alangalangkumitir

Javanese Manuscripts

SEBUAH KETETAPAN


Hidup itu berisikan ketetapan-ketetapan yang telah di gariskan oleh Allah, seperti halnya setiap kejadian yang kita alami, mendapatkan rezeki, jodoh, dan kematian semua sudah ditentukan Allah. Tugas kita sebagai manusia adalah berusaha menjalaninya semua yang telah dikehendaki-Nya dengan tulus karena kita sebagai mahkluk-Nya tidak kuasa untuk menolaknya. Jadi, tidak ada yang perlu ditakutkan dan tidak ada yang perlu dicemaskan, dibawah ini sebuah nasehat dari para pinesepuh yang terangkai dalam sekar macapat Durma, semoga dapat kita jadikan sebagai bahan perenungan.Rahayu.

D  U  R  M  A

1. //Dha estokna dhawuhing para sujana / sarjana hamumpuni / dadiya rambatan / miwah tekening janma / napak wewatoning Gusti / ngudi sampurna / kauripanireki//

Menurutlah pada perintahnya para orang pandai, sarjana yang mumpuni atau ahli, dan jadilah tumpuan, serta pembimbing para manusia, mengikuti aturannya Gusti, mencari kesempurnaan, kehidupan kita.

2. //Sinartanan memuji nyuwun mring Allah / weruh kang lungguhi / manut paugeran / lan tuntunan agama / sanadyan angel ananging / kudu klampahan / mrih ntuk nugraheng Widdhi//

Disertai sembah puji meminta kepada Allah, mengetahui yang menempati, menurut pada aturan, dan tuntunan agama, walaupun susah akan tetapi, harus dilaksanakan, agar mendapat anugrah dari Tuhan.

3. //Pepesthening Hyang Suksma limang prakara / samya den uningani / sarana legawa / tan na panyangka ala / awit sedaya sayekti / karseng Hyang Murba / janma hamung anampi//

Ketetapan dari Hyang Suksma ada lima perkara, ketahuilah itu, sebagai sarana kepuasan, dan tidak ada prasangka buruk, sebab sesungguhnya semua, merupakan kehendak Tuhan, manusia hannya menerima.

4. //Kang sapisan lamun wus tekeng wancinya / myang sakabehing janmi / datan bisa uwal / pesthi dadya kunarpa / winastan iku wong mati / bali maring Allah / ing alam barzah nenggih//

Yang pertama jika telah sampai pada waktunya, kepada semua orang, tidak bisa lepas, pasti akan menjadi jenazah, disebut orang meninggal, kembali kepada Allah, di alam barzah.

5. //Kadwi sampun tinulis dening Pangeran / jalu westri pinilih / dadi jodhonira / linambaran sih tresna / anindakna palakrami / manut parentah / Gusti kang Maha Suci//

Karena sudah ditulis oleh Tuhan, laki-laki dan perempuan terpilih, menjadi jodohnya, disertai rasa cinta, melaksanakan pernikahan, berdasarkan perintah, Tuhan Yang Maha Suci.

6. //Kaping tiga tumurun wahyu jatmika / yekti karseng Illahi / nadyan ngupayaa / lamun dudu karsa-Nya / sayektos datan pinanggih / marma kang nampa / kudu syukur mring Gusti//

Yang ketiga turunnya wahyu jatmika, sesungguhnya kehendak Illahi, walaupun dicari, bila bukan dari kehendak-Nya, sesungguhnya tidak akan bertemu, maka kasih sayang yang menerima, hendaknya harus bersyukur kepada Tuhan.

7. //Pepesthen kang kapapat sinebut pangkat / bisa nambahi inggil / drajating priyangga / lamun mboten waspada / mleset dadi ujub kibir / raos adigang / iku nora prayogi//

Ketetapan yang keempat disebut pangkat, bisa menambah tinggi derajatnya sendiri/pribadi, dan jika tidak waspada, lepas menjadi ucapan takabur, dan rasa sombong, itu tidak baik.

8. //De pepesthen Pangeran kang kaping lima / nugraha wastaneki / utawi bebungah / tartamtu wus kinarsa / sujanma ingkang pinilih / gya sujud nembah / bekti syukur mring Widdhi//

Dan Ketetapan dari Tuhan yang kelima, disebut anugrah, atau hadiah, dan tentunya sudah dikehendaki, sebbagai manusia yang terpilih, maka segeralah bersujud dan menyembah, syukur serta berbakti kepada Tuhan.

9. //Yektinira ngendikaning pra sarjana / kang waskitha ing budi / jatine wruhana / hamardi kinasihan / nyaket mring Hyang Maha Uning / hayu sabarang / rineksa siyang ratri//

Sesungguhnya ucapannya para sarja, yang telah bijaksana pada akal budiny, sesungguhnya ketahuilah, semoga dikasihi, mendekat kepada Yang Maha Tahu, terhindar dari segala hal, di jaga siang dan malam.

10. //Ing wasana semanten atur kawula / mugi kang Maha Paring / nyaketna nugraha / margining kaslametan / karahayon lair batin / ing alam donya / prapteng delahan kongsi//

Pada akhirnya sekian perkataan saya, semoga Yang Maha Memberi, mendekatkan anugrah, jalannya keselamatan, kesejahteraan lahir batin, di dunia, sampai dengan akhirat.

@@@

KEINGINAN DI DALAM HATI


Dhandhanggula

Kepinginan kang ana ati
Kapan aku bisa sujud roso
Kunjuk marang pangerane
Ya Allah Hyang Maha Gung
Kang nitahake langit lan bumi
Kang adoh kang wangenan
Cedak tan kadulu
Caket datan senggolan
Lamun nomor datan rinase sayekti

Keinginan yang berada dihati
Kapankah saya bisa bersujud rasa
Kepada Pnangeran
Ya Allah Yang Maha Agung
Yang menciptakan langit dan bumi
Yang jauhnya tiada terkira
Dekat tak dapat dilihat
Dekat tiada bersentuhan
Jika bersatu sungguh tak dapat dirasakan.

Den gladi saben dina
Jroning gladi pribadi kang asli
Namung panggih rasa jro-ning badan
Rasa panas kemeng jimpe
Gembrebeg keju linu
Boyo pegel ulu mrinding
Tan panggih rasa eca
Sebadan sakojur kepriye gone ngupaya
Bisa weruh kang momong rina lan wengi
Lir manuk jro kurungan

Di latih setiap hari
Dalam berlatih sendiri dengan kesungguhan
Hannya bertemu rasa di dalam badan
Rasa panas capek dan kesemutan
Letih lesu dan nyeri
Pnggang capek dan bulu berdiri
Tidak bertemu rasa yang damai
Seluruh badan, bagaimanakah cara mencarinya
Bisa mengetahui yang mengasuh siang dan malam
Ibarat burung dalam sangkar.

Lamun manuk manggung-e gung mesthi
Pinaringan kurungan kang pradan
Jumbuh isi lan wadhah-e
Lamun rokhani luhur
Jasmani mesti tut wuri
Paribasan swarga
Manut neraka katut
Yo iki den upaya
Srana kunjuk mring Hyang Maha Tunggil
Tunggil Gusti kawula

Jika burung berkicau yang sesungguhnya
Diberikan sangkar yang baik/bagus
Sesuai dengan isi dan tempatnya
Jika rohani yang luhur
Jasmani pasti mengikuti
Ibarat pribahasa surge
Menuruti dan neraka ikut
Inilah yang harus dicari
Sarana persembahan kepada Yang Maha Esa
Bersatu Gusti dan Hamba.

SERAT NABI YUSUP (terjemahan)


PUPUH I
ASMARADANA

1 . Dikuatkanlah hendaknya dalam menggubah karangan ini, yakni cerita Nabi Yusuf, adapun dalam gubahan ini, diberikan atau dituliakan dalam bentuk tembang, yakni tembang Asmaradana, tertarik hati saya mendengarnya, akan tutur cerita Nabi Yusuf, semoga tiada rugi dan celanya.

2 . Luputlah dari tindak yang tak baik, diridoi oleh Yang MahaKkuasa, diteguhkan dalam agama, diaimpangkan dari tindak yang jahat, ditunjukkan dalam jalan keselamatan, di jauhkan dari pikiran yang bukan-bukan.

3. Sungguh bijaksana Nabiullah itu, kasih Tuhan sangat besarnya, kepada Baginda Yusuf tersebut, Tuhan bersabda dalam kitab Quran, hai, muhammad cobalah dengarkan, ­ akan cerita Nabi Yusuf itu.

4. Sangatlah baik kiranya untukmu, dari adanya cerita lain tersebut, konon dalam cerita itu, ada seorang kafir dari Mekah, mengucap, ya Muhammad, aku membawa tuliaan (kitab?), demikian konon kabamya.

5. Maka datanglah Jibril, kepada Nabi Mustafa, kepada Rasul Allah itu, ia berkata, ini lah kitab Yusuf, anugerah dari Yang Maha Kuasa.

6. Konon ada seorang pendeta pula, ketika Rasul tersebut, sedang membaca Quran, banyak para sahabat mendengarnya, si kafir yang dari Mekah, berusaha dan berupayalah sudah, mengundang pula yang lain.

7. Yang dari desa ajam ini diauruhnya membaca seloka berada di depan berhala supaya pada mendengarkan terhadap Rasul yang membaca quran. maka Jibril pun datang kepada Nabi muhammad.

8. Raja berhala pun tiba, supaya membaca surat atau kitab Yusuf, kata si pendeta, itu tatkala Nabi Muhammad, sedang memangku cucunya, yang bernamaHhusin, yang sangat dikasihinya.

9. Maka turunlah Jibril, kepada Rasul tersebut, sambil berkata dia sekarang, terhadap Nabi Mustafa, restu dan salam Yang Sukma diaampaikan kepada tuan, juga kepada cucu tuan.

10. Atas kebijaksanaan dan kehendak Tuhan, telah dititahkan seorang raja, yang nantinya akan membunuh, cucu tuan tersebut, tapi matinya akan diaamarkan, seperti membunuh domba belaka, terhadap cucu tuan tersebut.

11. Siapa yang mendengar berita ini, maka segeralah akan bersedih, Fatimah pun menjadi berduka, dan sangat berprihatin,  Jibril datang menghadap sang Rasul, dengan membawa kitab Yusuf itu.

12. Tiada diceritakan sakitnya, begitu pun, Nabi Rasul beserta putranya, tidak diketahuinya pula, akan sakitnya si putra, tersebut ada cerita yang lain, yakni Baginda Yusuf.

13. Yang tiada lain adalah putra Yakub, yakni yang bernama Yusuf ini, adapun Baginda Yakub tersebut, adalah putra Baginda Iahak adalah putra ibrahim diaku sebagai kawan oleh yang.

14. Setelah demikian, Baginda Yusuf bersaudara, laki-laki dan wanita, tunggal ibu dan ayah, Abunyamin namanya Jani nama yang perempuan, yang tunggal ibu ayah.

15. Dan toga anak yang masih kecil-kecil, ditinggal oleh ibunya, semuanya beralur sebagai adik, adapun yang namanya Buyamin itu, tiga bersaudara yang sudah tak beribu lagi, ketiganya saudara seayah.

16. Kabir dan Sirarai,l adalah bersanak saudara, sedangkan Baginda Sueb, adalah bersaudara pula, dengan bibi Baginda Yusuf sanak dari Baginda Yusuf, adalah Baginda Sueb.

17. Saudara Nabi Yusuf tersebut, ada sepuluh tunggal ayah, yang paling tua yaitu, yang merupakan anak sulung, Yahuda dan Sirobil, serta kemudian Lawa, Samaun, Ruya, Yalun, lalu adiknya.

18. Lagi ialah si Asjar, si Badan itulah pada waktu itu, si Jadan dan Arsa, tapi tak ada yang mirip, dengan tampang Nabi Yusuf, dialah yang paling tampan.

19. Cakal dan tampannya berlebih, sang Baginda Yusuf itu dalam rupa, tak ada yang menandinginya, di seluruh iai jagat, baik tingkah dan lagak lagunya yang menawan, tubuhnya bagus dan halus ibarat bidadari dari sorga.

20. Matanya redup-redup, raut wajahnya demikian pula, bersinar bagai rembulan, yang sedang purnama, berkelip bintang terang, giginya bagai mutiara, kalau tersenyum sangat memikat, mania bagai madu.

21 . Kejapan matanya sangatlah mania, wajahnya tak ubahnya, pengobat bagi yang sedang sakit, melihat wajahnya saja sudahlah sembuh, tak ada yang menyamai, dalam mendapat kasih Yang Maha Kuasa, sakti lagi pula bakti kepada Tuhan.

22. Sangat berlebih kasih Hyang Widhi, kepada Baginda Yusuf, begitu pun ayah dan ibunya, sangat kasih dan sayang, mereka tak biaa berpiaah, semua itu dikarenakan, cintanya yang dalam kepada sang putra.

23. Setelah lama kemudian, Baginda Yusuf berusia, dua belas tahun umurnya, Baginda Yusuf sedang beradu (tidur), ditunggui oleh ayahnya, Baginda Yusuf bermimpi, dalam impian ia melihat.

24. Dalam mimpi itu Nampak, matahari dan rembulan, beserta bintang sebelas jumlahnya, pada bersujud kepadanya, di hari malem Jumat, tatkala mimpi itu terjadi, Baginda Yusuf nampak bersinar.

25. Bangunlah ia di waktu fajar, ayah, saya bermimpi, ada bulan dan matahari, dengan bintang sebelas jumlahnya, Nabi Yakub pun berkata, sudahlah, diam anakku jangan geliaah dengan impianmu

26. setelah diberitahu sedemikian maka Baginda Yakub kemudian menjadi duka dan sedih hati kasihan terhadap putranya Nabi Yakub lalu berkata karena itu anakku, janganlah berkata pada saudaramu .

27. Nabi Yakub pun tahu, bahwa putranya telah, memahami apa yang terjadi, dari impian Yusuf tersebut, demikianlah Baginda Yakub, karena itu bagi Baginda Yusuf, merasa takut kalau didiamkan saudaranya.

28. Bertanyalah Yusuf perlahan, akan arti impian tersebut kepada ayahnya, ayah katakan sekarang, apa maknanya impian saya itu, Nabi Yakub berkata, oh, anakku, alangkah baiknya impianmu itu.

29. Dikatakanlah kepada Yusuf, akan arti impiannya tersebut, oleh ayah andanya kini, bahwa di hari kemudian akan menjadi raja, semua sanak saudaramu, akan kau perintahkan.

30. Bintang yang jumlahnya sebelas tersebut, diumpamakan sebagai saudaramu, sedangkan bulan dan matahari, sebagai ayahmu, rembulan adalah ibumu, saudara yang sebelas itu, akan bersujud kepadamu .

31. Berkata ayahnya perlahan, sudah tahulah kini engkau, semua itu kasih Yang Maha Kuasa, wajiblah bersyukur, berpujilah kepada Tuhan, impianmu itu benar-benar, tak ubahnya kau seorang Nabi.

32. Tatkala si Yusuf, mengatakan impiannya kepada ayahnya, tak ada yang tahu dan medengar, tapi permaiaurinya, sang Baginda Yakub tahu, saudara tiri Baginda Yusuf, tahu dan segera mengintip.

33. Berkatalah permaiauri kepada anaknya, yang bernama Samaun itu kemudian Samaun berkata pula, kepada saudaranya semua, semua pada berunding dan bicara, di rumah saudaranya yang nomor dua, yakni yang bernama Robil.

34. Mereka mempergunjingkan Yusuf, oleh semua saudaranya itu, semua sepakat dan bermaksud, hendak mengganggunya, berangkatlah mereka, mendatangi Baginda Yusuf, hendak bertanya mengenai mimpinya.

35. Bagaimana saudaraku kemarin, ketika mengatakan impian kepada ayah, saudaraku katakan sekarang, apakah sebenarnya impianmu itu, Nabi Yusuf merasa kerepotan, di hati selalu teringat, akan pesan ayahandanya.

36. Kalau harus mengatakannya di hati, akan pesan ayahandanya, kalau harus mengatakannya di hati, Nabi Yusuf merasa kebingungan, kalau impiannya dikatakan, artinya meninggalkan pesan ayahnya, kalau tidak dikatakannya pula, nanti aku berbohong.

37. Sanak saudaranya pada berkata, akan membunuhnya, kalau tak dikatakan, kepada Nabi Yusuf, maka diceritakanlah impian itu, semua tahu akan impian tersebut, yakni para saudaranya.

38. Maka menjadi dengkilah, semua saudaranya itu, mereka hendak mengkhianati Yusuf, maka menghadaplah merek,a datang ke ayahnya sudah, hendak mengajak dia.

39. Kita hentikan mengenai sanak saudaranya ini, sabda Rasul yang terucap, kelakuan dan tingkah laku baik itu, tentu selalu akan, membawa nama sanak saudaranya.

40. Maka para saudaranya itu, pada menghadap ayahandanya, semua memamitkan Yusuf, bahwa ia pergi berburu, sambil menggembala domba, sebab para sanak saudaranya juga, semua sudah memiliki domba tersebut.

41. Semua anak -anaknya itu, dberi seribu domba seorang, tapi Nabi Yusuf sendiri, domba enam ribu, maka semakin irilah, semua saudaranya, mereka hendak membawanya berburu.

42. Setelah mendengar, kata-kata semua putranya, wajahnya menjadi merah, badannya gemetar, giginya bergemeretakan, Baginda Yakup pun tahu, kalau putranya hendak diperdayakan.

43. Setelah pada menghadap, semua saudara itu, bermaksud menipu sekarang, dengan jalan mengajak berburu, kepada Yusuf, para saudara tersebut, pamitnya para putra tersebut ia tahu, kalau putranya (Yusuf) sebenarnya tak mau.

44. Karena Yakub itu adalah, Nabi yang memiliki ketajaman, yang diberikan oleh Allah, Baginda Yakub berkata, kepada putranya semua, tak boleh kalau putranya, dibawa untuk berburu.

45. Tak boleh aku kalau, nanti diterkam anjing hutan, Nabi Yusuf diberi tahu, oleh para kakaknya, nanti kami yang akan menjaga, demikian termakan oleh Nabi Yusuf, kata-kata para putra semua.

46. Setelah demikian itu, Baginda Yusuf dibawa, oleh para saudaranya, mereka pergi berburu ,hampir tiba di hutan, Nabi Yakub mengejamya, mengiring sampai di jalan.

47. Berkata sambil memperingatkan, Baginda Yakub kepada putranya, tapi sangatlah kecewa, benar-benar kecewa karena, Nabi Yusuf sekarang, dibawa oleh para sana saudaranya.

48. Kita tinggalkan dulu soal putranya  ini, arkian sabda Yang Maha Kuasa, datang terdengar oleh Nabi Yakub, itu semua karena kau, dan kau pun tak percaya, bahwa sekarang dalam pertindunga-KU kau terlampau mengasihinya.

49. Maka sadarlah Nabi Yakub, kalau dirinya salah dan kernudian bertobat, apa yang terpikir dalam ciptanya, bahwa dirinya telah bersah, karenanya ia bertobat, tak mau pasrah Kepada Yang Maha Kuasa, hanya karena mengingat kasihnya pada putra.

50. Alkisah si Nabi Yusuf, berganti diaunggi ia, oleh para kakaknya, ketika nampah oleh ayahnya, saudara perempuannya bermimpi, Baginda Yusuf masuk dalam mulut harimau.

51. Ia kemudian mendengar berita, Yusuf dibawa berburu, oleh para sanak saudaranya, maka ia pun mengejarnya, diikuti oleh ayahnya, menangislah ia, berpiasah dengan Nabi Yusuf, yaitu saudara wanita tersebut.

52. Ayahnya berkata dengan lembut, kepada anak wanitanya, katanya, mengapa engkau seperti ini, mengapa pula kau menangis sedih, menjawablah anaknya itu, saya kasihan dengan Nabi Yusuf, itulah sebabnya saya menangis.

53. Oh, anakku jangan menangis, menjawablah anak wanita itu, oh, ayah seberapalah artinya ini, tangis saya itu sebenarnya, lebih dari ini, tangis saya itu karena, ia lepas dan ayah tak tahu sebenarnya tentang dia.

54. Tak diceritakan dulu mengenai putrinya ini, alkisah sekarang kejadian mereka, para saudara yang membawa, Nabi Yusuf untuk pergi berburu, ketika datangnya di hutan,  mereka bemiat membunuhnya, kepada Nabi Yusuf, dilakukan oleh para saudaranya.

55. Setelah kalian bunuh aku, maka segeralah bertobat, memohonlah kepada Yang Esa, akan pengampunan kepada Yang Sukma, akan tingkah dan perbuatan kalian, atas karunia Yang Esa dari perbuatan watak setan.

56. Kita diamkan dulu mereka, terceritalah Bani Isarail, sedang bertapa samadi sekarang, dua belas tahun lamanya, memuja, mengaji dan berpuasa, karena ia mempunyai keinginan, untuk mengerti dan mengetalai iblis laknat.

57. Atas perintah Yang Widi, datanglah si iblis laknat, kemudian ia menunggui, lalu diaapanya ia, siapakah kau mendatangiku, kata iblis, aku ini hendak, memberi tahu umurmu.

58. Ketahuilah sekarang, bahwa umur anda itu, tinggal dua ratus sekarang, lalu lenyaplah si laknat tersebut, maka si pertapa tersebut, berbicara dalam batinnya, panjang juga usiaku itu kiranya.

59. Lebih baik aku berhenti sekarang, memuaskan segala kehendakku, bersuka ria dan bersenang, kalau sudah dekat mati, baru bertobat, pergilah si pertapa tersebut, ia menjalankan laku dan tingkah duniawi, sepuas-puasnya.

60. Sebelum mati ia melakukan, maksiat si pertapa itu, tak ketahuan dan tak menentu tobatnya, demikian bermacam-macam, orang yang melakukan maksiat itu, mengingkari tobatnya, itulah perbuatan sesat.

61. Demikianlah para sanak saudaranya itu, sudah jauh perginya, dari arah tempat, beradanya Baginda Yusuf, setelah tiba di hutan, segera diturunkan, Nabi Yusuf dari gendongan.

62. Setelah agak jauh, Yusuf pun dibikin sengsara, oleh para sanak saudaranya, dia diiring-iring, dihunuskan pedang, oleh Samaun, berlarilah, mengungsi saudara yang lain.

63. Itulah yang hendak pada membunuh, semua menghunus pedang, hati Nabi Yusuf tak samar lagi, tersenyumlah ia melihat, kepada saudaranya semua, diaapalah Baginda Yusuf, oleh saudaranya yang tua.

64. Yang bernama Yahuda itu, apa sebabnya engkau, tersenyum, tolol kau akan mati, yang kau pamerkan itu, apa faedahnya (artinya) kau tersenyum, menjawablah Baginda Yusuf, kepada semua saudaranya.

65. Sebabnya aku tersenyum ini, karena ada isyarat Tuhan, kata Samaun kemudian, bagaimana isyarat dari Tuhan itu, yang kini mendatangi dirimu, menjawablah Baginda Yusuf, untuk mencoba kepercayaan dan keyakinanmu.

66. Yang memberikan benih, benih kekuasaan tuan, yang sekarang ini menganiaya, menganiaya kepadaku, sekarang kalian semua, hendak membunuh diriku, itulah sebabnya mengapa aku tersenyum.

67. Merasa seperti diejeklah aku, karena aku mempercayaimu, tidak percaya kepada Yang, kini aku seperti di ingatkan olehnya, si saudara yang tua, menjadi kasihan kepada Nabi Yusuf, kalau kau kupertahankan (kubela).

68. Saudara-saudaraku pada berkata (meminta), yaitu saudara-saudara Yahuda, mengapa sekarang anda, akan mengkhianati janji, sebab dulu sepakat begitu (membunuh), berkatalah si Yahuda, semua ini bukan karena menolak (tak mau).

69. Bagi orang tak menepati janji, tak sungguh-sungguh dalam keburukan, kalau sekarang kalian memaksa, meskipun kalian hendak membunuhnya, tanpa seijinku, kalau kalian membunuh Yusuf, aku sendiri bunuhlah.

70. Diam mereka dan merubah janji, semua para saudaranya, sekarang mereka hendak memasukkan, ke dalam telaga Sadad, alkisah seorang pertapa, yang ada di dalam telaga, sudah, seribu tahun umurnya.

71 . Yakni kaum Yahud, yang bertapa di dalam telaga, namanya si pertapa itu Siraud demikian namany,a orang kuno jaman dulu, sebabnya ia bertapa karena mendengar, akan cerita Nabi Yusuf.

72. Segala peri kehidupan Yusuf ini, bersama saudaranya, akan wajahnya pula yang tampan, maka bermohonlah ia kepada Tuhan, bersama saudaranya, akan wajahnya pula yang tampan, maka bermohonlah ia kepada Tuhan, si pertapa itu, ingin melihat dan bertemu Nabi Yusuf, janganlah mati dulu (sebelum bertemu).

73. Maka diterimalah, permohonan sang pertapa, oleh Yang Sukma (Tuhan), mala ia mendengar isyarat (wisil), si orang pertapa tadi, maka pergi lah ia cepat-cepat, menuju telaga Sadad.

74. Pergilah ia menjalankan, si orang pertapa itu, berada di dalam telaga, sambil menjalanlan ibadat, adapun si pertapa tersebut, sebagai sarana malanannya, di situ ada buah delima.

75. Dengan lampu kurung, yang tiada sumbu dan minyaknya, tercantel tanpa gantungan, diberkahi Tuhanlah kiranya, si pertapa tersebut, demikianlah kebesarannya, kasih karena Tuhan.

76. Arlian si Nabi Yusuf, dijatuhkan ke dalam telaga, dimasukkan jeramnya yang dalam, maka melompatlah ia, sambil memeluk dada, si Baginda Yusuf itu, sambil menahan napas.

77. Bertemulah sang pertapa itu, di dalam telaga Sadad, berkatalah sang pertapa, Yusuf, lama sudah hamba, memikirkan akan diri tuan, lama hamba menanti, tak dipertemukan dengan tuan.

78. Dibawalah saya oleh Tuhan, hanya saya pada tuan, jangan salah perkiraan sekarang, akan kelakuan saudara tuan, yang menjalankan perbuatan jahat, sudah tuan katakan itu, akan perbuatan saudara tuan.

79. Karena hanya sekedar menjalani, apa yang diperbuat saudara tuan, atas kehendak Yang Maha Kuasa kin,i berada di dalam telaga, karena dengan doa, hamba memohon kepada Yang Agung, bertemulah dengan tuan.

80. Setelah bertemu, matilah si pertapa tersebut, mayatnya kemudian disucikan, dikubur oleh malaikat, lalu digantikan oleh Baginda Yusuf, tempat si pertapa tersebut.

81. Tak diceritakan dulu si Yusuf ini, alkisah para saudaranya, pada berkata semua, mereka berusaha mengabarkan, kepada ayah mereka, bahwa Baginda Yusuf sudah, dimangsa anjing hutan.

82. Semua pada menipu dengan cara begitu, supaya tidak diperpanjangkan, maka baju si Yusuf, sekarang diolesi dengan darah domba, sebagai pertanda, bahwa Baginda Yusuf sudah, dimangsa anjing hutan.

83. Mereka pun segera pulang, tiba di tempat waktu Isyak, kemudian semua menghadap, kepada ayahnya, semua nampak pada bersedih, melaporkan bahwa Baginda Yusu,f dimangsa anjing hutan.

 84. Mereka pada berkabar, tingkahnya tidak karuan, semua saling memberi alas an, kami sal ing menyerang (anjing hutan), tinggal si Yusuf sendiri, ia luka karena tidak ditunggu, itulah sebabnya ia dimangsa.

85. Ayahnya pun mendengar, berita dari para putranya, satu malam ia bersedih, rasanya sakit dan susah sekali, lama ia diam dan merenung, di saat pagi waktu Subuh, sadarlah si ayah itu.

86. Setelah sadar ia pun duduk, nampak putra tercintanya, diam kaku berkata perlahan, rasanya tidak benar berita tersebut, anakku dimangs,a macan, yang pergi di belakangku, kepadamu oh anakku.

87. Maka di lihatnyalah, akan baju si Yusuf tersebut, yang penuh dengan darah, diam membiau setelah mengamatinya, baju yang penuh darah, sedih ia bukan kepalang, lalu diam setelah mengamati.

88. Maka tersenyum Nabi Yakub ini, melihat akan baju tersebut, baju itu utuh tidak robek, pada berkatalah putranya, kenapa tuan demikian, tadi nampak bersedih, sekarang tertawa seperti rindu.

89. Ayahnya berkata lembut, tadinya karena aku, melihat akan baju itu, penuh darah yang memerah tua, anakku diterkam, macan, t:api sekarang aku tertawa, setelah mengamati baju tersebut.

90. Utuh tak ada yang robek, menurut perkiraanku, kau semua, bohong belaka menipu orang, dimakan anjing hutan, tidak ada yang rusak, sampai pada bajunya pun, masakan semua utuh tak robek.

91. Demikian orang yang menghadap Tuhan, semua itu kentara, umumnya banyak yang berbuat maksiat, itu pertanda banyak dosanya, yang tak menyandang dosa, itu yang benar dalam agamanya, tidak ada kemurkaan hati dan pikiran.

92. Demikian mukmin yang tak benar, badannya didatangi dosa, seperti tingkahnya orang yang tahu, ada baju pulang penuh darah, prihatinnya berlebihan, kalau di lihat kalbunya, benarlah taukhidnya itu.

93. Hilang prihatin hatinya, karena percaya akan kasih Yang, pemberian maafnya itu kepada, manusia yang benar taukhidnya, maka sekarang sirnalah, hilang prihatin dan susahnya sudah, karena percaya kepada kasih Yang.

94. Para putra berkata lagi, semua kepada ayahnya, benar hamba tangkapnya nanti, si anjing hutan tersebut, ayahnya berkata, baik, tangkaplah olehmu, kemudian haturkan padaku.

95. Dasar para putranya itu, tak tahu kalau macan tersebut, dapat berbicara, kepada Baginda Yakub tersebut, sebab kalau mereka tahu, masakan mereka mau menghaturkan, kepada ayahnya.

96. Begitu pun lagi nantinya, di hari kiamat itu, siapa yang berbuat, maksiat, hendaknya ingat, akan ditanyakan padanya, untuk mengaku perbuatannya, kalau ia berbuat maksiat.

97. Demikian kedua tangannya, mengaku kalau berbuat maksiat, kedua kakinya pun mengiyakan, bahwa dirinya berbuat maksiat, semua anggota badannya, pada mengaku tentang perbuatannya, maka dirinya keweleh (tertonjok muka).

98. Pada berangkatlah putranya, untuk memburu anjing hutan, dan mereka pun menemukan, anjing hutan itu sudah tua, tidak ada giginya, ditangkap dan diikat sudah, dihaturkan kepada ayahnya.

99. Nabi Yakub berkata pelahan, kepada anjing hutan itu, mengapakah engkau, memangsa rakyat kecil, tidak ada rasa belas kasihmu, memangsa anakku, kau sungguh keterlaluan.

100. Demikian atas takdir Yang Widi, si anjing hutan tersebut, tiba-tiba dapat berbicara, menjawab semua kata-kata, tidaklah ada niat di hati hamba, untuk memangsa putra tuan.

101. Semua daging Nabi, haram bagi hamba, justru nanti hamba hanya akan mendapat, murka dari Yang Maha Kuasa, kalau merangsang, putra tuan Nabi Yusuf, tidaklah menjadi niat hati, seperti kata putra tuan.

102. Para putra itu pada mendengarkan, apa yang dikatakan anjing hutan, seketika mereka menundukkan muka, setelah mendengar kata, si macan, Nabi Yakub berkata, kepada si macan, mengapa kalau kau tahu, begini tak memberitakan padaku.

103. Anjing hutan menjawab pelahan, takut hamba menghaturkannya, nanti diaangka mengadu, antara putra tuan sendiri, itulah sebabnya hamba takut, diaangka mengadu domba.

104. Di jaman dulu hamba mendengar, berita dari kakek tuan, berkatalah Nabi Ibrahim, orang berbohong besar dosanya, kagetlah ia, Baginda Yakub mendengar, cerita si macan tersebut.

105. Akan dimurkai Tuhan, tak ditempatkan di sorga, apabila mengadu domba tersebut, itulah takut hamba, Nabi Yakub berkata, kepada macan setengah tertawa, dari manakah asalmu.

106. Anjing hutan menjawab pelahan, hamba ini dari desa, dari bumi Mesir, sedang mencari anak hamba, yang ditangkap itu, oleh orang-orang yang sedang berburu, macanlah yang memberitahu hamba.

107. Kata berita tersebut, katanya anak hamba, akan segera dibunuh, itulah yang hamba dengar, berita dari si macan, sangat prihatin dan tak tidur hamba, selama tujuh belas hari.

108. Tidak minum tidak makan, lamanya tujuh belas har,i kelewat lamanya sekarang, sakit rindu pada anak hamba, demikian Baginda Yusuf, sedihnya amat sangat, rindu kepada putranya.

109. Ia berkata dalam batin, sedangkan anj ing hitam saja, sampai sedemikian sakitnya berpisah dengan anaknya, Nabi Yakub berkata, lalu seberapalah sakitku, berpiaah dengan putraku.

110. Maka berkatalah halus, Baginda Yakub kepada si macan, apakah engkau tahu, di manakah putraku, kata si macan ad, hamba melihatnya, tuan, dulu, kepada putra paduka.

111. Nabi Yakub berkata pelan, mengapa kau tidak memberitahukan, kata si macan, karena, hamba takut memberitakan, disangkanya nanti mengadu, oleh putra tuan.

112. Karena fitnah ini, nanti mendapat murka Yang Sukma, Nabi berkata pelan, kudoakanlah kau, moga-moga bertemu, dengan putraku itu, cepatlah semoga berjumpa.

113. Anjing hutan menjawab halus, kalau tuan memohon kepada Yang, hamba pun memohon pula sekarang, kepada yang semoga bertemu, tuan dan putra tuan, sama memohonlah susah, kepada Yang, sang Nabi Yakub itu.

114. Maka Nabi Yakub pun, segera pulang ke rumahnya, macan pun lalu meminta pamit, Baginda Yakub tercerita, memohon dan berdoa kepada Tuhan, semoga di lindungilah Nabi Yusuf, berikanlah rahmat oleh Yang.

PUPUH II
DURMA

1 . Jumlahnya l ima ekor, satu anjing hutan, yang biSa berbicara, kepada Baginda Jakub, yang kedua onta milik Baginda Sali (Saleh?).

2. Ketiga anjing yang bertapa, arkian pula, yang memiliki anjing tersebut, keempat blagadaba, sedangkan yang kelimanya, yakni kuda, milik Baginda Rasul ini.

PUPUH III
ASMARADANA

1 . Sarig Nabi diceritakan kembali, arkian kemudian, Baginda Yusuf setelah, tiap hari lamanya, ada seorang pedagang, Malik namanya anak seorang saudagar.

2. Ia berbahasa Arab, yang mengabdi di negeri Mesir, ketika ia masih kecil, ia bermimpi, matahari, merasuk ke dalam tangannya, dikeluarkanlah sudah sekarang, matahari dari tangannya.

3. Diberdirikan di hadapannya dan lagi mega putih, jatuh bersinar sekarang, menjadi mutiara, kemudian dipilih dan, disimpan dalam petinya, setelah bangun mengucap.

4. Rasanya impian dulu itu, seperti terjadi di bumi Kanahan, tempatnya matahari tersebut, turun ke Kanahan, kepada seorang pendeta, bertanyalah apa arti dan sebabnya, impian jaman lalu tersebut.

5. Dikatakan arti dan maknanya, impian tersebut kepada pendeta, berkatalah sang pendeta itu, bukan aku bermaksud mendahului kejadian, arti impianmu tersebut, menurut perasaanku, sangatlah baik impianmu itu.

6. Diberikan dua buah dinar (mata uang), kepada sang pendeta tersebut, maka diberitakanlah kemudian, akan makna impian itu, besok kau akan berjumpa, dengan seorang anak tampan, yang akan banyak orang mengabdi pada dia.

7. Kau akan menjadi sejahtera, dengan si anak itu, karena itu artinya, jangan kau berputus mengucap syukur, sampai di hari kiamat, dengan berkah anak itu, kau akan luput dari api neraka.

8. Dan masuk ke dalam sorga, alas berkat anak itu, kekayaanmu nanti, sampai ke anak cucumu, sampai hari kiamat, karena berkah anak itu pula, maka pergi dan carilah dia.

9. Sambil berdaganglah kau, cepatlah kau cari, dari desa mulai suspilah, carilah jangan sampai terlewati, demikian di kala itu, di sebuah hutan belantara pun, dengan teliti kau cari pulalah.

10. Segeralah berangkat tak sabar lagi, yang bernama Malik tersebut, menyuruh pada orang-orangnya, diperintah memuat dagangan, dibawalah kemudian dengan onta, semua dagangan tersebut, di saat adzan berangkatlah ia.

11. Menuju ke bumi yang tandus, tibalah di tanah Kanakan melihat utara, selatan, barat, timur sambil menengadah, memohon dipertemukan, dengan anak kecil itu, kemudian ada isyarat datang.

12. Suara isyarat itu memperingatkan, kepada pedagang tersebut, tapi anak itu tidak ada sekarang, lima puluh tahun barulah keluar, dari ayahandanya, maka ia pun pulanglah, si Malik menuju rumahnya.

13. Kita diamkan dulu ia, akan keadaan din si pedagang, merasa tak berhasil kini, dalam hal usaha mencari, tapi ta menjadi semakin semangat, dalam usaha mencari tersebu,t setelah mendengar isyarat.

14. Ada wahyu Tuhan, kepada Nabi Daud, siapa saja yang mencari, dan berusaha mencariku, tentu aku akan ditemukan, dan apabila bertemu, tentu akan kuberi olehku kewaspadaan.

15. Bukan hanya sampai di situ, yang lain dari aku, tentu akan kuberi anugrah, mengasihi pada orang kecil, apa yang ditemukan tadi, karena kasih dunia.

16. Demikianlah dalam tahun yang kedua, datanglah lagi si pedagang, anak saudagar tersebut, yang bernama Malik ke tanah Kanahan, demikian sedatangnya, di hutan bumi Kanahan.

17. Ia berkata kepada pembantunya, apabila kau bertemu, dengan anak kecil itu, yang kini sedang kucari, tentu kau akan kumerdekakan, separoh dari uangku, kuberikan kepadamu.

18. Maka pergilah dengan tak sabar, pembantu si pedagang tersebut, kepada Baginda Yusuf, masuk kedalam telaga, demikianlah di pedagang, pada melihat burung, sedang mengitari telaga.

19. Melayang layang ada, di atas telaga, layaknya seperti naik haji, mengedari ka’bah, tingkah burung tersebut, bukanlah sembarang burung, burung yang dipiara Malaikat.

20. menunggu datangnya Nabi Yusuf kekasih Tuhan menurut dugaan para pedagang semua diaangkanya burung biasa tak tahu kalau malaekat berkatalah Malik berseru kepada pembantunya

21. Segera berangkat tak sabar lagi, yang bernama Basir itu, melihat ke dalam sumur, tercium bau Nabi Yusuf, memenuhi telaga, baunya harum semerbak, menusuk hidungnya.

22. Demikianlah orang kembali, menghadap kepada Yang Sukma, tak diperkenankan bertemu, apabila belum hilang dosanya, di dunia di akherat, di dalam hatinya itu, masakan akan bertemu.

23. Demikianlah timba si Basir, dimasukkan dalam telaga, Jibril segera datang, berkata kepada Nabi Yusuf, hai hamba Allah, berdirilah berkatalah, si pedagang itu, hamba kehabiaan dirham.

24. Ada si dirham itu, kotor dan lagi tak ada yang mau, berkata si kakak semua, kalau memang banyak uang itu, delapan belas dirham tersebut.

25. Selamanya ini, disetujui adanya, akan harganya sekarang, yang delapan belas diraham tersebut, apalagi jumlah diraham banyak, ini semua artinya, memuji badan sendiri.

26. Diraham pun sudah dibagi, oleh para saudaranya, tapi saudara yang tertua, tak mau bagi-membagi, yaitu yang bemama Yahuda, oleh karena itu Baginda Yusuf, dijual oleh para saudaranya.

27. Tidak melihat yang senyatanya, akan rupanya, para saudara itu, tapi si ayah dan ibu, selalu melihat akan rupanya, tampannya berlebih-lebihan, kasihnya kepada Baginda Yusuf, kepada ayah dan ibunya.

28. Apabila ditakdirkan melihat mereka itu, oleh yang Maha Mulia, semua sanak saudaranya itu, masakan akan kuasa, mengucapkan kata-kata seperti itu, tentu heran melihat, kalau tahu ketampanannya.

29. Si pedagang tercerita lagi, memberikan surat penebus, demikian para sanak saudaranya, memberikan surat pula kepada si pedagang, Nabi Yusuf pun dibawa, oleh si pedagang, dikata-katai, oleh para sanak saudara (Nabi Yusuf).

30. Kata si pedagang itu, tak usah ditebus, anak itu banyak celanya, suka minggat, suka berbohong, karena itu awaslah dengan keputusan ini, kalau ia nanti berlari, jangan sampai kurang waspada.

31. Demikianlah dia, Yusuf tidak peduli  dia, mencoba untuk mengenangkan dan menghayati, akan hukum Yang kepada dirinya, Nabi Yusuf berkata, janganlah kau buru-buru pergi, karena aku, sedang melihat nasib dalam diriku.

32. Jangan sampai aku tak melihat, kepada gusti (Tuhan)ku itu, kata si pedagang itu, kalau pun kau kasih pada Gustimu, Gustimu itu toh tidak, mengasihi akan dirimu, buktinya kau dijual juga.

33. Karena itu ingat-ingatlah, ketika kau dijual kepadaku, Baginda Yusuf katanya pelahan, memang saatnya harus mengalami nasib buruk, semua itu sebagai cobaan dan bukti, akan kasih Tuhan kepadaku, sebab itu boleh dikatakan.

34. Menurut kesalahanku dulu, karena Gustiku tersebut, semua saudara bersedih, kepada Nabi Yusuf, berkatalah, semua sanak saudaranya, kasihan dan menyesal kepada Nabi Yusuf, akan tindakan mereka yang jahat.

35. Kalau mereka tidaklah takut, tentu merasa akan malunya si ayah, hendaklah dikembalikanlah sekarang, Baginda Yusuf kepada ayahnya, demikian pikir para saudaranya, tapi pergilah Baginda Yusuf, dibawa si pedagang.

36. Maka lalu dimulailah (dilakukan), oleh orang Abesi (habsyi?) yang tampan, semua perintah tuannya, maka dibelenggulah ia, Baginda Nabi Yusuf tersebut, dicampur dengan orang-orangnya, dan semua barang dagangan.

37. Ada dikiSahkan pula, Seh Amkin diberitakan, bahwasanya dia, menjelmakan semua yang mulia, dicampur pada yang tidak mulia, seperti mutiara besarnya, yang berada dalam kerabu (giwang).

38. Kasturi, manikam dan sutra, dimasukkan dalam tempatnya, aman, terletak di depan, demikianlah Nabi Yusuf, dicampur dengan barang dagangan, ditempat madu lebah, yang tak akan keluar lagi.

39. Demikianlah akan hambatan itu, mengambil sesuatu yang tak berkemuliaan, kehendaknya mengambil sekarang, ialah yang sudah mulia dalam kutang, demikian menjadi mulia lagi, perbuatan yang berasal dari hambatan, segera tampak dalam perbuatan.

40. Begitu pulalah Yang Widi, mengawali akah iman, tanpa kini memulainya, di hati begitulah Yang Sukma, demikian pula engkau, yang memuliakan Baginda Yusup, bukan memuliakan barang dagangan.

41. Segera pulanglah dengan tak sabar, yang bernama Malik itu, hendak pergi ke Mesir sekarang, tengah malam saatnya, tepat berada di makam, ibunda Baginda Yusuf, turun dari kendaraan binatang itu.

42. Segeralah Nabi Yusuf itu, datang ke makam ibunya, sedih dan meratap pelan, ibu hamba berpisah, dengan ayahanda dan kakek, sepeninggal ibu itu, hamba terkena mala petaka.

43. Ibu lihatlah, anakmu ini dalam keadaan nista, mengapa ibu tega benar, menyia-nyiakan akan anakmu ini, semua itu menyebabkan terdengarnya suara, ibunya dari dalam makam, menjawab si Yusuf tersebut.

44. Jelasnya mataku ini anakku, kau adalah buah hatiku, demikianlah Baginda Yusuf, sudah mendengar suara itu, suara dari ibunya, kita diamkan dulu Baginda Yusuf, setelah di lihat oleh orang Habsi, tidak.

45. Lagi dihadapkan kepada tuannya, oleh yang bernama Malik itu, anak itu sekarang, rupanya sudah melarikan diri, hamba cari tidak ada, berhentilah si Malik sudah, disuruhnya tetap mencari.

46. Jangan buru-buru kalian pergi, berhentilah dulu semua, perintahnya kepada orang-orangnya, oleh si Habsi yang tampan tersebut, terlihat oleh si Habsi itu.

47. Demikian lalu di lakukan, kemudian ia dekati, oleh siHhabsi yang tampan itu, digeret dan dipukul, dengan dimaki-maki, dulu kata tuanmu, kau memang pembohong dan suka minggat.

48. Kata tuanmu dulu, tak kuacuhkan, ternyata sekarang kau, benar-benar suka minggat, bohong benar kau, buktinya melarikan diri, menjawablah Nabi Yusuf, buktinya melarikan diri, menjawablah Nabi Yusuf, hamba tidak minggat, tuan.

49. Semoga hamba mendapat, murka Tuhan kalau minggat, hamba hanya pergi, ke makam ibu hamba, semua itu diaangkal, maka Baginda Yusuf, dinaikkan ke atas onta.

PUPUH IV
PANGKUR

1. Tidak diceritakan dulu si pedagang, alkiaah menurut cerita, sang Baginda Yusuf, memohon dan berdoa kepada Tuhan, ya Tuhan kalau ada dosa dan kesalahan hamba, semoga kaulah yang mengampuninya, yang tahu akan isi hati hamba.

2. Permohonan itu rupanya terkabulkan, maka ada utusan Yang Widi, Jibril namanya, berkatalah dia apakah sebenarnya maksudku turun ke bumi, Baginda Yusuf berkata, Tuhan jualah yang lebih.

3. Tahu daripada hambanya, dan padukalah yang tahu, Jibril lalu berkata, sudahlah ia bersabda menurut kehendak-Nya ,sebenarnya Tuhan (Yang Agung) memperhatikanmu, Jibril memukul bumi maka keluarlah api.

4. Hujan angin asap pun datang, hujan angin asap pun datang, gelap bercampur hujan batu keriki,l rasanya bagai telur burung raksasa, hujan itu, si pedagang menyangka menemui kesulitan, kepala pedagang berkata, yaitu yang bernama Malik.

5. He, para budak bel ian siapa yang merasa, berdosa segeralah bertobat, sementara, belum mendapat celaka, maka pada bertobatlah mengucap pada Gustinya, kalian semua berdosa kata si Malik.

6. Tuan, apa dosa kami, jawab si Habsi, dulu kau, menyiksa anak itu, maka diSuruhlah, Malik menjalankan sapangatnya, Habsi pun berjalan menuju, kepada Yusuf dan berkata halus.

7. Lalu ia memohon, kepada Tuhan agar hilang mala petaka, permohonan diperhatikan (dikabulkan), maka kemudian matahari keluar dan teranglah sudah, si Malik lalu berkata, dikabulkan Tuhan kau tuan.

8. Lalu ia memohon, dikabulkan oleh Yang Widi, Baginda Yusuf berkata, dengan wajah tersenyum, kuturuti seperti katamu, si Malik pun mengucap, kepada kawan-kawannya.

9. Siapa melepaskan, belenggu Nabi Yusuf, lalu ia diberi pakaian, dodot dan baju, indah-indah dan diauruh berjalan di depan, semua mengiringkan, Malik berjalan di belakang.

10. Tak diceritakan di jalan, maka tibalah di desa Tesa namanya, semua orang desa di situ, pada tercengang melihat, pada rupa tampan dan hijaunya sinar, dengan gerak-gerik tingkahnya.

11. Semua pada keheranan, semua mel ihat dengan terkagum-kagum, akan rupa Nabi Yusuf, maka orang desa di situ, pada bertanya dari mana, asal anak tersebut, semua pada bertanya, orang di desa itu pada kafir.

12. Ada sabda Rasul, tak terkisahkan yang sedang pada berdengang, menjadilah berbakti, kepada-Nya Yang Sukma, begitu pun yang melihat wali tersebut, pendeta, serasa mereka berbakt,i kepada yang selama seratus tahun.

13. Sedatangnya Baginda Yusuf di situ, mereka pun menjadi beriman, karena kesaktian dan wibawanya, berhala ditinggalkan, berhala itu dipukul-pukul sudah ,masuk Islam orang di desa, semua menjilma beriman.

14. Segeralah pergi dari Tesan, tiba di desa Kudus berhenti, di situ ada rajanya, bermimpi ada suara, ada seorang datang ke desanya, datang pada pagi hari, di desanya tersebut.

15. Segeralah sambut dan laksanakan, semua perintahnya turutilah, awas, janganlah banyak, tingkah kalau datang suguhilah, maka terbangunlah raja tersebut, hendak menjalankan, apa perintah mimpinya tersebut.

16. Namanya raja Jiyad, pada pagi hari Yusuf pun datang, di desa tersebut, dilaporkan kepada Sang Raja, maka berkirimlah surat raja itu, kepada si pedagang, yang bernama Malik.

17. Alkisah utusan tadi datang, kata Sang Raja, tuan mendapatkan anak ini, yang tampan rupanya, tuan bawalah menghadap Sang Raja, karena Sang Raja hendak mengetahui, pada si anak yang tampan alang kepalang.

18. Maka Malik Adan, menghadap Sang Raja tak diceritakan, memerintah para istri, anak gadis selaksa dua ribu, pada berhias dan berdandan, mengenakan mahkota indah.

19. Yang perawan yang bujang. selaksa dua ribu pada bagus semua. bergelang dan berkalung, mengenakan mahkota, berikat pinggang penuh dengan intan berl ian bersinar, nila, baiduri dan mutiara, bagai pengantin Kuswaragahasri.

20. Baginda Yusuf tercerita, bermandi karena dulu dianiaya, oleh si Habsi tersebut, mandi di bengawan, tanpa pakaian, segenap ikan datang, mendatangi sinarnya, sang Baginda Yusuf .

21. Ada seekor ikan, besarnya bukan buatan, melintang menghalangi, sang Nabi Yusuf, agaknya ada ikan yang melihat, cahaya Nabi Yusuf, yang sangat indah dan bagus.

22. Demikian Yang Sukma, memberikan anugerah kepada si ikan ini, mempunvai dua anak, yang seekor itu yang menelan si Baginda unus, tujuh ban berada di perut, si ikan tersebut.

 23. Semua ikan pada, mendekati ikan yang besar tersebut, adapun anaknya yang seekor lagi, yang menelan cincin milik Nabi Suleman, demikianlah setelah dia, sang Baginda Yusuf itu.

24. Utusannya Sang Raja, memberikan ikat kepala yang indah, tidak perlu berhias lagi, karena Yang WiSesa (Tuhan), telah memberikan hiasan kepada Yusuf, setelah rtengenakan ikat kepala, segeralah naik ke punggung onta.

25. Demikian, pergilah ke istana, menghadap raja Jiyad segera, demikian Malik pun menghadap sudah, Arkian di situ Sang Raja menyuruh keluarganya, datangnya sanak saudaranya.

26. Disuruh memberitahukan, disuruh menyongsong ke gerbang kota, demikian Malik sudah datang ke istana atas kehendak Yang Maha Agung, mega pun di langit menghalangi matahari, Sang Raja bertanya kepada si pedagang itu, mana ujudnya, anak yang tampan tersebut.

27. Jawab si Malik itu di atas onta di dalam kelambu, Sang Raja segera berkata, agar membuka kelambunya, desa dipenuhi sinar cahaya Nabi Yusuf, seluas wilayah Negara, bagai disinari cahaya.

28. Semua yang meliputi, akan cahaya tampan Nabi Yusuf, seperti para gadia itu, kaku pada tercengang heran, pada malu lalu merindukan muka, kata mereka yang pada melihat, belum pernah aku tahu orang setampan ini.

29. Sang Baginda Yusuf, pagi-pagi mendatangi desa tersebut, beserta Sang Raja, sepanjang penglihatannya, Sang Raja selalu kagum pada Nabi Yusuf, tampan sekali rupanya, dengan cahaya bersinar.

30. Dan semua hamba sahayanya, pada heran menatapnya, Sang Raja lalu berkata, kepada si pedagang, mana si penghulu (pemimpin) yang kau iring itu, menjawab si pedagang, menunjukkan dia, si Malik.

31. Terhentilah Sang Raja mendengar, keheranan, dugaan Sang Raja, Baginda Yusuf, berlebihanlah sambutan Sang Raja, maka Malik pun berkata, kepada orang-orangnya.

32. Selama aku berkelana, tak seperti sekarang di desa ini, setahun dua kali aku, mampir di desa, tidak, ada yang mengacuhkan dan bertanya tentang diriku, semenjak aku membawa anak, Sang Raja sangat mengasihi.

33. Kita diamkan dulu si pedagang, demikian konon ceritanya, tersebutlah Baginda Yusuf, di lindungi oleh Tuhannya, menurunkan malaikat dua ratus, dengan membawa senjata, untuk membawa senjata, untuk mengiring dan melindungi.

34. Nabi Rasul berkata, semua orang ini ada pula, yang melindungi dirinya, maka para malaikat tersebut, atas perkenan Yang Sukma, sekarang menjadi abdinya ( Nabi Yusuf ), yang menjadi wali dan mukmin.

35. Pada menghadap si malaikat, pada mengitari Baginda Yusuf, menjaga bangun dan tidur, pada berujud manusia, setelah melihat Baginda Yusuf berkata, bertanya kepada malaikat siapakah kalian ini.

36. Menjawab si malaikat, hamba diperintahkan oleh Yang Widi, agar mengasuh dan menjaga tuan, dan supaya mengeringankan, setelah begitu Sang Raja berkata, ini semua yang nampak dalam, impian yang dulu.

37. Yang diauruh menyambutnya perintahnya diturut, ya ini mempersi lahkan Baginda Yusuf diauruh duduk mendekar fajar impian Sang Raja dulu, berkata kepada di rinya agar diperhatikan kata-katanya

38. Demikianlah terserah saja, aku memperhatikan, Baginda Yusuf berkata, menasehati Sang Raja, jangan menyembah berhala, jangan bermata dua kepada Tuhan, agar luput, kau dari api neraka, maka kata Sang Raja.

39. Terserah maksud tuan, maksud Baginda Yusuf, agar berhala itu justru, menyembah kepadamu, pergilah raja dengan Baginda Yusuf, setibanya di tempat, berhala pun lalu bersujud.

40. Berhala itu sesudahnya, bersujud kepada Nabi Yusuf , lalu, jatuh sendiri dan remuk, raja pun merasa di ingatkan, lalu menjadi Islam dan tekun, maka Baginda Yusuf, sangatlah dimuliakan dan dihormat.

41. Disambut berlebih lebihanlah, si Malik dan kawan-kawannya, suguhan terus mengalir, semua apa yang diminta, bermacam ragam tak lupa nasi dan susu, mereka pun lalu berpesta pora, bersama Nabi Yusuf.

42. Sang Raja lalu bertanya, karena tak mau dipersilakan makan, menjawab Baginda Yusuf, sambil tersenyum pula, kalau tuan ingin tahu mereka itu, itulah abdi Tuhan, tak biasa minum dan makan.

43. Sebagai makanannya, puji kepada Tuhan, dzikir sebagai minumannya, bertanyalah Sang Raja, makhluk apakah mereka, itu Baginda Yusuf menjawab, bahwa mereka bertugas menjaga.

44. Sang Raja terus bertanya, abdi apa mereka ini namanya, Baginda Yusuf berkata, namanya malaekat, diperintahkan menjaga dan melindungiku, dan agar mengiringkan pula, semua atas kehendak Yang Widi.

45. Segera kita diamkan, yang dikisahkan kini adalah takdir Tuhan, demikian sangkaan dan dugaan Sang Raja, yang menduga adanya sesuatu maksud, disangkanya Yusuf akan meninggalkan desa Kudus, karena tertarik akan ketampanannya, sang tampan yang kini datang.

46. Sang Raja menyuruh hamba sahayanya, maksudnya agar mencegat, sejumlah selaksa dua ribu, pada naik kuda, mencegat si pedagang oleh raja,  disuruh melarikan Baginda Yusuf ini.

47. Demikianlah terjadi, Nabi Yusuf dan si pedagang, bertemu dengan yang mencegat, bala tentara Sang Raja, menunggang kuda, sudahlah berjumpa, dengan Baginda Yusuf , orang-orang, terkagum menatapnya.

48. Begitu pula orang di sorga, ketika melihat Yang Widi, dua ratus tahun itu, tidak ingat di sorga lagi, ladatnya sorga tak ada yang terhitung, karena terlampau tertegun kepada Yang, dan ladatnya, karena melihat.

49. Lalu pingsanlah, tiga hari lamanya tak sadar, karena tercengang menonton, pada semua rupa dan ujudnya, sang Baginda Yusuf , demikian tak terceritakan lagi, datang di sebuah desa hari Soma, semua pun pada berhenti.

50. Baginda Yusuf berbicara, pada dirinya sendiri dalam batin, semua manusia yang hidup ini, tak ada yang seperti aku, rupa tampan tak seperti diriku, segeralah ia pergi, memasuki dusun tersebut.

51. Semua orang di desa itu, rupa dan tampangnya bagus-bagus, seperti rupa Nabi Yusuf, demikian orang di desa tersebut tak ada yang melihat Nabi Yusuf, maka ada suara terdengar.

52. Bunyi suara itu mengucap, kau kira tak seperti dirimu, akan hamba sahayaku, yang biSa menyamai dirimu, di dunia ini semua hamba sahayaku, meskipun mereka orang desa, seperti rupa Nabi Yusuf ini.

PUPUH V
SINOM

1. Ada ceritanya pula, tentang Baginda (Nabi) Musa, ketika menerima perintah atau sabda Tuhan, di atas sebuah gunung, dulu, memohon kepada Yang Widi, semoga sejahtera dalam berkelana, kepadanya Yang Sukma, dengan segala cipta dan sepenuh hati, ketika berada di puncak Gunung Tursina.

2. Tidak ada hamba Tuhan, yang seperti aku ini, sangat dekat dengan Sang Yang Manon (Tuhan), berani memohon kepada Yang Widi.

3. Demikianlah lalu Nabi Musa, mendengar suara itu, hai, Musa sangkamu, tidak ada yang seperti kau, tengoklah olehmu kanan dan kirimu.

4. Pada memohon kepada Tuhan, seperti permohonannya, demikianlah Nabi Musa, mendengar suara Yang Widi, hai Musa atas ciptaku ini, tak ada hambaku, yang seperti kau, akan keadaan hambaku ini, yang menyamaimu dekat dengan aku.

5. Demikianlah Nabi Musa, segera turun dengan cepat, dari atas gajahnya, setelah mendengarkan, Nabi Musa ini, kemudian ia bersujud, di hadapan Tuhan, memohon kepada Yang Widi, segala maaf dan ampun Yang Sukma.

6. Baginda Musa bertobat, dari segala ucapannya dulu, ia mendengar suara, sang Baginda Musa ini, nah segera angkatlah, kepalamu dari tanah, kau telah tobat sekarang, ku ampuni taubatmu, seperti Baginda Yusuf.

PUPUH VI
PANGKUR

1. Setelah demikian pergilah, lambat-lambat dari desa itu, tak diceritakan di perjalanan, tiba di Mesir sudah, segera beriatirahat di desa tersebu,t segenap orang di desa, pada mendengar suara.

2. Suara tersebut mengucap, di desa ini ada anak datang, rupanya sungguh tampan, siapa saja yang bertemu dia, hilang marahnya kalau berjumpa anak itu, kemudian menjadi suka gembira, demikian, mendengarlah orang di desa.

3. Persangkaan orang di desa, mereka mendengar suara hantu, terdengar lagi suara itu, cepatlah datangi, di rumah si Malik anak tersebut, setelah mendengar suara, orang di desa pada rindu.

4. Pada tertariklah mereka, mendengar ada orang muda datang, pada mencari tak henti-hentinya, saling bertanya-tanya, mana rumah si Malik itu, menjawab yang ditanya saya, ini justru sedang mencari.

5. Mending kalau sudah melihat, baru mendengar beritanya saja, orang sedesa Mesir sudah tertarik ,segera kita tinggalkan (diamkan) dulu, alkisah hamba yang dekat Yang Widi itu, orang seluruh Mesir pada rindu, lupa kepada Tuhannya.

6. Demikian orang hidup itu, karena terbawa perasaan rindu bernapsu, Yang, Widi pun mendengar berita tersebut, bersabda dari qur’an, begitu pun sabda Baginda Rasul, seberapalah rindunya, tetap ingat akan Yang dan sorganya.

7. Burung-burung beterbangan girang, melihat yang baru datang, seraya menyongsongkan bunga, yang sedang mekar, seakan minta segera dicium oleh Nabi Yusuf, memang diagungkanlah ia, oleh yang di negeri Mesir.

8. Setelah datang, di rumah yang bernama Malik, paginya datang sudah, semua orang di negeri, Mesir pada masuk ke rumah, penuh tanpa hitungan, tak cukup rumah si Malik.

9. Yang menjaga pintu berkata, apa maksudnya mereka pada datang, yang ditanya segera menjawab, saya ingin melihat, akan rupa anak yang tampan itu, menunggu di rumah dia, anak yang tersohor tampan tersebut.

10. Yang menjaga pintu berkata, tak ada anak tampan di sini, kalau anda mau melihat, berilah dulu saya uang (dinar), maka kemudian diberikanlah dinar, kemudian masuk pintu, mengira kalau itu si Malik.

11. Dihentikanlah segera yang diceritakan yang merasa, beruntung, kalau saja mampu melihat, kalau saja biaa berkata, kalau saja mereka ingat akan saudaranya, melihat diri manusia, sampai sedemikian mereka lupa.

12. Setelah demikian adany,a pagi-pagi dihiasi oleh Malik, diberikan busana sudah, si Baginda Yusuf, yang serba indah sudah dikenakan, duduk di sebuah kursi, demikianlah adanya sang tampan.

13. Semua orang yang melihat, pada kagum dan terdengang, rumahnya penuh sesak, si Malik merasa, merasa kesibukan oleh orang yang menonton, tak mau diusir, semua yang melihat.

14. Si Malik lalu menawarkan, kepada yang menonton, tebuslah anak ini, tampan tak ada tandingnya, seimbang dengan suaranya, lagi pula tampan, tebuslah anak ini, Baginda Yusuf berkata, janganlah aku kau puji.

15. Kembali lagi kepada tawarannya, siapa hendak menebus anak ini, di negeri Mekah akan ke bawa, maka segera ditawarlah dia, dua laksa delapan ribu, wanita pria, sama-sama hendak menebusnya, kepada siapa hendak menawamya.

16. Maksudnya menawar tinggi, kalau hanya asal menawar, tapi segeralah mendapat bala (mala petaka,) mendapatkan petaka yang menawar, maka tak adalah yang berani menawar, terhadap Baginda Yusuf, takut mendapat bencana.

17. Si Malik sekarang menawarkan lagi, kepasa penonton, tebuslah anak ini, tiba-tiba ada suara terdengar, dari atas di antariksa, tidak ada yang kuasa menebus anak itu, Sang Raja Mesirlah yang mampu, menebus anak itu.

18. Kita diamkan dahulu, alkisah menurut ceritanya, ada orang yang mau menebusnya, yang tinggal di antara Sadad, seorang wanita yang sangat kaya, ia mendengar berita di jalan, ada anak berwajah tampan.

19. Segera hendak ditebusnya, dengan orang (budak) selaksa delapan ribu, yang dimilikinya itu, si orang wanita tersebut, hatinya tergugah mendengar kabar tersebut ,maka ia pun pergilah, ke rumah yang bernama Malik.

20. Segera masuk ke pintu, maksud menebus, tanya pada si Malik, kalau benar mau menjual anak itu, setelah bertemu dengan Baginda Yusuf, terhenti tak kuasa mengucap, tercengang melihat rupanya, diaangkanya bukan manusia.

21. Yang (Tuhan) yang memiliki kekuasaan, ia bertanya pelahan, anak milik tuan itu, benar-benar saya kagum melihatnya, dulu-dulu tak terdengar beritanya, lagi pula di jaman kuna, belum pernah kutahu rupa macam ini.

22. Saya mendengar berita, hendak menebus pada tuan, ia menawar karena akan membelinya, mudah-mudahan tertebus dengan sah, oleh sang peminat terhadap yang dikehendaki itu, meskipun uang sejagat ini, benar-benar tiada artinya.

23. Baginda Yusuf berkata, aku diciptakan oleh Yang Widi, kalau kau belum mengetahuinya, aku ini ibaratnya, berkuasa atas kalian semua, karena dihias, maka aku nampak tampan.

24. Wanita itu mengucap, Baginda Yusuf , pantaslah tuan ini, meneguhkan saya, seperti kata tuan, kalau Tuhan menjadikan semua itu, maka wanita itu pun, sudahlah memiliki iman.

25. Ia pun menjadi (masuk) Islam, uangnya didanakan kepada para fakir miskin, karena mendapat berkah Nabi Yusuf, maka si wanita tersebut, sudahlah berbakti sampai pada ajalnya nanti, sungguh amat berbakti, banyak orang mengetahuinya.

PUPUH VII
DURMA

1 . Tidak diceritakan lagi si wanita itu, alkiSah ada cerita pula, sang putri di Temas, yang bernama Zleha ketika berusia sembilan tahun, parasnya cantik, sangatlah terkenal.

2. Kaya akan mas, ratna, mutu manikam, ayah ibunya mengasihi sekali, dituruti kemauannya, tak berani menolak, kalau ada kemauannya, selalu dituruti oleh ayah ibunya.

3. Setelah demikian putri Jaleka, maka ia pun bermimpi, bertemu dengan Baginda Yusuf, sangatlah, ia jatuh cinta, dalam impian itu nampaklah dulu.

4. Setelah terbangun dari mimpinya, putri Jaleka, menjadi kenes birahi rindu, maka pagi-pagi, mendatangi ibunya, keduanya saling berkata, mengapa engkau, menjadi kenes setengah birahi.

5. Menjawab halus putri Jaleka, lbu hamba bermimpi, malam hari itu, melihat, pria tampan alang-kepalang.

6. Rupanya tak ada tandingnya, belum pernah hamba melihat, orang seperti ini, rupa dan tampangnya sangat luhur, kulitnya kuning, tubuhnya mengkilat, seperti mas yang digosok, mata redup hitam bening, seperti air menetes, badannya seperti kencana.

7. giginya seperti mutiara rapi, kalau tersenyum serasa mania gula, mengeluarkan cahaya, dad tawanya tersebut, lagi pula sinarnya, tak ubah sang, surya rambutnya hitam halus.

8. Tak kuasa aku mengingatnya, akan rupa sang tampan, di belahan bumi (dunia) ini, kalau ibu mencarinya, masakan akan bertemu seperti itu, setengah hamba bangun, orang itu tiada lagi.

9. Itulah sebabnya ibu, saya menyandang birahi, rindu pada siapa dia, ayah ibunya berkata, duhai, anakku, jangan kau menjadi gelap hati, kalau memang ada, si dia tersebut.

10. Akan kupanggil kupertemukan dengan kau, kalau tahu di mana tempatnya, kalau kau memang, tahu tempatnya, anakku, nanti kuantarkan, kepada orang yang Nampak, di malam hari itu.

11. Setelah bermimpi sering menyandang rindu, pikirannya selalu melamun, yang diangankan, hanya yang menggoda di hati, rindu akan si dia, setelah, genap setahun kemudian.

12. Ia bermimpi kembali akan si dia dulu, maka bertanyalah sang putrid, selama bermimpi itu, oh, siapakah kau tuan, yang selalu kucari, yang selalu kucari, akan keadaanmu, maka menjawalah si dia, maka menjawablah si dia.

13. Aku adalah manusia tidak kawin, kalau tidak denganmu, putrid, begitu pun tuan, tak akan kawin tanpa tuan, kalau tidak diriku ini, janganlah kau, melupakannya, putrid.

14. Berprasetyalah padaku, putrid, setelah demikian, maka bangunlah, sang putri menjadi sangat, duka hati karena sedih, terbayang-bayang akan si dia yang di impikan, segeralah ayah, dan ibunya pun daTang.

15. Sangat kasihan kepada putranya, maka segeralah ditinjaunya, mereka pun .bertanya, mengapakah engkau anakku, selalu kau menangiS, sang putri menjawab, pria itu nampak kembali.

16. Hamba tanyai ia mengatakan, menjadi sesembahanku, dengan mengucap, tidak akan kawin, kalau tidak dengan hamba, menurut katanya, ia menjadi sesembahanku.

17. Setelah diterangkan segeralah kaget, bangunlah semangat hatinya, seperti ketika masih, berada dalam mimpi, seakan duduk bersanding, maka berkatalah, sang ayah dengan halusnya.

18. BertanyaLah, di mana tempatnya orang itu, menjawablah sang putrid, hamba tak bertanya, ayah, di mana tempatnya, maka hati ayah ibunya, pada bersedih, kasihan kepada putrinya.

19. Taktahan melihat tingkah sang putrid, demikianlah sang putrid, lupalah segera, tidak dapat tidur, selalu dijaga permaiSuri, di dalam iStana, sangat geliSahlah sang putrid.

20. Setahun lamanya seperti itu, kemudian bermimpi kembali, maka ingatlah dia, segera memagang Baginda, Yusuf dengan berkata lembut, tuan yang selalu hamba pikirkan, hamba dalam keadaan rindu dendam.

21. Katakan, di mana kau tinggal, tuan, menjawablah sang tampan itu, kalau kau tak tahu, sekarang kuberitahu aku berada di Mesir, setelah waktu fajar, bangunlah sang putrid.

22. Paginya sang putri mendatangi ayahandanya, tunduk sambil menangiS, ia pun berkata, dimA ayah carilah, dia yang nampak dalam mimpiku semalam, sambil berkata, tempatnya di tanah Mesir.

23. Kalau tak ketemu anaknya akan mati, maka ibunya pun menjerit, maksud hamba, ayah, sekarang cobalah dicari, pergi ke tanah Mesir, sang putri pun segera, paginya terserang penyakit asmara.

24. Tidak diceritakan dulu akan sang putrid, maka ada kiaah lagi, tentang sabda Tuhan, kepada Nabi-Nya, ucapkanlah olehmu, siapa yang benar-benar, mencari, akan bertemu.

25. Bersabda lagi kepada Dawud itu, kata-kataku ini, berlaku bagi semua, yang menyebut akan diriku, sorgaku pun, akan jatuh pada, semua yang berbakti padaku

26. sama denganku, dan semua yang pasrah kepadaku itu pula aku gerakkan semuanya yang suka akan diriku kasihku akan jatuh pula semua yang berbakti padaKu.

27. Aku mencatat segenap kerinduan padaku, hai, Dawud dengarkanlah, siapa yang durhaka, kepadaKu, kulindungi pula kejahatannya, siapa yang berbakti, kuberi pula perasaan senang.

28. Dan semua yang kukasihi, kuberi pula cobaan petaka, setelah itu kuberi pula sakit, setelah itu kumatikan, setelah meninggal, kuberi denda pula.

29. Melihat apa yang diSerahkan padaku, tiada yang lain lagi, dan Daudlah yang tahu, padaku sekarang ini, dan dikembalikannya padaku, barang siapa cinta, pasti akan aku cari.

30. Barang siapa mencariku tentu akan kutemukan, ya Daud. mereka memang bohong, sebutlah ciriku, sampai malam hari, pejamkan lagi matamu, tinggal aku yang tampak, berulang-ulang di malam hari.

31. Jika tidak bersorak beserta rohnya, yang benar – benar aku pilih, bukan pada cahaya yang merah, hilanglah nyawanya, lalu pergi kepadaku, tidakkah cinta, aku ini padanya.

32. Setelah demikian, maka Raja Temas, semua maksud sang putri, diperhatikan Sang Raja, maka ia pun menyuruh utusan, datang ke negeri Mesir, segeralah berangkat, sang menteri dengan cepatnya.

33. Tak dikiSahkan di jalan, segera datang, utusan itu di Mesir lalu turun, menghadap patih, kemudian dibawa menghadap, lalu keluarlah, Sang Sri Bupati (Raja Mesir).

34. Sudah dihaturkan suratnya, kepada Sang Raja, diSuruh membacanya, dalam permulaan kalimat, sebagai pembukaan tuliSan ketahui, saya/mendengar kabar  tuan.

35. Anak saya untuk tuan, jadikanlah permaisuri, itu lebih baik, semua terserah tuan, kalau tuan datang ke mari, terserah sajalah, saya akan menurutinya.

36. Kalau saya datang ke negeri tuan, mengantar putriku, untuk tuan, setelah membaca, surat, senanglah Sri Bupati, akan maksud dari, raja negeri Temas tersebut.

37. Sang Putri Temas sangatlah cantiknya, menjadi putri terkenal, ke lain negeri, Sang Raja Mesir, lalu membalas surat itu, sudahlah diberikan, dengan segera kepada utusan itu.

38. Lalu diaambutlah sang utusan, oleh Sang Mangkubumi, bermacam suguhan, setelah disuguh, utusan lalu pamit, kepada Sang Nata, lalu ia pun pergi.

39. Tak diceritakan di jalan, segera tiba, menghadap Sang Raja, menghaturkan surat, setelah diterima, disuruh membaca sang menteri, bunyi surat itu, Sang Raja temas senang.

40. Karena bunyi surat itu, baik, kuterima, aku berterima kasih, atas kehendaknya, diterima dengan dua tangan, atas maksudnya, akan Sang Putri Temas.

41. Sang Raja Mesir berkata, kalau setuju maksud saya, tuan antarkanlah, saya menjemput di jalan, setelah membaca surat, mengangguklah Sang Raja, berkata kepada permaisuri.

42. Setelah demikian lalu berangkat, mengantarkan sang putrid, pada pagi harinya, sang putri berhias, sangatlah eloknya ia mengenakan pakaian, raja kaputren.

43. Cantik sekali sukar dilukiskan, upacaranya indah dan bagUs, ia naiktandu, yang berhias eMas dan manikam, dilindungi payung kebesaran, kalau dilihat dari jauh, merah menyala bagai gunung terbakar.

44. Yang memikul tandu berbusana, mengenakan pakaian merah, semarakterlihat, dibawalah kemudian sang putrid, oleh hamba sahaya raja, seribu anak menteri.

45. Seribu perjurit naik kuda, onta pun keluar pula, membawa harta kekayaan, yang serba indah, ada empat puluh orang banyaknya, yang memikul dinar (uang), miliksang putrid.

46. Empat puluh orang pula yang memikul pakaian, yang serba indah-indah, sutra dan kain, segala macam busana, dan di depan tandu, takterhiTUng, jumlahnya yang mengiring.

47. Segeralah berangkat Sang Raja Temas Itu, mengantartcan sang putrid, kembali berada di jalan, sakitnya tak terceritakan, ayah ibu yang tertinggal, segeralah mereka, tiba di dusun pinggir kota.

48. Segera beristirahat dalam pesanggrahan sang putrid, diam ia duduk, berada di dalam tandunya, yang dihias serba emas dan manikam, alasnya sutra halus para hamba sahayanya, pada merubung mengelilingi.

49. Raja Mesir sudah dilapori, kalau sang putri datang, ada di dusun pinggir kota, maka segera ada yang menjemput, yakni sang Sri Bupati, tak diceritakan, pengiringnya banyak sekali.

50. Dengan segala upacara naik kuda, dan Sang Raja, naik kendaraan kuda, pelananya bersalut emas, diteretes dengan intan, cahayanya bersinar, bila kena sorot matahari.

51. Ada pun pengabaran Sang Raja, dengan upacaranya indah, dipajang kembar, dibalut intan berlian, ditabur mirah delima, tak diceritakan lagi, tibalah di dusun pinggir kota.

52. Turunlah Sang Raja dari kendaraan, mendatangi sang putri, semua hamba sahaya, kini pada melihat, menuml penglihatan sang putri, bukan yang terlihat, di dalam mimpi.

53. Melengos sang putri menutup wajahnya, dengan sedih dan menangis, taksudi melihatnya, berkata kepada hambanya, disuruh mendekat sudah, raja yang datang itu, bukan si dia dalam impian.

54. Kata si abdi dayang jangan begitu, benar Sang Raja Mesir itu, adalah jodoh Paduka, yakni yang datang ini, sang putri sedih menangis, tingkahnya tidak keruan, demikianlah sang putri itu.

55. Kalau didekati oleh Sang Raja, ia menjerit menangis, betapa semakin sakitnya, pingsan di dalam hati, segeralah ia tak sadar diri, para hamba sahaya, bingung untuk menolong.

56. Abdi dayang dan emban menangis, segera melihat, Sang Raja, terhenyak kebingungan, melihat sang putri itu, tak sudi ia, lelah untuk menanti.

57. Terduduk ia berangan-angan, sebab apa semua ini terjadi, kepadaku ia tak sudi, demikian sang putri, ramai-ramai didekati, sampai sehari, semalam tak sadar diri.

58. Paginya ia siuman dan duduk, setengah duka melamun, berbicara di dalam hatinya, bagaimana aku ini datang ke mari, menjadi khawatir karena begini, tak berdayalah ia, Sang Putri Jaleka itu.

59. Setelah demikian datanglah Sang Raja, setengah marahlah raja itu, maksudnya ia hendak membawa, sang putri itu, pulang ke negeri Mesir, maka berkatalah ia kepada abdi, Sang Putri Jaleka.

60. Sang Raja kini mendatangi tuan, sang putri pun melihat, hatinya cemas pelahan ia bicara, ia bukan yang ada di dalam mimpi, dalam impianku itu, yang nampak di waktu dulu.

61.Orang yang dalam impian itu jodohku, di mana nanti ketemu, aku akan kawin, mendengarlah Sang Raja, apa yang dikatakan sang putrid, ia pun menerima di hati, sembuhkan amarahnya.

62. Menjadi kasihanlah Sang Raja, maka sang putrid, mendengar suara, dari keadaan yang tak Nampak, kata suara itu memperingatkan, sang putri janganlah susah dan prihatin.

63. Jangan kau semakin menolak, menu rut sajalah, kepada, raja itu, karena lewat dia kau akan bertemu, dengan orang dalam impian itu, lewat Sang Raja itu, di belakang hari.

64. Setelah mendengar suara itu, tenanglah hati sang putrid, percaya kepada berita tersebut, lewat ucapan suara tadi, yang terdengar tadi, setelah demikian, menurutlah sang putrid.

65. Demikian juga hamba Tuhan ini, yakni bagi para yang mukmin, ketika hati cemas, pada hari kiamat, mendengar suara Yang Widi, bersabda ia, hambaku ini.

66. Jangan kau cemas dan sedih di hati, duhai hambaku maka hilanglah segera, cemas dan sedih di hati, percaya akan utusan Yang Widi, demikianlah dia putri Jaleka itu.

67. Menurutlah sang putri dibawa, diiring keluar, oleh Sang Raja, setelah tiba di luar, dinaikkan dalam tandu yang indah, sedang Sang Raja, naik kendaraan kuda gagah.

68. Tak diceritakan di jalan, segeralah mereka tiba di istana, penuhlah mereka yang, pada melihatnya, semua pada menyanjung, segeralah tiba di dalam puri.

69. Turunlah ia dari tandu, diiringkan pulang, oleh Sang Raja, menuju ke rumahnya (tempat yang disediakan), tempat tidur indah dan bagus, semua memang sudah disediakan, tempatnya lebih dulu.

70. Tiba di iatana memang sudah sedia, tempat tidur sang putrid, istana kencana, dihias dengan manikam, dihias-hias dengan indahnya, dengan sutra dewangga, semuanya sangatlah elok.

71. Demikian pula tempat tidurnya, serba gemerlap emas, diteretes intan, mutiara yang bersinar menyala, dari jauh seperti gunung api, penuh ratna, abunya harus wangi.

72. Harum semerbak tak hilang-hilangnya, dengan bau jebat kasturi, tak lupa pula ibarat direndam, gula sehingga manis rasanya, memabukkan harum wangi, di seluruh istana, memenuhi istana sang putrid.

73. Arkian semua para istri, mereka pada bertemu, sama-sama tercengang, melihat warna sang putrid, yang baru datang ini, sangatlah berlebihan kasihnya, Sang Raja Mesir itu.

74. Alkisah sang putri di dalam istana, marah kepada para madu (istri raja), ditempatkan dalam istana baru, ketika hari mulai malam, Sang Raja berkenan, bercengkerama dengan sang putri.

75. Maka digantilah rupa oleh Yang Sukma, akan sang putri tersebut, sebagai gantinya, dalam tempat peraduan bersama Srinarapati (raja), putri Jaleka dilindungi oleh Yang Widi .

76. Tak kuasa lagi pria melihat, kepada sang putri itu, memang tidak dipastikan untuknya, karena ia ditentukan untuk Baginda, Yusuf oleh Yang Widi, sang putri tersebut, tak hilang jua rasa asmaranya.

77. Setiap hari masih mengharap-harap, akan impian dulu, sang putri Jaleka, akan berbahagia, dengan Baginda Yusuf, sedangkan Sang Raja, hanya sekedar memiliki.

78. Demikianlah permaisuri Nabi Suleman, yang bernama putri Balkis, yang berbahagia itu, demikianlah Nabi Suleman, ratu itu bernama Siti Rinjing, sekedar suruhan dusunnya.

79. Begitu pula permaiauri Baginda Musa, tercerita ialah, yang bemama Masiya ratu yang cantik itu hanya sekedar memiliki Baginda Musa itu adalah yang memiliki.

80. Begitu pula permaisuri Baginda Rasul tercerita pula yang bernama Katija Baginda Rasul itu ialah yang berwibawa yakni raja umar hanya sekedar memiliki.

@@@

%d bloggers like this: