alangalangkumitir

Javanese Manuscripts

PUNCAK-PUNCAK DALAM PANDANGAN KESUSILAAN KEFILSAFATAN DAN KETUHANAN DALAM KESUSASTRAAN JAWA


PEPALI KI AGENG SELO

PUNCAK-PUNCAK DALAM PANDANGAN
KESUSILAAN, KEFILSAFATAN DAN KETUHANAN
DALAM KESUSASTRAAN JAWA 

OLEH :
R.M. SOETARDI SOERYOHOEDOYO

——————————- 

BAGIAN I

Nama lagu dan bentuk syair : DHANDHANGGULA.
Jumlah baris tiap bait : Sepuluh.
Suara akhir masing-masing baris : i, a, e, u, i, a, u, a, i, a.
Jumlah suku kata masing masing : 10, 10, 8, 7, 9, 6, 8, 12, 7.

1. Pépali-ku ajinén mbrékati¹), Tur sélamét sarta kuwarasan, Pépali iku mangkene, Aja gawe angkuh, Aja ladak lan aja jail, Aja ati sérakah, Lan aja célimut; Lan aja mburu aléman, Aja ladak, wong ladak pan gélis mati, Lan aja ati ngiwa²).

“Pepali”-ku hargailah (supaya) memberkahi, Lagi pula selamat, serta sehat. Pepali itu seperti berikut : Jangan berbuat angkuh,  Jangan bengis dan jangan jahil, Jangan hati serakah, (tamak, loba), Dan jangan panjang tangan; Jangan memburu pujian, Jangan angkuh, orang angkuh lekas mati, Dan jangan cenderung kekiri.
—————————-

1). Pépali berarti ajaran, petunjuk, aturan.

2). Ati ngiwa dalam bahasa Jawa berarti suka menjalankan perbuatan-perbuatan yang harus disembunyikan terhadap umum. Ingatlah maksud “badhe dhateng pakiwan” (Jawa). Bahasa Indonesia : “hendak kebelakang” dan lain sebagainya. Ini masuk ungkapan pelembut atau eufemismus.

Sejak timbulnya pemerintahan yang berdasarkan perwakilan rakyat dan adanya kepartaian yang menentukan tindakan-tindakan pemerintah, yang dimaksud dengan “partai kiri” ialah partai yang mewakili golongan-golongan yang bertujuan mengadakan perubahan-perubahan dalam susunan atau cara pemerintahan, yang sering berhaluan sangat radikal, sehingga membahayakan susunan dan cara pemerintahan yang ada, lebih-lebih karena cara-cara yang digunakan untuk melaksanakan perubahan-perubahan tadi sering menyimpang dari faham demokrasi yang berlaku (kiri ekstrim).

Dalam agama yang dimaksudkan dengan penganut kiri, ialah orang yang berpendapat, bahwa syariat agama itu tidak perlu dijalankan, sehingga apabila pendapat demikian tadi menjalar dikalangan rakyat, hal itu tentu akan merusak tata tertib agama.

Dalam magic, dengan “kawanan kiri” dimaksudkan ahli-ahli sihir hitam (black magician), yang terutama mengejar kepentingan diri sendiri dan tidak segan-segan melenyapkan siapa saja, yang merintangi terlaksananya tujuan mereka.

2. Padha sira titirua kaki, Jalma patrap¹)  iku kasihana, Iku arahén sawabe ! Ambrékati wong iku, Nora kéna sira wadani, Tiniru iku kéna, Pambégane alus,  Yen angucap ngarah-arah, Yen alungguh nora pégat ngati-ati,Nora gélém gumampang.

Hendaklah meniru “kaki”²), Janma susila, itu sayangilah, Carilah sawabnya ! (sawab = tuah) Memberi berkah orang itu, Tidak boleh kau mencelanya. Lebih baik menirunya. Pendiriannya halus, Jika mengucap berhati-hati, Jika duduk tiada putus-putusnya berhati-hati, Tidak suka serampangan (menganggap mudah atau gampang.
———————————–

1). ”Jalma patrap” berarti : orang susila, orang beradap. (Sunda : jelema; Indonesia : janma)

Peradapan atau kesusilaan seseorang ditentukan oleh pendirian hidupnya, dan tampak pada tingkah-laku atau sepak terjangnya. Peradaban dan kesusilaan dalam arti kata yang sedalam-dalamnya terkait pada syarat-syarat utama, yaitu dapat mengusai diri sendiri.

Diri pribadi manusia dalam pokoknya tersusun dari tubuhnya perasaannya dan fikirannya. Jadi mengusai diri sendiri berarti :

  1. Menguasai tubuh sepenuhnya; yaitu berarti kemampuan untuk mengusai juga perjalan napfas dan darah, sehingga orang tidak lekas naik darahnya dan tidak mudah dipermainkan oleh urat-sarafnya (nervous). Ini besar faedahnya bagi kesehatan badan.
  2. Mengusai perasaan; yaitu dapat menahan rasa marah, mengkal, susah, takut dan sebagainya, sehingga dalam keadaan bagaimanapun juga orang selalu tenang dan sabar dan oleh karena itu lebih mudah untuk dapat mengambil tindakan-tindakan yang setepat-tepatnya.
  3. Menguasai fikiran; sehingga fikiran itu dalam waktu-waktu yang terluang tidak bergelandangan semau-maunya sendiri dengan tak berarah dan bertujuan, akan tetapi dapat diarahkan untuk memperoleh pengertian dan keinsafat tentang soal-soal hidup yang penting.

“Jalma patrap” atau “manusia susila” dalam Mahabarata diidealisasi dalam tokoh Arjuna. Arjuna tidak kenal rasa takut, gentar, dalam menghadapi keadaan bagaimanapun juga. Ia selalu sabar dan tenang dan selalu diliputi oleh rasa kasih sayang kepada sesama hidup dan karena itu dicintai juga oleh sesama umat manusia. Ia mencintai segala ciptaan Tuhan, yang dianggapnya sebagai kekasih atau isterinya semua dan jarang memikirkan kepentingan diri sendiri. (Arjuna dengan isteri-isterinya sebanyak sejuta kurang satu).

2). Kata “kaki” disini bukan berarti kaki anggota badan untuk berjalan, tetapi “kaki” yang lalu menjadi bahasa Indonesia “kakek” (nenek = panggilan kepada orang yang sudah lanjut usia).

Didalam puisi atau tembang (Jawa) kata “kaki” ialah panggilan untuk anak-anak muda.

3. Sapa sapa wong kang gawe bécik, Nora wurung mbenjang manggih arja, Tékeng saturun-turune. Yen sira dadi agung, Amarintah marang wong cilik, Aja sédaya-daya, Mundhak ora tulus, Nggonmu dadi pangauban. Aja nacah, marentaha kang patitis, Nganggoa tépa-tépa.

Barang siapa yang berbuat baik¹), Tiada urung kelak menemui bahagia¹), Sampai kepada keturunan-keturanannya, Jika kamu manjadi orang besar. Memerintah orang kecil, Jangan keras-keras,  Nantinya tan akan tetap, Kamu menjadi pelindung. Jangan sembarangan, perintahlah yang tepat, Pakailah kira-kira²).
—————————

1). Beramal baik, menemui bahagia. Peribahasa ini menunjukkan, bahwa sejak dahulu manusia telah mengakui berlakunya hukum sebab dan akibat mengenai segala peristiwa dalam semesta alam ini. Juga nasib manusia ditentukan dan diarahkan oleh hukum ini. Nasib yang dialami oleh manusia tiada lain daripada hasil pertumbuhan akibat perbuatan-perbuatan dan cita-citanya pada hari-hari yang lampau.

Dalam masyarakat tidak senantiasa tampak berlakunya hukum ini. Perbuatan yang baik tidak selalu berbuahkan hala-hal yang baik, malahan sering kali tidak diakui sama sekali, dan selanjutnya perbuatan yang buruk tidak selalu berakibat buruk, bahkan mendatangkan keuntungan yang menginginkan.

Kepercayaan yang besar dari kaum filsafat India kepada hukum sebab dan akibat ini, mendorong mereka untuk mencari keterangan-keterangan bagi peristiwa-peristiwa dalam masyarakat tersebut diatas. Demikian timbulnya ajaran Karma. Orang tidak hidup hanya satu kali saja didunia ini, akan tetapi berkali-kali, hingga ia menjadi mahkluk yang sempurna. Nasib yang baik yang kita dapati dalam hidup kita dahulu. Demikian juga halnya dengan nasib buruk. Selanjutnya akibat perbuatan yang baik atau buruk, yang belum kita alami dalam hidup kita sekarang ini, akan kita alami dalam hidup yang akan datang, apabila setelah mengalami mati, oarang dilahirkan kembali didalam dunia ini.

2). “Tépa” berarti “ukuran”. Dalam melakukan sesuatu perbuatan baiklah kita selalu ingat,bagaimana perbuatan itu akan diterima oleh orang lain. Jangan melakukan perbuatan terhadap seseorang, yang kita sendiri tidak menyukainya, apabila dilakukan terhadap diri kita. “Tépa-tépa” atau “tépa sélira” ialah satu dari dasar-dasar cara pergaulan hidup, yang disebut tatakrama atau ethica, dan dalam pendidikan merupakan salah satu pengertian, yang pertama harus disadarkan kepada obyek pendidikan.

Dalam pergaulan hidup “tepa selira” sering belum mencukupi. Belum tentu reaksi seseorang itu sama dengan reaksi kita sendiri terhadap sesuatu perlakuan. Maka selain “kenal akan diri sendiri” orang wajib juga mengumpulkan “mensenkennis” (ilmu tentang watak manusia).

4. Padha sira ngesthoké kaki, Tutur ingsun kang nédya utama, Angarjani sarirane. Way nganti séling surup, Yen tumpang suh iku niwasi, Hanggung atélanjukan, Témah sasar susur. Téngraning jalma utama, Bisa nimbang kang ala lawan kang becik. Rasa rasaning kémbang.

Hendaklah diperhatikan kaki, Nasihatku yang bertujuan utama, Membahagiakan dirimu. Jangan sampai salah terima, Bila tumpang balik menewaskan, Selalu keliru, Hingga simpang siur.  Tanda manusia utama, Dapat menimbang yang buruk dan baik¹), Rasa dan rasa bunga²).
—————————–

1). Pada umumnya segala perbuatan yang akan mendatangkan manfaat bagi kita atau sesama hidup sebagai akibatnya, itu dipandang sebagai perbuatan baik. Sebaliknya semua perbuatan yang akan berakibat penderitaan, kecelakaan, dan sebagainya bagi diri sendiri atau sesama hidup, lebih-lebih bagi masyarakat, dipandang sebagai perbuatan buruk. Perbuatan yang membawa manfaat bagi seseorang, akan tetapi merugikan orang lain atau masyarakat termasuk perbuatan buruk juga.

2). Dapat menimbang atau membedakan rasa dan rasa bunga. Peribasa ini melukiskan beda antara saksi dan persaksian. Rasa bunga ialah persaksian, rasa yang menyaksikannya. Dalam ilmu karang peribahasa-peribahasa demikian ini digunakan untuk menjelaskan perbedaan antara manusia sejati (saksi) dengan alat-alat hidupnya. Mengetahui beda antara rasa dan rasa bunga berarti mengenal tubuh, perasaan, akal, ilham dan hidup sendiri sebagai obyek atau sesuatu diluar pribadi.

5. Kawruhana pambengkasing kardi, Pakuning rat lélananging jagad, Pambekasing jagad kabeh, Amung budi rahayu, Sétya tuhu marang Hyang Widi. Warastra pira-pira, Kang hanggung ginunggung, Kasor dening tyas raharja. Harjaning rat punika pakuning bumi, Kabeh kapiyarsakna.

Ketahuilah penyelesai segala kuwajiban, Pros Alam, si Jantan didunia, Pembebas seluruh dunia, Tak lain ialah yang berbudi rahayu,Setia sungguh kepada Yang Maha Kuasa. Senjata ber-macam-macam, Yang selalu dipuji-puji, Kalah dengan hati lurus. Keadilan alam ialah pusat peredaran bumi, Dengarkanlah semua ini.
—————————————

Yang dimaksudkan dengan “poros” atau “pusat alam” ialah jiawa atau inti hidup manusia, sedangkan alam disini ialah “alam dalam manusia sendiri” yang lazim disebut “jagad cilik” (mikrokosmos) sebagai lawan dari “jagad gedhe” (makrokosmos). Jagad = alam, cilik = kecil (sempit, gedhe = besar (luas).

Manusia yang dalam pertumbuhannya telah mengenal pribadi yang sejati dan dengan jerih payah lambat laun telah dapat mengusai gerak perasaan dan fikirannya, sehingga segala perbuatannya tidak lagi merupakan akibat belaka dari pengaruh peristiwa-peristiwa dalam dunia luar, manusia demikian itu telah menjadi pusat dari seluruh alamnya atau mikrokosmosnya sendiri. Ia berkuasa atas seluruh dunia perasaan dan fikirannya, dan karena ia telah menjadi manusia merdeka yang sebenar-benarnya. Ia mendapat sebutan “lélananging jagad” atau si Jantan, karena dalam mikrokosmosnya tidak ada sesuatu lagi yang dapat menentang kehendaknya (tiada godaan lagi yang dapat membelokkan hasratnya untuk berbuat lurus dan jujur). Dengan tercapainya kekuasaan atas diri sendiri, berkembanglah dalam sanubari manusia budi rahayu, yaitu budi, yang hanya bertujuan kebajikan seluruh dunia. Segala usahanya berpusat pada hasarat mengabdikan diri untuk kesejahteraan dan kebajiikan umat semuanya.

Terbukanya baginya tabir yang menutupi rahasia hidup. Adanya Tuhan baginya bukannya suatu rabaan lagi, suatu keharusan yang dipaksakan kepadanya pleh akalnya, akan tetapi seatu kenyataan yang telah disaksikannya sendiri dengan ilmunya. Ucapan “Asyhadu analailaha illallah” baginya benar-benar mempunyai arti !! Karena itu kesetiaannya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa ialah kesetiaan yang sungguh-sungguh dan murni, dan bukan kesetiaan hasil ajaran atau bimbingan, yang tidak senantiasa tahan uji.

Manusia yang demikian senantiasa dilindungi oleh Tuhan dan terhindar dari segala marabahaya (senjata-senjata yang bertuah dan saktipun tidak dapat mendekatinya). Ia percaya bahwa seluruh evolusi menuju kearah kesejahteraan dan kebajikan, karena Tuhan Maha Pemurah dan Maha Penyayang.

6. Pomapoma anak putu mami, Aja sira ngégungakén akal, Wong akal ilang baguse. Dipun idhép wong bagus, Bagus iku dudu mas picis, Lawan dudu sandhangan, Dudu rupa iku. Bagus iku nyatanira, Yen dinulu asih sémune prakati, Patrap solah prasaja.

Mudah-mudahan anak cucuku, Jangan kamu menyombongkan akalmu, Orang berakal hilang bagusnya.Ketahuilah, orang bagus ! Kebagusan bukan mas picis,

Dan bukan pakaian (yang mentereng), Bukan paras muka. Bagus itu sebenarnya, Menimbulkan rasa sayang, tampaknya memikat hati,Tingkah laku yang sewajarnya (yang tidak dibuat-buat).
—————————

Orang yang suka sombong akan akal atau kepandaiannya, dan senantiasa memperlihatkan, bahwa ia lebih pandai atau cerdik dari pada orang lain, akhirnya dijauhi oleh teman-temannya, apalagi jika kepandaiannya itu digunakan untuk “berbuat pandai” atau menipu dan menjerumuskan orang lain.

7. Lawan aja dhémVn ngaji-aji, Aja sira képengin kédhotan, Kadigdayan apa dene, Aja sira mbédhukun, Aja ndhalang lan aja grami, Aja budi sudagar, Aja watak kaum, Kang den ajab mung ruruba, Kaum iku padune cukéng abéngis, Iku kaun sanyata.

Dan jangan gemar akan mukjizat, Janganlah kamu ingin kebal, Kesaktian apa lagi, Jangan kamu menjadi dukun, Menjadi dalang atau berniaga, Jangan berbudi saudagar (berbudi – berwatak), Jangan bertabiat lebai (kaum), Yang diharap-harap hanya keuntungan, Lebai itu kata-katanya tegar dan bengis, Benar demikian lebai itu.
—————————————

Orang yang gemar akan mukjizatan dan sanggup menjalankan segala laku yang diperintahkan oleh guru ilmu dan sering tidak masuk akal sama sekali, sebenarnya sudah meniadakan hukum sebab dan akibat, dan karena itu sudah melumpuhkan akalnya, satu-satunya alat perlengkapan hidup manusia, yang bagaikan pelita memajari jalan hidup manusia. Lagi pula kegemaran akan mukjizat dalam pokoknya bersandar kepada keinginan, ingin lain dari pada orang lain, ingin dipandang sebagai orang terkemuka, ingin dipuji dan sebagainya, yang sesungguhnya harus dicapai dengan jalan lain, yaitu dengan jasa dalam pengabdian diri kepada kepentingan sesama hidup.

Kekebalan dan kesaktian, bila benar dapat dimiliki oleh manusia, kebanyakan berakibat kesombongan, kecongkakan, penindasan dan teror.

Dalam mengupas buah kesusasteraan Ki Ageng Selo, baiklah kita selalu ingat, bahwa pepali ini terutama ditujukan kepada putra-putra dan cucu-cucunya, yang dalam angan-anganya akan memegang kekuasaan dalam pemerintahan.

Dengan demikian dapat dimaklumi mengapa ia melarang keturunanya untuk berniaga. Seorang pegawai pemerintahan sekarang juga tidak diperbolehkan berdagang. Dhukun dan dhalang dianggapnya sebagai penipu.

8. Kumbah, krakah, cukit lan andulit, Miwah jagal, mélantén, kumala, Iku nora dadi gédhe. Wajib sinirik iku, Pan wus aja ngaruh-aruhi, Aja doyan sémbrana, Matuh analutuh,  Niwasi barang karya, Wong sémbrana témahane nora bécik. Nyényénges nanjak-nanjak.

Penatu, penjual daging, penjual trasi dan kapur sirih, Pembantai, [emutih dan pedagang akik, Itu tidak akan menjadi besar.Wajib ditegahkan itu,  janganlah menegur mereka. Jangan gemar bersenda, Terbiasa terlanjur, Menggagalkan sembarang pekerjaan, Orang bergurau akibatnya tidak baik, Mengejek menonjol-nonjolkan diri.
————————————-

Pekerjaan-pekerjaan tersebut diatas, karena pengaruh kebudayaan India, dianggap dapat menganggukesehatan dan dipandang sebagai pekerjaan hina. Karena itu janganlah bergaul dengan orang-orang yang menjalankan pekerjaan itu.

9. Pae wong kang makrifat séjati, Tingkah una-unine prasaja, Dadi panéngeran gédhene. Eséme kadi juruh, saujare manis trus ati, Iku iangaran dhomas. Wong bodho puniku, Ingkang jéro isi émas, Ingkang nduwe bale kencana puniki, Bola bali kinenca.

Berbedalah orang yang makrifat sejati, Tingkah dan ucapanya bersahaja, Menjadi tanda kebesarannya. Senyumnya bagaikan kental gula, Tiap ucapannya selalu manis terus hati. Itulah yang disebut dhomas. Orang bodoh yang, Jiwanya berisi mas, Yang memiliki tahta kencana ini, Berulang-ulang direncanakan.
——————————–

Ajaran mistik dalam agama Islam dapat dibagi menjadi empat bagian yaitu : Syariat, Tarikat, Hakikat dam Makrifat. Dalam usaha untuk mencapai cita-cita yang setinggi-tingginya, yaitu mengenal rahasia hidup dan Ketuhanan, manusia dimisalkan menempuh jalan kesuatu tempat yang tertentu, yang dalam agama Islam dilambangkang dengan perjalanan pergi naik haji.

Untuk dapat sampai kepada tempat itu dengan selamat diperlukan :

  1. Pebekalan yang cukup untuk perjalanan tadi. Ajaran tentang apa yang merupakan perbekalan-perbekalan guna perjalanan tadi didapat dalam bagian-bagian syariat.
  2. Menjalankan latihan-latihan perjalan. Petunjuk untuk latihan-latihan itu dapat diperoleh dalam bagian tarikat. Dalam bahasa Jawa tarikat itu menjadi tirakat !! (matathesis).
  3. Pengetahuan yang mutlak mengenai perlunya perbekalan-perbekalan, seluk-beluk jalan yang akan ditempuh, dan segala sesuatu tentang tempat tujuannya tadi.

Ajaran mengenai segala-galanya ini dapat diperoleh dalam bagian Hakikat.

Dengan perlengkapan-perlengkapan yang serba cukup, sebagai yang dimaksudkan dalam angkan 1, 2 dan 3 diatas, maka manusia sekarang dapat menempuh jalan kearah tujuannya itu dengan selamat (pergi naik Haji) dan dapat menyaksikan dengan mata sendiri kenyataan dari tempat tujuannya itu, atau kenyataan Allah. Dalam bagian syariat hal ini dilambangkan dengan persaksian akan kenyataan Mekah. Inilah yang dimaksudkan dengan Makrifat.

Orang yang sudah makrifat (bahasa Jawa : mripat = mata….. jadi menyaksikan dengan mata batin pribadi) itu, dipandang telah dapat mencapai tujuan manusia yang tertinggi, yaitu mengenal Tuhan Yang Maha Esa, dan diibaratkan sebagai memiliki Tahta Kencana. Tiap kali rencana itu gagal (bolak-balik), akan tetapi bila ia sudah menjadi cukup kuat dan bila pengetahuannya sudah cukup mendalam akhirnya ia lulus dan mencapai tingkat makrifat.

(Bandingkan dengan kata Indonesia : Arif = bijaksana ! Arab : Arafa = tahu, mengerti).

10. Keh tépane mring sagunging urip, Pan uninga ati téngu géngnya,  Ingkang sasingkal gédhene. Endhog bisa kéluruk, Miwah géni binakar warih. Iku talining barat, Kawruhana iku !! Manjing atos nora rénggang, Bisa mrojol ing kérép dipun kawruhi, Kang céndhak kéthokana.

Banyak belas kasihan kepada semua yang hidup, Kan mengetahui besar hati tungau,Yang sebesar sebuah singkal. Telur yang dapat berkokok, Dan api yang dibakar dengan air. Itu tali angin, Ketahuilah itu !! Masuk kedalam barang keras tan meratakkan, Dapat menerobos jala yang kedap ketahuilah juga !! Potongolah segala yang pendek !!
——————————–

Dalam kitab Pepali terdapat banyak kalimat yang mengandung paradok, yaitu hal-hal yang berlawanan satu dengan yang lain. Paradok-paradok itu dimaksudkan sebagai teka-teki mengenai soal-soal filsafat.

“Tungau” ialah semacam kutu ayam. “Singkal” ialah tongan kayu yang melintang diatas pisau-bajak atau mata tenggala yang mengesampingkan tanah yang dikeluarkan dari parit, bekas jalan pisau. Dan tanah yang yang menyibak kekanan-kiri “singkal” (karena dibajak) itu disebut juga singkal (Bandingkan dengan : sebungkah tanah !). yang diibaratkan dengan “tungau” ialah manusia yang besarnya jika dibandingkan dengan besar alam yang terbentang ini, tidak melebihi besar tungau dibandingkan dengan besar singkal.

“Hati tungau” ialah ibarat hidup manusia. Manurut filsafat Kejawen, karena hidup atau gerak itu ialah satu-satunya sifat mutlak Tuhan, yang dapat disaksikan oleh mata manusia, dan karena Tuhan itu hanya Satu (Qul huwa Allahu ahad), maka harus hanya ada Satu Hidup juga, yang memenuhi dan meliputi seluruh Alam ini. Jadi hidup tungau (manusia) sebesar sebuah singkal (memenuhi seluruh Alam).

Telur yang dapat berkokok.

  1. Sebenarnya yang dapat berkoko itu bukannya ayam jantan, akan tetapi “hidup” didalamnya, yang mula-mula sudah ada dalam telur.
  2. Orang yang telah mempelajari Ilmu Ketuhanan (Theologie), seperti jago (ayam jantan) yang berkoko-kokok, dapat menerangkan dengan congkak dan sombong segala hal-ihwal tentang Tuhan dan hal-hal lain mengenai Ilmu Kebatinan. Akan tetapi sebenarnya semua yang diterangkan itu diketahuinya tidak dari pengalaman atau dari persaksian sendiri, melainkan semata-mata dari buku-buku atau ajaran-ajaran orang lain. Walaupun jiwanya belum terbuka (kulit telur belum pecah) ia sudah dapat memberi keterangan mengenai ilmu-ilmu yang muluk-muluk, dengan bangga. (ayam jantan yang berkoko-kokok).

“Api yang dibakar dengan air”. Air biasanya digunakan sebagai lambang pengetahuan atau ilmu. Api ialah api akal manusia. Jadi paradok ini bermaksud : Akal manusia yang berkembang dengan kuat karena disiram pengetahuan.

Kendali (tali) angin. Angin ialah ibarat hawa-nafsu. Kendali (tali) ialah akal manusia, alat untuk mengusai nafsu.

“Masuk kedalam benda keras tan meratakkan dan dapat menerobos jala kedap”. Yang dimaksudkan disini ialah hidup yang dapat keluar dari badan dengan tak meninggalkan bekas.

“Potongilah yang pendek”. Tolak atau berantaslah segala perbuatan serampangan (yang tidak difikirkan dengan panjang-panjang tentang akibatnya). Jangan singkat budi, lekas marah, gegabahan dan sebagainya.

11. Aja watak sira sugih wani, Aja watak sok ngajak tujaran, Aja ngéndélkén kuwanen, Aja watak anguthuh, Ja ewanan lan aja jail, Aja ati canthula, Ala kang tinému. Sing sapa atine ala, Nora wurung bilahi pinanggih wuri, Wong ala nému ala.

Jangan berwatak menyombongkan keberanian, Jangan berwatak sering suka bertengkar, Jangan menyandarkan diri pada keberanian, Jangan berwatak tak tahu malu, Jangan irihati dan jangan jahil, Jangan berhati lancang, Buruk yang didapat, Barang siapa berhati jahil, Tiada urung celaka akhirnya didapat, Orang jahat menemukan jahat.
————————————-

Bait tersebut hendak mengambarkan adanya hubungan sebab akibat dalam rantai nasib manusia.

12. Poma-poma anak, putu sami, Aja sira méngeran busana, Aja ngéndélkén pintéré, Aja anggunggung laku. Ing wong urip dipun titeni, Akétareng basa, Katandha ing sému. Sému bécik, sému ala, Sayéktine ana tingkah solah muni, Katon amawa cahya.

Mudah-mudahan anak, cucu, semua, Jangan bertuhan kepada perhiasan, Jangan congkak akan kepintaranmu, Jangan menyanjung-nyanjung laku. Itu disaksikan oleh sesama-hidup,  Terlihat dalam budi-bahasmu, Tertanda pada roman-mukamu. Semu baik, semu jahat, Sebenarnya berkata dalam tingkah-laku, Tampak pada cahaya.
——————————————-

Dalam hidup, manusia janganlah terlalu tinggi menghargai benda-benda keduniawian, mas, intan, lain-lain batu-permata dan pakaian-pakaian yang mentereng, pendek kata segala-galanya yang bersifat perhiasan dan memuja-mujanya seolah-olah benda itu Tuhan sendiri.

Selanjutnya manusia jiga tidak boleh terlalu sadar akan kepintaran, kecerdasan dan kecerdikannya, yang telah didapat dari pendidikannya. Sifat demikian ini banyak terdapat pada kaum cerdik pandai kita, lebih-lebih mereka mempunyai gelar universitas, Drs, Sh, Ir, dan sebagainya, yang sering meremehkan orang-orang lain yang tidak mendapat didikan akademis. Sebenarnya sifat demikian ini sangat menurunkan derajad kaum cerdik pandai kita, sebab selain menunjukkan sifat-sifat kesombongan yang tidak pada tempatnya, juga memperlihatkan kedangkalan pengetahuan mereka. Semakin mendalam ilmunya, manusia itu semakin sadar bahwa apa yang telah diketahui itu sebenarnya hanya sedikit sekali. “Seperti ilmu padi, semakin tunduk, semakin berisi.”

 Yang dimaksudkan dengan laku disini ialah cara atau jalan yang harus ditempuh untuk mendapatkan kemukjizatan menurut ajaran ilmu sihir dan sebagainya. Jangan terlalu menjunjung-junjung ilumu semacam itu karena akhirnya hanya akan menyesatkan saja.

13. Aja sira amadhakkén jalmi, Amarentah kaya sato kewan, Kébo, sapi, miwah iwen. Aja sira prih wéruh, Kaya wong, pan nora ngréti. Aja kaya si Soma, kVbone pinukul. Sababe sinau maca, Yen bisaa nora beda padha urip,Mulane awéwuda.

Jangan kau persamakan dengan manusia, Bila kau perintah hewan, Kerbau, sapi dan unggas. Jangan mencoba mengajarnya, Sebagai manusia, karena tidak mengerti. Jangan seperti si Soma, Kerbaunya dipukuli. Sebabnya kau telah belajar membaca. (tidak buta huruf), Sedapat-dapat perlakukanlah dengan baik, tak beda sesama hidup. Asal-mulanya telanjang juga.
———————————————–

Asal-mula semua makhluk itu sama dengan asal-mula manusia, yaitu hidup sejati, sebagai sifat murni Tuhan. Hidup sejati yang belum ber-ruh, berjiwa, berperasaan, berfikir, bertubuh dan berpancaindera, disini dilambangkan sebagai sesuatu yang telanjang. Manusia wajib mencintai dan memperlakukan dengan sebaik-baiknya semua makhluk, karena mereka itu berakar juga pada Tuhan. Mencintai dan menghormat semua makhluk berarti mencintai dan menghormat Penciptanya, yaitu Tuhan.

14. Ayam ginusah yen munggah panti, Atanapi lamun mangan béras, Kébo ingadhangan bae, Iku wong olah sému,  Lamun sira tétanggan kaki, Yen layak ingaruhan, Aruhan iku. Yen tan layak-énéngéna, Apan iku nggémeni darbek pribadi, Pan dudu rayatira.

Ayam dihalau jika hendak masuk rumah, Kalau-kalau nanti makan beras, Jika kerbau dihalang-halangi saja,  Itu tindakan orang yang belajar hal-ihwal. Apabila kamu bertetangga dengan dia buyung. Kalau sudi ditegur-sapa, Kenalilah ia. Jika tidak sudi, diamkanlah saja,Lagi pula bukan keluargamu.
——————————————-

Maksud dari bait ini ialah supaya kita berkenalan dengan orang-=orang yang mempunyai kebijaksanaan dan kewaspadaan, yaitu orang-orang yang dapat mengetahui apa yang akan terjadi dikemudian hari, berdasarkan gejala-gejala yang dapat disaksikannya sekarang dan dengan mengambil tindakan-tindakan yang tepat dapat menghindarkan hal-hal, yang tidak disukainya. Demikian itu apabila orang tadi suka berkenalan dengan kita. Bila ia tidak suka berkenalan dengan kita, maka tidak perlu kita dengan merendah-rendahkan diri berusaha berkenalan dengan orang tadi. Mungkin ia takut, bahwa, apabila ia bergaul dengan kita, kita akan menjadi bijaksana dan waspada juga. Diantara orang-orang yang pandai, memang sering ada yang tidak suka menerimakan kepandaiannya itu kepada orang lain. Kepandaiannya itu ingin dimilikinya sendiri, supaya tidak ada lain orang yang menyamainya. Orang demikian itu tidak perlu kita tegur dan kita tunjukkan kesalahannya, karena ia tidak termasuk keluarga kita.

15. Patrapéna rayatira kaki, Anak, putu, sanak, présanakan, Enakéna ing atine. Lamun sira amuruk, Wéruhéna yen durung sisip. Yen wus katiwasan, Aja sira tuduh. Kelangan tambah duraka, Yen wus tiwas sira umpah-umpah kaki !! Tur iku mundhak apa !??

Jalankanlah terhadap keluargamu cucuku, Anak, cucu, sanak, persaudaraan, Enakkanlah hati mereka. Kalau kau mengasuh, Beritahulah sebelum khilaf. Jika sudah bersalah, Janganlah ditegur-tegur. Rugi tambahan pula durhaka, Bila sudah salah diumpat-umpat lagi cucuku ! Dan lagi apa manfaatnya !??
——————————————-

Dalam mengasuh atau mendidik, orang jangan bersifat negatif, dengan mencela atau menegur-negur saja, ketika anak-didik bertindak keliru. Sebab pada umumnya orang atau lebig-lebih anak-anak itu tidak berbuat salah dengan sengaja atau dengan benar-benar sadar akan kesalahannya.

Kalau pendidikan itu benar-benar pendidikan, sifatnya harus positif, yaitu anak-anak harus diberitahu perbuatan-perbuatan mana yang termasuk perbuatan salah dan mana yang termasuk benar, berdasarkan pandangan-pandangan yang dapat dimengerti oleh anak-anak.

Sebagai pangkalan misalnya dapat diberitahukan, bahwa semua perbuatan yang akibatnya akan merugikan diri sendiri itu terang salah. Berdasarkan “tepa salira”, maka semua perbuatan yang akibatnya akan merugikan atau melukai hati orang lain tentunya juga termasuk perbuatan salah.

Sebaliknya semua perbuatan yang akibatnya akan menguntungkan diri sendiri dan orang-orang lain, termasuk perbuatan-perbuatan baik.

Berdasarkan pandangan-pandangan ini dapat diberikan pengetahuan tentang arti : nista, madya dan utama. Nista ialah perbuatan yang hanya bertujuan keuntungan bagi diri sendiri dengan tidak memperdulikan kepentingan orang lain, yang nampak dalam bentuk yang seburuk-buruknya sebagai perbuatan korupsi dan pengkhianatan terhadap Negara. Madya ialah perbuatan-perbuatan yang menguntungkan diri sendiri dan sementara orang lain, sedangkang selanjutnya tidak ada fihak-fihak lain yang dirugikan. Utama ialah perbuatan-perbuatan yang menguntungkan orang lain, masyarakat atau bangsa dan dilakukan dengan pengorbanan kepentingan diri sendiri.

Pangkal lain untuk membedakan perbuatan salah dan benar atau buruk dan baik, ialah rasa cinta. Semua perbuatan yang dijalankan karena dorongan rasa cinta ialah perbuatan yang baik. Sebaliknya semua perbuatan yang dijalankan karena dorongan rasa benci termasuk perbuatan buruk.

Selanjutnya pendidikan yang bersifat positif harus berusaha untuk membuat rasa nyaman atau membesarkan hati anak didik. Anak didik harus disadarkan, bahwa nilainya yang sesungguhnya itu tidak beda dari nilai orang-orang lain, meskipun dari para sarjana atau orang-orang yang mempunyai kedudukan tinggi dalam masyarakat. Apa yang dapat dicapai oleh para sarjana dan orang-orang tinggi lainnya itu, dapat dicapainya juga. Syarat-syaratnya hanya kehendak yang sungguh-sungguh dan mengetahui jalan yang harus ditempuh. Maksud dari semua ini ialah untuk menimbulkan dan memupuk rasa hargadiri dan kepercayaan pada diri sendiri, yang memupuk rasa hargadiri dan kepercayaan kepada Tuhan. Inilah yang dimaksudkan dengan “mengenakkan hati” anak-didik. (bikin enak hati).

16. Bumi, géni, banyu miwah angin, Pan srengenge, lintang lan rémbulan, Iku kabeh aneng kene. Ségara, jurang, gunung, Padhang péténg, padha sumandhing, Adoh kalawan pérak, Wus aneng sireku. Mulane ana wong agucap, Sapa bisa wong iku njaringi angin, Jaba jalma utama.

Bumi, api, air serta angin, Matahari, bintang dan bulan, Itu semuanya ada disini. Laut, lembah dan gunung, Terang dan gelap ada disamping, Jauh dan dekat, Sudah ada dalam dirimu. Karena itu ada orang yang berkata : Siapa yang dapat menjala angin, Kecuali manusia utama.
——————————————

Hidup ialah sumber segala tenaga dan gaya. Selanjutnya tenaga (energi) itu ialah asal-mula segala zat yang ada dalam Alam ini.

Pandangan filsafat jaman kuna itu telah dibuktikan kebenarannya oleh perkembangan ilmu Kimia-Fisika akhir-akhir ini. Pembuatan bom atom berdasarkan atas perubahan massa (zat) menjadi tenaga. Bila zat dapat menjelma menjadi tenaga, maka sebaliknya tenaga harus dapat juga menjadi zat, atau dengan perkataan lain zati itu tiada lain dari pada penjelmaan tenaga. Karena hidup ialah sumber segala tenaga dan tenaga ialah asal mula zat, maka segala zat dalam alam ini sudah terkandung dalam hidup.

Demikian juga halnya dengan ukuran ruang, jauh dan dekat. Menurut filsafat ketimuran, waktu dan ruang itu sebenarnya tidak ada. Waktu dan ruang ialah hasih penipuan pancaindera (zinsbegocheling). Menurut ilmu pasti benda itu terdiri atas titikmateri-titikmateri yang tak terhingga banyaknya membentuk sebuah garis. Garis itu tak dapat disaksikan, karena hanya mempunyai satu dimensi (panjang) dan takmempunyai ukuran lebar atau tinggi. Sederet garis-garis yang tak terhingga banyaknya membentuk sebuah bidang. Bidang itu tidak dapat disaksikan juga, karena hanya mempunyai dua ukuran, yaitu panjang dan lebar, dan tak mempunyai tinggi atau tebal.

Setumpukan bidang-bidang yang tak terhingga banyaknya membentuk sebuah benda. Benda itu dapat dipersaksikan dengan panca-indera, karena mempunyai tiga ukuran (dimensi); yaitu panjang, lebar dan tinggi. Akan tetapi karena benda tadi terdiri unsur-unsur yang tidak dapat dipersaksikan, yaitu titik-titik, garis-garis dan bidang-bidang, maka konsekwensinya benda dan ruang itu sebenarnya tidak ada. Ruang dan waktu adanya hanya sebagai manifestasi hidup, yang mula-myla mengandungnya. Maka “jauh dan dekat” sudah ada dalam diri pribadi.

Angin dalam baris k 9 ialah lambang hawa nafsu dan fikirang. Orang yang dapat menjala angin berarti orang yang dapat menguasai perasaan dan fikirannya.

17. Tama témén tumaném ing ati, Atinira tan nganggo was-was, Waspadha marang ciptane. Tan ana liyanipun, Muhung cipta harjaning ragi, Miwah harjaning wuntat. Ciptane nrus kalbu, Nuhoni ingkang wawénang. Wénangira kawula punika pasthi, Sumangga ring kadarman.

Baik dan jujur tertanam dalam hati, Hatinya tak mengandung was-was (galau), Waspada terhadap ciptanya.Tak ada lainnya, Dalam ciptanya hanya kebahagiaan badan, Dan kebahagian dikemudian hari. Ciptanya meresap dalam kalbu, Meyakini kepada Yang Kuasa. Kekuasaan hamba itu sesungguhnya pasti, Terserah kepada kemurahan Tuhan.
——————————–

Hidup manusia bergiliran berpusat dalam hati, sebenarnya dalam jantung (perasaan) dan dalam otak (fikiran). Bersatu-padunya perasaan dan fikiran ialah cipta.

Keterangan diperoleh bila cipta berpusat dihati. Dalam keadaan demikian itu lenyaplah segala perasaan wawas dan manusia mengerti, bahwa ia hanya suatu alat belaka, yang harus melakukan perintah Tuhan.

BAGIAN II

Nama lagu dan bentuk syair : ASMARADAHANA.
Jumlah baris tiap bait : Tujuh.
Suara akhir masing-masing baris : i, a, e, a, a, u, a.
Jumlah suku kata masing masing : 8, 8, 8, 8, 7, 8, 8.

1. Poma sira aja dréngki, Dahwen marang ing sasama. Sama den arah harjane, Harjane wong aneng dunya. Dunya tékeng akerat, Akerate amrih lulus, Lulus dennya méngku nikmat.

Hendaknya engkau jangan dengki, Suka mencela orang lain. Usahakanlah kebahagiaan bersama, Kebahaian orang didunia. Didunia sampai keakhirat. Akhiratnya supaya lulus, Lulus sehingga mendapat nikmat.

2. Nikmat rasane ing ati, Ati pan ratuning badan, Badan iku sajatine, Pan iku ingaran kudrat. Kudrat karsaning Allah, Allah ingkang Maha Agung, Luhur tan ana pipindhan.

Nikmat rasanya dalam hati, Hati itu rajanya badan. Badan itu sebenarnya, Apa yang disebut kodrat. Kudrat ialah kehendak Allah, Allah Yang Maha Agung, Luhur tiada taranya.
——————————–

Allahu Akbar; La syarikallahu = Allah Maha Besar; tidak menduakan Tuhan !! (hanya ada satu Tuhan).

3. Padha kawruhana yékti, Yéktine ngelmu sarengat. Sarengat awit kang gédhe, Panggédhening ngelmu nyata, Nyatane neng sarengat. Sarengat den amrih tutug, Tutug marang ing Kakekat.

Ketahuilah yang sebenar-benarnya, Ilmu syariat yang sebenarnya. Syariat ialah permulaan yang utama, Pemuka segala ilmu kenyataan, Kenyataannya terdapat dalam syariat. Maka selesaikanlah syariat itu, Hingga meningkat kehakikat.

4. Kakekate ngelmu jati, Jati sagunging upama, Upama kang katon kabeh, Kabeh iki aneng dunya, Dunya tibanging kerat, Ngakerat dina ing mbesuk, Mbesuk iya dadi dunya.

Hakikat ilmu sejati, Sari segala peristiwa, Peristiwa yang dapat disaksikan semua, Semua ini ada didunia. Dunia lawannya akhirat. Akhirat itu hari kemudian, Kemudian juga jadi dunia (sekarang).

5. Dunya dina kang saiki, Ik kang aran ngakerat, Ngakerate uwong biyen. Mbiyen ngarani ngakerat. Ya iki ingaranan, Arane mungguh ta ingsun, Ingsun iki lagi dunya.

Dunia ialah hari sekarang, Ini yang disebut akhirat, Akhirat bagi orang dahulu. Orang dahulu menamakan akhirat Sekarang ini. Artinya bagi saya, Saya ini baru mengalami dunia.

————————————

Baik ke-4 dan ke-5 hendak mengupas soal dari sudut filsafat. Yang dimaksudkan dengan dunia atau sekarang ialah “Kini” (the presen atau het nu) yaitu ketika ini. Bagi filsafat ketimuran, waktu itu penipuan pancaindera manusia belaka. Waktu lampau ialah “sekarang” yang akan datang. Padahal “sekarang” itu tidak dapat kita saksikan. Manakah “sekarang” itu sebenarnya ???.

Pada waktu “sekarang” itu kita nyatakan, ialah sudah lampau, walaupun sebagaian waktu yang tak terhingga pendeknya. “Sekarang” itu., sebagai halnya dengan titik, trak berukuran juga, dan sesuatu yang tidak berdemensi, maupun diperbanyak dengan berapa saja, tidak akan dapat menghasilkan sesuatu yang berukuran, yang dapat diukur panjang pendeknya, sebagai halnya dengan waktu. Karena itu waktu tadi dianggap sebagai penipuan pancaindera belaka (zinsbeoocheling). Dengan demikian segala peristiwa atau keadaan, yang hanya dapat difahami dalam ragam waktu dan ruang itu, penipuan pancaindera juga.

Jika waktu (lampau, sekarang dan kemudian) itu tidak ada, maka yang ada ialah kebakaan dan keabadian) eternity), yaitu satu diantara sifat-sifat mutlah Tuhan.

6. Neng dunya kang sugih puji, Puji tégésé pamuja. Muja iku nékakaké, Nékakake kanikmatan. Nikmate badanira. Yen sira témén satuhu, Tuhu téka dennya muja.

Didunia sebaiknya perbanyaklah puji, Puji artinya memuja. Memuja itu mendatangkan, Mendatangkan kenikmatan, Kenikmatan badanmu, Bila kamu bersungguh-sungguh , Sungguh akan tercapai cita-citamu.

———————————-

Memuji atau berdoa dalam pokoknya tiada lain dari pada menyatakan secara jelas dengan kata-kata, apa yang sangat kita hasratkan dalam hidup, yaitu cita-cita hidup kita. Memuja atau mencipta ialah pekerjaan berdoa yang disertai pemusatan seluruh perhatian. Dengan tiap hari atau sering kali mencipta, orang berulang-ulang menentukan secara jelas cita-citanya, sehingga cita-cita tadi merupakan cita-cita yang bulat, yang niscaya akan terlaksana karenanya.

Kepercayaan yang demikian itu terdapat pada hampir segala bangsa. Bangsa Inggris mengatakan : “Where there ia a will, there ia a way”, orang Jawa mengatakan : “Yen temen tinemu” atau “temen tinemenan”.

7. Yen sira muja sémedi, Pan mangkana pujinira : Rabbana-a-tina mangke, Fidunya lan kasanatan, Wafil akhirati kasanat, Wakina lan malihipun, Ngadabanar. Tégésira :

Jika kamu memuja dan bersemedi, Demikianlah doanya : Rabbana-a-tina selanjutnya, Fiddunya kasanatan, Wafil akhirati kasanat, Wakina dan seterusnya, ‘Azabanar. Maksudnya :

8. Pangeran hamba sayékti, Kawula nyuwun kamulyan,Ing dunya mulya slamine. Tumékoa ing akerat, Kinacekna sasama. Salamat téguh rahayu, Tébihna siksa néraka.

Tuhan hamba yang sebenar-benarnya, Hamba memohon kemulian,Didunia mulia selama-lamanya. Hingga sampai diakherat, Bedakanlah hamba dari sesama. Selamat, sentosa, bahagia, Jauhkanlah dari azab (siksa) neraka.
—————————

Puji atau doa yang dimaksudkan dalam bait ke-7 dan ke-8 ialah doa Qunut, yang selengkapnya berbunyi : Robbana atina fiddunya hasanatan, wafil akhirati hasanatan, waqina ‘azabannar.

Acapkali menjadi pertanyaan apakah surga dan neraka itu (hemel en hel; heaven and purgatery) sebagaimana digambarkan dalam Kitab-kitab suci itu benar-benat ada?? Menurut ajaran “ilmu klenik” adanya surga dan neraka itu ialah suatu keharusan dalam rangkaian sebab dan akibat, akan tetapi surga dan neraka, sebagaimana terdapat dalam gambaran orang banyak, sebagaimana hasil ajaran syariat, tempat manusia menemukan kenikmatan yang mencucurkan semua pancaindera, atau direbus dan dibakar hidup-hidup, tidak diakui adanya, karena dianggap sangat bertentangan dengan sifat Tuhan sebagai Maha Pemurah dan Maha Penyayang. Apabila manusia yang seburuk-buruknya saja tidak sampai hati untuk menyiksa secara demikian musuh-musuhnya yang sekejam-kejamnya, sudah tentu Tuhan tidak akan sampai juga untuk menyiksa makhluk-makhluk ciptaannya sendiri.

9. Sagung wong kang nému bécik, Kang samya anuwun rahmat, Kang cukup iku pujine !! Poma den padha estokna, Gélém nora géléma, Kajaba kang nora sarju, Mangsa borong karépira.

Semua orang yang menemui nasib baik, Yang memohon rahmat, Hendaknya diperbanyak doanya !! Hendaklah diperhatikan dengan benar, Mau atau tidak mau, Kecuali mereka yang tidak sepaham, Terserah apa kehendakmu.
—————————————–

Maksud bait ini ialah : Hendaknya manusia itu selalu ingat kepada Tuhan, juga bila ia sedang mengalami nasib baik dan dapat hidup makmur dan sejahtera. Janganlah hanya ingit kepada Tuhan dan memohon perlindungan dan rakhmat-Nya, bila sedang mengalami nasib yang pahit. Nasib buruk yang dialami manusia itu sebenarnya dapat dipandang sebagai suatu peringatan, bahwa manusia dalam tindakan-tindakannya telah menyimpang jauh dari kehendak Tuhan, karena tidak ingat lagi kepada Tuhan. Jadi kalau manusia mengalami nasib yang baik, senantiasa juga tidak menyimpang dari kehendak Tuhan, maka ia tidak perlu diberi peringatan dalam bentuk nasib yang buruk. Maka kebahagiaannya akan terus terjamin. Bagi orang-orang yang tidak sepaham, masa bodohlah !!!

10. Gusti Allah ngudaneni, Marang makhluk sadayanya, Kang ala tanapi sae. Nadyan rambut para sapta, Apan wus nora samar. Ala bécik mung jinurung, Nora pégat ciptanira.

Allah Maha Mengetahui, Kepada makhluk semuanya, Yang jahat dan yang baik. Meskipun rabut dibelah tujuh, Tidak luput dari penglihatan-Nya. Baik buruk selalu diberkahi, Tak terputus dari kehendaknya masing-masing.
———————————

Jahat dan baik keduanya diperbolehkan.

Tak terputus dari kehendaknya masing-masing orang.

Yang dimaksudkang dengan dua baris diatas ini ialah, bahwa nasib buruk (sebagai akibat tindakan-tindakan yang jahat) dan nasib baik (sebagai akibat tindakan-tindakan yang baik), manusia boleh memilih dengan bebas.

Tuhan tidak menghalang-halangi pemilihan itu.

Jadi nasib manusia bukanlah suatu takdir, yang dipaksakan oleh Tuhan. Manusia merdeka dalam membangun dan mengarahkan nasibnya. Apa yang dinamakan takdir itu ialah buah yang tumbuh dari tindakan-tindakan manusia sendiri, menurut hukum sebab dan akibat, yang merupakan hukum umum dalam alam.

BAGIAN III

Nama lagu dan bentuk syair : MEGATRUH.
Jumlah baris tiap bait : Lima.
Suara akhir masing-masing baris : u, i, u, o.
Jumlah suku kata masing masing : 12, 8, 8, 8, 8.

1. Wruhanira tekad ingkang luwih luhung, Poma dipun ngati-ati, Akeh sambekalanipun. Wali mukmin sadayeki, Pirang-bara manggih yéktos.

Ketahuilah tekad yang lebih tinggi, Jalankanlah dengan hati-hati, Banyak rintangannya. Wali mukmin semuanya, Mudah-mudahan benar-benar menemukannya.
————————–

Yang dimaksudkan dengan tekad atau tujuan yang lebih tinggi atau yang tertinggi dalam hidup manusia ini, ialah mencapai kesempurnaan kebahagiaan hidup.

Kebahagian hidup yang sempurna itu tercapai, apabila manusia dapat memperkembangkan sifat-sifat jiwanya, yang merupakan gambaran sifat-sifat yang Maha Esa, yaitu :

  1. Kesempurnaan dalam ilmu pengetahuan.
  2. Kesempurnaan dalam kasih sayang, sehingga kasih sayangnya meliputi semua makhluk, dan sebaliknya semua makhluk menyayanginya.
  3. Kesempurnaan kekuasaan atas pribadinya dan kejadian-kejadian atau peristiwa-peristiwa disekelilingnya atau dengan lain perkataan kesempurnaan kekuasaan atas nasib pribadinya.

Jalan untuk mencapai tujuan yang tertinggi ini memang penuh dengan rintangan-rintangan dan ujian-ujian yang berat.

Karena itu disini pengarang mendoakan, mudah-mudahan semua wali dan mukmin dapat menemukannya atau mencapainya.

2. Lamun luput aneng dunya lakunipun, Ngakerat datan pinanggih. Yen énom wédélanipun, Babarane nora bécik. Ya iku poma kang yéktos !!

Jika salah jalan didunia, Di akhirat tidak pernah akan ketemu. Bila muda wédélanya (celupannya). Babarannya tidak baik. Itulah ibarat yang tepat !!
————————————-

Telah diterangkan dimuka, bahwa nasib seseorang dikemudian hari itu tergantung dari perbuatan-perbuatannya sekarang. Dalam bait ini kenyataan demikian itu diibaratkan dengan babaran (keadaan kain batik pada akhir proses membatik) dan wédélan (pekerjaan atau perbuatan yang mula-mula dijalankan dalam proses memberi macam-macam warna kepada kain batik tersebut).

Jika perbuatan-perbuatan kita kini kurang sempurna (salah jalan di dunia), nasib kita dikemudian hari juga tidak akan sebaik yang kita kehendaki (diakhirat tidak terdapat nasib baik).

Bagaimana perbuatan yang sempurna itu ??

Perbuatan yang sempurna ialah perbuatan yang kita lakukan dengan persetujuan penuh dari perasaan dan fikiran kita (dalam keselarasan perasaan dan akal), dan yang telah kita selesaikan dengan sebaik-baiknya, hingga kita mendapat kepuasan karenanya. Perbuatan-perbuatan yang demikian itu tidak akan meninggalkan bekas-bekas dalam ingatan kita dan karenanya tidak akan menganggu fikiran kita.

Sebenarnya apa yang menggangu fikiran kita dan menghalangkan ketenangan hidup kita itu ialah kekurangan-kekurangan dalam tindakan-tindakan kita dihari yang lampau, yang kesemuanya menyebabkan tidak tercapainya cita-cita kita. Timbunan kekecewaan-kekecewaan dalam ingatan manusia, sebagai akibat kurang sempurnanya tindakan-tindakannya dihari yang sudah lampau itulah, yang menjauhkan manusia dari rasa kebahagiaan. Perbuatan-perbuatan yang kurang sempurna itu dalam bait ini diibaratkan dengan wédélan yang muda, sedangkan nasib kurang baik yang timbul karenanya diibaratkan dengan babaran yang kurang baik.

Catatan :

Dalam pembuatan kain batik, sesudah kain selesai digambari dengan potlod (pensil), gambaran itu lalu diulangi lagi dengan lilin. Sesudah itu bagian-bagian kain yang kemudian harus menjadi putuh (kuning muda) di tutup dengan lilin pula. Kemudian kain lalu dimasukkan dalam mandian cat biru-tua. Ini yang dinamakan médél, hasilnya ialah kain wédélan. Bagian-bagian yang berwarna biru tua ini, sekarang di tutup dengan lilin, supaya warna biru itu tetap, bila nanti kain dimasukkan dalam mandian cat merah-kuning (soga). Bagian-bagian yang akan diberi warna soga, yang tadinya sudah tertutup dengan lilin, dihilangi lilinya dahulu (mengerok). Kain lalu dimasukkan dalam mandian soga. Hasilnya ialah kain soga, dengan bagian yang tak tertutup lilin yang berwarna merah kuning, dan bagian-bagian yang tertutup lilin yang berupa biru tua atau putih. Sesudah ini lalu kain dimasukkan dalam mandian air mendidih. Karena itu semua lilin lepas dari kain. Kain menjadi bersih dan menpunyai tiga warna, biru tua, merah-kuning dan putih. Bila wédélannya muda (kurang baik), kain akhirnya menjadi kurang baik juga.

3. Pang mangkana, manawa bae ing mbesuk, Oleh dhangane kang ati. Nging aja mésthekkén iku ! Manawa ana ingkang sih, Antuk suwargadi kaot.

Demikian, barang kali kemudian, Mendapat kemurahan hati (Tuhan). Tapi jangan dipastikan itu ! Bila ada kasih sayang, Mendapat surga indah yang berbeda.

4. Wruhanira wong ahli ilmu puniku, Sarta tekat ingkang bécik, Cinadhang suwarga mbesuk. Swarga pépitu yékti, Ana luhur, ana asor !

Ketahuilah ! orang berilmu itu, Serta yang bertekad baik, Kepadanya disediakan surga kelah. Disediakan tujuh surga, Ada yang tinggi dan ada yang rendah ! 

5. Prmilane den wruh ala bécik iku ! Kang ala dipun singkiri, Kang bécik wajib tiniru ! Allah pasthi ngudaneni, Ginadhang-gadhang kinaot.

Maka ketahuilah soal buruk dan baik itu ! Yang buruk supaya dijauhi, Yang baik wajib ditiru ! Allah pasti mengetahuinya, Mencadang-cadangkan keistimewaan.

6. Ingkang ala pasthi cinadhang ing mbesuk, Pinrénah aneng Yunani. Dene ingkang bécik iku, Pasthi cinadhang ing mbenjing, Aneng suwargadi kaot.

Yang jahat pasti dicadangkan kelak, Ditempatkan dalam neraka. Dan yang baik itu, Pasti dicadangkan kemudian, Ditempatkan disurga yang indah dan istemewa.

7. Pan mangkana iku adiling Hyang Agung. Pramila den ngati-ati, Neng dunya aja katungkul. Sanajan ala sireki, Nuli elinga ing batos !!

Demikian itu keadilan Tuhan Yang Maha Agung, Maka hendaknya berhati-hati, Didunia jangan terlanjur-lanjur. Meskipun jahat kamu itu, Segera sadarlah dalam batin !!

8. Lamun sira durung eling lampus, Kainan pinanggih wuri. Sru gétun dahat kaduwung. Katungkul duk kala urip, Ngakerat kari bébéndon.

Bila kau belum sadar lalu meninggal,  Hina yang didapat kelak. Sangat kecewa dan sangat menyesal, Terlanjur ketika didunia.Diakhirat tinggal bencana.

9. Pan yaiku musthikane kang lapil hu, mBengkas sagung ponang lapil. Pan iku bae wus cukup ! Nanging ati ingkang suci, Poma-poma den kalakon !

Itulah mustika lafal agung (HU), Yang meniadakan semua lafal lain. Itu saja sudah cukup ! Tapi hendaknya yang suci, Mudah-mudahan sungguh terlaksanalah !

10. Ya wa inna rohmatullahi karibun, Minal mukminina yékti. Satuhune lapil iku, Ingkang padha dipun esthi. Dene eling lahir trus batos !

Wa inna rahmatullahi karibun, Minal mukminina. Sebenarnya lafal itu, Ialah yang menjadi tujuan. Hendaklah ingat lahir-batin !

11. Pan mangkana tégése lapal puniku : Sagung rahmating Hyang Widi, Pinérakakén mring makhluk, Kang sami akarya bécik, Angesthi nédya rahayu.

Demikianlah arti lafal itu : Segala rahmat yang Maha Kuasa, Didekatkan pada makhluk, Yang suka berbuat baik, Bertujuan kerah kebajikan.
————————————

Karibun asalnya dari karib = dekat. Bandingkanlah “sahabat karib” !!

Hyang Widi = Tuhan Yang Maha Kuasa.

12. Aneng dunya dipun srégép anénandur, Lan dipun srégép rérésik. Tégése srégép nénandur : Agawe ngamaling dhiri, Kang rila ing lair batos.

Didunia hendahnua rajin menanam, Dan rajin membersihkan (mencucikan). Artinya rajin menanam : Ialah beramal untuk kebaikan dhiri. Dengan ikhlak lahir batin.

13. De maknane kang bangsa résik puniki : Karam makruh den sumingkir, Dohna ing dédosa sagung, Dosa samar-samar gaib. Eling-eling den waspaos !

Akan makna hal bersih itu : Haram makruh hendaknya dijauhi, Jauhkan diri dari segala dosa, Dosa samar-samar gaib. Ingat-ingatlah dengan waspada !

14. Eling iku mituhu marang pitutur, Pitutur kang muni tulis; “karya bécik” yen digugu. Poma den padha angesthi, Iku marganing kinaot !

Ingat berarti percaya pada petuah, Petuah yang sudah tertulis; “Berbuatlah baik”, bila dipatuhi, Hendaknya ini dijakan tujuan, Itulah jalan kearah kebesaran !

BAGIAN IV

Nama lagu dan bentuk syair : M I J I L.
Jumlah baris tiap bait : Enam.
Suara akhir masing-masing baris : i, o, e, i, i, u.
Jumlah suku kata masing masing : 10, 6, 10, 10, 6, 6.

1. Ngelmu sarengat puniku dadi, Wawadhah kang yéktos. Kawruh télu pan kawéngku kabeh, Kang serengat kanggo lair batin. Pramilane sami, Sarengat rumuhun.

Ilmu syariat itu jadi, Tempat yang sebenarnya. Ketiga itu tlah terkandung didalamnya semua, Dalam syariat untuk lahir dan batin. Maka hendaknya semua, Menjalankan syariat dahulu.

2. Ngelmu tarekat punika dadi, Dédalan kang yéktos, Lamun arsa wruh ing Pangerane. Luwih angel, marga saking sulit. Ati sanubari, Séjatine iku !

Ilmu tarekat itu jadi, Jalan yang sejati, Bila ingin megetahui Tuhan. Lebih sukar oleh karena sulit. Hati sanubari, Sebenarnya itu !
————————————————-

Jalan ke Tuhan melalui hati sanubari.

3. Ngelmu kakekat puniku pasthi, Wéruh kangsayéktos, Ing wuhude Pangeran sipate, Nanging Allah tan kéna kadéling.Katingale ugi,Neng sipatireku.

Ilmu hakikat itu pasthi, Tahu yang sebenarnya,Kenyataan sifat-sifat Tuhan. Akan tetapi Allah tak dapat dilihat. Terlihatnya juga, Hanya pada sifat-sifatnya.

4. Dene ngelmu makripat kang luwih, Wéruh kang samélok. Den rumangsa iku ing uripe ! Sébab urip napas manjing mijil. Ya iku sayékti, Wéruh kang satuhu.

Sedangkang ilmu makrifat yang lebih tinggi, Artinya tau dengan sesungguhnya. Sadarilah itu dalam hidupmu !  Sebab hidup keluar masuknya napas. Itulah sebenarnya, Tahu yang sebenar-benarnya.

5. Lamun mérém sipate Hyang Widi, Katingal mancorong. Lamun mélek katingal ing Date, Ing salwiring kang katingal kabeh. Jémbar padhang iki, Pratandha Hyang Agung.

Bila mata terpejam sifatnya Yang Maha Kuasa, Nampak bercahaya. Bila mata terbuka kelihatan dalam Dzat, Segala yang nampak semua, Luas dang terang benderang ini, Pertanda sifatnya Yang Maha Agung.
————————————-

Menurut ajaran Ilmu Mystik, sifat Tuhan yang tampak sebagai cahaya itu, dapat disaksikan dalam samadi atau shalat daim.

6. Lamun sira kabeh wus mangérti, Ngelmu papat manggon, Poma aja mancungul ungase ! Dipun gémi, tanapi den rémpit,Sayéktiku wadi,Lir gandrung mangun kung.

Bila kamu semua sudah mengerti, Kedudukan keempat ilmu, Janganlah menampakkan kesombongan ! Hendaknya berhemat dan cermat, Sebenarnya itu rahasia, Bagaikan jatuh cinta yang membara.

7. Lawan malih, wékas ingsun sami, Aja laku awon, Ing sabarang sarak larangane ! Dipun eman wéruh ngelmu iki, Supayane mbenjing, Ngakerat képangguh !

Lagi pula, pesan saya semua, Jangan berbuat jahat, Ingatlah segala larangan sarak ! Sayangilah akan pengetahuan ilmu ini, Supaya kelak, Diakhirat menemukan buahnya !

8. Lawan malih dipun ngati-ati, Den sabar lan kamot, Lamun ana cobaning Hyang méngke ! Setan julig, wasis miranteni, Pramilane sami, Den awas lan emut !

Lagipula hendaknya berhati-hati, Hendaknya sabar dan tahan, Bila ada coboaan dari Tuhan nantinya ! Setan licik, pandai membuat perangkap, Oleh sebab itu, Selalu waspada dan ingat !

9. Iya iku pawitan kang luwih, Sabar lawan kamot ! Pan wus kocap dalil Qur’an nggone : Wabasiri sabarina. Yékti, Bébungah Hyang Widi, Kang sabar ing laku.

Yaitu merupakan modal yang lebih, Sabar dan tahan ! Yang sudah tertulis dalam dalil Qur’an tempatnya : Wabasiri sabarina. Benar, Merupakan kUrnia dari Allah, Yang sabar dalam menjalaninya.

10. Ingkang sampun tédhas ilmu iki, Tan darbe pakewoh, Ing sabarang lakuning uripe, Upamane sarah munggeng jladri, Tan karsa pribadi, Mung lakuning alun.

Yang dapat mengunyah ilmu ini, Tidak memiliki perasaan segan, Di semua perjalanan hidupnya, Ibarat sampah didalam lautan, Tak ada kehendak pribadi, Hanyalah ikut geraknya belombang.
———————————–

Manusia dimaksud dalam bait diatas, tidak mempunyai kemauan sendiri lagi. Segala perbuatannya dipersembahkan kepada Allah. Ia menjalankan kehendak atau perintah Allah, ibarat sampat yang bergerak menrut kehendak gelombang lautan.

11. Miwah kudu anggaweya bécik, Mring sapadhaning wong. Aja nédya ngudi wawalésé ! Gusti Allah pasthi anyémbulih, Yen apotang bécik, Ngakerat tinému.

Dan wajib berbuat kebaikan, Kepada sesama orang. Jangan mengaharap balasannya ! Allah pasti akan membalasnya, Yang meminjamkan kebaikan, Diakhirat akan mendapat balasannya.
————————————————————

Orang yang berbuat kebaikan dan selalu sadar akan berbuatannya yang demikian itu, lebih-lebih mengaharap balasannya, dalam hakikatnya ialah orang yang belum baik. Bagi orang yang benar-benar baik, perbuatan baik itu perbuatan yang biasa, jadi tidak seberapa disadari waktu menjalaninya.

12. Poma aja sumélang ing galih, Lair miwah batos, Janji sira anétépi bae, Ing unine supatra kadyeki, Pasthi datan kédhip, Kang Allah Mukidun.

Janganlah mempunyai rasa was-was dalam hati, Lahir serta batin, Asal kamu menepati saja Bunyi kalimat seperti ini, Tidak akan berkedip, Yaitu Allah Makidun.
—————————————

Makidun berarti : meresap dalam dan meliputi segala-galanya.

Pengertian tentang sifat Makidun Tuhan ini dapat diperoleh dalam ayat surat ikhlas Al Qur’an, yang berbunyi : “Qul huwa Allahu ahad”, yang berarti “Katakanlah Allah itu Satu”.

Menurut filsafat, karena sifat mtlak akal manusia itu dualistis, akal manusia tadi tidak dapat membentuk gambaran tentang pengertian Satu, karena apapun juga olehnya harus digambarkan dalam suatu tempat atau ruang, dan sesuatu tadi dengan ruang tempat ia ada, sudah merupakan Dua. Yang dapat digambarkan oleh akal manusia bukannya pengertian Satu, tetapi pengertian Kesatuan, sebagai jumlah dari semua satuan. Demikian seluruh alam ini, dengan semua bagiannya dan semua Satuan, yang ada didalamnya merupakan satu Kesatuan. Bila Allah itu Satu, maka seluruhnya alam ini harus merupakan sifat-Nan atau dengan perkataan lain, Ia harus ada dimana-mana, meresap dalam segala-galanya dan meliputi segala-galanya dalam dunia ini.

13. Pan wus kocap ana ndalém kadis, Lapal kang sayéktos. Mantala wajidahu lapale, Wajidahu tégése kang arti : Yen témén sayékti, Kakekating masbun.

Yang tlah tersbut didalam Hadist, Lafal yang sejati. Mantala wajida, Wajidahu artinya : Apabila jujur yang bersungguh-sungguh, Hakikatnya masbun.

14. Sakarsanta, Allah anjurungi,  Denira krahayon. Pan ginadhang prapteng salalise. Gusti Allah yen amundhut urip, Mring kawula sami, Ngaget praptanipun :

Sekehendakmu, Allah meluluskan, Kehendak akan bahagia, Yang sudah dicadangkan hingga datangnya maut. Bila Allah mengambil hidup, Dari semua hamba-Nya, Secara tiba-tiba kedatangannya.

Lamun sira bida nganggo iki, Dadi jalma kaot. Yeku aran manungsa arane.  Tégésira unusaning jalmi. Arang kang ngawruhi, Wrin manungsanipun.

Bila kamu dapat mempergunakan ilmu ini, Jadi orang yang terpilih. Itu artinya manusia yang sejati. Maksudnya ialah sari-intinya manusia. Jarang ada yang megetahui, Mengetahui manusiaannya.

BAGIAN V

Nama lagu dan bentuk syair : MASKUMAMBANG. *)
Jumlah baris tiap bait : Empat.
Suara akhir masing-masing baris : i, a, i, a.
Jumlah suku kata masing masing : 12, 6, 8, 8.

*). “Mas” Disini berarti mati atau jenazah. Bandingkanlah dengan “ngemasi” !!

“Mas Kumambang” berarti jenazah yang terapung-apung. Dalam zaman Kuna, Jenazah orang tidak dikubur, akan tetapi dilabuh atau diserahkan kepada laut. Lagu “Maskumambang” hendak melukiskan perasaan susah, pedih ketika berpisah dengan kekasih, yang sudah mendahului kealam baka.

1. Wruhanira, sagung wong urip puniki, Pésthi lamun péjah. Yen wus péjah urip malih. Uripe pan warna-warna.

Ketahuilah, semua orang yang hidup ini, Pasti akan mati (meninggal). Kalau sudah mati hidup lagi, Hidupnya itu bermacam-macam.
———————————-

Menurut kepercayaan orang Jawa dahulu, dan sekarang juga masih ada orang-orang yang menganut kepercayaan itu, manusia hidup didunia ini tidak hanya satu kali saja, melainkan berkali-kali hingga ia dari tingkat paling rendah hingga mencapai tingkat kesempurnaan (pengertian “manitis’).

Dalam pengertian  yang populer, pandangan demikian ini mungkin tampaknya mentertawakan, misalnya manusia dilahirkan kembali menjadi hewan. Yang demikian itu sangat bertentangan dengan pengertian evolusi. Akan tetapi dalam pandangan “manitis” itu tidak menyimpang dari akal.

Menurut hukum kekekalan zat dan tenaga, dalam alam ini tidak ada zat dan tenaga yang dapat lenyap begitu saja. Hilangnya tenaga mekhanis misalnya karena menjelma menjadi tenaga panas, tenaga listrik atau tenaga lain; suatu jenis zat lenyap karena menjelma manjadi jenis zat lain. Demikianlah hidup, yang boleh dipandang sebagai suatu macam tenaga atau malahan sebagai sumber tenaga juga tidak dapat hapus bigitu saja, akan tetapi harus menjelma menjadi sumber tenaga atau hidup yang lain.

2. Sébab dene anut ngamale duk nguni. Yen bécik ngamalnya, Ngakerat dadine bécik. Aja nganti dadi ala.

Sebab menurut amalnya dahulu. Jika baik amalnya, Diakherat jadinya baik. Jangan sampai menjadi buruk.

3. Pramilane den padha laku kang bécik, Supadi dadiya, Ngakerate dadi bécik. Wong bécik pasthi raharja.

Oleh sebab itu berbuatlah yang baik, Supaya akibatnya, Akhiratnya menjadi baik. Orang baik tentu bahagia (selamat).

4. Pan wong ala yen masih tinitah janmi, Iku pan wus béja. Tinimbang dadi bubabi, Aluwung dadiya janma.

Bila orang jahat masih dilahirkan menjadi manusia, Itu masih untung. Daripada jadi babi, Lebih baik jadi manusia.

5. Dene ingkang bécik ora dupeh sugih, Nora dupeh wirya, Nora dupeh priyayi. Ala bécik karseng driya.

Dan yang dianggap orang baik itu, bukan karena orang kaya,Bukan karena kedudukan (pangkat), Bukan karena bangsawan. Jahat dan baik itu kehendak hati.

6. Wus mangkana iku karsane Hyang Widi : Urip nuli péjah, Yen wus péjah urip malih, Léstari tanpa wekasan.

Sudah demikian kehendaknya Hyang Widi : Hidup lalu mati, Sesdudah mati hidup lagi, Abadi tak ada akhirnya.

7. Wruhanira, dene laku ingkang bécik, Iku karsaning Hyang. Kang ala lakune iki, Padha karsaning Hyang Suksma.

Ketahuilah, sedangkan perbuatan yang baik, Itu kehendaknya Hyang (Tuhan). Demikian perbutan yang jahat, Semua atas kehendak Hyang Suksma.
————————————————

Baik dan buruk (jahat) itu sudah merupakan suatu dwitunggal. Seluruh pengertian manusia bersandar atas pasangan-pasangan dwitunggal, yang saling merupakan kebalikannya. Hal yang tidak ada kebalikannya atau tidak dapat diperbandingkan dengan hal-hal lain, yaitu hal yang mutlak, tidak dapat difahami oleh akal manusia dengan jelas.

Meskipun baik dan jahat itu sudah merupakan pasangan dwitunggal, itu tidak berarti bahwa manusia harus bersikap pasif terhadan ajakan hatinya untuk berbuat jahat. Sebaliknya segala ajakan kearah jahat harus ditindasnya dan seluruh tenaga jiwanya harus ditujukan kearah kebaikan.

8. Aja mamang, wus kocap ing dalil-dalil : Wa tukrijul haya Kalawan min al mayiti, Lan wa tukrijul mayita.

Jangan ragu-ragu, sudah tersebut dalam dalil-dalil : Wa tukrijul haya, Dan min al mayiti, Dan wa tukrijul mayita.

9. Min al hayi. Kalawan lapale malih : Watarjug man tasa, Miwah bil gaera hisabi. Tégése lapal punika :

Min al hayi. Dan lapal seterusnya: Wa tarjug man tasa, Dan bil gaira hisabi. Arti lafal tersebut adalah :

10. Gusti Allah amétokakén ing urip, Awit saking péjah; Lawan métokakén pati, Kang pati wit saking gésang.

Allah menciptakan hidup, Berawal dari kematian; Dan menciptakan kematian, Sedang kematian berawal dari hidup.
———————————————————

Dalam bait 8 dan 9, dan dijelaskan dalam bait 10 itu kutipan dari Al Qur’an, surat Ali Imron, ayat 27 dan bunyi yang sebenarnya :

Wa tukhriju hayya minalmayyiti

Wa tukhri’ju mayyita minal-hayyi

Wa tarzuqu man tasya bi ghairi hisabin.

Arti “Wa tarzuqu man tasya bi ghairi hisabin” ialah : dan Engkau memberi rezeki kepada yang Engkau kehendaki dengan tidak tanggung-tanggung.

Kebenaran pernyataan, bahwa Tuhan menciptakan hidup dari mati, dan mati dari hidup itu, telah dapat dibuktikan oleh perkembangan keilmuan Kimia-Physika dewasa ini. Kini manusia telah dapat membuktikan bahwa energie (sumber segala gerak) itu dapat diciptakan dengan terhapusnya zat (pangkal dari segala benda, yang tidak dapat bergerak jadi mati). Jika energie (hidup) itu penjelmaan zat, maka zat (mati) sebaliknya harus merupakan penjelmaan energie (hidup) juga.

Perkembangan pengetahuan akan tenaga atom, yang telah dapat menelurkan pembuatan bom-atom, yang sangat mengagumkan kekuatannya itu, ialah akibat langsung dari pengertian baru tentang hubungan antara energie dan zat, yang dapat dikemukakan oleh manusia dewasa ini.

Satu kilogram zat, apabila dapate dijelmakan dengan sempurna menjadi tenaga, akan menimbulkan tenaga sebanyak 90.000 juta kilogram-meter tiap detik atau 1.200 juta tenaga kuda dalam sekejap mata.

11. Ingkang gésang iku samya den paringi, Réjéki ing Allah. Ana akeh ana thithik, Apan pinentés ing kira.

Yang hidup itu semuanya diberi, Rejeki oleh Allah. Ada yang banyak ada yang sedikit,Masing-masing manurut kadarnya.

13. De ingkang pinaringan réjéki luwih, Den sukur ing Allah, Ingkang pinaringan thithik, Den narima ing Pangeran.

Yang diberi rejeki banya, Bersyukurlah kepada Allah. Dan yang diberi rejeki sedikit, Berterimakasihlah kepada Tuhan. 

BAGIAN VI

Nama lagu dan bentuk syair : DHANDHANGGULA.
Jumlah baris tiap bait : Sepuluh.
Suara akhir masing-masing baris : i, a, e, u, i, a, u, a, i, a.
Jumlah suku kata masing masing : 10, 10, 8, 7, 9, 6, 8, 12, 7.

1. Wruhanira urip puniki, Dipun ngrasa yen bakal palastra, Tanwun ngaraha slaméte. Tégése slamét iku, Antuk rahmat saking Hyang Widi. Tégése aran rahmat, Cinadhang swarga gung. Dene kang aran suwarga, Sarwa dhangan ngakihrat mukti léstari, Sapangkat murwatira.

Ketahuilah orang hidup itu, Bahwa ia akan menemui ajal. Baiknya usahakan keselamatan, Artinya selamat itu, Memperoleh rahmatnya Hyang Widi. Arti sebutan rahmat, Disediakan surga mulia. Dan yang dinamakan surga, Serba bahagia diakhirat yaitu kemuktian yang kekal, Menurut derajat dan kepantasannya.

2. Pan mangkana neng dunya duk urip, Lamun thithik kabécikanira, Ngakhirat thithik rahmate. Yen akeh bécikipun, Pésti akeh rahmat tinampi. Upamane wong dagang, Paitane agung, Pésthi akeh bathinira. Lamun thithik paitane, duk ing kuni, Pésthi thithik bathinya.

Demikian sewaktu hidup didunia, Bila sedikit kebaikannya, Diakhirat sedikit rahmatnya. Jika banyak kebaikannya, Tentunya banyak rahmat yang diterima. Seumpama orang berdagang, Modalnya besar, Tentunya banyak untungnya (laba). Bila sedikit modalnya sejak dahulu kala,  tentunya sedikit keuntungannya.

3. Undha-usuk pangkating urip : Kang rumiyin pangkating kawiryan, Prihatin pangkat pindhone. Karo Karseng Hyang Agung. Gung kawula darma nglakoni, Béja, cilakanira, Atas lokil makpul. Pan wus pinasthi Hyang SUksma. Lire : Béja, cilaka pasthi ndhaténgi. Papésthen rong prakara.

Tingkatan martabat dalam hidup : Pertama kemewahan, Duka-cita yang kedua. Keduanya kehendak Hyang Agung. Semua hamba sekedar menjalani, Bahagia dan celaka, Bergantung kepada lokil makhful. Sudah dipasthikan oleh Hyang Suksma. Artinya : malang, mujur tentunya akan mendatangi. Takdir dua macam itu.
——————————————-

Lokhul mahfud : buku yang didalamnya sudah tercatat nasib manusia satu persatu, berhubungan dengan perbuatan-perbuatannya yang terdahulu.

4. Pramilane sagung wong aurip,  Aja bungah yen ginanjar mulya, Suka, prihatin darbeke : Manawa ngakiripun, Lamun témén marang Hyang Widi, Sayékti tinéménan, Panédyaning manus. Ing dunya dereng kalakyan, Aneng akhir sayékti lamun pinanggih, Wawalése tyas harja.

Oleh sebab itu semua orang hidup, Jangan bergembira bila dianugrahi kemulian, Senang, susah sudah kepunyaannya sendiri. Barangkali akhirnya, Jika setia kepada Hyang Widi, Jika dilaksakan dengan sunguh-sungguh, Permintaannya manusia. Diakhirat tentu akan menjumpai, Balasan hati yang mulia.

5. Jalma luwih médharakén mamanis, Kang cinatur Kitap Tafsir Alam. Tinétépan upamane : Ingkang ségara agung, Lawan papan kang tanpa tulis, Tunjung tanpa sélaga, Sapa gawe iku ? Kalawan jénénging Allah, Lan Muhammad anane ana ing éndi ? Ywan sirna ana apa ?

Manusia terpilih menyampaikan perihal kemuliaan, Yang dibicarakan dalam Kitab Tafsir Alam. Ditetapkan misalnya : Samudra yang luas, Dan tempat yang tidak bertulis, Teratai yang tidak berkuncup, Siapa yang membuat ? Dan nama Allah, Dan Muhammad dimana adanya ? Bila lenyap apa yang masih ada ?

6. Damar murup tanpa sumbu nénggih, Godhong ijo ingkang tanpa wéksa, Modin tan ana bédhuge, Sétek pisan wus rampung, Tanggal pisan purnama sidi, Panglong grahana lintang, Iku sémunipun, Kang sampun awas ing cipta.  Aja sira katungkul maca pribadi, Takokna kang wus wignya.

Pelita menyala tanpa sumbu, Daun hijau tanpa pohon, Modin tanpn bedugnya (modin = juru azan), Sekali singgung sudah tamat, Tanggal satu bulan purnama, Panglong gerhana bintang. Itulah lambang (simbol), Manusia yang sudah waspada akan ciptanya. Jangan selalu membaca sendiri saja. Tanyakanlah kepada yang sudah sidik (arif).
——————————————————————–

“Samudra Besar” ialah gambaran lautan hidup. Seluruh Alam yang terbentang ini boleh dikatakan penuh sesak dengan bagian-bagian zat yang tidak berhenti geraknya (molekul-molekul, getar acther). Karena adanya gerak itu disebabkan oleh adanya gaya atau tenaga, dan hidup ialah sumber tenaga, maka seluruh alam ini harus terisi dengan hidup juga. Inilah yang dilambangkan sebagai “Samudra Agung (Samudra Besar).

Tempat yang tak bertulisan, mengisahkan hal yang mutlak khususnya Tuhan. Artinya mutlat atau absolut, yaitu sesuatu yang tak ada lawannya atau yang tidak ada yang menyerupainya, dan karenanya tidak dapat dikenal oleh manusia dengan jalan membandingkannya dengan barang atau hal yang lain. Karena tidak dapat dikenal oleh manusia, maka manusia tidak dapat memberi nama kepadanya dan karena itu tidak dapat menulis namanya juga. Inilah yang dimaksud dengan tempat yang “tak bertulisan”.

Dalam ilmu pasti dan ilmu alam kerapsekalai dijumpai persoalan-persoalan mutlak, misalnya garis yang mendekati garis lain secara asymptotis, yaitu semakin lama semakin dekat, akan tetapi tidak akan dapat bertemu atau menyinggung saja ! Contoh lain ialah temperatur mutlak, yaitu temperatur 273 derajat Celcius dibawah nol, padanya segala gerak akan terhenti, sampai gerak molekul-molekul yang tidak akan dapat dilihat oleh manusia. Hingga sekarang manusia baru dapat menciptakan temperatur 272 derajat Celsius dibawah nol.

Nama Allah dan Muhammad dimana adanya ?? Pengertian akan Allah yang sebenarnya dan pengertian akan Muhammad, rasul-Nya dari sudut mystik baru dapat dicapai oleh manusia apabila ia sudah dapat menyadari pribadinya yang sebenarnya. Yang dimaksud dengan pribadi manusia bukanlah tubuhnya, perasaannya, akal atau fikirannya, persoonlijkheidnya atau individualeitnya yang semuanya dalam mystik hanya dipandang sebagai bayangan-bayangannya saja atau alat perlengkapan hidup saja. Ini semuanya hanya merupakan milik (milik = kepunyaan : hak) pribadi manusia, milik dan miliknya itu tentu bukan hal yang sama. Pangertian akan pribadi manusia itu dalam cerita wayang dikisahkan dalam cerita Dewa Ruci.

Jika nama Allah dan Muhammad tidak ada lagi, apa yang ada ?? Pribadi manusia telah terbenam dalam sifat-sifat Tuhan, manusia sudah bersatu dengan Tuhan, keadaan yang dapat dialami oleh para Nabi dan para orang Suci. (Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun).

Sekali menyingung sudah tamat. Manusia yang sekali, karena kemurahan Tuhan dapat bersinggungan dengan Tuhan, yaitu dengan penuh kesadaran dan keinsafan jiwanya diperkenankan menyaksikan kenyataan Tuhan, mendapat pegangan dalam hidup yang sentosa dan tidak memerlukan pegangan lain lagi. Ia tidak haus lagi akan bermacam-macam ilmu. Bagian pengejaran ilmu-ilmu itu sudah dibelakang, sudah selesai (tamat). Ia hanya akan berusaha untuk senantiasa menyadari kenyataan Tuhan.

Tanggal satu purnama sidi (bulan purnama). Paradok ini melukiskan saat manusia mendapatkan kesadaran akan Ilmu Kasunyatan atau Ilmu Hakiki, saat manusia mengerti dan sadar akan kenyataan Tuhan. Ilmu Kesunyataan, yang bagaikan cahaya yang gemilang menyinari hidup manusia yang memilikinya, sehingga segala persoalan hidup dan keilmuan menjadi terang benderang, sejak mulai dimakluminya (tanggal satu) meninari hidup manusia dengan sepenuhnya (bulan purnama.

7. Lawan sastra adi kang linuwih, Lawan Kur’an pira sastra nira, Estri priyadi tunggale, Lawan ingkang tumuwuh, Sapa njénéngakén sireki ? Duk sira palakrama, Kang ngawinkén iku ? Sira yen bukti punika, Sapandulang yen tan wéruha, sayékti Jalma durung utama.

Dan sastra indah utama yang tertinggi, Dan Al Qur’an berapa sastranya ? Wanita dan laki-laki utama ada perapa jumlahnya ? Dan berapa jumlah yang tumbuh ? Siapa yang memberi nama kepadamu ? Waktu kamu menikah. Siapa yang menikahkan ? Kalau makan siapa yang menyuapi ? Jika belum mengetahuinya, sebenarnya, Belum menjadi manusia yang utama.
——————————————–

Sastra atau tulisan disini digunakan sebagai gambaran kata-kata, yang pada hakikatnya tidak lain dari pada pernyataan perasaan dan fikiran manusia. Sastra ingdah-utama ialah kata yang pertama-tama, dengan disadari atau tidak timbul dalam batin manusia. Kata itu tidak lain daripada AKU, yaitu pernyataan akan kesadaran manusia, bahwa ia itu ada, sebagai sesuatu yang hidup. Kata-kata atau sastra lain baru dapat timbul apabila manusia sudah sadar akan Akunya. Barulah ia dapat berkata : AKU ADA, AKU HIDUP, AKU BERJALAN dan lain sebagainya.

Sastra yang ada dalam Al Qur’an hanya satu, yaitu Allah. Perempuan dan laki-laki utama hanya ada satu jodoh. Perempuan dan laki-laki disini digunakan sebagai lambang dari seluruh alam yang tergelar ini dan Allah menciptanya, yang meliputinya dengan segala kemurahan dan kasih-sayang-Nya.

Bagi mikrosmos laki-laki perempuan itu ialah lambang jiwa-raga. Jumlah yang tumbuh hanya satu, yaitu hidup.

8. Lawan angangsu pikulan warih,  Amek géni pan nganggo dédamar, Kodhok angémuli lenge, Rangka manjing ing dhuwung, Miwah baita mot ing jladri, Kuda ngrap ing pangéngan, Lan gigiring punglu, Tapake kuntul anglayang, Kakang mbarép miwah adhine wuragil, Tunjung tanpa sélaga.

Mencari air membawa sepikul air, Mencari api membawa pelita, Katan menyelubungi liangnya, Sarung masuk kedalam keris, Dan sampan berisi samudra, Kuda melonjak dimuka pandangan, Punggung peluru, dimana ? Bekas kuntul yang melayang-layang, Kakah si sulung , adik si bungsu, Teratai tidak berselaga (kelopak).
——————————–

“Mencari air membawa sepikul air. Mencari api membawa pelita”.

Kedua paradok ini dapat diberi arti yang sama. Air dan api disini digunakan sebagai lambang pengetahuan atau ilmu. Orang yang mencari ilmu harus sidah mempunyai modal ilmu dahulu, sekalipun hanya sedikit. Tidak ada orang yang mengejar keilmuan yang belum mempunyai dasar.

Air digunakan sebagai lambang pengetahuan, karena air dapat menyegarkan segala tumbuh-tumbuhan, hal mana sesuai dengan sifat ilmu yang menyinari hidup manusia.

Api mengeluarkan cahaya yang dapat memberi penerangan, sesuai dengan sifat ilmu yang menyinari hidup manusia.

Katak menyelubungi liangnya. Katak disini ialah lambang hidup manusia dan liangnya adalah tubuh manusia. Hidup manusia meresapi dan meliputi (menyelubungi) semua bagian tubuh manusia. Hidup, sebagai rasa, tidak hanya ada dibagian-dalam tubuh akan tetapi ada juga dibagian luar, kulit.

Sarung masuk kedalam keris. Maksudnya sama dengan paradok diatas. Sarung melambangkan tubuh manusia, keris hidupnya. Yang dimaksud sarung ialah sarung keris.

Sampan berisi samudra. Dalam samudera hidup yang memenuhi seluruh kosmos ini, semua benda, termasuk tubuh manusia, dapat dipandang sebagai sampan-sampan yang terapung-apung diatasnya. Hidup manusia (para Nabi), yang sudah dapat bersatu dengan Tuhan, memenuhi (berisi) seluruh alam (samudera) ini, akan tetapi berpusat dijasmaninya (sampan).

Kuda melonjak dimuka pandangan. Kuda ialah lambang nafsu dan fikiran manusia, yang dalam usaha manusia untu menguasai nafsu dan fikiran memberi perlawan yang keras dan melonjak-lonjak ibarat kuda. Pandangan disini ialah pandangan batin manusia. Pandéngan itu sebetulnya tiang (wantilan) yang ditanam orang ditengah rerumputan dimuka pendapa. Perlunya untuk mengikat kuda kecintaan sang adipati, agar dapat selalu dipandang, jika sang adipati sedang duduk didalam pendapa. Umumnya kuda yang diikat pada pandengan itu sudah jinak, jadi tidak melonjak-lonjak atau berlari-lari (ngerap).

Punggung peluru. Peluru jaman dahulu ialah gumpalan timah hitam yang berbangun bola, jadi tidak ada punggungnya. Akan tetapi sebaliknya dapat dikatakan, bahwa setiap setengah lingkaran meridian bola itu, ialah punggung peluru.

Masalah ini digunakan untuk melambangkan Tuhan, yang walaupun tidak dapat disaksikan ada dimana-mana.

Bekas kuntul yang melayang-layang. Kuntul ialah lambang fikiran manusia, yang sebagai burung yang dapat terbang, melayang-layang hingga sampai dibintang-bintang yang terjauh. Bekas fikiran terdapat dalam ingatan (geheugen) manusia, dan bekas fikiran tadi tajam dan dalam sekali apabila bertalian dengan pengalaman-pengalaman yang pahit.

Kakak sulung dan adik si bungsu. Paradok ini menggambarkan hubungan antara Tuhan dengan manusia. Tuhan sebagai pencipta seluruh alam ini terdahulu adanya dari pada Cipta-Nya yang pertama (kakak si sulung), akan tetapi Tuhan dapat dipandang juga sebagai adik si bungsu, ciptaan Tuhan yang terakhir, yaitu manusia, karena adanya sebutan Tuhan yang terakhir itu sesudah adanya manusia. Pendapat bahwa manusia itu ialah ciptaan Tuhan yang terakhir, sebagai makhluk yang sesempurna-sempurnanya sesuai dengan teori Darwin dan mendapat bukti-bukti juga dari sisa-sisa paleontologis yang dapat diketemukan sampai sekarang.

9. Lawan siti pinéndhém ing bumi, Miwah tirta kinum jroning toya, Lawan sréngenge pinepe, Lawan géni tinunu, Pan walanjar dereng akrami, Prawan adarbe suta, Ndhog bisa kaluruk, Jéjaka rabine papat, Pan wong mangan sabén dina-dina ngélih, Lawan mangan sapisan (pan wus marém).

Dan tanah yang tertanam dalam bumi, Atau air yang terendam dalam air, Dan matahari yang dijemur, Dan api yang dibakar, Serta janda yang belum pernah kawin, Gadis yang telah berputra, Telur dapat berkokok, Jejaka (bujang) beristeri empat, Dan orang makan setiap hari tetap lapar, Serta makan sekali sudah puas.

——————————————-

Tanah yang tertanam dalam bumi;  yang terendam dalam air; Matahari dijemur, api terbakar : keempat paradok ini melambangkan hidup manusia dan hidup yang penuh sesak mengisi seluruh alam ini, atau hubungan antara mikrokosmos dan makrokosmos, yaitu manusia dan Tuhan.

Janda belum pernah kawin. Terpisahnya dwitunggal, yang merupakan mula pertama dari segala keadaan dalam alam tergelar ini menjadi tenaga dan zat atau hidup dan kebendaan, atau Tuhan dan alam cipta-Nya, dikiaskan sebagai perceraian antara suami dan isteri.

Maka seluruh alam kebendaan ini, yang sejak terciptanya seolah-olah ditinggalkan oleh Penciptanya, yaitu Tuhan (karena Tuhan tidak terlihat), diibaratkan sebagai seorang janda. Janda (alam terbentang ini) dipandang belum pernah menikah (bersatu dengan Penciptanya, Allah), karena walaupun ciptaan dan pencipta itu mula-mula bersatu (kawin), persatuan (perkawinan) tadi tidak dialaminya dalam kesadaran. Persatuan (perkawinan) dalam kesadaran menurut agama baru akan terjadi pada hari yaumiddin (day of reckoning, dag der vergelding). Gambaran mengenai terpisahnya saba-mula yang pertama-tama menjadi alam terbentang dan Tuhan dilukiskan juga dalam cerita nabi Adam, ketika ia dalam surga menciptakan Ibu Hawa dari salah satu tulang rusuknya, yang sesuai dengan pandangan filsafat, bahwa Tuhan menciptakan seluruh alam ini daripada sebagian dari diri-Nya.

Gadis berputra. Paradok ini melukiskan peristiwa terjaganya (atau lahirnya) Tuhan dari kenikmatan yang dirasakan-Nya, sebelum pada-Nya timbuk Kehendak untuk menciptakan alam ini. Kenikmatan abadi, yang dipandang sebagai sabab-nula segala-galanya yang tidak dapat di singgung-singgungnya dengan akalnya pun, disini dilambangkan dengan gadis/perawan. Dalam agama Nasrani persoalan filsafat ini yang sebetulnya hanya merupakan suatu perlambang, rupa-rupanya dipandang sebagai betul-betul pernah terjadi.

Bujang beristeri empat. Melambangkan manusia biasa pada umumnya, yang hidup dengan keempat jenis nafsunya, yaitu Luamah, amarah, sufiah dan mutmainah. Manusia biasa digambarkan sebagai bujang, karena ia belum kawin dengan Ilmu Hakikat, Ilmu Kasunyatan. Dalam tradisi perguruan tinggi barat terdapat lukisan demikian. Seorang mahasiswa mula-mula mencapai gelar baccalaureat, bachelor atau bujang dulu. Pada masa itu ia belum dianggap menguasai ilmu yang dituntutnya dengan sepenuhnya. Sesudah ia menjalankan ujian yang tarakhir (doktoral) dapat membuktikan bahwa ia sudah betul-betul mahir dalam keilmuannya itu, ia mendapat gelar Master Of Science atau Master of Arts. Karena ia sudah benar-benar bersatu (kawin) dengan ilmunya, ia mendapat gelar Master, Tuan, majikan atau Rabbi dari ilmunya Wus ngrabeni ilmune.

Makan sekali puas. Manusia yang sudah sempurna pengetahuannya tentang Ketuhanan, atau dengan perkataan lain telah dapat menyaksikan dengan mata batinnya sendiri kenyataan adanya Allah, tidak haus lagi akan segala ilmu. Peristiwa ini yang dimaksudkan dengan “Makan sekali puas”.

10. Pan wus marém, miwah alam tafsir, Den wéwijang jroning sasmita, Apan puniku sémune. Ingkang samodra agung, Tampa tépi anérambahi.Éndi kang aran Allah ? Tan roro tétélu. Kawulane tanna wikan, Sirna luluh kang aneng datullah jati, Aran sagara Purba.

Dan sudah puas, serta alam tafsir, Diprinci sebagai petunjuk, Itulah lambangnya. Samudra yang luas, Tanpa tepi, meresapi seluruh alam. Manakah yang disebut Allah ? Tak ada lainnya (dua atau tiga).Makhluknya tidak ada yang menyadari,Karena sirna terlarut dalam datullah sejati, Yang disebut lautan kekuasaan.

11. Ana papan ingkang tanpa tulis. Wujud napi artine punika, Sampyuh ing solah sémune, Nir asma kawuleku, Mapan jati rasa séjati, Ing jro pandugeng toya, Marang ing Hyang Agung. Pangrasa sajroning rasa, Syéktine kang rasa nunggal lan urip, Urip langgéng dimulya.

Ada tempat yang tak bertulisan. Kosong mutlak artinya itu, Dalamnya lenyap terlarut dalam segala gerak dan semu. Hapus sebutan Aku karena, Masuk kedalam inti rasa sejati. Didalam tiada bangun (sadar), Kediaman Hyang Agung Perasaan masuk kedalam rasa, Sebenarnya rasa sudah bersatu dengan hidup, Hidup kekal serba nikmat.
—————————————–

Wujud napi, kosong mutlak, nirwana dalam agama Budha, tempat segala bentuk bangun dan sifat telah kembali keasal-mulanya. Nama hamba, yaitu Aku lenyap juga.

Taya = kosong atau ketiadaan, bandingkan dengan perkataan Sunda “teu aya” atau jawa kuna “taya”.

12. Sasmitane ingkang tunjung putih, Tanpa slaga inggih nyatanira, Rokhilafi satuhune. Datullah ananipun, Yeku sabda ingkang arungsit. Iku pan bangsa cipta, Hananira iku. Tandha kang darbe pratandha. Kang sumendhe, aja angrasani Gusti, Purwane munggweng wara.

Isyarat teratai putih, Tak berkelopak ialah kenyataan. Ruhilafi sebenarnya. Itulah adanya datullah, Itu, sabda yang sangat pelik. Itu kan perihal cipta, Adanya itu. Tanda yang mempunyai pertanda. Harus berserah, jangan mempercakapkan Tuhan, Mula hanya berpangkal pada ajaran saja.
—————————————

Teratai putih (lambang kesucian dan kemurnian) tak berkelopak mengibaratkan hidup yang tak bertubuh, meskipun tubuh halus atau ruh. Akal manusia dalam usahanya untuk mendapat  pengertian tentang Tuhan yang bersifat mutlak nyata nyata tak mencukupi.

Oleh karena itu percaya saja pada Tuhan, jangan mengupas-Nya. Segala kata untuk membatasi pengertian akan Tuhan tentu tidak tepat, apalagi karena segala pengetahuan kita tentang Tuhan tadi kebanyakan baru berdasarkan ajaran (warah-wuruk) saja, jadi belum berdasarkan persaksian batin.

13. Damar murup tanpa sumbu nénggih, Sémunira urup aneng karsa. Dat mutlak iku jatine ! Anglir tirta kamanu, Kadi pulung sarasa jati, Aranira iku. Nur Muhammad nuksma rasa, Rasa jati punika ingkang sayékti. Ya Allah, ya Muhammad.

Pelita menyala tidak ada sumbunya, Itu prlambanga nyala pada kehendak. Dat Mutlak itu sebenarnya ! Seperti air yang bercahaya.  Seperti wahyu dengan rasa sejati. Itulah bentuk tunggal, Yang disebut itu. Nur Muhammad menjelma menjadi Rasa. Rasa sejati itu sebenarnya. Ya Allah, ya Muhammad.
—————————————–

Bentuk tunggal : bandingkanlah dengan Allahu ahad.

14. Godhong ijo tanpa wréksa iki, Semunira ing masalah ing rat, Lah iya urip jatine. Dudu napas puniku, Dudu swara lan dudu osik, Dudu paningalira, Dudu rasa pérlu, Dudu cahya kantha warna, Urip jati iku, nampani sakalir, Langgéng tan kéna owah.

Daun hijau tidak berpohon, Itu lambang masalah alam. Yaitu hidup sejatinya. Bukan nafas itu, Bukan swara dan bukan gerak batin, Bukan pemandangan, Dan bukan rasa syahwat, Bukan cahaya, bangun atau warna. Itulah hidup sejati, yang menerima segala persaksian, Kekal tan ada ubahnya (tak dapat berubah).
———————————————–

Daun ialah lambang makhluk.

Hijau lambang hidup.

Pohonnya ialah Tuhan yang tidak dapat disaksikan.

15. Pasémne kang modin puniki, Pan bédhuge muhung aneng cipta, Iya ciptanira dhewe. Nanging sira puniku, Pan ingakén sulih Hyang Widi. Cipta iku Muhammad, Tinut ing tumuwuh. Wali, mukmin datan kocap. Jroning cipta Gusti Allah ingkang mosik, Unine : rasulullah.

Yang dilambangkan oleh modin itu, Karena akal berperanan bedug juga, Ialah akalmu sendiri. Akan tetapi kamu itu, Sebenarnya mewakili Hyang Widi juga. Akal itu Muhammad, Pemimpin hidupmu. Wali, mukmin tak disebut, Dalam cipta Allah yang bergerak, Suaranya rasulullah.

16. Lamun ménéng Muhammad puniki. Ingkang makmum apan jénéngira. Dene ta génti arane, Yen imam Allah iku, Ingkang makmum Muhammad jati. Iku rahsaning cipta, Sampurnaning kawruh. Imam mukmin pan wus nunggal, Allah samar Allah tétép kang séjati, Wus campuh nunggal rasa.

 Jika diam Muhammad itu, Yang makmum ialah kamu sendiri. Jika berganti nama, Allah sebagai imam, Yang makmum ialah Muhammad sejati. Itulah intisarinya cipta, Kesempurnaan ilmu. Imam mukmin sudah bersatu, Allah bayangan dan Allah tetap yang sejati, Sudah bercampur bersatu rasa.
———————————————————-

Dalam kehiningan sembahyang manusia yang dalam hidup sehari-hari dipimpin oleh akalnya (mind, verstand, denvermogen), dipimpin oleh hidupnya sejati, yang dalam bait ini dilambangkan oleh Muhammada Jati.

Selanjutnya yang bermakmum kepada Allah itu ialah Muhammad Jati (lambang sari hidup manusia).

Dalam kesempurnaan sembahyang (semadi yang lulus) terjadilah persatuan antara mukmin sejati (Muhammad Jati) dengan Imam Sejati (Allah).

Keadaan demikian seperti yang dilukiskan dalam bait diatas, kiranya yang dialami oleh para Nabi Besar, ketika mereka insaf akan pribadinya sebagai Rasulullah.

17. Ingkang ngawinakén sira iki, Iya Allah ngawinakén sira, Muhammad dadi waline, Jabrail Sahidipun. Sira kawin sajroning masjid, Saksine Johal Awal. Allah apulangyun, Pulangyun sajroning cipta. Sir kawine apanta ilmu Séjati, Iku sampurnaning Dat.

Yang mengawinkan kamu itu, Ialah Allah yang mengawinkan kamu, Muhammad jadi walinya, Sahidnya Jibril. Kamu kawin didalam masjid, Johar Awal saksinya. Allah telah bersatu, Bersatu dalam cipta. Maskawinnya ialah Ilmu Sejati, Itulah kesempurnaan Dat.
———————————————————-

Dalam mystik perkawinan itu sering digunakan sebagai lambang persatuan (manunggal) antara Tuhan dan manusia kekasihnya, suatu kejadian yang dalam Sholat Daim atau Semadi sering dialami oleh para Nabi Besar. Satu-satunya syarat untuk perkawinan itu ialah Ilmu Kasunyatan atau Ilmu Hakiki, yang harus menjadi milik manusia dahulu, sebelum ada kemungkinan akan terlaksananya cita-cita manusia yang tertinggi itu.

Bekas-bekas dari kepercayaan akan kemungkinan persatuan antara manusia dan Tuhan tadi masih  jelas dalam Agama Katholik. Para suster dan pastur ikhlas meninggalkan segala kenikmatan hidup keduniawian dan mempersembahkan hidup mereka dalam penghambaan kepada Tuhan, karena mereka berpengharapan di akhirat akan menjadi mempelai Yesus Kristus.

18. Sira nginum lan bukti puniki, Ilmuning Dat iku sayéktinya, Dat Mutlak iku arane. Yen sira wus angetung, Muhung Suksma kang bangsa urip, Urip ara Pangeran, Tan roro tétélu. Cahyane Ciptaning rasa, Rasanira asilém jroning jaladri, Urip langgéng dimulya.

Kamu minum dan makan itu, Ilmunya Dat itu yang sebenarnya, Dat mutlak itu namanya. Jika kamu sudah menghitung, Hanya Suksma yang tergolong hidup, Hidup sebetulnya Tuhan, Tiada dua atau tiga, Cahaya dari cipta dan rasa, Rasamu terselam dalam lautan, Hidup yang abadi dan mulia.
————————————————-

Dat atau Zat ialah perkataan Arab yang berarti pathi, sari atau inti. Ilmu Dat ialah tentang sebab mula segala keadaan dan kejadian dalam alam ini.

Dat mutlak ialah sebab mula yang pertama-tama, yang tidak dapat dikenal atau difahami oleh akal manusia. Dalam keagamaan Dat Mutlak itu Allah.

Ketika kamu minum dan makan, siapa yang menyuapmu ?? Pertanyaan ini mengingatkan kepada seremoni dalam Gereja Katholik kalau sedang diadakan misa suci. Dalam upacara ini para jemaah oleh Romo/Pastur disuap sepotong roti. Upacara ini mengikuti naluri (tradisi) yang telah mulai Jesus ketika ia mengadakan makan malam suci, yang merupakan perpisahannya dengan pengikut-pengikutnya. Pada malam itu ia memberikan minuman anggur dan makanan roti kepada pengikut-pengikunya sambil mengatakan bahwa roti itu bagian dari tubuhnya dan anggur itu darahnya. Upacara itu dinamakan komuni suci (holy communion) atau pemersatu suci. Yang menyuap para jama’ah ialah Jesus sendiri, dalam peranannya sebagai Allah ingkang Putra, yaitu Allah yang bertahta dalam hati sanubari manusia. Penyuapan roti anggur yang dinamakan holy communion itu merupakan lambang bagi manunggaling Kawula Gusti. Roti dan anggur jadi lambang Ilmu Kasunyatan, ilmu yang tidak dapat digrayang oleh akal manusia.

19. Ingkang bangsa suwara puniki, Ilmuning Dat lawan kanthi Allah, Ya iku tétép tapane. Sirnane roro iku, Sampurnaning panyipta jati. Iki sajroning rasa, Rasa apulangyun, Apulangyun rasaning rat. Sajroning rat sarira kahanan urip, Pan urip sajroning rat.

Yang tergolong ucapan itu, Ilmunya Dat serta dengan kehendak Allah, Yaitu yang kuat tapanya (tirakat). Sirnanya kedua hal itu, Kesempurnaan pencita sejati, Itu didalam rasa, Rasa yang bersatu, Bersatu dengan rasa alam. Dalam alam diri sendiri tersaksikan sebagai hidup, Dan hidup didalam alam.

20. Mulaning rat pyuh dadya kakalih, Apan kadi suksma jroning toya, Luwih angel péngrétine. Yen sira wus andulu, Jroning laut kang purweng jati, Iku sabdaning tingal, Sampurneng pandulu. Sirnaning rasa samudra, Ing sagara Purba ingkang anamadi, Gumlaring pramuditya.

Awal mulanya dunia terbagi menjadi dua, Ibarat suksma didalam air, Lebih sulit menyelaminya. Jika kamu sudah melihat, Dalam lautan kekuasaan yang sejati, Itulah firman yang terlihat, Kesempurnaan penglihatan. Sirnanya rasa samudera. Didalam samudera kekuasaan yang menyelubungi, Tergelarnya alam semesta.
————————————————–

Sebab mula yang pertama terjadinya seluruh alam ini ialah terbaginya menjadi dwitunggal, yaitu segala hal atau pengertian, yang merupakan pasangan-pasangan berlawanan (paar van tegenstelling).

Terbaginya menjadi dwitunggal itu, diibaratkan suksma dalam air. Dalam Ilmu Karang (filsafat), suksma itu diperlambangkan dengan air sehingga “seksma dalam air” berarti air dalam air, yang sulit sekali menyaksikannya. Ini tidak lain hanya untuk menggambarkan bahwa terbaginya menjadi dwitunggal yang pertama itu masih sangat sukar untuk dapat difahami dengan jelas oleh akal manusia. Dalam ajaran agama yang benar-benar mutlak itu hanya Tuhan.

Kata lain untuk “tingal” dalam bahasa Jawa maripat, yang asalnya dari bahasa Arab makrifat. Orang yang sudah makrifat ialah orang yang sudah dapat menyaksikan dengan mata jiwa sendiri segala hal yang hakiki (waarheid, truth). Bandingkang dengan kata arif !! Yang dimaksudkan dengan pramuditya ialah mikrokosmos atau dunia kecil. Dalam keadaan bersatu dengan Pemuranya (manunggaling Kawula Gusti) mikrokosmos meluasnya menjadi makrokosmos.

21. Tégése laku satindak iki, Ananira ingkang Johar Awal, Rasa Nur jati uripe. Ananing urip iku !! Anging Allah sifate Urip, Nunggal kahananira, Iku jatinipun. Uripnya padha kang ana, Ananing Hyang ingkang tansah anglimputi, Nadyan sasipatira.

Atinya laku perjalanan ini, Adanya dari Johar Awal,Dari Rasa Nur sejati hidupnya. Adanya hidup itu ! Yaitu Allah sifatnya hidup, Bersatu dengan keadaanmu, Iku yang sebenarnya, Adanya Tuhan yang selalu menyeliputi, Meskipun hanya sifat-Nya.
—————————————–

Johar Awal ialah bontang Venus atau Wrahaspati sebagi bintang pagi. Johar Akhir ialah Venus sebagai bintang malam (sore). Johar Awal ialah lambang Malaikat Jibril atau lambang kesadaran akan hidup sejati.

22. Tégése ménéng amangun éning, Ananira manuksma ing rasa, Rasa karsa sejatine. Iku suksmaning laut. Solah bawa sampun manunggil. Mapan solahing Allah, Ananira iku. Saosike iku Allah, Ingkang mobah, amurba mi seseng dhiri, Nyrambahi kang gumélar.

Artinya diam menciptakan kesunyian, Keadaamu merasuk didalam rasa, Rasa dan kehendak yang sejati. Itulah samuderanya suksma. Gerak gerik yang sudah bersatu. Dalam gerak Allah, Keadaanmu itu. Segala gerak itu Allah, Yang bergerak, mengusai diri, Melimputi semua yang tergelar.
————————————–

Manusia yang hidupnya semakin mendekati kesempurnaan tidak merasakan dirinya lagi sebagai pribadi tersendiri, akan tetapi semata-mata sebagai suatu alat yang digerakkan dan dijalankan oleh Allah (Man is but a tool in the hands of Good). Semua perbuatan dan tindakan yang dilakukannya sebagai wujud berbakti terhadap Allah yang menciptakan dan memeliharanya, lepas dari segala perhitungan akan kepentingan diri pribadi.

Inilah sebenarnya maksud dari kalimat “Bismillahirrohmanirrohim” yang hendak dilukiskan dalam bait terakhir ini dan sekali-kali tidak boleh diartikan “Aku (manusia) itu Allah”.

Tamat

 

SULUK TEGESIPUN AKSARA ALIP


Anggitanipun Abdi-dalem Pangeran Wijil Kadilangu. 

Sekar Asmaradana : 24 pada. 

  1. Kawruhana kang sayekti, nyatane alip punika, lawan maknane alipe, lan asale alip punika, saking neptu jatinya, lan asale ingkang neptu, puniku saking ing derah.
  2. Lan maknane derah iki,  gih puniku roh kang samar, lan maknane roh kapine, puniku kinawruhana, iya sir ing Pangeran, iya iku maknanipun, puniku den-kawruhana.
  3. Dalil daim sanusiri, wa’ana siruhu ika, lan maknane sajatine, puniku cahyaning ngedat, nyata maknane ika, satuhune ing Hyang Ngagung, puniku nyataning ngedat.
  4. Utami ati kang yekti, puniku kejatenira, kawruhana mupung mangke, ingkang ingaran punika, neptu kajatenira, utawi kang neptu iku, nalikane jaman kina.
  5. Ngisthi puniku kang dhingin, pan iya patang prakara, kang dhingin patah aran, lan kaping kaliye kapal, kaping tigane rapak, kaping sakawane neptu, iku sira kawruhana.
  6. Maknane patah winarni, namane eroh punika, maknane kapal jatine, puniku namane kalam, lawan maknane rapak, asmane budi kang luhur, maknane neptu pan cahya.
  7. Wonten kang winuwus malih, utawi tegesing kalam, asmane lam awal mangke, tegese budi punika, asma lam akir ika, tegese cahya puniku, iya iku kajatetennya.
  8. Utawi tegese alip, asmane kang Maha Mulya, tegese lam awal mangke, asma Jabrail punika, nenggih kejatenira, den-utus maring Hyang Makluk, wonten malih kang winarna.
  9. Tegesipun kang lam akir, gih puniku nur Mukkamad, den-utus maring Makluke, wonten malih kang winarna, tegese asma purba, asma kang wajibbul wujud, puniku asma kang nyata.
  10. Kawruhana kang sayekti, patah lan kapal punika, kalam punika asale, pan saking alip sadaya, puniku datan liyan, kerana alip puniku, wiwinih kurup sadaya.
  11. Sejatine ingkang alip, gustine kurup sadaya, andikanira Hyang Manon,  sampun tumurun ing Kur’an, pira-pira sastranya, lah punika lairipun, Allah-tangala ngandika.
  12. Kumpule alam kang wahit, pangandikaning Pangeran, ucapena sayektine, Muhammad dipun takyukna, amung Allah kang ngrasa, kang namadi kabeh iku, poma sira ngawruhana.
  13. Nora anak-anak singgih,  tan den-anakaken nika, nora sakuthu wujude, wong sawiji dipun-cegah, nenggih kajatenira, wonten malih kang amuwus, ujare ingkang utoma.
  14. Kumpule Kur’an kang yekti, ing dalem jroning patekah, puniku iya kumpule, ana ing dalem bismillah, bismillah iku uga,  nenggih aneng dalem kurub, kumpule kurup punika.
  15. Kumpule ing dalem alip, kumpule alip punika, aneng nging neptu jatine, saking neptu tokid ika, datan ningali liyan, sira ing Ngallah kang Ngagung, utawi tokit punika.
  16. Tokid iku aling-aling, sawiji-wiji ika,  aningale ing ngatase, andikane Nabi Duta, wangale iwa salam, wonten malih kang winuwus, iku sira kawruhana.
  17. Wiwitane kang sayekti, lair andadekaken alam, ing budi kang luwih kaot, lawan wiwitan punika, andadekaken Allah, ing roh kang jati puniku, wiwitane malih ika.
  18. Andadekaken Hyang Widdhi, ing nure Nabi Muhkammad, nabi nulya ngandika lon, salal lahu nglehi salam, cahya mukmin punika, kabeh iku eroh ingsun, sebdane Nabi Utusan.
  19. Wonten malih kang winarni, ingkang nama Nabi Adam, bapakne kang jisim kabeh, kalawan Nabi Muhkammad, nyawane roh sedaya, pangandikane wong luhung, lawan sedyane pandhita.
  20. Nenggih nyatane napsihi, iya nyatane Muhkammad, Muhkammad iku kang kaot, kaya nyatane ing tingal, nyata napine ika, rasane Muhkammad iku, Muhkammad rasaning Ngallah.
  21. Nyatane napsi kang yekti, tubadil maring Muhkammad, Muhkammad kang gedhe dhewe, tubadil marang Pangeran, nyata napsine ika, nyatane Muhkammad luhung, iya Allah ya Muhkammad.
  22. Ya Muhkammad iya napsi,  lan iya iku sampurna, niyat sira kejatene, lamun nora wruha sira, marang jatine niyat, yekti sira dadi bingung, ngalamat pan durung selam.
  23. Seh Junet ngandika aris, sing sapa amartakena, rasane Pangeran kiye, dadi kupur kapir ira, sing sapa nora warta, maring Pangeran puniku, dadi jail lan bidengah.
  24. Nenggih rasane Hyang Widdhi,  yekti adoh lawan sira, wis nyata ing sarengate, puniku kupur makripat, iku kupur sampurna, kang nyata kajatenipun, ing-ucap tan wruh ing sira.
  25. Marang ing desa kakalih, kang kinarsakaken ika, aningali ing karone, tuture kakalih ika, kalawan panarima, kadi surya lintang iku, lawan sedyaning ngutusan.

Kapethik saking Serat suluk jaman karaton-dalem ing surakarta.

 

Terjemahan :

Terjemahan yang sederhana ini dapat membantu memahami naskah SULUK TEGESIPUN AKSARA ALIP (Suluk Maksudnya Huruf Alif), karena latar belakang pengetahuan penerjemah bukanlah sosok yang berpendidikan tinggi dan hanya bermodalkan nekat saja, maka bila ada keselahan dalam mengalihkan kedalam bahasa Indonesia saya mohon maaf yang sebesar-besarnya serta mohon kepada para pembaca yang budiman dikoreksi. Nuwun. (Kumitir). @@@

  1. Ketahuilah yang sebenar-benarnya, kenyataannya huruf Alif itu, serta maknanya Alif, dan asal usulnya Alif itu, sesunggunya berasal dari hari dan pasaran, dan hari dan pasaran berasal dari, yaitu berasal dari darah.
  2. Dan maknanya darah, yaitu merupakan ruh yang samar atau gaib, dan maknanya ruh ilafi-nya, itu ketahuilah, yaitu sir-nya (kehendaknya) Pangeran, itulah maknanya, maka ketahuilah itu.
  3. Dalil daim sanusiri, wa’ana siruhu, dan arti sesungguhnya, itu merupakan cahayanya Dzat, nyata maknanya, sesungguhnya berada di dalam Hyang Agung, itulah kenyataannya Dzat.
  4. Hati mulia yang sesungguhnya, itulah kenyatannya, ketahuilah sekarang, yang dinamakan, kenyataan hari dan pasaran, atau yang disebut hari dan pasaran, ketika jaman dahulu.
  5. Ngisthi itu yang pertama, dan itu juga terdiri dari empat macam, yang pertama disebut patah, dan yang kedua kapal, yang ketiga rapak, sedangkan yang keempat neptu, itu harus kamu ketahui.
  6. Artinya patah yaitu, namanya ruh, artinya kapal sesungguhnya, itu namanya kalam, serta namanya rapak, merupakan namanya akal budi yang luhur, sedangkan artinya hari pasaran adalah cahaya.
  7. Ada yang dikatakan lagi, atau maksudnya kalam, yaitu namanya lam awal, artinya akal budi yaitu, yang bernama lam akhir, artinya cahaya, yaitu merupakan kenyataannya (wujud yang nyata).
  8. Atau artinya Alif, namanya Yang Maha Mulia, artinya lam awal adalah, yaitu namanya Jibril, yaitu kenyataannya, diutus oleh Tuhan, dan ada lagi yang diceritakan.
  9. Maksudnya yang lam akhir, yaitu Nur Muhammad, yang di perintah oleh Tuhan, ada lagi yang di ceritakan, artinya asma purba (nama, kekuasaan), yaitu nama yang Wajibul wujud (wajid ada), itu adalah nama yang nyata/sesungguhnya.
  10. Ketahuilah yang sebenarnya, patah dan kapal itu, sedangkan kalam itu berasal, dari Alif semuanya, itu tidak lain, karena Alif itu, merupakan bibit dari semua huruf.
  11. Sebenarnya yang dinamakan Alif, itu merupakan tuannya semua huruf, yaitu sesungguhnya Hyang Manon, yang sudah turun di dalam Al Qur’an, berapapun jumlahnya sastra, itulah lahirnya, Allah taala bersabda.
  12. Bersatunya alam yang pertama, sabdanya Pangeran, ucapkanlah yang sesungguhnya, Muhammad di takyukna, hannya Allah yeng merasakan, yang melingkupi semuanya, maka kamu harus mengetahui.
  13. Tidak beranak, dan tidak diperanakkan, tidak mempunyai kembaran wujudnya, satu orangpun tidak dihindari, itulah kenyataannya, ada lagi yang menceritakan, menurut para ahli.
  14. Sebenarnya terkumpul menjadi al Qur’an, di dalam surat Al-Fatehah, telah terkumpul, berada di dalam bissmillah, dan bissmillah itu juga, berada di dalam huruf, sedangkan kumpulnya huruf itu.
  15. Bersatu di dalam Alif, bersatunya Alif itu, berada di dalam neptu (hari dan pasaran) sejatinya, berasal dati neptu tauhid, tanpa melihat orang lain, kamu kepada Allah Yang Agung, atau tauhid itu.
  16. Tauhid itu merupakan aling-aling (tirai, penghalang), satu-satunya, melihat/menyaksikan, ucapan Kanjeng Nabi Duta, Salallahu Alaihi Wasalam, ada lagi yang menceritakan, itu harus kamu ketahui.
  17. Awal mulanya yang sesungguhnya, yang menjadikan terciptanya alam, di dalam akal budi yang melebihi yang lain, serta permulaannya itu, yang menjadikan Allah, di dalam ruh yang sejati itu, dan yang permulaan adalah.
  18. Yang menjadikan Hyang Widhi, di dalam Nurnya Nabi Muhammad, Nabi segera berkata lembut, salallahu alaihi wasalam, itu adalah cahaya mukmin, semua itu ruh-KU, sabda Nabi Utusan.
  19. Ada lagi yang menceritakan, yang bernama Nabi Adam, merupakan Bapaknya  semua jisim (jasad/raga), dengan Nabi Muhammad, merupakan nyawanya semua ruh, ucapnya orang yang derajatnya luhur/tinggi, serta semua pandhita.
  20. Itulah kenyataanya nafsihi, yaitu kenyataannya Muhammad, Muhammad itulah yang melebihi yang lain, seperti kenyataannya di dalam penglihatan, nyata nafinya itu, rasanya Muhammad, dan Muhammad merupakan rasanya Allah.
  21. Kenyataan nafsi yang sebenarnya, tubadil kepada Muhammad, Muhammad yang besar sendiri, tubadil kepada Pangeran, nyata nafsinya itu, kenyataannya Muhammad yang berderajat luhur/tinggi, ya Allah ya Muhammad.
  22. Ya Muhammad ya Nafsi, dan itu sempurna, niyat kamu pada kenyataan, jika kamu tidak mengetahui, kepada sesungguhnya niyat, sungguh kamu jadi binggung, alamat bahwa belum paham.
  23. Seh Junet berkata lirih, siapa saja yang menannyakan, yaitu rasanya Pangeran, menjadi kufur dan kafir kamu, dan siapa saja yang tidak mengetahui berita/warta, kepada Pangeran, akan menjadi jail/usil dan bid’ah.
  24. Yaitu rasanya Hyang Widhi, sungguh jauh dengan kamu, sudah nyata di dalam syariatnya (hukum), itu kufur makrifat, itulah kufur sempurna, yang nyata pada kenyataannya, di dalam ucapan tidak mengetahui dirimu.
  25. Terhadap kedua desa, yang dikehendaki, melihat di keduanya, ucapnya mereka berdua, serta keikhlasan, seperti halnya matahari dan bintang, dan serta niatnya seorang utusan.

@@@

SERAT KAWRUH SANGGAMA


SERAT KAWRUH SANGGAMA

Amarsitakaken patrap sarta mantranipun saresmi.
Ingkang saged karaos marem tumrap wanita.
Tuwin prayogi kadadosaning putra. 

Kaimpun dening : Raden Bratakesawa
Ing ngajeng redhaktur Budi Utama ing Ngayogyakarta. 

Lare ingkang dereng dewasa kaawisan maos serat punika. 

TJETAKAN YANG KEDOEA
Kawedalaken sarta kasade dening :
TAN KHOEN SWIE
ING KADIRI, 1927

*************************************************************

Bubuka

Sampun dangu anggen kula gadhah sedya ngarang serat kawruh sanggama punika, amargi kala kula wiwit ngikat birahi ngantos wanci tumambirang : maos serat-serat gugubahanipun para sarjana ing jaman kina ingkang isi kawruh bab sanggama, kadosta : wedha asmara, nitimani, asmara gama, susila sanggama, lan sapanunggalanipun. Pangraos kula mboten gampil sagedipun inggal dipun mangretosi suraosipun dening saderek kula para mudha ingkang dereng kathah anggenipun dhahar jalaran serat-serat wau satunggal kaliyan satunggalanipun wonten ingkang geseh, tur panganggitipun sami kathah sesekaranipun sarta mawi seselang tembung kawi tuwin tembung monca sanesipun ingkang angel sagedipun enggal cumantheling manah. Nanging kala samanten niat kula wau dereng saged kalaksanan dening kaalangan ing pakaryan.

Samangke kula sampun ngancik satengah sepuh, awon ngigur maosi maleh serat-serat kasebut nginggil cap-capan ingkang kantun kanthhil teka kathah temen ingkang pinanggih lepat ing pangecapipun ngantos andadosaken kalintuning suraos tarkadang malah tanpa teges, punika anjalari manah kula lajeng kagugah maleh, asreng ngarang serat punika.

Menggah pangarang kula serat punika sayektosipun inggih namung ngimpun sarta ngethak-ethukaken karang-karangipun para sarjana wau, kula gubah kula runtutaken suraosipun kula pewah, pamanggih kula piyambak ingkang sasaged-saged kedah pinanggih ing nalar, kados karsanipun saderek kula para mudha ing jaman samangke.

Panggubah kula serat punika ingkang kathah ngangge tembung jarwa wantah kemawon. Mila inggih radi ketingal lekohipun. Ing pangangkah namung sagedo cetha, ingkang maos gampil mangertos suraosipun, mboten langkung namung aksamanipun para nupiksa kemawon ingkang tansah kula suwun.

Rampunging pangarangipun wonten ing kitha Kadiri, ing dinten ngakat legi, tanggal kaping 28 Pebruari 1926 tinengeran (prasa karonsih trusing ati) utawi 14 ruwah, warsa : be 1856 tinengeran (rahsa tinata ngesthi putra).

Kathandan : ingkang ngarang

N.B :

Cap-capan ingkang kaping kalih punika, mboten namung kula lepasaken ingkang lepat ing pangecapipun kemawon : prasasat kula bangun malih, supados langkung cetha suraosipun.

 #### 

I. MULA BUKANING KAWRUH SANGGAMA

Sampun kodrat priya punika manawi ningali wanita lajeng tuwuh manahipun remen, sengsem, mekaten ugi kosok wangsulipun, remenipun wau beda kaliyan remen ingkang tumrap dhateng barang. Sayektosipun lajeng kepengin sajiwa utawi salulut dening kodrat ingkang mekaten wau kita lajeng gadhah panganggep manawi ingkang Maha Kawasa pancen anglilani sarta paring dhawuh supados kula sadaya bangsa manungsa sami ambabaraken tuwuh mong kaisenipun marcapada. Sinten ingkang ngestoaken dhawuh wau sami pinaringan ganjaran kenceng : raos nikmat ing salebetipun tutik.

Ananging sarehning manungsa punika beda kaliyan sato sanajan, bab sarasmi punika sampun sami saged nindakaken inggih kedah nganggeya tata karmaning sanggama utawi susilaning sanggama punika purwanipun wonten kawruh sanggama ingkang ugi winastanan, aji Asmara Gama. Asmara tegesipun sengseming cumbana.

Menggah bakunipun ingkang kinajengaken dhateng ingkang ngagem aji Asmara Gama wau wonten kalih prakawis inggih punika :

  1. Tumrap dhateng rasaning wanita sageda wanita ingkang sininggama punika raos lega, rena, marem carem satemah mantep temen ambangun turut dhateng priya.
  2. Tumrap dhateng putra sageda apuputra ingkang kenging sinebut utawi jalaran saking punika. Mila aji Asmara Gama wau ugi kawastanan, Asmara Dwi Paedah, tegesipun kalih pigunanipun, rahsaning wanita tuwin putra.

Saiba begjanipun manawi priya saged amengku garwa ingkang ambangun turut bekti ing laki, tuwin kagungan putra ingkang utami, sangsaraning sangsara manawi kataman kosok wangsulipun mila kainan sanget manawi priya mboten karsa marsudi sarta ngagem aji Asmara Gama punika.

Kacarios menggah aji Asmara Gama punika ing kinanipun ingkang ngagem namung panjenenganipun para dewa tuwin para nabi, lajeng tumurun dhateng para sinatria ingkang linangkung, angsalipun aji wau sarana perkaos, kedah tinumbas ing tapa brata. Sang Hyang Giri Nata (Bathara Guru) duk jaman kina, Bathari yo sagedipun katarima pinaringan aji wau dening Sang Hyang Tunggal inggih mawi mesu puja brata jalaran taksih sereng marem ing galih kagungan putra sakawan mboten wonten ingkang pinunjul. Sasampunipun Sang Hyang Giri Nata ngagem aji Asmara Gama lajeng saged apaputra Sang Hyang Wisnu gugunganipun para dewa.

Dados aji Asmara Gama punika pancen dede ngilmi sembarangan, mila mboten prayogi damel kangge mainan sayekti malati. Inggih punika : manawi panggilutipun mboten adadasar panggalih suci, resik, sisip sembiripun kesasar kerem dhateng patrap pratingkah lalangening cumbana tuwin raos kanikmatan kemawon satemah dados priya brancah boten pilih-pilih inggih bilahi yektos ngrisakaken jiwa raga mula saderek kula para mudha : den awawas den emut.

II. PIRANTOSING CUMBANA TUMRAP PRIYA

Pirantosing saresmi tumrap priya punika wonten ingkang katingal saking jawi sarta wonten ingkang dumunung ing lebet katarengaken kados ing ngandhap punika :

1. Kalam utawi dakar

Kalam utawi dakar inggih pasta purusa, peranganipun wonten tiga inggih punika :

1).   Otot ageng sakembaran jejer saes dhawuluh ing sanjata panganten, otot punika ing lebet ngrokos pindha jamur karang dados pirantos wadhah erah. Manawi nuju kothong : dakar empuk yen kilen erah dados atos saya kathah rahipun ingkang mili mriku saya mindhak atosipun kiyat kenceng.

2).   Bolongan margi turas lan nutpah, dumunung ing sirahing dakar kapering ngandhap.

3).   Urung-urung margi turas lan nutpah, kaprenah wonten saantawisipun otot ageng sakembaran wau kaperang ngandhap saestalantakipun sanjata panganten wau. Urung-urung punika pungkasanipun ingkang satunggal dumunung wonten ing sirah. Satunggalipun wonten ing poking dakar ugi ngrokos pindha jamur karang, manawi sampun kilen erah saged melar sarta atos.

Titian kina anggenipun nyukani paparap dhateng dakar utawi kalam wau kapendhetaken asmanipun para dewa ingkang sinekti, kadosta : Sang Hyang Surasmara, Sang Hyang Purusa, sapanunggilanipun. Ingkang mekaten wau saking sangeting anggenipun ngaosi.

2. Palandhungan

Palandhungan utawi konthol, punika wujud kulit awangun kantong saged melar sarta mangkeret limrahipun langkung cemeng tinimbang kulit ing saranduning badan. Ing lebetipun palandhungan punika wonten paringsilinipun kalih, jejer gumandhul wonten pokipun dakar mawi kalet-letan ing kendhangan. Ingkang kiwa limrahipun langkung alit katimbang ingkang tengen, nanging langkung landhang. Paringsilan punika gembuk-gembuk saged landhung sarta mangkeret, manawi tiyang saweg ngraosaken nikmating cumban, paringsilan punika dados atos sabab kalenanipun ing lebet kebak isi erah. Paringsilan punika peranganipun ing jawi kepara nginggil wonten amplokipun awangun lintah sarta wonten usus-ususipun ingkang mengkal-mengkol saes nglangi, ciyuting bolonganipun usus-usus punika namung sarambut pungkasanipun kempal dados satunggal kaliyan peh. Usus-usus punika dados urung-urung wedalipun nutpah saking pringsilan. Wonten ingkang nginten manawi tiyang kebincih punika boten saged jimak malih, nanging panginten punika lepat sayektosipun taksih saged namung kemawon boten ngedalaken nutpah, dados boten saged nganarki. Wunguning dakar punika boten sabab saking nutpah, inggih punika saking kilening erah kados ingkang sampun kapratelakaken ing ngajeng.

3. Badhening nutpah

Nutpah utawi kama punika awujud yiyit warninipun pethak monda-monda. Gandanipun saemper kerikan balung utawi cingat. Wedalipun saking palandhungan wigunanipun kangge netesaken badhening manungsa. Menggah kadadosanipun nutpah utawi kama wau saking yiyit tigang prakawis. Inggih punika ingkang medal saking peh, saking purus, tuwin yiyit ingkang medal saking impes. Yiyit ingkang medal saking peh punika boten kenthel sarta tanpa gonad, wedalipun kantun. Dene yiyit ingkang medal saking purus sarta impes punika wedalipun dakar dados kenceng tuwin nalika ngraosaken nikmat. Yiyit punika pliket ugi tanpa gonda. Kempalipun yiyit tigang prakawis punika ingkang anjalari anggonda kados dene kerikan balung. Nanging manawi sampun kenging hawa, gonda wau sirna. Sarat manawi sampun garing warninipun jibles pethaking tigan.

4. Satwa mani maya

Satwa mani maya : jarwanipun kewan kama, inggih punika kewan ingkang alit sanget ingkang dumunung wonten ing salebeting kama. Dumadosipun wonten ing pringsilan. Wiwit lare ngangkat birahi kinten-kinten umur 15 tahun, curesipun ing badan manawi tiyang sampun umur watawis 65 tahun. Satwa mani maya wau saking paringsilan lumember dhateng peh. Kamaning priya ingkang taksih kadunungan satwa mani maya, manawi saged gathuk kaliyan tigan badhening manungsa ingkang dumunung wonten ing wanita lajeng rumesep ing tiga wau apratistha ing jeneripun ing ngriku wanudya lajeng saged ing garbini.

5. Peh

Peh punika wujud kekempalaning kanthongan alit-alit dados wadhahing nutpah ingkang badhe kawedalaken cacahipun wonten kalih, sisih kiwa kaliyan tengen dunungipun wonten ing saantawisipun impes lan usus jubur. Wangunipun kados poporing pistol, lumahipun kebak isi jentolan. Nutpah ingkang saking pringsilan sasampunipun lumampah anglangkungi usus-usus ingkang kados sawer nglangi wau lajeng kendel wonten ing epeh. Ing ngriku peh lajeng ngedalaken yiyit inggih punika lajeng dados kama ingkang medal nalika priya mungkasi cumbana.

6. Purus

Purus punika wujud koyor angeng, warninipun pethak monda-monda, dumunung ing saantawisipun jangganing impes wadhah turas kaliyan poking dakar. Wangunipun memper jambu nanging gepeng, indhenipun katrajang ing urung-urung margi turas pramila manawi purus wau dados ageng, amargi saking sanget karem olah asmara, urung-urung wau dados kaslempit andamel pakewed manawi turas.

III. PIRANTOSIPUN CUMBANA TUMRAP WANITA

Pirantosing cumbana tumrap wanita punika ugi wonten ingkang katingal saking jawi, wonten ingkang dumunung ing lebet katerangaken kados ing ngandhap punika.

1. Parji utawi Pawestren

Parji punika tembung Arab, tembungipun jawi pawestren, kawinipun baga, peranganipun :

1).   Babathuk, wujud daging alus ing gajih, kabasakaken redinipun Sang Devi Venus inggih Sang Hyang Ratih. Milanipun anggajih sayektosipun minongka tatanggul supados pameteking priya duk kala cumbana boten angremekaken balung enem ingkang dumunung ing lebet, babathukipun lare estri ingkang sampun ngangkat birahi punika adatipun kathukulan rambuting prentel, trus mangandhap urut korining parji.

2).   Korining parji inggih punika blewehanipun parji ingkang katingal saking jawi. Limrahipun mingkem adhames nanging wanita ingkang metdaging utawi ingkang sampun kerep ambabaraken putra boten makaten kawontenanipun.

3).   Lambe ageng wonten ing lebeting kori ingkang jawi piyambak saestha wengku. Piranganipun lambe ageng ingkang jawi awujud daging kandel pojokipun ing nginggil gandheng kaliyan kuliting bathuk sangandaping pojok punika wonten dagingipun menthol kawastanan indreng. Lare estri jawi ingkang sampun umur 6 utawi 7 taun, pojokipun lambe ageng ing ngandhap dumunung ing kawet sacelakipun jubur. Manawi wanudya nglairaken jabang bayi ingkang ageng, perangan ing ngandhap wau asring suwek, nanging lami-lami saged pulih malih.

4).   Kawuping parji kawastanan lambe alit inggih punika lambe ageng ing perangan lebet dados inggih gandheng kemawon kaliyan lambe ageng wau. Awarni daging alus malerah abrit dados pirantos nuwuhaken raos nikmat tumrap wanodya. Kuwup punika pojokipun ingkang satunggal dumunung ing ngandhap satunggalipun nyonthong manginggil awujud daging menthol berut-berut kawastanan purana utawi waga prana.

5).   Purana utawi Waga Prana dados pirantos tuking kanikmatan tumraping wanita. Kadadosipun sarta lageyanipun boten beda kaliyan dakar, inggih punika saking otot-otot ingkang alus. Waga prana punika manawi kagepok wanita ngraosaken keri sarta nikmat kathah tiyang ingkang cawuh ambedakaken indreng kaliyan purana utawi waga prana punika. Ing serat bau sastra jiwa kawi : purana, waga purana, kaliyan indreng (itil) punika pancen kadamel sami. Ing tembung walandi inggih makaten, anggenipun mastani indreng punika kittelaar, tembungipun latin clitoris. Ing Kramers Woordentolk anggenipun nerangaken makaten : clitoris (latijn) kittelaar, vrowelijk orgaan der geslachtelijke prikkolbaarheid. Nanging mirit katranganan ing nginggil sayektosipun indreng kaliyan purana punika piyambak-piyambak, indreng : punika turutanipun lambe ageng, dumunung ing pojokipun lambe ageng ing sisih inggil dados ragi ing jawi. Sareng purana utawi waga prana : punika turutanipun kuwup (lambe alit) ugi ing sisih inggil dados dunungipun ragi nglebet. Ingkang saged nuwuhaken raos nikmat tumrap wanita sarta anggadhah ing watak keri manawi kasenggol (prikkelbaarheid) punika purana, indreng : boten.

6).   Daging song. Ing ngandhapipun babathuk baga ingkang nglebet punika wonten dagingipun ingkang kawastanan daging song, dipun parabi Sang Hyang Lambira. Agengipun sami kaliyan mentholing bathuk baga. Song wau manawi kasenggol wanita karaos keri, song lajeng mekrok saestha kewan kintel manawi kasenggol, mekrokipun wau andadosaken karaos nikmat ing sakali-kalihipun (wanita lan priya) daging song kaliyan purana punika inggih sok jumbuh anggenipun mastani, mungkasa yektosipun kathah sanget bedanipun, purana punika daging menthol alit, song punika ageng : sami mentholipun baga, dunungipun langkung lebet malih tinimbang purana. Ing serat nitimani nyebataken manawi Sang Hyang Lambira (song) punika dunungipun wonten ing wurining purana, nanging punapa tembung purana ing serat nitimani wau ingkang dipunkajengaken indreng, punapa purana ingkang sebut ing wangka 5 ing nginggil punika : boten terang, amargi ing serat nitimani boten mratelakaken bab perang-perangan wau.

7).   Margi turus, dumunung sangandhaping purana. Letipun dados pungkasaning margi turasing impes, ingkang nama impes punika kanthongan wadhah turas dumunung wonten sanginggilipun baga.

8).   Pastiawa. Punika lenging parji. Manawi taksih prawan katutupan ing kendhangan alus kawastanan kulit prawan utawi beteng. Beteng punika wonten bolonganipun ciyut manawi katemben rinurah ing kakung : beteng wau bedhah sarta ngedalaken erah mila kenya ingkang saweg sapisan rinabasing priya punika karaos sakit (perih). Beteng wau ugi saged bedhah jalaran dhawah utawi kaplengkang kala alitipun.

9).   Kuwung-kuwung. Inggih punika urung-urung saking pastiawa dhateng borining pranakan dumunung saantawisipun impes lan usus ageng ing jubur. Wangunipun saestha bumbungan nanging gepeng saya nglebet saya jembar. Adekipun boten jejeg lan boten sumeleh, inggih punika mayak, kuwung-kuwung punika awujud kulit kados babad saged melar mingkup sarta tansah teles semu kiner-kiner.

2. Pranakan

Pranakan ugi kawastana wadhah bayi, dumunung saantawisipun impes kaliyan usus ageng ing jubur, sumeleh ing pungkasaning kuwung-kuwung, ing kiwa tengenipun dipun uwat-uwati kendhangan saestha lurub sarta otot gilik, adebipun pranakan wau ugi mayak nunggil sipat kaliyan pastiawa tuwin kuwung-kuwung. Pranakan punika wangunipun kados kalenthing, sarta bolonganipun ing nglebet kadugi namung isi wiji jiram pesel satunggal nanging manawi sampun wonten isinipun jabang bayi saged melar ngebat-ebati. Peranganipun wonten tiga inggih punika ingkang amba lendhuk kawastanan badan ingkang menggik kawastanan jongga, ing pungkasaning jongga kawastanan kesan utawi lenging pranakan gandheng kaliyan kuwung-kuwung, warninipun lesna punika kados silet ayam, wanita ingkang sampun nate ambabaraken putra, leng wau wonten tilasipun suwek wanita ingkang dununging pranakanipun lebet mongka pasta purusanipun kakung kirang panjang, boten saged puputra, amargi panyemproting satwa mani mayanipun kakung boten saged dumugi lenging pranakan. Makaten ugi manawi lenging pranakan wau kepepetan erah sasakit sasaminipun inggih boten saged puputra.

3. Sopanaan Tiga

Sopanaan tiga punika talang tiganing manungsa, wujud bumbungan otot alus kados usus cacahipun kalih, kiwa kaliyan tengen gathuk kaliyan pranakan wonten ing lompongan ingkang wiyaripun namung cekap bobat satunggal talang tigan punika dados marginipun tigan ingkang dumunung wonten ing urita rentah lumebet dhateng pranakan tuwin dados marginipun kamaning kakung ingkang sampun lumebet ing pranakan badhe methukaken lampahing tigan wau. Tigan kaliyan kama wau manawi gathuk wanita saged anggarbini.

4. Uritan

Uritan punika penggenanipun tigan badhening manungsa. Wangunipun bunder bligon warninipun pethak ing nglebet abrit sarta ngrokos pindha jamur karang, isi bayu pinten-pinten sami pluntiran, uritan punika dados timbunganipun pringsilan kaotipun : pringsilan anggenipun nuwuhaken kewan kama (satwa mani maya) wonten ing nglebet uritan anggenipun nuwuhaken tigan wonten ing jawi. Dunungipun uritan punika wonten ing pungkasanipun talang tigan. Tigan saking uritan badhe lumampah dhateng pranakan punika, boten saben-saben nurut ing talang tigan terus saged dumugi ing pranakan nanging mawi katampen ing trompet rumiyin, trompet punika peranganipun ing ngandhap bolong sarta ing pungkasanipun mawi gombyok kawastanan pranye. Gombyok wau terkadhang nutupi lenging talang tigan mila lampahing tigan wau sok sasar kecemplung ing bolonganing trompet ing ngandhap wau, terkadhang kaalang-alangan ing pranye, satemah boten saged dumugi ing pranakan.

IV . PATRAPING CUMBAN KANTHI ASMARA GAMA

Patrap utawi pratingkah ing saresmi punika warni-warni, kadosta : miring, anjebing, lenggah, mangku, ngadeg sukuning wanita dipun panggul, wanita wonten ing nginggil, sapanunggilanipun, ingkang murih sukaning galih, ananging patrap ingkang makaten wau sayektosipun kirang mikantuki tumprap salih-kalihipun. Sarta kenging kabasakaken kekathahen polah boten pasaja.

Ing ngatasipun aji asmara gama, punika boten namung murih leganing prana kemawon inggih ugi amrih leganing rahsa sajati, mila kedah ngangge patrap pratingkah utawi tata kramaning sanggama ingkang prayogi (susila sanggama) sampun kadamel mainan kasukan.

Menggah pratingkah ing cumbana ingkang mikantuki punika kacariosaken kados ing ngandhap punika :

Manawi badhe matrapaken sacumban, punika utaminipun priyantun kawing kaliyan putri lenggah rumiyin ajeng-ajengan, ardaning driyanipun asrep-asrepa, ponca driya kaleremna, sawarni kados badhe muja semedi. Nunten astaning priya ingkang tengen anyepenga dariji manisipun wanita ingkang kiwa, lajeng kapijeta sawatawis supados wanita kraos manahipun gadhah greget saut pyur tratab, ngantos karaos ing jisimipun estri, titikanipun keketekipun estri mungel deg-deg, asring kepireng ajeng-ajengan, nunten kakung angasta agigirpun estri dumugi walikatipun tuwin angarasa poking karna ingkang wradi ngantos dumugi grananipun wanita. Tumunten angalapan pasipun estri, katariking napasipun kakung, ing batos nyipta angalap manahipun wanita wau. Lajeng angaras alarapanipun estri, sarta anyiptaa malih : ngalap warni, kala kuwan tuwin nyawanipun wanita wau sarana dipun aras embun-embunanipun, sadaya wau kedah katindakaken kalayan sabar sareh.

Menggah anggenipun mawi patrap kados ing nginggil punika wau, saking pamanggih kula ingkang dipun kajeng ngaken makaten : sapisan, supados hardaning priyanipun priya boten ngombra-ombra, panggalih boten daya-daya, pikantukipun adamel dangu medaling rahsa, satemah adamel leganing prana tiwun prayogi tumraping putra. Kaping kalih, mawi angeningken cipta angalap manah tuwin nyawanipun wanita (aji asmara cipta), punika manawi katrimah nggih prayogi sanget. Awit saged adamel lega rahsa ning wanodya ingkang sajatining rahsa, pikantukipun wanita saged karaos marem carem lair batos. Kaping tiga, mawi mijet dariji, ngaras sapanunggilanipun punika minongka panggungah supados manahipun wanita saged karaos rahsanipun saged kabuh, pikantukipun garegeting wanita saya mempeng, dununging rahsa enggal cumawis. Satemah gampil ing pangrurahipun, sayektosipun bab patrap ingkang mongka pambukaning rahsa punika inggih kenging nganggep trap sanesipun makaten punika. Namung anggeripun boten sanget saru kados satataning sato, dene utaminipun anindakna aji asmara wanita kasebut ing wingking, mongka pambukaning rahsanipun wanita wau.

Sasampunipun makaten, wanita lajeng karangkula, kasarekaken ing kajang sirah ingkang alon ririh, jengkuning estri kalih pisan katekuka : kasedhekusna manginggil, ragi kabenggang sawatawis, kempol karapetna ing pupu, tungkak karapetna ing pocong saestha kadamel nyagatki. Priya lajeng amatrapna sariranipun pribadi, patrapipun mangkurep suku kalih pisan kaslonyjorna ingkang rapet, padharan kaabena sami padharan. Jaja katumpangna payudara den ririh (anggah-anggah) astaning priya ingkang tengen kasedekusna, asta ingkang kiwa kabantalna ing cengelipun wanodya.

Manawi sampun makaten priya lajeng amaos mantranipun aji asmara gama ing salebeting batos kadosing ngandhap punika :

“Hong hyang-hyang kama jaya ratih, surap sara-surap sarining asmara, ulun mawisik wanita, satemah yumana kang rahsa, sing dayeng aji asmara gam, myang wiseseng paduka”.

Bakda punika lajeng amaosa mantra malih, mongka panariking wiji ingkang utami, makaten :

“Hong hyang-hyang dhada pratingkah, ulun manuhun lumeraheng wijining manusa wakang minulya, mokasuting ulun sing wiseseng paduka”.

Sarampunging pamaosipun montra wau kenging lajeng miwiti nindakaken sanggama. Lebeting pas purus ingkang alon saking sakedhik, manawi pasta purus sampun dumugi ing kuwup lajeng kaangkah-angkaha sagedipun tansah anggo soka esong, pandedelipun ingkang ajeg lan alon-alon manut panjing wedalipun napas, ing salebetipun makaten bilih karsa angaras : angaras saantawising pipilan grana. Panggalintiring penthil kaangkah amurih kerinipun, thukuling raos daya-daya kedah tansah dipun perangi wontenipun namung sareh, ngarah-arah. Empaning sanggama kacipta amanggen wonten ing pucuking pasta purusa.

Manawi song wau tansah kagosok estri karaos nikmat sarta keri, adat ingkang sampun kalampahan lajeng ngedalaken toya ingkang kados yiyiting mina. Ing ngriku kerinipun saya wewah, nyarambahi ing badanipun sakojur, gregeting karsanipun estri katawis saya mempeng, sautipun pastiawa karaos saya kiyeng, watakipun lajeng buteng, inggih punika lajeng palintiran ngulat-ngulet utawi damel solah bawa sansesipun, ingkang sayektosipun ambiyantoni solah ing pasta purus : supados nyenggol ing dununging prasanipun.

Tumrap estri ingkang sampun kawical lenyeh ing kakung, wiwit sinanggama : sampun damel solah bawa, anggenipun damel solah bawa punika mawarni-warni, tanpa mawi taha-taha utawi rikah-rikuh, malah pangraosipun : solah bawanipun wau satunggaling wignyan ingkang saged damel sukaning kakung. Nanging satemenipun : pancen inggih, kathah priyantun kakung ingkang lamlamen dhateng solah bawaning wanita ingkang makaten wau. Dene tumrap wanita ingkang sae saha, solah bawanipun wau namung samadya kemawon : manawi sampun karaos keri sanget jalaran inggih rikuh manawi kadakwa lenjeh ing kakung punika wau.

Ing wekdal wanita greget sautipun katawis saya mempeng wau, priya kedah nimbangana, inggih punika dedel sendhalipun pasta purusa ragi kakerepana sarta karosanipun kaajegna. Sasampunipun makaten sukuning estri lajeng kawudhara : salonjor, pupu karapetna sami pupu, dene pupuning priya kalih pisan inggih lajeng katumpangna ing pupuning wanita. Salajengipun bab pangaras sarta panggalintir penthil ugi kados ingkang sampun kajarwa ing nginggil utawinipun mawiya anyecep lathiningt estri ingkang ririh, sarta sarira kagosokna sami sarira ingkang waradin, manawi solah bawaning wanita sampun katawis saya buteng, kados bathara kala krodha badhe anguntal jagad mratandhani manawi sampun badhe amudhar prasa, inggih lajeng kapungkasana, sarana ngerepaken sendhal dedeling pasta purusa, adat ingkang sampun kalampahan boten dangu wanita lajeng mudhar prasa, mila sirahing purusa karaos kados dipun ameti ing lambening kenya gondhang, (gineget ngepuh kama). Inggih punika korining kayanganipun Sang Hyang Kamajaya binuka medal minongka rahsa pita. Tarkadhang asring kepireng swara mak cethut dening rosaning panggeget amargi saking leganipun, pratandhanipun malih manawi wanita wau sampun madhar prasa, sariranipun ngalumpruk marlupa kados oncat yitmanipun sarta asasambat ingkang damel trenyuh ing manahipun priya. Tumrap wanodya ingkang sampun asring-asring leledhang ing taman lambang sari, asring sambat pejah, boten purun pisah, sasaminipun kados inggih-inggiha. Dene tumrap wanita ingkang sae-sae, adatipun namung sasambat kapurih nyampuni, dening pancen sampun rumaos kalegan prananing rahsa.

Dene utaminipun duk kala badhe mungkasi wau, manawi priya sampun karaos gumreget badhe ngelaken rahsa (kama), punika lajeng wiwit amegenga prasa, tancebing cipta ing gayuha utama. Manawi kama sampun medal pasta purusa katetepna den ngantos netep kakendelna panggosokipun ing ngriku lajeng amepeta ponca driya, eninging panggalih anggayuh utama kalajengna. Pikantukipun : manawi kasusupan wiji mongka lantaraning dumadi, badhe prayogi kadadosanipun.

Wonten matih patraping cumbana ingkang saged damel leganing wanita, ananging priya sok boten betah, jalaran kedah ragi sawatawis dangu ing panggosokipun, patrap wau estri salonjorna bokong kaganjela ing kasuran alit supados baganing estri saged mangal, sukuning priya kapethangkongna, (kasedhekusna mregagah), padharan ugi kaabenna sami padharan jaja katumpangna ing payudara. Panggosoking pasta purusa dedel sandhalipun kabandulna manginggil supados sageda anggosok song, kridhaning bokonging priya sawatawis kaegol-egolna manangen mangiwa. Bab pangarsa paneceping lathi, salajengipun ugi kados ingkang sampun kajarwa ing nginggil.

Patraping sanggama ingkang kasebut ing serat nitimani kados ing ngandhap punika wosipun :

Kalamun pasta purusa, wus kiyeng kiyet santos, kwehning saya wus samekta, iku nulya katindakna, umangsah ing rananggana, sayekti datan kuciwa, katempuh ing rananggana, sayekti datan kuciwa, katempuh ing bandayuda, nanging ta dipun prayitna, ing tendak aywa sembrana, gone bakal nuju prasa, mring wanita mengsahira, supaya lega ning driya, wruh antawisipun waspada, jroning pasti kono ana, musthikaning rasa mulya, rineksa para jawata, karan Sang Hyang watapatra, utawa Sang Hyang gambira (song), dumunung wuri purana, yen tinempuh dening gada, watak keri prasanira, nuli babantune prapta, pipingitan ing jrobaga, ingaran sang hyang asmara, asisilih Sang Hyang Cakra, kang abi praya sarosa, wimbuh keri ngriming ngira, anarik daya ajunya, mring Sang Hyang purnama sangko utama Sang Kamajaya, pameting rahsa mangkana, srana ngagem mawi saya, pratingkah ukeling pasta, kacarita solah hira, duk marwani lumaksana, karya pupusuking yuda, kwehning daya sanis kara, aywasi nerusa rosa, ing tindak kedah saronta, pangangkah amung muriha, keri prasaning wanita, kalawamun wus sawatara, campuh ing pring lama-lama, papalu tumempuhira, pinindha upama gada, tinangkis ing bonda baya (tameng), saking rosaning panggada, kuwating panangkis sira, wekasan metu dahana, mubal sumundhul ngakasa, susumuke ngemu pega, kukus katut samurana, prapta tumanduking prasa, kekerining mengsahira, gumriming saya andadra.

Gantya wau sang wanita, genya tadhah bonda baya, mubal wetuning dahana, sumarambah ing sarira, tan kuwawa anaenna keri gumriminging prasa, saya harda ngombra-ombra, wantu wataking wanodya, yen wus liwung kroda nira, ing budi datan saronta, sigra amusthi sanjata, warastra mongka pusaka, tuturunan sang jawata, ganjaran Hyang Girinata, piningit sajroning baga, yeka kanghru barunastra, sumembur angemu tirta, toya lir yiyiting mina, angalem pasta purusa, wauta sira sang pasta. Silem kineleming tirta, tan montra-montra riringa, ing solah saya gambira, pangeburing barunastra. Lir ombak samodra bena, gangge lumut satepinya, samodra karoban toya, ngempel ngumpu ? Lir tinata, babarisa warata bala, kadi gelar cobra banyua, bobondhot bundheting pasta, nging tan surut saya rosa, liwung pamukireng yuda, mangkya gantya cinarita, ramening prang bratayuda, nulya kono ana swara, lamat-lamat kapiyarsa, surasa asung samita, wiyosa kadya mangkana, eh kulup sira sang pasta, po mangger dipun prayitna, panarik sendhaling gada, maju miwah undur rira, papane lunyu sadaya, wus tan kena tinulaka, wit iluning barunastra, saya adres panemburnya, dene gon malumaksana, lamun lena yekti ina, yen kaplesed angsahira, rebah nindhihi gada, katikel dadya rubeda, ing jro aran roga brata, pileg ing kadadeyannya, lan kulup weruha, adat wataking wanodya, yen wus ngedalaken tirta, kang kadi yiyiting mina, gumriminge saya harda, mempeng sereng ngireng prasa, kawistara sarapira, kiyat kiyeng sariranya, sawonda kejeng sedaya, dene lamun wus mangkana, sira adar beya sedya. Tutulung mring mengsah ira, tumraping asmara gama, tan liya amung wisaya, silahing pusta purusa, sinengkakna pamukira, tempuh pamukuling gada, kang ajeg lan den kerepna, kalawan dipun waspada, amawasa ing sasmita, adat wantuning wanita, yen wus liwung pamukira, nulya kagawe lelewa, pratingkah solah ingkang ga, wit saking kurang prasaja, sajatine karsanira, biyantu solahing pasta, kinen nuju amrenahna, mring dununging prasa sira, kang supaya tinrajangnga, sinondhal pucuking pasta, ing kono dipun turuta, sakarsanireng wanodya, yen pinareng datan lama, wanita amudhar prasa, yekti ana wataranya, gara-gara jroning baga, anyodol pucuking pasta, iku saka kira-kira, laraping reca gupala, kabukaning kang wiwara. Jineking Hyang Kamajaya, aliya tondha mangkana, ing sayekti kawistara, kawawas sawarna nira, ingkang ga sakojur wanda, anglir kaoncatan yitma, lesu ngalumpruk marlupa, kadi-kadi tan kuwawa, anandhing enaking rahsa, sasambate melas sarpa, karya trenyuh ing wardaya.

Patraping cumbana ingkang kawarsitakaken ing nginggil punika wau kenging dipun wastani sampun nyekapi, liripun dene sampun seged damel leganing wanita, pratondha angganipun ngalumpruk marlupa yayah kaoncatan yitma. Ingkang prelu, ing salebetipun saremi, wau priya kedah amawasa ulat liringing wanita, tuwin inggih amawas sariranipun pribadi. Manawi panggalih sampun karaos lega, maren sarem ing salih-kalihpun upami dahahar makaten sampun karaos tuwuk prayogi kapungkasana saperlunipun, inggih punika nalika wanita mudhar prasa wau priya nyarengana wedalipun kama. Nanging manawi liringing wanita sanajan sampun wudhar prasa : nanging sajakipun dereng patosa lega, upami dhahar makaten taksih kedah tanduk utawi manawi priya pribadi ingkang rumaos dereng lega, inggih sampun anyarengi ngedalaken kama, dados wanita mudhar prasa piyambakan, dene manawi priya karaos kelayu badhe tumut mudhar prasa (ngedalaken kama) kedah dipun ampet kalayan tahan, sarananipun ngampet makaten :

Kedah manggen wonten gajeging gela, sampun ngantos kadamel lega, tegesipun : manahing priya sampun kadamel lega, angenget-angeta gelanipun, pasta purusa kakendelna rumiyin wonten ing jawi utawi wonten salebeting kuwup gumantung seneng parengipun panggalih. Manawi sampun ragi aring, raos kelayub dhemudhar prasa wau sampun ical, kenging tumunten kalajengaken malih, nanging sampun grusa-grusu, sampun daya-daya, awit sang wanita wau sariranipun marlup, mila kedah dipun arih-arih, bok manawi kapareng dhangan ing panggalih. Priya kedah angempakna tembung manuhara, manis sedhep ing wicara, den bisa nuju prana, angatingalna katresnanira. Manawi sampun wonten antawisipun kepareng, patrap pratingkahipun inggih tan prabeda kados ing nginggil, sang wanita kagugaha kerining prasanipun, adat ingkang sampun kalampahan boten antawis dangu wanita lajeng pulih malih kakiyatanipun, tandanmgipun kados raseksa badhe amangsa daging. Ing ngriku priya ingkang prayitna, kenging lajeng dipun kerepi sendhal dedeling pasta purusa, sarta lajeng angedalna kama; nyarengi pamudharing prasanipun wanita, dados wanita mudhar prasa kaping kalih, priya sapisan.

Ing serat paniti sastra, gugubahanipun bagawan palasara ingkang sampun dipun jarwakaken dening Sang prabu Jayabaya (*) ing bab 85 nyebutaken makaten : menggahing sanggama, tiyang jaler lan punika saminipun pawestri, mila pangandikanipun dewi drupadi : boten wonten pawestri tuwuk ing kakung. Nanging ungel-ungelan punika sayektosipun tumrap priya ingkang boten ngagem aji samara gama. Manawi priya saged nguja karsaning wanita kados ingkang kapratelakaken ing nginggil nika, wanita inggih saged karaos tuwuk sayaktos malah kacariyos tuwukipun wau sagen kangge ing salebetipun saminggu.

Kacariyos katrimahipun aji asmara gama ingkang makaten punika, wanita karaos angsal sarining kanikmatan ingkang linangkung, sarta tansah enget salaminipun gesang dhateng tanduk solah bawa tuwin warninipun kakung, sanajan tebih inggih tansah katingal gawang-gawangan tuwin boten kasupen raosing kanikmatan wau. Mila priya ingkang sampun widagda dhateng aji asmara gama wau, sanajan mengku pawestri ingkang lejeh pisan insya Allah saged malik dados narimah, manut miturut sapangreh ing kakung, rumaos boten saged pisah. Manawi wonten alangan pisan, mongka estri wau sinanggama ing liyan kakung, ing salebeting cumbana wau tansah karaos cuwa, gela, sarta kengetan wawentahan dhateng raosing kanikmatan nalika sinanggama ing kakung ingkang undhagi aji asmara gama wau, dening priya beda sanget raosipun awit sang widagda asmara gama wau, boten namung saking sagedipun dateng bab patraping sanggama : anuju prasaning wanita kemawon inggih saking katarimah anggenipun nyipta ngalan manah tuwin nyawanipun estri wau dados wanita karaos kalengan sanget rahsanipun sajati. Pancen inggih boten gampil nindakaken aji asmara gama punika, nanging wonten babasanipun : sapa temen-temen: tinemu. Dados manawi wonten priya karsa cumbana sarana roda paksa utawi namung kangge mainan sasaminipun punika boten kalebet ing wawarahipun kawruh sanggama punika.

Manawi priya sampun widegda sayektos nindakaken aji asmara gama makaten punika, sanajan pasta purusanipun alit utawi ageng, celaka, panjanga, sampun sami kemawon : saged damel suka renaning wanita. Nanging priya ingkang dereng saged nindakaken aji asmara gama : boten makaten, manawi pasta purusanipun alit : wanita karaos cuwa, manawi ageng : karaos sebab, yen celaka karaos kemba, yen panjangka raos sakit, dene manawi cekapanan ageng sarta panjangipun sanajan wanita sanged karaos sekeca, nanging inggih boten saged karaos lega. Dene cumbana ingkang ngantos dangu wekdalipun manawi priya dereng widagda aji asmara gama punika malah adamel anyel manahing wanita.

Wonten sarjana ingkang kagungan pamanggih, manawi citra tuwin saniranipun wanita punika perang pinten-pinten warni, wonten namanipun piyambak-piyambak punika manawi sinanggama inggih wonten kawruhipun piyambak-piyambak anggenipun ambukani (miwiti) nglebetaken pasta purusa, amrih enggal kabuka rahsanipun, nanging bab punika kajawi angel anggenipun mastani utawi andunungaken selehipun satunggal-tunggaling citra wau, tuwin sagedipun apal patrapipun miwiti, sayektosipun patrapipun wau inggih namung sakedhik sanget bedanipun kaliyan ingkang sampun kajarwa ing nginggil, bakunipun patraping sanggama punika namung kedah amuriha keri prasaning wanita, makaten salajengipun ngantos wanita mudhar prasa, ing ngriku priya kedah waspada ing semu, duk kala wanita badhe mudhar prasa wau, pasta purusa bedah ragi sineru sendha dedelipun, manawi wanita sampun mundhar prasa, priya anyrengana ngedalaken kama, pasta purusa katetepna ngantos pokipun dumugi ing kuwuping parji tuwin sirahipun dumugi ing lesaning pranakan lajeng kinendelan ing ngangosokipun, ing ngriku pucuking pasta purusa karaos kados dipun ameti ing lambe keyong, inggih punika wiwaraning wanita angepuh kamaning priya, manawi kaleresan wahyaning mongso kalasang wanudya lajeng saged anggarbini. Adatipun sakaliyan senggoring napas saderengana sarta mawi gonda ambeting hawa arum angambar pindha ganda sekar melathi ingkang dhedheng ambabar sari, mretandhani tumruning cahya adi mulya dhateng guwa garbaning wanita alantaran priya.

Para jajaka purun ingkang kirang seserepan sami mastani lesaning pranakan ingkang warninipun kados silit ayam punika ; kenthos sarta sami nginten manawi punika dununging prasanipun papesti. Mila manawi cumbana ngarah sagedipun sirah ing pasta purusa tansah nyenggol ing lenging pranakan wau sarana dipun tetep-tetepaken, panginten punika boten leres, awit lenging pranakan punika manawi kapetel pawestri karaos pegel kirang sakeca, nanging manawi wanita pinuju mudar prasa monga lenging pranakan wau kapetel ing sirah ing pasta purusa (dipun tetepaken) punika wanita karaos marem sanget, lega, tuwuk, anggeripun boten keseron ing pametelipun.

Wonten malih sarjana ingkang kagungan pamanggih, manawi wanci wiwitipun wudharing asmaragama tumrap wanita punika boten sami, miturut beda-bedaning kukulitanipun wanita. Nanging bedaning wanci wau boten kathah kaotipun, namung jam-jaman sedaya wanci dalu. Pancen prayoginipun cumbana punika inggih wanci dalu, kiwa tengenipun tengah dalu ngantos dumugi bangun enjing, awit ing wanci mau kajawi sirep tiyang, kawontenanipun wiji: pinuju pupul manawi dados putra wahanipun badhe kandel wawatekanipun, manawi wayah siyang kawontenanipun, manawi wanci siyang dening soroting suryo, manawi dados putra wahannaipun tipis wawatekanipun. Ing sederengipun cumbana utaminipun sampung ngantos sare rumiyin ing sakalih-kalihipun.

V. NGAGEM AJI ASMARA GAMA KEDAH MAWI LAMPAH: CATUR BRATA

Sadaya ngelmu punika katarimahipun kedah dipun rangkepi laku (lampah), makaten ugi ngelmi asmaragama punika inggih kedah mawi lampah. Dene lampahipun wonten kawan prakawis (catur brata) kados ing ngandap punika :

  1. Lila, inggih punika lila dhateng kalong-longan, tegesipun nuruti sapa nedhanipun estri.
  2. Narima, inggih punika narimah dhateng laladosan tuwin cawisanipun estri.
  3. Temen, tegesipun boten remen cidra, anuo lena ing patembayan.
  4.  Sabar, tegesipun boten sugih duka, para apura ing kalepataning wanita.

Lampah kawan prakawis ing nginggil punika manawi katarimah, saged amewahi dayanipun aji asmara gama, inggih punika wanita saged kadunungan tresna, mantep, sregep, tumemen nguja sakarsaning priya. 

VI. RUBEDANING CUMBANA SARTA PAMBENGKASIPUN

Ingkang prelu kedah sami dipun engeti, manawi badhe nindakaken sacumbana punika : panggalih kedah sabar, saronta, sampun daya-daya lumaksana, angentosana manawi sang pasta purusa sampun kiyat kiyeng, santosa. Manawi dereng kiyat santosa saestu, mongka lajeng sineru lumaksana, punika asring ambalenjani neng wiwara, panggalihing priya dereng lega, sang wanite dereng mudhar prasa, kesaru wiyosipun Sang Hyang Kamejaya. Ingkang makaten punika, kajawi priya piyambak manggih cuwa, inggih cinedaka batosan dening wanita, amargi tiwas karaya-raya wawadi binuka, tibakipun boya montra kadamel lega, malah manggih gela, cuwa. Kacariyos wanita ingkang sampun karaos keri murinding mongka dereng ngantos mudhar prasa lajeng dipun sampuni, punika kajawi cuwa sanget manahipun inggih karaos pegel boyokipun ngantos pinten-pinten jam dangunipun, arata, rak mesakaken.

Kathah para mudha sami remen ngangge jampi awarni galepungan utawi lisah wonteng ing pasta purasanipun, supados kuwawi sacumbana dangu, punika saking pamanggih kulo kirang prayogi, awit danguning cumbana wau lajeng boten timbang kaliyan kikiyataning sarira, liripun manawi sarira ringkih mongka lajeng sinengka kangge cumbana dangu : jalanan ngangge jampi wau, punika ngrisakaken sarira, tur terkadhang jampinipun wau inggih dereng katenan manawi boteh mawi dat ingkang kirang prayogi tumrap kasaraning sarira. Punapa malih danguning wanci wau inggih dereng mesthi damel renanning manahipun wanita. Pawestri manawi sinanggama ing kakung ingkang dereng lebda dhateng aji asmara gama, danguning wanci wau malah adamel sakit, sanajan sinanggama apinten-pinten jam dangunipun. Wanita angel sagedipun mudhar prasa, (ngedalaken rah sapita), malah wewah anyelipun, sukani renaning wanita punika boten saking danguning wanci, inggih punika sidagda ngulah ing sanggama tuwin waskitha mawas kedhep liringing netra, inggih punika ingkang kawastanan kakung undhagi aji asmara gama. Mila para mudha boten prayogi ngagem jampi-jampi kasebut nginggil.

Dene sarana ingkang prayogi punika inggih sabar, sareh, boten daya-daya punika wau. Sarta panggalih kedah ening, bening, awas, eling, pikantukipun :

  • Eneng, adamel dangu wedaling rahsa, angandelaken wiji, manawi dados putra badhe panjang yuswanipun.
  • Ening, saged karaos nikmat manpangat, ambeningaken wiji, manawi dados putra badhe kadunungan watek guna, kawasa.
  • Awas, saged priksa ulat liring wanita tuwin awon saening wiji.
  • Eling, enget dhateng wawadosipun wanita tuwin enget amrenah wiji ingkang awon.

Samangke nerangaken rubedaning cumbana. Menggah rubedaning cumabana punika wonten pinten-pinten bab kados ing ngandhap punika :

  1. Manawi sariraning priya saged kataman ing arip, sakit, luwe, tuwin susah. Milanipun manawi priya saweg kapan dukkan ing rubeda kawan prakawis wau inggih prayogi sampun nindakaken sacumbana.
  2. Manawi priya cumbana kaliyan wanita ingkang prasaning rahsa boten tunggil bongsa. Kadosta manawi lalawalen kayiyan wanita wredadha, satemah panggalih kapandukan ing raos engah, gela, cuwa, kemba. Manawi tawanan kaliyan wanita ingkang kuciwa ing warni, penggalih lajeng kataman ing raos ewa, merang. Menawi lawanan kaliyan estri ingkang awon snget gandanipun satemah panggalih kadunungan raos neg, geg, geg mila prayoginipun priya milih wanita kagem garwa punika ingkang ngatos-atos, kedah ingkang nunggil bongsa prasaning rahsa wau.
  3. Manawi priya boten kapadhaning karsa ing salebeting cumbana. Mila prayoginipun priya sampung grusa-grusu : cumbana sarana roda paksa, pangarih-arihipun den aririh, pamilutipun den mamalat prana, rinungruma ing sabda rum sampun ngantos purunipun saresmi wanita wau namung jalaran ajrih ing pameksa sasaminipun kedah sarana seneng parenging panggalih.
  4. Manawi pasta purusa dereng kiyat santosa lajeng sineru lumaksana, kados ingkang sampun kajarwa ing nginggil, mila prayoginipun manawi pasta purusa wau dereng kiyat saestu, sampun ngantos katindakna sacumbana rumiyin poma den sabar.

Menggah rubeda wangka : punika pancen kerep sanget dipun alami dening para mudha ingkang kirang sabarana, menawi priya kataman ing rubeda wau, panulakipun makaten : kados ingkang kasebut ing bab patraping cumbana manawi priya badhe kelayu mudhar prasa. Ing salebetipun kendel wau priya kedah amumulya kridha, tegesipun amumulih gagas, osik, anggelengna prasa tuwin rahsa. Manawi katarimah, sapandurat kemawon, prasa tuwin rahsa wau saged gumeleng satemah lajeng saged tumindak malih ingkang tan sangsaya, nanging tinimbang makaten inggih prayogi ingkang sabar punika wau.

VII. PANGRUKTINING SARIRA

Wonten sarjana ingkang kagunggan pamanggih, para priya ingkang matekaken aji asmaragama punika perlu sanget dhahar : dhadhaharan utawi jampi ingkang gadhahi daya benter tumraping sarira, kadosta : ulam menda mawi bumbu marica pala, tigan ayam mawi madu tuwin marica, sasaminipun, utawi malih kathah para mudha ingkang sami remen ngunjuk jampi bangsanipun arak supados kiyat, punika wau sadaya menggahing kula ingging kirang condhong awit dhadhaharan utawi jampi ingkang kapratelakaken wau, dayanipun ingkang ageng namung prakawis kiyating sanggama serta ngindhakaken raos kepengin cumbana, tundonipun lajeng dados kakung ingkang barancah karem dhateng cumbana; satemah adamel risaking sarira, prasasat anggege pejah, jalaran kama punika kadadosan saking sari-sari saking otot ingkang alus-alus miwah sungsum, milanipun priya ingkang sanget karem ilah langenning asmara punika adatipun sok kataman ing sasakit ngethok, ngeres, linu, pegel suda paningal, sasaminipun sarta inggih kenging kawastanan ngecer-ecer satwa mani maya, wiji badhening manungsa, ingkang tamtu badhe angsal bebendu saking ingkang maha kuwasa. Kacariyos cumbana punika prayoginipun kerep-kerepipun ing salebetipun saminggu namung sapisan langkung saking saminggu saya prayogi.

Dene ingkang prelu kedah dipun jagi punika bab kasarasaning sarira, sarananipun resikan sampun tumandang ingkang sarwa nyengka, (langkung saking ukuran) tuwin adhahar dhadhaharan ingkang prayogi tumrap sarira, kadosta : peresan lembu, tigan ayam, sekul saking uwos ingkang taksih wuluh, kacang ijem, sayur-sayuran, sapanunggilanipun, bab punika para nupiksa tamtu boten kakilapan, manawi karsa ajajampi jawi, para sepuh paring piwulang, kacariyos lempuyang punika saged nuntumaken urat-urat ingkang lumempit uwi katilap, dene unjuk-unjukan ingkang prayogi punika : bonggoling nampu. Kaabennan oyoding lempuyang, oyoding kunir, oyodhing sedhah, oyoding rumput teki tuwin oyoding nampu punika carub dados satunggal kagodhog ing toya ingkang ngantos tanah, toyanipun kakantunaken sapalihipun.

Sadaya ingkang saged ngindhakaken raos kapengin saresmi punika saking pamanggih kula malah prayogi sanget dipun singkirna ing sawatawis, kadusta kakathahen wungu, kakathahen eses, (udud), ngunjuk kopi kakathahen dhahar lombok, sasaminipun ingkang adamel benter raosing sarira.

Pasta purusa ingkang waras wiris punika saking pamanah kula boten prayogi dipun rekadaya : dipun unjuki jampi-jampi ingkang murugaken kirang kiyet, kuwawi saresmi dangu. Awit dedehiyenging pasta purusa tuwin danguning wanyahe cumbana punika ingkang saged damel lega rahsaning wanita, manawi priya dereng saged susilaning sanggama. Ingkang murba wisesa anggenipun maringi gawuhan saranduning angga kita tamtu sampun mawi ukuran kikiyatan ingkang timbang kaliyan pigunanipun, amurih kiyating pasta purusa tuwin danguning cumbana, boten wonten sarana malih ingkang prayogi, mikantuki, kajawi namung saking sabaring panggalih punika wau.

Dene ingkang prelu tumrap para mudha punika namung sampun ngantos tumindak utawi dhahar dhaharan ingkang saged ngendhokaken pasta purusa, kadosta : kelan terong, eses mawi, uwur kalembak pucuk, sapanunggilanipun, sampun lenggah ing papan asrep andhodhok kedangon, malumpat wiyar, sadaya punika saged ngendhokkaken purus.

Nanging manawi priya pancen kataman ing sakit kirang kiyat pasta purusanipun inggih punika peluh utawi melur, punika inggih prayogi dipun jampeni ing saperlunipun, adatipun priya ingkang kataman sasakit makaten punika, manawi boten kenging alangan sanesipun, jalaranipun saking karem asmara ingkang ngantos langkung saking taker. Jampinipun : kedah cegah sanggama rumiyin ngantos samantunipun pungu sarta siram saben enjing, ebah ing sarira ingkang ajeg, dhahar dhadhahran ingkang sarwa empuk sarta andamel kiyat tumraping sarira, wosipun sarira kaliyan panggalih kedah tansah dipun seseger. Ingkang langkung prayogi inggih punika nyuwun pitulunganipun dhokter tuwin mituhu ing sapitedahipun.

VIII. TUMURUNING WIJI INGKANG WINADI

Kacariyos malebetipun wiji punika anyarengi lebeting napasipun bapa, Nunten umineb wonten ing utek lajeng rembes dhateng panon, inggih punika sarining utek ingkang manggen wonten salebeting menika, wiji ing sasampunipun wonten ing ngriku kawawa manuksama ing pramana, sarta kawawa amor sarasa, rasaning pramana andayani saeka karsa, nunten anarik daya serening sacumbana. Punika saged mewah muncaring pangeksi, dene manawi linantur dados batur, lahiripun saged mahanani putra.

Menggah badhe kadadosanipun putra wau ing tembenipun punika manut empaning cipta sarta urubing pramana wau. Awit duk kala wau wiji sumusup ing pramana lajeng nunggil urubing pramana, punika upami tetedan : sagreneking ciptanipun wau minangka bumbu, urubing pramananipun minangka bau. Bumbu manawi sampun kaulet ing bau, raosipun lajeng kempal, dene matengipun kadah wonten ing pabrik ingkang sakalangkung premati, dumuning guwa garbaning rena. Kawastanan yitna maya.

Tanda yektinipun manawi kadadosaning putra wau miturut empan tancebing cipta nalika sami sacumbana pupu kiran utawi wawatekaning putra punika ingkang kathah memper kaliyan yayah renanipun, jalaran ing nalika papasihan wau tancebing cipta ing sakalih-kalihipun sami kadunungan welad tuwin tresna. Nanging terkadhang pupu kiran utawi wawatekaning putra wau memper kaliyan kaki nini, sanak sadherek, tiyang ingkang sanget dipun tresnani utawi sanget dipun gethingi ing yayah renanipun. Punika sababipun inggih saking tancebing ciptanipun yayah rena duk kala saresmi wau saweg tumuju dhateng kaki nini, sanak sadherek tiyang ingkang dipun tresnani utawi dipun gethingi wau. Milanipun manawi sami cumbana kaliyan garwa dipun ngatos-atos, sampun ngantos kaselanan cipta ingkang badhe mahanani kirang prayogi kadadosanipun, leres sanget para sepuh sami paring wasita wanti-wanti dhateng putra wayah : manawi mentas saking kekesahan, ngabotohan, kaget, gumun, sasaminipun sampun ngantos cumbana kaliyan garwa, ingkang dipun kawekani : bok menawi ing salebetipun sacumbana lajeng kagagas punapa ingkang mentos dipun sipati kala wau.

Bab wahananing wiji miturut daya tancebing cipta punika, mila boten aneh manawi putranipu sujanma ingkang hambek panandhita wonten ingkang boten dados abahan, anakipun tiyang ingkang karem lampah maksiyat dados tiyang ingkang utami. Awit sang hambek pinandhita wau duk kala saresmi kaliyan garwanipun, bok manawi saweg kaselanan cipta ingkang adi. Inggih punika lenggahipun babasan : bangsa punika madosi bangsanipun (soort zoekt soort). Nanging menggah lalampahanipun sang hambek pinandhita kaliyan tiyang ingkang krempah maksiyat mau punika kenging kawastanan saweg kawinujan utawi dumadakan (nyebal). Manawi adatipun: tiyang ingkang kulina ulah puja brata punika yekti kathah kaengetanipun, tancebing ciptanipun inggih kerep cipta ingkang utami. Tiyang ingkang remen lampah maksiyatan punika tancebing ciptanipun inggih kerep cipta ingkang kirang prayogi wusana dadosipun putra inggih sami mirib kaliyan tiyang sepuhipun, babasanipun : kacang boten nilar lanjaranipun.

Wonten malih katrangan bab dayaning cipta ing salebetipun sacumban, kacariyosaken makaten : manawi nalika sacumban punika serenging priya dumunung wonten ing priya, punika manawi ngleresi wahyaning mangsa kala saged dados putra, badhe mahanani putra estri amargi serenging driya wau prasasat anyipta putri ingkang endah ing warni. Kosok wangsulipun manawi dados putra mahanani putra kakung ingkang kathah-kathah, bapa punika tresna dhateng anak estri, biyung kathah tresnanipun dhateng anak jaler, biyung ingkang nyipta anak jaler punika wau.

Ing serat widya kirana (*) amratelakaken miturut suraosipun serat jitab sara, karanganipun balawan palasara ing wukir martawu, bab wijanganing wiji punika kados ing ngandhap punika :

  • Manawi wiji wujudipun kandel, ing tembe badhe mahanani putra kandel manahipun, manawi tipis inggih tipis manahipun, yen wiji wau ageng, mahanani budi jembar, yen alit yekti rupah budinipun, inggih wiji wau mancorong, badhe mahanani budi ayeman, bilih besem inggih badhe mahanani watak sungkawan.
  • Manawi cumbana ing wanci siyang, ingkang tamtu wiji wau tipis amargi pramana nedhengipun amer, yen wanci dalu kandel amargi pramana nedhengipun pupul, mila utaminipun cumbana punika ing wanci akiring dalu dumugi bangun enjing.

Bab wahananing wiji miturut dhateng ingkang andarbeni daya panggendeng, kapratelakaken kados ing ngandhap punika :

  • Manusa ingkang saweg tuwuh tancebing cipta welas asih, ingkang tamtu urubing pramana warni pethak sumirat biru amaya-maya, mong kalajeng kataman eneng, punika lajeng kawawa narik wiji, ingkang sumusup inggih sami kaliyan urubing pramana wau, ing tembe manawi mahanani putra : sarwa jatmika, alus kabudayanipun asih welasan ananging kirang panggraitanipun.
  • Manawi manungsa saweg katuwuhan tancebing cipta : rila, legawa, murubing pramana tuwin wiji warni jene sumirat ijem ing tembe badhe mahanani putra berbudi, lantip pangraitanipun kajen sasamining tumitah.
  • Manawi tancebing cipta pinuju mardika budayan kurubing pramananipun tuwin wiji : abrit ambaranang, ing tembe manawi mahanani putra : limpad pasanging panggraita, wasis ing pamicara sarta emutan ananging cugetan manah.
  • Manawi manungsa saweg tuwuh tancebing cipta runtik sapanunggilanipun ingkang tamtu urubing pramana tuwin wiji warni cemeng meles ing tembe manawi mahanani putra, santosa dhateng kaawonan panas baranan tur bodho dhateng kabudayan.
  • Manawi saweg tuwuh tancebing cipta methuthuk gumunggung, rumaos kaleresan sasolah bawanipun urubing pramana tuwin wiji : biru muyeg sumirat amarakata, badhe mahanani putra sae manahipun sarta andarbeni karilan ananging sanget bodho.
  • Manawi saweg tuwuhan tancebing cipta drengki, urubing pramana tuwin wiji warni wungu sumirat ing tembe badhe mahanani putra andaluya, dora ing pamacara, remen pandamel ngiwa, asring benging sasakit gendheng tuwin wuta.
  • Manawi saweg tuwuh tancebing cipta tarima, urubing pramana tuwin wiji : ijem ungu-nguwung, ing tembe manawi mahanani putra hambek apura paramarta, rila, terima, legawa.
  • Manawi sujana makulina nungku puja brata aish sasamining dumadi, hambek paramarta, temen narima, ingkang tamtu urubing pramana tuwin wiji warni ijem nem munycar maya-maya, ing tembe menawi mahanani putra : wicaksana, lepasing pambudi langkung saking sasaminipun manungsa, saged mengku darajat ageng.

Sarehning wiji punika bangsanipun alus dados saged dipun priksa inggih kedah sarana alusing pandulu, inggih punika saking eninging panggalih, sirnaning karsa, sarehing panggonda, lereming ponca driya, jatmikaning solah bawa.

Ing ngajeng ugi sampun kapratelakaken ing salebeting sacumbana punika panggalih kedah eneng, ening, awas, eling. Pikantukipun. Eneng : adamel dangu wedaling rahsa tuwin ngandelaken wiji. Ening : saged karaos nikmat manpangat tuwin ambeningaken wiji. Awas : saged pariksa awon saenipun wiji ingkang wekdal punika. Eling : inggih punika enget amrenahaken wiji ingkang sae utawi nglebur wiji ingkang awon, manawi wiji ingkang sumusup wau sae, kaprenahna punapa samesthinipun, sagedipun katampen ing lenging pranakan, manawi wiji ingkang sumusup wau awon, kedah kalebur sarana santosa, sampun ngantos korup nuruti sengseming karsa, inggih punika kedah kasilipaken mangandhap utawi manginggil utawi kawutahaken wonten ing jawi kemawon, wosipun sampun ngantos kamaning priya wau katampen lenging pranakan .(*)

IX. PANUNGGILANIPUN AJI ASMARA GAMA

Aji asmaragama punika wonten panunggilanipun pinten-pinten samara, pararawung kridha sami yasa nama piyambak-piyambak, ing ngandhap punika katerangaken namung ingkang kamanah prelu-prelu kemawon :

Asmara Sabda

Asmara tegesipun : sangsem, sabda : pangandika. Pikajengipun sangsem masa pocapana utawi sengsem dening dayaning pangandika.

Ing ngajeng sampun kacariosaken priya dhateng wanita ingkang pinurih tresnanipun punika kedah angempakna tembung manis manuhara. Pamilutanipun ingkang saged anuju prana, pangalembananipun ingkang saged anuju prana. Ing saderengipun wiwit nandukaken sabda arum manis wau, priya mawi amaos samantranipun aji asmara sabda ing salebeting batos makaten :

“Hong Hyang-hyang Kamajaya dumareng karasihan surap sareng asmara, acaneng ulun lumarapa, makecep ring wanita ika, sing dayeng aji asmara sabda, myang wiseseng paduka”.

Aji asmara sabda wau manawi katarimah saged ambuka sengseming wanudya satemah kadunungan manah asih tresna, pikantukipun anggampilaken tumindakipun asmara gama.

Ing serat piwulang paniti sastra, gugubahanipun begawan palasara, ingkang sampun kajarwakaken dening Sang Rrasu Jayasaya, ing bab 3, nyebutaken makaten : yen wonten ngarsanipun mengsah umuka ing sabarang damel yen wonten ngarsanipun pandhita angraosa sarahsaning ngelmi tuwin kawruh, yen dhateng pawestri angungruma pangandika ingkang akarya asmaraning galih.

Asmara Cipta

Asamara tegesipun : sengsem, cipta inggih cipta utawi osiking manah. Pikajengipun : sengsema cipta nira utawi sengsema dening dayaning cipta.

Ing bab patraping cumbana sampun kapratelakaken sakedhik bab aji asmara cipta, inggih punika nalikanipun sacumbana, priya anggelengna cipta ! Angalapa pamanah tuwin nyawanipun estri. Aji asmara cipta ingkang makaten wau, manawi katarimah, wanita saged karaos marem terusing manah, awit boten namung kalegan dening patrap pangulah ing sanggama kemawon sayektosipun kalegan rahsanipun sajati. Asmara cipta ingkang kasebut ing nginggil punika boten ngangge waosan montra, awit sampun kawengwu ing montra asmara gama.

Aji asmara cipta punika ugi saged kangge sarana ngangkah pawestri (pangasihan) lampahipun makaten :

Priya kedah anyirik kasanggama tuwin asisirih ing sakeparengipun (ngingirangi dhahar nendra) minongka lampah. Dangunipun pitung dinten pitung dalu, saya dangu malih saya utami, upaminipun 40 dinten 40 dalu.

Manawi ing dalunipun badhe matrapaken asmara cipta wau, priya susuciya rumiyin wiwit sonten sampun ngantos sare. Ing wanyci tengah dulu lajeng lenggaha, sarira kasendhekna, patrapipun kados lenggah semedi. Ing ngriku tumunten angeningaken paningal amepeta pancadriya, pamirsa, panggonda, pamiyarsa, pangraos tuwin pamiraos, lajeng anyiptaa ; mujudaken warnining wanodya ingkang kaangkah wau, yen sampun wujud saluguning warni, lajeng sinanggamaa saking empaning cipta kemawon sinartan maos montra makaten :

“Hong Hyang-hyang Kamajaya dumareng karasikan surap sareng asmara, soteng ulun lumarapa, makecep ring wanita ika, sing dayeng aji asmara cipta, myang wiseseng paduka”.

Manawi sampun widagda sayektos anggenipun matrapaken adat ingkang sampun kalampahan wanita ingkang kaangkah wau lajeng supen kados sinanggama ing kakung ingkang nyipta wau, satemah lajeng nandhang wiyoga (gandrung), saking sangeting wiyoga ngantos mentala manakaken raosing priya (marahi), tarkadhang tan saronta lajeng dateng nginggah-inggahi.

Nanging, para mudha kedah enget ; manawi wanita wau manahipun resik suci, ahli puja brata, punika asmara ciptaning priya wau boten saged tumama, awit kawon prabawa kaliyan kasuciyanipun wau, satemah uwuk tanpa dadya, malah wangsulipun cipta ingkang lumepas wau saged andadosaken kirang prayogi tumrap ingkang anggadahi cipta, milanipun sampun nindakaken asmara cipta.

Asmara Wanita

Asmara tegesipun : sengsem, wanita : pawestri, pikajengipun : sengsemipun dening wawadining pawestri sampun kasumerepan.

Menggah asmara wanita punika pigunanipun inggih kalih warni, inggih punika kangge ambuko rahsaning wanita kaliyan kangge pangasihan.

Kacariyos rahsaning wanita punika boten ngemungaken dumunung ing boga kemawon sayektosipun wonten ing saranduning badan sadaya, saben sadinten sadahu aliyan, patrapipun priya nindakaken asmara wanita punika kados nindakaken asmara cipta, nanging pawestri kedah katingal kasat mata. Sanajan pawestri pinuju sareyan lenggah, lumampah, ugi kenging katindakaken patrapipun makaten : priya angeningna cipta, amepeta pancadriya, amegenga rahsaning sanggama, nunten rahsaning sanggama wau katarika lajeng katancebna wonten ing cipta, manawi sampun boten ewah, lajeng katarika malih katancebna wonten ing panon manawi sampun boten ewah malih lajeng kalepasna dhateng pundi saranduning badanipun wanita ingkang pinuju kadunungan rahsa, sinarengana maos montra makaten :

“Hong Hyang-hyang Kamajaya dumareng karasikan surap sareng asmara, kang wanita rumarasa, kataman kanang rahsa mulya, sing dayeng aji asmara wanita, myang wisesang paduka”.

Manawi sampun widagda anggenipun nindakaken wanita ingkang kalepasan wau lajeng kaget anjingkat sanajan pinuju tilem kepati inggih meksa saged ngalilir, sarta gadhah raos kados sinanggama. Estri ingkang katamanan makaten wau sengsemipun kados dene kataman asmara cipta.

Dene asmara wanita ingkang kangge pambukaning rahsa, paedahing gampilaken tumibone kikin asmaragama, patrapipun nindakaken makaten : duk kaya rahsaning sanggama wau sampun tumanceb ing cipta, manawi sampun boten ewah, lajeng katarika malih, nanging boten katanjebaken ing panon inggih punika kadekeka wonten ing pucuking dariji, dariji wau lajeng kagrayangna ing pundi saranduning badanipun wanita ingkang pinuju kaserenan rahsa, sinartan matek montra kados ingkang kajarwa ing nginggil, adat ingkang sampun kalampahan wanita ingkang kagrayang wau raosipun kados sampun sinanggama, sarira gumriming marinding andhandhang minta tandhing, korining Sang Hyang Kamajaya sampun kabuka, satemah anggampilaken tumindaking asmaragama.

Menggah dununging rahsaning wanita ingkang saben sadinten sadalu aliyan punika pratelanipun makaten : tanggal 1 manggen wonten ing pucuking jempol suku ingkang tengen, minggah-minggah dumugi tanggal 15 manggen wonten ing tengahing alis ugi ingkang tengen nunten tanggal 16 pindhah wonten tengahing alis ingkang kiwa, mendhak-mendhak dumugi tanggal 30 wonten ing pucuking jempol suku ingkang kiwa. Tanggal punika tanggal jawi. Terangipun amriksanana gambar ing sisih punika. Supados gampil anggenipun ngapalaken. Kula sekaraken dhandhang gendhis dados tigang pada, nanging dhong dhingipun inggih namung sadhawah-dhawahipun kemawon kados ing ngandhap punika :

  • Rahsaning dyah dununging mamanis. Tanggal pisan lawan tingang dasa. Pucuk jempol suku manggen. Kalih lan sangalikur, Neng tengahing tlapakan nenggih, Tiga wolu likurnya, Tengah tungkak suku, Catur pitulikur tengah : ing kemiri : gangsal nemlikur manggyana ing : tengah kempol punika.
  • Tanggal nenem lan salawe munggih, pucuk jengku : pitu patlikurnya, tengahing pupu sumeren, wolu lan tigalikur, tengah pocong dunungi reki, sanga kalihlikurnya, tengah baganipun, sadasa salikur manggyan, tengah puser : sawelas lan kalih desi, ing tengah payudara.
  • Kalihwelas lan sangalas manggih, tengah janggut : tingawlas wolulas, manggen ing tengahing lambe, pat blas pitulasipun, pucuk grana gyaning rahsadi, gangsalwelas nembelas, tengah imba iku, tanggal kang dihin sinebat, apan kanan dekang wuri sisih kering, ye kunut tanggal jawa.

Asmara Tantra

Asmara tegesipun : sengsem, tantra : bala, utawi tiyang kathah, pikajengipun : sengsema tiyang kathah punika.

Asmara tantra punika pigunanipun : nyanggama wanita satunggal nanging wanita pinten-pinten ingkang sampun nate sinanggama : saged karaosa sadaya, patrapipun makaten :

Ing salebetipun nyanggama, sasampunipun maos mantranipun aji asmara gama, utawi boten amargi mangke badhe kawengku ing asmara tantra, priya wiwita angening ngaken cipta anglerem poncadriya, nunten ana rika rahsaning sanggama, (rahsanipun piyambak) rahsa wau katancebna wonten ing cipta, nunten anyiptaa : mujudaken warnining wanita sapinten kathahipun ingkang badhe sinung rahsaning sanggama wau. Manawi sampun wujud lagu sajatining warni, kados dene lampahing asmara cipta, lajeng sinanggamaa salung empaning cipta kemawon, dene mantranipun makaten :

“Hong Hyang-hyang Kamajaya Ratih, surap sara surap sari ing asmara, ulun mawisik wanita, matemah yumana kang rahsa, prahasa naring wanita samoa, kanang ulun cipta, sing dayeng aji asmara tantra, myang wiseseng paduka”.

Lajeng angedalna rahsa : inggih rahsanipun pribadi. Katarimanipun aji asmara tantra wau, wanita-wanita ciptan wau saged karao sinanggama ing alam supena sarta marem caremipun ugi tan prabeda kados sinanggama ing sawantahipun, kacariyos raden dananjaya ingkang dados lananging jagad Prabu Arjunasasra ingkang garwanipun domas (800), sarta prabu surya misesa ing Jengala Manik (Panji Inu Kartapati), punika anggenipun nyarambahi asung rahsa sarta nguja arsaning wanita ugi ngagem aji asmara tantra wau. Walallahu alam.

Pungkasaning Atur

Dumugi samanten, pangraos kula sampun cekap pangimpun kula kawruh sanggama punika manawi kula talusur malih, maksudipun aji asmara gama punika, kajawi minongka sarana adamel lega tumraping wanita ing salebetipun cumbana, tuwin pambudidaya sageda kasinungan putra ingkang utama, inggih ugi minongka panggarenda dhateng para mudha, supados sami ngulinakaken angeningaken cipta, amepet pancadriya, analiti sajatining wiji, ingkang dahat sinandi, tuwin wawadining dumadi. Manawi dipun lampihi kanthi temen-temen ingkang tamtu inggih tinemu temenan, nanging manawi panggilutipun sembarangan panindakipun namung kangge mainan, namung kerem dhateng ulah kridhaning saresmi, sayekti inggih malati, angrisakaken jiwa ragi. Mila sadherek kula para mudha ingkang kasdu maos serat punika, dipun waspada uwosing wasita. Pemut kula :

Rasak ele yayah madu brangti, den tamamet uwosing wasita, brata lena mrih pratameng, tata susileng lulut, ketong ngesthi kotameng siwi, salamet mengku garwa, wajibing priyanung, kalamun sisip ciptanta, dhineseking tyas kerem langening resmi, risak jiwangga nira.

TAMAT

%d bloggers like this: