alangalangkumitir

Javanese Manuscripts

SERAT SURYANGALAM (Terjemahan)


 /1/  Bismillahirrahmanirrahim

Tersebutlah Sutan Suryangalam berbicara kepada kedua Jaksanya, apabila ada orang bertengkar dan didakwa mengambil kerbau, kambing, kuda, sapi, atau didakwa menjualnya juga, maka terdakwa yang tidak mengambil kambing miliknya sendiri dan tidak dijual. Apabila sampai pada pembicaraan dikalahkan perdebatannya, apabila yang terdakwa dan orang sekitarnya tidak mengenal alam hukum agama, maka nasehatku kepada anda sekalian jangan terburu terlena, jangan terburu senang, dan jangan mengagung-agungkan kenikmatan dunia. Dan rasakanlah sakit dan mati, inilah nasehatku kepada kalian.

 Tersebutlah ada orang mati dimana terdenda lima  kêthi  lima  lêksa,   dibagi menjadi empat yang diberi, seorangnya satu   kêthi,   dan lainnya perseorangan mendapat lima  lêksa , yang diantaranya dua  lêksa , antara sawah, antara kebun dua belas ribu yang dikenai yag terdakwa, dapat dikatakan seorangnya mendapat empat ribu, terdapat pula yang terdakwa membunuh itu /2/apabila tiga hari  termasuk dalam dakwaan, dendanya tiga juta, meskipun di rumah, ataupun di hutan, di perbatasan tetap menjadi dakwaan.

Tersebutlah penerimaan dakwaan yang tidak dilihat oleh penguasa bumi dakwaan yang dikenakan pada orang asing, orang desa itu lima  lêksa , dimana orang satunya satu  kêthi  yang dibebankan kepada orang yang terkena musibah, itulah saksi dakwaan yang berani dalam dakwaannya.

Terdapatlah di Negara Mataram dalam undhang-undhang ada orang hamil digugurkan maka didendha hukuman lima  lêksa,   (lima ribu) juga dipasung dan dihadapkan pada sakisi berjumlah tigabelas orang yakni diantaranya  kênya liring sastra bumi, duka wardaya candragêni mayauning lara, trisona, wida mêsthi wartigna, sawah arta nyanyuda sabumi, prara kang toya  artinya  kang rêradin, ialah penerang bagi pencuri yang mencuri, tidak terkena bukti dan sanksi, dimana  ada orang mengaku kecurian maka salah satunya dihukum oleh  bumi désa,  karena adanya bukti yakni hewan  têkék  yang mati oleh ularnya maka dipukul satu kali.

Apabila ada orang bertegur sapa dengan yang lainnya di kala malam hari, orang lain tersebut tiada bukti maka pasangan istri atau suaminya bukanlah pencuri, maka tidak dihukum.

Apabila sampai melukai hingga terkena kulit, membelah daging dan memutuskan otot. Dan mati kemudian maka terkena dakwaan melukai orang.

Apabila ada orang menembak pencuri di kala malam hari, ada suara kentongan oleh  bumi désa,  menangkap pencuri maka dapat dikatakan maling karena telah masuk ke dalam rumah dan meruntut suara kentongan, maka dikalahkan karena buktinya  / 4 /inilah rupa pencuri yang dujana.

Ada orang membawa gunting kemudian melewati lahan yang sepi tersebutlah maling juga namanya, meskpiun pendeta ataupun mantri sekalipun apabila terkena kisas dinamakan durjana pula.

Ada orang melewati rumah orang lain di kala malam hari disapa tidak menyahut, pertama, kedua hingga ketiga kalinya tidak menjawab lagi maka  disebut maling juga.

Apabila ada orang disarankan tidak menghiraukan maka disebut maling juga, dimana dakwaan berasal dari bukti, bukti dari  pramana, pramana  dari ububaya, ububaya  dari  utara, utara  dari  nyata kenyataan yang ada.

Inilah penerapan denda bagi terdakwa, terapkanlah bagi Mantri  ubaya sekalipun, lurah meskipun petinggi juga terkena sanksi bila salah.

Gêrah bismillah

Tersebutlah  Ratu di atas angin, yang selalu melaksanakan keadilan, dari bisikan Sang Parabu Suryangalam, Sultan yang arif, Sultan tersebut menceritakan hukum yang adil. Yang terdapat pada keadilan aksara, dimana terdapat kasus seribu lima ratus. Ketujuh pasalnya merupakan pemecah kasus pertengkatan seratus empat puluh empat. Ratu tersebut nyata membela kaumnya, memberi pesan kebaikan kepada rakyatnya, meskipun manusia biasa namun perkataannya bagaikan wahyu dari Tuhan. Apabila buruk disingkirkan dengan tangan kiri, apabila baik maka sebaliknya dengan tanga kanan. Yang selalu memberi nasehat kepada seluruh rakyatnya agar negara makmur, apabila menemukan kebaikan tidaklah disimpan sendiri untuk dirinya sendiri namun juga akan dibagikan kepada rakyatnya agar menemukan kearifan dalam kerajaannya.

Inilah Jaksa penguasa pemutus semua perkara, yang nyata akan tiga perkara, dimana sebelum ia memutuskan maka ia berujar kepada dewan, apabila ada orang bersalah maka putuskanlah lidahnya, yang dinamakan  kangdi pratula,  apabila tidak ada pembelaan maka potonglah bibirnya dengan besi merah, hidung dan kakinya, kalau tidak benar dalam bersaksi potonglah tangannya dan dikeluarkan bola matanya, dan apabila tidak diterapkan dengan hukuman itu maka dibuang di Negara lain, apbila Sang Prabu memberikan semua hukuman kepada orang bersalah maka akan aman dan damai sentosa negaranya apabila genap satu tahun Sang Ratu memanggil lagi dan melaksanakan semua perintah dan tidak merubah sabda Pangeran yang mencontoh sabda dari  Rasullullah Salalahu alaihi wassalam.

/ 7/  Beliau yang memutuskan dua perkara yakni agama yang diturunkan ke bumi, yakni dua perkara itu (al-benarnya   sabda, maka beristirahatlah apabila waktunya berbadah sekalipun berada di pasar sekalipin. Apabila ada yang berselisih yang tidak benar dalam berucap, maka hadapkanlah kepada dewan jaksa, sebenar-benarnya jaksa adalah yang memutuskan empat perkara yakni ,  Pangulu Jaksa.  Yang menentukan hidup dan mati seorang terdakwa, dibawahnya tunduk para  nayaka  (abdi) yang ucapannya merupakan / 8 /bisikan dari Sang Penguasa. Yang berada dalam tiga kekuasaan yang tidak dapat dipisahkan, artinya tiga rasa namun menjadi satu yang sebenarnya adalah enam. Yang pertama adalah perintah, yang kedua hukum Allah, yang menjadi petunjuk, inilah bersatunya rasa yang menjadi petunjuk pemutus dakwaan. Hal itu tidak bisa disatukan.

Apabila termasuk dari sembilan perkara, perintah yang menjadi keunggulan, termasuk dalam sepuluh perkara yang tertulis dalam perintah Ratu. Yang disalin perintah itu merupakan amal pebuatan yang merupakan kebajikan, tanda amal baik manusia.

Tersebutlah / 9/ arti dari amal yakni empat perkara yang dicontohkan dari  Sang Prabu tiga perkara, yakni air bumi, manusia dan langit. Sehingga air diartikan amal oleh yang mempuyai bumi. Apabila manusia juga disebut amal bagi Tuhan manusia semua adalah amal juga, yang harus menjaga bumi seisinya. Langit juga disebut amal dengan adanya matahari, bintang yang menyinari bumi siang dan malam.

Arti dari amal, ialah siapa yang tunduk akan hukum Tuhan, selalu berbuat kebajikan, kedua selalu berbuat kebenaran, tidak menjatuhkan dakwaan yang bukan merupakan kesalahan yang dibuat, tidak pernah salah dakwaan sehingga  berikanlah  /10/  pujian bukan hanya harta, emas, hewan ternak,.

Inlah orang yang bertengkar karena mengingkari ucapannya sendiri, yang memang tidak ada saksi yang menyaksikan. Namun ketahuilah keberadaan penguasa jagad. Sang Ratu jugalah yang aka memtuskan segala perkara, sebab orang yang ialah pemberi kebijaksanaan, yang memutuskan perkara manusia untuk kesejahteraan negara. Itulah yang dinamakan kebijaksanaan.

Inilah ucapan Sang Ratu Atas Angin, bisikan Prabu Jaksa Wirapêksa patrakêlasa, Jaksa Pramana, Jaksa miraya. Arti Wirapêksa yakni yang mendampingi seorang terdakwa, hingga putusan hukumannya dijatuhkan. Arti Jaksa Pratikêlasa yang  /11/ membela terdakwa apakah dakwaannya itu memang benar yang dilakukan. Arti Jaksa Pramana, yakni yang melakukan perintah dakwaan, tidak dikurangi ataupun tidak dilebihkan. Arti Jaksa Amijaya, yakni yang merubah putusan dakwaan, apabila memang yang terdakwa tidak bersalah. Itulah aturan yang pantas dan merupakan hukum dari Tuhan.

Inilah kesusahannya Negara yang terdapat empat perkara, siapa yang merusak sesamanya, ucapannya terlalau berlebihan. Lurah pun apabila merusak sesamanya juga akan diterapkan denda.

Tersebutlah orang berebut batas pekarangan, berebut saluran air,. Maka putuskanlah kepada jaksa / 12 /panggillah, berilah nasehat sehingga dapat dikenakan keadilan padanya. Itulah fungsi dari agama, mengatur segala perbuatan manusia.

Apabila memang bukti tidaklah dapat membantu dalam putusan perkara, maka hukum agama-lah nyata kepada keadilan. Yang dinamakan dakwaan pramana , yang nyata akan putusan hukum. Perlu diketahui dan  diperhatikan  penerapannya, tepat ataukah tidak.

Maka inilah perlunya memperhatikan sepuluh perkara  /13/ yang pertama adalah perkaranya, kedua kebenarannya, ketiga dendanya, keempat penolakannya, kelima dakwaannya, keenam hukumannya, ketuju kesaksiannya, kedelapan keberaniannya, kesembilan kawalnya, kesepuluh perolehannya. Kesemuanya harus menjadi perhatian. Apabila tidak maka akan kekurangan salah satu perkaranya dan tidak dapat berjalan sesuai tatanan yang ada.

Tersebutlah arti  apacabakah,  apacabakah,  yakni ada seorang wanita ketahuan oleh anjing, yang mendakwanya empat orang. Dakwaan empat orang itu berbeda-beda maka terapkanlah denda karena bukanlah suatu kebenaran.

Inilah perintah dua perkara, yang petama perintah  /14/,   kedua yang memerintah, arti perintah yang berada dalam tiga perkara dari Ratu, kedua Patih, ketiga musuh itulah perusak amal. Itulah yang dinamakan penerapan denda sepuluh perkara. Itulah perintahnya, maka jangan terburu tidak suka, jangan terburu senang.

Inilah pemutus tiga puluh perkara yang ketiganya merupakan perusak amal. Pertama, Ratu berbicara kepada musuh dan patih merusak amal perbuatan kebaikan. apabila diperintah tidak mau maka dinamakanlah durjana, inilah yang menjadi tanda. Arti  anuwuhi sastrané,  yakni berebut kekuasaan, arti  amêpang  pêrang nyata,  yakni kesalahannya sendiri, yang keempat  putung pamatange  artinya didalamnya terdapat Tuhan yang lainnya dihiraukan. Kelima  tinarka  prana , yang artinya orang yang akan membunuh musuhnya, kedelapan  damar tinatarik, yakni menepati perkataannya, kesembilan termasuk dalam / 15 / bêkaworana    yang artinya ucapannya    berasal dari Tuhannya, keluar lewat orang besar, kesepulh perkara termasuk  inapralaya, yang artinya jalan yang menunjukkan kebenaran. kedua belas perkara adalah,  yang    artinya saksi yang tidak dibawa dala pemutusan dakwaan. Ketiga belas perkara termask  tosan nukma pramana,  artinya orang yang menang dalam dakwaan. Keempat belas termasuk   sêksi rumêmbê,  artinya saksi hanya satu yang mengetahui dari keenam saksi, lima belas perkara termasuk  angêmban patra,  artinya ucapannya, enam belasa   anglikur raja,  artinya ucapan orang besar, tujuh belas  cakrapati  artinya orang yeng berhutang kepada saudaranya. Kedelapan belas perkara    ngina pralaya yang artinya peninggalan orang mati. Sembilan belas perkara  prang paya, artinya merubah tatanannya, dua puluh perkara termasuk  mutung rakitan wêwarah,  dua puluh dua perkara termasuk  anambung watang bubukên ,  artinya sesudah empat kedatangan kemudian dapat dimulai, dua puluh empat   paca prakomah,  artinya berbeda ucapan denga tindakan. dua puluh lima perkara termasuk  anukma wêcana,   artimya tidak menyuap jaksa, Dua puluh enam perkara   panca rêsi, artinya kelima pendeta yang tidak nyata akan kesaksiannya, dua puluh tujuh perkara  suryacandra miruda wêcana,  artinya matahari dan bulan itulah rupa kebenaran yang tidak menginggkari janji, sembilan belas perkara termasuk  trirasa upaya, yang artinya didalam putusan pemberian jaksa,  /17/ tiga puluh perkara  termasuk   sêbda maécaprana,  artinya tidak akan mengingkari ucapannya sendiri, begitulah termasuk tiga puluh perkara putuskan kalahkan perkaranya bila termasuk didalam tiga puluh perkara tersebut.

Inilah putusan delapan perkara, yang pertama termasuk  gupita abêkmana pramana,  artinya seorang yang didampingi tidak dapat mendapatkan putusan yang  adil, kedua  tiban prakopa anukma lampah tanjuhing wisa,  artinya keputusan yang telah dijatuhkan oleh pendakwa dijalankan oleh si terdakwa, itulah yang dinamakan keselarasan atau keadilan. Apabila tidak mempunyai saksi pembelaan maka jaksa memang pantas menjatuhkan hukuman, yang ketiga termasuk wilutorah, artinya saksinya, pendampingnya, putusannya tidak seperti ujar dari putusan jaksa. yang keempat, termasuk  gêsêngé aji pangucapé,  yakni ucapannya adalah bohong namun tetap diikuti dan dikalahkan perkaranya. Kelima  ngadhang tarka,  artinya seperti kumbang tanaman, yang menjelajahi kemana saja. Keenamg termasuk   angala gaman daya,  / 18/ artinya keputusan yang telah dikalahkan perkaranya, ketujuh  anyalawadi   artinya apabila mempunyai salinan surat-surat maka dikalahkan perkaranya, kedelapan termasuk  gapita sabda pralaya  artinya orang yang menyalin surat serta berbuat amal kebaikan tetapi bukan merupakan haknya maka dikalahkan perkaranya.

Tersebutlah pemutus lima perkara, yang pertama bagiannya, kedua pembatas ucapan, ketiga pembatas saksi, keempat pembatas pendamping, kelima pembatas kabar. Terdapat pula pemutus lma perkara lainnya, pertama  trataping, kedua   titi,   ketiga   karta,   keempat   dupara,   kelima   sêngara , arti  titi     yakni jalan kebenaran, arti  karta  yaitu pengalihan dakwaan, arti  dupara  yaitu bohong, arti sêngara  ialah penjahat.

Inilah perkara penitipan, artinya kepunyaan orang yang tidak termasuk miliknya bagaikan keruntuhan gunung karena mandapatkan rejeki yang bukan kepunyaannya, terkena pengaruh musuh tidak menghiraukan perintah ratu, itulah kerusakan negara  /19/ berdusta itu adalah kerugian negara, yang merupakan kebencian hewan di hutan, kebencian makhluk hidup, kebencian dari pencipta air. Hal itulah kebencian burung semuanya, itulah yang perlu diperhatikan. Kesusahan negara, itulah yang terutama perlu waspada, jangan senang akan keduniawian, merasa susahlah dan pasti akan mendapati kebahagiaan sejati.

Inilah nasehat empat perkara, pertama miruda wêcana angrêksa sêbda pranglaya,   artinya saksi yang mendampingi terdakwa, yang demikian itulah ucapan yang tidak dapat dipercaya. Kedua denda yang setiap tanggal pertama pada bulan purnama (prakarané dhêndha matanggal sapisan kapurnaman ) sepi tidak dapat menolak lagi putusan dakwaannya. Ketiga  prakarané angêmu wandi, artinya pendamping terdakwa yang membela saksi, berkata kepada jaksa itulah panglaku . Empat perkara itu adalah penerang dunia yakni sinar bulan, sinar bintang-bintang yang artinya orang yang terdakwa sanggup untuk menjaga buminya dari kerusakan. Apabila dihiraukan maka kalahkan perkaranya, dan mendapatkan denda sepantasnya.

Inilah penerapan perdata, dakwaan yang  mendapatkan denda sepantasnya. Apabila tepat penerapan dendanya, itulah saksi yang terkena sanksi perkara yang harus merasakan keadilan. Diutamakan para priyayi, kemudian pemuka agama, kemudian mantri. Kesemuanya adalah orang-orang yang mempunyai kebajikan,  tida boleh ingkar kepada ratu agar pesan kebaikan dapat tersebar kepenjuru dunia, bukan saja kaya akan harta, namun kaya akan keadilan.

Inilah bukti rupa bukti senyata-nyatanya, yang tidak hanya diucapkan. Bukti kang berwujud angin, ada di pucuk dedaunan,  godhong kayu,  artinya berada di pucuk   patêmoning rêrasan,  artinya   dora lêksana bana  iya itu perkataannya  sendiri (ujaré dhéwé).

Inilah tiga perkara yang lainnya, pertama  /21/ apabila mengambil sejata seperti keris, kedua  karang bukti  artinya barang orang banyak, maka di kenakan denda meskipun lurah,  bêbêkêl kaliwon, wong jaja,  itulah sepuluh perkara yaitu, anyalawandi  artinya meskipun sebentar adalah perkataannya sendiri,  akaryadési artinya mengerti namun tidak waspada,  anirpaksaksi, artinya mengetahui namun tidak sanggup mwaspadai,  aninyuktiyarané  artinya gelap petunjuknya,   angadhawa  artinya tidak ada yang mengetahui,  toya martah  artinya didalam dakwaan yang tidak diperkenankan,  bawa sabda  artinya saksinya perhitungan, tidak berujar benar bila tidak dibayar,  mang itung rah  artinya saksi yang masih ada hubungan darah atau masih saudara,  rékapan daya  artinya bertemu kesaksian yang tepat,  angéla pandaya  artinya membuat keputusan yang belum tentu kebenarannya, abakah  artinya keberanian / 22 / saksi yang tidak disampaikan,  ana sêksi anirat sêksi  artinya hanya berani dalam ucapannya,  ana sêksi anut watêsané artinya tidak mematuhi isi dari surat peraturan dengan menyobek surat, anyalawandi  artinya menyalin surat peraturan atau mematuhi surat perintah, akarya dristhi  artinya menepati perjanjian yang tertulis dalam surat perjanjian, anglêga praléna  artinya tertahan, tidak mengetahui yang mempunyai tanah,  toya pralaya  artinya tidak mengetahui isi perjanjiannya sendiri.

Inilah ucapan orang yang mengerti akan agama, menjadi contoh petunjuk negara, yaitu Ratu, jaksa dan pengikutnya, patih dan jaksanya menjadi empat perkara, Ratu, pangulu, jaksa , patih kesemuanya harus bersatu dalam kebaikan. Ucapannya merupakan nasehat dari hati, hati itu dari Sang Pencipta hidup, hidup itulah tanpa / 23/ dakwaan.

Apabila akan bertindak harus mawas diri, berkata haruslah terpikirkan dahulu, kembalikanlah kepada yang mempunyai ucapan, rupa itu kembalikanlah yang mempunyai rupa, dan ingatlah asal usul manusia, keburukan dan kebaikan apabila beragama dan taat kepadanya maka teruskanlah dengan terangnya satu bunga empat dahan dalam satu pohon, artinya setiap perbuatan manusia ada yang mengawasi, ucapannya, itulah maksud dari Tuhan yang ada dalam setiap senjata  lan ada dalam aturan agama Islam, merasuk dalam hambanya, dan penguasa menjadikan Ratu Pangul Jaksa Patih di Negara itu, yang berlimpah air hujan menjadi samudra dan cahaya langit bercahaya memantulkan sinarnya dalam air, artinya semua kesalahan umat manusia dapat ditebus dengan jalan mengikuti perintah Tuhan melalui agama Islam. Permulaan para arif kebijaksanaan penerang yang tidak segan akan keberadaannya.

Inilah Sang Ratu Suryangalam yang adil dalam memerintah pangulu, jaksa, patih dan keberadaannya dsegani pangulu, jaksa, mantri,  /24/ seluruh isi bumi, air yang diminum, semua isi bumi yang terpendam, matahari yang bersinar, artinya yang ada dan yang tidak ada, itu kedua dan pertamanya wajib bertapa, yang diwajibkan kedua itu ialah menyendiri itulah sunat, kedua itulah wajib beribadah ke masjid, membaca al-menyembahyangkan mayat, dan berpakaian dan makanlah, artinya ada sunat  muakad yang tidak bisa ditinggalkan, sama perlunya arti sunat muakad itu seperti Sholat Ied (Sholat pada hari raya Idul Fitri) dan sholat wajib rakaat dan witir, kesemuanya dilakukan dengan wudu terlebih dahulu. Sunat itu seperti sujud, rukuk, dan lainnya. Sedang sunat muaghat itu mengangkat kepala yang  kesemuanya merupakan keberadaan meskipun angulu, patih, dan manusia sekalian apabila harus mengikuti perintah Nabi Muhammad Salalahu alaihi wasalam.  /25/

Apabila telah menjadikan pengabdian sunat perlulah dan apabila tidak melakukan rukun iman, maka ketahuilah makna hidup, makna sholat, dan bakti pada Allah Tangala. Apabila tidak mengucapkan sahadat maka bukanlah Islam, maka jarahlah hartanya dan hukumlah pada Sang Ratu Adil.

Inilah ucapan keberadaan Ratu yang keberadaannya disegani Jaksa, patih yang adil. Akan menjadi gelapnya negara apabila jauh dari bau surganya, ada dalam gunung mihrap yaitu gunung yang berada antara surga dan neraka. Maka persiapkanlah bekal di dunia agar masuk ke dalam surganya, maka jangan sampai pada gunung mihrap agar senantiasa diampuni dosa-dosanya dan dosa kedua orang tuanya.

Inilah ucap keadilan yang ada diantaranya neraka jahanam, yang dasarnya neraka sap ke tujuh. Pertama gunung berapi, ada di gunung aktul diantara surga dan neraka, dari surga terlihat, dan dari neraka terlihat, dari gunung mihrap itu jaraknya lamanya ada satu juta. Yang ada dalam gunung mihrap itu hanya satu hari di akhirat, apabila sudah  /26/  maka teruskanlah keberadaannya di surga.

Inilah Sang Ratu yang benar akan ucapannya kepada seluruh rakyatnya, semuanya taat pada sareat agama, taat pada ajaran Nabi Muhamad Salalahu alaihi wasalam, apabila tidak maka mubazirlah hidupnya sia-sia, sama seperti dengan mati, tempatnya di neraka, apabila ada orang yang tidak berbakti, apabila tidak melakukan sunatnya, dan tidak cukup taat pada Tuhan tidak bersahadat, tidak Islam, maka jarahlah hartanya dan hukumlah pada Sang Ratu Adil.

Inilah ucapan Ratu yang keberadaannya disegani pangulu, jaksa, patih yang adil, yang menjadi gelapnya surga apabila tidak luhur budinya, maka berada  dalam gunung ikram yaitu antara surga dan neraka. Apabila telah berada dalam surga maka maafkanlah kesalahan kedua orang tuanya.

Inilah perintah keadilan yang berada dalam neraka, jangan muda, dasarnya yang pertama, atau Gunung Rip, itulah gunung yang berada antara surga dan neraka   /27/.   Dari surga terlihat, dari neraka terlihat, dari Gunung Ngarip terlihat lamanya satu juta, yang ada di Gunung Ngarip hanya satu hari, di akhirat apabila sudah ada satu hari maka teruskanlah keberadaannya di surga.

Inilah Sang Ratu yang benar dalam ucapannya pada seluruh rakyatnya, rakyatnya tidak pernah menghiraukan perkataannya, selalu mentaati keimanan, baik-buruk, untung-rugi semua berasal dari Allah Tangala, jangan berzina, jangan berbuat sia-sia, jangan mencuri, jangan berbuat yang menghalanghalangi agama. Dirgama  artinya  ihktiar, selalu berusaha dalam kebaikan, berada di jalan Allah Tangala, surga dan neraka sudah pasti adanya tidak akan berubah, dan tutunlah ke jalan kebenaran Nabi salalahu alaihi wasalam, yang merupakan panggilan Allah Tangala. Jangan syirik (menyekutukan Allah, menduakannya apalagi sampai mempercayainya yang banyak), jangan berpaling, jangan menyangsikan, jangan  ragu, jangan pura-pura tidak tahu, dan jangan pura-pura tidak mengenal.  Terimalah semua perintah Allah Tangala, yakni menjadilah wujud yang baru, dan makanlah yang  halal  hukumnya (yang diperbolehkan Tuhan dalam agama) dan berpakaianlah /28/ yang suci dan  halal  hukumnya. Minimlah air yang bening dan berjalanlah di jalan menuju ke akhirat serta yang taat pada hukum yaitu dari air yang suci itu. Air yang suci dan termasuk hukum adalah bêbanyu mustakmal arané  (air mustakmal) hukumnya suci tidak menyesatkan apabila ada orang yang bertengkar dan menimbulkan kerusakan di bumi maka haram hukumnya, itulah  wahyu dari hukum Allah.

Maka sabda Sang Ratu di Suryangalam, kepada Jaksanya semuaya, kedua Jaksanya yang adil dan bijaksana dalam agama Islam. Sabda Sultan Arif di Suryangalam, memerintahkahkan kepada Jaksanya sekalian, apabila ada orang bertengkar maka perlihatkanlah keburukan dan kebaikan dunia hingga akjirat.

Apabila tidak mau mereka ketahui hukumlah sabda Sang Ratu adil. Sebaiknya nasehati dahulu sebelum hukum yang pedih diterapkan.

Apabila terdapat orang bertengkar maka dendalah  triguna,   karena orang lainnya kehilangan atau kerampokan maka hadapkanlah pada Jaksa untuk mendapatkan keadilan.

/ 29/  Apabila orang terdakwa mencuri lantas jangan dikenai dakwaan terlebih dahulu, sebab dosa yang belum ada bukti bukanlah dosa namanya. Sebab Allah Tangala Maha Pengampun lagi Maha Bijaksana, apabila ada orang yang mencuri termasuk kisas, kisaslah potonglah tangan kanannya. Apabila genap kedua kalinya maka potonglah tangan kirinya.. Apabila sampai ketiga kalinya maka potonglah kaki kirinya, dan sampai keempat kalinya potonglah kaki kirinya, Itulah ujar hukum, baik laki-laki maupun perempuan apabila pencuri tetap dirapkan hukum sama antara keduanya. Walaupun ada pencuri mati di dunia, hidupnya bagaikan berjalan dalam malam tanpa cahaya obor, meskipun pangulu, mantri, priyayi, apabila mencuri tetap dikenakan hukuman. Apabila ada orang bertengkar, tidak melaksanakan perintah agama Islam.

Diterapkan kepadanya denda sepuluh guna.  /30/ mencuri di malam hari tanpa ada cahaya obor sedikitpun, melewati rumah dari rumahitulah wujud dosa bagi Allah Tangala dan jangan pilih kasih dalam  kisas,   hukuman yang oantas dan pedih, itulah perintah dalam agama Islam.

Apabila ada orang yang le wat jalan sempit di rumah pada malam hari, padam obornya, kemudian ada suara yang mencurigakan. Maka pencuri ada di sana. Nasehat Sang Ratu adil, apabila  terbukti orang itu pencuri maka berdosalah dan diterapkan hukuman, dosa hukum mati, dosa didenda, dosa karena malu. Patutlah mendapat hukum Allah. Perkara seribu seratus empat puluh empat, perkara dua belas, terputuskan dengan keadilan seribu  /31/ seratus  empat puluh empat, putusannya delapan perkara itulah yang diterapkan di tanah Jawa.

Inilah perkara putusan banyaknya empat puluh empat artinya  salokatara, pertengkaran keduanya, apabila buruk maka buruklah kesemuanya. Inilah yang disebut pertengkaran perintah yang didapati para durjana. Apabila sampai mati dan tidak mendapat pengobatan.

Inilah tiga perkara pertengkaran orang yang berjual-beli, dinamakan  kirya-wikirya pertengkaran orang yang menitipkan barang. Dan yang dititipi barang tuwawa tan tuwawa  namanya, pertngkaran orang yang menyelewengkan upah witana tan witana  namanya.

Inilah tiga perkara  nistha maosarasa, pariwêksa angambuk pugung.    Nistha  maongsa nagarabéi  yaitu di luar pintu,  /32/ maosarasa  di dalam pagar, mendapat denda delapan ribu karena merusak milik orang lain dan mencuri milik tetangga. Inilah   sastha kustha  tujuh perkara,  maling utama, maling rêtna, maling jawita, maling wong wadon,  yakni pencuri yang mendatangi perempuan,  maling têbunan belum mendapatkan apa-apa tetapi sudah bisa memasuki rumah, maling itu sdah  mengincar kepunyaan orang lain, dan akan mencuri emas dan barang berharga lainnya.

Inilah lima perkara istri yang bersalah,  sagra wiruta, sagra widhana, sagra candhala. Éstri chandala  yaitu bertengkar antara sesama perempuan, saling mengata-ngatai,   sêbda purusa  perempuan bertengkar dengan laki-laki,  sigra wêcana  laki-lai yang bertengkar dengan perempuan.

Inilah tujuh perkara,  angênidiyah, awisadaa, ékawarna, raja wisuna, apala dara, jinah wara, wong kasudukanyadah. Angênidah  artinya membakar rumah orang lain,  awisadaa   /33/ merampas milik orang lain , ékawarna    orang yang berhutang,   raja wisuna  yang tidak taat akan perintah Tuannya,  pala dara  orang yang bertengkar,  jinah    wara  orang yang berzina,  wong kasudukannyadah  orang yang tidak dapat dipercaya. Inilah empat perkara yang dapat menjadi putusan, sarta dari patra, patra dari saksi, saksi dari patra, patra dari pramana, pramana dari ubaya, ubaya dari purusa.

Inilah yang disebut dakwaan yang tertulis, siapa yang mengetahui tiga perkara yang menjadi saksi dan bersaksi, serta ditanyai tentang bukti tidak dapat bersaksi itulah keberanian saksi. itulah saksi yang tidak dapat bersaksi menjadi saksi sudrah  saksi yang tidak dapat ditanyai empat perkara yaitu  sirna wêcana,  sirna pramana, sirna niscaya, sirna miarsa, sirna saha wong wuta, sirna pamiarsa wong tuli.

Inilah orang yang salah berperkara dua perkara, ada pencuri yang membawa gunting kemudian membedah pagar dan mencuri, meskipun pendeta apabila masuk rumah ketika malam hari itulah pencuri juga. Atau ada pagar yang rusak.  Itulah saksinya empat perkara,  aku wolung sêksi anyuda sêksi, anyau rêksa, abahu  sabda, apa sêksi.

Inilah   akutha sêksi,  orang yang bersaksi adalah saudara, anguta sêksi terdapat saksi orang durjana,  abau sabda  saksinya tidak dapat dipercayai,  bau rêksa  anaknya sendiri yang menjadi saksi tidak dapat ditanyai,  aprang saksiné yang menjadi andalan.

Inilah yang termasuk empat perkara  /35/ pemutusnya perkara dari  dirgama, dirgama  dari  dêwagama, dêwagama  dari  toyagama, toyagama  dari  purusa.

Inilah arti  jugulmudha , tidak mempunyai kebenaran kesaksian. Walaupun priyayi apabila tidak mempunyai saksi tidak dapat diputuskan perkaranya. Inilah arti   karta basa,  meskipun pendeta apabila berada di pasar tidak menjadi saksi, dakwaannya juga tidak diputuskan, inilah arti  raja niti,  carilah saksi yang dapat dipercayai, inilah arti  titi swara,  awasilah ujarnya yang baik dan yang burk, yang disangka dan menjadi tersangka itulah arti  tidhar salok ika.

Inilah arti  sarudêntha,  awasilah wajahnya, dan ucapannya. Itulah yang banyak dan dapat dipercaya. Inilah arti  caya-murcaya , apabila ada orang bertengkar yang sudah didapati dendanya, orang  yang terbunuh dalam pertengkaran itulah  kuthara  apabila baik apabila buruk tetapkanlah dalam peraturan  /36/

Inilah   angawang-awang , ujar yang tidak dapat diucapkan dalam peraturan sehingga tidak dapat diterapkan. Apabila orang yang merusak sanggul istri orang maka dendalah, orang yang bertengkar dan mengaku-ngaku tidak bersalah maka dendalah juga.

Apabila bertengkat dan membawa kejelekan orang lain yang tidak ada  sangkut pautnya maka harus diterapkan ajaran agama kepadanya. Tingkah laku orang tersebut tidaklah bak baka  dirgama  dari  ngubaya,  yang dilimpahkan kepada  darma patih.

Inilah orang yang tidak melunasi hutang, yang berada di jalan  /37/ mengaku hilang, dan merugikan negaranya. Maka menjadi tersangka itulah  hal yang menjadikan keburukan, segala kerusakan menjadikan keburukan.

Itulah hal kebaikan dan keburukan apabila orang lain mengetahuinya. Meskipun pendeta apabila tidak berada padanya kebaikan maka nasehatilah.

Terdapat lagi hal yang menimbulkan kerusakan di bumi, dimana artinya tidak mau mengalah kepada siapa pun. Tidak mempunyai welas asih maka tidak lestari dalam baktinya kepada Pangeran  /38/

Inilah suara yang harus di    turuti, itulah bramana yang benar dan patut menjadi contoh, seperti bunga yang dihisap sarinya maka tuntutlah ilmu hingga mengerti apa yang dimaksudkan, bramana itulah segala ilmu pengetahuan yang ada di dalamnya.

Terdapat tiga perkara,  sêkar gasa dargawi darga,  artinya Sang Dargama yang menyampaikan kebaikan,  patigi dargama,  artinya menyampaikan nasehat kepada orang lainnya, maka terapkanlah hukum kepada para mantri.

Inilah saksi tujuh perkara  /39/ pertama perkara, kedua kepunyaan, ketiga racun, empat rupa nafsu, yang merugikan, artinya perempuan yang tidak mempunyai cacat, menjadian kesaktiannya kepada Ratu Agung.

Inilah saksi yang tidak dapat dijadian saksi, maka Ratu memerintahkan berkirim surat, kepada pertama sahabat, kedua saudara, ketiga orang yang sudra, keempat pembantunya, kelima padukanya, keenam guru, yang tuuh orang yang menanggapi perkaranya.

Terdapat burung yang menyampaikan berita kepada semuanya, menyampaikan salam kebaika apabila dalam surat ada lima bahasa  /40/ pertama  basa   cêpemanira pêkêni, basa siki maning yidika pakanira, basa atopan  yang berupa tulisan  basa nukak,  hambanya itu bersatu dengan yang ada dalam kekuasaan.

Inilah arti  saloka rupa tidarsa,  ada yang baru yang nyata akan bukti. Itulah delapan perkara yang pertama perkara kekuakan, kebijaksanaa, kekayaan, ada sawah yang dimana terdapat orang yang dirampok, di jalan akan dibunuh. Itulah tiga perkara ada dalam  kuthara jugul drama , kuthara lan dunya yang dilimpahkan patih dua belas, aman tentram  /41/ keinginan sang raja, itulah nasehat haruslah selalu dipercaya dan menjadi panutan. Dimana kebaikan artinya salokatra, kuthara titi mangsa  yang benar adanya.

Inilah   kuthara munawaraja,   banyak yang menyebut kebaikan dan keburukan, itulah hal yang diartikan saksi  akundhang cina, anglironi cina, angalih cina, watang ananggal tan patra.  Itulah penebus perkara yang harus dipnuhi.

Saksi harus mengerti ucapannya, apabila ditanyai, diperiksa, harus sesuai ucapan perkataan dengan tindakannya, apabila tidak maka tidak dapatlah putusan perkara.

Apabila ada orang yang hutang mengalami pencurian, tidak ditagih maka anak cucunya juga dapat menyahir hutang tersebut. Apabila tidak dapat padanya maka dapat didenda.

Itulah saksi yang menjadi petunjuk pemutus perkara, apabila ada padanya bukti maka terputuskanlah perkara dakwaan yang ada pada sang terdakwa.

Inilh orang yang senang akan perempuan, dan suka padanya akan pertengkaran, maka berdosalah orang tersebut, dusta juga merupakan hal yang termasuk dosa.

Maka terapkanlah denda padanya, sembilan perkara  yang harus didapatkan dengan hewan seperti tikus, macan, ulat, lintah.

Inilah empat puluh perkara yang merupakan kesusahan negara, dimana agama menjadi tameng akan kejahatan.

/43/  inilah tersebutkan perkara yang terbagi menjadi enam, dimana ada istri yang berlhianat pada suaminya.

Inilah perkara orang yang bertengkar karena merebutkan tanah, dan istrinya tidak menghiraukan. Dan terdapat ular yang hilang ekornya. Istri  sangraha atidharsa, candhala kedhalem apalan daranêm.

 

/ 44/  adalagi laki-laki yang erusak sanggul istri orang lain dimana orang tersebut pada bulan purnama membakar rumah orang maka laksanakan hukuman padanya.

Apabila orang saling berkata-kata dan tidak saling percaya, merusak satu sama lain maka terapkanlah hukuman juga, sampai mengambil kerbau orang lain, dan tidak sengaja membunuhnya, maka terapkanlah hukuman juga padanya  dengan hukuman sama seperti orang yang terbunuh. / 45/ hingga ada sapi yang hilang dimangsa harimau, dan kambing juga, bukanlah harimau melainkan pencuri yang mencuri dan hilanglah hewan ternak itu.

Inilah cerita Sultan yang Adil akan dirinya, yang selalu benar dalam nasehatnya. Adalagi Sang Prabu berputra dan datang padanya sang putra dimana nasehatnya digunakan sebagai pedoman hidup hingga mati. Ayah selalu berkata benar pada anaknya dan mengjarkan kebajikan agar menjadi bekal padanya hidup di dunia.

Inilah suri tauladan Sang Prabu yang selalu menghindari keburukan, selalu sholat pada malam hari pada pertengahan sepertiga malam, jangan banyak tidur  nasehatnya   /46/ kepada semua rakyatnya. Bersedekahlah kue apem sebelas tangkap orang satunya kepada seluruh negara. Sang Prabu jangan  putus dalam prihatin, kerusakan padanya merupakan kerusakan pada rakyatnya sekalian, dan Sang Prabu juga percaya akan nabi yang menyinari dunia, Sang Prabu mantap akan kepercayaannya, tangan kiri untuk membasuh keburukan, yang kanan mendapatkan kbaikan, maka terapkanlah dari nasehat Sang Prabu.

Ada ucapan Sang Prabu dimana mantri jngan hanya memburu kekayaan saja,  jangan melakukan perbuatan yang haram, apabila kaya tapi dari hasil yang haram maka akan menjadi kerusakan negara. Yang dinamakan banyak melakukan kerusakan di bumi, maka agama menjadi penerang dalam kehidupan / 47/   maka yang didakwa itu jangan dimusuhi namun menjadikan hal yang harus diluruskan kembali jalannya.

Apabila Sang Prabu disebut orang alim yang selalu benar dalam hukunya, yang selalu dipuji karena kebijaksanaannya, Sang Prabu dinamakan, wakid  orang nomor satu, jangan mencoba menurunkan dalam keberadaanya, yang selalu berjaga siang dan malam, Sang Prabu selalu memikirkan negaranya, jangan berbicara tentang keburukan dan janganlah terjadi ketidakmakmuran di negaranya.

Itulah nasehat Sang Darma Patih, apabila bertingkah-laku terapkanlah kebaikan, jangan memasuji rumah, di luarnya pintu, jangan keluar dari pagar, jangan meninggikan suara kepada istri, jangan jauh bicara memotong pembicaraan. Orang yang berada dalam pembicaraan yang baik, apabila berlebihan maka dendalah jangan menjadi kerugian orang lain.

/48/ Ada orang yang berhutang dimana tidak dapat dilunasi, maka serahkanlah pada Sang Ratu, apabila menjadi  denda namanya menjadi kerugian negara.

Terdapat ratu yang berbicara pada Sang Darma Patih, bertanya kepada orang yang berjualan besi, terdapat nakoda dimana besi dagangannya dibeli patih, bertanya Sang Darma Patih, apakah ia mempunyai dagangan besi, dan nakoda itu mempunyainya, maka dibelilah dan diberi uang, itulah nasehat Sang Prabu membeli dagangan itu, harus tidak ada  yang dimakan rayap  /49/ durjana menjual kepada orang yang berujar adil, Jaksa Patra kepada orang durjana, diundang oleh Jaksa datang menghadap kepada Sang Prabu, berjualan besi. Dan nakoda diperintah oleh jaksa, dia harus membeli dan berkata kepada Sang Prabu. Nakoda meminta bantuan kepada Kyai Jaksa agar jangan dikenakan denda.

Ada orang yang bertengkar, keduanya  /50/ salah satuya meminta biaya ganti rugi, maka aturan jaksa, kalahkan salah satunya, bila tidak ada yang sanggup maka  anêlang tara  namanya.

Ada dua orang bertengkar maka keduanya didakwa, semuanya bersikukuh yang paling benar, dan meminta biya ganti rugi yang sama kepada jaksa. Maka seharusnya salah satunya terkena denda,  apabila sudah diterapkan keduanya maka adillah namanya. Ada burung Kuntul hinggap dan berkata kepada Ki Kèlasa, ada hasehat luhur dari burung itu dari atas, Sang Kèlasa berkata pada Sang Kuntul, ia kemudian terbang hinggap ke atas, Sang Kèlasa kemudian melihat pohon hingga akarnya, dahannya, dan daunnya. Kemudian Kuntul berkata pada Kèlasa ikutilah aku, apabila benar maka kalahkan orang yang bersalah, Sang Kèlasa menuruti dan menghadap Sang Prabu  /51/ Kitiran Putih, Ki Kèlasa dan Kuntul kaemudian datang kepadanya, berucap denda kepada Patik Kaji, yang berucap kepada Sang Ratu Kitiran Putih, yang bicara Kuntul pada saat istrihata. Mereka berebut luhur antara Kêlasa, Patik Kaji kepada ucap Kèlasa. Mereka kemudian melihat akar dan Kèlasa melihat keluhuran terlebih dahulu. Ucap Sang Ratu Kanjeng Ageng, ikutilah Kuntul yang terbang terdahulu, kemudian datang Kèlasa dan duduk mengahadang Kuntul yang terbang. Kemudian Patik Kaji datang dan Sang Prabu yaitu Sang Kuntul bertanya berapakah banyaknya akar, daunnya, berapa dahannya, dan berapa banyaknya  /52/ daunnya. Ucap Sang Kêlasa, kemudian menjawab banyaknya akarnya ada lima, besarnya dapat dilihat, ucapnya tidak bisa melihat dahannya empat, daunnya delapan lembar, semua itu sesuai apa yang dilhat, kata Sang Prabu kalah kepada Sang Kuntul, benar Sang Kelasa, melihat kepada pohon Raja itu.

Terdapat orang bertengkar, dan berkata kepada jaksa, datangnya ucapan maka Jaksa kalahkan perkaranya. Dan dendalah seratus pada yang bertengkar tadi,  janganlah berdusta, durjana itulah namanya, maka turutilah ucapan jaksa  /53/

Apabila ada orang yang bertengkar dan salah satunya tidak dikenakan sanksi  maka bukanlah adil namanya, apabila perkara perdata itu salah satu dibebaskan sama saja membunuh yang lainnya, terapkanlah kebenaran janganlah berlaku berat sebelah.. seperti matahariyang tidak lelah menyinari, terapkanlah peraturan berdasarkan bukti yang ada. Orang yang mengerti agama, maka akan adil dalam  putusannya. Tidak akan membeli bukti  / 54/ kasmara lokita  artinya kehilangan, apabila terselip, maka harus waspada, bukti yang sebenar-benarnya bukti maka pertama dendanya yaituk dihukum enam puluh tahun, itulah kebenaran bukti. Apabila tidak adil dalam agama, maka  ngadigama  kalah dari  ubaya, ubaya   kalah dari    utara,  utara kalah dari  patra,  yaitu saksi yang tidak dapat diganggu gugat /55/ patra   kalah dari  purusa,   iya ada  patra   yang berupa saksi tanpa bukti, ada patra   yang disebut  tripurusa sêksi   kalah dari  bukti, bukti  kalah dari  lukita, lukita kalah dari  bukti,   belum sampai terputuskan surat perintah telah diputuskan. Orang yang berhutang tadilah yang seharusnya melunasi hutangnya. Apabila tidak ada upahnya maka dendalah. Agamalah yang berbicara, jangan berhenti berbuat kebaikan, jangan berubah ujarnya  /56/ itulah yang disebut  paca prakosa,  berbeda dengan pendapatnya,  amêt gisiring pamicara,  maka jaksa yang disebut   paca rêksi , yang tidak hanya kaya.  Abaurêksa  yang mengawasi kepada orang lainnya,  adiyurêksa  jarang berbicara dengan jaksanya,  trisabda  jarang berbicara dengan pemutus denda, musuh yang orang durjana yang tidak percaya akan ucapan orang lain.

Tridasthi namanya janganlah menelantarkan anak istrinya, sebab mengingkari pembicaraan yang sudah ada buktinya, itulah durjana yang ditinggal  ayah dan ditinggal ibu, dan durjana  /57/ para wanita durjananya Jaksa bagi orang lain bapaknya menangisi orang yang lewat, dan diamlah ibunya, durjana perempuan itu keluar dari rumah apabila memakai wewangian hingga tercium aromanya kepada laki-laki lain, maka termasuk kesalahan pula. Durjananya dari  Jaksa apabila ada orang yang bertengkar terputuskan mengambil milik orang lain, maka orang itu tidak bisa bersaksi pada Ratu Pandita. Orang lain yang  melaksanakan jual-beli maka Sang Pendeta bersaksi dengan orang lain.

Seumpama ada orang yang mengaku menjadi saksi. seumpama perempuan tidak menjadi saksi, adapun tibgkah lakunya menjadi permasalahan bagi orang lain.

 Seumpama orang  sudra  tidak menjadi sakai, maka orang lain akan berujar  yang tidak-tidak. Berprasangka orang itu berkata tidak sebenarnya, seperti pada wanita yang apabila menjadi saksi.  /58/ seorang perempuan menjadi saksi, sama seperti lainnya yang tidak dapat diperkarakan. Orang yang tidak bisa menuju kebenaran tidak bisa menjadi saksi.

Orang yang tidak bersaksi benar adanya, maka belajarlah kepada jaksa yang memutuskan keadilan, apabila tidak dapat menemukan maka saksi tunggal dapat dijadikan keputusannya, apabila dua saksi dan yang ketiga saksi mati maka pilihlah umat yang paling agung.

Inilah terdapat saksi yang berebut saksi orang keduanya, dan orang ketiganya, itulah yang dinamakan  saksi pramana, saksi satmata, saksi watata,  yang disebut  saksi pramana,  yakni yang disetujui oleh Ratu, disebut juga Jaksa halal, yang disebut Ratu, apabila  jiyad  Sang Prabu berujar kebaikan. Ketahuilah peraturan yang mengatur negara / 59/ dari sepengetahuan Jaksa yang menjadi pencerah perkara jual-beli, dan hutang-piutang. Menjadi Sang Prabu yang tidak berujar apabila tidak dihadapkan pada suatu perkara.

Terdapatlah orang yang bertengkar berada pada pancuran, mereka berebut cincin. Ternyata salah satu memakai cincin yang bukan miliknya. Maka ditangkaplah dan didenda dan harus membayar biaya gadai cincin milik orang yang dicurinya tersebut.

Terdapatlah orang yang bertengkar karena ucap salah satu pembantunya, pertengkaran itu haruslah teselesaikan, namun keduanya tidak mau saling mengalah maka nasehatilah untuk berada pada jalan yang benar, hadapkanlah pada saksi yang kalah dari  ubaya  maka turutilah ujar  /60/ nasehat itu.

Ada ujar dari burung yang terbang mengembara tidak ada padanya warna burung, tidak boleh orang ambil padahal jatuh, salah satunya melihat dari kebanyakan orang, rupa burung itu nyata pada kaumnya, mengembara untuk mencari kebenaran.

Ada orang yang bertengkar karena perkara jual-beli, tanpa adanya saksi jual-beli sehingga ucapan yang membeli, bahwa telah terbeli denga harga seribu, sedangkan si penjual berkata dua ribu. Maka apabila benar seribu kalahkan padanya si penjual itu.

Ada orang yang kecurian barang, kemudian ditemukan di rumah orang lain, sampai pada pembicaraan maka tempuhlah orang yang kehilangan itu dengan denda, dan dihukum jerat dengan tali.

Ada orang yang pergi membawa barang dan bertemu dengan orang lain, sampai pada pembicaraan maka dendalah karena bermaksud lari seperti kijang dinamakan  lokika.

Ada orang mati membawa barang dan ditemukan oleh orang lain, ditemukan   keris maka  kacina loki  namanya, maka hukumlah orang yang menemukannya setelah mendapatkan bukti, dan dendalah dengan apa yang dialami orang yang  mati itu,  karaga taka  namanya.

Ada orang yang mengejar pencuri, dan ada orang di luar rumah atau di  depan pintu yang kecurian tidak ada saksi, maka dendalah yang kecurian dengan apa yang sama hilangya barang. Apabila tidak maka  sêngara  namanya.

Ada orang berebut mengaku barang tersebut adalah hak miliknya  /65/ maka curigailah laki-laki itu, tetapkanlah dendanya yang dinamakan  lokika, dan janganlah putus perkaranya  karagas asa  namanya.

Ada orang yang mengaku kehilangan, dan sanggup untuk mengganti upahnya, diberikannya dan diterima maka kembalikanlah upah itu kepada yang berhak, berikanlah kepada yang mengaku kehilangan, dan dendalah seperti burung yang terpenjara dalam sangkar.

Ada orang yang melewati rumah orang lain ketika malam hari, membeli kerbau, kuda, lembu, kambing. Yang kemudian ditemui tanpa bukti, kembalikanlah padanya  maling sodanama  namanya.

Ada /66/ orang yang bertegur sapa dengan orang lain, kemudian dalam          pembicaraannya kembali pada orang yang kehilangan maka dendalah.

Ada orang yang mati di hutan, ditemukan oleh jaksa, kerisnya terdapat darah, apabila ada padanya pembicaraan maka cari tahulah mengapa sampai mati, dendalah  matep angadas  namanya.

Ada orang yang memegang kayu, dan ada orang mati disampingnya atau kuda, atau kerbau, mati juga di sampingnya maka  angadêging pangagasana namanya, dan dendalah.

Ada orang yang bertengkar, sudah dipisahkan pada ucapannya, apabila tidak sampai mati seorang itu, bukanlah laki-laki. Apabila ada bukti tersebutlah maling juga, maka hukumannya dikurung hingga empat puluh hari, apabila tida diketahui  dendalah  liring lokika  namanya.

Ada orang yang bertengkar dan sudah dipisahkan  /67/ namun masih ada prasangka buruk padanya, atau orang yang kecurian itu. Apabila tanpa bukti orang yang menggadaikan barang itu, apabila salah dalam hukumannya, maka mendapatkan denda juga.

Ada orang yang mencuri tanaman yang sudah dipanen, di dalam sebuah gubuk, bukti mengarah padanya apabila lebih dari seribu harganya, dan meskipun kurang seribu pendapatannya yang menanam itu disebut  maling saji.

Ada orang bertengkar didakwa mengambil kerbau, kambing, kuda, yang didakwa dengan saksi pertama benar kesaksianya, apabila sampai pada pembicaraan maka pisahkanlah keduanya.

Ada orang bertengkar didakwa mengambil kerbau, kuda, sapi, kemudian dijual juga. Maka dakwalah hingga mengaku apabila menjual kambingnya sendiri,  dan sampai pada pembicaraan orang yang mempunyai tersebut maka pisahkanlah antara keduanya  /68/ jangan sampai salah satunya mati kemudian.

Ada gadis mencuri,  maling kènya   namanya, orang yang menemui istrinya pencuri patut malu, apabila mati sekalipun, sebelumnya harus diobati, meskipun mencuri emas tetapi tetap harus dihukum juga.

Pencuri yang akan mencuri pada tetangganya maka dendalah juga, ada orang yang menitipkan barang kemudian barabg yang ditipkan iti hilang, maka dendalah orang yang mempunyai rumah itu. Karena mencuri yang juga namanya, sebab bukan miliknya juga.

Ada orang yang menitipkan dan kehilangan barangnya juga, apabila tidak berbahaya meskipun di rumahnya sendiri tetap harus didenda juga.

Ada orang yang meninggalkan rumah, dan tidur di rumah tetangganya kemudian ada orang yang kehilangan barang, maka dendalah juga dan hukumlah penjara  /69/ lamanya empat puluh hari.

Ada orang dipanggil, karena ada orang yang kehilangan barang dan orang yang dipanggil itu menemukannya maka dinamakan  maling têmu  namanya.

Ada orang yang menitipkan barangnya, kemudian hilang dan ia berhutang maka dendalah karena adanya bukti,  maling sadha  itulah namanya.

Ada orang yang memasang cincin kemudian, hilang maka dendalah dan dinamakan  maling timpuh  namanya.

Ada orang mencuri di sebuah rumah pada malam hari, dinamakan  maling pamata  namanya, sudah didenda kepada si pemilik rumah.

Ada seorang perempuan masuk ke dalam rumah, pada malam hari dan diketahui suaminya, apabila suaminya menyampaikan  /70/ pada pembicaraan disidang maka dinamakan  maling kara  namanya, dapatlah didenda dengan memberikan beberapa uang uang untuk mengganti rasa malunya pada yang mempuyai rumah suami istri tersebut.

Ada orang datang ke rumah tetangganya dengan membawa api kemudian          membakarnya maka dendalah,  angamuk tugêl  namanya.

Ada orang akan mencuri di rumah tetangganya, yang mempunyai rumah  akan dihajar, maka dendalah juga dinamakan  maling utama  namanya.

Apabila pencuri akan mencuri kuda atau hewan ternak lainnya, maka dendalah dan dinamakan  pakolih têskarana  namanya.

Ada orang memburu maling di rumah meminta tolong namun tidak ada yang menolong, yang memburu maling tersebut tidak tertolong  kagét wilungu namanya, / 71/  maka dendalah sama apabila sampai mati pencuri itu.

Apabila yang menolong termasuk penakut. Meskipun keluar  kagét kapênêtên  namanya.

Ada orang tertusuk kerisnya, tidak ada dendanya  kagét   kapilungu  namanya, itulah   maling têtiga, maling kabunan maling sadha, maling atimpuh, maling arêp maling umah, maling saji, maling katurima, maling kawanguran, maling têmon. Apabila ada orang lewat pada jalan yang tidak sepantasnya dilewati maka dendalah juga.

Ada orang bertengkar dengan orang lain, tanpa nasehat yang dikenai perkara itu dihadapkan pada suatu pembicaraan. Maka perolehlah hukumannya masing-masing.

Ada orang desa yang menanggung kehilangan kerbau umurnya satu bulan. /72/  Ki Pinaliwaran bertanya kepada Ki Samar ciri kerbau itu, Ki Samar tidak menjawab, Ki Awas bertanya lagi ciri kerbau itu, cirinya pipinya tergores, lidahnya terpotong, maka Ki Samar terkena denda karena kerbaunya tidaklah sama.

Apabila hingga tanggal satu tidak ada yang menerapkan saksi maka dendalah termasuk dalam delapan perkara, itulah  saru papraya.

Inilah denda  sinanahi, pura dhêndha rinupa suba, dhênda graména wika rawisuna, dhêndha wina duraja manggala,  artinya   dhêndha cinandhipura, tempatnya  dhêdha rinupa suba, dhêndha praména ingrawisun,  orang yang meninggalkan dunia, dhêndha rinaja manggala dhêndaning sang ratu. Janganlah berdusta dan janganlah kecewa dan janganlah berzina.

Inilah pertengkaran seorang perempuan dengan seorang laki-laki, tertuduh sebagai maling  /73/ di rumah keponakannya yang bernama Ki Dhadha, apabila dilepaskan ikat pinggangnya dan diikatkan oada maling itu, Ki Dhadha kemudian menangkapnya tidak dapat bertindak apa-apa. Maka si pencuri mati terikat dan terkena denda kematiannya itu.

Ada orang kecurian tanpa saksi, namun ia memelihara garangan (hewan seperti musang) putih. Musang itu menunggu rumahnya, hanya Ni Bramani yang ada di dalamya, sepi karena suaminya pergi, kemudian ditinggalkannya anak Ni Bramani dan dipercayakan anaknya dijaga oleh musang putih itu, Ni Bramanai pergi ke sungai. Maka ketika Ni Bramani pergi anaknya yang ada di ayunan di jaga si musang putih, kemudian datang seekor ular naga yang ingin memakan anak Ni Bramani, maka larilah Musang Putih mendekati ular itu, kemudian Si ular di makan lehernya oleh Musang Putih, karena ular hendak melukai anak Ni   Bramani.   /74/ ular itu mati. Dan Si musang Putih mendatangi Ni Bramani ke sungai, dari mulut Si Musang putih muntah darah, Ni Bramani melihat hal itu, maka ia berpikir bahwa anaknya dimakan oleh Musang Putih, Ni Bramani pulang dan menangis, dan melihat ke ayunan ternyata anaknya masih di ayunan itu. Ia  mendapati ada ular yang mati disebelahnya, Ni Bramani kemudian mengatakan kepada Ki Pura Karti, kalau garangannya mati juga, Ki Pura mengetahui dan tidak mau tahu apa yang terjadi , maka Ni Bramani terkena denda karena telah lalai, dan  menyangka Musang Putih yang memakan anaknya dan Musang itu mati.

Inilah   sadhadha kadhara,  yakni memperebutkan suatu perkara dan di hadapkan pada Gusti Mandana Sraya, ucapannya kepada Sang Dhadhang yang tidak dapat dihiraukan untuk semua rakyatnya  /75/ namanya tidak terlalu berlebihan, Patih Mandana Sraya memerintahkan semua hamba Tuhannya sebagai raja, apabila tidak maka orang yang ingkar namanya.

Ki Alon ketika malam datang pergi ke hutan untuk meburu singa, Ki Mali, Ki Badigul, berada di hutan itu pula maka  winadas kartané    /76/ dari ubaya kalah dari karta,  karta kalah dari supraba, supraba kalah dari saksi, kemudian yang diucapkanlah itulah namanya  éka basa,  dari mantri sekalian.

Apabila ada ucap di bawah pintunya Ki Badigul, maka terapkanlah denda. Janganlah kamu menyangsikan ucapan, seumpama tidak percaya artinya samurcaya , jangan kamu mengumpat artinya  séwanya,   jangan kamu mejatuhkan ujung pisau , apabila belum dapat merasakan seperti matahari yang menandai jatuhnya ujung pisau itu. Apabila tempat itu benar adanya adalah sebenar-benarnya ucap  /77/ itulah ujarnya masing-masing.

Inilah ucap Pangeran Senapati Jimbun, dimana banyaknya perkara tiga puluh tujuh perkara, pemutusnya sepuluh perkara tingkah-lakunya durjana, siapa yang tahu akan segala nama durjana.

Inilah perkara yang pantas Sang Prabu putuskan, tidak boleh diubah, meskipun ayahnya sekalipun.

Inilah perkara lima pemutus  /78/ apabila ada rumah yang mempunyai rumah beserta isinya mendapat amukan dari durjana, kembalikanlah hal itu kepada pemutus perkara yang akan mengenakan dendanya.

Inilah pemutus dua belas perkara, yang ada dalam  salokatara, tarka  dari   patra, patra  dari  saksi, saksi  dari  bukti, bukti  dari  satmata, satmata  dari  cina, cina dari   nyamana, nyamana  dari   pramana, pramana  dari   ubaya, ubaya  dari   purusa. Tarka itu artinya tulisan yang dapat memberikan pengetahuan pada yang bersalah.

/79/  Arti tetulisan dari yang pengarah, arti  satmata  yang banyak mengetahui, arti   nyumana  keluar dari tulisan, arti dari  purusa   adalah perintah, arti dari  léna tidak menghiraukan perintah ratu,arti   kaliganata  menyalin batu.

Inilah keberadaan saksi empat perkara,  saksi utama  yang mengerti akan tiga perkara, saksi  pramana  saksi lain yang berani dengan saksi orang mati, tanpa menjadi saksi sudra yang bersuara.

Inilah kasta dua perkara, ada pencuri yang dinamakan pencuri, artinya meskipun membawa senjata, apabila ada pagar yang rusak pada malam hari maka dinamakan maling juga.

 Inilah arti agama yang dapat mengalahkan segala keburukan, agama kalah dari adigama, adigama dari toyagama, toyagama dari purusa.

Inilah arti ju- /80/ gul mudha,  tidak ada ujar yang artinya  karta basa,  yaitu capannya sendiri apabila buruk katakanlah buruk, apabila baik katakanlah baik. Itulah nasehat  raja niti  taatilah ucapnya.

Inilah arti  raja kapa-kapa , ketahuilah pada tempatnya, inilah arti  sadi, amatilah segala tingkah lakunya dan ucapannya, apabila baik amatilah, dengarkan dengan seksama ucapannya, itulah  pamiarsa lokika  perpaduan antara bahasa.

Arti   kuthara,   amatilah dengan sekasama mana yang benar, inilah sebenarnya biaya gadai, arti  caya murcaya,  apabila ada di dalam pertengkaran itu  ada salah satu yang meninggal maka putuskanlah  /81/ hukum Allah artinya salokatara,   ajarkanlah dalam kebaikan maupun keburukan yang bertengkar itu,   apabila buruk maka buruklah apabila baik maka baiklah.

Apabilah Si corah pajaknya 20000.

Apabila tergugat pertama pajaknya 14000.

Apabila  Si kaonang-onang  pajaknya 20000.

Apabila   Si kacorah  juga dengan  dhêdukun   kéwala   yang tidak tunduk pada tuannya, maka ketiganya dikenakan pajak 40000.

Apabila si  dhêdukun  keduanya pajaknya 3000.

Apabila si  dhêdukun  satu orang, apabila berani maka pajaknya 5000000.

Dhêdukun   tidak berani maka sama dakwaannya dengan orang yang sakitpajaknya 5000000.

Apabila terselipkan maka dendanya 1000.

Apabila si  corah-corah    tidak dapat berujar pada dukun maka beritahukanlah pada seorang laki-laki pajaknya 40000.

Apabila   corah-corah  yang kering dan perempuan pula maka pajaknya 90000.

Apabila laki-laki yang belum berumur lima belas tahun pajaknya 90000.

Apabila tidak  kaonag-onang  dari dukunnya apalagi sakit maka  /82/ pajaknya 150000.

Inilah laki-laki yang dituduh membunuh pajaknya 50000.

Apabila perempuan yang dituduh membunuh maka pajaknya 350000.

Apabila didakwa merampok pajaknya 15000.

Apabila didakwa berzina pajaknya 15000.

Apabila  si corah, merampok, berzina, membunuh,maka orang itu mendapat  denda pula. Apabila ada orang yang berhutang tanpa membayar maka dendalah juga.

Apabila ada orang yang tidak patut kemudian mati, maka saudaranya terkena denda pula.

Apabila jejaka menangkap perawan maka pajaknya 14000 dendanya 230000.

Apabila menangkap orang rumahan pajaknya 30000, dendanya 250000.

Apabila istri tidak menjalankan tugas istri maka pajaknya 10000. Itulah nasehat Kanjeng Sultan kepada Kyai Angabei Diranaka. Terdapat tiga perkara, dua orang di antaranya, ketiga terduga, keempat grahita.

Apabila ada orang berzina jejaka dengan orang yang belum mempunyai suami, apabila telah menjadi  kawula dalêm  (abdi dalem) maka tebusannya 15000.

Apabila yang diperintah telah ada pada peristirahatan terakhir, apabila abdi dalem menikah meskipun laki-laki, ataupun perempuan  meskipun dari kanan atau dari kiri, berpergian tanpa kembali maka telah menjadi orang yang bebas kembali.

Apabila ada orang masuk ke dalam rumah pada malam hari. Tidak ada pintu yang terbuka tidak ada barang yang hilang, maka tangkaplah ketika ada suara kentongan, Ki Dergul dijatuhi denda 88000,dan mendapatkan 24000, karena menghiraukan orang yang sedang dalam bahaya  /83/ Ki Corah meminta kerisnya Ki Bégal namun tidak diberi, sampai-sampai di jalan kematian Ki Jukara dan Ki  Sawah, dan Ki Agas yang kemudian ditutupi dengan rumput. Sebab didapati mencuri ikat pinggang Ki Sayab. Ketika di rumah Ki Saeka berbicara kepada Ki  Sakara, dan Ki Saprana menyembunyikan, Ki Corah, Ki Kutil, Ki Sayab kemudian menghadap kepada Gusti Patih Mandana Sraya. Maka yang terdakwa membunuh dikenakan denda 88000 banyaknya, dan ketiganya terkena denda 44000.

Inilah kisah Ki Sakara hita, Ki Saprana yang merampok di jalan menuju hutan. Apabila malam datang dan ada suara kentongan yang ada di kebun /84/ maka Ki Bapang kemudian mempersiapkan keris, Ki Awisayah yang bersiap untuk merampok rumah Ki Garadhah, maka berdosalah dan Ki Astaka yang mencari istrinya karena takut kehilangan.

Terdapatlah  Mandala,  bernama Ki Danara dan istrinya, Ki Tata mendatangi anak Ki Garadhah yang kemudian melamarnya dan meminta sawah, namun tidak diberi Ki Lalaki itu kemudian terkena denda 88000, dan mendapatkan besarnya pajak 44000.

Inilah Sang Bramana Sakti, yang mencoba pergi ke Kerajaan Mêdhang Kawulan yang berada di desa Ki Wipawikêna,  /85/ yang mempunyai anak, Duka Lani Asih namanya, Sang Bramana takut akan kehilangan anaknya yang sudah menginjak dewasa. Patih Turtabasa ingin menikahi anak Sang Bramana Sakti dan ia meminta kepada Patih Mandana Sraya, maka Sang Bramana Sakti dipanggil menghadap / 86/  Patih Mandana Sraya berbicara pada Patih Karta Basa, dimana Ki Wigna bertanya pada Ki Pamirêksa dan akhirnya dibuat kesimpulan Rêkyana Patih Mandana Sraya berkata pada Sang Bramana Sakti namun ia menolaknya dan kemudian Sang Bramana Sakti dijatuhi hukuman.  /87/   Istri Sang Bramana, Ni Duda, Ni Asih, Ni Tilam menjadi sedih.

Inilah sabda Gusti Yumana, tidak dapat dihiraukan apalagi ditinggalkan. Apabila ada orang yang keluar dan mesuk ke dalam rumah anaknya, dan semua Istri Yumana, Ni Manisan, dan Ni resm menjaga  lambang saluka janma,   mereka berada di dalam  /88/ dan ada orang ya ng bermaksud mengambil lambang itu, dan Ni  Resmi segera melapor kepada Patih Mandana Sraya dan mendapati perintah tetaplah jaga lambang itu. Maka ketiganya tetap di sana dab tidak boleh meninggalkan sedikitpun tempat itu.

Ki Pandugalan berpapasan dengan Saudaranya Ki Warna, dan di ajak menuju rumahnya. Ki Gula dengan ketiga istrinya Ni Sari, Ni Pasar, Ni Resmi.

Ki Galuga berkata kepada istrinya apabila nanti memang ia akan meninggal, maka jangan berlarut dalam kesepian. Ni Resmi kemudian berlari ke belakang umah, Ni Pasar juga berlari,ke Ki Kaluga, ia tersenyum maka mereka menghampiri Ni Resmi, suami istri itu  /89/ menghadang Ki Warna dan  Ki Susur kemudian menghampiri, akhirnya saudaranya itu mati. Dan Ni Resmi kemudian merangkul Ki Galuga, namun ternyata Ni Resmi juga mati, dan Ki Susur ikut mati juga, sementara Ki Warna juga mati, Ni Pasar, Ni Sari kemudian pergi ke  rumahnya. Apabila ada empat orang yang mati,Ki Galuga kemudian berbicara  kepada Ni Pasar, Ni Sari dan akhirnya mereka mendoakannya.

Ki Anggas dititipi barang Ki Warah, namun kemudian Ki Anggas membawanya pergi  karena malam telah tiba ia menginap di sebuah rumah, kemudian suara orang banyak datang  /90/ dan oleh Patih Mandana Sraya Ki  Anggas mendapat denda 80000, seorang mendapatkan denda 10000 dinamakan anggaswaran.

Ada orang kota yang berjualan di kota tidak mau melaksanakan perintah  Gustinya, dan akhirnya ia berhutang tidak ditenus dan tidak mempunyai rumah, maka dihukumlah karena tidak membayar.

Ada orang berebut barang yang telah digadai, apabila rusak barangya maka hilanglah hak milik dan didenda 150000, namanya  sapakantuk pradananya.

Ada orang yang berguru kepada perempuan, namun tidak dihiraukan padahal orang itu telah beristri maka terkena denda 440000 /91/ dan mendapat 20000  kakali baya  namanya.

Apabila ada orang yang berkata kasar kepada istrinya dan saudara lainnya maka laki-laki itu terkena denda 44000, dan besarnya 20000 disebut   akarya bau dasta. Ada pemutus tiga puluh lima perkara,  anyawadi, sêlawadi, anyadi, akirya dé, nauasaksi, èka saksi, aprasondha saksi, anirma pandaya, angrisak saksi, angêwuni sapralaya, angrupanga pradana, amuwang linggar, amêt umpingan,  tanribaya, sabda purusa, angrusak sari, sangkuthila amêtarka, angrusak  kramaning arta, bramana angangsi utang, awilutara, nistha amêtu pingan, winaka alihgan arta, purusa angrusak taman, kacorah anirmakakên utang, sabda purusa, kaocarah prasandha, kalih gaprapana, kalingga ngalun-alun, anglindungi purusa, anira pradana  /92/  angingtan wrruhi baya, abima paksa  arusak pradana kawruhing arsa, adhudhuk apus kapêndhem, anir nali   gabujagêm, akarya dési, angangasi utang, ajaluk kaliwang, pulihna ingna wagatra paramarta, dora sangkara, ina pradési, salukita prata, saksi bukti pramana,  itulah yang disebut dalam pemutus perkara dari  karta.

Inilah tujuh perkara, perkara orang yang didakwa karena istrinya yang memulai, pertengkaran orang yang berhutang, pertengkaran orang yang memotong saluran air orang lain, maka dihukum paling tidak tiga bulan.

Ada pertengkaran antar saudara, termasuk dalam hukuman dua bulan. Tiga perkara itu  /93/ dapat di denda 44000 dan kurungan satu bulan.  

Ada orang yang memaki orang dan menghajarnya maka mendapatkan denda 24000, termasuk dalam perkara hukum.

Ada orang yang melihat orang yang sedang berjalan pada jalan yang sepi, dan mencurigakan maka ditetapkan denda oleh raja 24000, disebut  kalêbêting dasthi.

Apabila ada seorang perempuan, apabila ada orang mengaku kehilangan burung maka hadapkanlah pada pembicaran kepada Ki Dharsa Pabêksa empat  perkara, salah satunya adalah durjana yang didakwa menjarah barang orang lain, apabila ucapan durjana itu tidak benar maka terapkanlah denda. Apabila tidak ada saksinya  /94/  maka tidak menjadi masalah apabila tidak ada saksinya.

Inilah orang yang menemukan penerang jalannya, tidak ada suatu apapun yang menghalangi, ia kemudian menemukan tali yang tergantung maka dendalah orang yang didakwa menggantung orang tersebut dari jaksa 1400000, jaksa memberikan denda 150000.

Ada dua orang bertengkar, salah satunya telah dihukum oleh jaksa, dan musuhnya juga terkena denda 150000, disebut  ékawarna,  apabila yang teraniaya tahu akan hal itu maka hukuman telah berlaku dan telah adil. Apabila /95/ meninggalkan anak istrinya Rêkyana Patih berkata pada patihnya dan tangkaplah si katak hijau, jangan sampai dibunuh Ki Arya Sêba, terapkanlah pada aturan yang ada.

Orang itu layaknya matahari yang bersinar menerangi Negara Mêdhang Kawulan dari Majapahit, yang sentosa makmur akan emas, terdapat dalam pembicaraan Sang Prabu.

Ada peraturan di Negara Mêdhang, dimana /96/ Ki Soma sampai pada rumah saudaranya Ki Radité, Ki Soma bertanya kepada Ki Anggara.

Apabila mendapat emas maka berikanlah kepada Ni Anggara, yang ada pada rumahnya Ki  Lêksana, apabila Ki Soma mendapatkan emas itu jangan disimpan karena akan didenda. Ketika malam Ki Lêksana melihat emas hilang dan ketika dihampiri ke rumah Ki Radite. Kemudian kepada Rêkyana Patih emas itu memang hilang, ia kemudian diam sebentar  /97/ kemudian di alun-alun Radité pulang menujun rumah istrinya.

Apabila menemukan tanda kepada Nini Anggara berikanlah kepada Ki Lêksana, ucap Rêkyana Patih. Apabila melihat orang di alun-alun sampaikanlah padanya jangan sampai pergi ke kota, nanti apabila si lêksana tertangkap maka para mantri sekalian akan bertanya kepada istrinya, Ni Anggara ada di dalam rumah, Ki Lêksana tidak akan mati Gusti Patih  /98/ namun katanya Ki Lêksana telah menjadi durjana dan didenda 80000.4000 disebut  somaradité anggara kasih.

Apabila Lêksana menjadi durjana, ia kemudian dipanggil karena Ki Bujaga kehilangan istrinya, Ki Aryasupêna mengaku meninggalkan emas. Raja  Keputrian tinggal di dalam Ni Esih dengan Ni Raras, kemudian dijatuhkan perkataan tidak boleh pergi kemana-mana.

Ada keinginan untuk merusak keputusan, ia mengaku kehilangan Ki Bujaga menghadap kepada Rêkyana Patih dan disaksikan para penjaga /99/ semuanya. Maka mendapatkan titah Ki Bujaga.

Ada ketetapan denda 80000.4000. dan dijatuhkan 40000, karena mengaku pertanyaan dari Ki Sudra Pralaya, yang mempunyai pekerjaan Ki Wisuna, Ni Praya, Ni Aku pulang ke rumah. Ki Udapraya menagih kepada orang yang berhutang itu satu  kêthi  lima  /100/  lêksa, Ki Arya Rudita menagih kepada Ki Wisuna, tidak mengaku dan berkata kepada Kyai Patih dan  Ki Udapraya, Ni Praya, Ni Aku, menghadap kepada Rêkyana Patih, Ni Praya, Ni Aku bertanya kepada para penjaga dan bertanya kepada Ki Wisuna.

Ni Udapraya mendapatkan denda 40000, menghadap kepada Rêkyana Patih Mandana Sraya yang memerintah di Mêdhang Kamulan, benar tidaknya Ni Wergul kemudian bertanya kepada Rêkyana Patih.

/101/  ada kijang yang menginjak anak Sang Pragul kemudian mati, para penjaga mengetahuinya, Sang Kijang menyamgkal dan tidak mengetahui apa-apa katanya. Anak yang mati tadi kemudian diiringi bunyi gamelan dan ucap Ki Manyura.

Ki Wara mendatangi sang kijang dan pergi membawa hewan. Ki Wergul  dari perkara itu mendapatkan denda 40000.

Inilah Sang Kamala Jati, berada di Nusakambangan mengetahui Negara Mêdhang Kamulan. Dimana Patih Mandana Sraya yang berkuasa di jagat, Sang Ratu Jayakomala, nyata akan Negara Mêdhang kamulan, ucapan Sang Ratu Penguasa Jawa merpakan perintah dan harus dipatuhi, karena sabda Ratu adalah Wahyu Tuhan.

Inilah perintah Patih Mandana Sraya, ucapannya sampai kepenjuru dunia, sang Prabu bagaikan hujan yang turun ke bumi, bagaikan api yang menyala di dalam air, ketahuilah para umat sekalian, hal yang pasti itu adalah yang berasal dari perintah Tuhan.

Yang tidak pernah akan berubah, itulah ucap Rakyana Patih Mandana Sraya, Sang Ratu Nuswakambangan pergi dan berujar kepada Rakyana Patih. /104/ Seperti pada tanaman  yang dimakan oleh burung, meskipun berkurang tetaplah pada panennya, janganlah menuduh kepada yang belum ada buktinya, menjadu jurang antara kaliyan para laki-laki dan perempuan, dan jangan berjalan ketika malam hari datang.

Ki Carub bertanya Ki Banyu, kemudian Ki Lulur, membicarakan matinya Ki Wulikan, anaknya Ki Kalubuh yang mati di jalan di temukan orang banyak. Ada orang yang pulang menanyakan kepada orang agung dimana orang agung semuanya, mendapatkan denda 40000.40000. sama halnya dengan yang perempuan, para pembantu berbicara kepada Rêkyana patih dan semuanya tertunduk dan diam.

Inilah perkara Ki Tunggakwaré dan Ki Juraganlun adil  /105/ Ki Tunggakwaré kehilangan barang dan diselesaikan dengan clurit, apabila kecurian dan ia mempunyai anak perempuan bernama Ni Ésih dan Ni Sari. Dilamar oleh Ki Yungan dan ditanyai oleh Ki Alun saudaranya, seisi rumahnya habis, Ki Alun pergi menghadap Gusti apatih dan melaporkan ia kehilangan, maka apabila mempunyai anak yang telah dilamar oleh Ki Uga dikenakan denda 40000. 4000.

 Ki Udang  putrinya pulang dan menangis  /106/ dan ditanyai kepada Ni Rondho dari Rêkyana patih, dan disaksikan oleh para pembantu sekalian, bertanya Ni Rondho. Malah semakin menangis, Ki Udang bertanya lagi, maka putri itu ingin menemui ibunya namun Ki Udang tidak memperbolehkannya, maka didenda 40000, pajaknya 2000. Disebut  bara-bara tan oléh lara amréréni. 

Patih Mandana Sraya berbicara kepada Patih Kêrtabasa dan disaksikan mantri semuanya, bagaikan pepatah  sêmbada gêlap tanpa udan, sagara ngawang, gêni murub ing papadhang,  ujarnya dalam  subasita,   selalu waspadalah kepada keburukan karena akan mendapatkan apa yang  yang menjadi balasannya nanti.

Inilah perkara yang mendapat denda 40000. Apabila pencuri membawa  barangya dan dititipkan kepada orang lain dan masih saudara, saudaranya menerima denda 4000. Semuanya berupa uang 12000. Saudaranya dan pencurinya 24000. Dan ada lagi  /108/ apabila yang mengaku kehilangan maka terdenda 24000. Dan pencurinya 12000. Inilah  astacorah  delapan perkara banyaknya, terapkanlah pada pencuri lagi, dan tingkah pencuri itu sangatlah buruk, Jaka Makah memergoki pencuri, dan akan dibunuh, anak istrinya berada di dalam. Ujar Ratu apabila mempunyai hutang maka lunasilah, apabila perempuan enam ribu, apabila laki-laki empat ribu.

 Inilah aturan denda pencuri mendapatkan pajak 10000, apabila tidak mengganti barang yang rusak maka terkena denda 10000.

Inilah peraturan orang yang menghiraukan perintah Sang Prabu, apabila salah dalam bertindak maka terkena dosa, dan didendalah.

Inilah tingkah  /109/ pencuri, bersembunyi di dalam rumah dan hendak membunuh, maka dendanya 8000, apabila merusak pagar 2000, mendapat denda 4000. Mendapat pajak besarnya 1000. Mengambil dari ruma, itulah pemutus perkara pencuri mendapat pajak 8000.8000. apabila perempuan mencuri maka didenda 4000. Apabila mengambil keris dan kemudian membunuh maka terdenda 8000. Keris itu kemudian disimpan. Apabila dititipkan terkena denda 2000, harga kuda 10000. Apabila kuda yang dikurung dan dicuri oleh perempuan itu terkena denda 4000. Apabila sapi yang dicuri dendanya 6000, harga satu sapi 3000.

Ada orang yang berhutang banyak kepada anaknya, salah satu orang tuanya  mati, ada yang kemudian menagih hutang kepada salah satu orang tuanya dan tidak menunggu anaknya datang.

Ada orang yang berhutang anaknya tidak engetahuinya, dari orang tuanya  itu maka orang tuanya yang wajib melunasinya.

Ada orang tua terkena perkara karena hutangya, perkara itu kemudian diserahkan kepada anak laki-laki satu-satunya, apabila mempunyai anak perempuan maka dibagilah kepada anak istrinya dua bagian kepada Sang Prabu.

Inilah perkara orang yang mempunyai anak seorang pencuri, apabila ingin ditebus maka diterapkan padanya denda itu  /111/ dan berdosa namanya.

Inilah perkara berhutang, saksi yang mempunyai bukti apabila perempuan mendapatkan, apabila laki-laki dendanya diterapkan dari bapak ke anaknya,.

Ada seorang istri yang pergi dari bapaknya, dan mendatangi laki-laki lain, dan menjual harta laki-laki itu, maka bapaknya wajib menebus.

Ada orang yang terdenda oleh saudaranya karena air, apabila hutang yang ada padanya tidak dilunasi juga maka sama dengan mencuri juga.

Ada orang yang berani pergi ke luar negaranya dan tidak kembali lagi.

Ada orang yang berani tidak melunasi hutangnya dan kemudian pergi maka          menjadi orang  yang dicari.

Apabila ada orang yang menagih hutang kepada anaknya, dan tidak menemukan akhirnya meminta kepada istrinya. Ada orang yang lebih memberatkan melunasi hutang  /112/ maka lebih baik adanya.

Ada orang yang melunasi hutang sebelum ditagih, hutangya sudah terlewat sampai tujuh tahun, disebut  kapêrmanan.

Ada saksi yang berada menjadi saksi, apabila tidak ditagih dalam beberapa tahun  kadasa warsa  namanya.

Ada orang yang berhutang kepada istrinya sendiri, terbukti kemudian istrinya mati maka laki-laki itu juga harus menagihnya disebut  pancacandra namanya.

 Ada orang yang menitipkan barang dinamakan  pancasadarané,  kepada orang yang dicurigai menjual barang itu maka tagihlah kepada yang dititipi.

Ada orang yang berhutang, kemudian ditagih lama menagihnya kepada sang istri, kepada anak tanpa dilunasi hutangya  /113/   maka ketahuilah tetap harus ditagih.

Ada orang yang berhutang dan kemudian bisa dilunasi dengan kerbau, sapi, kambing, maka dapat lunaslah hutangnya.

Ada oarang yang mengambil milik orang lain, terbukti dengan tidak dilunasi hutangnya selama tujuh tahun lamanya, tidak dipaksa untuk melunasinya maka tetap harus dilunasi hutang itu.

Ada orang yang berujar amal perbuatan bisa hilang apabila pagar kebaikannya roboh, apabila laki-laki maka terapkanlah pada hukum Allah  /114/ seperti pada hukum Burhan, amal yang ghaib akan didapatkan apabila Hukum Burhan dapat diketahui, mengambil dari Kitab Rohkhullah, seperti ujar laki-laki ang tidak mau berbuat keburukan, maka dengarkanlah bahwa hukum burhan dan ujar itu. Akan ada orang yang tidak terima dengan ujar kebenaran, inilah ujar yang mengambil dari kitab bayad fakawi.

Bismilahirahmanirakhim 

Allahumma rukughu, risikughu, wa ismaghu, ngalaèka wa barkatu warahmatu, birahmatika yamarkhamarakhimin .

Inilah /115/  doa sakêthi.

Allahuma rukughu, risikughu wa ijra ilaya jabana ila.  donga salêksa.

Inilah peringatan nafsu luamah, berawal pada mulut, sampai ke usus, kendaraannya gajah, tandanya empat malaikat.

Nafsu amarah, berawal pada telinga,  sampai pada paru ,  kendaraannya   mata, tandanya api neraka.

Nafsu supiyah, berawal di mata, sampai pada hati, tandanya mandhala giri, kendaraannya naga.

Nafsu mutmainah, berawal pada hidung, sampai ke jantung, tandanya putih, kendaraannya perasaan ingin tau dan marah.

Tanda tamatnya penulisan, hari Kami  Pon  tanggal sembilan, bulan  Sêla tahun  Èhé   wukunya   Kuruwêlut , angka tahun. 1612. Tamat. @@@

 

 

 

SERAT NABI YUSUP


PUPUH I
ASMARANDANA

 1. //Ngyateki milya hangawi / carita Yusup ginita / marmaning ginurit mangko / carita sinungan tembang / tembang asmarandana / kasmaran isun angrungu / tutur Nabi Yusup ika//

2. //Takabeteng tuna sarik / luputan ing sardhya ila / duluren ing Yang ta mangko / singgahen neng ngagama / tuduhe nang marga dursila / tuduhan nang marga ayu / luputa I sarwa cipta//

3. //Singgi Nabining Yang Widi // kaliwat sih ing Yang Sukma / ing Bagendha Yusup mangke / andikanira Yang Sukma / mangke ing dalem Kuran / Mukammad rengenen iku / caritaning Yusup ika//

4. //Luwi abecik sireki / saking carita lyan ika / kocap ing jro sastra mangke / ana wong kapir ing Meka / angucap ya Mukammad / sun anggawa tulis iku / ujaran dhe andhe ika//

5. //Ya ta rawu Jabarail / dhateng ing Nabi Mustapa / bakta surat Yusup mangko / maring sira rasul ika / neher sira angucap / punika ta Surat Yusup / nugrahanira yang sukma//

6. //Pandhita satenga mali / natkalaning rasul ta mangko / angaos Kuran ta mangko / ya ta kapir ing Meka / amet upaya ta sampun / angundang mangke sanema//

7. //Saking desa Ajam / iki den kon amaca saloka / areping brahala mangko / supaya ya na ngrungua / ing rasul ngaos Kuran / ya ta Jabarail rawu / dhateng ing Nabi mukammad//

8. //Ratu raja brahala prapta / surat Yusuf den wacaa / ujari pandhita mangko / natkala Nabi Muhammad / amangku waya ira / ingkang nama Husen iku / kalintang sih asihira//

9. //Ya ta tumedhun Jabrail / dhateng ing rasul punika / neher mojar sira mangko / dhateng ing Nabi Mustapa / salamira Yang Sukma / dhateng ing tuwan punika / tuwan na si putu tuwan//

10. //Sampun ia pangeran singgi / anitaake ta raja / kang ngamatenana mangko / ing waya tuwan punika / den sumbele patinya / kaya mbunu mindah iku / tingkahe ing putu tuwan//

11. //Ya ta sapa myarsa neki / karunaha sru ta sira / patima karuna mangko / kaliwat priyatinira / ya ta Jabrail prapta / marek maring Nabi Rasul / mawa surat Yusup ika//

12. //Tan kocapa laraneki / Nabi Rasul ing potrakan / muwa putrani ra mangka / tan kuningan denira / laranireng ngatmaja / wonten gantiyaning wuwus / Bagendha Yusup kocapa//

13. //Ingkang putra Yakub iki / kang nama Yusup punika / Bagendha Yakub ta mangko / kang putra Bagendha Ishak / kuning Bagendha Ishak / kang putra Ibrahim iku / ingangken mitra dening Yang//

14. //Sampuning mangkana mali / Bagendha Yusup asanak / jalu lan istri ta mangko / tunggil saibu sarama / Abuyamin kang nama / Jani kang istri ranipun / ingkang tunggil sebu rama//

15. //Lan anak tiga alit / katilar ing ibunira / kaprena ari ta mangko / sira Buyamin ing nama / titiga sabakira / ingkang sanakira / ingkang wus tanpa ibu / titiga sanak sarama//

16. //Kabiran lan Sirarail / kaprena sanak denira / Bagendha Sueb ta mangko / kaprena sanak denira / Bibining Yusup ika / sanaking Bagendha Yusup / Bagindha Sueb punika//

17. //Sanak Nabi Yusup iki / sapulu tunggal sarama / kaprena sepu ta mangko / kang pambayuna maneka / samaun sira laweku / ruya yalun sendhineka//

18. //Mali sumendhi sireki / sira asjar sira badan / sira nal ika ta mangko / sira jadun sira arsa / nanging ngora na memba / ing warnane Nabi Yusup / ika nanging pekik dhawak//

19. //Kulintang sira apekik / Bagendha Yusup ing rupa / tan ana atumandhing mangko / sejagat I warnanira / tanduk patitisira niruting siraranya lus /lir widadari ing syarga//

20. //Pamulu lir mas sinangling / muwalekering wadana / sumanu lir wulan mangko / purnama kartika padhang / wadya yaya mutiara / yen mesem lir penda juru / madu sampun pinasthika//

21. //Liring ing netra amanis / wadananira pinangka / tatambaning ngagring mangke / tumingala yakti waras / pan sira tan samanya / kakasihing Yang puniku / sakti tur bakti Pangeran//

22. //Kaliwat sihing Yang Widi / ing Bagendha Yusup ika / muwa ram arena mangko / kalintang asi ing sira / tan kena yen pisaa / sanlika tan iyan ketung / sihira ing putranira//

23. //Ri sampuning lami lami / Bagendha Yusup awaya / rohelas tahun ta mangko / dadya aguling ta sira / sinangulu ing rama / angimpi Bagendha Yusup / aningali mangke sira//

24. //Angimpi sira ningali / srangenge kalawan wulan / lintang sawlas kathahe / samiyan sujud I sira / dina malem Jamangat / datkalaning ngimpi iku / Yusup murub tiningalan//

25. //Awungua pajar iki / bapa amba anyupena / wulan lan srangenge mangke / kalawan lintang sawelas / Nabi Yakub ngandika / menenga kakyanak isun / aja umung impenira//

26. //Sampun ing pinajar / Bagendha Yakub ta sira / karuna alara mangke / awlas dtateng putranira / Nabi Yakub ngandika / paeuwan kakyanak isun / dera pajar sanakira//

27. //Pan wru Nabi Yakub iki  / wikana yen putranira / sami wru ing wahanane / impening Yusup unika / Bagendha Yusup ika / marma ing Bagendha Yusup / wedi dinengke ning sanak//

28. //Ataken Yusup ariri / tegese impen ing rama / rama pajaren ta mangke / Nabi Yakub ngandika / kaliwat kakyanak isun / becike syapenanira//

29. //Pinajar Yusup sireki / tegese syapenanira / dening ramanira mangke / dadi ratung tembe sira / kabe pra sanakira / kawisesa deng sangulun / kabe para sanakira//

30. //Lintang kang sawelas iki / wahanane sanakira / wulan lan srangenge mangko / wahanane yayaira / wulansira bu nira / sanak ta sawelas iku / sami asujud ing sira//

31. //Ngandika kang rama aris / sampun ta wru sira tuwan / panggungung si ing Yang Manon / sukuraken adenira / pramulening pangeran / estu supena nireku / mapan Nabi reke sira//

32. //Tatkalaning Yusup iki / apajar impen ing rama / tan ana ingkang wru mangko / nanging pameswarinira / Bagendha Yakub wikan / kawalon Bagendha Yusup / wikan pan angintip sira//

33. //Apajar ring putraneki / kang nama Samaun nika / Samaun apajar mangko / ing sanakira sadaya / sami mangkya ngandika / ing wisma sanak panggulu / ingkang nama Robil ika//

34. //Ginunem Yusup sireki / dening kang para pra sanak / sami ta karsane mangko / ayun amakeweana / mara ing Bagendha Yusup / samya taken ing syapena//

35. //Atut sira yayi nguni / atutur impening rama / yayi pajaren ta mangko / punapa ta mangko / punapa ta impenira / Nabi Yusup kemengan / ing mana yang ing kaetung / pamekase ramanira//

36. //Yen angucap ing ati / Bagendha Yusup kemengan / apajar impening mangko / dadya nirarken wewekas / yen ta na wewekas / ken anglinyok mangko isun isun / tan arsa linyoka//

37. //Ya ta sami mojar iki / kabe para sanakira / arsa matenana mangko / ing Nabi Yusup ta sira / kabe para sanakira//

38. //Mangkin sangsaya adengking / kabe para sanakira / amet cidra sangkanane / Yusup adowalan rama / sami marek ta sira / arsa angajakeng sira//

39. //Enengena sanak iki / sabda rasul kang kocapa / ing ngangsud angrusak mangko / lampa kang abecik ika / ta penda ban ing punang / anggesengi rebatake//

40. //Ya ta saprasanak iki / sami marek sireng rama / sami ngamitaken mangko / ing Yusup kesa bebedag / sarwi angon amindha / mapan saprasanakipun / kabe wus sinungan mindah//

41. //Sakathake putaneki / sinung mindah sewu sowang / anging Nabi Yusup mangko / sinungan nem ewu dhawak / mangke sayari sira / kabe saprasanakipun / ars bakti abebedag//

42. //Sapa miyarsa nireki / aturing putra sadaya / kang wadana wenes / gumeter ing angganira  agathir wajanira / wikan ta Bagendha Yakub / yen ing ngupaya kang putra//

43. //Sasampuning marek sami / kabe para sanakira / hapti angapus samangko / angajaka abebedag / in Yusup kang pra sanak / amiting putra sira wru / yen kang putra tan yuktiya//

44. karana Yakub sireki / Nabi sinung pengawasan / dening Yan tan katon ngandika / ing putra samadaya / tan pawe yen anakisun / sira gawa abebedag//

45. //Tanpa pawe isun maknawi / dinemak ing asu alas / sinreng Nabi Yusup mangke / dening kang raka sadaya / amba kang angraksaha / mangke ing pun Nabi Yusub / aturing putra sadaya//

46. //Sampun ing mangkana mali / Bagendha Yusub binakta / dening kang pra sanak mangke / me praptang sireng wana / anututi Nabi Yakub / neher anguntab ing marga//

47. //Tur sira sarya mengeri / Bagendha Yakub ing putra / cuwan tan karaksa mangko / poma pacuwan pepeka / kaliwat isun marma / mangke ing Begendha Yusup / semang dinekening sanak//

48. //Nengena putranireki / kocapa sabda Yang Sukma / praptang Nabi Yakub mangko /  kulehe sira ta asra / ora angandel sira / mangko ing pangraksan isun / kaliwat kasi iba sira//

49. //Enget Nabi Yakub iki / yen luput tumulya tobat / angrasaking cipta mangko / ya luput ing sabdanira / ika karanya tobat / pijer amengeti putra//

50. //Kocapa Yusup sireki / ginanti sinunggi sira / dening kang raka sakabe / tatkala katon ing rama / sanak kang istri ika / angimpi Bagendha Yusup / tiba ing cakeming macan//

51. //Dadi amiyarsa warti / Yusup binakta bebedag / dening kang pra sanak mangko / malajeng nututi sira / tinutaken ing rama / nangis wal sing Nabi Yusup / sanak kang istri punika//

52. //Kang rama ngandika aris / I putra istri lingira / kule pun ta sira mangko / nini angangis alara / sumaur putranira / awlas ing pun Nabi Yusup / karanipun nangis amba//

53. //E nini sampun anangis / sumaur sira kang putra / e bapa pira semangke / pan nangis amba punika / lewi semene bapa pan nangis tuwan puniku / lepas tan kadulyang rama//

54. //Tan kocapa putra istri / kocapa make denira / putra kang ambakta make / ing Yusup kesa bebedag / sarawu I reng wana / arsa mejahana iku / ing Yusup kang para sanak//

55. //Yen sampun sira mateni / apti atobata sira / anedhaha ing yang Yang Sukma / ing tingka kang mangkana / punika manke Yang teku / saking panggere ing setan//

56. //Henengakena rumihin / dhateng pun ibelis laknat / anjenenging merab mangko / tumuli ta dera sapa / sapa siram ring amba / line pun ibelis isun / apajaring umurira//

57. //Saking tita ing Yang Widi / dhateng pun ibelis laknat / anjenenging merab mangko / tumuli ta dera sapa / sapa siram ring amba / linge pun ibelis isun / apajaring umurira//

58. //Awruan puniki / yen umuri ra ta tuwan / kantun kaliatus mangke / tumuli muksa pun laknat / ya ta sang tapa ika / amicara ing jro kalbu / lagi ake umuring wang//

59. //Anggur arerena kami / anuwukana sakarsa / akasukana ta mangko / yen parek mati atobat / lunga kang tapa ika / ya ta lampa dhustha iku / anuwuki karsanira//

60. //Ya ta mati anglampai / mahasiyat kang atapa / tan kahura tobat mangko / mangkana puara neka / ing wong lampa masiyat / ingkaraken tobatipun / punika puara sasar//

61. //Ya ta sapra sanak sami / sampun lepas lampaira / saking prenaira mangke / Bagendha Yusup  punika / sarawu inreng wana / tinedhunaken puniku / wae Yusup sing ngembanan//

62. //Ri sampuning raha tebi / Yusup sinangsara sira / dening kang pra sanak mangke / ingirid irid ta sira / ingunusaken pedhang / dening Samaun malayu  / angungsi sanak kang liyan//

63. //Ika pan arsa mateni / sadaya angunus pedhanga / kewrat tyasing Yusp mangko / dadi mesem siram ulat / ing sanak samadaya / sinapa Bagindha Yusup / dening sanak kang atuwa//

64. //Kang nama Yahuda iki / anapa kulehe sira / mesem apan pati mangko / kang sira dheaken iya / kulehe mesem sira / sumaur Bagendha Yusup / ing sanakira sadaya//

65. //Karanisun mesem iki / ana semuning Pangeran / ujaring Samaun mangko / paran semuning Pangeran / mangke kang praptang sira / sumaur Bagendha Yusup / unyaba ngandeling tuwan//

66. //Aningkarake sawiji / wiji pangawasa tuwan / sapa niayaya mako/  aniayaha ing amba / mangko ta sami sira / arep amateni ring sun / iku mula mesem amba//

67. //Angrasa kawele mami / amba angandel ing tuwan / tan angandeling yang mangke / ya to tiniban dening Yang / sisanak kang atuwa dadya wlas ing Nabi Yusup / yena sun kukuhi sira//

68. //Sanak sami mojar iki / ing sanakira Yahuda / kulepun to tuwan mangko / angowahi pangubayan ing nguni to mangkana / angandika sira Yahuda ora pinangka duduwa//

69. //Ing wong angowahi jangji / alaora yen duduwa / yen sira amaksa mangko / arep padha matenana / tanpa we isun iya / yen ira mateni Yusup / isun patenana denta//

70. //Meneng sami salin jangji / kabe para sanakira / ayun angleboke mangke / ing talaganira sadad / kocapa sang atapa / ing jro talaga sira wus sewu taun umurira//

71. //Kaum Nabi Yahud teki / kang atapa jro talaga / araning ngatapa mangko / Siraud mangkya ranira / wong alawas ing kung / marmaning atapa ngrungu / tutur Nabi Yusup ika//

72. //Sapolahe Yusup iki / lawan para sanakira / muwa rupa pekik mangko / ya to nenedhang Pangeran / wong atapa punika / ayun wru ing Nabi Yusup / sampun age mati amba//

73. //Ya to katarima iki / paneclhaning sang atapa / dening yang sukma to mangko / dadi amiyarsa syara / wong atapa punika / lungaya sira den gupu / mring talaganira sadad//

74. //Ya to lunga anglampai / punang kang atapa ika / mungging jro talaga mangke / sarwi akarya ibadat / punang atapa ika / kang pinangka buktinipun / wonten dalima sumadya//

75. //Lawan damar kurung singgi / tan ana sumbu lan lenga / gumantung tanpa cacanthel / sinadya dening Pangeran / ing wong atapa ika / samono kagunganipun / asi karana Pangeran//

76. //Kocapa Yusup sirek tinibaken jro telaga / lineboken kedhungnya jro / lumumpat sarwi to sira / sidhakep mekul jaja /  mengga to Bagendha Yusup / sarwi angungud ambekan//

77. Kapanggi sang atapa ing / jro talaganira sadad / mojar sang atapa mangke / e Yusup alawas amba / yoneng ing sira tuwan / alawas amba angantu / tan pinanggyaken lan tuwan//

78. //Asangan amba ni Yang Widi / isun anging sira tuwan / sampun sala cipta / mangko ing polahe sanak tuwan / kang anglampahi ala / sampun tuwan wreta iku / ing polahe sanak tuwan//

79. //Karana darmang lampahi / sapolahe sanak tuwan / Pangeran sangkane mangke / dadi aneng jro telaga / karana dning donga amba / nedheng Yang Ageng sun / apanggiya lawan tuwan//

80. //Sasampuning apapanggi / padhem kang atapa ika / mayid binecikkan mangko / pinendhem dening malekat / gumanti ginantenan denira Bagendha Yusup / enggening atapa ika//

81. //Tan kocapa Yusup iki / kocapa kang para sanak / sami angandika kabe / reanira awewreta ing sira ramanira / yen sampun Bagendha Yusup / pinangan ing asu alas//

82. //Sami ngambil cidra iki / karani tanpa i dawa / rasul kaning Yusup mangko / ing ngurapan ra ing mindah / pinangka cinanira / yen sampun Bagendha Yusup / pinanganing asu alas//

83. //Ya to sami mantuk aglis / tekeng prena waktu isa / nulya sami marek kabe / mangke dhateng ramanira / pra samya akaruna / matur yen Bagendha Yusup / pinangan i ng asu alas//

84. //Sami awewreta iki / analetek polahira / sami lelepasan mangko / kawula atotowokan / kantun pun Yusup dhawak / babak tan kabe den tunggu / ika mila ning dinemak//

85. //Amyarsa ramanireki / i pawartane kang putra / sawengi karuna mangke / kapati pati alara / mindel sira saksana / raina ing waktu subu / anglilir si ramanira//

86. //Sapanglilirira linggi/  tumingaling putra nira / neher angandika alon / kaya tan estu ing wreta / anak isun pinangan / ing macan kesa buring sun / ing sira kakyanak ingwang//

87. //Ya to tiningalaken ku / -lambining Yusup punika / kang apulang marus mangko / neher sapa ningalira / ing rasul kan pulang ra / karuna sira aseru sampun mindel tiningalan//

88.  //Mesem Nabi Yakub iki / ningal ira sukan ika / wutu nora sebit mangko / sami matur putranira / punapa pola tuwan uni karuna aseru / mangke gumujeng fir brangta//

89. //Kang rama ngandika aris / inguni karana ningwang / andeleng kulambi mangko / meles geti kayas tuwa / anak isun pinangan / ing macan dadi gumuyu / tumoning kulambi ika//

90. //Wutu ora na kang sebit / nyana nisun kabe sira / linyok kaponing wong mangko / pinangan ing asu alas /nora na kang sirnaha / muwasa panganggonipun / kabe mangsa na sirnaha//

91. //Mangkana ing wong marek ing / Pangeran mangko katara / kang katha masiyatnya wong / tandhane katha dosanya / kang tan anandhang dosa / abener agamanipun / dukaning cipta tan ana//

92. //Mangkana mukmin lumili / awake apulang dosa / kaya pola ing wong tumon / ing kulambi apulang ra / priyatine kaliwat / yen den dulu kalbunipun / abener tokide ika//

93. //Hang priyatin ing ati / dene angandel si ing Yang / pangapuranira mangko / kawula bener tokidnya / ya to mangko susirna / ilang priyatine sampun / dening angandel si ing yang//

94. //Putra sami matur mali / sadaya ing ramanira / singgi amba sikep mangke / kang asu alas punika / kang rama angandika / ia becik sikepen denmu / den ken aturena ing Wang//

95. //Mapan putranira sami / tan uning yen macan ika / bisa ararasan mangko / lan Bagendha Yakub ika / mapan lamon wikana / mangsa karsaha angatur / aken dhateng ramanira//

96. //Mangkana mali ing benjing / ing ari kiamat ika ingkang anglakoni mako / masiyat elinging tika / tinakonan sira ngas / tan angaku lakunipun / lamon agawe masiyat//

97. //Ya to tangane mangkyang li / angaku yen mahasiyat / sukune ngestoken mangko / lamon iya mahasiyat / mangsa anggaotanya / kabe pra samya angaku / kawele denya wak dhawak//

98. //Samya mangkat putraneki / abuburu asu alas / dadi to amanggi mangke / asu alas ika tuwa / untunipun tan ana / sinikep tinalen sampun / ingaturaken ing rama//

99. //Nabi Yakub ngandika ris / ing asu alas punika / kulehe to sira mangko / amangan rayalit ika / nora na welasira / amangan ing anak isun / kaliwat sialanira//

100. //Ya to tiba ing Yang Widi / punang asu alas ika / bisa ararasan mangko / anauri pangandika aturing asu alas / to ayen mangan atengsun / mangke dhateng putra tuwan//

101. //Sakeing dagi nging Nabi / kabe haram aning amba / mungga mba antuk mangke / dukaning yang abuktiya / ing Nabi Yusup tuwan / to ayen mangan atengsun/ kadya ture putra tuwan//

102. //Putra sami miyarseki / aturi asya las mangko / sika sami tumungkul to / mangke miyarsa aturing / macan Nabi Yakub ngan / dika ing macan yen sira weru/  kulehe nora awara//

103. //Asya las sumaur aris / wedi amba wewretaha / manawi ingaran mangko / angadu adu punika / denira putra tuwan / punika kawedi nisun / ing angadu adu ika//

104. //Ing king to miyarseki / wreta sakinge yang tuwan / sabda Nabi brahim mangke / wong linyok agung pataka / nepun agawok sira / Bagendha Yakub angrungu / caritaning macan ika//

105. //Dinukan dening Yang Widi / tan pinanj ingaken syarga/  ing angadu adu mangko / punika kawedi amba Nabi Yakub ngandika / ing macan asemu guyu / ing ngendi pinangkanira//

106. //Asya las sumaur aris / amba puniki mradesa / saking bumi Mesir mangke / angulari anak amba nengge kasikep ika / dening wong kang abuburu / macan awreta ing amba//

107. //Ujare awreta singgi / nengge reke anak amba / ayun den bunu amangke / ya to sapangrenge amba / wretaning macan ika / priyatin tan keneng turn pituelas diva amba//

108. //Tan anginum tan abukti / pituelas diva amba / liwat damanisun mangko / lara oneng anak amba / Bagendha Yakub sira / karuna sangsaya ketung / kangen dhateng putranira//

109. //Den angucapa ing ati / lagi asu alas ika / samono i larane mangko / apisa lan anakira / Nabi Yakub ngandika / sapira lagi to isun / sapisa lan anak ingwang//

110. //Ya to angandika aris / Bagendha Yakub ing macan / ana to sira wru mangko / maring anak isun ika / aturing macan ana amba tumingal pukulun / uni dhateng putra tuwan//

111 . //Nabi Yakub ngandika ris / kulehe nora awara / aturi macan mangkya lon / awedi amba wewreta / manawi ingaranan / angadu adu puniku / mangke dening putra tuwan//.

112. //Karana pitena iki / keneng dukaning Yang Sukma / Nabi angandika alon / sun panedhakaken / sira karanira panggiya / lawan anakira iku / mungga gelis tinemua//

113 . //Asya las sumaur aris / yen tuwan nenedha ing Yang / amba anenedha mangke / i Yang sangkanya panggiya / tuwan ian putra tuwan / sami anenedha sampun / ing yang Nabi Yakub ika//

114. //Kuneng Nabi Yakub singgi / mantu dhateng dalemira / macan punika mit mangke / Bagendha Yakub to sira / anenedhang Pangeran / raksanen pun Nabi Yusup / asungana rakmat den i Yang//

PUPUH II
D  U  R  M  A

1. //Ana carita sato manjing ing syarga / lilima kathaneki siji asu alas / kang bisa ararasan / lan Bagendha Yakub singgi kapindho ota / nira Bagendha Sali//

2. //Kaping tiga sona kang atapa turya / sihibul kaping mali / kang adrebe sona / kaping pat blagadaba / nira ji ping limaneki / lan ingkang kuda / Bagendha rasul iki//

PUPUH III
ASMARANDANA

 1. //Nabi kawamaa mali / kocapa mangke denira / Bagendha Yusup to mangko / tigang diva lawasira / ya to wonten adagang / sira Malik aranipun / make anakipun dahar//

2. //Abangsa wong arab singgi / nger nagareng Mesir sira / duk lagya lit sira mangko / srangenge kempi denira / manjing ing tanganira / den wetoken mangke sampun / srangenge sing tanganira//

3. //Den jenengake ngarsani / ra lan mali mega pethak / tiba sumamburat mangko / ya to dadya muteara / den pun pilihi muwa / den simpeni pethinipun / sapatangine angucap//

4. //Rasane impen inguni / kaya ing bumi Kanakan / enggoning srangenge mangko / tumuru kayang Kanahan / ya to maring pandhita / ataken wahananipun / impene uni punika//

5. //Apajar sawirasaning / impene dhateng pandhita / mojar sang pandhita mangko / nora sunarsa ing ngarta / tegese impenira / angita ing sitan isun  / abecik syapenanira//

6. //Sinungan dinar kakali / punang sang pandhita ika / ya to winartaken mangko / wahanane impenira / anemu tembe sira / rare pekik warnanepun / akatha ngaku kawula//

7. //Kalawan to suka sugi / dening rare iku sira / tumangki lir ira mangko / tan pegat sira ing ngucap / tekeng ari kiamat / dening barkate rareku / luput ing api naraka//

8. //Lan manjing syarga sireki / dening rare iku lira / kasugiyanira mangko / tekeng anak putunira / tekang ari kiamat / dening barkate rareku / lungaha angula tana//

9. //Sarwi adaganga kaki / den agelis sulatana / sing desa sasaken mangko / ruruhen aja kaliwat / mangka nguni mangkana / ana ing tegal alas gung / den agemet tula tana//

10. //Sigra mangkat tan asari / kang aran Malik punika / aken dhateng titiyange / kinen ngemota dagangan / winot mangke ing onta / sakehing dagangan sampun / adan mintar mangke sira//

11. //Anuju ing bumi miskin / rawu ing bumi Kanahan / mulat lor ian kidul kulon / we tan saksana tumenga / anedha kapanggia ni / pun ryalit puniku / dadya ana syara ngucap//

12. //Ujari syara mengeti / ing wong adagang punika / rareku norana mangko / seket taun tembe medal / sasaking ramanira / sapa miasane mantuk / Malik dhateng wesmanira//

13. //Henengakena sireki / polaira sang adagang / angrasa tan padon mangko / denira ngulati sira / ya to saya sru sira / denira ngulati iku / sampunira renge syara//

14. //Yanten wakyu ning Yang Widi / dhateng Nabi Daud ika / sisapa ngulati mangko / maksa ngulati mating wang / yakti isun kapendhak / lamon maliyan tinemu / sun wehi waspada ring wang//

15. //Aja to malaur iki / kang lyan saking isun ika / yakti sun wehi waspaos / asihi kawula iya / sasamining kawula / samono den temu iku / asihe karana dunya//

16. //Ya to ing taun ping kali / rawu mali kang adagang / anakira dahar mangke / kang aran Malik punika / maring bumi Kanahan / kuneng to sarawuipun/  ing alas bumi Kanahan//

17. //Sowara ing rencang neki / lamun sira anemua / ing rayalit ika mangko / kang sun ulati punika / sun pradikaken lira / saparo kakya artanisun / sun sungaken maring sira .

18. ya to mintar tan asari kawulaning sang adagang ing Bagendha Yusup mangko sira anang jro talaga ya to punang adagang sami aningali manuk samya angideri talaga//

19. //Sami anglayang wontening / ing saluhuring talaga / lir mungga kaji idhepe / kaya angideri kaba / tingkahing paksi ika / pan tansa jatining manuk / malekat ikang angraksa//

20. //Atunggu dhatenging Nabi / Yusup mulening Pangeran / nyananing adagang kabe / den sidep si manuk wakca / tan wru yen malaekat / mojar pun Malik tan asru / ing rencang ani likana//

21. //Sigra mangkat tan asari / kang aran pun Basir ika / aniliki sumur mangko ganda Nabi Yusup kongas / ameleg sing talaga / gandane marebuk arum / amelek ing grananira//

22. //Mangkana wong arep muli / marek ing sirs Yang Sukma / tan kena panggiya mangko / lamon durung ilang sinya / ing dunya ing akerat / ing jrone atine iku / mangsa kawasa panggiya//

23. //Ya to timbanepun Basir / dipun leboken ing toya / Jabarail prapta mangko / mari Nabi Yusup mojar / anjenenga ya kawula / mojar kang adagang iku / amba katelasan draham//

24. //Wonten si draham puniki / bagedak tur tatampikan / ngandika kang raka kabe / la iya yen tatampikan / endi si drahamira / dipun aturaken sampun draham woluelas ika//

25. //Salaminira puniki / kagugu mangke denira / yen reganira ing mangko / wolu elas draham ika / tur bari tatampikan / punika pinanggihipun / amuji ing awak dhawak//

26. //Draham sampun dinum iki / dening para sanakira / nangi ingkang sepu mangko / ika tan arsa dungduman / ingkang nama Yahuda / marma ing Bagendha Yusup / dinol dening kang pra sanak//

27. //Tan aningali sajati / ing wama kang para sanak / anging rama ibu mangko / tumingal jatining / warna warnanira kaliwat / ta sihing Bagendha Yusup / kali rama ibunira//

28. //Yen sungana aningali / denira Yang Maha Mulya / sanakira kabe mangko / yakti mangsa kawasaha / adrebe ya pangucap / yakti agawok andulu / yen wikaning warnanira//

29. //Sang adagang kocap mali / asung surata panebas / muwa para sanak mangko / asung surat ing adagang / Nabi Yusup binakta / dening adagang ing nguwu / huwu dening kang pra sanak//

30. //Aken ing adagang iki / balenana ya pacuwan / rareku ake celane / paminggatan linyokan / pama iku pacuwan / manawa iku malayu / pacuwan kurang prayatna//

31. //Miwa mangkana sireki / Yusup tan wrigati sira / suka anduluha mangko / ukuming yang prapteng sira / Nabi Yusup ngandika / aja age lunga laging sun / aningali gustining wang//

32. //Manawi tan mulat maning / maring gusti nisun ika / linge sang adagang mangko / asia gugusti sira / gusti nira / to ora asihing sira puniku / yaktine denedol sira//

33. //La den aran aran singgi / duk lira den dol ing ring wang / Bagendha Yusup lingnya lon / waya eng lakoni ala / pan nujune pinangka / sihe pamulene ring sun / sedheng yen den ranana//

34. //Atut dudu nisun uni / iya gusti nisun ika / sanak akaruna kabe / dening Yusup angandika / sapra sanak sadaya / awlas ing Yusup kaduhung / ing lampaira kang ala//

35. //Yen to tan ajriha sami / angrasa wiranging rama / ayun wangsul lena mangke / Bagendha Yusup ing rama / cipta ning kang pra sanak / kesa to Bagendha Yusup / binakta dening adagang//

36. //Sampun to dipun lekasi / dening abesi wan pelag bagus / ing sapakene gustine / ya to binalenggu sira / Bagendha Yusup ika / den wor ian titiyangipun / lan sakatha ing dagangan//

37. //Wonten kang winuwus mali / Sek Amkim warta andika / yen sira na mangko / anukmaken sawe mulya / winor ring tanpa mulya / kadi mutyara gengipun / sinukmaken ing gigiwang//

38. //Kasturi satya sutreki / sinukmaken kremi ika / madu tawon gone mangko / masala kawatu ika / aman pinrening dhadha / mangkana to Nabi Yusup / winor ian daganganira//

39. //Mangkana kang wisayeki / angambili tanpa mulya / denya yun angambil mangko / kang mulyaning jro kutang / mulya mangkana mali / kirtya saking wisaya puniku / ogya wistara ing kirtya//

40. //Muwa to sira Yang Widi / angamuleni ing iman / tan angamuleni mangko / ing nala reke Yang Sukma / mangkana mali sira / yang mule Bagendha Yusup / tan mule sirang dagangan//

41. //Sigra mantuk tan asari / kang aran Malik punika / ayu dhateng Mesir mangko / tenga wenging wayaira / bener ri pagulingan / kang ibu Bagendha Yusup / anjog saking tutunggangan//

42. //rawu Nabi Yusup aglis / ing ngastanane bunira / karuna sasambat alon / ibu kaula apasa / kalawan rama eyang / sapungkur tuwan puniku / pan keneng balah i amba//

43. //lbu tingalana singgi / nistha ing naning sarira / ibu kang asiya mangko / ing satingka amba muko / ika dadi angrenge syara / ning ibu saking jro kubur / anauri Yusup ika//

44. //trange netra isun sigi / wohe atinisun sira / Bagendha Yusup to mangko / sampun ing amyarsa syara / nira sire bunira / kasirep Bagendha Yusup / satingale besi nora//

45. //Den aturaken ing gusti / ne kang aran Malik ika / rare punika to mangko / sampun malayu to sira / sun ulati tan ana / mandheg sira Malik sampun / kinen sira ngulatana//

46. //Aja ge sira lumaris / mandhega sakabe sira / ake ning titiyang mangke ing / besi kang aran pelag / anututan neng marga / neher to Bagendha Yusup / katon dening besi ika//

47. //Singgi to dipun lekasi / nulya aglis pinaranan / dening besi pelag mangko / den kekengser tur den tepak / sarwi den uman uman / uni warahe gustimu / sira linyok paminggatan//

48. //Warahe gusti muhuni / tan sun idhep mangko sira / atut paminggatan mangko / palinyokan nyata sira / tagane paminggatan / sumaur Bagendha Yusup / ora isun kaki minggat//

49. //Muga mba nemua kaki / dukan ing Yang yen minggata / isun lunga mara marigko / ing jarate ibu amba / ya to dipun sangkala / mangke ki Bagendha Yusup / den unggahaken ing onta//

PUPUH IV
P A N G K U R

 1. //Tan kocapa sang adagang / kocapa to mangke dera sang kawi / munajat Bagendha Yusup / anenedhang Pangeran / ya tuwan kalamon ana dudu nisun / tuwan kang angapuraha / kang wru ing jrone tyas mami//

2. //Kedhep sapanedha nira / dadi yante utusaning Yang Widi / Jabarail aranipun / angucap mangke sira / paran karep to aneng bumi sang ulun / Bagendha Yusup ngandika / pangeran uga kang lewi//

3. //Kawru ing kawula nira / anging sira kang lewi bener iki / Jabarail mangke muwus / ran pun angucap mangke / muwus sampun, sira sak / tuwan sakarsa tuwan kedhep dening Yang Agung / Jabrail amukul bumi / ya to atemahan api//

4. //Udan angin kukus prapta / peteng awor udan watu karikil / aya to rasan tigan ning / paksi geng ingkang udan / nyana ning adagang kadya manggi kewu / pangulu adagang mojar / ingkang aran sira Malik//

5. //He batur sapa anandhang / dosa atobat to samantaraning / durung pada manggi kewu / x) kirang leres / ya to sami atobat / angucap punang besi ing gustinipun / manira anandhang dosa / angucap to sira Malik//

6. //Apa khaki dosanira / sauring abesi manira uni / amala rare puniku ya to kinen denira  / Malik amalampaha sapangatipun / abesi mangkya malampa / ing Yusup mangkya tur aris//

7. //Tumulya sira nenedha / ing pangeran hang aning balahi / kedhep sapanedhanipun / ya to ing mangke sira / srangenge medal apadhang mangke sampun / pun Malik mangkya angucap / arek ing yang sira kaki//

8. //Mantenan sira nenedha / gyis sinungan denira sang Yang Widi / Bagendha Yusup amuwus / sarwi mesem to sira / atut isun kaya ujarira iku / pun Malik sira angucap / isa days rencang neki//

9. //Aken mangke uculana / balenggunira Nabi Yusup iki / sinung anggen anggen sampun / dodot kalambi sarya / pelag pelag den kon lumampa ing ngayun / sami angiring sadaya Malik lumampa ing wuri//

10. //Tan kawarnaha ing marga / prapteng desa ing tesa araneki / punang wong desa puniku / sami agawok mulat / ing rupa pekik lan ijo ning pamulu / muwa tingka pari pola / ira kagawokan sami//

11. //Jenger sak.eing tumingal / ing warnanira Nabi Yusup sami / ya to wong desa puniku / sami taken pinangka / nira saking ngendi to rare puniku / sakabe padha tatanya / wong jro desa sami kapir//

12. //Wonten sabda rasul ika / tan kocapa sing wrua rupa pekik / dadi pangabaktinipun / ing sira sang Yang Sukma / mangkana mali sing wru ing wali iku / pandhita sarasya baktya / ing yang satus taun mali//

13. //Sarawu ira Bagendha / Yusup sami amawa iman singgi / keneng kasakten sira wus / brahalane den tilar / dipun gitik gitik brahalane sampun / dadi Islam wong jro desa / sami mawa iman singgi//

14. //Sigra miyang saking tesan / prapteng desa Kudus mandheg to sami / wonten mangke ratunipun / angimpi ana syara / ana wong prapta / ing desanira iku / prapta sami enjang enjang / ing desanira saiki//

15. //Upa subanen denira / sapakene idhepen denireki / poma jo pepeka iku / yen prapta suguhana / ya to atangi mangke ratu puniku / akarsa anglampahena / sapakene impen uni//

16. //Biksekaning Ratu Jiyad / dadi ing enjang enjang Yusup prapti / dhateng ing desa puniku / kawreta ing sang nata / ya to kirim nawala patra sang prabu / mara ing punang adagang / ingkang aran sjra Malik//

17. //Kecapi utusan prapta / andikani ra sang nata puniki / tuwan antuk rare iku  / kang pekik warnanira / tuwan bakta amarek ing / sang ngaulun sang nata ayun wikana / ing rare kang liwat pekik//

18.//Yya to sira Malik Adan / marek ing sang nata tan kawameki / sang prabu kocapa iku / akening para garwa / anak dhara wong salaksa kali ewu / sami paes ngangge angge / angrasuk makutha rawit//

19. //Wong parawan wong wuwujang / salaksa kali sami beci beci / agegelang akakalung / buka sri ngangge jamang / ahemeraken dhit asosotya murub / nila widure mutyara / manten kuswaragahasri//

20. //Bagendha Yusup kocapa / asiram labete pinala uni / denipunang besi iku / asiram ing bangawan / awuwuda sakathaing ulam rawu / amarani cayanira / Bagindha Yusup puniki//

21. //Wonten to ulam satunggal / kalintang lintang mangke agengneki / malang angalingi iku ing Nabi Yusup ika / sangkane ya ana ulam wawane wru / ing cayane Yusup ika / kalintang asi sireki//

22. //Ya to sira sang Yang Sukma / asung nugrahaning ulam puniki / antuk anak roro iku / kang satunggal punika / kang anguntal mangke i ng Bagendha Umus / pitung diva anang garba / ring ulam magke puniki//

23. //Sakathaing ulam samya / marek ing sang ulam ageng puniki / anake satunggalipun / kang anguntal kalpika / nira Nabi Soleman nengge puniku / sampun nira mangkya sira / Bagendha Yusup puniki//

24. //Utusan nira sang nata / angaturi wastra kang adi adi / ora susa paes sampun / sira sang Yang Wisesa / asng papaesira ing Nabi Yusup / sampun ing sesrebeng dhastar / mungga ing ngota sira gyis//

25. //Rumap dhateng ing pura / marek ing sang nata Jiyad tumuli / sira Malik marek sampun kawarnaha ingrika / sang nata aken ing kulawarganipun / tekaning santana nira kinen angatur atur//

26. //Amapag ing lawang kitha / sira Malik sampun rawu ing puri / saking tita ing Yang Agung / mega ngawengi surya / sang nata ngandika ing adagang asru / endi to rupane ika / rare kang apekik iki//

27. //Aturing Malik punika / luhur onta ironing kulambu singgi / sang nata sira amuwus / aken angungkabana / kebek cayaning Yusup desa punika / ing susungkuning nagara / kasenenan caya sami//

28. //Sakathaing kang tumingal / ing warnanira Nabi Yusup sami / dadi parawan puniku / sami ajenger mulat / sami wirang tumungkul sira andulu / ujare ingkang tumingal / durung sun mulat kayeki//

29. //Bagendha Yusup to sira / anjang enjang prapta jro desa linggi / kalawan sira sang prabu / muwa satingalira / sang nata gawok dhateng Bagendha Yusup / pekik rupane kaliwat / muwa caya anelehi//

30. //La sakeing wadyanira / sami gawok cengeng kan aningali / sang prabu sira amuwus / ataken ing adagang / endi pangulu kang dera iringiku / matur mangke kang adagang / atudu ing sira Malik//

31. //Kang gek sang nata miyarsa / kagawokan nyananira narpati / Bagendha Yusup angulu / sami ing upasuba / kaliwat pangupasubae sang prabu / pun Malik mangkya angucap / ing sarencangira sami//

32. //Ing salawas isun l iwat / ora kaya mangko ing desa iki / pindho sataun to isun / kampir ing desa nora / nana napa ora na taken ing isun / sajeg isun noli boca / sang nata l iwat marma si//

33. //Henengena sang adagang / kocapa to mangko dera sang kawi / Bagendha Yusup kawuwus / ing mulening Pangeran / anurunaken malekat kali atus / sami ambakta sanjata / kinen rumaksa angering//

34. //Nabi rasul angandika / sakehing wong punika wonten ugi / rumaksa in awakipun / malaekat ing sira / saking pramulenira yang sukma luhur / mangke ing kawulanira / ing wali kalawan mukmin//

35. //Sami marek kang malekat / ing Bagendha Yusup sami ngideri / angraksa tangi lan turn / samya rupa manusa / satingalira Nabi Yusup muwus / ataken ing malaekat / sapa to sira puniki//

36. //Sumaur kang malaekat / amba kinen denira Sang Yang Widi / rumaksa  ing tuwan iku / lan kinen angiringa / sampun ing mangkana sang prabu amuwus / iki kang katong dening syap / ena nisun duk ing nguni//

37. //Kang kinen ngupasubaha sapakene / idhepen iya iki / tudu ing Bagendha Yusup / sarwi kinen linggiya / dene parek apajar impen sang prabu / uni anakening ring wang / idhepen wewekas neki//

38. //Mangko to sakarsanira / idhep isun Bagendha Yusup angling / wewekas isun sang prabu / aja nembah brahala / aja maro pangeran supaya luput / sira ing api naraka l ingira sang prabu aris//

39. //Iya apa karep ira / Bagendha Yusup karep isun iki / konen to brahala ningsun / asujuda ing sira / kesa sang prabu layan Bagendha Yusup / sarawu irang pratimas / brahala sujud tumuli//

40. //Brahala ika sawusnya / sujud ing Bagendha Yusup anuli / aniba dhewek wus rempu / sang nata kapenetan / ya to dadi Islam dadya amintuhu / agendha Yusup to sira kalangkung tinami tami//

41. //Kalangkung sinubasuba / sira Malik sarencangira sami / sasajen rawu aselur muwa kang / pupundhutan / ake warnane tan kantun sekul susu / pan sami abukti sira / muwa Nabi Yusup singgi//

42. //Samya rasa wane sira / datan telas sasajene binukti / saking barkat Nabi Yusup / ya to sang prabu mulet / ing malekat to ngiring Bagendha Yusup / samya ngideri ing sira / a inggi datan atebi//

43. //Sang prabu mangke ngandika / kulehe tan dera ken sami bukti / ngandika Bagendha Yusup / sarwi mesem to sira / manawi tuwa tan wru ing wong puniku / iku balaning pangeran / tan anginum tan abukti//

44. //Kang pinangka buktinira / puji maring sang yang wisesa singgi / dhikir mangka inumipun / ataken srinarendra bala punapa to arane puniku / Bagendha Yusup ngandika / kinen angraksaha singgi//

45. //Sang prabu axis ngandika / bala punapa to arane iki / Bagendha Yusup amuwus / arane malaekat / kinen rumaksaha dening Yang maring / sun sarya angiringa pisan / kinen denira Yang Widi//

46. //Henengakena aksana / kang kocapa panggere ing Yang Widi / pratistha ciptaning ratu / aptyana rereana / sangkane Yusup anger rang desa kudus / dening kasmaraning rupa / apekik kang wau prapti//

47. //Sang prabu akening bala / karsanira kinen sami nyegati / wong salaksa kali ewu / samya nunggang turangga / nyegating adagang kinen deng sang prabu / karsa pinalayokaken / Bagendha Yusup puniki//

48. //Sampun ing mangkana kenas / Nabi Yusup ian kang adagang sami / ya to kapapag ing ngenu / bala srinara nata / anunggang turangga sampun ing kapethuk / lan Bagendha Yusup tiyang  agung cengeng aningali//

49. //Mangkana mali wong syarga / tatkalanira ningali Yang Widi / kali atus taun / iku datan eling ing Kendra / ladat ing syarga datan ana kang ketung / dening liwat oneng ing Yang  / lan ladate aningali//

50. //Anulya kantaka pisan / tigang diva lawase ora nglilir / dening gawoke andulu / kabe ing warnanira / Bagendha Yusup tan kawarna ing ngenu / prapti desa ari sama / mandheg to sadaya sami//

51. //Bagendha Yusup anyipta / ing sarira dhewek sajroning gali / sakehing jalma tumuwu / ora na kaya ingwang / sakehing apekik ora kaya isun / saksana lumampa prapta / ing jro desa aningali//

52. //Kabe wong desa punika / warnanira samya apekik pekik / lir warnane Nabi Yusup / punang wong ing jro desa / tan ana ningal i ing Bagendha Yusup / dadi amiyarsa syara / ning sukma Yusup puniki//

53. //Unining syara angucap / nyananira ora kaya sireki / ponake kawula nisun / kang amadhaning sira / ing dunya iki kabe kawula nisun / dadya rupane wong desa kaya Nabi Yusup iki//

PUPUH V
S I N O M 

 1. //Wonten secarita nira / Bagendha Musa puniki / duk sapocapan ian sukma / ing luhur prawata uni / anenedhang Yang Widi / ayuning ngalana iku / ing sira sang Yang Sukma / muwa cipta nireng ngati / uki luhur wukir tursina mangkana//

2. //Ra na kawula ning Yang / ang kadya isun puniki / kaparek ing Sang Yang Manon / wani matur ing Yang Widi ya to Nabi Musa ka / -turunan syara puniku / e Musa nyananira / ora na kaya sireki / anoliya sira kanan keri nira//

3 //Ya to Nabi Musa sira / anoli mangke sira gyis / ing kiwa tengenira no / ana wong sewu puniki / kiwa tengene sami / anungga warnanipun / tekaning yang gon anggon / muwa tetekenireki / kados tetekenira Bagendha Musa//

4. //Sami nenedhang Pangeran / kaya panenedhaneki / ya to Nabi Musa sira / amyarsa syara Yang Widi / e Musa cipta iki / ora na kawula nisun / kang kaya sira mangko / ponake kawula iki / kang amdhani lira pareking ing Wang//

5. //Ya to Nabi Musa sira / tumurun mangke sira gyis / saking luhuring dipangga / sampun ing amyarsa singgi / Nabi Musa puniki / ya to anulya asujud / ing ngarsaning Yang Manon / anedha maring Yang Widi / pangapuranira Yang Sukma Wisesa//

6. //Bagendha Musa atobat / saking ngujubireng nguni / ya to amiyarsa syara / Bagendha Musa puniki / la angkaten sira gyis / saking lema sira ipun / wus sira tobat mangko / sun apura tobat neki / mangkana maliBagendha Yusup ika//

PUPUH VI
P A N G K U R

 1. //Sampuning mangkana kesa / saking desa aris sira anuli / tan kawamaha ing ngenu / prapta ing Mesir sira / saksana aleren wonten desa sampun / dadi punang wong jro desa / angrungu syara to sami//

2. //Ujaring syara angucap / ing desa iki ana rare prapti / lintang pekik warnanipun / yen wong apapanggiya / ilang dukane yen wru rare puniku / dadya atemahan suka / angrungu wong desa sami//

3. //Ing panyanane wong desa / sami andali syaraning memedi / ngucap mali syara iku / den aglis paranana / ing wesmane Malik to rare puniku / sasampune myarsa syara/  wong jro desa saini brangti//

4. //Padha kasmaran to sira / amiyarsa ana wong anom prapti / sami ngularia selur / ateken tinakenan / pundi wesmane kang aran Malik iku / sumaur kang tinakenan / isun puniki ngulati//

5. //Manda yen sampun mulata / ing warta kewala prandene sami / wong desa sa Mesir ayun / henengena saksana / kang kocapa kang aparek ing Yang iku / wong ing Mesir sami brangta / lali ing pangeran neki//

6. //Mangkana wong arip ika / liwat brangta kasmaraning Yang Widi / amiyarsa warta iku / andika saking Kuran / muwa pangandikane Bagendha rasul / pira maning brangtaneka / ya wru i yang syarganeki//

7. //Punang paksi asang srangan / agirang tumoning / kang wau prapti / kang sarya kusuma nungsung / tanpa nedhenge mekar / kaya ge kagandaha deng Nabi Yusup / mapan gunungaken sira / dening yang nagareng Mesir//

8. //Sampuning mangkana prapta / ing griyanira ingkang aran Malik / enjing prapta sira sampun / sakehing wong nagara / ing Mesir sami manjing ing wesmanipun / supenu tanpa ligaran / kederan wesma pun Malik//

9. //Ingkang tunggu lawang mojar / paran karya rantaban wau prapti / kang tinanya gyis sumaur / ayun isun wikana / ing rupane rare kang pekik puniku / anengge nang wesmanira / rare kang kasuhur pekik//

10. //Kang atunggu pintu mojar / atut tan na rare pekik ing ngriki / yen sira arsa andulu / isun we nana dinar / ya to asung sira dinar tan asantun / anulya manjing ing lawang / ngira ingkang aran Malik//

11. //Henengakena saksana / kang kocapa kang wriyang pira lagi / yen kawasaha andulu / yan kawasaa mojar / yen elinga ing kadang ing warganipun / aningali ing manusa / samono denipun lali//

12. //Sampun ing mangkana sirs / enjing enjing ingesan dening Malik / sinung angen anggen sampur / Bagendha Yusup ika / kang sarya lewi lewi sampun rinasuk / alinggi ing papang langkyan / mangke sang sayembe pekik//

13. //Sakehing wong kang tumingal / sami gawok cengeng sira ningali / kang girya sesek supenu / pun Malik mangkya rasa / kasukeran dening wong sami andulu / tan kena tinundhung muwa / sakehing aniningali//

14. //Pun Malik mangke atawa / ing tumingal tebusen rare iki / apekik tan samaneku / pantes tan sabdanira / tur jatmika ia tebasen rare iku / Bagendha Yusup ngandika / aja isun sira puji//

15. //Batik to ing sabdanira / sapa arsa nebusa rare iki / inagari mka wyas ayun / ya to inganyang sira / kali laksa wolung ewu istri jalu / ake arsa angurupa / nama ring sapa nganyangneki//

16. //Ake arsanya kithaha / yen sapanganyange mangke puniki / nuli kandheha lara gung / kenang sarik kang nganyang / ya to tan ana wani anganyang iku / ing Bagendha yujsup ika / wedi kandhehan lare ki//

17. //Pun Malik mangke atawa / ing tumingal tebusen rare iki / dadya ana syara muwus / ing luhur awang awang / ora na kawasa nebusa rareku / sang prabu Mesir kawasa / anebusa rare iki//

18. //Henengakena saksana / kang kocapa mangke dera sang kawi / wonten kang arsa anebus / nengge lerira sadad / wong istri kal intang mangke sugihipun / winartaning liwat dalan / den ana rare apekik//

19. //Nunten arsa ngurupana / wong salaksa wolung ewu puniki / kang amadrebeken iku / ya to wong wadon ika / garjita atine myarsa wreta iku/  ya ta mari griyanira / ingkang aran sira Malik//

20. //Nunten melebet ing lawang / apti anebusa taken pun Malik / yen tuhu adol rareku / satingaling Bagendha / Yusup kanggek tan kawasa mongjar iku / agawok pekik ing warna / pan den sengge dede jalmi//

21. //Yang to sinung pangawasa / dening yang mojar taken sira aris / manusa tuwan puniku / gawok isun kaliwat / tan ana inguni uni wartanipun / muwa to ing jaman kuna / durung wru rupa kayekti//

22. //Isun kagahaning warta / apti anebusa ing tuwan iki / anawarrekye rep denpundhut / saha kena denira / sang amadreweke wong kaharsa iku / yajan arta satungkeb rat / ora na gatine iki//

23. //Bagendha Yusup ngandika / isun dinadeken dening Yang Widi / manawa sira durung wru isun sasaminira / kalawasa kabe sira to puniku / bula isun ingaesan / karanek.a tingal pekik//

24. //Wong wadon ik.a angucap / Bagendha Yusup patut tuwan iki / aneguhaken to isun / ing pangandika tuwan / yen pangeran andadeken kabe iku / ya to wong wadon punika / wus amawa iman singgi//

25. //Dadi to mangke Iselam / artanepun den danaken ing miskin / kenang bark.a Nabi Yusup / ya to wong wadon ika / wus abakti mala dhateng patinipun / kaliwat ing baktinira / ing wong ningal i wong lewi//

PUPUH VII
D  U  R  M  A

 1. //Tan kocapa mangke wong wadon denira / ana kocapa pamali / sang putri ing temas sing kang aran Jaleka / waya sangang taun mangkin putri Jaleka / ayu k.aloken bumi//

2. //Sugi mas ratna kancana lan sadana / yaya ibu liwat si / tinurut sakarsa / datan wani muranga / yen ana karsa nireki / pan tinurutan /dening kang yaya bibi//

3. //Ri sampuning mangkana putri Jaleka / mangke sira angimpi / tumingal Bagendha / Yusup sira kaliwat / denira kasmaran brangti / ing jro syapena / katingal aning nguni//

4. //Sapanglilire guling putri Jaleka / awenes asmu brangti / ya ta enjang enjang / prapta ing ibu nira / kali samya napa agyis / kulehe sira / awenes asmu brangti//

5. //Sumaur arisira putri Jaleka / ibu isun angimpi / ing wengi tumingal / wong apekik kaliwat/  rupane tan ana tandhing / durung mulat to/  isun kang kaya iki//

6. //Lan kadi rupane aluhung kalintang / lan pamulune kuning / awake gumilap / yaya mas sinepuhan / sotya lep kresna ahening / lir tumetesa / pawakane l ir rukmi//

7. //Wajane yaya mutyara sinundukan / yen mesem kadi gendis / medalaken caca / saking guyune ika / kalawan cayane maning / lir pendha surya / rema memek awilis//

8. //Tan kawasa emuten amamaha / warnanira kang kempi / yaja satungkeb brat / ibu angulatana / mangsa amanggiya singgi / satangi ningwang / dadya tan wente singgi//

9. //Ika mula nisun ibu anggeng brangta / kangen kang kempi uni / rama ibu ngucap / anak isun pangeran / sampu sira bunek ati / yen to anaha / mangke kang kempi uni//

10. //Sun undang sun panggiaken lawan sira / yen wrua prenaneki /  manawa to sira / wru prenahe pangeran / ena to sun ater nini / mari kang kating / al ayuni ing latri//

11. //Salamining nyupena sok anggeng brangta / tane caya argulir / amung kang kaetang / kang katon ing wardaya / kangen wamane kang kempi ri sampunira / genep sataun mali//

12. //Angimpi mali kang kempi uni ika / ya to taken sang putri / sajroning syapena / manusa sira tuwan / enaka nisun ngulati / kahananira / sumaur to kang kempi//

13. //Isun manusa tanpa rabi rabiya / lamon tan sira nini / sira mali tuwan / tanpa laki lakiya / ye noraha isun iki  / aja to sira / malelekaken nini//

14. //Prasatyakena nini isun denira / sampun mangkana tangi / sa putri kaliwat / lara denya karuna / tongtonen kang wau kempi / muwa kang rama / ibu pan sami prapti//

15. //Marma temen mangke dhateng putra nira / samya tilik mangkya gyis sami taken sira / kulehe sira nyawa / anangis sira to gusti / sumaur sira / wong ika kempi maning//

16. //Isun takoni ujare awawara / ingisun bapa aji / kalawan angucap tanpa rabi rabiya / yen dudu wa isun sigi / ujare wara / ingisun bapa aji//

17. //Sawis i sapocapan kaget tumulya / tangi rasaning ati / kaya to masiya / lagi jroni syapena / masiya linggi sumandhing nulya ngandika / wau kang rama aris//

18. //Atakon to sira prenahe wong ika / sumaur raja putri / ora taken bapa / isun ing prena ira/  kepyan tyasing yaya bibi / samya karuna awlas ing putra sami//

19. //Kami luluhen mulat tingkahing putra / ya to sira sang putri / supe ing baksana / tan keneng guling sira / rinaksa deng prameswyari ana ing pura / carangcang to sang putrid//

20. //Sataun lamine anang jro carangcang / dadya angimpi mali / ya to enget sira / anyekeli Bagendha / Yusup sarwi muwus aris / kang tansa nala / nisun kang asung brangti//

21. //Warahen isun ingendi enggonira / sumaur to kang kempi / manawa tan wikan / mangko sun ulatana / prenaisun bumi Mesir / ri sampuning a- / -pajar wungu sang putrid//

22. //Enjang enjang sang putri medhek ing rama / amekul sarya nangis / tur sarwi ngandika / la bapa ulatana / ingkang kempi mau bengi / sarwi apajar / nengge ing bumi Mesir//

23. //Yen tan kapanggi pejaha to majanira / ibunira sru anjrit karep isun bapa / mangko apotusana / mara ing nagara Mesir sang putri sira / enjing kasmaran brangti//

24. //Tan kocapa mangke sang putri ing emas / yanten kocapa mali / sabdaning pangeran / dhateng ing Nabi nira / ucapena denireki / sing sapa temen / ngulati sun pinanggi//

25. //Angandika mali dhateng Dawud ika / panebut isun iki / tiba ing sakatha / ingkang anebut ingwang / syarga nisun iki mali / tiba sake ing / kang ngabakti ing mami//

26. //Padha ia isun ian sake ingkang asra / ing ring sun iku mali sun pola sakenya / kang rena pawe ing wang / si isun tumiba mali sakehing kang a- /  -becik ing ring sun mali//

27. //Isun atatu sakehe brangti ing wang / e Dawud rengeteki / sing sapa doraka / ing isun iku iya / sun alingi alaneki / sing sapa baktya / ing ring sun rena mami//.

28. //Lawan sakehe kang sun kasihi iya / sun wehi to balahi / sawuse ku iya / sun wehi lara ika / sun pateni pisan iki / sawusing peja / sun srahi dhengdha mali//

29. //Aningali ing ring sun kastra ing ring wang / nora nana Iyang Mali  ang Daud sing wikan / ing isun mangko iya / den kasih isun Mali / sing sapa asi / ngisun ngulati singgi//

30. //Sing sapa ngulati sun de temu ing wang / ya Daud linyok teki/  ngucapa ciri wang / teka ing wengi ika / netra den remaken Mali / karing sun ika / mange mange ing latri//

31. //Lam on tan surak saha nyawane ika / ingkang sun pili singgi  ning caya tatar bang / ilang nyawane la / mara mg wang iku singgi / yan tan asiya / isun ning awakneki//

32. //Ri sampuning mangkana sang natang Temas  sakarsane sang putri ing / ngidhep sang nata / mangke sira potusan / prapta ing nagara Mesir / tumulya mangkat punang mantri sira glis//

33. //Tan kawama ing marga tumulya prapta / kang utusan ing Mesir / nunten medhek enggal / dhatenging patihira / nunten binakta anangkil / katuju medel / pan duka Sri Bupati//

34. //Sampun katur mangke kang nawala Patra / dhateng Srinarapati / kinen amaosa / wau ingajeng ira / kuneng bubukaning tulis / wikananira / isun na wreta kaki//

35. //Putra nisun niscaya ayuning sira / kalapa prameswari / iku den karuan / kaki ing karsanira/  yen sira rawu mariki sakarsanira / isun nadyan nuruti//

36. //Yen isun kaki dhateng nagaranira / angater ring sang putri / dhatenga ing sira / ri sampuning amaca / surat suka Sribupati / ingkarsa nira / sang nata temas singgi//

37. //Sang putri temas kal intang ayu nira / dados suhur sang putri / ing liyan nagara / sang nata Mesir sira / amangsuli serat mali / wus sinungaken / dhateng utusan aglis//

38. //Nulya dinadaran mangke kang / utusan akening Mangkubumi / angupa subaha / sampuning sinegehan nulya kang utusan amit / dhateng sang nata / nuli enggal lumaris//

39. //Tan kawarna ing marga tumuli prapta / medhek ing Sribupati  ngaturaken serat / sampunira tinampan / akena maos ing mantri / unining surat/  sang nata temas singgi//

40. //Dening unining nawala patranira / iya isun tampani / kalangkung tarima / isun ing karepira / ananggapi asta kali / ing karsanira / sang putri temas singgi//

41. //Sang nata ing Mesir tanduking ngandika / yen kayun isun iki / sira ngaterina / isun mapag ing marga / sampuning winaos nuli / mantuk sang nata / ngandikang prameswari//

42. //Ri sampuning mangkana nulya dan mangkat / angatering sang putri / copa ing enjang / sang putri adan paes / amepek yaya ing ulis / angangge raja / kaputran ratna adi//

43. //Lintang anyunira tan kena winama / upacaranira asri / aniti jampana / mas pinatik ing ratna / pinayungan mas kinardi / yen tiningalan /  lir penda wukir agni//

44. //Kang amikul jampana samya busana / abrang sinang lir sari / anjra katingalan / binakta mangke sira / sang putri deng sribupati pawongan nira / sewu anaking mantra//

45. //Pangalasan sewu kang anunggang kuda / onta pan sampun samya mijil / anata barana / kang sarya pelag / wong patang pulu akeing kang mikul dinar / ira sang raja putrid//

46. //Wong patang pulu mali kang mikul wastra / kang sarya lewi lewi / sutra lan remas / sawarnaning busana / lum ngayunin joli to pali garan / keing angiring ngiring//.

47. //Saksana mangkat sang nata Temas ika / angatering sang putri / wangsul sireng marga / larane tan kawarna / yaya ibu ingkang kari / gyis ing ngamarna / prapta desa paminggir//

48. //Saksana rayan sang putri masanggrahan / neher sira alinggi / wonte papalangkyan / mas pinatiking ratna / lalamak sutra angrawit / pawongan nira / atap sami ngideri//

49. //Sang nata Mesir sampun sira katuran / yen sang suputri prapti / nang paminggir desa / adana mapag sira / aglis mangke Sribupati tan kawarnaha / sumreg bala angering//

50. //Saupacara sami nunggang turangga / miwa Srinarapati / aniti wahana / apalana mas pelag / pinatiking mira adi / pating paluncar / en kasenenan rawi//

51. //Antya to pangabaranira sang nata / sapacaranira Sri / pinajengan kembar / pinatik nawa ratna / binubungkulan mira di tan kawarnaha · / aglis rawung paminggir tlen//

52. //Tumedhak sang prabu sing wahana nira / amurugi sang putri / sakehing pawongan / mangke sami tumingal / sapaningale sang putri / dede kang katingal / -an ironing angimpi//

53. //Mungkur sang putri sarwi tutup wadana / sarwi lara anangis/  tan ayun mulata / ngandika ing pawongan / nira kinen pedhek aglis / ratu kang teka / dudu kang kempi uni//

54. //Aturing inya nira sampun mangkana / singgi sang nateng Mesir / mangka jodho tuwan / punika ingkang prapta / sang putri lara anangis / tambu polaha / nira sang raja putrid//

55. //Yen pinarekan sira denin sang nata / nulya anjrit anangis / langkung lara nira / sumaput ing wardaya / nulya kantaka sang putri / pawongan nira / gepe samya nulungi//

56. //Sira emban inya anangis salara / anulya aningali / sang prabu ing lira / kanggek asru kapnetan / mulating sang raja putri / tan arseng sira / wangsul kesel anganti//

57. //Mangu al inggi angangen angen sira / apa karane iki / ing isun tan arsa / sang putri mangke sira / samya pinurugan aglis / tekeng sadina / sawengi tan anglilir//

58. //Ya to enjang anglilira linggi sira / asmu leng leng sang putri / amicara ing tyas / lir don to isun teka/  rasa was karana iki / tan wridayaha / nira sang raja putrid//

59. //Ri sampuning mangkana rawu sang nata / asmu runtik narpati / arsa ambaktaha / ing sang suputri sira / mantuk ing nagara Mesir / matur pawongan / nira sang raja putrid//.

60. //Sang prabu rawu mangke dhateng ing tuwan / sang putri aningali / maras mana ira / aris denya ngandika  /  dudu kang kempi inguni / ing jro syapena / nisun kang katon iku uni//

61. //Wong kang kempi ika jodho nisun ikang / saenggone kapanggi iya krama ningwang / ningali Srinarendra / ing wamanira sang putri / aniraming tyas mari denira runtik//

62. //Dadya awlas manaira Srinarendra / dadi sira sang putri / amiyarsa syara / sira saking tan ana / ujari syara mengeti / sang putri aja / susa aja priyatin//

63. //Aja sangsaya daranaken ayuga / tutut ayuga nini ing Srinaranata / marga nira panggiya / kalawan kang kempi nguni / dera sang nata / iku ing tembe nini//

64. //Ri sampuning ra nyarsa syara punika / eca mana sang putri / angandel ing warta/  ning syara kang angucap / kang kapiyarsa ing nguni / wus ing mangkana / tutut sang raja putrid//

65. //Mangkana mal i kawulaning pangeran / mangke sira kang mukmin / tetkalaning maras / hebat ari kiyamat / angrenge syara Yang Widi ngandikang sira / kawula nisun iki//

66. //Aja sira priyatin maras ing mana / kawula nisun iki / ya to mangke ical / priyatining wardaya / ngandel pangutus Yang Widi / mangka sira / putri Jaleka mali//

67. //Ya to tutut sang putri sira binakta / ingiringaken mijil / denira sang nata / rawu ing jawi sira / aniti ing jampana sir / sang prabu sira niti ing wahana di//

68. //Tan kawarnaa mangke sira ing marga / praptang kadhaton aglis / supenu kang padha / aniningali sira / sadaya angalem sami / saksana rawu / mangke ing dalem pun//

69. //Tumurun aris sira saking jampana / ingiringaken muli / denira sang nata / dhateng ing dalemira / pagulinganira asri / pan wus sinadya / prena irang nguni//

70. //Rawu ing kadhaton pan sampun sumadya / pagulingan sang putri / kadhaton kancana / pinatiking sosotya / pinajang pajangan asri / sutra dewangga / parem mas ingkang adi//

71. //Muwa upacaraning kang pagulingan / sarya kancana adi / pinatiking ratna / mutyara murub muncar / saking do lir wukir agni / senen ing ratna / lan gandaning wawangi//

72. //Arum arum tan hang taken akena / jebad lawan kasturi / tan kantun kungkuma / hergula rasamala / mrebug gandane awangi / nerus kadhaton / ngebeki dalem puri//

73. //Kocapa sakehe para marunira / kabe sami kapanggi / sami kagawokan / ningali wamanira / ing lira kang wau prapti / liwat si marma / nira sang nateng Mesir//

74. //Warnanira sang putri anang jro pura / anyeneni sakehing / para marunira / pinarneng dalem anyar / saksana tumulya latri / sang prabu karsa / anyangkrami sang putrid//

75. //Dadya sinal in rupa dening Yang sukma / mangke sang raja putri / minangka gaganti / nira ing pagulingan / kalayan Srinarapati putri Jaleka / rinaksa ing Yang Widi//

76. //Tan kawasa wong jalu aningalana / dhateng sang raja putri / tan pinasthi sira / sinadya ing Bagendha / Yusup denira Yang Widi / sang putri sira / tan pegat anggeng brangti//

77. //Saban diva maksi ngajeng ngajeng sira / ing supena ing nguni / ang putri Jaleka / sinadya amuktiya / ing Bagendha Yusup singgi sang prabu sira / mangke darmang gadhehi//

78. //Mangkana pramesyari Nabi Soleman / anama pPtri Balki / kang amukti iya mangke Nabi Soleman / ratu nama Siti Rinjing / darma sedhahan / desanira di sidik//

79. //Muwa ta pramesyari Bagendha Musa / kocapa mangke singgi / kang nama Masiya / ratu pireng onika / ting marma  darmang gadhehi / Bagendha Musa / ika kang andarbeni//

80. //Mangkana mali prameswari Bagendha / rasul kocapa mali / anama katija / Bagendha rasul iya / ika mangke kang amukti / ya ratu Umar / ika darmang gadhehi//

 

 

 

ANA KIDUNG VERSI LOMBOK


Karena versi Lombok dari Kidung Rumeksa in Wengi belum pernah disunting, maka saya menyajikannya di bawah ini. Ana Kidung ditulis dengan menggunakan tembang Jawa, khususnya tembang Dangdanggula. Ana Kidung ini bermaksud menghilangkan semua kekuatan yang dapat merugikan manusia dan ketentremannya, seperti penyakit, cobaan dan lain sebagainya, khususnya rasa bilahi. Di sini adalah alih aksara naskah lontar Ana Kidung, milik Kristel van der Korst, Loosdrecht, sebagai contoh.

DANDANGGULA

1. /1a/ Ana kidung, angrasa dina wngi, tan gu / rahayu, aduh ing alara, / luput ing balahi kabéh, ji / m sétan datan purun, pana /1b/ luhan datan awani, aduh i / ng panggawé ala, gni wong alu / put, gni atemahan tirta, / maling anah, tan ana wani ri ka /2a/ mi, guna dudu pan sirna.

2. Sakeh / i lara pan samya ambali, / sawoh i kemat, si puru / n olas, kawelas asih padu /2b/ luné, sakéh i braja luput, ka / di kapuk tibaniréki, sakéh / ing bisa tawar, sawok roda / tatap, kaya’ agung lemah sih, /3a/ sok ing landak, gwa ri mong lemah mi / ring, pekik i puwaning marak. /

3. Pagulingané warak sakang / lwir, kadya ngambah, i segara sat, /3b/ kowasa ngambah pucuké, apan sa / rira ayu, ngingidran sako / héh i widadari, rinak / ing para malaékat, sakatah /4a/ ing rasul, dadya ta sarira tunggal, / nétra Adam, uteku bagi / nda Esis, pngucapé nabi / Musa.

4. Sumsumku Patimah /4b/ kang lénuwih, nabi Yakup, pamya / saningwang, nabi Yusup cahya / ngku mangké, nabi Dawut / swarangku, mwang Suléman kasaktén ma /5a/ mi’, nabi (I)brahim i nyawa, Idri / s i rambut, baginda (A)li ku / litingwang, Abu Bakar, getih / daging marsinggih, balungkuk baginda /5b/ Usman.

5. Siji-sawiji mulana da / di, ta marencah, dadi (i)sini / ng jagat, kang sami ring jasat / reké, sakéh rencana (a)gung, nora wani ma /6a/ rek ing kami, sakéh ingkang rencana, / lan isining wanéku, jim kala / wan blis lanat, nora wani, / saking takdir Alah luwih, brerka /6b/ t nabi rasululah.

6. Sing angidung ana / kidung iki, dénya gati, la / nggeng ma’muliya, aywa miril mu’mi / nin reké, slamet lan rahayu, /7a/ noranana wani marek ing kami, sa / nwéh ikang rencana, pada a / njarit-jerit iku, brakat na / bi Adam mwah, nabi rarul /7b/ Mustapa kang lénuwih, brakat la’ila / ha ilalah.

7. Kuluhu’ gni u / balak-ubalik, séta / n mara, sétan matya, blis /8a/ lanat suminggah reké, sakéh / é kang arungu, kang anurat / kang animpeni, dadi raha / yuning jasat, kinarya sasa /8b/ bur, winacahakening to / ya, kinarya (a)dus, wong / lara tuwak iki, kiner / ya adus wong édan. /9a/

8. Lamun ana wong édan dhurpari, puwa / sanen, sadina sawangya, / i derna jingga lengé, lamun si / ra angluruk, musuhira datan /9b/ wani, lamun sira aprang, wate / k ingkang skul, skurlé tigang pu / lukan, musuhira, rare / p norana wani, rahayu /10a/ kang aprang.

9. Lamun ana wong kabanda / iki, mwang kadenda, lan wong / kabratan ing utang, yu / gya asembahyang reké, wayah /10b/ é tngeh dalu, ping sawola / s winaca aris, ucu / l ikang kabanda, malih kang / binanda iku, agelis si /11a/ ra linuwaran, wong utang / sinahuran déra Yang Widi / , wong agring nulih waras, (éh éh éh éh éh /11b/

10. Sumsumku Patimah kang lénuwih, / kang minangka, rahayuni jasa / t, panguluning rasul ta reké, / sakéhé kang tumuwuh, salira /12a/ né tunggal lan nabi, atéku ya Mu / hammat, pangulun i rasu / l, pinayungan Adam / sowara, samaptané, /12b/ sakatah i pra nabi, mapan / salirané tunggal. /

11. Pupuyun tutugeng /13a/ nong(?) tutub langit, angin barat, / gumlang ing tawang, cinancang ta ké / tang reké, angrajak gunung siyu, / jala sutra ilu mama’, mi /13b/ wah sawéh i braja, mangadang i / suh, anulak panggawé ala, / rara rungga, gumingsir pada a / glis, awor sakéh i wi /14a/ ksa.

12. Alungguh ring luhur kursi, kang atunggu, / sinurak ing tawang, pangalebur lara kabéh, / kusuk-kusuk i luhur, iku ing lang / -lang i langit, miwa sakéh ing braja, ma /14b/ ngadang i musuh, atunggul (l)atri lan syang, ki / na wdi, blis lanat suminggah sami, nora wani kang karencana.

13. Pan / punika i budiniréki, wali Arab, /15a/ sasang kadi mula, kirun sukung tangan reké, / wanak karuntang atunggu, suku kiwa nga / gem gada wesi, anulak rara ru / ngga, satru lawan musuh, pan tineggah /15b/ déni yang, ider-ider, kaluhu’ balan / ubalik, sing ala satruning Alah. /

14. Gunung siyu sanggup palutur iki, sagara / asat, panuruh satruh driyané, mama /16a/ nikan teguh timbul, wawalyan kasakti / yan i nabi, lut senjata lanang, / tantu Mekah iku, betdil tulup / pancar upas, pada putung, jempar i /16b/ nora nginganin, pélor ambal iki Da / hlan.

15. Gunung siyu makapager mami’, / katon murub, sing tumingal / ilang, miwah sang utamé reké, sa /17a/ kwéh i lara lebur, tantu mamah ing awa / k mami’, miwah sakwéh i bra / ja, magadang i musuh, ya ing rah / mat ma’mulya, rahmat jati, /17b/ jumneng basa jasmani, ya rahmat ma’mulya.

16. Abner sang rasu bani, kang adulu, awla / s sadaya, lulut asih sarat kabéh / , mapan nabi ptang puluh, amayungang rahi /18a/ hina wngi, damar nabi wokasan, sapda / nabi Dawut, aptak baginda / Amsyah, sing arungu, ajeri / t-jerit samya wdi, linuruk /18b/ samya sirna.

17. Lamun tan bisa amba sai / ki, ginawyé, dadi simat puni / ka, tguh tibul paparabé, ya / n ginawa alurung, musuhira ta /19a/ n awani, luput panggawé ala, gni wong / ngaluput, musuhira tan uni / nga, pan sinipen, rinaksa / i Yang Widi, teguhé tan pata /19b/ ndingan.

18. Satru musuh kundhur pada wdi, / apawangan, wruh Bétalmukedas / bolak-balik panggawéné, amba / lik kinowang kundhur, rara rungga pada /20a/ gumingsir, kang agring nulih waras, wong / gni luput, nora wani umareka, / saking rahmat, rahayu pakra / tinéki, rahmat patulung Alah. /20b/

19. Sing angidung ana kidung dina wngi, sapa / wruha, reké araningwang, dun disu / n maksi raré, dépun raré / ku, samurti lan ki sabrangti, ngalih a /21a/ ran ping tiga, arta driya téngsun, du / k ingsun angalih aran, yang arta / ti, araningsun tuwa i / ki, sapa wruh araningwang.

20. Sapangu /21b/ wruh kembang tampus siréki, awruh / ingaran, yang arta drarya, tuga / l pancar i samané, sing sapa / wruh puniku, sasat teguh Pager /22a/ Wesi, rinaksa wong sajagat, kang a / kidung iku, lan aluput ing durjan / wngi, tanawani wong cidra (rusak) /22b/

21. Du ana kidung iki, sabran wa (rusak) / nn awani wong cidra, yadyan bisa / tawar bahé, sing amaca arungu, / kang anurat kang animpeni, no /23a/ ra wani kang rencana, sawngi luput, / yan binakta alulunga, ri margané, / sing kapapak pada asih, dadya / n ana wong gila.

22. Milané tan /23b/ kna sanding, gagéndhongan, miwah wawa / rakan, Alah angadangena reké, / krana ta aja wruh, yan awruh pu / nika wdi, saki sagara wétan, /24a/ Alah angadang iku, jujuluk syang tu / gal, tunggal jati, dumeteng / sang yang artati, aran pkur jati / nya.

23. Apaparab soma hari, /24b/ ilaheni, arané duk agesang, wu / s mati kaya arané, duk langgi / h anéng gunung, apaparab wasi / séng jati, ngalih aran ping tiga, /25a/ duk anom matéku, adam jati do / dolan, ing urunan, ngalih aran sri jati, niscaya ake / ning rawa.

24. Segara agung mako /25b/ bumi iki, lagi iku, ni wong sa / buwana, pada asih mawoh kabéh, / sing bisa ngakgé kampuh, ko / wasa ngangambah bumi, singandari bulan, /26a/ pada asih maréngsun, yadin manusya / asih sira, Sang Yang Tunggal, para / ndéné kawolas asih, atma / ni rama ring yang.

25. Sakatahé panem /26b/ bahan puji, kaatura, kang angra / ksa jagat, kang asih i mu’min / kabéh, atuduh marga luhung, kang / adumi i dumi dasih, kang murah a /27a/ néng dunya, nora kang luput, sami sinung / an baksana, tkéng éwan, miwa / h ruma beténg jro bumi, sami sinunga / n baksana.

26. Kang akraya utusan /27b/ kang lénuwih, i sakwéhé, jim lan / manusya, ngangangken kasih reké, no / rananana kadi iku, kasih / ané sakéh i pra nabi, pan /28a/ mulané akerya, dadi ratu iku, da / di swarga lan nraka, tan liyan / saking, sihira mri dutadi, ki / nerya kanyata’an.

27. Sadéréng /28b/ é bumi langit iki, dur puniku, pan / wus ana, lan kayu’ ana reké, a / nginur kang rumuhun, saki takdir A / lah luwih, duk Alah anandika, ma /29a/ ring nur lan kayu’ puniku, lah nur a / sujut dasi (rusak) pada sujut, pi / ng lima asujut iki, iku mu / lané ana salat.

28. Mulané ana /29b/ salatiréki, lima waktu, nur mula / né ika, asujut ping lima re / ké, karané kayu’ puniki, / Sajaratulmuntaha iki, empang /30a/ ipun lilima, anging ta kayu’ puni / ku, norana mawipatra, sajati / né, nur mulané rumuhun, iku kang / dadi panutan.

29. Saking kasaka /30b/ ’ Alah luwih, akeryanen, kakasih / i yang, minangka didi kabéh / gumilang-gilang asruh, anéng u / sul kalam mri rincing, awarna /31a/ kadi lintang, kendil aranipun, / cinantél déning aras, tumé / tésan, tétés dadi roh / ing nabi, ika mulané ana jagat. /31b/

30. Ing aranan yayahiréki, rohira reké, baginda Ada / m, tunggal iku pinakané, ba / ginda Adam ika, ingaranan /32a/ yayahing jisim, mulané ana ba / dan, nyawané kang rumuhun, nur / bwat ring rasullah.

31. Sahira saki / ng Adam siréki, ginentis sira, ing /32b/ rarahinira, kang ingaran awa reké, / mijil saking suta jalu, inga / ranan baginda Sis, nurbwat anéng / Adam, lami-lami tumurun, prapta /33a/ siréng apdhulah.

32. Tamat. né luhu’. nhung / sa’ (motif bunga-bungaan dengan aksara ditulis di tengah-tengah)  hat dawa pukuhul laku yamilat, / wala yumilat, wali yumila / lat masahulahata, wa’ / ngahul sukal (motif bunga-bungaan) /34a/ né raja Ubesi, aran jaya. / bismilahirahmanirahim, / raja Ubesi, bapa’nya aji / namanya Besi, mendadi kentar /34b/ tiping batu ponku asal besi, si / di luwar besi, di dalem besi, / Alah besi Muhammat besi, bla / kangku besi, yén sira mangan /35a/ awak sarirangku besi, saheng ko / sing burungan, kapir jenengi / ra, yén ingsun mangan sira, haram jnengisun, aja sira /35b/ mangan kulitku satampaking apalu, / aja sira mangan dagingku, satampaking kaki, aja sira ma / ngan getihku satampaking /36a/ gurinda, galih aran pamor purasa / ni, maléla waja pada lemes / sakéh i wesi kuning, pada / lemes satampaking apalu /36b/ paron, brakat la’hilaha’hilalah, /37a/ Alah uma dowa tulak bilahi, / rubuh-rabah sandi babah, u / ru umbalah pandhu balah, ku / luhu’ sungsang-sungsang jim sétan /37b/ katulah, raja kanon, raja ku / ning, abulah ramatulah, / Majapahit buta bisu gni / pandhu bala, blis dara sétan mati, /38a/ janma marajan mati, sing jahil satru / ning Alah, kutda brakat do / wa tulak bilahi, brakat la’hi / laha’ilalah brakat Muha /38a/ mmatda rasululah. léyot latét / sang awet, Alah sang Alah sira / jayakrasa, jneng aku Jayakarsa, mapan aku gaduh sangurung-urung Jayakarsa, /39a/ nyarek acacek kaka’ amaté, / woda putih kalala musna i / lang, ayu mneng ratu burung, / sidi mandi mantra sangurung-urung burung /39b/ . mhal mati datu mur kawula / déwa ngéndéng dowé / datu mas panji mapan aku / gaduh sangurung-urung. /40a/ Alah uma dowa tulak bilahi, ru / buh-rabah, rendhib kabalah, uru / umbalah, pak dhurbalah, raja ka / kén raja kuning, raja bumi raja /40a/ langit, raja lahat, majapahit / panulak bilahi. (/41a dan /41b/ kosong) né senjerit tawu se / hér. ugik-ugik-ugik. uwak uwak uwak uwak /42b/ ugik ugik ugik ugik , / ugik ugik ugi / k, uwak uwak uwa / k uwak uwak uwak.

@@@

%d bloggers like this: