alangalangkumitir

Javanese Manuscripts

AJARAN RANGGAWARSITA


Pembukaan :

Amenangi jaman edan

ewuh aya ing pambudi

Melu edan nora tahan

yen tan melu anglakoni

boya kaduman melik

Kaliren wekasanipun

Dilalah karsa Allah

Begja-begjane kang lali

luwih begja kang eling lawan waspada”

(pupuh 7, Sent Kalatidha)

Terjemahan :

Mengalami jaman gila

sukar sulit (dalam) akal ikhtiar

Turut gila tidak tahan

kalau tak turut menjalaninya

tidak kebagian milik

kelaparanlah akhirnya

Takdir kehendak Allah

sebahagia-bahagianya yang lupa

lebih berbahagia yang sadar serta waspada”.

Syair jaman edan, dimana manusia kehilangan dasar sikap dan perilaku yang benar.

Di dalam Serat Kalatidha, Sabda Pranawa Jati Ki pujangga melihat kesusahan yang  terjadi pada jaman itu . . .

Rajanya utama, patihnya pandai dan menteri-menterinya mencita-citakan kesejahteraan rakyat serta semua pegawai-pegawainya cakap. Akan tetapi banyak kesukaran-kesukaran menimpa negeri; orang bingung, resah dan sedih pilu, serta dipenuhi rasa kuatir dan takut. Banyak orang pandai dan berbudi luhur jatuh dari kedudukannya. Banyak pula yang sengaja menempuh jalan salah . . . harga diri turun . . . akhlak merosot. Pada waktu-waktu seperti itu berbahagialah mereka yang sadar/ingat dan waspada.

Menghadapi jaman seperti itu Ki Ronggowarsito memberikan petuah-petuahnya, yaitu yang dapat disebut sebagai empat pedoman hidup.

I. Tawakal marang Hyang Gusti

–  Pedoman yang pertama; yaitu kepercayaan iman dan pengharapan kepada Tuhan.

–  Pedoman inilah yang menjadi dasar hidup, perilaku dan karya manusia.

1. “Mupus papasthening takdir, puluh-puluh anglakoni kaelokan”

(pupuh 6, Kalatidha).

Arti :

Menyadari ketentuan takdir, apa boleh buat (harus) mengalami keajaiban. Manusia hidup harus menerima keputusan Tuhan.

2. “Dialah karsa Allah, begja-begjane kang lali, luwih becik eling lawan waspada”

(pupuh 7, Kalatidha)

Arti :

Memanglah kehendak Allah, sebahagia-babagianya yang lupa, lebih bahagia yang sadar ingat dan waspada.

Manusia harus selalu menggantungkan diri kepada kehendak (karsa) Allah.

Karsa atau kehendak Allah itu seperti yang tersirat dalam ajaran agama, kitab suci, hukum-hukum alam, adat istiadat dan ajaran leluhur.

3. Muhung mahasing ngasepi, supaya antuk parimirmaning Hyang suksma.

(pupuh 8, Kalatidha)

Arti:

Sebaiknya hanya menjauhkan diri dari keduniawian, supaya mendapat kasih sayang Tuhan.

Di kala ingin mendekatkan jiwa pada Tuhan, memang pikiran dan nafsu harus terlepas dari hal keduniawian.

Supayantuk: Supaya dilimpahi Parimirmaning Hyang suksma; Kasih sayang Tuhan.

4. Saking mangunah prapti, Pangeran paring pitulung.

(pupuh 9, Kalatidha)

Arti :

Pertolongan datang dari Tuhan, Tuhan melimpahkan pertolongan.

Hanya Dia, Puji sekalian alam, Gembala yang baik, yang dapat menolong manusia dalam kesusahannya.

Mangunah      :  Pertolongan Tuhan

Prapti              : Datang.

5. Kanthi awas lawan eling, kang kaesthi antuka parmaning suksma.

(pupuh 10, Kalatidha)

Arti:

Disertai dasar/awas dan ingat, bertujuan mendapatkan kasih sayang Tuhan.

6. Ya Allah ya Rasululah kang sifat murah lan asih.

(pupuh 11, Kalatidha)

Arti :

Ya Allah ya nabi yang pemurah dan pengasih.

7. Badharing sapudendha, antuk mayar sawatawis, borong angga suwarga mesti martaya.

(pupuh 12, Kalatidha)

Arti

(Untuk) urungnya siksaan (Tuhan), mendapat keringanan sekedarnya, (sang pujangga) berserah diri (memohon) sorga berisi kelanggengan.

Pengakuan kepercayaan bahwa pada Tuhanlah letak kesalamatan manusia.

Pupuh-pupuh tambahan:

8. Setyakenang naya atoh pati, yeka palayaraning atapa, gunung wesi wasitane tan kedap ing pan dulu ning dumadi dadining bumi, akasa mwang; riya sasania paptanipun, jatining purba wisesa, tan ana lara pati kalawan urip, uripe tansah tungga”.

(pupuh 88, Nitisruti)

Arti:

Bersumpahlah diri dengan niat memakai tuntunan (akan) mempertaruhkan nyawa, yaitulah laku orang bertapa di (atas) gunung besi (peperangan) menurut bunyi petuah. Tak akan salah pandangannya terhadap segala makhluk dan terjadinya bumi dan langit serta segala isinya. Sekaliannya itu sifat Tuhan; tak ada mati, hiduppun tiada, hidupnya sudah satu dengan yang Maha suci.

Karya sastra Nitisruti ditulis oleh Pangeran di Karangayam (Pajang), pada tahun saka atau 1591 M.

Mengenai tekad untuk mengenal Tuhan dan rahasiaNya.

Mengenal kekuasaan di balik ciptaan-Nya, karena sudah bersatu dengan Gusti-Nya.

9. Sinaranan mesu budya, dadya sarananing urip, ambengkas harda rubeda, binudi kalayan titi, sumingkir panggawe dudu, dimene katarbuka, kakenan gaibing widi.

(Dari serat Pranawajati)

Arti:

Syaratnya ialah memusatkan jiwa, itulah jalannya di dalam hidup, menindas angkara yang mengganggu, diusahakan dengan teliti, tersingkirkanlah perbuatan salah, supaya terbukalah mengetahui rahasia Tuhan.

Serat Pranawajati ditulis oleh Ki R.anggawarsita

Pupuh ini menjelaskan jalan kebatinan untuk mencapai (rahasia) Tuhan.

10. Pamanggone aneng pangesthi rahayu, angayomi ing tyas wening, heninging ati kang suwung, nanging sejatine isi, isine cipta kang yektos”.

(Dari serat Sabda Jati)

Arti:

Tempatnya ialah di dalam cita-cita sejahtera, meliputi hati yang terang, hati yang suci kosong, tapi sesungguhnya berisi, isinya cipta sejati.

11. Demikianlah orang yang dikasihi Tuhan, yang selalu mencari-Nya untuk memuaskan dahaga batin. Ia akan berbahagia dan merasa tentram sejahtera; sadar akan arti hidup maupun tujuan hidup manusia. Pembawaannya rela, jujur dan sabar; pasrah, sumarah lan nanima, berbudi luhur dan teguh dihati.

II. Eling lawan Waspada

Pedoman yang kedua; yaitu sikap hidup yang selalu sadar-ingat dan waspada.

Pedoman inilah yang menjaga manusia hingga tidak terjerumus ke dalam lembah kehinaan dan malapetaka.

Pupuh-pupuh :

1. Dilalah karsa Allah, begja-begjane kang lali luwih becik kang eling lawan waspada.

(Pupuh 1, Kalatidha)

Arti :

akdir kehendak Allah, sebahagia-bahagianya yang lupa, lebih bahagia yang sadar / ingat dan waspada.

2. Yen kang uning marang sejatining kawruh, kewuhan sajroning ati, yen tan niru nora arus, uripe kaesi-esi, yen niruwa dadi asor.

(Pupuh 8, Sabda Jati)

Arti:

Bagi yang tidak mengetahui ilmu sejati bimbanglah di dalam hatinya, kalau tidak meniru (perbuatan salah) tidak pantas, hidupnya diejek-ejek, kalau meniru (hidupnya} menjadi rendah.

3. Nora ngandel marang gaibing Hyang Agung, anggelar sekalir-kalir, kalamun temen tinemu, kabegjane anekani, kamurahaning Hyang Monon”.

(Pupuh 9, Sabda Jati)

Arti :

Tidak percaya kepada gaib Tuhan, yang membentangkan seluruh alam, kalau benar-benar usahanya, mestilah tercapai cita-citanya, kebabagiaannya datang, itulah kemurahan Tuhan.

Serat Sabda Jati adalah juga ditulis oleh pujangga Ki Ranggawarsita.

Pupuh 8 membicarakan keragu-raguan hati karena melihat banyak orang menganggap perbuatan salah sebagai sesuatu yang wajar.

Akan tetapi bagi yang sadar/ingat dan waspada, tuntunan Tuhan akan datang membawa kebahagiaan batin.

4. Mangka kanthining tumuwuh, salami mung awas eling, eling lukitaning alam, dadi wiryaning dumadi, supadi nir ing Sangsaya, yeku pangreksaning urip.

(Pupuh 83, Wedhatama)

Arti :

Untuk kawan hidup, selamanya hanyalah awas dan ingat ingat akan sasmita alam, menjadi selamatlah hidupnya, supaya bebas dari kesukaran, itulah yang menjaga kesejahteraan hidup.

5. Dene awas tegesipun, weruh warananing urip, miwah wisesaning Tunggal, kang atunggil rina wengi, kang makitun ing sakarsa, gumelar ngalam sekalir.

(Pupuh 86, Wedhatama)

Arti :

Adapun awas artinya, tahu akan tabir di dalam hidup, dan kekuasaan Hyang Maha Tunggal, yang bersatu dengan dirinya siang malam, yang meliputi segala kehendak, disegenap alam seluruhnya.

Wedhatama ditulis oleh Pangeran Mangkunegara IV.

6. Demikianlah sikap hidup yang berdasarkan “Eling lawan waspada”; yaitu selalu mengingat kehendak Tuhan sehingga tetap waspada dalam berbuat; untuk tidak mendatangkan celaka. Kehendak Tuhan mendapat dicari/ditemukan di dalam hukum alam, wahyu jatmika yang tertulis dalam kitab suci maupun karya sastra, adat-istiadat, nasehat leluhur/orang tua dan cita-cita masyarakat.

7. Eling” juga berarti selalu mengingat perbuatan yang telah dilakukan, baik maupun buruk, agar “waspada” dalam berbuat. Berkat sikap “eling lawan waspada” ini, terasalah ada kepastian dalam langkah-langkah hidup.

III. Rame ing gawe.

Pedoman hidup yang ketiga, yaitu hidup manusia yang dihiasi daya-upaya dan kerja keras.

–  Menggantungkan diri pada wasesa dan karsa Hyang Gusti adalah sama dengan menerima takdir.

Karena siapakah yang dapat meriolak kehendak Nya?

1. Ada tertulis:

Tidak ada sahabat yang melebihi (ilmu) pengetahuan Tidak ada musuh yang berbahaya dan pada nafsu jahat dalam hati sendiri Tidak ada cinta melebihi cinta orang tua kepada anak-anaknya Tidak ada kekuatan yang menyamai nasib, karena kekuatan nasib tidak tertahan oleh siapapun”.

(Ayat 5, Bagian II Kitab Nitiyastra).

2. Tetapi apakah kekuatiran atau ketakutan akan nasib menjadi akhir dan pada usaha atau daya upaya manusia? Berhentikah manusia berupaya apabila kegagalan menghampiri kerjanya?

3. …. Karana riwayat muni, ikhtiar iku yekti, pamilihe reh rahayu, sinambi budi daya, kanthi awas lawan eling, kang kaesthi antuka parmaning suksma.

(Pupuh 10, Kalatidha)

Arti :

…. Karena cerita orang tua mengatakan, ikhtiar itu sungguh-sungguh, pemilih jalan keselamatan, sambil berdaya upaya disertai awas dan ingat, yang dimaksudkan mendapat kasih sayang Tuhan.

Menerima takdir sebagai keputusan terakhir, tidak berarti mengesampingkan ikhtiar sebagai permulaan daripada usaha.

4. Kuneng lingnya Ramadayapati, angandika Sri Rama Wijaya, heh bebakal sira kiye, gampang kalawan ewuh, apan aria ingkang akardi, yen waniya ing gampang, wediya ing kewuh, sabarang nora tumeka, yen antepen gampang ewuh dadi siji, ing purwa nora ana.

(Tembang Dandanggula, Serat Rama)

Arti :

Haria sehabis haturnya Ramadayapati (Hanoman), bersabdalah Sri Rama : Hai, kau itu dalam permulaan melakukan kewajiban, ada gampang dan ada sukar, itu adalah (Tuhan) yang membuat. Kalau berani akan gampang; takut akan yang sukar, segala sesuatu tidak akan tercapai. Bila kau perteguh hatimu, gampang dan sukar menjadi satu, (itu) tidak ada, tidak dikenal dalam permulaan (usaha).

5. Demikianlah, takdir yang akan datang kelak tidak seharusnya menghentikan usaha manusia. Niat yang tidak baik adalah niat “mencari yang mudah, menghindari yang sukar”. Semua kesukaran atau tugas harus dihadapi dengan keteguhan hati. “Rame ing gawe” dan “Rawe-rawe rantas malang-malang putung” adalah semangat usaha yang lahir dari keteguhan hati itu.

Catatan:

Pupuh ke empat adalah cuplikan dari serat Rama, yang ditulis oleh Ki Yosadipura.

(1729 – 1801 M)

IV. Mawasdiri:

Pedoman hidup yang keempat, yaitu perihal mempelajari pribadi dan jiwa sendiri;    yang merupakan tugas semua mamusia hidup.

Pupuh-pupuh:

1. Wis tua arep apa, muhung mahasing ngasepi, supayantuk parimirmaning Hyang Suksma.

(Pupuh 8, Kalatidha)

Arti :

Sudah tim mau apa, sebaiknya hanya menjauhkan diri dari keduniawian, supaya mendapat/kasih sayang Tuhan.

Nasehat agar tingkat orang yang telah berumur menunjukkan martabat.

2. Jinejer neng wedhatama, mrih tan kemba kembenganing pambudi, sanadyan ta tuwa pikun, yen tan mikani rasa, yekti sepi asepi lir sepah samun, samangsaning pakumpulan, gonyak-ganyuk ngliling semi.

(Pupuh 2, Pangkur, Wedhatama)

Arti:

Ajarannya termuat dalam Wedhatama, agar supaya tak kendor hasrat usahanya memberi nasehat, (sebab) meskipun sudah tua bangka, kalau tak ketahuan kebatinan, tentulah sepi hambar bagaikan tak berjiwa, pada waktu di dalam pergaulan, kurang adat memalukan.

3. …. Pangeran Mangkubumi ing pambekanipun. Kang tinulad lan tinuri-luri, lahir prapteng batos, kadi nguni ing lelampahane, eyang tuwan kan jeng senopati, karem mawas diri, mrih sampurneng kawruh.Kawruh marang wekasing dumadi, dadining lalakon, datan samar purwa wasanane, saking dahat waskitaning galih, yeku ing ngaurip, ran manungsa punjul.

(Dari babad Giyanti)

Arti :

….Pangeran Mangkubumi budi pekertinya. Yang ditiru dan dijunjung tinggi, lahir sampai batin, seperti dahulu sejarahnya, nenek tuan kanjeng senopati gemar mawas diri untuk kesempumaan ilmunya. Ilmu tentang kesudahan hidup, jadinya lelakon, tidak ragu akan asal dan kesudahannya (hidup), karena amat waspada di dalam hatinya, itulah hidup, disebut manusia lebih (dari sesamanya).

Babad Giyanti ditulis oleh pujangga Yasadipura I. Isinya memberi contoh tentang seseorang yang selalu mawas diri, yaitu Panembahan Senopati.

4. Mawas diri adalah usaha meneropong diri sendiri dan dengan penuh keberanian mengubah pribadinya. Maka inilah asal dan akhir dari pada keteguhan lahir dan batin.

5. Laku lahir lawan batin, yen sampun gumolong, janma guna utama arane, dene sampun amengku mengkoni, kang cinipta dadi, kang sinedya rawuh”.

(Dari babad Giyanti)

Arti :

Amalan lahir dan batin, bilamana sudah bersatu dalam dirinya, yang demikian itu disebut manusia pandai dan utama, karena ia sudah menguasai dan meliputi, maka yang dimaksudkan tercapai, yang dicita-citakan terkabul.

6. Nadyan silih prang ngideri bumi, mungsuhira ewon, lamun angger mantep ing idhepe, pasrah kumandel marang Hyang Widi, gaman samya ngisis, dadya teguh timbul).”

(Tembung Mijil, Dari babad Giyanti)

Arti :

Meski sekalipun perang mengitari jagad, musuhnya ribuan, tetapi asal anda tetap di dalam hati, berserah diri percaya kepada Tuhan, semua senjata tersingkirkan, menjadi teguh kebal.

7. Demikianlah ajaran Ki Ranggawarsita, yaitu mengenai empat pedoman hidup. Begitulah orang yang menggantungkan dirinya kepada kekuasaan Tuhan dan menerima tuntunan-Nya. Ia akan memiliki kepercayaan pada diri sendiri, tetapi tanpa disertai kesombongan maupun keangkaraan.

Cita-cita kemasyarakatan.

1. Ki pujangga Ranggawarsito mencita-citakan pula datangnya jaman Kalasuba, yaitu jaman pemerintahan Ratu Adil Herucakra. Karena itu beliau merupakan seorang penyambung lidah rakyatnya, yang menciptakan masyarakat “panjang punjung tata karta raharja” …. “gemah ripah loh jinawi” ….loh subur kang sarwa tinandur” dimana “wong cilik bakal gumuyu.

2. Tiga hal yang pantas diperjuangkan, untuk menegakkan pemerintahan Ratu Adil; yaitu: Bila semua meninggalkan perbuatan buruk, bila ada persatuan dan bila hadir pemimpin-pemimpin negara yang tidak tercela lahir batinnya.

3. Dengarlah!

4. Ninggal marang pakarti tan yukti, teteg tata ngastuti parentah, tansah saregep ing gawe, ngandhap lan luhur jumbuh, oaya ana cengil-cengil, tut runtut golong karsa, sakehing tumuwuh, wantune wus katarbuka, tyase wong sapraya kabeh mung haryanti, titi mring reh utama.

(Dari Serat Sabdapranawa)

Arti :

Meninggalkan perbuatan buruk, tetap teratur tunduk perintah, selalu rajin bekerja, bawahan dan atasan cocok-sesuai tak ada persengketaan, seia sekata bersatu kemauan, dari segala makhluk, sebab telah terbukalah, tujuan orang seluruh negara hanyalah kesejahteraan, faham akan arti ulah keutamaan.

5.  Ngarataning mring saidenging bumi, kehing para manggalaningpraya, nora kewuhan nundukake, pakarti agal lembut, pulih kadi duk jaman nguni, tyase wong sanagara, teteg teguh, tanggon sabarang sinedya, datan pisan nguciwa ing lahir batin, kang kesthi mung reh tama.

(Tembang Dandanggula, Serat Sabdapranawa)

Arti:

Merata keseluruh dunia; sebanyak-banyak pemimpin negara tak kesukaran menjalankan perbuatan kasar-halus; kembalilah seperti dahulu kala, tujuan orang seluruh negara, tetap berani sungguh, boleh dipercaya segala maksudnya, tak sekali-kali tercela lahir batinnya, yang dituju hanyalah selamat sejahtera.

6. Demikianlah yang dicita-citakan pujangga agung Ranggawarsita.

By alang alang

13 Comments

  1. cinta Hidayah

    KASIHAAAAAN BELAJARLAH BANYAK ALIRAN ALIRAN DAN PEMAHAMAN DIDUNIA MAKA AKAN ANDA DAPATI KEJAWEN ATAU RONGGOWARSITO JUGA DIDAPATI DISANA KESIMPULAN SELAgi MASIH PRODUK AKAL DAN PERASAAN MAKA SEMUANYA TIDAK AKAN BERBEDAAAA PAHAAAAM,SEPINTAR APAPUN KITA,SEBEDA APAPUN AJARAN KITA JIKA MASIH SEPUTAR HASIL OLAHAN AKAL DAN PERASAAN YA ETAH ETAH KENE MAS SARUAAAA

  2. Bregud

    Jamannye kaga gile, cuma orang / manusienya nyang pada edyuuuuuuaaannnn, sudah pada jadi khodamnye NAFSU.
    pelajaran budi pekerti,akhlak, moral, tata krama,etika…..merupakan materi nyang hanya dihafalkan….tidak sampe dihayati, apalagi dijalankan.
    Hehehehe….hehehehe…….hehehehe
    emang sudah tiba saatnya, jaman ini dihuni orang 2 gendeng

  3. mohon ijin copas Bos.

  4. DHIMS

    SEMOGA BANYAK GENERASI MUDA YG MEMAHAMI BLOG INI.TRIMS MAS KUMINTIR

  5. Anonymous

    Di segala jaman, di segala tempat, ungkapan “jaman edan” saya kira selalu muncul. Kadang dari orang-orang yang tidak puas dengan keadaannya sendiri dan atau lingkungan tempatnya hidup. Namun seringkali ungkapan tersebut dalam bentuk yang satu dan lainnya muncul dari pujangga-pujangga, nabi-nabi yang menjadi juru bicara jamannya. Saya kira sekedar mengingatkan diri sendiri dan orang lain supaya lebih berhati-hati (eling lan waspada) dalam menjalani hidup. Akan tetapi, jaman mana dan dimana kiranya yang tidak “edan,” karena yang menjalani jaman-jaman tersebut baik dulu, sekarang, maupun jauh di kemudian hari tetap manusia. Ya, manusia yang ambisius, yang serakah, yang penuh kemarahan dan kebencian, ya manusia seperti kita ini. Untuk itu Ranggawarsita mengajarkan kita untuk eling lan waspada: eling bahwa bukan jaman yang “edan” tetapi manusianyalah yang “edan.” eling bahwa juga ada manusia yang “waras” yang meski hanya segelintir dapat memberi harapan akan “kewarasan” yang bisa dialami manusia. Mengenai orang-orang yang tidak puas hendaknya eling untuk tidak hanya melihat “duri” tetapi juga melihat “mawar” yang ada. Agar berimbang dalam “melihat” kahanan. Serta senantiasa waspada akan gerak gerik lahir dan batin masing-masing. Akan tetapi kebanyakan manusia bukannya menghadapi jaman “edan” dengan pengertian (eling lan waspada) namun justru “lari” mencari dengan sia-sia jaman khayalan, jaman “emas” dalam imajinasi, dimana segala berlaku sesuai harapan dan keinginannya, ideal-idealnya sendiri. Baik lari jauh ke “belakang” yaitu masa silam yang sudah tidak bisa dibuktikan maupun lari ke “depan” yaitu masa depan yang belum bisa dibuktikan, yang oleh karenanya khayalan-khayalan mereka dapat tetap “hidup.” Sedang yang dapat menghapus khayalan-khayalan tersebut adalah kenyataan. Ibarat kegelapan (Khayalan) yang terhapus oleh cahaya (kenyataan). Namun kenyataan hanya ada sekarang, di sini, saat ini. Bukan kemarin atau besok. Bangunlah, sadarlah dari mimpi-mimpi kita, khayalan-khayalan kita dan ambillah tanggungjawab. Tidak ada apa-apa untuk kita di “belakang” selain fantasi-fantasi yang semakin hari semakin berat menghimpit karena beradu dengan kenyataan. Tidak ada apa apa untuk kita di “depan,” tidak ada “satrio piningit,” “imam mahdi,” “ratu adil,” “kalki,” “Yesus,” atau siapalah yang akan “turun dari langit” atau datang memenuhi harapan-harapan dan keinginan-keinginan kita. Yang akan “menyulap” bumi menjadi “surga” untuk kita. Karena “besok” selalu bisa ditunda (baca: diundur). Sampai kapan kiranya kita hidup dalam khayalan??? berhentilah dan mulailah hidup dalam kenyataan. Demikian kira-kira yang dapat saya “tangkap” dari ajaran Ranggawarsita.

  6. Amee

    Jd pngen tau lbih dalam lg. . .

  7. soero

    blognya keren mas………
    melestarikan budaya adalah kewajiban semua, namun sayang banyak generasi muda kita yang terlena

  8. reza

    hanya org” yg memahami jati dirinya yyg mamapu memahami

  9. Rudianto

    Kulonuwun mas,nyuwun sewu kok mboten ngewrat serat wirid hidayat jati…

  10. azzie iskandar

    Blog of my heart

  11. Rery

    kejujuran akan membawa kebahagiaan.

  12. Situs Yang bermanfaat…….

    Lanjut mang….!

Trackbacks

  1. » AJARAN RANGGAWARSITA sastra bali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: