Daily Archives: August 3, 2008

TENTANG ALLAH, TAUHID DAN MANUNGGALING KAWULA GUSTI


SATU
“Allah itu adalah keadaanku, kenapa kawan-kawan pada memakai penghalang? Sesungguhnya aku inilah haq Allah pun tiada wujud dua, nanti Allah sekarang Allah, tetap dzahir batin Allah, kenapa kawan-kawan masih memakai pelindung?” (Babad Tanah Sunda, Sulaeman Sulendraningrat, 1982, bagian XLIII).

Ucapan spiritual Syekh Siti Jenar tersebut diucapkan pada saat para wali menghendaki diskusi yang membahas masalah Micara Ilmu tanpa Tedeng Aling-aling. Diskusi para wali diadakan setelah Dewan Walisanga mendengar bahwa Syekh Siti Jenar mulai mengajarkan ilmu ma’rifat dan hakikat. Sementara dalam tugas resmi yang diberikan oleh Dewan Walisanga hanya diberi kewenangan mengajarkan syahadat dan tauhid. Sementara menurut Syekh Siti Jenar justru inti paling mendasar tentang tauhid adalah manunggal, di mana seluruh ciptaan pasti akan kembali menyatu dengan yang menciptakan.

Pada saat itu, Sunan Gunung Jati mengemukakan, “Adapun Allah itu adalah yang berwujud haq”; Sunan Giri berpendapat, “Allah itu adalah jauhnya tanpa batas, dekatnya tanpa rabaan.”; Sunan Bonang berkata, “Allah itu tidak berwarna, tidak berupa, tidak berarah, tidak bertempat, tidak berbahasa, tidak bersuara, wajib adanya, mustahil tidak adanya.”; Sunan Kalijaga menyatakan, “Allah itu adalah seumpama memainkan wayang.”; Syekh Maghribi berkata, “Allah itu meliputi segala sesuatu.”; Syekh Majagung menyatakan, “Allah itu bukan disana atau disitu, tetapi ini.”; Syekh Bentong menyuarakan, “Allah itu itu bukan disana sini, ya inilah.”; Setelah ungkapan Syekh Bentong inilah, tiba giliran Syekh Siti Jenar dan mengungkapkan konsep dasar teologinya di atas. Hanya saja ungkapan Syekh Siti Jenar tersebut ditanggapi dengan keras oleh Sunan Kudus, yang salah menangkap makna ungkapan mistik tersebut, “Jangan suka terlanjur bahasa menurut pendapat hamba adapun Allah itu tidak bersekutu dengan sesama.”

Mulai persidangan itulah hubungan Syekh Siti Jenar dengan para wali memanas, sebab Syekh Siti Jenar tetap teguh pada pendirian tauhid sejatinya. Sementara para Dewan Wali mengikuti madzhab resmi yang digariskan oleh kerajaan Demak, Sunni-Syafi’i. Sampai masa persidangan penentuannya, Syekh Siti Jenar tetap menyuarakan dengan lantang teologi manunggalnya bahwa, “Utawi Allah iku nyataning sun kang sampurna kang tetep ing dalem dhohir batin,” (bahwa Allah itu nyatanya aku yang sempurna yang tetap di dalam dzahir dan batin) . Riwayat yang agak sama juga tercantum dalam Babad Cerbon, terbitan Brandes (1911) pada Pupuh 23, Kinanti bait 1-8.

DUA
“Jika ada seorang manusia yang percaya kepada kesatuan lain selain dari Tuhan yang Mahakuasa, ia akan kecewa karena ia tidak akan memperoleh apa yang ia inginkan.” (S. Soebardi, The Book of ebolek, hlm. 103).

Menurut beberapa sumber, di antaranya Soebardi (1975), beberapa saat setelah Syekh Siti Jenar wafat, para wali mendengar suara yang berasal dari roh Syekh Siti Jenar yang berupa ungkapan mistik tersebut. Ungkapan mistik itu merupakan ungkapan terakhir dari sang sufi sebagai bukti bahwa sampai sesudah wafatnya, dia memperoleh apa yang diinginkannya, dan menjadi bukti kebenaran ajarannya, yakni kehidupan sejati dalam kesatuan; manunggaling kawula-Gusti.

TIGA
“… tidak usah kebanyakan teori semu, sesungguhnya ingsun inilah Allah. Nyata Ingsun Yang Sejati, bergelar Prabu Satmata, yang tidak ada lain kesejatiannya, yang disebut sebangsa Allah…” (R. Tanoyo: Walisanga, hlm. 124)

Maksud bebas ungkapan tersebut adalah “tidak usah kebanyakan bicara tentang teori ketuhanan, sesungguhnya ingsun (aku sejati) inilah Allah. Yaitu Ingsun (Kedirian) Yang Sejati, juga bergelar Prabu Satmata (Tuhan Yang Maha Melihat, mengetahui segala-galanya), dan tidak boleh ada yang lain yang penyebutannya mengarah kepada Allah sebagai Tuhan”.

EMPAT
“Mungguh sajatine ananing zdat kang sanyata iku muhung ana anteping tekat kita, tandhane ora ana apa-apa, ananging kudu dadi sabarang sedya kita kang satuhu” [Sebenarnya, keberadaan dzat yang nyata itu hanya berada pada mantapnya tekad kita, tandanya tidak ada apa-apa, akan tetapi harus menjadi segala niat kita yang sungguh-sungguh]. (Serat Candhakipun Riwayat Jati, hlm. 1).

Menurut Syekh Siti Jenar, keberadaan dzat hanya ada beserta kemantapan hati dalam merengkuh Tuhan. Dalam diri tidak ada apa-apa kecuali menjadikan menunggal sebagai niat dan yang mewarnai segala hal yang berhubungan dengan asma, sifat dan af’al Pribadi. Inilah di antara maksud utama ungkapan di atas. Jadi pemahaman atas ungkapan itu harus tetap berada dalam lingkup kemanunggalan. Kemanunggalan tidak akan berhasil jika hanya mengandalkan perangkat syari’at dan tarekat. Apalagi sekedar syari’at lahiriyah (nominal). Kemanunggalan akan berhasil seiring dengan tekad hati dan keseluruhan Pribadi dalam merengkuh Allah, sebagaimana roh Allah pada awalnya ditiupkan atas setiap pribadi manusia.

LIMA
“…marilah kita berbicara dengan terus terang. Aku ini Allah. Akulah yang sebenarnya disebut Prabu Satmata, tidak ada lain yang bernama Allah…saya menyampaikan ilmu tertinggi yang membahas ketunggalan. Ini bukan badan, selamanya bukan, karena badan tidak ada. Yang kita bicarakan ialah ilmu sejati dan untuk semua orang kita membuka tabir [artinya membuka rahasia yang paling tersembunyi.]” (Serat Siti Jenar Asmarandana, hlm. 15, bait 20-22).

ENAM
“Tidak usah banyak tingkah, saya inilah Tuhan, Ya, betul-betul saya ini adalah Tuhan yang sebenarnya, bergelar Prabu Satmata, ketahuilah bahwa tidak ada bangsa Tuhan yang lain selain saya. …. Saya ini mengajarkan ilmu untuk betul-betul dapat merasakan adanya kemanunggalan. Sedangkan bangkai itu selamanya kan tidak ada. Adapun yang dibicarakan sekarang ini adalah ilmu yang sejati yang dapat membuka tabir kehidupan. Dan lagi, semuanya sama. Sudah tidak ada tanda secara samar-samar, bahwa benar-benar tidak ada perbedaan lagi. Jika ada perbedaan yang bagaimanapun, saya akan tetap mempertahankan tegaknya ilmu tersebut.” (Boekoe Siti Djenar, Tan Khoen Swie, hlm. 18-20).

TUJUH
“Jika Anda menanyakan dimana rumah Tuhan, jawabnya tidaklah sulit. Allah berada pada dzat yang tempatnya tidak jauh, yaitu bersemayam di dalam tubuh. Tetapi hanya orang yang terpilih yang bisa melihatnya, yaitu orang yang suci.” (Suluk Wali Sanga, R. Tanaja, hlm. 42-46).

Ungkapan no. 5, 6, dan 7.
Dinyatakan dalam sidang para wali yang dipimpin oleh Sunan Giri bertempat di Giri Kedaton. Penjelasan Syekh Siti Jenar bahwa dirinya bukan badan menanggapi pernyataan Maulana Maghribi yang bertanya, “Tetapi yang kau tunjukkan itu hanya badan.” Syekh Siti Jenar menyampaikan ajaran “ingsun” yang dikemukakan secara radikal, yang mengajarkan kesamaan tuntas antara san pembicara dengan Allah. Ini sebagai efek dari berbagai pengalaman spiritualnya yang demikian tinggi, sehingga Manunggaling Kawula-Gusti juga meniscayakan adanya manunggalnya kalam (pembicaraan, sabda, firman). Adapun gelar Prabu Satmata memilki makna sama dengan Hyang Manon atau Yang Maha Tahu. Gelar tersebut juga diberikan kepada para Walisanga kepada Sunan Giri. Nampak bahwa Syekh Siti Jenar memiliki pendirian tegas, bahwa ilmu spiritual harus diajarkan kepada semua orang. Karena justru dengan membuka tabir itulah, orang akan mengetahui hakikat kehidupan dan rahasia hidupnya.

DELAPAN
“Syekh Lemah Abang namaku, Rasulullah ya aku, Muhammad ya aku, Asma Allah itu sesungguhnya diriku; ya Akulah yang menjadi Allah ta’ala.” (Wawacan Sunan Gunung Jati terbitan Emon Suryaatmana dan T.D. Sudjana, Pupuh 38 Sinom, bait 13).

Ungkapan mistik Syekh Siti Jenar tersebut menunjukkan, bahwa dalam teologi manunggaling kawula-Gusti, tidak hanya terjadi proses kefanaan antara hamba dan pencipta sebagaimana apa yang dialami oleh Bayazid al-Bustami dan Manshur al-Hallaj. Dalam kasus pengalaman mistik Syekh Siti Jenar, antara syahadat Rasul dan syahadat Tauhid ikut larut dalam kefanaan.

Sehingga dalam pengalaman mistik manunggal ini, terjadi kemanunggalan diri, Rasul dan Tuhan. Suatu titik puncak pengalaman spiritual, yang sudah dialami oleh para ulama sufi sejak abad ke-9, yakni sejak fana’nya Bayazid al-Busthami, Junaid al-Baghdadi, “ana al-Haqq”-nya Manshur al-Hallaj, juga ‘Aynul Quddat al-Hamadani, dan Syaikh al-Isyraq Syuhrawardi al-Maqtul, dan akhirnya menemukan titik kulminasinya pada teologi Manunggaling Kawula-Gusti Syekh Siti Jenar.

SEMBILAN
“Sesungguhnyalah, Lapal Allah yaitu kesaksian akan Allah, yang tanpa rupa dan tiada tampak, membingungkan orang, karena diragukan kebenarannya. Dia tidak mengetahui akan diri pribadinya yang sejati, sehingga ia menjadi bingung. Sesungguhnya nama Allah itu untuk menyebut wakil-Nya, diucapkan untuk menyatakan yang dipuja dan menyatakan suatu janji. Nama itu ditumbuhkan menjadi kalimat yang diucapkan: “Muhammad Rasulullah”. Padahal sifat kafir berwatak jisim, yang akan membusuk, hancur lebur bercampur tanah.” “Lain jika kita sejiwa dengan Zat Yang Maha Luhur. Ia gagah berani, naha sakti dalam syarak, menjelajahi alam semesta. Dia itu Pangeran saya, yang menguasai dan memerintah saya, yang bersifat wahdaniyah, artinya menyatukan diri dengan ciptaan-Nya. Ia dapat abadi mengembara melebihi peluru atau anak sumpitan, bukan budi bukan nyawa, bukan hidup tanpa asal dari manapun, bukan pula kehendak tanpa tujuan.” “Dia itu yang bersatu padu menjadi wujud saya. Tiada susah payah, kodrat dan kehendak-Nya, pergi ke mana saja tiada haus, tiada lelah tanpa penderitaan dan tiada lapar. Kekuasan-Nya dan kemampuan-Nya tiada kenal rintangan, sehingga pikiran keras dari keinginan luluh tiada berdaya. Maka timbullah dari jiwa raga saya kearif-bijaksanaan tanpa saya ketahui keluar dan masuk-Nya, tahu-tahu saya menjumpai Ia sudah ada disana”. (Serat Syaikh Siti Jenar Ki Sastrawijaya, Pupuh III Dandanggula, 45-48).

Pernyataan di atas adalah tafsir sederhana dari sasahidan yang menjadi intisari ajaran Syekh Siti Jenar, dan landasan mistik teologi kemanunggalan. Kalimah syahadat yang hanya diucapkan dengan lisan dan hanya dihiasi dengan perangkat kerja fisik (pelaksanaan fiqih Islam dengan tanpa aplikasi spiritual), hakikatnya adalah kebohongan. Pelaksanaan aspek fisik keagamaan yang tidak disertai dengan implikasi kemanunggalan roh, sebenarnya jiwa orang itu mencuri, yakni mencuri dari perhatiannya kepada aspek Allah dalam diri. Itulah sebenar-benarnya munafik dalam tinjauan batin, dan fasik dalam kacamata lahir. Sebab manusia sebagai khalifah-Nya adalah cermin Ilahiyah yang harus menampak kepada seluruh alam. Sebagai alatnya adalah kemanunggalan wujudiyah sebagaimana terdapat dalam Sasahidan. Terdapat kesatupaduan antara Allah, Rasul dan manusia. Masing-masing bukanlah sesuatu yang saling asing mengasingkan.

Kesejatian Hidup dan Kehidupan

SEPULUH.
“Rahasia kesadaran kesejatian kehidupan, ya ingsun ini kesejatian hidup, engkau sejatinnya Allah, ya ingsun sejatinya Allah; yakni wujud (yang berbentuk) itu sejatinya Allah, sir (rahsa=rahasia) itu Rasulullah, lisan (pangucap) itu Allah, jasad Allah badan putih tanpa darah, sir Allah, rasa Allah, rahasia kesejatian Allah, ya ingsun (aku) ini sejatinya Allah.” (Wejangan Walisanga: hlm. 5).

Subtansi dari ungkapan spiritual tersebut adalah bahwa kesejatian hidup, rahasia kehidupan hanya ada pada pengalaman kemanunggalan antara kawula-Gusti. Dan dalam tataran atau ukuran orang ‘awam hal itu bisa diraih dengan memperhatikan uraian dan wejangan Syekh Siti Jenar tentang “Shalat Tarek Limang Waktu”.

SEBELAS
“Adanya kehidupan itu karena pribadi, demikian pula keinginan hidup itupun ditetapkan oleh diri sendiri. Tidak mengenal roh, yang melestarikan kehidupan, tiada turut merasakan sakit ataupun lelah. Suka dukapun musnah karena tiada diinginkan oleh hidup. Dengan demikian hidupnya kehidupan itu, berdiri sendiri sekehendak.” (Serat Syaikh Siti Jenar Ki Sasrawijaya, Pupuh III Dandanggula, 32).

Pernyataan tersebut menunjukkan adanya kebebasan manusia dalam menentukan jalan hidup. Manusia merdeka adalah manusia yang terbebas dari belenggu kultural maupun belenggu struktural. Dalam hidup ini, tidak boleh ada sikap saling menguasai antar manusia, bahkan antara manusia dengan Tuhanpun hakikatnya tidak ada yang menguasai dan yang dikuasai. Ini jika melihat intisari ajaran manunggalnya Syekh Siti Jenar. Sebab dalam manusia ada roh Tuhan yang menjamin adanya kekuasaan atas pribadinya dalam menjalani kehidupan di dunia ini.

Dan allah itulah satu-satunya Wujud. Yang lain hanya sekedar mewujud. Cahaya hanya satu, selain itu hanya memancarkan cahaya saja, atau pantulannya saja. Subtansi pernyataan Syekh Siti Jenar tersebut adalah Qs. Al-Baqarah/2;115, “Timur dan Barat kepunyaan Allah. Maka ke mana saja kamu menghadap di situlah Wajah Allah. ” Wujud itu dalam Pribadi, dan di dunia atau alam kematian ini, memerlukan wadah bagi pribadi untuk mengejawantah, menguji diri sejauh mana kemampuannya mengelola keinginan wadag, sementara Pribadinya tetap suci.

Tuhan dan Kemanusiaan

DUA BELAS
“Zat wajibul maulana adalah yang menjadi pemimpin budi yang menuju ke semua kebaikan. Citra manusia hanya ada dalam keinginan yang tunggal. Satu keinginan saja belum tentu dapat melaksanakan dengan tepat, apa lagi dua. Nah, cobalah untuk memisahkan zat wab/jibul maulana dengan budi, agar supaya manusia dapat menerima keinginan yang lain”. (Serat Syaikh Siti Jenar Ki Sasrawijaya, Pupuh III Dandanggula, 44).

Manusia yang mendua adalah manusia yang tidak sampai kepada derajat kemanunggalan. Sementara manusia yang manunggal adalah pemilik jiwa yang iradah dan kodratnya telah pula menyatu dengan Ilahi. Sehingga akibat terpecahnya jiwa dengan roh Ilahi, maka kehidupannya dikuasai oleh keinginan yang lain, yang dalam al-Qur’an disebut sebagai hawa nafsu. Maka agar tidak terjadi split personality, dan tidak mengakibatkan kerusakan dalam tatanan kehidupan, harus ada keterpaduan antara Zat Wajibul Maulana dengan budi manusia. Dan sang Zat Wajibul Maulana ini berada di dalam kedirian manusia, bukan di luarnya.

TIGA BELAS
“Hyang Widi, kalau dikatakan dalam bahasa di dunia ini, baka bersifat abadi, tanpa antara, tiada erat dengan sakit ataupun rasa tidak enak. Ia berada baik di sana, maupun di sini, bukan itu bukan ini. Oleh tingkah yang banyak dilakukan dan yang tidak wajar, menuruti raga, adalah sesuatu yang baru. Segala sesuatu yang berwujud, yang tersebar di dunia ini, bertentangan dengan sifat seluruh yang diciptakan, sebab isi bumi itu angkasa yang hampa.” (Serat Syaikh Siti Jenar Ki Sasrawijaya, Pupuh III Dandanggula, 30).

Tuhan adalah yang maha meliputi. Keberadaannya, tidak dibatasi oleh lingkup ruang dan waktu, keghaiban atau kematerian. Hakikat keberadaan segala sesuatu adalah keberadaan-Nya. Oleh karenanya keberadaan segala sesuatu di hadapan-Nya sama dengan ketidakberadaan segala sesuatu, termasuk kedirian manusia. Maka sikap yang selalu menuruti raga disebut sebagai “sesuatu yang baru” dalam arti tidak mengikuti iradah-Nya. Raga seharusnya tunduk kepada jiwa yang dinaungi roh Ilahi. Sebab raga hanyalah sebagai tempat wadag bagi keberadaan roh itu. Jangan terjebak hanya menghiasi wadahnya, namun seharusnya yang mendapat prioritas untuk dipenuhi perhiasan dan dicukupi kebutuhannya adalah isi dari wadah.

EMPAT BELAS
“Gagasan adanya badan halus itu mematikan kehendak manusia. Dimanakah adanya Hyang Sukma, kecuali hanya diri pribadi. Kelilingilah cakrawala dunia, membumbunglah ke langit yang tinggi, selamilah dalam bumi sampai lapisan ke tujuh, tiada ditemukan wujud yang Mulia.”
“Ke mana saja sunyi senyap adanya; ke utara, selatan, barat, timur dan tengah, yang ada di sana-sana hanya di sini adanya. Yang ada di sini bukan wujud saya. Yang ada didalamku adalah hampa yang sunyi. Isi dalam daging tubuh adalah isi perut yang kotor. Maka bukan jantung bukan otak yang pisah dari tubuh, laju pesat bagaikan anak panah lepas dari busur, menjelajah Mekah dan Madinah.”

“Saya ini bukan budi, bukan angan-angan hati, bukan pikiran yang sadar, bukan niat, bukan udara, bukan angin, bukan panas dan bukan kekosongan atau kehampaan. Wujud saya ini jasad, yang akhirnya menjadi jenazah, busuk bercampur tanah dan debu. Napas saya mengelilingi dunia, tanah, api, air dan udara kembali ke tempat asalnya atau aslinya, sebab semuanya barang baru, bukan asli.”

“Maka saya ini Zat yang sejiwa, menyukma dalam Hyang Widi. Pangeran saya bersifat jalal dan jamal, artinya Mahamulia dan Mahaindah. Ia tidak mau shalat atas kehendak sendiri, tidak pula mau memerintahkan untuk shalat kepada siapapun. Adapun orang shalat, itu budi yang menyuruh, budi yang laknat dan mencelakakan, tidak dapat dipercaya dan diturut, karena perintahnya berubah-ubah. Perkataannya tidak dapat dipegang, tidak jujur, jika diturut tidak jadi dan selalu mengajak mencuri.” (Serat Syaikh Siti Jenar Ki Sasrawijaya, Pupuh III Dandanggula, 33-36).

Menurut Syekh Siti Jenar, Allah bukanlah sesuatu yang asing bagi diri manusia. Allah juga bukan yang ghaib dari manusia. Walaupun Ia penyandang asma al-Ghayb, namun itu hanya dari sudut materi atau raga manusia. Secara rohiyah, Allah adalah ke-Diri-an manusia itu. Dalam diri manusia terdapat roh al-idhafi yang membimbing manusia untuk mengenal dan menghampirinya. Sebagai sarananya, dalam otak kecil manusia, Allah menaruh God-spot (titik Tuhan) sebagai filter bagi kerja otak, agar tidak terjebak hanya berpikir materialistik dan matematis. Inilah titik spiritual yang akan menghubungkan jiwa dan raga melalui roh al-idhafi. Dari sistem kerja itulah kemudian terjalin kemanunggalan abadi. Maka kalau ada anggapan bahwa Allah itu ghaib bagi manusia, sesuatu yang jauh dari manusia, pandangan itu keliru dan sesat.

Sekali lagi apa yang terurai di atas, adalah suatu kedaaan dan kesadaran yang sudah tidak ada tingkatan lagi. Jika masih ada terdapat tingkatan maka sebaiknya disempurnakan lagi. Karena tingkatan itu telah dilebur menjadi satu dengan nama keyakinan, sehingga tidak ada perbedaan atau tingkatan. Semuanya berpulang kepada Allah, Tuhan sekalian Alam, apa kata Alam ini ialah juga kehendak-Nya yang merupakan wujud ADA dalam kehidupan manusia beserta makhluk lainnya…allahu akbar.

LIMA BELAS
“Syukur kalo saya sampai tiba di alam kehidupan yang sejati. Dalam alam kematian ini saya kaya akan dosa. Siang malam saya berdekatan dengan api neraka. Sakit dan sehat saya temukan di dunia ini. Lain halnya apabila saya sudah lepas dari alam saya kematian ini. Saya akan hidup sempurna, langgeng tiada ini itu.” (Serat Syaikh Siti Jenar Ki Sasrawijaya, Pupuh VI Pangkur, 20-21).

Dalam prespektif kemanunggalan, dunia adalah alam kematian yang sesungguhnya, dikarenakan roh Ilahinya terpenjara dalam badan wadagnya. Dengan badan wadag yang berhias nafsu itulah, terjadi dosa manusia. Sehingga keberadaan manusia di dunia penuh dengan api neraka. Ini sangat berbeda kondisinya dengan alam setelah manusia memasuki pintu kematian. Manusia akan manunggal di alam kehidupan sejati setelah mengalami mati. Disanalah ditemukan kesejatian Diri yang tidak parsial. Dirinya yang utuh, sempurna, dengan segala kehidupan yang juga sempurna.

ENAM BELAS
“Menduakan kerja bukan watak saya! Siapa yang mau mati! Dalam alam kematian orang kaya akan dosa! Balik jika saya hidup yang tak kenal ajal, akan langgeng hidup saya, tidak perlu ini itu. Akan tetapi bila saya disuruh milih hidup atau mati saya tidak sudi! Sekalipun saya hidup, biar saya sendiri yang menentukan! Tidak usah Walisanga memulangkan saya ke alam kehidupan! Macam bukan wali utama saya ini, mau hidup saja minta tolong pada sesamanya. Nah marilah kamu saksikan! Saya akan pulang sendiri ke alam kehidupan sejati.” (Serat Syaikh Siti Jenar Ki Sasrawijaya, Pupuh VIII Dandanggula, 14-16).

Karena kematian hanya sebagai pintu bagi kesempurnaan hidup yang sesungguhnya, maka sebenarnya kematian juga menjadi bagian tidak terpisahkan dari keberadaan manusia sebagai pribadi. Oleh karena itu, kematian bukanlah sesuatu yang menakutkan bukan sesuatu yang bisa dipilih orang lain. Kematian adalah hal yang muncul dengan kehendak Pribadi, menyertai keinginan pribadi yang sudah berada dalam kondisi manunggal. Oleh karena itu, dalam sistem teologi Syekh Siti Jenar, sebenarnya tidak ada istilah “dimatikan” atau “dipulangkan”, baik oleh Allah atau oleh siapapun. Sebab dalam hal mati ini, sebenarnya tidak ada unsur tekan-menekan atau paksaan. Pintu kematian adalah sesuatu hal yang harus dijalani secara sukarela, ikhlas, dan harus diselami pengetahuannya, agar ia mengetahui kapan saatnya ia menghendaki kematiannya itu. Barulah jika seseorang memang tidak pernah mempersiapkan diri, dan tidak pernah mau mempelajari ilmu kematian, tanpa tau arahnya ke mana, dan tidak mengerti apa yang sedang dialami.

TUJUH BELAS
“…Betapa banyak nikmat hidup manfaatnya mati. Kenikmatan ini dijumpai dalam mati, mati yang sempurna teramat oleklah dia. Manusia sejati-sejatinya yang sudah meraih puncak ilmu. Tiada dia mati, hidup selamanya. Menyebutkan mati syirik, lantaran tak tersentuh lahat, hanya beralih tempatlah dia dengan memboyong kratonnya. Kenikmatan mati tak dapat dihitung…” “…Tersasar, tersesat, lagi terjerumus, menjadikan kecemasan, menyusahkan dalam patinya, justru bagi ilmu orang remeh…” (Babad Jaka Tingkir-Babad Pajang, hlm. 74).

Menurut penuturan Babad Jaka Tingkir, ungkapan mistik itu keluar dari ucapan darah Syekh Siti Jenar, setelah dipenggal kepalanya oleh Dewan Walisanga. Darah yang menyembur, jatuh ke tanah melukis kaligrafi la ilaaha illallah, dan mengeluarkan ucapan-ucapan mistik tersebut. Para wali dan masyarakat yang menyaksikannya terkejut campur bingung. Setelah beberapa saat, dari lisan kepala yang sudah dipenggal, keluar ucapan yang memerintahkan agar darah kembali ke jasadnya, demikian pula kepala menyatu dengan tubuh. Jelas bahwa kematian fisik tak mampu menyentuh Syekh Siti Jenar. Mati ada dalam hidup, hidup ada dalam mati.hidup selamanya tidak mati, kembali ke tujuan, langgeng selamanya. Setelah berpamitan dan mengucapkan salam kepada semua yang menyaksikan, Syekh Siti Jenar dengan diliputi oleh semerbak bau harum terbungkus cahaya gemerlapan yang menyorot ke atas, kemudian lenyap terserap ke dalam al-Ghaib, Dia Yang Sudah Dimuliakan. Iringan cahaya bersinar cemerlang, berkilau gemilang, berkobar menyala, menyuramkan sinar sang mentari, menyilaukan pandang semua orang yang menyaksikan.

Adapun pelaksanaan hukuman atas dirinya, oleh Syekh Siti Jenar sengaja dibiarkan terlaksana, guna memenuhi hukum duniawi, sekaligus sebagai monumen kebenaran ajarannya. Tanpa bukti yang dinampakkan secara dzahir, maka kebenaran ajaran Manunggaling Kawula-Gusti tidak akan pernah terwujud. Sebab pembuktian itu –sebagaimana sudah terjadi pada Mansur al-Hallaj, al-Syuhrawardi dan ‘Aynul Quddat al-Hamadani sebagai pendahulunya – memang menuntut jasad sang Guru sebagai martir atau syahid bagi kesufiannya. Dengan kemartirannya dan kesediannya sebagai syuhada’ bagi sufisme di Tanah Jawa itulah ia disebut sebagai Syekh Jatimurni, Guru Pemilik Inti Kesejatian atau Pusar Ilmu Kasampurnan.

AJARAN TENTANG PENERAPAN RUKUN IMAN, ISLAM DAN IHSAN

Materi Pokok Pengajaran Syekh Siti Jenar

DELAPAN BELAS
“…Kepada mereka, Siti Jenar pertama-tama mengajarkan akan asal usul kehidupan, kedua diberitahukan akan pintu kehidupan. Ketiga, tempat besok bila sudah hidup kekal abadi, keempat alam kematian yaitu yang sedang dijalani sekarang ini. Lagipula mereka diberitahu akan adanya Yang Maha Luhur…” (Serat Syaikh Siti Jenar Ki Sasrawijaya, Pupuh IV Sinom, 6-7).

Kepada pada muridnya, Syekh Siti Jenar mengajarkan ilmu ma’rifat secata bertahap, yang harus dikuasai oleh seseorang, jika ingin menjadi manusia sempurna (al-insan al-kamil), serta bagi yang ingin menempuh laku manunggal dengan Tuhan. (1) Pertama-tama Syekh Siti Jenar mengajarkan tentang asal-usul manusia [ngelmu sangkan-paran]; (2) Langkah berikutnya, ia mengajarkan masalah yang berkaitan dengan kehidupan, khususnya apa yang disebut sebagai pintu kehidupan; (3) Langkah ketiga Syekh Siti Jenar menunjukkan tempat manusia besok ketika sudah hidup kekal abadi; (4) Taham keempat, ia menunjukkan tempat alam kematian, yaitu yang sedang dialami dan dijalani manusia sekarang ini, di dunia ini, serta berbagai kiat cara menghadapinya; (5) Langkah terakhir Syekh Siti Jenar mengajarkan tentang adanya Tuhan Yang Maha Luhur yang menjadikan bumi dan angkasa, sebagai pelabuhan akhir bagi kemanunggalan dan keabadian.

Sasahidan: Intisari Ajaran Syekh Siti Jenar

SEMBILAN BELAS
“Insun anakseni ing Datingsun dhewe, satuhune ora ana Pangeran amung Ingsun, lan nakseni Ingsun satuhune Muhammad iku utusan Ingsun, iya sajatine kang aran Allah iku badan Ingsun, Rasul iku rahsaning-Sun, Muhammad iku cahyaning-Sun, iya Ingsun kang eling tan kena ing lali, iya Ingsun kan langgeng ora kena owah gingsir ing kahanan jati, iya Ingsun kang waskitha ora kasamaran ing sawiji-wiji, iya Ingsun kang amurba amisesa, kang kawasa wicaksana ora kukurangan ing pangerti, byar.. sampurna padhang terawang-an, ora karasa apa-apa, ora ana keton apa-apa, mung Insun kang nglimputi ing ngalam kabeh, kalawan kodrating-Sun.” (R. Ng. Ranggawarsita, WIRID Punika Serat Wirid Anyariyo-saken Wewejanganipun Wali VIII, Administrasi Jawi Kandha Surakarta, penerbit Albert Rusche & Co., Surakarta, 1908, hlm.15-16).

Terjemahan, “Aku angkat saksi di hadapan Dzat-Ku sendiri, sesungguhnya tidak ada Tuhan kecuali Aku, dan Aku angkat saksi sesungguhnya Muhammad itu utusan-Ku, sesungguhnya yg disebut Allah Ingsun diri sendiri (badan-Ku), Rasul itu Rahsa-Ku, Muhammad itu cahaya-Ku, Akulah Dzat yg hidup tidak akan terkena mati, Akulah Dzat yang selalu ingat tidak pernah lupa, Akulah Dzat yg kekal tidak ada perubahan dalam segala keadaan, (bagi-Ku) tidak ada yg samar sesuatupun, Akulah Dzat yang Maha Menguasai, yang Kuasa dan Bijaksana, tidak kekurangan dalam pengertian, sempurna terang benerang, tidak terasa apa-apa, tidak kelihatan apa-apa, hanya Aku yg meliputi sekalian alam dengan kodrat-Ku.”

Ajaran tersebut disebut sebagai ajaran atau wejangan Sasahidan Serat Wirid Hidayat Jati merupakan naskah paling terkenal hasil karya R. Ng. Ranggawarsita. Menurut R. Ng. Ranggawarsita, naskah tersebut merupakan wejangan wali ke-8. wali VIII yang dimaksud adalah Sunan Kajenar atau Syekh Siti Jenar. Ini sesuai dengan pernyataan Ranggawarsita sendiri dalam naskah tersebut pada halaman 5 dan 6, dimana wejangannya adalah Sasahidan atau Penyaksian. Oleh Ranggawarsita, Sunan Kajenar disebut sebagai wali dalam dua angkatan, yakni angkatan pertama di awal Kerajaan Demak dan angkatan dua, yakni pada masa akhir Kerajaan Demak. Melihat pernyataan ini, logis jika tahun wafatnya Syekh Siti Jenar ditetapkan pada tahun 1517, sebab setelah kekuasaan Raden Fatah usia Kerajaan Demak tidak berlangsung lama, disambung dengan Kerajaan Pajang.

Dari wejangan Sasahidan itu, nampaklah pengalaman spiritual dan keadaan kemanunggalan pada diri Syekh Siti Jenar terjadi dalam waktu yang lama, dan mendominasi keseluruhan wahana batin Syekh Siti Jenar. Nampak juga bahwa dalam intisari ajaran tersebut, konsistensi sikap batin dan sikap dzahir dari ajaran Syekh Siti Jenar. Jika ilmu tidak ada yang dirahasiakan dalam pengajaran, maka demikian pula pengalaman batin dari keagamaan juga tidak bisa disembunyikan. Dan pengalaman keagamaan yang terlahir tidak harus ditutup-tutupi walaupun dengan dalih dan selubung syari’at. Dan akhirnya dalam ajaran Sasahidan itulah, semua ajaran Syekh Siti Jenar tersimpul.

Kemanunggalan Ke-Iman-an

DUA PULUH
“Adapun manunggalnya keimanan, itu menjadi tempat berkumpulnya jauhar (mutiara) Muhammad, terdiri atas 15 perkara, seperti perincian di bawah ini:

a. Imannya imam, maksudnya adalah jangan ragu dan jangan mensekutukan, engkau adalah keberadaan Allah.

b. Imannya tokide (tauhid), maksudnya adalah jangan ragu dan jangan mensekutukan, engkau adalah panunggale (tempat manunggalnya) Allah.

c. Imannya syahadat, maksudnya adalah jangan ragu dan jangan mensekutukan, engkau adalah sifatullah (sifatnya Allah).

d. Imannya ma’rifat, maksudnya adalah jangan ragu dan jangan mensekutukan, engkau adalah kewaspadaan Allah.

e. Imannya shalat, maksudnya adalah jangan ragu dan jangan mensekutukan, engkau adalah menghadap Allah.

f. Imannya kehidupan, maksudnya adalah jangan ragu dan jangan mensekutukan, engkau adalah kehidupannya Allah.

g. Imannya takbir, maksudnya adalah jangan ragu dan jangan mensekutukan, engkau adalah kepunyaan keangungan Allah.

h. Imannya saderah, maksudnya adalah jangan ragu dan jangan mensekutukan, engkau adalah pertemuan Allah.

i. Imannya kematian, maksudnya adalah jangan ragu dan jangan mensekutukan, engkau adalah kesucian Allah.

j. Imannya junud, maksudnya adalah jangan ragu dan jangan mensekutukan, engkau adalah wadahnya Allah.

k. Imannya jinabat, maksudnya adalah jangan ragu dan jangan mensekutukan, engkau adalah kawimbuhaning (bertambahnya ni’mat dan anugerah) Allah.

l. Imannya wudlu, maksudnya adalah jangan ragu dan jangan mensekutukan, engkau adalah asma (Nama) Allah.

m.Imannya kalam (perkataan), maksudnya adalah jangan ragu dan jangan mensekutukan, engkau adalah ucapan Allah.

n. Imannya akal, maksudnya adalah jangan ragu dan jangan mensekutukan, engkau adalah juru bicara Allah.

o. Imannya nur, maksudnya adalah jangan ragu dan jangan mensekutukan, engkau adalah wujudullah, yaitu tempat berkumpulnya seluruh jagat (makrokosmos), dunia akhirat, surga neraka, ‘arsy kursi, loh kalam (lauh al-kalam), bumi langit, manusia, jin, belis (iblis) laknat, malaikat, nabi, wali, orang mukmin, nyawa semua, itu berkumpul di pucuknya jantung yang disebut alam kiyal (‘alam al-khayal), maksudnya adalah angan-angannya Tuhan, itulah yang agung yang disebut alam barzakh, yang dimaksudnya adalah pamoring gusti kawula, yang disebut alam mitsal, yang dimaksudnya adalah awal pengetahuan, yaitu kesucian dzat sifat asma af’al, yang disebut alam arwah, maksudnya berkumpulnya nyawa yang adalah dipenuhi sifat kamal jamal.” (Wedha Mantra, hlm. 54-55).

Ajaran tersebut terkenal dengan sebutan panunggaling iman. Dari aplikasi iman dalam bentuk keimanan Manunggaling Kawula-Gusti tersebut tampak, bahwa fungsi manusia sebagai khalifatullah (wakil real Allah) di muka bumi betul-betul nyata. Manusia adalah cermin dan pancaran wujud Allah, dengan fungsi iradah dan kodrat yang berimbang. Semua bentuk syari’at agama ternyata memiliki wujud implementasi bagi tekad hatinya, sekaligus ditampakkan melalui tingkah lahiriyahnya.

Jelas sudah bahwa dalam sistem sufisme Imannya kehidupan, maksudnya adalah jangan ragu dan jangan mensekutukan, engkau adalah kehidupannya Allah, ajaran “langit” Allah berhasil “dibumikan” oleh Imannya kehidupan, maksudnya adalah jangan ragu dan jangan mensekutukan, engkau adalah kehidupannya Allah. Melalui doktrin utama Manunggaling Kawula-Gusti. Manusia diajak untuk membuktikan keberadaan Allah secara langsung, bukan hanya memahami “keberadaan” dari sisi nalar-pikir (ilmu) dan rasa sentimen makhluk (perasaan yang dipaksa dengan doktrin surga dan neraka). Imannya kehidupan, maksudnya adalah jangan ragu dan jangan mensekutukan, engkau adalah kehidupannya Allah. Mengajarkan dan mengajak manusia bersama-sama “merasakan” Allah dalam diri pribadi masing-masing.

DUA PULUH SATU
Adapun yang menjadi maksud:

a. Iman, adalah pangandeling (pusaka andalan), roh.

b. Tokid (tauhid), panunggale (saudara tak terpisah, tempat manunggal) roh.

c. Ma’rifat, penglihatan roh.

d. Kalbu, penerimaan (antena penerima) roh.

e. Akal, pembicaraannya roh.

f. Niat, pakaremaning roh.

g. Shalat, menghadapnya roh.

h. Syahadat, keadaan roh.” (Wedha Mantra, hlm. 54).

Pernyataan Syekh Siti Jenar tersebut mempertegas maksud Manunggalnya Iman di atas. Di dalam hal ini, Syekh Siti Jenar menjelaskan maksud dari masing-masing doktrin pokok tauhid dan fiqih ketika dikaitkan dengan spiritual. Iman, tauhid, ma’rifat, qalbu, dan akal adalah doktrin pokok dalam wilayah tauhid; dan niat, shalat serta syahadat adalah doktrin pokok fiqih. Oleh Syekh Siti Jenar semua itu sirangkai menjadi bentuk perbuatan roh manusia, sehingga masing-masing memiliki peran dan fungsi yang dapat menggerakkan seluruh kepribadian manusia, lahir dan batin, roh dan jasadnya. Itulah makna keimanan yang sesungguhnya. Sebab rukun iman, rukun Islam dan ihsan pada hakikatnya adalah suatu kesatuan yang utuh yang membentuk kepribadian illahiyah pada kedirian manusia.

DUA PULUH DUA
“Yang disebut kodrat itu yang berkuasa, tiada yang mirip atau yang menyamai. Kekuasaannya tanpa piranti, keadaan wujudnya tidak ada baik luar maupun dalam merupakan kesantrian yang beraneka ragam. Iradatnya artinya kehendak yang tiada membicarakan, ilmu untuk mengetahui keadaan, yang lepas jauh dari pancaindera bagaikan anak gumpitan lepas tertiup.” (Serat Syaikh Siti Jenar Ki Sasrawijaya, Pupuh III Dandangula, 31).

Bagi Syekh Siti Jenar, kodrat dan iradat bukanlah hal yang terpisah dari manusia, dan bukan mutlak milik Allah. Kodrat dan iradat menurut Syekh Siti Jenar terkait erat dengan eksistensi sang Pribadi (manusia). Pribadi adalah eksistensi roh. Maka jika roh adalah pancaran cahaya-Nya, pribadi adalah tajalli-Nya, penjelmaan Diri-Nya. Pribadi adalah Allah yang menyejarah. Maka Syekh Siti Jenar mengemukakan bahwa dirinya adalah sang pemilik dua puluh sifat ketuhanan. Oleh karena itu kodrat merupakan kuasa pribadi, sifat yang melekat pada pribadi sejak zaman azali dan itu langgeng. Demikian pula adanya iradat, kehendak atau keinginan.

Antara karsa, keinginan dan kuasa, adalah hal yang selalu berkelindan bagi wujud keduanya. Tentu menyangkut kehendak, setiap pribadi memiliki karsa yang mandiri dan yang berhak merumuskan hanyalah “perundingan” antara pemilik iradah dengan Yang Maha Memiliki Iradah. Kemudian untuk mewujudkan rasa cipta itu, perlu juga pelimpahan kodrat Allah pada manusia. Untuk itu semua, Syekh Siti Jenar mendidik manusia untuk mengetahui Yang Maha Kuasa, dan mengetahui letak pintu kehidupan serta kematian. Tujuannya jelas, agar manusia menjadi Pribadi Sejati, pemilik iradah dan kodrat bagi dirinya sendiri.

Syahadat

DUA PULUH TIGA
“Inilah maksud syahadat: ‘Ashadu;jatuhnya rasa, ilaha;kesejatian rasa, illallah; bertemu rasa. Muhammad hasil karya yang maujud, Pangeran; kesejatian kehidupan.”

Dalam hal syahadat ini, Syekh Siti Jenar mengajarkan berbagai macam syahadat dan hal itu selaras dengan konsep utama ajarannya, manunggaling kawula-Gusti, serta tetap di atas fondasi ajaran shalat daim. Syahadat dalam hal ini, adalah menjadi keadaan roh, bukan sekedar ucapan lisan, dan hasil pengolahan nalar-pikiran, atau bisikan hati. Susunan kalimat syahadat adalah campuran bahasa Arab dan bahasa Jawa. Hal ini menjadi kebiasaan Syekh Siti Jenar dalam mengajarkan ajaran-ajarannya, sehingga dengan mudah dan gamblang murid serta pengikutnya mampu memahami dan mengamalkan ajaran tersebut, tanpa kesulitan akibat kendala bahasa.

Beberapa wali di Jawa, selain Syekh Siti Jenar juga memiliki dan mengajarkan syahadat. Misalnya syahadat Sunan Giri, “Bismillahirrahmanirrahim, syahadat kencana sinarawedi, sahadu minangka kencana sinarawedi, dzat sukma kang ginawa mati, kurungan mas ilang tanpa kerana, sira muliha maring kubur.” Syahadat Sunan Bonang, “Bismillahirrahmanirrahim, syahadat kencana, linggih ing maligi mas, ulir sjroh-ning geni muskala, ilang ing kawulat aja kari, ya hu ya hu ya hu, sirna kurungan tanpa kerana.” Dan syahadat Sunan Kalijaga, “Bismillahirrahmanirrahim, syahadat kencana, kurungan mas, kuliting jati sajatining sukma, ginawa mati, sirna tan ana kari, sukma ilang jiwa ilang, kang lunga padha rupane, dap lap ilang,” (Wejangan Walisanga, hlm. 50).

Dibawah ini adalah aplikasi syahadat menurut Syekh Siti Jenar. Sebagian syahadat yang ada merupakan dzikir dan wirid ketika Syekh Siti Jenar mengajarkan cara melepaskan air kehidupan (tirta nirmaya) untuk membuka pintu kematian menuju kehidupan sejati di alam akhirat. Syahadat-syahadat sejenis juga diajarkan oleh Ki Ageng Pengging kepada Sunan Kudus, sebelum wafatnya.

Jatunya rasa (tibaning rasa) maksudnya adalah meresapnya Allah dalam kehendak dan kedalaman jiwa. Ini kemudian dipupuk dengan laku spiritual yang melahirkan sajatining rasa (kesejatian rasa), di mana ruang keseluruhan jiwa telah terdominasi oleh al-Haqq (Allah). Kemudian lahirlah ungkapan illallah sebagai puncak, yakni pertemuan rasa, manunggalnya yang mengungkapkan “asyhadu” dengan sarana ungkapan, yakni Allah. Kemanunggalan ini memunculkan tenaga dan energi kreativitas positif, dalam bentuk karya yang berbentuk nyata, bermanfaat dan berdaya guna, serta bersifat langgeng, yang diidentifikasikan dengan sebutan Muhammad (Yang Memiliki Segala Keterpujian) sebagai perwujudan riil dari sang Wajib al-Wujud. Maka diri manusia sebagai ”Pangeran” (Tuhan) itulah yang perupakan kesejatian hidup atau kehidupan. Syahadat dalam sistem ajaran Syekh Siti Jenar bukanlah hanya sekedar bentuk pengakuan lisan yang berupa syahadat tauhid dan syahadat rasul. Namun syahadat adalah persaksian batin, yang teraplikasi dalam tindakan dzahir sebagai wujud kemanunggalan kawula-Gusti. Dengan demikian syahadat mampu melahirkan karya-karya yang bermanfaat.

DUA PULUH EMPAT
“Mengertilah, bahwa sesungguhnya ini syahadat sakarat, jika tidak tau maka sekaratnya masih mendapatkan halangan, hidupnya dan matinya hanya seperti hewan. Lafalnya mengucapkan adalah : “Syahadat Sakarat Sajati, iya Syahadat Sakarat, wus gumanang waluya jati sirne eling mulya maring tunggal, waluya jati iya sajatining rasa, lan dzat sajatining dzat pesthi anane langgeng tan kenaning owah, dzat sakarat roh madhep ati muji matring nyawa, tansah neng dzatullah, kurungan mas melesat, eling raga tan rusak sukma mulya Maha Suci.” (Mantra Wedha, bab 205, hlm. 53).

(Syahadat Sakarat Sejati adalah Syahadat Sakarat [Menjelang dan proses datangnya pintu kematian], sudah nyata penuh kesempatan hilangnya ingatan kemuliaan kepada yang tunggal, keselamatan dan kesentosaan itu adalah sejatinya kehidupan, tunggal sejatinya hidup, hidup sejatinya rasa dan sejatinya rasa dan dzat sejatinya dzat pasti dalam keberadaan kelanggengan tidak terkena perubahan, dzat sekarat roh menghadap hati memuji nyawa, selalu berada dalam dzatullah, sangkar mas hilang, mengingat raga tidak terkena kerusakan sukma mulia Maha Suci).

Syahadat Sakarat adalah syahadat atau persaksian menjelang kematian. Sebagaimana diketahui, bahwa salah satu ajaran Syekh Siti Jenar adalah kemampuan memadukan iradah dan qudrat diri dengan iradah dan qudrat Ilahi, sebagai efek kemanunggalan. Sehingga apa yang menjadi ilmu Allah, maka itu adalah ilmu diri manusia yang manunggal. Maka orang yang sudah meninggal mencapai al-Insan al-Kamil, juga mengetahui kapan saatnya dia meninggalkan alam kematian di dunia ini, menuju alam kehidupan sejati di akhirat, untuk menyatu selamanya dengan Allah. Syahadat sekarat yang terpapar di atas, adalah syahadat sakarat yang bersifat umum, sebab nanti masih ada beberapa syahadat. Semua syahadat yang diajarkan Syekh Siti Jenar menjadi lafal harian atau dzikir, terutama saat menjelang tidur, agar dalam kondisi tidur juga tetap berada dalam kondisi kemanunggalan iradah dan qodrat. Namun syahadat-syahadat yang ada tidak hanya sekedar ucapan, sebab saat pengucapan harus disertai dengan laku (meditasi) dan paling tidak mengheningkan daya cipta, rasa dan karsa, sehingga lafal-lafal yang berupa syahadat tersebut, menyelusup jauh ke dalam diri atau dalam sukma.

DUA PULUH LIMA
“Syahadat Allah, Allah, Allah lebur badan, dadi nyawa, lebur nyawa dadi cahya, lebur cahya dadi idhafi, lebur idhafi dadi rasa, lebur rasa dadi sirna mulih maring sajati, kari amungguh Allah kewala kang langgeng tan kena pati.” (syahadat Allah, Allah, Allah badan lebur menjadi (roh) idhafi, (roh) idhafi lebur menjadi rasa, rasa lebur sirna kembali kepada yang sejati, tinggallah hanya Allah semata yang abadi tidak terkena kematian). [Mantra Wedha, hlm. 53).

Syahadat paleburan diucapkan ketika (menjalani keheningan = samadhi), menyatukan diri kepada Allah. Lafal tersebut lahir dari pengalaman Syekh Siti Jenar ketika memasuki relung-relung kemanunggalan, di mana jasad fisiknya ditinggalkan rohnya, sesudah semua nafs dalam dirinya mengalami kasyaf.

DUA PULUH ENAM
“Ashadu-ananingsun, la ilaha rupaningsun, illallah – Pangeransun, satuhune ora ana Pangeran angging Ingsun, kang badan nyawa kabeh” (ashadu-keberadaanku, la ilaha – bentuk wajahku, illallah – Tuhanku, sesungguhnya tidak ada Tuhan selain Aku, yaitu badan dan nyawa seluruhnya).

Inilah yang disebut Syahadat Sajati. Pengakuan sejati ini adalah ungkapan yang sebenarnya bersifat biasa-biasa saja, di mana ungkapan tersebut lahir dari hati dan rohnya, sehingga dari ungkapan yang ada dapat diketahui sampai di mana tingkatan tauhidnya (tauhid dalam arti pengenalan akan ke-Esaan Allah), bukan sekedar pengenalan akan nama-nama Allah.

DUA PULUH TUJUH
“Sakarat pujine pati, maksude napas pamijile napas, kaketek meneng-meneng, iya iku sing ameneng, pati sukma badan, mulya sukma sampurna, mulih maring dzatullah, Allah kang bangsa iman, iman kang bangsa nur, nur kang bangsa Rasulullah, iya shalat albar, Muhammad takbirku, Allah Pangucapku, shalat jati asembahyang kalawan Allah, ora ana Allah, ora ana Pangeran, amung iku kawula tunggal, kang agung kang kinasihan.” (mantra Wedha, hlm. 53).

“Sekarat ku kemuliaan kematian, maksudnya adalah napas munculnya napas, yang hilang berangsur-angsur secara diam-diam, yaitu yang kemudian diam, kematian sebagai sukma badan-wadag, kemuliaan sukma kesempurnaan, kembali kepada dzatullah, Allah sebagai labuhan iman, iman yang berbentuk cahaya, cahaya yang berwujud Rasulullah, yaitu adalah shalat yang agung, Muhammad sebagai takbirku, Allah sebagai ucapanku, shalat sejati menyembah Allah, tidak ada Allah tidak ada Tuhan, hanyalah aku (kawula) yang tunggal saja, yang agung dan dikasihi.”

Ini adalah Syahadat Sakarat Permulaan Kematian. Ketika seseorang sudah melihat akhir hayatnya, maka orang tersebut diajarkan untuk memperbanyak melafalkan dan mengamalkan “syahadat sakarat wiwitane pati” ini.

DUA PULU DELAPAN
“Ashadu ananingsun, anuduhake marga kang padhang, kang urip tan kenaning pati, mulya tan kawoworan, elinge tan kena lali, iya rasa iya rasulullah, sirna manjing sarira ening, sirna wening tunggal idhep jumeneng langgeng amisesa budine, angen-angene tansah amadhep ing Pangeran.” (mantra Wedha, hlm. 54).

(Ashadu keberadaanku, yang menunjukkan jalan yang terang, yang hidup tidak terkena kematian, yang mulia tanpa kehinaan, kesadaran yang tidak terkena kematian, yang mulia tanpa kehinaan, kesadaran yang tidak terkena lupa, itulah rasa yang tidak lain adalah Rasulullah, selesailah berada di alam terang, itulah hakikat Rasulullah, hilang musnah ketempat wujud yang hening, hilang keheningan menyatu-tunggal menempati secara abadi memelihara budi, angan-angan selalu menghadap Tuhan).

Syahadat Sekarat Hati pada hakikatnya adalah syahadat Nur Muhammad. Suatu penyaksian bahwa kedirian manusia adalah bagian dari Nur Muhammad. Dari inti syahadat ini, jelas bahwa kematian manusia bukanlah jenis kematian pasif, atau kematian negatif, dalam arti kematian yang bersifat memusnahkan. Kematian dalam pandangan sufisme Syekh Siti Jenar hanya sebagai gerbang menuju kemanunggalan, dan itu harus memasuki alam Nur Muhammad. Bentuk konkretnya, dalam pengalaman kematian itu, orang tersebut tidaklah kehilangan akan kesadaran manunggal-Nya. Ia melanglang buana menuju asal muasal hidup. Oleh karenanya keadaan kematiannya bukanlah suatu kehinaan sebagaimana kematian makhluk selain manusia. Di sinilah arti penting adanya syafa’at sang Utusan (Rasulullah) dalam bentuk Nur Muhammad atau hakikat Muhammad. Nur Muhammad adalah roh kesadaran bagi tiap Pribadi dalam menuju kemanunggalannya. Sehingga dengan Nur Muhammad itulah maka pengalaman kematian oleh manusia, bagi Syekh Siti Jenar bukan sejenis kematian yang pasif, atau kematian yang negatif, dalam arti kematian dalam bentuk kemusnahan sebagaimana yang terjadi terhadap hewan.

Kematian itu adalah sesuatu aktivitas yang aktif. Sebab ia hanyalah pintu menuju keadaan manunggal. Dalam ajaran Syekh Siti Jenar yang diperuntukkan bagi kaum ‘awam (orang yang belum mampu mengalami Manunggaling Kawula-Gusti secara sempurna) di atas, nampak bahwa dalam kematian itu, seseorang tetap tidak kehilangan kesadaran kemanunggalannya. Dengan hakikat Muhammadnya ia tetap sadar dalam pengalaman kematian itu, bahwa ia sedang menempuh salah satu lorong manunggal. Melalui lorong itulah kediriannya menuju persatuan dengan Sang Tunggal. Kematian manusia adalah proses aktif sang al-Hayyu (Yang Maha Hidup), sehingga hanya dengan pintu yang dinamakan kematian itulah, manusia menuju kehidupan yang sejati, urip kang tan kena pati, hidup yang tidak terkena kematian.

DUA PULUH SEMBILAN
“Syahadat Panetep panatagama, kang jumeneng roh idlafi, kang ana telenging ati, kang dadi pancere urip, kang dadi lajere Allah, madhep marang Allah, iku wayanganku roh Muhammad, iya, iku sajatining manusia, iya iku kang wujud sampurna. Allahumma kun walikun, jukat astana Allah, pankafatullah ya hu Allah, Muhammad Rasulullah.” (mantra Wedha, hlm. 54).

(Syahadat Penetap Panatagama, yang menempati roh idlafi, yang ada di kedalaman hati, yang menjadi sumbernya kehidupan, yang menjadi bertempatnya Allah, menghadap kepada Allah, bayanganku adalah roh Muhammad, yaitu sejatinya manusia, yaitu wujudnya yang sempurna. Allahumma kun walikun jukat astana Allah, pankafatullah ya hu Allah, Muhammad Rasulullah).

Syahadat ini adalah sejenis syahadat netral, yakni yang memiliki fungsi dan esensi yang umum. Pengucapannya tidak berhubungan dengan waktu, tempat, dan keadaan tertentu sebagaimana syahadat yang lain. Hakikat syahadat ini hanyalah berfungsi untuk meneguhkan hati akan tauhid al-wujud.

TIGA PULUH
“Ini adalah syahadat sakaratnya roh (pecating nyawa), yang meliputi empat perkara :

1. Ketika roh keluar dari jasad, yakni ketika roh ditarik sampai pada pusar, maka bacaan syahadatnya adalah, “la ilaha illalah, Muhammad rasulullah.”

2. Kemudian, ketika roh ditarik dari pusar sampai ke hati, syahadat rohnya adalah “la ilaha illa Anta”.

3. Kemudian roh ditarik sampai otak, maka syahadatnya “la ilaha illa Huwa”.

4. Maka kemudian roh ditarik dengan halus. Saat itu sudah tidak mengetahui jalannya keluar roh dalam proses sekarat lebih lanjut. Sekaratnya manusia itu sangat banyak sakitnya, seakan-akan hidupnya sekejap mata, sakitnya sepuluh tahun. Dalam keadaan seperti itulah manusia kena cobaan setan, sehingga kebanyakkan kelihatan bahwa kalau tidak melihat jalan keluarnya roh menjadi lama dalam proses sekaratnya. Jika rohnya tetap mendominasi kesadarannya, tidak kalah oleh sifat setan, maka syahadatnya roh adalah “la ilaha illa Ana”. (Mantra Wedha, bab 211, hlm. 57).

Ajaran tentang syahadat pecating nyawa tersebut diberikan oleh Syekh Siti Jenar bagi orang yang belum mampu menempuh laku manusia manunggal, sehingga diperlukan prasyarat lahiriyah yang berupa syahadat pecating nyawa tersebut. Bagi yang sudah mampu menempuh laku manunggal, maka prosesnya seperti yang dilakukan Syekh Siti Jenar, kematian bukan masalah kapan ajalnya datang, juga bukan masalah waktu. Kematian termasuk dalam salah satu agenda manunggalnya iradah dan qudrat kawula Gusti dan sebaliknya.

Kalau diperhatikan secara seksama, ajaran Syekh Siti Jenar yang dikhususkan bagi kalangan ‘awam (yang tidak mampu mengalami Manunggaling Kawula Gusti secara sempurna) tersebut hampir sama dengan ajaran Syuhrawardi.

Shalat (tarek dan Daim)

Syekh Siti Jenar mengajarkan dua macam bentuk shalat, yang disebut shalat tarek dan shalat daim. Shalat tarek adalah shalat thariqah, diatas sedikit dari syari’at. Shalat tarek diperuntukkan bagi orang yang belum mampu untuk sampai pada tingkatan Manunggaling Kawula Gusti, sedang shalat daim merupakan shalat yang tiada putus sebagai efek dari kemanunggalannya. Sehingga shalat daim merupakan hasil dari pengalaman batin atau pengalaman spiritual. Ketika seseorang belum sanggup melakukan hal itu, karena masih adanya hijab batin, maka yang harus dilakukan adalah shalat tarek. Shalat tarek masih terbatas dengan adanya lima waktu shalat, sedang shalat daim adalah shalat yang tiada putus sepanjang hayat, teraplikasi dalam keseluruhan tindakan keseharian ( penambahan, mungkin efeknya adalah berbentuk suci hati, suci ucap, suci pikiran ); pemaduan hati, nalar, dan tindakan ragawi.

Kata “tarek” berasal dari kata Arab “tarki” atau “tarakki” yang memiliki arti pemisahan. Namun maksud lebih mendalam adalah terpisahnya jiwa dari dunia, yang disusul dengan tanazzul (manjing)-nya al-Illahiyah dalam jiwa. Shalat tarek yang dimaksud di sini adalah shalat yang dilakukan untuk dapat melepaskan diri dari alam kematian dunia, menuju kemanunggalan. Sehingga menurut Syekh Siti Jenar, shalat yang hanya sekedar melaksanakan perintah syari’at adalah tindakan kebohongan, dan merupakan kedurjanaan budi.

Pengambilan shalat tarek ini berasal dari Kitab Wedha Mantra bab 221; Shalat Tarek Limang Wektu. (Sang Indrajit: 1979, hlm. 63-66).

Keterangan bagi yang mengamalkan ilmu shalat tarek lima waktu ini.
(Semua hal yang berkaitan dengan shalat tarek ini diterjemahkan dengan apa adanya dari Kitab Wedha Mantra. Makna terjemahan yang bertanda kutip hanyalah arti untuk memudahkan pemahaman. Adapun maksud dan substansi yang ada dalam kalimat-kalimat asli dalam bahasa Jawa-Kawi, lebih mendalam dan luas dari pemahaman dan terjemahan diatas.(penulisnya wanti-wanti banget). Pelaksanaan shalat tarek bisa saja diamalkan bersamaan dengan shalat syari’at sebagaimana biasa, bisa juga dilaksanakan secara terpisah. Hanya saja terdapat perbedaan dalam hal wudlunya. Jika dalam shalat syari’at, anggota wudhu yang harus dibasuh adalah wajah, tangan, sebagian kepala, dan kaki, sementara dalam shalat tarek adalah di samping tempat-tempat tersebut, harus juga membasuh seluruh rambut, tempat-tempat pelipatan anggota tubuh, pusar, dada, jari manis, telinga, jidat, ubun-ubun, serta pusar tumbuhnya rambut (Jawa; unyeng-unyengan). Walhasil wudlu untuk shalat tarek sama halnya dengan mandi besar (junub/jinabat).

Bahwa kematian orang yang menerapkan ilmu ini masih terhenti pada keduniaan, akan tetapi sudah mendapatkan balasan surga sendiri. Maka paling tidak ujaran-ujaran shalat tarek ini hendaknya dihafalkan, jangan sampai tidak, agar memperoleh kesempurnaan kematian.
Bagi yang akan membuktikan, siapa saja yang sudah melaksanakan ilmu ini, dapat saja dibuktikan. Ketika kematian jasadnya didudukkan di daratan (di atas tanah), di kain kafan serta diberi kain lurub (penutup) serta selalu ditunggu, kalau sudah mendapatkan dan sampai tujuh hari, bisa dibuka, niscaya tidak akan membusuk, (bahkan kalau iradah dan qudrahnya sudah menyatu dengan Gusti), jasad dalam kafan tersebut sudah sirna. Kalau dikubur dengan posisi didudukkan, maka setelah mendapat tujuh hari bisa digali kuburnya, niscaya jasadnya sudah sirna, dan yang dikatakan bahwa sudah menjadi manusia sempurna. Maka karena itu, orang yang menerapkan ilmu ini, sudah menjadi manusia sejati.

Sedangkan tentang ilmu ini, bukanlah manusia yang mengajarkan, cara mendapatkannya adalah hasil dari laku-prihatin, berada di dalam khalwat (meditasi, mengheningkan cipta, menyatu karsa dengan Tuhan sebagaimana diajarkan Syekh Siti Jenar).

Tentang anjuran untuk pembuktian di atas, sebenarnya tidak diperlukan, sebab yang terpenting adalah penerapan pada diri kita masing-masing. Justru pembuktian paling efektif adalah jika kita sudah mengaplikasikan ilmu tersebut. Apalagi pembuktian seperti itu jika dilaksanakan akan memancing kehebohan, sebagaimana terjadi dalam kasus kematian Syekh Siti Jenar serta para muridnya.

TIPULUH SATU
Shalat Subuh

Niat yang paling awal, “Niyatingsun shalat, roh Kudus kang shalat, iya iku rohing Allah. Allah iku lungguh ana ing paningal, shalat iku sajrone shalat ana gusti, sajroning gusti ana sukma, sajroning sukma ana nyawa, sajroning nyawa ana urip, sajro-ning urip ana eling, pardhu ta’ala Allahu akbar, tetep mantep weruh ing awakku.”

(Aku berniat shalat, roh Kudus yang melaksanakan shalat, yaitulah rohnya Allah. Allah yang menempati penglihatan, shalat yang di dalam shalat itu ada gusti, di dalam gusti ada sukma, di dalam sukma ada nyawa, di dalam nyawa terdapat kehidupan, di dalam kehidupan terdapat kesadaran menyeluruh, kewajiban dari Allah ta’ala, Allahu akbar tetap mantap mengerti akan diriku sendiri).

Malaikatnya adalah Haruman (malaikat Rumman), memujinya dengan “Ya Hu, Ya Hu.” Seratus kali.

Niatnya, “Niyatingsun shalat, sirku kang shalat, pardlu ta’ala Allahu akbar, tetep madhep langgeng weruh ing sirku.”

(Aku berniat shalat, sir [rahasia]-ku yang shalat, wajib dari Allah ta’ala, Allahu akbar, tetap menghadap dengan abadi mengerti akan sir [rahasia]-ku).

Malaikatnya Haruman, pepujiannya, “Ya Hu, Ya Hu.” Seratus kali.

Kemudian memuji; “ya Rajamu, ya Rajaku.” (Arab; Ya maliku al-Mulku). Seratus kali.

Dilanjutkan, “Sirrullah, darajatullah, sifatullah”. Seratus kali.

Dilanjutkan lagi, “Lah giri-giri Allah, sir jumeneng Allah, nur gumulung, gumulung agawe jagat,” (Sungguh puncak dari segala puncak adalah Allah, rahasia tempat berdiam Allah, cahaya tergulung, tergulung membuat semesta). Seratus kali.

Kemudian berdzikir, “Lah wes kena Pangeranku, lah wes kena ing Allahku.” (Sungguh sudah kena Tuhanku, sungguh pasti sudah kena pada Allahku).Seratus kali.

Dilanjutkan dengan dzikir, “Lah wes kena Pangeranku, lah wes nyata ing Allahku”, (Sungguh sudah kena Tuhanku, sungguh sudah nyata pada Allahku), Seratus kali.

TIGA PULUH DUA
Shalat Luhur

Niat yang paling awal, “Niyatingsun shalat, roh idlafi kang shalat, iya iku rohing Pangeran. Pangeran iku lungguhe ana ing kaketek, shalat iku sajroning sukma, sajroning sukma ana nyawa, sajroning nyawa ana urip, sajroning urip ana eling, pardhu ta’ala Allahu akbar, tetep mantep weruh ing Pangeranku.” (Aku berniat shalat, roh Idlafi yang melaksanakan shalat, yaitulah rohnya Tuhan. Tuhan yang menempati ketiak, shalat yang di dalam sahalat itu ada gusti, didalam gusti terdapat sukma, di dalam sukma terkandung nyawa, di dalam nyawa adanya kehidupan, di dalam kehidupan terdapat kesadaran menyeluruh, kewajiban dari Allah ta’ala, Allahu akbar, tetap mantap mengerti akan Tuhanku). Malaikatnya adalah Jabarail (malaikat Jibril), memujinya dengan, “Ya Hu, Ya Hu.” Seratus kali.

Niatnya, “Niyatingsun shalat, kang shalat osikku, pardlu ta’ala Allahu akbar, tetep mantep madhep langgeng weruh ing osikku.” (Aku berniat shalat, yang shalat bisikan dan gerak hatiku, wajib dari Allah ta’ala, Allahu akbar, tetap mantap menghadap dengan abadi mengerti akan bisikan nuraniku).
Malaikatnya Jabarail, pepujiannya, “Ya Hu, Ya Hu.” Seratus kali.

Kemudian memuji; “Ya Rajamu, ya rajaku.” (Arab; Ya Maliku al-Mulku). Seratus kali.

Dilanjutkan, “Sirrullah, darajatullah, sifatullah”. Seratus kali.

Dilanjutkan lagi, “Lah giri-giri Allah, sir jeneng, sir jumeneng Allah, nur gumulung, gumulung agawe jagat,” (Sungguh puncak dari segala puncak adalah Allah, rahasia tempat berdiam Allah, cahaya tergulung, tergulung membuat semesta). Seratus kali.

Kemudian berdzikir, “Lah wes kena Pangeranku, lah wes kena ing Allahku.”

(Sungguh sudah kena Tuhanku, sungguh pasti sudah kena pada Allahku).Seratus kali.

Dilanjutkan dengan dzikir, “Lah wes kena Pangeranku, lah wes nyata ing Allahku”,
(Sungguh sudah kena Tuhanku, sungguh sudah nyata pada Allahku), Seratus kali.

TIGA PULUH TIGA
Shalat ‘Ashar

Niat yang paling awal, “Niyatingsun shalat, roh Abadi kang shalat, iya iku rohing Rasul. Rasul iku lungguhe ana ing poking ilat, shalat iku sajroning sukma, sajroning sukma ana nyawa, sajroning nyawa ana urip, sajroning urip ana eling, pardhu ta’ala Allahu akbar, tetep mantep weruh ing Rasulku.”

(Aku berniat shalat, roh keabadian yang melaksanakan shalat, yaitulah rohnya Utusan. Utusan Tuhan yang menempati ujung lidah, shalat yang di dalam sahalat itu ada gusti, didalam gusti terdapat sukma, di dalam sukma terkandung nyawa, di dalam nyawa adanya kehidupan, di dalam kehidupan terdapat kesadaran menyeluruh, kewajiban dari Allah ta’ala, Allahu akbar, tetap mantap mengerti akan Utusanku).

Malaikatnya adalah Mikail, memujinya dengan, “Ya Hu, Ya Hu.” Seratus kali.

Niatnya, “Niyatingsun shalat, angen-angenku kang shalat, pardlu ta’ala Allahu akbar, tetep mantep madhep langgeng weruh ing angen-angenku.”

(Aku berniat shalat, angan-anganku yang shalat, wajib dari Allah ta’ala, Allahu akbar, tetap mantap menghadap dengan abadi mengerti akan angan-anganku).

Malaikatnya Mikail, pepujiannya, “Ya Hu, Ya Hu.” Seratus kali.

Kemudian memuji; “Ya Rajamu, ya rajaku.” (Arab; Ya Maliku al-Mulku). Seratus kali.

Dilanjutkan, “Sirrullah, darajatullah, sifatullah”. Seratus kali.

Dilanjutkan lagi, “Lah giri-giri Allah, sir jeneng, sir jumeneng Allah, nur gumulung, gumulung agawe jagat,” (Sungguh puncak dari segala puncak adalah Allah, rahasia tempat berdiam Allah, cahaya tergulung, tergulung membuat semesta). Seratus kali.

Kemudian berdzikir, “Lah wes kena Pangeranku, lah wes kena ing Allahku.” (Sungguh sudah kena Tuhanku, sungguh pasti sudah kena pada Allahku).Seratus kali.

Dilanjutkan dengan dzikir, “Lah wes kena Pangeranku, lah wes nyata ing Allahku”, (Sungguh sudah kena Tuhanku, sungguh sudah nyata pada Allahku), Seratus kali.

TIGA PULUH EMPAT
Shalat Maghrib

Niat yang paling awal, “Niyatingsun shalat, rokhani kang shalat, iya iku rohing Muhammad. Muhammad iku lungguhe ana ing talingan, shalat iku sajroning sukma, sajroning sukma ana nyawa, sajroning nyawa ana urip, sajroning urip ana eling, pardhu ta’ala Allahu akbar, tetep mantep weruh ing Muhammadku.”

(Aku berniat shalat, rohani yang melaksanakan shalat, yaitulah rohnya Muhammad. Muhammad yang menempati ujung telinga, shalat yang di dalam sahalat itu ada gusti, didalam gusti terdapat sukma, di dalam sukma terkandung nyawa, di dalam nyawa adanya kehidupan, di dalam kehidupan terdapat kesadaran menyeluruh, kewajiban dari Allah ta’ala, Allahu akbar, tetap mantap mengerti akan Muhammadku).

Malaikatnya adalah Israfil, memujinya dengan, “Ya Hu, Ya Hu.” Seratus kali.

Niatnya, “Niyatingsun shalat, tekadku kang shalat, pardlu ta’ala Allahu akbar, tetep mantep madhep langgeng weruh ing tekadku.”

(Aku berniat shalat, tekadku yang shalat, wajib dari Allah ta’ala, Allahu akbar, tetap mantap menghadap dengan abadi mengerti akan tekadku).

Malaikatnya Israfil, pepujiannya, “Ya Hu, Ya Hu.” Seratus kali.

Kemudian memuji; “Ya Rajamu, ya rajaku.” (Arab; Ya Maliku al-Mulku). Seratus kali.

Dilanjutkan, “Sirrullah, darajatullah, sifatullah”. Seratus kali.

Dilanjutkan lagi, “Lah giri-giri Allah, sir jeneng, sir jumeneng Allah, nur gumulung, gumulung agawe jagat,” (Sungguh puncak dari segala puncak adalah Allah, rahasia tempat berdiam Allah, cahaya tergulung, tergulung membuat semesta). Seratus kali.

Kemudian berdzikir, “Lah wes kena Pangeranku, lah wes kena ing Allahku.”

(Sungguh sudah kena Tuhanku, sungguh pasti sudah kena pada Allahku).Seratus kali.

Dilanjutkan dengan dzikir, “Lah wes kena Pangeranku, lah wes nyata ing Allahku”, (Sungguh sudah kena Tuhanku, sungguh sudah nyata pada Allahku), Seratus kali.

TIGA PULUH LIMA
Shalat ‘Isya’

Niat yang paling awal, “Niyatingsun shalat, roh Robbi kang shalat, iya iku rohing urip. urip iku lungguhe ana ing napas, shalat iku sajroning sukma, sajroning sukma ana nyawa, sajroning nyawa ana urip, sajroning urip ana eling, pardhu ta’ala Allahu akbar, tetep mantep weruh ing uripku.”

(Aku berniat shalat, roh Pembimbing yang melaksanakan shalat, yaitulah rohnya kehidupan. Utusan Tuhan yang menempati napas, shalat yang di dalam sahalat itu ada gusti, didalam gusti terdapat sukma, di dalam sukma terkandung nyawa, di dalam nyawa adanya kehidupan, di dalam kehidupan terdapat kesadaran menyeluruh, kewajiban dari Allah ta’ala, Allahu akbar, tetap mantap mengerti akan kehidupanku).

Malaikatnya adalah Izrail, memujinya dengan, “Ya Hu, Ya Hu.” Seratus kali.

Niatnya, “Niyatingsun shalat, karepku kang shalat, pardlu ta’ala Allahu akbar, tetep mantep madhep langgeng weruh ing karepku.”

(Aku berniat shalat, keinginanku yang shalat, wajib dari Allah ta’ala, Allahu akbar, tetap mantap menghadap dengan abadi mengerti akan keinginanku).

Malaikatnya Izrail, pepujiannya, “Ya Hu, Ya Hu.” Seratus kali.

Kemudian memuji; “Ya Rajamu, ya rajaku.” (Arab; Ya Maliku al-Mulku). Seratus kali.

Dilanjutkan, “Sirrullah, darajatullah, sifatullah”. Seratus kali.

Dilanjutkan lagi, “Lah giri-giri Allah, sir jeneng, sir jumeneng Allah, nur gumulung, gumulung agawe jagat,” (Sungguh puncak dari segala puncak adalah Allah, rahasia tempat berdiam Allah, cahaya tergulung, tergulung membuat semesta). Seratus kali.

Kemudian berdzikir, “Lah wes kena Pangeranku, lah wes kena ing Allahku.”

(Sungguh sudah kena Tuhanku, sungguh pasti sudah kena pada Allahku).Seratus kali.

Dilanjutkan dengan dzikir, “Lah wes kena Pangeranku, lah wes nyata ing Allahku”, (Sungguh sudah kena Tuhanku, sungguh sudah nyata pada Allahku), Seratus kali.

TIGA PULUH ENAM
“Inilah shalat satu raka’at salam, yang dilaksanakan setiap tanggal (bulan purnama), dengan waktu tengah malam tepat :

a. Inilah niatnya, “Ushalli urip dzatullah Allahu akbar” (Aku berniat melaksanakan shalat kehidupan dzatullah, Allahu akbar).

b. Membaca surat al-Fatihah, kemudian membaca ayat dengan menyebut, “aku pan Sukma” (Aku sang pemilik Sukma).

c. Melakukan ruku’ dengan menyebut, “langgeng urip dzatullah” (Kehidupan abadi dzatullah).

d. Sujud dengan mengucapkan, “ibu bumi dzatullah”.

e. Duduk di antara dua sujud dengan doa, “langgeng urip dzatullah tan kena pati” (kehidupan abadi dzatullah yang tidak terkena kematian).

f. Sujud lagi dengan bacaan, “Ibu bumi dzatullah”.

g. Tahiyat dengan membaca, “Urip dzatullah”.

h. Membaca syahadat dengan bacaan, “Ashadu uripingsun lan sukma” (Ashadu kehidupanku dan Sukma).

I. Salam dengan bacaan, “Ingsun kang agung, ingsun kang memelihara kehidupan yang tidak terkena kema-tian.

j. Membaca doa, “Allahumma papan tulis hadhdhari langgeng urip tan kena pati” (Allahumma papan tulis segala sesuatu yang abadi hidup yang tak pernah terkena mati).

k. Kemudian berdoa dalam hati, “Ingsun kang agung ingsun kang wisesa suci dhiriningsun” (ingsun yang Agung, ingsun yang memelihara, suci diriku sendiri [ingsun]).

Dalam Islam dikenal shalat satu raka’at, namun itu hanya sebagian dari shalat witir (shalat penutup akhir malam dengan raka’at yang ganjil).

Shalat satu raka’at salam dalam ajaran Syekh Siti Jenar bukanlah shalat witir, namun shalat ngatunggal, atau shalat yang dilaksanakan dalam rangka mencapai kemanunggalan diri dengan Gusti.

Bacaan-bacaan shalat ngatunggal tidak semuanya memakai bahasa Arab, hanya lafazh takbir dan al-Fatihah serta ayat-ayat yang dibaca satu madzhab fiqih Islam sekalipun (yakni madzhab Imam Hanafi, dan di Indonesia terutama madzhab Hasbullah Bakri), bacaan dalam shalat selain takbir dan al-Fatihah boleh diucapkan dengan bahasa ‘ajam (selain bahasa Arab).

TIGA PULUH TUJUH
“Shalat lima kali sehari, puji dan dzikir itu adalah kebijaksanaan dalam hati menurut kehendak pribadi. Benar atau salah pribadi sendiri yang akan menerima, dengan segala keberanian yang dimiliki.” (Serat Syaikh Siti Jenar Ki Sasrawijaya, Pupuh III Dandanggula, 33).

Syekh Siti Jenar menuturkan bahwa sebenarnya shalat sehari-hari itu hanyalah bentuk tata krama dan bukan merupakan shalat yang sesungguhnya, yakni shalat sebagai wahana memasrahkan diri secara total kepada Allah dalam kemanunggalan. Oleh karenanya dalam tingkatan aplikatif, pelaksanaannya hanya merupakan kehendak masing-masing pribadi.

Demikian pula, masalah salah dan benarnya pelaksanaan shalat yang lima waktu dan ibadah sejenisnya, bukanlah esensi dari agama. Sehingga merupakan hal yang tidak begitu penting untuk menjadi perhatian manusia. Namanya juga sebatas krama, yang tentu saja masing-masing orang memiliki sudut pandang sendiri-sendiri.

TIGA PULUH DELAPAN
“Pada waktu saya shalat, budi saya mencuri, pada waktu saya dzikir, budi saya melepaskan hati, menaruh hati kepada seseorang, kadang-kadang menginginkan keduniaan yang banyak. Lain dengan Zat Allah yang bersama diriku. Nah, saya inilah Yang Maha Suci, Zat Maulana yang nyata, yang tidak dapat dipikirkan dan tidak dapat dibayangkan.” (Serat Syaikh Siti Jenar Ki Sasrawijaya, Pupuh III Dandanggula, 37).

Pada kritik yang dikemukakan Syekh Siti Jenar terhadap Islam formal Walisanga tersebut, namun jelas penolakan Syekh Siti Jenar atas model dan materi dakwah Walisanga. Pernyataan tersebut sebenarnya berhubungan erat dengan pernyataan-pernyataan pada point 37 diatas, dan juga pernyataan mengenai kebohongan syari’at yang tanpa spiritualitas di bawah.
Menurut Syekh Siti Jenar, umumnya orang yang melaksanakan shalat, sebenarnya akal-budinya mencuri, yakni mencuri esensi shalat yaitu keheningan dan kejernihan busi, yang melahirkan akhlaq al-karimah. Sifat khusyu’nya shalat sebenarnya adalah letak aplikasi pesan shalat dalam kehidupan keseharian.

Sehingga dalam al-Qur’an, orang yang melaksanakan shalat namun tetap memiliki sifat riya’ dan enggan mewujudkan pesan kemanusiaan disebut mengalami celaka dan mendapatkan siksa neraka Wail. Sebab ia melupakan makna dan tujuan shalat (QS. Al-Ma’un/107;4-7). Sedang dalam Qs.Al-Mukminun/23; 1-11 disebutkan bahwa orang yang mendapatkan keuntungan adalah orang yang shalatnya khusyu’. Dan shalat yang khusyu’ itu adalah shalat yang disertai oleh akhlak berikut : (1) menghindarkan diri dari hal-hal yang sia-sia dan tidak berguna, juga tidak menyia-siakan waktu serta tempat dan setiap kesempatan; (2) menunaikan zakat dan sejenisnya; (3) menjaga kehormatan diri dari tindakan nista; (4) menepati janji dan amanat serta sumpah; (5) menjaga makna dan esensi shalat dalam kehidupannya. Mereka itulah yang disebutkan akan mewarisi tempat tinggal abadi; kemanunggalan.

Namun dalam aplikasi keseharian, apa yang terjadi? Orang muslim yang melaksanakan shalat dipaksa untuk berdiam, konsentrasi ketika melaksanakan shalat. Padahal pesan esensialnya adalah, agar pikiran yang liar diperlihara dan digembalakan agar tidak liar. Sebab pikiran yang liar pasti menggagalkan pesan khusyu’ tersebut. Khusyu’ itu adalah buah dari shalat. Sedangkan shalat hakikatnya adalah eksperimen manunggal dengan Gusti. Manunggal itu adalah al-Islam, penyerahan diri <Wong Jowo ngomonge’ Pasrah Bongkoan>. Sehingga doktrin manunggal bukanlah masalah paham qadariyah atau jabariyah, fana’ atau ittihad.

Namun itu adalah inti kehidupan. Khusyu’ bukanlah latihan konsentrasi, bukan pula meditasi. Konsentrasi dan meditasi hanya salah satu alat latihan menggembalaan pikiran. Wajar jika Syekh Siti Jenar menyebut ajaran para wali sebagai ajaran yang telah dipalsukan dan menyebut shalat yang diajarkan para Wali adalah model shalatnya para pencuri.

Puasa Zakat dan Haji

TIGA PULUH SEMBILAN
“Syahadat, shalat dan puasa itu, sesuatu yang tidak diinginkan, jadi tidak perlu. Adapun zakat dan naik haji ke Mekah, itu semua omong kosong (palson kabeh). Itu seluruhnya kedurjanaan budi, penipuan terhadap sesama manusia. Orang-orang dungu yg menuruti aulia, karena diberi harapan surga di kelak kemudian hari, itu sesungguhnya keduanya orang yang tidak tahu. Lain halnya dengan saya, Siti Jenar. Tiada pernah saya menuruti perintah budi, bersujud-sujud di mesjid mengenakan jubah, pahalanya besok saja, bila dahi sudah menjadi tebal, kepala berbelulang. Sesungguhnya hal ini tidak masuk akal! Di dunia ini semua manusia adalah sama. Mereka semua mengalami suka-duka, menderita sakit dan duka nestapa, tiada beda satu dengan yang lain. Oleh karena itu saya, Siti Jenar, hanya setia pada satu hal saja, yaitu Gusti Zat Maulana.” <Serat Syaikh Siti Jenar Ki Sasrawijaya, Pupuh III Dandanggula, 38-39>.

Syekh Siti jenar menyebutkan bahwa syariat yang diajarkan para wali adalah “omong kosong belaka”, atau “wes palson kabeh”(sudah tidak ada yang asli). Tentu istilah ini sangat amat berbeda dengan anggapan orang selama ini, yang menyatakan bahwa Syekh Siti Jenar menolak syari’at Islam. Yang ditolak adalah reduksi atas syari’at tersebut. Syekh Siti Jenar menggunakan istilah “iku wes palson kabeh”, yg artinya “itu sudah dipalsukan atau dibuat palsu semua.” Tentu ini berbeda pengertiannya dengan kata “iku palsu kabeh” atau “itu palsu semua.”

Jadi yang dikehendaki Syekh Siti Jenar adalah penekanan bahwa syari’at Islam pada masa Walisanga telah mengalami perubahan dan pergeseran makna dalam pengertian syari’at itu. Semuanya hanya menjadi formalitas belaka. Sehingga manfaat melaksanakan syariat menjadi hilang. Bahkan menjadi mudharat karena pertentangan yang muncul dari aplikasi formal syariat tsb.

Bagi Syekh Siti Jenar, syariat bukan hanya pengakuan dan pelaksanaan, namun berupa penyaksian atau kesaksian. Ini berarti dalam pelaksanaan syariat harus ada unsur pengalaman spiritual. Nah, bila suatu ibadah telah menjadi palsu, tidak dapat dipegangi dan hanya untuk membohongi orang lain, maka semuanya merupakan keburukan di bumi. Apalagi sudah tidak menjadi sarana bagi kesejahteraan hidup manusia. Ditambah lagi, justru syariat hanya menjadi alat legitimasi kekuasaan (seperti sekarang ini juga).Yang mengajarkan syari’at juga tidak lagi memahami makna dan manfaat syari’at itu, dan tidak memiliki kemampuan mengajarkan aplikasi syari’at yg hidup dan berdaya guna. Sehingga syari’at menjadi hampa makna dan menambah gersangnya kehidupan rohani manusia.

Nah, yg dikritik Syekh Siti Jenar adalah shalat yg sudah kehilangan makna dan tujuannya itu. Shalat haruslah merupakan praktek nyata bagi kehidupan. Yakni shalat sebagai bentuk ibadah yg sesuai dgn bentuk profesi kehidupannya. Orang yg melakukan profesinya secara benar, karena Allah, maka hakikatnya ia telah melaksanakan shalat sejati, shalat yg sebenarnya. Orientasi kepada yang Maha Benar dan selalu berupaya mewujudkan Manunggaling Kawula Gusti, termasuk dalam karya, karsa-cipta itulah shalat yg sesungguhnya. Itulah pula yang menjadi rangkaian antara iman, Islam, dan Ihsan. Lalu bagaimana posisi shalat lima waktu? Shalat lima waktu dalam hal ini menjadi tata krama syari’at atau shalat nominal.

Makna Ihsan

EMPAT PULUH
“Itulah yang dianggap Syekh Siti Jenar Hyang Widi. Ia berbuat baik dan menyembah atas kehendak-NYA. Tekad lahiriahnya dihapus. Tingkah lakunya mirip dengan pendapat yg ia lahirkan. Ia berketetapan hati untuk berkiblat dan setia, teguh dalam pendiriannya, kukuh menyucikan diri dari segala yg kotor, untuk sampai menemui ajalnya tidak menyembah kepada budi dan cipta. Syekh Siti Jenar berpendapat dan menggangap dirinya bersifat Muhammad, yaitu sifat rasul yg sejati, sifat Muhammad yg kudus.”

EMPAT PULUH SATU
“Gusti Zat Maulana. Dialah yg luhur dan sangat sakti, yg berkuasa maha besar, lagipula memiliki dua puluh sifat, kuasa atas kehendak-NYA. Dialah yg maha kuasa, pangkal mula segala ilmu, maha mulia, maha indah, maha sempurna, maha kuasa, rupa warna-NYA tanpa cacat seperti hamba-NYA. Di dalam raga manusia Ia tiada nampak. Ia sangat sakti menguasai segala yg terjadi dan menjelajahi seluruh alam semesta, Ngidraloka”.

Dua kutipan di atas adalah aplikasi dari teologi Ihsan menurut Syekh Siti Jenar, bahwa sifatullah merupakan sifatun-nafs. Ihsan sebagaimana ditegaskan oleh Nabi dalam salah satu hadistnya (Sahih Bukhari, I;6), beribadah karena Allah dgn kondisi si ‘Abid dalam keadaan menyaksikan (melihat langsung) langsung adanya si Ma’bud. Hanya sikap inilah yg akan mampu membentuk kepribadian yg kokoh-kuat, istiqamah, sabar dan tidak mudah menyerah dalam menyerukan kebenaran.

Sebab Syekh Siti Jenar merasa, hanya Sang Wujud yg mendapatkan haq untuk dilayani, bukan selain-NYA. Sehingga, dgn kata lain, Ihsan dalam aplikasinya atas pernyataan Rasulullah adalah membumikan sifatullah dan sifatu-Muhammad menjadi sifat pribadi.

Dengan memiliki sifat Muhammad itulah, ia akan mampu berdiri kokoh menyerukan ajarannya dan memaklumkan pengalamannya dalam “menyaksikan langsung” ada-NYA Allah. “Persaksian langsung” itulah terjadi dalam proses manunggal.

EMPAT PULUH DUA
“Bonang, kamu mengundang saya datang di Demak. Saya malas untuk Datang, sebab saya merasa tidak di bawah atau diperintah oleh siapapun, kecuali oleh hati saya. Perintah hati itu yang saya turutinya, selain itu tidak ada yang saya patuhi perintahnya. Bukankah kita sesama mayat? Mengapa seseorang memerintah orang lain? Manusia itu sama satu dengan yang lain, sama-sama tidak mengetahui siapa Hyang Sukma itu. Yang disembah itu hanya nama-Nya saja. Meskipun demikian ia bersikap sombong, dan merasa berkuasa memerintah sesama bangkai.” <Serat Syaikh Siti Jenar, Ki Sasrawijaya, Pupuh VII Asmarandana, 50-51>.

Ihsan berasal dari kondisi hati yg bersih. Dan hati yg bersih adalah pangkal serta cermin seluruh eksistensi manusia di bumi. Keihsanan melahirkan ketegasan sikap dan menentang ketundukan membabi-buta kepada makhluk. Ukuran ketundukan hati adalah Allah atau Sang Pribadi. Oleh karena itu, sesama manusia dan makhluk saling memiliki kemerdekaan dan kebebasan diri. Dan kebebasan serta kemerdekaan itu sifatnya pasti membawa kepada kemajuan dan peradaban manusia, serta tatanan masyarakat yg baik, sebab diletakkan atas landasan Ke-Ilahian manusia. Penjajahan atas eksistensi manusia lain hakikatnya adalah bentuk dari ketidaktahuan manusia akan Hyang Widhi…Allah (seperti Rosul sering sekali mengatakan bahwa “Sesungguhnya mereka tidak mengerti”).

Karena buta terhadap Allah Yang Maha Hadir bagi manusia itulah, maka manusia sering membabi-buta merampas kemanusiaan orang lain. Dan hal ini sangat ditentang oleh Syekh Siti Jenar. Termasuk upaya sakralisasi kekuasaan Kerajaan Demak dan Sultannya, bagi Syekh Siti Jenar harus ditentang, sebab akan menjadi akibat tergerusnya ke-Ilahian ke dalam kedzaliman manusia yang mengatasnamakan hamba Allah yg shalih dan mengatasnamakan demi penegakan syari’at Islam.

EMPAT PULUH TIGA
“Hyang Widi, wujud yg tak nampak oleh mata, mirip dengan ia sendiri, sifat-sifatnya mempunyai wujud, seperti penampakan raga yg tiada tampak. Warnanya melambangkan keselamatan, tetapi tanpa cahaya atau teja, halus, lurus terus-menerus, menggambarkan kenyataan tiada berdusta, ibaratnya kekal tiada bermula, sifat dahulu yg meniadakan permulaan, karena asal dari diri pribadi.”

Pribadi adalah pancaran roh, sebagai tajalli atau pengejawantahan Tuhan. Dan itu hanya terwujud dengan proses wujudiyah, Manuggaling Kawula-Gusti, sebagai puncak dan substansi tauhid. Maka manusia merupakan wujud dari sifat dan dzat Hyang Widi itu sendiri. Dengan manusia yg manunggal itulah maka akan menjadikan keselamatan yg nyata bukan keselamatan dan ketentraman atau kesejahteraan yg dibuat oleh rekayasa manusia, berdasarkan ukurannya sendiri. Namun keselamatan itu adalah efek bagi terejawantah-NYA Allah melalui kehadiran manusia.

Sehingga proses terjadinya keselamatan dan kesejahteraan manusia berlangsung secara natural (sunnatullah), bukan karena hasil sublimasi manusia, baik melalui kebijakan ekonomi, politik, rekayasa sosial dan semacamnya sebagaimana selama ini terjadi.

Maka dapat diketahui bahwa teologi Manuggaling Kawula Gusti adalah teologi bumi yg lahir dengan sendirinya sebagai sunnatullah. Sehingga ketika manusia mengaplikasikannya, akan menghasilkan manfaat yg natural juga dan tentu pelecehan serta perbudakan kemanusiaan tidak akan terjadi, sifat merasa ingin menguasai, sifat ingin mencari kekuasaan, memperebutkan sesama manusia tidak akan terjadi. Dan tentu saja pertentangan antar manusia sebagai akibat perbedaan paham keagamaan, perbedaan agama dan sejenisnya juga pasti tidak akan terjadi.

EMPAT PULUH EMPAT
“Sabda sukma, adhep idhep Allah, kang anembah Allah, kang sinembah Allah, kang murba amisesa.” <Kitab Mantra Yoga, hlm. 63>.

Pernyataan Syekh Siti Jenar di atas sengaja penulis nukilkan dalam bahasa aslinya, dikarenakan multi-interpretasi yang dapat muncul dari mutiara ucapan tersebut. Secara garis besar maknanya adalah, “Pernyataan roh, yang bertemu-hadapan dengan Allah, yang menyembah Allah, yang disembah Allah, yang meliputi segala sesuatu.”

Inilah adalah salah satu sumber pengetahuan ajaran Syekh Siti Jenar yang maksudnya adalah sukma (roh di kedalaman jiwa) sebagai pusat kalam (pembicaraan dan ajaran). Hal itu diakibatkan karena di kedalaman roh batin manusia tersedia cermin yang disebut mir’ah al-haya’ (cermin yang memalukan). Bagi orang yang sudah bisa mengendalikan hawa nafsunya serta mencapai fana’ cermin tersebut akan muncul, yang menampakkan kediriannya dengan segala perbuatan tercelanya. Jika ini telah terbuka maka tirai-tirai rohani juga akan tersingkap, sehingga kesejatian dirinya beradu-satu (adhep-idhep), “aku ini kau, tapi kau aku”. Maka jadilah dia yang menyembah sekaligus yang disembah, sehingga dirinya sebagai kawula-Gusti memiliki wewenang murba amisesa, memberi keputusan apapun tentang dirinya, menyatu iradah dan kodrat kawula-Gusti.

EMPAT PULUH LIMA
“Hidup itu bersifat baru dan dilengkapi dengan pancaindera. Pancaindera ini merupakan barang pinjaman yang jika sudah diminta oleh yang empunya, akan menjadi tanah dan membusuk, hancurlebur bersifat najis. Oleh karena itu pancaindera tidak dapat dipakai sebagai pedoman hidup. Demikian pula budi, pikiran, angan-angan dan kesadaran, berasal dari pancaindera, tidak dapat dipakai sebagai pegangan hidup. Akal dapat menjadi gila, sedih, bingung, lupa tidur, dan seringkali tidak jujur. Akal itu pula yang siang malam mengajak dengki, bahkan merusak kebahagiaan orang lain. Dengki dapat pula menuju perbuatan jahat, menimbulkan kesombongan, untuk akhirnya jatuh dalam lembah kenistaan, sehingga menodai nama dan citranya. Kalau sudah sampai sedemikian jauhnya, baru orang menyesalkan perbuatannya.” <Serat Syaikh Siti Jenar Ki Sasrawijaya, Pupuh III Dandanggula, 42-44>.

Menurut Syekh Siti Jenar, baik pancaindera maupun perangkat akal tidak dapat dijadikan pegangan dan pedoman hidup. Sebab semua itu bersifat baru, bukan azali. Satu-satunya yang bisa dijadikan gondhelan dan gandhulan hanyalah Zat Wajibul Maulana, Zat Yang Maha Melindungi. Pancaindera adalah pintu nafsu, dan akal adalah pintu bagi ego. Semuanya harus ditundukkan di bawah Zat Yang Wajib Memimpin.

Karena itu Dialah yang menunjukkan semua budi baik. Jadi pencaindera harus dibimbing oleh budi dan budi dipimpin oleh Sang Penguasa Budi atau Yang Maha Budi.

Sedangkan Yang Maha Budi itu tidak terikat dalam jeratan dan jebakan nama tertentu. Sebab nama bukanlah hakikat. Nama itu bisa Allah, Hyang Widhi, Hyang Manon, Sang Wajibul Maulana, dan sebagainya. Semua itu produk akal sehingga nama tidak perlu disembah. Jebakan nama dalam syari’at justru malah merendahkan Nama-Nya.

EMPAT PULUH LIMA
“Apakah tidak tahu bahwa penampilan bentuk daging, urat, tulang, sungsum, bisa rusak dan bagaimana cara Anda memperbaikinya? Biarpun bersembahyang seribu kali setiap harinya akhirnya mati juga. Meskipun badan Anda, Anda tutupi akhirnya menjadi debu juga. Tetapi jika penampilan bentuknya seperti Tuhan, Apakah para Wali dapat membawa pulang dagingnya, saya rasa tidak dapat. Alam semesta ini baru. Tuhan tidak akan membentuk dunia ini dua kali dan juga tidak akan membuat tatanan baru, dalilnya layabtakiru hilamuhdil yang artinya tidak membuat sesuatu wujud lagi tentang terjadinya alam semesta sesudah dia membuat dunia.” <Suluk Wali Sanga R. Tanaja, hlm. 44, 51>.

Dari pernyataan Syekh Siti Jenar tersebut, nampak bahwa Syekh Siti Jenar memandang alam semesta sebagai makrokosmos sama dengan mikrokosmos (manusia). Sekurangnya kedua hal itu merupakan barang baru ciptaan Tuhan yang sama-sama akan mengalami kerusakan, tidak kekal dan tidak abadi.

Pada sisi yang lain, pernyataan Syekh Siti Jenar tersebut juga memiliki muatan makna pernyataan sufistik, “Barangsiapa mengnal dirinya, maka ia pasti mengenal Tuhannya.” Sebab bagi Syekh Siti Jenar, manusia yang utuh dalam jiwa raganya merupakan wadag bagi penyanda, termasuk wahana penyanda alam semesta. Itulah sebabnya pengelolaan alam semesta menjadi tanggungjawab manusia. Maka, mikrokosmos manusia tidak lain adalah blueprint dan gambaran adanya jagat besar termasuk semesta.

Bagi Syekh Siti Jenar, manusia terdiri dari jiwa dan raga yang intinya ialah jiwa sebagai penjelmaan dzat Tuhan (sang Pribadi). Sedangkan raga adalah bentuk luar dari jiwa yang dilengkapi pancaindera, berbagai organ tubuh seperti daging, otot, darah dan tulang. Semua aspek keragaan atau ketubuhan adalah barang pinjaman yang suatu saat setelah manusia terlepas dari pengalaman kematian di dunia ini, akan kembali berubah menjadi tanah. Sedangkan rohnya yang menjadi tajalli Ilahi, manunggal ke dalam keabadian dengan Allah.

Manusia tidak lain adalah ke-Esa-an dalam af’al Allah. Tentu ke-Esa-an bukan sekedar af’al, sebab af’al digerakkan oleh dzat. Sehingga af’al yang menyatu menunjukkan adanya ke-Esa-an dzat, ke mana af’al itu dipancarkan.

EMPAT PULUH LIMA
“Segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini pada hakikatnya adalah af’al (perbuatan) Allah. Berbagai hal yang dinilai baik maupun buruk pada hakikatnya adalah dari Allah juga. Jadi keliru dan sesat pandangan yang mengatakan bahwa yang baik dari Allah dan yang buruk selain Allah.” “…Af’al Allah harus dipahami dari dalam dan luar diri. Saat manusia menggoreskan pena misalnya, di situlah terjadi perpaduan dua kemampuan kodrati yang dipancarkan oleh Allah kepada makhluk-Nya, yakni kemampuan kodrati gerak pena. Di situlah berlaku dalil Wa Allahu khalaqakum wa ma ta’malun (QS. Ash-Shaffat:96), yang maknanya Allah yang menciptakan engkau dan segala apa yang engkau perbuat. Di sini terkandung makna mubasyarah. Perbuatan yang terlahir dari itu disebut al-tawallud. Misalnya saya melempar batu. Batu yang terlempar dari tangan saya itu adalah berdasar kemampuan kodrati gerak tangan saya. Di situ berlaku dalil Wa ma ramaitaidz ramaita walakinna Allaha rama (QS. Al-Anfal:17), maksudnya bukanlah engkau yang melempar, melainkan Allah jua yang melempar ketika engkau melempar. Namun pada hakikatnya antara mubasyarah dan al-tawallud hakikatnya satu, yakni af’al Allah sehingga berlaku dalil la haula wa la quwwata illa bi Allahi al-‘aliyi al-adzimi. Rasulullah bersabda la tataharraku dzarratun illa bi idzni Allahi, yang maksudnya tidak bergerak satu dzarah pun melainkan atas izin Allah.” <Suluk Syekh Siti Jenar, I, hlm. 182-283>.

EMPAT PULUH DELAPAN
Menurut Syekh Siti Jenar, bahwa al-Fatihah adalah termasuk salah satu kunci sahnya orang yang menjalani laku manunggal (ngibadah). Maka seseorang wajib mengetahui makna mistik surat al-Fatihah. Sebab menurut Syekh Siti Jenar, lafal al-Fatihah disebut lafal yang paling tua dari seluruh sabda-Sukma. Inilah tafsir mistik al-Fatihah Syekh Siti Jenar. <Primbon Sabda Sasmaya; hlm. 26-27>.

Bis………………………… kedudukannya…………. ubun-ubun.
Millah………………………kedudukannya….. ………rasa.
Al-Rahman-al-Rahim…….kedudukannya……………penglihatan (lahir batin).
Al-hamdu…………………kedudukannya………… …hidupmu (manusia).
Lillahi………………………kedudukannya…. ……….cahaya.
Rabbil-‘alamin…………….kedudukannya…………..n yawa dan napas.
Al-Rahman al-Rahim…….kedudukannya……………leher dan jakun.
Maliki……………………..kedudukannya…… ………dada.
Yaumiddin………………..kedudukannya……… ……jantung (hati).
Iyyaka……………………kedudukannya…….. …….hidung.
Na’budu…………………..kedudukannya…….. …….perut.
Waiyyaka nasta’in………kedudukannya…………….dua bahu.
Ihdinash………………….kedudukannya…….. ……..sentil (pita suara).
Shiratal…………………..kedudukannya……. ………lidah.
Mustaqim…………………kedudukannya……… ……tulang punggung (ula-ula).
Shiratalladzina…………..kedudukannya……… …….dua ketiak.
An’amta…………………..kedudukannya…….. ……..budi manusia.
‘alaihim……………………kedudukannya…… ………tiangnya (pancering) hati.
Ghairil…………………….kedudukannya…… ……….bungkusnya nurani.
Maghdlubi………………..kedudukannya……… …….rempela/empedu.
‘alaihim……………………kedudukannya…… ……….dua betis.
Waladhdhallin……………kedudukannya………. ……mulut dan perut (panedha).
Amin………………………kedudukannya……. ………penerima.

Tafsir mistik Syekh Siti Jenar tetap mengacu kepada Manunggaling Kawula-Gusti, sehingga baik badan wadag manusia sampai kedalaman rohaninya dilambangkan sebagai tempat masing-masing dari lafal surat al-Fatihah. Tentu saja pemahaman itu disertai dengan penghayatan fungsi tubuh seharusnya masing-masing, dikaitkan dengan makna surahi dalam masing-masing lafadz, maka akan ditemukan kebenaran tafsir tersebut, apalagi kalau sudah disertai dengan pengalaman rohani/spiritual yang sering dialami.

Konteks pemahaman yang diajukan Syekh Siti Jenar adalah, bahwa al-Qur’an merupakan “kalam” yang berarti pembicaraan. Jadi sifatnya adalah hidup dan aktif. Maka taksir mistik Syekh Siti Jenar bukan semata harfiyah, namun di samping tafsir kalimat, Syekh Siti Jenar menghadirkan tafsir mistik yang bercorak menggali makna di balik simbol yang ada (dalam hal ini huruf, kalimat dan makna historis).

EMPAT PULUH SEMBILAN
“Di di dunia ini kita merupakan mayat-mayat yang cepat juga akan menjadi busuk dan bercampur tanah…Ketahuilah juga, apa yang dinamakan kawula-Gusti tidak berkaitan dengan seorang manusia biasa seperti yang lain-lain. Kawula dan Gusti itu sudah ada dalam diriku, siang malam tidak dapat memisahkan diriku dari mereka. Tetapi hanya untuk saat ini nama kawula-Gusti itu berlaku, yakni selama saya mati. Nanti, kalau saya sudah hidup lagi, gusti dan kawula lenyap, yang tinggal hanya hidupku sendiri, ketentraman langgeng dalam Ada sendiri. Bila kau belum menyadari kebenaran kata-kataku maka dengan tepat dapat dikatakan, bahwa kau masih terbenam dalam masa kematian. Di sini memang terdapat banyak hiburan aneka warna. Lebih banyak lagi hal-hal yang menimbulkan hawa nafsu. Tetapi kau tidak melihat, bahwa itu hanya akibat pancaindera. Itu hanya impian yang sama sekali tidak mengandung kebenaran dan sebentar lagi akan cepat lenyap. Gilalah orang yang terikat padanya. Saya tidak merasa tertarik, tak sudi tersesat dalam kerajaan kematian. Satu-satunya yang kuusahakan, ialah kembali kepada kehidupan.” <Serat Syekh Siti Jenar, Sinom, Widya Pustaka; hlm. 25-26 bait 30-36>.

Syekh Siti Jenar menyatakan secara tegas bahwa dirinya sebagai Tuhan, ia memiliki hidup dan Ada dalam dirinya sendiri, serta menjadi Pangeran bagi seluruh isi dunia. Sehingga didapatkan konsistensi antara keyakinan hati, pengalaman keagamaan, dan sikap perilaku dzahirnya. Juga ditekankan satu satu hal yang selalu tampil dalam setiap ajaran Syekh Siti Jenar. Yakni pendapat bahwa manusia selama masih berada di dunia ini, sebetulnya mati, baru sesudah ia dibebaskan dari dunia ini, akan dialami kehidupan sejati. Kehidupan ini sebenarnya kematian ketika manusia dilahirkan. Badan hanya sesosok mayat karena ditakdirkan untuk sirna. (bandingkan dengan Zotmulder; 364). Dunia ini adalah alam kubur, di mana roh suci terjerat badan wadag yang dipenuhi oleh berbagai goda-nikmat yang menguburkan kebenaran sejati, dan berusaha mengubur kesadaran Ingsun Sejati.

LIMA PULUH
“Syekh Siti Jenar berpendapat dan mengganggap dirinya bersifat Muhammad, yaitu sifat Rasul yang sejati, sifat Muhammad yang kudus. Ia berpendapat juga, bahwa hidup itu bersifat baru dan dilengkapi dengan pancaindera. Pancaindera ini merupakan barang pinjaman, yang jika sudah diminta oleh empunya akan menjadi tanah dan membusuk, hancur-lebur bersifat najis. Oleh karena itu pancaindera tidak dapat dipakai sebagai pedoman hidup.”

“Demikian pula budi, pikiran, angan-angan dan kesadaran, berasal dari pancaindera, tidak dapat dipakai sebagai pegangan hidup. Akal dapat menjadi gila, sedih, bingung, lupa tidur, dan sering kali tidak jujur. Akal itu pula yang siang malam mengajak dengki, bahkan merusak kebahagiaan orang lain. Dengki dapat pula menuju perbuatan jahat, menimbulkan kesombongan, untuk akhirnya jatuh dalam lembah kenistaan, sehingga menodai nama dan citranya.” <Serat Syekh Siti Jenar, Ki Sasrawijaya, Pupuh III : Dandang Gula, 27-28; Falsafah Sitidjenar, hlm. 33>.

“Kalau kamu ingin berjumpa dengan dia, saya pastikan kamu tidak akan menemuinya, sebab Kyai Ageng berbadan sukma, mengheningkan puja ghaib. Yang dipuja dan yang memuja, yang dilihat dan melihat yang bersabda sedang bertutur, gerak dan diam bersatu tunggal. Nah, buyung yang sedang berkunjung, lebih baik kembali saja.” <Pupuh XIII Sinom, 29; Falsafah Sitidjenar, hlm. 34>.

Ini adalah pandangan Syekh Siti Jenar tentang psikologi dan pengetahuan. Menurut Syekh Siti Jenar, sumber ilmu pengetahuan itu terdiri atas tiga macam; pancaindera, akal-nalar, dan intuisi (wahyu). Hanya saja pancaindera dan nalar tidak bisa dijadikan pedoman pasti. Hanya intuisi yang berasal dari orang yang sudah manunggallah yang betul-betul diandalkan sebagai pengetahuan.

Oleh karenanya, konsistensi dengan pendapat tersebut, Syekh Siti Jenar menegaskan bahwa baginya Muhammad bukan semata sosok utusan fisik, yang hanya memberikan ajaran Islam secara gelondongan, dan setelah wafat tidak memiliki fungsi apa-apa, kecuali hanya untuk diimani.

Justru Syekh Siti Jenar menjadikan Pribadi Rasulullah Muhammad sebagai roh yang bersifat aktif. Dalam memahami konsep syafa’at, Syekh Siti Jenar berpandangan bahwa syafa’at tidak bisa dinanti dan diharap kehadirannya kelak di kemudian hari. Justru syafa’at Muhammad hanya terjadi bagi orang yang menjadikan dirinya Muhammad, me-Muhammad-kan diri dengan keseluruhan sifat dan asmanya. Rahasia asma Allah dan asma Rasulullah adalah bukan hanya untuk diimani, tetapi harus merasuk dalam Pribadi, menyatu-tubuh dan rasa. Itulah perlunya Nur Muhammad, untuk menyatu cahaya dengan Sang Cahaya. Dan itu semua bisa terjadi dalam proses Manunggaling Kawula-Gusti.

LIMA PULUH SATU
“Bukan kehendak, angan-angan, bukan ingatan, pikir atau niat, hawa nafsu pun bukan, bukan juga kekosongan atau kehampaan. Penampilanku bagai mayat baru, andai menjadi gusti jasadku dapat busuk bercampur debu, napasku terhembus ke segala penjuru dunia, tanah, api, air, kembali sebagai asalnya, yaitu kembali menjadi baru. Syekh Siti Jenar belum mau menuruti perintah sultan. Hal ini disebabkan karena bumi, langit, dan sebagainya adalah kepunyaan seluruh manusia. Manusialah yang memberikan nama. Buktinya sebelum saya lahir tidak ada.

Syekh Siti Jenar menghubungkan antara alam yang diciptakan Allah, dengan konteks kebebasan dan kemerdekaan manusia. Kebebasan alam mencerminkan kebebasan manusia. Segala sesuatu harus berlangsung dan mengalami hal yang natural (alami), tanpa rekayasa, tanpa pemaksaan iradah dan qudrah. Maka ketidakmauannya memenuhi penggilan sultan, dikarenakan dirinya hanyalah milik Dirinya Sendiri. Jadi seluruh manusia masing-masing mamiliki hak mengelola alam. Alam bukan milik negara atau raja, namun milik manusia bersama. Maka setiap orang harus memiliki dan diberi hak kepemilikan atas alam. Ada yang harus dimiliki secara privat dan ada juga yang harus dimiliki secara kolektif.

Dari wejangan Syekh Siti Jenar tersebut, juga diketahui bahwa hakikat seluruh alam semesta adalah tajaliyat Tuhan (penampakan wajah Tuhan). Adapun mengenai alam yang kemudian memiliki nama, bukanlah nama yang sesungguhnya, sebab segala sesuatu yang ada di bumi ini, manusialah yang memberi nama, termasuk nama Tuhanpun, dalam pandangan Syekh Siti Jenar, diberikan oleh manusia. Dan nama-nama itu seluruhnya akan kembali kepada Sang Pemilik Nama yang sesungguhnya. <Untuk sejarah pemberian nama Tuhan, lihat buku Karen Armstrong, The History of God: The 4.000 Quest of Judaism, Christianity and Islam. New York: Ballatine, 1993>. Maka memang nama itu perlu, namun jangan sampai menjebak manusia hanya untuk memperdebatkan nama.

Tarekat dan Jalan Mistik Syekh Siti Jenar

LIMA PULUH DUA
“Adapun asalnya kehidupan itu, berdasar kitab Ma’rifat al’iman, seperti dijelaskan di bawah ini, terbebani 16 macam titipan;
Yang dari Muhammad : roh, napas.
Yang dari Malaikat : budi, iman.
Yang dari Tuhan : pendengaran, penciuman, pengucapan, penglihatan.
Yang dari Ibu : kulit, daging, darah, bulu.
Yang dari Bapak : tulang, sungsum, otot, otak.

Inilah maksud dari lafal “kulusyaun halikun ilawajahi”, maksudnya semua itu akan rusak kecuali dzat Allah yang tidak rusak. <Sang Indrajit, Wedha Mantra : 1979, Bab 203, hlm. 51>.

Kitab Ma’rifat al-Iman adalah karya dari Maulana Ibrahim al-Ghazi, al-Samarqandi, yang menjadi salah satu sumber bacaan Syekh Siti Jenar.

Kalimat “kulusyaun halikun ilawajahi” lebih tepatnya berbunyi “kullu syai-in halikun illa wajhahu” (Segala sesuatu itu pasti hancur musnah, kecuali wajah-Nya (penampakan wajah Allah)) [QS : Al-Qashashash / 28:88]. Dari kalimat inilah Syekh Siti Jenar mengungkapkan pendapatnya, bahwa badan wadag akan hancur mengikuti asalnya, tanah. Sedangkan Ingsun Sejati (Jiwa) mengikuti “illa wajhahu”, (kecuali wajah-Nya). Ini juga menjadi salah satu inti dan kunci dalam memahami teori kemanunggalan Syekh Siti Jenar. Maka kata wajhahu di sini diberikan makna Dzatullah.

Bagi Syekh Siti Jenar, antara Nur Muhammad, Malaikat, dan Tuhan, bukanlah unsur yang saling berdiri sendiri-sendiri sebagaimana umumnya dipahami manusia. Nur Muhammad dan malaikat adalah termasuk dalam Ingsun Sejati. Ini berhubungan erat dengan pernyataan Allah, bahwa segala sesuatu yang diberikan kepada manusia (seperti pendengaran, penglihatan dan sebagainya) akan dimintakan pertanggungjawabannya kepada Allah, maksudnya adalah apakah dengan alat titipan itu, manusia bisa manunggal dengan Allah atau tidak. Sedangkan proses kejadian manusia yang melalui orangtua, adalah sarana pembuatan jasad fisik, yang di alam kematian dunia, roh berada dalam penjara badan wadag tersebut.

LIMA PULUH TIGA
“Kehilangan adalah kepedihan. Berbahagialah engkau, wahai musafir papa, yang tidak memiliki apa-apa. Sebab, engkau yang tidak memiliki apa-apa maka tidak pernah kehilangan apa-apa.” <Suluk Syekh Siti Jenar, I, hlm. 292>.

Hakikat Zuhud bukanlah meninggalkan atau mengasingkan diri dari dunia. Zuhud adalah perasaan tidak memiliki apa-apa terhadap makhluk lain, sebab teologi kepemilikan itu hakikatnya tunggal. Manusia baru memiliki segalanya ketika ia telah berhasil Manunggal dengan Gustinya, sebab Gusti adalah Yang Maha Kuasa, otomatis Yang Maha Memiliki. Sehingga dalam menjalani kehidupan di dunia ini, sikap yang realistis adalah perasaan tidak memiliki, karena sebatas itu antara makhluk (manusia) dengan makhluk lain (apa pun yang bisa ‘dimiliki’ manusia) tidak bisa saling memiliki dan dimiliki. Karena semua itu merupakan aspek dari ketunggalan.

Orang yang masih selalu merasa ‘memiliki’ akan makhluk lain, pasti tidak akan berhasil menjadi salik (penempuh jalan spiritual) yang akan sampai ke tujuan sejatinya, yakni Allah Yang Maha Tunggal, karena memang ia belum mampu untuk manunggal. Nah, zuhud dalam pandangan Syekh Siti Jenar adalah menjadi satu maqamat menuju kemanunggalan dan menjadi salah satu poros keihsanan dan keikhlasan.

LIMA PULUH EMPAT
“Jika engkau kagum kepada seseorang yang engkau anggap Wali Allah, janganlah engkau terpancang pada kekaguman akan sosok dan perilaku yang diperbuatnya. Sebab saat seseorang berada pada tahap kewalian maka keberadaan dirinya sebagai manusia telah lenyap, tenggelam ke dalam al-Waly. Kewalian bersifat terus-menerus, hanya saja saat Sang Wali tenggelam dalam al-Waly. Berlangsungnya Cuma beberapa saat. Dan saat tenggelam ke dalam al-Waly itulah sang wali benar-benar menjadi pengejawantahan al-Waly. Lantaran itu, sang wali memiliki kekeramatan yang tidak bisa diukur dengan akal pikiran manusia, di mana karamah itu sendiri pada hakikatnya adalah pengejawantahan dari kekuasaan al-Waly. Dan lantaran itu pula yang dinamakan karamah adalah sesuatu di luar kehendak sang wali pribadi. Semua itu semata-mata kehendak-Nya mutlak.

Kekasih Allah itu ibarat cahaya. Jika ia berada di kejauhan, kelihatan sekali terangnya. Namun jika cahaya itu di dekatkan ke mata, mata kita akan silau dan tidak bisa melihatnya dengan jelas. Semakin dekat cahaya itu ke mata maka kita akan semakin buta tidak bisa melihatnya. Engkau bisa melihat cahaya kewalian pada diri seseorang yang jauh darimu. Namun, engkau tidak bisa melihat cahaya kewalian yang memancar dari diri orang-orang yang terdekat denganmu.” <Suluk Syekh Siti Jenar, II, hlm. 246-248>.

Doktrin kewalian Syekh Siti Jenar sangat berbeda dengan doktrin kewalian orang Islam pada umumnya. Bagi Syekh Siti Jenar, yang menentukan seseorang itu wali atau bukan hanyalah pemilik nama al-Waliy, yaitu Allah. Sehingga seorang wali tidak akan pernah peduli dengan berbagai tetek-bengek pandangan manusia dan makhluk lain terhadapnya. Demikian pula terhadap orang yang memandang kewalian seseorang.

Syekh Siti Jenar menasihatkan agar jangan terkagum-kagum dan menetukan kewalian hanya karena perilaku serta kewajiban yang muncul darinya. Yang harus diingat adalah bahwa para auliya’ Allah adalah pengejawantahan dari Allah al-Waliy. Sehingga apapun yang lahir dari wali tersebut, bukanlah perilaku manusia dalam wadagnya, namun itu adalah perbuatan Allah. Seorang wali dalam pandangan Syekh Siti Jenar tidak lain adalah manusia yang manunggal dengan al-Waliy dan itu berlangsung terus-menerus. Hanya saja perlu diingat, setiap tajalliyat-Nya adalah bagian dari si Wali tersebut, namun tidak semua sisi dan perbuatan si wali adalah perbuatan atau af’al al-Waliy.

Oleh karena itu sampai di sini, kita harus menyikapi dengan kritis terhadap sebagian naskah-naskah Jawa Tengahan yang menyatakan bahwa Syekh Siti Jenar pernah mengungkapkan pernyataan, “di sini tidak ada Syekh Siti Jenar, yang ada hanya Allah,” serta ungkapan sebaliknya “di sini tidak ada Allah, yang ada hanya Siti Jenar.” Kisah yang berhubungan dengan pernyataan tersebut, hanya anekdot atau kisah konyol dan bukan kisah yang sebenarnya. Dan itu merupakan bentuk penggambaran ajaran anunggaling Kawula Gusti yang salah kaprah. Pernyataan pertama “di sini tidak ada Syekh Siti Jenar, yang ada hanya Allah,” memang benar adanya. Namun pernyataan kedua, “di sini tidak ada Allah, yang ada hanya Siti Jenar,” tidak bisa dianggap benar, dan jelas keliru.

Teologi Manunggaling Kawula Gusti bukanlah teologi Fir’aun yang menganggap kedirian-insaniyahnya menjadi Tuhan, sekaligus dengan keberadaan manusia sebagai makhluk di dunia ini. Jadi kita harus ekstra hati-hati dalam memilah dan memilih naskah-naskah tersebut., sebab banyak juga pernyataan yang disandarkan kepada Syekh Siti Jenar, namun nyatanya itu bukan berasal dari Syekh Siti Jenar.

Ajaran Syekh Siti Jenar menurut Ki Lonthang Semarang

“Kalau menurut wejangan guru saya, orang sembahyang itu siang malam tiada putusnya ia lakukan. Hai Bonang ketahuilah keluarnya napasku menjadi puji. Maksudnya napasku menjadi shalat. Karena tutur penglihatan dan pendengaran disuruh melepaskan dari angan-angan, jadi kalau kamu shalat masih mengiaskan kelanggengan dalam alam kematian ini, maka sesungguhnyalah kamu ini orang kafir.”

“Jika kamu bijaksana mengatur tindakanmu, tanpa guna orang menyembah Rabbu’l ‘alamien, Tuhan sekalian alam, sebab di dunia ini tidak ada Hyang Agung. Karena orang melekat pada bangkai, meskipun dicat dilapisi emas, akhirnya membusuk juga, hancur lebur bercampur dengan tanah. Bagaimana saya dapat bersolek?”

“Menurut wejangan Syekh Siti Jenar, orang sembahyang tidak memperoleh apa-apa, baik di sana, maupun di sini. Nyatanya kalau ia sakit, ia menjadi bingung. Jika tidur seperti budak, disembarang tempat. Jika ia miskin, mohon agar menjadi kaya tidak dikabulkan. Apalagi bila ia sakaratul maut, matanya membelalak tiada kerohan. Karena ia segan meninggalkan dunia ini. Demikianlah wejangan guru saya yang bijaksana.”

“Umumnya santri dungu, hanya berdzikir dalam keadaan kosong dari kenyataan yang sesungguhnya, membayangkan adanya rupa Zat u’llahu, kemudian ada rupa dan inilah yang ia anggap Hyang Widi.”

“Apakah ini bukan barang sesat? Buktinya kalau ia memohon untuk menjadi orang kaya tidak diluluskan. Sekalipun demikian saya disuruh meluhurkan Dzat’llahu yang rupanya ia lihat waktu ia berdzikir, mengikuti syara’ sebagai syari’at, jika Jum’at ke mesjid berlenggang mengangguk-angguk, memuji Pangeran yang sunyi senyap, bukan yang di sana, bukan yang di sini.”
“Saya disuruh makbudullah, meluhurkan Tuhan itu, serta akan ditipu diangkat menjadi Wali, berkeliling menjual tutur, sambil mencari nasi gurih dengan lauknya ayam betina berbulu putih yang dimasak bumbu rujak pada selamatan meluhurkan Rasulullah. Ia makan sangat lahap, meskipun lagaknya seperti orang yang tidak suka makan. Hal itulah gambaran raja penipu!”
“Bonang, jangan berbuat yang demikian. Ketahuilah dunia ini alam kematian, sedang akhirat alam kehidupan yang langgeng tiada mengenal waktu. Barang siapa senang pada alam kematian ini, ia terjerat goda, terlekat pada surga dan neraka, menemui panas, sedih, haus, dan lapar”. <Serat Syaikh Siti Jenar, Ki Sastrawijaya, Pupuh XI Pangkur, 9-20>.

“Tiada usah merasa enggan menerima petuahku yang tiga buah jumlahnya. Pertama janganlah hendaknya kamu menjalankan penipuan yang keterlaluan, agar supaya kamu tidak ditertawakan orang di kelak kemudian hari. Yang kedua, jangan kamu merusak barang-barang peninggalan purba, misalnya : lontar naskah sastra yang indah-indah, tulisan dan gambar-gambar pada batu candhi. Demikian pula kayu dan batu yang merupakan peninggalan kebudayaan zaman dulu, jangan kamu hancur-leburkan. Ketahuilah bagi suku Jawa sifat-sifat Hindu-Budha tidak dapat dihapus. Yang ketiga, jika kamu setuju, mesjid ini sebaiknya kamu buang saja musnahkan dengan api. Saya berbelas kasihan kepada keturunanmu, sebab tidak urung mereka menuruti kamu, mabuk do’a, tersesat mabuk-tobat, berangan-angan lam yakunil.”

“…orang menyembah nama yang tiada wujudnya, harus dicegah. Maka dari itu jangan kamu terus-teruskan, sebab itu palsu.” <Serat Syaikh Siti Jenar, Ki Sastrawijaya, Pupuh XI Pangkur, 25-36>.

Khotbah Perpisahan Sunan Panggung

“Banyak orang yang gemar dengan ksejatian, tapi karena belum pernah berguru maka semua itu dipahami dalam konteks dualitas. Yang satu dianggap wjud lain. Sesungguhnya orang yng melihat sepeti ini akan kecewa. Apalagi yang ditemui akan menjadi hilang. Walaupun dia berkeliling mencari, ia tidak akan menemukan yang dicari. Padahal yang dicari, sesungguhnya telah ditimang dan dipegang, bahkan sampai keberatan membawanya. Dan karena belum tahu kesejatiannya, ciptanya tanpa guru menyepelekan tulisan dan kesejatian Tuhan.”

“Walaupun dituturkan sampai capai, ditunjukkan jalannya, sesungguhnya dia tidak memahaminya karena ia hanya sibuk menghitung dosa besar dan kecil yg diketahuinya. Tentang hal kufur kafir yang ditolaknya itu, bukti bahwa ia adalah orang yang masih mentah pengetahuannya. Walaupun tidak pernah lupa sembahyang, puasanya dapat dibangga-banggakan tanpa sela, tapi ia terjebak menaati yang sudah ditentukan Tuhan.

Sembah puji dan puasa yang ditekuni, membuat orang justru lupa akan sangkan paran (asal dan tujuan). Karena itu, ia lebih konsentrasi melihat dosa besar-kecil yang dikhawatirkan, dan ajaran kufur kafir yang dijauhi justru membuat bingung sikapnya. Tidak ada dulu dinulu. Tidak merasa, tidak menyentuh. Tidak saling mendekati, sehingga buta orang itu. Takdir dianggap tidak akan terjadi, salah-salah menganggap ada dualisme antara Maha Pencipta dan Maha Memelihara.
Jika aku punya pemikiran yang demikian, lebih baik aku mati saja ketika masih bayi. Tidak terhitung tidak berfikir, banyak orang yang merasa menggeluti tata lafal, mengkaji sembahyang dan berletih-letih berpuasa. Semua itu dianggap akan mampu mengantarkan. Padahal salah-salah menjadikan celaka dan bahkan banyak yang menjadi berhala.”

“Pemikiran saya sejak kecil, Islam tidak dengan sembahyang, Islam tidak dengan pakaian, Islam tidak dengan waktu, Islam tidak dengan baju dan Islam tidak dengan bertapa. Dalam pemikiran saya, yang dimaksud Islam tidak karena menolak atau menerima yang halal atau haram.
Adapun yang dimaksud orang Islam itu, mulia wisesa jati, kemuliaan selamat sempurna sampai tempat tinggalnya besok. Seperti bulu selembar atau tepung segelintir, hangus tak tersisa. Kehidupan di dunia seperti itu keberadaannya.”

“Manusia, sebelum tahu makna Alif, akan menjadi berantakan….Alif menjadi panutan sebab uintuk semua huruf, alif adalah yang pertama. Alif itu badan idlafi sebagai anugerah. Dua-duanya bukan Allah. Alif merupakan takdir, sedangkan yang tidak bersatu namanya alif-lapat. Sebelum itu jagat ciptaan-Nya sudah ada. Lalu alif menjadi gantinya, yang memiliki wujud tunggal. Ya, tunggal rasa, tunggal wujud. Ketunggalan ini harus dijaga betul sebab tidak ada yang mengaku tingkahnya. ALif wujud adalah Yang Agung. Ia menjadi wujud mutlak yang merupakan kesejatian rasa. Jenisnya ada lima, yaitu alif mata, wajah, niat jati, iman, syari’at.”

“Allah itu penjabarannya adalah dzat Yang Maha Mulia dan Maha Suci. Allah itu sebenarnya tidak ada lain, karena kamu itu Allah. Dan Allah semua yang ada ini, lahir batin kamu ini semua tulisan merupakan ganti dari alif, Allah itulah adanya.”

“Alif penjabarannya adalah permulaan pada penglihatan, melihat yang benar-benar melihat. Adapun melihat Dzat itu, merupakan cermin ketunggalan sejati menurun kepada kesejatianmu. Cahaya yang keluar, kepada otak keberadaan kita di dunia ini merupakan cahaya yang terang benderang, itu memiliki seratus dua puluh tujuh kejadian. Menjadi penglihatan dan pendengaran, napas yang tunggal, napas kehidupan yang dinamakan Panji. Panji bayangan dzat yang mewujud pada kebanyakkan imam. Semua menyebut dzikir sejati, laa ilaaha illallah.” <Serat Suluk Malang Sumirang, Pupuh 4>.

Kematian di Mata Sunan Geseng

“Banyak orang yang salah menemui ajalnya. Mereka tersesat tidak menentu arahnya, pancaindera masih tetap siap, segala kesenangan sudah ditahan, napas sudah tergulung dan angan-angan sudah diikhlaskan, tetapi ketika lepas tirta nirmayanya belum mau. Maka ia menemukan yang serba indah.”

“Dan ia dianggap manusia yang luar biasa. Padahal sesungguhnya ia adalah orang yang tenggelam dalam angan-angan yang menyesatkan dan tidak nyata. Budi dan daya hidupnya tidak mau mati, ia masih senang di dunia ini dengan segala sesuatu yang hidup, masih senang ia akan rasa dan pikirannya. Baginya hidup di dunia ini nikmat, itulah pendapat manusia yang masih terpikat akan keduniawian, pendapat gelandangan yang pergi ke mana-mana tidak menentu dan tidak tahu bahwa besok ia akan hidup yang tiada kenal mati. Sesungguhnyalah dunia ini neraka.”

“Maka pendapat Kyai Siti Jenar betul, saya setuju dan tuan benar-benar seorang mukmin yang berpendapat tepat dan seyogyanya tuan jadi cermin, suri tauladan bagi orang-orang lain. Tarkumasiwalahu (Arab asli : tarku ma siwa Allahu), di dunia ini hamba campur dengan kholiqbta, hambanya di surga, khaliknya di neraka agung.” <Serat Syaikh Siti Jenar Ki Sasrawijaya, Pupuh VIII Dandanggula, 29-31>

Syari’at Palsu Para Wali Menurut Ki Cantula

“Menurut ajaran guruku Syekh Siti Jenar, di dunia ini alam kematian. Oleh karena itu, dunia yang sunyi ini tidak ada Hyang Agung serta malaikat. Akan tetapi bila saya besok sudah ada di alam kehidupan saya akan berjumpa dan kadang kala saya menjadi Allah. Nah, di situ saya akan bersembahyang.”

“Jika sekarang saya disuruh sholat di mesjid saya tidak mau, meskipun saya bukan orang kafir. Boleh jadi saya orang terlantar akan Pangeran Tuhan. Kalau santri gundul, tidak tahunya yang ada di sini atau di sana. Ia berpengangan kandhilullah, mabuk akan Allah, buta lagi tuli.”

“Lain halnya dengan saya, murid Syekh Siti Jenar. Saya tidak menghiraukan ujar para Wali, yang mengkukuhkan Syari’at palsu, yang merugikan diri sendiri. Nah, Syekh Dumba, pikirkanlah semua yang saya katakan ini. Dalam dadamu ada Al-Qur’an. Sesuai atau tidak yang saya tuturkan itu, kanda pasti tahu.” <Serat Syaikh Siti Jenar Ki Sasrawijaya, Pupuh V Pangkur, 8-18>.

Jawaban Ki Bisono Tentang Semesta, Tuhan dan Roh

Ki Bisana menyanggupi kemudian menjawab pertanyaan dari Sultan Demak:

“Pertanyaan pertama : Pertanyaan, bahwa Allah menciptakan alam semesta itu adalah kebohongan belaka. Sebab alam semesta itu barang baru, sedang Allah tidak membuat barang yang berwujud menurut dalil : layatikbiyu hilamuhdil, artinya tiada berkehendak menciptakan barang yang berwujud. Adapun terjadinya alam semesta ini ibaratnya : drikumahiyati : artinya menemukan keadaan. Alam semesta ini : la awali. Artinya tiada berawal. Panjang sekali kiranya kalau hamba menguraikan bahwa alam semesta ini merupakan barang baru, berdasarkan yang ditulis dalam Kuran.”

“Pertanyaan yang kedua : Paduka bertanya di mana rumah Hyang Widi. Hal itu bukan merupakan hal yang sulit, sebab Allah sejiwa dengan semua zat. Zat wajibul wujud itulah tempat tinggalnya, seumpamanya Zat tanahlah rumahnya. Hal ini panjang sekali kalau hamba terangkan. Oleh karena itu hamba cukupkan sekian saja uraian hamba.”

“Selanjutnya pertanyaan ketiga : berkurangnya nyawa siang malam, sampai habis ke manakah perginya nyawa itu. Nah, itu sangat mudah untuk menjawabnya. Sebab nyawa tidak dapat berkurang, maka nyawa itu bagaikan jasad , berupa gundukan, dapat aus, rusak dimakan anai-anai. Hal inipun akan panjang sekali untuk hamba uraikan. Meskipun hamba orang sudra asal desa, akan tetapi tata bahasa kawi hamba mengetahui juga, baik bahasa biasa maupun yang dapat dinyanyikan. Lagu tembang sansekerta pun hamba dapat menyanyikan juga dengan menguraikan arti kalimatnya, sekaligus hamba bukan seorang empu atau pujangga, melainkan seorang yang hanya tahu sedikit tentang ilmu.”

“Itu semua disebabkan karena hamba berguru kepada Syekh Siti Jenar, di Krendhasawa, tekun mempelajari kesusasteraan dan menuruti perintah guru yang bijaksana. Semua murid Syekh Siti Jenar menjadi orang yang cakap, berkat kemampuan mereka untuk menerima ajaran guru mereka sepenuh hati.”

“Adapun pertanyaan yang keempat : paduka bertanya bagaimanakah rupa Yang Maha Suci itu. Kitab Ulumuddin sudah memberitahukan : walahu lahir insan, wabatinul insani baitu-baytullahu (Arab asli : wa Allahu dzahir al-insan, wabathin, al-insanu baytullahu), artinya lahiriah manusia itulah rupa Hyang Widi. Batiniah manusia itulah rumah Hyang Widi. Banyak sekali yang tertulis dalam Kitab Ulumuddin, sehingga apabila hamba sampaikan kepada paduka, Kanjeng Pangeran Tembayat tentu bingung, karena paduka tidak dapat menerima, bahkan mungkin paduka mengira bahwa hamba seorang majenun. Demikianlah wejangan Syekh Siti Jenar yang telah hamba terima.”

“Guru hamba menguraikan asal-usul manusia dengan jelas, mudah diterima oleh para siswa, sehingga mereka tidak menjadi bingung. Diwejang pula tentang ilmu yang utama, yang menjelaskan tentang dan kegunaan budi dalam alam kematian di dunia ini sampai alam kehidupan di Akhirat. Uraiannya jelas dapat dilihat dengan mata dan dibuktikan dengan nyata.”

“Dalam memberikan pelajaran, guru hamba Syekh Siti Jenar, tiada memakai tirai selubung, tiada pula memakai lambang-lambang. Semua penjelasan diberikan secara terbuka, apa adanya dan tanpa mengharapkan apa-apa sedikitpun. Dengan demikian musnah segala tipu muslihat, kepalsuan dan segala perbuatan yang dipergunakan untuk melakukan kejahatan. Hal ini berbeda dengan apa yang dilakukan para guru lainnya. Mereka mengajarkan ilmunya secara diam-diam dan berbisik-bisik, seolah-olah menjual sesuatu yang gaib, disertai dengan harapan untuk memperoleh sesuatu yang menguntungkan untuk dirinya.”

“Hamba sudah berulang kali berguru serta diwejang oleh para wali mu’min, diberitahu akan adanya Muhammad sebagai Rosulullah serta Allah sebagai Pangeran hamba. Ajaran yang dituntunkan menuntun serta membuat hamba menjadi bingung dan menurut pendapat hamba ajaran mereka sukar dipahami, merawak-rambang tiada patokan yang dapat dijadikan dasar atau pegangan. Ilmu Arab menjadi ilmu Budha, tetapi karena tidak sesuai kemudian mereka mengambil dasar dan pegangan Kanjeng Nabi. Mereka mematikan raga, merantau kemana-mana sambil menyiarkan agama. Padahal ilmu Arab itu tiada kenal bertapa, kecuali berpuasa pada bulan Romadan, yang dilakukan dengan mencegah makan, tiada berharap apapun.”

“Jadi jelas kalau para wali itu masih manganut agama Budha, buktinya mereka masih sering ketempat-tempat sunyi, gua-gua, hutan-hutan, gunung-gunung atau tepi samudera dengan mengheningkan cipta, sebagai laku demi terciptanya keinginan mereka agar dapat bertemu dengan Hyang Sukma. Itulah buktinya bahwa mereka masih dikuasai setan ijajil. Menurut cerita Arab Ambiya, tiada orang yang dapat mencegah sandang pangan serta tiada untuk kuasa berjaga mencegah tidur kecuali orang Budha yang mensucikan dirinya dengan jalan demikian. Nah, silahkan memikirkan apa yang hamba katakan, sebagai jawaban atas empat pertanyaan paduka.”<Serat Syaikh Siti Jenar Ki Sasrawijaya, Pupuh V Pangkur, 22-45>.

Wasiat dan Ajaran Syekh Amongraga

”Syekh Amongraga adalah salah seorang pewaris ajaran Syekh Siti Jenar pada masa Sultan Agung Hanyokusumo (1645). Mengenai rincian kehidupan dan ajaran Syekh Amongraga dapat dibaca di serat Centini”.

Syekh Amongraga mewasiatkan berbagai inti ajaran yang meliputi (Primbon Sabda Sasmaya; hlm. 24):

1. Rahayu ing Budhi (selamat akhlak dan moral).

2. Mencegah dan berlebihnya makanan.

3. Sedikit tidur.

4. Sabar dan tawakal dalam hati.

5. Menerima segala kehendak dan takdir Tuhan.

6. Selalu mensyukuri takdir Tuhan.

7. Mengasihi fakir dan miskin.

8. Menolong orang yang kesusahan.

9. Memberi makan kepada orang yang lapar.

10. Memberi pakaian kepada orang yang telanjang.

11. Memberikan payung kepada orang yang kehujanan.

12. Memberikan tudung kepada orang yang kepanasan.

13. Memberikan minum kepada orang yang haus.

14. Memberikan tongkat penunjuk kepada orang yang buta.

15. Menunjukkan jalan kepada orang yang tersesat.

16. Menyadarkan orang yang lupa.

17. Membenarkan ilmu dan laku orang yang salah.

18. Mengasihi dan memuliakan tamu.

19. Memberikan maaf kepada kesalahan dan dosa sanak-kandung, saudara, dan semua manusia.

20. Jangan merasa benar, jangan merasa pintar dalam segala hal, jangan merasa memiliki, merasalah bahwa semua itu hanya titipan dari Tuhan yang membuat bumi dan langit, jadi manusia itu hanyalah sudarma (memanfaatkan dengan baik dengan tujuan dan cara yang baik pula) saja. Pakailah budi, syukur, sabar, menerima, dan rela. <Ajaran Syekh Amongraga itu sebenarnya meliputi semua tindakan manusia di dalam menyelami kehidupan di bumi ini, yang disebut Syekh Siti Jenar sebagai alam kematian. Dalam memahami 20 ajaran tersebut, hendaknya jangan terjebak dalam segi kontekstualnya saja, namun hendaknya diselami dengan segenap nalar dan rasa batin.

Ajaran Syekh Siti Jenar Menurut Pangeran Panggung

“….Saya mencari ilmu sejati yang berhubungan langsung dengan asal dan tujuan hidup, dan itu saya pelajari melalui tanajjul tarki. Menurut saya , untuk mengharapkan hidayah hanyalah bias didapat dengan kesejatian ilmu. Demi kesentausaan hati menggapai gejolak jiwa, saya tidak ingin terjebak dalam syariat.”

“Jika saya terjebak dalam syariat, maka seperti burung sudah bergerak, akan tetapi mendapatkan pikiran yang salah. Karena perbuatan salah dalam syariat adalah pada kesalahpahaman dalam memahami larangan. Bagi saya kesejatian ilmu itulah yang seharusnya dicari dan disesuaikan dengan ilmu kehidupan. Kebanyakan manusia itu, jika sudah sampai pada janji maka hatinya menjadi khawatir, wataknya selalu was-was…senantiasa takut gagal….Alam dibawah kolong langit, diatas hamparan bumi dan semua isi didalamnya hanyalah ciptaan Yang Esa, tidak ada keraguan. Lahir batin harus bulat, mantap berpegang pada tekad.” (Serat Suluk Malang Sumirang, Pupuh 1-2).

“Yang membuat kita paham akan diri kita, Pertama tahu akan datang ajal, karena itu tahu jalan kemuliaannya, Kedua, tahu darimana asalnya ada kita ini sesungguhnya, berasal dari tidak ada. Kehendak-Nya pasti jadi, dan kejadian itu sendiri menjadi misal. Wujud mustahil pertandanya sebagai cermin yang bersih merata keseluruh alam. Yang pasti dzatnya kosong, sekali dan tidak ada lagi. Dan janganlah menyombongkan diri, bersikaplah menerima jika belum berhasil. Semua itu kehendak Sang Maha Pencipta. Sebagai makhluk ciptaan, manusia didunia ini hanya satu repotnya. Yaitu tidak berwenang berkehendak, dan hanya pasrah kepada kehendak Allah.”

“Segala yang tercipta terdiri dari jasad dan sukma, serta badan dan nyawa. Itulah sarana utama, yakni cahaya, roh, dan jasad. Yang tidak tahu dua hal itu akan sangat menyesal. Hanya satu ilmunya, melampaui Sang Utusan. Namun bagi yang ilmunya masih dangkal akan mustahil mencapai kebenaran, dan manunggal dengan Allah. Dalam hidup ini, ia tidak bisa mengaku diri sebagai Allah, Sukma Yang Maha Hidup. Kufur jika menyebut diri sebagai Allah. Kufur juga jika menyamakan hidupnya dengan Hidup Sang Sukma, karena sukmaitu adalah Allah.” <Serat Suluk Malang Sumirang, Pupuh 2>.

” Waktu shalat merupakan pilihan waktu yang sesungguhnya berangkat dari ilmu yang hebat. Mengertikah Anda, mengapa shalat dzuhur empat raka’at? Itu disebabkan kita manusia diciptakan dengan dua kaki dan dua tangan. Sedang shalat ‘Ashar empat raka’at juga, adalah kejadian bersatunya dada dengan Telaga al-Kautsar dengan punggung kanan dan kiri. Shalat Maghrib itu tiga raka’at, karena kita memiliki dua lubang hidung dan satu lubang mulut. Adapun shalat ‘Isya’ enjadi empat raka’at karena adanya dua telinga dan dua buah mata. Adapun shalat Subuh, mengapa dua raka’at adalah perlambang dari kejadian badan dan roh kehidupan. Sedangkan shalat tarawih adalah sunnah muakkad yang tidak boleh ditinggalkan dua raka’atnya oleh yang melakukan, men-jadi perlambang tumbuhnya alis kanan dan kiri.”

“Adapun waktu yang lima, bahwa masing-masing berbeda-beda yang memilikinya. Shalat Subuh, yang memiliki adalah Nabi Adam. Ketika diturunkan dari surga mulia, berpisah dengan istrinya Hawa menjadi sedih karena tidak ada kawan. Lalu ada wahyu dari melalui malaikat Jibril yang mengemban perintah Tuhan kepada Nabi Adam, “Terimalah cobaan Tuhan, shalat Subuhlah dua raka’at”. Maka Nabi Adampun siap melaksanakannya. Ketika Nabi Adam melaksanakan shalat Subuh pada pagi harinya, ketika salam. Telah mendapati istrinya berada dibelakangnya, sambil menjawab salam. Shalat Dzuhur dimaksudkan ketika Kanjeng Nabi Ibrahim pada zaman kuno mendapatkan cobaan besar, dimasukkan ke dalam api hendak dihukum bakar. Ketika itu Nabi Ibrahim mendapat wahyu ilahi, disuruh untuk melaksanakan shalat Dzuhur empat raka’at. Nabi Ibrahim melaksanakan shalat, api padam seketika. Adapun shalat Ashar, dimaksudkan ketika Nabi Yunus sedang naik perahu dimakan ikan besar. Nabi Yunus merasakan kesusahan ketika berada di dalam perut ikan. Waktu itu terdapat wahyu Ilahi, Nabi Yunus diperintahkan melaksanakan shalat Ashar empat raka’at. Nabi Yunus segera melaksanakan, dan ikan itu tidak mematikannya. Malah ikan itu mati, kemudian Nabi Yunus keluar dari perut ikan. Sedangkan shalat Maghrib pada zaman kuno yang memulainya adalah Nabi Nuh. Ketika musibah banjir bandang sejagat, Nabi Nuh bertaubat merasa bersalah. Dia diterima taubatnya disuruh mengerjakan shalat. Kemudian Nabi Nuh melaksanakan shalat Maghrib tiga raka’at, maka banjirpun surut seketika. Shalat ‘Isya sesungguhnya Nabi Isa yang memulainya. Ketika kalah perang melawan Raja Harkiyah (Juga disebut Raja Herodes, atasan Gubernur Pontius Pilatus) semua kaumnya bingung tidak tahu utara, selatan, barat, timur dan tengah. Nabi Isa merasa susah, dan tidak lama kemudian datang malaikat Jibril membawa wahyu dengan uluk salam. Nabi Isa diperintahkan melaksanakan shalat ‘Isya. Nabi Isa menyanggupinya, dan semua kaumnya mengikutinya, dan malaikat Jibril berkata, “Aku yang membalaskan kepada Pendeta Balhum.” <Serat Suluk Malang Sumirang, Pupuh 2>.

“Menurut pemahaman saya, sesuai petunjuk Syekh Siti Jenar dahulu, anasir itu ada empat yang berupa anasir batin dan ansir lahir. Pertama, anasir Gusti. Perlu dipahami dengan baik dzat, sifat, asma dan af’al (perbuatan) kedudukannya dalam rasa. Dzat maksudnya adalah bahwa diri manusia dan apapun yang kemerlap di dunia ini tidak ada yang memiliki kecuali Tuhan Yang Maha Tinggi, yang besar atau yang kecil adalah milik Allah semua. Ia tidak memiliki hidupnya sendiri. Hanya Allah yang Hidup, yang Tunggal. Adapun sifat sesungguhnya segala wujud yang kelihatan yang besar atau kecil, seisi bumi dan langit tidak ada yang memiliki hanya Allah Tuhan Yang Maha Agung. Adapun asma sesungguhnya, nama semua ciptaan seluruh isi bumi adalah milik Tuhan Allah Yang Maha Lebih Yang Maha Memiliki Nama. Sedangkan artinya af’al adalah seluruh gerak dan perbuatan yang kelihatan dari seluruh makhluk isi bumi ini adalah tidak lain dari perbuatan Allah Yang Maha Tinggi, demikian maksud anasir Gusti.”

“Anasir roh, ada empat perinciannya yang berwujud ilmu yang dinamai cahaya persaksian (nur syuhud). Maksudnya adalah sebagai berikut : pertama, yang disebut wujud sesungguhnya adalah hidup sejati atau amnusia sejati seperti pertempuran yang masih perawan itulah yang dimaksud badarullah yang sebenarnya. Kedua, yang disebut ilmu adalah pengetahuan batin yang menjadi nur atau cahaya kehidupan atau roh idhafi, cahaya terang menyilaukan seperti bintang kejora. Ketiga, yang dimaksud syuhud adalah kehendak batin kejora. Ketiga, yang dimaksud syuhud adalah kehendak batin tatkala memusatkan perhatian terutama ketika mengucapkan takbir. Demikianlah penjelasan tentang anasir roh, percayalah kepada kecenderungan hati.”

“Anasir manusia maksudnya hendaklah dipahami bahwa manusia itu terdiri dari bumi, api, angin dan air. Bumi itu menjadi jasad, api menjadi cahaya yang bersinar, angin menjadi napas keluar masuk, air, menjadi darah. Keempatnya bergerak tarik menarik secara ghaib. Demikianlah penjelasan saya tentang anasir. <Serat Suluk Malang Sumirang, Pupuh 3>.

Nuwun

Advertisements

MENGENAL NAMA SYEKH SITI JENAR


Syekh Siti Jenar (829-923 H/1348-1439 C/1426-1517 M), memiliki banyak nama : San Ali (nama kecil pemberian orangtua angkatnya, bukan Hasan Ali Anshar seperti banyak ditulis orang); Syekh ‘Abdul Jalil (nama yg diperoleh di Malaka, setelah menjadi ulama penyebar Islam di sana); Syekh Jabaranta (nama yg dikenal di Palembang, Sumatera dan daratan Malaka); Prabu Satmata (Gusti yg nampak oleh mata; nama yg muncul dari keadaan kasyf atau mabuk spiritual; juga nama yg diperkenalkan kepada murid dan pengikutnya); Syekh Lemah Abang atau Lemah Bang (gelar yg diberikan masyarakat Lemah Abang, suatu komunitas dan kampung model yg dipelopori Syekh Siti Jenar; melawan hegemoni kerajaan. Wajar jika orang Cirebon tidak mengenal nama Syekh Siti Jenar, sebab di Cirebon nama yg populer adalah Syekh Lemah Abang); Syekh Siti Jenar (nama filosofis yg mengambarkan ajarannya tentang sangkan-paran, bahwa manusia secara biologis hanya diciptakan dari sekedar tanah merah dan selebihnya adalah roh Allah; juga nama yg dilekatkan oleh Sunan Bonang ketika memperkenalkannya kepada Dewan Wali, pada kehadirannya di Jawa Tengah/Demak; juga nama Babad Cirebon); Syekh Nurjati atau Pangran Panjunan atau Sunan Sasmita (nama dalam Babad Cirebon, S.Z. Hadisutjipto); Syekh Siti Bang, serta Syekh Siti Brit; Syekh Siti Luhung (nama-nama yg diberikan masyarakat Jawa Tengahan); Sunan Kajenar (dalam sastra Islam-Jawa versi Surakarta baru, era R.Ng. Ranggawarsita [1802-1873]); Syekh Wali Lanang Sejati; Syekh Jati Mulya; dan Syekh Sunyata Jatimurti Susuhunan ing Lemah Abang.

Siti Jenar lebih menunjukkan sebagai simbolisme ajaran utama Syekh Siti Jenar yakni ilmu kasampurnan, ilmu sangkan-paran ing dumadi, asal muasal kejadian manusia, secara biologis diciptakan dari tanah merah saja yg berfungsi sebagai wadah (tempat) persemayaman roh selama di dunia ini. Sehingga jasad manusia tidak kekal akan membusuk kembali ketanah. Selebihnya adalah roh Allah, yg setelah kemusnaan raganya akan menyatu kembali dengan keabadian. Ia di sebut manungsa sebagai bentuk “manunggaling rasa” (menyatu rasa ke dalam Tuhan).

Dan karena surga serta neraka itu adalah untuk derajad fisik maka keberadaan surga dan neraka adalah di dunia ini, sesuai pernyataan populer bahwa dunia adalah penjara bagi orang mukmin. Menurut Syekh Siti Jenar, dunia adalah neraka bagi orang yg menyatu-padu dgn Tuhan. Setelah meninggal ia terbebas dari belenggu wadag-nya dan bebas bersatu dgn Tuhan. Di dunia manunggalnya hamba dgn Tuhan sering terhalang oleh badan biologis yg disertai nafsu-nafsunya. Itulah inti makna nama Syekh Siti Jenar.

Asal Usul Syekh Siti Jenar

Syekh Siti Jenar lahir sekitar tahun 829 H/1348 C/1426 M (Serat She Siti Jenar Ki Sasrawijaya; Atja, Purwaka Tjaruban Nagari (Sedjarah Muladjadi Keradjan Tjirebon), Ikatan Karyawan Museum, Jakarta, 1972; P.S. Sulendraningrat, Purwaka Tjaruban Nagari, Bhatara, Jakarta, 1972; H. Boedenani, Sejarah Sriwijaya, Terate, Bandung, 1976; Agus Sunyoto, Suluk Abdul Jalil Perjalanan Rohani Syaikh Syekh Siti Jenar dan Sang Pembaharu, LkiS, yogyakarta, 2003-2004; Sartono Kartodirjo dkk, [i]Sejarah Nasional Indonesia, Depdikbud, Jakarta, 1976; Babad Banten; Olthof, W.L., Babad Tanah Djawi. In Proza Javaansche Geschiedenis, ‘s-Gravenhage, M.Nijhoff, 1941; raffles, Th.S., The History of Java, 2 vol, 1817), dilingkungan Pakuwuan Caruban, pusat kota Caruban larang waktu itu, yg sekarang lebih dikenal sebagai Astana japura, sebelah tenggara Cirebon. Suatu lingkungan yg multi-etnis, multi-bahasa dan sebagai titik temu kebudayaan serta peradaban berbagai suku.

Selama ini, silsilah Syekh Siti Jenar masih sangat kabur. Kekurangjelasan asal-usul ini juga sama dgn kegelapan tahun kehidupan Syekh Siti Jenar sebagai manusia sejarah.
Pengaburan tentang silsilah, keluarga dan ajaran Beliau yg dilakukan oleh penguasa muslim pada abad ke-16 hingga akhir abad ke-17. Penguasa merasa perlu untuk “mengubur” segala yg berbau Syekh Siti Jenar akibat popularitasnya di masyarakat yg mengalahkan dewan ulama serta ajaran resmi yg diakui Kerajaan Islam waktu itu. Hal ini kemudian menjadi latar belakang munculnya kisah bahwa Syekh Siti Jenar berasal dari cacing.

Dalam sebuah naskah klasik, cerita yg masih sangat populer tersebut dibantah secara tegas, “Wondene kacariyos yen Lemahbang punika asal saking cacing, punika ded, sajatosipun inggih pancen manungsa darah alit kemawon, griya ing dhusun Lemahbang.” [Adapun diceritakan kalau Lemahbang (Syekh Siti Jenar) itu berasal dari cacing, itu salah. Sebenarnya ia memang manusia berdarah kecil saja (rakyat jelata), bertempat tinggal di desa Lemah Abang]….<serat Candhakipun Riwayat jati ; Alih aksara; Perpustakaan Daerah Propinsi Jawa Tengah, 2002, hlm. 1>.

Jadi Syekh Siti Jenar adalah manusia lumrah hanya memang ia walau berasal dari kalangan bangsawan setelah kembali ke Jawa menempuh hidup sebagai petani, yg saat itu, dipandang sebagai rakyat kecil oleh struktur budaya Jawa, disamping sebagai wali penyebar Islam di Tanah Jawa.

Syekh Siti Jenar yg memiliki nama kecil San Ali dan kemudian dikenal sebagai Syekh ‘Abdul Jalil adalah putra seorang ulama asal Malaka, Syekh Datuk Shaleh bin Syekh ‘Isa ‘Alawi bin Ahmadsyah Jamaludin Husain bin Syekh ‘Abdullah Khannuddin bin Syekh Sayid ‘Abdul Malikal-Qazam. Maulana ‘Abdullah Khannuddin adalah putra Syekh ‘Abdul Malik atau Asamat Khan. Nama terakhir ini adalah seorang Syekh kalangan ‘Alawi kesohor di Ahmadabad, India, yg berasal dari Handramaut. Qazam adalah sebuah distrik berdekatan dgn kota Tarim di Hadramaut.

Syekh ‘Abdul Malik adalah putra Syekh ‘Alawi, salah satu keluarga utama keturunan ulama terkenal Syekh ‘Isa al-Muhajir al-Bashari al-‘Alawi, yg semua keturunannya bertebaran ke berbagai pelosok dunia, menyiarkan agama Islam. Syekh ‘Abdul Malik adalah penyebar agama Islam yg bersama keluarganya pindah dari Tarim ke India. Jika diurut keatas, silsilah Syekh Siti Jenar berpuncak pada Sayidina Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib, menantu Rasulullah. Dari silsilah yg ada, diketahui pula bahwa ada dua kakek buyutnya yg menjadi mursyid thariqah Syathariyah di Gujarat yg sangat dihormati, yakni Syekh Abdullah Khannuddin dan Syekh Ahmadsyah Jalaluddin. Ahmadsyah Jalaluddin setelah dewasa pindah ke Kamboja dan menjadi penyebar agama Islam di sana.

Adapun Syekh Maulana ‘sa atau Syekh Datuk ‘Isa putra Syekh Ahmadsyah kemudian bermukim di Malaka. Syekh Maulana ‘Isa memiliki dua orang putra, yaitu Syekh Datuk Ahamad dan Syekh Datuk Shaleh. Ayah Syekh Siti Jenar adalah Syekh Datuk Shaleh adalah ulama sunni asal Malaka yg kemudian menetap di Cirebon karena ancaman politik di Kesultanan Malaka yg sedang dilanda kemelut kekuasaan pada akhir tahun 1424 M, masa transisi kekuasaan Sultan Muhammad Iskandar Syah kepada Sultan Mudzaffar Syah. Sumber-sumber Malaka dan Palembang menyebut nama Syekh Siti Jenar dgn sebutan Syekh Jabaranta dan Syekh ‘Abdul Jalil.

Pada akhir tahun 1425, Syekh Datuk Shaleh beserta istrinya sampai di Cirebon dan saat itu, Syekh Siti Jenar masih berada dalam kandungan ibunya 3 bulan. Di Tanah Caruban ini, sambil berdagang Syekh Datuk Shaleh memperkuat penyebaran Islam yg sudah beberapa lama tersiar di seantero bumi Caruban, besama-sama dgn ulama kenamaan Syekh Datuk Kahfi, putra Syehk Datuk Ahmad. Namun, baru dua bulan di Caruban, pada tahun awal tahun 1426, Syekh Datuk Shaleh wafat.

Sejak itulah San Ali atau Syekh Siti Jenar kecil diasuh oleh Ki Danusela serta penasihatnya, Ki Samadullah atau Pangeran Walangsungsang yg sedang nyantri di Cirebon, dibawah asuhan Syekh datuk Kahfi.

Jadi walaupun San Ali adalah keturunan ulama Malaka, dan lebih jauh lagi keturunan Arab, namun sejak kecil lingkungan hidupnya adalah kultur Cirebon yg saat itu menjadi sebuah kota multikultur, heterogen dan sebagai basis antarlintas perdagangan dunia waktu itu.

Saat itu Cirebon dgn Padepokan Giri Amparan Jatinya yg diasuh oleh seorang ulama asal Makkah dan Malaka, Syekh Datuk Kahfi, telah mampu menjadi salah satu pusat pengajaran Islam, dalam bidang fiqih dan ilmu ‘alat, serta tasawuf. Sampai usia 20 tahun, San Ali mempelajari berbagai bidang agama Islam dgn sepenuh hati, disertai dgn pendidikan otodidak bidang spiritual.

Padepokan Giri Amparan Jati

Setelah diasuh oleh Ki Danusela samapai usia 5 tahun, pada sekitar tahun 1431 M, Syekh Siti Jenar kecil (San Ali) diserahkan kepada Syekh Datuk Kahfi, pengasuh Pedepokan Giri Amparan Jati, agar dididik agama Islam yg berpusat di Cirebon oleh Kerajaan Sunda di sebut sebagai musu(h) alit [musuh halus] <Purwaka Caruban Nagari, 75-76, cat. 39; Sejarah Nasional Indonesia, vol. II;221>.

Di Padepokan Giri Amparan Jati ini, San Ali menyelesaikan berbagai pelajaran keagamaan, terutama nahwu, sharaf, balaghah, ilmu tafsir, musthalah hadist, ushul fiqih dan manthiq. Ia menjadi santri generasi kedua. Sedang yg akan menjadi santri generasi ketiga adalah Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Syarif Hidayatullah baru datang ke Cirebon, bersamaan dgn pulangnya Syekh Siti Jenar dari perantauannya di Timur Tengah sekitar tahun 1463, dalam status sebagai siswa Padepokan Giri Amparan Jati, dgn usia sekitar 17-an tahun.

Pada tahun 1446 M, setelah 15 tahun penuh menimba ilmu di Padepokan Amparan Jati, ia bertekad untuk keluar pondok dan mulai berniat untuk mendalami kerohanian (sufi). Sebagai titik pijaknya, ia bertekad untuk mencari “sangkan-paran” dirinya.

Tujuan pertmanya adalah Pajajaran yg dipenuhi oleh para pertapa dan ahli hikmah Hindu-Budha. Di Pajajaran, Syekh Siti Jenar mempelajari kitab Catur Viphala warisan Prabu Kertawijaya Majapahit. Inti dari kitab Catur Viphala ini mencakup empat pokok laku utama.

Pertama, nihsprha, adalah suatu keadaan di mana tidak adal lagi sesuatu yg ingin dicapai manusia. Kedua, nirhana, yaitu seseorang tidak lagi merasakan memiliki badan dan karenanya tidak ada lagi tujuan. Ketiga, niskala adalah proses rohani tinggi, “bersatu” dan melebur (fana’) dgn Dia Yang Hampa, Dia Yang Tak Terbayangkan, Tak Terpikirkan, Tak Terbandingkan. Sehingga dalam kondisi (hal) ini, “aku” menyatu dgn “Aku”. Dan keempat, sebagai kesudahan dari niskala adalah nirasraya, suatu keadaan jiwa yg meninggalkan niskala dan melebur ke Parama-Laukika (fana’ fi al-fana’), yakni dimensi tertinggi yg bebas dari segala bentuk keadaan, tak mempunyai ciri-ciri dan mengatasi “Aku”.

Dari Pajajaran San Ali melanjutkan pengembaraannya menuju Palembang, menemui Aria Damar, seorang adipati, sekaligus pengamal sufi-kebatinan, santri Maulana Ibrahim Samarkandi. Pada masa tuanya, Aria Damar bermukim di tepi sungai Ogan, Kampung Pedamaran.

Diperkirakan Syekh Siti Jenar berguru kepada Aria Damar antara tahun 1448-1450 M. bersama Aria Abdillah ini, San Ali mempelajari pengetahuan tentang hakikat ketunggalan alam semesta yg dijabarkan dari konsep “nurun ‘ala nur” (cahaya Maha Cahaya), atau yg kemudian dikenal sebagai kosmologi emanasi.

Dari Palembang, San Ali melanjutkan perjalanan ke Malaka dan banyak bergaul dgn para bangsawan suku Tamil maupun Malayu. Dari hubungan baiknya itu, membawa San Ali untuk memasuki dunia bisnis dgn menjadi saudagar emas dan barang kelontong. Pergaulan di dunia bisnis tsb dimanfaatkan oleh San Ali untuk mempelajari berbagai karakter nafsu manusia, sekaligus untuk menguji laku zuhudnya ditengah gelimang harta. Selain menjadi saudagar, Syekh Siti jenar juga menyiarkan agama Islam yg oleh masyarakat setempat diberi gelar Syekh jabaranta. Di Malaka ini pula, ia bertemu dgn Datuk Musa, putra Syekh Datuk Ahmad. Dari uwaknya ini, Syekh Datuk Ahmad, San Ali dianugerahi nama keluarga dan nama ke-ulama-an Syekh Datuk ‘Abdul Jalil.

Dari perenungannya mengenai dunia nafsu manusia, hal ini membawa Syekh Siti Jenar menuai keberhasilan menaklukkan tujuh hijab, yg menjadi penghalang utama pendakian rohani seorang salik (pencari kebenaran). Tujuh hijab itu adalah lembah kasal (kemalasan naluri dan rohani manusia); jurang futur (nafsu menelan makhluk/orang lain); gurun malal (sikap mudah berputus asa dalam menempuh jalan rohani); gurun riya’ (bangga rohani); rimba sum’ah (pamer rohani); samudera ‘ujub (kesombongan intelektual dan kesombongan ragawi); dan benteng hajbun (penghalang akal dan nurani).

Pencerahan Rohani di Baghdad

Setelah mengetahui bahwa dirinya merupakan salah satu dari keluarga besar ahlul bait (keturunan Rasulullah), Syekh Siti Jenar semakin memiliki keinginan kuat segera pergi ke Timur Tengah terutama pusat kota suci Makkah.

Dalam perjalanan ini, dari pembicaraan mengenai hakikat sufi bersama ulama Malaka asal Baghdad Ahmad al-Mubasyarah al-Tawalud di sepanjang perjalanan. Syekh Siti Jenar mampu menyimpan satu perbendaharaan baru, bagi perjalanan rohaninya yaitu “ke-Esaan af’al Allah”, yakni kesadaran bahwa setiap gerak dan segala peristiwa yg tergelar di alam semesta ini, baik yg terlihat maupun yg tidak terlihat pada hakikatnya adalah af’al Allah. Ini menambah semangatnya untuk mengetahui dan merasakan langsung bagaimana af’al Allah itu optimal bekerja dalam dirinya.

Inilah pangkal pandangan yg dikemudian hari memunculkan tuduhan dari Dewan Wali, bahwa Syekh Siti Jenar menganut paham Jabariyah. Padahal bukan itu pemahaman yg dialami dan dirasakan Syekh Siti Jenar. Bukan pada dimensi perbuatan alam atau manusianya sebagai tolak titik pandang akan tetapi justru perbuatan Allah melalui iradah dan quradah-NYA yg bekerja melalui diri manusia, sebagai khalifah-NYA di alam lahir. Ia juga sampai pada suatu kesadaran bahwa semua yg nampak ada dan memiliki nama, pada hakikatnya hanya memiliki satu sumber nama, yakni Dia Yang Wujud dari segala yg maujud.

Sesampainya di Baghdad, ia menumpang di rumah keluarga besar Ahmad al-Tawalud. Disinilah cakrawala pengetahuan sufinya diasah tajam. Sebab di keluarga al-Tawalud tersedia banyak kitab-kitab ma’rifat dari para sufi kenamaan. Semua kitab itu adalah peninggalan kakek al-Tawalud, Syekh ‘Abdul Mubdi’ al-Baghdadi. Di Irak ini pula, Syekh Siti Jenar bersentuhan dgn paham Syi’ah Ja’fariyyah, yg di kenal sebagai madzhab ahl al-bayt.

Syekh Siti Jenar membaca dan mempelajari dgn Baik tradisi sufi dari al-Thawasinnya al-Hallaj (858-922), al-Bushtamii (w.874), Kitab al-Shidq-nya al-Kharaj (w.899), Kitab al-Ta’aruf al-Kalabadzi (w.995), Risalah-nya al-Qusyairi (w.1074), futuhat al-Makkiyah dan Fushush al-Hikam-nya Ibnu ‘Arabi (1165-1240), Ihya’ Ulum al-Din dan kitab-kitab tasawuf al-Ghazali (w.1111), dan al-Jili (w.1428). secara kebetulan periode al-jili meninggal, Syekh Siti Jenar sudah berusia dua tahun. Sehingga saat itu pemikiran-permikiran al-Jili, merupakan hal yg masih sangat baru bagi komunitas Islam Indonesia.

Dan sebenarnya Syekh Siti Jenar-lah yg pertama kali mengusung gagasan al-Hallaj dan terutama al-Jili ke Jawa. Sementara itu para wali anggota Dewan Wali menyebarluaskan ajaran Islam syar’i madzhabi yg ketat. Sebagian memang mengajarkan tasawuf, namun tasawuf tarekati, yg kebanyakkan beralur pada paham Imam Ghazali. Sayangnya, Syekh Siti Jenar tidak banyak menuliskan ajaran-ajarannya karena kesibukannya menyebarkan gagasan melalui lisan ke berbagai pelosok Tanah Jawa. Dalam catatan sastra suluk Jawa hanya ada 3 kitab karya Syekh Siti Jenar; Talmisan, Musakhaf (al-Mukasysyaf) dan Balal Mubarak. Masyarakat yg dibangunnya nanti dikenal sebagai komunitas Lemah Abang.

Dari sekian banyak kitab sufi yg dibaca dan dipahaminya, yg paling berkesan pada Syekh Siti Jenar adalah kitab Haqiqat al-Haqa’iq, al-Manazil al-Alahiyah dan al-Insan al-Kamil fi Ma’rifat al-Awakhiri wa al-Awamil (Manusia Sempurna dalam Pengetahuan tenatang sesuatu yg pertama dan terakhir). Ketiga kitab tersebut, semuanya adalah puncak dari ulama sufi Syekh ‘Abdul Karim al-Jili.

Terutama kitab al-Insan al-Kamil, Syekh Siti Jenar kelak sekembalinya ke Jawa menyebarkan ajaran dan pandangan mengenai ilmu sangkan-paran sebagai titik pangkal paham kemanuggalannya. Konsep-konsep pamor, jumbuh dan manunggal dalam teologi-sufi Syekh Siti Jenar dipengaruhi oleh paham-paham puncak mistik al-Hallaj dan al-Jili, disamping itu karena proses pencarian spiritualnya yg memiliki ujung pemahaman yg mirip dgn secara praktis/’amali-al-Hallaj; dan secara filosofis mirip dgn al-Jili dan Ibnu ‘Arabi.

Syekh Siti Jenar menilai bahwa ungkapan-ungkapan yg digunakan al-Jili sangat sederhana, lugas, gampang dipahami namun tetap mendalam. Yg terpenting, memiliki banyak kemiripan dgn pengalaman rohani yg sudah dilewatkannya, serta yg akan ditempuhnya. Pada akhirnya nanti, sekembalinya ke Tanah Jawa, pengaruh ketiga kitab itu akan nampak nyata, dalam berbagai ungkapan mistik, ajaran serta khotbah-khotbahnya, yg banyak memunculkan guncangan-guncangan keagamaan dan politik di Jawa.

Syekh Siti Jenar banyak meluangkan waktu mengikuti dan mendengarkan konser-konser musik sufi yg digelar diberbagai sama’ khana. Sama’ khana adalah rumah-rumah tempat para sufi mendengarkan musik spiritual dan membiarkan dirinya hanyut dalam ekstase (wajd). Sama’ khana mulai bertumbuhan di Baghdad sejak abad ke-9 (Schimmel; 1986, hlm. 185). Pada masa itu grup musik sufi yg terkenal adalah al-Qawwal dgn penyanyi sufinya ‘Abdul Warid al-Wajd.

Berbagai pengalaman spiritual dilaluinya di Baghdad sampai pada tingkatan fawa’id (memancarnya potensi pemahaman roh karena hijab yg menyelubunginya telah tersingkap. Dgn ini seseorang akan menjadi berbeda dgn umumnya manusia); dan lawami’ (mengejawantahnya cahaya rohani akibat tersingkapnya fawa’id), tajaliyat melalui Roh al-haqq dan zawaid (terlimpahnya cahaya Ilahi ke dalam kalbu yg membuat seluruh rohaninya tercerahkan). Ia mengalami berbagai kasyf dan berbagai penyingkapan hijab dari nafsu-nafsunya. Disinilah Syekh Siti Jenar mendapatkan kenyataan memadukan pengalaman sufi dari kitab-kitab al-Hallaj, Ibnu ‘Arabi dan al-Jili.

Bahkan setiap kali ia melantunkan dzikir dikedalaman lubuk hatinya dgn sendirinya ia merasakan denting dzikir dan menangkap suara dzikir yg berbunyi aneh, Subhani, alhamdu li, la ilaha illa ana wa ana al-akbar, fa’budni (mahasuci aku, segala puji untukku, tiada tuhan selain aku, maha besar aku, sembahlah aku). Walaupun telinganya mendengarkan orang di sekitarnya membaca dzikir Subhana Allah, al-hamduli Allahi, la ilaha illa Allah, Allahu Akbar, fa’buduhu, namun suara yg di dengar lubuk hatinya adalah dzikir nafsi, sebagai cerminan hasil man ‘arafa bafsahu faqad ‘arafa Rabbahu tersebut. Sampai di sini, Syekh Siti Jenar semakin memahami makna hadist Rasulullah “al-Insan sirri wa ana sirruhu” (Manusia adalah Rahasia-Ku dan Aku adalah rahasianya).

Sebenarnya inti ajaran Syekh Siti Jenar sama dgn ajaran sufi ‘Abdul Qadir al-Jilani (w.1165), Ibnu ‘Arabi (560/1165-638-1240), Ma’ruf al-Karkhi, dan al-Jili. Hanya saja ketiga tokoh tsb mengalami nasib yg baik dalam artian, ajarannya tidak dipolitisasi, sehingga dalam kehidupannya di dunia tidak pernah mengalami intimidasi dan kekerasan sebagai korban politik dan menemui akhir hayat secara biasa.

Ingsun, Allah dan Kemanunggalan (Syekh Siti Jenar)

SATU
“Sabda sukma, adhep idhep Allah, kang anembah Allah, kang sinembah
Allah, kang murba amisesa.”

Pernyataan Syekh Siti Jenar diatas secara garis besarnya adalah: “Pernyataan roh yg bertemu-hadapan dgn Allah, yg menyembah Allah, yg disembah Allah, yg meliputi segala sesuatu.”

Ini adalah salah satu sumber pengetahuan ajaran Syekh Siti Jenar yg maksudnya adalah sukma (roh di kedalaman jiwa) sebagai pusat kalam (pembicaraan dan ajaran). Hal itu diakibatkan karena di kedalaman roh batin manusia tersedia cermin yg disebut mir’ah al-haya’ (cermin yg memalukan). Bagi orang yg sudah bisa mengendalikan hawa nafsunya serta mencapai fana’ cermin tersebut akan muncul, yg menampakkan kediriannya dengan segala perbuatan tercelanya. Jika ini telah terbuka maka tirai-tirai Rohani juga akan tersingkap, sehingga kesejatian dirinya beradu-adu (adhep idhep), “aku ini kau, tapi kau aku”.

Maka jadilah dia yg menyembah sekaligus yg disembah, sehingga dirinya sebagai kawula-Gusti memiliki wewenang murba amisesa, memberi keputusan apapun tentang dirinya, menyatu iradah dan kodrat kawula-Gusti.

DUA
“Hidup itu bersifat baru dan dilengkapi dengan pancaindera. Pancaindera ini merupakan barang pinjaman, yg jika sudah diminta oleh yg empunya, akan menjadi tanah dan membusuk, hancur lebur bersifat najis. Oleh karena itu pancaindera tidak dapat dipakai sebagai pedoman hidup. Demikian pula budi, pikiran, angan-angan dan kesadaran, berasal dari pancaindera, tidak dapat dipakai sebagai pegangan hidup. Akal dapat menjadi gila, sedih, bingung, lupa tidur dan seringkali tidak jujur. Akal itu pula yg siang malam mengajak dengki, bahkan merusak kebahagiaan orang lain. Dengki dapat pula menuju perbuatan jahat, menimbulkan kesombongan, untuk akhirnya jatuh dalam lembah kenistaan, sehingga menodai nama dan citranya. Kalau sudah sampai sedemikian jauhnya, baru orang menyesalkan perbuatannya.”

Menurut Syekh Siti Jenar, baik pancaindera maupun perangkat akal tidak dapat dijadikan pegangan dan pedoman hidup. Sebab semua itu bersifat baru, bukan azali. Satu-satunya yg bisa dijadikan gondhelan dan gandhulan hanyalah Zat Wajibul Maulanan, Zat Yang Maha Melindungi. Pancaindera adalah pintu nafsu dan akal adalah pintu bagi ego. Semuanya harus ditundukkan di bawah Zat Yang Wajib memimpin.

Karena hanya Dialah yg menunjukkan semua budi baik. Jadi pancaindera harus dibimbing oleh budi dan budi dipimpin oleh Sang Penguasa Budi atau Yang Maha Budi. Sedangkan Yang Maha Budi itu tidak terikat dalam jeratan dan jebakan nama tertentu. Sebab nama bukanlah hakikat. Nama itu bisa Allah, Hyang Widi, Hyang Manon, Sang Wajibul Maulana dan sebagainya. Semua itu produk akal, sehingga nama tidak perlu disembah. Jebakan nama dalam syari’at justru malah merendahkan nama-NYA.

TIGA
“Apakah tidak tahu bahwa penampilan bentuk daging, urat, tulang, sunsum, bisa rusak dan bagaimana cara Anda memperbaikinya? Biarpun bersembahyang seribu kali setiap harinya akhirnya mati juga. Meskipun badan Anda, Anda tutupi akhirnya menjadi debu juga. Tetapi jika penampilan bentuknya seperti Tuhan, Apakah para Wali dapat membawa Pulang dagingnya, saya rasa tidak dapat. Alam semesta ini baru. Tuhan tidak akan membentuk dunia ini dua kali dan juga tidak akan membuat tatanan batu, dalilnya layabtakiru hilamuhdil yg artinya tidak membuat sesuatu wujud lagi tentang terjadinya alam semesta sesudah dia membuat dunia.”

Dari pernyataan itu nampak Syekh Siti Jenar memandang alam makrokosmos sama dengan mikrokosmos (manusia). Kedua hal tersebut merupakan barang baru ciptaan Tuhan yg sama-sama akan mengalami kerusakan atau tidak kekal.

Pada sisi lain, pernyataan Syekh Siti Jenar tsb mempunyai muatan makna pernyataan sufistik, “Barangsiapa mengenal dirinya, maka ia pasti mengenal Tuhannya.” Sebab bagi Syekh Siti Jenar manusia yg utuh dalam jiwa raganya merupakan wadag bagi penyanda, termasuk penyanda alam semesta. Itulah sebabnya pengelolaan alam semesta menjadi tanggungjawab manusia.
Maka mikrokosmos manusia, tidak lain adalah Blueprint dan gambaran adanya jagat besar termasuk semesta.

Baginya Manusia terdiri dari jiwa dan raga yg intinya ialah jiwa sebagai penjelmaan dzat Tuhan (Sang Pribadi). Sedangkan raga adalah bentuk luar dari jiwa yg dilengkapi pancaindera, berbagai organ tubuh seperti daging, otot, darah dan tulang. Semua aspek keragaan atau ketubuhan adalah barang pinjaman yg suatu saat setelah manusia terlepas dari pengalaman kematian di dunia ini, akan kembali berubah menjadi tanah. Sedangkan rohnya yg menjadi tajalli Ilahi, manunggal ke dalam keabadian dengan Allah.

EMPAT
“Segala sesuatu yg terjadi di alam semesta ini pada hakikatnya adalah af’al (perbuatan) Allah. Berbagai hal yg dinilai baik maupun buruk pada hakikatnya adalah dari Allah juga. Jadi keliru dan sesat pandangan yg mengatakan bahwa yg baik dari Allah dan yg buruk dari selain Allah.” “…Af’al Allah harus dipahami dari dalam dan dari luar diri. Saat manusia menggoreskan pena misalnya, di situ lah terjadi perpaduan dua kemampuan kodrati yg dipancarkan oleh Allah kepada makhluk-NYA, yakni kemampuan kodrati gerak pena. Di situlah berlaku dalil “Wa Allahu khalaqakum wa ma ta’malun (Qs.Ash-Shaffat:96)”, yg maknanya Allah yg menciptakan engkau dan segala apa yg engkau perbuat. Di sini terkandung makna mubasyarah. Perbuatan yg terlahir dari itu disebut al-tawallud. Misalnya saya melempar batu. Batu yg terlempar dari tangan saya itu adalah berdasarkan kemampuan kodrati gerak tangan saya. Di situ berlaku dalil “Wa ma ramaita idz ramaita walakinna Allaha rama (Qs.Al-Anfal:17)”, maksudnya bukanlah engkau yg melempar, melainkan Allah jua yg melempar ketika engkau melempar. Namun pada hakikatnya antara mubasyarah dan al-tawallud hakikatnya satu, yakni af’al Allah sehingga berlaku dalil la haula wa la quwwata illa bi Allahi al-‘aliyi al-‘adzimi. Rosulullah bersabda “La tataharraku dzarratun illa bi idzni Allahi”, yg maksudnya tidak akan bergerak satu dzarah pun melainkan atas idzin Allah.”

Eksistensi manusia yg manunggal ini akan nampak lebih jelas peranannya, dimana manusia tidak lain adalah ke-Esa-an dalam af’al Allah. Tentu ke-Esa-an bukan sekedar af’al, sebab af’al digerakkan oleh dzat. Sehingga af’al yg menyatu menunjukkan adanya ke-Esa-an dzat, kemana af’al itu dipancarkan.

LIMA
“Di dunia ini kita merupakan mayat-mayat yg cepat juga akan menjadi busuk dan bercampur tanah. Ketahuilah juga apa yg dinamakan kawula-Gusti tidak berkaitan dgn seorang manusia biasa seperti yg lain-lain. Kawula dan Gusti itu sudah ada dalam diriku, siang dan malam tidak dapat memisahkan diriku dari mereka. Tetapi hanya untuk saat ini nama kawula-Gusti itu berlaku, yakni selama saya mati. Nanti, kalau saya sudah hidup lagi, Gusti dan kawula lenyap, yg tinggal hanya hidupku sendiri, ketentraman langgeng dalam ADA sendiri. Bila kau belum menyadari kebenaran kata-kataku maka dgn tepat dapat dikatakan, bahwa kau masih terbenam dalam masa kematian. Di sini memang terdapat banyak hiburan aneka warna. Lebih banyak lagi hal-hal yg menimbulkan hawa nafsu. Tetapi kau tidak melihat, bahwa itu hanya akibat pancaindera. Itu hanya impian yg sama sekali tidak mengandung kebenaran dan sebentar lagi akan cepat lenyap. Gilalah orang yg terikat padanya. Saya tidak merasa tertarik, tak sudi tersesat dalam kerajaan kematian. Satu-satunya yg kuusahakan, ialah kembali kepada kehidupan.”

Syekh Siti Jenar menyatakan dgn tegas bahwa dirinya sebagai Tuhan, ia memiliki hidup dan Ada dalam dirinya sendiri, serta menjadi Pangeran bagi seluruh isi dunia. Sehingga didapatkan konsistensi antara keyakinan hati, pengalaman keagamaan, dan sikap perilaku dzahirnya. Juga ditekankan satu hal yg selalu tampil dalam setiap ajaran Syekh Siti Jenar. Yakni pendapat bahwa manusia selama masih berada di dunia ini sebetulnya mati, baru sesudah ia dibebaskan dari dunia ini, akan dialami kehidupan sejati. Kehidupan ini sebenarnya kematian ketika manusia dilahirkan. Badan hanya sesosok mayat karena ditakdirkan untuk sirna. (bandingkan dengan Zoetmulder; 364). Dunia ini adalah alam kubur, dimana roh suci terjerat badan wadag yg dipenuhi oleh berbagai goda-nikmat yg menguburkan kebenaran sejati dan berusaha menguburkan kesadaran Ingsun Sejati.

Semoga yg ini bermanfaat dalam kepasrahan yg tidak bisa dipikir dgn Akal tapi dengan Hati yang sulit mengungkapkan rasa Cinta itu secara Tulus….

Walaupun rasa Cinta itu sulit diungkapkan dgn bahasa kita yg sangat terbatas ini…..amin….amin.

Surga dan Negara Syekh Siti Jenar

“anal jannatu wa nara katannalr al anna”, sering digunakan oleh Syekh Siti Jenar dalam menjelaskan hakikat surga dan neraka. Penulisan yg benar nampaknya adalah “inna al-janatu wa al-naru qath’un ‘an al-ana” (Sesungguhnya keberadaan surga dan neraka itu telah nyata adanya sejak sekarang atau di dunia ini). Sesungguhnya, menurut ajaran Islam pun, surga dan neraka itu tidaklah kekal. Yang menganggap kekal surga dan neraka itu adalah kalangan awam.  Sesungguhnya mereka berdua wajib rusak dan binasa. Bagi Syekh Siti Jenar, surga atau neraka bukanlah tempat tertentu untuk memberikan pembalasan baik dan buruknya manusia. Surga neraka adalah perasaan roh di dunia, sebagai akibat dari keadaan dirinya yg belum dapat menyatu-tunggal dgn Allah. Sebab bagi manusia yg sudah memiliki ilmu kasampurnan, jelas bahwa ketika mengalami kematian dan melalui pintunya, ia kembali kepada Hidup Yang Agung, hidup yang tan kena kinaya ngapa (hidup sempurna abadi sebagai Sang Hidup). Yaitu sebagai puncak cita-cita dan tujuan manusia. Jadi, karena surga dan neraka itu ternyata juga makhluk, maka surga dan neraka tidaklah kekal, dan juga bukanlah tempat kembalinya manusia yang sesungguhnya. Sebab tidak mungkin makhluk akan kembali kepada makhluk, kecuali karena keadaan yang belum sempurna hidupnya. Oleh al-Qur’an sudah ditegaskan bahwa tempat kembalinya manusia hanya Allah, yang tidak lain adalah proses kemanunggalan ……ilaihi raji’un, ilaihi al-mashir………

Puasa dan Haji Syekh Siti Jenar

“Syahadat, shalat dan puasa itu, sesuatu yang tidak diinginkan, jadi tidak perlu. Adapun zakat dan naik haji ke Makah, itu semua omong kosong (palson kabeh). Itu seluruhnya kedurjanaan budi, penipuan terhadap sesama manusia. Orang-orang dungu yg menuruti aulia, karena diberi harapan surga di kelak kemudian hari, itu sesungguhnya keduanya orang yang tidak tahu. Lain halnya dengan saya, Siti Jenar.”

“Tiada pernah saya menuruti perintah budi, bersujud-sujud di mesjid mengenakan jubah, pahalanya besok saja, bila dahi sudah menjadi tebal, kepala berbelulang. Sesungguhnya hal ini idak masuk akal! Di dunia ini semua manusia adalah sama. Mereka semua mengalami suka-duka, menderita sakit dan duka nestapa, tiada beda satu dengan yang lain. Oleh karena itu saya, Siti Jenar, hanya setia pada satu hal saja, yaitu Gusti Zat Maulana.”

Syekh Siti jenar menyebutkan bahwa syariat yang diajarkan para wali adalah “omong kosong belaka”, atau “wes palson kabeh”(sudah tidak ada yang asli). Tentu istilah ini sangat amat berbeda dengan anggapan orang selama ini, yang menyatakan bahwa Syekh Siti Jenar menolak syari’at Islam. Yang ditolak adalah reduksi atas syari’at tersebut. Syekh Siti Jenar menggunakan istilah “iku wes palson kabeh”, yg artinya “itu sudah dipalsukan atau dibuat palsu semua.” Tentu ini berbeda pengertiannya dengan kata “iku palsu kabeh” atau “itu palsu semua.” Jadi yang dikehendaki Syekh Siti Jenar adalah penekanan bahwa syari’at Islam pada masa Walisanga telah mengalami perubahan dan pergeseran makna dalam pengertian syari’at itu. Semuanya hanya menjadi formalitas belaka. Sehingga manfaat melaksanakan syariat menjadi hilang. Bahkan menjadi mudharat karena pertentangan yang muncul dari aplikasi formal syariat tsb.

Bagi Syekh Siti Jenar, syariat bukan hanya pengakuan dan pelaksanaan, namun berupa penyaksian atau kesaksian. Ini berarti dalam pelaksanaan syariat harus ada unsur pengalaman spiritual. Nah, bila suatu ibadah telah menjadi palsu, tidak dapat dipegangi dan hanya untuk membohongi orang lain, maka semuanya merupakan keburukan di bumi.

Apalagi sudah tidak menjadi sarana bagi kesejahteraan hidup manusia. Ditambah lagi, justru syariat hanya menjadi alat legitimasi kekuasaan (seperti sekarang ini juga). Yang mengajarkan syari’at juga tidak lagi memahami makna dan manfaat syari’at itu, dan tidak memiliki kemampuan mengajarkan aplikasi syari’at yg hidup dan berdaya guna. Sehingga syari’at menjadi hampa makna dan menambah gersangnya kehidupan rohani manusia.

Nah, yg dikritik Syekh Siti Jenar adalah shalat yg sudah kehilangan makna dan tujuannya itu. Shalat haruslah merupakan praktek nyata bagi kehidupan. Yakni shalat sebagai bentuk ibadah yg sesuai dgn bentuk profesi kehidupannya. Orang yg melakukan profesinya secara benar, karena Allah, maka hakikatnya ia telah melaksanakan shalat sejati, shalat yg sebenarnya. Orientasi kepada yang Maha Benar dan selalu berupaya mewujudkan Manunggaling Kawula Gusti, termasuk dalam karya, karsa-cipta itulah shalat yg sesungguhnya.

Makna Ihsan

“Itulah yang dianggap Syekh Siti Jenar Hyang Widi. Ia berbuat baik dan menyembah atas kehendak-NYA. Tekad lahiriahnya dihapus. Tingkah lakunya mirip dengan pendapat yg ia lahirkan. Ia berketetapan hati untuk berkiblat dan setia, teguh dalam pendiriannya, kukuh menyucikan diri dari segala yg kotor, untuk sampai menemui ajalnya tidak menyembah kepada budi dan cipta. Syekh Siti Jenar berpendapat dan menggangap dirinya bersifat Muhammad, yaitu sifat rasul yg sejati, sifat Muhammad yg kudus.”

“Gusti Zat Maulana. Dialah yg luhur dan sangat sakti, yg berkuasa maha besar, lagipula memiliki dua puluh sifat, kuasa atas kehendak-NYA. Dialah yg maha kuasa, pangkal mula segala ilmu, maha mulia, maha indah, maha sempurna, maha kuasa, rupa warna-NYA tanpa cacat seperti hamba-NYA. Di dalam raga manusia Ia tiada nampak. Ia sangat sakti menguasai segala yg terjadi dan menjelajahi seluruh alam semesta, Ngidraloka”.

Dua kutipan di atas adalah aplikasi dari teologi Ihsan menurut Syekh Siti Jenar, bahwa sifatullah merupakan sifatun-nafs. Ihsan sebagaimana ditegaskan oleh Nabi dalam salah satu hadistnya (Sahih Bukhari, I;6), beribadah karena Allah dgn kondisi si ‘Abid dalam keadaan menyaksikan (melihat langsung) langsung adanya si Ma’bud. Hanya sikap inilah yg akan mampu membentuk kepribadian yg kokoh-kuat, istiqamah, sabar dan tidak mudah menyerah dalam menyerukan kebenaran.

Sebab Syekh Siti Jenar merasa, hanya Sang Wujud yg mendapatkan haq untuk dilayani, bukan selain-NYA. Sehingga, dgn kata lain, Ihsan dalam aplikasinya atas pernyataan Rasulullah adalah membumikan sifatullah dan sifatu-Muhammad menjadi sifat pribadi.
Dengan memiliki sifat Muhammad itulah, ia akan mampu berdiri kokoh menyerukan ajarannya dan memaklumkan pengalamannya dalam “menyaksikan langsung” ada-NYA Allah. “Persaksian langsung” itulah terjadi dalam proses manunggal.

“Hyang Widi, wujud yg tak nampak oleh mata, mirip dengan ia sendiri, sifat-sifatnya mempunyai wujud, seperti penampakan raga yg tiada tampak. Warnanya melambangkan keselamatan, tetapi tanpa cahaya atau teja, halus, lurus terus-menerus, menggambarkan kenyataan tiada berdusta, ibaratnya kekal tiada bermula, sifat dahulu yg meniadakan permulaan, karena asal dari diri pribadi.”

Ihsan berasal dari kondisi hati yg bersih. Dan hati yg bersih adalah pangkal serta cermin seluruh eksistensi manusia di bumi. Keihsanan melahirkan ketegasan sikap dan menentang ketundukan membabi-buta kepada makhluk. Ukuran ketundukan hati adalah Allah atau Sang Pribadi. Oelh karena itu, sesama manusia dan makhluk saling memiliki kemerdekaan dan kebebasan diri. Dan kebebasan serta kemerdekaan itu sifatnya pasti membawa kepada kemajuan dan peradaban manusia, serta tatanan masyarakat yg baik, sebab diletakkan atas landasan Ke-Ilahian manusia. Penjajahan atas eksistensi manusia lain hakikatnya adalah bentuk dari ketidaktahuan manusia akan Hyang Widhi…Allah (seperti Rosul sering sekali mengatakan bahwa “Sesungguhnya mereka tidak mengerti”).

Karena buta terhadap Allah Yang Maha Hadir bagi manusia itulah, maka manusia sering membabi-buta merampas kemanusiaan orang lain. Dan hal ini sangat ditentang oleh Syekh Siti Jenar. Termasuk upaya sakralisasi kekuasaan Kerajaan Demak dan Sultannya, bagi Syekh Siti Jenar harus ditentang, sebab akan menjadi akibat tergerusnya ke-Ilahian ke dalam kedzaliman manusia yang mengatasnamakan hamba Allah yg shalih dan mengatasnamakan demi penegakan syari’at Islam.

Pribadi adalah pancara roh, sebagai tajalli atau pengejawantahan Tuhan. Dan itu hanya terwujud dengan proses wujudiyah, Manuggaling Kawula-Gusti, sebagai puncak dan substansi tauhid. Maka manusia merupakan wujud dari sifat dan dzat Hyang Widi itu sendiri. Dengan manusia yg manunggal itulah maka akan menjadikan keselamatan yg nyata bukan keselamatan dan ketentraman atau kesejahteraan yg dibuat oleh rekayasa manusia, berdasarkan ukurannya sendiri. Namun keselamatan itu adalah efek bagi terejawantah-NYA Allah melalui kehadiran manusia. Sehingga proses terjadinya keselamatan dan kesejahteraan manusia berlangsung secara natural (sunnatullah), bukan karena hasil sublimasi manusia, baik melalui kebijakan ekonomi, politik, rekayasa sosial dan semacamnya sebagaimana selama ini terjadi. Maka dapat diketahui bahwa teologi Manuggaling Kawula Gusti adalah teologi bumi yg lahir dengan sendirinya sebagai sunnatullah. Sehingga ketika manusia mengaplikasikannya, akan menghasilkan manfaat yg natural juga dan tentu pelecehan serta perbudakan kemanusiaan tidak akan terjadi, sifat merasa ingin menguasai, sifat ingin mencari kekuasaan, memperebutkan sesama manusia tidak akan terjadi. Dan tentu saja pertentangan antar manusia sebagai akibat perbedaan paham keagamaan, perbedaan agama dan sejenisnya juga pasti tidak akan terjadi.

Tafsir Kisah Musa dan Khidir (Syekh Siti Jenar)

“Sesungguhnya, Khidir AS bukanlah sosok lain yg terpisah sama sekali dari keberadaan manusia rohani. Apa yg disaksikan sebagai tanah menjorok dgn lautan di sebelah kanan dan kiri itu bukanlah suatu tempat yg berada di luar diri manusia. Tanah itulah yg disebut perbatasan (barzakh). Dua lautan itu adalah Lautan Makna (bahr al-ma’na), perlambang alam tidak kasatmata (‘alam al-ghaib) dan lautan Jisim (bahr al-ajsam), perlambang alam kasatmata (‘alam asy-syahadat).”

“Sedangkan kawanan udang adalah perlambang para pencari Kebenaran yg sudah berenang di perbatasan alam kasatmata san alam tidak kasatmata. Kawanan udang perlambang para penempuh jalan rohani (salik) yg benar-benar bertujuan mencari Kebenaran. Sementara itu, kawanan udang yg berenang di lautan sebelah kiri, di antara batu-batu, merupakan perlambang para salik yg penuh diliputi hasrat-hasrat dan pamrih-pamrih duniawi.”

“Sesungguhnya, peristiwa yg dialami Nabi Musa AS dgn Khidir AS, sebagaimana termaktub di dalam Al-Qur’an Al-Karim, bukanlah hanya peristiwa sejarah seorang manusia bertemu manusia lain. Ia adalah peristiwa perjalanan rohani yg berlangsung di dalam diri Nabi Musa AS sendiri. Sebagaimana yg telah saya jelaskan, yg disebut dua lautan di dalam Al-Qur’an tidak lain dan tidak bukan adalah Lautan Makna (bahr al-ma’na) dan Lautan Jisim (bahr al-ajsam). Kedua lautan itu dipisahkan oleh wilayah perbatasan atau sekat (barzakh).”

“Ikan dan lautan dalam kisah Qur’ani itu merupakan perlambang dunia kasatmata (‘alam asy-syahadat) yg berbeda dengan wilayah perbatasan yg berdampingan dgn dunia gaib (‘alam al-ghaib). Maksudnya, jika saat itu Nabi Musa AS melihat ikan dan kehidupan yg melingkupi ikan tersebut dari tempatnya berdiri, yaitu di wilayah perbatasan antara dua lautan, maka Nabi Musa AS akan melihat sang ikan berenang di dalalm alamnya, yaiu lautan. Jika saat itu Nabi Musa AS mencermati maka ia akan dapat menyaksikan bahwa sang ikan yg berenang itu dapat melihat segala sesuatu di dalam lautan, kecuali air (dilambangkan manusia juga sama). Maknanya, sang ikan hidup di dalam air dan sekaligus di dalam tubuh ikan ada air, tetapi ia tidak bisa melihat iar dan tidak sadar jika dirinya hidup di dalam air. Itulah sebabnya, ikan tidak dapat hidup tanpa air yg meliputi bagian luar dan bagian dalam tubuhnya. Di mana pun ikan berada, ia akan selalu diliputi air yg tak bisa dilihatnya.”

“Sementara itu, seandainya sang ikan di dalam lautan melihat Nabi Musa AS dari tempat hidupnya di dalam air lautan maka sang ikan akan berkata bahwa Musa AS di dalam dunia-yang diliputi udara kosong-dapat menyaksikan segala sesuatu, kecuali udara kosong yg meliputinya itu. Maknanya, Nabi Musa AS hidup di dalam liputan udara kosong yg ada di luar maupun di dalam tubuhnya, tetapi ia tidak bisa melihat udara kosong dan tidak sadar jika dirinya hidup di dalam udara kosong. Itu sebabnya, Nabi Musa AS tidak dapat hidup tanpa udara kosong yg meliputi bagian luar dan dalam tubuhnya. Di mana pun Nabi Musa AS berada, ia akan selalu diliputi udara kosong yg tidak bisa dilihatnya.”

“Sesungguhnya, pemuda (al-fata) yg mendampingi Nabi Musa AS dan membawakan bekal makanan adalah perlambang dari terbukanya pintu alam tidak kasatmata. Sesungguhnya, dibalik keberadaan pemuda (al-fata) itu tersembunyi hakikat sang Pembuka (al-Fattah). Sebab, hijab gaib yg menyelubungi manusia dari Kebenaran sejati tidak akan bisa dibuka tanpa kehendak Dia, sang Pembuka (al-Fattah). Itu sebabnya, saat Nabi Musa AS bertemu dgn Khidir AS, pemuda (al-fata) itu disebut-sebut lagi karena ia sejatinya merupakan perlambang keterbukaan hijab ghaib.”

“Adapun bekal makanan yg berupa ikan adalah perlambang pahala perbuatan baik (al-‘amal ash-shalih) yg hanya berguna untuk bekal menuju ke Taman Surgawi (al-jannah). Namun, bagi pencari Kebenaran sejati, pahala perbuatan baik itu justru mempertebal gumpalan kabut penutup hati (ghain). Itu sebabnya, sang pemuda mengaku dibuat lupa oleh setan hingga ikan bekalnya masuk ke dalam lautan.”

“Andaikata saat itu Nabi Musa AS memerintahkan si pemuda untuk mencari bekal yg lain, apalagi sampai memburu bekal ikan yg telah masuk ke dalam laut, niscaya Nabi Musa AS dan si pemuda tentu akan masuk ke Lautan Jisim (bahr al-ajsam) kembali. Dan, jika itu terjadi maka setan berhasil memperdaya Nabi Musa AS.”

“Ternyata, Nabi Musa AS tidak peduli dgn bekal itu. Ia justru menyatakan bahwa tempat di mana ikan itu melompat ke lautan adalah tempat yg dicarinya sehingga tersingkaplah gumpalan kabut ghain dari kesadaran Nabi Musa AS. Saat itulah purnama rohani zawa’id berkilau dan Nabi Musa AS dapat melihat Khidir AS, hamba yg dilimpahi rahmat dan kasih sayang (rahmah al-khashshah) yg memancar dari citra ar-Rahman dan ar-Rahim dan Ilmu Ilahi (ilm ladunni) yg memancar dari Sang Pengetahuan (al-Alim).”

“Anugerah Ilahi dilimpahkan kepada Khidir AS karena dia merupakan hamba-NYA yg telah mereguk Air Kehidupan (ma’ al-hayat) yg memancar dari Sang Hidup (al-Hayy). Itu sebabnya, barang siapa di antara manusia yg berhasil bertemu Khidir AS di tengah wilayah perbatasan antara dua lautan, sesungguhnya manusia itu telah menyaksikan pengejawantahan Sang Hidup (al-Hayy), Sang Penyayang (ar-Rahim). Dan, sesungguhnya Khidir AS itu tidak lain dan idak bukan adalah ar-roh al-idhafi, cahaya hijau terang yg tersembunyi di dalam diri manusia, “Sang Penuntun” anak keturunan Adam AS ke jalan Kebenaran Sejati. Dialah penuntun dan penunjuk (mursyid) sejati ke jalan Kebenaran (al-Haqq). Dia sang mursyid adalah pengejawantahan yang Maha Menunjuki (as –Rasyid).”

“Demikianlah, saat sang salik melihat Khidir AS sesungguhnya ia telah menyaksikan ar-roh al-idhafi, mursyid sejati di dalam diri manusia sendiri. Saat ia menyaksikan kawanan udang di lautan sebelah kanan, sesungguhnya ia telah menyaksikan Lautan Makna (bahr-al-ma’na) yg merupakan hamparan permukaan Lautan Wujud (bahr al-wujud). Namun, jika terputus penglihatan batiin (bashirab) itu pada titik ini, berarti perjalanan menusia itu menuju ke Kebenaran Sejati masih akan berlanjut.”

Sesungguhnya, perjalanan rohani menuju Kebenaran Sejati penuh diliputi tanda kebesaran Ilahi yg hanya bisa diungkapkan dalam bahasa perlambang. Sesungguhnya, masing-masing menusia akan mengalami pengalaman rohani yg berbeda sesuai pemahamannya dalam menangkap kebenaran demi kebenaran. Yang jelas, pengalaman yg akan manusia alami tidak selalu mirip dgn pengalaman yg dialami Nabi Musa AS.”

“Setelah berada di wilayah perbatasan, Khidir AS dan Nabi Musa AS digambarkan melanjutkan perjalanan memasuki Lautan Makna, yaitu alam tidak kasatmata. Mereka kemudian digambarkan menumpang perahu. Sesungguhnya, perahu yg mereka gunakan untuk menyeberang itu adalah perlambang dari wahana (syari’ah) yg lazimnya digunakan oleh kalangan awam untuk mencari ikan, yakni perlambang perbuatan baik (al ‘amal ash-shalih). Padahal, perjalanan mengarungi Lautan Makna menuju Kebenaran Sejati adalah perjalanan yg sangat pribadi menuju Lautan Wujud. Itulah sebabnya, perahu (syari’ah) itu harus dilubangi agar air dari Lautan Makna masuk ke dalam perahu dan penumpang perahu mengenal hakikat air yg mengalir dari lubang tersebut.”

“Setelah penumpang perahu mengenal air yg mengalir dari lubang maka ia akan menjadi sadar bahwa lewat lubang itulah sesungguhnya ia akan bisa masuk ke dalam Lautan Makna yg merupakan permukaan Lautan Wujud. Andaikata perahu itu tidak dilubangi, dan kemudian perahu diteruskan berlayar, maka perahu itu tentu akan dirampas oleh Sang Maha Raja (malik al-Mulki) sehingga penumpangnya akan menjadi tawanan. Jika sudah demikian, maka untuk selamanya sang penumpang perahu tidak bisa melanjutkan perjalanan menuju Dia, Yang Maha Ada (al-Wujud), yg bersemayam di segenap penjuru hamparan Lautan Wujud. Penumpang perahu itu mengalami nasib seperti penumpang perahu yg lain, yakni akan dijadikan hamba sahaya oleh Sang Maha Raja. Bahkan, jika Sang Maha Raja menyukai hamba sahaya-NYA itu maka ia akan diangkat sebagai penghuni Taman (jannah) indah yg merupakan pengejawantahan Yang Maha Indah (al Jamal).”

“Adapun Atas Pernyataan kenapa wahana (syariah) harus dilubangi dan tidak lagi digunakan dalam perjalanan menembus alam ghaib manuju Dia? Dapat dijelaskan sebagai berikut.”

“Sebab, wahana adalah kendaraan bagi manusia yg hidup di alam kasatmata untuk pedoman menuju ke Taman Surgawi. Sedangkan alam tidak kasatmata adalah alam yg tidak jelas batas-batasnya. Alam yg tidak bisa dinalar karena segala kekuatan akal manusia mengikat itu tidak bisa berijtihad untuk menetapkan hukum yg berlaku di alam gaib. Itu sebabnya, Khidir AS melarang Nabi Musa AS bertanya sesuatu dgn akalnya dalam perjalanan tersebut. Dan, apa yg disaksikan Nabi Musa AS terdapat perbuatan yg dilakukan Khidir AS benar-benar bertentangan dgn hukum suci (syari’at) dan akal sehat yg berlaku di dunia, yakni melubangi perahu tanpa alasan, membunuh seorang anak kecil tak bersalah dan menegakkan tembok runtuh tanpa upah.”

“Namun jika wahana (syari’ah) tidak lagi bisa dijadikan petunjuk, sebenarnya pedomannya tetaplah sama, yaitu Kitabullah dan Sunnah Rasul. Tetapi pemahamannya bukan dgn akal (‘aql) melainkan dgn dzauq, yaitu cita rasa rohani. Inilah yg disebut cara (thariqah). Di sini, sang salik selain harus berjuang keras juga harus pasrah kepada kehendak-NYA. Sebab, telah termaktub dalam dalil araftu rabbi bi rabbi bahwa kita hanya mengenal Dia dgn Dia. Maksudnya jika Tuhan tidak berkehendak kita mengenal-NYA maka kita pun tidak akan bisa mengenal-NYA. Dan, kita mengenal-NYA pun maka hanya melalui Dia (walaupun kita tidak mau tetapi semua telah kehendak-NYA). Itu sebabnya, di alam tidak kasatmata yg tidak jelas batas dan tanda-tandanya itu kita tidak dapat berbuat sesuatu kecuali pasrah seutuhnya dan mengharap limpahan rahmat dan hidayah-NYA.”

“Tentang makna di balik kisah Khidir AS membunuh seorang anak (ghulam) dapat saya jelaskan sebagai berikut.”

“Anak adalah perlambang keakuan kerdil yg kekanak-kanakan. Kedewasaan rohani seorang yg teguh imannya bisa runtuh akibat terseret cinta kepada keakuan kerdil yg kekanak-kanakan tersebut. Itu sebabnya, keakuan kerdil y kekanak-kanakan itu harus dibunuh agar kedewasaan rohani tidak terganggu.”

“Sesungguhnya, di dalam perjalanan rohani menuju Kebenaran Sejati selalu terjadi keadaan di mana keakuan kerdil yg kekank-kanakan (ghulam) dari salik cenderung mengikari kehambaan dirinya terhadap Cahaya Yang Terpuji (Nur Muhammad) sebagai akibat ia belum fana ke dalam Sang Rasul (fana fi rasul). Ghulam cenderung durhaka dan ingkar terhadap kehambaan kepada Sang Rasul. Jika keakuan yg kerdil dan kekanak-kanakan itu dibunuh maka akan lahir ghulam yg lebih baik dan lebih diberbakti yg melihat dengan mata batin bahwa dia sesungguhnya adalah “hamba” dari Sang Rasul, pengejawantahan Cahaya Yang Terpuji (Nur Muhammad).”

“Sesungguhnya, keakuan kerdil yg kekanak-kanakan adalah perlambang dari keberadaan nafsu manusia yg cenderung durhaka dan ingkar terhadap Sumbernya. Sedangkan ghulam yg baik dan berbakti merupakan perlambang dari keberadaan roh manusia yg cenderung setia dan berbakti kepada Sumbernya. Dan sesungguhnya, perbuatan Khidir AS itu adalah perlambang yg sama saat Nabi Ibrahim AS akan menyembelih Nabi Ismail AS ‘Pembuhunan’ itu adalah perlambang puncak dari keimanan mereka yg beriman (mu’min).”

“Adapun dinding yg ditinggikan Khidir AS adalah perlambang Sekat Tertinggi (al barzakh al ‘a’la) yg disebut juga dgn Hijab Yang Maha Pemurah (hajib ar-Rahman). Dinding itu adalah pengejawantahan Yang Maha Luhur (al-Jalil). Lantaran itu, dinding tersebut dinamakan Dinding al-Jalal (al jidar al-Jalal), yg dibawahnya tersimpan Khazanah Perbendaharaan (Tahta al-Kanz) yg ingin diketahui.”

“Sedangkan dua anak yatim (ghulamaini yatimaini) pewaris dinding itu adalah perlambang jati diri Nabi Musa AS, yg keberadaannya terbentuk atas jasad ragwi (al-basyar) dan rohani (roh). Kegandaan jati diri manusia itu baru tersingkap jika seseorang sudah berada dalam keadaan tidak memiliki apa-apa (muflis), terkucil sendiri (mufrad) dan telah berada di dalam waktu tak berwaktu (ibn al-waqt). Dua anak yatim itu adalah perlambang gambaran Nabi Musa AS dan bayangannya di depan Cermin Memalukan (al-mir’ah al-haya’I).”

“Adapun gambaran tentang ‘ayah yg salih’ dari kedua anak yatim, yakni ayah yg mewariskan Khazanah Perbendaharaan , adalah perlambang diri dari Abu halih, Sang Pembuka Hikmah (al-hikmah al-futuhiyyah), yakni pengejawantahan Sang Pembuka. Dengan demikian apa yg telah dialami Nabi Musa AS dalam perjalanan bersama Khidir AS (QS. Al-Kahfi : 60-82) menurut penafsiran adalah perjalanan rohani Nabi Musa AS ke dalam dirinya sendiri yg penuh dgn perlambang (isyarat).”

“Memang Nabi Musa AS lahir hanya satu. Namun, keberadaan jati dirinya sesungguhnya adalah dua, yaitu pertama keberadaan sebagai al-basyar ‘anak’ Adam AS yg berasal dari anasir tanah yg tercipta; dan keberadaannya sebagai roh ‘anak’ Cahaya Yang Terpuji (Nur Muhammad) yg berasal dari tiupan (nafakhtu) Cahaya di Atas Cahaya (Nurun ‘ala Nurin). Maksudnya, sebagai al-basyar, keberadaan jasad ragawi nabi Musa AS berasal dari Yang Mencipta (al-Kha-liq).”

“Sehingga tidak akan pernah terjadi perseteruan dalam memperebutkan Khazanah Perbendaharaan warisan ayahnya yg shalih. Sebab, saat keduanya berdiri berhadap-hadapan di depan Dinding al-jalal (al-jidar al-Jalal) dan mendapati dinding itu runtuh maka saat itu yg ada hanya satu anak yatim. Maksudnya, saat itu keberadaan al-basyar ‘anak’ Adam AS akan terserap ke dalam roh ‘anak’ Nur Muhammad. Saat itulah sang anak sadar bahwa ia sejatinya berasal dari Cahaya di Atas cahaya (Nurun ‘ala Nurin) yg merupakan pancaran dari Khazanah Perbendaharaan. Sesungguhnya, hal semacam itu tidak bisa diuraikan dgn kaidah-kaidah nalar manusia karena akan membawa kesesatan. Jadi, harus dijalani dan dialami sendiri sebagai sebuah pengalaman pribadi.”

PELAKSANAAN ILMU KASAMPURNAAN


AJARAN YANG DISEBARKAN PARA MURID
DAN PELAKSANAAN ILMU KASAMPURNAAN

Metode dan Pokok Ajaran Syekh Siti Jenar

SATU
“Semua ajaran yang disampaikan Ki Ageng Pengging meyakinkan, jelas, teratur dan terus-terang. Tiada yang dirahasiakan, tanpa tedeng aling-aling, tiada pula selamatan atau sajian kepada Rosul, bahkan kain putih saja tidak diperlukan. Siapa saja yang datang diberi pengetahuan, ilmu tentang rahasia alam semesta. Tiada bersyahadat, tiada berdzikir, mengajarkan tentang kenyataan dari ajal. Hidup di dunia dipakai sebagai contoh perumpamaannya. Di dunia ini kepercayaan didesak oleh syahadat. Serta dipalsukan dengan perumpamaan ilmu gaib yang kosong. Berdzikir dan sembahyang dipakai sebagai kedok penipuan, seperti yang diajarkan para sahabat waliullah.” <Serat Syaikh Siti Jenar Ki Sasrawijaya, Pupuh II Asmarandana, 10-11>.

Wejangan dan Larangan Syekh Siti Jenar

DUA
Sudah diketahui secara umum bahwa wejangan (ajaran-ajaran) Syekh Siti Jenar dirumuskan dalam ajaran Sasahidan. Adapun yang menjadi sesuatu yang harus dicegah oleh para pengikut dan pengamal ajarannya adalah (Sabda Sasmaya, hlm. 45, 47):

a. Tidak boleh memiliki daya atau keinginan yang buruk dan jelek.

b. Tidak boleh berbohong.

c. Tidak boleh mengeluarkan suara yang jorok, buruk, saru, tidak enak didengar dan menyakiti orang.

d. Tidak boleh memakan daging (darat, udara maupun air).

e. Tidak boleh memakan nasi, kecuali terbuat dari bahan jagung.

f.  Tidak boleh berkhianat kepada sesama manusia.

g. Tidak boleh minum air yang tidak mengalir.

h. Tidak boleh membuat dengki dan iri hati.

i.  Tidak boleh membuat fitnah.

j.  Tidak boleh membunuh seluruh isi jagat.

k. Tidak boleh memakan ikan atau daging dari hewan yang rusuh, tidak patut, tidak bersisik atau tidak berbulu.

TIGA
“Manusia yang sejati itu ialah ia yang mempunyai hak dan kekuasaan Tuhan Yang Maha Kuasa, serta berdiri mandiri diri pribadi. Sebagai hamba ia menjadi sukma, sedang Hyang sukma menjadi nyawa. Hilangnya nyawa bersatu padu dengan hampa dan kehampaan ini meliputi alam semesta.”<Serat Syaikh Siti Jenar Ki Sasrawijaya, Pupuh II, Asmarandana, 2>.

EMPAT
“Adanya Allah karena dzikir, sebab dengan berdzikir orang menjadi tidak tahu akan adanya zat dan sifat-sifatnya. Nama untuk menyebut Hyang Manon, yaitu Yang Maha Tahu, menyatukan diri hingga lenyap dan terasa dalam pribadi. Ya Dia ya Saya. Maka di dalam hati timbul gagasan, bahwa ia yang berdzikir menjadi zat yang mulia. Dalam alam kelanggengan yang masih di dunia ini, di manapun sama saja, hanya manusia yang ada…Allah yang dirasakan adanya waktu orang berdzikir, tidak ada, jadi gagasan yang palsu, sebab pada hakikatnya adanya Allah yang demikian itu hanya karena nama saja.” <Serat Syaikh Siti Jenar Ki Sasrawijaya, Pupuh II Asmarandana, 3-4>”…nama Tuhan itu berasal dari manusia.” <Serat Serat Syaikh Siti Jenar Ki Sasrawijaya, Pupuh II Asmarandana, 18>.

LIMA
“Manusia yang melebihi sesamanya, memiliki duapuluh sifat, sehingga dalam hal ini antara agama Hindu-Budha Jawa dan Islam sudah campur. Di samping itu rupa dan nama sudah bersatu. Jadi tiada kesukaran lagi untuk mengerti akan hal ini dan semuanya sangat mudah dipahami.” <Serat Syaikh Siti Jenar Ki Sasrawijaya, Pupuh II Asmarandana, 5>.

ENAM
“Manusia hidup dalam alam dunia ini hanya menghadapi dua masalah yang saling berpasangan, yaitu baik buruk berpasangan dengan kamu, hidup berjodoh dengan mati, Tuhan berhadapan dengan hamba-Nya.” <Serat Syaikh Siti Jenar Ki Sasrawijaya, Pupuh II Asmarandana, 6>.

TUJUH
“Orang hidup tiada merasakan ajal, orang berbuat baik tiada merasakan berbuat buruk dan jiwa luhur tiada bertempat tinggal. Demikianlah pengetahuan yang bijaksana, yang meliputi cakrawala kehidupan, yang tiada berusaha mencari kemuliaan kematian, hidup terserah kehendak orang masing-masing.” <Serat Syaikh Siti Jenar Ki Sasrawijaya, Pupuh II Asmarandana, 7>.

DELAPAN
“Menurut ajaran Siti jenar dulu, keadaan hidup itu berupa bumi, angkasa, samudera dan gunung seisinya, semua yang tumbuh di dunia, udara dan angin yang tersebar di mana-mana, matahari dan bulan menyusup di langit dan keberadaan manusia sebagai makhluk yang terutama.”< Serat Syaikh Siti Jenar Ki Sasrawijaya, Pupuh II Asmarandana, 8>.

SEMBILAN
“Allah bukan johar manik, yaitu ratna mutu manikam, bukan jenazah dan bukan rahasia yang gaib. Syahadat itu kepalsuan.” < Serat Syaikh Siti Jenar Ki Sasrawijaya, Pupuh II Asmarandana, 9>.

SEPULUH
“Akhirat itu di dunia ini tempatnya. Hidup dan matipun hanya di dunia ini.”<Serat Syaikh Siti Jenar Ki Sasrawijaya, Pupuh II Asmarandana, 13>.

SEBELAS
“Bayi itu berasal dari desakan. Setelah menjadi tua menuruti kawan. Karena terbiasa waktu kanak-kanak berkumpul dengan anak, setelah tuapun berkumpul dengan orang-orang tua. Berbincang-bincanglah mereka tentang nama yang sunyi hampa, saling bohong-membohongi, meskipun sifat-sifat dan wujud mereka bicarakan itu tidak mereka ketahui.”<Serat Syaikh Siti Jenar Ki Sasrawijaya, Pupuh II Asmarandana, 15>.

DUA BELAS
“Saya di sini membuka hutan, bercocok tanam di huma untuk penghidupan atas kehendak Hyang Manon, Yang Maha Tahu. Jika tanaman saya memberi hasil jagung, kentang dan ketela saya makan bersama Hyang Agung, Yang Maha Agung, yang memberi perintah kepada saya.” “Tatkala saya mencangkul, saya bersama Gusti Tuhan. Ketika saya mengambil hasil cocok tanaman saya, saya bersama Pengeran Tuhan. Sekarang ada sesama orang memanggil saya ke Bintara. Di sini ada apa selain Pangeran dengan nama-Nya, yang serambutpun tiada terpisahkan.” “Jika saya dipanggil ke Demak, sesungguhnya saya menolak, tidak mau jika tidak bersama dengan Yang Mengasuh Jiwa Raga Saya. Sekalipun saya mau, akan tetapi Yang Maha Kuasa tidak mau, bagaimana saya dapat berjalan?” <Serat Syaikh Siti Jenar Ki Sasrawijaya, Pupuh II Asmarandana, 36-38>.

TIGA BELAS
“Takdir tiada kenal mundur, sebab semuanya itu ada dalam kekuasaan Yang Murba Wasesa, Yang Menguasai segala kejadian.” “Orang mati tiada merasa sakit. Yang merasa sakit itu hidup yang masih mandiri dalam raga. Apabila jiwa saya selesai menjalankan tugasnya, dia akan kembali ke alam aning anung, alam yang tenteram bahagia, aman damai dan abadi. Oleh karena itu saya tidak takut akan bahaya apapun.” <Serat Syaikh Siti Jenar Ki Sasrawijaya, Pupuh XII Asmarandana, 22-23>.

EMPAT BELAS
“Menurut pendapat saya, yang disebut ilmu itu ialah segala sesuatu yang tidak kelihatan oleh mata. Umpamanya, Demak dari sini tidak tampak, akan tetapi Demak itu ada. Itulah yang disebut ilmu. Adapun pernyataan yang kedua, di mana tempat hidup itu, jawabannya, hidup itu uninong ananung. Pertanyaan yang ketiga, siapa yang mengajak tidur, jawabannya menurut saya, yang mengajak tidur itu tirta nirmaya.” “Yaitu air hayat kata Arabnya. Air hidup itulah yang dulu dicari Sang Sena dan disebut air prawita dalam bahasa Hindu-Budha. Adapun tempatnya di uning unong uninong aning.” < Serat Syaikh Siti Jenar Ki Sasrawijaya, Pupuh III Dandanggula, 16-17>.

LIMA BELAS
“Sesungguhnyalah, saya ini orang mati setiap hari kematian saya berkurang. Berapa lamakah kiranya saya mati di dunia ini. Masih lama lagi hidup saya nanti. Saya tentu kembali hidup. Mati kaya akan dosa dan siksaan neraka yang banyak saya alami ini. Balik kalao besok apabila saya sudah hidup, tiada terhitung kebahagiaan yang saya alami, langgeng untuk selama-lamanya.” <Serat Syaikh Siti Jenar, Ki Sastrawijaya, Pupuh III Dandanggula, 21>.

ENAM BELAS
”…yang mengatakan sekarang hidup, besok disebut mati, itu ucapan santri yang terkutuk, ma-buk tobat mengharap-harapkan sesuatu yang belum pasti.” <Serat Syaikh Siti Jenar, Ki Sastrawijaya, Pupuh III Dandanggula, 22>.

TUJUH BELAS
“Mana ada Hyang Mahasuci? Baik di dunia, maupun di akhirat sunyi. Yang ada saya pribadi. Sesungguhnya besok saya hidup seorang diri tanpa kawan! Di situlah Dzatu’llahu mesra bersatu menjadi saya!”

”Karena saya di dunia ini mati, luar dalam saya sekarang ini, yang di dalam hidupku besok, yang di luar kematianku sekarang.” <Serat Syaikh Siti Jenar, Ki Sastrawijaya, Pupuh X Asmarandana, 36-37>.

DELAPAN BELAS
“Orang yang ingin pulang ke alam kehidupan tidak sukar, lebih-lebih bagi murid Syekh Siti Jenar, sebab ia sudah paham dan menguasai sebelumnya. Di sini di tahu rasanya di sana, di sana ia tahu rasanya di sini.”

“…Yang disebut mati itu keinginan pribadi. Perihal pulangnya Syekh Siti Jenar ke alam kehidupan, saya bermaksud menyusulnya, hidup bersama dia dalam alam yang tiada terbayangkan. Sebentarlagi saya akan pulang.” <Serat Syaikh Siti Jenar, Ki Sastrawijaya, Pupuh XI Pangkur, 23-24>.

SEMBILAN BELAS
“Tiada bimbang akan manunggalnya sukma, sukma dalam keheningan, tersimpan hati sanubari, terbukalah tirai, tal lain antara sadar dan tidur, ibarat keluar dari mimpi, menyusui rasa jati.” <Babad Jaka Tingkir-Babad Pajang, hlm. 86>.

BABAD CIREBON (BAGIAN III)


A S M A R A DA N A

Warnanen wong Pakungwati
Panembahan Girilaya
naban tahun sesebane
hing ngarsa Sunan Mataram
naban mangkati ngetan
wulan sapar layen rawuh
tanggal ping nem Rabiulawal.

Nuju unining Sakati
sabab hing Praja Mataram
hing tanggal ping nemunene
Sekati dugi hing Iplal
kempeling para Raja
kang seba ana hing riku
bada Iplal sanya bubar.

Beda aneng Pakungwati
hing Banten unining Tabal
Sukati tanggal wolune duga maring Iplal ira
kokong ngang sing Mataram
aja ngungkulan harju
dumateng piyambakira.

Banten sabane wus mari
wus kapohung dening arsa
patugur naban tahune
prikati Mugel Jaketra
lunta kaja mangkana
dupi Carbon masih nungkul
sina tat hing Bupaca.

Satata lawan Kadiri
Madiyun lan Banyumas
Demak lawan Pajange
Madura Sampang curiga
sebahe hing Mataram
titip awak piyambekipun
jumeneng Ratu ampilan.

Warnanen wong Pakungwati
Panembahan Girilaya
yen beba ngetan dinerek
dening kalodahan nira
Ki Arya Salingsingngan
miwah Ki Dipati Ukur
punapa dening lulura.

Ingkang nama Tandumohi
miwah Kaki kadurowan
hing Gebang Wanduhajine ingkang nama Sutajaya
dederek hing Mataram niniteni Gusti nipun
larane wong angawula.

Hing pamondokan Matawis
ora na ngajeni pisan
yen marek maring Sunane
anglepo ana hing lemah
konjem-konjem ana ing lemah
ika ingkang dadi rengu
manahe Ki Salingsingan.

Muwa ika Ki Dipati
Ukur umatur hing Panembahan kulipun duriyat kulon
anak putu Rasullullah
nemba hing wong Mataram
anak putu kaya isun
tunggal asal ka Galuwan.

Moning ngapa sampun lumiring
pangalataking Mataram
kula Gusti kang tanggo
hing banggane wong Mataram
Gusti atas kaula
Gusti sampun tumut-tumut
barkahe luluhur Nata.

Saestu Sang Raja Wali
tangtune ngaobe barkah
Panembahan adan linge
aja geru yin rarasan
bok ana kang miharsa
tema dangdang muli kuntul
pitenahe wong Mataram.

Mulane isun ngabekti
ya maring Sunan Mataram
bok iki pada katambon
mengkoyen sami asowan
hing ngarsane Suhunan
sun dudokaken tuhu
jatine ingkang sun sembah.

Amung aja adu linggih
lan isun den kapiarta
yen ana babisin ingngong
ya ta kang para Lulurah
ngartos wangsiting Nata
miyos aneng pangangkilan.

Sunan Mataram wus linggih
ana singgasana mubyar
kinubeng sakaprabone hing ngajap sagunging Nata
sami konjeming lemah
lir pitik atumon ulung
rarasi para Nalendra.

Panembahan Pakungwati
tan tebah Lulurah ira
ana katingal mancorong
hing tinggaling salingsingan
Nata Ukur pon mulat
Tandamuhi pin dulu
tengene Sunan Mataram.

Ana linggih kursi gading
komara nelohi jagat
pinayung kadi Srengenge
ajeng ngenging para Lulurah
kawengan teja prana
pareng bubar hing ngalungguh
sami dateng pamondokan.

Panembahan Pakungwati arising kandikanira
la kaki paran was paos para Lulurah aturan
inggih Gusti punika
punapa kadi andaru
nembe kaula karengan
rupaning kang adi luwis.

Panembahan angandika
bok kai ora angratu
kang katon ya ika Eyang
Suhunan Kalijaga
Boktan idep jati iku
Jatine ingkang sun sembah.

Urub-urub hing Yang Widi
murub mancur Rasulullah
insan kamil jati reka ingkang pangawak teja
mageng araga sukma
apa dudune luluhur
Sunan Jati munggeng kramat
la iku margane ngarti
wis iking Gusti Panembahan
dennya sukuran ngolosod
hing sampar lebu Mataram
anut inggeking mala
sampun sedeng sami mantuk
mring Pakungwati nagara.

P A N G K U R

Lami-lami ning ngagesang
kudu bae ingrung nganing ngaurip
Carbon katekanan musuh
ring wong atas Maruta
Ki Dipati Ganden hing paparabipun
wong kalang wong angluluntang
mangan kodok mangan babi.

Sadina-dina genturan
ya apesta manjer pangetokan babi
lakok eneng agawe rusuh
maring isene desa
rarampasi singa cabar ya den roud
duduwene den parusa
ora nganggo sukane maning.

Yen den po ika tukaran
perang buru singa cabar ya kambil
ora nyang kirangi hukum ngalahakn nagara ora mikir hing
palakartining Ratu
Panembahan Girilaya
ora den deleng Narpati.

Den anggep wong ngamandika
Mila Dipati Ganden tan den tata kering
amepes bawaning Ratu
kang Patih Seminingrat
saoli-oli anyabili maring musuh
malah akeh kawat gata
wong Carbon akekang mati.

Kulawarga kaparungan
akeh tatu angadang sura wiri
wong Caikherang ageru
grandaka kapunggungan
Ratu Mendik apopoyan ning Sang Ratu
Penembahan Adillullah
den gondel sakti nulungngi.

Kranane ika wong kalang
ora kena den gawe beres urip
den tundung tan gelem mamprung
den rampek anglulungka
datan kena den gawe sanak angutus
gelar kadi camera kera
tan ngaji bener satitik.

Ngaluntang sakamya-kamya
duduwening akeh den paksa wani
sinemdu dadi agelut paten-paten brawasa
lalon-lalon anglalu ataker marus
angrebuti baranging liyan
tan etang dipun pentungi.

Dipun perang males merang ora kena dipun aru-aruhi
yen den aru anggep lampus
ya ta Kanjeng Panembahan
karsa tumon hing jalma kang kaya iku
kalih Panguli Jalila
hing ngiring  sagung santri
angangge sarwaning petak
patang puluh punika ingkang santri
miyosipun saking datun
kang sarta atakbiran Allahu Akbar rempug wong oatang puluh
adi sabik-sabilullah
sabille wong Pakungwati.

Takbiran kaya Riyaya
rame rempug swaraning hing wong santri
angiring Pagustenipun
miyos ming jawi kita
beneraning Tedeng pan sigra katemu
Dipati Ganden tumingan
hing polahira wong santri.

Ingkang sami atakbiran
suka bungah dumado milu muni
amuji puji Yang Ngagung
karenan tanpa sesa
dadi milu sainggeking Sang Ratu
den kon muni shadat
sakabeh wong pada ngiring.

Den Islamaken sadaya
Dipati Genden sako ela wargi
wong Kalang wus pada anut
mungalape Sang Nata
den dodo kaken hing Pakalangan iku
akumpul dadi sadesa
Pakalangan iku yakti.

Pan titiyang selam anyar
yasanipun Kanjeng Panembahan Giri
layan mila-mila nipun ywan kasebat
jawa Pakalangan
angabdi maring Sang Ratu
kongang lamon den edola
ping pitu sadinamangkin.

Katampun Ki Jalali
la yen ika sinengge kang abdi milik
Pakalangan ika ikusabad ika wong Kalang
ikang pada teka nagara ming ratu
gawe kalakuwan gagam
angalasaken nagari
dupi sunda pagunungan
sinengge abdi kasiyaning Haji
krana nalika duk mau
ratu ingkang tumeka
amerangi maring nagarane iku
marmanipun ketang seda
lawan Pakalangan mangkin.

Lawan aja gawee lo kan
nadyan gunung pon beda-beda ugi
yen wangkid gunung prakuwon
yen iku abdi amat
krana iku Islame pinrang nging Ratu
Islam soteh karana kala perange dening Sang Ngaji.

Yen si wong Gunung Prajangan
ku mardika krana Islame dingin
ora karana pinukul perang dening Sang Nata
estu iku suhud dewek maring Ratu
mula tan sinengge amat den nira wong Pakungwati.

Dupi Jawa Kapetakan tungal layan Pakalangan kahabdi
krana alame Sinuhun iku Pangeran Petak
sabalane pada gawe rusuh-rusuh kaya Pakalangan uga
tan nana beda sademi.

Mila Kiyai Jalita
Pangulune nagara Pakungwati
ngukumi yen ika dusun
kang aran kapetakan
Pakalangan tunggal bae habdi mamluk kamilik Sang Nata
Hing nagara Pakungwati.

M I J I L

Lami-lami hing solah maranti
sabaee wong Carbon
hing Mataram saban hing-hing Mulude
datan ginggang Ki tandomohi Pandelengan mangkin
Arya Jagasatru.

Para Lulurah Arya Salingsingan mangkin
den nya amigatos
Malangsumirang murung hing nitine
yen ning wetan aniningali
wong ngajar juri aneng alun-alun.

Pada ngagem tohok tur aniti
kuda pada angrok
tumbak tinumbak tan pasa kulite
ana ingkang baksa amawikepeng pedang
paris atangkis sarawuk.

Pedang pinedang tanana ingkang kanin
wane kangsarogsog
balang binalang ngaken ninggeke
sinuraken dipun kapoki
gamelannya asri
pinatut lan bedug.

Warna-warna dennya ngawi ragi
jogeding asosog wan
ingkang tandaknya angulur sabagi-bagi dennya mambri
kasukaning Ngaji bala sili hatur.

Atur-atur hing manca Bupati
dumateng Sang Katong ing Mataram
kalangkung sukan
amingali ingkang para abdi
atur pangupaksi
maring Sangaprabu.

Singa nagara pada metoni
tontonan ning kono
ya wong Carbon den niri gawe
meton nana tontonan kang maring
Kanjeng sri Bupati wong Carbon sasdu.

Matur yen boten wonten minangkani
Grago tiyang bodo boten wonte kanga tiyasa
joged pangawi raga
boten bangkit hing kasakten malih
yen nit yasaha tahu.

Wong Mataran kudu bae ngiri
maring anak Carbon
Arya Jagasatru wuwusi
lan iki kentasa bedil
kang ageng pribadi
kinarsakna amanggul
sarta nyuled ya ta wong Matawis
pada kamisosot
he wong wong Carbon pugas hing ang kowe
ya ta sinukan dening Sang Ngaji
yen nyuleda bedil sapujagat iku.

Arya Pandelengan tandas aglis Salingsingan gatos
angiseni obat sasedenge
den enali pasek tumuli
piyambake manjing
sarta enal iku.

Nuli Arya Jagasatu gasik
Nata  Ukan gatos
ngangkat bedil dipun panggul dewek Tandamohi ingkang
mulad bedil
jumegun agonjeng
kadi jagat lindu
Jagasatru wangkeng datan mosik kukuh
eh lir papatik hing bedil
Sapujagat kekere
ora mundur ora gumingsir
lir wong manggul epring
tan katon wratipun.

Pandelegan kang kabiyas dening
obat kadi pelu
hing janjana tan kruwan tibane
ora suwe jaragenek nyanding hing ngarep ping bedil
bada masi watu
Wong Mataram iku nembe uning
Laksanainya Carbon
Ujar satepak katut bebede ora kena den ina urip
Lan iku gegebring saktine kayeku.

Manda dene Bandarane yen uwis
nemor gawe katon
ika gadang punjul saking papake
Carbon kudu den prayekani
bok manawi dadi
kamandi hing besuk.

Yen wis samono gatrane kahaksi
dening tingaling wong
aja katungkul nononton saktine
kudu anyangkirang hing ngakir.

Coconteging Aji
maring kangkad ye kun
Di ana ratu kang dadi sakti
gelare samono
tangtu iku gelare samono
aja kerup rupane aking
kadya bibit uwi
kaligane muncul.

Ela iku marmitane dadi
Panembahan Carbon
den patroli hing pamondokane den talikti hing raina wengi
dateng wong Matawis den titeni dudu.

Ya sangune isi sega aking
den korek den tinjo
den taliktik bok ana isine
kanutane den galusoari
katetaning kancing den wewer usung.

Ya iku ngenese wong Pakungwati
dipun notok kaya
ya angrasa den ina prajane
Arya Ki Dipati Ukur.

Katuwone dening luwi-luwi
Tan den daleng uwong
Makaten ugi hing saciptane
Wandu Haji Gebang kang nami
Sutajaya dingin
mana winaringrut.

Wong Carbon pada rengating ati
den gawe samono
ya ingkali wong bresi tan duwe
manah digjaya  tejaden serik
won serya sayakti teka den lulupud.

Ya wong setya ika teka den pracekani
ka ta loroding wong
carbon sedeng mantuke ing grage
angngadati hing naban warsi
bada Iplal mulih
dateng praja nipun.

D U R M A

Rakaya Ki Dipati Ukur hing wuntat
ngari aminangkani
kiwuling ngaguna
matek aji limunan
malebeting dateng puri
aneng Mataram
tan nana ingkang uning.

Malah gedang semangka hing dalem puri
den dahar ingkang isi
kulite waloh eya geger ring wong jro pura
tumon gedang pada masih
wutuh tan kaya
isine musna gaib.

Mangkana uga semangka kang pada musna
isine hanging kang masih
kulite waluya
gawoke wong Mataram
dening tembe ameningi
kadi mangkana
oreg sadalem puri.

Nuli ika Tandamuhi matek limunan
lumebeting jro puri
menangi Sunan
ika diweg tuturas
emase dipun contengi
apu madu pat Sunan kaget ningali.

Aningali emas kaligane ana
coconteng ingkang putih
pikir ana baya
iki ana durbiksa
baya belis saking ngendi ngaru maring wang
dubilah den tebih.

Enggal sira ingkang dakar winasuhan
nanging yen uwis aking kaligane ana
maning cocondeng pedak
Susunan dangu mimikiri
dereng kamanah
ingkang ngasung wigani.

Nuli ana Ki Arya Salingsingan muja alimunan den wisikik
manjing hing kadat yan
amenengi kang Susunan
diweg dahar den ladosi
para parekan
Ki Salingsingan aglis.

Manyungkur hing kumise Kanjeng Suhunan kumise kang sasisih
ya ta sang parekan
kaget ningali Susunan
kumisi ilang sasisih
mancep ngujiwat
Suhunan maskitani.

Angandika kuwe mesem mulat maring wang
apa kuwe sarasmi
maring raganingwang
dupi mangke den usap kumis kari sisih
adan Suhunan
mundut adining carmin.

Amratelakake kumise kang ilang
ngilo kakaco yakti
nyata kumis ilang
nyata Sunan ngandika
sapa ingkang wani-wani
hing kumis ingwang
den cukur kari siji.

Nuli ana swarga uni sabda
nyauri hing Sang Ngaji swara
nya enya anu nyokuran
Sunan Mataram nimbali
Papatih ira apariksa lahiki.

Ya kumisku ilang sasisih kelangan
teka ana nyahuri
swarane kang mun ya
aning artine apa
Ki Patih matur wotsari
artosing basa
aning punika kami.

Gih punika basa tiyang Carbon Sunda
lah iku marmitaning
Susunan Mataram
nyereg yen Carbon ala
pada undangana gelislakune nyetan
sugih rancana demit.

Wus katulap yen dadi musuh hing nata
wani amanjing puri
ora lan dadalan
nyukur kumissing Nata
ora layan den badami
sasaha si pakurwati.

Ya Ki Patih matur nuhun duka Sang Nata
anak Mas carbon mangkin
pan sampun kalilan
mantuk dateng nagaranya
pandugi kang masih hari
rowangan nira
ngalindeng digja demit.

Boten kados tan kasasmata hing tinggal
saking pundi marganing
ingklang kacepenga
Susunan angandika
lah lurugana tumuli
Carbon den kena babandane mariki.

Lah iku marmitaning dadi cela
Carbon lawan Mantawis
mantingka lurugan
Pangeran Purobaya
kang tumanduk anglurugi
aneng pakudyan
sarta para prajurit
duga maring Carbon ika masanggrahan
mungguh kiduling kali
kang mangke katelan
Paronggol namanira
enggal Kyai Tandamuhi
kang lumantinga
hing gelar sing Matawis.

Kacarita Tandamuhi kang laksana
tumanding hing praweri
Pangeran Purobaya
anyuduk tinadahan
Tandamuhi dadi kalih
pinindo dadya
papat anggambing-ngambing.

Di ping telu dadi wolu ingkang raha
sigra kinen malesi
dupi lumaksana
tandamuhi sumeja
anyuduk hing ciwakan mangka ning
ababa kudaburak ika dumadi.

Ya Pangeran Purobaya dawah hing lemah
narimah kawon jurit
bubar sarta bala
wansuli maring Mataram
atur uning hing Sang Aji
yen Carbon mapan
tan kena den gagampil
ya satepak kekere karo wadyanira
tan kena den gagampi;kadi uler timah
panas bawaning setan
punika wong Pakungwati
osugi guna
setan katong ngadohi.

M E G A T R U H

Yen sinuduk dadi akeh kaya lelembut
yata Sunann Matawis
ngutus sejen wira pamuk
niroban bala braketi
gumodug parane ngulon.

Iya iku Tumenggung sing Pasir Kidul
kang guna prawiwa sakti
Pangeran nang Selatelu
sumeja anjajal maring
kutaning nagara carbon.

Durung teka maring prawatesan Pakung
nembe duga ambeneri
tugu mangangkang katemu
Nata Ukur kang ngadepi
atanding wira kammacon.

Ingkang bala Mataram kundur katumpu
pada mulakipun dening
pangaruhe Nata Ukur
kenang ubang-ubeng dadi
polahe amider panon.

Ubang-ubeng tan karuhan lampahipun
amemegeli kang ati
nyata ika Nata Ukur
anulak musuh Matawis
tan kadugi datang Carbon.

Apopoyan wau hing bandaranipun
yen kadi musuh iblis
abdi dalem alalaku
boten katik dugi-dugi
pijer kapuyangan kapanan.

Estunipun amusuh pan dede musuh
kadi prang lan dedemit
tan kantenan gelaripun
ya ta Susunan Matawis
angutus hing sejen wong.

Sena pati suwanggi sabrang punjul
kait lan dukun gentiri
wong Mataram kang angri yung
lumurug hing Pakungwati
seja ngempes anak Carbon.

Ing ngiring ing bala pirang-pirang umbul
wong Carbon tan nedang-eding
Panembahan ora weruh
yen piyambake den lurugi
angeca-eca kemawon.

Ana soteh kang seja nulaking musuh
Ki Arya Wanduhaji
hing gebang bronjot kang mau
Sutajaya angadepi
saking Losari kemawon.

Saking sabrang kulon hing kali duk rawuh
para musuh sing Matawis
pang rahose remek-rempuh
pada rusak den amukir tur sajatine baloklok.

Sutajaya tan kesah-kesah angambek
mung ngadeg nang sabrang kali
amatek hing ngaji nipun
tuju lajaran ngenani
bala Mataram wuslorad.

Iya mulak pangrasene ana kang ngamuk
nanging tan kruwan kang wero
kadi wawayangan nempuk
amepes nyawa prasami
kandur ingkang bala katong.

Mila kocap ing Gebang laksananipun
anulan musuh Matawis
matur hing bandaranipun
yen Carbon kadi dedemit
uwong soteh dede wong.

Ulur-ulur tali barat hing lelembut
tan kenging den kanta jalmi dados mesa dede musuh
memeri amese pitik
sumanggeng karsa Sang Katong.

Ya ta Sunan Mataram kalangkung bendu
angraus durga kalilip
apa maning wuwuh imbuh
akeh sinangarya serik
kang kapentas hing Matahok.

Pan wis ana kang aserik
hing Mataram iya anamprung
manca maring Pakungwati
agolong ana hing carbon
dura tanggon anggon.

Mila sami pralalu manca anunut
maring Ratu Pakungwati
kang sabar krana Hyang Agung
rembesipun Raja Wali
Kutubing nagara Carbon.

L A D R A N G

Pakungwati lami-lamining ngaurip
kudu ana
bancana isining lahir
ora liyan ya Ki Buyut Alas urang.

Ya tedaking Dempul kang dingin maranti
angka-angka
ingkang umbul-umbul waring
pada raraton
awanguna si karaharja.

Ya sakait lawan Ki Buyut kang nami
Ki Supataka
pon turuning hamet wani
mung cirine dening tan huning hing daya
kurang waspada hing gaibe dumadi guragapan
mengke yen anemu sandi puharane dadi kaya-kaya bocah.

Ya ta geger genturaning Pakungwati
alad-alad
Patih Seminingrat aglis
anglurug hing alas Bakung sinikara.

Sawatana prange Ki Buyut ningkir
leber mapan
ming kapetaken den tungtik
dening Kyai Patih Carbon Seminingrat.

Hing Patakan aprange sawata wis
sigra bubar
angajab samargi-margi
angrurongseb hing laku padang raraja.

Angararaja kanggo sangu ning madigdig
ingrarampas
singa ing dalam kapanggih
ya den rebut wani hing tingkahira.

Buyut Urang sabatute sala hepti
seja nyelang Carbon pusaka kujang.

Moyang Panjunan
katitipaken nasri
mring Suhunan
apa benere wong titip
yen wis lawan ya kudu angolehena.

Ya ta tan gelem ngolihaken positip
yen wis lawas
benere wong ananagi
yen matungteng iya kudu penerang ngana.

Ya ta sira saya angrempagi
sanak-sanak
warga Panjunan kang sami
amarenca hing kulon angriyung teka.

Siji loro sing Kandangur sing Junti
miwa ika
saking Singaraja malih
sing Dramaju sing Ciasem sing Karawang.

Ya sing Pontang sing Tanara asing akeh malih
sing Jepura
ika katilas awani
maring Ratu Carbon
seja salah cipta.

Seja ngangkat Buyut Urang ngadeg Aji
ora kaya
Ki Patih Semi naliktik
pareng wengi anjejem guna wikara.

Buyut Urang lsgi turu dipun godi
langkung katrap
sisirepe patih Resmi
ya wong domas bature Ki Buyut Urang.

Kena kabeh iku pada tinangsuli
tampa sesa
binakta ya hing ana ing
Pecattanda
ana hing Kendal Kajaksan.

Ku wong domas wis pinanjara den Patih
Seminingrat
sadaya malebet sami.

Wong domas bature kaki
Buyut Urang den beloki nang Katandan
patut dening oli patang puluh wengi
nuli ika
den aerus dening pajaksaning
Ratu Carbon ana hing Kendal Kajaksan.

Den kukumi mau ingkang mamaten
iya pada den esrahaken ning Judi ya medaling
pamanggahan pinatenan.

Dupi iku kang rarajah rarampasi
dipun wedal
lakeng ning pasapon pinrih
den gitika anuli ika den buwang.

Dupi mau kang pada garumbyung pitik
kang kagebah
ora kalawan pamih
ku karsane Ratu Carbon den mahappa.

Ya wus sirna rasa rusiting nagari
kabar kahan
luluhur Sang Raja wali
aneng Carbon mapan masih tedak lima.

Sidem kayon kang reka-eka pan nyilib
pulih hardha
waluya abecik ati
embuh besoke saikine ya wis kreta.

P U C U N G

Tan warnanen hing Mataram Ratu Agung
dumatenging dede manah
dumatenging Ratu Carbon
reh patusan ping tiga tan antuk karya.

Kaserenging napsu kaliputing bandu
asraya Walanda
Kapitan Hetal jenenge pinroh kena babandane sang Narendra.

Anak mas Carbon aja ora kajuput
maring ngrasa ning wang
tau rasa sira mangko
yen campole iku sobat dudu lanang.

Yata ika Kapitan layar minmg laut
amargi sagara
wus kadungkap maring Carbon
lampahira tangginas ya enggal papta.

Wong Carbon kapengel tan ana ngaru
hing waktu samana
tan nana Walanda tumon
aja maning umah-umah hing nagara.

Durung ana ana Walanda jeneking Pakung
wong Jawa aringas
maring Walanda katemben
iya iku durung bisa hing katanya.

Durung ngarti terang ing kata malayu
den ajak tabeyan
Panembahan dereng ngartos
ya tan suwe adining pangalpuka.

Panembahan nurut bae ing sacatur
ring Walanda bisa
katiga putra anderek
Pangeran Sepuh Pangeran Anom sada.

Kawa naha Panembahan lampahipun
lan Kapiten Hetal
angrasa yen olih gawe pan wis katur hing ngarsane
kang Suhunan.

Ingkang bau Panembahan pan tinangsul
dumadi pratanda
arrah babadan semune
inkang putra kaliye ngartos sing reka.

Yen kang rama angsal dukaning Ratu
Agung hing Mataram
dereng ngartos ing dosane
nuli kinarsa kinung-kinung dateng pasowan.

Ginunem repit seja pinambrih lampus hing pada nayaka
malah wis ranpung guneme boya rempug yen den
pejahana ganal.

Ya karan bebeting Bantang bilih metu
budine rakasa
hing ngarab pan datan suwe
ya puhara dadi wisahing Suhunan.

Ding sejane seja demit ambrih lampus
seja guna digdya
baruwang ingkang jinawe
kula warga Carbon wus dumuging kana.

Ingkang Gusti Panembahan sanget nganglu
miyosing pasowan
den muleh-muleh den gotong
den aji-aji binakta hing pamondokan.

Tanna dangu Panembahan nuli larut
gurnita yen seda
den mulya-mulya sinareh
den Astana ana hing Giri Malaya.

Mila sinebut hing wuri ing nama nipun
Kanjeng Panembahan Girilaya sinambate
guring jana yen Mas Carbon wus seda.

Sarta karsane Susunan lamon la iku
putra Panembahan
tan suka mantuking Carbon
den kukuhi kekel ana hing Mataram.

Kang den arah drapona aja na sumulur
darapon dumpura
raja ana Ratu Carbon
bilas ilang hing Carbon akundang setan.

Angrobohi karaton laku angaru
annyotengi dakar
nyukur kumis lah samangko
rasakena dengda wisasating nata.

Ana rengi waktu samono pihibur
perang Trunajaja
seja bedah Matarame
putra Carbon loro pan katimpal-timpal.

Greg pating bilunglung larag-lurug
maring ngedi ora
putra Carbon kalbesate
hing nagara Kediri pan wirandungan.

Pirang-pirang hing Carbon tahun asuwung
katuwagan Nata
durung ana sumulure
durung ana kang mikir ngangkat Raharja.

Ya sing waktu Panembahan ika larut
duk ing babad jaman
hing sewu limang atuse
pujul wulung puluh papat lumampah
duha maringalu anembelas tahun
tembe ana karsa.

Sulta Banten pasiyane
apotosan ametuk kang putra ika
kang kablesat hing Kadiri lampah harju
kinen ngamitena saking Sunan Matarame
ya ta Tubagus ingkang prasami mapagi.

Kesah maring Mataram ika anuhun
lilane Suhunan lamon ika putra Carbon
kang kakalih
kasuhun kahamitena.

Kang karsaken ana hing banten salimur
tunggil tunggil melas
sanggine ing Banten bae
munggih munggiya wontena idin Suhunan.

Ya tan Sunan Mataram suka dumulur maring penenada
hing wong Banten kang samono
kon malaksak dewek maring pangngumbaran.

Den salaksah aneng Kadiri tinemu
dan sigra binakta
maring Banten sakaliye
rena-rena Sulatan Banten adurran.

DANDANGGULA

Kanjeng Sultan Banten tumulur asih
rempug lawan Morgel Jakertra
seja ngankat Ratu Carbon
Mugel Batawi darbe wawani
angadegaken Sultan
krana Banten iku
angsal idin saking Mekah
lawan angsal Pusaka Rasukan Ibrahim
pramila kinawenang.

Pangeran saking Carbon kakalih
mapan sampun ya jumeneng Sultan
hing Banten den intrenane
nuli kinarsa mantuk maring Carbon dupun katiri
Walanda sing Jaketra
ingkang naminipun
anengge kapitan Karang lan Raja Gowa Bima
kang prasami
kinen angraksa ha Sultan.

Embok ana panusul sing Matawis
ya ta Sultan sakoro wus harja
alinggih ana ing Carbon
babading jaman sewu
nem atus hing Carbon mimiti
ika jumeneng Sultan Walanda kang tunggu
mimiti ana Walanda
iya iku Kapitan Karang rumakseng Gusti
hing sajenggering wibawa.

Sajejeging amaro nagari
Kasepuhan lalawan Kanoman iya tatkala samono
Sultan Anom kang mangun
Kroton piyambek amurwa puri
sangkane tumuruna
maring anak putu
dadi ana Padaleman
loro eneng jroning kuta Pakungwati
ya tatkala samana.

Loro soteh kukume sawiji
pramilane yen kukum hum sarengan
Jumah he ya bareng bae
ana hing Masjid Agung
Panggulu hing Kanoman
Gilir Jumah atuwin Riyadin
sapa hing fitri sapa hing alkoh
mangana maning unine
Sukati sapa Mulud
lan sapa Riyaya kalih
katong roroning tunggal
ingkang linggih Ratu
Kapitayan duk samana
hing Kasepuhan nami Ki Arya Nadin
asale wong palekat.

Para Gusti duk samono musi
durung ngartos dumateng rarasan
malayu marinaning gawe
jurubasaning wuswus
ingkang nami Ki Arya Celli
iya iku kawitan
ming ana Tumenggung
aneng nagara Pakungwati
ingkang nginger ala beciking nagari
Sultan suksara pracaya.

Yumenggung ika kait lan Walandi
Kapitan karang lan Raja Gowa
Raja Bima ture
mula kaduga  lebur kut
a Carbon den burak dadi
den gawe bentengira
anang pinggir laut
sirnaning pusaka kuta timbul benteng
wawangunaning Walandi
anjaga jaga Sultan.

Lah iku waktuning carub urip
akeh Walanda akeh wong Cina
nunut suka hing Sang Katong
sinukan sami kumpul
umah-umah hing pinggir kali
sakuloning pabeyan ngadepaken dutu
ambanjeng pacinan dalang
pada gawe Kalanteng sabagi-bagi
acaket lan sabandar.

Pabeyan pamicisan dadi
kumerab sakuling bangsa-bangsa
pawalandan Kapitanne
ya Kapten karang wau
Kapitan Cina den arani
Kapten Burwe kawitan
ingkang pada laku
makoda wane pranakan
cacalang ingkang den wuri-wuri
jagane bok ana aprang.

S I N O M

Kawarnaha ingkang kadang
kang metu kang saking ngapti
Pangeran Kusumajaya dennya karem maring supi
tanopen anak rabi
umah bale burang abur
tan ngtang sandang pangan
hing bratapaning tur gempih
mila dumadi ing barang sacipta nira.

Bisa ngambah awang-awang
lan bisa mencala putri
kinawenang sejan rupa
lampah sakedap dumugi
maring prenah kang pinrih
wus ora sangketing laku
karemenipun wayang
dada lang kang wignya adi
kang sinengge hing sugul paesan tunggal.

Datan pegat anglambayang
mangka ika anarengi
leledang maring nagara
kapareng Sultan kakalih
diweg aniningali
benteng anyar winangngun
Pangeran Sumajaya
Kandikane ya iki
Kang ginawe menggung waji kudiran.

Natkala nabda mangkana
lari ngijoggaken ecis
hing kuta Bentang ahobah
oreg lir bumi ginonjing
semune manci maringkang rayi dumeh kadyeku
campur budi Walanda
gawe benteng pasang bedil
ya ta Sultan sakalih asruh ngandika.

Sampun makaten kang raka
lumayan bade madosi
tiyang bodo drapon ulap
ningali benteng puniki
dupi jeng raka serik
boten remen ning puniku
jandika nyingkir kewala
hing parnah gen kang sepi
dan Pangeran Sumajaya wus ayimpar.

Aguling hing Karjuwanan
atmane sampun dumadi
ratu topong Baladewa
hing pesisir kidul nengih
ika ana hing bumi
Cidamar gennya ang Batu
nama Sunan Prawata
tur balampun gagaib
gumlar asrih pada sadela.

Ya ta Gupenur Jaketra
kaget tumon giri rusit
dadi samnya pada apyak
saradadu anglurugi
pirang-pirang prajurit
saking Jaketra kumebul
kaligane kang prajurit
pada potol endase tanpa karana.

Mangkana lawan mangkana
gawokipun wong Batawi
nembe tumon lampah perang
amorotoli pribadi
akeh pada sasiri
anglurug pada angandu
sagena-gena pada
geris pada marotoli
pirang-pirang Sradadu Jawa Walanda.

Danggome geger genturan
Moggel Betawi angarti
yen pisaniki kudowa anak Carbon ken nyabili
maring Cidamar ambrih
jimat pamunakih lurug
ya ta wong Carbon dangdan
sarta prajurit Walandi
Kapitan Muris kalawan Kumendur ajag.

Lan Mantri Astraditaya
Sultan Loro pan lumiring
anglurug maring Cidamar
pasir kidul den purugi
ora manggih dangending
Cidamar amanggih suwung
gawoke wong Walanda
ra manggih itu ini
erane kang mau apa durbiksa.

Datan wruha ika atma
atmane kang mangngun guling
ana hing gon kajuwanan
parengika den lurugi
dateng kadang pribadi
dumadi enggal awungu
kana atma muksa ilang
mangsup hing ragane atang.

Sultan loro sing Carbon wus ngarti uga
lamon punika kang raka
Sumanjaya den nadeling
ngangken wiratama nira
ngesemi wong Pakungwati
anrorag-orag rayi
aja katungkul anggugu kula reja Walanda
kawas kita angumandi
para gusti hing rupane asengaja.

Sengaja campur koripan
angramekaken nagari
anganjarakening yasa
amburak yasa kang dingin
kuta Carbon wus bresi
kagantening benteng ngipun
ringa-ringa hing Jagat
wera ingkang dipun pambrih
nanging salirga gaib dadi atebah.

Tut satitik musna ira
guriyang hing Pakungwati
katiyen dening Walandi
hing Carbon buncari tebeh
ilang sagunging mandi
cama kapupuna hing dudu mila Kanjeng Pangeran
Sumajaya asung wangsit
supadosa para Gusti saja nemaha.

Henda ilang hing guriyang
sok remaja hing ngaurip
kang aran sagula wenta
ingkang manis ingkang gurih
anglalu sada lali
maring mantraning luluhur
tewaju hing kaldunya
kal akerat kang kakeri
lah iku prabawa Pulung yun mintar.

K I N A N T I

Hing Carbon sawaktu iku
mari seba hing Matawis
mung asrah patugun jalma
saban tahun gilir ganti
atilad wong Banten pura
patogur hing naban warsi.

Pon tunggal parigelipun
Tuwan Morgel hing Batawi
Sunan Mataram narimahwus ora kauni-uni
apa maning hing Mataram
lagi ibur durung mari.

Perang Tronajaya nipun
seja ambedah Matawis
pramila aneng mataram
tan pati ngungseda jawi
rada repeh hing wisaya
data kadi wingi uni.

Carbon tentrem dening estu
den jaga dening Walandi
kang nama Kapitan Karang
ingkang dipun katahani
dening pambrih hing Mataram
wedi mring telik Batawi.

Mila kauripan nipun
Walanda den katelingi
dening Sultan loro pada
sing Kasepuhan wong limang atus nyuosi
sakarepe wong Walanda
wong sewu ingkang ngupadeni sarta kinawenang dagang
mambrih untung hing nagari.

Sakarepe cari untung
ora ana ingkang den sangketi
anggolang bala makida
hing nagara Pakungwati
apa duduni wong cina
mung ora den gawe telik.

Cina amung cari untung
ora jaga lunggu Aji
mangkana ika wong Kaja
wong Bugis lan wong Sarani
sakarep angulan dara
ora angraksa Narpati
tami lamining tumuwuh
kadang dalem kang anami.

Pangeran Emas amolar
maring kang raka Sangaji
amode sanungi anjang
kaoripan hing nagari.

Kang raka Kendal tan pasung
bawaning tan mandarbeni
kawasa ngadegna pangkat
ngajaba Banten kang wis
olikokongang sing Mekah
dupi kita Pkungwati
Bara-bara kita tuwu samene ngulat
ngulat ngendi aja agawe ungkara
bok temah tan makenaki
wis esak-esak kreta
aja akeh pokal-pakil
Pangeran Mas duk rengu
adan angitar priyangga
surat recep hing Batawi
den dala hing pendi anyar
den tutupi cowet siji.

Den dempul lir wada majum
sapa jana isi tulis
den cocol lawan tampelang
wong siji intere demit
dumugi maring Jaketralampahe anumpal keli.

Hing kana salaminipun
ana hing tanah Batawi
tanama kang piduliya
angrantun anang umaning
tukang sayur hing Jakerta
tatamane sang Morgil.

Malah rerewang nyanyapu
nyiram kebun kunti wiri
sing kene marganing bisa
katemu lawan sang Morgil
tatkala Gupenur leledang
sore-sore niningali.

Maring sasayuran nipun
patusan Carbon agasik
angaturaken kang surat
Morgel Gupenur sampun tampi
surat kaharti sadaya
adan sang Morgel Batawi.

Ika sang Morgel Batawi
lawan Sultan Banten puri
yen ana kadang pakud ya neda ajang hing ngaurip
Sultan Banten mapan rempog
pisan lamon den duluri
pan sinungan ajangipun
sing Kasepohan pinardi
maringana ajang gesang
limolas desa mangkin
sing Kanoman mangkana
limolas desa pinardi.

Wandening jenengan nipun
di sone ika nguruni
lalaerine Panembahan
lah iku marganing dadi
hing Carbon Ratu tiga
duk babading Jaman Kali
hing sewu nem atus punjul
telulas tahun jejegi ya ta sang Morgel Jakerta
angintar tulis kang maring
Carbon hing Kapitan Karang
surat angkataning Aja.

Panembahan sampun lungguh
Ratu Mandita ngajasi
angreh telung puluh desa
pigegeling wargi-wargi
Kasepuhan lan Kanoman
Wus marem kang lagi runtik.

Salat Jumah gilir telu
hing nagara Pakungwati
panjaksane pan titiga
karatone mapan nganpil
maring praja Kasepuwan
dening ana titik runtik.

Ming Kanoman ana rengu
rengating mana wawangi
tur ta iku Sri Kanomam
tunggal saya ya babibi
wus karsaning Allah uga
cawenga kagiri-giri.

Pecat mati dennya rengu
naging datan dadi rusit
hing aturing nagara
lumari anuli dadi
harjane kang panagara
salameting gira rusit.

ASMARANDANA

Lami lamining ngaurip
pada ngintar kahungguhan
kang dadi cager akire
aja geseh hing sulur
kang gadang nyuluran
ingkang rama lamon lampus
sinungan dingin pratanda.

Nama Pangeran Dipati
anang praja Kasepuhan
Jamaludin kang gadane
sumulura ingkang rama
benjang yen wus seda
hing linggih winangun tangtu
talitih Nalendra dipa.

Dupi hing Kanoman wasis
bawan ning sanget memeleng
wantu kanjyaran lungguhe
anoman wong anyar mela
beda wong Kasepuhan
lalorining datu agung
sing ngalem Susunan mula.

Wong Kanoman sanget pikir
kawangun cager hing manah
ingkang sengge sawadine
sadurung-durung ngilina
Sultan anom asadya
abadami lan Gupenur
miwah Sultan Banten pura.

Panuhune ingkang siwi
den udanga nama Sultan kacagerna namane bae
nanging ngora mela praja
pom masi nang Kanoman
dadi Pati lungguhipun
mung namane bae Sultan
darapan enaking ngati
hing wuri aja memelang
Morgel Jakerta anderek
salarsaning Nata
dumulur maring kadang
Carbon Kanoman kang sunu
kinawenang nami Sultan
Sultan Carbon ingkang
Ariya Mandurareja
hing ngadunane eca hing manah
cagen ring wuri sumulur
sirna rasa mana melang.

Jeng Panembahan pon pikir
wangun cager maring putra
den asri nenggeh namane
Pangeran Dipati ana
hing sri Panembahan
mangkana Ratu hing Pakung
dennya angraksa turunan.

Ing Kasepuhan kang siwi
ika iku ingkang nama
jeng Pageran karerange
rayinipun Jeng Pangeran
Dipati Kasepuhan
lan Jeng Pangeran Tumenggung
lan Pangeran Natasurya.

Kajalan ingkang nami
Pangeran Jawikarta
kalawan Jenga Pangerane
Suryadiningrat kang naina
Jeng Pangeran Suryanata
dupu warga istri nipun
punika ingkang paparab.

Ratu Raja Yupawestri
iku putra Kasepuhan
dupi putra Sultan anom
estung jengger hing wibawa
krana putra Kanoman
akeh sinongan lulunggah
Kadipaten sumarambah.

Iku Pangeran Dipati
Madangda miwah Pangeran nama Dipati Kedaton
Jeng Dipati Rajaputra
Lan Dipati Awangga
Lan Jeng Pangeran Ratu
Lan Dipati Pringgabaya.

Miwah Pangeran Dipati
Rawamenggaka ika
lawan Dipati Kaprabon
lan Dipati Rajakusuma kang istri nama
Jeng Ratu Arya Kidul
Lan Jeng Ratu Arya Wetan.

Ratu arya Kulon malih
lan Ratu Aryu Paengah
miwah Ratu Arya Elor
lan Ratu Arya Kancana
lan Ratu Arya Kendra
lan Ratu Mas Kiranahayu
lan Ratu Mas Najiyah.

Ratu Mas Rara Pawestri
lah iku putra Kanoman
kumerab serta gelare
para Gusti hing Pakungja marena ingkang tedakan
ingkang ngasa ya sinebutaken nama Raradenan.

Sasuka-suka ning ngati
hing Carbon sakarsa-karsa
tanana durga angampo
cacangkok-cacangkok ira
wangun sakarsa-karsa Tumenggung pasitenipun
tanopen Tumenggung nagara.

Riniyung Punggawa Mantri
katak wus tanpa wangenan
hing ngadi-jadi Sang Katong
anjalana mangku reja
sakariping sewaka
Sang Ratu tan nampik ulun
ingkang ngolah niti praja.

Anopen yuda nagari Sang Ratu ngumbar langenan
kang maring sakukubane
amburu kidang menjangan
anjaja wana wasa
ing ngiring sakul paburu
muwa ingkang paninggaran.

Kesel anjajaring rusit
nuli angumbara langenan
dumateng pagunungane
wani ming sangjang Talaga
ana kalane yasa
babalongan adi langun
ana hing sakarsanira.

Ing sumber hing Linggarjati
waneh samudran wangunan
nawang gambir layane
kesel angula daratan
ameng-ameng paprahu
konting hing maja lautan.

Keseling maja jaladri
ming daratan angadu macan
den edune lawan wong
hing Karangkeng wong kang nama
Ki Taru lan Ki Wukur
kang pada angaji timbul
aji girang sing Karang.

Ginawe bakti remening
pangameng-ngameng Nata
duk samana dodolane
wong cilik tarung lan macan
lan banteng dadar tapa
lan den una sikalaku
dening kartane Sang Nata.

P A N G K U R

Satuwhe hing ngagesang
kudu bae ana rungsebing bresih
ana ingkang rusuh-rusuh
wong raraton ning kana
hing Gunung Galunggung paja-paja Ratu
bebresatan saking wetan
ngulilip laku momori.

Momori hing Karajahan
apinda-pinda Ratu ngirupi alit
ya ta wong carbon anglurug
Mantri ingkang pranama
Sarajaya kalawan Ki Jayengsatru
Astrajaya ya pon kesah
Anglurug sing Pakungwati.

Kanoman lan Kasepuhan
samya lurug pan samya ganti gumanti
dumateng Gunung Galunggung
pintening lami nira
graya-graya lan akeh ingkang kasambut
marmane ika walanda
enggal pada anulungi.

Ingkang para kinapitan
Kapitan Ros kalawan Kapitan Muris
Kapten Cina mapan melu
Kapiten Burwe ika
Kapitan Hongge lan Saradadu nipun miwah kang paranakan
den luruggaken ajurit.

Pirang-pirang tambur ika
saradadu Walanda anggunturi
angelar pabantu-bantu wis pirang-pirang wulan
gennya gelar angluru ya hing Galunggung
lawas-lawas kawatgata
rurusit Galunggung lari.

Bubar lurude mingetan
wusing kreta tan nana uni-uni
ora kaya hing dumuwu
kudu bae kakenan
rusiting Kanoman
kapitena ya hing dudu
Papatih hing Kasepuhan
kang nama Ki Arya Nadin.

Ngajab lubering Kanoman
darapona jengger dadi sawiji
mila pitnahe matur
maring Likman Walanda
yen wong Kanoman nyimpen wong Bugis hing kidul
kanggo angremek walanda
ajan hing Pakungwati.

Lah iku marmine Sultan
Sultan Anom den benteng sawatawis
katiti tan wruhing harju
ya ta ika kang putra
ingkang nama Dipati Pringgabaya rengu
anusul dateng kang rama
hing benteng dipun lebeti.

Hing ngadangan hing Wanlanda
kudu meksa akeh Walanda kemit
kang den adu kumbang kondur
ya lan sampun kepandak
kalih rama hing benteng sigra matur
nuhun idene jeng rama
pun topi hamba kula srik.

Kula tumpes pun Walanda
ingkang rama girap-girap aja Kyai
den eman ming anak putu
aja murwa marah
aja sira darma mimiti hing dudu temahe nak putu benjang
kang rusak darma lakoni.

Ana dene diri ningwang
Allah uga ingkang angudaneni
karanane anak putu bok ora kaya sira
aAlung den ngati sukure maring Yang Agung
jugala awet harja
nunggu pusaka kang dinging.

Adipati Pringgabaya
sireping rengu pituturan kang sajati
pareng Walanda angruru
kateranganing lumampah
Bugisnyata ana hing pasisir kidul
sateh Bugis umah-umah
ora edang ora keding.

Nyata dudu sisipena
Duduminang sraya ngramek Walanda
lah iku marmitanipun Sultan
Anom luwaran
saking benteng salamet alungguh RATU Walanda neda sapura
Jeng Sultan angapunteni.

Liknan Pandemhir kang nama
………………………. saenggu ati
………………………. kang wau
Sultan Badridin mula ……….
ingkang kula Kanoman iya iku Sultan Gusti iya tunggal
kang nama Sultan Badridin.

Dupi aneng kasepuwaning kang nama Abdulmakarim
Samsudin
ingkang mula nipun
ingkang anama Sultan
Kasepuhn ingksng jeneng Sultan iku
genipun jumeneng sultan
amungan rolikur warsi.

Anuli ika sumala
ajejegi yuswane hing ngauripa sangang dasa kalih tahun
sumulur dateng putra ingkang wau Pangeran Dipati tangtu
hing ngestrena jumeneng Sultan
nami Sultan Jamaludin.

Aneng praja Kasepuhan
wong ngagung ahli suluk hing Hyang Widi
kasengseming dera sugul murakaba hing sukma
anirna lir awujud cengeng ing tawaju
hing supi kapangeranan madep hing jamalullahi.

Kang kacarita lok salat
maring Mekah ingkang badan rokani
ya iku kang neroh laku
mila meled kang kramat.

Gunung Linggarjati den nawe dumulur
marek maring Lawangsanga
wong mahat aren andamping.

Padati tuku kang lahang
salir parekan paa atumbas gendis
sawuring tutug alangun
gunung kinarsa lunga
geblar tebih kadi panggenane mau
malah ana kang kagawandeng ngitaring gunung balik.

M I J I L

Warnanen kadanging Jamaludin
kang nen angolosod
ingkang nami Pangeran Rerangen nuhun ajang adining
ngurip
ming raka ngasyasih
ngalap manah luntur.

Yen dalu sumonggon memeteki
anguling aneng sor
kumlsepa hing jogan rakane
iya denining sanget aminta kasih
hing raka prakawis
ajangnging tumuwah.

Durung bae dipun katrlungi
hing panor samono
dennya ngalpuka hing sihe kadange
sarya beciking hing Walandi
oran nan kadi Jeng Pangeran iku.

Pramilane den rojon hing Walandi
sejane samonoden pirowang hing sagedene
dening tetor ingkang nami
Martanus samsuri
Ingkang junjung-junjung.

Ya mangkana tetor amedeki
hing ngadi Sang Katong hing Kasepuhan pang pinanggih ajek
jejeging adayok Walandi
Sultan Jamaludin
mangihi tatamu
risedenge eca alinggih.

Pangeran apanor
amedek hing ngayunane rakane
ngaturaken sekar kakalih
Sri Campaka putih
ature punika.

Pepetetan kaola tembening
sekar ameng loro
gegel dateng raka sakaliye
kang senungal bada raka istri
kang senungal raka Aji
punika kang katur.

Pareng tinampen kang sekar kakalih
denira Sang Katong
ya ta Walanda surak sakabeh
nabda dalah iku wong sajati
hing waong awawargi
atut sasadulur.

Mesti olih ajang ngaurip
maro salis katon
atas tunggil sagedene
ya tu Sultan tan tangkat sulit
damulur kang dadi rampunging tatamu.

Lah iku marmane sinakolih
karerengen maro
kula balakang saking rakane
angsal pacaca aning jalmi
rong laksa amali
hing sakaprabon nipun.

Pan malulu sing Kasepuhan kang prih
lulunggu samoo
Pangeran Arya Carbon jenenge
nanging sacitak Ratu lilinggih
aneng Pakungwati
jar karo sadulur.

Kalih Kanjeng Sultan Jamaludin
pareng sakadaton mungguh kuloni padawenane
pakoncara pinter hing ngabasuki
prakara kang lair
ika estu punjul.

Wit ning akal alan budi raspati
ora nana loro
amung Arya Carbon kang den gawe
pangeraning kang para Gusti
wadining Aji
hing sawaktu iku.

Jejeg papat Ratu Pakungwati
Kesepuhan maro
Kacerbonan pon iku rayine
hing Kanoman kasekawan maring
Panembahan dadi
papat umbul Ratu.

Kacerbonan kang anyar dumadi
wadanangin Katong
rehing pinter hing Kupeni margane
dadine tinari-tari dingin
mabarang panri
iya maring iku.

Wantu-wnatu Ratu anyar dadi
gelar pandum ming wong
singa cina kang sugih den rampek
den gedekkaken ingkang ati
kinarya punggawi
winagun Tumenggung.

Ambrih gede tomboke angngapti
hing karsa Sang Katong
Pangeran Arya Carbon akale
ya kadunga wangun Sunyaragi
pinangkaning dai
iya saking ngiku.

Pangrojonge cina sugih-sugih
duk waktu samono
ili-ili yan ya saking rembang akeh
cina sugih ingkang angili
kranawetan lagi
nagarane ibur.

Perang Trunajaya durung uwis
akeh cina lolos
pada sira anggambangaken kapele
pan den usungi
hing Carbon angngub.

Pareng dipun imponi
dening Arya Carbon
tangtu dadi gedene atine
rurubahe
kagiri-giri
apa karsa Aji tangtune jumureceng.

Duk binangun iku Sunyaragi
duk babad jamane
sewu nem atus wolu likur
Bujangga nyarsa obah bumi
Kacarbonan Aji
hing sagelaripun.

Wangun saradadu sarageni
sang keping bala wong
asu paburu uluk latune
ora lawas ika tumuli
Panembahan Aji
dugi ajalipun.

Ya smulur ingkang putra nami
Dipati samono
wus angadeg Panembahan linggihe
apa ingkang rama wus lalis
angreh ajang mangkin
desa telung puluh.

Panembahan alinggih wawasi
bartapane kahot
maring bangsa arab rumakete
Sayid-sayid akeh madeki
pan den wuri-wuri
minule hing riku.

Remening tapa angulangi salir
napsu sanggeh pamor
ya hing lampah hig manah sukurane tenatren
hing pakaryaning ali
tan katah den pikir
bala gung nganggur.

Ademing karya tan nana matari
Panembahan gone
beda kaji Kacarbonan sahure
panas gawene karananing
akeh kang dipikir
gelaring tumuwuh.

D U R M A

Ra lawas prawantu olaking dunya
kundu ana kulilip
gegering pinggiran
kulon ana hing desa
Conggilis ana gurusit
wong bang nyarak Syeh Yusup ingkang nami.

Araraton rinu bunhing kawula bala
den tanggung pati urip
marmaning dumadya
oreggingbala wita
kasuhur arep numpasi
maring Walanda
sangkane den perangi
den lurugi saking Carbon sing Jakerta
para Kapitan sami
gelar malurungan
ming Conggilis aperang
sawatara akeh mati
umbul-umbulan
wong Carbon ambantoni.

Mantri ingkang anama Astraditaya
Perwajaya lan malih
oraming anggas ara muwa Kumendur Ajar
sarta saradadu pati
bala Makasar Kapitan Ros Bali.

Saking Banten pon bantu mangkana uga
malah sing Banten rusid
ana pinangngeran ingkang seda hing rana
lah iku marganing dadi
Morgel Jakerta
wirang daja ngebruki
amiyambeki kalawan para Kapitan
Syeh Yusup wus kacandak
ka benteng anang Batawi pan sineratan arak lan uyuh anjing.

Malah sira Syeh Yusup pejah jro pancana
waktu samana dadi
kasuhur Walanda
nutug dennya pirowang
maring Ratu Nusa Jawi kawilang bisa
anginger karta bumi.

Mila kangge paugeran hing sak Jawa
aminahing rurusit
palanglang bancana
mila waktu samana
ngupadeni hing nagari.

Rempag-rempug maring putusing kukuman
amor milu ngukumi
tan arsa katilar
krana yen ana durga
rurusit ika kanggo hing
lah iku carat
yen ning akire ngumandi.

Ora lawas Sultan Gusti ing Kanoman
Badridin kang ngemasi
sumuluring putra
wau ingkang anama
sultan Carbon Manduraji
samangke dadya
Sultan Anom Nurudin.

Sultan Kalirudin tunggil punika
sumuluring Rama Ji
hing praja Kanoman
dennya amangku reja
karta tana una-uni
geng alit sukakakang bawa Pakungwati.

Sultan Kalirudin nenggeh puputra
nami Pangeran Gsti
lan Pangeran Kresna
lan Pangeran  Wisnuntara
kang istri Ratu Dipati
lan Ratu Wijaya
lawan Ratu Martasari.

Salamine Kalirudin Mangkureja
ligan tahun tumuli
seda tilar dunnya
sumulur ingkang putra
kang nembe ing yurmaneke
kalilas timur dumaja
kang paman amakili
ingkang anama
Jeng Pangeran Dipati.

Jeng Pangeran Dipati Rajakusuma ingkang ngolah
titi yatnaning nagara
angreh kagelar mulya
karta hing saguna gati
raharja pura
hing Kanoman bawa Aji.

Ora lawas Jeng Sultan hing Kasepuhan
ingkang nama Jamaludin
seda tilar dunya
sumulur dateng putra
wus hingistren ngadeg Aji anama Sultan
Raja Tajulngaripin.

Alim Kitab limpad maring basa Arab
nit yasa ngangit kadis
Kitab cara Ngarab
angaceki sapraja
Pakungwati tana ngirib
hing kala hing basa
sagujiya logawi
remen angintar Kalimah hing Ngilmu rasa
hing cecelaningsupi
hening hing Pangeran
Rububiyah Yang Sukma
acager wisik sajati
duweting Bengat
kang srih pinusti pasti.

Angelaraken amangguron hing iktikad
mila kasuhur dadi
Guru Ratu mulya
Wakil mutlaking Allah
hing sagara Pakungwati
ora liyan
nanging Pajulngaripin.

Anggongon ni warangi apiking lampah
ambeningaken ati
kang abangsa sukma
kapangerananing Hyang singa Pandita kang luwih
pan minaketan
hing asil kang sajati.

Kaji Abdulmuchyi
Panembahan Karang
Ki emas Saparwadi
lan Kyai Amyah
pan sur kang sena wita
karana jatining wisik kimalaspa
Ki Gunung Cinde malih.

Sutruping lampah karuyaning manah
Hing esir kang sajati
Rasaning itikad
Kasuciyaning manah
Winuri hing jati salir
Kang sinungkeman hingbangsa Guru Aji.

M E G A T R U H

Tan anatara lamine wau sang ratu
Kacarbonan kang nami
Arya Carbon seda sampun
sumulur dateng kang siwi
kang raket kaliyan Petor.

Petor ingkang nama Korneli Jonglut
kang ngangkat diri Narpati
hing Kacarbonan kang sunu
dumadi bisa anami
perhangkatan Sultan Carbon.

Sultan Carbon martawijaya alungguh
Djuluri rama kang lalis
Dadi munda namanipun
Dupeh ramane mung olih
Asenggi bae Sang Katong.

Namging masih nama Pangeran duk mau
dupi kawuri kang siwi
sumulur tur jeneng Ratu
pangkating kulit putih
ingkang rumewang marono
wit ningakal budi pon kadi hing maukukuh ing yuda negari
bai jawa kang dera punjul
yatnaning sujana jawi
angintar krama Sang Katong.

Angundaki Pajaksane hing sawaktu iku
putraning pragata Aji
Kacarbonan sila rampung
bubuntasaning pradong di
rampunge ana hing kono.

Mila kocap wadaning Ratu
gemet kang budi pikir
hing pada repaning kungguh
tan kewran hing ganal repit
awon pened kawaspaos
ing prakara kalangenan katan tiru
pramila so Sunyaragi
menda hing natkala iku
tan pati kaisik isik antenge aneng Kadaton.

Tana lami hing karta bawaning Ratu
nuli Sultan Carbon
sumulur maring sadulur kang mangke den angkat malih
hing pranami Sultan Carbon.

Sultan salir pangritaning Pakung
lah iku duk jamaning
Adiwijaya atiru
rama aremaning rasmi
kalangenan hing kalangan.

Sampurnaning Sunyaragi waktu iku
kang anggemeti sahadi
kapuratining kalangun
pan winangun angundaki
hing sapa kikirnan Carbon
ra nama kang mantari saking iku
atila hing Maespati
endah parawatan kosong.

Raduwe mas inten dipalalu
sok duweya umah becik
ingkang prayoga kadulur
hing sasamaning ngaurip
hing pada-pada ning Katong.

Karemane malih yen lampah paburu
kidang manjangan ana hing
alas sakukuban nipun
dadi kasengseming ati
yan sampun angulah buruan.

Ya kadung alas Sumedang den rangkus
den buru kang isi rungsi
pangeran Sumedang mumbul
dumateng Morgel Batawi
ora trimah wong Carbon.

Gennya buru dudu sakukuban nipun
Sultan Carbon dipun panggil
hing pradataning Gupenur pimrasila amangsuli
yen ika kabara Carbon.

Tetengere beling kang ngetap ping kayuyu Sumedang
ngukuhi
endita tetangeripun
wong Sumedang ora Bangkit
gawe katrangngan ning kono.

Ing pramila Morgel mutus ya ika estu
Carbon ingkang kaduweni
Marmane sawaktu iku
Sumedang kureh dening Kacarbonan duk samono.

Tanna lawas Sultan Anom wapat sampun
sumulur datang kang siwi
kang anembe umur sapule
ingistren madeg Narpati
wus jumeneng Sultan Anom.

Sultan anom Abukeridin papat abipun
reh hing masih timur dadi
den wakili hing Tumenggung
Kyai Baudengda wakil
kang gaib kulo bala wong.

Ya mulane den sakili Ki Tumenggung
krana drapon ngampil
yeng mengko sedeng pinundut
aja angel-angel maning
aja degeng aja alot.

Krana mau duk kang rama wakil Ratu
maring Pangeran dumadi
pareng sadenge pinundut
alot datan kena gampil
lah iku kang winingatos
ya harjaning Kaniman sangsaya wuwuh
pakarta saya gampil
adilullah kang den luru
prakara ning agama nabi
kang winuri-nuri hing wong.

Ramane kang asalat sarta asum
iku hing Kanoman yakti
ngaceku ibadah ipun
gelar-gelar laku santri
nyaji sembahyang tan coto.

L A D R A N G

Ora lawas nuli Panembahan lalis
mapan ika sumulur dateng kang siwi
wus hing ngistrenan
jumeneng Panembahan Raja.

Anglalurekaken maring kang yudi
pan mangkana
kapanditan kang den goni
sabar tawakal suka lila ing manah.

Tan na lawas Sultan Sepuh lalis
mapan ika
sumulur datan kang siwi
hing ngestrenan inggih punika Seltan Sena.

Kang paparab Kanjeng Sultan Jenidin
kang anggelar ameng-amengan ripangih
eman mangun dikir ingkang sarta kadam.

Pirang-pirang kadam manusa penilih
dadabusan kaluriyane wong supi
pan amurih lampahe Syeh Abduljelan.

Ingkang supi amangeng badan rabani
nora liyan iya ngelmu rasa maning
wis lungguwe aneng praja Kasepuhan.

Kang den gugoni punika kang supi
kajatiyan hing rasa wesesa batin
mula datan sumangganing barjamoat.

Supi iku kararepane ming sepi
mengko medal parameyaneng ripangi
andadar raken ing lampah hingk Wali yan.

Ra lawas Sultan Carbon ingkang nami
Adiwijaya seba kasihure dening
mung kang mantu boya gadah putra lanang.

Inggih punika Sultyan Carbon ingkang nami Abukayat
kang brangasaning kapti
datan kena wong salah ya pinejahan.

Salah satitik ya nuli pinaten akekula
bala kang kadengda pati
nanging ora sa ukum lawan pradata.

Lah iku dadine kang ciri waneyi
ming Nalendra marmane dadi den basmi
kinendangaken lan ora ya sinuluran
iku punggel Kacarbonan tan anuli ora lawas.

Panembahan mapan lalis
pang mangkana punggal ora sinuluran
ra lawan Sultan Sena angemasi
sinuluran dening putra ingkang nami
Sultan Sepuh Matangaji kang anglar.

Ingkang depok aneng dudun mangaji
senggi seja
babak laku maha yakti
ora kaya ora lali dening jaman.

Dadi migel hing ngakal lir pindah kagingsir
pan mangkana
akeh abdi den pateni
tanpo dosa bawaning gingsir kang akal.

Ing marmane hing Kraton den adegi
nami Sultan
langgih rayine
dipun subun naminipun Sultan Muda.

Dupi wau Matangajo dipun serik
disampurna kaken lawan mati Sahid
ingging ranipun layan pradata dinulu.

Ra lawas hing Kanoman mapan inggih
winursita Sultan Keridin ngemasi
sumulur ingkang putra wus ing ngistrena.

Kang paparab Abutayib Umam Mudin
waktu ika obahing dorujamani
akeh ewong raton ganti mrawasa.

Ing Kasepuhan Sultan Muda duk lalis
kasuluran dening kang putra hing ngasrih
Sultan Joharudin anenggeh ingkang paparab.

Ingkang nembe umuripun sadasa warsi
rekening ika masih timur den wakili
dening Kyai Jayadirja wakil Nata.

Lawas-lawas ibure nagara dening
Tingarengan ana kang brandal cilik
sirep ika kapupu tan nalawas.

Sultan Imamudin Kanoman angemasi tilar dunnya
sumulur datang kang siwi
hing ngistrenan alinggih aneng Kanoman
kang sinebut namane Sultan Kamarudin
duk saman masih iburing nagari
dening akeh wong raraton babarandal.

Barandal rangin panyeleke anggunturi
duga harta ngobar praja Pakungwati
sengge pada amuri raja Kanoman.

Jumenga Sulta aneng Pakungwati
mangka guna hing walanda anduluri
marmanipun Pangeran Raja Kanoman.

Iya saking pakengdangan katuran mulih
hing Pakungja den istreni madeg Aji
pan den paneyi sapanjeneng kewala.

Namanipun Sultan Carbon amet nami nipun nama
Jeng Sultan Abukeridin
waktu iku ana maning Kacarbonan.

Pan asele sing Kanoman kang angguntosi
dupi bala den bagi telu duk lagi
ijrah sewu rangngatus padlikur warsa.

P U C U N G

Ora lawas wong agung Prasman arawuh
dennya amet guna
nagara Carbon
praja teluya kinen iku sebaha.

Asebaha hing dewek ke kang angratu
emaban-embanira
ingat-ingatan sing Carbon
ingkang nama Kyai Nata Nagara.

Ingkang nama Raden Dipati kang mangku
Tumenggung titiga
Kasepuhan Kanoman
Kacrbonan seba hing kiyambekira
ora lawas wong agung inggris arawuh
mapan emban-embang kekendangan saking Carbon
ingkang nama Kyai Mangkunagara.

Duking jaman sewu pitung atus
patang puluh wasa
punjul siji benere
ijarah sewu rong atus wolu likur ya.

Lah iku wong Inggris ingkang asanggup
anggolang nagara
Sultan mruka hing bagusi
amuktiya kariya guling lan dahar.

Sultan tetelu anarimah hing paciyun
tan ngasta nagara
anampeni paseyane
kang anggolong kang tungtu maring Sang Nata.

Ora lawas Sultan enggal sampun
seda tilar dunnya
punggel tan risulure
kari loro jenengeng kang nama Sultan
gantos telung tahun ya mangkana sultan Sepuh
Jaharudin seda
sumulur maring rayine
ing ngistrenan samana nama Sultan.

Apeparab sultan samsudin puniku
hing waktu samana
Sang Ratu kari namane
parentahe Walanda ingkang anggolang.

Nrimah sukur genting-genting ora putus
barkahe Susunan
kapinundi hing ngaube
hing ngauban kang neng karamatullah.

Kang winuri-wuri dening anak putu
kang manah sukuran
rahayu hing salungguhe
ya salamet wong badami hing ngagesang.

Yen catula hing badami lan laku
tantu pada kebat
kendang saking negarane
sarta ora winuri-wuri suluran.

Ya mulane Sultan Banten waktu iku
lebak galintungan
bondan oran ana ratune
iya sakinmg cantula sabda mring Walanda.

Tanalawas nuli ana rusuh-rusuh
wong raraton
nama bagus Serit hing jenenge
ngangkat perang ngaloyong laku berandal.

Sengge neda prasudan gawening Ratu nanging amudusta
amiet singgih araraton
ora pira lawase tumuli kena.

Kapupu hing harja sirna wis kukum
malah lami karta hing Carbon salir tumuwuhe
mundak untung pangngupa jiwaning tanda.

Golang praja lan sarwaning kang tinandur
ora lawas ika
yasa Wali binurake
masjid agung den dandani dadi anyar.

Dadi tuduh yen dadi anyaring tuwuh
anyar hing nagara
duk samono hing babade
jaman kalih sewu pitung atus suwidak.

Nenem tahun Jim awal wurining iku
lawas-lawas Sultan
Sepuh Samsudin sumeren
babad sewu pitung atus pitung dasa.

Punjul loro ora tumunten sinulur
banta kalih warsa
sumulur datang putrane
hing ngitrenan jumeneng nama Sultan.

Gantos wulung tahun Sultan Anom larut
sumuluring putra
hing tahun iku hing ngistren
nami Sultan ana hing praja Kanoman.

Duk babading jaman Kalih nedeng sewu
pitung atus lawan
wulung puluh hing jejege
kawruhan yen genting tan nana pegat.

Barkah hing sukuring abadami laku
becik lawan ala ana rungu di rungu
bawaning kang basa kaselang hing purba
Purba nagara wong Walanda kang ngukup
Hing sanusa Jawa.

TAMAT

Aku kecapean tapi juga senang karena naskah
Babad Cirebon sudah selesai aku salin.

Nuwun
By alang alang

BABAD CIREBON (BAGIAN II)


DANDANGGULA

Warnanen inkang winuri-wuri
Jeng Suhunan Jati ingkang tadak
ingkang mrena aneng Cerbon
sinerat saking luhur
martabate agung kang Wali
ya Syeh Wali Akbar
sinebet Sinuhun
duk gagarwa jajaka lara
Nyi Mas Babadan gabug boka mutrani
takdir Allah tanggala.

Dupi garwa ingkang amutrani
Nyai Rarapi putranira
Syeh Datuk kapi namane
kakalih putranipun
kang satunggal den paparabi.

Pangeran Jakalan
kang sinebat
Pangeran Sedanglautan
kang sirane hing Mundu lan Ibuneki
Rarapi pon ning kana
boya wonten tadakaning wuri
dupi kang mrenah hing tedakanira
punika kang miyos
saking Pajajaran wau.

Kawunganten ingkang mutrani
istri ingkang namne senebut
Ratu winaon kang krama
wong Agung Sabrang Pangeran Atsangin
marenah hing putranira.

Ratu winaonika angadeni
Pangeran Sebangkingkin ika
kang mrenah ka Sultanan kulon
hing Banten Prajanipun
dupi garwa Sinuhun Jati
ingkang saking Mahostikta
putra Tepas nenggung
istri nami Ratu Ayu ingkang krami
wong agung saking Sabrang
Ratubagus Pase kang pranami
amarena agung prasutanira
ika Jeng Ratu Ayu
anggadeni ika kang nami
Pangeran P)asareyan
iku kang niro eruh
wiwinihing ka Sultanan
ingkang ana hing Cerbon ika turuning
Sarip Hidayatullah.

Ika syid Syeh Akbar kang dadi
kang jumeneg Ratu hing pakujan
iya dening pangangkate wong somas iya iku
kula warga Panjunan yakti
Jeng Pangeran Panjunan
purwa kala rawuh
kalih rayi Rara Bagdad
apa dening kang rayi Syeh Datuk Kapi
sarta kawula bala.

Angrong atus sawidak siki
punjul nenem balanya kang tiga
ya jejeg domas jumlahe
punjul siji ing ngitung
maring Jeng Pangeran dadi
samya golong Jamah
maring Jang Sinuhun
sarupaning kula warga
agung alit sadaya den imponi
denira Jeng Suhunan.

Den mumuli hing ngageng kang ngati
sinung nama gegeden sadaya
waneh kapatiyan mangke
maneh ingkang Tumenggung
ana ingkang lunggung Dipati
pon kawula warga
panjunan kang riyung
hing sajenggere Suhunan
ngadegaken agama Islam Pakungwati
menggeh duk ing ngistrenan
Jeng Sinuhun duk jumeneng Narpati
hing ngistrenan anang Cerbon Girang
wilayat panjunan muleh
aken tuwu tahayu
amangunaken ika sapuri
dalem Agung pakudyan
miwah pintu-pintu
kantaning pintu sayastra
kilu garba kita Dalem Pakungwati
pangrengganing Panjunan.

Dupi kita Cerbon kang ngubengi
saking gotaka kasoneyan
ngulon mengku Palosaren
alunta mung ngaliripun
pakiringan ngetan dumugi
gotaka Jagabayan
natas ngetanipun miminggir Kali Pabeyan
ngidul tepung kuta nagara Pakungwati
pangrenggan ning wong Demak.

Apa dening hing pasang pasuting
lemah duwur ngalun nalun miwah
pasar miwah sabandare
ingkang suka malebu
hing katandan miwa marga-margi
punika Sultan Demak
ngabakti hing Guru
amangunaken kang gadang
Astana geng tukang asal Majapahit
Raden Sepet agunia.

Guna karya kuta samaptaning
kenek kipun limang atus sawidak
sing Demak amuleh Cerbon
salanggahe Sinuhun
malah ika Putri ngadanti
ingkang nami Ratu Nyawa
katur hing Sinuhun
kinarya mantu punika
pinanggih yaken kalayan putra Cerbon nami
Pangeran Pasareyan.

Lami-lamining ajatukrami
nuli hika miyosaken putra
nenem katahe putrane
sawiji hing namanipun
Raden Kastriyan kang nami
agarwa ing Ptaja Tuban
ping kalihe iku
hing Losari jumeneng Panembahan Losari
Ratu kakadiyasa.

S I N O M

Ya iku kang langkung guna
kacarita ukur ruku beras saelas kinarya
gajah sakandange dadi
tarkadang kayu jati
den tyekap babar pisan
kaliogane wau dumadi
pun ukiran karsane kang mangun guna.

Aja salah samya ingkang
jeneng Pangeran Losari
dudu kang den petek ana
hing palosaren sayakti
dupi ingkang sinare hing
palosaren kang saestu
pan kulawarga Panjunan
kang dingi dipun wastani
Pangeran Beken santananing Panjunan.

Dingine awangun karya
ababak tanah Losari
iya iku kang amurwa
mila kasebut nami
Pangeran Losari mashur
anut namaning yasa
nami Pangeran Losari
dupi wapat Pangeran Reken punika.

Dupi lininggihyan
hing Panembahan Losari
ingkang wayah Susunan
ingkang jumeneng Losari
meng sapanjeneng lalis
tan luntah mantrtaning Ratu
kaping telune putra
hing Pasareyan kang nami
Pangeran Dipati Cerbon kang sawarga.

Sadangkamuning teleran
Raja Wali Sunan jati
ingkang tumuwu marena
ana hing Cerbon nagari
wiwini mantra Kaji
aneng Cerbon gelaripun
kaping patipun putra
Pasareyan ingkang istri
nami Ratu Mas kang akrama aneng Tuban.

Ping limane Ratu Mas kang akrama Tubagus adi
nagara mangke jajahan
Banten tunggil kulo wargi
Panjunan hing ngrasri
kaping nem kang putra iku
Pasareyan kang nama.

Pangeran waruju adi
pan mangkana jumeneng Pangeran Sadakajeman
Sindangkamuning punika
ginadang linggih Narpati
sasirnane Jeng Susunan
mila alungguh Dipati
sampuni ika akrami
putranipun Ratu Ayu
ingkang namining wanodya
nami Ratu Wanawati
apuputra titiga nenggeh kang nama.

Ratu Sewu kang wanodya
dupi kang jaler anami
Pangeran Mas iya ika
ingkang atampi nagari
saking kang yuyut Aji
jeneng Panembahan Ratu
ing Cerbon sabab ika
kang rama Sidangkamuning
sumerene rumihin swarga Suhunann.

Apa dene ingkang eyang
wau Pangeran Pasareyan
pon inggih seda rumiyin
swargane Sunan Jati
pramila tampi mring yuyut
kang wino iri duriyat
hing nagara Pakungwati
kuta Cerbon masih genggeng manggeng barkah.

Dupi kang raya Panembahan
kang nami Pangeran Manis
dupi raka sing ngampeyan
punika sinung lilinggih
hing Gebang Ratu kakadi
sinebut hing namanipun
Jeng Arya Wirasuta
tambak prawira matawis
sinung cangkok Jawa gunung Pagebangan.

Lan Dramayu kinen siba
hing gebang nyangkoka maring
Jeng Pangeran Wirasuta
dugiya salami-lami
cinarita hing gurit
Kanjeng Panembahan Ratu
Hing Cerbon mangku reja
Sasirnane Sunan Jati
Angsal krama Putri sing nagara Pajang.

Putrinipun Sultan Pajang nenggeh ikang akakasih
Ratu Mas Gulamporaras
Prameswari Pakungwati
Panembahan Pakungwati
pon nenem hing putrinipun
nenggeh ingkang anama
Pangeran Sedangbalimbing
lan Pangeran Arya Kidul kang laksana.

Laksana andikep macan
dipun kempit kdi kucing
lan malih putra nata
ingkang kasebat hinmg nami
Pangeran Wiri nagari
lan istri ingkang winalangan
Ratu Ranamanggala
katela namaning laki
krana iku Pangeran Ranamanggala
putraning Sedanggaruda.

Sendanggaruda iku putraning Pangeran Ageng kaputran
hing Ratu Ayu putraning
Sunan jati kang laki
Ratubagus Pase wau
ketang tunggal teleran
ping limane putra Aji
Panembahan ratu kang wina yang harja.

Lininggihaken ning nama
Kanjeng Pangeran Dipati
Carbon ingkang Sedanggayam
mila lininggih Dipati
krana bade nyuluri
Panembahan sirnanipun
supados takdirullah
datan kena hing ngowahi
enggal-enggal somala he Sedanggayam.

Tilar putra kalih nunggal
ingkang istri Ratu Putri ingkang jaler Pangeran Putra
ya iku kang gadang benjing
nyuluri salinggihing
heyang Panembahan Ratu nenggih
dupi putra pamekas
Panembahan Ratu nenggih
istri Ratu Aingawaningyun kang nama.

K I N A N T I

Awit Panembahan ratu
hing Carbon anyanyuluri
wilayat yuyut suhunan
martabati saking dingin
duk wangsite wali inkang
nabda hing Ki Karawang becik.

Geweneng wates lah iku sing Karawang ngulon dadi
Ki Mas banten amurbaha
sing Karawang ngetan dadi
Ki Mas Carbon Misesaha
Pusakaning Raja wali.

Lah iku marmitanipun
Panembahan Pakungwati
sumuhud datan langgana
hing Banten mangkana ugi.

Panembahana Surasowan
tan seja langganeng wisik
ora kaya kapisandung
wong Mataram ngaru kapti
kumudu sanusa Jawa
kinen tiba hing Matawis
wong Cerbon wong Banten ika
den pardi hing saban warsi.

Sesebaning para Ratu
naban Mulud ming Matawis
Sunan Mataram amburak
pala karta Raja wali
kang jeneng Ratu punika
yen boten idin Matawis.

Dupi Cerbon seja anut
aseba dateng Matawis
estuning manah sukuran
tan nan liyan kang kahesti
anging Sunan Kalijaga
kang ngahubi hing Matawis.

Mangkana pangidepipun
Panembahan Pakungwati
marmaning salamet lenggah
sirna ingkang girirusit
barkah hing manah sukuran
Yang Widi kang anduluri.

Dupi Banten datan hanut
hing palakarta Matawis
atilan manah sukuran
kaduga dipun perangi
wadya bala sing Mataram
aprang ya hing Banten nagari.

Lah iku marmitanipun
Panembahan Banten lalis
kaetang seda hing rana
mila katela hing nami
Panembahan Sedangrana
dupi kang putra lumari.

Nani Pangeran Kanantun
paladra lunta kaji
maring Baitullah yaika
besuk abalike saking
Mekah nuli ngadeg Sultan
angsal idin saking Ngarbi.

Dupi samangke atumpur
hing Banten tan nana Aji
wonten malih kang kocap
hing nagara Banakeling
santrine ya Syeh Lemahbang
andabeni mana sulit.

Sadyane angaru biru
maring Ratu Pakungwati
nenggeh ika kang paparab
Datuk parduk sugi sakti
ategu nala wikrama
sampun satata dedemit.

Mulane sadya angaru
dumeh gurune alalis
wong Carbong kang amrajaya, seja mangke angayono
dennya jajal tanpa rowang ngediraken raga sakti.

Hestu tegor gumaludung, tan nana braja nedasi
pareng nalika samana
Panembahan Pakungwati
karsa ngujung hing Astana
upacara dipun wangking.

Marapit miwah panglonjor
iku kacarita kongsi
pupucuking upacara
wus nganjik ana hing margi
bebeneran Wringin Jembrak.

Panembahan dereng mijil
ora ganti datubarul
angadeg amalangkerik
angadangi upacara
aneng tengah-tengah margi
gegering kawula bala
yen ana digja ngranohi.

Siningkeraken tanpurun
ya si wong nadya ngayoni
pacek wesi malang dalan
wangkeng kadi tungga wesi
gegering kawula bala
yen ana digja ngranohi.

Para kapetengan umyung
alok lamon nemu kardi
umrengging geger genturan
kapiarsa hing Sang Aji
apariksa ana apa
ing ngarep pating barigi.

Kajineman aturipun
wonten tiyang malang mungkir
angngambengi lampah nata
siningkir tan arso ningkir
pateng janget kadi tosan
wangkeng pacek wonten siti.

Panembahan adan ngulung
ngakeng duhung wus tinampi
dening Lura Kapetengan
tan na dangu ika nuli
duhung masih wawarangka
sinudukaken tumuli.

Hing jasmanine Datukpardun
mati ngadeg tanpa kaning
opyak lamon nyata pejah
dan tinampakaken aglis
Lebe Yusup kang kinarsa
amulasare kang mayit.

Panembahan lusita sampun
dateng Astana lastari
akocap ika kurnapa
kinubur witaning margi
tan suwe diragenak ana
hing marga kadi duk uni
datan ana bentinipun
kalayan jaman Susunan.

Yen nuju riyaya kecil
anna hing masjid nagara
dupi hing masjid riyayagungnge
ana hing Masjid Astana
masjid astana punika
kancuhe Ki Marbot Gusa.

Lawan Ki Pangulu Karawis
dupi Kanjeng Panembahan
yen nuju wulan sapar re
sami bubar seba ngetan
hing nagara Mataram
acaos hing niplal Mulud
ana hing Praja Mataram
bakda iplal nuli pamit
nabam tahun pan mangkana
narima sukur hing Manon
datan ana kara-kara
rahayu hing ngagesang
lampah pangiwa lastantun
tenem tuwuh pasawahan
apa sata Sunan Jati
mari winori-nori hing lampah
wong sasawah sakarepe
tan den pardi hing pajegnya
mangko salamet arja
panen pada atur-atur
samulung-mulunging bala.

Wong babakti tan den pardi
den umbarena hing bala
opra den petel magawe
saeling-elinging bala
kang pada tur den pupu
wong dagang ora den beya.

Sakarep-karep ping ngalit
yen gegel maring bandara
ora den pardi akehe
ora na dangdan dadalan
dangdan kali tan nana
kuta Cerbon masin kemput
pangrengganing Sultan Demak.

Kandeling kuta kadugi
kena den go jaja raunan
ngerap hing luhur kutane
saketeng hing Jagabayan
madep maring Astana
ingkang yuyut Jeng Sinuhun
dupi pintu Kasuneyan.

Ika ingkang angadepi
maring Mundu Jeng Pangeran
Sedanglaut Astanane
boborotan kulon trusan
kang maring Kalijaga
pamalaten Grenjeng Hetuk
Ki Gedeng Kagok santana.

Wetan lor boboratan ning
wong dagang parau teka
sakamya-kamya lakune
durung ana cuke beya
kang aran wong mardika
tan ana pinarding Ratu
mung sakolure priyangga.

Amung ingkang aran abdi
pangunungan dipun tata
saban tahun pakmite
saban tahun bakti nira
tan den pasti agengnya
istu Ratu Adil lullah.

Wawateking Raja Wali
ora meting pengasilan
apa satekane dewek
dagang maning yen iyaha
jajaluk lagi ora
amung kang den ruru-ruru
babakti maring Yang Sukma.

Lumu sisip pasa mending
tobate langkung nasuka
sarta lawan bratapane
atiwa-tiwa kang Eyang
Susunan Waliyullah
Kanjeng Panembahan Ratu
remaning Karamatullah.

Boya karsa nalikuri
hing rerkan Padaleman
ya sote mageng kadaton
lan amengku upacara
pangrengganing kula wadya
sing Pajajaran gumulung.

Saking sabrang kunta wiri
angurip-urip wong Jawa
Carbon kang tembe mrintese
lami-lami saya harja
lakuning kauripan
sakadar-kadar ing riku
jumeneng kang panaraga.

P A N G K U R

Melar kreta hing pakudyan
pagunungan para Kuwu kabeh ngabdi
katiti amating Ratu dupi Dalem Kuningan
waktu iku amogolle maring Ratu
tan karsa lamon ngabdiya seja angratu pribadi.

Anggepe jalma Kuningan
iya soteh mau duk sunan Jati
kita seba maring guru
dudu seba ngawula
dupi iki pan wus sirna
Buru misun apa gawe kita seba
ming Carbon den tita ngabdi.

Kawarta dateng pakujan
wong Kuningan mangkana kang pamilih
adan pinutusan gupuh
Kyai Patih Rudamada
kang kinarsa mitutur rana ujar kang alus
hing sirnaning Pajajaran
sapa ingkang anyo eluri.

Kon isep yen Carbon ingkang
dadi sulur hing pakuwan saiki
piyambake kudu manut
kartaning wong pakudyan
ya ta Pati Rurdamada hintar sampun
dumugi datang Kuningan
dawuhaken timbalan Haji.

Dupi sahuring Kajenar
Pajajaran sampun merad alalis
tan wonten pitungkasipun
lampahing Karajahan
angajawi idep kita wong ngaruru
samangke guru wis asirna
apane kang den bakteni.

Dan ki Patih Rudamada
bebet Panjunan tan kena myarsa angling
pedes swara nulya timbul
ing ngaji dadak sara
menyat ngandak-nyandak Arya Kuningan den dubruk
ora kayane Ki Arya washita hing suraweri.

Anyebrak lan jalan sutra
temah lumpuh Rudamada gumuling
wus pinanjara sadalu
panjarane wis kalapa
dupi dalu den wengkang punang galugu
Rudamada bisa medal
sadya nigas jangganeki.

Arya Kumining tan kaya
jaka sutra hing luhur angahubi
kang pasukane wong riku
dadya ingkang anendra
jroning jala musna datan kadulu
daya Pati Rudamada
atur uning maring gusti.

Wangsul hing Carbon asigra
matur atra saula datan kadulu
nunten Panembahan Ratu
matus Pangulunira
Ki Peki Abdullah sigra lumaku
pon lampah mangkana uga
campule tan angsal kardi.

Sampuning kadya mangkana
Panembahan karsa miyambeki
kalih tetekeng lumaku
mangking ruruku lumampah
riri jati panakawan pada nusul
keras tangginas lumajar pandene boya nututi.

Hebating kawula bala
dening gusti wus katemu alinggih kaliyan Ki arya iku
pareng dedel wiguna
Panembahan malempat anjong den buru
sigra tinawuran jala
malempat bumi agonjing.

Ki Arya kajengkang-jengkang
bawanipun kang bumi agunjing
jalanipun den tawur
Panembahan malepat
dupi ngidek bumi miring dadya iku
kajronkong krungkeb Ki Arya
pamawaning bumi miring.

Singa bumi kang kadedekan
tapakipun Gusti ingkang Pakungwati
kudu bae miring nungkul
jala sutra tan guna
ngalor ngidul tawuring jala alusud
kasele kajengkang-jengkang
krungkebe kang anjalami.

Digulon ngetan akiteran
dangu dangu jala mretel amrotoli
sareng kang jala wis rempuk
Arya Kamuning nembah
inggih sampeyan nyata suluring Ratu
dede malele Pandita
kang amurba awak aking.

Kuring gegebal sampeyan
pan sumukud sembah angabdi lahir batin
samprakawis tereh Guru inggih nyata Wali Raja
duwa prakara jala sutra inggih pupus
lah iku marganing daja
Kuningan idep angabdi.

Papak raja Panembahan
kang aminda suhud pawisik
dupi Talaga kehesru
Kapetakan pon dapake Sinuhun
Sindangkasih iya tunggal
Ki Gedeng Susukan kalih.

Gedeng Tegalgul tunggal
tunggal idin saking Suhunan Jati
dupi ika Raja Galuh
saestu tunggalira
Gedeng Sura miwah punika Anjum Nyai Gedeng
Panguragan
pon idin Sunan Jati.

Sakatiking Tapakira
iku abdi amatira Narpati
kang kamilik sumpahipun
yen laga wa asumpah
Ratu iku abdi amat iya iku
milu wilalating sumpah
hing harjaning milu mukti.

Kongang lamoni den nedola
hing Gusitne sakarsane aniti
lawan kongang dipun rungrum
dening pagustenira
kang lelegan tanpa soma
punika taliti.

Lunta hing satedak tedak
dating Ratu pasti amiris
angajaba lamon sampun
den pardika kaken nita
caca wadon lalurining ngamat iku
punggel lamin abdi lanang
rabi mardika kang yakti.

M I J I L

Ya warnanen anjenggering Pakungwati
dennya raton-raton
ya hing dunya ku wis adate
kudu warna-warna kumelip
ika Kyai Pali
teka mikir sentung.

Waktu bebet sabrang tansah mikir
manah ngilo-ngilo
Ratu Sabrang pada dagang kabeh
dupi Gusti kita ing riki
korap-koru rijiki
adan sigra matur.

Dateng Panembahan prayogi yen mangking
prayogi samangko
kawula ngintar
ken padagang gede
badi tulung gesang hing Aji
atilad tatangi
sabrang lumrah Ratu.

Sam olih padagang ing mangken
ngriki dagang uwos
nyabrangaken uwos sagedene
agung rijiki angelar bati
Panembahan Aji
dadya sira gupuh.

Beras hing wong Carbon den epaki
karunge wis awon
kampil beral andamping pinggir kikisik
kawarna yen yakti padaganging Ratu.

Nama Palidada wusing dadi
baita cu mahosora kaya iku ana kekere
cadong-cadong batok sawiji
basane yen ngemis kanggo amumuluk.

Ki Palidada sahurnya ambengis
he sidi lalocok beras uwis aneng karung genahe
ana adat yen di dodol maning
kekere pon masimaredeng anjaluk.

Ki Palidada sewot tumuli sejane anabok
dadi kerjeng tangane tan suwe
sja jejek sukune dumadi
ngingkrang datang kenging
mudun ika wau.

Palidada anjirit den tulungi
muliyi den gotong katur sira Panembahan priksane
kekerehe ana hing ngendi
lan rupane maning
kayapa rupane iku.

Ya ta matur ingkang pinariksani
kere belang kokop
suku tangan sami belang kabeh
Panembahan angandika riri
la iki Ki Pali
gotongen den gupuh.

Tekakena maring lepenjagi
kon tobat kon panor
lan gawaha bras ingkang akeh
sapuluh karung babakti mami
yata abdi-abdi tandang gupuh-gupuh.

Ki Pali den gotong aglis
sarta lawan uwos
ya sapuluh karung wus mintar kabeh
anjunjung maring lepenjagi
mring sang meha yakti
Wiku Wali Agung.

Ki Palidada tobat anangis
nuhun gesang ingong
kang pinuji aris wansukane
iya sira sun apurani
sareng sabda Wali
ingkang iku.

Adan waras Palidada kadi
duk mau dadya nor
suhun sembah lan pangabektine
wos sapuluh karung binakti
Sang Wali mangsuli
hing prakara iku.

Beras pirang pirang sira gotongi
maring arsaningngong sadya nira gawe apa mrene
Palidada nembah lingnya ris
inggih punika bakti
nipun Gusti Parabu.

Kanjeng Panembahan ing Pakungwati
kang katur samangko
dateng paduka Pandita Gede
barkah sampeyan ingkang kapundi
mungginya paganti
lahir batosipun.

Sang Wiku angandika aris
lah iku hing mangko
sun tarimah hing kabecikane
Gusti nira ananging saiki
gotongana balik
beras ira iku.

Suning kene boya anambrih
kang para samono
manga kaya Gustimu mrene
nuli saja drawaka hing ngati
dupi isun beli
yasoteh hing wau.

Ngemis beras mung sabatok cilik
go tambah layop
ora isun ngarah akeh-akeh
ya wis pada gawanana balik
ya ta ganti-ganti
kang sinabdan wangsul.

Pan wus katur hing Panembahan Aji
ya ta jeng Sang Katong
andaring ngendangu kandikane
atema aning kana angking
ya wis prakaraning
dagang iku wurung.

Aja sido wurung ngena gelas
kita aneng Carbon
ora kena dagang guna gawe
iya iku ingkang dadi wangsit
eyang Sunan Kali
aja salah tangguh.

Mangsanaha wali ingkang nisip
mangsanaha goroh
mangsa pitna sabarang gawene
ya ta Palidada tumuli
murungaken kardi
beras diun udung.

Kampil ingkang aneng pinggir kikisik
den nusung den dodol
den balaburaken hing balane kabeh
kawalatran sagunging mantri
sami asukati
hing sihe Sang Prabu.

Para Buyun samya nakseni
ken anak putu Carbon
tang kongan dagang wangsit luluhure
ya luluhure sang Raja wali
kumudu sajati
ana rimah sukur.

D U R M A

Ku harjaning Carbon watek Ratu Oliyah
tandah hing sawengi-wengi
hing masjid sowara hing tilawat parnujinya
gumuru swarane puji
kala samana Masjid Agung nunggeling.

Durung ana empere angeringanan
mura ngarep lan wuri
mawi pataka harja
parunggu sarta alancip
apa kaya dat
hing pataka hing masjid.

Ora kaya jadeng prang saking Mataram
kang nama Ki Gedeng Enis
naban tigang warsa
kinarsa langlang jagad
kinarsa mamariksani
maring Nalendra kang kabawa Matawis.

Pinariksa banggi wonten durga baya
kulilip nyalawadi
biliana Raja
bala Raja kang lirwa
maring purbaning Matawis
kala samana
ika Ki Gedeng Enis.

Duk pariksa hing Carbon amanggih harja
sarjuning puji masjid
hing dalu kawangwang
dene teka bargama
hing Carbon ngundak-kundaki
inggih mankenya
jumeneng kutub maning.

Anuruni Sang Jati sun cacak coba
ya ta hing mangsa wengi
Gedeng Enis marendah
andalahi ku baruwang
hing luhur pataka Masjid
yen mangko tawa
lah yen nyata Kutub maning.

Panakawan datan langgana hing karsa
kalayan lampah demit
tan nana uninga
durga andala baruwang
ya ta abdi sami
sapa ngakuba hing masjid panas atis.

Dadya bubar tan nana purun ngahuba
sirep kang samimuji
Gedeng Enis nyana
yen dudu Kutub Hingyang
Gedeng Enis wus lastari
lampanya kesah anjaja panagari.

Ora kaya hing Carbon sanget sangsaya
Masjid dipun tan kenging
dipun geni salat
Jeng Panembahan susah
Popoyan datang Jeng Nyai
Pangngalangalang
istri guna wit urip
Adam ika Nyai Tegal pangalangalang
nabda la ya iki
gawene wong tuwa
do emadak masi ana
Nini-nini kari siji
Jeng Panembahan
wus katingal bruwang mandi
ya ana hing pataka masjid katingal
sabda Yang Nini-nini
ujarisun apa
la ika si banuana endah si Nyai ngabili
wong wis tuwa
ora owel yen mati.

Panembahan kang ngawas wau tuminggal
saking jabaning masjid
aja melu hebang
si Nyai mengko kebang
manjing hing jara Masigit.

Jeng Panembahan ngandika iya becik
pan si Nyai manjingnga masjid pujangga
manira kang neng Jawi
ngawasakon bruwang
kang ana ing pataka
mangkana enggal Jeng Nyai
pangalangalang
lumebet asusuci.

Banyu wulu anducekaken salira
saking cadas sing jisim
sampun sinampurna
ingkang susuci badan
nunten malebet tumuli
wonten ning Bangsal.

Masjid Agung asuci
abrebresik kang nama tinja kaliwat
hing tinja ingkang kari
mungguh kang babasan
manuk mabur kang sarta
kurungan orana kari
hing tengah-tengah
hing masjid denya nunci.

Pan aseru swarane ingkang adan
asruh amemelingi
ambeledug awiyat
pamrasane kang meningi
ingkang kawengan
swarane iku Jeng Nyai.

Pareng anjit kang swara munclski bruwang
kang aneng pataka masjid
mesat hing gagana
sumembur hing ngawiyat
muksa ilang ingkang mandi
sirna sampurna
waluka kadi uni.

Kacarita baro ewang ingkang sumebar
mumerep pada manjing
maring Guwa Upas
Guwa Dalem ika tunggal
bangsa mandi lamon lalis ya makumpulan
maring sarwaning mandi.

Wus asirna sing dunya sampun apinda
maring kaanan latip
teges kang babasan
ora mati kewala
salin nagara kang latip
Jeng Panembahan
andarengen hing kapti.

Tumon wau sinare Pangalangalang
Nyai Dalem Pakungwati
dening si wanodya
sina tata Oliyah
rumasuk badan rokani
oraga sukma
karu-ru istri lecih.

M E G A T R U H

Malanipun kauni
hing pungkuripun
kubure Nyai Pakungwati
ana hing masjid Agung
dudu kubur kaya pranti
yaktine punika enggon.

Enggon sirna mungguh pameradanipun
rong prakara denya eling
ila-ila duk Sinuhun
ngukun Syeh Lemahbang dingin
wanten upata kamanton.

Ika yen wis tedak sanga anak putu
kaselang hing budi wani
kebo bule timbuk rayu
telung prakarane maning
emut duk dingin wirahos.

Wirahose Sunan Kalijaga muwus dening kobaring Masjid
hing sapungkure Sinuhun
kaya-kaya amenangi
Panembahan duk migatos.

Patang prakara lamon wissa ingkang mau
ya bok anaha malih
pantar ingkang kaya iku nuli sapa kang nulangi
reh si Nyai sampun maot.

Ya wis ora nana ingkang dadi tunggul
tumbali wong Pakungwati
casse Panembahan Ratu
Gusti Allah ngawikani hing karsane Ratu Carbon.

Lami-lami ana sumulur arawuh
maja Jeng Wali pawestri
Nyai Gede Pancuran rawuh
putra nipun Sunan Teigading
ngumbara rawuh hing Carbon.

Pan Kalangkung minuli salenggahipun
dening Ratu Pakungwati
Kanjeng Panembahan Ratu
angabekti puji bakti
dumateng Jeng Istri kahot.

Dening Nyai Gede Pancuran sepuh
tur lampah Wali singgih
tereh hing Wali kang makbul
salaming linggih wasi
hing praja datanna enggon.

Mula-mula aneng Tuban hing dalemipun
hing Depok kang den wastani
Pancuran pramilanipun
katelah nama Jeng Nyai
Gedeng Pancuran hing kono.

Nunten pinda hing Japara kan sinebut
depoke karangkamuning
lami-lami pinda nipun
hing madura milakoni
Nyai Gedeng Sampang Boya roro.

Nulya pinda ing kajonga pinggir laut
mila katela kang nami
Gedeng Kajongan kang lihu nunten ngumbara ana hing
Pakungwati namaning gon.

Minulya-mulya dening panembahan Ratu
mila katela kang nami
susulure kang wus lampus
mila dipun wuri-wuri
kinarya tumbaling Carbon.

Saputrane sami dadalem hing riku
karang ingkang den wastane
Karang Pasardawa hulu
jaba kuta lor kang nami
karanggetas gatining wong.

Dipun karja ing panah kang dadi langun
dening Ratu Pajungwati
marmaning kaja puniku
tengane hing Carbon dadi
kalilip bancana wadon.

Iya iku kang nama Nyai Gedeng Dempul
ya angaru anak putu den niruti
seja araraton akumpul
hing desa Bakung prawani
adir-adir kang balo wong.

Saoli-oli wong tatanggane akumpul babarissab
Sawatiwis umbul-umbul waring muncul
Ngirupi bala winuri
Geger gentur ing wong Carbon.

Ya Ki patih hing Carbon kalangkung rengu
reh ika kang dadi Patih
ing waktu samono iku
Patih Rudamada sakti
dados ban nemban ning Ratu Panembahan Pakungwati
mila rengu hing borojot.

Bebet Pajunan mau Nyi gedeng Dempul
cuplak andeng-andeng iki
pramila Ki Patih mau
wus linggar anglurug maring
Bakung gogombol den tinjo.

Pan den tinjo nyata orana dinemu
pansamya bubar nyingkir
ming alas Junti anglarut
dupi iku den lurugi
hing Junti tinemu kosong.

Lincak-lincak bala Dempul genya larut
raraton ika ana hing
Kandangur dupi krungu
dening Patih Pakungwati
Rudamada dan tininjo.

Ika maring kangdangur pantinemu suwung
tegane pada babalik
hing ujung tanala iku
pada parangsawatawi
tan dangu pad amboros.

L A D R A N G

Gennya bubar angili pada aningid
hing guwa-guwa
sakedap akempal maning
yen kurang sangu iku pada bebegah
sing gampang katungkul iku den ambil
angraraja dadi geger tepis wiring
ya hing Carbon pada ngiliake nyipar.

Singlar saking prenahe angungsi puri
ya hing Carbon kuta Carbon masi kikib
ratu Carbon kang hing ngungsi hung ngauban.

Patih Rudamada miwah Mantri-mantri
amancalang
lie amburuh kidang kancil
akeh kena kang kari masih akatah.

Ingkang kena wus den asrahaken maring
Ki Katandan
kinen lamong kang rawati
hing panjara sinebut goning panjara.

Durung ana benteng durung ana bui
duk samana
pan durung ana Walandi
mung sinebut kang nyekel kanda wariga.

Pajaksane hing kajaksan pan alinggih putu nira
Ki Rudamada kang nami
Jaksa Sumirat kang andarma wacana.

Jan purwaning desa kajaksan sayakti
putra wayah
Panjunan Caruban kali
putra wayah Ki Arya Menger Kajaksan.

Arya Menger kakange mau Jeng Nyai
Nyai Pangalang
ika ingkang wus sirna lalis
Arya Menger kuwi ramane Pangeran.

Ya Pangeran Palalanon kuwi cuwan
ya kasilib
akeh nyana
yen Palangon sinenggi
lamon iku ugyan Pangeran panjunan.

Kalesanyata Palalangon kang sayakti
wong Kajaksan
ingkang duwe tunggal jati
krana Pangeran Palalangon iku nyata.

Ya putraning Pangeran ingkang nami
Arya Menger
dupi dunane kang asri
Pangeran Panjunan kardi pakirnan.

Wringin pitu kang linangawan ningsih
dukan emah
kasosetapan banting diri
dupi sumala mantuk Ardi Amparan.

Dan warnanen wargane iya Nyi Dempul
ingkang amsi
wangun geger hing nagari
saya dangu saya katah amarambah.

Kocap kena sapuluh mangka ngunculi
sewu mana wesa
kena satus amonculi
sewu mana wesa dadi jalma pan sadela.

Endas merang tinygel ika anuli
dan sinebar
dadi bala wus barketi
kawalahen polahe Ki Rudamada.

Daja matur popoyan hing Kanjeng Gusti
Panembahan amit asih ahubing
Nini-nini mau Nyai Gedeng Pancuran.

Kang dadalem
hing Pasar dawa anenggi
angandika
Nyi Gedeng Pancuran aris
putu nisun den pracaya ing Allah.

Ya si Nyai mengko kang makseni sidik
sapa-sapa
tawelak maring Yang Widi
tangtu hing mengko ana kisabing Allah tangalah.

Aja susah den lurunggi den perangi ila-ila
hing Carbon perangnga dadi temahane
ora-uru tambuhing seja.

Hing sandenge wong Carbon perang tan dadi
mangsa sida wus ila-ila hing wali
mung salelebon hing bodo ngalatak.

Amantangub karuwan kang den ungsi titenana
embok si Nyai akitib
dening anak putu sing amenangana.

Menangana perange wong Pakungwati dugi binjang
teka maring jaman akir
yen mengkono bae yen perang prayuna.

Ya ta marem Panembahan ingkang pikir muwa ika
ki Rudamada Patih
samya seja Pracaya ming Nyi Pancuran.

Samya eca-eca hing aryo puri ora lawas
bala Dempel sugih wani
seja bedah kuta Carbon den jujuga.

Ambel sura diksura pating padigdig
edir pada atimbul bojana kulit
sugih baris iku kang bala cicip tan.

Mila angka sumeja angaroboki
pareng praptahing marga bebaneran ning
sokalila Karanggetan kasasmata.

Kang pangaru kang bala ciciptan sami pulih merang
sakeng braja wesi sami
getas marepel estoning tanpa aguna.

Ingkang bayu lesu kade den lolosi angganira
liren gelar aneng siti
adan tandang Ki Rudamada sawakca.

Bala Dempul prasani dipun keriggi
ming ngayunan kinen tobata
prasami sira iku aja ilok gawe dora.

Maring Ratu lah iku marganing dadi suka lila
atining wong kang anjilib
sirna purna tan nana durha rancana.

Gedeng Dempul hing ngapura hing jati sami bubar
mantuk maring prenah lami
datan arsa sulaya kersaning Nata.

Ya wis ten tre orana kuna-uni sirna baya
durbala ngaubing Wali
Wali Carbon ingkang wus polipuring.

P U C U N G

Wantu-wantu hing ngagesang kudu nemu ingkang
kasusahanganta
sapira lawase patang puluh wolu tahun iku ana.

Cocobaning pekir hangula kaum Masjid agung
kabarpuncaki ingkang katunan
geni saking sabrang kidul sing walahar.

Geger kaum pan samya rinebut-rebut
Ki Lebe Duliman
tandang ngunjukaken kocor
Marbot Kamjah sabature ngerab toya.

Modin Husup sabature pada nawur
aken lemah ika mambrih ming geni matine
pan katujung para Lebe sing padedesan.

Panembahan dumulur ika sarejo
yen kawangun limas
mengkamewahan empere
sakubengi dadi surambinira.

Lan pintune kamewahan bata mempur
kinanea kang mungal
lan malih paimamame
pan ginatra dunjung hadi tanpa talaga.

Miwah jajantung tanpa pisang ingkang mungup
darapona daja
hing ngadining sasangkalane
bata mungal-mangil mangupkang sasmita.

Ya wus jengger pulih sya wu-wu abagus
luntane alempah
kawuri-wuri jatine
tapaken para Wali kang sasanga.

Menuri wuri dening anak putu
arjaning pakudyan
tilase hing luluhure
ingkang sampun sirna sampurna sukasma.

Bab hing seseban ming Mataram maski laku
mejang naban warsa
naban murud pan sakehe
para Ratu Nusa Jawa hing Mataram.

Pan mangkana adate hing naban tahun
salamining gesang
ora nana hing cutake sumambah karaharjan hing Mataram.

Pramilane hing Carbon tuhu rahayu
krana tumarimah
manah sukur sagedene
beda Banten kaselang tumpur sakada.

Sabab kirang hing manah sukuran nipun
ya wai waspada ngisab hing napsu samini
spa sukur winales guna waluya.

Sapa kurang sukure winales tumpes ora nan liyan metu
sing ngawakee dewek
Gusti Allah pan ora anganihaya.

Sahalame jeneng Panembahan ratu
seba ming Matram
ora nan arung anane
mulus mujur kang basa prasetya waktya.

Sunan Mataram pan tan nana ngaru biru
dennya nganggep anak
Mas Carbon labda karyane
Hing Mataram katarima jar samaja.

Ra kurang ora luwih dennya ngulun
mila katarima
dumadi ing salamete
satuwuhi anak Mas
Carbon raharja.

Sakarsane sabarange kang winangun
boten nana tilar
Sunan Mataram rempagi
mangkana kang dadi slameting lampah
mungguh yang widi karsane
singnga asta lahir batin tan beda.

DANDANGGULA

Awong dening kang rinembangan nyuluri
Panembahan nu iku kang wayah
kang wus kasebut namane
Pangeran putra Sunu
putranipun Pangeran Dipati
ingkang Sedanggayam
ingkang den angkat lungguh
deneing Suhunan Mataram
kkrana waktu samono ngadeging Ngaji
kudu saking Mataram.

Ingkang ngadekaken lilinggih haji
Hajir Mataram ingkang anama
Pakunagara jenenge
ingkang ngistren Ratu
Carbon ingkang nama winuri
Panembahan Girilaya
kang mangke tumuwuh
sinakoli mangku reja
pon katiti sebane dateng Matawis
kadi kang sampun seda.

Papatihe Panembahan mangkin
Kang nama Ki patih Suminingrat
ya iku estu putrane
Ki Rudamada mau
winuri-nuri ing Tunggaksemi
mulane pinaraban
Suminingrat wau
ramaning Jaksa Sumirat
tunggal bronjot Panjunan ingkang gaganti
hing linggihe Sang Nata.

Ya Sang Nata anyar hing Pakungwati
Pangulune nama Ki Jalila
ingkang mangen bargamane
wakil tulaking Ratu
aneng Carbon nata gami
pusakaning Waliyullah
maring anak putu
hing Carbon nagara jimat
atumbaling nusajawa kendung kikib
kuta Carbon waluya.

Waktu iku ya mati akikib
kuta Carbon masih naroja
adi tuwu sakubenge
tan ana durga ngaru
kadya gelare kang rumihin
Jawa Gunung kaporba
katiti angulun
sinakala tiwa-tiwa
nagara gung Mataram pon anglilam
ing Carbon yen gaweya.

Andel-andel sinaroja Pati
Seminingrat lan Jakasumirat
Kanti tanda warigane
miwa kang naminipun
Kyai Kanduruwan pan tunggil
baranjo ating Panjunan
wandudayi nupun
mangka taliti Kuningan
Arya Salingsingan kang pinangka dadi
anjeneng pandelengan.

Dupi ingkang dadi Tadamui iku branjotting karangkendal
Ki Gusti parna putune
kang dadi mantunipun
Gedeng kodokkan Abdulkapi
Abdulkapi kang saja
dingin mantunipun
Ki Pati Keling duk kuna
pan karuru wong becik ngupadeni Haji
pramila winuri lenggah.

Awon dening ingkang hing angken linggih
Arya Jagasatru ya ika
Dipati Ukur kang ngenem
tur dadi marasepuh
krana Putri Ukur kang nami
Jeng Nyai Mas Kirana
den garwa punika
dening Kanjeng Panembahan
malah mijosaken putra kakalih
Pangeran Anom kang seda.

Lan maliye Pangeran Masa Pakungwati
ana dene garwa Panembahan
kang suwanengge asalle
saking sabrang kang metu
saking panagara Surati
nami Nyai Rara Kreta
ingkang amurwa dusun
nama desa Karangdawa
malah Nyai Rara Kreta amutrani
Pangeran Sepuh aja.

Mangkana Panembahan Geri nenggi
agung putrane
ingkang estu Raja Sunu
sami kasukan kramat
boya kenging den nina hing sapadaning
tuwu atena walat.

Ya mulane karuru desi najen
aja ja maning yen tumeka
lagi niyat ora bee
saking pangaru larut
ya Sinuhun ingkang angahiebi
hargjaning kapurata
hing sawaktu iku
jar si nembe tidak lima
kaya-kaya samono mengke muraking
adening kuta reja.

S I N O M

Panembahan Girilaya ang Ruru hing Pakungwati
pranata mati adilad
alam Panembahan lalis
masi apembek Wali
tanpa drawaka hing napsu
ora budi sudagar pramila masih asepi
durung ana cina lawan Walanda.

Masih sakadar wong Jawa
Wong Sunda wong sabrang pekir
wong Arab Mandita
agama ingkang den gugoni
kang minulka hing ngurip
prakara agama Rasul
ora ngajeni dunya
dagang sudagar kakeri
kang ketengan lakuning agama Allah.

Asli teks pada halaman 123 tidak ada

Krana iku kakullah
tunggal ulam ning jaladri
amupuwa beya maning layen karsaha.

Ora nana pupun pasar
ora nana pajeg urip soteh wong pagunungan
saking karepe pribadi
babakti hing Gusti
tan pinardi hing Sang Ratu
lan ora winatesan
wus apa dudune titi
ning sedekah sakerep-karep prijangga.

Mangkana maning kang bala
sakarep-karepe ngabi
ngajeni bandaranira
bab den pardi estu bentan ana dangdan margi
duduk kali wong saking gunung
tumurun bakti karya
lan susukane pribadi
tumandange tan den priyat dening Raja.

Kadi lakuning sideka genturan
ingkang bakti
anglangkungi saking priyat
gennya pada angajeni
hing Gustine prasami
angraksa salinggihipun lumu yen kasorama
dening sapantare ngabdi
balanjane sadina cicik barekat.

Masih lumampah banaja
ingkang den arani picis
timah tipis bolong tengah
awawi dipun sunduki
ricik teka satitik
pusaka Kanjeng Sinuhun
siji rorone ana
wong tembaga gagawaning
wong dagang sing kasabrangan
masih sarwaning samending
wong Carbon mapan masih
langka gedong umahepun
naramba umah Jawa payon sirap payon welit
durung ana wong cilik kuta karang.

Masih kikis lawan dadangajaba kuntaning Haji
kuta Carbon pan waluya
sakubengi durung rigrig
pusaka Sunan Jati
Pangeran Panjunan wau
hing prakaraming karta
mung den wates ambrikuti
turun lima nuli den tema anggagar.

Dening karsaning priyangga
asajen sangge sejen sipta
kaligane iku benjing
anak putu prasami
anyayanak maring satru
saneke temen ningkang
prasami den pitambuho
pamawane wong kopencut daaring dunya.

Pada demen malar barang
kang ora langgeng kamilik
temahe adadi upas
anaepes harjaning Haji
beda duk jaman dingin
ungkara Kanjeng Sinuhun
ora amalar dunya
nanging dunyane angrobi
rijekene sing dunya rawuh ngakerat.

Panembahan Girilaya
wus sipta ana kang marik
kagungan niyat kadunyan
nanging tan anglaksanani
panasi kundalining kutub
prawantuning wus katah tatamu
kang dede Wali
sabotene angngukad ding kaenakan.

Putra garwa saking sunda
hing karsane mambrih sugi
asipta hing kabangkaran
putra warga sing surat
adat sabrang aja mambrih
sudagar padagang laut
nyung nyeng sagongeng kula
Wangsadipa Wangsakarti
den nya anggelar saja abrangan sinang.

Ya si wantu Panembahan
sarosane wong sawiji
apa maning wus abenggang
kalawan sobawa Wali
membering-membering meminggir
kagumris benaning laku
lan Panembahan Awal
dupi Panembahan mangkin sabawang sumilir harjaning kiwa.

K I N A N T I

Hing waktu samono iku kusonya Banten kang dingin
mralalu kisah ming Ngarab
nani Sangeren Kanari
minggah haji sina kangsal
idine Raja hing Ngarbi.

Sultan Mekah paring wahyu
lamon Pangeran Kanari
la yen jumenenga Sultan
ana hing Banten nagari
serta sinunggan Radukan
Pusakane nabi Brahim.

Pramila samantukipun
ika Pangeran Kanari
meperkaken kula warga
ngistreni angangkat diri
pyambeke jumeneng Sultan
ana hing Banten Nagari.

Tan kaya Mataran rengngu
ora narima hing Jawi
yen ana anana Sultan
kang sanes saking matawis dadya rika malurungan
seja ngimper Banten Aji.

Wong Banten degeng hing wuruk
duga prang salami-lami
Banten layan Mataram
lawas-lawas ika nuli
ana panyapi walanda
kang nama Kapitan Murgil.

Ingkang bisa ngurus-urus
wong perang dumadi mari
sabab Banten den pariyat
deng Murgil kinen nyahisi
petugur aneng Mataram naban taun ganti-ganti.

Dropan tulusa angratu
aja na sawiji-wiji
dupi Mataran den priyat
kine narimah dumadi
Sultan ning bala Sultan
Banten nyaosi pakemit.

La iku matganing urus
Banten kalayan matawis
ora kaya wusing kreta
walanda minta upahing
angarta prang neda kongang
adodok aneng batawi.

Sunan Mataram dumulur
Sultan Banten angrempugi
lah iku awiting ana
Walanda aneng Batawi
pan den nidep tuwa-tuwa
dening para Ratu Jawi.

Lan jumeneng Gubenur iku
amiponi hing Batawi
lir kamandi sumelap
Ratu Jawa durung ngarti
hing gatrane samana
yen akir dadi kamandi.

Asli teks pada halaman 129 ora nana

Masjid Agung Banten iku
nalika binangun nenggih angleresi babad jaman
sewu limang atus nenggih
tigang dasa kalih warsa
punika kadining pelhing.

Dupi mula-mulanipun
Walanda aneng Batawi
wau ingkang pranama Murgel nenggeh angleresi
babad jaman kalih nira
sewu limang atus warsi
punjul tigang dasa tahun.

Punika adining peling
dupi Carbon duk samana
masih Panembahan Giri
nasi katiting ming ngetan
sukuran manah lumiring.

Lan ning Carbon masih harju
durung kaslapan Walandi
durung ana wong pantinan
kuta Carbon masih kikib
ngubenggi saharja pura
tengreme wong Pakungwati.

Taksih wonten candakipun ingih punikan ……. (bagian III)
nuwun
by alang alang