alangalangkumitir

Javanese Manuscripts

SERAT WARNI-WARNI (Bhs Indonesia)


PUPUH I
KINANTHI

  1. || Tembang kinanthi pembukaan kidung guban sri raja Surakarta ke-9 yang sedang berkuasa yang termasyhur baik dalam hal gamelan, maupun kidung petuah ||
  2. || Gubahan kidung ini hanya sekedar penyembuh duka lara pelega hati, hati yang sedang jengkel mengatasi kesedihan dan pasrah kepada Tuhan ||
  3. || Terbukanya hati merupakan bunga dari keutamaan, tanamlah di dalam sanubari,  jangan sampai hati terlanjur gelisah, telitilah dengan cermat dalam mencontoh hati para orang yang berbudi utama ||
  4. || Sifat utama seorang penguasa pemerintah dapat dilihat jika setiap waktu pemerintahan dan segala isinya dalam keadaan selamat, bebas  dari ancaman kejahatan, pemerintahan berjalan dengan tenang ||
  5. || Semua gangguan, perusuh dapat diberatas, daerahnya aman tentram, rakyatnya merasa damai, negara yang tentram dan damai ini adalah suatu idam-idaman ||
  6. || Negara indah dan harum,| hendaknya semua orang hidup rukun saling bersahabat jangan ada yang bermusuhan dan selalu mengutamakan kedamaian ||
  7. || Akhirnya keadaan ini juga menjelma di dalam keluarga, anak dan cucu, riwayat yang baik ini jangan sampai dilupakan, pengorbanan akan mendapatkan anugerah, hati yang terang menyebabkan suburnya segala sesuatu yang ditanam di bumi ini ||
  8. || Rakyat kecil dapat hidup dengan enak, sesuatunya diterima dengan senang hati, patuh terhadap perintah tanpa membantah demi ketentraman Negara ||
  9. || Perbuatan sehari-hari wajar dan sebenarnya, utamanya adalah persatuan dan kebulatan tekad bersama, biasakanlah hidup berkasih-kasihan sesamanya ||
  10. || Berkasih-kasihan si antara seluruh umat itu cita­cita segenap isi negeri, hal ini memang sudah dicanangkan oleh orang-orang jawa keturunan pertapa kekasih dewa ||
  11. || Derajad itu selalu diharapkan bagaikan jatuhnya hujan pada musim penghujan, dunia ingin mencapai kemustikaannya, sedangkan kemustikaan dunia itu dicita-citakan manusia yang benar-benar mengetahui mustika di bumi ini ||
  12. || Dunia semesta ini condong kepada yang menjadi raja di pulau jawa yang selalu memuji dan mengagung-agungkan Tuhan sesuai dengan kesucian yang selalu dikehendaki ||
  13. || Keinginan hatinya adalah menyelamatkan seluruh penghuni bumi ini, sebelumnya hal ini sudah dipertimbangkan masak-masak agar melaksanakan keinginan hatinya itu ||
  14. || Manusia yang selalu ingat kepada perbuatan yang baik di dunia ini hendaknya jangan lalai dan merenungkan kesempurnaan ||
  15. || Jadilah manusia yang unggul yang dapat menghimpun manusia-manusia yang baik serta mengetahui pemerintahan yang baik, keinginan demikian hendaklah lestari ||
  16. || Setelah tumbuh, bertambah pengetahuannya secara luas yang menguasai seluruh daerah maka berdasarkan riwayat nabi kita rasulullah, insya Allah Tuhan akan memberi pertolongan kepada umat yang memeluk agama dengan baik ||
  17. || Umat yang akan memeluk agama yang utama, pertimbangkan dengan masak-masak jangan sampai keliru dan tergesa-gesa bertindak dalam menyelesaikan keruwetan hati ||
  18. || Kecermatan terhadap segala pengetahuan hendaknya mencontoh cara-cara orang pandai, carilah petunjuk dalam sastra, sastra yang mengandung hal-hal yang gaib dan rahsia, biasanya dapat diketahui juga, baik yang bersifat jelek, sedang sampai kepada yang utama ||
  19. || Sikap orang yang baik adalah sikap yang penuh pertimbangan terhadap segala sesuatu dikehendaki, cara mencapainya harus disertai kesabaran, dengan demikian cita-cita itu pasti akan tercapai ||
  20. || Jika segala sesuatu itu dilakukan dengan serba tergesa, maka tujuan yang dikehendaki tidak akan tercapai, bahkan hanya akan memperoleh kesusahan, orang tua tiada menaruh kasihan ||
  21. || Oleh sebab itu hendaknya para muda menjauhkan diri dari segala yang dapat berakibat jelek, lebih baik kita menurut kehendak saudara tua yang selalu memberi nasihat baik jangan lupa, kita harus ingat kepada nasihat-nasihat yang baik itu ||
  22. || Biasakan bergaul dengan orang-orang yang berbudi luhur agar keluhuran budinya itu mempengaruhi kita, dengan demikianlah akan turun wahyu “jali” yang sesuai dengan keinginan jiwa kita, hayatilah dengan seksama, jangan sampai berselisih antara tujuan yang hendak kita capai dengan getaran jiwa kita ||
  23. || Lahir dan batin jangan sampai berselisih ya rabil rahmanirakhim, perbuatan yang paling mulia itu adalah perbuatan “tana jul tarki” hai anakku, jangan sampai kau tergelincir, kau harus dapat melihat dengan jelas tanpa sesuatu yang menutupinya ||
  24. || Ingat-ingatlah bahwa perbuatan yang dilakukan tanpa kesadaran, perbuatan yang membingungkan akan menutup mata kita, tanpa jarak sejengkal pun karena Ijajil tidak mau bergerak dan tetap bercokol dalam hati ||
  25. || Cobalah terus – menerus secara langsung meneliti hati yang tidak teguh, lakukanlah ini dengan sabar dan jangan patah semangat, jika belum berhasil pelajarilah tujuan yang merusak budi itu ||
  26. || Orang-orang budiman yang tidak tergerak oleh bujukan iblis, benar-benar merupakan anugerah, ilahi laliyul a1im masuk kedalam golongan orang mukmin ||
  27. || Karena niat yang merupakan benih, dan kehendak Allah yang menerima, menjadi isi dunia semesta yang terbentang dan serba lengkap, apa yang dideritanya, manusia hanya menerima atau menjalani ||
  28. || Segala perbuatan harus diingat-ingat, jangan berhenti di tengah jalan, ibarat pertunjukan wayang kulit yang belum sampai subuh tiba, dalang sudah pergi tanpa pamit, belencong (lampu) berkobar-kob ar menjilat layar pertunjukan ||
  29. || Alat-alat pertunjukan porak-poranda, tuan rumah ikut pergi, niyaga (penabuh gamelan) tidak terurus, suasana rumah sunyi sepi tamu-tamu pulang, tujuan semula kabur ||
  30. || Demikianlah ibarat kehidupan manusia, mata harus awas lahir batin, jangan khawatir, dan bersikaplah rendah diri ||
  31. || Telah lama penggubah menulis dan merasa payah, menulis setiap hari selagi tugas negara melanjutkan gubahan ini ||
  32. || Hari selasa, tanggal 21 Muharam, wuku ringgit windu adi dengan sengkala tata muluk ngesti aji (1895) ||

PUPUH II
DHANDHANGGULA

  1. || Gubahan ini ditujukan kepada anak-istri sekedar melanjutkan cerita agar pada kemudian hari dapat digunakan sebagai pelajaran bagi mereka yang berminat mengingat-ingat petuah orang-orang tua yang berguna, ini juga dapat digunakan sebagai pengikat hati, khususnya hati yang tidak tahu tata hidup yang utama ||
  2. || Sarana bagi mereka yang ingin hidup baik, dan yang tak pernah diajarkan oleh orang tuanya, ajaran ini sangat bermanfaat direnungkan, pengorbanan yang paling utama adalah seperti cara-cara orang mengabdi pada orang besar (pimpinan), janganlah merasa dirinya besar, bertindaklah secara tepat dalam melaksanakan tugas negara, tenang, tabah ||
  3. || Hati tidak goyah karena godaan wanita, kata-kata (laporan) bawahan yang tiada tentu, harus benar­benar ditimbang, jangan suka berselisih dengan sesama, segala tingkah laku harus yang menarik perhatian orang lain, hati harus berani, perangai tidak kasar, jangan mudah tersinggung dan berbicaralah dengan lemah-lembut ||
  4. || Tingkah laku yang kurang baik tidak ada gunanya dilakukan, hendaknya suka bertapa, tetapi bukan bertapa di puncak gunung, karena di sana sunyi, tidak ada gunanya sendirian dan mengantuk setengah tidur dan bermimpi baik, padaha1 sebenarnya tidak terjadi apa-apa, yang terjadi dalam mimpi itu hanyalah pengaruh pikiran saja, suatu keinginan yang terdapat dalam hati sendiri itulah yang muncul dalam mimpi tersebut ||
  5. || Lain halnya dengan bertapa di tengah-tengah kehidupan ramai, tahu sopan-santun pergaulan, tingkah-lakunya tidak keliru, bahkan selalu dekat dengan rajanya,  raja itu sesungguhnya adalah wakil Tuhan, yang berkuasa menyelamatkan umatnya, turutlah orang yang menulis gubahan ini, orang yang pemah mengalaminya ||
  6. 6|| Ketika terjadi pergantian raja, meskipun banyak sekali rintangannya, namun akhirnya (penulis gubahan ini) dapat juga menjadi raja, karena hati tetap tidak tergoyahkan, hanya selalu taat ada perintah orang tua, dan akhirnyapun tidak meleset dari timangan orang tua oleh karena  itu, hendaknya taatlah selalu kepada orang tua, sekali­kali jangan berani membantah, penulis pernah mengalaminya ||
  7. || Kini penulis ibarat matahari sudah waktu asar, telah jauh dari saat terbitnya, andaikan masih bisa hidup bersama-sama anak cucu, namun aral yang akan melintang tak dapat diketahui oleh manusia, dan penulis sungguh-sungguh tak akan menolak kehendak Tuhan ||
  8. || Apabila masih tetap sehat lahir batin penulis masih dapat lebih lama lagi hidup di dunia ini bersama-sama anak cucu, bila semuanya itu dapat terlaksana, benar-benar akan merupakan suatu kebahagiaan, meski demikian, jika sampai waktunya, penulis hanya bermohon semoga dapat meninggalkan amal bakti kepada Negara ||
  9. || Sesungguhnya seseorang yang ditakdirkan menjadi penguasa negara mempunyai tugas yang paling rumit dan sulit, sampai-sampai tak tertidur pada malam hari, hendak makan pun selalu ragu, kalau pun jadi makan, selama makan, banyak yang dipikirkan, laporan dari yang paling jelek sampai dengan yang paling baik harus ditangani dengan bermacam-macam cara, sebanyak-banyak manusia, ada juga yang minta tanah, padahal tanah itu dapat menimbulkan bermacam-macam tipu muslihat ||
  10. || Setiap muslihat yang datang dari pihak lain harus dapat diketahui, supaya tidak bertentangan dengan kehendak diri sendiri, untuk bisa mendapat tempat, orang harus mengetahui watak tiap-tiap orang dan selalu berhati-hati agar tidak keliru, oleh karena golongan dalam masyarakat itu beraneka ragam, maka orang harus dapat berbicara secara tepat dan lemah-lembut, tetapi jangan sampai kena tulah (kemat) ||
  11. || Yang dimaksud dengan tulah atau kemat adalah segala sesuatu yang enak dimakan, dan enak pula dilihat, semuanya itu dapat membawa kecelakaan dan kesukaran untuk selama-lamanya, adapun pengetahuan yang paling utama adalah mengetahui saat-saat yang sukar, wahai, anakku yang akan mengganti raja, telitilah segala sesuatunya agar semuanya menjadi teratur ||
  12. || Yang terutama, janganlah terpengaruh oleh bahasa yang manis, lain halnya dengan manisnya rabbil alamin (Tuhan) oleh karena itu, peganglah teguh cita-cita, jangan sampai lepas, waspadalah terhadap gejala-gejala yang samar-sama,| tenangkanlah pikiran, jangan sampai goyah ||
  13. || Hai, anakku yang akan mengganti raja, janganlah selalu mengutamakan harta dan busana, namun jangan meremehkan uang dan busana, karena keduanya itu merupakan sarana dalam kehidupan ramai ini, tanpa ada keduanya itu manusia akan menjadi hina, jadilah manusia yang besar, banyak kawan dan banyak harta, kita dapat meminta bantuan apa saja kepada kawan-kawan yang setia ||
  14. || Jika rakyat datang menghadap, hendaknya waspada dan tahu siapa mereka itu, serta apakah pekerjaan mereka itu, jangan segera meminta tanggungjawab mengenai tugas kewajiban mereka, dan rakyat yang pikirannya sedang ruwet tentu akan berani melawan perintah, namun, orang besar jangan kurang akal, bertindaklah kau perlu secara keras, ataupun secara halus sesuai dengan keinginan mereka masing-masing, dengan mengatasi kejahatan dan ketidak jujuran ||
  15. || Telah diketahui pada zaman kini, banyak orang pandai bahasa asing, dan bahasa sendiri menjadi terlantar, sudah lumrah bagi orang yang sedang mencari ilmu harus bertindak cermat serta bertekad yang mapan, jangan khawatir, jadikanlah pengetahuan asing itu sebagai penghias negara sendiri, tak usah diserapkan ke dalam sanubari ||
  16. || Pengaruh kebudayaan harus menambah kesentosaan budi, dan sebaik-baiknya disertai pertimbangan-pertimbangan yang seksama, disusun dengan pasti, meraka yang beroleh budi, budi baiklah yang akan menjadi tanda perilaku yang baik, yang mendapat tugas negara, yang menjadi raja, tiada sempat tidur nyenyak, selalu meneliti tugas kewajibannya, kata-katanya pun enak didengar ||

PUPUH III
M  I  J  I  L

  1. || Pandangan ajaran yang telah dibicarakan di muka, penulis berikan sebagai nasihat bukan karena penulis merasa kelebihan ilmu melainkan dipaksa oleh suatu kewajiban ||
  2. || Memang sudah banyak ajaran nabi dan para raja yang termaktub dalam kitab jawa – arab, namun hal itu rasanya perlu ditambah sebagai nasihat bagi anak cucu ||
  3. || Sesungguhnya nasihat ini hanya tertuju kepada keluarga sendiri, bukan untuk keluarga orang lain berbeda halnya dengan nasihat nabi, nasihat itu tentu akan di turut dan ditaati oleh seluruh umat manusia di dunia ini ||
  4. || Adapun yang sangat diagung-agungkan adalah orang yang dalam hidupnya tidak suka berdusta,  tiada seorangpun di dunia ini yang senang di bohongi, meski diri sendiri sekalipunb||
  5. || Rasanya ingin juga menghajar diri sendiri apabila orang yang, berbuat bohong pasti hati merasa sakit, lebih-lebih Tuhan pasti juga tidak berkenan ||
  6. || Sesungguhnya Tuhan akan mengabulkan prmohonan kita yang sungguh-sungguh asalkan permohonan itu selaras dengan keadaan dirinya ||
  7. || Adapun wujud pertimbangan permohonan berada pada Tuhan, itu ibarat seekor nyamuk yang bermohon pahala yang sebesar gajah, pasti Tuhan tidak akan mengabulkannya karena tubuh nyamuk yang kecil itu tidak mungkin mampu menampungnya ||
  8. || Jika seseorang itu keturunan pegawai, hendaknya jangan sering pergi ke hutan agar tjdak – menjadi seekor kera, sebaiknya mengabdi keada raja dan berlakulah jujur dan teliti ||
  9. || Wahyu itu tidak akan jatuh kepada orang yang jauh dan yang dibenci melainkan akan jatuh kepada orang yang selalu dikasihi oleh sesama oleh sebab itu orang yang mengabdi itu harus berusaha selalu dikasihi ||
  10. || Meski orang itu mengabdi kepada orang tua sendiri, jika tidak patuh kepada orang tuanya akan mengalami sesuatu yang tidak baik pada kemudian hari, jadi yang sebaik-baiknya adalah orang yang selalu dikasihi, segala keinginannya akan terlaksana ||
  11. || Sebenarnya sudah banyak contoh sejak zaman dahulu, arwah raja yang tidak mendapat berkat dari orang tuanya akan mengalami berbagai kesukaran, oleh karena itu orang harus selalu berbakti kepada rajanya ||
  12. || Meskipun itu bukan raja kita sendiri (raja negara asing) kita harus menghormatinya agar kita mendapat berkat serta wahyunya, raja itu adalah mustika bumi sedangkan yang empunya bumi ini tak lain adalah ya rabbil rahman (Tuhan) ||
  13. || Limpahkan berkat raja itu kepada orang lain, sebab pada akhirnya kebahagiaan itu akan datang dengan sendirinya dan melimpah sampai kepada anak cucu,| janganlah tergelincir oleh kesenangan, hingga lupa akan segala-galanya ||
  14. || Wahai anak-anakku, carilah keselamatan, sudah lumrah ada manusia yang dapat mencapai cita­ itanya dan ada juga yang tidak terlaksana keinginannya, semua itu disebabkan oleh dirinya sendiri yang tidak melihat dunia sekelilingnya ||
  15. || Orang yang memaksakan dirinya pergi pada waktu hujan menjelang matahari terbenam pasti akan basah kuyub, ibarat seorang pemalas yang tubuhnya kotor, bibirnya biru, or ng manyangkanya pemadat ||
  16. || Adapun seorang penjudi yang kalah, bisa disangka orang sebagai pencuri, sebaliknya orang selalu dekat dengan kitab akan disangka orang makdum ||
  17. || Yang pasti tingkah laku manusia itu bisa diliihat dan ditandai ciri-cirinya, yang jujur dan berdusta hati dapat dilihat lewat wirasat sinar matanya, namun tidak setiap orang dapat melihat wirasat semacam itu ||
  18. || Yang dapat melihat hanyalah orang yang tajam perasaannya dan terbuka hatinya terhadap segala sesuatu yang gaib serta yang ingat akan cerita Imam Safi’i zaman dahulu, namun itu merupakan pekerjaan yang sangat sulit ||

PUPUH IV
G A M B U H

  1. || Orang yang tahu ilmu wasiat secara langsung dapat mengetahui sesuatu yang dikehendaki seseorang secara jelas karena pada tubuhnya ada tanda-tanda yang sesuai dengan yang dikehendaki oleh orang tersebut ||
  2. || Seluruh perbuatan Imam Syafi’i telah tersusun dalam kitab yang tidak perlu diragukan dan telah mendapat izin dari kanjeng rasul dan para sahabatnya ||
  3. || Yang Maha Luhur lebih berkuasa dari pada suatu tebakan atau sangkaan misalnya, orang burik-burik wajahnya tentulah jelek rupanya namun hatinya jujur ||
  4. || Hal ini disebabkan oleh karena manusia itu dapat meneliti dirinya, jika dirinya merasa tidak baik ia akan berusaha memperbaikinya. Lain halnya hewan, jika ia mempunyai ciri-ciri yang jelek tidak mungkin akan dapat berubah ||
  5. || Hewan tidak dapat merubah ciri-cirinya yang jelek karena hewan tidak mempunyai akal budi sedangkan manusia itu makhluk Tuhan yang paling tinggi yang mungkin dapat melebur sifat­sifat jahatnya ||
  6. || Wahai, anak-anakku, cucu-cucuku, telitilah bayang-bayang badanmu agar dapat menghilangkan jeleknya dan mungkin bekas-bekasnya pun tidak akan tampak karena berkat raja ||
  7. || Kemujuran orang dan berkat raja itu saling mempengaruhi. Tidaklah berbeda dengan kawula dan gusti. Sesungguhnya jasad merupakan tabir ilahi ||
  8. || Tuhan itu berkuasa atas hidup manusia. Yang terang melenyapkan gelap, yang panas menghilangkan yang dingin. Demikianlah martabat manusia itu ||

PUPUH V
S I N O M

  1. || Sudahlah menjadi watak orang muda, kemauan keras , kurang hati-hati, suka bergrombol kian kemari, banyak mengeluarkan tenaga tanpa hasil. Yang paling disenangi itulah yang paling diutamakan, menjauhi orang tua karena takut dimarahi, takut dimarahi karena merasa belum dapat menuruti kehendak orang tua ||
  2.  || Ayah ibu berkehendak mengajarkan anaknya gar menjadi orang utama, namun telah menjadi adat anak muda jika diberi pelajaran yang baik dirasakan sebagai dimarahi, paling senang jika dibiarkan melakukan perbuatan yang tidak baik, meski demikian ada juga anak muda yang mau menurut ajaran ayah-ibu ||
  3. || Hal seperti itu sesungguhnya jarang terjadi, karena takdir untuk menjadi orang baik itu seperti hanya dalam cerita zaman dahulu, Ibrahim serta putranya, Ismail yang patuh kepada ayahnya, hendak dibunuh, Ismail tidak menolak perintah itu, apalagi jika diarahkan pada keutamaan ||
  4. || Orang yang paling mujur adalah hanya Nabi Ibrahim dan Ismail serta Ishak anaknya sangat taat kepada Tuhan, mereka yang menurunkan para raja sampai pada zaman akhir kelak baik di Ajam maupun di Arab dan sebagian orang alim, semua itu merupakan keturunan Ismail dan Ishak ||
  5. || Pada zaman Majapahit sampai Brawijaya yang terakhir yang pantas menjadi teladan adal ah bagaimana sikap orang tua terhadap anakny Raden Patah yang dicalonkan menjadi raja, Raden Patah masuk Islam dan bersikap sok mengajar ayahnya ||
  6. || Perbuatan anak mengajar orang tua adalah kliru, raja tidak senang dan pergi tanpa ragu-ragu, rasanya raja itu benci kepada putranya, ternyata setelah menjadi raja terjadilah hal-hal yang tidak baik, tidak seperti yang dialami oleh Bondan Kejawen ||
  7. || Ketika masih muda bercampur dengan orang desa, sang raja sangat lega hatinya ketika ia mau melaksanakan perintah ayahnya untuk bertapa,| sejak awal hingga akhir ia selalu dikasihi ra a karena patuhnya, mujur karena terus-menerus mendapat wahyu serta karunianya bertambah­ tambah, ia menerima kewibawaan tanah Jawa ||
  8. || Sampai kapan pun tiada berubah, keturunan Tarub ini selalu dikasihi oleh raja, ia menjadi raja di tanah Jawa dan tersebar di seluruh bumi, orang yang taat kepada kehendak orang tua, lagipula seorang raja, patutlah menjadi contoh yang harus selalu diingan dan dimuliakan, masih banyak contoh-contoh yang baik maupun yang jelek ||
  9. || Teladan bagi orang yang hendak mengabdi haruslah seperti Aryo Brotoseno, ia mantap dan berani mati melakukan perintah gurunya, meskipun ajaran gurunya itu tidak benar|, agar sena lenyap dari muka bumi ini, gurunya memerintahkan sena untuk masuk ke dalam pusat bumi, meski demikian Sena tidak mati , malah mendapat karunia dari dewa ||
  10. || Contoh seorang petapa yang dikabulkan permohonannya karena ia mau memberikan harta, tenaga, serta makanan kepada orang lain, berusaha menyenangkan hati orang lain, adalah orang yang bemama singaprana, demang dari desa Sima yang kemudian menurunkan raja-ra  di Surakarta ||
  11. || Apalagi keturunan raja, jika banyak berkorban, suka memberi dan sabar, tentu akan selalu dekat dengan wahyu seperti raja yang ke – 8, mengantukpun dapat memperoleh kerjaan yang berat jika syarat-syarat yang berat yaitu tidak berhubungan dengan wanita.dapat dipenuhi, penulis pun tidak sanggup untuk melaksanakan perintah yang sedemikian itu ||
  12. || Periulis hanya bermohon dapat hidup panjang umur, hati terang, mata awas, gembira dapat melaksanakan sembarang pekerjaan, pantas berpakaian yang baik, serta tidak terganggu oleh sipapun dalam melaksanakan semua kehendaknya, semua itu hendaknya dapat di alami oleh anak cucu, hanya satu hal saja yang tidak dapat dilaksanakan oleh penulis yaitu beristri banyak  ||
  13. || Tambah lagi kewajiban para muda, dekatlah dengan orang pandai yang bijaksana agar dapat meluberkan pengetahuannya, yang perlu diketahui adalah tindak-tanduk yang terpuji yang berkaitan dengan tata kerja pemerintahan negeri yang sebaik-baiknya, tidak ketinggalan pula adalah cara-cara untuk memperoleh dan bergaul dengan kawan atau sahabat ||
  14. || Cara bersahabat dengan semua bangsa sangat baik diketahui baik secara lahiriah maupun batinniah, semua itu hendaknya diteliti secara cermat menurut jenis- jenisnya|| jangan sampai ilmu pengetahuan yang satu dengan yang lain itu campur aduk sebab jika demikian setelah pengetahuan-pengetahuan itu dapat dalam dirinya pasti tidak akan terjadi pertentangan satu dengan yang lain ||
  15.  || Yang kita harapkan adalah keselamatan, oleh sebab itu kita harus menghormati banyak orang tanpa pilih-pilih dan tidak mencemooh sesamanya, semuanya merasa satu hati dan berkenan, semua dilayani dengan ikhlas hati seolah-olah bau harum yang bertebaran merembes kedalam sanubari setiap orang, seluruh manusia sejagat||
  16. || Bagaikan harumnya bunga semerbak memenuhi bumi, sedap menyentuh hidung manusia yang mendorong para muda yang mencari ilmu yang luhur, diharapkan menjadi penghias negara sehingga negara menjadi makmur dan sejahtera selama-lamanya ||

PUPUH VI
P O C U N G

  1. || Jangan lancang dalam mengabdi kepada pembesar, dan dalam bersahabat, jika engkau mendapat kedudukan, pandai-pandailah menyenangkan hati kawan ||
  2. Pada zaman dahulu ada seorang Sri Baginda keempat bernama Bagus Semail yang sangat dikasihi oleh sang raja ||
  3. || Pengorbanan Mail itu sangat baik sekali karena itu raja sangat dikasihi kepadanya dan kemudian di angkat menjadi opsir Jayengsastra dengan nama baru Rahaden Jayengmarjaya ||
  4. || Tingkah lakunya yang baik makin bertambah lagi sehingga akhimya ia di angkat menjadi nayaka tengen keparak ||
  5. || Dengan jabatan yang baru itu di berikan nama baru Tumenggung Sasrawi Jaya, ia semakin tahu tugas-tugasnya dan pandai sekali menjaga Negara, kebetulan ada bencana yang ditimbulkan oleh seorang patih ||
  6. || Patih itu bernama Mangunpraja, ia sangat pandai, sakti, gagah perkasa, teguh hati dan pemberani.
  7. || Pada suatu hari Rahaden Sasrawijaya diperintahkan untuk menahan seorang patih yang membangkang, ia siap melaksanakan tugas tersebut, | patih tersebut tidak biasa berbuat apa-apa sebab Sasrawijaya tersebut dapat melaksanafkan perintah Raja ||
  8. || Meski sang patih itu adalah bapaknya sendiri, Sasrawijaya tidak segan – segan untuk menindaknya, dengan kejadian itu ia lebih dikasihi raj a, dan pada akhirnya Sasrawijaya menggantikan kedudukan ayahnya menjadi Patih ||
  9. || Selama empat puluh tahun ia menjadi patih, sangat termasyur kemana-mana, ia dikenal dengan nama Dipati Sasradiningrat yang pandai menjalankan pemerintahan ||
  10. || Setelah ia meninggal, ia dimakamkan di lmogiri, dialah contoh seorang yang baik nasibnya karena jasa-jasanya yang terpuji, pantaslah dia sebagai teladan para muda ||
  11. || Peribahasa mengatakan “wong labet temen tinemu”, orang berbuat baik untuk orang lain akan mendapatkan sesuatu anugerah, dialah Kyai Sara yang tinggal di Manggaran sebuah dukuh di tepi laut ||
  12. || Ketika sang raja pergi kearah selatan Panaraga, setelah selesai mandi, Kyai Sara membantu menyeberangkan sang raja dengan putranya ||
  13. || Sebagai hadiah karena menolong sang raja itu, Kyai Sara diangkat menjadi Arya Mataram Adikusuma ||
  14. || Janganlah seperti Tumenggung Mangunoneng yang menipu sang nata, perbuatannya diketahui oleh Mangkubumi, tubuhnya dicincang diremuk dan dimakan anjing ||
  15. || Seperti halnya mantra (pegawai) yang jabatannya diperoleh dengan uang, biasanya tidak tahan lama, akhirnya ia kembali menjadi bujang tukang pikul ||
  16. || Apabila engkau ada di rumah, isilah waktu-waktu kosong dengan pekerjaan apa saja agar engkau tetap kerasan dan senang tinggal di rumah ||
  17. || Tanamlah apa sa ja yang ada manfaatnya dan ingatlah kepada rasulullah yang buah-buahan hasil kebunnya menjadi nafkah bagi anak istrinya ||
  18. || Kanjeng rasul yang menjadi pemimpin dunia masih mau menunaikan kewajiban pribadi, sedang panji klantung (tak punya kerja) masih tetap bermalas-malasan ||
  19. || Bagaimana mungkin ia mencapai cita-citanya? jika ada lowongan pekerjaan dari seorang pegawai yang bukan main rajinnya, ia ingin segera menggantikannya ||
  20. || Jika lamaran Si Panji Klantung itu tidak diterima, ia pulang sambil mengumpat-umpat, “aku ini masih saudaranya, mengapa lamaranku tidak diterima?” ||
  21. || Melihat tingkah laku yang sedemikian itu sang wahyu akan menjauhinya, oleh sebab itu hendaknya seseorang yang menginginka suatu jabatan itu harus sering menghadap pembesar ||
  22. || Juga orang itu harus menguasai tiga bahasa yaitu Jawa, Arab dan Belanda sebagai bekal mengbdi atau mencari pekerjaan, dengan demikian nanti tidak akan kebingungan pada saat melamar pekerjaan ||
  23. || Sekarang yang sangat dibutuhkan adalah orang­orang yang menguasai ketiga bahasa itu, lain dengan dahulu, pandangan selalu diarahkan kepada orang yang suka bertapa, meskipun bodoh tetapi petapa ||
  24. || Sebagai contoh adalah Bagus Gimba, peke sehari-harinya hanya berjalan-jalan,| ia tidak mungkin memiliki ilmu lahir dan batin, meski demikian banyak orang yang tertarik dan menjunjung- junjungnya ||

PUPUH VII
P A N G K U R

  1. || Jauhkan dirimu dari perbuatan-perbuatan yang hina, siapa tahu memperoleh keberuntungan, wahai pemuda rupawan, jika engkau mengabdi, hendaknya engkau mempertaruhkan jiwa-ragamu ||
  2. || Di waktu menghadap tingkah-lakumu harus luwes, dan duduklah dengan tenang, jangan pula tergesa-gesa pulang sebelum waktunya, jika ingin mengabdi kepada raja, hendaknya rajin berada di tempatnya ||
  3. || Bicaralah yang lemah-lembut, berserah diri kepada kehendak raja, perhatikanlah pandangan raja ||
  4. || Wahai muda rupawan, jika tak ada keperluan yang sangat penting, janganlah urungkan niatmu untuk menghadap, berpakaianlah sederhana supaya dapat berbuat dengan cekatan ||
  5. || Wahai muda rupawan, jika bangun tidur jangan kesiangan, lebih baik bangun subuh, jangan tidur pada waktu matahari terbenam, itu tidak baik ||
  6. || Wahai muda rupawan, lebih baik engkau bersholat, bersyukur kepada Tuhan yang memberi hidup kepadamu, jika berhalangan dalam bersholat, halangan tersebut harus setimbang dengan keperluanmu, dalam meninggalkan sholat tersebut hatimu jangan khawatir, ragu-ragu, pentingnya sholat akan menghilangkah keraguan ||
  7. || Saya akan mengulangi cerita, berbaktilah degan jujur kepada raja, dahulu ada demang dusun giyanti yang bernama Jayakartika dan demang di taji yang bernama Sutajaya, dia benar-benar berkorban serta bertapa dan berharap akan berkat raja ||
  8. || Sutajaya yang mempunyai anak perempuan yang sangat cantik diambil permaisuri oleh raja pakubuwana III. Inilah yang menurunkan satu raja Pakubuwana IV yang selanjutnya menurunkan raja-raja di Surakarta hingga kini ||

PUPUH VIII
MASKUMAMBANG

  1. || Orang yang hidup itu laksana perahu di samdra. Air itu merupakan kekuasaan Tuhan, rohnya sebagai kemudi ,isinya adalah cipta dan suratan ||
  2. || Perahu berlayar kian-kemari, juragannya sekaligus pemegang kemudi, pada waktu itu pedagang langganannya juga belum dating ||
  3. || Ada pun berlayar itu ada untung ruginya, jika nasib jelek, perahunya tenggelam, barang-barang dagangannya musnah ke dalam air ||
  4. || Kemudi pergi tanpa diketahui, karena ia adalah orang upahan saja, dan takut dimarahi oleh si pemilik barang ||
  5. || Nah, renungkanlah anak cucuku! siapakah yang wajib memiliki dunia ini? camkanlah hal itu, akan tetapi rahasiakanlah ||
  6. || Jika engkau tahu masalahnya benar-benar merupakan karunia Tuhan, tetapi sesungguhnya sangat sukar jika tidak tahu tentang tanda-tanda atau sasmitanya ||
  7. || Engkau harus tanggap terhadap sasmita para arif bijaksana, orang yang memberi kasih adalah orang yang paling mulia di dunia ini ||
  8. || Cukup sekian dulu sebagai pembukaan, jika bagi seorang dalang lakonnya beralih pada pelajaran yang baik bagi para muda ||
  9. || Tujuan yang terbayang ialah semoga dapat menerima ajaran utama, yang berguna dalam pemerintahan, yang sesuai dan tepat sesuai jamannya ||
  10. || Ibarat “kuda, curiga, estri, tulisan” kuda itu tamsilnya kuat, terampil, sedangkan “curiga” atau keris adalah tajamnya cipta, pikiran ||
  11. || “estri” atau wanita itu harus dapat menyenangkan hati, halus budi bahasanya agar para pria dapat tertarik, “tulisan”, atau sastra berarti mahir dalam bahasa ||
  12. || Bahasa rendah, atau nista menengah dan tinggi dan juga bahasa-bahasa lain, berarti pula mampu turut dalam pembicaraan, demikianlah kedudukan bahasa ||
  13. || Lebih baik lagi jika dapat mengetahui sastra yang ada di dalam diri sendiri, bertanyalah kepada ulama yang pandai tentang sastra ||
  14. || Tanyakanlah apakah sesungguhnya tafaku itu, tarikh empat, martabat tujuh dan sembilan, kesempurnaan solat ||
  15. || Jangan bersolat seperti anak kecil saja, agar tertibnya dirasakan juga, jangan lupa bertakbir secara khusuk, ikhramnya sedapat-dapatnya kena juga ||
  16. || Demikianlah “wajah” serta “ikhtidal”-nya, sedangkan ayat-ayatnya menyusul sebagai bunga-bungaan “kembang” belaka, ketahuilah arah dan tegaknya yang laksana benteng itu ||
  17. || Selesai solat jumat, khotbahnya merupakan sarapan (alas, dasar) bagi orang-orang mukmin (orang yang percaya), ada pun ayat-ayatnya adalah “yapan luraban sawahi”, yang maknanya : ||
  18. || Hai manusia, sekiranya engkau mencari Tuhan yang lain dari yang telah menciptakan dirimu, padahal Yang Esa, hanya satu, yang lain selain Yang Esa, adalah celaka ||
  19. || ltu bukan Tuhan yang sejati, sesunggunya manusia itu masih dibayang-bayangi oleh iblis, wahai anakku, berhati-hatilah dan awaslah ||
  20. || Segala gerak-gerik sebaiknya kau kuasai, dan musyawarahkan dengan orang yang ahli budi, yang ahli ten tang pengetahuan gerak-gerik jaman ||

PUPUH IX
D U R M A

  1. || Jangan tergesa-gesa melaksanakan keinginan hati yang tidak baik, pertimbangkanlah dahulu degan tenang dan cermat, menurut ajaran kuno, manusia utama itu harus jujur menjunjung berkat sabda nabi, raja, dan wali ||
  2. || Janganlah lupa, tanamkanlah hal tersebut dalam sanubari agar menambah kuat hati (imam) kita, terhadap pengetahuan sang sukma supaya segala perbuatanmu yang nista, yang biasa dan yang utama dapat tampak ||
  3. || Apabila engkau senang menabuh gamelan, jangan selalu di dendang-dendang seperti penyanyi, ketahuilah gamelan itu dibuat oleh para wali, pasti ada sesuatu hikmah yang terkandung didalamnya ||
  4. || Barang/benda yang kelihatan dan yang kedengaran itu dapat dipakai sebagai perumpamaan, “kawula” dan “gusti” itu seumpama ikan dengan empangnya ||
  5. || Apabila engkau pergi kekebun memetik bunga, jangan asik bersunting bunga saja, renungkanlah dengan sesama, dari manakah munculnya bunga dan buahnya itu, ini penting untuk diketahui ||
  6. || Buah yang waktu masih muda sangat masam rasanya, setelah tua menjadi manis sekali, dimanakah manisnya itu disimpan (semula)? siapakah yang melukis ular sanca yang indah citranya itu? ||
  7. || Kemanakah perginya api ketika pelita yang mati karena ditiup? dimanakah tempat bersembunyi binatang-binatang pada siang hari? bayi yang masih dalam kandungan itu sesungguhnya hidup atau mati? ||
  8. || Jika kita mendengar suara, suara itu mas telinga kita ataukah pendengaran kita mendekati suara tersebut? nah, demikianlah teka-tekiku ||
  9. || Pada umumnya manusia itu baik laki-laki maupun perempuan sering berucap, “jika Yang Mahamulia masih melindungi di riku” sesungguhnya, apa maknanya? ||
  10. || Dahulu penulis pernah meminta wajengan kepada seseorang yang pandai dan bijak yaitu Kusumadilaga, sang wiku Tejamaya, namun sampai beliau wafat penulis belum pernah diberi wejangan oleh beliau ||
  11. || Menurut pendengaran penulis tentang ilmu perang yang digunakan oleh senapati alaga mataram itu demikian: baik akan tidur maupun bangun tidur (Sultan Agung) selalu mengamati keadaan sekelilingnya ||

PUPUH X
MEGATRUH

  1. || Jangan lupa, junjunglah tinggi-tinggi wejangan Panembahan Senapati Alaga raja Mataram agar mendapat karunia dan dapat melakukan perbuatan yang utama ||
  2. || Akan lebih utama jika kita dapat mengamalkan wejangan Sang Senapati yang terdapat dalam buku sruti yang berisi 90 bait, yang khusus tentang manusia yang utama ||
  3. || Jika dapat memahami a aran sang raja pastilah kita akan dapat menjadi orang yang utama (baik), karena dahulu sang nata itu telah mengalami segala-galanya, sehingga wejangan itu tak akan salah ||
  4. || Beliau adalah seorang raja yang tiada tandingnya di Jawa yang patut ditiru agar dapat menambah kebahagiaan anak cucu pada kemudian hari ||
  5. || Tetapi raja Mataram, Sultan Agung itu sukar ditiru, karena beliau adalah wali-raja (wali sekaligus raja) banyak mukjijadnya, mohon berkatnya sajalah ||
  6. || Sebab wali yang menjadi raja besar itu sama saja dengan Yang Mahasuci yang menjelma pada sang raja, ibarat rasulullah, telah diijinkan oleh Tuhan ||
  7. || Umpama saja, orang mencontoh tingkah laku sunan kali, pada waktu masih muda, beliau itu nakalnya bukan main, namun setelah tua menjadi wali, itu merupakan karunia Tuhan ||
  8. || Jika yang ditiru itu tingkah laku yang jelek saja, tentu akan berbuat jelek terus, tak mungkin dapat berubah, apalagi umumya pendek karena mati dikeroyok massa ketika ketahuan mencuri ||
  9. || Memang banyak muridnya di Tajamaya yang mengikuti tingkah laku sang wiku, dari mereka banyak yang keliru ||
  10. || Yang mereka tiru adalah perbuatan sang wiku yang empat macam yaitu “madon, madat, minum, main” memang mereka itu berusaha mengamalkan ajaran-a jaran gurunya agar menjadi gambling ||
  11. || Telah menjadi kebiasaan anak muda, yang diamalkan adalah yang mudah dilakukan, akhirnya jasmaninya rusak, hatinya pdih, pikirannya menjadi gelap dan ceroboh ||
  12. || Karena itu benarlah ajaran raja Surakarta I yattu, “jika engkau berguru carilah ulama yang sepi ing pamrih” ||
  13. || Dahulu ada ulama yang termahsyur bemama Abdulkahar, bicaranya lemah lembut, setiap memberi wejangan, lambat, dan tepat, pandai sekali menjelaskan arti isi kitab-kitab dan mereka kehendak seseorang ||
  14. || Jika ada orang yang meminta nasihat yang tinggi­tinggi tidak akan segera dilayani/dituruti, di lihat dulu kemampuan yang minta nasihat, ibarat desa kecil diduduki seorang raja, tentu tidak tahan ||
  15. || Sama halnya dengan seseorang yang hendak naik ke sebuah panggung yang sangat tinggi langsung menuju ke tempat yang paling atas, tidak melalui jalan yang ditentukan, orang itu pasti menjadi sangat bingung, tak dapat turun kembali kebawah ||
  16. || Biasanya orang tua yang hendak memberi pelajaran kepada anak cucu, jalan yang akan ditempuh diberitahukan lebih dahulu, tidak langsung menuju ke puncak gunung, sebab banyak kesukaran yang akan di jumpai sepanjang jalan seperti hutan belantara dan semak-semak ||
  17. || Yang akan berjalan telah mengetahui kesukaran kesukaran yang dialami, karena hal itu diberitahukan oleh sang guru, inilah guru yang baik dan halus ||

PUPUH XI
ASMARANDANA

  1. || Tersentak hati saya bila teringat akan ajaran­ a jaran guruku, Abdulkahar yang alim, rajin dalam memberikan pelajaran dengan telaten tak bosan­ bosan, sehat, panjang umur, tekun beribadah, namun demikian banyak istrinya ||
  2. || Beliaupun tahu tentang ilmu sejarah, sejak dari rasulullah turun temurun (ilmu itu) sampai sekarang sampai raja sekarang, sehingga ia tahu ujung-pangkalnya wejangan dari rasul kepada putra putrinya, sampai pada saya ||
  3. || Itulah yang pantas ditiru, ajaran ilmunya yang sudah jelas dan lagi ketika hendak pulang ke rahmatullah telah menurunkan ilmunya kepada anak cucu, ini suatu tanda bahwa ia tajam penglihatan hatinya ||
  4. || Penulis bermohon untuk dapat mewarisi sifat­sifatnya tersebut, kemurahan Tuhan telah tampak, ingat, umurnya panjang masih juga mempunyai anak, hidupnya benar-benar berguna bagi sesame ||
  5. || Cara mengajarnya teliti, mulai dari syariat, kemudian tarekat lalu hakikat, dan makrifat, syariat berarti tertib, urut, yaitu urut martabatnya ||
  6. || Yang dimaksud dengan martabat adalah mengetahui apa yang telah dibawanya, baik dari pihak bapak maupun ibu, dan apa yang telah diberikan oleh sukmanya, itulah syarat-syarat untuk mencari ilmu yang utama ||
  7. || Tuhan itu mempunyai ilmu yang sangat banyak sekali, andaikan ilmu Tuhan itu di tuli , ditamsilkan air laut sebagai tintanya, kayu-ayu (yang ada di dunia ini) sebagai kalamnya, dan daun-daun sebagai kertasnya, maka ilmu Tuhan itu jauh lebih banyak yang belum tertulis, masih kurang kertasnya, tintanya maupun kalamnya ||
  8. || Banyak juga doa dan ilmunya tentang penolak bahaya, baik untuk didalam kota (praja) maupun di desa-desa, masih digunakan orang, sampai sekarang tiada muridnya yang meniru perbuatannya, hanya berkatnya sajalah yang masih bertebaran ||
  9. || Jangan seperti Bagus Jedig, banyak orang tergelincir mengikuti petunjuk/perintahnya, jika orang minta wajengan tentang ilmunya yang utama, dia selalu menjawab, “masa bodoh” walaupun begitu dipercaya juga ||
  10. || Memang lumrah bagi orang kecil, karena mereka tidak biasa memperatimbangkan segala sesuatunya (bodoh), namun banyak juga orang terpelajar (priyayi) yang percaya kepadanya (Bagus Jedig), banyak juga wanita yang dijamahnya, karena ketahuan pemerintah, ia dihukum buang ke seberang (tanah seberang), sampai berakhirlah riwayatnya ||
  11. || Ada lagi seorang wadat yang berasal dari MaTesih bernama Bagus Satria,  banyak yang terpikat kepadanya, jika orang meminta berkat kepadanya, ia menjawab, “saya tidak dapat” ||
  12. || Meskipun demikian, ia masih pantas dihormati karena ia tetap wadat selama hidupnya, berumur panjang, rajin beribadat, tingkah lakunya masih dikatakan baik ||
  13. || Mintalah nasihat/petunjuk kepada Mas Pengulu tapsiranom, masih keturunan orang pandai dan bijaksana, dapat mengolah ajaran agama dengan ulah keprajan (pemerintahan) ||
  14. || Wahai anak cucuku! adapun yang sebaik-baiknya adalah menghormat kepada orang tua, karena orang tua itu telah banyak makan garam,  syukurlah jika orang tuamu memiliki banyak ilmu, memintalah petunjuk kepadanya, meski ia itu keturunan orang sudra sekalipun ||
  15. || Orang muda itu lebih baik mendekati orang yang pandai bercerita seperti misalnya Suryabrata, saya sendiri telah terbiasa mendapat wejangannya ||
  16. || Ia adalah orang yang sanget pandai mengingat segala pesan orang-orang tua, segalanya itu telah diwejangkan dan membuat terang pikiran saya, sayangnya ia terlalu cepat meninggalkan kita (meninggal) ||
  17. || Rasanya telah cukup dalam menggubah permintaan anak istri sebagai pelajaran yang diambil dari bermacam-macam ceritra, tepat pada hari anggarakasih, (selasa kliwon) , tanggal 3 sapar, windu jimawaladi, “yaksa sirna murtining rat” ( 1 805) ||

PUPUH XII
DHANDHANGGULA

  1. || Pada hari jumat, raja tidak hadir, dan hendak memeriksa latihan para prajurit yang belum mahir menggunakan karabin (senapan), mereka itu menggerakkan tangannya menurut perintah komandannya karena belum mahir menggunakan senapan ||
  2. || Hari ulang tahun naik tahta sang raja sudah dekat, pesta itu sekaligus akan dibarengi oleh hajat raja untuk mengkhitan putranya, para prajurit Surakarta yang akan bertugas dalam perayaan itu akan diberi penghargaan dan ditunjukan tempat­tempat bertugas masing-masing beserta perlengkapan-perlengkapanya oleh dwija mantra ||
  3. || Hal ini dilakukan agar perayaan sang putra raja nanti tidak mengecewakan dilihat oleh tamu-tamu dari negara lain, mahligai indah tempat putra raja itu khitan dibuat seperti rumah dari negeri Rum, gapura-gapura diukir “lunglungan” (tanan) yang berwarna oranye yang di sungging dengan warna hijau serta diulas dengan cat emas ||
  4. || Perayaan khitanan tersebut telah terdengar oleh bangsa-bangsa di luar negeri, yaitu pada tahun Alip nanti, hal ini menyebabkan para pedagang asing berdatangan dengan barang-barang yang indah­indah dengan tujuan mencari keuntungan sebanyak-banyaknya ||
  5. || Yang jelas orang mudah mencari uang, negara Surakarta yang sudah dikenal orang bahwa berdagang disana dagangannya pasti laku, bangsa-bangsa asing senang tinggal di Surakarta, baik di desa-desa maupun di kota-kota karena mudah mencari nafkah, suasananya aman dan damai tak ada perbuatan yang jahat karena karunia Tuhan ||
  6. || Siang-malam sang raja selalu bermohon kepada Tuhan agar terhindar dari segala gangguan jaman, para prajurit taat dan patuh kepada segala perintahnya, dwija mantri selalu memberikan pelajaran tentang tata pemerintahan ||
  7. || Sang raja adalah keturunan Mataram (ngeksiganda) yang selalu merupakan pelita dan pelindung rakyatnya, semoga wataknya menurun kepada sang putra (ra ja) yaitu sifat sang ayah yang bijaksana teguh hati tanpa pilih kasih terhadap rakyatnya ||
  8. || Hemat, cermat berkat pengorbanan para leluhumya dahulu, saya bermohon semoga putra raja kelak bersifat adil seperti sang raja (ayahnya) ||

PUPUH XIII
S I N O M

  1. || Karena masih muda, semoga Gustiku tidak berbuat yang tidak ada manfaatnya, seyogyanya berdampingan dengan tokoh yang utama untuk mengajarkan perihal tugas-tugas raja yang paling utama, yakni pengelola pemerintahan yang sebaik baiknya ||
  2. || Semoga ia dapat mewarisi martabat kerajasn dan dikasihi Tuhan seperti Sultan Agung dahulu, hendaknya jangan berpisah dengan ayah agar dapat memahami tata kerja seorang raja, sehingga tidak kikuk jika ada upacara ||
  3. || Seorang putra raja harus menguasai hal-hal yang tampak maupun yang pelik, terampil dalam segala hal, bersifat perwira, berbudi halus, pandai mencari sahabat sehingga rakyat tunduk dan patuh, begitu pula bangsa asing juga tunduk mengabdi kepada raja dengan tulus dan ikhlas ||
  4. || Harta kekayaan ditinggalkan, anak istri diboyong untuk mengabdi kepada sang raja, itulah tanda sifat keutamaan raja, sayid-sayid yang tinggal di negeri Arab, yang pernah berjumpa dengan raja masih selalu ingat dan mau berkirim surat untuk memuji-muji sang ra a secara panjang lebar seperti orang membaca kitab ||
  5. || Tubuh penulis laksana orang sedang bermimpi (tidur), matanya kantuk tetapi tangannya menulis, hari sabtu legi tanggal empat mangsa (musim) kesembilan (kasanga) bulan rabingul akhir jimakir windu adi, Mandangkungan, jam tujuh, tahun 1805 sesuai bunyi sangkala sang brahmana narapati, berilah maaf banyak-banyak, adisar ini ||

PUPUH XIV
G A M B U H

  1. || Saya berdoa agar kelak putra raja dapat menduduki tahta kerajaan dan dengan tulus mengikuti jejak para leluhumya sebagai raja yang cerdik cendikia dan bijaksana ||
  2. || Demi berkat rasul, janganlah meninggalkan agama yang luhur, renungkanlah makna kitab Quran secara murni untuk mencari keutamaan ||
  3. || Tiada yang kusut/sulit, segala nyang dikehendaki akan tercapai dengan sebaik-baiknya, hendaknya selalu berbuat yang baik, mengingat kelak akan mendapat tugas menjalankan pemerintahan yang sangat pelik ||
  4. || Hal itu memang sangat pelik jika kita tidak tahu, khususnya tentang watak-watak dunia yang diperintahnya, renungkanlah hal itu pada waktu malam dengan tenang, ltulah kebiasaan yang dilakukan oleh raja yang bijaksana ||
  5. || Kurangi tidur pada waktu malam, makan jangan terlalu kenyang, pada waktu senang jangan lupa bersyukur kepada Tuhan agar pikiran (hati) tidak kusut ||
  6. || Akibatnya rahmat Tuhan itu tidak akan keliru masuk di dalam hati, luapan hati menggenangi tanah senegara, negara menjadi aman dan tentram, mendapat perlindungan Tuhan ||
  7. || Kemurahan raja besar selalu tampak di mata rakyat, sanak saudara patuh dan cinta, tiada yang tidak berkenan, semua mudah diperintah, tanpa ada yang membantah, makin bertambahlah karunia raja ||
  8. || Rakyat dipedusunan giat bercocok tanam agar tidak kekurangan makan, itulah berkat rahmat sang raja, desa menjadi makmur, rakyatnya banyak ||
  9. || Kita putuskan dahulu di sini, penulis akan tidur, nanti jika penulis telah bangun akan dilanjutkan lagi, sengkala : taun luhur sang satria katong (1890) ||

PUPUH XV
KINANTHI

  1. || Setelah Adisara bangun, lalu mengambil tinta dan kertas untuk melanjutkan berceritra, ucapannya seperti orang mimpi mengenai hati raja putra ||
  2. || Wahai baginda, jauhilah hal-hal yang berbahaya, dan tidak usah dipikirkan lagi ||
  3. || Semua ajaran yang penting jangan sampai dilupakan, renungkanlah siang-malam, dan camkan dalam hati ||
  4. || Tirulah teladan yang utama, sehingga martabatnya makin memuncak dan menyinari seluruh daerah kekuasaannya ||
  5. || Diperintah oleh raja yang mulia itu laksana dilindungi oleh Tuhan, rakyat tentram lagi sentosa ||
  6. || Saya bermohon agar tiada seorang rakyat pun yang dibenci oleh raja, saya berdoa semoga sang raja tetap sabar dan tawakal ||
  7. || Agar seluruh rakyat bersatu padu mengabdi r ja yang bijaksana, yang ketetapan hatinya dak tergoyahkan ||
  8. || Saya berdoa semoga selalu mendapat penghormatan selama memerintah, dan dicintai secara tulus oleh rakyat ||
  9. || Jangan tergiur pada kebaikan wanita yang hanya semu, dibuat-buat saja, wanita yang sengaja menarik perhatian (laki-laki) selalu memulas­mulas dirinya ||
  10. || Oleh karena itu oh, baginda muda, sewaktu masih muda ini hendaknya berusaha berbuat baik lahir batin, baik dalam tindakan maupun dalam hatinya, ini penting bagi orang yang kelak akan bertugas mengurus Negara ||
  11. || Orang pandai itu penglihatannya terang, bicaralah lemah lembut (tidak kasar, tidak keras), itulah adat kebiasaan orang-orang bangsawan yang utama sejak dahulu kala ||

PUPUH XVI
M  I  J  I  L

  1. || Kata-kata yang telah saya sampaikan hendaknya direnungkan, wahai baginda muda, waktunya sudah tiba, orang yang telah menginjak dewasa hentaknya tahu tentang masalah-masalah negara, pengetahuan-pengetahuan hokum ||
  2. || Murad (maksud kata-kata dalam kitab) harus dirasakan bersama para ulama yang cerdik cendekia agar menjadi terang dalam hati dan dibanding-bandingkan dengan adat kebiasaan negara yang telah di taati oleh leluhur para raja ||
  3. || Keluhuran kerajaan harus dicari dan dilestarikan, dihayati dalam hati bagaimana asal mula sesuatu yang rendah dapat menjadi tinggi, tanyankan kepada para sesepuh ||
  4. || Riwayat yang ditembangkan serta tersusun mapan ini semoga dapat menjadi babad menurut istilah Jawa, semoga dapat dibaca orang dan ditanamkan dalam hati dan dapat tumbuh secara subur dan selamat ||
  5. || Hati yang selamat merupakan jalan yang baik, barangkali saja mendekatkan kita pada yang Maha Rahman dan Rahim, oleh karena itu perlu di baca sebagai syarat tidur ||
  6. || Jangan tidur terlalu banyak, kurang baik, jangan seperti diri saya, hatinya gelap, matanya sipit, badan loyo, suka marah-marah, oleh karena itu harus tahan berjaga-jaga waktu malam hari ||
  7. || Meskipun berjaga- jaga, jangan tiada mengerjan sesuatu, kerjakanlah tugas-tugas (yang belum selesai ) agar terbiasa tahu akan kewajiban, sebab tugas raja itu berat, harus dapat mengadili oang­orang yang berselisih, ilmu ||
  8. || Perbuatan utama itu banyak macamnya, ada yang ahli rasa, ada ilmu bahasa untuk memperoleh keselamatan dan dipercaya oleh sesamanya, tetapi didalam hatinya besar sekali dustanya ||
  9. || Beberapa orang jujur dalam hatinya tetapi tingkah lakunya jelek, tidak pernah belajar menyesuikan diri dengan suasana sehingga kejujuran hannya tidak terlihat oleh orang lain wahai Baginda Muda, demikianlah (yang tetjadi) hendaknya jangan diragukan lagi ||
  10. || Roman muka dan tabiat orang itu bermacam­ macam, oleh karena itu setiap orang harus dilihat gerak-geriknya agar tidak ragu-ragu lagi dalam menghadapi rakyat yang diperintah ||
  11. || Wahai, gustiku, kami berdoa hendaknya baginda muda selalu mengikuti perintah dan ajaran ayahanda agar cinta ayahanda makin bertambah ||
  12. || Sebab anda itu bernaung dibawah ayahanda, sang raja, beliau telah 20 tahun menjadi raja memerintah negara aman sentosa berkat pertolongan Tuhan, semoga keadaan yang demikian itu terus berlangsung, tidak ada yang mengacau/memberontak ||

PUPUH XVII
P O C U N G

  1. || Seperti kluwak, selagi muda namanya pocung, tampaknya terpancang oleh keinginan yang tidak baik, hendaknya jangan lupa kepada ajaran­ajaran ayahanda ||
  2. || Ayah-ibu telah menceritakan teladan-teladan dari leluhur pada jaman dahulu, diantara yang rendah, sedang, dan utama sebaiknya pilihlah yangutama ||
  3. ||Yang terutama, biasakanlah selalu dekat dengan orang tua yang banyak pengalaman dan ceritanya, serta menjelajahi serba macam pengetahuan yang murni, wahai , baginda muda, pelajarilah/semuanya itu selagi masih remaja ||
  4. || Terimalah tutur abdinya, perempuan dari desa yang jauh dari pengetahuan tata susila, ia berani bertutur dengan raja hanya karena cintanya saja kepada rajanya ||
  5. || Penulis ragu-ragu dalam hati untuk membangunkan hati sang raja, meski sangat takut, namun karena cinta kepada raja menjadi berani ||
  6. || Padukalah yang nanti akan memimpin anak cucu kami, kelak didesa maupun di kota (negara), semuanya berdoa demi keluhuran raja putra ||
  7. || Aduhai, Gusti, jangan jera diajar tentang hal-hal yang baik supaya dapat secara luas membeberkan tugas-tugas kewajiban ||
  8. || Tugas baik dapat dilaksanakan dengan baik (selamat), itulah yang selalu diharapkan oleh para leluhur jaman dahulu, semoga hal itu dapat membuka hati sang teruna ||
  9. || Semoga orang bijaksana itu akhirnya meniru kepandaian para raja jaman dahulu yang telah termasyhur jasa-jasanya yang utama ||
  10. || Harum semerbak dalam bersabda terus kedalam hatinya, budinya menjadi pelita yang menerangi bumi seisinya dan diberkati oleh Ki Nurkatim ||
  11. || Ki Nurkatim itu tinggal di desa Tunjungeta, pendeta yang sangat mulia dan diijinkan oleh Mahasuci,| wahai, Gusti hamba, dekatlah ke sang pendeta||

PUPUH XVIII
MASKUMAMBANG

  1. || Kemakmuran negara seisinya itu berkat kekuasaan raja dibantu para pegawai (kerajaan) serta pertolongan Tuhan ||
  2.  || Jika yang berwajib mengurus negara mau menghayati lebih dahulu, ini merupakan tindakan yang utama, jangan melakukan segala sesuatunya secara mendadak, pikirkanlah sebelumnya dengan tenang ||
  3. || Jadi segala sesuatunya akan dapat terlaksana secara teliti dan sempurna sehingga negara selamanya akan kelihatan baik ||
  4. || Peliharalah bahasa keselamatan para pegawai agar bersemangat kuat tidak melalui pikiran-pikiran sembarangan dan selalu giat ||
  5. || Manusia-manusia yang diperintah dalam pemerintahan itu selalu merasa aman, tentram dan mendapat rahmat Tuhan ||
  6. || Suasana rakyatnya bersifat hormat, cinta, patuh setia lahir batin, tak goyah dalam melaksanakan segela perintah sang raja ||
  7. || Para cerdik cendekia diminta wejangan­wejangannya sebagai basil dari pengalaman yang mulia|| tenang ten tram didalam kesunyian ||
  8. || Keinginan yang baik itu direnungkan, ditimbang­timbang agar tetap baik dan tidak meragukan serta yang dapat dilihat oleh mata ||
  9. || Mata laksana penjelmaan Tuhan, segala warna yang tersebar di dunia ini dapat dilihat oleh mata, telinga menangkap suara ||
  10. || Hidung bertugas menentukan segala sesuatu melalui baunya, ucapan merupakan perantara keinginan, dalam hal ini harus diteliti, jangan sampai meragukan ||

PUPUH XIX
ASMARADANA

  1. || Pada waktu tidur Adisara terpikat, bermimpi berjumpa dengan laki-laki tua (kampong) bemama Nursidhi, demikianlah wejangannya, aduhai anakku, jangan berputus asa ||
  2. || Berbicara dengan Gusti merupakan tangga utama untuk menempatkan keutamaannya sesuai dengan keinginan Gustimu, ini berarti cinta (terhadap gustimu) , dan wajib bagi abdi meenjaga gustinya sebagai balas budinya ||
  3. || Karena selalu menjaga Gustimu, semoga engkau kelak dengan keturunan-keturunanmu tetap diperhatikan oleh sang raja, orang hidup itu beramal demi keturunan yang ditinggalkan ||
  4. || Perbuatan jelek dan baik yang selalu dibicarakan orang didunia ini didengarkan oleh anak cucu,  tidak senang engkau jika anak cucumu itu terhina, ditertawakan orang di dunia ini, anak cucu dianggap sebagai keturunan orang hina ||
  5. || Lain jika perbuatanmu itu baik, dimanapun selalu di puji-puji, oleh karena itu berhati-hatilah  hidup didunia ini, berusahalah hidup sebaik-baiknya demi anak cucu, jangan sampai mereka terhina ||
  6. || Jika engkau sukar berpikir, tidurlah sebentar, bermohonlah rahmat Tuhan, nanti Tuhan akan segera datang mengajar hal-hal baik kepadamu, dan sampaikanlah kepada gustimu ||
  7. || Demikianlah anakku, seperti rumah yang bocor talangnya, air itu masuk kedalam sanubari sang raja, air bening membasahi semua tumbuh­ tumbuhan, sehingga tumbuh-tumbuhan itu menjadi subur dan mengeluarkan buah yang berlimpah-limpah ||
  8. || Pohon ibarat jasad manusia, akar sebagai cipta, tunas-tunasnya sebagai gubahan, getahnya sebagai rohaninya, sedangkan putiknya sebagai rasa, yaitu rasulullah, sekian dulu ||

PUPUH XX
PANGKUR

  1. || Kata-kata yang saya sampaikan dulu diikat dengan lagu dandanggula, berisi wejangan Ki Nursidhi secara urut, tepat dan baik, yang dapat dipakai sebagai teladan bagi raja ||
  2. || Wejangan itu diatur/disusun dengan maksud supaya jelas, agar putra raja pun dapat melaksanakannya secara tepat dan teliti, karena sang putra raja sajalah yang diharapkan dapat menggantikan sang raja, semoga sang raja dapat mengatasi segala gangguan, awas, berani dan tepat ||
  3. || Segala kewajiban seorang pria hendaknya dilakukan dengan kepandaian dan kesaktian, sakti itu banyak syarat-syaratnya, lahir-batin harus kena dan mengenai hati manusia seluruhnya, yang ada dalam pemerintahan raja yang utama ||
  4. || Pandai melihat keadaan dalam pemerintahan yang selalu dipikirkan, sebelumnya harus sudah diperhatikan/dipertimbangkan masak-masak, kemudian baru diumumkan secara tuntas, keselamatan harus dijaga dan tetap dapat di jaga keselamatan negara itu dengan perantaan orang­ orang yang ada didalam kekuasaan raja ||
  5. || Sang putra raja hendaknya menguasai seluruh nasihat saya yang merupakan inti sumber budi pembuka ketenangan hati, agar dapat melaksanakan ajaran-a jaran ayahanda sang raja dalam mencapai cita-citanya ||
  6. || Semoga daerah kekuasaan bertambah martabatnya, demikianlah yang selalu diharapkan, aduhai, Gustiku, raja utama, duhai Gustiku, putra raja hamba membangun keutamaan hati dan berharap agar terlaksana ||
  7. || Teladan raja yang utama adalah selalu berusaha agar keinginannya terlaksana secara sempurna di dunia ini, juga raja yang utama itu harus mempunyai kepandaian yang sempurna, dalam melaksanakan tugas pemerintahan mempu watak tenang, perkasa dan teguh pendiri dengan tenang menghadapi dan member segala kesukarannya, dan kejahatan ||
  8. || Laksana membujuk seorang gadis yang belum menuruti keinginannya, itu merupakan suatu jasa yang luhur, segala keinginannya harus di capai dengan tenang sesuai dengan suasananya, berkat doa kakek tua, semuanya akan terlaksana ||
  9. || Wejangan kakek tua yang bernama Ki Nursidhi tiada putus-putusnya laksana hujan gerimis, segala bisikannya itu demi keselamatan dan dia ingin menyaksikan sang putra diangkat menjadi raja secara wajar dan jujur yang menjadi pedoman para raja ||
  10. || Merasa berkewajiban, karena harus menguasai suatu daerah, maka pelaksanaan kekuasaannya itu dilaksanakan dengan penuh pertimbangan, rahasia negara itu diperhatikan tanpa lengah sesaatpun, kepandaian serta pengalaman­pengalamannya yang banyak itu digunakan untuk mengelola rakyat serta petugas-petugas pemerintahan dalam melaksanakan pekerjaan masing-masing, sehingga sang raja menjadi termasyhur ||
  11. || Untuk dapat menuruti kehendak raja maka keluarga yang tergolong bangsawan tinggi beserta seluruh rakyat sampai kepada abdi raja tiada seorangpun yang membantah kehendaknya, semuanya bersatu padu menyambut baik kehendak putra raja yang akan menggantikan raja itu ||
  12. || Keluhuran kerajaannya seperti turunnya gerimis bermacam-macam bunga, bunganya hati seluruh rakyat yang berkenan kepada kehendak raja, patuh taat kepada sang raja, berkat doa ang pendheta serta sang brahmana diawang­awang,| (1890) ||

PUPUH XXI
DHANDHANGGULA

  1. || Laksana madu wejangan sang pendeta yang bernama Ki Nursidhi, diuraikan dengan jelas kedalam kata-kata yang tersusun dalam tembang secara teliti dan teratur untuk menunjukan kewajiban gusti, sang putra raja, yang memerintah kerajaan sebagai pengasuh rakyatnya dan mendapat ridha sebagai wakil rasul yang bergelar lilumiyi ||
  2. || Lil Umiyi adalah makhluk yang selalu menurut kepada perintah Tuhan yang wujud, jasadnya sebagai Nabiyullah yang mengasuh manusia di dunia ini, rasul yang dirasakan oleh seluruh manusia, yang bernama Muhammad Makiki, yang menerangi hati manusia yang menjadi penganut agamanya ||
  3. || Agama itu benar-benar sangat diperlukan menjadi penguat serta pertimbangan hati, baik bersifat rendah hati, sedang, maupun utama, hanyalah itu yang dirasakan manusia, dalil hadis supaya menjadi pertimbangan semua raja, rakyat yang membantah (menentang) raja supaya diberantas oleh kekuasaan raja yang berdas kitab Quran ||
  4.  || Quran itu berujut kata-kata, makna murad maksudnya harus dihayati, ljmak, kias, serta jidiyatnya harus dikuasai, peliharalah hal itu didalam hati, gunakanlah dalam waktu-waktu diperlukan untuk menghilangkan keruwetan negara, karena raja itu merupakan tumbal negara dan pemberantas segala macam kejahatan ||
  5. || Semoga pengorbanan putra raja selalu mendapat restu dari leluhur raja yang mulia, segala ilmunya menyinari seluruh rakyat yang utama, semoga sang putra raja suka menerima wejangan Sang Nursidhi yang sangat cinta pada beliau ||
  6. || Namun saya meminta maaf karena ia tidak bertempat tinggal yang tetap, tak menentu tempatnya hingga untuk bertemu di tempat tinggalnya pun sulit  jika tidak dikehendaki,  jika kebetulan ia berkenan dan dapat bertemu sebentar, lalu memberikan wejangan demi tugas yang akan dilaksanakan oleh sang rajaputra kelak ||
  7. || Siang-malam sang kakek berdoa diatas gunung yang sunyi, hanya singgah sebentar saja, lalu pergi ke laut yang bernama Barulkayati, setelah itu naik lagi keatas gunung merapi, sengaja masuk ketelaga kalkaosar yang airnya jernih dan tenang, lalu diam mengheningkan cipta ||
  8. || Adapun tujuan sang resi digunung itu semoga dengan pertolongan Tuhan mendapat teman seadanya, tiba-tiba terlihatlah orang laki-laki dan perempuan, setelah ditanya oleh sang pendeta mereka menjawab, yang perempuan  bernama Kayat, sedangkan yang laki-laki Bernama, Kayun ||
  9. || Sang pendeta berkata, “Kayat dan Kayun, engkau berdua janganlah berpisah setiap hari, hAtiku tertarik kepada engkau berdua, jadilah temanku dalam bersemedi di gunung ini, “keduanya menjawab”,  aduhai, sang wiku, beruntunglah kami berdua dapat bertemu dengan sang pendeta ||
  10. || Apa yang dikehendaki sang pendeta, tetap kami lakukan, ikut berprihatin di gunung, akan tetapi permintaan kami, endang (cantrik perempuan) dan cantrik (murid laki-laki) selamanya jangan berpisah dengan sang pendeta, “sang pendeta berkata” sungguh, janganlah khawatir, pasti tidak berpisah denganku ||
  11. || Kesenangan (pakareman) baik yang bersifat lahir maupun batin biasanya merupakan halangan dalam melaksanakan sesuatu sejak didnia sampai ke akhirat, oleh karena itu hendaknya endang dan cantrik harus selalu berhati-hati, agar cita-cita tidak kandas di jalan, “keduanya menjawab”, saya junjung tinggi, Sang Brahmana ||

PUPUH XXII
G I R I S A

  1. || “Wahai, sang pendeta, kami laki-laki perempuan, mohon maaf banyak-banyak bahwa kami memberanikan diri mohon berkah mengenai isi gunung yang kami lihat itu sebenamya” ||
  2. || Lubang gunung yang satu itu bernama “marga suwara”,  jalan suara, yang berada disitu adalah  dua orang dewa, yang diatas itu bernarna Tursina,  yang kedua tempatnya jauh dan bernarna guwa Gohkarna, sedang kedua perwujudan yang kembar itu ||
  3. || Bernama Locana (mata sansekerta) Tursina itu mempunyai kekuatan (prabawa) dan setiap hari mengeluarka prahara, tidak pernah berhenti, selama gunung itu masih tetap berdiri, Locana bertugas menerangi isi gunung supaya dapat dilihat satu-satu dengan jelas ||
  4. || Wujudnya berbendul-bendul, sedang yang ada di dalam gunung itu adalah api yang bernama Anala, asapnya menuju ke waktu, inilah yang bernarna Pramana, bergetarnya gunung itu sesuai dengan goyangnya waktu ||
  5. || cukuplah sekian dahulu wejanganku kepadamu berdua, saya akan berpindah tempat ke Balerante, apakah engkau berdua tinggal di sini, ataukah ikut saya, “keduanya menjawab” tidak betah tinggal disini ||
  6. || Mereka bertiga berangkat, tidak baik jika keduanya ditinggal disitu, Sang Pendeta Nursidhi sudah pernah berjanji ketiganya tidak akan berpisah, dan jika terjadi perpisahan berarti durhakalah Sang Pendeta, karena ia telah mengingkari janjinya, bahkan dalamjanji itupun ditegaskan pula bahwa ketiganya tak akan pernah bertengkar, baik lahir maupun batin ||
  7. || “Wahai, Kayat dan Kayun, saya akan singgah sebentar di bukit Mudambin, suatu tempat mulia, yaitu tempat para pendeta bersemedi disitulah tujuan akhir mereka, meninggalkan badan mereka ||
  8. || Pulang ke kahyangan tempat para dewa yang tiada berwujud,  tetapi ada kehidupan Sang Hyang Wisesa tidak boleh dibicarakan, yang menjadi permohonan para pendeta adalah lenyapnya badan secara sempurna (1890) ||

PUPUH XXIII
ASMARADANA

  1. || Sang Sribupati sedang bercengkrama di Langenarja memanggil orang abdi Pangeran Prangwardana, orang buta, orang bongkok, wujil orang bajang, dan orang yang lehernya pendek sekali ||
  2. || Supaya mereka bercerita-cerita yang lucu-lucu, selama dua malam tidak tidur sehingga selalu mengantuk, mata selalu lengket saja ||
  3. || Mereka memang pandai karena telah dilatih benar­benar oleh mendiang Gustinya, yang memang ahli sastra, gemar membuat senangnya para saudara, sahabat dan keluarga ||
  4. || Semoga keadaan yang semacam itu lestari menurun kepada sang rajaputra yang sekarang telah di wisuda, dikarang di desa, gubahan orang buta sebagai peringatan dan gembiranya Sri Baginda ||
  5. || Pada hari Minggu tanggal 21 Rabiulakhir, tahun Alip dengan sengkala “nyata mulya sariraning sujanma”, (1891) si wuta, wujil, dengakak dan bucu mendapat hadiah saying sang raja ||

PUPUH XXIV
DHANDHANGGULA

  1. || Cerita tentang Sri Raja cengkerma di Langenarja selama tiga malam digubah, selama itu sang raja selalu mendengarkan dongengan-dongengan orang-orang buta dan bucu keempat-empatnya guna menyenang-nyenangkan hatinya beserta kerabat istana dan rakyat yang menghadap, siang hari berjudi mengadu kambing dan babi hutan berganti-ganti ||
  2. || Malam Senin (Minggu malam) bersambung warga pradikan yang diperintahkan untuk membaca kitab (buku agama) yang bemama tafsir dan fekih, banyak sekali tamsil-tamsil untuk mengetahui kesucian hati, batal dan haramnya tubuh (badan) , na jis serta makruhnya, tata tertib solat agar sesuai dengan mukaranah dan takbir serta ikhramnya ||
  3. || Ditambah lagi kewajiban suami-istri, waris, wasiyat dan utang-piutang serta jual-beli, begitu pula hak dan kewajiban yang berhubungan dengan penghasilan yang berwujud hasil bumi, yang di sebut fekih wasalmungin,  semuannya dibeberkan sejelas-jelasnya agar jalannya pemerintahan selalu tetap seadil-adilnya ||
  4.  4|| adapun yang ditugaskan tafsir adalah “abdi dalem” pradikan, guru santri di Langenarjan yang bernama Amar Ilham, ia memang termasuk tokoh yang menonjol sehingga ia sangat dipercaya oleh sang raja dan sering dimintai keterangan oleh sang ra ja mengenai lafal serta maknanya, Ki Ilham sendiri memang pandai dalam hal tersebut, lagipula cocok dengan kehendak raja ||
  5. || Banyak santri yang berasal dari negara-negara lain berguru kepadanya, cara mengajarnya sabar sekali sehingga mudah diterima oleh para santri, semuanya itu deketahui pula oleh sang raja, sehingga para santri pun makin giat belajarnya ||
  6. || Sang raja yang berhak memberi ganjaran serta menghukum rakyat, rakyat yang mujur mendapat hadiah bumi pradikan (desa) yaitu tanpa bekerja tetapi mendapat (upah) nafkah, siapakah yang dapat berbuat demikian?  meski nenek moyangmu sendiri tak mungkin memberikan tanah (bumi pradikan) untuk dikerjakan tanpa membayar kecuali hanya sang raja ||
  7. || Sang rajalah yang dapat mengangkat derajat orang serta memberi ganjaran yang berupa pangkat, siapa pula yang dapat memperoleh ganjaran yang sedemikian itu? tentu saja hanya mereka yang rajin, setia, serta tunduk dan kepada segala kehendak rajanya ||
  8. || Bersabarlah sambil melaksanakan segala usaha sehingga cita-cita yang dituju dapat tercapai, berlakulah lemah lembut, dalam segala hal tertib, teliti dan tepat, jangan sekali-sekali menyesal akibatnya tak dapat tidur, selalu gelisah, selalu marah-marah, karena belum tercapai cita-citanya ||
  9. || Memang kesedihan itu dapat terlupakan sebentar, sementara mabuknya menjadi-jadi oleh minuman keras, tetapi setelah tidur, akan hilang sendiri mabuknya dan kembali ingat akan kesedihan semula, badan lesu, tukang mindring (cina) datang menagih (hutang), diusir pun tak mau juga pergi, bahkan timbul pertengkaran, akhirnya lari dan berbantah dalam keperdataan, hasilnya tetap di anjurkan supaya mau membayar hutangnya ||
  10. || Kalaupun ia mendekat, hanya menyatakan bahwa ia tidak mempunyai uang sebagai pembeyar hutangnya ia berusaha menyusun kata-kata yang sebaik-baiknya untuk menghilangkan/manghindari si kucir yang berhasrat menagih hutang, si kucir malah makin marah karena ia sudah berpengalaman menghadapi basa-basi semacam itu, oleh karena ketidakfasihan orang cina berbahasa Jawa justru menyebabkan masalah cepat selesai, inilah yang dipakai sebagai alat untuk menyelesaikan setiap masalah ||
  11. || Oleh karena itu manusia jaman sekarang harus dapat menahan segala keinginan yang tak ada gunanya, pertimbangkanlah dahulu masak-masak,| bukti-bukti sudah banyak, si tukang mindring dengan rendah hati membujuk orang untuk berhutang, si kucir membongkok-bongkok, tetapi sebenarnya ia memberaki wajahmu sampai rata, dan baunya merajalela ||
  12. || Akhirnya tiada seorangpun yang mau menyapa, tetapi jika orang sedang mujur, banyak orang yang datang, ada yang berkata, “saya dahulu ikut mendoakan, ketika kau masih dalam keadaan miskin,” yang demikian  itu sudah menjadi lumrah, ibarat, “ada lintah orang menghindar, ada ikan orang datang berebut” ||
  13. || Bau-bauan yang harum, kain keling dan ikat pinggang cinde, mahkota dengan kalung rantalnya, seperti halnya mempelai, pasti senang orang-orang mendekatinya, bahkan mereka masing-masing diberi jamuan lagi, sebaliknya orang yang mendapat musibah, dan dibawa ke penjara, tidak ada yang mengantarkannya ||
  14. || Berbuatlah secara cermat agar selamat, setiap hari akan berdatanganlah sanak saudara, semuanya dalam suasana kegembiraan, karena dapat menghidangkan sesuatu ala kadarnya, sambut­ menyambut dengan segala keikhlasan ati, sehingga hidangan pun disambut dengan lahfap, sebaiknya jika orang banyak hutang, meski hidangannya lezat, tamu-tamunya tak menyambutnya dengan lahap ||
  15. || Karena iba kasihan terhadap seseorang akhirnya dapat juga mendapat kesengsaraan, oleh karena itu, janganlah tergesa-gesa menaruh hati ada orang, pertimbangkanlah dahulu masak-masak, apakah seseorang perlu di kasihani, berdolah selalu agar cita-cita kita dapat dengan mudah tercapai ||
  16. || Sadarlah bahwa dirimu itu daif atau lemah, yang berkuasa hanyalah Tuhan, berserahlah diri kepada Tuhan, tanpa menolak kehendak-nya, biasanya akan tercapai apa yang kau cita-citakan, jadi, taat kepada yang berhak menentukan, bermohonlah akan belas kasih Tuhan ||

PUPUH XXV
GAMBUH

  1. || Peringatan bagi orang yang khilaf, bodoh, tak mau diajar tentang kebaikan, tak mau berpikir, malah salah paham, budinya rendah dan kurang pengetahuan ||
  2. || Yang bertugas sebagai tangan raja diusahakan supaya tahu kebijakan dan berpikiran jernih dalam menanggapi kehendak raja, tepat dan mantap, tanpa adanya keraguan ||
  3. || Cara bekerja yang semrawut, kepentingan pribadi yang diutamakan, maksud hati ingin kaya dengan mudah, tetapi akhirnya hanya ditertawakan orang saja, seorang jaksa selalu ingin berbuat demikian ||
  4. || Janganlah berbuat demikian! jun jung tinggilah wejangan para leluhur, dalam mengikuti wejangan tersebut harus juga menggunakan nalar yang panjang, jangan sampai pikiran menjadi ruwet, ternyata hatinya bolong ||
  5. || Kekhawatiran akan lenyap, jika tidak lagi mengutamakan keinginan pribadi, karena ingat akan wejangan orang-orang tua, keutamaan seorang mantri (pegawai, petugas) adalah tabah hati menghadapi segala kesukaran ||
  6. || Roman muka harus baik, teguh, tenang dan lemah­lembut hatinya, segala yang akan dilakukan harus direnungkan, karena anda dekat pada raja ||
  7. || Mantri itu utusan raja, harus pandai berbicara dan jelas, duta raja itu harus pandai dalam segala hal, tidak pantas kalau bodoh ||
  8. || Adalah perlu sekali mempelajari tugas para Tumenggung, jangan segan-segan membangkitkan hati yang tidur dan jangan lupa ajaran orang lain ||
  9. || Akhirnya dirinya pontang-panting, budinya tidak muncul, dijadikan mantri pemuka, jika budinya rusuh, tentu akan diberhentikan ||
  10. || Janganlah selalu tertarik pada perbuatan seperti itu, pengorbanan yang sedemikian itu harus dilaksanakan dengan sabar supaya berhasil, adi bupati jangan memalukan ||
  11. || Agar jalannya keturunan menjadi urut, sehiqga hidupnya menjadi beruntung, seolah-lah hidupnya itu tidak mengalami kematian, karena diganti oleh keturunannya dan tempatnya tetap ||
  12. || Amin, amin ya alkamdulillahi robil alamin, manusia tidak berkuasa dan hanya sekedar melaksanakan (kehendak Tuhan) dan bermohon kepada Yang Maha agung, semoga selalu mendapat ridhaTuhan ||

PUPUH XXVI
MASKUMAMBANG

  1. || Sudah wajiblah hamba Tuhan untuk mengambang, artinya berserah diri kepada Tuhan yang selalu mengasihi (kepada hamba-nya), semoga kasih sayang itu untukselamanya ||
  2. || Inti kehendak Tuhan hendaknya dirasakan agar tidak terjadi salah faham, sebenarnya masalah hakiki manusia adalah merasakan ||
  3. || Sesungguhnya arti yang hakiki ialah ibarat orang mengabdi harus jujur dan rajin, segala kemalasan harus dibuang ||
  4. || Jangan ragu-ragu membuang kesenangan yang menyebabkan gagalnya pikiran, ingat ciptanya orang mengabdi itu harus rajin || 164
  5. || Orang yang rajin pasti tahu kehendak Gusti, jelas dan tidak samar-samar, orang itu dapat mengenal setelah melihat mengenai kehendak orang yang dihadapi ||
  6. || Akhirnya, apabila engkau memang mendapat belas-kasih, bersyukurlah, kasih itu tak dapat diminta, manusia hanya dapat menerimanya ||
  7. || Kadang-kadang datanglah kasih Tuhan bertepatan kuatnya cinta kasih manusia kepada sang raja ||
  8. || Simpulkanlah, dalam contoh-contoh tersebut takdir Tuhanlah yang berlaku, namun manusia wajib memohon kasih ||
  9. || Usaha-usaha yang bersifat setengah-setengah tidak akan berhasil, sedangkan kurang (tidak) teliti merupakan jalan kearah sengsara, sertailah usaha itu dengan kesabaran hati ||

PUPUH XXVII
K I N A N T H I

  1. || Syarat-syarat orang menjadi luhur adalah kuat bertapa dan kurang tidur, selalu ingat ada tingkah laku yang baik, jika berbicara harus manis agar sesamanya mudah tertarik, yaitu sesama manusia ||
  2. || Usahakanlah hatimu dapat menerima apa yang terjadi, lebih-lebih apabila dirimu dikuasai oleh orang lain, jika engkau dapat menyesuaikan diri dengan kehendak orang lain, (hidupmu) tak akan mendapat kesukaran ||
  3. || Jadilah seorang penurut, yaitu menurut dalam arti berserah diri terhadap Tuhan, lebih untung lagi sebagai seorang pembesar, akan selalu disenangi bawahannya, martabatnya menjadi lebih tinnggi ||
  4. || Bagaikan bintang pagi di waktu subuh, bersinar­ sinar indah kemilau, menyinari seluruh negeri, ranungkanlah agar selalu mendapat kasih Tuhan ||
  5. || Dibuat baik supaya menjadi pasti, yaitu pasti utama dan teliti, tetap menjadi pengayom rakyat, sehingga hati rakyat selalu tentram, orang yang semacam itu pasti dapat di contoh, hatinya bagaikan bula nyang tengah berkembang ||
  6. || Dapat menjadikan terang hati yang kusut, ruwet karena mengandung rahasia, takut kalau-kalau ketahuan oleh sang raja, akhirnya yang berhati jahat itu hancur juga ||
  7. || Terlunta-lunta diusir oleh sang raja, diselimuti hawa yang dingin, sampai di tempat yang terang menjadi sengsara, jarang orang yang menegurnya, jelas akan menjadi sengsara, karena tidak menurut kehendak raja ||
  8. || Sangat menyesal kalaupun mati di rantau orang, lalu lalang sendirian, bahasanyapun Jawa, sukar orang lain dapat menanggapinya ||
  9. || Makannya pun hanya nasi dan garam, lomboknya hanya satu biji, pagi-pagi sekali sudah di bangunkan, disuruh mencangkul di kebun kopi, itupun disertai pukulan, Kartawilaga hanya mengingatkan ||
  10. || Ternyata tanah bengkoknya itu (lungguh) didapat oleh si nenek karena membeli duaribu Inggris kuna, kedua cucunya dapat menjadi mantri (pegawai), yang seorang di “gedong kiwa”, yang seorang lagi di “gedong tengen”, tidak menurun kepada anak ||
  11. || Karena sudah dianggap sudah menjadi miliknya, karena dibelikan oleh neneknya yang mempunyai setan, sehingga kaya sekali sehingga dapat membeli mantri, kepalanya menjadi besar karena boleh menyandang gelar Raden Bei ||
  12. || Gelar Den Bei karena jalan belakang, Sang Bupati di suap, Sang Bupati berdusta terhadap raja, memohonkan gelar tanpa silsilah riwayat pekerjaannya ||
  13. || Berasal dari Ki Ageng Butuh, Sang Bupati hidupnya compang-camping, rajin ke tempat perjudian jarang menghadap raja ataupun bertugas kemit, pura-pura pamit sakit padahal sedang berjudi ||
  14. || Payah di tempat yang satu, pindah ke tempat ang lain, ke kamar bola (tempat bersenang-senang orang belanda), ia lupa bahwa esok hari Senin, karena mabuknya menjadi- jadi, akhirnya pamit lagi karena sakit pusing, mulas, muntah-muntah, dan berak-berak ||
  15. || Kiranya maksud hati kesampaian, namun selalu malas berpikir, karena selalu melaksanakan kesenangannya, lupa bahwa ia mempunyai Gusti, jelas memang ia menyleweng ||
  16. || Ia menjadi takut karena insaf atas kesalahannya, lama sudah ia dibiarkan sa ja, sebagai tumenggung pun ia masih canggung (bodoh) namun ia pandai memberi nasihat kepada mantri agar ia selamat ||
  17. || Karena atasannya tidak pernah tidur, selalu mendengarkan kabar bentang tingkah laku bawahannya, Bupati itupun bertobatlah, yang sedemikian itu patut di contoh, yaitu Sang Bupati tadi ||
  18. || Tujuannya agar keturunannya dapat mewarisi kedudukannya, hal sedemikian itu merupakan suatu karunia yang disiapkan sebelumnya secara cermat untuk menjadikan nayaka atau “suka guru”-nya Negara ||
  19. || Alangkah termahsyurnya, seorang yang diangkat dera jatnya oleh raja, dihormati oleh sesamanya meskipun tak usah dengan uang,  “cis, tak malu rengen sekap kalu tradhak jaga baik ||”
  20. || “Kalu sukak trima wuruk, jadi untungnya sendiri, dikata baik tingkahnya, orang sukak dengen asih,  nah sudah habis pantunnya, yang ini tembang kinanti||”

PUPUH XXVIII
S I N O M

  1. || Bagaikan pohon kejatuhan hujan, demikianlah ibarat bagi orang yang tengah mendapat kasih Gusti, segar-bugar cahayanya, merasa dirinya akan segera bertunas, meski belum yakin apakah juga akan berbuah uang akhirnya dapat dinikmati serta isinya dapat ditanam lagi sehingga rasa buahnya tetap seperti induknya tidak berbuah ||
  2. || Namun pegawai (nayaka) yang dengan sengaja berusaha agar naik pangkatnya, sungguh tidak mudah, ia harus menunjukan dapat menjaga negara, daerah yang ada dalam kekuasaannya termahsyur, selalu berusaha membawa kemuliaan bagi seluruh negri, demikianlah seharusnya orang yang berpangkat nayaka atau mentri ||
  3. || Semangat harus keras, tetapi kepala tetap dingin, jauh dari semangat pamrih, demikianlah pegawai yang perwira untuk menjadi teladan bagi pegawai­pegawai lain, buanglah segala kenistaan dan carilah segala yang utama ||
  4. || Seorang yang mengabdi kepada negara yang di jadikan Bupati mempunyai banyak tanggungan, oleh karena itu harus tahulah ia akan watak­watak para mantrinya, dalam melaksanakan tugas jangan bingung, sehingga perintahnya dapat diturut, sebab sudah mengetahui kepribadian para mentri bawahannya ||
  5. || Misalnya para ulama (cendikiawan), khotib dan modin di daerah pradikan sampai kepada Juru Suranata, tak mungkin tahu kewajibannya masing­ masing karena  jika atasannya (lurahe) memberi ajaran yang baik mereka tak mau melaksanakannya, malas mengkaji Quran, tidak mempedulikan ajaran-ajaran kitab-kitab, lupa bahwa bidang tugas mereka adalah keulamaan ||
  6. || Lebih dekat pada madat, madon, perjudian akhirnya akan menjadi maling, lupa bersembahyang jauh dengan kyai (ahli agama), juga lupa pada penghulu, bahkan hanya selalu mengadu ayam, yang demikian itu biasa dipecat dari jabatannya karena disangka penjual candu gelap ||
  7. || Wahai, para ulama, pelajarilah dengan tekun ilmu kanjeng rasul, tentu banyak manfaatnya, adapun yang sudah dibeberkan secara jelas ada empat macam, rasakanlah/hayati dengan seksama satu per satu dengan jelas, karena itu semua dalam bahasa Arab ||
  8. || Bukan bahasa orang Jawa, jangan hanya diawurr saja, harus diteliti, tanyakanlah pada orang pandai lafal, makna serta muradnya/maksudnya, jadi betul-betul dapat mengetahui dengan sempurna, menuju ke sasarannya, harus berguru kepada ulama yang sudah benar-benar disebut mukmin ||
  9. || Akan lebih utama lagi menjalankan solat tasbih tiap tengah malam dengan rasa yang hening menjelang bersembahyang laksana nyala jadi satu dengan apinya ||
  10. || Demikianlah tamsil solat yang benar-benar, para mukmin yang pandai telah mengetahui hal itu, yaitu hubungan antara kawula dengan Gusti, keduanya menempati tempat masing-masing, jangan sampai salah tempat, wahai para santri, kerjakanlah demikian, jangan meminta kepada siapapun kecuali kepada Tuhan ||
  11. || Sebabnya berkepanjangan dongeng tentang orang buta untuk memberi pelajaran kepada rakyat, pada suatu saat Nri Nata memberi peringatan kepada seluruh rakyatnya agar dapat mengerjakan tugasnya masing-masing, “Sri Narendra Sarira Purna Sajuga”, artinya Sri Raja telah menyempurnakan jasadnya menjadi satu ||

PUPUH XXIX
DHANDHANGGULA

  1. || Mulailah Sang Nata memberikan pesannya kepada seluruh wanita yang bersuami, mereka harus menurut kehendak suami,  berusahalah menyenangkan hati suami karena hal yang sedemikian itu dapat menumbuhkan cinta, laksana guna-guna dan perangsang cinta, syaratnya ialah harus selalu sadar ||
  2. || Janganlah mabuk, tidak ingat atau lupa karena hal itu menimbulkan penderitaan jasmani dan rohani, itu benar-benar tidak memikirkan ajaran dan merusak ke jernihan budi dan merusak raganya karena malas mengikuti ajaran ayah dan ibu, yang sebenarnya patut di taati, karena merekalah yang menyebabkan kita hidup ||
  3. || Tepatilah kewajiban seorang istri, rahasia dirinya harus di jaga dengan baik sehingga betul-betul menjadi wanita yang tertib, tertib berarti urut dan teratur dalam melaksanakan kewajiban istri, tepat dan benar artinya tujuan hatinya hanyalah untuk suaminnya saja. Usahakan agar merasa dirinya penting sekali, sebaliknya usahakanlah untuk berbudi bahasa yang manis ||
  4. || Jadi terpakai dan diindahkan suami, karena engkaupun telah taat, dan mengerti akan kehendak suami, itulah yang dinamakan bersikap “anoraga”, dan karena Tuhan akan melimpahkan kasih-nya, terhindar dari kesedihan, contoh teladan dari masa lampau dari wanita yang dikasihi suaminya hendaknya kau lestarikan ||
  5. || Melihat gerak gerik serta keinginan suami, agar menyenangkan hatinya, berbicaralah seperlunya saja, (yang tidak perlu jangan dikemukakan), hati suami akan bersemangat jika melihat isanya punurut, si istri akan gembira, diturut dan di penuhi kehendaknya, hatinya tidak akan kecewa seperti pohon kejatuhan hujan, daunnya rimbun, bunga dan putiknya lebat, tentram, hatinya was­was ||
  6. || Tentramkan hatimu selalu, jangan goyah sedikitpun, segala kewajiban istri dapat dilaksanakan, sediakan pakaian suami, juga kebutuhan makannya, perhatikan kesenangan suami, baik makan pagi, siang, petang maupun malam, pagi-pagi benar harus sudah berganti pakaian, lakukan, jangan bosan-bosan agar suami senang ||
  7. || Itulah yang harus dipikirkan agar suami selalu berseri-seri dan betah tinggal dirumah, jika terjadi demikian, sesungguhnya istrilah yang beruntung, sebab suami akan selalu menungguimu, jika dapat bersihkanlah badanmu dan pakailah bunga­ bunga yang semerbak, karena hal itu dapat membangkitkan semangat suami ||
  8. || Pada umumnya wanita itu mempunyai nafsu yang besar dan berpikiran pendek, mudah lupa serta senang dimanjakan, meski ada uang sedikit saja, dua ringgit asal ada berita, bahwa disana ada dukun yang dapat memberi syarat, pinang dan sirih agar disayang suami, biasa tanpa pikir lagi ia percaya ||
  9. || Oleh karena itu banyak juga wanita yang baru seminggu kawin, hartanya sudah habis diberikan kepada dukun bahkan masih minta tambahan milik suaminnya, jika suaminya tahu, marah-marahlah dan dipukuli, yang jelas akan mengurangi cintanya pada istri, badan lesu, hati susah, suami tidak mau menghiburnya, bahkan marah-marah saja, nah, akhimya mendadak sakit ||
  10. || Setiap hari selalu mengeluh, menyesali nasibnya, “Ya Allah, tidak seperti saya ini bemasib celaka, maju sulit mundur pun malu”, namun telah menjadi watak wanita, jika menderita susah, terbayanglah ayah-ibunya dan dipanggil-panggil, tidak begitu bila suaminya mencintainya ||
  11. || Lupa akan asal mula hidupnya, karena selalu memikirkan hal yang senang saja, jika dipanggil, ia selalu menjawab “nanti”, sebaliknya kalau ia bertengkar ia berlari-lari pulang, aduhai, wanita hendaknya engkau suka mengikuti semua ajaran yang baik, cegahlah hatimu yang meluap-luap itu agar dapat menjadi teladan bagi putra-putrimu ||
  12. || Sudah merupakan hal yang biasa bahwa manusia itu akan mempunyai keturunan, jika sang ibu berbuat jelek, putra-putrinya akan terpengaruh juga, tidak mempunyai harga diri, setelah ibu bapaknya meninggal, tidak ada yang menghormati/menghargainya, diangap keturunan orang-orang rendah ( sudra),| sampai di negeri asing pun orang tidak tahu bahwa ia itu adalah keturunan orang rendah ||
  13. || Takmungkin tahu hal-hal yang baik, suka bohong, banyak bicara yang tidak nyata, agar orang biasa mempercayainya sehingga akhirnya biasa membohongi orang, ingin seperti pokrol jendral yang hanya dapat berbicara saja, orang semacam itu sebenarnya pencuri juga yaitu pencuri kata (durjana sabda), wahai, manusia, janganlah hendak menjadi sengsara karenanya ||

PUPUH XXX
ASMARADANA

  1. || Jangan lupa akan kedudukan suami, lupa karena sibuk dalam asmara dan selalu bersuka-sukaan saja, sebaiknya berdoalah selalu sesuai dengan kedudukan seorang istri agar tidak kelihatan bodoh, bahkan akan kelihatan pandai daripada ayahnya ||
  2. || Memang demikian orang hidup itu, harus berusaha mencapai cita-citanya, usahakanlah dengan penuh kesabaran agar semua keinginan dapat tercapai terus-menerus dengan mudah, ingat bahwa segala keinginan yang diusahakan secara tergesa-gesa itu dapat mengakibatkan kesia-siaan ||
  3. || Berserahlah kepada Tuhan yang telah memberi hidup kepadamu, harus tanggap secara cermat dan tepat terhadap segala perlambang, terutama perlambang hubungan antara Gusti dengan kawula, harus selalu dapat menyesuaikan keinginan-keinginannya sehingga dalam berdoa selalu khusuk (khidmat) agar perlambangannya tepat ||
  4. || Yang dimaksud dengan ” jomlah” misalnya seorang istri wajib mengetahui watak-watak suami agar selalu dikasihi terus menerus, sekurang­kurangnya hatinya akan lebih terbuka bagimu ||
  5. || Dongeng-dongeng mengenai para putri pada jaman dahulu sudah banyak diceritakan, terutama di Jawa ini, pilihlah yang utama sesuai dengan kemampuan diri sendiri, disesuaikan juga dengan jamannya agar kelihatan lumrah dilihat orang banyak ||
  6. || Penulis sudah kepayahan sehingga cara memberikan wejangan semakin lamban dan kurang tertib urut-urutannya, maksud penulis hanyalah sekedar memberi peringatan agar wanita dapat hidup sejahtera ||
  7. || Laksana orang mimpi, bangun tidur lagsung melanjutkan lagi menyelesaikan gubahan ini, yaitu gubahan tentang wejangan bagi para wanita, sebaiknya jagalah kebersihan, baik didalam rumah, maupun tubuhnya sendiri agar sanak saudara senang bertandang ke rumahmu ||
  8. || Syukurlah jika bisa menyambut dengan hidangan, setidaknya sambutlah dengan tingkah laku yang sopan-santun, agar tamu gembira dan merasa betah bertamu, hal demikian itu disebut bojakrama ||
  9. || Boja berarti suguhan makanan, krama berarti bahasa yang lemah lembut agar tamunya betah dan tidak lekas-lekas pulang, ini berarti tuan rumah dikasihi oleh sesamanya, renungkan hal ini dan contohlah hal-hal yang semacam itu ||
  10. || Sesungguhnya manusia yang dikasihi oleh sesamanya berarti Tuhanlah yang menggerakkan hati mereka itu, semoga kasih Tuhan yang sedemikian itu berlaku terus-menerus dan turun­temurun sampai hari kiamat ||
  11. || Berkasih-kasihan atar sesama hidup itu bermanfaat secara lahir maupun batin, segala keinginannya dapat tercapai, begitu pun derajatnya, manusia yang ingin luhur derajatnya harus menjauhkan diri dari perbuatan yang rendah ||

@@@
Tamat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: