alangalangkumitir

Javanese Manuscripts

MENCAPAI DERAJAT INSAN KAMIL (Tamat)


InsanAkibatnya hasilnya kosong melompong. Karena hanya mengandalkan pikirnya. Ini berarti belum mendapat tata cara hidup yang benar hakiki yang seperti ini adalah idman yang sia-sia. Bertapanya sampai kurus kering, karena sedemikian rupa caranya menggapai kematian. Akhirnya meninggalnya tanpa ketentuan yang benar. Karena terlalu serius.adapun cara yang benar adalah tapa itu hanya sebagai ragi atau pemantap pendapat. Sedangkan ilmu itu sebagai pendukung. Tapa tanpa ilmu tidak akan berhasil. Bila ilmu tanpa tapa, rasanya hambar tidak akan memberi hasil. Berhasil atau tidaknya tergantung pada penerapannya. Dicegah hambatannya yang besar, sabar dan tawakal. Bukankah banyak agamawan palsu. Ajarannya stengah-setengah. Kepada sahabatnya merasa pintar sendiri. Yang tersimpan dihati, segera dilontarkan segala uneg-unegnya. Disampaikan kepada gurunya. Penyampaiannya hanya berdasarkan pikiran belaka.

Dahulunya belum mendapatkan pelajaran. Sampai tobatnya tidak merasa enak kalau menyanggah. Lalu ikut-ikutan mendengarkan. Dengan menamakan rohaniwan yang terbesar. Dianggapnya sudah pasti pendapatnya benar. Pendapatnya atau ilmunya adalah wahyunya itu anugrah yang khusus diberikan pribadi. Akhirnya sahabatnya diaku sebagai anak. Ditekan-tekankan tuntutan besar berupa ikatan batin. Oleh guru bila sudah akan mejang atau menyampaikan ajaran, duduk merasa sering berdekatan. Sehingga sahabat dikuasai oleh guru, dan sang guru menjadi sahabat batin. Luansnya tanggapan bahwa segalanya merupakan merupakan wahyu Allah. Kebaikannya, keduannya antara guru dan sahabat saling memahami. Kalau seorang diantara mereka dianggap sebagai orang yang berilmu. Harus ditaati segala apapun yang diucapkan itu. Misalnya berjalan juga harus disembah biasanya bertempat di pucuk-pucuk gunung.*****

Pengaruh ajarannya sangat mengundang perhatian menemui perguruannya. Bila ada yang berguru atau menghadap, nasihatnya macam-macam dan banyak sekali. Seperti gong besar yang dipukul. Bukankah ajarannya yang dibeber tidak bermutu atau berbobot. Akibatnya rugilah mereka yang berguru? Janganlah seperti itu orang hidup. Anggaplah ragamu sebagai wayang. Digerakkan ditempatnya. Terangnya blencong itu ibarat panggung kehidupanmu. Lampunya bulan purnama, layar ibarat alam jagad raya yang sepi kosong. Yang selalu menunggu-nunggu buah pikir atau kreasi manusia. Batang pisang ibarat bumi tempat bermukim manusia. Hidupnya ditunjang oleh yang nanggap. Penanggapnya ada di dalam rumah, istana. Tidak diganggu oleh siapun. Boleh berbuat menurut kehendaknya. Hyang Permana dalangnya. Wayang pelakunya. Adakalanya digerakkan ke utara oleh sutradara. Bila semuanya digerakkan berjalan. Semua ada di tangan dalang. Dialognya menyampaikan pesan juga. Bila bercakap lisannya itu menyampaikan berbagai nasihat, menurut kehendaknya. Penonton dibuat terpesona, diarahkan melekat pada dalang. Adapun yang nanggap itu selamanya tidak akan tahu. Karena ia tanpa bentuk dan ia berada di dalam puri atau rumah atau istana. Ia tanpa warna itulah dia Hyang Sukma. Cara Hyang Permana mendalang, mempercakapkan tanpa dirimu. Tanpa membedakan sesama titah. Di samping itu, bukankah dia tidak terlibat sebagai pelaku? Misalnya berada dalam tubuhmu? Atau ibarat minyak di dalam susu? Atau api dalam kayu?.

Berhasrat sekali karena belum diberi petunjuk sehingga menggelar doa di kayu, dakon dan gesekan. Dengan beralatkan sesama batang pohon. Gesekan itu disebabkan oleh angin. Hangusnya kayu, keluarlah kukunya. Tak lama kemudian apinya. Api dan asapnya keluar dari kayu itu. Bermula dari ingat pada saat awal mulanya. Semua yang tergelar ini berasal dari tiada. Manusia diciptakan lebih dari makhluk yang lain. Bukankah itu yang disebut rahasia atau rahsa? Manusia itu tidak paling mulia daripada ciptaan yang lain. Maka dari itu janganlah mudah terpengaruh oleh buah pikirmu yang bulat. Bulat atas segala gerak dan kehendak. Adapun isi jagad itu jangan mengira hanya manusia saja, tapi berisi segala macam titah. Hanya saja manusia itu satu. Penguasanya satu. Yang menghidupi jagad seisinya. Demikianlah tekad yang sempurna. Hei Syekh Malaya segeralah menyudahi! Kembalilah kau ke pulau Jawa! Bukankah sebenarnya kau mencari dirimu juga?.

Syekh Malaya bergegas. Bersembah dan berkata dengan berbelas kasih untuk memenuhinya, yang disebut Kalingga Murda,”Hamba setia dan taat”. Kanjeng Nabi Khidir lalu musnah dan lenyap. Syekh malaya tampak berdoa di samudera. Tapi tidak tersentuh air.

Syekh Malaya sangat berjanji dalam hati atas peringatan atau ajaran sang guru yang sempurna. Bukankah ia masih sangat ingat? Hasrat hati yang telah memiliki atau mengetahui ilmu kawekas. Isinya jagad telah terkuasai dalam hati, merasa mantap dan disimpan dalam ingatan. Sehingga serba mengetahui dan tak akan keliru lagi. Diresapi dalam jiwa dan dijunjung sampai mati. Ia telah lulus dari sumber aroma kasturi yang sebenarnya. Sehingga sifat panasnya hati lenyap.

Sesudah itu Syekh Malaya kondur (pulang). Hatinya sudah tidak goyah lagi karena segala ajaran itu tampak jelas dalam hati. Ia tidak salah lagi melihat dirinya siapa sebenarnya. Penjelmaan jiwanya menyatu  dalam satu wujud. Walau secara lahiriah dirahasiakan. Norma atau prilaku tat cara jiwa kesatria, berhasil dikuasai. Bukankah ia sudah menggunakan mata batinnya yang tajam atau peka? Ibarat hewan dengan bebannya! Sudah tak ada atau terjadi, kematian dalam kehidupan. Setelah bagaimana ia menerima ajaran gurunya. Sama sekali tidak diragukan lagi. Seluruh ajaran gurunya sudah tamat dan di kuasai dengan tersimpan dalam hati, serta diimankan dengan cermat. Mematuhi semua ajaran guru. Perbuatan, pikiran dan rasa bukankah diuji dalam hati yang suci dan bening? Benar-benar terasa sebagai anugrah Tuhan.

Sesungguhnya sang guru benar-benar sudah hilang raganya, sudah tidak ada. Akan tetapi selalu terbayang dalam hatinya. Dan sudah ditetapkan sebagai kekasihnya. Adapun segala ketercelaan hati sudah lenyap. Rasanya tenanglah dunia  dan akhirat. Karena kebersihan dan kesucian jiwa sudah diketemukan. Sukma suci dalam segala tingkah lakunya itu memahami sepaham-pahamnya.

Bukankah sudah memahami lewat petunjuk? Sehingga tidak takut akan kematian yang sering timbul dalam buah pikiran? Ia sudah mengharapkan bahwa raganya akan ikhlas kalau kematian yang mulia. Yang diridhai oleh Tuhan atau Sang Hyang Widi. Namun sebenarnya tidak ada tanggapan perasaan. Yaitu rasa seperti itu. Tiadanya pandang atau wawasan seperti itu. Bukankah sudah lenyap semuanya. Tinggal jiwa suci yang terpuji mulia? Mulia seperti zaman dahulu atau awalnya. Tidak meragukan kematian yang sebenarnya. Yang menjemput maut setiap saat. Tidak merasakan akan kematiannya. Toh yang rusak itu nafsu dan badan, jiwa hidup abadi dan aman sejahtera. Senang, mulia dan merdeka, semuanya itu sudah diterapkan dalam hati. Sehingga berpegang pada kuasa-Nya. Sudah mengetahui akan makna kematian yang sebenarnya, ia tidak merasa takut kapanpun maut menjemput. Yang sempurna ialah sudah aman, sejahtera, mulia, itulah makna yang sempurna. Yaitu tidak meninggalkan hak-Nya. Ketujuh alam sudah lenyap. Bukankah lenyapnya alam ini sudah jelas? Kini yang lain ibarat kau sajalah!

Penguasa alam bukankah sudah kita ketahui? Yang bernama Abirawa yang artinya beerkuasa dan berkehendak. Adapun alam yang keenam artinya ialah yang telah lenyap : timur, barat, utara, selatan, atas, bawah serta kayu dan batu dan diri sendiri. Bila kita telah mati yang ada hanya kosong dan sepi. Yang terdengar hanya deru angin, debur air dan kobaran api di alam dahana. Matahari, bulan, bukankah termasuk alam juga? Dua puluh tiga alam yang serba nafsu itu, semuanya habis belaka. Walaupun bukankah sama dahulunya?.****

Syekh Malay sudah memahami hal itu semua? Kalau itu semua adalah alam serba nafsu. Dan alam yang sebenar-benarnya sudah jelas yaitu penguasa alam semua. Sedang penyelarasnya hanyalah alam anbiyak ini. Alam anbiyak itu baunya harum dan mewangi. Tapi bukan pribadi majazi. Yang hakiki yang menyelaraskan alam. Menjadi terang dan mulia semua.

Dan alam berarti itu ialah tempat jiwa suci, terang, bersih. Itulah alam malakut. Artinya ialah sudah tiba menjelang alam kemuliaan. Ibarat ruangan, sekat sebagai pemisah. Adapun alam anbiyak ialah alam mulia yang masih akan digapai. Sifat hidup itulah kehidupannya. Tentang mana mirah mana intan. Sudah jelas nilai dari Kumala Adi. Yaitu sebagus-bagusnya warna dari intan itu sendiri. Lenyapnya bukankah sama dengan lainnya? Itulah alam anbiya.*********

Tamat

……………………………..
Alang Alang Kumitir.

53 Comments

  1. maskury ubait

    mas kumitir sy tunggu pencerahannya yg lain,saya senang membacnya..salam santunku..maturnvwon

  2. SUARA

    LING LUNG

    Kagem dulur alan2 kumitir
    Ngapunten
    ” serat ling lung ” eyang kalijogo
    DESKRIPSI SEBENARNYA
    : …… Serat eLING LUNGguhe ”
    Elinga pangonmu iku bumi Jowo
    Pirso injih
    ” dadio wong jowo kang utuh, tuntunan jaw kedah kito ugemi ”
    Ora usah wedi ilmu arab ora ono opo2 ne.
    Kyai kayai dugdeng kabeh iku sing di gawe sejatine ilmu jowo.
    Yen ora ngakui ..wis ndang budalo..Ngrusuhi bumi nusantara.

  3. SUARA

    Banyu manca di adahi kendil…mugi2 kuwalat o

  4. SUARA

    Ee alah lha da llah…
    Alang alang kumitir banyuni banyu zam zam.
    Tak paringi pirso ya..
    Tarekate makrifatullah iku, sego jangane..mbah2 mu.
    Yaiku tata krama marang bumi langit sak isinr. Termasuk marang manungso.
    Pucuk ing ilmu arab, iku ndek2 ane ilmu jowo.
    Sing ngajari tata krama iku mbahmu jowo kang dolin mrana.
    Buktiine kitab e…macapat an…i, i, i…nas, nas, nas.

    Ojo dadi keblinger.
    Wong jowo kari separo.
    Raganing,,ngombe turu nunut bumi jowo,,,tuntunan uripe nyepekno ilmu jowo.
    Wis ” ojo nguyahi bumi jowo, ngger “.

    Ngapunten..meniko serat cik podo slamete.
    Yen nendikan jowo yo jowo ndak usah campur campur.
    Bumi nusantoro iku urip…mirengake.
    Wis akeh nyuwun sepuro…

  5. Adam Hawa

    Insan Kamil dua kata
    Kata pertama bukti wujudnya
    Jika ingin mengenalinya
    Tak nyata di cermin itu saratnya

  6. herry

    pak kumitir,insan kamil =jabang bayi umur 100 hari s/d umur 3 tahun insan kamil mukamil =hidup di dunia yang sudah memiliki rasa serta mempunyai pengertian yang sempurna ,maka jadi manusia wajib melihat asal permulaan hidup dan wajib mengerti jalan pulang menuju alam langgeng .amin amin amin ya robbal alamin..

  7. mustofa

    apa yang kita pegang / sekeni saat kita menghadapi sakaratul maut

  8. bayu

    Terima kasih Kang Kumitir yg telah menyajikan isi buku Suluk Linglung karya Eyang Kalijaga dalam Bahasa Indonesia.Buku itu asli karya beliau yang ditulis dengan huruf Arab Pegon ( Arab Gundhul ) dalam bahasa Jawa.Asalnya buku tersebut datang secara ghaib kepada seseorang.Yang bersangkutan sendiri yang menceritakan kepada saya. Demikian sekedar info untuk para pembaca.

  9. libra

    ashadualla ila ha illalloh wa ashadu anna muhammadarrosululloh…
    la haula wala quwwata illa billa hil adhim
    allohumma solli `ala sayyidina muhammadiwwa `ala `ali sayyidana muhammad.

  10. allah satu,…satu allah yg ada dlm jiwa…..

  11. ma el

    Semua hanyalah cara, jalan… pada intinya cuma 1, bagaimana cara kita bisa kembali kepadaNYa dengan bekal yang cukup dan selamat sampai disisi(kembali kepada)NYA..
    Semua berasal dari Allah dan kepada Allah lah semua akan kembali..
    manusia hidup itu datang dari mana, dan kembalinya kemana dan bekalnya apa(sangkan paran)…
    selalu sadar, eling, dan waspada dalam berlaku…

    semoga kita selamat sampai anak cucu keturunan kita..
    salam..salam…salam

  12. aswb makrifat………..bertindak,,,,,,,berlaku…………berucap…….diam………………
    semuanya………….adalah perintah ..dari NYA.
    yang tahu hanya diri dan TuhanNya serta orang lain yang diberi tahu bahwa dia seorang yang Makrifat………………….
    maaf nih aku dah kurang ajar sama Mas Kumitir………mudah-mudahan Mas Kumitir memberikan maaf lahir dan bathin begitu juga dengan Kang Ano.
    yang kuutarakan bukan makrifat tetapi pengetahuan tentang makrifat……………………..salam………..salam………salam

  13. Ano

    Aswrb.Terimakasih atas tulisan yang menambah ilmu untuk si fakhir ini.Dia selalu di hati,apabila aku menyebut namaNya tergetar hati ini dan selalu ingin menyebut dan meminta ampun kepadaNya karena merasa tidak bisa bersyukur dengan sempurna.Bila melihat alam ciptaanNya terasa tergetar dalam hati hingga hanya terlihat diam larut dalam keasyikan larut dalam kesendirian.Bila mengingatNya serta memujiNya dalam keadaan duduk, berdiri dalam keadaan apapun terasa oleh diri ini terasa semakin jauh dari sesama manusia karena banyak diam dan berbicara seperlunya.Akan tetapi jika mencoba untuk mengurangi dalam mengingatNya maupun memujiNya terasa diri ini terasa semakin dekat dengan sesama manusia karena mau berkata dan berbicara lebih banyak dan serasa semakin jauh denganNya.Ya Tuhan berikanlah aku kejelasan yang sejelas jelasnya agar semakin dekat dengan mengenalMu namun tidak membuat mereka bingung karena diriku.Teruntuk mas kumitir mohon di jawab pertanyaan saya.Adakah ciri ciri orang yang selalu bermakrifat kepada Tuhan?.thank’s

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: