Posted in SERAT NABI YUSUP

SERAT NABI YUSUP (terjemahan)


PUPUH I
ASMARADANA

1 . Dikuatkanlah hendaknya dalam menggubah karangan ini, yakni cerita Nabi Yusuf, adapun dalam gubahan ini, diberikan atau dituliakan dalam bentuk tembang, yakni tembang Asmaradana, tertarik hati saya mendengarnya, akan tutur cerita Nabi Yusuf, semoga tiada rugi dan celanya.

2 . Luputlah dari tindak yang tak baik, diridoi oleh Yang MahaKkuasa, diteguhkan dalam agama, diaimpangkan dari tindak yang jahat, ditunjukkan dalam jalan keselamatan, di jauhkan dari pikiran yang bukan-bukan.

3. Sungguh bijaksana Nabiullah itu, kasih Tuhan sangat besarnya, kepada Baginda Yusuf tersebut, Tuhan bersabda dalam kitab Quran, hai, muhammad cobalah dengarkan, ­ akan cerita Nabi Yusuf itu.

4. Sangatlah baik kiranya untukmu, dari adanya cerita lain tersebut, konon dalam cerita itu, ada seorang kafir dari Mekah, mengucap, ya Muhammad, aku membawa tuliaan (kitab?), demikian konon kabamya.

5. Maka datanglah Jibril, kepada Nabi Mustafa, kepada Rasul Allah itu, ia berkata, ini lah kitab Yusuf, anugerah dari Yang Maha Kuasa.

6. Konon ada seorang pendeta pula, ketika Rasul tersebut, sedang membaca Quran, banyak para sahabat mendengarnya, si kafir yang dari Mekah, berusaha dan berupayalah sudah, mengundang pula yang lain.

7. Yang dari desa ajam ini diauruhnya membaca seloka berada di depan berhala supaya pada mendengarkan terhadap Rasul yang membaca quran. maka Jibril pun datang kepada Nabi muhammad.

8. Raja berhala pun tiba, supaya membaca surat atau kitab Yusuf, kata si pendeta, itu tatkala Nabi Muhammad, sedang memangku cucunya, yang bernamaHhusin, yang sangat dikasihinya.

9. Maka turunlah Jibril, kepada Rasul tersebut, sambil berkata dia sekarang, terhadap Nabi Mustafa, restu dan salam Yang Sukma diaampaikan kepada tuan, juga kepada cucu tuan.

10. Atas kebijaksanaan dan kehendak Tuhan, telah dititahkan seorang raja, yang nantinya akan membunuh, cucu tuan tersebut, tapi matinya akan diaamarkan, seperti membunuh domba belaka, terhadap cucu tuan tersebut.

11. Siapa yang mendengar berita ini, maka segeralah akan bersedih, Fatimah pun menjadi berduka, dan sangat berprihatin,  Jibril datang menghadap sang Rasul, dengan membawa kitab Yusuf itu.

12. Tiada diceritakan sakitnya, begitu pun, Nabi Rasul beserta putranya, tidak diketahuinya pula, akan sakitnya si putra, tersebut ada cerita yang lain, yakni Baginda Yusuf.

13. Yang tiada lain adalah putra Yakub, yakni yang bernama Yusuf ini, adapun Baginda Yakub tersebut, adalah putra Baginda Iahak adalah putra ibrahim diaku sebagai kawan oleh yang.

14. Setelah demikian, Baginda Yusuf bersaudara, laki-laki dan wanita, tunggal ibu dan ayah, Abunyamin namanya Jani nama yang perempuan, yang tunggal ibu ayah.

15. Dan toga anak yang masih kecil-kecil, ditinggal oleh ibunya, semuanya beralur sebagai adik, adapun yang namanya Buyamin itu, tiga bersaudara yang sudah tak beribu lagi, ketiganya saudara seayah.

16. Kabir dan Sirarai,l adalah bersanak saudara, sedangkan Baginda Sueb, adalah bersaudara pula, dengan bibi Baginda Yusuf sanak dari Baginda Yusuf, adalah Baginda Sueb.

17. Saudara Nabi Yusuf tersebut, ada sepuluh tunggal ayah, yang paling tua yaitu, yang merupakan anak sulung, Yahuda dan Sirobil, serta kemudian Lawa, Samaun, Ruya, Yalun, lalu adiknya.

18. Lagi ialah si Asjar, si Badan itulah pada waktu itu, si Jadan dan Arsa, tapi tak ada yang mirip, dengan tampang Nabi Yusuf, dialah yang paling tampan.

19. Cakal dan tampannya berlebih, sang Baginda Yusuf itu dalam rupa, tak ada yang menandinginya, di seluruh iai jagat, baik tingkah dan lagak lagunya yang menawan, tubuhnya bagus dan halus ibarat bidadari dari sorga.

20. Matanya redup-redup, raut wajahnya demikian pula, bersinar bagai rembulan, yang sedang purnama, berkelip bintang terang, giginya bagai mutiara, kalau tersenyum sangat memikat, mania bagai madu.

21 . Kejapan matanya sangatlah mania, wajahnya tak ubahnya, pengobat bagi yang sedang sakit, melihat wajahnya saja sudahlah sembuh, tak ada yang menyamai, dalam mendapat kasih Yang Maha Kuasa, sakti lagi pula bakti kepada Tuhan.

22. Sangat berlebih kasih Hyang Widhi, kepada Baginda Yusuf, begitu pun ayah dan ibunya, sangat kasih dan sayang, mereka tak biaa berpiaah, semua itu dikarenakan, cintanya yang dalam kepada sang putra.

23. Setelah lama kemudian, Baginda Yusuf berusia, dua belas tahun umurnya, Baginda Yusuf sedang beradu (tidur), ditunggui oleh ayahnya, Baginda Yusuf bermimpi, dalam impian ia melihat.

24. Dalam mimpi itu Nampak, matahari dan rembulan, beserta bintang sebelas jumlahnya, pada bersujud kepadanya, di hari malem Jumat, tatkala mimpi itu terjadi, Baginda Yusuf nampak bersinar.

25. Bangunlah ia di waktu fajar, ayah, saya bermimpi, ada bulan dan matahari, dengan bintang sebelas jumlahnya, Nabi Yakub pun berkata, sudahlah, diam anakku jangan geliaah dengan impianmu

26. setelah diberitahu sedemikian maka Baginda Yakub kemudian menjadi duka dan sedih hati kasihan terhadap putranya Nabi Yakub lalu berkata karena itu anakku, janganlah berkata pada saudaramu .

27. Nabi Yakub pun tahu, bahwa putranya telah, memahami apa yang terjadi, dari impian Yusuf tersebut, demikianlah Baginda Yakub, karena itu bagi Baginda Yusuf, merasa takut kalau didiamkan saudaranya.

28. Bertanyalah Yusuf perlahan, akan arti impian tersebut kepada ayahnya, ayah katakan sekarang, apa maknanya impian saya itu, Nabi Yakub berkata, oh, anakku, alangkah baiknya impianmu itu.

29. Dikatakanlah kepada Yusuf, akan arti impiannya tersebut, oleh ayah andanya kini, bahwa di hari kemudian akan menjadi raja, semua sanak saudaramu, akan kau perintahkan.

30. Bintang yang jumlahnya sebelas tersebut, diumpamakan sebagai saudaramu, sedangkan bulan dan matahari, sebagai ayahmu, rembulan adalah ibumu, saudara yang sebelas itu, akan bersujud kepadamu .

31. Berkata ayahnya perlahan, sudah tahulah kini engkau, semua itu kasih Yang Maha Kuasa, wajiblah bersyukur, berpujilah kepada Tuhan, impianmu itu benar-benar, tak ubahnya kau seorang Nabi.

32. Tatkala si Yusuf, mengatakan impiannya kepada ayahnya, tak ada yang tahu dan medengar, tapi permaiaurinya, sang Baginda Yakub tahu, saudara tiri Baginda Yusuf, tahu dan segera mengintip.

33. Berkatalah permaiauri kepada anaknya, yang bernama Samaun itu kemudian Samaun berkata pula, kepada saudaranya semua, semua pada berunding dan bicara, di rumah saudaranya yang nomor dua, yakni yang bernama Robil.

34. Mereka mempergunjingkan Yusuf, oleh semua saudaranya itu, semua sepakat dan bermaksud, hendak mengganggunya, berangkatlah mereka, mendatangi Baginda Yusuf, hendak bertanya mengenai mimpinya.

35. Bagaimana saudaraku kemarin, ketika mengatakan impian kepada ayah, saudaraku katakan sekarang, apakah sebenarnya impianmu itu, Nabi Yusuf merasa kerepotan, di hati selalu teringat, akan pesan ayahandanya.

36. Kalau harus mengatakannya di hati, akan pesan ayahandanya, kalau harus mengatakannya di hati, Nabi Yusuf merasa kebingungan, kalau impiannya dikatakan, artinya meninggalkan pesan ayahnya, kalau tidak dikatakannya pula, nanti aku berbohong.

37. Sanak saudaranya pada berkata, akan membunuhnya, kalau tak dikatakan, kepada Nabi Yusuf, maka diceritakanlah impian itu, semua tahu akan impian tersebut, yakni para saudaranya.

38. Maka menjadi dengkilah, semua saudaranya itu, mereka hendak mengkhianati Yusuf, maka menghadaplah merek,a datang ke ayahnya sudah, hendak mengajak dia.

39. Kita hentikan mengenai sanak saudaranya ini, sabda Rasul yang terucap, kelakuan dan tingkah laku baik itu, tentu selalu akan, membawa nama sanak saudaranya.

40. Maka para saudaranya itu, pada menghadap ayahandanya, semua memamitkan Yusuf, bahwa ia pergi berburu, sambil menggembala domba, sebab para sanak saudaranya juga, semua sudah memiliki domba tersebut.

41. Semua anak -anaknya itu, dberi seribu domba seorang, tapi Nabi Yusuf sendiri, domba enam ribu, maka semakin irilah, semua saudaranya, mereka hendak membawanya berburu.

42. Setelah mendengar, kata-kata semua putranya, wajahnya menjadi merah, badannya gemetar, giginya bergemeretakan, Baginda Yakup pun tahu, kalau putranya hendak diperdayakan.

43. Setelah pada menghadap, semua saudara itu, bermaksud menipu sekarang, dengan jalan mengajak berburu, kepada Yusuf, para saudara tersebut, pamitnya para putra tersebut ia tahu, kalau putranya (Yusuf) sebenarnya tak mau.

44. Karena Yakub itu adalah, Nabi yang memiliki ketajaman, yang diberikan oleh Allah, Baginda Yakub berkata, kepada putranya semua, tak boleh kalau putranya, dibawa untuk berburu.

45. Tak boleh aku kalau, nanti diterkam anjing hutan, Nabi Yusuf diberi tahu, oleh para kakaknya, nanti kami yang akan menjaga, demikian termakan oleh Nabi Yusuf, kata-kata para putra semua.

46. Setelah demikian itu, Baginda Yusuf dibawa, oleh para saudaranya, mereka pergi berburu ,hampir tiba di hutan, Nabi Yakub mengejamya, mengiring sampai di jalan.

47. Berkata sambil memperingatkan, Baginda Yakub kepada putranya, tapi sangatlah kecewa, benar-benar kecewa karena, Nabi Yusuf sekarang, dibawa oleh para sana saudaranya.

48. Kita tinggalkan dulu soal putranya  ini, arkian sabda Yang Maha Kuasa, datang terdengar oleh Nabi Yakub, itu semua karena kau, dan kau pun tak percaya, bahwa sekarang dalam pertindunga-KU kau terlampau mengasihinya.

49. Maka sadarlah Nabi Yakub, kalau dirinya salah dan kernudian bertobat, apa yang terpikir dalam ciptanya, bahwa dirinya telah bersah, karenanya ia bertobat, tak mau pasrah Kepada Yang Maha Kuasa, hanya karena mengingat kasihnya pada putra.

50. Alkisah si Nabi Yusuf, berganti diaunggi ia, oleh para kakaknya, ketika nampah oleh ayahnya, saudara perempuannya bermimpi, Baginda Yusuf masuk dalam mulut harimau.

51. Ia kemudian mendengar berita, Yusuf dibawa berburu, oleh para sanak saudaranya, maka ia pun mengejarnya, diikuti oleh ayahnya, menangislah ia, berpiasah dengan Nabi Yusuf, yaitu saudara wanita tersebut.

52. Ayahnya berkata dengan lembut, kepada anak wanitanya, katanya, mengapa engkau seperti ini, mengapa pula kau menangis sedih, menjawablah anaknya itu, saya kasihan dengan Nabi Yusuf, itulah sebabnya saya menangis.

53. Oh, anakku jangan menangis, menjawablah anak wanita itu, oh, ayah seberapalah artinya ini, tangis saya itu sebenarnya, lebih dari ini, tangis saya itu karena, ia lepas dan ayah tak tahu sebenarnya tentang dia.

54. Tak diceritakan dulu mengenai putrinya ini, alkisah sekarang kejadian mereka, para saudara yang membawa, Nabi Yusuf untuk pergi berburu, ketika datangnya di hutan,  mereka bemiat membunuhnya, kepada Nabi Yusuf, dilakukan oleh para saudaranya.

55. Setelah kalian bunuh aku, maka segeralah bertobat, memohonlah kepada Yang Esa, akan pengampunan kepada Yang Sukma, akan tingkah dan perbuatan kalian, atas karunia Yang Esa dari perbuatan watak setan.

56. Kita diamkan dulu mereka, terceritalah Bani Isarail, sedang bertapa samadi sekarang, dua belas tahun lamanya, memuja, mengaji dan berpuasa, karena ia mempunyai keinginan, untuk mengerti dan mengetalai iblis laknat.

57. Atas perintah Yang Widi, datanglah si iblis laknat, kemudian ia menunggui, lalu diaapanya ia, siapakah kau mendatangiku, kata iblis, aku ini hendak, memberi tahu umurmu.

58. Ketahuilah sekarang, bahwa umur anda itu, tinggal dua ratus sekarang, lalu lenyaplah si laknat tersebut, maka si pertapa tersebut, berbicara dalam batinnya, panjang juga usiaku itu kiranya.

59. Lebih baik aku berhenti sekarang, memuaskan segala kehendakku, bersuka ria dan bersenang, kalau sudah dekat mati, baru bertobat, pergilah si pertapa tersebut, ia menjalankan laku dan tingkah duniawi, sepuas-puasnya.

60. Sebelum mati ia melakukan, maksiat si pertapa itu, tak ketahuan dan tak menentu tobatnya, demikian bermacam-macam, orang yang melakukan maksiat itu, mengingkari tobatnya, itulah perbuatan sesat.

61. Demikianlah para sanak saudaranya itu, sudah jauh perginya, dari arah tempat, beradanya Baginda Yusuf, setelah tiba di hutan, segera diturunkan, Nabi Yusuf dari gendongan.

62. Setelah agak jauh, Yusuf pun dibikin sengsara, oleh para sanak saudaranya, dia diiring-iring, dihunuskan pedang, oleh Samaun, berlarilah, mengungsi saudara yang lain.

63. Itulah yang hendak pada membunuh, semua menghunus pedang, hati Nabi Yusuf tak samar lagi, tersenyumlah ia melihat, kepada saudaranya semua, diaapalah Baginda Yusuf, oleh saudaranya yang tua.

64. Yang bernama Yahuda itu, apa sebabnya engkau, tersenyum, tolol kau akan mati, yang kau pamerkan itu, apa faedahnya (artinya) kau tersenyum, menjawablah Baginda Yusuf, kepada semua saudaranya.

65. Sebabnya aku tersenyum ini, karena ada isyarat Tuhan, kata Samaun kemudian, bagaimana isyarat dari Tuhan itu, yang kini mendatangi dirimu, menjawablah Baginda Yusuf, untuk mencoba kepercayaan dan keyakinanmu.

66. Yang memberikan benih, benih kekuasaan tuan, yang sekarang ini menganiaya, menganiaya kepadaku, sekarang kalian semua, hendak membunuh diriku, itulah sebabnya mengapa aku tersenyum.

67. Merasa seperti diejeklah aku, karena aku mempercayaimu, tidak percaya kepada Yang, kini aku seperti di ingatkan olehnya, si saudara yang tua, menjadi kasihan kepada Nabi Yusuf, kalau kau kupertahankan (kubela).

68. Saudara-saudaraku pada berkata (meminta), yaitu saudara-saudara Yahuda, mengapa sekarang anda, akan mengkhianati janji, sebab dulu sepakat begitu (membunuh), berkatalah si Yahuda, semua ini bukan karena menolak (tak mau).

69. Bagi orang tak menepati janji, tak sungguh-sungguh dalam keburukan, kalau sekarang kalian memaksa, meskipun kalian hendak membunuhnya, tanpa seijinku, kalau kalian membunuh Yusuf, aku sendiri bunuhlah.

70. Diam mereka dan merubah janji, semua para saudaranya, sekarang mereka hendak memasukkan, ke dalam telaga Sadad, alkisah seorang pertapa, yang ada di dalam telaga, sudah, seribu tahun umurnya.

71 . Yakni kaum Yahud, yang bertapa di dalam telaga, namanya si pertapa itu Siraud demikian namany,a orang kuno jaman dulu, sebabnya ia bertapa karena mendengar, akan cerita Nabi Yusuf.

72. Segala peri kehidupan Yusuf ini, bersama saudaranya, akan wajahnya pula yang tampan, maka bermohonlah ia kepada Tuhan, bersama saudaranya, akan wajahnya pula yang tampan, maka bermohonlah ia kepada Tuhan, si pertapa itu, ingin melihat dan bertemu Nabi Yusuf, janganlah mati dulu (sebelum bertemu).

73. Maka diterimalah, permohonan sang pertapa, oleh Yang Sukma (Tuhan), mala ia mendengar isyarat (wisil), si orang pertapa tadi, maka pergi lah ia cepat-cepat, menuju telaga Sadad.

74. Pergilah ia menjalankan, si orang pertapa itu, berada di dalam telaga, sambil menjalanlan ibadat, adapun si pertapa tersebut, sebagai sarana malanannya, di situ ada buah delima.

75. Dengan lampu kurung, yang tiada sumbu dan minyaknya, tercantel tanpa gantungan, diberkahi Tuhanlah kiranya, si pertapa tersebut, demikianlah kebesarannya, kasih karena Tuhan.

76. Arlian si Nabi Yusuf, dijatuhkan ke dalam telaga, dimasukkan jeramnya yang dalam, maka melompatlah ia, sambil memeluk dada, si Baginda Yusuf itu, sambil menahan napas.

77. Bertemulah sang pertapa itu, di dalam telaga Sadad, berkatalah sang pertapa, Yusuf, lama sudah hamba, memikirkan akan diri tuan, lama hamba menanti, tak dipertemukan dengan tuan.

78. Dibawalah saya oleh Tuhan, hanya saya pada tuan, jangan salah perkiraan sekarang, akan kelakuan saudara tuan, yang menjalankan perbuatan jahat, sudah tuan katakan itu, akan perbuatan saudara tuan.

79. Karena hanya sekedar menjalani, apa yang diperbuat saudara tuan, atas kehendak Yang Maha Kuasa kin,i berada di dalam telaga, karena dengan doa, hamba memohon kepada Yang Agung, bertemulah dengan tuan.

80. Setelah bertemu, matilah si pertapa tersebut, mayatnya kemudian disucikan, dikubur oleh malaikat, lalu digantikan oleh Baginda Yusuf, tempat si pertapa tersebut.

81. Tak diceritakan dulu si Yusuf ini, alkisah para saudaranya, pada berkata semua, mereka berusaha mengabarkan, kepada ayah mereka, bahwa Baginda Yusuf sudah, dimangsa anjing hutan.

82. Semua pada menipu dengan cara begitu, supaya tidak diperpanjangkan, maka baju si Yusuf, sekarang diolesi dengan darah domba, sebagai pertanda, bahwa Baginda Yusuf sudah, dimangsa anjing hutan.

83. Mereka pun segera pulang, tiba di tempat waktu Isyak, kemudian semua menghadap, kepada ayahnya, semua nampak pada bersedih, melaporkan bahwa Baginda Yusu,f dimangsa anjing hutan.

 84. Mereka pada berkabar, tingkahnya tidak karuan, semua saling memberi alas an, kami sal ing menyerang (anjing hutan), tinggal si Yusuf sendiri, ia luka karena tidak ditunggu, itulah sebabnya ia dimangsa.

85. Ayahnya pun mendengar, berita dari para putranya, satu malam ia bersedih, rasanya sakit dan susah sekali, lama ia diam dan merenung, di saat pagi waktu Subuh, sadarlah si ayah itu.

86. Setelah sadar ia pun duduk, nampak putra tercintanya, diam kaku berkata perlahan, rasanya tidak benar berita tersebut, anakku dimangs,a macan, yang pergi di belakangku, kepadamu oh anakku.

87. Maka di lihatnyalah, akan baju si Yusuf tersebut, yang penuh dengan darah, diam membiau setelah mengamatinya, baju yang penuh darah, sedih ia bukan kepalang, lalu diam setelah mengamati.

88. Maka tersenyum Nabi Yakub ini, melihat akan baju tersebut, baju itu utuh tidak robek, pada berkatalah putranya, kenapa tuan demikian, tadi nampak bersedih, sekarang tertawa seperti rindu.

89. Ayahnya berkata lembut, tadinya karena aku, melihat akan baju itu, penuh darah yang memerah tua, anakku diterkam, macan, t:api sekarang aku tertawa, setelah mengamati baju tersebut.

90. Utuh tak ada yang robek, menurut perkiraanku, kau semua, bohong belaka menipu orang, dimakan anjing hutan, tidak ada yang rusak, sampai pada bajunya pun, masakan semua utuh tak robek.

91. Demikian orang yang menghadap Tuhan, semua itu kentara, umumnya banyak yang berbuat maksiat, itu pertanda banyak dosanya, yang tak menyandang dosa, itu yang benar dalam agamanya, tidak ada kemurkaan hati dan pikiran.

92. Demikian mukmin yang tak benar, badannya didatangi dosa, seperti tingkahnya orang yang tahu, ada baju pulang penuh darah, prihatinnya berlebihan, kalau di lihat kalbunya, benarlah taukhidnya itu.

93. Hilang prihatin hatinya, karena percaya akan kasih Yang, pemberian maafnya itu kepada, manusia yang benar taukhidnya, maka sekarang sirnalah, hilang prihatin dan susahnya sudah, karena percaya kepada kasih Yang.

94. Para putra berkata lagi, semua kepada ayahnya, benar hamba tangkapnya nanti, si anjing hutan tersebut, ayahnya berkata, baik, tangkaplah olehmu, kemudian haturkan padaku.

95. Dasar para putranya itu, tak tahu kalau macan tersebut, dapat berbicara, kepada Baginda Yakub tersebut, sebab kalau mereka tahu, masakan mereka mau menghaturkan, kepada ayahnya.

96. Begitu pun lagi nantinya, di hari kiamat itu, siapa yang berbuat, maksiat, hendaknya ingat, akan ditanyakan padanya, untuk mengaku perbuatannya, kalau ia berbuat maksiat.

97. Demikian kedua tangannya, mengaku kalau berbuat maksiat, kedua kakinya pun mengiyakan, bahwa dirinya berbuat maksiat, semua anggota badannya, pada mengaku tentang perbuatannya, maka dirinya keweleh (tertonjok muka).

98. Pada berangkatlah putranya, untuk memburu anjing hutan, dan mereka pun menemukan, anjing hutan itu sudah tua, tidak ada giginya, ditangkap dan diikat sudah, dihaturkan kepada ayahnya.

99. Nabi Yakub berkata pelahan, kepada anjing hutan itu, mengapakah engkau, memangsa rakyat kecil, tidak ada rasa belas kasihmu, memangsa anakku, kau sungguh keterlaluan.

100. Demikian atas takdir Yang Widi, si anjing hutan tersebut, tiba-tiba dapat berbicara, menjawab semua kata-kata, tidaklah ada niat di hati hamba, untuk memangsa putra tuan.

101. Semua daging Nabi, haram bagi hamba, justru nanti hamba hanya akan mendapat, murka dari Yang Maha Kuasa, kalau merangsang, putra tuan Nabi Yusuf, tidaklah menjadi niat hati, seperti kata putra tuan.

102. Para putra itu pada mendengarkan, apa yang dikatakan anjing hutan, seketika mereka menundukkan muka, setelah mendengar kata, si macan, Nabi Yakub berkata, kepada si macan, mengapa kalau kau tahu, begini tak memberitakan padaku.

103. Anjing hutan menjawab pelahan, takut hamba menghaturkannya, nanti diaangka mengadu, antara putra tuan sendiri, itulah sebabnya hamba takut, diaangka mengadu domba.

104. Di jaman dulu hamba mendengar, berita dari kakek tuan, berkatalah Nabi Ibrahim, orang berbohong besar dosanya, kagetlah ia, Baginda Yakub mendengar, cerita si macan tersebut.

105. Akan dimurkai Tuhan, tak ditempatkan di sorga, apabila mengadu domba tersebut, itulah takut hamba, Nabi Yakub berkata, kepada macan setengah tertawa, dari manakah asalmu.

106. Anjing hutan menjawab pelahan, hamba ini dari desa, dari bumi Mesir, sedang mencari anak hamba, yang ditangkap itu, oleh orang-orang yang sedang berburu, macanlah yang memberitahu hamba.

107. Kata berita tersebut, katanya anak hamba, akan segera dibunuh, itulah yang hamba dengar, berita dari si macan, sangat prihatin dan tak tidur hamba, selama tujuh belas hari.

108. Tidak minum tidak makan, lamanya tujuh belas har,i kelewat lamanya sekarang, sakit rindu pada anak hamba, demikian Baginda Yusuf, sedihnya amat sangat, rindu kepada putranya.

109. Ia berkata dalam batin, sedangkan anj ing hitam saja, sampai sedemikian sakitnya berpisah dengan anaknya, Nabi Yakub berkata, lalu seberapalah sakitku, berpiaah dengan putraku.

110. Maka berkatalah halus, Baginda Yakub kepada si macan, apakah engkau tahu, di manakah putraku, kata si macan ad, hamba melihatnya, tuan, dulu, kepada putra paduka.

111. Nabi Yakub berkata pelan, mengapa kau tidak memberitahukan, kata si macan, karena, hamba takut memberitakan, disangkanya nanti mengadu, oleh putra tuan.

112. Karena fitnah ini, nanti mendapat murka Yang Sukma, Nabi berkata pelan, kudoakanlah kau, moga-moga bertemu, dengan putraku itu, cepatlah semoga berjumpa.

113. Anjing hutan menjawab halus, kalau tuan memohon kepada Yang, hamba pun memohon pula sekarang, kepada yang semoga bertemu, tuan dan putra tuan, sama memohonlah susah, kepada Yang, sang Nabi Yakub itu.

114. Maka Nabi Yakub pun, segera pulang ke rumahnya, macan pun lalu meminta pamit, Baginda Yakub tercerita, memohon dan berdoa kepada Tuhan, semoga di lindungilah Nabi Yusuf, berikanlah rahmat oleh Yang.

PUPUH II
DURMA

1 . Jumlahnya l ima ekor, satu anjing hutan, yang biSa berbicara, kepada Baginda Jakub, yang kedua onta milik Baginda Sali (Saleh?).

2. Ketiga anjing yang bertapa, arkian pula, yang memiliki anjing tersebut, keempat blagadaba, sedangkan yang kelimanya, yakni kuda, milik Baginda Rasul ini.

PUPUH III
ASMARADANA

1 . Sarig Nabi diceritakan kembali, arkian kemudian, Baginda Yusuf setelah, tiap hari lamanya, ada seorang pedagang, Malik namanya anak seorang saudagar.

2. Ia berbahasa Arab, yang mengabdi di negeri Mesir, ketika ia masih kecil, ia bermimpi, matahari, merasuk ke dalam tangannya, dikeluarkanlah sudah sekarang, matahari dari tangannya.

3. Diberdirikan di hadapannya dan lagi mega putih, jatuh bersinar sekarang, menjadi mutiara, kemudian dipilih dan, disimpan dalam petinya, setelah bangun mengucap.

4. Rasanya impian dulu itu, seperti terjadi di bumi Kanahan, tempatnya matahari tersebut, turun ke Kanahan, kepada seorang pendeta, bertanyalah apa arti dan sebabnya, impian jaman lalu tersebut.

5. Dikatakan arti dan maknanya, impian tersebut kepada pendeta, berkatalah sang pendeta itu, bukan aku bermaksud mendahului kejadian, arti impianmu tersebut, menurut perasaanku, sangatlah baik impianmu itu.

6. Diberikan dua buah dinar (mata uang), kepada sang pendeta tersebut, maka diberitakanlah kemudian, akan makna impian itu, besok kau akan berjumpa, dengan seorang anak tampan, yang akan banyak orang mengabdi pada dia.

7. Kau akan menjadi sejahtera, dengan si anak itu, karena itu artinya, jangan kau berputus mengucap syukur, sampai di hari kiamat, dengan berkah anak itu, kau akan luput dari api neraka.

8. Dan masuk ke dalam sorga, alas berkat anak itu, kekayaanmu nanti, sampai ke anak cucumu, sampai hari kiamat, karena berkah anak itu pula, maka pergi dan carilah dia.

9. Sambil berdaganglah kau, cepatlah kau cari, dari desa mulai suspilah, carilah jangan sampai terlewati, demikian di kala itu, di sebuah hutan belantara pun, dengan teliti kau cari pulalah.

10. Segeralah berangkat tak sabar lagi, yang bernama Malik tersebut, menyuruh pada orang-orangnya, diperintah memuat dagangan, dibawalah kemudian dengan onta, semua dagangan tersebut, di saat adzan berangkatlah ia.

11. Menuju ke bumi yang tandus, tibalah di tanah Kanakan melihat utara, selatan, barat, timur sambil menengadah, memohon dipertemukan, dengan anak kecil itu, kemudian ada isyarat datang.

12. Suara isyarat itu memperingatkan, kepada pedagang tersebut, tapi anak itu tidak ada sekarang, lima puluh tahun barulah keluar, dari ayahandanya, maka ia pun pulanglah, si Malik menuju rumahnya.

13. Kita diamkan dulu ia, akan keadaan din si pedagang, merasa tak berhasil kini, dalam hal usaha mencari, tapi ta menjadi semakin semangat, dalam usaha mencari tersebu,t setelah mendengar isyarat.

14. Ada wahyu Tuhan, kepada Nabi Daud, siapa saja yang mencari, dan berusaha mencariku, tentu aku akan ditemukan, dan apabila bertemu, tentu akan kuberi olehku kewaspadaan.

15. Bukan hanya sampai di situ, yang lain dari aku, tentu akan kuberi anugrah, mengasihi pada orang kecil, apa yang ditemukan tadi, karena kasih dunia.

16. Demikianlah dalam tahun yang kedua, datanglah lagi si pedagang, anak saudagar tersebut, yang bernama Malik ke tanah Kanahan, demikian sedatangnya, di hutan bumi Kanahan.

17. Ia berkata kepada pembantunya, apabila kau bertemu, dengan anak kecil itu, yang kini sedang kucari, tentu kau akan kumerdekakan, separoh dari uangku, kuberikan kepadamu.

18. Maka pergilah dengan tak sabar, pembantu si pedagang tersebut, kepada Baginda Yusuf, masuk kedalam telaga, demikianlah di pedagang, pada melihat burung, sedang mengitari telaga.

19. Melayang layang ada, di atas telaga, layaknya seperti naik haji, mengedari ka’bah, tingkah burung tersebut, bukanlah sembarang burung, burung yang dipiara Malaikat.

20. menunggu datangnya Nabi Yusuf kekasih Tuhan menurut dugaan para pedagang semua diaangkanya burung biasa tak tahu kalau malaekat berkatalah Malik berseru kepada pembantunya

21. Segera berangkat tak sabar lagi, yang bernama Basir itu, melihat ke dalam sumur, tercium bau Nabi Yusuf, memenuhi telaga, baunya harum semerbak, menusuk hidungnya.

22. Demikianlah orang kembali, menghadap kepada Yang Sukma, tak diperkenankan bertemu, apabila belum hilang dosanya, di dunia di akherat, di dalam hatinya itu, masakan akan bertemu.

23. Demikianlah timba si Basir, dimasukkan dalam telaga, Jibril segera datang, berkata kepada Nabi Yusuf, hai hamba Allah, berdirilah berkatalah, si pedagang itu, hamba kehabiaan dirham.

24. Ada si dirham itu, kotor dan lagi tak ada yang mau, berkata si kakak semua, kalau memang banyak uang itu, delapan belas dirham tersebut.

25. Selamanya ini, disetujui adanya, akan harganya sekarang, yang delapan belas diraham tersebut, apalagi jumlah diraham banyak, ini semua artinya, memuji badan sendiri.

26. Diraham pun sudah dibagi, oleh para saudaranya, tapi saudara yang tertua, tak mau bagi-membagi, yaitu yang bemama Yahuda, oleh karena itu Baginda Yusuf, dijual oleh para saudaranya.

27. Tidak melihat yang senyatanya, akan rupanya, para saudara itu, tapi si ayah dan ibu, selalu melihat akan rupanya, tampannya berlebih-lebihan, kasihnya kepada Baginda Yusuf, kepada ayah dan ibunya.

28. Apabila ditakdirkan melihat mereka itu, oleh yang Maha Mulia, semua sanak saudaranya itu, masakan akan kuasa, mengucapkan kata-kata seperti itu, tentu heran melihat, kalau tahu ketampanannya.

29. Si pedagang tercerita lagi, memberikan surat penebus, demikian para sanak saudaranya, memberikan surat pula kepada si pedagang, Nabi Yusuf pun dibawa, oleh si pedagang, dikata-katai, oleh para sanak saudara (Nabi Yusuf).

30. Kata si pedagang itu, tak usah ditebus, anak itu banyak celanya, suka minggat, suka berbohong, karena itu awaslah dengan keputusan ini, kalau ia nanti berlari, jangan sampai kurang waspada.

31. Demikianlah dia, Yusuf tidak peduli  dia, mencoba untuk mengenangkan dan menghayati, akan hukum Yang kepada dirinya, Nabi Yusuf berkata, janganlah kau buru-buru pergi, karena aku, sedang melihat nasib dalam diriku.

32. Jangan sampai aku tak melihat, kepada gusti (Tuhan)ku itu, kata si pedagang itu, kalau pun kau kasih pada Gustimu, Gustimu itu toh tidak, mengasihi akan dirimu, buktinya kau dijual juga.

33. Karena itu ingat-ingatlah, ketika kau dijual kepadaku, Baginda Yusuf katanya pelahan, memang saatnya harus mengalami nasib buruk, semua itu sebagai cobaan dan bukti, akan kasih Tuhan kepadaku, sebab itu boleh dikatakan.

34. Menurut kesalahanku dulu, karena Gustiku tersebut, semua saudara bersedih, kepada Nabi Yusuf, berkatalah, semua sanak saudaranya, kasihan dan menyesal kepada Nabi Yusuf, akan tindakan mereka yang jahat.

35. Kalau mereka tidaklah takut, tentu merasa akan malunya si ayah, hendaklah dikembalikanlah sekarang, Baginda Yusuf kepada ayahnya, demikian pikir para saudaranya, tapi pergilah Baginda Yusuf, dibawa si pedagang.

36. Maka lalu dimulailah (dilakukan), oleh orang Abesi (habsyi?) yang tampan, semua perintah tuannya, maka dibelenggulah ia, Baginda Nabi Yusuf tersebut, dicampur dengan orang-orangnya, dan semua barang dagangan.

37. Ada dikiSahkan pula, Seh Amkin diberitakan, bahwasanya dia, menjelmakan semua yang mulia, dicampur pada yang tidak mulia, seperti mutiara besarnya, yang berada dalam kerabu (giwang).

38. Kasturi, manikam dan sutra, dimasukkan dalam tempatnya, aman, terletak di depan, demikianlah Nabi Yusuf, dicampur dengan barang dagangan, ditempat madu lebah, yang tak akan keluar lagi.

39. Demikianlah akan hambatan itu, mengambil sesuatu yang tak berkemuliaan, kehendaknya mengambil sekarang, ialah yang sudah mulia dalam kutang, demikian menjadi mulia lagi, perbuatan yang berasal dari hambatan, segera tampak dalam perbuatan.

40. Begitu pulalah Yang Widi, mengawali akah iman, tanpa kini memulainya, di hati begitulah Yang Sukma, demikian pula engkau, yang memuliakan Baginda Yusup, bukan memuliakan barang dagangan.

41. Segera pulanglah dengan tak sabar, yang bernama Malik itu, hendak pergi ke Mesir sekarang, tengah malam saatnya, tepat berada di makam, ibunda Baginda Yusuf, turun dari kendaraan binatang itu.

42. Segeralah Nabi Yusuf itu, datang ke makam ibunya, sedih dan meratap pelan, ibu hamba berpisah, dengan ayahanda dan kakek, sepeninggal ibu itu, hamba terkena mala petaka.

43. Ibu lihatlah, anakmu ini dalam keadaan nista, mengapa ibu tega benar, menyia-nyiakan akan anakmu ini, semua itu menyebabkan terdengarnya suara, ibunya dari dalam makam, menjawab si Yusuf tersebut.

44. Jelasnya mataku ini anakku, kau adalah buah hatiku, demikianlah Baginda Yusuf, sudah mendengar suara itu, suara dari ibunya, kita diamkan dulu Baginda Yusuf, setelah di lihat oleh orang Habsi, tidak.

45. Lagi dihadapkan kepada tuannya, oleh yang bernama Malik itu, anak itu sekarang, rupanya sudah melarikan diri, hamba cari tidak ada, berhentilah si Malik sudah, disuruhnya tetap mencari.

46. Jangan buru-buru kalian pergi, berhentilah dulu semua, perintahnya kepada orang-orangnya, oleh si Habsi yang tampan tersebut, terlihat oleh si Habsi itu.

47. Demikian lalu di lakukan, kemudian ia dekati, oleh siHhabsi yang tampan itu, digeret dan dipukul, dengan dimaki-maki, dulu kata tuanmu, kau memang pembohong dan suka minggat.

48. Kata tuanmu dulu, tak kuacuhkan, ternyata sekarang kau, benar-benar suka minggat, bohong benar kau, buktinya melarikan diri, menjawablah Nabi Yusuf, buktinya melarikan diri, menjawablah Nabi Yusuf, hamba tidak minggat, tuan.

49. Semoga hamba mendapat, murka Tuhan kalau minggat, hamba hanya pergi, ke makam ibu hamba, semua itu diaangkal, maka Baginda Yusuf, dinaikkan ke atas onta.

PUPUH IV
PANGKUR

1. Tidak diceritakan dulu si pedagang, alkiaah menurut cerita, sang Baginda Yusuf, memohon dan berdoa kepada Tuhan, ya Tuhan kalau ada dosa dan kesalahan hamba, semoga kaulah yang mengampuninya, yang tahu akan isi hati hamba.

2. Permohonan itu rupanya terkabulkan, maka ada utusan Yang Widi, Jibril namanya, berkatalah dia apakah sebenarnya maksudku turun ke bumi, Baginda Yusuf berkata, Tuhan jualah yang lebih.

3. Tahu daripada hambanya, dan padukalah yang tahu, Jibril lalu berkata, sudahlah ia bersabda menurut kehendak-Nya ,sebenarnya Tuhan (Yang Agung) memperhatikanmu, Jibril memukul bumi maka keluarlah api.

4. Hujan angin asap pun datang, hujan angin asap pun datang, gelap bercampur hujan batu keriki,l rasanya bagai telur burung raksasa, hujan itu, si pedagang menyangka menemui kesulitan, kepala pedagang berkata, yaitu yang bernama Malik.

5. He, para budak bel ian siapa yang merasa, berdosa segeralah bertobat, sementara, belum mendapat celaka, maka pada bertobatlah mengucap pada Gustinya, kalian semua berdosa kata si Malik.

6. Tuan, apa dosa kami, jawab si Habsi, dulu kau, menyiksa anak itu, maka diSuruhlah, Malik menjalankan sapangatnya, Habsi pun berjalan menuju, kepada Yusuf dan berkata halus.

7. Lalu ia memohon, kepada Tuhan agar hilang mala petaka, permohonan diperhatikan (dikabulkan), maka kemudian matahari keluar dan teranglah sudah, si Malik lalu berkata, dikabulkan Tuhan kau tuan.

8. Lalu ia memohon, dikabulkan oleh Yang Widi, Baginda Yusuf berkata, dengan wajah tersenyum, kuturuti seperti katamu, si Malik pun mengucap, kepada kawan-kawannya.

9. Siapa melepaskan, belenggu Nabi Yusuf, lalu ia diberi pakaian, dodot dan baju, indah-indah dan diauruh berjalan di depan, semua mengiringkan, Malik berjalan di belakang.

10. Tak diceritakan di jalan, maka tibalah di desa Tesa namanya, semua orang desa di situ, pada tercengang melihat, pada rupa tampan dan hijaunya sinar, dengan gerak-gerik tingkahnya.

11. Semua pada keheranan, semua mel ihat dengan terkagum-kagum, akan rupa Nabi Yusuf, maka orang desa di situ, pada bertanya dari mana, asal anak tersebut, semua pada bertanya, orang di desa itu pada kafir.

12. Ada sabda Rasul, tak terkisahkan yang sedang pada berdengang, menjadilah berbakti, kepada-Nya Yang Sukma, begitu pun yang melihat wali tersebut, pendeta, serasa mereka berbakt,i kepada yang selama seratus tahun.

13. Sedatangnya Baginda Yusuf di situ, mereka pun menjadi beriman, karena kesaktian dan wibawanya, berhala ditinggalkan, berhala itu dipukul-pukul sudah ,masuk Islam orang di desa, semua menjilma beriman.

14. Segeralah pergi dari Tesan, tiba di desa Kudus berhenti, di situ ada rajanya, bermimpi ada suara, ada seorang datang ke desanya, datang pada pagi hari, di desanya tersebut.

15. Segeralah sambut dan laksanakan, semua perintahnya turutilah, awas, janganlah banyak, tingkah kalau datang suguhilah, maka terbangunlah raja tersebut, hendak menjalankan, apa perintah mimpinya tersebut.

16. Namanya raja Jiyad, pada pagi hari Yusuf pun datang, di desa tersebut, dilaporkan kepada Sang Raja, maka berkirimlah surat raja itu, kepada si pedagang, yang bernama Malik.

17. Alkisah utusan tadi datang, kata Sang Raja, tuan mendapatkan anak ini, yang tampan rupanya, tuan bawalah menghadap Sang Raja, karena Sang Raja hendak mengetahui, pada si anak yang tampan alang kepalang.

18. Maka Malik Adan, menghadap Sang Raja tak diceritakan, memerintah para istri, anak gadis selaksa dua ribu, pada berhias dan berdandan, mengenakan mahkota indah.

19. Yang perawan yang bujang. selaksa dua ribu pada bagus semua. bergelang dan berkalung, mengenakan mahkota, berikat pinggang penuh dengan intan berl ian bersinar, nila, baiduri dan mutiara, bagai pengantin Kuswaragahasri.

20. Baginda Yusuf tercerita, bermandi karena dulu dianiaya, oleh si Habsi tersebut, mandi di bengawan, tanpa pakaian, segenap ikan datang, mendatangi sinarnya, sang Baginda Yusuf .

21. Ada seekor ikan, besarnya bukan buatan, melintang menghalangi, sang Nabi Yusuf, agaknya ada ikan yang melihat, cahaya Nabi Yusuf, yang sangat indah dan bagus.

22. Demikian Yang Sukma, memberikan anugerah kepada si ikan ini, mempunvai dua anak, yang seekor itu yang menelan si Baginda unus, tujuh ban berada di perut, si ikan tersebut.

 23. Semua ikan pada, mendekati ikan yang besar tersebut, adapun anaknya yang seekor lagi, yang menelan cincin milik Nabi Suleman, demikianlah setelah dia, sang Baginda Yusuf itu.

24. Utusannya Sang Raja, memberikan ikat kepala yang indah, tidak perlu berhias lagi, karena Yang WiSesa (Tuhan), telah memberikan hiasan kepada Yusuf, setelah rtengenakan ikat kepala, segeralah naik ke punggung onta.

25. Demikian, pergilah ke istana, menghadap raja Jiyad segera, demikian Malik pun menghadap sudah, Arkian di situ Sang Raja menyuruh keluarganya, datangnya sanak saudaranya.

26. Disuruh memberitahukan, disuruh menyongsong ke gerbang kota, demikian Malik sudah datang ke istana atas kehendak Yang Maha Agung, mega pun di langit menghalangi matahari, Sang Raja bertanya kepada si pedagang itu, mana ujudnya, anak yang tampan tersebut.

27. Jawab si Malik itu di atas onta di dalam kelambu, Sang Raja segera berkata, agar membuka kelambunya, desa dipenuhi sinar cahaya Nabi Yusuf, seluas wilayah Negara, bagai disinari cahaya.

28. Semua yang meliputi, akan cahaya tampan Nabi Yusuf, seperti para gadia itu, kaku pada tercengang heran, pada malu lalu merindukan muka, kata mereka yang pada melihat, belum pernah aku tahu orang setampan ini.

29. Sang Baginda Yusuf, pagi-pagi mendatangi desa tersebut, beserta Sang Raja, sepanjang penglihatannya, Sang Raja selalu kagum pada Nabi Yusuf, tampan sekali rupanya, dengan cahaya bersinar.

30. Dan semua hamba sahayanya, pada heran menatapnya, Sang Raja lalu berkata, kepada si pedagang, mana si penghulu (pemimpin) yang kau iring itu, menjawab si pedagang, menunjukkan dia, si Malik.

31. Terhentilah Sang Raja mendengar, keheranan, dugaan Sang Raja, Baginda Yusuf, berlebihanlah sambutan Sang Raja, maka Malik pun berkata, kepada orang-orangnya.

32. Selama aku berkelana, tak seperti sekarang di desa ini, setahun dua kali aku, mampir di desa, tidak, ada yang mengacuhkan dan bertanya tentang diriku, semenjak aku membawa anak, Sang Raja sangat mengasihi.

33. Kita diamkan dulu si pedagang, demikian konon ceritanya, tersebutlah Baginda Yusuf, di lindungi oleh Tuhannya, menurunkan malaikat dua ratus, dengan membawa senjata, untuk membawa senjata, untuk mengiring dan melindungi.

34. Nabi Rasul berkata, semua orang ini ada pula, yang melindungi dirinya, maka para malaikat tersebut, atas perkenan Yang Sukma, sekarang menjadi abdinya ( Nabi Yusuf ), yang menjadi wali dan mukmin.

35. Pada menghadap si malaikat, pada mengitari Baginda Yusuf, menjaga bangun dan tidur, pada berujud manusia, setelah melihat Baginda Yusuf berkata, bertanya kepada malaikat siapakah kalian ini.

36. Menjawab si malaikat, hamba diperintahkan oleh Yang Widi, agar mengasuh dan menjaga tuan, dan supaya mengeringankan, setelah begitu Sang Raja berkata, ini semua yang nampak dalam, impian yang dulu.

37. Yang diauruh menyambutnya perintahnya diturut, ya ini mempersi lahkan Baginda Yusuf diauruh duduk mendekar fajar impian Sang Raja dulu, berkata kepada di rinya agar diperhatikan kata-katanya

38. Demikianlah terserah saja, aku memperhatikan, Baginda Yusuf berkata, menasehati Sang Raja, jangan menyembah berhala, jangan bermata dua kepada Tuhan, agar luput, kau dari api neraka, maka kata Sang Raja.

39. Terserah maksud tuan, maksud Baginda Yusuf, agar berhala itu justru, menyembah kepadamu, pergilah raja dengan Baginda Yusuf, setibanya di tempat, berhala pun lalu bersujud.

40. Berhala itu sesudahnya, bersujud kepada Nabi Yusuf , lalu, jatuh sendiri dan remuk, raja pun merasa di ingatkan, lalu menjadi Islam dan tekun, maka Baginda Yusuf, sangatlah dimuliakan dan dihormat.

41. Disambut berlebih lebihanlah, si Malik dan kawan-kawannya, suguhan terus mengalir, semua apa yang diminta, bermacam ragam tak lupa nasi dan susu, mereka pun lalu berpesta pora, bersama Nabi Yusuf.

42. Sang Raja lalu bertanya, karena tak mau dipersilakan makan, menjawab Baginda Yusuf, sambil tersenyum pula, kalau tuan ingin tahu mereka itu, itulah abdi Tuhan, tak biasa minum dan makan.

43. Sebagai makanannya, puji kepada Tuhan, dzikir sebagai minumannya, bertanyalah Sang Raja, makhluk apakah mereka, itu Baginda Yusuf menjawab, bahwa mereka bertugas menjaga.

44. Sang Raja terus bertanya, abdi apa mereka ini namanya, Baginda Yusuf berkata, namanya malaekat, diperintahkan menjaga dan melindungiku, dan agar mengiringkan pula, semua atas kehendak Yang Widi.

45. Segera kita diamkan, yang dikisahkan kini adalah takdir Tuhan, demikian sangkaan dan dugaan Sang Raja, yang menduga adanya sesuatu maksud, disangkanya Yusuf akan meninggalkan desa Kudus, karena tertarik akan ketampanannya, sang tampan yang kini datang.

46. Sang Raja menyuruh hamba sahayanya, maksudnya agar mencegat, sejumlah selaksa dua ribu, pada naik kuda, mencegat si pedagang oleh raja,  disuruh melarikan Baginda Yusuf ini.

47. Demikianlah terjadi, Nabi Yusuf dan si pedagang, bertemu dengan yang mencegat, bala tentara Sang Raja, menunggang kuda, sudahlah berjumpa, dengan Baginda Yusuf , orang-orang, terkagum menatapnya.

48. Begitu pula orang di sorga, ketika melihat Yang Widi, dua ratus tahun itu, tidak ingat di sorga lagi, ladatnya sorga tak ada yang terhitung, karena terlampau tertegun kepada Yang, dan ladatnya, karena melihat.

49. Lalu pingsanlah, tiga hari lamanya tak sadar, karena tercengang menonton, pada semua rupa dan ujudnya, sang Baginda Yusuf , demikian tak terceritakan lagi, datang di sebuah desa hari Soma, semua pun pada berhenti.

50. Baginda Yusuf berbicara, pada dirinya sendiri dalam batin, semua manusia yang hidup ini, tak ada yang seperti aku, rupa tampan tak seperti diriku, segeralah ia pergi, memasuki dusun tersebut.

51. Semua orang di desa itu, rupa dan tampangnya bagus-bagus, seperti rupa Nabi Yusuf, demikian orang di desa tersebut tak ada yang melihat Nabi Yusuf, maka ada suara terdengar.

52. Bunyi suara itu mengucap, kau kira tak seperti dirimu, akan hamba sahayaku, yang biSa menyamai dirimu, di dunia ini semua hamba sahayaku, meskipun mereka orang desa, seperti rupa Nabi Yusuf ini.

PUPUH V
SINOM

1. Ada ceritanya pula, tentang Baginda (Nabi) Musa, ketika menerima perintah atau sabda Tuhan, di atas sebuah gunung, dulu, memohon kepada Yang Widi, semoga sejahtera dalam berkelana, kepadanya Yang Sukma, dengan segala cipta dan sepenuh hati, ketika berada di puncak Gunung Tursina.

2. Tidak ada hamba Tuhan, yang seperti aku ini, sangat dekat dengan Sang Yang Manon (Tuhan), berani memohon kepada Yang Widi.

3. Demikianlah lalu Nabi Musa, mendengar suara itu, hai, Musa sangkamu, tidak ada yang seperti kau, tengoklah olehmu kanan dan kirimu.

4. Pada memohon kepada Tuhan, seperti permohonannya, demikianlah Nabi Musa, mendengar suara Yang Widi, hai Musa atas ciptaku ini, tak ada hambaku, yang seperti kau, akan keadaan hambaku ini, yang menyamaimu dekat dengan aku.

5. Demikianlah Nabi Musa, segera turun dengan cepat, dari atas gajahnya, setelah mendengarkan, Nabi Musa ini, kemudian ia bersujud, di hadapan Tuhan, memohon kepada Yang Widi, segala maaf dan ampun Yang Sukma.

6. Baginda Musa bertobat, dari segala ucapannya dulu, ia mendengar suara, sang Baginda Musa ini, nah segera angkatlah, kepalamu dari tanah, kau telah tobat sekarang, ku ampuni taubatmu, seperti Baginda Yusuf.

PUPUH VI
PANGKUR

1. Setelah demikian pergilah, lambat-lambat dari desa itu, tak diceritakan di perjalanan, tiba di Mesir sudah, segera beriatirahat di desa tersebu,t segenap orang di desa, pada mendengar suara.

2. Suara tersebut mengucap, di desa ini ada anak datang, rupanya sungguh tampan, siapa saja yang bertemu dia, hilang marahnya kalau berjumpa anak itu, kemudian menjadi suka gembira, demikian, mendengarlah orang di desa.

3. Persangkaan orang di desa, mereka mendengar suara hantu, terdengar lagi suara itu, cepatlah datangi, di rumah si Malik anak tersebut, setelah mendengar suara, orang di desa pada rindu.

4. Pada tertariklah mereka, mendengar ada orang muda datang, pada mencari tak henti-hentinya, saling bertanya-tanya, mana rumah si Malik itu, menjawab yang ditanya saya, ini justru sedang mencari.

5. Mending kalau sudah melihat, baru mendengar beritanya saja, orang sedesa Mesir sudah tertarik ,segera kita tinggalkan (diamkan) dulu, alkisah hamba yang dekat Yang Widi itu, orang seluruh Mesir pada rindu, lupa kepada Tuhannya.

6. Demikian orang hidup itu, karena terbawa perasaan rindu bernapsu, Yang, Widi pun mendengar berita tersebut, bersabda dari qur’an, begitu pun sabda Baginda Rasul, seberapalah rindunya, tetap ingat akan Yang dan sorganya.

7. Burung-burung beterbangan girang, melihat yang baru datang, seraya menyongsongkan bunga, yang sedang mekar, seakan minta segera dicium oleh Nabi Yusuf, memang diagungkanlah ia, oleh yang di negeri Mesir.

8. Setelah datang, di rumah yang bernama Malik, paginya datang sudah, semua orang di negeri, Mesir pada masuk ke rumah, penuh tanpa hitungan, tak cukup rumah si Malik.

9. Yang menjaga pintu berkata, apa maksudnya mereka pada datang, yang ditanya segera menjawab, saya ingin melihat, akan rupa anak yang tampan itu, menunggu di rumah dia, anak yang tersohor tampan tersebut.

10. Yang menjaga pintu berkata, tak ada anak tampan di sini, kalau anda mau melihat, berilah dulu saya uang (dinar), maka kemudian diberikanlah dinar, kemudian masuk pintu, mengira kalau itu si Malik.

11. Dihentikanlah segera yang diceritakan yang merasa, beruntung, kalau saja mampu melihat, kalau saja biaa berkata, kalau saja mereka ingat akan saudaranya, melihat diri manusia, sampai sedemikian mereka lupa.

12. Setelah demikian adany,a pagi-pagi dihiasi oleh Malik, diberikan busana sudah, si Baginda Yusuf, yang serba indah sudah dikenakan, duduk di sebuah kursi, demikianlah adanya sang tampan.

13. Semua orang yang melihat, pada kagum dan terdengang, rumahnya penuh sesak, si Malik merasa, merasa kesibukan oleh orang yang menonton, tak mau diusir, semua yang melihat.

14. Si Malik lalu menawarkan, kepada yang menonton, tebuslah anak ini, tampan tak ada tandingnya, seimbang dengan suaranya, lagi pula tampan, tebuslah anak ini, Baginda Yusuf berkata, janganlah aku kau puji.

15. Kembali lagi kepada tawarannya, siapa hendak menebus anak ini, di negeri Mekah akan ke bawa, maka segera ditawarlah dia, dua laksa delapan ribu, wanita pria, sama-sama hendak menebusnya, kepada siapa hendak menawamya.

16. Maksudnya menawar tinggi, kalau hanya asal menawar, tapi segeralah mendapat bala (mala petaka,) mendapatkan petaka yang menawar, maka tak adalah yang berani menawar, terhadap Baginda Yusuf, takut mendapat bencana.

17. Si Malik sekarang menawarkan lagi, kepasa penonton, tebuslah anak ini, tiba-tiba ada suara terdengar, dari atas di antariksa, tidak ada yang kuasa menebus anak itu, Sang Raja Mesirlah yang mampu, menebus anak itu.

18. Kita diamkan dahulu, alkisah menurut ceritanya, ada orang yang mau menebusnya, yang tinggal di antara Sadad, seorang wanita yang sangat kaya, ia mendengar berita di jalan, ada anak berwajah tampan.

19. Segera hendak ditebusnya, dengan orang (budak) selaksa delapan ribu, yang dimilikinya itu, si orang wanita tersebut, hatinya tergugah mendengar kabar tersebut ,maka ia pun pergilah, ke rumah yang bernama Malik.

20. Segera masuk ke pintu, maksud menebus, tanya pada si Malik, kalau benar mau menjual anak itu, setelah bertemu dengan Baginda Yusuf, terhenti tak kuasa mengucap, tercengang melihat rupanya, diaangkanya bukan manusia.

21. Yang (Tuhan) yang memiliki kekuasaan, ia bertanya pelahan, anak milik tuan itu, benar-benar saya kagum melihatnya, dulu-dulu tak terdengar beritanya, lagi pula di jaman kuna, belum pernah kutahu rupa macam ini.

22. Saya mendengar berita, hendak menebus pada tuan, ia menawar karena akan membelinya, mudah-mudahan tertebus dengan sah, oleh sang peminat terhadap yang dikehendaki itu, meskipun uang sejagat ini, benar-benar tiada artinya.

23. Baginda Yusuf berkata, aku diciptakan oleh Yang Widi, kalau kau belum mengetahuinya, aku ini ibaratnya, berkuasa atas kalian semua, karena dihias, maka aku nampak tampan.

24. Wanita itu mengucap, Baginda Yusuf , pantaslah tuan ini, meneguhkan saya, seperti kata tuan, kalau Tuhan menjadikan semua itu, maka wanita itu pun, sudahlah memiliki iman.

25. Ia pun menjadi (masuk) Islam, uangnya didanakan kepada para fakir miskin, karena mendapat berkah Nabi Yusuf, maka si wanita tersebut, sudahlah berbakti sampai pada ajalnya nanti, sungguh amat berbakti, banyak orang mengetahuinya.

PUPUH VII
DURMA

1 . Tidak diceritakan lagi si wanita itu, alkiSah ada cerita pula, sang putri di Temas, yang bernama Zleha ketika berusia sembilan tahun, parasnya cantik, sangatlah terkenal.

2. Kaya akan mas, ratna, mutu manikam, ayah ibunya mengasihi sekali, dituruti kemauannya, tak berani menolak, kalau ada kemauannya, selalu dituruti oleh ayah ibunya.

3. Setelah demikian putri Jaleka, maka ia pun bermimpi, bertemu dengan Baginda Yusuf, sangatlah, ia jatuh cinta, dalam impian itu nampaklah dulu.

4. Setelah terbangun dari mimpinya, putri Jaleka, menjadi kenes birahi rindu, maka pagi-pagi, mendatangi ibunya, keduanya saling berkata, mengapa engkau, menjadi kenes setengah birahi.

5. Menjawab halus putri Jaleka, lbu hamba bermimpi, malam hari itu, melihat, pria tampan alang-kepalang.

6. Rupanya tak ada tandingnya, belum pernah hamba melihat, orang seperti ini, rupa dan tampangnya sangat luhur, kulitnya kuning, tubuhnya mengkilat, seperti mas yang digosok, mata redup hitam bening, seperti air menetes, badannya seperti kencana.

7. giginya seperti mutiara rapi, kalau tersenyum serasa mania gula, mengeluarkan cahaya, dad tawanya tersebut, lagi pula sinarnya, tak ubah sang, surya rambutnya hitam halus.

8. Tak kuasa aku mengingatnya, akan rupa sang tampan, di belahan bumi (dunia) ini, kalau ibu mencarinya, masakan akan bertemu seperti itu, setengah hamba bangun, orang itu tiada lagi.

9. Itulah sebabnya ibu, saya menyandang birahi, rindu pada siapa dia, ayah ibunya berkata, duhai, anakku, jangan kau menjadi gelap hati, kalau memang ada, si dia tersebut.

10. Akan kupanggil kupertemukan dengan kau, kalau tahu di mana tempatnya, kalau kau memang, tahu tempatnya, anakku, nanti kuantarkan, kepada orang yang Nampak, di malam hari itu.

11. Setelah bermimpi sering menyandang rindu, pikirannya selalu melamun, yang diangankan, hanya yang menggoda di hati, rindu akan si dia, setelah, genap setahun kemudian.

12. Ia bermimpi kembali akan si dia dulu, maka bertanyalah sang putrid, selama bermimpi itu, oh, siapakah kau tuan, yang selalu kucari, yang selalu kucari, akan keadaanmu, maka menjawalah si dia, maka menjawablah si dia.

13. Aku adalah manusia tidak kawin, kalau tidak denganmu, putrid, begitu pun tuan, tak akan kawin tanpa tuan, kalau tidak diriku ini, janganlah kau, melupakannya, putrid.

14. Berprasetyalah padaku, putrid, setelah demikian, maka bangunlah, sang putri menjadi sangat, duka hati karena sedih, terbayang-bayang akan si dia yang di impikan, segeralah ayah, dan ibunya pun daTang.

15. Sangat kasihan kepada putranya, maka segeralah ditinjaunya, mereka pun .bertanya, mengapakah engkau anakku, selalu kau menangiS, sang putri menjawab, pria itu nampak kembali.

16. Hamba tanyai ia mengatakan, menjadi sesembahanku, dengan mengucap, tidak akan kawin, kalau tidak dengan hamba, menurut katanya, ia menjadi sesembahanku.

17. Setelah diterangkan segeralah kaget, bangunlah semangat hatinya, seperti ketika masih, berada dalam mimpi, seakan duduk bersanding, maka berkatalah, sang ayah dengan halusnya.

18. BertanyaLah, di mana tempatnya orang itu, menjawablah sang putrid, hamba tak bertanya, ayah, di mana tempatnya, maka hati ayah ibunya, pada bersedih, kasihan kepada putrinya.

19. Taktahan melihat tingkah sang putrid, demikianlah sang putrid, lupalah segera, tidak dapat tidur, selalu dijaga permaiSuri, di dalam iStana, sangat geliSahlah sang putrid.

20. Setahun lamanya seperti itu, kemudian bermimpi kembali, maka ingatlah dia, segera memagang Baginda, Yusuf dengan berkata lembut, tuan yang selalu hamba pikirkan, hamba dalam keadaan rindu dendam.

21. Katakan, di mana kau tinggal, tuan, menjawablah sang tampan itu, kalau kau tak tahu, sekarang kuberitahu aku berada di Mesir, setelah waktu fajar, bangunlah sang putrid.

22. Paginya sang putri mendatangi ayahandanya, tunduk sambil menangiS, ia pun berkata, dimA ayah carilah, dia yang nampak dalam mimpiku semalam, sambil berkata, tempatnya di tanah Mesir.

23. Kalau tak ketemu anaknya akan mati, maka ibunya pun menjerit, maksud hamba, ayah, sekarang cobalah dicari, pergi ke tanah Mesir, sang putri pun segera, paginya terserang penyakit asmara.

24. Tidak diceritakan dulu akan sang putrid, maka ada kiaah lagi, tentang sabda Tuhan, kepada Nabi-Nya, ucapkanlah olehmu, siapa yang benar-benar, mencari, akan bertemu.

25. Bersabda lagi kepada Dawud itu, kata-kataku ini, berlaku bagi semua, yang menyebut akan diriku, sorgaku pun, akan jatuh pada, semua yang berbakti padaku

26. sama denganku, dan semua yang pasrah kepadaku itu pula aku gerakkan semuanya yang suka akan diriku kasihku akan jatuh pula semua yang berbakti padaKu.

27. Aku mencatat segenap kerinduan padaku, hai, Dawud dengarkanlah, siapa yang durhaka, kepadaKu, kulindungi pula kejahatannya, siapa yang berbakti, kuberi pula perasaan senang.

28. Dan semua yang kukasihi, kuberi pula cobaan petaka, setelah itu kuberi pula sakit, setelah itu kumatikan, setelah meninggal, kuberi denda pula.

29. Melihat apa yang diSerahkan padaku, tiada yang lain lagi, dan Daudlah yang tahu, padaku sekarang ini, dan dikembalikannya padaku, barang siapa cinta, pasti akan aku cari.

30. Barang siapa mencariku tentu akan kutemukan, ya Daud. mereka memang bohong, sebutlah ciriku, sampai malam hari, pejamkan lagi matamu, tinggal aku yang tampak, berulang-ulang di malam hari.

31. Jika tidak bersorak beserta rohnya, yang benar – benar aku pilih, bukan pada cahaya yang merah, hilanglah nyawanya, lalu pergi kepadaku, tidakkah cinta, aku ini padanya.

32. Setelah demikian, maka Raja Temas, semua maksud sang putri, diperhatikan Sang Raja, maka ia pun menyuruh utusan, datang ke negeri Mesir, segeralah berangkat, sang menteri dengan cepatnya.

33. Tak dikiSahkan di jalan, segera datang, utusan itu di Mesir lalu turun, menghadap patih, kemudian dibawa menghadap, lalu keluarlah, Sang Sri Bupati (Raja Mesir).

34. Sudah dihaturkan suratnya, kepada Sang Raja, diSuruh membacanya, dalam permulaan kalimat, sebagai pembukaan tuliSan ketahui, saya/mendengar kabar  tuan.

35. Anak saya untuk tuan, jadikanlah permaisuri, itu lebih baik, semua terserah tuan, kalau tuan datang ke mari, terserah sajalah, saya akan menurutinya.

36. Kalau saya datang ke negeri tuan, mengantar putriku, untuk tuan, setelah membaca, surat, senanglah Sri Bupati, akan maksud dari, raja negeri Temas tersebut.

37. Sang Putri Temas sangatlah cantiknya, menjadi putri terkenal, ke lain negeri, Sang Raja Mesir, lalu membalas surat itu, sudahlah diberikan, dengan segera kepada utusan itu.

38. Lalu diaambutlah sang utusan, oleh Sang Mangkubumi, bermacam suguhan, setelah disuguh, utusan lalu pamit, kepada Sang Nata, lalu ia pun pergi.

39. Tak diceritakan di jalan, segera tiba, menghadap Sang Raja, menghaturkan surat, setelah diterima, disuruh membaca sang menteri, bunyi surat itu, Sang Raja temas senang.

40. Karena bunyi surat itu, baik, kuterima, aku berterima kasih, atas kehendaknya, diterima dengan dua tangan, atas maksudnya, akan Sang Putri Temas.

41. Sang Raja Mesir berkata, kalau setuju maksud saya, tuan antarkanlah, saya menjemput di jalan, setelah membaca surat, mengangguklah Sang Raja, berkata kepada permaisuri.

42. Setelah demikian lalu berangkat, mengantarkan sang putrid, pada pagi harinya, sang putri berhias, sangatlah eloknya ia mengenakan pakaian, raja kaputren.

43. Cantik sekali sukar dilukiskan, upacaranya indah dan bagUs, ia naiktandu, yang berhias eMas dan manikam, dilindungi payung kebesaran, kalau dilihat dari jauh, merah menyala bagai gunung terbakar.

44. Yang memikul tandu berbusana, mengenakan pakaian merah, semarakterlihat, dibawalah kemudian sang putrid, oleh hamba sahaya raja, seribu anak menteri.

45. Seribu perjurit naik kuda, onta pun keluar pula, membawa harta kekayaan, yang serba indah, ada empat puluh orang banyaknya, yang memikul dinar (uang), miliksang putrid.

46. Empat puluh orang pula yang memikul pakaian, yang serba indah-indah, sutra dan kain, segala macam busana, dan di depan tandu, takterhiTUng, jumlahnya yang mengiring.

47. Segeralah berangkat Sang Raja Temas Itu, mengantartcan sang putrid, kembali berada di jalan, sakitnya tak terceritakan, ayah ibu yang tertinggal, segeralah mereka, tiba di dusun pinggir kota.

48. Segera beristirahat dalam pesanggrahan sang putrid, diam ia duduk, berada di dalam tandunya, yang dihias serba emas dan manikam, alasnya sutra halus para hamba sahayanya, pada merubung mengelilingi.

49. Raja Mesir sudah dilapori, kalau sang putri datang, ada di dusun pinggir kota, maka segera ada yang menjemput, yakni sang Sri Bupati, tak diceritakan, pengiringnya banyak sekali.

50. Dengan segala upacara naik kuda, dan Sang Raja, naik kendaraan kuda, pelananya bersalut emas, diteretes dengan intan, cahayanya bersinar, bila kena sorot matahari.

51. Ada pun pengabaran Sang Raja, dengan upacaranya indah, dipajang kembar, dibalut intan berlian, ditabur mirah delima, tak diceritakan lagi, tibalah di dusun pinggir kota.

52. Turunlah Sang Raja dari kendaraan, mendatangi sang putri, semua hamba sahaya, kini pada melihat, menuml penglihatan sang putri, bukan yang terlihat, di dalam mimpi.

53. Melengos sang putri menutup wajahnya, dengan sedih dan menangis, taksudi melihatnya, berkata kepada hambanya, disuruh mendekat sudah, raja yang datang itu, bukan si dia dalam impian.

54. Kata si abdi dayang jangan begitu, benar Sang Raja Mesir itu, adalah jodoh Paduka, yakni yang datang ini, sang putri sedih menangis, tingkahnya tidak keruan, demikianlah sang putri itu.

55. Kalau didekati oleh Sang Raja, ia menjerit menangis, betapa semakin sakitnya, pingsan di dalam hati, segeralah ia tak sadar diri, para hamba sahaya, bingung untuk menolong.

56. Abdi dayang dan emban menangis, segera melihat, Sang Raja, terhenyak kebingungan, melihat sang putri itu, tak sudi ia, lelah untuk menanti.

57. Terduduk ia berangan-angan, sebab apa semua ini terjadi, kepadaku ia tak sudi, demikian sang putri, ramai-ramai didekati, sampai sehari, semalam tak sadar diri.

58. Paginya ia siuman dan duduk, setengah duka melamun, berbicara di dalam hatinya, bagaimana aku ini datang ke mari, menjadi khawatir karena begini, tak berdayalah ia, Sang Putri Jaleka itu.

59. Setelah demikian datanglah Sang Raja, setengah marahlah raja itu, maksudnya ia hendak membawa, sang putri itu, pulang ke negeri Mesir, maka berkatalah ia kepada abdi, Sang Putri Jaleka.

60. Sang Raja kini mendatangi tuan, sang putri pun melihat, hatinya cemas pelahan ia bicara, ia bukan yang ada di dalam mimpi, dalam impianku itu, yang nampak di waktu dulu.

61.Orang yang dalam impian itu jodohku, di mana nanti ketemu, aku akan kawin, mendengarlah Sang Raja, apa yang dikatakan sang putrid, ia pun menerima di hati, sembuhkan amarahnya.

62. Menjadi kasihanlah Sang Raja, maka sang putrid, mendengar suara, dari keadaan yang tak Nampak, kata suara itu memperingatkan, sang putri janganlah susah dan prihatin.

63. Jangan kau semakin menolak, menu rut sajalah, kepada, raja itu, karena lewat dia kau akan bertemu, dengan orang dalam impian itu, lewat Sang Raja itu, di belakang hari.

64. Setelah mendengar suara itu, tenanglah hati sang putrid, percaya kepada berita tersebut, lewat ucapan suara tadi, yang terdengar tadi, setelah demikian, menurutlah sang putrid.

65. Demikian juga hamba Tuhan ini, yakni bagi para yang mukmin, ketika hati cemas, pada hari kiamat, mendengar suara Yang Widi, bersabda ia, hambaku ini.

66. Jangan kau cemas dan sedih di hati, duhai hambaku maka hilanglah segera, cemas dan sedih di hati, percaya akan utusan Yang Widi, demikianlah dia putri Jaleka itu.

67. Menurutlah sang putri dibawa, diiring keluar, oleh Sang Raja, setelah tiba di luar, dinaikkan dalam tandu yang indah, sedang Sang Raja, naik kendaraan kuda gagah.

68. Tak diceritakan di jalan, segeralah mereka tiba di istana, penuhlah mereka yang, pada melihatnya, semua pada menyanjung, segeralah tiba di dalam puri.

69. Turunlah ia dari tandu, diiringkan pulang, oleh Sang Raja, menuju ke rumahnya (tempat yang disediakan), tempat tidur indah dan bagus, semua memang sudah disediakan, tempatnya lebih dulu.

70. Tiba di iatana memang sudah sedia, tempat tidur sang putrid, istana kencana, dihias dengan manikam, dihias-hias dengan indahnya, dengan sutra dewangga, semuanya sangatlah elok.

71. Demikian pula tempat tidurnya, serba gemerlap emas, diteretes intan, mutiara yang bersinar menyala, dari jauh seperti gunung api, penuh ratna, abunya harus wangi.

72. Harum semerbak tak hilang-hilangnya, dengan bau jebat kasturi, tak lupa pula ibarat direndam, gula sehingga manis rasanya, memabukkan harum wangi, di seluruh istana, memenuhi istana sang putrid.

73. Arkian semua para istri, mereka pada bertemu, sama-sama tercengang, melihat warna sang putrid, yang baru datang ini, sangatlah berlebihan kasihnya, Sang Raja Mesir itu.

74. Alkisah sang putri di dalam istana, marah kepada para madu (istri raja), ditempatkan dalam istana baru, ketika hari mulai malam, Sang Raja berkenan, bercengkerama dengan sang putri.

75. Maka digantilah rupa oleh Yang Sukma, akan sang putri tersebut, sebagai gantinya, dalam tempat peraduan bersama Srinarapati (raja), putri Jaleka dilindungi oleh Yang Widi .

76. Tak kuasa lagi pria melihat, kepada sang putri itu, memang tidak dipastikan untuknya, karena ia ditentukan untuk Baginda, Yusuf oleh Yang Widi, sang putri tersebut, tak hilang jua rasa asmaranya.

77. Setiap hari masih mengharap-harap, akan impian dulu, sang putri Jaleka, akan berbahagia, dengan Baginda Yusuf, sedangkan Sang Raja, hanya sekedar memiliki.

78. Demikianlah permaisuri Nabi Suleman, yang bernama putri Balkis, yang berbahagia itu, demikianlah Nabi Suleman, ratu itu bernama Siti Rinjing, sekedar suruhan dusunnya.

79. Begitu pula permaiauri Baginda Musa, tercerita ialah, yang bemama Masiya ratu yang cantik itu hanya sekedar memiliki Baginda Musa itu adalah yang memiliki.

80. Begitu pula permaisuri Baginda Rasul tercerita pula yang bernama Katija Baginda Rasul itu ialah yang berwibawa yakni raja umar hanya sekedar memiliki.

@@@

Advertisements
Posted in SERAT NABI YUSUP

SERAT NABI YUSUP


PUPUH I
ASMARANDANA

 1. //Ngyateki milya hangawi / carita Yusup ginita / marmaning ginurit mangko / carita sinungan tembang / tembang asmarandana / kasmaran isun angrungu / tutur Nabi Yusup ika//

2. //Takabeteng tuna sarik / luputan ing sardhya ila / duluren ing Yang ta mangko / singgahen neng ngagama / tuduhe nang marga dursila / tuduhan nang marga ayu / luputa I sarwa cipta//

3. //Singgi Nabining Yang Widi // kaliwat sih ing Yang Sukma / ing Bagendha Yusup mangke / andikanira Yang Sukma / mangke ing dalem Kuran / Mukammad rengenen iku / caritaning Yusup ika//

4. //Luwi abecik sireki / saking carita lyan ika / kocap ing jro sastra mangke / ana wong kapir ing Meka / angucap ya Mukammad / sun anggawa tulis iku / ujaran dhe andhe ika//

5. //Ya ta rawu Jabarail / dhateng ing Nabi Mustapa / bakta surat Yusup mangko / maring sira rasul ika / neher sira angucap / punika ta Surat Yusup / nugrahanira yang sukma//

6. //Pandhita satenga mali / natkalaning rasul ta mangko / angaos Kuran ta mangko / ya ta kapir ing Meka / amet upaya ta sampun / angundang mangke sanema//

7. //Saking desa Ajam / iki den kon amaca saloka / areping brahala mangko / supaya ya na ngrungua / ing rasul ngaos Kuran / ya ta Jabarail rawu / dhateng ing Nabi mukammad//

8. //Ratu raja brahala prapta / surat Yusuf den wacaa / ujari pandhita mangko / natkala Nabi Muhammad / amangku waya ira / ingkang nama Husen iku / kalintang sih asihira//

9. //Ya ta tumedhun Jabrail / dhateng ing rasul punika / neher mojar sira mangko / dhateng ing Nabi Mustapa / salamira Yang Sukma / dhateng ing tuwan punika / tuwan na si putu tuwan//

10. //Sampun ia pangeran singgi / anitaake ta raja / kang ngamatenana mangko / ing waya tuwan punika / den sumbele patinya / kaya mbunu mindah iku / tingkahe ing putu tuwan//

11. //Ya ta sapa myarsa neki / karunaha sru ta sira / patima karuna mangko / kaliwat priyatinira / ya ta Jabrail prapta / marek maring Nabi Rasul / mawa surat Yusup ika//

12. //Tan kocapa laraneki / Nabi Rasul ing potrakan / muwa putrani ra mangka / tan kuningan denira / laranireng ngatmaja / wonten gantiyaning wuwus / Bagendha Yusup kocapa//

13. //Ingkang putra Yakub iki / kang nama Yusup punika / Bagendha Yakub ta mangko / kang putra Bagendha Ishak / kuning Bagendha Ishak / kang putra Ibrahim iku / ingangken mitra dening Yang//

14. //Sampuning mangkana mali / Bagendha Yusup asanak / jalu lan istri ta mangko / tunggil saibu sarama / Abuyamin kang nama / Jani kang istri ranipun / ingkang tunggil sebu rama//

15. //Lan anak tiga alit / katilar ing ibunira / kaprena ari ta mangko / sira Buyamin ing nama / titiga sabakira / ingkang sanakira / ingkang wus tanpa ibu / titiga sanak sarama//

16. //Kabiran lan Sirarail / kaprena sanak denira / Bagendha Sueb ta mangko / kaprena sanak denira / Bibining Yusup ika / sanaking Bagendha Yusup / Bagindha Sueb punika//

17. //Sanak Nabi Yusup iki / sapulu tunggal sarama / kaprena sepu ta mangko / kang pambayuna maneka / samaun sira laweku / ruya yalun sendhineka//

18. //Mali sumendhi sireki / sira asjar sira badan / sira nal ika ta mangko / sira jadun sira arsa / nanging ngora na memba / ing warnane Nabi Yusup / ika nanging pekik dhawak//

19. //Kulintang sira apekik / Bagendha Yusup ing rupa / tan ana atumandhing mangko / sejagat I warnanira / tanduk patitisira niruting siraranya lus /lir widadari ing syarga//

20. //Pamulu lir mas sinangling / muwalekering wadana / sumanu lir wulan mangko / purnama kartika padhang / wadya yaya mutiara / yen mesem lir penda juru / madu sampun pinasthika//

21. //Liring ing netra amanis / wadananira pinangka / tatambaning ngagring mangke / tumingala yakti waras / pan sira tan samanya / kakasihing Yang puniku / sakti tur bakti Pangeran//

22. //Kaliwat sihing Yang Widi / ing Bagendha Yusup ika / muwa ram arena mangko / kalintang asi ing sira / tan kena yen pisaa / sanlika tan iyan ketung / sihira ing putranira//

23. //Ri sampuning lami lami / Bagendha Yusup awaya / rohelas tahun ta mangko / dadya aguling ta sira / sinangulu ing rama / angimpi Bagendha Yusup / aningali mangke sira//

24. //Angimpi sira ningali / srangenge kalawan wulan / lintang sawlas kathahe / samiyan sujud I sira / dina malem Jamangat / datkalaning ngimpi iku / Yusup murub tiningalan//

25. //Awungua pajar iki / bapa amba anyupena / wulan lan srangenge mangke / kalawan lintang sawelas / Nabi Yakub ngandika / menenga kakyanak isun / aja umung impenira//

26. //Sampun ing pinajar / Bagendha Yakub ta sira / karuna alara mangke / awlas dtateng putranira / Nabi Yakub ngandika / paeuwan kakyanak isun / dera pajar sanakira//

27. //Pan wru Nabi Yakub iki  / wikana yen putranira / sami wru ing wahanane / impening Yusup unika / Bagendha Yusup ika / marma ing Bagendha Yusup / wedi dinengke ning sanak//

28. //Ataken Yusup ariri / tegese impen ing rama / rama pajaren ta mangke / Nabi Yakub ngandika / kaliwat kakyanak isun / becike syapenanira//

29. //Pinajar Yusup sireki / tegese syapenanira / dening ramanira mangke / dadi ratung tembe sira / kabe pra sanakira / kawisesa deng sangulun / kabe para sanakira//

30. //Lintang kang sawelas iki / wahanane sanakira / wulan lan srangenge mangko / wahanane yayaira / wulansira bu nira / sanak ta sawelas iku / sami asujud ing sira//

31. //Ngandika kang rama aris / sampun ta wru sira tuwan / panggungung si ing Yang Manon / sukuraken adenira / pramulening pangeran / estu supena nireku / mapan Nabi reke sira//

32. //Tatkalaning Yusup iki / apajar impen ing rama / tan ana ingkang wru mangko / nanging pameswarinira / Bagendha Yakub wikan / kawalon Bagendha Yusup / wikan pan angintip sira//

33. //Apajar ring putraneki / kang nama Samaun nika / Samaun apajar mangko / ing sanakira sadaya / sami mangkya ngandika / ing wisma sanak panggulu / ingkang nama Robil ika//

34. //Ginunem Yusup sireki / dening kang para pra sanak / sami ta karsane mangko / ayun amakeweana / mara ing Bagendha Yusup / samya taken ing syapena//

35. //Atut sira yayi nguni / atutur impening rama / yayi pajaren ta mangko / punapa ta mangko / punapa ta impenira / Nabi Yusup kemengan / ing mana yang ing kaetung / pamekase ramanira//

36. //Yen angucap ing ati / Bagendha Yusup kemengan / apajar impening mangko / dadya nirarken wewekas / yen ta na wewekas / ken anglinyok mangko isun isun / tan arsa linyoka//

37. //Ya ta sami mojar iki / kabe para sanakira / arsa matenana mangko / ing Nabi Yusup ta sira / kabe para sanakira//

38. //Mangkin sangsaya adengking / kabe para sanakira / amet cidra sangkanane / Yusup adowalan rama / sami marek ta sira / arsa angajakeng sira//

39. //Enengena sanak iki / sabda rasul kang kocapa / ing ngangsud angrusak mangko / lampa kang abecik ika / ta penda ban ing punang / anggesengi rebatake//

40. //Ya ta saprasanak iki / sami marek sireng rama / sami ngamitaken mangko / ing Yusup kesa bebedag / sarwi angon amindha / mapan saprasanakipun / kabe wus sinungan mindah//

41. //Sakathake putaneki / sinung mindah sewu sowang / anging Nabi Yusup mangko / sinungan nem ewu dhawak / mangke sayari sira / kabe saprasanakipun / ars bakti abebedag//

42. //Sapa miyarsa nireki / aturing putra sadaya / kang wadana wenes / gumeter ing angganira  agathir wajanira / wikan ta Bagendha Yakub / yen ing ngupaya kang putra//

43. //Sasampuning marek sami / kabe para sanakira / hapti angapus samangko / angajaka abebedag / in Yusup kang pra sanak / amiting putra sira wru / yen kang putra tan yuktiya//

44. karana Yakub sireki / Nabi sinung pengawasan / dening Yan tan katon ngandika / ing putra samadaya / tan pawe yen anakisun / sira gawa abebedag//

45. //Tanpa pawe isun maknawi / dinemak ing asu alas / sinreng Nabi Yusup mangke / dening kang raka sadaya / amba kang angraksaha / mangke ing pun Nabi Yusub / aturing putra sadaya//

46. //Sampun ing mangkana mali / Bagendha Yusub binakta / dening kang pra sanak mangke / me praptang sireng wana / anututi Nabi Yakub / neher anguntab ing marga//

47. //Tur sira sarya mengeri / Bagendha Yakub ing putra / cuwan tan karaksa mangko / poma pacuwan pepeka / kaliwat isun marma / mangke ing Begendha Yusup / semang dinekening sanak//

48. //Nengena putranireki / kocapa sabda Yang Sukma / praptang Nabi Yakub mangko /  kulehe sira ta asra / ora angandel sira / mangko ing pangraksan isun / kaliwat kasi iba sira//

49. //Enget Nabi Yakub iki / yen luput tumulya tobat / angrasaking cipta mangko / ya luput ing sabdanira / ika karanya tobat / pijer amengeti putra//

50. //Kocapa Yusup sireki / ginanti sinunggi sira / dening kang raka sakabe / tatkala katon ing rama / sanak kang istri ika / angimpi Bagendha Yusup / tiba ing cakeming macan//

51. //Dadi amiyarsa warti / Yusup binakta bebedag / dening kang pra sanak mangko / malajeng nututi sira / tinutaken ing rama / nangis wal sing Nabi Yusup / sanak kang istri punika//

52. //Kang rama ngandika aris / I putra istri lingira / kule pun ta sira mangko / nini angangis alara / sumaur putranira / awlas ing pun Nabi Yusup / karanipun nangis amba//

53. //E nini sampun anangis / sumaur sira kang putra / e bapa pira semangke / pan nangis amba punika / lewi semene bapa pan nangis tuwan puniku / lepas tan kadulyang rama//

54. //Tan kocapa putra istri / kocapa make denira / putra kang ambakta make / ing Yusup kesa bebedag / sarawu I reng wana / arsa mejahana iku / ing Yusup kang para sanak//

55. //Yen sampun sira mateni / apti atobata sira / anedhaha ing yang Yang Sukma / ing tingka kang mangkana / punika manke Yang teku / saking panggere ing setan//

56. //Henengakena rumihin / dhateng pun ibelis laknat / anjenenging merab mangko / tumuli ta dera sapa / sapa siram ring amba / line pun ibelis isun / apajaring umurira//

57. //Saking tita ing Yang Widi / dhateng pun ibelis laknat / anjenenging merab mangko / tumuli ta dera sapa / sapa siram ring amba / linge pun ibelis isun / apajaring umurira//

58. //Awruan puniki / yen umuri ra ta tuwan / kantun kaliatus mangke / tumuli muksa pun laknat / ya ta sang tapa ika / amicara ing jro kalbu / lagi ake umuring wang//

59. //Anggur arerena kami / anuwukana sakarsa / akasukana ta mangko / yen parek mati atobat / lunga kang tapa ika / ya ta lampa dhustha iku / anuwuki karsanira//

60. //Ya ta mati anglampai / mahasiyat kang atapa / tan kahura tobat mangko / mangkana puara neka / ing wong lampa masiyat / ingkaraken tobatipun / punika puara sasar//

61. //Ya ta sapra sanak sami / sampun lepas lampaira / saking prenaira mangke / Bagendha Yusup  punika / sarawu inreng wana / tinedhunaken puniku / wae Yusup sing ngembanan//

62. //Ri sampuning raha tebi / Yusup sinangsara sira / dening kang pra sanak mangke / ingirid irid ta sira / ingunusaken pedhang / dening Samaun malayu  / angungsi sanak kang liyan//

63. //Ika pan arsa mateni / sadaya angunus pedhanga / kewrat tyasing Yusp mangko / dadi mesem siram ulat / ing sanak samadaya / sinapa Bagindha Yusup / dening sanak kang atuwa//

64. //Kang nama Yahuda iki / anapa kulehe sira / mesem apan pati mangko / kang sira dheaken iya / kulehe mesem sira / sumaur Bagendha Yusup / ing sanakira sadaya//

65. //Karanisun mesem iki / ana semuning Pangeran / ujaring Samaun mangko / paran semuning Pangeran / mangke kang praptang sira / sumaur Bagendha Yusup / unyaba ngandeling tuwan//

66. //Aningkarake sawiji / wiji pangawasa tuwan / sapa niayaya mako/  aniayaha ing amba / mangko ta sami sira / arep amateni ring sun / iku mula mesem amba//

67. //Angrasa kawele mami / amba angandel ing tuwan / tan angandeling yang mangke / ya to tiniban dening Yang / sisanak kang atuwa dadya wlas ing Nabi Yusup / yena sun kukuhi sira//

68. //Sanak sami mojar iki / ing sanakira Yahuda / kulepun to tuwan mangko / angowahi pangubayan ing nguni to mangkana / angandika sira Yahuda ora pinangka duduwa//

69. //Ing wong angowahi jangji / alaora yen duduwa / yen sira amaksa mangko / arep padha matenana / tanpa we isun iya / yen ira mateni Yusup / isun patenana denta//

70. //Meneng sami salin jangji / kabe para sanakira / ayun angleboke mangke / ing talaganira sadad / kocapa sang atapa / ing jro talaga sira wus sewu taun umurira//

71. //Kaum Nabi Yahud teki / kang atapa jro talaga / araning ngatapa mangko / Siraud mangkya ranira / wong alawas ing kung / marmaning atapa ngrungu / tutur Nabi Yusup ika//

72. //Sapolahe Yusup iki / lawan para sanakira / muwa rupa pekik mangko / ya to nenedhang Pangeran / wong atapa punika / ayun wru ing Nabi Yusup / sampun age mati amba//

73. //Ya to katarima iki / paneclhaning sang atapa / dening yang sukma to mangko / dadi amiyarsa syara / wong atapa punika / lungaya sira den gupu / mring talaganira sadad//

74. //Ya to lunga anglampai / punang kang atapa ika / mungging jro talaga mangke / sarwi akarya ibadat / punang atapa ika / kang pinangka buktinipun / wonten dalima sumadya//

75. //Lawan damar kurung singgi / tan ana sumbu lan lenga / gumantung tanpa cacanthel / sinadya dening Pangeran / ing wong atapa ika / samono kagunganipun / asi karana Pangeran//

76. //Kocapa Yusup sirek tinibaken jro telaga / lineboken kedhungnya jro / lumumpat sarwi to sira / sidhakep mekul jaja /  mengga to Bagendha Yusup / sarwi angungud ambekan//

77. Kapanggi sang atapa ing / jro talaganira sadad / mojar sang atapa mangke / e Yusup alawas amba / yoneng ing sira tuwan / alawas amba angantu / tan pinanggyaken lan tuwan//

78. //Asangan amba ni Yang Widi / isun anging sira tuwan / sampun sala cipta / mangko ing polahe sanak tuwan / kang anglampahi ala / sampun tuwan wreta iku / ing polahe sanak tuwan//

79. //Karana darmang lampahi / sapolahe sanak tuwan / Pangeran sangkane mangke / dadi aneng jro telaga / karana dning donga amba / nedheng Yang Ageng sun / apanggiya lawan tuwan//

80. //Sasampuning apapanggi / padhem kang atapa ika / mayid binecikkan mangko / pinendhem dening malekat / gumanti ginantenan denira Bagendha Yusup / enggening atapa ika//

81. //Tan kocapa Yusup iki / kocapa kang para sanak / sami angandika kabe / reanira awewreta ing sira ramanira / yen sampun Bagendha Yusup / pinangan ing asu alas//

82. //Sami ngambil cidra iki / karani tanpa i dawa / rasul kaning Yusup mangko / ing ngurapan ra ing mindah / pinangka cinanira / yen sampun Bagendha Yusup / pinanganing asu alas//

83. //Ya to sami mantuk aglis / tekeng prena waktu isa / nulya sami marek kabe / mangke dhateng ramanira / pra samya akaruna / matur yen Bagendha Yusup / pinangan i ng asu alas//

84. //Sami awewreta iki / analetek polahira / sami lelepasan mangko / kawula atotowokan / kantun pun Yusup dhawak / babak tan kabe den tunggu / ika mila ning dinemak//

85. //Amyarsa ramanireki / i pawartane kang putra / sawengi karuna mangke / kapati pati alara / mindel sira saksana / raina ing waktu subu / anglilir si ramanira//

86. //Sapanglilirira linggi/  tumingaling putra nira / neher angandika alon / kaya tan estu ing wreta / anak isun pinangan / ing macan kesa buring sun / ing sira kakyanak ingwang//

87. //Ya to tiningalaken ku / -lambining Yusup punika / kang apulang marus mangko / neher sapa ningalira / ing rasul kan pulang ra / karuna sira aseru sampun mindel tiningalan//

88.  //Mesem Nabi Yakub iki / ningal ira sukan ika / wutu nora sebit mangko / sami matur putranira / punapa pola tuwan uni karuna aseru / mangke gumujeng fir brangta//

89. //Kang rama ngandika aris / inguni karana ningwang / andeleng kulambi mangko / meles geti kayas tuwa / anak isun pinangan / ing macan dadi gumuyu / tumoning kulambi ika//

90. //Wutu ora na kang sebit / nyana nisun kabe sira / linyok kaponing wong mangko / pinangan ing asu alas /nora na kang sirnaha / muwasa panganggonipun / kabe mangsa na sirnaha//

91. //Mangkana ing wong marek ing / Pangeran mangko katara / kang katha masiyatnya wong / tandhane katha dosanya / kang tan anandhang dosa / abener agamanipun / dukaning cipta tan ana//

92. //Mangkana mukmin lumili / awake apulang dosa / kaya pola ing wong tumon / ing kulambi apulang ra / priyatine kaliwat / yen den dulu kalbunipun / abener tokide ika//

93. //Hang priyatin ing ati / dene angandel si ing Yang / pangapuranira mangko / kawula bener tokidnya / ya to mangko susirna / ilang priyatine sampun / dening angandel si ing yang//

94. //Putra sami matur mali / sadaya ing ramanira / singgi amba sikep mangke / kang asu alas punika / kang rama angandika / ia becik sikepen denmu / den ken aturena ing Wang//

95. //Mapan putranira sami / tan uning yen macan ika / bisa ararasan mangko / lan Bagendha Yakub ika / mapan lamon wikana / mangsa karsaha angatur / aken dhateng ramanira//

96. //Mangkana mali ing benjing / ing ari kiamat ika ingkang anglakoni mako / masiyat elinging tika / tinakonan sira ngas / tan angaku lakunipun / lamon agawe masiyat//

97. //Ya to tangane mangkyang li / angaku yen mahasiyat / sukune ngestoken mangko / lamon iya mahasiyat / mangsa anggaotanya / kabe pra samya angaku / kawele denya wak dhawak//

98. //Samya mangkat putraneki / abuburu asu alas / dadi to amanggi mangke / asu alas ika tuwa / untunipun tan ana / sinikep tinalen sampun / ingaturaken ing rama//

99. //Nabi Yakub ngandika ris / ing asu alas punika / kulehe to sira mangko / amangan rayalit ika / nora na welasira / amangan ing anak isun / kaliwat sialanira//

100. //Ya to tiba ing Yang Widi / punang asu alas ika / bisa ararasan mangko / anauri pangandika aturing asu alas / to ayen mangan atengsun / mangke dhateng putra tuwan//

101. //Sakeing dagi nging Nabi / kabe haram aning amba / mungga mba antuk mangke / dukaning yang abuktiya / ing Nabi Yusup tuwan / to ayen mangan atengsun/ kadya ture putra tuwan//

102. //Putra sami miyarseki / aturi asya las mangko / sika sami tumungkul to / mangke miyarsa aturing / macan Nabi Yakub ngan / dika ing macan yen sira weru/  kulehe nora awara//

103. //Asya las sumaur aris / wedi amba wewretaha / manawi ingaran mangko / angadu adu punika / denira putra tuwan / punika kawedi nisun / ing angadu adu ika//

104. //Ing king to miyarseki / wreta sakinge yang tuwan / sabda Nabi brahim mangke / wong linyok agung pataka / nepun agawok sira / Bagendha Yakub angrungu / caritaning macan ika//

105. //Dinukan dening Yang Widi / tan pinanj ingaken syarga/  ing angadu adu mangko / punika kawedi amba Nabi Yakub ngandika / ing macan asemu guyu / ing ngendi pinangkanira//

106. //Asya las sumaur aris / amba puniki mradesa / saking bumi Mesir mangke / angulari anak amba nengge kasikep ika / dening wong kang abuburu / macan awreta ing amba//

107. //Ujare awreta singgi / nengge reke anak amba / ayun den bunu amangke / ya to sapangrenge amba / wretaning macan ika / priyatin tan keneng turn pituelas diva amba//

108. //Tan anginum tan abukti / pituelas diva amba / liwat damanisun mangko / lara oneng anak amba / Bagendha Yakub sira / karuna sangsaya ketung / kangen dhateng putranira//

109. //Den angucapa ing ati / lagi asu alas ika / samono i larane mangko / apisa lan anakira / Nabi Yakub ngandika / sapira lagi to isun / sapisa lan anak ingwang//

110. //Ya to angandika aris / Bagendha Yakub ing macan / ana to sira wru mangko / maring anak isun ika / aturing macan ana amba tumingal pukulun / uni dhateng putra tuwan//

111 . //Nabi Yakub ngandika ris / kulehe nora awara / aturi macan mangkya lon / awedi amba wewreta / manawi ingaranan / angadu adu puniku / mangke dening putra tuwan//.

112. //Karana pitena iki / keneng dukaning Yang Sukma / Nabi angandika alon / sun panedhakaken / sira karanira panggiya / lawan anakira iku / mungga gelis tinemua//

113 . //Asya las sumaur aris / yen tuwan nenedha ing Yang / amba anenedha mangke / i Yang sangkanya panggiya / tuwan ian putra tuwan / sami anenedha sampun / ing yang Nabi Yakub ika//

114. //Kuneng Nabi Yakub singgi / mantu dhateng dalemira / macan punika mit mangke / Bagendha Yakub to sira / anenedhang Pangeran / raksanen pun Nabi Yusup / asungana rakmat den i Yang//

PUPUH II
D  U  R  M  A

1. //Ana carita sato manjing ing syarga / lilima kathaneki siji asu alas / kang bisa ararasan / lan Bagendha Yakub singgi kapindho ota / nira Bagendha Sali//

2. //Kaping tiga sona kang atapa turya / sihibul kaping mali / kang adrebe sona / kaping pat blagadaba / nira ji ping limaneki / lan ingkang kuda / Bagendha rasul iki//

PUPUH III
ASMARANDANA

 1. //Nabi kawamaa mali / kocapa mangke denira / Bagendha Yusup to mangko / tigang diva lawasira / ya to wonten adagang / sira Malik aranipun / make anakipun dahar//

2. //Abangsa wong arab singgi / nger nagareng Mesir sira / duk lagya lit sira mangko / srangenge kempi denira / manjing ing tanganira / den wetoken mangke sampun / srangenge sing tanganira//

3. //Den jenengake ngarsani / ra lan mali mega pethak / tiba sumamburat mangko / ya to dadya muteara / den pun pilihi muwa / den simpeni pethinipun / sapatangine angucap//

4. //Rasane impen inguni / kaya ing bumi Kanakan / enggoning srangenge mangko / tumuru kayang Kanahan / ya to maring pandhita / ataken wahananipun / impene uni punika//

5. //Apajar sawirasaning / impene dhateng pandhita / mojar sang pandhita mangko / nora sunarsa ing ngarta / tegese impenira / angita ing sitan isun  / abecik syapenanira//

6. //Sinungan dinar kakali / punang sang pandhita ika / ya to winartaken mangko / wahanane impenira / anemu tembe sira / rare pekik warnanepun / akatha ngaku kawula//

7. //Kalawan to suka sugi / dening rare iku sira / tumangki lir ira mangko / tan pegat sira ing ngucap / tekeng ari kiamat / dening barkate rareku / luput ing api naraka//

8. //Lan manjing syarga sireki / dening rare iku lira / kasugiyanira mangko / tekeng anak putunira / tekang ari kiamat / dening barkate rareku / lungaha angula tana//

9. //Sarwi adaganga kaki / den agelis sulatana / sing desa sasaken mangko / ruruhen aja kaliwat / mangka nguni mangkana / ana ing tegal alas gung / den agemet tula tana//

10. //Sigra mangkat tan asari / kang aran Malik punika / aken dhateng titiyange / kinen ngemota dagangan / winot mangke ing onta / sakehing dagangan sampun / adan mintar mangke sira//

11. //Anuju ing bumi miskin / rawu ing bumi Kanahan / mulat lor ian kidul kulon / we tan saksana tumenga / anedha kapanggia ni / pun ryalit puniku / dadya ana syara ngucap//

12. //Ujari syara mengeti / ing wong adagang punika / rareku norana mangko / seket taun tembe medal / sasaking ramanira / sapa miasane mantuk / Malik dhateng wesmanira//

13. //Henengakena sireki / polaira sang adagang / angrasa tan padon mangko / denira ngulati sira / ya to saya sru sira / denira ngulati iku / sampunira renge syara//

14. //Yanten wakyu ning Yang Widi / dhateng Nabi Daud ika / sisapa ngulati mangko / maksa ngulati mating wang / yakti isun kapendhak / lamon maliyan tinemu / sun wehi waspada ring wang//

15. //Aja to malaur iki / kang lyan saking isun ika / yakti sun wehi waspaos / asihi kawula iya / sasamining kawula / samono den temu iku / asihe karana dunya//

16. //Ya to ing taun ping kali / rawu mali kang adagang / anakira dahar mangke / kang aran Malik punika / maring bumi Kanahan / kuneng to sarawuipun/  ing alas bumi Kanahan//

17. //Sowara ing rencang neki / lamun sira anemua / ing rayalit ika mangko / kang sun ulati punika / sun pradikaken lira / saparo kakya artanisun / sun sungaken maring sira .

18. ya to mintar tan asari kawulaning sang adagang ing Bagendha Yusup mangko sira anang jro talaga ya to punang adagang sami aningali manuk samya angideri talaga//

19. //Sami anglayang wontening / ing saluhuring talaga / lir mungga kaji idhepe / kaya angideri kaba / tingkahing paksi ika / pan tansa jatining manuk / malekat ikang angraksa//

20. //Atunggu dhatenging Nabi / Yusup mulening Pangeran / nyananing adagang kabe / den sidep si manuk wakca / tan wru yen malaekat / mojar pun Malik tan asru / ing rencang ani likana//

21. //Sigra mangkat tan asari / kang aran pun Basir ika / aniliki sumur mangko ganda Nabi Yusup kongas / ameleg sing talaga / gandane marebuk arum / amelek ing grananira//

22. //Mangkana wong arep muli / marek ing sirs Yang Sukma / tan kena panggiya mangko / lamon durung ilang sinya / ing dunya ing akerat / ing jrone atine iku / mangsa kawasa panggiya//

23. //Ya to timbanepun Basir / dipun leboken ing toya / Jabarail prapta mangko / mari Nabi Yusup mojar / anjenenga ya kawula / mojar kang adagang iku / amba katelasan draham//

24. //Wonten si draham puniki / bagedak tur tatampikan / ngandika kang raka kabe / la iya yen tatampikan / endi si drahamira / dipun aturaken sampun draham woluelas ika//

25. //Salaminira puniki / kagugu mangke denira / yen reganira ing mangko / wolu elas draham ika / tur bari tatampikan / punika pinanggihipun / amuji ing awak dhawak//

26. //Draham sampun dinum iki / dening para sanakira / nangi ingkang sepu mangko / ika tan arsa dungduman / ingkang nama Yahuda / marma ing Bagendha Yusup / dinol dening kang pra sanak//

27. //Tan aningali sajati / ing wama kang para sanak / anging rama ibu mangko / tumingal jatining / warna warnanira kaliwat / ta sihing Bagendha Yusup / kali rama ibunira//

28. //Yen sungana aningali / denira Yang Maha Mulya / sanakira kabe mangko / yakti mangsa kawasaha / adrebe ya pangucap / yakti agawok andulu / yen wikaning warnanira//

29. //Sang adagang kocap mali / asung surata panebas / muwa para sanak mangko / asung surat ing adagang / Nabi Yusup binakta / dening adagang ing nguwu / huwu dening kang pra sanak//

30. //Aken ing adagang iki / balenana ya pacuwan / rareku ake celane / paminggatan linyokan / pama iku pacuwan / manawa iku malayu / pacuwan kurang prayatna//

31. //Miwa mangkana sireki / Yusup tan wrigati sira / suka anduluha mangko / ukuming yang prapteng sira / Nabi Yusup ngandika / aja age lunga laging sun / aningali gustining wang//

32. //Manawi tan mulat maning / maring gusti nisun ika / linge sang adagang mangko / asia gugusti sira / gusti nira / to ora asihing sira puniku / yaktine denedol sira//

33. //La den aran aran singgi / duk lira den dol ing ring wang / Bagendha Yusup lingnya lon / waya eng lakoni ala / pan nujune pinangka / sihe pamulene ring sun / sedheng yen den ranana//

34. //Atut dudu nisun uni / iya gusti nisun ika / sanak akaruna kabe / dening Yusup angandika / sapra sanak sadaya / awlas ing Yusup kaduhung / ing lampaira kang ala//

35. //Yen to tan ajriha sami / angrasa wiranging rama / ayun wangsul lena mangke / Bagendha Yusup ing rama / cipta ning kang pra sanak / kesa to Bagendha Yusup / binakta dening adagang//

36. //Sampun to dipun lekasi / dening abesi wan pelag bagus / ing sapakene gustine / ya to binalenggu sira / Bagendha Yusup ika / den wor ian titiyangipun / lan sakatha ing dagangan//

37. //Wonten kang winuwus mali / Sek Amkim warta andika / yen sira na mangko / anukmaken sawe mulya / winor ring tanpa mulya / kadi mutyara gengipun / sinukmaken ing gigiwang//

38. //Kasturi satya sutreki / sinukmaken kremi ika / madu tawon gone mangko / masala kawatu ika / aman pinrening dhadha / mangkana to Nabi Yusup / winor ian daganganira//

39. //Mangkana kang wisayeki / angambili tanpa mulya / denya yun angambil mangko / kang mulyaning jro kutang / mulya mangkana mali / kirtya saking wisaya puniku / ogya wistara ing kirtya//

40. //Muwa to sira Yang Widi / angamuleni ing iman / tan angamuleni mangko / ing nala reke Yang Sukma / mangkana mali sira / yang mule Bagendha Yusup / tan mule sirang dagangan//

41. //Sigra mantuk tan asari / kang aran Malik punika / ayu dhateng Mesir mangko / tenga wenging wayaira / bener ri pagulingan / kang ibu Bagendha Yusup / anjog saking tutunggangan//

42. //rawu Nabi Yusup aglis / ing ngastanane bunira / karuna sasambat alon / ibu kaula apasa / kalawan rama eyang / sapungkur tuwan puniku / pan keneng balah i amba//

43. //lbu tingalana singgi / nistha ing naning sarira / ibu kang asiya mangko / ing satingka amba muko / ika dadi angrenge syara / ning ibu saking jro kubur / anauri Yusup ika//

44. //trange netra isun sigi / wohe atinisun sira / Bagendha Yusup to mangko / sampun ing amyarsa syara / nira sire bunira / kasirep Bagendha Yusup / satingale besi nora//

45. //Den aturaken ing gusti / ne kang aran Malik ika / rare punika to mangko / sampun malayu to sira / sun ulati tan ana / mandheg sira Malik sampun / kinen sira ngulatana//

46. //Aja ge sira lumaris / mandhega sakabe sira / ake ning titiyang mangke ing / besi kang aran pelag / anututan neng marga / neher to Bagendha Yusup / katon dening besi ika//

47. //Singgi to dipun lekasi / nulya aglis pinaranan / dening besi pelag mangko / den kekengser tur den tepak / sarwi den uman uman / uni warahe gustimu / sira linyok paminggatan//

48. //Warahe gusti muhuni / tan sun idhep mangko sira / atut paminggatan mangko / palinyokan nyata sira / tagane paminggatan / sumaur Bagendha Yusup / ora isun kaki minggat//

49. //Muga mba nemua kaki / dukan ing Yang yen minggata / isun lunga mara marigko / ing jarate ibu amba / ya to dipun sangkala / mangke ki Bagendha Yusup / den unggahaken ing onta//

PUPUH IV
P A N G K U R

 1. //Tan kocapa sang adagang / kocapa to mangke dera sang kawi / munajat Bagendha Yusup / anenedhang Pangeran / ya tuwan kalamon ana dudu nisun / tuwan kang angapuraha / kang wru ing jrone tyas mami//

2. //Kedhep sapanedha nira / dadi yante utusaning Yang Widi / Jabarail aranipun / angucap mangke sira / paran karep to aneng bumi sang ulun / Bagendha Yusup ngandika / pangeran uga kang lewi//

3. //Kawru ing kawula nira / anging sira kang lewi bener iki / Jabarail mangke muwus / ran pun angucap mangke / muwus sampun, sira sak / tuwan sakarsa tuwan kedhep dening Yang Agung / Jabrail amukul bumi / ya to atemahan api//

4. //Udan angin kukus prapta / peteng awor udan watu karikil / aya to rasan tigan ning / paksi geng ingkang udan / nyana ning adagang kadya manggi kewu / pangulu adagang mojar / ingkang aran sira Malik//

5. //He batur sapa anandhang / dosa atobat to samantaraning / durung pada manggi kewu / x) kirang leres / ya to sami atobat / angucap punang besi ing gustinipun / manira anandhang dosa / angucap to sira Malik//

6. //Apa khaki dosanira / sauring abesi manira uni / amala rare puniku ya to kinen denira  / Malik amalampaha sapangatipun / abesi mangkya malampa / ing Yusup mangkya tur aris//

7. //Tumulya sira nenedha / ing pangeran hang aning balahi / kedhep sapanedhanipun / ya to ing mangke sira / srangenge medal apadhang mangke sampun / pun Malik mangkya angucap / arek ing yang sira kaki//

8. //Mantenan sira nenedha / gyis sinungan denira sang Yang Widi / Bagendha Yusup amuwus / sarwi mesem to sira / atut isun kaya ujarira iku / pun Malik sira angucap / isa days rencang neki//

9. //Aken mangke uculana / balenggunira Nabi Yusup iki / sinung anggen anggen sampun / dodot kalambi sarya / pelag pelag den kon lumampa ing ngayun / sami angiring sadaya Malik lumampa ing wuri//

10. //Tan kawarnaha ing marga / prapteng desa ing tesa araneki / punang wong desa puniku / sami agawok mulat / ing rupa pekik lan ijo ning pamulu / muwa tingka pari pola / ira kagawokan sami//

11. //Jenger sak.eing tumingal / ing warnanira Nabi Yusup sami / ya to wong desa puniku / sami taken pinangka / nira saking ngendi to rare puniku / sakabe padha tatanya / wong jro desa sami kapir//

12. //Wonten sabda rasul ika / tan kocapa sing wrua rupa pekik / dadi pangabaktinipun / ing sira sang Yang Sukma / mangkana mali sing wru ing wali iku / pandhita sarasya baktya / ing yang satus taun mali//

13. //Sarawu ira Bagendha / Yusup sami amawa iman singgi / keneng kasakten sira wus / brahalane den tilar / dipun gitik gitik brahalane sampun / dadi Islam wong jro desa / sami mawa iman singgi//

14. //Sigra miyang saking tesan / prapteng desa Kudus mandheg to sami / wonten mangke ratunipun / angimpi ana syara / ana wong prapta / ing desanira iku / prapta sami enjang enjang / ing desanira saiki//

15. //Upa subanen denira / sapakene idhepen denireki / poma jo pepeka iku / yen prapta suguhana / ya to atangi mangke ratu puniku / akarsa anglampahena / sapakene impen uni//

16. //Biksekaning Ratu Jiyad / dadi ing enjang enjang Yusup prapti / dhateng ing desa puniku / kawreta ing sang nata / ya to kirim nawala patra sang prabu / mara ing punang adagang / ingkang aran sjra Malik//

17. //Kecapi utusan prapta / andikani ra sang nata puniki / tuwan antuk rare iku  / kang pekik warnanira / tuwan bakta amarek ing / sang ngaulun sang nata ayun wikana / ing rare kang liwat pekik//

18.//Yya to sira Malik Adan / marek ing sang nata tan kawameki / sang prabu kocapa iku / akening para garwa / anak dhara wong salaksa kali ewu / sami paes ngangge angge / angrasuk makutha rawit//

19. //Wong parawan wong wuwujang / salaksa kali sami beci beci / agegelang akakalung / buka sri ngangge jamang / ahemeraken dhit asosotya murub / nila widure mutyara / manten kuswaragahasri//

20. //Bagendha Yusup kocapa / asiram labete pinala uni / denipunang besi iku / asiram ing bangawan / awuwuda sakathaing ulam rawu / amarani cayanira / Bagindha Yusup puniki//

21. //Wonten to ulam satunggal / kalintang lintang mangke agengneki / malang angalingi iku ing Nabi Yusup ika / sangkane ya ana ulam wawane wru / ing cayane Yusup ika / kalintang asi sireki//

22. //Ya to sira sang Yang Sukma / asung nugrahaning ulam puniki / antuk anak roro iku / kang satunggal punika / kang anguntal mangke i ng Bagendha Umus / pitung diva anang garba / ring ulam magke puniki//

23. //Sakathaing ulam samya / marek ing sang ulam ageng puniki / anake satunggalipun / kang anguntal kalpika / nira Nabi Soleman nengge puniku / sampun nira mangkya sira / Bagendha Yusup puniki//

24. //Utusan nira sang nata / angaturi wastra kang adi adi / ora susa paes sampun / sira sang Yang Wisesa / asng papaesira ing Nabi Yusup / sampun ing sesrebeng dhastar / mungga ing ngota sira gyis//

25. //Rumap dhateng ing pura / marek ing sang nata Jiyad tumuli / sira Malik marek sampun kawarnaha ingrika / sang nata aken ing kulawarganipun / tekaning santana nira kinen angatur atur//

26. //Amapag ing lawang kitha / sira Malik sampun rawu ing puri / saking tita ing Yang Agung / mega ngawengi surya / sang nata ngandika ing adagang asru / endi to rupane ika / rare kang apekik iki//

27. //Aturing Malik punika / luhur onta ironing kulambu singgi / sang nata sira amuwus / aken angungkabana / kebek cayaning Yusup desa punika / ing susungkuning nagara / kasenenan caya sami//

28. //Sakathaing kang tumingal / ing warnanira Nabi Yusup sami / dadi parawan puniku / sami ajenger mulat / sami wirang tumungkul sira andulu / ujare ingkang tumingal / durung sun mulat kayeki//

29. //Bagendha Yusup to sira / anjang enjang prapta jro desa linggi / kalawan sira sang prabu / muwa satingalira / sang nata gawok dhateng Bagendha Yusup / pekik rupane kaliwat / muwa caya anelehi//

30. //La sakeing wadyanira / sami gawok cengeng kan aningali / sang prabu sira amuwus / ataken ing adagang / endi pangulu kang dera iringiku / matur mangke kang adagang / atudu ing sira Malik//

31. //Kang gek sang nata miyarsa / kagawokan nyananira narpati / Bagendha Yusup angulu / sami ing upasuba / kaliwat pangupasubae sang prabu / pun Malik mangkya angucap / ing sarencangira sami//

32. //Ing salawas isun l iwat / ora kaya mangko ing desa iki / pindho sataun to isun / kampir ing desa nora / nana napa ora na taken ing isun / sajeg isun noli boca / sang nata l iwat marma si//

33. //Henengena sang adagang / kocapa to mangko dera sang kawi / Bagendha Yusup kawuwus / ing mulening Pangeran / anurunaken malekat kali atus / sami ambakta sanjata / kinen rumaksa angering//

34. //Nabi rasul angandika / sakehing wong punika wonten ugi / rumaksa in awakipun / malaekat ing sira / saking pramulenira yang sukma luhur / mangke ing kawulanira / ing wali kalawan mukmin//

35. //Sami marek kang malekat / ing Bagendha Yusup sami ngideri / angraksa tangi lan turn / samya rupa manusa / satingalira Nabi Yusup muwus / ataken ing malaekat / sapa to sira puniki//

36. //Sumaur kang malaekat / amba kinen denira Sang Yang Widi / rumaksa  ing tuwan iku / lan kinen angiringa / sampun ing mangkana sang prabu amuwus / iki kang katong dening syap / ena nisun duk ing nguni//

37. //Kang kinen ngupasubaha sapakene / idhepen iya iki / tudu ing Bagendha Yusup / sarwi kinen linggiya / dene parek apajar impen sang prabu / uni anakening ring wang / idhepen wewekas neki//

38. //Mangko to sakarsanira / idhep isun Bagendha Yusup angling / wewekas isun sang prabu / aja nembah brahala / aja maro pangeran supaya luput / sira ing api naraka l ingira sang prabu aris//

39. //Iya apa karep ira / Bagendha Yusup karep isun iki / konen to brahala ningsun / asujuda ing sira / kesa sang prabu layan Bagendha Yusup / sarawu irang pratimas / brahala sujud tumuli//

40. //Brahala ika sawusnya / sujud ing Bagendha Yusup anuli / aniba dhewek wus rempu / sang nata kapenetan / ya to dadi Islam dadya amintuhu / agendha Yusup to sira kalangkung tinami tami//

41. //Kalangkung sinubasuba / sira Malik sarencangira sami / sasajen rawu aselur muwa kang / pupundhutan / ake warnane tan kantun sekul susu / pan sami abukti sira / muwa Nabi Yusup singgi//

42. //Samya rasa wane sira / datan telas sasajene binukti / saking barkat Nabi Yusup / ya to sang prabu mulet / ing malekat to ngiring Bagendha Yusup / samya ngideri ing sira / a inggi datan atebi//

43. //Sang prabu mangke ngandika / kulehe tan dera ken sami bukti / ngandika Bagendha Yusup / sarwi mesem to sira / manawi tuwa tan wru ing wong puniku / iku balaning pangeran / tan anginum tan abukti//

44. //Kang pinangka buktinira / puji maring sang yang wisesa singgi / dhikir mangka inumipun / ataken srinarendra bala punapa to arane puniku / Bagendha Yusup ngandika / kinen angraksaha singgi//

45. //Sang prabu axis ngandika / bala punapa to arane iki / Bagendha Yusup amuwus / arane malaekat / kinen rumaksaha dening Yang maring / sun sarya angiringa pisan / kinen denira Yang Widi//

46. //Henengakena aksana / kang kocapa panggere ing Yang Widi / pratistha ciptaning ratu / aptyana rereana / sangkane Yusup anger rang desa kudus / dening kasmaraning rupa / apekik kang wau prapti//

47. //Sang prabu akening bala / karsanira kinen sami nyegati / wong salaksa kali ewu / samya nunggang turangga / nyegating adagang kinen deng sang prabu / karsa pinalayokaken / Bagendha Yusup puniki//

48. //Sampun ing mangkana kenas / Nabi Yusup ian kang adagang sami / ya to kapapag ing ngenu / bala srinara nata / anunggang turangga sampun ing kapethuk / lan Bagendha Yusup tiyang  agung cengeng aningali//

49. //Mangkana mali wong syarga / tatkalanira ningali Yang Widi / kali atus taun / iku datan eling ing Kendra / ladat ing syarga datan ana kang ketung / dening liwat oneng ing Yang  / lan ladate aningali//

50. //Anulya kantaka pisan / tigang diva lawase ora nglilir / dening gawoke andulu / kabe ing warnanira / Bagendha Yusup tan kawarna ing ngenu / prapti desa ari sama / mandheg to sadaya sami//

51. //Bagendha Yusup anyipta / ing sarira dhewek sajroning gali / sakehing jalma tumuwu / ora na kaya ingwang / sakehing apekik ora kaya isun / saksana lumampa prapta / ing jro desa aningali//

52. //Kabe wong desa punika / warnanira samya apekik pekik / lir warnane Nabi Yusup / punang wong ing jro desa / tan ana ningal i ing Bagendha Yusup / dadi amiyarsa syara / ning sukma Yusup puniki//

53. //Unining syara angucap / nyananira ora kaya sireki / ponake kawula nisun / kang amadhaning sira / ing dunya iki kabe kawula nisun / dadya rupane wong desa kaya Nabi Yusup iki//

PUPUH V
S I N O M 

 1. //Wonten secarita nira / Bagendha Musa puniki / duk sapocapan ian sukma / ing luhur prawata uni / anenedhang Yang Widi / ayuning ngalana iku / ing sira sang Yang Sukma / muwa cipta nireng ngati / uki luhur wukir tursina mangkana//

2. //Ra na kawula ning Yang / ang kadya isun puniki / kaparek ing Sang Yang Manon / wani matur ing Yang Widi ya to Nabi Musa ka / -turunan syara puniku / e Musa nyananira / ora na kaya sireki / anoliya sira kanan keri nira//

3 //Ya to Nabi Musa sira / anoli mangke sira gyis / ing kiwa tengenira no / ana wong sewu puniki / kiwa tengene sami / anungga warnanipun / tekaning yang gon anggon / muwa tetekenireki / kados tetekenira Bagendha Musa//

4. //Sami nenedhang Pangeran / kaya panenedhaneki / ya to Nabi Musa sira / amyarsa syara Yang Widi / e Musa cipta iki / ora na kawula nisun / kang kaya sira mangko / ponake kawula iki / kang amdhani lira pareking ing Wang//

5. //Ya to Nabi Musa sira / tumurun mangke sira gyis / saking luhuring dipangga / sampun ing amyarsa singgi / Nabi Musa puniki / ya to anulya asujud / ing ngarsaning Yang Manon / anedha maring Yang Widi / pangapuranira Yang Sukma Wisesa//

6. //Bagendha Musa atobat / saking ngujubireng nguni / ya to amiyarsa syara / Bagendha Musa puniki / la angkaten sira gyis / saking lema sira ipun / wus sira tobat mangko / sun apura tobat neki / mangkana maliBagendha Yusup ika//

PUPUH VI
P A N G K U R

 1. //Sampuning mangkana kesa / saking desa aris sira anuli / tan kawamaha ing ngenu / prapta ing Mesir sira / saksana aleren wonten desa sampun / dadi punang wong jro desa / angrungu syara to sami//

2. //Ujaring syara angucap / ing desa iki ana rare prapti / lintang pekik warnanipun / yen wong apapanggiya / ilang dukane yen wru rare puniku / dadya atemahan suka / angrungu wong desa sami//

3. //Ing panyanane wong desa / sami andali syaraning memedi / ngucap mali syara iku / den aglis paranana / ing wesmane Malik to rare puniku / sasampune myarsa syara/  wong jro desa saini brangti//

4. //Padha kasmaran to sira / amiyarsa ana wong anom prapti / sami ngularia selur / ateken tinakenan / pundi wesmane kang aran Malik iku / sumaur kang tinakenan / isun puniki ngulati//

5. //Manda yen sampun mulata / ing warta kewala prandene sami / wong desa sa Mesir ayun / henengena saksana / kang kocapa kang aparek ing Yang iku / wong ing Mesir sami brangta / lali ing pangeran neki//

6. //Mangkana wong arip ika / liwat brangta kasmaraning Yang Widi / amiyarsa warta iku / andika saking Kuran / muwa pangandikane Bagendha rasul / pira maning brangtaneka / ya wru i yang syarganeki//

7. //Punang paksi asang srangan / agirang tumoning / kang wau prapti / kang sarya kusuma nungsung / tanpa nedhenge mekar / kaya ge kagandaha deng Nabi Yusup / mapan gunungaken sira / dening yang nagareng Mesir//

8. //Sampuning mangkana prapta / ing griyanira ingkang aran Malik / enjing prapta sira sampun / sakehing wong nagara / ing Mesir sami manjing ing wesmanipun / supenu tanpa ligaran / kederan wesma pun Malik//

9. //Ingkang tunggu lawang mojar / paran karya rantaban wau prapti / kang tinanya gyis sumaur / ayun isun wikana / ing rupane rare kang pekik puniku / anengge nang wesmanira / rare kang kasuhur pekik//

10. //Kang atunggu pintu mojar / atut tan na rare pekik ing ngriki / yen sira arsa andulu / isun we nana dinar / ya to asung sira dinar tan asantun / anulya manjing ing lawang / ngira ingkang aran Malik//

11. //Henengakena saksana / kang kocapa kang wriyang pira lagi / yen kawasaha andulu / yan kawasaa mojar / yen elinga ing kadang ing warganipun / aningali ing manusa / samono denipun lali//

12. //Sampun ing mangkana sirs / enjing enjing ingesan dening Malik / sinung angen anggen sampur / Bagendha Yusup ika / kang sarya lewi lewi sampun rinasuk / alinggi ing papang langkyan / mangke sang sayembe pekik//

13. //Sakehing wong kang tumingal / sami gawok cengeng sira ningali / kang girya sesek supenu / pun Malik mangkya rasa / kasukeran dening wong sami andulu / tan kena tinundhung muwa / sakehing aniningali//

14. //Pun Malik mangke atawa / ing tumingal tebusen rare iki / apekik tan samaneku / pantes tan sabdanira / tur jatmika ia tebasen rare iku / Bagendha Yusup ngandika / aja isun sira puji//

15. //Batik to ing sabdanira / sapa arsa nebusa rare iki / inagari mka wyas ayun / ya to inganyang sira / kali laksa wolung ewu istri jalu / ake arsa angurupa / nama ring sapa nganyangneki//

16. //Ake arsanya kithaha / yen sapanganyange mangke puniki / nuli kandheha lara gung / kenang sarik kang nganyang / ya to tan ana wani anganyang iku / ing Bagendha yujsup ika / wedi kandhehan lare ki//

17. //Pun Malik mangke atawa / ing tumingal tebusen rare iki / dadya ana syara muwus / ing luhur awang awang / ora na kawasa nebusa rareku / sang prabu Mesir kawasa / anebusa rare iki//

18. //Henengakena saksana / kang kocapa mangke dera sang kawi / wonten kang arsa anebus / nengge lerira sadad / wong istri kal intang mangke sugihipun / winartaning liwat dalan / den ana rare apekik//

19. //Nunten arsa ngurupana / wong salaksa wolung ewu puniki / kang amadrebeken iku / ya to wong wadon ika / garjita atine myarsa wreta iku/  ya ta mari griyanira / ingkang aran sira Malik//

20. //Nunten melebet ing lawang / apti anebusa taken pun Malik / yen tuhu adol rareku / satingaling Bagendha / Yusup kanggek tan kawasa mongjar iku / agawok pekik ing warna / pan den sengge dede jalmi//

21. //Yang to sinung pangawasa / dening yang mojar taken sira aris / manusa tuwan puniku / gawok isun kaliwat / tan ana inguni uni wartanipun / muwa to ing jaman kuna / durung wru rupa kayekti//

22. //Isun kagahaning warta / apti anebusa ing tuwan iki / anawarrekye rep denpundhut / saha kena denira / sang amadreweke wong kaharsa iku / yajan arta satungkeb rat / ora na gatine iki//

23. //Bagendha Yusup ngandika / isun dinadeken dening Yang Widi / manawa sira durung wru isun sasaminira / kalawasa kabe sira to puniku / bula isun ingaesan / karanek.a tingal pekik//

24. //Wong wadon ik.a angucap / Bagendha Yusup patut tuwan iki / aneguhaken to isun / ing pangandika tuwan / yen pangeran andadeken kabe iku / ya to wong wadon punika / wus amawa iman singgi//

25. //Dadi to mangke Iselam / artanepun den danaken ing miskin / kenang bark.a Nabi Yusup / ya to wong wadon ika / wus abakti mala dhateng patinipun / kaliwat ing baktinira / ing wong ningal i wong lewi//

PUPUH VII
D  U  R  M  A

 1. //Tan kocapa mangke wong wadon denira / ana kocapa pamali / sang putri ing temas sing kang aran Jaleka / waya sangang taun mangkin putri Jaleka / ayu k.aloken bumi//

2. //Sugi mas ratna kancana lan sadana / yaya ibu liwat si / tinurut sakarsa / datan wani muranga / yen ana karsa nireki / pan tinurutan /dening kang yaya bibi//

3. //Ri sampuning mangkana putri Jaleka / mangke sira angimpi / tumingal Bagendha / Yusup sira kaliwat / denira kasmaran brangti / ing jro syapena / katingal aning nguni//

4. //Sapanglilire guling putri Jaleka / awenes asmu brangti / ya ta enjang enjang / prapta ing ibu nira / kali samya napa agyis / kulehe sira / awenes asmu brangti//

5. //Sumaur arisira putri Jaleka / ibu isun angimpi / ing wengi tumingal / wong apekik kaliwat/  rupane tan ana tandhing / durung mulat to/  isun kang kaya iki//

6. //Lan kadi rupane aluhung kalintang / lan pamulune kuning / awake gumilap / yaya mas sinepuhan / sotya lep kresna ahening / lir tumetesa / pawakane l ir rukmi//

7. //Wajane yaya mutyara sinundukan / yen mesem kadi gendis / medalaken caca / saking guyune ika / kalawan cayane maning / lir pendha surya / rema memek awilis//

8. //Tan kawasa emuten amamaha / warnanira kang kempi / yaja satungkeb brat / ibu angulatana / mangsa amanggiya singgi / satangi ningwang / dadya tan wente singgi//

9. //Ika mula nisun ibu anggeng brangta / kangen kang kempi uni / rama ibu ngucap / anak isun pangeran / sampu sira bunek ati / yen to anaha / mangke kang kempi uni//

10. //Sun undang sun panggiaken lawan sira / yen wrua prenaneki /  manawa to sira / wru prenahe pangeran / ena to sun ater nini / mari kang kating / al ayuni ing latri//

11. //Salamining nyupena sok anggeng brangta / tane caya argulir / amung kang kaetang / kang katon ing wardaya / kangen wamane kang kempi ri sampunira / genep sataun mali//

12. //Angimpi mali kang kempi uni ika / ya to taken sang putri / sajroning syapena / manusa sira tuwan / enaka nisun ngulati / kahananira / sumaur to kang kempi//

13. //Isun manusa tanpa rabi rabiya / lamon tan sira nini / sira mali tuwan / tanpa laki lakiya / ye noraha isun iki  / aja to sira / malelekaken nini//

14. //Prasatyakena nini isun denira / sampun mangkana tangi / sa putri kaliwat / lara denya karuna / tongtonen kang wau kempi / muwa kang rama / ibu pan sami prapti//

15. //Marma temen mangke dhateng putra nira / samya tilik mangkya gyis sami taken sira / kulehe sira nyawa / anangis sira to gusti / sumaur sira / wong ika kempi maning//

16. //Isun takoni ujare awawara / ingisun bapa aji / kalawan angucap tanpa rabi rabiya / yen dudu wa isun sigi / ujare wara / ingisun bapa aji//

17. //Sawis i sapocapan kaget tumulya / tangi rasaning ati / kaya to masiya / lagi jroni syapena / masiya linggi sumandhing nulya ngandika / wau kang rama aris//

18. //Atakon to sira prenahe wong ika / sumaur raja putri / ora taken bapa / isun ing prena ira/  kepyan tyasing yaya bibi / samya karuna awlas ing putra sami//

19. //Kami luluhen mulat tingkahing putra / ya to sira sang putri / supe ing baksana / tan keneng guling sira / rinaksa deng prameswyari ana ing pura / carangcang to sang putrid//

20. //Sataun lamine anang jro carangcang / dadya angimpi mali / ya to enget sira / anyekeli Bagendha / Yusup sarwi muwus aris / kang tansa nala / nisun kang asung brangti//

21. //Warahen isun ingendi enggonira / sumaur to kang kempi / manawa tan wikan / mangko sun ulatana / prenaisun bumi Mesir / ri sampuning a- / -pajar wungu sang putrid//

22. //Enjang enjang sang putri medhek ing rama / amekul sarya nangis / tur sarwi ngandika / la bapa ulatana / ingkang kempi mau bengi / sarwi apajar / nengge ing bumi Mesir//

23. //Yen tan kapanggi pejaha to majanira / ibunira sru anjrit karep isun bapa / mangko apotusana / mara ing nagara Mesir sang putri sira / enjing kasmaran brangti//

24. //Tan kocapa mangke sang putri ing emas / yanten kocapa mali / sabdaning pangeran / dhateng ing Nabi nira / ucapena denireki / sing sapa temen / ngulati sun pinanggi//

25. //Angandika mali dhateng Dawud ika / panebut isun iki / tiba ing sakatha / ingkang anebut ingwang / syarga nisun iki mali / tiba sake ing / kang ngabakti ing mami//

26. //Padha ia isun ian sake ingkang asra / ing ring sun iku mali sun pola sakenya / kang rena pawe ing wang / si isun tumiba mali sakehing kang a- /  -becik ing ring sun mali//

27. //Isun atatu sakehe brangti ing wang / e Dawud rengeteki / sing sapa doraka / ing isun iku iya / sun alingi alaneki / sing sapa baktya / ing ring sun rena mami//.

28. //Lawan sakehe kang sun kasihi iya / sun wehi to balahi / sawuse ku iya / sun wehi lara ika / sun pateni pisan iki / sawusing peja / sun srahi dhengdha mali//

29. //Aningali ing ring sun kastra ing ring wang / nora nana Iyang Mali  ang Daud sing wikan / ing isun mangko iya / den kasih isun Mali / sing sapa asi / ngisun ngulati singgi//

30. //Sing sapa ngulati sun de temu ing wang / ya Daud linyok teki/  ngucapa ciri wang / teka ing wengi ika / netra den remaken Mali / karing sun ika / mange mange ing latri//

31. //Lam on tan surak saha nyawane ika / ingkang sun pili singgi  ning caya tatar bang / ilang nyawane la / mara mg wang iku singgi / yan tan asiya / isun ning awakneki//

32. //Ri sampuning mangkana sang natang Temas  sakarsane sang putri ing / ngidhep sang nata / mangke sira potusan / prapta ing nagara Mesir / tumulya mangkat punang mantri sira glis//

33. //Tan kawama ing marga tumulya prapta / kang utusan ing Mesir / nunten medhek enggal / dhatenging patihira / nunten binakta anangkil / katuju medel / pan duka Sri Bupati//

34. //Sampun katur mangke kang nawala Patra / dhateng Srinarapati / kinen amaosa / wau ingajeng ira / kuneng bubukaning tulis / wikananira / isun na wreta kaki//

35. //Putra nisun niscaya ayuning sira / kalapa prameswari / iku den karuan / kaki ing karsanira/  yen sira rawu mariki sakarsanira / isun nadyan nuruti//

36. //Yen isun kaki dhateng nagaranira / angater ring sang putri / dhatenga ing sira / ri sampuning amaca / surat suka Sribupati / ingkarsa nira / sang nata temas singgi//

37. //Sang putri temas kal intang ayu nira / dados suhur sang putri / ing liyan nagara / sang nata Mesir sira / amangsuli serat mali / wus sinungaken / dhateng utusan aglis//

38. //Nulya dinadaran mangke kang / utusan akening Mangkubumi / angupa subaha / sampuning sinegehan nulya kang utusan amit / dhateng sang nata / nuli enggal lumaris//

39. //Tan kawarna ing marga tumuli prapta / medhek ing Sribupati  ngaturaken serat / sampunira tinampan / akena maos ing mantri / unining surat/  sang nata temas singgi//

40. //Dening unining nawala patranira / iya isun tampani / kalangkung tarima / isun ing karepira / ananggapi asta kali / ing karsanira / sang putri temas singgi//

41. //Sang nata ing Mesir tanduking ngandika / yen kayun isun iki / sira ngaterina / isun mapag ing marga / sampuning winaos nuli / mantuk sang nata / ngandikang prameswari//

42. //Ri sampuning mangkana nulya dan mangkat / angatering sang putri / copa ing enjang / sang putri adan paes / amepek yaya ing ulis / angangge raja / kaputran ratna adi//

43. //Lintang anyunira tan kena winama / upacaranira asri / aniti jampana / mas pinatik ing ratna / pinayungan mas kinardi / yen tiningalan /  lir penda wukir agni//

44. //Kang amikul jampana samya busana / abrang sinang lir sari / anjra katingalan / binakta mangke sira / sang putri deng sribupati pawongan nira / sewu anaking mantra//

45. //Pangalasan sewu kang anunggang kuda / onta pan sampun samya mijil / anata barana / kang sarya pelag / wong patang pulu akeing kang mikul dinar / ira sang raja putrid//

46. //Wong patang pulu mali kang mikul wastra / kang sarya lewi lewi / sutra lan remas / sawarnaning busana / lum ngayunin joli to pali garan / keing angiring ngiring//.

47. //Saksana mangkat sang nata Temas ika / angatering sang putri / wangsul sireng marga / larane tan kawarna / yaya ibu ingkang kari / gyis ing ngamarna / prapta desa paminggir//

48. //Saksana rayan sang putri masanggrahan / neher sira alinggi / wonte papalangkyan / mas pinatiking ratna / lalamak sutra angrawit / pawongan nira / atap sami ngideri//

49. //Sang nata Mesir sampun sira katuran / yen sang suputri prapti / nang paminggir desa / adana mapag sira / aglis mangke Sribupati tan kawarnaha / sumreg bala angering//

50. //Saupacara sami nunggang turangga / miwa Srinarapati / aniti wahana / apalana mas pelag / pinatiking mira adi / pating paluncar / en kasenenan rawi//

51. //Antya to pangabaranira sang nata / sapacaranira Sri / pinajengan kembar / pinatik nawa ratna / binubungkulan mira di tan kawarnaha · / aglis rawung paminggir tlen//

52. //Tumedhak sang prabu sing wahana nira / amurugi sang putri / sakehing pawongan / mangke sami tumingal / sapaningale sang putri / dede kang katingal / -an ironing angimpi//

53. //Mungkur sang putri sarwi tutup wadana / sarwi lara anangis/  tan ayun mulata / ngandika ing pawongan / nira kinen pedhek aglis / ratu kang teka / dudu kang kempi uni//

54. //Aturing inya nira sampun mangkana / singgi sang nateng Mesir / mangka jodho tuwan / punika ingkang prapta / sang putri lara anangis / tambu polaha / nira sang raja putrid//

55. //Yen pinarekan sira denin sang nata / nulya anjrit anangis / langkung lara nira / sumaput ing wardaya / nulya kantaka sang putri / pawongan nira / gepe samya nulungi//

56. //Sira emban inya anangis salara / anulya aningali / sang prabu ing lira / kanggek asru kapnetan / mulating sang raja putri / tan arseng sira / wangsul kesel anganti//

57. //Mangu al inggi angangen angen sira / apa karane iki / ing isun tan arsa / sang putri mangke sira / samya pinurugan aglis / tekeng sadina / sawengi tan anglilir//

58. //Ya to enjang anglilira linggi sira / asmu leng leng sang putri / amicara ing tyas / lir don to isun teka/  rasa was karana iki / tan wridayaha / nira sang raja putrid//

59. //Ri sampuning mangkana rawu sang nata / asmu runtik narpati / arsa ambaktaha / ing sang suputri sira / mantuk ing nagara Mesir / matur pawongan / nira sang raja putrid//.

60. //Sang prabu rawu mangke dhateng ing tuwan / sang putri aningali / maras mana ira / aris denya ngandika  /  dudu kang kempi inguni / ing jro syapena / nisun kang katon iku uni//

61. //Wong kang kempi ika jodho nisun ikang / saenggone kapanggi iya krama ningwang / ningali Srinarendra / ing wamanira sang putri / aniraming tyas mari denira runtik//

62. //Dadya awlas manaira Srinarendra / dadi sira sang putri / amiyarsa syara / sira saking tan ana / ujari syara mengeti / sang putri aja / susa aja priyatin//

63. //Aja sangsaya daranaken ayuga / tutut ayuga nini ing Srinaranata / marga nira panggiya / kalawan kang kempi nguni / dera sang nata / iku ing tembe nini//

64. //Ri sampuning ra nyarsa syara punika / eca mana sang putri / angandel ing warta/  ning syara kang angucap / kang kapiyarsa ing nguni / wus ing mangkana / tutut sang raja putrid//

65. //Mangkana mal i kawulaning pangeran / mangke sira kang mukmin / tetkalaning maras / hebat ari kiyamat / angrenge syara Yang Widi ngandikang sira / kawula nisun iki//

66. //Aja sira priyatin maras ing mana / kawula nisun iki / ya to mangke ical / priyatining wardaya / ngandel pangutus Yang Widi / mangka sira / putri Jaleka mali//

67. //Ya to tutut sang putri sira binakta / ingiringaken mijil / denira sang nata / rawu ing jawi sira / aniti ing jampana sir / sang prabu sira niti ing wahana di//

68. //Tan kawarnaa mangke sira ing marga / praptang kadhaton aglis / supenu kang padha / aniningali sira / sadaya angalem sami / saksana rawu / mangke ing dalem pun//

69. //Tumurun aris sira saking jampana / ingiringaken muli / denira sang nata / dhateng ing dalemira / pagulinganira asri / pan wus sinadya / prena irang nguni//

70. //Rawu ing kadhaton pan sampun sumadya / pagulingan sang putri / kadhaton kancana / pinatiking sosotya / pinajang pajangan asri / sutra dewangga / parem mas ingkang adi//

71. //Muwa upacaraning kang pagulingan / sarya kancana adi / pinatiking ratna / mutyara murub muncar / saking do lir wukir agni / senen ing ratna / lan gandaning wawangi//

72. //Arum arum tan hang taken akena / jebad lawan kasturi / tan kantun kungkuma / hergula rasamala / mrebug gandane awangi / nerus kadhaton / ngebeki dalem puri//

73. //Kocapa sakehe para marunira / kabe sami kapanggi / sami kagawokan / ningali wamanira / ing lira kang wau prapti / liwat si marma / nira sang nateng Mesir//

74. //Warnanira sang putri anang jro pura / anyeneni sakehing / para marunira / pinarneng dalem anyar / saksana tumulya latri / sang prabu karsa / anyangkrami sang putrid//

75. //Dadya sinal in rupa dening Yang sukma / mangke sang raja putri / minangka gaganti / nira ing pagulingan / kalayan Srinarapati putri Jaleka / rinaksa ing Yang Widi//

76. //Tan kawasa wong jalu aningalana / dhateng sang raja putri / tan pinasthi sira / sinadya ing Bagendha / Yusup denira Yang Widi / sang putri sira / tan pegat anggeng brangti//

77. //Saban diva maksi ngajeng ngajeng sira / ing supena ing nguni / ang putri Jaleka / sinadya amuktiya / ing Bagendha Yusup singgi sang prabu sira / mangke darmang gadhehi//

78. //Mangkana pramesyari Nabi Soleman / anama pPtri Balki / kang amukti iya mangke Nabi Soleman / ratu nama Siti Rinjing / darma sedhahan / desanira di sidik//

79. //Muwa ta pramesyari Bagendha Musa / kocapa mangke singgi / kang nama Masiya / ratu pireng onika / ting marma  darmang gadhehi / Bagendha Musa / ika kang andarbeni//

80. //Mangkana mali prameswari Bagendha / rasul kocapa mali / anama katija / Bagendha rasul iya / ika mangke kang amukti / ya ratu Umar / ika darmang gadhehi//