nur Rasa bergerak sifatnya
Letaknya di ujung jari dan dapat digunakan
Oleh warga untuk menyembuhkan penyakit
Maka dalam sujud Sapta darma
Segala sifat saudara yang baik itu
Dikembangkan kepada kesempurnaan
Dan sifat saudara yang buruk
Diruwat agar menjadi tawar
Demikianlah ajaran Sapta Darma
Yang datang dari Panuntun Agung Sri Gutomo
Baik untuk didengar, dipahami, dan dijalankan
Supaya dapat seseorang menjadi satria berbudi
Yang berpegang pada Wewarah Tujuh dan Sesanti:
Ing ngendi bae Warga Sapta Darma
Kudu sumunar pinda baskara!
Dengan demikian para warga itu
Sesungguhnya juga mengikut pada petuah:
Sepi ing pamrih rame ing gawe!
Ki Gebang berkata,
Oktober 11, 2008 pada 9:38 am
Sebagai tambahan, kajian dan petunjuk agama tentang khusyu’ saya kira sudah sangat lengkap. Sebuah kisah khusyu’ paling akbar terjadi tatkala Musa jatuh tersungkur (ekstase) di bukit Sinai setelah Musa meminta agar Tuhan menunjukkan DIRI-NYA. Betapa masuk akal langkah pembuktian Si Musa yang rasionalis itu. Namun, Tuhan tidak mungkin dilihat oleh mata dalam wujud fisik-Nya, karena kemahabesaran-Nya melampaui ruang dan waktu… Bukankah ruang dan waktu juga Ciptaan-Nya?
Sehingga akhirnya, Musa pun ekstase alias semaput. Dalam kacamata psikologis, khusyu’ ya seperti ini harusnya. Orang tidak lagi menggunakan alat-alat epistemologis lagi untuk memahami eksistensi TUHAN. Lalu dengan apa untuk memahami eksistensi TUHAN? Jawabannya jelas, TUHAN sendirilah yang akan memberikan jalan. Bukan sebuah upaya kemanusiaan untuk mencari-Nya. TUHAN pasti akan datang bila manusia tidak lagi mencariNya. Maka, sebuah saran yang barangkali bijak adalah berhentilah mencari DIA (Orang ketiga), sebab DIA tidak perlu dicari lagi. Tuhan ada di depanmu dalam wujud ENGKAU bahkan TUHAN ada dalam AKU-mu.
Sekali lagi, mari kita diskusikan. Dan sekali lagi Trims.
Mas Kumitir berkata,
Oktober 11, 2008 pada 4:08 pm
Lanjutan ttg sapto darmo……..
Konsep ibadah dalam Sapto Darmo tercermin pada ajaran mereka tentang “Sujud Dasar”. Sujud Dasar terdiri dari tiga kali sujud menghadap ke Timur. Sikap duduk dengan kepala ditundukkan sampai ke tanah, mengikuti gerak naik sperma yakni dari tulang tungging ke ubun-ubun melalui tulang belakang, kemudian turun kembali. Amalan seperti itu dilakukan sebanyak tiga kali. Dalam sehari semalam, pengikut Sapto Darmo diwajibkan melakukan Sujud Dasar sebanyak 1 kali, sedang selebihnya dinilai sebagai keutamaan.
Sebagai hasil dari amalan Sujud Dasar, mereka meyakini dapat menyatu dengan Tuhan dan dapat menerima
wahyu tentang hal-hal ghaib. Mereka juga meyakini, orang yang sudah menyatu dengan Tuhan bisa memiliki
kekuatan besar (dahsyat) yang disebut sebagai atom berjiwa, akal menjadi cerdas, dan dapat menyembuhkan atau mengobati penyakit.
Hening adalah salah satu ajaran Sapto Darmo yang dilakukan dengan cara menenangkan semua fikiran seraya mengucapkan, Allah Hyang Maha Agung, Allah Hyang Maha Rahim, Allah Hyang Maha Adil. Orang yang berhasil dalam melakukan hening akan dapat melakukan hal-hal yang luar biasa, antara lain: (1) dapat melihat dan mengetahui keluarga yang tempatnya jauh, (2) dapat melihat arwah leluhur yang sudah meninggal, (3) dapat mendeteksi suatu perbuatan, jadi dikerjakan atau tidak, (4) dapat mengirim atau menerima telegram rasa, (5) dapat melihat tempat yang angker untuk dihilangkan keangkerannya, (6) dapat
menerima wahyu atau berita ghaib.
Racut adalah ajaran dan praktek dalam Sapto Darmo yang intinya adalah usaha untuk memisahkan rasa, fikiran, atau ruh dari jasad tubuhnya untuk menghadap Allah, kemudian setelah tujuan yang diinginkan selesai lalu kembali ke tubuh asalnya. Caranya yaitu setelah melakukan sujud dasar, kemudian membungkukkan badan dan tidur membujur Timur-Barat dengan kepala di bagian timur, posisi tangan dalam keadaan bersedekap di atas dada (sedekap saluku tunggal) dan harus mengosongkan pikiran. Kondisi tubuh di mana akal dan fikirannya kosong sementara ruh berjalan-jalan itulah yang dituju dalam racut, atau disebut juga kondisi mati sajroning urip.
Ajaran Sapto Darmo juga banyak menggunakan simbol-simbol. Ada empat simbol pokok dalam Sapto Darmo, yaitu: (1) gambar segi empat, yang menggambarkan manusia seutuhnya, (2) warna dasar pada gambar segi empat, yaitu hijau muda yang melambangkan sinar cahaya Allah, (3) empat sabuk lingkaran dengan warna yang berbedabeda, hitam melambangkan nafsu lauwamah, merah melambangkan nafsu ammarah, kuning melambangkan nafsu sauwiyah, dan putih melambangkan nafsu muthmainnah; (4) Vignette Semar (gambar
arsir Semar) melambangkan budi luhur.
Demikian Mas Boim dan Mas Gito, mudah2an dgn sedit gambaran panjenengan dpt mengerti walau tdk lengkap. Dan sekali lagi saya mohon maaf lho apabila ada kesalahan karena kurangannya pemahaman dan pengertian saya. Matur nuwun
sabdalangit berkata,
Oktober 11, 2008 pada 6:10 pm
Sugeng Rahayu lan wilujeng dumateng kadhang Kumitir pamedar wacono, lan sedoyo ingkang karso hamangku gati soho lumantaring atur ingkang dahat luhuring budi…
Saya tertarik dengan tulisan filsuf kita Ki Gebang..yg sangat logis, dapat memenuhi dahaga rasio manusia kritis nan winasis. dengan bijak menjawab pertanyaan Mas Azmi dengan menyiratkan kawruh jawa “Jumbuhing/manunggaling kawulo Gusti”. Membaca tulisan Ki Gebang dengan sikap yg lebih netral dan ditelaah bersama ketajaman hati saya jamin dapat menambah IQ an EQ kita semua.
Saya hanya ingin sedikit menambah komentar kepada Mas Azmi yg tentu saja telah menyimpan segudang ilmu. Saya dengan segenap kebodohan yg saya miliki, mencoba sekedar mempertegas makna yg disiratkan oleh Ki Gebang…
PERSPEKTIF EKSTRIM TAPI TERASA MENYENTUH HAKEKAT
Dalam ranah filosofi dikenal ilmu teleogi, teologi, dan meretas ke dalam ilmu terapan, yakni sosiologi. Teleogi membahas asal muasal ilmu pengetahuan, teologi sebagai ilmu yg membahas agama, menekankan pada sudut pandang metafisikanya, sementara sosiologi mempunyai perspekstif terhadap agama secara lebih ‘membumi’.
Dalam pandangan sosiologi; agama sebagai buah dari budi daya masyarakat, yang mengembangkan tradisi-tradisi spiritual sebagai upaya mengobati rasa haus kebatinannya. Segala upaya ‘mencari Tuhan’ ditempuhnya, lalu masyarakat memilah upaya mana yg paling memuaskan batin dan dibentuklah tata cara untuk mengulang secara cermat dan tepat dan agar dapat diikuti/dipelajari oleh orang lain. Tata cara diulang-ulang menjadi kebiasaan, lalu kebiasaan yg terus menerus menjadi adat atau custom yg didalamnya masyarakat mulai menyusun tatanan nilai. Lantas dari adat dan kebiasaan menggumpal menjadi kebudayaan spiritual atau sistem kepercayaan masy, berkembang seiring dengan tingkat peradaban manusia dan masyarakat. Dicari mana tatanan yg paling efektif, paling ideal, dan dianggap baik, serta secara nyata dianggap sebagai nilai kebenaran karena dapat terbukti memuaskan kebutuhan batiniahnya. Nilai ‘kebenaran’ olah spiritual manusia tidak bersifat obyektif dalam arti tidak bersifat universal berlaku bagi seluruh umat manusia dan seluruh masyarakat di penjuru bumi. semula nilai ‘kebenaran’ hanya dialami dan dirasakan oleh beberapa orang saja, kemudian menyebar lebih luas ke dalam masyarakat tertentu. Karena nilai ‘kebenatan’ bersifat subyektif, maka dalam penyebarannya diberlakukan dengan sistem keyakinan. Individu tidak perlu membuktikan nilai ‘kebenaran’ yg bersifat subyektif tersebut, tetapi yg paling penting adalah meyakini (iman) saja pada tatanan nilai. org2 yang pernah dan berhasil membuktikannya yakni memperoleh kepuasan batin dari upayanya sendiri dianggap sebagai perintis dan pendiri agama, yang dianggap sebagai manusia suci, dikultuskan sebagai tokoh agama, atau nabi, atau sahabat nabi dst. Sehingga kelak namanya dimasukkan dalam tatanan nilai yg sudah dibukukan dalam bentuk kitab. lalu tatanan nilai menjadi tidak perlu didiskusikan alias sakral, dan dianggap suci, tak boleh dirusak dan dinodai. terhadap kitab yg suci tersebut, manusia hanya diberi dua alternatif yakni; leave it or take it. yakini saja sebagai kebenaran, karena mengkritisi dianggap KESALAHAN BESAR manusia alias dosa dan dimurkai Tuhan.
Dalam perspektif sosiologis, nilai ‘kebenaran’ subyektif ini diistilahkan sebagai DOGMA AGAMA. subyektif artinya hanya berlaku bagi umat yg meyakininya saja. gak perlu dieyeli, karena dogma diperoleh melalui upaya-upaya batiniah yg bening, yang wening, dan dengan dukungan kejernihan akal dan budi manusia. Pada zaman dahulu, setiap masyarakat berusaha mencari dan kemudian menyusun DOGMA. DOGMA tidak lain adalah kumpulan ‘rambu-rambu’ kehidupan yang dikumpulkan dalam bentuk kitab atau kitab suci. kitab tsb dapat dipersonifikasikan sebagai “UUD/AD/ART/KUHP/KUHAP” nya AGAMA/sistem kepercayaan yg diperoleh melalui olah batin dengan hikmat dan KHUSU’. Maka dari itu, berbeda masyarakat berbeda sistem kepercayaannya. Berbeda individu BERBEDA PULA PENGALAMAN BATINNYA, karena masy adalah kumpulan individu maka beda masyarakat beda pula sistem kepercayaannya. Jika dihitung, agama di bumi jagad raya ini terdapat ratusan bahkan ribuan jumlah sistem kepercayaan dan agama. Di Indonesia; suku asli pribumi memiliki kebudayaan dan sistem kepercayaan yg berbeda-beda, hanya saja belum tercakup dalam UUD 45. Kelak jika pemerintah dan wakil rakyat berkehendak maka mereka DAPAT ‘MEMBUAT’ AGAMA BARU di bumi nusantara ini asalkan pemerintah dan DPR RI mengakui tidak hanya 5 agama saja. pada saat ini saja seharusnya sudah lebih dari 5 agama, misalnya Kong Hu Chu yg banyak dipeluk suku tionghoa, secara resmi belum diakomodir dalam UU. Contoh lain misalnya agama suku Badui dalam, agama suku Anak Dalam dsb.
Sampai lah pada wacana khusu’, masih dalam perspektif sosiologis; khusu’ adalah suasana batin individu yg hikmat, cermat, hening, konsen, dalam rangka mencari dan merasakan hakikat Tuhan. Khusu’ dapat menjadi filter untuk memilah mana getaran yg baik, mana yg buruk, mana yg bermanfaat mana yg tidak. untuk kemudian menangkap getaran Illahi secara tepat dan bijak. Khusu’ menghasilkan agama (tatanan), dan di dalam agama (tatanan) terdapat pula tatacara mencapai khusu’. Duluan mana khusu’ dengan agama=duluan mana ayam dengan telur ?
Khusu’ adalah keadaan/suasana yg sengaja dibangun dan diciptakan oleh batin, jiwa, spirit yg bukan saja menjadi gejala psikhis, tapi juga gejala sosiolokhis, tiap individu, kelompok, maupun masy dalam rangka ‘nggayuh kawicaksananing Gusti’. Sebenarnya “teknis” membangun khusu’ sifatnya hanya opsional, bukan termasuk dalam paket dogma kitab suci.
Yg menjadi pertanyaan saya justru;
lantas masuk neraka kah orang-orang seperti suku Badui (agama Sunda Wiwitan), suku Anak Dalam, suku Tengger (Hindu Tengger; yg sangat berbeda dengan Hindu Bali), suku Dayak dengan agama kaluhuran yg penuh mistis, dan milyaran umat beragama dengan sistem kepercayaan/agama lokal di seluruh pelosok bumi.
Saya sebagai manusia biasa waktu masih umur 5 tahun kadang bertanya-tanya “hal aneh”, tapi saya anggap keluar dari hati nurani manusia yg masih resik asli bikinan Gusti Allah, karena belum sempat tercemar dunia;
kira2 pikiran tanda tanya saya begini…”kok lucu…katanya ada orang masuk neraka gara-gara salah menyebut nama Tuhan… misalnya; god. allah, alloh, tuang allah, gusti, hyang widhi, atau apapun nama sebutannya. Masak, tuhan sedangkal itu ? Katanya Tuhan berbeda dengan mahluknya, Lhaaaa kok punya nama…yg ngasih nama gek njur sopo rek ? masak tuhan ngasih nama buat diri sendiri tuhan,….??? ojo-ojo..umat agomo yg sering tawur, neror, saling membenci, saling menganggap diri paling bener…sesungguhnya ya Gusti Allahe yo podho janjane. trus, tetanggaku katolik, org nya dermawan, baik hati, suka nolong, apa mungkin dia masuk neraka gara-gara salah nyebut tuhan itu Allah, yesus.. trus ketemu teman yg agamanya budha..gak kalah baik nya, sangat sopan menghargai memanusiakan, kepedulian sosial tinggi, lembut penuh kasih sayang pada manusa juga binatang, suka membantu yg lagi susah…apa mungkin dia masuk neraka gara-gara tuhanya bukan tuhan yesus, bukan allah swt pula…
…tapi anaknya tetangga saya, apakah dia bakal masuk syurga sekalipun jahat bukan kepalang pada tetangga kiri kanan, juga dia tidak mau melaksanakan shalat apalagi puasa. apakah anak itu tetap masuk surga gara2 dia sudah pernah bersaksi dengan cara mengucap kalimat syahadat sewaktu anak itu di khitan/disunat/sircumsition ?
mbuh cah..menungso ki papane nggon luput. mulo kudu sing ati-ati…yo nggeeer. sing penting ELING LAN WASPODHO; wis mesthi slamet !!!
petruk kantong bolong berkata,
Oktober 13, 2008 pada 7:20 pm
Mas Kumitir Matur Nuwun Penjelasanipun Saptodarmo menurut
ukuran kulo meniko lak nggeh sampun bener ning menopo kadang
kadang saking FPI Tego ngrudopekso wonten mbantul sebab tirose
ajarane sesat yen ningali kahanan niki kok rasane pengin tiwikromo
nanging yen ningali ajaranipun Leluhur kedah gede pangapurane
supados negari nuswantoro meniko Tentrem lan Ayem. nopo ingkang
saged kulo lakoni nuwun, sepindah malih bade nyuwun pirso dumuningipun panjenengan. yen dikeparengake nyuwun no telponipun pindah. ngaturke panuwun ingkang tanpo pepindan. rahayu
broo......... berkata,
Oktober 15, 2008 pada 1:26 am
myuwun suluk sastra jendra
Sabdalangit berkata,
Oktober 15, 2008 pada 11:02 am
Kuonuwun Kadhng Kumitir…
ntuk mas Broo… mas Kumitir sebenarnya sudah menampilkan jalan cerita Sastrajendra. namun sastrajendra merupakan ilmu pungkasan yg dapat membuka tabir ilmu Tuhan yang maha luas, maka tak cukup ditulis dalam satu dua bentuk suluk, serat, atau kitab (antara lain dapat ditemukan dalam : Kitab Wedhatama karya Gusti Mangkunegoro IV). Sastrajendra merupakan puncak ‘tasawuf’ nya Kejawen. jika dalam Islam ada kisah Nabi Khidir, maka jauh sebelum era kewalian masyarakat Jawa sudah mempunyai kisah Dewa Ruci, yang semakin berkembang di era sinkretisme Kejawen-Islam.
paling penting sebagai starting point memahami Sastrajendra Hayuningrat Pangruwating Diyu diperlukan gambaran bersifat RESUME agar mudah ‘perjalanan’ spiritual selanjutnya. jika diibaratkan gajah, saya tampilkan gajah itu wujud utuhnya, agar supaya mudah orang memahaminya. kadhang Kumitir juga sudah memaparkan panjang lebar isi “perut gajah” kok. tapi jika kerangka pemahaman para pembaca budiman masih awam ttg Sastrajendra, akan mengalami kesulitan memahaminya.
Agak panjang kiranya saya paparkan di sini, mas Broo dapat mengunjungi rumah saya di: http://sabdalangit.wordpress.com/puncak+ilmu+kejawen
nuwun Kadhang Kumitir dados talanging atur.
mudah2an dapat memberikan sedikit konstribusi
mas kumitir berkata,
Oktober 15, 2008 pada 12:17 pm
Matur nuwun kagem Mas Sabdalangit ingkang winasis, penjelasan panjenengan semakin damel marem…………………….
Sepengetatahuan kami bahwa ajaran sastra jendra bukan hanya kata-kata atau tulisan namun juga merupakan suatu kedisiplinan ilmu khusus dalam spiritual jawa yang dilakukan dengan penempaan raga / Olah Laku ( Tapa Brata ) dan Olah Rasa ( Penempaan batin ) dengan sungguh-sungguh serta memegang teguh seluruh paugeran dan pernatan dari ajaran ilmu Sastro Jendro Hayuningrat itu yang kesemuanya menuju suatu cita-cita Memayu Hayuning Bawono . Untuk lebih jelas dan gamblangnya masalah hal Sastro Jendro Hayuningrat , kami persilahkan Mas Broo…. untuk langsung menanyakan hal tersebut kepada yang terhormat Sesepuh Paguyuban “ Sastro Jendro Hayuningrat Pangruwating Diyu “, KRMH. Darudriyo Sumodiningrat yang beralamat :Sekretariat Pusat Jl. Selat Lombok Gang 4 No 8 Komp. TNI – AL Duren Sawit Jakarta Timur 13440.
fandy berkata,
Oktober 15, 2008 pada 3:19 pm
sejarah sangat menarik untuk diikuti, tapi aku lagi nyari sejarah dari awal tentang panji asmara bangun, aku cari di sini gak ada kalo ada yang tau, kirim email ke popo_1z@yahoo.co.id
ato halaman ditambah ja tentang sejarahnya sang panji
tankz b’4
petrukkantongbolong berkata,
Oktober 16, 2008 pada 8:17 pm
Dumateng Kang Mas Sabdolangit yen dikepareangke saged mboten
bilih pepanggihan paling mboten no telp pinten
lan dumateng Kang Mas Kumitir pitakonkulo kok dereng dijawab
ning yen mboten dijawanb mboten nopo nopo pancen kedah sabar
kados samudro Nuwun
SUWUNG00 berkata,
Oktober 18, 2008 pada 4:11 am
BOS, TERIMAKASIH SULUK SARIDINNYA. SALAM SEDULURAN
sabdalangit berkata,
Oktober 18, 2008 pada 9:24 am
Dumateng Mas Petruk yth…
Kawulo sakmeniko taksih wonten jakarta, menawi sampun lerem pandamelan kawulo wangsul ngayogya ing salebeting tembok, samangke kawulo kabari lan saget tetepangan lan sarasehan.
mas Petruk kawulo aturi sabar rumiyin njih, menawi wonten uneg2 sumonggo kerso kawulo tansah sumedyo mbengkas akaryo sak saget kawulo ingkang taksih cubluk puniko, lan ugi kadang Kumitir yektos anggenipun badhe paring samudro lelono dumateng sagung pro kadang kadeyan.
bab tiwikrama, mbok menawi tri-wikrama, injih lampahipun dewa wisnu ingkang kaping 3 saking awang-uwung, kacipto Dzat ingkang Moho Wiseso. nemahi 4 jaman; kertayuga, tirtayuga, dwaparayuga, kaliyuga. wontening jaman kaliyuga nemahi mercapada (jagad raya) puniko. merca=panas/rusak, pada=papan/tempat. lah injih lampah ipun wisnu puniko ingkang aran “jongko joyo boyo, prabu ing ka dhiri”, tegesipun jongko=jangkah/lampah kaping 3, joyo boyo=jaya dari marabahaya/selamat. sehingga dewa wisnu dapat mencapai alam mercapada, ing ka dhiri=merasuk ke dalam diri (raga manusia). kathah ingkang katambuhan, pramilo gadah panyokro menawi jongko joyoboyo parbu ing kadiri puniko raja kerajaan Daha, sebelum Singosari, yakni Prabu Jayabaya. dados, meniko sak dremi parikan utawi sanepan.
dados mas Petruk puniko luhur sanget, bilih anglampahi triwikrama sak lebeting gesang sejatosipun nglampahi tapabrata.
Bab tapabrata, nggayuh kasampurnaning gesang, lan RAHASIA KEMATIAN, APA YANG TERJADI DENGAN RUH SETELAH ONCAT saking raga, saget panjenengan waos ing BAB wirid LAKSITA JATI ingkang sampun kawulo wedaraken wonten ing blog kawulo http://sabdalangit.wordpress.com/Laksita+Jati
sumonggo…mugi saget migunani ing sapodo-podo
Nuwun, salam kagem kadhang Kumitir lan sedoyo pamiarso, pamiraos
Adriani berkata,
Oktober 19, 2008 pada 3:33 pm
Saya sedang melakukan penelitian tentang sejarah perpindahan/pergerakan arena intimasi dalam masyarakat Jawa. Bisakan saya mendapat kontak email?
Trims sebelumnya,
Adriani
Ngurah dari Surga berkata,
Oktober 20, 2008 pada 3:41 pm
Waw ini komunitas yang paling saya suka.
mudah-mudahan terus melangkah dan di berikan kesuksesan dalam hal spiritual untuk kita semua.
saya dari Bali menganut Agama Hindu sejak lahir, ikut Kerokhanian Sapta Darma sejak 1993, karena bokap sakit keras saat itu, sekarang semua keluarga sehat berkat salam WARASNYA. saya sangat menyayangkan tindakan FPI terhadap SAPTA DARMA saya sangat hormat dan respek dengan agama atau aliran kepercayaan lain. bagi siapa saja yang ingin maen ke Bali hubungi saya. tu_ray_01@yahoo.com
PAGANESIA FRONT berkata,
Oktober 22, 2008 pada 10:44 am
Kedjawen Pagan Front :
Kedjawen, Kejawen, Kdjaven, Pendjawi, Kabuyutuan hangajawi; adalah konsep spiritualitas pribumi jawa dengan filosofi berke-Tuhan-annya.
Kedjawen Pagan dengan nilai spiritual kabuyutan hangajawi mempunyai ciri perilaku penghormatan kepada roh nenek moyang/leluhur, menghargai keseimbangan alam, pemujaan kekuatan dewa-dewi penguasa alam beserta manifestasinya. Bentuk religiusitas keyakinan ini disebut mistik kejawen/Javanese occultism. Ritual religiusitas asli warisan nenek moyang ini telah lama ada jauh sebelum peradaban agama-agama monotheis/samawi/abrahamic masuk di bumi Jawa namun yang pasti keyakinan spiritualitas ini telah menjadi sukma dalam darah dan daging anak manusia ras suku Jawa dimanapun mereka berada dan apapun keyakinan baru mereka. Menjadi tugas kami disini untu tetap menjaga agar nilai spiritualitas itu tetap murni dan abadi sebagai The Heritage belief & custom of Java.
Front, berarti garda depan.
Representasikan nilai defensive kami untuk siap menangkal usaha-usaha pembinasaan integritas keyakinan ini. Menyikapi kondisi disintegrasi bangsa dan adanya sinyal pergerakan revolusi puritan maka keadaan ini memaksa kami untuk mengambil langkah pertahanan dan kombatan. Saya pribadi sebagai penghayat terakhir generasi ke-tujuh terpaksa harus siap mengawalinya melalui jaringan komunitas ini.
Pergerakan menuntut:
1. Pengakuan kepercayaan-kepercayaan asli diseluruh bumi Nusantara sebagai kekayaan local genius atas kebhinnekaan suku budaya bangsa.
2. Penghapusan pencantuman kolom agama di ID.personal/K.T.P.
3. Ketetapan Undang-Undang bahwa pemerintah wajib melindungii dan tidak mencampuri kepentingan privat kepercayaan warga negaranya.
Kami ada karena sebuah reaksi untuk sebuah tegaknya hak ulayat, hukum adat dan nilai -nilai tradisionalis dan band kami adalah salah satu media corong proPAGANda perjuangan.
Sambut juga eksistensi jaringan kami di UJUNG GALUH Pagan Front, DJENGGALA Pagan Front, DHOHO Pagan Front, TENGGER Pagan Front, BORNEO/DAYAK Pagan Front dan seluruh komunitas Pagan di planet ini.
2. yang saya tahu selama ini kedjawen merupakan hasil perpaduan antara islam dan kebudayaan (kalu tidak salah) jawa, itu berarti apakah kalian masih menjalankan kewajiban seorang muslim ?
Oke. Namun tanpa mengurangi rasa hormat kepada Anda, saya tidak bersedia menjawab pertanyaan-pertanyaan yang menanyakan status agama dalam konteks agama-agama Monotheis, Maaf.
Pemahaman Anda tersebut disebut Kejawen-Tasawuf, Kejawen yang dikembangkan oleh para wali/ulama besar untuk kepentingan penyebaran agama-agama monotheis di Jawa. sementara kami adalah penghayat Kabuyutan Hangajawi / Kedjawen Pagan yang lebih mengutamakan spiritualitas yang mengarah kepada aktualisasi diri daripada hiruk pikuk religiusitas yang mencandu.
Pemikiran ini menyokong pemahaman bahwa agami iku tan bedha mring ageman nira (agama tidak lebih dari sekedar bermakna baju), bukankah kita mengenal baju karena dikenalkan oleh orang tua kita saat balita ? dan artinya agama-agama monotheis adalah “produk budaya asing” diluar DNA manusia Jawa.
Ia dikenakan dan tidak diturunkan/diwariskan.
Semestinya agama-agama monotheis meyakini juga bahwa Spitiualitas ini Jelas dan Religiusitas itu Bias.
PAGANESIA FRONT berkata,
Oktober 22, 2008 pada 11:19 am
Azmi kamu saya mohon anda jangan bicara seperti itu,ingat bangsa ini adalah sebuah bangsa yang berlandaskan “Bhineka Tunggal Eka”
Negara ini juga bukan hanya milik orang islam/arab,masih banyak yang lainnya.
Anda harusnya sadar sudah berada dimana…?
Ini bukan bangsa arab..!? ya jelas to.. sudah lain budaya,adat,hukum dan bahkan pemikirannya.
Kalo anda menerapkan pemahaman islam ditanah jawa seperti itu,jelas akan mumbuat perpecan bangsa ini semakin besar.
Ingatlah siapa nenek moyangmu,, apa akan kamu lupakan semua karya pemikiran mereka,hanya demi sebuah budaya orang lain yang sedikitpun tidak kamu mengerti.. (mungkin).
berbanggalah ada orang yang ingin memajukan melestarikan budaya Djawa seperti Mas Kumitir ini.
Kalo kamu ingin hidup yang islami.. ya pergi saja ke arab..
Tanah Djawa ini menolak seorang penghianat leluhurnya..,
Karena orang2 seperti kamulah yang membuat semua karya budaya bangsa ini musnah..
Keterlaluan kamu sebagai orang jawa sudah meng…gunduli budaya leluhurmu.
Saya sebagai pemuda Djawa akan menghadangmu sebelum kau merusak menghancurkan dan mengganti budaya DjawaKU dengan pemahaman arabmu. Ingat….!!
Pround To Be Pagan…..
jack kalijaga berkata,
Oktober 23, 2008 pada 12:52 am
semua betul mengapa mesti harus berbelit-belit soal kebenaran itu hanya orang yang sudah manunggal dengan tuhanya/makrifat itu sendiri….
buat temen2 dunia sufi juga ada macamnya …. sunni sufi dan sufi wujudiyah tergantung yang cocok utk kita yang mana ya ikut dan rasakan saja . toh setiap pejalan rohani itu pasti akan berbeda tidak akan sama. tetapi esensinya pasti mencari tuhan. tetapiu klo kita mengkaji dari kitab klasik para wali kutub.. dari al hallaj, ibnu arabi.junaedi al baghdadi. syekh abul qodir jaelani ,imam ghazali dan masih banyak lagii . pada intinya sama saja hanya teori penyampainya aja yang berbeda. sebetulnya islam kejawen juga ngak jauh beda sama ajaran para wali agung tsb. hanya saja orang islam klo ngak yang arab2 ngak mau menerima entah memang hawa nafsunya or apanya saya ngak tau..yang jelas di jawah itu spiritualnya luar biasa termasuk tokohnya sunan kalijaga dan syek siti jenar. klo buat saya jalan berbeda tujuanya satu
barang siapa mengenal dirinya sendiri pastilah mengenal tuhannya
imam ghazali sama kan kayak ajaran spiritulis jawa
berpikir jangan pake otak tapi pake hati yang jernih qolbun salim
samudro berkata,
Oktober 24, 2008 pada 10:04 am
mohon ijin untuk saya link-kan ke web jowodwipo.com, nuwun ki kumitir, rahayu
ync1225 berkata,
Oktober 25, 2008 pada 9:09 am
Mas Mohon Ijin Ikutan Ngopy Filenya,
Buat Nambah Kawruh saya
Makasih.
samudro berkata,
Oktober 25, 2008 pada 9:20 am
saudara saudaraku tenang, gak ada gunanya kita adu urat disini, lebih baik kita adu hikmat, bagaimana menjalani kehidupan ini dengan baik dan benar, karena semua itu akan terefleksi dari kejadian sehari hari, semua ibarat kaca brenggala, apa yang ditabur apa juga yang dituai, untuk rekan rekan penghayat ilmu jawa, dan seluruh penghayat kepercayaan adat dan kepercayaan setempat, akan ada waktu kita ” bicara “, yaitu bila matahari sudah terbit dari barat, yang berarti pola pikir dan sudut pandang sudah kebalik, saat itulah akan ada sinar hijau dari timur jauh, yaitu naiknya lagi ageman adat, para ksatria nusantara, semua harap bersiap hanya dengan gelombang elektron, sub consciousnes, kita akan mengembalikan jati diri “manusia” dan ras jalmo harus musnah dari muka bumi ini, inilah hukum renaisance, dan memang harus seperti itu, bagi penghayat ageman leluhur, mohon mengekang diri, tidak ada gunanya berdebat, nanti akan semakin terlihat, dan akan semakin mudah terhelat, saudara saudaraku para satria titisan leluhur selamat datang, kami telah menunggu anda selama 800 tahun, untuk ndandani jagat, sing iso ngademake ati, yen wayah bengi, saat ini biarlah mereka mengumpulkan koloninya, mereka mengikuti petunjuk untuk berkumpul dipadhang mashar, menurut jenis dan kelompoknya, itu akan semakin mempermudah, bangkitnya (jo)wo) / manusia seutuhnya sebagai penyangga dunia dan penjaga alam semesta atas kehendak dan kudrat gusti kang akaryo gesang, rahayu sedulur sakabehipun, mpun rame nggih..
hidayat berkata,
Oktober 26, 2008 pada 10:03 am
rahayu….

apa mimpi disiang bolong,… ?kalau orang-orang kejawen/kebatinan mau memimpin Indonesia ini….mau ndandani bangsa ini?
kalimat “….bangkitnya (jo)wo) / manusia seutuhnya sebagai penyangga dunia dan penjaga alam semesta…” kalimat ini kalimatnya orang belanda… yang menina bobokan sebagian rakyat kita, memecah belah seduluran, agama dan pekerjaan , suku dan ras menjadi tidak penting setelah merasakan 350 tahun dijajah belanda, ribuan orang sakti mati, ratusan raja mati..jutaan orang mati korban pittenah, dihasut dan orang NU diperalat soeharto……. mulailah sekarang bersatu agama itu sama saja saling menghormati tidak perlu unggul-unggulan….. waspadalah
cobalah bertanya dalam hati kita ?
kita baru merdeka dari belanda 63 tahun, sama saudara sendiri eker-ekeran, para pemula agama dan pemula kepercayaan mau mendandani negara?
jangan bertanya pada rumput yang bergoyang……
wass wb
HARYOPRABU berkata,
Oktober 26, 2008 pada 11:53 am
NUWUN, DALEM MATURNUWUN SANGET SAGET MAOS SAK PIRANG-PIRANG WEWADI GESANG INGKANG MBOKMENAWI SAMPUN SEPARO UMUR KULO LAMPAHI. INSYA ALLAH SEKEDHIK KATHAH SAGED DADOS PITEDAH LAN WEWARAH ING DALEM NGELAMPAHI GESANG KAWULO. MBOK MENAWI SAGED KAWULO PINGIN TETEPANGAN LUWIH RAKET KALIAN MAS ALANG-ALANG KUMITIR. KAWULO PUTRO JAWI NGATURAKEN GUNGING PANUWUN DENE PANJENENGAN KERSO NGURI-URI PUSTAKA JAWI. SEPINDAH MALIH….MATURNUWUN SANGET…………
samudro berkata,
Oktober 26, 2008 pada 5:51 pm
sepurane yo mas, kita ini ndak pernah merdeka, hanya pemindahan kekuasaan, bukan penyerahan kekuasaan, tolong pelajari lagi bunyi proklamasi dan pembukaan uud 45.
hi…hi…hi… kaum pemimpi, kalau bilng kita ini sudah merdeka, tangi mas..wis awan.. wayahe nggolek pangan, buah pikiran kaum proletariat yang suka memikirkan dirinya sendiri,ha…ha…ha….
jack kalijaga berkata,
Oktober 26, 2008 pada 11:10 pm
sebagai penerus ajaaran seh siti sejar dan sunan kalijaga saya mendukung .. sekali klo kita sebaiknya jangan berdebat karna akan membawa kebodohan jalani sesuai masing2 keyakinannya dan berbuat yang bvanyak untuk kemaslahatan orang banyak .hanya orang yang beruntung yang bisa manunggal dengan tuhanya gama apapun jadi jangan mempersoalkan keyakinan seseorang.palagi menyesatkan lom tetntu kita benar sendirii… salam berjalan menuju kang moho asih
hidayat berkata,
Oktober 27, 2008 pada 1:08 am
rahayu
nyuwun sewu mas:
@ samudro kata-kata anda tentang “..bangkitnya (jo)wo) / manusia seutuhnya sebagai penyangga dunia dan penjaga alam semesta…”
seolah-olah mengunggul-unggulkan wong jowo seolah tidak ada suku lain di indonesia, jika “wong jowo” di artikan sebagai “manusia sempurna” ,, seolah-olah hari ginii sudah tidak ada yang manusia sempurna selain dari golongan anda…kalimat ini seperti sebagian orang sariat islam yang mengunggul-unggulkan, meng yel-yelkan kepercayaannya.
juga ini “…seluruh penghayat kepercayaan adat dan kepercayaan setempat, akan ada waktu kita ” bicara “, yaitu bila matahari sudah terbit dari barat, …” he he he
seolah ini nada ancaman, seolah olah anda belajar kepercayaan karena merasa tertekan sesuatu dan penuh dendam yang terpendam… jangan terpengaruh teman dan guru anda cobalah merasakan dengan hati tentang tujuan belajar kepercayaan / jadi penghayat itu sendiri….
…..saya itu mengajak anda untuk berkata ” agama / berkepercayaan itu sama saja sederajat tidak perlu : unggul-unggulan, ancam ancaman, nyepatani/nyumpahi, yang penting saling toleran dan hormat menghormati ”
wass wb
samudro berkata,
Oktober 27, 2008 pada 6:03 am
iyo mas sepurane, pancen sampean bener, aku mung dulinan kok mas, tak pikire maneh mas, opo ono sing duwe agomo neng kene, sepurane yo mas, soale sing tak tonton kuwi wong golek duit, ora golek agomo, wis pancen jos, njenengan kuwi, sepurane, pamit undur, rahayu
hidayat berkata,
Oktober 27, 2008 pada 8:31 am
rahayu
yoooo mas samudro … iki ngono ajaran hakiki
saling hormat menghormati…
akeh konco sing mblajari aku.. salah sijine mas http://www.ciwabuddha.wordpress
karo mas david goh neng blogke http://www.gatharwa.wordpress
cah nom-nom iki puinter-puinter….
sepurane aku yoo………
wass wb
ki gebang berkata,
Oktober 28, 2008 pada 8:02 am
Kagem para winasis, sesepuh lan budayawan Jawa yang lagi nangkring di blog ini. Pertama-tama, kulo menghaturkan terima kasih pada Mas Kumitir atas dimuatnya komentar ini. Dan kedua, dalam kesempatan kali ini, saya ingin menyampaikan bahan diskusi yang semoga saja menambah satu warisan budaya berupa keyakinan terhadap penguasa di satu wilayah.
Syahdan, beberapa hari yang lalu saya didatangi beberapa paranormal yang mengaku bisa mengetahui siapa Nyai Roro Kidul sebenarnya. Dalam kesempatan kali ini, saya ingin memberikan komentar soal siapa Penguasa Laut Selatan. Selama ini sebagaimana anggapan masyarakat di pesisir menganggap Peguasa Laut Selatan adalah Nyi Roro Kidul dan karena perbuatannya maka Penguasa Laut Selatan menjadi sangat menakutkan bagi masyarakat tertentu.
Melalui komentar ini saya berkeyakinan bahwa Penguasa Laut Selatan, ”sekali-kali” bukan Nyi Roro Kidul yang selama ini di kenal oleh masyarakat, tapi Tuhan Yang Maha Kuasa yang mengijinkan ”Kanjeng Raru Kidul” untuk menduduki wilayah laut selatan. Dialah yang sebenarnya “Penguasa Kecil” Laut Selatan yang selama ini dimaksud, bukanlah Nyi Roro Kidul. Status dari Kanjeng Ratu Kidul adalah merupakan Raja/Penguasa lelembut di laut selatan, sedangkan Nyi Roro Kidul adalah Patih Nya.
Menurut terawangan saya, Kerajaan Laut Selatan memiliki struktur pemerintahan yang rapi dan jelas, dan di dalamnya ada jabatan-jabatan seperti halnya sebuah negara, yang mana Kanjeng Ratu Kidul merupakan Pemimpin utamanya, sedangkan salah satu (ada beberapa dengan nama yang berbeda) pembantu dekatnya (Patih) adalah Nyi Roro Kidul, ada juga Patih lainnya, mungkin kami ungkap sedikit namanya, salah satunya Nyai Riya Kidul..
Kenapa banyak menganggap mereka adalah pribadi yang sama, karena mereka selalu memperkenalkan dengan cara yang sama, yaitu pada saat mucul selalu mengatakan, “AKULAH DARI PANTAI SELATAN”, Nah.. Kata ini sering menjadi terpeleset (tidak tahu kenapa), menjadi; “AKULAH PENGUASA LAUT SELATAN”. Ya .. maklum aja salah nangkap, tapi akibatnya menjadi kabur.
Marilah kita sedikit menengok kebelakang dari jaman nenek moyang sebetulnya mereka telah meyakini adanya tuhan yang esa, akan tetapi mereka belum mengenal ilmu tauhid (ilmu yang membahas pengetahuan, pendalaman,pengenalan dan pen-Esaan Tuhan)
Sebenarnya mereka telah mengenal Tauhid, tapi bukan dalam bahasa agama (bahasa dan budaya bangsa lain) saat ini, tapi dalam bahasa dan budaya mereka tentunya, leluhur kita (contohnya JAWA) mengenal dengan sebutan yang lain, yaitu Ilmu Kasampurnaan yang artinya mengenal “Sangkan Paraning Dumadi” (orang yang mengerti tentang makna, arti, tujuan kehidupan ) dan mengenal Gusti Allah hanya Satu (MANUNGGAL) atau Tunggal, disebut juga Gusti Panggeran yang Agung. (Agung=Hebat tidak ada duanya).
Sehingga leluhur kita dulu masih terjebak dan bergantung dengan Zat selain Tuhan demi terwujudnya cita-cita yang bersifat keduniawian.Raja-raja kita (khususnya di Tanah Jawa) walaupun telah mengenal jalan Ilahi (agama) mereka masih menggunakan Khodam (pembantu) dari bangsa makhluk halus (jin).Dan tentu semua itu tidaklah gratis, diibaratkan orang yang teken kontrak, sipengontrak tentu akan memberikan imbalan bagi yang dikontrak sesuai perjanjian. dan bukan salahnya yang dikontrak apabila suatu saat dia berbuat sekehendaknya karena sipengontrak dengan tidak sengaja atau sengaja sering mengkianati perjanjian.
Sama seperti manusia pada umumnya, semua orang butuh kerjasama dengan yang lain, atau butuh partner (seperti butuh suamu atau istri), dan manusia itu juga Zat (kalau mau pakai sebutan itu). Bahkan Nabi-nabi semuanya membutuhkan kerjasama dengan mahluk lain (Salaiman/Salomo) atau Nabi Jawa (Kyai dan Nyai) juga demikian adanya, bekerjasama dengan Malaikat (sebutan agama), para kudus, Para Kadang Sinarawedi Sejati (sebutan Jawa). Lalu apa mafaatnya bagi mereka kalau mereka sudah suci masih kerjasama dengan Mahluk lain? inilah yang disebut dengan KEMANUNGGALAN, Nabi tidak pernah mengajarkan egois untuk diri sendiri yang menjadi Suci, tapi kerjasama ini adalah untuk mensucikan mahluk lain juga. Maka kerjasama jangan diartikan dalam pegertian selalu mencari pesugihan dan kekuasaan, tapi yang disini dibahas adalah kerjasama dalam Kemanunggalan Kawula Lan Gusti dan Kemanunggalan Kawulan Lan Sesami Gesang.
Saya hanya urun rembug dan berpikir, bukankah kita ini makhluk yang diciptakan oleh Tuhan dengan penuh kesempurnaan.Sehingga tuhan menugaskan kita turun kebumi untuk menjadi khalifah (pemimpin) seluruh makhluk termasuk didalamya bangsa jin
JIN adalah sebutan dalam bahasa agama, tapi tidak selalu itu sebutannya. dan menjadi Khalifah (dalam Jawa Menjadi Aji Soko) itu untuk semua Mahluk (termasuk Malaikat sekalipun), bukan hanya bangsa atau mahluk tertentu saja.
Seperti yang telah dicontohkan oleh jujungan kita Muhammad S.A.W. dan Isa (Yesus) Putra Maryam.Orang yang telah mampu mencapai tataran Manunggaling Kawulo Kelawan Gusti (Wahdatul Wujud, Wahdatul Syuhud) adalah orang yang hanya bergantung kepada Tuhan. Sifat 20 telah mereka optimalkan sebagai kodrat dari Tuhan, Kata-katanya, gerak tanganya, kakinya, tajam matanya, pendengarannya, semua telah digerakkan Robbulallamin (Tuhan Semesta Alam) karena mereka telah mencapai derajat fana dari sifat manusia dan lebur dalam Khasanah Tuhan.(MANUNGGALING KAWULO LAN GUSTI).
Matur Nuwun, monggo kita diskusikan.
Ki Gebang
samudro berkata,
Oktober 28, 2008 pada 9:56 am
menurut saya lagi lho yaa.. ini juga guyon, sangkan paraning dumadi itu, adalah step awal untuk menjadi manusia sejati / sejatining manungso, ibarat dalam kehidupan normal, lahirnya sang ponang jabang bayi ing ngaryo podo. Eyang ratu itu bukan lelmbut, akan tetapi suatu pasemon dari Pinandhito ratu noyo genggong sabdo palon untuk menyembunyikan suatu kunci pengetahuan mengenai alam semesta dari tangan yang salah, sabdo pinandhito ratu noyo genggong sabdo palon artinya ketentuan seorang raja dan juga sebagai brahmana juga seorang petapa dalam kehidupan. sifat dua puluh itu masuk dalam ranah sikap dan tindak tanduk kita dalam kehidupan sehari hari yang merupakan refleksi dari sang kaisar kehidupan dalam menata alam semesta, dan itu sudah seharusnya terjadi kalau memang mengaku bernama manusia, liane kuwi yo awujud jalmo kang titip roso ning kandutane manungso, dadi bleger manungso ning isine jalmo, kang ngundi undi aran sampurno, bila sudah mengerti dan mampu menjalankan baru dia akan menginjakkan kakinya pada sangkan paran ning dumadi, yang artinya kita berasal dari mana, akan kemana, bagaimana kita berintraksi langsung denganNYA sehingga kita memahami bagaimana gelar jagad yang sesungguhnya, atau yang mungkin dikenal dengan gumelare jagad buono, sehinnga kita menjadi orang yang winasis, atau weruh sak durunge winarah, sehingga kita bisa mengetahui apa yang akan terjadi dan bagaimana proses terjadinya dan pemicunya apa, kita bisa mengabarkan berita itu kepada sesama, bagi yang sepaham dia akan mengiyakan, bagi yang tidak sepaham dia akan mencela. itu sedikit kisah mengenai jongko joyoboyo dan cinde sengkolo yang kemudian dikenal dengan buku zaman. ajisoko juga demikian pula itu bahasa zaman atlantik yang dikemas dalam sebuah budaya, seperti kalijogo mengemas islam untuk mengambil hati rakyat, yang sebenarnya itu juga mengenai proses penciptaan manusia dan alam semesta dari cahaya, sehingga ada kisah mengenai alam wung wang / metafisikka / geauatmosfer dan geaufisikka, semua itu nyata bahkan tuhan sendiri pun nyata, kadang sederek sedanten ngapunten, menawi kulo lepat, yen main gundu ugo sering luput, jenenge ae manungso kang kebak marang pulut, iki ugo guyonanku ojo ono sing ngamuk maneh lho yo…., ojo metentheng yen ngwedar karo cangkrukan kan enak dibandingno yen engkel engkelan, ngwedar karo gumuyu kan enak opo maneh ono koncone wong kang ” ayu “. ngwedar karo roso piker ojo karo nepsu ing piker, ojo dumeh, lak ngono yo cak hidayat.., poro sesepuh lan pini sepuh ing blok mriki, monggo diwedar babagan ki gebang nganti sarehing manah, ben kawedar kasampurnan logika, dekatilah tuhan dengan ilmu pengetahuan yang kita jalani sehari hari dan buktikan bahwa kita adalah yang terpilih untuk menjadi kekasih sang terkasih, rahayu rahyu ning tyas.
hidayat berkata,
Oktober 28, 2008 pada 11:05 am
rahayu…
betul mas samudro mari bersama-sama berdiskusi…..
sambil guuyonan sante…. lotong(beruntung) ketemu konco-konco ngeneiki
saya pelajari dulu tulisan mas samudro… dan pak Ki gebang.
pak Ki Gebang itu kayaknya pak tentara… merdeka pak
bersatu selalu kami jaga pak….. tepuk tangan
narkoba…no,,,,, bercerai berai no…. bersatu yes…. jaya yessss
nuwun
wass wb
petrukkantongbolong berkata,
Oktober 28, 2008 pada 9:02 pm
Katur Dumateng Mas Samudro.
Rahayu. Nyuwun agunge samudra pangaksomo saderenge Taklim
kawullo dumateng panjenengan Tepangaken kawulo saking Tlatah Blitar
nopo kulo dikeparangaken mangertosi alamat paling mboten
no telp nipun yen pareng. Kulo ngrumaosi bilih dados piyanton jowo
kok mung diundomono cobi blangkon, sorjan, udeng konotasi masyarakat
dukun malah inkang ndadosaken dodo muntab lir kinetab wonten media
baik cetak nopo tv pokoke ingkang ndamel ageman jawi mesti meniko dukun
ingkang ndamel kancintrakane liyan nggeh sampun mas kudu sugih sabar
nanging kanggene kawulo poro kanoman inggkang nyobi mblajari boso
Jowo & budi pakerti wonten sd radi susah pitakone murid bab Kejawen sputar perdukunan sebabg ingkang ditingali wonten media kok elek kemawon nyuwun duko nopo ingkang kudu dilakoni
PAGANESIA FRONT berkata,
Oktober 29, 2008 pada 6:17 am
Mas Hidayat silahkan baca respect kita diatas….
jangan sok bener dan jangan sok ngerti
kita semua disini belajar dan mencari…
kami bangga sebagai orang jawa yang kaya akan budaya…
yang gak ada tandingannya….(bagi kami)
contoh :
lihat dari segi bahasanya (Ngoko.Kromoinggil,dsb.. msh banyak lagi)
belum lagi letak geografisnya…..!!!
panas gak panas,dingin pun gak seberapa dingin
tanahnya subur makmur,mampu ditanami apa saja (yang jelas gak GERSANG,BERSALJU dan BERPASIR/GURUN)
dari segi genetis orangnya… sanggatlah.. sempurna..
tingginya cukupan….
hidungnya juga pas.. alis gak mancung….
kulitnya juga gak terlalu putih/merah/coklat/hitam
prianya tampan…..
wanitanya cantik….
benar2 Tuhan YME tlah menciptakan orang jawa begitu sempurna…..
apa tidak pantas kalo kita sebagai orang jawa bangga..
kalo anda gak suka kami bangsa/ras jawa berbangga,silahkan anda enyah dari links ini.
karena tempat ini didedikasikan buat para rekan yang bangga dengan kebudayaan dan bangga bahwasanya sudah diciptakan sebagai orang jawa tulen… yang gak.. terkontaminasi paham2/budaya/agama/kepercayaan bangsa asing/impor..
salut buat yang buat links ini (mas kumitir)….
anda dan rekan2 yang sudah berpartisipasi disini adalh orang2 yang nasionalist… benar2 tau hakekat anda sebagai orang jawa….
ENYAH KALIAN YANG AKAN MEMBUAT RUSAK TANAH JAWA INI….
BIAR KAMI HIDUP TENTRAM MENJALANKAN ADAT,SEBAGAIMANA YANG DIAJARKAN LELUHUR KAMI….
TANAH INI SUCI…. BAGI KAMI….
Djawa'ni berkata,
Oktober 29, 2008 pada 6:25 am
wong jowo kok wassalam….!!/’;24???
wes minggat to ae tekok kene……….
PAGANESIA FRONT berkata,
Oktober 29, 2008 pada 6:38 am
Buta Locaya marah lagi.
” Tuan ternyata orang jahil, patung yang masih baik dirusak tanpa alasan.
Kini menjadi jelek.
Padahal patung itu karya Sang Prabu Jayabaya.
Apakah hasilnya bila tuan merusak patung itu ?”
” Patung itu kurusak agar tidak disembah banyak orang, agar tidak diberi
sesaji dan diberi kemenyan.
Orang yang memuja berhala itu kafir, rusak lahir batin.”
Kata Buta Locaya,
” Orang Jawa kan sudah tahu bahwa itu patung dari batu yang tidak berdaya
dan berkuasa.
Bukan Tuhan, maka mereka layani.
Diberi nyala kemenyan, diberi sesaji, agar para hantu tidak menempati tanah
dan kayu yang dapat menghasilkan untuk manusia.
Para hantu mereka tempatkan di patung itu, lalu tuan usir ke mana ?
Telah lazim setan tinggal di gua, arca, dan makan bau-bauan harum.
Bila menyantap bebauan harum, hantu akan merasa nyaman.
Lebih senang lagi bila tinggal di patung yang utuh.
Di tempat sepi dan rindang atau di bawah pohon besar.
Mereka menyadari bahwa alam halus berbeda dengan alam manusia.”
Sunan Bonang Khilaf
Buta Locaya berkata,
” Nabi itu kan manusia kekasih Tuhan ?
Mendapat wahyu agar pandai.
Awas penglihatannya, mengetahui hal-hal yang belum terjadi.
Sedangkan yang membuat arca Batu adalah Prabu Jaya Baya, kekasih Tuhan pula,
mendapatkan wahyu mulia.
Dia pun pandai dan kaya ilmu.
Awas penglihatannya, mengetahui hal-hal yang belum terjadi.
Tuan perpedoman kitab, orang Jawa pun berpedoman petuah dari para
leluhurnya.
Sama-sama menghargai kabar, lebih baik menghargai kabar dari leluhur sendiri
dengan peninggalan masih bisa disaksikan.
Pulau Jawa ini tanah suci dan mulia, dingin dan panasnya cukup.
Tanah berpasir murah air.
Apa saja ditanam dapat tumbuh.
Pria tampak tampan, wanita kelihatan cantik, serba luwes tutur katanya.
Bila tuan ingin melihat pusat dunia, yang hamba duduki inilah adanya.
Silakan tuan ukur.
Seandainya tidak benar, pukullah.
Yang membuat arca itu adalah tuanku Prabu Jayabaya.
Dapatkah tuan menebak sesuatu yang belum terjadi ?
Sudahlah, hamba persilakan tuan pergi dari sini.
Bila menolak akan hamba panggilkan adik hamba dari Gunung Kelud.
Tuan akan kami keroyok.
Dapatkah tuan menang ?
Lalu akan hamba bawa ke dalam kawah gunung Kelud, apakah tuan tidak susah ?
Inginkah tuan tinggal di Batu seperti hamba ?
Mari ke Selabale menjadi murid hamba.”
Tekat tuan kotor, suka mengganggu dan menganiaya.
Tampak di sini masih sering melakukan kesalahan menentang adat, menentang
agama, merusak kebaikan, mengganggu agama leluhur.
Tuan dapat disiksa dan dibuang.”
ki gebang berkata,
Oktober 29, 2008 pada 6:58 am
Terima kasih atas komentar Kadang Samudera ingkang wicaksana. Komentar ini sekaligus menambah wacana tentang Kanjeng Ratu Kidul ditinjau dari aspek filosofisnya. Sementara keyakinan bahwa Kanjeng Ratu tetaplah sebuah predikat umum dan ada. Dari kacamata ontologis; bukankah keyakinan, mimpi, angan-angan tetaplah ada? Sama seperti adanya batu, kerang dan pohon yang bisa diraba dan dicerap dengan tangkapan yang dipercaya? Jelas, derajat dan kepadatan eksistensinya berbeda.
Bolehlah saya melamun, lantas siapa yang menciptakan keyakinan bahwa kanjeng ratu kidul itu raja lelembut ya? Apakah itu hasil rekayasa akal pikiran manusia setelah menghadapi dirinya tidak berdaya melawan alam? Atau kekuatan adikodrati yang memaksa akal sehatnya untuk menyerah dan kemudian mempersonifikasikan kekalahannya itu dalam bentuk khayalan? Saya kira, pola pikir yang seperti itu boleh-boleh saja. Toh, kita semua adalah manusia yang bebas untuk memberi penafsiran. Dan untungnya penafsiran Kadang Samudera itu sangat-sangat positif dan menunjang keyakinan kita untuk hidup dengan akal sehat (common sense)
Keyakinan bahwa Kanjeng Ratu Kidul adalah lelembut dan keyakinan-keyakinan lain menurut saya memang sudah perlu diinterpretasi dengan cara pandang yang lebih positivistik dan pragmatis. Apalagi di era postpodernisme begini…. Lebih baik berpikir bagaimana agar negara kita tidak ikut tercebur terlalu dalam karena krisis ekonomi jangka panjang.
Meskipun begitu, bolehlah saya menceritakan sedikit tentang dunia metafisika “terapan” bahwa Kanjeng Ratu Kidul itu menurut saya benar-benar makhluk Tuhan Yang Maha Kuasa dari jenis yang berbeda dengan manusia. Keyakinan ini didasari sebuah pengalaman yang terjadi sekitar tahun 1995, atau 13 tahun yang lalu saat saya menimba ilmu di Bulaksumur, Yogya. Di suatu siang, saya pernah bertemu dengan Kanjeng Ratu di sebuah penjelajahan spiritual Dan sukurlah, setalah itu kami berteman untuk sekedar berdiskusi tentang segala hal….
Terima kasih….
hidayat berkata,
Oktober 29, 2008 pada 10:16 am
rahayu…..
… 
untuk@pagenesia… jawa kok sok, ungggul
sok banngga ” jawa / sms dari siapaaa ituuuu heeeee”?
……………. ini tullisannya ” kami bangga sebagai orang jawa yang kaya akan budaya…
yang gak ada tandingannya….(bagi kami)
contoh :
……………………………..
dari segi genetis orangnya… sanggatlah.. sempurna..
tingginya cukupan….
hidungnya juga pas.. alis gak mancung….
kulitnya juga gak terlalu putih/merah/coklat/hitam
prianya tampan…..
wanitanya cantik…
untuk @Djawa’ni:
orang jawa kok eenggak boleh bilang “Wassalam”
orang jawa kok egois….sombong, fanatik gitulllll jawae opo kui…
wass wb
sabdalangit berkata,
Oktober 29, 2008 pada 10:38 am
Sugeng tetepangan kalian pro kadhang kadeyan, ingkang dahat luhuring budi…
PERTAMA;
perdebatan adalah wacana diskusi atas dasar nalar, akal budi, rasio.
KEDUA;
agama adalah dogma; dalam filsafat teologi, dogma tak bisa diperdebatkan; karena dogma berdasarkan irasio, yang hanya untuk diyakini saja. jika diperdebatkan akan menjurus ke perdebaan “kusir” karena masing2 atas dasar perasaan. PERDEBATAN AGAMA HARUS JELAS BATASANNYA, PERDEBATAN AGAMA DALAM WILAYAH RASIO HANYA MENTOG DALAM RUMUS SILOGISME DAN BERJUNG PADA KEBENARAN POSTULAT, misalnya air itu dingin. api itu panas. tuhan itu tidak tampak.
PERDEBATANNYA BUKAN SOAL KEBENARAN YG BERSIFAT ILMIAH MELALUI EPISTEMOLOGI DAN TELEologi.asal-usul ilmu pengetahuan dan cara mencari asal-usul itu sendiri.
maka perdebatan tidak bisa saling menyalahkan, apalagi dengan satu klaim bahwa “inilah” y paling benar dan anda yg salah/sesat. KESESATAN ITU TERWUJUD JIKA NYATA-NYATA TELAH MENODAI MARTABAT HAKEKAT KEMANUSIAAN dengan bentuk tindakan/perbuatan merusak/menghancurkan/menistakan. mana ada aliran dan agama yg sesat??? karena A=tidak, GAMA=kacau. yang ada hanya ada dua pilihan : kategori agama atau non agama.
MARI kita semua renungkan dengan hati yg bersih, sikap netral, pikiran yang rasional, jiwa yang bening.
pertanyaan berikut YANG TAK PERLU ANDA JAWAB.
1. TUHAN; BERBEDA DENGAN MAKHLUK ! tentunya tuhan adalah Dzat tak berwarna, tak berbau, tak berwujud, tak bernama, tak berbentuk, tak berawal, tak berakhir.
LANTAS MENGAPA TUHAN PUNYA NAMA, SIAPA YG MEMBERI NAMA ?
2. TUHAN ITU BUTUH AGAMA ATAU TIDAK ? apakah Tuhan yg membuat agama ? jika tuhan tak butuh agama, lantas siapa yg membuat agama ?
3. MENYEMBAH TUHAN ITU WAJIB, tapi tuhan TAK RUGI jika MANUSIA SEJAGAD TAK MENYEMBAH TUHAN. siapa yg mewajibkan ?
apakah kita yg mewajibkan atas kesadaran bahwa kita berhutang puluhan kenikmatan Tuhan dalam setiap detiknya, atau TUHAN YG TAK RUGI DISEMBAH itu, YANG MEWAJIBKAN manusia menyembahNYA ?
4. Untuk yg melaksanakan puasa ramadhan; DIKATAKAN BAHWA “SELAMA BULAN SUCI, SETAN DAN JIN DIBELENGGU”. siapakah yg membelenggu ? apakah Tuhan yg membelenggu atau kita sendiri yg membelenggu setan itu ?
MENGAPA DALAM BULAN SUCI tetap ada pembunuhan, perkosaan, maling, kecu, begal, copet, rampok, koruptor..?
MENGAPA DALAM BULAN SUCI ada saja kejadian orang melihat penampakkan makhluk halus; jin, ilu-ilu, demit (ra ndulit), setan (ra doyan), wedhon/pocongan, gembung, thethekan, luuur progg, wewe domble, jaran toleh, gendruwo, banaspati, jlangkrong, keblak, kemamang, glundung/gundul pringis, glundung prongos…(yg ini ngawur)…??
5. yg dimaksud setan lebih dekat dengan nadimu…apakah setan itu dalam wujud makhluk halus, atau setan itu DALAM WUJUD NAFSU ANGKARA KITA SENDIRI yg bersemayam di hati?
6. jika hanya ada satu agama yg benar; mengapa umat dari semua agama, pernah merasakan Tuhan begitu dekat, merasa pernah mendapat mukjizat atau wahyu, merasakan doa nya dikabulkan Tuhan ??
7. apakah seseorang dijamin masuk syurga karena tepat menyebut nama Tuhannya misalnya; Allah, Alloh, Allih, Tuang Allah, God, Tuhan, Hyang Widhi, Gusti, Pengeran. dan masuk neraka gara-gara tidak menyebut nama-nama Tuhannya seperti dalam daftar nama-nama Tuhan di atas ?
SEMOGA DAPAT MENJADI BAHAN REFLEKSI DAN KONTEMPLASI YG MENDALAM. DAN TENTUNYA UNTUK MENINGKATKAN KEIMANAN KITA BERANGKAT DARI KEJERNIHAN HATI NURANI & KEBENINGAN JIWA.
http://sabdalangit.wordpress.com “UPAYA MANUSIA NGGAYUH KAWICAKSANANING GUSTI”
Petrukkantongbolong berkata,
Oktober 29, 2008 pada 7:26 pm
Katur Dumateng Mas Hidayat Matur Nuwun Kritikipun mugi Kabecikan lan
kabeneran mung kagem panjenengan. Dumateng Pagnesia mugi sugih pangapuro nggih sedoyo wonten wekdale kok mas Nandur Bakale ngunduh
katur Dumateng Kang Mas Sabdo Langit Matur nuwun sanget Kawicaksananipun saged nggademake manah & pamikir sahinggo
saged nggayuh bebuden ingkang luhur.
PAGANESIA FRONT berkata,
Oktober 30, 2008 pada 3:36 am
PANDANGAN HIDUP JAWA
Istilah “Pandangan Hidup Jawa” di sini mempergunakan pengertian yang longgar, jadi istilah ini dapat saja diganti dengan istilah-istilah lain yang mempunyai arti yang kurang lebih sama, seperti “Filsafat Jawa” (Abdulah Ciptoprawiro) “Filsafah Kejawen” atau istilah lain lagi. Tetapi pandangan hidup Jawa, ini tidaklah identik dengan “Aliran Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa” atau “Islam Abangan” atau “Mistik Jawa” dan lebih-lebih dengan “ilmu-ilmu klenik”. Sementara itu beberapa istilah lain seperti “Agama Jawa” atau “Agama Jawi” (Koentjaraningrat), “the religion of java” (Clifford Geertz), dan lain-lain. Itu tidak identik dengan “Pandangan Hidup Jawa” sekalipun terlihat adanya beberapa segi persamaan.
Pandangan hidup Jawa bukanlah suatu agama, tetapi suatu pandangan hidup dalam arti yang luas, yang meliputi pandangan terhadap Tuhan dan alam semesta ciptaan-Nya beserta posisi dan peranan manusia di dalamnya. Ini meliputi pula pandangan terhadap segala aspek kehidupan manusia, termasuk pula pandangan terhadap kebudayaan manusia beserta agama-agama yang ada.
Dengan meminjam istilah Bung Karno dalam pidato lahirnya Pancasila, pandangan hidup di sini adalah sama dengan Weltanschauung, yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1989:1010) diberi arti sebagai “Sikap terhadap kebudayaan, dunia dan hubungan manusia dengan alam sekitarnya, serta semangat dan pandangan hidup terdapat pada zaman tertentu”. Jadi selain jelas bahwa pandangan hidup Jawa itu bukan suatu agama, jelas pula bahwa ia pun tidak identik dengan “regiositas Jawa”, karena cakupan pengertiannya lebih luas dari pada itu.
Berbeda dengan pendapat sementara pakar yang menyimpulkan bahwa ciri karakteristik regiositas Jawa dan pandangan hidup Jawa bukanlah sinkretisme tetapi suatu semangat yang saya beri nama tantularisme. Saya namakan demikian karena semangat ini bertumpu pada atau memancar dari ajaran Empu Tantular lewat kalimat kakawin Sutasoma:
Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa, bermacam-macam sebutannya, tetapi Tuhan itu satu-tidak ada kebenaran yang mendua. Kalimat Empu Tantular ini jelas tidak hanya menekankan prinsip dan keyakinan tentang Keesaan Tuhan tetapi juga keesaan kebenaran! Disitulah letak semangat tantularisme yang merupakan inti pandangan hidup Jawa. Semangat semacam ini menjiwai dan menyemangati tidak hanya religiositas Jawa saja tetapi juga semua unsur dan aspek kebudayaan Jawa. Sifat karakteristik budaya Jawa yang religius, non doktriner, toleran, akomodatif dan optimistik itu terbentuk secara kokoh diatas fondasi tantularisme ini.
Budaya Jawa dan pandangan hidup Jawa memang telah dan akan selalu mengalami perubahan dan pergeseran sesuai dengan perkembangan jaman. Tetapi sejarah telah membuktikan bahwa perubahan-perubahan itu selama tidak sampai mencabut pandangan hidup Jawa dari akar dan sumber kekuatannya, yaitu tantularisme, yang adalah juga merupakan kristalisai dari proses sejarah yang amat panjang. Disinilah letak kekuatan budaya Jawa yang harus tetap dipertahankan dengan sadar. Semangat tantularisme yang merupakan sumber kekuatan Jawa itu sebenarnya bukan hanya cocok untuk orang Jawa. Ia bersifat universal. Oleh karena itu tantularisme juga merupakan sumbangan yang sebenarnya amat diperlukan oleh umat manusia sekarang ini
Permusuhan dan perang antar etnik, persaingan, kebencian dan kecemburuan antar pemeluk agama yang telah mengorbankan beribu-ribu nyawa manusia yang senantiasa terjadi sampai sekarang ini, semuanya akan dapat diredam oleh semangat tantularisme yang damai, sejuk dan bernafaskan asih ing sasami. Tantularisme memancarkan cinta kasih kepada sesama, yang juga diajarkan oleh semua agama yang dipeluk oleh orang-orang yang membenci itu! Islam, Kristen, Hindu, Budha, Sikh, dan lain-lain, semuanya mengajarkan cinta kasih kepada sesama. Ironisnya sementara ini banyak pemeluknya saling membenci dan bermusuhan! Atas nama agama ?????????
PAGANESIA FRONT berkata,
Oktober 30, 2008 pada 3:40 am
Seperti telah disinggung di muka, kebanyakan pakar dan pengamat budaya Jawa berpendapat bahwa ciri karakteristik pandangan Jawa adalah sinkretisme. Namun cukup banyak pula pengamat yang tajam penglihatannya, meragukan kesimpulan semacam itu.
Pengamatan yang tajam akan dapat melihat bahwa kecenderungan yang paling menonjol dalam budaya Jawa bukanlah kecenderungan sinkretik yang berupa kecenderungan atau semangat untuk membangun suatu sistem kepercayaan (termasuk agama) baru dengan menggabungkan unsur-unsur yang berasal dari sistem-sistem kepercayaan yang telah ada.
Para pengamat yang menyangkal sinkretisme sebagai ciri karektistik pandangan Jawa itu, mencoba mencari istilah-istilah lain yang dianggap lebih tepat, seperti istilah mosaik (Abdulah Ciptoprawiro), coalition (Gonda) atau sekedar “Percampuran” atau Vermenging (Kern) istilah-istilah lain lagi yang juga dipakai oleh sementara pakar sebagai pengganti istilah “sinkretisme” adalah amalgamtion, blending, fusi atau fusion (peleburan) dan lain-lain.
Memang dalam pengamatan sinkretisme bukanlah ciri karaktistik pandangan Jawa, gejala sinkretisme dapat kita temui dimana-mana. Juga dalam berbagai agama yang kita kenal sekarang ini, bahkan dalam “A Distionary Of Comparative Religion” dinyatakan bahwa hanya sedikit saja agama yang benar-benar bebas dari sinkretisme. Di kalangan masyarakata Jawa, kecenderungan sinkretisme memang ada kecenderungan itu cukup besar, tetapi adalah tidak benar kalau disimpulkan bahwa sinkretisme adalah merupakan ciri karaktistik pandangan hidup Jawa, yang betul-betul merupakan ciri karaktistik menurut yang menurut pengamatan adalah semangat tantularisme itu.
Istilah “tantularisme” ini masih baru dan tentunya masih asing bagi para pakar budaya Jawa. Sekalipun istilahnya baru, tetapi sebenarnya tanturalisme adalah semangat yang sudah sejak jaman dahulu tumbuh subur dikalangan masyarakat Jawa. Berbagai istilah alternatif terhadap sinkretisme tersebut bisa dipersepsikan semangat yang terdapat di dalam dan merupakan ciri karetistik pandangan Jawa. Istilah-istilah tersebut terkesan hanya menunjuk pada bentuk dan proses yang terjadi, bukan pada semangat. Istilah-istilah tersebut juga tidak mampu menunjuk secara tegas perbedaan yang mendasar dengan sinkretisme.
Prof. J.H.C Kern telah menuangkan pendapatnya melalui karangannya “Over de Vermenging Van Civaisme en Buddhisme op Java, Naar aanleiding van het Oudjavaasch gedicht Sutasoma” hanya terpaku pada proses percampuran atau vermenging antar dua agama yang menjadi obyek penelitiannya, yaitu Civaisme (Hindu) dan Buddhisme.
Kebudayaan Jawa sebagai subkultur Kebudayaan Nasional Indonesia, telah mengakar bertahun-tahun menjadi Pandangan Hidup dan Sikap Hidup orang Jawa. Sikap hidup masyarakat Jawa, memiliki identitas dan karakter yang menonjol yang dilandasi dengan nasehat-nasehat nenek moyang sampai turun temurun, hormat kepada sesama serta berbagai perlambang dalam ungkapan Jawa, menjadi jiwa seni dan budaya Jawa.
Dalam ungkapan “Cacah Agawe Bubrah – Rukun Agawe Santosa” menghendaki keserasian dan keselarasan dengan pola pikir hidup saling menghormati. Perlambang dan ungkapan-ungkapan halus yang mengandung pendidikan moral, banyak kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari misalnya:
1. Aja Dumeh = Marasa dirinya lebih.
2. Mulat Sarira, Hangrasa Wani = Mawas diri, instropeksi diri.
3. Mikul duwur, mendem jero = Menghargai dan menghormati serta menyimpan rahasia orang lain.
4. Ajining diri saka obahing lati = Harga diri tergantung ucapnya.
Prinsip pengendalian diri dengan “Mulat Sarisa” suatu sikap bijaksana untuk selalu berusaha tidak menyakiti perasaan orang lain, serta “Aja Dumeh” adalah peringatan kepada kita bahwa jangan takabur dan jangan sombong, tidak mementingkan diri sendiri dan lain sebagainya yang masih mempunyai arti yang sangat luas.
Kepercayaan terhadap roh nenek moyang, menyatu dengan kepercayaan terhadap kekuatan alam yang mempunyai pengaruh terhadap kehidupan manusia, menjadi ciri utama bahkan memberi warna khusus dalam kehidupan religiusitas serta adat istiadat masyarakat Jawa. Yaitu: Sinkretisme, Tantularisme dan Kejawen yang bersifat Toleran, Akomodatif serta Optimistik.
Berbagai perlambang dan ungkapan Jawa, merupakan cara penyampaian terselubung yang bermakna “Piwulang” atau pendidikan moral, karena adanya pertalian budi pekerti dengan kehidupan spiritual, menjadi petunjuk jalan dan arah terhadap kehidupan sejati. Terkemas hampir sempurna dalam seni budaya gamelan dan gending-gending serta kesenian wayang kulit purwa yang perkembanganya mempunyai warna yang unik, yaitu dari akar yang kuat, berpegang pada kepercayaan terhadap roh nenek moyang, kemudian bertambah maju setelah mengenal serta menggabungkan segala bentuk kesenian dari India dan dan kesenian asli Jawa serta menjadi sempurna dengan menambahkan ajaran Islami di pulau Jawa.
Paham mistik yang berpokok “Manunggaling Kawula Gusti” (persatuan manusia dengan Tuhan) dan “Sangkan Paraning Dumadi” (asal dan tujuan ciptaan) bersumber pada pengalaman religius. Berawal dari sana, manusia rindu untuk bersatu dengan yang Illahi, ingin menelusuri arus kehidupan sampai ke sumber dan muaranya. Perumusan pengalaman religius Jawa dalam sejarahnya tidak lepas dari pengaruh agama-agama besar seperti Hindu, Budha dan Islam beserta dengan mistiknya yang khas, seperti terlihat dalam kitab-kitab Tutur, Kidung dan Suluk.
samudro berkata,
Oktober 30, 2008 pada 11:23 am
tuk mas petruk silahkan berkunjung ke web kami jowodwipo.com, mungkin akan mas temukan hal hal aneh disana, tapi itu khan juga mainan, aku senang mainan lho mas..hehehe
untuk saudara saudaraku semuanya, sudah jangan bertengkar, kita tidak tahu kebenaran itu seperti apa, karena menurut saya ada mata rantai yang putus disini, sehingga kita nggak bisa tahu kebenaran yang benar menurut sejarah yang sebenranya, makanya saya kemarin mengajak saudaraku semua untuk membaca buku zaman / cinde sengkolo, dimana kebenaran yang sebenrnya akan terungkap dan akan diketahui bagimana jalan cerita yang seungguhnya serta akan berakhir cara apa.
seperti yang dilakukan oleh bangsa inggris untuk mengungkap ilmu jawa dilakukan dengan cara melingkari sebuah lontar dan visiun yang muncul akan seperti apa didiskusikan antar para mediator, sehingga jadilah mereka negara bahari utama di dunia yang tidak boleh diremehkan kekuatannya.
seperti negeri belanda meskipun mereka neggara bawah laut, akan tetapi negara mereka merupakan negara dengan cadangan emas lantakan paling banyak didunia dan merekalah sebenarnya negara nuklir paling menakutkan , bukan karena emasnya akan tetapi karena sebelum jadi emas itulah mereka akan jadi uranium dan mereka punya kemampuan untuk memundrkan proses itu, trus akan jadi apa bila belanda memakai itu untuk perang.
sekarang kita lihat diindonesia, indonesia merupakan negara yang menjadi ajang ujicoba bagi kreasi dunia, indonesia merupakan bangsa yang mempunyai nilai sejarah tertinggi didunia, bukan china, akan teapi karena salah penempatan otak dan ati maka hancurlah sebuah seni kebudayaan yang tinggi di tangan generasi penerusnya. Kondom dibuang ke indonesia, karbon dibuang ke indonesia, khok..? coba dipikir, bila negara kita merupakan kawasan tropis dengan hutan yang banyak, maka secara teori geografi-atmosfer akan dituju oleh suhu yang panas dan membawa kandungan karbon dioksida serta bahan beracun yang lain menuju hutan indonesia, hutan semakin dirambah, semakin surut sumber mata air, penggalian batubara akan memnculkan sifat genetik baru dgn cara memunculkan penyakit baru, sehingga muncul mutan mutan dalam berpikir dengan cara berpikir yang serba instan dan ego yang tinggi, untuk saling berbenturan dan memunculkan suhu atmosfer antar manusia meningkat yang akan mengakibatkan bentrok antar frekwensi antar manusia, sehingga sifat we”ning” manusia akan hilang.
saudara saudaraku kita semua saudara dalam ikatan apa yang kita makan dari bumi pertiwi, untuk masalah akidah monggo diwengku piambak piambak ono sajroning ati ojo metu soko lati tapi metuo soko laku sing iso ndadekno kuwi ilmu, kabeh do elingo dununge ilmu kuwi lantaran soko laku.
sedikit aja akan saya ungkap dari pengetahuan saya, supaya web kang kumitir tidak kebakaran karena ego saudara saudaraku semua, nyuwun sewu kang mengku tanah jowo, kang putra bade wedar kahananing jagad wung kagem poro putro wayah mugi saged sareh manahipun lan gumuyu pungkasipun.
nama jowo, apa itu jowo dan kenapa disebut jowo itu sendiri akan saya ungkap di web kami, malu saya sama kadang kumitir. para raja jawa dulu pertama kali brangkat dengan tujuan untuk menaklukkan dunia dgn sumpah palapanya, brangkat dari trosobo dan penaikan bendera gulo klopo di desa sajen pacet, sampe sekarang situs ini masih ada, brangkat pertama kali menuju okinawa jepang, ming teo tek tuhu atau sering disebut kaisar ming itu adalah BW I / atau sering dikenal Gajah Mada, BW II berkerajaan di bangalore India, BW V ada selat malaka, malaysia.
nah saudara saudaraku bisa jawab nggak, kenapa bangsa bangsa dunia sepakat untuk menggunakan abjad a.b.c.d sebagai bahasa komunikasi yang kemudian digabung dengan bahasa adat mereka, sehingga berasimilasi dan jadi bahasa baru.
siapakah sebenarnya rakyat yahudi, dan kenapa mereka tidak mempunyai negara,…..? siapakah dia…?
ada mata rantai yang hilang, yang memang belum saatnya untuk ditsambung lagi, tapi pasti ada saatnya untuk itu. saudara saudaraku itu akan menjawab semua pertanyaan saudaraku semua, apa itu islam, kristen, hindu budha, tao, konfusinism, atheis, dan sekali jangan bertengkar diagama apapun nabinya akan melarang pertengkaran, jangan bertengkar lagi, kita belum merdeka cobalah sadari itu, bagi mereka yang memang mempelajari adat adat setempat baik jawa ataupun yang lain, anda memang sudah kami tunggu untuk kembali menyejukkan dunia dengan canda dan tawa bukan idealismi kotor yang memihak, alam semesta ini hanya milik tuhan / allah, karena dengan keterbatasan manusia berpikir hanya sebutan itu yang pantas untuk diamini oleh seluruh unsur kehidupan, siapakah yang sudah pernah mengenal tuhan, tuhan beragama apa, memang sekarang tuhan sedang ngapain, tuhan itu laki atau perempuan, kalu gitu dia buang hajat bagaimana kalau gak jelas, pertanyaan itu sudah terlalu sering saya dengar.
saudaraku kita kembali lagi, lakukan tugas kita dengan sempurna, sebagi sang kholifah, pada saat tuhan menitipkan dunia ini, yang dititipi sebelum manusia adalah alam itu sendiri, karena dialah kunci kelestarian kehidupan, tapi alam menolak dan menawarkan kemanusia dan manusia menyanggupi, dgn dalih manusia adalah yang tersempurna, jawab saya… ya…kebodohan manusia memang sangat sempurna, sehingga mereka mencari jalan untuk kembali ke kodratnya menjadi adikodrati / insan kamil dengan jalan mengenali sangkan paraning dumadi.
saudaraku jangan terlena karena pengetahuan yang kita bawa, kita ibaratnya sepermilyar gram debu diantara padang pasir, ojo dumeh, ojo rumongso iso, ning iso’o rumongso, ojo mbedah dodo ning mbedaho wasono, ojo ngajar nganggo lati ning ngajaro ngganggo ati.
jadilah manusia alif atau dalam bahasa jawa sering disebut sifat ing ngarso sung tulodho ing madyo mangun karso tut wuri handayani, eling lan waspodo, ojo ninggal tlapak ning ninggalo tapak, ojo ninggalno rogo ning ninggalo asmo.
banyak dari kita yang tidak mengetahui peninggalan peninggalan leluhur, monggo lungguh sing jenak, pikir ditoto, roso diunggahno, gumuyu marang sakpodho, iku sing jenenge jowo, melalui situs kadang kumitir iki monggo dihargai karyane sing wis ngumpulno kidung lan suluk kang kececer, didadekno karyo nyoto kanggo sakpodho mungguh jumbo marang mawayu hayu ning bawono, mawayu yang artinya dibawah naungan, hayu yang artinya hidup ning artinya noto indro kadyo ra ono opo opo bawono artinya jagad cilik lan jagad ageng, yang berarti menselaraskan seluruh unsur kehidupan dalam diri ini dengan alam semesta sehingga mencapai kesempurnaan kehidupan seperti disurga, kalau semua sudah selaras dengan alam adakah yang akan saling memaki, adakah yang saling menonjolkan diri disinilah letak esensi ketuhanan menurut saya dan itulah bukti bahwa tuhan itu ada, kalau masih rame ya berarti tuhan belum ada dalam diri manusia, yang ada adalah mamalian brain yang berusaha bertahan hidup dan eksis dan ingin disebut manusia.
ngapunten menawi terlalu panjang nggak usah diperpanjang lagi, mari kita kumpulkan serpihan yang berserakan menuju negara adi daya kang aran mercusuar dunia, kita jangan terlalu sempit berpikir lebih baik kita cari prawan yang legit, sing ndadekno merem melek ngono iku jareno gatjoloco, lelananging jagad, kekekkekekekekekek
rahayu
hidayat berkata,
Oktober 30, 2008 pada 12:36 pm
rahayu…

untuk pak@petrukkantongbolong, terima kasih nasehatnya…
ngapunten kritik kulo …
@samudro …. bener niku ke kek kek
@pagenesia…. kui tulisan opo kebanyakan? aku gak ngerti
wass wb
samudro berkata,
Oktober 30, 2008 pada 3:46 pm
kalau sudah mengerti akan dununge sangkan paraning dumadi maka yang terwujud adalah peri kehidupan yang (ponco)silo) atau dikenal dengan pancasila ( ponco ) yang berarti adalah 5 atau dalam istilah jowo sering disebut dulur papat limo pancer yang artinya kita harus bisa dan mumpuni jagad kidul, lor, etan, kulon ugo ngerteni sejatine sopo ingsun. dan silo yang bisa diartikulasikan adalah semedi, ning, yoga, patrap, tafakur atau apapun istilahnya untuk membuka mbun mbunan dan menyatu dengan alam (moyo)podo) atau menyamakan frekwensi diri ini dengan frekwensi alam semesta. mbun mbunan ini akan terbuka atau nat ini akan terbuka bila dia udah nguasai alam kidul yang bernama samudra pengetahuan tanpa batas, atau jagad lor kang kasebut jagad laku nisor lan nduwur, ugo jagad etan kang aran mangerteni lakuning urip ojo lali jagad kulon kang aran batese diri, ojo sombong, urip mung sak gebyare netro, sing paling penting iku kuat opo ora kang aran pancer kuwi ngudo roso ngupoyo upo ono ing ndonyo, yen kuat lan tetep iso gumuyu, bakal kang aran mbun mbunan kuwi mbuka naliko ning / semedi, yen wis ngono sing jenenge samubarang kang ora katon kuwi bakal ngisi opo kang ditakokne karo kang ning, tapi ojo salah suoro kang keprungu naliko ning kuwi kudu dijlentrehno nganti laku, laku ning laku lan laku ning ilmu kanti dumugi ilmu ning laku.
yen wis ngono manungso kuwi bakal cedhak karo alam semesta, utowo sering kasebut ing pewayangan aji wundri ulan jati, ilmu nyedot intisari alam semesta kepunyaan hanoman, lah kalo seperti itu gusti kang akaryo gesang pun bakale tresno lan asih marang (sari)ro) yang artinya intisari dari jiwa kita semua ( ro dalam bahasa jawa berarti aluse alus ) yaitu cahaya, kita kembali menyatu dengan sang pujangga kehidupan, yaitu kaisar alam semesta.
manungso jowo yen wis ngono iku sering disebut sakti yang berarti apapun kehendaknya selalu dituruti, karena kepandaiannya untuk berintegrasi dengan alam semesta, sehingga dia bisa jadi apapun dan dimanapun itulah yang disebut mpu (tan(tular) yang berarti dia mempunyai kemampuan yang tidak mencontoh orang lain akan tetapi kemampuan yang lahir karena suatu tuntutan kondisi dan alam semesta menyetujui, itulah ciri khas orang jawa. mereka selalu kembali ke kakak kandungnya yaitu alam semesta.
bila saudaraku sekalian melihat, bahwa ada orang obong menyan dan suguh untuk wit witan, biarkan karena mereka mengugemi kang aran samubarang kuwi kabeh karsane sing nggawe gesang, kudu di hormati lan gak oleh gawe cidro marang sak podho ciptoane sing kuoso, semua ini adalah ciptaaan tuhan bahkan batu sekalipun, karena mereka tersusun dari ribuan partikel dan partikel ini terdiri ari sub atom yang hidup dan gerak menurut kehidupan mereka sendiri.
dari situ lahirlah wong jowo sing welas asih, ape nebang nuwun sewu, ape mindah watu nyuwun sewu, karena takut salah dan cidro marang sak podho ciptoane sing kuoso, kehalusan budi inilah yang disalah artikan oleh bangsa lain bahwa bangsa kita ini loyo, akan tetapi negara negara yang mengerti akan sifat asli orang jowo akan berpikir ulang, makanya negara ini dibikin carut marut dan oleh sebab itu, saya minta tolong banget nggak usah rame, mari kita gabungkan kemampuan kita dan saling mengisi untuk meraih kemerdekaan yang sesungguhnya, yaitu gemah ripah loh jinawi toto tentrem kertoraharjo, hanya ditangan para satria yang mengerti akan tujuan hidup lah yang mampu ndandani alam karena mereka mengerti kehendak alam dan mampu bernegosiaasi dengan alam.
wah ngecepret maneh aku iki….
kadang sedoyo ngapunten menawi lepat, kadang omonganku asall njeplak sing dadekno iso kualat, padahal aku mung pingin berkat.
hehehehheheheheheh
rahayu rahayu ning tyas mangudi pangastuti marang sasami
ass wr wb haleluya salom aum swasti astu lan sak karepku
hidayat berkata,
Oktober 31, 2008 pada 5:06 am
rahayu
@mas samudro “…saya minta tolong banget nggak usah rame, mari kita gabungkan kemampuan kita dan saling mengisi untuk meraih kemerdekaan yang sesungguhnya, yaitu gemah ripah loh jinawi toto tentrem kertoraharjo, hanya ditangan para satria yang mengerti akan tujuan hidup lah yang mampu ndandani alam karena mereka mengerti kehendak alam dan mampu bernegosiaasi dengan alam…..”
setuju mas mari bersatu…… bhineka tunggal ika…. berbeda-beda tetap satu juga saling hormat menghormati kata mas ciwabuddha.worpress
semangate “tantularisme”…. istilah iki wis suwi kawit jaman ra enak boss…
hidup mas samudro…. hore hore… =))
wass wb
embun berkata,
November 2, 2008 pada 9:34 am
wah2 mas hidayat pd bgt, kalo anda bener2 paham dan mengerti ajaran jowo tak jamin 100persen jatuh cinta…..di jawa ada damai,pokoknya nga bakalan kekurangan cintanya gusti allah…..mau bukti? silakan anda coba sendiri….. kalo mau sakti jg gampang sekali. kalo anda bener2….. buat mas paganesia,, yang sabar ya….biar tambah di sayang allah…. salam kenal buat semuanya…..
hidayat berkata,
November 2, 2008 pada 11:47 am
rahayu…
benar Mas Embun.. saya pelajari terus ajaran jowonya…
Mas Paganesia Front sedang sibuk… dan sembunyi..wiiiii
salam kenal Mas Embun juga dari saya….
wass wb
embun berkata,
November 3, 2008 pada 5:46 am
rahayu…….eh embun itu cewek lhoo…..masi 23th lagi cari colon suami syaratnya ganteng sing penting berkepribadian jowo……..mas kumitir maap ya…. numpang promosi.
n-toeb berkata,
November 3, 2008 pada 3:57 pm
kang ga ono ta terjemahane boso indonesia merga’no aq kurang paham lek jowo kabeh
noroyono berkata,
November 3, 2008 pada 7:54 pm
rahayu
sugeng tetepangan sedoyo kadang lan pinisepuh ing forum meniko
mugi-mugi laladan meniko saged dados cikal bakale kabudayan jowo kang adiluhung saged sumrambah bali koyo wingi wuni.
monggo dumateng poro kadang saged tukar kawruh lan ora podo padu bab perkawes jawi, sebab jowo lan ora meniko dununge mung eneng roso ora eneng rogo. piyantun jowo meniko kebak ing welas lan asih, mligi ne mung memayu hayuning bawono, inggih bawono alit lebih-lebih bawono kang ageng.
dumateng diajeng embun menawi ajeng ngupadi dununge calon sisihanepun geneyo kawulo inggih sumadyo dados lantaranipun.
kapribaden jawi ingkang kados pundi ingkang dipun ayahi kalian diajeng embun.
matur nuwun.
rahyu…rahayu..
santi
hidayat berkata,
November 4, 2008 pada 1:15 pm
rahayu……

untuk mbak embun…
“pring kuning mas mangklung neng kali, sopo wonge ra pingin nyeklek, lencir kuning mas mangklung neng ati sopo wonge ra pingin ngepek..”
( bambu kuning mas condong ke sungai , siapa orangnya enggak ingin nebang, tinggi berkulit kuning mas condong ke hati siapa orang enggak pingin memiliki)
mas paganesia lho mbak orangnya ngerti banget soal jawa..
wass wb
air77 berkata,
November 5, 2008 pada 1:32 am
blog yg bagus…perkenankan saya untuk menyimak dan mempelajarinya…salam
greenday982 berkata,
November 5, 2008 pada 2:24 am
blog yang cukup menarik dan bagus…
terima kasih karena menyediakan banyak ilmu dan pengetahuan disini,
sukses selalu…..
lare dusun berkata,
November 5, 2008 pada 4:50 am
Rahayu… Kangmas alang2 kumitir, babagan ‘Pangracutan’ apakah ada yang lebih lengkap nggih ?? nuwun
lare dusun berkata,
November 5, 2008 pada 5:24 am
Apakah ada yang punya resep ‘cespleng’ untuk ngleremaken poncondriyo supaya ‘heneng-hening’?
Azmi berkata,
November 5, 2008 pada 12:10 pm
Sugen injang, sugeng siang, sogung sonten utawi sugeng dalu konco-konco sedoyo inkang sami2 belajar teng padepokan alangalangkumitir. Kulooo kuangeennn pol dateng poro sederek sedoyo. Sampun lami niki kulo boten sowan teng padepokan mriki.
Dumateng derek kadang sabdalangit:
Kulo ne’e ningali kang sabdalangit meniko ne’e mboten salah kang sabdalangit meniko tiyang filsafat.
Nyuwun sewu kulo bade tangglet rumiyen, derek meniko agamanipun nopo?
1. TUHAN; BERBEDA DENGAN MAKHLUK ! saya sangat setuju. Seperti halnya yang dilantunkan oleh (kalo gak salah) socrates, “semua benda yang diciptakan pasti tidak sama dengan yang menciptkan”, niki menawi ne’e mboten salah lohh.. begitu juga halnya dengan agama yang paling sempurno yang saya yakini, “laisa kamithlihi syaiun” menawi mboten lintu artinupun tidak ada satupun yang menyerupahi Allah. Salah satu yang diperlukan untuk membedakan antara Tuhan dan makhluknya maka dibutuhkan nama tersebut. Dan kalau ditanya siapa yang memberikan nama tersebut maka jawabannya adalaha Tuhan sendiri yang memberikan nama tersebut, sebagaimana yang telah disebutkan Ayat Al-Qur’an yang Insya Allah menawi mboten lepat “walillahil asmaul khusna”.
2. Yang jelas Allah tidak butuh agama dan tidak butuh disembah. Misalnya satu jagad ini semua mahluknya tidak ada menyembah Allah sekalipun Allah tetep Allah tuhan semesta alam. Agama itu disyareatkan. Kita lahir di dunia ini dalam keadaan fitrah, dan untuk kembali ke Allah dalam keadaan fitrah itu sendiri maka kita syareat yang membimbing kita supaya menjadi fitrah. Addiin yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad SAW. adalah addinul Islam yang paling sempurna diantara yang lainnya.
3. Memang sangat benar kalau Tuhan tidak butuh disembah. Dan yang mewajibkan adalah addiin yang mencakup hubungan antara manusia sebagai makhluk dengan Tuhan sebagai Al-Khalik.
4. Saya sangat yakin anda sendiri sebenarnya sudah sangat tahu betul antara syetan dengan jin, lu-ilu, demit (ra ndulit), wedhon/pocongan, gembung, thethekan, luuur progg, wewe domble, jaran toleh, gendruwo, banaspati, jlangkrong, keblak, kemamang, glundung/gundul pringis itu berbeda. Kalau misalanya masih ada orang yang melihat salah satu dari itu pada bulan suci Ramadhan adalah sangat mungkin. Sangat berbeda halnya dengan setan. Mugi-mugi kulo mboten salah maleh nggeehh..sebagaimana yang telah disebutkan dalam Al-Qur’an “Innassyaitona lakum aduwwun mubiin” jadi bentuk sebenarnya dari setan itu yaitu perwujudan dari sifat-sifat tercela manusia itu sendiri. Orang yang sudah benar-benar puasa, maka secara otomatis akan terbelenggu sendiri setan tersebut.
5. Nahhh .. meniko sampun dijawab teng atas.
6. Memang benar bahwa pada masa Nabi/Rasul itu yang membawa syareat agama itu menerima wahyu dari Allah, semua agama sebelumnya (yang dibawa oleh Nabi dan Rasul Ibrahin, Musa, Isa, Dawud) sebenarnya juga benar dan tetap menyembahnya cuman satu hanya pada Allah. Tetapi kenapa kok hanya ada satu saja agama yang paling benar, sebab agama (addin) yang terakhir yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad SAW. itulah yang paling sempurna dan mencakup seluruh agama sebelumnya. Dan kita wajib meyakini dan melaksanakan semua perintahnya serta menjauhi segala larangannya.
7. Persyaratan masuk syurga itu kan tidak cukup hanya menyebut asma-Nya. Tetapi sebagaimana persayaratan mendasar kita sebagai seorang muslim adalah “Laailaaha Illallah Muhammadurrasulullah”. Dengan demikian maka kita sudah wajib menyebut Rob kita Allah, bukan dengan sebutan yang lainnya. Dengan iman kepada Allah tersebut maka kita wajib menjalankan segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya.
Matur nuhuun..
Menawi wonteng lepate monggo dipun koreksi.
Wassalamualaikum.
==========================================
Azmi
Jama’ah Ponpes Al-Hidayah, Mbah Gepuk, Kutorejo, Mojokerto
Azmi berkata,
November 5, 2008 pada 12:34 pm
Kagem Kakang Mas PAGANESIA FRONT kulo sangat salut kagem panjenengan. Kulo setuju menawi ingkang sampun melekat dumateng darah tiyang njawi meniko disebut kale istilah “Pandangan Hidup Jawa”. Pandangan hidup Jawa bukanlah suatu agama. Dan selama pandangan hidup meniko tidak bersinggungan kalian agama Islam ingkang sampun disempurnaaken Insya Allah (mugi-mugi mboten lepat, lan misale kulo lepat mugi-mugi angsal pangapuro) mboten nopo-nopo dilaksanakno.
============================================
Azmi
Jama’ah Ponpes Al-Hidayah, Mbah Gepuk, Kutorejo, Mojokerto
sabdalangit berkata,
November 5, 2008 pada 4:45 pm
sugeng ndalu kadhang kumitir…lan sagung pro kadhang dahat minulyo….
sumoggo ingkang badhe ngersakaken ningali eksekusi pelaku bom bali,
saget sesarengan samangke jam 24.00 langsung pinanggihan wontening tlatah NUSAKAMBANGAN, menawi siyos kalaksanan eksekusi pejah dalu niki…
mohon doa, semoga sedikit terbuka rahasia ilmu Tuhan yg mahaluas,
menyaksikan peristiwa itu, kami berharap kebenaran, dan sejatinya kemuliaan hidup serta keadilan Tuhan dapat kami saksikan langsung..sambil berharap bentangan rahasia kematian org2 yg mengaku “mujahid” itu terkuak kenyataan gaib yg sejatinya…
MINIMAL, sedikit BERMANFAAT UNTUK menambah kawruh kasunyatan gaib dan sejatinya kemuliaan hidup ini.
Nuwun, rahayu ingkang sami pinanggih..
http://sabdalangit.wordpress.com
MENGINTIP “JATIDIRI” TUHAN
noroyono berkata,
November 5, 2008 pada 8:22 pm
kagem mas Ami lan PAGANESIA Front :
kulo kok radi ewet menawi sedoyo ingkang melekat ing diri ne tyang jawi kok panjenengan mastani “mung” pandangan hidup jawa. menawi pamanggih kulo babagan islam lan jawi meniko sampun jelas perbedaanipun, islam meniko “mung” agomo, tegese ageman kang kudu disandang. lajeng menawi bab jawi meniko ampun dados takdir kito, jowo meniko kedah dadi adeg-adeg lan kapribaden kito. menawi kita biso ngugemi dan ngayahi jowo kanti bener lan pener mesthi mboten bakal singgungan kalian bab lintunipun. agomonipun islam, kristen, hindu nopo budha, menawi agomo meniko dilakoni kanti pernatan ingkang leres lan kanti weninge penggalih kulo percados ora bakal nyinggung kalian kapribaden jowo ingkang adi luhung meniko kang mas.
menawi bab islam, mbok bilih kawulo paring pitakon dateng panjenengan sak kloron.
1. Bab kahanan kang sak meniko dumadi wonten bumi nuswantoro, tyang islam katah ingkang bikin onar, demo kanti nyebut asmane ALLAH nanging tumindake malah nyidrane marang sedulur liane. sampun diparingi ganjaran pakunjaran ingkang sak mestine kok malah nesu, trus ngamuk lan muring marang ingkang ngukum. menawi mekaten lak sami kalian “TUMINDAK sak karepe udel e dewe”??
2. menawi mangsane romadhon, sedoyo panggenan kedah “STERIL” saking tumindak maksiat, menawi mboten purun mengke di cidrani, kados meniko kan ngesakaken toh. ingkang sinebut suci meniko sasi ne menopo kedah piyantun nipun?
Menawi kulo sarujuk lan nyengkuyung kalian pangandikane panjenenganipun Syekh Lemah Abang ingkang surasane kados mekaten :
“ISLAM KUWI SAIKI WIS PALSON KABEH”
mekaten kemawon piatur lan pasugatan kawulo, matur nuwun ingkang sanget.
rahayu….rahayu….rahayu
lare dusun berkata,
November 6, 2008 pada 1:01 am
assalamu’alaikum + sugeng enjang…
kangmas kumitir kok dereng wonten jawaban. Sajakipun nembe sibuk nggih??
lare dusun berkata,
November 6, 2008 pada 1:14 am
Kangmas Noroyono sugeng tetepangan… kulo Setoedjoe dengan pemanggih njenengan kangmas.
Bab.(menawi mangsane romadhon, sedoyo panggenan kedah “STERIL” saking tumindak maksiat, menawi mboten purun mengke di cidrani, kados meniko kan ngesakaken toh. ingkang sinebut suci meniko sasi ne menopo kedah piyantun nipun?) ….
Kulo nggih prihatin ngungun getun. Orang puasa kok ‘minta dihormati’, aduh duh… Nyampe orang jualan digebuki..alamaaak!!
Kang Toyib berkata,
November 6, 2008 pada 2:09 am
Saya sangat penasaran dan pengen belajar bagaimana kalau misalnya Kangmas Alang-Alang Kumitir menyertakan pembahasan satu persatu masing-masing kitab yang telah di tulis disini. Kalau bisa sih dalam bahasa Indonesia biar kita semua yang tidak mengerti bahasa Jawa ikut bisa menimba ilmu disini.
Terima kasih.
hidayat berkata,
November 6, 2008 pada 2:26 am
rahayu….
untuk Mas Sabda langit yang bilang “saget sesarengan samangke jam 24.00 langsung pinanggihan wontening tlatah NUSAKAMBANGAN, menawi siyos kalaksanan eksekusi pejah dalu niki…”
menurut Hidayat: enggak mungkin??? menurut saya Amrozi Dkk jangan di hukum mati sekarang..anda apa senang melihat orang mati karena kita kealergian/dendam/pemuasan sentimen sesaat sperti sebagian orang/dendamkesumat/enggak seneng/enggak segolongan, dampak pemikiran Politiknya untung dan rugi harus kita pertimbangkan, ketika “Dia” berkata semua sudah tak kuasa lagi
menjadi “kualat” harus dipertimbangkan karena contoh seperti hakim agung yang menjatuhi hukuman pada amrozi ketika amrozi kepengadilan memakai sandal jepit kemudian dihina dan dibelikan sepatu oleh sang hakim, amrozi menolak dengan alasan paling-paling uang hasil korupsi untuk beli sepatu , dan dua tahun kemudian sang hakim dihukum 20 tahun penjara… apakah anda juga akan menerima kualat atas tulisan anda???
… tetapi mengapa kita tak pernah menuntut hukuman mati pada mereka
sejahat-jahatnya amrozi masih tahu yang “hak” dan yang “batil”……
banyak orang dinegeri ini “nggermo” Ngkorup” “Mropokator”"Ngadudomba”"ilegal gundul hutan” nyogok pelicin masuk A atau masuk P”hampir seluruh darah keluarganya “darah kebatilan” sepanjang hidupnya dari gaji kebatilan, kalau memang dasar hukuman mati adalah kata “Kebenaran”
“ngunduh wohing pakarti” adalah menerima hasil perbuatan kita dimasa yang lebih dulu entah sehari yang lalu atau seratus tahun yang lalu atau seribu tahun yang lalu, ngunduh wohing pakarti jangan diartikan hanya untuk orang-orang yang telah berbuat jahat seolah-olah mendendam dan nyedakne/nyumpahi, ngunduh wohing pekerti juga berlaku / terjadi pada siapa pun yang baik atau yang jahat karena merupakan hukum alam…
bagaimanapun segi buruknya islam di Indonesia tetap bagi pemimpin yang cerdas sekelas sukarno, suharto, sby, gusdur bagi mereka adalah “aset” yang luarbiasa untuk ketahanan nasional terutama rasa persatuan dan kesatuan dan semangat berani matinya “jihat fii sabililah”nya tiada duanya. dan begitu ditakuti para imperialis sepanjang jaman……
wass wb
embun berkata,
November 6, 2008 pada 4:20 am
ya emang ga mungkin lah kalo kita mo pergi bareng naik bus ke nusakambangan…..mas hidayat pikir mas sabdalangit grup penembak? capee deee…..itulah kehebatan kejawen mas hidayat…utk org yang tataranya makrifat sprti kang sabdalangi bisa jalan2 keliling dunia tanpa keluar duit, gitu lhoo….. embun emang masi awam di sini….. masi byk yang hrs aku pelajari…sementara ini aku cuman belajar lwt internet cos masi hrs konsen di kul dl..
embun berkata,
November 6, 2008 pada 4:54 am
kalo soekarno ya pantes di bilang jihad… kalo amrozi cs ya jahil …. kalo manusia yang py hati nurani yang suci ya nga mungkin lah kelakuanya kaya hewan yang mamakan temen sendiri…
embun berkata,
November 6, 2008 pada 6:06 am
buat kang sabdalangit, apa bisa sich yang masih awam kayak aku ini ikutan menyaksikan eksekusi amroji. caranya gimana,?
hidayat berkata,
November 6, 2008 pada 8:48 am
rahayu…
ilmu melihat amrozi dihukum mati yang anda praktekan, seperti itu menurut saya ilmu ghoib “gombal mukio” alias bohong besar, membohong dan kebohongan alias tipu muslihat……..
wass wb
embun berkata,
November 6, 2008 pada 9:33 am
hik3x….
)aku emang blum perna ngalami sendiri tp aku yakin, suatu saat aku bisa….ghoib iku bukan gombal mukio cak, lha entar kalo jasad kita di kuburan habis di makan belatung apa ruh kita ini bukan ghoib namanya? nah itulah kehebatan orang2 makrifat….cuman orang yang berhati bening yang bisa menikmatinya…. bukan kayak aku dan eloo…..
maaf ya semuanya…. aku ini cuma manusia yg nga tau apa2 tapi pengen bisa tau….rahayu….
Roy Surgo - Pakar Telet Ee' berkata,
November 6, 2008 pada 12:29 pm
Kalau bagi saya itu hal yang sangat mudah melihat amzori eh amrozi di hukum mati. Jangankan ngeliat amrozi, ngliat saddam digantung aja bisa. La wong ngliat artis-artis bugil aja gwe bisa. Pakean ajian camera IT. Hehehehe..
embun berkata,
November 6, 2008 pada 12:38 pm
betul sekaleeee wes ga usah engkel2lan jaka sembung naik ojek nga nyambung jeekkk
lare dusun berkata,
November 7, 2008 pada 12:37 am
Rahayu titah sakbuono
lare dusun berkata,
November 7, 2008 pada 12:43 am
Kagem poro kadang sedoyo yang punya bahasan Bab “Pangracutan” tuolong dong ditularkan pada saya…
lare dusun berkata,
November 7, 2008 pada 1:05 am
hik..hik..uhuk..uhuk.. mboten wonten ingkang nanggapi kulo nggih? dimeh kulo lare dusun, tiyang alit ongklak-angklik..
ki gebang berkata,
November 7, 2008 pada 7:47 am
wah kayaknya lare dusun punya pertanyaan ttg “Pangracutan” yang sulit nih. Hayo mas sabdalangit, samudra, azmi lan para sesepuh blog ditanggapi. Niku lare dusun mesakno sudah nangis klesotan neng ngarep gerdu… Nek kulo pangapunten, mboten weruh babar blas…
Mending panjenengan takon bab pinten regane bensik sak liter, meski kathah ingkang mangertos, mas. Hehe… Guyon kemawon koq, mboten usah sedih nggih… Kabeh meniko mung dolanan, main-main, bermain kaliyan pikiran lan keyakinane dhewe-dhewe. Padahal mboten meski sami kalitan kenyataanipun. Nek istilahipun ing wacana NLP disebut Map Is Not The Territory.
Nopo malih Jare Mas John Huizinga, menungso lak nggih disebut Homo Ludens to?
Nggih ingkang sareh, santai lan iklas mbok menawi pitakon ingkang abot lan angel meniko dhereng wonten ingkang njawab…
Salam
sabdalangit berkata,
November 7, 2008 pada 10:42 am
sendiko dawuh ki gebang…reuni lagi..ya !
Kadhang Kumitir sudah menulis secara singkat ilmu pangracutan, simak saja artikelnya. Tulisan Kadhang Kumitir bisa menjadi pengantar dalam memahami ilmu pangracutan tingkat lanjut yg pernah disempurnakan lagi oleh Beliau Kanjeng Sultan Agung Prabu Hanyokrokusumo.
Ilmu pangracutan adalah semacam ilmu kasampurnan. ilmu yg menjadi salah satu gerbang menuju kasampurnaning ngaurip.
untuk mencapai tataran itu kita terlebih dulu perlu membuka hati dan nalar kita untuk tidak negatif thinking, pahami dgn hati yg bersih, jiwa yg bening; sebening ilmu pangracutan itu sendiri. jika hati, fikiran, ucapan, tindakan kita belum kompak dan mnjaga kebeningan…maka kita belum memiliki gelombang yg sama dgn ilmu pangracutan. akibatnya menjadi sulit memahami, merasakan, serta mengalaminya.
ilmu meraga sukma/lolos sukma; adalah bagian kecil dari ilmu pangracutan itu sendiri. semua umat agama bisa menggapainya, dimulai dari mensucikan diri tapi bukan dgn air; dgn tapa brata ! jasad yg suci tunduk kepada roh ilapi.
jgn pesimis ya Embun ! anda sdh membuka nalar dan nurani anda. anda mungkin bisa belajar meraga sukma dgn mudah. sekarng banyak kok yg bisa melakukan, bukan hal yg jarang lagi.
Meraga sukma ada yg menyebut jg sbg perjalanan astral,
GURU SEJATI (ruh ilapi) kita yg meninggalkan jasad, berkelana dlm dimensi Gaib, masuk dlm wilayah gaib para jin siluman setan demit, yg bau serem jijik, atau masuk ke wilayah alam ruh yg indah, dan ketemu dgn ortu, kakek nenek eyang embah atau saudara2 kita yg sudah “hidup” di alam kajaten.
jika semua org mau belajar pangracutan, atau meraga sukma, dan Tuhan mengijinkan semua mampu memperolehnya; MAKA AKAN TAMPAKLAH SEBAGIAN KECIL SEKALI RAHASIA KEDAHSYATAN TUHAN;
DAN ANDA AKAN MENYIMPULKAN BAHWA TUHAN ITU LEBIH DARI MAHA ADIL, BIJAK, KUASA, MAHA KASIH. LUAR BIASA !
Gusdur dikatakan bisa mengintip rahasia langit; mungkin yg dimaksud “laku batin” seperti ini juga.
masuk ke dalam wilayah gaib ; ternyata tak ada kebohongan, tidak seperti yg dirisaukan org2 di “luar” sana ! kebohongan adalah rumus manusia dlm dimensi bumi ini. itu sebgian dari Maha Adilnya Tuhan.
jika semua org bersedia “masuk” ke wilayah gaib; saya optimis PASTI TIDAK AKAN ADA LAGI PERANG ANTAR AGAMA. renungkan !!
YTH LARE DUSUN DAN Embun….
langkah pertama anda sudah tepat. mau membuka diri, positif thinking…sekalipun terhadap hal asing yg samasekali anda belum tahu.
tapi biasanya dari sanalah anugrah Tuhan datang menghampiri kita, dari hal2 yg sebelumnya kita nafikkan mentah2. dan dari peristiwa yg tak pernah dibayangkan sebelumnya.
ITULAH MENGAPA DALAM KEJAWEN JUGA DIAJARKAN
“ILMU NGGAYUH KAWICAKSANANE GUSTI” tujuannya agar orang lebih bersikap arif bijaksana; tidak sok tahu, dan tidak salah paham atas bahasa-bahasa alam dan apa yg menjadi pesan/kehendak Tuhan.
sehingga tidak akan terjadi lagi sikap lancang sok tahu kita atas apa yg menjadi kehendak Tuhan pada diri kita, misalnya;
“seseorang maki2 kesetanan gara-gara ketinggalan naik pesawat terbang…”
padahal sesungguhnya Tuhan sedang menyelamatkan kita. 2 jam kemudian orang yg maki2 tadi mendapat kabar bahwa pesawat yg meninggalkan orang itu, saat ini jatuh dan terbakar.
melihat eksekusi mati, semata hanya ingin ngangsu kawruh bagaimana kebesaran dn keadilan Tuhan itu berlangsung, gunanya untuk dijadikan pelajaran berharga buat siapapun yg menginginkan, agar hidup lebih arif dan bijak.
“perjalanan” itu tdk akan terjadi jika dalam hati dan jasad kita, masih dijejali setan alias nafsu angkara kita; nafsu golek menange dewe, golek benere dewe, golek butuhe dewe. agar ruh ilapi dapat keluar dari raga, lalu melakukan perjalanan astral, hendaklh 3 nafsu; lauwamah, amarah, supiyah kita tanggalkan terlebih dahulu. ”
mudah2an juga umat islam punya keberanian masuk ke ruang “mistiknya” islam yakni ilmu tasawuf dlm wilayah makrifat; tataran yg menyimpan makna rahmat dan kedamaian sejati. ribuan agama di dunia ini memiliki jalan setapak yg berbeda2, namun menuju satu oasis yg sama.
SAYANG SEKALI, SEMUA ORG AKAN MENGETAHUI KASUNYATAN YG SEJATI tersebut, apabila sudah mati dan tak bisa lagi menceritakan pada org2 masih hidup. jadi sudah tak ada guna lagi. Namun Tuhan menyediakan Kemurahan, bagi org2 yg bersedia MESU BUDI, LAKU TAMA, TAPA BRATA, CATUR SEMBAH, nggayuh lautan ilmu SASTRAJENDRA HAYUNINGRAT sbg muaranya sungai yg benama “ILMU PANGRACUTAN”. maka kita tak perlu mati dulu untuk mengetahui rahasia
Keadilan Tuhan.
DENGAN PENUH HORMAT; saya percaya; mayoritas pembaca yg budiman disini sudah lebih luas pemahamanya, ketimbang kami yg baru belajar dan tahu sedikit. terbukti…atas jasa blognya Kadhang Kumitir, kami dapat bertemu 7 org kawan2 yg lain yg lebih mampu “berkelana” dan lbh senior dri pda kami.
rahayu
http://sabdalangit.wordpress.com
hidayat berkata,
November 7, 2008 pada 2:03 pm
rahayu…

yo wis …………..
di alam nyata ada kebohongan
di alam ghoib ada juga kebohongan
harap ditinjau ulang komitmen dibawah ini dengan pengalaman lebih lanjut ::
“………..masuk ke dalam wilayah gaib ; ternyata tak ada kebohongan, tidak seperti yg dirisaukan org2 di “luar” sana ! kebohongan adalah rumus manusia dlm dimensi bumi ini…………. ”
wass wb
malik berkata,
November 7, 2008 pada 3:01 pm
sabdalangit berkata, “mudah2an juga umat islam punya keberanian masuk ke ruang “mistiknya” islam yakni ilmu tasawuf”,
menurut saya anda sudah benar-benar terbohongi karena pengalaman ghoib anda
rumputliarharusbebas berkata,
November 7, 2008 pada 3:23 pm
Kalau sudah tahu ya sudah, kan sama-sama tahu ngapain harus bersilang sengkarut. Setelah saya ketemu sama mas Kumitir dan kita sama-sama sepakat bahwa sejatinya antara bohong dan jujur, salah dan benar, ada dan tiada, hidup dan mati, nyata dan ghoib, surga dan neraka…. itu nggak ada bedanya bagi mereka yang sudah “MANUNGGAL”
Yang jelas, ayo kita bangun negeri kita dengan sebuah kebangkitan budaya nusantara yang adiluhung ini. Boleh kita berbeda baju, pendapat, ide, gagasan, keyakinan, asal jangan meninggalkan budaya kita sendiri.
Mari kawan semua pengunjung blog, kita satukan tekad kita menuju Indonesia Baru yang lebih baik dengan berpegang pada filosofi jawa OJO DUMEH……
Wis….
embun berkata,
November 7, 2008 pada 3:51 pm
waduuh susah bgt ngomong sama sahabat2nya amrozi iki yoooo…… capee deeeeeeeeee…………. dari pada bikin ruwet, mending ga usah di tngepin lagi kali yeeeeee….. sayang sekali kan waktunya,,,,,, buat kang sabda langit, makasi tangapanya….kami sangat berharap bisa meguru kpd panjenengan.. untuk lare dusun salam kenal ya, entar qt belajar bareng ok!!
sabdalangit berkata,
November 7, 2008 pada 5:09 pm
EMBUN berkata….kami sangat berharap bisa meguru kpd panjenengan..
boleh2 saja saling tukar kawruh yah, kita semua belajar kok
ngomong2 Ki Gebang dan Mas Samudro betul sekali ….sy percaya sekali beliau2 sdh pernah melanglang jagad gaib bertemu sesama titah Tuhan Kj Rt Kidul…krn identifikasi tentang Kj Rt Kidul persis dgn yg pernah kami saksikan sndri, memang begitulah entitasnya. senada pula dgn yg diungkapkan pengalaman gaib mas Wirasaba. semoga semua itu menjadikn kita makin kagum akan kebesaran Tuhan.
Mas Hidayat…
25 tahun yll saya juga skeptis akan fenomena gaib, tapi krn pengalaman spiritual demi pengalaman spiritual terjadi, justru semakin membuat jelas rahasia kebesaran Tuhan. berkat pengalaman itulah kami semakin manembah dumateng ngarsanipun Gusti Ingkang Mahawisesa.
suatu saat nanti mungkin anda akan mendapatkan pengalaman yg lebih dahsyat.
embun berkata,
November 8, 2008 pada 5:13 am
saksikan dialog anteraktif kepercayaan terhadap Tuhan YME sabtu 8 nov pukul 23.00 s.d 24.00 di TVRI…..rahayuuuu
PENIOEP SEROELING berkata,
November 8, 2008 pada 6:53 am
kata orang boedaja Djawa akan melahirken MANOESIA2 MAHARDIKA. ini ocapan dari seorang boedajawan Sidoardjo. saja setoedjoe sadja. asalken manoesia Djawa joega memboeat koreksi boeat mereka poenja boedaja. diakoei atoe tidak rasa mendjadi manoesia mahardika itoe jang mendjadiken Bangsa Walondo joega Kaoem sadis Made in Japan Kerasan mendjadjah ini negeri. bahkan sampai membawa itoe lagoe nja Gesang ke Hirohito. Boeng Ali dan Boeng Wildan Tentoenja soedah taoe siapa saja. bagoes joega boeng poenja lahan diskoesi ini..
hidayat berkata,
November 8, 2008 pada 10:39 am
rahayu….
selamat hari pahlawan 10 nop 2008, 1945 pasukan sekutu mendarat di surabaya…..
pidato bong tomo di radio begini::: wahai rakyat indonesia yang dikota, didesa, para prajurit, para petani, abang bakso,para pedagang marilah kita bersama-sama hadapi para penjajah, sekutu biadab… belanda yang laknat, penjajah yang kejam, jangan sekali-kali tanah kita tejajah lagi.. merdeka ataoe mati…jangan pernah menyerah hancurkan mereka,jangan pernah tercerai berai, hadapi mereka rawe-rawe rantas malang-malang putung…. allah hu akbar…allah hu akbar…..
anda tahu mengapa “allahu akbar,, allahu akbar” … kok nggak kera kera kera, mimpi, mimpi….. bolong , bolong…?
tanya star mild mengapa?..
buka celana…kita ini baru 62 tahun merdeka sudah eker-ekeran lagi… anda-anda tumbuhkan lagi sifat -sifat “kedaerahan, kesukuan sok jawa, kesebatinan…apanya? Nasional sedikit kenapa ya?
juga teks pembukaan UUD 1945 begini: “Atas berkat Alloh Yang maha kuasa dan didorong oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas maka rakyat indonesia menyatakan dengan ini Kemerdekaanya….”
anda tahu mengapa kok nggak Atas berkat rahmat batu punden, ketapel dan kemenyan ? mahal…
28-10-1908 telah dinyatakan Budi Oetomo dkk, berbangsa, berbahasa, bertanah air satu, tanah air Indonesia, ….. 350 dijajah belanda bess… ratusan raja mati, ribuan orang sakti mati, jutaan rakyat mati dan trilyunan harta dirampok penjajah… buka mata
ji tarji.. jangan kaget kalau saya tahu nama anda
wass wb
embun berkata,
November 8, 2008 pada 1:36 pm
apa yang kami yakini lahir dari hatinurani yang bersih dan yang kami lakukan nga merugikan anda khan?? dosaku bukan dosamu dan sebaliknya…..mari kita berdoa menurut keyakinan masing2……..
hidayat berkata,
November 8, 2008 pada 2:42 pm
rahayu…
halo Mbak Embun bagaimana Kuliahnya , udah skripsi belom?
ntar kalau udah skripsi tak kasih judul begini: “studi komparatif dampak ilmu meragasukma versi kebatinan dan versi ajaran islam”
pasti hot… kayaknya belum ada judul ini di dunia…ntar samplingnya pakai random sampling, dan orangnya dalam keadaan normal, tentu pakai uji normalitas, pengambilan data bisa melalui data waktu dan ketepatan seperti balap burung merpati.
pengujian validitas pakai uji-T
oke selamat belajar nona…..
wass wb
embun berkata,
November 9, 2008 pada 12:55 am
halo juga kang hidayat…iya skrg lagi nyusun skripsi….baru bab3 bantu doanya aja ya…. ga perlu bantu cari judul cos dah dapet….. aku bersyukur sekali walaupun kang hidayat berusaha nyidir aku, ataupun nyakitin aku,, allhamdulillah aku ga sakit ati…weeeek justru aku cenderung kacian ama kang hidayat yang ganteng ini……coba kang hidayat ganteng luar dalem…. eeemmmm pasti byk sekali ceweek yang kesengsem………, mas kumitir nyuwuunsewu, sepuntene ikang katha blog panjanengan jadi rusuh gara gara kulo., tapi embun yakin masi byk lagi jiwa2 muda yg mempunyai nalar yang sehat dan waras…. semoga ajaran yang berbudi luhur ini mampu mengngakat kembali bumi pertiwi dari keterpurukan….. kang hidayat, salam buat sahabat anda amrozi, yang mungkin sekarang lagi ada
embun berkata,
November 9, 2008 pada 1:01 am
blum selesai dah kepencet, kang hidayat salam b sahabat panjanengan, amrozi cs yang katanya mati jihad… kira kira lagi di syurga ato lagi di keroyok 222 roh yang telanh di bunuhnya yaaaa? kalo anda punya nalaar yang sehat pasti bisa jawab pertanyaan saya dgn benar…… salaam rahayu…..rahayu….. shanti
Azmi - Rahasia berkata,
November 9, 2008 pada 8:25 am
Iki salah sijineng rahasia ingkang sering kali kebanyakan tiyang urip kui ra sadar antawis ora ngerti sama sekali…. tiyang-tiyang ingkang jarene sampun mencapai kesuksesan hidup sebagaimana yang sering diperbincangkan orang, umpamane saking kalangan militer dia itu jendral panglima lagi; umpamane teko kalangan pengusaha dia itu top bangetlah pokok e omsetnya per bulan triliunan rupiah; umpamane saking kalangan trainer, dia itu trainer kelas atas yang alumni pelatihannya sudah mencapai puluhan ribu orang; umpama dari kalangan artis sinetron, dia itu tarif per episodenya mencapai puluhan juta rupiah atau juga dari kalangan lain yang dianggap sukses dan menjadi standar kemewahan hidup bagi banyak orang; bahkan orang yang sakti sampe isok melanglang ke alame jin, dedemit lan sak konco-kancane, ternyata oh ternyata pada akhirnya suatu saat nanti mati juga. Jatah ruang dan waktu baginya habis di dunia ini.
Ternyata… hidup itu menunggu mati.
Ternyata… mati itu berarti kembali, kembali kepada yang memiliki.
Ternyata… yang memiliki itu Allah.
Ternyata… masa depan kita dan masa depan hidup ini adalah Allah
Ternyata… cita-cita kita salah jika bukan Allah.
Ternyata… semuanya sia-sia jika tidak dengan Allah.
Ternyata… semuanya sia-sia jika tidak bersama Allah.
Ternyata… semuanya sia-sia jika tidak untuk Allah.
Ternyata… Allah itu sangat sayang pada kita.
Ternyata… Allah sudah siapkan segalanya bagi kita.
Ternyata… Allah saja yang ada yang lain tidak ada – subhanallah.
Ternyata… Allah juga di balik semua yang ada – alhamdulillah.
Ternyata… habis sudah kita dihadapanNya.
Mugi-mugi kito sedoyo selamet teng ndunyo iki khususipun mugi-mugi selamet teng akhirat mangke. Hari pembalasan kui pasti teko, ingkang nglakonin kebagusan yo diganjar kalian kebagusan lan ingkang nglakoni keawonan nggeh diganjar keawonan teng hari akhir mangke.
============================================
Azmi
Jama’ah Ponpes Al-Hidayah, Mbah Gepuk, Kutorejo, Mojokerto
Azmi berkata,
November 9, 2008 pada 8:34 am
Syaikh Ibnu Athaillah As-Sakandari dalam kitab Al-Hikam : “tasyauwufuka ila maa bathana fiika minal ‘uyuubi khoirum min tasyauwufika ila maa hujiba ‘anka minal ghuyuub”
artinya:
“usahamu mengetahui cacat-cacat yang tersembunyi dalam dirimu lebih baik dari pada usahamu menyingkap perkara ghoib yang tersembunyi darimu.”
Monggo dibaca secara seksama dialog ZhudrunH diatas, ingkang dereng moco, insya Allah penuh kalian hikmak.
============================================
Azmi
Jama’ah Ponpes Al-Hidayah, Mbah Gepuk, Kutorejo, Mojokerto
Azmi berkata,
November 9, 2008 pada 9:28 am
Kagem Jeng Embun: njenengan niki nggeh lucu. Ne’e manungso sinten mawon dikengken njawab pertanyaane sampean, Amrozi niku melbet suwargo utawi lagi di keroyok 222 roh ingkang di bunuhnya? nggeh mboten wonten ingkang bisa maste’ake secara Khaq. Tetapi yang jelas ga mungkin Amrozi disana di keroyok 222 roh ingkang dibunuhnya, hehehe… sebab antara kehidupan di dunia ini tidak sama peraturannya dengan di alam kubur sana, yang mana kalau di dunia ini ketahuan mencopet misalnya, berbondong-bondong orang sekampung (222 orang mungkin) langsung memukuli pencopetnya. Kalaupun ada yang bisa ngomong masuk surga/neraka, mendapat siksa/kebahagiaan di alam sana maka yang keluar dari mulutnya adalah nafsunya, tidak bisa memberi kepastian secara Khaq.
Jadi yang jelas ada 2 kemungkinan yang pasti, yaitu saat ini lagi siksa atas perbuatannya atau menikmati masa menunggu hari akhir dengan penuh senyum di alam kubur sana.
Wallahu Aklam.
============================================
Azmi
Jama’ah Ponpes Al-Hidayah, Mbah Gepuk, Kutorejo, Mojokerto
samudro berkata,
November 9, 2008 pada 10:19 am
sudahlah rekan-2, sahabat-2 dan saudaraku sekalian, gak usah ribut semua, jawa, islam, hindu, budha atau kepercayaan yang lainnya, semua udah dibohongi oleh yang namanya TUHAN, dia itu penipu kelas wakid atau wahid ya…heheheheh. bingung juga gua,…. tuhan ama agama itu tua mana sih, agama ma manusia itu tua mana, agama ma alam semesta tu tua mana, agama ma virus tu tua mana, manusia tu dibikin oleh siapa, tuhan, kalau gitu tuhan kurang kerjaan, suruh jadi tukang ngatur lalu lintas aja, kotaku semrawut nih, bagi yang punya tuhan, dan ngaku punya tuhan radius 40 rumah dari tempat anda tinggal, sudahkah merasakan manfaat anda berada disekitarnya, kalau belum, tuhan anda tu namanya Hantu, kakakakakakakak, dan nama anda opo yo enake, bangsa brekasakan yang suka bikin onar, kakakakak.
syarat bagi yang ngaku punya tuhan :
1. dia tidak mengaku tapi diakui oleh tuhan bahwa dia adalah kekasihnya, gak usah ribut kalau ada masalah tapi tuhan yang bakal ribut kalau dia terkena masalah, ya khan dia sang utusan untuk menyampaikan sebuah ayat.
2. dia tidak punya kitab suci, kecuali ” kitab suci pribadi ” sebagai sang utusan, yaitu perilaku suci yang terbawa dalam kehidupan sehari hari dan akan terbawa atau terkenang oleh lingkungannya karena kehadirannya bagai mentari saat pagi hari, hangat. itu makna kitab teles dan lailatul qodar.
3. meskipun dia disakiti dia merasa disayangi karena apa yang dia terima adalah cara tuhan berbicara kepadanya, no hurt feeling.
4. dia tidak terikat oleh waktu tapi dia mengikatkan dirinya pada waktu, demi masa yang aku berada ditangannya.
5. dia mengakui ada dan tiada hakekatnya adalah satu, esa
kikikikikik jangan banyak banyak nanti kesedak, ada yang liat ndak tuhan lagi menghakimi amrozi sedangkan amrozi naik banding, para malaikat takut untuk menghukum amrozi, takut surga atau neraka nanti dibom, seperti bom bali, para syuhada berkumpul untuk menerima fatwa, sedang para anjing melolong seperti kehilangan sang tuan, kebetulan juga di akherat sedang membutuhkan juru dakwah, penerjemah bahasa inggris dan ahli perakit bom, kebetulan mereka hadir tadi malam sehingga kekosongan jabatan segera terisi. kekekekekek
sudahlah, bagi yang punya tuhan dan mengaku punya tuhan, sudahkah lingkungan anda aman dari jahiliyah anda ( sifat jahil anda ), sudahkah anda berguna bagi diri sendiri, keluarga, lingkungan, teman sejawat dan negara dimana anda tinggal, kenapa saya bilang begitu, karena anda makan, minum, buang hajat kecil dan besar, bikin anak dan bikin enak di tempat anda tinggal, sedang pikiran dan ideolsentris anda berada ditempat lain, bangun dong jangan mimpi disiang bolong, anda bilang ajaran lain sangat bagus kenapa ndak sekalian aja kalian tinggal dinegaranya yang terkenal sangat hangus, kakakakakak, jangan lempar batu sembunyi tangan dong, jangan munafik bilang makanan ini gak enak tapi kenyataannya lo embat juga, kalau memang di bumi jawa ini anda nggak senang tinggal disini kenapa nggak pindah.
mikul nduwur mendhem jero, kenalilah nenek moyang anda, empan nggowo papan, hormatilah tempat dimana anda berada, dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung, hormatilah adat istiadat dimana anda berada, kalau ndak suka, datang tampak muka pergi tampak punggung, pergilah dengan membawa apa yang tidak anda suka tapi jangan diungkap dimuka, pelajari dilain tempat dan diskusikan hanya kepada sang tuhan bukan dengan hantu, karena dia pemberi pessan bukan kurir besetan, apa yang kita terima semuanya adalah rakhmat hanya kemampuan kita terbatas, maka iqhro’ atas nama tuhan bukan syahwat.
kekekekeke aku udah dimarahi sampai disini dulu ya…..
kakakakakakak
salam semuanya
hidayat berkata,
November 9, 2008 pada 1:09 pm
rahayu..

udah siiip Mas Samudra itu he he he
wass wb
gatholoco berkata,
November 9, 2008 pada 6:12 pm
wejangan utk hidayat
sudah 3 minggu ini saya cermati berbagai diskusi dan tukar pengalaman di blognya mas kumitir yg mulia ini, maupun punya pengunjung lainnya.
ada beberapa koar2 yg asal bunyi dan tidak konsisten dgn omongannya sendiri. saya pikir justru membuat keruh dan diskusi menjadi tdk mutu.
lihat saja komentar2 hidayat yg mencla-mencle tak konsisten lemah pendirian. hidayat berkoar menyuarakan nasionalisme, mengkritik scr tidak ilmiah bagi org2 yg menghargai kearifan lokal misalnya budaya jawa. tetapi hidayat sendiri tdk sadar diri punya blog “budayajawa.com”. hidayat jg nuduh pengalaman spiritual org lain sbg kebohongan, sementara anda sendiri menampilkan segudang pengalaman gaib yg anda klaim sbagai kebenaran.
anda ngaku2 bisa masuk atau lihat dunianya jin setan hantu, TETAPI sampeyan tampak antipati pada org lain yg mau belajar lolos/meraga sukma. dan hidayat ini jelas dari komentarnya menghamba mengagumi para durjana pengebom bali yg terbukti sadis itu. bukankah perbuatan itu dilakukan jika lebih banyak manfaatnya, sementara bom bali 100% mencelakai dan membuat sengsara org2 yg samasekali tdk ada urusan dgn tujuan bom. cobalah mikir pakai nalar sehat, gunakan hati nurani manusia (kareping rasa). karena hati nuranimu itu adalah pancaran zat Tuhan. tapi jika tertutup nafsu angkara saya jamin tidak akan keluar hatinuranimu. yg ada hanyalah “rasaning karep”.
saya sebagai pengagum budaya jawa, melihat sepak terjang anda yg mengaku budayajawa.com sungguh miris, itu bukan watek jowo cah. terkesan anda masih kewalahan momong hawa nafsu anda sendiri; yakni NAFSU GOLEK MENANGE DEWE, NAFSU GOLEK BENERE DEWE. nafsu itulah yg menjadi pantangan bagi org yg berorientasi budaya jawa. seolah kebenaran hanya milik anda, sementara org lain semua nggak tahu apa2.
dan pengalaman spiritual serta komentar2 anda hanya mengungkapkan rahasia kepicikan pemahaman anda. saya lihat hampir semua tulisan dari para komentator yg berilmu tinggi, anda pernah tanggapi secara vulgar dan sarkastik, jauh dari watak andap asor, sopan, bijaksana.
anda tahu kan, semakin tinggi ilmu seseorang justru akan semakin lembah manah, menunduk, hormat menghargai sesama, tutur kata yg lembut menyejukkan hati, tapi mbodoni; seolah terkesan bodoh. jadi anda sedang menelanjangi diri anda di depan ribuan pemirsa; tapi itu tdk anda sadari, sayang sekali…anda lupa diri dan takabur, padahal anda sbg salah satu blogger pelestari ajaran jawa yg mulia. ini hanya sekedar mengingatkan sesama, yg sama2 sedang nggayuh kawicaksanan urip. COBALAH untuk MULAT SARIRA. saya yakin, banyak yg sependapat dgn komentar buusuk ini, hanya saja mereka tidak sampai hati pada anda.
Untuk AZMI
selamanya anda menjadi manusia tekbook, tekstual. nya harus diterapkan scrkontekstual. dan anda adalah type org yg pandai menghafal dogma,sementara makna yg sejati justru kocar kacir. memang anda itu pandai (alim) tapi anda rupanya masih jauh dari ikhsan. selamanya nalar, hati nurani, jiwa yg suci anda terkungkung oleh dogma, dipasung dengan ancaman dan ketakutan neraka, serta ditundukkan dgn iming2 pahala-surga. setiap saat anda dapat menghitung2 seberapa besar pahala dari perbuatan dan sembahyang anda. TAPI COBA RENUNGKAN; kapan anda akan iklas 100% dalam melakukan segala yg baik, toh keiklasan anda meragukan sekali, amar makruf, kebaikan, sembahyang anda masih dilandasi PAMRIH akan PAHALA dan alasan TAKUT DOSA.
cobak deeh anda belajar dgn “anda sendiri” yakni ajaran dlm budaya jawa, yg mengajarkan setiap kebaikan baik vertikal maupun horisontal; bukan atas dasar sibuk ngitung pahala dan ngarep2 surga, tapi semua dilaksanakan atas dasar keihlasn 100% seperti halnya org berak itu. keiklasan 100% inilah yg disebut juga RIDHO ALLOH. LAIN DGN PAMRIH PAHALA SURGA.
coba azmi pikir dan rasakan;betapa tuhan itu sudah memberimu puluhan atau bahkan ratusan kenikmatan dan anugrah pada anda dalam setiap detiknya. makanya sembahyangmu gunakan sbg sarana menyampaikan rasa sukur terimakasih pada tuhan. bukan utk menghitung2 dan mengharap2 pahala. itu namanya manusia lancang tidak tau diri….
wakakakakakakakakakakakaaaaaa…..
sampeyan juga..musti banyak berguru pada mas samudro yg sudah “nggaduk’ ilmu kajaten itu… dan belajar lah pada mbak embun, yg malah dgn lancang anda gurui itu….
Sampeyan itu TIDAK TAHU APA-APA, taunya hanya “omonge” dogma dan ayat2, tapi anda sudah mati-matian menganggap anda itu paling bener…
padahal anda sendiri sulit membuktikan secara otentik, karena dien dan dogma itu HANYA UTK DIYAKINI SAJA, TIDAK BISA DIPERDEBATKAN (pinjem istilahnya Kang Sabdalangit). apalagi secara ilmiah.
sampeyan jangan menuduh ajaran org lain atau kepercayaan lain itu tidak benar alias sesat, karena anda sendiri HANYA BERDASARKAN KEYAKINAN SAJA, makanya…..SEMUA AGAMA ITU TDK PERNAH MENGAJARKAN PERMUSUHAN DAN KEBENCIAN. JIKA hal itu ada, maka tdk lepas dari para oknum umatnya saja yg goblog menafsirkan ajaran agama. anda tahu apa dgn keadaan kubur ? anda kan masih hidup belum pernah mati, kecuali anda bisa meraga sukma, anda akan tahu rahasia di dalam sana. tapi mana bisa anda melakukan sedangkan kemamuan yg diberikan tuhan buat mu, hanya anda gunakan mungkin 10 % nya, yg 90 % sia2 karena anda batasi sendiri dgn budaya impor yg dangkal.
mungkin para leluhur anda zaman dulu “ngelus dada” melihatmu sekarang sudah jadi “wong jowo sing kajawan”.
nenek moyang yg menurunkan sampeyan, ratusan tahun yll, pasti ada yg pemeluk agama kabuyutan, buddha, hindu, mungkin juga kejawen… karena memang poro menungso jawi ini masih anak turun palaeo javanicus, atau pitecantropus ereksitus, atau homo wajakencis…lah..
mungkin leluhur anda, beliau2 sekarang menangis karena anda anggap nenek moyangmu itu kopar-kapir bukan pemeluk agama baru, dan tentu saja anda anggap mereka masuk neraka !!!! huauahauahauahauaa………
jadi kalau mau diskusi disini silahkan sampeyan gunakan hati nurani, nalar, akal sehat, dan budi pekerti… jangan lah menggurui pake dogma-dogmaan….ora nyambung cak.
yen mung ayat wee aku yok iso cah..
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, Padahal belum nyata bagi Allah orang-orang ……………….diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar.
hidayat berkata,
November 10, 2008 pada 1:23 am
rahayu…
mas Gatholoco… saya tidak mengenal anda…
pidato Sukarno… Jas Merah / jangan sampai melupakan sejarah..
salah satunya ini komentar saya ini tgl 8 n0pember 2008: “selamat hari pahlawan 10 nop 2008, 1945 pasukan sekutu mendarat di surabaya…..
pidato bong tomo di radio begini::: wahai rakyat indonesia yang dikota, didesa, …dst….. allah hu akbar…allah hu akbar………..dst……………………..
“kedaerahan, kesukuan sok jawa, kesebatinan…apanya? Nasional sedikit kenapa ya?
apa kurang sip..???
saya itu tidak mendukung Amrozi dkk yang dihukum mati karena bom bali 1, tapi menilik Amrozi dkk itu dari segi positif memang jempolan, dalam keberanian matinya, dan dalam kisah sandal jepit yang mau dibelikan sepatu hakim urip tapi ia tolak, kalau hukuman mati dasarnya ketidak benaran tetapi mengapa koruptor, germotor , pelicinator, penyogok, rayaptor kayu, kebatilator enggak juga dituntut hukuman mati? kalau amrozi bikin mati 222 orang, tetapi yang tor-tor koruptor itu bikin melarat ratusan juta orang, bunuh diri jutaan orang, ribuan TKI disiksa dan diperkosa, bikin bodoh jutaan orang karena sekolah mahal….
sekolah mahal? mau tahu? tanya mengapa? tanya starmild atau rumput yang bergoyang…
wass wb
gatholoco berkata,
November 10, 2008 pada 4:27 am
utk hidayat
jangan pahami ini sebagai perang mulut ya..!
tapi memang sampeyan itu kebangeten sanget
entah kenapa, memang susah bicara dgn anda,
banyak yg seharusnya sudah sampeyan pahami, tapi malah anda nafikkan dan bantah pemahaman anda sndiri.
sampeyan itu mungkin publik figur, tapi tampak sekali emosi anda masih sangat labil kawan….wakkakakakak
sampeyan bukan pendukung amrozi tapi pengagum amrozi cs !
sampeyan kagum atas sikap berani mati mereka bertiga..ANDA BILANG MERKA BERTIGA ..JEMPOLAN !! hauahauahauaha..
itu kah yg akan menjadi pedoman hidup anda haa ????
jangan tularkan VIRUS PENYAKIT sampeyan pada orang lain…!
mereka bertiga itu BUKAN BERANI MATI, TAPI BERANI NEKAD MATIIN RATUSAN ORG TAK BERSALAH dengan sadis..alias penjagal manusia dari indonesia kelas wakhid. lebih tega dari pada si penjagal Ryan itu.
Ajaran siapa yg anda pake…Abu Kosim ??? dia itu bukan org semulia Rasullulah ! ga tahu juntrungnya, apa penghasut ato propokator ! sampeyan mau jadi makmumnya ? monggoo….wakakakakakakak
kalo sampeyan itu mukmin..yaah, makmum saja pada Rasul, dia hanya perang untuk defend dan tidak beranjak dari wilayah kekuasannya sewaktu perang, bukan mendatangi musuh tapi menunggu datangnya serbuan musuh…bukan nglurug ke bali dan sasaran korbannya ngawur. rasul berperang dilakukan sebanyak 3 kali seumur2…bukan 77 kali kata si gupron cs itu. jihad kecil itu perang mempertahankan diri, sedang jihad besar itu melawan nafsumu itu lhoo…cah
yang namanya perang jihad itu ya seperti bung tomo, sukarno, sudirman, diponegoro; musuhnya jelas njajah indonesia dan serbuan datang di indonesia. mereka bukannya nglurug ke belanda/portugis, jepang, dan membunuh rakyat sipil, tapi perangnya ya di indonesia..
ORANG PEMBERANI ITU BUKAN BERANI MATI, TAPI BERANI HIDUP..!! DAN MENGHIDUPI SESAMA !!! itu yg namanya pahlawan JEMPOLAN SEJATI !
para pahlawan nasional yg hari ini kita semua hormati dan peringati…. mereka bukan berani mati..KALAU BERANI MATI YA BUNUH DIRI SAJA ! mereka pahlawan karena bukan atas keberanian matinya, mereka pahlawan indonesia YANG BERANI untuk MENGHIDUPI rakyat indonesia termasuk sampeyan dan seluruh bangsa indonesia hingga saat ini.
bagus itu koruptor dihukum berat; sampeyan usul saja koruptor diatas 10 milyar dihukum mati, 5 – 9,9 milyar hukum seumur hidup. 1 – 4,9 milyar dihukum bercumbu dengan harimau dan buaya…wakakakakakaaaak….
kalau sampeyan tanya koruptor pebatil peselingkuh tidak dihukum mati, kenapa amrozi cs kok yg dihukum mati…?? lha maunya sampeyan apa..mau anda amrozi cs seperti mereka tak dihukum mati…lantas anda bilang…”yaa seperti itulah KEADILAN..?? wah…logika apaan itu. belajarlah lagi buka buku Pancasila dan PPKN/PMP punya murid SD tuh…
embun berkata,
November 10, 2008 pada 7:13 am
waduuuuh mas gotholoco aku baca tulisan pajenengan jadi panas dingin…… udah wess ga usah di perpanjang lagi perdebatan ini… blog ini blogke wong jowo sing pingin ngerti jowone….. bukan blogke wong arab… bagi wong jowo sing ga pengen ngerti jawane yo ga usah belajar di sini… aku aja yang belajar,, mas hidayat ga usah belajar di sini soale wong arab tapi nunut ngolek pangan nang jowo…. di sini embun juga mencari guru jowo yang sejati,, walaupun KTP aku Ktpne wong arab….. tp aku nga ngerti bhs arab babarblasss,, dari kecil aku di ajari ngaji dan berdoa bhsa arab sampai sekarangpun aku kesulitann mengartikan doa yang aku baca,,,, nah sekarang aku dah menemukan guru yang bisa mengajariku berdoa bhs jawa…..dan aku yakin ALLAH pasti mengabulkan setiap doa2ku,,, kerena sinar ALLah ada dalam jati diriku,,,,
hidayat berkata,
November 10, 2008 pada 7:22 am
rahayu


@gatolotjo… apa bisa menghidupi orang lain tanpa keberanian untuk berkorban, berkorban segala dan seperti untuk mati…..
yang bener aja bess… emosi andapun tidak setabil… perlu dioda / kiprok untuk menyetabilkan… Ok
menurut pasal 29 uud 1945 semua orang berhak memeluk agama dan kepercayaan… apakah salah jika orang punya idola si A atau si B. begitu juga dengan anda..anda malah tak jelas penganut apa?
anda lebih kebangetan lagi.. bawa bawa nama gatolotjo… tapi kok begitu..
paling anda itu abal-abalan…..
wass wb
hidayat berkata,
November 10, 2008 pada 8:09 am
rahayu
dari kata mas gatolotjo begini:”1. sampean bukan pendukung ….. pengagum amrozi cs,….ajaran abu kosim..2. kalau sampeyan itu mukmin….3. amrozi cs penjagal manusia…”…
menurut saya tulisan anda itu melambangkan anda sendiri 1. suka menuduh orang 2. suka mengecap orang 3. selalu memandang orang dengan sebelah mata.
yang jelas saya itu menilai sikap amrozi cs. menilai itu suatu kejadian itu suatu kebebasan, menilai orang tidak bisa dengan sebelah mata, harus dilihat dari segi yang lain atau segi baiknya, melihat dengan dua mata. jangan pakai kacamata kuda apalagi pakai kacamata bajak laut.
menjadi mukmin dan tidak , tidak bisa dilihat dengan internet mas anda tidak mengenal saya dengan dekat. tulisan anda itu terbawa nafsu anda sendiri.. anda memang tidak setabil….
wass wb
embun berkata,
November 10, 2008 pada 8:32 am
waduuuuuh ada yang marah2…… udah kang gatholoco, yang bicara tadi orngya pake bahasa arab…….kalo kang gatholoco bicaranya pake bhs jawa yo ga nyambung babarblasssss, kang hidayat suudahlah panjenengan jgn buka blog ini, kalo cuman bikin ati akang dayat tambah semakin panas……. blog ini blog e wong jowooo ccaaaakkk, ojo di kotori biar kemurnian jawanya nga terkontaminasi ambe negara liane…. yang mencintai blog ini pastinya orang kejawen,,,,,, bukan kamu… buat kakang2ku yang sangat aku sayangni.. jangan di perpanjang lagi argumen yang tidak bermutu ini, , ayo kita pelajari lagi ajran yang sangat luhur ini…. jawab terus pertanyaanku tentang ajaran kejawen yang sangat qta cintai….. jangan hiraukan mrk yang mengongong memintaminta di benarkan……..jayalah bumi jawaku…… jayalah ajaran nenek moyangkuu……rahayu……. shanti…….warassssss
embun berkata,
November 10, 2008 pada 9:43 am
buat ustad asmi, kalo diliat anda ini alim, intelektual tapi kok nga ngerti arti cinta kasih sih,, ya jelas lah amrozi cs layak mendapatkan neraka jahanam,, meraka ini sudah menghilangkan nyawa ratusan org yang nga tau apa2 menyakiti hati jutaan manusia. aku ini manusia yang degil masi py hati nurani dan menangisi mereka yang jadi korban syetan2 dunia amrozi cs itu…masak islam membenarkan tindakan syetan2 itu sich….. saya yakin agama islam nga membenarkan hal itu, hanya penganut2 ajaran islam yang sesat yang membenarkanya…. seharusnya saya berguru kpd panjenengan yang di angap mulia oleh banyak massyarakat tapi maaf saya tidak simpati dengan gelar ustad anda……,
Azmi berkata,
November 10, 2008 pada 11:23 am
Allah..Allah..Allah..
Maha suci Engkau yang telah menciptakan makhluk dengan berbagai macam bentuk dan berbeda-beda pemikiran. Aku bersujud dan mengembalikan semua kebenaran kepadaMu karena Engkaulah pemilik semua kebenaran. Semoga hidayahMu ada pada kita semua dan menjadikan kita sebagai manusia yang selamat di dunia ini maupun di hari akhir nanti.
Kagem Kakang Mas Gatholoco yang bener2 loco, kulo matur nuhun sanget diingatkan kembali untuk beribadah tidak hanya untuk meraih pahala (syurga) dan takut dosa (neraka). Memang benar sekali saya sebagai pribadi yang masih mencapai tahapan tersebut. Saya masih selalu dan selalu berusaha untuk hanya Allah..Allah..Allah.. Walaupun memang sangat sulit tetepi saya memang selalu berusaha. Tetapi kalau dikatakan saya menghitung-hitung pahala saya, anda terlalu berlebihan, jangan sampai anda terjebak “berlagak” seperti tuhan. Sampai detik ini alhamdulillah saya tidak pernah mencatat pahala saya. Justru saya selalu mencoba untuk selalu mengingat-ingat setiap dosa yang pernah saya perbuat, terutama dosa besar yang pernah saya perbuat.
“Ya Allah..aku memang sangat kotor di hadapanMU, jangankan untuk mendekat, berdoapun untuk memohon sesuatu kepadaMu pun aku sangat-sangat malu Ya Allah. Tetapi kepada siapa lagi aku kembali menyandarkan segalanya kalau tidak kepadaMu Yaa Rob. Aku mohon ampunan atas segala dosa-dosa yang aku perbuat”
Bahkan saya tidak sependapat dengan Kakang Mas Gatholoco kalau dikatakan hanya karena beribadah mengharapkan pahala kemudian dikatakan manusia lancang tidak tahu diri. Ingat setiap apa yang ada di alam semesta ini melalui tahapan proses. Tidak serta merta langsung menjadi sesuatu. Seperti halnya Kangmas Gatholoco bisa seperti sekarang ini jalan dengan menggunakan 2 kali bahkan bisa lari, toh dulunya waktu dilahirkan tidak bisa apa-apa, hanya bisa berkedip, menangis dan tersenyum ketika mengekspresikan sesuatu, sampai pada kemudian proses merangkak belajar berjalan tertatih sampai pada saat ini.
Seperti halnya anda belajar kejawen yang butuh kitab-kitab begitu juga halnya saya yang belajar Islam saya butuh pegangan yang selalu teruji kebenarannya sampai hari akhir nanti Al-Qur’an dan Hadist, ataupun kitab-kitab yang lainnya. Kalau dikatakan bahwa itu tulisan dan tanggapan-tanggapan saya yang bersumber dari AL-Qur’an, hadist dan beberapa kitab-kitab lainnya itu merupakan dogma yo lucu banget toh, la bagaimana kalau dibalikkan pertanyaannya ke anda sendiri ketika belajar kejawen yang masih butuh panduan kitab-kitabnya toh.
Masya Allah Kang..kalau anda memang Islam yang mana sampean katane bisa juga ngomong ayat ternyata anda telah dibutakan oleh sesuatu yang lain. Jangan sampai hanya karena terbawa howo nafsu kemudian sampai terlontar statment bahwa “padahal anda sendiri sulit membuktikan secara otentik” kbenaran ajaran Islam itu sendiri. Point disini sangat besar kesalahan anda. Inilah yang saya takutkan jangan sampai hanya karena kedangkalan pengetahuan teman-teman kemudian ajaran yang anda bawa sesat dan menyesatkan. Jangan hanya ketika anda bisa meraga sukma kemudian anda merasakan AKU segalanya. Bukankan anda sudah bisa meraga sukma, trus bagaimana nenek moyang saya atau katakanlah nenek moyang anda sendiri beliau-beliau sekarang menangis ataukan tersenyum karena anda sudah bisa melakukan ajaran mereka meraga sukma.
Tetapi kalaupun misalnya anda non-muslim abaikan saja komentar saya tersebut. Karena saya sangat-sangat menghormati kepercayaan anda. Dan saya mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila ada beberapa kata-kata saya yang kurang berkenan di hati anda. Walaupun saya sendiri sudah tahu beberapa pengisi komentar disini ada beberapa orang yang sama yang menggunakan nama samaran yang berbeda.
Alhamdulillah kalau anda memang bisa menyebutkan ayat dan mudah-mudahan ayat-ayat Al-Qur’an kalau anda memang seorang muslim.
Sekali lagi ngapunten sanget dumateng konco-konco sedoyo dan matur nuhun sanget dumateng Kakang Mas Alang-Alang Kumitir.
Wassalam.
============================================
Azmi
Jama’ah Ponpes Al-Hidayah, Mbah Gepuk, Kutorejo, Mojokerto
Noroyono berkata,
November 10, 2008 pada 8:17 pm
kulo setuju kalian Nimas Embun,
blog meniko dipun cipto kalian Kang Mas Kumitir tujuanipun kangge nglestantunipun kabudayan jowo kang luhur, supados tyang jowo lan ajaranipun saged manunggal sejati ingkang tembe mburine namung nggayuh memayu hayuning bawono, sesanti joyo wijyanti, nir ing sambi olo.
Kagem Mas Hidayat, Gatholotjo, Mas Azmi…
mbok nggih sampun toh….gojekanipun, bener lan salah, suargo lan neroko, islam lan jowo,…..kabeh kuwi panggene mung eneng roso, roso sejati kang ono ing samudro minangkalbu penjenengan dewe.
Kagem mas Sabda langit lan Kangmas Kumitir
Ndalem bade pirso menawi ajengen mitone bayi kados pundi reh-rehipun, lakune kados pundi, toto coro nipun kados pundi lan ubo rampe nipun menopo kemawon, sebab mbenjang Jum’at Legi kawulo ajenge mitone atmaja kulo.
matur nuwon
rahayu,,,,santi,,,,santi
Amrozi berkata,
November 11, 2008 pada 4:45 am
Buat Embun: Waduh spuntene kalau saya salah mengartikan kalau 222 roh yang anda maksudkan pada tulisan anda :
“amrozi cs yang katanya mati jihad… kira kira lagi di syurga ato lagi di keroyok 222 roh yang telanh di bunuhnya yaaaa?”
itu sebagai neraka jahannam. Maklum lah mbak saya tidak pernah makan bangku sekolahan, jadi yang begitu itu aku gak ngerti. Dan mungkin ini pemicu yang menyebabkan saya dianggap ngguroni panjenengan.
Kalau disebut sebagai ustadz apalagi dianggap mulia oleh banyak masayarakat, masya Allah, saya jauh banget dari nilai kepantasan untuk jadi seperti yang anda maksud itu. Saya masih sama dengan konco-konco sekalian atau bahkan di bawahnya konco-konco sekalian. Saya hanya manungso yang masih menenggak setetes ilmu dari samudera lautan yang luas.
Matur nuhun sanget atas masukan Embun.
Wassalam.
Azmi berkata,
November 11, 2008 pada 4:53 am
KOreksi..meniko teng nduwur komentar kulo sanes tiyang lintu.
Spuntene salah nulis.
lare dusun berkata,
November 11, 2008 pada 5:22 am
Rahayu..kulo nuwun… waah nyuwun pangapunten lho poro kadang, kulo nembe njedul malih nderek sarasehan. Kemarin2 sibuk macul wonten sabin, eman2 parinipun sampun mratak ananging tikusipun inggih nderek ‘merajalela’ he..he..
Kangmas Kumitir, Ki Gebang, kangmas sabdalangit, nimas embun matur suwun atas perhatiannya terhadap pertanyaan kawulo babagan ‘pangracutan’ wonten ing dinten2 kepengker, mboten kelepyan ugi poro kadang sedoyo ingkang kasdu nguri-uri kabudayan jawi.
Wonten sekedik cariyos :
kolo semanten R. Panji Notoroto gadah kadang (sinarawedi) tunggal guru ingkang lelakonipun dados ‘tiyang kere’ wonten ing pasar godean, sahinggo masyhur kasebut ‘kere godean’. Senajan tunggal guru ananging sajakipun ‘beda panemu’ babagan kawruh ingkang dipun hayati anataranipun R. panji Notoroto kaliyan si ‘kere godean’ puniko. Sahinggo titi wancinipun si ‘Kere Godean’ puniko sampun keraos pal kodratipun ingkang pungkasan sampun jumedhul, age-age utusan tiyang supados manggihi R. Panji Notoroto kanti maksud ngabari bilih Si ‘Kere Godean’ sampun keraos badhe kukud/kondur kasidan jati; Ananging sajakipun R. Panji Notoroto nembe sibuk mucal murid-muridipun soho nanggapi dengan sebelah mata. Mboten eling bilih si ‘kere godean’ puniko badhe ‘membuktikan’/hujah akan kebenaran kawruh yang dihayatinya. Amargi sang utusanipun si kere godean terus mendesak supaya R. Panji Notoroto untuk datang, maka R. Panji Notoroto pun akhirnya datang.
Tapi sungguh sayang…sedikit terlambat…
Badan wujud Si Kere Godean sampun kukud gedhenipun sakmerico binubut (setitik nutfah) ingkang mowo cahyo ingkang gumilang, sahinggo mukso…kondur Kahanan Jati.
R. Panji Notoroto ngungun…getun…amargi nyepelekke si Kere Godean ingkang senajan to katon bleger saking ’sudra’, ananging saestu katrimah panembahipun lan bukti NYOTO TEKAN kawruhipun. Wiwit puniko R. Panji Notoroto ‘mengundurkan diri’ saking tugasipun mengajar, mulai njajah tanah jawi pados kaweruh kagem nggayuh kasampurnan winadi.
…………………
Wonten malih, R. Somacitra priyantun saking bagelen Kemanukan Purworejo puniko inggih kukud sahinggo mukso (raganipun nderek mukso sahinggo sakmrico binubut sinareng kaliyan cahyo ingkang anelahi) naliko tahun 1922. Beliau ugi dados Guru panuntunipun poro kadang saking Kaweruh kasunyatan Hardo-Pusoro. Naliko Kongres Theosofie ing semarang (Th.1917) nilar kenang-kenangan seratan ingkang judulipun “Kawulo-Gusti”.
………………..
Wonten malih, priyantun Sumatra…..ananging kagem lebih yakin langsung kemawon nyuwun pirso dumateng Ki Prof. Dr. Damarjati Supadjar wonten ing Ngayogyakarta. Beliau lebih tahu seksi bukti nyoto pribadi2 ingkang sampun katrimah panembahipun sahinggo nggayuh kamuksan.
….. duh poro kadang….eman-eman, ampun rebut balung tanpo isi…
asal kito luwih dening luhur…eman-eman, ampun rebut ducung…
Monggo kito sarasehan…saroso asihan…gosok-ginosok…sahinggo
pangilon kito saestu resik kinclong…menawi sampun kinclong mangkih kito ngilo….e..e..ha jebul namung INGSUN KANG ONO !!
lare dusun berkata,
November 11, 2008 pada 7:00 am
LAKSITA JATI
Dikirim LAKSITA JATI pada Mei 2, 2008 oleh Mas Kumitir
Mratelakake laku panglungguhaning raga supaya yen kita pralaya, badan kita wadag bisa nyawiji karo badan kita kang alus, kasebut badan ruhani utawa badan sukma.
Janjine bandan wadag lan alus iku ora kena pisah, sangkan parane nunggal kahanan jati, nanging wola-wali ing tembe badan wadag kuwi luluh sampurna ana sajrone badan alus kalimputan dening kayu dhaim, tegese, urip kang tetep dumunung ing kahanan kita pribadi, mula dipralambangi warangka manjing curiga (badan wadag dumunung sakjroning badan alus). Kala badan wadag isih dadi embane badan alus, pralambange curiga manjing warangka (badan alus isih dumunug ana sajroning badan wadag)…….
sabdalangit berkata,
November 11, 2008 pada 7:56 am
KageM Mas NOROYONO
nuwun dumateng poro kadhang sedoyo
mugi tansah binerkahan saking ngarsanipun Gusti Ingkang Akaryo Jagad
BAB; uborampe Mitoni
Sajen:
1. jenang 7 macam : bahan dasar bubur putih gurih (pake santen) dan bubur merah pake gula jawa); ditaruh di piring kecil2; kombinasi 7 macam; merah jejer putih (bersisihan), merah ditumpangi putih, putih ditumpangi merah, putih disilang merah, merah disilang putih, baro-baro (bubur putih diatasnya dikasih parutan kelapa dan sisiran gula jawa).
2. Gudangan mateng : sayur 7 macam; kangkung dan kacang panjangnya jangan dipotong2 biarkan panjang saja.
3. Nasi : megono (nasi dicampur bumbu gudangan pedes dan dikukus)
4. Jajan pasar 7 macam.
5. Rujak pedes dengan 7 macam buah.
6. Ampyang kacang, ampyang wijen dll (7 macam ampyang)
7. Kolo kependem, kolo gumantung, kolo merambat ; kacang tanah, singkong, talas, ketela, pepaya. direbus kecuali pepaya. pepaya masak.
8. Ketan dikukus lalu dibikin bulatan sebesar bola bekel (diameter 3-4 cm); warna putih, merah, hijau, coklat, kuning.
9. Tumpeng nasi putih, kira2 cukup untuk makan 7 atau 11, atau 17 orang.
10. telur ayam 7 butir.
11. pisang raja dan pisang pulut masing2 sau lirang/sisir.
TATACARA;
Tumpeng ditaruh di atas “kalo” / saringan santan yg baru. bawahnya tumpeng dialasi daun pisang. dibawah kalo dialasi cobek agar kalo tidak ngglimpang. jika ada daun pisang sisa potongan, taruh saja diantara cobek dan pantat kalo.
Sayur 7 macam direbus ditaruh disekeliling tumpeng, dan ditaruh sekalian bumbu gudangannya.
Telur ayam apasaja jumlahnya 7 butir, direbus lalu dikupas, ditaruh mengelilingi tumpeng.
Pucuk tumpeng dikasih sate isinya ; ditancapkan pake tusuk sate dari bambu,posisi berdiri di atas pucuk tumpeng; urutan dari bawah; bawang merah kupas, cabe merah besar posisi horisontal, telur kupas utuh, bawang merah lagi, paling atas cabe merah besar posisi vertikal.
Pisang, jajan pasar, 7 macam kolo, dan 7 macam ampyang ditata dalam satu wadah tersendiri, namanya tambir atau tampah tanpa bingkai yg lebar..beli yg baru jangan bekas ya. kalau tampah “pantatnya” rata datar, sedangkan tambir pantatnya agak cembung.
mugi2 saget migunani dumateng ing ngakathah ingkang mbetahaken.
Nuwun
Rahayu
sabdalangit berkata,
November 11, 2008 pada 8:07 am
ada yg penting dan kelewatan saya sampaikan mas Noroyono;
kalau mitoni jangan ambil hari jumat legi, karena aturan “main” mitoni harus ambil hari selasa atau sabtu. jika hari selasa bisa weton yg bagus misalnya ; selasa legi = 8 (gedhong). selasa pahing 12 (rejeki), selasa wage 7 (rejeki), selasa kliwon = 11 (sri). jika hari sabtu; sabtu pahing = 18 (gedhong), sabtu pon = 16 (sri), sabtu wage = 13 (gedhong), sabtu kliwon = 17 (rejeki).
YG PALING PENTING jangan sampai mitoni dilaksanakan belum genap 7 bulan, jadi sebaiknya malah lebih dari 7 bulan.
nuwun
samudro berkata,
November 11, 2008 pada 8:29 am
kang kumitir, nggonanku kok di delikke seh, aku mung ngajak ngabekti marang bumi jowo, miwiti dadi agomo ageming aji, ngrewangi poro petani sing sak iki mulai dijajah marang kapitalis, opo iku kliru ?
noroyono berkata,
November 11, 2008 pada 8:52 pm
ngaturaken matur sembah nuwun kang mas
tapi mekaten kang mas, sedoyo sampun kulo umumaken teng sedoyo tonggo teparoh bilih benjang jum’at legi ingkang putro bakale dipun mitoni, kados pundi kang mas.
atmaja kulo lahiripun tanggal 14 maret 2008, punopo benjang jumat meniko pas wetonipun nopo ampun lebih?
terus lampahanipun inkang putro kados pundi kang mas?
setunggal melih, dungo lan ucapan kang prayogi ing dalem mitoni benjang kados pundi kang mas Sabdalangit?
ngaturaken gunge panuwuhun sak derengipun kang mas Sabdalangit.
Rahayu….santi…santi…
lare dusun berkata,
November 12, 2008 pada 1:12 am
Selamat kagem kangmas noroyono, putranya udah menginjak 7 bulan…
mugi2 kasembadan punopo ingkang dados kekudangan tiyang sepahipun.
sabdalangit berkata,
November 12, 2008 pada 11:30 am
Nuwun sewu sak derengipun dumateng…mas Noroyono lan kadang kumitir
kagem kasaenan sedoyonipun, prayogi mundut dinten sabtunipun kemawon. pas sae sanget sabtu pahing dawah 18 weton paling ageng. mugi dados lare ingkang kiat nyunggi drajat luhur lan kesinungan dados hartawan, ugi ngrejekeni dumateng tiyang sepuh.
lajeng donganipun ; ..”sedaya kasaenan dipun suwun dumawah saking ngarsanipun Gusti Ingkang Akarya jagad, jabang bayi keng pura tumurun sedaya kasaenanipun kadosdee Prabu Kamajaya (bilih jaler) lan kadosdene Dewi Ratih (bilih pawestri).
mungguhing kawula, langkung prayogi acara dipun geser sedinten, dados sabtu pahing, toh sedaya kesaenan samangke dawah kagem keng putro piyambak, mboten kagem poro tamu undangan. mbok bilih meniko dados ujian utawi goda kagem panjenengan anggenipun bade nampi anugrah agung.sedaya kanugrahan punika boten wonten ingkang “gratis” kedah mawi , nanging kanugrahan lan kasaenan temtu dumawah wonten wingking. monggo saget dipun penggalih kanthi wening…
rahayu
embun berkata,
November 12, 2008 pada 3:54 pm
waduuh ustad azmi,,, aku mint maap…. embun emang arek kurang ajar, nag tau sopan santun… maap yah,, wong tuwo sing agung pangapurane……… rahayu….
noroyono berkata,
November 12, 2008 pada 8:11 pm
natur sembah nuwun kang mas sabda langit anggene anggulowentah dateng kawulo. kulo sarujuk kalian pangandiko panjenengan. lek mekaten mangke kulo rubah mawon dinane dados sabtu pahing.
dumateng mas lare dusun inggih katuraken panuwun, kulo suwun dungo saking sedoyo kadang kumitir kagem inkang putro.
Kang mas Sabda langit kulo bade nyuwun pirso bab setunggal maleh.
LAMPAHANE PUTRO KULO MBENJANG PAS ACARA 7 BULANAN NIKU NOPO KEMAWON, MAKSUD KULO NGANCIK NOPO TERUS KEDAH SIRAM TUYO MENOPO LAN LINTUNIPUN, KULO TAKSIH BINGUNG, NYUWUN PITUDUH PANJENENGAN.
RAHAYU…SANTI…SANTI
PETRUKKANTONGBOLONG berkata,
November 12, 2008 pada 8:39 pm
Dumateng poro Kadang ing Padepokan alang alang kumitir
monggo kulo aturi ninggali ladrang ibu pertiwi damel nentramake manah :
Pelog 6 nggih guru lagune Cakepane Megatruh :
Ibu Pertiwi paring boga lan sandhang kang murakabi
Peparing rejeki manungsa kang bekti
Ibu Pertiwi
Ibu Pertiwi
Sih sutresna ing sasami
Ibu Pertiwi kang adhil luhuring budi
Ayo sungkem mring Ibu Pertiwi
Slendro Manyuro : Cakepane Dandanggulo
2. Santi mulya, Santi mulya
Luhur mulya ning negara
Indonesia pasti jaya
Tarlen saking golonging sedyatama
Manunggal mrih santosa
Cipta rasa budi karsa
Gumelaring memayu hayuning Bangsa
Basuki yuwana sirna papa sangsaya
Sampurnaning bebrayan gung Pancasila
Mangambar ganda nyarum
Indonesia langgeng mardik
lare dusun berkata,
November 13, 2008 pada 12:32 am
(Rahayu…poro kadang, wonten ‘bingkisan’ sekedik saking kulo…mungkin bisa untuk renungan bagi kita…)
Menunjuk Bulan
……………………
Ajaran yang diturunkan oleh Para Mahluk Suci dan Master-master spiritual, bagaikan sebuah jari yang menunjuk pada Bulan. Bagaimanapun hebatnya Ajaran tersebut, tetap saja tidak mungkin dapat mengantikan bulannya. Bagaimanapun rahasianya suatu Ajaran, tetap saja Kasampurnan yang sebenarnya bukan berada pada Ajaran tersebut. Tetapi tanpa Ajaran tersebut, sangat sulit sekali, untuk mengetahui jalan Kasampurnan yang sebenarnya. Untuk ini, saya mengingatkan para pembina spiritual, untuk tidak hanya terjebak dengan kehebatan dan kekuatan suatu Ajaran dan Ajaran Rahasia sekalipun.
Bila hanya sebatas membandingkan, kekuatan dan manfaat suatu Ajaran. Saya dapat memastikan bahwa tidak semua Ajaran Rahasia pasti lebih hebat dari Ajaran Umum, karena kerahasiaan suatu Ajaran hanya sebagai karakteristik dari Ajaran tersebut, yang bertujuan untuk mencegah terjadi kesalah pahaman dalam memahami Ajaran yang demikian. Kerahasiaan suatu Ajaran, tidak berarti bahwa Ajaran tersebut pasti memiliki kehebatan dan kekuatan yang lebih dari Ajaran umum lainnya. Bahkan sebuah Ajaran mantra yang sangat sederhana, seperti Aum, bila dipahami dengan dalam. Saya telah pastikan dan buktikan bahwa manfaatnya dapat jauh melebihi dari berbagai Ajaran-ajaran Rahasia.
Bila telah memahami bahwa Ajaran yang diturunkan oleh para Master spiritual, hanya sebagai jari yang menunjuk pada Bulan. Maka pertama-tama para pembina spiritual harus memahami sepenuhnya, bagaimana alamiah Jari tersebut yang sebenarnya sehingga jari tersebut dapat menunjuk pada Bulan yang sebenarnya. Dengan memahami dan membinanya, sesuai dengan contoh dari Jari yang menunjuk ke Bulan, maka para Pembina Spiritual akan dapat menggunakan jarinya sendiri untuk menunjuk pada Bulan. Untuk dapat menunjuk Bulan dengan jarinya sendiri, seperti Jari-jari para Master Spiritual, maka para pembina spiritual harus membina langsung Ajaran tersebut dalam kehidupannya sehari-harinya.
Janganlah berbangga hati hanya karena sebatas telah melihat Jari-jari para Master dan Gurunya yang telah dapat menunjuk langsung Bulan. Janganlah terikat dengan kehebatan dan kebanggaan karena telah mendapatkkan silsilah Ajaran tersebut, tetapi tidak giat membina diri. Janganlah hanya sebatas membicaraan Jari-Jari para Master yang dapat menunjuk langsung ke Bulan, Akhirnya, mereka hanya sebatas sebagai pemilik jari, yang hanya dapat menunjuk pada jari-jari Para Mahluk Suci saja. Mereka tidak mungkin dapat memahami Bulan yang sebenarnya, tetapi mereka sibuk sebatas membanggakan, membicarakan, mendiskusikan, dan mengumpulkan Ajaran-ajaran saja.
Bagi para pembina spiritual sejati, membina kehidupan spiritual tidak hanya sebatas melihat dan membicarakan kehebatan akan jari Gurunya yang menunjuk ke bulan, tetapi mereka memahami bahwa dirinya harus dapat menjadi seperti Gurunya, yang dapat menunjuk bulan dengan jarinya sendiri.
………………………………………………….mekaten poro kadang……………
nuwun…
prawiroyudo berkata,
November 13, 2008 pada 3:08 am
manungso urip ing ngalam ndonyo kuwi kudu manut rohso (roh kang sejati kang nduweni roso) ojo nuruti pikiran, karep lan napsu , amarga kanthi ngono mau njalari manungsa ngeret sangkan paraning dumadi
Azmi berkata,
November 13, 2008 pada 7:54 am
Dalam tradisi kebudayaan mana pun di dunia ini pasti ada metode atau cara-cara untuk membangkitkan daya linuwih atau kesaktian tersebut. Daya linuwih atau kesaktian yang dimaksud adalah suatu bentuk energi yang tidak kasat mata yang kekuatannya jauh melampaui energi fisik manusia.
Di bumi Indonesia ini pun dapat kita temui berbagai khasanah daya linuwih tersebut, baik yang masih sangat-sangat tradisional dengan tradisi kembang-menyan-mantra bahasa lokal-kanuragan maupun yang campuran atau sinkretisme dengan khasanah Islam – wirid dan hizib. Ada juga adopsi dari budaya luar terutama yang berasal dari India Kuno dan Cina yang mengeksplorasi chakra semacam kundalini, gTumo dan reiki, gwa kang – gin kang – sin kang – leu kang. Ada juga yang menjamur dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir ini dengan daya linuwih yang dirasionalkan metodenya semacam bioenergi. Dari khasanah Islam juga dikenal dengan nama ilmu hikmah, hanya saja ilmu hikmah yang kita kenal sekarang sangat jauh berbeda dengan ilmu hikmah yang orisinil dimana ilmu hikmah ketika itu lahir dari para sufi agung dalam kerangka ajaran thoreqoh. Sedangkan saat ini ilmu hikmah tersebut biasanya sudah lepas dari amaliyah thoreqoh dan tidak melalui pengajaran atau ijazah dari seorang mursyid yang kamil dan mukamil.
Metode pembangkitan yang dipakai oleh berbagai khasanah daya linuwih atau kesaktian tersebut biasanya secara parsial, menyeluruh atau pun kombinasi tidak lepas dari puasa (berbagai macam jenisnya), olah napas (tarik-tahan-hembus, keras, lembut, pengaliran napas ke titik-titik tertentu), pengulangan kata / self talk (mantra, wirid, hizib), olah gerak (postur tubuh, jurus), visualisasi (membayangkan, pemusatan kehendak) dan meditasi. Sedangkan yang model-model instan biasanya dengan menggunakan transfer energi, inisiasi atau attunement dan bahkan dengan menggunakan benda-benda isian atau pusaka berkhodam.
Metode-metode tersebut biasanya berfungsi atau bertujuan untuk :
1. Mengkondisikan pikiran dalam kondisi hening, dimana bila seseorang semakin dapat mengendalikan pikirannya dalam kondisi hening maka semakin besar besar pula kekuatan phsikis yang dimilikinya atau bisa dikatakan semakin tinggi vibrasi energi yang dimiliki sehingga akan semakin mudah untuk mewujudkan apa yang dikehendaki. (Metode yang dipakai biasanya : puasa, pengulangan kata / self talk, visualisasi dan meditasi. Hal ini secara nalar/logika berkaitan dengan pola gelombang otak yang dalam kondisi alpha dan vibrasi energi yang dikenal dalam fisika kuantum. Lebih detailnya bisa di-search di internet)
2. Menyerap energi yang dianggap/dikategorikan sebagai energi alam, misalnya energi bumi, energi inti besi, energi matahari dan sebagainya. Memperbaiki dan meningkatkan kualitas fisik sehingga sirkulasi energi tubuh dapat berjalan dengan lancar yang akhirnya pancaran energi tubuh keluar semakin bersih, halus dan kuat. (Metode yang dipakai biasanya : olah napas dan olah gerak.)
3. Menguatkan keyakinan diri, bahwa : saya bisa, dengan mengakses kekuatan pikiran bawah sadar yang menurut para ahli yang mempelajari tentang otak, pikiran bawah sadar kekuatannya mencapai 88% dari pada pikiran sadar yang 12%.
Dari berbagai macam daya linuwih atau kesaktian tersebut, pada intinya biasanya diaplikasikan dalam bidang pengobatan baik fisik (demam, kanker, patah tulang,dll.), pshikis (stres, depresi, trauma, dll.) maupun batin (kesurupan, santet), bela diri (defensif, kanuragan : kebal, kekuatan tangan, kekuatan suara, dll.) dan perwujudan kehendak / permasalahan sehari-hari, misalnya : pelaris usaha, perjodohan, persaingan kerja, kehilangan barang dan sebagainya. Yang lebih ekstrem lagi tentu saja berada di luar logika, seperti misalnya kemampuan-kemampuan melipat jarak/berpindah tempat dalam sekejab, menghilang dari pandangan orang, menembus tembok, menempel di tembok dan masih banyak lagi. Hal-hal yang di luar logika, tetapi nyata adanya.
Apa sih yang tidak bisa dilakukan manusia. Sebagai makhluk yang default-nya paling mulia, tentunya potensi yang dimiliki sangat luar biasa, terutama potensi otak yang telah banyak diteliti oleh para ahlinya. Sehingga saat ini berbagai fenomena daya linuwih atau kesaktian tersebut dapat dijelaskan, dinalar, dilogikakan dan diformulasikan kembali metode pencapaiannya.
Tetapi yang patut diingat adalah dapatkah metode-metode yang dijalani untuk membangkitkan daya linuwih atau kesaktian tersebut terbebas dari nafsu para pelakunya ? Nafsu ingin dipuji, nafsu ingin menjadi paling hebat, paling bisa, nafsu merasa bangga, sombong dan takabur. Bila nafsu-nafsu tersebut masih sedemikian besarnya maka dapat dipastikan bahwa tanpa disadari ada peran serta energi jin di dalamnya, yang nantinya malah akan memperbesar ego pelakunya dan akan membuat ketergantungan kepada daya linuwih atau kesaktian yang “dimiliki”, apalagi bila dalam pencapaian daya linuwih atau kesaktian itu sejak awal memang diniatkan untuk sesuatu yang “negatif” atau yang disebut sebagi black magic.
Karena itu seseorang yang mempunyai kehebatan-kehebatan yang luar biasa, memiliki kasekten ngedab-edabi atau pun daya linuwih yang jauh di luar logika bukanlah jaminan kedekatannya dengan Tuhan, karena semua itu ada metodenya berarti termasuk rumusan hukum alam / sunatullah dan siapa yang bisa melaksanakan metode tersebut maka akan memperoleh hasil sebagaimana yang dimasudkan dalam metode yang dijalani (ngelmu kuwi kelakone kanti lelaku).
Azmi - Pengalaman Pribadi berkata,
November 13, 2008 pada 8:17 am
Ternyata dalam ilmu hikmah Islam, semua ada dan saya akui sesuai pengalaman saya memang TOP. Ilmu-ilmu dari India Kuno macam reiki, gtumo atau yang moderen macam bioenergi termasuk yoga sekalipun semuanya terangkum dalam Sholat. Ada rahasia penyerapan energi dari Takbiratu Ikhrom ketika sholat, penyembuhan dengan pengaliran energi melalui 7 titik sujud dalam sholat dan penguatan kekuatan bathin dengan dzikir di 7 titik ruh (lathoif). Diajarkan tentang 7 titik jazad untuk kekuatan kanuragan juga tentang 7 titik sifat rendah manusia alias jalur/lalu lintas masuknya jin-syaithon dalam diri manusia (setelah saya renungkan ternyata di antara 7 titik masuk jin-syaithon tersebut terdapat chakra-chakra yang dikenal dalam ilmu-ilmu dari india kuno). Bahkan ilmu ilmiah moderen yaitu hypnoterapi pun secara ringkas, singkat dan tepat diajarkan dengan mengunakan nur alif. Ilmu-ilmu kedigdayaan jawa pun ada ayatnya versi ilmu hikmah dengan disertai puasa sebagai riyadhohnya. Pengolahan tenaga dalam melalui gerakan jurus berdasarkan huruf hijaiyah dan olah napas disertai dzikir rahasia dan dikuatkan amalan rutin harian (dzikir keilmuan). Hasilnya memang TOP, tetapi dalam setiap kesempatan dipesankan untuk selalu menjaga ketaqwaan, sabar-pasrah-ikhlas dan jangan jualan ilmu apalagi ayat-ayat Allah.
Tetapi terus terang sangat sulit melakukan itu. Bagaimana tidak, bila sejak semula sudah diajarkan kalau mau memperkuat batin, shaolat taubatnya 5 kali sehari, ditambah sholat tasbih sekali plus dzikir minimal 1000 x sehari di setiap titik energi terutama titik lathoif. Bagaimana bisa untuk Allah, kalau diajarkan tirakat untuk suatu ilmu tertentu itu cara puasanya begini, ayat yang dibaca ini, jumlahnya segini dan cara menggunakannya seperti ini. Bagimana bisa “lebur” dalam Allah, kalau untuk memperkeras badan fisik kita harus menyerap inti besi (al hadid) yang malah menjadi hijab kita dari Allah.
Hasil dari riyadhoh yang selama itu saya jalani menurut nalar memang terasa manfaatnya, untuk diri sendiri, keluarga, teman dan orang lain yang tidak saya kenal sebelumnya sekali pun. Dari satu kasus keberhasilan dalam pengamalan ilmu hikmah ke keberhasilan yang lain, dari satu orang ke orang yang lain, dari yang jumpa langsung sampai yang hanya lewat telpon, dari yang sekota sampai yang nun jauh di negeri seberang, semakin menguatkan rasa percaya bahwa “saya bisa”. Di balik itu tidak bisa dipungkiri terselip rasa bangga, rasa ingin dipuji dan rasa ingin menjajal orang-orang berilmu terutama paranormal-paranormal yang pasang iklan besar-besaran di media masa. Ya…. begitulah memang nuansanya.
Lebih senang lagi kalau sudah bisa menguasai ilmu terawangan atau ilmu teropong. Menerawang hal-hal ghoib di balik yang tampak, menerawang sesuatu dari jarak jauh, menemukan pokok persoalan dari yang dikeluhkan seseorang. Ini yang banyak tipu dayanya, karena sering seseorang yang dikaruniai kemampuan menerawang, merasa mampu untuk melihat ini itu dan merasa sempurna hingga lupa untuk menerawang dirinya sendiri terutama yang berkaitan dengan hubungannya kepada Allah. Ya…. terawangan memang mengasyikkan tetapi sekaligus melalaikan dari yang seharusnya kita lakukan yaitu menghisab diri kita sendiri setiap saat.
Ada lagi yang asyik tetapi lebih banyak lagi tipu dayanya yaitu salah satu ajian yang pernah saya terima, yaitu aji rogoh kubur. Fungsinya adalah untuk komunikasi dengan alam jin, komunikasi dengan alam orang yang sudah meninggal khususnya para alim ulama dan untuk membedakan ruh beneran atau jin yang memba-memba atau menyerupai seseorang. Tetapi sekarang setelah saya renungkan itu bukanlah suatu jaminan kebenaran, karena dengan menggunakan metode tersebut siapa sih yang bisa menjamin kebenarannya bahwa yang berkomunikasi adalah benar-benar ruh alim ulama, apalagi yang menghendaki komunikasi adalah diri saya yang masih sangat jauh dari ikhlas. Bukankah Jin yang evolusinya tingkat tinggi dapat sekejap saja menggelar panggung sandiwara yang sangat detil dan tertata rapi yang ditampakkan di hadapan saya.
Memang benar bila dikatakan bahwa : Amalan yang diterima bukan dari seorang Mursyid Kamil Mukamil banyak tidak sesuainya dengan volume batin kita di masa depan. Banyak contoh yang saya lihat selama ini, seseorang yang menjalankan tirakat keilmuan dengan kategori sangat berat – dia sanggup – tetapi di belakang hari ada saja gangguannya, entah itu secara ekonomi kurang beruntung, anak-anaknya engga ada yang nurut, sakit berkepanjangan di hari tua dan sebagainya.
Setelah berthoreqoh khususon thoreqoh Syadziliyah, tentu saja semua amalan ilmu hikmah yang sebelumnya harus ditinggal karena dalam skala dunia-akhirat tentu saja amalan tersebut tidak ada barokah manfaatnya, hanya sesaat saja muncul khasiatnya. Thoreqoh lebih agung dari itu semua, apa artinya kemampuan-kemampuan daya linuwih dan kesaktian yang saya miliki jika dibandingkan dengan ridho-Nya Allah. Dengan thoreqoh hidup ini pasti lebih berkah, karena kita dilatih terus menerus untuk selalu mengarahkan tujuan dan masa depan kita hanya kepada Allah, sehingga punggung kita tidak terbebani oleh kepentingan-kepentingan hawa nafsu.
“Bagaimana hati dapat bersinar sementara gambar dunia terlukis dalam cerminnya ? Atau, bagaimana hati bisa berangkat menuju Allah kalau ia masih terbelenggu syahwatnya ? Atau, bagaimana hati akan antusias menghadap ke hadirat Allah bila ia belum suci dari janabah kelalaiannya ? Atau, bagaimana hati mampu memahami kedalaman misteri gaib padahal ia belum bertobat dari kesalahannya ?”.
Yang jadi andalan sekarang ya… Gusti Allah, pokoknya pasrah sama Allah. Pernah saya menanyakan ke Syekh Luqman, bagaimana saya harus menyikapi orang-orang yang dulu terlanjur mengenal saya “pintar” dan minta tolong kepada saya ? Beliau menasihatkan bahwa saya jangan menolak, tetapi jangan menggunakan amalan ilmu hikmah yang dulu melainkan menggunakan aurod yang diajarkan di syadziliyah. Bagaimana caranya ??? Setelah saya renungkan, jawabnya : ya melalui doa !!! Bukankah sekarang yang diandalkan hanya Gusti Allah, bukan yang lain-lain, jadi ya doa saja sesuai yang dihajatkan setelah melaksanakan amalan rutin syadziliyah baik aurod maupun hizb-hizbnya. Dari situ saya mengerti pentingnya istiqomah, salah satunya adalah untuk melatih agar amaliyah saya tidak ada motif apa pun selain Allah, sehingga kalu ada hajat ya tinggal berdoa saja, beres. Hal ini lain ceritanya kalau amaliyah tersebut saya lakukan karena ada hajat, berarti tujuannya adalah tercapainya hajat saya, lalu apa bedanya dengan dulu ? Kalau pun ada media (asma’) yang digunakan itu pun saya niatkan sebatas mohon keberkahan dari Allah sesuai yang dihajatkan.
Lebih lanjut bila ada orang yang minta tolong entah itu minta didoakan, sakit, terkena gangguan jin, kesulitan sehari-hari yang berhubungan dengan problema rumah tangga, bisnis atau apa pun saja, tidak boleh menolak sama sekali walaupun tidak mempunyai metode keilmuannya. Cara menolongnya ya menurut kata hati paling dalam yang muncul (ilham Allah), apakah kata hatinya memunculkan sebuah doa, bacaan ayat tertentu atau hizb tertentu atau saran-saran tertentu. Namun tentu saja hal tersebut tidak bisa direncanakan dan dikonsepkan seperti seorang dokter atu ahli ilmu hikmah dan yang terpenting bahwa kemudian hal tersebut tidak boleh dijadikan profesi, ladang bisnis apalagi label sang penolong. Kalau orang yang ditolong memberikan sedekah juga tidak boleh ditolak karena menerima pemberian orang yang ditolong itu sama dengan meringankan bebannya, demi yang ditolong bukan demi kepentingan penolong.
Hasilnya : alhamdulillah kebanyakan lebih cepat berhasil sesuai hajat yang dimaksud dan tidak ada efek negatif dalam diri saya, soalnya dulu misalnya kalau mengobati orang biasanya kalau sakitnya parah atau karena ganguan jin atau teluh, saya ikut merasakan efek negatif setelahnya soalnya jinnya ganti yang nyerang saya atau dukun santetnya engga terima. Saya sendiri juga heran, kok bisa ya ? Setelah saya renungkan akhirnya saya ambil kesimpulan Sesuai logika dan penalaran saya yang sempit ini, kira-kira begini : seseorang yang menjalani lelaku/metode keilmuan akan mengakibatkan semakin kuat vibrasi energi yang dimiliki, dimana kuatnya vibrasi energi ini sangat mempengaruhi kecepatan materialisasi/perwujudan keinginan atau kehendak, sedangkan ritual amaliyah thoreqoh yang istiqomah yang ditujukan kepada Allah tanpa embel-embel yang lain secara tidak langsung dan tanpa disadari (juga tidak perlu diharapkan dan diseriusi) akan mengakibatkan vibrasi energi pengamalnya akan semakin bersih, kuat dan halus. Hal tersebut juga akan menimbulkan efek percepatan materialisasi. Karena itu para wali Allah biasanya apa yang dikatakan makbul, langsung terjadi seketika, seperti kisah Sunan Bonang yang dirampok oleh Brandal Lokajaya (yang kemudian menjadi Sunan Kalijogo), Sunan Bonang mengatakan tidak membawa apa-apa yang bisa diberikan tetapi kalau mau si Brandal Lokajaya disuruh mengambil emas – sambil Sunan Bonang menunjuk buah aren yang seketika itu juga menjadi emas. Bukankah Allah mempunyai nama Al Khaaliq yang berarti maha pencipta, berarti manusia pun mempunyai potensi seperti itu hanya lain dan jauh sekali dengan Kun Fayakun-nya Allah. Kalau Allah dari yang tidak ada menjadi ada sesuai kehendak-NYA, tetapi potensi yang dimiliki manusia hanya mentransformasikan dari satu bentuk energi ke bentuk energi yang lain, sebagaimana sunatullah hukum kekekalan energi dalam ilmu fisika dimana energi itu tidak bisa diciptakan dan tidak bisa dimusnahkan hanya ditransformasikan saja (energi potensial gravitasi menjadi energi gerak menjadi energi listrik menjadi energi panas dan seterusnya). Hanya saja bagi pari aulia / para wali Allah / orang suci yang bisa menjaga keikhlasannya, transformasi energi tersebut berlangsung sangat cepat dan tanpa memerlukan lat bantu / pesawat apa pun.
Menurut pendapat Anda lebih bernilai mana bila dalam suatu persoalan ada dua pilihan untuk menuju solusi yang diharapkan yang kebetulan Allah juga mentakdirkan terjadinya solusi itu, yaitu :
1. Ikhtiar secara fisik dilakukan dibarengi ikhtiar batin dengan menggunakan daya linuwih yang difokuskan mencapai solusi yang diharapkan. Pemfokusan daya linuwih itu tentu dengan menguatkan AKU pemiliknya.
2. Ikhtiar secara fisik dilakukan dibarengi ikhtiar batin dengan memasrahkan segalanya pada Allah melalui DOA.
Kedua-duanya berhasil karena kebetulan takdir Allah memang menghendaki seperti itu, tetapi lebih bernilai yang mana ?
Yang perlu diingat adalah bila doa-doa kita banyak yang cepat diijabah oleh Allah, harus banyak istighfar juga, sebab hal itu bisa jadi sebagai tanda-tanda bahwa Allah mengusir kita dari hadapan-Nya, sehingga apa yang kita minta cepat-cepat diberi biar engga lama-lama menghadap.
Na’udzubillah !
Memang godaannya saat-saat kepepet dulu kadang ada keinginan menggunakan ilmu, tetapi di hati selau ada warning : hayo mo ngandelin ilmu lagi, engga ngandelin gusti Allah !!! Gitu, akhirnya ya pasrah saja sama Gusti Allah, berkali-kali sudah terjadi, di saat bahaya mengancam, wis pokoke pasrah – dzikir terus, BERES. Bukankah segala sesuatu dalam hidup ini hakikatnya telah ditetapkan takdirnya oleh Allah ?
Tetapi saya selalu berusaha mengatakan pada diri saya sendiri :
“Kalau merasa berani masuk daerah rawan karena punya ilmu kebal, debus, tameng waja, lembu sekilan, tangan daud, bandung bondowoso, gelap ngampar – maka di mana keberanian yang sesungguhnya itu ada ? Lepaskan ilmumu kalau kau memang pemberani !!! ”
“Kalau merasa berani masuk daerah angker karena punya ilmu bathin, kulhu geni, kulhu balik, kulhu jabal – maka di mana keberanian yang sesungguhnya itu ada ? Lepaskan ilmumu kalau kau memang pemberani !!! ”
Saya ingat dawuhnya Syaikh Abdul Jalil Mustaqim (Tulungagung), bahwa kalau beliau disambati maka beliau cuma mendoakan saja tetapi doa yang ikhlas. Wah…. ini berat bagi saya, bagaimana itu mengaplikasikan doa yang ikhlas, ternyata berdoa yang ikhlas itu ya berdoa saja karena kita ini hamba sedangkan Allah itu Tuhan kita. Bagiamana bisa merasakan kalau Allah itu maha mengabulkan doa kalau kita tidak pernah berdoa ?
Ya… begitulah. Wallahu’alam.
ki gebang berkata,
November 13, 2008 pada 12:57 pm
weleh weleh mas azmi meniko ternyata tiyang ingkang sugih ngelmu-ngelmu jawi lan ngarap. Salut kagem panjenengan… mbok menawi sinteng kemawon ingkang pengen meguru, kulo sarankan meguru kemawon dhateng mas azmi. Dhumateng Mas Azmi mboten pareng pelit-pelit mbagi ilmu nggih!!!
Kulo sejatinipun nggih pengin meguru panjenengan, ananging sayangipun umur kulo kok sampun tuo nggih… koyone mboten pantes gadhah ilmu-ilmu ghoib kados mekaten. Mending lenggahan dhateng pinggir dalan kaliyan ngopi lan ngrokok kemawon…
Wah wah… donyo pancen tambah rame….
Ki Gebang
sabdalangit berkata,
November 13, 2008 pada 5:20 pm
dalam khasanah Jawa
puncak dari segala ilmu atau pengetahuan tentang kebatinan/spiritual/kejiwaan adalah pencapaian spiritual/kebatinan dalam perilaku hidup sehari-hari.
pencapaian spiritul yang paling tinggi atau puncak segala ilmu, adalah sebagaimana yg diilmukan “sastra jendra hayuning rat pangruwating diyu”, yakni ;
“MANUNGGALING KAWULO GUSTI”
maka dirimu menjadi sinergi dengan gelombangTuhan. “partikel” Tuhan ada dalam dirimu. Tuhan tidak kemana-mana, tetapi Tuhan ada dimana-mana. Tuhan juga ada dalam dirimu.
Bagaimana memunculkan Tuhan dalam dirimu ?
lenyapkanlah hawa nafsu, agar jasadmu dikuasai oleh jiwa yang suci. tetapi cermatilah dan bedakan hati nuranimu dengan akal budi, dan hawa nafsu. karena hawa nafsu dan akal budi dimiliki oleh manusia, sedangkan jiwa dimiliki oleh Tuhan.
maka jasad, akal budi, hawa nafsu akan hancur, busuk, kotor, najis…lalu kembali ke asalnya, yakni tanah.
tetapi jiwa akan “mulih”. “semune pulih” yakni pulih seperti yang dulu. untuk pulih seperti yg dulu, jiwa harus mulih/pulang kepada sumbernya, yakni Tuhan.
Jiwa adalah pancaran energi dan zat berasal dari Dzat Tuhan.
Sebaliknya, jasad adalah makhluk ciptaan Tuhan.
Maka carilah Tuhan, jangan kemana-mana, sebab Tuhan ada dalam dirimu. jika seseorang ingin mengetahui Tuhan, ketahuilah dirimu sendiri dahulu.
Jika Tuhan sudah diketemukan (oleh yang khowash) dan ternyata Tuhan telah berada dalam dirimu; maka ucapanmu menjadi “sabdo pendito ratu”, kata-katamu menjadi “idu geni”, ceritamu menjadi tuah. karena kehendakmu adalah kehendak Tuhan yang Mahapencipta dan berkehendak.
jauh lebih mudah mengukur tingkat PENGETAHUAN” spiritualitas. SEBALIKNYA amat-sangat-sulit-sekali mengukur sampai di mana tataran PENCAPAIAN spiritualitas diri kita.
Bagi Menungso Jawi, pencapaian spiritual yang masih dianggap permulaan adalah, ketika kita sudah DUWE RASA ORA DUWE RASA DUWE….
rasa itu, bukanlah RAHSNING KAREP, tetapi sejatinya KAREPING RAHSA (kehendak Tuhan). kehendak yg lahir dari hati nurani. sebab hati nurani merupakan suaranya jiwa, jiwa merupakan media mulut atau bahasanya Tuhan.
rasa itulah, merupakan pembuka jalan setapak menuju manunggaling kawula gusti.
Kareping rahsa; kemudian membutuhkan pengolahan raga, ucapan dan mantra, jurus, doa, sebagai bentuk olahing rogo.
!!!!!!!!!
MAKA; inilah bedanya kasekten zaman dahulu sebagai ILMU KALAKONE KANTHI LAKU. kasekten merupakan buah dari pencapaian spiritualitas tinggi. kedigjayaan, keampuhan merupakan wohing olah rahsa.
sebaliknya, zaman sekarang, banyak sekali “spiritualitas semu” dan hanya sebatas kulitnya saja, karena ditempuh kanthi olahing rogo yg DIKUASAI NAFSU, lan olahing arto yg GILO KADUNYAN.
MULO KASEKTEN ORA PERLU DIBURU, tetapi jika ingin sakti CARILAH SUMBERNYA, YAKNI ZAT tertinggi. menapaklah dari sana, lalu diimplementasikan kedalam perbuatanmu sehari2. maka kesaktian lah yg akan datang menghampirimu.
yak o istilah ngarabe kang aran Karomah kuwi lho ! mbuh gak weruh, aku wong njowo cubluk je..
Azmi berkata,
November 14, 2008 pada 12:20 am
Kagem Ki Gebang: Waduh..kulo niki tasek sanget-sanget mboten pantes dados guru. La wong ngguroni lan ngresko awak kulo mawon, kulo tasek mboten saget. Katah lupane dumateng ingkang ndamel urip. Menawi singen seh kulo belajar ilmu2 meniko teng Mas Gambang ingkang wonten teng Jl. Babatan gedong kuning Ngayogyokarto. Tapi sakmeniko Insya Allah sampun kulo tinggalaken, lan kulo pasrahiken dumateng tarekot Syadziliyah teng Pondok PETA Tulungagung.
Ngapunten sanget.
Ngabehi K.M berkata,
November 14, 2008 pada 4:42 am
Sugeng tetepangan, nuwun sewu badhe nderek mirengaken pawejangipun para kadhang2 sedaya.
ki gebang berkata,
November 14, 2008 pada 4:48 am
Kagem sedulur2 ingkang lenggahan dhateng Padepokan Mas Kumitir, Mas Azmi ingkang seneng meguru lan narekat, panjenengan mbok mboten nemen-nemen andhap asor mekaten tho. Tapi nggih monggo kemawon menggunakan filosofi SEMAKIN BERISI SEMAKIN MERUNDUK.
Btw, pendapat kulo mungkin sami kaliyan Mas Sabda Langit terkait bab tata cara nggayuh kawicaksanan ngaurip. Kulo percaya Mas Sabda Langit meniko paham banget tahapan mana spiritualitas kedah dimulai lan ujung dari perjalanan diri menungso, nggih meniko lebur, lenyap mak plas…. “Ilang” dhateng njerone Gusti Maha Satunggal. Perkoro mangke pelakune saged sakti, saged ngilang ora iso mbalik, saged mabur teng pucuke godhong, saged kebal bacok, kebal isin, gadhah ewonan aji jaya kawijayan meniko nggih terserah Gusti kemawon. Kabeh manungso diparingi eksistensi ingkang unik lan kemampuan piyambak-piyambak ingkang membedakan si A dengan B, C, D lan liyo liyane.
malah, kathah poro kadang sing luwih seneng mboten gadhah menopo-menopo soale mboten ngabot-aboti laku… lak mekaten to kang mas sabda???
Kagem mas Kumitir, selamat bersepeda ria…mugi-mugi terus mengalir ide-ide barunya lan terus nyerat. Nuwun…
Michael berkata,
November 15, 2008 pada 2:26 am
Kate takon karo poro sesepuh nang kene.
Aku moco nang blog iki, ono pendapat teko jack kalijaga bahwa, Sunan Kalijogo karo Syeh Siti Jenar iku tokoh Islam Kejawen. Padahal kabeh kan podo ngerti ne’e kabeh Walisongo termasuk Sunan Kalijogo karo Syeh Siti Jenar iku bersinggungan dalam memaknai Tuhan.
Piye iki? Mohon pencerahane karo poro sesepuh nang kene?
hidayat berkata,
November 15, 2008 pada 2:04 pm
rahayu…

emang gusti alloh itu ampuh:
hidayat 10 nop 2008 berkata:.” tetapi yang tor-tor koruptor itu bikin melarat ratusan juta orang, bunuh diri jutaan orang, ribuan TKI disiksa dan diperkosa, bikin bodoh jutaan orang karena sekolah mahal…,”
bisa dilihat disini: http://www.kompas.com/read/xml/2008/11/15/19451853/Suami.Tak.Mampu.Menafkahi..Panirah.Gantung.Diri
wass wb
samudro berkata,
November 16, 2008 pada 7:08 pm
sebenere gak bersinggungan mich, cuma kalijogo gak gelem nerusno ajarane, sedang siti jenar mbablasno ajarane, soale lek dibabablasno poro wali iku gak payu, soale isoe mangan cuma teko crito ngedol tuhan lan agomo, propaganda kasultanan demak dalam mengekploitasi rakyat jelata supoyo nurut, lan rakyat supoyo areh, podo khan karo sa’iki, yen ajarane jenar digawe, kabeh rakyat ngerti mbegare jagad lan kabeh ngerteni gustine dewe dewe, ora usah adol idu, nganggo jasa paranormal kang kasebut wali, yai lan sak panunggalane, iku sing ngrusak ajaran islam jatine, ajaran islam iku lurus, dadi langsung kudu ketemu sing kuoso, ora nganggo guru, gurune guru laku, lakune laku sampurno, nggowo rogo ugo roso lan cipto kanggo manembah marang sing kuoso, iku kang kasebut manungso paripurno, ngerteni wiwite lan ngerteni pungkasane, sangkan paran dumadi soko ning, ajarane wali ajaran roso, isone iso ngrasakno tanpo nglakoni, ajaran jenar ajaran laku, laku disik baru ngrasakno apik eleke lalu kaucap yo…, ajaran jowo ajaran cipto lantaran soko ning, nyawidjine rogo, roso lan cipto kangge ngadep mantep marang kang akaryo gesang yoiku sing jenenge islam, yo iku asal usule islam, ancen islam soko jowo dudu soko arab, mangkane islam iso apik nang tanah jowo, tapi nang tanah lio mesti congkrah, amergo ilange ajarane jenar, sing digowo cuma ajarane wali karo jowo, yo bablas angine, hilangnya keseimbangan kondisi, mekaten atur kulo mas mitchel, mugo mugo guyonan iki iso nggayengake babagan nuswantoro.
hidayat berkata,
November 17, 2008 pada 1:14 am
rahayu…
@Mas Samudra berkata: “,sebenere gak bersinggungan mich, cuma kalijogo gak gelem nerusno ajarane, sedang siti jenar mbablasno ajarane, soale lek dibabablasno poro wali iku gak payu, soale isoe mangan cuma teko crito ngedol tuhan lan agomo, propaganda kasultanan demak dalam mengekploitasi rakyat jelata supoyo nurut, lan rakyat supoyo areh, podo khan karo sa’iki, …….
===============================
ini pelecehan dan fitnah mas , segera memohon maaf pada walisongo dengan ziarah…. kalau tidak anda akan menderita mulai saat ini, saya belajar puluhan tahun tentang siti jenar dan kejawen, ada teman yang berpandangan seperti itu kemudian nasibnya tidak karuan entah kalau merantau ke negeri lain… yah saya memberitahukan saja silahkan membuktikan…
wass wb
michael berkata,
November 17, 2008 pada 1:45 am
wadoh..berarti ne’e tak simpulno islam iku gak butuh sopo2 karo ga butuh opo2 yo? qur’an karo nabi muhammad wes ga kanggo yo ne’e ngono? cukup awake dewe2 nggawe roso cipto lantaran soko ning, nyawidjine rogo, roso lan cipto kangge ngadep mantep marang kang akaryo gesang tok iso bablas nang seng kuoso? ra usah sholat soale sholat wes ra kanggo, seng penteng iso roso.
lare dusun berkata,
November 17, 2008 pada 3:21 am
ehm…ehm…
lare dusun berkata,
November 17, 2008 pada 3:25 am
Janganlah hanya sebatas membicaraan Jari-Jari para Master yang dapat menunjuk langsung ke Bulan, Akhirnya, mereka hanya sebatas sebagai pemilik jari, yang hanya dapat menunjuk pada jari-jari Para Mahluk Suci saja. Mereka tidak mungkin dapat memahami Bulan yang sebenarnya, tetapi mereka sibuk sebatas membanggakan, membicarakan, mendiskusikan, dan mengumpulkan Ajaran-ajaran saja.
Bagi para pembina spiritual sejati, membina kehidupan spiritual tidak hanya sebatas melihat dan membicarakan kehebatan akan jari Gurunya yang menunjuk ke bulan, tetapi mereka memahami bahwa dirinya harus dapat menjadi seperti Gurunya, yang dapat menunjuk bulan dengan jarinya sendiri.
………………………………………………….mekaten poro kadang……………
nuwun…
hidayat berkata,
November 17, 2008 pada 3:51 am
rahayu..
@ micahel berkata “cukup awake dewe2 nggawe roso cipto lantaran soko ning, nyawidjine rogo, roso lan cipto kangge ngadep mantep marang kang akaryo gesang tok iso bablas nang seng kuoso?”
====================================
tidak bisa seperti itu, untuk mengenal rasa tidak segampang itu, apalagi manunggal rasa, pemikiran tidak semudah itu, ada sebauah cerita begini: wanita yang ahli ibadah kemudian suatu saat menginginkan sebuah jilbab dan mengutilnya dari toko rabani, kegiatan wanita ini setiap malam berdoa memohon ampun pada Tuhan sambil jilbabnya dipakai….( ini adalah gambaran seseorang yang telah timpang dalam perjalanan spiritualnya tanpa adanya pengetahuan tentang ini, seumur hidup juga tidak akan sampai yang ia tuju)
untuk mengenal kemanunggalan rasa dengan tuhan butuh ilmu/pengetahuan tentang hal itu,
untuk itu tetap butuh guru spiritual, seperti Walisongo dengan Nabi Hidir memang tidak bisa dipisahkankan, antar guru dan murid, menurut saya penghinaan kepada Walisongo senilai dengan penghinaan kepada Nabi Hidir. untuk itu butuh juga sikap penghargaan kepada alam, mawas diri, sikap dan tingkah laku yang luhur…. nyawijine roso lan cipto tidak akan ditemukan oleh orang yang selalu melamun dan semedi dikamar saja,, yah tidak akan ditemukan, karena ia hanya akan menjadi seorang pecundang… lakukanlah agar engkau percaya kepada pemikiranmu sendiri….
wass wb
samudro berkata,
November 17, 2008 pada 4:25 am
ojo ngamuk ngono kang dayat, iku mung gojekan, kabeh jatine ngerti dununge dw2, aku ora bakal njaluk sepuro, aku wong jowo, aku nang omahku dewe, tak tinggal metu dilut, dikon njogo kok malah diorat arit, yo aku kudu pie, sanak kadang do paten pinaten amergo babagan sing ra jelas, gak bakalan enak neng alam kono poro wali yen nggawe rakyatku sangsoro, saiki aku lagi ngupoyo dandan2 neng nuswantoro, mbalekno jati dirine wong jowo, pungkasane perjanjian banjarsari th 1998 artine wis kudu diwengku maneh karo poro putro nuswantoro, trah browijoyo iv yoiku ix, yen babagan agomo neng jowo bebas ning ojo cidro marang sakpodho, bab kitab sembarang, pokoke selaras karo gung samudro, bab panutan goleko kang utomo nurutmu, yen wis sinau kudune wis ngerti, ojo dadi santri gundul, jare gatolotjo, sing ra ngerti lor kidul, gaweane manthuk2, wah gendhengku kumat, sepurane, aku teko miwiti tekane jaman anyar, goleki boloku kang membo nyang wadage sopo, kanggo ndandani maneh kahanan iki…wis mari ta..cak dayat, yen slirane dudu wöng jowo sepurane, aku lagi mrintah poro wali mungkasi samubarang kang wis diwiwiti, kuwi isi perjanjian rikolo semono, yen ra iso mungkasi bakal tak entekne pring sedhapur, lebur soko pakelirane jagad, bali dadi wung, ke..ke..ke… Dudu aku lho cak sing ngomong, yen aku kan guyon…
Santri Gundhul berkata,
November 17, 2008 pada 4:41 am
Katur Kakang Noroyono,
Wewarah kelahiran 14 Maret 2008, kagem putronipun kakang.
Keterangan ing ngandhap puniko sampun andadosaken penggalih utawi dados Kapercayan utawi sampun di IMANI nggih Kang??, sebab niki mung sadermo GEGURITAN ke mawon he..he….
KEPRIBADIAN 14 Maret 2008 :
Pengaruh Wewaran
Lintang Angsa Angrem, Berwatak ksatria selalu membela kebenaran. Bersifat terbuka dalam menyampaikan suatu permasalahan. Senang menolong orang lain, kadang kala sangat tepat meramal dan selalu berbuat kebajikan. Dari prilakunya banyak orang yang mencintainya. Berpenampilan sopan, akan tetapi bicaranya agak keras.
Pengaruh Wuku
Dewa Surenggana, Wataknya selalu penuh perhitungan dalam segala tindakan, agak sombong, tegas dan tulus hatinya, tidak ambisi, pandai bergaul, rejekinya gampang dicari, suka pamer kekayaannya.
Pengaruh Pratiti
Pemberani agak jarang tidur cinta pada keluarga, sering menemui kesulitan kadang kala memiliki pikiran loba, lurus budinya. Berbahaya pada umur 9 hari, 2 bulan, 8 bulan, dan 9 tahun. Meninggal pada pratiti Jati. Sebagai pedewasaan buruk akan mendapat halangan atau kesulitan, pihak lain tidak bersimpati, tidak memperoleh kebahagiaan.
Ramalan Bintang
Berwatak ramah dan tidak egoistis, namun kadang-kadang dalam hati nuraninya timbul pertentangan. Untuk mengejar kemajuan yang pesat anda harus cepat mengambil keputusan yang seimbang. Pasangannya Canser dan Scorpio.
GARIS HIDUP 9 :
Sifat-sifat utama mereka yang angka garis hidupnya 9 adalah: rasa kasih pada sesama dan sikap yang sangat humanis. Ini adalah misi yang harus Anda pelajari dalam hidup. Biasanya angka ini menghasilkan individu yang sangat dipercaya dan pribadi terhormat, juga seorang individu yang tidak punya sifat rasialis dalam bentuk apapun. Tentu saja, semua ini terlihat seperti daftar sifat yang terlalu sempurna, tapi Anda memang seseorang yang berperasaan peka bagi mereka yang kurang beruntung dibandingkan diri Anda. Dan jika Anda ada dalam posisi yang bisa membantu, akan Anda lakukan. Anda sangat peka dan memandang sekitar diri Anda dengan rasa kasih. Anda dengan angka garis hidup yang tertinggi ini berada pada posisi kehidupan yang tinggi dan dengan sendirinya mempunyai banyak tanggung jawab. Tujuan hidup garis hidup 9 ini bersifat filosofis. Hakim, pemimpin spiritual, penyembuh dan pendidik, seringkali mempunyai energi 9 ini. Keuntungan materi tidak terlalu penting, walaupun kualitas kepribadian beberapa dari Anda sedemikian istimewanya sehingga menghasilkan penghargaan secara materi yang luar biasa. Untuk kebaikan banyak orang, Anda seringkali harus bersikap tidak mengutamakan diri sendiri dan melepaskan hal-hal kebendaan. Bahkan orang-orang bergaris hidup 9 yang tidak terlalu istimewa saja memiliki pribadi yang sangat berbelas kasih. Keinginan untuk menolong orang, khususnya yang bermasalah dan kurang beruntung, sangat kuat. Kebaikan Anda juga sering disalahgunakan dan Anda juga tidak jarang dikecewakan oleh orang lain. Pemahaman Anda yang dalam terhadap kehidupan terkadang terealisasi dalam bentuk seni dan literatur.
Dengan garis hidup ini Anda sanggup mengekspresikan perasaan emosi terdalam dengan melukis, menulis, musik, atau bentuk seni yang lain. Tapi sering juga ada kesulitan untuk menemukan media yang tepat sebagai jalan hidup Anda. Profesi menolong dan menyembuhkan adalah pilihan yang tepat bagi mereka dengan angka garis hidup 9. Anda kurang tepat untuk berada dalam lingkungan bisnis yang kompetitif. Anda punya kemampuan untuk berteman dengan mudah, karena orang-orang tertarik pada kepribadian Anda yang terbuka dan seperti magnet. Anda diberi berkah oleh Tuhan berbentuk kemampuan untuk memahami orang, yang jika digunakan dengan benar bisa sangat bermanfaat bagi orang lain. Perhatian pada orang lain membuat diri Anda sangat sosial. Orang-orang dengan mudahnya menyukai mereka dengan angka garis hidup 9 karena Anda simpatik, toleran dan berwawasan luas. Anda seorang romantis dan dalam cinta dan gairah, bagaikan tersesat di jalan yang benar. Membina hubungan justru sulit bagi Anda, karena tidak mudah untuk mendapatkan keseimbangan yang paling tepat. Kalau pasangan sama seperti Anda, yaitu mempunyai sifat memberi, maka hubungan tersebut akan bahagia dan bertahan, tapi sulit secara materi.
Di lain sisi, bila Anda memilih individu yang membumi dan mementingkan materi, masalah akan timbul. Seperti halnya dengan angka garis hidup lain, nomer 9 mempunyai sisi negatifnya. Walaupun tentu orang-orang yang cenderung ke titik negatif 9 lebih sedikit dari yang karakter positifnya besar. Biasa bagi mereka untuk menentang arus realitas dan tantangan yang ada di dalamnya. Mungkin sulit bagi Anda dengan 9 yang negatif, untuk percaya bahwa sifat memberi serta tidak adanya ambisi pribadi bisa sangat membahagiakan. Harus disadari dan diterima bahwa kepuasan dan kebahagiaan-kebahagiaan kecil jangka panjang bisa diperoleh dengan mengasah sifat manusiawi yang alami dalam garis hidup ini.
Salam…salam…salam..
Shanti…shanti…shanti…
Rahayu…rahayu…rahayu…
DAMAI DIBUMI…DAMAI DIHATI…
lare dusun berkata,
November 17, 2008 pada 5:13 am
kadi to guwo kang sirung sinerang ing maruta….
gumerenggeng anggung gumarunggung…
ugungan sedina-dina…
nora enak iku kaki…
………………………………………………..
hidayat berkata,
November 17, 2008 pada 5:50 am
rahayu…
@samduro….
aku wis ngerti jawabanmu, “awakmu ora bakal njaluk sepuro karo para Walisongo”..opo maneh arep ziarah,???
aku iki pengalaman bertemu beberapa wong seperti anda, bahkan teman seperguruan seperti anda juga ada…
anda itu mau mendandani nuswantoro,?????hua ha ha , awakmu kui rung iso ndandani awakmu dewe???
wass wb
Ngabehi K.M berkata,
November 17, 2008 pada 7:24 am
Fanatik sing bener iku fanatik marang bebener, kautaman, katresnan lan liya liyane, kejawen pancen ajaran kang luhur nanging yen mung sebatas berbangga ora wani nirakati utawa lelaku yo tibane pada bae karo umat liyane.Kabeh agama iku mengku ajaran kang luhur, nanging menungsane sing sering ninggalno ajaran agamane, dadi yen ono saweneh wong kang tumindak nalingsir aja gita2 dicokmol agamane nanging iku jenenge oknum. Wong jowo sik tumindak ora bener yo akeh, wong islam kang tumindak ora bener yo akeh.Dadi intine boleh saja berbangga2 dengan agemane dhewe2 nanging kito kudu biso mbuktekno marang masyarakat menawo kanthi ageman sing diandel andelno iku awake dhewe biso dadi titah kang linuwih. Intine , ben masyarakat dewe kang menilai lan akhire milih keyakinan kang di anggep cocok tumrap dheweke.nyuwun ngapunten yen ora reno ing penggalih.
sabdalangit berkata,
November 17, 2008 pada 1:24 pm
Sugeng dalu poro sanak kadhang sutresno ingkang sengsem kabecikan…
kawula pitados bilih panjenengan sedaya sami ngelak/haus ngelmu spiritual, nanging ugi sugih ngelmu spiritual, sedaya temtu dipun kantheni niat suci tur sae kangge NGGAYUH KAWICAKSANANING GUSTI. pramilo sumonggo, sedaya ngelmu dipun babar wontening tlatahipun kadhang Kumitir kanthi wicaksono, bilih menang ugi tanpo ngasoraken liyan, nglurug ugi tanpo bolo, saenggo panjengan tansah tetep anggenipun jumeneng piyantun ingkang estu luhur bebudenipun. TAN GERAH ING TYAS DIPUN ASORAKEN, TAN KARSA ANGASORAKEN. estu panjenengan sedoyo jumeneng hangratoni tlatah kabecikan lan kesucian.
injih jumeneng lan wong agung;
KEPATI AMARSUDI
SUDANE HAWA LAN NEPSU
PINEPSU TAPA BRATA
TANAPI ING SIANG RATRI
AMAMANGUN KARYENAK TYASING SESAMA
SAMANGSANE PASAMUAN
MAMANGUN MARTA MARTANI
SINAMBI ING SABEN MANGSA
KALA KALANING ASEPI
LELANA TEKI-TEKI
NGGAYUH GEYONGANING KAYUN
KAYUNGYUN ENINGING TYAS
SANITYASA PINRIHATIN
PUGUH PANGGAH CEGAH DAHAR LAWAN NENDRA
SABEN MENDRA SAKING WISMA
LELANA LALADAN SEPI
NGINGSEP SEPUHING SUPANA
MRIH PANA PRANAWENG KAPTI
TIS TISING TYAS MARSUDI
MARDAWANING BUDYA TULUS
MESU REH KASUDARMAN
NENG TEPINING JALANIDHI
SRUNING BRATA KATAMAN WAHYU DYATMIKA
yang tekun, mengurangi hawa nafsu,
dengan jalan prihatin (bertapa), serta siang malam
selalu berkarya membuat hati tenteram bagi sesama (kasih sayang)
Dalam setiap pertemuan (DISKUSI),
membangun sikap tahu diri,
Serta setiap ada kesempatan, di saat waktu longgar,
Mengembara untuk bertapa,
Menggapai cita-cita hati,
Menekuni akan keheningan kalbu.
Senantiasa hati dibuat prihatin,
dengan berpegang teguh, mencegah makan dan tidur.
Setiap pergi meninggalkan rumah (istana),
berkelana ke tempat yang sunyi,
menghirup tingginya ilmu,
agar jelas apa yang menjadi tujuan (hidup). Tekad hati untuk berusaha,
Tulus memperdayakan akal budi
menghayati cinta kasih, ditepinya samudra.
KUATNYA BERTAPA diterimalah WAYU kebaikan.
jika kesaktian, daya linuwih, kadigjayan, karomah, wahyu dan seterustnya
semua itu diumpamakan buah mangga yg sangat ranum; marilah
kita TANAM pohon mangga dengan telaten, ELING merawat dan WASPADA terhadap hama. setelah tumbuh subur niscaya kita akan ngunduh mangga yg kita idamkan. JANGAN terbalik; kita MAKAN MANGGA terlebih dahulu, baru kemudian MENANAM POHONNYA.
sumonggo kita gayuh kawicaksanaipun Gusti kanthi “lakutama” terserah mau pake pohon apa namanya, toh masing2 pohon akan menghasilkan buah juga. soal MANIS ASAMNYA, BANYAK SEDIKITNYA, UTUH TIDAKNYA buah tersebut, itu semua tergantung dari “laku” kita dalam nguri-uri, merawat, memupuk, dan ketepatan kita memilih jenis dan kualitas mangganya. yang penting jangan sampai kita mencela cara orang lain menenam pohon mangga, sebab hal itu hanya akan menghilangkan kewaspadaan kita.
Kathah lancangipun kawulo nyuwun lumebering sih samodra pangapsami;
matur nuwun
Wilujeng Rahayu
http://sabdalangit.wordpress.com
samudro berkata,
November 17, 2008 pada 2:36 pm
kakakakakakakakkak, iyo bener kuwi kang dayat, aku ugo gak eruh nulis opo sing penting nulis, tak pikir gak onok salae nulis, ancen pean kuwi jan jos tenan, pasti muride mbah extra joss, mangkane pinter, kakakakakak, sederek sedanten ngapunten, katah babagan engkang kedah di wedar, titi yoni gondo arum puspito tajem, ilmu jawa dikenal dengan sandi maharesi yang mempunyai sandi sandi khusus bagi putra putra nusantara, berakhirnya perjanjian banjarsari 1998, sampai tahun 2006, genap 1 windu indonesia di pegang oleh ratu ketonggo, 2007 sampai 2011 banyak kematian dimana mana yang lebih dikenal, bangkitnya mojopahit, atau zaman gumyo galungan, 2012-2041 kematian bakal seimbang dengan kelahiran, yang kemudian dikenal dengan jagad gumulung, 2041 – yang dikatakan jagad gumelar, pergantian masehi akan banyak memakan kurban, masehi ditandai dengan pergeseran matahari, atau perubahan garis edar perbintangan ( yahudi siap, vatikan siap, israel siap, mo data.. kekekek ) data navy-AL terjadi pergeseran 5-7 drajat sehingga terjadi pergeseran garis batas antar negara, perubahan masehi atau dinamakan gebyar roino, akan memakan banyak korban, baik berupa pagebluk, gempa bumi, bencana alam, penyakit, udan salah mongso, wadon katon lanang lan lanang katon wadon dan lain lainnya.
masehi dahulu ditandai dengan meletusnya gunung krakatau yang pertama kali sehingga merubah garis pelayaran dan menenggelamkan sejumlah pulau, yang kemudian dikenal dengan benua yang hilang, atlantis, bagi yang benar benar ingin belajar tentang jawa, belajarlah tentang sejarah, buka pikiran lebar lebar untuk melihat sisi yang terjauh, bila kita belajar sekarang kita tidak akan menjangkau masa depan, belajarlah dari masa lampau maka akan berakar pada masa sekarang dan berbuah dimasa depan, alam adalah gelar universal, yang siapapun boleh mengatakan akulah yang “TER”, tapi jangan lupa, usia kita berapa, kalau belajar tanpa winarah mo, atau guru yang paripurna jangan harap kita mengenal siapa diri kita, kita boleh belajar ndakik sampai njengking atau sampai hitam dahi, apa yang kita dapat bila lingkungan kita tetap rusak, atau akan bilang sudah takdir, tuhan hanya bisa kita dekati dengan ilmu pengetahuan, dan ciptaannya hanya bisa kita mengerti dengan meneliti dan menjadikan bukti dalam hidup sehari hari, tuhan tidak bisa dibahas, agama tidak boleh didebatkan, keyakinan ada didalam hati yakini sampai mati, berlomba lombalah mendekati tuhan, maka tuhan akan mendekati kita sambil berlari maraton, ingat bila kita belajar mengenal tuhan, maka tuhan pun akan belajar menyayang kita, gelar jagad kasampurnan ada dalam permasalahan, itulah bukti bahwa sebenarnya tuhan sangat sayang kita, tapi kok ndilalah, sing dikarepno ngudar malah cangkruk ngombe kopi karo adu omong lan adu pinter, sedang para petani kelimpungan sibuk cari pupuk, bingung cari uang tuk tambahan penghasilan, banyak tanah pertanian tak tergarap karena jadi tkw atau kekota jadi buruh, jadi yang merasa jawa segera turun tangan urun rembug kudu piye, jangan hanya melihat dan mengelus dada, akeh sing isok lek ngono iku, ojo kakean crito lan dalil mengko dadi dajal, ndang dipungkasi kahanan koyo ngene iki, kahanan iki sing jenenge paregreg, pungkasane kang aran mojopahit, dadi sak benere perang nglawan paregreg mojopahit, ayo buktikan semua yang punya dalil, tanah tempat anda cari makan lagi sekarat dan butuh pertolongan, jangan hanya ngwedar kawicaksanan, jangan enak enak memegang buku jawa, tanggung jawab anda diminta tuk berbakti, bakti anda ditunggu, dan buktikan bahwa apa yang anda pegang itu benar benar kitab teles jowo.
rahayu
Bocah Gundhul berkata,
November 17, 2008 pada 3:00 pm
TANCEP KAYON
Lakon kehidupan manusia tergambar didalamnya
Peperangan memperebutkan sejumput kekuasaan
Pembunuhan terhadap sesama berharap kedigdayaan
Pensucian jiwa menghadirkan kebijaksanaan
Kisah cinta yang nestapa
berakhir tawa bagi yang dinaungi
dan berujung lara untuk sang pecundang
Perjuangan menggapai kesempurnaan hidup
Tingkah polah para patriot mengatasnamakan kemuliaan
Hasrat kekuasaan
Nafsu angkara
Bergumul dengan kearifan dan kejujuran
Gambaran sikap dan watak tokoh sungguh kentara
Kukuh, jujur, penuh cinta, legowo, naif, smart
Berbaur dengan
Sifat licik, beringas, munafik, kejam, ambisius, grusa-grusu
Semua mengharu biru dalam semaraknya lakon
Desing senjata beradu, pekak suara kasar saling menyahut
Tangis menusuk hati, senyum berbuncah, pekik menyayat
Berbaur mengaduk nuansa malam
Wayang adalah ibarat dunia kecil kita
Laksana gambaran kehidupan kita
Seakan bayangan yang nyata
Serasa kita ada didalamnya
Dan menjadi salah satu tokoh diantaranya
Maka jadikan kisah, tragedi, misteri, nyayian, pujian
Menjadi sebuah renungan
Dan hikmah teladan
Lihat poro sanak kadang sinorowedi
Jagad Gumelar telah ada dihadapan kita
DAMAI DIBUMI…DAMAI DIHATI
Salam…salam…salam..
Shanti…shanti…shanti…
Rahayu…rahayu…rahayu..
hidayat berkata,
November 17, 2008 pada 4:05 pm
rahayu…

@Mas Sabda Langit….
KEPATI AMARSUDI
SUDANE HAWA LAN NEPSU
PINEPSU TAPA BRATA
…………………….
ALA KALANING ASEPI
LELANA TEKI-TEKI
=============================
salut mas ini kan lagu campursarinya Mantous….
ya penuh nasehat meper howo nafsu,, kalau tidak salah ini tembang ciptaan Panembahan Senopati.
————————————–
nah Mas Samudro itu lihat tulisannya mulai ngaco…tak karuan
ya kan, kemudian kehidupannya, alam bawah sadarnya dia sendiri yang menyebabkan dirinya seperti itu, bukan orang lain….. mana mungkin mohon ampun sama Tuhan , lha wong istilahnya ” jilbabnya enggak di kembaliin/ tidak ada tindakan konkret ”
————————————–
@Mas Ngabehi…
setuju … itulah terjadinya pergeseran nilai, seharusnya berkiblat pada “aku belajar kejawen untuk kebenaran/kejujuran/pengakuan bersalah”, tapi sekarang ini ada yang berkiblat pada : “aku belajar jawa untuk menyerang yang bukan jawalah, mbelain dongenglah, kalau “bukan orang jawa” disalahinlah , disesatinlah, dikafirinlah, yang penjajahlah, dan yang fatal…aku orang jawa tak akan pernah mengaku aku bersalah (mirip Neo Nazi lah)
huuuuu film peteng….
wass wb
lare dusun berkata,
November 18, 2008 pada 12:38 am
‘ANGURBAYA naliti sabdane paniti sastra kang aweh sesuluh, tinimbang nglambrang dedawa wirang kang hamung antuk susuhing susah, sekaring rubeda’.. Lebih baik hidup mencermati tulisan para penulis sastra yang memberikan pemahaman, daripada pergi tak tahu arah tujuan, yang didapatkan kadang malu, dan sengsara dan bencana.
Kalimat ini kemudian disambung dengan Boya prayoga urip kang kalantur tanpa tutur, pramila enggal muliha nguwot wara kawireh, sarta reh prentahe turuten supaya uripmu bisa sareh ati semeleh. Maksudnya, tidak baik hidup seenaknya sendiri tanpa sebuah dasar hidup yang jelas atau tanpa mempedulikan nasihat leluhur. Oleh karena itu segeralah memilih kembali dengan jalan membaca dan mengetrapkan kembali pitutur luhur warisan leluhur dan segala anjurannya ikutilah agar hidupmu menjadi tenang dengan hati yang lapang. Sebenarnya leluhur sudah senantiasa memberikan ajarannya bahwa manusia hidup itu harus belajar dari pengalaman nenek moyang. Hanya saja pengalaman nenek moyang itu biasanya disembunyikan dalam sebuah wahana yang kadang sulit untuk dibedah.
Di dalam kehidupan pitutur luhur disembunyikan dalam sebuah tembang-tembung berisikan lambang dan simbol. Mengapa disembunyikan lantaran supaya tidak gampang dicemooh dan disepelekan. Dan orang yang ingin mempelajarinya harus dengan semangat dan ketelatenan serta niat yang kuat.
Untuk meneliti wewarah yang diberikan nenek moyang saja sudah sulit, seperti adanya berbagai tradisi yang mengemuka lewat makanan, seperti adanya sesaji kalau di Jawa, di Bali namanya ‘banten’. Kalau ini tidak diberi makna dan arti maka bukan sesuatu yang mustahil kalau kemudian arti ini kemudian sirna.
Padahal sebuah keselarasan hubungan antara manusia-Allah-alam senantiasa terwujud dalam sebuah harmoni kehidupan yang indah, dan menggairahkan.
Hubungan dengan Allah tidak bisa dilakukan tanpa adanya wujud nyata hubungan dengan sesamanya. Cinta kepada Allah harus pula tercermin dari kecintaannya kepada manusia sesamanya. Dan cinta kepada sesamanya harus mencerminkan wujud cinta kepada alam raya. Dan itulah kemudian nenek moyang mengemasnya dalam sebuah tradisi budaya yang hidup. Masyarakat senang bergairah dengan mengedepankan niatannya yang luhur ‘hamemayu hayuning bawana’. Adanya sesaji dari bunga dan bahan makanan atau buah-buahan menunjukkan bahwa manusia harus menyediakan dan menanam bunga-bungaan dan buah-buahan. Tanaman itu haruslah dijaga hingga mampu berbuah. Dan ini menyiratkan manusia hidup bahwa ia harus mampu berbuah di dunia ini dengan laku amal kebaikan.
Dengan sesaji yang penuh dengan simbol sebenarnya nenek moyang memperhatikan sekali aspek kehidupan dari sisi religius, sosial, budaya, ekonomi dan lingkungan hidup. Sehingga acara-acara yang menjadi tradisi warisan leluhur itu sebenarnya merupakan kristalisasi dari berbagai macam ilmu yang digelar di jagad raya ini. Hanya saja manusia sekarang malas untuk memikirkan secara dalam.
(Poro kadang… puniko kenang2an saking Romo Damarjati supadjar)
Ngabehi K.M berkata,
November 18, 2008 pada 4:43 am
Saya justru tertarik sama kang Hidayat karena kepolosannya, beliau berani menyampaikan pemikirannya dengan jujur tanpa tedeng aling2, ga takut dicemooh, tidak takut di tentang, tidak takut dipinggirkan.Lire wis wani njumbuhake rasa lahir lan batine, wis ra ono rekodoyo, yen batine A lahire yo A. Saya justru melihat banyak komentar yang sekilas kelihatan alus ngglinik adem ayem, tapi isinya malah nggegirisi.Mungkin maksudnya baik, supaya ketok wicaksana dan lain2, nanging nyatane kebak rasa drengki, ngrasa luwih ngerti, luwih luhur lan liyo liyane. Ati2 sederek ngelmu jowo ga cukup maca serat a, babat b, atau suluk c dll, ngelmu jawa kudu dilakoni, terus yen wis kasil entuk wohe rasah akeh dikoar2no, nanging luwih apik diimplementasikan dan diaplikasikan neng tengahing brayan agung, tetulung wong kang kacikrangan, wong wuta, wong lempoh lan liyo liyane. Ketok kok mas……, yen titah kang duweni kawruh dhuwur lan roh-e uga wis urip mesthi wis ga seneng ngina marang pada sepadhane.Kagem ingkang rumaos sampun ngunjuk ngelmu jawa sejati, kawula aturi langkung ngatos2 anggenipun medhar sabda, lepat sekedik mawon bade ketingal borokipun! Amargi ngelmu jawi menika alus,…injih sakyetos alus sanget.
Matur sembah nuwun…
Rahayu
lare dusun berkata,
November 18, 2008 pada 5:35 am
Poro kadang sutresno, mumpung kito sarasehan wonten ing mriki kulo badhe nyuwun pirso babagan “TURU ELING”. Kulo badhe mangertos dari berbagai sudut pandang… Kulo tenggo poro kadang, matur suwun sakderengipun
lare dusun berkata,
November 18, 2008 pada 5:39 am
Kangmas Sabda langit, dangu lho mboten pepanggihan wonten mriki.
Nembe sibuk punopo ?
smoker berkata,
November 18, 2008 pada 7:16 am
sepurane …
urang baru saya kang kumitir , numpang liwat liat situs panjenengan sing bener2 lengkap kap kap ajaran jawinya di mata kulo , maap kalo jawanya rodo ra lancar, biasa campur2 jawa maduro indonesia betawi hihihihihihii
numpang sharing pengalaman …
semuanya benar , semuanya salah , hakikatnya luas ,yang merasa benarpun ya benar ….yang merasa salah pun ya benar dan sang sejati berdiri bagai maha raja , melihat lakon warna panggung pementasan
manusia berdiri sebagai Tuhan , hancur lebur kodrat iradatnya Tuhan, alam ini wajahNya tinggal milih mau dikemanakan, ya Aku ini gusti , abadi , tak menciptakan apapaun,tinggal pilih lakon dari kodratKu benar & salah
ketika dalam kasunyian dalam samadhi , tiada lagi penyaksian , hanya “aku” yang berdiri sendiri sebagai kenyataan esa , menanggapi dari wajahKu, aku tak menciptakan wajahKu tapi antara ada dan tiada itu adanya , ya aku ini tuhan gerak lakonku kehendakku , semua pilihanku
manusia sejati hidup dalam karsanya kitabnya sudah ada nabinya sudah ada semuanya ada di dalam dirinya , bukan berarti wacana benar dan salah , tapi …. ya begitulah adanya ,,, ya ini ……tinggal dilakoni saja kehidupan ini, enjoyyyyyyyy yang mau jihad silahkan , yang mau menjadi penjahat silahkan yang mau menjadi orang bijaksana silahkan , semuanya sudah ada sebab akibatnya .
Sabdalangit berkata,
November 18, 2008 pada 10:02 am
Kagem adimas lare dusun:
Wah njih leres adimas lare dusun. Kulo nembe sibuk wnten tugas wnten bukit tinggi. Sumonggo katur pinarak wnten gubuk kulo. Bab turu sinambi melek smpun kawedhar wonten “wirit laksita jati, jalan setapak mencapai spiritual” mugi saget mrenani penggalih. Ilmu linuwih/karomah dicapai melalui topo broto, loro wirang, topo ngrame. Rame ing gawe (tetulung, mbiyantu, donodriyah,aweh tentrem marang sesama kanthi sepi pamrih).
Kagem mas samudro lan mas ngabehi panjenengan skalian estu jalmo tan keno kiniro estu sampun nggaduk wewarah kajaten.
Kagem nak hidayat:
panjenengan turun joko tingkir (tokoh kejawen saking tlatah pajang) cucu pembayun putri brawijaya v, wanci tanpo tedeng aling2, lugas, lan merdiko.
Tembang ing nginggil: sinom, karipto KGPAA Mangkunegoro IV, ing serat wedhatama. Dipun gubah mantous kanthi tembang sinom parijoto dados langgam campursari.
embun berkata,
November 18, 2008 pada 2:25 pm
hallooo…… duh kangen bgt nich…….aku jadi pembaca aja wess ga melok2,, kang dayat pancet ae rek2…..
lare dusun berkata,
November 19, 2008 pada 1:11 am
Rahayu… waah kangmas sabdalangit nembe wonten ing bukit tinggi to?! Oleh-olehipun lho kangmas.
Senadyan kulo mboten kepanggih panjenengan, ananging mugi2 raos tetep nunggal kangmas (jauh dimata dekat dihati).
Badhe nyuwun pirso sekedik kangmas :
Nyuwargakaken kadang ingkang sampun tilar donya ananging “dereng mapan” ing papan sakmestinipun (kesasar) puniko kados pundi prayoginipun ?? Andai kadang ‘X’ sampun tilar donya ananging malah mlebet wonten ing ‘alam sasar’, setiap kadang ‘X’ puniko kito “jenguk”/”tuweni” lan dipun canteni bilih pribadinipun kesasar inggih tetep mboten nggugu lan mboten pitados bilih pribadinipun kesasar. Puniko kados pundi kangmas ??
PETRUKKANTONGBOLONG berkata,
November 19, 2008 pada 3:58 am
Dumateng Mas Ngabehi.
Trawoco sanget nopo ingkang dados penjelasanopun paduko
mugi angsalo kawulo tetepangan batin kaliyan panjenengan
nuwun,
Ngabehi K.M berkata,
November 19, 2008 pada 4:33 am
Sumangga Mas Petruk, sugeng tepang ugi, mangga sami sami asesanti
“Tansah Memayu hayuning Bawana, ngupadi kasampurnaning hurip amrih bisa bali mring kahanan jati”
Nuwun
Rahayu
embun berkata,
November 19, 2008 pada 5:43 am
embun juga nanyak sama seperti kang ndusun…. jawbanya jgn alus2 ya kang sabdalangit…. makasi byk…..salam…. rahayu
lare dusun berkata,
November 19, 2008 pada 5:51 am
Rahayu… sugeng tetepangan kangmas Ngabehi. Kangmas Sabdalangit pasti sdg sibuk ngayahi jejibahanipun, mungkin nanti kalau sudah santai bisa ikut mbantu memecahkan sedikit persoalan saya.
Dhumateng kangmas ngabehi (ugi poro kadang sedoyo), nyuwun pangapunten sakderengipun… mugi kangmas kersoho paring ‘masukan’ babagan nyuwargakaken kadang ingkang sampun tilar donya wonten nginggil..
Nuwun… Rahayu
lare dusun berkata,
November 19, 2008 pada 5:54 am
nimas embuuun… waah pripun skripsinya ???
Kita tetep kompax ngudi bareng lho…
Ngabehi K.M berkata,
November 19, 2008 pada 7:25 am
Sugeng tepang ugi sederek lare dusun ingkang minulya, saya jawab pakai bahasa indonesia mawon nggih.
Saya akan jawab pertanyaan sampeyan berdasarkan pengalaman saya, bukan dari cerita orang lain atau baca kitab.Dengan begitu berarti saya berbicara jujur (mboten Dora) karena hal ini harus dihindari demi cita2 sepiritual yang ingin di capai.
“Begini suatu hari saat saya sedang sedang tafakur, semedi, samadhi, meditasi atau apalah terserah le ngarani, saya terbawa ke alam orang2 yang telah meninggal dunia, waktu itu saya ketemu ibu saya.Maaf, rupanya kondisi orang tua saya tersebut kurang beruntung, berada di tempat yang tidak enak. Sehabis meditasi betapa sedih hati saya, ternyata orang yang sangat berjasa kepada saya sedang menderita dan perlu segera di tolong. Hari hari selanjutnya saya isi dengan lelaku sepiritual lahir batin.Yen carane wong ngagomo le ngibadah di tingkatno baik yang vertikal maupun horisontal.saya berusaha resik2 awak semampu saya, baik dengan mengurangi makan , tidur, ngurangi ngomong yang yang tidak perlu dan sebagainya.Hal yang saya lakukan kemudian adalah mengirimkan energi ruhiyah dengan cara semedhi atau tafakur.Nek secara agama ya dengan mendoakan si almarhun dengan tulus ikhlas.Nah setahu saya energi yang kita kirim atau doa yang kita panjatkan dengan sungguh2 dengan tulus tersebut akan membentuk dan membangun kondisi dimensi yang kita tuju, ibaratnya yang tadinya hanya sebuah gubuk akan berubah menjadi gedung yang mewah, tergantung sampai di mana tingkat ( bahasane arab maqom ) sepiritual kita.Setelah beberapa waktu berlalu, saya mencoba menengok keadaan ibu saya lagi, dan alhamdulillah sukur bejo sewu keadaannya ternyata sudah jauh lebih baik. Nah sekarang yang tau dan bisa mengukur tingkat kesucian sampeyan kan anda sendiri, dicoba aja nyuargaake kadang njenengan itu iso sakdek sanyet apa masih pakai tempo, nanti dilihat saja.Mungkin hanya itu pengalaman saya.
matur nuwun.
sabdalangit berkata,
November 19, 2008 pada 7:36 am
Sakderengipun nuwun sewu bilih jawaban kawula kirang mrenani penggalih poro kadhang sedoyo…
Tradisi Jawa dalam menyempurnakan arwah yg sdh meninggal biasanya menggunakan ubo rampe tumpeng pungkur. saya perlu garis bawahi bahwa ubo rampe ini sifatnya bukan klenik, musrik, gugon tuhon, atau perbuatan mubazir. tetapi kita kita harus pahami dahulu apa maksud dan tujuan dari ubo rampe, sebab ia mengandung falsafah yg sangat tinggi. Bagi tradisi Jawa, bahwa doa itu senantiasa tdk hanya diucapkan melalui bibir saja tetapi perlu artikulasi dalam bentuk perlambang atau simbol-simbol. doa dilakukan secara lebih konkrit dlm bentuk simbol ubo rampe juga merupakan bentuk niat dan tekad yg mantab. jadi ubo rampe jangan disalah tafsirkan secara berlebih.
Tumpeng pungkur;
1. siapkan sayuran tetapi jangan memakai kecambah, kacang panjang dan kangkung (alias sayur yg tidak menjalar misalnya; kobis, bayem, wortel). 3 macam sayur saja cukup.
2. siapkan bumbu gudangan; jika yg meninggal sudah dewasa/tua bumbu gudangannya pedes, jika almarhum masih anak-anak maka bumbu gudangan tidak pedes.
3. telur ayam 1 butir di rebus dan dikupas.
4. tumpeng ukuran kecil saja (kira-kira diameter 15 cm sdh cukup)
5. kembang setaman ditambah boreh (dlingo-bengle diparut) dan 1 menyan madu.
6. tambir yg baru
7. cobek baru
8. daun pisang
caranya;
1. tumpeng dicetak di atas tambir yg baru (bukan bekas) dan sudah dialasi daun pisang, kemudian dibelah pas tengah-tengah, sigar menjadi dua dan diungkurkan (dibalik/diputer saling membelakangi)
2. telur dibelah dua kemudian tempelkan ke masing2 punggung tumpeng.telur juga saling ungkur2an (adu punggung) sama seperti tumpengnya.
3. sekeliling tumpeng ditaruh sayur dan bumbunya. tapi sayur dan bumbu tidak usah dicampur aduk.
4. bunga setaman taruh diatas cobek baru, letakkan boreh dan kemenyan madu menjadi satu dgn bunga setaman. kemenyan tdk perlu dibakar.
TUMPENG DAN SAYUR TIDAK UNTUK DIMAKAN. BIARKAN ubo rampe SEMALAM di rumah besok paginya boleh dibuang/kasih makan ayam jg boleh. asal jgn ayam kampus hehe.
setelah ubo rampe siap, letakkan dimeja atau tikar jika lesehan. lalu doa dimulai.
doanya sbb;
Jika nak Lare Dusun muslim; bacakan QS Al Mulk. jika nasrani dgn doa untuk misa arwah. intinya doa menurut ajaran, kepercayaan, agama masing-masing.
Sebagai tradisi Jawa, tutuplah doa dengan cara sbb;
“jabang bayine….(sebutkan nama lengka almarhum dan nama ibu kandungnya),…terusno lakumu, ojo parang tumuleh, lepaso paranmu jembaro kuburmu…manggiha kamulyan sejati, kabeh saka kersaning Gusti.
Falsafah;
1. tumpeng yg berbentuk dibawah lebar di atas runcing merupakan wujud doa, seberapapun beragam dan banyaknya doa, tetapi tetap tertuju kepada Tuhan yg Mahaesa. tumpeng nasi putih, berwarna putih; artinya doa harus dgn hati yg bersih, pikiran yg bening.
2. tumpeng pungkur = sak pungkure; mempertegas bahwa arwah harus sadar dan ikhlas meninggalkan dunia, utk menghadap Tuhan, meninggalkan dan mengikhlaskan segala urusan dunia, dan menyadari bahwa tujuannya dala satu arah menuju dan menghadap kepada Tuhan YME.
3. kembang setaman (mawar putih, merah, melati, kantil, kenongo), sekar arum gondo arum, arwah dapat menghirup harumnya kebesaran Tuhan di alam barzah. kembang mawar awar-awar biar tawar hati keluarga yg ditinggalkan tdk berlarut pada kesedihan. kembang kantil yg ditinggalkan selalu kumantil-mantil (mengenang) segala amal kebaikan dan kenanga (kenangan) tidak hanya mengenang jasa dan amal baiknya tetapi yg ditinggalkan harus meneruskan jasa dan amal almarhum sewaktu hidup. kumantil, yg ditinggalkan selalu ingat akan akan kematian dan sekalipun sudah pisah raga tetapi rahsaning keluarga tetap kumantil (selalu ada sambung rasa). menyan madu, menyan madu berbahan getah murni dari “inti sari” pohon kemenyan. pohon merupakan “laku” ne wong urip, menyan adalah buah yg dicapai dalam menjalankan LAKUTAMA (budi pekerti luhur/akhlak mulia). dgn kata lain, segala amal kebaikannya dapat “bersama asap” munggah ke awang uwung, diterima Tuhan amalkebaikannya.
begitulah sekiranya falsafahnya, saya sadari banyak poro kadang yg lebih mendalam pemahamannya, mohon maaf yg sebesarnya atas keterbatasan pengetahuan kami, dan ketidakpiawaian kami dalam menyampaikan isi dan maksud tulisan. mugi mrenani ing penggalih.
Nuwun sewu
sabdalangit berkata,
November 19, 2008 pada 8:45 am
KAGEM ADIMAS LARE DUSUN DAN NIMAS EMBUN
Ngapunten, wonten ingkang kliwatan; sayurnya direbus ya.
Sumonggo, nimas embun dan adimas lare dusun..
mengenai arwahnya yg “kesasar”, mungkin yg dimaksud “arwah penasaran” ya ? arwah penasaran belum tentu tersesat. tapi kadang ada PR atau urusan yg masih mengganjal atau belum ia tuntaskan di dunia, namun keburu meninggal. coba “tayuh” atau tanyakan kepadanya langsung dengan kebeningan jiwa dan rahsa yg adimas/nimas miliki, atas ijin Tuhan mudah2an adimas dpt bertemu dlm mimpi atau bahkan langsung, tanyakan ada masalah atau urusan apa yg masih mengganjal di dunia ini. jika berhasil menangkap jawabannya, biasanya berisi amanat atau permintaan utk dibantu dalam menyelesaikan “PR” nya. maka adimas/nimas hendaknya bantu selesaikan sekalipun itu soal utang harta benda, sebab anda mungkin menjadi org yg “terpilih dan pinilih”. itu merupakan ladang amal kebaikan anda berdua. jika dilakukan dgn ikhlas dan tak mengharap pahala/surga, kecuali hanya ridha Tuhan, maka bantuan anda berdua akan mejadi tabungan berharga. tapi “transaksikan” kebaikan anda berdua dgn Tuhan, jgn dgn keluarga arwah atau dgn seseorang lainnya. artinya, anda berdua harus topo ngrame, jangan ada pengharapan apa-apa kecuali kesadaran bahwa kemuliaan hidup kita di dunia dan alam luhur, tergantung diri kita apakah BERMANFAAT ATAU BERGUNA DIRI KITA TERHADAP SESAMA.
BERTAPA NGRAME-LAH
jangan ragu; jika perlu gunakan uang sendiri utk beaya “menyempurnakan”. jangan grenengan jika kebaikan yg anda lakukan diartikan ada maksud buruk, atau tak dihargai, tak diakui org lain, karena anda berdua sdg bertransaksi dgn Tuhan, bukan dgn manusia. grenengan/ngedumel, hanya akan menganulir/meniadakan/menghapus “tabungan” yg telah anda kumpulkan.
IBARAT SUARA ANDA YG BERGEMA;
AMAL KEBAIKAN YG ANDA BERIKAN KEPADA ORG LAIN, SESUNGGUHNYA AKAN KEMBALI UTK DIRI ANDA SENDIRI, BAHKAN BISA BERLIPAT
adimas/nimas jika selalu memudahkan, suka menolong, gemar membantu sesama tanpo pamrih; maka anda berdua akan selalu dimudahkan segala urusan, akan selalu datang pertolongan dari org lain disaat kritis, akan ada bantuan dari sesama yg lainnya pada saat adimas/nimas butuh bantuan.dan semuanya TEPAT WAKTU krn Gusti Allah yg telah mengatur semua itu.
PAGAR GAIB SEJATI DAN ILMU KABEGJAN/KEBERUNTUNGAN
perlu dicatat bahwa “PAGAR GAIB” yg paling ampuh tiada tertandingi hanyalah amal kebaikan adimas/nimas sendiri yg telah anda lakukan kepada sesama dgn ikhlas tanpa pamrih, UMPAMA ANDA BUANG BERAK. sehingga “pagar” itu akan selalu melindungi anda dari segala kefakiran (fakir harta, fakir budi, fakir ilmu, fakir kesehatan, fakir keselamatan), anda tak akan dapat dicelakai orang lain. jika anda akan dicelakai org lain, sebaliknya anda justru akan mendapat “kabegjan”/keberuntungan.
begitu dahsyatnya fungsi amal kebaikan (donodriyah) buat diri kita sendiri; buah dari pohon amal kebaikan adalah buah yg sangat mahal nilainya, yakni “ilmu kabegjan”. ilmu kabegjan tak ada lawannya, sekalipun seseorang itu pandainya luar biasa, punya kekuasaan yg kuat, punya harta melimpah, tapi masih kalah dgn orang yg mendapat bejo. karena kabegjan merupakan “privilege” langsung dari Gusti Allah atas pencapaian spiritual anda. tak tergantung apa agama seseorang.
oh ya kagem Ki Gebang; panjenengan dapat salam dari kawan Don Bosco Addja di metro tv.
Rahayu
ki gebang berkata,
November 19, 2008 pada 1:16 pm
ki sabda langit ingkang winasis lan wicaksana, matur nuwun dhumateng panjenengan, salam saking Ki Don Bosco Adja sampun kulo tampi. Kulo gadhah ide pripun nek tulisan-tulisan ing komentar blognya Mas kumitir meniko dipun damelaken HALAMAN TERSENDIRI? Sehingga rekan-rekan Sesepun Blog ingkang Rajin berkunjung gadhah tempat. Kasihan Blognya Mas Kumitir akhirnya agak lemot dibuka karena banyaknya komentar…??
Saya yakin Mas Kumitir bersedia untuk membuatkan halaman khusus. Apalagi komentarnya rekan2 sangat berbobot dan sayang jika nanti harus dihidden…
Setuju apa nggak rekan rekan??
Insya allah, kita semua akan mendapatkan manfaat yang tidak sedikit.
Oh iya, buat KI Sabda Langit, kita di sini juga rajin kumpul-kumpul dgn Fajar Koran Tempo, dan Listiono Unair. Salam juga dari mereka untuk panjenengan. Rahayu wilujeng.
KI Gebang
embun berkata,
November 19, 2008 pada 5:59 pm
maturnuwon kang sabdalangit…..semoga jawaban dari pertanyaan kami bermanfaat buat kita semua….rahayu…..
embun berkata,
November 19, 2008 pada 6:10 pm
duuh lupa nyapa balik kang ndusun,kang ndusun…….. aku sehat2 aja,sedikit mumet nih…. , bantuin doa ya…salam rahayu
embun berkata,
November 19, 2008 pada 6:28 pm
kang ndusun ttg dasar kehidupan aku pengen bnyk belajar dari panjenengan, boleh nga? aku ni bener2 tertarik dgn budaya jawa, tapi aku bener2 nol nga tau apa2…. aku masih sering bertindak kurang ajar, semau gw…masi suka tebar pesona…hiks3x maklum yaa.. tp sekarang udah bisa mengurangi…alhamdulillah sedikit mengenal dan cuman belajar dsni aku dah mampu merubah kebiassaan burukku….apa lagi bljr langsung sama panjenengan2 semua…., pasti langsung berubaahh….he3x salm rahayu… maap ya loncat2, cos dah malem,ngantuk jd ga konsent….salaaaam
embun berkata,
November 19, 2008 pada 7:45 pm
kang sabdalangit hari baiknya apa klu bikin acaranya? terimakasih sebelumnya…..
lare dusun berkata,
November 20, 2008 pada 4:16 am
Pujo puji konjuk ing Ngarso Dalem Gusti… Katur kagem kangmas sabdalangit soho kangmas ngabehi, matur suwun ingkang tanpo upami. Puniko sungguh masukan yang sangat berhargaaa sekali. Masukan saking panjenengan kekalih saestu menambah ‘perbendaharaan’ kawulo ingkang taksih taruno mungguhing babagan Kasunyatan. (mugi kadang ‘X’ pinaringan pepadang soho uwal penandangipun…nyuwun pamujinipun kangmas).
Kagem nimas embun…
rasa haru dan syukur saya rasakan. Jarang ada seorang wanita yang punya tekad kuat untuk ‘ngudi kawruh jawi’ seperti sampeyan. Mugi tekad anda tetap sentosa.
Nimas, saya sendiri juga masih tahap belajar kok nimas… Yang penting diblognya kangmas kumitir puniko kito NGRAKIT RAKETING KEKADANGAN…NGESTI ING KARAHAYON…
lare dusun berkata,
November 20, 2008 pada 4:34 am
Kangmas…punopo panjenengan kekalih kapetang taksih ’sentana dalem’ nggih??
Ngabehi K.M berkata,
November 20, 2008 pada 6:30 am
Panci leres sedherek Lare Ndusun, kula pancen salah satunggaling Abdi Dalem.
Terangipun kula menika Abdi Dalem Gusti Allah Ingkang Akaryo Jagad, mekaten..
maturnuwun
Rahayu
embun berkata,
November 20, 2008 pada 9:18 am
ngesti ing karahayon iku apa kang dnusun……., ok kita berteman cukup lewat sini aja ya….nga boleh deket2 entar nyetrum, he3x salm rahayu.
sitijenang berkata,
November 20, 2008 pada 11:22 am
wah sayang diskusinya puanjang banget nih… usul: gimana kalo pemilik blog menyarikan diskusi dalam beberapa judul tulisan mungkin? kayaknya udah OOT banget. ndherek ngangsu kawruh
sabdalangit berkata,
November 20, 2008 pada 11:37 am
hari baik…utk selamatan/penyempurnaan arwah ambil saja pas hari geblaknya (kebalikan dari weton) yg terdiri hari masehi dan hari Jawa. cara nyarinya seperti cari weton..
embun berkata,
November 21, 2008 pada 5:30 am
duh nga ngerti aku, entar tanya eyang uti dulu trus hitunging ya kang sabdalangit…, kalo hitung weton sedikit ngerti baca dihal atas…. makasi buanyak nge….salam rahayu wilujeng.
mukamadur berkata,
November 21, 2008 pada 8:27 am
Panci leres sedherek Lare Ndusun, kula pancen salah satunggaling Abdi Dalem.
Terangipun kula menika Abdi Dalem Gusti Allah Ingkang Akaryo Jagad, mekaten..
maturnuwun
Rahayu
____________________________
Gusti Allah dudu raja, dudu manungsa lan ora butuh abdi cung!
mung butuh awakmu manungsa padha ngerti kadadeyane manungsa supaya tansah eling lan waspada marang sapada-pada supaya ngelingi kamanungsanira
arijaya berkata,
November 21, 2008 pada 3:31 pm
salam kenal semuanya.
lama saya ngikuti diskusi disini, tambah seru aja ya, jadi nambah pengetahuan saya tentang jawa. terimakasih semuaaaa…(untuk sekarang dengerin dulu aja ah, besok-besok baru ikutan).
saya setuju dengan usulnya mas siti jenang, masalahnya blog ini sudah saya promosikan ke temen2 dikampus bahwa ada ruang diskusi bagus tentang jawa, eh komentar mereka malah: kepanjangan page nya, kok gak dibuat forum aja kayak forum2 yang sudah ada. Tapi tetep…..josss tenan kok forum disini. boleh nanya gak? rahayu artinya apa ya……
arijaya berkata,
November 22, 2008 pada 1:06 am
“Tujuan kami membuat blog adalah sebagai wahana untuk saling berbagi serta untuk nguri-nguri kebudayaan nusantara, biar tidak hilang dilindas oleh zaman dan juga sebagai pemacu semangat untuk kita berkarya membangun “Nusantara Yang Jaya”.”
sepakat mas kumitir. kalo kata dosen saya “save our heritage” gituu..
arijaya berkata,
November 22, 2008 pada 1:08 am
“Tujuan kami membuat blog adalah sebagai wahana untuk saling berbagi serta untuk nguri-nguri kebudayaan nusantara, biar tidak hilang dilindas oleh zaman dan juga sebagai pemacu semangat untuk kita berkarya membangun “Nusantara Yang Jaya”.”
sepakat mas kumitir. kalo kata dosen saya “save our heritage” gituu..
embun berkata,
November 22, 2008 pada 8:55 am
setauku rahayu iku selamat [seger waras] mungkin lho yaa… cos aku juga ikut2tan aja… rahayu digunakan orang jawa sebagai salam.
embun berkata,
November 22, 2008 pada 9:01 am
kang kumitir, hitungan wetonya koq di hidden, belum sempet tak copy kaaang…. hayo gmn nih? penting sekali lho buat kami2 yang masi awam.
sabdalangit berkata,
November 22, 2008 pada 5:13 pm
Ki Kumitir,
Halaman forum diskusi silahkan di “stick to front page”. bisa di kelola melalui dashbordku/kelola/halaman/forum diskusi. klik panel “stick to front page” atau seting “always front page”. supaya selalu tampil di halaman depan.
matur nuwun, wonten lepatipun wanci gaptek kawula ugi.
Azmi - Dongo Pembuka berkata,
November 23, 2008 pada 1:29 am
BISMILLAHIRROHMAANIROHIIM
Yaa ALLAH gusti sesembahan kula….
Sejatosipun dalem ngimani mboten wonten sesembahan kejaba Panjenengan Yaa ALLAH, lan dalem ngimani Kanjeng Nabi Muhammad punika utusan Panjenengan.
Duh Gusti Allah dalem namung nyuwun kangge dalem piyambak, konco estri, tiyang sepuh lan sedaya leluhur, anak piturun dalem ngantos akhir jaman, sedaya kulawarga lan sedaya tiyang Islam ingkang iman dumateng Panjenengan Gusti ALLAH, mugi-mugi Panjenengan kersa tansah pinaringan : Tetepipun Iman, Terangipun Bathos, Karahayon dumateng donya ngantos akhirat mangke, Pangaksama saking sedaya kalepatan ingkang kala wingi, sakmenika lan mangke, lan Keridhoan Panjenengan donya akhirat.
Mugi-mugi Panjenengan ndadosaken dalem lan sedaya kulawarga dados abdi Panjenengan ingkang saestu sholeh lan sholihah ingkang manfaat donya lan akhirat.
{ …monggo terus dilajut kalian dungo-dungo lintu-lintune..}
=================&&&&&&&&=================
Ngabehi K.M berkata,
November 23, 2008 pada 5:02 am
BISMILLAHIRROHMAANIROHIIM
Yaa ALLAH gusti sesembahan kula….
Sejatosipun kawula ngimani mboten wonten sesembahan kejaba Panjenengan Yaa ALLAH, lan kawula ngimani Kanjeng Nabi Muhammad punika utusan Panjenengan.
Duh Gusti Allah kawula namung nyuwun kangge kawula piyambak, konco estri, tiyang sepuh lan sedaya leluhur, anak piturun kawula ngantos akhir jaman, sedaya kulawarga lan sedaya tiyang Islam ingkang iman dumateng Panjenengan Gusti ALLAH, mugi-mugi Panjenengan kersa tansah pinaringan : Tetepipun Iman, Terangipun Bathos, Karahayon dumateng donya ngantos akhirat mangke, Pangaksama saking sedaya kalepatan ingkang kala wingi, sakmenika lan mangke, lan Keridhoan Panjenengan donya akhirat.
Mugi-mugi Panjenengan ndadosaken kawula lan sedaya kulawarga dados abdi Panjenengan ingkang saestu sholeh lan sholihah ingkang manfaat donya lan akhirat.
Mbok bilih kawula pikantuk nyenyuwun dumateng paduka duh Gusti Allah Ingkang Maha Welas lan Maha Asih, kalebetna kula ndumateng salah satunggaling tiyang2 ingkang Paduka paringi, keslametan,kabahagyan saha kebecikan wonten ing donya lan ing alam kelanggengan sakmangkeh
Amin yaa robbalalamin
{ …monggo terus dilajut kalian dungo-dungo lintu-lintune..}
=================&&&&&&&&=================
hidayat berkata,
November 24, 2008 pada 5:25 am
rahayu…

sambungan komentar 15 nopember::///
emang gusti alloh itu ampuh:
hidayat 10 nop 2008 berkata:.” tetapi yang tor-tor koruptor itu bikin melarat ratusan juta orang, bunuh diri jutaan orang, ribuan TKI disiksa dan diperkosa, bikin bodoh jutaan orang karena sekolah mahal…,”
bisa dilihat disini:
kalau kemarin tentan bunuh diri tapi yang ini tentang TKW:
http://www.kompas.com/read/xml/2008/11/24/10183289/Kejam..Korban.Perkosaan.Justru.Dipenjara
wass wb
naya berkata,
November 24, 2008 pada 10:21 am
bagus banget blognya…(maap kalau saia tidak menggunakan basa jawi dalam penulisan coment ini. semua itu tidak lain tidak bukan karena saia tak bisa berbahasa jawa.)
hidayat berkata,
November 24, 2008 pada 1:56 pm
rahayu…
sambungan komentar 15 nopember::///
emang gusti alloh itu ampuh:
hidayat 10 nop 2008 berkata:.” tetapi yang tor-tor koruptor itu bikin melarat ratusan juta orang, bunuh diri jutaan orang, ribuan TKI disiksa dan diperkosa, bikin bodoh jutaan orang karena sekolah mahal…,”
bisa dilihat disini:
kalau kemarin tentan bunuh diri tapi yang ini tentang TKW:
http://www.kompas.com/read/xml/2008/11/24/10183289/Kejam..Korban.Perkosaan.Justru.Dipenjara
wass wb
arijaya berkata,
November 24, 2008 pada 4:40 pm
(uh..akhirnya disurabaya lagi)
mbak/mas embun makasih lho jawabannya
hidayat berkata,
November 25, 2008 pada 2:22 am
rahayu…
mas kumitir tolong komentar saya di publish dan tidak usah di moderasi
daripada anda menyesal
wass wb
kucrit berkata,
November 28, 2008 pada 5:11 am
kulo nuwuun…..hiii beberapa hari ini kog sepi yaaa. …… hidayat elo jadi menungso kog belagu amat sich kalo komentarmu ga mo di moderasi ya jangan masuk di bloq ini donk! emeng elo siapa? blog ini buat diskusi tentang budaya dan ajaran yang sangat mulia. kamu iku cuman jadi pengacau aja di bloq ini….. emanya ini bloq elo yang bikin, koq nga mau dikomentari.. nga tau malu bgt sich,, qta di sini pengen belajar,biar ngerti, biar pinter tp nga pengen pinter kebablas kayak kamu, sing jadinya sok tau n keminter!!!!! huu susah bgt ngomonk ama elo yaaa
ngapunten kandang kumitir.. salam rahayu wilujeng…
hidayat berkata,
November 28, 2008 pada 5:54 am
rahayu
… kucrit kucrit sampean kui ngomong opo?
wass wb
Roy berkata,
November 29, 2008 pada 8:28 am
Rahayu…
Seneng banaget, isa baca komentar, dan wejangan mas kumitir. Sukses slalu, … Salam.
Roy berkata,
November 29, 2008 pada 8:31 am
Gusti kang Moho Suci kulo nyuwun pangapuro…, kulo nyuwun wicaksono…
air langit berkata,
November 29, 2008 pada 12:27 pm
salam kenal buat penghuni blog ini.
saya hanya ingin ikut belajar untuk menimba ilmu
saya mendapati banyak sekali artikel tentang serat dan suluk jawa, yang ingin saya tanyakan adalah adakah serat atau suluk yang membahas tentang cakra pada tubuh manusia. apakah sama dengan antara cakra dan lathaif ?
mungkin bila ada saudara yang lebih ngerti, mohon dijelaskan lebih terperinci tentang cakra ini
sebelumnya saya mengucapkan terima kasih
mbah canggah berkata,
Desember 1, 2008 pada 5:25 pm
ingat nak kalau kalian yang membaca blog ini tolong mbah ingatkan supaya menanyakan dengan jelas kepada sang penulis ini yang sangat besar pengalamanya dan luas pikiranya jangan di diskusikan terhadap orang yang disamping sampeyan nanti salah penapsiran itu merupakan awal dari terpelesetnya ajaran yang sangat dan patut kita kaji dan kita lakoni semoga diperhatikan ya ngger ! (mbah sebelumnya minta maaf bukan mbah bermaksud ngeminter tapi ayo kita sama sama belajar ,dan ini khusus untuk pembaca saja bukan yang ada diblog ini, nuwunsewu loh mas kumitir mbah nylonong wae )
mbah canggah berkata,
Desember 2, 2008 pada 5:28 pm
Hakikat dan Sejarah Tasawuf
Hakikat Tasawuf Seringkali tasawuf dituduh sebagai ajaran sesat. Tasawuf dipersepsikan sebagai ajaran yang lahir dari rahim non Islam. Ia adalah ritual keagamaan yang diambil dari tradisi Kristen, Hindu dan Brahmana. Bahkan gerakan sufi, diidentikan dengan kemalasan bekerja dan berfikir. Betulkah?
Untuk menilai apakah satu ajaran tidak Islami dan dianggap sebagai terkena infiltrasi budaya asing tidak cukup hanya karena ada kesamaan istilah atau ditemukannya beberapa kemiripan dalam laku ritual dengan tradisi agama lain atau karena ajaran itu muncul belakangan, paska Nabi dan para shahabat. Perlu analisis yang lebih sabar, mendalam, dan objektif. Tidak bisa hanya dinilai dari kulitnya saja, tapi harus masuk ke substansi materi dan motif awalnya.
Tasawuf pada mulanya dimaksudkan sebagai tarbiyah akhlak-ruhani: mengamalkan akhlak mulia, dan meninggalkan setiap perilaku tercela. Atau sederhananya, ilmu untuk membersihkan jiwa dan menghaluskan budi pekerti. Demikian Imam Junaid, Syeikh Zakaria al-Anshari mendefiniskan.
Asal kata sufi sendiri ulama berbeda pendapat. Tapi perdebatan asal-usul kata itu tak terlalu penting. Adapun penolakan sebagian orang atas tasawuf karena menganggap kata sufi tidak ada dalam al-Qur’an, dan tidak dikenal pada zaman Nabi, Shahabat dan tabi’in tidak otomatis menjadikan tasawuf sebagai ajaran terlarang! Artinya, kalau mau jujur sebetulnya banyak sekali istilah-istilah (seperti nahwu, fikih, dan ushul fikih) yang lahir setelah periode Shahabat, tapi ulama kita tidak alergi, bahkan menggunakannya dengan penuh kesadaran.
Sejarah Tasawuf
Kenapa gerakan tasawuf baru muncul paska era Shahabat dan Tabi’in? Kenapa tidak muncul pada masa Nabi? Jawabnya, saat itu kondisinya tidak membutuhkan tasawuf. Perilaku umat masih sangat stabil. Sisi akal, jasmani dan ruhani yang menjadi garapan Islam masih dijalankan secara seimbang. Cara pandang hidupnya jauh dari budaya pragmatisme, materialisme dan hedonisme.
Tasawuf sebagai nomenklatur sebuah perlawanan terhadap budaya materialisme belum ada, bahkan tidak dibutuhkan. Karena Nabi, para Shahabat dan para Tabi’in pada hakikatnya sudah sufi: sebuah perilaku yang tidak pernah mengagungkan kehidupan dunia, tapi juga tidak meremehkannya. Selalu ingat pada Allah Swt sebagai sang Khaliq
Ketika kekuasaan Islam makin meluas. Ketika kehidupan ekonomi dan sosial makin mapan, mulailah orang-orang lalai pada sisi ruhani. Budaya hedonisme pun menjadi fenomena umum. Saat itulah timbul gerakan tasawuf (sekitar abad 2 Hijriah). Gerakan yang bertujuan untuk mengingatkan tentang hakikat hidup. Konon, menurut pengarang Kasf adh-Dhunun, orang yang pertama kali dijuluki as-shufi adalah Abu Hasyim as-Shufi (w. 150 H)
Urgensitas Tasawuf
Imam Ghazali dalam an-Nusrah an-Nabawiahnya mengatakan bahwa mendalami dunia tasawuf itu penting sekali. Karena, selain Nabi, tidak ada satupun manusia yang bisa lepas dari penyakit hati seperti riya, dengki, hasud dll. Dan, dalam pandangannya, tasawuf lah yang bisa mengobati penyakit hati itu. Karena, tasawuf konsentrasi pada tiga hal dimana ketiga-tiganya sangat dianjurkan oleh al-Qur’an al-karim. Pertama, selalu melakukan kontrol diri, muraqabah dan muhasabah. Kedua, selalu berdzikir dan mengingat Allah Swt. Ketiga, menanamkan sifat zuhud, cinta damai, jujur,sabar, syukur, tawakal, dermawan dan ikhlas.
Melihat konsenstrasi bahasan tasawuf di atas, jelas sekali bahwa tasawuf bagian dari Islam.
Tasawuf dan Tuduhan-Tuduhan Miring
Demi objektifitas, menilai apakah tasawuf melenceng dari ajaran Islam apa tidak, kita harus melewati beberapa kriteria di bawah ini. Dengan kriteria ini secara otomatis kita bisa mengukur hakikat tasawuf.
Pertama sekali, penilaian harus melampaui tataran kulit, dan langsung masuk pada substansi materi dan tujuannya.
Lantas apa substansi materi tasawuf? Seperti dijelaskan di atas tujuan tasawuf adalah dalam rangka membersihkan hati, mengamalkan hal-hal yang baik, dan meninggalkan hal-hal yang jelek. Seorang sufi dituntut selalu ikhlas, ridha, tawakal, dan zuhud – tanpa sama sekali mengatakan bahwa kehidupan dunia tidak penting.
Kedua, Menilai secara objektif, jauh dari sifat tendensius dan menggenalisir masalah.
Sikap ini sangat penting. Karena pembacaan terhadap sebuah kasus yang sudah didahului oleh kesimpulan paten akan menghalangi objektifitas, dan memburamkan kebenaran sejati.
Ketiga, memahami istilah atau terminologi yang biasa digunakan para sufi, sehingga kita tidak terjebak kepada ketergesa-gesaan dalam memvonis sebuah masalah.
Misalnya dalam dunia sufi dikenal istilah zuhud. Kemudian orang sering salah mengartikan bahwa zuhud adalah benci segala hal duniawi. Zuhud identik dengan malas kerja, dst. Padahal kalau kita teliti dengan sedikit kesabaran tentang apa itu arti zuhud yang dimaksud para sufi, maka kita akan menemukan bahwa zuhud yang dimaksud tidak seperti persepsi di atas. Abu Thalib al-Maki, seorang tokoh sufi, misalnya, punya pandangan bahwa bekerja dan memiliki harta sama sekali tidak mengurangi arti zuhud dan tawakal.
Keempat, dalam vonis hukum, kita perlu membedakan antara hukum sufi yang mengucapkan kata-kata dalam keadan ecstasy dan dalam keadaan sadar.
Konsep ini penting sekali, supaya kita tidak terjebak pada sikap ekstrim seperti memvonis kafir, musyrik, fasik, dll.
Kenyataan di atas sama sekali tidak berarti mau mengatakan bahwa sejarah sufi, putih bersih. Ada masa-masa dimana sufi atau oknum kaum sufi melenceng dari hakikat ajaran Islam, terutama setelah berkembangnya tasawuf falsafi.
Beberapa penyimpangan kaum sufi:
Menyepelekan kehidupan duniawi
Terjebak pada pola pandang jabariah
Mengaku-ngaku bahwa Allah Swt telah membebaskannya dari hukum taklif, seperti shalat, puasa, dll. Dan semua hal bagi dirinya halal.
Kesimpulan
Setelah mengetahui hakikat ajaran tasawuf di atas jelaslah bahwa ajaran tasawuf, adalah bagian dari kekayaan khazanah Islam. Ia bukanlah aliran sesat. Bahwa ada penyimpang oknum atau lembaga sufi itu tidak berarti tasawuf secara keseluruhan jelek dan sesat. Kita jangan sekali-kali terjebak apada generalisir masalah. Karena sejatinya, tokoh-tokoh sufi berpendapat ajaran tasawuf harus bersendikan al-Qur’an dan Hadis. Diluar itu ditolak!
Tasawuf, seperti dinyatakan Syeikh Yusuf al-Qaradhawi, adalah bagian tak terpisahkan dari ajaran Islam. Karena misi tasawuf memperbaiki akhlak. Dan akhlak jelas sekali bagian dari Islam. Karena Nabi Muhamad Saw diutus untuk menyempurnakan akhlak.
Wallahu ‘Alam bi as-Shawab.
Putro bwi berkata,
Desember 2, 2008 pada 8:50 pm
aslm… kulonuwun, salaaam… alang-alang kumitir niku sejatine sinten geh lan saking pundi geh?
sala kenal gehh
Putro bwi berkata,
Desember 2, 2008 pada 9:33 pm
assalamualaikum, kulo nuwun.. salaam.
kulo pingin taken menawi angsal, mas kumitir niki sinten geh? nopo erat kalian aran gunung kumitir teng perbatasan Kabupaten Jember lan Banyuwangi Jawa Timur?
kulo seneng moco tulisan teng blog niki2 (Alang-Alang Kumitir).
lan ingkang menarik kulo inget riyen tentang istilah “Tapak Kunthul Melayang” lan alhmadulilah sawise kulo mco teng blog niki kulo ngertos maknane Tapak Kunthul Melayang.
tapi kulo tasik dereng ngerti kaliyan istilah setunggale yok niku : Galih Kangkung. Galih Kangkung Niku istilah nopo? mung Bebasan/Sanepan?
sepuntene menawi boso jowo kulo kurang pas, dados kulo ndamel boso indonesia mawon.
mas Kumitir lan lan semua yang ada di blog ini, salam kenal…
mungkin melalui blog ini saya ingin tukar pendapat (bertanya,jika boleh). saya dulu pernah dengar istilah :”Galih Kangkung”, tapi saya kok masih bingung, sebab masak Kangkung punya Galih?
dan saya dulu pernah memahami Tulisan (Huruf-HUruf Jawa),kok di pencitraaan pikiran saya Tulisan (Huru-huruf) Jawa, Ho,NO, Co, RO, KO..dan seterusnya itu..kok bisa di baca yaa?(maksud saya, kok seperti suatu untaian kalimat tentang sesuatu) dan apa salah atau tidak, dalam pemahaman saya kala itu, huruf huruf jawa tadi kok menerangkan tentang laku atau cara 2 tentang Tasawuf. salah satu bait artinya yang saya pahami adalah: Ono coro dodos Tasawuf…., kuwat jogo Roso, Noto Dugo, Adepanmu, Kolonyonggo..dsb. tapi saya masih bingung sebab feeling saya, tulisan jawa itu(yang dalam pemahaman saya, masih syarat dan penuh dengan istilah, istilah bahas Kawi (Jowo Kuno)) sehingga saya sampe sekarang masih rada bingung , karena pengetahuan saya dalam bahasa Kawi, Masih Kurang…. mungkin Dari Mas Kumitir atau Pengunjung Blog ada yang udah paham, mungkin bisa di jelaskan. apakah benar, huruf jawa itu mempunyai makna demikian, ataukah hanya pikiran saya saja?
dan apakah ada ya, di suatu situs yang menerangkan tentang arti bahasa Kawi (istiah-istilahnya)
dan apakah benar dalam angka-angka juga ada maknanya?
sebab dari otak atik pemahaman saya >> 1 (siji) itu artinya Sejatine,atau Seje (tujuan), 2 (loro): loro. 4(papat): Pati, 5 (limo): Mung, 6 (enem): Nemu. 7 (Pitu): Pitulungan, 8 (Wolu): Wali sehingga 8-9: Wali Songo.
apakah bener gitu ya?
dan saya juga pernah dengar istilah Babagan Songo apakah Sama dengan Istilah Wali Songo (mungkin arti secara Khusus)?
sebab secara umum Wali Songo adalah Sunan yang Jumlahnya songo.
Dari semua itu saya mohon penjelasan dari Mas Kumitir (Alang-alang Kumitir) dan pengunjung blog ini, sehingga saya bisa ngerti.
salam kenal geh..lan ageng alit sepurone menawi wonten salah lupute tulisan lan huruf serta kata-katanya.
Terima kasih…
Santri Gundhul berkata,
Desember 3, 2008 pada 1:03 pm
Kangmas Putro BWI,
Menawi panjenengan badhe tanglet ” GALIHE KANGKUNG ” monggo sowan dateng gubug kulo wonten mriki : http://kariyan.wordpress.com/2008/06/15/meneruskan-perjalanan/.
Menawi panjenengan tanglet MAKNA huruf JOWO ( Ho-No-Co…dst ), monggo ing ngandhap meniko sumugi andadosaken PANGERTEN dumateng panjenengan.
Ha – Hana hurip wening suci – adanya hidup adalah kehendak dari yang Maha Suci
Na – Nur candra, gaib candra, warsitaning candara – pengharapan manusia hanya selalu ke sinar Illahi
Ca – Cipta wening, cipta mandulu, cipta dadi – arah dan tujuan pada Yang Maha Tunggal
Ra – Rasaingsun handulusih – rasa cinta sejati muncul dari cinta kasih nurani
Ka – Karsaningsun memayuhayuning bawana – hasrat diarahkan untuk kesajeteraan alam
Da – Dumadining dzat kang tanpa winangenan – menerima hidup apa adanya
Ta – Tatas, tutus, titis, titi lan wibawa – mendasar, totalitas, satu visi, ketelitian dalam memandang hidup
Sa – Sifat ingsun handulu sifatullah – membentuk kasih sayang seperti kasih Tuhan
Wa – Wujud hana tan kena kinira – ilmu manusia hanya terbatas namun implikasinya bisa tanpa batas
La – Lir handaya paseban jati – mengalirkan hidup semata pada tuntunan Illahi
Pa – Papan kang tanpa kiblat – Hakekat Allah yang ada disegala arah
Dha – Dhuwur wekasane endek wiwitane – Untuk bisa diatas tentu dimulai dari dasar
Ja – Jumbuhing kawula lan Gusti – Selalu berusaha menyatu memahami kehendak-Nya
Ya – Yakin marang samubarang tumindak kang dumadi – yakin atas titah/kodrat Illahi
Nya – Nyata tanpa mata, ngerti tanpa diuruki – memahami kodrat kehidupan
Ma – Madep mantep manembah mring Ilahi – yakin/mantap dalam menyembah Ilahi
Ga – Guru sejati sing muruki – belajar pada guru nurani
Ba – Bayu sejati kang andalani – menyelaraskan diri pada gerak alam
Tha – Tukul saka niat – sesuatu harus dimulai dan tumbuh dari niatan
Nga – Ngracut busananing manungso – melepaskan egoisme pribadi manusia.
DAMAI DIHATI…..DAMAI DIBUMI…..
Salam…salam..salam,
Shanti…shanti…shanti,
Rahayu…Rahayu…Rahayu,
wisnu krisnanto berkata,
Desember 3, 2008 pada 2:05 pm
VIRUS KEJIWAAN
wisnu krisnanto berkata,
Desember 3, 2008 pada 3:13 pm
VIRUS EGO
Saudaraku,
Zaman tak bisa dibantah,
Pembaharuan tak bisa ditahan,
Alam maju terus berpacu,
Semua dipaksa membuka mata.
Semua harus menyaksi,harus mengaku segala laku,
TUHAN menuntut semua penganut,
Minta bukti karya bakti,
Agama tengah berkarma,
dimana-mana ada bencana,
Semua tak bisa menghindar dari badar (bahan sadar) demi sadar.
Senyatanya adat dan watak harus tunduk pada pikiran yang sehat,”jujurlah”.
Jasad kita semua bagian dari alam,yang hidup juga dalam alam,matipun masuk dalam alam,bila jasad dari elemen alam maka jati diri kita dari hasil kasih sayang ibu&bapak saat bersenggama,dari hasil kasih sayang itu timbullah kita. Kalo kita menyadari dengan kejujuran bahwa persifatan kasih sayang adalah NUR ILLAHI TUHAN SEMESTA ALAM.
Kini Tuhan tengah mereka-reka,mereka yang beraneka agar meng-EKA dengan YANG MAHA ESA,siapa membantah akan susah,yang liar akan terhajar,yang malas akan tergilas,yang ingkar akan terkapar.
Mengapa alam begitu tidak bersahabatnya dengan kita? selidik punya selidik semua karena virus EGO,mau menang tak mau kalah,mau untung tak mau rugi,mau enak tak mau menderita,mau senang tak mau susah,merasa benar sendiri,culas,dengki,iri,dll dimana ego adalah bibit setan dalam diri. Bila kita jujur dan sportif,kuncinya terletak dari kata BENAR atau mencari BENAR,senyatanya benar dalam urusan manusia hanya pada logika-ilmiah-sehat pikir.
Ego adalah bibitnya setan dalam diri,bila kita telaah lebih dalam siapakah penguasa diri kita? EGO=NAR atau NUR=KASIH SAYANG? (koreksi/ngaji diri aja) Celakanya,manusia zaman sekarang telah terkontaminasi dg virus kejiwaan yang bernama EGO,dimana-mana terjadi bencana,perang,pembunuhan,dll Yang kesemuanya hanya mencari kata BENAR tadi….marilah sodaraku berlogikalah pikiran kita ini dengan obyek penyaksian tiap indra yang masuk dan terolah oleh pikir secara sistematis dengan TELITI-HATI2-TERTIB-PERHATIAN-WASPADA dan akui tiap keadaanya dengan TENANG-SABAR-SADAR-NRIMO-PASRAH karena ALLAH dan arahkan hidup ini untuk saling MENYADARKAN-MERUKUNKAN-MENYELAMATKAN-MEMBAHGIAKAN-DALAM CAKUP TUHAN YME.
Jiwailah tiap nafas kehidupanmu dengan rumus hidup tersebut diatas untuk membuka pikir,hati dan arah hidup,demi perang/jihad/meminimalkan EGO dalam diri kita yang senyatanya masuk melaui pkir dan sekarang ini telah meracuni jiwa manusia. Mulailah KASIH SAYANG-WELAS ASIH-ARROHMAN ARROHIM kita tanamakan dalam diri yang merupakan INTI HIDUP,jangan menyebutnya BISMILLAHHIRROMAANIRROHIM yang senyatanya pengertian intinya adalah KASIH SAYANG namun hanya sebatas dimantrakan,diucapkan aja,sehingga salah penafsirannya,padahal di kata tersebut telah bersumpah dengan YANG MAHA ESA demi KASIH SAYANG yang pada akhirnya keblinger dari makna dan maksud kemurniannya. Carilah benar dalam pengertian benarnya.
MOHON MAAF KATA-KATA SAYA INI
SALAM RESTU UTK SEMUA UMAT SEMOGA BAHAGIA.
rumputliarharusbebas berkata,
Desember 5, 2008 pada 2:56 am
SAYA INGAT KULIAH PERDANA FILSAFAT KETUHANAN SEKITAR TAHUN 90-AN DULU. SANG DOSEN MENYEBUT PERNYATAAN MEISTER EIKHART, MISTIKUS JERMAN SBB: WHEN GOD MADE MAN, THE INNERMOST HEART OF GODHEAD WAS PUT INTO MAN> YANG ARTINYA KURANG LEBIH SBB: SAAT TUHAN MENCIPTAKAN MANUSIA INTI KETUHANAN TELAH DIPATERIKAN DI DALAMNYA.
TERKAIT DENGAN EGO, SAYA PUN MENGINGAT DOSEN TSB MENGUTIP AYAT KITAB SUCI SBB: “SEMUA (TERMASUK MALAIKAT) SUJUD KEPADA-KU (MUSA) KECUALI (AKU) IBLIS.”
BEGITULAH BAHWA BILA SEMUA SUDAH SUJUD KEPADAKU, LANTAS SIAPA YANG BELUM SUJUD??? YA AKU ITU. MAKA IBLIS IU ADALAH AKU ITU SENDIRI. BILA INGIN BERTEMU DENGAN AKU-NYA TUHAN, MAKA AKU (IBLIS) HARUS DIMATIKAN DULU…
MEKATEN KEMAWON PORO WICAKSANA…
RAHAYU.
sabdalangit berkata,
Desember 5, 2008 pada 8:00 pm
Wah wah tansaya rame…pramudha anggone sengkut anggayuh kabecikan…
suwe ra njedul, lagi lengser keprabon…sedaya para maos lak njih tansah pinaringan wilujeng lan rahayu to njiih…
Ki Gebang rumputliarharusbebas pancen Winasis lan waskita saestu !!!
Setan lan iblis laknat iku pancen sajatine dudu sapa-sapa, nanging anane yo mung hawa nafsu ing njero ati iku. Setan kang jarene diborgol pas sasi pasa iku pada wae. ora liya yo nafsu hawa kang aneng kalbune manungsa. mula, ing sasi pasa iku tetep ana paten pinaten, pitenah, maling, nyleweng, wong murka. lha margo manungsa iku sing salah sasaran. dianggep kang mborgol setan kuwi Gusti Allah, lha dudu ! yo awake dhewe iki kang mborgol nepsu. musuhe manungsa iku dudu lelembut kang tansah nggoda….dudu ngger ! nanging hawa nepsune dewe. mula kanggo mateni setan iku carane ngudi “laku” (jalan spiritual) kanthi tapa brata. angudubilah iku pinangka mantebake ati. dudu ayate kang sekti. nanging saka kegawa mantebing ati ngucap niat ingsun (angudubilah), kekarepae banjur manteb anggone nglilihake lan nglerem hawa nepsu. mula dongane nganggo cara agama apa wae bisa kabul bisa baul. kabeh donga mung ginantung ing mbang telenging manah kita. ono kang mung ngucap bismilah, banjur bisa ngembrukake sumur. nanging ana uga kang ngucap; amatek jiku…blegedud moyo-moyo..banjur bisa nyigar gunung. hong wilaheng…banjur bisa mlaku nduwur banyu. Kabeh umat agomo uga ngrasakake dongane wi tau dikabulake Gusti Kang Mahakuasa.
kabeh iku pinangka bukti kuasaning, welasing, lan adiling Gusti marang kabeh manungsa gawean-Ne, tanpa mbedakake apa agomone. sebab kang butuh agama iku dudu Tuhan ananging menungsa kanggo sarana manembah marang Gustine.
Ra Ha Yu
Putro BWI berkata,
Desember 6, 2008 pada 4:48 pm
kesuwun Sanget Kang (Santri Gundhul), atas pengertian Galihe Kangkung : Iku ateges, Anane Hyang SUKMO SEJATI sing teko lan lungo. tapi kulo kok tasik rodo kurang paham teng atase arti ateges Galih Kangkung niku? brarti SuKmo hyang sejati lungo lan teko? lan nopo Hyang Sukmo sejati niku podo aran tegese kalih Guru sejati?,
ingkang medal saking setiap manungso saking idzin lan barokahe Gusti Allah Taala?
Kesuwun Sedoyo…salaam
PUTRO BWI berkata,
Desember 6, 2008 pada 6:46 pm
kulo sakbenere katah pertanyaan (pitakon) ring masalah2 ngeteniki .. ingkang dadi pertanyaan teng njero ati..
tapi kulo geh tasik bingung ngungkapne pitakon2 niku..
lan medal saking puniku, menawi angsal kulo bade taken arti2 Boso (kata) Boso Jowo Kuno sebab teng arti Aksoro Jowo ingkang Kulo pahami,katah kata2 ingkang Ndamel boso2 Jowo kuno.lan menawi saking pemahaman kulo, Aksoro Jowo niku duweni makna kanggo blajar Tasawuf..
pemahaman kulo antara lain..wonten kata2 ingkang Ndamel Boso KAWI,(Boso Jowo Kuno) Mulo niku sedoyo..Menawi Wonten,Kakang, Mas lan poro mbah2, Pini sepuh sedoyo lan sedoyo mawon teng blok niki.. ingkang ngertos ugo Paham Boso Kawi…Tulung ta kulo di ajari supados mboten Ngelak Gorokan kulo niki saking Tirto Banyu Wulu suci…
Lan pemahaman kulo, Aji soko niku Geh Hono Coroko (aksoro jowo) niku..
maksud kulo Aji soko niku Hono coroko..utawi secara aluse Mboten wujud pawongan, sebab menurut Kulo (Aji : Ilmu, Apik) lan ( SOKO :Tiang/patokan, contoh;umah ono Soko-ne)
lan pemahaman kulo,Honocoroko..dst, niku suatu Ukoro ingkang tata bahasane ndamel tata bahasane Ndamel/ngadopsi Aksoro Jowo.
lan Honocoroko niku suatu Soko ingkang Aji (mungkin suatu Rangkuman dari suatu kaweruh,sesuatu yang Luhur nilainya(Aji)) ingkang disusun Kalian seseorang Ahli (Agama,Kebatinan,Sastra,pujangga,Wali) saking sebagian Mbah mbah Buyut kito sedoyo ingkang rumiyen kanggo kito sedoyo.
Tapi geh niku…maknane tasik Samar sebab Memang dipun Samaraken. lan kedah tiyang ahli lan di idzini ugo direstui Gusti Allah ingkang saged mbuko…
lan berikut niki saking pemahaman kulo..menawi mrujuk saking Ukoro Janur : Senedyane Nur. Sawo kecik : Sarwo apik/ Sowan apik, Garwo ; Sigarane Nyowo,
menurut penafsiran kulo:
Jodho: Tujuane Podho.
Sekar (Kembang / Bunga) : SEmujude KeKARepan, Kembang: KEMujude LamBANG
Mawar : MArakno (dadekno) taWaR.
Kanthil: Kelet/ikut,
Kenongo: Kenengo
Menyan: Menyang>>>Menyangno kekarepan,(lantaran)
Melati : Melas nong Ati
Jambe; jamune lambe
Sirrep : Sirre di Rep
Pelet : raPet lan keLet
Sihir ; Sir-re di lahir (sir-re diungkapkan)
Dunyo: Dudu mergo sonyo
Poso : ngePosne Roso (mengistirahatkan roso:lapar, haus,sexual dsb)
Suruh : sumurube ruh
….Allahhualaam.
mungkin itulah makna bahwa nenek Moyang kita dulu mengungkapkan sesuatu dengan simbol-simbol:Simbolis. dan itu merupakan suatu kearifan Budaya/hasil budaya nenek moyang kita
dan semua arti makna hanya kembali pada allah karena Allah yang zat yang maha suci, Maha Paham dan Maha Mengetahui segala makna dan segala sesuatu baik yang wujud maupun yang gaib serta Maha segala.
***Niku Mung Penafsiran kulo/pemahaman saking Kulo Pribadi..dadi Ageng Alit Sepurone, Keciput dipangan Kuro, Menawi ( Luput ) Salah Kulo nuwun sepuro.. lan kulo nedi koreksi saking kakang kakang,mbah2, pini sepuh lan sedoyo…lan Mugi gusti Allah ngijabahi
Matur nuwun, Salaam.
hidayat berkata,
Desember 7, 2008 pada 11:36 am
rahayu…
lha enggeh leres mas Bwi ….
monggo sederek-sederek slametan
wass wb
twindragon berkata,
Desember 8, 2008 pada 2:44 pm
ngapunten mas… kulo methil sithik2…. sepindah malih nyuwun ngapunten
sabdalangit berkata,
Desember 8, 2008 pada 7:54 pm
Kula Nuwuun..Kadang Kumitir pripun kabaripun mugi tansah wilujeng lan rahayu. nuwun sewu kula dangu lengser awit nembe kathah bot repotipun.
bade nambah sekedik bab ingkang dados penggalihi ipun Mas PutraBWI.
Bab “galihe kangkung” menika sampun kaserat..bahasa indonesia saja biar banyak yg paham njih. Galihe kangkung merupakan salah satu sanepa di dalam serat Saloka Jati; maknanya adalah menunjuk sukma kita. Dalam Purba jati, lebih dapat dirinci lagi, semua tatarn sukma, dari yg paling rendah sampai yg paling tinggi.
1. Sukma lahir / sukma wahya= pertemuan antara jasad dengan nafas (diumpamakan; kodok kinemulan ing leng)
2. sukma jatmika/sukma batin = pertemuan antara nafas dengan budi. (diumpamakan; kuda ngerap ing pandengan).
3. sukma lana / sukma tetep = pertemuan antara budi dengan nafsu. (diumpamakan; latu murup ing telenging samodra)
4. sukma mulya / sukma mulus = pertemuan antara sukma dengan nyawa (diumpamakan; tapaking kuntul anglayang)
5. sukma jati / sukma nyata / sukma rahsa / rasa = pertemuan antara nyawa dengan rasa. (diumpamakan; isining wuluh wungwang)
6. sukma wasesa / sukma wenang = pertemuan antara rahsa dengan cahya (diumpamakan; tunjung tanpa telaga).
7. sukma kawekas / sukma pungkasan = pertemuan antara cahya dengan “hidup” / kayu / kayun (diumpamakan; kusuma anjrah ing tawang)
semua sukma di atas menjadi hakekat yang mengisi jasad manusia. maka kenalilah diri kita sendiri, baru kemudian akan kita kenali Tuhan.
Nah…posisi Tuhan ada di mana ?
ada di atas sukma kawekas, yakni sudah berupa Zat Yang Mahamulia.
Muhammad ada di mana ?
ada di cahya, atau nur, atau nurullah.
Guru sejati di mana ?
ada di sukma sejati/sukma jati.
Sukma kita yg biasanya itu, yg bisa dipengaruhi nafsu ada di mana?
ada di sukma lana/sukma tetep.
Sukma yg bisa lolos/meraga itu yang mana ?
yakni sukma lana/sukma tetep yang sudah dibersihkan dari nafsu.
sewaktu meraga sukma berkelana ke alam gaib, sukma lana selalu di kawal oleh sang guru sejati. maka perlu berlatih terus menerus. latihan yang tidak tuntas, akibatnya sang guru sejati tidak akan muncul mengawal sukma lana yg sedang berkelana.
resikonya, pengontrol emosinya sukma lana sangat lemah, sehingga beresiko sukma lana tak bisa pulang ke dalam jasad, karena di perjalanan di alam sana pantang tergoda hawa nafsunya sendiri.
yen gagal nahan nafsu yo mati.
mas Putro bilih badhe maos langkung mendalam kula aturi pinarak ing gubuk reot kula;
http://sabdalangit.wordpress.com
dipun klik kemawon;
1. “mengungkap rahasia Tuhan”
2. wirit laksita jati
3. sejatinya guru sejati
mugi mrenani ing penggalih pro kadang sedaya…
nuwun
thole berkata,
Desember 9, 2008 pada 12:26 pm
Kulanuwun,
ngoko wae yo, ra isa basa sing apik aku, dudu dalang
sak jane aku ki yo bingung, ketone akeh tulisan jawa tapi kok ya dicampur arab, ki mengko dadine apa yo ? arab kejawen apa kejawen arab ?
aku dadi bingung wae kok dicampur adukke, apa kuwi jarene wong jawa kari separo, njerone ki wis arab yo ?
biyung-biyung … iki piye to yung-yung
adbm2 berkata,
Desember 10, 2008 pada 4:06 am
Gubugmu awsome bangget, Kiai.
Den Gisrun berkata,
Desember 10, 2008 pada 1:47 pm
Kulo nuwun, nderek langkung badhe migatekaken,
kagem Panjenenganipun Sabdalangit, menawi keparengeng badhe nyuwun pencerahan babagan “kyai semar” menika sakjane wonten mboten, amargi kulo kit riyen remen sanget kaliyan tokoh punakawan setunggal menika.
rumiyen rikolo taksih enem kulo natos sowan dateng (tiyang sepah) lan dateng dalemipun wonten foto ingkang mirip kyai semar, lajeng kulo taken, wangsulanipun tiyang sepah kolo wau angsal saking murid-ipun pas minggah redi lawu mboten sengaja badhe foto pemandangan pas dipun cetak asilipun medal gambar kyai semar kolo wau. anehipun malih pas badhe nyetakmalih foto wau mboten saged menawi mboten tiyang sepah kolo wau. kok saged kados mekaten meniko pripun………?
sakderenge kulo matur suwun sanget menawi, panjenenganipun sabdalangit lilo legawa maringi sekedik kawaskitan panjenengan.
menawi wonten atur kulo ingkang mboten nuju prono ing penggalih, nyuwun gung ing pangaksami……………………………………
nuwun
hidayat berkata,
Desember 11, 2008 pada 11:43 am
rahayu…hidayat , 7 des 2008
lha enggeh leres mas Bwi ….
monggo sederek-sederek slametan……………..
slametan nopo? dateng giyanipun alm Pak Ali Alatas
http://www.kompas.com/read/xml/2008/12/11/17542879/Karangan.Bunga.Penuhi.Rumah.Duka.Ali.Alatas
====================
sambungan komentar 15 nopember:
hidayat 10 nop 2008 berkata:.” tetapi yang tor-tor koruptor itu bikin melarat ratusan juta orang, bunuh diri jutaan orang, ribuan TKI disiksa dan diperkosa, ,,,,,,,,,,,,,,, ini tentang TKW:
http://www.kompas.com/read/xml/2008/11/24/10183289/Kejam..Korban.Perkosaan.Justru.Dipenjara
hue he he he husss
wass wb
hidayat berkata,
Desember 11, 2008 pada 11:46 am
rahayu…hidayat , 7 des 2008
hue he he he husss
lha enggeh leres mas Bwi ….
monggo sederek-sederek slametan……………..
slametan nopo? dateng griyanipun Alm Pak Ali Alatas
wass wb
wisnu krisnanto berkata,
Desember 12, 2008 pada 4:06 am
Hidup telah kita pakai,bahkan ilmu hidup telah berkumandang nyaring dalam tiap ceramah dan pembelajaran ttg arti sesunggunya dari ajaran dan ajakan semua bentuk agama,yang pada intinya kita diajarkan utuk WELAS ASIH-KASIH SAYANG-ARROHMAN ARROHIM.
yang jadi pertanyaan…… bagaimana menciptakan dan caranya kasih sayang tsb dalam raga-jiwa-arah hidup ini?
Seorang kakek tua di kaki gunung salak sukabumi,tepatnya desa cisaat yang SD-pun tak lulus memberiku sebuah RUMUS HIDUP atau KUNCI HIDUP yang sedemikin sederhana dan sistematis,dimana kehidupan ini selalu berproses menuju ke_ESAan atau kemanunggalan antara manusia dg sifat Tuhan (RASTU=Rasa Tuhan),dalam proses hidup itu pasti ada kejadian dan keadaan,nah…disinilah dalam proses tsb,didalam obyek kejadian ini selalu melalui indra kita ytk mencerna arti benar dalam pengertian benarnya dg cara atau RUMUS : TELITI-HATI2-TERTIB-PERHATIAN-WASAPADA
wisnu krisnanto berkata,
Desember 12, 2008 pada 4:16 am
Hidup telah kita pakai,bahkan ilmu hidup telah berkumandang nyaring dalam tiap ceramah dan pembelajaran ttg arti sesunggunya dari ajaran dan ajakan semua bentuk agama,yang pada intinya kita diajarkan utuk WELAS ASIH-KASIH SAYANG-ARROHMAN ARROHIM.
yang jadi pertanyaan…… bagaimana menciptakan dan caranya kasih sayang tsb dalam raga-jiwa-arah hidup ini?
Seorang kakek tua di kaki gunung salak sukabumi,tepatnya desa cisaat yang SD-pun tak lulus memberiku sebuah RUMUS HIDUP atau KUNCI HIDUP yang sedemikin sederhana dan sistematis,dimana kehidupan ini selalu berproses menuju ke_ESAan atau kemanunggalan antara manusia dg sifat Tuhan (RASTU=Rasa Tuhan),dalam proses hidup itu pasti ada kejadian dan keadaan,nah…disinilah dalam proses tsb,didalam obyek kejadian ini selalu melalui indra kita ytk mencerna arti benar dalam pengertian benarnya dg cara atau RUMUS : TELITI-HATI2-TERTIB-PERHATIAN-WASAPADA didalam penyaksian indra kita dimanapun -kapanpun-dg siapapun,kemudian akui keadaanya dengan TENANG-SABAR-SADAR-NRIMO-PASRAH yang mempunyai tujuan dan arah hidup demi SADAR-RUKUN-SELAMAT-BAHAGIA-DALAM CAKUP TUHAN YANG MAHA ESA. Kalo kita jujur semua itu telah ada dalam diri kita,namun belum secara sistematis mengaplikasikan dalam kehidupan,inilah KUNCI HIDUP itu yang terdiri dari PRA-INDRA SAKSIKAN DG TELITI-HATI2-TERTIB-PERHATIAN-WASPADA, PRA-JIWA AKUI DG TENANG-SABAR-SADAR=NRIMO-PASRAH, DENGAN TUJUAN HIDUP SALING MENYADARKAN-MERUKUNKAN-MENYELAMATKAN-MEMBAHAGIAKAN-DALAM CAKUP TUHAN YANG MAHA ESA. Untuk membetuk manusia yang KASIH SAYANG secara RAGA (Otak berfikiran positif) sehingga SEHAT PIKIR dg PRA-INDRA-nya, sehat hati dg PRA-JIWAnya dan mempunyai arah hidup secara sistematis.
samudro berkata,
Desember 13, 2008 pada 8:37 am
Rahayu
buat mas Putro BWI
saya hanya mencoba menjawab menurut kemampuan saya :
Ajisoko itu sebenarnya merupakan ringkasan kitab yang berisi permulaan asal usul dunia ini dan seisinya, yang didalamnya terkandung honocoroko.
dan di honocoroko inilah sebenarnya wedaran asli dari ajisoko, atau katakanlah pecahane ajisoko supoyo iso diwoco.
ajisoko yang didalamnya terkandung kitab honocoroko sendiri adalah yang selama ini dicari oleh banyak orang yaitu sangkan paran ning dumadi atau sering digandeng sangkan paraning dumadi.
sangkan adalah asal muasal manusia itu dari apa yang sebenranya dan rentetan kejadiannya bagaimana, tu mutlak harus diketahui bila kita ingin nggayuh kamulyan ning gusti atau menuju tempat dimana gusti berada dengan kita tetap menjalani kehidupan kita ini dengan baik dan benar, yaitu sewajarnya manusia hidup, dari situlah sebenarnya akan terungkap siapa sebenarnya isi anda, wujud wong atau jalmo wong, dari perilaku itulah akan kelihatan watak aslinya, sering kita dengar insan kamil, itulah sebenarnya gerbang awal kita untuk menjadi manusia yang disebut sang (ro)jo) / pemimpin.
pemimpin dalam persepsi budaya yang saya pelajari adalah kaidah alam semesta yang dimanifestasikan dalam kehidupan nyata. Ro dalam honocoroko yang saya pelajari adalah irryo yang artinya kurang lebih adalah (aluse)alus) dan Jo adalah MoNO yang bisa diartikan adalah gabungan dari Mo dan NO dari honocoroko yang bila diartikan satu persatu, MO adalah tan wruh assale imogiri wang dan No sendiri adalah ono opo ono tur katon ing noto indro roso lan paningalan jalmo iso nawang ono opo atau dipersingkat aja wang / keliahatan dan bisa dipegang bila jo digabung artinya berwujud dan bisa dibuktikan adanya.
bila arti kata rojo digabung akan muncul istilah doyone rogo sakpiro iso mungkasi kawruh ing ndonyo ning yen doyone roso sak piro olehe mubengi ndonyo lan sak isine, inilah asal mulanya ilmu mraga sukma, yaitu disaat kita bangun atau tidur, sebenarnya jiwa yang haus akan pengetahuan karena keinginannya yang kuat untuk kembali ke hyang widhi, keluar untuk menghadiri tempat tempat dimana saat itu membicarakan hakekat ketuhanan dan alam semesta. sering pada malam hari saat kita ngwedar pengetahuan itu, suasana begitu penuh, dan banyak yang tak tampak oleh mata hadir disana.
itulah hebatnya para pinisepuh ajaran ini, yang selalu memberi nasihat ” ojo cidro marang sak podho ciptoane sing kuoso ” atau jangan saling menyakiti sesama ciptaan tuhan”. itulah rahasia kenapa seharusnya orang semakin tua juga semakin bijaksana, karena dia bisa Ning, apa nggak bisa, semua bisa, kang sabdalangit bilang ngraga sukma itu sudah hal yang biasa sekarang bukan…!
rojo bisa diartikan adalah bahwa sebelum bertindak berpikirlah seribu kali, karena dia harus mempelajari masa lalu dibawa ke masa kini dan untuk menjadi baik di masa depan, lalu lahirlah sebuah perintah.
masih banyak sandi maharesi yang harus diungkap, saya titip sangkan ini aja dulu, monggo rekan rekan yang lain dilanjutkan……..
rahayu..
hidayat berkata,
Desember 13, 2008 pada 3:30 pm
Tuhan berkata: “,wahai hidayat… jarke wae menowo Mas Samudro komentar, jo mbok elok ne!!!, awakmu durung mesti luwih becik tinimbang Mase kae..
hidayat:…. enggih Gusti….
Putro BWI berkata,
Desember 15, 2008 pada 9:23 pm
Assalaammualikum… kulo nuwun..Salam..,
Matur Nuwun Sanget Dumatheng Kakang Mas Samudro atas Penjelasan Tentang “Honocoroko” dan Matur Nuwun Sanget Dumateng Kakang Mas Santri gundul atas penjelasan tentang Galih Kangkung.
matur nuwun lan salaam
kawula alit berkata,
Desember 16, 2008 pada 5:23 am
ada yang tau ttg arya loka n arya dipa ga???
klo ada yg tau minta informasinya yah,,,
ada di jaman kapan n gimana detail ceritanya,,,,,
thx sebelumnya,,,,
samanta_putra berkata,
Desember 16, 2008 pada 2:41 pm
ass….mohon diri untuk memperkenalkan diri pada rekan semua…blog ini sangat istimewa karena ditengah budaya materialisme dan hedonisme masih ada yang peduli dangan hal yang spiritual., saya juga sangat cocok dengan komentar-komentar yang ada, tapi juga ijinkan saya berpendapat bahwa pada dasarnya semua komentar yang ada adalah benar, toh terlepas benar atau salah komentar adalah sebuah komentar dan hargailah, keseimbangan adalah hal yang paling baik untuk menemukan arti sebuah jiwa yang sejati, terlepas dari segala hal keterikatan adalah jalan yang utama untuk menuju pada menyatunya diri dengan khalik, tapi jangan menganggap kita adalah Tuhan walaupun kita sebenarnya ada didalam Tuhan itu sendiri,….
samanta_putra berkata,
Desember 16, 2008 pada 2:42 pm
Kau berbicara seperti seorang bijak,
namun menangisi sesuatu yang tak patut kau tangisi.
Seorang bijak sadar bahwa kelahiran dan kematian,
dua-duanya tak langgeng.
Jiwa yang bersemayam dalam diri setiap insan,
sungguhnya tak pernah lahir dan tak pernah mati.
Badan yang mengalami kelahiran dan kematian
ibarat baju yang dapat kau tanggalkan sewaktu-waktu
dan menggantinya dengan yang baru.
Perubahan adalah Hukum Alam – tak patut kau tangisi.
Suka dan duka hanyalah perasaan sesaat,
disebabkan oleh panca-inderamu sendiri
ketika berhubungan dengan hal-hal di luar diri.
Lampauilah perasaan yang tak langgeng itu.
Temukan Kebenaran Mutlak
di balik segala pengalaman dan perasaan.
Kebenaran Abadi, Langgeng
dan Tak Termusnahkan.
Segala yang lain diluar-Nya
sesungguhnya tak ada – tak perlu kau risaukan.
Temukan Kebenaran Abadi Itu,
Dia Yang Tak Terbunuh dan Tak Membunuh.
Dia Yang Tak Pernah Lahir dan Tak pernah Mati.
Dia Yang Melampaui Segala dan Selalu Ada.
Kau akan menyatu dengan-Nya,
bila kau menemukan-Nya.
Karena, sesungguhnya Ialah yang bersemayam
di dalam dirimu, diriku, diri setiap insan.
Maka, saat itu pula kau akan terbebaskan
dari suka, duka, rasa gelisah dan bersalah.
Kebenaran Abadi Yang Meliputi Alam Semesta,
tak terbunuh oleh senjata seampuh apapun jua.
Tak terbakar oleh api, tak terlarutkan oleh air,
dan tidak menjadi kering karena angin.
Sementara itu, wujud-wujud yang terlihat olehmu
muncul dan lenyap secara bergantian.
“Keberadaan” muncul dari “Ketiadaan”
dan lenyap kembali dalam “Ketiadaan”.
Jiwa tak berubah dan tak pernah mati;
hanyalah badan yang terus-menerus
mengalami kelahiran dan kematian.
Apa yang harus kau tangisi?
Badanmu lahir dalam keluarga para Satria,
ia memiliki tugas untuk membela negara dan bangsa.
Bila kau melarikan diri dari tanggungjawabmu,
kelak sejarah akan menyebutmu pengecut.
Bila kau gugur di medan perang,
kau akan mati syuhda, namamu tercatat sebagai pahlawan.
Dan, bila kau menang, rakyat ikut merayakan
menangnya Kebajikan atas kebatilan
Sesungguhnya kau tak perlu memikirkan
kemenangan dan kekalahan.
Lakukan tugasmu dengan baik.
Berkaryalah demi kewajibanmu.
Janganlah membiarkan pikiranmu bercabang,
bulatkan tekadmu, dan dengan
keteguhan hati, tentukan sendiri
jalan apa yang terbaik bagi dirimu.
Berkaryalah demi tugas dan kewajiban,
bukan demi surga, apa lagi kenikmatan dunia.
Janganlah kau merisaukan hasil akhir,
tak perlu memikirkan kemenangan maupun kegagalan.
Dengan jiwa seimbang,
dan tak terikat pada pengalaman
suka maupun duka,
berkaryalah dengan penuh semangat!
Bebaskan pikiranmu dari pengaruh luar;
dari pendapat orang tentang dirimu,
dan apa yang kau lakukan.
Ikuti suara hatimu, nuranimu.
Arjuna:
Bagaimana Krishna,
bagaimana mendengarkan suara hati?
Krishna:
Bebas dari segala macam keinginan
dan pengaruh pikiran,
kau akan mendengarkan dengan jelas
suara hatimu – itulah Pencerahan!
Saat itu, kau tak tergoyahkan lagi
oleh pengalaman duka,
dan tidak pula mengejar pengalaman suka.
Rasa cemas dan amarah pun terlampaui seketika.
Bocah Bayi berkata,
Desember 16, 2008 pada 8:03 pm
Byuh – byuh akeh Wong urip podho beber kawruh babagan uripe lan kahuripane. Ngelingono sederek sedanten, punopo leres yen kahuripan puniko saged ngaweruhi uripe? Pundi ingkang rumiyen antarane urip kelawan kahuripan puniko?Lajeng nopo saged uripe nyumerepi marang uripe urip?Ampun ngantos uni puniko den uneake maleh marang liyan.
Ampun ngantos warto dipun wartoake maleh,mangke diarani warto – warto.
Gusti puniko Moho Suci
suci puniko nginggile bersih lho dherek…
Lha Moho Suci puniko berarti langkung – langkung suci
Suci puniko mboten rupo…nanging ono
Kulo bocah bayi ingkang bodho…
Seumpami dherek saged mbeber nggeh sakmestine saged nggulung
Beber sakJagad nggeh kedah saged nggulung sakJagad
Beber lan nggulung puniko pun penggawe
Ilange beber lang nggulung kantun nopo wontene???
Bejo Bejane sing Eling…
Isih Luwih bejo sing Elinge Eling
wisnu krisnanto berkata,
Desember 17, 2008 pada 1:17 am
RUMUS HIDUP
Membuka HATI, PIKR dan ARAH HIDUP
Membimbing dg kasih sayang
Membuat hidup lebih matang
Inti Hidup = KASIH SAYANG
KUNCI HIDUP =
1. Penyaksian dg Indra : TLITI-HATI2-TERTIB-PERHATIAN- WASPADA
2. Mengakui dg jiwa : TENANG-SABAR-SADAR-NRIMO-PASRAH
3. Tujuan Hidup demi : SADAR-RUKUN-SELAMAT-BAHAGIA- TUHAN YME
Menghadapi hidup berarti menghadapi yg menghidupkan
Menghadapi kejadian berarti menghadapi yang menjadikan
Menghadapi keadaan berarti menghadapi yang mengadkan
maka,
Hadapilah Dia dengan ;
Bersenyum di mulut
Berseri di hati
Bercerah di wajah
Bersyahdu di kalbu
Bermesra di rasa
Zaman melangkah tak bisa dibantah,revolusi zaman berjalan tak bisa ditahan,terus bergulir mengikuti karma zaman. Saksikan dg jujur ; analisa dg otak sehat ; alam dogma telah berakhir,kini Tuhan menuntut semua penganut minta bukti karya bakti,AGAMA tengah berkarma dimana-mana terjadi bencana,semua tak bisa menghindar dari BADAR (bahan sadar) demi sadar.
Didlm KUNCI HIDUP ada 2 kata SADAR,yg satu terdapat pada Pra-JIWA (tenang-sabar-SADAR-nrimo-pasrah), yg ke dua pada Tujuan Hidup (SADAR-rukun-selamat-bahagia-Tuhan YME). Art SADAR di Pra-jiwa adalah ELING = ELING pd diri sendiri,art SADAR pd Tujuan adalah TIDAK LIAR ARAH HIDUPNYA. Jadi Eling untuk diri (hablumminnallah) dan tidak liar untuk mengarah hidup pada ketentuannya yaitu ke ESA.
ORANG YG MENGENAL AKAN DIRINYA BERARTI MENGENAL AKAN TUHANNYA.
” Tidak tahukah kamu,bahwa kamu adalah Bait Allah dan bahwa roh Allah diam di dalam kamu? ” ( I Korintus 13 : 14)
Biasanya mengenal diri logis harus diawali dg selalu bebenah diri=intropeksi diri=koreksi diri=mengaji diri.
Arti pokok dari ELING itu agar kita ada dipihak SIFAT ALLAH.serta mampu dan bisa mengikuti petunjukNya sebagaimana petugas ALLAH=DUTA ALLAH=GEMBALA ALLAH=KALIFATULLOH di alam kehidupan ini.
Agar lebih jelas lagi,kita padukan Pra-Indra dan Pra-Jiwa yg kestuannya akan diarahkan demi Tujuan hidup ke ESA (yg merupakan intinya arah / tujan hidup semua umat manusia),beginilah rangkumannya ;
TELITI dengan TENANG.
HATI2 saat SABAR.
TERTIB demi SADAR-RUKUN-SELAMAT-BAHAGIA-DALAM CAKUP TUHAN YME.
PERHATIAN agar NRIMO.
WASPADA serta PASRAH—-Kenali NUR diri—-Allah diri.
Maka langkah pertama,kita hrs selalu MENELITI dengan TENANG segala sesuatu yg tampak disekitar kita dg siapapun,dimanapun dan kapanpun. Selanjutnya sertailah dg HATI2 yang SABAR,jangan grasak-grusuk…!!! Kalo sdh demikian disebutlah TERTIB,bersaksi serta ELING alias SADAR. Kelanjutannya terapkanlah PEHATIAN dan analisa dg NRIMO,artinya tdk terburu nafsu,tdk menentang sebelum terang (in posisi),selanjutnya kita bisa BERWASPADA dalam menyaksi setiap berita ALLAH,maka prosesnya kita akan MEMASRAHKAN segala-galanya pd Yang Maha KUasa.
Pada akhirnya kita menyadari dalam hidup ini,bahwa kita bagaikan seekor kuda dan ALLAH-lah yang menjadi jokinya (kita wayangnya,Allah dalangnya).
Mohon maaf sodaraku,
SALAM RESTU
hidayat berkata,
Desember 18, 2008 pada 4:35 pm
enggih leres puniko
tiyang engkang mbabar panghuripane tapi dereng nyurupi uripe piyambak , mesti angsal bebendu saking gusti.
ugi tiyang engkang mbeber serat-serat engkang maujud tunggal wadiningsun enggih angsal bebendu saking gusti.
babahan mbabar serat pun dados wadi saking tiyang pinisepuh menawi maos kemawon kedah ndamel manah lan ugi mboten tiyang tiyang sanes saged maos ..puniko bebendunipun ageng sanget….
puniko ndadosaken gerah kabingungan twin saged pindah alam tilar donya.
hayuningtyas berkata,
Desember 19, 2008 pada 6:46 pm
Sugeng Rahayu
Wah wah sajake aku ketinggalan adoh banget. Anggone Nganggsu Kaweruh banyune wis podo entuk sak blumbangan gek kapan dinane nyusul, tembung ukarane wis marai mumet kudu dibolanbaleni ben dong nanging marai tentrem ra marai culek-culekan. Utung ono pinisepuh bapak2 lan mas2 sing podo mbudi doyo “kautaman” dadi bocah koyo aku iki isih iso “blajar sinau.
Matur Sembah Nuwun
PUTRO BWI berkata,
Desember 19, 2008 pada 8:26 pm
Salaam…..
serulink berkata,
Desember 21, 2008 pada 1:42 pm
salam kenal mas kumitir…
ikut menimba ilmu ya
fery berkata,
Desember 21, 2008 pada 5:42 pm
SUGENG RAWUH..
KULO BADHE TANGKLEK LALE MAS SABDA LANGIT :
-SENG DI MAKSUD DULUR PAPAT NIKU NOPO
-KALE MAKSUDTE LANGIT KE PITU NIKU NOPO
NIKI RIYEN MAWON ,BEK MENAWI KIRANG LEK NULIS SEPUNTENE SENG KATAH.DAMEL MAS SABDA LANGIT MATOR NUWON WASSALAM.
rumputliarharusbebas berkata,
Desember 22, 2008 pada 1:13 am
Mas kumitir, ndonyo tambah ruwet. Pejabat lan punggowo Kraton Ngamarta podho edan. Wong cilik mung iso nggrundel karo nahan sabar, sabar lan sabar ndelok tumindak sing ora patut koyo mengkono. Opo perlu diobong sisan Kraton kui ben ilang buto-buto ne???
Putro BWI berkata,
Desember 22, 2008 pada 6:50 pm
Assalaam…..
Mas Rumput Liar Pancen Pinteer tenan kadung membuat “Bahan kajian”
klo menurutku:
Biarlah semua berjalan apa adanya… yang penting kita sendiri dlu, yang harus “ELING” dan lagi sejatinya mereka2 sebenaranya udah tau tapi cuma gak Eling. dunia penuh misteri dan keadaan yang menipu..jangan pernah terseret pada emosi.. semua keadaan ibarat udah terbuka nyata semua, yang salah yang benar seakan udah tampak jelas terlihat didunia ini,tergantung kita mencermati.. tapi kadang kita terbawa pada yang negatif padahal kita secara hakikatnya udah tau Itu memang salah, karena kita yang lupa gak “Eling”. karena Eling sehngga kan waspodo.
jadi menurutku gak perlu di obong…karena suatu saat pasti kan berubah seperti dalam pentas suatu cerita, Lakon ini kan ganti berganti dengan lakon yang lain jika critanya udah habis.dan “Sang Maha Pengamat” akan Menilai semua aktor aktor pagelaran pentas panggung cerita itu.
Biarlah semua berjalan apa adanya…ibarat air pasti kan temukan muaranya..yang penting kita slalu berusaha slalu ingatkan supaya selalu tetap “Bening dan segar”.
“Lampahan Laku Lakon” ono Lakon mesti ono Lakune ring Lampahane
(jalane), “Lakon mowo Laku ring Lampahan” tapi yo iku..ati ati ndiko ring dalan “akeh eri lan Akeh Juglangan. Onocoro yo mesti ono Gudo.
sehingga awake dewe kabeh supoyo kudu Tetep Njogo Eling”
Matur nuwun.
Ageng Alit Sepurone…Menawi Wonten Salah Lupute.
Sepuntene lan Salaam teng sedoyo Mas, Kang,adi, Kakang Mas lan Sedoyo Pini Sepuh sedoyo..
salaam
sabdalangit berkata,
Desember 26, 2008 pada 4:47 pm
SUGENG WARSA ENGGAL
Kamis 1 Januari 2009
Kemis wage 4 Sura 1942 taun je
Kurup ; asapon
Windu ; kuntara
Lambang windu ; kulawu
Lambang taun; Soma Warjita (cacing)
Mangsa; kepitu (palguna)
Wuku; watugunung
Lintang ; kuda
Padangon; dangu
Padewan; uma
Dina; Respati
Paringkelan; paningron
Lambang dina; kucing
Paarasan; Aras kembang
Pancasuda; tunggak semi
Kamorakan; nuju pati
Watak sasi; sasi larangan
Watak dina; dina rahayu (tumuruning celeng demalung)
Malam 1 SURA minggu 28 Desember (malam senin) !!
Kagem Fery
Matur sembah nuwun awit saing kawigatosanipun…
Bab sedulur papat sudah saya paparkan di posting “SEJATINYA GURU SEJATI” silahkan berkunjung di gubuk reyot kawula.
mengenai langit ke 7 mempunyai banyak versi. versi Islam ada alam (langit) malakut, jabarut dst. Mohon maaf sebesarnya karena semata-mata kebodohan saya sehingga tidak mengetahui secara gamblang dan nalar bagaimana gambaran langit ke 7 versi Islam. Dgn alasan ini saya sangat tidak berani dan bulan bukan kompetensi sy untuk menjelaskan.
Tentang Langit hanya bisa sy jelaskan melalui apa yg sy pahami secara kejawen dan dalam batas pengalaman persentuhan antara sukma sejati dan rahsa sejati. justru krn tanpa referensi buku/kitab sehingga sy tdk bisa memaparkan diruang publik. mohon maaf yg sebesasr2nya untuk Mas Ferry yg budiman.
Rahayu
Sabdalangit’s Web
Mugi Bejo Kinayungan berkata,
Desember 27, 2008 pada 4:50 pm
Mas ndherek ngangsu kawruh nggeh ????
fery berkata,
Desember 28, 2008 pada 9:57 pm
SUGENG RAWUH …
NYuwun sewu sak derenge kale mas Sabda Langit Kulo badhe tangklet , seng di maksud :
- Djoborolo.
- Mokoholo.
- Hosoropolo.
- Hodjorolo.
Kale nyuwun tolong di jalbar aken seng di maksud :
- CHAJU
- NUR
- SIR
- ROH
- NAPSU
- AKAL
- NJASAD
Damel mas sabda langit mawor nuwun seng katha sak derenge…
Wassalam.
borneo berkata,
Desember 29, 2008 pada 2:28 am
hai sahabatku tercinta
1 wuku adak 32 tahun maka di dalam tahun 2009 kalo kitakura 32+32 ketemu 1945. makaibarat bayi baru lahir hiduplah sesuai aturan yang ada
kiki wijaya berkata,
Januari 3, 2009 pada 1:58 pm
Mas Sabdo Langit, bilih saged dalem dipun paringi lungguhipun huruf Hijaiyah ingkang wonten badanipun manungso, ugi arti falaq dateng tiap tiap huruf meniko. Matur nuwun. Email kulo ( erwin_rizkywijaya@yahoo.co.id ).
sandi berkata,
Januari 4, 2009 pada 3:28 am
Salam kenal
@Mas Kumitir
Kepada pemilik blog, saya punya usul gimana komentarnya pake bahasa Indonesia saja. Dan tulisan-tulisan setiap postingnya kalo bisa diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia, biar tambah semarak blog ini dan saya dapat memetik hikmah dari budaya kejawen yg katanya begitu tinggi, akan tetapi kalau hanya dimengerti oleh sebagian orang saja khususnya orang jawa. Gimana mau dikatakan tinggi?
Dan untuk komentator kalau bisa komentar anda ditujukan kepada siapa, hrs pake tanda mis : @Mas Kumitir. Jadi tidak bingung komentarnya buat lawan bicara anda.
Salam damai
kiki wijaya berkata,
Januari 4, 2009 pada 2:56 pm
Makasih buat Mas Kumitir, saya ingin sekali mendapatkan refrensi tentang asal usulnya huruf hijaiyah itu dibuat, mengambilnya huruf itu dari mana dan siapa yang membuat itu siapa namanya . Barangkali saya dapat memiliki sejarah tentang hal tersebut. Makasih.
hadi wirojati berkata,
Januari 5, 2009 pada 2:06 pm
pamuji rahayu
wah.. matur suwun, begitu banyak pengetahuan dan sinau kawruh JAWA sebagai manusia Jawa, mudah – mudahan benar – benar menjadi manusia jawa sejati, terima kasih mas Sabdo langit dan mas alang alang kumitir yang telah bersedia menjadi pamedar wacono dan hamangku gatos… mugio terus berlanjut dan benar – benar berksinambungan angsalipun memayu hayuning bawono dan memayuhayuning bebrayan dan memayuhayuning sastra jendra hayuningrat pangruwating diyu….., sebagai warisan leluhur yang agung dan patut kita uri uri sebagai bentuk kehidupan kita sehari hari…
terima kasih ya mas,
salam rahayu ingkang sami pinanggih
nuwun
Hadi Wirojati.
hadi wirojati berkata,
Januari 6, 2009 pada 6:21 pm
pamuji rahayu..
mas azmi nek berdoa mbok jangan egois tho… mbok semua umat disebut dan didoakan syukur syukur kalau seluruh bangsa senuswantoro ya mas…, jadi mak nyes… weh dadi apik tenan penggalihe mas azmi nek mekaten… suwun , nyuwun gunging pangaksami mas.. mugio tansah jembar pangapuro panjenengan angsal berkahing Gusti kang akaryo jagad..
salam poro kadhang mugio tansah pinaringan bagas waras lan gangsar gampang anggenipun ngupados lan ndudah kawruh JAWA LUHUR.
endah berkata,
Januari 7, 2009 pada 9:44 am
ngupados=ngupaya
he…he…he
kiki wijaya berkata,
Januari 8, 2009 pada 2:17 pm
Mas Kumitir enkang Minulyo, menyikapi semua pendapat rekan rekan di Wahana Alang Kumitir saya salut dan senang itu adalah bentuk lafat ” Allah Hu Akbar ” , namun dalam menghadapi tutup buku dunia dan menyambut Tatanan Dunia Baru, maka dibutuhkan kekuatan manusia yang lahir bathinnya sama, itulah penyatuan dari lafat ” Kun Fayakun ” atau ” Ucap Nyata ” . Untuk itu perlu menggali adanya sifat 20 Allah serta melakukan penghayatannya dan itu telah kami kirimkan lewat email ke Mas Kumitir sebagai bahan refrensi bersama. Eyang Semar saat bertemu fisik dengan saya di Bogor sekitar tahun 2006 dan beliau ngendiko, untuk mencari Jago satu saja yang jujur di tanah Jowo itu susah banget, dan saat itu saya sedih sekali Mas Kumitir mendengarnya , apalagi saya banyak membaca tulisan tulisan dari rekan rekan yang begitu hebat, tetapi bagaimana dengan keluhan Eyang Semar yang demikian itu, apalagi posisi saya masih di Maluku hingga kapan saya sendiri tidak tahu, hingga tidak dapat melihat langsung bagaimana kondisi tanah leluhur saya di Jawa sekarang ini. Boleh apa tidak Mas Kumitir saya menyampaikan unek unek ini kepada rekan rekan, dan mohon maaf ini sekedar luapan hati saya saja, namun demikian saya akan bertanggung jawab dengan apa yang pernah saya sampaikan di kalayak umum. Makasih kepada rekan rekan yang barangkali membaca tulisan ini. Khususnya Mas Kumitir salam hangat dari saya. Kiki Wijaya.
hadi wirojati berkata,
Januari 11, 2009 pada 2:46 pm
salam rahayu kang pinanggih..
jeng Endah… Ngupados itu banyak arti.. secara harfiah ya itu… bisa mencari.., berupaya… dan menggali..juga.
mugio sampun mangertos…mangke tanglet malih nggih..
pakai bahasa JAWA biar tambah perbendaharaan kata ya jeng Endah..hehehe…karena peradaban JAWA tinggi senuswantara..hehehe.. boleh dong.( *&^%$#@????)…
salam.
kiki wijaya berkata,
Januari 13, 2009 pada 11:29 am
Ass.Wr.Wb
Mas Kumitir , dalem kirim kenangan damel pangemut kito, mugi saget dados jimat tiyang Jawi damel ngadepi bongso agami.
a. Asal Manusia :
Dalam masyab Imam Hanafi bahwa alam semesta dan isinya terbuat dari Iqro, dan pada dasarnya manusia itu berasal dari ketiga lafat dasar diantaranya “ Audzubillah himinassyaiton nirrojim , Bismillah hirohman nirohim dan Ashaduallaillahaillah Waashaduanna Muhammadar rosullullah “. Kalau kita menkaji masalah ketiga ayat tersebut tentunya berisi tiga kekuatan diantaranya :
1). Audzubillah himinassyaiton nirrojim adalah sebuah sifat luapan emosi penuh hasrat, yang dimunculkan dari DZAT seorang ibu / wanita / perempuan yang berwujud darah merah / ovum, dalam rangkaian organ tubuh manusia menjadi ( bulu / rambut, kulit , daging dan darah ). Secara nyata dzat ini tidak dapat berdiri sendiri, untuk itu diperlukan kekuatan lain untuk mendukungnya dan menegakkan baik dalam sifat maupun wujudnya.
2). Bismillah hirohman nirohim adalah sebuah sifat pengendali dan penegak, yang dimunculkan dari DZAT seorang bapak / pria / laki laki yang berwujud darah putih / nutfah / air mani, dalam rangkaian organ tubuh manusia menjadi ( tulang , sum sum, isi sum sum ). Secara nyata dzat ini mendukung , memberi kekuatan serta menegakkan lafat Audzubillah himinassyaiton nirrojim yang berwujud bulu / rambut, kulit , daging dan darah, dan dalam penyatuan kedua lafat tersebut dibutuhkan DZAT yang hidup atau menghidupi, yang sering disebut kebanyakan oleh manusia sebagai Dzat Yang Maha Hidup atau Dzat Allah SWT.
3). Ashaduallaillahaillah Waashaduanna Muhammadar rosullullah adalah merupakan penyaksian bahwa dzat hidup yang menghidupi alam semesta beserta isinya yang nyata dan terlihat mata manusia maupun kehidupan yang tidak terlihat mata manusia adalah bersumber dari Dzat Yang Maha Hidup atau dari Allah SWT, begitu pula dzat hidup yang menaungi kehidupan manusia berasal dari ruh yang ditiupkan atau diutus oleh Allah SWT, untuk itulah terjadi penyatuan antara dzat yang nyata bersama sama dengan dzat yang gaib. Sehingga wujud lafat Audzubillah himinassyaiton nirrojim dan Bismillah hirohman nirohim dapat tumbuh dan berkembang oleh dzat hidup ( Nur Muhammad ) yang berasal dari Dzat Yang Maha Hidup atau Allah SWT. Untuk itu, penyatuan dzat hidup gaib yang menghidupi dzat nyata seperti ( manusia, hewan, tumbuh tumbuhan dan makluk lain yang hidup ) dengan sumber kehidupan sejati yaitu Allah SWT inilah sering disebut Sahadat dengan aksara “Ashaduallaillahaillah Waashaduanna Muhammadar rosullullah”.
b. Sifat Dasar Asal Manusia :
Sifat dasar dari asal usul terjadinya manusia adalah diperuntukkan sebagai khalifah di muka bumi baik yang nyata maupun yang gaib , agar dapat memimpin, memelihara, mengembangkan, menyejahterahkan, memperindah alam beserta isinya dari segala kerusakan, karena kehidupan akan terus berlangsung dari generasi ke generasi sampai hadirnya masa penghancuran atau hari kiamat. Untuk itu menurut mazhab Imam Hanafi bahwa sesuai fitrahnya tiap bagian tubuh manusia sudah dilengkapi dengan sandi sandi yang sangat istimewa yaitu berupa iqro, yang mana wahyu ilmu Iqro itu pernah diturunkan oleh Allah SWT di Kota Bagdat Irak , sehingga daerah tersebut dinyatakan sebagai Kota Seribu Satu Malam, dan dalam isinya ilmu iqro tersebut sepenuhnya menguraikan masalah sifat 20 Allah, yang merupakan pondasi sebuah kesucian kesucian Allah SWT yang diturunkan kepada manusia agar dipahami dan dihayatinya demi penerangannya hidupnya baik didunia maupun persiapan kehidupan di akherat, untuk itu maka Nabi Besar Muhammad SAW yang merupakan utusan Allah SWT dapat menjabarkan ilmu Iqro kedalam Al Quran Karim, sehingga dapat digunakan sebagai pedoman hidup manusia yang mengimaninya , yaitu ummat Muhammad atau ummat Islam. Fitrah dasar asal manusia yang termaktub dalam mazhab Imam Hanafi adalah sebagai berikut :
1) Asal manusia tujuh lapis yang ada dibadan kedalam:
a). Bulu lengan : Sebelum memukul orang lain pukul diri sendiri
b). Kulit : Amal manusia yang baik.
c). Daging : Manusia wajib berusaha dan iktiar.
d). Darah : Tingkah laku manusia.
e). Tulang : Mohon sekali ucap nyata, Dijauhkan dari mara bahaya, didekatkan rejekinya, kita yang memohon, Allah yang membuktikanya ( mengabulkannya).
f). Sum – sum : Berani bersumpah karena benar
g). Isi sum sum: Air mani, darah putih, Bismillah.
2) Asal manusia yang wujud bulu badan :
a). Bulu Rambut : Amal perbuatan manusia baik dan buruk.
b). Bulu Alis : Tulisan hati yang lempeng/lurus, tidak boleh bohong, hati yang jujur.
c). Bulu Mata : Harus taat pada Allah, kepada kanjeng Nabi dan kepada ibu bapak.
d). Bulu Hidung : Tidak boleh sombong, angkuh dan sok.
e). Bulu Kumis : Kita harus sabar, kelewat batas boleh melawan ( membela diri ).
f). Bulu Jenggot : Penyebab yang merusak dibadan manusia,darah merah (ambarah).
g). Bulu Dada : Selalu memohon/berdoa kepada Allah minta diberi petunjuk, karunia, dan sebagainya baik siang maupun malam.
h). Bulu Larangan : Jangan sampai ndemenin / menyenangi / serong dengan istri orang lain, “Istiqfar “ Astaqfirullah Hal adzim “
i). Bulu Betis : Titisan islam, yang kekal menjalankan Ibadah lima waktu.
j). Bulu Ibu jari kaki : Ibu yang mengandung , Bapak yang sareat.
Catatan : dari kedua asal manusia tersebut apabila kita dapat menghayati dan mengamalkan, maka kehidupan manusia akan tertib, indah , bermanfaat, dan berakhlak mulia, sehingga dapat menjadi panutan yang sejati bagi alam semesta beserta isinya.
hidayat berkata,
Januari 13, 2009 pada 4:40 pm
rahayue
mas Kumitir kui rokokaaaaaan ae
gak wis wis ra entek entek
wass wb
WONG GUMUK PUTUL berkata,
Januari 15, 2009 pada 1:35 am
Terima kasih untuk mas kumitir, saya minta tolong seandainya mas bisa juga menyediakan buku-buku ataupun resume dari buku-buku yang bersifat metafisis seperti karang R. Paryana tentang manusia dan atomnya, karena menurut hemat kami ini sangat mendukung sekali dengan apa yang telah dirangkai oleh mas kumitir, semoga keberadaan alang-alang kumitir semakin di ridloi oleh-Nya.
samudro berkata,
Januari 18, 2009 pada 3:46 am
Rahayu semuanya……..
mas kumitir semoga selalu menemukan ide ide baru di dalam pengembaraan…….
mas sabdolangit, ojo lali noto rogo mengko gampang soyo……
mas kumitir aku tak urun sekidit kagem dulur WONG GUMUK PUTUL…
WONG GUMUK PUTUL salam tetepangan ………….
mugi karahayon kawicaksanane gusti kang murbeh ing dumadi…….
” resume dari buku-buku yang bersifat metafisis seperti karang R. Paryana tentang manusia dan atomnya, karena menurut hemat kami ini sangat mendukung sekali dengan apa yang telah dirangkai oleh mas kumitir ”
boleh saya memberi komentar sedikit,….
mungkin apa yang akan saya ceritakan mampu menggugah kewaspadaan kita dalam menerima informasi mengenai sejatine kahanane jagad NING alam WUNG.
dan apa yang akan saya ceritakan mungkin saat ini masih dalam proses pembuktian oleh rekan rekan ilmuwan rusia, tentang perputaran molekul sehingga terbentuknya bumi dan seisinya, sebelum nantinya setelah vote para ilmuwan, maka ilmu tersebut akan dirilis untuk diyakini keberadaannya oleh seluruh akademisi, seperti proses terjadinya bumi saat ini.
Teori ini saya dapat sekitar 10 tahun yang melalui kontemplasi nyata dan untuk penyempurnaan disuruh menunggu th.99 dan baru bertemu th.2003 (dia menyebut) dirinya seorang empu, setelah melalui beberapa tahapan screning dari diri saya sendiri. baru pelajaran lanjutan mau saya terima dan harus dengan bukti yang mampu dijelaskan dalam kehidupan sehari hari.
beberapa pembuktian telah rekan rekan terima ( 3 teman saya ) melalui kejadian nyata, yaitu pengadaan pupuk untuk seluruh nusantara, hanya menunggu moment untuk membawanya.
sekilas cerita diatas…..
begini ceritanya….
asal semua didunia ini adalah nur…..
nur..dalam bahasa metafisik (metalurgi – fisik(ka)/teori pembentukan beserta bahannya yang berkiblat dari benda yang telah ada serta diasumsikan untuk dipelajari melalui kemampuan metafisis yang terintegrasi dalam otak manusia yaitu right brain / otak kanan, otak kanan baru akan bekerja dan berintegrasi sempurna pada posisi fokus dan rilex / semedi / tafakur dengan alam semesta atau yang lebih dikenal dalam dunia kita adalah manunggaling jagad alit lan ageng ing sajroning (roh) so )
nur adalah kumpulan berkas cahaya yang menjadi sinar, gesekan dari sinar itu akan menjadi kalor atau energi penggerak, gesekan antar kalor akan menimbulkan debu kosmis, sedimentasi dari debu kosmis akan menjadi debu yang melayang layang diudara, akumulasi dari debu yang melayang layang, adalah debu yang mampu kita raba, endapan dari debu yang terakumulasi akan menjadi TANAH.
( Tolong penjelasan dan penjabaran ini belajar langsung pada sang Hyang widi, karena kemampuan pemahaman tiap individu sangat berlainan, supaya tidak memantik reaksi yang keras dari berbagai haluan, supaya bertanya langsung pada orang yang dipercaya mampu atau pada apa yang diyakininya )
gesekan antar kalor akan menimbulkan 3 hal :
1. panas
2. endapan
3. gerakan
panas disebabkan terjadinya gesekan antar sinar
endapan dihasilkan dari adanya gesekan antar sinar
gerakan dihasilkan dari perbedaan kapasitas gesekan antar kalor ( antara bidang gesek dan penggesek )………..tolong dijabarkan sendiri…
langsung ke fokus……
bagi orang primitif, ilmu pengetahuan yang mendahului zamannya adalah MISTIS, bagi orang yang paham pengetahuan yang mendahului zamannya itu adalah petunjuk untuk lebih mengenal kepada zatnya.
inilah yang disebut gelar WARINGIN SUNGSANG
gabungan antara otak kanan dan kiri akan memungkinkan kita menyebut AR-RASY…………beserta teori dan fakta yang mendukungnya……
Teori gabungan antara jagad alit dan jagad ageng, tolong dipikirkan….
manusia adalah kumpulan dari seluruh kehidupan….., kenapa disebut kumpulan, karena tiap organ tubuh baik ginjal, paru paru dll mempunyai frekwensi sendiri dan denyut sendiri-2 yang terangkum dalam satu helaan nafas atau roh. orang jawa sering menyebut (we)ruh yang artinya mempunyai kemampuan untuk mengetahui, berarti dia hidup atau urip, bila dia mati berarti tidak mampu mengetahui atai tilar titise nalar yang berarti berhentinya semua unsur kehidupan.
dalam 1 kg daging manusia terdapat 1 milyar gen, 1 gen mengandung trilyunan informasi genetik kehidupan sebelumnya ( sering disebut karma, karena bersifat kecenderungan ke arah… ) gen terdapat dalam sel.
dalam gen terdapat banyak terdapat kandungan awal molekul, molekul terjadi dari persenyawaan atom, atom terjadi dari persenyawaan sinar, sinar terjadi dari persenyawaan NUR, NUR berasal dari yang disebut ALLAH ( mau dibahas juga bahasa sandi ini……), ALLAH bisa disebut bila ada IQRO’….
pertanyaan yang bagus, saya suka bila generasi jawa mau berpikir kritis dan menangkap semua kemungkinan, sehingga menjadikan dirinya DULANG SOKO KENCONO, tempat yang terbuat dari emas, sehingga bisa dianalogikakan tempat yang bercahaya, dimana dia berada dia disuka, bila tidak ada dia dicari, bila sudah berada tidak boleh pergi, kehadirannya membawa warna, aneka warna yang tercipta membuat nuansa menjadi indah, keindahan yang ada membuat orang enggan untuk pindah, kesempurnaannya merupakan pujaan bagi semua makhluknya, surga itulah tujuan para manusia, moksa itu tujuan bagi sang hamba, penyatuan itu adalah tujuan sang pecinta, keselarasan adalah tujuan sang pencipta. KIDUNG DANDANG AMIS.
semua ini hanya permulaan dari semua perwatakan, kenali diri sendiri sebenarnya mutlak untuk sang pencinta, mengenali diri sendiri berarti mencoba melangkah mendekati sang pencipta.
” SINAU TAN MOGURU”
yang artinya adalah belajar tanpa guru yang berbadan kasar / wadag, yang berarti adalah mempelajari “iqro” dari lingkungan sekitar, kebiasaan, sifat alam, mendengarkan, melihat, mengingat.
itu yang dimaksud
” TITI YONI GONDO YONI PUSPITO TAJEM ” dalam arti perilaku, TITI YONI yang artinya perhatikan sifat dan gerak geriknya apa selaras, dalam ilmu managemen disebut THRUST / kepercayaan,
GONDO YONI yang artinya bagaimana lingkungan menilai orang itu, dirasakan dalam hati, dinalar dan diuji perilaku dalam angan angan, sehingga geraknya merupakan gerak kita, benarkah yang dilakukan, atau kita tanpa harus berpikir dan mengikuti pikiran orang lain yang jumlahnya lebih banyak, dalam ilmu managemen disebut EMPATI / HANDARBENI / RASA IKUT MEMILIKI, yang kemudian dilanjutkan dengan
PUSPITO TAJEM yang berati bahwa semua yang kita katakan merupakan sebuah kebenaran terlepas dari pengaruh orang lain, “inilah yang dimaksud dengan ” bacalah atas nama tuhanmu, di alquran ” ini yang disebut dalam istilah manajemen umum adalah HONEST atau kejujuran.
banyak yang ingin saya ungkapkan tapi nanti kita sambung lagi….
buat saudara saudaraku semuanya, yang masih mempunyai agama yang sebenarnya yaitu madep mantep marang gusti kang akaryo gesang, bukan sekedar ritual, bagi yang sekedar ritual pesan saya ” IQRO’, kalau bicara gunakan LATI, ilate ati ojo nganggo GLATI, sing iso nggawe gelane ati…….
saudaraku semuanya……. saya yakin tuhan menjadikan kita sama hanya pemanfaatan waktu kita yang berbeda, ” aku ciptakan kamu dengan sempurna, sempurnanya kejadian ” kita sama dihadapan tuhan, hanya tuhan menyukai yang lebih berilmu yang dalam arti lebih mengenalnya.
Saat pacaran, saya yakin 2 orang tersebut saling mengenal sehingga terwujud suatu hubungan, interaksi hubungan itu akan menimbulkan pemahaman, pemahaman akan menjadikan suatu ikatan, ikatan akan berwujud dalam suatu persenyawaan dan persenyawaan akan menjadikan manusia dengan ikatan atom atomnya.
keparengake kawula ngaturaken gunge pangapuro menawi wonten kelepatan bab ceplas ceplose kawulo ngewar kitab semar.
kagem sedoyo sedanten
rahayu, rahayu ning tyas mangudi pangstuti kagem sesami
Arjuna berkata,
Januari 19, 2009 pada 1:31 pm
Rahayu,
Bagi saudara-saudaraku yang senang membaca cerita mahabharata, monggo mampir http://mahabharata-adiparwa.blogspot.com/
ben tambah seru…..
Dyah Anggarini berkata,
Januari 21, 2009 pada 8:27 am
Kulonuwun mas Kumitir,,,,
mbok menawi penghuni alangalangkumitir saged memadangi kawruh kulo ingkang radi ruwet babagan injih puniko sinten “Kulo” aslinipun
Ngapunten menawi medhal saking lingkaran topik meniko
Inggih sawetawis wekdhal kulo kepanggih konco ingkang carios mbok bilih kulo meniko gadhah sosrobahu ingkang anami Dyah Anggarini ananging sakbanjuripun kulo dipun wastani mbok bilik Dyah Anggarini meniko injih kulo mboten koq sosrobahu. Ateges sosrobahu amargi kulo dereng saged mawiji dados setunggal kalian Dyah Anggarini puniko,,,,
Duh sederek salampahan mbok bilih kulo nyuwun pepadhanging karso ugi roso dumateng kemelut meniko…matur suwun
nami kulo aslinipun sanes Dyah Anggarini
cecunguk berkata,
Januari 22, 2009 pada 9:07 am
ampun dados angen ingkang klambrangan lan kalintu deduga..
punika sami kaliyan crita wayang lakon/lelampahan bima kepanggih dewaruci lan pikantuk tirta suci perwitasari, menawi wonten ing ngelmu agami inggih mengeti pribadi piyambak kapurih saget kapanggih guru sejati saking diri pribadi lan tirta perwitasari punika wonten ing ngalam mi’raj inggih ingkang kasebut tirta sesuci ‘kal-kausar’, menawi gambaraning saking alam inggih minggahing tirta samudra (uap air) ingkang samangke dados tirta ingkang resik, njawahi bumi supados loma tetuwuhan ingkang sae.
Ki Gebang berkata,
Januari 25, 2009 pada 1:46 pm
Salam …
Semua Pengunjung Blog yang Kami Hormati, Kami Cintai dan Kami Muliakan.
Mas Kumitir punya rumah baru yang bisa dibuat lesehan:
http://www.alangalangkumitir.com
Mungkin ada yang lelah berjalan, monggo mampir
Mungkin ada yang capek usai bepergian, silahkan mampir
Mungkin ada yang hatinya sedih, monggo berkunjung
Mungkin ada yang usai menemukan jati dirinya, monggo disapa
Rumah baru itu, bukanlah milik Mas Kumitir karena yang disebut belakangan ini insya allah sudah tidak punya lagi rasa punya.
Dia hanya merencanakan dan punya ide untuk membuat rumah baru
agar bisa dihuni oleh banyak orang.
maka, setiap orang boleh memiliki rumah itu untuk yang sementara. Karena kepemilikan sesungguhnya hanya pada DIA.
Mas Kumitir, selamat malam!
kiki wijaya berkata,
Januari 26, 2009 pada 1:38 pm
Saudara2ku yang terhormat, jaman tahun 2009 telah tiba dan gerhana matahari cincin telah kita lihat bersama, ini waktunya manusia yang tidak asli akan dipulangkan keasalnya, baru setelah itu bangsa bangsa ini akan mulai hidup baru dengan tatanan hidup baru, namun kita mesti bersedih karena sebagian saudara saudara kita banyak yang terkena ” garu linuku sami ” yang sangat dasyat. Saya sendiri hanya menyampaikan peringatan saja, belum tentu saya juga akan selamat dari Garu tersebut. Mohon pahami hal ini, jangan nomong sendiri sendiri, tapi mari kita hayati dan jalani sifat 20 Allah, agar sama sama selamat, Amin. Hormat kami Kyai Slamet / Joko Samodro.
hidayat berkata,
Januari 26, 2009 pada 4:38 pm
ki kiki
sawahe sopo arep mbok Garu…
udan udan ngeneiki wayahe matun (ncabut suket)
sampean aya aya wae??????
hidayat berkata,
Januari 26, 2009 pada 4:49 pm
Peringatan!!!!
untuk teman teman yang berkomentar disini harap kalau dikomentari oleh yang laing jangan marah, jangan mudah tersinggung apalagi emosi..
kalau komentar anda – anda disini tidak mau dikomentari oleh yang lain, harap ditulis dibuku harian / diari anda masing masing lalu dibaca sendiri dikamar sambil tersenyum-senyum sendirian pasti tidak ada yang mengomentari..
sekian terima kasih….
wisnu krisnanto berkata,
Januari 27, 2009 pada 9:56 am
Antara cinta dan benci, berarti abtar berThan atau bersetan
Jika cinta dimulut bertahta, semua akan berbunga-bunga.
Selama benci ada dihati, selama itu pula setan berperan
Jika cinta tengah berpadu, semuanya bagaikan bermadu.
Hidup tanpa cinta akan hampa, hidup tanpa benci itulah orang suci
Jika benci tumbuh, segalanya akan menjadi musuh.
Murka adalah jalan yang paling dekat dengan neraka.
Dengan cinta, kau akan nebar pesona.
Dengan benci, kau akan menebar caci maki.
Curahan kasih dan sayang akan dibalas dengan cinta,
Luapan benci dan nafsu akan disambut jibiran hina dan antipati.
Cinta birahi menuntut pelampiasan demi kepuasan,
Cinta hati mengembangkan kemesraan demi kebahagiaan.
Bukalah pintu surga dengan cinta,
cinta yang menata, pikir yang mengukir
Dalam alunan cinta nan mesra, kata-kata tak akan berkuasa
diganti dengan tangan yang berbicara.
Sebetulnya dalam cinta, penuh dengan pengorbanan,
tetapi akan disertai ridho dan ikhlas dalam peranan,
begitulah tingginya cinta…….
Kasih sayang adalah sifatnya, tetapi dicinta-lah adanya rasa,
Mesra bentuk sentuhannya,
Syahdu suara alunannya,
Pesona pancaran cahayanya,
Ceria pandangan wajahnya,
Romantika sebutannya.
Dengan cinta, bearti kau diambang pintu surga,
Dengan benci dan murka, bearti kau diambang nerka
Semua jenis ilmu apapun yang ada dalam pikiran tak ada gunanya,
malahan akan menjadi sasaran setan.
Jika tidak disertai cinta dan kasih sayang dihati, kareni isi jiwa yang jadi penguasa. Sedangkan isi kepala hanya merupakan alat belaka.
Tebarkan cinta terhadap siapapun, kapanpun dan dimanapun
maka kau akan menjadi pujaannya meliput semesta.
Jika tiada cinta Allah, maka duniapun tak akan ada.
jiwailah : ARROHMAN ARROHIM-KASIH SAYANG-WELAS ASIH
Sebab itulah kasih sayang dan cinta.
Itu tak akan cukup disebut-sebut, sebab nanti hanya ucapan belaka,
tak cukup dengan asal mengerti,sebab itu bukan untuk dipersoalkan.
Cinta tempatnya di jiwa; wujudnya sifat Allah, yaitu NUR DIRI
Rahasa yang membawa, rasa yang membuktikan dalam nyata.
Coba kini rasakan saja, rabalah dada anda, apakah ada cinta?
Kalau ada, bearti anda beserta Allah (Immanuel), tetapi sebaliknya dari itu benci – murka – syirik – culas – mau bener sendiri – mau menang sendiri – mau enak sendiri – mengahkimi dan mengadili sesama – dll
berarti setan besertamu.
inilah kesimpulannya ;
APAKAH HIDUP SUDAH BERTUHAN,ATAU MASIH BERSETAN?
(by. ABAH AGUNG SUKARSO PANCAKOMARA)
wisnu krisnanto berkata,
Januari 27, 2009 pada 10:17 am
Saya setuju dengan apa yang di tulis oleh sodaraku ;KIKI WIJAYA
Tahun 2009 adalah tahun wabah virus EGO
Saudaraku,
Zaman tak bisa dibantah,
Pembaharuan tak bisa ditahan,
Alam maju terus berpacu,
Semua dipaksa membuka mata.
Semua harus menyaksi,harus mengaku segala laku,
TUHAN menuntut semua penganut,
Minta bukti karya bakti,
Agama tengah berkarma,
dimana-mana ada bencana,
Semua tak bisa menghindar dari badar (bahan sadar) demi sadar.
Senyatanya adat dan watak harus tunduk pada pikiran yang sehat,”jujurlah”.
Jasad kita semua bagian dari alam,yang hidup juga dalam alam,matipun masuk dalam alam,bila jasad dari elemen alam maka jati diri kita dari hasil kasih sayang ibu&bapak saat bersenggama,dari hasil kasih sayang itu timbullah kita. Kalo kita menyadari dengan kejujuran bahwa persifatan kasih sayang adalah NUR ILLAHI TUHAN SEMESTA ALAM.
Kini Tuhan tengah mereka-reka,mereka yang beraneka agar meng-EKA dengan YANG MAHA ESA,siapa membantah akan susah,yang liar akan terhajar,yang malas akan tergilas,yang ingkar akan terkapar.
Mengapa alam begitu tidak bersahabatnya dengan kita? selidik punya selidik semua karena virus EGO,mau menang tak mau kalah,mau untung tak mau rugi,mau enak tak mau menderita,mau senang tak mau susah,merasa benar sendiri,culas,dengki,iri,dll dimana ego adalah bibit setan dalam diri. Bila kita jujur dan sportif,kuncinya terletak dari kata BENAR atau mencari BENAR,senyatanya benar dalam urusan manusia hanya pada logika-ilmiah-sehat pikir.
Ego adalah bibitnya setan dalam diri,bila kita telaah lebih dalam siapakah penguasa diri kita? EGO=NAR atau NUR=KASIH SAYANG? (koreksi/ngaji diri aja) Celakanya,manusia zaman sekarang telah terkontaminasi dg virus kejiwaan yang bernama EGO,dimana-mana terjadi bencana,perang,pembunuhan,dll Yang kesemuanya hanya mencari kata BENAR tadi….marilah sodaraku berlogikalah pikiran kita ini dengan obyek penyaksian tiap indra yang masuk dan terolah oleh pikir secara sistematis dengan TELITI-HATI2-TERTIB-PERHATIAN-WASPADA dan akui tiap keadaanya dengan TENANG-SABAR-SADAR-NRIMO-PASRAH karena ALLAH dan arahkan hidup ini untuk saling MENYADARKAN-MERUKUNKAN-MENYELAMATKAN-MEMBAHGIAKAN-DALAM CAKUP TUHAN YME.
Jiwailah tiap nafas kehidupanmu dengan rumus hidup tersebut diatas untuk membuka pikir,hati dan arah hidup,demi perang/jihad/meminimalkan EGO dalam diri kita yang senyatanya masuk melaui pkir dan sekarang ini telah meracuni jiwa manusia. Mulailah KASIH SAYANG-WELAS ASIH-ARROHMAN ARROHIM kita tanamakan dalam diri yang merupakan INTI HIDUP,jangan menyebutnya BISMILLAHHIRROMAANIRROHIM yang senyatanya pengertian intinya adalah KASIH SAYANG namun hanya sebatas dimantrakan,diucapkan aja,sehingga salah penafsirannya,padahal di kata tersebut telah bersumpah dengan YANG MAHA ESA demi KASIH SAYANG yang pada akhirnya keblinger dari makna dan maksud kemurniannya. Carilah benar dalam pengertian benarnya.
MOHON MAAF KATA-KATA SAYA INI
SALAM RESTU UTK SEMUA UMAT SEMOGA BAHAGIA.
togog berkata,
Januari 29, 2009 pada 3:40 am
niat ingsun tetepangan kalian sedherek sedherek srdaya, mugi katampi kanthi renaning penggalih
kiki wijaya berkata,
Januari 29, 2009 pada 2:01 pm
Mas Hidayat, matur suwun panjenengan paring tanggapan dateng tulisan kulu. mugi kalepatan kulo anggenipun nulis peringatan mboten ndadosaken penggalih panjenengan. kulo hamung nerusaken welingipun guru kulo Syeh Maulana Yusuf Imam Hanafi saking Banten -Bagdat. Matur nuwun.
DEMIT JOWO berkata,
Januari 30, 2009 pada 4:50 am
Kulo nuwun …..
Bagi siapapun yang mempunyai pengertian bahwa inti ajaran Kejawen adalah pada hakekat : Welas asih…kasih sayang, ya itulah memang pokok inti Kejawen sejati tanpa bisa ditawar lagi, baik
a. secara Vertikal ( Kepada Tuhan/Allah/Sang Hyang Widi dsb,)
b. Secara Horizontal ( Kepada Sesama manusia)
c. Secara Global ( Alam, ciptaan Tuhan/Allah )
Segala theori, uraian, artikel, serat, dlll ataupun pendapat panjenengan semua yang ada disini, sudah banyak memberikan kita bekal pengetahuan/sesanti.
Mengingat bahwa segalanya harus dilakukan bukan hanya dibaca, diingat atau di ucap, karena inilah inti keselamatan hakiki bagi manusia, sebagai bekal dikemudian …pengadilan akhir.
karena bilamana kita tidak segera melakukan hal ini, maka tidak ada artinya dengan segala keberhasilan/kejayaan demikian pula kesengsaraan/kemiskinan dll,
Tatanan Jagad baru telah dimulai,
hanya Hati2, Eling lan Waspodo yang dapat membantu kita didalam menghadapi gejolak keadaan yang demikian besar di hari esok!
Nuwun
hidayat berkata,
Januari 30, 2009 pada 9:37 am
rahayu
Untuk Mas Kiki Wijaya…. luar biasa kepribadian anda,
anda memang harus orang jawa yang tangguh, orang orang seperti anda yang tidak gampang pedotan dan mudah tersinggung yang bisa menerima tugas tugas leluhur, tugas tugas tuhan….
kadang juga ingat masa remaja dulu ketika belajar silat lebih dari 4 bulan berlatih satu jurus saja tidak pernah ada yang sempurna, keluar nya kata kata yang tidak enak kadang memacu bagaimana seorang harus bijakdan memacu memberikan yang terhebat utk dunia…..
ini sebenarnya komentar yang sering saya lantunkan dibeberapa blog untuk mengetahui daya emosi dan kematangan seseorang.. anda bagi saya adalah orang yang bisa menguasai diri dan dan percaya diri saya temukan anda sungguh beda… hebat…. salut salut…
sepurane ya jo salah tompo… peace….
ayu hayu rahayu…..
hidayat berkata,
Januari 30, 2009 pada 9:39 am
Nb: dapatkan anda ceritakan guru anda dari Banten – Baghdad sungguh beda dan jauh kotanya mas?
kiki wijaya berkata,
Januari 31, 2009 pada 4:52 am
Ass.wr.wb, Rahayu, Kagem Mas Hidayat, Terima kasih atas perhatiannya terhadap saya, memang saya lagi kerja di Ambon, namun saya punya rumah di Bogor . Saat ini saya terpisah dengan anak anak saya termasuk istri baru saya juga tinggal di Bogor, karena istri saya wafat tahun 2005 saat saya kerja dilaut. Sekitar tahun 1994 saya hijrah dari Kediri dan tinggal di Bogor, sekitar tahun 1997 saya bertemu dengan orang tua di Perbatasan Kampung Cikeas sebelah kediaman Bapak SBY. Orang tua itu sangat dekat dengan saya, suatu ketika saya diajak ke Makam Syeh Maulana Yusuf di Banten, Makam Tumenggung Tampak Siring di Demak , Makam Mbah Sosro di Kebumen. Setelah ziarah di makam makam itu , beluau sempat bilang makam itu semua adalah
makam saya, sejak saat itu saya mengkaji apa yang didalam ucapan beliau, dan suatu saat beliau pernah mengeluarkan sebuah lafat berbahasa arab, yang diantaranya adalah pelajaran Iqro yang pernah dibawa oleh Imam Hanafi dari bagdat Irag yaitu Asal Manusia yang terdiri dari 30 huruf Hijaiyah dengan penjelasan bahwa mulai dari huruf : Alif hingga Khof ( 21 huruf ) itu akan menjadi rangka manusia, sedangkan yang huruf ” kaf hingga Yaa ( 9 huruf ) itu dijadikan sahadat. Namun hal itu belum bisa dijodohkan karena harus ada baju dari sahadat diantaranya lafad ” auzubillah himinassyaiton nirojim dan bismiilah ” yang dalam asal dan wujudnya adalah : Auzubillah….berasal dari darah merah ibu kandung kita yang nantinya menjadi ” Bulu, kulit, daging dan darah ” , sedangkan Bismillah….berasal dari air mani bapak kita ( darah putih) yang nantinya menjadi ” Tulang , sum sum dan isinya sumsum”, dengan penyatuan ibu dan bapak kita , maka masuklah kehidupan bernama sahadat. ( Jadi 5 waktu diisi 9 sahadat atau ilmu walisongo ). Dan setiap beliau berjalan bersama saya selalu mengucap bahwa beliau berada dimana mana, sejak saat itu saya baru faham bahwa dialam semesta itu hanya ada 1 Matahari, 1 Bulan dan bertebaran bintang. jadi kesimpulan saya bahwa siapa saja termasuk Mas Hidayat adalah juga saudara saya, karena nafas Mas Hidayat adalah nafas saya, hanya perbedaan kita karena lahir dilain tempat serta menghadapi lingkungan yang berbeda, sehingga tingkat emosi akan tidak sama, seperti sifat 20 Allah itu sendiri juga berbeda beda, untuk itulah Allah sering kita sebut dengan Allah Hu Akbar. Kalau kita fahami tentang Sifat 20 Allah yang keenam ( Asal dari Allah pulang ke Allah ) maka pada tahap tertentu manusia akan mencapai perjalanan ” timbul silem di dalam Islam mencapai 9 kali” kalau didalam ilmu jawa ” Tetes netes sampai ke 7 kali” . Dengan pemahaman disinilah saya baru tahu ternyata orang tua yang selama ini bersama saya ternyata Sang Imam Hanafi dari Bagdat dan kalau waktu di Banten beliau bernama Sultan Yusuf dan mungkin masih ada lagi nama beliau. saya pernah kirim email tentang Sifat 20 Allah ke Mas Alang Kumitir, bukan sebagai apa apa, kecuali sebagai perbendaharaan catatan yang mungkin dapat bermanfaat, mengingat di lokasi saya kerja di Maluku memang sifat 20 Allah sering dikupas para orang tua dan teman teman muslim, tetapi hanya sebutan saja, sedangkan kalau kita ajak bicara tentang bibitnya Al quran, mereka kurang berminat ( kebanyakan di Maluku ajaran yang di anut dar Imam Sapii), sedangkan yang saya bawa adalah dari Imam Hanafi. Selama saya mendampingi orang tua selama 6 tahun hingga berpisah, maka apa yang pernah diarahkan kepada saya saya selalu saya tulis, agar anak turun saya kelak tidak jauh dari apa yang saya punya. Mas Hidayat ini hanya pandangan saya saja, Insyaallah bila ada waktu kita dapat bertemu dalam acara apapun, dan mohon maaf saya tidak berani melampauhi apa yang Mas Hidayat punya, saya juga Putro Romo Semono Purworejo ( asmo dalem Pulung Jati Kusumo ). Email : erwin_rizkywijaya@yahoo.co.id. Rahayu , Wass.wr.wb.
hidayat berkata,
Januari 31, 2009 pada 6:11 am
rahayu…
terima kasih Mas Kiki ,saya juga berharap, juga yakin bisa ketemuan, mungkin entah kapan, terima kasih penjelasannya
wass wb
kiki wijaya berkata,
Januari 31, 2009 pada 4:35 pm
Yth. Mas Hidayat , terima kasih atas perhatiannya. saya tidak merasa tersinggung dengan Mas Hidayat, justru saya sangat berterima kasih atas bimbingan dan arahannya, karena memang tulisan saya sebelumnya saya rasakan sendiri kurang bijak, sehingga sangat pantas kalau saya harus mendapatkan arahan dari orang yang lebih tua dari saya. Oke selamat berkarya, Amin dan rahayu wilujeng.
ki gendun pamugkas berkata,
Februari 1, 2009 pada 1:11 pm
mas kumitir salam kenal, kawulo inggih remen maos tulisan para kadang wonten gubuk kang ngayemake lan nambah ilmu meniko. sanes wedal kulo bade nderk urun rembug. nuwun
Dhiwan berkata,
Februari 2, 2009 pada 4:24 am
Assalamu’alaikum
Mas kumitir, mas Hidayat, Mas Kiki dan semua salam kenal. Saya senang dengan isi tulisan di blog ini yang dapat menambah ilmu pengetahuan. Saya ada pertanyaan apakah mungkin seseorang menemukan guru sejati karena takdir dari Allah ? dan mungkinkah Allah merahasiakan tujuan kepada orang tersebut hingga sampai batas waktu yang hanya Allah sendiri yang mengetauinya ?, sebelumnya terima kasih
wisnu krisnanto berkata,
Februari 2, 2009 pada 1:47 pm
ada langit kehidupan di atas sana yg hrs aku capai…
disangga anak2 tangga kehidupan yg entah seberapa bnyk hrs kudaki..
msih tertutup awan tebaL,meski tak pasti hujan akan turun.
kudaki setiap tangga…mlewati stiap atmosfer kekecewaan,kesombongan,jatuh,sakit,khawatir kadang berganti dengan senyuman,kebahagiaan,kebangkitan dan melahirkan doa..! kudobrak smua pintu kecemburuan,kebencian dan EGOisme!! Lalu menemukan pintu kejernihan batinku…Ada guru kebijaksanaan di depan pintu yg mengulurkan tangan sambiL tersenyum… memelukku erat dlm dadanya…Tetesan air mata kemenangan harus kubayar dengan smua kartu hidup yg seoLah tanpa bentuk…spert roti yg hrs di banting,diputar2 ,sampai berbentuk dan siap di hidangkan….itulah dinamika hidupku dan alamku
hidayat berkata,
Februari 2, 2009 pada 4:56 pm
rahayu…
utk @ Mas Kiki sama-sama Mas , kita sama-sama belajar.
Utk @ Mas kumitir… itu ada pertanyaan dari Mas Diwan
Utk @ teman-teman silahkan berdiskusi sante sajalah
utk @ Wisnu Krisnanto…. seperti roti ya martabak di campur air, gula , garam kemudian dibanting-banting , tidak ada roti sesengsara martabak.. jadinya yah… ruarbiasa dicari orang.
dari @Dhiwan: Saya ada pertanyaan apakah mungkin seseorang menemukan guru sejati karena takdir dari Allah ? dan mungkinkah Allah merahasiakan tujuan kepada orang tersebut hingga sampai batas waktu yang hanya Allah sendiri yang mengetauiny ? /blockquote>
menurut saya : dari berbagai diskusi ada beda pengertian guru sejati yaitu misalnya ada beberapa pendapat yang mengatakan guru sejati sama dengan guru mursyid, ada yang mengatakan berbeda. perbedaan itu begini: kalau guru sejati itu adalah “guru yang berada didalam perasaan kita sendiri”, sedangkan guru mursyid mereka katakan sebagai sosok yang suci seperti wali ( atau dianggap orang seperti kiyai tapi sudah sangat afdhol dan matang biasanya memiliki kelompok thoriqoh/ahli dikir/ memimpin pesantren). Semua yang mengenal dan tidak mengenal bahkan tidak kenal kosa kata “guru sejati ” adalah termasuk dalam garis takdir.
Menurut saya guru sejati dan guru mursyid adalah sama yaitu di dalam hati dan perasaan kita sendiri., kalau orang yang telah punya banyak santri di pesantren / pimpinan thoriqoh itu saya namakan ya kiyai begitu saja, kalau kurang puas saya sebut kiyai ya saya tambahin lah: abah kiyai top nyaleg …
Lepas dari pengertian takdir :yang sangat berharga adalah “semangat” seseorang utk menemukannya. Dan saya harapkan semua orang bisa menemukannya.
apakah semua dirahasiakan Allah? manusia tidak punya daya upaya, semua hanya di kasihi tuhan. Karena maha pengasih dan penyayang tuhan memberikan semua khususnya kepada orang yang berusaha, kadang ada istilah “wis wayahe” memang ada suatu saat tiba saatnya. jika yang anda maksudkan guru sejati itu “sosok manusia” ya bisa di cari info diberbagai tempat, jika yang dicari guru sejati didalam hati ya menunggu kesiapan diri kita. Ya seperti seorang polisi yang menerima wewenang memiliki pistol maka otomatis yang bersangkutan harus siap mental dan lain lain apakah pistol ini untuk nembak sembarang orang atau orang tertentu dan yang penting diberitahu kapan pansion.
wass wb
bongkote blarak berkata,
Februari 3, 2009 pada 6:55 am
maaf sebelumnya….karena saya masih anank2 jd mungking kata2 saya kurang sopan…saya belu genap20 tahun..
saya ucapkan atas waktu mas samudra yang sudah sempat kn waktu ny untuk jawab madune jagad kaleh piti loro dagapet lan (9*3).
sebagai ganti ny saya mau bantu mas samudra jawab tuhan dmn dsb.
1.tuhan itu kn melok-melok banbet jadi napa harus d cari….!
2.gusti allah ora bungah d sembah lan ora susah kalo dilupan pleh manusia.
3.menurut yg saya pelajari, buku kita lahir itu ada dan keberadaan ny jg sangt jelas tp butuh guru yg tepat n jg butuh ilham jg untuk tau..
4.menurut saya agama itu adalh yg kalo dibeber ya jagad lan jagad kuwi iyo podo karo manungso.
5.surga n neraka ada ada lbh dr 1 penafsiran..
tp d jagad ini ada neraka n surga..n kita jg sudah pernah tinggl di dua tempat itu..
bongkote blarak berkata,
Februari 3, 2009 pada 6:58 am
maaf kalo ejaan ny kurang tepat n ada yg kurang..td aku mau terima kasih pd mas samudra…
n maaf buat yg laen krn trlalu panjang komentar ny jd saya g sempat baca.
bongkote blarak berkata,
Februari 3, 2009 pada 7:54 am
maaf,,
kalo yg ini baru komentar yg pribadi…
makasih banyak krn blog ini telah cuku membantu saya…
kalo saya lihat dforum diskusi kok masih panas………he5…..
sekali lg saya minta maaf….
manusia kn tempat ny salah jd y mohon maklum…. karena eh karena yg benar cm gusti sang pencipta saja..
sebenar ny saya adlh anda n anda adlh aku..
……….bagi saya islam harus ngerti jawane……..
sing diparingi roso ojo rumongso. wulu wilangane kulit,,,,,,,
omong kaleh tiyang sing mboten tunggal roso koyok e sio2 ae.
jagad ora ono sak kilan…
Dhiwan berkata,
Februari 3, 2009 pada 2:39 pm
Assalamu’alaikum Wr wb
Mudah-mudahan semua dilimpahkan rahmat dan hidayah dari Allah Swt
Terimakasih mas Hidayat atas tanggapannya.
ki gendun pamungkas berkata,
Februari 3, 2009 pada 2:57 pm
Jagad raya yang sudah semakin tua ini kok kayaknyamakin menjadi milik angkara murka aja, bahkan setan dan iblispun sudah banyak yang tidak bisa melakukan tugasnya lagi untuk menggoda keimanan manusia karena mamusia sendiri kok kayaknya sudah sangat melibihi tingkah dan bujukaan iblis ( maaf moga moga aja keliru.) yang sangat terlihat jelas sekali setiap hari kita selalu di jejali sinetron 2 yang selalu menayangkan cerita tentang kemenangan 2 kejahatan dan keangkara murkaan, banyak sekali cerita yang menyuguhkan bahwa orang yang baik selalu kalah dan sengsara. dan tidak pernah menang sampai senetron tsb tidak tayang karena rating rendah jadi orang yang baik tidak pernah menang. memang sinetron hanya cerita fiksi tapi bukankah itu lahir dari pemikiran dan pengamatan seseorang tentang hidup dan kehidupan di dunia ini ?
Mungkin yang harus kita renungkan bersama adalah sisi positif dari hal diatas adalah kita harus ikut menjaga kehidupan yang seimbang di dunia ini antara kebaikan dan kebatilan atau memayu hayuning bawono. apakah cerita diatas juga merupakan gambaran segera datangnya zaman akhir untuk menuju jaman baru ? apakah sang pembaharu memang akan segera muncul untuk pembaharuan jaman ? mohon kadang kadang kerso paring damar dumateng kulo kalian kadang lintu kang sami nandang pepeteng kados kulo. nuwun
dhiwan berkata,
Februari 4, 2009 pada 2:19 am
Assalamu’alaikum Wr Wb
Semoga Allah merahmati kita semua,
Ma’af jika ada yg tdk berkenan saya hanya mencoba menanggapi Ki gendun pamungkas, Kalau dilihat mungkin sudah takdirnya dunia mengalami pasang surut dari cahaya kebajikan dan memang seperti di qur’an bumi ini akan binasa oleh tangan2 manusia itu sendiri, tapi jangan sedih karena yang membuat alam semesta ini juga selalu mengirimkan utusan untuk meneruskan cahaya-NYA agar dunia jadi asri, artinya akan ada baik dan buruk yang akan selalu berperang hingga bumi ini benar-benar binasa. Tetapi Allah menurunkan keburukkan sebagai pelajaran bukan untuk diikuti. seperti bila kita berada dalam kondisi “gelap” maka akan jelas sekali bila ada cahaya yang terang begitu pula sebaliknya. Sekian dari saya, sekali lg saya mohon ma’af bila kurang berkenan.
bagus hidayat berkata,
Februari 5, 2009 pada 12:48 pm
lir-ilir tandure wus sumilir
tak ijo royo-royo, tak sengguh temanten anyar
cah angon-cah angon penekno blimbing kuwi
nyu-lunyu penekno kanggo masuh dodot iro
mumpung padang REMBULANE
mumpung jembar KALANGANE
………………………………………………………………………..
sebuah sajak, lagu, syi’ir, nyanian, puisi yang sangat mempunyai arti yang dalam.
ketika para ulama dahulu kala merakit bait-bait tersebut, dialah sang pujangga yang telah menemui kekasihnya yang tidak akan luntur sebuah cinta ketika mencintai-NYA, tidak akan pudar cinta sedikitpun karena bercumbu dengan-NYA.
Ia hanyut kedalam samudera madu yang amat dan sangat tidak akan mungkin orang akan mentas dari dalamnya, dimana ada sebuah kenikmatan yang tiada tara, semua larut dalam keMAHA SUCIANYA.
Dialah Sang HYANG SUKMO, yang memiliki sepenuhnya atas semua jiwa yang ada ini.
……………………………………………………………………………………………..
Sajak yang mengingatkan kepada kita semua, bahwa kehidupan ini adalah sebuah perjalanan yang di dalamnya terdapat berbagai gang dan belokan. Ada yang membelok menajam, ada yang hanya beberapa derajat saja. tapi rasanya kita telah diberikan gambaran tentang hidup yang lurus. sebuah hidup yang penuh dengan persiapan yang matang dengan berbagai perbekalan. Dia-lah(Allah) yang membuat kehidupan dan segala tatanan yang ada di dalamya, yang digambarkan oleh Nbi Besar Muhammad SAW. menuntun kepada kita semua untuk menapaki sebuah kenikmatan yang nyata bukan kenikmatan yang semu.
Jelas syi’ir di atas telah menggambarkan bahwa kehidupan ini membutuhkan sebuah persiapan untuk menjemput kkenikmatan yang kekal yaitu kehidupan akhirat.
Wahai…….!para cah- angon atau oarang yang sedang melakukan pengembaraan kepada Allah. maka tempuhlah dunia ini dengan menek-menek( memanjat) dengan penuh kesabaran, mumpung masih ada waktu ibarat walau itu hanya satu jam hidupmu didunia.
dan carilah ilmu untuk bekal memanjat, mumpung masih ada buat kamu cahaya Allah SWT, sebelum masuk kedalam liang lahat.
Niscaya kamu akan mengetam buah surga dengan Ridho-NYA.
SELAMAT MENEMPUH HIDUP YANG PENUH DENGAN KENIKMATAN YANG TAK PERNAH TERKIKIS OLEH WAKTU………….!!!!!!!!!!!!!
kulo.bgs@gmail.com
bongkote blarak berkata,
Februari 6, 2009 pada 5:55 pm
wah…
bintang 9 dah d buko….
salam kenal dari saya…
sabdalangit berkata,
Februari 15, 2009 pada 7:39 pm
@Mas Hidayat (2 Feb 2009)
Sukses selalu, salam sejati, dan salut; hanya dalam beberapa waktu saja anda mampu meraih kemajuan tataran spirit yg sangat pesat. Dapat menjadi pemicu dan pemacu semangat saudara2 yg lain.
salam sejati
rahayu
gulokelopo berkata,
Februari 27, 2009 pada 1:28 pm
salam rahayu para sederek….
KItab Negara Kertagama « ANGKERS berkata,
April 11, 2009 pada 3:10 pm
[...] UNTUK YANG TERCINTA [...]
Saloy berkata,
April 27, 2009 pada 3:24 pm
ADIKKU,SAUDARAKU DAN SAHABATKU
Ilmu hanya dua yang perlu diketahui
Pertama ilmu untuk mengenal Tuhan
Kedua ilmu untuk dunia
Ilmu mengenal Tuhan mudah dan ringkas
Kita cukup berhitung satu,dua dan tiga
Dari tiga digulung kembali menjadi Satu
Bila sudah tahu yang satu,maka khajimu khatam
Kewajibanmu tinggal mengingat dan selalu ingat
Ilmu dunia panjang dan lebar
Umur kita tidak cukup untuk menamatkannya
Kita mulai dari satu,dua dan tiga
Kemudian naik menjadi segitiga
Berpangkat tiga,
Logaritma tiga,
Tiga dimensi.
Ada yg mau menambahkan, trimakasih untuk Mas Kumitir.
debujawa berkata,
Juni 10, 2009 pada 3:18 am
salam kenal,
Terima kasih buat ilmunya, saya tidak bisa kasih komentar apa-apa.
semoga kita senantiasa dalam lindunganNya. amin
Wasy' El Bandary berkata,
Juli 12, 2009 pada 1:45 am
Nyuwun atur pirso Eyang sabdo langit:kadospundi upami dalem bade kepingin kepanggih kaliyan sederek papat kalimo pancer kadospundi amalan lan ugi coro-coronipun? lan ugi upami bade kepanggih kaliyan guru sejati/guru mursyid ” AKU TIDAK AKAN BERHENTI SBLM MENEMUKAN DUA PERTEMUAN LAUTAN ” sakderengipun dalem matur nuwun sanget kaliyan Eyang,bls lwt Email kulo kemawon.
anta berkata,
Agustus 9, 2009 pada 12:08 am
He3… melu urun ya, Kang.
Melu ngira-ira ‘metafor’ kuwi.
Ning mung mbokmenawa wae lho ki.
:
Jawi/Jawa/Yavana dumunung ing patemonan antarane rong samodra;
(H)india lan Pasifik. Mula, samubarang bab kang gayut karo ‘jawi’ kuwi,
mbokmenawa, kang diarani ‘ghuru’. Wun ngapunten….
Yusuf Maulana berkata,
Juli 13, 2009 pada 2:04 pm
Eyang.. saya mohon petunjuk bagaimana caranya supaya dapat melihat hal-hal yang gaib… selama ini saya hanya bisa merasakan kehadirannya… apakah masih ada satu titik lagi yang harus saya tempuh… mohon dibantu dan dibalas, salam
Yusuf Maulana
bagus cahaya berkata,
Juli 16, 2009 pada 10:27 pm
salam dari hati yang terdalam
aku kok binggung ya,…
banyak sekali nilai disini..
minta tolong kang kumitir saya diberi nilai……
sebelum dan sesudah nya trimakasi dari hati yang terdalam
padepokan kaweruh cirebon berkata,
Juli 23, 2009 pada 2:48 pm
salam kenal.. dumateng poro rawuh ingkang sampun ngumpul teng niki blog..
sony prasetyotomo berkata,
Juli 26, 2009 pada 7:30 am
semoga keselamatan, rahmat Tuhan, dan keberkahan bagi anda semua…
bahagia sekali, akhirnya saya dituntun hingga sampai di sini, tempat berkumpulnya para pencinta…
nowhere son berkata,
Juli 26, 2009 pada 7:44 am
aku sakit
dan aku butuh obat
tetapi aku tidak mempunyai pengetahuan tentang obat
sekarang aku harus cari seseorang yang memiliki pengetahuan tentang obat
bagi pemilik pengetahuan tentang obat, bantulah saya…
maurizio broggi berkata,
Agustus 26, 2009 pada 7:38 pm
ciao furbone
signor jonny,
would want to know when it has intention to return me my money 842 dollars,
I have not received any bicycle yeti arc xtr,
I would want the immediate restitution of my money,
I have activated the legal streets ,
to get back my money
Broggi maurizio
Jonny Gragas
Company Name: PT . HARAPAN BARU SEPEDA
Products/Services:bicycles
Address:
JL Tembung Suka Raya
N.61,
Medan,
Propinsi Sumatera Utara,
Indonesia
Telephone: 62 61 6534722 Mobile Phone: Fax: 62 Zip Code: 43654 Website:
ti ricordo che ti ho denunciato a te e la tua azienda alla polizia e quindi tra un po di tempo ci vedremo in tribunale
ti ho accusato di truffa: ti ho spedito 842 dollari e tu non mi hai mandato nulla ,
caro jonny ti auguro il peggiore dei mali
maurizio broggi berkata,
Agustus 26, 2009 pada 7:47 pm
I have reported you to the police competent, six a thief, is not a man.
signor jonny,
would want to know when it has intention to return me my money 842 dollars,
I have not received any bicycle yeti arc xtr,
I would want the immediate restitution of my money,
I have activated the legal streets ,
to get back my money
Broggi maurizio
maurizio broggi berkata,
Agustus 26, 2009 pada 7:54 pm
signor jonny,
would want to know when it has intention to return me my money 842 dollars,
I have not received any bicycle yeti arc xtr,
I would want the immediate restitution of my money,
I have activated the legal streets ,
to get back my money
Broggi maurizio
Jonny Gragas
Company Name: PT . HARAPAN BARU SEPEDA
Products/Services:bicycles
Address:
JL Tembung Suka Raya
N.61,
Medan,
Propinsi Sumatera Utara,
Indonesia
Telephone: 62 61 6534722 Mobile Phone: Fax: 62 Zip Code: 43654 Website:
maurizio broggi berkata,
Agustus 26, 2009 pada 7:55 pm
signor jonny,
would want to know when it has intention to return me my money 842 dollars,
I have not received any bicycle yeti arc xtr,
I would want the immediate restitution of my money,
I have activated the legal streets ,
to get back my money
Broggi maurizio
jonni il ladro berkata,
Agustus 26, 2009 pada 7:58 pm
signor jonny,
would want to know when it has intention to return me my money 842 dollars,
I have not received any bicycle yeti arc xtr,
I would want the immediate restitution of my money,
I have activated the legal streets ,
to get back my money
Broggi maurizio
wahyu berkata,
September 8, 2009 pada 8:56 am
assalam….
ni aku lagi butuh naskah sungkeman bahasa jawa di hari raya idhul fitri,tolong bantu aku bisa ga? kalau bisa tolong kirim sekarang kesini
terimakasih.
wassalam……..
M.alfadil berkata,
Oktober 28, 2009 pada 9:24 am
as. wb
numpang komentar ”
saya pernah denger dan memang benar menurut akal dan hati nurani saya ”
bhasa kejawen, Bhsa, yang kuno kalau kita amati tapi memang ada benarnya
kalau kita ibadah tanpa tahu ilmu itu sia sia begitu juga sebaliknya, saya juga banyak mempelajari sampai sekarang ini sebenarnya para wali, aulia dll, bayak sekali menyimpan rahasia nah kita sebagai hamba allah yang harus mnecarinya untuk diri kita contoh SUKARNO atau Bung KARNO sebenarnya itu mengandung siloka SUKARNO = Sukar tapi ONO (ada) BUNG KARNO = Bongkar yang Kuno maksud dari itu semua BONGKAR YANG KUNO itu adalah ILMU KUNO susah tapi ada nah itu makna nya sangat dalam, banyak orang JAWA tapi ada juga yg mengatakan Jangan mengaku – ngaku orang jawa kalau belum mengenal MATI ROGO MATI ROSSO MATI SEJERONA NING URIP kalau dijawa. diBANTEN = WERUH SEDURUNGI WINARA, Arab=Mautu Koblal Antal Maout, Indonesia = Matilah engkau sebelum kau mati banyak sekaali ilmu yang menuntun kita ke jalan Iaa kanna budu wa ia kanasta in tergantung kitanya dan yang saya pahami memang awalnya dari JAWA =>Jiwa =yang Hidup = BATIN = BANTEN dibanten ada Daerah Belaraja= Baleraja/tempat RAJA allham dulilah WALI ALLAH sudah MULIH KAJATI =sudah kemabli keasalnya mudah mudahan segera muncul untuk INDONESIA TERCINTA
M.alfadil berkata,
Oktober 28, 2009 pada 9:38 am
maaf ada yang lupa saya samapikan
bagi temen-temen yang ingin mencari sesuatu himbauan saya janganlah langsung percaya karena anda ingat IKLAN AQUA …….berulang ulang itu menandakan banyak yang ngaku- ngaku orang TUA, Iklan BALENO tahun 2000 an BUNG SUDAH KEMBALI jika anda ingin mengetahui sesosok seorang yang seluruh DUNIA AKAN GEGER akan muncul dari IBU PERTIWI ini seorang GURU MURSID atau PANDITO RATU atau SATRIA PANINGGIT, BOCAH ANGGON atau RATU ADIL DLL sebagainya beliau mempunyai ciri KHUSUS saya mengikuti perjalanan ini dari tahun 1997
Dhamar Shasi berkata,
November 17, 2009 pada 6:00 am
sebelunya saya sangat berterimakasih krna dengan adanya blog dari mas alang-alang kumitir saya jd tahu karya sastra adiluhung tinggalan para leluhur…rahayu..rahayu..