alangalangkumitir

Javanese Manuscripts

MET IDUL FITRI


Myspace Marquee Text - http://www.marqueetextlive.com

Mas Kumitir

Lumantar blog : http://www.alangalangkumitir.wordpress.com,
hambok bilih wonten silap tangsulipun tulis lan wicoro,
ugi solah bawa lan tindak tanduk kirang trapsilo
ingkang handadosaken kirang renaning panggalih,
kawulo ing dinten riyadhin puniko
nyuwun agunging samodra pangaksami
dumateng sedaya Sesepuh Pinesepuh,
lan sedaya sutrisna budaya Jawi.

Dalah hangaturaken
SUGENG RIYADHIN,
1 SYAWAL 1434 H

SERAT WARNI-WARNI (Bhs Indonesia)


PUPUH I
KINANTHI

  1. || Tembang kinanthi pembukaan kidung guban sri raja Surakarta ke-9 yang sedang berkuasa yang termasyhur baik dalam hal gamelan, maupun kidung petuah ||
  2. || Gubahan kidung ini hanya sekedar penyembuh duka lara pelega hati, hati yang sedang jengkel mengatasi kesedihan dan pasrah kepada Tuhan ||
  3. || Terbukanya hati merupakan bunga dari keutamaan, tanamlah di dalam sanubari,  jangan sampai hati terlanjur gelisah, telitilah dengan cermat dalam mencontoh hati para orang yang berbudi utama ||
  4. || Sifat utama seorang penguasa pemerintah dapat dilihat jika setiap waktu pemerintahan dan segala isinya dalam keadaan selamat, bebas  dari ancaman kejahatan, pemerintahan berjalan dengan tenang ||
  5. || Semua gangguan, perusuh dapat diberatas, daerahnya aman tentram, rakyatnya merasa damai, negara yang tentram dan damai ini adalah suatu idam-idaman ||
  6. || Negara indah dan harum,| hendaknya semua orang hidup rukun saling bersahabat jangan ada yang bermusuhan dan selalu mengutamakan kedamaian ||
  7. || Akhirnya keadaan ini juga menjelma di dalam keluarga, anak dan cucu, riwayat yang baik ini jangan sampai dilupakan, pengorbanan akan mendapatkan anugerah, hati yang terang menyebabkan suburnya segala sesuatu yang ditanam di bumi ini ||
  8. || Rakyat kecil dapat hidup dengan enak, sesuatunya diterima dengan senang hati, patuh terhadap perintah tanpa membantah demi ketentraman Negara ||
  9. || Perbuatan sehari-hari wajar dan sebenarnya, utamanya adalah persatuan dan kebulatan tekad bersama, biasakanlah hidup berkasih-kasihan sesamanya ||
  10. || Berkasih-kasihan si antara seluruh umat itu cita­cita segenap isi negeri, hal ini memang sudah dicanangkan oleh orang-orang jawa keturunan pertapa kekasih dewa ||
  11. || Derajad itu selalu diharapkan bagaikan jatuhnya hujan pada musim penghujan, dunia ingin mencapai kemustikaannya, sedangkan kemustikaan dunia itu dicita-citakan manusia yang benar-benar mengetahui mustika di bumi ini ||
  12. || Dunia semesta ini condong kepada yang menjadi raja di pulau jawa yang selalu memuji dan mengagung-agungkan Tuhan sesuai dengan kesucian yang selalu dikehendaki ||
  13. || Keinginan hatinya adalah menyelamatkan seluruh penghuni bumi ini, sebelumnya hal ini sudah dipertimbangkan masak-masak agar melaksanakan keinginan hatinya itu ||
  14. || Manusia yang selalu ingat kepada perbuatan yang baik di dunia ini hendaknya jangan lalai dan merenungkan kesempurnaan ||
  15. || Jadilah manusia yang unggul yang dapat menghimpun manusia-manusia yang baik serta mengetahui pemerintahan yang baik, keinginan demikian hendaklah lestari ||
  16. || Setelah tumbuh, bertambah pengetahuannya secara luas yang menguasai seluruh daerah maka berdasarkan riwayat nabi kita rasulullah, insya Allah Tuhan akan memberi pertolongan kepada umat yang memeluk agama dengan baik ||
  17. || Umat yang akan memeluk agama yang utama, pertimbangkan dengan masak-masak jangan sampai keliru dan tergesa-gesa bertindak dalam menyelesaikan keruwetan hati ||
  18. || Kecermatan terhadap segala pengetahuan hendaknya mencontoh cara-cara orang pandai, carilah petunjuk dalam sastra, sastra yang mengandung hal-hal yang gaib dan rahsia, biasanya dapat diketahui juga, baik yang bersifat jelek, sedang sampai kepada yang utama ||
  19. || Sikap orang yang baik adalah sikap yang penuh pertimbangan terhadap segala sesuatu dikehendaki, cara mencapainya harus disertai kesabaran, dengan demikian cita-cita itu pasti akan tercapai ||
  20. || Jika segala sesuatu itu dilakukan dengan serba tergesa, maka tujuan yang dikehendaki tidak akan tercapai, bahkan hanya akan memperoleh kesusahan, orang tua tiada menaruh kasihan ||
  21. || Oleh sebab itu hendaknya para muda menjauhkan diri dari segala yang dapat berakibat jelek, lebih baik kita menurut kehendak saudara tua yang selalu memberi nasihat baik jangan lupa, kita harus ingat kepada nasihat-nasihat yang baik itu ||
  22. || Biasakan bergaul dengan orang-orang yang berbudi luhur agar keluhuran budinya itu mempengaruhi kita, dengan demikianlah akan turun wahyu “jali” yang sesuai dengan keinginan jiwa kita, hayatilah dengan seksama, jangan sampai berselisih antara tujuan yang hendak kita capai dengan getaran jiwa kita ||
  23. || Lahir dan batin jangan sampai berselisih ya rabil rahmanirakhim, perbuatan yang paling mulia itu adalah perbuatan “tana jul tarki” hai anakku, jangan sampai kau tergelincir, kau harus dapat melihat dengan jelas tanpa sesuatu yang menutupinya ||
  24. || Ingat-ingatlah bahwa perbuatan yang dilakukan tanpa kesadaran, perbuatan yang membingungkan akan menutup mata kita, tanpa jarak sejengkal pun karena Ijajil tidak mau bergerak dan tetap bercokol dalam hati ||
  25. || Cobalah terus – menerus secara langsung meneliti hati yang tidak teguh, lakukanlah ini dengan sabar dan jangan patah semangat, jika belum berhasil pelajarilah tujuan yang merusak budi itu ||
  26. || Orang-orang budiman yang tidak tergerak oleh bujukan iblis, benar-benar merupakan anugerah, ilahi laliyul a1im masuk kedalam golongan orang mukmin ||
  27. || Karena niat yang merupakan benih, dan kehendak Allah yang menerima, menjadi isi dunia semesta yang terbentang dan serba lengkap, apa yang dideritanya, manusia hanya menerima atau menjalani ||
  28. || Segala perbuatan harus diingat-ingat, jangan berhenti di tengah jalan, ibarat pertunjukan wayang kulit yang belum sampai subuh tiba, dalang sudah pergi tanpa pamit, belencong (lampu) berkobar-kob ar menjilat layar pertunjukan ||
  29. || Alat-alat pertunjukan porak-poranda, tuan rumah ikut pergi, niyaga (penabuh gamelan) tidak terurus, suasana rumah sunyi sepi tamu-tamu pulang, tujuan semula kabur ||
  30. || Demikianlah ibarat kehidupan manusia, mata harus awas lahir batin, jangan khawatir, dan bersikaplah rendah diri ||
  31. || Telah lama penggubah menulis dan merasa payah, menulis setiap hari selagi tugas negara melanjutkan gubahan ini ||
  32. || Hari selasa, tanggal 21 Muharam, wuku ringgit windu adi dengan sengkala tata muluk ngesti aji (1895) ||

PUPUH II
DHANDHANGGULA

  1. || Gubahan ini ditujukan kepada anak-istri sekedar melanjutkan cerita agar pada kemudian hari dapat digunakan sebagai pelajaran bagi mereka yang berminat mengingat-ingat petuah orang-orang tua yang berguna, ini juga dapat digunakan sebagai pengikat hati, khususnya hati yang tidak tahu tata hidup yang utama ||
  2. || Sarana bagi mereka yang ingin hidup baik, dan yang tak pernah diajarkan oleh orang tuanya, ajaran ini sangat bermanfaat direnungkan, pengorbanan yang paling utama adalah seperti cara-cara orang mengabdi pada orang besar (pimpinan), janganlah merasa dirinya besar, bertindaklah secara tepat dalam melaksanakan tugas negara, tenang, tabah ||
  3. || Hati tidak goyah karena godaan wanita, kata-kata (laporan) bawahan yang tiada tentu, harus benar­benar ditimbang, jangan suka berselisih dengan sesama, segala tingkah laku harus yang menarik perhatian orang lain, hati harus berani, perangai tidak kasar, jangan mudah tersinggung dan berbicaralah dengan lemah-lembut ||
  4. || Tingkah laku yang kurang baik tidak ada gunanya dilakukan, hendaknya suka bertapa, tetapi bukan bertapa di puncak gunung, karena di sana sunyi, tidak ada gunanya sendirian dan mengantuk setengah tidur dan bermimpi baik, padaha1 sebenarnya tidak terjadi apa-apa, yang terjadi dalam mimpi itu hanyalah pengaruh pikiran saja, suatu keinginan yang terdapat dalam hati sendiri itulah yang muncul dalam mimpi tersebut ||
  5. || Lain halnya dengan bertapa di tengah-tengah kehidupan ramai, tahu sopan-santun pergaulan, tingkah-lakunya tidak keliru, bahkan selalu dekat dengan rajanya,  raja itu sesungguhnya adalah wakil Tuhan, yang berkuasa menyelamatkan umatnya, turutlah orang yang menulis gubahan ini, orang yang pemah mengalaminya ||
  6. 6|| Ketika terjadi pergantian raja, meskipun banyak sekali rintangannya, namun akhirnya (penulis gubahan ini) dapat juga menjadi raja, karena hati tetap tidak tergoyahkan, hanya selalu taat ada perintah orang tua, dan akhirnyapun tidak meleset dari timangan orang tua oleh karena  itu, hendaknya taatlah selalu kepada orang tua, sekali­kali jangan berani membantah, penulis pernah mengalaminya ||
  7. || Kini penulis ibarat matahari sudah waktu asar, telah jauh dari saat terbitnya, andaikan masih bisa hidup bersama-sama anak cucu, namun aral yang akan melintang tak dapat diketahui oleh manusia, dan penulis sungguh-sungguh tak akan menolak kehendak Tuhan ||
  8. || Apabila masih tetap sehat lahir batin penulis masih dapat lebih lama lagi hidup di dunia ini bersama-sama anak cucu, bila semuanya itu dapat terlaksana, benar-benar akan merupakan suatu kebahagiaan, meski demikian, jika sampai waktunya, penulis hanya bermohon semoga dapat meninggalkan amal bakti kepada Negara ||
  9. || Sesungguhnya seseorang yang ditakdirkan menjadi penguasa negara mempunyai tugas yang paling rumit dan sulit, sampai-sampai tak tertidur pada malam hari, hendak makan pun selalu ragu, kalau pun jadi makan, selama makan, banyak yang dipikirkan, laporan dari yang paling jelek sampai dengan yang paling baik harus ditangani dengan bermacam-macam cara, sebanyak-banyak manusia, ada juga yang minta tanah, padahal tanah itu dapat menimbulkan bermacam-macam tipu muslihat ||
  10. || Setiap muslihat yang datang dari pihak lain harus dapat diketahui, supaya tidak bertentangan dengan kehendak diri sendiri, untuk bisa mendapat tempat, orang harus mengetahui watak tiap-tiap orang dan selalu berhati-hati agar tidak keliru, oleh karena golongan dalam masyarakat itu beraneka ragam, maka orang harus dapat berbicara secara tepat dan lemah-lembut, tetapi jangan sampai kena tulah (kemat) ||
  11. || Yang dimaksud dengan tulah atau kemat adalah segala sesuatu yang enak dimakan, dan enak pula dilihat, semuanya itu dapat membawa kecelakaan dan kesukaran untuk selama-lamanya, adapun pengetahuan yang paling utama adalah mengetahui saat-saat yang sukar, wahai, anakku yang akan mengganti raja, telitilah segala sesuatunya agar semuanya menjadi teratur ||
  12. || Yang terutama, janganlah terpengaruh oleh bahasa yang manis, lain halnya dengan manisnya rabbil alamin (Tuhan) oleh karena itu, peganglah teguh cita-cita, jangan sampai lepas, waspadalah terhadap gejala-gejala yang samar-sama,| tenangkanlah pikiran, jangan sampai goyah ||
  13. || Hai, anakku yang akan mengganti raja, janganlah selalu mengutamakan harta dan busana, namun jangan meremehkan uang dan busana, karena keduanya itu merupakan sarana dalam kehidupan ramai ini, tanpa ada keduanya itu manusia akan menjadi hina, jadilah manusia yang besar, banyak kawan dan banyak harta, kita dapat meminta bantuan apa saja kepada kawan-kawan yang setia ||
  14. || Jika rakyat datang menghadap, hendaknya waspada dan tahu siapa mereka itu, serta apakah pekerjaan mereka itu, jangan segera meminta tanggungjawab mengenai tugas kewajiban mereka, dan rakyat yang pikirannya sedang ruwet tentu akan berani melawan perintah, namun, orang besar jangan kurang akal, bertindaklah kau perlu secara keras, ataupun secara halus sesuai dengan keinginan mereka masing-masing, dengan mengatasi kejahatan dan ketidak jujuran ||
  15. || Telah diketahui pada zaman kini, banyak orang pandai bahasa asing, dan bahasa sendiri menjadi terlantar, sudah lumrah bagi orang yang sedang mencari ilmu harus bertindak cermat serta bertekad yang mapan, jangan khawatir, jadikanlah pengetahuan asing itu sebagai penghias negara sendiri, tak usah diserapkan ke dalam sanubari ||
  16. || Pengaruh kebudayaan harus menambah kesentosaan budi, dan sebaik-baiknya disertai pertimbangan-pertimbangan yang seksama, disusun dengan pasti, meraka yang beroleh budi, budi baiklah yang akan menjadi tanda perilaku yang baik, yang mendapat tugas negara, yang menjadi raja, tiada sempat tidur nyenyak, selalu meneliti tugas kewajibannya, kata-katanya pun enak didengar ||

PUPUH III
M  I  J  I  L

  1. || Pandangan ajaran yang telah dibicarakan di muka, penulis berikan sebagai nasihat bukan karena penulis merasa kelebihan ilmu melainkan dipaksa oleh suatu kewajiban ||
  2. || Memang sudah banyak ajaran nabi dan para raja yang termaktub dalam kitab jawa – arab, namun hal itu rasanya perlu ditambah sebagai nasihat bagi anak cucu ||
  3. || Sesungguhnya nasihat ini hanya tertuju kepada keluarga sendiri, bukan untuk keluarga orang lain berbeda halnya dengan nasihat nabi, nasihat itu tentu akan di turut dan ditaati oleh seluruh umat manusia di dunia ini ||
  4. || Adapun yang sangat diagung-agungkan adalah orang yang dalam hidupnya tidak suka berdusta,  tiada seorangpun di dunia ini yang senang di bohongi, meski diri sendiri sekalipunb||
  5. || Rasanya ingin juga menghajar diri sendiri apabila orang yang, berbuat bohong pasti hati merasa sakit, lebih-lebih Tuhan pasti juga tidak berkenan ||
  6. || Sesungguhnya Tuhan akan mengabulkan prmohonan kita yang sungguh-sungguh asalkan permohonan itu selaras dengan keadaan dirinya ||
  7. || Adapun wujud pertimbangan permohonan berada pada Tuhan, itu ibarat seekor nyamuk yang bermohon pahala yang sebesar gajah, pasti Tuhan tidak akan mengabulkannya karena tubuh nyamuk yang kecil itu tidak mungkin mampu menampungnya ||
  8. || Jika seseorang itu keturunan pegawai, hendaknya jangan sering pergi ke hutan agar tjdak – menjadi seekor kera, sebaiknya mengabdi keada raja dan berlakulah jujur dan teliti ||
  9. || Wahyu itu tidak akan jatuh kepada orang yang jauh dan yang dibenci melainkan akan jatuh kepada orang yang selalu dikasihi oleh sesama oleh sebab itu orang yang mengabdi itu harus berusaha selalu dikasihi ||
  10. || Meski orang itu mengabdi kepada orang tua sendiri, jika tidak patuh kepada orang tuanya akan mengalami sesuatu yang tidak baik pada kemudian hari, jadi yang sebaik-baiknya adalah orang yang selalu dikasihi, segala keinginannya akan terlaksana ||
  11. || Sebenarnya sudah banyak contoh sejak zaman dahulu, arwah raja yang tidak mendapat berkat dari orang tuanya akan mengalami berbagai kesukaran, oleh karena itu orang harus selalu berbakti kepada rajanya ||
  12. || Meskipun itu bukan raja kita sendiri (raja negara asing) kita harus menghormatinya agar kita mendapat berkat serta wahyunya, raja itu adalah mustika bumi sedangkan yang empunya bumi ini tak lain adalah ya rabbil rahman (Tuhan) ||
  13. || Limpahkan berkat raja itu kepada orang lain, sebab pada akhirnya kebahagiaan itu akan datang dengan sendirinya dan melimpah sampai kepada anak cucu,| janganlah tergelincir oleh kesenangan, hingga lupa akan segala-galanya ||
  14. || Wahai anak-anakku, carilah keselamatan, sudah lumrah ada manusia yang dapat mencapai cita­ itanya dan ada juga yang tidak terlaksana keinginannya, semua itu disebabkan oleh dirinya sendiri yang tidak melihat dunia sekelilingnya ||
  15. || Orang yang memaksakan dirinya pergi pada waktu hujan menjelang matahari terbenam pasti akan basah kuyub, ibarat seorang pemalas yang tubuhnya kotor, bibirnya biru, or ng manyangkanya pemadat ||
  16. || Adapun seorang penjudi yang kalah, bisa disangka orang sebagai pencuri, sebaliknya orang selalu dekat dengan kitab akan disangka orang makdum ||
  17. || Yang pasti tingkah laku manusia itu bisa diliihat dan ditandai ciri-cirinya, yang jujur dan berdusta hati dapat dilihat lewat wirasat sinar matanya, namun tidak setiap orang dapat melihat wirasat semacam itu ||
  18. || Yang dapat melihat hanyalah orang yang tajam perasaannya dan terbuka hatinya terhadap segala sesuatu yang gaib serta yang ingat akan cerita Imam Safi’i zaman dahulu, namun itu merupakan pekerjaan yang sangat sulit ||

PUPUH IV
G A M B U H

  1. || Orang yang tahu ilmu wasiat secara langsung dapat mengetahui sesuatu yang dikehendaki seseorang secara jelas karena pada tubuhnya ada tanda-tanda yang sesuai dengan yang dikehendaki oleh orang tersebut ||
  2. || Seluruh perbuatan Imam Syafi’i telah tersusun dalam kitab yang tidak perlu diragukan dan telah mendapat izin dari kanjeng rasul dan para sahabatnya ||
  3. || Yang Maha Luhur lebih berkuasa dari pada suatu tebakan atau sangkaan misalnya, orang burik-burik wajahnya tentulah jelek rupanya namun hatinya jujur ||
  4. || Hal ini disebabkan oleh karena manusia itu dapat meneliti dirinya, jika dirinya merasa tidak baik ia akan berusaha memperbaikinya. Lain halnya hewan, jika ia mempunyai ciri-ciri yang jelek tidak mungkin akan dapat berubah ||
  5. || Hewan tidak dapat merubah ciri-cirinya yang jelek karena hewan tidak mempunyai akal budi sedangkan manusia itu makhluk Tuhan yang paling tinggi yang mungkin dapat melebur sifat­sifat jahatnya ||
  6. || Wahai, anak-anakku, cucu-cucuku, telitilah bayang-bayang badanmu agar dapat menghilangkan jeleknya dan mungkin bekas-bekasnya pun tidak akan tampak karena berkat raja ||
  7. || Kemujuran orang dan berkat raja itu saling mempengaruhi. Tidaklah berbeda dengan kawula dan gusti. Sesungguhnya jasad merupakan tabir ilahi ||
  8. || Tuhan itu berkuasa atas hidup manusia. Yang terang melenyapkan gelap, yang panas menghilangkan yang dingin. Demikianlah martabat manusia itu ||

PUPUH V
S I N O M

  1. || Sudahlah menjadi watak orang muda, kemauan keras , kurang hati-hati, suka bergrombol kian kemari, banyak mengeluarkan tenaga tanpa hasil. Yang paling disenangi itulah yang paling diutamakan, menjauhi orang tua karena takut dimarahi, takut dimarahi karena merasa belum dapat menuruti kehendak orang tua ||
  2.  || Ayah ibu berkehendak mengajarkan anaknya gar menjadi orang utama, namun telah menjadi adat anak muda jika diberi pelajaran yang baik dirasakan sebagai dimarahi, paling senang jika dibiarkan melakukan perbuatan yang tidak baik, meski demikian ada juga anak muda yang mau menurut ajaran ayah-ibu ||
  3. || Hal seperti itu sesungguhnya jarang terjadi, karena takdir untuk menjadi orang baik itu seperti hanya dalam cerita zaman dahulu, Ibrahim serta putranya, Ismail yang patuh kepada ayahnya, hendak dibunuh, Ismail tidak menolak perintah itu, apalagi jika diarahkan pada keutamaan ||
  4. || Orang yang paling mujur adalah hanya Nabi Ibrahim dan Ismail serta Ishak anaknya sangat taat kepada Tuhan, mereka yang menurunkan para raja sampai pada zaman akhir kelak baik di Ajam maupun di Arab dan sebagian orang alim, semua itu merupakan keturunan Ismail dan Ishak ||
  5. || Pada zaman Majapahit sampai Brawijaya yang terakhir yang pantas menjadi teladan adal ah bagaimana sikap orang tua terhadap anakny Raden Patah yang dicalonkan menjadi raja, Raden Patah masuk Islam dan bersikap sok mengajar ayahnya ||
  6. || Perbuatan anak mengajar orang tua adalah kliru, raja tidak senang dan pergi tanpa ragu-ragu, rasanya raja itu benci kepada putranya, ternyata setelah menjadi raja terjadilah hal-hal yang tidak baik, tidak seperti yang dialami oleh Bondan Kejawen ||
  7. || Ketika masih muda bercampur dengan orang desa, sang raja sangat lega hatinya ketika ia mau melaksanakan perintah ayahnya untuk bertapa,| sejak awal hingga akhir ia selalu dikasihi ra a karena patuhnya, mujur karena terus-menerus mendapat wahyu serta karunianya bertambah­ tambah, ia menerima kewibawaan tanah Jawa ||
  8. || Sampai kapan pun tiada berubah, keturunan Tarub ini selalu dikasihi oleh raja, ia menjadi raja di tanah Jawa dan tersebar di seluruh bumi, orang yang taat kepada kehendak orang tua, lagipula seorang raja, patutlah menjadi contoh yang harus selalu diingan dan dimuliakan, masih banyak contoh-contoh yang baik maupun yang jelek ||
  9. || Teladan bagi orang yang hendak mengabdi haruslah seperti Aryo Brotoseno, ia mantap dan berani mati melakukan perintah gurunya, meskipun ajaran gurunya itu tidak benar|, agar sena lenyap dari muka bumi ini, gurunya memerintahkan sena untuk masuk ke dalam pusat bumi, meski demikian Sena tidak mati , malah mendapat karunia dari dewa ||
  10. || Contoh seorang petapa yang dikabulkan permohonannya karena ia mau memberikan harta, tenaga, serta makanan kepada orang lain, berusaha menyenangkan hati orang lain, adalah orang yang bemama singaprana, demang dari desa Sima yang kemudian menurunkan raja-ra  di Surakarta ||
  11. || Apalagi keturunan raja, jika banyak berkorban, suka memberi dan sabar, tentu akan selalu dekat dengan wahyu seperti raja yang ke – 8, mengantukpun dapat memperoleh kerjaan yang berat jika syarat-syarat yang berat yaitu tidak berhubungan dengan wanita.dapat dipenuhi, penulis pun tidak sanggup untuk melaksanakan perintah yang sedemikian itu ||
  12. || Periulis hanya bermohon dapat hidup panjang umur, hati terang, mata awas, gembira dapat melaksanakan sembarang pekerjaan, pantas berpakaian yang baik, serta tidak terganggu oleh sipapun dalam melaksanakan semua kehendaknya, semua itu hendaknya dapat di alami oleh anak cucu, hanya satu hal saja yang tidak dapat dilaksanakan oleh penulis yaitu beristri banyak  ||
  13. || Tambah lagi kewajiban para muda, dekatlah dengan orang pandai yang bijaksana agar dapat meluberkan pengetahuannya, yang perlu diketahui adalah tindak-tanduk yang terpuji yang berkaitan dengan tata kerja pemerintahan negeri yang sebaik-baiknya, tidak ketinggalan pula adalah cara-cara untuk memperoleh dan bergaul dengan kawan atau sahabat ||
  14. || Cara bersahabat dengan semua bangsa sangat baik diketahui baik secara lahiriah maupun batinniah, semua itu hendaknya diteliti secara cermat menurut jenis- jenisnya|| jangan sampai ilmu pengetahuan yang satu dengan yang lain itu campur aduk sebab jika demikian setelah pengetahuan-pengetahuan itu dapat dalam dirinya pasti tidak akan terjadi pertentangan satu dengan yang lain ||
  15.  || Yang kita harapkan adalah keselamatan, oleh sebab itu kita harus menghormati banyak orang tanpa pilih-pilih dan tidak mencemooh sesamanya, semuanya merasa satu hati dan berkenan, semua dilayani dengan ikhlas hati seolah-olah bau harum yang bertebaran merembes kedalam sanubari setiap orang, seluruh manusia sejagat||
  16. || Bagaikan harumnya bunga semerbak memenuhi bumi, sedap menyentuh hidung manusia yang mendorong para muda yang mencari ilmu yang luhur, diharapkan menjadi penghias negara sehingga negara menjadi makmur dan sejahtera selama-lamanya ||

PUPUH VI
P O C U N G

  1. || Jangan lancang dalam mengabdi kepada pembesar, dan dalam bersahabat, jika engkau mendapat kedudukan, pandai-pandailah menyenangkan hati kawan ||
  2. Pada zaman dahulu ada seorang Sri Baginda keempat bernama Bagus Semail yang sangat dikasihi oleh sang raja ||
  3. || Pengorbanan Mail itu sangat baik sekali karena itu raja sangat dikasihi kepadanya dan kemudian di angkat menjadi opsir Jayengsastra dengan nama baru Rahaden Jayengmarjaya ||
  4. || Tingkah lakunya yang baik makin bertambah lagi sehingga akhimya ia di angkat menjadi nayaka tengen keparak ||
  5. || Dengan jabatan yang baru itu di berikan nama baru Tumenggung Sasrawi Jaya, ia semakin tahu tugas-tugasnya dan pandai sekali menjaga Negara, kebetulan ada bencana yang ditimbulkan oleh seorang patih ||
  6. || Patih itu bernama Mangunpraja, ia sangat pandai, sakti, gagah perkasa, teguh hati dan pemberani.
  7. || Pada suatu hari Rahaden Sasrawijaya diperintahkan untuk menahan seorang patih yang membangkang, ia siap melaksanakan tugas tersebut, | patih tersebut tidak biasa berbuat apa-apa sebab Sasrawijaya tersebut dapat melaksanafkan perintah Raja ||
  8. || Meski sang patih itu adalah bapaknya sendiri, Sasrawijaya tidak segan – segan untuk menindaknya, dengan kejadian itu ia lebih dikasihi raj a, dan pada akhirnya Sasrawijaya menggantikan kedudukan ayahnya menjadi Patih ||
  9. || Selama empat puluh tahun ia menjadi patih, sangat termasyur kemana-mana, ia dikenal dengan nama Dipati Sasradiningrat yang pandai menjalankan pemerintahan ||
  10. || Setelah ia meninggal, ia dimakamkan di lmogiri, dialah contoh seorang yang baik nasibnya karena jasa-jasanya yang terpuji, pantaslah dia sebagai teladan para muda ||
  11. || Peribahasa mengatakan “wong labet temen tinemu”, orang berbuat baik untuk orang lain akan mendapatkan sesuatu anugerah, dialah Kyai Sara yang tinggal di Manggaran sebuah dukuh di tepi laut ||
  12. || Ketika sang raja pergi kearah selatan Panaraga, setelah selesai mandi, Kyai Sara membantu menyeberangkan sang raja dengan putranya ||
  13. || Sebagai hadiah karena menolong sang raja itu, Kyai Sara diangkat menjadi Arya Mataram Adikusuma ||
  14. || Janganlah seperti Tumenggung Mangunoneng yang menipu sang nata, perbuatannya diketahui oleh Mangkubumi, tubuhnya dicincang diremuk dan dimakan anjing ||
  15. || Seperti halnya mantra (pegawai) yang jabatannya diperoleh dengan uang, biasanya tidak tahan lama, akhirnya ia kembali menjadi bujang tukang pikul ||
  16. || Apabila engkau ada di rumah, isilah waktu-waktu kosong dengan pekerjaan apa saja agar engkau tetap kerasan dan senang tinggal di rumah ||
  17. || Tanamlah apa sa ja yang ada manfaatnya dan ingatlah kepada rasulullah yang buah-buahan hasil kebunnya menjadi nafkah bagi anak istrinya ||
  18. || Kanjeng rasul yang menjadi pemimpin dunia masih mau menunaikan kewajiban pribadi, sedang panji klantung (tak punya kerja) masih tetap bermalas-malasan ||
  19. || Bagaimana mungkin ia mencapai cita-citanya? jika ada lowongan pekerjaan dari seorang pegawai yang bukan main rajinnya, ia ingin segera menggantikannya ||
  20. || Jika lamaran Si Panji Klantung itu tidak diterima, ia pulang sambil mengumpat-umpat, “aku ini masih saudaranya, mengapa lamaranku tidak diterima?” ||
  21. || Melihat tingkah laku yang sedemikian itu sang wahyu akan menjauhinya, oleh sebab itu hendaknya seseorang yang menginginka suatu jabatan itu harus sering menghadap pembesar ||
  22. || Juga orang itu harus menguasai tiga bahasa yaitu Jawa, Arab dan Belanda sebagai bekal mengbdi atau mencari pekerjaan, dengan demikian nanti tidak akan kebingungan pada saat melamar pekerjaan ||
  23. || Sekarang yang sangat dibutuhkan adalah orang­orang yang menguasai ketiga bahasa itu, lain dengan dahulu, pandangan selalu diarahkan kepada orang yang suka bertapa, meskipun bodoh tetapi petapa ||
  24. || Sebagai contoh adalah Bagus Gimba, peke sehari-harinya hanya berjalan-jalan,| ia tidak mungkin memiliki ilmu lahir dan batin, meski demikian banyak orang yang tertarik dan menjunjung- junjungnya ||

PUPUH VII
P A N G K U R

  1. || Jauhkan dirimu dari perbuatan-perbuatan yang hina, siapa tahu memperoleh keberuntungan, wahai pemuda rupawan, jika engkau mengabdi, hendaknya engkau mempertaruhkan jiwa-ragamu ||
  2. || Di waktu menghadap tingkah-lakumu harus luwes, dan duduklah dengan tenang, jangan pula tergesa-gesa pulang sebelum waktunya, jika ingin mengabdi kepada raja, hendaknya rajin berada di tempatnya ||
  3. || Bicaralah yang lemah-lembut, berserah diri kepada kehendak raja, perhatikanlah pandangan raja ||
  4. || Wahai muda rupawan, jika tak ada keperluan yang sangat penting, janganlah urungkan niatmu untuk menghadap, berpakaianlah sederhana supaya dapat berbuat dengan cekatan ||
  5. || Wahai muda rupawan, jika bangun tidur jangan kesiangan, lebih baik bangun subuh, jangan tidur pada waktu matahari terbenam, itu tidak baik ||
  6. || Wahai muda rupawan, lebih baik engkau bersholat, bersyukur kepada Tuhan yang memberi hidup kepadamu, jika berhalangan dalam bersholat, halangan tersebut harus setimbang dengan keperluanmu, dalam meninggalkan sholat tersebut hatimu jangan khawatir, ragu-ragu, pentingnya sholat akan menghilangkah keraguan ||
  7. || Saya akan mengulangi cerita, berbaktilah degan jujur kepada raja, dahulu ada demang dusun giyanti yang bernama Jayakartika dan demang di taji yang bernama Sutajaya, dia benar-benar berkorban serta bertapa dan berharap akan berkat raja ||
  8. || Sutajaya yang mempunyai anak perempuan yang sangat cantik diambil permaisuri oleh raja pakubuwana III. Inilah yang menurunkan satu raja Pakubuwana IV yang selanjutnya menurunkan raja-raja di Surakarta hingga kini ||

PUPUH VIII
MASKUMAMBANG

  1. || Orang yang hidup itu laksana perahu di samdra. Air itu merupakan kekuasaan Tuhan, rohnya sebagai kemudi ,isinya adalah cipta dan suratan ||
  2. || Perahu berlayar kian-kemari, juragannya sekaligus pemegang kemudi, pada waktu itu pedagang langganannya juga belum dating ||
  3. || Ada pun berlayar itu ada untung ruginya, jika nasib jelek, perahunya tenggelam, barang-barang dagangannya musnah ke dalam air ||
  4. || Kemudi pergi tanpa diketahui, karena ia adalah orang upahan saja, dan takut dimarahi oleh si pemilik barang ||
  5. || Nah, renungkanlah anak cucuku! siapakah yang wajib memiliki dunia ini? camkanlah hal itu, akan tetapi rahasiakanlah ||
  6. || Jika engkau tahu masalahnya benar-benar merupakan karunia Tuhan, tetapi sesungguhnya sangat sukar jika tidak tahu tentang tanda-tanda atau sasmitanya ||
  7. || Engkau harus tanggap terhadap sasmita para arif bijaksana, orang yang memberi kasih adalah orang yang paling mulia di dunia ini ||
  8. || Cukup sekian dulu sebagai pembukaan, jika bagi seorang dalang lakonnya beralih pada pelajaran yang baik bagi para muda ||
  9. || Tujuan yang terbayang ialah semoga dapat menerima ajaran utama, yang berguna dalam pemerintahan, yang sesuai dan tepat sesuai jamannya ||
  10. || Ibarat “kuda, curiga, estri, tulisan” kuda itu tamsilnya kuat, terampil, sedangkan “curiga” atau keris adalah tajamnya cipta, pikiran ||
  11. || “estri” atau wanita itu harus dapat menyenangkan hati, halus budi bahasanya agar para pria dapat tertarik, “tulisan”, atau sastra berarti mahir dalam bahasa ||
  12. || Bahasa rendah, atau nista menengah dan tinggi dan juga bahasa-bahasa lain, berarti pula mampu turut dalam pembicaraan, demikianlah kedudukan bahasa ||
  13. || Lebih baik lagi jika dapat mengetahui sastra yang ada di dalam diri sendiri, bertanyalah kepada ulama yang pandai tentang sastra ||
  14. || Tanyakanlah apakah sesungguhnya tafaku itu, tarikh empat, martabat tujuh dan sembilan, kesempurnaan solat ||
  15. || Jangan bersolat seperti anak kecil saja, agar tertibnya dirasakan juga, jangan lupa bertakbir secara khusuk, ikhramnya sedapat-dapatnya kena juga ||
  16. || Demikianlah “wajah” serta “ikhtidal”-nya, sedangkan ayat-ayatnya menyusul sebagai bunga-bungaan “kembang” belaka, ketahuilah arah dan tegaknya yang laksana benteng itu ||
  17. || Selesai solat jumat, khotbahnya merupakan sarapan (alas, dasar) bagi orang-orang mukmin (orang yang percaya), ada pun ayat-ayatnya adalah “yapan luraban sawahi”, yang maknanya : ||
  18. || Hai manusia, sekiranya engkau mencari Tuhan yang lain dari yang telah menciptakan dirimu, padahal Yang Esa, hanya satu, yang lain selain Yang Esa, adalah celaka ||
  19. || ltu bukan Tuhan yang sejati, sesunggunya manusia itu masih dibayang-bayangi oleh iblis, wahai anakku, berhati-hatilah dan awaslah ||
  20. || Segala gerak-gerik sebaiknya kau kuasai, dan musyawarahkan dengan orang yang ahli budi, yang ahli ten tang pengetahuan gerak-gerik jaman ||

PUPUH IX
D U R M A

  1. || Jangan tergesa-gesa melaksanakan keinginan hati yang tidak baik, pertimbangkanlah dahulu degan tenang dan cermat, menurut ajaran kuno, manusia utama itu harus jujur menjunjung berkat sabda nabi, raja, dan wali ||
  2. || Janganlah lupa, tanamkanlah hal tersebut dalam sanubari agar menambah kuat hati (imam) kita, terhadap pengetahuan sang sukma supaya segala perbuatanmu yang nista, yang biasa dan yang utama dapat tampak ||
  3. || Apabila engkau senang menabuh gamelan, jangan selalu di dendang-dendang seperti penyanyi, ketahuilah gamelan itu dibuat oleh para wali, pasti ada sesuatu hikmah yang terkandung didalamnya ||
  4. || Barang/benda yang kelihatan dan yang kedengaran itu dapat dipakai sebagai perumpamaan, “kawula” dan “gusti” itu seumpama ikan dengan empangnya ||
  5. || Apabila engkau pergi kekebun memetik bunga, jangan asik bersunting bunga saja, renungkanlah dengan sesama, dari manakah munculnya bunga dan buahnya itu, ini penting untuk diketahui ||
  6. || Buah yang waktu masih muda sangat masam rasanya, setelah tua menjadi manis sekali, dimanakah manisnya itu disimpan (semula)? siapakah yang melukis ular sanca yang indah citranya itu? ||
  7. || Kemanakah perginya api ketika pelita yang mati karena ditiup? dimanakah tempat bersembunyi binatang-binatang pada siang hari? bayi yang masih dalam kandungan itu sesungguhnya hidup atau mati? ||
  8. || Jika kita mendengar suara, suara itu mas telinga kita ataukah pendengaran kita mendekati suara tersebut? nah, demikianlah teka-tekiku ||
  9. || Pada umumnya manusia itu baik laki-laki maupun perempuan sering berucap, “jika Yang Mahamulia masih melindungi di riku” sesungguhnya, apa maknanya? ||
  10. || Dahulu penulis pernah meminta wajengan kepada seseorang yang pandai dan bijak yaitu Kusumadilaga, sang wiku Tejamaya, namun sampai beliau wafat penulis belum pernah diberi wejangan oleh beliau ||
  11. || Menurut pendengaran penulis tentang ilmu perang yang digunakan oleh senapati alaga mataram itu demikian: baik akan tidur maupun bangun tidur (Sultan Agung) selalu mengamati keadaan sekelilingnya ||

PUPUH X
MEGATRUH

  1. || Jangan lupa, junjunglah tinggi-tinggi wejangan Panembahan Senapati Alaga raja Mataram agar mendapat karunia dan dapat melakukan perbuatan yang utama ||
  2. || Akan lebih utama jika kita dapat mengamalkan wejangan Sang Senapati yang terdapat dalam buku sruti yang berisi 90 bait, yang khusus tentang manusia yang utama ||
  3. || Jika dapat memahami a aran sang raja pastilah kita akan dapat menjadi orang yang utama (baik), karena dahulu sang nata itu telah mengalami segala-galanya, sehingga wejangan itu tak akan salah ||
  4. || Beliau adalah seorang raja yang tiada tandingnya di Jawa yang patut ditiru agar dapat menambah kebahagiaan anak cucu pada kemudian hari ||
  5. || Tetapi raja Mataram, Sultan Agung itu sukar ditiru, karena beliau adalah wali-raja (wali sekaligus raja) banyak mukjijadnya, mohon berkatnya sajalah ||
  6. || Sebab wali yang menjadi raja besar itu sama saja dengan Yang Mahasuci yang menjelma pada sang raja, ibarat rasulullah, telah diijinkan oleh Tuhan ||
  7. || Umpama saja, orang mencontoh tingkah laku sunan kali, pada waktu masih muda, beliau itu nakalnya bukan main, namun setelah tua menjadi wali, itu merupakan karunia Tuhan ||
  8. || Jika yang ditiru itu tingkah laku yang jelek saja, tentu akan berbuat jelek terus, tak mungkin dapat berubah, apalagi umumya pendek karena mati dikeroyok massa ketika ketahuan mencuri ||
  9. || Memang banyak muridnya di Tajamaya yang mengikuti tingkah laku sang wiku, dari mereka banyak yang keliru ||
  10. || Yang mereka tiru adalah perbuatan sang wiku yang empat macam yaitu “madon, madat, minum, main” memang mereka itu berusaha mengamalkan ajaran-a jaran gurunya agar menjadi gambling ||
  11. || Telah menjadi kebiasaan anak muda, yang diamalkan adalah yang mudah dilakukan, akhirnya jasmaninya rusak, hatinya pdih, pikirannya menjadi gelap dan ceroboh ||
  12. || Karena itu benarlah ajaran raja Surakarta I yattu, “jika engkau berguru carilah ulama yang sepi ing pamrih” ||
  13. || Dahulu ada ulama yang termahsyur bemama Abdulkahar, bicaranya lemah lembut, setiap memberi wejangan, lambat, dan tepat, pandai sekali menjelaskan arti isi kitab-kitab dan mereka kehendak seseorang ||
  14. || Jika ada orang yang meminta nasihat yang tinggi­tinggi tidak akan segera dilayani/dituruti, di lihat dulu kemampuan yang minta nasihat, ibarat desa kecil diduduki seorang raja, tentu tidak tahan ||
  15. || Sama halnya dengan seseorang yang hendak naik ke sebuah panggung yang sangat tinggi langsung menuju ke tempat yang paling atas, tidak melalui jalan yang ditentukan, orang itu pasti menjadi sangat bingung, tak dapat turun kembali kebawah ||
  16. || Biasanya orang tua yang hendak memberi pelajaran kepada anak cucu, jalan yang akan ditempuh diberitahukan lebih dahulu, tidak langsung menuju ke puncak gunung, sebab banyak kesukaran yang akan di jumpai sepanjang jalan seperti hutan belantara dan semak-semak ||
  17. || Yang akan berjalan telah mengetahui kesukaran kesukaran yang dialami, karena hal itu diberitahukan oleh sang guru, inilah guru yang baik dan halus ||

PUPUH XI
ASMARANDANA

  1. || Tersentak hati saya bila teringat akan ajaran­ a jaran guruku, Abdulkahar yang alim, rajin dalam memberikan pelajaran dengan telaten tak bosan­ bosan, sehat, panjang umur, tekun beribadah, namun demikian banyak istrinya ||
  2. || Beliaupun tahu tentang ilmu sejarah, sejak dari rasulullah turun temurun (ilmu itu) sampai sekarang sampai raja sekarang, sehingga ia tahu ujung-pangkalnya wejangan dari rasul kepada putra putrinya, sampai pada saya ||
  3. || Itulah yang pantas ditiru, ajaran ilmunya yang sudah jelas dan lagi ketika hendak pulang ke rahmatullah telah menurunkan ilmunya kepada anak cucu, ini suatu tanda bahwa ia tajam penglihatan hatinya ||
  4. || Penulis bermohon untuk dapat mewarisi sifat­sifatnya tersebut, kemurahan Tuhan telah tampak, ingat, umurnya panjang masih juga mempunyai anak, hidupnya benar-benar berguna bagi sesame ||
  5. || Cara mengajarnya teliti, mulai dari syariat, kemudian tarekat lalu hakikat, dan makrifat, syariat berarti tertib, urut, yaitu urut martabatnya ||
  6. || Yang dimaksud dengan martabat adalah mengetahui apa yang telah dibawanya, baik dari pihak bapak maupun ibu, dan apa yang telah diberikan oleh sukmanya, itulah syarat-syarat untuk mencari ilmu yang utama ||
  7. || Tuhan itu mempunyai ilmu yang sangat banyak sekali, andaikan ilmu Tuhan itu di tuli , ditamsilkan air laut sebagai tintanya, kayu-ayu (yang ada di dunia ini) sebagai kalamnya, dan daun-daun sebagai kertasnya, maka ilmu Tuhan itu jauh lebih banyak yang belum tertulis, masih kurang kertasnya, tintanya maupun kalamnya ||
  8. || Banyak juga doa dan ilmunya tentang penolak bahaya, baik untuk didalam kota (praja) maupun di desa-desa, masih digunakan orang, sampai sekarang tiada muridnya yang meniru perbuatannya, hanya berkatnya sajalah yang masih bertebaran ||
  9. || Jangan seperti Bagus Jedig, banyak orang tergelincir mengikuti petunjuk/perintahnya, jika orang minta wajengan tentang ilmunya yang utama, dia selalu menjawab, “masa bodoh” walaupun begitu dipercaya juga ||
  10. || Memang lumrah bagi orang kecil, karena mereka tidak biasa memperatimbangkan segala sesuatunya (bodoh), namun banyak juga orang terpelajar (priyayi) yang percaya kepadanya (Bagus Jedig), banyak juga wanita yang dijamahnya, karena ketahuan pemerintah, ia dihukum buang ke seberang (tanah seberang), sampai berakhirlah riwayatnya ||
  11. || Ada lagi seorang wadat yang berasal dari MaTesih bernama Bagus Satria,  banyak yang terpikat kepadanya, jika orang meminta berkat kepadanya, ia menjawab, “saya tidak dapat” ||
  12. || Meskipun demikian, ia masih pantas dihormati karena ia tetap wadat selama hidupnya, berumur panjang, rajin beribadat, tingkah lakunya masih dikatakan baik ||
  13. || Mintalah nasihat/petunjuk kepada Mas Pengulu tapsiranom, masih keturunan orang pandai dan bijaksana, dapat mengolah ajaran agama dengan ulah keprajan (pemerintahan) ||
  14. || Wahai anak cucuku! adapun yang sebaik-baiknya adalah menghormat kepada orang tua, karena orang tua itu telah banyak makan garam,  syukurlah jika orang tuamu memiliki banyak ilmu, memintalah petunjuk kepadanya, meski ia itu keturunan orang sudra sekalipun ||
  15. || Orang muda itu lebih baik mendekati orang yang pandai bercerita seperti misalnya Suryabrata, saya sendiri telah terbiasa mendapat wejangannya ||
  16. || Ia adalah orang yang sanget pandai mengingat segala pesan orang-orang tua, segalanya itu telah diwejangkan dan membuat terang pikiran saya, sayangnya ia terlalu cepat meninggalkan kita (meninggal) ||
  17. || Rasanya telah cukup dalam menggubah permintaan anak istri sebagai pelajaran yang diambil dari bermacam-macam ceritra, tepat pada hari anggarakasih, (selasa kliwon) , tanggal 3 sapar, windu jimawaladi, “yaksa sirna murtining rat” ( 1 805) ||

PUPUH XII
DHANDHANGGULA

  1. || Pada hari jumat, raja tidak hadir, dan hendak memeriksa latihan para prajurit yang belum mahir menggunakan karabin (senapan), mereka itu menggerakkan tangannya menurut perintah komandannya karena belum mahir menggunakan senapan ||
  2. || Hari ulang tahun naik tahta sang raja sudah dekat, pesta itu sekaligus akan dibarengi oleh hajat raja untuk mengkhitan putranya, para prajurit Surakarta yang akan bertugas dalam perayaan itu akan diberi penghargaan dan ditunjukan tempat­tempat bertugas masing-masing beserta perlengkapan-perlengkapanya oleh dwija mantra ||
  3. || Hal ini dilakukan agar perayaan sang putra raja nanti tidak mengecewakan dilihat oleh tamu-tamu dari negara lain, mahligai indah tempat putra raja itu khitan dibuat seperti rumah dari negeri Rum, gapura-gapura diukir “lunglungan” (tanan) yang berwarna oranye yang di sungging dengan warna hijau serta diulas dengan cat emas ||
  4. || Perayaan khitanan tersebut telah terdengar oleh bangsa-bangsa di luar negeri, yaitu pada tahun Alip nanti, hal ini menyebabkan para pedagang asing berdatangan dengan barang-barang yang indah­indah dengan tujuan mencari keuntungan sebanyak-banyaknya ||
  5. || Yang jelas orang mudah mencari uang, negara Surakarta yang sudah dikenal orang bahwa berdagang disana dagangannya pasti laku, bangsa-bangsa asing senang tinggal di Surakarta, baik di desa-desa maupun di kota-kota karena mudah mencari nafkah, suasananya aman dan damai tak ada perbuatan yang jahat karena karunia Tuhan ||
  6. || Siang-malam sang raja selalu bermohon kepada Tuhan agar terhindar dari segala gangguan jaman, para prajurit taat dan patuh kepada segala perintahnya, dwija mantri selalu memberikan pelajaran tentang tata pemerintahan ||
  7. || Sang raja adalah keturunan Mataram (ngeksiganda) yang selalu merupakan pelita dan pelindung rakyatnya, semoga wataknya menurun kepada sang putra (ra ja) yaitu sifat sang ayah yang bijaksana teguh hati tanpa pilih kasih terhadap rakyatnya ||
  8. || Hemat, cermat berkat pengorbanan para leluhumya dahulu, saya bermohon semoga putra raja kelak bersifat adil seperti sang raja (ayahnya) ||

PUPUH XIII
S I N O M

  1. || Karena masih muda, semoga Gustiku tidak berbuat yang tidak ada manfaatnya, seyogyanya berdampingan dengan tokoh yang utama untuk mengajarkan perihal tugas-tugas raja yang paling utama, yakni pengelola pemerintahan yang sebaik baiknya ||
  2. || Semoga ia dapat mewarisi martabat kerajasn dan dikasihi Tuhan seperti Sultan Agung dahulu, hendaknya jangan berpisah dengan ayah agar dapat memahami tata kerja seorang raja, sehingga tidak kikuk jika ada upacara ||
  3. || Seorang putra raja harus menguasai hal-hal yang tampak maupun yang pelik, terampil dalam segala hal, bersifat perwira, berbudi halus, pandai mencari sahabat sehingga rakyat tunduk dan patuh, begitu pula bangsa asing juga tunduk mengabdi kepada raja dengan tulus dan ikhlas ||
  4. || Harta kekayaan ditinggalkan, anak istri diboyong untuk mengabdi kepada sang raja, itulah tanda sifat keutamaan raja, sayid-sayid yang tinggal di negeri Arab, yang pernah berjumpa dengan raja masih selalu ingat dan mau berkirim surat untuk memuji-muji sang ra a secara panjang lebar seperti orang membaca kitab ||
  5. || Tubuh penulis laksana orang sedang bermimpi (tidur), matanya kantuk tetapi tangannya menulis, hari sabtu legi tanggal empat mangsa (musim) kesembilan (kasanga) bulan rabingul akhir jimakir windu adi, Mandangkungan, jam tujuh, tahun 1805 sesuai bunyi sangkala sang brahmana narapati, berilah maaf banyak-banyak, adisar ini ||

PUPUH XIV
G A M B U H

  1. || Saya berdoa agar kelak putra raja dapat menduduki tahta kerajaan dan dengan tulus mengikuti jejak para leluhumya sebagai raja yang cerdik cendikia dan bijaksana ||
  2. || Demi berkat rasul, janganlah meninggalkan agama yang luhur, renungkanlah makna kitab Quran secara murni untuk mencari keutamaan ||
  3. || Tiada yang kusut/sulit, segala nyang dikehendaki akan tercapai dengan sebaik-baiknya, hendaknya selalu berbuat yang baik, mengingat kelak akan mendapat tugas menjalankan pemerintahan yang sangat pelik ||
  4. || Hal itu memang sangat pelik jika kita tidak tahu, khususnya tentang watak-watak dunia yang diperintahnya, renungkanlah hal itu pada waktu malam dengan tenang, ltulah kebiasaan yang dilakukan oleh raja yang bijaksana ||
  5. || Kurangi tidur pada waktu malam, makan jangan terlalu kenyang, pada waktu senang jangan lupa bersyukur kepada Tuhan agar pikiran (hati) tidak kusut ||
  6. || Akibatnya rahmat Tuhan itu tidak akan keliru masuk di dalam hati, luapan hati menggenangi tanah senegara, negara menjadi aman dan tentram, mendapat perlindungan Tuhan ||
  7. || Kemurahan raja besar selalu tampak di mata rakyat, sanak saudara patuh dan cinta, tiada yang tidak berkenan, semua mudah diperintah, tanpa ada yang membantah, makin bertambahlah karunia raja ||
  8. || Rakyat dipedusunan giat bercocok tanam agar tidak kekurangan makan, itulah berkat rahmat sang raja, desa menjadi makmur, rakyatnya banyak ||
  9. || Kita putuskan dahulu di sini, penulis akan tidur, nanti jika penulis telah bangun akan dilanjutkan lagi, sengkala : taun luhur sang satria katong (1890) ||

PUPUH XV
KINANTHI

  1. || Setelah Adisara bangun, lalu mengambil tinta dan kertas untuk melanjutkan berceritra, ucapannya seperti orang mimpi mengenai hati raja putra ||
  2. || Wahai baginda, jauhilah hal-hal yang berbahaya, dan tidak usah dipikirkan lagi ||
  3. || Semua ajaran yang penting jangan sampai dilupakan, renungkanlah siang-malam, dan camkan dalam hati ||
  4. || Tirulah teladan yang utama, sehingga martabatnya makin memuncak dan menyinari seluruh daerah kekuasaannya ||
  5. || Diperintah oleh raja yang mulia itu laksana dilindungi oleh Tuhan, rakyat tentram lagi sentosa ||
  6. || Saya bermohon agar tiada seorang rakyat pun yang dibenci oleh raja, saya berdoa semoga sang raja tetap sabar dan tawakal ||
  7. || Agar seluruh rakyat bersatu padu mengabdi r ja yang bijaksana, yang ketetapan hatinya dak tergoyahkan ||
  8. || Saya berdoa semoga selalu mendapat penghormatan selama memerintah, dan dicintai secara tulus oleh rakyat ||
  9. || Jangan tergiur pada kebaikan wanita yang hanya semu, dibuat-buat saja, wanita yang sengaja menarik perhatian (laki-laki) selalu memulas­mulas dirinya ||
  10. || Oleh karena itu oh, baginda muda, sewaktu masih muda ini hendaknya berusaha berbuat baik lahir batin, baik dalam tindakan maupun dalam hatinya, ini penting bagi orang yang kelak akan bertugas mengurus Negara ||
  11. || Orang pandai itu penglihatannya terang, bicaralah lemah lembut (tidak kasar, tidak keras), itulah adat kebiasaan orang-orang bangsawan yang utama sejak dahulu kala ||

PUPUH XVI
M  I  J  I  L

  1. || Kata-kata yang telah saya sampaikan hendaknya direnungkan, wahai baginda muda, waktunya sudah tiba, orang yang telah menginjak dewasa hentaknya tahu tentang masalah-masalah negara, pengetahuan-pengetahuan hokum ||
  2. || Murad (maksud kata-kata dalam kitab) harus dirasakan bersama para ulama yang cerdik cendekia agar menjadi terang dalam hati dan dibanding-bandingkan dengan adat kebiasaan negara yang telah di taati oleh leluhur para raja ||
  3. || Keluhuran kerajaan harus dicari dan dilestarikan, dihayati dalam hati bagaimana asal mula sesuatu yang rendah dapat menjadi tinggi, tanyankan kepada para sesepuh ||
  4. || Riwayat yang ditembangkan serta tersusun mapan ini semoga dapat menjadi babad menurut istilah Jawa, semoga dapat dibaca orang dan ditanamkan dalam hati dan dapat tumbuh secara subur dan selamat ||
  5. || Hati yang selamat merupakan jalan yang baik, barangkali saja mendekatkan kita pada yang Maha Rahman dan Rahim, oleh karena itu perlu di baca sebagai syarat tidur ||
  6. || Jangan tidur terlalu banyak, kurang baik, jangan seperti diri saya, hatinya gelap, matanya sipit, badan loyo, suka marah-marah, oleh karena itu harus tahan berjaga-jaga waktu malam hari ||
  7. || Meskipun berjaga- jaga, jangan tiada mengerjan sesuatu, kerjakanlah tugas-tugas (yang belum selesai ) agar terbiasa tahu akan kewajiban, sebab tugas raja itu berat, harus dapat mengadili oang­orang yang berselisih, ilmu ||
  8. || Perbuatan utama itu banyak macamnya, ada yang ahli rasa, ada ilmu bahasa untuk memperoleh keselamatan dan dipercaya oleh sesamanya, tetapi didalam hatinya besar sekali dustanya ||
  9. || Beberapa orang jujur dalam hatinya tetapi tingkah lakunya jelek, tidak pernah belajar menyesuikan diri dengan suasana sehingga kejujuran hannya tidak terlihat oleh orang lain wahai Baginda Muda, demikianlah (yang tetjadi) hendaknya jangan diragukan lagi ||
  10. || Roman muka dan tabiat orang itu bermacam­ macam, oleh karena itu setiap orang harus dilihat gerak-geriknya agar tidak ragu-ragu lagi dalam menghadapi rakyat yang diperintah ||
  11. || Wahai, gustiku, kami berdoa hendaknya baginda muda selalu mengikuti perintah dan ajaran ayahanda agar cinta ayahanda makin bertambah ||
  12. || Sebab anda itu bernaung dibawah ayahanda, sang raja, beliau telah 20 tahun menjadi raja memerintah negara aman sentosa berkat pertolongan Tuhan, semoga keadaan yang demikian itu terus berlangsung, tidak ada yang mengacau/memberontak ||

PUPUH XVII
P O C U N G

  1. || Seperti kluwak, selagi muda namanya pocung, tampaknya terpancang oleh keinginan yang tidak baik, hendaknya jangan lupa kepada ajaran­ajaran ayahanda ||
  2. || Ayah-ibu telah menceritakan teladan-teladan dari leluhur pada jaman dahulu, diantara yang rendah, sedang, dan utama sebaiknya pilihlah yangutama ||
  3. ||Yang terutama, biasakanlah selalu dekat dengan orang tua yang banyak pengalaman dan ceritanya, serta menjelajahi serba macam pengetahuan yang murni, wahai , baginda muda, pelajarilah/semuanya itu selagi masih remaja ||
  4. || Terimalah tutur abdinya, perempuan dari desa yang jauh dari pengetahuan tata susila, ia berani bertutur dengan raja hanya karena cintanya saja kepada rajanya ||
  5. || Penulis ragu-ragu dalam hati untuk membangunkan hati sang raja, meski sangat takut, namun karena cinta kepada raja menjadi berani ||
  6. || Padukalah yang nanti akan memimpin anak cucu kami, kelak didesa maupun di kota (negara), semuanya berdoa demi keluhuran raja putra ||
  7. || Aduhai, Gusti, jangan jera diajar tentang hal-hal yang baik supaya dapat secara luas membeberkan tugas-tugas kewajiban ||
  8. || Tugas baik dapat dilaksanakan dengan baik (selamat), itulah yang selalu diharapkan oleh para leluhur jaman dahulu, semoga hal itu dapat membuka hati sang teruna ||
  9. || Semoga orang bijaksana itu akhirnya meniru kepandaian para raja jaman dahulu yang telah termasyhur jasa-jasanya yang utama ||
  10. || Harum semerbak dalam bersabda terus kedalam hatinya, budinya menjadi pelita yang menerangi bumi seisinya dan diberkati oleh Ki Nurkatim ||
  11. || Ki Nurkatim itu tinggal di desa Tunjungeta, pendeta yang sangat mulia dan diijinkan oleh Mahasuci,| wahai, Gusti hamba, dekatlah ke sang pendeta||

PUPUH XVIII
MASKUMAMBANG

  1. || Kemakmuran negara seisinya itu berkat kekuasaan raja dibantu para pegawai (kerajaan) serta pertolongan Tuhan ||
  2.  || Jika yang berwajib mengurus negara mau menghayati lebih dahulu, ini merupakan tindakan yang utama, jangan melakukan segala sesuatunya secara mendadak, pikirkanlah sebelumnya dengan tenang ||
  3. || Jadi segala sesuatunya akan dapat terlaksana secara teliti dan sempurna sehingga negara selamanya akan kelihatan baik ||
  4. || Peliharalah bahasa keselamatan para pegawai agar bersemangat kuat tidak melalui pikiran-pikiran sembarangan dan selalu giat ||
  5. || Manusia-manusia yang diperintah dalam pemerintahan itu selalu merasa aman, tentram dan mendapat rahmat Tuhan ||
  6. || Suasana rakyatnya bersifat hormat, cinta, patuh setia lahir batin, tak goyah dalam melaksanakan segela perintah sang raja ||
  7. || Para cerdik cendekia diminta wejangan­wejangannya sebagai basil dari pengalaman yang mulia|| tenang ten tram didalam kesunyian ||
  8. || Keinginan yang baik itu direnungkan, ditimbang­timbang agar tetap baik dan tidak meragukan serta yang dapat dilihat oleh mata ||
  9. || Mata laksana penjelmaan Tuhan, segala warna yang tersebar di dunia ini dapat dilihat oleh mata, telinga menangkap suara ||
  10. || Hidung bertugas menentukan segala sesuatu melalui baunya, ucapan merupakan perantara keinginan, dalam hal ini harus diteliti, jangan sampai meragukan ||

PUPUH XIX
ASMARADANA

  1. || Pada waktu tidur Adisara terpikat, bermimpi berjumpa dengan laki-laki tua (kampong) bemama Nursidhi, demikianlah wejangannya, aduhai anakku, jangan berputus asa ||
  2. || Berbicara dengan Gusti merupakan tangga utama untuk menempatkan keutamaannya sesuai dengan keinginan Gustimu, ini berarti cinta (terhadap gustimu) , dan wajib bagi abdi meenjaga gustinya sebagai balas budinya ||
  3. || Karena selalu menjaga Gustimu, semoga engkau kelak dengan keturunan-keturunanmu tetap diperhatikan oleh sang raja, orang hidup itu beramal demi keturunan yang ditinggalkan ||
  4. || Perbuatan jelek dan baik yang selalu dibicarakan orang didunia ini didengarkan oleh anak cucu,  tidak senang engkau jika anak cucumu itu terhina, ditertawakan orang di dunia ini, anak cucu dianggap sebagai keturunan orang hina ||
  5. || Lain jika perbuatanmu itu baik, dimanapun selalu di puji-puji, oleh karena itu berhati-hatilah  hidup didunia ini, berusahalah hidup sebaik-baiknya demi anak cucu, jangan sampai mereka terhina ||
  6. || Jika engkau sukar berpikir, tidurlah sebentar, bermohonlah rahmat Tuhan, nanti Tuhan akan segera datang mengajar hal-hal baik kepadamu, dan sampaikanlah kepada gustimu ||
  7. || Demikianlah anakku, seperti rumah yang bocor talangnya, air itu masuk kedalam sanubari sang raja, air bening membasahi semua tumbuh­ tumbuhan, sehingga tumbuh-tumbuhan itu menjadi subur dan mengeluarkan buah yang berlimpah-limpah ||
  8. || Pohon ibarat jasad manusia, akar sebagai cipta, tunas-tunasnya sebagai gubahan, getahnya sebagai rohaninya, sedangkan putiknya sebagai rasa, yaitu rasulullah, sekian dulu ||

PUPUH XX
PANGKUR

  1. || Kata-kata yang saya sampaikan dulu diikat dengan lagu dandanggula, berisi wejangan Ki Nursidhi secara urut, tepat dan baik, yang dapat dipakai sebagai teladan bagi raja ||
  2. || Wejangan itu diatur/disusun dengan maksud supaya jelas, agar putra raja pun dapat melaksanakannya secara tepat dan teliti, karena sang putra raja sajalah yang diharapkan dapat menggantikan sang raja, semoga sang raja dapat mengatasi segala gangguan, awas, berani dan tepat ||
  3. || Segala kewajiban seorang pria hendaknya dilakukan dengan kepandaian dan kesaktian, sakti itu banyak syarat-syaratnya, lahir-batin harus kena dan mengenai hati manusia seluruhnya, yang ada dalam pemerintahan raja yang utama ||
  4. || Pandai melihat keadaan dalam pemerintahan yang selalu dipikirkan, sebelumnya harus sudah diperhatikan/dipertimbangkan masak-masak, kemudian baru diumumkan secara tuntas, keselamatan harus dijaga dan tetap dapat di jaga keselamatan negara itu dengan perantaan orang­ orang yang ada didalam kekuasaan raja ||
  5. || Sang putra raja hendaknya menguasai seluruh nasihat saya yang merupakan inti sumber budi pembuka ketenangan hati, agar dapat melaksanakan ajaran-a jaran ayahanda sang raja dalam mencapai cita-citanya ||
  6. || Semoga daerah kekuasaan bertambah martabatnya, demikianlah yang selalu diharapkan, aduhai, Gustiku, raja utama, duhai Gustiku, putra raja hamba membangun keutamaan hati dan berharap agar terlaksana ||
  7. || Teladan raja yang utama adalah selalu berusaha agar keinginannya terlaksana secara sempurna di dunia ini, juga raja yang utama itu harus mempunyai kepandaian yang sempurna, dalam melaksanakan tugas pemerintahan mempu watak tenang, perkasa dan teguh pendiri dengan tenang menghadapi dan member segala kesukarannya, dan kejahatan ||
  8. || Laksana membujuk seorang gadis yang belum menuruti keinginannya, itu merupakan suatu jasa yang luhur, segala keinginannya harus di capai dengan tenang sesuai dengan suasananya, berkat doa kakek tua, semuanya akan terlaksana ||
  9. || Wejangan kakek tua yang bernama Ki Nursidhi tiada putus-putusnya laksana hujan gerimis, segala bisikannya itu demi keselamatan dan dia ingin menyaksikan sang putra diangkat menjadi raja secara wajar dan jujur yang menjadi pedoman para raja ||
  10. || Merasa berkewajiban, karena harus menguasai suatu daerah, maka pelaksanaan kekuasaannya itu dilaksanakan dengan penuh pertimbangan, rahasia negara itu diperhatikan tanpa lengah sesaatpun, kepandaian serta pengalaman­pengalamannya yang banyak itu digunakan untuk mengelola rakyat serta petugas-petugas pemerintahan dalam melaksanakan pekerjaan masing-masing, sehingga sang raja menjadi termasyhur ||
  11. || Untuk dapat menuruti kehendak raja maka keluarga yang tergolong bangsawan tinggi beserta seluruh rakyat sampai kepada abdi raja tiada seorangpun yang membantah kehendaknya, semuanya bersatu padu menyambut baik kehendak putra raja yang akan menggantikan raja itu ||
  12. || Keluhuran kerajaannya seperti turunnya gerimis bermacam-macam bunga, bunganya hati seluruh rakyat yang berkenan kepada kehendak raja, patuh taat kepada sang raja, berkat doa ang pendheta serta sang brahmana diawang­awang,| (1890) ||

PUPUH XXI
DHANDHANGGULA

  1. || Laksana madu wejangan sang pendeta yang bernama Ki Nursidhi, diuraikan dengan jelas kedalam kata-kata yang tersusun dalam tembang secara teliti dan teratur untuk menunjukan kewajiban gusti, sang putra raja, yang memerintah kerajaan sebagai pengasuh rakyatnya dan mendapat ridha sebagai wakil rasul yang bergelar lilumiyi ||
  2. || Lil Umiyi adalah makhluk yang selalu menurut kepada perintah Tuhan yang wujud, jasadnya sebagai Nabiyullah yang mengasuh manusia di dunia ini, rasul yang dirasakan oleh seluruh manusia, yang bernama Muhammad Makiki, yang menerangi hati manusia yang menjadi penganut agamanya ||
  3. || Agama itu benar-benar sangat diperlukan menjadi penguat serta pertimbangan hati, baik bersifat rendah hati, sedang, maupun utama, hanyalah itu yang dirasakan manusia, dalil hadis supaya menjadi pertimbangan semua raja, rakyat yang membantah (menentang) raja supaya diberantas oleh kekuasaan raja yang berdas kitab Quran ||
  4.  || Quran itu berujut kata-kata, makna murad maksudnya harus dihayati, ljmak, kias, serta jidiyatnya harus dikuasai, peliharalah hal itu didalam hati, gunakanlah dalam waktu-waktu diperlukan untuk menghilangkan keruwetan negara, karena raja itu merupakan tumbal negara dan pemberantas segala macam kejahatan ||
  5. || Semoga pengorbanan putra raja selalu mendapat restu dari leluhur raja yang mulia, segala ilmunya menyinari seluruh rakyat yang utama, semoga sang putra raja suka menerima wejangan Sang Nursidhi yang sangat cinta pada beliau ||
  6. || Namun saya meminta maaf karena ia tidak bertempat tinggal yang tetap, tak menentu tempatnya hingga untuk bertemu di tempat tinggalnya pun sulit  jika tidak dikehendaki,  jika kebetulan ia berkenan dan dapat bertemu sebentar, lalu memberikan wejangan demi tugas yang akan dilaksanakan oleh sang rajaputra kelak ||
  7. || Siang-malam sang kakek berdoa diatas gunung yang sunyi, hanya singgah sebentar saja, lalu pergi ke laut yang bernama Barulkayati, setelah itu naik lagi keatas gunung merapi, sengaja masuk ketelaga kalkaosar yang airnya jernih dan tenang, lalu diam mengheningkan cipta ||
  8. || Adapun tujuan sang resi digunung itu semoga dengan pertolongan Tuhan mendapat teman seadanya, tiba-tiba terlihatlah orang laki-laki dan perempuan, setelah ditanya oleh sang pendeta mereka menjawab, yang perempuan  bernama Kayat, sedangkan yang laki-laki Bernama, Kayun ||
  9. || Sang pendeta berkata, “Kayat dan Kayun, engkau berdua janganlah berpisah setiap hari, hAtiku tertarik kepada engkau berdua, jadilah temanku dalam bersemedi di gunung ini, “keduanya menjawab”,  aduhai, sang wiku, beruntunglah kami berdua dapat bertemu dengan sang pendeta ||
  10. || Apa yang dikehendaki sang pendeta, tetap kami lakukan, ikut berprihatin di gunung, akan tetapi permintaan kami, endang (cantrik perempuan) dan cantrik (murid laki-laki) selamanya jangan berpisah dengan sang pendeta, “sang pendeta berkata” sungguh, janganlah khawatir, pasti tidak berpisah denganku ||
  11. || Kesenangan (pakareman) baik yang bersifat lahir maupun batin biasanya merupakan halangan dalam melaksanakan sesuatu sejak didnia sampai ke akhirat, oleh karena itu hendaknya endang dan cantrik harus selalu berhati-hati, agar cita-cita tidak kandas di jalan, “keduanya menjawab”, saya junjung tinggi, Sang Brahmana ||

PUPUH XXII
G I R I S A

  1. || “Wahai, sang pendeta, kami laki-laki perempuan, mohon maaf banyak-banyak bahwa kami memberanikan diri mohon berkah mengenai isi gunung yang kami lihat itu sebenamya” ||
  2. || Lubang gunung yang satu itu bernama “marga suwara”,  jalan suara, yang berada disitu adalah  dua orang dewa, yang diatas itu bernarna Tursina,  yang kedua tempatnya jauh dan bernarna guwa Gohkarna, sedang kedua perwujudan yang kembar itu ||
  3. || Bernama Locana (mata sansekerta) Tursina itu mempunyai kekuatan (prabawa) dan setiap hari mengeluarka prahara, tidak pernah berhenti, selama gunung itu masih tetap berdiri, Locana bertugas menerangi isi gunung supaya dapat dilihat satu-satu dengan jelas ||
  4. || Wujudnya berbendul-bendul, sedang yang ada di dalam gunung itu adalah api yang bernama Anala, asapnya menuju ke waktu, inilah yang bernarna Pramana, bergetarnya gunung itu sesuai dengan goyangnya waktu ||
  5. || cukuplah sekian dahulu wejanganku kepadamu berdua, saya akan berpindah tempat ke Balerante, apakah engkau berdua tinggal di sini, ataukah ikut saya, “keduanya menjawab” tidak betah tinggal disini ||
  6. || Mereka bertiga berangkat, tidak baik jika keduanya ditinggal disitu, Sang Pendeta Nursidhi sudah pernah berjanji ketiganya tidak akan berpisah, dan jika terjadi perpisahan berarti durhakalah Sang Pendeta, karena ia telah mengingkari janjinya, bahkan dalamjanji itupun ditegaskan pula bahwa ketiganya tak akan pernah bertengkar, baik lahir maupun batin ||
  7. || “Wahai, Kayat dan Kayun, saya akan singgah sebentar di bukit Mudambin, suatu tempat mulia, yaitu tempat para pendeta bersemedi disitulah tujuan akhir mereka, meninggalkan badan mereka ||
  8. || Pulang ke kahyangan tempat para dewa yang tiada berwujud,  tetapi ada kehidupan Sang Hyang Wisesa tidak boleh dibicarakan, yang menjadi permohonan para pendeta adalah lenyapnya badan secara sempurna (1890) ||

PUPUH XXIII
ASMARADANA

  1. || Sang Sribupati sedang bercengkrama di Langenarja memanggil orang abdi Pangeran Prangwardana, orang buta, orang bongkok, wujil orang bajang, dan orang yang lehernya pendek sekali ||
  2. || Supaya mereka bercerita-cerita yang lucu-lucu, selama dua malam tidak tidur sehingga selalu mengantuk, mata selalu lengket saja ||
  3. || Mereka memang pandai karena telah dilatih benar­benar oleh mendiang Gustinya, yang memang ahli sastra, gemar membuat senangnya para saudara, sahabat dan keluarga ||
  4. || Semoga keadaan yang semacam itu lestari menurun kepada sang rajaputra yang sekarang telah di wisuda, dikarang di desa, gubahan orang buta sebagai peringatan dan gembiranya Sri Baginda ||
  5. || Pada hari Minggu tanggal 21 Rabiulakhir, tahun Alip dengan sengkala “nyata mulya sariraning sujanma”, (1891) si wuta, wujil, dengakak dan bucu mendapat hadiah saying sang raja ||

PUPUH XXIV
DHANDHANGGULA

  1. || Cerita tentang Sri Raja cengkerma di Langenarja selama tiga malam digubah, selama itu sang raja selalu mendengarkan dongengan-dongengan orang-orang buta dan bucu keempat-empatnya guna menyenang-nyenangkan hatinya beserta kerabat istana dan rakyat yang menghadap, siang hari berjudi mengadu kambing dan babi hutan berganti-ganti ||
  2. || Malam Senin (Minggu malam) bersambung warga pradikan yang diperintahkan untuk membaca kitab (buku agama) yang bemama tafsir dan fekih, banyak sekali tamsil-tamsil untuk mengetahui kesucian hati, batal dan haramnya tubuh (badan) , na jis serta makruhnya, tata tertib solat agar sesuai dengan mukaranah dan takbir serta ikhramnya ||
  3. || Ditambah lagi kewajiban suami-istri, waris, wasiyat dan utang-piutang serta jual-beli, begitu pula hak dan kewajiban yang berhubungan dengan penghasilan yang berwujud hasil bumi, yang di sebut fekih wasalmungin,  semuannya dibeberkan sejelas-jelasnya agar jalannya pemerintahan selalu tetap seadil-adilnya ||
  4.  4|| adapun yang ditugaskan tafsir adalah “abdi dalem” pradikan, guru santri di Langenarjan yang bernama Amar Ilham, ia memang termasuk tokoh yang menonjol sehingga ia sangat dipercaya oleh sang raja dan sering dimintai keterangan oleh sang ra ja mengenai lafal serta maknanya, Ki Ilham sendiri memang pandai dalam hal tersebut, lagipula cocok dengan kehendak raja ||
  5. || Banyak santri yang berasal dari negara-negara lain berguru kepadanya, cara mengajarnya sabar sekali sehingga mudah diterima oleh para santri, semuanya itu deketahui pula oleh sang raja, sehingga para santri pun makin giat belajarnya ||
  6. || Sang raja yang berhak memberi ganjaran serta menghukum rakyat, rakyat yang mujur mendapat hadiah bumi pradikan (desa) yaitu tanpa bekerja tetapi mendapat (upah) nafkah, siapakah yang dapat berbuat demikian?  meski nenek moyangmu sendiri tak mungkin memberikan tanah (bumi pradikan) untuk dikerjakan tanpa membayar kecuali hanya sang raja ||
  7. || Sang rajalah yang dapat mengangkat derajat orang serta memberi ganjaran yang berupa pangkat, siapa pula yang dapat memperoleh ganjaran yang sedemikian itu? tentu saja hanya mereka yang rajin, setia, serta tunduk dan kepada segala kehendak rajanya ||
  8. || Bersabarlah sambil melaksanakan segala usaha sehingga cita-cita yang dituju dapat tercapai, berlakulah lemah lembut, dalam segala hal tertib, teliti dan tepat, jangan sekali-sekali menyesal akibatnya tak dapat tidur, selalu gelisah, selalu marah-marah, karena belum tercapai cita-citanya ||
  9. || Memang kesedihan itu dapat terlupakan sebentar, sementara mabuknya menjadi-jadi oleh minuman keras, tetapi setelah tidur, akan hilang sendiri mabuknya dan kembali ingat akan kesedihan semula, badan lesu, tukang mindring (cina) datang menagih (hutang), diusir pun tak mau juga pergi, bahkan timbul pertengkaran, akhirnya lari dan berbantah dalam keperdataan, hasilnya tetap di anjurkan supaya mau membayar hutangnya ||
  10. || Kalaupun ia mendekat, hanya menyatakan bahwa ia tidak mempunyai uang sebagai pembeyar hutangnya ia berusaha menyusun kata-kata yang sebaik-baiknya untuk menghilangkan/manghindari si kucir yang berhasrat menagih hutang, si kucir malah makin marah karena ia sudah berpengalaman menghadapi basa-basi semacam itu, oleh karena ketidakfasihan orang cina berbahasa Jawa justru menyebabkan masalah cepat selesai, inilah yang dipakai sebagai alat untuk menyelesaikan setiap masalah ||
  11. || Oleh karena itu manusia jaman sekarang harus dapat menahan segala keinginan yang tak ada gunanya, pertimbangkanlah dahulu masak-masak,| bukti-bukti sudah banyak, si tukang mindring dengan rendah hati membujuk orang untuk berhutang, si kucir membongkok-bongkok, tetapi sebenarnya ia memberaki wajahmu sampai rata, dan baunya merajalela ||
  12. || Akhirnya tiada seorangpun yang mau menyapa, tetapi jika orang sedang mujur, banyak orang yang datang, ada yang berkata, “saya dahulu ikut mendoakan, ketika kau masih dalam keadaan miskin,” yang demikian  itu sudah menjadi lumrah, ibarat, “ada lintah orang menghindar, ada ikan orang datang berebut” ||
  13. || Bau-bauan yang harum, kain keling dan ikat pinggang cinde, mahkota dengan kalung rantalnya, seperti halnya mempelai, pasti senang orang-orang mendekatinya, bahkan mereka masing-masing diberi jamuan lagi, sebaliknya orang yang mendapat musibah, dan dibawa ke penjara, tidak ada yang mengantarkannya ||
  14. || Berbuatlah secara cermat agar selamat, setiap hari akan berdatanganlah sanak saudara, semuanya dalam suasana kegembiraan, karena dapat menghidangkan sesuatu ala kadarnya, sambut­ menyambut dengan segala keikhlasan ati, sehingga hidangan pun disambut dengan lahfap, sebaiknya jika orang banyak hutang, meski hidangannya lezat, tamu-tamunya tak menyambutnya dengan lahap ||
  15. || Karena iba kasihan terhadap seseorang akhirnya dapat juga mendapat kesengsaraan, oleh karena itu, janganlah tergesa-gesa menaruh hati ada orang, pertimbangkanlah dahulu masak-masak, apakah seseorang perlu di kasihani, berdolah selalu agar cita-cita kita dapat dengan mudah tercapai ||
  16. || Sadarlah bahwa dirimu itu daif atau lemah, yang berkuasa hanyalah Tuhan, berserahlah diri kepada Tuhan, tanpa menolak kehendak-nya, biasanya akan tercapai apa yang kau cita-citakan, jadi, taat kepada yang berhak menentukan, bermohonlah akan belas kasih Tuhan ||

PUPUH XXV
GAMBUH

  1. || Peringatan bagi orang yang khilaf, bodoh, tak mau diajar tentang kebaikan, tak mau berpikir, malah salah paham, budinya rendah dan kurang pengetahuan ||
  2. || Yang bertugas sebagai tangan raja diusahakan supaya tahu kebijakan dan berpikiran jernih dalam menanggapi kehendak raja, tepat dan mantap, tanpa adanya keraguan ||
  3. || Cara bekerja yang semrawut, kepentingan pribadi yang diutamakan, maksud hati ingin kaya dengan mudah, tetapi akhirnya hanya ditertawakan orang saja, seorang jaksa selalu ingin berbuat demikian ||
  4. || Janganlah berbuat demikian! jun jung tinggilah wejangan para leluhur, dalam mengikuti wejangan tersebut harus juga menggunakan nalar yang panjang, jangan sampai pikiran menjadi ruwet, ternyata hatinya bolong ||
  5. || Kekhawatiran akan lenyap, jika tidak lagi mengutamakan keinginan pribadi, karena ingat akan wejangan orang-orang tua, keutamaan seorang mantri (pegawai, petugas) adalah tabah hati menghadapi segala kesukaran ||
  6. || Roman muka harus baik, teguh, tenang dan lemah­lembut hatinya, segala yang akan dilakukan harus direnungkan, karena anda dekat pada raja ||
  7. || Mantri itu utusan raja, harus pandai berbicara dan jelas, duta raja itu harus pandai dalam segala hal, tidak pantas kalau bodoh ||
  8. || Adalah perlu sekali mempelajari tugas para Tumenggung, jangan segan-segan membangkitkan hati yang tidur dan jangan lupa ajaran orang lain ||
  9. || Akhirnya dirinya pontang-panting, budinya tidak muncul, dijadikan mantri pemuka, jika budinya rusuh, tentu akan diberhentikan ||
  10. || Janganlah selalu tertarik pada perbuatan seperti itu, pengorbanan yang sedemikian itu harus dilaksanakan dengan sabar supaya berhasil, adi bupati jangan memalukan ||
  11. || Agar jalannya keturunan menjadi urut, sehiqga hidupnya menjadi beruntung, seolah-lah hidupnya itu tidak mengalami kematian, karena diganti oleh keturunannya dan tempatnya tetap ||
  12. || Amin, amin ya alkamdulillahi robil alamin, manusia tidak berkuasa dan hanya sekedar melaksanakan (kehendak Tuhan) dan bermohon kepada Yang Maha agung, semoga selalu mendapat ridhaTuhan ||

PUPUH XXVI
MASKUMAMBANG

  1. || Sudah wajiblah hamba Tuhan untuk mengambang, artinya berserah diri kepada Tuhan yang selalu mengasihi (kepada hamba-nya), semoga kasih sayang itu untukselamanya ||
  2. || Inti kehendak Tuhan hendaknya dirasakan agar tidak terjadi salah faham, sebenarnya masalah hakiki manusia adalah merasakan ||
  3. || Sesungguhnya arti yang hakiki ialah ibarat orang mengabdi harus jujur dan rajin, segala kemalasan harus dibuang ||
  4. || Jangan ragu-ragu membuang kesenangan yang menyebabkan gagalnya pikiran, ingat ciptanya orang mengabdi itu harus rajin || 164
  5. || Orang yang rajin pasti tahu kehendak Gusti, jelas dan tidak samar-samar, orang itu dapat mengenal setelah melihat mengenai kehendak orang yang dihadapi ||
  6. || Akhirnya, apabila engkau memang mendapat belas-kasih, bersyukurlah, kasih itu tak dapat diminta, manusia hanya dapat menerimanya ||
  7. || Kadang-kadang datanglah kasih Tuhan bertepatan kuatnya cinta kasih manusia kepada sang raja ||
  8. || Simpulkanlah, dalam contoh-contoh tersebut takdir Tuhanlah yang berlaku, namun manusia wajib memohon kasih ||
  9. || Usaha-usaha yang bersifat setengah-setengah tidak akan berhasil, sedangkan kurang (tidak) teliti merupakan jalan kearah sengsara, sertailah usaha itu dengan kesabaran hati ||

PUPUH XXVII
K I N A N T H I

  1. || Syarat-syarat orang menjadi luhur adalah kuat bertapa dan kurang tidur, selalu ingat ada tingkah laku yang baik, jika berbicara harus manis agar sesamanya mudah tertarik, yaitu sesama manusia ||
  2. || Usahakanlah hatimu dapat menerima apa yang terjadi, lebih-lebih apabila dirimu dikuasai oleh orang lain, jika engkau dapat menyesuaikan diri dengan kehendak orang lain, (hidupmu) tak akan mendapat kesukaran ||
  3. || Jadilah seorang penurut, yaitu menurut dalam arti berserah diri terhadap Tuhan, lebih untung lagi sebagai seorang pembesar, akan selalu disenangi bawahannya, martabatnya menjadi lebih tinnggi ||
  4. || Bagaikan bintang pagi di waktu subuh, bersinar­ sinar indah kemilau, menyinari seluruh negeri, ranungkanlah agar selalu mendapat kasih Tuhan ||
  5. || Dibuat baik supaya menjadi pasti, yaitu pasti utama dan teliti, tetap menjadi pengayom rakyat, sehingga hati rakyat selalu tentram, orang yang semacam itu pasti dapat di contoh, hatinya bagaikan bula nyang tengah berkembang ||
  6. || Dapat menjadikan terang hati yang kusut, ruwet karena mengandung rahasia, takut kalau-kalau ketahuan oleh sang raja, akhirnya yang berhati jahat itu hancur juga ||
  7. || Terlunta-lunta diusir oleh sang raja, diselimuti hawa yang dingin, sampai di tempat yang terang menjadi sengsara, jarang orang yang menegurnya, jelas akan menjadi sengsara, karena tidak menurut kehendak raja ||
  8. || Sangat menyesal kalaupun mati di rantau orang, lalu lalang sendirian, bahasanyapun Jawa, sukar orang lain dapat menanggapinya ||
  9. || Makannya pun hanya nasi dan garam, lomboknya hanya satu biji, pagi-pagi sekali sudah di bangunkan, disuruh mencangkul di kebun kopi, itupun disertai pukulan, Kartawilaga hanya mengingatkan ||
  10. || Ternyata tanah bengkoknya itu (lungguh) didapat oleh si nenek karena membeli duaribu Inggris kuna, kedua cucunya dapat menjadi mantri (pegawai), yang seorang di “gedong kiwa”, yang seorang lagi di “gedong tengen”, tidak menurun kepada anak ||
  11. || Karena sudah dianggap sudah menjadi miliknya, karena dibelikan oleh neneknya yang mempunyai setan, sehingga kaya sekali sehingga dapat membeli mantri, kepalanya menjadi besar karena boleh menyandang gelar Raden Bei ||
  12. || Gelar Den Bei karena jalan belakang, Sang Bupati di suap, Sang Bupati berdusta terhadap raja, memohonkan gelar tanpa silsilah riwayat pekerjaannya ||
  13. || Berasal dari Ki Ageng Butuh, Sang Bupati hidupnya compang-camping, rajin ke tempat perjudian jarang menghadap raja ataupun bertugas kemit, pura-pura pamit sakit padahal sedang berjudi ||
  14. || Payah di tempat yang satu, pindah ke tempat ang lain, ke kamar bola (tempat bersenang-senang orang belanda), ia lupa bahwa esok hari Senin, karena mabuknya menjadi- jadi, akhirnya pamit lagi karena sakit pusing, mulas, muntah-muntah, dan berak-berak ||
  15. || Kiranya maksud hati kesampaian, namun selalu malas berpikir, karena selalu melaksanakan kesenangannya, lupa bahwa ia mempunyai Gusti, jelas memang ia menyleweng ||
  16. || Ia menjadi takut karena insaf atas kesalahannya, lama sudah ia dibiarkan sa ja, sebagai tumenggung pun ia masih canggung (bodoh) namun ia pandai memberi nasihat kepada mantri agar ia selamat ||
  17. || Karena atasannya tidak pernah tidur, selalu mendengarkan kabar bentang tingkah laku bawahannya, Bupati itupun bertobatlah, yang sedemikian itu patut di contoh, yaitu Sang Bupati tadi ||
  18. || Tujuannya agar keturunannya dapat mewarisi kedudukannya, hal sedemikian itu merupakan suatu karunia yang disiapkan sebelumnya secara cermat untuk menjadikan nayaka atau “suka guru”-nya Negara ||
  19. || Alangkah termahsyurnya, seorang yang diangkat dera jatnya oleh raja, dihormati oleh sesamanya meskipun tak usah dengan uang,  “cis, tak malu rengen sekap kalu tradhak jaga baik ||”
  20. || “Kalu sukak trima wuruk, jadi untungnya sendiri, dikata baik tingkahnya, orang sukak dengen asih,  nah sudah habis pantunnya, yang ini tembang kinanti||”

PUPUH XXVIII
S I N O M

  1. || Bagaikan pohon kejatuhan hujan, demikianlah ibarat bagi orang yang tengah mendapat kasih Gusti, segar-bugar cahayanya, merasa dirinya akan segera bertunas, meski belum yakin apakah juga akan berbuah uang akhirnya dapat dinikmati serta isinya dapat ditanam lagi sehingga rasa buahnya tetap seperti induknya tidak berbuah ||
  2. || Namun pegawai (nayaka) yang dengan sengaja berusaha agar naik pangkatnya, sungguh tidak mudah, ia harus menunjukan dapat menjaga negara, daerah yang ada dalam kekuasaannya termahsyur, selalu berusaha membawa kemuliaan bagi seluruh negri, demikianlah seharusnya orang yang berpangkat nayaka atau mentri ||
  3. || Semangat harus keras, tetapi kepala tetap dingin, jauh dari semangat pamrih, demikianlah pegawai yang perwira untuk menjadi teladan bagi pegawai­pegawai lain, buanglah segala kenistaan dan carilah segala yang utama ||
  4. || Seorang yang mengabdi kepada negara yang di jadikan Bupati mempunyai banyak tanggungan, oleh karena itu harus tahulah ia akan watak­watak para mantrinya, dalam melaksanakan tugas jangan bingung, sehingga perintahnya dapat diturut, sebab sudah mengetahui kepribadian para mentri bawahannya ||
  5. || Misalnya para ulama (cendikiawan), khotib dan modin di daerah pradikan sampai kepada Juru Suranata, tak mungkin tahu kewajibannya masing­ masing karena  jika atasannya (lurahe) memberi ajaran yang baik mereka tak mau melaksanakannya, malas mengkaji Quran, tidak mempedulikan ajaran-ajaran kitab-kitab, lupa bahwa bidang tugas mereka adalah keulamaan ||
  6. || Lebih dekat pada madat, madon, perjudian akhirnya akan menjadi maling, lupa bersembahyang jauh dengan kyai (ahli agama), juga lupa pada penghulu, bahkan hanya selalu mengadu ayam, yang demikian itu biasa dipecat dari jabatannya karena disangka penjual candu gelap ||
  7. || Wahai, para ulama, pelajarilah dengan tekun ilmu kanjeng rasul, tentu banyak manfaatnya, adapun yang sudah dibeberkan secara jelas ada empat macam, rasakanlah/hayati dengan seksama satu per satu dengan jelas, karena itu semua dalam bahasa Arab ||
  8. || Bukan bahasa orang Jawa, jangan hanya diawurr saja, harus diteliti, tanyakanlah pada orang pandai lafal, makna serta muradnya/maksudnya, jadi betul-betul dapat mengetahui dengan sempurna, menuju ke sasarannya, harus berguru kepada ulama yang sudah benar-benar disebut mukmin ||
  9. || Akan lebih utama lagi menjalankan solat tasbih tiap tengah malam dengan rasa yang hening menjelang bersembahyang laksana nyala jadi satu dengan apinya ||
  10. || Demikianlah tamsil solat yang benar-benar, para mukmin yang pandai telah mengetahui hal itu, yaitu hubungan antara kawula dengan Gusti, keduanya menempati tempat masing-masing, jangan sampai salah tempat, wahai para santri, kerjakanlah demikian, jangan meminta kepada siapapun kecuali kepada Tuhan ||
  11. || Sebabnya berkepanjangan dongeng tentang orang buta untuk memberi pelajaran kepada rakyat, pada suatu saat Nri Nata memberi peringatan kepada seluruh rakyatnya agar dapat mengerjakan tugasnya masing-masing, “Sri Narendra Sarira Purna Sajuga”, artinya Sri Raja telah menyempurnakan jasadnya menjadi satu ||

PUPUH XXIX
DHANDHANGGULA

  1. || Mulailah Sang Nata memberikan pesannya kepada seluruh wanita yang bersuami, mereka harus menurut kehendak suami,  berusahalah menyenangkan hati suami karena hal yang sedemikian itu dapat menumbuhkan cinta, laksana guna-guna dan perangsang cinta, syaratnya ialah harus selalu sadar ||
  2. || Janganlah mabuk, tidak ingat atau lupa karena hal itu menimbulkan penderitaan jasmani dan rohani, itu benar-benar tidak memikirkan ajaran dan merusak ke jernihan budi dan merusak raganya karena malas mengikuti ajaran ayah dan ibu, yang sebenarnya patut di taati, karena merekalah yang menyebabkan kita hidup ||
  3. || Tepatilah kewajiban seorang istri, rahasia dirinya harus di jaga dengan baik sehingga betul-betul menjadi wanita yang tertib, tertib berarti urut dan teratur dalam melaksanakan kewajiban istri, tepat dan benar artinya tujuan hatinya hanyalah untuk suaminnya saja. Usahakan agar merasa dirinya penting sekali, sebaliknya usahakanlah untuk berbudi bahasa yang manis ||
  4. || Jadi terpakai dan diindahkan suami, karena engkaupun telah taat, dan mengerti akan kehendak suami, itulah yang dinamakan bersikap “anoraga”, dan karena Tuhan akan melimpahkan kasih-nya, terhindar dari kesedihan, contoh teladan dari masa lampau dari wanita yang dikasihi suaminya hendaknya kau lestarikan ||
  5. || Melihat gerak gerik serta keinginan suami, agar menyenangkan hatinya, berbicaralah seperlunya saja, (yang tidak perlu jangan dikemukakan), hati suami akan bersemangat jika melihat isanya punurut, si istri akan gembira, diturut dan di penuhi kehendaknya, hatinya tidak akan kecewa seperti pohon kejatuhan hujan, daunnya rimbun, bunga dan putiknya lebat, tentram, hatinya was­was ||
  6. || Tentramkan hatimu selalu, jangan goyah sedikitpun, segala kewajiban istri dapat dilaksanakan, sediakan pakaian suami, juga kebutuhan makannya, perhatikan kesenangan suami, baik makan pagi, siang, petang maupun malam, pagi-pagi benar harus sudah berganti pakaian, lakukan, jangan bosan-bosan agar suami senang ||
  7. || Itulah yang harus dipikirkan agar suami selalu berseri-seri dan betah tinggal dirumah, jika terjadi demikian, sesungguhnya istrilah yang beruntung, sebab suami akan selalu menungguimu, jika dapat bersihkanlah badanmu dan pakailah bunga­ bunga yang semerbak, karena hal itu dapat membangkitkan semangat suami ||
  8. || Pada umumnya wanita itu mempunyai nafsu yang besar dan berpikiran pendek, mudah lupa serta senang dimanjakan, meski ada uang sedikit saja, dua ringgit asal ada berita, bahwa disana ada dukun yang dapat memberi syarat, pinang dan sirih agar disayang suami, biasa tanpa pikir lagi ia percaya ||
  9. || Oleh karena itu banyak juga wanita yang baru seminggu kawin, hartanya sudah habis diberikan kepada dukun bahkan masih minta tambahan milik suaminnya, jika suaminya tahu, marah-marahlah dan dipukuli, yang jelas akan mengurangi cintanya pada istri, badan lesu, hati susah, suami tidak mau menghiburnya, bahkan marah-marah saja, nah, akhimya mendadak sakit ||
  10. || Setiap hari selalu mengeluh, menyesali nasibnya, “Ya Allah, tidak seperti saya ini bemasib celaka, maju sulit mundur pun malu”, namun telah menjadi watak wanita, jika menderita susah, terbayanglah ayah-ibunya dan dipanggil-panggil, tidak begitu bila suaminya mencintainya ||
  11. || Lupa akan asal mula hidupnya, karena selalu memikirkan hal yang senang saja, jika dipanggil, ia selalu menjawab “nanti”, sebaliknya kalau ia bertengkar ia berlari-lari pulang, aduhai, wanita hendaknya engkau suka mengikuti semua ajaran yang baik, cegahlah hatimu yang meluap-luap itu agar dapat menjadi teladan bagi putra-putrimu ||
  12. || Sudah merupakan hal yang biasa bahwa manusia itu akan mempunyai keturunan, jika sang ibu berbuat jelek, putra-putrinya akan terpengaruh juga, tidak mempunyai harga diri, setelah ibu bapaknya meninggal, tidak ada yang menghormati/menghargainya, diangap keturunan orang-orang rendah ( sudra),| sampai di negeri asing pun orang tidak tahu bahwa ia itu adalah keturunan orang rendah ||
  13. || Takmungkin tahu hal-hal yang baik, suka bohong, banyak bicara yang tidak nyata, agar orang biasa mempercayainya sehingga akhirnya biasa membohongi orang, ingin seperti pokrol jendral yang hanya dapat berbicara saja, orang semacam itu sebenarnya pencuri juga yaitu pencuri kata (durjana sabda), wahai, manusia, janganlah hendak menjadi sengsara karenanya ||

PUPUH XXX
ASMARADANA

  1. || Jangan lupa akan kedudukan suami, lupa karena sibuk dalam asmara dan selalu bersuka-sukaan saja, sebaiknya berdoalah selalu sesuai dengan kedudukan seorang istri agar tidak kelihatan bodoh, bahkan akan kelihatan pandai daripada ayahnya ||
  2. || Memang demikian orang hidup itu, harus berusaha mencapai cita-citanya, usahakanlah dengan penuh kesabaran agar semua keinginan dapat tercapai terus-menerus dengan mudah, ingat bahwa segala keinginan yang diusahakan secara tergesa-gesa itu dapat mengakibatkan kesia-siaan ||
  3. || Berserahlah kepada Tuhan yang telah memberi hidup kepadamu, harus tanggap secara cermat dan tepat terhadap segala perlambang, terutama perlambang hubungan antara Gusti dengan kawula, harus selalu dapat menyesuaikan keinginan-keinginannya sehingga dalam berdoa selalu khusuk (khidmat) agar perlambangannya tepat ||
  4. || Yang dimaksud dengan ” jomlah” misalnya seorang istri wajib mengetahui watak-watak suami agar selalu dikasihi terus menerus, sekurang­kurangnya hatinya akan lebih terbuka bagimu ||
  5. || Dongeng-dongeng mengenai para putri pada jaman dahulu sudah banyak diceritakan, terutama di Jawa ini, pilihlah yang utama sesuai dengan kemampuan diri sendiri, disesuaikan juga dengan jamannya agar kelihatan lumrah dilihat orang banyak ||
  6. || Penulis sudah kepayahan sehingga cara memberikan wejangan semakin lamban dan kurang tertib urut-urutannya, maksud penulis hanyalah sekedar memberi peringatan agar wanita dapat hidup sejahtera ||
  7. || Laksana orang mimpi, bangun tidur lagsung melanjutkan lagi menyelesaikan gubahan ini, yaitu gubahan tentang wejangan bagi para wanita, sebaiknya jagalah kebersihan, baik didalam rumah, maupun tubuhnya sendiri agar sanak saudara senang bertandang ke rumahmu ||
  8. || Syukurlah jika bisa menyambut dengan hidangan, setidaknya sambutlah dengan tingkah laku yang sopan-santun, agar tamu gembira dan merasa betah bertamu, hal demikian itu disebut bojakrama ||
  9. || Boja berarti suguhan makanan, krama berarti bahasa yang lemah lembut agar tamunya betah dan tidak lekas-lekas pulang, ini berarti tuan rumah dikasihi oleh sesamanya, renungkan hal ini dan contohlah hal-hal yang semacam itu ||
  10. || Sesungguhnya manusia yang dikasihi oleh sesamanya berarti Tuhanlah yang menggerakkan hati mereka itu, semoga kasih Tuhan yang sedemikian itu berlaku terus-menerus dan turun­temurun sampai hari kiamat ||
  11. || Berkasih-kasihan atar sesama hidup itu bermanfaat secara lahir maupun batin, segala keinginannya dapat tercapai, begitu pun derajatnya, manusia yang ingin luhur derajatnya harus menjauhkan diri dari perbuatan yang rendah ||

@@@
Tamat.

SERAT KABAR KIYAMAT


PUPUH I
ASMARADANA

  1. || Ingsun amiwiti amuji | anebut namaning Yang Sukma | kang murah ing dunya mangke | tembe asih ing ngaherat | kang pinuji tan pegat | angganjar wong kawlas ayun | angapura wong kang doasa ||
  2. || Milane kawula amuji | maring Allah ingkang mulya | panedhahena maneh ingong | angsala paring Allah | rahmat lan kanugrahan | den duduhena marga ayu | pinaringan sih ngapura ||
  3. || Sampune muji Yang Widi | amuji Nabi Muhammad | kelawan kawula margane | sahabat papat punika | kang dhihin Abubakar | Ngumar Ngusman puniku | Begendha Ngali Murthasar ||
  4. || Wonten pandhita linuwih | ucapen waspada paningal | rasakena surasane | kesod ngideri jagad | si picek amilang lintang | wong ngangsu pikulan banyu | ngamek damar obor-oboran ||
  5.  || Si Cebol anggayuh langit | werangka manjing curiga | randhu alas mrambat pare | sawung kaluruk tengah segara | kuda ngerop ing ngawang-awang | si bisu atukang padu | tapake kuntul ngelayang||
  6. || Ana siti pinendhem sajrone bumi | banyu kelem sajrone tpya | perawan ayu rupane | tan kena pisah wong lanang | wrandha wurung peputra | takokena kalawan guru | welanjar durung akrama ||
  7. || Wonten papan tanpa tulis | sekar tunjung tanpa telaga | iya iku padha tunggale | tanggal sapisan kang purnama | bahita momot segara | jukung layar wonten gunung | pedhati ngambah segara ||
  8. || Kang awas pasemon puniki | aja sira kaliru tampa | terusena sejatine | sewu siji kang uninga | wong tuwa rasakena punika | pan akeh padha kaliru | aja tungkul turune mangan ||
  9. || Margane ana wong mukti | pernyata wijile wong tapa | amesu maring ragane | cegah turu lawan mangan | sarta sabar derana | tur weruh jatine ngilmu | hakekat lawan makripat ||
  10. || Sing sapa wani prihatin | du king anom kongsi tuwa | pesthi mumbul derajate | den sembah-sembah manira | jim setan pri prayangan | sedaya pan sami sujud | wedi asih kelawan sira ||
  11. || Tur pinaringan maring Yang Widi | maring Pangeran ingkang mulya | iya iku gedhe wilalate | berkate saking Pangeran | mulane sira katrima | iya iku jatine laku | minangka dadi embanan ||
  12. || Kang saweneh wong ngurip | kasengsem panggawe dunya | kapingin sugih ragane | wekasan saya melarat | sabarang den gayuh tuna | den cupet maring Yang Agung | sejatine kurang tapa ||
  13. || Jaluk sugih saya meskin | jaluk enak nemu lara | jatine kurang tapane | minta suwarga nemu neraka | iku sira awasena | nedha luhur dadi kajebur | nedha gesang dadi ilang ||
  14. || Pasiyanira Yang Widi | alanggeng tan kena owah | amesthi maring kawulane | tinulis ing tanganira | kang becik lawan kang ala | kang ngandhap kelawan luhur | wus pinesthi ing tanganira ||@@
  15. || Manusa kang pesthi becik | wiwitane saking tapa | amesu maring ragane | tan entheng sandhang lan pangan | permilane pinaringan | tulise tangan kang mujur | terus maring sukunira ||
  16. || Wekase ingkang anulis | padha sira rasakena | kang tuwa miwah kanga nom | yen nora laku mertapa | manusa tan pinaringan | gambare kalintang agung | iku sira ilingana ||
  17. || Wonten carita winarni | caritane kabar kiyamat | ingkang wau ginupita mangke | lan padha sira werudha | iki caritanira | weruhanira ing besuk | anom padha ilinga ||

PUPUH II
S I N O M

  1. || Dhumawuh gaibing swara | eh bumi mengaa aglis | si kapir kang arsa ngrusak | iya maring kubur nabi | sira uleten sami | bumi beledhok amenga sampun | wus bolong sakiderira | angideri sakeh kapir | sami kalebu si kapir ngandhape pertala ||
  2. || Miwah sarajanira | Raja Hurmus lajeng angemasi | bumi anulya ngingkem | si kapir kalih lumayu | tiyang kalih kiwala | lumayu arebut dhingin | sedyanira amantuk maring wismanira ||
  3. || Si kapir sigra kepapak | kancanira kinen abali | yen Harmus sampun pejah | miwah sakancanireki | apan samya ing nguntal bumi | ing labdang pernahipun | kalebu bumi Madinah | pan wus mashur pawartaneki  | Negara kopar ing Mekah lawan Madinah ||
  4. || Wong Islam pan sami suka | sedaya sukuring Widi | nengena ingkang cinarita | agenti carita malih | dhatengipun Imam Mahdi | pan tetelu ngelamatipun | sawiji yen ana grahana wali-wali grahaneki | nuju wulan Ramelan ing waktunira ||
  5. || Sapisan tanggal telulas | kang kapindho patbelas malih | Imam Mahdi nulya mijil | wonten Mekah negari | anjujug ing negari | ing pernahe makamipun | Ibrahim Kalilullah | sanding Hajar Sawudi | umuripun Imam Mahdi kawandasa warsa ||
  6. || Wonten permaning Yang Sukma | Jabarail kang angering | pan sarwi ambekta bala | pan sami anitih turanggi | kawandasa ewu nenggih | pan Malaikat Mikail lan bala agung | ing Mekah kebekan | sakehe prajurit sami | suka-suka wong Mekah maring Sukma ||
  7. || Anengena ingkang winursita | kocapa si kapir prapti | wong loro nitih turangga | ing Hurmus ingkang negari | karine atur bekti | risake sang Raja Hurmus | miwah sabalanira | maring anak putuneki | tuwin bala kang kari wonten ing wisma ||
  8. || Kang samya ngepung sedaya | patine rajeng Hurmus aji | nulya wong sanegara | rembagan ngadegaken aji | anake rajeng Hurmus Negara | suyud wong sanagari | kumpul wadya tan ana kang malanga ||
  9. || Genti kang cinarita | mangsuli carita malih | Imam Mahdi awakira | wonten ing Mekah negari | wus kasebut ratu adil | Jabarail Mikail sampun | apan sarenga musna nira | ana dene Imam Mahdi | sipatira sarupane Nadi Adam ||
  10. || Anging dedegira pideksa | cahyane amindha sasi | wedananira ajembar | angrurih wedananeki | ajelirit alis kalih | apan kocak netranipun | wajanira gebyar-gebyar | kadi wajane jeng Nabi | janggutira angrompal kadi panutan ||
  11. || Lampahe sedina-dina | kaya lampahe jeng Nabi | salat miwah apuwasa | angabekti maring Yang Widi | apan sarene sami | kadi sarene jeng rasul | tuwin suyud manusa | kaya Jeng Sulaiman Nabi | lawan kaya sang Raja Askandar ||
  12. || Agemipun kangrasukan | apan ageme jeng nabi | agemipun dhestar | lan pedhang wasiyat nabi | lawan wonten malih | apan ageng kramatipun | agenge kekayon godhongan | saged wangsul ijo malih | bumi great apan dadi bumi mulya ||
  13. || Ana dene adegipun raja | Imam Mahdi genti kang nabi | tur dadi kalipatullah | ing Mekah gedhonge sami | kang isi retna adi | sedaya binuka sampun | pinariksakaken wadyabala | kang sumedya aprang sabil | lawan malih pekir meskin pinaringan ||
  14. || Meshure kang pawarta | ing Negara kanan lan kering | Ratu adil Imam Mahdi | pan sampun jumeneng aji | suyud kang manca negari | ing Masyrik lan Maqribipun | sakathahe bangsa Islam | dene wong kang bangsa kapir | dereng purun manut Imam Mahdi ||
  15. || Antara selaminira | wong Islam sukaning ati | anulya amireng Jawa | Imam Mahdi kabar sakid | yen Hurmus negari | apan wonten ratu agung | kakumpulane wong kopar | datan andarbeni agami | Imam Mahdi akarsa utusan ||
  16. || Amarintah prajuritira | sawidak ewu kang nitih | satus ewu kang dharat | angrasuk praboting jurit | dene kang dados tindhih | Alibasah namanipun | anate anglunasi karya | Alibasah yen ajurit | lawan nate ambanda para raja ||
  17. || Sigra budhal Alibasah | pan sarwi amundhi tulis | kang serat tunggul penantang | ingkang saking Imam Mahdi | ing marga datan winarni | Negara Hurmus sampun rawuh | kang wadya binekta sedaya | wonten sajroning negari | abusekan wong Hurmus sajroning kutha ||
  18. || Saking agenge kang Negara | rajane dereng miyarsi | sapraptane Alibasah | ing agalun-alun pan nuli | juju king sitihinggil | kang wadya kathah kang kantun Raja Hurmus Negara | siniweng wadya ing sitihinggil | samya pepek bupati lan para raja ||
  19. || Kagyat kang samya tumingal | caraka kang lagya prapta | sigra-sigra lampahira | Raja Hurmus ngandika aris | age sira tumingal nuli | undhangana caraka iku | gandhek nulya inggal | nimbali caraka ing prapti | canawisan ing kursi emas ||
  20. || Wus panggih nulya angunggah | Alibasah sarwi anglirik | pedhangira tinata | sigra maringaken tulis | Hurmus anyandhak aglis | kang serat tinampan sampun | bubukane kang serat | penget laying ingsun iki | tumeka iya maring pekenira ||
  21. || Lan malihe ta sira manuta | maring Yang Widi | manuta agama Islam | agamane kanjeng nabi | aja dadi cemering bumi | kumpulane para kupur | aja manut ing setan | manuta sarengat nabi | kang dinuta ya Mukhammad Rasulullah ||
  22. || Yen sira ora anuta | iya maring ing Yang Widi | lawan yen ora anuta | sarengat nabi linuwih | wong gawa laying iki | sun utus nugel gulumu | miwah angrusak pisan | negaranira Hurmus lawan malih | angrusak sakehe balanira ||
  23. || Setengah maca kang serat V Hurmus wedana lir metu Geni | kerot-kerot ingkang waja | inggal astanira kalih | serat nulya sinebit | Alibasah pan tinubruk | malumpat saking palinggihan | pedhangira wus tinarik | kang samya nangkil sedaya pan ngrebut yuda ||
  24. || Tan kawarna solahira | Alibasah gennya jurit | gegeripun apuyengan | wong kapir akeh kang mati | bala kang aneng wuri | sigra sami ngrebut purun | anulungi Alibasah | wong kapir sajrone puri | samya tulung iya masing ratunira ||
  25. || Awit nempuh ing yuda | panuju ing dina Kemis | marengi wulan Mukharam | ulnge Islam lan kapir | pan samya asilih ukih | pedhang panedhang asru | bedhil miwah kalantaka | tumbak keris samya agenti | datan kena ing ngetang kathahira kang pejah ||
  26. || Alibasah wus manengah | pangamukira lir bantheng kanin | Raja Hurmus pan tumingal | ningali saking sitihinggil | karepotan si kapir | pejah limangatus ewu | perjurit kang nitih kuda | apan sarwi den trajangi | wus tetela ningali Hurmus raja ||
  27. || Sigra lajeng buwang seray | ing negari kanan lan kering | tan kawarna lampahira | wong kapir akeh kang prapti | apan kadi jeladri | wong Islam karoban musuh | karepotan ing yuda | anulya upeksi | ing negari Mekah maring Imam Mahdi ||
  28. || Cinandhak ing lampahira | praptane atur upeksi | umatur saatur ira | miwiti malih | inggal Imam Mahdi | nulya angling yen mangkana karsaningsun | anuwun maring Pangeran | risake sekehe kapir | Raja Hurmus risake sabalanira ||
  29. || Si kapir suyud Imam Mahdi | wonten pitulunge Widi | si kapir pangamukira | samya sakancanireki | apan datan winarni | lamine aprang pupuh | wong Islam gawok tumingal | anyipta sajrone ati | yen gustine Imam Mahdi adadonga ||
  30. || Tan dangu ing risakira | wong kapir samya ngemasi | tan mawi arebut uning | ing Hurmus sampun agempur | risake tan mawi yuda | tan mawi aprang tandhing | sigra budhal caraka lir pucung kang warna ||

PUPUH III
P U C U N G

  1. || Wus acundhuk caraka nulya umatur | wiwitan pan wekasan | Imam Mahdi Ratu Adil | lajeng suyud sigra maring Pangeran ||
  2. || Sigra parentah Imam Mahdi karsanipun | maring Hurmus Negara | para ratu samya ngiring | pra bupati hulubalang aneng ngarsa ||
  3. || Nulya nitih Imam Mahdi kuda mulus | rina suk sedaya | ageing wasiyat nabi | nulya budhal ing marga datan winarna ||
  4. || Imam Mahdi ing Hurmus pan sampun rawuh | sigra Alibasah | amethuk maring sang raja | wus acundhuk Imam Mahdi jujukira ||
  5. || Ing korine wismanira Raja Hurmus | sampun ginuciyat | pitulingira sami | Raja Hurmus ning jro sabalanira ||
  6. || Imam Mahdi nulya tekbir kaping telu | saben-saben lawang | tinakbiran Imam Mahdi | lawang pitu bubrah sakuncine pisan ||
  7. || Nulya manjing Imam Mahdi maring kedhatun | Raja Hurmus sigra | amathuk sabalaneki | datan kelar raja Hurmus yudanira ||
  8. || Balanira raja Hurmus sampun lebur | nulya Hurmus raja | cinekel tan bias budi | sigra narik Alibasah pedhangira ||
  9. || Wus ingidanan Alibasah kinen anempuh | janggane pinedhang | Raja Hurmus wus ngemasi | pan jinarah isen-isen Negara ||
  10. || Wus ingedum Imam Mahdi jarahanipun | maring bala sedaya | weradin pan ageng alit | milang derajat kang wadyabala ||
  11. || Sekarine wong kapir pan sampun lampus | apan winuruk dhahadat | kalimat kalih | pan sahadat Mukhammad Rasulullah ||
  12. || sampun wrata manut agama rasul | apan data nana | Negara kang malang siji | ngetan ngulon ngalor ngidul datan ana ||
  13. || Tan kawarna lamine Imam Mahdi iku | ning Hurmus Negara | arsa kundur Imam Mahdi | ing Negara Mekah pan sampun nulya ||
  14. || Apan sampun Imam Mahdi karsanipun | kang ginawe raja | gentine Raja Hurmus | datan liyan saking anak putunira ||
  15. || Sigra budhal Imam Mahdi balanipun | angering sedaya | untabe kadya jeladri | tan kawarna ing Mekah wus prapta ||
  16. || Angadhatun Imam Mahdi arsa mundhut | sagunge kang dhaharan | dhaharan kang adi-adi | wus bakti sagunge bala para raja ||
  17. || Samya suka sedaya ing tyasipun | kang wadya sedaya | dyat menangi Ratu Adil | bumi jengkar pereng-pereng samya arja ||
  18. || Pan wus mashur ing negari liyanipun | mashure tan ana wong cilik kurang bukti | napa malih Negara pan nora kurang ||
  19. || Pan malihe data nana susahipun | saking arjanira | tan ana kang laku maling | nyebrot ngutil ngampak begal tan ana ||
  20. || Ing penggawe kang laku dursila lacut | sayekti tan ana | yen ana nuli ngemasi | awit saking katrimane donganira ||
  21. || Pandungane Imam Mahdi saben dalu | selametipun ing Negara | aja na laku silib | permilane laku dursila sami salat ||
  22. || Akeh uwong asalat arebut dhucung | saben-saben desa | sami ngadekaken omah mesjid | pan sedaya sami salat bar jumungah ||
  23. || Para ngulama lelangkung mukti setuhu | apan wus kacetha | ngulama pan dadi kekasih | kekasihe ratu adil waliyullah ||
  24. || Para Ratu ing Negara liyanipun | dadi tunggulira | tunggule sakehe mukmin | pan minangka kagentine Imam Mahdi ||
  25. || Pan wrata wedala bumi kelangkung | miwah cukulan | wowohan sami dadi | sakehe wong data nana pajekira ||
  26. || Kang minangka pekahira para ratu | tuwin para ngulama | pekir miskin sami | wedalira jakat pitrah ana manusa ||
  27. || Mila arja sekeh desa gunung-gunung | jurang ora-ora alas | sedaya dipun wismani | sungil-sungil ereng-ereng wismanan ||
  28. || Ilinipun kang toya bumi lumintu | apan datan pegat | tanduranira wong cilik | saben taun tan ana kang ora medhal ||
  29. || Jumeneng Imam Mahdi pesthinipun | kawan dasa warsa | lamine jumeneng aji | anulya ana ratu utusanira Yang Sukma ||
  30. || Sarena prapta utusan anulya cundhuk | tan kena winicara | ngaibira Imam Mahdi | wong kang Islam rumangsa akhir ing jaman ||
  31. || Nulya dhateng musibat Yang Agung | wetunira Dajal | apan sampun den luari | jujukipun saking sarsane Negara ||
  32. || Wonten kol sawiji caritane puniku | wetunira Dajal | anjujuk anataraneki | antarane ing Ngesam kelawan Ngirak ||
  33. || Dene kol kang muktamat jujukipun wetunira Dajal | anjujuk Negara Hursin | akol kang manut lakune Dajal ||
  34. || Kaum Yahudi aranira kang manut | lakunira Dajal | apansamya ahli sikhir | pira-pira kaum anut ing Dajal ||
  35. || Ing Negara Labuh Agin sampun mashur | Atas Angin Sam | mashur ingkang Dajali | yen wus luwar saking gunung Kap ||
  36. || Abusik sekehe manuseku | ing Negara bawah wetan | ing Masyrik mangulon mahtrib | wetunira Dajal pinaringan kuwasa ||
  37. || Kuwasane Dajal ing kiwinapun | mawi ana suwara | kadi bleduk swaraneki | ingkang kanan mawi ana kadi kilat ||
  38. || Lawan malih petakipun sang Dajalu | kadi Gusti Hamzah akeh wong kang datan ilining | penyanane langit pitu sami rebah ||
  39. ||Lawan malih ingkang samya atut pungkur | anak saking jin | sedaya sami tut wuri | bektanipun sarupane tetabuhan ||
  40. || Kang saweneh pitung puluh ewu tambur | lawan kang saweneh | pitung ewu sruni | lawan malih pitung ewu kendhang ||
  41. || Lawan malih pitung puluh ewu angklung | bendhe kanthinira | selawan parestira pan samya | pitung puluh ewu ikut kathahira ||
  42. || Gamelanipun samya mitung puluh ewu | binekta sedaya | pusur kelawan thing-thonggrit | thora gotha suling sami kathahira ||
  43. || Lawan malih anak jin bektinipun | prabotipun aprang pitung puluh ewu bedhil | semalihe pitung puluh ewu tumbak ||
  44. || Kang kendhang gong sami pitung puluh ewu | pedhang bendhe kelewang | telebung grijalan linggis | kudhi pacul wadung pethel towak tatah ||
  45. || Kathahipun samya pitung puluh ewu | prabotira aprang | ning ngarsane sang Dajali | tetabuhaning wurine Dajal laknat ||
  46. || Ana dene tungganganipun Dajalu | apan warnane Bipal | agenge pan kadi wukir | dawanipun apan satus ewu asta ||
  47. || Lawan malih wolulas asta punjulipun | dene agengira | pitungatus asta nenggih | sikilipun kiwa warna selaka ||
  48. || Bathukipun kang Bipa mawi sungu | sungunira apanjang | ula | kalabang | kalajengking | sami metu saking sungu nira Bipal ||
  49. || Lawan malih kang Bipal busananipun | panawa retna | inten mutyara marjani | yen dinulu gebyar-gebyar kadi kilat ||
  50. || Kapane kang Bipal winehan sami sampun | prabotipun aprang | panah towak lawan lembing | kere jemparing kang aning luhur turangga ||
  51. || Sakehe uwong ing Hurmus akeh kanga nut | ing Ngesam lawan Ngerak | akeh sami tut wuri | saking ajrihe ningali sayaktine Dajal ||
  52. || Permilane balane tan kena ngitung | saking kathahira | Negara kang dipun encik | samya manut saking ajrihe pinejahan ||
  53. || Sigra budhal ingkang sinadya ing kayun | ing Negara Mekah | tetabuhan sareng muni | mriyrmipun apan sareng ungelira ||
  54. || Swaranipun apan kadi langit rubuh | gunjing bumi prakampa | prakampane geludhug barengi | beledheg thathit sareng gebyarira ||
  55. || Ponang Dajal nitih Bipal kadi gunung | jenggareng kadya arga | galadhug kilat lan thathit | pating gelebyar ||
  56. || Mawi tulis bathukipun | tur sira cetha | muni kapir ,alengun | maknanipun kapir pinaringan laknat ||
  57. || Lawan malih pitnahipun sang Dajal | apan pitung warna | minangka dadi piranti | dadya godha sekeh manusa ||
  58. || Pitenah awal asru ngucap si Dajalu | sira wetokena | gedhong emas ingsun iki | winetokaken | gedhong isi emas mubyar ||
  59. || Pitenah sami sang Dajalu nyipta gunung | gunungipun emas | lan selaka warna kalih | luhuripun ing arga isi panganan ||
  60. || Sarupane  wowohan ana ing gunung | sekul ulam adi-adi | mawi tarub-tarubanipun inggih emas ||
  61. || Lawan malih luhure gunung mili banyu | beninge kalintang | rasane lir madu gendhis | mubeng-mubeng kang toya ngubengi arga ||
  62. || Lawan malih ana ing ngisore tarub | apan ana kursi emas | bangku emas pan rinujit | pakunipun sedaya intan emas ||
  63. || Sarwi undhang sang Dajal ingundhangipun | eh sekeh manusa | padha ngidhep maring mami | ingsun iki Pangeran kang nyata ||
  64. || Yen wus ngidhep lanang wadon maring ingsun | lah munggaha | gunung malebu gedhong wesi | iya kang dadi cawisanira ||
  65. || Lamun ora padha ngicep maring ingsun | sayekti sira sun rusak | pan ingsun Pangeran yekti | wong tan iman denyana iku Pangeran ||
  66. || Mula kathah wong kanga nut maring Dajal | kadya upamane | tawon ngisep sekar wangi | sami brubul kadi laron mangsa jawah ||
  67. || Saben-saben ngancik Negara ingundhangipun | sami undhangira | panganggunira ing Yang Widhi | yen tan manut manusa nulya pinedhang ||
  68. || Setuhune wong pinedhang iku | sayektine nyata | tan gingsir imanireki | yata trah megatruh netepi iman||

PUPUH IV
M E G T R U H

  1. || Pitenahipun ping telu si Dajal | anyipta udan warih | langit nulya gumuludhug | udanipun riwis-riwis | cecukulan bumi ayom ||
  2. || Lan malih sato kewan lemu=lemu | amangan cukulan bumi | pitnah sekawanipun | bisa marasaken wong tuli | belang picek ciker dhegol ||
  3. || Ing sabrang lara pan samya katur kang Dajal sigra damoni | nulya waras laranipun | lan bisa nguripaken wong mati | nanging uripe liniron ||
  4. || Liniron setan kang ginawe liru | pengrasane kang ningali | yen wong kapir ucapipun | tuhu Pangeran sayekti | lan wong Islam tan piyados ||
  5. || Lan malihe wong kapir sami nenuwun | uripe wong tuwaneki | sang Dajal nulya anyeluk | wong tuwanira si kapir | apan lajeng amergogok ||
  6. || Iya setan kang ginawe liru | maring wong tuwane kapir | pan sarwi celuk-celuk | eh angger nebuta | samya iku Pangeran sayektos ||
  7. || Sigra nebut wong kapir apan kemrusuk | manut wong tuwanireki | dhatengipun kadi sulung | yen wong tuwane urip | apan sarwi amergogok ||
  8. || Dene wong Islam iku dadi kupur | manut lakune Dajal | yen wong kedhik imanipun | alah kudu kapingin | ajrih lamun kinethok ||
  9. || Dene wong kapir maksig ngandel imanipun | apan tan wedi ing pati | tan kapingin ting pelancur | wonten kapingin malih | sekul ulam adi nunyos ||
  10. || Pitenah malih kaping limalas iku | si Dajala yen ana peksi | ing tawang pan iberipun | sang Dajal nulya ningali | peksi runtuh ting taledhok ||
  11. || Sigra peksi sinembeleh sigra binubut | ginoreng nulya binukti | kang peksi ginethak mabur | wong kapir samya ningali | sedaya sami anjambelong ||
  12. || Pitenah malih kaping nem si Dajal | yen ningali maring wong muslim | sarwi ngucap si Dajalu | eh muslim nebuta sami | ingsun iki Pangeran yektos ||
  13. || Yen wong Islam kinen nebut datan purun | nulya cinekel aglis | lambene ginraji sampun | tugel bet lambene kalih | wong Islam anulya mincos ||
  14. || Wonten malih wong Islam kang dereng pinerung | sang Dajal angucap malih | eh Islam tingalana ingsun | kudratipun angluwihi | bisa nguripaken uwong ||
  15. || Lawan malih ingsun bisa gawe lampus | nulya nyandhak wong sawiji | apan kinarya lampus asru angucap sang Dajali | tingalana awak ingwang || (o)
  16. || Nulya malih sang Dajal amandhek gupuh | maring si kapir sawiji | apan kinarya lampus | wujud papat kalih | kang sawiji ginugah alon ||
  17. || Wus delalah panglulunira Yang Agung | sang Dajal pan denturuti | nulya nangikaken sampun | Gusti Allah maring si kapir | kang mati nulya lenggah ||
  18. || Alon ngucap wong Islam maring Dajalu | kang nguripaken wong mati | sayaktinira Yang Sukma Agung | kang karya bumi lan langit | yen sira yektine goroh ||@@
  19. || Aglis cinandhak wong Islam maring Dajalu | anulya pinedhang aglis | panjangga pan wus rampung wong Islam pan sampun ngemasi |iya iku wong Islam sayektos ||
  20. || Asru ngucap sang Dajal maring si kupur | aja nasak maring mami | ya ingsun Pangeran satuhu | nulya matur si kapir | estu boten awaking-wang ||
  21. || Pan saestu paduka Pangeran Kang Agung | kumala boten sakmenir | punang Dajal asru gumuyu | dene bungahe kang ati | denaku Pangeran wong ||
  22. || Lawan malih pitenah kang kaping pitu | sang Dajal anyipya aglis | swarga nerakkanipun | wonten kanan kiring suwargane mencorong ||
  23. || Pan neraka wonten ing kiwanipun | geni mubal angajrihi | agengipun pan sagunung | gumeter kang samya ningali | sekeh uwong samya derodhog ||
  24. || Dene swarga kang minangka lainipun | wong wadon kang ayu luwih | minangka widadarinipun | penganggone widadari | mas inten pating pencorong ||
  25. || Kang kinarya swarga emas murub | sajroning swarga mawi | pepajangan inten murub | warnane lir panggungan inggil | kursinipun emas kinaot ||
  26. || Jru swarga ana rupa bapa biyung | tan samya alinggih | sarwi ngajak celuk-celuk | lanang wadon den celuki | eh ta anak putu ingwang ||
  27. || Becik padha manuta maring ingsun | mungguh maring swargi | yen sira pan nora manut | karsane Pangeran mami | linebokaken neraka umob ||
  28. || Permilane akeh wong kang sarwi anut | pengrasane swarga yekti | lebune pan kadi sulung | nora weruh yen prihatin | manusa pan sami mogok ||
  29. || Apan ana manusa mogok ginempur | maring jrone geni | awakira ajur luluh | anging mangkana kang becik | dadi wong Islam kinaot ||
  30. || Mider-mider Dajal ngalor ngidul | Masyrik tumeka ing Mahtrip | pepitu pitenahipun | kabekta wira-wiri Negara kang denencik larot ||
  31. ||Dene Dajal kang sinadya rumuhun | marinng Kabatullahi delalah sinung Yang agung | angingokaken sang Dajali | mila lampahe  amenggok ||
  32. || Negara ingkang tan kambah Dajalu | Negara dunyeki | pan sekawan cacahipun | ing Mekah lawan Medinah | Betal Mukadas hurthusi kinaot ||
  33. || Pramilane negari sekawan iku | boten kambah maring Dajali | awit karsanira Yang Agung | Negara katingal warih | lan malaikat akeh rawuh ||
  34. || Nulya mogok Sang Dajal maring Negara Babul | kepanggih lan Nabi Hidhir | sang Dajal asru amuwus | ingsun iki Rabulngalamin | Nabi Hidhir sumahur mekos ||
  35. || Apan dulu sira iku Yang Agung | geroh temen sireki | dene sira sang Dajalu | ketara metu mundhir | sang Dajal asru prang pupuh ||
  36. || Sigra ngrasuk sang Dajal maring Nabi Hidhir iku | tetandhing angrubut wani | angatak balane angerob ||
  37. || Nabi Hidhir kinerubut wong sadunyeku | ngiwut Nabi Hidhir | pedhang ginawe ngamuk | keh mati balane Dajal | kang getih sampun ngrobyok ||
  38. || Sareng perang tetabuhan muni umyung | mriyem kelawan bedhil sami sareng ungelipun | kaya rubuhing wiyati | kadi bumi sapta resol ||
  39. || Apan datan ketara ing kalongipun | saking kehe balane Dajali | Nbai Hidhir mongur-mongur | saking kehe ingkang getih | sigra Jeng Nabi sinosok ||
  40. || Karepotan Jeng Nabi Hidhir prangipun | wong siji musuh sabumi | nulya seda Jeng Nabi iku | Gusti Allah gesangaken malih | sadina-dina mangkana ||
  41. || Sigra mundur sang Dajal sabalanipun | ngunduri Bagendha Hidhir | pan tan kena den musuh | wong mati bisa urip malih | mila sang Dajal melarot ||
  42. || Nulya pisah Nabi Hidhir inggonipun | pan sampun awas ing ngilmi | kang mateni Dajal iku | Nabi Ngisa kang mateni | mila apisah ing ngenggon ||
  43. || Wonten kadis awit saking Kangjeng Rasul | angendika Kangjeng Nabi | yen ana umat ingsun | amenangi pitenah Dajali | surat Kahpi dipun waos ||
  44. || Munpangati apan selamet pitenahipun | pitenahe sang Dajali | nengena kadis Jeng Rasul | genti carita malih | sang Dajal pitnahe mogok ||
  45. || Sakarine wong Islam kang dereng lampus | dereng kena ing piranti | anulya sami lumayu | angungsi Mekah negari | aseba Imam Mahdi kaot ||
  46. || Sampun cundhuk wong Islam kang lumayu | apanggih lan Imam Mahdi | sigra Imam Mahdi gupuh | cawis praboting jurit | medal saking kedhaton ||
  47. || Sampun ngumpul wong Islam nulya laju | wonten Betal Mukadasi | Imam Mahdi tunggulipun | nitih kuda rinukmi | sedaya pan sami ngatos ||
  48. || Genti sang Dajal ingederipun | angideri jagat Masyrik | ing Mastrib mangulonipun | nulya wonten kabar yakin | Betal Mukadasi baris ngerompol ||
  49. || Sampul medal saking negari kumpul | Jeng Nabi Betal Mukadasi | ora-ora kadya mendhung | tunggulira Imam Mahdi | sang Dajal anulya bedhol ||
  50. || Kebut lampit dalane sang Dajal | apan tan kena winilis | sadina-dina arawuh | ing marga tan winarni | meh prapta gambuh sang katong ||

PUPUH V
G A M B U H

  1. || Gambuh kantun lakon pitung dalu | sang Dajal lan barisipun | Imam Mahdi kelawan sebalaneki | punika wong Islam agupuh | barise tan kena moncol ||
  2. || Akathah wong Islam rawuh | tan kena wau ingitung | langkung kathah gegamanira jurit | mriyem gada ageng-ageng | wong Islam sumadya lampus ||
  3. || Tan adangu nulya ngrungu | wong Islam swara gumludhug | apan kadya swarane mriyem sakethi | mawi goro-goro pating jalagur | saya celek pan meh rawuh ||
  4. || Eler kilen pernahipun suraking muni gumludhug | iya saking barisan Imam Mahdi | pan wus ngrungu ugelipun | tabuhan umyang gurawuh ||
  5. || Wong Islam awas tingale wau | dhatengipun sang Dajalu | mawi gunung lumaris kekalih | kang siji warna mas murub | siji rupane geni marong ||
  6. || Ana dene kang rupa geni iku | kang minangka nerakanipun | ingkang rupa mas mencorong anelahi | minangka sywarganipun | pitnahe Dajal kinaot ||
  7. || Mawi gara-gara gumludhug | beledhek ana kanan kerinipun ingkang kilat ana ing kiwanirike | sarta riyat-riyut | peksi ngawang guliting teledhok ||
  8. || Sigra ngatak balanipun | Imam Mahdi nulya ngrasuk | busana piturun saking pra nabi | sartane nitih kuda mulus | amundhi gada amoncol ||
  9. || Dene gadanipun | Imam Mahdi apan piturun | wasiyat saking Gusti Bagendha Hamzahi | sarta lan tamengipun | miwah panah pedhang indhong ||
  10. || Dene songsongipun | Imam Mahdi apan tundha pitu | song song gelap tunggul naga emas adi | kang kinarya piturunipun | inten sumeja kinaot ||
  11. || Apan mawi genti sewu | kang teturun songsingipun | Wong Agung Begendha | Hamzahi | ing nalika andon pupuh | swarane lir segara erob ||
  12. || Wong Islam ing rakitipun | sedaya kang ngagem gada iku | apan kadya rakite Imam Mahdi | sarwi nitih kuda sampun | songsongipun sami denbabar ||
  13. || Awetara kathahipun | wong Islam kang badhe magut | aprang kapir melangun | kang bangsa kadi puniku | rong kethi kathahe uwong ||
  14. || Dene bangsa mriyemipun | limang leksa kepara langkung | sedayane apan tan kena winilis | atembak pan kadya mendhung | nulya sang Dajal gennya rawuh |v
  15. || Sigra lajeng anempuh | wong Islam kang lan wong kapir sampun | apa sareng muni | gumludhug swaranipun | kadya bledheg sakethi miyos ||
  16. || Sang Dajal iku | ngedalaken kasektenipun | sigra medal gumludhug kilat lan thathit | seleret pan siyat siyut | dhedhet pedhut udan angob ||
  17. || Wong Islam sampun kinepung | papat datan kena ucul | saking kehe balane sang Dajal | bala sadunyeku | mila ngepung datan mrojol ||
  18. || Sigra Imam Mahdi nempuh | manengah asru amupuh | mobat-mabit pangamuk keh ambeg pati | miwah sabalanipun | kang bangsa kadi mangkana ||
  19. || Miwah bangsa tumbak sampun | pedhang keris pan sami caruk | bedhil mriyem pan sami unineki | suwarane lir gunung rubuh | bumi sapta pating balendhos ||
  20. || Riwut pangamukipun | Islam kapir sami urun | Imam Mahdi pedhang kangkam wus tinarik | medhang sapisan oleh wong satus ||
  21. || Lepasing panah luwih asru | manah sapisan oleh pitung puluh | apan bangke susun tindih | pan sampun samodra marus | sang Dajal pan maksih adoh ||
  22. || Saking kathahe kang rawuh | bala kapir aneng ngarepipun | ning ngarepe sang Dajal laknatullahi | sang Dajal maksih mangkruk-mangkruk | ing luhure Bipal kaot ||
  23. || Imam Mahdi awas andulu | yen sang Dajal maksih aning luhur | ing luhure kekapane sang Bipali | arembug sabalanipun | kang tut wuri maring sang katong ||
  24. || Antara kari limang ewu | bangsa gada ingkang tut pungkur | sadina sami pisah prangneki | arembag arsa katemu | maring si Dajal prang pupuh ||
  25. || Ora nana wekanipun | yen awet mangkana kongsi rong taun | nulya anader Imam Mahdi sebalaneki | wus panggih lawan Dajal | Imam Mahdi nulya mupuh ||
  26. || Prajurite limang ewu | samya mupuh maring Dajal | datan busik si Dajal maksih nadhahi | sigra narik pedhangipun | Imam Mahdi nulya nempuh ||
  27. || Katuju kupingipun | sang Bipal seru panjeratipun | apan kebat sang Dajal sarwi ngucap bengis | eh pedhangmu iku ampuh | ora nana kaya mangkana ||
  28. || Sampun kasaput ing dalu | awiting prang awit tanggal pitu | sadina aprang rina wengi | sami sayah nulya mundur | Imam Mahdi balane bedhol ||
  29. || Maring punekwanipun | sakarine prajurit ingkang lampus | sami sedalu aguneman catur | mangkana anut karsane Imam Mahdi | ingkang arsa melorot ||
  30. || Mring Betal Mukadas iku | arsa dedonga maring Yang Agung | datan kena sang Dajal linawan jurit | pan wus takdire  pan wus takdire Yang Agung | Nabi Ngisa ingkang mungsuh ||
  31. || Dene panuwunipun | si Dajal nuntena lebur | sareng injang Imam Mahdi wus lumaris | datan kawarna wau | Betal Mukadas wus rawuh ||
  32. || Sigra wau sang Dajal | angliwati lampah Imam Mahdi | sampun prapta wonten Betal Mukadasi | nulya katinggal telaga agung | sang Dajal wangsul gupuh ||
  33. || Tan winarna wangsulipun | Imam Mahdi kumpul | wonten mesjid ing Betal Mukadasi | sami nenedha ing Yang Agung | nulya ana suwara miyos ||
  34. || Eh wong Islam sedarum | aja sira prihatin kelangkung | nulya ana pitulungira Yang Widi | Imam Mahdi sebalanipun | samya bungah asru kinaot ||
  35. || Sedaya pan sami suka sedarum | genti pangandikanira Yang Agung | angandika maring malaikat Jabarail | eh Jabarail sira den gupuh | dhawuhana maring ngisa kinaot ||
  36. || Sigra Malaikat Jabarail tumurun | maring langit rabingatu | wus tetemu Nabi Ngisa Rukullahi | nulya salaman sampun | Nabi Ngisa sigra gupuh ||
  37. || Nulya Jabarail rawuh | dhawuhaken salaaming Yang Agung | asru nuwun Nabi Ngisa | ing ngaturneki | lan malih ing dhawuhipun | sira age kinen miyos ||
  38. || Ing dunya bedhe musuh | marang Dajal laknatullahu | sigra tumurun Nabi Ngisa maring bumi | Damusik ing jujukipun | sawetane Negara Kana ||
  39. || Ana menarapipun | putih warnane kadi panggung | gih punika jujuke Nabi Ngisaki | ing jro nulya sujud | anuwun maring Yang Manon ||
  40. || Dene panuwunipun | Nabi Ngisa keparinganan batur | tan antara pitung puluh ewu prapti | malaikat padha dhestar iju | saweneh pethak merusuh ||
  41. || Kang saweneh agemnipun | malaikat ngagem dhestar wungu | kang saweneh ana ngagem dhestar kuning | saweneh ana ngagem dhestar wulung | koncere pating celorot ||
  42. || Sami nitih kuda sampun | miwah prabite rinasuk | tuwin prabote prang rinakit | jambe apedhang lan kesthul | panah tameng lawan indhong ||
  43. || Sakarine Nabi Ngiseku  angrasuk busana ing prang pupuh  pedhang peturun saking suwargi  anelahi jayanipun  lir wulan purnama wutuh
  44. || Sigra anitih sampun | kuda cemeng ulete tumulus | nulya budhal maring Negara Naeki | sakehe malaikat sampun | angering nabi kinaot ||
  45. || Ing marga datan winuwus | Nabi Ngisa pan sampun rawuh | ana Negara Naeki | bumine suci | kapernah ler kilenipun | ing Betal Mukadas tinon ||
  46. || Anjujug ing mesjidipun | ing Naeki nuju waktu subuh | samya salat sekehe wong ning jroning masjid | sarwi mambu ganda arum | gandane nabi kinaot ||
  47. || Wong ngalim Naeki sampun | samya bungah mambu ganda arum | Nabi Ngisa kang minangka rokhullahi | apan samya tetemu | wong ngalim pan samya gupoh ||
  48. || Sarwi ebat andulu | Kathahe bala kang rawuh | balanipun Nabi Ngisa kang linuwih | kaya dudu manuseku | tandha cahyane mencorong ||
  49. || Akeh wong Islam kang rawuh | wus ngrungu Nabi Ngisa tumurun | iya saking pitulungira Yang Widi | pan samya rebut dhucung | sumedya nuli caos ||
  50. || Ing Negara liyanipun | ingkang maring gunung-gunung | sekarine wong Islam tan kena mati | miwah sekarine kang lampus | acaos apan sarwi gupuh ||
  51. || Sigra budhal Nabi Ngiseku | miwah sabalanipun | sami ngrasuk busana kaprabon jurit | sarwi nitih kuda sampun | amethuk Dajal sinedya ||
  52. || Tan kawarna ing wau | kocapa sang Dajal weruh | Nabi Ngisa wus tumurun aning bumi | pertanda gandanipun arum | ingiring sang Dajal kinepung ||
  53. || Sigra sang Dajal lumayu | awit saking wedine linebur | wus rumangsa Nabi Ngisa kang mateni | mila ajrihe kelangkung | lumayu balane sedaya ||
  54. || Nabi Ngisa wus ngrungu | sang Dajal asru lumayu | sigra ngerapaken kuda sebalanarineki | tan kecandak lampahipun | Nabi Ngisa nulya mogok ||
  55. || Sarwi ngandika asru | maring bumi kang kamargen Dajal | eh sang bumi sira cekela den aglis | si Dajal aja kongsi ucul | sigra bumi nyekel kukuh ||
  56. || Sang Dajal nulya rubuh | kadi rubuhe kang gunung | asru kagya sakehe wong kang miyarsi | sang Dajal nulya lampus | gumludhug lemah kalong ||
  57. || Nabi Ngisa ayun weruh | suwara kadi gunung rubuh | sigra ngerapaken kuda sabalaneki | tan dangu nulya rawuh | Bipal sang Dajal lampus ||
  58. || Mati satungganganipun | Nabi Ngisa suka kelangkung | miwah para malaikat samya ningali | dene balane Dajal | kadi kang peksi ginepok ||

PUPUH VI
DHANDHANGGULA

  1. || Rebut dhucung balane sang Dajal | sarwi ngungsi aning nginggiling arga | miwah aning ngalas gedhe | wong kang samya lumayu | kang ingungsinan ika | tuwin aning gunung iku | pan sarwi bisa ngucap | nulya tedhak kang samya angulari | ing kene gonira ||
  2. || Nengena wong Islam sami angulari | maring kapir laknatullah | kang ngungsi ing ngalas gedhe | kocapa sang Dajal | ing nalika patinireki | saking karsane Sukma | linebokaken sampun | ing telenge bintal | dadi dhasar ika ing sakehe wong kapir | wus langgeng aning neraka ||
  3. || Sakehe  Islam kang samya ngulari | maring kapir kepanggih aning wana | miwah ing gunung-gunung sigra samya linampus | sekeh kapir jalu lan estri | jurang ereng-ereng ngarga | kebak bangke kupur | ambetipun belarungan | tan dangu bangke katuting warih | saking permaning Sukma ||
  4. || Wangsul maring gustine Ngiseki | iya maring Betal Mukadas | ingiring sekeh balane | siji Tanana kantun | samya anut lampahe Jeng Nabi | ing marga datan winarna | ing betal wus rawuh | Mukadas ingkang mulya | angedhatun Nabi Ngisa sabalaneki | wonten ing Mukadas ||
  5. || Angandika Nabi Ngiseku singgih | maring sekehe kawulanira | wruhanira sekabehe | ingsun santuni agama rasul | minangka umate Nabi | Muhammad Niyakaningrat | padha sira mituhu | pan gedhe ganjaranira | data nana umat kang kadi iki | kinacek samining umat ||
  6. || Samya suka umat sedayaki | apan datan kang sumelang | manut maring saprintahe | Nabi Ngisa pinunjul | anetepi agamane | Mukhammad Khabibullah | lawan malihipun | netepi adiling raja | sami suka wong Islam kelawan mukmin | kadi jamaning panutan ||
  7. || Dene Imam Mahdi pan kinanthi | iya maring Gusti Nabi Ngisa | wus katrima pun dongane | wonten ing Betal Mukadas | Imam Mahdi pan sampun lami | wonten ing Betal Mukadas | gennya nenuwun | risake si Dajal laknat | pan samangke Dajal laknat wus ngemasi | awit saking Nabi Ngisa ||
  8. || Lawan wonten caritane malih | maring Raden Mukhamad Khanapiyah | Bagendha Ngali putrane | antarane ingkang inu | ingkang nama Dewi Karaisih | ing Ngejrak negaranira | nginalib seminipun | amargi kenging deduka | ing nalika kelawan Yajid | anake Mangawiyah ||
  9. || Mukhamad Khanapiyah kinging dedukane Yang Widi | awit saking tetulung kang raka | Bangendha Husen | sedane | putra Bagendha Ngaliyu | ibu saking Dewi Pertimah | perang lawan Yajida | Bagendha Husen kapupuh | anulya sinedanan | jangganira kinethok kelawan Yajid | anulya ginawe kasukan ||
  10. || Mila sanget dukaning enting | wau Raden Mukhammad Khanapiyah | sareng miring caritane | angluruk sabalanipun | maring Ngesam negarane Yajid | ing marga datan wilawarna | apan wus nempuh | yudane Yajid kasoran | nulya lengser iya maring negeri Mesir | binuru separanira ||
  11. || Sareng campuh Negara ing Mesir | Yajid cilaka lawan Khanapiyah | Yajid kasoran yudane | nulya Yajid sampun | pinejahan sang Raja Yajid | jangganira kinethok | pan ginawe umbul-umbul | langkung sanget dukanira | iya Raden Khanapiyah | wong sak Mesir sedaya ||
  12. || Pinejahan wong jalu kelawan estri | prajurit kanga tut wuntat | pitenahan sedayane | awit kena ing bendu | iya Raden Khanapiyahi | ngrusak sakehe desa | iya iku awitipun | ing mangke wus linuwaran | pan pinesthi kanthine Nabi Ngiseki | kinen anata agama ||
  13. || Permilane Ngisa nerpati | wonten Negara ing Betal Mukadas | jenengaken roro imame | kang sawiji Imam Mahdi | kang sawiji Mukhammad Khanapiyah | wong roro jumeneng imam | arja ingkang makmum | kadi arjane Negara Betullah | sami suka wong Islam lawan muikmin | anetepi wong Islam sedaya ||
  14. || Ing Negara wetan ing Masyrik | lawan malih mangulone ika ing Maqrib mangulonya | kidul ngalor sedayane | samya arja kelangkung | sekeh uwong tan kurang bukti | miwah sandhang pangan | pan sami cukup | mila Tanana dursila | awit saking mukjijate Jeng Nabi | lan kramate Oliya ||
  15. || Lan sakehe mulyane wong mukmin | lan mulyane kang para ngulama | parkom sedayane | miwah wong Islam iku | kenikmatan sami dhatengi | awit saking Nabi Ngisa | Rakullahu | nikmate lanang wanudya | sami suka sukur maring Yang Widi | saking kathahe nikmat ||
  16. || Laminipun mijil angratoni | wonten ing dunya sekawan dasa | warsa lamine | apan datan winuwus | akrama putra Ngisa nabi | sampun pepek kawan dasa warsa | nenggih taunipun | nuli wonten kang musibat | lorepun Jamakjuja saking wukir | saking ing gunung Thura ||
  17. || Kang ginadhang Sultan Askandar nguni | wonten satengah ing gunung Thura | ing mangsa iku luwarane | Jakmajuja ingkang sunu | iya aran Kiyai pis | papis kang putra | Gusti Nabi Nuh | sampun medal saking Ngerak | Jamakjuja kasektenira ngluwihi | ngungkuli si Dajal laknat ||
  18. || Pertikele kadi si Dajal | mila kathah kang sami tut wuntat | saking ajrih kasejtene | ingagung maring Yang Agung | apan kacipta dadi | kang manut tanpa wilangan | tan kena ingitung | panggawene ya Pangeran | ana wong kang anebut maring Yang Widi | abengis ujarira ||
  19. || Nulya masang Jamakjuja aglis | panahira ingkang pinasang | mendhuwur asru lepase | ingkang sinedya ing kayun | amanah kang Mahasuci | Gusti angandika | maring Jabarail wau | eh Jabarail inggal | ameleti inggetih ingkang jemparing | panahe Jamakjuja ||
  20. || Sareng wangsul apan gubrat getih | panahira Jamakjuja | saya agung takabure | kinen ngaku Yang Agung | pangrasane andheweki | dene mawi pertandha | panah gubrat marus | mila wong kang datan imam | yekti ngandel panggonira Yang Widi | pakone Jamakjuja ||
  21. || Nulya tampi timbalanira Yang Widi | Nabi Ngisa kinon mapakake | Jamakjuja ing yudane | apan aken agempur | wong Islam akeh kang mati | rinasuk Jamakjuja ingkang datan manut | Nabi Ngisa sigra budhal | Imam Mahdi lan Mukhammad Khanapiyah iki | iya datan kenapiyah ||
  22. || Dene ingkang sinadya ing ngati | iya marang ing gunung Thura | Jamakjuja panggonane | ing marga datan winuwus | ing Jabar Thur sampun prapti | mirsa satengahing marga | kang beteng wus lebur | Negara tanah wetan sami rusah | tiyange pan sami gusis | sekarine pejah ||
  23. || Kang saweneh ana ingkang tut wuri | kang saweneh ana umpetan | ing guwa jurang perenge | dene bangke tumpuk susun | bangkene wong kang sami mati | Nabi Ngisa nulya | twdhak sedarum | titihane kuda pelak | nalika mapak yudane Dajal | miwah praboting prang ||
  24. || Imam Mahdi saminereki | titihane mulus kang kuda | praboting prang sakehe | ing nalika prang pupuh | amapak yudane Dajali | dene Mukhammad Khanapiyah | pedhange Dulpakar iku | wasiyat kang rama  Bagendha Ngaliyu | ing nalika andon jurit | aprang kelawan Raja Lakhad ||
  25. || Titihanipun wau kuda pekik | kuda sekarane negari Ngajrak | aputih mulus ulese | sami lan titihanipun | kagungane Gusti Imam Mahdi | kuda loro pan kembar | dene kudanipun | kagungane Nabi Ngisa | cemeng mulus yen dinulu ambelerengi | gebyaring pan kadya kaca ||
  26. || Lampahipun apan kadya angin | mila saking Betal Mukadas | sadinten praptane | wonten ing gunung Thura | sareng sampun amariksani | estu kathah kang pejah | bangkene asusun | suwung Negara bang wetan | ingkang ngungsu ing guwa panderengi | panangisipun amelas arsa ||
  27. || Kapiarsa Gusti Nabi Ngisa singgih | penangise wong kang aning jro guwa | miwah ing jurang perenge | tuwin bangkene tumpuk | kapiranan Gusti Jeng Nabi | nulya adedonga | sirnane kang lampus | miwah mulyane Negara | lawan malih waktune ingkang rijeki | dedosa panggone kang gesang ||
  28. || Pan katrima pandongane Jeng Nabi | tan adangu pan samya prapta | kang peksi garudha praptane | apan kadi sulung anucuki bangke kang maksih | binucal aning segara | sareng telasipun | kang peksi gusis sedaya | bangkae agung kadi lumute jeladri | tan dangu praptanira ||
  29. || Udan warih turun inginggil | cecukulan pan sami ancerap | rompyoh-rompyoh ing semine | wong kang aning jro guwa metu | miwah wong kang aning wukir | ereng-ereng ngarga | apan samya metu | amangan ing cecukulan | sami seger rumangsa awake urip | kathahe cecukulan ||
  30. || Kang saweneh cecukulan kali | kang sawene cecukulan kacang | jagung tela lan kenthange | miwah cecukulan timun | uwohipun pan samya dadi | nengena Nabi Ngisa | genira ambangun | ing Negara tanah wetan | kang kocapa Jamakjuja angideri | ing jagat tanoleh wuntat ||

PUPUH VII
P A N G K U R

  1. || Sareng Jamakjuja | angideri jagat sadunyeki tan ana wani amusuh | amanut sakarepira | Jamakjuja tetep ngaku Yang Agung | kang para ratu sedaya | Tanana ngelawan jurit ||
  2. || Kacarita Jamakjuja | balanira apan tigang warni | kang medal kasektenipun | dene kang warna sanunggal | pan sapandha dedekmu mung sajagung | amangkene pakaryanireku | anyakoti manusa | pan sapisan anyakot manusa lampus | manusa kang sami Bangka | tan anut lakunireki ||
  3. || Lakunira Jamakjuja | dene warna iya ingkang kaping kalih | apan agung inggilipun | iya among saasta | karyanira maksih nyokoti yen ngamuk | manusa tan atut wuntat | pan sapandha kumpulneki ||
  4. || Ana dene pepanganira | maksih mangan iya cecukulan bumi | warna ingkang kaping telu | kang sapandha kumpulira | karyanira anyandhak manuseku | binanting manusa sirna | anginum pepanganeki ||
  5. || Anginum banyu segara | angengipun kawan dasa asta sami | kalawan inggilipun | kathahe tanpa wilangan | data ana wong kang bisa ngitung | among Yang Agung Maha Mulya | ingkang bisa amilih ||
  6. || Yen lumaku Jamakjuja | kang ngiring barat lesus dhateng | miwah celeret siyat-siyut | geludhug beledheg angampar | mendhung dhedhet ampak-ampak aning luhur | luhure Jamakjuja | amayung lumaris ||
  7. || Ana dene tungganganira | Jamakjuja awarni liman putih | winetawis angengipun | sami kelawan Bipal | apan iya tungganganira Dajal | ajenggereng Jamakjuja | ning luhur liman putih ||
  8. || Winetawis angengira | Jamakjuja sami kelawan Dajal | nanging kaot kupingipun | kadi ilir warnane kanan kiring | iya ana rupa gunung | minangka swarganira | awarni emas retna adi ||
  9. || Amawi gerbong kencana | panganan nyamikan adi-adi | sineleh ing luhure bangku | bangkunira kencana | mawi kurso titana sami mas murub | ting pelancur warnaneka | mila kathah kang kepingin ||
  10. || Kapingine manjing swarga | pangrasane iku swarga yekti | datan weruh yen pengridu | pangridune Jamakjuja | supayane ana rowangipun | amanjing ana neraka | dene kang kiwa winarni ||
  11. || Warnanipun ingkang kiwa | Jamakjuja ana warna kadi wukir apan geni yen dinulu | minangka nerakanira | mila kathah manusa ingkang kerut | wedi manjing ing neraka | kerut suwarga adi ||
  12. || Pengrasane manusa | aningali ing gunung umbul geni | anyana neraka setuhu | tan weruh iku sijrat | istijrate Jamakjuja ratu kupur | miwah retune setan | angratoni ing Yomani ||
  13. || Lakunira Jamakjuja | data nana ing marga ngelawan jurit | dene Negara sadunyeku | datan kambah Jamakjuja | lampahipun | sawiji negari Mekah | kapindho ing Madinah iki ||
  14. || Telu Betal Mukadas | kaping pat neggih negari Turtusi | yen celak Negara Jitur | apan katon telaga | nulya mogok mider-mider lampahipun | ingkang sinedya ing nala | wangsul negari Masyrik ||
  15. || Datan kawarna ing marga | ing Negara Masyrik pan sampun prapti | ing tepis wiringipun | lampahira kadya barat | siyat-siyut kilat thathit sami nempuh | beledheg geludhug awurahan | udanipun riwis-riwis ||
  16. || Pan sampun awas tumingal | Nabi kelawan Imam Mahdi | Mukhammad Khanapiyah iku | sigra ngrasuk busana | praboting prang pan sedaya wasiyat sampun rinasuk | wong Islam wus nglempak | ing wikinge Kangjeng Nabi ||
  17. || Tan antara Jabarail prapta | sekehe gaman iya saking suwargi | maring Nabi Ngisa iku | gada lan parisira sigra musna Jabarail tan kadulu | nulya wau Jamakjuja | pan sampun awas ningali ||
  18. || Yen kang methuk Nabi Ngisa | karsanira Jamakjuja amundhut aglis | gada ageng awrat sewu | dhacin mas kang mulya | parisira among wawrat limangatus | dhacin waja kinarya | milane kepati-pati ||
  19. || Pan lajeng ayun-ayunan | Jamakjuja kelawan Nabi Ngiseki | Jamakjuja asru muwus | eh Ngisa kawruhanira | ingsun iki aran Pangeran setuhu | sira manuta ingwang | gedhe ganjaran mami ||
  20. || Sun ganjar sira warga | apa ingsun akarya swarga adi | kang ana ing kananipun | lah ingsun neraka | ana ing kiwanipun | lah age sira manuta | maring jeneng ingsun iki ||
  21. || Asuthik wuwusira | Nabi Ngisa maring retune Iblis | eh Jamakjuja sira iku | pan lanaktullah | angratoni ing sakehe para kupur | lawan sakehe para setan | angratoni ing Yomani ||
  22. || Den eta swarganira | pan istijrat penglu-lune Yang Widi | lawan malih nerakamu | pan iku padha istijrat | sira ilinga Jamakjuja laknat kupur | ilinga maring Pangeran | kang akarya bumi langit ||
  23. || Bermantyanira kalintang | Jamakjuja sigra angadeg aglis | gada kang awrat sewu | dhacin emas kang kinarya | sareh nempuh tangginas Nabi Ngiseku | tinedhehan parise waja | jumegur tibane bindi ||
  24. || Saking rosane kang gada | iya saking kuwate ingkang dhawahe | gunjing ingkang bumi pitu | kocak ingkang samudra | sekeh wana sami esol kayunipun | maring wukir sedaya | pendhut dhedhet andhatengi ||
  25. || Mubal dahananira | apan mubal iya maring wiyati | kumutuk kukusing latu | sigra Mukhamad Khanapiyah | Imam Mahdi sami narik pedhangipun | angrasuk sebalanira | Jamakjuja balaneki ||
  26. || Balane Jamakjuja | Telas sewu rongewu andhatengi | telas sekethi lampus | rong kethi sami prapta | iya bala kang medal kasektenipun | antarane telung dina | pangamukira wong kalih ||
  27. || Langkung peteng dhedhetira | kukusira pedhut iya kongsi telung bengi | mila wong sadunyeku | rumangsa dina kiyamat | sareng ical pedhut dhedhet lakukus | katon musuh lan rowang | Jamakjuja asru angling ||
  28. || Eh ta sira Nabi Ngisa | sun wetara sira lan siti | maksih panggah sireku | ana saluhure kuda | iya estu yen sira pinunjul | angungkuli wong sajagat | dene kelar anadhahi ||
  29. || Nadhahi penggadaningwang | iya Ngisa ja sira gumingsir | sun gada malih sireku | iya gadaningsun | Nabi Ngisa nulya nadhah | jumegur tibane bindi ||
  30. || Swara lir gelap ngampar | kadi bledheg sakethi ambarengi | geni mumbul kadi gunung | ngampak aning tawang | sekeh uwong anyana langit rubuh | ngrubuhi sekeh manusa | kelenger meh mati ||
  31. || Gunjing ingkang bumi sapta gunung-gunung apan sami miring | sekeh kayu sami rubuh | buron wana belulungan | akeh mati sami karubuhan kayu | kocak banyune samudra | ingkang mina akeh mati ||
  32. || Peteng dhedhet awurahan | iya saking kukusing geni | dadak sekala udan awu | prapta gawong pitung dina | bengine petenge ajumput irung | sekeh uwong sami karuna | dene kiyamat dhatengi ||
  33. || Reden Mukhamad Khanapiyah | lawan malih iya Seh Imam Mahdi | tan kendeg pangamukipun | balanira Jamakjuja | datan telas malah saya akeh wuwuh | wus jangkep pitung dina | apadhang lir wingi uni ||
  34. || Jamakjuja awas tumingal | Nabi Ngisa maksih aning luhur ing turanggi | gedheg-gedheg manthuk-manthuk | agedheg goyang kepala | Jamakjuja apan asru wuwui | eh ta iya Nabi Ngisa | gadanipun maksih siji ||
  35. || Gada prunggu bobotira | telung ewu dhacin winetawis | iya den priyitna sireku | saiki patinira | sambata wong tuwanira de gupuh | sun antep karosaningwang | Ngisa aja gumingsir ||
  36. || Nabi asru ngadika | Jamakjuja sira tibakna sami | rosa lan malih kasaktenira | lan aja sok ngaku Yang Agung | endi ana Pangeran | liyane Rabulngalamin ||
  37. || Apan sira laknatullah | lawan malih sira iku Ngabdullahi | satrune Allah satuhu | age sira mupuha | sigra nempuh Jamakjuja asru nempuh | kasangga anggise waja | parise Nabi Ngisa ki ||
  38. || Saking sangete kang gada | Jamakjuja rosane tanana kari | akuwat penangkisipun | katempuh parise waja | suwaraning gada babledheg sewu nempuh | gunjing kang bumi sapta | akeh juguruk ingkang wukir ||
  39. || Pan lindhu ambal-ambalan | peteng dhedhet kumutuk kukus ing geni | apan sarwi udan watu | meh asat ingkang samudra | akeh pejah manusa katiban watu | sigra ingkang endhas | kalenger meh ngemasi ||
  40. || Wus nyana jangkep rolas dina par gawong tatana sasi | miwah sangetan kadulu | apan sekehe manusa | akeh pejah iya saking udan watu | iya saking kurang papan | lawan malih sedhih kingkin ||
  41. || Pan wus jangkep rolas dina | nulya padhang apan kadi lami | Jamakjuja awas andulu | Nabi Ngisa maksih panggah | iya kamsih aning luhur manggung Jamakjuja asru ngucap | malesa aja ngunduri ||

PUPUH VIII
D U R M A

  1. || Nabi Ngisa ngandika maring Jamakjuja | eh Jamakjuja aglis | sira den prajitna | amasanga tangkisita | sun arsa males sireki | gada maring sira | Jamakjuja masang tangkis ||
  2. || Dene Raden Mukhamad Khanapiyahi | kelawan Imam Mahdi | anyepengi kang kuda | kendalinira kang kang kanan | Mukhamad Khanapiyahi | dene kang kiwa | Imam Mahdi kang nyepengi ||
  3. || Asru ngetap panggadane Nabi Ngisa | sarwi petek barengi | nempuh ingkang gada | sumembur parise | waja | anerus badanireki | Jamakjuja | anggru nulya ngemasi ||
  4. || Lawan malih mati satungganganira | gumulung aning siti | mendhelongira kang lemah | sekaki antaranira | saking sangete pagitik | gunjinge bintala | jugrag ingkang wukir ||
  5. || Segera asat mina akeh ingkang pejah  | geni kepyuring tangkis | angobong ingkang wana | nenggih buron alas | mati kobor ing geni | peteng limunan | peteng dhedhet mendhung amberangi ||
  6. || Mubal-mubal kumutuk kukusira | apan lindhu wali-wali | geludhug lan kilat | celerete thathit ya medal | beledheg pan samya mijil | pan sekeh manusa | nempuh polahe sami ||
  7. || Apan gowong lawasing pan wolung dina | jangkep kawan dasaari | prang Jamakjuja | Nabi Ngisa punika | nulya apadhang kadi uni | katingal kalebu yomani ||
  8. || Dene iya balane Jamakjuja | sekarine ingkang mati | apan maksih kathah | Nabi Ngisa adedonga | rusake bala kang urip | apan katrima | pandongane Kanjeng Nabi ||
  9. || Nulya Allah angutus maring Jabaraila | kinen marintahi jin | kinen amemangsa | balane Jamakjuja | Jabarail melesat aglis | sarwi dangundhang | kabeh sarupane ejin ||
  10. || Entekne balane Jamakjuja | lah padha sira papani | apan sampun terang karsane kang Mahamulya | para ejin mangkat aglis | pan sami suka | rumangsa angsal bukti ||
  11. || Dene congor pan kadya sami | irungi guluneki | kathahe tanpa wilangan | ing marga datan winarni | wus prapta genireki | balanira | Jamakjuja sigra enting ||
  12. || Lajeng sukur Nabi Ngisa maring Pangeran | sigra kundur Jeng Nabi | maring Betal Mukadasu | dene Mukhamad Khanapiyah | kelawan pun Imam Mahdi | tansah ing wuntah | ing marga datan winarni ||
  13. || Sampun prapta Betal Mukadas | wus manjing sajrune puri | dene wong Mukadas | sami bungah manahira | sukur maring | ganira dedunga | sirnane bala kapir ||
  14. || Pan sinegeg Nabi Ngisa praptanira | kucapa sang raja kapir | Jabari namanira | balane tanpa wilangan | arsa ngrusak puser bumi | sampun siyaga | wus budhal saking negari ||
  15. || Raja Jubari utusane rajeng Ngabesah | kinen ngrusak puser bumi | sami medal bahita | prabatipun ngayuda | miwati tatungganganetki | kamut sedaya | ing sajrone paloneki || (palwaneki)
  16. || Anengena iya kang lagya alayar | kucapa Nabi Ngisaki | pan sampun waspada | winisik ing malaikat | pan sampun waspada | winisik ing malaikat | kengkenan raja Ngabesi | bakal angrusak | maring betullahi ||
  17. || Sigra parintah Nabi Ngisa ing sabalanira | prajurit jruning Mukadasi kinen asiya | prabupatipun ngayuda | sami anitih turanggi | belgedaba liman | senuk memreng kuldi ||
  18. || Kang saweneh prajurit angagem gada | kang saweneh ngagem tamsir | pedhang klawan tumbak, kestul lan Kalantaka | mriyem miwah suligi | pusur lan parah | Ngabdullah tunggulneki ||
  19. || Sigra budhal prajurit Betal Mukadas | tatabuhanira ngrangin | bendhelan tamburira | ing margi datan winarna | wus ngancik ing puser bumi | baris atata | anengena kang lagya baris ||
  20. || Kang kucapa bala Ngabesi wus amentas | saking sajrone warih nulya asiyaga | prabotipun ngayuda | sarwi anitih turanggi | belgedaba liman | saweneh anitih huldi ||
  21. || Raja Ngabesi kang dadi tetunggulira | sarwi nitih jenggiri | aneh warnanira | awakira kadi ulam | sirahipun kadi babi | duk angsalira | aning sajrune jeladri ||
  22. || Ingkang gada raja Jabari punika | gada wawrat sewu kati | prunggu ingkang kinarya | waja parisenira | ngedhangkrang nitih janggiri | pan sinungsungan | susun tiga busananira asri ||
  23. || Kang saweneh balanira ngangem goda | saweneh ngagem tamsir | pedhang lan kalantaka | mriyem kalawan panah | pusur kalawan suligi | tetabuhanira | bendhe tambur lawan suling ||
  24. || Sigra budhal Jabari sebalanira | ing marga datan winarni | wus ngancik ing tanah | tanahira ing Mekah | Syeh Ngabdullah nulya ngrakit ||
  25. || Pan tinata sebalanira sedaya | perjurit Betal Mukadasi | pan atata gamanira | sedaya perjurit sami | anitih Syeh Ngabdullah | anitih gajah wilis ||
  26. || Angedhanggreng aning ing luhur liman | asri amundhi bindi | wawrat sewu kati waja | ingkang kinarya parisira | sedaya sami miranti | parise waja | sinungsongan susun katri ||
  27. || Umyang gumuruh suwarane kang tetabuhan | balane sang raja kapir | genggeng kadya samudra | arampak lampahira | sinahuran bala Mukadasi | kang tetabuhan | umyang aning wiyati ||
  28. || Tan antara dangu anulya ayun-ayunan | anyapa raja Jabari | eh sapa aranira | satriya kang ngandhong marga | apa arep bosen urip | pan lakuningwang | ingutus maring gusti ||
  29. || Raja Dulgunya retune wong Ngabesah | kang ngutus maring kawi | abubrah Betullah | miwah angrusak pisan | sagahe wong islami | lah sira mundura | asugal Syeh Ngabdullahi ||
  30. || Kalawan ira takon jenengisun | Syeh Ngabdullahi | utusane sang raja | Nabi Ngisa Ruhullah | kang jumeneng ing Mukadasi | utusane ingutus ing Mekah | netepaken agamane suci ||
  31. || Pan ngutus medhangi maring sira | yen sira peksa wani | ambubrah ing Betullah | ingsun kinen nglawanana | iya maring sireki | miwah sebalanira | bermatya Jabari ||
  32. || Eh Ngabdullah kadhunga ing parisira | rasekena gada mani | sira den prayitna | tan wurung awor lan lemah | sambata wong tuwa kalih | tumenga ngakasa | tan wurung sira yen mati ||
  33. || Nulya masang Syeh Ngabdullah panisira | Raja Jabari amindhi | tempuhing kang goda | tinangkil parise waja | gumebyar medal kanga pi | amulad-mulad | wus nyana yen ngemasi ||
  34. || Sareng ilang urube kang dahana | Syeh Ngabdullah maksih urip | panggah lungguhira | ana saluhuring liman | kagyat sang raja Jabari | Eh Ngabdullah | sun nyana awor siti ||
  35. || Eh Ngabdullah sira matesa maring ingwang | aja katon sireki | kaparwiranira | Syeh Ngabdullah angadika | apa sakarsa nireki | lah den prayitna | sira sang Raja Jabari ||
  36. || Nulya kudhung parise waja kang mulya | iya sang raja Jabari | sigra Syeh Ngabdullah | amolahaken kang gada | angetop pangganeki | tempuhing gada | sinangga dening tangkis ||
  37. || Pan gumebyar amedal dahananira | saking sangete bindi | kuwate kang anangga | geni mubal ing tawang | kumutuk kukusing api | kaling brama | anglelara raja Jabari ||
  38. || Maksih tumpak jenggiri ing luhurira | tamengira pinundhi | Tanana kang kasoran | apan sami kuwatira | buwang gada silih ukih | pedhang-pinedhang | pan sarwi banting binanting ||
  39. || Sami tulung balanira Syeh Ngabdullah | miwah bala Ngabesi | angrebut ing luhurira | sinarung pangamukira | mriyem sareng amuni | tamburnya ngangkang | bendhenira nitir ||
  40. || Umyang gumuruh surake kang wedya bala | kadya rubuh kang wukir | bala keh palastra | Islam kapir pan samya | saking kathahe bala kapir | Syeh Ngabdullah | arsa ngunduraken baris ||
  41. || Samya eles perange bala Mukadas | anyekut bala kapir | ing marga datan winama | Mukadasi pan meh prapta | waspada Niti Ngisaki | yen Ngabdullah | kasuran genyak jurit ||
  42. || Nabi Ngisa angetak maring Imam Mahdiyu kelawan kalawan Khanapiyah | amapak ingkiang yuda | wong kapir meh prapta | iya mering Betal Mukadasi | abujung Ngabdullah | nulya dandan wong kekalih ||
  43. || Sigra ngrasuk busana praboting yuda | sarwi nitih turanggi | miwah kang wasiyat | sampun rinasuk sedaya | pedhang kangkam lan dulpakar sampun tinata | aning luhuring turanggi ||
  44. || Nulya budhal wong kalih tanpa rowang | lampahe lir thathit | ing marga datan winarna | pan wus sami prapta | ing gone raja Jabari | kadi samudra | saking kehe balaneki ||
  45. || Sigra nempuh wong roro samya arampak | pedhange wus tinarik | gelasah bala kopar | akeh kang samya palastra | lir pindha babadan pacing | sumembur kang bala | Raja Jabari lumaris ||
  46. || Pan binujung kacandhak marga | tinigas jangganeki | miwah sabalanira | sampun sami pinejahan | telas bala ing Ngabesi | wangsul sedaya | ngabdullah nulya ngabekti ||
  47. || Sampun kumpul bala Mukadas sedaya | sekarina kang mati | andherek lampahira | Imam Mahdi punika | lan Mukhamad Khani[iyah | sigra-sigra | Betal Mikadas wus prapti ||
  48. || Sampun katur iya purwanira | miwiti malah mukasi | suka Nbi Ngisa | miwah sekehe pra Islam | sami sukuring Yang Widi | lan sami atata | arja ingkang Negara Mukadasi ||
  49. || Sampun prapta janjinira Yang Sukma | sabdane jeng nabi | wonten Betal Mukadas | ana dene Imam Mahdi | lan Mukhamad Khanapiyah | prihatin samya wau kasmaran sami ||

PUPUH IX
ASMARADANA

  1. || Sekehe wong Betal Mukadasi | pan sami susah sedaya | tinilar marang gustine | Nabi Ngisa Rohullah | arum gandanira | ing Negara liyani[un | lan sami mambu sedaya ||
  2. || Ing Ngesam lawan Bangdadi | ing Ngerum lawan Madinah | ing Mekah pan mambu kabeh | nulya lajeng siniraman | layose Nabi Ngisa | malaikat sami tumurun | miwah widadariya ||
  3. || Kerik lampit kang widadari | isen-isene suwarga | anyirami ing layone | iya Gusti Nabi Ngisa | aning Betal Mukadas | nulya sinalataken sampun | wonten ing masjid Mukadas ||
  4. || Dene karsane Imam Mahdi | lan Mukhamad Khnapiyah | arembag wong mukmin kabeh | layone jeng Nabi Ngisa | kinubur wonten Madinah | ing dayane kanjeng rasul | ing luhure Gusti Ngumar ||
  5. || Dene raja Madinahi | pani sampun ngrakit sedaya | sampun tampi utusane | saking ing Betal Mukadas | layone Nabi Ngisa | pan ing ngakataken sampun | ing margi datan winarna ||
  6. || Ing Madinah sampun prapti | ning mesjid para ngulama | sami nyalataken kabeh | bungahe para ngulama | sami amambu ganda | amrik ganda arum | mijil saking ing suwarga ||
  7. || Anulya kinubur aglis | layone jeng Nabi Ngisa | tan antara sadangune | rampung pan sampi bubaran | ing wismane sewing-sewang | Mukhamad Khanapiyah iku | Imam Mahdi nulya budal ||
  8. || Kundur maring Betal Mukadas | pawongan ngiring sedaya | ing marga datan winiraos | ing Mukadas sampun prapta | tan antara Madinah ||
  9. || Dangane Nabi Ngikesi | ajajar lan Gusti Ngumar | tan antara malih lamine | Raden Mukhamad Khanapiyah | sigra nututi seda | kinubur ing Medinah iku | ajajar lan Imam Mahdiya ||
  10. || Susah sakehe para mukmin | miwah wong Islam sedaya | dene tan ana tunggule | anengene ingkang sungkawa | kocapa Raja Ngabesah | pan sampun midhanget tutur | patine Jabari raja ||
  11. || Enteke balaneki | kya patih tinimblan | Dawil Insyar iku namane | eh patih Dawil Insyar | apa sira ngrungu warta | risake bala kang ngluruk | patine Jabar raja ||
  12. || Ature rekyana patih | inggih angsal kang pawarta | wikan yakin lan botene | Dawil Ngumya asru ngandika | yen mangkana karsaningwang sarupane kawulaningsun | ing tanah Ngabesi sedaya ||
  13. || Sun pundut watu siji | ing dalem tiyang sanunggil | padha parintahana kabeh | sun gawe ngurugi ing bab | dedalan maring Batullah | keletan segara ageng wiyare mung sewu asta ||
  14. || Iku kang tan ngurugi | sarupane wong wong Ngabesah | supaya dadya dharate | ingsun arsa metu dharat | angrusak ing Betullah | Tanana kuwatiripun | dene metu ing dharatan ||
  15. || Dene kang Raja Ngabesi | selawasira dadi raja | apan tuli selawase | tan ngrungu Negara liyan | kang madha maring Ngabesah | saben-saben andangu | kya patih aturira ||
  16. || Pan inggih wonten negari | ing Mekah lawan Madinah | ing Ngerum Turki Mesire | samya kelebu bumi Mekah | akedhep Raja Ngabesah | tampane pengrungunipun | data nana kang Negara ||
  17. || Turune Raja Ngabesi | awit buyut Raja Sadat | kalebu Ngumar namane | awit tuli turunipun | demugi Raja Dzulngumya ||
  18. || Sareng Raja Dzulngumyani | awit pinaringan luwar | tulinira talingane | angrungu Negara liyan | iya akeh ingkang madha | ing Mekah pan sirahipun | mila badhanipun linurungan ||
  19. || Sigra parontah kyana patih | tan kawarna lampahira | wus mangkat sedayane | iya wong Ngabesi punika | wus pepek pinggir samudra | nulya balangaken watu | anenggih maring samudra ||
  20. || Wus rata pan mkadi gisik | sigra patih Dawil Insyar | umatur maring sang katong | samudra pan sampun rota | pan kadi dharat | asuk Dawil Ngumya sang prabu nulya kinen andandan ||
  21. || Angundhangi ssekeh prajurit miwah kinen asiyaga | praboting prang pupuh mengku | apan datan winicara | prajurit ing Ngabesah | anulya budhal sampun | ingiring prajuritira ||@@
  22. || Pan sarwi anitih esthi | saweneh belgedada kimar | senuk memreng lan bipale | ana dene praboting ngayuda | gada kelawan pedhang | panah mriyem kelawan kestul | suligi lawan tumbak ||
  23. || Kya patih tengga puri | tan kawarna lampahira | wus ngancik Mekah bumine | wong Mekah sami mapak | ananing datan anangga | alaju ing lampahipun | sampun prapta ing Betullah ||
  24. || Nulya lajeng den bububrahi | wong haji pan sampun pegat | wong Mekah pan samya lampus | sekarine samya bubar ||
  25. || Angungsi maring wnadri | arusak negari Mekah | sampun karsane Yang Manon | rusake negari Ngarab | miwah ing Kabatullah | Raja Ngabesah puniku | amarga dadi jalaran ||
  26. || Mila ing dina puniki ing wong Ngabesi sedaya | akhalal lamun ing ngepek | maring wong bangsa Ngarab | yen lanan dadi kawula | yen wadon dadinereku | dadi amat namanira ||
  27. || Wenang winade puniki | lamun ana wong tuku amat | datan nganggu ningkah maneh | khalal lamun tunurutan | saking murahing Pangeran | sebab dene bakal nglebur iya maring Kabatullah ||
  28. || Mangsuli carita malih | bubrahe Raja Ngabesah | ing marga datan winaraos | miwah ing sapraptanira | ing wisma Raja Ngabesah | anulya wonten babedu | wiwitan dina kiyamat ||
  29. || Surya medal saking magrib | surupe surya mangetan | rembulan wonten tanggale | amengulon surupira | anulya dhateng kang panas | apan tan ana jawah |  agenge kang gegodhongan ||
  30. || Miwah tan ang rizki | anulya ana suwara | yen anak putu Adam kabeh | iki wus dina kiyamat | wus mineb lawang tobat | sepira-pira karimu | apan tan tinirima ||
  31. || Inggih kuwan prasami | iya ing dina punika | langkung sanget suwarane | angebeki jagat sadaya | saking bangete suwara | angrungu wong sadunya iku | anulya nangis sedaya ||
  32. || Ajungkel ing siti panangisira manusa | sambate angadhuh-adhuh | nulya Allah Tangala | ngetokaken ingkang Dabah | metu saking selanipun | Gunung Esap lan Marwah ||
  33. || Dadine ingkang Dabani | saking saantaranira | bumi kelawan langite | sirahira kadi sura | tegese sura punika | peksi sura namanipun | wedana kadi manusa ||
  34. || Netranira kadi jinjir | kupingira kadi Bipal | sunginira kadi bantheng | gulunira kadi unta |dhadhanira kadi sima | miwah ta marnanireku | garong kadi candra mawa ||
  35. || Buntutira kadi kambing | sukunira kadi unta | nanging amawi tangan karo | dene tangan ingkang kanan | amawi ngangem maklumat | ali-ali agemipun | ageme Nabi Suleman ||
  36. || Dene tangan ingkang kering | ngangge teken agemira | Nabi Musa kang kinaote | apan sarwi mawi elar | luru-luru suwuwunira | apan asru iberipun | ing magrib sakedhap netra ||
  37. || Miwah miber ing Masyrik | ngalor ngidul ingiberan | karyane angumpulake | iya sakehe manusa | yen ana manusa Islam | pinisah lan enggonipun | kelawan manusa kapir ||
  38. || Miwah wong munapeki | kumpeli manupek sedaya | wong kapir kumpul kapire | wong Islam kumpul lan Islam | iya karyane Dabah | kelawan tan agemipun | asta maklumat agem Suleman ||
  39. || Pan ginawe anudingi | manusa kang bangsa Islam | anulya putih raine | dene agemira jungkat | teken agemira Musa | apan ginawe anuthuk | maring endhase wong kopar ||
  40. || Sigra musna kang Dabahi | anulya Allah Tangala | anurunaken angin gedhe | angin tupan westanira | tumurun aning dunga | angeded angin punika | prahara dadak sekala ||
  41. || Lesus sarwi ambarengi | ing dunga dadak sekala | gunung kayu sami esol | apan sekehe manusa | tan karuhan polahira | ting jalerit sambatipun | ngalor ngidul ngulon ngetan ||
  42. || Tanana dipun anubi | kayuni ing ngalam dunya | ting gelasah sedayane | miwah sakehe kang wisma | sami rubuh sedaya | panase kang surya iku | kadya api ing neraka ||
  43. || Grahanane wali-wali | miwah grahanane wulan | surya runtuh ing lintange | apan sakehe manusa | saweneh anggendhong anak | sami mati anakipun | ana luhure gendhongan ||
  44. || Miwah wong kang meteng sami | aruntuh wetengira | dene rare maksih playon | tinilar wong tuwanira | datan ngitung ing anak | rumeksa pribadinipun | tan wurung iku palastra ||
  45. || Anulya kang wukir sami | p[an sami mumbul ing tawang | sami tarung sedayane | mila satengahe samudra | rata kadi dharat | miwah pereng sampun jaru | ledhok pan rata sedaya ||
  46. || Dene sekehe manuseki | pan sampun pejah sedaya miwah sekehe kewan | pan sampun telas sedaya pan sami sirna | ngandika kang Maha Luhur | maring Malaikat Ngizrail ||
  47. || Eh Malaikat ngizrail | padha sira pundhuta nyawane si Iblis kabeh | padha kang bangsa syetan | pada sira pundhuta Ngizrail sigra amundhut | syetan wus pejah sedaya ||
  48. || Gusti Allah ngandika malih | maring Malaikat Ngizrail | eh sira pundhuta age | nyawane sekeh Malaikat | kang ana bumi sapta | miwah ana langit pepitu | Ngizrail sigra tumandang ||
  49. || Sedaya wus sirna enting | mung kari Ngizrail piyambak | anulya tumandhang dhawuhe | Pangeran Kang Mahamulya | kinen ngalap nyawanira | Ngizrail sigra andudut | Nyawane pribadinira ||
  50. || Ajungkel malaikat Ngizrail | niba tangi polahira | sambate lir bledheg miyos | saking sangete sekarat | geru-geru saben dina | lamine sekaratipun | apan ana sewu warsa ||
  51. || Dene sambate Ngizrail | yen anaa ingkang mirsa | sayektine mati kabeh | saking bangete suwara | panjritira malaikat | Ngizrail pan sampun lampus | Tanana kari satunggal ||
  52. || Sami ngrasakaken pati | sakehe mahluk sedaya | grahana kang srengge | lawan grahana rembulan | grahananira telas | sekeh lintang sami runtuh bedhane langit kaping sapta ||
  53. || Miwah gunjinge kang bumi | sapta lawan bedhahira | Gusti Allah ngandika alon | lah sapa ingkang amurba lah sapa ingkang masesa | kang karya urip lan lampus | bumi sapta langit sapta ||
  54. || Miwah saisen-isenereki | suwarga lawan neraka | saisinira karune | rembulan kelawan surya | kabeh ingsun kang karya | purba wasesa iya ingsun | rabilngalamina ||
  55. || Gusti Allah anguripaken sami | malaikat ingkang murba | miwah sebalane kabeh | kang bangsa kurubiyuna | anglumpak aning ngarep hijab | hijabe ngaras puniku | kathahe tanpa wilangan ||
  56. || Miwah gandane sami | data ana ngewruhana | akehe lawan gedhene | among Allah Tangala | kang bisa amilang-milang | miwah pirsa agungipun | malaikat kang ana hijab ||
  57. || Den eta agenge sami | malaikat ngarepe hijab | sekalir sekehe | ana ngisore buntala | ana dene sirahira | ana luhure ngaras agung | balane malaikat sekawan ||
  58. || Jabarail lan Mikail | Israpil lan Ngizrail | luhure among punika | ana dene malaikat Makarabun | acanthi maring Pangeran ||

PUPUH X
KINANTHI

  1. || Ngandika Gusti Yang Agung | maring malaikat Mukarabin | eh Mukarab matura | ing ngendi lah mahpush mami | matura malaikat Mukarab | gumantung nginggile ngarsyi ||
  2. || ati warnanipun | kanga ran Lohmahpushi | kadi putihe tigan | dawane kang lohmahpushi | antarane langit sapta | bumi sapta anataraneki ||
  3. || Sekarane kang lohmahpush | saking mutyara abrit | belabagira mutyara | iju warnane dumeling | lohmahpush ana tulisnya | pepesthene manuseki ||
  4. || Cekak dawane kang umur | beja cilakane jlami | tinulis ing lohmahpush iki | apan datan kena gingsir | awit wujude manusa | tumeka kiyama kubra ||
  5. || Sampun katur aturipun | malaikat Mukarabi | anulya ana suwara | saking erahing Yang Widi | eh lohmahpush umatura | titipan ingsun aning ngendi ||
  6. || Gumeter wau lohmahpush | umatur sarwi wotsari | dene kagungan tuwan | titipan kang wonten mami | he Allah Pangeran amba | kawula pasrahaken Israpil ||
  7. || Wonten malih suwara asru | saking erahing Yang Widi | eh Israpil umatura | titipan ingsun ning ngendi | gumeter Israpil iku | umatur sarwi ngabekti ||
  8. || Dhuh Gusti Kang Maha Luhur | kagungan tuwan Gusti | titipan kang wonten amba | kang elohmahpushi | sampun kawula pasrahena | dhumateng malaikat Ngizrail ||
  9. || Wonten malih suwara asru | saking erahing Ywang Widi | eh Ngzrail umatura | titipan ingsun ning ngendi | gumeter Ngizrail sigra | umatur sarwi ngabekti ||
  10. || Dhuh Kang Mahaluhur | kagungan tuwan Gusti | titipan wonten amba kang saking malaikat Israpil | sampun kawula pasrahaken | dhumateng malaikat Mikail ||
  11. || Wonten malih suwara asru | saking rahing Yuwang Widi | eh Mikail umatura | titipan ingsun ning ngendi | gumeter Mikail sigra | umatur sarwi ngabekti ||
  12. || Dhuh Gusti Kang Maha Luhur | kagungan tuwan Gusti | titipan kang wonten amba | kang saking malaikat Ngizrail | sampun kawula pasrahena | dhateng malaikat Jabarail ||
  13. || Wonten malih suwara asru | saking rahing Yuwang Widi | Jabarail umatura | titipan ingsun aning ngendi | gumeter Jabarail sigra | umatur sari ngabekti ||
  14. || Dhuh Gusti Kang Agung | kagungan tuwan Gusti | titipan kang wonten amba | kang saking malaikat Mikail | sampun kawula pasrahena | dhateng kekasih tuwan Gusti ||
  15. || Muhammad nabi panutup | anulya kang Mahasuci | ngandika maring Ridwan | eh Ridwan sira paesi | sarine bumi | kasunaran gebyar-gebyar | kadi kuninge mas mijil ||
  16. ………..pada 16 dumugi pada 23 boten wonten.
  17. || Gelung kondhe cundhuk mentul | selindhange sutra abrit | sinulaman iju sutra | tinnetes inten bumi | tiningalan gebyar-gebyar | cahyane mindha sasi ||
  18. || Aweneh nyampingipun | sutra iju lurik kuning | sinulaman toya emas | kembenipun wau abrit | arimong gacu Suleman | lelongan suwarga adi ||
  19. Sengkengipun inten mancur | pinetik mustaka bumi | gebyar-gebyar kadya lintang | sore-sore kalane angalih | waja lir inten mustika agebyar-gebyar ambelerengi ||
  20. || Ana ngure rimanipun | cundhuk jungkat inten bumi | sami sedheng-sedheng dedegira | miwah badanireki | pan sarwi gadhah pawongan | iya padha widadari ||
  21. || Pantes pangakunipun | widadari sedayaki | pan asra methuk sedaya | iya maring Kanjeng Nabi | ya Muhammad Khabilullah | wonten ing ngandap sitinggil ||
  22. || Sitinggil amawi tarub | tarube kencana adi | miwah payane pisan | pan sami retna adi | pepajangan inten mulya | kembar mayang ing sitinggil ||
  23. || Linangse mutyara murub | sineleh luhur sitinggil | sengandhape usuk kencana | miwah tarub kencana | adi sami linagse sedaya | sinawuran jebad kasturi ||
  24. || Sarwi sinelehaken bangku | lawan sinelaheken ing kursi | pan sami kursi kencana | pinatik inten merjani | kanthahe tanpa wilangan | bangkunira lawan kursi ||
  25. || Ana dene pernahipun | sitinggil ngajeng suwargi | perdosan ingkang mulya | suwargane Kanjeng Nabi | sitinggil karya kumpulan | pamethuke widadari ||
  26. || Piranti pinarikan | pinarakane kanjeng nabi | awarna dhampar mutyara | aluhur Tanana nyameni | ingandhap sitinggil mulya | pan atap kursi rinakit ||
  27. || Tan winarna lampahipun | widadari sampun prapti | wonten sitinggil mulya | anulya pinarak kursi | sanes kursi cecawisan | ngarep dhampar mutyara adi ||
  28. || Sampun cawisanipun | widadari sami prapta | ambekta bokor kencana | isine toya kang wening | kathahe tanpa wilangan | piranti ginawe ngisuhi ||
  29. || Ngisuhi sampahanipun | sampahane jeng nabi | miwah para anbiya lan sartane para wali | kelawan para syuhada | ngulama lan para mukmin ||
  30. || Kelawan para Islamu | kanga nut lakune nabi | pan sarwi cinawisani | widadari lawan kursi | ya iku walesira | Walese kang Mahasuci ||@@
  31. || Wus dadi cecadhangipun | widadari ing suwargi | apan dadi bojonira | bojonira kang para nabi | kelawan para oliya  | syuhada kelawan mukmin ||
  32. || Lan malih para Islamu | kanga nut lakune nabi | lawan ginanjar suwarga | minangka wisma sayekti | apan nora kena rusak | alanggeng genira mukti ||
  33. || Bodho temen ngulamaku | ngulama ing zaman akhir | remen dunya lawan sawah | kesambi arine wengi | ngibadah lawan tuminah | dadi runtuh salatneki ||
  34. || Talake buju setuhu | kang ana suwarga adi | karem bojo aning dunya | warnane kadi leri | den eta wismanira | kadi sudhungira jinir ||
  35. || Dening bojone dunya iku | kang minangka parintahe laki | yen lanang mungguh suwarga | bojonira melu manjing | tur dadi  bojo tuwa | anome pan widadari ||
  36. || Dene cahyanira mancur | bojo saking ing dunya | datan kari cahyanira | lan cahyane widadari | sarta kuwasa marintah | wus terang karsaning Widi ||
  37. || Yen ana wong wadon iku | tan ngabekti maring laki | wau maring Pangeran | bojoning ing yomani | wong kang ana ing neraka | dadine bojo sayakti ||
  38. || Lan malih ngulamaku | wus kacetha aning dalil | waman dzal aa aman | fakad zar nabi | sing asapa tinjo wong ngulama | sasat tinjo para nabi ||
  39. || Nanging sejen puniku | ngulama lan para mukmin | yen para nabi Tanana kena | rindhu maring ing Iblis angukuhi | bojo ing ngakherat | asugih ayune ngliwati ||
  40. || Dene para ngulamaku | kena ridhu ing Iblis | remen bojo aning dunya | lawan remen ing dunyeki | lan remen rajabrana remen bojo ing yomani ||
  41. || Mindah getunipun | bojonira apan salin | suwarga oleh neraka | bojo kang aning suwargi | anganti tan prapta-prapta | anyipta sareng jeng nabi ||
  42. || Miwah para anbiyaku | lan malihe para wali | dene wong mukmin punika | sebarang lakune sami | persasat para ngulama sejen asugih ngilmi ||
  43. || Dene para Islamu | iku presasat wong mukmin | nanging iku kacek uga | wong mukmin iku netepi | wong Islam kendhat lakune | nanging meksih jeneng muslim ||
  44. || Ana dene pitukunipun | bojo kang aning suwarga | pan among limang prakara | kang dhihin alunga haji | kapindhune apuwasa | ping telu syahadat kalih ||
  45. || Kaping pat zakat iku | kaping lima shalat wajib | wajibe waktu lelima | kang sarta tumaninah | ikhlasing manahira | aja iling sugih meskin ||
  46. || Yen sugih iling dunya iku | yen meskin iling tan bukti | iku pada ikhlasena | minangka tuku suwargi | nanging cok kena gibodha | mila akeh datan prapti ||
  47. || Ana dene tukunipun | bojo kang aning yomani | pan akeh wernanira | kang dhihin atinggal wajib | pikukuhe Islam lelima | kapindhone anginum warih ||
  48. || Kaping telu azinaku | kaping pat amateni | wong tanpa dosa | ping lima abegal maling | kaping nem atotohan | ping pitu serik karebi ||
  49. || Ana dene rencananipun | takabur sumungguh drengki | iya lawan ngujub riya | kidhib kelawan hitmat | anyebrot ngiutil nayeb | kelawan ngapusi ||
  50. || Angitung tan bisa ngitung | petokonira yomani | delalah dadi rebutan | pangarsane ngenikmati | sareng kumpul bujonira | awake gerak runtang ranting ||
  51. || Senadya wong wadon iku | yen malih tuku suwargi | cinadhang bojo oliya | yen bojone datan apti | kudu milih tuku neraka | dadi runtuh talak bain ||
  52. || Lan malih wong wado iku | yen malah takon yomani | kang lanang malah suwarga | iyo runtuh talak bain | kang lanang bojo suwarga | kang wadon bojo yomani ||
  53. || Nengena ingkang winuwus | kocapa Ridawan angabekti | sarwi ngaturi uninga | suwarga sampun rinakit | miwah widadarinira | anom-anom amantesi ||

PUPUH XI
S  I  N  O  M

  1. || Gusti Allah angandika | iya maring Jabarail | eh Jabarail sigra | timbalana kasih mami | Muhammad dipun aglis | lan gawa sireku | tetungganganira Burak | lan malih sira paesi | dipun becik saking suwarga ||
  2. || Ana dene rainira | kang Burak pan kadi jalmi | angengira sami Bipal | lesanira kadi peksi | gagak cucukireki | sirahira kadi perasu | tegese iku jaran | dene kupingira kalih | warna inten jumanten ijo kang mulya ||
  3. || Dhadhanira kadi macan | gigirira kadi Bipal | buntutira kadi himar | awarna emas singagling | sikilira kadi paksi | apan sarwi nganggo jalu | ana dene suwiwinira | awarna mutyara jeni | lamun tinon lir pindah inten mulya ||
  4. || Netranira peksi Burak | awarna mutyara abrit | yen ngelirik gilar-gilar | iya kadi daru ngalih | senene netra kalih | apan ana tulisipun | kalimat roro pan cetha | ana dene guluneki | lawan dhadha warnane pan kadya soca ||
  5. || Lampahira kadi kilat | sarta nganggo suwiwi | roro pan kathahira | ing dalem siji suwiwi | elar-lari kathahira | ing dalem siji suwiwi ing dalem siji suwiwi | laripun winilis | apan pitung puluh ewu | suwiwi amambu ganda | kasturi saking suwargi | yata ngambar gandane kang peksi Burak ||
  6. || Dene ta kendhalinira | inten jumanten | pinatiking setya jenar | lan apusira kendhali | warni emas adi | agodhek mutyara mancur | abah-abahira sutra | diwangga pan samput abrit | gilar-gilar kadi sorote kang beskara ||
  7. || Gusti Allah angandika | maring malaikat kalih | eh Mikail sira sun duta | timbalana kasih mami  | Muhammad dipun aglis | lawan gawaa sireku | makhuta ingkang mulya | kang saking suwarga adi | warnanira inten widuri murub mubya ||
  8. || Gebyar-gebyar warnanira | makutha kadi herthathit | kasorotan ing beskara | belerengi netra kalih | murub-murube | pan semu pethak iku | pethakira kadi wulan | yen sinawang lir emas sinangling | nalikane purnama tanggal limalas ||
  9. || Gusti Allah angandika | maring malaikat Ngizrail | eh malaikat sigra | timbalana kekasih mami | Muhammad dipun aglis | lawan gawaa sireku | kulambi lan nyamping | karune saking suwargi | sutra ijo kelawan sutra diwangga ||
  10. || Miwah ta lancinganira | pinantes saking suwagi | pan sami sutra mulya | tinenun toya jeni | jambiyanira rinakit | iya saking suwarga agung | binalongan mutyara | tinretes ing inten bumi | gebyar-gebyar kadi genyare kilat ||
  11. || Gusti Allah angandika | maring malaikat Israpil | eh malaikat Israpil | timbalane kasih mami | Muhammad dipun aglis | lawan gawaa sireku | paying agung kang mulya | ya saking suwarga adi | songsong lakon sewu warsa ||
  12. || Miwah ta ambanira | antarane bumi langit | paying kencana mulya | nijinira kang kinarya adi | rujinira mutyara abrit | ana dene dedanganipun | warna selaku mulya | pinatiking surya adi | lawan malih ebol-ebolira cahya ||
  13. || Kinen mancur mertiga | sawiji ana ing Masyrik | ing Magrib sawijinira | ing sawiji tengahe bumi | tengene dunya iki | ana dene umbul-umbul | tetiga tinulisan | sawiji tulisneki | pan tinulis bismillah sahatamira ||
  14. || Kang sawiji tinulisan | patehah alhamdulillahi rabbil ngalamina | lan sawijine malih | iya sami tinulis | lailahailallahu | Muhammad Rasulullah | ing dalem umbul sawiji | apan iya lakune sewu warsa ||
  15. || Gusti Allah angandika | maring malaikat Mukarabin | sebalanira malaikat | padha kinen anjajari | ana ing turut margi | kang den ambah kasih ingsun | mulya malaikat sekawan ||
  16. || Dadi bingung malaikat | tan bisa anegeri | kuburipun | katrima panuwunira | nulya ana cahya kaesi | kadi selaka mancuring sundhul ngawiyat ||
  17. || Marek malaikat sekawan | ing kubure kangjeng nabi | pan sarwi dadi diniya | kang pantes amungu dhingin | malaikat Jabarail | angering maring Israpil iku | dene Israpil sigra | angering malaikat Mikail | pan Mikail angering maring Ngizrail ||
  18. || Malaikat Ngizrail sigra | amangu maring kangjeng nabi | alerah pamungunira | nanging datan den sauri | anulya maring Israpil | sigra Israpil mangu | abah ingkang kuburan | anulya minungu malih | apan sigra kuburan anulya sumilak ||
  19. || Israpil mangu ping tiga | nulya lenggah kangjeng nabi | ing luhure kuburan | angusapi kangjeng nabi | lebu kang aning luhiyat | miwah kang ana ing raksu | sarwi ninggali mangetan | mangalor mangidul magrib | datan ana gunung miwah sekeh wisma ||
  20. || Lawan malih data nana | ing masjid Madinah iki | miwah menaranira | ngandika kangjeng nabi | apa ta pagene iki | data nana uwong-uwong | apa ta liya-liya | iku wus kiyamat | sampun sikek punika sampun dina wekasan ||

PUPUH XII
ASMARADANA

  1. || Sampun miarsa ing hadist | caritane Nabi Adam | pinarak aning ibare | sarta tunggulira binabar | akumpul kang wadya bala | andedonga ing Yang Agung | kelangkung maras sedaya ||
  2. || Sekathahe ingkang ngungsi | anangis anedha supangat | amelas asih ature | Gusti Jeng Nabi Adam | tuwan leluhur kawula | anedha tulung amba nuhun | tebihna api neraka ||
  3. || Sedaya samya anangis | Nabi Adam angandika | anak putu ingsun kabeh | ingsun pan nora kaduga | atetulung maring sira | ature mahluk sedarum | dene wau kinasihan ||
  4. || Iya bener sira kaki | dhingin ingsun kinasihan | dene Pangeran sajatine | tanapi anandhang wiring | ana dene nrajang awisan | adhahar kuldi puniku | dadi benduning Pangeran ||
  5. || Balik ingsun tutur bae | angungsia den inggal | ing Nabi Enuh na mane | iya iku ingkang kinasihan | dadi dutane Pangeran | ing kana anggenipun | anulya mangkat sedaya ||
  6. || Neraka aksih atut wingking | lampahe mahluk sedaya | kelangkung tebih pernahe | eletipun sewu warsa | maring Nabi adam | sekelangkung padhangipun | selama-lama rahina ||@@
  7. || Kawarnaan pan sampun prapti | ing ngarsane Nabi Enuh ika | akumpul wadya balane | pinarak aning mimbar | tunggulipun binabar | sineba ing umatipun | kagyat praptane kang manusa ||
  8. || Sekathahe kang angungsi | den bujung api neraka | umyeng gumuruh suwarane | Nabi Enuh angandika | dhumateng maring balane | aja obah sireku | anedhaha ing Pangeran ||
  9. || Sedaya pan sami prapti | ature sarwi karuna | adhuh Gusti kkawula angger | anedha tulung tuwan | tebihena ing neraka | andika kasihe Yang Agung | lan malih kang kinarya duta ||
  10. || Anedha pitulung kawula gusti | ature mahluk sedaya | amelas asih ature | ingsun dhingin kinasihan | maring Allah Pangeran | samangke kawula iku | tanapi anandhang wiring ||
  11. || Jeneng ingsun duk rumiyin | urip ana ngalam dunya | duk ngelam umat kabeh | sanget ingsun anedha | slamet awakingwang | tur janji saking Yang Agung | selamet anak ingwang ||
  12. || Anging ingsun durung uning | maring si kapir kanengan | sabab dadine bendune | dene asih ing kanengan | dadine ta punika | anulya sanget tubat ingsun | angrasa anandhang wiring ||
  13. || Balik sira sun turuti | anuruta dipun inggal | angungsi sira kabeh | ing Nabi Ibrahim ika | denaken sanaking Allah | tinarima pujinipun | dhumateng Pangeran kang mulya ||
  14. || Ngungsia sira denaglis | ing Nabi Ibrahim ika | ing erah kana pernahe | anulya mangkat sedaya | neraka maksih tut wuntat | tan kari tengaranipun | sampun prapta ing ngayunan ||
  15. || Kawarta Nabi Ibrahim | pinaraka aning mimbar | sarta binabar tunggulu | akumpul dadi sapantha | sahabat kawula warga | kagyat sedaya puniku | ungele api neraka ||
  16. || Ungele manusa ngungsi | ejin iblis lawan syethan | dhumateng bala sedaya | aja na bubar sira iku | anedhaha ing Pangeran ||
  17. || Kang sami prapta anangis | ature anedha supangat | kawula nedha tulung angger | Nabi Ibrahim angandika | ingsun pan nora kaduga | atetulung ing sira iku | sabab ingsun anandhang wiring ||
  18. || Iya dhingin kinasihan ugi | dening Pangeran Kang Mulya | mila sinung coba ingong | dumeh asih kalintang | anembeleh anakingwang | kasil suda bektinipun | awak ingsun saking ngadat ||
  19. || Mila sanget tobat mami | sabab ingsun nandhang wiring | balik ingsun tuduh bae | inggal sira angungsia | ingkang nama Nabi Musa | kinasihan ing Yang Agung | pan ingaken kalamullah ||
  20. || Mangkata sira denaglis | angungsi Nabi Musa | erah kana pernahe | api neraka tut wuntat | tan kari separanira | sewu warsa tebihipun | warnanen pan sampun prapta ||
  21. || Nabi Musa wus kepanggih | pinarak aning ing mimbar | sarta binabar tunggule | akumpul dadi sapantha | sahabat kawula warga | kagyat kang umat sedarum | ing ungele api neraka | kang kecandhak dipun mangsa | wus prapta ing ngarsanipun | ature kawelas asih ||
  22. || Autre sarwi anangis | adhuh gustika Nabi Musa | kawula nuwun pitulungan angger | ampena duhaken api neraka | Nabi Musa angandika | pan nora kuwasa ingsun | atulung maring sira ||
  23. || Milane nora kuwasa mami | sabab ingsun nandhang wiring | amateni kapir kabeh | kasilep aning segara | kaum kalebet sedaya | Raja Pirangon ratunipun | ing Mesir ingakang Negara ||
  24. || Amateni kaum pra sami | ingsun duk aning dunya | mila sanget tobat ingong | ngerasa anandhang wiring | maring Pangeran Kang Mulya | ya balik ingsun usung tuduh engungsiya Ngabi Ngisa ||
  25. || Playane kepati-pati | lampahe kalunta-lunta | sewu warsa ing lamine | warnanen pan sampun prapta | ing ngarsane Nabi | pinarak ing mimbar sampun | sarta tunggule binabar ||
  26. || Sampun kumpul sebalaneki | sahabat kawula warga | miarsa maras manahe | ungele api neraka | miwah mahluk sedaya | kang sami ngungsi gumuruh | kelangkung ajrih sedaya ||
  27. || Nabi Ngisa nulya angling | ajana bubar sedaya | anedhaha sihing Yang Manon | warnanen anulya prapta | ing ngarsane Nabi Ngisa | ature amelas ayun | tan pegat denya karuna ||
  28. || Kelangkung angasih-asih | adhuh gusti Nabi Ngisa | pan nora kaduga ingsun | sebab anandhang wiring ||
  29. || Iya ingsun kala ing dhingi | duk urip ana ing dunya | sekehe kaum ingsun | ingaranan putrane Allah ||
  30. || Pangandikane kang Mahasuci | tetkala akuwirang | balik ingsun tuduh bae | angungsi Nabi Muhammad | nabi pinilih punika | dene Pangeran iku | sartane kinarya duta ||
  31. || Punika Nabi kekasih | sapujine tinarima | tur data nana sisipe | den inggal sira mangkata | erah pernahe kana | aja sakabeh iku | pan angsal pitulunge Allah ||
  32. || Anulya mangkat aglis | syetan ejim lawan manusa | neraka ambujung bae | tan kari separanira | warnanen pan sampun prapta | ing ngarsane kangjeng rasul | akumpul wadyabala ||
  33. || Pinarak ing mimbar wilis | sarta tunggule binabar | sineba kawula wargane | sahabat sewu punika akumpul segolonganira | cinarita langkung agung | balane jeng rasulullah ||
  34. || Kagyat maras ingkang ati | ungele api neraka | ungele mahluk iku kabeh | kanjeng nabi angandika | dhumateng kang wadyabala | padha eca sira iku | tekane api neraka ||
  35. || Lah aja sira kuwatir | pan ingsun kang kinaridhan | dene karsane Allah mangke | pan ingsun kinen cekela | kangjeng nabi lumampah | sujud ing ngarsane sampun | obah karsane punika ||
  36. || Obahe kursi puniki | tandhane yen kinaridhan | nulya tindak anyepeng rante | punika kang kinarya nancang | gulune neraka | kagyat nulya ajumbul | kangjeng nabi angandika ||
  37. || Menawa sira den aglis | miraos api neraka | manira manggih tembene | manusa kelangkung kuwat | tan kuwat manira obah | angandika kangjeng rasul | kuwat karsane Pangeran ||
  38. || Neraka ature aririh | sampeyan tiyang punapa | kangjeng nabi pangandikane | jenengku Nabi Muhammad | lawan jeneng nabi duta | kinaridhan ingkang agung | anyekel marang ing sira ||
  39. || Neraka anulya ajrih | sabab sampun du king kuna | ing wau caritane | yen Gusti Nabi Muhammad | kelangkung kinasihan | neraka anutut sampun | kanjeng nabi angandika ||
  40. || Aja sira buru maneh | agawe mesakat | dhateng ejim manusa kabeh | aja gawe sorang-sorangan | mukane teka sira | amburu umat ingsun | ature api neraka ||
  41. || Sampun janjine kang Mahasuci | mangsane dina kiyamat | amba kinen ngukum kabeh | selathane kang duraka | kang …………. ||
  42. || Angandika kangjeng nabi | uwis sira marenana | aja sira buru maneh | pan wis janjine Pangeran | sabab kapir lan Islam | yen wus teka ing mangsanipun | tegakena maring sira ||
  43. || Lah sira nuruta ugi | ing mangke sira sun gawa | maring ngarsane Allah mangke | ature api neraka | inggih dhateng sandika | anulya binekta sampun | maring ing ngarso Pangeran ||@@
  44. || Nabi Muhammad wus prapti | asujud tengahe ngarsa | sampun katrima ing sujude | angandika sang Mahamulya | iy sira sun trima | pernahena iku neraka | ana ing kiwane ngaras iku | suwarga tengene ngaras ||
  45. || Caritane wonten ing hadist | api neraka punika | sareng pernah ing enggone | anulya dadi ika | ageng warna tiyang kuna | tetkala tekane iku | rupa kadi satu kewan ||
  46. || Agenge angalangkungi | metu kadi du king kuna | anenggih pepitu lawange | rumihin lawang jahanam | ping kalih lawang huwiyat | lawang shuyat kaping telu | lawang jahim ping sekawan ||
  47. || Kaping limane puniki | lawang neraka hatamah | lawang ingkang kaping neme | neraka saqir punika | lawang malih kawarnaa | lawang ingkang kaping pitu | dhumateng saqir neraka ||
  48. || Mungguh kitab insane kamil | sanese kalawan punika | jahanam kang rumihin | ping kalih saqir punika | neraka kang kaping tiga | huwiyat sekawan winuwus | hatamah ingkang kaping lima ||
  49. || Ping nenem neraka jahim | ping pitu neraka pil ika | lan malih wonten sanese | mungguh carita ing kitab | madinil maklumi ika | neraka pil puniku | sinadhing neraka jahanam ||
  50. || Ciunarita wonten ing hadist | sesampunira mangkana | uwot sirathal pinasang mangku | aning luhure neraka | ingkang kapitu ika | karsane kang Maha Agung | aning luhure neraka ||
  51. || Panjange uwot puniki | den kinten-kinten kiwala | lamine lelampahane | dhateng tigang ewu warsa | eluke uwot punika | tigang elukipun | kang saeluk sewu warsa ||
  52. || Umpamane lamun den wilis | tetepe ora den wilang | tan ana rina dalune | apadhang selaminira | kelangkung lembut tur sirathal | yen tinimbang lan rema iku | langkung landhep saking pedhang ||
  53. || Lan wonten pepitu malih | pitakone uwot sirathal | bab iman kang rumiyin | kaping kalih bab salat | kaping tigane siyam | sekawan ping laminipun | winastan bab zakat ||
  54. || Kaping limane munggah haji | kaping nem bab jinabat | hedh wiladah manggen | sabab lawang kang satunggal | kang samya benere ika | lan lawang neraka iku | benere sanunggal-nunggal ||
  55. || Sampun masyhur ring hadist | Pangeran nulya ngandika | lah kalam sira den inggal | sun kon nulisi sedaya | sakathahe karsaningwang | kang awal lan kang akhir iku | manglumat ingsun sedaya ||
  56. || Kalam nulya matur aris | inggih sampun kelampahan | sakarsa tuwan ingsine | sekathane kang gumelar | kawula serat sedaya | lan karsa tuwan kang dhawuh | dhateng anak putu Adam ||
  57. || Hukum tuwan ingkang pesthi | parintah sampun sedaya | ing Nabi kang satunggale | sedasa maring Adam | Nabi Syis skeet kitab | ing Nabi Idris puniku | nenggih kitab tigang dasa ||
  58. || Lan kitab sedasa malih | maring Nabi Ibrahim ika | Nabi Musa kitab Taurore | kitab Injil Nabi Ngisa | dhateng jeng Nabi Muhammad | kitab Kuran westanipun | sarta lawan karsa tuwan ||
  59. || Lan malih kalimah tauhid | kang pesthi ing kitab sedasa | kang boten wonten kantune | lan malihe haji tuwan | sababe kitab kang sinurat | sing sapa bekti marang ingsun | sun panjingaken ing suwarga ||
  60. || Kang duraka maring mami | sun panjingaken neraka | tan kari lawan kitabe | pangandikane Pangeran | lah mangkuna pirengena | tetep kabeh iku | gapuh ature sang Kalam ||

PUPUH XIII
K I N A N T H I

  1. || Tulise kapir sedarum | den elungaken tumuli | ing tangane ikut sedaya | abuhara wingking gigir | annuli butul ika | tangane kiwa ing gigir ||
  2. || Tulise mukmin sedarum | den elungaken tumuli | tangane tengen ika | ngamal dosa ngamal bekti | yen lamun kedhik ngamalnya | sun panjingaken yomani ||
  3. || Sawuse manjing sedarum | wong iku aning neraka wingit | lajeng manjing ing suwarga | lamun abot ngamal bekti | lajeng manjing ing suwarga | alanggeng eca wong puniki ||
  4. || Sekehe wong mukmin iku | tan adus junib ing mangke | benjang yen nguwot sirathal | kalane sanpun angemasi | dhumateng lawan jinabat | tibeng neraka wong iki ||
  5. || Wong mukmin sedarum | kang ora siyam ing mangkel | benjang yen nguwot sirathal | lamun wong iku ngemasi | lawang siyam punika | tibeng neraka wong iki ||
  6. || Manusa mukmin sedarum | kang ora zakat ing mangke | benjang yen ngambah wot sirathal | kalane sampun ngemasi | ing lawang zakat punika | tibeng neraka wong iki ||
  7. || Sekehe wong mukmin sedarum | kalane sira ngemasi | ing haji lawang punika | tebeng neraka wong iki ||
  8. || Sekehe wong mukmin iku | yen ora adus junub ing mangke | benjang yen ngambah wot sirathal | kalane benjang ngemasi | ing lawang jinabat ika | tibeng neraka geni ||
  9. || Sabab wong mukmin iku | kang ora adus hedh ing mangka | benjang yen ngambah wot sirathal | kalane sira ngemasi | ing lawang hedh punika | tibeng neraka wong puniki ||@@
  10. || Lan ora adus wiladah iku | kelawan napas puniki | benjang yen ngambah wot sirathal | kalane sira ngemasi | ing lawang nipas wiladah | atibeng neraka wong iki ||
  11. || Sekehe wong mukmin iku | kang boten sami ngabekti | dhumateng ing bapa biyung | kalane ing dunya iki | ora sah salate | ing neraka sarta manjing ||
  12. || Sabab wong mukmin  sedarum | akambah warnane iki | kalane sami angambah | dhumateng wot sirathal iki | ana alon ana kebat | kebate kadya thathit ||
  13. || Wonten wong mukmin winuwus | ora zakat ora haji | ora perang sabilullah | sabab sanget nistha pekir | atanapi amaca syahadat | salat kelawan dzikir ||
  14. || Lan malih bekti puniku | ing bapa biyunge iki | lan ora anginum arak | lan ora zina iki | lan ora mejahi tiyang | kang sami Islam iki ||
  15. || Dosane agung alit iku | sedaya dipun tebihi | siyam sunat saben dina | salat tahjud saben wengi | lan asih wong mukmin sedaya | sami asih ing dhiri ||
  16. || Sareng tangi saking kubur | suwarga nulya sumandhing | lan dhodhok-dhodhok lawang suwarga | Malaikat Jabarail | amethuk tiyang puniuka | anulya wiraos aglis ||
  17. || Nulya matur manusa iku | dhumateng ing Jabarail | kadi pundi jasad kawula | dene eca ing suwargi | boten manggih sakit pisan | lajeng eca awak mami ||
  18. || Dene kawula rumuhun | mulane ing dunya dhihin | amadhanget ing carita | saking Kuran saking nabi | kelangkung skeet suwiyah | kelangkung lami puniki ||
  19. || Kelangkung tebih puniku | saking kuburan iki | dhumateng ing suwarga | lawan pitung leksa warsi | dene kawula langkung rikat | dhumateng suwarga adi ||
  20. || Jabarail ngandika sampun | milane dika puniki | nulya manjing ing suwarga | pan sampun dika lampahi | adhem panas perih ing dunya | sedaya dika lampahi ||
  21. || Jabarail ngandika sedarum | dika salat sarwi dzikir | manusa sami sukan-sukan | dika tobat sarwi anangis | manusa sami dhaharan | dika siyam sarwi anangis ||
  22. || Milane dika puniku | inggal dhumateng mriki | langkung sakit aning dunya | sabar sukuran brangti | atawakel ridha ing Allah | anerima rizki kedhik ||
  23. || Wonten carita winuwus | angsal saking kangjeng nabi | ing benjang dina kiyamat | sekathane masjid iki | dentukaken punika | kadi ordain kathahneki ||
  24. || Aradin sedaya iku | saking inten pethak adi | suwiwinipun punika | jumrut inten ijem adi | elaripun suteadiwangga | lawan sutra alus adi ||
  25. || Kang sami adan sedarum | anitih ing sirahneki | lan kang sami dadi iman | anitih buntut ing wuri | kang sami nitih sedaya | anitih ana ing gigir ||
  26. || Anulya miner sedarum | aning luhure wot sirathal iki | kadi upamane mega | katut miber dening angin | kang ana ing ngawang-awang | kebate ibere iki ||
  27. || Sing sapa siyam uwong iku | sedaya dina puniki | ing sasi Rejeb punika | sinung inten elare adi | nalika ngambah wot sirathal | kebat ibere lir thathit ||

PUPUH XIV
DHANDHANGGULA

  1. || Kang wiraos ing dalem puniki | wong tetiga kang mukmin sedaya | ngambah wot sirathal lampahe | tur sareng lampahipun | kawarnaa ingkang satunggil | bektinipun ing dunya | rasa dzikir iku | satunggal malih kang kocapa | bektinipun kala aning dunya iki | Senen Kamis asiyam ||
  2. || Kawarnaa kang satunggal malih | bektinipun kala aning dunya | rosa maca Kuran mangke | sareng tamat iku | tigang dasa jiz puniki | apike ing wewaosan | ing Kuran puniku | amiraos kang satunggal | ingkang rosa siyam Senen Kamis | dhateng kancane sedaya ||@@
  3. || Sanak kanca dipun ngati-ati | sami dipun prayitna sedaya | dika lumampah uwot sirathal mangke | kerana uwot puniku | boten panten angguneki | menawi dika tiba | aning neraka agung | amiraos kang satunggal | ingkang rosa dzikir ing dunya iki | kawula datan amirsa||
  4. || Mila kawula boten mirsa aningali | lamun ngambah dhumateng uwot sirathal | katinggal langkung angenge | ingkang satunggal amuwus | ingkang rosa ing dunya iki | amaos Kuran sedaya | sareng tamat iku | punika anulya angucap | dening kawula boten aningali | dhumateng uwot sirathal ||
  5. || Wonten ingkang amiraos malih | dhumateng sekathane wong ngalim sedaya | nalika aning dunyane | ngilmu sedaya iku | mapan maksih dipun lampahi | ganjarane | ing akherat iku | dating ngambah wot sirathal | lan malihe mapan boten aningali | wau ing uwot sirathal ||
  6. || Wonten malih caritane ing tulis | lamun ngambah saluhure wot sirathal | kadi kilat wau kebate | sabab ing dunya iku | saben Ahad punika muji | amaos isya anjalna | ping tiga puniku | saderenge turu ika | sawuse turu iki nenggih tunggal papat ||

PUPUH XV
S  I  N  O  M

  1. || Sedaya sami miarsa | sepuh anem jalu estri | sami luwe kasatan | seksana nulya amanggih |telaga isi warih | anenggih telaga puniku | lelampahe sewu warsa | jembare telaga iki | tiningalan saking telaga kalkosyar ||
  2. || Sedaya pan ngunjuk toya | kang wonten kadi cumawis | kendhi sawi langane lintang | kang aning ngandhap iki | toyanipun aputih | langkung manis saking madu | gandane amrik angambar | sekehe wong leng-leng aningali | ingkang ngunjuk lupine ical sedaya ||
  3. || Lare ejim lare manusa | tan kenging sakit prihatin | senajan kapir bapa biyung | Cina Welanda wong Bali | kang pejah maksih alit | sedaya sederenge baleg iku | pan dadi puniku angawula | maring Yang Kang Mahasuci | langkung suka manahe lare sedaya ||
  4. || Sami asiram telaga | sepuh anem jalu estri | ical sakite sedaya | waluya anom apekik | kadi emas sinangling | datan wonten celanipun | lajeng cahyane gumilang | baguse anglangkungi | padhangipun kadya cahyane rembulan ||
  5. || Apan kadi cahyane rembulan | nalika purnama sidik | idzkala mangka angandika | sapa wau kanjeng nabi | sing sapa amiarsa malih | lailahailallahu iku | anulya permana sidik ika | anulya Allah aris | agadhah parintah nulya dhawuhana ||

PUPUH XVI
KINANTHI

  1. || Dhateng malaikat iku | pitung leksa kathaneki | kang kinon sami angarak dhateng wong iki | nalika manjing | kelawan sihing Kang Suci ||
  2. || Kitab Daka amitutur | sedaya tetiyang mukmin | sampun ngambah wot sirathal | anulya siram tumuli | ing telaga maradika | ing kene siram wong iki ||
  3. || Nulya murub cahyanipun | lir wulan purnama sidik | anulya ngunjuk toya ing kendhi ika | sampun eca manahe iki | anulya ngunjuk sedaya | dhumateng lawang suwargi ||
  4. || Sami ambagekaken sedarum | katurun sampeyan Gusti | kelangkung brangta ingwang | dhateng sampeyan Sang Aji | kelangkung ngarsa-arsa | serawuhe sampeyan Gusti ||
  5. || Suwawi kawula aturi puniku | malebet ing dalem puri | kawula darma katitipan | sampeyan kang andarbeni | senajan raga kawula | sampeyan kang andarbeni ||
  6. || Sampun malebet suwang ratu | acanthi lan widadari | ing dalem wisma suwarga | anenggih wismane pribadi | wisma kang alit punika | sangalam dunya puniki ||
  7. || Kitab satus apitutur | lampahe sang nata aji | langkung suka jajagedan | lampahe sang para aji | pan sarwi kelanthen asta | lawan para widadari ||
  8. Caritane Kitab Daka iku | kekayon suwarga binjing | pucukipun aning ngandhap | barang tinilar aning nginggil | nalika katut kanginan | pada muni kadi riris ||
  9. || Lamun kekayon kencana iku | godhonge selaka putih | lamun uwit selaka pethak | godhonge kencana adi | kuweni nangka lan duren | kepudhung langsep lan manggis ||
  10. || Ambane lawang puniki | lelampahan sangang warsi | luhure lawang suwarga | kathahe lawang puniki | pepitu lawang punika | apan iku kang luwih adi ||
  11. || Lawang jaba puniku | dhumateng lawang kekalih | anenggih limang atus warsa | saking kori kaping kalih | dhumateng lawang ping tiga | lelampahan gangsal atus warsa ||
  12. || Saking lawang kaping tiga iku | dhumateng kaping pat malih | tunggal gangsal atus warsa | lawang cinarita malih | saking lawang kaping sekawan | miwah ping limane iki ||
  13. || Lelampahan tunggal puniku | gangsal atus warsa nenggih | saking kori kaping lima | maring kaping nem iki | tunggal gangsal atus warsa | saking kori ping nem iki ||
  14. || Saking kaping nem puniku | saking pitune malih | tunggal lawang gangsal atus warsa | saking kori ingkang jawi | dhumateng ing plataran | langkung tigang atus warsi ||
  15. || Elete dalem puniku | anenggih sakurebe langit | lawan salumahe jagat | kang den kandha kembange iki | pagere pepitu ika | sedaya pan luwih adi ||

PUPUH XVII
S  I  N  O  M

  1. || Wonten pandhita ngandika | makdinil maklum puniki | elete dalem suwarga | sangalam dunya puniki | yata emas kang kinardi | selaka pepayanipun | kitab Daka acarita || pagere dalem suwargi | lapis pitu kembange awarna-warna || @@
  2. || Pagere ing jawi apelak | selaka ingkang kinardi | pagere ping kalih kencana | kinarya pinggire | kaping tiganeki | anenggih jene puniku | maring pagere ping sekawan | sasatya kang luwih adi | kaping lima pagere kang luwih mulya ||
  3. || Pager kaping nem kocapa | inten jumanten kinardi | kaping pitu pagere cahya | gumilang-gilang cahyane esri | bebaturipun jeni | kelawan selaka puniku | kerikilipun sasutya | lan mirah retna widuri | pepethetan kebon emas lan selaka ||
  4. || Wonten ing dalem suwarga | kaliyan lan widadari | carita saking Kuran | surah Baka kang warti | kadarbe sang nata mukmin | aning suwarga iku | kaliyan para garwa | kang sinucekaken bekti | saking putrid boten kersa sedaya ||
  5. || Sabab wong mukmin satunggal | dadi ratu sedayeki | surat wakingah acarita | pinarak sang nata mukmin | atas aning luhure kandhil | kang tatanan bagus-bagus | lane man kencana | kalawan sasutya adi | kang kinarya tatanan kandhil punika ||
  6. || Hale sami leleyahan | sekathahe sang nata mukmin | aning ing kandhil kencana | pan sami jajar alinggih | arsa angoras pipi | kelawan kang garwanipun | langsung suka ing manah | sang nata lawan sang putrid | ageguyon sekehe para garwa ||
  7. || Angambung wau sang nata | garwa sami angladeni | tan tebih kang punakawan | ingkang angladeni bukti | atas lare cilik | jalu estri warnanipun | tan megat ageng sepah | sekathahe lare cilik | wrananira sami ngambil inggal-inggal ||
  8. || Pan samya ngambil wewedhah | lawan pring cilik-cilik | para ayu tan ngunjuk toya | sajeng mila kadya warik | saengga sumberan mili | dhateng wonten kendelipun | yata sajeng sedaya | selama-lama dumadi | datan weruh kang ngunjuk sejeng sedaya ||
  9. || Tumrap dhumateng sang nata | pangunjuke sajeng iki | amantun icale angelak | boten kantuk sajeng maling | ingkang nginum iki | sajeng ing dunya puniku | sami wuru sedaya | sami pusing anyakiti | malah supe dhumateng purwa duksina ||
  10. || Lan pinten kinten wuwuhana | nyaosana sang nata mukmin | sasenengan sedaya | saben-saben nulya amanggih | lan cinarita malih | duking karsata puniku | sapraptane adhahar | sedaya sampun cumawis | sekarane datan wonten malang-malanga ||
  11. || Kalangenan ing suwarga | tan kena ing nguthik-ngutik | angandhika Gusti Allah | eh sakehe mukmin | kang ana ing suwarga | padha enakna mapan lan turu | kangjeng rasul matur sigra | inggih Gusti Pangeran mami | ingkang karya sekehe suwarga neraka ||

Sampun tamat caritane kabar kiyamat punika.

@@@

Sumber :

Gouw-eigendom
Bebuka : Kabar Kiamat,
Afschriften naar een kropak van het Bataviaan Genootschap van K en W (voorlopig no. 369) gedeelte. En vooinen van een overzicht van den inhoud dag Raden Pandji Soerjawidjaja, Batavia 1867.

Terjemahan :

Milik pribadi
Pembukaan : Kabar Kiamat,
Naskah ini disalin dari sebuah kropak milik Bataviaas genootschap van Kuncten en Wetenschappen  (nomor sementara 369), dan ikhtisar dari isi naskah ini disampaikan oelh Raden Pandji Soerjwidjaja, di Batavia, tahun 1867.

%d bloggers like this: