Category Archives: SERAT SURYANGALAM

SERAT SURYANGALAM (Terjemahan)


 /1/  Bismillahirrahmanirrahim

Tersebutlah Sutan Suryangalam berbicara kepada kedua Jaksanya, apabila ada orang bertengkar dan didakwa mengambil kerbau, kambing, kuda, sapi, atau didakwa menjualnya juga, maka terdakwa yang tidak mengambil kambing miliknya sendiri dan tidak dijual. Apabila sampai pada pembicaraan dikalahkan perdebatannya, apabila yang terdakwa dan orang sekitarnya tidak mengenal alam hukum agama, maka nasehatku kepada anda sekalian jangan terburu terlena, jangan terburu senang, dan jangan mengagung-agungkan kenikmatan dunia. Dan rasakanlah sakit dan mati, inilah nasehatku kepada kalian.

 Tersebutlah ada orang mati dimana terdenda lima  kêthi  lima  lêksa,   dibagi menjadi empat yang diberi, seorangnya satu   kêthi,   dan lainnya perseorangan mendapat lima  lêksa , yang diantaranya dua  lêksa , antara sawah, antara kebun dua belas ribu yang dikenai yag terdakwa, dapat dikatakan seorangnya mendapat empat ribu, terdapat pula yang terdakwa membunuh itu /2/apabila tiga hari  termasuk dalam dakwaan, dendanya tiga juta, meskipun di rumah, ataupun di hutan, di perbatasan tetap menjadi dakwaan.

Tersebutlah penerimaan dakwaan yang tidak dilihat oleh penguasa bumi dakwaan yang dikenakan pada orang asing, orang desa itu lima  lêksa , dimana orang satunya satu  kêthi  yang dibebankan kepada orang yang terkena musibah, itulah saksi dakwaan yang berani dalam dakwaannya.

Terdapatlah di Negara Mataram dalam undhang-undhang ada orang hamil digugurkan maka didendha hukuman lima  lêksa,   (lima ribu) juga dipasung dan dihadapkan pada sakisi berjumlah tigabelas orang yakni diantaranya  kênya liring sastra bumi, duka wardaya candragêni mayauning lara, trisona, wida mêsthi wartigna, sawah arta nyanyuda sabumi, prara kang toya  artinya  kang rêradin, ialah penerang bagi pencuri yang mencuri, tidak terkena bukti dan sanksi, dimana  ada orang mengaku kecurian maka salah satunya dihukum oleh  bumi désa,  karena adanya bukti yakni hewan  têkék  yang mati oleh ularnya maka dipukul satu kali.

Apabila ada orang bertegur sapa dengan yang lainnya di kala malam hari, orang lain tersebut tiada bukti maka pasangan istri atau suaminya bukanlah pencuri, maka tidak dihukum.

Apabila sampai melukai hingga terkena kulit, membelah daging dan memutuskan otot. Dan mati kemudian maka terkena dakwaan melukai orang.

Apabila ada orang menembak pencuri di kala malam hari, ada suara kentongan oleh  bumi désa,  menangkap pencuri maka dapat dikatakan maling karena telah masuk ke dalam rumah dan meruntut suara kentongan, maka dikalahkan karena buktinya  / 4 /inilah rupa pencuri yang dujana.

Ada orang membawa gunting kemudian melewati lahan yang sepi tersebutlah maling juga namanya, meskpiun pendeta ataupun mantri sekalipun apabila terkena kisas dinamakan durjana pula.

Ada orang melewati rumah orang lain di kala malam hari disapa tidak menyahut, pertama, kedua hingga ketiga kalinya tidak menjawab lagi maka  disebut maling juga.

Apabila ada orang disarankan tidak menghiraukan maka disebut maling juga, dimana dakwaan berasal dari bukti, bukti dari  pramana, pramana  dari ububaya, ububaya  dari  utara, utara  dari  nyata kenyataan yang ada.

Inilah penerapan denda bagi terdakwa, terapkanlah bagi Mantri  ubaya sekalipun, lurah meskipun petinggi juga terkena sanksi bila salah.

Gêrah bismillah

Tersebutlah  Ratu di atas angin, yang selalu melaksanakan keadilan, dari bisikan Sang Parabu Suryangalam, Sultan yang arif, Sultan tersebut menceritakan hukum yang adil. Yang terdapat pada keadilan aksara, dimana terdapat kasus seribu lima ratus. Ketujuh pasalnya merupakan pemecah kasus pertengkatan seratus empat puluh empat. Ratu tersebut nyata membela kaumnya, memberi pesan kebaikan kepada rakyatnya, meskipun manusia biasa namun perkataannya bagaikan wahyu dari Tuhan. Apabila buruk disingkirkan dengan tangan kiri, apabila baik maka sebaliknya dengan tanga kanan. Yang selalu memberi nasehat kepada seluruh rakyatnya agar negara makmur, apabila menemukan kebaikan tidaklah disimpan sendiri untuk dirinya sendiri namun juga akan dibagikan kepada rakyatnya agar menemukan kearifan dalam kerajaannya.

Inilah Jaksa penguasa pemutus semua perkara, yang nyata akan tiga perkara, dimana sebelum ia memutuskan maka ia berujar kepada dewan, apabila ada orang bersalah maka putuskanlah lidahnya, yang dinamakan  kangdi pratula,  apabila tidak ada pembelaan maka potonglah bibirnya dengan besi merah, hidung dan kakinya, kalau tidak benar dalam bersaksi potonglah tangannya dan dikeluarkan bola matanya, dan apabila tidak diterapkan dengan hukuman itu maka dibuang di Negara lain, apbila Sang Prabu memberikan semua hukuman kepada orang bersalah maka akan aman dan damai sentosa negaranya apabila genap satu tahun Sang Ratu memanggil lagi dan melaksanakan semua perintah dan tidak merubah sabda Pangeran yang mencontoh sabda dari  Rasullullah Salalahu alaihi wassalam.

/ 7/  Beliau yang memutuskan dua perkara yakni agama yang diturunkan ke bumi, yakni dua perkara itu (al-benarnya   sabda, maka beristirahatlah apabila waktunya berbadah sekalipun berada di pasar sekalipin. Apabila ada yang berselisih yang tidak benar dalam berucap, maka hadapkanlah kepada dewan jaksa, sebenar-benarnya jaksa adalah yang memutuskan empat perkara yakni ,  Pangulu Jaksa.  Yang menentukan hidup dan mati seorang terdakwa, dibawahnya tunduk para  nayaka  (abdi) yang ucapannya merupakan / 8 /bisikan dari Sang Penguasa. Yang berada dalam tiga kekuasaan yang tidak dapat dipisahkan, artinya tiga rasa namun menjadi satu yang sebenarnya adalah enam. Yang pertama adalah perintah, yang kedua hukum Allah, yang menjadi petunjuk, inilah bersatunya rasa yang menjadi petunjuk pemutus dakwaan. Hal itu tidak bisa disatukan.

Apabila termasuk dari sembilan perkara, perintah yang menjadi keunggulan, termasuk dalam sepuluh perkara yang tertulis dalam perintah Ratu. Yang disalin perintah itu merupakan amal pebuatan yang merupakan kebajikan, tanda amal baik manusia.

Tersebutlah / 9/ arti dari amal yakni empat perkara yang dicontohkan dari  Sang Prabu tiga perkara, yakni air bumi, manusia dan langit. Sehingga air diartikan amal oleh yang mempuyai bumi. Apabila manusia juga disebut amal bagi Tuhan manusia semua adalah amal juga, yang harus menjaga bumi seisinya. Langit juga disebut amal dengan adanya matahari, bintang yang menyinari bumi siang dan malam.

Arti dari amal, ialah siapa yang tunduk akan hukum Tuhan, selalu berbuat kebajikan, kedua selalu berbuat kebenaran, tidak menjatuhkan dakwaan yang bukan merupakan kesalahan yang dibuat, tidak pernah salah dakwaan sehingga  berikanlah  /10/  pujian bukan hanya harta, emas, hewan ternak,.

Inlah orang yang bertengkar karena mengingkari ucapannya sendiri, yang memang tidak ada saksi yang menyaksikan. Namun ketahuilah keberadaan penguasa jagad. Sang Ratu jugalah yang aka memtuskan segala perkara, sebab orang yang ialah pemberi kebijaksanaan, yang memutuskan perkara manusia untuk kesejahteraan negara. Itulah yang dinamakan kebijaksanaan.

Inilah ucapan Sang Ratu Atas Angin, bisikan Prabu Jaksa Wirapêksa patrakêlasa, Jaksa Pramana, Jaksa miraya. Arti Wirapêksa yakni yang mendampingi seorang terdakwa, hingga putusan hukumannya dijatuhkan. Arti Jaksa Pratikêlasa yang  /11/ membela terdakwa apakah dakwaannya itu memang benar yang dilakukan. Arti Jaksa Pramana, yakni yang melakukan perintah dakwaan, tidak dikurangi ataupun tidak dilebihkan. Arti Jaksa Amijaya, yakni yang merubah putusan dakwaan, apabila memang yang terdakwa tidak bersalah. Itulah aturan yang pantas dan merupakan hukum dari Tuhan.

Inilah kesusahannya Negara yang terdapat empat perkara, siapa yang merusak sesamanya, ucapannya terlalau berlebihan. Lurah pun apabila merusak sesamanya juga akan diterapkan denda.

Tersebutlah orang berebut batas pekarangan, berebut saluran air,. Maka putuskanlah kepada jaksa / 12 /panggillah, berilah nasehat sehingga dapat dikenakan keadilan padanya. Itulah fungsi dari agama, mengatur segala perbuatan manusia.

Apabila memang bukti tidaklah dapat membantu dalam putusan perkara, maka hukum agama-lah nyata kepada keadilan. Yang dinamakan dakwaan pramana , yang nyata akan putusan hukum. Perlu diketahui dan  diperhatikan  penerapannya, tepat ataukah tidak.

Maka inilah perlunya memperhatikan sepuluh perkara  /13/ yang pertama adalah perkaranya, kedua kebenarannya, ketiga dendanya, keempat penolakannya, kelima dakwaannya, keenam hukumannya, ketuju kesaksiannya, kedelapan keberaniannya, kesembilan kawalnya, kesepuluh perolehannya. Kesemuanya harus menjadi perhatian. Apabila tidak maka akan kekurangan salah satu perkaranya dan tidak dapat berjalan sesuai tatanan yang ada.

Tersebutlah arti  apacabakah,  apacabakah,  yakni ada seorang wanita ketahuan oleh anjing, yang mendakwanya empat orang. Dakwaan empat orang itu berbeda-beda maka terapkanlah denda karena bukanlah suatu kebenaran.

Inilah perintah dua perkara, yang petama perintah  /14/,   kedua yang memerintah, arti perintah yang berada dalam tiga perkara dari Ratu, kedua Patih, ketiga musuh itulah perusak amal. Itulah yang dinamakan penerapan denda sepuluh perkara. Itulah perintahnya, maka jangan terburu tidak suka, jangan terburu senang.

Inilah pemutus tiga puluh perkara yang ketiganya merupakan perusak amal. Pertama, Ratu berbicara kepada musuh dan patih merusak amal perbuatan kebaikan. apabila diperintah tidak mau maka dinamakanlah durjana, inilah yang menjadi tanda. Arti  anuwuhi sastrané,  yakni berebut kekuasaan, arti  amêpang  pêrang nyata,  yakni kesalahannya sendiri, yang keempat  putung pamatange  artinya didalamnya terdapat Tuhan yang lainnya dihiraukan. Kelima  tinarka  prana , yang artinya orang yang akan membunuh musuhnya, kedelapan  damar tinatarik, yakni menepati perkataannya, kesembilan termasuk dalam / 15 / bêkaworana    yang artinya ucapannya    berasal dari Tuhannya, keluar lewat orang besar, kesepulh perkara termasuk  inapralaya, yang artinya jalan yang menunjukkan kebenaran. kedua belas perkara adalah,  yang    artinya saksi yang tidak dibawa dala pemutusan dakwaan. Ketiga belas perkara termask  tosan nukma pramana,  artinya orang yang menang dalam dakwaan. Keempat belas termasuk   sêksi rumêmbê,  artinya saksi hanya satu yang mengetahui dari keenam saksi, lima belas perkara termasuk  angêmban patra,  artinya ucapannya, enam belasa   anglikur raja,  artinya ucapan orang besar, tujuh belas  cakrapati  artinya orang yeng berhutang kepada saudaranya. Kedelapan belas perkara    ngina pralaya yang artinya peninggalan orang mati. Sembilan belas perkara  prang paya, artinya merubah tatanannya, dua puluh perkara termasuk  mutung rakitan wêwarah,  dua puluh dua perkara termasuk  anambung watang bubukên ,  artinya sesudah empat kedatangan kemudian dapat dimulai, dua puluh empat   paca prakomah,  artinya berbeda ucapan denga tindakan. dua puluh lima perkara termasuk  anukma wêcana,   artimya tidak menyuap jaksa, Dua puluh enam perkara   panca rêsi, artinya kelima pendeta yang tidak nyata akan kesaksiannya, dua puluh tujuh perkara  suryacandra miruda wêcana,  artinya matahari dan bulan itulah rupa kebenaran yang tidak menginggkari janji, sembilan belas perkara termasuk  trirasa upaya, yang artinya didalam putusan pemberian jaksa,  /17/ tiga puluh perkara  termasuk   sêbda maécaprana,  artinya tidak akan mengingkari ucapannya sendiri, begitulah termasuk tiga puluh perkara putuskan kalahkan perkaranya bila termasuk didalam tiga puluh perkara tersebut.

Inilah putusan delapan perkara, yang pertama termasuk  gupita abêkmana pramana,  artinya seorang yang didampingi tidak dapat mendapatkan putusan yang  adil, kedua  tiban prakopa anukma lampah tanjuhing wisa,  artinya keputusan yang telah dijatuhkan oleh pendakwa dijalankan oleh si terdakwa, itulah yang dinamakan keselarasan atau keadilan. Apabila tidak mempunyai saksi pembelaan maka jaksa memang pantas menjatuhkan hukuman, yang ketiga termasuk wilutorah, artinya saksinya, pendampingnya, putusannya tidak seperti ujar dari putusan jaksa. yang keempat, termasuk  gêsêngé aji pangucapé,  yakni ucapannya adalah bohong namun tetap diikuti dan dikalahkan perkaranya. Kelima  ngadhang tarka,  artinya seperti kumbang tanaman, yang menjelajahi kemana saja. Keenamg termasuk   angala gaman daya,  / 18/ artinya keputusan yang telah dikalahkan perkaranya, ketujuh  anyalawadi   artinya apabila mempunyai salinan surat-surat maka dikalahkan perkaranya, kedelapan termasuk  gapita sabda pralaya  artinya orang yang menyalin surat serta berbuat amal kebaikan tetapi bukan merupakan haknya maka dikalahkan perkaranya.

Tersebutlah pemutus lima perkara, yang pertama bagiannya, kedua pembatas ucapan, ketiga pembatas saksi, keempat pembatas pendamping, kelima pembatas kabar. Terdapat pula pemutus lma perkara lainnya, pertama  trataping, kedua   titi,   ketiga   karta,   keempat   dupara,   kelima   sêngara , arti  titi     yakni jalan kebenaran, arti  karta  yaitu pengalihan dakwaan, arti  dupara  yaitu bohong, arti sêngara  ialah penjahat.

Inilah perkara penitipan, artinya kepunyaan orang yang tidak termasuk miliknya bagaikan keruntuhan gunung karena mandapatkan rejeki yang bukan kepunyaannya, terkena pengaruh musuh tidak menghiraukan perintah ratu, itulah kerusakan negara  /19/ berdusta itu adalah kerugian negara, yang merupakan kebencian hewan di hutan, kebencian makhluk hidup, kebencian dari pencipta air. Hal itulah kebencian burung semuanya, itulah yang perlu diperhatikan. Kesusahan negara, itulah yang terutama perlu waspada, jangan senang akan keduniawian, merasa susahlah dan pasti akan mendapati kebahagiaan sejati.

Inilah nasehat empat perkara, pertama miruda wêcana angrêksa sêbda pranglaya,   artinya saksi yang mendampingi terdakwa, yang demikian itulah ucapan yang tidak dapat dipercaya. Kedua denda yang setiap tanggal pertama pada bulan purnama (prakarané dhêndha matanggal sapisan kapurnaman ) sepi tidak dapat menolak lagi putusan dakwaannya. Ketiga  prakarané angêmu wandi, artinya pendamping terdakwa yang membela saksi, berkata kepada jaksa itulah panglaku . Empat perkara itu adalah penerang dunia yakni sinar bulan, sinar bintang-bintang yang artinya orang yang terdakwa sanggup untuk menjaga buminya dari kerusakan. Apabila dihiraukan maka kalahkan perkaranya, dan mendapatkan denda sepantasnya.

Inilah penerapan perdata, dakwaan yang  mendapatkan denda sepantasnya. Apabila tepat penerapan dendanya, itulah saksi yang terkena sanksi perkara yang harus merasakan keadilan. Diutamakan para priyayi, kemudian pemuka agama, kemudian mantri. Kesemuanya adalah orang-orang yang mempunyai kebajikan,  tida boleh ingkar kepada ratu agar pesan kebaikan dapat tersebar kepenjuru dunia, bukan saja kaya akan harta, namun kaya akan keadilan.

Inilah bukti rupa bukti senyata-nyatanya, yang tidak hanya diucapkan. Bukti kang berwujud angin, ada di pucuk dedaunan,  godhong kayu,  artinya berada di pucuk   patêmoning rêrasan,  artinya   dora lêksana bana  iya itu perkataannya  sendiri (ujaré dhéwé).

Inilah tiga perkara yang lainnya, pertama  /21/ apabila mengambil sejata seperti keris, kedua  karang bukti  artinya barang orang banyak, maka di kenakan denda meskipun lurah,  bêbêkêl kaliwon, wong jaja,  itulah sepuluh perkara yaitu, anyalawandi  artinya meskipun sebentar adalah perkataannya sendiri,  akaryadési artinya mengerti namun tidak waspada,  anirpaksaksi, artinya mengetahui namun tidak sanggup mwaspadai,  aninyuktiyarané  artinya gelap petunjuknya,   angadhawa  artinya tidak ada yang mengetahui,  toya martah  artinya didalam dakwaan yang tidak diperkenankan,  bawa sabda  artinya saksinya perhitungan, tidak berujar benar bila tidak dibayar,  mang itung rah  artinya saksi yang masih ada hubungan darah atau masih saudara,  rékapan daya  artinya bertemu kesaksian yang tepat,  angéla pandaya  artinya membuat keputusan yang belum tentu kebenarannya, abakah  artinya keberanian / 22 / saksi yang tidak disampaikan,  ana sêksi anirat sêksi  artinya hanya berani dalam ucapannya,  ana sêksi anut watêsané artinya tidak mematuhi isi dari surat peraturan dengan menyobek surat, anyalawandi  artinya menyalin surat peraturan atau mematuhi surat perintah, akarya dristhi  artinya menepati perjanjian yang tertulis dalam surat perjanjian, anglêga praléna  artinya tertahan, tidak mengetahui yang mempunyai tanah,  toya pralaya  artinya tidak mengetahui isi perjanjiannya sendiri.

Inilah ucapan orang yang mengerti akan agama, menjadi contoh petunjuk negara, yaitu Ratu, jaksa dan pengikutnya, patih dan jaksanya menjadi empat perkara, Ratu, pangulu, jaksa , patih kesemuanya harus bersatu dalam kebaikan. Ucapannya merupakan nasehat dari hati, hati itu dari Sang Pencipta hidup, hidup itulah tanpa / 23/ dakwaan.

Apabila akan bertindak harus mawas diri, berkata haruslah terpikirkan dahulu, kembalikanlah kepada yang mempunyai ucapan, rupa itu kembalikanlah yang mempunyai rupa, dan ingatlah asal usul manusia, keburukan dan kebaikan apabila beragama dan taat kepadanya maka teruskanlah dengan terangnya satu bunga empat dahan dalam satu pohon, artinya setiap perbuatan manusia ada yang mengawasi, ucapannya, itulah maksud dari Tuhan yang ada dalam setiap senjata  lan ada dalam aturan agama Islam, merasuk dalam hambanya, dan penguasa menjadikan Ratu Pangul Jaksa Patih di Negara itu, yang berlimpah air hujan menjadi samudra dan cahaya langit bercahaya memantulkan sinarnya dalam air, artinya semua kesalahan umat manusia dapat ditebus dengan jalan mengikuti perintah Tuhan melalui agama Islam. Permulaan para arif kebijaksanaan penerang yang tidak segan akan keberadaannya.

Inilah Sang Ratu Suryangalam yang adil dalam memerintah pangulu, jaksa, patih dan keberadaannya dsegani pangulu, jaksa, mantri,  /24/ seluruh isi bumi, air yang diminum, semua isi bumi yang terpendam, matahari yang bersinar, artinya yang ada dan yang tidak ada, itu kedua dan pertamanya wajib bertapa, yang diwajibkan kedua itu ialah menyendiri itulah sunat, kedua itulah wajib beribadah ke masjid, membaca al-menyembahyangkan mayat, dan berpakaian dan makanlah, artinya ada sunat  muakad yang tidak bisa ditinggalkan, sama perlunya arti sunat muakad itu seperti Sholat Ied (Sholat pada hari raya Idul Fitri) dan sholat wajib rakaat dan witir, kesemuanya dilakukan dengan wudu terlebih dahulu. Sunat itu seperti sujud, rukuk, dan lainnya. Sedang sunat muaghat itu mengangkat kepala yang  kesemuanya merupakan keberadaan meskipun angulu, patih, dan manusia sekalian apabila harus mengikuti perintah Nabi Muhammad Salalahu alaihi wasalam.  /25/

Apabila telah menjadikan pengabdian sunat perlulah dan apabila tidak melakukan rukun iman, maka ketahuilah makna hidup, makna sholat, dan bakti pada Allah Tangala. Apabila tidak mengucapkan sahadat maka bukanlah Islam, maka jarahlah hartanya dan hukumlah pada Sang Ratu Adil.

Inilah ucapan keberadaan Ratu yang keberadaannya disegani Jaksa, patih yang adil. Akan menjadi gelapnya negara apabila jauh dari bau surganya, ada dalam gunung mihrap yaitu gunung yang berada antara surga dan neraka. Maka persiapkanlah bekal di dunia agar masuk ke dalam surganya, maka jangan sampai pada gunung mihrap agar senantiasa diampuni dosa-dosanya dan dosa kedua orang tuanya.

Inilah ucap keadilan yang ada diantaranya neraka jahanam, yang dasarnya neraka sap ke tujuh. Pertama gunung berapi, ada di gunung aktul diantara surga dan neraka, dari surga terlihat, dan dari neraka terlihat, dari gunung mihrap itu jaraknya lamanya ada satu juta. Yang ada dalam gunung mihrap itu hanya satu hari di akhirat, apabila sudah  /26/  maka teruskanlah keberadaannya di surga.

Inilah Sang Ratu yang benar akan ucapannya kepada seluruh rakyatnya, semuanya taat pada sareat agama, taat pada ajaran Nabi Muhamad Salalahu alaihi wasalam, apabila tidak maka mubazirlah hidupnya sia-sia, sama seperti dengan mati, tempatnya di neraka, apabila ada orang yang tidak berbakti, apabila tidak melakukan sunatnya, dan tidak cukup taat pada Tuhan tidak bersahadat, tidak Islam, maka jarahlah hartanya dan hukumlah pada Sang Ratu Adil.

Inilah ucapan Ratu yang keberadaannya disegani pangulu, jaksa, patih yang adil, yang menjadi gelapnya surga apabila tidak luhur budinya, maka berada  dalam gunung ikram yaitu antara surga dan neraka. Apabila telah berada dalam surga maka maafkanlah kesalahan kedua orang tuanya.

Inilah perintah keadilan yang berada dalam neraka, jangan muda, dasarnya yang pertama, atau Gunung Rip, itulah gunung yang berada antara surga dan neraka   /27/.   Dari surga terlihat, dari neraka terlihat, dari Gunung Ngarip terlihat lamanya satu juta, yang ada di Gunung Ngarip hanya satu hari, di akhirat apabila sudah ada satu hari maka teruskanlah keberadaannya di surga.

Inilah Sang Ratu yang benar dalam ucapannya pada seluruh rakyatnya, rakyatnya tidak pernah menghiraukan perkataannya, selalu mentaati keimanan, baik-buruk, untung-rugi semua berasal dari Allah Tangala, jangan berzina, jangan berbuat sia-sia, jangan mencuri, jangan berbuat yang menghalanghalangi agama. Dirgama  artinya  ihktiar, selalu berusaha dalam kebaikan, berada di jalan Allah Tangala, surga dan neraka sudah pasti adanya tidak akan berubah, dan tutunlah ke jalan kebenaran Nabi salalahu alaihi wasalam, yang merupakan panggilan Allah Tangala. Jangan syirik (menyekutukan Allah, menduakannya apalagi sampai mempercayainya yang banyak), jangan berpaling, jangan menyangsikan, jangan  ragu, jangan pura-pura tidak tahu, dan jangan pura-pura tidak mengenal.  Terimalah semua perintah Allah Tangala, yakni menjadilah wujud yang baru, dan makanlah yang  halal  hukumnya (yang diperbolehkan Tuhan dalam agama) dan berpakaianlah /28/ yang suci dan  halal  hukumnya. Minimlah air yang bening dan berjalanlah di jalan menuju ke akhirat serta yang taat pada hukum yaitu dari air yang suci itu. Air yang suci dan termasuk hukum adalah bêbanyu mustakmal arané  (air mustakmal) hukumnya suci tidak menyesatkan apabila ada orang yang bertengkar dan menimbulkan kerusakan di bumi maka haram hukumnya, itulah  wahyu dari hukum Allah.

Maka sabda Sang Ratu di Suryangalam, kepada Jaksanya semuaya, kedua Jaksanya yang adil dan bijaksana dalam agama Islam. Sabda Sultan Arif di Suryangalam, memerintahkahkan kepada Jaksanya sekalian, apabila ada orang bertengkar maka perlihatkanlah keburukan dan kebaikan dunia hingga akjirat.

Apabila tidak mau mereka ketahui hukumlah sabda Sang Ratu adil. Sebaiknya nasehati dahulu sebelum hukum yang pedih diterapkan.

Apabila terdapat orang bertengkar maka dendalah  triguna,   karena orang lainnya kehilangan atau kerampokan maka hadapkanlah pada Jaksa untuk mendapatkan keadilan.

/ 29/  Apabila orang terdakwa mencuri lantas jangan dikenai dakwaan terlebih dahulu, sebab dosa yang belum ada bukti bukanlah dosa namanya. Sebab Allah Tangala Maha Pengampun lagi Maha Bijaksana, apabila ada orang yang mencuri termasuk kisas, kisaslah potonglah tangan kanannya. Apabila genap kedua kalinya maka potonglah tangan kirinya.. Apabila sampai ketiga kalinya maka potonglah kaki kirinya, dan sampai keempat kalinya potonglah kaki kirinya, Itulah ujar hukum, baik laki-laki maupun perempuan apabila pencuri tetap dirapkan hukum sama antara keduanya. Walaupun ada pencuri mati di dunia, hidupnya bagaikan berjalan dalam malam tanpa cahaya obor, meskipun pangulu, mantri, priyayi, apabila mencuri tetap dikenakan hukuman. Apabila ada orang bertengkar, tidak melaksanakan perintah agama Islam.

Diterapkan kepadanya denda sepuluh guna.  /30/ mencuri di malam hari tanpa ada cahaya obor sedikitpun, melewati rumah dari rumahitulah wujud dosa bagi Allah Tangala dan jangan pilih kasih dalam  kisas,   hukuman yang oantas dan pedih, itulah perintah dalam agama Islam.

Apabila ada orang yang le wat jalan sempit di rumah pada malam hari, padam obornya, kemudian ada suara yang mencurigakan. Maka pencuri ada di sana. Nasehat Sang Ratu adil, apabila  terbukti orang itu pencuri maka berdosalah dan diterapkan hukuman, dosa hukum mati, dosa didenda, dosa karena malu. Patutlah mendapat hukum Allah. Perkara seribu seratus empat puluh empat, perkara dua belas, terputuskan dengan keadilan seribu  /31/ seratus  empat puluh empat, putusannya delapan perkara itulah yang diterapkan di tanah Jawa.

Inilah perkara putusan banyaknya empat puluh empat artinya  salokatara, pertengkaran keduanya, apabila buruk maka buruklah kesemuanya. Inilah yang disebut pertengkaran perintah yang didapati para durjana. Apabila sampai mati dan tidak mendapat pengobatan.

Inilah tiga perkara pertengkaran orang yang berjual-beli, dinamakan  kirya-wikirya pertengkaran orang yang menitipkan barang. Dan yang dititipi barang tuwawa tan tuwawa  namanya, pertngkaran orang yang menyelewengkan upah witana tan witana  namanya.

Inilah tiga perkara  nistha maosarasa, pariwêksa angambuk pugung.    Nistha  maongsa nagarabéi  yaitu di luar pintu,  /32/ maosarasa  di dalam pagar, mendapat denda delapan ribu karena merusak milik orang lain dan mencuri milik tetangga. Inilah   sastha kustha  tujuh perkara,  maling utama, maling rêtna, maling jawita, maling wong wadon,  yakni pencuri yang mendatangi perempuan,  maling têbunan belum mendapatkan apa-apa tetapi sudah bisa memasuki rumah, maling itu sdah  mengincar kepunyaan orang lain, dan akan mencuri emas dan barang berharga lainnya.

Inilah lima perkara istri yang bersalah,  sagra wiruta, sagra widhana, sagra candhala. Éstri chandala  yaitu bertengkar antara sesama perempuan, saling mengata-ngatai,   sêbda purusa  perempuan bertengkar dengan laki-laki,  sigra wêcana  laki-lai yang bertengkar dengan perempuan.

Inilah tujuh perkara,  angênidiyah, awisadaa, ékawarna, raja wisuna, apala dara, jinah wara, wong kasudukanyadah. Angênidah  artinya membakar rumah orang lain,  awisadaa   /33/ merampas milik orang lain , ékawarna    orang yang berhutang,   raja wisuna  yang tidak taat akan perintah Tuannya,  pala dara  orang yang bertengkar,  jinah    wara  orang yang berzina,  wong kasudukannyadah  orang yang tidak dapat dipercaya. Inilah empat perkara yang dapat menjadi putusan, sarta dari patra, patra dari saksi, saksi dari patra, patra dari pramana, pramana dari ubaya, ubaya dari purusa.

Inilah yang disebut dakwaan yang tertulis, siapa yang mengetahui tiga perkara yang menjadi saksi dan bersaksi, serta ditanyai tentang bukti tidak dapat bersaksi itulah keberanian saksi. itulah saksi yang tidak dapat bersaksi menjadi saksi sudrah  saksi yang tidak dapat ditanyai empat perkara yaitu  sirna wêcana,  sirna pramana, sirna niscaya, sirna miarsa, sirna saha wong wuta, sirna pamiarsa wong tuli.

Inilah orang yang salah berperkara dua perkara, ada pencuri yang membawa gunting kemudian membedah pagar dan mencuri, meskipun pendeta apabila masuk rumah ketika malam hari itulah pencuri juga. Atau ada pagar yang rusak.  Itulah saksinya empat perkara,  aku wolung sêksi anyuda sêksi, anyau rêksa, abahu  sabda, apa sêksi.

Inilah   akutha sêksi,  orang yang bersaksi adalah saudara, anguta sêksi terdapat saksi orang durjana,  abau sabda  saksinya tidak dapat dipercayai,  bau rêksa  anaknya sendiri yang menjadi saksi tidak dapat ditanyai,  aprang saksiné yang menjadi andalan.

Inilah yang termasuk empat perkara  /35/ pemutusnya perkara dari  dirgama, dirgama  dari  dêwagama, dêwagama  dari  toyagama, toyagama  dari  purusa.

Inilah arti  jugulmudha , tidak mempunyai kebenaran kesaksian. Walaupun priyayi apabila tidak mempunyai saksi tidak dapat diputuskan perkaranya. Inilah arti   karta basa,  meskipun pendeta apabila berada di pasar tidak menjadi saksi, dakwaannya juga tidak diputuskan, inilah arti  raja niti,  carilah saksi yang dapat dipercayai, inilah arti  titi swara,  awasilah ujarnya yang baik dan yang burk, yang disangka dan menjadi tersangka itulah arti  tidhar salok ika.

Inilah arti  sarudêntha,  awasilah wajahnya, dan ucapannya. Itulah yang banyak dan dapat dipercaya. Inilah arti  caya-murcaya , apabila ada orang bertengkar yang sudah didapati dendanya, orang  yang terbunuh dalam pertengkaran itulah  kuthara  apabila baik apabila buruk tetapkanlah dalam peraturan  /36/

Inilah   angawang-awang , ujar yang tidak dapat diucapkan dalam peraturan sehingga tidak dapat diterapkan. Apabila orang yang merusak sanggul istri orang maka dendalah, orang yang bertengkar dan mengaku-ngaku tidak bersalah maka dendalah juga.

Apabila bertengkat dan membawa kejelekan orang lain yang tidak ada  sangkut pautnya maka harus diterapkan ajaran agama kepadanya. Tingkah laku orang tersebut tidaklah bak baka  dirgama  dari  ngubaya,  yang dilimpahkan kepada  darma patih.

Inilah orang yang tidak melunasi hutang, yang berada di jalan  /37/ mengaku hilang, dan merugikan negaranya. Maka menjadi tersangka itulah  hal yang menjadikan keburukan, segala kerusakan menjadikan keburukan.

Itulah hal kebaikan dan keburukan apabila orang lain mengetahuinya. Meskipun pendeta apabila tidak berada padanya kebaikan maka nasehatilah.

Terdapat lagi hal yang menimbulkan kerusakan di bumi, dimana artinya tidak mau mengalah kepada siapa pun. Tidak mempunyai welas asih maka tidak lestari dalam baktinya kepada Pangeran  /38/

Inilah suara yang harus di    turuti, itulah bramana yang benar dan patut menjadi contoh, seperti bunga yang dihisap sarinya maka tuntutlah ilmu hingga mengerti apa yang dimaksudkan, bramana itulah segala ilmu pengetahuan yang ada di dalamnya.

Terdapat tiga perkara,  sêkar gasa dargawi darga,  artinya Sang Dargama yang menyampaikan kebaikan,  patigi dargama,  artinya menyampaikan nasehat kepada orang lainnya, maka terapkanlah hukum kepada para mantri.

Inilah saksi tujuh perkara  /39/ pertama perkara, kedua kepunyaan, ketiga racun, empat rupa nafsu, yang merugikan, artinya perempuan yang tidak mempunyai cacat, menjadian kesaktiannya kepada Ratu Agung.

Inilah saksi yang tidak dapat dijadian saksi, maka Ratu memerintahkan berkirim surat, kepada pertama sahabat, kedua saudara, ketiga orang yang sudra, keempat pembantunya, kelima padukanya, keenam guru, yang tuuh orang yang menanggapi perkaranya.

Terdapat burung yang menyampaikan berita kepada semuanya, menyampaikan salam kebaika apabila dalam surat ada lima bahasa  /40/ pertama  basa   cêpemanira pêkêni, basa siki maning yidika pakanira, basa atopan  yang berupa tulisan  basa nukak,  hambanya itu bersatu dengan yang ada dalam kekuasaan.

Inilah arti  saloka rupa tidarsa,  ada yang baru yang nyata akan bukti. Itulah delapan perkara yang pertama perkara kekuakan, kebijaksanaa, kekayaan, ada sawah yang dimana terdapat orang yang dirampok, di jalan akan dibunuh. Itulah tiga perkara ada dalam  kuthara jugul drama , kuthara lan dunya yang dilimpahkan patih dua belas, aman tentram  /41/ keinginan sang raja, itulah nasehat haruslah selalu dipercaya dan menjadi panutan. Dimana kebaikan artinya salokatra, kuthara titi mangsa  yang benar adanya.

Inilah   kuthara munawaraja,   banyak yang menyebut kebaikan dan keburukan, itulah hal yang diartikan saksi  akundhang cina, anglironi cina, angalih cina, watang ananggal tan patra.  Itulah penebus perkara yang harus dipnuhi.

Saksi harus mengerti ucapannya, apabila ditanyai, diperiksa, harus sesuai ucapan perkataan dengan tindakannya, apabila tidak maka tidak dapatlah putusan perkara.

Apabila ada orang yang hutang mengalami pencurian, tidak ditagih maka anak cucunya juga dapat menyahir hutang tersebut. Apabila tidak dapat padanya maka dapat didenda.

Itulah saksi yang menjadi petunjuk pemutus perkara, apabila ada padanya bukti maka terputuskanlah perkara dakwaan yang ada pada sang terdakwa.

Inilh orang yang senang akan perempuan, dan suka padanya akan pertengkaran, maka berdosalah orang tersebut, dusta juga merupakan hal yang termasuk dosa.

Maka terapkanlah denda padanya, sembilan perkara  yang harus didapatkan dengan hewan seperti tikus, macan, ulat, lintah.

Inilah empat puluh perkara yang merupakan kesusahan negara, dimana agama menjadi tameng akan kejahatan.

/43/  inilah tersebutkan perkara yang terbagi menjadi enam, dimana ada istri yang berlhianat pada suaminya.

Inilah perkara orang yang bertengkar karena merebutkan tanah, dan istrinya tidak menghiraukan. Dan terdapat ular yang hilang ekornya. Istri  sangraha atidharsa, candhala kedhalem apalan daranêm.

 

/ 44/  adalagi laki-laki yang erusak sanggul istri orang lain dimana orang tersebut pada bulan purnama membakar rumah orang maka laksanakan hukuman padanya.

Apabila orang saling berkata-kata dan tidak saling percaya, merusak satu sama lain maka terapkanlah hukuman juga, sampai mengambil kerbau orang lain, dan tidak sengaja membunuhnya, maka terapkanlah hukuman juga padanya  dengan hukuman sama seperti orang yang terbunuh. / 45/ hingga ada sapi yang hilang dimangsa harimau, dan kambing juga, bukanlah harimau melainkan pencuri yang mencuri dan hilanglah hewan ternak itu.

Inilah cerita Sultan yang Adil akan dirinya, yang selalu benar dalam nasehatnya. Adalagi Sang Prabu berputra dan datang padanya sang putra dimana nasehatnya digunakan sebagai pedoman hidup hingga mati. Ayah selalu berkata benar pada anaknya dan mengjarkan kebajikan agar menjadi bekal padanya hidup di dunia.

Inilah suri tauladan Sang Prabu yang selalu menghindari keburukan, selalu sholat pada malam hari pada pertengahan sepertiga malam, jangan banyak tidur  nasehatnya   /46/ kepada semua rakyatnya. Bersedekahlah kue apem sebelas tangkap orang satunya kepada seluruh negara. Sang Prabu jangan  putus dalam prihatin, kerusakan padanya merupakan kerusakan pada rakyatnya sekalian, dan Sang Prabu juga percaya akan nabi yang menyinari dunia, Sang Prabu mantap akan kepercayaannya, tangan kiri untuk membasuh keburukan, yang kanan mendapatkan kbaikan, maka terapkanlah dari nasehat Sang Prabu.

Ada ucapan Sang Prabu dimana mantri jngan hanya memburu kekayaan saja,  jangan melakukan perbuatan yang haram, apabila kaya tapi dari hasil yang haram maka akan menjadi kerusakan negara. Yang dinamakan banyak melakukan kerusakan di bumi, maka agama menjadi penerang dalam kehidupan / 47/   maka yang didakwa itu jangan dimusuhi namun menjadikan hal yang harus diluruskan kembali jalannya.

Apabila Sang Prabu disebut orang alim yang selalu benar dalam hukunya, yang selalu dipuji karena kebijaksanaannya, Sang Prabu dinamakan, wakid  orang nomor satu, jangan mencoba menurunkan dalam keberadaanya, yang selalu berjaga siang dan malam, Sang Prabu selalu memikirkan negaranya, jangan berbicara tentang keburukan dan janganlah terjadi ketidakmakmuran di negaranya.

Itulah nasehat Sang Darma Patih, apabila bertingkah-laku terapkanlah kebaikan, jangan memasuji rumah, di luarnya pintu, jangan keluar dari pagar, jangan meninggikan suara kepada istri, jangan jauh bicara memotong pembicaraan. Orang yang berada dalam pembicaraan yang baik, apabila berlebihan maka dendalah jangan menjadi kerugian orang lain.

/48/ Ada orang yang berhutang dimana tidak dapat dilunasi, maka serahkanlah pada Sang Ratu, apabila menjadi  denda namanya menjadi kerugian negara.

Terdapat ratu yang berbicara pada Sang Darma Patih, bertanya kepada orang yang berjualan besi, terdapat nakoda dimana besi dagangannya dibeli patih, bertanya Sang Darma Patih, apakah ia mempunyai dagangan besi, dan nakoda itu mempunyainya, maka dibelilah dan diberi uang, itulah nasehat Sang Prabu membeli dagangan itu, harus tidak ada  yang dimakan rayap  /49/ durjana menjual kepada orang yang berujar adil, Jaksa Patra kepada orang durjana, diundang oleh Jaksa datang menghadap kepada Sang Prabu, berjualan besi. Dan nakoda diperintah oleh jaksa, dia harus membeli dan berkata kepada Sang Prabu. Nakoda meminta bantuan kepada Kyai Jaksa agar jangan dikenakan denda.

Ada orang yang bertengkar, keduanya  /50/ salah satuya meminta biaya ganti rugi, maka aturan jaksa, kalahkan salah satunya, bila tidak ada yang sanggup maka  anêlang tara  namanya.

Ada dua orang bertengkar maka keduanya didakwa, semuanya bersikukuh yang paling benar, dan meminta biya ganti rugi yang sama kepada jaksa. Maka seharusnya salah satunya terkena denda,  apabila sudah diterapkan keduanya maka adillah namanya. Ada burung Kuntul hinggap dan berkata kepada Ki Kèlasa, ada hasehat luhur dari burung itu dari atas, Sang Kèlasa berkata pada Sang Kuntul, ia kemudian terbang hinggap ke atas, Sang Kèlasa kemudian melihat pohon hingga akarnya, dahannya, dan daunnya. Kemudian Kuntul berkata pada Kèlasa ikutilah aku, apabila benar maka kalahkan orang yang bersalah, Sang Kèlasa menuruti dan menghadap Sang Prabu  /51/ Kitiran Putih, Ki Kèlasa dan Kuntul kaemudian datang kepadanya, berucap denda kepada Patik Kaji, yang berucap kepada Sang Ratu Kitiran Putih, yang bicara Kuntul pada saat istrihata. Mereka berebut luhur antara Kêlasa, Patik Kaji kepada ucap Kèlasa. Mereka kemudian melihat akar dan Kèlasa melihat keluhuran terlebih dahulu. Ucap Sang Ratu Kanjeng Ageng, ikutilah Kuntul yang terbang terdahulu, kemudian datang Kèlasa dan duduk mengahadang Kuntul yang terbang. Kemudian Patik Kaji datang dan Sang Prabu yaitu Sang Kuntul bertanya berapakah banyaknya akar, daunnya, berapa dahannya, dan berapa banyaknya  /52/ daunnya. Ucap Sang Kêlasa, kemudian menjawab banyaknya akarnya ada lima, besarnya dapat dilihat, ucapnya tidak bisa melihat dahannya empat, daunnya delapan lembar, semua itu sesuai apa yang dilhat, kata Sang Prabu kalah kepada Sang Kuntul, benar Sang Kelasa, melihat kepada pohon Raja itu.

Terdapat orang bertengkar, dan berkata kepada jaksa, datangnya ucapan maka Jaksa kalahkan perkaranya. Dan dendalah seratus pada yang bertengkar tadi,  janganlah berdusta, durjana itulah namanya, maka turutilah ucapan jaksa  /53/

Apabila ada orang yang bertengkar dan salah satunya tidak dikenakan sanksi  maka bukanlah adil namanya, apabila perkara perdata itu salah satu dibebaskan sama saja membunuh yang lainnya, terapkanlah kebenaran janganlah berlaku berat sebelah.. seperti matahariyang tidak lelah menyinari, terapkanlah peraturan berdasarkan bukti yang ada. Orang yang mengerti agama, maka akan adil dalam  putusannya. Tidak akan membeli bukti  / 54/ kasmara lokita  artinya kehilangan, apabila terselip, maka harus waspada, bukti yang sebenar-benarnya bukti maka pertama dendanya yaituk dihukum enam puluh tahun, itulah kebenaran bukti. Apabila tidak adil dalam agama, maka  ngadigama  kalah dari  ubaya, ubaya   kalah dari    utara,  utara kalah dari  patra,  yaitu saksi yang tidak dapat diganggu gugat /55/ patra   kalah dari  purusa,   iya ada  patra   yang berupa saksi tanpa bukti, ada patra   yang disebut  tripurusa sêksi   kalah dari  bukti, bukti  kalah dari  lukita, lukita kalah dari  bukti,   belum sampai terputuskan surat perintah telah diputuskan. Orang yang berhutang tadilah yang seharusnya melunasi hutangnya. Apabila tidak ada upahnya maka dendalah. Agamalah yang berbicara, jangan berhenti berbuat kebaikan, jangan berubah ujarnya  /56/ itulah yang disebut  paca prakosa,  berbeda dengan pendapatnya,  amêt gisiring pamicara,  maka jaksa yang disebut   paca rêksi , yang tidak hanya kaya.  Abaurêksa  yang mengawasi kepada orang lainnya,  adiyurêksa  jarang berbicara dengan jaksanya,  trisabda  jarang berbicara dengan pemutus denda, musuh yang orang durjana yang tidak percaya akan ucapan orang lain.

Tridasthi namanya janganlah menelantarkan anak istrinya, sebab mengingkari pembicaraan yang sudah ada buktinya, itulah durjana yang ditinggal  ayah dan ditinggal ibu, dan durjana  /57/ para wanita durjananya Jaksa bagi orang lain bapaknya menangisi orang yang lewat, dan diamlah ibunya, durjana perempuan itu keluar dari rumah apabila memakai wewangian hingga tercium aromanya kepada laki-laki lain, maka termasuk kesalahan pula. Durjananya dari  Jaksa apabila ada orang yang bertengkar terputuskan mengambil milik orang lain, maka orang itu tidak bisa bersaksi pada Ratu Pandita. Orang lain yang  melaksanakan jual-beli maka Sang Pendeta bersaksi dengan orang lain.

Seumpama ada orang yang mengaku menjadi saksi. seumpama perempuan tidak menjadi saksi, adapun tibgkah lakunya menjadi permasalahan bagi orang lain.

 Seumpama orang  sudra  tidak menjadi sakai, maka orang lain akan berujar  yang tidak-tidak. Berprasangka orang itu berkata tidak sebenarnya, seperti pada wanita yang apabila menjadi saksi.  /58/ seorang perempuan menjadi saksi, sama seperti lainnya yang tidak dapat diperkarakan. Orang yang tidak bisa menuju kebenaran tidak bisa menjadi saksi.

Orang yang tidak bersaksi benar adanya, maka belajarlah kepada jaksa yang memutuskan keadilan, apabila tidak dapat menemukan maka saksi tunggal dapat dijadikan keputusannya, apabila dua saksi dan yang ketiga saksi mati maka pilihlah umat yang paling agung.

Inilah terdapat saksi yang berebut saksi orang keduanya, dan orang ketiganya, itulah yang dinamakan  saksi pramana, saksi satmata, saksi watata,  yang disebut  saksi pramana,  yakni yang disetujui oleh Ratu, disebut juga Jaksa halal, yang disebut Ratu, apabila  jiyad  Sang Prabu berujar kebaikan. Ketahuilah peraturan yang mengatur negara / 59/ dari sepengetahuan Jaksa yang menjadi pencerah perkara jual-beli, dan hutang-piutang. Menjadi Sang Prabu yang tidak berujar apabila tidak dihadapkan pada suatu perkara.

Terdapatlah orang yang bertengkar berada pada pancuran, mereka berebut cincin. Ternyata salah satu memakai cincin yang bukan miliknya. Maka ditangkaplah dan didenda dan harus membayar biaya gadai cincin milik orang yang dicurinya tersebut.

Terdapatlah orang yang bertengkar karena ucap salah satu pembantunya, pertengkaran itu haruslah teselesaikan, namun keduanya tidak mau saling mengalah maka nasehatilah untuk berada pada jalan yang benar, hadapkanlah pada saksi yang kalah dari  ubaya  maka turutilah ujar  /60/ nasehat itu.

Ada ujar dari burung yang terbang mengembara tidak ada padanya warna burung, tidak boleh orang ambil padahal jatuh, salah satunya melihat dari kebanyakan orang, rupa burung itu nyata pada kaumnya, mengembara untuk mencari kebenaran.

Ada orang yang bertengkar karena perkara jual-beli, tanpa adanya saksi jual-beli sehingga ucapan yang membeli, bahwa telah terbeli denga harga seribu, sedangkan si penjual berkata dua ribu. Maka apabila benar seribu kalahkan padanya si penjual itu.

Ada orang yang kecurian barang, kemudian ditemukan di rumah orang lain, sampai pada pembicaraan maka tempuhlah orang yang kehilangan itu dengan denda, dan dihukum jerat dengan tali.

Ada orang yang pergi membawa barang dan bertemu dengan orang lain, sampai pada pembicaraan maka dendalah karena bermaksud lari seperti kijang dinamakan  lokika.

Ada orang mati membawa barang dan ditemukan oleh orang lain, ditemukan   keris maka  kacina loki  namanya, maka hukumlah orang yang menemukannya setelah mendapatkan bukti, dan dendalah dengan apa yang dialami orang yang  mati itu,  karaga taka  namanya.

Ada orang yang mengejar pencuri, dan ada orang di luar rumah atau di  depan pintu yang kecurian tidak ada saksi, maka dendalah yang kecurian dengan apa yang sama hilangya barang. Apabila tidak maka  sêngara  namanya.

Ada orang berebut mengaku barang tersebut adalah hak miliknya  /65/ maka curigailah laki-laki itu, tetapkanlah dendanya yang dinamakan  lokika, dan janganlah putus perkaranya  karagas asa  namanya.

Ada orang yang mengaku kehilangan, dan sanggup untuk mengganti upahnya, diberikannya dan diterima maka kembalikanlah upah itu kepada yang berhak, berikanlah kepada yang mengaku kehilangan, dan dendalah seperti burung yang terpenjara dalam sangkar.

Ada orang yang melewati rumah orang lain ketika malam hari, membeli kerbau, kuda, lembu, kambing. Yang kemudian ditemui tanpa bukti, kembalikanlah padanya  maling sodanama  namanya.

Ada /66/ orang yang bertegur sapa dengan orang lain, kemudian dalam          pembicaraannya kembali pada orang yang kehilangan maka dendalah.

Ada orang yang mati di hutan, ditemukan oleh jaksa, kerisnya terdapat darah, apabila ada padanya pembicaraan maka cari tahulah mengapa sampai mati, dendalah  matep angadas  namanya.

Ada orang yang memegang kayu, dan ada orang mati disampingnya atau kuda, atau kerbau, mati juga di sampingnya maka  angadêging pangagasana namanya, dan dendalah.

Ada orang yang bertengkar, sudah dipisahkan pada ucapannya, apabila tidak sampai mati seorang itu, bukanlah laki-laki. Apabila ada bukti tersebutlah maling juga, maka hukumannya dikurung hingga empat puluh hari, apabila tida diketahui  dendalah  liring lokika  namanya.

Ada orang yang bertengkar dan sudah dipisahkan  /67/ namun masih ada prasangka buruk padanya, atau orang yang kecurian itu. Apabila tanpa bukti orang yang menggadaikan barang itu, apabila salah dalam hukumannya, maka mendapatkan denda juga.

Ada orang yang mencuri tanaman yang sudah dipanen, di dalam sebuah gubuk, bukti mengarah padanya apabila lebih dari seribu harganya, dan meskipun kurang seribu pendapatannya yang menanam itu disebut  maling saji.

Ada orang bertengkar didakwa mengambil kerbau, kambing, kuda, yang didakwa dengan saksi pertama benar kesaksianya, apabila sampai pada pembicaraan maka pisahkanlah keduanya.

Ada orang bertengkar didakwa mengambil kerbau, kuda, sapi, kemudian dijual juga. Maka dakwalah hingga mengaku apabila menjual kambingnya sendiri,  dan sampai pada pembicaraan orang yang mempunyai tersebut maka pisahkanlah antara keduanya  /68/ jangan sampai salah satunya mati kemudian.

Ada gadis mencuri,  maling kènya   namanya, orang yang menemui istrinya pencuri patut malu, apabila mati sekalipun, sebelumnya harus diobati, meskipun mencuri emas tetapi tetap harus dihukum juga.

Pencuri yang akan mencuri pada tetangganya maka dendalah juga, ada orang yang menitipkan barang kemudian barabg yang ditipkan iti hilang, maka dendalah orang yang mempunyai rumah itu. Karena mencuri yang juga namanya, sebab bukan miliknya juga.

Ada orang yang menitipkan dan kehilangan barangnya juga, apabila tidak berbahaya meskipun di rumahnya sendiri tetap harus didenda juga.

Ada orang yang meninggalkan rumah, dan tidur di rumah tetangganya kemudian ada orang yang kehilangan barang, maka dendalah juga dan hukumlah penjara  /69/ lamanya empat puluh hari.

Ada orang dipanggil, karena ada orang yang kehilangan barang dan orang yang dipanggil itu menemukannya maka dinamakan  maling têmu  namanya.

Ada orang yang menitipkan barangnya, kemudian hilang dan ia berhutang maka dendalah karena adanya bukti,  maling sadha  itulah namanya.

Ada orang yang memasang cincin kemudian, hilang maka dendalah dan dinamakan  maling timpuh  namanya.

Ada orang mencuri di sebuah rumah pada malam hari, dinamakan  maling pamata  namanya, sudah didenda kepada si pemilik rumah.

Ada seorang perempuan masuk ke dalam rumah, pada malam hari dan diketahui suaminya, apabila suaminya menyampaikan  /70/ pada pembicaraan disidang maka dinamakan  maling kara  namanya, dapatlah didenda dengan memberikan beberapa uang uang untuk mengganti rasa malunya pada yang mempuyai rumah suami istri tersebut.

Ada orang datang ke rumah tetangganya dengan membawa api kemudian          membakarnya maka dendalah,  angamuk tugêl  namanya.

Ada orang akan mencuri di rumah tetangganya, yang mempunyai rumah  akan dihajar, maka dendalah juga dinamakan  maling utama  namanya.

Apabila pencuri akan mencuri kuda atau hewan ternak lainnya, maka dendalah dan dinamakan  pakolih têskarana  namanya.

Ada orang memburu maling di rumah meminta tolong namun tidak ada yang menolong, yang memburu maling tersebut tidak tertolong  kagét wilungu namanya, / 71/  maka dendalah sama apabila sampai mati pencuri itu.

Apabila yang menolong termasuk penakut. Meskipun keluar  kagét kapênêtên  namanya.

Ada orang tertusuk kerisnya, tidak ada dendanya  kagét   kapilungu  namanya, itulah   maling têtiga, maling kabunan maling sadha, maling atimpuh, maling arêp maling umah, maling saji, maling katurima, maling kawanguran, maling têmon. Apabila ada orang lewat pada jalan yang tidak sepantasnya dilewati maka dendalah juga.

Ada orang bertengkar dengan orang lain, tanpa nasehat yang dikenai perkara itu dihadapkan pada suatu pembicaraan. Maka perolehlah hukumannya masing-masing.

Ada orang desa yang menanggung kehilangan kerbau umurnya satu bulan. /72/  Ki Pinaliwaran bertanya kepada Ki Samar ciri kerbau itu, Ki Samar tidak menjawab, Ki Awas bertanya lagi ciri kerbau itu, cirinya pipinya tergores, lidahnya terpotong, maka Ki Samar terkena denda karena kerbaunya tidaklah sama.

Apabila hingga tanggal satu tidak ada yang menerapkan saksi maka dendalah termasuk dalam delapan perkara, itulah  saru papraya.

Inilah denda  sinanahi, pura dhêndha rinupa suba, dhênda graména wika rawisuna, dhêndha wina duraja manggala,  artinya   dhêndha cinandhipura, tempatnya  dhêdha rinupa suba, dhêndha praména ingrawisun,  orang yang meninggalkan dunia, dhêndha rinaja manggala dhêndaning sang ratu. Janganlah berdusta dan janganlah kecewa dan janganlah berzina.

Inilah pertengkaran seorang perempuan dengan seorang laki-laki, tertuduh sebagai maling  /73/ di rumah keponakannya yang bernama Ki Dhadha, apabila dilepaskan ikat pinggangnya dan diikatkan oada maling itu, Ki Dhadha kemudian menangkapnya tidak dapat bertindak apa-apa. Maka si pencuri mati terikat dan terkena denda kematiannya itu.

Ada orang kecurian tanpa saksi, namun ia memelihara garangan (hewan seperti musang) putih. Musang itu menunggu rumahnya, hanya Ni Bramani yang ada di dalamya, sepi karena suaminya pergi, kemudian ditinggalkannya anak Ni Bramani dan dipercayakan anaknya dijaga oleh musang putih itu, Ni Bramanai pergi ke sungai. Maka ketika Ni Bramani pergi anaknya yang ada di ayunan di jaga si musang putih, kemudian datang seekor ular naga yang ingin memakan anak Ni Bramani, maka larilah Musang Putih mendekati ular itu, kemudian Si ular di makan lehernya oleh Musang Putih, karena ular hendak melukai anak Ni   Bramani.   /74/ ular itu mati. Dan Si musang Putih mendatangi Ni Bramani ke sungai, dari mulut Si Musang putih muntah darah, Ni Bramani melihat hal itu, maka ia berpikir bahwa anaknya dimakan oleh Musang Putih, Ni Bramani pulang dan menangis, dan melihat ke ayunan ternyata anaknya masih di ayunan itu. Ia  mendapati ada ular yang mati disebelahnya, Ni Bramani kemudian mengatakan kepada Ki Pura Karti, kalau garangannya mati juga, Ki Pura mengetahui dan tidak mau tahu apa yang terjadi , maka Ni Bramani terkena denda karena telah lalai, dan  menyangka Musang Putih yang memakan anaknya dan Musang itu mati.

Inilah   sadhadha kadhara,  yakni memperebutkan suatu perkara dan di hadapkan pada Gusti Mandana Sraya, ucapannya kepada Sang Dhadhang yang tidak dapat dihiraukan untuk semua rakyatnya  /75/ namanya tidak terlalu berlebihan, Patih Mandana Sraya memerintahkan semua hamba Tuhannya sebagai raja, apabila tidak maka orang yang ingkar namanya.

Ki Alon ketika malam datang pergi ke hutan untuk meburu singa, Ki Mali, Ki Badigul, berada di hutan itu pula maka  winadas kartané    /76/ dari ubaya kalah dari karta,  karta kalah dari supraba, supraba kalah dari saksi, kemudian yang diucapkanlah itulah namanya  éka basa,  dari mantri sekalian.

Apabila ada ucap di bawah pintunya Ki Badigul, maka terapkanlah denda. Janganlah kamu menyangsikan ucapan, seumpama tidak percaya artinya samurcaya , jangan kamu mengumpat artinya  séwanya,   jangan kamu mejatuhkan ujung pisau , apabila belum dapat merasakan seperti matahari yang menandai jatuhnya ujung pisau itu. Apabila tempat itu benar adanya adalah sebenar-benarnya ucap  /77/ itulah ujarnya masing-masing.

Inilah ucap Pangeran Senapati Jimbun, dimana banyaknya perkara tiga puluh tujuh perkara, pemutusnya sepuluh perkara tingkah-lakunya durjana, siapa yang tahu akan segala nama durjana.

Inilah perkara yang pantas Sang Prabu putuskan, tidak boleh diubah, meskipun ayahnya sekalipun.

Inilah perkara lima pemutus  /78/ apabila ada rumah yang mempunyai rumah beserta isinya mendapat amukan dari durjana, kembalikanlah hal itu kepada pemutus perkara yang akan mengenakan dendanya.

Inilah pemutus dua belas perkara, yang ada dalam  salokatara, tarka  dari   patra, patra  dari  saksi, saksi  dari  bukti, bukti  dari  satmata, satmata  dari  cina, cina dari   nyamana, nyamana  dari   pramana, pramana  dari   ubaya, ubaya  dari   purusa. Tarka itu artinya tulisan yang dapat memberikan pengetahuan pada yang bersalah.

/79/  Arti tetulisan dari yang pengarah, arti  satmata  yang banyak mengetahui, arti   nyumana  keluar dari tulisan, arti dari  purusa   adalah perintah, arti dari  léna tidak menghiraukan perintah ratu,arti   kaliganata  menyalin batu.

Inilah keberadaan saksi empat perkara,  saksi utama  yang mengerti akan tiga perkara, saksi  pramana  saksi lain yang berani dengan saksi orang mati, tanpa menjadi saksi sudra yang bersuara.

Inilah kasta dua perkara, ada pencuri yang dinamakan pencuri, artinya meskipun membawa senjata, apabila ada pagar yang rusak pada malam hari maka dinamakan maling juga.

 Inilah arti agama yang dapat mengalahkan segala keburukan, agama kalah dari adigama, adigama dari toyagama, toyagama dari purusa.

Inilah arti ju- /80/ gul mudha,  tidak ada ujar yang artinya  karta basa,  yaitu capannya sendiri apabila buruk katakanlah buruk, apabila baik katakanlah baik. Itulah nasehat  raja niti  taatilah ucapnya.

Inilah arti  raja kapa-kapa , ketahuilah pada tempatnya, inilah arti  sadi, amatilah segala tingkah lakunya dan ucapannya, apabila baik amatilah, dengarkan dengan seksama ucapannya, itulah  pamiarsa lokika  perpaduan antara bahasa.

Arti   kuthara,   amatilah dengan sekasama mana yang benar, inilah sebenarnya biaya gadai, arti  caya murcaya,  apabila ada di dalam pertengkaran itu  ada salah satu yang meninggal maka putuskanlah  /81/ hukum Allah artinya salokatara,   ajarkanlah dalam kebaikan maupun keburukan yang bertengkar itu,   apabila buruk maka buruklah apabila baik maka baiklah.

Apabilah Si corah pajaknya 20000.

Apabila tergugat pertama pajaknya 14000.

Apabila  Si kaonang-onang  pajaknya 20000.

Apabila   Si kacorah  juga dengan  dhêdukun   kéwala   yang tidak tunduk pada tuannya, maka ketiganya dikenakan pajak 40000.

Apabila si  dhêdukun  keduanya pajaknya 3000.

Apabila si  dhêdukun  satu orang, apabila berani maka pajaknya 5000000.

Dhêdukun   tidak berani maka sama dakwaannya dengan orang yang sakitpajaknya 5000000.

Apabila terselipkan maka dendanya 1000.

Apabila si  corah-corah    tidak dapat berujar pada dukun maka beritahukanlah pada seorang laki-laki pajaknya 40000.

Apabila   corah-corah  yang kering dan perempuan pula maka pajaknya 90000.

Apabila laki-laki yang belum berumur lima belas tahun pajaknya 90000.

Apabila tidak  kaonag-onang  dari dukunnya apalagi sakit maka  /82/ pajaknya 150000.

Inilah laki-laki yang dituduh membunuh pajaknya 50000.

Apabila perempuan yang dituduh membunuh maka pajaknya 350000.

Apabila didakwa merampok pajaknya 15000.

Apabila didakwa berzina pajaknya 15000.

Apabila  si corah, merampok, berzina, membunuh,maka orang itu mendapat  denda pula. Apabila ada orang yang berhutang tanpa membayar maka dendalah juga.

Apabila ada orang yang tidak patut kemudian mati, maka saudaranya terkena denda pula.

Apabila jejaka menangkap perawan maka pajaknya 14000 dendanya 230000.

Apabila menangkap orang rumahan pajaknya 30000, dendanya 250000.

Apabila istri tidak menjalankan tugas istri maka pajaknya 10000. Itulah nasehat Kanjeng Sultan kepada Kyai Angabei Diranaka. Terdapat tiga perkara, dua orang di antaranya, ketiga terduga, keempat grahita.

Apabila ada orang berzina jejaka dengan orang yang belum mempunyai suami, apabila telah menjadi  kawula dalêm  (abdi dalem) maka tebusannya 15000.

Apabila yang diperintah telah ada pada peristirahatan terakhir, apabila abdi dalem menikah meskipun laki-laki, ataupun perempuan  meskipun dari kanan atau dari kiri, berpergian tanpa kembali maka telah menjadi orang yang bebas kembali.

Apabila ada orang masuk ke dalam rumah pada malam hari. Tidak ada pintu yang terbuka tidak ada barang yang hilang, maka tangkaplah ketika ada suara kentongan, Ki Dergul dijatuhi denda 88000,dan mendapatkan 24000, karena menghiraukan orang yang sedang dalam bahaya  /83/ Ki Corah meminta kerisnya Ki Bégal namun tidak diberi, sampai-sampai di jalan kematian Ki Jukara dan Ki  Sawah, dan Ki Agas yang kemudian ditutupi dengan rumput. Sebab didapati mencuri ikat pinggang Ki Sayab. Ketika di rumah Ki Saeka berbicara kepada Ki  Sakara, dan Ki Saprana menyembunyikan, Ki Corah, Ki Kutil, Ki Sayab kemudian menghadap kepada Gusti Patih Mandana Sraya. Maka yang terdakwa membunuh dikenakan denda 88000 banyaknya, dan ketiganya terkena denda 44000.

Inilah kisah Ki Sakara hita, Ki Saprana yang merampok di jalan menuju hutan. Apabila malam datang dan ada suara kentongan yang ada di kebun /84/ maka Ki Bapang kemudian mempersiapkan keris, Ki Awisayah yang bersiap untuk merampok rumah Ki Garadhah, maka berdosalah dan Ki Astaka yang mencari istrinya karena takut kehilangan.

Terdapatlah  Mandala,  bernama Ki Danara dan istrinya, Ki Tata mendatangi anak Ki Garadhah yang kemudian melamarnya dan meminta sawah, namun tidak diberi Ki Lalaki itu kemudian terkena denda 88000, dan mendapatkan besarnya pajak 44000.

Inilah Sang Bramana Sakti, yang mencoba pergi ke Kerajaan Mêdhang Kawulan yang berada di desa Ki Wipawikêna,  /85/ yang mempunyai anak, Duka Lani Asih namanya, Sang Bramana takut akan kehilangan anaknya yang sudah menginjak dewasa. Patih Turtabasa ingin menikahi anak Sang Bramana Sakti dan ia meminta kepada Patih Mandana Sraya, maka Sang Bramana Sakti dipanggil menghadap / 86/  Patih Mandana Sraya berbicara pada Patih Karta Basa, dimana Ki Wigna bertanya pada Ki Pamirêksa dan akhirnya dibuat kesimpulan Rêkyana Patih Mandana Sraya berkata pada Sang Bramana Sakti namun ia menolaknya dan kemudian Sang Bramana Sakti dijatuhi hukuman.  /87/   Istri Sang Bramana, Ni Duda, Ni Asih, Ni Tilam menjadi sedih.

Inilah sabda Gusti Yumana, tidak dapat dihiraukan apalagi ditinggalkan. Apabila ada orang yang keluar dan mesuk ke dalam rumah anaknya, dan semua Istri Yumana, Ni Manisan, dan Ni resm menjaga  lambang saluka janma,   mereka berada di dalam  /88/ dan ada orang ya ng bermaksud mengambil lambang itu, dan Ni  Resmi segera melapor kepada Patih Mandana Sraya dan mendapati perintah tetaplah jaga lambang itu. Maka ketiganya tetap di sana dab tidak boleh meninggalkan sedikitpun tempat itu.

Ki Pandugalan berpapasan dengan Saudaranya Ki Warna, dan di ajak menuju rumahnya. Ki Gula dengan ketiga istrinya Ni Sari, Ni Pasar, Ni Resmi.

Ki Galuga berkata kepada istrinya apabila nanti memang ia akan meninggal, maka jangan berlarut dalam kesepian. Ni Resmi kemudian berlari ke belakang umah, Ni Pasar juga berlari,ke Ki Kaluga, ia tersenyum maka mereka menghampiri Ni Resmi, suami istri itu  /89/ menghadang Ki Warna dan  Ki Susur kemudian menghampiri, akhirnya saudaranya itu mati. Dan Ni Resmi kemudian merangkul Ki Galuga, namun ternyata Ni Resmi juga mati, dan Ki Susur ikut mati juga, sementara Ki Warna juga mati, Ni Pasar, Ni Sari kemudian pergi ke  rumahnya. Apabila ada empat orang yang mati,Ki Galuga kemudian berbicara  kepada Ni Pasar, Ni Sari dan akhirnya mereka mendoakannya.

Ki Anggas dititipi barang Ki Warah, namun kemudian Ki Anggas membawanya pergi  karena malam telah tiba ia menginap di sebuah rumah, kemudian suara orang banyak datang  /90/ dan oleh Patih Mandana Sraya Ki  Anggas mendapat denda 80000, seorang mendapatkan denda 10000 dinamakan anggaswaran.

Ada orang kota yang berjualan di kota tidak mau melaksanakan perintah  Gustinya, dan akhirnya ia berhutang tidak ditenus dan tidak mempunyai rumah, maka dihukumlah karena tidak membayar.

Ada orang berebut barang yang telah digadai, apabila rusak barangya maka hilanglah hak milik dan didenda 150000, namanya  sapakantuk pradananya.

Ada orang yang berguru kepada perempuan, namun tidak dihiraukan padahal orang itu telah beristri maka terkena denda 440000 /91/ dan mendapat 20000  kakali baya  namanya.

Apabila ada orang yang berkata kasar kepada istrinya dan saudara lainnya maka laki-laki itu terkena denda 44000, dan besarnya 20000 disebut   akarya bau dasta. Ada pemutus tiga puluh lima perkara,  anyawadi, sêlawadi, anyadi, akirya dé, nauasaksi, èka saksi, aprasondha saksi, anirma pandaya, angrisak saksi, angêwuni sapralaya, angrupanga pradana, amuwang linggar, amêt umpingan,  tanribaya, sabda purusa, angrusak sari, sangkuthila amêtarka, angrusak  kramaning arta, bramana angangsi utang, awilutara, nistha amêtu pingan, winaka alihgan arta, purusa angrusak taman, kacorah anirmakakên utang, sabda purusa, kaocarah prasandha, kalih gaprapana, kalingga ngalun-alun, anglindungi purusa, anira pradana  /92/  angingtan wrruhi baya, abima paksa  arusak pradana kawruhing arsa, adhudhuk apus kapêndhem, anir nali   gabujagêm, akarya dési, angangasi utang, ajaluk kaliwang, pulihna ingna wagatra paramarta, dora sangkara, ina pradési, salukita prata, saksi bukti pramana,  itulah yang disebut dalam pemutus perkara dari  karta.

Inilah tujuh perkara, perkara orang yang didakwa karena istrinya yang memulai, pertengkaran orang yang berhutang, pertengkaran orang yang memotong saluran air orang lain, maka dihukum paling tidak tiga bulan.

Ada pertengkaran antar saudara, termasuk dalam hukuman dua bulan. Tiga perkara itu  /93/ dapat di denda 44000 dan kurungan satu bulan.  

Ada orang yang memaki orang dan menghajarnya maka mendapatkan denda 24000, termasuk dalam perkara hukum.

Ada orang yang melihat orang yang sedang berjalan pada jalan yang sepi, dan mencurigakan maka ditetapkan denda oleh raja 24000, disebut  kalêbêting dasthi.

Apabila ada seorang perempuan, apabila ada orang mengaku kehilangan burung maka hadapkanlah pada pembicaran kepada Ki Dharsa Pabêksa empat  perkara, salah satunya adalah durjana yang didakwa menjarah barang orang lain, apabila ucapan durjana itu tidak benar maka terapkanlah denda. Apabila tidak ada saksinya  /94/  maka tidak menjadi masalah apabila tidak ada saksinya.

Inilah orang yang menemukan penerang jalannya, tidak ada suatu apapun yang menghalangi, ia kemudian menemukan tali yang tergantung maka dendalah orang yang didakwa menggantung orang tersebut dari jaksa 1400000, jaksa memberikan denda 150000.

Ada dua orang bertengkar, salah satunya telah dihukum oleh jaksa, dan musuhnya juga terkena denda 150000, disebut  ékawarna,  apabila yang teraniaya tahu akan hal itu maka hukuman telah berlaku dan telah adil. Apabila /95/ meninggalkan anak istrinya Rêkyana Patih berkata pada patihnya dan tangkaplah si katak hijau, jangan sampai dibunuh Ki Arya Sêba, terapkanlah pada aturan yang ada.

Orang itu layaknya matahari yang bersinar menerangi Negara Mêdhang Kawulan dari Majapahit, yang sentosa makmur akan emas, terdapat dalam pembicaraan Sang Prabu.

Ada peraturan di Negara Mêdhang, dimana /96/ Ki Soma sampai pada rumah saudaranya Ki Radité, Ki Soma bertanya kepada Ki Anggara.

Apabila mendapat emas maka berikanlah kepada Ni Anggara, yang ada pada rumahnya Ki  Lêksana, apabila Ki Soma mendapatkan emas itu jangan disimpan karena akan didenda. Ketika malam Ki Lêksana melihat emas hilang dan ketika dihampiri ke rumah Ki Radite. Kemudian kepada Rêkyana Patih emas itu memang hilang, ia kemudian diam sebentar  /97/ kemudian di alun-alun Radité pulang menujun rumah istrinya.

Apabila menemukan tanda kepada Nini Anggara berikanlah kepada Ki Lêksana, ucap Rêkyana Patih. Apabila melihat orang di alun-alun sampaikanlah padanya jangan sampai pergi ke kota, nanti apabila si lêksana tertangkap maka para mantri sekalian akan bertanya kepada istrinya, Ni Anggara ada di dalam rumah, Ki Lêksana tidak akan mati Gusti Patih  /98/ namun katanya Ki Lêksana telah menjadi durjana dan didenda 80000.4000 disebut  somaradité anggara kasih.

Apabila Lêksana menjadi durjana, ia kemudian dipanggil karena Ki Bujaga kehilangan istrinya, Ki Aryasupêna mengaku meninggalkan emas. Raja  Keputrian tinggal di dalam Ni Esih dengan Ni Raras, kemudian dijatuhkan perkataan tidak boleh pergi kemana-mana.

Ada keinginan untuk merusak keputusan, ia mengaku kehilangan Ki Bujaga menghadap kepada Rêkyana Patih dan disaksikan para penjaga /99/ semuanya. Maka mendapatkan titah Ki Bujaga.

Ada ketetapan denda 80000.4000. dan dijatuhkan 40000, karena mengaku pertanyaan dari Ki Sudra Pralaya, yang mempunyai pekerjaan Ki Wisuna, Ni Praya, Ni Aku pulang ke rumah. Ki Udapraya menagih kepada orang yang berhutang itu satu  kêthi  lima  /100/  lêksa, Ki Arya Rudita menagih kepada Ki Wisuna, tidak mengaku dan berkata kepada Kyai Patih dan  Ki Udapraya, Ni Praya, Ni Aku, menghadap kepada Rêkyana Patih, Ni Praya, Ni Aku bertanya kepada para penjaga dan bertanya kepada Ki Wisuna.

Ni Udapraya mendapatkan denda 40000, menghadap kepada Rêkyana Patih Mandana Sraya yang memerintah di Mêdhang Kamulan, benar tidaknya Ni Wergul kemudian bertanya kepada Rêkyana Patih.

/101/  ada kijang yang menginjak anak Sang Pragul kemudian mati, para penjaga mengetahuinya, Sang Kijang menyamgkal dan tidak mengetahui apa-apa katanya. Anak yang mati tadi kemudian diiringi bunyi gamelan dan ucap Ki Manyura.

Ki Wara mendatangi sang kijang dan pergi membawa hewan. Ki Wergul  dari perkara itu mendapatkan denda 40000.

Inilah Sang Kamala Jati, berada di Nusakambangan mengetahui Negara Mêdhang Kamulan. Dimana Patih Mandana Sraya yang berkuasa di jagat, Sang Ratu Jayakomala, nyata akan Negara Mêdhang kamulan, ucapan Sang Ratu Penguasa Jawa merpakan perintah dan harus dipatuhi, karena sabda Ratu adalah Wahyu Tuhan.

Inilah perintah Patih Mandana Sraya, ucapannya sampai kepenjuru dunia, sang Prabu bagaikan hujan yang turun ke bumi, bagaikan api yang menyala di dalam air, ketahuilah para umat sekalian, hal yang pasti itu adalah yang berasal dari perintah Tuhan.

Yang tidak pernah akan berubah, itulah ucap Rakyana Patih Mandana Sraya, Sang Ratu Nuswakambangan pergi dan berujar kepada Rakyana Patih. /104/ Seperti pada tanaman  yang dimakan oleh burung, meskipun berkurang tetaplah pada panennya, janganlah menuduh kepada yang belum ada buktinya, menjadu jurang antara kaliyan para laki-laki dan perempuan, dan jangan berjalan ketika malam hari datang.

Ki Carub bertanya Ki Banyu, kemudian Ki Lulur, membicarakan matinya Ki Wulikan, anaknya Ki Kalubuh yang mati di jalan di temukan orang banyak. Ada orang yang pulang menanyakan kepada orang agung dimana orang agung semuanya, mendapatkan denda 40000.40000. sama halnya dengan yang perempuan, para pembantu berbicara kepada Rêkyana patih dan semuanya tertunduk dan diam.

Inilah perkara Ki Tunggakwaré dan Ki Juraganlun adil  /105/ Ki Tunggakwaré kehilangan barang dan diselesaikan dengan clurit, apabila kecurian dan ia mempunyai anak perempuan bernama Ni Ésih dan Ni Sari. Dilamar oleh Ki Yungan dan ditanyai oleh Ki Alun saudaranya, seisi rumahnya habis, Ki Alun pergi menghadap Gusti apatih dan melaporkan ia kehilangan, maka apabila mempunyai anak yang telah dilamar oleh Ki Uga dikenakan denda 40000. 4000.

 Ki Udang  putrinya pulang dan menangis  /106/ dan ditanyai kepada Ni Rondho dari Rêkyana patih, dan disaksikan oleh para pembantu sekalian, bertanya Ni Rondho. Malah semakin menangis, Ki Udang bertanya lagi, maka putri itu ingin menemui ibunya namun Ki Udang tidak memperbolehkannya, maka didenda 40000, pajaknya 2000. Disebut  bara-bara tan oléh lara amréréni. 

Patih Mandana Sraya berbicara kepada Patih Kêrtabasa dan disaksikan mantri semuanya, bagaikan pepatah  sêmbada gêlap tanpa udan, sagara ngawang, gêni murub ing papadhang,  ujarnya dalam  subasita,   selalu waspadalah kepada keburukan karena akan mendapatkan apa yang  yang menjadi balasannya nanti.

Inilah perkara yang mendapat denda 40000. Apabila pencuri membawa  barangya dan dititipkan kepada orang lain dan masih saudara, saudaranya menerima denda 4000. Semuanya berupa uang 12000. Saudaranya dan pencurinya 24000. Dan ada lagi  /108/ apabila yang mengaku kehilangan maka terdenda 24000. Dan pencurinya 12000. Inilah  astacorah  delapan perkara banyaknya, terapkanlah pada pencuri lagi, dan tingkah pencuri itu sangatlah buruk, Jaka Makah memergoki pencuri, dan akan dibunuh, anak istrinya berada di dalam. Ujar Ratu apabila mempunyai hutang maka lunasilah, apabila perempuan enam ribu, apabila laki-laki empat ribu.

 Inilah aturan denda pencuri mendapatkan pajak 10000, apabila tidak mengganti barang yang rusak maka terkena denda 10000.

Inilah peraturan orang yang menghiraukan perintah Sang Prabu, apabila salah dalam bertindak maka terkena dosa, dan didendalah.

Inilah tingkah  /109/ pencuri, bersembunyi di dalam rumah dan hendak membunuh, maka dendanya 8000, apabila merusak pagar 2000, mendapat denda 4000. Mendapat pajak besarnya 1000. Mengambil dari ruma, itulah pemutus perkara pencuri mendapat pajak 8000.8000. apabila perempuan mencuri maka didenda 4000. Apabila mengambil keris dan kemudian membunuh maka terdenda 8000. Keris itu kemudian disimpan. Apabila dititipkan terkena denda 2000, harga kuda 10000. Apabila kuda yang dikurung dan dicuri oleh perempuan itu terkena denda 4000. Apabila sapi yang dicuri dendanya 6000, harga satu sapi 3000.

Ada orang yang berhutang banyak kepada anaknya, salah satu orang tuanya  mati, ada yang kemudian menagih hutang kepada salah satu orang tuanya dan tidak menunggu anaknya datang.

Ada orang yang berhutang anaknya tidak engetahuinya, dari orang tuanya  itu maka orang tuanya yang wajib melunasinya.

Ada orang tua terkena perkara karena hutangya, perkara itu kemudian diserahkan kepada anak laki-laki satu-satunya, apabila mempunyai anak perempuan maka dibagilah kepada anak istrinya dua bagian kepada Sang Prabu.

Inilah perkara orang yang mempunyai anak seorang pencuri, apabila ingin ditebus maka diterapkan padanya denda itu  /111/ dan berdosa namanya.

Inilah perkara berhutang, saksi yang mempunyai bukti apabila perempuan mendapatkan, apabila laki-laki dendanya diterapkan dari bapak ke anaknya,.

Ada seorang istri yang pergi dari bapaknya, dan mendatangi laki-laki lain, dan menjual harta laki-laki itu, maka bapaknya wajib menebus.

Ada orang yang terdenda oleh saudaranya karena air, apabila hutang yang ada padanya tidak dilunasi juga maka sama dengan mencuri juga.

Ada orang yang berani pergi ke luar negaranya dan tidak kembali lagi.

Ada orang yang berani tidak melunasi hutangnya dan kemudian pergi maka          menjadi orang  yang dicari.

Apabila ada orang yang menagih hutang kepada anaknya, dan tidak menemukan akhirnya meminta kepada istrinya. Ada orang yang lebih memberatkan melunasi hutang  /112/ maka lebih baik adanya.

Ada orang yang melunasi hutang sebelum ditagih, hutangya sudah terlewat sampai tujuh tahun, disebut  kapêrmanan.

Ada saksi yang berada menjadi saksi, apabila tidak ditagih dalam beberapa tahun  kadasa warsa  namanya.

Ada orang yang berhutang kepada istrinya sendiri, terbukti kemudian istrinya mati maka laki-laki itu juga harus menagihnya disebut  pancacandra namanya.

 Ada orang yang menitipkan barang dinamakan  pancasadarané,  kepada orang yang dicurigai menjual barang itu maka tagihlah kepada yang dititipi.

Ada orang yang berhutang, kemudian ditagih lama menagihnya kepada sang istri, kepada anak tanpa dilunasi hutangya  /113/   maka ketahuilah tetap harus ditagih.

Ada orang yang berhutang dan kemudian bisa dilunasi dengan kerbau, sapi, kambing, maka dapat lunaslah hutangnya.

Ada oarang yang mengambil milik orang lain, terbukti dengan tidak dilunasi hutangnya selama tujuh tahun lamanya, tidak dipaksa untuk melunasinya maka tetap harus dilunasi hutang itu.

Ada orang yang berujar amal perbuatan bisa hilang apabila pagar kebaikannya roboh, apabila laki-laki maka terapkanlah pada hukum Allah  /114/ seperti pada hukum Burhan, amal yang ghaib akan didapatkan apabila Hukum Burhan dapat diketahui, mengambil dari Kitab Rohkhullah, seperti ujar laki-laki ang tidak mau berbuat keburukan, maka dengarkanlah bahwa hukum burhan dan ujar itu. Akan ada orang yang tidak terima dengan ujar kebenaran, inilah ujar yang mengambil dari kitab bayad fakawi.

Bismilahirahmanirakhim 

Allahumma rukughu, risikughu, wa ismaghu, ngalaèka wa barkatu warahmatu, birahmatika yamarkhamarakhimin .

Inilah /115/  doa sakêthi.

Allahuma rukughu, risikughu wa ijra ilaya jabana ila.  donga salêksa.

Inilah peringatan nafsu luamah, berawal pada mulut, sampai ke usus, kendaraannya gajah, tandanya empat malaikat.

Nafsu amarah, berawal pada telinga,  sampai pada paru ,  kendaraannya   mata, tandanya api neraka.

Nafsu supiyah, berawal di mata, sampai pada hati, tandanya mandhala giri, kendaraannya naga.

Nafsu mutmainah, berawal pada hidung, sampai ke jantung, tandanya putih, kendaraannya perasaan ingin tau dan marah.

Tanda tamatnya penulisan, hari Kami  Pon  tanggal sembilan, bulan  Sêla tahun  Èhé   wukunya   Kuruwêlut , angka tahun. 1612. Tamat. @@@

 

 

 

Advertisements

SERAT SURYANGALAM


Dalam naskah Serat Suryangalam dikisahkan bahwa Sultan Suryangalam di keraton Aripullah yaitu negeri yang bernama Adilullah, diceritakan bahwa Prabu Riri Jagad dari Ngatasangin membentuk badan yudikatif dengan menerapkan hukum Allah yang berdasarkan keadilan, kejujuran dan kebenaran, yang kewanangannya dilimpahkan kepada jaksa untuk menangani perkara-perkara hukum berdasarkan hukum dan syariat  Islam sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad SAW.

Dalam Serat Suryangalam terdapat aturan atau Unang-undang yang mengatur mengenai lembaga peradilan dengan menyebutkan aturan perkara di pengadilan, tugas, syarat wewenang dan larangan-larang bagi jaksa dan hakim, prosedur peradilan dan perlindungan bagi tersangka atau terdakwa. Antara lain syarat-syarat sebagai saksi (waria tidak boleh menjadi saksi, bukan saudara dan saksi-saksi yang ragu dan lain-lain) bahkan dalam aturan atau Undang-undang disebutkan bahwa saksi dan penuntut yang berdusta dikenai sanksi. Tidak hannya itu pihak-pihak yang terkait dengan perkara (penggugat, tergugat, terdakwa dan saksi apabila tidak hadir diperadilan tanpa alas an yang jelas (membangkang) dikenai sanksi berupa denda uang.

Sebuah perkara dapat diproses dipengadilan apabila telah memenuhi 30 ketentuan. Antara lain adanya saksi yang memenuhi syarat, adanya bukti yang dapat dipertanggungjawabkan, adanya unsure yang merugikan orang lain, semisal merusak, mencuri,  membunuh ataupun melukai orang lain, sengketa jual-beli yang memiliki bukti tertulis serta saksi dan lain-lain. Untuk lebih jelasnya dipersilahkan kepada sutrisna budaya Jawa untuk membaca naskah Serat Suryangalam dibawah ini :

@@@

SERAT SURYANGALAM

/1/  : Bismillahirrahmanirrakhim:

 Punika  Sultan  Suryangalam.  angêndika marang jêksané wong kêkalih, manawa ana wong apadu, dèn tarka angambil maésaa méndaa kapala, sapia,  utawa panarkané dèndol pisan, ujaré kang narka, utawa ujaré kang dèn tarka, boya ngambil    manira ménda  manira dhéwé. manira wandé. yèn têka ing pamicaran sira kalahna paduné. yèn ora utara lan sawêwêngkoné lan sakiwa têngêné ora  manjing pan ukum    Allah , sira kalahna adêgan, yèn si utara lan sawêwêngkoné sakiwa têngêné sira aji ngêna ing agama, iya iku wêwêkas ingsun maring sira, lan sira jumênêng   jaksa aja kaburu dhêmên, aja kaburu gêthing, lan aja mélik-mélik ing donya. lan sira angrasaa lara lan pati, iya iku wêwêkas ingsun marang sira poma-poma.

Punika ana jalma mati tinaton  mangka dêndhané sakêthi limang lêksa, dèn prapata kang kanggonan, anyakêthi, sajawining prapat alimang lêksa ,  lêt lêlurung angalih lêksa limangèwu, lêt sawah lêt kêbon angalihwêlaséwu sawêwêngkoné patingginé  lêt alas, kêni pangara sak patangéwu, wontên déné yèn sidhêm pêpati,  iku kajaba tigang / 2/   dintên, kalêbêting sidhêm, dêndhané tigang yuta, sanadyan ing umaha ing alasa, ing tapêl watêsa ginarayangan ing karta basa.

Punika katampaning sidhêm pagarayangan tan kawruhan kang duwé bumi kari bêbalung kawruhan déning wong liyan tujah wêlah wong désa iku anglimang lêksa wong sijiné, anané  sidhêm pramanêm. dhêndhané anyakêthi wong sijiné lamona wêwarah agêndhongan atitir apisaid kadêdêg ngêmban patra pralaya, anglikur rajuna cakrapati, ina pralayah, aprang payahan nilat karaa mutung pasangan anambung watang bubukên pacaprakopa tan juk mawacana apacarêksi, adiyu rêksa, surya candra, miruda wêcana, ati risak saupaya, ing sabda maéca pramana. Pisèrèn pisaid, sêrêgané, pangasiné tarkané saksiné, tuturé, kêndêlé, kawalé, sêsandhané.

Punika kang kalampahing Mataram liré undhang-undhang. wontên wong mêtêng kanggénan tanapi ingkang angruntuhakên dêndhané limang lêksa sarta  dinêdêg déning palampah. Jênêngé    triyogya sêksi tiga wêlas kênya liring sastra bumi, duka wardaya candragêni mayauning lara, trisona, wida mêsthi wartigna, sawah artanya nyuda sabumi, prara kang/ 3/ toya, têgêsé kang rêradin manisapé lan ujar damar kang bêcik anawang karya wantah, lwirna anatoni utawa dènsuduki maling dadi lan cina bukti lari. Têgêsé    ana wong ngaku sinuduk maling,  agêndhongana titir kadêdêg déné bumi désa salah sajroning   dêdêgan titir  kadêdêg déning bumi désa. ujaré anuduk maling tandhané kêmalingan cina bukti lari kasaidan, déning bumi désa iku loké kêni maling, têkèk mati déning uloné, atitir dhingin dadi maling.

Yèn ana wong katumbakan   sabêt sapaning   wong liyan têtkala ing wêngi tanpa cina tanpa bukti. maling dudu maling rabiné tan wênang pinaradhah. Yèn ana gugaté jumênêng  anggaskara arané linampahakên ulat liring, cècèl kulit  bêlah daging nugêlakên otot dêndhané nugêlakên bau balung saluhur sêdaya. Yèn mati kasukana pangilèn ing wong.

Yèn  ana wong anumbak maling tatkala ing wêngi sajroning  élok. ana titir kadêdêg déning bumi désa salêbêté  sinuduk maling kari-kari kang anumbak maling atitir, anênitik panitiké sarta bumi désa lariné, malêbêt ing wismanipun. nuntên titir dhingin. iku kalah cina bukti pramana, iku rupané / 4/ maling, ginarayangan lungguhing  durjana, ana wong gawa gunting narajang barêng liwat palêgungan iya durjana dudu durjana déning ora manjing kisas pandhita apangulu amantria ana kang wruh kala pamêté duwèké wong iku lah durjana uga manjing kisas ginarayangan karoné kang narka lan kang dèntarka êndi kang bisa ujar roro, iku têgêsé abangun wêcana anuda wêcana, kalahna paduné, dènrowangi dènasaput pamalingipun, ginarayangan karta basa. Iya dyan mantria pandhitaa yèn watêk saba pasar, titané anggaskaroné êndi kang akèh cacadé kalahna paduné wong ngayawara arané, lir kirang pangrasa tan wênang rinasan paduné ing  pradatané, winastan aprang paya. anyalawadi, têgêsé winangkara abot prabéyané aprang paya, tan wiyosi karta, anyalawadi owah ujaré wênang kalahna paduné, tan pangucap muwah banjar ing abanjar  kang alèh maling ginanjar, kang darbé wong mêmaling dhinêndhaa.

Ana wong liwat ing banjar, tatkalaning wêngi sinapa sapisan pindho jangkêping têlu yèn ora sumaur, iya padha kalawan maling. Yèn ana wong manpêling lawang pagêr liwa-/ 5/ t mangsané pinandhakakên maling.

Punika andhih – andhihan  têrka kandhih  déning patra kadhih déning sêksi kandhih  déning bukti, bukti kandhih   déning pramana, pramana kandhih déning ububaya, ubaya kandhih  déning utara, utara kandhih déning nyata. Punika tatrapaning dhêndha utara. Traping dêndha dhatêng mantri bupati  lêlurah bêbêkêl patinggi  kang darbé mélik kang dènsidhêm salokané anayarêsmi. abau sawiwi akirang wisa tatrapan dhêndha nistha raja utama. Bupati ubal mantri, ubal lêlurah bêbêkêl pikukuh ing désa. kang pramana ing dhustha sami lêlurahé punika lakuning sastra.

Gêrah Bismilah,

Punika wontên ratu ing Atasangin, jumênêng    ing adil Allah , bisikané  ratu Sang Prabu ing Suryangalam, Sultaningarip, ratu puniku nyaritakakên pêpakêming aksara, kang rinêksa déné sang prabu padhangé aksara, déné padu sèwu limangatus. pêpitu pêpakêmé pamêgat padu satus patang puluh papat. Ratu iku nyata yèn amadhangi ing balané dadi wêdhar budiné mantêb ubayané ing  piyambêkira, tan gingsir pangandikané sanadyan kulit dagingé. Yèn ala angalapana tangan ki-/ 6/ wa ala dursila kang têngên trapêna. tangan têngên dursila,    kang kiwa tanrapêna, kang dènlinggihi adilolah bêlaka ora amicara èlaning nagara muwah rusaking nagara. tan kéni bêcika dhéwé. wiyosé dèn  jumênêng  adilolah  anrapi sabênêré ingadilalah.

Punika prabaning jaksa, yèn sampun nyata sampun nyata aksara tigang prakara, iku kang ingaran jêksa kang ana sadurungé ngucap. ikilah aksaran déwan, yèn  kabênêr   pangangsiné kang apadu karoné tanapi yèn ora padhang nggoné apadu wong pêdhotên poking ilaté. Jajênêng  yèn tan kangdi pratula. Supitên wêsi  abang cangkêmé pinêrung kupingé karo panglakuné yèn ora bênêr  dènya  anglakoni anênulisi tugêlên tangané karo colokên matané karo yèn ora tinrap paukumé binuwang têka nêgara winatêsakên, yèn Sang Prabu angéman ing balané. yèn gênêp sêtaun Sang Ratu wênang animbalana malih déné ora anglakokakên saujaring pêpakêm. angowahi sabdaning pangéran. kang tinimbalakên ing Rosululah Salalahu Ngalaihi Wasalam.

/7/  Wiyosé jumênêng kang kalih prakara, agama dirgama kang  tinurunakên ing pabuka bumi kalih prakara, pangrasaku. yèn  tan bênêr anrapakên saujaré sastra. mangka lélérongana laré ina ing pasar. yèn ana kang mêmadhani padu pradatané tan bênêr sapangucap mangka trapné saajining jaksa, wiyosé jêksa iku. sira ing mantra patih, maliwaraning patang prakara, pangulu jaksa, pêpatih pêpancugal sawujudé déné sami alêsukoma dèn wruhi nayakané jalma, sira iku    paliwaraning pangucap-pangucap iku paliwaraning paningal tingali kumaka  wéhné pati iku magawéyané ngurip, urip iku panggawéné sukma, sukma iku tan  pituduhan. iku kawruhana têgêsé suara iku. ulihné kang duwé rupa. landhêsé kêna ing goné sêpi lan mê-/ 8/ nêng dèn prasipta parérénan, kang wangsit punika isi jagat, kang dèncaritakakên déning titi jagat, lungguhé tri rasa upaya kang tan kêna pinisah tinunggal . têgêsé tri têtêlu rasa sawiji pênêré dadi nênêm. dhingin paréntah, pindho ukumalah kang dèngawé pangilon. dirgama ing ukumalahi kang dèn gawé pangilon. ikilah tugêlé rasa tri rasa upaya paréntah padu pradata. iku ora kêna winor pan awasêna dènawas. aja tinggal karêpé sastra aja gagah pangawasé dwaséna lungguhé.

Yèn kalêbu sanga prakara, paréntah kang aduwé gêgadhangan. yèn kalêbu ing dasa wiguna padu pradata kang duwé gêgadhangan punika sira ing paréntah kalêbêt gunturani lagu tur guntur bèna kang lumrahi nagara kalêbêt kasêrat paréntahing ratu. asalin ratu asalin paréntah wilaga paksi wong sabrang kang ajawa. pangucapé iku tan wênang padu pradatané kaya kang dènarani êmaliku, kawruhana lan basa êmal.

Punika / 9/ têgêsé ing êmal patang prakara kang sinérênakên maring sang prabu tigang prakara. rinasanan ing pradata, banyu bumi, uwong, langit. Mulané banyu dènarani êmal, déning alah anduwékakên bumi arané dènarani êmal. Déning Alah angêrsakakên nanêm biji manusa karané dèn arani êmal. déning Alah tangala angêrsakakên anyatakakên manusa kabèh. langit karané dènarani êmal. déning alah anyatakakên srêngéngé, lan lintang lan sasirina lan wêngi.

Têgêsé êmal kang kumêré bab kumarining. marang kirna kang rupa brimamas lungguhé tigang prakara. iku wruhana dèn awas. punika têgêsé si sapa anêkakakên ing ukum  Alah , sing barang pakartiné ora wênang tinut pakartiné, kaping kalih sing sapa abênakakên paréntah kêrta, tan wênang minuswa padu pradatané bêkta kalahna adêgan. Punika sira ning pangukaya wakarya, buwawahan tuwawa witana tan witana têgêsé kirya-wikarya têgêsé iku paduné upahakên. / 10/ wus opahé tuwawan juwawa iku paduné wong anênitik, witana tan witana paduné wong adola pakuwis picisé angrasa durung picisé.

Utawi sarat kang wajib kisas iku roro, sawiji arêp ana kang dènpatèni iku mupakat, tangan padha tangan, lan kiwa pada kiwa, lan kaping pindho iku arêpa anggota kang dèntatoni, mupakat pada waras, mangka ora dèn tugêl tangané kang têngên sêbab anatoni tangan kiwa, lan ora tinugêl tangan waras sêbab natoné tangan jèmpè utawi sakèhé anggota kang tinugêl saking adon-adon kaya sikut lan pagêlangané iku kisas ukumé, lan liyané iku mangka ora na kisas.

Punika sira ing padu pradata sinabêt tilari. satmata pramana êlos. ikralé dhéwé  kang tanpa sêksi. iku sira kawruhana dadi jumênêng êmbanani sosot.  kang minangka sêsocané jagat. iku sang ratu tan duwé kêkalih kang minangka êmbanan. pangulu jêksa pêpatih rêrangkêpé nagara. kang angrêksa praja. panyarikan paliwaraké bayan wong tindak ajingêmban. Wong arégol kang wicaksana, amriha    kartaning praja, muwah dustha sarana iku inguwohakên tandha  kabayan kajinêman. wong régol kang wicaksana, lungguhé jalma kang artakakên nagara. iku kang prara kang karta jênêngé  padha wicaksana.

Punika pituturé Sang Ratu Ngatasangin, bisikané Prabuné Jêksa Wirapêksa, Patrakèlasa, Jêksa Pramana, Jêksa Miraya. têgêsé Wirapêksa amirantining wong apadu angiloni kang akèh rurubané. têgêsé Jaksa Pratakilasa kang tu-/ 11/ ngggal sêsolahne bawane lan kang apadu. têgêsé Jaksa Pramana kang anglakokakên saujaré sastrané ora angurangi ora angluwihi. têgêsé Jêksa Amijaya kang owahi  donya kang bênêr   saujaré  sastrané kang apatut lan ukum Allah.

Punika sêsukêré nêgara kang rumêksa kathahé patang prakara sing sapa angrusak sesamané tapa karma dhêndhané yèn ana duwé  ilang dèn têmpuh putung. basané ing umbul-umbul. lêlurah bêbêkêl yèn arusak sêsamané tan pakrama dhêndhané kamaya wong siji. Yèn ana duwèning wong kang ilang têmpuhna triguna. Yèning pati kang wasaya dhêndhané sanagara, bupati kalungakên sangang taun sangking prajané.

Punika sabênêré wong rêbut sabêt  watês ki padha tuwuh padu padha kakitarêbut banyu rata, tarêbut sêsaba kang silêm kita rawal, rêbut sabalané kari ki pramana karêbut sabalané kang kodén rinasan  déning jaksané. Maniking jaksa kitukawayang paliwara kipantês ki-/ 12/ nêmbalan wêwalêr pinakra kêna ing pagarayangan. ing kutha ranampa sinalisik papaté lan sastra iku mêksah narka kang rinusak sêsandhan paréntah. kêna ing pramana, karang kirna pagêr antara tinajuk kramanya dèn kêmêt pariksané ing désa sapanglangkoné uga kramanya agama iku angalahakên sakaliré prakara, padu pradata, agama iku kalah déning nyomana, atiné bomana iku pramana.

Yèn karang kirna kalahing gama, déning nyata pramana aranya têgêsé nyata pramana iku kang nandur kang ngalahakên ing purusa kèh déning nyata, déning jagat dadi pêtêng pagarayangan sangang prakara iku taksih tarka.

Jênêngé kang aran tarka déné ulaté nyata pramana, nyatané tarka déning pramané kang anarka karané kang tinarka ora nyata déning tarkané ora pramana. nyatané tarka déning pramanané iku kawruhana dèn awas, lungguhing tarka kang manjing lan kang ora.

Punika ênggoné ngawaskên sadasa prakara / 13/ sêpisan pisêsêrêné, kaping saidé, kaping tiga sarêgané, kaping sêkawan pangangsiné, kaping gangsal tarkané,  kaping nêm sasiné, kaping pitu tuturé, kaping wolu kêndêlé, kaping sanga kawalé, kaping sadasa sasandhané, ika dèn agêmêt pariksanika. titénana dèn  agêmêt, karêpé sastranira aja tinggal karêping sastra. luguné tarka iku yèn têrus sêksiné kawalé sêsandhané. tuturé tarkané yèna sawala saênggoné kalih pisaidé, tanda dadia satêrkané, têgêsé sêrêgané lan pisaidé sawala kalih sêksining tandha diyasa tarkané saliring padi pradata, atanapia sawala, sapadu pradatané sayogya trapné ing dhêndha, asunga pakantuk sapangarsa.

Punika têgêsé apacabakah, ana ta wong wadon sawiji arané nora aniti tarkani tarna kalawan ing sona, kang narka wong sêkawan. panarkané barêng sadina papat iku, dènya ta wong papat iku tarkané béda-béda tan dadia  manarkané patènana kang narka iku, yèn ora pinatèn dinêndha trapna.

Punika karané wong parèntah kalih prakara, kang rumiyin parè-/14/ ntah kapindho   pêparèntah. têgêsé parèntah purusa lungguhé tigang prakara déning dhingin ratu, kaping kalih papatih, kaping tiga mungsuh iku angrusak êmal. walat sajênêngé yugya trapné dhêndha dasanara. puniku kawruhana wong pêparéntah aja kaburu sêngit aja kaburu ing dhêmên.

Punika pamêgat padu pradata tigang dasa prakara kang katindak tiga kang wêning angrusak amal. Kalih prakara dhingin ratu angandika lèh mungsuh lan pêpatih ing mal karusakakên angalahakên amêcah bumi angalih araning uwong anglaraa lungguhé yèn saparéntah ya mur amékana, tinarka durjana angambat wong kangadu dadi durjana. Pangambaté boya dadi kalih kudhang ciri. anuwuhi sastrané, sajabané titi ping tiga anambuk pugung. Têgêsé amêpang mêrang nyata, dorané dhéwé, sing sakawan putung pamatangé artiné sajroning nirêgol malayu tinggal gusti utawa mungsiliyan, gangsal prakara kalêbêt tinarka prana artiné wong arêp mêmatèni damaré mungsuhé, wolung prakara kalêbêti mangsa damar inatarik artiné jênêngé dènlungguhakên ing tuturé, sangang  prakarané kalêbêting /15/ bêkawêrona artiné pangucapé ora mêtu têka gustiné, mêtu têka wong agung liyan, sadasa prakara kalêbêt inapralaga artiné ana dêdalan anyêkêlan tur ta kang duwé bumi ora gèndhong ora titir, kalih wêlas prakara maring ayunaning tarka. tiga wêlas prakara kalêbêting tosan nukma pramona artiné wong mênang paduné pramana antuk piyagêm, pamênang yèn wus katapan, déné karasané kang  mênang ora ana rupané, malah kang watang ora wênang. balèkêna maring kang katên wênang sungana sarèngat tan wênang katura Sang Prabu Yogya tubaséna  dadanan tratêg muwah dados, patbêlas prakara kalêbêting sêksi rumêmbé artiné sêksi amung sawiji tinakènan kang wêruh wong nênêm, limalas prakara kalêbêt angêmban patra artiné ora titi pocapané, kaping nêmbêlas prakara kalêbêt anglikur  raja, artiné angungsèkakên pangucapé maring wong agung, kaping pitulas prakara kalêbêt cakrapati artiné angkuhing utang-utangan wong prasanak ing wong.ping wolulas prakara kalêbêting /16/ ina pralaya  artiné sêsandhan wong mati. sangalas prakara kalêbêta prang paya artiné gingsir ubayané, kalih dasa prakara kalêbêta mutung rakitan wêwarah, kalih likur prakara kalêbêt anambung watang bubukên artiné sawusé angiring patang wêwiyosan datan miyosi, pat likur prakara kalêbêting paca prakomah artiné daksura pangucapé solahé, salawé prakara kalêbêt anukma wêcana artiné asring anyarong jêksa, nêmlikur prakara artiné kalêbêting panca rêsi artiné manca lilima rêksi wêwolu ora nyata tulisé wulan rupané, pitulikur prakara kalêbêting suryacandra miruda wêcana artiné srangéngé lan bulan iku padha tulisé sarupané agingsir iku pangucapé, sangalikur prakara kalêbêting trirasa upaya artiné sajroning padu apring wêwèhing jaksa /17/ tigang dasa prakara kalêbêting sêbda maécaprana artiné agoroh panyéradi pangucapé déwé, sakathahé padu pradata yèn kalêbêt tigang dasa prakara kalahna paduné.

Punika pamêgat padu pradata wolung prakara kang dhingin  kalêbêting  gupita abêkmana pramana  artiné wong siji dèngawé kawal ora dènwêtokakên déné kang duwé sêsandhangan, kaping kalih kalêbêt tiban prakopa anukma lampah tanjuhing wisa artiné sêksiné sêsandhan sampun kalakon déné panglampah jênêngé kang arêrasan. Tan aduwé pocapan sêksi sakawal sêsandhan iku jaksa anêluhi kang padu êndi kang pêlingé kalahan paduné, kaping tiga kalêbêt wilutorah artiné saksiné kawalé sêsandhané ora kaya ujaré kang duwé sêsandhan, kaping pat kalêbêt tibaning gêsêngé aji pangucapé kang dadi apus, kang dèniloni nupatani wêruh kang dènilona kalahna paduné kaping lima kalêbêta ngadhang tarka dènilona kalahna paduné, kaping lima kalêbêta ngadhang tarka  artiné tarkané kaya kombang sataman, dèn jajahi kaping nêm kalêbêt angala gaman daya /18/ artiné ana sêsandhan wong ora pramana kalahan apaduné, kaping  pitu anyalawadi artiné analèni layang ubênga  anduwé layang kalahné paduné,  kaping wolu kalêbêta ga pita sabda pralaya artiné wong said anêrêg ing naid sarta  anêrêg kang duwé êmal sarta kang duwé dhawa   nanging kaloka baradhan déné   dudu kawruhé dhawa kalahna paduné.

Punika pamêgat padu limang prakara, kang dhingin pratélané ping kalih pinêgating tutur, kaping titigating sasi, kaping pat pinêgating kawal, kaping lima pinêgating paliwara, ginarayangan limang prakara, kang dhingin trataping, kalih titi, kaping tiga karta, kaping sakawan dupara, kaping lima sengara, têgêsé titi padhang laku satidak, têgêsé karta pinajangan tarka, têgêsé  dopara goroh, têgêsé  sênggraha wong corah.

Punika prakara wong katitipan, têgêsé duwèking wong kang ora katêmpuhan kang kalêbêt apaca sadaran lirnya kagunturan gunung, kanêban kobongan kalajoki mungsuh paréntahing ratu.

Punika gêgêdhêging nagara kang winarna ka-/19/ bèh dhustha iku têka gêthinging nagara. sing adudu iku gêgêthingi sato alas krami iku gêgêthingi sarira warêké iku gêgêthinging banyu, tingkah iku gêgêthinging manuk kabèh, iku kawruhana dènawas, pan sêsukêring nagara. Iku waspada kêna, pariksanira dèn  astiti aja sira mêliking donya. angrasa ala pati ora wondéné pinanggih.

Punika saloka patang  prakara, kariyin miruda wêcana angrêksa sêbda  pranglaya, artiné saksi iya kawalé sêsandhané. yèn ana mêngkono ing karoné sapocapané tanpa dadia kalih prakarané dhêndha matanggal sapisan kapurnaman. Sêpi boya warané pisaidé sêrêgané tarkané tan wênang dinawan tarkané. Kaping tigang prakarané angêmu wadi têgêsé kawal sêsandhané muwuhi pangucaping saksi anupêtakêning jaksa jêjênêngé panglaku. Patang prakara ana damar padhang bulan, aluhan déning lintang-lintang artiné wong kang narka lan kang dèn tarka asanggup olèh tulising bumi muwah tulisé kawalé. yèn têka kawalé ora dèn têmokakên, muwah dènsingidakên, punika kalah paduné lan antuk sapangara-/20/ hé dhêndha dêlêm.

Punika tatrapan ing pradata, saliring tarka yèn sisipan nêrkané asunga pakantuk sapangarané dhêndha dalêm. Yèn si manjing satarkané kalah kang dèn tarkané dhêndha pangêlua trapêna, punika sêksi kang wênang pinétung prakara dèn sami maspadakêna kang angrasani adil. Kang kariyin sami awarasan aprayayi kangalusur samaté jakêtib modin. Drasa sulêksana patrikarêkah kang wicêksana durni malêm. Bênêmantri kalari déning ing ratu sawarniné kang kanggo, duwé kêkasih jêksa jugêm, pandhita ginuroh déning ratu supaya kêning agêlarakên ujar kang abêcik, sapocapané tan gingsir pamaséké déning dahwé, sugih kang wandé takén duwéné iku kawruhana aja sira uwong ukumé padha sêksi.

Punika anggèné angulati bukti saliring bukti kang aran rupané bukti, kang tan ana wujudé pangucapé ingkang narka lan kang dèn tarka. Iya iku bukti kang marupa, têgêsé ing gonangin anonpucuking ring nyataning angin, iku godhong kayu artiné anggon pucuking patêmoning rêrasan, artiné dora lêksana bana iya ujaré déwé.

Punika wêlat upaya tigang prakara kang dhingi-/ 21/ n rêbut bumi nyarok watês angambil gêgamané kudhi kêrisé kalih prakara wêlat upaya, karang bukti artiné, gawa wong akéh, kagêndhongan katitiran katon tinaton padha jayanya sayogya kalahna déning pacaptrapna ing dhêndha nisjaraja utama, lulurah, bêbêkêl kaliwon, wong jaja, punika nasmakilah dasa prakara anyalawadi artiné  sajak kèndêla yèn sawalan tuturé, akaryadési artiné asanggup wêruh ora waspada, anirpaksai artiné wêruh ariku sanggup ora wêruh, aninyuktiyarané artiné pêtêng  sapangarahé, angadhawa artiné ana ora dèn cacêb dékêning umahé toya martah  artiné sajroning tinarka anyingidakên bawasabda artiné sêksiné dèn wor ujar dhêmit mang   itung rahartiné sêksiné sakawalé sêsandhané ora kaya mangucapé kalih kang duwé sêksi, rékapan daya artiné katêmbu agugunêman lan sêsandhané, angèla pandaya artiné gawé sêsandhan  wong ora karuwan lumahé, abakah artiné kêndé-/ 22/ lé sêksiné ora nana tuturé, ana sêksi anirat sêksi artiné ing kèndêlé ana sêksiné ing tuturé, ana sêksi anut watêsana artiné amaténi layang sastrané utawa anyuwèk layang. anyalawadi artiné anyalini la yang panêrêg, utawa anyingidakên layang. akarya dristhi artiné sajroning sinawung oléh layang utawa adêdan pagêr muwah popol, anglêga praléna artiné kalang-alangan, ora warta maring kang duwé siti, toya pralaya artiné tan mêroni saubayaning tulisé dhéwé.

Punika ujaré kutharagama alambang dadi ugêr-ugêring nagara, iya iku pangulu paliwaraning ratu, jaksa paliwaraning pangulu, pêpatih paliwaraning  jaksa dadi patang prakara, ratu pangulu jêksa papatih dén sami tunggal  budi. saujaré dèn sami, ulah sukmana sami ulah rasa dèn sami angonangin, silané ing  nayaga traning manusya, sila iku pagawèhné pangucap, pangucap iku panggawèané ati , ati iku panggawèané ngurip, urip iku kang / 23/ tanpa tuduhan.

Yèn arêp pawas ulatan ênggoné sêpêtkên, ênggoné nawung yèn wus tatas suwarané, ulihana kang ngadu wèswara, rupa iku ulihna kang aduwé rupa, lan wuninga agratané manusya, ala lan kang bêcik, yèn kang agama lan kang arigama, analinga déné pinalajêngakên, déné trangé sêkar tunggal sêkawan wité têgêsé kêna gawasa paningal sakêdhap, laku satindak manungsa ênggon pangucap sakêdhap, ikulah karêpé gusti rumêksa ing gêgamané lan rumêksa ing agama Islamé, rumêksa ing balané lan nrumêksa kuthané, dadi jumênêng ratu  pangulu jêksa papatih ing nagara, déné lirsida dugapawané, gêlap tanpa udan sêgara ngawang-ngawang ana murub jroning toya têgêsé awas tunggalê tinêmbus akathaha agama lan dirgama Islam, wiyosé ngadu para wicaksananing pawèrangan tan kèwuhaning papané.

Punika Sang Ratu ing Suryangalam kang adil Allah jumênêng pangulu  jêksa pêpatih, karoné jumnêng déning jênêngé  pangulu, kang jumênêng  jaksa pêpatih, mantri sê-/ 24/ salokané banyu kinum, bumi kapêndhêm srêngéngé pinégti, têgêsé kang tapa kanga ora tapa, iku kêkalih dhingin tapa wajib, karané punapa déné kang agung kang sipat jalma lan wong aji sing ing tapa. Kang aran kuwawajib kêkalih kang aran tapa sunat iku kêkalih têgêsé tapa wajib iku kang dhingin jumênêng  ing mesjid kang tilawat kuran, salat limang waktu, ingatawa   pangêngên parané, kaping kalih tapa kémayah arané kaya anêmbayangakên mayid lan nulati sandhang lan pangan, têgêsé  apa sunat kêkalih dhingin sunat, abngalé  sunat muakad ora kêna tininggal padha kalawan pêrluné têgêsé sunat muakad iku kaya palagrahakan salat ariyaya lan salat rakangat lan witir lan susur sadurungé wudu têgêsé  sunat dêsasa, kaya wêwacané sujud rukuk lan liyané muaghad iku angkati sirah yugya pakin pamubada, kang jumênêng pangulu papatih utawa sané manusya sêdaya, yèn ora anut pawartané Nabi Muhamad Salalahu alaihi wasal-/ 25/am.

Yèn pangabêkti liyan yèn ngawikanana sunat parlu lan ora anglakoni  rukuning iman, lan dèn wruha bayaning urip, lan bayaning salat, lan dèn bêkti ing Allah Tangala, yèn ora kang anglakoni sahadat maka ora Islam, déning jinarah artané lan wênang pinatèn, déning sang ratu adil.

Punika pangandikané kang jumênêngratu kang jumênêng pangulu jêksa papatih kangadilalim. Iku dadi pêtênging nagara, ingkang dilat alim, iku pinanjingakên ing swarga luwih saking luhuré, angingkang jaja adilalim, dinakoning gunung mirap iya iku gunung antaraning swarga lan naraka, mulané ana ingkono sangu sêmajing swarga, mulané ana ing gunung bahrap déné dosané wong atuwné.

 Punika kang gérah ing adilalim pinanjingakên ing naraka jahanam ing dhasaring naraka kaping pitu pisan kang dhingin gunung ing api ing gunung aktul ing antarané swarga lan naraka karané suwarga katingalan, naraka katingalan, saking gunung irap iku lawasé ana judah. Kang ana ing gunung mihrap iku amung sadina ing akhérat, yèn wus / 26/ sadina pinanjingakên ing swarga.

Punika sang ratu mila sangêt pituturé ing balané sêdaya, balané sami  pinênging apadu wicara sami angestokakên asarèngating iman sami kinonangan dal ing Nabi Muhkhamad Salalahu ngalaihi wasalam, yèn  tan ripé mubadir, uripé sami lan pêjah, minanjingakên naraka, yèn wong gêlêm pangabêktiné, yèn tan angawikané nasunatan pêrlu lan dèn kacakup tingalah tangala, yèn ora anglakoni  sahadat,  ora sêlam wêning jinarah artané lan déning pinatèn, déning sang ratu  adil.

Punika pangandikané kang jumênêng ratu kang jumênêng pangulu, kang jêksa pêpatih kangadilalim, ingkang dadi pêtênging ing swarga luwih luhuré kang jaga ngadilalim tinakoning gunung ikram iya iku antaraning swarga lan naraka, yèn wus ana ingkono majing swarga, karané ana ingkono déné wong atuwané, punika kang parèntah ngadilalim pinajingakên ing naraka aja anoming dhasaré kaping pisan, utawi gunung rip, iku gunung ukuli antaraning swarga lan naraka / 27/ déning swarga katingalan kang anèng naraka tingalan, saking gunung ngarip iku lawasé anajudahi, kang ana ing gunung ngarip musadina ing akérat  yèn wus olèh sadina pinajingakêning swarga.

Punika sang ratu milané asangêt pituturé ing balané sadaya, balané sami nênggi apadu wicara, sami angèstokakên asarèyating iman sami kinon angandêl uruting bêcik utung ala saking Allah tangala, aja jinah aja jurjana, aja analangsa alampahi siya-siya, sami amilang-milanga agama lan dirgama têgêsé drigama agawé isthiyaré mapan kabéh iku saking Allah tangala, swarga naraka wus pinasthi tan kêna owahana, lan padha ngandêla pangandikaning alah salalahu ngalaihi wasalam, animbalakên pangandikaning Allah tangala aja sirik, aja èsak, aja sêkêl, aja lia, aja samar, aja pangling, aja tanduki. Anarimaa saparèntahing  Allah Tangala iya iku panglêburan wujud kang anyar, lan mangana kang halal  lan nukumé, lan anyandhang- /28/ a kang suci kang halal lan ukum. Anginum banyu kang wêning lan lumaku ing dêdalan khérat sarta lan ukum iya saking toya kang wêning. Apatut lan ukum, bêbanyu mustakmal arané. Ukumé suci balaka ora cêkakakên   lan aja ana wong apadu iku kharam ujaré ukum  Allah.

Maka pangandikané Sang Ratu ing Suryangalam, maring jaksanira sêdaya. jêksané kêkalih kang adil, kang wicaksana ing agama Islam. Pangandikané Sultan Ngarip ing Suryangalam. dhawuh dhatêng jêksa nira. Yèn ana wong padu wicara maring sira, wruhna alané lan bêciké donya têkèng akhérat, Yèn ora gêlêm sira awêri, sira wruhna kalah lan mênangé lara pakénaké Sang Ratu Adil. Karoné padha sira wêlasana. Sawusé sira wêlasi tutur rèna kang adil. Kang mulih maring kang duwé wêlasan. Séwu sasuku ulihné maring kang duwé.

Yèn ana wong padu ora mêtu patang pasêban, kalahna paduné dhêndhané triguna. Yènana wong kamalingan utawa wong kabégalan kasayaban utawa wong kélang-élangan, ora pisaid inng jaksa aja sira rasani.

/29/  Yèn amêksa sarira kalahna paduné lan aja pilih papan. Poma-poma dèn asil. Yèn ana wong anakokakên anênahanên pêksaguna. Yèn ana wong sinuduk ing maling aja sira dhêndha sakaroné karané ngapa iku ora duwé dosa sasawujudé. Lan ing dalêma jalal sangêtoné ing Allah Tangala. Yèn ana wong mêmaling kalêbu kisas, kisasana tugêlên tangané têngên. Yèn kongsi gênêp pindho tugêlên kang tangané kiwa. Yèn gênêp ping têlu tugêlên sukuné têngên. Yèn gênêping pat tugêlên sukuné kiwa. Ikilah ujaré ukum, bèn wong lanang bêcik wong wadon tugêlên tangané ukumé maling. Sanajan ingaran ana maling mati angambil donya sasandhanag uripé wong malaku ing wêngi yèna upêti kang ora agawa obor.  Sanadyan pangulu sanadyan mantria, prayia umumé maling lan trapêna parèntahira.

Yèn ana wong apadu pêpunèn sariringané jênêngan  pisaidé. Déné urang paréntahing agama Islam. Lamung ana wong sinuduk ing maling tanapi karèpotan. Ora pisaid, dhêndhané sadasa guna. Yèn kang saikadêdêg pêpuné /30/ apisaidé wulan, ajiné séwu sasuku ukumé kisas. Wong liwating lêlurung banjar ing abanjar têtkala ing wêngi mati oboré    sarating jasira   dhêndhané, wujudé maling sangêt dosané ing Allah Tangala lan aja sira pilih kasih, aja sira paé-paé. Sira padhakêna anaké dhêwê, Iya ta alané durjana sira pêndhêtkêna,  lan kang murang parèntah ing agama Islam.

Wong liwat lêlurung ing banjar  tatkala ing wéngi, mati oboré, saraté  kang dadi obor    dèn rarasan dèn karungu maring liyané, omahé maling ora yèna parané. Yèn tinumbak ora nana paran ujaré tata nagara ujaré ukum Allah. Anyaurara ngawikaning abi wong nérat wêwalêring Sang Ratu Adil. Yèn ana rarasan kang ala kalahna, sarta dhêndhané, dosa pati pinatèn. dosa lara-linaran, dosa dhêndha-dinêndha, dosa wirang piningakên.

Punika patut lanturing ukum Allah. Duk padu séwu satus patang putuh papat. Kuthara kalih wêlas, kapupus déning salokatara sèwu satu-/31/s patang  puluh papat. Pamêgatipun wolung prakara punika kang rinaosan apus jawa.

Punika salokatara kathahé padu kawandasa papat tê gêsé salokatara, pararêkêna kang apadu kalihé, ala bêciké mangkéné alané mangkana kanandhapé kang kaloka ala iku. Punika kangaran padu sadaya parêntah kang tumandang  sakuthahé kagonan. Durjana saparatikahé wêruh polahé durjana. Sasorèkah sapadu ilon lan durjana mati ora kailén. Kabanda ora aléh, walat tatu ora aléh  tamba jampi.

Punika padu tigang prakara paduné wong adol tuku, kirya-wikirya arané paduné wong titip. Lan kang katitipan tuwawa tan tuwawa arané. Paduné wong angupahakên lan kang angalap upah witana tan witana arané.

Punika aran padu tigang prakara nistha maosaorasa, pariwêksa angambuk pugung. Punika nistha maongsa nagarabèi baé sajabaning lawang, lan dya mangsa araga garaboing pala- /32/ taran maongsa-ongsa akêdhah pagêr lumbung ana wong babusuk isiné umahé. Pakantuk pasumêngêr wolungèwu, pariwasa amêt duwèni  wong tan patrama angambuk pugung angrusak duwèking wong utawi ana amêmalingi tetangga.

Punika sastha-kustha pitung prakara maling utama, maling rêtna, maling jawita, maling wong wadon. Mamaling-maling laras wong lanang marani wong wadon. Maling têbunan durung olèh-olèh wis kalêbu wêwêngkoning. Maling arêp angiling-ilingi duwèning wong. Maling timpuh wong kamasan.

Punika padu limang prakara èstri cala sabêt purusa. Sagrawiruta, sagra  widhana, sanda candhala. Punika lirnya èstri cadhala pada palapina lapadha wong wadon. Sêbda candhala pisuh-pinisuhan. padha wadon sêbda purusa wong lanang tukar lan wong wadon sigra wêcana wong lanang aja jawat wong wadon.

Punika padu pitung prakara, angênidiyah awisadaa èka warna raja wisuna, apala dara jinah wara. Wong kasudukanyadah. Punika artinya angênidah angobong umah. Awisadaa upasé  /33/ uwong ékawarna wong nêluh utangé mêlik. Raja wisuna angakèn nakoni ujaré gustiné. Pala daraniyah wong marugul puniku dèn jinah nuli dinténi pisan. Wong ambuk pukung puniku pagarayanganing  patang prakara. Sarta kandhih déning patra. Patra kandhih déning sêksi. Sêksi kandhih déning patra. kandhih déning pramana. Pramana kandhih déning ngubaya. Ngubaya kandhih déning purusa.

Punika lirnya ing tarka ujaré ngaran têtulisan. Sing wêruh tigang prakara ngênêkséni lan kasinêksén. Sarta nênakoni bukti manut kang aran nyomana mêktokakên. Kang dènaran pramana alawas ubaya têtulisan. Sarta karon purusa pangandikaning pagarayangan kawan prakara. Sabda sawarsa, kaligana tawa Ratu lèna kanama lèna asalin watu. Punika liring sêksi pramana sakpapralèna sakumbah punika kalirnya saksi pramana sêksi kang kèndêl. Saksi pralèna saksi wong mati. Dadi adhapya, saksi kumbah sêksi sudrah tan dadiya.

 Punika saksi tan wênang tinakèn patang prakara sirna wêcana, sirna pramana, sirna niscaya, sirna miarsa, sirna saha  wong wuta, sirna pamirsa wong tuli.

Punika pagarayanganing ngastha corah kalih prakara. Ana maling dudu maling iya maling. Punika lirnya ana maling dudu maling ya dyan gawa agunting  pangkikis, yèn ora bêdhah pagêr dudu maling iya kêmaling. Ya dyan pandhita amalêbu ngumah ing wong dalu-dalu maling uga. Utawa ana pagêr kêdhah, punika pagarayang patang prakara. Aku wolung sêksi anyuda sêksi, anyau rêksa, abahu sabda, apa sêksi.

Punika liré akutha sêksi wonga sêksi, sanak tan dadia andhapya, anguta sêksi. Ana sêksi kudu sêksi wong durjana dadi andhapya abau sêbda, sêksiné dèn warahi dadi kandhapya, bau rêksa, asêksi anak para saksiné muni tan tinakon, aprang saksiné dèn êbang-êbang dadi adhapya.

Punika pagarayangan malih patang /35/ prakara pakandhih déning dirgama, kandhih déning dèwagama, dèwagama kandhih déning toyagama, toyagama kandhih déning purusa.

Punika têgêsé jugulmudha, ora duwé ujar roro. Sanajan prayayi aduwé ujar roro ora dadi saksi .

Punika têgêsé atas karta basa sajan pandhitaa yèn saba pasar ora dadi sêksi. tarkané dèn angési.

Punika têgêsé rajaniti, titènana saprajané dadi andhapya.

Punika têgêsé titi swara, titènana pangucapé kang ala lan kang bêcik. Kang

aran lan kang dèn aran, iya iku têgêsé tidhar salokika.

Punika têgêsé sarudèntha, titènana sarupan, pangucap ing karoné.

Punika kang akèh dorané dadi kandhapé.

Punika têgêsé caya-murcaya, ana wong ngapadu wus ing tutur ing pajêgan,

wong kêpatén sajroning apadu maka adhapya, kang upata ika.

Punika têgêsé kuthara manawa akèh arané manawa bêcik manawa ala. Awang-uwung angalap-alap kang ujar-ujaring malih tatana- /36/ na.

Punika lirnya angawang-ngawang, angujar-ujari tut bajar tang kauningan kang dèn ujari sakathahé amiarsa padha olih pakanthuk mangkéné pakanthukipun angalap-ngalap, angujar-ijari maring tata anêng mangkéné ugi tatrapané  muwahing ngalimahé salawang. Kalaning yèn atus sêkar cina bêkti têbasané yèna malayu têbasané kalih wêlas.

Punang arusak sagul istri tan payun kadhêndhaa kang rusak utamané kariyin kalih duman. Kang sadumané dipakantuk, punika rinusak ana punang dalih dinalih tan pikantuk padaliyé. Kawalikêna sêsapa ngarah olah trapna in dhêndha sapadalihé, muwah angaku-aku. Saliré kang dèn aku apadu tan payun ngilènana, ayuga lèpèk ing palakarta.

Yèn apadua sung apa mutung yèn wênang katigarsa pangarahnya. Tur kadhêndha muwah ing palakarta. Aguwa ana kala luwiyan. Kanistha raja utama, tikahi saujalma wong rasa dadia jatiné warah arigama. Arigama kandhèh déning ngadigama, dirgama kang sakuthara, manawa dirgama saking suwara kang ngapit ing nara. Anyumana ngarané nyumana nyamanalah déning ngubaya mangkéné kang linampahakên sang darma patih.

Punika wong mangandêlakên piutang, kang pinangandêlakên margi  /37/ tumawa wikan, utawa ilang, kang mangandêlakên anagurona, jumênêng aprada nagarané. Muwah ana tarka, muwah ana palamarta.

Punika lirnya titah toya dènya nganya rasi ing tarka. Kirnané nangurapi kang mami, paramartakoné kang ala lan kang bêcik, uripé kang sêdaya ngabêcik mamaya kang sêdaya ala. Karasak akarya krama ing lumampah tigang prakara.

 Punika lirnya tikah ing ngarêsihi karta kang dawa déning uripakên kang mati paramarta. Yèn pati gajah, wong wadon yogya sirahana.

Punika kakramanya, asaloka mantri pasawanga tripa piyan. Tur ana dukanya ora miyad tumaa muni kang wuni tan asring tun lisring asipaté.

Punika lirnya pawatak ring padhêt tuna iku ora nana warêgé kayu. Ranaduk kara tuna wiyad, ngasaara iku ora nana wareging banyu. Malamung nita wuyat lana pandhita iku warêg dé-/38/ ning kawruh, sri tut miwoya miyad wong wadon ora nana warêgé ing wong lanang.

Diyat iku atas rong wêrna, kang dhingin mugalalah, kaping pindho mukasapah, mangka diyat mugalalah iku satus unto, dèn pêrtêlu kang awal unto têlung puluh, pada ngumuring taun, lan kapindho unto wadon, têlung puluh pangumur patang taun, lan kaping têlu unto patang puluh pada mêtêng sakabéhé. Utawi diyat mukasapah iku, unto satus dèn paro lima, kang wal unto rong puluh, pada wadon lan kapindho unto rong puluh pada ngumur rong taun, lan kaping têlu, unto wadon rong puluh pada ngumur pasuson, lan kaping pat unto rong puluh pada ngumur adi wêtêngan, lan kaping lima, unto sapuluh pada dadi pasuson kabéh, mangka lamun ora nana unto, mangka ingalih maring ngèwu dinar, mungguh wong ahli sloka, pada uga diyat mugalalah, utawi makasapah.

Ana saloka maning surak kramana sik amisuda. Kasanthi kanarnala. Nka nèna gêtaruné nyuda murti wisunaa. Punika têgêse suraté wani ngalah, ora na tagané saking ora wani sikara parisuda. Ora na duwé kang olèh kamulé ni ora buktiné. Yèn tha ora mulating wawarané anagéng karana budi. Langgêng pangabêktiné tinikah tinisuda anggé wong laranganèng Pangèran.

Punika saloka malih mati nyamrakramana suwara wisira turuté. Punika  gami ya bramana turuté kramana, déné anusun aburawistha. Turuté rawi iku déning kalih sana déning iwak. Lan thulané wulang mangsa déning nyuda kagèl ragu. Kusuma bramara turuté kusuma iku ingisêp ning bramara.

 Ana saloka tigang prakara, sakar gasa dargawi darga, têgêsé sang dargama maéning désa ing muyé nana patigi dargama têgêsé ,alèni gé rara liku. Yèna patikah anglamamakakên widargama kawan prakara man alani yèn Sang Jumênêng kalahan ping tiga jêksa kaping pat mantri.

Punika lirnya tan dadia sêksi pi- /39/ tung prakara kariyin. Ping kalih dhêmék ping tiga wisa, kaping pat kang rupa roro rupa nêpsu arakayayan. Kaping tuna tuagung. Punika têgêsé réna wong wadon, dhêmèt raré ciri, rupa karoron kêdhi nyinyima wisa dèna sudra kawarnaa wong kalang. Kasêkthi utang tata agung kalih sasandan warah ratu agung.

Punika pracèkané maréné iku karané ora dadi saksi. Dhêmèt raré ciri ora dadi sêksi yèn jan kasatmata. Punika liring ratu akirim surat, yèn wawèran salokané akacadra sisan tri tuna kasudra catur padha praya sadyagung ran. Naubêd pindho sanak, tuwa ubêd ping tiga ri iku. Ubêd ping lima maring bapa, ubêd ping nêma ring guru, ubêd ping pitu ana déné liring wèwèran ananggapi taduké. Ing karo patang kawarna kang rupa dêdagêl pêpucuk.

Ana déné karo pêksi jiyènsi anyènyaongi. Katur ing pandhita gung, pandhita lêlima dhatêng katitik kadu kêpéngén titimbalan, kanduk dêdagêl sapa têman sarta lan salam. Yèn kang muni surat, yèn luguh ing basa kang muni surat.

Saprayogyané kang muni surat, basa kang limang prakara dhingin basa, cêpèmanira, pêkêni- /40/ ra basasiki maning yidika pakanira. Basa atopan kakang  corètipun nidhi basa nukak. Kawula nika, kasaka tiba kawula dika. Pakapira punika lirnya nurat lêlêburan lan jumênêng luguh ing papradi kamang kêliré lêlêbaran punika lêluwangan paèradika kangasan sarta sirah têgêsipun.

Punika têgêsé nyata lan saloka rupa tidarsa, ana kang anya r ta satmataloki, kabukti tidharsa, wêwêngkon kang nyata nyumana. Satmata loki cina. Punika  èsthi corah wolung prakara kang dhingin tigang prakara. Ki sapran Ki Sakti Kara ita, Ki Mnanga mas picis.

Ana sawah lan nyara-nyara rabi ki warahné bègal, ing dalan arêp matèni ing umah. Punika saloka tigang prakara, kang anaa déning dalan bapa payon caya. Punika têgêsé kuthara jugul darana lan bab wong têmên dhasarya, punika têgêsé kuthara lan dunya kang linampahakên sadarma papatih kalih wêlas. Sarudita saruning pangucapé, saramarcaya tambang rawatrawat sadosané alungguh anya-/41/ lawandi, titigêmi nastiti, kuthara manawa kathah arané, manawa kapa-kapa wong suduk prayoga tidhar sasaganda rupa anggas karta basa luput prayoga basané, caya murcaya cahyané bêcik parupané pangucapé, kathah wêning tingalé lan kang bêcik. Têgêsé salokatara, têgêsé kuthara titi mangsa tênggak sirah.

Punika kuthara munawaraja akèh arané manawa ala manawa bêcik. Ika arané, punika uring saksi karya dasih tan patut ujaré  sêksi dadi kandhapya. Lêpas kayayi angulati sêksi malaku sinêksèn, wiruwa urah angaduhakên ujaring sêksi, anglayapa trahan ulasahakên ujar malaku sinêksèn, tan abaya angêmban saksi. Angadhang sêksi akundhang cina, anglironi cina, agalih cina, watang ananggal tan patra. Gêgadang angamukti anêbus cina watang dadi adhapya. Kang anêbus durung sêksi mula tinakon, astra patra nadah sawang katitula winarahakêna nguwadrastha angruh nguwarah winarahakên, amaluguhakên sêksi ing pa-/42/ riksa angrawuhi pocapan dènya takakèn lan nutur wit dèn tingali dèntakeni  anêksèni ing sir sapocapané kang dènsêksèni yugya andhapên ujaré sapocapané tan dadiya.

Yèn ana wong ngutang kamalingan tan wênang anagiha dhatêng anak putuné utang tukun utang pasêksén dhêndha kunarah ingsun patra tigang prakara kang yogya. Andhapêna ing wong sasirah têgês triwara saksi bumi.

Punika yugya minangka sêksi ingkang agêng ing kangarahané kalih kang mitugu ingkang gêlar maka darma ing kawal karya sabrama sakriya ika wèsa ingkang tuhu ing karya kunang minaka tan dadia pangasi sangang prakara.

Punika lirnya ingkang ngumpat padhanya ingkang doyan liyak ingkang wanita sawala ingkang ngatukar ika aranya dosa, ingkang dosa dustha ingkang wong dama.

Punika traping dhêndha saloka kasukartaning sarira sangang prakara. Musthi kang tikus sarad ula macan culika kênthêl rupa ulêr gêni karêming panadhang war, wardulintah.

Punika saloka patang puluh prakara. Punika minaka sukartaning nagara titir sani surating ngampuhan. Sing agama karang ginugung gajah adaka durga brama saloka kamalih. Utama èsa sing akogama duka ratan wruhing baya.

/43/ Punika salokané sidhêm pramanêm sadhêkêt acula étan darbèya têkèk  mati nguloné. Punika salokané èstri sagrahan daka angalsur saritan aribaya. Salokané tidhar saloki kasimagama ngapas patra.

Punika salokané kadunung saloré kang dumunung manawara. Salokané gana tan wruh ing baya, salokané anyêkêl gajah adaka anguwang sari. Salokané uni ning nulitana patut panolèhipun. Salokané wong arêbut bumi. Gana ing tata  tan wruh ing baya. Salokané acacaya gana sunguté prana, salokané sigra wècana bara-bara kadi bara tan aribaya salokané wong tanpa krama, sing alodra moangsa tan dribaya. Salokané èstri cadhela linuding lara, salokané ngacala wani ula /44/ mungup ilang kari buntuté. Salokané èstri sanggra atidharsa astri candhala kêdhalêm apalan daraném. Salokané tidarsakan patukan parutuan ana kang ngana tan wruh ing ala salokané sagra ing damasa tan wruh ing sukarta.

Ana salokané malih tidhêm winêm angrusak sagul tan ligana. Salokané ngata lêmbu gara angrusak pradata tan wruh ngupaya. Salokané sagrahita alalambar padhang bulan asuluh salokané utama maèsa wong ngatatu, simasa tarka ngapusana. Salokané kang kobongan inglang darbèna kang dumunung gana ina léka tan wruh ing laksana.

Salokané singa kang dènparo asula kên bukti tidhêm ing karya. Saloka ngadhang caya, sumaos mangulati masa, saloka bêkêl lêmbu, angusarira, salokané nyara-nyara lêmbu kang angrusa karta, salokané mimisuh tan krama. Salokané ngarsara dula amari dèn salokané mamatèni singa kang dèn patenana, singa mangsa angawus singa tan wruh ing baya.  /45/ salokané anêlap sapi, singa mangsa wirodra masa, salokané nyolong wedhus wirodra basa galak amangsa-mangsa.

Punika caritanira Sultan Adilulah kang uga dirangulah piyambêk. Déné tan arsa ing sabda, ing angawasakên asilira piyambêk lan tan kêna wong dathêng  dalêm déné bala sêsukèrè lan balanira kabéh. Gêntha ginantung ing daganira winalêsan saking parang kilan. Wontên déné Sang Prabu apêputra satugil langkung marmi nira dhatêng kang putra. Kang putra pêpadhatên agili anaking jajawi pjah, mangka kang jajawi mala jêng dhatêng panakulan. Anêrad walêsan gêntha, mangka kang gêntha muni, Sang Prabu miyos paningilan angandika  dhatêng kang kêmit. Wong kêmit matur putra paduka aji. Apêpandhêtên angliling anak jajawi pêjah. Mangka winoting padhati anak ing jajawi. Mangka putra ginulingakên ing marga binêrêg padhati, anaké jajawi malêbêsati ngaurip. Kang kandhêg jajawi ngadhangi.

Punika pratikahé Sang Prabu ayuna jaakên alané. Yèn ing salat Sang Prabu aja saré ing wêngi awêwara,  /46/ ing bala kabèh. Sêdhêkaha  apem sawêlas  tangkêp wong sijiné sanagara pisan. Sang Prabu aja pêgat prihatin angligiha, anarêpiya, suku sumawa, sasari cakra, landèn agèli suwara ing bala, arané rusaking bala rusaking nagara. Déné Sang Prabu karané jumênêng Prabu Mada Raja Sasar Yalapa. Raradéné Nabi Isah amadhangi anglimputi déning Sang Prabu ngadah wicaranya, déné mantêp pangubayanya, kang kiwa dursila, kang têngên anrapêna, têngên dursila, kang kiwa anrapêna, déné Sang Prabu awi sukci.

Ana saloka kocaping kuthara, karané Sang Prabu ajênêngakên mantri wong sugih aja, wong kasiyan aja, wong mara dèsa aja, wong ngaram aja, mantri sugih anglampahakên dhéwé. Mantri miskin arêrusak dèsa, mantri wong ngaram aja dadi sangaring nagara. Yèn jênêngé wong akèh kawruh ngisik wong kang lêpas kawruhé kang wruhing gama arigama, aja wong susis. Karané wong susis lan satruning wong sanagara minangka yayah rèna nira wong sanagara wong kana luhur budiné. Kadi tanya nayakit amutarka  /47/ mulih tarka kang mungsuhi, kadi ta wong asamar asamur. Dèwa gama kang angmungsuhi.

Yèn Sang Prabu ajênêngakên mualin kang faésat. Wawacané kang akèh alip fa kang abênêr ukumé. Kan tanarsa ing alêmbana gènira Sang Prabu ajênêng Wakèd. Aja sah saking paligihané dèn kaparêksa rina sawênginé. Dèn sapangayun lan Sang Prabu, lan aja micara iya dudu lan aja amicara ècaning nagara lan aja widèyan amara sèba, gering nagarané kang dadi kartaning nagarané.

Punika kawruh ana Sang Darma Patih, yèn sira akarya panglampah, kang wruh ing subasita kang atikah pamacarané, kawruhana tingkah anrapakên, waosing padu giringên maring pakartan. Aja malêbu ing umah, ing jawining lawang, aja mêtu pagêr aja dik sura, aja nandèring pangucapé wong èstri aja doh wicara wiwitan lan wêkasan. Wong giniring dhatêng karta apa gunêman. Yèn langkung saking kang kalahing tarka, andhapên sawicarané tur kadhêndha wong ajarahing wong ya dyana mêmalinga angliwat jaya utanga, lokika atidharsaa. Yèn tuna giring panglampah dalêm sirna tan nana kara-kara.

/48/ Ana wong utang titir tinagih déné kang matungakên tanpa mauripun kang darbé angidhêti. Yèn tan ana giring maning panglampah Sang Prabu. Yèn dadi winata,utang sira darbé kemulih sakawit, lan kadhêndhaa ing nawasèsa arané, bagalampah ana saloka kocap ing kuthara.

Ana Ratu angandika dhatêng Sang Darma Patih, takon wong adol wêsi wontên pukulun nakoda mara dèsa. Rawuh abêkta dagangan wêsi. Iya patih tukunen ing undang dakoda. Tinakon déning Sang Darma Patih, sira duwé dagangan wêsi, Sang Ratu ngandika sira nakoda adol wêsi. Aturing nakoda inggih pukulun pangaos kawan yuta, iya ngong kang tuku wêsinira kabèh. Nuntêna angandika dhateng balané kabèh. Kinon angusunga angandika Sang Prabu dhatêng nakoda iya sira ingsun paringi arta, makèka wêngin aturé nakoda. Inggih  patih, sampuna wêjang dhatêng marêksa Sang Prabu, aturé nakoda, Pati Kaji anêndha ing  yatrané   wêsi. Angandika Sang Prabu wêsinira nakoda sirna tan ana kari dèn pangan ing  ra- /49/ yap, durjana sira dol maring wong. apa ujaring adil undangên Jaksa Patra ing Ong durjana, ing undang jêksa rawuh, angandika Sang Prabu liring Ong Jaksa  dèn doli wêsi. Déné nakoda, manké sira tan ana kari, mangké apaparèntah ira, aturé Jaksa, Sira indakên tuku rèna kanda ika, Ki Jêksa déné punapa panakathah tunggalé. Inggih Ki Jêksa matur dhatêng Sang Prabu, sarka lan Jaksa lan karêping Jaksané. Nakoda apangarané kagiring sira padha kulaa ring punika, lan pakanira ora gawa tutur, inggih kyai boka bêring darga. Katur tulung manira sêgara katunon jeng manira kaladèn, Sang Prabu amiarsa, bab sira nakoda ora nana sang gara katunon, kayuné nakoda ing jaksa, manira bab angucap Kyai Jaksa pukulun kawan paduné sang nata ika marganya aja napi nalaryan wong agung utang dèna gé kalawan krama. Adang usi lêlêrêyan dadia utanga utang mulih kadêndha asapangarahé.

Ana wong apadu wong kêka-/50/ lih kang satunggal akèk katutur sarta béya adhé durung ana pranatané jêksa, yèn gya kalah wong sagugup puniki aranya, wong anêlang tara.

Ana wong kêkalih padu dhatêng tarka. Sami bakta tutur sami sarta bèya gadhé déréng katata déning jaksa. Sayoyga kadhêndhaa sapa asisih. Kagyatang lang nguti kudrané. Yèn wus katrap kalih kang kêpêna malih ana pêksi kutul mencok angucap lawan Ki Kèlasa. Ana wraksaa luhur ujaré Sang Kèlasa padha wruh ing dhuwur, kang Kèlasa angucapa ya Sang Kutul, anulisi Kutul mibêr mèncoking luhur. Sang Kèlasa lagi ngiling-ilingi wité lawan oyodé lawan pangé lawan godhongé, nuntên dhatêng ing luhur. Anuntên pêpanggih lan si kutul. Angucapi kutul kang kèlasa ora sira karihin nuntên Kai Luhur kariyin ika. Yèn si mêngkono lan manira bênêr yèn kalah isun ngawula maring sira, ujaré Sang Kèlasa iya payo. Anulisa mami kê-/51 /krarèk dhatêng Sang Prabu, dhatêng mangarsané Sang Ratu Kitiran Putih. Anilisira napaki Kèlasa lan kang kutul ana gawé nira mring ingsun angucapipun kutul adhêndha lêlêrêsan Patik Kaji. Kang miraos pangucap Sang Ratu Kitiran Putih. Kang cira wicara apa, apaturé Sang  Kutul kariyin baa rèrèn saandhapé Kajêng Agêng aluhur. Inggih sami arêbut wruhing luhur kariyin kalih pun Kèlasa, Pati Kaji dhatêng kari Sang Kèlasa,  mêksih anantona yondé, tauripun Kèlasa, pun Kèlasa kang wruh ing luhur kariyin. Andikanira Sang Ratu Kangjêng Agêng luhur lahkita rebut kariyin nuntên Sang Kutul mibêr karihin. rawuhing luhur nulya matungsang Kèlasa meksih aligih, aturipun Kuntul. sampun patik kaji wruh karihin kadi lêrês Sang Prabu iya Sang Kuntul pira kèhé oyodé kang katon dènira pira godhongé, pira êpangé, mnêng sang kutul sira Sang Kèlasa pira kèhé oyodé, pira gêdhéné, pira luhuré, pir êpangé, pira kèhé go-/52/ dhongé. Matur Sang Kèlasa, inggih pukulun kèhé oyodé gangsal, gêngé sapaningal, ujaré tan kêna tiningal pangé sakawan, godhongé wolung lêmbar, pajingèling lêrêsan, angandika Sang Prabu kalah sira Sang Kutul, lêrês Sang Kèlasa, asasnijan wruh wohing titi raja iku.

Ana wong apadu katata déné karta, sampun katata sami karya tutur, Sami mantuk, kang sasisih pitakon dhatêng Jaksa, rawuhing pamicaran, ing apa bèn kang boya dhatêng Jaksa kalah padunira iku mangka dèn padala. Inggih Ki Jêksa, manira pakanira kalahakên manira boya tarima atriwali.

Dhatêng pêkênira, mungsuh manira trawali, dhatêng pakanira tanya kang ing ngigil andhap kang andhap, iku Jêksa bêbaya ingkang kalusura lan kadhêndhaa satus. Ingkang apadu miliha wacana maya sang kara ika aranya, lan putungêna dhustha maya wêcana arané ujaré  saloka, among jagat abawa tên durjana têka wuluné salaba, pangucapé sakêcap, isi upas, ujaré     /53/ corah tan kamdêl Ki Jêksa.

Yèn ana wong apadu aja dèn dadékakên karihin micarané dèn muningakên kalah kalawan mênangé. Poma dèn atiti ing ajêksa, yèn wong pradata mênang padha kalawan kalah. Kang kalah padha kalawan mati. Dèn kadi Ki Undagi aja kaliu ing papadhangané. Dèna bênêr lan dèn têgéng kiyangkahrané èngiling-èlingi sira. Dèn èling sawicaraning sastra. Dèn wikananga déning Sang Darma Patih. Iki lampahing jari rasan ning wawarah mapan sira gurit anrapna kang abnêr  kadir  data ing alapan. Kadi srêngéngé wau medal tan kerup. Déné anrapaken sarasaning sastra titi pradataning bukti. Wong lakika wong iki pramana ing agama .  Ing adhii goma agama aranya. Pingil yakin sastra adigama aranya katrapan dèwagama aranya. Cor katina diarani karya tuku bukti  /54/ arané. Kamasra lokita arané kèlangan. Yèn sisip ki ngaraos sing karya apan maraos, sing karya aja rausi. Yèn kasêrêngêna angraosi, temahe lali ing wicarané pasuranya, tan sayogya angraosi karya kadirgama aranya, ngawijil saking kuthara déning arigama déné tanawas katrepna adirgama samounya tumrap satodané. Mijil saking mawirat dhêndhané tiranya, aranya, ngadigama karané kalah déning nyumana abuna tan kakén limang taun, karané nyumana kalah déning pramana, déning ki bukti abêcik pramanané ala buktiné ika sakiwak dak taun, ika kangaran pramana kalah déning ubaya, iya lawas buktiné angingka ubayan sawidak taun, utawa saturun ingkang kalah ing  pramana. Déné ubaya agama kalah déning adiagama. Déné akrawak cakrapêna adigama, sampun atus trapna, karanya ngadigama kalah déning ubaya, déning   ubaya jumênêng, karané ubaya kalah déning utara déning kari bêbuya   / 55/ kariburik sêksèn ngajêng èsah ing karané. Ubaya kalah déning utara, utara kalah déning patra. Iya kasêksèn anisrah angitan muningèng wadi. Patra kalah déning purusa, iya ana patrané angita ana sêksiné ora buktiné.

Ana patrané, iya iku kang aran tripurusa sêksi kandhih déning bukti, bukti kandhih déning lukita, lukita kandhih déning bukti. Déréng kajabêl layang tan  antuk buktiné ing ana ariku kathahing bukti. Dènin lokita titingarani wulan, mangsa taun masa dina. Rêsiking alas alangan yèn tan antuki kalawan sirah kalawan têgêk mangsa sangkala. Yèn tan wontên kanda dosa déning sastra. Yèn tan boya miyos layang upah-upahé tan bênêr jênêngé lan layangé muni titi sing arahakên mangkéné kramané ngapiutang liré agama wicara. Aja abêkti paca prakosa. Owah sabdané owah silané, owah umahnya, owah tuturnya /56/ mangkéné kangaran paca prakosa bèdané bèda rarasanya. Amêt gisiring pamicara, arasana arané kang astri linyok ujarnya. Susmawacan aranya, ingkang asring amêt wicara udarat maka ing Jaksa kangaran pacarêsi kang tan payun kaya. baurêksa angulati sabên liyan, adriyurêksa asring ana rupa micara ning jaksa. Trisabda asring ing nyangaken pamicaran dhatêng karta. Dhêndha pangarané awadi dhêndha makuta. Musuh dhêndha rupa susumawaryasaruwisa. Saru amadal          pasilan I karta angabil gêdhé déning pun padha upaya arana kang agé wica yaa, sarta angakudu wêning wong amêdalakên duwé ujaré, wong séjé.

Tridasthi arané kang èsahakên anak rabining wong ing arana iwat, dhusta marupa sadu aranya. Asêpata dhatêng karta, anginggora bukti sampun asrah tuturakên malah aparas awarna santri. Mokalng pamicara kabéh kêkalihna kang  kaya ika, déning sang darma patih ulatana durjanané raré ciliwinong wong déning bapa katilar déning ibu, lan durjanané  /57/ wong èstri durjanané Jêksa durjanané   ing raré iku winong déning bapa raré anangis ana wong liwat ujaré bapa. Lan mênênga biyangi ratêka. Durjanané wong èstri mêdal saking umah. Anganggé wêwangi kangas déning wong lanang liyan. Durjanané jaksa ana wong apadu kangamêgat iya padu angambil wêlasan. Ika wong tan wêning dadi saksi ratu pandhita sudra pasu. Wong linyok wong I triwala ala kawulaning wong têtubasan ing wong karèk ing pandhita tan dadiya sêksi déning tarayun anusahakên déning wong.

Apakarané ratu andiya sêksi déning amêngku wèsésa apa karané wali jatan dadiya sêksi déné aburu ajujuk. Apakarané wong èstri tan dadia sêksi. Déné tikahe wong wadon apakarané wong ing wong tan dadi sêksi déning wong ing wong.

Apakarané wong sudra tan dadi saksi déning sudra karané won linyokakêna dèn cêkêl ujaré. Angira rasané padha goroh, padha pasupadha èstri, kayudya dadi saksi. kang è- /58/s tri resik sulêksanané. Kaya walijapa dhawa walijatan dadiya saksi. déné kathah sami satmata ingkang saksi tan wênang linakon. Wong kêdhi wong binimalad, ki dêdhilanya panuju radhok lan dalih kang tan dadi saksi yadyan satmata angawata tan dadiya.

Wong kang wênang dadi saksi déné wêwarah tusing wong apênêd. Wong  kang kulidé sawong èstri wong ing gamané. Punika yogya minaka jaksi, ujaré wêwarah ing isiné sang darma ya tikah saksi sawiyos prakara. Saksi tugal yèn  saksi roro mati têtiga piliyèn kang umate wong agung.

Mangkèné ana sêksi ana parêbatan, saksi wong kalih wong têtiga, mangkana  ajênêngakên. Punika warnanipun saksi pramana, saksi satmata, saksi watata, kang          aran saksi pramana, kaidina déning ratu, karané wêlasan Jaksa halal, déning kang dèn arani ratu, dèn jiyad madêp Sang Prabu kocaping kothara dèn abênêr lan  wiraosi sastra, ora tanjuki nagarané, dadia ngilangakên kalutuh- /59/ ing nagara. saking pariksaning Jaksa amadhangakên kang adol atuku kang utang. Dadi Sang          Prabu tan kêna angandika déné sampun darbé timbalan lagésudran.

Ana wong apadu para kêna ing pacoran, punika kamungsuh manira  anganggé wisayané ali-ali. Kapariksa nyata ali-ali dèn anggé. Mangka  kinawonakên kang anggé wisaya. Amadhanga tangkêp malih, yèn wis pêpék gadhé bèyané alapana ali-aliné kang dadi wisaya.

Ana wong apadu rawuhing dèwagama, kang asisih boya ayuna si lulup, kalahena panidhih isthiarané. Kang sasisih têka asilulup kalahêna paduné sadiupaya arané.

Ana wong apadu amêpék rêwang patakênan, ujaré karta kalahakên kang kakêrêngan mara bok parakarsa ababot. Para popoyana, si ora amitra kalahakên anêrang larangêna kang dèn iling, boya sami kalahêna amutung krama arané, utawa bali dêdalan kalahna pamutung pasangana arané. Ika kalah ing sêksi déné ubaya karané kalah ing saksi déning ubaya dé-/ 60/ ning anêlêsakên sawirasaning wawaran.

Ana kang kocaping kothara ana pêksi mibêr angêmbara tan ana uning ing           warnine pêksi, kènging laré gigol. Sawiji mangké katingalan ing akathah laré sawiji iya iku rupané uninga ing warnaning pêksi kang angêmbara ika déné nyata  ing rupané lan tibané.

Ana wong apadu adol atuku kang sumêbut kumaricing. Tanpa saksi padolé patukuné mangka aparêbatan ujar rêgané kang atuku. Ujaré  kang atuku sampun  payu sèwu, ujaré  kang adol payu rongèwu. Kaparakêna I patara yèn dawêg sèwu alahna kang adol déning kasatmata arané.

Yèn dawêg rongèwu kalahna kang atuku, Kasama ita arané. Yèn ujaré  sêjamèk murah kang sèwu larang kang rongèwu kapadha upaya arané. Têka dhatêngêna dèwagama dadi akarya kalih lan tapa sêksi.

Ana wong apadu kang sêsisih agawa saksi. kang gawa sêksi kalahna paduné, salokané abau wêcana marang sang kara ita. Ana saloka kocaping ko-/61/ thara ana paksi angambara abur aluhur tanagané kaya nyambêr radèn kajrih.

Ana wong sanagara yèna ngukuli nagara nuli mati. Kêcaping wong sanagara kala gila-gilah mangké awakila katon kabèh mêtêrta ning upaya.

Salokané ira tan wruhing masa ambatal pulawacana. Mangkana sang darma pêpatih, kang tan wênang cinatur ing tutur ananing watang. Yèn lan bèyan wadon, dasa ujaring watêng tan kacatura.

Kang cinatur ing tutur ana dosa kang si pakartiné saksi, pakartining saksi griyaning saksi ujaré tutur uninga, apa amara arsa, dèn bakali winatang tan kènging aja tura déné watang  yèn ambili pangucap. Pamatubaking awênang, watang ubulinga patang saksi yèn jumnêng ubul-ubuling mênang rabi.

Karana watang tan jinantur manawa bubukên. Tapan ubahé mungsuh  manawa dhadèk tuna panumbuk mring mungsuh. Saksi karané bênêr jinantur pangipalikpik angauyudawacana manawa duwé maling kawasa mungsuh ing  ayudawadé ilang yèn têngêné kambil déning maling.

Punika têgêsé  /62/ tidharsa, atawa wong nêmu, tan ana uninga pangambilé katuduhan wong adus, kari gagawané ana olèhé adus kapanggih déné kari  gêgawané ika. Yugya katêmpuhna sakawit, kaya ana wong pêjah ing ambil gagawane wong liyan dèn sêksèkakên sampun kambil tan antuk karipa sêksiné  déné tan muni ngapangambile kang mangkana katêmpa ana samulyané kang pêjah.

Ana wong kapadu ngandarbéné along kari ing lêlurung kêpanggih déning wong liyan tanpa sêksi pangandêlé lan kang mangkana ika katêmpahana sakawit,  kadi karyaning wong kamarga ning padu nyata kadalanan yugya kalêmpahêna sakawit. Ana wong pêjaha tatu dèn paranig sanaké kang wruh.

Ana kang kapapêksa wiji liwat sêndhangé kang pêjah, kang mangkana ika katêmpahna sakawit kang kapapag ika, kamarga baya arané. Sagêd kêna ing padu sèda kêkarang maya arané. Kang anêmu uninga pangambilé kabêktan kala badrané.

Ana wong rêrasan wadon ing wong, mangka minggat kang mangkana ika katêmpuhna  /63/ sakawit kawacipta arané.

Lamun ana wong kêmalingan, wêwadhahé mal kang kêmalingan kêpanggih ing lawangé wong liyan, yogya katêmpuhna sakawit salokané katiban tai abuh arané.

Dyan malih lokika, ana wong kêmalingan, wadhahé kapanggih ing omah   ing wong, iku yogya angilènana samulyaning kang ilang, sarta kadhêndha 25000, salokané kapanca anggadhuh tai abuh.

Ana wong kakêrêngan sudukan salah sawiji ing dalu kang mangkana ika katêmpahna kang mati kayogya baya arané punika jênêng tidharsa. Yèn sisip pangarahé angakéni pagiring kalih wêlasan lirka tidharsakakên.

 Ana wong maring umah ing wong kang darbé driya sêpi anuli kècalan darbék katêmpahna sakawit.

Ana wong mara ngumah tan kasatmata antara rulimigat ika kamaruruh   kawan dasa dina. Yèn tan karuruh katêmpahna sakawit, anglir katidharsa.

Ana wong pêjah akuda amaosa asaliring kang wruh  ika kapusan satus  patang puluh dhèpa watêné sangkalé, kalêbêting cêkal, aruruhêna patang puluh dina. Yèn tan karuruh anganalina sakawit, ana wong alinggih angob garinggingên dèn têpa kang anêpaksa mimalajêng. Milih kang anyandhak manawa aduwé wong sanak /64/   waspada turaga cangkacandhak. Wong malayu ika mangkana wong katidharsa. Yèn tan duwé sêksi andhapena wicarané, lire lukita.

 Ana wong kêmalingan wêwadhah kêtêmu umah ing wong liyan, mangkana ika katêmpahna samulyané duwé kang ilang muliya mutung kadhêndhaa, angandhêg tali-tali wong linyokan arané.

Ana wong minggat gêgawané kapanggih ing liyané, têka ing pamicaran angulihna amutung sarta kadhêndhaa kidang malayu kari sikilé arané, jênêng lokika.

Ana wong pêjah gêgawané kêpanggih wong liyan, utawi dhuwungé, kang mangkana ika kacina loki kaarané. Angilènana mutung samulyané kang pêjah,  kadhêndhaa karaga têka arané.

Ana wong aburu maling, ana wong sajabaning babahan utawi lawang ingkang kêmalingan tan kapanggih saksi cina, kadhêndhaa kang kêmalingan duwéné mulia mutung. Yèn ora kalang amangka babah kèwala, asungapa takut kagata sangara arané.

Ana wong parêbutan angaku  /65/ duwéne kang sawiji kêcapé tan matra siyanu dudu lanang ingsun. Awirang ingsun utawa kamalingan utawa kacurigan salah sawiji jênêngé lokita. angilènana amutung lan kadhêndhaa, karagas askara arané.

 Ana wong dura cara sadipa jinahé anuli, kang dura cara migat têmpahna kang aduwé cara. Amutung kadhêndhaa kawéca upaya arané, déné bisa agawé ujar.

 Ana wong kèlang-èlangan   anaa sanggup pangrurun, anjaluk upah-upah anuli dèn wèhi ulahé dèn tampaning wus ana dèn ulihakên upah-upah ika sapanalih sapa biyung saliring sapana, opah-opah ika mulia mutung duwé kang ilang mulia sakawit lan kadhêndhaa loki katidharsa arané. Kadi paksi kalêbêting kalatan kawasa mudura.

Ana wong liwat umahing wong liya dalu ling sèna tuku maèsaa. Kuda, lêmbua, mèndaa. Kang dèn parani kapadungan yèn têkané tanpa cina, angulihna amutung, lokika arané maling sodanama arané.

Ana /66/ wong kasayaban kampuh, katêmu dèn anggo déning wong liya, dhatêng pamicaran mantuk kamuting lokika arané samulyané kang ilang, lan kadhêndhaa anganggé tai abuh arané.

 Ana wong mati alas, ana wong kapapag amaring jaksa kêrisé yèna lêbêting gêtih jênêngé lokika. Yèn têka ing pamicaran angilènana amutung supaya pêjah,  kadhêndhaa 45000 matêp angadas arané.

Ana wong ngamèk kayu, ana wong mati sandingé utawa kuda, utawa  maèsaa, salire kang pêjah ing sandhinge kono yèn dhatêng ing pamicaran angilènana mutung sang mutung kapêjah angadêging pangagasana arané, lan kadhêndhaa 24000.

Lamun ana wong liwat ing omahing wong dalu, sajaké atuku maèsaa, utawa  kapala, utawa sapia, utawa mèndaa, kang dèntêkani iku kêmalingan, yèn têkoné saha cina, angulihna amutung samulyaning kang ilang, sarta kadhêndha 24000,  iku lokika arané, salokané maling sapana maya Lamun ana wong têtukaran kataton salah siji, utawa mati, kadêndha 14000, oléhé pikantuk kang atatu 80000 lamun ora mati. Lamun mati, angulihna samulyaning kang mati, lamun wong lanang lan wong wadon pada uga arané.

Punika undhang-undhang dalêm, yén ana pêpati ing sajroning kutha cinêkêl satus kawandasa jêngkal, kèh ingkang kalêbu ing jêngkal kadhendha.

Lamun ana wong kasayaban kêtêmu dènênggo déning wong liyan, yugya katêmpuhana samulyaning kang ilang, iku lokika arané salokané wong anganggo tai abuh arané.

Ana wong kakêrêngan wus napih têka  /67/ saloka curigan, utawa kamalingan. Yèn si acina angilonana pamutung samulya kang ilang, sawusé agadhé amaruruhna patang puluh dina.

Utawi aran maling kabunan, iku maling têtanduran sampun kaundhuh saliré têtanduran ana ing gubug sacina, utawa pakoléhé kang anduwé 24000 sarta kadhêndha 4000.

Ana wong maling têtanduran sampun kaundhuh  saliré tataduran,  ana gubug sacina pangambilé yèn langkung aji sèwu putungêna, yèn kirang aji sèwu pakolihé kang anandur arané maling saji.

Ana wong apadu tinarkaa mêndhêt maèsa, mèdaa, kapala, kang dèn tarka angundang saksi dhingin malaku sinêksènan, yèn têka ing pamicaran kalahna  paduné. lamun ana wong asunga bali ing lawang, kalaning bêngi, kang duwé omah kêmalingan, katêmpuhna tri-boga, salokané wong anyuksma warsa arané.

Ana wong atitip ing omahé wong liyan, tan sukané kang duwé omah, ana duwéké kang duwé omah iku ilang, katêmpuhna marang kang atitip.

Ana wong apadu kakalih dèn tarka angambil maèsa, kapala, sapia, sarta dènwadé pisan. Panarkané kang aduwé ujaré  kang dèntarka angaku yèn adol ménda manira dhéwé. Yèn tarka ing pamicaran ora utara padu dhawa wêngkoné lan sakiwa têngêné, kalahna pêpaduné iya iku  /68/ wong mati ujaré  dhéwé, arané déné ora dumunung saujaré dhéwé, anyalawadi arané wênang kalahna sapêpaduné.

Lamun ana wong asunga bali ing latar, kalaning bêngi, kang duwé omah kêmalingan, katêmpuhna tri-boga.

Maling arêp malingi têtanggané  angulahna mutung wong adinginakên  duwéné maling arêp parané mutung ana dhêndhané.

Lamun ana wong malingi wong kang satunggal saomah, barang kang déncolongi yèn saha cina, mulya amutung sarta kadhêndha  45000.

Ana maling wis malêbu ing omah, kabanda iku salokané maling pantara arané, sarta kadhêndha 24000, pakoléhé kang arêp kêmalingan 24000.

Lamun ana wong wong atitip barang kang déntitipakên, mangka dén ambil marang kang déntitipi, iku kadhêndha 24000, salokané amalingi darbéné dhéwé  arané.

Ana wong atilar umaha turu ing tangga.

Ana wong kêmalingan  wêwadhahé katêmu kang dèn tilar ika. Angilèna mutung katiban tai abuh arané /69/ aruruhna kawandasa dina. Yèn tan ruruh asraha pikawan lan kadhêndhaa.

Ana wong mêmanggih saliré kang pinanggih, yèn tan saka ping karta. Lami  arêp ipun wadé, karuruh déné kang darbé, kang mangkana ika kadhêndhaa ngalihna mutung samulyané darbé kang ilang maling temu arané.

Ana wong anyèndèkakên darbèk dèn arani ilang déné kang sinèndhékakên utang dèn wadé sacina kang mangkana ika. Kadhêndhaa darbék muliha mutung. Maling sadha arané.

Ana wong kamasang tinakona gawé ali-ali dèn alap utawa dèn lironi, yèn si kacina ulihna mutung lan kadhêndhaa maling timpuh arané.

Ana wong maling umah ing wong dalu, dèn sapa ora sumaur, dèn parani lunga bari sumaur. Kang mangkana ika kadhêndhaa singungana pakantuk maring kang darbé griya maling ganwah arané.

Ana wong mamaling wus kalêbu ing umah, wus kabèda maling pamata arané. Kadhêndhaa pakantuk kang kamalingan.

Ana wong èstri mêmara ing umah ing wong kalaning wêngi, kauningan déning lakiné. Yèn rabiné mêdhal yè- /70/ n dhatêng ing pamicaran kang duwé  umah kalêbêt maling kara, arané kadhêndhaa 4000 awèya patuku wirang maring kang duwé umah lakining èstri kang awèya 2000.

Ana wong mara ngumah ing wong agawa gêni mulih anyulêd umah sacina,  dhêndhané awèya pakantuk maring kang aduwé umah kasulêd mantuk kamutung angamuk tugêl arané. Yèn nrumbaka ing têtanggané awèya pakantuk.

Ana wong arêp mamaling umahing wong kang duwé umah arêp ki ajar kamalik padha déné kang aduwé banjar, mangka tinakon ujaré  arêp panuduki, asunga pakantuk saha jining wong sakawit lan kadhêndhaa maling utama arané.

Yèn arêp maling jaran utawa malinga raja wangagé saajiné maling pakatuké lan kadhêndhaa maling titaka wong uran arané, pokalé yèn kang ana ing banjar mangka pakolih têskarana arané.

Ana wong aburu maling ing banjar ing wong anguwahan jaluk tulung ora ana anulungi, kang aburu maling kasuduk déning maling sacina paburuné saking pamicaran takênana aduwé banjara  /71/ pakarané ora atêtulung, ujaré  manira atuku boya miarsa katrapna dhêndha 24000 sakawit saajining pêjah, kagêt wilungu arané.

Yèn si ujaré  atangi manira kalêbêt kajrih, yèn manira mêdal kaya-kaya wiyarsanira kang mangkana iku putung ngêna samulyane kang pêjah. Tan ana dhêndha kagét kapênêten arané.

Lamun ana wong dhêdhayoh kalaning bêngi têtanggané kêmalingan, iku katêmpuhana maring kang kêdhayohan, samulyaning kang ilang, sarta kadhêndha, salokané wong kalédho kriya.

Ana wong adu wêcanan ana wong liyan tanpa utang dèngawé tan wawarah  kang kagénan karèran. Pangèkanipun sacina. Yèn dhatêng ing pamicaran, sira ulihna mutung asunga pakantuk.

Lamun ana wong bali ing dêdalan kalaning bêngi, kasatmatan déning kang duwé omah utawa liyané, mangka kêmalingan iku katêmpuhna, salokané wong anjuksma priyangga.

/72/ Lamun ana wong asunga bali ing lawang, kalaning bêngi, kang duwé omah kêmalingan, katêmpuhna tri-boga, salokané wong anyuksma warsa arané.

Wong atitip ing omahé wong liyan, tan sukané kang duwé omah, ana duwéké kang duwé omah iku ilang, katêmpuhna marang kang atitip.

Wong atitip, arupa bêbuntêlan atawa wêwadhahan ,alongana, duwé kang ilang ing jêro wêwadhah iku, tanjuknya têmpuhna kalêbu ing saloka ina sancaya sjana.

Lamun ana wong asunga bali ing latar, kalaning bêngi, kang duwé omah kêmalingan, katêmpuhna tri-boga.

Lamun amaténi wong liwat, tur nganiyaya, lan ora angalap arta, mangka pinatèn wong iku bakalé mati.

Lamun kapindho amatèni wong liwat, sarta angalap artané ing sanisab utawi luwih, mangka pinatèn lan pinanjara saluhuring kayu, sawusi êdusi, lan sawusé dènulêsi, lan dènsalatakên.

 /73/  Lan kaping têlu lamun angalap wong iku, ing arta sanibat utawa luwih lan ora matèni, mangka tinugêl tangané lan sikilé, sangking dénpêncêng têgêsé,        tangan têngên lan sikil kiwa.

Lan kaping pat, lamun amêmêdéni wong iku, ing wong liwat, ana ing  dêdalan ora angalap arta, lan ora mêmaténi ing awak-awakan mangka kinunjara belaka, têgêsé Ratu kang nginunjara.

Lan lamun angucap wong iku ing wong liyan, maténana sira ingsun, lamun  ora gêlêm sira, mangka sun paténi sira, kaol ésah ora nana kisas, lan ora nana diyat, lan lamun anêrêg wong iku, ing amaténi wong liyan, sangking duduké pati, mangka kari-kari amaténi mangka wong kang anêrêg iku dènkisas.

Ana wong mati gêgawané kari ana ing omahé wong liyan, miwah kêrisé, iku  lokika arané, angilénana amutung samulyaning pêjah sarta kadhêndha 25000, salokané iku karagas askara arané.

Ana wong kamalingan liré yèn tanpa titi, tan dadia kalahna paduné salokané  ing pêksa angagas pramanané aparêbat ing parta lirnya pangarah tan dadia ina wadaka angêdahakên basa. Sapura dukardi duwé ingoningan gagarangan putih, sinambuk tugu umahé ani bramani uninga yèn lakine sêpi. Asung dèn gawa sang garangan putih, ni bramani kèsah dhatêng kali. Anakira kari anèng badalan, tinuku déning garangan putih, maka ayun pinangan déning sang ula naga. Raré pinalayonan déning sang garangan putih. Udani ayun pinangan tutugané, nuli dèn karajan dèn saut gulu- /74/ né sang ula naga mati. Sang garangan putih tumutur maring lépén, cangkêmé muthah gêtih, Ni Bramani aningali dhatêng garangan putih cangkêmé mutah gêtih. Yatnaning nitra mani anak ingsun saira pangan dèn atêbih jabaran, mati garangan putih. Ni bramani malayu mulih anangis, asambat dèn tingali anaké mêksih ing bandulan. Ula naga anèng nakar mati, Ni Bramani asung uninga dhatêng ki pura karti, yèn garangané mati, Ki Pura ngêrti boya suka agiring paben, rinaosan déning karta. Ni Bramani katrap dhêndha, angilèni amutung saajiné garangan putih. Salokané anggaskara ina sabuta.

Punika sêdaya parêbatan lan duyu wijaka kang dèn nraosi sadurungé ana sawusé ana sami matur Gusthi Madana Sraya. Sang wirasa gupna angrasani sadurungé ana anganakakèning ora pangrasaning sun, pangucapira iku. Kaya sang dhadhang karya angrasani sadurungé ana, ing orak kakéni tinari sêdaya karta basa angaturi salokatama wontên  /75/ jênêng tan kawalasa, wong akathah angaulub saring waringin sakathahing pasar. Tiningalan patra kangana, kangana kayuné Patih Mandana Sra ya sira asung patidharan, anganakakên sakèhing ora  yèn goning   ra padha mangkono iku lawan sira wijaka angarakakên sakèhning ana, têgêsé parètah iki dora saking kawula saking gusti kabéh lawan sira karêpi jênêngé raja,  apayung malaku binuru déné bandha wongan anging katutan sahdènya liring salokané wong tan katari déning gustiné têka dhimini matur ing gustiné jênêngé patularan sakaning bnêré mênanga gènira ngawula tuban raksaka.

Ki Alon dèn piara ing wêngi angungsi udakarti giniring sabên rinaosan dèni karta kalah ki udakarti angilèna sangang ing kawula putungêna, salokané anawang karta supaksa andakaha singa ana alas.

Ki Mali awas sinilih artané Ki Badigul oraa sêmayaa rong wulan, kèwala, yèn ana wulan roge pnaur manira adurakadi, adora sembaga kaligaa winada- /76/s kartané , déné ubaya kalah ubaya déné karta, kalah karta, déné ubaya dados  karta janji ubaya, déning supabra saksi kalah déning supabra, supabra kalah déning saksi, déné cinatur paripaksa rinaosan, déning karta, ênggonya ngagas ngasilib èka basa tênga ing sagara, warah têngah dalu ing tanggal ping patbêlas. Sami alok mantri sadaya.

Yèn ana wulan roro ing andhap lawaning luhur kalah paduné Ki Badigul, katrapan dhêndha ora mantuk kaputung, sinalokanistha amêt upingan, andaya pariena lali ubaya. Tidhem ing agas salokané anggas andaka, ana saloka malih awija patra aber dadi déning anidra,  têgêsé  raditya.

Aja sira amada tutur, yèn ora nakarone  têgêsé  samurcaya.

Aja sira arasani kalanira kaserengan,  têgêsé  asurya sewanya.

Aja sira anibakaken pucuke ladingira, yèn durung gemet genira  angrasakaken  dèn kadi srêngéngé têngari bnêr tibané pucuké ladingira. Yèn maring papan, abêr dawa  déné kawaja mantra adrawésna, têgêsé uninga /77/ kêna i pangalahé i tuturé déwé , sawiji-wiji, poma-poma.

Punika kanyéthara aturika Pangèran Sènapati Jimbun, angitharakên saking pratikahnya pradata, kalih prakara, kapupus ing salokawara. Kèhing padu tigang dasa pêpitu. Pamêgatipun sadasa prakara, punika araning padu tingkahing durjana, codèkah kanggonan durjana, pratikah wêruh sapolahing durjana sabojanan tugal mangan lan durjana anakokrahing pèni olèh-olèhing ing durjana. Sakatraha wèha namaning durjana, codèkaha ngalingi durjana. Sacarèkah sapaduluran lan durjana.

Punika astanada corah aranya.padu pitung prakara kang pantês pinatèn déning Sang Prabu, awisadah angupasi gêni daha nunoni akawarna wong anêlah. Wajawa karih wong angamuk paladara ing ayah wong amaragul raja wisuna adona-doni wong obong atulung kêlik.

Punika kapadu limang prakara nistha maangsa-asa aloré, utama mangong sangangsa aro- /78/ béi atuwus-uwus arubahakên pagêr alèh susah saisiné ngupahé antuka pasumêngêr pariwangsa yèna mêkas pakrama angambuk pugung angapal-ngapal ing umah ing wong amêmisah kang duwé umah. Saisiné umahé alèna pasumêngêr, pariwasa yèn amêtan pakrama angamuk pugung angapal-ngapal ing umah ing wong amêmisuh kang duwé umah saisiné umah awèya pasumêngêr.

Punika pagarayanganing padu kalih wêlas prakara, kang wontêning salokatara, tarka kandhèh déning patra, patra kandhèh déning saksi, sêksi kandhèh déning bukti, bukti kandhih déning satmata, satmata kandhih déning cina, cina kandhih déning nyomana, nyomana kandhih déning pramana, pramana kandhih déning ngubaya, ubaya kandhih déning purusa. Tarka ujaré  kang aboh têgêsé patra têtulisan têgêsé ngadang wêruh kang dèn sudakakên.

 /79/ Têgêsé tétulisan métu saking kang dènarah, têgêsé satmata akathah kang wêruh,  têgêsé  nyumana metu saking kang dènarah, kabèh wêruh têgêsé pramana alawas têgêsé ubaya tetulisan lan karona, têgêsé purusa parèkah atêgêsé lèna, rasalin parèkahing ratu, têgêsé kaliganata asalin watu.

Punika lungguhing  saksi patang prakara, saksi utama wêruhing tigang prakara. Wangsa silan kardèn sinêsèkakên lan pinakaning sêksi, saksi pramana sêksi ing lyan kang andêl saksi pradina saksi wong mati, tanpa dadia sêksi sudra wong suara.

Punika ing kastha  corah kalih prakara, ana maling dudu maling iya  maling.  têgêsé  nadyana  gawa apangikis, yèn ana pagêr bawah. Mara dalu-dalu maling uga akutha paid abau said, abuta said  têgêsé  abahu said, asaksi lêbé modin tanapi utus saksi jurjana  têgêsé  abau sabda. Sêksi dèn wawarahi durjana.

Punika lirnya angayawara agama kalahna déning adigama, kadhèh déning toyagama, toyagama kandhèh déning purusa.

Punika  têgêsé  ju-/80/ gul mudha, ora ujar roro  têgêsé  karta basa karta déning jaré awaké satata bané ulatana, sapra yogyané basa kêna ing prayoga para kaandhapya. Wêwêkasing raja niti titènana prajané ulatana lan saprayoga, basa mangka ana minongka adhapya.

Punika  têgêsé  raja kapa-kapa, ulatana papané, punika têgêsé sadi, titènana rupané pangucapé ing akèh tan ana pangucapé rowah warnané minaka andhapya, punika  têgêsé  kuthara, manawa akèh kang aran mara nawa, manawa ala, manawa bêcik ulatana, punika  têgêsé  titiswara, titènana pangucapé lan kang dènarah lan kang arah iya lurah ing pamiarsa lokika mamaduning prabasa.

Têgêsé  ing kuthara, tingalana kakêtêgé ing karoné êndi ingkang ala minaka adhapya. Punika  têgêsé  sara supatama kaana wong apadu têtuga sêrêgané béya gadhé pajêgan mangka upaha sajroning ngapadu minangka kaadhapya,  têgêsé caya murcaya, mangka ana sajroning apadu kêpatèn minaka andhapya iya iku papêgataning /81/   ngalah  têgêsé  salokatara, ajarakên ala bêcik kang apadu iku, katona ala bêciké kangala dadi kadhapya wong dadi dalih adalih pajêganipun 10000.

Yèn si corah pajêganipun 20000.

Yèn sêpisan pajêganipun 14000.

Yèn si kaonang-onang pajêganipun 20000.

Yèn si kacorah kawastan déning dhêdhukun kèwala ora corah tumut dhêdhukun tétiga tuan, langkung tétiga pajêganipun 40000.

Yèn si dhêdhukun kêkalih pajêganipun 3000.

Yèn si dhêdhukun satugil, yèn kawasa kéndêl pajêganipun 5000000.

Dhêdhukun boya kèndêl sami panarkané kang sakit pajêganipun 500000.

Déné yèn sisip dhêndhane kang arani 1000.

Yèn si corah-corah tan ana ujar ing dhukun kang arana tan wruhên wong lanang pajêganipun 40000.

Yèn corah-corah kang gêring wong wadon pajêganipun 90000.

Yèn wong lanang kang durung umur limalas taun pajêganipun 90000.

Yèn si boya kaonang-onang déning dhêdhukun mung kang lara kang a-/82/rani, pajêganipun 150000. Punika wong lanang dinalih amêmatèni pajêganipun 50000.

Yèn si wong wadon dinalih amêmatèni pajêganipun 350000.

Yèn tinarka abègal pajêganipun 15000.

Yèn tinarka jina pajêganipun 15000.

Yèn si corah abêbègal mamaling ajinaa mamaténi wong iku tan antuk pakolih. Yèn ana wong utang dhêndhané déné kang apatang sirna patangé tanpa naura sakèhé utangé lèbar tanpa naura.

Yèn ana wong tan patut lan maruné pjah, kasudukan kasabat punika sajèna-jéné kang mati surngêna sanaké kang mati.

Yèn jêjaka anyêkêl parawan sakantukipun 14000 dhêndhané 230000.

Yèn anyekel somahan sakantukipun 30000, dhêndhané 250000.

Yèn èstri tindak sami èstri sakantukipun 10000, punika ingkang wêwêling Kanjêng Sultan dhatêng Kyai Angabèhi Diranaka, dawègira angraosi kang tigang prakara kariyin ujar ping kalihe wong, ping tiga duduga ping pat grahita.

Yèn wontên têtiyang jina jajaka raréyan wulat mamradika, yèn sampun kadadèkêna kawula dalêm, kaot wadon katon têna ajining wong wadon, ajiné kawula dalêm. Yèn kabêngan sajroning kaji, ngumpak kaji têbusanipun 15000. Yèn parèk kirangkah têbusané.

Punika kang parèntah panêmbahan kang sumaré pasragrahan. Yèn kawula dalêm bumi arabi ing kana-kana lananga, wadona, yèna ngirid, yèn si bêboyongan saking wètan, saking kilèn, urawi kukudan, kèsah alaki rabi ing kana-kana, mulia mradika akuwat kawula dalêm.

Wontên wong malêbêting griyaning wong dalu-dalu tan wontên babahan  kang mênga tan watên darbé kang ilang. Cinêkêlan ayuna papagih lanikènya sambaté kilok ika, atitir binêkta dhatêng pakêrtan kalah paduné Ki Dêrgul,  katrapan dhêndha 88000, pakantuk 24000, salokané maling anglandhêpi sing ati ngandika, angoningina nga -/83/ du pucuk ing ri, Ki Corah anjaluk kêrisé Ki Bègal boya awèh. Anulisinuduk pinggiring dêdalan anuli-nulianuduki patiné Ki Jukara patiné Ki Sawah. Anuli matèni Ki Agas dèn urugi sukêt anuli ing pasar anyolong dadot lan Ki Kutil anuli amêt dodoté Ki Sayab. Dumunung ing umahé Ki Saèka, angucap lan Ki Sakara ika, Ki Saprana angumpêtakên, Ki Corah, Ki Kutil, Ki Sayab anatuki katur dhatêng Gusti Patih Mandana Sraya rinaosan déning karta. Sira corah tiniban raja dhêndha 88000, sakathahé ing ambil amutung déning wong têtiga tiniban dhêndha 44000. Sinalolakani corah ing karang baya durga karaha mêt mangsa.

Kisahé kaki sakara hita, Ki Saprana salokané sagralêm tridhusdêm, amrih bègal jro dalêm si corah anyalok-loké bonèki tingar, patèni ing alas ing dêdalan. Yèn wêngi sarta atitir anêbêlah kêboné  /84/ tigêmpol ajalukartiné ki mêrkênèng anendhal kêrisé Ki Bapang gnidyan , angupasi Ki Awi Saayah arampog umahé Ki Garadhah dosané dèn arani bisa gêlah anuduk maring Ki Astaka rabinè arani cari dosanipun dèn arani, ana ragyana.

Ana Mandala aran Ki Danara rabiné, arani srapi dosanipun dèn arani, ana grana. Déning Ki Tata anuli anaké Ki Garadhah angadéning sawahé  Ki Dosa, dèn arani bumine anuli angaras-aras rabiné Ki Makathah. Kalakana ing umah, anuli malajêng saking karta. Ki Lalaki kadhêndha. 88000. asunga makantuk ing muliya mugung. 44000. Andaka adurga tan wruh ing boya ara Ki Walat amala Ki Sikara. Anulis dèn pirang papayoné gané wruwruhé ana saking sinakara.

Punika Sang Bramana sêkti, si karga coba pangrasani mara karta ing. Mêdhang Kawulan dumunung dhukuhe kiwipawikêna / 85/ kiwi sawicina aduwé anak, arani duka lani asih Sang Bramana angikahé arani tilam kêdah rupané sinimêna ning gêlung, Ki Bramana angliwat sanaké wisawigna, arani duka, panigalih sisimêna ning gêlung, wisawigna kèlangan anaké kekalih Sang Bramana ing niring bingmalan, rinaosan déning kêrta, atur ring Bramana sêkti. Punapa parètah Patih Turtabasa, matur dhatêng Patih Mandana Sraya, pakarya catur mariksa marang Sang Bramana sêkti, yan wiku wigna amêndhêm bêkèl  /86/ apatih Mandana Sraya, apatih Karta Basa tana kênaa Ki Wigna swaraning ngapa ika. Kayuning iku wigêna, swaraning banyak, Kyai Pamirèka mula Rêkyana Patih Mandana Sraya angulam, bramana sêkti ana swarané ika, bramana sêkti angucap ujara pamirsa kula swaraning naga. Yata pinarêgsa, dèn pariksa nyata yèn naga déning mantri sêdaya. Rêkyana Patih Mandana Sraya angucap naga banyak-banyak. Pangawasaning Sang Gusti Patih mulih dadi banyak malih. Kyai Patih Karta Basa angucap Bramana sakti kakraping parèkah  /87/  dadi pakalahipun bramana cinekelan ing alapan pangagèné déning para nayaka sadaya, kapanggih  ing gêlung. sanaké wikuwigna Ni Duda, lan Ni Asih, lan Ni Tilam rabiné Bramana sêkti. Dadi pikantuk wikuwigna. Kinawi Brama sakti, wikuwigna, duka  swasih kari Tilam.

Ing atas Gusti yumana, ora na pêgaté kapranan ing dhusta, sang nana babahan kang menga, banon tan ana gigrig, lung-lungan tan ana kang pugêl sira Gusti yumana. Asuwara ing rabiné sadaya miwah para sêlir ora na kaliwatan sadaya, sami kinuwoning têtamanan. Kèdéran ing sasêkaran, Ki nyumana ala wêdgal uga lan agal. Biyumana asuwara, yèn ana wong mêdal sun kèn-kèn sira  lambang salumat, malebet ing dalêming anak, amarani manisam nikèn rèni. Para rabi nira yumana, ni manisan lan ingon rêsmi, agunêm lambang salukathara jama réné sakathah ing kusuma, sami sinambura tan kalugahanatal. Ni manisa Ni rêsmi angèlokakên, lambang saluka lêngbêt dalêm. Sira yumana amépét     /88/ wong kapêndhêt sira lambang salukat kaya winarna kampuhé lambang salukat, lambang salukat binasta, dinadisa  Ni Rêsmi winêdalakên saking dalêm katuring Patih Mandana Sraya, rinaosaning kêrta, katrap ing parèntah, lambang salukat. Sinalokan nyumana maning rasa Ni Rêsmi, ni lambang salukat tênung ing tilari sira mangunadi.

Ika taki galugalan Ki Pandugalan kapapag pasanakané aran Ki Warna dèn kanthi astane dèn ajak mantuk dhatêng griyane. Ki Galuga rabiné têtiga, Ni Sari,    Ni Pasar, Ni Rêsmi lagi sêpi marig pasar.

Ki Galuga angucap, adhiwarna, balikana rabiya amaraganga amarugula, gawanên maring umah ingsun. Sun rèwangi boya pati inggih kakahané dhasih.

Pakanira Ki Warna, sami kayunipun Ni Rêsmi manthuk tinuk buri, Ni Pasar malayu, poyan dhatêng Ki Galuga, mesem Ki Galuga, déné dèn ora poyani yèn rabiné dèn parugul déning Ki Warna. Salakiné déréng uning  /89/ ngadhagé Ni Rêsmi, Ki Susur amidhangêt gupuh agadang kariyin. Ki Galuga kantun Ki Warna kapapag ing lawang déning Ki Susur puguh dèn suduki warna dhatêng Ki Susur kapisanan, katiwalan déning Ki Galuga, sanak pjah. Ki Galuga amangnas Ki Susur pjah yèning Ki Galuga, Ni Rêsmi aningali dèn pjah. Sanaké pjah anuntên  suduk salira Ni Rêsmi, Ki Galuga rinakul. Ki Galuga wruh Ni Rêsmi pjah Ki Susur pêjah, Ki Warna pjah, Ni Pasar, Ni Sari agendhongan atitir, kêranana wong  aja tandang. Ni Pasar, Ni Sari malajêng patèng Gusti apagih, panda graya.

Yèn wong sakawan pjah, têka Ki Galuga rinaosan déning karta wong manungkulan kang abêkti wêndhasa dèsa pisan. Sawantuningwong. Ni Pasar, Ni Sari kadalêm ing aranan wênang galu asinusur ing sari pinasar ing rêsmi, sinalokan andakara ra mulih malih maring pandongan.

 I kara Ki Anggas katitipan duwéné Ki Warah, dèn tuluk duwéné Ki Warah. Déné sampun sora dèn kon anginep, dalu Ki Warah kasudukan Ki Anggas a-/90/ gêndhongan titir, linari déning wong kathah tan antuk maring katur dhatêng parèntah Patih Mandana Sraya, rinaosan déning karta nayaka sadaya. Ki Anggas katrapan dhêndha. 80000. Ati lèna saajining wong. 10000. Ingaran anggaswaran.

Ana wong ana kitha, wong ing wong adodosan, têka sina kitha, boya uninga    kang sing akitha, anuli singu kêrta, déning Gustine. Jêjnêngé gagayu arana  balawuran, adirbaya jalukên artané kang angutakakên anangina piwangana nauraken ing umah ira, atanapi angandêlêna ing pasamayané, kari-kari dèn tebus, nora sasi panêbusé, déning kalebeting suka.

Ana wong gadhé wênang dèn anggé kang kumarêbut kumaricing. Yèn si rusak suda panêbusé, yèn kimiyang ginawèkakên, mangka ing anggé tan parisukané, ilang artané tur kêna dhêndha. 150000. Jêjênêngé sampèkanthuk  pradananya .

/91/ Yèn ana wong agitik saluhuring, yèn ana lêbêting gitik kasukakakêna limang lêksa, yèn bêlah daging tugêl otot, rêmêk balung pakantuk têlung kêthi pitung lêksa.

Yèn ana wong atukar, tinulung dèning wong akèh kang atukar angunus kêris, kang têtulung kalongkaning, uliha patiba jampi, sawêtaraning kalongkaning lan dêndha 24000.

Yèn ana wong atukar, tinulung dèning wong akèh kang atukar angunus kêris, kang têtulung kalongkaning, uliha patiba jampi, sawêtaraning kalongkaning lan dêndha 24000.

Lamun ana wong atukar, arêbut dêdalan, miwah arêbut watu, kayu, pala gumantung ing alas, sami bangsané atawa tatu patiba jampi dhêndha 40000.

Lamun ana mukul wong wadon kalawan mukul kang èntèng, utawa anabok, wadon asangêt ngadat anêkakakên sangking tatu, mang ijtihadé hakim.

Ana wong akêna mêmisuh èstri liyan utawi asunga sasalin, tan sukaning lakine kêna dhêndha. 44000. Pakanthuk. 20000. Jênêngé akarya bau dastra.

/92/  Lamun ana mukul wong wadon kalawan mukul kang èntèng, utawa  anabok, mangko ta’zire wong iku 10000, lan lamun pamukulê wong lanang ing wong wadon asangêt ngadat anêkakakên sangking tatu, mangka ta’zire wong iku ijtihadé hakim.

Lamun ana wong wadon cinêkêl ing wong lanang liyan, kang pada karêpé kadhêndha 7000, dêndhané kang lanang 8000, iku wong wadon wêwujang, yèn sampun jinah sangking sijiné kang lanang mangka nuli matur ing gustiné, yèn saha cina olèh tuku wirang 7000, sarta kadhêndha 24000, salokané sênggraha purusa arané.

Lamun ana amarani wong èstri dènundang, nuli dèncêkêl, wudar gêlungé tuwin kêmbêné salokané iku caya sanggraha arané, awèha pakolèh 8000.

Lamun ana wong lanang anyêkel wong wadon ing sêndhang, kliru dèn nyana rabiné, iku sênggraha arané, oléhé 4000, dêndhané 8000, yèn wêwujang pakolèhé 2000, dêndhané 4000.

Lamun ana wong wadon liwat, dèn balang ing gagang, utawa kêmbang sapapadané, utawa dènsabêt ing jêjarik iku sênggraha arané, pakolèhé kang binalang 1000, dhêndhané 4000.

/93/ Lamun ana wong rêrasan lan rabining wong, aning nggon kang sêpi, iku sênggraha arané, pakolèhé laki 4000 sarta dhêndha 8000.

Lamun ana wong wadon anganggo kêmbang, runtuh sinapa déning wong lanang nuli dén ênggo, mangka kawêruhan kang lanang, anuli anuduk iku ora nana ing kara-kara 4000 sarta dêndha 4000, salokané iku kêkêmbangan baja arané, utawa sanding alungguh iku sênggraha arané.

Ana wong wadon liwat, ana wong lanang ing sandingi, iku kalêbu  sênggraha arané dêndhané 8000.

Ana wong wadon liwat sandingé wong lanang, mangka angucap wong lanang mau, aku mambu wangi-wangi iku kêna ing sênggraha, salokané angambung baja arané, iku ana dhêndha 7000.

Ana wong wadon liwat dèn rangkul dèning wong lanang nyata pangrangkulé, iku pakolèhé 7000 sarta dhêndha 7000, salokané mampang-mumpung arané.

Ana wong angundhang-ngundhang, laksana rawuh anuli dèn cêkêl salokané mampang-mumpung arané, pakolèhé 25000.

Ana wong amêmisuh ngajar pakaranganing wong. 24000. Ana katukana sakèhe kang amiarsa, kalêbêting awang-awang tan wruhi  subasita.

Ana wong ananaton ing ambèning wong singadèn tontona sêpi kang darbé pati, wênang trapna ing raja, dhêndha. 24000. Kalêbêtingina dhasti.

/94/   Lamun ana wong anggawa gêni anyulut omah yèn saha cina mulya amutung sarta kadhêndha 27000, salokané iku wong angamuk tugêl arané.

Punika yèn ana wong cacab-cacaban ujar ing pasêban, ing wong akèh ana ing pasêban sinapih kang kêna dinêndha tinanggung yugya kramannya 40000.

Punika yèn ana wong têtukaran ing pasêban, utawa anibaning sabda saru,   yèn kawula dhêndhané 4000, yèn wong bêcik dhêndhané 8000, kang kasisih yèn anantoni dhêndhané 10000, lan awéh patiba jampi suda karané tatuné.

Yèn ana wong atukar, kongsi aparani sangking rosane manjing ing lawang,kongsi angrubuhakên pagêr, amêrang-mêrang têtanduran, utawa pêtêtan mangka kadhêndha 4000, lan sira awéha pasumêngêr.

 Punika yèn ana wong  angruntuhakên sarta gêgamannya, dèning amarani yèn mandêg jabaning pagêr dhêndhané 24000, wong sawiji yèn manjing ing lawang bali mêtu ing latar, dhêndhané 40000, wong sawijiné, yèn ana wong  ambêdah pagêr kalêboning omah dhêndhané 5000, wong sawijiné, lan saliring darbéné kang ngili muliyo sadaya, gunamantuka triwiguna, lan asunga pasumenger, wong lanang 8000, wong wadon somahan dhêndhané 5000, yèn randa 4000, yèn pêrawan 2000, yèn raré sapihan 2000, yèn raré pasuson 1000.

/ 95/   Lamun ana wong wadon maring griyaning wong, kalaning bêngi konangan déning kang lanang mêtu omahé sarta asêksi, kadhêndha kang duwé omah 12000, salokané maling kara arané.

Yèn awus awas ing datna mingsuh Rêkyana Patih adarbé, amênga-mêngan kodhok ijo nanging cantri sukuné winiyosakên saking dalêmé Gusti apatih. Alah tanggapana si kodhok ijo, alah sang kungkang linyok aparah ira maring ingsun, dèra patèni tiragawa, ginawa Ki Kintêl pidhadha, kayune Rêkyana Patih ingantukaken rabiné Ki Arya Seba, sanga sinaloka narya suba awona tan wruh ing basa, ngungkang tanpa pathané.

Sira soma radité kapetenganingara-ingara, Mêdhang Kawulan mulih saking Majapahit, kawêngèni têgala wus angrèrèni pigir pasisir, agunêm kalih sanaké adalan si mongmong lugêdhah êmas pinêndhêm ing kêndhal kara wong abacoka kadhi pinêt ing ngaturakên Sang Prabu.

Ana déné bauwarna adhi ginawa mulih dhatêng Mêdhang, sadalan lampahé  ana   /96/ gadhangan têka ing umah kasamuting siyang rabiné Ki Soma sanaké Ki Radité têkèng griyané bauwarna dinum pinatiga, saduman kinalaraakên Ki Soma ratinakon déné Ki Anggara.

Yèn alèh êmas sawong-wong gêdhah kari ing kêndhal garadhana, niagara aduwé babaudan, arani kalêksana èstrine arani pramana. Ni Anggara awadé  kampuh, maring griyané Ki Lêksana, Ni Pramana awarah maring Ki Lêksana.

Yèn Ki Soma alèh êmas dinèkèn ing dhêndha karawang, dupi wêngi  pinarahan déning Ki Lêksana pinêt ènjing Ki Radité maring pagigir, tiningalan êmase ilang rèntên mamahé Ki Radité. Endhal garawang tinêgor ginawa mulih ing aturaken dhatêng Rêkyana Patih. Pinen angraosakên êmas ical ing kêndhal garawang, rinaosan déning parana akasa daya, Rêkyana Patih sakêdhap mênêng, Ki Patih angucap semaradité lênga iki tigawanên mulih. besuk rina-rinaos /97/ nangi sampun suwara angambil damar inupuk ing alun-alun, sira radité mantuk saking pasowan, alah dhatêng rabiné.

Yèn sinungan pratandha dènira apatih buratarum, sira asminingrat ginadah déning Nini Anggara sinungakên dhatêng Ki Lêksana. Ucapên Rêkyana Patih, sampuna suwara.

Yèn ana anganggè ya burat dalêm, kang kinona nyêkêla wong alun-alun, inguworakên têtêg wuning miwah bèn agè. Sami gita sadalêm kitha, miwah sajawining kutha sami atandang, sampun rinakitan. Déné wong kaparêk Si Lêksana kacêkêl, binak dhatêng pasuwan rinaosan para mantri sêdaya. Tinakènan sira nganggé burat dalêm, awarah olihé tubasing pasar. Tinakonan rabiné Ki Lêksana, aran pramana. Boya tumbas lisah dalêm, lisah jawi boya ana wandé kaya mangkéné gandané, Ni Anggara dhatêng griya manira, awadé kampuh, manira lagi asêpi tinakênan Ki Lêksana boya angkéh réh ira Gusti apati-/98/h   kalih patik saka basa, Ki Lêksana dadi durjanané jinarahan Ki Lêksana, Ni Anggara  dinalêmakên déning Sang Prabu Si Raradité pinakaliyan, sarabiné durjana prasakang amawidosa kadhêndha 80000, 4000. Ingaranan somaradité anggara kasih.

Yèn Lêksana apramana, sinalokan andaka sarati durjana tilam. Sira dangu kèrangan alêksira waton wijaya putuné Ki Bujaga. Sira dangu kèrangan anglamar papêtêngan rabiné Ki Sajaya, araniwigêna, saleki Ki Aryasupêna, samaktu payu dèn tigali êmas. Raja kaputrèn tinigalan wong dalêm, Ni Esih lawan Ni Raras, dadi patiba sampir. Sira satama saraké nasiwigêna atari yèn awéh yèn ora angucap.

Ana karêp ira sira tama angrusak wawêtêngan, pinasthi sira ingilangakên sira anangu kèrangan. Sampun winarah yèn tanpa wèh sira sutama, giniring sabên déné Ki Bujaga, katur dhatêng Rêkyana Patih rinaosan déning para naya- /99/ ka  sadaya. Rèhing kartakakên dadosa piawon ingsun sinalakên Ki Bujaga.

Ana rawèh tan wruh ing baya dalêm wulan aksarané, katrapan dhêndha, 80000. 4000. Sira supaya sinalokaliyan. 40000. Patiba sampir dados gendhong winawir suka mawigêna, kasèsèh ing laras wagan wijaya ujaga dangu kèrangan, sinalokan andaka angara sari kaingaran dhorané panguntawang.

Sira wisuna ayuna dêrêgawa, anilih dèn èman wong dalêmé wiarya rudiga arani praya. Lawani aku tinakèn déné Ki Wisuna, anambuk irkanè Ki Sudra Pralaya, sapangêlé, alihna baksa paha, sakathi ing manglêksa, katur yèn anduwé gawé, Ki Wisuna, Ni Praya, Ni Aku. Mantuk dhatêng griyané angucap dora  ulangné anilih noraa déné pan ana kang duwé nguwong. Ki Udapraya anagih maring arudipa kakang baya rumasa yèna utang, dhatêng pakanira arta sakêthi li-/100/ mang lêksa boya angaku pined kudane saking gedhongan.

Ki Arya Rudita anagih dhatêng Ki Wisuna, boya angaku anuli matur dhatêng Kyai Patih sampuna kakênan anggiring mamaring Ki Udapraya, Ni Praya, Ni Aku. Winiyosakêning ngarsanira Rêkyana Patih. Ni Praya, Ni Aku tinakonan déning para niyaka angakèn kinêkèn dhatêng Ki Wisuna.

Ki Wisuna boya angaku, yèn  akèkênan boya anigih uwong pinaripih  tinakêna. Yèn aduwé gawé êstu, yèn anilih kèkênan dhatêng Ki Aryarudiga, Ki Wisuna dados pikawonipun rèhing karta katrapan dhêndha. 40000. Angulihna pugung.

Ni Udapraya katrapan dhêndha. 40000. Angulihna pugung, paring tiarya rudita ingaranan. Angadonira raja wisuna. Ni Aku, Ni Paya sinalokan andaka asari aculika ing pêpadhang Rêkyana Patih anggaskara, maturé Rêkyana Patih Mandana Sraya, kadospundi salokanipun winastan saloka agama tugak mati kalingan. Ron urip déné putuné karêpé punika urip déning ratu  /101/ winasaa sêmbada amiarsa pakêrta ing Mêdhang Kamulan, bênêr tuwané Ni Wêrgul, matur dhatêng Rêkyana Patih Mandana Sraya. Déné pabéhé sang kidang, angidêki anaké Sang Pragul pêjah. Rinaosan déning para nayaka sadaya, ujaré  sang kidang manira baksa boya mariksa.

Anaké kang wêrgul yèn pêjah, déné agendhonga atitir, karané manira bêksa puniki. Kang wijal anêmbang gamêlan. Ala ajur kiwijilin ring pabên. Ujaré wiwijal inggih manira anembang gamêlan, Ki Manyura angigêl wimanyura giniring pabên ujaré  Ki Manyura, inggih karané manira ngigêl, kiwaraa anêmbang gamêlan.

Ki Wara aginiring patèn, ujaré  wicara akarané sun nêmbang saruni kidang kalungan sakidhak agawa umah. Ing bakang kiniring patèn, ujaré kidang karanipun lunga sakida ujaré  kikuna. warané panira lunga sakidak boya ki andaman, déné kira kathah sami dèn anggawa, wawarih, kirêmatha iji  /102/ ring patèn. Mêpèk sato sêmbawa sadaya, rinaosan déning nayaka sêdaya.

Ki Wêrgul saking pangarahipun tan antuk sarehing karta déné boya udhangakên gèndhongan atitir, sakèhé sato sêmbada katrapan dhêndha. 40000. Salokané ina paksa agaskara rêsminé parêbatan.

Punika Sang Kamala Jati, ing Nusakambangan amiarsa Nagara Mêdhang Kamulan. Agêlarakên aksara, sira Patih Mandana Sraya, sasosra ing jagat, manahé Sang Ratu Jayakomala, yata dhatêng ing Mêdhang Kamulan ayuna pagih kalih Patih Mandana Sraya, yata kèsah king nagarané. Ucapên rêtna widuré ing Nuswakambangan sami kayunipun apagih ing marga sami agunêm nulya malêbêting Mêdhang Kamulan. Pinarêk déning para mantri sadaya, saandhaping mandira, ucapên Sang Ratu Jawa, rêtna widuré malêbêtan para rapad amiyak wong asêba sinapa déné Sang Prabu. Punapi sor karya pakanira, paring nagara manira, maka ngucapa raja, kumala, miwah rêtna widuré amiyosakên cacangkrimaning aksa- /103/ ra.

Punika namané dudu anamining prabura sêmbada, wigting dura sêmbada sahara ngawang, gêlap tanpa udan. Gêni murub sajroning banyu, sêkar tunggal wit tiga warna, iku cangkrimaningsun. udharên dènira yèn katuka isuna nêdha parentah ira. Maka rinaosaken déning patih Mandana Sraya, kalih Patih Karta Basa, cacangkrimanika  têgêsé  Sang Jaya Wécala, miwah retna widura,  têgêsé duduga nama manira, karêpe Sang Prabu sadurungé ngawédal pangucapé dora adoh, sang karana maning ngaluhur, têgêsé Sang Prabu lawan pangucapé agungakên kagungané sagara ngawang-awang.

Sang Prabu gêlap tan udan pangandikané Sang Prabu api murub jroning banyu, kudhup wruhgal kawulaning ratu, pinasti kang winawikan, kang pinadha padha kang kinasiyan ingakên.

Kang owah tan widuré sira raja komala, sapangucapé buwar, déning Rakyanapatih Mandana Sraya. Ayun kèsah wong kakalih tinarajang tinalêman Sang Ratu Nuswakambangan sampu kabêkta, sira Rêkyanapatih Kêrtabasa matur dhatêng Rêkyanapatih Mandana Sraya.  /104/   kados saloka lawan pan suku sêngkaan kulumangsang wohan mulaning nganucuk manuk punika. Salokané dadia kawi gawé ala ajing manukun angiring manduhakên ulah saking adados pria jurang, mangada-ada, aja malaku amapanyung binuru déning pandhan wangi.

Sira Ki Carub katunon, sira Ki Banyu kiwisuwan Ki Lulur sami agunêman déné patiné Ki Wulikan anaké Ki Kalubuh pjah kabranan pigiring margi sami agendhongan kitir wanèh uwang udhang arik dinêdêg déning wong kathah.

Ana kawiyosipun sami mantuk lan ana rinasan tan matur déning wong    agung kapa wiwih déné anrima maèsa déning wong agung sadaya. Karaosan déning karta, katrapan dhêndha 40000. 40000. Sami èstri nira kabèh ing balen patining mênêng mulat kapining. Kinawi déning para nayaka matur Rêkyanapatih kalu dèn kalunyêhan murub kaduda kiwisuyan kadus aluluran patiné wulukan mulating mênêng kapinêng.

Punika paduné  Ki Tunggakwarè lan Ki Juraganalun adi- /105/ kimban bandhané mariki tugak aji sawidak sasur limang kêthi limang lêksa, têka iki uga swararêngkap malingan saisiné umahé, têlas wêkas têka titipané katut, Ki Tugakwarèng agendhong atitir undhang arit.

Yèn kamalingan Ki Tugakwarèng aduwé ank wadon arani Esih lawan Ni  Sari. Linamar déné Ki Yungan, anakéni baya. Ki Alun kêkadhang nuli watêng umahé Ki Tuga lèrèng winarah. Yèn kamalingan telasa isine umahé,  Ki Aluna malampah titipane norana kari telas, sami matur dhatêng Gusti apatih rinaosan déning para karta niyaga sadaya. Pabèné pitunggak lawan Ki Alun, pinaripih agêndhongan undhang aritaning kamalingan. Pinaripih malih angakên yèna duwé anak sampun linamar rèhing kagati Ki Uga lèrèng katrapan raja dhêndha. 40000. 4000. malingasih inilaran dèn kaya simpên. Ginawa déning kartaniyaka, sadaya, nêngêr gagakwarèng kasèsèh ing alun bayaning alungwang sari.

Ki Udang ing arana mêmêdining anakénira / 106/ mulih anangis nora kinon déning ni rondho katur déné Rêkyanapatih, rinaosan déning para nayaka sêdaya. Tinakoni Ni Randha. Déné tan sukané déné anaké mulih angangis, Ki Udhang    tinakênan amêpat, pinaripih Ki Undhangakên amung mangkéné, ujaré  Ki  Undhang. Mangka bocah ing kudak silihe biyangané réhing karta Ki Undhang karapan dhêndha. 40000. Pakalih. 2000. Ingaranan bara-bara tan bara, oléh lara amrénéni.

Patih Mandana Sraya agunêm kalih Patih Kêrtabasa agunêm soring mandira  pêpèk mantri sadaya, kang rinaosan cacangkrimané aksara sapauninga ing mahadan. Pinasthi kawulaning ratu namaning cacakriman prayoginé duduga, sêmbada gêlap tanpa udan, sagara ngawang, gêni murub ing papadhang, ujaring kawi, ayru tan wruhing subasita mamamulung mara sacondrasa, dèn awas kang alêlawan surupé. Minaka walêsanira sang durjana udhanging ra jaksaning praja, ing Mêdhang tinumpuk yèn ana wêwalêring kêrta katrap ing raja dhêndha.

Punika Kuthara manawa  /107/ kang antuk Kyai Sènapati Jibun. Punika lwiring parakarta, sawi kuramanawa tikah ingkang yogya, kawikan ana déning Sang apatih déning anglarani. Yèn angluputêna ing bênêr, abênêrna ingkang luput. Kênaa ing ngupatané bêthara, kalêbua kawan dêrba manga, sèwu taun tanpa mentas. Alokanana papan nêraka, punika wêkasing bathara tambuh.

Punika lwiring ngasta yusta, walung praka lirnya byaklah, isakah codèkah, akana matènana, codèkah ngênini, kaliga yogya pamatèni, arêpa urip pawèyan dhêndha, kinotama. 40000. Sabojakaawèh panganing maling, pratikah asami ralan maling. Astanadahawèh êgoning maling, krawana tugu abahu rêksa ing maling, kang nêptaha ngumpatakên maling. Sacarakah atuk sadulur lan maling,  kalima utama dhêndha. 4000. Kartah aweh wot sangkara ilah adona malingi tikah dhêndhanè. 12000. Sapaduluran lan maling dhêndha. 24000. Kadalanan maling padhalan wowot aweh babahan dhêndha. 24000. Angileni malih du- /108/ wéné kang ilang, amugung, sapangandan maling sakolihè mèlu dhêndha galêsa amangan lan maling sakuthu dhêndha. 24000. Samara ika lan maling anuduhakên maling dhêndha. 12000.

Punika astacorah wawalu kathahipun kartan maling lumêkas malih. Pratikah sami pralan maling, nista jawah sakaning maling, krawah ngomah arêksa maling. Jaka Makah amacuk lan maling, kabèh iku yogya patènana, anak rabiné yogya  pajingèna ing dalêm. Kara ikah amanah Sang Prabu yèn arêp têbasên utangè na walungé wuwong sijiné wong wadon nèm èwu , raré patang èwu.

Punika linging sastra, nista jawah sakaning maling, dhêndha. 10000. Angilèni duwé ilang sakawit. Pratikah sami kralan maling dhêndha 1000. Apakah-apacuk lang maling. 10000.

Punika tata agènidah, anudoning awisadah angupasi, bodé karah angamuka parawanah anêluh, awèh raja wisuna Sang Prabu amupangèstri larangan, rupa ranu arangkat yèn putungêna tan dosaa yèning rêp lupute kêna ing dhêndha.

Punika acorah i- /109/ tikahing maling, dhusta anayab abèlaa maling ngutil adhudhut alêlér, ingitir, ajupuk, angêmbat andika lirnya, anayab majing jro ngomah wênang patènana, saha cina tinali-tali, dhêndha yata dunungan 8000. Angêmbat pagêr. 2000. Pakantuk trap ingkang nêbak, angêntasi kang kinêbating sampiran dhêndha. 4000. Pakantuk kaputung adhudhut kang déning witing dèn pikul, dhêndha. 1000. Pakantuk. 4000. Ajupuking balé, dhêndha rinolasan, anglêlèr kang dèn salahakên sinawêlasan lan regané kang dèn alap. Iku amutung angutil pakêyanira wong dhêndha.8000.8000. sèn wong wadona ngutil dhêndha. 4000. Abapang anêndhal kêrisé kalapan dhêndha winor pinatèn. yèn kawali tali  maring gusti, dhêndha. 8000. Kêris muliya wugung. Yèna nganitip pasumêngêr. 4000. Rêgané masa. 4000. Muliya mutung, anyolong kuda dalêm kadhêndha.  2000. Pangajiné kuda. 10000. Yèn kuda kukurungan pangajiné. Yèn kuda wadon. 4000. Anyalong sapi 6000. Ajining sapi. 3000. Amutung anyalong maèsaa arêgi limang kuda  /110/  amutung.

Ana wong ngautang urêdtaya akèh anaké. Satugal saking wong atuwané mati, ana kang anglakoni darma aji, wnang anêbasa utang wong atuwané tan wênang anugoni anaké.

Ana wong utang pradata tan wruh anaké yèna utang, saking wong atuwané wong anaurana utangé wong atuwané.

Anata ya tanpa utang ing alap abdining pradana, wong aku wawnang angawusana utangnya tenaknya mekuwaara.

Ana wong atuwa piyambêk ing pradana sampuna kawaya ing sadasa wêrsa. Wênang uwusnya utangnya. Ana prahara bituwanan panaktaya duwé abdipun paraniman anak lanang tunggal wênangakên kêna wong atuwané, yèn wadon anak taya ma I wong atuwa jaluk tribaganên maring anak èstri rong duman maring Sang Prabu saduman mangkana linging sastra.

Punika tingkahing pradana aduwé wong kang manèku maliring anak, diwaja kartah anunggoni  pinangan gêrajahu, kawula awèh anêbusi, sawisé kawula  déning pikratah kawula paweweh trikalah kawula kêna anêbusi. Pèk makah kawula kalilir- /111/ ran, dhêndha kandasa, kawula déné dosané.

Punika pramananing ngautang, saksi patra likita tulisakên bukti sinandhang ping wadon, pakantukipun. Yèn lanang sapakantuk kang lanang, ana bapa anêdhakakên ing anaknya, dewalakuna, wnêng pramana, iku bapanya, wnêng maruwata.

Ana èstri lunga saking bapa, saking paran malaki taya awêkasan didol taya lakinya, wnang bapa anêbus.

Ana wong adhêdhakakên kawulané winalat taya, déné kang matêdhakakên anaura utang maring kang sinandhan, utangnya, kan manandhakakên ulung. Migating pasandan kang manandhakakên asunga utang dhatêng kang sinandhanan sautangé anaura.

Ana wong mangandêlakên tan lungané kawula, drêsasana Patabawah ngaranya wnêng katempuhana.

Ana wong angandêlakên sauraning utang drêsana pratibuh aranya. Wênang anaurana.

Yèn mati kangandêlakên tan têtagih anaknya, tan tumus ing anak rabinya. Ana wong angandêlakên aboting panauré sawalanya angandalakên akona nyêkêla, kang ingandêlakên  /112/ yèn ora têka kang ingandêlakên anaurana sautangnya.

Ana ta wong utang lan wong ngapiutang, awastan panagih awêkasan managih taya liwat saking pitung taun wênang saurana. Wêrdi saka awit sasauré iku kapranan  têgêsé  kapêrmanan.

Ana sêksi jumênêng yèn tan ana sêksi, yèn tan manah linatan wênang managihnya, kadasa wasa aranya.

Ana wong utang èstrinya autang piyambek, binukti lan lakinya tanpa nak taya awekasan mati rabinya, wnêng lakinya anaurana utanging rabi. Punika têgêsé pancacandrané.

Ana darbéning wong atitip wong apatang manahé dhakakên yèn kalêbuwa, pancasadarana, êndika têgêsé  pancasadarané, kaparana déning munguh karaja baya, agening baya, kacorah baya. Iku karané tan managih déning kang adarbé.

Ana wong utang boya managih lami panagihé awêkasana mêt bumi mangalap èstri, mangalap anak tanpa suka amalat, tan suka kang autang tan ana anaura u- /113/ tangé ora sinaur déning amalat, panauré saking wênalat ulihna.

Ana wong autang baya kang apiutang angala duwéne kang utang kêbo, asapia, mèndaa, winalat ana wèh kangautang wneg mangalap ika.

Yèn sami ajinanya, yène sereginya amusuh ana ingkang mautang. Yèn tan pasung saking luwihnya salah satunggal tan awang sulèna kadhêndhaa. 8000.

Uwus panagihé lapên kang ingalap ika.

Ana duwéning wong liyan, binukti déning wong liyan anggêring sandhingnya, jumnêng tan inapêksa taya, mangka inganti pitung taun lawasnya tan kinapaksa taya ika mangkana yogya managiha darbénya malih.

Ana wong kojahakên kojah mugung ilangé mal, iku kaya pangucapé, iya satuhuné pagêri kurubuhêna bênêraken wong iku atas lawangé wong lanang wawanéh, maka iya iku kojah arané, anuduhaken buran tandha kojah padu kang nyata maka uwusma  /114/ kaya ukum Allah, kaya mangkana ukumé Burhan, mal kang ghaib maka tinêmu sapar gèné iku utawa sapratèlan maka ingukumakên ukumé burhan, titinukil saking kitab Rohkhullah, kawikanana dènira satuhuné los iku, kaya ujaré  wong lanang, atasatumuné, iya iku amatèni ing sadulur ingsun, sabab ngalamaté iya iku maka lumaku Ki Duda ngi iku maring supata, lamon ora gêlêm supata, maka ora wênang rinungu ing atasé iku lan kaya mêngkono ukumé burhan lan kojah utawi burhan iku. Arêp ana têtèla ing dalêm pratikahé maka ora  wênang tinarima ing atasé iya iku lan kaya mangkana ukumé kojah, nukil saking kitab Bayad Fakawi.

Bismilahirahmanirakhim  

Allahumma rukughu, risikughu, wa ismaghu, ngalaèka wa barkatu wa rahmatu, birahmatika yamarkhamarakhimin.

Punika  /115/  donga sakêthi.

Allahuma rukughu, risikughu wa ijra ilaya jabana ila. donga salêksa.

Punika pèling napsu luamah, iku palawangané lambé, dunungé usus, têtunggangané gajah, têngêrané malaèkat papat.

Napsu amarah, palawangané karna, dunungé paru, têtunggangané aksa, têngêrané gêni roka.

Napsu supiyah palawangané nètra, dunungé ati têngêrané mandhala giri, têtunggané naga.

Napsu mutmainah palawangané grana, dunungé jêjantung, têngêrané pêthak têtunggane wêruh tan marah.

Titi kala tamat gèné anurat, dintên Kêmis Pon tanggal ping sanga, sasi Sêla  tahun Èhé wukuné Kuruwêlut, titi angkaning. 1612. Titi. Tamat.