alangalangkumitir

Javanese Manuscripts

MACAM KEPERCAYAAN DAN PENDAPAT TENTANG TUHAN (ALLAH)


Bab 3

MACAM-MACAM KEPERCAYAAN DAN PENDAPAT
TENTANG TUHAN (ALLAH)

Qur’an surat Al-Hadiid ayat 4-6;

4-“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian Dia bersemayam di atas ´arsy) Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya). Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”

5-“Kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi. Dan kepada Allah-lah dikembalikan segala urusan.”

6-“Dialah yang memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam. Dan Dia Maha Mengetahui segala isi hati.”

Ilmuwan zaman dahulu Anaxagoras dari Clazomini (yunani), ia adalah seorang ahli ilmu pasti yang disebut sebagai seorang kafir, karena tidak percaya dewa-dewa, dan ilmunya dinamakan Atomistik, ilmuwan itulah yang menyiarkan; bila roh-roh itu tidak ada batasnya dan mewujudkan gerak tertib, selanjutnyanya roh-roh menyatu dengan tuhan-tuhanan, dan ia bertekad mengatakan roh-roh itu maha kuasa dan maha tahu. Ilmuwan lain yang sam pada waktu itu Anacagoras yaitu Anaximander dari Milete Ionia; kepercayaannya kealam raya (benda), tujuannya; asalnya benda-benda itu dari zat tanpa awal tanpa akhir dan tidak bisa ditebak, zat itu disebut Apeiron, artinya kekal (abadi), menurut kepercayaannya (Apeiron) adalah tentang jiwa (roh), pendapatnya bila roh-roh itu seperti Hawa dan Angin. Ilmuwan Ibnu Araby Al Halady dan syeh Siti Jenar sama pendapatnya, jika manusia itu berasal dari Hakikatnya Maha Agung, artinya penyempurna DAT, dan Faham itu disebut Widatul Wujud. Pendapat memutuskan Allah dan manusia menyatu, dalam bahasa Wiridan disebut Chaliq, dan makhluk itu satu (menyatu), begini keterangannya; DAT Yang Maha Kuasa itu meliputi adanya sifat Ujud, tidak luar tidak didalam, tidak bertempat, tidak zaman, tidak laki-laki tidak perempuan, tidak beranak tidak diberanakan, tetapi meliputi Jagat Raya, lihat firman Allah, surat Al-Hadiid : 4-6, seperti diatas.

Artinya ayat-ayat tadi Al-Hadiid 4-6; kepada siapa saja yang diciptakan tidak dibeda-bedakan (pilih kasih), yang sifat baharu semua diliputi Zat Allah. Semua itu untuk membuktikan kepada orang yang berpendapat Allah itu pilih kasih dan ada yang disayang karena dari adanya pendapat yang bermacam-macam lalu ada ada golongan yang memberanikan bahwa Allah bisa dijumpai dengan manusia dengan memuja cara masing-masing. Sebelum adanya peraturan agama, ada peraturan yang menetapkan bisa jumpa dengan Allah karena menyembah kepada benda untuk perantara. Faham tadi dinamakan Animisme yang menambah kepercayaan golongan tersebut. Manusia itu mempunyai hidup terus sesudah mati, oleh karena hidup itu Hakikatnya Allah. Allah itu meliputi semua maka menjumpai memakai (memuja) kayu, batu, patung; paham (kepercayaan) itu bisa saja percaya ada DAT yang wajib adanya, tetapi tanpa keterangan, jadi pekerjaan tadi hanya yakin ada dan cinta, jadi faham yang tidak terang, tetapi didalam hati bisa menciptakan/mengarang bahwa Allah itu ada dan menyatu, faham tadi disebut Antropormophisme. Ujud/nyata disini berarti karangan-karangan yang timbul dari angan-angan lalu ada golongan yang nebak-nebak bahwa Allah itu bisa menjelma menjadi orang, dan orang itu disebut Allah. Kitab Injil, Taurat asal pertamanya terjadi Jagat Raya;

•   Allah menciptakan manusia melalui cahayanya.

•   Tidak ada orang yang bisa dekat dengan Rama (Allah), kecuali tidak keluar dari Rama aku, umpama kamu bisa mengenalku pasti kamu mengenalku (Rama).

•   Orang yang bisa melihatku, jadi sudah bisa melihat sang Rama, sang Rama ada berada padaku.

Kata Citra tersebut diatas maksudnya sinar yang memancar, itu kata karangan, dalam perkataan Wirid disebut Hakikat, sudah sebenarnya manusia itu asal Hakikatnya Tuhan. Menurut trilogy Kristen; Tuhan sifatnya Rama sang Putra dan Rohulkudus/Rohsuji (perkataan sang Rama lebih kurang adalah DAT yang wajib adanya) Tuhan yang disembah yang paling tinggi sekali. Sang Putra sinarnya Rama (Hakikatnya cahaya tuhan) atau yang dinamakan Citra yang sifatnya makhluk yang memiliki sifat 20, Rohul kudus itu roh suci yang menempati sifatnya manusia. Karena manusia sifatnya sempurna, lalu manusia memiliki Rohul Kudus, Rohul kudus itu bisa disebut sejatinya aku, lebih-lebih tentang kemajuan rasionalnya (akal pikir) orang saja.

Surat Injil diatas tadi lalu ada perkataan; “orang yang bisa melihat aku, jadi sudah melihat sang Rama”. Keteranngannya; orang yang sudah mengetahui / melihat aku sama seperti sudah mengetahui / melihat Allah. Jadi kata melihat artinya bukan dengan mata, tetapi melihat melalui hati, yakin dengan diri sendiri, aku itu meliputi Hakikatnya Allah.

Wihdatul Wujud asal dari bahasa Allah, Pembagiannya begini :

• Wihda dari kata Wahdat, artinya Satu.

• Wujud artinya Ada.

Jadi Wihdatul Wujud itu adalah Satu dan Ada (Kahanan Tunggal = Bahasa Jawa), yang menciptakan dan yang diciptakan, bahasa Ilmu (Wirid) Chaliq dan Makhluk, artinya lebih kurang Chaliq tidak ada dan Makhluk tidak ada. Sebaliknya kalau Manusia tidak ada, maka Manusia dan Chaliq tidak ada yang menyebut. Dibagian keterangan kepercayaan Wihdatul Wujud banyak para Ulama yang tidak sepakat pendapatnya atau sama tidak percaya pendapat tadi karena keadaan tunggal itu pecahan para Pertapa, Sufi, Filsuf. Ada pendapat yang simpang siur, yang satu mengatakan Chaliq dan Makhluk itu Dua, artinya Allah disamakan berada disuatu tempat dan makhluk ada tempatnya masing-masing. Di Jawa menurut surat Wirid dan sejarah-sejarah ada seorang Wali mempunyai pendapat bahwa Wihdatul Wujud itu namanya Syeh Siti Jenar, ditanah Jawa dulu ada Wali 9 (Songo=Jawa) didemak, para Wali menurut sejarah mereka tidak suka kepada Syeh Siti Jenar, karena tidak sepaham dengan para Wali, lalu dimusuhi dan ilmunya sampai sekarang diketahui.

Ditahun 858 Masehi di Persia ada pujangga namanya Al Hallaj, dia terkenal didunia barat dan timur dengan bukunya dan buku-buku tersebut ditulis dengan bahasa masing-masing negara/daerah, pendapatnya mengakui Wihdatul Wujud (Yang Kuasa) adalah Tuhan Esa, dan Al Hallaj tadi dihukum oleh pemerintahan dizamannya, karena khawatir pengetahuan tadi berbahaya bagi masyarakat awam/umum.

Kepercayaan Wihdatul Wujud disebut keadaan satu. Menurut pendapat Sarjana, Filsufi; Plato, Aristoteles, Al Hallaj, Syeh Siti Jenar dan menurut keterangan itu menebak bila Manusia sebenarnya penyempurnaan Dat Allah, keterangannya umpama Manusia dan Makhluk itu seperti Air yang jernih yang berada dibak air dan Allah di ibaratkan seperti Surya diatas langit yang memancarkan cahaya ke 1000 bak air tadi, dan isi 1000 bak air tadi jika dilihat masing-masing terdapat matahari/surya yang memancarkan sinarnya dari langit tetapi sebenarnya matahari tadi hanya satu.

Leluasa artinya benda, manusia, besar, kecil bergerak karena memiliki Dat Allah, seperti Bak Air tadi ada Mataharinya, dan bergerak menurut keadaannya (kodratnya). Ada lagi kepercayaan yang berpendapat Chaliq dan Makhluk itu ada dua. Keterangannya kalau Makhluk-makhluk dilihat dari Chaliq (melihat matahari) keadaannya tetap satu, kalau dilihat dari makhluk (bak air tadi) matahari lebih dari satu, yaitu Makhluk (bak air) satu, Chaliq (tuhan) dua, artinya Matahari ada 1 (satu) dibak dan 1 (satu) dilangit.

Al-Qur’an surat An-Najm : 43-44 ;

43. “dan bahwasanya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis,”

44. “dan bahwasanya Dialah yang mematikan dan menghidupkan,”

Yang menyebabkan tertawa dan menangis itu Allah, artinya Manusia sudah memiliki sifat Qodrat / Irodatnya sifat 20, lalu yang memberi sifat tadi mengikuti tertawa, menangis, jadi pendapat tadi berpedoman kepada ayat-ayat suci Al-Qur’an, sebenarnya Allah itu meliputi kita semua (manusia);

1.  Dat Allah; tidak nampak, layu Kayafu, Nukat Gaib, orang tidak bisa melihat tetapi bisa menguasai, bisa menghidupi, bisa mematikan, bisa menangiskan dan bisa mentertawakan.

2.  Arti keterangan diatas mengatakan tidak diragukan lagi karena Hakikatnya DAT (sifat 20) tadi, karena umat manusia tidak berhak mengatakan bahwa manusia sama dengan Allah, walaupun memiliki DAT (sifat 20) yang lengkap, karena manusia tidak mempunyai kekuasaan (Wenang – Jawa).

Oleh karena itu lalu ada pendapat bila Allah dan Umat itu dua (Allah,Umat), ada yang mengatakan Allah dan Umat itu satu (Esa); Datnya sama, geraknya sama, Hakikatnya sama, karena semua sama-sama yang menguasai dan yang dikuasai, lalu diartiikan satu Dat Allah. umpama Siti itu bisa merubah diri apa saja, Dat Siti sama geraknya dengan Siti, tetapi Siti sulit untuk menyebut badannya sendiri, seolah-olah bertanya kepada diri sendiri “dari mana asalnya ini?”. Jadi keterangan kepercayaan Wihdatul Wujud asal dari satu DAT bisa menjelma apa saja.

Mempelajari Pelajaran (Wedaran Wirid – Jawanya) Bab Sifat 20 itu memang sulit, karena yang diterangkan tentanng mengenai Allah (Tuhan), jadi memang sebenarnya para leluhur dizaman dahulu memikirkan tentang yang sangat sulit, karena memikirkan kalau salah menerima bisa membahayakan hidupnya sendiri dan masyarakat umum.

Almarhum Mahatma Gandhi (India) sangat memuji kepada kepribadian Nabi Muhammad SAW, karena satu tujuan yaitu menyembah kepada Satu Allah, kalau dilihat kepercayaannya, Mahatma Gandhi itu pujangga Budha, dan Nabu Muhammad penyebar Agama Islam. Kalau difikir tujuan Mahatma Gandhi tentang Tuhan (Allah) adalah satu, hanya beda nama tetapi tujuan sama.

Pujangga Islam Syeh M. Abdul pernah berteman dengan pujangga Kristen Graaf leo Tolstoy, dan berpendapat Nabi Muhammad SAW tidak beda dengan Mahatma Gandhi. Menurut surat-surat M. Abdul dan Tolstoy sama-sama mempercayai agamanya masing-masing. Adanya hubungan tadi hanya menyatukan tekat yang dikatakan MONOTHISME, artinya menentukan Allah itu Satu utuh (Esa). dari contoh-contoh itu lalu jelas Kitab Allah itu bahwa walaupun beda namanya tetapi sama tujuannya, yaitu menetapkan Allah itu satu (Monothisme). Beda keterangan yang terdapat pada kitab-kitab tadi yaitu :

• Agama Islam; Allah – Sifat 20;

• Agama Kristen; Trimurti – Tuhan Rama;

• Agama Budha; Tuhan Trimurti sang Budha.

Semua itu hanya sebagai pedoman, artinya untuk contoh jalannya ilmu pengetahuan, lalu ada pendapat yang berbeda-beda, itu dapat dari turun temurun, Allah mengutus para Nabi, penganutnya sama-sama meyakini ajaran Nabi Musa pada zaman itu, dan sampai sekarang tetap tidak setuju dengan pendapat lain, karena dihati yakin terhadap ajaran Nabi Musa yang dianggap benar;

•   Ajaran Nabi musa yang utuh terdapat 10 (sepuluh) ajaran, dan pada zaman dahulu masyarakat belum seperti sekarang kemajuannya, turun temurun penganutnya sama-sama membenarkan ajaran Nabi Musa, dan sampai sekarang tidak setuju pada agama lain, karena ajaran Nabi Musa dinggap paling benar.

•   Ajaran Nabi Isa itu menjadi ukuran masyarakat zaman dahulu sampai sekarang, turun temurun tetap menjadi kepercayaan (dianut).

•   Ajaran Nabi Muhammad SAW, begitu juga membenarkan pada ajaran-ajaran Nabi-nabi, walaupun beda-beda tempat dan kemajuan cara berfikir, ajaran-ajaran tetap bertekad membenarkan Allah itu satu (Esa).

Bila demikian adanya keterangan 3 macam bisa disimpullkan dengan menurunkan kitab-kitab perantaraan Nabi-nabi Allah, menilai keadaan masyarakat bahwa Al-Qur’an itu kitab yang diturunkan untuk menutup segala kitab-kitab yang diturunkan, dengan isinya yang lengkap dan meliputi politik, ekonomi, bermasyarakat, pernikahan, hukum tata negara dan lain-lain, dan semua yang terpenting Al-Qur’an itu sifatnya Allah.

Seketika ada pertanyaan begini; “jika semua agama-agama itu kemauan Allah, kenapa baru sekarang menyatunya agama. Jawaban dari pertanyaan itu benar atau salah dinyatakan di Surat Al-hajj : 67 ;

“Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan Syari’at tertentu yang mereka lakukan, maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan (syari’at) ini dan serulah kepada (agama) Tuhanmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus.”

Keterangan dari ayat diatas begini; Agama contoh peraturan yang dikehendaki oleh Tuhan (Allah), intisarinya menuju yang benar, walupum agama tadi harus ditaati, walaupun lebih tua (lebih dahulu mencul) atau lebih tebal kitabnya, semua perintah menurut orang zaman dahulu tetap benar (lurus), yang membenarkan adalah orang yang sudah maju, menurut pendapat pasti benar untuk orang dizaman dahulu, walupun dikotak-katik (diubah-ubah) tetap benar (lurus), walupun yang membenarkan itu orang dizaman sekarang, Allah mengatakan “hati-hati, segala urusan agama itu jangan dibuat perdebatan”, sebab yang penting agama-agama itu merupakan perkataan-perkataan Allah (Firman Allah). Allah itu pujaanmu (Sembahanmu), Allah itu ada. Bila diteliti dari agama Budha, Kristen, Islam, Majusi, Sinta, Hindu, Tao, Zorowaster; semua itu seperti sungai yang mengalir deras, panjang, lebar dan mengalir pelan; semua mengalir kearah laut (samudra). Ada pertanyaan begini; “apakah agama tadi bisa bersatu dengan upacara !!”, ada yang mempunyai tekad menyatukan agama-agama itu, ia seorang Cendikiawan Sufi dari Persia yang terkenal, namanya Al-Hallaj, sebelum Cendikiawan tadi wafat, ia mempunyai tekad satu, yaitu peraturan Allah untuk Allah, umpamanya tercapai dan bisa menyatukan bangsa berjuta-juta.

Tekadnya Anaxagoras tentang Hakikatnya Roh, itu umpama diteliti belok dari tujuannya yang berwujud benda, barang dll, itu sampai sekarang belum ada satu manusiapun yang membuktikannya, umpama ada orang yang cerita bisa melihat Roh, sebenarnya hanya bisa menjerumuskan, dan firman Allah surat Al-Isra : 85 ;

“Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.”

Kata sedikit itu tidak berarti barangnya, hanya sepengetahuan, buktinya orang bisa memilih hidup itu apa.. walaupun nanti pikiran manusia sudah maju, mengenai Esa itu belum ada Nabi, Wali, Mukmin, Sarjana, Profesor, Doktor dan lain-lain yang bisa memegang Roh, walaupun Roh semut, yaitu yang dinamakan Gaibnya Allah.
Didunia modern sangat membingungkan tentang Allah, lalu ada paham Athisme yang membantah ada Allah.

Menurut Paham tadi Allah tidak ada, hanya ciptaan manusia. Penafsiran ketuhanan itu tidak bisa untuk landasan mencari hukum kejadian dan sebabnya. Francis Bacon mengatakan dizaman kemajuan ilmu, zaman makmur semakin banyak orang yang tidak percaya kepada Allah, kenapa waktu miskin, gembel, perut lapar, sakit lalu manusia mencari pegangan (kepercayaan) kepada Allah.

Bacovan Ferulame berkata demikian; sorang Athist itu orang-orang yang hatinya palsu, tidak jujur. Untuk penutup tentang Ikhtikat macam-macam untuk ketuhanan, disini perlu tambahan pendapat tentang ajaran Sidarta Gaotama, yaitu Sri Budha Gaotama, begini; menurut berabad-abad kebudhaan itu bukan agama, tetapi suatu pendapat bahwa sebenarnya kebudhaan agama Tuhan, sebab yang menyiarkan adalah seorang ahli tapa, dan kata dari Tuhan melalui sang petapa Sri Budha Gaotama, bedanya apa?, Nabi Muhammad bertapa di Gua Hira di tanah Arab, sang Gaotama bertapa di pohon Budhi dan dua-duanya mendapat kitab.

Ajaran kebudhaan menghilangkan (melepaskan diri) dari kesengsaraan (kesusahan) menggunakan kekuatan diri sendiri, dan Maha Budha hanya memberi hidayah, taufik dan berkah, maksudnya pusat azas abadi atau pusatnya sumber yang ada (Jagat Raya).
Pelajaran itu ternyata merupakan kebutuhannya manusia dan membenarkan bahwa kesengsaraan (penderitaan) itu sumbernya adalah Nafsu, maka nafsu itu harus dikendalikan, jalannya harus konsentrasi, meditasi, yaitu Dhiyana atau Semedi (At’tauhid bahasa arabnya) menurut keyakinan menuju kebudi (Qalbu bahasa arabnya) dan bersama melalui tata tertib susila, sesudah bisa mengendalikan Nafsu, baru bisa menerima pelajaran bila Budi (kesadaran diri) pribadi itu tiak ada, jadi hidup merasa sendiri (individu) itu salah, sebenarnya harus merasa hidup menyatu, berdiri tidak sendiri-sendiri (universalisme) dicocokan dengan sifat Afhngalnya Allah.

Selanjutnya bila sudah bisa menyatu dengan keabadian tidak terikat dengan suatu sebab dan akibatnya (Karma) yang berubah-ubah, karena dengan perbuatan sendiri menyebabkan penderitaan, dengan tujuan yang baku (utama) menuju ke alam Nirwana, alam yang tidak terjamah oleh apapun.

Budisme (agama Budha) itu tidak mengakui adanya roh (jiwa) pribadi, manusia itu hanya membuktikan paduan dari kumpulan zat yang hanya selalu bergerak berubah-ubah tidak kekal, karena perbuatan sendiri, dan perbuatan orang lain, keterangannya lebih kurang sebagai berikut :

• Masuk Agama Budha;

• Mengerjakan perintah yang Suji;

• Menjalankan Puja (menyembah).

Artinya ;

a.  Darma itu undang-undang Tarikat yang untuk ke Budhaan (agama Budha)

b.  Jalannya untuk menuju kebebasan kecuali semedi harus memenuhi syarat-syarat; berbicara harus yang benar, tekad yang benar, pikirang yang benar, pekerjaan, hidupnya sederhana, watak yang benar, jujur dan Suji (Ikhlas).

Keyakinan (kepercayaan) Hindu, yang disebut Trimurti atau bentuk sifatnya Allah itu :

1.  Brahmana sifat yanng menciptakan Jagat Raya dan umat;

2.  Whisnu sifat yang menggerakkan semua yang tercipta;

3.  Shiwa, sifat yangn merusak semua yang tercipta, yaitu kalau diteliti sifat Allah yang Irodat dan Qodrat yang dimilliki manusia terdapat keadaan hidup, berkeluarga dan matinya.

Jadi Trimurti tadi untuk tanda saksi, kekuasaan Dat yang wajib tadi untuk kehidupan manusia, hewann tumbuh-tumbuhan, bakteri, Jin; tidak kekal (tidak abadi) tetapi Dat yang berkuasa tadi kekal (abadi).

Ajaran Budha tentang Nyuiji terhadap Allah azas abadi itu umpama diteliti dengan ajaran Islam tepat sekali; tidak salah, yaitu bahasa Arab bahasa Tauhid (ketuhanan Theologi) keterangan seperti ini; kata Tauhid dari kata hitungan Wahid (satu), lalu menjadi At’tauhid menjadi ilmu Tauhid. Wahid bahasa jawa, kalau Sunda Ngawahid, bahasa Indonesia mewahid, karena bahasa Arab menjadi menjadi Tauhid, artinya menyatukan (menyatu dengan Dat tadi). Begitupun ajaran Sariah Islam menyatukan dengan Allah, bukan menduakan Tuhan (Syirik) dan At’tauhid ilmu yang menyatakan tentang ketuhanan, ilmu tentang mengupas sifat-sifat Allah yang lengkap.

Keterangan dalam Wirid, kata menyatu (menghusyukkan – Arabnya) menyatu dengan yang satu (unversalisme – Budha) menghilangkan perasaan lebih dari satu (husyuk – Arabnya) itu hilang dari perasaan. Jadi ilmu Tauhid itu suatu ilmu menyatu dengan Dat Allah wajib adanya atau ilmu yang mengatur cara-cara menghilangkan perasaan, pikiran yang bekerja sendiri-sendiri (individual) supaya merasa dirinya sendiri (universal – Budha). Begitu pula yang penting, ilmu yang menerangkan cara untuk menyucikan diri dengan Dat yang maha kuasa dengan cara membuktikan dengan rasa menyatunya umat-umatnya dan Tuhannya (Chaliq dan Umatnya). Lalu tidak hanya pengetahuan (cara berfikir) pasti harus membuktikan dengan Meditasi, Yoga (Semedi). Umpama saya yakin betul dengan Dat Allah tidak pisah dengan kita (manusia) itu termasuk masih dalam pengertian (pengetahuan) harus kita buktikan dengan jalan atau ilmu; semedi, Tafakur, Yoga, Meditasi, yang penting menuju ketuhannya. Tuhan itu tidak bisa dijangkau, Dat yang tidak bisa dijangkau itu disebut Tarikat, keterangannya sebagai berikut :

Kita harus berguru, membaca buku tentang ketuhanan, maksudnya pengetahuan yang menggunakan pikiran, akal bisa dikatakan ahli kitab. Ahli-ahli kitab itu Tarikat, walaupun berhenti dipengetahuan, jadi kalau disuruh membuktikan tidak bisa, lalu Tarikat tadi harus menjalani dulu sebelum Ma’rifat, sebab Tarikat disebut kaya pengetahuan, menuju cerdasnya pikiran (perasaan) umpama nanti bisa mencapai Ma’rifat tidak bisa ditipu. Hidup bergerak-gerak kalau sudah bisa menyingkirkan perasaan yang bermacam-macam menjadi aku (ingsun-Jawa) yang satu sebenarnya, baru nama tingkatan yang kita lalui belum ada apa-apa, masih jauh. Bila memakai perasaan sendiri atau aku satu itu tadi masih merasakan. Sempurnanya tujuan harus melalui Ma’rifat. Bersambung……..

Sumber buku Wedaran Wirid III, Ki R.S. Yoedi Parto Yoewono. Surabaja : Djojobojo, 1962-64.
—————————
Alang Alang Kumitir

9 Comments

  1. kita adalah baharu dari jaman Nani adam sampai Nabi Muhammad Alah tetap Eahasia meski banyak yang mengatakan aku melihat Allah, aku ketemu Allah Allah dalam Jubahku dll. itu hanya ucapan yang sepontan dari setiap orang

  2. bu umi

    pikiran di turunkan…
    yang bcara hati bukan mulut.
    gaib kan jd g da yg perlu d perdebatkan.
    tnjukkan dngan perbuatan.
    ini smua hanya kaweruh.
    timakasih.

  3. Saso

    Puji Tuhan !
    Semoga Tuhan mengampuni kita semua.
    Salam sejahtera buat mas Margono, kalau Tuhan sudah mengutus 25 nabi, tapi dunia masih tetap kacau seperti sekarang maka yang salah siapa? Tuhankah, nabi-nabinyakah, atau manusia- manusianya?
    Kalau Tuhan jelas tidak, karena Dia adalah kebenaran mutlak.
    Apa nabi-nabinya? Mestinya juga bukan, karena mereka kan sudah terpilih mengajarkan kebenaran.
    Jadi yang salah siapa? Yang salah barangkali kita-kita ini. Yang kadang menganggap apa yang dilakukan orang lain adalah salah dan yang kita lakukan adalah paling benar. Misalnya.
    Barangkali!
    Terus buat orang bodo yang mencari jatidiri, komentar anda seperti tahu. Enak dimakan dan bergizi . Seperti lampu, madangi (memberi terang) dan madangi (memberi makan). Salam.
    Semoga semua mahluk berbahagia.

  4. Salam damai sejahtera bagi semua…
    saya yang bodoh ini ingin sedikit berbagi.
    Menurut saya Tuhan dari semua kaum,bangsa,agama,ras,sekte,golongan,suku,aliran kepercayaan dsb hanya sebuah penokohan atau pengkultusan sosok baik yang berwujud atau yang tidak berwujud. Bahwa sejatinya Tuhan ini Tuhan itu yang disebut dalam banyak istilah dan versi masing-masing sejatinya adalah Roh Allah.

    Allah yang sama yang kita sembah,yang kita hormati,yang kita cintai bersifat angan-angan…tidak terjamah,tidak berwujud,tidak terlihat,dan tidak terbatas.tapi kita bisa rasakan…Baiklah masing-masing kita tetap berada pada jalur ketauhidan kita tanpa harus mencari perbedaan mana yang salah mana yang benar.karena Salah dan Benar adalah sebuah pengertian manusia dan sang manusia yang menilai berkacamata dari koridor ajaran agama atau kepercayaan masing-masing.
    Karena kalau “sesuatu hal” apa saja bisa dengan gampang kita bisa judge itu sebagai sesuatu yang Salah atau sesuatu yang Benar itu hanyalah pengertian manusia belum tentu pengertian dari Allah.berarti dihadapan Allah pengertian manusia besifat tidak mutlak, karena Allah bersifat Rahasia…yang bisa kita rasakan di angan-angan.Tetapi yang mutlak adalah dalam setiap pengertian manusia yang hidup ada sifat Allah yang bekerja yaitu:
    Sir…Budi…Cipta…dan Rasa..

    Jadi menurut pandangan saya,contoh:
    Orang yang menganut paham Atheis yang menjalani hidup dalam benar,dan atau
    Kaum tertentu yang mengkultuskan sesuatu sebagai Tuhan,dan atau
    Orang yang tidak pernah bersembahyang tetapi bersedekah,dan atau Orang yang baik dimata masyarakat tetapi tidak pernah ke tempat ibadah,dan atau
    Orang yang jujur dan baik budi pekertinya tetapi tidak sembahyang,dan Bahkan sekalipun Syech Siti Jenar mengganggap dirinya Tuhan…semuanya adalah BELUM TENTU SALAH dan BELUM TENTU BENAR…Karena kebenaran mutlak sejati hanyalah Rahasia Allah yang tidak bisa dihukumpastikan oleh manusia.

    Tetapi sekali lagi dalam diri setiap insan manusia sifat Allah (sir,budi,cipta,rasa) bekerja, tinggal bagaimana sang manusia itu sendiri memahaminya.
    contoh: Seorang pembunuh bayaran,perampok,pencuri,penjahat, tidak mungkin membunuh anak kandungnya sendiri.disini sifat Budi yang bekerja. atau sepelit-pelitnya orang tidak mungkin tidak menyediakan segelas air putih kepada tamunya.disini Rasa yang bekerja. atau orang lapar ingin makan,orang ngantuk ingin tidur,orang mendengar akan berpikir.disini Cipta yang bekerja. atau siti jenar beserta pandangan-pandangannya (yang dianggap salah) disini ada Sir (rahasia Illahi) yang bekerja.

    Insan yang bisa memadukan, memahami dan menjalankan sekaligus empat sifat tersebut Belum Tentu Salah Kalau Menganggap dirinya BENAR.

    Demikian sedikit pandangan bodoh dari saya yang masih terus belajar dan mencari Rahasia Allah.Mudah-mudahan pengertian yang sudah saya ungkapkan diatas Salah.

    Mohon maaf sebesar-besarnya apabila ada kata bahasa yang salah
    Saya masih harus belajar dari siapa saja.monggo komentarnya.

    dan tak lupa Terimakasih Sebesar-besarnya kepada Mas Kumitir atas ruangnya maaf kebabalasan..salam damai selalu…

    wassalam…

  5. Dunia iku palsu

    Aslm wrhm wbrkthu…
    Nuwun sewu,
    Tiyang bodo bde turun rembug.
    Buat yth mas sapto.mskpun ada yg mlht wujud NYA..dia mngkin tdk akan mncrtkan apa yg dialaminya kpd siapapun..ngapunten..mhon diingatkan jka ada salah..buat kang kumitr .salam sejahtera,dan buat mas sapto..gelas tdk akan mmpu menampung air se samudra..ngapunten..
    Aslm wrhm wbrkthu.

  6. alip hudaya

    tiada kitab yang salah..tergantung dari orang yang menafsirkanya.
    semua mengajarkan kebaikan,dan menuju satu tujuan yaitu ALLAH.
    Islam adalah keselamatan.jadi untuk menuju keselamatan kita harus berbuat baik sesuai tuntunan kitab suci.dan bila kita berbuat baik maka kita selamat.banyak cara agar kita selamat,seperti halnya sungai yang bermacam-macam namun tetap pada satu tujuan yaitu laut.

  7. Sapto Margono Soewito

    Ass. wr.
    Jadi sesungguhnya Agama itu hanya dua mashab saja :
    1. Benar
    2. Salah
    Jadi Kata Allah yang benar itu saya yang salah itu : Setan, Jin,
    jadi Intinya kepercayaa / agama itu perilaku yang baik terhadap manusi,(dunia) dan perilaku baik terhadap tuhan (Sholat) karena saya adalah kebenaran yang salah itu setan bilang Allah begitu erus masalah Allah yaitu tadi masnusia sudah diutus 25 nabi, sampai pada detik ini / akhir zaman/ jaman milenium kata orang yahudi, mengeapa mereka tidak bisa memetik himah dan pelajaran ? Semua yang ada di dunia ini kita yakin seyakin-yakinya adalah hasil suatu penciptaan, ada dari ketiadaan, yaitu Nenek moyang kita Ibu Bapak

  8. Sapto Margono Soewito

    Ass. Wr. Wb
    Banyak yang menafsirkan kata “ALLAH” itu adalah ujud dari pada “sesuatu” padahal sampai hari dan detik ini tidak ada satu manusiapun yang berhasil menemukan, melihat dan me-ujudkan Allah itu sendiri, jangankan saya, anda yang bukan keturunan nabi, Nabi adam sampai ke nabi isa belum pernah bertemu dengan tuhannya secara nyata, hanya Rasulullah Nabi muhammad yag pernah bertemu dengan beliau. itupun masih dirahasikan oleh Kanjeng Nabi muhammad, karena sesungguhnya kita semu pasti akan bertemu dengan Allah pada saat KIAMAT Inalilahi wa ina lilahi rojiun disinilah kit akan bertemu dengan Sang maha Pencipta Alam semesta ini,itupun janji Nya kalau kita mati di dalam “ISLAM” Karena sesungguhnya “Agama yang diridhai disis Allah Hanyalah Islam, tidak akan ada selisih paham orang yang telah diberi Kitab Taurat, Injil jia telah mendapat petunjuk”(QS.Al-Imran…..),
    Dengan ayat tersebut diatas saja kalau kita termasuk orang yang “BERAKAL DAN PUNYA MATA HATI”, kita bisa mematahkan semua KITAB dan ajaran yang pernah ada dipermukaan alam semesta ini atau diseantaro Galaksi bima sakti andromeda, dll, juga Yang ada termasuk kaum Samut, Kaum Maya yang ada di peru yang terkenal dengan penanggalan yang akurat, “Subhanallah” Sekarang Kitab mana yang pernah membahas tentang “Hari Kiamat” ? kitab mereka hanya tahu bahwa akan terjadi kiamat, tetapi dalam kitab yang sakti Al-Qur’an telah menjabarkan Asal mula Alam semesta sampai dengan Hancurnya Alam semesta.
    Jadi sesungguhnya Allah itu ada sejak awal karen umat terdahuu termasuk nenek moyang kita banyak yang menyipang dari ajaran yg telah ditetapkan maka munculah Utusan-utusan baru yaitu Nabi, bukan peri, bukan danyang, bukan Jin, hinga lahirlah 25 nabi yang tercatat, darinabi Adam sampai dengan Muhammad, Semua ajaran / isme yang menjelaskan tauhid ketuhanan / kebaikan itu semu berasal dari satu sumber yaitu asma Allah, dan semestinya kita manusia ahir jaman ini disuruh merujuk kepada yag satu yaitu “ISLAM”, bukan yang lainya,karena ketidakpahaman mereka tentang agama maka beginilah jadinya, dunia semakin kacu balau, dengan dalil-dalil yang diada-adakan padahal dalil yang benar itu yaitu Ihdinas siratal mustaqim, itu jalan kelurusan dari nabi adam sampai pada nabi muhamad termasuk ummatnya,
    jadi kalau bisa saja katakan bahwa ISLAM adalah Agama PELURUS dari semua peradaban, semua kepercayaan, semua keyakinan mulai dari para yang percaya kepada Dewa, (Romawi kuno, Kaum Maya), kaum samut, kaum percaya perbintang Majusi, masuk kepada ISA, dan terakhir Muhammad, dan bagaimana dengan ummat-ummatnya, “Bilang Allah Nenek moyangmu dulu sudah saya musnahan kenapa kamu tidak mengerti , tidak kamu saya berikan akla dan mata hati untuk mecerna itu ? tidak bisakah kamu mengambil hikmah dan pelajaran dari itu semua ? berarti semua yang pernah ada itu estinya sekarang ini tidak ada lagi karena sudah dirangkum, dirangkul dalam kalimat “LA ILA HA ILALLAH”
    Sekian Komentar saya Wassalam

  9. tamu

    kekuasaan dan hegomoni – CENTRAL – jakarta kembali ditunjukkan. dengan salah satu tangannya yaitu media dan menggandeng MUI mencoba untuk menjejakkan kakinya pada rumput rumput kering di tanah – LOCAL – mojopahit. in memorial INUL, AA GYM, Ahmadiah, Syeh Puji, PONARI, GUS DUR dll. dahulu ada Syeh siti jenar, kiyai mutamakin dll. Kita bisa cermati bagaimana sebuah drama itu pada akir babak tersebut.

    Inul sekarang punya anak, AA GYM masih ada – popularitas dan materi hancur, Ahmadiah bertahan materi hancur, Syeh puji bebas dari hukum kehilangan materi, Ponari masih JAYA Hidup ponari!!, Gusdur Habis Mantu. tambahan JIL masis eksis. Syeh siti jenar walaupun karakternya dibunuh tapi masih “HIDUP”, Kyai mutamakin sepertinya beliau menang. sekarang kyai Ahmad Naf’an (Gus Aan) Perguruan Ilmu Kalam Padepokan Santriloka MOJOKERTO coba di goyang untuk memenuhi birahi jakarta, uji teori dan popularitas kekuatan pers.

    Bagaimana akir dari babak ini sedulur sedulur? monggo komentarnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: