Category Archives: WEDARAN WIRID I

TANDA-TANDANYA HARI QIAMAT


Bab 13
KETERANGAN TENTANG
TANDA-TANDANYA HARI QIAMAT

Di ayat Al-Mukminin : 99 – 100, ada kata Bardzahchun (aling-jawa) benbatas, yaitu yang disebut Kubur, jadi orang pintar dan gagah itu tidak bisa kembali lagi, karena sudah hancur dan busuk tidak bisa dipakai lagi karena sudah ditinggalkan (mati), akan tetapi yang menempati alam kubur hanya keinginan-keinginan di waktu hidup didunia, permintaannya bisa terjadi lagi, itu keluhan si Roh tadi.

Roh yang menempati alam kubur itu tidak akan terjadi lagi seperti tubuh yang kita pakai lagi, seperti halnya pakaian yang tidak koyak dibuang, harus ganti yang baru lagi dan seterusnya. Dan umpama Roh tadi bisa lahir lagi memakai jasmani, diterangkan di sifat 20 :

1. Roh (jiwa manusia) memakai sifat 20 yang ke 5, yaitu sifat Allah Qiyamuh Binafsihi; berdiri sendiri, bangun sendiri tanpa ada sebab apa-apa (Qiamat), umpama Roh tidak memakai jasmani geraknya berdiri sendiri, bisa melewati alam kosong (suwung-jawa), tidak ada yang menghalang-halangi, Roh pergi tanpa keinginan yang kotor, umpama air kotoran itu bercampur apa, kotoran Roh tadi sudah membekas (tabet-jawa) dari keinginan nafsu serakah (tamak) dan sebagainya yang keinginannya tidak seberapa (pasif), ada yang hanya getaran (aktif). Yang aktif itu bebannya berat, mudah tenggelam dalam air, dan yang pasif tadi tidak tenggelam. Karena dua-duanya sama-sama menanggung beban, itu sebabnya bisa lahir lagi karena kodratnya Allah sendiri. Dan dari kata-kata sendiri (Qun Fayakun) apa yang dikehendaki, umpama ingin menghadap kepada-Nya (kehadapan Allah).

2. Ukurannya hanya 2 :

a. Siapa saja yang Rohnya bisa menyatu dengan sifat Layu Kayafu (lan kena kinaya-jawa) sama dengan menghadap Allah.

b. Tidak akan menghadap atau di Qiamatkan lagi, walaupun didunia kelihatannya Alim dan Takwa.

Menurut keterangan diatas, Roh itu hanya ada 2 jenis; Baik dan Kotor. Suci ukuran dunia; tidak pernah menjalani perbuatan yang tidak baik, tetapi suci ukuran Allah; tidak pilih kasih tetapi sama saja (sama) mengerjakan kata-kata di ayat Qur’an Surat Al-Arraf : 29 diatas, artinya bisa merasakan seperti bayi yang baru lahir, tetapi ukuran dunia sebaliknya; suci bagi Allah, kotor itu semua yang merasakan yang mengalami yaitu yang menanggung sengsara, dan sengsarnya (menanggung Roh menyorong munndur majunya kemauan) tidak diketahui yang lain kecuali Allah Yang Maha Tahu. Tentang itu tadi batin bisa mengingkari, bukti dan rasanya menanggung itu siapa saja yang menyesali barang yang telah hilang walaupun sedikit pikirannya teringat, marah dan hidupnya tidak tentram.

Orang mati keluarnya nyawa melewati rasa, ingat asal Rohnya masih merasa memiliki apa-apa, walupun sudah ditinggal Rohnya sudah tidak merasa apa-apa, orang yang sudah menyingkirkan keinginan Sekaralnya (sekaratul maut) tidak melalui rasa ingat, sama dengan menyatunya hamba dan Allah (Layu Kayafu).

Karena jalannya Qiamat sudah diterangkan, oleh sebab itu tanda hari Qiamat bila diselaraskan dengan tanda Lahir ternyata cocok. Di keterangan Qiyamuh Binafsihi; berdiri dengan sendiri, besar sendiri, bergerak sendiri, buang hajat sendiri, buang air seni sendiri, hidup sendiri artinya memiliki sifat Qiyamuh Binafsihi yaitu sifatnya Allah.
Air mani yang dikeluarkan dari Pria diterima oleh mani wanita, lalu menjadi gumpalan darah didalam Rahim Ibu menjadi bentuk seperti bayi masih bentuk titik lubang kecil, lubang lama kelamaan membentuk lubang-lubang alat untuk bekerjanya Panca Indra, lama-lama membentuk bayi yang sempurna laki-laki atau perempuan, sebab adanya sifat 20 Qiyamuh Binafsihi.

Tiap-tiap yang hidup itu bisa besar sendiri, tumbuh sendiri (Qiyamuh Binafsihi), sifat membesarkan (mengembangkan) dan membentuk dan lain-lain. Karena perut wanita kecil jadi tidak tahan menahan benda yang membesar, lalu lair sendiri karena sifat Qiyamuh Binafsihi. Jadi lahir itu perjalanan yang tetap (Qiyamat), jadi bayi lahir 9 bulan 10 hari itu ketentuan kodrat (batas melahirkan) dan kalau ada bayi lahir sebelum waktunya itu kesalahan yang mengandung (kurang perawatan) atau kecelakaan.

Firman Allah : Qur’an surat Al-Zalzalah : 1 – 8 ;

1. Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat),
2. dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya,
3. dan manusia bertanya: “Mengapa bumi (menjadi begini)?”,
4. pada hari itu bumi menceritakan beritanya,
5. karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya.
6. Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) amal perbuatan mereka,
7. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun (debu yg halus), niscaya dia akan melihat (balasan)nya.
8. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.

Kata Guncang atau bergerak kuat itu terjadi seperti karena gempa, gunung meletus, tanah longsor. Umpama goyangnya badan jasmani, sebenarnya mengalami kejadian tadi seperti gemetar takut jumpa dengan harimau, gemetar hampir kejatuhan kelapa dan lain-lain, seperti itu sebenarnya bukan hancurnya tubuh (jasmani), tetapi tetap keadaan hidup dan bisa merasakan apa-apa,

Qur’an surat Al-Qaari’ah : 1 – 11 ;

1. Hari Qiamat,
2. apakah hari Qiamat itu?
3. Tahukah kamu apakah hari Qiamat itu?
4. Pada hari itu manusia adalah seperti anai-anai yang bertebaran,
5. dan gunung-gunung adalah seperti bulu yang dihambur-hamburkan’
6. Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya,
7. maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan’
8. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya,
9. maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah’
10. Tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu?
11. (Yaitu) api yang sangat panas.

Surat diatas bila kita teliti secara jernih, intisarinya Qiamat itu bukan kerusakan tetapi tentang kejadian-kejadian yang sangat mengherankan. Menerangkan rahasia-rahasia ayat yang diatas perlu contonh-contoh yang bersangkutan ilmu bumi dan sejarah;

1. Pada zaman dahulu manusia hidup menurut Kodrat, kebisaaan melahirkan kandungan sangat berbahaya menurut ukuran zaman dahulu karena sudah ada adat tradisi, jadi bagi orang zaman sekarang dianggap bisaa, contoh yang diatas kalau di qiyas (teliti) dengan keadaan jasmani, persis makna ayat suci yang diatas ada kata-kata kejadian yang mengerikan, maksudnya bagi perasaan bergetar karena takut dan badan merasa pegal-pegal dan gemetar yang dirasakan oleh wanita yang mengalami melahirkan pertama.

2. Bila ada wanita yang hamil pertama kali perutnya pasti bulat dan runcing sperti gunung, lalu sewaktu melahirkan mereka merasa ketakutan (ngeri-jawa) dan badannya pegal-pegal dan lain-lain. Seperti apa rasanya wanita yang akan melahirkan, ada yang mengatakan perang Sabil (perang suci karena Allah) jika tidak selamat bisa saja mati, karena sudah waktu perutnya mengecil karena isi perutnya yang belum diketahui sudah keluar (lahir) dan perutnya yang menonjol seperti gunung mengabarkan kepada yang melahirkan, tentang apa yang dilahirkan tadi. Kalau itu dikatakan gunung meletus mirip dengan ayat-ayat Al-Zalzalah tadi tentang gunung meletus, bumi bergoyong-goyang hebat. Kalau itu disampaikan orang semestinya tidak cocok dengan ayat Al-Qur’an seperti diatas, karena ayat mengatakan hanya gunung, karena kalau berhubungan dengan perasaan gunung itu sama dengan menempati jasadnya manusia sendiri. Surat Al-Zalzalah : 2 ; mengatakan : mengeluarkan semua isinya, itu tinggal menebak saja isi kandungan tadi. Pada ayat : 6; ada kata supaya mengetahui usahanya sendiri, sudah jelas pasti lahir lagi dari keinginan nafsu, karena nafsu menyebabkan mengutif keinginan yang terdahulu (hidupnya dahulu). Artinya ayat : 7 – 8 ; keterangannya lebih jelas dan manusia tetap berjalan dari melanjutkan keinginan kehidupan dahulu, sudah jelas sebabnya lahir lagi untuk mengutip hasil yang membekas, jadi bekas yang tidak baik membayar yang tidak baik dan baik membayar baik, dan menurut perasaan buruk dan baik orang lain tidak mengetahui, hanya pikiran sendiri.

Buktinya bagaimana ayat suci diatas tadi hidup shari-hari, itu terdapat pada 11 ayat, Surat Al-Qaari’ah : 1,2,3, artinya pada sewaktu hari melahirkan bayi (tanda Qiamat) yang pertama di alami oleh wanita dan setiap makhluk perempuan, para makhluk yang menjadi wadah umat. Karena itu ayat : 4 mengatakan para wanita (istri) hari itu merasa takut, was-was, sangsi-sangsinya itu sebenarnya tidak sendiri, karena pada hari itu wanita diseluruh dunia ada yang mengalami melahirkan atau terkena guncang-guncangan (Qiamat). Ayat : 5, artinya disitu ada kata gunung hancur seperti Dzarah (debu yang halus), ayat itu sebenarnya ditujukan kepada perasaaan yang merasakan akibat tadi. Umpama kepala terbentur benda keras, sewaktu kepala merasa pusing dan sakit mengakibatkan mata berkunanng-kunang dan berputar-putar seperti debu yang halus berterbangan, sperti itu sebenarnya tidak terjadi benar-benaran, hanya umpama. Pusing para wanita yang baru hamil 3 bulan (waktu melahirkan/keguguran). Ayat : 6, di tujukan kepada yang baru mengalami rumah tangga atau sicalon orang tadi (bayi), jiwanya membawa bekas keinginan yang dulu baik atau buruk. Apa sebabnya kalau bayi lahir tadi membawa bekas hidupnya yang dulu, tingkah laku tidak sama dengan yang membawa dahulu, karena sudah lain tempatnya (jasmani).

Jiwa (roh) itu tidak memilih jasmani yang mana, sebab sudah kehendak Allah, dan jasmani itu barang baru yang bisa rusak dan busuk, karena yang bertanggung jawab itu bukan jasmani melainkan Rohani (rohnya), jadi bukan pekerjaan sepak atau terjang manusia yang dahulu. Yang memakai jasmani lagi, tetapi perjalanan Roh yang dahulu untuk membayar bekas-bekas keinginan (Tabet-tabet-jawa) keinginan.

Ayat : 7, menolak salah pendapat yang mengatakan dunia itu hancur, di ayat itu terdapat kata hidup, yang maksudnya hidup yang memakai jasmani yang lengkap dan hidup., itu bukan hancurnya keadaan. Jadi benar dengan keterangan lahir di dunia dengan keadaan selamat. Jadi kalau ada bayi lahir (Qiamat) mati (tidak ada tanda-tanda hidup), itu sudah lain urusan lagi, artinya tidak di bicarakan di kitab suci Al-Qur’an, dan lainnya yang dibicarakan dan yang ditakut-takuti melalui siksa dan lain-lain, jadi lahir tidak hidup itu bukan benda apa-apa, sama dengan barang yang tergeletak ditanah.

Keterangannya begini; bayi lahir mati itu seperti mainan anak-anak, mobil-mobilan, boneka dan lain-lain. Beda bayi lahir hidup. Lalu sekian menit mati itu Rohnya yang memakai jasmani baru tadi rohnya keluar, gentayangan di alam kubur, mengalami seperti sebelum memakai badan jasmani.

Dan ayat : 2, sebaliknya dari ayat : 6, ayat : 9, mengatakan tempatnya dineraka, itu kebisaaan dari dahulu, neraka itu dianggap tempat yang ada apinya yang menyala-nyala, mengerikan dan lain-lain. Lalu di karang atau ditafsirkan disana menakut-nakuti. Mencari nama neraka tidak berbeda dengan mencari kata-kata Qiamat, kubur atau Barzah. Di cari keterangannya yang luas sehubungan dengan pendapat Hadist Nabi, Wali dan Mukmin haz.

a. Kata-kata di Al-Qur’an surat Maryam : 95 :

“Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari Qiamat dengan sendiri-sendiri.”

Surat Al-Kahfi : 48 ;

“Dan mereka akan dibawa ke hadapan Tuhanmu dengan berbaris. Sesungguhnya kamu datang kepada Kami, sebagaimana Kami menciptakan kamu pada kali yang pertama (bayi lahir); bahkan kamu mengatakan bahwa Kami sekali-kali tidak akan menetapkan bagi kamu waktu[hari pembalasan] perjanjian”

b. Kata-kata di Injil surat Korinta 16 Pag 475 Yes 25, 8 ayat 51, 52, 53 dan 54 tentang Qiamat; “dan Kamu kuberitakan simpanan (rahasia), begini; kita tidak mengalamai mati semua, tetapi semua akan merubah wajah, spontan (sekejab mata) bersama terompet (sangkakala) yang terakhir. Sebab sangkakala akan berbunyi, orang mati akan dibangunkan jadi abadi, dan kita akan berubah wujud (jasad baru).

Di atas tadi ada kata-kata Reinkarnasi, menjelma, kalau melihat sehari-hari mati, hidup, buah, tetap bergilir dari zaman dahulu. Jadi kata penjelmaan itu tetap ada yang sudah ditetapkan dari Sunnahnya Allah, seperti dunia sudah diatur secara sempurna.

Sebenarnya Islam itu menolak lahir lagi, karena ada ukuran Islam di dunia kalau sudah menyatu dengan Allah (At’tauhid), kalau sudah mati sudah sempurna (Innalillahi Wa Inna Illaihi Raji’un). Kata-kata surat Maryam : 95, mengatakan : “semua pada hari Qiamat akan menghadap kehadapan Allah dengan sendiri”.

Kata sendiri bagi ukuran lahir, sama dengan tidak berteman, di wedaran Wirid sebenarnya bayi lahir kedunia sendiri, tidak merasakan apa-apa, tidak mengetahui ibunya, apa saja itu tidak bisa diteliti dengan ayat Qur’an, surat Al-Kahfi : 48 di atas, umpama ada bayi lahir kembar atau lebih, antara sibayi dengan bayi yang lain tidak mengenal dan tidak ingat apa-apa.

Untuk meyakinkan keterangan di atas, ayat dari kitab Injil mengatakan “kita tidak akan mati semua, artinya bukan rusak dunia dan umatnya, tetapi masih lestari hidup didunia, jadi yang mengatakan Qiamat itu rusak, itu tidak benar. Ada kata-kata lagi begini : “semua berubah wajah dengan sekejab mata”, berubah sekejab mata itu jelas benar, bila ada lahir wajahnya berupa-rupa, ada yang gagah, cantik, jelak dan lain-lain, orang hanya tahu saja itu datangnya ke dunia hanya sekejab mata, berubah wajah itu artinya jasmaninya di ganti dengan jasad yang baru.

Si X yang tadi mempunyai idam-idaman, keinginan mempunyai wajah yang cantik, walaupun keinginan lama membekas (tabet-jawa) tetap tidak bisa karena sudah ganti Roh si X di Qiamatkan melalui jasmani baru.

Qur’an surat Al-Mukminun : 99 – 100 ;

99. “(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia)”

100. “agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan”

Artinya orang mati itu tidak bisa berusaha apa-apa lagi, balik seperti semula atau memohon yang lebih baik, karena dibatasi alam barzah, siapa yang mati jasmaninya hancur jadi abu (tanah). Di Indonesia tidak ada orang yang seperti Gajah Mada, artinya cita-cita yang melekat pada Roh Gajah Mada diteruskan dengan bayi yang wajahnya tidak seperti Gajah Mada. Ayat suci di kitab Qur’an surat Ar-rum : 52 ;

“Maka Sesungguhnya kamu tidak akan sanggup menjadikan orang-orang yang mati itu dapat mendengar, dan menjadikan orang-orang yang tuli dapat mendengar seruan, apabila mereka itu berpaling membelakang”

Artinya ayat-ayat itu jelas, bila kita-kita suci Injil, Taurat, Zabur dan Al-Qur’an itu tidak bisa untuk memberi ilmu kepada orang yang berada di dalam kuburan, tetapi kitab-kitab itu isinya untuk orang hidup dan jalannya yang menyentuh dengan tentang Qiamat, sebenarnya sama dengan lambang (istilah), karena di situ banyak kata-kata yang intisarinya seperti dunia dan isinya hancur seperti debu.

Kalau menyatakan kata-kata ayat yang ada, ada yang berbeda :

1. Kejadiannya benar-benar terjadi,

2. sebagai contoh, kalau dua-duanya diteliti sama-sama masuk akal, umpamanya seperti terjadinya hari Qiamat.

Siapa saja kalau badan merasa sakit, melihat apa-apa pasti pusing dan badan terasa goyang (pitam-jawa). Contoh di atas kalau dicocokan dengan ayat-ayat Al-Qur’an orang-orang yang hidup bisa merasakan, Dan bisa di rasakan orang yang mati mengalami sekaratul maut, masih bisa merasakan tanggung jawab Roh.

Kata-kata mengalami sekaratul maut, itu belum mati, karena masih bisa merasakan. Sekaratul maut itu apa tidak di katakan Qiamatnya Roh yang akan pindah ke alam kubur. Qiamat itu bangkit dari kubur, kalau sekaratil maut itu merasa tidak enak, karena belum mati. Walaupun merasa pusing karena terbentur atau sewaktu Sekaratil Maut masih bisa ingat dan ingat itu alatnya orang hidup.

Menurut ucapan Nabi Muhammad SAW yang terdapat di Hadist riwayat Bhukari seperti yang di atas, Qiamat artinya tumbuh dari bawah keatas (dari Sudra ke Brahmana-kasta), dari sifat rendah menjadi sifat luhur atau mulia.

Nabi Muhammad dan Qur’an tidak pernah mengucapkan Qiamat itu rusak / hancur. Dan dalam buku Wirid Hidayat Jati di tulis ayat : 1 sampai 10 itu diteliti, seperti orang yang merasa kesusahan itu tidak enak. Kalau dibandingkan dengan tandanya Qiamat di Wirid ini ternyata Hidayat Jati itu menerangkan tentang mati atau rusak dunia manusia (jasmani).

Kata mengambil jelas seperti mencabut nyawa, dalam Wirid Hidyat Jati diterima bisaa saja, lalu mengalami bertentangan dengan Wedaran Wirid ini serta ucapan Nabi Muhammad dan Qur’an;

1. Wedaran Wirid berdasar sunnah, Hadist dan Qur’an, Dalil, Hadist, Ijemak dan Qiyas; jadi kata Qiamat itu bayi lahir dengan selamat.

2. Wedaran Hidayat Jati yang berdasarkan Dalil, Hadist, menyatakan; umpama hari Qiamat sama-sama kedatangan Malaikat Jibril untuk mencabut nyawa, tetapi dengan sedikit demi sedikit, artinya mengurangi kerjanya Panca Indra.

Di Qur’an, Hadist dan kitab lainnya tidak ada menyalahkan adanya dilahirkan lagi, berputar, menjelma dan tidak ada yang membenarkan. Reinkarnasi, dilahirkan lagi, penjelmaan itu ditolak dengan agama Islam, sebenarnya yang menolak bukan Qur’an, Hadist dan Injil, tetapi para sarjana (cendikiawan) yang mempunyai gologan menolak dilahirkan kembali kedunia yaitu Ikhtikat Ma’rifat dan Islam (sempurna), lalu di buat pedoman orang awam (bisaa) kalau sudah masuk agama apa saja menolak dilahirkan kembali, menjelma dan Reinkarnasi, akan tetapi perputaran itu tetap ada (tidak pernah berhenti).

Jadi orang yang belum bisa At’tauhid (menyatu dengan Allah) harus melalui Qiamat, pakai badan jasmani, sehingga bisa sembahyang (shalat) Ma’rifat (Semadhi) sehingga mencapai Islam sejati, baru disebut Innalillahi wa innaillaihi rajiun (menghadap/kembali kepada Allah).

TAMAT

Sumber buku Wedaran Wirid I, Ki R.S. Yoedi Parto Yoewono. Surabaja : Djojobojo, 1962-64.
—————————
Alang Alang Kumitir

Advertisements

AJARAN HARI KIAMAT


Bab 12
AJARAN HARI KIAMAT (QIYAMAT)
MACAM-MACAM KEJADIAANNYA, MEMBUKTIKAN.

Sebelum menceritakan tentang kiamat, diterangkan rahasianya, dan waktu terjadinya kiamat, dijawab terlebih dahulu. Kiamat itu tiap-tiap hari, tiap-tiap jam, tiap menit, tiap detik, bisa saja bersamaan, tetapi tidak rusak dan tidak hancur, semakin lahir dan selamat.
Menerangkan tentang Kiamat membutuhkan pikiran yang jernih dan bijaksana, harus dipikir dahulu, cocok atau tidaknya dengan kenyataan, yang diatas sudah diterangkan bahwa kitab-kitab suci Al-Qur’an Nul Qarim, Bybel, Injil dan lain-lain, semua bukan untuk orang mati (yang sduah dikubur) tetapi untuk orang hidup, lalu jalan membuktikan kata-kata akhirat, Kiamat, mati, Luhilmahfudz, padang Maqhsar, itu harus jumpa (terdapat) dibawah ini.

Umumnya kata Kiamat itu hancur dunia seisinya, karena hancur lebur satu hari bersamaan, Kiamat asal dari kata Qiyaman, menjadi Qiyamah; bangun seketika, contoh Yaumil Qiyamah menjadi Yaumil Qiyamat. Yaumil Qiyamat; berdiri sendiri.

Cerita tentang hari Kiamat sebenarnya hari para Roh-roh yang dibangkitkan dari kubur, lalu diperintahkan ke Padang Maqhsar (lapangan yang sangat panas). Di Hadist Bukhari ayat : 42 Bab : 9; Nabi Muhammad tidak pernah mengatakan Kiamat itu rusak, kata bahasa Arab jelas sekali mengatakan tidak rusak, tetapi bangkit (berdiri sendiri).

Umpama sifat 20 diteliti, Kiamat itu sifatnya Allah (Qiyamuh Binafsihi); berdiri sendiri, jadi bukan rusak atau hancur, dan kitab-kitab Bybel, Al-Qur’an dan kitab suci lain-lainnya tidak pernah mengatakan dunia itu hancur, semua itu tetap baik-baik saja atau lestari. Apa sebab masyarakat umum mengatakan Kiamat itu hancurnya dunia?. Katanya diwaktu hidup mengerjakan shalat lima waktu mempunyai tanda dikeningnya langsung masuk Surga, berkumpul dengan leluhurnya. Dan jahat (Kafir, kufur) disiksa, benar di Qur’an menerangkan; Kiamat bersamaan dengan huru hara yang mengerikan, tetapi sampai sekarang walaupun berjuta-juta tahun tidak terbukti. Qur’an mengatakan Kiamat itu datangnya tiba-tiba (tersentak), dan yang melihat Allah sendiri. Apa para hamba-Nya bisa mengetahui (melihat), itu pertanyaan yang sehat berdasarkan pikiran yang jernih, mencari yang sangat sulit tentang Kiamat harus berlandaskan kita suci Al-Qur’an Nul Qarim, Bybel dan Hadist yang Shahih. Dibawah ada contoh bersangkutan tentang Kiamat;
1. Si A umurnya lebih dari 50 tahun bercerita dengan Si B; nanti dunia akan Kiamat, hancur dengan isi-isinya, datang seketika, tentang ini tidak ada yang mengetahui, hanya Allah sendiri.

2. Si B percaya dan yakin dengan kata-kata Si A tadi, umur si A mencapai 100 tahun mati, jadi tidak mengalami dunia hancur.

3. Si B masih hidup, tetap mengoreksi datangnya Kiamat tadi, tentang Si A. Si B lagi-lagi cerita tentang Kiamat kepada anak-anaknya si C, lalu menceritakan dengan anaknya lagi. Jadi itu semua cerita bohong (Tahayul). Cerita Kiamat sehingga turun temurun, hingga sekarang, dunia tetap segar bugar, jadi Kiamat hancur itu semua tidak terbukti.

Menjawab keterangan Kiamat rusak, diantara dua itu tidak ada, lalu sebaliknya, Kiamat itu berdiri, kalau rusak akan tetap hancur, ada pertanyaan; apa dunia itu tidak rusak?, jawabnya; kekuasaan Allah itu bukan untuk merusak dunia, kalau hanya merusak dunia itu mudah, lebih mudah dari memijit buah ranti, karena Allah itu yang Maha Kuasa, yang diciptakan itu semua milik-Nya.

Dibawah ini ada ayat-ayat suci yang berhubungan dengan Kiamat;

Qur’an surat Az-Zukhruf : 66 ;

”Mereka tidak menunggu kecuali kedatangan hari kiamat kepada mereka dengan tiba-tiba sedang mereka tidak menyadarinya.”

Qur’an surat Al-Baqarah : 28 ;

“Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan”

Qur’an surat Luqman : 28 ;

“Tidaklah Allah menciptakan dan membangkitkan kamu (dari dalam kubur) itu melainkan hanyalah seperti (menciptakan dan membangkitkan) satu jiwa saja. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”

Qur’an surat Yaasiin : 33 ;

“Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan dari padanya biji-bijian, maka daripadanya mereka makan.”

Ayat no.4 tersebut diatas tidak terdapat kata-kata rusak, apalagi rusaknya dunia; sebenarnya isi Al-Qur’an penuh dengan teka teki yang sangat unik, yang harus dibuka jikalau mengambil arti yang sebenarnya.

Dalam Qur’an surat Al-Israa : 89 ;

“Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulang kepada manusia dalam Al Quran ini tiap-tiap macam perumpamaan, tapi kebanyakan manusia tidak menyukai kecuali mengingkari (nya)”

Arti ayat-ayat yang diatas, ayat No.1 diterangkan; datangnya Kiamat tiba-tiba (tersentak), dan manusia tidak sadar (tidak merasakan), umpama Kiamat itu rusak pasti manusia bisa merasakan karena semua menyaksikan. Mengetahui itu berarti manusia merasakan (ingat). Dan ayat No.2 menerangkan; bahwa manusia dibangunkan (di Kiamatkan) dengan Allah atau dihidupkan. Sesudah menjalani hidup didunia, lalau di matikan kembali, seperti dilahirkan (menjelam). Ayat No.3 membuktikan yang sangat jelas; Allah membangkitkan dari kubur (menghidupkan lagi) ke dunia memakai jasmani, dilahirkan menjadi bayi dari rahim manusia. ayat No.4 menerangkan tentang Kiamat; Allah memberi peringatan, Kiamat itu seperti benih (biji-bijian) yang tumbuh sendiri ditanah; artinya benih itu tumbuh menjadi buah, buah ditanam menjadi benih, itu terus menerus, anak beranak. Sulitnya tentang tumbuh, yang pasti melalui proses, keluar dari dalam buah (Qiyamuh Binafsihi), jelasnya Kiamat.

Sebelum keterangan-keterangan yang menerangkan Kiamat itu seperti apa?. Lihat dulu ayat-ayat suci Al-Qur’an surat Al-Hajj : 7;

“dan sesungguhnya hari kiamat itu pastilah datang, tak ada keraguan padanya; dan bahwasanya Allah membangkitkan semua orang di dalam kubur”

Qur’an surat Al-Ahzab : 63 ;

“Manusia bertanya kepadamu tentang hari berbangkit. Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang hari berbangkit itu hanya di sisi Allah.” Dan tahukah kamu (hai Muhammad), boleh jadi hari berbangkit itu sudah dekat waktunya”

Qur’an surat Al-Kahfi : 48 ;

“Dan mereka akan dibawa ke hadapan Tuhanmu dengan berbaris. Sesungguhnya kamu datang kepada Kami, sebagaimana Kami menciptakan kamu pada kali yang pertama; bahkan kamu mengatakan bahwa Kami sekali-kali tidak akan menetapkan bagi kamu waktu (memenuhi) perjanjian”

Qur’an surat Yunus : 44 ;

“Sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim (menganiaya) kepada manusia sedikitpun, akan tetapi manusia itulah yang berbuat zalim (menyiksa) kepada diri mereka sendiri”

Qur’an surat An-Naazi’aat : 25 ;

“Maka Allah mengazab (menyiksa)nya dengan azab (siksa) di akhirat dan azab (siksa) di dunia.

Qur’an surat Ali-Imran : 108 ;

“Itulah ayat-ayat Allah. Kami bacakan ayat-ayat itu kepadamu dengan benar; dan tiadalah Allah berkehendak untuk menganiaya (menyiksa) hamba-hamba-Nya”

Qur’an surat An-Nissaa : 132 – 133 ;

132. “Dan kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan apa yang di bumi. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara”

133. “Jika Allah menghendaki, niscaya Dia musnahkan kamu wahai manusia, dan Dia datangkan umat yang lain (sebagai penggantimu). Dan adalah Allah Maha Kuasa berbuat demikian”

Rahasia ayat-ayat suci diatas diterangkan dibawah; Kiamat itu sebenarnya terjadi setiap hari, setiap jam, setiap menit dan setiap detik, sewaktu-waktu bersamaan. Keterangannya; lahir bayi kedunia bersamaan harinya walaupun tempatnya dimana-mana, di Indonesia ataupun di luar negeri dan lain-lain. Menurut orang, Qur’an surat Yunus : 44, tersebut diatas; hancurnya bumi (dunia) ternyata omong kosong, umpama dunia hancur, Allah menyia-nyiakan ciptaannya. Allah tidak pernah menyia-nyiakan umatnya, tetapi manusia saling siksa menyiksa, Bom mengebom (hancur menghancurkan). Dan Qur’an surat An-Naazi’aat : 25, diatas tujuannya; lahir gantinya mati, hilang itu tidak melihat barangnya, tetapi barangnya tetap ada, kalau lahir terus menerus didunia pasti padat isi manusia dan hewan, kalau banyak yang mati lama-lama dunia kosong, sebenarnya dunia sudah diukur, tetap tidak bertambah dan berkurang, umpama air menurut ukuran para ahli 280 miliar ton x 1 kubik (1000 liter), ukuran tadi setiap hari berkurang dilaut, menjadi uap terbang keatas menjadi air, air jatuh kebawah, begitu selamanya, hanya pindah tempat.

Didunia sedari zaman dahulu sampai sekarang tempat kematian, bala, pembunuhan, perang, tetap dimana-mana. Bayi tetap lahir (Kiamat), jadi jumlah manusia semakin padat, tetapi lain waktu banyak yang mati akibat perang atau Tsunami (gelombang air laut naik kedarat). Qur’an surat Ali-Imran : 108 diatas mengatakan; Allah itu tidak akan menyia-nyiakan umatnya, tetapi menjaganya. Qur’an surat An-Nisaa : 132 – 133 diatas menyatakan; sudah cukup Allah menjaganya, jika Allah menghendaki kamu semua dimusnahkan, diganti dengan umat yang lain.

Kalau ada orang mengatakan besok dunia hancur, itu sebenarnya tidak dikehendaki Allah, umpama dikehendaki sekejab mata pasti musnah, itu namanya sia-sia, oleh karena Allah itu Maha Pengasih dan Penyayang (Rahman Rahim).

Membahas tentang Kiamat itu rusak.

Karena Dat itu meliputi seluruh yang ada (Q.s Hamim As-Sajdah : 54), lalu Hakikat Aku dan Kamu satu (At’tauhid), sama-sama memiliki Dat (Dat, Sifat, Asma, Afhngal), itu satu. Karena meliputi semua ciptaannya, kalau Kiamat itu hancur lalu kemana perginya Dat (Allah) yang mempunyai sifat 20. yang menjaga alam lalu sembunyi dimana?, sangat membingungkan. Sebenarnya Hakikatnya Dat melestarikan ciptaannya. Kalau Kiamat itu rusak tidak akan terjadi, karena Allah tetap adanya, Dat itu melestarikan umatnya dan alam raya ini. Itu Allah mengatakan di Al-Qur’an surat Al-Jaatsiyah : 3 ;

“Sesungguhnya pada langit dan bumi benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk orang-orang yang beriman”.

Jadi Allah menciptakan langit dan bumi dan alam raya tetap tidak diganggu, tetap dijaga, dilestarikan, tidak akan dirusak, karena itu menjadi saksi bahwa Allah itu ada.

Seketika ada orang bertanya agak maju sedikit, apa pekerjaan Allah sesudah menciptakan alam raya dan seisinya?. Pertanyaan itu membuktikan bahwa Kiamat hancur itu tidak ada, Allah Maha Mengetahui (wikan-jawa).

Jadi jelas di Qur’an surat Yaasiin : 82 ;

“Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah (Qun Fayaqun)”

Pelajaran (buku) Ronggo Warsito mengatakan; Qun artinya perkataan Allah, berkata sekali untuk selamanya (abadi), pelajaran Kitab sifat 20 yaitu nama yang benar. Fayaqun artinya terjadi Jagad raya seisinya untuk selamanya.

Qur’an surat Yaasiin : 82 diatas artinya menguasai segalanya yang ada, semua tidak ada yang terlewatkan dengan kata Allah (Qun Fayaqun). Umpama matinya manusia karena kehendak Allah, jadi pasti sama dengan bayi lahir dari kandungan ibu. Jadi yang menjadi imbalan mati karena Kodrat. Karena yang dibicarakan tentang hidup, jadi kalau ada bayi lahir selamat, itu tanda bahwa bayi lahir tadi mendapat Sabda Allah, karena Qun Fayaqun; terjadi, terjadi hiduplah kamu, seketika bayi itu lahir dan hidup, lalu timbul pertanyaan yang berhubungan dengan pelajaran Ronggo Warsito (buku Hidayat Jati); apa sebabnya Allah itu mengatakan Qun Fayaqun terus menerus?, menurut Ronggo Warsito yaitu :

Perkataan Qun = Dat Suci;

Dat Suci = Nama suci (tidak pernah berubah);

Fayaqun = Terjadi alam raya seisinya seketika selamanya.

Nama suci artinya Allah itu ada, adanya Allah memiliki sifat 20. sifat 20 diciptakan beserta sifat-sifatnya, jadi yang mendapat kata-kata itu orang yang mempunyai sifat 20 tadi, artinya kata-kata Allah kekuasaan Allah sendiri, jadi kekuasaan itu dimiliki sendiri, jadi Dat suci itu memiliki sifat 20 + 1 kekuasaan (wenang-jawa) menciptakan.

Karena kuasa menciptakan, maka apa saja yang tidak disertai kekuasaan (wenang-jawa) tidak terjadi (ujud), sebab tidak memiliki kekuatan Dat (pakarti-jawa) sifat 20.

Jadi Kiasan Ronggo Warsito tentang Qun Fayaqun itu adanya ciptaan yang nyata (ujud) Jagad raya tetap tidak akan rusak dan hancur, dan tujuan ayat suci Al-Qur’an surat Yaasiin : 82 diatas, hanya bagi yang dikehendaki langsung ada.

Lahir dengan selamat sebenarnya menerima kata-kata Allah, jadilah kamu seketika jadi. Dan yang lahir baru dan badan baru itu tidak ingat, sewaktu manusia melewati jalan tidak ingat itu, sebenarnya melewati alam yang tidak bisa dijangkau (tankeno kinoyo ngopo-jawa), karena tidak merasakan apa-apa (Ma’rifat) tidak laki, tidak perempuan, tidak zaman, tidak tempat, tidak jauh atau dekat. Itu artinya rahasia sastra jendra dan disebut makhluk yang bisa mengetahui, karena penjelmaan jiwa itu ada 2 unsur :

1. Kalau bisa mengamalkan perjalanan, Innalillahi Wa Innaillaihi Rojiun (keterima amalannya dengan Allah/mulih mula niro-jawa).

2. Kalau tidak sama sekali mengamalkan, sama berulang kali dilahirkan kedunia memakai badan jasmani.

Siapa saja yang tidak mengerjakan sewaktu didunia, pasti di Kiamatkan lagi, dan tujuan-tujuan itu yang dimaksud Islam. Jiwa yang suci bisa mengalami seperti diwaktu lahir.

Keterangan ayat Qur’an Ali-Imran : 102 ;

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan Islam (At’tauhid).”

Pemeberitahuan; jika mati dalam keadaan Islam, artinya mati tidak merasakan apa-apa, orang yang begitulah yang bisa melewati alam kuburnya tidak merasakan apa-apa sama seperti tidur tidak mengalami mimpi. Walaupun ada rasanya tenang dan tentram tidak merasakan yang tidak enak.

Ukuran setiap hari kalau tidak berbuat salah, walaupun terdakwa (didakwa) pikiran pasti tidak was-was, tidak gentar, tenang dan tidak berdebar-debar. Roh yang yang bisa menyatu: Innalillahi itu kalau sudah datangnya hari Kiamat (lahir lagi) tidak ikut dikiamatkan lagi seperti ayat Qur’an surat Az-Zumar : 68 ;

“Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi maka tiba-tiba mereka berdiri (bangkit) menunggu (putusannya masing-masing)”

Ayat diatas maksudnya Roh-roh (jiwa) yang sudah menjadi ijin Allah menghadap kepada-Nya dan menyatu dengan Dat (Allah) atau Islam, mereka tidak ikut pingsan atau ikut bangkit dari Kiamat, yaitu jalannya menuju asalnya ((Innalillahi Wa Innaillaihi Rojiun). Jadi jelas perkataan Allah tujuannya Ketuhanan (ke Allah-an / Kasunyatan-jawa). Sudah tercatat pada Qur’an surat Al-Kahfi : 48 , seperti tersebut diatas, catatan lewat seperti keadaan Roh yang mengahadap Allah?, jawabnya; Qur’an surat Al-An’aam : 94 ;

“Dan sesungguhnya kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana kamu Kami ciptakan pada mulanya, dan kamu tinggalkan di belakangmu (di dunia) apa yang telah Kami karuniakan kepadamu; dan Kami tiada melihat besertamu pemberi syafa’at yang kamu anggap bahwa mereka itu sekutu-sekutu Tuhan (berhala) di antara kamu. Sungguh telah terputuslah (pertalian) antara kamu dan telah lenyap daripada kamu apa yang dahulu kamu anggap (sebagai sekutu Allah)”

Begitulah perjalanan Islam yang sebenarnya, artinya ayat-ayat itu kalau diteliti yang benar, pulang Roh kepada Allah sama dengan kosong (suwung-jawa / keadaan Tankeno Kinoyo Ngopo –jawa).

Tujuan semua pengalaman Hakikat, menerima wahyu, melihat gaib, melihat saudara sendiri (bayangan putih) sudah dianggap Allah, karena disembah bisa memberi pertolongan, itu bisa menjadi berhala bagi Allah. jadi Roh yang dikehendaki Allah tidak di Kiamatkan (dibangkitkan) lagi, itu adalah Roh yang bersih tidak ada sangkutan apa-apa (tidak ada keinginan/kosong).

Aslama, Islamu, Muslimuna, itu sudah jelas yang sebenarnya, penyembah yang benar itu sebenarnya kosong bagi keinginan (tidak ada keinginan apa-apa), tidak ada pikiran apa-apa.

Jadi keterangan tentang Kiamat itu menurut ucapan Nabi Muhammad SAW dan dalil Al-Qur’an Nul Qarim yang terdapat pada Hadist Bukhari : 12 diatas; sama-sama meneruskan perjalanan Roh yang belum tercapai tujuannya. Dan perjalanan bermacam perjalanan itu hanya sekedar meneruskan cita-cita (keinginan) terdahulu (tabet-jawa). Umpama begitu manusia itu selalu dilahirkan kedunia, contoh; anak si A ada tujuh jumlahnya, itu perjalanannya berbeda-beda ada yang menjadi pegawai, tentara, durjana, saudagar, wts dan lain-lain, itu semua karena tempatnya (jasmaninya), itu artinya; si A itu seorang gagah perkasa, kaya dam cerdas, singkatnya hidupnya mewah, lalu meninggal, tanggung jawab Roh memilih tidak mati karena sayang meninggalkan harta bendanya didunia, lalu dialam kubur si A memandang (menerima siksa kubur), karena masih merasa masih meninggalkan hartanya. Setelah waktunya Roh di Kiamatkan (dibangkitkan) kedunia lagi, tidak bisa lagi seperti dahulu kala, karena jasmaninya lain, ujud bayi lahir namanya si C dan lain-lain yang menjadi tempatnya keinginan dahulu (tabet-jawa).

Pengalaman orang yang matinya tidak enak (mulangsarak-jawa) sebagai orang jahat itu;

Qur’an surat Al-Mu’minun : 99-100 ;

99. “(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia)”

100. “agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan”

Menurut dalil Al-Qur’an, Kiamat itu sama tumbuhnya benih, dan menurut perkataan Nabi Muhammad SAW; orang perempuan melahirkan majikannya (pangkat, luhur, budi), atau ada anak gembala (orang rendah) bisa menaiki Tahta kerajaan, artinya si perempuan menumbuhkan benih yang luhur (wanita yang melahirkan anak yang mempunyai jiwa yang mulia), gaibnya ayat suci dan Hadist terdapat pada perempuan (wanita). Jadi adanya wanita, menyebabkan bergilirnya cerita (perjalanan). Benih yang luhur (mulia) tidak memiliki bangsa, pangkat, rendahan, baik dan buruk hanya terdapat pada wanita. Siapa saja yang menjadi wanita, bisa menjadi manusia. jadi ada kiasan lahir berkali-kali itu maksudnya; lahir meneruskan bekas-bekas dahulu (tabet-jawa) bisa menempati tempat yang baru.

Sumber buku Wedaran Wirid I, Ki R.S. Yoedi Parto Yoewono. Surabaja : Djojobojo, 1962-64.
—————————
Alang Alang Kumitir

QIYAMAT PUNIKA WONTEN PUNAPA MBOTEN


BAB 11
QIYAMAT PUNIKA WONTEN PUNAPA MBOTEN

Kados pundi kedadosan lan buktinipun :

WEDARAN wiridan punika saestunipun bade nama gotang, yen mboten ngrembag bab pejah. Sasampunipun pejah, ROCHipun dateng pundit purugipun lan salajengipun bade kadospundi penandangipun? Saha kadospundi RAOSipun pejah punika?.

Rehning gelaranipun bab punika sejatosipun gegayutan kaliyan bab Qiyamat, mila ungeling ayat suci ing ngandap punika prelu pinanggalih :

Qur’an XXXIX, ayat 42 surat Az-Zumar ; (‘)

Allahi yatawaffa alanfusahina mautiha wa allati lam tumut fimanamiha fayumsiku allati qadla alaiha almauta wa yursilu aluchra ila ajalin mussaman inna fidzalika laayatin liquamin yatafakaruna.

Basa Jawanipun kirang langkung makaten : Allah mundut nyawane awak nalikane awak iku MATI, lan mundut nyawane awak kang wis pinasti mati, lan mangsulake nyawane awak kang turu iku, ing wektu kang wis tinamtokake. Sanyata iki dadi tanda yektining Pangeran tumrap wong-wong kang gelem mikir.

Qur’an III, 143 surat Ali-Imran ‘ (“)

Sabenere sira wus nduweni pangarep-arep mati, sadurunge nemoni (,etuki). Sejatine (sabener-benere) sira wus meruhi, sedeng sira kabeh pada migatekake.

Hadist Buchori 42) : dawuhipun Kanjeng Nabi Muhammad saw, bab Qiyamat.

Tanda-tandane kiyamat iya iku yen mengkono ana Buruh Wadon nglairaken Bendarane, lan yen mengko ana bocah Angon Unta wus bisa nglungguhi kapraboning kedaton kang peni-peni.

Gesangipun wiji-wiji punika mestinipun jalaran katanem ing siti saha pikantuk jat-jat kabetahanipun, nanging yen mboten kaserenan sifat gesang tamtu mboten bade saged. Dados hakekating gesang punika mboten namung tumempel ing wuwujudipun ingkang krembyah-krembyah kemawon, senajan ing barang (ingkang mboten mobah mosik) ugi wonten. Dene sifat gesang ingkang nglimpudi  wau (sagedipun tumangkar lan ebah-ebah) nama : sifat qiyamu binafsihi. Dados pratandaning gesang miturut  ukuran lair punika, umum mastani, “sing bisa obah-obah iku urip”, punika sejatosipun namung saking kirang pratitispun kemawon.

Punapa wonten titah ingkang gesang ing laladan benter sanget utawi asrep sanget? Wonten kados pratelan ing ngandap punika, ugi kacuplikan saking Minggon Djaja-Baja.

Titak-titah baksil nama : Titanus Cofoxtof punika menawi kenging latu ingkang benteripun namung 600 drajat Celcius kemawon meksa taksih gesang. Awit saking kodrating Pangeran baksil kalih warni wau manawi ketaman latu, malih warni kadosdene  nggadahi tameng (sisik totok) atos sanget, ingkang saged nahan bentering latu ingkang ngedab-edabi. Dene menawi benteripun sampun ical, baksil-baksil wau gesang limrah malih, kados waunipun.

Ing angkasa ingkang laladanipun inggilipun watawis 8 a 9 km saking bumi, kawastanan stratosfeer, lan hawanipun asrepipun kirang langkung 78 drajat Celcius sangandapipun nul, mituturut keteranganipun penerbang Angkatan Udara Inggris ingkang ing taun kirang langkung 1938-nan ngambah laladan ngriku sarana numpak motor maburipun, wonten titahing Pangeran ingkang gesang apanta-panta. Upami titiyang lawaran kemawon kenging prabawaning “adem” samanten ukaranipun wau, sanalika badan saged ugi dados selo. Titah-titah ingkang gesang apanta-panta wau bangsaning semut ingkang gadah suwiwi, tanpa pencokan, tanpa benter, tanpa neda punapa-napa …… jer sifating gesang katanda saking anggenipun krembyah-krembyah. Gusti Allah Maha Wikan saha Maha Wisesa.

Dados sifat gesang lan langgengipun punika pranyata anglimpudi sedaya kawontenan (tan pisah saking sipat). Minangka ulah tataraning akal (tarekatipun akal), sedaya punika kedah dipun Parsudi kanti lelandesan pangretos ingkang saged nggayuh.

***

SAPUNIKA kados pundi hakekating gesang wonten ing laladan kubur alam ghaib lan alam ingkang mboten kenging kaukur mawi paningal (pancadriya).

Sedaya alam punika gadah sipat lan kawontenan piyambak-piyambak saha gumantung dateng sinten @ ingkang manggen ing ngriku. Tegesipun makaten :
1.  Alam kasad mripat, ingkang sami manggen ugi kasad mripat.
2.  Alam ghaib dipun enggeni dening bangsa ghaib.
3.  Alam ingkang mboten kasad mripat, dipun anggeni dening ingkang ugi mboten kasad mripat.

Tumrap jisim-jisim ingkang sami manggen wau ukuranipun (inggilipun, jembaripun lsp), sedaya punika saged kataliti mawi pirantos (srana) ingkang medal saking manungsa piyambak (pirantos ghaib). Sarehning Dating Pangeran punika nglimpudi samudayanipun, pramila alam-alam wau ugi kalimpudan dening sipating Pangeran, nanging inggih gumantung dateng sipat, gesangipun ingkang ngawaki :

  1. Alam donya : sipat 20 dipun borong dening manungsa.

  2. Alam donya ing laladan seganten : titah-titahipun Gusti namung mborong salah satunggal saking sipat 20 wau.

  3. Alam ghaib : titah-titahipun ugi kaserenan salah satunggaling sipating Gusti, ingkang sebagiyan ageng Sipat Gesangipun.

Saderengipun miwiti wedaran bab pejah lsp, suwawi rumiyin menggalih tulada-tulada tanda yekti WISESANIPUN Pangeran. Ing Qur’an surat Asyura ayat 54 kasebut makaten :

Kawruhana deweke pada ragu-ragu anggone arep sapatemon karo Ingsun (Allah), kawruhana yen Allah iku nglimpudi apa wae, (mriksanana bab sipat 20 ing ngajeng).

Ing Hudyana  Djaja Baja nate kapacak minangka tulada, kadadosan-kadadosan makaten :

Ing Universitas Ohio (AS) bagian Fisaca, wonten satunggaling sarjana ingkang pinuju nitipriksa kawontenaning pasisir seganten. Pasisir wau kacariyos katah benteng-karangipun ingkang miturut panitipriksa adadasar “spectraal analyse” umuripun sampun kirang langkung 1,5 juta taunan. Panaliti wau mboten ngemungaken ndumuki utawi ngukur kemawon, ugi mawi nduduki lan mecah-mecah kawontenanipun karang-karang wau.

CONTO malih ingkang gampil, inggih punika winih pantun. Miturut panalitinipun ahli Kabun Raya ing Washington, (AS) winih pantun punika mboten bade saged pejah, senajan kasimpen ing salebeting tembok ngantos 300 taun dangunipun, angger mboten gegrek kulitipun.

Ing Qur’an XXXIX, 42 surat Az-Zumar wonten tetembunganipun : Mangsulake nyawane awak kang turu iku ing waktu kang wus tinamtokake. Wedaran ing ayat punika gegayutan kaliyan bab pejah.

Turu punika pakaryaning badan jalaran saking arip lan kesel, lan ubarampening pancadriya lajeng dados lerem. Wondene Tanda utawi sasmitanipun punika kinodrat dening raos NGANTUK lan mboten ngemungaken manungsa kemawon, dalah kewan-kewan ugi makaten sipatipun. Dene “mangsulake” utawi angulihake punika, terangipun sanes pakaryaning badan piyambak, nanging kodrating Pangeran, kasamaranipun : makarti pribadi (otomatis). Tanda ingkang damel gawok, kroas arip mboten mawi ngenyang lan semadosan, (mriksanana sipat 20 : qiyqmuhu binafsihi). Samanten ugi TANGI-nipun, ing jagad pundi kemawon mboten prelu dadak semadosan rumiyin.

Bilih kagalih saestu, tangi-turu punika sandangan urip. Sabab :  turu tinurokake, tangine ditangekake, manungsa mboten saged ngereh punapa-punapa saking kodrating badan jalaran Pangeran. Sinten ingkang ilemaken (ndamel tilemipun) bayi, lan sinten ingkang ngliliraken bayi ?. Ibunipun punapa rencang ?  Wangsulanipun : ora weruh.

Ing ayat suci nginggil wonten tembungipun kang wus namtokake punika, makartinipun mboten sarana kajarag. Terangipun : sipat jumeneng kalawan pribadi punika ugi amisesa badan sakojur, tilemipun, tanginipun, krembyah-krembayahipun lsp.

Sarehning tilem punika pakaryan gumatok, dangu lan mbotenipun ugi, gumantung dateng ingkang ngawaki tilem. Miturut paniti priksa, sedaya pirantos wadag, badan alusing wadag (indriya-indriya) punika sami lerem saking sakedik, semanten ugi talirasanipun. Jalaran saking “angleripun”, sedaya suwara-suwara tetabuhan, kedadosan-kedadosan lsp, tetep mboten ngrubeda dateng ingkang turu.

Rehning mripat, kuping, irung, ilat, kulit, sedaya sami lerem (kendel), mila kahanan turu punika mbebayani. Bebayanipun dununung ing anggenipun mboten ngretos lan mboten saged nanggulangi punapa-punapa, bilih kataman reribet. Nanging sarehning tilem punika jejer gesang, mila mboten prelu kuwatos punapa-punapa, jer sedaya wau wonten ing astaning Pangeran piyambak.

a. Pejah Punika Punapa Sami Kaliyan Tilem ?

SENAJAN tilem kepati nanging taksih wonten sawenehing pengraos (rasa) ingkang tansah makarti, inggih punika RASA ELING utawi RASA JATI, ingkang keserenan sipatipun Pangeran angka 9 lan 12 : ilmu lan bashar (Jawi = kawruh lan uninga).

Mila senajan tiyangipun TURU, pun rasajati tetep makarti saha weruh punapa-punapa ingkang sok kasebat ngimpi. Nanging rasa jati punika mboten bade saged makarti piyambak tanpa sipat “jumeneng kelawan piyambak” (qiyamuhu binafsihi). Dados sedaya titah gesang punika mesti asipat jumeneng kelawan pribadi, jer inggih punika tanda yekti, bilih : gesang.

Pejah, rochipun kineker terus, mboten wangsul, dene tilem, rochipun kineker sawatawis lajeng wangsul malih; pramila kenging kasebat : TURU iku turutane PATI. Yen kalaras : TILEM lan PRJAH punika wonten ing kahanan sami, (mriksanana, Qur’an Az-Zumar 42). Ing ayat ngandap piyambak kasebat : tumrap wong kang gelem mikir. Wosipun : ngajangi omber dateng manungsa. Wredining ayat Qur’an XXXIX, 42 punika mboten kangge tiyang ingkang lumuhan pambudi, nanging kangge titiyang ingkang purun nandukaken akalipun (fikir), tegesipun : unbgel-ungelan MATI lan TURU punika namung benten kahananipun (alamipun).

Sejatosipun Kitab-kitab Suci punika kangge tiyang gesang ing Donya, sanes kangge tiyang pejah. Pramila sedaya maksuipun ungelan-ungelan mesti saged kabuktekaken nalika gesang ing Donya, kadosta : tembung-tembung ACHERAT, KUBUR, SUWARGA, NARAKA, LUHMAHZFUDS, GHAIB lan sapanunggalipun malih. Punika sagedipun kalampahan manawi gadah kawruh (berilmu).

Mrid suraosipun ayat 143 Ali-Imran lan Az-Zumar 42 punika terang lan gamblang sanget, bilih kahanan mati lan turu punika sajatosipun sami lan saben dinten dipun lampahi, dipun ecaki KAHANANIPUN. Pratelanipun makaten :

I. MATI : punika dipun alami dening wuwujudan-wuwujudan ingkang mawi ROH, suwaunipun mencok (manggen) lajeng nilar sakeplasan, sebab saking “punapa-punapa”. Sarehning roh punika gesang langgeng, pramila ingkang kasebat mati punika BARANGIPUN (ingkang suwau kadunungan si eroh wau). Tembungipun sanes ingkang mati, pejah = mati punika satunggiling KAHANAN (kedadosan) naliko roh nilar wadahipun. Dados sami kaliyan tembung  panengeran utawi pengaran-aran tumrap kadadosan nalika kaoncatan nyawa, umpaminipun tumrap tiyang, kewan, tetuwuhan, plasma, sel-sel lan sapanunggalipun.

Dados mati punika inggih sejatosipun kahanan MATI, nanging ingkang ndunungi (roh), tetep kawontenanipun, panggah gesang. Mila ing salajengipun bade ngalami lelampahan-lelampahan malih, lelampahaning roh sabibaripun oncat saking wadagipun.

Dene “lelampahan-lelampahan” wau anggenipun ngecaki (ngalami) inggih ing alamipun roh, inggih punika ingkang kasebat alam-alihan (kubur, kuburan, bardzahum). Eca lan mbotenipun, kawedar ing wingking.

II. TURU : punika pakaryan saben dinten, ingkang katindakaken ing alamipun roh, inggih punika ingkang kasebat alam-alihan (kubur). Sarehning tilem punika ora mati awit roh bade kawangsulaken malih ing wekdal kang tinamtokake ing Allah, pramila tetep taksih gesang, tegesipun : ingkang ewah namung KAHANANIPUN.

Ing kawontenan melek ngraosaken, mbididaya lsp., dene kahanan turu mboten saged (sami kaliyan mati), jalaran pirantos-pirantos wadag (pancadriya, astendriya, ingdriya) sebagian mboten makarti. Keterangan-keterangan angka I lan II, punika saged kalaras, pundi ingkang benten lan pundi ingkang sami kawontenanipun.

Menawi kasamekaken kaliyan semadhi makaten : semadhi punika nyengaja ngleremaken pakartining astendriya, dene tilem punika lereming astendriya lan pejah punika kendeling astendriya.

Bebayanipun semadhi, yen mboten saged tangi malih, semanten ugi bebayanipun tilem. Dados manawi makaten kahanan mati punika ORA TANGI, nanging rohipun lestari makarti.

Lereming astendriya salebeting tilem punika, pakaryan kajengipun piyambak, mila lajeng sok wonten kedadosan nglindur, katindihan lsp, punika jalaranipun : rasajati taksih sesambetan kaliyan astendriya. Inggih jalaran saking punika wau sedaya, mila MATI, TURU lan SEMEDHI punika, senajan pirantos-pirantos sami lerem, nanging wonten ingkang taksih makarti, inggih punika RASAJATI (rasa eling). Dados terangipun :  makartinipun rasajati punika mawi astendriya sampun mboten makarti, inggih punika ing kahanan-kahanan mati, turu lan semadhi.

MATI punika kelampahipun NGLIWATI RASA ELING, nanging TILEM nglangkungi RASA SUPE, (lali). Sebabipun : mati punika dadakan ngeget, dene yen tilem saking sakedik……… les. Ing “kahanan mati” pun rasajati nyentlek ngeget “nyambutgawe dewe”, mboten wonten ingkang ngalang-alangi, awit astendriya lsp, risak. Kosok wangsulipun kaliyan tilem, rasajati sok-sok taksik sesambetan kaliyan astendriya, menawi mboten kenging kasebat ngimpi. Dados mati punika ngimpi / terus-terusan.

Inggih makaten punika bentenipun mati lan turu. Kenging kalimbang-limbang sarana panggladi manah, jer punika sedaya wewerdinipun daliling Allah.

b. Pengalaman Ing Salebeting Supena.

SASAMPUNIPUN pengalaman-pengalaman bab impen kagelar, pengalamaning eroh-eroh saha wewadosipun ing laladan kubur saged kabatang.

Qur’an lan Kitab-kitab Suci punika sami kasediyakaken kangge tiyang gesang wonten ing donya, mila bukti lan nyatanipun ugi pinanggih wonten ing donya, ingkang saged dipun buktekaken nalika URIP.

5.1.1 : Tilem punika : lereming pancadriya astendriya nglangkungi alam mboten rumaos punapa-punapa. Wahananipun sering-sering terus mboten rumaos, nanging sering-sering ugi rumaos. Bakunipun : mesti ngliwati ORA RUMASA. Yen punika tindakipun ahli semadhi, sami kaliyan ngancik ing alam  hakekating makripat.

Yen tilem wau mboten rumaosipun terus (bleg-seg lir-suk) wahananipun lajeng mboten nyupena babarpisan, awit terus dumunung ing alaming embuh, ora rumasa apa-apa, ora weruh, lair sepisan ora enget, Tan Kena Kinaya Ngapa.

Inggih laladan mboten rumaos punika sayektosipun ngancik alaming panyuwijen – (manunggal). Sarehning tilem. Mila kraosipun inggih yen sampun nglilir / tangi, kados-kados kalampahipun RIKAT SANGET . 3 utawi 9 jam kraosipun kados namung 3 sekon, ORA RUMASA APA-APA.

Dene ingkang mawi supena, sasampunipun ngalami (nglangkungi) mboten rumaos, lajeng ngalami pepetan-pepetan utawi gegambaran-gegambaran, ingkang sebageyan ageng kalampahan saderengipun utawi sasampunipun. Upaminipun : kala wau siyang nembe ngraosi pandung, sareng tilem nyupena kepandungan lsp.

Dados terang sanget, bilih pakartinipun rasajati utawi rasa eling punika keren sanget. Kateranganipun makaten : rasajati punika saged NABETI rasa-pangrasa, makartinipun nyimpen sedaya pengalaman-pengalaman ingkang terang (lair katawis) lan mboten terang (batin angen-angen), kasebat : tabeting tri indriya (pengin, nafsu, krenteg), pirantos ingkang njalari raos bingah, salah, getun, miris, ajrih gila lsp.

Nalika melek tiyang punika kagerba dening rasaning wadag lumantar Pancadriya : pedes, asin, lara, kesel, linu panas lsp. Raos-raos wau manawi kaalang-alangan ing tilem, sami ical, margi Pancadriya (astendriya) lerem. Sapunika raos ingkang pundi ingkang taksih wonten ?.

Gesang bebrayan punika mboten uwal saking pangraos warni-warni (nafsu-farjie, nafsu ilat, pengin enak lsp). Dene ingkang wigatos pikiripun, inggih punika TRI INDRIYA WAU. Punika saestunipun sampun dados sandanganing gesang. Sedaya ingkang nabeti wau, bilih astendriya lerem (tilem) lajeng ngatawis (nyupena).

Pengraos ing dalem nyupena kados nyata estu, marem, bingah, gembira lsp, kados kraos kadidine melek, nanging yektosipun mboten keraos punapa-punapa, jalaran pancadriya / astendriya / talirasa sami lerem, mboten makarti. Semanten ugi kawontenanipun tiyang ingkang dipun suntik morphine (patirasa). Wondene dangu lan sekedapipun gumantung dateng danguning tilem. Utawi gumantung wonten kahananing dangu / ceraking lereming pirantos.

5.1.2 : Ing dalem pangimpen sering ketaman : sjrih, sisah, miris agetir-getir lan sapanunggalipun ; punika sedaya sanget nabeti pangraos senajan ta sampun nglilir (melek lenggah). Gambaran ingkang mahanani raos ajrih upaminipun makaten : Nyupena kagodag ing sima galak, rumaosipun mlajeng banter sanget , bade bengok-bengok neda tulung mboten wonten tiyang,  utawi wontena inggih namung nyawang kemawon utawi malah tumut mlajeng pisan. Tulada-tulada sanes ingkang mirib taksih katah.

Mestinipun meh sedaya sami nate supena kados makaten wau, lan raos-raos punika sedaya estunipun ingkang supena piyambak ingkang ngraosaken, tiyang sanes (senajan anak, bojo, embah, bapak lsp) mboten bade saget tumut ngraosaken, awit sampun benten kurunganipun.

Icalipun raos-raos makaten wau sedaya  wau yen ingkang nyupena sampun nglilir, namung kantun kemutan sakedik-sakedik, sebab mila pancen nabeti. Wungu jalaran supena awon / sae punika, sababipun wonten kalih warni :
1.  Wus wancine nglilir kang tinamtokake,
2.  Nalika supena rasajati saged sesambetan kaliyan astendriya, kados-kados nggugah supados tangi.

Yen kaleres ngalami supena wau, mangka rasajati, roh lsp, mboten saged sesambetan kaliyan pancadriya (wadag), kadospundi kedadosanipun. Wangsulanipun : tetep ngalami lelampahan pasupenan-pasupenan ingkang ngajrih-ajrihi wau, ingkang kasandang dening si rasajati piyambak-piyambak ajegan, awit mboten nglilir malih. Dados tiyang mboten bade saged ngicalaken raos giris punika wau.

Sapunika, kadospundi raos ing alam kubur ?. Ingkang rasajati tetela panggah, ajegan makarti kados ing pasepenan wau. Keteranganipun bab raosing pasupenan : sanajan ORA KRASA APA-APA NALIKA TURU, nanging tiyang mboten luwar saking pangraos-pangraos bingah, sisah, ayem, temtrem, nalangsa, adrih, ketir-ketir, maras, miris, gila, getun lsp, raosing indriya karana tabet.

Menawi kersa menggalih saestu dateng conto-conto ing ngajeng-ngajeng suwau, pranyata lajeng bade saged menggalih piyambak dateng “raos” ingkang dereng nate dipun alami, inggih punika ing kubur : saha saged mijang-mijang ugi dateng pejahipun tanggi, wonten sesambetanipun punapa mboten, kaliyan anak semahipun ingkang sami dipun tilar.

Punala ing alam kubur mbenjing saged kempal malih kaliyan semah ingkang ugi nututi pejah? Punapa ing alam kubur saged sarasehan bab ngelmu? Punapa saged nyuwun tulung dateng kanca? Punika sedaya bade kagelar ing ngandap, adadasar Dalil, Ijmak lan Qiyas. Menawi wonten ingkang kirang anocogi, punika saged pinanggih nalar, awit punika namung kawruh, nyata lan mbotenipun kedah kadumuk piyambak.

c. Pengalaman Bab Mati (Ing Alam Kubur).

SAREHNING Dat punika nglimpudi lan kanggenan sipat-sipat gesang lang langgeng, pramila ing pundi kemawon papan lan dunungipun, kawontenan, mesti kalimpudan, senajan ta wonten ing alam kubur pisan. Dados ukuran langgeng punika, ingkang tiyang donya nyebat, jalaran seged ugi namung lelandesan urip, tumrap ukuranipun Pangeran pranyata TETEP wontenipun, senajan ta mboten saged dipun icipi dening tiyang ingkang taksih gesang.

Rupi jene utawi abrit ingkang wonten ing sekar punika, bade ical samangsa sekaripun sampun bosok (alum, aking). Dateng pundi rupi-rupi wau? Sejatosipun sekar-sekar punika namung nampeni rupi minangka wadahipun rupi ingkang asli, ingkang sipatipun mboetn saged dipun ngretosi.

Ing langit katah mega, lintang-lintang lan kawontenan-kawontenan ingkang ing lumahing bumi mboten wonten. Ingkang nggumunaken punika kedadosanipun KLUWUNG ingkang rupinipun abrit, kapuranta, biru, petak lsp, rurupen ingkang nengsemaken. Sasampunipun ical lajeng dateng pundi purugipun warni-warni wau? (kita ugi saged ndamel kluwung). Lan saking pundi rerupen-rerupen wau asalipun ing sakawit?

Wangsulanipun saged damel kodeng. Miturut akal pikiran punika sadaya asal saking sunar soroting lintang-lintang lsp, utawi saged ugi either (gelombang ingkang ngebaki jagad). Pitakenan saking pundi asalipun rupi ingkang dipun darbeni lintang, yen ta asal saking lintang? Pepuntoning nalar : jibeg.

Sedaya punika namung tulada sawatawis lan tetela sanget bilih jagad punika namung sadermi nampi hakekating Dat. Ugi ing hakekating gesang manungsa namung sadermi nampi, kadosdene sekar sadremi nampi rupi abrit lsp, samanten ugi ing kubur, ing lagit, ing pundi kemawon gesang (sipat gesang) punika tetep wonten.

Sapunika mangsuli bab pengalaman pejah ing alam kuburipun piyambak-piyambak, makaten suraosing dalil : Qur’an 102 surat Al-Hadji;

“Deweke pada ora krungu unine sedeng deweke tetep ngrasakake apa-apa kang ditresnani dening nafsunu”

Qur’an 10-11 surat Al-Ma’arij ;

“Ing nalika iku ora ana takon-tinakon (tulung-tinulung, weh-wineh) marang sapa wae. Deweke pada pandeng-pinandeng ; kang rumasa dosa pada ngarep-arep, supaya ing dina iku bisa nebus awake sarta anak-anake”

sapinten melokipun ayat-ayat Suci punika. Ing ngajeng sampun katur kadospundi, lelampahan ing pasupenan punika saged katebus, manawi ingkang nyupena sampun wungu (tangi).

Sapunika kados pundi pengalaman ing pejah ? Babaran punika namung kirang langkung ngeplegi wedining ayat-ayat suci piyambak, dados dapur analisa (pemanggih), awit sami-sami dereng nate ngicipi pati.

Sareng gumletak arupi bangke, roh ingkang oncad tetep gesang, awit taksih kaserenan sipat gesang (angka 10 saking sipat 20), kanti taksih kakantilan rasa eling (rasajati). Sarehning sipat gesang saha sipat-sipat sanesipun taksih njumenengi, pramila lelampahanipun roch ugi manut ingkang njenengi.

Sipat pundi ingkang mboten tumut-tumut lelana ing alam kubur ?

Ingkang tumut lelana inggih punika :
Sipat angka 5 : Qiyamuhu bi nafsihi.
Sipat angka 10 : Hayyat.
Sipat angka 12 : Bashar.

Kakintil dening : Rasa jatinipun piyambak-piyambak. Dene sipat-sipat sanesipun, senajan kantil, nanging mboten makarti.

Tilem punika nglangkung LALI, nanging yen pejah nglangkungi ELING (byar kadya nonton gambar hidup), jalaran sipat uninganipun makarti, inggih punika ingkang temempel ing rasajatinipun.

Bentenipun kaliyan melek, rasajati punika mboten makarti-makarti lan mboten uwal saking lingkunganing astendriya. Sasampunipun pejah, uwal saking lingkunganing antendriya (pancadriya, warana, kijab), mila lajeng makarti tanpa aling-aling malih, longgar tanpa wangenan.

Lelampahanipun (kahananipun) ROH ingkang nilar raga punika sami kaliyan lelampahan ing alam tilem lan semedhi (yogha). Raganipun risak, dados pancadriyanipun (astendriyanipun sebagian) tumut rusak ugi, pramila pun roh lajeng mboten saged wangsul sesambetan malih kaliyan wadagipun.

Yen supena, senajan giris lsp, saged tambar amargi melek, dene yen pejah pengalamanipun, panandangipun roh tetep ajeg makarti ngraosaken pengalaman-pengalaman ing kubur lan mboten bade saged nglilir utik-utik raganipun, Cetanipun makaten :

Oncading roh, nunten ngraosaken tabeting tri indriya nalika makarti ing donya (rikala gesang). Yen nalika gesang ngangsa-angsa ngumbar hardaning nafsu lsp. (mrisanana bab mati Qur’an 102 Al-Haji), pengalamanipun roh ugi tetep bade ngraosaken tabeting nafsunipun. Wondene bab rumaos, upami wonten gamelan ngrangin, tetep mboten saged mireng (ora duwe kuping), dipun sembeleha, tetep mboten saged ngraosaken awit rasa panggepok mboten gadah, rumaos ketabrak motor, tetep namung ajrih saha ketir-ketir ingkang ajegan. Kadospundi penandanging roh salajengipun.

1. Upami nalika ing donya : tindak dursila, nyenyolong, memejahi bangsanipun, punika roh nunten bade nandang getun? Ing donya ketaman raos getun-getun sampun timbul, ing kubur raos getun-getun tetep makarti, mboten saged kabucal ngangge punapa kemawon. Wallahu alam namung kersaning Pangeran ingkang saged ngluwari penandang-penandang wau.

2. Saking hardaning pepinginan saha napsu nalika ing Donya, sareng pun roh ngoncadi, lajeng ugi bade sumerep ceta punapa ingkang dados pepinginanipun nalika gesang, jalaran nalika roh ngancik alam kuburipun, nunten tabet pakartining indriya ingkang sigih napsu lan pengin wau makarti.

Dangunipun OENANDANG MBOTEN SEKECA WAU namung Ingkang Kuwaos ingkang priksa. Keterangan ing nginggil wau inggih raosing siksa kubur, ingkang adakan kesebat neraka. Dados raos-raos wau, asal saking penandang jalaran saking pakartinipun peyambak. Kados pundi anggenipun bade ngendani panandang-panandang punika. Wangsulanipun : tetep mboten saged, awit WIS ORA DUWE AKAL / PIKIR.

Sedaya wau kadosdene penagihipun rasajati dateng ingkang nggaduh. Dene werdinipun ayat Al-Ma’arij 10-11 ing nginggil punika suka pepenget, yen nalika nandang siksa kubur punika sayektosipun mboten wonten ingkang bade nuweni, mboten bade wonten ingkang tetulung nebus.

Inggih ing alam kubur punika, saged nyawang nanging mboten saged njaluk, lan sering kataman rumaosing pengalaman nalika ing donya, nanging piyambakipun mboten saged punapa-punapa, sagedipun namung ngraosaken kepengin, ngangsa-ngangsa, getun lsp. ……………. ajegan.

Bade ngeling-ngeling ingkang sampun kapengker, malah saya mewahi raosing panandang. Rasa eling ingkang sampun mboten mawi aling-aling pancadriya (wadag) punika makartinipun tansah lumintu ejog-ingejog tanpa kendel, awit namung sak dermi mbeber tabeting indriyanipun ingkang kawengku.

Wondene penandang-penandang wau sagedipun malih utawi santun lelampahan menawi si rasajati (rasa-ingat) punika ugi santun pakartinipun. Ical rumaosing panalangsa, rasajati sakeclapan ngedalaken raos sisah, ical sisahipun, gantos raosing ajrih, makaten salajengipun, kados lampahipun JAM. Detik 1 nglancangi deti 2 sapiturutipun ngantos detik 12, wangsul malih dateng detik angka 1 ……! Nanging senajan salin rasa, ewasamanten taksih nami rasaning panandang ingkang tanpa kendat.

Tetela tumrap rohipun sinten kemawon, tetep bade nglangkungi alam kuburipun. Inggih penandang punika kadadosanipun nalika si roh klambrangan ing kubur. Awit menawi mboten klambrangan, punika namanipun sampun gadah pencokan, gondelan, panggenan utawi papan palerenan. DATENG PUNDI PUN ROH ing salajengipun.

Rehning andaran bab punika panjang la gegayutan kaliyan bab-bab ingkang ghaib (ora maunjud, nanging kenging kabuktekaken), kasunyatanipun sedaya sagedipun kadenangan bilih kakenyam sarana raos lan kabuktekaken sarana conto-conto lelampahan.

Ing Serat Wirid Hidayat Jati wonten tetembungan makaten :  aburing eroh punika baboning dumadi. Wonten leresipun, awit Hidayat Jati punika arupi babon wirid.

Tembung ABURING EROH teka malah BABONING DUMADI ?. Terangipun kados ngajeng-ngajeng ; sedaya ingkang ngemasi punika rohipun mesti mabur klambrangan ngayahi penandang. Ingkang kadunungan roh punika sanesipun tiyang ugi kewan-kewan, tanem tuwuh lsp. Rohipun tiyang pejah punika mesti nglangkungi alam peralihanipun (alam kubur), tegesipun : sesampunipun gesang ing donya, nunten gesang ing antawisipun “gesang ing laladan kubur” kaliyan “gesang malih badenipun” ing donya ingkang ugi abadan wadag (manjanma). Dados manjanma punika mesti kedah nglangkungi alam kubur (bardzah). Murih terangipun makaten :

Kula nembe wonten ing latar ngajeng. Inggih pelataran punika, “alam kula” sekawit. Manawi kula bade dateng wingking (bale mburi), kula mesti kedah nglangkungi griya tengah. Inggih griya tengah punika sejatosipun ingkang kasebat alam alihan kula. Sasampunipun makaten, kula nunten dateng latar wingking, ingkang kawontenanipun meh sami kaliyang ing ngajeng wau.

Dados ingkang kasebat ngambah alam alihan punika inggih nalika ngliwati KAMAR TENGAH PETENGAN, punika ingkang kapindakaken KUBUR. Conto ing nginggil punika lelampahaning wadag, gantos sapunika lelampahaning raos (kajiwan) saben dinten.

Saben tau Bapak tani mesti nanem pantun. Sareng panen, asilipun dipun teda salebeting 3 wulan telas. Ing wulan kaping sekawanipun nanem pantun malih sinambi nyambut damel sanesipun, ngantos dumugi panen malih. Isining lumbungipun kebak, nanging kateda saben dinten telas ngantos 6 wulan.

Salebeting 6 wulan wau Bapak tani kapeksa kedah ngalami sisah (ngrekaos), awit kedah merangi ama, banjir lsp. Sadangunipun 6 wulan punika tansah ketir-ketir manahipun (bab raos), panen lan mbotenipun`mujudaken tanda pitakenan. Inggih salebeting 6 wulan (pangrantosipun Bapat tani) wau ingkang kapindakaken “alam alihan”, ingkang saestu ndadosaken geter. Manawi kaleresan, tamtu bade nguduh pantun malih ing tau salajengipun. Dados ing salebeting gesang bebrayan, Bapak tani ngalami : a. 3 wulan seneng, margi panen, b. 6 wulan kedah nengga kanti manah tida-tida, c. Bingah margi panen malih.

ING Kalawarti Jaya Baya wonten cuplikan saking Bhagawatghita ingkang suraosipun makaten : “Sing sapa-sapa margawe dedasar Pamrih antuk Wohe, tegese adedasar pamrih pribadi, bakal Kabanda (kaiket) dening Karma, dadi ora oncad saka kadonyan, bakal tansah bola-bali manjanma urip ing Donya abadab wadag”.

Bilih makaten lelampahanipun, punapa titiyang limrah bade sami saged awadag malih? Jer tiyang makaten mesti kebak pamrih / pepinginan / nafsu lsp.

Tembung wau namung pangaran-araning  tiyang ingkang sampun saged mbuktekaken, mila ing ngriki perlu kajereng murih terangipun. Menawi  lamban, tembungan ABURING EROH teka malah dadi baboning dumadi lam PAMRIH kemawon teka saged njalari manjanma, punika mestinipun ngayawara.

Kateranganipun :

Pamrih : punika mboten ngemungaken tumuju marang barang kasatmata kemawon. Senajan ingkang rupi pengaji-aji, pangalem, wah lsp,. Ugi taksih kasebat pamrih, jalaran ingkang gadah pamrih nakaten wau, ing batosipun mesti mbudidaya “kepriye bisane aku di UWAH!” Inggih panguneg-uneg punika ingkang njalari wontenipun TABET, nabeti deteng indriya, sebab kagengen PANGANGSA-ANGSA. Mangka pamrih punika cacahipun maewu-ewu, wonten pamrih (melik) drajat, keramat lan semat.

Punapa leres punika sampun leres menawi namung sak tetembungan kemawon. Ayat Suci ing Qur’an 12 : “Seyektine Ingsun anguripake uwong-uwong kang mati lan nulisake apa-apa kang  dadi tabete. Sawiji-wiji iku Ingsun tulis ing sajroning kitab kang terang”.

Makaten, pangiyating wewerdenipu Hidayat Jati lan Bhagawatghita ing ngajeng ; dados terang sanget, bilih tembung aburing eroh dados baboning dumadi punika mesti wonten sabab-sababipun, ingkang asalipun ugi saking badan piyambak-piyambak, liripun menawi wonten pengalaman saking njawi punika namung minangka lantaran wontenipun tabet. Dados ayat wau sumerep, yen ingkang nyebabaken wong mati bali maneh, roh ingkang wonten ing alam kubur taksih kalepetan ing tabeting tri indriya, inggih punika tabeting kadonyan ingkang kendel kados ketrangan nginggil wau. Patokanipun makaten :

Rohipun tiyang punika ing alam kubur klambrangan kantipenandang, dumadosipun gesang ing Donya abadan wadag malih.

Ing ngajeng sampun kababar, bilih ing pundi-pundi papan lan padunungan manungsa tetep kalimpudan ing sipat GESANGIPUN ALLAH.

Kasaripun wewerden-wewerden makaten : Sinten kemawon bilih erohipun teksih binuntel ing pamrih (katabetan), senajan ta mati kaping 6 (enem), tetep bade ngalami urip malih abadan wadag ingkang kasebabaken dening pakartining indriya, mila kenging kasebut karmanipun piyambak-piyambak. Tegesipun : bakal nyaur marang daemane (pakartinea0 dewe, dereng pedot-pedot yen dereng katurutan sedyanipun (pamrihe, pepinginane, nafsune).

Kados pundi menggah lelampahan salajengipun dene lajeng saged gesang awadag malih ? Punapa punika mbeten cengkah kaliyan ke-islaman ?.

Sarehning ingkang karembag punika rohipun tiyang, pramila mencokipun inggih dateng tiyang. Sedya ing ngriki namung bade angudari wewerden “inna lillahi wa inna illahi rojiun” asal saking Pangeran wangsul dateng Pangeran, mboten wangsul dateng Donya. Ing ngajeng-ngajeng sampun kapaparaken, bilih tiyang punika sayektosipun saged marak ing ngarsaning Pangeran (islamu) lan pangudinipun mumpung taksih gesang abadan wadag punika sarana nyatakaken (makripatullah).

Saged ugi lajeng wonten pangudaraos makaten : “Sarehning mbesuk bakal urip maneh, yen magkono dak anduweni sedya (pamrih) kang luwih luhur katimbang saiki iki”.

Sedya punika sanes ngelmu, nanging nafsu. Miturut ungelipun Dalil Qur’an surat Assajdah (serat Hamim) ayat 31 makaten :

“Ingsun mimpin sira urip ana ing donya lan akherat ; ing kana sira bakal antuk apa-apa kang sira pingini lan apa-apa kang sira suwun”.

Punapa sedaya sedya punika mesti lajeng katurutan? Mila makaten, jalaran ingkang katah-katah namung kendeg ing sedya, kasengguh menawi punika bade katurutan kelawan piyambak.

Sedya ing donya punika katurutan, menawi kasaranani lampah. Roh punika mboetn teka lajeng otomatis saged nggerbani wadag malih. Ing ayat-ayat wau sampun ceta, kapratelakake bilih ingkang saged nuntun lan nguripi punika namung Pangeran, keteranganipun : Penandanging roh wonten ing alam kubur wau, sagedipun wangsul marak ing ngarsaning Pangeran ugi saking kersaning Pangeran, lan sagedipun wangsul awadag malih gesang ing donya ugi saking kersaning Pangeran.

Nalika wonten ing Donya, pepinginan-pepinginan punika estunipun katah icalipun, awit kaslimur dening kawontenan rupi-rupi, ewasamanten, punika tetep nami ngraosaken angles, getun, sisah lsp; margi kabanda ing kadonyan (melik) warni-warni, dene raosipun ugi warni-warni tur sanes raos nikmat lan seneng. Pinten dasa taun anggenipun bade nandang, senajan ta idam-idamanipun luhur, punika ingkang Priksa namung Pangeran.

Keterangan sakedik bab getun, sisah, angles, raos mboten sekeca. Punika penandanging roh (jiwa) ingkang kanti-kantilan rasajati saha ingkang katebetan nafsu-nafsu wau. Sarehning punika TABET ; pramila lelampahan-lelampahan “punapa” kemawon ingkang sampun katindakaken nalika ing Donya, ing alam kubur bade tansah ngengataken. Raos GETUN punika bade ngicalaken penandang wau, nanging tetela mboten saged. Cekakipun ngoncati raos sisah, maras, miris, ajrih lsp., tetep mboten bade saged, lelampahan-lelampahan ingkang nalika ing Donya mboten patos dipun paelu, ing kubur prasasat sami ngetawis lan crita.  Pramila dalil surat Yasin ayat 65 nyebataken : lan anggotane badane pada matur dewe-dewe. Ayat punika ugi wonten pangiyatipun, pirsanana serat Yasin 12, ingkang wosipun : rasajati ingkang kalepetan ing tabeting nafsu-nafsu wau sami criyos piyambak-piyambak, liripun ngatawis lan karaosaken (kacocogna kaliyan pengalaman-pengalaman ing turu).

Dene roh ingkang KEKERSAKAKEN dening Pangeran kedah wangsul gesang awadag malih wonten ing alam donya punika ugi taksih TETEP ambekta TABETING pakaryan-pakaryan, kelakuwan, pamrih, melik, nafsu lsp., sedaya ingkang nalika ing Donya rumiyin dereng keturutan (kadumugen ing sedya). Dados “punapa” ingkang kabekta dening nafsunipun, tetep nglepeti.

Ing serat yasin ayat 12 nginggil wonten tembung : “lan anulisake apa-apa kang dadi tabete” Keteranganipun makaten :

Gesang dateng donya malih kanti mbekta tabeting pamrih. Ingkang makaten wau pramila lajeng wonten kadadosan bayi lair, sareng diwasa dados bajingan,pandita, presiden, dokter, pahlawan, pengacau, dagang, tukang lan sanes-sanesipun awit sedaya tabeting pamrih / nafsu / pepinginan, sampun katulis ing jiwanipun, maksudipun nabeti. Tulada sawatawis :

6.1.1 : Suta, putranipun Wedana, watakipun prasaja, anteng, jatmika, meneng, sigit pisan. Nanging punapa dene gadah mengsah? Sababing  memengsahan wau awit sami-sami mburu sengit lan geting, mboten purun ngalah.

6.1.2 : Beja lare pidak-pedarakan, rupinipun awon, tur ciri pisan. Nanging punapa sababipun dene kelakuwanipun sae, sumanak, lsp. ; saha kanca-kancanipun sami trisna, purun kurban kangge kabetahanipun Beja.

6.1.3 : Ing Blitar wonten tiyang motel lotre no. 1, kamangka piyambakipun punika sayektos namung cobi-cobi tumbas lot kemawon, wusana lajeng sugih dadakan. Engeta “punika” namung sak jajal-jajal, kok temenan.

6.1.4 : Lare anakipun kaum berah, kalairaken ing alam paceklik. Gesangipun tansah ngenger-ngenger tiyang, ingkang manut pangancasipun sageda ngragadi sekolahipun. Dados menawi mboten kasekolahaken dening Bendaranipun, aluwung mboten. Sapunika ndadak dados ahli Kehutanan (remen mikir bab ke-Allahan).

6.1.5 : Bung Karno, punika putra Mantri Guru Sekolah Rakyat ingkang sakedik pamedalipun. Nalika timuripun Bung Karno sekolahipun pinter ngantos saged pikantuk titel Insinyur. Punapa dene mboten makarya ing babagan bangunan, nanging malah dados satunggaling ahli politik? Tulada-tulada kados makaten pinanggih ing Indonesia kemawon, nanging ing pundi-pundi. Ingkang wigatos bab punika : ora pilih-pilih wong ! sayektosipun : Jiwa ingkang taksih kalepetan ing pamrih (nafsu, idam-idamanipun suwau lsp.) namung sadermi nerusaken tabeting pakartining pamrih lan nafsu duk rumiyinipun.

Allah “nguripake wong mati” punika kados tulada ing nginggil, ingkang kagesangaken rohipun. Saking conto-conto wau saged kapilah, pundi ingkang idam-idamanipun luhur lan pundi ingkang asor lan kaprahipun mboetn karumaosi dening ingkang ngawaki.

SADERENGIPUN mbabar conto-conto ing nginggil (6.1.1 – 6.1.5) prelu nlusur tembung KASTA, ingkang asalipun saking fahan HINDU, lan sampun maewu-ewu taun umuripun. Kaprahipun kasta punika kasengguh KLS    BEBRAYAN, nanging lungunipun mboten makaten. Kasta punika wontenipun saderengipun wonten agami Islam samangke punika lan tumrap bebrayan universal (ngebeki donya) maksudipun PERANGANING GESANG ingkang sampun CUMITAK, tiyang mboten saged damel.

1. Brahmana : punika golonganing para ulah pikir. Wiwit jaman rumiyin ngantos sapeiki tansah wonten tiyang-tiyang ingkang makaten punika (Pandita, Wiku, Biksu, Tapa, Failsasuf, Theosoof, Pengarang, Mystikus ahli Tasawwuf, Beguron lsp.) ingkang PAKARYANIPUN ULAH BATIN.

2. Ksatrya : punika kapanggih ing WATAK, yen maton, kepanggih ing para ulah kridaning ayuda remenipun leladi dateng bangsa masyarakat kanti sepi ing pamrih, wedi ing wirang wani ing gawe, tekadipun namung memayu ing tanah wutah erah. Punika, tumrap tata lair. Dene tumrap tata batin, tityang ingkang nggadahi TEKAT sinatrya wau mboten ngemungaken prajurit kemawon, nadyan anakipun Jebrak utawi sentena kemawon …… ing donya mesti bade kepanggih tiyang-tiyang ingkang remen laladi.

3. Wahisya : punika ingkang sami ulah pendamel bangsanipun kaum kriya.

4. Sudra : punika tataran asoring jiwa. Wonten ing bebrayan dipun awaki dening bajingan, pelanyah, kere, kecu, pengacau lsp., senajan manggen ing laladan punapa kemawon. Dados kasta punika sami kaliyan tataran utawi PEPRINCENING LELAMPAHAN-ing manunga ing salebeting gesang, ingkang namung saknurut kemawon dateng dasaring TABET ingkang kabekta suwau-suwaunipun. Dene ingkang ngresakaken wontening pepricen-peprincen wau namung Pangeran piyambak, cocok kaliyan ayat suci Qur’an ingkang suraosipun makaten : Suwiji-suwijine iku wus Ingsun tulisake ing ndalem KITAB KANG TERANG……….! Ing basa pesantren, saged ugi kitab kang terang punika kasebut LUHZMAHFUDS (basa Indonesia Garis Hidup), garis ing lelampahan ingkang kasebabaken dening manungsa piyambak.

Wewadosipun :

a. Pangeran nganani luhzmahfuds, ginelar ing donya kalawan tetep. Saderengipun wonten titah, peranganing gesang (luhzmahfuds) sampun cumawis wontenipun 4 tataran.

b. Manungsa saged mbirat luhzmahfuds punika. Sarana darmanipun (pakartinipun) piyambak, ngoncadi jejering garis-gesang wau, upaminipun sarana “ islam, sumarah, suci, pasrah ; ngudi jumeneng MAKRIFAT.

Miturut lampahan-lampahan ingkang katuladakaken, sugih, miskin, pangkat lsp., wau sampun nerusaken tabeting idam-idaman. Pramila pocapan panitisan punika dasaripun leres, sged kagatukaken kaliyan ayat Suci surat As-Sajdah 31 ingkang mungel : “Ing kana  bakal antuk apa-apa kang sira pengini lan apa-apa kang sira suwun”.

Ω

SAREHNING Pangerah punika asipat WENANG gek mangke roh ingkang  kagesangaken punika mboten abadan wadaging manungsa, gek lajeng kagesangaken awadag bajul upaminipun. Kang mangka bajul punika satrunipun manungsa lan manungsa saged nandukaken panguwaospun (mbedil, mbacok lsp), iba sakitipun.

Pramila tumrap pangudi Kasunyatan, kedah mbengkas tegkliwering manah. Ing ngandap punika udar-udaranipun tulada ing ngajeng, angka 6.1.1 – 6.1.5, makaten :

a. Sejajan si Suta putra Wedana, punika sejatosipun namung gebyaring lair. Duking nguni, saderengipun Suto wonten, jiwa (eroh) ingkang MANGGEN ing Suta samangke dalah kancanipun punika KALEPETAN  pakartining (tabeting) nafsu memengsahan. Sapunika ingkang NGUNDUH awohipun, Suta.

b. Senajan si Beja anakipun tiyang pidak pedarakan, nanging kaserenan tabeting kelakuwan luhur. Ingkang ngunduh kesaenan wau inggih sanes tiyang sepuhipun, nanging si Beja.

Tabeting pamrih, pepinginan, nafsu  lsp. wau, mboten lajeng kaunduh sanalika kemawon. Saged ugi sasmpunipun mataun-taun, gesang ingkang bade kalampahan malih sarana idining Pangeran. Gusti Allah mimpin sedaya panyuwun-panyuwun sarana kagantos wadag sanes.

Saminipun katerangan-katerangan ing ngajeng bab Kenabian : Nabi-nabi wau sarehning sami tekadipun (monotheisme), anekadaken ALLAH punika SATUNGGAL lan ESA, pramila Nabi Ibrahim, Musa, Isa lan Muhammad saw, punika ugi namung SATUNGGAL.  Dados sokmakatena Nabi Muhammad saw punika namung nerusaken Kenabianipun Nabi-nabi sakderengipun.

Mila leres, para Theosoof kagungan tekad, yen “meester” utawi Panuntun Agung punika abdan wadag, kempal bebrayan ngenggeni darmaning gesang. Dene panjalmanipun “meester” punika milih titiyang ingkang saged kapanggenan, upamanipun : tiyang remen paring obor datenf bebrayan ingkang sasar. Punika pepindanipun Sang Hyang Wisnu manjanma angedaton ing salah satunggaling tiyang. Inggih jalaran wontening roh-roh luhur ingkang sok manjanma punika, mila lajeng wonten kasta Brahmana.

Sapunika bab tulada angka 6.1.5. ing abad kaping 14-san wonten satunggaling Nindya Mantri asmanipun Mapatih Kino Gajahmada, ingkang damel panjang pungjungipun nagari Majapahit. Ing ngriki ingkang wigatos sanes riwayatipun Gajahmada, nanging idam-idamanipun, inggih punika NYUWIJEKAKEN (Ind. Mempersatukan) Bangsa Indonesia ingkang umadeg saking suku-suku katah saget. Pratikelipun Gajahmada nalika semanten sarana ngawontenaken pepayung, minangka gagaran panata praja, (Indonesia-nipun mukadimmah) inggih punika Sila-sila ingkang kadadosaken dasar. Nanging saderengipun sila-sila ingkang kakersakaken wau dados, kasaru wontening daredah antawisipun para manggalaning praja.

Miturut lampahing sejarah Tanah Jawi senajan mboten kaserat sila-sila ingkang kakersakaken dening Ki Patih Gajahmada  punika inggih ingkang samangke kesebat PANCASILA punika.

Sapunika kacocogna kaliyan pidatonipun Presiden Ir. Soekarna nalika nampi gelar Doctor Honoris Causa ing Universitas Negeri Gajahmada ing Ngajogyakarta. Makaten sesorahipun : “Saya bukan pencipta Pancasila, tetapi saya seorang Soekarno ini hanya sekedar MENGGALI sila-sila iyu yang sejak beratus-ratus tahun telah berurat berakar didada Bangsa Indonesia, ialah PANCASILA”!

Makaten suraosing sesorah ingkang gandeng kaliyan Wedaran Wirid. Semanten ugi sesorahipun nalika ngepyakaken Rapat raksasa Kongress Rakyat ing Surabaya.

Bung Karno kawiyosaken ing Blitar ing tahun 1901M. Tuwuhing pangraos : “Apa Bung Karno wis semayan karo Patih gajahmada?” punapa sebabipun sene idam-idamanipun Bung Karno sami kaliyan idam-idamanipun Gajahmada. Mangka miturut tatalair, sasurudipun Gajahmada ngantos sapriki punika sampun 6 atus taun.

Ing donya pundi kemawon, saderengipun wonten agama Islam, Kristen lsp., sampun wonten (isen-isenipun) Pandita, Filsuf, Sufi lsp. Saben tiyang mboten perduli beragami utawi mboten, bangsa punapa kemawon, MESTI MALEBET ING SALAH SATUNGGILING kasta punika (Al-Buruj, 19).

Wondene tumrap PAKARYAN ing madyaning gesang bebrayan, TETEP wonten ing kahanan  ungeling ayat Suci Qur’an Al-Annaam 132 : siji-sijine uwong iku anduweni derajat dewe-dewe miturut pakaryane.

Pranyata menawi kamanah, kasta-kasta tumrap ukuraning Gusti Allah punika dumunung ing tataraning batin, tegesipun manungsa mung SADREMA nglakoni. Dene ukuraning tiyang gesang : mboten ngrumaosi wontening kasta-kastanipun piyambak-piyambak, nanging “lemlampahan” tumuju dateng kastanipun piyambak-piyambak (Luhzmahfud).

Sababipun ingkang ngayahi KATABETAN sifating jiwa (roh) ingkang miturut idam-idamanipun rumiyin dereng malebet (nurut) tundoning kastanipun. Tegesipun : senajan ta sapunika asor manggen ing kastanipun piyambak, saderengipun katurutan manggen ing kasta inggil piyambak, tetep majanma prelu nuju dateng kasta ingkang luhur (evolusi). Pinten taun lelampahan nuju dateng luhuring kasta (luhzmahfud) punika, namung Pangeran ingkang priksa.

Ngewahi nasib punika pratikelipun kedah sarana mbudidaya mboten namung nrimah manggen ing kawontenan ingkang nembe dipun alami samangke. Punika pancenipun inggih pamrih (pangiketing kdonyan) nanging lugunipun mboten nrimah dateng kawontenan PENGRAOS samangke kemawon lan tansah mbujeng kamulyan lan nyuwiji, sebab : “wus kesuwen anggone ngalami kastane”

Ω

TIYANG gesang punika kedah tansah emut, bilih saparipolahipun tansah nandang BEBANDAN njawi / nglebet. Bebandan njawi rupi alangan-alangan saking ngasanes, para satru (6.1.1.) ingkang rohipun katabetan raos geting, memengsah lsp : inggih pakartining eroh ing rumiyinipun ingkang tansah ngresahi. Kawontenan makaten punika kepanggih ugi ing kalanganing brayat piyambak (anak, semah, mara sepuh, embah, lsp.). dados ing antawisipun brayat piyambak ugi wonten ingkang dados mengsah (enget tabet), kados ingkang kaceta wontening Qur’an serat At-Taghabun 14 : “He wong-wongkang pada iman, sejatine ing antarane bojo lan anak-anakmu ana kang dadi satrumu, mula saka iku sira waspada !”.

Satru ing ngriku, ateges panjanmaning jiwa ingkang kalepetan sipat asor. Kados pundi lika-likuning gesang nuju dateng satunggal-tunggaling kasta (garis gesang) sampun ceta. Samangke saking pundi asalipun luhzmahfud wau !???. wangsulanipun bade kapanggih andaran salajengipun.

Sarehning garis gesang punika tataranipun tetep 4 warni, ing ngandap punika wonten wewerden minangka paseksen lan ing salajengipun supados mboten ngodengaken :

1. Suta mboten mangretos garis-gesangipun. Sarehning mboten sumerep, mila lajeng rekes padamelan, saged katampi lan kadadosaken pegawai tinggi sabab pancen pinter lan nyekapi.

2. Ing satunggaling wekdal, Suta katangkep awit konangan anggenipun korupsi saha lajeng dipun kunjara. Brayatipun sami kateteran, nandang kasisahan lan wangsul sami dados mlarat malih kados nalika lair sepisan. Medal saking kunjara. Suta kapeksa dados tiyang ngemis, senajan secara migunakaken lampah alus (mawi les-derma). (Mirsanana ayat-ayat surat Al-Annaam 132. Al-Ra’du 11, kacocogna kaliyan ayat Al-Fath 23).

Wedaranipun makaten :

Miturut tulada nginggil nomer 1, Gusti Allah mboten ngewah sunahipun, tataran sudra ing Donya TETEP WONTEN. Dene tindakipun Suta wau tuwuh saking sedya ingkang katabetan jiwa asor (sudra). Gebyar gagah, pangkat mentereng, pinter lan cekatanipun njalari Suta sengkud ing panindak-panindak wau, dados piyambakipun nglenggahi kawontenaning ayat Qur’an surat Al-Ra’du II, liripun : Pangeran ora bakal ngowahi apa-apa, yen deweke ora ngowahi……! dados ewahing lelapahanipun si Suta wau margi saking tindakipun piyambak, sanes saking kersaning Gusti Allah.

Ing saupami Suta ngretos, mesti mboten bade ngalami lelapahan-lelampahan makaten punika, mboten bade wangsul sudra malih (saged uwal), sarana kodratipun mestinipun saged ngoncati korupsi. Dados keteranganipun : Suta tetep dados isen-isening luhzmahfud asor.

Ringkesan  :

aa. Sunnah : peraturan undang-undang hukum Allah, kadosta : wontenipun kasta-kasta, luhzmahfud, paten-pinaten, wirang nyaur wirang, mati, urip, lair, wiji tukul nunten awoh, bumi, planet tansah mubeng, wiwit jaman kina mboten brebah, panggah makaten.

bb. Sunnah : tumrap lelampahan wonten 4 tataran, tetep punika wontenipun lan mboten saged ewah gingsir, nanging saged kaewahan dening tiyang ingkang taksih gesang abadan wadag. Ewahipun saking sakedik, upaminipun saking Waisya, minggah dados Satrya saterusipun, gumantung dateng pakartinipun nalika gesang.

cc. Luhzmahfud (kitab terang), garis hidup. Inggih punika sugih, miskin, bodo, pinter, kepenak, ora kepenak, gendeng, waras, pangkat, kere, negja, cilaka lsp., tetep wonten. Liripun luhzmahfud punika agem-agemanipun tiyang satunggal-satunggal ingkang piyambakipun mboten tumut-tumut ndamel. Ingkang mahanani inggih punika : jiwa ingkang manjanma wonten ing angganipun mbekta TABET.

Kadosta : tabeting durjana, anabeti jiwa dursila (pundi-pundi wonten), senajan pangkat sugih, lsp. Utawi tabeting dursila, nabeti panindak : madon, mangan, maling, lsp. Tabeting jiwa sae tukul (nabeti) sae, luhur, pandita, mukmin lsp. !

Makaten lelampahan-lelampahan ingkang tansah mubeng mbrebawani bebrayan.

Sumber buku Wedaran Wirid I, Ki R.S. Yoedi Parto Yoewono. Surabaja : Djojobojo, 1962-64.
—————————
Alang Alang Kumitir

PENGALAMAN SHALAT MA’RIFAT (SEMADHI)


Bab 10

PENGALAMAN SHALAT MA’RIFAT
(SEMADHI)

Karena pokok utama Semadhi (shalat Ma’rifat) hanya untuk menentramkan pikiran (astendriyo-jawa), kalau sudah tentram sementara, dimata seperti tidur-tidur ayam atau pejam mata lalu ada rupa-rupa atau gambaran sepintas lalu tidak terang dan selalu berubah warna, terkadang getaran, ada bayangan-bayangan yang tidak jelas, berarti pikiran belum tentram betul, lalu penglihatan rosojati (roh jasmani) masih belum sempurna.

Gambaran-gambaran tadi semua penglihatan gaib, yang keluar dari badan sendiri, tidak dari mana-mana, dan leadaan itu terpaksa dianggap mengetahui gaib, lalu diterima dengan baik dan dirahasiakan.

Semua itu salah terima, menjadikan tidak benar (kesasar), salah arah. Gambaran-gambaran tadi hanya rekaman pikiran (tabet/warono-jawa) dari kerjanya perasaan (astendriyo-jawa) yang tiga banyaknya;
1. Keinginan;
2. Angan-angan (krentek-jawa);
3. Pikiran.

Di Wiridan pengalaman dan gambaran-gambaran tadi disebut Kijab (tirai pembatas) yang timbul dari kemauan nafsu. Jadi jangan dianggap gaib, sebab itu tadi banyak orang-orang yang cenderung dengan pengalaman tadi, lalu diubah-ubah (kutak-katik-jawa) cocok apa adanya, hasilnya menerima apa adanya.

Keterima (diterimanya) shalat tadi lama, dan pengalaman tadipun lama, dan akan mencapai kepada pengalaman-pengalaman yang sangat berbeda dengan pengalaman-pengalaman yang diatas, pengalamannya rasanya sendiri yang menakut-nakuti (jumpa katak membawa senjata, kelabang, ular sebesar bantal dan lain-lain).

Jalannya pengalaman-pengalaman tadi begini : badan seluruh tubuh merasa ada semut berjalan, wajah merah semacam digigit semut, dan tubuh kita seperti ada ular berjalan, diperasaan seperti akan kita garuk (kukur-jawa), dipunggung terasa geli, dan tubuh seolah-olah akan terbang, dikepala pusing seperti mau pecah, ada suara seperti petir, kebanyakan orang takut langsung dibatalkan niatnya, karena seperti benar-benar ada, lalu langsung takut, lain waktu dicoba lagi. Ada pengalaman-pengalaman lagi yang sangat menakutkan; umpamanya ada ular keluar dari ibu jari, langsung naik keatas menaiki perut, langsung ketenggorokan (leher), naik lagi keatas seperti mau menelan kepala kita, semua itu seperti benar-benar ada, karena jiwanya lemah langsung batal dan bangun.
Semua yang menakut-nakuti para yang mengerjakan shalat Ma’rifat, jika sendirian lalu bangun, lari dan pingsan, jika kurang waspada bisa mati. Jika bisa lulus bisa disebut bisa membuka tirainya (Warono-jawa), dan tidak tidur, tidak terjaga, tidak lupa dan tidak ingat, itu baru disebut Ma’rifatnya Hakikat (belum Ma’rifatnya Ma’rifat / At’tauhid). Biasanya melihat cahaya terang tanpa batas, hanya sekejap mata seperti kilat, bahasa Wirid disebut Samudra Luas (Alam laut). Jadi disitu pengalaman Hakikat meninggalkan dalam keadaan tidak merasakan apa-apa; karena itu pengalaman sebenarnya belum bisa apa-apa, terkabulnya harus menghilangkan perasaan, dan harus merasakan aku sudah At’tauhid (nunggal sawiji-jawa) tingkatan Ma’rifat.

Selanjutnya seperti apa keadaan gambaran-gambaran Ma’rifatnya Hakikat itu; keadaannya beda yang menjalani beda pula alamnya, jadi jika digambarkan sama dengan orang tidak pernah merokok ditanya rasanya, tentu tidak bisa dijelaskan rasanya, Jadi yang mengetahui yang menjalani (situkang merokok).

Pengalaman selanjutnya akan diterangkan keadaannya berdasarkan pengalaman pada Dalil dan Hadist :

1. Di pedalangan ada kata-kata; mencari ilmu harus di wejang bagi Bharata Sena dengan Dewa Ruci, setelah Bharata Sena menerima ilmunya Dewa Ruci, Bharata Sena langsung senang sekali (Katrem jiwanya-jawa), di alam perjumpaan dengan Dewa Ruci.

2. Dalil dan Hadist menceritakan perjumpaannya Nabi Musa as. dengan Nabi Khaidir, Nabi Musa menerima wejangan-wejangan dari Nabi Khaidir, tetapi sebelum tamat, Nabi Musa sangat ingin bertanya ingin menegetahui semuanya rahasia itu. Sebelumnya Nabi Musa sudah dijanji tidak boleh bertanya apa-apa selama diwejang, contoh itu nyata disebut 1 dan 2, keterangannya selanjutnya berdasarkan Al-Qur’an Nul Qarim, Al-hadist, buku-buku pedalangan suluk Dewa Ruci. Firman Allah Qur’an surat Al-Kahfi : 65 ;

“Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Allah, yang telah Allah berikan kepadanya rahmat dari sisi Allah, dan yang telah Allah ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Allah”

Pengalaman-pengalaman yang akan jumpa di Dalil dan Hadist, keterangannya di Nomor 1 seperti diatas. Pokoknya shalat Tauhid, shalat Ma’rifat (Semadhi) membangunkan jiwa yang hidup memakai alat Roh Jasmani (rosojati-jawa), pekerjaan itu bisa dikerjakan sembarang orang tidak melihat apa ilmunya (gebengannya-jawa), yang penting bisa menentramkan pikirannya (astendriyo-sansekerta), berhentinya pikiran (astendriyo) mengadakan suara dan pengalaman macam-macam yang sebagian besar jalannya darah (tali rasa – jawa), umpama jalannya darah bisa teratur, astendriyo bisa berhenti (lerem-jawa), lalu bisa mengetahui apa-apa tanpa mata. Sesudahnya mengalami macam-macam tanpa mata, berhentinya pikiran, lalu terdorong oleh berdirinya (jumeneng-jawa) Roh (jiwa) yang hidup memakai Roh jasmani (rosojati-jawa). Dan rosojati (Rohani) itu melihat dengan terang, tidak bisa ditipu dengan kemauan Panca indra (nafsu). Jadi rosojati (Rohani) yang bisa melihat terhadap alam gaib tanpa memakai alat apa-apa. Karena yang mengerjakan masih segar bugar, seluruh pengalaman masih bisa diingat dan ditafsir, dan shalat Ma’rifatnya sudah selesai.

Menyimpan pengalaman-pengalaman membangun Roh hidup seperti disebut diatas, lalu ada pengalaman lagi yang menarik pikiran menjadi tenang dialam itu, yaitu penglihatan rosojati (Rohani) mengetahui jiwanya sendiri dikata-kata ilmuwan (Wedaran wirid), mengetahui diri sendiri atau bayangan putih (mayang goseto-jawa) seperti cerita Dewa Ruci selagi Brata Sena menjumpai Dewa Ruci ditangah samudra (alam luas), dan warna saudara sendiri (Roh Jasmani) ditafsirkan putih bersih, ada lagi ada tandanya aksara Alif dikeningnya, warna-warna tadi jernih dan keruhnya seperti keadaan diperut.

Karena warnanya seperti yang melaksanakan shalat Ma’rifat (semadhi), di pedalangan Dewa Ruci kecil, kerdil dan brata Sena tinggi besar seperti raksasa. Dialam perjumpaan merasa diwejang (diberi petunjuk) macam-macam. Jadi pasti ada seperti menyerupai dirinya, lalu tidak mau balik; terpukau senang dan betah (kerasan/katrem-jawa), disitulah adiguna (kekuatan) seperti kekebalan, dukun, pawang, hipnotis dan kekuatan-kekuatan gaib lainnya, tinggal memilih apa-apa yang dikehendaki, semua itu sebenarnya bukan tujuan utama menimbah ilmu Allah yang disebut Innalillahi wa innaillaihi rajiun (asal mula nira-jawa). Tetapi pengalaman-pengalaman itu semua penghalang, sama dengan kalau kita menghitung angka 10 (sepuluh) pasti melalui angka 4,5,6,7 dan sebagainya.
Jadi umpama terpikat dengan pengalaman-pengalaman tadi (tujuan utama) atau membuktikan At’tauhid dan hambatan-hambatan yang berbahaya bisa menyebabkan balik arah. Dewa Ruci mengatakan; bila Brata Sena memang benar menghendaki diam disitu, sebab alam itu jauh dari sakit, susah, dingin dan panas, tentram nikmat seperti disurga. Kebaikan Dewa Ruci (guru yang benar) melarang Brata Sena untuk tinggal disitu, karena Brata Sena masih mempunyai keinginan, jadi Brata Sena belum sempurna (belum Innalillahi wa innaillaihi rajiun), karena Brata Sena masih dibebani keduniaan.
Para Ahli Ma’rifat (semadhi) tadi yang masih mempunyai keinginan tidak bisa At’tauhid (nyuwiji-jawa).

Pengalaman-pengalaman tadi hanya bunga-bunga yang menuju yang satu (Allah), pasti harus kita lalui sebagai percobaan kuat atau tidak. Kalau kuat menghalau godaan-godaan lahiriah, maka bisa lulus ke Innalillahi wa innaillaihi rajiun (pulang keasalnya/Islam).
Diketerangan-keterangan ini ada 2;

1. mengetahui pada keterangan-keterangan tadi bisa menambah kekuatan menuju Islamu (Islam sejati), dan menjadi terbukanya pikiran (astendriyo-jawa) semakin terang jalannya menuju menyatunya hamba Allah, dan menambah kekuatan menuju kepada Dat Wajib Adanya.

2. Mengetahui tentang rahasia-rahasia diatas untuk menjaga jangan sampai lupa menyembah kepada Allah, jangan balik arah menuruti kemauan nafsu.

Selanjutnya membicarakan tentang ayat suci diatas, Qur’an surat Al-Kahfi : 65 ;
Kata Hamba itu artinya umatnya Allah, seperti Malaikat, Syetan, Jin, Manusia, Binatang dan sebagainya, seperti yang tidak nampak oleh mata disebut Molekul-molekul (atom, oxygen dll) , walaupun roh itu ciptaannya Allah juga. Astendriya (pikiran) itu umatnya manusia (alatnya manusia). ayat-ayat tadi jika diteliti dengan pengalaman-pengalaman cahaya terang benderang (bayangan putih bersih) yang luhur tadi bukan orang, tetapi Dewa Ruci terhadap Brata Sena (cerita pedalangan) atau saudara sendiri yang luhur dan cerdik, yang nampak didalam semadhi (tauhid), makhluk gaib-gaib ciptaan Allah, jadi hidup seperti diri kita sendiri, kita jumpai seperti Malaikat dan Rasajati (Rohani). Maka yang mengajarkan seperti Dewa Ruci di Pedalangan, yaitu Nabi Khaidir dan Nabi Musa as. terhadap junjungan kita Nabi Muhammad dengan Malaikat Jibril, jadi kata-kata Nabi itu supaya mudah menerangkan tentang ilmu tadi. Di surat Suluk dan Wirid Brata Sena dan Nabi Musa jumpa di samudra luas, kata samudra; terang bendarang seperti samudra tanpa batas.

Di surat Wirid atau Suluk pasti ada cerita tentang Sunan Kali Jaga yang bertapa ditepi samudra (Syeh Malaya), Syeh Malaya juga ditepi samudra, itu hampir sama. Kata samudra adalah alam yang bebas yang tidak bisa dilihat (tanpa batas).

Pengarang buku-buku Suluk dan Wirid, semua menceritakan pengalaman-pengalaman tentang shalatnya sendiri (shalat Ma’rifat), pasti semua ditengah-tengah samudra, karena sudah ada yang mengaturnya (Allah SWT), seperti disebut di kitab Al-Qur’an surat Al-Kahfi : 65; artinya shalat Tauhid (Ma’rifat) yang seperti apa saja pasti melalui alam terang benderang (alam tanpa batas). Kutipan dari buku Suluk Syeh Malaya dan sama jumpanya Sunan Kali Jaga sewaktu diwejang oleh bayangan putih; “sang pandita cepat jalannya, ditempat Bonang padepokan, ternyata cepat-cepat, sudah sampai dipesisir samudra, jalannya Syeh Malaya (Sunan Kali Jaga) tujuannya naik haji ke Mekah, jalannya salah arah, terkadang samudra sangat jauh, jauh sekali tanpa batas, tercengang seketika, ditepi samudra, ternyata tadi yang datang, yang menguasai Jagad raya (tidak tahu arahnya)”; itu jalannya yang ditunjukkan (digambarkan dipedalangan) sewaktu Brata Sena menempuh hutan belantara banyak perampok (diantara banyak perampok), Brata Sena bukan ibarat Jasmani, tetapi ibarat batin (hati), tekad (semangat).

Setelah naik setingkat dengan cara Tauhid (Semadhi), langsung jumpa dan terbuka apa yang menghalangai godaan sendiri, seperti hawa nafsu yang berbekas di indra (pikiran), karena semua sudah terbuka dengan cara shalat Ma’rifat (semadhi) lalu melihat cahaya yang sangat terang yang tidak pernah dilihat didunia ini, luas seperti samudra yang tidak ada batasnya (tetapi tidak merasakan apa-apa).

Selanjutnya begini, Qur’an surat seperti yang diatas yang ingin mengetahui; “Syeh Malaya sedih, ingin tahu Hidayat (petunjuk, taufik, anugerah), tanpa tempat tanpa nama, jiwa menjiwai, tersimpan, kapan jumpanya, kalau tidak dapat anugerah baik, kecuali dapat ijin Yang Maha Kuasa, ternyata Sunan Kali Jaga ditengah samudra jumpa, masih tenang saja, ucapan Nabi Kilir, ayat Qur’an dan Hadist mengatakan nama tadi, datang tanpa tujuan, berkata pelan-pelan”, syair tadi tembang jawa, asalnya dari para sarjana yang sudah mencapai Hakikat (Ma’rifatnya Hakikat).

Selanjutnya Wiridan tadi; Syeh Malaya (Sunan Kali Jaga); ada apa pekerjaanmu, datang kemari, apa tujuanmu, kemari ditempat sepi, tidak ada yang indah, dan tidak ada yang dimakan, tidak ada pakaian, meliputi Jagad raya pelan-pelan berbicara, batas disini ini, banyak bahayanya, kalau tidak mengadu nyawa, pasti tidak sampai disini, disini sepi semuanya (sunyi senyap), jadi dikatakan panca baya (lima bahaya), itu tujuan bagi kasunyatan (kenyataan), bahwa sudah dapat dari guru, supaya dapat membuktikan shalat tauhidnya (semadhi), tetapi jika tidak waspada dan sentosa jasmaninya mengakibatkan kematian.

Selanjutnya dandang gula (arum manik-jawa); cepat datang kemari dengan Syeh Malaya, menyatu dibadanku, Syeh Malaya semakin menghadap dan tertawa, tidak menangis; katanya pelan-pelan, dengan bayangan paduk kecil (Dewa Ruci dan Brata Sena), kami tinggi besar, tubuh kuat perkasa, dari mana jalannya saya masuk, jari kelingking apa muat, Nabi Kilir berkata pelan-pelan; besar mana dunia seisinya dengan gunung, samudra dan dasarnya, tidak sempit untuk masuk, didalam gambaranku, Syeh Malaya mendengar, lebih takut mengatakan, kepada yang menguasai Jagad Raya, intisarinya perjumpaan bayangan dengan yang shalat Ma’rifat (semadhi) dan yang membuktikan itu si Hati, karena pengalaman tadi masih pengalaman Hakikat, sebenarnya para ahli Yogi, Nabi, Wali, Mukmin, dan siapa saja masih memakai bayangan-bayangan, pasti mempunyai perasaan, artinya belum menyatu (nyuwiji-jawa/At’tauhid-Arab).

Jadi arti keterangan diatas, artinya pada waktu itu, walaupun Wali masih sangsi-sangsi, buktinya bertanya, bagi yang diwejang dan yang memberi wejang itu dalam diri sendiri; ketika ada anak kambing (lontang-jawa) terengah-engah mencari Roh yang mulia menyatu orang Hakikat (diibaratkan/pasemon-jawa).

Jadi pengalaman yang gawat dan rumit itu pada hakikatnya karena mencari Datnya Allah melalui bayangan putih (penghalang/simpang empat);

A. Pengalaman Nabi Musa as. jumpa dengan Nabi Khadir di samudra, Nabi Khaidir menjadi pembicaraan sekitar tahun 1378 H, Al-Hadist Bukhari no.6 Bab. Pembicaraan para sahabat-sahabat sewaktu membicarakan perjumpaannya Nabi Musa dengan Nabi Khaidir, Hadist membicarakan para sahabat-sahabat tadi hanya mendengarkan pembicaraan Nabi Muhammad SAW saja. Ternyata kejadian sewaktu Nabi Musa as. masih hidup, beberapa ribu tahun sampai sekarang, kalau tahun Hijriah di tambah zaman Nabi Musa as., maka menjadi pembicaraan Nabi Khaidir jumpa dengan Nabi Musa as. yang dibicarakan dalam Hadist oleh Nabi Muhammad lebih kurang dikatakan :

Ibnu Abas menceritakan tentang tafsiran Hurr Bin Qais, siapa kawan Nabi Musa as. sewaktu jumpanya, Ubay cerita dengan Ibnu Abas dikatakan : kawan Nabu Musa itu memang ada dan saya mendapat keterangan dari Rasullullah. Pada suatu hari Nabi Musa as. berkumpul dengan orang-orang Israel, lalu ada orang laki-laki bertanya kepada Nabi Musa as., Nabi Musa apa mengetahui orang yang lebih pintar dari padaku, Nabi Musa menjawab ; “ tidak”, seketika Allah memberi wahyu terhadap Nabi Musa as., orang lebih pintar yaitu hamba Khaidir, Dalil Al-Qur’an surat Al-Kahfi : 65 ; seperti diatas, cerita itu cocok sama dengan perjalanan Sunan Kali Jaga sewaktu jumpa disamudra (alam tanpa batas). Apa yang terpenting wejangan Nabi Khaidir terhadap Nabi Musa as.?, wejangan-wejangan yang diterima Nabi Musa terhadap Nabi Khaidir?, kalau dicocokan perjalanan Syah Malaya (sunan Kalli Jaga) dan Nabi Kilir, dan Nabi Muhammad dengan Malaikat Jibril, tidak beda sama orang yang kebetulan jumpa dengan saudara sendiri.

Diceritakan Dalil dan Hadist; bila Nabu Musa tidak kuat menerima wejangan-wejangan Nabi Khaidir terbukti selalu bertanya walaupun tidak di ijinkan bertanya sewaktu menerima wejangan, sewaktu jumpa tadi tidak seperti biasanya, tidak bisa diterima akal pikiran, Nabi Musa selalu bertanya, itu menjadi tanda bahwa Nabi Musa masih tingkat Hakikatullah (belum Ma’rifat), bisa disebut masih merasakan (pangrasa-jawa), karena perasaan sama dengan hati, walaupun sebenarnya Hakikat itu tidak merasakan apa-apa, tetapi merasakan itu yang menerima adalah hati.

Dalam cerita umumnya,; Nabi Khaidir sewaktu mendayuh perahu yang dinaiki keduanya, Nabi Musa as. tercengang dan tanda tanya, yang membingungkan perjalanan sewaktu Nabi khaidir membunuh anak kecil, menurut hukum belum mempunyai dosa. Selanjutnya Nabi Musa bertanya dan Nabi Musa tidak tahan menerima maksudnya, kejadian tadi itu tidak berbeda dengan perjalanannya Brata Sena, Syeh Malaya di surat Suluk. Nabi Khaidir membunuh anak kecil, jika diukur berdasarkan hukum agama, sipil, militer, internasional, ternyata tidak ada seperti itu dan pasti dihukum, akan tetapi karena hamba Allah Yang Maha Mengetahui itu memiliki Rasajati (rohani), Yang Maha Mengetahui dan juga mengetahui segala kejadian yang udah dan sebelumnya, itu tergantung yang menjalankan shalat tauhid (semadhi) dan diwejang Nabi Musa as sendiri, jika anak kecil tadi tidak dibunuh sekarang, nantinya akan menjadi penghalang kebaikan, itu salah satu wejangan atau sumpah, artinya waspada bagi orang yang mempunyai ilmu, jadi yang menerima pesan (wangsit-jawa) tadi Batin (Qalbu-Arab), jadi batin yang akan mencari.

Siapa saja yang mempunyai kewaspadaan (Sidiq-Arab) mengetahui sebelum terjadi, tanda-tanda menerima rasajatinya atau kalbunya, dan artinya oleh karena rasajati sama dengan bayangan sendiri yang nampak, siapa saja bisa meminta atau menyuruh bayangan tadi.

Pengalaman tadi yang bisa menghanyutkan tujuan semula (seperti alat bantu / perewangan-jawa), jadi anak kecil tadi adalah perewangan atau makhluk yang membantu kita, itulah sebabnya harus dibunuh (disingkirkan).

Di suruh membunuh anak kecil, sama dengan cerita Ramayana; Prabu Rama membunuh Subali (raksasa), umpama jika Subali tidak dibunuh, di masa depan menjadi perusak dunia. Sama dengan bayangan sendiri (bayangan putih), jadi keterangan diatas kalau dikerjakan pasti mengherankan, karena tidak umum bagi yang mempunyai keluarga (mempunyai anak).

Kebanyakan ahli Ma’rifat sudah mengetahui sebelum terjadi, karena mempunyai pikiran luhur dan suci, apa ayang mau dikerjakan disamakan dengan keadaan, tetapi tidak mau mendahului kehendak Allah, semua yang akan dikerjakan itu milik Allah, sama dengan “ya Allah ya Aku”.

Dengan keadilan Allah; Allah memberi anugerah tidak main-main, dibunia tidak ada ukurannya. Semua bisa dimiliki, umpama orang sudah bisa menyingkirkan penghalang (warono,kijab kawulo lan Allah-jawa); perjalanan itu bagi Nabi Muhammad disebut Jibril, pada suatu hari Malaikat Jibril menampakan diri pada Nabi Muhammad, serta berbicara; “hai Muhammad, pilih mana, keluhuran atau kekayaan?”, karena Nabi Muhammad waspada (waskita-jawa), pembicaraan Jibril langsung ditolak, tujuan Nabi Muhammad tetap satu, yaitu Innalillahi wa innaillaihi rajiun (Islam yang sempurna); asal dari Allah kembali (pulang) ke Allah.

Karena yang nyata tujuannya dan ilmu At’tauhid (nyuwiji-jawa), jadi ilmu itu amalannya menyatu dengan Dat Allah sampai kenyataan adanya Layu Kayafu (tidak bisa dijangkau, menyaksikan, mengetahui dan melihat).

Didalam shalat Tauhid, bagian-bagian keterangan diatas hanya satu tingkat saja yang dijalankan, apa bisa menyatu dengan keadaan Dat yang tidak bisa dijangkau (layu kayafu) ataupun Tari’kat dengan kekuatan gaib itu tergantung yang mengerjakan.

Selanjutnya menerangkan rahasia ayat suci Al-Qur’an Al-Araf : 29 ;

Katakanlah: “Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan.” Dan (katakanlah):

“Luruskanlah muka (diri)mu di setiap sembahyang dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya. Sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan (demikian pulalah kamu akan kembali kepadaNya).”

Jangan sampai membicarakan yang tidak berdasarkan Dalil ataupun pikiran yang jernih, mudah-mudahan nanti memiliki pengetahuan tentang rahasia yang bertahun-tahun masih dirahasiakan :

1. Sembahlah Allah; sembah itu menuju hamba dan Allah melalui Ma’rifat dan yang bisa membuktikan hanya yang menjalani sendiri. Jadi umpama dihitung menyembah berdasarkan tingkatan tadi hanya At’tauhid (Ma’rifat) dan menyatunya hamba dan Allah, terang-terangan saja tidak bisa ditulis atau dijelaskan, dan penyembah tingkat Sa’riat, Ta’rikat, Hakikat itu hanya jalan menuju Ma’rifat (Islam).

2. Dengan mengikhlaskan agama kepada Allah, kata Ikhlas itu menyatakan bekerjanya Dat dan keadaan Dat. bekerjanya dat bisa berpikir, nafsu, berusaha hanya menjalani, bisa dikatakan tidak ikut memiliki. Jelasnya memberi kepada orang lain sekedar ikut geraknya Dat (Allah) Yang Maha Pengasih, karena Allah itu sifatnya Maha Pengasih, maka manusia memiliki watak asih. Sifat sayang itu cahayanya sifat Dat yang wajib. Dat yang wajib, dia menampakan sifat Kasih melalui orang, dan orang bersedekah kepada sesamanya. Jadi Ikhlasnya menyembah yang benar itu tidak mempunyai tujuan iri hati, keinginan-keinginan yang melalui tujuan itu sudah hilang, karena Ikhlas bagi agama apa saja bisa tercapai.

3. Sebenarnya Allah memulai kejadianmu; pertama bila diukur ukuran dunia, ialah bayi yang dilahirkan. Intisari perkataan pertama terjadinya bayi lahir itu tidak mengetahui apa-apa (tidak merasakan apa-apa) tetapi hidup. Sebenarnya bayi lahir iti contoh Dat yang tidak bisa dijangkau atau keadaan Kosong (suwung-jawa), yang bisa membuktikan orang hidup contohnya seperti bayi yang baru lahir tidak mengetahui apa-apa. Seharusnya ada yang tanya, kenapa tidak bisa begitu lagi, kalau ingin seperti itu lagi harus pakai ilmu, oleh karena orang sudah ditutupi pembatas (nafsu, warono). Bayi lahir tidak mempunyai nafsu.

4. Begitu kamu kembali kepadaku; itu ayat untuk mengatakan, artinya contoh bayi lahir dalam keadaan Ma’rifat. Sebenarnya itu contoh merasakan lahir sama dengan rasanya orang Ma’rifat, begitulah nanti kalau pulang ke Allah (Innalillahi wa innaillaihi rajiun), rasanya seperti sewaktu dilahirkan kedunia, yaitu yang disebut kekal (abadi), Baqa (nirwana-Budha), alamnya Dat kembali keasalnya sebelum ada apa-apa.

Dan ada pertanyaan; jadi yang disembah tidak ada apa-apa, tidak nampak, tidak bisa dilihat, salah jawaban bisa salah arah, kalau memberi keterangan hanya berdasarkan pendapat orang tua-tua dahulu, sebenarnya akal dan pikiran harus meneliti kata-kata (saya tidak mengetahui atau tidak bisa membayangkan), karena sudah ada Dalilnya kalau kamu ingin menghadap Allah harus seperti bayi lahir yang tidak tahu apa-apa, tetapi bayi itu tetap hidup. Yang hidup nanti, jika sesudah dewasa yang menyabut-Nya, tetapi kalau menyembah kosong (suwung) diatas sudah diterangkan. Dat yang tidak nampak (Layu Kayafu) tidak bisa dijangkau oleh apapun walau tidak nampak, tetapi bisa menciptakan Jagad raya (alam semesta) dan seisinya, jika berkata Qun Fayakun; terjadi semuanya.

Keterangan yang bersangkutan dengan ilmunya Syeh Siti jenar, berani menyatakan “Allah itu Aku”. Karena Dat yang tidak bisa dijangkau (layu kayafu) sama dengan tidak tahu, bisa jadi para Wali di tanah Jawa benci semua terhadap Syeh Siti Jenar, karena Ikhtikat mengaku Allah, Syeh Siti Jenar; yang penting dianggap unggul. Syeh Siti Jenar mengaku “Aku tidak Tahu”, karena memang Allah itu tidak bisa dilihat oleh alat apapun”, keterangannya begini; bisa jadi Syeh Siti Jenar sudah memahami atau yakin benar terhadap rahasia Al-Qur’an surat Al-Araaf : 29; mengatakan dat Allah tidak bisa diketahui atau tidak ada untuk ukuran dunia, itu memang benar, artinya mata tidak bisa melihat, tetapi ukuran perasaan (Qalbu) harus mencari.

Menurut surat tersebut diatas; umat-umat itu kalau mengetahui lahir didunia itu tidak tahu apa-apa, yang bisa membuktikan hanya para Ma’rifatullah, kira-kira zaman dahulu Syeh Siti Jenar, walaupun menjadi Wali, ternyata masih mempunyai sifat lupa, kata lupa itu tidak salah sangka, hanya waktu tidak ingat. Syeh Siti Jenar mengatakan; “Dat yang tidak nampak tetapi kuasa (wenang-jawa)”. Sebahagian orang mengatakan “Allah itu aku”, karena rambut sampai putih semua, badan sudah bungkuk, mencari Dat pasti tidak jumpa, karena tidak bisa dijangkau (layu kayafu).

a. Shalat lima waktu puji zikir, pasta tyas karsanya pribadia, bener luput tanpa dewa, sadar panggung tertamtu, badan alus munakarti, ngendi ana yang sukma, kejaba mung ingsun, ngider daya cakrawala, luhur langit sapto bumi durung manggih, wujud Dat kang mulya.

b. Syeh Siti bang menganggep Hyang Widi, wujud kang kasat mata, sarupa kadia dewa, ing sipat wujud, lir wewujud baleger tan kala, warnanya tanpa ceda, mulus alus lurus kang nyata tan wujud dora, lirnya kidam dihin jumeneng tan keri, sangking pribadi nira.

Pengarang surat (buku) Syeh Siti Jenar tadi pasti orang yang masih tingkat Hakikat, atau masih belajar, bukan ahli Ma’rifat, karena berani mengatakan benar salah tidak sendiri, itu orang yakin benar bila kekuasaan Dat itu berada padaku, dan kalian semua, yang menyatakan dan membenarkan diri sendiri, pengarangnya sudah bisa mengoreksi diri sendiri.

Kata “badan halus munakarti”, artinya kepercayaan berubah-ubah, itu dikendalikan oleh badan halus bergerak sendiri (Qiyamuh Binafsihi). Orang yang kurang paham, badan halus yang bisa menggerakkan dianggap keinginan, pikiran, kemauan, jadi Allah dianggap kemauan pikiran atau keinginan, dan dimana ada Allah kecuali ingsun (aku) pasti benar karena Allah tidak nampak, tidak bisa dijangkau (tan kena kinaya ngapa-jawa). maka pengarang itu menyatakan jiwa itu sama dengan aku (ingsun-jawa).

Keterangan sifat 20; orang itu yang memiliki Dat, jadi jiwa kalau disamakan aku (ingsun-jawa), itu benar. Karena orang mempunyai bayangan Dat, sifat 20, jadi aku itu bukan Allah, tetapi hanya bayangan saja. Walaupun sama tetapi tidak mempunyai sifat kuasa (wenang-jawa), tidak bisa menciptakan apa-apa.

Keterangan tembang dendang Gula tadi; kesalahan terletak pada kata aku sama dengan Allah, maka ada kata; “sapta bumi belum jumpa bentuknya Dat yang mulia”, pengarang buku Syeh siti Jenar mengakui; wujudnya ingsun (aku) tidak pernah jumpa (dilihat), tetapi batinnya mengakui ada, yaitu Dat yang mulia.

Selanjutnya wujud yang tidak terlihat oleh mata kepala, itu benar, sama dengan dia. Kalau salah tafsir lalu mengakui pengalaman Mayangga Seta (bayangan putih) Allah. sebenarnya sama dengan dia itu Dat sifat, Widhatul Wujud (menyatu dengan sifat-Nya) atau Kata-kata satu tidak dua, itu benar, tujuan pengarang; widhatul wujud, mengartikan hamba dan Allah itu satu. Pendek kata secara singkat Bak atau kolam yang berisi air, lalu ada bayangan matahari didalam air (lihat Bab 3). Dan yang dikatakan wujud (ada) tetapi tidak bisa dilihat, tetapi ada (wujud).

Jadi pengarang buku Syeh Siti Jenar itu tidak mau mengakui kata Siti Jenar, lalu tidak sependapat. Jadi Syeh Siti Jenar benar, karena kita lahir tidak tahu apa-apa (dalilnya Allah). rasa mneyatu (At’tauhid) yaitu sewaktu kamu Innalillahi wa Innaillaihi rajiun, sama dengan sewaktu kamu dilahirkan kedunia tidak mengetahui apa-apa. Kalau mau membuktikan Islam lah (Ma’rifat). Kalau keterangan itu kurang jelas, jadi ilmu itu kalau sudah merasakan tidak tahu, semua itu harus dibuktikan melalui keyakinan dan shalat Khusyuk.

B. Cerita Nabi Musa as. jumpa dengan Dat Allah, nyata atau tidak ?. Nabi Musa as itu tidak pernah menduakan Allah, walaupun Nabi-Nabi; Daud, Yusuf, Ibrahim, Isa dan Nabi Muhammad SAW, sebenarnya sama-sama mencapai Islam, akan tetapi cara lahirnya; ajaran-ajaran yang disebarkan (agama) yang berbeda-beda:

Al-Qur’an surat Al-Araaf : 29 dan 143;

“Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau.” Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku.” Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman.”

Benar dan salahnya harus dipikirkan secara jernih, rahasianya ayat-ayat Qur’an itu kalau kurang berpikir dan kurang pengalaman bisa menjadi salah terima (mengartikan). Bagaimana kalau diteliti secara lahir dan batin (positif dan negatif) Nabi Musa as. menurut ayat mengatakan secara jujur, mengakui tidak pernah melihat Dat Allah.
Para Nabi, terutama Nabi Musa as. dikatakan umumnya dikatakan umumnya (tidak tahu), dan mengakui tidak mengetahui benar tentang Allah. jadi Para Nabi dan para Wali Allah zaman dahulu tidak pernah mengetahui Allah. kata melihat ternyata diayat-ayat tadi, bukannya melihat dengan mata, tetapi melihat secara Ma’rifatullah. Dan kata gunung; kata ilmu disebut Jabal (arab), dikitab Injil disebut Gunung Tursina. Umpama diteliti dengan pikiran yang jernih pasti tidak masuk akal, karana rahasia ayat tadi diumpamakan; gunung itu orang atau sebahagian badannya, seperti Gunung (hidung), kenapa langsung mengatakan Hidung?, orang didunia memang melihat gunung asli (benar-benar gunung), jawabnya pertanyaan itu terdapat pada ayat diatas; “kalau gunung itu tetap ditempatnya baru bisa melihatku”. Rahasia Hidung itu kalau bergerak-gerak pasti tidak diam, maka Allah mengawasi tetap ditempat, jadi kalau orang zikir goyang-goyang kepala, pekerjaan itu tidak boleh, harus tenang ditempatnya, harus Khusyuk, Semadhi, Tauhid. Oleh karena itu lalu dinyatakan pada zaman dahulu sudah ada shalat Tauhid, shalat Khusyuk (nyuwiji-jawa), jadi zikir (tasbih) itu harus tenang, jangan goyang-goyang, tenang itu supaya bisa Khusyuk, dan cepat mendapat petunjuk Allah.

Selanjutnya Nabi Musa as. bisa melihat Dat Allah, sulit dan membingungkan, kata ayat; “Cahaya Tuhan nampak, Gunung langsung pecah, Musa jatuh kebumi dan pingsan”, keterangannya begini;

1. Gunung Cahaya Dat, mengalami Hakikatnya Dat tidak ada apa-apa (kosong), Layu Kayafu, keadaan tidak sadar;
2. Gunung pecah; hidung tidak nampak bayangannya, karena yang mengalami sudah pingsan, maka kata pecah; tidak bisa melihat;
3. Nabi Musa pingsan; keadaan Ma’rifat (menyatu dengan-Nya), lalu disebut pingsan, tidak merasakan apa-apa;
4. Nabi Musa langsunng bertanya; dan taubat kepada Tuhan dan sangat yakin bila Dat Allag\h memang tidak nampak dan tidak bisa diketahui (tidak tahu).

Gaibnya alam semesta; Nabi Musa as. percaya betul atau yakin benar bahwa yang disembah tidak nampak, tetapi bisa menciptakan semua yang ada dialam raya dengan perkataan Qun Fayakun : terjadi semuanya.

Shalat Ma’rifat (Shalat Khusyuk) bisa dialami siapa saja, pertama harus mengalami pingsan dahulu (tidak sadar), dan selanjutnya umpama sudah bisa mengalami ma’rifat tetapi sampai Innalillahi wa Innaillaihi rajiun (pulang keasalnya menghadap Allah) pasti mengalami, rasanya seperti mengalami bayi lahir didunia (tidak tahu apa-apa).

Gaibnya bisa dialami sewaktu masih hidup (lihat Bab 1, 5 dan 6). Pada waktu itu Nabi Musa as. tidak disertai Nabi Khadir, karena Nabi Khaidir pada waktu itu Nabi Musa masih mengalami tingkat Hakikat (cahaya terang), Sedang Nabi Musa as. meningkat ke tingkat Ma’rifat, melewati tingkat Hakikat, telah meningkat.

Shalat Ma’rifat itu apa pakai doa (japa mantra-jawa)?.

Al-Qur’an surat As-Syuaara : 192 – 195 ;

192. Dan sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam,
193. dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril),
194. ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan,
195. dengan bahasa Arab yang jelas.

Al-Qur’an surat Al-Fhaatir : 22

“dan tidak (pula) sama orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati. Sesungguhnya Allah memberi pendengaran kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang didalam kubur dapat mendengar”

Buku Azhari Khudi, karangan pujangga bangsa Persia, nama Dr. Muhammad Iqbal (tahun 1876 – 1938), yang dilahirkan di Lahore (india), Tahun 1915 disalin kedalam bahasa inggris dengan Renold A Necholson. Isinya sudah digenari para sarjana Islam didunia barat, sebab mempunyai bentuk syair, yang isinya menuju tidak mengatakan diri sendiri dan dihimpun dengan bahasa yang mudah dimengerti, dan pengarangnya bangsa Arab, dan isinya mengarah ke Islami, walau bahasanya bukan bahasa Arab, itu menjadi pedoman, lain bahasa tetapi artinya sama. Umpama bahasa Jerman, tetapi hatinya (pikiran) kalau mengkhusyukan pikiran tetap sama.

Kenyataan bangsa Jerman ada yang menyatakan (membuktikan) Allah melalui semadhi (Tauhid), untuk membuktikan adanya Allah (God-inggris). Dan begitu bahasa Arab ditulis di kitab Qur’an Nul Qarim, itu hanya untuk pusat ilmu yang dianut oleh seluruh bangsa didunia.

Ada semacam golongan Islam yang sembahyangnya (shalat), walaupun tetap lima waktu dan tujuh belas reka’at, sehari semalam, tetapi mengucapkan melalui bahasa Jawa, umpama begitu apa orang tadi bisa diterima dengan Allah?.

Al-Qur’an surat Al-Hadid : 6;

“Dialah yang memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam. Dan Dia Maha Mengetahui segala isi hati.”

Jadi menurut Dalil itu, bahwa Allah tidak pernah membeda-bedakan bahasa, yang penting tujuannya, karena semua ciptaannya atau bahasa itu untuk mengutarakan angan-angan (maksud). Sewaktu bahasa Arab belum ada, apa Allah bersabda melalui bahasa Arab ?, pasti menurut bahasa orang yang diberi wahyu, karena yang penting terhadap mereka bukan bahasanya tetapi hatinya.

Jadi ternyata artinya ayat Al-Qur’an surat Asy-Syuaara : 192 – 195;

1. Hatimu hatiku, yang mengetahui adalah orang yang mempunyai bahasanya masing-masing, umpama jawa; maka bahasa jawa, orang inggris ya bahasa inggris. Umpama orang baru tidur, lalu mimpi, walaupun ahli bahasa inggris, mimpinya pasti memakai bahasa sendiri, kalau orang jawa, tetap bahasa jawa.

2. Hatimu dan hatiku, untuk berpikir apa saja pasti pakai bahasa sendiri, kalau berpikir memakai bahasa orang lain pasti banyak salahnya. Oleh karena Allah bersama kita, manusia pasti tahu batinnya, walaupun memakai bahasa apa saja. Walaupun bayangan putih diterima oleh saudara sendiri (mayangga seta-jawa) itu pasti memakai bahasa yang mengalami. Melihat bayangan putih; karena wahyu itu yang memberi saudara sendiri (dulure dewe-jawa). Karena Nabi Muhammad mendapat wahyu melalui Malaikat Jibril, melalui bahasa Arab, dan Nabi Muhammad pun bangsa Arab. Begitu halnya kata-kata Allah terhadap para Nabi-nabi zaman dahulu melalui bahasa Nabi masing-masing. Yang begitu tadi walaupun ucapan melalui bahasa Arab, tetapi jika makasudnya tidak dimengerti (dari Hatinya) pasti tanpa guna. Sebaliknya memakai bahasa Cina tembus dihati (batin) orang Cina, pasti tercapai tujuannya. Umpama pujangga Mhd. Iqbal yang tersebut diatas memohon sampai tulus dihati, karena tidak pandai bahasa Arab, itu hanya tertarik pada pusat Dalil-dalilnya Allah di Al-Qur’an, lebih dari itu tidak ada. Menjawab sebabnya bahasa itu sebenarnya tidak bisa dinamakan ucapan, umpama menyampaikan tidak memakai bahasa yang dimengerti oleh orang yang menerima, umpama orang jawa yang mendapat bisikan (wahyu) itu melalui bahasa jawa, itu yang benar. Dan ada pertanyaan lagi, apa doa-doa mantra-mantra bisa tembus (sampai) terhadap mayat, apa bisa mendoakan orang yang sudah mati?.

Adat masyarakat jawa mudah panatik disegala golongan, apa itu agama ataupun budayanya dan lain-lain. Panatik terhadap agama dan tujuannya itu terkadang bertindak tanpa pikir. Mengoreksi jalan atau ilmu pengetahuan, jangan tergesa-gesa, diterima dahulu harus dikoreksi, dipikir, bisa jumpa (selaras) dengan pikiran yang jernih, betul atau salah pikiran-pikiran bebas untuk memikir segala-galanya, dan bisa menjadi semangat jiwa. Bisa memilih yang benar dan yang salah, yang penting pikiran sehat (normal), jadi tidak mudah terpengaruh.

Allah berkata berulang-ulang, supaya menusia mempergunakan pikiran / akal yang sehat, jadi bukan urusan dunia saja, melainkan urusan ketuhanan, dan diselaraskan dengan akal yang sehat. Intisarinya percaya kalau Allah itu ada dan yakin bahwa akal dan pikiran menyaksikan. Menurut Mahatma Ghandi; Allah sifatnya Maha luas, Agung, dan memberi peluang kebebasan manusia berdasarkan Qodrat dan Irodat, jadi manusia berhak menjalankan Hakikatullah. Yakin kepada kekuasaan Dat Yang Maha Agung dan Maha luas, dibuktkikan bahwa Syeh Malaya (Sunan Kali Jaga) itu perampok, mencopet, menghisap morpin, berzinah, tetapi akal pikiannya bebas, bisa memilih dan bisa berpikir buruk dan baik, terakhir bisa menjadi Wali Wahid (No.1) termasyur sampai sekarang.

Contoh-contoh itu siapa saja bisa memiliki sifat Allah, tidak membeda-bedakan dengan cara apapun, berdasarkan mengetahui dan mengamalkan kitab suci. Ayat suci Qur’an surat Fathir : 22;

“dan tidak (pula) sama orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati. Sesungguhnya Allah memberi pendengaran kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang didalam kubur dapat mendengar”

Sudah menjadi kebisaaan masyarakat jawa, merawat mayat, menyembahyangkan harus memakai Bilal (Muhdin-jawa), dan harus bahasa Arab. Karena menyangkut adat, sudah kita tinggalkan saja, yang penting mencari ayat-ayat diatas tadi. Kata mendengarkan itu berarti memakai telinga dan mendengarkan atau kata-kata;

1. Kata memperdengarkan supaya didengar orang lain.
2. Kata Kubur, asal dari bahasa Arab Qaburun (Qubrun), bahasa jawa alam barzah (Barzahum-Arab).

Jadi bukan tempat, tapi sebagai tanda (kuburan), maka disebut alam peralihan (alam antara), alam antara roh yang keluar dari jasmani. Jadi Roh manusia, hewan, dan lain umat, kalau meninggal gentayangan dialam Barzah (alam kubur), dan disebut siksa kubur dan nikmat kubur.

Yang diinginkan dengan kata memperdengarkan itu ialah menyembahyangkan (menyalatkan), memandikan mayat (telkim), baru diangkat lalu dikafankan, dan maksudnya mengantarkan Rohnya, mudah-mudahan diterima disisi Allah, setimpal dengan amalannya sewaktu hidup didunia, dan mendoakan lebar jalannya, dan terang jalannya, biasanya memakai Arab, dan ditahlilkan, menurut yang hidup semua, karena Allah yang berkuasa dan ada.

Apa-apa doa-doa tadi bisa diterima oleh mayatnya?; Roh yang keluar meninggalkan mayat, menuju kealam baka (Allah), yang sebelumnya tidak pernah dilewati (dialami sewaktu hidup), sewaktu hidup didunia berkumpul dengan anak istri, dan masih bisa mendengarkan azan dan musik, karena masih memiliki Tri indra dan panca indra. Lalu sesudahnya hanya Rohnya saja, telinga, mata, hidung, mulut tidak dibawa olehnya, artinya jasmaninya mati dan busuk. Karena mati, alat tadi tidak berfungsi, jadi si Roh tidak bisa mendengar, hanya merasakan bebannya Roh (lihat bab mati). Sangat disayangkan ada suatu golongan yang menyatakan Roh itu harus disediakan kesukaannya sewaktu didunia atau sewaktu masih hidup diletakkan dibawah tempat tidur, ada macam-macam kesukaannya, dan pasang lampu disebut sajian, semua itu tidak berguna sama sekali, tetapi semua itu sudah menjadi kebisaan (adat). Desa bermacam-macam cara, dikota bermacam-macam peraturan.

Jadi keterangan-keterangan tadi menjadi pengetahuan, karena akal pikiran terbuka dan bebas, serta berdasarkan ayat-ayat suci Dalil-Nya Allah, tidak bisa menerima kebisaaan itu. Hasilnya nanti merubah adat yang tua (kolot) dan menyingkirkan semua dari kegelapan, supaya pembatas masyarakat bisa terbuka dan tidak percaya tahayul (gugon tuhon-jawa). Umpama begitu Wedaran Wirid tidak menyalahkan adat, tetapi apa tidak menghindari ayat Qur’an Nul Qarim?, dan apa tidak menyalah gunakan ayat suci (dalil Qur’an). pendapat itu tidak mau menggunakan akal pikiran yang sempurna, karena kepanatikannya, karena sudah menjadi mendarah daging menurut kata-kata tahayul. Bisa juga memang kurang memahami batinnya, pengalamannya dan ilmunya. Sebenarnya ilmu Allah itu diterangkan tanpa batas. Bersambung………..

Sumber buku Wedaran Wirid I, Ki R.S. Yoedi Parto Yoewono. Surabaja : Djojobojo, 1962-64.
—————————
Alang Alang Kumitir

SHALAT GAIB / SEMADHI


Bab 9

SHALAT GAIB / SEMADHI

Qur’an surat Al-A’raf : 29 ;

Katakanlah: “Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan.” Dan (katakanlah): “Luruskanlah muka (diri)mu di setiap sembahyang dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya. Sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan (demikian pulalah kamu akan kembali kepadaNya).”

Qur’an VII Ayat 143.

“Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau.” Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku.” Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman.”

Sebelumnya Ayat Suci di atas menerangkan tentang bab tataran/ tingkat Syari’at dan Tari’kat dan yang paling penting adalah semadhi/tapa brata atau puasa badan. Penjelasan ini akan dimulai dari cara lahiriah, yaitu pokok bagi kesehatan.

Puasa dahulu dikerjakan menurut kebisaaan orang banyak (ikut –ikutan) itulah yang disebut puasanya orang Syari’at. Karena ikut-ikutan maka sampai sekarang banyak yang tidak tahu manfaatnya.

Kerangan dari Hadist Buhari Muslim yang kurang lebih artinya : Orang-orang yang puasa itu perutnya baik (luhur), pikirannya baik dan budinya suci.

Qur’an Surat Al, Baqarah 183.

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”

1. Kenapa orang yang berpuasa itu merasa tidak enak, malas dan ngantuk ?
2. Kenapa Firman di Qur’an ditujukan kepada orang-orang yang beriman ?
3. Dan apa sebabnya puasa yang sudah dikerjakan sejak ber abat-abar itu bisa mensucikan diri ?

Sebenarnya pekerjaan puasa itu sudah berabad-abad dulu dikerjakan, sebelum zaman nabi I’sa menyiarkan agama dan kitab Injil yang juga menerangkan tentang puasa. Sekarang zaman sudah maju. Banyak para ahli melakukan penelitian tentang puasa. Itulah sebabnya Allah SWT mewajibkan puasa karena puasa itu banyak manfaatnya.

Menurut ilmu kesehatan (Prof. Dr. A. Ramli) mengatakan bahwa hewan-hewan dan mahluk yang hidupnya memamah biak melalui mulut dan ditekan keperut langsung kenyang. Makanan itu sarinya menjadi pokok kebutuhan kita. Contohnya: zat lemak, hidrat arang, air, garam, putih telur dan vitamin-vitan yang terdapat pada daging, Sayur-sayuran, Kacang-kacangan dan segala makanan yang belum busuk , Kalau makanan itu sudah busuk pitaminnya sudah hilang. Makanan yang dikunyah tersebut dialiri dengan air ludah yang keluar dari kelenjar ludah yang mengakibatkan maknan tersebut menjadi sari pati dan berubah menjadi zat hidrat arang, kemudian menjadi zat gula atau mallose (Menurut ilmu kedokteran).

Makanan tadi langsung ditelan keperut besar kemudian diterima oleh kelenjar-kelenjar kecil yang jumlahnya beribu-ribu dan perut (Usus-usu besar) mengeluarkan lendir yang bisa menghancurkan makanan-makanan tadi. Makanan yang berasal zat telur yang sudah berubah menjadi Maltose mudah dihancurkan dengan lendir usus. Zat telur yang sudah berubah sifatnya itu disebut Pepton.

Makanan yang sudah halus masuk ke usus halus dan dipintu usus ada saluran kelenjar yang terbagi dua yaitu: saluran empedu dan saluran pangkreas (ludah yang asalanya dari ginjal). Dua-duanya mengaliri usus. Empedu asalnya dari bagian hati gunanya untuk melebur zat lemak yang dibantu oleh pangkreas hingga halus sekali. Pangkreas menghancurkan zat telur sampai berubah sipatnya menjadi hamud amino. Zat hidrat arang dan lemak yang hancur mudah diisap oleh usus halus, kemudian makanan trersebut menjadi sari-sari dan sari-sari tersebut menjadi bibit asal darah dan daging. Diatas lapisan usus-usus menghisap makanan yang sudah menjadi sari-sari aslinya yang terdapat di limpa (getah bening) kemudian seluru zat-zat meresap ke pipa-pipa darah dan terus mengalir ke pipa-pipa darah yang besar dan mengalir ke hati dan merata keseluruh badan. Yang tertinggal hanya lendir-lendir pencernaan.

Otak itu mebutuhkan darah untuk membasahi yang diterima dari urat-urat sarap dan otot-otot yang ada pada kerangka manusia. Selama perut dan pembuluh-pembuluh menghancurkan makanan, otak otak kita kekurangan darah penyiram yang menyebabnya kurangnya daya berpikir.Itulah sebabnya para leluhur kita dulu berkata bahwa kalau perut lapar pikiran buntu, dan kalau kenyang pikiran terang. Karena puasa dilakukan disiang hari dan pikiranpun bekerjanya disiang hari. Untuk itu apa yang dikatakan para ahli adalah benar. Maksudnya apabila perut lapar maka perut itu diam (tidak bekerja). Karena tidak bekerja maka tidak membutuhkan darah lebih dari ukurannya. Darah yang tidak dibutuhkan itu lansing naik membasahi otak dan itu terjadi setiap hari dan otak terus basah sehingga otak itu lancar, tidak mudah lupa (pikiran sehat).

Puasa sering dilakukan oleh para penganut tingkatan tarekat. Umumnya mereka mengurangi makan seperti mutih (makan nasi saja tanpa garam), Ngrowat (makan palawija dan buah-buahan), Puasa ini menuruk kesehatan dapat mengurangi kesehatan badan karena sari-sari makanan tidak mencukupi. Akan tetapi mengurangi itu bukan berarti mengurang kebutuhan. Petunjuk makan yang baik adalah kalau kita lapar maka kita makan tidak boleh berlebihan untuk mengurangi zat lemak. Tubu yang memiliki ilmu itu adalah tubuh yang memiliki pikiran yang saehat. Karena kalau badan kita sehat pikiranpun kita sehat. Orang yang pintar, bijak yang bisa menjadi wali, pendeta adalah orang yang memiliki badan sehat. Kalau tubuh sakit pembawa ilmupun sakit. Untuk itu:

1. Jangan tamak kepada makanan;
2. Makan minum sederhana jangan mengurangi jenis makanan;
3. Bekerja yang sederhana tidak mengurangi kebutuhan, dibatin harus niat bekerja yang baik-baik (Mensucikan diri meniru kesucian Allah);
4. Mengerjakan peraturan agamanya sendiri-sendiri, tidak perlu menghina, karena bertentangan dengan perintah Allah.

Penjelasan tentang Bab Shalat/Semadhi itu lebih kurang adalah dari peraturan tapa badan atau puasa. Karena Wedaran Wirid itu bertujuan untuk selamanya, sehingga keterangan-keterangan diselaraskan kemajuan akal piker yang berdasarkan kipada Kias (koreksi). Shalat/Semadhi sebenarnya bukan pekerjaan main-main karena Semadhi (Shalat Tauhid) adalah usaha Shalat benar-benar (Panembah Jati) yang sering dilaksanakan oleh para tingkatan Ma’ripat untuk mencapai At’tauhid (menyatu kepada Allah). Tradisi Semadhi di dunia Jawa adalah mencontoh pada wayang kulit yang dikerjakan para Begawan, Pendeta dan Satria. Syaratnya harus menutup 9 lubang hawa napsu (Hawa Songgo) yaitu : 2 lubang mata, 2 lubang telingga, 2 lubang hidung, 1 lubang mulut, 1 jubur dan 1 lubang parji. Sebenarnya bukan menutup hanya jangan menggunakan sewaktu Semadhi.

Menurut agama Islam pekerjaan itu melanggar hukum Tuhan. Merusak kesehatan, merusak kodrad Iradat secara paksa karena asalnya dari Dat Allah, Walaupun tidak apa-apa bagi yang menjalani pekerjaan itu harus ditinggalkan, jika tidak dirubah pekerjaan memaksa diri itu bisa mengurangi irodat kita sendiri dan bisa menyebabkan lemahnya jiwa dan yang dikwatirkan adalah kerusakan panca indra, astendria.

Peraturan itu sudah menjadi darah daging sejak zaman dulu sampai sekarang secara turun temurun. Penyebabnya adalah menurut penelitian ilmu jiwa bahwa banyak guru-guru kebatinan dan murid-muridnya yang terkena penyakit Neorotis (Penyakit Syaraf), menurut kebisaaan kalau bicara asal keluar, selalu menunjukkan bahwa mereka itu sakti, banyak ilmu selalu menghina ilmu lain, besar bicara dan pikirannya selalu bingung. Kalau berbuat semaunya dianggap mendapat wahyu. Penyakit itu mudah diatasi apalagi bagi para pelajar Kasunyatan (Shallat tauhid) dengan cara :

1. Kalau waktu berpikir berat, dikepala pening harus berhenti sejenak, jangan menuruti kemauan.
2. Selalu bangun subuh, lalu jalan-jalan karena bisa menyegarkan badan menghilangkan lemah dan lesu.

Kerena peraturan-peratuan yang melanggar kodrat. Hidung untuk mencium, mulut untuk makan, telingga untuk mendengar tidak untuk merasakan makanan. Kenapa harus distop (ditutupi) walaupun sekali-kali dan selanjutnya sebentar-sebentar memakai sujud , sebentar-sebentar memakai sujud, sebentar-sebentar membujurkan kedua kaki seperti ceritanya Begawan ada yang tapa di kolam, di gua menjalankan wadat (tidak kawin) pekerjaan tadi melanggar kodrat dan iradatnya Allah. Oleh karena jalan itu untuk mencapai tujuan dengan satu zat yang tidak bisa dijangkau oleh apapun, maka harus diluruskan dengan suatu dasar enak dan menyenangkan (selaras) dengan jiwa dan jasmani yang diharapkan agar memiliki yang baik dan yang buruk.

Kata Semadhi berasal dari bahasa sangsekerta yang artinya shallat makripat (Khusuk) atau Tauhid. Kata Yoga itu juga berasal dari bahasa Sangsekerta sama dengan Shalat makripat yang mengerjakannya disebur para Yoghi. Yogha dibagi menjadi 2 bagian :

1. Hatta Yogha : Suatu pekerjaan yang dikerjakan oleh orang umum (awam) bisa juga dikatakan tingkat syari’at terhadap agama islam. Penjelasannya seperti ini : hatta Yogha harus mengurangi makan, berpuasa melarang apa yang tidak baik. Tapa atau nyepi sampai berbulan-bulan. Yang utama memaksa jasmani dan tidak mau kawin. Hal itu perbuatan yang menghukum nafsu.

2. Raja Yogha : Peraturan shallat makripat yang dilakukan oleh para bisaksana, para pandita dan para ulama agung islam.

Agama Islam menyebut Shalat makripat tanpa membedakan tingkat sareat atau makripat yang dilaksanakan di mesjid atau musholla. Keterangan Ma’ripat atau Raja Yogha itu tujuan hanya menyatu dengan Allah atau At’tauhid (Nyuwiji). Artinya menuju hidupnya sampai ke liang lahat (innalillahi wa innaillaihi rojiuun) kumpul asal mulanya (alam baka) kekal yaitu alam yang tidak bisa dijangkau oleh alat apa saja. Jadi tujuan kesempurnaan hidup di dunia dan di akhirat. Sempurnya di dunia ini bisa mencapai surga seperti kita hidup, tujuan akan membuktikan alam yang akan kita alami setelah mati. Shalat makripat yang dikerjakan oleh para umat Muhammad dijaman Nabi Mauhammad dikerjakan oleh ke empat para sahabat.

Apa aslinya mengerjakan Raja Yogha?. Bab pekerjaannya perut dan otak sudah dibahas, begitu juga zakat hidung, mata, mulut dan parji. Sebelumnya menerangkan aslinya Semadhi. Sebenarnya pencegahan parji diterangkan dahulu. Inti sarinya menjawab pertanyaan apa sebabnya kita perlu menahan nafsu parji ?.

Terhadap manusia parji itu merupakan salah satu alat menurunkan benih manusia agar dapat berkembang biak di dunia, tetapi kalau nafsu dibiarkan menjadi tidak baik untuk kesehatan diataranya :

1. Kalau menuruti kemauan nafsu, sewaktu bersetubuh kita akan mengeluarkan hormon-hormon dan kehabisan ternaga (kehabisan kalori) atau zat kebutuhan jasmani. Walaupun habisnya tidak sia-sia dan hanya seminggu sekali tubuh menjadi lemas, apalagi kalau setiap hari, bisa berbahaya kalau melewati batas, sedikit demi sedikit kekuatan tubuh pasti berkurang. Tubuh menjadi cepat tua dan matanya kabur.

2. Bahaya lain adalah daya pikir menjadi lemah, terbukti menjadi penakut, kurang percaya diri dan malu-malu. Tapi jika dilakukan hanya sekali-kali untuk menurunkan bibit manusia, menurut kesehatan air mani yang tidak keluar naik keotak melalui tulang punggung dan tengkuk, bisa membantu aliran darah untuk membasahi saraf-saraf otak sehingga mudah berpikir dan lancar. Dan kaburnya mata itu disebabkan banyaknya mengeluarkan air mani tadi.

A. Semadhi menutupi lubang 9 (Hatta Yogha) sebelumnya menerangkan menutupi lobang sembilan nafsu, membahas tentang sembahyang (Menyembah Allah). Shalat diterangkan terlebih dahulu. Di Wedaran Wirid Shalat yang sebenarnya ada 4 tingkatan :

1. Shalat Syari’at, yaitu Shalatnya jasmani. Penyucinya adalah air wudhu. Diterimanya Shalat akan menjadi makripatnya sariat, hanya mengetahui rastandria yang 5 panca indra. Panca Indra menyaksikan alam raya itu menjadi saksi bahwa Allah itu ada.

2. Shalat Tari’kat, yaitu penyembahnya hati sucinya mencega hawa nafsu. Berterimanya Shalatnya akan menjadi makripatnya tarikat. Tarikat mengetahui astandrianya yang 3 perkara, mengetahui tentang Allah, menyebabkan percaya dan tidak ikut-ikutan.

3. Shalat Hakikat, yauitu penyembahnya roh (jiwa). Bersucinya adalah waspada, tenang dan hening. Berterimanya Shalat bisa mengetahui rohaninya (rasa jati). Tingkatan ini yang sangat gawat karena disini akan terbukanya penghalang (warno) yang bisa menyebabkan berpisahnya jasad dan rohani (Mi’rad).

4. Shalat Ma’ripat, penyembahnya adalah jiwa (sukma), menyebabkan makripatnya makripat (makripatullah) sudah tidak memakai alat tetapi bisa khusuk (At’tauhid atau nyuwiji) memasuki alam yang tidak bisa dijangkau (Layu mahfud) jadi bukan hanya sariat saja dinyatakan sesuai dengan mi’radnya Nabi Muhammad SAW menuju alam Allah (Sidratul Muntaha).

Manusia memliki alat kasar dan halus, yang halus tidak bisa dilihat oleh mata, tetapi lengket ketubuh kita menyebabkan panca indra bisa bekerja masing-masing yang disebut rasa (saraf). Tali rasa (saraf) bisa bekerja menyalurkan kepada panca indra, karena bekerjanya rasa jati bekerjanya selalu memberi peringatan kepada roh jasmani yang bisa mengingat segala kejadian yang dikerjakan oleh pikiran dan jasmani. Bila berdirinya manusia itu karena dialiri rasa jati tadi maka bisa berdiri sendiri tanpa dialiri dari syaraf atau darah ke otak, pikiran terang tanpa hambatan.

Berdiri sendiri terhadap rasa jati (roh jasmani) ukurannya tanpa batas, bisa melihat apa yang tidak bisa dilihat oleh mata bisaa melainkan dengan mata batin (roso jati). Mengerjakan Semadhi (Shalat Ma’ripat) secara paksa menyebabkan putusnya tali rasa (syarap) Astendriyo seperti diletakan keluar dari lingkaran tadi. Karena rasa jati tadi kerjanya menyimpan dan mengetahui semua keadaan diluar dan didalam, maka kalau terputus dari tali rasa secara terpaksa maka bisa menyebabkan seperti orang mimpi atau ngelindur. Shalat tauhid seperti diatas itu kurang baik. Menurut pengkias jawa nampak mimpi tadi mengetahui apa-apa yang ada dialam mimpi. Sebenarnya semuanya tadi mengetahuinya karena rekaman-rekaman pikiran atau Astendriya waktu terbuka mata karena banyaknya angan-angan atau khayalan. Contohnya Tustel, pilim yang berada didalam tustel itu masih kosong, lalu tustel tersebut diarahkan kesuatu benda yang ingin dituju dan dipetik kemudian gambar langsung tertinggal difilm tersebut. Itulah angan-angan yang tertinggal dipikiran (tali rasa) karena tujuan secara paksa tadi maka semua tadi mempunyai kurang kekuatan (jaminan) seperti contoh dibawah ini;

Tidur terlentang dengan kaki lurus saling bertimpahan lalu mengatus nafas sambil berzikir, karena dipaksa atau kaki yang saling tumpang tindih badanpun merasa kurang enak, bahkan kakinya terasa kebas atau kesemutan lantas hal ini dianggap mulai mendapat wahyu dan Shalatnya diterima.

Sebenarnya darah yang mengalir keseluruh badan bisa saja agak tersumbat yang mengakibatkan kaki dingin seperti disiram air sewindu. Kemudian dibatin sambil memikirkan pengalaman dari cerit-cerita, kata guru atau kata buku yang menjadi pedoman.

Mengatur pernafasan sama dengan memerintah. Sebenarnya batin masih memerintah (mengatur nafas) sendiri, karena batin masih digunakan memerintah hal ini bukan Shalat tauhid melainkan melatih nafas.

Zikir (Mengingat Allah) itu semakin jelas , pikiran harus tentram tidak diperintahkan mengingat-ingat artinya pikiran terus diperintah terus bekerja, menggerakkan bibir untuk berbisik-bisik. Pekerjaan ini sama saja dengan mendiamkan tali rasa untuk mengaliri daya piker. Dalam islam pekerjaan ini disebut syirik dan harus dijauhi karena membahayakan diri.

B. Persemadhian (Shalat yang tidak Berbahaya)/Raja Yogha.

Tujuan Semadhi (Shalat tauhid) adalah untuk mengetahui gaibnya alam semesta, harus menggunakan kodrat dan iradat. Untuk itu harus menggunakan alat-alat sendiri. Mengerjakannya harus mengetahui pengalaman-pengalaman yang belum pernah diketahui. Buktinya jika masih ada yang kita lihat didunia ini berarti namanya bukan gaib. Tetapi apa saja yang telah direkam oleh pikiran (rasa jati) saja, tetapi jika mengetahui apa yang tidak ada didunia baru bisa dikatakan mengetahui gaib dan sebenarnya tujuan Shalat khusuk tadi hanya untuk menentramkan gerak astendrio (pikiran). Jika pikiran sudah tertram benar, yang bergerak adalah rasa jati/Rohani (roso eling). Ditingkat pembangunan jiwa (roh)yang masih hidup adalah rasa jati kita sendiri, Sebenarnya persemadhian (Shalat khusuk) itu menjadi tujuan, maka pekerjaan itu berusaha agar tujuan tadi tidak terhalang oleh rasa tidak enak, seperti pekerjaan yang memaksakan diri, yang baik dan cocok untuk saling menjaga diantara cara-cara dengan seenaknya, mau telentang, rukuk, sujud bisa saja asal bisa. Karena bebas dan tidak terikat jadi pekerjaan itu lebih enak dan memuaskan. Yang penting berusaha untuk menentramkan Tri Indra (pikiran, perasaan dan keinginan). Shalat tanpa tekad sama dengan pergi tidur, pikirannya berhenti sendiri (tentram sendiri / ketiduran), karena pikiran berhenti (tentram) karena capek mata ngantuk, jadi tidur itu Kodrat, itu bukan tujuan kita.

Semadhi (Shalat tauhid) iti dikerjakan oleh para ahli Ma’rifat (Arifin dan aulia). Semadhi (shalat daim) pekerjaan sebelum tidur untuk menentramkan pikiran (mengendalikan pikiran) dari semangat kemauan, itu bukan pekerjaan yang mudah, sebab shalat tadi untuk menegakan Rohani dengan Roh Jasmani (Rasajati-jawa). Kalau dipewayangan seperti Khrisna Gugah (membangunkan Khrisna), itu sebenarnya menghidupkan Rohani dengan Roh jasmani (Rasajati). Bagi orang yang shalat Syari’at ataupun Ma’rifat puasa itu berguna sekali, karena nafas itu tergantung kebisaaan yang sudah terlatih dan diatus, lama-lama teratur sendiri lebih baik, karena batin tidak ikut-ikut, nafas itu sudah Kodrat.

Semadhi (At’tauhid) itu hanya dikerjakan oleh orang ahli Ma’rifat (Arifin dan Aulia), dan semua pelajaran itu hanya tentang peraturan. Keterangan selanjutnya hanya bisa menerangkan yang tidak bisa dipaksakan. Shalat Ma’rifat atau Semadhi bagi yang ada 2; Mengheningkan cipta dan Mengosongkan cipta;

1. Mengheningkan cipta atau belajar Semadhi (shalat Khusyuk), pekerjaan itu sulit sekali, sebab yang menjalankan harus tidak mengingat apa-apa saja keadaan lahir batin. Caranya ada yang melihat apa-apa yang bisa dilihat, itu hanya untuk melupakan yang dipikirkan.

2. Mengosongkan cipta (mengendalikan pikiran), pekerjaan itu tambah sulit, sebab disitu harus menghilangkan pengalaman indra yang mengingat-ingat Keadaan, disitulah timbul pikiran macam-macam, yaitu pekerjaan pikiran orang hidup, sebab hidup itu mempunyai perasaan. Semua keinginan ikut-ikut bicara (terpikir), harus sedikit demi sedikit dihilangkan melalui membaca zikir terhadap Allah, oleh karena Allah itu tidak bisa dijangkau (Layu Kayafu), maka dalam zikir harus tidak mengingat apa-apa, perbuatan itu mengkhusyukan dengan Dat (Layu Kayafu).

Pekerjaan seterusnya tentang zikir itu umpamanya begini; zikir itu harus mengucapkan lafal bermacam-macam menurut keyakinan sendiri-sendiri, ada yang mengatakan “hidup.. hidup”, ada yang mengatakan “ham.. ham”, zikir itu Napi isbat, yaitu mengucapkan “Laillah haillalah” dan dimengerti benar-baner, artinya tidak ada Tuhan, melainkan Allah (ilallah), maksudnya menetapkan adanya ilallah (isbat). Zikir itu lama-lama tidak tergantung dengan yang mengerjakan, apa perlu dihitung atau tidak, itu sama saja. sesudah mengucapkan lafal tadi berulang kali atau tidak, lalu diteruskan mengucap “ilallah .. ilallah..”, atau mengucapkan musbitnya saja, umpamanya; “Allahu.. Allahu..”, atau “hu.. hu.. hu.. “, seterusnya sampai lelah, lalu tidur. Sarana itu akan mendapat yang diinginkan.

Kerjanya tidak perlu dipaksa, jika dipaksa menjadi bosan, sebab mengejar supaya cepat mengetahui terkabulnya menjalani, dan kekuatan Rohani dan Jasmani. Seperti tersebut mengharap-harap sampai sebulan atau setahun atau sekali seumur hidup, tergantung rahmatnya.

Mengerjakan shalat Ma’rifat atau Semadhi harus tetap menjalankan shalat lima waktu, berdasarkan pasrah dan ikhlas. Sewaktu mau zikir tujuannya harus satu, ingin membuktikan intisari ajaran Tauhid, menyatu (nyuwiji-jawa), maksudnya zikir itu mengingat kata-kata (lafal) tetapi mengingatnya hanya untuk dasar pertama menghilangkan pikiran yang kesana-kesini yang selalu teringat.

Karena tujuan Tauhid hanya untuk membuktikan gaibnya Allah (Layu Kayafu), maka yang penting dengan halnya zikir tadi, harus menyebut nama Allah yang mudah-mudah saja, yang harus mudah dipahami, bahasa Arab atau bahasa apa saja, disitu tujuannya hanya untuk menyatukan menuju Dat Allah ta’allah, yang penting mengosongkan gambaran-gambaran, perasaan yang dikerjakan oleh pikiran tadi.

Suatu perkumpulan kebatinan mempunyai ucapan zikir, itu kalau diteliti memang sudah benar dan mudah. Dan kata-kata hidup tadi karena adanya lafal, asalnya alam seisinya. Kosong artinya adanya hidup yang kuasa, jadi lafalan dikutip dari kata hidup, lalu untuk mengatur nafas keluar masuk. Kata-kata bahasa Arab disebut “hu Allah”, jadi ucapan hu dan Allah.

Karena di Wiridan bahasa jawa menerangkan adanya hidup, kuasa, lalu diucapkan kata “hu” dan “rip”, semua itu tidak menjadi masalah (bebas), yang penting menyatu (At’tauhid) kepada Dat Allah. dan orang mempunyai tujuan nyembah kepada Allah itu tidur, bangun, makan dan kerja harus ingat. Seperti keterangan lagu jawa (sinom) dibawah ini;

Ing dalu kelawan siang = dimalam dan siang hari,
Lan inget sakjerone ati = dan mengingat dalam hati,
Aywo lali Hyang Widi = jangan lupa pada Allah,
Ing siang kelawan daluh = disiang hari dan malam hari,
Ojo nyipto piyambak = jangan menciptakan sendiri-sendiri,
Dingin mangke pribadi = dulu dan sekarang sendiri,
Dunyo ngakhir kelawan yang sukmo = dunia akhirat dengan Allah.

Bersambung………….

Sumber buku Wedaran Wirid I, Ki R.S. Yoedi Parto Yoewono. Surabaja : Djojobojo, 1962-64.
—————————
Alang Alang Kumitir

MENGERJAKAN MENCARI TENTANG KETUHANAN (KASUNYATAN – JAWA)


Bab 8

MENGERJAKAN MENCARI TENTANG KETUHANAN
(KASUNYATAN – JAWA)

Keterangan tentang pekerjaan (perbuatan amal) terhadap ilmu Allah, itu tidak berbelit-belit karena ilmu Allah itu kenyataan yang keluar dari dalam hati (Qalbu), itu harus diolah melalui batin (Qalbu), harus bisa meneliti apa yanng keluar dari batin (Qalbu) itu yang benar atau yang salah, yang cocok dengan tata lahir apa belum. Orang tidak harus menerus olah batin saja, bisa menyebabkan lemahnya jasmani karena tidak terpenuhi kebutuhan jasmani, jasmani lemah pasti jiwanya lemah.

Melaksakan terhadap kasunyatan (kenyataan) itu macam-macam dan aslinyapun beda-beda. Oleh sebab itu menjalani (melaksanakan) harus memilih yang cocok dan mudah.

Di dunia ke Islaman ada kata zakat, artinya sifat memberi, pekerjaan itu melatih keikhlasan dangan memebri zakat tidak bisa dikatakan Alim, belum cukup semuanya, harus melatih bahwa orang tidak merasakan mencari harta dan memiliki karena semua itu pemberian Allah.

Walaupun sedekah atau zakat itu perbuatan baik yang utama walapun tidak dipaksa tidak ingin menanti mendapat balasan ataupun tidak takut ketinggalan kepercayaan Islam. Dengan pekerjaan tadi harus disesuaikan keadaan kita, kalau keadaan kita memang tidak punya, pemberian tadi mengakibatkan tidak Ikhlas, karena hanya mencari pujian, pekerjaan itu sama dengan bunuh diri.

Kemudian pekerjaan untuk memberi (sedekah) yang benar harus mengetahui keadaan diri sendiri, cukup atau belum, lebih baik lebih kebutuhan baru zakat (infak), jadi Infak/zakat tadi baru bisa Ikhlas sempurna benar atau halal dalam agama Islam. Jadi memberi pertolongan itu bukan harta saja tetapi tenaga, pikiran dan harta benda dan harus dihitung kemana harus diberikan. Yang punya ilmu batinnya harus jujur, tidak menipu diri sendiri (dusta), contoh; kita bertamu, lalu ditanyai “sudah makan atau belum”, menjawab “belum” kok malu, menjawab “sudah” perut merasa lapar, itu namanya membohongi diri sendiri, hasilnya menyiksa diri sendiri, pekerjaan seperti itu lahir dan batin pasti tidak bersatu, jadi watak itu harus disingkirkan bagi penuntut ilmu Hakikat, jadi harus jujur, bagitupun kalau lapar sekali tidak boleh minta, itu menandakan kekurangan kekuatan kita (orang yang lemah), tidak tahu malu, jadi kita bisa berusaha mencari nafkah untuk kebutuhan kita. Kita haris bertindak jujur luar dalam (lahir batin) mengendalikan nafsu dan menghargai orang lain (umat Allah) dan jangan meremahkan orang lain, harus mengoreksi diri, pekerjaan tadi disebut Mudjahadah dan Rijadlah (bahasa arab), para Syari’at Islam hakum agama yang menganut tanpa pamrih. Penghalang hidup ada 2 yang dibutuhkan, satu batin dan yang kedua modal lahir (jasmani), penghalang batin ada 5 macam, yaitu :

1. Memuaskan hawa nafsu;
2. Mencari kesenangan menurut kemauan;
3. Mengerjakan kejahatan;
4. Mengerjakan watak dusta;
5. menuruti pekerjaan memfitnah dan menganiaya orang.

Penghalang lahir ada 5 macam, yaitu :

1. Pekerjaan cerobah (asal kerja);
2. menjalani yang tidak benar;
3. Watak kejam;
4. Malas acuh tak acuh;
5. malas Berpuasa, Sembahyang.

Karena semua tadi membuktikan perbuatan setiap hari, para siswa harus pandai berusaha supaya bisa berhasi tadi penghalang-penghalang atau watak yang tidak baik sedikit demi sedikit, dan yang lurus dari penghalang-penghalang tadi orang bisa bahagia (tentram hidupnya) lebih baik lagi kalau bisa menjalani puasanya hidup dan zakatnya.

Menurut buku Hidayat jati seperti;

1. Kuasanya badan mengendalikan diri (anoraga-jawa), tekun dengan pekerjaannya, artinya segala perbuatan lemah lembut, segala pekerjaan harus disesuaikan tempatnya, melatih diri dengan baik (anoraga-jawa). Bicara besar yang tidak bisa membuktikan, maka akibatnya dibenci orang lain.

2. Budi atau pikiran, tapa atau kuasanya menerima apa adanya dan zakatnya sepi dari sangkaan yang menyelakakan orang lain itu tidak baik. Kata pikiran atau Budi sumbernya pekerjaan lahir yang tidak baik, jadi walaupun kita memngucapkan kata-kata harus kita teliti terlebih dahulu, karena Budi dan pikiran adalah gurunya lahir (jasmani). Jika Budi atau pikiran itu kita biarkan saja akibatnya tidak baik. Para penempuh Ma’rifat (kasunyatan-jawa), budi yang baik membuahkan yang baik dan menambah ilmu. Kalau kita mengingat tentang sifat 20, batin kita lalu mendapat petunjuk batin, jadi sedikit demi sedikit diteliti setiap saat sehingga menjadi kebisaaan dan menjadi kebaikan lahir dan batin. Puasa apa adanya berarti bukan mencari sedekah atau pemeberian orang lain, artinya tidak menyesal barang yang sudah hilang dan harus hidup sederhana, dan jangan hidup tamak dan serekah. Mencari rezeki jangan lupa diri sehingga merusak diri dan melatih diri mencari rezeki yang halal dan yang berkah. Terhadap penuntut ilmu kebatinan harus mengalahkan penghalangnya pikiran, itu dinamakan bisa mengendalikan nafsu, bisa melatih sedikit demi sedikit lama-lama terbisaa.

3. Nafsu puasa Ikhlas, zakatnya sabar terhadap cobaan dan memaafkan kesalahan. Ke Ikhlasan itu satu-satunya jalan untuk memerangi nafsu macam-macam, rela memberikan apa saja untuk melatih pikiran kurang Ikhlas. Sabar cobaan Billahi (sial), Billahi kecelakaan itu datangnya tidak kita ketahui, umpama terkena benda tajam, terjatuh, dilanggar, itu semua datangnya tida-tiba, bagaimana bisa sabar jika Billahi datangnya tidak tahu kapan, karena cobaan atau kecelakaan itu tidak tahu datangnya, jadi jangan jera, jangan takut, jangan membatasi karena semua itu kecelakaan, sudah ditakdirkan yang Maha Pencipta. Orang kecil (lemah) batinnya mengerjakan apa saja pasti pikir-pikir dulu untung ruginya dan tidak mau mengerjakan apa-apa, sabar tadi bagi orang yang kuat batinnya itu ridak takut kepada susah payah melaksanakan pekerjaan apa saja karena percaya dengan kekuatan diri sendiri mengakibatkan tercapainya tujuan. Karena semua pekerjaan terdorong oleh nafsu menginginkan dipuja orang, nafsu sering sekali unggul, rela kalau belum tercapai tujuannya ,umpama tidak rela, lalu marah. Untuk menghilangkan marah-marah tadi kita harus melatih ke Ikhlasan, jadi harus menghilangkan nafsu ingin dipuji, perbuatan itu bisa menguatkan Budi (Qalbu), jadi tidak mudah dipengaruhi oleh apapun sebab sudah mengetahui baik buruknya. Seumpama ada orang yang memukul anak kita, lalu kita pukul anak orang itu berarti membangkitkan kemarahan orang lain, alhasil pukul-pukulan menjadi ramai, labih baik kita melapor kepada yang berwajib, sebab semua itu ada hukumnya,

4. Nyawa, puasanya jujur, tidak perduli dengan isu-isu, menghina terhadap orang yang belajar ilmu batin (Ma’rifat), kata nyawa itu sulit betul karena nyawa (roh) tandanya hidup, karena hamba Allah semua memiliki nyawa. Kata jujur itu mengenai kejiwaan, artinya lepas dari rasa tidak enak, kalau perbuatan batin jujur, tidqak mau menipu diri sendiri, contoh; dibatin ingin melihat komedi, tiba-tiba datang tamu, lalu kita menyambutnya, bagi orang jujur tidak mau menipu diri sendiri tetapi berangkat menonton komedi. Untuk sopan santun kita menghormati tamu dulu, lalu berangkat menonton komedi, itu namanya tidak menipu diri sendiri. Pekerjaan jujur disiplin itu berat sekali karena sesuatu pekerjaan itu harus sesuai dengan batinnya, maka kita mengetahui bahwa batin kita kuat tidak bisa terpengaruh, contoh; sewaktu kita berjalan berduaan dengan sahabat, batin kita mengatakan orang ini mau meminta uang, tidak salah lagi kawan itu minta ongkos pulang, itu namanya pekerjaan batin seolah-olah kita bisa membaca pikiran orang.

Perjalanan-perjalanan itu tadi yang dimiliki para Hakikat, maka Hakikat itu Semadhinya (tapa) Jiwa. Kalau selalu mengawasi batin kita (pikiran) sampai hafal, lama-lama bisa mendapat ilham (waskita-Jawa) kehendak batin (krentek-Jawa) pasti cocok jiwa dan jasmani menjadi satu, hasilnya jiwa bisa mengendalikan jasmani, jasmani itu adalah lengkap pikiran dan nafsu, contohnya begini : pada hari sore waktunya minum kopi, kebetulan kopi dan gula habis, uangpun tidak punya, batinnya mengatakan yang perlu minum kopikan perut dan mulut, kalau mau diperintah pasti datang sendiri, lalu datanglah tamu yang tidak diundang membawa gula dan kopi. Pekerjaan yang jujur dan disiplin lahir batin membuahkan hasil jasmani dan rohani, sama merasakan kebutuhannya, pokoknya apa yang dibutuhkan barangnya ada, itu sebabnya karena apa?, tidak lain kehendak batin tumbuh suci, jujur dan patuh menjalaninya, itupun kehendak Allah, lihat Qur’an surat At-Takwir : 29 ;

“Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam”

Begitu jalannya zakat , amal, nyawa, amal perbuatan dan pekerjaan, tidak ingin tahu, iri hati, itu jikasalah menerimanya menjdai murka, membunuh, membuat kekerasan dan lain-lain.

Dasar ukuran umum; siapa yang mengerjakan kejahatan pasti dihukum, hukumnya batin harus dipelajari dulu, apa sebabnya membunuh, umpama pikiran yang tidak dikendalikan bisa menyebabkan berbuat kekerasan seketika, pikiran yang jelek perbuatan juga jelek. Kata sok ingin tahu, iri hati itu hanya menyiksa diri sendiri (batin kita).

Menjawab contoh diatas; “sebab memukul”, karena digertak (dimarah) karena perbuatan salah, maka jika perbuatan yang salah, pikiran akan menjadi jelek. Umumnya sebelum dikerjakan pasti di batin sudah memerintahkan (mengajak).

Bagi para orang-orang yang menempuh kasunyatan (Ma’rifat), yang memerintah tadi harus disingkirkan. Peraturan-peraturan dan perbuatan adalah zakat (mengamalkan ilmunya), intisarinya tidak iri hati dan tidak sok ingin tahu (pikiran jelek).

Karena itu tapanya orang Hakikat, lalu belajar menyepi atau tidak ada apa-apa hanya Ikhlas, Insya Allah akan mendapat kekkuatan dari Allah yang tidak pernah dimiliki.

Rahsa (rasa) tapanya baik hati, zakatnya berhenti mengeluh (analansa-Jawa), itu sebenarnya tapanya ahli Ma’rifat dan tercapai kalau sudah mengamalkan tingkatan 1 (Syari’at) sampai 4 (Ma’rifat) seperti diatas, itu hanya sebutan (kata-kata saja), kenyataannya yan merasakan mencapai (Ma’rifat).

Keterangan orang yang berbudi serta benar, dapat dipercaya dan ditiru apa yang dikatakan (ucapannya), dan sering menasehati dan memberi penerangan kapada masyarakat. Jadi Budi baik karena orang yang sudah mencapai Ma’rifat; apa yang dikatakan adalah kata-kata Allah, apa yang dikehendaki adalah kehendak Allah, sebab yang paling utama sifatnya Allah yang tidak mengenal tempat, siapa saja diberi watak luhur, bijaksana, yang terpenting mau menjalani tapa dan zakat seperti tercatat diatas, yaitu Syari’at samapai Mari’fat tadi.

Apa sebab mendapat sifat luhur, agung, bimbingan, kasih sayang-Nya dan lain-lain; karena sudah keluar dari Kijab, pemeberantas nafsu keinginan yang terdapat pada tingkatan 1 sampai 4 diatas.

Sugi Ronggo Warsito (Almarhum) mau memberi petunjuk begini; karena mudah sekali, asal mau menjalani seperti Almarhum (Ki Ronggo) seperti yang disebutkan pada tingkatan 1 sampai 4; apa yang kamu inginkan datang, apa yang diminta ada, lalu begini; Ki Rongga Warsito tadi sudah diberi (memiliki) sifat yang tertera di Al-Qur’an surat At-Takwir : 29 diatas; paranormal, kekebalan, kekayaan dan lain-lain, itu semua tercapainya hanya puasa, artinya berpuasa dan menjalankan No.1 sampai No.4 diatas. Oleh karena kekuasaan Dat itu tidak didalam saja, maka untuk perantaraan melatih harus bisa mengendalikan atau mengatur alat-alat Indra yang diluar (panca indra).

Umpama ;

1. Mata puasanya mengurangi tidur, puasanya jangan melihat yang menimbulkan membangunkan nafsu keinginan, namanya puasanya tidur.

2. Telinga puasanya menahan hawa nafsu, zakatnya menahan suara yang jelek, berkelahi, adu mulut, ejek mengejek, namanya puasa tuli.

3. Hidung puasanya menahan minum, zakatnya malas mencari kesalahan orang lain, kata minum (mencium-cium) sama dengan mencari-cari arah baunya, menyebabkan dibenci orang lain, hidung itu alat untuk memilih, walaupun si mata tidak melihat barangnya, kalau hidung bisa mencium apa barangnya. Di hidung jalannya Bilahi (kecelakaan), artinya kalau kurang mengerti (kurang hati-hati) bisa marah-marah, karena penghalang hidung bau, bau bangkai. Kalau tidak bisa menahan si mulut, maka mulut berkata “bau bangkai”, jadi dimana-mana tempat harus menjauhi barang (bau) itu. Orang yang ceroboh umumnya memakan apa saja, memegang apa saja pasti dicium, kalau racun dicium mengakibatkan mati seketika. Begitupun terhadap penuntut ilmu, jangan sampai mengakibatkan bocoran, mengakibatkan pecahnya benteng (rahasia), jadi jangan ikut campur urusan orang lain. Umpama dimintai pendapat, kerjakan saja, jangan menambahi persoalan. Mencari kesalahan orang lain hasilnya merasa tahu, pikirannya ingin dipuji, sebab pikiran dan ucapannya ingin dipercaya. Bagi yang menjalani Ma’rifat memastikan orang lain, itu larangan besar, menyebabkan tinggi diri (membanggakan diri) karena belum pasti benar.

4. Mulut (ucapan) puasanya makan, zakatnya tidak boleh memberitakan orang lain. Kalau ingin keterangan yang luas, baca tentang keterangan puasa; tentang memfitnah, cerita yang tidak benar, itu jangan dikerjakan.

5. Parji (kemaluan) puasanya menahan Syahwat, zakatnya tidak boleh berbuat zinah. Selingkuh menyebabkan kerusakan jasmani, adalagi keterangan pada Bab Semadhi, Yogha dan lain-lain.

Itu semua jalannya untuk membuang pembatas (warono-jawa) antara hamba dengan Allah. pekerjaan umum (salah tetapi banyak kawan / salah kaprah – jawa), hanya ditujukan pada batin saja, hasilnya buta ilmu tidak mengetahui, karena yang harus dikerjakan bisaa saja, seperti sebelum puasa; makan dan minum, jalan-jalan, jangan berlebihan. Keterangan itu semua sumbernya dari keterangan No.1 samapi No.4 diatas tadi, sebab diluar bisa menjalankan, tetapi batinnya belum bisa, sama dengan tanpa hasil (karena batin gurunya lahir). Bersambung…………….

Sumber buku Wedaran Wirid I, Ki R.S. Yoedi Parto Yoewono. Surabaja : Djojobojo, 1962-64.
—————————
Alang Alang Kumitir

IHTIKAT YANG BERMACAM-MACAM BAB : NUR MUHAMMAD


Bab 7

IHTIKAT YANG BERMACAM-MACAM
BAB : NUR MUHAMMAD

Ada sebahagian kepercayaan mengatakan Nur Muhammad lebih kurang begini: Muhammad itu cahayaku, aku Adam, Aku Muhammad, Aku Allah;

“Cahayaku pada Mata. Aku Adam, asalnya manusia dari kosong (suwung-jawa)”
“Aku Muhammad”, artinya asalnya dari Nur Muhammad, Terakhir “Aku Allah.”

Selanjutnya golongan tadi memutuskan adanya aku (ingsun-jawa), adanya nafas.

Tujuan dan pendapat diatas tadi umpama diteliti dengan jernih hasilnya tidak baik, karena Nur Muhammad itu tempatnya di mata, itu tidak sesuai dengan kenyataan, maka dari itu mata tidak bisa melihat jika tidak memiliki sifat Allah (Bashar), oleh karena sifat Bashar itu sifat-Nya Allah (Pangeran-jawa). Menurut keterangan dimuka tadi sifat Muhammad itu memiliki sifat lengkap (sifat 20). Jadi tidak benar kalau sifat 20 itu menyatu dimata. Menurut Hidayat Jati (Rangga Warsita) Muhammad itu selengkap begini; Nukat Gaib itu menjadi 2 bagian :

1. Nukat, artinya Benih (benih yang terjadi).

2. Gaib, artinya samar (tidak bisa dilihat oleh mata), tidak bisa diraba, sifatnya mutlak (abadi).

Nukat Gaib disebut Nur Muhammad, jika diteliti selanjutnya Wirid Hidayat Jati mengatakan bila Nur Muhammad itu cahaya yang terang benderang tidak ada bayangan cahaya (ingkang padang tanpa wayangan-jawa).

Kata terang artinya menerangai siapa yang kena sinarnya pasti merasakan sinarnya. Nyata kalau Nur Muhammad terang menyinari seluruh yang nyata atau wujud alam raya.

Karena tanpa bayangan jadi bukan cahaya lampu, memang tidak ada didunia ini. Apa sebab kata tanpa bayangan karena siapa saja, apa saja jika terkena cahaya pasti tembus, tembus artinya tidak putus karena terhalang benda apa saja, karena cahaya itu tanpa batas (meliputi). Jalan itu bisa menunjukan kepada jalan-Nya Dat yang wajib yang menyinari seluruh yang diciptakan. Pendek kata Ikhtikat (tujuan) Nur Muhammad atau cahaya yang suci, itu sama dengan Hakikatnya yang Maha Kuasa, sama dengan aku tidak melihat tetapi daya tarik menarik. Kata Nur Muhammad itu menurut ajaran agama yang mendapatkan adalah pujangga Al-Hallaj, mereka membenarkan bila kejadian semua yang diciptakan itu dari Hakekat-Muhammadiah. Wirid bahasa Jawa Nur Muhammad (cahaya yang terpuji), pujangga itupun berpendapat Nabi Muhammad terjadi dari 2 bagian, yaitu :

1. Muhammad, bentuk sifat Muhammad sendiri.
2. Muhammad, bentuk seluruh ilmu, agama, filsafat dan lain-lain, artinya pusat atau sumber segala ilmu.

Dari itu sifat Muhammad sama berdirinya Rasul, utusan Dat yang menyebar ilmu agama murni, tidak dicampuri agama apapun (ilmu-ilmu lain), an keterangannya dibawah ini :

1. Muhammad sama dengan manusia hidup.
2. Jiwa Muhammad sama dengan jiwanya manusia.

Yang menjadi penuntun agung Rasul, Nabi, Wali yang sudah Ma’rifat, yang sudah lepas dari godaan nafsu (keinginan). Jadi manusia itu sifat ujud pasti mati, sakit, rusak atau busuk. Kalau sifat Qadim Muhammad cahaya yang terpuji tetap meliputi Jagad raya, jadi sama dengan cahayaterang benderang tanpa bayangan. Dalil Al-qur’an surat Al-Qashash : 52 :

“Orang-orang yang telah Kami datangkan kepada mereka Al Kitab (Yahudi, Nasrani) sebelum Al Quran, mereka beriman (pula) dengan Al Quran itu (Allah atau Muhammad) “

Keterangan tadi mengagungkan nama Muhammad, menurut pujangga Al-Hallaj, Nur Muhammad itu sumber dari segala yang ada di Jagad raya ini dan seisinya, jadi makhluk, manusia dan benda-benda itu hanya percikan dari cahaya Muhammad. Karena hanya percikan cahayanya Dat, sifat, asma, afhngal, itu disebut Widhatulwujud. Pendapat Al-Hallaj itu lalu disebut dengan pujangga Ibnu Arrabi tahun 1102 Masehi di tanah Andalusia. Sama dengan pendapatnya menerangkan kalau Nabi Adam, para Nabi-nabi utusan Allah dan lain-lain didunia terjadi dari percikan cahaya Nur Muhammad atau Hakikat Muhammad. Karena Nur Muhammad itu sama dengan Hakikatullah. Lalu keyakinan semua tadi keadaan satu (Sawiji-jawa) bisa pendapat tadi meluas di tanah Jawa antara abad 15 dan 16 Masehi. Dari silang pendapat orang itu kurang mendapat penerangan sudah berani mengikuti paham tadi, hanya berhenti sekedar tahu saja, tetapi sudah berani kepada umum, padahal pengetahuan tadi hanya Cuma bicara.

Rasa menyatu dengan-Nya (cahaya Illahi) tidak mudah jika tidak dijalani melalui Shalat Tauhid sampai ke At’tauhid tentu tidak bisa menerima keterangan-keterangan tadi, kalau salah bicara atau menerangkan mengakibatkan perkataan golongan lain mengatakan Kafir atau Kufur, menyatukan Allah atau menduakan Allah, jadi mengatakan Chaliq dan Makhluk itu dua, batinnya tidak menyetujui tentang Widhatulwujud (keadaan satu), makhluk itu bisa dilihat dengan mata tetapi Chaliq atau Dat yang tidak bisa dilihat atau dijangkau apapun.

Tetapi yang mempunyai sifat seperti Al-hallaj atau Ibnu Arrabi dan Syeh Siti Jenar itu; Ikhtikat Widhatulwujud, dihatinya dan amalannya sudah menyatakan bila Dat, Sifat, Asma, Afhngal, itu satu. Jadi tidak hanya tahu saja.

Keterangan Bab Anasir 4 macam seperti diatas keterangannya begini : pengikut agama kristen Allah itu atau Tuhan itu punya putra sama dengan Citra, bayangan Dat umpama matahari sinarnya memenuhi kolam, umpama itu ditekadkan sama dengan Nur Muhammad tidak seberapa beda, keterangannya begini :

1. Allah sama dengan sang Rama (Iswara-Sangsekerta);
2. Hakikatullah sama dengan Nur Muhammad;
3. Nur Muhammad sama dengan Citra;
4. Citra, Hakikatnya sama dengan Putra;
5. Sang Putra sama dengan Jiwa.

Jika diterangkan Nur Muhammad itu pusatnya kejadian dan menjadi wujud sifat hidup kita, Ikhtikat disebut aku (putra Allah). Putra (Citra) itu bayangannya Nur Muhammad, artinya putra bukan anak bisaa seperti bayangan yang diterima oleh Allah.

Karena sang Rama (Allah) itu tidak bisa dibayangkan (dilihat) dengan mata bayangannya pun tidak bisa dilihat. Sifat-sifat tadi dimiliki oleh manusia, sifat-sifat bisa dipergunakan untuk membuktikan yang tidak bisa dilihat tadi (terjangkau oleh akal pikiran). Dalam agama Budha disebut Nirwana (alam abadi), oleh karena tadi hanya nama dan kata-kata saja, jadi salah mengaku kuasa semua itu salah. Hakikatnya tidak bisa berdaya apa-apa kalau menyinari pada sifat-sifat yang tidak lengkap, tetapi bagi manusia bekerjanya seperti yang memiliki sifat Hakikat.

Oleh karena yang memiliki Hakikat itu hanya untuk satu gambaran (contoh); matahari dilangit menyinari kekolam isi air, jadi sikolam tidak memiliki sinar, yang memiliki tentu matahari.

Keterangan tadi Muhammad itu Hakikatnya Dat dan Dat itu lengkap tidak berubah-ubah dan wajib adanya, lalu penganut yang mengatakan Muhammad itu cahayaku yang tempatnya dimata tidak bisa diterima. Untuk menutup keterangan tentang Muhammad penting menjadi peringatan, karena sifat Muhammad dan Rasul, dan bisa mengatakan Rasul, harus diamalkan (dikerjakan) karena sifat 20 adalah sifat-sifat-Nya Allah yang tanpa batas, cahaya tanpa batas;

“Orang yang mempunyai kemauan itu kemauan Allah”
“Orang yang berbicara itu bicaranya Allah”
“Orang yang berbuat itu berbuatnya Allah.”

Karena itu orang yang telah menjadi Rasul, Nabi, Wali, Mukmin Haz (yang sudah Ma’rifat), orang yang sudah dibuka hatinya oleh Allah yang tidak pernah merasakan apa-apa yang dibicarakan atau yang dikerjakan, karena sudah pasrah (menurut kehendak-Nya).
Jadi tandanya siapa saja mengaku dirinya berkuasa, pintar, bayak ilmunya, kebal, bisa menghilang dan kesayangan Allah yang sangat mengherankan itu bukan utusan Allah, melainkan utusan nafsu (syetan), seperti Dalil Qur’an surat At-Takwir : 29 ;

“Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam”

Maksudnya jelas sekali, umpama bisa At’tauhid (menyatu dengan-Nya) dengan Dat yang Maha Suci, seperti ayat diatas apa yang kita mau itu kemauan Allah, itu semua melewati mulut, telinga, yang menadi perantaranya Allah bagi orang yang sudah mencapai Ma’rifatullah. Bersambung…………

Sumber buku Wedaran Wirid I, Ki R.S. Yoedi Parto Yoewono. Surabaja : Djojobojo, 1962-64.
—————————
Alang Alang Kumitir