alangalangkumitir

Javanese Manuscripts

SERAT SEH JABAR SODIK (terjemahan)



® Pupuh 01 ®

ASMARADHANA

01. Aku mulai menulis, pada hari Sabtu, Kliwon lengkapnya, bertepatan dengan bulan Dulkaidah, tanggal delapan. Di tahun Jimawal, saat awal aku menulis.

02. Penulis memohon maaf, kepada pembaca, maaf yang sebesar-besarnya, karena belum pandai, mengarang masih sedang belajar, (karena) aku hanya orang bingung, dan tidak tahu tata karma.

03. Jika ada yang salah dalam tulisanku, semoga dimaafkan, andaikan salah, harap dikira-kira saja, oleh para pembaca, serta lebih dan kurangnya, semoga dimaafkan.

04. Tersebutlah yang menulis, (adalah) orang yang sangat maksiat, tidak mempunyai pekerjaan, (hanya) gayanya seperti orang pada umumnya, sangat lancing memaksa untuk bisa, lagi pula sangat melarat, (dan) culasnya bukan main.

05. Sedangkan hati harus merasa angkuh, menganggap (diri) mampu menyalin bacaan, seakan hanya, lagi pula sastranya (pengetahuannya) tidak karuan, buruknya bukan main, tetapi tidak mau membangkang pada yang member, harus (aku) yang disuruh mengerjakan.

06. Dihentikan tentang penulis, tersebutlah tanti tembang, berikut yang akan berlangsung ini, adapun judul bacaan, Seh Jabar sebutannya, bacaan yang akan disalin.

07. Sangat kuat tapa sang Resi, sunah dan wajib dikerjakannya, berdasarkan syariat tindakannya, tarekat yang diselaminya, memantapkan hakikat, untuk mencapai makrifat, yang bertempat di Gunung Jumblah.

08. Yang kedua ia sudah dikenal pandai, dengan nama Seh Wali Jabar, sudah tinggi derajatnya, demikianlah ketika diceritakan, Wali Seh Jabar, member pelajaran kepada istrinya, tentang tekad yang sempurna.

09. Nyai Mutmainah berkata pelan, hamba mohon paduka, tunjukkan jalan, dan hamba jika bekerja, sibuk menenun, tidak syirik, kepada Tuhan Yang Maha Mulia.

10. Seh Jabar menjawab pelan, jika engkau bekerja, mengerjakan apa saja, (itu) ibaratnya tubuhmu, yang menggerakkanmu, tak lain (adalah) Penguasa Agung, yang menggerakkan ragamu.

11. Jika tlah sampai engkai yayi, berbantal penyangga dunia, patuh jangan sampai bergeser, dan kukuh imanmu (tidak) goyah, jangan berubah-rubah tanpa niat, porosnya tindakan yang benar, putarannya puji-pujian.

12. Selanjutnya kendali hidup, telingannya pendengar, inti penglihatan pada gulungan benangnya, berkumpulnya rasa, ikatnya taubat dan sholawat, lawannya penarik pengetahuan, kelosnya adalah bersatunya tekad.

13. Muson ini luas di akal, bercampurnya kilatan cahaya, pilihlah yang buruk dan baik, pakailah enam kata dan petunjuk, pelajari penguasaan, gulunglah dan permudah jalannya, antara dengan perkiraan.

14. Itu kehendak Hyang Widi, jangan salah menerima, lihatlah yang mencipta, itu kehendak Hyang Suksma, berhenti putaran roda, sangkutan untuk memusur kapuk sebagai pengingat, tali busur yang tidak diragukan lagi.

15. Segeralah dimulai, lekaslah menjalankan syariat, berhenti untuk melihat rekaatnya, taubat dengan sholawat, jika telah ditunaikan, patahkan dengan pengetahuan, jalinlah dengan ikhtiyar.

16. Rebuslah dengan air suci, api yang bergolak dari dzat mutlak, hati yang bersih itu kayunya, ombaknya doa yang diucapkan dengan pelan, tetapi berhati-hatilah, keluarkan sabarnya, bilaslah ragamu.

17. Tepuklah dengan teliti, niatkan (untuk) mematikan raga, kendalikan akal budimu, jangan berhenti penglihatanmu, pada Hyang Maha Mulya, kanjilah lakumu, lumasilah dengan tawakal.

18. Keratnya adalah berpindahnya budi, sikatnya untuk pembilas raga, hilankanlah kotorannya, yang melekat pada badanmu, (karena itu) tidak bisa bercampur, maka ragamu (harus) dibersihkan, agar dapat bersatu dengan suksma.

19. Mengusai jalannya pengetahuan, gelondong keempat keblat/arah, doa yang tak henti diucapkan,yang seolah mengerti, dan menutup pandangan, dibersihkan agar pengetahuannya terbuka, yang sesuai pilihlah.

20. Kekuatan panggulung tauhid, lakukan sesuai pedoman, akhirnya tidak berubah, epor dijadikan timbangan, capit sebagai penegak pandangan, bilahnya ubtuk keteguhan laku, aliran air yang mencampurkan raga.

21. Makanannya untuk burung parni, teropong bulan sabit, terang di hati wadahnya, buah belimbing sebagai pendesak laku, basuhlah dengan air suci, kayunya sebagai ilmu, alat tenunnya adalah iman yang tetap.

22. Itu jika waspada akan ilham, jangan putus pandanganmu, lihatlah yang membuat, teladannya menata syariat, incing dengan pandudut, tuntaskan penegas pengetahuan, dan dunia telah tergelar.

23. Hamba ingin bertanya lagi, seandainya diri hamba, digerakkan oleh Tuhan, ibarat tulisan di papan, bagaimanakah tentang itu, hamba mohon petunjuk, sambil mengusap Sang Raja.

® Pupuh 02 ®
S I N O M

01. Seh Jabar lalu menjelaskan, perihal orang membatik, sebenarnya tergantung pada dasarnya, jika dasarnya baik, dilukis dengan motif sawat yang baik, jika dasarnya jelek, dilukis mesti belang, dan terlihat jelek lukisannya, akhirnya kembali ke dasar.

02. Pada suatu hari yang baik, sang ayu ingin membatik, latarnya alam semesta, kualinya ibarat kandil, malamnya rasa sejati, lilinnya intan, cantingnya kalamullah, dasarnya loreng yang indah, motifnya benama ayan sabitah.

03. Kayunya tafirullah, apinya roh ilafi, asapnya Nabiyullah, tungkunya alam sahir, sapitnya tidak berubah, pandangannya sangat waspada, disangga dengan tangan kiri, ibarat bumi batinnya, terlihatlah bayangan Dzat Allah.

04. Sebelum terjatuh, di tempatkan yang akan ditulisi, karena sudah diperkirakan, oleh sang juru bahasa hati, dan telah sesuai dengan gagasan, antara lahir dan batin, menyikati pola, pada garis hitam yang diturut, dalam hati teliti (dan mencapai) kesempurnaan.

05. Berilah lilin denha sukarela, tetapi berhati-hatilah, jangan melanggar larangan, karena telah ditetapkan, oleh Sang Ahlul pasti, letaknya warna birunya, warna putihnya sudah jelas, hitamnya telah terang sekali, telitilah akan semua itu.

06. Keluarkan di alam arwah, agar warnaya berubah, diamkan dialammu, supaya tumaninah pula, berserahlah kepada Tuhan, itu kehendan Yang Maha Agung, terima segala perintah, laksanakanlah dengan hati-hati (keluar masuk), seberapa sempurnanyakah dirimu.

07. Kelak jika telah dikanji, saatnya diberi warna biru, jika telah diberi soga, jangan sampai engkau, redamlah dalam air kapur dinda, tetapi jangan lama-lama, pakailah kira-kira, kau mengharap mati, berapa sulitnya susukmu dicabut.

08. Dinda berkata sambil menyembah, pada suaminya katanya pelan, wahai suamiku, paduka sungguh lelaki mulia, yang akan menerangi, kepala hamba (wahai) tuan, bagaimanakah pangeran, hamba mendengar kabar, (tentang) yang disebut nyawa itu.

09. Seh Jabar lalu berkata, benar belahan jiwaku, engkau ada kekasih kakanda, sungguh ada kekasih kakanda, sungguih (mulia) kau manusia, jika kau belum tahu, yang disebut nyawa itu, terdiri atas lima perkara, tentang yang disebut nyawa itu, dinda ketahuilah tempatnya satu persatu.

10. Awal mulanya ada nyawa, terjadi dari cahaya sejati, kedua yang disebut, yang ketiga adalah akal, yang keempat itu, ada yang bergerak itu namanya, yang kelima bernama nyawa, batinya badan dinda, itulah dinda yang disebut nyawa.

11. Awal mula ada pada dirimu, mula-mula dari cahaya, itu adalah sifatmu, sebabnya ada pergerakan, karena dari roh yang hidup, sebab luas akalmu, karena adanya akal, sebenarnya hati ini, sebab kau bisa berucap karena Allah.

12. Awalnya da penglihatan, karena cahaya yang menerangi, sebab adanya gerakan, karena roh yang bergerak, sebabnya ada budi, itu hati awalnya, sebab ada rasa, karena Alah yang menggerakkan, nafsu jasmanimu telah terkurung.

13. Jika nyawa belum sirna, nafsunya tidak bertemu, karena nafsumu, telah nyata berada dalam diri, jika nyata diri, nafsunya ada yang ikut, yang tidak satu kehendak, sesungguhnya nafsu ini, itulah yang disebut kurungan nyawa.

14. Awalnya ada satu, sesungguhnya tidak jadi, yang ada pada ragamu, bertempat didalam diri yang sejati, yeng ketiga, yang dahulu telah dibicarakan, diri sendiri, yang ketiga diri terjali, yang kedua disebut diri kaprah.

15. Keempat yang disebut diri, kepala itu lagi, kelima disebut jalki(?), itulah diri sejati, itu yang menyebabkan awal manusia itu, jika kau mengetahui hal itu, menerapkan satu demi satu, yang disebut manusia sukma.

16. Sempurnalah segala yang kau lakukan, tidak saling bertemu, dengan diri tersebut, pengetahuan rasa sejati, manakah yang disebut nyawa dinda, itulah diri namanya, bukan berbentuk waktu, sesungguhnya diri itu, rasa itu yang menjadi kurungan Muhammad.

17. Muhammad adalah akhir yang tunggal, tak ada yang lahir lagi, karena telah tiba di akhir, datullah yang selalu terlihat, jika ada yang sudah terlihat, sifat yang mulia itu, Muhammad tidak tersebut, datullah yang terlihat, karena Muhammad yang pertama yang mengucap Allah.

18. Seisi alam yang terhampar, ini berawal dari, semua shalat, Muhammad yang pertama berucap, karena itu dinda, turutlah pada perintah, selain itu perjelaslah, Muhammad yang sejati, yeng member petunjuk kesempurnaan pada dirimu.

19. Jangan ikut orang banyak, bagaikan lebah yang berpindah tempat, tak jelas akhirnya, sesungguhnya manusia itu, waspadalah dirimu, jangan kau terpengaruh, ingatlah dalam hatimu, bahwa sesungguhnya manusia itu, (wajib) mengetahui Tuhannya.

20. Sang istri berkata pelan seraya menyembah, pada suaminya, duhai tuanku pangeran, kau sungguh pria sejati, yang pantas menerangi, pada hambam, orang agung, bagaimanakah pangeran, hamba mendengar berita, yang disebut Muhammad yang sejati.

21. Yang menyempurnakan diri, yang mengislamkan diri, hamba ingin mengetahui yang sebenarnya, sejatinya Muhammad, dan berapakah, aksara yang ada, pada diri Muhammad, hamba ingin mengetahui, terangkanlah hamba ingin tahu.

22. Seh Jabar berkata, wahai dinda permata jiwaku, kekasih hatiku, engkau perempuan hebat, bukan main pertanyaanmu, kalau aku tidak mendengar, (dari) perempuan sepertimu, kanda akan menjelaskan, jika dinda belum paham tentang hal yang sebenarnya.

23. Ada empat hal dari Muhammad, yang ada dalam diri ini, empat perkara itu, sedah kanda dengar beritanya, sang dinda berkata pelan, bagaimanakah penjelasannya, sejatinya Muhammad itu, manakah aksara yang awal, itulah yang hamba ingin tahu.

24. Seh Jabar berkata, adapun yang pertama, aksara mim awal itu, yang kedua mim akhir, aksara yang ketiga, adalah aksara he, dan yang keempat, aksara dal, itulah aksara-aksara yang ada pada Muhammad.

25. Keempat aksara itu, memenuhi langit dan bumi, tiada yang mengunggulinya, itulah aksara yang sebenarnya dinda, semua telah tercakup, segala yang terlahir, dari aksara itu, adalah satu sejalan-jalan, tiada beda antara Muhammad denganmu.

26. Dimanakah tempatnya aksara, yang empat tersebut, mim yang awal itu, dimanakah tempatnya tuan, dan mim yang kahir, dimanakah kedudukannya, jelaskanlah pada hamba, juga tentang aksara tersbut, aksara dal di manakah tempatnya.

27. Seh Jabar kemudian berujar, duhai jiwaku, permata peraduan, kau adalah perempuan sejati, bernar pertanyaanmu, jika kau belum tahu, aksara mim awal itu, ada di kepala Muhammad dinda, sedangkan aksara mim akhir itu ada dihati Muhammad.

28. Aksara he itu, di dada Muhammad dinda, adapun aksara dal, di kaki Muhammad dinda, itulah aksara yang pasti, yang teramat luhur, di seluruh alam, keempat aksara itu, berkumpul menjadi satu.

29. Sang adinda lalu berujar pelan, hamba bertanya tuan, tentang alam mim awal itu, dan alam mim akhir, hamba belum tahu, mohon penjelasannya, serta aksara dal, apa awalnya, kasara ke apakah alamnya.

30. (Sebutannya) adalah alam napul, tiada berpaling dari rasa kasih, merasa bahwa telah bersatu, sembah dan puja yang meliputi, alam malakul itu, sesungguhnya jika dipuja, penyembahanmu, tiada berpaling dari puji, tanpa terasa dikasihi oleh Tuhan.

31. Aksara he itu, berada di alam jabarul, yang dinamakan manunggal (sepercampuran, segala isyarat (dan) kehendak, merasa berlebih, keluasan budi tiada menyurut, membesarkarkan did al, aksara dal bertempat, di alam laut, yaitu alam yang terakhir.

32. Merasa bahwa dirinya dikuasai, tiada goyah dalam berbakti, merasa hanyalah seorang hamba, maka berbudi pekertilah yang senantiasa, itu yang dijumpai, dalam penjelansanku, tentang aksara, yang ada pada Muhammad dinda, maka pahamilah penjabaran keempat aksara (itu).

33. Sang istri berujar pelan seraya menyembah, pada suaminya, duhai suamiku, engkau seorang pria sejati, yang telah member ajaran padaku, bagaimana tuanku, yang mengajar sampai tentang akhirat.

® Pupuh 03 ®
K I N A N T H I

01. Seh Jabar lalu berucap, kepada dindanya pelan, perempuan itu memilih, pelajaran, duhai tuanku, engkau adalah guru para perempuan.

02. Adapun dijelaskan, akasara yang masih disembunyikan, di bunyi aksara, mengenai aksara mim awal dan akhir, menyelaraskan kursi yang dibuat, awal dari aksara.

03. Adapun penjelasan, tentang aksara mim akhir dinda, jadi tanah kalamnya, yang kedua, nyatalah keberadaannya, ketahuilah awalnya.

04. Sedangkan yang berada dibelakang, adalah aksara ka yang jadi, surge dan kepunyaan, itulah asalnya, ketahuilah awalnya, diri yang sejati.

05. Aksara yang berada di kaki, terjadilah, dari seluruh alam semesta, yang muncul dari aksara alif, yang tidak berasal mula, yang awal dan yang akhir.

06. Adapun yang dikatakan, Muhammad ini, itulah dinda yang ada, menjadi awal terbentangnya kehidupan, yang harus dijaga, maka berhati-hatilah tuanku.

07. Itulah awalnya, ada bumi dan langit, surge dan neraka, hadapan dan kursi, dinding jalal itu satu, dalam aksara mim.

08. Ketahuilah awalnya, terjadinya dunia ini, dan segala yang ada, terjadinya dunia ini, sekarang telah jelas, tumbuhnya di bumi.

09. Sifatnya Agung, jadilah kemurahan Tuhan, tiada yang bingal (?), dalam lahir dan tumbuhnya manusia, akan tetapi dinda ketahuilah, asalnya lebih dahulu.

10. Yang utama dalam pengatahuan, ketahuilah tentang ciptaannya, yaitu segala yang ada, terciptanya ala mini, tetapi dinda ketahuilah, aksara yang nyata.

11. Sang istri berujar seraya menyembah, dan merangkul, aku mohon padamu pangeran, jelaskan jelaskan padaku tentang aksara ini, Seh Jabar menjawab, baiklah dinda akan aku jelaskan.

12. Tiga puluh aksara itu, semua berkumpul dalam diri, berkumpulnya aksara itu, meliputi insane kamil, ketahuilah dinda, kedudukannya satu demi satu.

13. Aksara alif terletak, ada di hati, aksara be itu, berada di mata, tepatnya pada titik hitam mata, itulah bayangan dari hidup.

14. Aksara ba tempatnya, di hidung dinda, adapun aksara se itu, ada pada bahu kanan dan kiri, aksara jim itu, terletak pada telingan kanan dan kiri.

15. Aksara he tempatnya, di hidung dinda, adapun aksara he, ada pada bahu kanan dan kiri, aksara jim itu, terletak pada telinga kanan dan kiri.

16. Aksara he itu, terletak di lambung kiri dan kanan, aksara dal itu, pada kaki kanan dan kiri, huruf ya itu, terletak pada betis kanan dan kiri.

17. Aksara sin itu, ada pada payudara,kiri dan kanan, sedangkan aksara sad tidak ada, dan aksara dhah, ada di punggung kanan dan kiri.

18. Aksara ted an le itu, tempatnya di mana, terangkanlah pada hamba, kedudukannya masing-masing, Seh Jabar berujar pelan, baiklah akan kujelaskan.

19. Te berada di jantung kiri, sedangkan ngain itu, tempatnya ada di hati, sementara gin itu, dan pa ini.

20. Ada di belikat kanan tempatnya, dan kirinya, aksara kap akhir, dan tempatnya kap akhir, ada di dahi kanan dan dahi kiri.

21. Aksara lam tempatnya, di otot ini, aksara mim tempatnya, di empedumu dinda, dan huruf nun itu, berada di punggung.

22. Aksara wawu tempatnya, tempatnya wada di kaki, dan hurufnya itu, ada did aging, aksara lam alif itu, tempatnya di suaramu.

23. Aksara hamzah itu, tempatnya ada dimana, terangkanlah pada hamba,munculnya aksara ini, Seh Jabar berkata pelan, ia bertempat pada keadaanmu.

24. Aksara ya itu, tempatnya ada dimana, Seh Jabar berkata, yaitu ada di kulit, terjadilah pada manusia, itulah kalimat manusia sempurna.

25. Siti Mutmainah berkata,kepada sang suami dengan pelan, hamba mohon penjelasan, tentang aksara ini, Jawa – Taurat – Zabur – Quran, kitab Taurat dan Injil.

26. Ada lagi berkumpulnya, tunujukkan pada hamba tuan, awalnya memakai sandangan, aksara Jawa ini, Seh Jabar menjawab pelan, baik dinda akan kujelaskan.

27. Aksara Jawa itu, ada suku wulu ini, ada taling tarung, wulu pepet, cakra ini, bertemu suku,pengkal, wulu layar wignyan bertemu.

28. Aksara Jawa Taurat itu, lalu Zabur dan Injil, semuanya sama jumlahnya 20, berjalannya huruf ini, tanda ulu itu, kalamullah yang suci.

29. Tiada bahasa maupun suara, melainkan kalamullah yang Maha Suci, yang berada di lkhil mahful itu, kalam itulah yang menulis sendiri, dari kodrat dan iradat, di arasy tempatnya menulis.

30. Kalam berputar-putra, menulis aksara sejati, kemudian berwujud aksara, yang bundar jika dilihat, dada jabar jer itu, ada apespi (/) ini.

31. Serta turunkanlah,puji kadim melimpahi, aksara yang mula-mula itu, yaitu aksara Arab, berikutnya adalah aksara Jawa, tidak diganti dengan Jawa.

32. Tetapi hanya tinggal modalnya, aksara Jawa itu, berada di kirimu, yang di kanan ini, Jawa dan Arab menjadi penerang, di alam  kawi (?) yang semu.

33. Awalnya hanya aksara itu, menerima firman, Allah awalnya aksara, (yang) menjadi nyata dalam diri, itulah yang dinamakan nekat (nukad), elloh (?) kalam yang ada dalam diri.

34. Ketika berada dalam tempat itu, dinamakan kat (nukat) gaib, ketika tersentuh kalam, dinamakan dinamakan menyerahni sinokat (?), mulai saat berada di alam, ketika nekat (nukat) berada pada kalam.

35. Yang bersinar berkilauan, banyak macamnya tanpa tepi, disebut yah (?), tempat sinokat (?) ini, ketika belum jatuh di kedudukannya, dank au belum bersuara.

36. Disebut ahadiyat, kemudian turu, dan yang bertempat,yang satu disebut Nadrahni, itulah awal terjadinya aksara, 30 dalam diri.

37. Seluruh aksara bersatu, tidak pada alif ini, ketika aksara Arab berada di tempat yang suci, dan telah mencapai 40 hari, akan berwujud bundar seperti ini.

38. Wujud itu kemudian, menjadi “jabar seh” ini, ada pula yang menjadi ‘pespika’, dan dituruni atasnya pujian, Laaillahailallah, yang berlimpah.

39. Itulah aksara yang sejati, yang berada pada diri kita ini, itulah awal mula aksara, yang terjadi di diri kita, aksara sejati itu bersatu, dengan aksara Jawa.

40. Letaknya ada di kiri kanan, serta atas bawah, pria dan wanita, agama dan drigami, adapun awal adanya sandhangan,ketika berada si drigami.

41. Memperbaiki tingkah laku ini, dua agama ini,bawalah tatakrama (tingkah laku dan budi pekerti), ketika aksara ini, masih terjabar rasa cinta, dan aksara yang jadi.

42. Yang tanpa sandhangan itu, tak lazim dalam menyinari, aksara Jawa dan SArab, rebutlah seperti sekarang, seumpama tanpa sandhangan, tata karma dan drigami.

43. Aksara mim di rambut, yang mengeluarkan darah, aksara kap itu, ada di bahumu, aksara jim itu, di bahu kirimu.

44. Aksara dal berada, dip aha kanan dan kiri, adapun re itu, berada dip aha kira tepatnya di betis, Seh Jabar lalu berucap, seperti yang kujelaskan sebelumnya.

45. Merasa bagai tersiram padi, kata-kata orang bijaksana, duhai Tuanku Pangeran yang tampak bagai nagasari, tuanku yang menerangi, kepada hambamu ini.

46. Hamba memohon, jelaskanlah pada hamba gusti, bertemunya badan dan nya, dimana tempatnya bertemu, saya memohon paduka, yang disebut nikah batin.

47. Seh Jabar kemudian berucap, duhai prmata pujaan hatiku, tak pernah aku menyangka, bahwa engkau adalah perempuan utama, yang menanyakan rahasia, (Seh Jabar) terpesona pada ucapan sang dinda.

® Pupuh 04 ®
ASMARADHANA

01. Nyi Mutmainah menangis, mendengar wejangan sang suami, hatinya dipenuhi rasa kasih, seraya mencium kaki suaminya, wahai tuan jelaskanlah pada hamba, tentang makna kawin batin, bertemunya badan dan nyawa.

02. Seh Jabar menjawab pelan, bertemunya badan dan nyawa, bertempat diperut ubunya, dan disaksikan oleh lima perkara, kabal dan bada, mengo dan thata itu, sedangkang pepsa ideng iman.

03. Kabla  berarti, penutup ucapan (?), badan berarti perintah, keduanya telah tetap, sifat daru ucapan, tiada yang salah, (dan) hampir sempurna.

04. Badan tersulam, atas empat perkara, yang pertama adalah penerimaannya, yang kedua tempatnya, yang ketiga tanpa tindakan, dan rusak miliknya, itu lengkapnya empat (perkara).

05. Adapun yang dibawa oleh nyawa, (juga) terdiri dari atas empat perkara, yang pertama yang disebut budi, yang kedua adalah angan-angan, ketiga ingatan pada rasa, dan keempat adalah hidup, itulah bawaan yang sejati.

06. Sedangkan kelima perkara ini, merupakan bawaan dari Tuhan, pertama adalah ucapan, kedua pendengaran, ketiga penglihatan, keempat penciuman, (dan) kelima adalah nasehat.

07. Kasih menjadi maharnya, walinya adalah ucapan, saksinya adalah rasa, harga maharnya adalah emas, yang menikahkan adalah nyawa, di ijabkabulkan penghulu, dengan mengucap sahadat mutasita.

08. Setelah engkau menikah, badan dan nyawa, sifatnya telah tetap, yaitu sifat selaku manusia yabg disebut hidup, dan dijadikan yang pertama, menjadi dua yang satu.

09. Geraknya benda dinda, dan geraknya nyawa itu, gerak hidup yang sesungguhnya, anugerah yang menyebabkannya, nyawa atas badan, penuh sesak, menyaksikan pada keindahan.

10. Yang disebut dua menjadi satu, satu perbuatan dan satu kehendak, itu namanya makhluk, punya empat perkara, suka dan duka, sakit dan meninggal yang dimiliki.

11. Penerimaannya itu, badan terdiri atas dua perkara, menerima dan dikuasai, yang kedua tanpa tindakan, nyawa menerima dua hal, pertama mengingat adanya badan, (dan) kedua takut pada Tuhan.

12. Keberadaan manusia itu, atas kehendaknya Tuhan, apa yang diperbuat badan, merupakan cerminan nyawa, dan apa yang diperbuat nyawa merupakan gerak Tuhan, badan dan nyawa tidaklah memiliki.

13. Nasehat-nasehat yang bersifat panas, dan merusak, jelasnya merusak, karena tidak mengingat Allah, berarti tidak mengingat Allah, tidak mengingat Sang Maha Agung, tidak mengingat Tuhan.

14. Artinya tidak mengingat, yang mengucap adalah Allah, Allah pula, yang menyebut asmma Allah, itu pastinya Allah, yang melihat Allah, itu juga Allah.

15. Ketahuilah olehmu, batas hijab bagi ilmu rasa, yang disebut tetap, terdiri dari enam perkara, pertama adalah jasad, kedua roh, ketiga iman yang tetap.

16. Keempat tauhid yang tetap, kelima makrifat, keenam mengaku ber-Tuhan, jika kau telah mengetahui kesemuannya, tetapi belum paham akan kesejatiannya, belumlah sempurna dirimu, kalau belum mengetahui sejatinya (dirimu).

17. Jika sudah paham dengan pasti, apa yang tak terucap itu, oleh yang telah mengetahui akan kesejatiannya, maka sempurnalah pengetahuanmu, hidup merdeka, dan sempurnalah penglihatan orang itu, bijaksana pula ia.

18. Pengetahuan yang pasti, tiada yang mendua dalam hidupmu, tiada ucapan yang mendua, pendengaran pun hanya satu, penglihatan pun satu, tiada penciuman yang mendua, tiada perbuatan yang mendua.

19. Sempurnalah menjadi satu, satu ucapan, satu pendengaran, satu penglihatan, dan satu penciuman, perbuatan dan kehendak satu, hidupmu pun satu.

20. Itulah pengetahuan yang sejati, yang telah paham pada hidupnya, sebagai hidup Allah, itulah hidup Tuhan, ucapan itu, adalah ucapan Tuhan, tiada ayat yang lainnya.

21. Penndengaranmu ini, adalah pendengaran Tuhan, dan penglihatanmu itu, penglihatan Tuhan yang mulia, penciumanmu, adalah penciuman Sang Maha Agung, semuanya atas kehendak Tuhan.

22. Ketahuilah olehmu dinda, tentang wujud tiga perkara, bertemu intinya, pertama ngiski, kedua ngasika, ketiga wujud masuk, ketahuilah ketiganya dinda.

23. Jelasnya ngiski ini, Tuhang Yang Maha Mulia, Tuhannya seluruh alam, yang berarti, sifat Allah, prilaku birahi itu, yang bertujuan mengadakan asya(?).

24. Arti dari masuk, yaitu Maluming (?) Tuhan, istrinya raekaken (?) ….., sebagai nukat gaib, hakikatnya Muhammad, yang jinatan (?) rasa itu, perempuan sejagad.

25. Pahamilah itu dinda, sifat yang empat perkara, yaitu kalam Allah, yang kedua sifat akal. Yang ketiga itu, johar roh mani wadi dan madi, itu lengkap keempatnya.

26. Roh madi mani dan wadi, itu masih utuh, lalu dipisahkan, menjadi empat sifat, uturatannya adalah, jabar jer apes dan naktu (?), jabar adalah lam awal.

27. Ajer adalah Alif, yaitu rohani, yang disebut naktu, yaitu hakikat sang nabiyullah Muhammad Rasulullah, pengetahuan tentang lima waktu.

28. Pertama menyebut kabla, yang merupakan waktu kajabat (?), waktu angin surukhul, salat dua rekaat, di dalam tutup, yaitu berarti bertemunya, badan dan nyawa.

29. Sang adinda menyembah pelan, tuanlah guru hamba, yang sangat kasih pengabdiannya, hingga tekad sempurna, dan petunjuk tuan, hamba atas petunjuk tuan, dan mendendangkan rangsang prawa.

® Pupuh 05 ®
RANGSANG PARWA

01. Ketahuilah tatacara orang bertemu, pertemuan itu tidaklah melihat pria dan wanita.

02. Pertemuan bagai antara pria dan wanita yang menjadi istri, ditata seperti bertemuanya jaruman (?) dan benar-benar bertemua keduanya.

03. Jarumannya adalah iman tauhid dan makrifat syaratnya, jika telah paham akan jaruman itu maka bertemulah ia dengan kesemuanya.

04. Bahwa suatu pertemuan tidaklah semata-mata mensyaratkan adanya pria dan wanita, jika ucapan pria dan wanita belum yakin penglihatannya.

05. Hanya mantap seorang diri tidaklah akan bertemu pastinya, yang melihat tiada Tuhan dalam tekadnya.

06. Jika ia ber-Tuhan tapi belum juga menjadi bijaksana, tiadalah yang awas selain tingkahnya sendiri.

07. Kalaulah ada bayangannya tapi belum sempurna penglihatannya, tiadalah ia mampu melihat dan itu akan menjadi kecil hati.

08. Meraba-raba dalam kegelapannya, sembahnya kacau tidak beraturan.

09. Niatnya yang telah teguh tidak diimbangi kewaspadaan akan puji-pujian, puji-pujian hanya ditujukan pada diri sukmanya sendiri.

10. Itulah letak keselamatan sembah puji, yaitu yang seakan mewujud pada hidupnya yang samar.

11. Yang sempurna karena telah paham akan putaran roda kehidupan, laku iman sejalan dengan sujudnya yang lima waktu.

12. Jika gemar bersujud tulisan sastranya, maka sujudnya maka sastranya pun mewujud di dirinya.

13. Sastra itu tulisan dan tepatnya pada diri manusia, tempat itu mengandung berbagai macam sastra.

14. Di alam semesta mewujud pada yang hidup, sebenarnya itu masuk dari hidup yang baik.

15. Al-Qur’an itu ditulis untuk manusia yang baik tempatnya, petunjuknya ditempatkan pada tempat yang baik pula.

16. Yang melihat tidak ada pujiannya, saksinya saksi itu, sudah terpuji, dan ada yang memuji.

17. Yang tidak waspada meraba-raba hingga salah dalil, salatnya mengakibatkan kekafiran, pada keyakinan dan firman Tuhannya.

18. Yang sudah luhur tidak merasa ibadahnya, hilang luluh, hanya ada sukma yang abadi.

19. Yaitu pujian sukma sejati, sejatinya tidak dengan yang terpuji, terpuji diri sendiri.

20. Dirimu itu disebut, wakhid namanya, yang memanggil pribadinya yang sejati.

21. Dirimu yang sejati adalah saling melihat, penglihatannya adalah satu, tiada mendua.

22. Hanyalah rasa yang keberadaannya abadi, tuinggal dan tiada duanya.

® Pupuh 06 ®
M  I  J I  L

01. Jelaskanlah kepadaku kesempurnaan kematian, dan kesejatian wanita, kesempurnaan hidup manusia, dan dimana kesejatian lelaku, serta tempat bakti dan janjinya.

02. Serta kesempurnaan sembah puji, jelaskanlah padaku, jika mampu kenjelaskan semua, Ki Seh Jabar bersedia juga, kalau kau ingin menikah, denganku.

03. Ki Seh Jabar berkata halus, jika itu permintaanmu, baiklah akan kujelaskan semua, tentang kesempurnaan sembah dan puji, yaitu dinda, ngadam bakdal wujud.

04. Kedudukan sembah wahai dinda, itu waspadalah, bahwa wujudnya adalah wujud badal ngadam, itu jika diterima dinda, oleh Tuhan, di sanalah tempatnya.

05. Adapun badan penyembahan dinda, orang yang batal berarti, memastikan dalam penyembahannya, itulah batalnya orang bersembah puji, dan tempat bagi kehendak, benar dan salah.

06. Nyi Mutmainah berujar pelan, iya terserah kakanda, hamba sekedar menerima saja, sempurnanya hidup bagaimana, jelaskanlah pada hamba, samar setengah-setengah.

07. Ki Seh Jabar menjawab pela, baiklah dindaku, kesempurnaan hidup adalah, jiga menjaga Islamnya yang disertai, kesemprunaan kematian, dan makrifat yang benar.

08. Ibarat orang pasrah di lautan dinad, telah mati perasaannya, orang itu matinya seperti nabi matinya, Allah (?) apakah kau telah mengerti, Nyi Mutmainah berkata, saya meminta maaf.

09. Bagaimanah kesemp[urnaan pria dan wanita, hamba belum paham, Ki Seh Jabar menjawab, sesungguhnya pria dan wanita dinda, diumpamakan burung, dang sangkarnya.

10. Yang pria adalah burung, yang wanita adalah sangkarnya, roh dan jasad itu yang sesungguhnya, benar atau salahkah itu dinda, Nyi Mutmainah menjawab, benar tuan.

11. Dimanakah persatuan pria dan wanita, hamba belum paham, jelaskan semuanya jangan tanggung, Ki Seh Jabar menjawab pelan, kau masuk pada bagian, yang orang sebut sebagai mengaji nakhwu.

12. Bersatunya laki-laki dan perempuan, ada di tasniyah, wayu sarikani itu lafalnya, keduanya merupakan sekutu, pria dan wanita, dimana tempatnya penyatuannya, pria dan wanita.

13. Adalah di lamir tasniyah, adalah sama antara uma dengan, lamir mudakar, lafalnya uma, tasninu anas satu, tidak sama, uma sebagai lamirnya.

14. Tasniah berarti dua dinda, apa bagaikan dua, sesungguhnya adalah ruh dan jasad, pria dan wanita itu satu dakhil kharij, kharij artinya jasmani, jelasnya badan luar.

15. Jasmani dan ruh yang di dalamnya, pastilah satu, sesungguhnya pria dan wanita dua, tetapi satu dakhil kharij, seperti apa dinda, apakah engkau mengerti.

16. Jika kau belum juga mengerti, tanyakanlah padaku, Nyi Mutmainah bahagia hatinya, mendengar penjelasan suaminya, ia lalu berkata pelan, hamba ingin tahu.

17. Dimana sirnanya nyawa dan jasad, jelaskanlah padaku, Ki Seh Jabar menjawab, perkataan orang yang ahli nakhwu dinda, tasniyah itu sirna bersamaan.

18. Bersatunya roh dan jasad, yaitu pada manawiyah, dan berarti di sana saja, tidak boleh menghadap ke mangani, bagaimana dinda, pahamkah kau.

19. Lafalnya adalah tur pangubi lalipi, artinya seperti itu ada pon tasniyah di rapane(?), sirnanya ruh dan jasad itu, adalah satu alif, yaitu alif unpus.

20. Nyi Mutmainah menjawab pelan, baik aku paham tuan, menghormatlah ia, seraya memotong pembicaraan, berjabat tangan sambil, mengusap debu.

21. Baik silahkan, teramat senang hati hamba, perintahlah jiwa hamba, suseka tuan, Ki Seh Jabar gembira dan berkata, tunggulah, dhandanggula di depan.

® Pupuh 07 ®
DHANGDHANGGULA

01. Ketahuilah olehmu, pelajaran dari Seh Jabar, di padepokan gunung tembang, kepada dindanya, yang bernama Nyi Mutmainah, adalah teramat utama, telah menjadi guru, Ki Seh Jabar bagi dindanya, pelajarannya pada sang dinda tadi,menjelaskan tekad.

02. Siapa yang berbakti, kepada Allah, maka ketahuilah, seluruh ajaran ini, bila telah tiba waktunya, berpikirlah kau dengan hatimu, sebenar-benarnya pemikiran, basuhlah hatimu, dan takutlah pada Allah, sadarlah, banyaknya dosamu kepada Tuhan, perbanyaklah bertaubat.

03. Perbanyak taubatmu kepada Tuhan, dengan sebenar-benarnya taubat, baerpasarh diri dan takutlah engkau, sadarlah kau, bahwa akhirnya kau mati, perbanyaklah mengingat, kepada Sang Maha Agung, dan sadarlah, bahwa kau, adalah ciptaan-Nya, yang menjadi awal segalanya.

04. Awalnya ada engkau, karena diadakan Tuhan, dan hidupmu ini itu, adalah karena dihidupkan oleh-Nya, dan mulutmu itu, pemberian dari Allah, mata itu, juga pemberian dari Allah, pengetahuan, semua dari Allah, dan kehendaknya.

05. Kehendakmu itu, dari Tuhan dan kewaspadaanmu, itu semua berasal dari Allah, dan tingkah lakumu itu, semua berasal dari Allah, jelasnya engkau juga, prilaku itu, yaitu dari Allah, tidaklah sekali-kali, engkau memiliki diri sendiri, tidak mempunyai tingkah laku.

06. Tidaklah sekali-kali dinda, kalau kau mempunyai tingkah dan laku, semuanya berasal dari Allah, keberadaanmu, itu seolah-olah tidak ada, seperti bayangan, keberadaanmu itu, sebenar-benarnya, jika engkau digerakkan, tidak bergerak sendiri.

07. Jika kau didiamkan, tak diberi tingkah dan laku, maka kau akan diam saja, karena keberadaanmu itu, adalah karena diadakan oleh Tuhan, dan hilangmu, juga atas kehendak-Nya,jika dihilangkan maka hilang, sesungguhnya kau dinda, hanyalah sebuah perwujudan.

08. Sebenarnya keberadaanmu dinda, diumpamakan seperti baying-bayang, itu diumpamakan ada, keberadaamu itu, seperti wayang pada kelir, tingkah polah, dari yang Maha Agung, bergeraknya hatimu dari Allah, yang menggerakkan diri, serta kehendak dalam hatimu.

09. Gerak gerik, dan hidupnya dari Allah, semua dari Allah, kewaspadaanmu itu, kuban kewaspadaan diri sendiri, yaitu dari Allah, keinginanmu itu, bukan keinginan sendiri, yaitu dari Tuhan yang satu, perhatikan itu.

10. Penglihatanmu dinda, bukan penglihatanmu, berasal dari Allah, jadi pada hakikatnya, kau tidaklah mempunyai sesuatu apapun, begitulah hakikatnya, tidak mempunyai apa-apa, terimalah, ajaranku ini dinda, pikirkan dengan sungguh-sungguh.

11. Jika telah kau pikirkan di hati, lalu sudah kau lpakai, segeralah kau berwudhu, mengambil bulu dan bertanya, berniatlah salat dinda, ketika hendak mulai salat, engkai berdiri, hayatilah itu, olehmu, bukan keberadaanmu sendiri, bahwa kau berasal dari Allah.

12. Janganlah kau merasa memiliki jasad, jangan merasa dinda memiliki hidup, jangan merasa punya, maksud hatimu, gerakmu yang nyata, itu kehendak Allah, dan lagi, wujud hidupmu, itu bukan hidupmu sendiri, itu hidupnya Allah.

13. Sesungguhnya tidak ada yang hidup, kecuali Allah tidak ada yang ada, hanya Allah sendiri, keberadaanmu itu, sebenarnya hakikat Adam, seperti sedang tidak, di alam gaib, karena itu perhatikanlah, keberadaanmu, seperti yang tadi aku katakana, jangan kau bingung.

14. Sebenarnya keberadaanmu itu dindaku, tidak wujud itu sekalu-kali, arah oleh hakikatnya, tapi Allah yang wujud, tapi Allah yang mendengar, penglihatan itu, hanya Allah yang berkata, tapi Allah, yang berkehendak yang mengetahui, hanya Allah yang kuasa.

15. Jikalau engkau membaca usalli, tekadnya di dalam hatimu, tidak ada bentuk lainnya, hanya Allah yang wujud, hanya Allah nanti yang hidup, yang punya tingkah laku, hanya Allah yang luhur, meskipun ada dirinya, terimalah itu ngadam hakiki, tidak ada wujudnya.

16. Dan lagi satu dalam usalli, berniatlah jika engkau sembahyang, berniatlah di dalam hati, fardlu maksudnya fardlu, zuhur Asar Magrib dan Isya, Subuh itu, niatkan waktu, ketahuilah wajib dan sunnahnya, diketahui, sah dan batalnya itu, jangan kelebihan dalam niat.

17. Jika berkata jumlah rekaatnya, ketahuilah jumlahnya rekaat, waktu yang satu-satunya, sungguh jangan kliru,jelaskanlah satu persatu, dan jika membaca dalam adahan(?), ketahuilah itu, niatnya hatimu, sama nanti, jika jadi imam bacalah yang baik, niatkanlah menjadi imam.

18. Ketika berkata illahi, dan selanjutnya, jikalau engkau nanti abakir(?), kena musnah nanti percepatlah, tertawa jagad itu, oleh badannya, terkena sinar, tetapkan dalam hati, jangan engkau merasa ada.

19. Jangan sakit hati dan jangan sirik, terimalah sebanyak yang mojudat(?), itu adam sarpin semua, hanya Allah yang agung, hanya Allah yang hidup, yang mengusai semua itu, jangan ada yang terlihat, hanya Allah yang sholat dan bertakbir, mengucap Allahu akbar.

20. Yang mengucap Allah dan yang bertakbir, tidak ada perbuatan hamba, ya hanya Allah saja, adapun makhluk itu, musnah lebur dengan adam sarpin, tida ada doanya, tidak berbau wujud, tidak ada sama sekali, tetapi Allah yang sholat dan yang bertakbir, dang mengucap dengan sendiri.

21. Yang menyebut namanya sendiri, mengetahui kepada dirinya, menyembah dan memuji diri sendiri, tidak ada lainnya, yang sah dzatnya, sah sifatnya, dan sah afngalnya, tapi Allah, tidak ada wujud kedua,  satu satu satu.

22. Sempurnanya takbir hakiki, tidak ada melihat pemandangan, adanya hanya diri sendiri, maksudnya makhluk itu, musnah bersatu Adam hakiki, seperti ketika tidak ada, hingga gaib rukun, engakau jagaman(?) gamma(?), maka nanti, seperti ketika dahulu, engkau sungguh-sungguh mengetahui.

23. Diyakini adanya engkau dinda, jangan khawatir, khawatir hatimu, sebab tidak ada yang lainnya,yang takbir itu, tidak lain dari Tuhan, dzat sifat hamba, telah lebur musnah, yang membaca faitihah, yang rukuk, bersujud yang duduk, tidak lain dari Allah.

24. Tida ada wujud lain lagi, tapi Allah yang bertingkah laku, yang memuji diri sendiri, mengetahui dirinya, yang tinggi memuji dan dipujinya, tidak ada lainnya, hanya Allah yang wujud, tidak ada yang lain-lain, hanya Allah yang ada wujud hakiki, tidak ada yang menyamai.

25. Tidak ada wujud lagi, hanya Allah menyebut shalat, menyebut namanya sendiri, yang dipuji itu, memang memuji dirinya sendiri, menyembah disembah satu, tidak lain yaitu Yang Maha Agung, yang menyembah itu sukma, yang disembah itu satu Tuhan, tidak ada yang lainnya.

26. Yang takhiyat awal dan akhir, tidak lain dari Yang Maha Mulia, yang salam apa lagi, tidak lain dari Yang Maha Agung, yang menciptakan bumi dan langit, Tuhan penguasa semua itu, adapun badannya, tidak sekali kalau punya gerakan, wujud tidak silagi(?).

27. Jika sudah salam badannya dindaku, rasakanlah jika engkau,melakukan perintahnya, perintah Yang Maha Besar, yang disuruh menjalaninya, yang dihalangi dan menghalangi, perintahnya, segera engkau meminta kepada Allah, hendaknya sungguh-sungguh engkau takut,meminta maaf.

28. Bersungguh-sungguhlah engkau kepada Tuhan, semoga Allah nanti memaafkan, sebanyak-banyaknya semua dosamu, hendaknya engkau itu merasa, jikalau engkau berdosa kepada Tuhan, hendaknya banyak tobatlah engkau, kepada Yang Maha Agung, sebanyak permintaan engkau, memintalah kepada Yang Maha Tinggi, sesudah selesai sholat.

29. Orang yang meminta kepada Tuhan, jikalau tidak menjalankan sholat, tidak sah permintaannya, bersedakahlah seribu kali, jikalau engkau tidak berbakti, itu tidak diterima, kepada Yang Maha Agung, Seh Jabar berkata, dindaku saya akan mengajari cara berbakti, saya akan kidungkan salaksa.

® Pupuh 08 ®
KIDUNG SALAKSA

01. Allah itu hadapilah dengan khulur, Allah itu pujilah dengan birahi, Allah itu sembahlah dengan suci.

02. Ketahuilah dengan seksama sembah dan puji, sembah itu hendaknya yang benar tempatnya, sembah itu engkau jangan ragu-ragu.

03. Pujimu  dengan kawayangan(?) yang disebut, hendaklah disebut namanya dan masamanya, nama itu sebagai patokan penglihatan.

04. Nama itu sebagai anggota penglihatan, penglihatan itu diketahui jenisnya, sebab kafir jadi keliru namanya.

05. Kalau sudah awas penglihatannya kepada Tuhan, sebab itu namanya wali mukmin, jika sudah mendapat safaatnya Nabi-nabi.

06. Tapi jadi sempurna namanya, badanmu tulang kiri, namanya tidak sempurna di hati.

07. Nama itu dibuang lalu dipungut, nama diperhatikan berlaku seperti suci sendiri, jika tetap nama itu, itu kafir.

08. Akhadiyat hayatnya dengan khayun, jasadnya hidup dengan Tuhan.

09. Wakdat itu ilmunya dengan ngalimun, hatinya mengetahui Allah.

10. Wakhidiyat iradatnya dengan muridun, nafsunya kehendaknya dengan Allah.

11. Alam arwah kodratnya dengan kadirun, tidak bergerak  diam dengan Rasul

12. Alammissal samanya dengan samiun, telinganya mendengar Rasul.

13. Alam ajesam basarnya dengan basirun, matanya melihat Rasul.

14. Alam insane kamil kalamnya mutakalimu.

15. Semp[urna tingkah lakunya itu, kalau sudah mengerti apa yang diucapkan, ingat-ingatlah, ketahuilah bahwa takbir, perhatikan hurufnya, huruf itu banyaknya delapan, aksara alif lan awal dengan tasdid.

16. Huruf ehe alif akhir kaf ebe, genapnya delapan huruf re, Nyi Mutamainah, menyembah kaki, Seh Jabar berkata kepada dindanya, itu dinda sampai akhirat.

® Pupuh 09 ®
K I N A N T H I

01. Nyi Mutmainah berkata, kepada suaminya pelan, engkau guru hamba, terangilah aku gusti tuanku, biasanya orang sholat, dengan hakikatnya.

02. Sempurna akadnya saya, Seh Jabar berkata pelan, rukunnya sholat itu, lima perkara banyaknya, sejatinya tingkah laku, yaitu berdiri dan duduk.

03. Rukuk dan sujud, niat sempurna ini, sang adinda berkata pelan, dimana sejatinya niat, Seh Jabar berkata, yang kekal itu pasti.

04. Siti Mutmainah berkata, apa maksudnya berdiri, Seh Jabar berkata, berdiri asalnya dari api, bukan api yang terkena mati, bukan api yang dibuat.

05. Bukan api dari batu, bukan api dari bumi, bukan api neraka, bukan api yang berubah, bukan api mukjijat, sejatinya aksara alif.

06. Iya alif maksudnya, hidup tidak terkena mati, tapi sejatinya cahaya, menerangi jasmani, itu dinamakan sirullah, itu ajaranku dinda.

07. Sang istri berkata sambil menyembah, sambil memeluk kedua kaki, ya guruku, ada perkataan hamba lagi, apa asalnya rukuk, Seh Jabar berkata pelan.

08. Pendengarannya dinda, duduk asalnya angin, lam awal itu asalnya, itu cayahanya Jibril, yang ruku lam awal itu, itu jadinya angin.

09. Bukan angin lisus (topan), bukan angin yang berubah, bukan angin yang terkena mati, bukan angin yang mendinginkan, bukan angin mukjijat, bukan angi yang berasal dari gunung.

10. Bukan angin yang bisa merobohkan kayu, itu sejatinya angin, bergerak tidak berhenti seketika, siang malam berjalan, kalau tidak berjalan, jadi rusak jagad ini.

11. Yang memuji siang malam, angin yang sempurna ini, seperti air yang berjalan mengalir, sejatinya angin ini, yaitu angin nafas, yang mengusai badan.

12. Ikatan hidup itu, jumlahnya ada empat perkara, yang pertama nafas, tanafas yang kedua, yang ketiga anfas, yang keempat nupus.

13. Yang berada di denyut jantung (kêtêtêg) itu, nufus yang keluar dari telinga, tanafas yang keluar dari hidung, anfas yang keluar dari mulut yaitu, nafas kuning warnanya, yang berwarna merah itu tanafas.   

14. Yang berwarna putih itu nufus, dan yang berwarna hijau itu nafas, sedangkan pujinya napas itu, innahurabna ini, dan illallah itu pujining anfas, sedangkan punjinya tanafas itu.

15. Lailahaillallah itu, dan pujinya nufus, yaitu ya hu Allah, yang seperti itu sempurnalah adinda, itulah pendapatku, Nyai Mutmainah berkata ya.

16. Tuan jangan setengah-tengah, tuan jelaskan lagi, apa asalnya sujud, Seh Jabar berkata pelan, itu pendapat saya, sujud itu berasal dari air.

17. Bukan air yang bisa kering dan penuh, dan bukan air yang dibuat, dan bukan air yang menguasai, dan bukan air manis pahit, dan bukan air mukjijat, dan air yang bisa berubah-ubah.

18. Bukan air yang bisa surut/berkurang, yaitu sejatinya air, lam akhir bubiyah, iya nyawa sejati ini, siang malam tidak Nampak jelas, cari cahaya Allah yang menerangi.

19. Sejatinya air itu, yaitu empat perkara, air wadi yang pertama, manikem yang keempat.

20. Terserah bagaimana kehendakmu itu, Mutmainah memohon, meminta nasihat suaminya, bagaimanakah dengan yang duduk, Seh Jabar berkata,  duduk asalnya bumi.

21. Bukan bumi pulau gunung, bukan bumi yang berubah, bukan batu karang dan batu kerikil, bukan bumi debu pasir, bukan mukjijat, bukan bumi putih kuning.

22. Bukan bumi batu bata, bukan gua dan jurang terjal, sejatinya bumi itu, badan nakirah namanya, dari roh ilapi asalnya, nyawa dan sukma itu yayi.

23. Sejatinya bumi yang luhur itu, jika neraka dan surga, dinda terserah bagaimana kehendakmu, itu pendapatku, sang adinda berkata sambil menyembah, meminta kepada suaminya.

24. Saya sungguh ing berguru, kepada tuan gustiku, tuankulah yang akan menjelaskan padaku, itulah bentuk kasih dari suami, tuanku yang menunjukkan jalan, serta menyanyikan layon keli.

® Pupuh 10 ®
YON KELI

01. Madsudnya lagi dindaku, sejatinya api itu, iya roh ilafi, ratunya semua nyawa, bernama datullah, yang kekal kekuasaannya, itu merupakan kehendak Allah.

02. Adinda sejatinya angin, rohani yang mengikat air, yang menambahi keadaannya, yang penuh dengan rasa dan makna, dapat disebut sirullah, keadaannya memberi kekuatan, merupakaan keadaan rasulullah.

03. Dinda sejati air, roh rabani itu, yang besar daya dan kekuasaannya, rasa yang lebih sempurna, cahaya yang terang, cahaya anugrah dengan kekuasaan yang besar, dapat disebut durullah.

04. Dindaku sejatinya bumi, iya roh jasmani, letaknya dimana tuan, kalbu mukmin yaitu baitullah, yang tidak pernah putus ingatanya, kekuasaannya kepada ya hu, berhak disebut wadullah.

05. Maksudnya yang berasal dari angin, hidupnya itu semua, yang angin itu, hanya hidupnya nafas, yang berasal dari air itu, padalal itu hidupnya penglihatan, kekal di penglihatannya.

06. Maksudnya yang berasal dari bumi, pasti merupakan hidupnya rasa, dan maksudnya lagi, yang berasal dari api, he hidayatullah, seperti intan cahayanya, keluar dari hati yang bersih.

07. Yang tetap pada penglihatanmu, yang berasal dari angin itu, itulah imannya manusia, warnanya limarcu, seperti bulan purnama, keluar dari lubuk hati, itu yang harus diwaspadai.

08. Yang berasal dari air dinda, pasti makbul imannya, dihati puad jalannya, hijau warnanya, imannya itu rekeh(?), sadrah itu namanya.

09. Sungguh warnanya sangat indah, ibarat cahaya yang terturup air, dari hati yang bersih asalnya, maksudnya api itu, kekal tidak berubah,  cahayanya hidup itu, iya lautan dinda.

10. Maksudnya yang berasal angin itu, menghadap pada sirullah, seperti bintang dan cahayanya, bersinar terang benderang, seperti bulan purnama, maksudnya yang berasal dari air, mengahadap kepada rasa mulia.

12. Tidak akanberubah, cahaya yang seperti purnama, yang berasal dari api, menghaturkan cahaya, cahaya mani namanya, yang berasal dari air itu, burhan yang member.

13. Maksudnya yang berasal dari bumi, roh rahmani yang member, telah datang sang raja, Pangerannya orang sedunia, itulah pendapatku, sang istri menyembah pada kakinya, lalu berseru mengangis.

® Pupuh 11 ®
ASMARADHANA

01. Duh gusti suamiku, pangeran di dunia dan aherat, yang sungguh mengabdinya, hanya tuan guruku, apa yang saya balaskan, kepada engkau tuanku, pengabdian yang sempurna.

02. Kuterima dengan kedua tanganku, kuusapkan pada rambutku, kuukir didalam hatiku, pelajaranmu suamiku, sangat kuterima, Seh Jabar berkata, dinda berhentilah menangis. 

03. Ada maksudnya lagi, yaitu empat perkara, wujudnya api itu, yang pertama jadi wujud, dengan jantung, jadi otak yang ketiga, yang keempat dzat.

04. Yaitu wujudnya angin, lima perkara bentuknya, asma dan af’al, jinem dan limpa, sedangkan yang kelima, yang disebut paru, itu tempatnya sukma.

05. Wujudnya air yaitu, empat perkara wujudnya, darah sum-sum dan otot, keringat dan panca indriya, hati dan kekuasaan, hati puat tempat rahasia, itulah tempatnya empat rasa.

06. Yaitu wujudnya lagi, itu empat perkara, yang bumi itu bentuknya, keadaan dengan sifat, daging dan tulang, maksudnya keadaan itu, kehendak kepada kiblat.

07. Dada dan punggung, tangan dan pahanya, hidung dan telinganya, mulut dan kepala, sebanyak yang dapat hancur, itu yang disebut keadaan.

08. Campurnya tekad atau kendak itu, syahadatnya tingkah laku, takbir usholi namanya, ketahuilah itu, bila tidak tahu maka bergurulah, kepada orang yang sholatnya luhur, tidak bisa ditiru.

09. Jangan melihat yang wajib, jalankanlah yang diperintahkan, lima waktu banyaknya, itu perbuatannya suksma, kenyataannya Rasullah, iya menjalankan sholat lima waktu, itu perbuatan yang didahulukan.

10. Diserahkan kepada nabi terpilih, mulanya diperintahkan sholat, melahirkan kemuliannya, dari lima waktu tersebut, mendengar dan melihat, waktu dzuhur itu kenyatannya.

11. Empat rekaat itu, mendengar lima perkara, serta dengan penglihatannya, yaitu pada waktunya Ashar, empat rekaat itu, punggung dan panjang itu, lambung kanan dan kiri.

12. Yaitu waktu Maghrib, sholat tiga rekaat, pada Nabiyullah tandanya, kedua lubang hidung serta muka (wajah), sedangkan waktu Isa’ itu empat rekaat jumlahnya, yaitu berkumpulnya menjadi satu di tangan.

13. Sesungguhnya berada pada diri Nabi, dan waktu Subuh dua rekaat, itulah kenyataannya, roh serta jasad, itulah awalnya sembahyang, lima waktu itu, lengkap berada si badan.

14. Nabi yang terkasih kenyataanya, sholat lima waktu itu, yang menjaga  umatnya, yang menjelma menjadi syariat, menghadap kepada Tuhan yang tiada putus, menjalankan lima waktu, merupakan jalan yang mulia.

15. Sang adinda berkata pelan, bertanya kepada suaminya, Tuan menikahi saya, saya akan disuruh kemana, serta di akui sebagai apa, jika berjumpa denganku, dimanakah kita bertemunya.

16. Jika Tuan berjumpa, apakah yang Tuan cium/pegang, apakah dilihat padahal, Tuan memegang apa, saya mohon diajari, Kyai merupakan panutanku, dan Tuan merupakan guru hamba.

17. Syeh Jabar berkata pelan, hanya enkau yang terkasih, kasih sayangnya aku pegang padahal, Dzatnya aku juga melihat, serta sifay yang mulia, suksmanya aku pegang, bertemu di rahmatullah.

18. Aku buat engkau baik, pada kenyataan rasa mulia, padahal aku dan engkau, keluar dari rasa kasih sayang Allah, apakah kehendakmu, itulah pendapatku, itulah sejatinya menikah.

19. Sang istri berkata kembali, ada perkataanmu yang terlupakan, janganlah salah paham padahal, saya bertanya kepada Tuan, setelah meniduriku,  kenapa Tuan mandi.

20.   Apakah saya najis, atau makruh dan mubah, apakah hukumnya, saya mohon penjelasan, berada pada wujud tunggal, Tuan saya bosan, tidur dengan Tuan.

21. Dan Bagaimanakah Jinabat yang sesungguhnya, berapa banyaknya mukharanah, berapakah jumlahnya yang dinamakah mukharanah, Kyai berilah saya penjelasan, bagaimanakah tatacaranya, Syeh Jabar berucap.

22. Sebabnya aku mandi adinda, melaksanakan turunya Johar, yang disebut Johar adalah, asalnya air kehidupan, yang jatuh pada bumi rahmat, di dua tempat itu, maka dari itu harus melaksanakan sesuci (mandi).

23. Sesungguhnya yang ikut dimandikan, sipatullah yang mulia, beserta Dzatnya, dan sifatnya perkara, beserta wujud tunggal, tidak ada lainnya, yang berapada pada kekuasaan yang sejati.

24. Sang istri menangis keras, aduh Tuan guru hamba, sambil menyembah kakinya, hanya suamiku pangeran, yang memberikan surga, silahkan Tuan menikahi dua puluh wanita, aku yang akan menjadi abdinya.

25. Disebutkat tadi sang istri, yang bernama Nyi Mutmainah, Syeh Jabar pelan berkata, hanya engkau istriku adinda, dari dunia sampai akhirat, jika tidak berbakti kepadaku, Allah yang akan memutuskan rahmatnya.

® Pupuh 12 ®
M E G A T R U H

01. Ki Syeh Jabar gembira bicaranya, guruku adinda, mengajarkan kepadaku, sangat keras sekali, mengabdilah kepada Tuhan.

02. Mmbangun keadaan siang malam, dan jangan putus ber-murakabah, kepada Tuhan Yang Maha Agung, mengihilangkan rasa syirik, serta kedua rasa hambar.

03. Dan melepaskan kedua warna merah itu, menangilah jika menghadap Tuhan Yang Maha Esa, yang tiada duanya itu, Dzat sifat ma’aninya, padahal berdiri di af’alnya.

04. Serta penglihatanmu terletah di mata, ibarat permukaan kerta, beserta warna putihnya, tidak ada yang didalam dan diluar, dan keduanya sudah tidak bisa disebut lagi.

05. Keduanya sudah tidak bisa lagi disebutkan lagi, bersatu namun tidak bercampur, perasaan orang yang sudah datang, ketika penglihatan orang yang telah sampai pada kesejatian, semua akan kelihatan.

06. Semua mojudat (yang nyata dan samar) akan terlihat, serta melihat Pangerannya, berbagai macam suara yang terdengar, yaitu segala perkataan/kata-kata atau suara, yang menunjukkan kepada Tuhan Yang Maha Easa.

07. Dalam doanya selalu menyebut kepada Tuhan Yang Maha Agung, menyebut pada dirinya sendiri, menyatakan namanya, jikalau nama Allah ini, maka sempurnalah makrifatnya orang tersebut.

08. Sempurnanya  makrifat yang sesungguhnya, yaitu tidak melihat, terhadap diri pribadinya, dan yang disebut orang lain itu, hancur luluh pada ketiadaan (kekosongan).

09. Adam hakiki itu ketika belum bisa disebut (kosong), yaitu pada gaibul guyub, dan jangan terkecoh penglihatanmu itu, padahal nantinya,  seperti orang jaman dahulu kala.

10. Kamu harus waspada adalagi sebuah pengetahuan, bukan kewaspadaanmu pribadi, berasal dari hakikatnya, terletak pada kesebaranmu, serta dalam menjaga tutur kata (ucapan).

11. Penglihatannya dan ucapannya kepada sesamanya, sungguh merupakan sebuah jawaban yang benar, serta menyatakan namanya, dan melahirnya sifatnya itu, merupakan perbuatan yang dilakukan oleh Tuhan.

12. Perbuatan lahir dan batin itu, janganlah berprasangka darimu, beserta dengan keadaannya, diam dan bersabat itu lebih mulia,  dari tajalinya Tuhan.

13.   Allah SWT yang berwenang dan berkuasa penuh, maka lihatlah itu, dan berwaspadalah kamu, jangan sampai kamu tidak melihat, maka sempurnalah penglihatan orang tersebut.

14. Dan siapa ingin mengetahui yang sesungguhnya, ketahuilah dirimu sendiri, yang disebut diri sendiri itu, bukan johar dengan jisim, dan hakikatnya pada dirimu pribadi.

15. Letaknya hakikat itu, berada dalam ilmu/pengetahuan (kawruh), yang bernama ayan sabit (?), yaitu kadin tabingi (?), kekal/abadi tidak akan rusak orang tersebut.

16. Adanya nanti harus kamu ketahui, kamu jangan mengira, berubah dan hakikatnya, serta tetaplah berpendirian pada ilmu, yang dinamakan malum (?) kepada Tuhan.

17. Malum (?) hakiki meliharkan sifat Tuhan Yang Maha Agung, yang dinamakan Jalalan Tamil, tempat asalnya nama itu, keluar dari isim (?) alami, dan janganlah terhalangi penglihatan orang itu.

18. Siapa yang mengetahui perasaannya hidup itu, sejatinya yang dinamakan mukmin, namanya orang tersebut, ketahuilah dengan sesungguhnya, bergelar Pangeran Yang Agung, kang wajibul wujud itu, bersifat kidam baka, yang mendapatkan sejatinya mukmin.  

® Pupuh 13 ®
S  I  N  O  M

01. Dan kembali saya bertanya, menyanyikan lagu sinom, hamba meminta berkah Tuan, dimanakah letahnya roh dalam sholat, serta maksudnya lagi, nafsu didalam sholat itu, serta dimana ilmunya sholat,  dan akan bertanya kembali, seperti bagaimanakah yang dinamakan badannya sholat.

02. Dan saya kembali bertanya, hidupnya sholat yang baik, apakah badanya sholat, dan kakinya sholat sesungguhnya, dan saya bertanya lagi, apa engkau dalam sholat, saya bertanya kembali, seperti apakah tulang serta otaknya sholat.

03. Nanti jelaskanlah saya Tuan, jangan salah tangwal (?), berniat nafsunya sholat, roh dalam sholat adalah bertakbir, ada penjelasannya lagi, sempurnanya takbir yaitu, petunjuk kepada hati, yang mengucapkan adalah, tiada lain yaitu Tuhan Yang Maha Luhur.

04. Adapun yang dinamakan niat, meneguhkan didalam hati, menghadap kerahmu, dan mengahadap didalam wujud dakim (?) serta sifat kita pribadi, menghadap kepada Tuhan Yang Maha Agung, dengan tingkah laku kita, menghadap dengan tingkah laku yang hakiki, yaitu maksudnya niat yang sempurna.

05. Ilmunya sholat itu, menyatakan awal dan akhir, adapu kepalanya sholat itu, membaca Al-Fatihah dengan benar, selanjutnya rukuk itu, merupakan tulangnya sholat, duduk merupakan badannya sholat, itulah sesungguhnya hidupnya sholat yang baik, yaitu bersujud ada dua perkara.

06. Adapun badannya sholat, membaca takhiyat akhir, adapun kakinya sholat memberi salam dua kali, dan otaknya sholat yang baik, yaitu membaca doa, dan yang merupakan tangannya sholat, membaca pujian dan wirid, sudah lengkap semua ke-sebelas perkara tersebut.

07. Adapun membaca Fatihah, menunjukkan pada wujud yang baik, yaitu sempurnanya manusia, maksudnya rukuk yang baik, itu berasal dari angin, menghilangkan hak dalam wujud, sesungguhnya sujud itu, janganlah engkau melihat, semua hal yang termasuk bangsanya riyah.

08. Kaul setengah pandhita, sholat lima waktu yang baik, berasal dari kelima nabi, itu yang memiliki, cahayanya putih, itu sholat subuh, tandanya Nabi Adam itu, yang memiliki, waktu subuh itu merupakan keluarnya rasa.

09. Waktu Dzuhur yang diceritakan, kepada Nabi Ibrahim, pengakuan cahaya itu, merupakan keluarnya bermacam-macam cahaya, sedangkan pada waktu Ashar, pada Nabi Yunus, yaitu hijau cahayanya, Nabi Yunus yang memiliki, yaitu merupakan keluarnya semua nafas.

10. Sedangkan pada waktu Magrib itu, pada Nabi Musa, warna cahayanya merah muda, keluarnya cahaya berwarna, sholat Isya diceritakan, pada Nabi Isa, yaitu merah cahayanya, Nabi Isa yang memiliki, yaitu keluarnya badan dan sifat.

11. Dinda selanjutnya apa kehendakmu, aku menurut padamu, berkata Nyi Mutmainah, sambil menyembah pada kaki suaminya, tetapi tuan ini, pangeranku yang sejati, dari dunia sampai akhirat, berkata Syeh Jabar adindaku, aku beri nasehat dan menembang Nglanglani Nala.

® Pupuh 14 ®
NGLANGNGLANGI NALA

01. Semua hidup ini, ketahuilan asal-mulanya, awal mulanya ilmu itu, dari manakah asal mulanya, ketika kamu belum menyembah, berhati-hatilah engkau jangan sampai keliru, bergurulah agar mengerti kawruh (ilmu).

02.  Awal mulanya kawruh (ilmu) ada, dimanakah kawruh (ilmu) itu, bukanlah nyawa dan suksma, dan bukan hidupmu, itulah yang harus ditanyakan, dan waspadalah engkau dalam berilmu, sedangkan yang dinamakan syahadat.

03. Pelajarilah dengan sesungguhnya, ketika kamu tanpa bapak, serta tanpa ibu, dari manakah asalmu, ketika kamu belum ada, serta lepas dari pengetahuan, itulah yang dinamakan syahadat.

04. Serta ketika kamu mengetahui, tentang pelajaran yang sesungguhnya, tiada berbeda dengan malam hari, waktu awalmu itu, perhatikan dengan sungguh-sungguh, itulah pengetahuanku, pembelajaran suksma kepadamu.

05. Itu gaib yang sesungguhnya, perkataan itu dilarang, bapak dan anak-anakku, itulah adinda waspadailah, tentang gaibnya pandhita (orang suci), dan tidak boleh ragu-ragu didalam hati, serta penerimaanmua hendaklah engkau ketahui.

06. Janganlag engkau berhitung, janganlah merasa unggul dalam pengetahuan, serta sifatnya Allah, dan janganlah engkau bicara, tentang imam tauhid makrifat, itu terlalu tinggi, dan janganlah melebihi sifat Dzat.

07. Selagi engkau tanpa jasad, waspadalah pada penglihatanmu, buktikanlah apakah sama nantinya, tentang datangnya kehidupan, serta tentang kesempurnaan kematian, dan yang dinamakan jasad itu, pelajarilah dengan sesungguhnya.

08. Sesungguhnya itu gaib, dinda waspadalah pada kematian, bila hidupmu telah sampai, yang kedua sesungguhnya, maka pelajarilah denga sungguh, tentang sejatinya kawruh (ilmu), yang dinamakan syahadat sakarat.

09. Ketahuilah itu dinda, kembalikan pada penglihatanmu, ketika berada dalam kalbu-, nya orang tuamu itu, pujianmu didalam hati, itulah yang dimanakan syahadatmu, tanpa sandan dan panganmu.

10. Dimanakah tempatmu dahulu, ketika kamu  tua, dan siapakah engkau itu, dimana sembah pujimu, dan dimana ucapanmu, dan kesempurnaan pengetahuan, itulah sahadat kematianmu.

11. Pelajarilah dengan sesungguhnya, isyarat yang tertulis, yang dinamakan jalan itu, ketika sampai pada orang tua, dan ketika belum sampai, yang diakui saudaranya, dimanakah ketika belum ada.

12. Sebaiknya ketahuilah dinda, ketika engkau belum ada, yang disebut jalanmu, pada isyarat yang tertulis, sebaiknya pelajarilah, dan isyarat itu adalah laku (perbuatan), itulah yang dinamakan isinya syahadat.

13. Itu yang dinamakan isi, sepantasnya ketahuilah, yang dinamakan nafsu gaib, waspadalah dan jangan memaksa, pada isyarat yang baik, jika sudah waspada, segala tingkahnya menjadi sholat.

14. Jika waspada pada petunjuk yang benar, akan berbagai macam sholat, serta syahadat sakaratnya, dan tidak mengetahui sembahyang, ketika engkau belum ada, waspadalah kamu dan jangan salah, ketika engkau mulia tanpa bapak.

15. Hindarkanlah jalan yang syirik, dan jauhkanlah jalan yang sesat, tunjukkanlah jalanmu, serta waspadalah akan tujuanmu, ketika engkau sedang tidak tahu, siapa yang engkau lihat, ketika belum berbadan dan bernyawa.

16. Itulah gaib yang sesungguhnya, dinda waspadalah pada kematian, pilihlah dari kehidupanmu, dan yang kedua perjelaslah, maka pelajarilah/bergurulah, Siti Mutmainah berkata, berkeluh-kesah dhandhanggula.

® Pupuh 15 ®
DHANDHANGGULA

01. Ki Syeh Jabar berkata pelan, terimalah dinda ajaranku, kepadamu nanti, jangan merasa tinggi, jangan merasa semua bisa, jangan berkata riyak, dan semua itu, jangan kikir dan jangan riyak, dengki dan jail (usil), jangan berlebihan bicaramu, dan jangan memaksa bisa.

02. Jangan lupa pada yang sesungguhnya, jangan kosong dan jangan terlalu senang, pada akhirnya engkau nanti, ketika ciptamu itu, jangan kadariyah engkau itu, jangan jabariyah, jangan berlebihan, jangan merampas haknya orang, dan jangan samar-samar (abu-abu, tidak jelas), jika engkau benar dekat, tidak tulus menghadapmu.

03. Ki Syeh Jabar berkata pelan, dan aku dewata dalam tempat tidur, permata di surga nantinya, semalaman tidak tidur, istrinya di ajari, tentang tingkah laku dalam kehidupan, tundukkan dan berhati-hatilah, jangan seperti aku, sebenarnya tingkah yang disembunyikan, akibatnya menjadi berbahaya.

04. Bahayanya mengetahui/mempelajari diri, sebenarnya banyak orang yang tersesat, karena banyak racunnya/halanganya, jangan seperti saya, apalagi kamu dinda, yang belum mengetahui, tentang sesungguhnya pengetahuan yang sejati, sebaiknya bertanyalah, adindaku, dalam penglihatan yang sesungguhnya ini, itu yang harus engkau tanyakan.

05. Meskipu berada didalam surga, tetap akan digoda oleh iblis laknat, orang yang luhur derajatnya itu banyak godaannya, yang seperti engkau, apalagi engkau dinda, padahal belum bertanya, tentang sesungguhnya pengetahuan yang sejati, sebaiknya bertanyalah, adikki, tentang penglihatan yang nyata di dalam diri, pelajarilah itu.

06. Nyi Mutmainah memohon dengan pelan, benar ucapan tuan, semoga berbelas kasih padaku, atas segala kebodohanku, siapa lagi yang akan menerangi, kalau bukan kehendak tuan, yang menolong menujukkan jalan rahayu (kebaikkan), Ki Syeh Jabar berkata, semoga mendapat belas kasih dari Tuhan, memberikan pertolongan kepadamu.

07. Nasehatku kepadamu adinda, jika nantinya, adinda hendak meninggal dunia, hendaknya engkau tekankan, bersuami dengan orang yang mulia, pada orang yang luhur yaitu pendhita (orang suci), engkau berbaktilah kepada suamimu, dan janganlah sembarangan (berhati-hati), pada perintahnya, itu adinda yang harus dicermati, janganlah engkau segan meminta.

08. Janganlah engkau mendahului kehendak, pada kehendaknya suamimu, laksanakan segala perintahnya, perkara najis pada anjing, bila disuruh makan, segeralan engkau makan, itu merupakan perintah suami, jika itu tidak haram, siapapun orangnya jika istri menurut pada suami, itu tandanya akan masuk surga.

09. Jikalau engkan tidur dengan suami, jangan berani engkau satu bantal, hendaklah agak dibawah tidurnya, jangan lebih tinggi, jangan sampai sama posisi tidurmu, jika tidak atas kehendaknya, itu dosa besar, sebaliknya jika sudah selesai bercinta, suamimu segeralah ambilkan makan, lakukanlah dengan ikhlas.

10. Janganlah memandang muka suamimu, itu berdosa, adikku, hendaknya segan dan perhatian, ada empat fardunya, mengingatkan suami, bersihkanlah, semua pakaiannya, serta tempatnya sembahyang, jagalah, dan tempat tidurnya, serta pada saat makan.

11. Nasi dan tempatnya, bersihkan dari kotoran, nasi dan sayuran di taruh pada tempat yang tertutup, pinggan piringnya semua, cucilah dengan air, lauk (ikan) harus yang bersih, semuanya ditutupi, siapkan dengan baik, meskipun tidak memakai ikan,  akan dimaafkan jika sajiannya kurang baik, itulah nasehatku.

12. Camkanlah nasihatku dinda, ajarkanlah kepada anakmu, semua ajaranku itu, jangan lengah engkau, berhati-hatilah dalam mengabdi dinda, jika punya kekayaan, berhati-hatilah engkau, pada penghasilannya jika ditanya suami, jangan memalukan suami.

13. Dan jagalah aib/rahasia suami, jika engkau kedatangan tamu, dari sanak dan saudara, hendaklah baik tutur katamu, tunjukkan wajah yang sopan, jika menyuruh pembantumu, janganlah sambil marah, dan jangan sampai membentak, kepada pembantumu dan suruhlah dengan kata-kata yang manis, kepada pembantumu.

14. Hati-hatilah engkau dinda, jika suamimu makan, jangan jauh dari tempatnya, duduklah disebelahnya, janganlah pergi sesukamu, jika tidak disuruh, sebab bisa dimarahi,  jika meninggalkan suami yang masih makan, jika itu dilaksanakan.

15. Adalagi pesanku, jikalai engkau dimadu oleh suamimu, bersabarlah engkau, jika bertemu madumu, merasalah engkau paling akhir, akuilah sebagai bapak ibu, atau mertua, yang sopan tingkah lakumu, merendahlah pada madumu supaya sayang, agar dekat denganmu.

16. Merendahlah ibarat seperti tanah, tingkahlakumu seperti kepada ibumu, jikalau sedang berbicara sendiri, meskipun sudah tahu, berpura-puralah terlebih dahulu, agar supaya memberitahu, kepadamu, jika lama tidak berbicara, madumu kemudian engkau sendiri, hendaklah segera bertanya.

17. Engkau tannyakan kebiasaan suami, kepada madumu dalam berbuat, watak dan kebiasaannya, tanyakanlah jangan sampai berhenti, serta kesukaan suamimu, dan sekaliyan kesukaannya, tanyakanlah kepada madumu, jangan ada yang terlewatkan, dan sambil menunduh pada madumu nini, asalkan memberikan izin.

18. Jikalau engkau jadi menikah, jikalau menjadiistri yang paling tua, hendaklah engkau bersabar, itu kehendaknya Tuhan, jagalah dirinya nini, janganlah engkau ceroboh, teguhkan dalam hatimu, itulah ajaranku dinda, merasalah engkau engkau sebagai pohon,  yang dibuat gunungan (perlindungan).

19. Semua madumu nini, yang kedua dan seterusnya, sampai yang terakhir serta selirnya, dan selingkuhannya suami, samakan seperti anak bungsu, janganlah engkau bedakan, kasih sayangmu yang tulus, dan jika bertemu suami, madumu kepadamu itu gusti/tuan, jika datang diamlah.

20. Jangan sampai engkau samakan, madumu yang berani kepadamu, diamkan saja, bersabarlah engakau didalam hati, janganlag engkau berkata dan berani, jangan berat air mukamu, bersabar dan tertawalah, jika mempunyai sesuatu berikanlah, pada keinginan madumu itu dinda, jika datang nasihatilah.

21. Nasehatilah atas kehendaknya, apalagi jika kesampaian, dia akan mengalah sendiri, ingatlah ucapanku, jika madumu mendapatkan giliran, engkau jangan marah, jangan kelihatan murung mukamu, sebaliknya juka madumu yang tua ini, jangan ditinggal dan segera berikan sesuatu.

22. Kecuali jika hendak dipukul, madumu oleh suamimu, segeralah engkau cegah, beranikan untuk menghalangi, manahan nafsunya suami, bertanyaan marumu, hendaklah yang rukun, segera menerima kebaikanmu, lalu madumu berubah menjadi hormat dan sayang kepadamu, sebab dari kebaikan dan ketulusanmu.

23. Suamimu senang dalam hatinya, kepadamu ketika melihat pandangamu, kepada madu yang berlebihan, tampak baik kepada madu, dan terlihat senang suamimu, sehingga kasih sayangnya yang tertuju, kepadamu tidak pernah berkurang, itu yang harus dilakukan, pesanku jika hendak dihargai suami, ingat-ingatlah ajaranku.

24. Janganlah karena muka engkau, jika memberi kepada madumu, jika engkau memberikan yang banyak, janganlah didepan suamimu, jikalau engkau memberi, jagalah madumu, dari rasa malu, jika memberi jangan semata-mata, dari kuranganya pengetahuan madumu, dan jangan dihadapan suami.

25. Madumu menjadi takut, kepadamu dan rohmu yang tua, menyampaikan kehendaknya, dan jika madumu mengeluh, carikanlah obatnya (solusi), dengan cepat, jika tidak sembuh olehmu, segeralah diberitahukan suami, dan engkau harus mengantarkannya.

26. Katakan kenapa sakit, madumu kepada suamimu, memintalah perintahnya, jika suamimu berkata, dan memerintahkan kepadamu nini, segeralah laksanakan, jika madumu sembuh, dari sakitnya segeralah engkau berbakti, karena sangat sayangmu.

27. Suamimu pasti akan memuji didalam hatinya, kepadamu dan tidak perlu diminta, sayangnya tidak pernah kurang, meskipun tidak mau, madumu kepadamu nini, suamimu tidak akan senang, ia akan sangat marah, akan disuruhnya menyembah, kepadamu sebab engkau sangat perhatian, kepada madumu dan kepada suami.

28. Jika suamimu punya kekasih, engkau segeralah ikut, menyayangi kepada kekasihnya, dan juga sayang pada madu, dan lagi juga sayang kepada selir, engkau juga harus ikut, memberikan kasih sayang, dan pasti akan diberikan hadiah, dari Tuhan kepada perempuan yang berbakti kepada suami, itu pasti akan masuk surga.

29. Yang kedua perempuan yang, menikahkan suaminya, akan masuk surga janjinya, yang ketiga orang itu, perempuan yang berbakti kepada suami, menurut perkataan suami, tidak menolak pada kehendaknya, serta tidak terserah kehendaknya, itu bukan perempuan yang utama, yang akan mendapat kasih sayang dan anugrah.

30. Ingat-ingatlah ucapanku dinda, jikalau engkau hendak tidur, janganlah mendahului tidur, menunggu datangnya suamimu, dan jikalau hendak naik keperaduan, segera basuhlah, kaki suamimu, jikalau tidak ada air, rambutmu pakailah untuk mengelap kakinya, tambahkan sambil meminta maaf.

31. Sebenarnya perempuan itu, siang malam itu mendapat dosa, ketahuilah itu nak, jika engkau hendak tidur, janganlah engkau tidur terlebih dahulu, jika mengantuk matamu, jangan tidur dikasur, tidurlah di undakan, apalagi jika suamimu tidur, naik ke tempat tidur.

32. Apalagi jika engkau dipanggil, oleh suamimu segeralah bangun, segera engkau cepat-cepat, menurut, dan memintalah maaf, lalu engkau ikutlah, tidur namun jangan di atas, dan engkau berbaktilah, meminta maaf dari suami, itu jikalau meminta maaf.

33. Jika engkau diajak tidur, dipanggil oleh suamimu, lalu diajak keperaduan, jikalau sesudahnya, bercinta dengan suami, memintalah maaf, kepada suamimu, meskipun tidak berdosa, walaupun sudah bersih karena bertaubat siang malam, dan semoga diampuni.

34. Sebenarnya didalam hidup itu, tidak bisa ditebak, jika tidak sabar ucapannya, serta dengan petunjuk, maka carilah guru yang sejati, jika telah datang, dan jika sudah duduk, yang empat perkara itu, carilah jikalau engkau bertanya, kepada orang yang empat perkara.

35. Yang pertama santun ucapannya, yang kedua sopan tingkah lakunya, dan banyak doanya, yang keempat orang itu, yang tiada putus ibadahnya, atau kasih sayang jika ada, lengkapnya yang ketujuh, ora yang adil dan bijaksana, yang keenam yang bertanya, sekehendak pertanyaannya.

36. Yang ketujuh orangyang terpilih, jika orang yang sudah tidak mau kemuliaan, ada yang hina tingkah lakunya, jika ada yang seperti itu, jangan kawatir engkau berbakti, memintalah safaat, semua ucapanya sesungguhnya, sayang kepada manusia utama,yang seperti itu orang yang prihatin, tandanya orang yang telah sampai.

37. Sungguh merupakan cahaya Pandhita (orang suci), tidak putus engkau bertapa, menerangi dirinya, dan mencegah nafsunya, serta tiada putus ibadahnya, ciptanya sudah nyata, tidak ada yang berbeda, dan telah sudah sembuh segalanya,  kehendaknya sudah tidak ada lagi hamba dan Gusti, dan sudah gemar kepada ketiadaan.

38. Yang jangan kamu gurui, sang pandhita yang bersifat seperti itu, yang empat perkara nanti, sifatnya pandhita, menjalankan perbuatan yang tidak baik, yang kedua karena cacad, yang ketiganya, budipekertinya kurang baik, keempatnya masih silau dengan harta, itu yang saya ketahui.

39. Dan artinya satu persatu, sang pandhita jalannya salah, hobinya suka jalan-jalan, serta kikir tidak mau berbagi, gemar makan tabiatnya, serta banyak omongnya, karena itu cacad, selain itu kerjanya gemar berhutang, dan suka membicarakan kejelekan orang lain atau tidak bisa menyimpan rahasia, serta suka jail kepada tetangga.

40. Janganlah engkau berguru, itulah cacadnya pendhita, dengki iri kepada sesamanya, dikiranya dia kaya ilmu, yang seperti itu bukan orang yang baik, itu orang yang gila hormat, dan orang itu, tidak mempunyai pekerjaan, ilmunya ditukarkan makanan, untuk mendapatkan penghasilan.

41. Setiap hari pergi tanpa tujuan, dari santrinya, ilmunya di gelar semuanya, dikira memberika petuah, kitabnya dibolak-balik, usul fiqih dan shorob, serta nahwunya, dipertunjukkan kepada orang banyak, dikira dirinya bisa mengaji, katanya dikira-kira.

42.Dijaman sekarang banyak yang berani jual ilmu, orang berguru banyak yang hanya sampingan, serta banyak yang hanya mencari muka, yang terlihat itu yang diminta, hendak mundur sudah tidak boleh, serta banyak orang yang licik, itu yang saya dengar, dari orang yang berdagang, berguru bagaikan tawon yang sedang berpindah tempat, dan sudah tidak terhitung akhirnya.

43. Serta ada perkataannya Nabi, janganlah berguru kepada orang yang suka singgah, dan orang yang bohong perkataannya, adinda sebaiknya, yaitu orang yang ditolak, siapa yang pantas pilihlah, yang benar-benar sehat, jangan berbicara mengajilah, habiskanlah kitabnya satu masjid, itu orang yang suka mengambil.

44. Yang sebagian aku melihat, banyak yang mengagungkan kewibawaan, banyak yang membesar-besarkan perbuatannya, saling mengaku luhur/tinggi, ibaratnya seperti Nabi, yang ahli bersembahyang, sholatnya dibesar-besarkan, sholat yang seperti itu, santri yang mulia dan aku orang suci didunia, maka berguralah kepadaku.

45. Kitabku ada dua peti, itu semua pilihan, maka bergurulah kesini, jikalau datang kepadaku, ibarat memikul padi, dan ayam yang masih muda, serta uangnya banyak, saya ajari ilmu kasampurnan, bahwa katanya besuk akan naik surga, lepas dari perkiraan.

46. Yang demikian nantijalannya, yang dinamakan ilmu pembelian, lazimnya nanti perbuatannya, jika tidak salah pendengaranku, yang dinamakan santri sejati, basasa (?) itu satu, tri itu tiga, pengetahuan yang empar perkara, dalam perbuatannya yang keempat hal sudah diketahui, duduknya sepertimu.

47. Aku ini saudara jauh, bercerita perjalanan utama, dengan orang yang hida perbuatannya, dan berkata diriku, tidak merasa jika hidup, tidak tahu diri pribadi, angin yang tumbuh, mengagungkan pada kemuliaan, yaitu yang utama, maka ketahuilah itu.        

 ® Pupuh 16 ®
MASKUMAMBANG

01. Ki Syeh Jabar berkata kepada adindanya, yang delapan perkara itu, bertemunya rasa sejati, yang berada di jasadmu.

02. Nyi Mutmainah sungkem dan berbakti, sambil mengusap kakinya, sang adinda berkata pelan, maka jelaskanlah tuan.

03. Penjelasannya ada di dalam badanmu ini, nyata badanmu, hidupnya nyawa itu baik, pertemuan lahir dan batinmu.

04. Yang pertama mas kawinnya Allah, dengan Muhammad, serta aras dengan, kursi itu tannyakanlah.

05. Yang ketiga  mas kawinnya siang dan malam, yang keempatnya, yaitu alam/dunia dan bintang, itu tanyakanlah.

06. Yang kelima mas kawinnya laki-laki dan perempuan, maka tanyakanlah, yang keenam itu adalah, mas kawinnya matahari dan bulan.

07. Bumi dan langit tanyakanlah juga, mas kawinnya itu, yang kedelapan mas kawinnya , surga dan neraka.

08. Tanyakanlah kejelasannya yaitu, duduknya satu-persatu, ucapan itu tidak dapat diketahui, pelajarilah dinda.

09. Setelah ucapanku selesai tanyakanlah dindan, sang istri berkata, iya saya memohon kepada Tuan, engkau yang menerangkan.

10. Bagaimanakah penjelasan perkataan ini, mas kawin kepada Allah dan Muhammad ini, bintang dan ilmunya.

11. Jelaskanlah mas kawin aras dan kursi, kedudukannya satu persatu, mas kawin siang dan malam, itu semua jelaskanlah.

12. Ki Syeh Jabar berkata pelan, iya Pangeran, mas kawin Allah ini dengan Muhammad.

13. Pertemuannya Nurullah dan hidup ini, satu rasanya, Muhammad dan Allah ini, pertemuannya didalam nurullah (cahaya Allah).

14. Sedangkan mas kawin laki-laki dan perempuan, pertemuannya pada jasad, dengan nyawa itu, persatuanmu.

15. Ada lagi mas kawin aras dan kursi, pertemuannya itu, pada sumsum tulangmu itu, bersatunya cahaya aras itu.

16.  Ada lagi mas kawin bintang yang bagus, dan ilmu itu, mukamu sendiri dan matamu sendiri, itu namakan bakram.

17. Pertmuannya darah dengan daging, maksudnya yaitu, gerakmu atau kehendakmu dalam hati yang kuat  dinda, di dalam jantungmu itu.

18. Ada lagi mas kawin bumi dan langit, mas kawinnya itu, hati dan kasih sayang yang baik, yang dinamakan sirullah.

19. Ada lagi mas kawin siang dan malam, pertemuannya itu, putihnya mata dan hitamnya yaitu, rohkiyat maksudnya.

20. Pertemuannya hamba dengan Gusti, itu bersatu di dalam rasa, yaitu di dalam rumahnya, itulah pendapatku.

21. Ada lagi mas kawinnya neraka dan surga, pertemuannya itu, nafsu dan budimu, bersatunya di dalam dirimu pribadi.

22. Adanya di dalam kemantapan hidupmu yang baik, demikianlah asalnya, jika kamu sudah waspada, perbedaannya dengan bersatu.

23. Apakah kamu kurang jelas dalam mendengarkan, sang adinda berkata, matahari dan bulan, saya belum tahu.

24. Ada lagi mas kawinnya, matahari dan bulan,  arabiyah itu dinda, itu pertemuannya mata.

25. Mata keduan-duannya sama-sama melihat, pada kelopak matamu, ketahuilah itu, bersatunya dan perbedaannya itu.

26. Allah Ta’ala adalah badanmu ini, makanya ada keadaan, dalam badan ini, mas kawinnya yang utama.

27. Sudah jelas yaitu Raga ini ditetapkan mas kawin, menjadi ada Dzat, dan sifat sudah mukdis, yang banyak ditemukan.

28. Sembah puji itu sama-sama memiliki, asma af’al itu, semuanya pada berwujud, oleh karena sudah sempurna.

29. Dan berada pada hakikat hidup, serta tingkahnya nyawa, sehingga dapat berbakti, dan nyawa itulah yang mempunyai tingkah laku.

30. Tidak lainnya itu yang memiliki, padahal diberikan, yang dinamakan nyawa, sebanyak empat macam.

31. Yang terhitung tiga belas nyawa yaitu, semua itu merupakan nyawa, turun dari roh ilafi, selebihnya sebagai…..?

32. Dan semuanya yang ada pada makhluk menjadi, tergelar di alam dunia, yang berasal dari roh ilafi, sebagai asal mulanya dunia.

33. Alam itu tidak akan lepas dari, semua yang ada, yang tergelar besar atuupun kecil, sebagai sifat kamu.

34. Maka dari itu dinamakan baka (kekal) yaitu, kekal tidak bisa berubah, tidak ada yang mencampuri, hanya Allah yang berkuasa.

35. Muhammad mendapatkan petunjuk yang baik, menjadi pandhita,  merupakan bayangannya Dzat sifat yaitu, satu adanya.

36. Tetapi terlanjur banyak tekad yang sama, tetapi hanya Allah, yang wajibul wujud itu, Muhammad  yang tidak diketahui.

37. Dan tunggal adanya yang di idam-idamkan, seperti perasaanmu, sang adinda bertanya lagi, kakanda tentang malasah dhandhanggula.

® Pupuh 17 ®
DHANDHANGGULA

01. Perhatikan dengan seksama tujuh bumi langit, dan juga lapisan yang tujuh sap, manakah atau masih ada lainnya, itu semua tidak ada, sedangkan manusia yang utama, serta dengan yang mengetahui, orang bodoh itu, tidak mengetahui jalannya putusan, berpuasa saja jarang yang dikerjakan, karena kedurhakaannya.

02. Tetapi dinda pendengaranku, orang yang sudah mengatahui isyaratnya berbakti, tidak ada di dalam sembahnya, serta di dalam perbuatannya, tidak merasa kalau memiliki, serta tingkah dan lakunya, dalam pendengaranku, jika sudah tahu Islmanya, meskipun bersama mudajil (?) dan si kafir, itu tanpa menyinggung perasaan.

03. Aku heran dijaman sekarang ini, arang yang ahli manembah (beribadah) itu, banyak lagaknya, dzikirnya berlebih-lebihan, dan juga di iringi dengan suling, serta bedugnya sekalian, dikolaborasi dan tetabuhan, prasangkanya sah di dalam hati, bukan sembah kepada Pangeran yang sejati, seperti orang mabuk tuak.

04. Dan semua orang-orang baik, Nabi Wali semoga yang utama, tidak seperti itu tingkahnya, selalu diam, gerakan pujiannya di dalam hati, sujudnya tiada putus, dan waktunya tiada berkurang, tetapi ketahuilah dindaku, pada jaman akhir kuatkanlah pribadimu, jangan menyesal dan kecewa.

05. Sang adinda berkata dan berbakti, iya trimakasih atas kasih sayang tuan, sungguh engkau pangeranku, tidak ada yang menolong, hanya tuan yang memberikan pencerahan, kepada hatiku,  yang sangat bodoh ini, bagaimana kehendaknya, orang mengucapkan Allah itu mempunyai tujuan, dimanakah kenyataannya Alla.

06. Dan manakah yang lebih dahulu suami, dan Muhammad Allah itu, saya ingin mengetahui, karena masih sangat bodoh, mengikuti kabar berita, belum mengetahui yang sesungguhnya, di dalam bahasa tersebut, maka jelaskanlah Tuan, di dalam kenyataannya dan jangan mengikuti pada berita, dan saya mohon berkahnya.

07. Ki Syeh Jabar berkata pelan, adinda permata hatiku, tempat letaknya yang mengabdi, engkau harus tulus, dan alangkah lebih baiknya jika hatimu cantik/ikhlas, bertemu dengan orang bijak, yang akan menjadi gurumu, jikalau adinda belum mengetahui, yang bernama Allah yang sejati, yaitu Dzatnya Muhammad.

08. Ketika Muhammad yang sesungguhnya, ya Allah yang selalu diucapkan, mana ada lainnya, jikalau Allah itu, menjadi nyata Muhammad ini, yang diberikan hak Muhammad, oleh Allah tidak terhitung jumlahnya, dan Allah berada di luar,  dan sebenarnya Muhammad itu berada di dalam dinda, bersatu dalam wujud adanya.

09. Kepunyaan Pangeran yang sejati, semua adinda berada pada dirimu, sejatinya melaikat menjadi satu, yang mukarabah dahulu, kepada Allah yang sejati, semua adinda sudah ada, tidak bisa terlepas, menjadi jalan hidup/kelakuanmu,  dan satupun para malaikat tidak bisa terpisahkan, itulah kepunnyaanya Pangeran.

10. Sang istri berkata sambil memberi hormat,  iya trimakasih atas kasih sayang tuan, dan manakah kenyataanya malaikat, yang murakabah dahulu, dan tuan yang sejati, saya ingin mengetahui, malaikat yang murakabah, sebagai utusan yang Widdi, yang selalu disebutkan.

11. Ki Syeh Jabar berkata pelan, adinda permata hatiku akan saya beritahukan, adanya malaikat itu, yaitu Jibril, dan Mikail Israfil, serta Izroil, kenyataannya semua, yaitu Jibril itu, merupakan bayangannya datullah ini, Izrail berpasangan.

12. Sedangkan Isrofil ini, hakekatnya rasanya datullah, Mikail itu kenyataannya, rasanya datullah itu, jikalau adinda belum mengetahui, dinda yang malaikat, tadi yang dibahas, semuanya sudah ada padamu, sebanyak jirmu/kehendakmu semua sam-sama memiliki, salah jika ada yang lain.

13. Dan sang istri sungkem berbakti, sambil memegang kaki suaminya, sungguh sangat takut, pelan sekali berkataannya, ya gusti, sangat jelas sekali ucapan tuan itu,   saya bertanya pangeran, bagaimanakah saya dapat mendengarkan berita, ada orang berkata begitu.

14. Bagaimanakah kenyataan yang gaib, orang yang berkata sejatinya Pangeran, saya ingin mengetahui yang sebenarnya, iradatnya Yang Agung, dan mukdas (bid’ah) itu, dimanakah tempat yang sebenarnya, yang tidak berpisah denganku, dan keadaanku ini, mohon dijelaskan.

15. Ki Syeh Jabar berkata pelan, adindaku letak tempatku, dalam aku mengabdi, jika belum mengetahui, kodratnya yang ada pada diri sendiri, itu adalah putihnya matamu, dan iradatnya itu, iya hitamnya mata, itulah yang sesungguhnya dinda, yang ada padamu.

16. Kodratnya Tuhan tidak bisa berubah, di dalam aksara bismilah itu, di ikat dinda ibaratnya, seperti halnya aksara, tiada berpisah ketahuilah yang di isyaratkan, berhati-hatilah dan jangan khawatir.

17. Sang istri berseru dan berbakti, iya trimakasih atas kasih sayang tuan, bagaimanakah kenyataannya, saya belum mengetahui, di dalam bunyi bismilah yang di ikat, itu keluarnya aksara, manakah sejatinya, dan maksudnya bismilah, di dalam badan serta manakah yang di isyaratkan, saya ingin mengetahui.

18. Ki Syeh Jabar berkata pelan, adindaku dewa di dalam tidurku,  itulah dinda isyaratnya, kehendah yang kuat yang muncul dalam hatimu, dan nafas yang di semoni (dikiaskan), itu sejatinya bismilah, yang tidak boleh lepas, yang bersatu dalam hidupmu, tidak putus jika lepas salah satu, akan rusak kodratnya Allah.

19. Dan bersatunya pengetahuan diri, adanya dalam kebaikan anggapanmu, disitula keluarnya, jika kamu sudah waspada, perbadaannya dan bersatunya, ketahulah itu, istrinya bertanya pelan ucapannya, seperti apakah bersatunya jadi satu, pikirkan yang seperti itu.

20. Yang dinamakan iman ini, kenyataannya dan tauhid itu, murakabah maksudnya, terangkanlah kepadaku, dan bersatunya Islam, tunjukkanlah saya, ucapan yang seperti itu, Syeh Jabar berkata, insya Allah jikalau dikabukan Yang Widdi, dan berkahnya Kanjeng Nabi.

21. Sang istri berkata lagi, bagaimanakah Pangerannya jagad, adanya perkataan, ketika sedang sakit itu,  didahului oleh Tuhan, alam apakah ketika itu, dan siapakah imannya, Syeh Jabar menjawab, emas madu juwaita puspita sari, emas mustikanya nyawa.

22. Dinda permata hatiku yang indah, intan permata yang berada di surga, hannya adinda isinya, engkau benar-benar cantik, memang engkau wanita yang lebih, emas pangeranku, wanita yang sangat cantik, ketika kamu sedang siniyan (?), alam arwah namanya itu, tidak sudi kehendaknya.

23. Bagaimana ketika sedang sakit, jangan congkak alam apa itu Pangeran, sekarang saya belum mengetahui, apakah imannya, dan juga ketika engkau têngêng (kaku) itu, alam apakah ketika itu, saya hendak mengetahui, sesudah meliwati, dari sananya, selanjutnya alam apa.

24. Dan sungguh ada orang yang mengatakan, dan seperti ini ucapannya, ketika saat nyawa diambil, dari badan ini, dari manakah jalannya, ketika si nyawa di alam, serta lepasnya, jikalau tidak seperti apa, dan nyawa ini dimana jalannya, dan apa rupanya nyawa itu.

25. Ki Syeh Jabar menjawab dengan pelan, emas madu intan yang mulia, retna kencana permatanya, sungguh tulus keinginanmu, engkau memang perempuan yang lebih, dan engkau isinya surga, ganjaraning suami, sombong ketika sedang bertemu,  alam barzah imannya itu pasrah, murah iman engkau.

26. Ketika kamu sedang cêngêng (kaku), ketika itu engkau di alam lahut, iman hidayah namanya, sesudah lepas dari situ, nyawamu segara akan diambil, mulai dari jari-jarimu, Jempol (ibu jari) kaki, saksikanlah dan kemudian dibawa, nyawamu naik menuju ke dalam samudra kadim, lalu keluar menuju ke lautan anakan.

27. Sesudah meliwati samudra kadin, dan juga lautan anakan, lalu tamannya menuju lautan palya (kering), sesudah melewati disitu, lalu berjalan menuju kelautan lagi, yaitu lautan Istigna, yang diceritakan, di sana tempat untuk persembunyian, dan nyawa tersebut berhenti didalam lautan kehidupan, menunggun perintah.

28. Istrinya berkata pelan, hai pangeran perhiasannya dunia, seperti apakah maksudnya, lautan anakan itu, dan lagi lautan kadim, saya belum mengetahui, karena saya bingung, Ki Syeh Jabar berkata, eman madu juwita puspita sari, intan retna komala.

29. Memang engkau adalah wanita yang pandai, dan tidak ada wanita yang sepertimu, lautan kadim maksudnya, yaitu mata kakimu itu, itulah lautan kadim, lautan palya (kering) itu, Yitu lututmu itu, dan yang bernama lautan Fana, sikumu itu disebut lautan kehidupan, serta wasta itu adalah pahamu.

30. Yang dinamakan lautan itu, istigna itu dadamu, dan lautan winon itu, adalah perutmu adinda, semua termuat disitu, apa yang tidak ada,  dan segala hal ada di lautan rantai ini, yaitu ususmu.

31. Memang engkau wanita yang baik, yang mampu mengendalikan nafsu ketika didunia, dan saya akan sangat mengasihi nantinya, dan kamu adalah perhiasanku, dan saya diakui sebagai gusti,  engkau sebagai laki-laki, dan aku sebagai perempuan, istrinya berkata pelan, ya trimakasih pangeran alam Kawir (?), tuan penguasa dunia.

32. Bagaimana jelasnya ini, yang dinamakan dinding jalal itu, serta aras kursi, saya ingin mengetahui, berilah penjelasan saya ini, Ki Syeh Jabar berkata, dinding jalal itu, hakikatnya adalah badanmu, dan jalal itu hakikatnya adalah daging, itu yang dinamakan jalal.

33. Dan yang dinamakan kalam itu, hatimu sedangkan êloh (tinta/air)  itu lidah, padahal pintu utamanya,  aras penciumanmu itu, yang dinamakan gunung Medayin, itu adalah mulutmu, yang dinamakan, sifat jalal kamal, sifat kahar sesungguhnya adalah daging, jalal adalah tulang punggung.

34. Sedangkan sifat kamal, hakikatnya dinda adalah kulitmu, sedangkang telaga itu maksudnya, kalkausar itu, maksudnya jantungmu, sangat jernih sekali, tempat nyawa tidur, istrinya berkata, seperti apa wujudnya nyawa itu, aku belum mengetahui.

35. Ki Syeh Jabar berkata pelan, kalau rupanya si nyawa itu, tingakahnya sepertimu, dan tidak ada bedanya, sama tapi ada yang besar dan kecil, seperti ibaratnya bunga, yang mekar itu badan ini, agar dalam dan luarnya.

36. Sementara nyawa ini, hanya sebesar lebah, namun orang sepertimu padahal, seuaminya berkata, ya trimakasih Gusti, tuannya orang sedunia, bagaimanah ini, awal mulanya meninggalkan jasad, sebab itu Syeh Jabar lalu menjawab, karena sudah merupakan janjiku.

37. Ketika Allah sedang bersabda, alam kawas (?) turunnya arwah, lalu semua tergelar, dan semua nyawa, yang jadi pertama kali, berasal dari darah, tempatnya nyawa itu, bahaya kalau engkau belum tahu, sang adinda berkata jika saya sudah mati, dimanakah tempatnya nyawa.

38. Dan dimanakah jalannya yang pertama, jika nyawa keluar, dari manakah jalannya, Syeh Jabar berkata, menempati pada nyawa itu sendiri, bangsa halus ini, istrinya berkata, jika angin angin apa, Syeh Jabar menjawab dan memastikan, angin antara mangsa.

39. Permulaannya merah warnanya, angin yang datang pertama kali, yang menempati lalu  warna kuning kilatnya, yang ketiga warna putih, yang keempat hijau, itu angin kasan, istrinya berkata, seperti apakah kehendaknya, yang berwana merah itu bangsanya Jibril, kuning Mikail.

40. Yang berwarna Hijau Izroil, dan yang berwarna merah Jibril, kuning warnanya, Mikail namanya, serta yang berwarna putih Isrofil, yaitu dirimu, istrinya berkata, seperti apakah maksudnya, nyawa itu Izroil dan Jibril, Mikail Isrofil itu.

41. Tidak juga Mikail ini, hakekatnya adalah ucapan/perkataan, dan nanti yang tidak berubah, sudah datang, nyawamu kemuadian diambil, dilepaskan dari jasad, kemudian menginjak, di alam sangkati (?), alam kiyal (?) dan disitu tempatnya lagi, dan malaikat sudah datang.

42. Jalannya nyawa, ada empat jumlahnya, jalan yang dari hidung keluarnya, dan lagi, bercampur dengan keluarnya air, maksudnya air itu, hidung yang berbusa, jika engkau belum mengetahui, tanyakanlah yang keluar dari mulut, itulah asalnya nyawa.

43. Kemudian melalui alam sakangti, nyawa lalu menginjak pintu Kiyal (alot) leher samping tempatnya, istrinya berkata, bagaimanakah perbuatan yang baik, alam akait (?) itu, terangkanlah padaku, Syeh Jabar lalu berkata, intan dewi permata saudaraku, pujaan hatiku.

44. Emas madu puspitasari, merak kuning hiasannya jagat, intan permatanya, sungguh tulus keinginanmu, engkau memang perempuan yang utama, pilih sepertimu, alam kiyal (?) itu, hakikatnya keningmu, alam kangti maksudnya apa Tuan, yaitu tengkukmu.

45. Sesudah nyawamu itu lewat, yang diterima oleh malaikat, dari Izroil nantinya, lalu ada lagi malaikat, Isrofil namanya, dan ada lagi, Izroil namanya, kemudian bergerak naik ke langit ke tujuh, nyawamu dibawa.

46. Sesudah sampai dilangit, merah warna langitnya lalu bertanya, malaikat lalu bertanya, nyawa apakah itu, yang membawa pelan menjawab, nyawanya orang Islam, yang baik ibadahnya, setelah lewat dari sana, kemudian naik ke langit kedua, kemudian minta dibukakan pintu.

47.Yang menunggu pintu langit, lalu mengucapkan salam kepada malaikat, engkau akan di tannyai, nyawamu akan diantarkan, tingkah seperti orang yang sedang mandi, dan sesudah itu, nyawamu kemudian lewat, dan jikalau belum engkau akan dikembalikan, dibawa oleh malaikat.

48. Sesudah sampai dilangit, yang ketiga engkau akan di tannya, tingkah lakunya sembahyang, jika sempurna, akan segera ke langit keempat, dan seketika itu sampai, serta engkau di tannya, tingkah lakunya puasa, dan jika sempurna diperbolehkan lewat.

49. Jika belum sempurna akan dikembalikan, setelah selesai kemudian diperbolehkan lewat, menuju langit ke lima, engkau akan dibawa, pada tingkah laku wiladah (mandi nifas) tuan, dan bila tidak terjawab, engkau disuruh kembali, dan jika sempurna kemudian diperbolehkan lewat, sudah hampir sampai di langit keenam, naik tujuh tingkat.

50. Ki Syeh Jabar berkata pelan, yang dibuat sebagai kursi  itu rasa, aras cahaya itu mungkin, sudah seperti itu, dan semuanya serba dua macam, bumi langit, mas kawinnya, Allah dan Muhammad, tannyakan satu persatu mas kawinnya, dan juga mas kawinnya laki-laki.

51. Laki-laki dan perempuan tanyakanlah ini, mas kawinnya aras kursi itu, dimanakah bertemunya, dan dinding jalal itu, tanyakanlah sungguh-sungguh, matahari dan bulan, tanyakanlah itu, mas kawinya satu persatu, mas kawinya siang dengan malam,  dan itu yang harus di perhatikan.

52. Belum sempurna dindaku ya gusti, pengetahuaannya masih samar-samar, dan masih meragukan, jika engkau sudah tahu, mas kawinnya satu persatu, dan itu jika belum tahu, ucapan orang yang luhur, besok jikalau engkau mati, akhirnya susah saat sakaratulmaut (Sakarat), sempurna jika mengetahui.

53. Mutmainah pelan menjawab, ya trimakasih pangeran, yang mengasihi di akhirat, pangeranku, tuan memang luhur dan serba lebih, pangeran permataku, yang manakah itu, yang dinamakan mas kawin itu, tunjukkan sedikit saja yang dinamakan mas kawin itu, agar bertambah pengetahuanku.

54. Sedangkan asalnya lagit dan bumi ini, berasal dari kodrat asalnya, sedangkan bumi berasal dari iradat, aras kursi itu, dan itu adalah Nur (cahaya), itu yang saya dengar, dinding jalal adalah cahaya Allah, yaitu yang menjadi aksara Alif, itu yang saya dengar.

55. Adapun Muhammad ini, yang diciptakan lebih awal, dan Muhammad itu cikal bakalnya, kalam dan tintanya (tintaku), dan cikal bakalnya perempuan itu, karena bukan merupakan taklukan, dan perempuan itu, awal mulanya yang terjadi, awal mulanya yang menjadi perempuan itu, warna hitam pada mata.

56. Dan yang menjadi laki-laki itu, pada gaibnya warna putih pada mata, yaitu awal mulanya, karena laki-laki itu, segala tingkahnya selalu di dalam hati, oleh karena mendapatkan penerangan, dari yang perempuan itu, yang menjadi warna hitam pada mata, karena tidak dapat imam mengimani, oleh gelapnya imam.      

® Pupuh 18 ®
ASMARADANA

01. Jikalau engkau menyembah dan memuji, pujinya itu kepada siapa, jika untuk Tuhannya, karena tidak berwarna dan berwujud, jikalau tidak dipersembahkan, tiada gunanya sembahnya, lebih baik jangan memuji.

02. Jika menghaturkan puji, kepada Allah jangan sombong, karena bukan sesamanya (bukan pada umumnya), dan Allah-lah yang berkuasa, serta memerintah pada dirimu, yang menyembah dan disembah.

03. Puji itu siapa yang memiliki, dan puji itu pujinya Allah, hamba tidak mempunyai, selamanya tidak, berkuasa, dan juga perbuatanmu, serta seluruh badan (tubuh), hanya di suksma yang menciptakan.

04. Manakah yang dinamakan puji, maksudnya puji itu, kanugrahan (anugrah) sejatinya, yang diberikan kepada hamba-Nya, yang disebut kanugrahan (anugrah), yaitu hidup maksudnya, dan hidup itu hidupnya siapa.

05. Jikalau itu hidupnya Tuhan, tidak hidup mengunakan nyawa, maksudnya nyawa sesungguhnya, yang diberikan kepada hamba-Nya, yang dinamakan kanugrahan (anugrah), yaitu hidup, itu merupakan hidupnya manusia.

06. Dimanakah maksudnya hidup itu, ketahuilah anak muda, baik-baiklah dalam menerimanya, susah yang namanya hidup itu, maksudnya orang hidup itu, yang ditetapkan ada tiga hal, yaitu iman tauhid dan makrifat.

07. Jikalau tidak memiliki, tiga perkara yang kekal, iman tauhid dan makrifat, pasti putus dalam hidupnya, jika juga tidak mengetahui, iman dan tauhidnya, serta dengan yang namanya makrifat.

08. Maksudnya iman dan tauhid adalah, yang iman itu restumu (do’amu), melaksanakan perintahnya Tuhan, dan suksma yang wajib mengesahkan, dan tidak ada yang lainnya, tidak ada dua atau tiga, hanya suksma yang tunggal (satu/esa).

09. Yang dinamakan tauhid adalah, berada atau bersatu dalam kebenaran, bersatunya antara keduanya, Tuhan dan hambanya, jika bersatu seperti apa, dan jika berbeda bedanya, tidak terpisah-pisahkan.

10. Selamat jika dapat mengetahui, maksudnya tauhid itu, bersatu dengan hambanya, dan hamba itu tidak ada, sebenar-benarnya adalah kosong, tidak ada gerak dan tingkah.

11. Maksunya makrifat yang benar adalah, orang yang awas/tahu kepada Tuhan, itiu seperti perwujudannya, yang awas/tahu itu siapa, yaitu yang dinamakan hamba, buta bisu tuli suwung (kosong), tidak ada hambanya.

12. Menghaturkan sembah dan puji, yaitu dihaturkan kepada dirinya sendiri, yaitu sejatinya suksma pribadi, tidak ada sembah dan disembah, dan manakah yang dinamakan Allah, namanya Dzat wajibul wujud, sejatinya yang ada.

13. Iya yang menyembah dan memuji, kenyataannya kepada Allah, bukan berada pada dirinya pribadi, namanya yakin dalam menerima, maksudnya menerima, tanpa gerak dan tanpa wujud, seperti sampah yang berada di lautan.

14. Yang namanya sembah dan puji, yaitu pasrah dalam menerima sesuatu, dan itu merupakan kekuasaannya, Tuhan Yang Maha Mulia, dari kecil sampai tua, berbaik-baiklah dalam menerimanya, dan susah yang dinamakan dalam menerima.

 ® Pupuh 19 ®
DHANDHANGGULA

01. Martabatnya syahadat yang pertama, mutawilah namanya syahadat, yang mengetahui dirinya sendiri, dan mutawasitanya, yang dinamakan syahadat yang kedua, dan mutakirah, syahadat yang ketiga, mutawasita maksudnya, mengetahui kenyataannya sifat, tentang dirinya sendiri.

02. Maksudnya mutakirah itu, mengetahui yang namanya Tuhan, yang sudah nyata pada hambanya, yang berada pada nama Rasul, dan di diakui sebagai rasa sejati, yaitu rasa yang tunggal (bersatu), yang diakui sebagai wujud, jadinya berada pada kalimat, yang diketahui oleh manusia sedunia, yang menganut kepada Rasulullah.

03. Penguasaanya syahadat wajib mengetahui, ada empat jumlahnya itu, tasdik taklim kilawatnya, dan kurmah itu yang keempat, maksudnya yang pertama, tasdik itu mengindahkan/melaksanakan perintah, Tuhan Yang Maha Agung, dan maksudnya kurmah, yaitu muliakanlah Tuhanmu, dan maksudnya kilawat.

04. Maksudnya memuliakan itu, mengutus Kangjeng Nabi Muhammad, tidak ada dua Tuhan, dan taklimnya, mengagungkan kepada Tuhan, yang menjadi penguasa alam,  adanya hanya Allah Yang Maha Tinggi, yang tidak ada yang menyamai, dan tidak ada nama keduanya, kecuali Allah Yang Esa.

05. Bersabda Nabi terpilih, membicarakan yang namanya sholat, ingin mengetahui Tuhannya, jika engkau tidak tahu, tingkah laku di dalam sholat, yaitu yang sesungguhnya, dan mengetahuinya seperti apa, jika mengetahui wujudnya menjadi kafir, itu bukan warna atau rupa (wujud).

06. Jikalau tidak mengetahui tentang Tuhan, dipastika buta diakhirat nantinya, sekarang harus mengetahui, sebaiknya sama-sama berguru, yang mengetahui yang sesungguhnya, mengenai tingkah lakunya dalam sholat, dan hendaklah tahu pada petunjuk, yang namanya sholat tunggal (yang bersatu/khusuk), tunggal wujud hamba dan Tuhan, menjadi satu wujud.

07. Pengetahuan tentang hamba dan Tuhan, yaitu namanya niat yang tiga perkara, kasdu takrul dan takyinnya, ketahuilah perbedaannya, namanya niat satu persatu, bukan bahasa atau suara, menguasai dalam niat, didalam berdiri dan rukuk, dan niat sujud dan duduk itu, semuanya dengan niat.

08. Yang kedua takrul yang mengganti, duduknya dan bedanya rekaat, yang tidak boleh keliru, takyin yang ketiganya, yang menyatakan subuh dan maghrib, dan dzuhur, serta ashar, hendaklah dibedakan, yaitu sunnah dan wajib, itu wajib dibedakan.

09. Pantang menghalangi ucapan, yang setengah tidak terduga, ibaratnya karena tidak enak persaan,  yang setengah tertawa, terpaksa bisa merubah kebiasaan, mengucap agak kencang, padahal kebingan, selalu mengajak bertengkar, yang setengahnya menyombongkan bisa menafsirkan, bernyanyi dan tidak tahu diri.

10. Bertanyalah sesama mukmin, yang namanya pengetahuan sejatinya sholat, dan ketahuilah perbedaannya, manakah yang mukmin sebenarnya, yaitu yang mengetahui, yang tahu tentang sejatinya sholat, berpisah dan bersatunya, bukan sholatnya hamba, sejatinya itu anugrah Tuhan, yang diberikan kepada hambanya.

11.  Siapa  yang melihat kesejatian itu, berada pada derajad yang tertinggi, seperti apakah perbuatannya, jikalau tidak tahu, bertanyalah dengan sungguh-sungguh, sulit yang namanya sholat, apabila keliru, lebih baik tinggalkan saja, dan membahayakan meninggalkan sholat yang sejati, karena wajib dilaksanakan.

12. Siapa orangnya yang meninggalkan sholat, mayatnya tidak boleh dimandikan, itu hukumnya orang yang meninggal dunia, dan lagi, kenyataannya tidak bersatu, yang meninggalkan sholat, itu janjinya, yang ketiga tidak boleh, memotong binatang karena dapat merusak dua kalimat syahadat, bagi yang meninggalkan sholat. 

   ® Pupuh 20 ®
S  I  N  O  M

01. Kafirnya orang yang meninggalkan sholat, selamanya tidak pernah melaksanakan, kelihatannya seolah-olah melaksanakan kewajiban, menyamakan diri dengan orang mukmin, dan juga mempermalukan, serta menertawakan rasul, menjadi rajanya kedurhakaan, seperti kafir orang Yahudi, dan pasti akan hancur lebur di neraka.

02. Luhurnya yang meninggalkan sholat, bagaimana dapat mengetahui, kewajiban orang yang meninggalkan sholat, wajibnya harus bagaimana, lahir batin itu, tidak ada orang lain yang menghitung, dan juga tempatnya, karena tidak ikut memiliki, tetapi itu tingkahnya suksma yang sholat.

03. Hilang namanya hamba, lebur kepada Tuhan, itulah yang namanya hamba, tidak ada yang memiliki, segalanya, dan semuanya dari Tuhan, ibarat bintang yang mucul pada siang hari, lalu ditegur oleh matahari, akan hilang terkena sinar matahari.

04. Orang yang menjalankan sholat, selalu memperhatikan kasdu ta’rul ta’yin, itulah yang sempurna, mengetahui didalam budi/akal, disertai dengan hati/perasaan, di dalam hati artinya, akan memperpolehkan, kasdu ta’rul dan ta’yin, mempersilahkan di awal lafazd akbar.

05. Mempersilahkan aksara tangan, alif awal mulanya, dan alif adalah hakikatnya niat, lam awal dan akhir, kesungguhan dalam niat, akan jatuh pada niatnya, dan Allah adalah namanya Dzat, itulah jatuhnya niat yang sesungguhnya, da didalam nama akbar sempurnanya niat.

06. Yang namanya niat itu, merupakan peleburan dua hal, Tuhan dan hamba, jikalau masih hamba dan Tuhan, itu tidak bagus, bagaimanakah baiknya, kedua-duanya menjadi satu, bersatunya menjadi dua, dan Tuhan itu kekal tidak seperti hamba.

07. Pengatahuan pada hamba, agar mendapat kasih sayang Tuhan, dan penglihatan hamba, tidak ada yang menyebut, yang menyebut Tuhan, selain hambanya, jadi kenyataannya Tuhan, yang menyembah danmemuji, karena itu tempat hamba yang nyata.

08. Yang mengakui keberadaan Tuhan, yang diakui sebagai wujud tunggal, dan keduanya, tunggal tidak ada yang kedua, hanya pada orang yang berbakti, sebagai kekasih Tuhan, hanya yang namanya manusia, yang menjadi kekasih, tidak ada lain hanya hamba.

09. Mana yang dinamakan manusia, yang tulus lahir batin, yang menerima Tuhan, tidak mempunyai tingkah polah pribadi, tetapi itu merupakan kehendah Tuhan, yang menunjukkan jalan yang baik, karena tidak ada yang lainnya, Tuhan-lah yang mengasihi, terimalah anugrah dan kasih sayang Tuhan.

10. Atau yang dinamakan sholat, lima waktu jumlahnya, yang pertama sholat jum’at, yang lahir pada waktu berkumpulnya manusia, sholat jum’at itu, yang demikian itu bisa berbahasa, yang kelur dari lidah, yaitu sholat jum”at.

11. Dan yang demikian itu ucapan yang baik, yang tulus lahir dan batin, dan jangan meninggalkan panutan, yaitu Rasulullah yang kedua, yang dinamakan suci (bersih),  yaitu perbuatannya, sebaiknya ketahuilah itu, bahasa lahir dan batin, yaitu yang dinamakan sholat jum”at.

12. Yang kedua sholat wusta, yaitu selalu ingat dalam hati, artinya yang tiada putus, siapa yang melihat didalam hati, dan siapa yang menemukan Tuhan, seperti halnya penglihatannya kalbu, dan itu yang namanya hamba, Tuhan tidak ada nafi (penolakan, penampikan, pengingkaran), dan Tuhan tidak berkedudukan.

13. Yang ketiga sholat Haji, tidak ada penglihatan yang kedua, roh jasad yang tidak dibicarakan, dan jasad roh itu seperti apa, karena menjadi penganti, yaitu yang agung, yaitu sejatinya tunggal (bersatu), tunggalnya (bersatunya) seperti apa, karena itu merupakan roh dan juga suksma.

14. Dan itu bukan merupakan pergunjingan, yang sukar untuk mengetahuinya, salah benarnya pembicaraan, dan salahnya seperti apa, salahnya memaksa diri, benarnya ketika sudah mengetahui, sebaiknya bergurulah, karena banyak sekali yang namanya ilmu, ketahuilah yang namanya sholat jum’at.

15. Nasehat yang terlarang yang demikian, jika ada setiap ilmu, kalau tidak ada kesepakatan, akan sangat berbahaya, jika terjadi perdebatan masalah ilmu, tidak ada yang mau mengalah, merasa dirinya paling bisa, selalu terburu-buru namun tidak mengerti, salah pengetahuan sehingga menjadi kliru.

16. Menjadi orang yang serba bisa, merasa paling bisa, dan tidak merasa kalau ada yang menguasai, itu menurut ilmu sejati, hendaklah berhati-hati, rasa sejati itu adalah, tingkah polahmu pribadi, dan itu berasal dari Tuhan, dan jangan merasa bahwa engkau bisa.

17. Yang Keempat sholat Daim, artinya uang mengetahui, kenyataannya kepada Tuhan, bukan karena dari hati, waspadanya penglihatan, kepada Tuhan Yang Maha Agung, itu yang namanya makrifat, tiada dua Tuhan, yang disebut didalam hati, hanya Allah SWT.

18. Janganlah mengaharapkan keduanya, di awal dan akhir, awalnya itu belum ada, namanya yang terakhir, itu namanya jisim (badan), dan yang terakhir namanya roh, yang menjadi kenyataan, sebagai hiasan yang sejati, yaitu sebagai kesatuan yang tunggal.

19. Yang kelima maksudnya, mengetahui yang sebenarnya, sholat Ismu alam, yaitu namanya roh dan jisim (badan) sebaiknya sama-sama diketahui, maksudnya kepada Tuhan Yang Agung, Agung itu namanya Allah, tiada putus dalam melihatnya, kenyataannya menjadi dunia yang abadi.

Selesai di hati Minggu Pon bulan Suro, tanggal 27 di Tahun Je, Hijra Nabi 1994.

Bacaan ini tidak diperboleh sembarangan orang untuk membaca, hanya oran-orang yang telah mampu memahami karena ditakutkan apabila salah paham dalam pemahaman dari jutuan wasiatnya sang penulis.

//guru guru poma//

Lailahailallah mukhmadun rasullullah allahuma shalli ala sayidina muhammadin wa’ala ali sayidina muhammad .

@@@

SULUK BESI


Anggitanipun Abdi-dalem Pangeran Wijil ing Kadilangu.

® Pupuh 01 ®
DHANGDHANGGULA

  1. Pasang tabe sekar madu manis, wasitagnya sudarmeng susanta, nahan kirtya wuryaning reh, pasal kang tumrap suluk, aneng janma satwa ran ki Besi, langkung mesu wardaya, karyanya alungguh, aneng tepining samudra, kang pinangan mung nginum sajeng tan malih, lawan meneng karyanya.
  2. Aneng pereng ampingan andhemping, wus salama datan kauningan, saking rempit panggonane, laminya tan cinatur, inumanya amung sakupi, sarta gelas tan tebah, palala ing Hyang Ngagung, tan telas salaminira, ing sawiji dina kang ngadarbe siti, nuju arsa leledhang.
  3. Dhasar pinggir desa gening santri, kae guru tan mawi sakabat, saha kaskul jujungkate, atasbeh jubah cripu, sapraptane ing pinggir gisik, madeg anon samudra, nulya dangu-dangu, nolih wuri ana / janma , pinaranan meneng datan ngancarani, ki pangulu angucap.
  4. Rika iki apa wong atapi, yen tapaa sajeng dera pangan, yen mahas seng pratikele, kaya wong tapa nekung, nging degsura tatrapireki, ulate pundirangan, apa dhasar bisu, eh manusa angucapa, apa sira basa sabrang tawa encik, nadyan cik sun kaduga.
  5. Apa kang sasato sira iki, apa bongsa ejin parayangan, apa kesurupan kiye, sarya maca tengawud, duk miyarsa sira Ki Besi, ing wuwus kang mangkona, nlongsa jroning kalbu, nora talah ya Ki Ummah, mring sepadha wuwuse cumeri-ceri, eh ta ewa mangkona.
  6. Ngong jawabe ririh denirangling, pasang tabe sampun aduduka, kawula tebih wijile, sarah katut ing laut, sakawasa kajat mratapi, ki pangulu duk myarsa, mesem sarwi mungkur, tapaning ibelis laknat, mangan sajeng sira lungaa tumuli, aja nunggal ing tanah.
  7. Basa kene panggonan ing santri, bok nunulari ing mumurid ing wang,  ingsun pamulangan gedhe, Ki Besi malih muwus, punapa ta batalna kyahi, ing tyas kajat prawita, marang ing Hyang Ngagung, paduka wus pinandhita, teka cukeng ing tanah kawula geni, ujare wong pandhita.
  8. Wus pinongka jasad bettolahi, anglairken sipat tri prakara, ki guru rengu netyane, aja sira amuwus, kumawawa teka kumawi, puluh sira ngucapa, mung kandheg ing clathu, guci-mu sira guwanga, bokmanawa ingsun sudi angangsuli, sakeh ing wuwusira.
  9. Maksih ririh wuwuse Ki Besi, kang waragang lamun binucala, punapa kaindhakape, ki guru nyentak muwus, iku setan karam linewih, blis tan wruh ing tata, buwangen den gupuh, mengko sun ajag angucap, lamun ora dera guwang sajeng guci, lalu tan sudi mulat.
  10. Besi angling manawa kiyahi, ingsun guwang guci si waragang, yen weruh karam karepe, ki guru jelih muwus, eh / ko kapir karam kang ngarti, timbalan ing panutan, sing sapa anginum, ing sajeng kalbeng naraka, lawan adoh panggawe marang ngabecik, ko setan apa wruha.
  11. Ing kalale sajeng ta ko belis, Besi ngucap eh kyahi menawa, kawasa jawab su’ale, itung ing tyas pukulun, ingkang santri tan pesthi swargi, yen pegata lan nalar, nalara puniku, kalamun tan tinandangan, nadyan silih tandangana saben ari.
  12. Ingkang mangan karam bakal mati, kang tan mangan tan wurung palastra, balik yen mati kapriye, yen pesthiya swarga gung, enak dening gon ambuwangi, ki guru nolih lenggah, basakna sireku, karuhan lamun minulya, wong kang gama cinadhang ingkang swarga-di, widadari nyanyadhang.
  13. Sira wuwus sipat ing Hyang katri, iku ora ta agung lan murah, kawasa kaping telune, Ki Besi aturipun, inggih leres puniku ugi, ki guru ciya-ciya, latah nyablek pupu, Besi muwus kang punika, punapa asipat agung wus darbeni, dene dahwen paduka.
  14. Punapa ta / kawula kiyahi, jinawekna titah ing Hyang Suksma, teka kapati dinahwen, kawula kamipurun, amangsuli atur kiyahi, supados pakantuka, sapangat pukulun, santri ingkang mesthi mulya, leresipun rineksa ing donya ngakir, dene maksih sangsaya.
  15. Kang pinangan jejaluk saari, ari miwah ki guru punika, deningoni mring muride, yen mungguh awak ingsun, siya-siya ingsun mastani, dene kawula ingkang, tan bukti sawindu, amung kang nginum waragang, mung saguci awak rahmat sajeng misih, dene tan bekrakakan.
  16. Pan kagepok wadine ki santri, sru muleleng asta suraweyan, eh apa su’al-mu kabeh, den akeh den-atumpuk, kalumpukna aywana kari, mengko ingsun kang jawab, yen sira nora wruh, ingsun guruning ngulama, kae Besi inggih kawula kiyahi, gadhah su’al wadhagan.
  17. Pan kasengsem duk kalebeng warih, lulumuten kalebeng pawaka, nusup nga/ra-ara gedhe, kagyat ana wong bisu, nguwuh-uwuh melingi kuping, sirna manggung katingal, bagda durung rukuk, ngambil geni tur didiyan, akekebut tur kang kinebutan angin, ngangsu pikulan toya.
  18. Lan isining jagad sadayeki, pinten prakara kabeh cacahnya, lah ika jawaba kabeh, ki pangulu anjetung, wiruruten netyanira nis, legeg tanpa wicara, asawang cungkulub, arsa muwus bokmenawa, tan katuju malah garowah  twasneki, satengah tanpa apngal.
  19. Asru ing ngetak mawanti-wanti, upamane wong tuli awuta, kongsi jinawil pupune, kagya[t] ki guru muwus, sayektose kawula kyahi, basa karana Allah, adhuh minta ampun, pangaksama insa’allah, adhuh kyahi kawula anunuwun yekti, ing paduka mulanga.
  20. Kamiselek ing tyas merbes mili, saking kaduwung salah ing tingkah, Ki Besi awlas driyane, eh reke dika mantuk, sampun siliha wektu tangis, /wus parentah ing Suksma, jer dika kumingsun, reke nunten umantuka, sampun dangun puniki wus metu mahrib, reke andika salat.
  21. Adhuh Kyahi boten purun mulih, nadyan silih jangkepa sawarsa, mati ing gon wus pesthine, Ki Besi awas dulu, bok kiyahi ingsun tuturi, supaya amuliya, aywa wet mor ingsun, mamedhar pruwitaning wang, eh kiyahi pangulu ywa walang-ati, nging nuli alungaa.
  22. Pan kageseng duk kalebeng warih, lulumuten duk aneng pawaka, banyu ing netra tegese, gesenge eremipun, basa lumut sajroning geni, roh ilapi geninya, apngal lumutipun, pramila lumut angaranan, tegesipun undhak ing kawruh sajati, angrampo nora suda.
  23. Nusup ngara-ara semuneki, iku nunggal sirna kang katanial, makripat iku ngilmune, paningal ing reh iku, kagyat ana wong bisu nenggih, rumunggu jroning karna, apngal ing roh kudus, bakda sadurung ing niyat, iya iku kang salat jro sanubari, ngangsu piku/lan toya.
  24. Kita iki kaserenan nasir, geni banyu angin lawan lemah, ajujuluk jagat reke, miwah saisinipun, jagat traya mung tri prakawis, kang dhingin ran nurrullah, kapindhone iku, wujud kahanan ing Ngallah, ing tegese mendhak lan mandhukul nenggih, basa nur iku cahya.
  25. Apa ingkang tanpa cahya iki, sabarang kang katon ngalam dunya, pesthi mawa cahya kabeh, ingkang ngabang kang biru, ana bawuk kalawan kuning, reged resik mawarna, akeh rupanipun, kabeh iku aran cahya, dene mendhak mendhukul puniki yekti, barang kang katingalan.
  26. Pesthi kacek-kacek sadayeki, marma muni sipat jroning lapal, mukallapa tumaninge, lil kawadisi iku, gih puniku muradireki, muwah lokat maknannya, mung prasejenipun, pangulu kala miyarsa, sru marwata kalangkung panuwun mami, saking barkah paduka.
  27. Sajeg kawula dereng amanggih, cipta kadya pangandika tuwan, wasisan mangsuk nuwun, mugi tedah/ena wak mami, wonten su’al rinasan, santri tanpa bedhug, lan tunjung tanpa telaga, lawan ingkang sagara gung tanpa tepi, papan datanpa serat.
  28. Sagara gung laut tanpa tepi, lah punika mugi barkahana, kae Besi ris wuwuse, modin kang tanpa bedhug, sasemune ana kang ngilmi, agama tegesira, agama puniku, nora nana sampurnanya, dudu kalek ing manusa semuneki, tunggal sirnaning nganyar.
  29. Wus jumeneng sahadat sajati, semuning tunjung tanpa telaga, roh ilapi sajatine, ananing dattolahu, iya iku ingkang nguripi, miwah tekeng pralina, iku sawabipun, tandhane kang duwe tondha, kang tumondha aja angrasani gusti, uwisa dening para.
  30. Sagara gung laut tanpa tepi, kanyatahan urip ing Pangeran, kaya mengkono tatrape, miwah urip ing banyu, banyu dening tan keneng pati, sapa silih weruha, pati ning/kang banyu, su’alaning ngurip tunggal, sirna luput (sic) kang nganeng dattolah singgih, yeku sagara mulya.
  31. Papan reke ingkang tanpa tulis, pawor ing solah wujuding tunggal, rasa jati iku reke, ki pangulu umatur, pasang yogya puniku kyahi, leres sarta karasa, mring sajroning kalbu, kuneng ingkang nganeng wisma, arinira ki pangulu angulati, kongsi dalu tan prapta.
  32. Ingulatan dangu tan pinanggih, wus tinurut paran ingkang raka, cineluk sumaur rereh, adhi kene gon ingsun, aja swara ing lyan sireki, lagi lega tyas ing wang, kang rayi umatur, lumebu gampeng gumampang, tumranggal edir ing tyas amemasang dhiri, watak tingkah taruna.

® Pupuh 02 ®
S I N O M

  1. Punapa ingkang kinarsan, lawan sinten rowang linggih, ing ngarsa paduka kakang, tanpa kurmat ing ngalinggih, punapa setan ejin, tan weruh paduka guru, nulya lenggah tan taha, rika reke wong ing pundi, papantese angrimuk mring sinatmata.
  2. Ki Besi anjawat asta, rehning sudaranireki, / mitranipun sang wasita, pasang bage sang ngaprapti, kados yen den-ulati, rakanta tan mawa tutur, leres angulatana, sang liningan tan nauri, teka meneng Ki Besi mesem wardaya.
  3. Ki Besi aris atanya, mring panguluh eh kiyandhi, sinten wastane arinira, ki pangulu lingira ris, kadang ngong kang taruni, awasta ki Ketib luhung, karyanya amratopa, ngibadah ki’at lapali, kae Besi mesem sarwi iyatalah.
  4. Nora kayaa ki umah, numbras edire kepati, kaya dudu titah ing Hyang, apaa tegesing Hyang Widdhi, sih ing sira pribadi, nora asih ing Iyanipun, Hyang Suksma ta kerana, siya esak nandhang milih, sawusira dangu meneng ingenengan.
  5. Ki Ketib Anom angucap, ingsun jawab maring kami, ingsun duga nora watak, kaya kakang tanpa budi, ingsun dening Hyang Widi, sinungan kwasa donyeku, ala becik ingsun kadugi, /panduming Hyang ing dunya sinung pangwasa.
  6. Yen sira mitra mring kakang, apa karti ning ngaurip, atawa jawab maring wang, Ki Besi sumber ririh, linggih ing karya mami, ambekan lawan rumungu, apa kang dera pangan, nginum sajeng kang sun bukti, kae Ketib anjelih ariyak-riyak.
  7. Nora lidok ujar wang, si setan angajak kapir, lungaa teka ing guwa, dawek kakang padha mulih, wong kena ing jeladri, linaden rowang amuwus, Ki Besi lona angucap, eh Ki Ketib kados pundi, ing wuwusta kapir punapa artinya.
  8. Kang raka ris angandika, eh adhi dipun-aririh, micaraa den-atata, sirik alat mring sasami, kang rayi anauri, linggih yen karsanta purun, lumadi sawatara, nanging nunten dawek mulih, eh sang tapa sira tanya kehing kopar.
  9. Satus pitungpuluh lima, munapek lan kapir jindik, lawan kapir mutajilah, munapeg gedhening kapir, Ki Besi anauri, ka/dos pundi artinipun, Ki Ketib ngling mangkona, munapek wong tan gugoni, yen manusa sabarang tan aguguwa.
  10. Sapa sudi tetunggalan, mara jawaba Ki Besi, inggih leres nanging uga, kalamun wong tan gugoni, pama kinarya gusti, pesthi yen kena tinurut, kinarya nara nata, kawula kadugi ngabdi, Ketib angling liya iku ora nana.
  11. Sagung guru kang ngulama, kitab-kitab sun petani, kalamun bisa anyu’al, tetep ingsun anguroni, Ki Besi anauri, kang lewih mokal ing Rasul, nengguh ingkang wiwitan, kang winastan lapal kidib, basa kidib linyok (basa linyok) cidra.
  12. Basa cidra sinten ingkang, kawasa dipun-tunggali, nadyan jasade priyongga, pesthi tan bisa nyundhuki, nadyan silih Hyang Widdhi, tan pinereng karsanipun, sinten remen dinoran, ki guru amuwus aris, yayi bener wecane sang pinandhita.
  13. Destun wong ngulah agama, ngrujugaken tingal batin, mongka manggung aselaya, / kaya paran gon ing dadi, gela tyase Ki Ketib, dene bisa acelathu, arep ingsun wiwirang, teka dadak bisa angling, iya bener Ki Besi kang saprakara.
  14. Ana maning su’al ing wang, rondhon wilis tanpa warsi, mara uga anjawaba, adan sumaur Ki Besi, sipta nguripireki, iya iku uripipun sirnaning nguripira, jumeneng ngurip ing gusti, ywa kaliru mati urip saya nunggal.
  15. Iku sampurnaning ngedat, Ki Ketib malih nauri, tanggal pisan kapurnaman, kerut ing grahana singgih, sentek pisan nigasi, paran uga semunipun,  Besi ngucap punika, sentek pisan anigasi, sasmitanya liru wujud ing kahanan.
  16. Sapa kwasa mulat myarsa, sinten bisa ngakal mosik, siraningali punika, ananya ananing Gusti, aywa angroro dhiri, iku surasaning kumpul, sirnane padha ana, kang sirna wujud yen mati, ingkang padha ana Pangeran lan Suksma.
  17. /Tanggal pisan kapurnaman, tur kelu grahana singgih, puniku reke semunya, ing mangke kadya duk nguni, kang karasa sajati, anaya mangke puniku, tur kinarya lantaran, kang kariyin kurup alip, dede sastra kang tapsir roh kang sampurna.
  18. Nyatane tapsir puniku, wawadhah ing roh sajati, wadhah ing tapsir puniku, lwih alus luwih suci, wus aja angraosi, den awas aja kaliru, lan aja sumambrana, yen sira nora udani, iya iku kang nyata tingal kawula.
  19. Allah Muhkamad pamornya, lan puji pratikelneki, dongane anjawat tangan, jenengingsalat ta mangkin, kang jenengaken ugi, ya paworing salatipun, tan wruh anjawat tangan, tan wruh ing rasa sajati, iya iku aran pamor jeneng tunggal.
  20. Sapa ngawinaken para, Ki Besi yen nyata luwih, Ki Ketib datan saronta, nging misih mempeng tyasneki, Ki Besi a/nauri, Allah kang mongka pangulu, walinipun Muhkammad, Jabrail mongka sesahit, malah aneng sajroning masigit johar.
  21. Monongka karesminira, apa tingkah-mu Besi, eh Allah apulang karsa, iya aneng jroning kapti, apa mas-kawineki, den aglis sira sumaur, nenggih mas-kawining wang, sayektine ngilmu jati, ajejuluk kiyanat kekasihira.
  22. Nging sampun kaliru tompa, wastaning kiyanat singgih, panjenengan ing Sang Hyang Dat, edat mutelak kang jati, kidan lan bakaneki,  wujude datan kadulu, mung Kyang Suksma kang purba, kang kapti sajroning kapti, pan punika sampurnaning mas kumambang.

® Pupuh 03 ®
MASKUMAMBANG

  1. Ya kerana kumambang ingsun arani, napi wujudira, isbate amartandhani, kaya edat jnengira.
  2. Eh Ki Besi sapa nginum lawan bukti, eh singgih punika, engaming dat para iki, sampun amanut ing liyan.
  3. Yen wus bukti arsa nginum toya suci, urip jeneng para, karana ingkang / rohkani, rohkani angsaling cahya.
  4. Cahya iku patibaning johar wening, dhuh sapa rowangnya, lamun sira bisa ngising, bisa mangan lan sembayang.
  5. Lan utawa wruh ing ngiman lawan tokit, kalawan makripat, sira weruh sadat jati, kalawan sadat sekarat.
  6. Apan tunggalipun kawruh rasa jati, iku tan pantara, salate rahina wengi, pan sakehe iku salat.
  7. Punapa ta kepasang yogyaning galih, Ki Ketib karoban, ing pasang siptaning lungit, rong sangat meneng tan ngucap.
  8. Kae uwa pengulu ririh anjawil, mring Ketib rinira, eh kadhi aywa nyampahi, sang wiku sabar waspada.
  9. Angur silih ngalapa barkah ing ngilmi, malar wuwuh bisa, Ki Ketib sendhu dennya ngling, Kakang wong sami tinitah.
  10. Ewa punika kakang ngong ngubayani, lamun saged babar, wasiyating guru mami, kawula dereng kabuka.
  11. Durung gingsir sayarda tyasnya / Ki Ketib, angangseg mangarsa, tur wus wayah lingsir wengi, Ki Besi rika jawaba.
  12. Kaya paran urip tingkah ing Hyang Widdhi, cilik lan gedhenya, akeh lan apa sawiji, kalamun iku akeha.
  13. Pan wus muni sajroning kang dalil kadis, siji pasthineka, yen siji ya kadi pundi, sagunging makluk kahananan.
  14. Lah jawaben dipun-age den-matitis, aywa meneng para, Ki Ketib sajroning batin, durung wruh manising su’al.

® Pupuh 04 ®
DHANGDHANGGULA

  1. Nedha aglis jawaben Ki Besi, teka mulur Ki Besi tyasira, mara rereh apakoleh, eh ananing Hyang Ngagung, secakakan manira wangsit, mani jro samudra, caplek mungguh tengsun, lawan silih warna pira, saisining samudra kang keneng warih, nadyan wedhi lan lemah.
  2. Yayi yuyu yayah yanging warih, warih warateng jiwa rakatha, mina mimi katuwone, wawejingen puniku, pineresa apa kang mijil, mokal metuwa naga, pesthi metu banyu, banyune sayekti padha, lawan ingkang sinaba warih jaladri, iku mungguh manira.
  3. Upamane mina jro jaladri, ye/n mariya pamanganing toya, apa silih jujuluke, tur nora dadya manuk, kari mati apulang [Wi]dhwi, duduh iwak mor tirta, sisik dadi endhut, lah apa winalang driya, kae Ketib sumungkem awetu tangis, ing padanya sang kaka.
  4. Besi angling punapa kiadhi, durung nrima semu kang mangkona, baya maksih aroronce, ing sipta durung cundhuk, Ketib ngucap sarwi anangis, sang pandhita-pinandhita, Nabi Duta langkung, rahmating tingal jro driya, guru amba satus kawanwelas maksih, dereng kapareng uga.
  5. Tangis amba tobat mring Hyang Widdhi, ko mangkene rasaning ngawirang, enak ginebug wong ngakeh, maksih kawasa dulu, lawan jeneng duraka jisim, iki duraka nyawa, baya tegesipun, ebate ing tyas manira, kae Besi bisa ngasmala ngreh mami, malah tan kwasa mulat.
  6. Karunanya asawang pawestri, Ki Pangulu angluluh wuwusnya, adhi mau ngong kapriye, banget pamenging ngingsun, ingsun yayi jer tas nglakoni, wus a/ywa keh rinasan, minta apureku, Ki Besi langkung sagara, Besi angling ana ta kadis sawiji, pangandikaning Suksma.
  7. Sagung manusa titah ing Widdhi, teka nora nimbangi sih ing Hyang, lamun bengi enak sare, sun reksa mangu-mangu, teka ngebuhaken Hyang Widdhi, wong marentah pengeran, kang mangkono iku, samongsa ingsun tinggala, kari rusak bathange pinangan genjig, Ketib apa mangkona.
  8. Nora nana goroh dadi tamsil, lamun turu lali Hyang Wasesa, kadukan cahya waune, sira tangi puniku, eling para lamun anggusti, alip jenengan para, kang sampun angguru, sayekti salat punika, nora kaprah nanging kaprah anglampahi, wau wonten punapa.
  9. Satangining karuna Ki Ketib, anebut pupungun waspa, satata umatur rereh, eh pukulun sang wiku, dhuh kawula paduka neksi, ing jaman wurining wang, aywana kadyengsun, /malar pinongka upama, kalakuhan pangucap anjunjung dhiri, kaenas bongsa kewan.
  10. Kawula dhuh panjingna mumurid, saparanta tan taha selaya, rumusak tapak padane, umangsah arsa ngujung, jawab pada nulya Ki Besi, api ametu toyan, sangadinya nguyuh tinut wuri datan ana, ingulatan wong loro datan pinanggih, emeng tyas sakaliyan.
  11. Wangsul mring guwa arsa manganti, kajat reresik patilasannya, bok keneya suwe-suwe, kupi arsa jinunjung, supayane pernah gyaneki, ginuyuh kupi musna, kari gelasipun, kang gelas anglis tinepak, swaranya jur kumariyek punang bling, binuka datan ana.
  12. Ketib sadhadep Pangulu anjlih, Dhuh Ki Besi punaka kawula, tuwan ilok-ilokake, destun tyas durung tutug, manggung kyadhi kang mamadoni, ya Allah nora talah, maring ngendi mau, tumutur medal singguwa, Ki Panggulu subrata mamati ragi, nedya/sumusul paran.
  13. Niki Besi eh para ta yayi, wus te/k/dire pinaringan susah, sira muliya den sareh, ywa nikelaken tuduh, ing wong tuwa sira gumanti, Pangulu mumulanga, ingsun arsa nglangut, lah poma sira muliya, kur-ungkuran Ki Ketib teka nuruti, tan ana bisa ngucap.
  14. Byar rahina pangulu wus tebih, anut pasisir saparan-paran, kalulun non samudra rob, ribet tyas dennya dulu, kaya paran ingkang jaladri, banjir teka ing ngapa, mring diasastipun, pitekur anjum wardaya, lilingsene lupa luwe sarta arip, ana rasaning driya.
  15. Nulya mangkat wus samangkat ati, ati tata-tataning satitah, katutuh kang durung teteh, tetela lamun luput, lepiyan kang wus kawuri, nulya ana sungapan, anjog samudra gung, gung tikbra anon sungapan, iya talah banyu iki seka ngendi, mring di paranira.
  16. Kacathet durung teka lumaris, datan kena katon ingampiran, binetahan amrih beteh, wus lami lampahipun, /kuneng gantya winuwus malih, Ketib ing lampahira, anilab tan mantuk, tan suda rasaning driya, kae Besi agawe cuwaning ati, mring ngendi paranira.
  17. Cecawetan anjujur wanadri, tan kena janma katon tinanyan, Ki Besi mring di parane, kang tinaken tan weruh, malah ngucap anarka baring, saparannya mangkona, lepas lampahipun, ana lakon pitung siyang, datan ana gubug padesan kaeksi, wus laju lampahira.
  18. Tan ana janma ingkang kaeksi, tinakenan miwah jinalukan, karana telas sangune, sangu antuk jejaluk, nging puniku tan ana kari, susah ketib tyasira, laku durung tutug, kaselak cupet sangunya, tengah wana ana katon janma kaki, kaki tur kawlas-arsa.
  19. Lara lempahreng pinggir ing kali, tunggak dhoyong ingkang ingenggenan, tur bolong pernah bokonge, pamrihnya lamun nguyuh, ywa kongsi susah lumaris, ngarsane ana ancak, sega iwak ngumbug, panganan sunging wong dagang, pinggir dala/n karyane amung ngamini, istijab pandonganya.
  20. Cahya wenes wutuh busaneki, duk umiyat Ki Ketib umarak, takon Ki Besi parane, sinauran tan weruh, atetanya wong ngapa kaki, panggonan panganira, miwah busaneku, sakalangkung tan sayogya, aneng wana panganane sarwa adi, sapa kang manci sira.
  21. Anauri wong liwat kang manci, Ketib mojar eh aja dinawa, ingsun iki selak luwe, musapir segamu, kaki asung karsanireki, paweweh ing Hyang Suksma, den warek den tutug, Ki Ketib sawusnya mangan, atetanya satemene iki kaki, apa panggotanira.
  22. Sun tingali lempoh sira iki, tur adoh pakarang pawisman, pepak sandhang lan pangane, sun banget salang gumun, lawan pira lawasireki, ki Tuha lon saurnya, meh ana sawindu, kamurahaning pangeran, durung ngepot kang sun sandhang kang sun bukti, ya Al[l]ah lewih murah.
  23. Wong adagang sun darma ngamini, dumadakan kolur sandhang pangan, lan tanpa braya sun kiye, murahaning Hyang / Ngagung, lagi durung ginanjar pati, kon urip ana pangan, ning sapanganipun, Ketib angling bener sira, lamun urip sarba istiyare prapti, murah ing Hyang istiyar.
  24. Iku basa kekerasan kaki, sato kewan lawan gagermeta[n], pesthi ana istiyare, marma na panganipun, mongsa kaya Pangranireki, ithik-ithik amurah, pira kadaripun, jatining Hyang Maha Mulya, nora arah mongka ngaku sira kaki, den regsa saben dina.
  25. Sira mongsa kayaa Ki Besi, bisa nora lunga-lunga lawas, nanging tan mangan jatine, mongsa kaya sireku, abung desa ngaku tan gingsir, tekeng panggonanira, tur ngaku sawindu, ithik-ithik kamurahan, ning Pangeran dening ingsun anglakoni, wong padha duwe Allah.
  26. Tan mangkone pratikele kaki, nora murah yen tan lan istiyar, kaki tuwa muwus rereh, mongsa seje ya iku, Allah sira lan Alah mami, amung sira kang beda, kalawan katengsu/n, ana lapal sipat iman, lawan ana lapal yahomil ‘akiri, ngandel dina ing wuntat.
  27. Kae Ketib latah anauri, teka dalurung etunging desa, nadyan lapal kang mangkene, ya iku dalanipun, marma saking istiyar neki, mengko kaki ngong jarwa, jasat lan roh alus, lamun maksih bongsa badan, kamurahan margane istiyar wajib, lamun wong bongsa nyawa.
  28. Kamurahan tanpa dalan prapti, iku kaki yen mungguh manira, ki tuwa meneng eseme, yatalah ta Hyang Ngagung, bisa karya awarni-warni, kuneng kang rebut swala, ana peksi siyung, aneng panging kayu sana, amelingi Ki Ketib rungokna mami, bener si kaki tuwa.
  29. Ingsun uwus belani si kaki, keneng pulut bodhol swiwining wang, tiba ing kali lor kiye, brondhol tan bisa mabur, katuju tan koningan janmi, kasangsang neng perbatang, iku antep ingsun, tur aneng tengah ing toya, nora bisa ngalor ngetan ngulon sami, mung jajah saperbatang.
  30. Duk ing kono ingsun krasa ngati, paran baya / manuk aneng toya, manuk alas ingsun kiye, dudu manuk neng banyu, dumadakan ing luhur mami, kang tumelung nging toya, ana kayu senu, tanpa uwoh ingkang wreksa, osik ingsun lekasana kayu siji, dudu panganan ing wang.
  31. Yen buluwa atawa waringin, lawan enggal ingsun arsa-arsa, wus takdir kene patine, narima awak ingsun, katujune tan mati wingi, umur wuwuh rong dina, ganjaran Hyang Ngagung, tan antara nuli ana, wre branahan angalih panggonaneki, iku neng luhur ing wang.
  32. Kecerane yen mangan kang kopi, iku akeh runtuh neng perbatang, kang sun pangan salawase, sun kongsi bisa mabur, marma sidik wuwusing kaki, iku sira idhepa, Ki Ketib sumaur, sira iki manuk apa, bisa ngucap pakarti tur kaya janmi, layak yen mangkonoa.
  33. Ujer sira malekat sajati, nadyan silih sira malekata, kwasa manusa jatine, jati manusa tengsun, ingsun iki hyan tan udani, sa/polah tingkah ing wang, prentah ing Hyang Ngagung, sun jumeneng rahsaning Hyang, arep apa sira manuk apraduli, tan arep pangrehira.
  34. Gantya menco ngling tutur sajati, ingsun ingon ing anak sudagar, sun cumbu uculan bae, mati aneng wana gung, gustingsun sadagar sugih, binegal aneng alas, dadya sun nglangut, marma bisa ngucap janma, tan pantara sang menco wus mabur tebih, Ketib sumelang ing tyas.
  35. Arsa ginugu datan kadugi, tan ginugu ing tyas tan anduga, enget tyas meneng asuwe, ngur malekat ta iku, nora tanggung gon angrasani, mudhun mring kaki tuwa, lah kaki lilamu, sega ingkang wus sun pangan, lawan ingsun anjaluk kang sega aking, ngong karya sangu marga.
  36. Eh ya apa sakarsanireki, aran iku kamurahan ing Hyang, Ki Ketib mesem wuwuse, ewa ingsun rumungu, kecap mangap murah ing Widdhi, ingsun arsa nyatakna, murah ing Hyang Ngagung, sawusira asadhiya, sangu karak umangkat ngujur wanadri, ngulati kamurahan.
  37. Ingkang marga tumeka pribadi, wus alawas tan ana karasa, antara sangu wus entek, lapa lupa kalangkung, dadya rereh dennya lumaris, ngendi gon sun istiyar, neng tengah wana gung, ingsun mangana godhongan, iya maksih tumeka istiyar mami, kang tan metu wak-ing wang.
  38. Kang katongton mung ujaring paksi, apa nyata ingsun tan kaduga, yen nyataa kaya priye, polah pratikelipun, kamurahan teka pribadi, lan samarga tan pegat, Ki Besi kinayun, kapapag janma lumajar, bokmanawa wineyan sega sun iki, saksat misih waking wang.
  39. Saksat jaluk upama nakoni, pasthi sumaur yen ingsun lapa, wineyan mengko temahe, durung murah ta iku, lamun durung teka pribadi, temah nyimpang sing marga, neng ngisor wreksa gung, kayu growong sinusupan, kang supaya aywana janma udani, kang liwat wong adagang.
  40. Juragan ageng keh motan sapi, dumadakan sapine gambi/ra, wowotane padha kecer, sapi patinng salusup, bubar mawud maring wanadri, gumeder ingadhangan,  wonge ting salusup, Ki Ketib inginjen tumingal, wowotane kecer datan pinarduli, Ketib ling inng wardaya.
  41. Iki godha donya kocar-kacir, durung murah yen ingsun juputa, ngong jajal sun meneng bae, gumeder ngalor ngidul, ting bilulung ngulati sapi, Ki Ketib mulat nulya, api-api tan wruh, wong dagang prapta genira, tinakonan Ki Ketib sayapi mati, nom tuwa padha prapta.

® Pupuh 05 ®
S I N O M

  1. Wong dagang pating gurayang, wong ngiki satengah mati, kaliren neng tengah alas, mesakaken sun tingali, tawanana abukti, pasthi arep yen karungu, prapta angambil sega, Ki Ketib meneng tan angling, mata merem cangkeme mingkem kewala.
  2. Ki Ketib osiking nala, lamun ngucapa sun iki, dadi dudu kamurahan, marga pangucap puniki, lamun ingsun bukti, tanganingsun maksih muluk, maksih istiyar ing wang, Ki Ke/tib malah mundelik, wong kang dagang alok mati mengko uga.
  3. Eh batur sira ngambina, maduning tawon sathithik, prapta madu winadhanan, tinetesken tan ngecapi, cangkeme saya kancing, ki juragan saya gugup, mengko mati temenan, wengkangen dimen ngecapi, sru winengkang ngesokan madu cangkemnya.
  4. Maksih kinembeng kewala, durung gelem angecapi, cangkem wus kinebekan, gelagepan apaneki, kaselak madu keli, kaulu wus prapteng gulu, Ketib gumuyu latah, murah temen Maha Suci, tinakonan wus jarwa sasolahira.
  5. Ngungun gumuyu kang myarsa, sakehe ingkang ningali, wus amit ungkur-ungkuran, samarga ngungun Ki Ketib, tobate andhericis, biyen uwus tobat ingsun, ngina sapadha-padha, mengko iki kaping kalih, tan antara peksi menco prapteng ngarsa.
  6. Mamelehken wuwusira, sita tan ngandel Hyang Widdhi, ing mengko wus kalampahan, tobata sira deneling, Ketib gu/muyu belik, eh menco bener sireku, payo sira sun gawa, mring wismengsun sun ingoni, gya dinekep kang peksi menco wus sirna.
  7. Sajatine malaekat, Ki Ketib ngungun tan sipi, yen weruha malaekat, sun takon gone Ki Besi, mupus ing tyas wus pasthi, polah titah ing Hyang Ngagung, wus lepas lampahira, kuneng gantya kang winarni, Ki Pangulu kang nganut pinggir samudra.
  8. Kang pinangan mung gogodhongan, kang dinugan kang kinapti, miwah woh katuting sarah, mangkona salamineki, cinipta mung Ki Besi, datan ana lyan kadulu, munggah ing parang sengkan, anulya ana kaeksi, kanang guwa luhur respati tur padhas.
  9. Cala lit tanpa kakaywan, padhase kaya ingukir, wancak suji ana pindha, kang pindha bale mangapit, ana manusa siji, wayahe satengah sepuh, kukap cawet babakan, tan ana karyanya malih, mung ngusungi sarah ingkang warna/-warna.
  10. Godhongan ingkang katingal, jinuput aneng ngarseki, mung cinekel tininggalan, manggung angiling-ilingi, bos[en] amendhet malih, tanpa ngucap tanpa turu, Pangulu duk umulat, ririh teka angunggahi, wusnya tata lungguh Pangulu atanya.
  11. Paduka sang maha brata, ing pundi ingkang kawijil, lan punapa kang kinarsan, Sang Tapa datan nauri, ing ngulate amanis, trepsila ing lungguhipun, dhapure analongsa, Pangulu keguh tyasneki, Kyahi Tapa muga sampun aduduka.
  12. Ing wau kula gumampang, dereng wruh karsaning brangti, Pangulu tumungkul sarta,  mangen-angen rehireki, yata ana kapyasi, sajroning talinganipun, eh ki prapta ywa duka, kawula wong kemul langit, kandhang mega akadang wukir samudra.
  13. Ki prapta sampun duduka, ambisu sun sedya ngati, andika punapa gurnan, jagongan kalawan mami, kawula sapuniki, boten kenging acelathu, dene dika/ ngupaya, enggone Kiyahi Besi, ing puniki duk mulih mring nagri Wandhan.
  14. Kagyat pangulu jenggirat, tiningalan maksih linggih, tan montra netya ngucapa, tinanyan malih tan angling, meksa meneng tan muni, Pangulu garjiteng kalbu, aneh wong iki uga, jajal ingsun meneng maning, jroning meneng Pangulu ana pangucap.
  15. Tur pangucap sarwi suka, malah katon jroning ngati, punapa andika ngucap, wonganeh maring wak mami, Pangulu manas angling, nging tanya sajroning kalbu, malah merem netranya, Pangulu kadya wong ngipi, atatanya Ki Besi benjing punapa.
  16. Prapta panggih lan kawula, lan sinten wasta sang branti, eh Ki Besi pan meh prapta, aran ingsun ing saiki, Kalam-molah wak mami, ingsun tutur ing sireku, arinira meh prapta, anusul maring ku Besi, lawan sira bakal aneng ing laotan.
  17. Pangulu malih atanya, punapa ingkang kinapti, sakeh sareh gogodhongan, paduka iling-ilingi, ingsun nora jarwani, takona Ki Besi besuk, Pangulu malih turnya, kawula tur pati urip, nuhun lebur tapak padasta paduka.
  18. Kang pesthi donya ngakerat, sang maha brata lumaris, wong punapa awak ing wang, tuhu dahad dameng ngilmi,mung kojah para wali, warah ingsun mring sireku,nat kala  musawarat,kumpulan sagung pra wali, angrujuken ing kawruh lah piyarsakna.

® Pupuh 06 ®
MASKUMAMBANG

  1. Maskumambang kang mongka murdaning gupit, aneli kang sabda, ambuka rerasan adi, manitreng duk Sunan Benang.
  2. Pakumpulan kalawan Susunan Giri, Sunan Ampeldenta, kapat Sunan Geseng angling, aris maring Sunan Benang.
  3. Kados pundi panggerane kawru[h] jati, pangawruh paduka, Jeng Sunan Benang lumaris, anadene yen manira.
  4. Yen jenenging rupa puniku sayekti, ananira nyata, kelokaning rupa jati, jatine karsa manira.
  5. Angling malih Jeng Susunan Geseng maring, Sunan Giri-gajah, pekenira kadi pundi, menggah panggeran paningal.
  6. Manabda ris Kangjeng Susunan ing Giri, kang puji punika, sayektine / rupa jati, iku sapamirsa paduka.
  7. Lingnya malih Pangeran Gageseng aris, mring Kangjeng Susunan, Ngampeldenta kadi pundi, ing sapamirsa paduka.
  8. Anauri Jeng Susunan Ngampel-gadhing, ingkang salir nyawa, solah tingkah muna-muni, sakyehning panggawe ngalam.
  9. a. Uliye mring sampurna jatining kapti, iya iku ing wang, ya iku sajatineki, kang ran lah sun yyan manira.
    b.  Sebute Allah sun nabda dat alahi, nulya kang pangucap, Pangran Gageseng yen mami, ingsun wong kandheg ing Allah.
  10. Kang puniku den-ukumaken tan apti, ngukumi tan arsa, angling Sunan Ngampel-gadhing,  punapa boya kantenan.
  11. Ing karsanta sampurna sapraptaneki, miwah saulihnya, anenggih sang suksma jati, tan kajero tan kajaba.
  12. Nora lapal lawan tanpa makna ugi, tanpa padha neka, tanpa kahananireki, puniku lawan malihnya.
  13. Loro datan ana Pangerane kalih, jawab kang punika, suka Pangran Ampel-gadhing, eh eh anak putuning wang.
  14. Padha sira teki-tekiya ing ngilmi, panggeran sampurna, iya kang jumeneng wali, sadaya ngisep punika.
  15. Bo/ya ana Pangerane myang Nabyeki, miwah tan mangeran, ing Ngal[l]ah lan iku Nabi, sayekti dudu panutan.
  16. Mantep suksma kewala poma den gemi, rerasan punika, binunuh ukume yekti, buka gaib tebenging Hyang.
  17. Ki Pangulu sangsaya padhang ing galih, lir mas sinepuwan, lir malam katrapan api, nging maksih kadya supena.
  18. alam-molah atanya osiking ati, lah punapa rena, pituture wong tanpangling, nging kawruh taksih taruna.

® Pupuh 07 ®
S I N O M

  1. Pan dereng montra miriba, lan Ki Besi guru mami, Ki Pangulu aturira, kalangkung nuhun ingkang sih, nokitken tingal batin, Ki Kalam-molah amuwus, lah wus para meleka, Pangulu nulya anglilir, wus kapanggih neng pulo tengah samudra.
  2. Sang Tapa datan karuwan, Ki Besi katemu linggih, gelas kupi wus sumadya, pulone alit tur inggil, sadhepa apasagi, tan ana watu myang kayu, mung padhas amenthilas, Pangulu gugup ngabekti, kae Besi cineke/l tan kena uwal.
  3. Pangulu amatur nembah, pulo pundi dhuh puniki, aripak aneng lautan, kawula kalangkung ngajrih, kae Besi nauri, iya layaran rong taun, saking nging nagri Wandhan, hyan teka ngomahireki, ana uga lalayaran pitung warsa.
  4. Iya yen ngidul rong wulan, rong sasi mangetan malih, ngalor ngulon padha uga, tan ana dharatan keksi, pulo sikareng keksi, sira mau atatemu, lawan Ki Kalam-molah, iku uga mitra mami, pakaryane ngiling-ilingi godhongan.
  5. Mau tuturmu maring wang, akon sajarwa sireki, marma godhong tiningalan, pan iku minongka tasbih, apngalliya asuci, tekeng ngriku tuduhipun, kang manggung tiningalan, kaliyang sirnaning kuning, dadalane kang manggung ngiling-ilingan.
  6. Lan tinitah beda-beda, ana karyane pribadi, iku kang pinaham-paham, Ki Kalam-molah sayekti, Pangulu tanya malih, punapa kang samodra gung, yen rob wewah kalintang, yen angok suda kepati, dhuh puniku punapa ta sababira.
  7. Ki Besi tutur sajarwa, sababe ingkang jaladri, kang dhingin sabab agungnya, kapindho sabab ing angin, angin ing jagat iki, yen sore mirih mindhuwur, banyu satengah nglempak,ing pinggir kathah wong neki, marma angin mindhuwur sabab ing surya.
  8. Yen sore srengenge ilang, punang jagat temah atis, yen esuk aruna prapta, kasumukan jagat iki, susumuk dadi angin, warata mring bawana gung, nempuh maring samudra, banyu ber udaya banjir, dudu banjir banyu angalih panggonan.
  9. Pangulu umatur nembah, menggah ing jasat puniki, punapa inggih sanesa, sami nama jagat singgih, Besi nauri aris, padha uga solahipun, yen santri kitab rancang, nanging durung amatitis, satemene ingsun muwus cara Jawa.
  10. Den dhemen sira miyarsa, lan rasakena pribadi, aja sira musawarat, yen durung nunggal sakapti, bok tan nyandhak kang myar/si, satemah ingaran kupur, ingkang pinalang-palang,setengah ambuka gaib, kaya bisa yen wus wijiling ganjaran.

® Pupuh 08 ®
M I J I L

  1. Ingkang ingaran manusa kulit, dene kang sipat wong, anging kulit mung buntel gawene, kang supaya ing jero ywa garing, kerasaning kulit, yen ginepok iku.
  2. Marma krasa sabab saking getih, marmane mangkono, lamun badan gringgingen rasane, jiniwita nora montra sakit, gringgingen puniki,  meneb daraipun.
  3. Obah ing balung kang gawa daging, iku saking ngotot, obah ing ngotot pikiren reke, yen tan wruha uripe tan tertib, basa nora tertib, tegese tan urut.
  4. Aja sok ngaku urip sawiji, kang mangkono goroh, marma ngong ngarani goroh mangke, tanganing wong anambur upami, wong gambang kumitir, mokal dhewekipun.
  5. Mongsa kobera aduwe kapti, / karepe semono, lawan malih yen obah drijine, ngisor kuku miwah ing jejenthik, yen uripa siji, jenthik otot nurut.
  6. Wiwit jenthik prapta jroning ngati, mongka tan mangkono, Kya Pangulu angangsek ature, dereng serep nanging jeg matitis, ingkang pundi ugi, nenggih dunungipun.
  7. Besi angling pawore sayekti, ingkang ngaranan roh, roh panekar iku upamane, ingkang ngakeh-akeh ingarani, tegese puniki, sabab aranipun.
  8. Sawab dudutane molah mosik, bubuhan ingkang roh, roh pipikul upamane kabeh, kang sawiji upama roh carik, amratikel kardi, marentah sedarum.
  9. Balung daging ngotot miwah kulit, karyane meh awor, padha jumeneng dandanan kabeh, seje lawan banyu angin getih, kang telung prakawis, dadi sabab iku.
  10. Mulane tangan bisa amosik, kaceneng ing ngotot, kang cineneng iku ba/balunge, obah ing oto[t] saking ing getih, getih kang neng daging, nglawani karyeku.
  11. Dening ngobah ingkang punang getih, babayu kang ngoyot, obah ing banyu iku sawabe, ingkang ngirit angin ingkang aris, teges ingkang ngangin, aris iku sumuk.
  12. Sumuk ing ngurip ingkang amawi, kang kukutha kono, mongsa borong gon andunungaken, susuh angin ya canduning ngangin, wus bangsaning gaib, tan kena winuwus.
  13. Yen-nganasir owah salah swiji, jeneng lara encok, lamun getih angowah arane, lara apus emar rasaneki, kurang panas sakit, kemel kekes iku.
  14. Lara telung prakara puniki, iku laraning wong, kang wus tuwa mengkono tindake, marma owah paningalireki, banyune mung kedhik, tan kaya duk agung.
  15. Mila suda pamiyarsaneki, susumuke kalong, mila aber kang lidhah polahe, otot alum getih mung sathihtik, / yen mamangan kaki, suda rasanipun.
  16. Dene sungsum karyane nguripi, balung kang den emong, sabab kang sungsum lenga dhapure, iku banyu ingkang gawa geni, yen ngamungna warih, berek maring balung.
  17. Dhapuring lara mung rong prakawis, tegese kang roro, dhingin owah pasang ing nasire, iku uga aran lara wajib, ingkang kaping kalih, panganan margeku.
  18. Lara wenang kang saking ngabukti, kang kajaba kono, lara duraka iku maknane, keneng bendu ujar sok alali, marang ing Hyang Widdhi, kang lara kabentus.
  19. Ki Pangulu umatur aririh, palaling Hyang Manon, basa istiyar lawan papesthen, kados pundi pasang ingkang yekti, wenang wajibneki, Ki Besi umatur.
  20. Aja kakeyan pamekireki, kang satengah ing wong, kang istiyar marganing papesthen, ana satengah ana wong akiwit, rosa istiyar ing, pakaryanireku.
  21. Ana ma/ning ingkang den karemi, mung pesthi wus dheprok, ubang-ngubeng mung pesthi andhege, kang mengkono yen mungguh ing mami, bener sadayeki, karo padha luput.
  22. Karanane kawruh ingkang dhingin, wong ngengkel mring Manon, kang sawiji ngresula semune, pangulang ling adhuh ingkang pundi, tyas langkung kagimir, su’al kalihipun.
  23. Mungguh manira kang prapteng tokit, kinumpul kang roro, yen wus kumpul ngalih jujuluke, ki istiyar kalawan ki pesthi, arane puniki, pinareng punuju.
  24. Iku kang wus tegdir dalil kadis, kusus para raos, kalawan ana patarangane, lamun arsa masang susuh pesthi, ngesemana ngilmi, sira den tuwajuh.
  25. Basa ngilmi kawruh warni-warni, peten salah sithok, upamane pandhita gawene, sring niteni gagak lamun prapti, palaling Hyang Widdhi, gagak margenipun.
  26. Tur ta gagak tan pisan ngawruhi, itung kareping wong, mila dadya pandhita ngilmune, jer ing batin ing tyas wus ubanggi, ajana kang prapti, dhangdhang yen tan pethuk.
  27. Kadyangganing wong ngaduwe / ngilmi, olan-olan alon, dennya ubaya mring santikane, nora nana ula ingkang mandi, lamun ana mandi, Ngijrail neng ngriku.
  28. Ana maning upama sawiji, wong ahli maido, lawan wong ahli gugon pamane, tur ta karo iku padha sidik, wus karseng Hyang Widdhi, genti patrapipun.
  29. Endi lire ingaranan ganti, yen wong kang maido, bakal ana warta tan kayekten, demadakan karsaning Hyang Widdhi, kang maido prapti, bener wuwusipun.
  30. Lamun bakal warta kang sayekti, dilalah kang gugon, ingkang ana ing kono wartane, ginugu dadi kang warta sidik, wong maido tebih, dumadak tan ayun.
  31. Iku lire patarangan pesthi, antep kang mangkono, Ki Pangulu legeg jro driyane, sakalangkung lumeket ing ati, rumasuk ing budi, karaket jajantung.
  32. Kawula kamipurun mangsuli, katur kang katongton, Ki Kalam-molah pundi wismane, kawula dahad dereng dumugi, gen kula kapanggih, Ki Besi gumuyu.
  33. Teka meneng solahe Kya Besi, Pangulu duk tumo/n, ana karaseng tyas kaduwunge, gennya munjuk arsa apapanggih, kang katon ing galih, Kalam-molah wau.
  34. Kya Pangulu meneng datan angling, tan dangu karaos, jro talingan ana swara rereh, muni Kalam-molah datan molih, nging swara anitir, tan salin kang wuwus.
  35. Jroning netra tan liyan kaeksi, Kalam-molah katon, manggung katongton aneng netrane, mulat samudra milu kaeksi, dulu langit-langit, tumut aneng ngriku.
  36. Kalam-molah kang manggung kaesthi, bosen dennya tumon, manggung katon tan ana karyane, miwah kang karungu tanpa kardi, mung manggung mumuji, maring jenengipun.
  37. Kalam-molah tan liyan kapyarsi, bingung dennya anon, Ki Pangulu amubeng polahe, mulat lor kidul milu kaesthi, miwah kang kapyarsi, merem andhekukul.
  38. Maksih katon sigra angrubungi, ing pada rawat loh, adhuh kula edan temah mangke, yen tan padu/ka sih ing kaswasih, rucaten puniki, kula kesel dulu.
  39. Malah ajrih bosen aningali, yugya tan antuk don, minta apura punapa sak reh, tan uninga ing wau sayekti, ing tindak puniki, kang angreh pukulun.
  40. Duk ing wau paduka sung warti, mimitra kimawon, marang Ki Kalam-molah ing mangke, dene paduka kang ngreh sayekti, pakarti puniki, dhuh bosen pukulun.
  41. Kae Besi wus menenga ugi, pratingkah guguyon, balik payo mring dharatan age, sun arsa nemoni rinireki, wong nguwis ya uwis, payo padha laju.
  42. Duk umadeg sing sasana nuli, sumaput kang panon, Ki Pangulu nora wruh parane, wusnya eling byar aneng wanadri, neng prabatang nginggil, panggih rinireku.

® Pupuh 09 ®
KINANTHI

  1. Kinanthi janma katelu, Ketib Pangulu Ki Besi, wusnya takon-tinakonan, ing sasolah tingkah neki, kupi kapanggih sumadya, Ki Keti/b umatur aris.
  2. Nanging batine kasusu, atur takone Ki Ketib, muwus atur cecandhakan, sarwi kurmat mangku kupi, pukulun ingkang waragang, punapa karyanireki.
  3. Kebangrasen aturipun, Ki Besi aris nauri, pakaryane kang waragang, kitab tasbeh aneng kupi, samongsa ingsun nginuma, kang panon rasane salit.
  4. Miwah wuwus lan pangrungu, sayekti rasane salit, supaya sun kelingana, apesing ngaral puniki, jer ki ati sok gumampang, angaku tawekal ugi.
  5. Yen durung kalebon iku, rumasa eksas sayekti, satengah mendem karasa, taliyuring tingal batin, supaya wet elinging wang, lan wuruke guru mami.
  6. Tan kena mareni ingsun, gon ingsun kulineng kupi, kalawan angudang gelas, yen durung lir guru mami, guru ningsun yen waragang, den inum nora ngendemi.
  7. Tanpa sarat lawan ismu, mung tewajuh den geladhi, yen nginum kebag gya mutah, utahan den inum janmi, nora o/wah endemira, iku sun sedya ing ati.
  8. Ketib matur kula suwun, paduka inumi kedhik, destun arsa ngraosena, endeming anginum awis, Ki Besi nauri aja, ngeman ngibadahireki.
  9. Sira wong bakal pangulu, anempuh karam binukti, Ki Ketib aparikedah, kenging ngugi wong ngayoni, asanget pameksaning wang, paduka paring sakedhik.
  10. Punapa sayektosipun, ngowahken ing tingal batin, Besi muwus eh ta nyata, marma kinaramken niki, nadyan silih mengkatena, destun arsa angraosi.
  11. Ki Ketib sinung wus nginum, tan pantara endem prapti, rada kaduk panginumnya, netra bilut ngemu getih, sura ing pamuwusira, sumaguh maring binatin.
  12. Kadariyahe kumebul, kumruwuk anjunjung dhiri, iki uga bisa gampang, gon ngumpul mring iman tokit, sarwa kaconggah tyas ing wang, umatur maring Ki Besi.
  13. Paduka duk wau dhawuh, ing / timbalan maring mami, supaya ing tyas ajriya, goroh paduka puniki, dene ta amindhak sura, agampang mring barang kardi.
  14. Sakeh mring panggawe saguh, ambubrah sakeh ginaib, pnalangan nora kena, malah ngaku wujud Widhi, lelungguh asila tumpang, tangane manggung nudingi.
  15. Kya Pangulu salang gumun, banjur edan iki ugi, si Ketib polahe anyar, jer sok alat mring ki Besi, puluh-puluh wus dilalah, ki Besi amuwus aris.
  16. Nginuma maning sireku, Ki Ketib sumaur inggih, mandah nginuma ping tiga, ngong kira bisa tubadil, kaping pitu bisa mikrat, temah ngrasa suksma batin.
  17. Gelas tinampan wus nginum, gelas geng tur den kebeki, kasusu suka kaselak, awahing marebe[s] mili, endeme sangsaya ngrebda, dhasar nembe nginum sopi.
  18. Pecak pisan rada kaduk, durung sumene tinuli, gelas geng tur kinebekan, duk kaping kalih / gumuling, nulya salin sambatira, peteng temen netra mami.
  19. Cat-ecatan yen rumungu, gumarebeg kadya angin, panon ingsun belang-belang, mumete kapati-pati, angenting sasambatira, kapoyuh sarwi anangis.
  20. Mutah banyu mancur-mancur, dhasare wong tanpa bukti, sumaput lajeng kantaka, mesem amulat Ki Besi, Kya Pangulu wuwusira, wurung edan sida mati.
  21. Kantakanira kadulu, tan winarna nulya nglilir, sauwusira waluya, tinakon marang Ki Besi, kapriye rasane uga, duk kathah lawan duk kedhik.
  22. Ing mau gon-mu anginum, gedheg-gedheg ngling Ki Ketib, punapa ingkang amawa, kaconggah duk lagya wiwit, lawan kapenak maring tyas, duk sanget teka asalit.
  23. Teka bingung tanpa tembung, amubeng temah alali, adhuh aleres paduka, arale kaesi-esi, adhuh tobat temen ing wang, go/ningsun manggung alali.
  24. Angina wus kaping telu, sapisan durung beneri, angina mring kaki tuwa, mring Ki Besi wus ping kalih, iki apa ati bakal, ngalamat naraka geni.
  25. Wong berbudi kang amuwus, kang mangkono dadi tamsil, tegese tamsil upama, ajana padha nglakoni, angina sapadha-padha, iku kancane Ki Ketib.
  26. Panggawe sabab ing dhapur, seje rupa seje kardi, yen rupa iku padhaa, pesthi panggawe mung siji, mulane awarna-warna, sabab kang rupa mawarni.
  27. Anenggih mangsuli catur, patakone mring Ki Besi, sababe wong ngumbe arak, Ki Besi wuwusira-ris, mulane wong ngumbe arak, yen kedhik tyasnya amingis.
  28. Mulane ana dem iku, babanyu kalawan getih, sumilak ngalih panggonan, sumungsung mawaning ngawis, padha abanyu yen arak, angsaling kukus sayekti.
  29. Kang kukus kudu mindhuwur, angirid banyu lan getih, getih sumungsung mring muka, / peteng mring netra myang kuping, marma iku padha owah, paningal myang pamiyarsi.
  30. Her netra kasaban marus, marma peteng temah abrit, yen sedheng keh kedhikira, sedheng rasa mundhak mingis, yen kaduk temahan kalah, kang jiwa ongga puniki.
  31. Seje endeming kacubung, endeme kadukan angin, tan montra sikareng toya, sawab iku tanpa warih, endeme amung parungsang, mung nempuh jiwaning dhiri.
  32. Netra kuping maksih bakuh, mung lupa rasaning dhiri, sabab tanpa wuwuh toya, iku amung deming angin, yeku araling kawula, ki jasad sring ngowah gingsir.
  33. Aja sring ngaku sireku, kawasa ngreh jiwa dhiri, yen sireku kawasaa, pagene nora udani, cukuling wulu kukunya, iku pratondha sayekti.
  34. Wus karo muliya iku, ya padha ingsun amini, Pangulu matur sandika, Ki Ketib lengganeng kapti, durung tutug karsanira, pinaksa datan nuruti.
  35. Ki Besi lon wuwusipun, apa mantep karo sami, yen nyata anut maring wang, sun nyatakaken sire/ki, mara kupi tututana, endi kang kebat sayekti.
  36. Kupi inguncalken gupuh, mangisor pambuwang neki, saking luhur ing prabatang, sigra kalih tan udani, anjlok kupi tinututan, byar ilang alam wus salin.
  37. Kapanggih neng wismanipun, Ki Besi wus tan winarni, kupi kang kinarya gelar, tan pandon datan kawarni, Pengulu wus prapteng wisma, miwah ari[n]ya Ki Ketib.
  38. Ki Pangulu langkung sukur, upama bedhah nagari, kaboyongkena putrinya, kadyangganing wong angimpi, praptaning wisma kalawan, duk panggih aneng jeladri.
  39. Ki Ketib kang manggung ngungun, upama wurung ing rabi, mongsa borong patrapira, sagung tarekat kekating, ngilmu kang rinasa-rasa, kuneng mas kentir ing warih.

Kapethik saking Serat suluk jaman karaton-dalem ing surakarta.

SERAT PARAS


Naskah Serat Paras punika anggitanipun Kanjeng Sunan Kalijaga.

Serat paras menika cariyos ingkang nggambaraken pasuryan utawi tindak-tanduk ingkang endah lan patut dipun tuladhani saking Nabi Muhammad. Ananging menawi dipun tinggali inggih namung nyariyosaken Kangjeng Nabi Muhammad nalikanipun cukur rema.

° PUPUH I °
ASMARADANA

  1. //Ingsun amimiti[1] amuji / anebutna maning sukma, / kang murah ing dunya mengko / tur kang asih ing ngahirat / kang pinuji tan pegat / angganjar kawelas ayun / angapura ing dong dusa//
  2. //Wonten carita winarni / caritaniya[2] para ngulama / murmane ginurit mengko / carita sinungan tembang / anembang[3] asmaradana / kasmaran ingsun ngrungu / bagindha Ali winarna//
  3. //Kang sinisiyan ing nyuwang[4] Widi / bagindha Ali miharsa / saking Nabi Rasul mengko / kang sinungraha dengan Yang / ing dunya ing ngahirat / Nabi Rasul mangke muwus / ing sapa kawulaning nyuwang//
  4. //Kawulane nyuwang[5] kang mu’min / anulisa sipat ing Yang / lamon wis katulis mengko / simpenen ing numah hiro / sawabipun akathah / angedhohaken setan iku / luputa libaning raja//
  5. //Lawan luput bilahi malih / adoh saking panyakitan / tan kena cilaka mengko / tan kena drengkine jalma / luput teluh tetreganyana / lawan ngedohaken satru / tan kena sesuker ika//
  6. //Miwah datan kena lali / lawan oleh kabecikan / salawase urip mengko / lan tekan tanggane pisan / lan sing sapa amacaha[6] / gawanen jimat puniku / padha lan wong haji//
  7. //Lawan malih sami neki / mardikaaken wong satunggal / den dohaken bilahine / lan dosane kang kaliwat / angendika[7] Rasulullah / lamon winacakaken wong iku / ing wong lara agelis[8] waras//
  8. //Aparanen dosa neki / dening Nyuwang Agung Kang Maha Mulya / saking berkahe[9] rosul mengko / lan anak putu Muhamad / Hasan Husen puniku / kinentujan[10] dening Yang Agung / saking mu’bal mu’tal ika//
  9. //Lan saking Seh Mahpul puniki / Seh Mahpul ika miharsa / saking Abu Rohoiroh[11] mengko / kang sinung rohmad dening Yang / Abu Roiroh puniku / amiharsa carita puniku / saking Gusti Ali ika//
  10. //Angendika[12] Bagendha Ali / kang sinung rohmad dening Yang / kang kawikanan to mengko / dening satuhune[13] utusan / Nyuwang[14] Agung Kang Maha Mulya / Nabi Muhamad puniku / kekasihira Nyuwang[15] sukma//
  11. //Panutan sakehe Nabi / pangulune[16] Nabi sadaya / pangulune Nabi kabeh / kedadiyane[17] Nabi Adam / antarane kang toya / kelawan lebu punika / Nabi Rasul ta mangkono//
  12. //Anderbeni[18] andika Nabi / ing telaga kalkahosar / kahananira Nyuwang[19] sekabeh / amuji pinuji ika / tan pegat pamujinya / aweh mupangat ing bisuk / ing tembe hari kiyamat//
  13. //Panutan kang bangsa Hasim / lan bangsa Qures ika / lan kang bangsa Ngarab mengko / lan ihrom punika Mekah / kelawan ing Medinah / lan bangsa Ngarab puniku / kelawan bangsa Istitamah//
  14. //Lawan malih anderbeni / ing toya air janjam punika / lawan padhukuane[20] mengko / ing Ihjar namine ika / qolbune Nabi hiya / kelawan bangsa rohani puniku / nyawane rohmane ika//
  15. //Kang ibu namine singgih / Aminah nami ika[21] / kang rama ika westanya / abdulah asal wong Ngarab / anak puntune Nabi Adam / saturu turune iku / saking Nabi Ibrohim ika//

° PUPUH II °
S  I  N  O  M

  1. //Kang bangsa Nabi utusan / kelawan Nabi Ismail / bangsanira Ngarab / punika wuwuse malih / sabda ngandika Nabi / panjenenganira dinulu / apan nurapati andhap / yen jumeneng lan wong kathah luhur dhewe//
  2. //Cahyanipun kang wedana / melak melak anglir sasi / rema lemes ketelaten / irenge yayah manangsi / saben riyaya haji aparas jenggasti rasul / gumawang cahyanira / pamulunira akuning / yen dinulu kadiya mas tanpa huna//
  3. //Alise angrerunge ngimba / idepe tumungging ngawit / netrane jahitan raras / aminis yen den tingali / semu belut ya lindri / yen mesem lir pindah curut / madu wus pinesti ika / kang lathi anurut adri / wajanipun gumubyar kadiya mutiyara//
  4. //Miwah bebrengose ika / sumrebeng tur jularit / miwah jejenggote ika / patang nyari panjang neki / irunge kerana neki / tenggaknya anglunge gadung / bahunya anglir wijang / tengahe amatrem kenges / yen asare kang jaja muji sumbawa//
  5. //Suwara pan kadiya kumbang / tan pegat pamuji neki / sawungunira anendra / tumulya agelis ngabekti / Nabi Muhamad suci / tan kelawan toya wudhu / Nabi mangke angendika / sare netraning sun iki / nora sare ing jerone atining sun ika//
  6. //Astane kadya gendhewa / alemes yen den tingali / tulise walikat kanan / lailahailallah iki / walikat ingkang keri keri / tulise mangke puniku / Muhammad Rosulullah / Nabi Muhammad iki / utusane Nyuwang[22] Agung Kang Maha Mulya//
  7. //Nabi Muhammad punika / apan ika anderbeni / wulu kalih lembar ika / gandane mrabu awengi / mapan kadya kasturi / gandanipun amperi arum / astane kalih pisan / rajahe teka angrawit / jarijine judhun melathi indah//
  8. //Cahyane kang pusere ika / angebeki ing sabumi / wangkonge lir mas gumawang / asingset yen den tingali / pupunira puniki / lir pudhak sinumpet iku / karone kang delamakan / gamparan pepede singgig / sampeyane medal toya kalis ika//
  9. //Mowah mangke yen lumampah / agancang utusan singgih / dening Nyuwang[23] Agung Kang Maha Mulya / marang manusa lan jin / lamun kinen amerangi / sakehe kapir puniku / derepun padha Islam / anuta agama suci / yen aperang sekedang kung puruna ika//
  10. //Den iring iring ing wewayangan / pinayungan mega esri / yen udan ora kodanan / lamun lumampah ing warih / datan teles puniki / sekedhik guyune iku / lamun katekanan sakit / dadi bekti pan serta wuwuh ganjaran//
  11. //Burok tetunggangan nira / jemparing senjata neki / kucing kekasihira / nanging asu alas nenggih / cecek kasakitaneki / susure waja puniku / bebalunge menyawak / amenging wong susur singgih / yen uluk salam datan kena kadinginan//
  12. //Adil yen andum jarahan / ing rena kencana rukmin / sesutya lan inten mulya / sekehe wong Islam iki / sabda andika Nabi / anak yatim datan kantun / Kanjeng Nabi punika / datan arsa anggadhuhi / ing sadirham datan arsa anggadhuhana//
  13. //Kang manah nora kangungan / gandanipun amrit wangi / anerus gandane kalembak / karingetepun awangi / abecik pakertineki / wuwusipun beber alus / wijiling pangendika / arumanis tur anglungit / pangulune mukmin anuntun wong kesasar//
  14. //Asih ing tetemu ika / anderbeni sarengat singgih / lan amijiaken ing toya / saking selaning jariji / Nabi Muhammad iki / sekelangkung mujijatipun / watu bisa rerasan / wulan aningarsa neki / angelokaken ing gunung hud punika//
  15. //Awirang ing pangeranira / Nabi Muhammad iki / agung penangisira / ing siyang kalawan latri / angkung sholating wengi / tan pegat pamujinipun / puwasa yen rahina / isnen kemis bel puniki / siyang ndalu datan pegat pamujinira//
  16. //Kekasihe jeng Nabi ika / tetiga kabehe singgih / ingkang rumiyin ika / wewangi kang suci / kaping kalih pawestri / nenggih kaping tiganipun / kang tansah ing wedaya / tan nana pamada neki / amung sholat kang dadi telenging nala//
  17. //Kang umur nabi panutan / sewidak tahun puniki / punjul tigang tahun ika / anulya ngandika nabi / mapan pan Kangjeng Nabi / garwa putra samiya muhun / ing wulan rabingul awal / ing tahun dal puniki / ing dina Isnen tanggalipun kalih welas//
  18. //Putra nabi panutan / wewolu cacahe singgih / ingkang pembayute ika / Dewi fatimah puniki / panggulune ta singgih / Dewi Hafsah Jenab iku / lawan Mahemunah / Suwiyah Sodah puniki / kang kekasih awesta Dewi Rukiyah//
  19. //Putra ingkang jalu ika / anama Rahaden Qosim / sumandene puniki / Raden Berahim nama neki / lan malih sumande neki / Raden Toyib namanipun / putra ingkang taruna / Raden Tohir nama neki / garwanipun Jeng Nabi ika sesanga//
  20. //Garwane kang sepuh dewe / Dewi Khatijah nenggih / panggulune Dewi Hangisah / kang panengah nama neki / Umi Habibah iki / Dewi Hafsah jengeng ika / lawan Mahemunah / Suwiyah Sodah puniki / kang pamekas awesta Umi Selamah//
  21. //Anenuhun ingkang wewenang / umat tuwan ingkang anulis / angrumpaka sipat tuwan / ing kirang langkunge singgih / amung tuwan puniki / yen wonten salahe tanduk / tuwan ingkang ngapuntena / marang tuwan ingkang anulis / muga-muga angsal supangat tuwan//
  22. //Panedhane ingkang anurat / tetepana ing iman neki / ing donya rawuh ngahirat / antuka sihe nyuwang[24] widi / lan malih supangat nabi / punika panedhanipun / den dohaken ing marga sasar / bidengah wilalat singgih / muga-muga antuka sihe nyuwang[25] sukma//
  23. //Luputa ing ila-ila / liputa lan sarik / amba nedha pangapura / marang nyuwang[26] kang maha suci / kaping kalih jeng nabi / rosulullah kang linuhung / nedha berkah supangat / ing dunya tekan ngahirat / muga-muga angsal sih pangapura//
  24. //Allah tangala ngandika / dateng nabi kang sinelir / duk kalanira aparas / ana perapta wong sawiji / atakan mara jeng nabi / Abu Bakar delingipun / tuwan kadiya punapa / tetkala paras jeng nabi / aparas ambatangan dateng tuwan//
  25. //Sapa siten kang amaras / dateng tuwan kangjeng nabi / jeng nabi ngandika alon / lah iya kekasih mami / kang aran Jabarail / serta ndikane nyuwang[27] agung / iku kang amaras / angendika Jabarail / Allah tuwan rosulullah jumenenga//
  26. //Nabi sinten ingkang uninga / ten kala[28] paras jeng nabi / sinten ingkang maras ika / kekuluke saking pundi / miwah dintene singgih / lan punapa tahunipun / lawan pinten tanggalnya / sasine sasi kang pundi / lawan pinten umure tetkala paras//
  27. //Lah tuwan carita kena / bagindha Abu Bakar angling / du’ kala nira aparas / Muhamad ingkang linuwih / kala andika nabi / kala perang wulanipun / amungsuh lan Raja Lahad / ing bumi Mekah go neki / malem Isnen wektune Mekah punika//
  28. //Nabi kala maca qur’an / mangke prapta Jabarail / ambekta ayate ika / mangkono unine singgih / iki andikane nyuwang[29] widi / pinesthi andika rosul / nabi nulya angendika / ataken ing Jabarail / nulya matur Jabarail marang Muhamad//
  29. //Eh nabi yuwang[30] kang mulya / iki andikane nyuwang[31] widi / ingkang aning qur’an ika / amesthi ing tuwan singgih / tuwan kinen paras ugi / Nabi Muhamad amuwus / dateng Jabarail alon / Jabarail sanak mami / mangsa apa duk ingsun manke pinaras//

° PUPUH III °
K I N A N T H I

  1. //Jabarail mangke amuwus[32] /mangke sun matur yang widi / tan na suwe nulya prapta / ing ngarsane nyuwang[33] widi / Jabarail matur inggal / dateng wahu ing nyuwang[34] widi//
  2. //Lan punapa sasinipun / angendika nira nywang[35] widi / ing wulan ramedhon ika / kekasih ingsun paras nenggih / Jabarail wangsul inggal / perapta[36] ngarsane jeng nabi//
  3. //Jabarail nulya matur / dateng nabi kang sinelir / andikanira nyuwang[37] sukma / tuwan kinen paras nenggih / ing wulan romedhon ika / matur aris kangekjng nabi//
  4. //Dateng Jabarail wahu / tetkala paras jeng nabi / ing ngarsane sapa hiya / Jabarail kesah gipih / matur marang Allah tangala / sesangat anulya bali//
  5. //Kang weruh namane[38] nywang[39] agung / Jabarail mangkat agelis / patera kastuba salembar / awilis ing werna neki / wernane tuhune indah / pan tan ana ing dunya iki//
  6. //Awerna kadiya[40] puniki / agelis binekta tumuli / tan na dangu nulya perapta[41] / ing ngarsane jeng nabi / Jabarail aris amujur / dateng wahu kangjeng nabi//
  7. //Ngambil kastuba iku / kinen denira yang widi / angangge yaiku iya / kekuluke dateng tuwan singgih / yen sampun paras tuwan / kinen nganggiya puniki//
  8. //Godhonge kastuba iku / ing dunya dereng amanggih / ing werna kadiya punika / angendika jeng nabi kang sinelir / dateng Jabarail ika / sinten kang maras iki//
  9. //Jabarail mangke amuwus / wus matur ing nyuwang[42] widi / kawula kang kinen maras / dateng tuwan kangjeng nabi / atan perentahe nyuwang[43] sukma / angendika kanjeng nabi//
  10. //Inggih punapa kasraha nyuwang agung / kasraha ing nyuwang widi / inggih punapa kasraha nyuwang sukma / Jabarail muwus aris / kawula ingkang amaras / nabi kekasih nyuwang widi//
  11. //Manira kang maras iku / pangendika nira nyuwang widi / kawula kang kinen maras / dateng tuwan kanjeng nabi / tetkala nabi pinaras ika / jeng nabi ing Jabarail//

° PUPUH IV °
S  I  N  O  M

  1. //Tetkala nabi pinaras / dateng wahu Jabarail / ing tanggal sawelas ika / ing wulan romadhon singgih / ing dina Isnen nenggih / sedaya sahabatipun / mangu sakehe tumingal / tetkala paras jeng nabi / pan sedaya pepek aning ngarsa//
  2. //Rema kapupu sedaya / tan nana tumibing siti / malah sami rerebutan / sekathahe widadari / jeng nabi alon ngendika aris / pira kehe remaning sun / Jabarail aris mujur[44] / kehe rema tuwan singgih / pan sakethi tigang laksa tigang nambang//
  3. //Tigang atus tigang dasa / tiga welas punjul neki / kelawan langkung tetiga / punika cacahe singgih / sekathahe widadari / sedaya sami ngrebut / uman salembar-lembar sewang / sekathahe widadari / angendika nyuwang agung kang maha mulya//
  4. //Allah tangala angandika / mangke dateng widadari / padha mangkata sira den inggal / maringa kekasih mami / kebeh sira puniki / padha mupuha rambet / padha gawenen jimat / remane kekasih mami / talekena marang jariji nira//
  5. //Supaya nira sadaya / sun luputaken ing benjing / ing sakehe dusa nira / miwah ingkang animpeni / ing carita puniki / kekasih ingsun acukur / saking enggon punika / perapta[45] anggone kang suci / sekathahe kang miharsa angetokena//
  6. //Sekathahe umat sedaya / para soleh para mukmin / sedaya sun wehi rahmat / umat ingsun kang nimpuni / ing carita puniki / kakasih ingsun acukur / ingsun lebaraken ika / sekathahe dosa neki / sun apura ing tembe hari kiyamat//

° PUPUH V °
ASMARADANA

  1. //Sun luputaken ing benjing / ing nalikane sekarat / lagi den ambil nyawane / benjing sun wehi rahmat / lan sing sapa amacaha / miwah sekehe kang angrungu / sipat nabi caritanya//
  2. //Miwah ta ingkang anulis / atwa simpena ika / senejan nyiliha bahe / miwah ingkang anggawaha / atawa muru kapisan / miwah sekehe kang angrungu / caritane jeng nabi paras//
  3. //Ingsung wehi selamet[46] benjing / ing dunya tekan ngahirat / sun dohaken bilahine / ing benjing hari kiyamah / kerun wana kerun ika / sekathahe siksa kubur / miwah ing dina kiyamah//
  4. //Lan tan pegat sun tingali / tan pegat sun wehi rohmat / lan sun reksa rencanane / jim lawan iblis laknat / lan ora simpena ika / caritane jeng nabi rosul / miwah yen ora macaha//
  5. //Wiwah yen ora ngajeni / lan sing ora arsa maca / sanak-sanak ingsun sakabeh / amung aja wong satunggal / wong munapek punika / aja den kon maca iku / miwah lamon andelenga//
  6. //Aja den kon maca tulis / aja den wehi miharsa / kerana ta mangkene / sejatine nora arsa / lamun yen angrungu / aja den wehi pitutur / tuwa mahido ing saatar//
  7. //Utawi carita iki / simpenen ing umahira / ingsun reksa sak isine / ing umahira sedaya / adoh ing bilahinya / ing dunya ngahirat iku / miwah kang panggawe ala//
  8. //Caritane kanjeng nabi / lamun den gawe lampahan / marang pekir upamane / iku lamon den gawaha / yen arep anganggawe / anenedha mangke iku / pesthi kathah ingkang welas//
  9. //Upami arta sademik / den ileni pitung dosa / ingkang aweh iku mangko / saking momane nyuwang[47] sukma / marang wong Islam ika / pesthine iku rahayu / kang siji mulih sedasa//
  10. //Lan antuk supangat nabi / lan sinung kanugrahan / saking brekahe nyuwang manon / pan sekehe umat ing wang / lan sing sapa arep begja / amacaha ta ping pitu / saweni aja nendra//
  11. //Dateng carita puniki / tetkala nabi pinaras / katurunan iku mangko / rohmating wong tunggal dina / lan rijenike perapta[48] / esuk sore ora surud-surud / peraptane[49] teka ya gampang//

° PUPUH VI °
K I N A N T H I

  1. //Nabi Muhamad mangke amuwus / ataken ing Jabarail / Jabarail aturira / paduka sampelen gusti / kala dhohir paduka tuwan / ingkang mongmong kawula gusti//
  2. //Angendika kanjeng rasul / ataken ing Jabarail / ingkang ana iku apa / matur malaikat Jabarail / bumi langit durung ana / loh kalam sampun dadi//
  3. //Ngaras kursi dereng andulu / suwarga naraka pan sampun dadi / dhindhing jalal pan sampun dumadi / Nabi Muhamad angendika / ingsun taken kang seyekti//
  4. //Anegendika kanjeng rosul / ataken ing Jabarail / ingkang aran lintang johar / iku ngendi surupe sayekti / Jabarail aturira / amba nan dereng ningali//
  5. //Inggih leres tuwan ingkang sepuh / angendika kanjeng nabi / Jabarail aturira / sumungkem ing kanjeng nabi / Nabi Muhamad angendika / Jabarail sanak mami//

° PUPUH VII °
DHANDHANGGULA

  1. //Wonten kidung rumeksa ing wengi / teguh rahayu[50] luputa ing lara / luputa bilahi kabeh / jim setan datan purun / paneluhan tan nana wani / miwah panggawe ala / gunane wong ngaluput[51] / geni temahe[52] tirta / maling adoh datan[53] ana ngarahing kami / guna tutupan sirna//
  2. Sekathahe[54] lara padha bali / sekehe ngama pan saminya[55] miruda / kawelas asih pandulune / sekehe braja luput / kadiya kapuk tibane reki / sekehe wisa tawa / satru galak samiya tutu / kayu agung lemah sangar / siyunge landhak guwaning wang silemah[56] miring / miwah pangipone merak//
  3. //Paguyangane warak sekalir / den winaca ing segara asat / pan bisa ngambah telenge / mapan sari rahayu / ingiderane widadari / rineksa ing malaikat / sekathahe rasul / nabi temahe tunggal / ati Adam uteke Bagendha Esis / pangucapku Nabi Musa//
  4. //Napasku Nabi Isa kang linuwih / Nabi Yakub pamirsaning wong / Yusup rupaku mangke / Nabi Dawud suwaraku / miwah Sulaiman kasekten mami / Ibrahim nyawaning wang / Idris ing rambutku / Bagindha Ngali kuliting wang / Abu Bakar getih daging Umar singgih / bebalung Begendha Usman//
  5. //Ya sungsumku Fatimah kang linuwih / kang minangka rahayuning badan / Ayub minangka ususe / sekehe wudhu tuhu / mapan tunggal kelawan nabi / netraku ya Muhamad / pangulune rasul / pinayungan adam sarap / sampun pepek sekathahe para nabi / pan dadi sarira tunggal//
  6. //Wonten wiji sawiji / mulane pan dadi pan pinencar dadi saisine jagad / kesembadan dening date / sekathahe kang angrungu / kang amaca kang nimpeni iku / iku dadi rahayuning segara / pan ginariya sesembur / lamun winacakaken ing tuya / kinariya aduse rare tuwa pan gelis laki / kinariya tambane wong edan waras//
  7. //Lamun sira arep nandur pari / puwasaha sawengi sadina / iderana galengane / wacanen kidung iku / pesthi adoh ama bilahine iki / lamun sira arep lunga perang / wacanen ing sekul / antuka tigang pulukan / mungsuhira rep sirep tan nana wani / andulu marang sira//
  8. //Lamun sira ayun teguh sekti / lakonono pateng puluh dina / pati geni wekasane / amutiha karuhun / yen wus tutugira ngelampahi / mutih patang puluh dina / iku wus jangjine yang agung / yen udan ora kodanan / datan lara katibanan pukul wesi / miwah wesining gorenda//

[1]  amiwiti
[2]  carita
[3]  nembang
[4]  ywang
[5]  ywang
[6]  macaha
[7]  ngendika
[8]  gelis
[9]  berkah
[10]  pinentu
[11]  roiroh
[12]  ngendika
[13]  satuhu
[14]  ywang
[15]  ywang
[16]  pangulu
[17]  kedadiyan
[18]  ndarbeni
[19]  ywang
[20]  padhukuan
[21]  punika
[22]  ywang
[23]  ywang
[24]  ywang
[25]  ywang
[26]  ywang
[27]  ywang
[28]  tetkala
[29]  ywang
[30]  ywang
[31]  ywang
[32]  muwus
[33]  ywang
[34]  ywang
[35]  ywang
[36]  prapta
[37]  ywang
[38]  nama
[39]  ywang
[40]  kadya
[41]  prapta
[42]  ywang
[43]  ywang
[44]  matur
[45]  prapta
[46]  slamet
[47]  ywang
[48]  prapta
[49]  praptane
[50]  ayu
[51]  luput
[52]  atemagan
[53]  tan
[54]  sakehe
[55]  samya
[56]  lemah
%d bloggers like this: