alangalangkumitir

Javanese Manuscripts

SERAT WARNI-WARNI (Bhs Indonesia)


PUPUH I
KINANTHI

  1. || Tembang kinanthi pembukaan kidung guban sri raja Surakarta ke-9 yang sedang berkuasa yang termasyhur baik dalam hal gamelan, maupun kidung petuah ||
  2. || Gubahan kidung ini hanya sekedar penyembuh duka lara pelega hati, hati yang sedang jengkel mengatasi kesedihan dan pasrah kepada Tuhan ||
  3. || Terbukanya hati merupakan bunga dari keutamaan, tanamlah di dalam sanubari,  jangan sampai hati terlanjur gelisah, telitilah dengan cermat dalam mencontoh hati para orang yang berbudi utama ||
  4. || Sifat utama seorang penguasa pemerintah dapat dilihat jika setiap waktu pemerintahan dan segala isinya dalam keadaan selamat, bebas  dari ancaman kejahatan, pemerintahan berjalan dengan tenang ||
  5. || Semua gangguan, perusuh dapat diberatas, daerahnya aman tentram, rakyatnya merasa damai, negara yang tentram dan damai ini adalah suatu idam-idaman ||
  6. || Negara indah dan harum,| hendaknya semua orang hidup rukun saling bersahabat jangan ada yang bermusuhan dan selalu mengutamakan kedamaian ||
  7. || Akhirnya keadaan ini juga menjelma di dalam keluarga, anak dan cucu, riwayat yang baik ini jangan sampai dilupakan, pengorbanan akan mendapatkan anugerah, hati yang terang menyebabkan suburnya segala sesuatu yang ditanam di bumi ini ||
  8. || Rakyat kecil dapat hidup dengan enak, sesuatunya diterima dengan senang hati, patuh terhadap perintah tanpa membantah demi ketentraman Negara ||
  9. || Perbuatan sehari-hari wajar dan sebenarnya, utamanya adalah persatuan dan kebulatan tekad bersama, biasakanlah hidup berkasih-kasihan sesamanya ||
  10. || Berkasih-kasihan si antara seluruh umat itu cita­cita segenap isi negeri, hal ini memang sudah dicanangkan oleh orang-orang jawa keturunan pertapa kekasih dewa ||
  11. || Derajad itu selalu diharapkan bagaikan jatuhnya hujan pada musim penghujan, dunia ingin mencapai kemustikaannya, sedangkan kemustikaan dunia itu dicita-citakan manusia yang benar-benar mengetahui mustika di bumi ini ||
  12. || Dunia semesta ini condong kepada yang menjadi raja di pulau jawa yang selalu memuji dan mengagung-agungkan Tuhan sesuai dengan kesucian yang selalu dikehendaki ||
  13. || Keinginan hatinya adalah menyelamatkan seluruh penghuni bumi ini, sebelumnya hal ini sudah dipertimbangkan masak-masak agar melaksanakan keinginan hatinya itu ||
  14. || Manusia yang selalu ingat kepada perbuatan yang baik di dunia ini hendaknya jangan lalai dan merenungkan kesempurnaan ||
  15. || Jadilah manusia yang unggul yang dapat menghimpun manusia-manusia yang baik serta mengetahui pemerintahan yang baik, keinginan demikian hendaklah lestari ||
  16. || Setelah tumbuh, bertambah pengetahuannya secara luas yang menguasai seluruh daerah maka berdasarkan riwayat nabi kita rasulullah, insya Allah Tuhan akan memberi pertolongan kepada umat yang memeluk agama dengan baik ||
  17. || Umat yang akan memeluk agama yang utama, pertimbangkan dengan masak-masak jangan sampai keliru dan tergesa-gesa bertindak dalam menyelesaikan keruwetan hati ||
  18. || Kecermatan terhadap segala pengetahuan hendaknya mencontoh cara-cara orang pandai, carilah petunjuk dalam sastra, sastra yang mengandung hal-hal yang gaib dan rahsia, biasanya dapat diketahui juga, baik yang bersifat jelek, sedang sampai kepada yang utama ||
  19. || Sikap orang yang baik adalah sikap yang penuh pertimbangan terhadap segala sesuatu dikehendaki, cara mencapainya harus disertai kesabaran, dengan demikian cita-cita itu pasti akan tercapai ||
  20. || Jika segala sesuatu itu dilakukan dengan serba tergesa, maka tujuan yang dikehendaki tidak akan tercapai, bahkan hanya akan memperoleh kesusahan, orang tua tiada menaruh kasihan ||
  21. || Oleh sebab itu hendaknya para muda menjauhkan diri dari segala yang dapat berakibat jelek, lebih baik kita menurut kehendak saudara tua yang selalu memberi nasihat baik jangan lupa, kita harus ingat kepada nasihat-nasihat yang baik itu ||
  22. || Biasakan bergaul dengan orang-orang yang berbudi luhur agar keluhuran budinya itu mempengaruhi kita, dengan demikianlah akan turun wahyu “jali” yang sesuai dengan keinginan jiwa kita, hayatilah dengan seksama, jangan sampai berselisih antara tujuan yang hendak kita capai dengan getaran jiwa kita ||
  23. || Lahir dan batin jangan sampai berselisih ya rabil rahmanirakhim, perbuatan yang paling mulia itu adalah perbuatan “tana jul tarki” hai anakku, jangan sampai kau tergelincir, kau harus dapat melihat dengan jelas tanpa sesuatu yang menutupinya ||
  24. || Ingat-ingatlah bahwa perbuatan yang dilakukan tanpa kesadaran, perbuatan yang membingungkan akan menutup mata kita, tanpa jarak sejengkal pun karena Ijajil tidak mau bergerak dan tetap bercokol dalam hati ||
  25. || Cobalah terus – menerus secara langsung meneliti hati yang tidak teguh, lakukanlah ini dengan sabar dan jangan patah semangat, jika belum berhasil pelajarilah tujuan yang merusak budi itu ||
  26. || Orang-orang budiman yang tidak tergerak oleh bujukan iblis, benar-benar merupakan anugerah, ilahi laliyul a1im masuk kedalam golongan orang mukmin ||
  27. || Karena niat yang merupakan benih, dan kehendak Allah yang menerima, menjadi isi dunia semesta yang terbentang dan serba lengkap, apa yang dideritanya, manusia hanya menerima atau menjalani ||
  28. || Segala perbuatan harus diingat-ingat, jangan berhenti di tengah jalan, ibarat pertunjukan wayang kulit yang belum sampai subuh tiba, dalang sudah pergi tanpa pamit, belencong (lampu) berkobar-kob ar menjilat layar pertunjukan ||
  29. || Alat-alat pertunjukan porak-poranda, tuan rumah ikut pergi, niyaga (penabuh gamelan) tidak terurus, suasana rumah sunyi sepi tamu-tamu pulang, tujuan semula kabur ||
  30. || Demikianlah ibarat kehidupan manusia, mata harus awas lahir batin, jangan khawatir, dan bersikaplah rendah diri ||
  31. || Telah lama penggubah menulis dan merasa payah, menulis setiap hari selagi tugas negara melanjutkan gubahan ini ||
  32. || Hari selasa, tanggal 21 Muharam, wuku ringgit windu adi dengan sengkala tata muluk ngesti aji (1895) ||

PUPUH II
DHANDHANGGULA

  1. || Gubahan ini ditujukan kepada anak-istri sekedar melanjutkan cerita agar pada kemudian hari dapat digunakan sebagai pelajaran bagi mereka yang berminat mengingat-ingat petuah orang-orang tua yang berguna, ini juga dapat digunakan sebagai pengikat hati, khususnya hati yang tidak tahu tata hidup yang utama ||
  2. || Sarana bagi mereka yang ingin hidup baik, dan yang tak pernah diajarkan oleh orang tuanya, ajaran ini sangat bermanfaat direnungkan, pengorbanan yang paling utama adalah seperti cara-cara orang mengabdi pada orang besar (pimpinan), janganlah merasa dirinya besar, bertindaklah secara tepat dalam melaksanakan tugas negara, tenang, tabah ||
  3. || Hati tidak goyah karena godaan wanita, kata-kata (laporan) bawahan yang tiada tentu, harus benar­benar ditimbang, jangan suka berselisih dengan sesama, segala tingkah laku harus yang menarik perhatian orang lain, hati harus berani, perangai tidak kasar, jangan mudah tersinggung dan berbicaralah dengan lemah-lembut ||
  4. || Tingkah laku yang kurang baik tidak ada gunanya dilakukan, hendaknya suka bertapa, tetapi bukan bertapa di puncak gunung, karena di sana sunyi, tidak ada gunanya sendirian dan mengantuk setengah tidur dan bermimpi baik, padaha1 sebenarnya tidak terjadi apa-apa, yang terjadi dalam mimpi itu hanyalah pengaruh pikiran saja, suatu keinginan yang terdapat dalam hati sendiri itulah yang muncul dalam mimpi tersebut ||
  5. || Lain halnya dengan bertapa di tengah-tengah kehidupan ramai, tahu sopan-santun pergaulan, tingkah-lakunya tidak keliru, bahkan selalu dekat dengan rajanya,  raja itu sesungguhnya adalah wakil Tuhan, yang berkuasa menyelamatkan umatnya, turutlah orang yang menulis gubahan ini, orang yang pemah mengalaminya ||
  6. 6|| Ketika terjadi pergantian raja, meskipun banyak sekali rintangannya, namun akhirnya (penulis gubahan ini) dapat juga menjadi raja, karena hati tetap tidak tergoyahkan, hanya selalu taat ada perintah orang tua, dan akhirnyapun tidak meleset dari timangan orang tua oleh karena  itu, hendaknya taatlah selalu kepada orang tua, sekali­kali jangan berani membantah, penulis pernah mengalaminya ||
  7. || Kini penulis ibarat matahari sudah waktu asar, telah jauh dari saat terbitnya, andaikan masih bisa hidup bersama-sama anak cucu, namun aral yang akan melintang tak dapat diketahui oleh manusia, dan penulis sungguh-sungguh tak akan menolak kehendak Tuhan ||
  8. || Apabila masih tetap sehat lahir batin penulis masih dapat lebih lama lagi hidup di dunia ini bersama-sama anak cucu, bila semuanya itu dapat terlaksana, benar-benar akan merupakan suatu kebahagiaan, meski demikian, jika sampai waktunya, penulis hanya bermohon semoga dapat meninggalkan amal bakti kepada Negara ||
  9. || Sesungguhnya seseorang yang ditakdirkan menjadi penguasa negara mempunyai tugas yang paling rumit dan sulit, sampai-sampai tak tertidur pada malam hari, hendak makan pun selalu ragu, kalau pun jadi makan, selama makan, banyak yang dipikirkan, laporan dari yang paling jelek sampai dengan yang paling baik harus ditangani dengan bermacam-macam cara, sebanyak-banyak manusia, ada juga yang minta tanah, padahal tanah itu dapat menimbulkan bermacam-macam tipu muslihat ||
  10. || Setiap muslihat yang datang dari pihak lain harus dapat diketahui, supaya tidak bertentangan dengan kehendak diri sendiri, untuk bisa mendapat tempat, orang harus mengetahui watak tiap-tiap orang dan selalu berhati-hati agar tidak keliru, oleh karena golongan dalam masyarakat itu beraneka ragam, maka orang harus dapat berbicara secara tepat dan lemah-lembut, tetapi jangan sampai kena tulah (kemat) ||
  11. || Yang dimaksud dengan tulah atau kemat adalah segala sesuatu yang enak dimakan, dan enak pula dilihat, semuanya itu dapat membawa kecelakaan dan kesukaran untuk selama-lamanya, adapun pengetahuan yang paling utama adalah mengetahui saat-saat yang sukar, wahai, anakku yang akan mengganti raja, telitilah segala sesuatunya agar semuanya menjadi teratur ||
  12. || Yang terutama, janganlah terpengaruh oleh bahasa yang manis, lain halnya dengan manisnya rabbil alamin (Tuhan) oleh karena itu, peganglah teguh cita-cita, jangan sampai lepas, waspadalah terhadap gejala-gejala yang samar-sama,| tenangkanlah pikiran, jangan sampai goyah ||
  13. || Hai, anakku yang akan mengganti raja, janganlah selalu mengutamakan harta dan busana, namun jangan meremehkan uang dan busana, karena keduanya itu merupakan sarana dalam kehidupan ramai ini, tanpa ada keduanya itu manusia akan menjadi hina, jadilah manusia yang besar, banyak kawan dan banyak harta, kita dapat meminta bantuan apa saja kepada kawan-kawan yang setia ||
  14. || Jika rakyat datang menghadap, hendaknya waspada dan tahu siapa mereka itu, serta apakah pekerjaan mereka itu, jangan segera meminta tanggungjawab mengenai tugas kewajiban mereka, dan rakyat yang pikirannya sedang ruwet tentu akan berani melawan perintah, namun, orang besar jangan kurang akal, bertindaklah kau perlu secara keras, ataupun secara halus sesuai dengan keinginan mereka masing-masing, dengan mengatasi kejahatan dan ketidak jujuran ||
  15. || Telah diketahui pada zaman kini, banyak orang pandai bahasa asing, dan bahasa sendiri menjadi terlantar, sudah lumrah bagi orang yang sedang mencari ilmu harus bertindak cermat serta bertekad yang mapan, jangan khawatir, jadikanlah pengetahuan asing itu sebagai penghias negara sendiri, tak usah diserapkan ke dalam sanubari ||
  16. || Pengaruh kebudayaan harus menambah kesentosaan budi, dan sebaik-baiknya disertai pertimbangan-pertimbangan yang seksama, disusun dengan pasti, meraka yang beroleh budi, budi baiklah yang akan menjadi tanda perilaku yang baik, yang mendapat tugas negara, yang menjadi raja, tiada sempat tidur nyenyak, selalu meneliti tugas kewajibannya, kata-katanya pun enak didengar ||

PUPUH III
M  I  J  I  L

  1. || Pandangan ajaran yang telah dibicarakan di muka, penulis berikan sebagai nasihat bukan karena penulis merasa kelebihan ilmu melainkan dipaksa oleh suatu kewajiban ||
  2. || Memang sudah banyak ajaran nabi dan para raja yang termaktub dalam kitab jawa – arab, namun hal itu rasanya perlu ditambah sebagai nasihat bagi anak cucu ||
  3. || Sesungguhnya nasihat ini hanya tertuju kepada keluarga sendiri, bukan untuk keluarga orang lain berbeda halnya dengan nasihat nabi, nasihat itu tentu akan di turut dan ditaati oleh seluruh umat manusia di dunia ini ||
  4. || Adapun yang sangat diagung-agungkan adalah orang yang dalam hidupnya tidak suka berdusta,  tiada seorangpun di dunia ini yang senang di bohongi, meski diri sendiri sekalipunb||
  5. || Rasanya ingin juga menghajar diri sendiri apabila orang yang, berbuat bohong pasti hati merasa sakit, lebih-lebih Tuhan pasti juga tidak berkenan ||
  6. || Sesungguhnya Tuhan akan mengabulkan prmohonan kita yang sungguh-sungguh asalkan permohonan itu selaras dengan keadaan dirinya ||
  7. || Adapun wujud pertimbangan permohonan berada pada Tuhan, itu ibarat seekor nyamuk yang bermohon pahala yang sebesar gajah, pasti Tuhan tidak akan mengabulkannya karena tubuh nyamuk yang kecil itu tidak mungkin mampu menampungnya ||
  8. || Jika seseorang itu keturunan pegawai, hendaknya jangan sering pergi ke hutan agar tjdak – menjadi seekor kera, sebaiknya mengabdi keada raja dan berlakulah jujur dan teliti ||
  9. || Wahyu itu tidak akan jatuh kepada orang yang jauh dan yang dibenci melainkan akan jatuh kepada orang yang selalu dikasihi oleh sesama oleh sebab itu orang yang mengabdi itu harus berusaha selalu dikasihi ||
  10. || Meski orang itu mengabdi kepada orang tua sendiri, jika tidak patuh kepada orang tuanya akan mengalami sesuatu yang tidak baik pada kemudian hari, jadi yang sebaik-baiknya adalah orang yang selalu dikasihi, segala keinginannya akan terlaksana ||
  11. || Sebenarnya sudah banyak contoh sejak zaman dahulu, arwah raja yang tidak mendapat berkat dari orang tuanya akan mengalami berbagai kesukaran, oleh karena itu orang harus selalu berbakti kepada rajanya ||
  12. || Meskipun itu bukan raja kita sendiri (raja negara asing) kita harus menghormatinya agar kita mendapat berkat serta wahyunya, raja itu adalah mustika bumi sedangkan yang empunya bumi ini tak lain adalah ya rabbil rahman (Tuhan) ||
  13. || Limpahkan berkat raja itu kepada orang lain, sebab pada akhirnya kebahagiaan itu akan datang dengan sendirinya dan melimpah sampai kepada anak cucu,| janganlah tergelincir oleh kesenangan, hingga lupa akan segala-galanya ||
  14. || Wahai anak-anakku, carilah keselamatan, sudah lumrah ada manusia yang dapat mencapai cita­ itanya dan ada juga yang tidak terlaksana keinginannya, semua itu disebabkan oleh dirinya sendiri yang tidak melihat dunia sekelilingnya ||
  15. || Orang yang memaksakan dirinya pergi pada waktu hujan menjelang matahari terbenam pasti akan basah kuyub, ibarat seorang pemalas yang tubuhnya kotor, bibirnya biru, or ng manyangkanya pemadat ||
  16. || Adapun seorang penjudi yang kalah, bisa disangka orang sebagai pencuri, sebaliknya orang selalu dekat dengan kitab akan disangka orang makdum ||
  17. || Yang pasti tingkah laku manusia itu bisa diliihat dan ditandai ciri-cirinya, yang jujur dan berdusta hati dapat dilihat lewat wirasat sinar matanya, namun tidak setiap orang dapat melihat wirasat semacam itu ||
  18. || Yang dapat melihat hanyalah orang yang tajam perasaannya dan terbuka hatinya terhadap segala sesuatu yang gaib serta yang ingat akan cerita Imam Safi’i zaman dahulu, namun itu merupakan pekerjaan yang sangat sulit ||

PUPUH IV
G A M B U H

  1. || Orang yang tahu ilmu wasiat secara langsung dapat mengetahui sesuatu yang dikehendaki seseorang secara jelas karena pada tubuhnya ada tanda-tanda yang sesuai dengan yang dikehendaki oleh orang tersebut ||
  2. || Seluruh perbuatan Imam Syafi’i telah tersusun dalam kitab yang tidak perlu diragukan dan telah mendapat izin dari kanjeng rasul dan para sahabatnya ||
  3. || Yang Maha Luhur lebih berkuasa dari pada suatu tebakan atau sangkaan misalnya, orang burik-burik wajahnya tentulah jelek rupanya namun hatinya jujur ||
  4. || Hal ini disebabkan oleh karena manusia itu dapat meneliti dirinya, jika dirinya merasa tidak baik ia akan berusaha memperbaikinya. Lain halnya hewan, jika ia mempunyai ciri-ciri yang jelek tidak mungkin akan dapat berubah ||
  5. || Hewan tidak dapat merubah ciri-cirinya yang jelek karena hewan tidak mempunyai akal budi sedangkan manusia itu makhluk Tuhan yang paling tinggi yang mungkin dapat melebur sifat­sifat jahatnya ||
  6. || Wahai, anak-anakku, cucu-cucuku, telitilah bayang-bayang badanmu agar dapat menghilangkan jeleknya dan mungkin bekas-bekasnya pun tidak akan tampak karena berkat raja ||
  7. || Kemujuran orang dan berkat raja itu saling mempengaruhi. Tidaklah berbeda dengan kawula dan gusti. Sesungguhnya jasad merupakan tabir ilahi ||
  8. || Tuhan itu berkuasa atas hidup manusia. Yang terang melenyapkan gelap, yang panas menghilangkan yang dingin. Demikianlah martabat manusia itu ||

PUPUH V
S I N O M

  1. || Sudahlah menjadi watak orang muda, kemauan keras , kurang hati-hati, suka bergrombol kian kemari, banyak mengeluarkan tenaga tanpa hasil. Yang paling disenangi itulah yang paling diutamakan, menjauhi orang tua karena takut dimarahi, takut dimarahi karena merasa belum dapat menuruti kehendak orang tua ||
  2.  || Ayah ibu berkehendak mengajarkan anaknya gar menjadi orang utama, namun telah menjadi adat anak muda jika diberi pelajaran yang baik dirasakan sebagai dimarahi, paling senang jika dibiarkan melakukan perbuatan yang tidak baik, meski demikian ada juga anak muda yang mau menurut ajaran ayah-ibu ||
  3. || Hal seperti itu sesungguhnya jarang terjadi, karena takdir untuk menjadi orang baik itu seperti hanya dalam cerita zaman dahulu, Ibrahim serta putranya, Ismail yang patuh kepada ayahnya, hendak dibunuh, Ismail tidak menolak perintah itu, apalagi jika diarahkan pada keutamaan ||
  4. || Orang yang paling mujur adalah hanya Nabi Ibrahim dan Ismail serta Ishak anaknya sangat taat kepada Tuhan, mereka yang menurunkan para raja sampai pada zaman akhir kelak baik di Ajam maupun di Arab dan sebagian orang alim, semua itu merupakan keturunan Ismail dan Ishak ||
  5. || Pada zaman Majapahit sampai Brawijaya yang terakhir yang pantas menjadi teladan adal ah bagaimana sikap orang tua terhadap anakny Raden Patah yang dicalonkan menjadi raja, Raden Patah masuk Islam dan bersikap sok mengajar ayahnya ||
  6. || Perbuatan anak mengajar orang tua adalah kliru, raja tidak senang dan pergi tanpa ragu-ragu, rasanya raja itu benci kepada putranya, ternyata setelah menjadi raja terjadilah hal-hal yang tidak baik, tidak seperti yang dialami oleh Bondan Kejawen ||
  7. || Ketika masih muda bercampur dengan orang desa, sang raja sangat lega hatinya ketika ia mau melaksanakan perintah ayahnya untuk bertapa,| sejak awal hingga akhir ia selalu dikasihi ra a karena patuhnya, mujur karena terus-menerus mendapat wahyu serta karunianya bertambah­ tambah, ia menerima kewibawaan tanah Jawa ||
  8. || Sampai kapan pun tiada berubah, keturunan Tarub ini selalu dikasihi oleh raja, ia menjadi raja di tanah Jawa dan tersebar di seluruh bumi, orang yang taat kepada kehendak orang tua, lagipula seorang raja, patutlah menjadi contoh yang harus selalu diingan dan dimuliakan, masih banyak contoh-contoh yang baik maupun yang jelek ||
  9. || Teladan bagi orang yang hendak mengabdi haruslah seperti Aryo Brotoseno, ia mantap dan berani mati melakukan perintah gurunya, meskipun ajaran gurunya itu tidak benar|, agar sena lenyap dari muka bumi ini, gurunya memerintahkan sena untuk masuk ke dalam pusat bumi, meski demikian Sena tidak mati , malah mendapat karunia dari dewa ||
  10. || Contoh seorang petapa yang dikabulkan permohonannya karena ia mau memberikan harta, tenaga, serta makanan kepada orang lain, berusaha menyenangkan hati orang lain, adalah orang yang bemama singaprana, demang dari desa Sima yang kemudian menurunkan raja-ra  di Surakarta ||
  11. || Apalagi keturunan raja, jika banyak berkorban, suka memberi dan sabar, tentu akan selalu dekat dengan wahyu seperti raja yang ke – 8, mengantukpun dapat memperoleh kerjaan yang berat jika syarat-syarat yang berat yaitu tidak berhubungan dengan wanita.dapat dipenuhi, penulis pun tidak sanggup untuk melaksanakan perintah yang sedemikian itu ||
  12. || Periulis hanya bermohon dapat hidup panjang umur, hati terang, mata awas, gembira dapat melaksanakan sembarang pekerjaan, pantas berpakaian yang baik, serta tidak terganggu oleh sipapun dalam melaksanakan semua kehendaknya, semua itu hendaknya dapat di alami oleh anak cucu, hanya satu hal saja yang tidak dapat dilaksanakan oleh penulis yaitu beristri banyak  ||
  13. || Tambah lagi kewajiban para muda, dekatlah dengan orang pandai yang bijaksana agar dapat meluberkan pengetahuannya, yang perlu diketahui adalah tindak-tanduk yang terpuji yang berkaitan dengan tata kerja pemerintahan negeri yang sebaik-baiknya, tidak ketinggalan pula adalah cara-cara untuk memperoleh dan bergaul dengan kawan atau sahabat ||
  14. || Cara bersahabat dengan semua bangsa sangat baik diketahui baik secara lahiriah maupun batinniah, semua itu hendaknya diteliti secara cermat menurut jenis- jenisnya|| jangan sampai ilmu pengetahuan yang satu dengan yang lain itu campur aduk sebab jika demikian setelah pengetahuan-pengetahuan itu dapat dalam dirinya pasti tidak akan terjadi pertentangan satu dengan yang lain ||
  15.  || Yang kita harapkan adalah keselamatan, oleh sebab itu kita harus menghormati banyak orang tanpa pilih-pilih dan tidak mencemooh sesamanya, semuanya merasa satu hati dan berkenan, semua dilayani dengan ikhlas hati seolah-olah bau harum yang bertebaran merembes kedalam sanubari setiap orang, seluruh manusia sejagat||
  16. || Bagaikan harumnya bunga semerbak memenuhi bumi, sedap menyentuh hidung manusia yang mendorong para muda yang mencari ilmu yang luhur, diharapkan menjadi penghias negara sehingga negara menjadi makmur dan sejahtera selama-lamanya ||

PUPUH VI
P O C U N G

  1. || Jangan lancang dalam mengabdi kepada pembesar, dan dalam bersahabat, jika engkau mendapat kedudukan, pandai-pandailah menyenangkan hati kawan ||
  2. Pada zaman dahulu ada seorang Sri Baginda keempat bernama Bagus Semail yang sangat dikasihi oleh sang raja ||
  3. || Pengorbanan Mail itu sangat baik sekali karena itu raja sangat dikasihi kepadanya dan kemudian di angkat menjadi opsir Jayengsastra dengan nama baru Rahaden Jayengmarjaya ||
  4. || Tingkah lakunya yang baik makin bertambah lagi sehingga akhimya ia di angkat menjadi nayaka tengen keparak ||
  5. || Dengan jabatan yang baru itu di berikan nama baru Tumenggung Sasrawi Jaya, ia semakin tahu tugas-tugasnya dan pandai sekali menjaga Negara, kebetulan ada bencana yang ditimbulkan oleh seorang patih ||
  6. || Patih itu bernama Mangunpraja, ia sangat pandai, sakti, gagah perkasa, teguh hati dan pemberani.
  7. || Pada suatu hari Rahaden Sasrawijaya diperintahkan untuk menahan seorang patih yang membangkang, ia siap melaksanakan tugas tersebut, | patih tersebut tidak biasa berbuat apa-apa sebab Sasrawijaya tersebut dapat melaksanafkan perintah Raja ||
  8. || Meski sang patih itu adalah bapaknya sendiri, Sasrawijaya tidak segan – segan untuk menindaknya, dengan kejadian itu ia lebih dikasihi raj a, dan pada akhirnya Sasrawijaya menggantikan kedudukan ayahnya menjadi Patih ||
  9. || Selama empat puluh tahun ia menjadi patih, sangat termasyur kemana-mana, ia dikenal dengan nama Dipati Sasradiningrat yang pandai menjalankan pemerintahan ||
  10. || Setelah ia meninggal, ia dimakamkan di lmogiri, dialah contoh seorang yang baik nasibnya karena jasa-jasanya yang terpuji, pantaslah dia sebagai teladan para muda ||
  11. || Peribahasa mengatakan “wong labet temen tinemu”, orang berbuat baik untuk orang lain akan mendapatkan sesuatu anugerah, dialah Kyai Sara yang tinggal di Manggaran sebuah dukuh di tepi laut ||
  12. || Ketika sang raja pergi kearah selatan Panaraga, setelah selesai mandi, Kyai Sara membantu menyeberangkan sang raja dengan putranya ||
  13. || Sebagai hadiah karena menolong sang raja itu, Kyai Sara diangkat menjadi Arya Mataram Adikusuma ||
  14. || Janganlah seperti Tumenggung Mangunoneng yang menipu sang nata, perbuatannya diketahui oleh Mangkubumi, tubuhnya dicincang diremuk dan dimakan anjing ||
  15. || Seperti halnya mantra (pegawai) yang jabatannya diperoleh dengan uang, biasanya tidak tahan lama, akhirnya ia kembali menjadi bujang tukang pikul ||
  16. || Apabila engkau ada di rumah, isilah waktu-waktu kosong dengan pekerjaan apa saja agar engkau tetap kerasan dan senang tinggal di rumah ||
  17. || Tanamlah apa sa ja yang ada manfaatnya dan ingatlah kepada rasulullah yang buah-buahan hasil kebunnya menjadi nafkah bagi anak istrinya ||
  18. || Kanjeng rasul yang menjadi pemimpin dunia masih mau menunaikan kewajiban pribadi, sedang panji klantung (tak punya kerja) masih tetap bermalas-malasan ||
  19. || Bagaimana mungkin ia mencapai cita-citanya? jika ada lowongan pekerjaan dari seorang pegawai yang bukan main rajinnya, ia ingin segera menggantikannya ||
  20. || Jika lamaran Si Panji Klantung itu tidak diterima, ia pulang sambil mengumpat-umpat, “aku ini masih saudaranya, mengapa lamaranku tidak diterima?” ||
  21. || Melihat tingkah laku yang sedemikian itu sang wahyu akan menjauhinya, oleh sebab itu hendaknya seseorang yang menginginka suatu jabatan itu harus sering menghadap pembesar ||
  22. || Juga orang itu harus menguasai tiga bahasa yaitu Jawa, Arab dan Belanda sebagai bekal mengbdi atau mencari pekerjaan, dengan demikian nanti tidak akan kebingungan pada saat melamar pekerjaan ||
  23. || Sekarang yang sangat dibutuhkan adalah orang­orang yang menguasai ketiga bahasa itu, lain dengan dahulu, pandangan selalu diarahkan kepada orang yang suka bertapa, meskipun bodoh tetapi petapa ||
  24. || Sebagai contoh adalah Bagus Gimba, peke sehari-harinya hanya berjalan-jalan,| ia tidak mungkin memiliki ilmu lahir dan batin, meski demikian banyak orang yang tertarik dan menjunjung- junjungnya ||

PUPUH VII
P A N G K U R

  1. || Jauhkan dirimu dari perbuatan-perbuatan yang hina, siapa tahu memperoleh keberuntungan, wahai pemuda rupawan, jika engkau mengabdi, hendaknya engkau mempertaruhkan jiwa-ragamu ||
  2. || Di waktu menghadap tingkah-lakumu harus luwes, dan duduklah dengan tenang, jangan pula tergesa-gesa pulang sebelum waktunya, jika ingin mengabdi kepada raja, hendaknya rajin berada di tempatnya ||
  3. || Bicaralah yang lemah-lembut, berserah diri kepada kehendak raja, perhatikanlah pandangan raja ||
  4. || Wahai muda rupawan, jika tak ada keperluan yang sangat penting, janganlah urungkan niatmu untuk menghadap, berpakaianlah sederhana supaya dapat berbuat dengan cekatan ||
  5. || Wahai muda rupawan, jika bangun tidur jangan kesiangan, lebih baik bangun subuh, jangan tidur pada waktu matahari terbenam, itu tidak baik ||
  6. || Wahai muda rupawan, lebih baik engkau bersholat, bersyukur kepada Tuhan yang memberi hidup kepadamu, jika berhalangan dalam bersholat, halangan tersebut harus setimbang dengan keperluanmu, dalam meninggalkan sholat tersebut hatimu jangan khawatir, ragu-ragu, pentingnya sholat akan menghilangkah keraguan ||
  7. || Saya akan mengulangi cerita, berbaktilah degan jujur kepada raja, dahulu ada demang dusun giyanti yang bernama Jayakartika dan demang di taji yang bernama Sutajaya, dia benar-benar berkorban serta bertapa dan berharap akan berkat raja ||
  8. || Sutajaya yang mempunyai anak perempuan yang sangat cantik diambil permaisuri oleh raja pakubuwana III. Inilah yang menurunkan satu raja Pakubuwana IV yang selanjutnya menurunkan raja-raja di Surakarta hingga kini ||

PUPUH VIII
MASKUMAMBANG

  1. || Orang yang hidup itu laksana perahu di samdra. Air itu merupakan kekuasaan Tuhan, rohnya sebagai kemudi ,isinya adalah cipta dan suratan ||
  2. || Perahu berlayar kian-kemari, juragannya sekaligus pemegang kemudi, pada waktu itu pedagang langganannya juga belum dating ||
  3. || Ada pun berlayar itu ada untung ruginya, jika nasib jelek, perahunya tenggelam, barang-barang dagangannya musnah ke dalam air ||
  4. || Kemudi pergi tanpa diketahui, karena ia adalah orang upahan saja, dan takut dimarahi oleh si pemilik barang ||
  5. || Nah, renungkanlah anak cucuku! siapakah yang wajib memiliki dunia ini? camkanlah hal itu, akan tetapi rahasiakanlah ||
  6. || Jika engkau tahu masalahnya benar-benar merupakan karunia Tuhan, tetapi sesungguhnya sangat sukar jika tidak tahu tentang tanda-tanda atau sasmitanya ||
  7. || Engkau harus tanggap terhadap sasmita para arif bijaksana, orang yang memberi kasih adalah orang yang paling mulia di dunia ini ||
  8. || Cukup sekian dulu sebagai pembukaan, jika bagi seorang dalang lakonnya beralih pada pelajaran yang baik bagi para muda ||
  9. || Tujuan yang terbayang ialah semoga dapat menerima ajaran utama, yang berguna dalam pemerintahan, yang sesuai dan tepat sesuai jamannya ||
  10. || Ibarat “kuda, curiga, estri, tulisan” kuda itu tamsilnya kuat, terampil, sedangkan “curiga” atau keris adalah tajamnya cipta, pikiran ||
  11. || “estri” atau wanita itu harus dapat menyenangkan hati, halus budi bahasanya agar para pria dapat tertarik, “tulisan”, atau sastra berarti mahir dalam bahasa ||
  12. || Bahasa rendah, atau nista menengah dan tinggi dan juga bahasa-bahasa lain, berarti pula mampu turut dalam pembicaraan, demikianlah kedudukan bahasa ||
  13. || Lebih baik lagi jika dapat mengetahui sastra yang ada di dalam diri sendiri, bertanyalah kepada ulama yang pandai tentang sastra ||
  14. || Tanyakanlah apakah sesungguhnya tafaku itu, tarikh empat, martabat tujuh dan sembilan, kesempurnaan solat ||
  15. || Jangan bersolat seperti anak kecil saja, agar tertibnya dirasakan juga, jangan lupa bertakbir secara khusuk, ikhramnya sedapat-dapatnya kena juga ||
  16. || Demikianlah “wajah” serta “ikhtidal”-nya, sedangkan ayat-ayatnya menyusul sebagai bunga-bungaan “kembang” belaka, ketahuilah arah dan tegaknya yang laksana benteng itu ||
  17. || Selesai solat jumat, khotbahnya merupakan sarapan (alas, dasar) bagi orang-orang mukmin (orang yang percaya), ada pun ayat-ayatnya adalah “yapan luraban sawahi”, yang maknanya : ||
  18. || Hai manusia, sekiranya engkau mencari Tuhan yang lain dari yang telah menciptakan dirimu, padahal Yang Esa, hanya satu, yang lain selain Yang Esa, adalah celaka ||
  19. || ltu bukan Tuhan yang sejati, sesunggunya manusia itu masih dibayang-bayangi oleh iblis, wahai anakku, berhati-hatilah dan awaslah ||
  20. || Segala gerak-gerik sebaiknya kau kuasai, dan musyawarahkan dengan orang yang ahli budi, yang ahli ten tang pengetahuan gerak-gerik jaman ||

PUPUH IX
D U R M A

  1. || Jangan tergesa-gesa melaksanakan keinginan hati yang tidak baik, pertimbangkanlah dahulu degan tenang dan cermat, menurut ajaran kuno, manusia utama itu harus jujur menjunjung berkat sabda nabi, raja, dan wali ||
  2. || Janganlah lupa, tanamkanlah hal tersebut dalam sanubari agar menambah kuat hati (imam) kita, terhadap pengetahuan sang sukma supaya segala perbuatanmu yang nista, yang biasa dan yang utama dapat tampak ||
  3. || Apabila engkau senang menabuh gamelan, jangan selalu di dendang-dendang seperti penyanyi, ketahuilah gamelan itu dibuat oleh para wali, pasti ada sesuatu hikmah yang terkandung didalamnya ||
  4. || Barang/benda yang kelihatan dan yang kedengaran itu dapat dipakai sebagai perumpamaan, “kawula” dan “gusti” itu seumpama ikan dengan empangnya ||
  5. || Apabila engkau pergi kekebun memetik bunga, jangan asik bersunting bunga saja, renungkanlah dengan sesama, dari manakah munculnya bunga dan buahnya itu, ini penting untuk diketahui ||
  6. || Buah yang waktu masih muda sangat masam rasanya, setelah tua menjadi manis sekali, dimanakah manisnya itu disimpan (semula)? siapakah yang melukis ular sanca yang indah citranya itu? ||
  7. || Kemanakah perginya api ketika pelita yang mati karena ditiup? dimanakah tempat bersembunyi binatang-binatang pada siang hari? bayi yang masih dalam kandungan itu sesungguhnya hidup atau mati? ||
  8. || Jika kita mendengar suara, suara itu mas telinga kita ataukah pendengaran kita mendekati suara tersebut? nah, demikianlah teka-tekiku ||
  9. || Pada umumnya manusia itu baik laki-laki maupun perempuan sering berucap, “jika Yang Mahamulia masih melindungi di riku” sesungguhnya, apa maknanya? ||
  10. || Dahulu penulis pernah meminta wajengan kepada seseorang yang pandai dan bijak yaitu Kusumadilaga, sang wiku Tejamaya, namun sampai beliau wafat penulis belum pernah diberi wejangan oleh beliau ||
  11. || Menurut pendengaran penulis tentang ilmu perang yang digunakan oleh senapati alaga mataram itu demikian: baik akan tidur maupun bangun tidur (Sultan Agung) selalu mengamati keadaan sekelilingnya ||

PUPUH X
MEGATRUH

  1. || Jangan lupa, junjunglah tinggi-tinggi wejangan Panembahan Senapati Alaga raja Mataram agar mendapat karunia dan dapat melakukan perbuatan yang utama ||
  2. || Akan lebih utama jika kita dapat mengamalkan wejangan Sang Senapati yang terdapat dalam buku sruti yang berisi 90 bait, yang khusus tentang manusia yang utama ||
  3. || Jika dapat memahami a aran sang raja pastilah kita akan dapat menjadi orang yang utama (baik), karena dahulu sang nata itu telah mengalami segala-galanya, sehingga wejangan itu tak akan salah ||
  4. || Beliau adalah seorang raja yang tiada tandingnya di Jawa yang patut ditiru agar dapat menambah kebahagiaan anak cucu pada kemudian hari ||
  5. || Tetapi raja Mataram, Sultan Agung itu sukar ditiru, karena beliau adalah wali-raja (wali sekaligus raja) banyak mukjijadnya, mohon berkatnya sajalah ||
  6. || Sebab wali yang menjadi raja besar itu sama saja dengan Yang Mahasuci yang menjelma pada sang raja, ibarat rasulullah, telah diijinkan oleh Tuhan ||
  7. || Umpama saja, orang mencontoh tingkah laku sunan kali, pada waktu masih muda, beliau itu nakalnya bukan main, namun setelah tua menjadi wali, itu merupakan karunia Tuhan ||
  8. || Jika yang ditiru itu tingkah laku yang jelek saja, tentu akan berbuat jelek terus, tak mungkin dapat berubah, apalagi umumya pendek karena mati dikeroyok massa ketika ketahuan mencuri ||
  9. || Memang banyak muridnya di Tajamaya yang mengikuti tingkah laku sang wiku, dari mereka banyak yang keliru ||
  10. || Yang mereka tiru adalah perbuatan sang wiku yang empat macam yaitu “madon, madat, minum, main” memang mereka itu berusaha mengamalkan ajaran-a jaran gurunya agar menjadi gambling ||
  11. || Telah menjadi kebiasaan anak muda, yang diamalkan adalah yang mudah dilakukan, akhirnya jasmaninya rusak, hatinya pdih, pikirannya menjadi gelap dan ceroboh ||
  12. || Karena itu benarlah ajaran raja Surakarta I yattu, “jika engkau berguru carilah ulama yang sepi ing pamrih” ||
  13. || Dahulu ada ulama yang termahsyur bemama Abdulkahar, bicaranya lemah lembut, setiap memberi wejangan, lambat, dan tepat, pandai sekali menjelaskan arti isi kitab-kitab dan mereka kehendak seseorang ||
  14. || Jika ada orang yang meminta nasihat yang tinggi­tinggi tidak akan segera dilayani/dituruti, di lihat dulu kemampuan yang minta nasihat, ibarat desa kecil diduduki seorang raja, tentu tidak tahan ||
  15. || Sama halnya dengan seseorang yang hendak naik ke sebuah panggung yang sangat tinggi langsung menuju ke tempat yang paling atas, tidak melalui jalan yang ditentukan, orang itu pasti menjadi sangat bingung, tak dapat turun kembali kebawah ||
  16. || Biasanya orang tua yang hendak memberi pelajaran kepada anak cucu, jalan yang akan ditempuh diberitahukan lebih dahulu, tidak langsung menuju ke puncak gunung, sebab banyak kesukaran yang akan di jumpai sepanjang jalan seperti hutan belantara dan semak-semak ||
  17. || Yang akan berjalan telah mengetahui kesukaran kesukaran yang dialami, karena hal itu diberitahukan oleh sang guru, inilah guru yang baik dan halus ||

PUPUH XI
ASMARANDANA

  1. || Tersentak hati saya bila teringat akan ajaran­ a jaran guruku, Abdulkahar yang alim, rajin dalam memberikan pelajaran dengan telaten tak bosan­ bosan, sehat, panjang umur, tekun beribadah, namun demikian banyak istrinya ||
  2. || Beliaupun tahu tentang ilmu sejarah, sejak dari rasulullah turun temurun (ilmu itu) sampai sekarang sampai raja sekarang, sehingga ia tahu ujung-pangkalnya wejangan dari rasul kepada putra putrinya, sampai pada saya ||
  3. || Itulah yang pantas ditiru, ajaran ilmunya yang sudah jelas dan lagi ketika hendak pulang ke rahmatullah telah menurunkan ilmunya kepada anak cucu, ini suatu tanda bahwa ia tajam penglihatan hatinya ||
  4. || Penulis bermohon untuk dapat mewarisi sifat­sifatnya tersebut, kemurahan Tuhan telah tampak, ingat, umurnya panjang masih juga mempunyai anak, hidupnya benar-benar berguna bagi sesame ||
  5. || Cara mengajarnya teliti, mulai dari syariat, kemudian tarekat lalu hakikat, dan makrifat, syariat berarti tertib, urut, yaitu urut martabatnya ||
  6. || Yang dimaksud dengan martabat adalah mengetahui apa yang telah dibawanya, baik dari pihak bapak maupun ibu, dan apa yang telah diberikan oleh sukmanya, itulah syarat-syarat untuk mencari ilmu yang utama ||
  7. || Tuhan itu mempunyai ilmu yang sangat banyak sekali, andaikan ilmu Tuhan itu di tuli , ditamsilkan air laut sebagai tintanya, kayu-ayu (yang ada di dunia ini) sebagai kalamnya, dan daun-daun sebagai kertasnya, maka ilmu Tuhan itu jauh lebih banyak yang belum tertulis, masih kurang kertasnya, tintanya maupun kalamnya ||
  8. || Banyak juga doa dan ilmunya tentang penolak bahaya, baik untuk didalam kota (praja) maupun di desa-desa, masih digunakan orang, sampai sekarang tiada muridnya yang meniru perbuatannya, hanya berkatnya sajalah yang masih bertebaran ||
  9. || Jangan seperti Bagus Jedig, banyak orang tergelincir mengikuti petunjuk/perintahnya, jika orang minta wajengan tentang ilmunya yang utama, dia selalu menjawab, “masa bodoh” walaupun begitu dipercaya juga ||
  10. || Memang lumrah bagi orang kecil, karena mereka tidak biasa memperatimbangkan segala sesuatunya (bodoh), namun banyak juga orang terpelajar (priyayi) yang percaya kepadanya (Bagus Jedig), banyak juga wanita yang dijamahnya, karena ketahuan pemerintah, ia dihukum buang ke seberang (tanah seberang), sampai berakhirlah riwayatnya ||
  11. || Ada lagi seorang wadat yang berasal dari MaTesih bernama Bagus Satria,  banyak yang terpikat kepadanya, jika orang meminta berkat kepadanya, ia menjawab, “saya tidak dapat” ||
  12. || Meskipun demikian, ia masih pantas dihormati karena ia tetap wadat selama hidupnya, berumur panjang, rajin beribadat, tingkah lakunya masih dikatakan baik ||
  13. || Mintalah nasihat/petunjuk kepada Mas Pengulu tapsiranom, masih keturunan orang pandai dan bijaksana, dapat mengolah ajaran agama dengan ulah keprajan (pemerintahan) ||
  14. || Wahai anak cucuku! adapun yang sebaik-baiknya adalah menghormat kepada orang tua, karena orang tua itu telah banyak makan garam,  syukurlah jika orang tuamu memiliki banyak ilmu, memintalah petunjuk kepadanya, meski ia itu keturunan orang sudra sekalipun ||
  15. || Orang muda itu lebih baik mendekati orang yang pandai bercerita seperti misalnya Suryabrata, saya sendiri telah terbiasa mendapat wejangannya ||
  16. || Ia adalah orang yang sanget pandai mengingat segala pesan orang-orang tua, segalanya itu telah diwejangkan dan membuat terang pikiran saya, sayangnya ia terlalu cepat meninggalkan kita (meninggal) ||
  17. || Rasanya telah cukup dalam menggubah permintaan anak istri sebagai pelajaran yang diambil dari bermacam-macam ceritra, tepat pada hari anggarakasih, (selasa kliwon) , tanggal 3 sapar, windu jimawaladi, “yaksa sirna murtining rat” ( 1 805) ||

PUPUH XII
DHANDHANGGULA

  1. || Pada hari jumat, raja tidak hadir, dan hendak memeriksa latihan para prajurit yang belum mahir menggunakan karabin (senapan), mereka itu menggerakkan tangannya menurut perintah komandannya karena belum mahir menggunakan senapan ||
  2. || Hari ulang tahun naik tahta sang raja sudah dekat, pesta itu sekaligus akan dibarengi oleh hajat raja untuk mengkhitan putranya, para prajurit Surakarta yang akan bertugas dalam perayaan itu akan diberi penghargaan dan ditunjukan tempat­tempat bertugas masing-masing beserta perlengkapan-perlengkapanya oleh dwija mantra ||
  3. || Hal ini dilakukan agar perayaan sang putra raja nanti tidak mengecewakan dilihat oleh tamu-tamu dari negara lain, mahligai indah tempat putra raja itu khitan dibuat seperti rumah dari negeri Rum, gapura-gapura diukir “lunglungan” (tanan) yang berwarna oranye yang di sungging dengan warna hijau serta diulas dengan cat emas ||
  4. || Perayaan khitanan tersebut telah terdengar oleh bangsa-bangsa di luar negeri, yaitu pada tahun Alip nanti, hal ini menyebabkan para pedagang asing berdatangan dengan barang-barang yang indah­indah dengan tujuan mencari keuntungan sebanyak-banyaknya ||
  5. || Yang jelas orang mudah mencari uang, negara Surakarta yang sudah dikenal orang bahwa berdagang disana dagangannya pasti laku, bangsa-bangsa asing senang tinggal di Surakarta, baik di desa-desa maupun di kota-kota karena mudah mencari nafkah, suasananya aman dan damai tak ada perbuatan yang jahat karena karunia Tuhan ||
  6. || Siang-malam sang raja selalu bermohon kepada Tuhan agar terhindar dari segala gangguan jaman, para prajurit taat dan patuh kepada segala perintahnya, dwija mantri selalu memberikan pelajaran tentang tata pemerintahan ||
  7. || Sang raja adalah keturunan Mataram (ngeksiganda) yang selalu merupakan pelita dan pelindung rakyatnya, semoga wataknya menurun kepada sang putra (ra ja) yaitu sifat sang ayah yang bijaksana teguh hati tanpa pilih kasih terhadap rakyatnya ||
  8. || Hemat, cermat berkat pengorbanan para leluhumya dahulu, saya bermohon semoga putra raja kelak bersifat adil seperti sang raja (ayahnya) ||

PUPUH XIII
S I N O M

  1. || Karena masih muda, semoga Gustiku tidak berbuat yang tidak ada manfaatnya, seyogyanya berdampingan dengan tokoh yang utama untuk mengajarkan perihal tugas-tugas raja yang paling utama, yakni pengelola pemerintahan yang sebaik baiknya ||
  2. || Semoga ia dapat mewarisi martabat kerajasn dan dikasihi Tuhan seperti Sultan Agung dahulu, hendaknya jangan berpisah dengan ayah agar dapat memahami tata kerja seorang raja, sehingga tidak kikuk jika ada upacara ||
  3. || Seorang putra raja harus menguasai hal-hal yang tampak maupun yang pelik, terampil dalam segala hal, bersifat perwira, berbudi halus, pandai mencari sahabat sehingga rakyat tunduk dan patuh, begitu pula bangsa asing juga tunduk mengabdi kepada raja dengan tulus dan ikhlas ||
  4. || Harta kekayaan ditinggalkan, anak istri diboyong untuk mengabdi kepada sang raja, itulah tanda sifat keutamaan raja, sayid-sayid yang tinggal di negeri Arab, yang pernah berjumpa dengan raja masih selalu ingat dan mau berkirim surat untuk memuji-muji sang ra a secara panjang lebar seperti orang membaca kitab ||
  5. || Tubuh penulis laksana orang sedang bermimpi (tidur), matanya kantuk tetapi tangannya menulis, hari sabtu legi tanggal empat mangsa (musim) kesembilan (kasanga) bulan rabingul akhir jimakir windu adi, Mandangkungan, jam tujuh, tahun 1805 sesuai bunyi sangkala sang brahmana narapati, berilah maaf banyak-banyak, adisar ini ||

PUPUH XIV
G A M B U H

  1. || Saya berdoa agar kelak putra raja dapat menduduki tahta kerajaan dan dengan tulus mengikuti jejak para leluhumya sebagai raja yang cerdik cendikia dan bijaksana ||
  2. || Demi berkat rasul, janganlah meninggalkan agama yang luhur, renungkanlah makna kitab Quran secara murni untuk mencari keutamaan ||
  3. || Tiada yang kusut/sulit, segala nyang dikehendaki akan tercapai dengan sebaik-baiknya, hendaknya selalu berbuat yang baik, mengingat kelak akan mendapat tugas menjalankan pemerintahan yang sangat pelik ||
  4. || Hal itu memang sangat pelik jika kita tidak tahu, khususnya tentang watak-watak dunia yang diperintahnya, renungkanlah hal itu pada waktu malam dengan tenang, ltulah kebiasaan yang dilakukan oleh raja yang bijaksana ||
  5. || Kurangi tidur pada waktu malam, makan jangan terlalu kenyang, pada waktu senang jangan lupa bersyukur kepada Tuhan agar pikiran (hati) tidak kusut ||
  6. || Akibatnya rahmat Tuhan itu tidak akan keliru masuk di dalam hati, luapan hati menggenangi tanah senegara, negara menjadi aman dan tentram, mendapat perlindungan Tuhan ||
  7. || Kemurahan raja besar selalu tampak di mata rakyat, sanak saudara patuh dan cinta, tiada yang tidak berkenan, semua mudah diperintah, tanpa ada yang membantah, makin bertambahlah karunia raja ||
  8. || Rakyat dipedusunan giat bercocok tanam agar tidak kekurangan makan, itulah berkat rahmat sang raja, desa menjadi makmur, rakyatnya banyak ||
  9. || Kita putuskan dahulu di sini, penulis akan tidur, nanti jika penulis telah bangun akan dilanjutkan lagi, sengkala : taun luhur sang satria katong (1890) ||

PUPUH XV
KINANTHI

  1. || Setelah Adisara bangun, lalu mengambil tinta dan kertas untuk melanjutkan berceritra, ucapannya seperti orang mimpi mengenai hati raja putra ||
  2. || Wahai baginda, jauhilah hal-hal yang berbahaya, dan tidak usah dipikirkan lagi ||
  3. || Semua ajaran yang penting jangan sampai dilupakan, renungkanlah siang-malam, dan camkan dalam hati ||
  4. || Tirulah teladan yang utama, sehingga martabatnya makin memuncak dan menyinari seluruh daerah kekuasaannya ||
  5. || Diperintah oleh raja yang mulia itu laksana dilindungi oleh Tuhan, rakyat tentram lagi sentosa ||
  6. || Saya bermohon agar tiada seorang rakyat pun yang dibenci oleh raja, saya berdoa semoga sang raja tetap sabar dan tawakal ||
  7. || Agar seluruh rakyat bersatu padu mengabdi r ja yang bijaksana, yang ketetapan hatinya dak tergoyahkan ||
  8. || Saya berdoa semoga selalu mendapat penghormatan selama memerintah, dan dicintai secara tulus oleh rakyat ||
  9. || Jangan tergiur pada kebaikan wanita yang hanya semu, dibuat-buat saja, wanita yang sengaja menarik perhatian (laki-laki) selalu memulas­mulas dirinya ||
  10. || Oleh karena itu oh, baginda muda, sewaktu masih muda ini hendaknya berusaha berbuat baik lahir batin, baik dalam tindakan maupun dalam hatinya, ini penting bagi orang yang kelak akan bertugas mengurus Negara ||
  11. || Orang pandai itu penglihatannya terang, bicaralah lemah lembut (tidak kasar, tidak keras), itulah adat kebiasaan orang-orang bangsawan yang utama sejak dahulu kala ||

PUPUH XVI
M  I  J  I  L

  1. || Kata-kata yang telah saya sampaikan hendaknya direnungkan, wahai baginda muda, waktunya sudah tiba, orang yang telah menginjak dewasa hentaknya tahu tentang masalah-masalah negara, pengetahuan-pengetahuan hokum ||
  2. || Murad (maksud kata-kata dalam kitab) harus dirasakan bersama para ulama yang cerdik cendekia agar menjadi terang dalam hati dan dibanding-bandingkan dengan adat kebiasaan negara yang telah di taati oleh leluhur para raja ||
  3. || Keluhuran kerajaan harus dicari dan dilestarikan, dihayati dalam hati bagaimana asal mula sesuatu yang rendah dapat menjadi tinggi, tanyankan kepada para sesepuh ||
  4. || Riwayat yang ditembangkan serta tersusun mapan ini semoga dapat menjadi babad menurut istilah Jawa, semoga dapat dibaca orang dan ditanamkan dalam hati dan dapat tumbuh secara subur dan selamat ||
  5. || Hati yang selamat merupakan jalan yang baik, barangkali saja mendekatkan kita pada yang Maha Rahman dan Rahim, oleh karena itu perlu di baca sebagai syarat tidur ||
  6. || Jangan tidur terlalu banyak, kurang baik, jangan seperti diri saya, hatinya gelap, matanya sipit, badan loyo, suka marah-marah, oleh karena itu harus tahan berjaga-jaga waktu malam hari ||
  7. || Meskipun berjaga- jaga, jangan tiada mengerjan sesuatu, kerjakanlah tugas-tugas (yang belum selesai ) agar terbiasa tahu akan kewajiban, sebab tugas raja itu berat, harus dapat mengadili oang­orang yang berselisih, ilmu ||
  8. || Perbuatan utama itu banyak macamnya, ada yang ahli rasa, ada ilmu bahasa untuk memperoleh keselamatan dan dipercaya oleh sesamanya, tetapi didalam hatinya besar sekali dustanya ||
  9. || Beberapa orang jujur dalam hatinya tetapi tingkah lakunya jelek, tidak pernah belajar menyesuikan diri dengan suasana sehingga kejujuran hannya tidak terlihat oleh orang lain wahai Baginda Muda, demikianlah (yang tetjadi) hendaknya jangan diragukan lagi ||
  10. || Roman muka dan tabiat orang itu bermacam­ macam, oleh karena itu setiap orang harus dilihat gerak-geriknya agar tidak ragu-ragu lagi dalam menghadapi rakyat yang diperintah ||
  11. || Wahai, gustiku, kami berdoa hendaknya baginda muda selalu mengikuti perintah dan ajaran ayahanda agar cinta ayahanda makin bertambah ||
  12. || Sebab anda itu bernaung dibawah ayahanda, sang raja, beliau telah 20 tahun menjadi raja memerintah negara aman sentosa berkat pertolongan Tuhan, semoga keadaan yang demikian itu terus berlangsung, tidak ada yang mengacau/memberontak ||

PUPUH XVII
P O C U N G

  1. || Seperti kluwak, selagi muda namanya pocung, tampaknya terpancang oleh keinginan yang tidak baik, hendaknya jangan lupa kepada ajaran­ajaran ayahanda ||
  2. || Ayah-ibu telah menceritakan teladan-teladan dari leluhur pada jaman dahulu, diantara yang rendah, sedang, dan utama sebaiknya pilihlah yangutama ||
  3. ||Yang terutama, biasakanlah selalu dekat dengan orang tua yang banyak pengalaman dan ceritanya, serta menjelajahi serba macam pengetahuan yang murni, wahai , baginda muda, pelajarilah/semuanya itu selagi masih remaja ||
  4. || Terimalah tutur abdinya, perempuan dari desa yang jauh dari pengetahuan tata susila, ia berani bertutur dengan raja hanya karena cintanya saja kepada rajanya ||
  5. || Penulis ragu-ragu dalam hati untuk membangunkan hati sang raja, meski sangat takut, namun karena cinta kepada raja menjadi berani ||
  6. || Padukalah yang nanti akan memimpin anak cucu kami, kelak didesa maupun di kota (negara), semuanya berdoa demi keluhuran raja putra ||
  7. || Aduhai, Gusti, jangan jera diajar tentang hal-hal yang baik supaya dapat secara luas membeberkan tugas-tugas kewajiban ||
  8. || Tugas baik dapat dilaksanakan dengan baik (selamat), itulah yang selalu diharapkan oleh para leluhur jaman dahulu, semoga hal itu dapat membuka hati sang teruna ||
  9. || Semoga orang bijaksana itu akhirnya meniru kepandaian para raja jaman dahulu yang telah termasyhur jasa-jasanya yang utama ||
  10. || Harum semerbak dalam bersabda terus kedalam hatinya, budinya menjadi pelita yang menerangi bumi seisinya dan diberkati oleh Ki Nurkatim ||
  11. || Ki Nurkatim itu tinggal di desa Tunjungeta, pendeta yang sangat mulia dan diijinkan oleh Mahasuci,| wahai, Gusti hamba, dekatlah ke sang pendeta||

PUPUH XVIII
MASKUMAMBANG

  1. || Kemakmuran negara seisinya itu berkat kekuasaan raja dibantu para pegawai (kerajaan) serta pertolongan Tuhan ||
  2.  || Jika yang berwajib mengurus negara mau menghayati lebih dahulu, ini merupakan tindakan yang utama, jangan melakukan segala sesuatunya secara mendadak, pikirkanlah sebelumnya dengan tenang ||
  3. || Jadi segala sesuatunya akan dapat terlaksana secara teliti dan sempurna sehingga negara selamanya akan kelihatan baik ||
  4. || Peliharalah bahasa keselamatan para pegawai agar bersemangat kuat tidak melalui pikiran-pikiran sembarangan dan selalu giat ||
  5. || Manusia-manusia yang diperintah dalam pemerintahan itu selalu merasa aman, tentram dan mendapat rahmat Tuhan ||
  6. || Suasana rakyatnya bersifat hormat, cinta, patuh setia lahir batin, tak goyah dalam melaksanakan segela perintah sang raja ||
  7. || Para cerdik cendekia diminta wejangan­wejangannya sebagai basil dari pengalaman yang mulia|| tenang ten tram didalam kesunyian ||
  8. || Keinginan yang baik itu direnungkan, ditimbang­timbang agar tetap baik dan tidak meragukan serta yang dapat dilihat oleh mata ||
  9. || Mata laksana penjelmaan Tuhan, segala warna yang tersebar di dunia ini dapat dilihat oleh mata, telinga menangkap suara ||
  10. || Hidung bertugas menentukan segala sesuatu melalui baunya, ucapan merupakan perantara keinginan, dalam hal ini harus diteliti, jangan sampai meragukan ||

PUPUH XIX
ASMARADANA

  1. || Pada waktu tidur Adisara terpikat, bermimpi berjumpa dengan laki-laki tua (kampong) bemama Nursidhi, demikianlah wejangannya, aduhai anakku, jangan berputus asa ||
  2. || Berbicara dengan Gusti merupakan tangga utama untuk menempatkan keutamaannya sesuai dengan keinginan Gustimu, ini berarti cinta (terhadap gustimu) , dan wajib bagi abdi meenjaga gustinya sebagai balas budinya ||
  3. || Karena selalu menjaga Gustimu, semoga engkau kelak dengan keturunan-keturunanmu tetap diperhatikan oleh sang raja, orang hidup itu beramal demi keturunan yang ditinggalkan ||
  4. || Perbuatan jelek dan baik yang selalu dibicarakan orang didunia ini didengarkan oleh anak cucu,  tidak senang engkau jika anak cucumu itu terhina, ditertawakan orang di dunia ini, anak cucu dianggap sebagai keturunan orang hina ||
  5. || Lain jika perbuatanmu itu baik, dimanapun selalu di puji-puji, oleh karena itu berhati-hatilah  hidup didunia ini, berusahalah hidup sebaik-baiknya demi anak cucu, jangan sampai mereka terhina ||
  6. || Jika engkau sukar berpikir, tidurlah sebentar, bermohonlah rahmat Tuhan, nanti Tuhan akan segera datang mengajar hal-hal baik kepadamu, dan sampaikanlah kepada gustimu ||
  7. || Demikianlah anakku, seperti rumah yang bocor talangnya, air itu masuk kedalam sanubari sang raja, air bening membasahi semua tumbuh­ tumbuhan, sehingga tumbuh-tumbuhan itu menjadi subur dan mengeluarkan buah yang berlimpah-limpah ||
  8. || Pohon ibarat jasad manusia, akar sebagai cipta, tunas-tunasnya sebagai gubahan, getahnya sebagai rohaninya, sedangkan putiknya sebagai rasa, yaitu rasulullah, sekian dulu ||

PUPUH XX
PANGKUR

  1. || Kata-kata yang saya sampaikan dulu diikat dengan lagu dandanggula, berisi wejangan Ki Nursidhi secara urut, tepat dan baik, yang dapat dipakai sebagai teladan bagi raja ||
  2. || Wejangan itu diatur/disusun dengan maksud supaya jelas, agar putra raja pun dapat melaksanakannya secara tepat dan teliti, karena sang putra raja sajalah yang diharapkan dapat menggantikan sang raja, semoga sang raja dapat mengatasi segala gangguan, awas, berani dan tepat ||
  3. || Segala kewajiban seorang pria hendaknya dilakukan dengan kepandaian dan kesaktian, sakti itu banyak syarat-syaratnya, lahir-batin harus kena dan mengenai hati manusia seluruhnya, yang ada dalam pemerintahan raja yang utama ||
  4. || Pandai melihat keadaan dalam pemerintahan yang selalu dipikirkan, sebelumnya harus sudah diperhatikan/dipertimbangkan masak-masak, kemudian baru diumumkan secara tuntas, keselamatan harus dijaga dan tetap dapat di jaga keselamatan negara itu dengan perantaan orang­ orang yang ada didalam kekuasaan raja ||
  5. || Sang putra raja hendaknya menguasai seluruh nasihat saya yang merupakan inti sumber budi pembuka ketenangan hati, agar dapat melaksanakan ajaran-a jaran ayahanda sang raja dalam mencapai cita-citanya ||
  6. || Semoga daerah kekuasaan bertambah martabatnya, demikianlah yang selalu diharapkan, aduhai, Gustiku, raja utama, duhai Gustiku, putra raja hamba membangun keutamaan hati dan berharap agar terlaksana ||
  7. || Teladan raja yang utama adalah selalu berusaha agar keinginannya terlaksana secara sempurna di dunia ini, juga raja yang utama itu harus mempunyai kepandaian yang sempurna, dalam melaksanakan tugas pemerintahan mempu watak tenang, perkasa dan teguh pendiri dengan tenang menghadapi dan member segala kesukarannya, dan kejahatan ||
  8. || Laksana membujuk seorang gadis yang belum menuruti keinginannya, itu merupakan suatu jasa yang luhur, segala keinginannya harus di capai dengan tenang sesuai dengan suasananya, berkat doa kakek tua, semuanya akan terlaksana ||
  9. || Wejangan kakek tua yang bernama Ki Nursidhi tiada putus-putusnya laksana hujan gerimis, segala bisikannya itu demi keselamatan dan dia ingin menyaksikan sang putra diangkat menjadi raja secara wajar dan jujur yang menjadi pedoman para raja ||
  10. || Merasa berkewajiban, karena harus menguasai suatu daerah, maka pelaksanaan kekuasaannya itu dilaksanakan dengan penuh pertimbangan, rahasia negara itu diperhatikan tanpa lengah sesaatpun, kepandaian serta pengalaman­pengalamannya yang banyak itu digunakan untuk mengelola rakyat serta petugas-petugas pemerintahan dalam melaksanakan pekerjaan masing-masing, sehingga sang raja menjadi termasyhur ||
  11. || Untuk dapat menuruti kehendak raja maka keluarga yang tergolong bangsawan tinggi beserta seluruh rakyat sampai kepada abdi raja tiada seorangpun yang membantah kehendaknya, semuanya bersatu padu menyambut baik kehendak putra raja yang akan menggantikan raja itu ||
  12. || Keluhuran kerajaannya seperti turunnya gerimis bermacam-macam bunga, bunganya hati seluruh rakyat yang berkenan kepada kehendak raja, patuh taat kepada sang raja, berkat doa ang pendheta serta sang brahmana diawang­awang,| (1890) ||

PUPUH XXI
DHANDHANGGULA

  1. || Laksana madu wejangan sang pendeta yang bernama Ki Nursidhi, diuraikan dengan jelas kedalam kata-kata yang tersusun dalam tembang secara teliti dan teratur untuk menunjukan kewajiban gusti, sang putra raja, yang memerintah kerajaan sebagai pengasuh rakyatnya dan mendapat ridha sebagai wakil rasul yang bergelar lilumiyi ||
  2. || Lil Umiyi adalah makhluk yang selalu menurut kepada perintah Tuhan yang wujud, jasadnya sebagai Nabiyullah yang mengasuh manusia di dunia ini, rasul yang dirasakan oleh seluruh manusia, yang bernama Muhammad Makiki, yang menerangi hati manusia yang menjadi penganut agamanya ||
  3. || Agama itu benar-benar sangat diperlukan menjadi penguat serta pertimbangan hati, baik bersifat rendah hati, sedang, maupun utama, hanyalah itu yang dirasakan manusia, dalil hadis supaya menjadi pertimbangan semua raja, rakyat yang membantah (menentang) raja supaya diberantas oleh kekuasaan raja yang berdas kitab Quran ||
  4.  || Quran itu berujut kata-kata, makna murad maksudnya harus dihayati, ljmak, kias, serta jidiyatnya harus dikuasai, peliharalah hal itu didalam hati, gunakanlah dalam waktu-waktu diperlukan untuk menghilangkan keruwetan negara, karena raja itu merupakan tumbal negara dan pemberantas segala macam kejahatan ||
  5. || Semoga pengorbanan putra raja selalu mendapat restu dari leluhur raja yang mulia, segala ilmunya menyinari seluruh rakyat yang utama, semoga sang putra raja suka menerima wejangan Sang Nursidhi yang sangat cinta pada beliau ||
  6. || Namun saya meminta maaf karena ia tidak bertempat tinggal yang tetap, tak menentu tempatnya hingga untuk bertemu di tempat tinggalnya pun sulit  jika tidak dikehendaki,  jika kebetulan ia berkenan dan dapat bertemu sebentar, lalu memberikan wejangan demi tugas yang akan dilaksanakan oleh sang rajaputra kelak ||
  7. || Siang-malam sang kakek berdoa diatas gunung yang sunyi, hanya singgah sebentar saja, lalu pergi ke laut yang bernama Barulkayati, setelah itu naik lagi keatas gunung merapi, sengaja masuk ketelaga kalkaosar yang airnya jernih dan tenang, lalu diam mengheningkan cipta ||
  8. || Adapun tujuan sang resi digunung itu semoga dengan pertolongan Tuhan mendapat teman seadanya, tiba-tiba terlihatlah orang laki-laki dan perempuan, setelah ditanya oleh sang pendeta mereka menjawab, yang perempuan  bernama Kayat, sedangkan yang laki-laki Bernama, Kayun ||
  9. || Sang pendeta berkata, “Kayat dan Kayun, engkau berdua janganlah berpisah setiap hari, hAtiku tertarik kepada engkau berdua, jadilah temanku dalam bersemedi di gunung ini, “keduanya menjawab”,  aduhai, sang wiku, beruntunglah kami berdua dapat bertemu dengan sang pendeta ||
  10. || Apa yang dikehendaki sang pendeta, tetap kami lakukan, ikut berprihatin di gunung, akan tetapi permintaan kami, endang (cantrik perempuan) dan cantrik (murid laki-laki) selamanya jangan berpisah dengan sang pendeta, “sang pendeta berkata” sungguh, janganlah khawatir, pasti tidak berpisah denganku ||
  11. || Kesenangan (pakareman) baik yang bersifat lahir maupun batin biasanya merupakan halangan dalam melaksanakan sesuatu sejak didnia sampai ke akhirat, oleh karena itu hendaknya endang dan cantrik harus selalu berhati-hati, agar cita-cita tidak kandas di jalan, “keduanya menjawab”, saya junjung tinggi, Sang Brahmana ||

PUPUH XXII
G I R I S A

  1. || “Wahai, sang pendeta, kami laki-laki perempuan, mohon maaf banyak-banyak bahwa kami memberanikan diri mohon berkah mengenai isi gunung yang kami lihat itu sebenamya” ||
  2. || Lubang gunung yang satu itu bernama “marga suwara”,  jalan suara, yang berada disitu adalah  dua orang dewa, yang diatas itu bernarna Tursina,  yang kedua tempatnya jauh dan bernarna guwa Gohkarna, sedang kedua perwujudan yang kembar itu ||
  3. || Bernama Locana (mata sansekerta) Tursina itu mempunyai kekuatan (prabawa) dan setiap hari mengeluarka prahara, tidak pernah berhenti, selama gunung itu masih tetap berdiri, Locana bertugas menerangi isi gunung supaya dapat dilihat satu-satu dengan jelas ||
  4. || Wujudnya berbendul-bendul, sedang yang ada di dalam gunung itu adalah api yang bernama Anala, asapnya menuju ke waktu, inilah yang bernarna Pramana, bergetarnya gunung itu sesuai dengan goyangnya waktu ||
  5. || cukuplah sekian dahulu wejanganku kepadamu berdua, saya akan berpindah tempat ke Balerante, apakah engkau berdua tinggal di sini, ataukah ikut saya, “keduanya menjawab” tidak betah tinggal disini ||
  6. || Mereka bertiga berangkat, tidak baik jika keduanya ditinggal disitu, Sang Pendeta Nursidhi sudah pernah berjanji ketiganya tidak akan berpisah, dan jika terjadi perpisahan berarti durhakalah Sang Pendeta, karena ia telah mengingkari janjinya, bahkan dalamjanji itupun ditegaskan pula bahwa ketiganya tak akan pernah bertengkar, baik lahir maupun batin ||
  7. || “Wahai, Kayat dan Kayun, saya akan singgah sebentar di bukit Mudambin, suatu tempat mulia, yaitu tempat para pendeta bersemedi disitulah tujuan akhir mereka, meninggalkan badan mereka ||
  8. || Pulang ke kahyangan tempat para dewa yang tiada berwujud,  tetapi ada kehidupan Sang Hyang Wisesa tidak boleh dibicarakan, yang menjadi permohonan para pendeta adalah lenyapnya badan secara sempurna (1890) ||

PUPUH XXIII
ASMARADANA

  1. || Sang Sribupati sedang bercengkrama di Langenarja memanggil orang abdi Pangeran Prangwardana, orang buta, orang bongkok, wujil orang bajang, dan orang yang lehernya pendek sekali ||
  2. || Supaya mereka bercerita-cerita yang lucu-lucu, selama dua malam tidak tidur sehingga selalu mengantuk, mata selalu lengket saja ||
  3. || Mereka memang pandai karena telah dilatih benar­benar oleh mendiang Gustinya, yang memang ahli sastra, gemar membuat senangnya para saudara, sahabat dan keluarga ||
  4. || Semoga keadaan yang semacam itu lestari menurun kepada sang rajaputra yang sekarang telah di wisuda, dikarang di desa, gubahan orang buta sebagai peringatan dan gembiranya Sri Baginda ||
  5. || Pada hari Minggu tanggal 21 Rabiulakhir, tahun Alip dengan sengkala “nyata mulya sariraning sujanma”, (1891) si wuta, wujil, dengakak dan bucu mendapat hadiah saying sang raja ||

PUPUH XXIV
DHANDHANGGULA

  1. || Cerita tentang Sri Raja cengkerma di Langenarja selama tiga malam digubah, selama itu sang raja selalu mendengarkan dongengan-dongengan orang-orang buta dan bucu keempat-empatnya guna menyenang-nyenangkan hatinya beserta kerabat istana dan rakyat yang menghadap, siang hari berjudi mengadu kambing dan babi hutan berganti-ganti ||
  2. || Malam Senin (Minggu malam) bersambung warga pradikan yang diperintahkan untuk membaca kitab (buku agama) yang bemama tafsir dan fekih, banyak sekali tamsil-tamsil untuk mengetahui kesucian hati, batal dan haramnya tubuh (badan) , na jis serta makruhnya, tata tertib solat agar sesuai dengan mukaranah dan takbir serta ikhramnya ||
  3. || Ditambah lagi kewajiban suami-istri, waris, wasiyat dan utang-piutang serta jual-beli, begitu pula hak dan kewajiban yang berhubungan dengan penghasilan yang berwujud hasil bumi, yang di sebut fekih wasalmungin,  semuannya dibeberkan sejelas-jelasnya agar jalannya pemerintahan selalu tetap seadil-adilnya ||
  4.  4|| adapun yang ditugaskan tafsir adalah “abdi dalem” pradikan, guru santri di Langenarjan yang bernama Amar Ilham, ia memang termasuk tokoh yang menonjol sehingga ia sangat dipercaya oleh sang raja dan sering dimintai keterangan oleh sang ra ja mengenai lafal serta maknanya, Ki Ilham sendiri memang pandai dalam hal tersebut, lagipula cocok dengan kehendak raja ||
  5. || Banyak santri yang berasal dari negara-negara lain berguru kepadanya, cara mengajarnya sabar sekali sehingga mudah diterima oleh para santri, semuanya itu deketahui pula oleh sang raja, sehingga para santri pun makin giat belajarnya ||
  6. || Sang raja yang berhak memberi ganjaran serta menghukum rakyat, rakyat yang mujur mendapat hadiah bumi pradikan (desa) yaitu tanpa bekerja tetapi mendapat (upah) nafkah, siapakah yang dapat berbuat demikian?  meski nenek moyangmu sendiri tak mungkin memberikan tanah (bumi pradikan) untuk dikerjakan tanpa membayar kecuali hanya sang raja ||
  7. || Sang rajalah yang dapat mengangkat derajat orang serta memberi ganjaran yang berupa pangkat, siapa pula yang dapat memperoleh ganjaran yang sedemikian itu? tentu saja hanya mereka yang rajin, setia, serta tunduk dan kepada segala kehendak rajanya ||
  8. || Bersabarlah sambil melaksanakan segala usaha sehingga cita-cita yang dituju dapat tercapai, berlakulah lemah lembut, dalam segala hal tertib, teliti dan tepat, jangan sekali-sekali menyesal akibatnya tak dapat tidur, selalu gelisah, selalu marah-marah, karena belum tercapai cita-citanya ||
  9. || Memang kesedihan itu dapat terlupakan sebentar, sementara mabuknya menjadi-jadi oleh minuman keras, tetapi setelah tidur, akan hilang sendiri mabuknya dan kembali ingat akan kesedihan semula, badan lesu, tukang mindring (cina) datang menagih (hutang), diusir pun tak mau juga pergi, bahkan timbul pertengkaran, akhirnya lari dan berbantah dalam keperdataan, hasilnya tetap di anjurkan supaya mau membayar hutangnya ||
  10. || Kalaupun ia mendekat, hanya menyatakan bahwa ia tidak mempunyai uang sebagai pembeyar hutangnya ia berusaha menyusun kata-kata yang sebaik-baiknya untuk menghilangkan/manghindari si kucir yang berhasrat menagih hutang, si kucir malah makin marah karena ia sudah berpengalaman menghadapi basa-basi semacam itu, oleh karena ketidakfasihan orang cina berbahasa Jawa justru menyebabkan masalah cepat selesai, inilah yang dipakai sebagai alat untuk menyelesaikan setiap masalah ||
  11. || Oleh karena itu manusia jaman sekarang harus dapat menahan segala keinginan yang tak ada gunanya, pertimbangkanlah dahulu masak-masak,| bukti-bukti sudah banyak, si tukang mindring dengan rendah hati membujuk orang untuk berhutang, si kucir membongkok-bongkok, tetapi sebenarnya ia memberaki wajahmu sampai rata, dan baunya merajalela ||
  12. || Akhirnya tiada seorangpun yang mau menyapa, tetapi jika orang sedang mujur, banyak orang yang datang, ada yang berkata, “saya dahulu ikut mendoakan, ketika kau masih dalam keadaan miskin,” yang demikian  itu sudah menjadi lumrah, ibarat, “ada lintah orang menghindar, ada ikan orang datang berebut” ||
  13. || Bau-bauan yang harum, kain keling dan ikat pinggang cinde, mahkota dengan kalung rantalnya, seperti halnya mempelai, pasti senang orang-orang mendekatinya, bahkan mereka masing-masing diberi jamuan lagi, sebaliknya orang yang mendapat musibah, dan dibawa ke penjara, tidak ada yang mengantarkannya ||
  14. || Berbuatlah secara cermat agar selamat, setiap hari akan berdatanganlah sanak saudara, semuanya dalam suasana kegembiraan, karena dapat menghidangkan sesuatu ala kadarnya, sambut­ menyambut dengan segala keikhlasan ati, sehingga hidangan pun disambut dengan lahfap, sebaiknya jika orang banyak hutang, meski hidangannya lezat, tamu-tamunya tak menyambutnya dengan lahap ||
  15. || Karena iba kasihan terhadap seseorang akhirnya dapat juga mendapat kesengsaraan, oleh karena itu, janganlah tergesa-gesa menaruh hati ada orang, pertimbangkanlah dahulu masak-masak, apakah seseorang perlu di kasihani, berdolah selalu agar cita-cita kita dapat dengan mudah tercapai ||
  16. || Sadarlah bahwa dirimu itu daif atau lemah, yang berkuasa hanyalah Tuhan, berserahlah diri kepada Tuhan, tanpa menolak kehendak-nya, biasanya akan tercapai apa yang kau cita-citakan, jadi, taat kepada yang berhak menentukan, bermohonlah akan belas kasih Tuhan ||

PUPUH XXV
GAMBUH

  1. || Peringatan bagi orang yang khilaf, bodoh, tak mau diajar tentang kebaikan, tak mau berpikir, malah salah paham, budinya rendah dan kurang pengetahuan ||
  2. || Yang bertugas sebagai tangan raja diusahakan supaya tahu kebijakan dan berpikiran jernih dalam menanggapi kehendak raja, tepat dan mantap, tanpa adanya keraguan ||
  3. || Cara bekerja yang semrawut, kepentingan pribadi yang diutamakan, maksud hati ingin kaya dengan mudah, tetapi akhirnya hanya ditertawakan orang saja, seorang jaksa selalu ingin berbuat demikian ||
  4. || Janganlah berbuat demikian! jun jung tinggilah wejangan para leluhur, dalam mengikuti wejangan tersebut harus juga menggunakan nalar yang panjang, jangan sampai pikiran menjadi ruwet, ternyata hatinya bolong ||
  5. || Kekhawatiran akan lenyap, jika tidak lagi mengutamakan keinginan pribadi, karena ingat akan wejangan orang-orang tua, keutamaan seorang mantri (pegawai, petugas) adalah tabah hati menghadapi segala kesukaran ||
  6. || Roman muka harus baik, teguh, tenang dan lemah­lembut hatinya, segala yang akan dilakukan harus direnungkan, karena anda dekat pada raja ||
  7. || Mantri itu utusan raja, harus pandai berbicara dan jelas, duta raja itu harus pandai dalam segala hal, tidak pantas kalau bodoh ||
  8. || Adalah perlu sekali mempelajari tugas para Tumenggung, jangan segan-segan membangkitkan hati yang tidur dan jangan lupa ajaran orang lain ||
  9. || Akhirnya dirinya pontang-panting, budinya tidak muncul, dijadikan mantri pemuka, jika budinya rusuh, tentu akan diberhentikan ||
  10. || Janganlah selalu tertarik pada perbuatan seperti itu, pengorbanan yang sedemikian itu harus dilaksanakan dengan sabar supaya berhasil, adi bupati jangan memalukan ||
  11. || Agar jalannya keturunan menjadi urut, sehiqga hidupnya menjadi beruntung, seolah-lah hidupnya itu tidak mengalami kematian, karena diganti oleh keturunannya dan tempatnya tetap ||
  12. || Amin, amin ya alkamdulillahi robil alamin, manusia tidak berkuasa dan hanya sekedar melaksanakan (kehendak Tuhan) dan bermohon kepada Yang Maha agung, semoga selalu mendapat ridhaTuhan ||

PUPUH XXVI
MASKUMAMBANG

  1. || Sudah wajiblah hamba Tuhan untuk mengambang, artinya berserah diri kepada Tuhan yang selalu mengasihi (kepada hamba-nya), semoga kasih sayang itu untukselamanya ||
  2. || Inti kehendak Tuhan hendaknya dirasakan agar tidak terjadi salah faham, sebenarnya masalah hakiki manusia adalah merasakan ||
  3. || Sesungguhnya arti yang hakiki ialah ibarat orang mengabdi harus jujur dan rajin, segala kemalasan harus dibuang ||
  4. || Jangan ragu-ragu membuang kesenangan yang menyebabkan gagalnya pikiran, ingat ciptanya orang mengabdi itu harus rajin || 164
  5. || Orang yang rajin pasti tahu kehendak Gusti, jelas dan tidak samar-samar, orang itu dapat mengenal setelah melihat mengenai kehendak orang yang dihadapi ||
  6. || Akhirnya, apabila engkau memang mendapat belas-kasih, bersyukurlah, kasih itu tak dapat diminta, manusia hanya dapat menerimanya ||
  7. || Kadang-kadang datanglah kasih Tuhan bertepatan kuatnya cinta kasih manusia kepada sang raja ||
  8. || Simpulkanlah, dalam contoh-contoh tersebut takdir Tuhanlah yang berlaku, namun manusia wajib memohon kasih ||
  9. || Usaha-usaha yang bersifat setengah-setengah tidak akan berhasil, sedangkan kurang (tidak) teliti merupakan jalan kearah sengsara, sertailah usaha itu dengan kesabaran hati ||

PUPUH XXVII
K I N A N T H I

  1. || Syarat-syarat orang menjadi luhur adalah kuat bertapa dan kurang tidur, selalu ingat ada tingkah laku yang baik, jika berbicara harus manis agar sesamanya mudah tertarik, yaitu sesama manusia ||
  2. || Usahakanlah hatimu dapat menerima apa yang terjadi, lebih-lebih apabila dirimu dikuasai oleh orang lain, jika engkau dapat menyesuaikan diri dengan kehendak orang lain, (hidupmu) tak akan mendapat kesukaran ||
  3. || Jadilah seorang penurut, yaitu menurut dalam arti berserah diri terhadap Tuhan, lebih untung lagi sebagai seorang pembesar, akan selalu disenangi bawahannya, martabatnya menjadi lebih tinnggi ||
  4. || Bagaikan bintang pagi di waktu subuh, bersinar­ sinar indah kemilau, menyinari seluruh negeri, ranungkanlah agar selalu mendapat kasih Tuhan ||
  5. || Dibuat baik supaya menjadi pasti, yaitu pasti utama dan teliti, tetap menjadi pengayom rakyat, sehingga hati rakyat selalu tentram, orang yang semacam itu pasti dapat di contoh, hatinya bagaikan bula nyang tengah berkembang ||
  6. || Dapat menjadikan terang hati yang kusut, ruwet karena mengandung rahasia, takut kalau-kalau ketahuan oleh sang raja, akhirnya yang berhati jahat itu hancur juga ||
  7. || Terlunta-lunta diusir oleh sang raja, diselimuti hawa yang dingin, sampai di tempat yang terang menjadi sengsara, jarang orang yang menegurnya, jelas akan menjadi sengsara, karena tidak menurut kehendak raja ||
  8. || Sangat menyesal kalaupun mati di rantau orang, lalu lalang sendirian, bahasanyapun Jawa, sukar orang lain dapat menanggapinya ||
  9. || Makannya pun hanya nasi dan garam, lomboknya hanya satu biji, pagi-pagi sekali sudah di bangunkan, disuruh mencangkul di kebun kopi, itupun disertai pukulan, Kartawilaga hanya mengingatkan ||
  10. || Ternyata tanah bengkoknya itu (lungguh) didapat oleh si nenek karena membeli duaribu Inggris kuna, kedua cucunya dapat menjadi mantri (pegawai), yang seorang di “gedong kiwa”, yang seorang lagi di “gedong tengen”, tidak menurun kepada anak ||
  11. || Karena sudah dianggap sudah menjadi miliknya, karena dibelikan oleh neneknya yang mempunyai setan, sehingga kaya sekali sehingga dapat membeli mantri, kepalanya menjadi besar karena boleh menyandang gelar Raden Bei ||
  12. || Gelar Den Bei karena jalan belakang, Sang Bupati di suap, Sang Bupati berdusta terhadap raja, memohonkan gelar tanpa silsilah riwayat pekerjaannya ||
  13. || Berasal dari Ki Ageng Butuh, Sang Bupati hidupnya compang-camping, rajin ke tempat perjudian jarang menghadap raja ataupun bertugas kemit, pura-pura pamit sakit padahal sedang berjudi ||
  14. || Payah di tempat yang satu, pindah ke tempat ang lain, ke kamar bola (tempat bersenang-senang orang belanda), ia lupa bahwa esok hari Senin, karena mabuknya menjadi- jadi, akhirnya pamit lagi karena sakit pusing, mulas, muntah-muntah, dan berak-berak ||
  15. || Kiranya maksud hati kesampaian, namun selalu malas berpikir, karena selalu melaksanakan kesenangannya, lupa bahwa ia mempunyai Gusti, jelas memang ia menyleweng ||
  16. || Ia menjadi takut karena insaf atas kesalahannya, lama sudah ia dibiarkan sa ja, sebagai tumenggung pun ia masih canggung (bodoh) namun ia pandai memberi nasihat kepada mantri agar ia selamat ||
  17. || Karena atasannya tidak pernah tidur, selalu mendengarkan kabar bentang tingkah laku bawahannya, Bupati itupun bertobatlah, yang sedemikian itu patut di contoh, yaitu Sang Bupati tadi ||
  18. || Tujuannya agar keturunannya dapat mewarisi kedudukannya, hal sedemikian itu merupakan suatu karunia yang disiapkan sebelumnya secara cermat untuk menjadikan nayaka atau “suka guru”-nya Negara ||
  19. || Alangkah termahsyurnya, seorang yang diangkat dera jatnya oleh raja, dihormati oleh sesamanya meskipun tak usah dengan uang,  “cis, tak malu rengen sekap kalu tradhak jaga baik ||”
  20. || “Kalu sukak trima wuruk, jadi untungnya sendiri, dikata baik tingkahnya, orang sukak dengen asih,  nah sudah habis pantunnya, yang ini tembang kinanti||”

PUPUH XXVIII
S I N O M

  1. || Bagaikan pohon kejatuhan hujan, demikianlah ibarat bagi orang yang tengah mendapat kasih Gusti, segar-bugar cahayanya, merasa dirinya akan segera bertunas, meski belum yakin apakah juga akan berbuah uang akhirnya dapat dinikmati serta isinya dapat ditanam lagi sehingga rasa buahnya tetap seperti induknya tidak berbuah ||
  2. || Namun pegawai (nayaka) yang dengan sengaja berusaha agar naik pangkatnya, sungguh tidak mudah, ia harus menunjukan dapat menjaga negara, daerah yang ada dalam kekuasaannya termahsyur, selalu berusaha membawa kemuliaan bagi seluruh negri, demikianlah seharusnya orang yang berpangkat nayaka atau mentri ||
  3. || Semangat harus keras, tetapi kepala tetap dingin, jauh dari semangat pamrih, demikianlah pegawai yang perwira untuk menjadi teladan bagi pegawai­pegawai lain, buanglah segala kenistaan dan carilah segala yang utama ||
  4. || Seorang yang mengabdi kepada negara yang di jadikan Bupati mempunyai banyak tanggungan, oleh karena itu harus tahulah ia akan watak­watak para mantrinya, dalam melaksanakan tugas jangan bingung, sehingga perintahnya dapat diturut, sebab sudah mengetahui kepribadian para mentri bawahannya ||
  5. || Misalnya para ulama (cendikiawan), khotib dan modin di daerah pradikan sampai kepada Juru Suranata, tak mungkin tahu kewajibannya masing­ masing karena  jika atasannya (lurahe) memberi ajaran yang baik mereka tak mau melaksanakannya, malas mengkaji Quran, tidak mempedulikan ajaran-ajaran kitab-kitab, lupa bahwa bidang tugas mereka adalah keulamaan ||
  6. || Lebih dekat pada madat, madon, perjudian akhirnya akan menjadi maling, lupa bersembahyang jauh dengan kyai (ahli agama), juga lupa pada penghulu, bahkan hanya selalu mengadu ayam, yang demikian itu biasa dipecat dari jabatannya karena disangka penjual candu gelap ||
  7. || Wahai, para ulama, pelajarilah dengan tekun ilmu kanjeng rasul, tentu banyak manfaatnya, adapun yang sudah dibeberkan secara jelas ada empat macam, rasakanlah/hayati dengan seksama satu per satu dengan jelas, karena itu semua dalam bahasa Arab ||
  8. || Bukan bahasa orang Jawa, jangan hanya diawurr saja, harus diteliti, tanyakanlah pada orang pandai lafal, makna serta muradnya/maksudnya, jadi betul-betul dapat mengetahui dengan sempurna, menuju ke sasarannya, harus berguru kepada ulama yang sudah benar-benar disebut mukmin ||
  9. || Akan lebih utama lagi menjalankan solat tasbih tiap tengah malam dengan rasa yang hening menjelang bersembahyang laksana nyala jadi satu dengan apinya ||
  10. || Demikianlah tamsil solat yang benar-benar, para mukmin yang pandai telah mengetahui hal itu, yaitu hubungan antara kawula dengan Gusti, keduanya menempati tempat masing-masing, jangan sampai salah tempat, wahai para santri, kerjakanlah demikian, jangan meminta kepada siapapun kecuali kepada Tuhan ||
  11. || Sebabnya berkepanjangan dongeng tentang orang buta untuk memberi pelajaran kepada rakyat, pada suatu saat Nri Nata memberi peringatan kepada seluruh rakyatnya agar dapat mengerjakan tugasnya masing-masing, “Sri Narendra Sarira Purna Sajuga”, artinya Sri Raja telah menyempurnakan jasadnya menjadi satu ||

PUPUH XXIX
DHANDHANGGULA

  1. || Mulailah Sang Nata memberikan pesannya kepada seluruh wanita yang bersuami, mereka harus menurut kehendak suami,  berusahalah menyenangkan hati suami karena hal yang sedemikian itu dapat menumbuhkan cinta, laksana guna-guna dan perangsang cinta, syaratnya ialah harus selalu sadar ||
  2. || Janganlah mabuk, tidak ingat atau lupa karena hal itu menimbulkan penderitaan jasmani dan rohani, itu benar-benar tidak memikirkan ajaran dan merusak ke jernihan budi dan merusak raganya karena malas mengikuti ajaran ayah dan ibu, yang sebenarnya patut di taati, karena merekalah yang menyebabkan kita hidup ||
  3. || Tepatilah kewajiban seorang istri, rahasia dirinya harus di jaga dengan baik sehingga betul-betul menjadi wanita yang tertib, tertib berarti urut dan teratur dalam melaksanakan kewajiban istri, tepat dan benar artinya tujuan hatinya hanyalah untuk suaminnya saja. Usahakan agar merasa dirinya penting sekali, sebaliknya usahakanlah untuk berbudi bahasa yang manis ||
  4. || Jadi terpakai dan diindahkan suami, karena engkaupun telah taat, dan mengerti akan kehendak suami, itulah yang dinamakan bersikap “anoraga”, dan karena Tuhan akan melimpahkan kasih-nya, terhindar dari kesedihan, contoh teladan dari masa lampau dari wanita yang dikasihi suaminya hendaknya kau lestarikan ||
  5. || Melihat gerak gerik serta keinginan suami, agar menyenangkan hatinya, berbicaralah seperlunya saja, (yang tidak perlu jangan dikemukakan), hati suami akan bersemangat jika melihat isanya punurut, si istri akan gembira, diturut dan di penuhi kehendaknya, hatinya tidak akan kecewa seperti pohon kejatuhan hujan, daunnya rimbun, bunga dan putiknya lebat, tentram, hatinya was­was ||
  6. || Tentramkan hatimu selalu, jangan goyah sedikitpun, segala kewajiban istri dapat dilaksanakan, sediakan pakaian suami, juga kebutuhan makannya, perhatikan kesenangan suami, baik makan pagi, siang, petang maupun malam, pagi-pagi benar harus sudah berganti pakaian, lakukan, jangan bosan-bosan agar suami senang ||
  7. || Itulah yang harus dipikirkan agar suami selalu berseri-seri dan betah tinggal dirumah, jika terjadi demikian, sesungguhnya istrilah yang beruntung, sebab suami akan selalu menungguimu, jika dapat bersihkanlah badanmu dan pakailah bunga­ bunga yang semerbak, karena hal itu dapat membangkitkan semangat suami ||
  8. || Pada umumnya wanita itu mempunyai nafsu yang besar dan berpikiran pendek, mudah lupa serta senang dimanjakan, meski ada uang sedikit saja, dua ringgit asal ada berita, bahwa disana ada dukun yang dapat memberi syarat, pinang dan sirih agar disayang suami, biasa tanpa pikir lagi ia percaya ||
  9. || Oleh karena itu banyak juga wanita yang baru seminggu kawin, hartanya sudah habis diberikan kepada dukun bahkan masih minta tambahan milik suaminnya, jika suaminya tahu, marah-marahlah dan dipukuli, yang jelas akan mengurangi cintanya pada istri, badan lesu, hati susah, suami tidak mau menghiburnya, bahkan marah-marah saja, nah, akhimya mendadak sakit ||
  10. || Setiap hari selalu mengeluh, menyesali nasibnya, “Ya Allah, tidak seperti saya ini bemasib celaka, maju sulit mundur pun malu”, namun telah menjadi watak wanita, jika menderita susah, terbayanglah ayah-ibunya dan dipanggil-panggil, tidak begitu bila suaminya mencintainya ||
  11. || Lupa akan asal mula hidupnya, karena selalu memikirkan hal yang senang saja, jika dipanggil, ia selalu menjawab “nanti”, sebaliknya kalau ia bertengkar ia berlari-lari pulang, aduhai, wanita hendaknya engkau suka mengikuti semua ajaran yang baik, cegahlah hatimu yang meluap-luap itu agar dapat menjadi teladan bagi putra-putrimu ||
  12. || Sudah merupakan hal yang biasa bahwa manusia itu akan mempunyai keturunan, jika sang ibu berbuat jelek, putra-putrinya akan terpengaruh juga, tidak mempunyai harga diri, setelah ibu bapaknya meninggal, tidak ada yang menghormati/menghargainya, diangap keturunan orang-orang rendah ( sudra),| sampai di negeri asing pun orang tidak tahu bahwa ia itu adalah keturunan orang rendah ||
  13. || Takmungkin tahu hal-hal yang baik, suka bohong, banyak bicara yang tidak nyata, agar orang biasa mempercayainya sehingga akhirnya biasa membohongi orang, ingin seperti pokrol jendral yang hanya dapat berbicara saja, orang semacam itu sebenarnya pencuri juga yaitu pencuri kata (durjana sabda), wahai, manusia, janganlah hendak menjadi sengsara karenanya ||

PUPUH XXX
ASMARADANA

  1. || Jangan lupa akan kedudukan suami, lupa karena sibuk dalam asmara dan selalu bersuka-sukaan saja, sebaiknya berdoalah selalu sesuai dengan kedudukan seorang istri agar tidak kelihatan bodoh, bahkan akan kelihatan pandai daripada ayahnya ||
  2. || Memang demikian orang hidup itu, harus berusaha mencapai cita-citanya, usahakanlah dengan penuh kesabaran agar semua keinginan dapat tercapai terus-menerus dengan mudah, ingat bahwa segala keinginan yang diusahakan secara tergesa-gesa itu dapat mengakibatkan kesia-siaan ||
  3. || Berserahlah kepada Tuhan yang telah memberi hidup kepadamu, harus tanggap secara cermat dan tepat terhadap segala perlambang, terutama perlambang hubungan antara Gusti dengan kawula, harus selalu dapat menyesuaikan keinginan-keinginannya sehingga dalam berdoa selalu khusuk (khidmat) agar perlambangannya tepat ||
  4. || Yang dimaksud dengan ” jomlah” misalnya seorang istri wajib mengetahui watak-watak suami agar selalu dikasihi terus menerus, sekurang­kurangnya hatinya akan lebih terbuka bagimu ||
  5. || Dongeng-dongeng mengenai para putri pada jaman dahulu sudah banyak diceritakan, terutama di Jawa ini, pilihlah yang utama sesuai dengan kemampuan diri sendiri, disesuaikan juga dengan jamannya agar kelihatan lumrah dilihat orang banyak ||
  6. || Penulis sudah kepayahan sehingga cara memberikan wejangan semakin lamban dan kurang tertib urut-urutannya, maksud penulis hanyalah sekedar memberi peringatan agar wanita dapat hidup sejahtera ||
  7. || Laksana orang mimpi, bangun tidur lagsung melanjutkan lagi menyelesaikan gubahan ini, yaitu gubahan tentang wejangan bagi para wanita, sebaiknya jagalah kebersihan, baik didalam rumah, maupun tubuhnya sendiri agar sanak saudara senang bertandang ke rumahmu ||
  8. || Syukurlah jika bisa menyambut dengan hidangan, setidaknya sambutlah dengan tingkah laku yang sopan-santun, agar tamu gembira dan merasa betah bertamu, hal demikian itu disebut bojakrama ||
  9. || Boja berarti suguhan makanan, krama berarti bahasa yang lemah lembut agar tamunya betah dan tidak lekas-lekas pulang, ini berarti tuan rumah dikasihi oleh sesamanya, renungkan hal ini dan contohlah hal-hal yang semacam itu ||
  10. || Sesungguhnya manusia yang dikasihi oleh sesamanya berarti Tuhanlah yang menggerakkan hati mereka itu, semoga kasih Tuhan yang sedemikian itu berlaku terus-menerus dan turun­temurun sampai hari kiamat ||
  11. || Berkasih-kasihan atar sesama hidup itu bermanfaat secara lahir maupun batin, segala keinginannya dapat tercapai, begitu pun derajatnya, manusia yang ingin luhur derajatnya harus menjauhkan diri dari perbuatan yang rendah ||

@@@
Tamat.

SERAT KABAR KIYAMAT


PUPUH I
ASMARADANA

  1. || Ingsun amiwiti amuji | anebut namaning Yang Sukma | kang murah ing dunya mangke | tembe asih ing ngaherat | kang pinuji tan pegat | angganjar wong kawlas ayun | angapura wong kang doasa ||
  2. || Milane kawula amuji | maring Allah ingkang mulya | panedhahena maneh ingong | angsala paring Allah | rahmat lan kanugrahan | den duduhena marga ayu | pinaringan sih ngapura ||
  3. || Sampune muji Yang Widi | amuji Nabi Muhammad | kelawan kawula margane | sahabat papat punika | kang dhihin Abubakar | Ngumar Ngusman puniku | Begendha Ngali Murthasar ||
  4. || Wonten pandhita linuwih | ucapen waspada paningal | rasakena surasane | kesod ngideri jagad | si picek amilang lintang | wong ngangsu pikulan banyu | ngamek damar obor-oboran ||
  5.  || Si Cebol anggayuh langit | werangka manjing curiga | randhu alas mrambat pare | sawung kaluruk tengah segara | kuda ngerop ing ngawang-awang | si bisu atukang padu | tapake kuntul ngelayang||
  6. || Ana siti pinendhem sajrone bumi | banyu kelem sajrone tpya | perawan ayu rupane | tan kena pisah wong lanang | wrandha wurung peputra | takokena kalawan guru | welanjar durung akrama ||
  7. || Wonten papan tanpa tulis | sekar tunjung tanpa telaga | iya iku padha tunggale | tanggal sapisan kang purnama | bahita momot segara | jukung layar wonten gunung | pedhati ngambah segara ||
  8. || Kang awas pasemon puniki | aja sira kaliru tampa | terusena sejatine | sewu siji kang uninga | wong tuwa rasakena punika | pan akeh padha kaliru | aja tungkul turune mangan ||
  9. || Margane ana wong mukti | pernyata wijile wong tapa | amesu maring ragane | cegah turu lawan mangan | sarta sabar derana | tur weruh jatine ngilmu | hakekat lawan makripat ||
  10. || Sing sapa wani prihatin | du king anom kongsi tuwa | pesthi mumbul derajate | den sembah-sembah manira | jim setan pri prayangan | sedaya pan sami sujud | wedi asih kelawan sira ||
  11. || Tur pinaringan maring Yang Widi | maring Pangeran ingkang mulya | iya iku gedhe wilalate | berkate saking Pangeran | mulane sira katrima | iya iku jatine laku | minangka dadi embanan ||
  12. || Kang saweneh wong ngurip | kasengsem panggawe dunya | kapingin sugih ragane | wekasan saya melarat | sabarang den gayuh tuna | den cupet maring Yang Agung | sejatine kurang tapa ||
  13. || Jaluk sugih saya meskin | jaluk enak nemu lara | jatine kurang tapane | minta suwarga nemu neraka | iku sira awasena | nedha luhur dadi kajebur | nedha gesang dadi ilang ||
  14. || Pasiyanira Yang Widi | alanggeng tan kena owah | amesthi maring kawulane | tinulis ing tanganira | kang becik lawan kang ala | kang ngandhap kelawan luhur | wus pinesthi ing tanganira ||@@
  15. || Manusa kang pesthi becik | wiwitane saking tapa | amesu maring ragane | tan entheng sandhang lan pangan | permilane pinaringan | tulise tangan kang mujur | terus maring sukunira ||
  16. || Wekase ingkang anulis | padha sira rasakena | kang tuwa miwah kanga nom | yen nora laku mertapa | manusa tan pinaringan | gambare kalintang agung | iku sira ilingana ||
  17. || Wonten carita winarni | caritane kabar kiyamat | ingkang wau ginupita mangke | lan padha sira werudha | iki caritanira | weruhanira ing besuk | anom padha ilinga ||

PUPUH II
S I N O M

  1. || Dhumawuh gaibing swara | eh bumi mengaa aglis | si kapir kang arsa ngrusak | iya maring kubur nabi | sira uleten sami | bumi beledhok amenga sampun | wus bolong sakiderira | angideri sakeh kapir | sami kalebu si kapir ngandhape pertala ||
  2. || Miwah sarajanira | Raja Hurmus lajeng angemasi | bumi anulya ngingkem | si kapir kalih lumayu | tiyang kalih kiwala | lumayu arebut dhingin | sedyanira amantuk maring wismanira ||
  3. || Si kapir sigra kepapak | kancanira kinen abali | yen Harmus sampun pejah | miwah sakancanireki | apan samya ing nguntal bumi | ing labdang pernahipun | kalebu bumi Madinah | pan wus mashur pawartaneki  | Negara kopar ing Mekah lawan Madinah ||
  4. || Wong Islam pan sami suka | sedaya sukuring Widi | nengena ingkang cinarita | agenti carita malih | dhatengipun Imam Mahdi | pan tetelu ngelamatipun | sawiji yen ana grahana wali-wali grahaneki | nuju wulan Ramelan ing waktunira ||
  5. || Sapisan tanggal telulas | kang kapindho patbelas malih | Imam Mahdi nulya mijil | wonten Mekah negari | anjujug ing negari | ing pernahe makamipun | Ibrahim Kalilullah | sanding Hajar Sawudi | umuripun Imam Mahdi kawandasa warsa ||
  6. || Wonten permaning Yang Sukma | Jabarail kang angering | pan sarwi ambekta bala | pan sami anitih turanggi | kawandasa ewu nenggih | pan Malaikat Mikail lan bala agung | ing Mekah kebekan | sakehe prajurit sami | suka-suka wong Mekah maring Sukma ||
  7. || Anengena ingkang winursita | kocapa si kapir prapti | wong loro nitih turangga | ing Hurmus ingkang negari | karine atur bekti | risake sang Raja Hurmus | miwah sabalanira | maring anak putuneki | tuwin bala kang kari wonten ing wisma ||
  8. || Kang samya ngepung sedaya | patine rajeng Hurmus aji | nulya wong sanegara | rembagan ngadegaken aji | anake rajeng Hurmus Negara | suyud wong sanagari | kumpul wadya tan ana kang malanga ||
  9. || Genti kang cinarita | mangsuli carita malih | Imam Mahdi awakira | wonten ing Mekah negari | wus kasebut ratu adil | Jabarail Mikail sampun | apan sarenga musna nira | ana dene Imam Mahdi | sipatira sarupane Nadi Adam ||
  10. || Anging dedegira pideksa | cahyane amindha sasi | wedananira ajembar | angrurih wedananeki | ajelirit alis kalih | apan kocak netranipun | wajanira gebyar-gebyar | kadi wajane jeng Nabi | janggutira angrompal kadi panutan ||
  11. || Lampahe sedina-dina | kaya lampahe jeng Nabi | salat miwah apuwasa | angabekti maring Yang Widi | apan sarene sami | kadi sarene jeng rasul | tuwin suyud manusa | kaya Jeng Sulaiman Nabi | lawan kaya sang Raja Askandar ||
  12. || Agemipun kangrasukan | apan ageme jeng nabi | agemipun dhestar | lan pedhang wasiyat nabi | lawan wonten malih | apan ageng kramatipun | agenge kekayon godhongan | saged wangsul ijo malih | bumi great apan dadi bumi mulya ||
  13. || Ana dene adegipun raja | Imam Mahdi genti kang nabi | tur dadi kalipatullah | ing Mekah gedhonge sami | kang isi retna adi | sedaya binuka sampun | pinariksakaken wadyabala | kang sumedya aprang sabil | lawan malih pekir meskin pinaringan ||
  14. || Meshure kang pawarta | ing Negara kanan lan kering | Ratu adil Imam Mahdi | pan sampun jumeneng aji | suyud kang manca negari | ing Masyrik lan Maqribipun | sakathahe bangsa Islam | dene wong kang bangsa kapir | dereng purun manut Imam Mahdi ||
  15. || Antara selaminira | wong Islam sukaning ati | anulya amireng Jawa | Imam Mahdi kabar sakid | yen Hurmus negari | apan wonten ratu agung | kakumpulane wong kopar | datan andarbeni agami | Imam Mahdi akarsa utusan ||
  16. || Amarintah prajuritira | sawidak ewu kang nitih | satus ewu kang dharat | angrasuk praboting jurit | dene kang dados tindhih | Alibasah namanipun | anate anglunasi karya | Alibasah yen ajurit | lawan nate ambanda para raja ||
  17. || Sigra budhal Alibasah | pan sarwi amundhi tulis | kang serat tunggul penantang | ingkang saking Imam Mahdi | ing marga datan winarni | Negara Hurmus sampun rawuh | kang wadya binekta sedaya | wonten sajroning negari | abusekan wong Hurmus sajroning kutha ||
  18. || Saking agenge kang Negara | rajane dereng miyarsi | sapraptane Alibasah | ing agalun-alun pan nuli | juju king sitihinggil | kang wadya kathah kang kantun Raja Hurmus Negara | siniweng wadya ing sitihinggil | samya pepek bupati lan para raja ||
  19. || Kagyat kang samya tumingal | caraka kang lagya prapta | sigra-sigra lampahira | Raja Hurmus ngandika aris | age sira tumingal nuli | undhangana caraka iku | gandhek nulya inggal | nimbali caraka ing prapti | canawisan ing kursi emas ||
  20. || Wus panggih nulya angunggah | Alibasah sarwi anglirik | pedhangira tinata | sigra maringaken tulis | Hurmus anyandhak aglis | kang serat tinampan sampun | bubukane kang serat | penget laying ingsun iki | tumeka iya maring pekenira ||
  21. || Lan malihe ta sira manuta | maring Yang Widi | manuta agama Islam | agamane kanjeng nabi | aja dadi cemering bumi | kumpulane para kupur | aja manut ing setan | manuta sarengat nabi | kang dinuta ya Mukhammad Rasulullah ||
  22. || Yen sira ora anuta | iya maring ing Yang Widi | lawan yen ora anuta | sarengat nabi linuwih | wong gawa laying iki | sun utus nugel gulumu | miwah angrusak pisan | negaranira Hurmus lawan malih | angrusak sakehe balanira ||
  23. || Setengah maca kang serat V Hurmus wedana lir metu Geni | kerot-kerot ingkang waja | inggal astanira kalih | serat nulya sinebit | Alibasah pan tinubruk | malumpat saking palinggihan | pedhangira wus tinarik | kang samya nangkil sedaya pan ngrebut yuda ||
  24. || Tan kawarna solahira | Alibasah gennya jurit | gegeripun apuyengan | wong kapir akeh kang mati | bala kang aneng wuri | sigra sami ngrebut purun | anulungi Alibasah | wong kapir sajrone puri | samya tulung iya masing ratunira ||
  25. || Awit nempuh ing yuda | panuju ing dina Kemis | marengi wulan Mukharam | ulnge Islam lan kapir | pan samya asilih ukih | pedhang panedhang asru | bedhil miwah kalantaka | tumbak keris samya agenti | datan kena ing ngetang kathahira kang pejah ||
  26. || Alibasah wus manengah | pangamukira lir bantheng kanin | Raja Hurmus pan tumingal | ningali saking sitihinggil | karepotan si kapir | pejah limangatus ewu | perjurit kang nitih kuda | apan sarwi den trajangi | wus tetela ningali Hurmus raja ||
  27. || Sigra lajeng buwang seray | ing negari kanan lan kering | tan kawarna lampahira | wong kapir akeh kang prapti | apan kadi jeladri | wong Islam karoban musuh | karepotan ing yuda | anulya upeksi | ing negari Mekah maring Imam Mahdi ||
  28. || Cinandhak ing lampahira | praptane atur upeksi | umatur saatur ira | miwiti malih | inggal Imam Mahdi | nulya angling yen mangkana karsaningsun | anuwun maring Pangeran | risake sekehe kapir | Raja Hurmus risake sabalanira ||
  29. || Si kapir suyud Imam Mahdi | wonten pitulunge Widi | si kapir pangamukira | samya sakancanireki | apan datan winarni | lamine aprang pupuh | wong Islam gawok tumingal | anyipta sajrone ati | yen gustine Imam Mahdi adadonga ||
  30. || Tan dangu ing risakira | wong kapir samya ngemasi | tan mawi arebut uning | ing Hurmus sampun agempur | risake tan mawi yuda | tan mawi aprang tandhing | sigra budhal caraka lir pucung kang warna ||

PUPUH III
P U C U N G

  1. || Wus acundhuk caraka nulya umatur | wiwitan pan wekasan | Imam Mahdi Ratu Adil | lajeng suyud sigra maring Pangeran ||
  2. || Sigra parentah Imam Mahdi karsanipun | maring Hurmus Negara | para ratu samya ngiring | pra bupati hulubalang aneng ngarsa ||
  3. || Nulya nitih Imam Mahdi kuda mulus | rina suk sedaya | ageing wasiyat nabi | nulya budhal ing marga datan winarna ||
  4. || Imam Mahdi ing Hurmus pan sampun rawuh | sigra Alibasah | amethuk maring sang raja | wus acundhuk Imam Mahdi jujukira ||
  5. || Ing korine wismanira Raja Hurmus | sampun ginuciyat | pitulingira sami | Raja Hurmus ning jro sabalanira ||
  6. || Imam Mahdi nulya tekbir kaping telu | saben-saben lawang | tinakbiran Imam Mahdi | lawang pitu bubrah sakuncine pisan ||
  7. || Nulya manjing Imam Mahdi maring kedhatun | Raja Hurmus sigra | amathuk sabalaneki | datan kelar raja Hurmus yudanira ||
  8. || Balanira raja Hurmus sampun lebur | nulya Hurmus raja | cinekel tan bias budi | sigra narik Alibasah pedhangira ||
  9. || Wus ingidanan Alibasah kinen anempuh | janggane pinedhang | Raja Hurmus wus ngemasi | pan jinarah isen-isen Negara ||
  10. || Wus ingedum Imam Mahdi jarahanipun | maring bala sedaya | weradin pan ageng alit | milang derajat kang wadyabala ||
  11. || Sekarine wong kapir pan sampun lampus | apan winuruk dhahadat | kalimat kalih | pan sahadat Mukhammad Rasulullah ||
  12. || sampun wrata manut agama rasul | apan data nana | Negara kang malang siji | ngetan ngulon ngalor ngidul datan ana ||
  13. || Tan kawarna lamine Imam Mahdi iku | ning Hurmus Negara | arsa kundur Imam Mahdi | ing Negara Mekah pan sampun nulya ||
  14. || Apan sampun Imam Mahdi karsanipun | kang ginawe raja | gentine Raja Hurmus | datan liyan saking anak putunira ||
  15. || Sigra budhal Imam Mahdi balanipun | angering sedaya | untabe kadya jeladri | tan kawarna ing Mekah wus prapta ||
  16. || Angadhatun Imam Mahdi arsa mundhut | sagunge kang dhaharan | dhaharan kang adi-adi | wus bakti sagunge bala para raja ||
  17. || Samya suka sedaya ing tyasipun | kang wadya sedaya | dyat menangi Ratu Adil | bumi jengkar pereng-pereng samya arja ||
  18. || Pan wus mashur ing negari liyanipun | mashure tan ana wong cilik kurang bukti | napa malih Negara pan nora kurang ||
  19. || Pan malihe data nana susahipun | saking arjanira | tan ana kang laku maling | nyebrot ngutil ngampak begal tan ana ||
  20. || Ing penggawe kang laku dursila lacut | sayekti tan ana | yen ana nuli ngemasi | awit saking katrimane donganira ||
  21. || Pandungane Imam Mahdi saben dalu | selametipun ing Negara | aja na laku silib | permilane laku dursila sami salat ||
  22. || Akeh uwong asalat arebut dhucung | saben-saben desa | sami ngadekaken omah mesjid | pan sedaya sami salat bar jumungah ||
  23. || Para ngulama lelangkung mukti setuhu | apan wus kacetha | ngulama pan dadi kekasih | kekasihe ratu adil waliyullah ||
  24. || Para Ratu ing Negara liyanipun | dadi tunggulira | tunggule sakehe mukmin | pan minangka kagentine Imam Mahdi ||
  25. || Pan wrata wedala bumi kelangkung | miwah cukulan | wowohan sami dadi | sakehe wong data nana pajekira ||
  26. || Kang minangka pekahira para ratu | tuwin para ngulama | pekir miskin sami | wedalira jakat pitrah ana manusa ||
  27. || Mila arja sekeh desa gunung-gunung | jurang ora-ora alas | sedaya dipun wismani | sungil-sungil ereng-ereng wismanan ||
  28. || Ilinipun kang toya bumi lumintu | apan datan pegat | tanduranira wong cilik | saben taun tan ana kang ora medhal ||
  29. || Jumeneng Imam Mahdi pesthinipun | kawan dasa warsa | lamine jumeneng aji | anulya ana ratu utusanira Yang Sukma ||
  30. || Sarena prapta utusan anulya cundhuk | tan kena winicara | ngaibira Imam Mahdi | wong kang Islam rumangsa akhir ing jaman ||
  31. || Nulya dhateng musibat Yang Agung | wetunira Dajal | apan sampun den luari | jujukipun saking sarsane Negara ||
  32. || Wonten kol sawiji caritane puniku | wetunira Dajal | anjujuk anataraneki | antarane ing Ngesam kelawan Ngirak ||
  33. || Dene kol kang muktamat jujukipun wetunira Dajal | anjujuk Negara Hursin | akol kang manut lakune Dajal ||
  34. || Kaum Yahudi aranira kang manut | lakunira Dajal | apansamya ahli sikhir | pira-pira kaum anut ing Dajal ||
  35. || Ing Negara Labuh Agin sampun mashur | Atas Angin Sam | mashur ingkang Dajali | yen wus luwar saking gunung Kap ||
  36. || Abusik sekehe manuseku | ing Negara bawah wetan | ing Masyrik mangulon mahtrib | wetunira Dajal pinaringan kuwasa ||
  37. || Kuwasane Dajal ing kiwinapun | mawi ana suwara | kadi bleduk swaraneki | ingkang kanan mawi ana kadi kilat ||
  38. || Lawan malih petakipun sang Dajalu | kadi Gusti Hamzah akeh wong kang datan ilining | penyanane langit pitu sami rebah ||
  39. ||Lawan malih ingkang samya atut pungkur | anak saking jin | sedaya sami tut wuri | bektanipun sarupane tetabuhan ||
  40. || Kang saweneh pitung puluh ewu tambur | lawan kang saweneh | pitung ewu sruni | lawan malih pitung ewu kendhang ||
  41. || Lawan malih pitung puluh ewu angklung | bendhe kanthinira | selawan parestira pan samya | pitung puluh ewu ikut kathahira ||
  42. || Gamelanipun samya mitung puluh ewu | binekta sedaya | pusur kelawan thing-thonggrit | thora gotha suling sami kathahira ||
  43. || Lawan malih anak jin bektinipun | prabotipun aprang pitung puluh ewu bedhil | semalihe pitung puluh ewu tumbak ||
  44. || Kang kendhang gong sami pitung puluh ewu | pedhang bendhe kelewang | telebung grijalan linggis | kudhi pacul wadung pethel towak tatah ||
  45. || Kathahipun samya pitung puluh ewu | prabotira aprang | ning ngarsane sang Dajali | tetabuhaning wurine Dajal laknat ||
  46. || Ana dene tungganganipun Dajalu | apan warnane Bipal | agenge pan kadi wukir | dawanipun apan satus ewu asta ||
  47. || Lawan malih wolulas asta punjulipun | dene agengira | pitungatus asta nenggih | sikilipun kiwa warna selaka ||
  48. || Bathukipun kang Bipa mawi sungu | sungunira apanjang | ula | kalabang | kalajengking | sami metu saking sungu nira Bipal ||
  49. || Lawan malih kang Bipal busananipun | panawa retna | inten mutyara marjani | yen dinulu gebyar-gebyar kadi kilat ||
  50. || Kapane kang Bipal winehan sami sampun | prabotipun aprang | panah towak lawan lembing | kere jemparing kang aning luhur turangga ||
  51. || Sakehe uwong ing Hurmus akeh kanga nut | ing Ngesam lawan Ngerak | akeh sami tut wuri | saking ajrihe ningali sayaktine Dajal ||
  52. || Permilane balane tan kena ngitung | saking kathahira | Negara kang dipun encik | samya manut saking ajrihe pinejahan ||
  53. || Sigra budhal ingkang sinadya ing kayun | ing Negara Mekah | tetabuhan sareng muni | mriyrmipun apan sareng ungelira ||
  54. || Swaranipun apan kadi langit rubuh | gunjing bumi prakampa | prakampane geludhug barengi | beledheg thathit sareng gebyarira ||
  55. || Ponang Dajal nitih Bipal kadi gunung | jenggareng kadya arga | galadhug kilat lan thathit | pating gelebyar ||
  56. || Mawi tulis bathukipun | tur sira cetha | muni kapir ,alengun | maknanipun kapir pinaringan laknat ||
  57. || Lawan malih pitnahipun sang Dajal | apan pitung warna | minangka dadi piranti | dadya godha sekeh manusa ||
  58. || Pitenah awal asru ngucap si Dajalu | sira wetokena | gedhong emas ingsun iki | winetokaken | gedhong isi emas mubyar ||
  59. || Pitenah sami sang Dajalu nyipta gunung | gunungipun emas | lan selaka warna kalih | luhuripun ing arga isi panganan ||
  60. || Sarupane  wowohan ana ing gunung | sekul ulam adi-adi | mawi tarub-tarubanipun inggih emas ||
  61. || Lawan malih luhure gunung mili banyu | beninge kalintang | rasane lir madu gendhis | mubeng-mubeng kang toya ngubengi arga ||
  62. || Lawan malih ana ing ngisore tarub | apan ana kursi emas | bangku emas pan rinujit | pakunipun sedaya intan emas ||
  63. || Sarwi undhang sang Dajal ingundhangipun | eh sekeh manusa | padha ngidhep maring mami | ingsun iki Pangeran kang nyata ||
  64. || Yen wus ngidhep lanang wadon maring ingsun | lah munggaha | gunung malebu gedhong wesi | iya kang dadi cawisanira ||
  65. || Lamun ora padha ngicep maring ingsun | sayekti sira sun rusak | pan ingsun Pangeran yekti | wong tan iman denyana iku Pangeran ||
  66. || Mula kathah wong kanga nut maring Dajal | kadya upamane | tawon ngisep sekar wangi | sami brubul kadi laron mangsa jawah ||
  67. || Saben-saben ngancik Negara ingundhangipun | sami undhangira | panganggunira ing Yang Widhi | yen tan manut manusa nulya pinedhang ||
  68. || Setuhune wong pinedhang iku | sayektine nyata | tan gingsir imanireki | yata trah megatruh netepi iman||

PUPUH IV
M E G T R U H

  1. || Pitenahipun ping telu si Dajal | anyipta udan warih | langit nulya gumuludhug | udanipun riwis-riwis | cecukulan bumi ayom ||
  2. || Lan malih sato kewan lemu=lemu | amangan cukulan bumi | pitnah sekawanipun | bisa marasaken wong tuli | belang picek ciker dhegol ||
  3. || Ing sabrang lara pan samya katur kang Dajal sigra damoni | nulya waras laranipun | lan bisa nguripaken wong mati | nanging uripe liniron ||
  4. || Liniron setan kang ginawe liru | pengrasane kang ningali | yen wong kapir ucapipun | tuhu Pangeran sayekti | lan wong Islam tan piyados ||
  5. || Lan malihe wong kapir sami nenuwun | uripe wong tuwaneki | sang Dajal nulya anyeluk | wong tuwanira si kapir | apan lajeng amergogok ||
  6. || Iya setan kang ginawe liru | maring wong tuwane kapir | pan sarwi celuk-celuk | eh angger nebuta | samya iku Pangeran sayektos ||
  7. || Sigra nebut wong kapir apan kemrusuk | manut wong tuwanireki | dhatengipun kadi sulung | yen wong tuwane urip | apan sarwi amergogok ||
  8. || Dene wong Islam iku dadi kupur | manut lakune Dajal | yen wong kedhik imanipun | alah kudu kapingin | ajrih lamun kinethok ||
  9. || Dene wong kapir maksig ngandel imanipun | apan tan wedi ing pati | tan kapingin ting pelancur | wonten kapingin malih | sekul ulam adi nunyos ||
  10. || Pitenah malih kaping limalas iku | si Dajala yen ana peksi | ing tawang pan iberipun | sang Dajal nulya ningali | peksi runtuh ting taledhok ||
  11. || Sigra peksi sinembeleh sigra binubut | ginoreng nulya binukti | kang peksi ginethak mabur | wong kapir samya ningali | sedaya sami anjambelong ||
  12. || Pitenah malih kaping nem si Dajal | yen ningali maring wong muslim | sarwi ngucap si Dajalu | eh muslim nebuta sami | ingsun iki Pangeran yektos ||
  13. || Yen wong Islam kinen nebut datan purun | nulya cinekel aglis | lambene ginraji sampun | tugel bet lambene kalih | wong Islam anulya mincos ||
  14. || Wonten malih wong Islam kang dereng pinerung | sang Dajal angucap malih | eh Islam tingalana ingsun | kudratipun angluwihi | bisa nguripaken uwong ||
  15. || Lawan malih ingsun bisa gawe lampus | nulya nyandhak wong sawiji | apan kinarya lampus asru angucap sang Dajali | tingalana awak ingwang || (o)
  16. || Nulya malih sang Dajal amandhek gupuh | maring si kapir sawiji | apan kinarya lampus | wujud papat kalih | kang sawiji ginugah alon ||
  17. || Wus delalah panglulunira Yang Agung | sang Dajal pan denturuti | nulya nangikaken sampun | Gusti Allah maring si kapir | kang mati nulya lenggah ||
  18. || Alon ngucap wong Islam maring Dajalu | kang nguripaken wong mati | sayaktinira Yang Sukma Agung | kang karya bumi lan langit | yen sira yektine goroh ||@@
  19. || Aglis cinandhak wong Islam maring Dajalu | anulya pinedhang aglis | panjangga pan wus rampung wong Islam pan sampun ngemasi |iya iku wong Islam sayektos ||
  20. || Asru ngucap sang Dajal maring si kupur | aja nasak maring mami | ya ingsun Pangeran satuhu | nulya matur si kapir | estu boten awaking-wang ||
  21. || Pan saestu paduka Pangeran Kang Agung | kumala boten sakmenir | punang Dajal asru gumuyu | dene bungahe kang ati | denaku Pangeran wong ||
  22. || Lawan malih pitenah kang kaping pitu | sang Dajal anyipya aglis | swarga nerakkanipun | wonten kanan kiring suwargane mencorong ||
  23. || Pan neraka wonten ing kiwanipun | geni mubal angajrihi | agengipun pan sagunung | gumeter kang samya ningali | sekeh uwong samya derodhog ||
  24. || Dene swarga kang minangka lainipun | wong wadon kang ayu luwih | minangka widadarinipun | penganggone widadari | mas inten pating pencorong ||
  25. || Kang kinarya swarga emas murub | sajroning swarga mawi | pepajangan inten murub | warnane lir panggungan inggil | kursinipun emas kinaot ||
  26. || Jru swarga ana rupa bapa biyung | tan samya alinggih | sarwi ngajak celuk-celuk | lanang wadon den celuki | eh ta anak putu ingwang ||
  27. || Becik padha manuta maring ingsun | mungguh maring swargi | yen sira pan nora manut | karsane Pangeran mami | linebokaken neraka umob ||
  28. || Permilane akeh wong kang sarwi anut | pengrasane swarga yekti | lebune pan kadi sulung | nora weruh yen prihatin | manusa pan sami mogok ||
  29. || Apan ana manusa mogok ginempur | maring jrone geni | awakira ajur luluh | anging mangkana kang becik | dadi wong Islam kinaot ||
  30. || Mider-mider Dajal ngalor ngidul | Masyrik tumeka ing Mahtrip | pepitu pitenahipun | kabekta wira-wiri Negara kang denencik larot ||
  31. ||Dene Dajal kang sinadya rumuhun | marinng Kabatullahi delalah sinung Yang agung | angingokaken sang Dajali | mila lampahe  amenggok ||
  32. || Negara ingkang tan kambah Dajalu | Negara dunyeki | pan sekawan cacahipun | ing Mekah lawan Medinah | Betal Mukadas hurthusi kinaot ||
  33. || Pramilane negari sekawan iku | boten kambah maring Dajali | awit karsanira Yang Agung | Negara katingal warih | lan malaikat akeh rawuh ||
  34. || Nulya mogok Sang Dajal maring Negara Babul | kepanggih lan Nabi Hidhir | sang Dajal asru amuwus | ingsun iki Rabulngalamin | Nabi Hidhir sumahur mekos ||
  35. || Apan dulu sira iku Yang Agung | geroh temen sireki | dene sira sang Dajalu | ketara metu mundhir | sang Dajal asru prang pupuh ||
  36. || Sigra ngrasuk sang Dajal maring Nabi Hidhir iku | tetandhing angrubut wani | angatak balane angerob ||
  37. || Nabi Hidhir kinerubut wong sadunyeku | ngiwut Nabi Hidhir | pedhang ginawe ngamuk | keh mati balane Dajal | kang getih sampun ngrobyok ||
  38. || Sareng perang tetabuhan muni umyung | mriyem kelawan bedhil sami sareng ungelipun | kaya rubuhing wiyati | kadi bumi sapta resol ||
  39. || Apan datan ketara ing kalongipun | saking kehe balane Dajali | Nbai Hidhir mongur-mongur | saking kehe ingkang getih | sigra Jeng Nabi sinosok ||
  40. || Karepotan Jeng Nabi Hidhir prangipun | wong siji musuh sabumi | nulya seda Jeng Nabi iku | Gusti Allah gesangaken malih | sadina-dina mangkana ||
  41. || Sigra mundur sang Dajal sabalanipun | ngunduri Bagendha Hidhir | pan tan kena den musuh | wong mati bisa urip malih | mila sang Dajal melarot ||
  42. || Nulya pisah Nabi Hidhir inggonipun | pan sampun awas ing ngilmi | kang mateni Dajal iku | Nabi Ngisa kang mateni | mila apisah ing ngenggon ||
  43. || Wonten kadis awit saking Kangjeng Rasul | angendika Kangjeng Nabi | yen ana umat ingsun | amenangi pitenah Dajali | surat Kahpi dipun waos ||
  44. || Munpangati apan selamet pitenahipun | pitenahe sang Dajali | nengena kadis Jeng Rasul | genti carita malih | sang Dajal pitnahe mogok ||
  45. || Sakarine wong Islam kang dereng lampus | dereng kena ing piranti | anulya sami lumayu | angungsi Mekah negari | aseba Imam Mahdi kaot ||
  46. || Sampun cundhuk wong Islam kang lumayu | apanggih lan Imam Mahdi | sigra Imam Mahdi gupuh | cawis praboting jurit | medal saking kedhaton ||
  47. || Sampun ngumpul wong Islam nulya laju | wonten Betal Mukadasi | Imam Mahdi tunggulipun | nitih kuda rinukmi | sedaya pan sami ngatos ||
  48. || Genti sang Dajal ingederipun | angideri jagat Masyrik | ing Mastrib mangulonipun | nulya wonten kabar yakin | Betal Mukadasi baris ngerompol ||
  49. || Sampul medal saking negari kumpul | Jeng Nabi Betal Mukadasi | ora-ora kadya mendhung | tunggulira Imam Mahdi | sang Dajal anulya bedhol ||
  50. || Kebut lampit dalane sang Dajal | apan tan kena winilis | sadina-dina arawuh | ing marga tan winarni | meh prapta gambuh sang katong ||

PUPUH V
G A M B U H

  1. || Gambuh kantun lakon pitung dalu | sang Dajal lan barisipun | Imam Mahdi kelawan sebalaneki | punika wong Islam agupuh | barise tan kena moncol ||
  2. || Akathah wong Islam rawuh | tan kena wau ingitung | langkung kathah gegamanira jurit | mriyem gada ageng-ageng | wong Islam sumadya lampus ||
  3. || Tan adangu nulya ngrungu | wong Islam swara gumludhug | apan kadya swarane mriyem sakethi | mawi goro-goro pating jalagur | saya celek pan meh rawuh ||
  4. || Eler kilen pernahipun suraking muni gumludhug | iya saking barisan Imam Mahdi | pan wus ngrungu ugelipun | tabuhan umyang gurawuh ||
  5. || Wong Islam awas tingale wau | dhatengipun sang Dajalu | mawi gunung lumaris kekalih | kang siji warna mas murub | siji rupane geni marong ||
  6. || Ana dene kang rupa geni iku | kang minangka nerakanipun | ingkang rupa mas mencorong anelahi | minangka sywarganipun | pitnahe Dajal kinaot ||
  7. || Mawi gara-gara gumludhug | beledhek ana kanan kerinipun ingkang kilat ana ing kiwanirike | sarta riyat-riyut | peksi ngawang guliting teledhok ||
  8. || Sigra ngatak balanipun | Imam Mahdi nulya ngrasuk | busana piturun saking pra nabi | sartane nitih kuda mulus | amundhi gada amoncol ||
  9. || Dene gadanipun | Imam Mahdi apan piturun | wasiyat saking Gusti Bagendha Hamzahi | sarta lan tamengipun | miwah panah pedhang indhong ||
  10. || Dene songsongipun | Imam Mahdi apan tundha pitu | song song gelap tunggul naga emas adi | kang kinarya piturunipun | inten sumeja kinaot ||
  11. || Apan mawi genti sewu | kang teturun songsingipun | Wong Agung Begendha | Hamzahi | ing nalika andon pupuh | swarane lir segara erob ||
  12. || Wong Islam ing rakitipun | sedaya kang ngagem gada iku | apan kadya rakite Imam Mahdi | sarwi nitih kuda sampun | songsongipun sami denbabar ||
  13. || Awetara kathahipun | wong Islam kang badhe magut | aprang kapir melangun | kang bangsa kadi puniku | rong kethi kathahe uwong ||
  14. || Dene bangsa mriyemipun | limang leksa kepara langkung | sedayane apan tan kena winilis | atembak pan kadya mendhung | nulya sang Dajal gennya rawuh |v
  15. || Sigra lajeng anempuh | wong Islam kang lan wong kapir sampun | apa sareng muni | gumludhug swaranipun | kadya bledheg sakethi miyos ||
  16. || Sang Dajal iku | ngedalaken kasektenipun | sigra medal gumludhug kilat lan thathit | seleret pan siyat siyut | dhedhet pedhut udan angob ||
  17. || Wong Islam sampun kinepung | papat datan kena ucul | saking kehe balane sang Dajal | bala sadunyeku | mila ngepung datan mrojol ||
  18. || Sigra Imam Mahdi nempuh | manengah asru amupuh | mobat-mabit pangamuk keh ambeg pati | miwah sabalanipun | kang bangsa kadi mangkana ||
  19. || Miwah bangsa tumbak sampun | pedhang keris pan sami caruk | bedhil mriyem pan sami unineki | suwarane lir gunung rubuh | bumi sapta pating balendhos ||
  20. || Riwut pangamukipun | Islam kapir sami urun | Imam Mahdi pedhang kangkam wus tinarik | medhang sapisan oleh wong satus ||
  21. || Lepasing panah luwih asru | manah sapisan oleh pitung puluh | apan bangke susun tindih | pan sampun samodra marus | sang Dajal pan maksih adoh ||
  22. || Saking kathahe kang rawuh | bala kapir aneng ngarepipun | ning ngarepe sang Dajal laknatullahi | sang Dajal maksih mangkruk-mangkruk | ing luhure Bipal kaot ||
  23. || Imam Mahdi awas andulu | yen sang Dajal maksih aning luhur | ing luhure kekapane sang Bipali | arembug sabalanipun | kang tut wuri maring sang katong ||
  24. || Antara kari limang ewu | bangsa gada ingkang tut pungkur | sadina sami pisah prangneki | arembag arsa katemu | maring si Dajal prang pupuh ||
  25. || Ora nana wekanipun | yen awet mangkana kongsi rong taun | nulya anader Imam Mahdi sebalaneki | wus panggih lawan Dajal | Imam Mahdi nulya mupuh ||
  26. || Prajurite limang ewu | samya mupuh maring Dajal | datan busik si Dajal maksih nadhahi | sigra narik pedhangipun | Imam Mahdi nulya nempuh ||
  27. || Katuju kupingipun | sang Bipal seru panjeratipun | apan kebat sang Dajal sarwi ngucap bengis | eh pedhangmu iku ampuh | ora nana kaya mangkana ||
  28. || Sampun kasaput ing dalu | awiting prang awit tanggal pitu | sadina aprang rina wengi | sami sayah nulya mundur | Imam Mahdi balane bedhol ||
  29. || Maring punekwanipun | sakarine prajurit ingkang lampus | sami sedalu aguneman catur | mangkana anut karsane Imam Mahdi | ingkang arsa melorot ||
  30. || Mring Betal Mukadas iku | arsa dedonga maring Yang Agung | datan kena sang Dajal linawan jurit | pan wus takdire  pan wus takdire Yang Agung | Nabi Ngisa ingkang mungsuh ||
  31. || Dene panuwunipun | si Dajal nuntena lebur | sareng injang Imam Mahdi wus lumaris | datan kawarna wau | Betal Mukadas wus rawuh ||
  32. || Sigra wau sang Dajal | angliwati lampah Imam Mahdi | sampun prapta wonten Betal Mukadasi | nulya katinggal telaga agung | sang Dajal wangsul gupuh ||
  33. || Tan winarna wangsulipun | Imam Mahdi kumpul | wonten mesjid ing Betal Mukadasi | sami nenedha ing Yang Agung | nulya ana suwara miyos ||
  34. || Eh wong Islam sedarum | aja sira prihatin kelangkung | nulya ana pitulungira Yang Widi | Imam Mahdi sebalanipun | samya bungah asru kinaot ||
  35. || Sedaya pan sami suka sedarum | genti pangandikanira Yang Agung | angandika maring malaikat Jabarail | eh Jabarail sira den gupuh | dhawuhana maring ngisa kinaot ||
  36. || Sigra Malaikat Jabarail tumurun | maring langit rabingatu | wus tetemu Nabi Ngisa Rukullahi | nulya salaman sampun | Nabi Ngisa sigra gupuh ||
  37. || Nulya Jabarail rawuh | dhawuhaken salaaming Yang Agung | asru nuwun Nabi Ngisa | ing ngaturneki | lan malih ing dhawuhipun | sira age kinen miyos ||
  38. || Ing dunya bedhe musuh | marang Dajal laknatullahu | sigra tumurun Nabi Ngisa maring bumi | Damusik ing jujukipun | sawetane Negara Kana ||
  39. || Ana menarapipun | putih warnane kadi panggung | gih punika jujuke Nabi Ngisaki | ing jro nulya sujud | anuwun maring Yang Manon ||
  40. || Dene panuwunipun | Nabi Ngisa keparinganan batur | tan antara pitung puluh ewu prapti | malaikat padha dhestar iju | saweneh pethak merusuh ||
  41. || Kang saweneh agemnipun | malaikat ngagem dhestar wungu | kang saweneh ana ngagem dhestar kuning | saweneh ana ngagem dhestar wulung | koncere pating celorot ||
  42. || Sami nitih kuda sampun | miwah prabite rinasuk | tuwin prabote prang rinakit | jambe apedhang lan kesthul | panah tameng lawan indhong ||
  43. || Sakarine Nabi Ngiseku  angrasuk busana ing prang pupuh  pedhang peturun saking suwargi  anelahi jayanipun  lir wulan purnama wutuh
  44. || Sigra anitih sampun | kuda cemeng ulete tumulus | nulya budhal maring Negara Naeki | sakehe malaikat sampun | angering nabi kinaot ||
  45. || Ing marga datan winuwus | Nabi Ngisa pan sampun rawuh | ana Negara Naeki | bumine suci | kapernah ler kilenipun | ing Betal Mukadas tinon ||
  46. || Anjujug ing mesjidipun | ing Naeki nuju waktu subuh | samya salat sekehe wong ning jroning masjid | sarwi mambu ganda arum | gandane nabi kinaot ||
  47. || Wong ngalim Naeki sampun | samya bungah mambu ganda arum | Nabi Ngisa kang minangka rokhullahi | apan samya tetemu | wong ngalim pan samya gupoh ||
  48. || Sarwi ebat andulu | Kathahe bala kang rawuh | balanipun Nabi Ngisa kang linuwih | kaya dudu manuseku | tandha cahyane mencorong ||
  49. || Akeh wong Islam kang rawuh | wus ngrungu Nabi Ngisa tumurun | iya saking pitulungira Yang Widi | pan samya rebut dhucung | sumedya nuli caos ||
  50. || Ing Negara liyanipun | ingkang maring gunung-gunung | sekarine wong Islam tan kena mati | miwah sekarine kang lampus | acaos apan sarwi gupuh ||
  51. || Sigra budhal Nabi Ngiseku | miwah sabalanipun | sami ngrasuk busana kaprabon jurit | sarwi nitih kuda sampun | amethuk Dajal sinedya ||
  52. || Tan kawarna ing wau | kocapa sang Dajal weruh | Nabi Ngisa wus tumurun aning bumi | pertanda gandanipun arum | ingiring sang Dajal kinepung ||
  53. || Sigra sang Dajal lumayu | awit saking wedine linebur | wus rumangsa Nabi Ngisa kang mateni | mila ajrihe kelangkung | lumayu balane sedaya ||
  54. || Nabi Ngisa wus ngrungu | sang Dajal asru lumayu | sigra ngerapaken kuda sebalanarineki | tan kecandak lampahipun | Nabi Ngisa nulya mogok ||
  55. || Sarwi ngandika asru | maring bumi kang kamargen Dajal | eh sang bumi sira cekela den aglis | si Dajal aja kongsi ucul | sigra bumi nyekel kukuh ||
  56. || Sang Dajal nulya rubuh | kadi rubuhe kang gunung | asru kagya sakehe wong kang miyarsi | sang Dajal nulya lampus | gumludhug lemah kalong ||
  57. || Nabi Ngisa ayun weruh | suwara kadi gunung rubuh | sigra ngerapaken kuda sabalaneki | tan dangu nulya rawuh | Bipal sang Dajal lampus ||
  58. || Mati satungganganipun | Nabi Ngisa suka kelangkung | miwah para malaikat samya ningali | dene balane Dajal | kadi kang peksi ginepok ||

PUPUH VI
DHANDHANGGULA

  1. || Rebut dhucung balane sang Dajal | sarwi ngungsi aning nginggiling arga | miwah aning ngalas gedhe | wong kang samya lumayu | kang ingungsinan ika | tuwin aning gunung iku | pan sarwi bisa ngucap | nulya tedhak kang samya angulari | ing kene gonira ||
  2. || Nengena wong Islam sami angulari | maring kapir laknatullah | kang ngungsi ing ngalas gedhe | kocapa sang Dajal | ing nalika patinireki | saking karsane Sukma | linebokaken sampun | ing telenge bintal | dadi dhasar ika ing sakehe wong kapir | wus langgeng aning neraka ||
  3. || Sakehe  Islam kang samya ngulari | maring kapir kepanggih aning wana | miwah ing gunung-gunung sigra samya linampus | sekeh kapir jalu lan estri | jurang ereng-ereng ngarga | kebak bangke kupur | ambetipun belarungan | tan dangu bangke katuting warih | saking permaning Sukma ||
  4. || Wangsul maring gustine Ngiseki | iya maring Betal Mukadas | ingiring sekeh balane | siji Tanana kantun | samya anut lampahe Jeng Nabi | ing marga datan winarna | ing betal wus rawuh | Mukadas ingkang mulya | angedhatun Nabi Ngisa sabalaneki | wonten ing Mukadas ||
  5. || Angandika Nabi Ngiseku singgih | maring sekehe kawulanira | wruhanira sekabehe | ingsun santuni agama rasul | minangka umate Nabi | Muhammad Niyakaningrat | padha sira mituhu | pan gedhe ganjaranira | data nana umat kang kadi iki | kinacek samining umat ||
  6. || Samya suka umat sedayaki | apan datan kang sumelang | manut maring saprintahe | Nabi Ngisa pinunjul | anetepi agamane | Mukhammad Khabibullah | lawan malihipun | netepi adiling raja | sami suka wong Islam kelawan mukmin | kadi jamaning panutan ||
  7. || Dene Imam Mahdi pan kinanthi | iya maring Gusti Nabi Ngisa | wus katrima pun dongane | wonten ing Betal Mukadas | Imam Mahdi pan sampun lami | wonten ing Betal Mukadas | gennya nenuwun | risake si Dajal laknat | pan samangke Dajal laknat wus ngemasi | awit saking Nabi Ngisa ||
  8. || Lawan wonten caritane malih | maring Raden Mukhamad Khanapiyah | Bagendha Ngali putrane | antarane ingkang inu | ingkang nama Dewi Karaisih | ing Ngejrak negaranira | nginalib seminipun | amargi kenging deduka | ing nalika kelawan Yajid | anake Mangawiyah ||
  9. || Mukhamad Khanapiyah kinging dedukane Yang Widi | awit saking tetulung kang raka | Bangendha Husen | sedane | putra Bagendha Ngaliyu | ibu saking Dewi Pertimah | perang lawan Yajida | Bagendha Husen kapupuh | anulya sinedanan | jangganira kinethok kelawan Yajid | anulya ginawe kasukan ||
  10. || Mila sanget dukaning enting | wau Raden Mukhammad Khanapiyah | sareng miring caritane | angluruk sabalanipun | maring Ngesam negarane Yajid | ing marga datan wilawarna | apan wus nempuh | yudane Yajid kasoran | nulya lengser iya maring negeri Mesir | binuru separanira ||
  11. || Sareng campuh Negara ing Mesir | Yajid cilaka lawan Khanapiyah | Yajid kasoran yudane | nulya Yajid sampun | pinejahan sang Raja Yajid | jangganira kinethok | pan ginawe umbul-umbul | langkung sanget dukanira | iya Raden Khanapiyah | wong sak Mesir sedaya ||
  12. || Pinejahan wong jalu kelawan estri | prajurit kanga tut wuntat | pitenahan sedayane | awit kena ing bendu | iya Raden Khanapiyahi | ngrusak sakehe desa | iya iku awitipun | ing mangke wus linuwaran | pan pinesthi kanthine Nabi Ngiseki | kinen anata agama ||
  13. || Permilane Ngisa nerpati | wonten Negara ing Betal Mukadas | jenengaken roro imame | kang sawiji Imam Mahdi | kang sawiji Mukhammad Khanapiyah | wong roro jumeneng imam | arja ingkang makmum | kadi arjane Negara Betullah | sami suka wong Islam lawan muikmin | anetepi wong Islam sedaya ||
  14. || Ing Negara wetan ing Masyrik | lawan malih mangulone ika ing Maqrib mangulonya | kidul ngalor sedayane | samya arja kelangkung | sekeh uwong tan kurang bukti | miwah sandhang pangan | pan sami cukup | mila Tanana dursila | awit saking mukjijate Jeng Nabi | lan kramate Oliya ||
  15. || Lan sakehe mulyane wong mukmin | lan mulyane kang para ngulama | parkom sedayane | miwah wong Islam iku | kenikmatan sami dhatengi | awit saking Nabi Ngisa | Rakullahu | nikmate lanang wanudya | sami suka sukur maring Yang Widi | saking kathahe nikmat ||
  16. || Laminipun mijil angratoni | wonten ing dunya sekawan dasa | warsa lamine | apan datan winuwus | akrama putra Ngisa nabi | sampun pepek kawan dasa warsa | nenggih taunipun | nuli wonten kang musibat | lorepun Jamakjuja saking wukir | saking ing gunung Thura ||
  17. || Kang ginadhang Sultan Askandar nguni | wonten satengah ing gunung Thura | ing mangsa iku luwarane | Jakmajuja ingkang sunu | iya aran Kiyai pis | papis kang putra | Gusti Nabi Nuh | sampun medal saking Ngerak | Jamakjuja kasektenira ngluwihi | ngungkuli si Dajal laknat ||
  18. || Pertikele kadi si Dajal | mila kathah kang sami tut wuntat | saking ajrih kasejtene | ingagung maring Yang Agung | apan kacipta dadi | kang manut tanpa wilangan | tan kena ingitung | panggawene ya Pangeran | ana wong kang anebut maring Yang Widi | abengis ujarira ||
  19. || Nulya masang Jamakjuja aglis | panahira ingkang pinasang | mendhuwur asru lepase | ingkang sinedya ing kayun | amanah kang Mahasuci | Gusti angandika | maring Jabarail wau | eh Jabarail inggal | ameleti inggetih ingkang jemparing | panahe Jamakjuja ||
  20. || Sareng wangsul apan gubrat getih | panahira Jamakjuja | saya agung takabure | kinen ngaku Yang Agung | pangrasane andheweki | dene mawi pertandha | panah gubrat marus | mila wong kang datan imam | yekti ngandel panggonira Yang Widi | pakone Jamakjuja ||
  21. || Nulya tampi timbalanira Yang Widi | Nabi Ngisa kinon mapakake | Jamakjuja ing yudane | apan aken agempur | wong Islam akeh kang mati | rinasuk Jamakjuja ingkang datan manut | Nabi Ngisa sigra budhal | Imam Mahdi lan Mukhammad Khanapiyah iki | iya datan kenapiyah ||
  22. || Dene ingkang sinadya ing ngati | iya marang ing gunung Thura | Jamakjuja panggonane | ing marga datan winuwus | ing Jabar Thur sampun prapti | mirsa satengahing marga | kang beteng wus lebur | Negara tanah wetan sami rusah | tiyange pan sami gusis | sekarine pejah ||
  23. || Kang saweneh ana ingkang tut wuri | kang saweneh ana umpetan | ing guwa jurang perenge | dene bangke tumpuk susun | bangkene wong kang sami mati | Nabi Ngisa nulya | twdhak sedarum | titihane kuda pelak | nalika mapak yudane Dajal | miwah praboting prang ||
  24. || Imam Mahdi saminereki | titihane mulus kang kuda | praboting prang sakehe | ing nalika prang pupuh | amapak yudane Dajali | dene Mukhammad Khanapiyah | pedhange Dulpakar iku | wasiyat kang rama  Bagendha Ngaliyu | ing nalika andon jurit | aprang kelawan Raja Lakhad ||
  25. || Titihanipun wau kuda pekik | kuda sekarane negari Ngajrak | aputih mulus ulese | sami lan titihanipun | kagungane Gusti Imam Mahdi | kuda loro pan kembar | dene kudanipun | kagungane Nabi Ngisa | cemeng mulus yen dinulu ambelerengi | gebyaring pan kadya kaca ||
  26. || Lampahipun apan kadya angin | mila saking Betal Mukadas | sadinten praptane | wonten ing gunung Thura | sareng sampun amariksani | estu kathah kang pejah | bangkene asusun | suwung Negara bang wetan | ingkang ngungsu ing guwa panderengi | panangisipun amelas arsa ||
  27. || Kapiarsa Gusti Nabi Ngisa singgih | penangise wong kang aning jro guwa | miwah ing jurang perenge | tuwin bangkene tumpuk | kapiranan Gusti Jeng Nabi | nulya adedonga | sirnane kang lampus | miwah mulyane Negara | lawan malih waktune ingkang rijeki | dedosa panggone kang gesang ||
  28. || Pan katrima pandongane Jeng Nabi | tan adangu pan samya prapta | kang peksi garudha praptane | apan kadi sulung anucuki bangke kang maksih | binucal aning segara | sareng telasipun | kang peksi gusis sedaya | bangkae agung kadi lumute jeladri | tan dangu praptanira ||
  29. || Udan warih turun inginggil | cecukulan pan sami ancerap | rompyoh-rompyoh ing semine | wong kang aning jro guwa metu | miwah wong kang aning wukir | ereng-ereng ngarga | apan samya metu | amangan ing cecukulan | sami seger rumangsa awake urip | kathahe cecukulan ||
  30. || Kang saweneh cecukulan kali | kang sawene cecukulan kacang | jagung tela lan kenthange | miwah cecukulan timun | uwohipun pan samya dadi | nengena Nabi Ngisa | genira ambangun | ing Negara tanah wetan | kang kocapa Jamakjuja angideri | ing jagat tanoleh wuntat ||

PUPUH VII
P A N G K U R

  1. || Sareng Jamakjuja | angideri jagat sadunyeki tan ana wani amusuh | amanut sakarepira | Jamakjuja tetep ngaku Yang Agung | kang para ratu sedaya | Tanana ngelawan jurit ||
  2. || Kacarita Jamakjuja | balanira apan tigang warni | kang medal kasektenipun | dene kang warna sanunggal | pan sapandha dedekmu mung sajagung | amangkene pakaryanireku | anyakoti manusa | pan sapisan anyakot manusa lampus | manusa kang sami Bangka | tan anut lakunireki ||
  3. || Lakunira Jamakjuja | dene warna iya ingkang kaping kalih | apan agung inggilipun | iya among saasta | karyanira maksih nyokoti yen ngamuk | manusa tan atut wuntat | pan sapandha kumpulneki ||
  4. || Ana dene pepanganira | maksih mangan iya cecukulan bumi | warna ingkang kaping telu | kang sapandha kumpulira | karyanira anyandhak manuseku | binanting manusa sirna | anginum pepanganeki ||
  5. || Anginum banyu segara | angengipun kawan dasa asta sami | kalawan inggilipun | kathahe tanpa wilangan | data ana wong kang bisa ngitung | among Yang Agung Maha Mulya | ingkang bisa amilih ||
  6. || Yen lumaku Jamakjuja | kang ngiring barat lesus dhateng | miwah celeret siyat-siyut | geludhug beledheg angampar | mendhung dhedhet ampak-ampak aning luhur | luhure Jamakjuja | amayung lumaris ||
  7. || Ana dene tungganganira | Jamakjuja awarni liman putih | winetawis angengipun | sami kelawan Bipal | apan iya tungganganira Dajal | ajenggereng Jamakjuja | ning luhur liman putih ||
  8. || Winetawis angengira | Jamakjuja sami kelawan Dajal | nanging kaot kupingipun | kadi ilir warnane kanan kiring | iya ana rupa gunung | minangka swarganira | awarni emas retna adi ||
  9. || Amawi gerbong kencana | panganan nyamikan adi-adi | sineleh ing luhure bangku | bangkunira kencana | mawi kurso titana sami mas murub | ting pelancur warnaneka | mila kathah kang kepingin ||
  10. || Kapingine manjing swarga | pangrasane iku swarga yekti | datan weruh yen pengridu | pangridune Jamakjuja | supayane ana rowangipun | amanjing ana neraka | dene kang kiwa winarni ||
  11. || Warnanipun ingkang kiwa | Jamakjuja ana warna kadi wukir apan geni yen dinulu | minangka nerakanira | mila kathah manusa ingkang kerut | wedi manjing ing neraka | kerut suwarga adi ||
  12. || Pengrasane manusa | aningali ing gunung umbul geni | anyana neraka setuhu | tan weruh iku sijrat | istijrate Jamakjuja ratu kupur | miwah retune setan | angratoni ing Yomani ||
  13. || Lakunira Jamakjuja | data nana ing marga ngelawan jurit | dene Negara sadunyeku | datan kambah Jamakjuja | lampahipun | sawiji negari Mekah | kapindho ing Madinah iki ||
  14. || Telu Betal Mukadas | kaping pat neggih negari Turtusi | yen celak Negara Jitur | apan katon telaga | nulya mogok mider-mider lampahipun | ingkang sinedya ing nala | wangsul negari Masyrik ||
  15. || Datan kawarna ing marga | ing Negara Masyrik pan sampun prapti | ing tepis wiringipun | lampahira kadya barat | siyat-siyut kilat thathit sami nempuh | beledheg geludhug awurahan | udanipun riwis-riwis ||
  16. || Pan sampun awas tumingal | Nabi kelawan Imam Mahdi | Mukhammad Khanapiyah iku | sigra ngrasuk busana | praboting prang pan sedaya wasiyat sampun rinasuk | wong Islam wus nglempak | ing wikinge Kangjeng Nabi ||
  17. || Tan antara Jabarail prapta | sekehe gaman iya saking suwargi | maring Nabi Ngisa iku | gada lan parisira sigra musna Jabarail tan kadulu | nulya wau Jamakjuja | pan sampun awas ningali ||
  18. || Yen kang methuk Nabi Ngisa | karsanira Jamakjuja amundhut aglis | gada ageng awrat sewu | dhacin mas kang mulya | parisira among wawrat limangatus | dhacin waja kinarya | milane kepati-pati ||
  19. || Pan lajeng ayun-ayunan | Jamakjuja kelawan Nabi Ngiseki | Jamakjuja asru muwus | eh Ngisa kawruhanira | ingsun iki aran Pangeran setuhu | sira manuta ingwang | gedhe ganjaran mami ||
  20. || Sun ganjar sira warga | apa ingsun akarya swarga adi | kang ana ing kananipun | lah ingsun neraka | ana ing kiwanipun | lah age sira manuta | maring jeneng ingsun iki ||
  21. || Asuthik wuwusira | Nabi Ngisa maring retune Iblis | eh Jamakjuja sira iku | pan lanaktullah | angratoni ing sakehe para kupur | lawan sakehe para setan | angratoni ing Yomani ||
  22. || Den eta swarganira | pan istijrat penglu-lune Yang Widi | lawan malih nerakamu | pan iku padha istijrat | sira ilinga Jamakjuja laknat kupur | ilinga maring Pangeran | kang akarya bumi langit ||
  23. || Bermantyanira kalintang | Jamakjuja sigra angadeg aglis | gada kang awrat sewu | dhacin emas kang kinarya | sareh nempuh tangginas Nabi Ngiseku | tinedhehan parise waja | jumegur tibane bindi ||
  24. || Saking rosane kang gada | iya saking kuwate ingkang dhawahe | gunjing ingkang bumi pitu | kocak ingkang samudra | sekeh wana sami esol kayunipun | maring wukir sedaya | pendhut dhedhet andhatengi ||
  25. || Mubal dahananira | apan mubal iya maring wiyati | kumutuk kukusing latu | sigra Mukhamad Khanapiyah | Imam Mahdi sami narik pedhangipun | angrasuk sebalanira | Jamakjuja balaneki ||
  26. || Balane Jamakjuja | Telas sewu rongewu andhatengi | telas sekethi lampus | rong kethi sami prapta | iya bala kang medal kasektenipun | antarane telung dina | pangamukira wong kalih ||
  27. || Langkung peteng dhedhetira | kukusira pedhut iya kongsi telung bengi | mila wong sadunyeku | rumangsa dina kiyamat | sareng ical pedhut dhedhet lakukus | katon musuh lan rowang | Jamakjuja asru angling ||
  28. || Eh ta sira Nabi Ngisa | sun wetara sira lan siti | maksih panggah sireku | ana saluhure kuda | iya estu yen sira pinunjul | angungkuli wong sajagat | dene kelar anadhahi ||
  29. || Nadhahi penggadaningwang | iya Ngisa ja sira gumingsir | sun gada malih sireku | iya gadaningsun | Nabi Ngisa nulya nadhah | jumegur tibane bindi ||
  30. || Swara lir gelap ngampar | kadi bledheg sakethi ambarengi | geni mumbul kadi gunung | ngampak aning tawang | sekeh uwong anyana langit rubuh | ngrubuhi sekeh manusa | kelenger meh mati ||
  31. || Gunjing ingkang bumi sapta gunung-gunung apan sami miring | sekeh kayu sami rubuh | buron wana belulungan | akeh mati sami karubuhan kayu | kocak banyune samudra | ingkang mina akeh mati ||
  32. || Peteng dhedhet awurahan | iya saking kukusing geni | dadak sekala udan awu | prapta gawong pitung dina | bengine petenge ajumput irung | sekeh uwong sami karuna | dene kiyamat dhatengi ||
  33. || Reden Mukhamad Khanapiyah | lawan malih iya Seh Imam Mahdi | tan kendeg pangamukipun | balanira Jamakjuja | datan telas malah saya akeh wuwuh | wus jangkep pitung dina | apadhang lir wingi uni ||
  34. || Jamakjuja awas tumingal | Nabi Ngisa maksih aning luhur ing turanggi | gedheg-gedheg manthuk-manthuk | agedheg goyang kepala | Jamakjuja apan asru wuwui | eh ta iya Nabi Ngisa | gadanipun maksih siji ||
  35. || Gada prunggu bobotira | telung ewu dhacin winetawis | iya den priyitna sireku | saiki patinira | sambata wong tuwanira de gupuh | sun antep karosaningwang | Ngisa aja gumingsir ||
  36. || Nabi asru ngadika | Jamakjuja sira tibakna sami | rosa lan malih kasaktenira | lan aja sok ngaku Yang Agung | endi ana Pangeran | liyane Rabulngalamin ||
  37. || Apan sira laknatullah | lawan malih sira iku Ngabdullahi | satrune Allah satuhu | age sira mupuha | sigra nempuh Jamakjuja asru nempuh | kasangga anggise waja | parise Nabi Ngisa ki ||
  38. || Saking sangete kang gada | Jamakjuja rosane tanana kari | akuwat penangkisipun | katempuh parise waja | suwaraning gada babledheg sewu nempuh | gunjing kang bumi sapta | akeh juguruk ingkang wukir ||
  39. || Pan lindhu ambal-ambalan | peteng dhedhet kumutuk kukus ing geni | apan sarwi udan watu | meh asat ingkang samudra | akeh pejah manusa katiban watu | sigra ingkang endhas | kalenger meh ngemasi ||
  40. || Wus nyana jangkep rolas dina par gawong tatana sasi | miwah sangetan kadulu | apan sekehe manusa | akeh pejah iya saking udan watu | iya saking kurang papan | lawan malih sedhih kingkin ||
  41. || Pan wus jangkep rolas dina | nulya padhang apan kadi lami | Jamakjuja awas andulu | Nabi Ngisa maksih panggah | iya kamsih aning luhur manggung Jamakjuja asru ngucap | malesa aja ngunduri ||

PUPUH VIII
D U R M A

  1. || Nabi Ngisa ngandika maring Jamakjuja | eh Jamakjuja aglis | sira den prajitna | amasanga tangkisita | sun arsa males sireki | gada maring sira | Jamakjuja masang tangkis ||
  2. || Dene Raden Mukhamad Khanapiyahi | kelawan Imam Mahdi | anyepengi kang kuda | kendalinira kang kang kanan | Mukhamad Khanapiyahi | dene kang kiwa | Imam Mahdi kang nyepengi ||
  3. || Asru ngetap panggadane Nabi Ngisa | sarwi petek barengi | nempuh ingkang gada | sumembur parise | waja | anerus badanireki | Jamakjuja | anggru nulya ngemasi ||
  4. || Lawan malih mati satungganganira | gumulung aning siti | mendhelongira kang lemah | sekaki antaranira | saking sangete pagitik | gunjinge bintala | jugrag ingkang wukir ||
  5. || Segera asat mina akeh ingkang pejah  | geni kepyuring tangkis | angobong ingkang wana | nenggih buron alas | mati kobor ing geni | peteng limunan | peteng dhedhet mendhung amberangi ||
  6. || Mubal-mubal kumutuk kukusira | apan lindhu wali-wali | geludhug lan kilat | celerete thathit ya medal | beledheg pan samya mijil | pan sekeh manusa | nempuh polahe sami ||
  7. || Apan gowong lawasing pan wolung dina | jangkep kawan dasaari | prang Jamakjuja | Nabi Ngisa punika | nulya apadhang kadi uni | katingal kalebu yomani ||
  8. || Dene iya balane Jamakjuja | sekarine ingkang mati | apan maksih kathah | Nabi Ngisa adedonga | rusake bala kang urip | apan katrima | pandongane Kanjeng Nabi ||
  9. || Nulya Allah angutus maring Jabaraila | kinen marintahi jin | kinen amemangsa | balane Jamakjuja | Jabarail melesat aglis | sarwi dangundhang | kabeh sarupane ejin ||
  10. || Entekne balane Jamakjuja | lah padha sira papani | apan sampun terang karsane kang Mahamulya | para ejin mangkat aglis | pan sami suka | rumangsa angsal bukti ||
  11. || Dene congor pan kadya sami | irungi guluneki | kathahe tanpa wilangan | ing marga datan winarni | wus prapta genireki | balanira | Jamakjuja sigra enting ||
  12. || Lajeng sukur Nabi Ngisa maring Pangeran | sigra kundur Jeng Nabi | maring Betal Mukadasu | dene Mukhamad Khanapiyah | kelawan pun Imam Mahdi | tansah ing wuntah | ing marga datan winarni ||
  13. || Sampun prapta Betal Mukadas | wus manjing sajrune puri | dene wong Mukadas | sami bungah manahira | sukur maring | ganira dedunga | sirnane bala kapir ||
  14. || Pan sinegeg Nabi Ngisa praptanira | kucapa sang raja kapir | Jabari namanira | balane tanpa wilangan | arsa ngrusak puser bumi | sampun siyaga | wus budhal saking negari ||
  15. || Raja Jubari utusane rajeng Ngabesah | kinen ngrusak puser bumi | sami medal bahita | prabatipun ngayuda | miwati tatungganganetki | kamut sedaya | ing sajrone paloneki || (palwaneki)
  16. || Anengena iya kang lagya alayar | kucapa Nabi Ngisaki | pan sampun waspada | winisik ing malaikat | pan sampun waspada | winisik ing malaikat | kengkenan raja Ngabesi | bakal angrusak | maring betullahi ||
  17. || Sigra parintah Nabi Ngisa ing sabalanira | prajurit jruning Mukadasi kinen asiya | prabupatipun ngayuda | sami anitih turanggi | belgedaba liman | senuk memreng kuldi ||
  18. || Kang saweneh prajurit angagem gada | kang saweneh ngagem tamsir | pedhang klawan tumbak, kestul lan Kalantaka | mriyem miwah suligi | pusur lan parah | Ngabdullah tunggulneki ||
  19. || Sigra budhal prajurit Betal Mukadas | tatabuhanira ngrangin | bendhelan tamburira | ing margi datan winarna | wus ngancik ing puser bumi | baris atata | anengena kang lagya baris ||
  20. || Kang kucapa bala Ngabesi wus amentas | saking sajrone warih nulya asiyaga | prabotipun ngayuda | sarwi anitih turanggi | belgedaba liman | saweneh anitih huldi ||
  21. || Raja Ngabesi kang dadi tetunggulira | sarwi nitih jenggiri | aneh warnanira | awakira kadi ulam | sirahipun kadi babi | duk angsalira | aning sajrune jeladri ||
  22. || Ingkang gada raja Jabari punika | gada wawrat sewu kati | prunggu ingkang kinarya | waja parisenira | ngedhangkrang nitih janggiri | pan sinungsungan | susun tiga busananira asri ||
  23. || Kang saweneh balanira ngangem goda | saweneh ngagem tamsir | pedhang lan kalantaka | mriyem kalawan panah | pusur kalawan suligi | tetabuhanira | bendhe tambur lawan suling ||
  24. || Sigra budhal Jabari sebalanira | ing marga datan winarni | wus ngancik ing tanah | tanahira ing Mekah | Syeh Ngabdullah nulya ngrakit ||
  25. || Pan tinata sebalanira sedaya | perjurit Betal Mukadasi | pan atata gamanira | sedaya perjurit sami | anitih Syeh Ngabdullah | anitih gajah wilis ||
  26. || Angedhanggreng aning ing luhur liman | asri amundhi bindi | wawrat sewu kati waja | ingkang kinarya parisira | sedaya sami miranti | parise waja | sinungsongan susun katri ||
  27. || Umyang gumuruh suwarane kang tetabuhan | balane sang raja kapir | genggeng kadya samudra | arampak lampahira | sinahuran bala Mukadasi | kang tetabuhan | umyang aning wiyati ||
  28. || Tan antara dangu anulya ayun-ayunan | anyapa raja Jabari | eh sapa aranira | satriya kang ngandhong marga | apa arep bosen urip | pan lakuningwang | ingutus maring gusti ||
  29. || Raja Dulgunya retune wong Ngabesah | kang ngutus maring kawi | abubrah Betullah | miwah angrusak pisan | sagahe wong islami | lah sira mundura | asugal Syeh Ngabdullahi ||
  30. || Kalawan ira takon jenengisun | Syeh Ngabdullahi | utusane sang raja | Nabi Ngisa Ruhullah | kang jumeneng ing Mukadasi | utusane ingutus ing Mekah | netepaken agamane suci ||
  31. || Pan ngutus medhangi maring sira | yen sira peksa wani | ambubrah ing Betullah | ingsun kinen nglawanana | iya maring sireki | miwah sebalanira | bermatya Jabari ||
  32. || Eh Ngabdullah kadhunga ing parisira | rasekena gada mani | sira den prayitna | tan wurung awor lan lemah | sambata wong tuwa kalih | tumenga ngakasa | tan wurung sira yen mati ||
  33. || Nulya masang Syeh Ngabdullah panisira | Raja Jabari amindhi | tempuhing kang goda | tinangkil parise waja | gumebyar medal kanga pi | amulad-mulad | wus nyana yen ngemasi ||
  34. || Sareng ilang urube kang dahana | Syeh Ngabdullah maksih urip | panggah lungguhira | ana saluhuring liman | kagyat sang raja Jabari | Eh Ngabdullah | sun nyana awor siti ||
  35. || Eh Ngabdullah sira matesa maring ingwang | aja katon sireki | kaparwiranira | Syeh Ngabdullah angadika | apa sakarsa nireki | lah den prayitna | sira sang Raja Jabari ||
  36. || Nulya kudhung parise waja kang mulya | iya sang raja Jabari | sigra Syeh Ngabdullah | amolahaken kang gada | angetop pangganeki | tempuhing gada | sinangga dening tangkis ||
  37. || Pan gumebyar amedal dahananira | saking sangete bindi | kuwate kang anangga | geni mubal ing tawang | kumutuk kukusing api | kaling brama | anglelara raja Jabari ||
  38. || Maksih tumpak jenggiri ing luhurira | tamengira pinundhi | Tanana kang kasoran | apan sami kuwatira | buwang gada silih ukih | pedhang-pinedhang | pan sarwi banting binanting ||
  39. || Sami tulung balanira Syeh Ngabdullah | miwah bala Ngabesi | angrebut ing luhurira | sinarung pangamukira | mriyem sareng amuni | tamburnya ngangkang | bendhenira nitir ||
  40. || Umyang gumuruh surake kang wedya bala | kadya rubuh kang wukir | bala keh palastra | Islam kapir pan samya | saking kathahe bala kapir | Syeh Ngabdullah | arsa ngunduraken baris ||
  41. || Samya eles perange bala Mukadas | anyekut bala kapir | ing marga datan winama | Mukadasi pan meh prapta | waspada Niti Ngisaki | yen Ngabdullah | kasuran genyak jurit ||
  42. || Nabi Ngisa angetak maring Imam Mahdiyu kelawan kalawan Khanapiyah | amapak ingkiang yuda | wong kapir meh prapta | iya mering Betal Mukadasi | abujung Ngabdullah | nulya dandan wong kekalih ||
  43. || Sigra ngrasuk busana praboting yuda | sarwi nitih turanggi | miwah kang wasiyat | sampun rinasuk sedaya | pedhang kangkam lan dulpakar sampun tinata | aning luhuring turanggi ||
  44. || Nulya budhal wong kalih tanpa rowang | lampahe lir thathit | ing marga datan winarna | pan wus sami prapta | ing gone raja Jabari | kadi samudra | saking kehe balaneki ||
  45. || Sigra nempuh wong roro samya arampak | pedhange wus tinarik | gelasah bala kopar | akeh kang samya palastra | lir pindha babadan pacing | sumembur kang bala | Raja Jabari lumaris ||
  46. || Pan binujung kacandhak marga | tinigas jangganeki | miwah sabalanira | sampun sami pinejahan | telas bala ing Ngabesi | wangsul sedaya | ngabdullah nulya ngabekti ||
  47. || Sampun kumpul bala Mukadas sedaya | sekarina kang mati | andherek lampahira | Imam Mahdi punika | lan Mukhamad Khani[iyah | sigra-sigra | Betal Mikadas wus prapti ||
  48. || Sampun katur iya purwanira | miwiti malah mukasi | suka Nbi Ngisa | miwah sekehe pra Islam | sami sukuring Yang Widi | lan sami atata | arja ingkang Negara Mukadasi ||
  49. || Sampun prapta janjinira Yang Sukma | sabdane jeng nabi | wonten Betal Mukadas | ana dene Imam Mahdi | lan Mukhamad Khanapiyah | prihatin samya wau kasmaran sami ||

PUPUH IX
ASMARADANA

  1. || Sekehe wong Betal Mukadasi | pan sami susah sedaya | tinilar marang gustine | Nabi Ngisa Rohullah | arum gandanira | ing Negara liyani[un | lan sami mambu sedaya ||
  2. || Ing Ngesam lawan Bangdadi | ing Ngerum lawan Madinah | ing Mekah pan mambu kabeh | nulya lajeng siniraman | layose Nabi Ngisa | malaikat sami tumurun | miwah widadariya ||
  3. || Kerik lampit kang widadari | isen-isene suwarga | anyirami ing layone | iya Gusti Nabi Ngisa | aning Betal Mukadas | nulya sinalataken sampun | wonten ing masjid Mukadas ||
  4. || Dene karsane Imam Mahdi | lan Mukhamad Khnapiyah | arembag wong mukmin kabeh | layone jeng Nabi Ngisa | kinubur wonten Madinah | ing dayane kanjeng rasul | ing luhure Gusti Ngumar ||
  5. || Dene raja Madinahi | pani sampun ngrakit sedaya | sampun tampi utusane | saking ing Betal Mukadas | layone Nabi Ngisa | pan ing ngakataken sampun | ing margi datan winarna ||
  6. || Ing Madinah sampun prapti | ning mesjid para ngulama | sami nyalataken kabeh | bungahe para ngulama | sami amambu ganda | amrik ganda arum | mijil saking ing suwarga ||
  7. || Anulya kinubur aglis | layone jeng Nabi Ngisa | tan antara sadangune | rampung pan sampi bubaran | ing wismane sewing-sewang | Mukhamad Khanapiyah iku | Imam Mahdi nulya budal ||
  8. || Kundur maring Betal Mukadas | pawongan ngiring sedaya | ing marga datan winiraos | ing Mukadas sampun prapta | tan antara Madinah ||
  9. || Dangane Nabi Ngikesi | ajajar lan Gusti Ngumar | tan antara malih lamine | Raden Mukhamad Khanapiyah | sigra nututi seda | kinubur ing Medinah iku | ajajar lan Imam Mahdiya ||
  10. || Susah sakehe para mukmin | miwah wong Islam sedaya | dene tan ana tunggule | anengene ingkang sungkawa | kocapa Raja Ngabesah | pan sampun midhanget tutur | patine Jabari raja ||
  11. || Enteke balaneki | kya patih tinimblan | Dawil Insyar iku namane | eh patih Dawil Insyar | apa sira ngrungu warta | risake bala kang ngluruk | patine Jabar raja ||
  12. || Ature rekyana patih | inggih angsal kang pawarta | wikan yakin lan botene | Dawil Ngumya asru ngandika | yen mangkana karsaningwang sarupane kawulaningsun | ing tanah Ngabesi sedaya ||
  13. || Sun pundut watu siji | ing dalem tiyang sanunggil | padha parintahana kabeh | sun gawe ngurugi ing bab | dedalan maring Batullah | keletan segara ageng wiyare mung sewu asta ||
  14. || Iku kang tan ngurugi | sarupane wong wong Ngabesah | supaya dadya dharate | ingsun arsa metu dharat | angrusak ing Betullah | Tanana kuwatiripun | dene metu ing dharatan ||
  15. || Dene kang Raja Ngabesi | selawasira dadi raja | apan tuli selawase | tan ngrungu Negara liyan | kang madha maring Ngabesah | saben-saben andangu | kya patih aturira ||
  16. || Pan inggih wonten negari | ing Mekah lawan Madinah | ing Ngerum Turki Mesire | samya kelebu bumi Mekah | akedhep Raja Ngabesah | tampane pengrungunipun | data nana kang Negara ||
  17. || Turune Raja Ngabesi | awit buyut Raja Sadat | kalebu Ngumar namane | awit tuli turunipun | demugi Raja Dzulngumya ||
  18. || Sareng Raja Dzulngumyani | awit pinaringan luwar | tulinira talingane | angrungu Negara liyan | iya akeh ingkang madha | ing Mekah pan sirahipun | mila badhanipun linurungan ||
  19. || Sigra parontah kyana patih | tan kawarna lampahira | wus mangkat sedayane | iya wong Ngabesi punika | wus pepek pinggir samudra | nulya balangaken watu | anenggih maring samudra ||
  20. || Wus rata pan mkadi gisik | sigra patih Dawil Insyar | umatur maring sang katong | samudra pan sampun rota | pan kadi dharat | asuk Dawil Ngumya sang prabu nulya kinen andandan ||
  21. || Angundhangi ssekeh prajurit miwah kinen asiyaga | praboting prang pupuh mengku | apan datan winicara | prajurit ing Ngabesah | anulya budhal sampun | ingiring prajuritira ||@@
  22. || Pan sarwi anitih esthi | saweneh belgedada kimar | senuk memreng lan bipale | ana dene praboting ngayuda | gada kelawan pedhang | panah mriyem kelawan kestul | suligi lawan tumbak ||
  23. || Kya patih tengga puri | tan kawarna lampahira | wus ngancik Mekah bumine | wong Mekah sami mapak | ananing datan anangga | alaju ing lampahipun | sampun prapta ing Betullah ||
  24. || Nulya lajeng den bububrahi | wong haji pan sampun pegat | wong Mekah pan samya lampus | sekarine samya bubar ||
  25. || Angungsi maring wnadri | arusak negari Mekah | sampun karsane Yang Manon | rusake negari Ngarab | miwah ing Kabatullah | Raja Ngabesah puniku | amarga dadi jalaran ||
  26. || Mila ing dina puniki ing wong Ngabesi sedaya | akhalal lamun ing ngepek | maring wong bangsa Ngarab | yen lanan dadi kawula | yen wadon dadinereku | dadi amat namanira ||
  27. || Wenang winade puniki | lamun ana wong tuku amat | datan nganggu ningkah maneh | khalal lamun tunurutan | saking murahing Pangeran | sebab dene bakal nglebur iya maring Kabatullah ||
  28. || Mangsuli carita malih | bubrahe Raja Ngabesah | ing marga datan winaraos | miwah ing sapraptanira | ing wisma Raja Ngabesah | anulya wonten babedu | wiwitan dina kiyamat ||
  29. || Surya medal saking magrib | surupe surya mangetan | rembulan wonten tanggale | amengulon surupira | anulya dhateng kang panas | apan tan ana jawah |  agenge kang gegodhongan ||
  30. || Miwah tan ang rizki | anulya ana suwara | yen anak putu Adam kabeh | iki wus dina kiyamat | wus mineb lawang tobat | sepira-pira karimu | apan tan tinirima ||
  31. || Inggih kuwan prasami | iya ing dina punika | langkung sanget suwarane | angebeki jagat sadaya | saking bangete suwara | angrungu wong sadunya iku | anulya nangis sedaya ||
  32. || Ajungkel ing siti panangisira manusa | sambate angadhuh-adhuh | nulya Allah Tangala | ngetokaken ingkang Dabah | metu saking selanipun | Gunung Esap lan Marwah ||
  33. || Dadine ingkang Dabani | saking saantaranira | bumi kelawan langite | sirahira kadi sura | tegese sura punika | peksi sura namanipun | wedana kadi manusa ||
  34. || Netranira kadi jinjir | kupingira kadi Bipal | sunginira kadi bantheng | gulunira kadi unta |dhadhanira kadi sima | miwah ta marnanireku | garong kadi candra mawa ||
  35. || Buntutira kadi kambing | sukunira kadi unta | nanging amawi tangan karo | dene tangan ingkang kanan | amawi ngangem maklumat | ali-ali agemipun | ageme Nabi Suleman ||
  36. || Dene tangan ingkang kering | ngangge teken agemira | Nabi Musa kang kinaote | apan sarwi mawi elar | luru-luru suwuwunira | apan asru iberipun | ing magrib sakedhap netra ||
  37. || Miwah miber ing Masyrik | ngalor ngidul ingiberan | karyane angumpulake | iya sakehe manusa | yen ana manusa Islam | pinisah lan enggonipun | kelawan manusa kapir ||
  38. || Miwah wong munapeki | kumpeli manupek sedaya | wong kapir kumpul kapire | wong Islam kumpul lan Islam | iya karyane Dabah | kelawan tan agemipun | asta maklumat agem Suleman ||
  39. || Pan ginawe anudingi | manusa kang bangsa Islam | anulya putih raine | dene agemira jungkat | teken agemira Musa | apan ginawe anuthuk | maring endhase wong kopar ||
  40. || Sigra musna kang Dabahi | anulya Allah Tangala | anurunaken angin gedhe | angin tupan westanira | tumurun aning dunga | angeded angin punika | prahara dadak sekala ||
  41. || Lesus sarwi ambarengi | ing dunga dadak sekala | gunung kayu sami esol | apan sekehe manusa | tan karuhan polahira | ting jalerit sambatipun | ngalor ngidul ngulon ngetan ||
  42. || Tanana dipun anubi | kayuni ing ngalam dunya | ting gelasah sedayane | miwah sakehe kang wisma | sami rubuh sedaya | panase kang surya iku | kadya api ing neraka ||
  43. || Grahanane wali-wali | miwah grahanane wulan | surya runtuh ing lintange | apan sakehe manusa | saweneh anggendhong anak | sami mati anakipun | ana luhure gendhongan ||
  44. || Miwah wong kang meteng sami | aruntuh wetengira | dene rare maksih playon | tinilar wong tuwanira | datan ngitung ing anak | rumeksa pribadinipun | tan wurung iku palastra ||
  45. || Anulya kang wukir sami | p[an sami mumbul ing tawang | sami tarung sedayane | mila satengahe samudra | rata kadi dharat | miwah pereng sampun jaru | ledhok pan rata sedaya ||
  46. || Dene sekehe manuseki | pan sampun pejah sedaya miwah sekehe kewan | pan sampun telas sedaya pan sami sirna | ngandika kang Maha Luhur | maring Malaikat Ngizrail ||
  47. || Eh Malaikat ngizrail | padha sira pundhuta nyawane si Iblis kabeh | padha kang bangsa syetan | pada sira pundhuta Ngizrail sigra amundhut | syetan wus pejah sedaya ||
  48. || Gusti Allah ngandika malih | maring Malaikat Ngizrail | eh sira pundhuta age | nyawane sekeh Malaikat | kang ana bumi sapta | miwah ana langit pepitu | Ngizrail sigra tumandang ||
  49. || Sedaya wus sirna enting | mung kari Ngizrail piyambak | anulya tumandhang dhawuhe | Pangeran Kang Mahamulya | kinen ngalap nyawanira | Ngizrail sigra andudut | Nyawane pribadinira ||
  50. || Ajungkel malaikat Ngizrail | niba tangi polahira | sambate lir bledheg miyos | saking sangete sekarat | geru-geru saben dina | lamine sekaratipun | apan ana sewu warsa ||
  51. || Dene sambate Ngizrail | yen anaa ingkang mirsa | sayektine mati kabeh | saking bangete suwara | panjritira malaikat | Ngizrail pan sampun lampus | Tanana kari satunggal ||
  52. || Sami ngrasakaken pati | sakehe mahluk sedaya | grahana kang srengge | lawan grahana rembulan | grahananira telas | sekeh lintang sami runtuh bedhane langit kaping sapta ||
  53. || Miwah gunjinge kang bumi | sapta lawan bedhahira | Gusti Allah ngandika alon | lah sapa ingkang amurba lah sapa ingkang masesa | kang karya urip lan lampus | bumi sapta langit sapta ||
  54. || Miwah saisen-isenereki | suwarga lawan neraka | saisinira karune | rembulan kelawan surya | kabeh ingsun kang karya | purba wasesa iya ingsun | rabilngalamina ||
  55. || Gusti Allah anguripaken sami | malaikat ingkang murba | miwah sebalane kabeh | kang bangsa kurubiyuna | anglumpak aning ngarep hijab | hijabe ngaras puniku | kathahe tanpa wilangan ||
  56. || Miwah gandane sami | data ana ngewruhana | akehe lawan gedhene | among Allah Tangala | kang bisa amilang-milang | miwah pirsa agungipun | malaikat kang ana hijab ||
  57. || Den eta agenge sami | malaikat ngarepe hijab | sekalir sekehe | ana ngisore buntala | ana dene sirahira | ana luhure ngaras agung | balane malaikat sekawan ||
  58. || Jabarail lan Mikail | Israpil lan Ngizrail | luhure among punika | ana dene malaikat Makarabun | acanthi maring Pangeran ||

PUPUH X
KINANTHI

  1. || Ngandika Gusti Yang Agung | maring malaikat Mukarabin | eh Mukarab matura | ing ngendi lah mahpush mami | matura malaikat Mukarab | gumantung nginggile ngarsyi ||
  2. || ati warnanipun | kanga ran Lohmahpushi | kadi putihe tigan | dawane kang lohmahpushi | antarane langit sapta | bumi sapta anataraneki ||
  3. || Sekarane kang lohmahpush | saking mutyara abrit | belabagira mutyara | iju warnane dumeling | lohmahpush ana tulisnya | pepesthene manuseki ||
  4. || Cekak dawane kang umur | beja cilakane jlami | tinulis ing lohmahpush iki | apan datan kena gingsir | awit wujude manusa | tumeka kiyama kubra ||
  5. || Sampun katur aturipun | malaikat Mukarabi | anulya ana suwara | saking erahing Yang Widi | eh lohmahpush umatura | titipan ingsun aning ngendi ||
  6. || Gumeter wau lohmahpush | umatur sarwi wotsari | dene kagungan tuwan | titipan kang wonten mami | he Allah Pangeran amba | kawula pasrahaken Israpil ||
  7. || Wonten malih suwara asru | saking erahing Yang Widi | eh Israpil umatura | titipan ingsun ning ngendi | gumeter Israpil iku | umatur sarwi ngabekti ||
  8. || Dhuh Gusti Kang Maha Luhur | kagungan tuwan Gusti | titipan kang wonten amba | kang elohmahpushi | sampun kawula pasrahena | dhumateng malaikat Ngizrail ||
  9. || Wonten malih suwara asru | saking erahing Ywang Widi | eh Ngzrail umatura | titipan ingsun ning ngendi | gumeter Ngizrail sigra | umatur sarwi ngabekti ||
  10. || Dhuh Kang Mahaluhur | kagungan tuwan Gusti | titipan wonten amba kang saking malaikat Israpil | sampun kawula pasrahaken | dhumateng malaikat Mikail ||
  11. || Wonten malih suwara asru | saking rahing Yuwang Widi | eh Mikail umatura | titipan ingsun ning ngendi | gumeter Mikail sigra | umatur sarwi ngabekti ||
  12. || Dhuh Gusti Kang Maha Luhur | kagungan tuwan Gusti | titipan kang wonten amba | kang saking malaikat Ngizrail | sampun kawula pasrahena | dhateng malaikat Jabarail ||
  13. || Wonten malih suwara asru | saking rahing Yuwang Widi | Jabarail umatura | titipan ingsun aning ngendi | gumeter Jabarail sigra | umatur sari ngabekti ||
  14. || Dhuh Gusti Kang Agung | kagungan tuwan Gusti | titipan kang wonten amba | kang saking malaikat Mikail | sampun kawula pasrahena | dhateng kekasih tuwan Gusti ||
  15. || Muhammad nabi panutup | anulya kang Mahasuci | ngandika maring Ridwan | eh Ridwan sira paesi | sarine bumi | kasunaran gebyar-gebyar | kadi kuninge mas mijil ||
  16. ………..pada 16 dumugi pada 23 boten wonten.
  17. || Gelung kondhe cundhuk mentul | selindhange sutra abrit | sinulaman iju sutra | tinnetes inten bumi | tiningalan gebyar-gebyar | cahyane mindha sasi ||
  18. || Aweneh nyampingipun | sutra iju lurik kuning | sinulaman toya emas | kembenipun wau abrit | arimong gacu Suleman | lelongan suwarga adi ||
  19. Sengkengipun inten mancur | pinetik mustaka bumi | gebyar-gebyar kadya lintang | sore-sore kalane angalih | waja lir inten mustika agebyar-gebyar ambelerengi ||
  20. || Ana ngure rimanipun | cundhuk jungkat inten bumi | sami sedheng-sedheng dedegira | miwah badanireki | pan sarwi gadhah pawongan | iya padha widadari ||
  21. || Pantes pangakunipun | widadari sedayaki | pan asra methuk sedaya | iya maring Kanjeng Nabi | ya Muhammad Khabilullah | wonten ing ngandap sitinggil ||
  22. || Sitinggil amawi tarub | tarube kencana adi | miwah payane pisan | pan sami retna adi | pepajangan inten mulya | kembar mayang ing sitinggil ||
  23. || Linangse mutyara murub | sineleh luhur sitinggil | sengandhape usuk kencana | miwah tarub kencana | adi sami linagse sedaya | sinawuran jebad kasturi ||
  24. || Sarwi sinelehaken bangku | lawan sinelaheken ing kursi | pan sami kursi kencana | pinatik inten merjani | kanthahe tanpa wilangan | bangkunira lawan kursi ||
  25. || Ana dene pernahipun | sitinggil ngajeng suwargi | perdosan ingkang mulya | suwargane Kanjeng Nabi | sitinggil karya kumpulan | pamethuke widadari ||
  26. || Piranti pinarikan | pinarakane kanjeng nabi | awarna dhampar mutyara | aluhur Tanana nyameni | ingandhap sitinggil mulya | pan atap kursi rinakit ||
  27. || Tan winarna lampahipun | widadari sampun prapti | wonten sitinggil mulya | anulya pinarak kursi | sanes kursi cecawisan | ngarep dhampar mutyara adi ||
  28. || Sampun cawisanipun | widadari sami prapta | ambekta bokor kencana | isine toya kang wening | kathahe tanpa wilangan | piranti ginawe ngisuhi ||
  29. || Ngisuhi sampahanipun | sampahane jeng nabi | miwah para anbiya lan sartane para wali | kelawan para syuhada | ngulama lan para mukmin ||
  30. || Kelawan para Islamu | kanga nut lakune nabi | pan sarwi cinawisani | widadari lawan kursi | ya iku walesira | Walese kang Mahasuci ||@@
  31. || Wus dadi cecadhangipun | widadari ing suwargi | apan dadi bojonira | bojonira kang para nabi | kelawan para oliya  | syuhada kelawan mukmin ||
  32. || Lan malih para Islamu | kanga nut lakune nabi | lawan ginanjar suwarga | minangka wisma sayekti | apan nora kena rusak | alanggeng genira mukti ||
  33. || Bodho temen ngulamaku | ngulama ing zaman akhir | remen dunya lawan sawah | kesambi arine wengi | ngibadah lawan tuminah | dadi runtuh salatneki ||
  34. || Talake buju setuhu | kang ana suwarga adi | karem bojo aning dunya | warnane kadi leri | den eta wismanira | kadi sudhungira jinir ||
  35. || Dening bojone dunya iku | kang minangka parintahe laki | yen lanang mungguh suwarga | bojonira melu manjing | tur dadi  bojo tuwa | anome pan widadari ||
  36. || Dene cahyanira mancur | bojo saking ing dunya | datan kari cahyanira | lan cahyane widadari | sarta kuwasa marintah | wus terang karsaning Widi ||
  37. || Yen ana wong wadon iku | tan ngabekti maring laki | wau maring Pangeran | bojoning ing yomani | wong kang ana ing neraka | dadine bojo sayakti ||
  38. || Lan malih ngulamaku | wus kacetha aning dalil | waman dzal aa aman | fakad zar nabi | sing asapa tinjo wong ngulama | sasat tinjo para nabi ||
  39. || Nanging sejen puniku | ngulama lan para mukmin | yen para nabi Tanana kena | rindhu maring ing Iblis angukuhi | bojo ing ngakherat | asugih ayune ngliwati ||
  40. || Dene para ngulamaku | kena ridhu ing Iblis | remen bojo aning dunya | lawan remen ing dunyeki | lan remen rajabrana remen bojo ing yomani ||
  41. || Mindah getunipun | bojonira apan salin | suwarga oleh neraka | bojo kang aning suwargi | anganti tan prapta-prapta | anyipta sareng jeng nabi ||
  42. || Miwah para anbiyaku | lan malihe para wali | dene wong mukmin punika | sebarang lakune sami | persasat para ngulama sejen asugih ngilmi ||
  43. || Dene para Islamu | iku presasat wong mukmin | nanging iku kacek uga | wong mukmin iku netepi | wong Islam kendhat lakune | nanging meksih jeneng muslim ||
  44. || Ana dene pitukunipun | bojo kang aning suwarga | pan among limang prakara | kang dhihin alunga haji | kapindhune apuwasa | ping telu syahadat kalih ||
  45. || Kaping pat zakat iku | kaping lima shalat wajib | wajibe waktu lelima | kang sarta tumaninah | ikhlasing manahira | aja iling sugih meskin ||
  46. || Yen sugih iling dunya iku | yen meskin iling tan bukti | iku pada ikhlasena | minangka tuku suwargi | nanging cok kena gibodha | mila akeh datan prapti ||
  47. || Ana dene tukunipun | bojo kang aning yomani | pan akeh wernanira | kang dhihin atinggal wajib | pikukuhe Islam lelima | kapindhone anginum warih ||
  48. || Kaping telu azinaku | kaping pat amateni | wong tanpa dosa | ping lima abegal maling | kaping nem atotohan | ping pitu serik karebi ||
  49. || Ana dene rencananipun | takabur sumungguh drengki | iya lawan ngujub riya | kidhib kelawan hitmat | anyebrot ngiutil nayeb | kelawan ngapusi ||
  50. || Angitung tan bisa ngitung | petokonira yomani | delalah dadi rebutan | pangarsane ngenikmati | sareng kumpul bujonira | awake gerak runtang ranting ||
  51. || Senadya wong wadon iku | yen malih tuku suwargi | cinadhang bojo oliya | yen bojone datan apti | kudu milih tuku neraka | dadi runtuh talak bain ||
  52. || Lan malih wong wado iku | yen malah takon yomani | kang lanang malah suwarga | iyo runtuh talak bain | kang lanang bojo suwarga | kang wadon bojo yomani ||
  53. || Nengena ingkang winuwus | kocapa Ridawan angabekti | sarwi ngaturi uninga | suwarga sampun rinakit | miwah widadarinira | anom-anom amantesi ||

PUPUH XI
S  I  N  O  M

  1. || Gusti Allah angandika | iya maring Jabarail | eh Jabarail sigra | timbalana kasih mami | Muhammad dipun aglis | lan gawa sireku | tetungganganira Burak | lan malih sira paesi | dipun becik saking suwarga ||
  2. || Ana dene rainira | kang Burak pan kadi jalmi | angengira sami Bipal | lesanira kadi peksi | gagak cucukireki | sirahira kadi perasu | tegese iku jaran | dene kupingira kalih | warna inten jumanten ijo kang mulya ||
  3. || Dhadhanira kadi macan | gigirira kadi Bipal | buntutira kadi himar | awarna emas singagling | sikilira kadi paksi | apan sarwi nganggo jalu | ana dene suwiwinira | awarna mutyara jeni | lamun tinon lir pindah inten mulya ||
  4. || Netranira peksi Burak | awarna mutyara abrit | yen ngelirik gilar-gilar | iya kadi daru ngalih | senene netra kalih | apan ana tulisipun | kalimat roro pan cetha | ana dene guluneki | lawan dhadha warnane pan kadya soca ||
  5. || Lampahira kadi kilat | sarta nganggo suwiwi | roro pan kathahira | ing dalem siji suwiwi | elar-lari kathahira | ing dalem siji suwiwi ing dalem siji suwiwi | laripun winilis | apan pitung puluh ewu | suwiwi amambu ganda | kasturi saking suwargi | yata ngambar gandane kang peksi Burak ||
  6. || Dene ta kendhalinira | inten jumanten | pinatiking setya jenar | lan apusira kendhali | warni emas adi | agodhek mutyara mancur | abah-abahira sutra | diwangga pan samput abrit | gilar-gilar kadi sorote kang beskara ||
  7. || Gusti Allah angandika | maring malaikat kalih | eh Mikail sira sun duta | timbalana kasih mami  | Muhammad dipun aglis | lawan gawaa sireku | makhuta ingkang mulya | kang saking suwarga adi | warnanira inten widuri murub mubya ||
  8. || Gebyar-gebyar warnanira | makutha kadi herthathit | kasorotan ing beskara | belerengi netra kalih | murub-murube | pan semu pethak iku | pethakira kadi wulan | yen sinawang lir emas sinangling | nalikane purnama tanggal limalas ||
  9. || Gusti Allah angandika | maring malaikat Ngizrail | eh malaikat sigra | timbalana kekasih mami | Muhammad dipun aglis | lawan gawaa sireku | kulambi lan nyamping | karune saking suwargi | sutra ijo kelawan sutra diwangga ||
  10. || Miwah ta lancinganira | pinantes saking suwagi | pan sami sutra mulya | tinenun toya jeni | jambiyanira rinakit | iya saking suwarga agung | binalongan mutyara | tinretes ing inten bumi | gebyar-gebyar kadi genyare kilat ||
  11. || Gusti Allah angandika | maring malaikat Israpil | eh malaikat Israpil | timbalane kasih mami | Muhammad dipun aglis | lawan gawaa sireku | paying agung kang mulya | ya saking suwarga adi | songsong lakon sewu warsa ||
  12. || Miwah ta ambanira | antarane bumi langit | paying kencana mulya | nijinira kang kinarya adi | rujinira mutyara abrit | ana dene dedanganipun | warna selaku mulya | pinatiking surya adi | lawan malih ebol-ebolira cahya ||
  13. || Kinen mancur mertiga | sawiji ana ing Masyrik | ing Magrib sawijinira | ing sawiji tengahe bumi | tengene dunya iki | ana dene umbul-umbul | tetiga tinulisan | sawiji tulisneki | pan tinulis bismillah sahatamira ||
  14. || Kang sawiji tinulisan | patehah alhamdulillahi rabbil ngalamina | lan sawijine malih | iya sami tinulis | lailahailallahu | Muhammad Rasulullah | ing dalem umbul sawiji | apan iya lakune sewu warsa ||
  15. || Gusti Allah angandika | maring malaikat Mukarabin | sebalanira malaikat | padha kinen anjajari | ana ing turut margi | kang den ambah kasih ingsun | mulya malaikat sekawan ||
  16. || Dadi bingung malaikat | tan bisa anegeri | kuburipun | katrima panuwunira | nulya ana cahya kaesi | kadi selaka mancuring sundhul ngawiyat ||
  17. || Marek malaikat sekawan | ing kubure kangjeng nabi | pan sarwi dadi diniya | kang pantes amungu dhingin | malaikat Jabarail | angering maring Israpil iku | dene Israpil sigra | angering malaikat Mikail | pan Mikail angering maring Ngizrail ||
  18. || Malaikat Ngizrail sigra | amangu maring kangjeng nabi | alerah pamungunira | nanging datan den sauri | anulya maring Israpil | sigra Israpil mangu | abah ingkang kuburan | anulya minungu malih | apan sigra kuburan anulya sumilak ||
  19. || Israpil mangu ping tiga | nulya lenggah kangjeng nabi | ing luhure kuburan | angusapi kangjeng nabi | lebu kang aning luhiyat | miwah kang ana ing raksu | sarwi ninggali mangetan | mangalor mangidul magrib | datan ana gunung miwah sekeh wisma ||
  20. || Lawan malih data nana | ing masjid Madinah iki | miwah menaranira | ngandika kangjeng nabi | apa ta pagene iki | data nana uwong-uwong | apa ta liya-liya | iku wus kiyamat | sampun sikek punika sampun dina wekasan ||

PUPUH XII
ASMARADANA

  1. || Sampun miarsa ing hadist | caritane Nabi Adam | pinarak aning ibare | sarta tunggulira binabar | akumpul kang wadya bala | andedonga ing Yang Agung | kelangkung maras sedaya ||
  2. || Sekathahe ingkang ngungsi | anangis anedha supangat | amelas asih ature | Gusti Jeng Nabi Adam | tuwan leluhur kawula | anedha tulung amba nuhun | tebihna api neraka ||
  3. || Sedaya samya anangis | Nabi Adam angandika | anak putu ingsun kabeh | ingsun pan nora kaduga | atetulung maring sira | ature mahluk sedarum | dene wau kinasihan ||
  4. || Iya bener sira kaki | dhingin ingsun kinasihan | dene Pangeran sajatine | tanapi anandhang wiring | ana dene nrajang awisan | adhahar kuldi puniku | dadi benduning Pangeran ||
  5. || Balik ingsun tutur bae | angungsia den inggal | ing Nabi Enuh na mane | iya iku ingkang kinasihan | dadi dutane Pangeran | ing kana anggenipun | anulya mangkat sedaya ||
  6. || Neraka aksih atut wingking | lampahe mahluk sedaya | kelangkung tebih pernahe | eletipun sewu warsa | maring Nabi adam | sekelangkung padhangipun | selama-lama rahina ||@@
  7. || Kawarnaan pan sampun prapti | ing ngarsane Nabi Enuh ika | akumpul wadya balane | pinarak aning mimbar | tunggulipun binabar | sineba ing umatipun | kagyat praptane kang manusa ||
  8. || Sekathahe kang angungsi | den bujung api neraka | umyeng gumuruh suwarane | Nabi Enuh angandika | dhumateng maring balane | aja obah sireku | anedhaha ing Pangeran ||
  9. || Sedaya pan sami prapti | ature sarwi karuna | adhuh Gusti kkawula angger | anedha tulung tuwan | tebihena ing neraka | andika kasihe Yang Agung | lan malih kang kinarya duta ||
  10. || Anedha pitulung kawula gusti | ature mahluk sedaya | amelas asih ature | ingsun dhingin kinasihan | maring Allah Pangeran | samangke kawula iku | tanapi anandhang wiring ||
  11. || Jeneng ingsun duk rumiyin | urip ana ngalam dunya | duk ngelam umat kabeh | sanget ingsun anedha | slamet awakingwang | tur janji saking Yang Agung | selamet anak ingwang ||
  12. || Anging ingsun durung uning | maring si kapir kanengan | sabab dadine bendune | dene asih ing kanengan | dadine ta punika | anulya sanget tubat ingsun | angrasa anandhang wiring ||
  13. || Balik sira sun turuti | anuruta dipun inggal | angungsi sira kabeh | ing Nabi Ibrahim ika | denaken sanaking Allah | tinarima pujinipun | dhumateng Pangeran kang mulya ||
  14. || Ngungsia sira denaglis | ing Nabi Ibrahim ika | ing erah kana pernahe | anulya mangkat sedaya | neraka maksih tut wuntat | tan kari tengaranipun | sampun prapta ing ngayunan ||
  15. || Kawarta Nabi Ibrahim | pinaraka aning mimbar | sarta binabar tunggulu | akumpul dadi sapantha | sahabat kawula warga | kagyat sedaya puniku | ungele api neraka ||
  16. || Ungele manusa ngungsi | ejin iblis lawan syethan | dhumateng bala sedaya | aja na bubar sira iku | anedhaha ing Pangeran ||
  17. || Kang sami prapta anangis | ature anedha supangat | kawula nedha tulung angger | Nabi Ibrahim angandika | ingsun pan nora kaduga | atetulung ing sira iku | sabab ingsun anandhang wiring ||
  18. || Iya dhingin kinasihan ugi | dening Pangeran Kang Mulya | mila sinung coba ingong | dumeh asih kalintang | anembeleh anakingwang | kasil suda bektinipun | awak ingsun saking ngadat ||
  19. || Mila sanget tobat mami | sabab ingsun nandhang wiring | balik ingsun tuduh bae | inggal sira angungsia | ingkang nama Nabi Musa | kinasihan ing Yang Agung | pan ingaken kalamullah ||
  20. || Mangkata sira denaglis | angungsi Nabi Musa | erah kana pernahe | api neraka tut wuntat | tan kari separanira | sewu warsa tebihipun | warnanen pan sampun prapta ||
  21. || Nabi Musa wus kepanggih | pinarak aning ing mimbar | sarta binabar tunggule | akumpul dadi sapantha | sahabat kawula warga | kagyat kang umat sedarum | ing ungele api neraka | kang kecandhak dipun mangsa | wus prapta ing ngarsanipun | ature kawelas asih ||
  22. || Autre sarwi anangis | adhuh gustika Nabi Musa | kawula nuwun pitulungan angger | ampena duhaken api neraka | Nabi Musa angandika | pan nora kuwasa ingsun | atulung maring sira ||
  23. || Milane nora kuwasa mami | sabab ingsun nandhang wiring | amateni kapir kabeh | kasilep aning segara | kaum kalebet sedaya | Raja Pirangon ratunipun | ing Mesir ingakang Negara ||
  24. || Amateni kaum pra sami | ingsun duk aning dunya | mila sanget tobat ingong | ngerasa anandhang wiring | maring Pangeran Kang Mulya | ya balik ingsun usung tuduh engungsiya Ngabi Ngisa ||
  25. || Playane kepati-pati | lampahe kalunta-lunta | sewu warsa ing lamine | warnanen pan sampun prapta | ing ngarsane Nabi | pinarak ing mimbar sampun | sarta tunggule binabar ||
  26. || Sampun kumpul sebalaneki | sahabat kawula warga | miarsa maras manahe | ungele api neraka | miwah mahluk sedaya | kang sami ngungsi gumuruh | kelangkung ajrih sedaya ||
  27. || Nabi Ngisa nulya angling | ajana bubar sedaya | anedhaha sihing Yang Manon | warnanen anulya prapta | ing ngarsane Nabi Ngisa | ature amelas ayun | tan pegat denya karuna ||
  28. || Kelangkung angasih-asih | adhuh gusti Nabi Ngisa | pan nora kaduga ingsun | sebab anandhang wiring ||
  29. || Iya ingsun kala ing dhingi | duk urip ana ing dunya | sekehe kaum ingsun | ingaranan putrane Allah ||
  30. || Pangandikane kang Mahasuci | tetkala akuwirang | balik ingsun tuduh bae | angungsi Nabi Muhammad | nabi pinilih punika | dene Pangeran iku | sartane kinarya duta ||
  31. || Punika Nabi kekasih | sapujine tinarima | tur data nana sisipe | den inggal sira mangkata | erah pernahe kana | aja sakabeh iku | pan angsal pitulunge Allah ||
  32. || Anulya mangkat aglis | syetan ejim lawan manusa | neraka ambujung bae | tan kari separanira | warnanen pan sampun prapta | ing ngarsane kangjeng rasul | akumpul wadyabala ||
  33. || Pinarak ing mimbar wilis | sarta tunggule binabar | sineba kawula wargane | sahabat sewu punika akumpul segolonganira | cinarita langkung agung | balane jeng rasulullah ||
  34. || Kagyat maras ingkang ati | ungele api neraka | ungele mahluk iku kabeh | kanjeng nabi angandika | dhumateng kang wadyabala | padha eca sira iku | tekane api neraka ||
  35. || Lah aja sira kuwatir | pan ingsun kang kinaridhan | dene karsane Allah mangke | pan ingsun kinen cekela | kangjeng nabi lumampah | sujud ing ngarsane sampun | obah karsane punika ||
  36. || Obahe kursi puniki | tandhane yen kinaridhan | nulya tindak anyepeng rante | punika kang kinarya nancang | gulune neraka | kagyat nulya ajumbul | kangjeng nabi angandika ||
  37. || Menawa sira den aglis | miraos api neraka | manira manggih tembene | manusa kelangkung kuwat | tan kuwat manira obah | angandika kangjeng rasul | kuwat karsane Pangeran ||
  38. || Neraka ature aririh | sampeyan tiyang punapa | kangjeng nabi pangandikane | jenengku Nabi Muhammad | lawan jeneng nabi duta | kinaridhan ingkang agung | anyekel marang ing sira ||
  39. || Neraka anulya ajrih | sabab sampun du king kuna | ing wau caritane | yen Gusti Nabi Muhammad | kelangkung kinasihan | neraka anutut sampun | kanjeng nabi angandika ||
  40. || Aja sira buru maneh | agawe mesakat | dhateng ejim manusa kabeh | aja gawe sorang-sorangan | mukane teka sira | amburu umat ingsun | ature api neraka ||
  41. || Sampun janjine kang Mahasuci | mangsane dina kiyamat | amba kinen ngukum kabeh | selathane kang duraka | kang …………. ||
  42. || Angandika kangjeng nabi | uwis sira marenana | aja sira buru maneh | pan wis janjine Pangeran | sabab kapir lan Islam | yen wus teka ing mangsanipun | tegakena maring sira ||
  43. || Lah sira nuruta ugi | ing mangke sira sun gawa | maring ngarsane Allah mangke | ature api neraka | inggih dhateng sandika | anulya binekta sampun | maring ing ngarso Pangeran ||@@
  44. || Nabi Muhammad wus prapti | asujud tengahe ngarsa | sampun katrima ing sujude | angandika sang Mahamulya | iy sira sun trima | pernahena iku neraka | ana ing kiwane ngaras iku | suwarga tengene ngaras ||
  45. || Caritane wonten ing hadist | api neraka punika | sareng pernah ing enggone | anulya dadi ika | ageng warna tiyang kuna | tetkala tekane iku | rupa kadi satu kewan ||
  46. || Agenge angalangkungi | metu kadi du king kuna | anenggih pepitu lawange | rumihin lawang jahanam | ping kalih lawang huwiyat | lawang shuyat kaping telu | lawang jahim ping sekawan ||
  47. || Kaping limane puniki | lawang neraka hatamah | lawang ingkang kaping neme | neraka saqir punika | lawang malih kawarnaa | lawang ingkang kaping pitu | dhumateng saqir neraka ||
  48. || Mungguh kitab insane kamil | sanese kalawan punika | jahanam kang rumihin | ping kalih saqir punika | neraka kang kaping tiga | huwiyat sekawan winuwus | hatamah ingkang kaping lima ||
  49. || Ping nenem neraka jahim | ping pitu neraka pil ika | lan malih wonten sanese | mungguh carita ing kitab | madinil maklumi ika | neraka pil puniku | sinadhing neraka jahanam ||
  50. || Ciunarita wonten ing hadist | sesampunira mangkana | uwot sirathal pinasang mangku | aning luhure neraka | ingkang kapitu ika | karsane kang Maha Agung | aning luhure neraka ||
  51. || Panjange uwot puniki | den kinten-kinten kiwala | lamine lelampahane | dhateng tigang ewu warsa | eluke uwot punika | tigang elukipun | kang saeluk sewu warsa ||
  52. || Umpamane lamun den wilis | tetepe ora den wilang | tan ana rina dalune | apadhang selaminira | kelangkung lembut tur sirathal | yen tinimbang lan rema iku | langkung landhep saking pedhang ||
  53. || Lan wonten pepitu malih | pitakone uwot sirathal | bab iman kang rumiyin | kaping kalih bab salat | kaping tigane siyam | sekawan ping laminipun | winastan bab zakat ||
  54. || Kaping limane munggah haji | kaping nem bab jinabat | hedh wiladah manggen | sabab lawang kang satunggal | kang samya benere ika | lan lawang neraka iku | benere sanunggal-nunggal ||
  55. || Sampun masyhur ring hadist | Pangeran nulya ngandika | lah kalam sira den inggal | sun kon nulisi sedaya | sakathahe karsaningwang | kang awal lan kang akhir iku | manglumat ingsun sedaya ||
  56. || Kalam nulya matur aris | inggih sampun kelampahan | sakarsa tuwan ingsine | sekathane kang gumelar | kawula serat sedaya | lan karsa tuwan kang dhawuh | dhateng anak putu Adam ||
  57. || Hukum tuwan ingkang pesthi | parintah sampun sedaya | ing Nabi kang satunggale | sedasa maring Adam | Nabi Syis skeet kitab | ing Nabi Idris puniku | nenggih kitab tigang dasa ||
  58. || Lan kitab sedasa malih | maring Nabi Ibrahim ika | Nabi Musa kitab Taurore | kitab Injil Nabi Ngisa | dhateng jeng Nabi Muhammad | kitab Kuran westanipun | sarta lawan karsa tuwan ||
  59. || Lan malih kalimah tauhid | kang pesthi ing kitab sedasa | kang boten wonten kantune | lan malihe haji tuwan | sababe kitab kang sinurat | sing sapa bekti marang ingsun | sun panjingaken ing suwarga ||
  60. || Kang duraka maring mami | sun panjingaken neraka | tan kari lawan kitabe | pangandikane Pangeran | lah mangkuna pirengena | tetep kabeh iku | gapuh ature sang Kalam ||

PUPUH XIII
K I N A N T H I

  1. || Tulise kapir sedarum | den elungaken tumuli | ing tangane ikut sedaya | abuhara wingking gigir | annuli butul ika | tangane kiwa ing gigir ||
  2. || Tulise mukmin sedarum | den elungaken tumuli | tangane tengen ika | ngamal dosa ngamal bekti | yen lamun kedhik ngamalnya | sun panjingaken yomani ||
  3. || Sawuse manjing sedarum | wong iku aning neraka wingit | lajeng manjing ing suwarga | lamun abot ngamal bekti | lajeng manjing ing suwarga | alanggeng eca wong puniki ||
  4. || Sekehe wong mukmin iku | tan adus junib ing mangke | benjang yen nguwot sirathal | kalane sanpun angemasi | dhumateng lawan jinabat | tibeng neraka wong iki ||
  5. || Wong mukmin sedarum | kang ora siyam ing mangkel | benjang yen nguwot sirathal | lamun wong iku ngemasi | lawang siyam punika | tibeng neraka wong iki ||
  6. || Manusa mukmin sedarum | kang ora zakat ing mangke | benjang yen ngambah wot sirathal | kalane sampun ngemasi | ing lawang zakat punika | tibeng neraka wong iki ||
  7. || Sekehe wong mukmin sedarum | kalane sira ngemasi | ing haji lawang punika | tebeng neraka wong iki ||
  8. || Sekehe wong mukmin iku | yen ora adus junub ing mangke | benjang yen ngambah wot sirathal | kalane benjang ngemasi | ing lawang jinabat ika | tibeng neraka geni ||
  9. || Sabab wong mukmin iku | kang ora adus hedh ing mangka | benjang yen ngambah wot sirathal | kalane sira ngemasi | ing lawang hedh punika | tibeng neraka wong puniki ||@@
  10. || Lan ora adus wiladah iku | kelawan napas puniki | benjang yen ngambah wot sirathal | kalane sira ngemasi | ing lawang nipas wiladah | atibeng neraka wong iki ||
  11. || Sekehe wong mukmin iku | kang boten sami ngabekti | dhumateng ing bapa biyung | kalane ing dunya iki | ora sah salate | ing neraka sarta manjing ||
  12. || Sabab wong mukmin  sedarum | akambah warnane iki | kalane sami angambah | dhumateng wot sirathal iki | ana alon ana kebat | kebate kadya thathit ||
  13. || Wonten wong mukmin winuwus | ora zakat ora haji | ora perang sabilullah | sabab sanget nistha pekir | atanapi amaca syahadat | salat kelawan dzikir ||
  14. || Lan malih bekti puniku | ing bapa biyunge iki | lan ora anginum arak | lan ora zina iki | lan ora mejahi tiyang | kang sami Islam iki ||
  15. || Dosane agung alit iku | sedaya dipun tebihi | siyam sunat saben dina | salat tahjud saben wengi | lan asih wong mukmin sedaya | sami asih ing dhiri ||
  16. || Sareng tangi saking kubur | suwarga nulya sumandhing | lan dhodhok-dhodhok lawang suwarga | Malaikat Jabarail | amethuk tiyang puniuka | anulya wiraos aglis ||
  17. || Nulya matur manusa iku | dhumateng ing Jabarail | kadi pundi jasad kawula | dene eca ing suwargi | boten manggih sakit pisan | lajeng eca awak mami ||
  18. || Dene kawula rumuhun | mulane ing dunya dhihin | amadhanget ing carita | saking Kuran saking nabi | kelangkung skeet suwiyah | kelangkung lami puniki ||
  19. || Kelangkung tebih puniku | saking kuburan iki | dhumateng ing suwarga | lawan pitung leksa warsi | dene kawula langkung rikat | dhumateng suwarga adi ||
  20. || Jabarail ngandika sampun | milane dika puniki | nulya manjing ing suwarga | pan sampun dika lampahi | adhem panas perih ing dunya | sedaya dika lampahi ||
  21. || Jabarail ngandika sedarum | dika salat sarwi dzikir | manusa sami sukan-sukan | dika tobat sarwi anangis | manusa sami dhaharan | dika siyam sarwi anangis ||
  22. || Milane dika puniku | inggal dhumateng mriki | langkung sakit aning dunya | sabar sukuran brangti | atawakel ridha ing Allah | anerima rizki kedhik ||
  23. || Wonten carita winuwus | angsal saking kangjeng nabi | ing benjang dina kiyamat | sekathane masjid iki | dentukaken punika | kadi ordain kathahneki ||
  24. || Aradin sedaya iku | saking inten pethak adi | suwiwinipun punika | jumrut inten ijem adi | elaripun suteadiwangga | lawan sutra alus adi ||
  25. || Kang sami adan sedarum | anitih ing sirahneki | lan kang sami dadi iman | anitih buntut ing wuri | kang sami nitih sedaya | anitih ana ing gigir ||
  26. || Anulya miner sedarum | aning luhure wot sirathal iki | kadi upamane mega | katut miber dening angin | kang ana ing ngawang-awang | kebate ibere iki ||
  27. || Sing sapa siyam uwong iku | sedaya dina puniki | ing sasi Rejeb punika | sinung inten elare adi | nalika ngambah wot sirathal | kebat ibere lir thathit ||

PUPUH XIV
DHANDHANGGULA

  1. || Kang wiraos ing dalem puniki | wong tetiga kang mukmin sedaya | ngambah wot sirathal lampahe | tur sareng lampahipun | kawarnaa ingkang satunggil | bektinipun ing dunya | rasa dzikir iku | satunggal malih kang kocapa | bektinipun kala aning dunya iki | Senen Kamis asiyam ||
  2. || Kawarnaa kang satunggal malih | bektinipun kala aning dunya | rosa maca Kuran mangke | sareng tamat iku | tigang dasa jiz puniki | apike ing wewaosan | ing Kuran puniku | amiraos kang satunggal | ingkang rosa siyam Senen Kamis | dhateng kancane sedaya ||@@
  3. || Sanak kanca dipun ngati-ati | sami dipun prayitna sedaya | dika lumampah uwot sirathal mangke | kerana uwot puniku | boten panten angguneki | menawi dika tiba | aning neraka agung | amiraos kang satunggal | ingkang rosa dzikir ing dunya iki | kawula datan amirsa||
  4. || Mila kawula boten mirsa aningali | lamun ngambah dhumateng uwot sirathal | katinggal langkung angenge | ingkang satunggal amuwus | ingkang rosa ing dunya iki | amaos Kuran sedaya | sareng tamat iku | punika anulya angucap | dening kawula boten aningali | dhumateng uwot sirathal ||
  5. || Wonten ingkang amiraos malih | dhumateng sekathane wong ngalim sedaya | nalika aning dunyane | ngilmu sedaya iku | mapan maksih dipun lampahi | ganjarane | ing akherat iku | dating ngambah wot sirathal | lan malihe mapan boten aningali | wau ing uwot sirathal ||
  6. || Wonten malih caritane ing tulis | lamun ngambah saluhure wot sirathal | kadi kilat wau kebate | sabab ing dunya iku | saben Ahad punika muji | amaos isya anjalna | ping tiga puniku | saderenge turu ika | sawuse turu iki nenggih tunggal papat ||

PUPUH XV
S  I  N  O  M

  1. || Sedaya sami miarsa | sepuh anem jalu estri | sami luwe kasatan | seksana nulya amanggih |telaga isi warih | anenggih telaga puniku | lelampahe sewu warsa | jembare telaga iki | tiningalan saking telaga kalkosyar ||
  2. || Sedaya pan ngunjuk toya | kang wonten kadi cumawis | kendhi sawi langane lintang | kang aning ngandhap iki | toyanipun aputih | langkung manis saking madu | gandane amrik angambar | sekehe wong leng-leng aningali | ingkang ngunjuk lupine ical sedaya ||
  3. || Lare ejim lare manusa | tan kenging sakit prihatin | senajan kapir bapa biyung | Cina Welanda wong Bali | kang pejah maksih alit | sedaya sederenge baleg iku | pan dadi puniku angawula | maring Yang Kang Mahasuci | langkung suka manahe lare sedaya ||
  4. || Sami asiram telaga | sepuh anem jalu estri | ical sakite sedaya | waluya anom apekik | kadi emas sinangling | datan wonten celanipun | lajeng cahyane gumilang | baguse anglangkungi | padhangipun kadya cahyane rembulan ||
  5. || Apan kadi cahyane rembulan | nalika purnama sidik | idzkala mangka angandika | sapa wau kanjeng nabi | sing sapa amiarsa malih | lailahailallahu iku | anulya permana sidik ika | anulya Allah aris | agadhah parintah nulya dhawuhana ||

PUPUH XVI
KINANTHI

  1. || Dhateng malaikat iku | pitung leksa kathaneki | kang kinon sami angarak dhateng wong iki | nalika manjing | kelawan sihing Kang Suci ||
  2. || Kitab Daka amitutur | sedaya tetiyang mukmin | sampun ngambah wot sirathal | anulya siram tumuli | ing telaga maradika | ing kene siram wong iki ||
  3. || Nulya murub cahyanipun | lir wulan purnama sidik | anulya ngunjuk toya ing kendhi ika | sampun eca manahe iki | anulya ngunjuk sedaya | dhumateng lawang suwargi ||
  4. || Sami ambagekaken sedarum | katurun sampeyan Gusti | kelangkung brangta ingwang | dhateng sampeyan Sang Aji | kelangkung ngarsa-arsa | serawuhe sampeyan Gusti ||
  5. || Suwawi kawula aturi puniku | malebet ing dalem puri | kawula darma katitipan | sampeyan kang andarbeni | senajan raga kawula | sampeyan kang andarbeni ||
  6. || Sampun malebet suwang ratu | acanthi lan widadari | ing dalem wisma suwarga | anenggih wismane pribadi | wisma kang alit punika | sangalam dunya puniki ||
  7. || Kitab satus apitutur | lampahe sang nata aji | langkung suka jajagedan | lampahe sang para aji | pan sarwi kelanthen asta | lawan para widadari ||
  8. Caritane Kitab Daka iku | kekayon suwarga binjing | pucukipun aning ngandhap | barang tinilar aning nginggil | nalika katut kanginan | pada muni kadi riris ||
  9. || Lamun kekayon kencana iku | godhonge selaka putih | lamun uwit selaka pethak | godhonge kencana adi | kuweni nangka lan duren | kepudhung langsep lan manggis ||
  10. || Ambane lawang puniki | lelampahan sangang warsi | luhure lawang suwarga | kathahe lawang puniki | pepitu lawang punika | apan iku kang luwih adi ||
  11. || Lawang jaba puniku | dhumateng lawang kekalih | anenggih limang atus warsa | saking kori kaping kalih | dhumateng lawang ping tiga | lelampahan gangsal atus warsa ||
  12. || Saking lawang kaping tiga iku | dhumateng kaping pat malih | tunggal gangsal atus warsa | lawang cinarita malih | saking lawang kaping sekawan | miwah ping limane iki ||
  13. || Lelampahan tunggal puniku | gangsal atus warsa nenggih | saking kori kaping lima | maring kaping nem iki | tunggal gangsal atus warsa | saking kori ping nem iki ||
  14. || Saking kaping nem puniku | saking pitune malih | tunggal lawang gangsal atus warsa | saking kori ingkang jawi | dhumateng ing plataran | langkung tigang atus warsi ||
  15. || Elete dalem puniku | anenggih sakurebe langit | lawan salumahe jagat | kang den kandha kembange iki | pagere pepitu ika | sedaya pan luwih adi ||

PUPUH XVII
S  I  N  O  M

  1. || Wonten pandhita ngandika | makdinil maklum puniki | elete dalem suwarga | sangalam dunya puniki | yata emas kang kinardi | selaka pepayanipun | kitab Daka acarita || pagere dalem suwargi | lapis pitu kembange awarna-warna || @@
  2. || Pagere ing jawi apelak | selaka ingkang kinardi | pagere ping kalih kencana | kinarya pinggire | kaping tiganeki | anenggih jene puniku | maring pagere ping sekawan | sasatya kang luwih adi | kaping lima pagere kang luwih mulya ||
  3. || Pager kaping nem kocapa | inten jumanten kinardi | kaping pitu pagere cahya | gumilang-gilang cahyane esri | bebaturipun jeni | kelawan selaka puniku | kerikilipun sasutya | lan mirah retna widuri | pepethetan kebon emas lan selaka ||
  4. || Wonten ing dalem suwarga | kaliyan lan widadari | carita saking Kuran | surah Baka kang warti | kadarbe sang nata mukmin | aning suwarga iku | kaliyan para garwa | kang sinucekaken bekti | saking putrid boten kersa sedaya ||
  5. || Sabab wong mukmin satunggal | dadi ratu sedayeki | surat wakingah acarita | pinarak sang nata mukmin | atas aning luhure kandhil | kang tatanan bagus-bagus | lane man kencana | kalawan sasutya adi | kang kinarya tatanan kandhil punika ||
  6. || Hale sami leleyahan | sekathahe sang nata mukmin | aning ing kandhil kencana | pan sami jajar alinggih | arsa angoras pipi | kelawan kang garwanipun | langsung suka ing manah | sang nata lawan sang putrid | ageguyon sekehe para garwa ||
  7. || Angambung wau sang nata | garwa sami angladeni | tan tebih kang punakawan | ingkang angladeni bukti | atas lare cilik | jalu estri warnanipun | tan megat ageng sepah | sekathahe lare cilik | wrananira sami ngambil inggal-inggal ||
  8. || Pan samya ngambil wewedhah | lawan pring cilik-cilik | para ayu tan ngunjuk toya | sajeng mila kadya warik | saengga sumberan mili | dhateng wonten kendelipun | yata sajeng sedaya | selama-lama dumadi | datan weruh kang ngunjuk sejeng sedaya ||
  9. || Tumrap dhumateng sang nata | pangunjuke sajeng iki | amantun icale angelak | boten kantuk sajeng maling | ingkang nginum iki | sajeng ing dunya puniku | sami wuru sedaya | sami pusing anyakiti | malah supe dhumateng purwa duksina ||
  10. || Lan pinten kinten wuwuhana | nyaosana sang nata mukmin | sasenengan sedaya | saben-saben nulya amanggih | lan cinarita malih | duking karsata puniku | sapraptane adhahar | sedaya sampun cumawis | sekarane datan wonten malang-malanga ||
  11. || Kalangenan ing suwarga | tan kena ing nguthik-ngutik | angandhika Gusti Allah | eh sakehe mukmin | kang ana ing suwarga | padha enakna mapan lan turu | kangjeng rasul matur sigra | inggih Gusti Pangeran mami | ingkang karya sekehe suwarga neraka ||

Sampun tamat caritane kabar kiyamat punika.

@@@

Sumber :

Gouw-eigendom
Bebuka : Kabar Kiamat,
Afschriften naar een kropak van het Bataviaan Genootschap van K en W (voorlopig no. 369) gedeelte. En vooinen van een overzicht van den inhoud dag Raden Pandji Soerjawidjaja, Batavia 1867.

Terjemahan :

Milik pribadi
Pembukaan : Kabar Kiamat,
Naskah ini disalin dari sebuah kropak milik Bataviaas genootschap van Kuncten en Wetenschappen  (nomor sementara 369), dan ikhtisar dari isi naskah ini disampaikan oelh Raden Pandji Soerjwidjaja, di Batavia, tahun 1867.

KAWRUH KASAMPURNANING NGAHURIP


Buku Kawruh Kasampurnaning Ngahurip
Kagunganipun R. M. Mangundipura
ing Mangkunegaran
Kawruh Kasampurnaning Ngahurip, anggitane Je. Se. Sateryi.

BAGIAN I

BAB DUMADINING WUJUD MANUNGSA : LIRE.

Anggitan kang kawedaraken ing ngisor iki dadiya piwulang kang cekak kanggo ing wong kang sumedya hambanjurake prasudi murih oleh susurupan ing sawatara bab kawruh ing bongsa hindu marang kasampurnaning ngahurip.

Ing anggitan iki sabisa-bisa aku bakal anggunem kalawan tembung ringkes bab tabingat kodrating manungsa, drajat kang linungguhan ing donya, apa kang diarani donya lan kapriye mungguhing kadadeyane, pendheke arep anggunem kapriye lan pasababe urip tuwin apa karepe.

Bok manawa aku banjur wenang ngawruhi sakabehe uwiting wujud.

Murih bisane nyandhak kang kasebut iku, prelu banget aku nyumurupi tabingate kodratku dhewe dhisik, mengko aku bakal weruh, dening donya iki ora liya mung geter, kang dudu saking pikarepe dhewe, tuwan kang ngarani: barang iku padha miji anane, iku ora kena kayak tenan kalawan ponca driyaku, saupama wong niti pariksa sarupaning barang ing sakukubane, bakal weruh yen barang iku ora nyata ing anane, manawa andhewe, (tanpa tandhing) ajine sarupaning barang kudu kanthi titimbangan lan owah-owah mawa-mawa patrep paniti priksane,  mulane longka yen aku dhuwe pangarep-arep bakal weruh ing uwiting barang sarana ponca driyaku.

Murih bisane sumurup ing uwiting barang, manungsa kudu ngawruhi awake dhewe, mangkono panemune sakehing panutan ing saben nagara, pangandikane Sokrates weruha ing dhirimu pribadi, karsane ora liya mung supaya padha nyumurupana ing tabingat kodrat kang awakku dhewe lan kaya mangkono uga karsane panutan Kristus kalane ngandika marang para sakabate upayanen karajaning Gusti ing batinmu dhewe.

Mung sarana mrasudi nyumurupi awake dhewe, manungsa bakal weruh ing kanyatahanane lan weruh yen awake iku ora ngemungake condhong ing kahanane bae karo barang liyane kang ing donya, ananging uga kadunungan kodrat donya (kodrate tolah) ing wujude.

Kodrate iku ora kena binagi, tegese: lairing uwite mangreti wutuh, mulane: sanajan ing wedhi sahelas kodrat donya iku tinemu wutuh uga, najan gaib ing anane lan ora kang kanyatakake, ananging sarehning wedhi sahelas iku ananging sajabane badanku – iya iku kawirit ing tegese kang sanyatane bae – dadi aku ora bakal bisa anggadhuh kodrat (tabingat) asarana mrasudi kahananing wedhi.

Mung ana siji kang kena ditemeni ing pamrasudine, iya iku: awakku dhewe, yen siji iku wus terang, manungsa lagi bisa weruh ing kodrat donya.

Lah iku mulane aku bakal miwiti sakpaparincene wujud manungsa, lan saselot-selote aku bakal anuntun kowe tutug ing panggonan suci, kang dumunung ing telenging atine saben uwong.

Yen uwis terang mungguh kodrating manungsa, lan kapriye mungguhing kahanane ana ing sawiji-wijining panggonan ing donya, aku bakal anyoba nyatakake uwiting donya, sarana niti pariksa barang-barang kang ana ing sakukubanku, nuli aku bakal ambudi bisane weruh mungguhing dumadining sawiji-wijining barang – cara santrine: – kapriye Gusti Allah enggone anitahake barang – ananging lakuku mratelakake ora kaya lumrahe santri yen mumulang, iya iku tanpa katrangan (mung sarana gunem) saoleh-oleh arep cara lakuning pujangga yen nenerangake, nganggo katrangan kang yekti, wekasane aku arep angudi murih weruh ing sakabehe, kang kira-kira bisa kadadeyan ing ngatase nyawane manungsa, aku bakal nyoba ambudi, kapriye bisane manungsa ing donya weruh kahananing alusing badan lan kapriye bisane wong dadi Gusti, malah uwis dadi sadurunge mati.

Prakara iku bakal dak nyatakake saka biji, wiwit sarana niti priksa ing tabingat kodrating manungsa.

Saben uwong mesthi sumurup yen badan wadhag iku beda ing kahanane karo nalar (budi) ewa dene aku ora arep angarani yen budi iku kawujudane kena kaanggep beda lan badane wadhag.

Wong kang maido ing kahananing nyawa, ngarani yen budi iku ora anbedane bar pisan karo badane, ananging dheweke kudu mikir (nimbang) yen daya pamikir iku sawijining pangawasa nyambut gawe kang beda karo daya pangawasa nyambut gawene badan wadhag, dadi ing jero manungsa ana bedane kang tetela antaraning wadhag lan aluse, utawa, cara lumrahe, antaraning wadhag lan nyawane.

Aku wus padha sumurup yen badan iku mesthi kena owah lan tansah malih ing rupa, saben watara pitung taun sapisan salin rupa, dalasan perangane kang lembut ewa samono isih ngemut ing wujuding wonge, kamanungsane, dadi sajroning kuliting badan kang ora ajeg kahanane iku ana barang kang kena diarani ajeg tinimbang lan wadhage, iya iku kang minongka saksining pamalihe mau (iya iku kang dadi titimbanging pamalihe), yen ora mangkonowa aku ora padha bisa weruh ing pamalihe badan wadhag ing saupama nalar (budi)ku, pamalihe padha arikate kaya pamalihing awakku, amesthi pamalihe tan kena winirsa, bisane wong weruh (gatake) obahing barang, dheweke kudu meneng apese iya mobah kang tindake beda karo tindake barang mau.

Uger titimbangan mangkono iku tumrap ing mubarang kang katon, manawa ora ana titimbangan mangkono, nglengkara banget aku padha bakal bisa ngyekteni (ngraskake) apa-apa.

Kadadeyan kang nyata, iya iku, aku padha weruh ing owah-owah ing badan ngemurasa, yen sajroning badan wadhag ana barang sawiji kang nyanyatheti pamalihe.

Kajaba saking owah-owah (wadhage) isih ana owah-owah ing batin (aluse) kang tansah lumintu ing kadadeyane, ananging kang lumrahe ora diopeni ing wong kayata: pandelenge wong marang barang-barang, iku kasababake saking pamalih wong rikatan tumaruntun tumanduke marang barang mau, cekake saking dhredeg (geter).

Pamalih kang mangkono iku urut tundha-tundha lan gegendhengan, iya iku kang diarani pangrasa, yen uwong ora kasinungana pangrasa mangkono ora bakal bisa andeleng utawa ngrasakake. Sakabeh kadadeyan nyata kang rinasa iku sasambungan siji lan sijine, nuli karegem ing sajroning angen-angen, ngendi dununge angen-angen ewuh enggone arep ngarani, yen iku dumununga ing utek awit utek iku barang wadhag ya gene barang kang wus kalalen lawas teka saka elingan wela-wela maneh ing angen-angen lan ya gene wong kang tinandukan ing hijpnoses (bongsa sihir) banjur bisa eling ing mubarang kang kalakon nalikane isih bocah, lan wus kalalen babar pisan wus akeh katatalane wong kang tinandukan ing hijpnose, banjur kelingan ing basa kang lagi rinungu sapisan dhek isih cilike, kang mangkono iku saemper kaya ana barang sajabaning badan kang anyatheti kabeh kang rinasa, barang iku ken diarani mentale (tegese batin).

Dudu maksudku netepake kanyatahaning kadadeyan iku klawan amet wawaton saking katrangan kang kurang patitis mangkono, awit ing ngatase aku iku dudu nyina kang yekti, lumrahe sawijining kanyataan ora wenang katetepake mung dening gunem bae, murih bisane oleh nyina kang yekti kudu kokawruhi dhewe, murih weruhmu, yen anamu iku ora gumantung saking badanmu wadhag, kowe kudu bisa misahake alus saking wadhagmu, tegese: kowe kudu bisa mrasudi nyatakake yektining alusmu kaya upamane wong Alitaliya (natuurkunde) ngudi weruhing kadadeyane barang-barang, kang arep dipasthekake ing papathokane, sarehning wekasane kanggitan iki aku bakal amratelakake sawatara bab kang kasebut ing dhuwur mau, dadi aku ngandharake gunem mau, karepku mung sumejanlekake, yen apa kang bakal dak caritakake iki dudu pikir kang ngayawara, ananging ana sababe tetela, kang dadi saksine wawatonku.

Kang sapisan, dadi aku padha kena ngarani yen badan wadhag iku beda karo mental, iya bener beda iku ora terus ing batin (beda temenan) iya bener sagugune ora bisa ananging wus mesthi katarane kaya dene bedane barang atos karo barang cuwer.

Saupama aku padha tumandanga amijang-mijang mental ing saantara suwene, amesthi bakal tetela yen uga bisa owah-owah gingsir, lan ora pisan-pisan ajeg, hawa nepsu iku tansah lunga teka, kahananing yitma (nyawa), solan-salinku maruntun lan akeh warnane, ing saben taun budi iku mundhak utawa suda, (kabuntel) dayane eling genti-genti tindake, wekasane angen-angen iku saya sampurna, awit dene mundhaking tabingat kodrating manugsa, lah, mangkono owah ing wijang-wijanganing mental iku, sarehning malih-malihe iku katara, dadi mesthi iya ana kang luwih ajeg tinimbang karo mental.

Barang iku mesthi anane, iya iku kamulaning roh kang sipate: ora mung awake dhewe, tresna lan kabecikan liyane, kang andadekake geseh ing titikane wong lan khewan. Pangrasa wawatedhan mau kang lumrah anjalari kabegjan.

Uwiting yitma beda lan batin, kaya dene hawa (asep) karo barang atos utawa karo kang cuwer.

Manawa tabingating yitma iku dititipariksaa, amesthi tetela yen owah-owah uga kahanane.

Napsu marang kabecikan iku saya lawas saya mundhak, undhake saking nur raraga, anggugulang ing sih katresnan lan anggawe kabecikan.

Kabegjan kang rinasa ing wong sawijining waktu, iku bisa oncat maneh ing mongsa liyane, sarehning owahe iku katara, dadi tabingating yitma iku dudu pribadi kang sanyata, sajabaning tabingating yitma isih ana barang kang ngawuningani sakehing pamalih-malihe tabingat yitma mau, ing panggonan kang dhuwur sajeroning wujud manungsa, iku pribadine manungsa, iya iku sakti kang nyatheti sakehing owah-owahing yitma, batin lan wadhag, dadi jejering dat iku papat, badan wadhag, batin (badan alus), roh (napsu marang kabecikan), lan pribadi kang luhur (sakti kang tan kena owah), patang warna iku pakolehe pamijange wujud manungsa, pribadi iku kang dadi lumuning dat, dene liyane mung minongka kanthine bae.

Yen kowe niti pariksa ing jeroning jasadmu dhewe, kowe bakal ngrasa, embuh keh sathithike, dayane tumandange wijang-wijangan mau anamging murih kang sinungan watek kang prelu ing ngatase iku, lan meleng tanpa kendhat kanthi sabar tawekal, amesthi bakal weruh ing kanyataane lan bisa ambedakake jejering dat mau, apa dene – kanthi eling ing kahanane dirine – saselot-selote bisa anggadhuh marang uwite kadadeyane awake kang dhuwur-dhuwur lan aku bisa ngarani, yen laku mangkono, iya iku sapiturute amijang-mijang paparincening wujud saking pribadine, iku anganakake kang diarani sengsem marang kabungahan, bisa uga ninggal wadhag ing saantara (suwene ing sakarepe) supaya oleh kawruh saking awake dhewe ing padunungane aluse dat kodrat.

Mangkono iku wus kalampahan dening kanjeng nabi kalane siyam 40  dina lawase, mung wong kang bisa mangkono kawasa nyatakake ing kayektene kang dak pratelakake iki, ing ngatase wong kang mangkono ora ana kira-kira lan panyana kang durung tamtu ing kira-kira mau dadine yekti, ananging emane dene mung sawatara bae kang kawasa mangkono, sabab satemene mung sathithik wong kang kasinungan watek kang prelu, luwih arang maneh wong kang genten tulaten mrasudiku.

Aneh banget dene akeh wong wani ngarani yen nyawa iku ora ana, ananging weruh apa wong mangkono iku, apata dheweke ahli ing bab iku, mung wong kang ahli prakara iku wenang ngarani mangkono, upamane jagsa, tamtu rumongsa katir ing ngelmu padhukunan, awit dheweke ora ngudi ing kawruh iku, apa dene ambudi daya murih weruhe, dadi rumongsa kasore ing panimbange marang prakara iku, ewa dene ora ana wong gumun ngrungu pamaido marang ananing nyawa, metu saking wong kang mrasudine ing kawruh iku ora ana saprasweuning waktune kang kanggo mikir prakara liyane, dadi satemene pamaidone iku ngecemong.

Heh, mitraku. Sadurunge kowe maido ing anane nyawa, prasudinen dhisik lawase mung ana asaprasapuluh ing mongsa, kang kokeceh-eceh ginawe mikir prakara liya-liyane.

Mara saiki padha ambanjurake pamijaning badan manungsa.

Mungguh dating manungsa iku ora padha karo dating barang kang tanpa nyawa, ing tembung monca lumrah diarani, wdarganis, tegese: apanggaota, dene dating barang kang tanpa nyawa, kabasakake:  anwdarganis, tegese: tanpa panggaota, ewa samono aku wani masthekake, yen para ahli kimya (juru mijang) ing tembe bakal angarani, satemene ora ana dat kang ora kapanggaota, najan beda ingkang gone.

Ing sajroning badan manungsa uga kasinungan dat kang tanpa panggaota, ananging iku kawasesalan kaereh marang wijangan badan kang kaaranan daya urip, dadi kasinungan sarana anggaota, kang iku ing badan manungsa ana purba “(bakal winih) loro, iya iku wadhag lan daya urip, daya urip iku kena kaaranan winih kang saking eter (hawa) terange mangkene, yen badan manungsa iku katitipriksa, tinemu kadunungan sawijining barang kang luwih entheng lan alus tinimbang karo “gas” diarani eter, iku kang nanangi ing daya urip.

Eter sajroning dat kang tanpa nyawa ora pati ngarani yen kanggo nangekake daya urip ewa dene masthi anane, awit eter mau rumangsukan andumunugi saben barang, kang atos, cuwer lan awujud angin, mung dayane aweh urip ing kono semune aber, ananging sama sawinihing urip iku winetokake saking kekeraning dat kang asor (wadhag), iku banjur kawasa nglumpukake sakehing dat mau, sarta kasinungan sarana anggaota wekasan thukul dadi tanem tuwuh.

Winih kang urip iku kang aweh panggaota marang wadhaging manungsa, dene dating eter kang dadi dhasar utawa panuntuning urip kena kaaranan badan eter, iya iku rangkepaning wadhag.

Sarehning dating eter lang winihing urip iku nunggal sagarba, prasasat  loro ing ngatunggal, kenane kanyatan sakehing wong sarana ambudi ngelmu mahnetisme, yen uwong wus terang susurupane marang kawruh mau iya bakal weruh, manawa mahnetisme iku ora liya mung wetuning daya urip kang tumular sawiji marang liyan.

Dat loro, kang dadi bakaling badan manugnsa mau ing tembung Sansekrita diarani: setula buta, tegese: wadhaging badan lan prana, tegese daya urip ana ing andadekna kawruh anamu sanajan dat loro iku wenang kapisah, karo pisan tetep wadhag dudu alusing tabingat kodrating manungsa, (karo pisan panunggaling jasad iya iku wadhag = lebu).

Batine manungsa kena kawijang-wijang dadi telung wijangan lan sawijange kena kapisah.

Kowe wus padha sumurup yen saben uwong kadunungan hawa nepsu pangrasa ngeres lan pangrasaning badan sakojur.

Pangrasa iku mau sawijining kahanane uriping nyata lan akeh warnane, wiwit hawa nepsuning kewan nganti pangrasaning wong kang sampurna. Parincen tabingating nyata kang mangkono kaprahe diarani, pangrasa, bae. Ing tembung Sansekrita, kama, tegese nepsu (= kakarepan) dat ing luwih alus tinimbang lan dating eter, sarta dadi purbaning sakabehing pangrasa, ing basa eropah kaaranan astrale stof (astrale setof)tegese dat kang padhang, (sorot=cahya) iya iku kang dadi bedane batin karo badan wadhag ing ngatase wong kang kawasa nyumurupi.

Kajaba saka iku kowe iya wus padha sumurup yen ing sajroning  manungsa ana wijangan kang kawasa mikir, ngira-ira, nglimbung-nglimbung, iku diarani nalar, utawa pamikir, kahanane condhong karo kahanan asor kang dadi uwiting” manas” (tembung ngalatin=mens, tegese nyawa kang mikir) mulane kahanan manas kang asor.

Ana maneh paparincen kang luwih luhur drajate iku ora ngira-ira, ora nimbang-nimbang ala becik, ora nganggo mikir, ananging nuli bisa ngarani, iki ala, iku becik, embuh sababe nanging iku masthekake yen temen mangkono, dhasar (purba) mangkono iku budi kang luhur utawa angen-angen kang eni, iya iku wujude jatining manungsa, lan wenang diarani nyawane (= angen-angene = budi kang sajati) iya iku kang ing tembung Sansekrita kaaranan pikir kang luhur (=mens=manas kang luhur).

Dadi ing garbane manungsa, padununganing nyawa, ana wiwijang tetelu:

  1. Tabingating kodrating hawa nepsu, rasa ngeres lan pangrasa (kama).
  2. Angen-angen kang nimbang, mikir, ngira-ira (manas kang asor).
  3. Angen-angen kang tatas utawa putus (nyawa=manas kang luhur).

Dene mungguh alaming nyawa, ing samengko aku durung bisa mijang-mijang, awit luwih akeh paparincene, gedhe cilik lan mung wenang ginayuhing wong kang sampurna tegese kang wus binuka dening kang maha kwasa.

Kang iku alaming nyawa anggepen yen mung “siji” bae.

Mangkono uga kudu panganggepmu, yen kowe padha anitipariksa, “pribadine manungsa”.

Pribadine manungsa iku satemene uga awujud telu, nanging sawiji-wijine ora kena nyatakake ing wong lumrah, mung wong sampurna kawasa anyumurupi lan ambedak-bedakake, mulane telu ning ngatunggalan iku dak arani “siji” bae, iya iku, mahatma, caritaku dak pathet, sarta telu ing ngatunggal (trimurti) mung siji bae ing wujude, mungguh cara uwong agama Nasarani (Kristen) diarani: rama, putra, lan roh suci (rokhul kudhus) utawa wujud kanyatahan telu kang luhur.

Dadi manungsa ana purbane pipitu kayata:

  1. Wujud luhur telu kang kaanggep nunggal iya iku pribadi, iku jejer kang sajati lan mung sawiji anane, iya mung iku saksining sakabeh owah-owahing badan (tembung, mahatma, tegese nyawa kang agung, pribadi kang agung) bongsa teosofi angarani, atma, ananging bongsa Hindu Buddha angarani: mahatma, atma tegese, kang molahake kabeh, kang mengku kabeh, satemene mung pribadining manungsa kang bisa ngemot sawarnaning barang.
  2. Uwiting nyawa utawa pangudi, budi, tegese pinter, kaputusan.
  3. Nyawa, utawa manas kang luhur.
  4. Pikir, utawa manas kang asor, manas tegese bakal kang padhang, kang nyarambahi ngalam kabeh, iku lumrahe kaaranan angen-angen.
  5. Pangrasa, utawa kama, kama tegese hawa nepsu = kakarepan.
  6. Prana, tegese daya urip = polah.
  7. Wadhage, kang atos, cuwer, lan awujud hawa diarani setula buta, tegese, adon-adon kang wadhag (dumadi kang wadhag).

Satemene ora ana prelune mungguhing wong angapalake arane, sakabeh purba kang kasebut mau, balik angawruhi anane purba iku ing badane dhewe iku luwih maedahi.

Ing bubukaning anggitan iki aku wus amratelakake, yen ing jagad akeh bakal kagandhengan siji lan sijine, (tegese genten anganakake wujud anaking anganakake) lan kang condhong ing kahanane karo sakehing purba kang tinemu ing tabingat kodrating manungsa, kayata:

  1. Dat angsale wadhaging manungsa condhong karo barang kang atos, cuwer lan kang awujud hawa, kang ana ing sakukubane, bakale kang awujud eter ora beda karo etering barang-barang liyane (iya iku uwite uriping barang), karone (dat lan eter) dadi bakaling wadhage jagad kabeh, (srengenge, lintang, rembulan).
  2. Purbane pangrasane manungsa cocog karo uwite barang kabeh, iya iku sorot (ngalaming geni).
  3. Winihing budi manungsa lan nyawane nyamleng lan budi tuwin nyawane jagad, sakarone dadi anggeni (ngalaming) budi. 
  4. Dene uwite nyawa lan pribadine manungsa condhong lan enggoning nyawa, (ngalaming roh).

Prakara iku bakal terang sarana amek pipiritan kang pinethik saking anggitane nyonyah Ani besan iki.

Ilining elektrisiteit – iya iku barang wadi, kang mung kadadeyane bae wenang kinawruh ana ing wong – bisa amujudake kahanan warna-warna mawa-mawa barange kang kataman, yen iki ning nrajang kawat (embuh gedhe cilike), amesthi katara anane, arupa geni utawa panas, yen tumanduk ing banyu uyah, kanyatahaning tumamane, uyah mau dadi pinisah-pisah date, lan manawa mili ngubengi kawat kang empuk, besi mau dadi kasinungan daya panggendeng kaya wesi purasani.

Lah, mangkono uga kawasane daya kang tunggal, samongsa tumanduk ing dat, bisa nganakake kahananing dat, kayata: bobot elektrisiteit, padhang, urip, lan liya-liyane. Yen tumama ing ngalami sorot, nuwuhake kahananing nyawa (batin) kayata: pangrasa, rasa ngeres sabanjure. Yan tumanduk ing ngalaming budi-budi kang luhur, anganakake napsu marang kabecikan (kayata: asih, tresna, rumangsa bagya nrima) yen ing ngalaming nirwana, nungkulake nirwana, (kayata: ananing suci) bisa nunggal kahanan karo sadhengah kahana, dene ing saiki uwong durung bisa anggayuh kang luwih dhuwur, tegese: nirwana iku judeging panggayuhe ing ngalame dewa, ananging yen ing jagad bisa luwih kadi iku, mungguh ing bab paningti pariksaku mau, iya iku ing ngatase wong lumrah- nirwana mungguh ing aku kabeh, uga kena kaupamake srengenge ing ngatase wong picak. Mulane para ngulama Hindu kaya-kaya ana benere ngarani, yen nirwana iku padha bae karo sirna.

Dene enggon mau kabeh ana ing jagad, kaya dene anane purbaning manungsa, ora sunsun utawa tumpangsuh, ananging manjing pinanjingan, utawane kaya dene banyu manjing ing barang kang atos, hawa ing barang kang cuwer, mangkono uga eter rumesep ing sakehing barang, nuli babar nyarambahi jagad kabeh, banjur genti uwit kang awujud sorot, iku mrasuk ing eter lan sawarnane barang kang wadhag, mangkono sabanjure. Dadi sarupaning purba padha manjing pinanjingan, manungsa dadi urip bareng ing sakehing ing enggoning jagad, kang condhong karo sawiji-wijining uwiting badane.

Ing dhuwur wus kapratelakake, yen purbaning manungsa pipitu bias ana mung limang panggonan ing jagad.(i)

 ————————————————————————————————————————-

 Katerangan: tembung enggon utawa ngalam kang kanggone ing anggitan iki ora kaya kawruh ing akeh, mung gumantung saka prajanjiyane para ahli teosofi bae, mulane prayoga tansah dieling-elinga, supaya aja nganti kliru tampa, enggon utawa ngalam iku sawiji-wijining kahanane “dating jagat”, kang minangka wawaton sakehing wawarah bab “daya kang tunggal”.

Saiki aku wus padha sumurup, yen purbaning manungsa iku pitu, nanging dumunung ing limang martabating donya, kang iku purba pipitu mau dadi wenang karingkes kadadekake lima, mungguh anane pitu iku marga winuwuh ananing purba loro, kang condhong karo martabating donya loro kang luhur, lan kang uga ora wenang kanyatakake ing manungsa, dene iku dak andharake, mung supaya wong padha sumurupa, yen agama Hindu temen anganggep ing ananing purba lan martabat loro iku mungguh arane. Awiyakta, lan Purusha.

Dene katarane yen ana dening atma, dadi loro iku temene loroning ngatunggal, iku ora wenang kapisah-pisah, awit atma iku katone ing manungsa mung siji, trimurti iku ing ngatasing womg kaya dene katon ing impen bae, (cipta).

Saiki aku arep tutur mungguh ing gawe lan owah-owah ing purba-purba mau, pira lawas lan lan jembaring gone, wiwit saking purba kang luhur urut mangisor, kang sapisan atma, iya iku dat kang sampurna, kang awujud telu nanging kumpul dadi siji, iku purba kang langgeng anane ing manungsa, kapindho dating roh, iku ora langgeng, ananging anane luwih lawas tinimbang lan purba kang ing sangisore, lan mangkono sabanjure nganti tutug badan jasmani, anane suda-suda lawase.

Prakara iki bakal terang samongsa aku padha mikir bab dharedheging barang, saya alus utawa lembut barange, saya suwe dharedhege, iku dadi wawaton dawa cendhake mongsa anane purba manungsa, awit anane iku ora liya mung saking dharedheg, purba kang luhur-luhur dadi padha menangi sirnane badan jasmani, (badan wadhag) kaya upamane senthenge rebab, kang lembut isih geter, manawi kang anggal uwis suwe menenge. Dene iku aja dianggep nyina kang yekti, sabab satemene mung upama bae, mungguh yektine mung sarana kabudi lan dilakoni dhewe dening wong kang bisa anglakoni, sawenehing wong nrima oleh susurupan saking pituturing liyan, kang wus padha nglakoni nyatakake ing yektine. Manut kang pratelakake iku dadi badan wadhage manungsa (atos cuwer lan kang awujud hawa) iku kang cendhak dhewe umure, samongsa uwis tutug ing jangji katinggal, pisah karo badan, eter loro kang dadi saranane badan jasmani duwe daya upaya urip, saupama badan jasmani iku tininggal sawatara bae dening badan, eter loro iku, bisa dadi tanpa ngrasa, kayata: uwong diamboni kloroforem, mungguhing wong kang wus sidik bisa weruh, wetuning badan eter, katon wujude kaya kukus semu biru, yen kukus iku sah babar pisan saking badan, temtu wonge mati, uwite uripe wus tanpa daya marang anggaotane, wekasan bangkene sirna dadi lebu, awit saking patine (adat letelung dina) badan, eter mau genti katinggal ing badane kang luwih alus, dadi bathang, iku ora urip lan kembang ora adoh saking jisime mau, jisim kang kapindho iku sirna, akeh katatalane wong weruh memedi. Kang kadadeyan saking eter iku, lumrahe wong kang jirih utawa kaget, ananging yen jisim iku diobong kaya carane bongsa Hindu Buddha, badan eter mau nuli sanalika bisa sirna bareng lan wadhage.

Dene aluse badan loro iku isih, awit sirnane ora andadekake sabab ing anane manungsane, malah luwih urip tinimbang lan uripmu lan uripku, nanging ora kena sinat mata, amarga tanpa wadhag, kahananing wujude luwih dening lembut, ora wenang kanyatakake dening wong lumrah, ananging mesthi anane kaya dene getering abang utawa wunguning kaluwung, kang ora katon ing wong, dadi kang dak arani mati iku ora liya mung wujud geter (dharedheg) kang luwih alus, sarehning aku ora padha bisa nimbangi geter iku, dadi ora weruh ing kahanane. Kaya dene eter ora wenang kadaleng panjinge marang badan wadhag, mangkono uga rumangsuke wujud alus-alus mau marang wujud liyane kang agal-agal.

 —————————————————————————

(i) Katrangan : ing antaraning ngalaming jagad mau ana kang diarani: langit (swarga), naraka jahanam dening para agama, naraka iku saperanganing alam sorot, swarga, ngalaming budi ing jagad.

Lungane badan roh saking badan wadhag loro mau, anganakake owah-owahan ing badane Nur, kang dadi uwite pangrasa ngeres sapanunggalane lan kadadi garane uripe ing ngalam anyar, mungguh dawa cendhake uripe ing ngalam anyar iku gumantung saking keh sathithike dayaning hawa napsune.

Yen uripe ing donya iki tansah nuruti hawa napsune, uripe ing ngalam kang kena diarani naraka ing ngatase bongsa NaSarani utawa Islam, iya bakal lawas banget, awit badan Nur iku dumadine saking dating pangrasa lan hawa napsu, dene yen nalikane ing donya wong iku tansah budi daya murih undhaking hawa napsune, tumekaning jangji iya bakal dadi badan kang luwih dening awet, kaya upamaning pager badaning pakunjaran kang kandel, ananging sarehning samubarang kang tumitah iku mesthi bakal sirna, enggal lawas manungsa uga bakal ninggal badane Nur mau, yen wus sinucekake mangkono, lan sakehing reregeding aluse wus kabuwang, aluse munggah menya martabating budi, iya iku kang diarani “swarga”, kang kagawa mung tabingating Nur utawa purbane kang gaib-gaib, kang ing tembe samongsa nitis maneh, bakal anamtokake  badan Nur anyar,(i)

Dene lawase manungsa ana ing swarga mau, uga mawa-mawa kalakuwane angdonya, yen nalika uripe ing donya tansah alaku bener, lan angrasakake beciking uwong apa dene tansah ngudi ing kawruh, lan kabisan liya-liyane, (ngalah, andhap asor) tamtu bakal lawas adudunung ing swarga (manas kang asor).

Ing kono wong ing dunya kang wus sidik lan kawasa nyatakake ing kahanane, bisa ngrungu getering ilham, lan bisa ngrungu rujuking swara ing panggonan kang luhur, apa dene bakal patemon lan para widadari, lan maneh bisa nyakup sakehing kawruh, ananging mbok manawa banjur ana kang ora ngandel ing basaku iki najan benera, yen ing ngalam kang ghaib iku kabeh ora ana kang akawitan.

Lah mangkono gambaring jagad loro kang luhur iku, dene uripe manungsa ing kono dadi tutuge uripe ing jagad iki, yaiku kasampurnaning ngauripe ing donya, mulane prayogane wong iku miwiti urip mangkono ing donya kene, tegese: nganggo laku kang bener, aja ngenteni besuk-besuk.

Satemene mesakake banget, dene akeh uwong kang pancene ora ala, padha ngeceh-eceh mangsane urip mongka kahanan ing sawuse lan sadurunge mati iku bakal padha bae, sambung rapeting kadadeyan iku padha manut ugi papathokan kang padha, kang iku sumelangku bok menawa sakehing kang tanpa guna lan kamibocahen, iku bakal lulus nganti ing jamaning Nur utawa naraka, aja disengguh yen uwong urip iku cukup mung andonga sathithik, murih bisane oleh swarga.

Wontene jagad iku kinawasan ing uger papathokan kang luwih adil, iya iku ugering sabab lan wekasaning sabab mau, dadi kabeh ora ana kang tanpa jalaran, anane swarga lan naraka ora liya mung saking paneraking papacake uger papathokan mau, mulane eh wong kang ambudi, den angati-ati lan anyambuta gawe, supaya ing donya iki padha alega, lan ing tembe aja kongsi kabonta dening sembranamu dhewe.

Dadi martabating manungsa iku, wiwite munggah ing ngalam Nur, nuli ing ngalaming budi. Saiki pituduhku: kang dak arani ngalam iku dudu panggonan, ananging kahananing jasad, swarga iku ing ngendi-endi ya ana, lan manjing ing samubarang kang ana, malah luwih akeh tinimbang kang kaunggyanan ing eter, cekake manungsa ing ngalam sawiji-wiji mau bakale tompa wawalese kang linakonan ing nalikane urip ing donya, samongsa wus tutug ing jangjine, ngalam mau banjur katinggal, kaya dene paninggaling donya iki, dadi manungsa aninggal badane papat. Mungguh uripe mangkono iku lawase sawatara 1000 tutug 1500 taune ing donya, nuli tumeka ing mongsa panjanmane, mungguh prakara iki bakal dak gunem besuk, kowe mesthi padha bakal sumurup yen panjanmane iku mung miturut uger wawatoning jagad, saiki wus cukup tak sigeg samene, mung aku arep tutur yen manungsa sadurunge manjanma iku ambuwang badane patang warna kang asor, bareng tutug mangsane manjanma, metu kadi ngalaming roh utawa ngalaming asale.

 ———————————————————————————

(i) Katrangan : kahananing Nur (naraka) ing tembung sanskrita diarani kamaloka, tegese: jagading kakarepan. Kahananing swarga, diarani dewaloka, tegese: jagading dewa.

Yen tutug ing mongsa panjanmane dheweke ngrasuk badan kang asor (manas asor) nuli lumebu ing ngalaming Nur anyar, kang minongka dayaning pangrasa, dene badane eter lan wadhage dumadi ing guwa garbane biyunge.

Dadi wujuding manungsa kang alus iku thukul dhisik, nanging sirnane kari dhewe, saya alus winihe, saya lawas uripe, mengko aku bakal padha sumurup, yen jantraning dayane luwih jembar.

Mungguh wong kang wus sidik, bisa weruh yen saben uwong kinubenga ing cahya abunder endhog, kaya dene gambar-gambaring wong kuna, esthine dewi mariyam lan putrane, mara saiki padha rungokna caritane tuwan Eisenbah kang mrasudi nyatakake ananing cahya iku, cahya iku ora liya mung sunaring purbaning manungsa kang metu saking jeroning badaning wadhag, katon ing wong kang wus sidik ngunguwung ngubenging badan.

Dadi dat kang alus-alus iku kang jembar dhewe enggone, kadadeyan kanyata iki wus kapratelakake dening para ngulama, ananging ing samengko karuncen, yen tak terangna lan maneh dadi luwih angel panggagase angatase para kang maca piwulang iki.

Wekasan aku arep angandhakake pakeling lan mungguh tumanduke manungsa wiji-wijining purbane manungsa, bok manawa para kan maca wus mangreti, yen manas kang asor iku salin saben-saben manjanma lan mung kari martabat telu, iya iku atma, budi lan mansa kang luhur, biyen wus dak kandhakake, yen uwong terkadhang kelingan ing samubarang kang wus lalen lawas, iku tetela ing wong kang tinanduking hipnose (hijpnose) lan minongka pratondha yen keling iku ora mung ing utek bae, ananging uga tansah awet anane: awujud geter, dene yen utek ora bisa nampani geter mau, tegese ora ngrasa, manungsa tamtu ora bisa eling apa-apa.

Aku wus padha sumurup yen purba kang luhur luwih awet lan uga weruh yen barang kang digugulang salawase manjanma, tansah kacatet ing sawiji-wijining purba, mawa-mawa kahanane kang digugulang, tuwin manawa utek wadhag iku ayem, (tentrem) (tegese prayoga kanggo mikir) tumanduke geter mau ana gawene, dadi manungsa eling mubarang kang wus kalakon lawas, pakeling utawa pamikir mangkono iku anane ing martabat manungsa kang luhur, ananging uteking manungsa kalane isih urip kaya saiki ora bisa nampani, dene yen utek iku kailangake dayane sarana kataman ing hipnose (hijpnose) lan daya iku nuli kasambung ing kumandhang, amesthi wong mau bisa nyaritakake mubarang kang wus kalalen babar pisan, sajroning meleke, kang iku tetela yen dat alus iku luwih awet anane tinimbang lan wadhag, dadi manungsa iku genti-genti ambuwang badane jasmani, dayane urip pangrasa lan kapirane, lan peperangane kang condhong karo wiwijangan mau, ananging manas kang luhur uwiting roh iku tansah ngregem pangrasa kang tumanduk lan sarehning badan alus iku isih wutuh sajroning panjanmane, dadi manungsa bakal bisa eling ing panjanmane biyen, angger bisa nepungake uwite karo uteke kang wadhag.

Ngawruhi diri pribadi iku kaya dene kang wus kapratelakake ing ngarep, dadi uwiting sakabeh kawruh, mulane sawuse aku padha weruhi wiwijanganing manungsa, mara padha genti marinci barang kang ana ing sakukubanku, ananging supaya aja karoncen padha dipek ing sakaprahe bae.

Mara waspadakna sarupane barang kang ana ing sakukubanku ing donya iki, kabeh embuh kang wadhag embuh kang alus, yen dinyatakake tetela: ora ana siji, kang kenane sinat mata ora saking tumanduking geter marang badanku murih terang, mara padha ameka barang sawiji kanyata,: kembang endah ing warna, apata kembang mangkono. Iku tan liya mung sawijining pakumpulane utawa jajamborane kahanan sawatara, warna, ambu, manising rupa, rasa, seger, bobote lan liya-liyane, klumpuke rasa mangkono kang metu saking barang mau tumanduk marang badanku, iku diarani kembang.

Ing bab wiwijanganing badan manungsa wus kapratelakake, yen sawiji-wijining rasa mangkono iku kadadeyan ing geter, kapisan, kang diarani warna iku ora liya mung kadadeyan geter uga, kang tumonca ing kulit rancangan, (net + ulies = djala-djala) ing jeroning mata, geter iku nuli tumimbul marang Asabat munggah tutuging utek, banjur terus marang martabating Nur (astrale natuur) nuli bab lasmaneh tutug ing dating batin (mentale) lah, mangkono lagi katon kahananing barange, dadi tumanduking geter marang kulit rancangan sapiturute, (marang Asabat, utek uwiting nur lan wekasan marang dating batin) mau kang marake uwong weruh ing wawarnan, mulane warna kang kodeleng iku satemene dudu warna kang katon marang aku, nanging getere: padha, kan tumanduk ing mataku iya kang tumonca ing mripatku, mung dayane tumanduke marang mataku ora nyamleng karodayane kang tumonca marang mripatku, warna kang katon ing wong sawiji dadi seje karo warna kang adeleng ing liyane, mung saking pirukune wong bae dene padha enggone ngarani, kowe ngarani iki, putih: mengkono uga aku, ananging iku dudu cihna yen pangrasaku padha karo panemumu.

Mara saiki padha nyatakake ambune kembang, iku kadadeyaning geter, kang tumama marang Asabating pangambu (irung), dene patrap tumancane ora beda kang wus kapratelakake mau, mengkono uga ananing rasa kang rinasa ing ngilat iku geter, kang tumama ing ngilat, lah mangkono uga mungguh ing rasa kang korasakake ing badanmu sakojur, malah uga ing ngatase barang kang alus-alus.

Mungguhing wong kang terang pangrungune (dudu kang bisa ngrungu) kembang iku bisa cacaturan, malah bisa ngidung (sindhen) awit rupane iku kadadeyan saking getere kikidungan, (kang mangkono wus kanyatakake dening nyonyah wetces kang kawasa nuwuhake pakis lan kembang-kembang kang adi-adi sarana swaraning gendhing), kabeh iku dadi pratondha, yen sarupane kang tinemu ing donya iki kadadeyan saking geter, kang urut tumaruntun tumanduke, kaya mangkono uga piwulange para Nabi lan panutanku kabeh, saupama kowe padha wenanga ngrungu kikidunganing kembang, dadi iku kadadeyaning geter uga kang tumama marang badanmu.

Daya panulaking barang kang korasa samongsa kokgepok, iku ora liya mung kahananing geter, kang tumawuh saking kakarepan kang lalawanan, awit ing donya iki kabeh awatek mangkono, terange kabeh awatek gendeng-ginendeng lan tulak-tinulak, dne daya mangkono iku ing barang siji lan sijine ora padha, mulane nganakake wujuding barang kang beda-beda kahanane, yen dayane anggendheng luwih rosa tinimbang lan dayaning panulak, mujudake barang kang atos, saya suda dayane panggendhenge saya kurang atos barange (dadi empuk), lah, mangkono sabanjure, dadi ana barang cuwer, lan ana kang awujud gas (angin) dene manawa dayane anggendheng luwih dene kurange tinimbang panulake, anganakake dat kang kaaranan eter, dadi atos, empuk, cuwer lan sabanjure ana liya kadadeyaning daya panggendheng lan daya panulak.

Mungguh boboting kembang kang korasakake iku ora liya mung saking panulakmu dhewe marang kembang kang arep marani menyang pusering bumi, sakabeh uwong dalasan bocah uga weruh yen darah (bagiyan barang kang luwih dening alus) awatek tarik-tinarik lan bumi anggendeng marang sarupane kang ana ing jagad, lintang-lintang nalika ing bumi, bumi nalika ing lintang, kaya dene panarike barang-barang kang ana ing salumahing tosa, rupane kang kumelip ing donya tansah kasinungan daya arep kumpul, kaya dene wong sihsining dayaning alam mangkono kaaranan dayaning bobot (cekake bobot bae), rasa memes (alus) kang korasakake manawa manggepokan barang kang alus, mangkono uga rasa kakasar utawa agala-agala iku ora liya saking badaning kahananing darah ing barange, mawa-mawa atos wmpuke, mau wus kapratelakake yen atos empuke barang dumadi saking daya pangendheng lan panulak, iya iku obah ing barang kang marani lan kang ngalungani.

Saking pamijang-mijanging kembang iku, aku dadi padha weruh yen kembang ora liya mung klumpuking kadadeyan, nanging bok manawa banjur ana kang mancahi, arak dumadi saking dat lan darah, kang padha gendheng-ginendheng lan tulak-tinulak, nuli klumpuk dadi kaya dene wujude, pangrasaku: panemu kang mangkono satemene kliru, awit apa ing antara mupus ana kang andengangi darah (iya iku darah kang kapratelakake denign ahli ngelmu alam) dudu darah kang kapratelakake dening ahli kimya, awit iku isih jamboran, saenggane kowe padha weruha ing darah, iya mung weruh ing warna rasane bae, yen kogepok lan cekake mung wateke ing sawatara, mongka ing dhuwur wus kapratelakake yen wateke iku kadadeyaning geter, ora ana maneh-maneh, dadi ana ing ngandika koarani darah mau, iya iku ing ciptane para ahli ngelmu alam, kabeh dadi awujud geter, wong kang durung tau marsudi nyatakake bab iku, wus mesthi bae akal ora nuli mangreti ujarku, ananging yen dheweke banjur nurupi ing pituduh iku, yen gelema mikir sarta budi daya sarta nyatakake enggal lawas temtu bakal weruh ing wadine ujarku mau, iya iku: yen jagad iki ora liya mung obah lan geter, mengkono piwulange para sarjana, sakabeh barang anane gumantung saking panganggep.

Saiki pangrasaku wus cukup olahku anggawe lepiyan, awit manawa kowe padha miturut ing ujarku iki, kwe bakal padha weruh dhewe, yen sarupane barang iku kawase ing angger wawaton sawiji, yen kowe wus padha nganggep ing ananing obah iku aku bakal nutugake kandhaku, wondene obah iku masthi dumadi saking daya, mungguh daya iku wenang rinasa mung ing dhiri pribadi, liyane iku mung panganggep titimbangan, mung anane pangrasa ing dhirimu pribadi iku pangawasa kang bisa obahake, iku wenang kokawruhi, saupama tanganku obah, ciptaku, yen aku kang ngobahake, dadi dudu karepe tanganku dhewe, nanging karepku, lah mangkono panganggep kang nyata ing ngatase obahan dening daya, saking panganggep mangkono iku, pangrasamu kowe wus terang ing wateking daya, kang nganakake obah liyane, sing dadi lajering kawruhmu, mulane kowe banjur wani anggawe titimbangan, minongka katrangan ten aku calathu (iki minongka tuladha) kang korungu ora iya mung dhapur kumpuling geter, urat-uratku kang dadi sarananing anywara obah, sarta nganakake geter, kang banjur tumanduk ing kupingmu (peperanganing barang, kang ora liya mung obah, iku tansah geter lan angowah ila kuning sorot kang tumonca ing kulit rancangan ing mripatku, dadi kerasa, lan kowe weruh wawarnan, dhapur wasana kowe dadi duwe imbangan, yen weruh wong micara, tetela mung panganggep bae, panyana yen mesthi ana daya, kang marakake obahing ku satemene dadi saking panganggepmu, yen sakabehe obahmu iku kasababake dening kowe dhewe, iya mung iku kang kowe mesthi weruhe (iya mung samono kawruhmu) sarehning mung kuwi kang kokawruhi, apa mulane dane kowe duwe pangira, yen daya kang dadi sababe geter sing kok arani wong micara iku beda-beda karo daya kang amujudake pakumpulaning obah, sing ko arani diyan, ora ana sababe pisan-pisan, satemene daya iku padha bae (mung siji) ananging kaereh marang angger donya kang beda-beda, mulane dadi beda-beda kang kaanakake, (priksanen angger kang katelu ing ngisor iki) mungguh prakara iku uga kena katrangake sarana uger wawatone mosalan dhuwure marang kang tumiba (ngelmu alam) ananging pangiraku bakal saya peteng ing ngatase wong kang akeh-akeh, mulane dak pathet samene bae katrangane, wus cukup dak terangake mangkono bae, obahing donya iki kasababake dening sawijining daya, dadi ing donya iki ana kahanan loro, kang sapisan daya, iya iku uwiting sakabeh kadadeyan ing donya, kapindhone obah, kang kahanakake dening daya mau, dene daya iku akeh kang ngarani Allah, wong Hindu ngarani Brahma, mungguh bongsa liya-liyane seje maneh anggone ngarani, ananging mungguh beda-bedane olahe ngarani iku ora ngapaa. Kang prelu, anteping pangandele, yen daya siji iku kang nganakake kabeh, (daya iku dadi barang rupa-rupa seje-seje nanging ora sah Akad) (tunggal).

Murih terange babar pisan, mara padha anggunem angger wawatone wawejangane barang kabeh.

I.  Angger wawaton kang sapisan iku anggering genti-genti utawa solan-salining barang, wondene ing donya iki ora ana barang siji-sijiya kang ambener (ngenceng) lakune, kabeh ana watese ajune kang mesthi, nuli mundur maneh, banjur maju maneh luwih adoh tinimbang kang uwis mengkono sabanjure (dadi lakune ngulanglangi utawa kaya lilit uwi) lan maneh, ing donya ana rina wengi, iku ora ngemungake ing ngatase uripe manungsa lan khewan bae, ananging uga mungguhi barang liya-liyane, ing ngendi-endi ya meneng lan molah, iku genten tindake, dene donya iki uga kaeruh ing angger wawaton mangkono, donya uga ana kalane meneng lan ana kalane molah, sasuwene molah iku, uwit tunggal kang agung amujudake jagad lan sasuwene meneng jagad iki pulih kaya mula bukane, iya iku asale, dadi luluh (lebu) manawa wus tutug mangsane pamejange maneh, nuli dadi jagad anyar, kaya dene kang uwis, mangkono anane titah iku tansah ambanjur tanpa wiwitan tanpa wekasan (langgeng) ananging mungguh jagad kang temtu kaya donya iki, iku ana mula lan wekasane, awit dumadine saking jagad kabiyen, saka uwite ing tembe uga bakal dadi jagad anyar maneh, sabanjure mangkono tanpa wangen.

Mungguh kang dak arani jagad kang dhisik mau ora mung srengenge sakbumi lintange bae, ananging kabeh kang kalebu wewejangan (openbaring) sakabeh carita bab dumadining jagad kang tinemu ing kitab suci, lumrahe mung kanggo ana ngiciptaning wong, ananging mungguh wethane kang dudu cinipta, terkadhang ora kena ginagas, lan maneh carita iku kang akeh mung anggunem kadadeyaning jagad, siji-siji mungguhing panitahe jagad kabeh (umum), lumrah ora kapratelakake wiwit lan wekasane.

Wondene genti-gentining dumadi mau ing basa Hindu kaaranan rina lan wengine Brahma, wujude Allah kang maha agung, ana uga kang ngarani, apase (lebu wetune napase) wujude Allah, wetune napas iku nganakake wewejangan, dene lebune andadekake lebure, lan dumadine lebure kabeh kaaranan: kalpa, tegese kalangan (buweng), satemene lugune tembung ateges: cipta, lan basa iku uga wenang tumrap ing ngatase dumadine donya kabeh, awit donya iku ora liya mung ciptane Allah, prakara iki bakal luwih terang dening katerangan ing ngisor iki, samengko kang prelu diregeni dhisik, cipta ananing kalpa, iya iku lawase gilir (genti-gentining mobah lan meneng).

II. Lah, saiki nyandhak cipta kang kapindho, kang bakal dak elingake ing kowe, wewejangan kang umum iku kahanakake miturut angger wawaton kang diarani wiwartha, tegese, uwit iku sasuwene anuwuhake sawijining kadadeyan, tansah padha lan dhirine pribadi, terange: kadadeyan sawiji ora ngowahake uwite kang nganakake kadadeyan mau, iku angger papathokaning wawejangan, dadi kosok baline karo uger wawatone pamalih, dumadine keju saking puhan iku lewihan kang nyata, kanggo nerangake bab pamalih ing barang, awit puhane wus ora awujud puhan maneh, dene murih terange mungguh wiwijangan mara padha ameka wiwiridan saking geni mawa, kang tinalenan ing kawat sarta nuli kabubengake rikat, apa kang katon, iya iku kalangan (buweng), dene kalangan iku sayektine cipta kang kahanakake dening mawa mau, ewa dene mawa iku ora owah, lah iku upama kang nyata kanggo nerangake tegese wiwartha, patrap gumelar ing jagad.

Sawarnane barang dumadi saking Allah, lan Allah iku gembleng (antero) anane ing sakabeh kang ana, ewa samono Allah ora owah tansah wutuh, padha lan pribadine sawiji (Akad) ing sawarnaning barang kang kawejangake, kaya dene mawa kang tansah wutuh ing saenggon-enggone kang kalingan.

Samengko umpamakna kalingan mau barang sawiji, lan ciptanen mubeng ing titik liyane, dadi anganakake petha loro, kang asale saking geni mawa siji, uwiting kadadeyan iku isih padha, ewa dene kang gumelar iku wewejangan rong warna kang beda urutane. Yen kobanjurake ciptamu mau mangkono, mawa siji iku bakal ngebaki awang ujung kang tanpa wangen jembare.

Dene kadadeyan ing jagad iku ora beda karo kang kasebut mau, sanajan ora ana upama siji-siji ya kang minongka dadi katrangane.

Ing jagad iki ora ana liyane kang ana mung Allah, lan anane iku mung gembleng (wutuh) ngebaki jagad, dadi mengkono gumelaring jagad tansah kanthi mejang mujudi Allah kang asipat tunggal, uwite tansah asipat padha karo pribadine, ewa dene iya kadadeyane (iya bakale iya kadadeyane).

Tembung Sansekrita wiwartha, kang dadi araning lakuning dumadi mangkono iku lugune ateges: polah mubeng, tembung iku condhong tegese karo tembung latin (vortase) wortekse (kawruh ing jaman saiki, elmu alam) uga mratelakake yen donya kang katon iki dumadine saking obah kikiteran, iya iku ulekan, kang padha gendeng-ginendeng lan tulak-tinulak, lah mangkono uga katrangane ing basa Sansekrita, kabeh kang ana: wiwartha. Dadi panemune bongsa Hindu, karo para sarjana ing jaman saiki cocog kabeh, lan para kang wus sampurna kawasa, (i) marinci unsur-unsur kang andadekake dating jagad, mung sarana paningale nure, dadi iya kawasa nyumurupi angger wawatone obah kikiterane kabeh.

Lah mangkono angger kapindho kang dadi wawaton dumadining donya kabeh iku, jagad iku wiwartha, tegese obah kikiteran, ananging uwite ora owah (tansah padha) lan sasuwene kikiteran iku nganakake kadadeyan.

Nuli nyandhak angger wawatone gumelaring lintang-lintang, sarana amet titimbangan seje maneh, ing mengko kowe bakal padha weruh, obah kikiteraning kabeh iku, ora liya mung cipta bae, iya iku gegendenganing batin, murih terange kang bakal dak terangake, mara padha ambaleni gunem bab wiwijanganing barang.

Ing dhuwur wus kapratelakake, yen ing donya iki ora liya mung obah, lan yen manungsa mung kasinungan daya ing sawatara, dene mungguhing barang liya-liyane bisa kuweruh ing wateke mung sarana amet titimbangan, lah apa samengko kang ginawe titimbangan dhisik. Minongka katranganing uwit kang tunggal, “apa daya iku ambudi apa ora”, wangsulane ora ana marunah mung mangkono, sarehning daya kang dumunung ing jasadku abudi (iya mung iki kang wenang dak surupi) dadi ora wenang aku ngaranana yen daya ing barang liya-liyane tanpa budi. Sanyatane ing ngatase kang wus sidik, tuwin kang tunggal riku abudi, ing ngisor iki pratelane bedne bongsa materiyalisme (materialisme = tegese kanganggep ing ngananing bakal) lan bongsa idheyalisme (idealisme = tegese kang nganggep ananing cipta bae), bongsa materiyalisme ngarani yen sawarnaning barang kadadeyan saking sawijining bakal, lan bakal iku tanpa budi, nanging panemune bongsa idheyalisme, uwit tunggal iku abudi, iya iku Allah, dat Allah.

Mungguh wong Hindu ora bakal padudon karo bongsa materiyalisme, malah padha bakala taklim sasaliman, celathune, sadaya punika sae ing ngatasipun sampeyan ki sanak, amargi papanggih sampeyan remeni, ananging punapa wonten cihna ingkang minongka ugering pamanggih punika, punapa sampeyan sampun abudi murih sumerep ing kayektosanipun yen dereng lah punapa aki sanak dene sampeyan sereng amuring-muring dhateng kula, muka pamanggih sampeyan punika namung pamanggih wantah, tanpa punapa-punapa ingkang kenging kadamel cihnanipun, dene kula sanajan ugi boten gadhah cihna ingkang nyata, anedahaken mardi (gadhah lampah) saged dipun sampeyan anyatakaken piyambak ingkang yektosaning panganggep kula samanten wau yen sampeyan karsa nglampahi milanipun dipunsabar dhateng pamanggih kula.

 ———————————————————————————-

(i) katrangan: ponca driyaning badan, kaya dene ponca driyaning badan wadhag, prelu kalantih.

Lah mitra kang ngandel ananing bakal, sawuse kapituturan (yen miturut ujaring para sidik) becike padha kaajaka andum salamet, satemene akeh nyatane panemune para sidik iku, awit mirit saking daya kang dumunung ing dhiriku pribadi, iku abudi, apa mulane yen daya ing barang-barang liyane ora mangkonowa: pamikir iki dadi pratondha, yen ora luput uwong nganggep, uwit tunggal iku abudi, wuwuh-wuwuh ana saksine para sarjana, kang dadi pikukuh ing panganggep mau. Sarehning uwit tunggal iku abudi, apata obah kang kahanakake iku, yen dudu wawetune kakarepane, (pikire, ciptane) mulane aku mau iya tutur, yen donya iki ora liya mung ciptaning gusthi, panemu iku minongka lalawangan weruh ing gumelaring jagad kabeh, saking lalandhesan iku aku wenang nganggep yen dumadining jagad iku tuwuh ing nyawa, budi lan pakeling saking Allah, ewa semono Allah tansah padha, iya iku kang dadi uger gegendholaning Buddha lan para panutan ing tanah Hindu, ananging dumadining jagad uga wenang kanyatakake saking pathokan liya, kayata: saking pathokaning swara, obah kang kahanakake dening wujud kang nitahake, iku hawa pur geter, kang urut tumaruntun, geter iku mungguhing wong kang sampurna padha muni, kaya dene swaraning gendhing, dadi donya iki ora liya mung larasing swara, kang metu saking Allah, kabeh dumadine saking geter kang tundha-tundha urut tumaruntun, kaya dene kang wus dak pratelakake, bab iku wus katetepake nyata dening para sarjana saiki, dadi jagad iku miturut piwulange wong kuna-kuna, larasing gendhing kang luhur, lan sapa kang bisa misahake ponca driyane badane ngawag, iya kawasa weruh ing gendhing iku.

Sajroning kitab kuna, nabi Yohanes angandikakake, pangandikane Allah kang nganakake sawarnaning barang.

Basa, pangandika kang agung, iya dadi cipta kang agung, iya swara kang dadi uwit, uwit cipta iku ora beda lan swarga, lairing cipta iku nyata kadadeyane, iya iku dumadining jagad kabeh saking swara.

Yen aku padha nganggep padunungan dumunung ing liya panggonan, jagad iku wenang kacipta wawarnan lumpuk atata, luwih dening ngeramake, wondene warna iku yen kawaspadakake kanthi anggaota liyane kang kapratelakake mau, ora liya mung geter.

Wong kang sidik basa weruh warnane iku, kang lumrahe ora kena sinatmata ing wong, yen ana wong nabuh gamelan, ing ngatase wong lumrah kang karungu swarane bae, ananging para sidik uga weruh ing saking gamelan mau, weruh getering abang lan wungu, lang mangkone dumadine gumelaring Allah utawa getering swara kang urut, wenang kanyatakake saking warnane, saking padhang, para guru ing tanah Hindu ana sawatara kang anggendoli wawaton mangkono.

Biyen aku wus anggunem sakabeh uger saka wit, kang dadi tataksane wejangan kabeh, sabab kang esa (tunggal) iku kaya kang wus dak pratelakake, tansah padha ing pribadine (ora owah) sanajan anganakake kadadeyane, ing saiki sabisa-bisa aku bakal amratelakake, kapriye enggone winih kang esa, lan tan kena owah nganakake sarupane wawejangan ing jagad, cekake, aku arep amratelakake dadining dumadi kabeh, aku kabeh wus padha sumurup, yen mung sabab kang sakawit iku kanyatahana kang sajati, dene sarupane kang katon mung wewejangane bae, wawayangane Nur esa, kang ora lawas sarta ajeg anane, dene ing saiki aku arep anggunem prakara, murih sumurupku, kapriye enggone “kang esa”, iku gumelar ing mongsa lan ing don, awit tumaruntuning kadadeyan iku ora liya mung pamejanging winih saka wit mau ing mongsa lan ing don, nanging sadurunge aku wiwit anggunem, aku prelu mratelakake dhisik tegese basa: mongla lan don awiyen ora terang ign basa iku bisa anuwuhake kleru tampa.

Andadekna kawruh anamu, yen basa: mongsa lan don, iku mung lagu cacaturanku, tembunge ing basa Sansekrita, mongsa = kala, ateges, solah olehe anuwuhake, dadi ing basa Sansekrita: mongsa duwe teges tundha tumuruntune enggonku ngyektekake barang lan don, arah utawa tujuning panitiku, mongsa lan don ora ana wujud utawa jenggelege, anane mung gumantung saking patrap paniti kita, mongsa iku, jaman biyen, jaman saiki, lan ing besuk, tegese, dadi mongsa arupa telu kang kanggo anyatakake kadadeyan, mungguh tembung don ngemu teges: kene, kono, kana, mrene, mrono, mrana, dadi tetela yen don iku tansah owah lan gumantung ing wong kang andeleng, apa kang wus kalakonan ing ngatase wong sawiji, kena uga lagi “dadi”, mungguhing wong liyane apa kang ing kene ing ngatase aku, iku trekadhang ing kana mungguhing kowe.

Ing ngatase bumi, bumi iki ing kene, ananging mungguhing wong kang ana ing jagad liyane, apa ora diarani ing kana, apa ing kene ing ngatase wong sawiji, dadi ing kana “mungguhing wong liyane”, mangkono uga tumrape ing mongsa, yen wayah bengi aku padha ngarani srengenge wus surup, srengenge wus ilang, nalika hawane aku weruh, nuli kandheg weruhku mau, ananging ing ngatase wong kang (upama) ign srengenge, pandelenge ora kendhat-kendhat, dadi tansah ngarani, saiki bae ora ana liyane.

Lah mangkono kahananing saiki, biyen, lan besuk ora beda karo kahananing don, dudu barang kang miji (nanging titimbangan) patrap kawruh kita, satemene ing ngalam iki mung uwit siji kang katon, beda-beda mongsa lan done katone, murih terange maneh, mara gaweya kalangan sawatara gedhe cilik kang nunggal pusere tengah, upamakna puser tengah iku uwite kalangan, utawa uwit sakawit (wujuding Gusthi).

Upama ana kang bis anunggal ing Gusthi, iya iku ciptane nunggal ing ciptaning Gusthi, dumunung ing puser sakawit mau, tembung uga weruh ing salumahing jagad kabeh, ing ngatase wong mau ora ana ener, ora ana tundha tumuruning mongsa lan don, kabeh katon gamblang, kabeh, saiki lan ing kene.

Mara upamakna wong kang wus sidik manggon ing sawijining puser ing kalangan mau, upama ing A) saka ing kono dheweke bisa wuninga saperanganing rerengan tatalesan kang saking Gusthi, manawa wong sidik iku mingser panggenane upama ing, B) lan mandhep ing ner liyane, wuninga ing bageyane rerengan kang talesane saje, sarta C) liruning panggonan iku ora ngemukake anuwuhake terange ing don ing dalem pikir, ananging uga bakal angrasa owahing mangsane, tegese wong mau bisa ambedak-bedakake, yen sawuse weruh barang sawatara urut tumaruntun nuli weruh barang seje.

Mangkono wong sidik bisa weruh ign rengrengan ing liya panggonan maneh wong mau wuninga ing bageyan anyar maneh, mangkono sabanjure upama ing tembung wong iku wus temu gelang, apa kirane kang katon.

Ora ana maneh mung bundern ing tengah, gambar ciptaning Gusthi, ananging Gusthi ana ing tengah uga ngudaneni sanalika, tanpa owah gisir ing mongsa lan done, mulane cipta kang weruh ing gemblenging kadadeyan mau, katone marang wujud kang ana ing tengah kaya sawijining cecek, buweng lan puser tengah nunggal, iya iku cipta sawiji mau, dineleng sangking done saje-saje.

Mara saiki kaupamakna, ana wong liyane kang ngubengi kalangan kapindho, kang luwih adoh saking pusere tengah, iku uga weruh ing pusere tengah, urutan saking enere seje-seje, sawuse temu gelang uga tela ing sumurupe, marang wujud bunderan kang dumunung ing tengah-tengahe, saupama lakune ngiteri wong loro iku padha arikate, dadi kang kapindho bakal luwih lawas weruhe ing gemblenging wujud ing tengah, sabab luwih dawa dalane, nanging satemene kawruhe nunggal awit barang kang dineleng mung siji, lan sarehning urut-urutane kang tinon iku waca, dadi panemune wong loro iku bakal condhong, sanajan mongsa pandelenge ana kaceke ing ngatase aku, kang padha andeleng ubenge.

Lah mangkono mulane wong ngimpi , ing sawatara menut bae, terkadhang angalami prakara warna-warna, kang ora kena linakonan ing wadhag kita ing dalem pirang-pirang taun, sarehning kita longka bisa mikir kahananing mongsa, yen tanpa kadadeyan, tangi turu kita mau kalawan pangrasa wus urip pirang-pirang puluh taun.

Dene saupama ana wong ngiteri ing kalangan kang katelune, wus mesthi bae luwih lawas lakune, tinimbang kang cedhak dhewe marang cecek tengah, ewa semono sawuse tepung ubenge, ora beda kang dideleng, iya iku cipta gembleng ign tengah, nanging wujude ing ngatase wong iku kaya kalangan kang luwih jembar, dadi buwengan iku kaya dene liyane mau nunggal karo cecek tenggeng mangsane ubenge kabeh tibane padha,

[NO. 2]
[BUKU KEKARANGANIPUN TUWAN VAN DEN BRUK.]

Kendhateng manusa, dene kathah kedhikipun ignkang kaparingaken gumantung wonten alusing bubudenipun bongsa, gumantung wonten ing kawruh ing kasampun sumebar wonten ing manusa, gumantung wonten wateking bongsa ingkang anggadhahi kawruh mau, tuwin gumantung wonten ing daya pamarsudining budinipun.

Murih cocogipun kaliyan sadaya wau amila patrapipun amaringaken wau ingkang winastan agami, ananging dhadhasaripun sami kemawon, saben-saben amulangaken bilih kawontenaning Allah punika amung satunggal, ingkang gumelar dados kempaling titiga utawi trimurti, tuwin amulangaken bilih manusa punika kawontenanipun rangkep tiga sami kados Gusthi Allah, salajengipun manusa wau kenging kaperang malih, winihipun rangkep tiga, dene kaindhakanipun dados rangkep pitu sarta amulangaken bilih manusa punika tan kenging ing peah, badhe boten sirna, punapa malih amulangaken bilih manusa sampun rambah-rambah anggenipun tumitah badhe saya mindhak sampurna tuwin saya thukul grahitanipun sarta wonten sujanma sawatawis ingkang sampun saged anggayuh kasampurnan salajeng jumeneng guruning bongsa manusa.

Para sujanma ingkang sampun sampurna wau kala rumiyin inggih sami kemawon kados tiyang limrah punika, sami apes sarta anggadhahi dosa tuwin boten sampurna kados manusa samangko, ananging lajeng mindhak-mindhak sampurnanipun kados dene manusa jaman samangke ugi saged mindhak, tuwin lajeng thukul panggrahitanipun, wekasan [ados kiyat tuwin saged anggayuh kasampurnan, kados dene kula punika inggih saged gayuh kasampurnan manawi purun, sareng para sujanma wau sampun sami sampun, lajeng wiwit amulang dhateng para manusa saminipun, tuwin lajeng adamel pakempulaning para kadang ingkang sami jumeneng guru ageng, kala-kala para ageng wau wonten salah satunggal ingkang tumurun andhatengi manusa, supados saged amaringi agami dhateng satunggal-tunggaling bongsa, supados tunggal-tunggaling trah satunggal galing bongsa tatampi agami, ingkang pancen tumrap kangge pitulungan tuwin piwulang dhateng bongsa wau, sarta kathah para sujanma beda-beda papangkatipun ingkang sami manjing pakempulaning para kadang wau mawi-mawi kaindhakaning sampurnanipun, kadosta para Pandhidha para tiyang ingkang linangkung panggrahitanipun bab karohan, tuwin linangkung kawruhipun kasampurnan utawi linangkung kawicaksananipun, dene para ingkang sampun sami linangkung wau dumugi samangke sami anuntuni dhateng sakathahipun dosa, aparing tuladhaning paprentahan, anamtokaken angger-anggeripun saweneh jumeneng samarentah dhateng bongsa, dados tiyang sampurna ingkang amulang dhateng sakhatahing bongsa, tuwin dados para pandhidha ingkang sami anuntuni dhateng bongsa mau.

Sakathahing bongsa ing jaman kina sami anedahi para tiyang sekti, para maharsi tuwin para prawira, ingkang kadados makaten wau, sarta aken marsudi kawruhipun bab serat-serat waosan, bab yayasan griya samanunggalipun, bab angger-angger pranataning nagari tuwin sanes-sanesipun.

Angel amaibentenipun bilih para sujanma ingkang minulya wau taksih sami gesang, awit wirayat kana ingkang sampun ngebyah ing ngakathah serat-serat tuwin patilasan jaman kina ingkang samangke taksih salong dados jugrugan, sadaya punika minongka saksinipun sakathahing serat-serat tuwin yayasan ignkang nedahaken kaindhakan ingkang sakelangkung luhur wau, nglengkara kenging kula kinten damelanipun tiyang ingkang taksih andhap thataraning kaindhakanipun, boten anginten bilih yasanipun para panuntun karohan ingkang luhur, anggen kula ngangge paseksen serat-serat tuwin patilasan wau supados boten angucapaken paseksen sanesipun ingkang dipuntampik tiyang ingkang boten sumerep.

Ing mangke menggah nalaripun mila sakathahing piwulangipun agami punika sami awit pinangkanipun sadaya piwulang wau anunggal asli, sami sangking pakempalanipun para sujanma sampurna ingkang samiasa dhewekan.

Wonten ing tanah Grik sakathahing miwulang wau sakawit kanamakaken teosofi, tegesipun boten liya inggih punika pangawikaning para dewa, dene tiyang Grik boten ngemungaken andhapur pangawikan wau kadamel agami, ananging ugi andhapur ngelmi kasampurnan tuwin kawruh kagunan, sarta sarehning pangawikan wua ingkang dados wiwinihipun dhadhasaring sakathahipun agami, amila teosofi punika boten saged yen tadados samengsahipun sawenehing agami, malah ingkang ngresikaken agami, angelaraken ajinipun piwulang babon ingkang sampun kasantunan warni dados maujud ingkang katingal sangking padamelanipun tiyang bodho ingkang brengkelo tuwin sangking tuwuhipun gugon tuhon, sarta teosofi ingkang ngangkahamba kakawicaksanan ingkang piningit ing salebeting piwulang agami, sarana angemuti kawicaksanan ingkang dumunung ing piwulang wau tuwin ingkang angayomi tumrap dhengah tiyang.

Tiyang ingkang lumebet warga teosofi boten susah anilar agaminipun, manawi ingkang lumebet warga mau bongsa Kristen, inggih lestantun Kristen, manawi bongsa Hindu inggih lestantun agami Hindu, manawi bongsa Islam inggih lestantun agami Islam, awit ingkang lumebet warga mau amung badhe kasinungan panggrahita ingkang lebeting ngatasing agaminipun piyambak, tuwin angsal gondelan ingkang sentosa ing ngatasipun kajatening agaminipun, angsal seserepan ingkang wiyar ing bab piwulangipun ingkang winados.

Kala kina teosofi ingkang ngawontenaken agami, samangke ingkang ngadili tuwin ingkang angayomi agami wonten ing ngarsanipun pangadilan tuwin ingkang amungsulaken malih pangajang-ajangipun sarta prasetyanipun manusa dhateng Gusthi Allah.

Iya kedah angengeti bilih dayaning jiwanipun manusa punika boten ginadhang kanggo nyumerepi ingkang ghaib-ghaib, supados andamel misuwuripun manusa badhe kanggo nyumerepi ingkang ghaib-ghaib wau, punika kedah amung kangge murih wilujengipun tiyang, punapa ingkang katampen ing tiyang punika prelunipun supados  kanggeya mitulungi tuwin angladosi dhateng tiyang sanes.

BAGIAN 3
BAB KAWONTENANIPUN GUSTI ALLAH

Teosofi angginem kawontenanipun Gusti Allah, tuwin bab anggenipun manungsa macung manggepokan kaliyan Gusti Allah, amulangaken bilih kawontenanipun Gusti Allah punika amung satunggal, inggih punika nyawanipun sadaya ingkang sipat gesang, amulangaken bilih gesanging Pangeran ingkang amung satunggal, padameling Pangeran punika satunggal, wonten kakuwatan satunggal ingkang angebeki ing sangalam donya, amulangaken bilih ing pundi-pundi ya panggenan ingkang kening kaambah ing manungsa, ing ngriku ugi wonten gesangipun Gusti Allah, gesangipun Gusti Allah punika dumunung wonten ing sadengah panggenan ing pundi anggenipun sawarnining kewan saged angraosaken utawi anggenipun manungsa amanah, makaten ugi ing ngalaming bongsa pelikan tuwin ing ngalaming bongsa tutuwuhan, ing ngriku gesanging Pangeran amitulungi, angupakara tuwin ambebranahaken dhateng samukawis, cekakipun ing sangalam donya sadaya boten wonten gesang sajawining gesangipun Gusti Allah.

BAB RUMAOS SATUNGGAL

Kawontenan satunggal punika dumunung dados dhadhasaripun samukawis ingkang kasumerepan ing manungsa, mila teosofi amiwiti mulangaken bilih dhadhasaripun sadaya titah punika amung satunggal, amulangaken angger-angger bab panunggiling kawontenan, bab kawontenan satunggal ingkang anglimputi ing pundi-pundi, panunggal punika tuwuhipun sangking Gusti Allah, inggih punika tukipun sadaya rumaos, menggah kaindhakaning rumaos salebeting manungsa tuwin thukuling budinipun, sadaya punika wiwinihipun wonten ing Gusti Allah.

Sadaya rumaos ingkang mindhak-mindhak alusipun ngantos dados garjita utawi grahita, punika tuwuhipun sangking tuk satunggal utawi wiwinih satunggal, sadaya rumaos punika amung satunggal, rumaos satunggal wau boten kenging kapisahaken sangking sanesipun, sarta boten kenging sakathahing manungsa sami kapisah-pisah kados anggadhahi adeg pyambak-pyambak, manungsa punika pinangkanipun nunggil sami sapancer, dene anggenipun manungsa sami anggadhahi rumaos punika pinangkanipun sangking gesang satunggal, inggih manungsa sadaya punika kawedhari kawontenanipun Pangeran, inggih panunggilipun rumaos wau babaripun angger-anggeri panunggal ingkang angreh ing sapramudita.

BAB KAKUWATAN UTAWI DAYA SATUNGGAL

 Boten ngemungaken sadaya rumaos punika satunggal, ananging sadaya kakuwatan ugi amung satunggal, satunggal-tunggaling kakuwatan punika tuwuhipun saking tuk satunggal bab punika kawruh kagunan cocog kaliyan teosofi, ing donya punika amung wonten pakarti ageng satunggal, sadaya wujuding pakarti tuwin kakuwatan ingkang sami kula sumerepi punika dhadhasaripun satunggal, pakarti kenging kalintu dados kakuwatan, kakuwatan kalinthu dados pakarti, sadaya wujuding pakarti ignkang kasinau para marsudi kagunan, tuwin sadaya kakuwatan ingkang katingal wonten ing sakukuban kita, sanadyan ing kawontenan ing ngalaming bongsa papelikan dalah sawaninipun ingkang katingal lan sapanyawa, utawi ingkang wonten ing ngalaming tutuwuhan sanadyan wonten ing khewan utawi ing manusa, sakathahing kakuwatan wau dhasaripun satunggal, amung kawdharipun tuwin patraping gumelaripun ingkang beda-beda, manawi kapariksa kaliyan titi kayektosan sadaya wau amung satunggal.

BAB BONGSA WADHAG INGKANG AMUNG SATUNGGAL

Menggah ingkang kawastanan bongsa wadhag utawi jasmani, punika pikajengipun sawarnaning maujud ingkang kenging kagrayang tuwin tiningal lan sarana panca driya, kadosta, siti, toya, latu, lebu sapanunggilanipun. Sadaya punika yen ing tembung Walandi kawastanan setof (stof). Dene setof utawi bongsa wadhag wau sanadyan wujudipun beda-beda ananging kawontenanipun ugi amung satunggal, inggih punika badho (bakal) ingkang kangge andamel sawarninipun anangsir, samukawis ingkang katingal ing sakukuban kita, kadosta, bongsa atos, bongsa cuwer, bongsa asep tuwin akasa, sadaya punika dhadhasaripun tunggil amung beda-beda wiwijanganing bageyanipun. Ing sangalam donya punika kawontenanipun amung nyatunggal-nyatunggal, rumaos satunggal, gesang satunggal, bongsa wadhag satunggal, inggih tiga-tiganing ngatunggil punika gumelaring kawontenanipun Pangeran. Sadaya punika pinangkanipun sangking gesang satunggal inggih gesangipun Gusti Allah.

BAGIAN 4
BAB SADHEREKAN

Sarehning bongsa wadhag wau amung satunggal, kakuwatan amung satunggal, tuwin rumaos amung satunggal, ila sawarninipun ingkang sipat gesang punika dados pasadherekan satunggal, sadaya wau kadamel sangking badhe satunggal sami kadunungan kakuwatan satunggal, sadaya sami majeng utawi mindhak-mindhak rumaosipun ingkang anunggil.

Ing sangalam donya punika dados sagotra ageng ing ngriku sawarnining titah sami beda-beda kaindhakanipun. Ananing sadaya punika sami gandheng dados satunggal karana jasmaninipun, kakuwatanipun tuwin rumaosipun ingkang anunggal menggah mangertosipun sagotra punika alajeripun ugi wonten satunggiling dhadhasar ingkang anglimputi ing pundi-pundi, dene teosofi amulangaken bilih manungsa punika dados sabageyanipun gesang ingkang nunggil, boten kenging amerekaken dhateng tiyang sanes.

Manungsa punika kesah dados sagolongan angkasa misahe sadaya kesah dados sagolongan ingkang sami majengipun, kedah sami golong kaniyatanipun dhateng sadaya ingkang dipunangkah. Dene wontenipun manahku mere tuwin sasatron. Ingkang leresipun pancen kedah tulung-tinulung tuwin kakadangan. Punika kabeta sangking boten sumerepi pundhaking kawontenaning pangeran tuwin kawontenaning manungsa.

BAB PASADHEREKAN KABETA SANGKING JASMANINIPUN.

Satunggal-tunggaling tiyang anguwalaken sabageyan alit sangking badanipun tuwin anampeni sabageyan alit ing salebeting badanipun ingkang kauwalaken dening tiyang sanes, menggah kalampahanipun ingkang makaten wau samongsa wonten tiyang sawatawis sami jajagongan, ing ngriku boten kendhat sami alintu jasmani (stof deeltjes) ingkang alit sanget. Dados ingkang makaten punika angwontenaken pasadherekan ing ngantaraning kabeta sangking jasmaninipun. Sarehning manungsa sami alilintonan sabageyan alit sangking jasadipun, amila purun boten puruna kula sadaya sami dados sadherek miturut kawontenanipun badan.

Amargi saking punika kula sadaya sami boten kendhat sawab sinawaban tanpa kasedyakaken, sanadyan anyawab awon utawi sae, tiyang saras amenjaraken kasarasanipun ing pundi ingkang dipunpurugi, tiyang sakit anularaken sasakitipun ing pundi-pundiya ingkang dipun dhatengi.

Linta-lintunipun tuwin tumimbalipun jasmani wau ingkang anggandheng dhateng kula sadaya, ingkang andadosaken sabab, bilih kawilujenganing badanipun sasami kula manungsa punika prelu tumrapipun kula sadaya.

BAB PASADHEREKAN ING NGATASING RAOSIPUN MANAH

 Ananging boten ngemungangaken pasadherekan ing ngatasing badan kemawon ingkang anggandheng dhateng kula sadaya, ugi taksih wonten [h. 50] pasadherekan ing batasing raosipun manah tuwin karaosing badan. Sadaya manungsa punika sami sawab-sinawaban ing batasing raosipun manah tuwin karaosing badan. Punapa ingkang karaos ing satunggiling tiyang, ugi tumanduk dhateng ing sanes, ing ngawang-ngawang punika kaebekan getering akasa (ether) dumadi sangking pangretos hawa napsunipun manungsa, amargi saking punika manungsa sami sawab-sinawaban amargi sami boten rumaos.

Manawi ing pajagongan wonten tiyang ingkang awon watekanipun, pambegan awon wau sumebar dhateng ing sanes. Makaten ugi manawi salebeting griya wonten tiyang ingkang brangasan, punika inggih anuwuhaken pamuring-muring sanget utawi sawatawis dhateng sadengah ingkang wonten ing ngriku.

Wonten ingkang atutunggilan kaliyan sawenehing tiyang karaos tentrem tuwin jenjeming manahipun, kados gampil tumindakipun samukawis tuwin wonten ingkang katrenjuh tiyang sanes lajeng karaos giris miris, sarta samukawis saking pamanggihipun ribet tuwin angel menggah ingkang jalari mekaten punika amargi saking raosing manah, mila kalampahan makaten awit manungsa jawi anggadhahi badan kasar utawi jasmani ugi anggadhahi badan rohani, inggih punika badan kadadosan saking jasad, ingkang alus ingkang karaosan sanget kahaman geter ingkang alus.

BAB PASADHEREKAN ING NGATASIPUN PAMIKIR

Wonten malih patreping pasadherekan sanesipun, inggih punika ing batasipun budi, manawi tiyang amikir, pikiranipun wau anyawabi dhateng engetanipun tiyang sanes ing sakiwa tengenipun, badaning manungsa ingkang langkung alus, ingkang anggeteraken badanipun tiyang sanes, ingkang sami alusipun, asring kemawon wonten tiyang ingkang wicanten punapa-punapa, lajeng dipunwangsuli tiyang sanes makaten. Lo aku kok iya beneri gagas iku. Menggah ingkang makaten punika temahanipun tumanduking pikiran wau.

BAGIAN 5
BAB PIWULANG TEOSOFI

Tembung teosofi punika aslinipun saking tembung Grik, teyos, Gusthi Allah, kaliyan sofiyah, kawicaksanan, dados tegesipun teosofi kawicaksananing Pangeran, pikajengipun kawicaksananing para jawata, para nabi sapanunggilipun ingkang sami asarira Batara, ing tembung Sansekrita winastan brama widya.

Titimangsanipun wonten nama teosofi kala ing salebeting taun, tigang ngatus kapetang saking wiyosipun kanjeng Nabi Ngisa, dene ingkang ngawiti ngangge nama wau satunggiling guru Amoniyus, sakas kaliyan para muridipun, ingkang kanamakaken neyoplatonisten.

Teosofi punika agami kawicaksanan ingkang sampun kina-kumina, inggih piwulang amung tumrap dhateng para linangkung, ingkang sampun kasumerepan ing satunggil-tunggiling nagari kala kina ingkang titiyangipun [h.52] sampun saged-saged, inggih ngelmi kasuksman ingkang sampurna, inggih punika tuking sakathahipun agami.

Teosofi punika kenging kaanggep agami, ingkang tumidak saleresipun, inggih agami ngiras kawignyan, inggih agami ingkang boten murih supados manusa angajeng-ajeng kamulyaning gesangipun ing tembe, wonten ing sadhéngah panggenan, ananging kadados sampun kenging kanyatahaken ing salebeting badan punika wonten ing bumi ngriki, sarana ambu kang warananipun sarana angelih kaengetanipun timbal tumimbal saking satunggiling alam dhateng alam sanesipun, ngantos dumugi ing ngalamipun para guru ageng.

Menggah sedyanipun teosofi punika, angrungukaken sadaya agami tuwin sawarnaning bongsa mawi pathokaning piwulang kasusilak ingkang sami, angwawaton kajaten ingkang langgeng, teosofi sumedya anedahaken, inggih sakathahipun agami punika rembesan sangking kawruhipun para sujanma utawi ingkang sami golong apa wong mitra, ingkang samangke taksih sami dados juru panuntuning manungsa.

BAB WONTENIPUN PATHOKANING PIWULANG AGENG

Para teyosup sami amastani, bilih wonten pathokaning piwulang ingkang wiyar, tuwin pathokaning kawruh kasampurnan, kawignyan tuwin akasa ingkang dados watonipun samukawis, tuwin amot samukawis, ingkang kanyatahan wonten ing ngelmi kasampurnan kawignyan tuwin agami ing jaman kina tuwin samangke.

Salugunipun piwulang wau kathah iribipun dhateng ngelmi kasampurnan tuwin dhateng kawignyan tinimbang dhateng agami, awit dene piwulang ingkang amerdi supados tiyang anganggep mawi anggantungi hukuman naraka utawi sanesipun dhateng sinten ingkang boten purun nganggep, kados dene tindakipun sawarnaning agami.

Inggih leres pathokaning piwulang wau kenging kaanggep agami ingkang winastan agami punika tegesipun kawengku ning ngagesang dhateng cipta ingkang mulya. Ananging piwulangipun kedha kenging kanyatakaken, boten amung misesa, manawi tiyang nyujani utawi mungkiri dhateng agami lajeng kawastanan anyenyerongi kasuciyan, sadhengah tiyang ingkang angudi boten badhe maiben bilih kala kina wonten pathokaning piwulang kang luhung ingkang turun tumurun dumugi samangke.

Pangajekanipun kanjeng Nabi ngIsa dhateng sakabatipun makaten: kowe iku wus padha kaparingan sumurup marang wawadining karatoning Allah, dene wong kang ana ing jaba, kabeh padha kudu ginawekake pasemon (anggitanipun markus bab kaping 4 ayat ii).

Karsanipun kanjeng Nabi ngIsa ngandika makaten punika aparing pitedah bilih manungsa punika sami kawenangaken nyumerepi wawadosipun dumadosing jagad (karatoning Allah) anggenipun purun kangge lan angudi dhateng wawados wau, ananging tiyang ingkang kathah-kathah ingkang taksih tidha-tidha ing budi, punika anggenipun kaparingan kawruh kalayan pasemon, supados sami pirsa dhateng Gusthi Allah, tuwin karsanipun.

Teosofi ingkang wenang angebeki dhateng kawicaksanan winados, bilih pathokaning piwulang linuhung wau, dene anggenipun teosofi anggadhahi raja brana ingkang linangkung punika, mawi winewahan kalayan angsal-angsal ning titi pariksanipun para waskitha, tuwin para wicaksan, kayekten saking pinten-pinten pratondha ingkang boten kenging dipunabeni, dene kawicaksanan wau samangke tuwin kala kinanipun dumunung wonten pakempalaning pasadherekan ingkang warganipun samangke taksih misugeng, inggih punika ingkang sinebut para adhep, para adat, para Nabi, tuwin para mahatma, ingkang kaindhakaning rohipun sampun dumunung ing tataring kang luhur angungkuli tiyang ingkang kathah-kathah, menggah temenipun ingkang makaten wau kenging kanyatakaken

BAB WONTENIPUN KAMULAN INGKANG LANGGENG

Teosofi amedharaken kawontenanipun ajal kamulaning dhadhasar ingkang langgeng, ingkang amung kasumerepan saking wedharan tuwin wiwijangipun, boten wonten tembung ingkang kenging kangge nyariyosaken ajar kamulan wau, awit tembung wau amung kadamel ambedak-bedakaken, ing mongka kamulan punika kawontenan sadaya, kula matur bibisik ingkang winastan ajal kamulan wau inggih punika kang maha yekti kang tanpa pungkasan, kang tan kenging kapaiben, ananging tembung punika boten anggadhahi teges ingkang sayektos, para wicaksana amastani sat, tegesipun ana, punika boten pisan wujud utawi dede kahanan, amung manawi sampun wiwit gumelar punika tiyang saged anyebut punapa-punapa kalayan tembung ananging babaripun ingkang gumelar wau mratandhanipun ingkang boten gumelar, dene ingkang gumelar punika boten langgeng, kenging sirna, mila kedah wonten ingkang lastantun langgeng.

Menggah wontenipun ingkang langgeng punika kedah kaanggep, sabab manawi boten makaten sangking pundi tuwuhipun kawontenan ing sangalam donya punika. Saestunipun sadaya wau amot dat, ingkang minongka isenipun wijining sakathahipun dumados, tuwin isenipun sakathahing daya utawi kakuwatan.

Miturut piwulang teosofi sajagad pramudita punika gumelaring sat ingkang wawadana, paribasanipun tiyang tanah Hindu makaten: wonten kala mangsanipun nyambut damel, tuwin mangsanipun kendet, mongsanipun gumelar tuwin mongsanipun kukut, mongsa wedalipun tuwin lebetipun napas ageng, sadaya punika ajeg gilir gumantos.

BAB KAINDHAKAN UTAWI KAMAJENGAN

Amung teosofi piyambak ingkang saged sanjang saking pundi pinangkanipun manusa, punapa preluning gesangipun dhateng ing pundi purugipun, teosofi amulang dhateng kita supados aningalan manahipun piyambak, inggih punika ingkang saged ngicalaken sakathahing pamrih dhateng kacekapipun pyambak, anedahaken sapinten genging tagelanipun manusa ing ngatasing engetanipun, wicantenipun tuwin padamelanipun saha angosikaken panggrahitanipun dhateng kawajiban ingkang leres.

Teosofi boten angawisi tiyang angudi tuwin atataken, dene manawi sepen wangsulan, punika sampun kagalih badhe boten purun nyukani wangsulan, ananging rehning kula dereng saged mangretos badhe wangsulanipun, mila bok manawi badhe lepat sanganggenipun.

Para tiyang ingkang sampun angsal katerangan pyambak angrumiyini para sadherekipun, punika boten kacegah, awit anggenipun angsal katrangan wau saking purunipun angudi, sangking anggenipun purun anempuh dhateng rekaos pinten-pinten, sinten ingkang betah sumengka ngantos saged dumugi pucuk, punika boten wonten tiyang ingkang saged meksakaken mandhap malih, dados kaindhakan utawi kamajengan punika anggeri ngagesang.

Wonten pinten-pinten suksma, manusa sajati utawi jiwa ingkang rikat majengipun, inggih punika para tiyang kang remen damel kasaenan, para guru tuwin para guru ageng.

Sadaya manusa wewenangipun sami, sami wenang angudi kaindhakan, sarta kedah nanggel dhateng engetan tuwin padamelanipun pyambak, dene teosofi ingkang murih sampurnanipun, sarta anedahaken margi supados saged dipun kalampahan pamurihipun wau.

Piwulang teosofi kathah ingkang sulaya kalayan seserepanipun agami ing jaman samangke, ananging teosofi boten sumedya nyirnakaken agami, sayektosipun boten wonten tiyang ingkang kapurih bucal ingkang lami, saderengipun aniti pariksa ingkang enggal sarta winagih langkung prayogi.

Sarehning teosofi punika amot gumelenging gesangipun manusa ngiras minongka pathokaning ngelmi kasampurnan tuwin kawignyan, mila sangking wiyaripun teosofi wau ngantos tiyang ingkang sumedya anggarap, saged dipun amung nyariyosaken gumelaripun ingkang jawi piyambak, menggah ingkang kawulangaken teosofi kados ing ngandhap punika:

  1. Bab gumelaring jagad.
  2. Bab manusa miwah gadhanganipun.
  3. Bab wajib ingkang kedah linampahan manusa.

BAB GUMELARING JAGAD

Panganggepipun teosofi gumelaring jagad punika sangking lebet wedaling napasipun gesang langgeng.

Sadaya kodrat punika kawistara wonten ebah ingkang ajeg, manawi kula nyatitekaken sawarnining kumelip ingkang wujudipun asor, mangandhap ngantos dumugi kewan, alit-alit ingkang kengingipun dipun tingali amung sarana mikroskup, manawi kewan alit wau kula waspaosaken, ing ngriku badhe saged pirsa ebahipun lebet wedaling napas ingkang ajeg, ingkang dados peranganipun wujud ingkang asor wau, ing sangalam donya punika tiyang saged nyatitekaken ebah ingkang ajeg, ing pundi-pundi ya panggenan tiyang pirsa ebah minggah, mandhap, melar tuwin mingkup pasang tuwin surud, ing mangke teosofi amulangaken bilih keketeg ingkang ajeg, ingkang geter wonten ing bageyan ingkang alit-alit, punika ugi kumejot ing jagad rat gumeleng dados satunggal.

Sadaya ingkang sipat gesang wau boten kenging kanamakaken gesang ageng ingkang langgeng awit satunggal-tunggaling gesang punika amung babaripun gesang langgeng, dene gesang langgeng inggih punika kawetahipun sadaya, tuwin malih gesang wau boten kenging kawastanan budi, awit budi punika amung sajejering gesang, dene gesang langgeng inggih punika wujudipun sadaya.

Tiyang amung saged anyidhem dhateng kawontenanipun ingkang boten kenging dipun jajagi wau, sarta amung kedah nungkul salebeting batos, awit sinten ingkang ngangkah medharaken bab punika sae satu tanpa tuwas.

Dados gesang langgeng ingkang kawedharipun salah satunggal ambabaraken dados gesang kita, punika ingkang anuwuhaken jagad.

Wonten jejering kawontenan pipitu, ingkang ing jawi awarni roh suci, ing lebet awarni jasmani kang resik, dene sadaya jinis tuwin maujud ingkang kadunungan gesang punika sami sumarambah ing saantawisipun roh kaliyan jasmani wau, satunggal-tunggaling badan kangge tumrap ing wawengkonipun dianggenipun gesang.

Ing sadaya kodrat ingkang gumelar punika wonten wicalan mitu-mitu, kadosta warnaning cahya wonten pitu, larasing gongsa wonten pitu, tuwin sanes-sanesipun.

BAB ALAMING KODRAT

Manawi tiyang sampun kalampahan anyakep jejering engetan kados makaten wau, saestu badhe saya langkung terang seserepanipun dhateng ing ngatasing panyipta bab sawarnining maujud ingkang sami gesang wonten ing ngalamipun pyambak-pyambak, ingkang jumbuh kaliyan kawontenaning jagadipun, makaten ugi badhe saged sinau nyumerepi kawontenan ingkang beda kaliyan kawontenan ing donya punika, tuwin badhe saged anyipta. Bilih satunggal-tuggaling tataranipun kawontenan punika pancen tumrap dhateng sakukubenging wawengkonipun, sarta satunggal-tunggaling maujud, punika sami anggadhahi rumaos ingkang prayogi tumrap ing kawontenan ingkang dipun dunungi. Punapa malih kula sadaya badhe mangretos bilih wonten maujud sanes-sanesipun, ingkang sami gesang wonten ing ngalam sanesipun ngalam donya punika, kados dene manusa ingkang sami gesang wonten ing donya punika tuwin malih tiyang badhe terang sumerepipun, sabab punapa bongsa alus ingkang langkung saking manungsa wau teka inggih boten longka kawontenanipun, uwit ing ngatasipun bongsa alus wau sadaya-sadaya punika. Sami nyata kados dene gesang kita tumrapipun ingkang kita, ananging wonten ing ngalam sanes, sarta sampun minggah, dumugi ing tataran sanes.

Dados jagad punika kenging kawastanan satunggaling gesang ageng, ingkang sumarambah ing tataring kaindhakan pipitu.

BAB CALON UTAWI KAMULANING MANUSA

Manusa punika gambaring jagad ingkang kaalitaken, dados sanyataning wujud ingkang mindhak-mindhak sampurnanipun, punika kacetha wonten salebeting guwa garbanipun piyambak, manusa wau ugi kados dene jagad sami sap pitu, satunggal-tunggaling cacalon utawi kamulaning jagad.

Kamulaning manungsa ingkang ongka pitu inggih ingkang luhur pyambak, punika kenging keupamakaken paletiking cahyanipun roh kang amung, inggih punika sanyataning gesangipun jagad, ingkang dumunung ing manusa, upami gesangipun roh kang agung wau latu, paletiking latu wau ingkang mrangangah salebeting manungsa, inggih punika kaketegipun gesang langgeng.

Rohing manungsa punika tumpakaning roh kang agung wau, saha gandheng kaliyan paletikinh latu kang langgeng tuwin kaliyan budi luhur ingkang dumunung ing manungsa, ngempalipun dados trimurti, inggih manusa sajati ingkang langgeng boten pejah-pejah.

Dene dumunungipun manusa sajati wonten ing badan jasmani, utawi kewani, punika babaripun kamulaning rangkep sakawan, kempalipun badan kewani kaliyan manusa sajati, inggih punika kadadosanipun manusa.

Menggah gesangipun manusa wonten ing bumi punika, prelunipun boten liya supados ngangkah angindhakaken sampunipun tuwin nyumerepi kamulanipun titiga ingkang winastan manas luhur, utawi trimurti, dene kamulanipun ingkang sakawan, inggih punika manas asor, ingkang kagolong dhateng bumi, kedah kinawonaken sarta kawisesa, dados indhaking kasampurnanipun manusa sajati punika kagumantung wonten tiyangpun pyambak.

Manawi manungsa saged ngalih sangking alam ingkang dipundunungidhateng ala ongka gangsal, inggih punika panggenan anggenipun roh anyambut damel wonten salebeting wawengkonipun pyambak tuwin gesang angangge gesangipun pyambak, saestu badhe karao, bilih punapa ingkang ing bumi ngriki kawastanan alus, ing ngriku kawastanan wadhag, sabab wadhag utawi kasaripun ing ngriku boten sami kaliyan kasaripun ing ngriki, sarta punapa ingkang saged katingal tuwin kamirengaken tuwin karnanipun badan wadhag.

Manawi manusa sampun nyatakaken kawontenan salebeting wawengkonipun engetan sarta roh sapisan kemawon, sanadyan beda sanget kaliyan punapa ingkang sampun dipun sumerepi ing salebeting wawengkon gesangipun padatan ing bumi ngriki, saestu gagadhanganing manusa badhe kabuka sanyatanipun, gagadhangan wau katingal langkung mulya tinimbang kaliyan ingkang sampun kasebut ing tembang kidungipun para juru ngarang, tuwin langkung luhur tinimbang kaliyan ingkang sampun kapirsanan para Nabi.@@

Manawi manusa sampun saged ngawonaken dhirinipun pribadi sayekti dados ratuning kodrat, sami kaliyan Pangeranipun ingkang wonten ing suwarga.

BAB MANJALMA

Tiyang boten saged gayuh kasampurnan amung salebeting gesangipun sapisan wonten ing ngalam donya, nglengkara kasampurnan kenging ginayuh saumuring tiyang, amurih saged dipun sampurna kedah pinten-pinten rambahan anggening tumitah, dene gesangipun wonten ing bumi boten saweg sapisan punika, ananging sampun boten kantetan laminipun anggening marsudi kawignyan kala gesangipun rumiyin, menggah kasagedan ingkang sampun kadarbe, tuwin kalangkungan ingkang sampun karenggem, punapa malih daya ingkang sampun dadosaken kasenenganipun, punika kenging kaupamekaken boyongan anggenipun angsal-angsal sangking ungguling yudanipun, sadaya punika kenging kangge nitik kados pundi lalampahanipun kala rumiyin, dados boten amung sapisan, punika anggening gesang wonten ing donya, ananging sampun rambah-rambah, saben-saben tumitah angudi kawruh malih, upami kapemutan wonten ing serat, lalampahan ing gesangipun wau kados anyerat wewahing cariyos wonten ing buku wau, ingkang wasananipun badhe saged amaos piyambak.

BAB KARMA

 Ingkang punika mila manusa kalairaken malih, sarujuk kaliyan ingkang sampun kalampahan, inggih punika temahaning padamelanipun pyambak, dados kita pyambak ingkang andhapur kawontenan kita samangke punika.

Menggah angger-angger makaten wau winastan angger-angger ingkang sumarambah ing ngakathah ingkang anjumbuhaken pagesanganipun satunggal-tunggaling manungsa kalayan angsal-angsalipun kala gesangipun rumiyin, satunggal-tunggaling manungsa kalairaken malih, kados kawontenanipun ingkang sampun kasadhiyakaken pyambak.

BAB LABUH

Sadaya manusa sami kadunungan wajib kedah tulung tinulung amurih dumugi ing kasampurnan, boten wonten tiyang ingkang saged dedel piyambak, makaten ugi munduripun tiyang satunggal, punika andamel munduripun ingkang taksih kantun boten wonten tiyang saged begja sayektos, manawi taksih wonten tiyang satunggal ingkang nandha sasara. Boten wonten tiyang saged angsal kawilujengan saking pangangkahipun pyambak, manawi sadherekipun sasamining manusa boten tumut angsal kanugrahan wau, pramila bebahan padamelan kita inggih punika angrampungaken kuwajibanipun sadaya tiyang bab ing ngatasing kabetahanipun sadaya sarta jalaran saking anindakaken tuwin anglampahi dhateng kuwajiban wau saestu kula sadaya badhe pinareng anunggil kaliyan gesang kang luhur.

BAB PASADHEREKAN

Kita kedah tansah angengeti, bilih kula sadaya punika dados sagolonganing pasadherekan, kula kedah sampun amung manah dhateng badan piyambak, punapa ingkang dipuntampeni kaanggeya kawilujenganipun ing sanes, supados sadherek kula sasamining manusa tumut angraosaken panggesangan sami kaliyan kula, kita kedah ngangge kawruh kita kadamel mulang ingkang sami dereng mangretos.

Kedaha suka pangajaran ingkang prayogi, kangge mitulungi tiyang ingkang taksih kacingkrangan pangajaran, supados para sadherek kita saged mindhak kasampurnanipun, supados saged sami kaliyan kita, bilih sadaya punika sampun kalampahan, punika saweg badhe dumugi ing mongsa anggen kita anggepok dhadhasaring gesang enggal, tuwin anggeni kita malebet ing alam enggal, ananing sadaya punika kalampahanipun sasarengan.

BAB PARA GURU

 Para sujanma ingkang wonten ing ngajeng kedah angentosi ingkang taksih kantun, sarta punapa boten sampun tetela, bilih para sujanma ingkang wonten ing ngajeng kedah anglampahi sakathahing rekaos amulang dhateng ingkang taksih kantun, supados saged enggal mindhak sampurnanipun tuwin para sadherek wau tumunten malebet dhateng panggesangne enggal, ingkang ginadhangaken dhateng manungsa sasampuning gesangipun samarke punika.

Ing wasana kula sadaya badhe sami sasarengan menek ing andhaning manungsa, ingkang sukunipun umum pangwonten ing endhutaning gesang kewani, dene untuning ondha ingkang nginggil piyambak silem ing salebeting cahyanipun gesang langgeng, samangke kula sadaya sampun sami manjik ing ondha wau, ananging sami boten saged anglajengaken menek, manawi kula boten saged ambeta sadherek kula sarta angangge kakuwatan daya kula kadamel mitulungi kahapesanipun, tuwin kadamel nyanton sakhaken kawintenipun sadherek kula wau.

BAB TEOSOFI

Miturut intgkang kasebut ing nginggil wau, dados kados punapa kemawon rikatipun anggening nindakaken pathokan ingkang ageng punika, ewa samanten ijeng ngandika kedah angyektosan bilih teosofi punika amot piwulang ingkang sakelangkung kathah, mila ingkang sami sinau urup sanget kangelan kaliyan pituwasipun.

Teosofi punika boten ngamungaken agami thok, kawruh kasampurnan thok, utawi kawignyan thok, ananging katiga pisan punika kempalipun dados teosofi.

Boten wonten agami ingkang sanyata, manawi boten mantala dipunleler sarana pamariksanipun kawignyan tuwin kasampurnan tuwin boten saged anedahaken margi ingkang leres, ingkang nguntapaken manusa dhateng kamulyan ingkang linuhung.@@

Ngantos dumugi samangke anggenipun tiyang angsal agami punika sampun tumimbal saking tiyang sanes, liripun anggening tampi wau saben-saben amung sangking mireng sanjangipun tiyang saged ngupados paseksening kajaten ingkang kawedharaken dening agami.

Tiyang saged angsal teosofi utawi agami kawicaksanan sangking tukipun, amargi ingkang sami marentah para linangkung, liripun makaten, kajatenipun teosofi punika kenging kaleler saking titipariksanipun ingkang sami nyepeng marentah piyambak.

Menggah saged dipun tiyang angsal kajaten ingkang kawulangaken dening agami punika manawi sampun pejah, dene kajaten ingkang kacariyosaken dening teosofi tiyang saged angsal salebeting gesangipun punika, sok angger ajeng sarta purun anyatakaken.

Sakathah-kathahipun teosofi punika langkung luhur tinimbang agami, sabab agami anggantungaken ingkang dereng tinamtu, dereng nate wonten tiyang ingkang sampun nyumerepi tuwin anggelaraken ingkang ginantungaken agami, dene teosofi kados limrahipun kawruh ingkang nyata, upami kawedala wicantenipun makaten: manawi sampeyan kapengin badhe sumerep punapa-punapa, sangkign kula suwawi, sok angger sampeyan purun prekaos.

Piwulang teosofi punika celak kaliyan kawignyan, sinten ingkang remen kawignyan saged ngindhakaken seserepanipun sangking marsudi kawruh teosofi dene kawontenanipun agami samangke amung anggelaraken piwulang ingkang sulaya kaliyan titi pariksanipun tiyang alikasagedan, sampun leres kemawon tiyang ingkang saged anedha tondha yektinipun agami, awit pakenipun agami amung kawurih ngandel thok, mila tumrapipun tiyang ingkang sampun alus budinipun tetela bilih agami punika dereng nyekapi, sarta boten saged amarnekaken tondha kayektosanipun.

Sakathahing agami punika sajatosipun sami piwulang, ingkang kawarahaken dhateng manusa kala kina, nalikanipun manusa dereng kathah kasagedanipun, dados kala samanten para tiyang prasasat taksih lare, ananging sareng samangke sampun diwasa, ingkang sampun mindhak budinipun lajeng nedha tondha yektinipun kajaten ingkang katampen kala taksih lare, punika nalaripun anggening agami boten saged adamel leganipun tiyang, ing mongka tiyang tansah ngudi dhateng kajaten sabab wonten osiking manahipun ingkang asanjang bilih piyambakipun saged asal ingkang langkung prayogi, osiking manah makaten punika ingkang tansah ngajak angudi dhateng kekeran.

Pramila ing mangke inggih teosofi punika ingkang minongka tondha yekti kajatenipun sakathahing agami, dados inggih agami ingkang tumrap dhateng tiyang sepuh, ingkang ali kasagedan.

Sarehning kala rumiyin anggening mulangaken agami dhateng tiyang ingkang taksih lare kadhapur cariyos pasemon, parentah tuwin awisan, mila samangke anggenipun nyariyosaken dhateng tiyang ingkang sampun mateng kadhapur kasagedan utawi kagunan.@@

Kala rumiyin nalika budinipun manusa taksih dereng sampurna kangge nyumerepi kajaten ingkang sanyata, sumerepipun kajaten ingkang dumunung ing agami saweg ules utawi blebedipun kemawon, samangke teosofi ingkang mudhari blebedipun kajaten, supados katingala dening manusa, manusa pinten kemawonipun ana-anaken kengising kajaten.

Manawi panyinaonipun agami katindakaken dening teosofi, punika badhe adamel karaos tuwin pirsanipun manusa dhateng kajatenipun agami, sabab teosofi punika awaton pathokning kawignyan tuwin waton kajaten.

Pasemon, upami tuwin sanepa ingkang minongka pangekeripun kajaten punika teosofi ingkang badhe anelakaken tuwin anggenahaken.

Sanadyan agami ngelmi kasampurnan tuwin kagunan punika upami lare sami anunggil embok, aluran sangking pancen satunggal, ewa samanten aktingalipun sami boten cocog, dene anggenipun katingal sami boten cocog, punika amargi tiyang sami boten pirsa sambetanipun.

Amung teosofi pyambak ingkang saged ngempalaken mailh perang-perangan wau, sabab teosofi punika embok ingkang nglairaken anak titiga wau, mila amung panggulang tuwin titi pariksanipun teosofi ingkang sah, ingkang badhe anetepaken sanyatanipun ingkang kasebut ing nginggil wau.

Sinten ingkang kapengin sumedya angleler kajatenipun teosofi, kedah wekel sanget, anggenipun sinau awit amung sinau ingkang asuka dadamel anggen kita mariksa kaliyan titi.

PRAKAWIS INGKANG KAPING KALIH

MANUNGSA MIWAH SAKALIRINGE BADANIPUN

II. BADAN KASAR UTAWI WADHAG

1. BAB BADANING MANUNGSA KALIYAN BADANIPUN

Kita kedah mangretos sayektos bab bedaning manungsa kliyn badanipun, tiyang punika kulinanipun anyawuhaken pribadinipun kaliyan badanipun, karenanipun anyeguh bilih ingkang dipunwasta aku, punika inggih badanipun pramila prelu ambirat pangagepipun inggih kados makaten wau, sarta amantunan anggenipun anyawuhaken pribadinipun kaliyan urungipun, utawi bedanipun ingkang dipunangge sawatawis dangunipun lajeng kangucal, supados angangge ingkang enggal, manawi pancen taksih prelu angangge badan malih. Kita punika wujudipun ingkang gesang, dene badan punika dhapur utawi wangunipun ingkang dipundunungi.

Sayektosipun manawi kita anyawuhaken roh kaliyan badan kita ingkang amung sakedhap wontenipun, punika kablingeripun sami kaliyan tiyang ingkang anyawuhaken bedanipun kaliyan sandhanganipun, punika boten kawengku dhateng badan, paedah ing badan tumrap ing roh, punika kados dene paedah ing sandhangan tumrap ing badan.

2. SABABIPUN ANYAWUH

Menggah sababipun anyawuh wau, amargi tiyang limrah boten saged [h.70] amisahaken aku, ingkang sajati kaliyan badanipun, ananging amargi saking sinau anggen kita saged amisahaken pribadi kita kaliyan badan, kados dene manawi kula mandhap saking kereta ingkang kula tumpaki inggih punika, manawi wonten ing jawi rumaos kula saya buntas tinimbang kula gumantung ing badan wau, manawi sampun kalmpahan makaten sampun mesthi kula badhe boten kasasar malih, kita punika inggih badan ingkang kita angge, sarta anyamtuni sadaya tindak kita dhateng ing donya, anyengkakaken kita dhateng alam ingkang langkung jenjem ingkang wonten ing sanginggilipun alaming ngagesang, ingkang kenging pejah punika, amernahaken kita wonten sanginggilipun panggenan kangelan remeh-remeh saben dinten, ingkang tingalipun sakelangkung prelu tumrapipun rumaos ingkang winaragan, sarta anedahaken kita bab imbang-imbanganipun badanipun ingkang tansah suntan-santun sarta ingkang lestantun tetep.

3. BAB SAJATINING MANUNGSA

Ingkang pinastan manungsa punika pribadinipun ingkang gesang, ingkang gadhah rumaos sarta saged amikir, inggih wujudipun aku, dene badanipun punika brungkusipun pribadi wau, sarta satunggal-tunggaling brungkus kenging kangge nyambut damel, wonten ing ngalam mriki utawi wonten ingkang kangge ing ngalam sanesipun, liripun supados saged enget utawi rumaos wonten ing satunggal-tunggaling alam, pramila ugi saged amisahaken satunggaling badan kaliyan badan sanesipun.

4. BAB BEDANIPUN SARTA COCOGIPUN SADAYA BADAN

Sakatahing badan punika, beda-beda badhenipun, sarta aben-abenipun mawi-mawi dhasaripun ingkang dipunangge nyolahaken satunggal-tunggaling badan, tuwin mawi-mawi wawengkon panggenanipun anyambut damel, wonten ingkang kasar wonten ingkang alus, wonten ingkang umuripun cekak wonten ingkang panjang, wonten ingkakng dayanipun kirang wonten ingkang langkung, ananging kados wosipun pancen boten langgeng amung dados pirantos, dados rencangipun manungsa, ingkang saged garang sarta kaenggalaken malih mawi-mawi dhadhasaripun, sarta kanyamlengaken kaliyan dayanipun.

5. BADAN PUNIKA PIRANTOSING MANUNGSA

Badan ingkang dipun dunungi gesangipun manungsa tuwin anggenipun nyambut damel punika pirantosing manungsa, sarta manungsa kedah ngrahita bilih wontenipun badan punika kangge tumrap ing manungsa, boten manungsa ingkang kangge ing badan, manungsa punika sanes gadhahipun badan-badan supados kenging dipun angge.

A.  Badan wadhag ing basa sansekrita winastan Anamayakosha (Annamajakasha) ing basa Hindu: setulsarira (stula sharira), ing basa Arab roh jasmani.

6. BAB DHASARING BADAN

Menggah ingkang winastan badan wadhag punika mangertosipun badan kasar sarta lingga sarira, awit kalih pisan punika sami rumagang ing damel wonten ing ngalam kasar aben-abenan saking jasad kasar, kawujudaken kangge salebetipun gesang wonten ing donya punika, manawi pejah badan wau katilar wonten ing ngalam donya, sarta luluh awor kaliyan jasad kasar, dene manungsanipun sajati lajeng dhateng alam astral (astraal geheid) inggih punika alam ingkang langkung alus, manawi manungsa dereng ngambah sajawining alam kasar punika, taksih prelu angangge badan kalih pisan wau, utawi salih satunggal, badan kakalih punika badhenipun saking alam kasar dados boten kenging kangge ngambah sawijining alam wau.

Sanajan badan wau saged pisah sawatawis, ewa dene salebetipun gesang wonten ing bumi angisah-pisah, sarta manawi pisah boten prayogi, punika nandhakaken bilih sakit, manawi sakit rekaos badan kakalih wau sami pisah sawatawis, utawi kacengcengan kados dene prewangan, punapa dene manawi tiyang dipuntilemaken satanginipun lajeng kenging dipuntangled dipunapa-punapa.

7. ABEN-ABENING BADAN

Badan wadhag punika aben-abenan saking jasad kasar pitung warni, kawujud dipunbadan kasar inggih punika saking jasad kasar titiga, kadosta: jasad atos, punika panggenanipun manungsa ingkang kasar pyambak, inggih gumelaripun ing kang asor pyambak, sarta kawedharipun ingkang winangenan sarta boten sampurna, dados manungsa punika kinunjara wonten ing jasad ingkang kasar pyambak.

Menggah dumadosing badan kasar punika sampun kacariyos wonten ing serat-serat, mila sinten ingkang badhe ngawuningani , cekap amaos serat-serat wau kemawon, ing ngriki amung badhe pratelakaken punapa ingkang kacariyosaken dening ngelmi kasampurnan.@@@

Badan wadhag punika dumados saking jasad alit-alit ingkang ing basa Walandi winastan molekule (molecule) kalayan pirantosipun kangge ngraosaken inggih punika ponca driya, pirantosipun kangge ebah, utek sarta bayunipun alit-alit, pirantosipun kangge nindakaken sawarnining padamelan, ingkang prelu kangge widadaning gesangipun.

Tiyang ingkang marsudi kawruh kagunan sampun badhe ngajengi dhateng panampenipun teosofi, bilih dumadosipun manungsa punika sakathahing gesang alit-alit ingkang tanpa wicalan, ananging tiyang ali kawruh kagunan boten purun anglajengaken ngangge kawruh winados, supados saged mesthekaken bilih basaning manungsa badaning khewan sarta tutuwuhan punika dumadosipun saking sakathahing maujud gesang wau, kadosta ingkang winastan bakteri, mikroben eroben, aneroben sarta sanes-sanesipun, ingkang boten saged katingal manawi kapirsanan kaliyan semprong pirantos ngagengaken, kajawi ingkang ageng-ageng, satunggal-tunggaling parincenipun jasad, sanajan winastan mawi utawi boten mawi prabot riricikaning badan, sadaya punika gesang, sadaya gesang wau sami kagolong alaming prana utawi gesang, ananging misah sarta boten kawengku, punika sami ngalempak dados molekul, inggih punika kawarni bunder alit-alit sanget ingkang dados wujudipun rah, tuwin dados selah wadhahing rahipun badan wadhag, salebetipun badan punika gesang, maujud gesang alit-alit wau malebet medal sarta tansah dados lantaraning sambetipun manungsa kaliyan kanan keringipun.

Satunggal-tunggaling atum tuwin molekule ing ngalam punika damelipun inggih amejahi dhateng badan wadhag, dados sadaya maujud alit-alit wau ingkang damel badan wadhag dalasan wadhahing rahipun, kawengku daya panggrahiting prana, salebetipun kaereh maujud alit-alit wau ajeg anggenipun damel badanipun manungsa, manawi gesang wau sampun badhe boten kaerah malih, sarta kakendelaken kemawon anggenipun buyang ing sakajeng-kajengipun pyambak, punika dados daya ingkang nyirnakaken, lajeng ambingrah sel damelanipun pyambak, kados dene ngrandhal ingkang pating blesar, dene badan wadhag lajeng ambar. Badan wau badhe boten gesang malih manawi boten pejah, ananging gesangipun anggening dados satunggal, pejahipun anggening sasarengan, gesang anggening dados undhung-undhungan, pejah anggenipun dipunpraboti, bedanipun badaning manungsa ingkang gesang sarta ingkang pejah punika manawi gesang dayanipun tumanduk sayektos, manawi pejah amung monda-monda, samongsa pejah utawi layap-layap molekulipun nurut pangendeng ingkang luhur, ingkang angukut dhateng molekul wau sarta kasebar wonten ing ngawang-ngawang [h.75] panyebaripun punika andadosaken pejahipun badan wadhag, makaten punika manawi kenging dipunanggep pejah, awit molekulipun badan ingkang pejah ugi anggelaraken dayaning gesang ingkang santer, manawi tiyang pejah, mawitipun badhe boten losoh, sadaya molekule ingkang angwujudaken mayit wau gesang, sami uleng-ulengan anggenipun badhe buyar, ngupados adeging gesang sanesipun.

8. KUWAJIBANING PADAMELANIPUN

Padamelanipun badan wadhag punika supados gepokan kaliyan alam donya, sarta punapa ingkang sampun karaosaken wonten ing donya, punika kalumuntaken dhateng pribadi ingkang manggen wonten ing guwa garbanipun, inggih punika manungsanipun sajati, dados badan punika minongka pirantosipun kawontenan ingkang gadhah rumaos, ingkang manggen wonten ing badan supados geda angsal kawruh wonten ing donya punika, manawi badan saya saged ngraosaken punapa ingkang tumama, punika saya maedahi tumrap manungsa sajati ingkang manggen ing ngriku, amargi manungsa sajati punika saged dipunrumaos amung saking samukawis ingkang saged geteraken badan.

Pakartinipun atma wonten ing badan punika dados kakuwatan wonten ing sel, ingkang prelu tumrap panggesangipun sel wau, tuwan Ekhel bongsa ditse ingkang mangretos dhateng kawruh kodrat anyariosaken mekaten: sel punika sami anggadhahi jiwa, mila mratelakaken makaten, sabab tuwan wau anyumerepi merepi bilih sakathah ing sel punika sami anindakaken padamelan pyambak, boten nyunggil kaliyan pakaryanipun badan sadaya, ananging pakaryaning sel ingkang makaten wau kawngenan amung ingkang maedahi dhateng sel pyambak, padamelanipun sel wau kawengku dhateng kasarasaning badan sakojur, amargi sel wau dados peranganing badan, terkadhang sel punika ngambeng-ambengi paedahipun badan, manut paugeraning padamelanipun pyambak, boten angraosaken dhateng maedahipun badan, mugi angengetan daging awon ingkang dumunung ing tatu.

Badan sakojur punika ugi anggadhahi padamelan pyambak ingkang lampahipun boten mawi kamanah dados kados bekakas, kadosta asta ingkang sampun kasinau nyerat, punika manawi manungsanipun sajati sumedya nyerat, asta wau lajeng tumandang, ananging patrapipun tansah ajeg menggah ewahing patrap dados ajeg punika kedah karep dipunsinau, awit nyerat mawi patrap ingkang temtu punika adamel kulinaning badan lajeng tumandang kados bekakas kalampahaken.

Badan punika gadhah gesang pyambak, ingkang mitulungi utawi panggregang-anggregi pakaryanipun manungsa sajati, ananging manungsa saged anyinau badan supados tansah purun tutulung dhateng manungsa.@@@

Dayaning gesang utawi prana punika anyambut damel wonten ing telenging sungsum ula-ula, sarta minngka kakuwatan ingkang gandhengaken, kados dene ingkang mranata tuwin amisesa dhateng sadaya sel, supados sageda sami sayuk nyambut damel sadaya, sarta andamel manut miturutipun badan, kangge tumpakanipun manungsa sajati, ingkang kedah dipunenut punika ing sapanedhanipun, sarta boten ngemungaken dados paklempakaning perangan ingkang mirungga, ananging gumeleng wetah ingkang sampurna.

9. BAB KARAOS

 Badan wadhag punika tanpa raos, amung tampi kemawon sarta lajeng kalumuntakaken dhateng manungsa sajati sarana lingga sarira, inggih leres badan punika gadhah kraos pyambak, inggih punika raos ingkang rosa, ananging kula sadaya sami boten sumerep, dene manawi badhe nyumerepi badan wau asuka sasmita dhateng manungsa sajati, dados karaos cape badan sakojur sapanunggilanipun, tetelanipun manawi badan punika tanpa raos, manawi manungsa sajati kawedalaken saking badan, sarana dipunsenggruk kloroforem punika bilih tiyangipun kabedhal boten karaos, sel ingkang angwujudaken badan punik gadhah raos pyambak, punapa ingkang sami kula raosaken, punika dede ingkang dipuraosaken sel.

10. BAB JASAD ANTARA INGKANG WINASTA CAKRAM

Ing badan wadhag punika wonten jasad antara pipitu ingkang winastan cakram utawi teleng, liripun wonten badhe pipitu ignkang kangge wedharaken badan sanes-sanesipun sarana badan wadhag, amargi cakram wau saged karaos tampi getering badan sanes-sanesipun, dados lajeng saged malebet, kadosta: badan engetan saged dipun kawedar amung sarana utek, awit utek punika cakramipun badan engetan rah cakramipun badan astral, sarta manawi badan wau geter lampahipun rah laejng rikat, anjalari ngrikataken keketeging manah, mila manawi kawedal hawa napsunipun utawi pakaremanipun tab-tabaning manah sanget.

11. BAB KAENGETAN UTAWI RAOS (bewustzijn)

Ing ngriki pikajengipun ingkang winastan kaengetan wau inggih punika kawontenan ingkang kangge enget, utawi rumaos ingkang nyumerepi salebeting alam wadhag tuwin alam ingkang langkung alus, kadosta: alam supena sapanunggilipun tembungipun Walandi winastan bewusein (bewustzijn), menggah tembung bewusein wau salajengipun amurih ringkes amung kawastanan kaengetan.

Utek punika pirantosing kaengetan salebeting badan wadhag, dayanipun kirang saking dayaning badan sanes-sanesipun, ananging padamelanipun wonten ing ngalam wadhag, punik langkung ageng, sarta pirsanipun tiyang bilih pribadinipun punika manungsa sajati, amung wonten salebeting badan wadhag, awit badan sanes-sanesipun dereng sampurna, kangge enget saged anyolahaken wonten ing badan wadhag.@@@

Bayu inggih punika urat alit-alit ingkang ansalap ing saranduning badan, tembungipun Walandi winastan seniyusetelsel (zenuwstelsel) wujudipun ombyokan kados dening lawe satungkel, ing mangke tungkelaning bayu wau kaperang dados kalih bageyan, A) tungkelaning bayu ingkang boten kenging kaereh, ing sakajengipun tiyang limrah, kenging ugi kaereh sawatawis, ananging sarana tansah dipunsinau, kados patrapipun pakir bongsa Hindu. B) tungkelaning bayu ingkang kenging kaereh dhateng manungsa, sadaya lampahing badan ingkang sampun kodrat, punika jalaran saking pakartining bayu ingkang kasebut rumiyin wau, kadosta: lampahing pangejuranipun tatedhan, keketeg lampahing napas sapanunggilipun, dene saged dipun manungsa amikir, angraosaken anyolahaken badan, punika jalaran saking pakartining bayu ingkang kasebut ing aksara B) wau, inggih punika jalaranipun manungsa saged anglairaken pikajengipun tuwin kaengetanipun, sarta kenging dipunwastani manawi tungkelanipun bayu wau dumunung wonten ing utek, tiyang boten saged andamel punapa-punapa wonten ing ngalam wadhag, manawi boten saking utekipun.

Kaengetan ingkang nyambut damel wonten ing badan wadhag, punika boten saged oncat saking watesipun, ingkang kenging kasumerepan sarana ponca driyanipun ingkang kasar, sarta kawengku wawaton paugeraning papan tuwin wanci, liripun kawengku ing papan wau upaminipun makaten, kula boten pirsa dhateng samukawis, ingkang boten katingal saking papan panggenan kula samangke, dene kawengku wanci wau makaten, wanci punika gerbanipun amung tiga, rumiyin, sapunika, benjing, kula boten enget dahteng lalampahan saderengipun kula tumitah wonten donya samangke punika tuwin bwnten pirsa dhateng lalampahan ing tembe, amargi kula taksih karaos wonten rumiyin, sapunika tuwin benjing punapa malih manawi tungkelanipun wau boten tata, punika kaengetan boten saged kalair mawi lekas ingkang tata.

Dados anggenipun manungsa anglairaken kaengetanipun wonten ing ngalam kasar punika kawangenan dening dayaning pirantosipun ingkang kasar.

Salebetipun tilem, manawi kamulaning manungsa malelep utawi silep, punika badan wadhag ugi anggadhahi rumaos utawi kaengetan pyambak ingkang boten patos cetha, ananging kaengetanipun wau pisah kaliyan kaengetanipun manungsa sajati, sarta pisah kaliyan kaengetan selipun ingkang angundhung-undhung, padamelanipun katingal amung kados pirantos utawi bekakas kemawon, sakathah ing geter adat boten gendheng, kothong jatining suraos, sarta wosuh, katingalipun kados boten saged grahita kajawi amung akondha titingalan ingkang katindakaken dening manungsa sajati, pramila manawi kapanduking raos saking nglebet utawi saking jawi sanalika lajeng acakra bawa.

Punapa malih energing engetan dhateng satunggaling panggenan, punika kados dene angelih engetanipun dhateng panggenan wau, upaminipun anggagas dhateng nagari cina, sakeclapan puniika kados ngalih sayektos dhateng nagari wau, sarta tiyangipun lajeng supena wonten ing nagari cina.

Menggah kaengetan utek kasar punika amung sumerep, boten amanah utawi angraosaken sarta sadayaning engetanipun cawuh, kajawi punika remenipun angindakaken utawi anyanget.

 

[NO. 2]
[BUKU KAWRUH KASAMPURNANING NGAURIP]
[KAGUNGANIPUN R.M.NG MANGUNDIREJA ING]
[MANGKUNEGARAN]

 Mungguh kalanggenan laungyaning kang tanpa wangen (awang-uwung), mau ana mongsa lan done siji kang nunggal.

Saiki aku aweh weruh, ngelmu nyawa (zielkunde) dadine padha lan ngelmu etung ukur kang dhuwur (wiskunde) kang iku cipta kita ing ngatasi jagad iki, kudu amek waton saking cecek tengah siji, saking cecek iku thukuling kabeh sumorot marang saubenge, nuli katon nyata marng kita.

Mungguh cipta mangkono iku katetepake nyatane dening cihna saking pamejanging barang-barang. Sabab kang nyata mungguhing darah (atoom) temtu iya nyata ing ngatase jagad kabeh, awit sakabeh angger wewatoning donya iku padha wiwitane, kayata: ing jagad iki ana srengenge kang dadi puser ubenge sakabeh bumi (planeet) dene kang diarani taun iku ora liya mung mongsa ubenge bumi nganti kempute, mongsa iku padha ajine ing ngatasing bumi siji lan liyane, sabab dumadine saking ubeng tumaruntun angliwati don titik kang padha, ananging yen taune bumi kita iki, katimbang lan taune bumi liya-liyane adoh sungsate, amarga don bumi (sijarah planeet) bumi iku beda-beda doh cedhake saking cecek kang kiniteran.@@@

Dene kang prelu dieling-elingi wong mangkene, saya adoh wong (barang) iku saking wiwinih kang ana ing tengah, saya bawur lan kurang susurupane marang wiwinih mau kaya dening bumi, (sijarah planeet) kang adoh-adoh done iku mung monda-monda bae olehe sorot saking srengenge, mangkono uga manungsa kang isih sajroning wadhage sumurupe marang kanyatahan, kaya weruh wawayangan lan bawur, awit adoh ungyane saking wiwinih ing kanyatan sajati.

Yen wus terang susurupanmu mungguh ing mongsa lan don kang kasebut mau bok manawa luwih gampang kowe pada ngerti ing dumadining titah kabeh kang bakal dak pratelakake sarana amek aluran saking titikaning jasad sawiji, iki kang gampang sarta becik dhewe, awit prakara kang dak gunem bab kanyataan kang tunggal, iya iku pangrasa kang thukul dhewe.

Ananging poma – kowe kudu padha duweya cipta – yen dumadining titah temen tanpa purwa wasana, lumintu genti-genti, jagad kita iki uga ora kajabakake ing angger wawatone, sadurunge jagad iki ana, biyen wus ana, kang nganakake, lan jagad anyar iku maneh dadi winih ing jagad maneh, mangkono sabanjure ngambah jagad langgeng loro, iya iku biyen lan besuk, prakara iku kanyatahane ora kena ginayuh ing wong kaya aku, ananging kang wus dhuwur kawruhe, nagnti ora kena kinira bisa anggunem bab iku, awit wus terang ing kanyatahane, dene paseksene iku katetepake dening uger papathokane solan-salining barang, kang dak nyatakake mau, kabeh kang katon, kaereng ing uger solan-salin mau, apata jagad dhewe nyele metu kadi uger pathokan iku (arak mokal).

Dumadining jagad kang tanpa mendha mangkono iku ing tembung Sansekrita kaaranan “kalpa” tegese pa cipta, pamilih ing tembung mathuk banget, awit satemene jagad iku ciptaning Gusthi.

Mara saiki padha aniti pariksa dumadining titah, lan upamakna jagad wus gumelar, yen wus tuutg ing mangsane “meneng”, uwite leren enggone mikir wujude angen-angen, dayaning pamikir genti, pipisahan, wekasan jagade buyar, ing tembung Sansekrita kobasakake Brahmasare, sasuwene sare, sare kapati iku kabeh sidhem, tentrem, ora ana sawiji-wijiya kang ana kabeh peteng nganti mongsa wungune Brahma.@@@

Mungguh “uwit” arupa loro, kapisan, Brahman (iku nyelo = ora lanang ora wadon) iku kahanan sampurna, tanpa tandhing, tanpa watek, tanpa kanthi, tanpa ana tandhane kang katon, yen sasanggitan lan jagad gumelar.

Kapindho, Brahma (lanang) iya iku uwit kang salugu, kang nganakake jagad kabeh, dadi sasanggitan lan jagad, Brahman iku kang tan kena ginunem, tan kena winirasa, Brahma iku Gusthi, iya iku wit tunggal lan winih pratama, dadi panjenengane dudu kahanan kang nyelo, awit kang mratama, mratelakake pangkat urutan mau.

Kasampurnan iku dadi tanpa sasebutan, manawa bongsa guru Hindu kajalukan katrangane bab iku, mesthi wangsulane kasampurna ora kena tinerangake, awit loka ginayuh ing wong kang wus sidik.

Wawaton mangkono ing ngatasing Brahman nuwuhake ciptaning sawenehing bongsa kulit putih, yen Brahman iku ora bisa jumeneng awit tanpa watek pisisijiya, ananging bongsa tasawuf, Hindu, malah ora bakal ngarani yen kang sampurna iku duweya watek ora ana, mung sidhem iku ku tetep aran kang sampurna, mulane kalawan anjabakake kang sampurna, mara saiki padha amiwiti anggunem wit kang pratama, iya iku Brahma, kang wungune saking sare, anggelar sarupane kang ana.

Iki urut-urutane wejangan mau:

BRAHMAN

1.   Brahma, Gusthi, uger utawa kang ana, “sat” kang sunyata.
2.   Awidya, kang ora ana, kang ora nyata.
3.   Mahatma, pangandika, uwiting cipta (pangandika kang katelu).

Dene Brahman kapetung ing urutan ngarep dhewe, mulane mangkono awit tan kena kagunem, nuli Brahma, kang sunyata, utawa “sat” uwit kang pratama kang nganakake sarupaning kang kumelip kabeh, prayoga wong tansah eling, yen brahman lan brahma iku rupa loro, nanging wujud siji, ing antarane iku tanpa ana bedane babar pisan, kaya upamane. @@@

%d bloggers like this: