alangalangkumitir

Javanese Manuscripts

MEDITASI SUFI


oleh: as-Sayyid Nurjan Mirahmadi
Alih bahasa: Syekh Soetono

Sasaran dan maksud dari muraqabah/meditasi/rabithah syarif adalah untuk memperagakan kehadiran terus-menerus ke dalam realitas syekh. Semakin seseorang memelihara pelatihan ini, semakin terungkapkan manfaatnya dalam kehidupan sehari-harinya sampai pada titik dia mencapai tataran fana dalam hadirat Syekh. Orang harus tahu betul bahwa syekh adalah jembatan antara ilusi dan realitas dan dia berada di dunia ini hanya untuk tujuan itu. Jadi syekh adalah seutas tali yang khas yang diulurkan kepada setiap orang yang mencari kebebasan (dari ilusi), karena hanya syekh yang dapat memberikan layanan sebagai penghubung antara seseorang yang masih terikat kepada dunia dengan Hadirat Ilahi. Agar menjadi fana di hadapan dan keberadaan syekh adalah menjadi fana dalam kenyataan, dalam Hadirat Ilahi, karena memang sesungguhnya di situlah dia berada.

Meditasi Sufi: Langkah 1

Bayangkan dirimu berada di hadapan syekh. Sampaikan salammu. Tutup matamu. Pandanglah melalui mata hatimu. Jangan mencari raut muka, melainkan hanya auranya saja, ruhaniah.

Sebagai awal murid dapat memulai praktik muraqabah ini untuk jangka waktu pendek, antara 5 sampai 15 menit, dan secara bertahap menjalaninya menuju jangka waktu yang lebih panjang, bahkan merentang hingga berjam-jam sekali sesi. Yang terpenting adalah bahwa seseorang mempertahankan sebuah praktik yang konsisten untuk mendapatkan manfaat dari praktik tersebut. Jauh lebih baik dan bijaksana untuk bertahap pada sesi yang pendek secara harian daripada disiplin dan praktik yang acak. Sebuah upaya kecil yang dilakukan secara konsisten akan menghasilkan kemajuan luar biasa dalam waktu yang singkat.
Ambillah wudhu dan shalat 2 rakaat (tahiyatul wudhu).
Ucapkan Kalimat Syahadat (3 kali): Asy-hadu an laa ilaaha illa-llah wa asy-hadu anna Muhammadan `abduhu wa rasuuluh
Istighfar (100-200 kali): Astaghfirullah al `Azhiim wa atuubu ilayh
Surat al-Ikhlash (3 kali): Qul huwa-llaahu ahad/ Allaahu Shamad/ Lam yalid wal lam yuulad/ wa lam yakul- lahuu kufuwan ahad
Surat al-Fatiha
Mencari dukungan dan kehadiran Mawlana Syaikh Hisyam Kabbani k dengan mengucapkan: �Madad ya Sayyidi, Madadul-Haqq�
Minimal 200 kali mengulang kalimat dzikir, �Madadul-Haqq, Madadul-Haqq��

Meditasi Sufi: Langkah 2

Mata tertutup, mohon izin untuk menyambung cahaya beliau kepada hatimu dan cahayamu kepada hati beliau. Bayangkan sebuah kontak dua arah dan kemudian, baca awrad pada langkah 1.

Ketika seseorang duduk bermeditasi dan menutup matanya, dia memfokuskan pikirannya pada satu titik tunggal. Dalam hal ini titik itu biasanya adalah konsep dari mentor spiritualnya; dus dia memfokuskan seluruh kemampuan kesaksiannya memikirkan dengan konsentrasi penuh tentang guru spiritualnya agar mendapatkan gambaran atau citra mentornya pada layar mental, selama dia masih berada dalam status meditasi itu. Sifat, karakteristik dan potensi yang terkait dengan sebuah citra juga dipindahkan pada layar pikiran ketika citra itu terbentuk pada layar mental dan pikiran menerimanya sesuai dengan itu.

Sebagai contoh, seseorang sedang memperhatikan api. Ketika gambaran tantang api itu dipindahlan ke layar pikiran, suhu dan panas api itu terekam oleh pikiran. Seseorang yang hadir dalam sebuah taman menikmati kesegaran dan kesejukan pepohonan dan tanaman dalam taman itu untuk menciptakan gambaran itu semua pada layar pikirannya. Begitu juga ketika gambaran mentor spiritual dipindahkan pada layar pikiran, Ilmu yang Dihadirkan yang beroperasi dalam diri guru spiritual, juga ikut dipindahkan dengan gambaran itu dan pikiran murid secara bertahap menyerap hal yang sama.

Meditasi Sufi: Langkah 3

Duduk bersimpuh, yang rapi, tetap bersimpuh, mata tertutup, tangan di tempat, mulut tertutup, lidah ditekuk ke atas, napas terkendali, telinga mendengar al-Quran, Shalawat atau suara sendu. Ruang gelap.

Meditasi, memikirkan tentang mentor spiritual, sebuah upaya untuk memfokuskan dengan konsentrasi pikiran kita kepada seseorang, sehingga citranya dapat dipantulkan secara berulang pada layar pikiran kita, (maka) kita terbebaskan dari keterbatasan indera. Makin sering sebutir pikiran di tayangkan pada layar mental, makin jelas pula formasi (pembentukan) sebuah pola dalam pikiran itu. Dan, pola pikiran demikian ini, dalam istilah spiritualitas disebut ‘pendekatan pikiran�.

Ketika kita membayangkan mentor spiritual atau �Syaikh�, sebagai sebuah hal dari hukum eternal, ilmu Elohistic Attributes yang beroperasi dalam Syaikh dipantulkan pada pikiran kita dengan ulangan yang berkali-kali menghasilkan pencerahan pikiran dari murid dengan cahaya yang berfungsi dalam diri Syaikh dan dilimpahkan kepadanya. Pencerahan hati murid berusaha mencapai tataran atau tahap Syaikhnya. Dalam Sufisme, keadaan ini disebut ‘kedekatan�, �afinitas’ (nisbat). Cara terbaik dan telah teruji untuk menikmati kedekatan, menurut spiritualitas, adalah hasrat kerinduan dari cinta.

Pikiran Syaikh terus-menerus mentransfer kepada murid spiritualnya sesuai dengan kobaran cinta dan rindu akan Syaikh, yang mengalir di dalam diri murid dan datang suatu saat ketika cahaya beroperasi dalam diri Syaikh yang sesungguhnya adalah pantulan Tampilan Ilahiah yang Indah yang dipindahkan kepada murid spiritual itu. Hal ini memungkinkan murid spiritual untuk membiasakan diri dengan Cahaya Gemilang dan Tampilan Indah. Keadaan ini, dalam istilah sufisme disebut ‘Menyatu dengan Syaikh� (Fana fi Shaykh).

Cahaya Syaikh dan Tampilan Indah gemilang yang beroperasi dalam diri Syaikh bukanlah ciri pribadi Syaikh. Sebagaimana halnya murid spiritual, yang dengan perhatian dan konsentrasi penuh dedikasi, menyerap (asimilasi) ilmu dan ciri khas Syaikhnya, maka Syaikh juga menyerap ilmu dan busana Nabi e dengan dedikasi pikiran dan konsentrasi penuh.
Langkah 3a

Posisi duduk: Posisi Teratai (yoga Lotus), Wudhu adalah kunci sukses. Kapal Nabi Nuh as. melawan banjir kelalaian. Kebersihan adalah dekat dengan iman (ilahiah). Ingat bahwa bukanlah saya yang menghitung bahwa saya adalah bukan apa-apa, saya dan aku harus melebur kedalam dia. Syaikhku, Rasulku, menggiring kepada Rabbku.

Dzikir dengan penolakan (laa ilaaha) dan pembenaran (illa Allah), dalam tradisi Masyaikh Naqsybandi ?, mensyratkan bahwa murid (sang pejalan) menutup matanya, menutup mulutnya, menekan giginya, melekatkan lidahnya ke langit-langit mulutnya, dan menahan (mengatur) napasnya. Dia harus membaca dzikir itu melalui hatinya, dengan penolakan dan pembenaran, memulainya dengan kata LAA (“Tidak”). Dia mengangkat “Tidak” ini dari titik (dua jari) di bawah pusar kepada otaknya. Ketika mencapai otaknya kata “Tidak” mengeluarkan kata ILAAHA (“sesembahan”), bergerak dari otaknya ke bahu Kanan, dan kemudian ke bahu Kiri di mana dia menabrak hatinya dengan ILLALLAH (“kecuali Allah”). Ketika kata itu mengenai hatinya energi dan panasnya menjalar/memancar ke sekujur tubuhnya. Sang pejalan yang telah menyangkal semua yang berada di dunia ini dengan kata-kata LAA ILAAHA, membenarkan dengan kata-kata ILLALLAH bahwa semua yang ada telah dilenyapkan di Hadirat Ilahi.
Langkah 3b

Posisi Mulut dan Lidah
Menutup matanya,
Menutup mulutnya,
Menekan giginya,
Melekatkan lidahnya pada langit-langit mulutnya, dan menahan napas.
(Secara perlahan-lahan memperlambat napas dan getaran jantungnya).

Tangan membawa rahasia yang dahsyat, mereka itu seperti antena parabolamu, pastikan bahwa mereka itu bersih dan berada dalam posisi yang semestinya. Jadi ketika kamu memulai dengan tangnmu itu, menggosok-gosoknya, ketika mencucinya dan menggosok gosoknya untuk mengaktifkan mereka, itu adalah tanda dari (angka) 1 dan 0, dan kamu sedang mengaktifkan proses kode yang diberikan Allah I melalui tangan itu. Kamu mengaktifkan mereka.
Mereka memiliki titik sembilan peluru yang terdiri dari keseluruhan sistem, seluruh tubuh. Ketika kamu menggosok jari-jari itu, sesungguhnya kamu mengaktifkan 99 Asma-ul�husna Allah I.
Dengan mengaktifkan mereka, kamu mengaktifkan 9 titik dalam tubuhmu.
Dan ketika mengaktifkan mereka, itu adalah seperti menghidupkan receiver (pada radio/tv), energi mengalir masuk, itu mulai berfungsi untuk dapat menerima, memecahnya dalam bentuk kode digital yang dipancarkan keluar seperti gambar atau suara sebagaimana kita kenal di zaman ini (radio dan tv).
Demikian juga halnya dengan tangan yang saling mengelilingi, itulah mengapa ketika kita menggosok-gosokkan dan membuka mereka, mereka mulai bertindak seperti lingkaran satu terhadap lainnya, menampung apapun energi yang datang, dan mereka ini mengelolanya. Lihatlah pada bagian Rahasia Tangan.

Meditasi Sufi: Langkah 4

Posisi Tangan:
Jempol dan telunjuk memperagakan posisi “Allah Hu” untuk kuasa/kekuatan terbesar. Tangan diberi kode dengan kode angka, tangan kanan “18”, tangan kiri “81” masing-masing dijumlahkan keduanya menjadi 9 dan dua 9 menjadi 99. Tangan diberi karakter dengan Asma-ul�husna Allah. Dan nama ke-99 dari Rasul adalah Mustafa..
(lebih banyak lagi di depan)…

Bernapas dengan Sadar (“Hosh dar dam”)

Hosh artinya “pikiran” Dar artinya “dalam” Dam artinya “Napas” Itu artinya, menurut Mawlana Abdul Khaliq al-Ghujdawani (q), bahwa “Misi paling penting bagi pejalan dalam thariqat ini adalah menjaga napasnya, dan dia yang tidak dapat menjaga napasnya, akan dikatakan tentang orang itu, ‘dia telah tersesat/kehilangan dirinya.'”

Syah Naqsyband k berkata, “Thariqat ini dibangun di atas (dengan pondasi) napas. Jadi adalah sebuah keharusan untuk semua orang menjaga napasnya di kala menghirup dan membuang napas, dan selanjutnya untuk menjaga napasnya dalam jangka waktu antara menghirup dan membuang napasnya.”

“Dzikir mengalir dalam tubuh setiap makhluk hidup oleh keharusan (kebutuhan) napas mereka � bahkan tanpa kehendak � sebagai sebuah tanda/peragaan ketaatan, yang adalah bagian dari penciptaan mereka. Melalui napas mereka, bunyi huruf “Ha” dari Nama Ilahiah Allah dibuat setiap kali membuang dan menghirup napas dan itu adalah sebuah tanda dari Jati Diri (Dzat) Gaib yang berfungsi untuk menekankan Kekhasan Allahu Shamad. Maka adalah penting untuk hadir dengan napas seperti itu, agar supaya menyadari (merasakan) Jati Diri (Dzat) Maha Pencipta.”

Nama ‘Allah’ yang meliputi sembilan puluh sembilan Asma-ul�husna terdiri atas empat huruf: Alif, Lam, Lam dan Ha yang sama �dengan suara napas – (ALLAH I). Kaum Sufisme mengatakan bahwa Dzat Allah I yang paling gaib mutlak dinyatakan oleh huruf terakhir itu yang dibunyikan dengan vokal Alif, “Ha”. Ini mewakili Gaib Absolut Dzat-Nya Allah I.

Memelihara napasmu dari kelalaian akan membawa mu kepada Hadirat sempurna, dan Hadirat sempurna akan membawamu kepada Penampakan (Visi) sempurna, dan Penampakan sempurna akan membawamu kepada Hadirat (Manifestasi) Asma-ul�husna Allah I yang sempurna. Allah I membimbingmu kepada Hadirat Asma-ul�husna-Nya, karena dikatakan bahwa, “Asma Allah I adalah sebanyak napas makhluk”.

Hendaknya diketahui oleh semua orang bahwa melindungi napas terhadap kelalaian sungguh sukar bagi para pejalan. Maka mereka harus menjaganya dengan memohon ampunan (istighfar) karena memohon ampunan akan membersihkannya dan mensucikannya dan mempersiapkan sang pejalan untuk (menjumpai) Hadirat Benar (Haqq) Allah I di setiap tempat.

Meditasi Sufi: Langkah 5

Bernapas,
Menghirup melalui hidung – Dzikir = “Hu Allah”, bayangkan cahaya putih memasuki tubuh melalui perut.
Menghembus � melalui hidung – Dzikir= “Hu”, bayangkan hitamnya karbon monoksida, semua perbuatan dosamu dikuras / didorong keluar dari dirimu.

“Pejalan yang bijak harus menjaga napasnya dari kelalaian, seiring dengan masuk dan keluarnya napas, dengan demikian menjaga hatinya selalu dalam Hadirat Ilahi; dan dia harus menghidupkan napasnya dengan ibadah dan pengabdian dan mempersembahkankan pengabdiannya itu kepada Rabbnya dengan segenap hidupnya, karena setiap napas yang dihisap dan dihembuskan dengan Hadirat adalah hidup dan tersambung dengan Hadirat Ilahi. Setiap napas yang dihirup dan dihembuskan dengan kelalaian adalah mati dan terputus dari Hadirat Ilahi.”

Untuk mendaki gunung, sang pejalan harus melintas dari dunia Bawah menuju Hadirat Ilahi. Dia harus melintas dari dunia ego keberadaan sensual (sensasi) menuju kesadaran jiwa terhadap Al Haqq.

Untuk membuat kemajuan dalam perjalanan ini, sang pejalan harus membawa gambaran Syaikhnya (tasawwur) ke dalam hatinya karena itu adalah cara paling kuat untuk melepaskan diri dari cengkeraman sensualnya. Dalam hatinya Syaikh menjadi cermin dari Dzat Absolut. Jika dia berhasil, kondisi penisbian diri (ghayba) atau “absensi” dari dunia sensasi muncul dalam dirinya. Sampai kepada tahap bahwa keadaan ini menguat dalam dirinya dan keterikatannya kepada dunia sensasi melemah dan menghilang, dan fajar dari Level Hilang Mutlak- Tidak Merasa- Selain Allah I mulai menyinari dirinya.

Derajat tertinggi dari maqam ini disebut fana’. Demikianlah Syah Naqsyband k berkata, “Jalan terpendek kepada sasaran kita, yaitu Allah I mengangkat tabir dari Dzat Wajah-Nya Yang Ahad yang berada dalam semua makhluk ciptaan-Nya. Dia melakukan itu dengan (melalui) maqam ghayba dan fana’, sampai Dzat Agung (Majestic Essence) menyelimutinya dan melenyapkan kesadarannya akan segala sesuatu selain Dia. Inilah akhir perjalanan untuk mencari Allah I dan awal dari perjalanan lainnya.”

“Pada akhir Perjalanan Pencarian dan Level Ketertarikan datanglah Level Perendahan Diri dan Penihilan. Sasaran ini adalah untuk segenap ummat manusia sebagaimana disebut Allah I dalam al-Qur’an, ‘Aku tidak menciptakan Jinn dan Manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.’ Beribadah di sini berarti Ilmu Sempurna (Ma`rifat).”

Meditasi Sufi: Langkah 6

Mengenakan �busana� Syaikh:
3 tahap perjuangan yang berkesinambungan:
Memelihara Cintanya (Muhabbat),
Memelihara Kehadirannya (Hudur),
Melaksanakan Kehendaknya atas diri kita (Penihilan atau Fana).

Kita memiliki cinta kepadanya, jadi kini kenakanlah Cahayanya dan selanjutnya bayangkan segala sesuatunya dari titik (sudut) ini, dengan busana yang kita kenakan itu. Ini adalah penopang hidup kita. Kamu tidak boleh makan, minum, shalat, dzikir atau melakukan apapun tanpa membayangkan bayangan Syaikh pada kita. Cinta ini akan menyatu dengan Hadirat Ilahi, dan ini akan membuka pintu Penihilan ke dalam-Nya.

Semakin seseorang menjaga ingatan untuk mengenakan busana dengan dia (Syaikh) semakin meningkatlah proses penihilan itu berlangsung. Kemudian penuntun itu akan meninggalkan dirimu di hadirat Rasul Allah Sayyidina Muhammad ?. Di mana sekali lagi kamu akan menjaga cinta kepada Rasul ??(Muhabbat), menjaga Hadiratnya (Hudur). Laksanakan kehendaknya atas diri kita (Penihilan atau Fana).

Fana fi Syaikh ?, Rasulullah ?, Allah ?.
Penihilan Fana

Dalam keadaan spirit murid menyatu dengan spirit Syaikhnya, kemampuan Syaikh akan diaktifkan dalam diri muridnya, karena itu Syaikh menikmati kedekatan Nabi ?. Dalam situasi ini, dalam istilah sufisme disebut �Penyatuan dengan Rasul ?� (Fana fi Rasul). Ini adalah pernyataan Nabi ?, “Aku seorang manusia seperti kamu, namun aku menerima wahyu’. Jika pernyataan ini dicermati, kita melihat bahwa kemuliaan Nabi ??terakhir ini adalah bahwa beliau menerima wahyu dari Allah ?, yang mencerminkan Ilmu-ladduni, ilmu yang diilhamkan langsung oleh Allah ?, Pandangan yang Indah dari Allah ??dan Cahaya Gemilang ke dalam hati Nabi ?.

Dalam keadaan ‘Penyatuan dengan Nabi ?’ seorang murid karena emosinya, kerinduannya dan cintanya secara sedikit demi sedikit, langkah demi langkah, berasimilasi dan mengenali ilmu Nabi Suci ?. Kemudian datanglah saat paling berharga, saat yang ditunggu-tunggu, ketika ilmu dan pelajaran ditransfer dari Nabi Suci ??kepadanya sesuai dengan kapasitasnya.

Murid itu menyerap karakter Nabi Suci ? sesuai dengan kemampuan dan kapasitasnya dan karena kedekatannya dengan Nabi Suci ??dan dukungannya dia dapat mencapai keadaan ketika dia mengenali Rabbil �Alamin, ketika Dia menguraikan dalam al-Qur�an, �Ya, sesungguhnya Engkau adalah Rabbi!� Kedekatan ini, dalam sufisme disebut �Penyatuan dengan Allah ?’ (Fana fi-llah) atau singkatnya wahdat. Setelah itu, jika seseorang dikaruniai dengan kemampuan, dia akan membuat eksplorasi di daerah yang tentangnya cerita (narasi) tidak lagi memiliki kata-kata untuk menjelaskannya, karena kepekaan dan kehalusan situasinya.

Meditasi Sufi: Langkah 7

Menjadi sesuatu yang tidak ada, kendaraan sebening kristal untuk siapa pun yang ingin mengisi keberadaanmu dari Allah swt. Malikul Mulk.

Dalam keadaan ‘Penyatuan dengan Nabi Suci saw.� seorang murid karena emosinya, kerinduannya dan cintanya secara bertahap, langkah demi langkah, berasimilasi dan mengenali ilmu dari Nabi Suci saw.

Gggggggggggggggggg

Authorized Healer dari Maulana Syekh Hisham Kabbani q.s: Syekh Muhammad Salahuddin al-Bandungi al-Hafizh

Kupandang Cahaya sehingga Aku menjadi Cahaya
In the name of Thy Lord
The most Gracious
The most Merciful
All praised is due to Allah
The Lord of the World
May Salvation and Peace be
For all time Sayyidina Muhammad SAW

Seiring dengan berputarnya roda waktu dan kehidupan, maka seiring itu juga seorang yang fakir ini selalu mendapatkan sejuta bahkan semiliar petunjuk, kenikmatan, serta kesempatan untuk terus hidup di bumi-Nya yang begitu hiruk pikuk dan penuh huru-hara.

Berangkat dari pengalaman-pengalaman yang telah ditempuh dan dilaluinya di berbagai belahan dunia ini, seperti Australia, Singapura, Malaysia, Saudi Arabia, dan sebagainya, tebersit niat untuk mewujudkan satu rangkaian cerita yang mudah-mudahan dari semua itu bisa menyumbangkan setetes sumbangan moral dan pengetahuan bagi kalangan yang sedang dilanda kerisauan dan kegelisahan sebagai imbas dari kehidupan yang terasa begitu berat pada saat ini.

Banyak dari kita yang mengalami “sakit,” baik fisik, spirit, maupun keduanya sekaligus dan perlu mendapatkan pertolongan penyembuhan secepatnya. Semua tempat mendapatkan jatahnya masing-masing untuk kedatangan tamu istimewa yang bertitelkan malapetaka, musibah, wabah, dan penyakit. Lalu, tercetuslah pemikiran bahwa dari 10 jiwa yang hidup harus ada 1 orang yang bisa menangani, bahkan menyembuhkan orang-orang yang ada di sekitarnya.

Malangnya lagi, sebagian besar dari kita sangat miskin untuk mendatangi tempat-tempat yang penuh keberkahan itu. Jika sudah begitu… apakah kita mau gigit jari saja sambil menunggu keberuntungan yang datang dari langit? Kemudian penyakit itu dapat disembuhkan dengan sendirinya?

Kembali kepada wacana pembicaraan di atas, si fakir hendak berbagi cerita dan pengalaman. Dari sini, diharapkan bisa memberikan suatu pencerahan dan pengertian yang otentik tentang syarat-syarat yang harus ditempuh bagi seseorang yang ingin menjadi penyembuh agar menjadi cahaya dan berkah untuk lingkungannya sendiri karena sebenarnya tidaklah begitu sulit untuk menjadi penyembuh itu. Syaratnya sangat mudah, yaitu kalau kita mau dan bersungguh-sungguh untuk menyelaminya, mudahkan?

Everyone can be a healer! Syaratnya hanya satu, berniat dan bersungguh-sungguh di dalamnya.

Karena pada hakikatnya, Dia-lah yang menyembuhkan. Bukan si A ataupun si B. Isyfii wa anta syaafii, laa syifaa�an illaa syifaauk � “ Wahai yang menyembuhkan, Engkaulah yang Maha Menyembuhkan. Tidak ada kesembuhan melainkan kesembuhan dari-Mu.” Sebagai manusia, kita hanya diperintahkan untuk berikhtiar. Setelah itu, Dia-lah yang akan menentukan serta membalas sebesar apa hasil jerih upaya kita.

Perlu kita ketahui juga bahwa ada orang-orang yang telah dikaruniai-Nya kekuatan-kekuatan supranatural sejak lahir yang bisa termanfaatkan ke dalam hal-hal spiritual; di antaranya pengobatan. Entah dia seorang Muslim, Nasrani, Yahudi, Budha, Hindu, ataupun Majusi. Bahkan, orang yang sudah terang-terangan mengingkari adanya Tuhan Sang Pencipta pun bisa memiliki kelebihan-kelebihan itu. Hal ini disebabkan kemampuan/kelebihan pada bidang spiritual itu hanyalah suatu kelebihan/kepandaian biasa. Sama halnya dengan orang yang telah dikaruniai-Nya kelebihan pada otaknya sehingga dia bisa menjadi seorang ilmuwan, kelebihan pada ototnya sehingga dia bisa menjadi seorang atlit yang kuat, kelebihan pada hartanya sehingga dia bisa menjadi seorang hartawan atau kelebihan pada kulit dan tubuhnya sehingga dia bisa menjadi orang yang rupawan. Semua hal itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan iman dan amal soleh seseorang.

Sebagai contoh kasus, saya pernah tinggal di Sydney, Australia. Suatu waktu, saya mendapatkan perintah dari guru Spiritual saya yang menguasai seluruh kekuatan spiritual di Benua Australia (insya Allah Wali Qutubnya Australia) untuk melakukan dakwah kepada orang-orang nonmuslim dengan menggunakan bahasa/ucapan di dalam hati saja. Semula, saya merasa aneh dengan perintah itu. Namun, saya harus patuh kepada seseorang yang telah membawa saya terbang bebas secara spiritual ke dimensi alam lain. Kemudian, guru spiritual saya memerintahkan saya berjalan-jalan di sepanjang jalan di kota Sydney. Dengan memakai pakaian kebesaran dan pakaian keseharian saya (sorban, jubah, dan tongkat), saya pun mulai menelusuri jalan-jalan di kota Sydney sambil berusaha untuk memahami makna dari perintah itu. Hari-hari terus berlalu, bahkan minggu dan bulan pun telah saya lalui. Namun, tidak ada jawaban yang pasti dari perintah ini (berdakwah dengan bahasa hati), melainkan hanyalah cemoohan serta ejekan dari bule-bule Australia yang melihat saya sedang berjalan. Akan tetapi, ada juga orang-orang bule yang memberikan rasa hormat kepada saya, meskipun saya berpenampilan seperti ini. Saya hampir putus asa dan hampir tidak mematuhi perintahnya.

Pada saat yang sama, saya pun sangat rindu untuk bisa bertemu lagi dengan guru spiritualku itu yang tinggalnya entah di mana. Melalui dirinya terpancar kekuatan spiritual yang sangat dahsyat. Dia hanya datang dan pergi begitu saja. Saya hanya bisa menemuinya lagi dengan satu syarat, jika saya sudah mendapatkan jawaban rahasia dari perintahnya itu. Saya hanya memanggil namanya. Kalau dia berkenan memenuhi panggilan saya, tiba-tiba dia akan muncul di sekitarku dengan senyumannya yang khas.

Siang itu, setelah salat zuhur di daerah Auburn, ketika saya sedang berjalan sambil berdakwah di dalam hatiku dengan mengucapkan, Yaa ayyuhannaas Quuluu Laa ilaaha Illallaah Tuflihuun � Wahai umat manusia, ucapkanlah Laa ilaaha illallaah engkau akan mendapatkan kesuksesan. Tiba-tiba, seorang pemuda bule yang tidak berbaju dengan rambut dipikok dan memakai celana gantung setengah lutut datang menghampiri saya dari arah belakang sambil berkata, “Hey mate! You want to convert all the people by the way of speaking through your heart using the Power of your Spirituality?” Lalu, dia menatap saya dan tersenyum kepada saya. Saya pun menjawabnya, “Yes of course! I want all the People embrace to Islam.” Lalu, orang itu pergi meninggalkan saya.

Kejadian itu terasa seperti hujan yang turun dari surga menyirami saya. Begitu puas, saya menjadi mengerti akan segala rahasia dari makna perintahnya. Saya merasa sangat kecil dan merasa sangatlah tidak pantas untuk menyombongkan diri dengan hafalan 30 juz Al-Quran saya, seluruh kehidupan zuhud saya, dan semua kemampuan-kemampuan saya di dalam hal spiritual. Tidak lama dari itu, Guru Spiritual saya muncul dan hadir di hadapan saya sambil menatap saya. Tatapannya penuh makna dan hanya bisa diterjemahkan melalui bahasa hati. Lalu, dia berkata, “My Son, my duty to you is over until here.” Kemudian, dia memeluk saya dan meninggalkan saya.

Dari cerita di atas, kita bisa mengambil satu pelajaran bahwa kekuatan-kekuatan spiritual itu pun telah dimiliki oleh pemuda Australia tadi. Padahal, pemuda itu belum tahu apakah agama dan kebiasaan-kebiasaan dari perbuatannya. Sehingga dia bisa mendengarkan kata-kata yang diucapkan di dalam hati. Padahal, kemampuan seperti itu hanya bisa dimiliki oleh ahli-ahli ibadah yang telah dengan sukses beribadah kepada-Nya secara ikhlas dan istiqamah selama minimal 40 tahun tanpa pernah gagal sekalipun di dalamnya.

Selain pengalaman itu, saya juga sering mengalami tekanan-tekanan/serangan-serangan dari orang-orang yang mempunyai kekuatan-kekuatan spiritual itu, baik di kereta api, bis, jalan-jalan dan di mana pun. Pernah ada seorang pemuda tampan berkebangsaan Prancis menatap saya di dalam sebuah kereta sambil meman�carkan tenaga-tenaga spiritualnya seraya berkata, “I am stronger than you!”

Selain itu, saya telah banyak menemukan orang-orang, seperti paranormal terkenal, penyulap kelas dunia yang memiliki kekuatan-kekuatan spiritual itu. Itulah sebab-sebab mereka bisa menggunakan tenaga-tenaga spiritualnya untuk melihat hal-hal yang belum terjadi di masa depan tanpa bantuan jin sekalipun!

Di Indonesia sendiri, saya banyak menemukan orang-orang yang memiliki kekuatan spiritual itu. Entah dia pedagang, tentara, santri, ustadz, ataupun pegawai bank, but they don’t know that they have. Perlu kita garis bawahi, mereka memiliki kekuatan-kekuatan spiritual itu, merupakan karunia sejak lahir (turunan) atau mereka mengamalkan beberapa bacaan-bacaan tertentu. Dan ada juga yang telah memilikinya sejak lahir, lalu dipoles lagi (ditambah kekuatannya lagi) dengan mengamalkan beberapa bacaan serta ritual-ritual ibadah lainnya.

Akan tetapi, kita pun harus menggarisbawahinya lagi dengan sangat hati-hati. Bacaan-bacaan dan ritual-ritual ibadah dari sumber ilmu yang manakah yang telah dikerjakan? sumber ilmu putih atau�kah sumber ilmu hitam? Kedua hal tersebut sama-sama memberikan kekuatan-kekuatan spiritual yang dapat bertambah besar. Seorang kyai dan seorang dukun sama-sama bisa menyembuhkan, tetapi berbeda sumber keilmuannya. Kalau kita datang ke seorang kyai atau paranormal yang bersumber ilmu putih, hal itu bisa memberikan berkah. Akan tetapi, kalau kita datang ke dukun atau paranormal yang bersumberkan ilmu hitam, hal itu akan menimbulkan bencana dan malapetaka di antaranya salat kita tidak akan diterima-Nya selama 40 hari.

Oleh karena itu, kita jangan terlalu mudah terpesona dengan kemampuan seseorang di dalam meramal, melihat hal-hal gaib, menyembuhkan, ataupun melakukan hal-hal yang di luar jangkauan dan kemampuan manusia biasa pada umumnya. Hendaknya, kita bisa sedikit kritis terhadap sumber ilmu yang telah dipelajari dan dimiliki orang itu supaya kita mendapatkan kesembuhan dan kese�lamatan, baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Mulailah segera dari sekarang dengan bersungguh-sungguh agar Anda bisa menjadi cahaya pelita bagi keluarga, tetangga, teman-teman, serta sanak famili Anda.

Jika Anda masih kosong melompong, dengan beramal secara serius dan ikhlas insya Allah, akan mulai tumbuh bibit-bibit kekuatan. Seiring berjalannya waktu kekuatan-kekuatan itu akan semakin besar dan dashyat. Hal ini akan membuat Anda dipersilakan untuk melakukan praktik-praktik pengobatan. Apalagi jika Anda telah memiliki kekuatan-kekuatan spiritual itu sejak lahir. Dengan sedikit pengetahuan dan polesan dari buku ini, serta niat yang sungguh-sungguh, insya Allah Anda mampu memberikan manfaat-manfaat serta pertolongan-per�tolongan kepada mereka yang sangat membutuhkan uluran tangan dari orang-orang yang telah diciprati sedikit kekuatan dari ke�maha�besaran-Nya. Sehingga Anda akan menjadi cahaya di atas cahaya, sehingga orang-orang yang ada di sekitar Anda pun akan menjadi cahaya karena pengaruh pandang�an yang terbiaskan dari pancaran keagungan serta kesejukan cahaya Anda. Mereka akan mengatakan setulus hati mereka; kupandang cahaya sehingga ku menjadi cahaya.

Akhir kata, izinkanlah si Fakir ini untuk memohon maaf jika banyak kata-kata yang kurang pantas dan tidak berkenan di hati. Tetapi itulah sejengkal pengetahuan dan pengalaman spiritual yang bisa saya sampaikan kepada para pembaca yang budiman.

Jakarta, 1 Oktober 2006

May Allah forgive me and bless you.

Syekh Muhammad Salahuddin al-Bandungi al-Hafizh

hhhhhhhhhhhhh

19 Comments

  1. ucok

    Capek dech…!
    Orang-orang kafir yahudi & nasrani seneng banget nih liat umat islam begini cara ibadah nya,… Cuma di sibukkan dengan meditasi sehari-hari sedangkan mereka (yahudi /nasrani) sudah mengkafirkan ratusan atau ribuan orang setiap hari…
    Gagal faham..!

  2. illiasillian

    saya baru tau ada situs ini, trims atas sharenya…

  3. tidak betul!

  4. harianto

    Ass……
    salam……
    maaf mas numpang

    si Bule berkata : …“Hey mate! You want to convert all the people by the way of speaking through your heart using the Power of your Spirituality?”
    Jawab si Sufi : ……“Yes of course! I want all the People embrace to Islam.” Dari cerita di atas, kita bisa mengambil satu pelajaran bahwa kekuatan-kekuatan spiritual itu pun telah dimiliki oleh pemuda Australia tadi. Padahal, pemuda itu belum tahu apakah agama dan kebiasaan-kebiasaan dari perbuatannya. Sehingga dia bisa mendengarkan kata-kata yang diucapkan di dalam hati. Padahal, kemampuan seperti itu hanya bisa dimiliki oleh ahli-ahli ibadah yang telah dengan sukses beribadah kepada-Nya secara ikhlas dan istiqamah selama minimal 40 tahun tanpa pernah gagal sekalipun di dalamnya.

    komentar:
    trimakasih,spiritual memang memiliki lintas dimensi agama.spiritual adalah ketauhidtan yang Maha Tunggal meliputi segala sesuatu,dan agama adalah jalan menuju ketauhidtan yang sempurna,dan Nabi Muhamamad(ISLAM) adalah jalan yang paling sempurna menuju kempurnaan tauhid.menurut rasa sy kemampuan pemuda tadi mendengar bahasa hati syech tidaklah karena dia punya daya spiritul melainkan adanya kehendak ALLOH semata karena sebab adanya daya spiritual dari syech untuk menyampaikan sesuatu,sebagaimana yang terjadi pada Nabi Musa, Tugas dia hanya berkata dan ALLOH lah yang menyampaikan shingga orang yang di maksud mendengarnya,bukan berarti yang mendengar memiliki kemampuan spiritual tinggi.tetapi daya spiritual syech sampai ke ALLOH,sehingga bahasa hati syech di sampaikan langsung atas kehendak ALLOH.Terkecuali syech dengan bule terjadi percakapan dalanm bhasa hati maka itu benar adanya.sy kira demikian mhon maaf jika salah dalam penafsiran dan perkataan, itu semua akibat ketolollan sy,
    terima kasih khususnya buat mas alang alang kumitir dan mas sabdo langit ,sufi yang telah menyajikan makalah yang sangat sangat berharga sekali,
    salam…..

  5. lare alit

    subhanalloh ….pitutur yg bagus
    izin nyimak dan asyik masyuk

  6. ibarat hidangan yang dihidangkan mas sabdalangit dan mas alang2kumitir, bergizi mampu merasa kenyang karena gizi tinggi, matue nuwun

  7. Kalau mau belajar lebih dalam harus kemana di Jakarta….
    Thanks.

  8. Wahh.. matUrnUwUn SanGet Maz a2KuMiTir…..!!! Tapi Next a QiuE Or a LAng SooNg MO Wha RahY She ChAr a 4fouR, a taKe You I jeCh shera Do KaNGE land…!!! You,,,, MuEgHo – MOeGho WhaY ISO NeYKa a KeNt MaN FaaTs….!!
    AmiEn…..!!!

  9. Sebelumnya saya minta maaf beribu maaf,………….I Menurut padangan saya, jejak diatas memang benar, tapi kelihatanya kurang Benar. atau dijalan yang Kurang benar, karena yang dinamakan seorang Sufi, tidak harus meditasi melalui perantara, syeh ini dan syeh itu, guru ini atau guru itu, bahkan madad…….., madad……………..I lainnya. yang saya Ketahui Seorang sufi itu adalah hanya berpegangan pada satu titik yaitu alloh dan Alloh.tidak ada lainnya. apapun yang dilakukan hanya dijalan Alloh.Ihlas lillah hitaa Allah. ini hanya anggapan saya, mudah-mudah salah. jadi jelasnya orang sufi guru langsung Alloh.

    Salam

  10. ariesprahara

    wah…ga usah koment terlalu panjang uraian mas sabda langit telah merepresentasikannya

  11. INDRA ROMEORAIN

    keyakinan adalah bentuk keterikatan, perwujutan dari CINTA KASIH, sang insan mengenal cinta yang memiliki sifat pamrih, kalo saya BERI saya mengharap bakal mendapat PAMRIH maka terciptalah SURGA DAN NERAKA, tetapi sang WELAS ASIH hanya mengenal KASIH, IA tidak mengenal bentuk pamrih, pamrih hanya terkenal di dunia MANUSIA, di alam sang WELAS ASIH yang ada hanya memberi dan melupakannya, tanpa mengharapkan apapun juga, “TANGAN YANG MENGULURKAN LEBIH MULIA DARI MULUT YANG MENDOAKAN”, ketika segunung keinginan dunia sang insan terselip dalam doanya, maka sang WELAS ASIH, mengulurkan TANGANNYA tanpa mau memperlihatkan wujudnya, ketika sang insan tersadar dari kekurangannya maka di dalam doanya dia berjanji tidak menyusahkan sang KEKASIHNYA dengan dunia dikarenakan ia takut di TINGGALKANNYA, dan ketika dalam doanya dunia telah tertutup dari hatinya, maka permohonannya hanyalah sujud syukur atas segalanya dan didalam sujud doanya ia membhumi, dan tahta sang WELAS ASIH tersingkap bukan hanya ada di alamnya, kemilaunya pun terlihat di hidupnya, dikehidupannya, di dunia

  12. Agama adl jalan….agama adl tongkat untuk tau kemana harus melangkah…..jangan jadikan agama sbg tabir penghalang.meski samar namun bila menutupi pandangan tak akan pernah sampai pada tujuan.
    Beruntung kita terlahir di Indonesia,negara dg multi agama.ibarat baju kita memiliki banyak,dan 1 yg pasti dari sekian banyak baju dialmari itu yg melekat dihati.entah itu yg terbaik atau yg terburuk hingga kita tak rela orang lain memakainya.itu kan kalou aku dg baju ya.hehehe dan serujuk bgt kalou baju ndak berpengaruh/mempengaruhi hati pemakainya.

  13. Agama adl jalan….agama adl tongkat untuk tau kemana harus melangkah…..jangan jadikan agama sbg tabir penghalang.meski samar namun bila menutupi pandangan tak akan pernah sampai pada tujuan.
    Beruntung kita terlahir di Indonesia,negara dg multi agama.ibarat baju kita memiliki banyak,dan 1 yg pasti dari sekian banyak baju dialmari itu yg melekat dihati.entah itu yg terbaik atau yg terburuk hingga kita tak rela orang lain memakainya.itu kan kalou aku dg baju ya.hehehe

  14. pamuji rahayu…

    betul kangmas sabdalangit.., Tuhan tidak beragama, Tuhan tidak untuk satu agama.., Tapi Tuhan meliputi.. tak terbatas dalam artian apapun.. setuju dengan pemaparan panjenengan…,

    salam sihkatresnan

    Rahayu

  15. Artikel yg dikutip Mas Kumitir menyuguhkan satu pelajaran berharga buat islam sendiri maupun masyarakat multi agama. Adalah suatu wacana diskusi yg tentunya matching dgn cerita di atas :

    si Bule berkata : …“Hey mate! You want to convert all the people by the way of speaking through your heart using the Power of your Spirituality?”
    Jawab si Sufi : ……“Yes of course! I want all the People embrace to Islam.”

    Komentar :
    satu kelemahan islam sendiri adalah ingin menjadikan semua org agar MEMELUK islam, bukan MENJADIkannya mencapai spiritualita sejati dengan membangun sikap yg RELIGIUS. Artinya, formalitas dalam syariat lebih utama daripada pencapaian hakekat makrifat dalam pencapaian spiritualnya. Akibatnya banyak umat islam SUDAH SELESAI ketika hanya mengucap syahadat. yang lebih tinggi “spiritualnya” bagi yg bisa menjalankan shalat, puasa, zakat, haji. Namun habis kelima tatacara itu, lantas spiritualitasnya mandeg, lupa bahwa menjadi islam BERBEDA DGN MEMELUK islam. menjadi islam tentunya harus sampai merasakan AIR MAKRIFAT. memeluk islam cukup hanya dengan ikrar syahadat saja.

    Sufi berkata :
    Dari cerita di atas, kita bisa mengambil satu pelajaran bahwa kekuatan-kekuatan spiritual itu pun telah dimiliki oleh pemuda Australia tadi. Padahal, pemuda itu belum tahu apakah agama dan kebiasaan-kebiasaan dari perbuatannya. Sehingga dia bisa mendengarkan kata-kata yang diucapkan di dalam hati. Padahal, kemampuan seperti itu hanya bisa dimiliki oleh ahli-ahli ibadah yang telah dengan sukses beribadah kepada-Nya secara ikhlas dan istiqamah selama minimal 40 tahun tanpa pernah gagal sekalipun di dalamnya.

    koMENTAR ;
    agama ageming aji, ageming diri. agama pakaiannya manusia. agama adalah kebutuhan manusia bukan kebutuhan tuhan. agama adalah jalan manusia menuju tuhannya. maka tuhan tidak butuh apalagi memeluk (embrace) satu agama apapun di muka bumi. nama, istilah dan pembahasaan di dalam agama apapun hanyalah urusan manusia di bumi. bahasa tuhan adalah bahasa tanpa kata-kata dan kalimat, atau tulisan tanpa papan tulis, bukan pula bahasa sebagaimana sistem/budaya komunikasi manusia. bahasa tuhan sulit dilukiskan. Pak sufi harus instropeksi lebih serius dengan “kesufiannya”.

    Pendapat sufi :
    Perlu kita ketahui juga bahwa ada orang-orang yang telah dikaruniai-Nya kekuatan-kekuatan supranatural sejak lahir yang bisa termanfaatkan ke dalam hal-hal spiritual; di antaranya pengobatan. Entah dia seorang Muslim, Nasrani, Yahudi, Budha, Hindu, ataupun Majusi. Bahkan, orang yang sudah terang-terangan mengingkari adanya Tuhan Sang Pencipta pun bisa memiliki kelebihan-kelebihan itu. Hal ini disebabkan kemampuan/kelebihan pada bidang spiritual itu hanyalah suatu kelebihan/kepandaian biasa. Sama halnya dengan orang yang telah dikaruniai-Nya kelebihan pada otaknya sehingga dia bisa menjadi seorang ilmuwan, kelebihan pada ototnya sehingga dia bisa menjadi seorang atlit yang kuat, kelebihan pada hartanya sehingga dia bisa menjadi seorang hartawan atau kelebihan pada kulit dan tubuhnya sehingga dia bisa menjadi orang yang rupawan. Semua hal itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan IMAN dan amal soleh seseorang.

    Komentar :
    Adalah suatu makna bahwa tuhan itu lebih dari maha adil, maha bijak, maha kasih. TUHAN TDK PRIMORDIAL dengan pilih kasih hanya pada satu umat agama tertentu thok. tuhan tdk RASIS dengan menurunkan wahyu dan anugrah hanya pada ras dan bangsa tertentu saja di muka bumi. tuhan tdk ETNOSENTRIS artinya bersifat ke-suku-an, atau menurunkan anugrah dan wahyu hanya pada suku bangsa tertentu saja. Tuhan MAHAKUASA, sehingga tidak butuh PEMBELAAN manusia yg teramat lemah dan tak tau diri. tuhan mahaluas tak terbatas, tidak dibatasi oleh istilah atau nama-nama tertentu saja.

    mudah2an wacana yg dangkal ini dapat menjadi awal kontemplasi bersama.

    salam sejati dalam satu nusa, satu bangsa, satu bahasa
    rahayu

  16. STUDY KRITIS TERHADAP EPISTEMOLOGI IBNU TAIMIYAH DALAM MEMAHAMI AJARAN ISLAM

    I.Pendahuluan
    Setelah Islam mampu menancapkan kukunya di dalam dunia, islam telah banyak melahirkan banyak mujtahid. Lahirnya tokoh-tokoh ini tidak lain visinya adalah ingin mengembalikan kemurnian ajaran islam yang telah banyak tercemar oleh bid’ah dan khurafat. Salah satu tokoh yang berpengaruh pada abad ke-VII hijriyah adalah Ibnu Tamiyah, yang terkenal sebagai Ulama Fundamentalis. Situasi sosio-politik dan sosio-religius yang sangat kacau pada waktu itu telah membuat tokoh ini menjadi hebat. Dia dilahirkan pada waktu islam mengalami disintregasi politik, dislokasi sosial, dan dekadensi akhlak serta moral. Seperti yang diketahui, sudah lama kekuasaan Abbasiyah telah hilang. Dan pemerintahan tidak bertahta di Baghdad, melainkan berada pada wilayah-wilayah daerah-daerah baik yang bergelar sultan, raja atau amir.
    Sebagai ilmuwan, Ibnu Taimiyah telah mendapatkan reputasi sebagai seseorang yang berwawasan luas, pendukung kebebasan berfikir, tajam perasaan, teguh pendirian dan pemberani serta banyak menguasai ilmu agama. Dia seorang ahli dalam bidang tafsir, hadis, teologi dan fiqih, khususnya fiqih Hambali. Dari Ibnu Taimiyah, telah menambah akumulasi dunia pengetahuan dalam islam yang dapat berguna dan sebagai refrensibagi generasi umat islam masa kini. Tidak jarang Ilmuwan ini masuk keluar penjara karena olah nalar kritisnya yang selalu menentang arus kemapanan pada waktu itu. Sehingga banyak sekali orang-orang disekitarnya memebencinya. Ibnu Taimiyah pun mendapat predikat sebagai salah satu ekstremis Islam. Untuk lebih mengenal lebih jauh siapa sebenarnya Ibnu Taimiyah dan bagaimana pemikiran dia pada waktu, maka pemakalah akan menguraikan beberapa isi makalah. Diantaranya adalah:
    1.Riwayat hidup Ibnu Taimiyah
    2.Hasil karya dan pemikiran Ibnu Taimiyah

    II.Pembahasan
    A.Riwayat Hidup Ibnu taimiyah
    Nama lengkap Ibnu Tainmiyah adalah Abu Abbas Ahmad bin Abdul Halim bin Abd al-Salam Abdullah bin Mohammad bin Taimiyah. Dia dilahirkan di Haran dekat Damaskus, Suria pada tahun 661 H atau 1263 M.1. Dan para ahli sejarah menuliskan nama lengkapnya dengan: Taqiy al-Din Abu al-‘Abbas Ahmad ibn ‘Abd al-Halim ibn ‘Abd al-Salam ibn Abi al-Qasim ibn Muhammad ibn Taimiyah al-Harrany al-Dimasyqy.2
    lima tahun seajak jatuhnya Baghdaad ke tangan bangsa Tatar. Ayahnya Abu mahasin Abdu al-Halima adalah seorang Ulama terkemuka dari Madzhab hanbali. Bahkan kakeknya, Syaikh al-Islam Abu barakat Abdu al-Salam bin Abdullah juga sebagai salah seorang ahli fiqh Hambali yang juga ahli Hadits dan Tafsir. Di Damaskus semula dia belajar dari ayahnya sendiri, kemudian berguru pada Ali Zain Al-Din Al-Muqaddasi, Najm al-Din bin Asakir, Zainab binti Makki dan lain-lain. Pada usia dua puluh tahun ketika ayahnya tutup usia, dia mulai memperlihatkan perhatian besar untuk mempelajari fiqh Hambali, disamping mendalami ilmu-ilmu al-Qur’an, Hadits dan teologi.3
    Dengan kecerdasannya dalam filsafat, politik dan ijtihad pemikiran, Ibn Taimiyah dapat melihat urgensi menyusun prioritas dalam menghadapi tantangan dan ancaman, sehingga dia berjuang mengangkat senjata bersama negara Mamalik, dan mendukung sultan dengan fatwanya. Pada saat yang bersamaan dengan penindasan negara terhadapnya sampai dia meninggal dalam penjara. Semua itu merupakan pengetahuannya terhadap bahaya dan ancaman yang utama, yaitu Tartar yang mengancam eksistensi Islam dengan kehancuran. Atas dasar inilah sikap dan peperangannya melawan para musuhnya yang banyak..
    Ada beberapa faktor lain yang juga dapat disimpulkan sebagai penyebab kecemerlangan pemikiran Ibnu Taimiyah di kemudian hari. Diantaranya adalah sebagai berikut:
    1. Kekuatan hafalan dan pemahamannya yang luar biasa. Di usia yang masih sangat kecil ia berhasil menyelesaikan hafalan al-Qur’an. Setelah itu, ia pun mulai belajar menulis dan hisab. Kemudian membaca berbagai kitab tafsir, fikih, hadits dan bahasa secara mendalam. Semua ilmu itu berhasil dikuasainya sebelum ia berusia 20 tahun.
    2. Kesiapan pribadinya untuk terus meneliti. Ia dikenal tidak pernah lelah untuk belajar dan meneliti. Dan itu sepanjang hidupnya, bahkan ketika ia harus berada dalam penjara. Mungkin itu pulalah yang menyebabkan ia tidak lagi sempat untuk menikah hingga akhir hayatnya.
    3. Kemerdekaan pikirannya yang tidak terikat pada madzhab atau pandangan tertentu. Baginya dalil adalah pegangan dalam berfatwa. Karena itu ia juga menyerukan terbukanya pintu ijtihad, dan bahwa setiap orang –siapapun ia- dapat diterima atau ditolak pendapatnya kecuali Rasulullah saw. Itulah sebabnya ia menegaskan, “Tidak ada seorang pun yang mengatakan bahwa kebenaran itu terbatas dalam madzhab Imam yang empat.4
    Sesungguhnya ada banyak sisi menarik dari kepribadian seorang Ibnu Taimiyah. Dan hal itu tidak hanya disimpulkan oleh orang-orang dekatnya, namun juga diakui oleh orang-orang yang berbeda bahkan memusuhinya. Diantara sisi-sisi lain kepribadiannya adalah sebagai berikut:
    Keteguhan ibadah dan kezuhudannya
    Ibnu Taimiyah pernah mengatakan,
    “Sungguh jika pikiranku terhenti pada satu masalah atau apapun yang sulit untuk kupahami, maka aku akan beristighfar kepada Allah Ta’ala seribu kali atau lebih, hingga akhirnya dadaku dilapangkan dan kekaburan masalah itu menjadi jelas.”5
    Dalam al-‘Uqud al-Durriyah (hal. 105) –salah satu biografi tentang Ibnu Taimiyah yang ditulis oleh muridnya, Ibnu ‘Abd al-Hady- disebutkan,6
    “Bila malam hari tiba, ia pun menyendiri dari semua manusia, berkhalwat dengan Rabb-nya Azza wa Jalla merendahkan diri pada-Nya, menekuni bacaan al-Qur’an, mengulang-ulangi berbagai bentuk penghambaan siang dan malam. Dan bila ia telah masuk ke dalam shalatnya, sekujur tubuh dan anggota badannya bergetar hingga bergoyang ke kiri dan ke kanan.”.

    B.Karya dan Pemikiran Ibnu Taimiah
    Ibn Taimiyah bermazhab salafi. Dalam fikih, dia mengikuti mazhab imam Ahmad bin Hambal (164 – 241 H. = 780 – 855 M.), tetapi dia adalah seorang mujtahid bukan bertaklid, bahkan dia telah mencerminkan kebangkitan dalam pemikiran salafi dengan memberikan kepada mereka kemajuan logika dengan karya-karyanya dalam masalah filsafat, baik jawaban dan penolakannya terhadap pemikiran Yunani dan orang-orang yang terpengaruh dengannya maupun dalam alternatif islami yang berusaha dibentuknya. Begitu pula perjuangannya dalam membentuk ilmu mantik yang khusus bagi tauhid Islam dan bahasa Arab. Dia melihat adanya keterkaitan antara mantik, akidah dan bahasa, perkara yang mendorongnya untuk menolak mantiknya Aristoteles sebagai mantik bagi Islam dan bahasanya.7
    Ibnu Taimiyah meninggalkan cukup banyak karya yang menunjukkan perhatiannya yang cukup dalam terhadap Tasawuf. Beberapa karyanya dimana ia banyak menyinggung tema-tema sentral yang biasa diangkat para sufi, diantaranya adalah:8
    1)al-Furqan baina Auliya’ al-Rahman wa Auliya’ al-Syaithan.
    2)al-Tuhfah al-‘Iraqiyyah fi A’mal al-Qulub
    3)al-‘Ubudiyyah
    4)Darajat al-Yaqin
    5)al-Risalah al-Tadmuriyah
    6)Risalah fi al-Sama’ wa al-Raqsh
    Taimiyah telah meninggalkan banyak warisan pemikiran. Dari dalam, dia memperbarui (tajdid) fikih dan logika Islam. Sebagaimana dia juga meninggalkan berjilid-jilid fatwa yang merupakan cerminan hidupnya. Dia masih menjadi pemilik proyek pembaruan yang paling banyak pengaruhnya dalam pemikiran kita, pemikiran modern dan kontemporer, bahkan yang paling banyak menimbulkan perdebatan juga.
    Secara umum Ibnu Taimiyah, meletakkan dasar pemikirannya terhadap pemurniannya pada syari’at. Seperti masalah fiqh (hukum islam). dan tasawuf Yang menjadi obyek kritikan adalah khalifah Umar bin Khattab. Khalifah kedua setelah Nabi itu, dituduh banyak sekali melakukan bid’ah-bid’ah.9 Dalam buku-buku karangannya seperti dalam “AI-Munazharah fil Aqidah Al-Wasithiyah” dan “Al-Aqidah al-Hamiwiyah al-Kubra” ia menerangkan bahwa dasar mazhabnya ialah menjelaskan ayat-ayat dan hadis-hadis nabi yang bertalian dengan sifat Tuhan yang menurut arti lafadznya yang lahir, yakni secara harfiah saja.10
    Bagi Ibnu Taimiyah, Tuhan mempunyai muka, tangan, mata, rusuk duduk bersila,datang dan pergi dan cahaya langit dan bumi, kerana hal itu semuanya tersebut dalam al-Quran, katanya,”Tuhan berada di atas langit, boleh ditunjuk dengan anak jari ke atas, Tuhan mempunyai anak jari, mempunyai tumit kaki, mempunyai tangan kanan,mempunyai nafas, turun naik dan Tuhan itu “masa”, kerena semuanya itu tersebut dalam hadis yang sahih-sahih, Hal ini juga tidak bertentangan dengan prinsip keesaan Allah dan Tanzih berbeda dari semua itu. kata Ibnu Taimiyah.”11 Oleh sebab itu, ia tidak membuang sifat-sifat dari Allah seperti yang dilakukan oleh kaum Mu’tazilah tetapi tidak juga menggambarkan Allah dengan sifat-sifat benda seperti yang dilakukan oleh kaum Mutasyabihat.
    Dari beberapa pemikiran Ibnu Taimiyah, dia dalam memahanmi al-Qur’an atau mempelajari islam terkesan tekstual dan parsial. Memang dia sangat hebat dalam kancah intelektual muslim. Namun, Islam, yang sumber hukumnya al-Qur’an adalah bersifat global. Oleh karena global, maka islam harus mengalami perkembangan hukum dengan interpretasi menggunakan akal dalam koridor ayat al-Qur’an. Bila pemahaman al-Qur’an hanya berkisar pada tekstual islam seakan-akan tidak luwes dan terkesan kaku terhadap perkembangan zaman. Kaum tekstual memandang apa yang datang dari nabi adalah sepenuhnya dari wahyu, namun bila yang terjadi kesalahan nabi, mereka menganggap itu sebagai pelajaran. Disini eksistensi nabi Muhammad ditiadakan.12 Menyadari pentingnya teksnya ini, maka yang paling penting dalam memahami al-Qur’an adalah dari teksnya atau dengan bahasa Arab semata.13 Inilah yang menjadi ciri utama Ibnu taimiya.
    Padahal sesungguhnya islam harus di fahami secara konstektual. Arkoun menyebutkan bahwa dalam menggali epistem, yaitu dengan menyusun kembali, restrukturisasi teks-teks interpretatif (fiqh, kalam dan tasawwuf).14 Dengan demikian nalar Islam memiliki nalar sejarahnya sendiri, sehingga ia tidak bersifat mutlaq dan berdiri diluar konteks ruang dan waktu. Nalar Islam memili nilai historis sendiri sehingga ia dapat menjadi sasaran kritik.15

    III.Kesimpulan
    Dari uraian di atas, setidaknya ada titik-titik penting yang dapat disimpulkan seputar hubungan antara Tasawuf dan sosok Ibnu Taimiyah sendiri. Setidaknya dari sini dapat terungkap bahwa kontroversi Ibnu Taimiyah dalam menyikapi Tasawuf dan fiqh yang berkembang di zamannya. Tidak lebih dari sebuah wujud kegelisahan dan kekhawatirannya jika jalan sufi itu justru tidak mencapai tujuan tertingginya; yaitu mengantarkan seorang hamba menuju Allah Ta’ala. Fiqh pun harus di dasarkan pada sesuatu yang murni dari al-Qur’an. Itulah sebabnya, ia selalu berusaha mengikat pandangan-pandangan Tasawuf danm fiqhnya dengan wahyu. Maka tidaklah mengherankan jika ia sering merujuk kepada pandangan-pandangan para syekh sufi generasi awal –yang dalam pandangannya masih teguh menjaga jalan sufi ini tetap dalam bingkai wahyu dan tidak dipengaruhi oleh ide-ide asing. Namun, bagi penulis, sendiri menilai epistemologi yang dibangun oleh Ibnu Taimiyah sangatlah parsial. Padahal Sesungguhnya nabi Muhammad diyakini Umat Islam sebagai penafsir otoritatif atas al-Qur’an.16 Oleh karena itu menurut penulis, epistemologi Ibnu Taimiyah dalam memahami al-Qur’an kurang disetujui oleh pemakalah. Karena al-Qur’an sarat dengan sejarah.

    IV.Saran
    Sungguh kecongkakan dan kesombongan intelektual bila pemakalah menganggap pemaparan dalam makalah ini sempurna atau bersifat final. Oleh karena itu, pemakalah berharap kepada semua pihak yang membaca makalah ini berkenan memberikan kritik yang konstruktif ataupun mendekonstruksi substansi maupun metodologi bila memang diperlukan. Demikian pemaparan tentang ”Pemikiran Ibnu Taimiyah”. Tentunya dalam pemaparan makalah kami ini masih banyak kekurangan baik dari segi substansi materi maupun segi metodologi. Semoga makalah ini dapat bermanfaat dalam kancah intelektual.Amiin.

    Daftar Pustaka

    Sadzali Munawir, Islam dan Tata Negara Ajaran, Sejarah dan Pemikiran, Jakarta: UI Press, 1990.
    Katsir Ibnu, Al-Bidayah wa al-Nihayah, Maktabah al-Ma’arif, Beirut, Cetakan pertama, Tahun,1966.
    Blogger al-Islam.http://www. syehIslam.co.id
    Aceh Abu Bakar, Sejarah Filsafat Islam, Semarang: Ramadhan, 1970.
    http://groups.yahoo.com/group/Astronomi_Malaysia/,
    Madzkur Ibrahim, Aliran dan Teori Filsafat Islam, Jakarta: Sinar Grafika Offset, 1995.
    Machasin, Metodologi Pemikiran Islam Kontemporer: Sebuah Auton Kritik, dalam Dzulmani (ed), Islam Liberal dan Islam Fundamental: Sebuah Pertarungan Wacana, Yogyakarta: elSAQ Press, 2005.
    Dimas: Jurnal Pemikiran Agama untuk Masyarakat, Memahami Islam: Antara Tekstualisme dan Kontekstualisme, (Oleh Ilyas Supena) Vol. 8, Semarang No. 1, Tahun 2008, hlm. 12
    Putro Suadi, Mohammed Arkoun Tentang Islam dan Modernitas, Jakarta: Logos, 1996
    Hidayat Komaruddin, Memahami Bahasa Agama; Sebuah Kajian Hermeneutik, Jakarta: Paramadina, 1996

  17. budi

    meditasi sangat membantu memasuki gelombang tetha. ini membuat kita bahagia

  18. Please visit us at htp://airsetitik.tk

Trackbacks

  1. ILMU MA’RIFAT « Covergreen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: