REVOLUSI BUDAYA YANG TEREVOLUSI
KRITIK BUAT PARA RAJA JAWA
Pernyataan bersama Mas Kumitir & Wong Alus
Bagaimana memajukan negeri kita agar bisa setara dengan negeri-negeri lainnya seperti China dan Jepang yang memiliki cadangan devisa terbesar di dunia? Salah satu hal yang kami sepekati adalah diperlukan sebuah revolusi budaya di negeri kita. Kenapa harus budaya? Sebab intisari budaya adalah pola pikir, perilaku, kebiasaan yang sudah berakar urat dalam kurun waktu yang panjang. Pola pikir para anak bangsa yang cenderung tidak kreatif, tidak inovatif dan secara salah menafsirkan harapan hidup pada akhirnya melahirkan generasi yang tidak memahami sangkan paraning dumadi.
Inilah masa sekarang. Generasi yang dimanja oleh situasi yang memang membius mereka dalam kemudahan dan tidak mengenal proses perjuangan untuk merengkuh kebebasan. Pengembangan diri bersifat pragmatis dan materialistik yang hanya ditujukan untuk meraih prestasi dan melupakan pengembangan diri yang bertumpu pada budaya ke-Indonesiaan kita.
Siapa yang harusnya memulai untuk mengadakan gerakan REVOLUSI BUDAYA? Menurut hemat kami, yang harus mengawali adalah mereka yang selama ini hidup di sentra, kantong, dan EPISENTRUM BUDAYA. Siapa lagi kalau bukan PARA RAJA dan PARA KERABAT DAN SENTANA DALEM. Raja tidak hanya simbol, merekalah yang menggenggam RUH BUDAYA karena dari sanalah sesungguhnya dimulainya BUDAYA.
Terus terang, sekarang ini PARA RAJA JAWA (KHUSUSNYA RAJA DI KRATON KASULTANAN NGAYOGYAKARTA HADININGRAT, RAJA DI KRATON PURI PAKUALAMAN, RAJA DI KRATON MANGKUNEGARAN, RAJA DI KRATON KASUNANAN SURAKARTA) tidak mampu mampu lagi menempatkan dirinya dalam kancah perubahan budaya di masyarakat modern.
Mereka terpaku dan hanya jadi penonton perubahan budaya yang berlangsung cepat. Mereka tidak mampu menjadi PENGGERAK BUDAYA yang konon sangat adiluhung. Bagaimana bisa menjadi penggerak budaya bila hidup para raja semakin HEDONISTIK DAN FEODALISTIK?..
Para raja itu masih hidup tapi tidak memiliki semangat untuk menjadikan masyarakat yang berbudaya Jawa tersebut maju, berilmu tinggi dan mampu mengolah rasa/dzikir dan pikir mereka sehingga menjadikan budaya sebagai basis pengembangan diri. Masyarakat yang kehilangan JATI DIRI BUDAYA tempat dimana dulu mereka dilahirkan akan tumbuh sebagai masyarakat yang anti peradaban dan cenderung hanya menyerap peradaban modern tanpa disaring.
Budaya membaca, menulis, mengolah diri menjadi manusia yang berbudi pekerti luhur dan sesuai dengan jati diri bangsa kian lama kian hilang. Padahal di dalam khasanah budaya Jawa kita mengenal kearifan lokal bagaimana hidup di tengah perubahan yang cepat.
Kami telah berusaha keras untuk mendapatkan berbagai kitab-kitab Jawa kuno baik berupa manuskrip, fotocopy, atau buku aslinya tapi itu lebih banyak kami dapat dari buku-buku yang dijual di pinggir Jalan. Sementara buku-buku Jawa yang ada di Kraton yang kami yakini masih bertumpuk di gudang-gudang semakin dimakan kutu buku dan rayap.
Keraton – sejauh kami tahu – tidak memiliki niat untuk membuka akses buku-buku babon dari para pujangga Jawa. Para Raja, Para Kerabat dan Para Sentono Dalem tidak memiliki keinginan sedikitpun untuk MBEBER KAWICAKSANAN dan selama ini lebih cenderung untuk HANYA MENYIMPAN DALAM GUDANG SAJA.
Inikah FUNGSI KRATON SEBAGAI SARANA UNTUK NGURI-URI KEBUDAYAAN JAWA YANG ADILUHUNG ITU? Bila Kraton dan juga para Raja menyadari fungsinya sebagai penggerak dan pelumas bergeraknya budaya, harusnya mereka membuka akses kepada masyarakat seluas-luasnya untuk mendapatkan informasi termasuk juga mendapatkan KUNCI MASUK KE PERPUSTAKAAN KRATON.
Menyimpan buku-buku / naskah-naskah kuno dan menganggapnya sebagai JIMAT adalah sangat bertentangan dengan semangat membangun bangsa. Sebab membangun bangsa diperlukan gotong royong yang erat berdasarkan profesi dan kompetensinya masing-masing. Bila budayawan Jawa saja kesulitan untuk mendapatkan akses ke kraton, mana bisa mereka mengetahui nilai-nilai budaya Jawa jaman dahulu bila tidak dari buku-buku kuno?
BUDAYA bukanlah hanya HASIL, sebagaimana candi-candi, rumah-rumah adat, kitab-kitab kuno, adat istiadat, benda-benda seni dan lainnya. Budaya adalah sebuah PROSES yang terjadi di masyarakat yang harus terus BERINOVASI dan memiliki ENERGI KREATIF yang besar untuk memajukan kemanusiaaan yang lebih manusiawi, yang memiliki rasa kebertuhanan yang lanjut dan hingga sampai kesimpulan penghayatan hidup.
Untuk mengetahui HAKIKAT BUDAYA, kita memerlukan sebuah proses MEMBACA DAN MENULIS. Baik membaca KITAB YANG TERTULIS, maupun membaca dalam arti yang luas yaitu MEMBACA KITAB TIDAK TERTULIS, yaitu ALAM SEMESTA beserta ciptaanNya. Sementara MENULIS berarti mengadakan PERENUNGAN dan MENGOLAH DENGAN AKAL PIKIR hingga kemudian berlanjut ke tahap MELAKUKAN DALAM PERILAKUNYA SENDIRI-SENDIRI.
Sebagai bagian dari semangat untuk NGANGSU KAWRUH itulah maka, sudah pada tempatnya bila PARA RAJA DI RAJA JAWA (KHUSUSNYA RAJA DI KRATON KASULTANAN NGAYOGYAKARTA HADININGRAT, RAJA DI KRATON PURI PAKUALAMAN, RAJA DI KRATON MANGKUNEGARAN, RAJA DI KRATON KASUNANAN SURAKARTA) membuka akses yang seluas-luasnya kepada masyarakat untuk MEMPELAJARI kitab-kitab kuno yang hingga saat ini tersimpan erat dalam gudang-gudang mereka.
Demikian uneg-uneg dari kami, semoga para RAJA JAWA menyadari kepelitannya selama ini. Mohon maaf bila tidak berkenan dan MONGGO KEPADA REKAN-REKAN YANG SEGARIS PERJUANGAN UNTUK BERGABUNG DENGAN KAMI DALAM GERAKAN REVOLUSI BUDAYA JAWA INI.

| Mas Kumitir | Wong Alus |
| www.alangalangkumitir.wordpress.com | www.wongalus.wordpress.com |


WONG ALUS berkata,
Juni 9, 2009 pada 4:44 pm
ngapunten kepada Ki Sabda langit, jawaban panjenengan juga saya posting di blognya mas kumitir. Terima kasih, pencerahannya semoga menggelorakan semangat kaum muda di tanah air akan jati dirinya kembali sebagaia bangsa yang majemuk, yang memiliki kekayaan khasanah budaya, berbeda suku namun dalam semangat tetap satu bangsa besar: BANGSA INDONESIA.
SABDA LANGIT:
SALAM HORMATKU KEPADA KI WONGALUS & MAS KUMITIR
Saya selalu menyimak dengan cermat di manapun panjenengan berdua selalu menggores pena, disitulah tampak sumunaring surya, pencerahan demi pencerahan, bagaikan kekuatan aufclarung yang begitu dahsyat. Memang benar apa yg panjenengan katakan. Kerajaan di Nusantara, baik yg ada di pulau jawa dan Luar Jawa, masih banyak sekali terdapat kerajaan. Namun kerajaan bagaikan sangkar yang tiada penghuninya lagi. Kerajaan yg hilang gaungnya. Raja lebih menikmati berbisnis dan berpolitik. Kepedulian terhadap perannya sebagai cagar budaya Jawa, Melayu, dan yang lainnya sudah terbengkelai. Jika di zaman dahulu Raja berperan pula sebagai seorang spiritualis handal, kini hanyalah simbolisme tanpa makna. Ibarat harimau kehilangan taringnya.
Padahal, kelak negeri ini akan mencapai kejayaannya kembali, manakala masing2 suku bangsa kembali menghayati dan melestarikan kearifan lokal, memiliki jiwa apresiasi tinggi terhadap seni dan budaya serta tradisi yg indah sekali. Kita telah mendapat pelajaran berharga bagaimana bangsa bangsa di Asia yakni Cina, Jepang, India, Korea, Taiwan, Thailand, mereka dapat eksis berkat kekuatan akan jatidiri bangsa yg tidak mudah terombang-ambing nilai-nilai asing yg melahirkan diskrepansi dengan akar budi daya setempat.
Bangsa menjadi kehilangan arah dan jatidiri, bangsa yg serba salah tingkah, tdk sinergis dan harmonis dengan keadaan alam sekitar. Pada gilirannya, bangsa ini benar-benar menjadi bangsa tercerabut dari akarnya, limbung lalu jatuh tersungkur. Semoga pencerahan demi pencerahan disuarakan oleh para generasi muda bangsa, yg masih memiliki semangat dan energi yg tak kenal lelah.
Dengan adanya uneg-uneg di atas semoga menjadi pintu pembuka kesadaran bagi semua pihak yg bertanggungjawab atas pelestariaan budaya dan ragam kekayaan nusantara peninggalan nenek moyang. Betapa ilmu setinggi apapun tak akan bermanfaat sedikitpun bila hanya tersimpan rapat di “gudang”. Dapat dibayangkan, bila buku2 kuno yg sangat tinggi nilai filosofinya hanya “bermanfaat” untuk pakan rayap dan lengit.
Salam asah asih asuh
sabdalangit
http://www.sabdalangit.wordpress.com
ratudanhyang berkata,
Juni 9, 2009 pada 5:27 pm
Sangat bagus jika bisa menyerap budaya modern, karena dengan budaya modern bangsa ini bangkit memperbaiki apa yang ada pada hari ini dan berusaha keras mengkondisikan masa depan adiluhung bangsa. Relaitasnya tidak demikian, bangsa ini lebih senang enjoy dan bahkan menyerap budaya primitiv yang terbungkus agama. Sehari-hari mengharapkan surga dan tidak paham makna hidup yang sebenarya sebagaimana yang diajarkan oleh nenek moyangnya sendiri. Generasi muda leih senang belajar budaya impor yang tidak pernah unggul di dunia.
Keturunan keraton hanya sibuk berebut warisan jimat. Mereka bisa membanggakan diri sebagai darah biru tetapi loyo dan tidak dapat dibanggakan.
wong alus berkata,
Juni 10, 2009 pada 3:28 am
dBo Says:
June 10, 2009 at 2:41 am
Luar biasa, sebuah uraian hasil analisa super-kritis dari kadang sutresnaku mas Alus dan mas Kumitir…
Proses PENGHANCURAN-BUDAYA yang terjadi diberbagai belahan dunia termasuk ‘NKRI’, sebenarnya telah dimulai sejak abad ke-13 (contoh: sejarah Iran dan tentu saja di Jawa/Singhasari) dan lebih meluas lagi pada awal abad pertengahan yang terkenal dengan gerakan Renaisance/Pencerahan (www.dbo911mosaik.wordpress.com/penciptaan adam). Sampai sekarangpun masih berlansung, spt pencurian benda2 purbakala warisan-budaya. Invasi serangan ke Irak, penghancuran pertama adalah musium-purbakala dan 3-hari setelah itu beberapa benda warisan-budaya telah berada diluar-negeri…
Pencurian di Musium Radya-Pustaka Sala(karta)….
Seorang Syekh Siti Jenar, sebenarnya sudah melihat/mencium tanda2 penjarahan/perusakan Budaya-Bangsa, dan seorang Bung Karno yang akan merajut kembali NKRI menjadi Mosaik Nuswantara Kertagama Raharja Indonesia.
Kedua tokoh tsb akhirnya ‘terpancung’ oleh HOLLOW-COURSE, yang pertama oleh’Ajaran Sesat’ dan yang kedua okeh G30S-PKI…
BUDAYA adalah laksana Akar-Tunggang/Tunjang sebuah Pohon, yang akan menjadikannya TUMBUH BERKEMBANG, KOKOH-RINDANG, BERUMUR-PANJANG…DAN MEMBERIKAN KESEJUKAN SERTA KETEDUHAN…
Namun apabila Akar-Tunggang/Tunjang ini kita hilangkan, jadilah Pohon-Kerdil (istilah kerennya Bonsai)…
Dan kita sedang menjalani PROSES PENGKERDILAN BANGSA…
Contoh nyata, Aborigin, Aztec,Inca, Maya… Dan ini bukannya tidak mungkin menjadi SILENT-GENOCIDE…. Sangat memprihatinkan bahkan mengerikan…….
Berkait dengan pengamatan saya diatas, ijinkan saya menyampaikan usul thd judul artikel penjenengan REVOLUSI menurut saya (maaf, jelas subyektif) kurang cukup dan kurang pas. Kalau setuju, sekedar urun-rembug, bagaimana kalau diubah “TRIWIKRAMA-BUDAYA”
Sekali lagi mohon maaf…sekedar usulan saja.
Mari kita bergandeng-tangan mengembalikan dan mengangkat HARKAT DAN JATI-DIRI BANGSA DISERTAI RASA BANGGA AKAN TITAH/FITRAH SERTA SELALU ELING AKAN SANGKAN PARANING DUMADI…….
Salam TRIWIKRAMA…kagem panjenengan kekalih
Rahayu…
wong alus berkata,
Juni 10, 2009 pada 3:32 am
YTH MAS KUMITIR, SAYA PUNYA USUL BAGAIMANA BILA Pernyataan-Pernyataan di blog ini nantinya kita sebarkan ke website-website yang lain dan juga kita print dan kirimkan ke para Raja di (sementara) Empat Kerajaan di Jawa agar mereka menyadari dan melek eksistensinya sebagai panjer hidup budaya.
Yth Mas dBo; Matur nuwun dukungannya, dan usul TRIWIKRAMA BUDAYA adalah usulan yang tepat mas. Akan kami diskusikan dgn mas kumitir dan bila sepakat, kata REVOLUSI akan diubah dengan TRIWIKRAMA BUDAYA saja. Dan saya usul bagaimana bila para kadang semua yang membuat pernyataan disini dicatat sebagai pembuat pernyataan?. Monggo bila berkenan untuk mempublish bareng2 di blognya masing-masing dan mencantumkan nama pembuat pernyataan termasuk nama Mas dBo.
Tanggapan Panjenengan ini juga kami posting di blognya mas kumitir.
Terima kasih. Salam perjuangan TRIWIKRAMA BUDAYA!
sikapsamin berkata,
Juni 10, 2009 pada 10:51 am
Selamat…dan Mangayubagya atas artikel/pernyataan bersama sedulurku Mas Kumitir lan Mas Alus…
“REVOLUSI BUDAYA”, isinya sangat mengena…
Banget anggonku bungah membuncah, karena bertambahnya Sedulur Tunggal-Sikep…
Samin adalah Sikap…..
Rasanya saya sulit menambah komentar…
Malah saya merasa ketinggalan kereta…
Sudah ada komentnya Mas Sabda yang tidak perlu diragukan akan dukungannya, Mas dBo yang analisanya membuat saya ikut ngeri…SILENT-GENOCIDE…dan Mbak Ratudhanyang…komentnya singkat tapi cabe-rawitnya cukup banyak…pueddesss tenan..he..he..he..
Lha iya..ya..mbak Ratu, lha Kraton kok dipakai ‘uji-nyali’
Tapi mencermati komentnya mas dBo tentang usulan “TRIWIKRAMA BUDAYA” saya sarujuk sekali… Rasanya lebih punya nilai asli…, sedangkan kata REVOLUSI sudah kita pakai dalam merebut Kemerdekaan, apalagi digabung dg (ke)BUDAYA(an), saya khawatir dicap menjiplak China yang akhirnya melahirkan Tragedi-TianAnmen…
REFOMASI yang kita adakan th.1998, akhirnya apa hasilnya, kemana arahnya…tidak jelas…
TRIWIKRAMA dalam batasan MEMBANGUN – MEMELIHARA – MEREKONSTRUKSI…
Satu hal yang mungkin perlu segera kita pikirkan yaitu MEMBANGUN infrastuktur yang mengarah kepada Pengembangan-Kepariwisataan, yang mana sektor ini sangat erat kaitannya dengan (Seni)Budaya, disamping kemampuannya yang sangat besar dalam menyerap tenaga kerja sektor informal (para seniman/pengrajin benda2 cindera-mata dsb)…
Maaf Mas Alus dan Mas Kumitir, saya agak terhanyut dalam rasa prihatin melihat banyaknya sedulur2 kita yg mengangggur, kelaparan, kurang-gizi dst2nya…
Kalau masih ada lowongan daftar Pernyataan-Sikap, saya siap tapi cap-jempol, kalau stempel adanya stempel log kayu jati..he..he..he.. Tapi serius…SIAP.
Salam seduluran ing sejatine sedulurku berdua…
Samin adalah Sikap…..
Abdi dalem berkata,
Juni 10, 2009 pada 6:27 pm
Nuwun pro kadang , nderek atur
Ya demikianlah keadaan yang berlangsung dinegri ini , tidak hanya jawa saja keadaan sudah meluas mengikis jati diri anak bangsa se Nusantara .
Dahulu masa remaja saya pernah digadang jadi abdi dalem HB IX di Yogya namun jalan yang terbentang justru menunjukkan sesuatu yang lain yang malah membawa saya menjadi ” Abdi dalem diri sendiri ” , dalem kurungan , dalam kuburan sekaligus dalam perpustakaan yang menyimpan file tak terbatas dalam file budaya disana ada Bagus Buhan dan Ki Mangun Tapa dalam File sufi ada vidio kesengsaraan hidup menyesal Kalijaga , ya Kalijaga serasa lebih cocok dijadikan Bapak Budaya Jawa dari pada sebutan lain , masalahnya siapa yang bersedia nguri uri hasil rintisannya , sudah pasti bukan para raja atau ratu , karena raja itu bagian budaya yang harus diselamatkan , terpulang pada masing masing yang akan diselamatkan , bagaimana upayanya agar lebih aktif nggepok tular melestarikan adab budaya agar langgeng ing …
dedeng rahmat berkata,
Juni 11, 2009 pada 8:43 am
“Belajarlah dari alam dan ambil pengalaman masa lampau agar setiap diri menjadi dewasa di masa depan” (Sayyid Faridhal Attros Al Kindhy Asy’ari)
budaya tradisional para leluhur merupakan warisan yang bernilai tinggi yang merupakan karunia Allah azza wa jalla. sebagai karunia, sepatutnya kita mensukuri nikmat ini dengan cara mempelajari dan memahami untuk kemudian mengamalkannya dengan semangat kebenaran. sehingga lestarilah budaya tradisional para leluhur dan jayalah bangsa ini.
ahmad yani berkata,
Juni 12, 2009 pada 4:37 am
Saya sangat mendukung langkah yg lebih revolusioner/tegas dengan membangun dukungan semua pihak serta harus ada gerakan dari budayawan2 djawa dlm menyelesaikan kasus ini,krn mereka para raja jawa akan sulit mengerti atau pura2 tdk mengerti tanpa ada desakan & saya pikir sulit mewujudkannya.
KI PANDANSARI berkata,
Juni 12, 2009 pada 5:38 pm
salut kangmas…, memang siapa lagi kalau bukankitayangharus berjuang.. dari dulu jaman penjarah yang berjuang selalu rakyatdan yang dapat gelar pahlawan adalahpetinggi.., padahal cuma memerintah.., kalaupun memang para Panutan Jawa lebih terlena dengan keadaan sekarang ya.. patut kita bangunkan dari keterlenaan jangan sampai malah kepeyuh peyuhkita yang selalu ingin mendongkrak budaya supaya bangsa ini mempunyai jati diri yang adi luhung…, kemandirian suatu bangsa adalah dimana bangsa tersebut tetap berpegang teguh pada budaya leluhurnya.., mengejawantahkandan memasyarakatkan sehingga semarak dimasyarakat…,kemudaiandunia Internasioanl tahu.. lalu berbondong bondong ke Nusantara menyaksikan dan mempelajari serta menghibur diri .. akhirnya ya.. kita dapat dana untuk membangun negeri kita… wong bangsa yang sudah maju pesat seprti jepang saja berpegang teguh pada budaya leluhurnya danselalu berpenampilan tradisional.. lha kita yang masih tersaruksaruk.. penuh penderitaan.. kelaparan kekurangan gizi banyakkemiskinan kemaksiatan kejahatan.. kok ndak peduli lagi dengan budayanya.. malah dikatakn kuna.. kampungan. dll, kenapa ndak mau noleh… para panutan ini…, budaya, kitab kuno dan lain lain peninggalan leluhur bukan untukdisimpan thok.. namun dikenalkan kepada generasinya.. ini lhooo peninggalan leluhurmu yang pernah jaya dan mencapaijaman keemasanseantero jagad dulu…nnaaaa… gitu dan kalusdh begitu kita bisa berkiprah lebih mendalam dan gegap gempita… rak lepat mekaten tho kangmas…?
salam budaya.
joe berkata,
Juni 13, 2009 pada 2:53 am
sudah waktunya ada perubahan…
sekarang sudah bukan abad 18 lagi..
ini abad internet dan raja harus bisa komunikasi dengan rakyatnya lewat blog..hehe..
milanisti bali
lam wau_wau lam berkata,
Juni 13, 2009 pada 3:51 am
Kebudayaan adalah hasil karya manusia untuk mencapai suatu tingkat kesejahteraan.
Kebudayaan lahir dari pemahaman manusia terhadap suatu keadaan kemudian disimbolisasikan untuk menyampaikan apa yang hendak disampaikan.
Pada hakekatnya tidak ada kebudayaan tradisional dan kebudayaan modern jika kedua kebudayaan ini diartikan sebagai kebudayaan yang lahir pada masa lalu dan masa sekarang.
Wayang dan gamelan dilahirkan dari pemikiran masa lalu…
Internet dan Handpone dilahirkan dari pemikiran masa kini…
Hanya masalah kapan waktunya…
Dan dari waktu kapan pun…
Manusia tetaplah manusia
Mana yang lebih baik…
dua-duanya baik..
Karena dua-duanya adalah buah tangan manusia…
Banyak kesejahteraan yang ditimbulkan oleh Nuklir…
Banyak kemudharatan yang terjadi gara-gara Alquran…
tergantung dari mana anda menggunakan dan memahaminya…
wongalus berkata,
Juni 13, 2009 pada 5:55 am
Sebelumnya saya dan mas kumitir mohon maaf jika agak terlambat merespon Sederek sedaya, Panjenengan Pengunjung Blog ingkang wicaksana. Kesibukan kami untuk macul teng sawah yang membuat kami telat berkunjung ke gubuk cubluk meniko.
Yth mas ratudanhyang: Matur nuwun, sangat sepakat bahwa warisan leluhur yang hanya dijadikan JIMAT sangat bertentangan dengan semangat generasi muda yang ingin belajar dan ingin membangun bangsa dengan basis budaya.
Yth mas Sikapsamin; samin adalah warisan budaya kreatif leluhur yang adiluhung sehingga sangat ideal bila dijadikan basis pengembangan budaya modern.
Yth mas abdi dalem: monggo kita nguri-uri nilai-nilai budaya bersama agar tercipta tata tentrem karta raharja. Bila tidak kita, siapa lagi yang perduli? Pihak Kraton harusnya malu dengan semangat kita ini….
Yth Mas dedeng rahmat; terima kasih mas.. budaya indonesia tidak terwujud bila tidak ada budaya lokal. Budaya lokal adalah ibu dari budaya Indonesia. Maka jangan lupakan ibu yang telah mengandung dan melahirkan anaknya.
Yth Mas Ahmad Yani, maju terus pantang mundur mas…. Matur nuwun nggih, mas…
Yth Ki Pandansari: Perubahan biasanya dimulai dari penderitaan. Lha rakyat kita ini dijajah dengan budaya global yang materialistik, pragmatis dan sekuler.. kan harusnya kita menderita? Monggo kita rubah penderitaan ini dengan perjuangan: sebuah Triwikrama Budaya.
Yth mas Joe, pihak kraton memiliki kekayaan berlimpah dari kita. kenapa mereka enggan membuka website? Karena malas dikomentari dan memproteksi diri berlebihan agar harta-hartanya tidak diaudit masyarakat.
Yth mas lam wau_wau lam, panjenengan mengartikan budaya sebagai sebuah proses kreatif yang tidak pernah selesai. Ini pemahaman yang benar. Budaya yang diartikan sebagai hasil saja, akan mengakibatkan budaya mengalami kemandegan dan kemalasan. Kemampuan kreatif ini salah satunya diperoleh dari kegiatan membaca dan menuliskannya dalam bentuk rumus-rumus, aksioma, tesis, serat, kekidungan, suluk dll…
Bagaimana bisa membaca budaya Jawa bila kitabnya masih disimpan di Keraton???
terima kasih, ngapunten bila ada yang kurang berkenan. Semoga Tuhan Yang Satu selalu memberikan kita kekuatan dan semangat untuk berbudaya, beradatistiadat dan berperilaku sesuai nilai-nilai kemanusiaan yang tertuang dalam PANCASILA.
SALAM PERJUANGAN
wONG aLUS
ahmad yani berkata,
Juni 14, 2009 pada 5:01 pm
mas kumitir dan mas wong alus,smoga langkah serta niat baiknya slalu dalam anugrah dan ridhoNya mendapatkan jalan kemudahan terang benderang disini ataupun disana amin…mas kumitir tolong aku add di fb ( bujangga manik klo di fb) mas kopdar bisa tidak? terima kasih…
wongalus berkata,
Juni 14, 2009 pada 5:48 pm
yth Mas Ahmad Yani, terima kasih doanya. Semoga kita semua diberikan selalu petunjuk untuk menjalani hidup di alam marcapada oleh Dzat yang Maha Satu, Yang Meliputi, Yang Tidak Jauh dan Maha Dekat, Yang Maha Imajiner dan Yang Maha Tidak Terpermanai oleh Manusia ini.
Waduh ngapunten mas kumitir & kulo belum memanfaatkan jejaring sosial facebook, mas. Monggo mampir leyeh-leyeh kalau panjenengan pas ke Sidoarjo. Kulo kekalih santai kok, mas. Nuwun dan ngapunten bila kurang berkenan.
KangBoed berkata,
Juni 14, 2009 pada 8:52 pm
weleh weleh komentarnya kok hilang mulu yaa
KangBoed berkata,
Juni 14, 2009 pada 8:54 pm
hmm… hihihihi… dah tulis panjang panjang hilang..
nugraha berkata,
Juni 15, 2009 pada 9:32 am
Aku pengin kenal sampeyan Mas . . .Piye carane . . .
KangBoed berkata,
Juni 15, 2009 pada 9:45 am
ooo.. komentarnya masuk mana yaaa..
Salam Sayang
hilman berkata,
Juni 15, 2009 pada 11:23 am
Saya sedikit kurang sependapat mengenai hal tersebut,menurut pemikiran saya kalo mencermati inti sari pemikiran anda yang mengatakan bahwa ini semua tanggu jawab para RAJA tidak semuanya benar karena kita ini sudah sepakat bahwa negara ini adalah NKRI,kalo mengambil pemikiran anda berarti negara ini adalah kerajaan JAWA bukan begitu?Sebetulnya yg sangat bertanggung jawab mengenai ke adaan sekarang ini adalah para pemuka agama yg lg sibuk ngurusin politik,mereka telah meninggalkan umatnya yg seharusnya menjadi tugas pokok mereka. Para pemuka agama bisa menjadi jembatan anatar nasionalis,budaya dan kereligiusan para umatnya.Kalo kita takut kepada sang pencipta mungkin tidak akan terjadi kekacauan seprti sekarang dan saya harap pemikiran saya ini dapat membangunkan para pemuka agama yang sedang tidur dan dapat segera menyelamatkan para umatnya.Amin
wongalus berkata,
Juni 15, 2009 pada 4:44 pm
Yth Mas Hilman, monggo bila tidak sepakat. ini hanya contoh saja, dan saya mengambil contoh budaya jawa dimana para rajanya pelit berbagi ilmu. Bagaimana kita bisa belajar tentang budaya kalau bukunya tidak ada dan disimpan oleh para raja? Mohon baca pengakuan sri sultan HB X di blog ini.
Jelas semua pihak harus bertanggungjawab terkait kemajuan budaya suatu bangsa. Tapi tolong sekali lagi, buka pintu gudang kraton dimana buku babon budaya tersimpan agar bisa dipelajari oleh para mahasiswa, siswa siswi SD dan juga bisa diposting ke blog gratis.
Salam asah asih dan asuh.
KangBoed berkata,
Juni 15, 2009 pada 6:19 pm
Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang
Hmm.. Saya sangat MENDUKUNG sikap panjenengan bersama.. tetapi bolehkah saya si Botol kosong OON surOON memberikan sedikit pendapat bodohnya… sebenar benarnya menurut saya bukanlah salah A, B, C dan D.. sungguh kita adalah manusia manusia yang terlena korban AKAL PIKIRAN.. LOGIKA dan ANGAN ANGAN yang melambung tinggi… sementara HATI NURANI sudah terjepit dan jauh tertinggal… sehingga semua selalu di tarik menjadi bagian akal pikiran dan Logika.. sampai yang paling PARAH ketika beragamapun mulai memakai LOGIKA.. AKAL PIKIRAN dan ANGAN ANGAN… sebagaimana kita ketahui.. ketika semua masuk dala fikir maka akan timbullah dualitas.. UNTUNG- RUGI… SALAH dan BENAR… BEDA dan SAMA… sementara menurut saya yang masih bodoh ini agama adalah bagiannya RASA… OLAH RASA… daerah yang TIADA BERHURUF dan BERKATA…
Mohon Maaf bukan saya membela… tetapi ini sudah bukan hanya permasalahan Budaya saja… Tetapi telah terjadi kehancuran MORAL bangsa kita… dimana telah Terjadi pergeseran MORAL sedikit demi sedikit.. dan mencapai puncaknya… seolah olah telah menjadi KRISIS MULTI DIMENSI…
http://kangboed.wordpress.com/2009/06/01/krisis-multi-dimensi/
Krisis Multi Dimensi sedang terjadi saat ini… disini..
Krisis Moral yang sungguh dahsyat dan luar biasa
Menimpa semua golongan… atas… tengah… bawah…
Korban fikir.. logika… angan angan dan peradaban
Tertipu tuhan tuhan yang palsu… yaaaa palsuuuuuuu
Keseimbangan alam semesta benar berubah dahsyat
Bumi akan bergetar menelan manusia manusia yang takabur
Air dan angin akan menyapu manusia manusia yang lupa diri
Api akan membakar… sehingga terjadilah emosional tak terkendali
Waspada jika semuanya berkonspirasi bergerak berdendang bersama
Jikalau itu terjadi… dan mungkin saja terjadi…
Kemanakah engkau akan berlindung ???…
TUHAN…. Hahahahahahahaha………….
Sudahkah engkau mengenal TUHAN ???…
Kenal diri sendiri juga TIDAK… boro boro…
KangBoed berkata,
Juni 15, 2009 pada 6:21 pm
mengapa bisa alam semesta kehilangan keseimbangannya… seolah olah mereka menjerit tiada henti hentinya… semu terjadi karena dalam diri manusia mulai terganggu keseimbangannya… dimana banyak manusia yang tiada menyadari hatinya mulai terDIAM dan membisu..
Sungguhlah teramat banyak benda hidup yang bersahabat dengan benda mati… akhirnya matilah ia tanpa sempat beroleh hidup…
Apalah arti sebuah perkataan perkataan suci… kalimat kalimat yang indah dan menawan… teori teori dan filsafat… jika semuanya itu keluar dari sesuatu yang mati… maka sungguh sungguh tiadalah hasilnya… tiadalah guna serta tiadalah manfaatnya….
Apapun yang keluar dari yang mati.. hanyalah ulat dan kutu serta lalat saja yang memakannya… sungguh tiadalah gunanya.. tiadalah manfaatnya.. hanyalah bau busuk bagai bangkai…
Maaf jika pernyataan saya berikutnya mengenai manusia sekarang ini agaklah kasar… yaitu :
http://kangboed.wordpress.com/2009/06/04/zombie-mayat-hidup/
inilah keadaan kita sekarang ini… berjalan… bergerak… dalam kekosongan jiwa… dalam angan angan yang melambung lambung sebesar balon udara… sedangkan kita mulai melupakan sahabat sejati kita yaitu hati nurani kita sendiri… hmm… yayaya… merekalah Zombie Zombie alias Mayat Mayat Hidup yang bergentayangaaaan…
awaaaaas… berhati hatilah !!!… Zombie Zombie dan Mayat Mayat Hidup sudah menguasai Kota desa dan segala penjuru… JANGAN sampai kita tergigit… dan terkena VIRUS sehingga kita menjadi seperti Mayat Mayat Hidup juga…Banguuun dan Bangkitlah… Mari kita sapa kembali saudara sejati kita sang Hati Nurani… dan mulai melangkah Eling dalam Kesadaran dan Waspada dalam setiap keputusan… selalu berfikir untuk menemukan makna yang tersembunyi… Bangun… bangun… bangun… sapalah hati nurani kita jangan dibiarkan tertidur… mari kawanku… para sahabatku… sebelum terlambat…
KangBoed berkata,
Juni 15, 2009 pada 6:21 pm
http://kangboed.wordpress.com/2009/06/13/bentuk-dan-makna/
Ketika Bentuk dan Makna ini tidak bertemu dengan mesra… tidak bersatunya yang lahir dan yang bathin… maka bahaya terbesar melanda manusia… terbentuklah manusia manusia yang secara lahiriah adalah manusia tetapi bathinnya ENTAHLAH… sudahkah menjadi manusia.. atau bahkan lebih rendah dari binatang binatang yang masih tahu aturan… atau bahkan anjing yang masih setia tidak menggigit tuannya yang memberi makan… atau sejahat jahatnya harimau tidak mungkin memakan anaknya sendiri…
http://kangboed.wordpress.com/2009/06/14/bingung%e2%80%a6/
yayaya… ini merupakan satu contoh yang nyata ketika Bentuk dan Makna… Lahir dan Bathin… Laku dan Esensi.. tidak bergandengan erat dengan mesra… sehingga mereka melakukan pekerjaan yang sia sia belaka… sekedar euforia dan hura hura… memang persoalan ini sangat serius… begitu banyaknya manusia Zombie dan Mayat Mayat Hidup… mereka melupakan Ubudiyah… melupakan memurnikan hati nuraninya..
Entahlah.. mau jadi apa jika semua sudah tidak selaras… apalah arti laku lahiriah tanpa batiniah bergandengan dengan mesra… semua hanya omong kosong belaka…
Seperti sudah dibicarakan dalam SARESEHAN pertama di tempatnya ki Ngabehi.. yang menghasilkan tiga keputusan yang intinya :
1. Mengembalikan keseimbangan dalam DIRI
2. Memulihkan Keseimbangan Alam Semesta
3. Masuklah dalam Ketenangan Jiwa.. Jiwa Jiwa yang Tenang sebagai pembuka pintu ketuhanan…
minimal untuk kita yang berkumpul disana… ki Sabda Langit… Mas Pengembara Jiwa.. ki Ngabehi… ki Siliwangi.. mas Sohirin sebagai sesepuh yang hadir…
http://ngajitauhid.wordpress.com/2009/04/06/204/
dan rencananya akan dilanjutkan dengan saresehan berikutnya.. waktu dan tempatnya belum ditentukan entah di Bandung, Bogor atau entah di mana.. menunggu para sesepuh berdiskusi…
http://kangboed.wordpress.com/2009/05/10/indahnya-persahabatan/
Begitulah adanya pendapat si Botol Kosong OON surOON yang banyak omong kosong ini kiranya dapat menjadi bahan masukan dan pertimbangan serta pemikiran para Pini Sepuh yang berkumpul disini… mengenai pentingnya gerakan PEMURNIAN dan membangkitkan kembali HATI NURANI… sebagai sarana Menyembah ALLAH (UBUDIYAH)… dan menjadikan MANUSIA SEUTUHNYA MELIPUTI LAHIR DAN BATHIN…
Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang
Salam Hormat dan Taklim
Salam SEJATINE MANUNGSO
KangBoed berkata,
Juni 15, 2009 pada 6:24 pm
weleh weleeeeh mohon dimaafkan pantas hilang koooook panjang beneeer yaaaaaa.. sekali lagi buat Mas Kumitir dan Mas Wong Alus saya minta maaf jika mungki pandangan saya kurang pas.. sebelum dan sesudahnya saya haturkan terima kasih
ahmad yani berkata,
Juni 16, 2009 pada 5:04 am
baik dan terima kasih mas wong alus & kang kumitir..saya ada di barat jawa..ttpi getaran jiwa jarak smoga menyatu tak terhalangi..siapa yg telah menerangi satu jiwa seolah2 telah menerangi seluruh jiwa..pancarkan terus kang jadilah bulan dikala mlm dan jadilah matahari disaat siang..dan jadilah pelita dlm kegelapan….
sikapsamin berkata,
Juni 16, 2009 pada 7:29 am
hm..hhmm..hhhmmm..iki yen diumpama’ake nggodog-banyu wis wiwit..’kemrengseng’…
rasa bungahku membuncah-ruah…
sing kaping pisan aku arep matur marang sedulur sejatiku kekalih mas Kumitir lan mas WongAlus, negas’ake yen sikapsamin banget-sarujuk lan ndukung marang “TRIWIKRAMA-BUDAYA”…
TRIWIKRAMA ateges TIGA-BERAKUMULASI utawa TIGA-BERPADU…
sikapsamin ngugemi TIGA pitutur para leluhur : aja-dumeh
- aja-gumunan – mikul-dhuwur,mendhem-jero…
koment sedulur sejati mas Hilman, sikapsamin sarujuk banget, didalamnya ada semangat ‘mikul-dhuwur mendhem-jero’ juga mengingatkan akan wawasan Mosaik ‘NKRI’…
khusus pitutur ‘mikul-dhuwur,mendhem-jero’ ada pasangan pitutur yang melekat yaitu: ‘elingana yen kita kabeh menungsa iku nggendong lali, lan ora bisa ndeleng githoke dhewe’…
sikapsamin sangat yakin banyak ’samin2 yang lain’ dan juga ‘TRIWIKRAMA2 LOKAL’ diseluruh persada ‘NKRI’…
ada semangat saling mengingatkan yang tetap dalam semangat kebersamaan saling isi-mengisi……
untuk ini dengan segala hormat dan rendah-hati, saya mempersilahkan para sedulur beramai2 berkunjung ke website http://wiedjaya.wordpress.com/ isinya SERBA NUSANTARA banyak sekali yang bisa kita jadikan REFERENSI…
singkat kata, sikapsamin menyampaikan penghargaan kagem mas Kumitir dan mas WongAlus yang telah membuat ‘kemrengseng’nya TRIWIKRAMA-BUDAYA ini…
tanpa mengurangi rasa hormat sikapsamin kepada para sedulur sejati yang lain…
(lho iki tuan-rumahnya siapa ya?!?…maahaap maklum semangat yang sangat ‘kemrengseng’)…..
Salam Ing Sejatining Seduluran…
bakuh – kukuh – utuh…Mosaik ‘NKRI’…
SAMIN adalah SIKAP
Bagus Samiaji berkata,
Juni 16, 2009 pada 9:49 am
Ternyata dunia blogger memiliki komunitas yang begitu tinggi jangkauannya. Entah saya ada dimana.
Lepas dari itu semua, saya sangat mendukung, gagasan mengangkat kembali wisdom-wisdom lokal yang memang ada karena pengejawantahan budi dan daya kita pribadi, karna itu yang sesuai dengan pribadi kita.
Ketuk pintu pustaka kedhaton, untuk bisa mengalirkan warisan budaya leluhur kita. Agar warisan budaya leluhur tidak hanya menjadi wacana dan dongengan belaka.
wongalus berkata,
Juni 16, 2009 pada 12:50 pm
KANG BOED, terima kasih. Rasa-rasanya saya malah tidak pantas menambahi komentar Panjenengan yang sudah sedemikian lengkap-kap untuk nggayuh kawicaksanan gerakan TRIWIKRAMA BUDAYA.
MAS AHMAD YANI, jiwa persaudaraan itu adalah energi kita bersama. Energi sifatnya kekal kan mas? Semoga Energi bakuh kukuh dalam bingkai SEMANGAT MEMBANGUN NKRI. Bila dulu tahun 1928 para pemuda mencetuskan SUMPAH PENUDA. Semoga kelak, tekad bersama kita tercatat dalam sejarah BANGSA INDONESIA dalam bentuk SUMPAH BUDAYA alias TRIWIKRAMA BUDAYA NUSANTARA.
MAS SIKAP SAMIN, ada istilah ACT LOCALLY, THINK GLOBALLY, yang saya artikan secara bebas saja sbb: bertindak dalam berbudaya, beradat istiadat budaya dengan menghargai kearifan lokal (local genius) untuk mampu berbaur dengan budaya global. Mewarnai Globalisasi dan tetap memiliki identitas keindonesiaan yang kuat. Itu hanya bisa dicapai bila semua pihak menyayangi dan mempertahankan NKRI dengan gerakan REVOLUSIONER (karena sudah mendesak) berupa TRIWIKRAMA BUDAYA. Terima kasih mas…
MAS BAGUS, kalau bukan kita para generasi muda, siapa lagi yang perduli lagi dengan budaya lokal kita yang hampir punah ini?
Nah, sekarang monggo dilanjut para sedulur sedaya, mugi tansah pinarngan sehat saking kersaning Gusti..
KangBoed berkata,
Juni 16, 2009 pada 7:14 pm
Marilah kita tebarkan semangat kebersamaan.. membangun kesejatian.. menebarkan CINTA DAMAI dan KASIH SAYANG… silih asah.. silih asih dan silih asuh…
Temukanlah Aku di dalam Diri…. Sempurnakanlah Aku di dalam Jiwa Sejati…. siapakah Aku ?…. siapakah Diri ?…. siapakah Jiwa Sejati?…. mengetahui belum tentu mengerti, mengerti belum tentu waspada, waspada belum tentu surti….
Salam Sayang
Salam Hormat
Salam Taklim
Salam Rindu untukmu semua saudara saudaraku…
AgakGUndluS berkata,
Juni 17, 2009 pada 1:01 am
Sugeng enjing….
Ngaturi Kasugengan Mas,
Nyuwun idinipun kang mas, kulo badhe ‘copas’ serat-serat.
Nuwun.
kleyang kanginan berkata,
Juni 17, 2009 pada 2:01 am
Mas Kumitir, panjenengane wonten Sidoarjo pundi ? mbok menawi linthu dinten kulo saged silahturahmi dateng panjenengan.
Dalbo berkata,
Juni 17, 2009 pada 5:21 am
Nuwun sewu Mas Kumitir kulo nderek lankung urun rembuk.
Revvolusi budaya juga perlu diterapkan dalm kehidupan kesehari2an kita masing2 dan perlu di gethok tularkan pada siapa saja melalui segala wacana,walaupun sekecil apapun bentuknya.
jadi kita nggak perlu segan2 atau sungkan untuk bersikap ber prilaku sebagai orang Jawa misalnya kalau kita di undang kenduri habis kenduri bilang sama tuan rumah dlm bhs Jawa “Kabulo kajade” atau kalu kita bertamu ketok pintu ngucap “Kulo Nuwun” atau melakukan ritual2 Jawa seperti mitoni, tingkepan,nyekar ke sarean. karena ini termasuk bagian satu kesatuan pohon budaya Jawa. bukankah salah satu tujuan Revolusi Budaya ini untuk membngkitkan Budaya Asli kita yg bertahun2 terjajah dan ter tindas,terhina,terfitnah. Monggo berjuang ber sama sama poro sedulur,
Mugi Gusti hangijabahi….
jowo tulen berkata,
Juni 17, 2009 pada 2:37 pm
kanti esiting manah, bilih punopo raos wuyung kang kinantil dening badan puniko rohmatipun Gusti……
urip puniko mung sepisan…..kanti lantaran gesang…sekalire jamal saget pinaggih Gusti kang maha agung…..
mongko saget-mboten saget yen liro kepingin gesang sak wuse gesang kelawan
tentrem adem ayem sareng widodari kang ayu prahupane, siro den wajibaken netepi kanti tetep istiqomah tumuju dumateng ngarsaning Dzat kang Akarya jagad….
jowo tulen berkata,
Juni 17, 2009 pada 2:51 pm
wejangan buat orang yang kebanyakan dosa….
1. hidup di dunia cuma satu kali tooooooook
2. gelem ngibadah po ora…sing mesti panggah mati
3. lek ws mati ws pedot….soko urusan tobat….: bayangkan; jika kita sudah modar…..truz ora iso tobat…sopo kate nulung….yaaa seandainya aja ada orang yang mau mendo’akan….? lek ga’ onok modar kowe…..
4. ws ngene ae……dilalah kanjeng Nabi memberi kabar gembira buat kamu2 sing kakeyan dosa……ki kabare:
woconen sabda ki:
laa kabiirota ma’al …mbuh teruse lali…..
wes intine ngene….
ora onok dosa gede yen pengeran iku ngadepi perkoro kanti fadhilahe…..tegese sak gede-gedene dosa sing dilakoni, yen uwong iku maw gelem tobat kanti temen…..truz pengeran iku ngapurooo….entek dosa-dosa mu kuwi mawww. dadi sak gedi-gedine dosa iku jik luwih gede fadhilahe pengerann…ngono looo…yen pengeran kuwi wau ngadepi kelawan fadhilahe…JADI JANGAN SAMPAI PUTUS ASA DALAM MENGHARAPKAN AMPUNAN DARI-NYA…..OK choy…
Bagus Samiaji berkata,
Juni 18, 2009 pada 4:05 am
Mas Jowo, komentar sampeyan dicantelaki no ngendi,,,,
sbs berkata,
Juni 18, 2009 pada 12:07 pm
Dimas Kumitir lan Wong Alus,
Wow, saya tidak sangka. Revolusi Budaya atau apa saja kata halusnya.Hebat!! Mungkin mereka raja dan kerabatnya belum mehyadari bahwa suatu karya budaya itu (tulisan2 ) itu tak ada artinya bila tak ada yang membaca, dan menjalankan budaya itu untuk pegangan hidup, APakah Dimas berdua sudah mencoba memberi pengertian kepada mereka? Saya yakin bayak anak2 muda pada golongan mereka yang tidak gaptek /gagap tenologi, KAlau yang sepuh2 sulit beradaptasi, mungkin yang muda2 lebih responsive. Perpustakaan kerajaan narus di up-grade. Bisa dibuat aturan2 baru untuk membuka diri dan tetetap menjaga agar karya tulis itu tidak hilang/rusak di tangan2 yang tak bertanggung jawab. SAya mengharap revolusi ini tidak terlalu keras, sehingga ada pro dan kontra yang jelas. TSpi pastinya kita semua menginginkan perubahan untuk memperbaiki budaya kita yang saat ini bingung mrnyesuaikan diri ditengah kemajuan budaya modern. Terimakasih.
saloy berkata,
Juni 21, 2009 pada 8:34 am
Yang jelas semuanya hanya minta pengakuan, biar dianggap hebat, top, paling tau segalanya, paling sempurna dan dikenal oleh masyarakat luas, tidak ada yang melakukannya dngan iklas………….. maaf termasuk saya sendiri dan yang berpartisifasi di blok ini, benarkan ???? jawab di dalam hati kita masing2, dan bahkan kritikan mas kumitir dan wong alus, maaf
paijo wijoyo kusumo berkata,
Juni 21, 2009 pada 4:27 pm
salut buat semua……punggawa jawa……..nguri-nguri budaya jawi……sukses dan di tunggu karena selanjutnya…..
sbs berkata,
Juni 22, 2009 pada 4:28 am
TIDAK TERGUGAHKAH KITA?
Saya sebetulnya ingin tahu bagaimana hasil revolusi budaya yang dicetuskan oleh mas Kumitir dan wong Alus.
bErapa lama akan tampak hasilnya? Mengapa kita semua tidak memperbaiki budaya Jawa di lingkungan kita
masing2. Anak2 sampai usia pra remaja ditekankan pada budipekerti. Misal; Sekolah harus rajin belajar, jangan suka bolos , ulangan tidak nyontek. Tawuran tidak boleh. Bersikap sportif,hemat, tidak konsumtif, membantu orang tua dan menghormati guru. Dan kesenian Indonesia.Setelah remaja ditambahkan /dibangkiykan sikap mandiri, tmenghargai karya/MILIK orang lain, tidak plagiat, pola hidup yng sesuai dengan kemampuan kel;uarga. Dan banyak lagicontoh2 berbudi baik, ksatria dan luhur. Kalau kita ta berhsil mendapat karya2 leluhur kita, masih banyak kok orang jJawa masa kini nang mempunyai karya seni yng tak kalah dengan leluhur kita. Walaupun kecil sekali usaha perseorangan yng dapat dilakukan tetapi kalau puluhan juta orang yng melakukan, hasilny akan tampak jelas. Salut untuk mas KUmitir dan wong Alus !
Antonaga berkata,
Juni 23, 2009 pada 8:33 am
Mengagumkan,walaupun dgn susah payah saya mnerjemahkan serat2 kuno peninggalan leluhur,jauh di kedalaman samudra hati ada sbuah pertanyaan..,bgmana anak cucu saya nanti,?apkah mereka msih mau untk mnerima dn mngamalkan ‘laku’jawa ditengah serbuan ‘bumbu’luar,?
den aryo berkata,
Juni 24, 2009 pada 7:51 am
NUWUN SEWU SAKDERENGIPUN MAS KUMITIR KALE WONG ALUS,badhe nderek urun rembuk..manunggaling kawula gusti itu sebuah kebenaran dan tanpa ada sedikitpun keraguan bagi orng2 yg mau berfikir..innallaha maaka haitsu kunta jadi jelas kemanapun melangkah gusti slalu bersama kawula..tanpa gusti kawula tdk akan mampu berbuat apa2,dan tanpa kawula gusti takkan pernah disebut wujud…dengan kemanunggalan itulah maka akan tercipta sabda,dan dari sabda itulah smua tercipta,termasuk didalamnya ciptaan
nama tuhan yg berbeda2..nuwun
KangBoed berkata,
Juni 25, 2009 pada 2:23 am
Saluteeeeee.. two thumbs upp.. Maju Terus Saudara Saudara Tebarkan terus VIRU CINTA dan KASIH SAYANG..
Salam Sayang
Salam Taklim
den aryo berkata,
Juni 25, 2009 pada 3:26 am
DOSA,maknanya adalah derita..bukan tuhan yg diatas yg duduk2 yg nyatet..derita itu timbul krn ulah kita sendiri,yg bs menimbulkan derita buat kita dan orng lain…contohnya kalo kita maling trus ketangkep dikeroyok masa,digebuki nganti benjol nah itu yg disebut dosa..blm lagi dipenjara,wes mlebu neroko kui jennengi..cara minta ampun nya ialah kita harus merubah sikap menjadi orng yg bijak dgn tdk membiasakan diri mengambil hak orng lain..bukannya berdoa minta ampun atau didoakan orng lain..”Sopo nandhur ngunduh”..jadi ga usah nunggu besokkalo sdh mati…skarang neraka syurga itu sudah jelas…!!lha wong saben dino wong wes mlebu mettu syurgo koq..hehehehe..
Nuwun…
dbo911 berkata,
Juni 25, 2009 pada 4:18 am
Yth. Para Kadang Sutresna NKRI…
Yang sangat mendesak yang hrs kita lakukan adalah MENTAS DARI PROSES PENG(K)ERDILAN BANGSA/MANUSIA…
Antara Pohon-Alamiah dan Pohon-Bonsai,… Keduanya mempunyai jati-diri yang sama (struktur serat-kayu/DNA yang sama, jenis makanan yang sama)… Namun Pohon-Alamiah MAMPU MEMBERIKAN KETEDUHAN DISEKITARNYA, BAHKAN MAMPU MENUMBUHKAN JENIS-JENIS POHON-ALAMIAH YANG LAIN.
Sementara Pohon-Bonsai,… meminta jatah-makanan dari pemiliknya/tuannya, TIDAK-MAMPU MEMBERI keteduhan disekelingnya,.. Dia hanya mampu memberi FATAMORGANA-KEINDAHAN…
Itulah gambaran BANGSA-BONSAI…indah dimata tuannya, mengharap jatah, patuh, tunduk kpd tuannya
Dari Kebiasaan Rasa syukur TANGAN-TENGADAH…
Kebiasaan yang di-SALAH KAPRAH-kan…
Memedihkan…..
Kita HARUS UBAH CARA/PERILAKU BERSYUKUR KITA KPD SANG MAHA PENCIPTA…
Kita PERTAHANKAN sampai pada TIAP-HELAI RAMBUT yang dianugerahkan kepada kita… Tidak boleh ada pihak lain menggunduli kepala kita…
Kita SIBAK/SINGKIRKAN FATAMORGANA Dogma, Halusinasi, Illusi…
Tingkatkan Kesadaran JATI-DIRI SEJATI atas dasar SANGKAN PARANING DUMADI…
Semoga Hyang Murbeng Dumadi…Hangijabahi terwujudnya TRIWIKRAMA-BUDAYA menuju Keutuhan Mosaik NUSWANTARA KERTAGAMA RAHARJA INDONESIA…….
Rahayu dumateng seluruh Kadang Sutresna NKRI…
Kang Bawor berkata,
Juni 26, 2009 pada 3:51 am
Mohon Ijin Dari Anda…
Bahwa Saya Ingin Mengutip / Mengambil / menyadur kata-kata atau kalimat dari Anda yang berada di sini…
Saya Ingin Menyebarkan dan Mengingatkan bahwa kita masih ada/punya Budaya yg Seutuhnya dan perlu dilestarikan…
Kalimat2 tsb akan saya tampilkan di facebook..
saya akan memulai dari daerah saya sendiri yaitu BANYUMAS….
Karena Maskot daerah Saya adalah BAWOR…maka saya menggunakan nama KANG BAWOR di facebook…jadi saya mohon ijin dari anda2 skalian untuk menampilkan kalimat2 pencerahan yg ada disini…Maturnuwun
giyanto berkata,
Juni 26, 2009 pada 10:36 am
ass.. sakderengipun kulo nyuwun ngapunten dateng sedoyo kee mawon . kulo badhe nderek komentar ngih ? monggo silakan … di pun tepanganken nami kulo ngih sami ngih. salam sejag tera sedoyo ngih, kulo nembe mlebet niki. kulo kok setuju pendapat panjenengan sedoyo. ngoten ke mawan ngih. suwun. waass..
samudro berkata,
Juni 26, 2009 pada 12:31 pm
maaf sebelumnya kang mas wong alus, kang mas kumitir, dari awal membaca saya kok jadi heran…… kenapa yang dibahas selalu gudang kraton, buku kuno dan yang lain lain, kok seolah olah ngajak yang lain berontak melalui media ini. kenapa tidak menggunakan jalur dimensi dua,jalur alus untuk membaca, kenapa harus berwujud… dan seolah olah mengajak yang lain untuk berpikiran yang sama…. tolong jangan dikotori blog ini dengan sesuatu yang aneh aneh seperti meminta perpustakaan kuno dibuka………untuk apa….
maaf sekali lagi……apa kitab alam materi kurang besar, kalau kurang besar silahkan masuk ke alam im-materi, bersikaplah sebagai orang yang benar benar jawa….. mikul duwur mendem jero…. bila memang belum dikasih kenapa meminta, apakah itu adat orang jawa, kalau seperti itu tolong jangan memakai istilah jawa…. kurang baik hasilnya……
triwikrama ,…….? sudahkah kita mampu menjadi wisnu, syiwa dan dharma pada saat yang bersamaan dan pada waktu yang sama. bukankah itu sudah ada pada diri manusia, menjadi orang baik dan jahat pada saat yang sama yaitu selama kita masih hidup..
ojo nggongso kareping roso sing iso nggowo cidro, unggah ungguhing asmorondono ugo kacipto dening loro bronto, kapisan cidro marang sing kuoso, kapindo cidro marang manungso katelu cidro marang rogo kang ngemban asmo. asmo siro bakal kebak marang doyo kang kepundut dening kang akaryo gesang, ninggal tapak asmo ning ndonyo pada karo tracake kuntul sing mabur ning angkoso, sopo siro bakal iro iso weruh yen siro wis tilar ndonyo………….
maaf semuanya bila kurang berkenan……….
rahayu…..
Ahmad berkata,
Juni 26, 2009 pada 1:37 pm
ah ya ga pa pa lah begitu,buku2 dan kitab2 di karaton yah memang baiknya di buka dan disebarkan di masyarakat umum daripada disengker terus.Jaman sudah berubah,kita harus berubah,mau diubah lalu turut menggubah seluruh tatanan yang ada………..
wong alus berkata,
Juni 27, 2009 pada 3:06 am
Yth Mas Samudro, panjenengan mengatakan sbb: ” dari awal membaca saya kok jadi heran…”. Kenapa harus heran mas? Ingat ajaran jawa Ojo gumunan, ojo dumeh, mikul dhuwur mendem jero…”
Stagnasi budaya harus dicairkan dari kebekuan. Budaya yang tidak direfleksikan dengan kritik yang membangun pasti akan mengalami kemunduran dan bahkan kepunahan. Konservatisme memegang nilai-nilai tanpa diikuti dengan otokritik, terhadap cara berpikir kita masing-masing pasti akan mengakibatkan kemunduran dan keruntuhan.
Sepakat bahwa kita membaca tidak dari kitab yang tertulis saja, bahkan sebelum kita mengumumkan statemen ini secara luas kita terlebih dulu menggunakan jalur rasa untuk meraba gejolak dan getaran alam ….yang mungkin yang lain malah belum melakukannya.
Alam materi dan imaterial sangat besar, mas. Tapi semua itu hanya fenomena yang tidak bisa dimasukkan ke otak wadag manusia. Oleh karena itu untuk membaca substansi (noumena) kesemua pergelaran alam semesta ini justeru melalui refleksi ke dalam diri pribadi masing-masing yang merupakan pengada yang sadar akan keberadaannya.
Polah tingkah para penggenggam nilai-nilai budaya sudah lembek mas. Tidak hanya para Raja., tapi kita semua: yang hidup hedonistik, lebih cenderung untuk berkubang dalam kesemestaan materi dan egosentrik. Maka, Kita bergerak ini untuk menyuarakan sebuah kerinduan akan diri sendiri yang sudah hilang di telan peradaban konsumtivisme.
Kami justeru menyayangkan statemen panjenengan di atas sbb: …tolong jangan dikotori blog ini dengan sesuatu yang aneh aneh seperti meminta perpustakaan kuno dibuka………untuk apa….” Logika panjenengan yang seperti ini kurang lurus, mas.
Monggo dipikirkan bersama: Blog ini berisi berbagai bahasa tulis yang diambil dengan susah payah oleh Mas Kumitir dari kitab-kitab yang sudah ditulis para Pujangga Jawa dengan penuh kewaskitaan. Mereka mendapatkan ide-ide menulis dari pergulatan dengan hidupnya masing-masing.
Kita hanya pengepul naskah-naskah mereka dan akhirnya menggelundungkan ide untuk mengadakan gerakan membuka perpustakaan keraton sebagai langkah awal agar para Raja Jawa mau untuk berbagi wacana dengan masyarakat.
Kita tidak mengotori blog kita sendiri mas, juga ide segila apapun saya rasa tidak ada yang mengotori. Ini bentuk demokratisasi yang dijunjung masyarakat Jawa dari masa ke masa. Blog ini tidak akan kotor dengan ide-ide yang tidak rasional atau ide yang justeru akan melemahkan semangat untuk membangun nusantara.
Marilah kita menggunakan cara-cara yang berbudaya untuk menyampaikan pendapat.
Salam asah asih dan asuh
wong alus
samudro berkata,
Juni 27, 2009 pada 6:45 am
maaf kan saya yang bodoh ini, anda semua telah benar, semoga jawa tetap maju ……
masa lalu adalah sejarah
masa depan adalah misteri dan harapan
masa kini adalah hadiah untuk dimanfaatkan karena hanya punya waktu saat kita berfikir. 1 jam kedepan belum tentu kita akan hidup, kenapa menggali sesuatu yang bukan bagian kita. sudah habiskah ilmu tuhan dimuka bumi………
soyo ndodro…..
ngapunten kangmas alus,
aku berjalan membawa lentera didepan….
yang dibelakang ada diingatan…
ragaku selalu bergoyang mengikuti irama alam
saat ini aku hidup atau mati…aku nggak tau…
yang aku tahu, hanya tangisan yang jadi tintaku
yang menoreh tulisan alam dalam awang awang
gelap kelam selalu membayang
tapi lentera hati
selalu membawaku pergi
menuju sesuatu yang pasti
sesuatu yang nyata
sesuatu yang jawa
yaitu
sesuatu yang nyata
dan ada
sama halnya
dengan tuhan
dia itu ada lagi nyata
ngapunten kangmas alus dan kumitir juga rekan rekan blog yang lain
nyuwun pamit dan undur diri
rahayu…
Ahmad berkata,
Juni 28, 2009 pada 4:37 am
@samudra :
“kenapa menggali sesuatu yang bukan bagian kita. sudah habiskah ilmu tuhan dimuka bumi????.”
terlepas dari masalah keraton,ini adalah sebuah kalimat yg sungguh indah dan juga patut kita renungi bersama…..
saloy berkata,
Juni 27, 2009 pada 2:23 pm
buat mas Samudro
saya sependapat dengan anda, kenapa kita masih sangat egois sekali, benar kitab2 jawa harus dibuka, tapi ingat kebenaran itu tidak ada di kitab manapun di muka bumi ini, semua hanya hanya kiasan semata termasuk alquran pun, karena kita selama ini hanya menelan mentag2 apa yang tersurat.
seperti cerita kunang kunang yang sedang menuntut ilmu .
ada empat ekor kunang2 menuntut ilmu, setelah menghadap sang guru , maka sang guru memerintahkan kepada ke empat kunang2 tersebut untuk mencari hakikat panas nya api.
singkat cerita setelah beberapa hari menghadaplah kunang2 tersebut kepada sang guru nya untuk menuturkan hasil penemuan mereka.
kunang2 yang pertama datang menghadap, sembah guru saya lah yang paling mengerti hakikat api, ujar kunang2 yg pertama dengan sombong nya.
guru nya bertanya kalau begitu coba kamu ceritakan tentang hakikatnya api tsb.
maka kunang2 pertama pun bercerita, bahwa api tersebut panas guru dan menyala-nyala merahnya.
dan gurunya diam saja mendengarkan kunang2 yg pertama bercerita.
terus gurunya memerintahkan kunang2 yang kedua untuk bercerita,
kunang2 kedua pun bercerita, bahwa api itu sangat panas guru saya berusaha untuk mendekati api, tapi ternya panasnya sangat menyengat kulit saya ujar kunang2 yg kedua.
terus kunang2 yg ketiga diminta gurunya untuk menceritakan ttg hakikat api, maka kunang2 yg ketiga pun bercerita bahwa api itu sangat panas sekali kalau guru tidak percaya ini bulu2 saya sampai terbakar semua waktu saya mencoba masuk kedalam api.
sedangkan kunang2 yg ke empat tidak muncul2 lagi kehadapan gurunya, rupanya kunang2 yg ke empat masuk kedalam api dan tidak keluar lagi dari dalam api.
jadi maksud dari cerita diatas tersebut siapa sebenarnya diantara kunang2 tersebut yang mengerti hakikat api, pasti kunang2 yg kempatlah yg mengetahui sebenarntya tentang hakikat api, karena dia sudah masuk kedalam api dan tidak keluar lagi dari dalam api.
jadi begitu juga tentang hakikat Tuhan, kalau manusia sudah mengetahui hakikat ketuhanan, maka dia tidak akan bisa menceritakannya lagi, karena sudah habis terpandang , terbuka tirai penghalang.
jadi jangan lah kita saling membanggakan diri kita, suku kita, atapun golongan kita, karena semua itu hanya tipuan yang akan gugur laksana debu tertiup angin,
saya pun pamit dan minta maaf kepada mas kumitir dan rekan2 di blok ini,
anggap saja saya hanya seonggok batu nisan yang tak berarti.
saloy
sastro tejo berkata,
Juni 29, 2009 pada 10:32 am
sangat setuju sekali dgn apa yg anda maksud…namun kalau orang dulu bilang sudah kehendak gusti adanya suatu perubahan di dalam zaman ini. ada anggapan bahwa tidak jauh berbeda pada saat peralihan dr ke maharajaan Majapahit ke Kesulatanan Demak, namun kalau saya nilai memang sudah ada suatu sekenario besar supaya masyarakat/suku jawa meninggalkan budayanya. perlu diingat suatu bangsa yg besar dimanapun berada akan kuat kalau mempunyai jati diri dan budayanya contoh yg paling jelas bagaimana bangsa inggris mau menguasai Cina dengan jalan perang candu supaya masyarakat di Cina akan mudah dipengaruhi dan lemah di dalam memikirkan bangsanya setelah itu dengan mudah akan di jajahnya. bentuk2 ini tidak jauh berbeda dgn situasi kondisi bangsa kita saat skr ini. Orang lebih bangga akan memakai budaya luar dan menganggap bahwa bangga di sebut maju atau modern. Namun perlu diingat bahwa Gusti memahami semua nanti akan muncul dgn sendiri yg di sebut KESADARAN. tidaklah mudah bagi orang yg belum memahami semua kehendak Tuhan namun pakailah hati atau rasa kita di didalam perubahan nanti. Maaf seribu maaf mengenai situasi dan kondisi di dalam KERATON MATARAM kalau tidak memahami ttg ajaran dr eyang PANEMBAHAN SENOPATI sewaktu membentuk, membangun, membuat DINASTI MATARAM pasti ada maksud tujuannya namun apabila anak cucu dan keturunannanya tidak memahami semuanya yg menjadi kehendak dr eyang PANEMBAHAN SENOPATI pasti akan hilang di telan bumi. sudah saatnya nanti untuk kita semua mengembalikan roh dari ke MAHARAJAAN MAJAPAHIT, ini sudah banyak tanda dari alam yg menuntut kita untuk MEMAYU HAYUNING BAWONO. alam juga sudah menuntut manusia mempertanggung jawabkan perbuatannya biarkanlah sejarang berulang kembali
wong alus berkata,
Juni 29, 2009 pada 5:11 pm
Mas Saloy: jadi begitu juga tentang hakikat Tuhan, kalau manusia sudah mengetahui hakikat ketuhanan, maka dia tidak akan bisa menceritakannya lagi, karena sudah habis terpandang , terbuka tirai penghalang….
Para Nabi adalah contoh puncak pendakian spiritual sepanjang masa. Logika mereka tidak hanya logika matematika, logika rasa, logika arthur scopenhaurian maupun logika antitesa hegelian, mas… Logika mereka futurologis melampaui batasan akal dan rasa.
Namun, mereka masih mampu untuk hidup normal dan mampu sedih gembira, suka duka, dan tertawa renyah. Bahkan juga mampu menceriterakan kisah-kisah hidupnya termasuk pengalaman isra mikraj yang menggetarkan itu kepada para sahabat yang kemudian ditulis dalam bentuk hadits.
Semoga kita semua diberi kekuatan untuk selalu eling, waspada, dan tidak apriori dengan padangan, sikap dan ide yang menurut kita salah. Bisa jadi kitalah yang salah…
Mungkin begitu.
Salam rahayu.
Hilangnya Jati Diri Manusia « kangBoed… berkata,
Juli 16, 2009 pada 5:34 pm
[...] pendapat ini untuk mensikapi dari seruan beberapa sahabat sejatiku.. Mas Wong Alus.. Ki Kumitir.. mas dBO911.. Kang Mas Sabda Langit.. Mas Pengembara Jiwa.. Ki Ngabehi.. Mas Item Poeti.. Kang [...]
Santri Gundhul berkata,
Juli 19, 2009 pada 5:29 pm
Gusti Ingkang Moho Suci, kulo nyuwun pangapuro dumateng Gusti Ingkang Moho Suci.
Apakah kita semua LUPA….? Apakah kita semua LALAI….? Ataukah memang kita semua TIDAK MAU TAHU….? Ketika ekonomi dan politik menjadi TAGHUT-TAGHUT yang kita sembah… Ketika INTELEKTUALITAS dan LOGIKA menjadi SESEMBAHAN kita… Ketika KEHIDUPAN HEDONISME menjadi BERHALA kita… Bahkan, ketika AGAMA, KITAB SUCI dan SYARI’AT pun tlah kita jadikan Tuhan….
Nampaknya…. Kita semua memang LUPA…… Kita semua memang LALAI….. Atau bahkan sebenarnya Kita MUNAFIK…..?
Diam-diam, Syirik telah membius diri, EGO dan NAFSU telah merasuk dalam darah, Pantas saja…..!!! Jika Allah menurunkan PERINGATAN-Nya di negeri dan bangsa ini Sangat pantas…!!! Jika Allah dengan KASIH-Nya memberikan pelajaran di bumi pertiwi ini….
Semestinya…..Patut kita akui, Nyatanya kita memang telah terlupa….!! Hanya TIKET SORGA yang menjadi tujuan kita BERIBADAH…. Hanya KELIPATAN PAHALA yang menjadi dambaan kita BERAMAL… Hanya pertimbangan UNTUNG-RUGI yang mendasari kita menjalani IBADAH…Hanya RAKUS dan KETAMAKAN yang menjadi obsesi kita BERKARYA… Dan,hanya EGO PRIBADI yang menjadi pijakan kita BERMUJAHADAH… Nyatanya kita memang benar-benar terlupa…..!!
Semestinya, Ilahi anta maqsudi wa ridhoka mathlubi
Semestinya, Dengan SYARI’AT, kita mengenal THAREQAT, Dengan THAREQAT, kita mengenal HAKEKAT, Dengan HAKEKAT, kita BERMA’RIFAT.
Semestinya, Agama dan syariat bukanlah sarana untuk MENGHAKIMI sesama,…Inna robbi latiful limai yasaa, innahu huwal alimul hakim.
Namun…inilah yang terjadi di bumi Pertiwi ini…. AGAMA dan SYARI’AT telah bergeser dari TUJUAN dan FUNGSINYA. Nampaknya…….,Kita tidak mau tahu akan ayat-ayat-Nya, Kita tidak mau membaca tentang tanda-tanda-Nya, Kita mungkin tahu.., ataukah memang sengaja BERSELINGKUH…..??!!
Gusti Ingkang Moho Suci, kulo nyuwun pangapuro dumateng Gusti Ingkang Moho Suci.
Wahai para manusia…
Semua Kitab-kitab Suci telah kembali kepada Nur ( Cahaya )-Nya di Lauhul Maghfuzt. Setiap tempat-tempat Ibadah banyak yang telah KERING dan akhirnya MATI karenanya…!! Yang kita lihat kini hanyalah lembaran-lembaran BUKU BIASA dan bangunan RUMAH BIASA yang sudah TIDAK lagi memberikan KETEDUHAN HATI. Karena kita tlah membuat semuanya BERHENTI yang pada akhirnya KERING dan MATI pada saat ini….!!
Lihatlah…Wahai para manusia….
Yang kita punya dan kita genggam dengan KUAT.. hanyalah beban-beban hidup NAFSANI yang berupa KETAMAKAN dan KERAKUSAN duniawi yang kita RENGKUH…kita GAPAI…kita PEREBUTKAN…hanyalah demi PANGKAT, JABATAN, PREDIKAT dan KEKUASAAN serta hanya demi segenggam KEPENTINGAN Pribadi, Kelompok atau Golongan.
Dan tak sadarkah bahwa sesungguhnya kita-kita telah rela MENANGGALKAN “ KESUJATIAN DIRI “ kita sebagai FITRAH bawaan yang telah dianugerahkan TUHAN. Akankah…semua itu kita pertahankan dan kita bawa sampai AKHIR HAYAT nanti…???
DOA-DOA yang kita panjatkan saban hari MELAYANG DI LANGIT TAK PERNAH SAMPAI KE SINGGASANA DI HADIRAT-NYA, saat ini para pendahulu-pendahulu kita yang tlah MANUNGGAL dengan Sang Maha Tunggal menangis tanpa mengetahui apa yang DITANGISINYA….Sedihkah…Gundah Gulanakah mereka-mereka itu…??
Gusti Ingkang Moho Suci, kulo nyuwun pangapuro dumateng Gusti Ingkang Moho Suci.
” Sakbegjo-begjone wong kang LALI, isih begjo wong kang ELING ”
JAYALAH NEGERI dan BANGSAKU
Cah Cilik berkata,
Agustus 4, 2009 pada 10:14 pm
Assalamu’alaikum Wr.Wb
Kulo Nuwun Poro Sedherek sami..
ngapunten kawulo nyobi tumut urun rembag..
mboten wonten ingkang klentu , menawi tujuanipun dumateng kesaenan.
lan luwih sae, tiyang ingkang ngamalaken ngelmunipun nadyan puniko setunggal huruf ” Alif”…..
matur suwun.
arif jogja berkata,
Agustus 17, 2009 pada 6:19 am
kulo nggih setuju mawon….
menawi jaman sakniki poro rojo wonten maksud ingkang kulo lan kito sedoyo mboten mangertos,,,,
menawi rojo perso tulisan panjenengan niku mungkin ati ne nipun kebuka…amin…
MERDEKA KAGEM KERAJAAN ING TANAH MATARAM
kangBoed » Hilangnya Jati Diri Manusia berkata,
Agustus 30, 2009 pada 10:03 am
[...] pendapat ini untuk mensikapi dari seruan beberapa sahabat sejatiku.. Mas Wong Alus.. Ki Kumitir.. mas dBO911.. Kang Mas Sabda Langit.. Mas Pengembara Jiwa.. Ki Ngabehi.. Mas Item Poeti.. Kang [...]
singo berkata,
Oktober 1, 2009 pada 9:22 am
kulonuwun
kulo badhe anut rembut kakang..
perlu dipun mangertosi sak meniko katah tyang engkang namung nunut lahir mawon wonten indonesia (JAWA), ananging jiwanipun kecantol wonten negari liyo.
suwun
Ponco Reko berkata,
Oktober 26, 2009 pada 5:22 am
Alhamdulillah. Turut berbahagia Mas Kumitir. Website ini bener-bener luar biasa buat saya dalam menambah wawasan budaya Jawa.
Kalau boleh sedikit kritik, alangkah baiknya:
1. Tulisan yang ada dicantumkan juga sumbernya (jika hasil ngetik atau scan dari buku). Dengan demikian hal ini bisa dijadikan rujukan yang lebih valid.
2. Ini mungkin agak pribadi sifatnya: Saya lebih suka membaca serat asli dengan terjemahannya, daripada sebuah tulisan berisi serat tapi dicampur dengan pendapat pribadi. (Menjadi sulit untuk memilah, mana yang asli dari serat dan yang mana yang tambahan). Jika ada tulisan seperti ini, mungkin ada baiknya dipisah. Tulisan pertama berisi serat asli plus terjemahannya, dan tulisan kedua komentar atas serat.
Mohon maaf jika kurang berkenan.