alangalangkumitir

Javanese Manuscripts

SERAT WIRID HIDAYATJATI (Terjemahan)


SERAT WIRID HIDAYATJATI

Ini adalah ajaran hidayat jati, yang menejelaskan keberadaan serta kedudukannya sebagai ilmu makrifat, hasil akhir dari riwayat wirid yang merupakan nasehat yang baik dari para wali yang berada di tanah Jawa, sepeninggalnya beliau Kanjeng Susuhunan ing Ngampel Denta (Sunan Ampel), bersama-sama berinisiatif mengawali dengan membuka doa-doa yang menjadi inti atau sari nasehat yang didalamnya menggambarkan ilmu kesempurnaan masing-masing dan bermula dari dalil, hadist, ijmak dan kiyas, seperti yang telah disebutkan di dalam wirid, dan urut­-urutannya sebagai berikut dibawah ini :

Yang pertama bersamaan dengan masa awal berdirinya negeri demak, para walI yang mau memberikan ajarannya hanya delapan orang :

  1. Kanjeng Susuhunan di Giri Kadhaton, ajarannya tentang bisikan adanya Dzat.
  2. Kanjeng Susuhunan di Tandhes, ajarannya tentang wedharan keberadaan Dzat
  3. Kanjeng Susuhunan di Majagung, ajarannya tentang keleluasaan keberadaan Dzat.
  4. Kanjeng Susuhunan di Bonang, ajarannya tentang terbukannya tata mahliga di dalam Betal makmur.
  5. Kanjeng Susuhunan di Warywapada, ajarannya tentang terbukanya tata malige di dalam Betal mukharam.
  6. Kanjeng Susuhunan di Kalinyamat, ajarannya tentang menetapkan kekuatan iman.
  7. Kanjeng Susuhunan di Gunung Jati, ajaranya tentang terbukanya tata malige di dalam Betal mukharam.
  8. Kanjeng Susuhunan di Kajenar, ajarannya mengenai sasahidan.

Yang kedua bersamaan dengan masa berakhimya negeri Demak hingga menuju Pajang, para wali yang bersedia memberikan ajarannya hanya delapan orang seperti yang tertera dibawah ini :

  1. Kanjeng Susuhunan di Giri Parapen, ajarannya tentang bisikan adanya Dzat.
  2. Kanjeng Susuhunan di Derajat, ajarannya tentang wedaharan keberadaan Dzat.
  3. Kanjeng Susuhunan di Atas Angin, ajarannya tentang getaran keberadaan Dzat.
  4. Kanjeng Susuhunan di Kalijaga, ajarannya tentang terbukannya tata malige di dalam Betal makmur, kemudian menerangkan tentang segala hal yang berhubungan dengan ajaran tersebut, yang nantinya akan diterapkan pada Dzat yang hidup semuannya saja tanpa terkecuali, tatapi susunaannya belum diurutkan berdasarkan tempatnya masing-masing .
  5. Kanjeng Susuhunan di Tembayat dan Kanjeng Susuhunan di Kalijaga, ajarannya tentang terbukanya tata malige di dalam Betal mukharam.
  6. Kanjeng Susuhunan di Padusan, ajarannya tentang terbukannya tata malige di dalam Betal mukhadas.
  7. Kanjeng Susuhunan di Kudus, ajarannya tentang menetapkan kekuatan iman di dalam diri.
  8. Kanjeng susuhunan di Geseng, ajarannya mengenai sasahidan.

Adapun ajaran yang telah d isebutkan diatas , kenyataannya adalah walaupun berbeda satu dengan lainnya tetap menjadi satu kesatuan, karena kesemuannya itu adalah berasal dari ajaran yang didapat dari Kanjeng Susuhunan di Ampel Denta (Sunan Ampel). Setelah sampai pada masa kerajaan Mataram, oleh beliau yang berkedudukan sebagai raja pada waktu itu adalah ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma, ajaran yang terdiri atas delapan tingkatan tersebut dijabarkan menjadi satu ajaran saja, hal itu telah dimusyawarahkan dengan pandangan dan pengetahuan para ahli ilmu dan akhirnya dicapailah mufakat bahwa ingkang Sinuwun telah menetapkan ajaran-ajaran tersebut seperti yang tercantum dibawah ini :

  1. Panembahan Purbaya.
  2. Panembahan Ratu Pekik.
  3. Panembahan Juru Kithing.
  4. Pangeran di Kadilangu.
  5. Pangeran di Kudus.
  6. Pangeran di Tembayat.
  7. Pangeran di Kajoran.
  8. Pangeran di Wongga.
  9. Panembahan Juminah.

Adapun ajaran yang telah menjadi satu tersebut, perjalanannya bersama-sama berasal dari cuplikan ataupun semacam kutipan kitab tasawuf semuanya, urutannya satu persatu berpatokan dari dalil ilmu, sebagai petunjuk didalam menjalankan atau melaksanakan apa yang telah diperintahkan Pangeran Yang Maha Suci (Allah SWT) kepada Utusan-nya yaitu Nabi Musa Kalamollah, apabila manusia itu keberadaannya berasal dari Dzat yang bersifat tunggal.

Demikian yang telah diterangkan menjadi tumbuhnya ilmu Makrifat, seperti wirid para Nabi, para Wali di jaman dahulu, yang selanjutnya dikiyas oleh para auliya dan menjadi pembuka bagi ajaran masing-masing. Sesudah menjadi satu oleh keinginan ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan Agung di kerajaan Mataram, beliau menyetujui keberadaan ilmu makrifat, yang telah menjadi ajaran para wali terdahulu dan lama-kelamaan ajaran tersebut berkembang terus-menerus, menjadi ilmu makrifat yang mendapat pengaruh akibat perbedaan dari banyaknya para ilmuwan yang sangat bijaksana dan ahli dibidangnya dalam urusan penyebaran ilmu makrifat, dengan caranya sendiri.

Ada juga yang menjalankan ajaran pelengkap saja seperti ilmu talak dengan ilmu patah dan sebagainya, yaitu ilmu pendukung dari ilmu makrifat seperti halnya ilmu sosorogan.

Maka dimasa sekarang di Kedhung Kol Penganten, yang letaknya disebelah selatan kedhung Kol Pengaten, dengan ditandai tahun “dua sembilan warga sinuta (candra sengkala) dari dalam tahun alip” :  satu tujuh tujuh sembilan, jatuh pada ‘il-am’. Dengan menyebut nama Allah SWT, demikian kurang lebihnya urutan ilmu makrifat, menurut ajaran delapan tingkat yang telah dikelompokkan menjadi satu.

Serat Wirid ini menjadi yang pertama, milik sampeyan dalem ingkang Sinuwun Kanjeng Sunan Pakubuwana yang ketujuh di negara Surakarta Hadiningrat. Uraiannya akan dipatuhi dan dilaksanakan oleh para Putra Pangeran serta dan Cucu Pangeran sampai turunannya nantinya.

Sejak tahun seribu delapan ratus lima puluh diambil dari babon/buku induk tinggalan mendiang Raden Bgabehi Ronggowarsito yang tersebut dalam bab satu.

Iini adalah pembukaan serat wirid yang akan menerangakan hal-hal yang berhubungan erat dengan ilmu makrifat. Hidup akan menjadi sangat sempurna seperti yang telah di jalankan oleh para wali semuanya pada jaman terdahulu, adapun yang menjadi urutannya seperti yang tercantum seperti dibawah ini :

Yang pertama adalah, keterangan yang menjelaskan bahwa sudah menjadi kewajiban antara guru dan muridnya untuk mengambil air wudhu dan berniat seperti keterangan berikut ini : “nawwaitu napngalkadasi, tawal kabirata, parlanlillahi  tangala, Allahuakbar“. Saya berhiat mengambil air wudhu untuk mengilangkan najis kecil/khadast kecil hanya karena Allah semata.

Kemudian keterangan selanjutnya mewajibkan untuk mengenakan pakaian bersih dan terbebas dari najis kecil dan besar. tidak diperbolehkan memakai perhiasan emas, yang lebih utama adalah mengenakan kopiah/kupluk tidak diperbolehkan tanpa busana, untuk pria tidak diperkenan­ kan mengenakan anting-anting sebelah saja, perhiasan kalung, parfum yang wanginya berlebihan seperti halnya pengantin baru.

Adapun yang menjadi ajaran dan kesepakatan bersama para wali delapan di tanah jawa , telah dikumpulkan menjadi satu, yang menjadi garis besarnya adalah mengambil inti atau sari dari kiyas dan dalil, serta ketentuan dari Allah SWT, yang kemudian disebutkan dalam hadist Nabi Muhammad saw sebagai rasullulah dan diterima oleh Sayidina Ali.

Dibisikkan melalui telinga kiri, urutanya menjadi delapan ajaran. Seperti keterangan-keterangan yang tercantum dibawah ini.

  1. Bisikan adanya Dzat,
    Sesungguhnya tiada yang sejati didunia ini, pada awalnya dunia masih kosong, lengang, tidak ada sesuatupun, yang ada permulaan adalah AKU (Allah), tidak ada Pangeran, kecuali hanya Aku Dzat Yang Maha Suci, meliputi segala sifat yang melekat padaku, segala puji hanya pada nama-KU, yang menandakan kekuasaan sepenuhnya ada pada-KU.
  1. Wedharan Tempat Dzat,
    Sejatinya Aku adalah Dzat Yang Maha Segala-galanya, yang berkuasa atas penciptaan dan mengendaki segala sesuatunya pasti akan terjadi dengan seketika, sempurna akan kodrat-Nya, disitu telah dinyatakan dengan tanda­ tanda kekuasaan-Nya yang paling awal, aku menciptakan kayu dengan nama “sajaratul yakin”, tumbuh di dalam alam Nabi Adam dan menjadi abadi, kemudian aku ciptakan cahaya dengan nama “cahaya muhammad” serta kaca dengan nama “mi’ratul khayai”, kemudian nyawa dengan nama “ruh ilafi”, kemudian damar dengan nama “kijab” yang nantinya sebagai warna dari kalarat­-Ku.
  1. Keadaan Dzat,
    Sejatinya manusia itu adalah rahasia-Ku, dan Aku ini merupakan rahasia didalam diri manusia, sebab Aku  menciptakankan Nabi Adam berasal dari empat hal seperti yang tersebut dibawah ini :
    a. Bumi;
    b. Api;
    c. Angin;
    d. Air;

Kesemuannya itu men jadi wujud dari sifat-Ku, didalamnya aku melengkapi dengan lima perkara :
1. Cahya;
2. Rasa;
3. Ruh/nyawa;
4. Nafsu;
5. Budi;

Hal itu sebagai warna dari wajah yang Kumiliki yaitu, Yang Maha Suci.

  1. Terbukanya tata malige di dalam Betal makmur,
    Sejatinya Aku berkuasa, dan bertempat didalam Betal makmur, berdiam pada kepala nabi Adam, yang ada didalam kepala itu adalah otak, yang ada diantara otak itu adalah manik, sedangkan didalam manik itu adalah budi, sedangkan didalam budi terdapat nafsu, didalam nafsu terdapat jiwa, didalam jiwa terdapat rasa, didalam rasa terdapat AKU; tidak ada Pangeran, tetapi Aku adalah Dzat yang meliputi di dalam keadaan yang sejati.
  1. Terbukannya tata malige di dalam Betal mukhadas sejatinya Aku berkuasa di didalam malige Betal mukhadas, itu adalah tempat yang paling suci berdiam­nya Aku, berada pada buah zakar nabi Adam, didalamnya terdapat pringsilan, yang letaknya antara pringsilan dan nutfah adalah air mani, didalamnya terdapat madi, didalamnya terdapat wadi, didalam wadi terdapat manikem, didalam manikem adalah rasa, didalam rasa itu AKU, tidak ada Pangeran tetapi aku adalah Dzat yang meliputi di dalam keadaan yang sejati, berada pada sifat yang ghaib, akan turun menjadi yang paling awal, disitu berada di alam hidup, alam arwah, alam misal, alam ajsam, alam insan kamil, menjadi manusia yang sempurna yaitu memiliki sifat-sifat yang sudah aku gariskan.
  2. Ketetapan iman, yaitu yang menjadi sentosanya iman, yang percaya, meyakini dengan sebenarnya, bersaksi didalam hati dan diucapkan dengan lisan bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan Nabi Muhammad itu adalah utusan Allah.
  3. Sasahidan,
    Aku bersaksi, didalam Dzat-Ku sendiri, sepengetahuan-Ku tidak ada Tuhan selain Aku, dan hanya Aku yaitu Allah SWT yang menjadi badan-Ku, rasul itu rasa-Ku, Muhammad itu wahyu-Ku, yaitu Aku yang hidup tidak dapat mati, yaitu Aku yang selalu ingat tidak boleh lupa, yaitu Aku yang tahu sebelum apa yang akan terjadi, yaitu Aku yang bijaksana tiada kekurangan suatu apapun tentang ilmu pengetahuan, sempurna, tidak merasakan apa-apa, tidak terlihat oleh apapun, hanyalah Aku yang meliputi keseluruhan dialam semesta ini, beserta kodrat-Ku.

Setelah apa yang tertera diatas, ada juga hal-hal yang menjadi kelengkapan Dzat dari Yang Maha Kuasa, beberapa keterangan tersebut ada dibawah ini :

  1. Menyatukan aku dan Tuhan (Allah)
    Aku berada pada Gusti /Tuhan yang memiliki sifat Esa, meliputi dalam diriku, tunggal yang menjadi satu keadaan, akan menjadi sempurna dari kodarat-Ku.
  1. Mensucikan Dzat
    Allah adalah Yang Maha Suci yang memiliki sifat kekal, yang menguasai seluruh makhluk-Nya, dan menguasai kesempumaan hidup kesejahteraan berasal dari-Nya, beserta yang menjadi kodrat makhluk-Nya.
  1. Merakit atau Menyusun
    Allah adalah Dzat Yang Maha Luhur, berkedudukan sebagai Ratu Agung, menguasai seluruh makhluk-Nya, yang berkuasa menjadikan alam semesta, Yang Maha Agung dan Mulia, kesempurnaan hanyalah milik-Ku, beserta seisi alam semesta ini, lengkap dengan pesuruh­-Ku, tidak ada kekurangan, apa yang menjadi perintah-Kku, tidak ada yang tidak mungkin, sampai pada yang menjadi keinginan-Ku semuanya, berasal darI kodrat­-Ku.
  1. Terciptanya Alam Semesta
    Allah menciptakan alam semesta beserta seluruh isinya ini, ialah sudah menjadi kodrat-Nya, apabila Allah mengendaki alam semesta ini selesai dan kembali pada kemuliaan dan kesempurnaan akan bersatu sampai dengan keberadaan-Ku lagi, itu adalah kodrat-Ku.
  1. Kesejahteraan
    Keturunannya yang masih tertinggal di alam semesta semuanya, semoga menemukan rasa senang dan bahagia, kaya akan pengetahuan jangan sampai ada kekurangan sesuatu apapun, sebelum dan sesudahnya selalu mendapat keselamatan, itu adalah kodrat-Ku.
  1. Kemudahan
    Sebanyak-banyak makhluk ciptaan-Ku, semuanya saja yang tidak menghiraukan-Ku, tidak akan mendapat kemudahan-kemudahan yang menjadi kodrat-Ku.

Yang pertama yang telah diajarkan oleh kesejatian, apabila menempatkan perlakuan-perlakuan satu demi satu, di jelaskan dalam pembabaran wirid beserta dengan murad, disebutkan dalam wiradat dan menjadi petunjuk yang asal mulanya dari ilmu makrifat semuanya.

Setelah demikian, yang membaca doa istigfar  dengan doa pembukaan, didalam hati memohon ampunan kepada Allah Tuhan Yang Maha Esa, Yang Maha Kuasa atas kehidupan, agar supaya jangan sampai mendapatkan kesulitan dan kesukaran didalam memaparkan rasa atas Dzat.

Selanjutnya adalah apabila masih hidup gurun ya lebih baik, tetapi bila terikat dengan masalah, ada yang selalu mendapat sakit yang amat sangat, padahal belum berilmu, hal ini dikarenakan mendapat wisik karena adanya Dzattulloh saja.

Disamping hal tersebut, apabila yang diajarkan tadi belum dapat menerima atau masih kurangnya kejelasan atas penerimaanya, apabila akan berguru kepada yang lainnya tidak menjadi masalah, hendaknya mendapat ijin dari guru yang memberi pelajaran sebelumnya.

Setelah keluar dari pembelajaran, disitulah bersama- sama duduk membentuk lingkaran untuk keduri atau memohon keselamatan jiwa dan raga, adapun banyaknya tumpeng atau ambengan yang dibutuhkan ada tiga macam, antara lain :

  1. Pertama-tama mempersilahkan kepada Nabi Muhammad sebagai rasul Allah, antara lain nasi uduk dengan ayam suwir atau bisa juga telur, kerupuk, garam, cabe, terong.
  2. Pertama-tama mempersilahkan makan kepada para sahabat rasul sekaliyan dengan para wali Allah, antara lain nasi golong, pecel ayam, sayur bayam, daging sapi satu yang digoreng.
  3. Pertama-tama mempersilahkan makan kepada para leluhur yang telah mengajarkan pada kita semua ilmu makrifat, seperu halnya makanan yang dimakan sehari- hari ketika mereka masih hidup, serta dengan bergantian, mendoakan semuanya, berdoa untuk rasul, dan pada akhirnya mendapat keselamatan.

Adapun hasil yang didapat dengan ajaran ini, bila waktu melaksanakannya bertepatan dengan bulan yang tanggal satu pada hari Jumat, dan ketika bulan purnama, apabila tidak menakutkan tidak akan mendapat celaka, serta tidak bertepatan dengan hari naas, apabila sembilan bulan dari sejak dihitung dan bertepatan dengan hari Jumat, melaksanakan selamatan pada hari Selasa manis, walaupun tidak bertepatan dengan bulan purnama.

Dengan didapatkannya tempat untuk pengajaran tersebut adalah, tanah suci/ tempat suci adalah yang terbaik, serta tidak tertutup, utamanya yang berada dilangit, ditanah semak belukar serta dirawa-rawa, harus dalam keadaan yang sepi, lebih utamanya lagi apabila menjelankannya pada tanah atau tempat yang tinggi seperti gunung, juga dipelataran atau halaman masjid, sesudah itu apabila kira-kira mendapat nama beserta tempatnya.

lni adalah keterangan-keterangan yang menyebutkan kewajiban bagi orang yang pantas menjadi guru, ada delapan perkara anatara lain :

  1. Termasuk kedalam kelompok orang yang berani, maksudnya adalah keturunan bangsa yang luhur yang masih berderajad;
  2. Termasuk kedalam agamawan, maksudnya adalah para ulama yang menguasai kitab suci agama;
  3. Termasuk kedalam pertapa, maksudnya adalah para pendeta yang masih men jalankan kebiasaanya bertapa;
  4. Termasuk para cerdik pandai, maksudnya adalah para ilmuwan yang berpengetahuan luas, yang menjadi orang baik;
  5. Termasuk orang yang mempunyai nilai guna,memiliki keterampilan dan cekatan;
  6. Termasuk kedalam perwira, maksudnya adalah para prajurit yang masih memiliki keturunan bangsawan atau berderajad tinggi;
  7. Termasuk orang berada, maksudnya para dermawan yang mendapat kebahagiaan;
  8. Termasuk kelompok orang pekerja keras, maksudnya adalah kelompok para petani yang ulet dan tangguh dalam bekerja.

Sedangkan beberapa perkara yang menyebabkan orang biasa menjadi guru  adalah :

  1. Para ahli pengetahuan utama, artinya orang yang faham dan pandai dalam bidang tulisan, bahasa sastra;
  2. Para ahli bahasa kawi atau pujangga yang termasyur, artinya orang yang faham benar, pandai akan bahasa kawi;
  3. Para ahli bahasa, artinya orang yang dapat berbahasa baik dan benar;
  4. Para ahli tembang atau ahli gending, artinya orang yang pandai dan dapat membuat lagu atau nyanyian dengan baik dan luwes;
  5. Para ahli cerita pandai membawakan ceritera, artinya orang yang pandai bercerita;
  6. Orang yang sangat bijaksana sekali, artinya kaya akan keterampilan dan serba bisa;
  7. Orang yang cerdas dalam bidang pemikiran dan halus akan budi bahasanya, sehingga orang yang diajak berbicara dengan mudah menangkap maksud dan tujuan.
  8. Orang yang peka, berkeinginan keras, utama dan mulia, serta tidak pelupa.

Delapan perkara, sifat seorang guru :

  1. Mmengasihi murid seperti anak sendiri;
  2. Sabar dalam mengajar;
  3. Ikhlas mengerjakan tugasnya tanpa pamrih;
  4. Cepat tanggap, dapat memilah-milah permasalahan murid;
  5. Tidak bertangan besi;
  6. Tidak berkecil hati;
  7. Tidak meminta sanjungan;
  8. Tidak merasa unggul.

Delapan perkara utama yang bisa menjadikan guru :

  1. Sehat jasmani, tidak ada cacat satupun;
  2. Halus tutur kata, tidak berkata-kata kotor;
  3. Bertingkah laku sopan;
  4. Berbudi luhur;
  5. Menjadi panutan;
  6. Bijaksana;
  7. Cita-citnya luhur;
  8. Tidak banyak keinginan.

Inilah keterangan yang wajib dimiliki apabila menjadi seorang murid, delapan perkara seperti dibawah ini.

  1. Dekat keturunan;
  2. Sebangsa;
  3. Seagama;
  4. Sebahasa;
  5. Tahu akan sastra;
  6. Jangan melewati batas usia;
  7. Tidak menderita sakit;
  8. Ttidak mengecewakan.

Kemudian selanjutnya bab dua dari Serat Wirid Hidayat :

Inilah yang menjadi keterangan wirid serta murid yang menjadi terbukanya hidayat, dan menjadi petunjuk bagi ilmu makrifat, yang barsal dari dalil, khadis, ijima, kiyas.

–     Artinya dalil, menerangkan apa yang menjadi ketentuan Allah;

–     Artinya khadis, menceritakan ajaran/petunjuk dari rasullullah;

–     Artinya ijimak, mengumpulkan ajaran-ajaran dait para wali;

–     Artinya kiyas, menyebarluaskan ajaran pendeta.

Kesemuanya itu menjadi pembuka, yang akan menyebarluaskan rasa gaib dan kesejatian dalam kehidupan, agar supaya sejahtera dalam hidup, lestari dari awal hingga akhir nantinya, kemudian apabila mendapatkan kesialan manusia terhadap janji hanyalah bisa berharap didalam kesempurnaan, jangan sampai menjadi penasaran.

  1. Adapun yang menjadi inti dari ilmu makrifat yang diikuti oleh kiyas yang berasal dari khadis menurut sabda nabi Muhammad saw yang dia arkan kepada Sayidina Ali, mempercayai adanya Dzat yang telah disebut didalam dalil pertama dari firman Allah SWT, Pangeran Yang Maha Suci dibisikkan padta telinga sebelah kiri, seperti yang terdapat di bawah ini :

    Yang menyebutkan bahwa Dzat yang sejati dan maha suci itu adalah kehidupan kita sendiri, rasa Dzat yang agung meliputi sifat rupa pribadi kita, tidak tertutup adanya warna Dzat yang jelek, yaitu nama kita sendiri yang menyertainya.

    Sedangkan Dzat, biasanya apa yang melekat padanya sudah dengan semestinya, apabila sebagai contoh adalah madu tidak mungkin rasanya adalah pahit, jadi tidak akan terpisahkan oleh sifat yang dimiliki.

    Sedangkan nama, dalam penyebutannya ditandai dengan apa yang menjadi sifat kebesaran yang dimilikinya, sebagai contoh apabila berkaca, bayangan yang tampakpun seperti aslinya, sejatinya tingkah lakunya adalah ibarat hasil cerminan yang selalu mengikutinya.

    Sedangkan apangal, adalah menjadi tempat yang mewadahi Dzat, apabila sebagai contoh menjadi samudera atau lautan dengan otomatis ombakpun mengikuti keberadaan samudera, sejatinya tempat dari ombak berada adalah danya samudera atau lautan.

    Jadi sejatinya yang dinamakan Dzat  tersebut adalah Mukhammad, dengan demikian nama Mukhammad menjadi tempat keberadaan wahyu yang meliputi didalam jasad, dan keberadaannya dalam kehidupan kita, yaitu kehidupan sendiri, tidak ada yang menghidupi, maka dari itu bersama-sama untuk melihat, mendengarkan, membau, berbicara, merasakan adanya rasa, itu berasal dari kodrat yang kita punya yaitu Dat, artinya demikian : Dzat yang dimiliki oleh Tuhan yang Maha Suci itu adalah apabila melihat dengan mata yang kita miliki, apabila mendengarkan dengan telinga yang kita miliki, apabila mencium dengan menggunakan hidung yang kita  miliki, apabila berbicara menggunakan mulut yang kita miliki, apabila merasakan juga dengan perasaan yang kita miliki , jangan sampai merasa perasaan kita khawatir, sebab keberadaan wahyu di Dzat yang kita miliki tersebut telah menjadi rasa, artinya secara lahir dan batin Allah sudah berada didalam kehidupan kita pribadi, dengan kata lain yang tertua atau paling terdahulu adalah Dzat yang berasal dari sifat Allah, sebab jadinya Dzat yaitu kadim ajali abadi. Berarti juga menganggap yang terbaik sendiri, ketika masih kosong dan hampa selama-lamanya di keadaan kita. jadilah sifat yang dinamakan kudzusul ngalam.

  1. Sedangkan yang menjadi urutan terjadinya Dzat sifat tersebut ada dalam tempatnya, disebutkan dalam dalil yang kedua, bersumber atas firman Tuhan Yang Maha Suci, demikian Allah dalam firman-Nya :

    Sesungguhnya aku adalah Dzat Yang Maha segala- galanya, yang berkuasa memerintahkan masing-masing makhluk-Ku, akan menjadi seperti sekarang ini adalah kodrat yang berasal dari-Ku, disitu telah menjadi kenyataan dan pertanda kekuasaan-Ku, sebagai pendahuluan atas irodat-Ku, yang pertama-tama Aku memerintahkan kayu, dengan nama sajaratul yakin, dan tumbuh didalam alam nabi Adam Makdum dan menjadi abadi, kemudian cahaya, dengan nama cahaya Mukhammad, kemudian kaca, dengan nama mir’atul kayai.  Kemudian nyawa dengan nama ruh ilapi, kemudian damar dengan nama kandil, kemudian “sosotya” dengan nama darah, kemudian dhing-dhing jalal dengan nama kijab, yang .nantinya akan memberi warna dan selalu mengikuti-Ku, demikian keberadaan keterangannya.

    Sajaratul yakin, tumbuh didalam alam makdum ajali abadi, yang berarti bahwa : berada di alam sonyaruri, masih diawang-awang selamanya di kehidupan kita, ini merupakan hakekat Dzat yang mutlak dan terdahulu, berarti Dzat yang sejati dan merupakan yang permulaan, yaitu Dzat di dalam jiwa, jadi berada di dalam alam akadiyat.

    Nur Mukhammad, yang berarti : sesuatu yang telah teruji, diceritakan dalam khadis, warnanya seperti burung merak, berada di dalam sayapnya yang berwarna putih, bertempat serah dengan sajaratul yakin, ini adalah hakekat cahaya yang merupakan pengganti wujud Tuhan, ada didalam nukat gaib, sebagai sifatnya nama, menjadi tempat alam wahdat.

    Mir’atul kayai, artinya kaca : wirangi, diceritakan didalam khadis berada didepannya Nur Mukhammad, ini adalah hakekatnya jiwa, yang menjadi rahasia dait Dzat. Sebagai nama jiwa, dan menjadi tempat keberadaan alam akadiyat.

    Roh ilapi, artinya adalah keheningan. Diceritakan didalam khadist berasal dari cahaya nabi muhammad, inilah merupakan kemulyaan dari jiwa, yang menyuruh keadaan Dzat, sebagai tempat jiwa. Menjadi tempat dari alam arwah.

    Kandil, artinya adalah lampu tanpa api. Diceritakan didalam khadis berwarna gemerlap yang memancar gemerlap, bergantung tanpa ada gantungan. Disitulah keadaan Nur Muhammad serta berkumpulnya ruh semuanya. sebagai ibu dari jiwa dan menjadi tempatnya alam misal.

    Darah artinya, intan permata. Diceritakan didalam khadis memiliki sinar warna yang lain. Menjadi tempat malaekat. lni adalah kenyataan budi, yang memerintahkan untuk menghias muka dari Dzat.  Sebagai pintunya roh atau nyawa menjadi tempat dari alam ajsam.

    Dinding dinamakan dengan dinding kemuliaan Tuhan, artinya warna yang amat besar. Diceritakan di dalam khadis dan keluarnya berasal dari cahaya luar. Pada waktu itu bergerak-gerak mengeluarkan buih, asap, air.  Inilah kenyataan atas badan atau jasad sebagai pakaian atau penutup roh. Menjadi alam insan kamil.

Adapun keterangan dari persesuaian pendapat para ahli agama dan kiasan, tingkatan dinding atau batas kemuliaan Tuhan yang berbentuk : busa, asap dan air tadi sama-sama menjadi tiga warna, yang disebutkan seperti dibawah ini :

Yang pertama adalah busa atau buih mengeluarkan tiga derajat atau tingkatan :

  1. Kitab kisma atau tanah, menjadi lahirnya anggota badan yang berada diluar seperti kulit, daging dan lain-lain;
  2. Kitab rukmi atau emas, menjadi lahirnya perabot atau anggota badan yang ada di dalam, seperti otak, mata, hati, jantung dan lain-lain;
  3. Kitab retna atau intan, menjadi lahirnya perabot badan yang lembut, seperti air mani, darah, sumsum, dan lain­ lainnya.

Yang kedua adalah asap, mengeluarkan tiga derajad atau tingkatan :

  1. Kitab kegelapan, menjadi tempat rasa panas dan lain-lain;
  2. Kitab guntur, menjadi tempat dari panca indera;
  3. Kitab api, menjadi tempat dari nafsu atau keinginan.

Yang ketiga adalah air, yang mengeluarkan tiga tingkatan :

  1. Kitab embun, yaitu air kehidupan yang menj adi tempatnya jiwa;
  2. Kitab cahaya rasa, menjadi tempatnya rahasia;
  3. Kitab cahaya jiwa, menjadi tempat roh dan keadaannya sangat terang.

Semua itu adalah warna dari Dzat yang berada pada insan kamil. Artinya kesempurnaan manusia telah hilang prasangka dan rasa khawatir sudah tidak ada lagi. Sebab keadaan rumah Tuhan, takdir yang memuat takdir manusia, firman Tuhan, jalan sirotal mustakim, surga, neraka, bumi, langit dan seluruh isinya.

Sudah masuk kedalamnya wujud yang menjadi rahasia dari Dzat-Nya Yang Maha Agung. Tterbentang menjadi keindahan sifat Yang Maha Esa. Menyertai permulaan nama-Ku yang berkuasa.

Keterangannya seperti ; pada saat Yang Maha Suci , berkehendaklah mewujudkan sifatnya yang dinamakan Adam. Yang . berasal dari empat perkara penyusun :

  1. Tanah;
  2. Api;
  3. Angin;
  4. Air;

Itulah menjadi wujud dari sifat-Ku. Disitulah memasukan mudah lima perkara :

  1. Cahaya;
  2. Rahasia;
  3. Ruh;
  4. Keinginan;
  5. Budi;

Yaitu sebagai dinding pembatas wa jah-ku yang maha suci.

Adapun letak atau tempatnya demikian, mudah itu Dzat yang dimiliki hamba, wajah itu Dzat yang dimiliki Gusti yang bersifat kekal. Diceritakan dalam hadist masuknya mudah lima perkara tersebut. diawali dari ubun­ ubun berhenti di otak, kemudian t urun kemata, kamudian turun ketelinga, kemudian turun ke dada, kemudian menyebar keseluruh bagian tubuh, lengkaplah kedudukan insan kamil.

Demikian tambahan yang diberikan oleh Yang Maha Suci. Didalamnya dinamakan tempat Dzat, tertata di dalam rumah Allah menjadi tiga keadaan. ltulah kesejatian, sebagai kenyataan keadaan satu-satunya. Yang menandakan waktu dunia adalah berasal dari Yang Agung dan Maha Mulia. Kekal tidak akan berubah oleh pergeseran dari keadaan jati. Disebutkan dalam dalil yang keempat dari apa yang dikatakan Allah, Pangeran Yang Maha Suci menjadi tiga ayat, keterangannya seperti dibawah ini :

  1. Ayat yang kesatu, terbukannya tata kebahagiaan di dalam Baitul Makmur. Demikian keterangannya : sesungguhnya­ aku menata kebahagiaan ada didalamnya Baitul Makmur, itu merupakan rumah atau tempat kesenangan dan kegembiraan-ku. Berada didalam Adam, yang berada di dalam kepala itu adalah otak. Yang berada diantara otak itu adalah mata. Didalam mata itu budi, didalam budi itu kesenangan, didalam kesenangan itu jiwa, didalam jiwa adalah rahasia, didalam rahasia itu adalah Aku. Tidak ada Pangeran, hanya Aku Dzat yang meliputi keadaan jati.
  2. Ayat yang kedua, terbukanya tata kebahagiaan di dalam Baitul Muharam, demikian keterangannya : sesungguhnya Aku menata kebahagiaan ada di dalam Baitul Muharam, itu rumah dan tempat larangan-larangan-ku. Berada di dalam dadanya Adam, yang berada didalam dada adalah hati, yang berada diantara hati itu jantung, didalam jantung itu budi, didalamnya budi itu jinem, yaitu angan­ angan didalam angan-angan itu roh atau nyawa. Pangeran Allah, hanyalah-Aku Dzat yang meliputi keadaan jati.
  3. Ayat yang ketiga, terbukanya tata kebahagiaan di dalam Baitul Mukhadas, demikian keterangannya : sesungguhnya aku menata kebahagiaan ada di dalam Baitul Mukhadas. Itu adalah tempat suci-Ku, berada dalam kemaluan Adam. Yang berada dimakam itu ada pringsilan, yang ada di antara pringsilan itu nutpah, yaitu air mani. Di dalam air mani itu madi, didalam madi itu adalah wadi, yang ada di dalam wadi adalah manikam, di dalam manikam itu adalah rahasia, hanyalah Aku Dzat yang meliputi dalam keadaan kesejatian. Berada dalam nukat ghaib, turun menjadi johar awal disitu keadaan alam adalah alam akhadiyyat, wahdat, wakidiyat, alam arwah, alam misal, alam ajsam, alam insan kamil. Menjadilah manusia yang sempurna, yaitu sesungguhnya adalah sifat-ku.

Apabila telah menerima dalil yang telah menjadi perkataan-Ku Yang Maha Suci demikian tadi hayatilah dan renungkanlah dalam hati. Yang demikian itu keberadaan dalam anugerah. anugerah tersebut adalah Dzat dari Gusti, keberadaan tersebut adalah sifat dari hamba, satu tidak ada wawangenan, berada pada jasad atau badan kita. Sedangkan sesungguhnya, keadaan semuanya tadi, disebut dibawah ini keterangannya :

Yang pertama memberitahukan, apa yang disebut dalam Baitu Makmur, artinya rumah yang tenang atau sepi, demikian tempat keberadaannya satu-persatu :

  1. Kepala, ini adalah jalannya keadaan betal makmur;
  2. Otak, keadaan dari kandha, menarik keadaan cahaya, menjadi pembukaan Dzat;
  3. Manik, keadaan jiwa, menarik keadaanya warna menjadi pembukanya kemampuan melihat;
  4. Budi, keadaan prana, menarik keadaan karsa menjadi pembukannya kemampuan berbicara;
  5. Suksma, keadaan dari nyawa, menarik keadaan cipta menjadikan pembukannya kemampuan membau;
  6. Rahsa, keadaan dari atma, menarik wisesa, menjadikan pembukannya perasaan batin.

Nasehat atau petuah guru yang mengajarkan ilmu pembukaan dari tata kebahagiaan di dalam Baitul Makmur, utamanya menjalankan larangan seperti tidak diperbolehkan menyantap ikan otak dan juga ikan manik. Dari keterangan  itu menyatakan bahwa apabila benar mematuhinya ilmu yang sedang di jalankan dengan mudah akan diterima.

Yang kedua, menjelaskan yang disebutkan didalam Baitu Mukharam, artinya adalah rumah yang kaawisan, demikian keberadaannya satu-persatu :

  1. Hati : keadaan dari panca indera, yang bisa menarik keinginan menjadi keadaan dari nafas.
  2. Jantung : kedaan dari lima hal yang tak tampak, yang bisa menarik keadaan birahi, menjadikan wahyunya.
  3. Budi : keadaan dari pranawa (hati yang bersih), menarik keadaan dari karsa, menjadi kemampuan akan berbicara.
  4. Jinem : keadaan dari panggraita (angan-angan, pemikiran), menarik keadaan suara, menjadikan kemampuan akan mendengarkan.
  5. Suksma : keadaan dari nyawa, menarik keadaan cipta, menjadikan kemampuan akan membau.
  6. Rahsa : keadaan jiwa, menarik adanya wisesa (kekuasaan, wewenang), menjadi kemampuan merasakan.

Nasehat atau petuah guru yang mengajarkan ilmu pembukannya tata kebahagiaan di dalam Baitu Mukharam, utamanya yang menjalankan tidak diperbolehkan memakan ikan hati dan jantung, jalan tengahnya telah dinamakan angan-angan. Dari keterangan itu menyebutkan bahwa apabila telah mematuhi larangan tersebut ilmunya dapat diterima.

yang ketiga, menerangkan yang disebutkan didalam Baitul Mukhadas , artinya ruang yang disucikan, demikian keberadaannya satu persatu :

  1. Alat kelamin atau tempat rahasia : ini adalah keluarnya keadaan dari Baitul Mukhadas.
  2. Pringsilan : keadaan dari yang awal atau terdahulu, tumbuh dari keadaan birahi, dan menjadi pembukaan dari asmara (kasih sayang, cinta), yaitu ketertarikan rasa dari dalam hati.
  3. Air Mani : keadaan dari kandha, tumbuh dari rasa dan suasana, menjadi pembukanya asmara (kasih sayang, cinta) , yaitu ketertarikan rasa sapandulon (memandang, saling memandang).
  4. Madi atau rahasia (kelamin) : keadaan warna yang tumbuh dari keadaan karsa (kehendak), menjadi pembukaan dari asmara (kasih sayang, cinta) , yaitu ketertarikan dari pendengaran.
  5. Wadi (cair bening yang keluar dari kelamin tanda seseorang bernafsu/terangsang) : keadaan dari wujud atau bentuk, yang tumbuh dari keadaan cipta, menjadi pembukanya asmaradana, yaitu ketertarikan yang berasal dari kata-kata (ucapan).
  6. Manikem : keadaan dari ruh, yang tumbuhnya berasal dari keadaan rasa hati, dan menjadi pembukaan dari asmara tantra, yaitu ketertarikan perasaan.
  7. Rahsa keadaan jiwa, tumbuhnya atas keadaan wisesa (kekuasaan. Wewenang), menjadi pembukaan asmaragama, yaitu ketertarikan salulut (bercinta, hubungan suami istri).

Nasehat atau petuah guru yang mengajarkan ilmu pembukanya tata kebahagiaan dalam Baitul Mukhadas , utamanya adalah tidak diperbolehkan makan daging atau hati dibawah ini ada keterangan yang memaparkan dari riwayat guru, apabila mengajarkan rahsa dari Baitul Mukhadas, yang seharusnya diketahui dan dipelajari oleh para wanita, boleh diberitahukan seperti demikian :

Ketika Yang Maha Suci sudah berkehendak untuk menata kebahagiaan didalam Baitul Mukhadas, ada bertempat di badan Siti Hawa, yang disebutkan ada didalamnya badan ialah: purana (indung telur/rahim/kandungan) hal-hal yang ada didalam purana : reta, yaitu mani, didalam mani adalah madi , didalam madi adalah wadi , didalam wadi manikem, didalam manikem adalah rahsa, didalam rahsa (rasa) adalah atma (jiwa/ruh), yang keseluruhannya diliputi keadaan yang Sejati.

Sedangkan petunjukanya adalah demikian : baga (vagina, kandungan), timbangan dari alat kelamin, purana, timabangan dari pringsilan, yang selanjutnya sama dengan apa yang diajarkan untuk diketahui kaum pria, adapun didalam penerapannya bersama-sama didalam kodrat yang seharusnya agar memahami asal muasal dan tujuan akhir nantinya.

Apabila telah benar-benar tahu dan paham dengan nyata, sudah seharusnya menetapkan yang menjadi sentosanya dari iman yaitu syahadat jati,  yang disebut didalamnya tidak seperti maksud yang dikandung.

Saya bersaksi bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan selain Allah, dan saya bersaksi bahwa sesungguhnya Nabi Muhammad adalah utusan Allah.

Cerita atau dongeng dari guru lagi, walaupun ajaran ditujukan pada kaum wanita, diperbolehkan ditambah demikian keterangannya :

Saya bersaksi, sesungguhnya tidak ada Tuhan selain Allah, dan saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah dan Fatimah adalah umat-Ku.

Apabila telah mengetahui isi yang terkandung dalam syahadat jati seperti tersebut diatas, hendaknya kita juga menuntun untuk sanak saudara kita sekalian, yaitu tentang keadaan-keadaan dari kejadian, yang terbentang ada didalam alam semesta antara lain: bumi, langit, matahari, bulan, bintang, api, angin, air, dan lain sebagainya, bersama-sama bersaksi bahwa kita nanti telah mengakui , keberadaan Allah Yang Maha Suci, dan menjadi sifat Allah yang sejati. Disebutkan didalamnya dan tidak seperti keterangan yang tertera :

Saya bersaksi bahwa di dalam Dzat-ku, sejatinya adalah tidak ada Tuhan tetapi adalah Aku, dan bersaksi bahwa Muhammad itu adalah rasul-Ku, dan sesungguhnya yang bemama Allah itu adalah badan-ku, rasul itu adalah rahsa-Ku, Muhammad itu adalah cahaya-Ku,- ·yaitu Aku hidup dan tidak mati, yaitu yang selalu ingat tidak akan lupa, yaitu Aku yang kekal tidak akan pemah berubah oleh pergeseran waktu di dalam keadaan yang sejati. Yaitu Aku yang benar-benar ada dan tidak dapat disamakan dengan lain-lainnya, Aku yang berkuasa dan berkehendak atas segala yang ada, berkuasa atas pengetahuan tidak ada kekurangan didalamnya, dengan kata lain sempurna dalam segala hal, tidak terasa apapun, tidak akan terlihat apa- apa, hanyalah Aku yang menguasai di alam ini, tidak ada yang berani melawan kodrat-Ku.

Tamat wirid yang kedua.

Kemudian dilanjutkan serat wirid dengan tanda-tanda keterangan, yang disebutkan pada bab tiga.

Inilah serat wirid yang mengingatkan atau menyebut­kan akan badan hingga kesempurnaannya, yang disebutkan dalam bab tiga.

Inilah keterangan yang menerapkan kelengkapan ilmu kesempurnaan, yang tersebut dalam ingatan wiradat, pada jaman dahulu telah  dilihat oleh para wali, yang pada saat kemudian telah disampaikan semuanya, memberitahukan yang menjadi tanda-tanda datangnya hart kiamat.

Kiamat memiliki arti, yaitu kiamat yang ada didalam badan masing-masing pribadi. keterangannya ada dibawah ini, urutnya sesuai keterangan satu-persatu :

  1. Yang pertama, bila telah sering mengetahui hal-hal yang tidak terlihat, tanda-tanda kurang satu tahun, disitulah seharusnya lebih banyak melakukan tapa brata atau tafakur, mengurangi keinginan yang tidak perlu, menetapakan hati, rela menerima sungguh-sungguh, mengutamakan, adapun yang paling utama adalah keberadaan didalam kesabaran dan menerima dengan sukarela.
  1. Yang kedua, bila telah sering mendengar apa-apa yang tidak pernah didengar sebelumnya, seperti mendengar suara-suara sebangsa Jin, setan, hewan atau binatang. Dengan tanda-tanda kurang satu tahun, disitulah tempat keberadaan kurmat beserta tilawat, yang berarti bahwa haruslah memiliki pegangan hidup yaitu kesejatian dan lain sebagainya, melakukan kebaikan-kebaikan, selalu berhati-hati dalam menjalankan kehidupan kita sendiri-sendiri.
  1. Yang ketiga, bila telah sering berubah pengelihatannya, seperti : bulan Mukharam, sapar, apabila langit terlihat merah, mulud, rabingul akir, matahari terlihat hitam, jumadi lawal, jumadi lakhir, rejep, ruwah, air terlihat merah, siyam, syawal, bayangan badan sendiri terlihat dua, dulkangidah, besar, api terlihat hitam. Semua itu merupakan tanda kira-kira kurang dari dua bulan. Disitulah tempat keberadaan nasehat atau petuah dan pengalaman. Yang berarti bahwa nasehat-nasehat serta ajaran-ajaran yang sangat bermanfaat untuk kebersihan hati.
  1. Yang keempat, apabila jari telunjuk ditekuk kedalam telapak tangan dan jari manis terangkat dan dapat mejunjung jari manis tadi. Adalah tanda -tanda kurang dari sepuluh hari, disitulah tempat dan keberadaan dari hal-hal yang luhur. Artinya permohonan maaf, yaitu memaafkan atas segala kesalahan dan kekeliruan, atau memohon permintaan maaf dari orang yang telah merasa hatinya tersakiti.
  1. Yang kelima, bila telah terlihat jari-jarinya berkurang atau tidak nampak, bagian pergelangan tangan sudah terlihat lepas, tanda-tandanya kurang dari satu bulan. Disitulah tempat dan keberadaan menerapkan sebanyak-banyaknya ilmu kesempurnaan. Seperti yang ada dibawah ini :
    1). Iman, berarti mempercayai. Percaya akan kodratnya, dengan kata lain percaya akan kodrat Yang Maha Kuwasa.
    2). Tauhid, berarti hanya satu atau esa. Yaitu pasrah pada kehendak yang kuasa.
    3.) Pandangan atas sifat Allah, artinya terang atau jelas maksudnya. Artinya jelas adalah ilmunya, yaitu meliputi keberadaan Dzat, sifat, +
    asma dan apngal.
    1. Dzat, berarti cerita.
    2. Sifat, berarti muka atau wujud.
    3. Asma, berarti nama.
    4. Apngal, berarti pengetahuan.

4). Islam, artinya selamat. yang dimaksud selamat adalah dalam kehidupannya. Yang berarti kehidupan adalah : hidup itu sendiri, berada pada sifat jalal, jamal, kahar, kamal.

a. Jalal, artinya agung atau besar. Yang besar adalah Dzatnya, berkuasa meliputi seluruh alam seisinya.
b. Jamal, artinya jelek. Yang baik adalah sifatnya, bukan laki-laki, bukan perempuan,
juga bukan waria, tidak berada di salah satu arah, bukan menetap tidak berwarna dan berwajah.
c. Kahar, artinya yang misesa. Yang misesa adalah nama-Nya. bukanlah nama siapa-siapa.
d. Kamal, artinya sempurna. Yang sempurna adalah pengetahuan-Nya.

Adapun keberadaannya demikian adanya :
lman, berada di eneng (hening/sunyi);
Taukhid, berada di ening (senyap/sepi);
Makrifat, berada di awas;
Islam, berada di engetan (ingatan);

  1. Yang keenam , bila telah terlihat warnannya sendiri, tanda-tandanya kurang dari setengah bulan, disitulah tempat keberadaan permohonan, ditegaskan bahwa kehendak dan kuasa-Nya, dilakukan setiap akan berangkat tidur. Permohonan yang disampaikan seperti yang tersebut dibawah ini :

Saya memohon hanya kepada-Mu, atas kuasa-Mu, sifat yang engakau miliki, hanya kepada nama-Mu, hanya Engkau Yang Maha Mengetahui, saya memohon hanyalah kepada-Mu, dari Engkaulah saya diciptakan, sempurna atas kodrat-Mu. Disitulah tercipta yang berasal dari satu seperti : Bapak, Ibu, Kakek, Nenek, Istri, Suami, anak dan cucu semuanya.

Setelah diucapkan, mengusap keseluruh badan, yang pertama adalah puser sebanyak tiga, apabila terasa seperti linglung, kemudian mengusap dada tiga kali, apabila merasa mengantuk dan mempunyai keinginan untuk tidur, kemudian mengusap dahi sebanyak tiga kali, apabila merasa lupa, mengusap ubun-ubun tiga kali, disitulah akan menerima rasa jati wisesa. Berarti didalam kita berangan-angan, adalah tempat datangnya rencana yang berasal dari badanya sendiri, yaitu apa yang dinamakn dengan empat saudara dan yang kelima adalah pusat. Disitulah seharusnya diadakan ruwatan atau selamatan agar terhindar dari sengkala (halangan).

Saya berniat untuk mengadakan selamatan untuk saudara empat dan yang kelima adalah pusat (sedulur papat lima pancer), yang berada di badanku sendiri, kakak saya adalah air ketuban, adikku adalah ari-ari, darah, puser, dan sebanyak-banyaknya saudaraku yang keluar bersama­ sama dari rahim sang ibu, dan tidak keluar dari sesuatu yang hina, serta saudaraku yang keluar bersama-sama pada satu hari semuanya terlihat sempurna, tidak ada aral yang menghalanginya dan sejahtera dalam keadaan yang sejati, tidak melawan kodrat-Nya.

Demikian kesaksian yang melawan Dzat-Ku sendiri, yang disebutkan dibawah ini :

Aku bersaksi dengan Dzat-Ku sendiri, sejatinya tidak ada Allah selain Aku, dan sejatinya Nabi Muhammad iti adalah utusan-Ku, yaitu yang sejatinya bernama Allah itu adalah badan-Ku, yaitu Aku yang selalu ingat tidak pernah lupa, yaitu Aku yang kekal tidak akan berubah oleh perubahan waktu, yaitu Aku Yang Maha Mengetahui segala-Nya tidak dapat disamarkan oleh sesuatu hal, yaitu yang berkuasa dan berkehendak, yaitu yang berkuasa dan bijaksana tidak kekurangan ilmu pengetahuan, sempurna dan terang jelas, tidak merasakan apapun, tidak ada terilihat apapun, hanyalah Aku yang meliputi di alam seluruhnya tidak ada yang melawan kodrat­-Ku.

Apabila telah demikian, sinar dari cahaya Muhammad, diturunkan dengan sangat gemerlap di wadana (wajah, raut muka), disitulah tempat bersatu padunya antara badan dengan nyawa, seperti yang tersebut dibawah ini :

Allah yang · menyatukan dengan bantuan para rasul, penghulunya adalah Nabi Muhammad, saksinya adalah empat malaikat, yaitu Aku yang disatukan dengan badan-Ku, kemudian ditemukan dengan suksma-Ku, ditambah dengan rahasia-Ku, lsrofil adalah pengelihatan-Ku, Ijrail adalah pendengaran-Ku, semuanya menyatu karena kodrat­-Ku.

Demikian penciptaan asal muasal dan tujuan tajuan tanajul tarqi, tersebut dibawah ini :

Aku mengetahui dengan penglihatan-ku, insan kamil sampai kepada alam asan, serta sampai pada alam misal, juga sampai pada alam arwah, juga sampai pada alam wakadiyat, juga sampai pada alam wahdat, juga sampai pada akadiyat, juga sampai pada alam insan kamil lagi, sempurna akan keadaanya, yang berasal dari kodrat-ku.

Apabila telah mengetahui, sebaiknya segeralah menata dan bersiap seperti yang disebutkan dibawah ini :

  1. Menyilangkan kedua tangan didepan dada, jari-jari tangan dikaitkan satu dengan lainya seperti posisi menyembah, meletakkan tepat ditengah-tengah dada, kedua kaki dengan posisi lurus, lutut sating bertemu rapat.
  2. Menatap ujung hidung hingga sampai dada, kemudian sampai pada puser, seperti sikap akan melakukan semedi.
  3. Mengambil nafas dari arah kiri , menuju sebelah kanan, kemudian dari sebelah kanan kembali kekiri. dikumpulkan sesaat, kemudian dari arah puser, dihirup kerah atas secara perlahan-lahan, sampai tertata di bagian Baitul Mukharam, yaitu bagian dada, jangan sampai tumpang tindih dalam mengambil nafas, tan nafas, anpas, nupus.

a. Nafas itu adalah talinya mayat berada pada jari hati, artinya akar dari keadaan hati menjadi angin yang keluar begitu saja.
b. Tan napas itu adalah talinya hati berada dipuser keeberadaannya menjadi angin yang masuk saja.
c. Anpas itu adalah, talinya ruh berada pada jantung keberadaannya menjadi angin yang berada didalam saja.
d. Nupus itu adalah, talinya rahasia keberadaannya ada didalam hati yang berwama putih, yaitu yang berada diakar jantung, keberadaannya menjadi angin yang meliputi keseluruhan jasmani serta rohani. Apabila telah berkumpul menjadi satu, nafas, tan nafas, anpas, nupus, kemudian akan ditarik keatas secara perlahan, dan berdiam pada maligenya Baitul Makmur, yaitu terdapat kepala, tercipta men adi nukat ghaib.

4. Memejamkan mata secara perlahan, mengatupkan mulut dan bibir, lidah tertekuk keatas langit-langit mulut, gigi dengan gigi terkatup, disitulah berusaha untuk mengheningkan cipta, dan kemudian berpasrah diri, memohon dengan memelas pada Dzat Yang Maha Kuasa.

Apabila sudah demikian adanya, daun dari kayu sajaratil muntaha, gunung tursina roboh, yang berarti bahwa telinga tak mendengar apapun, disitulah datangnya cahaya dari keinginan yang terdiri atas empat, yang pertama adalah cahaya hitam, kemudian cahaya merah, kemudian cahaya dari pramana, warna cahaya yang lain datangnya bersama-sama dan terbentang seperti hitam, merah, hijau, kuning, putih bersama-sama meliputi di dalam Dzat keraton. Tetapi keseluruhan warna tersebut sesungguhnya bukanlah keraton yang ditata dan diciptakan oleh Yang Maha Mulia. Oleh karena itu sebelumnya telah kedatangan cahaya tersebut. Haruslah merata cahaya yang asli dan yang berasal dari satu, telah disempurnakan dari kodrat-Nya. Sehingga jangan sampai terbebani oleh banyaknya cahaya. Dibawah ini adalah hal-hal yang memberatkan :

Cahaya hitam berasal dari nafsu keinginan hati, terlihat dari cahaya merah, cahaya merah berasal dari nafsu amarah, terlihat dari cahaya yang kuning, cahaya kuning berasal dari nafsu supiyah, terlihat dari cahaya yang putih, cahaya putih berasal dari nafsu mutmainah, terlihat cahaya yang berasal dari luar dan berasal dari pramana (waspada), terlihat pada Dzat cahaya-ku, yang bening memancar dengan terangnya, tidak dapatlah terlihat apa-apa, semuanya tertutupi oleh Dzat-Ku yaitu kodrat-Ku.

Sesudahnya demikian, menerapkan, selanjutnya menerapkan seperti yang tersebut dibawah ini :

  1. Berkumpulnya hamba dan Tuhan Aku adalah Dzat Tuhan yang besifat tunggal atau satu, yang meliputi di dalam hamba-Ku, satu didalam kebersamaan,  sempurnalah dari kodrat-Ku.
  2. Menyucikan
    Aku adalah Dzat yang maha suci, yang bersifat kekal, yang berkehendak dan berkuasa atas seluruh kejadian,yang sempuma dari bahaya, selamat dan sejahtera atas kesejatian-Ku, tidak ada yang bisa melawan kodrat-Ku.
  1. Merakit
    Aku adalah Dzat Yang Maha Luhur, yang berkedudukan sebagai Ratu Agung, yang berkuasa dan berkehendak menjadikannya keraton-Ku. Yang Maha Agung lagi Maha Mulya, Aku berada dalam kesem­purnaan didalam hidup-Ku, lengkap seluruh perabot-Ku, tidak ada yang kekurangan bagi-Ku, tergelarlah seluruh ciptaan-Ku, ada dan tercipta apa yang menjadi kehendak-Ku, datang dengan kehendak-Ku, dari kodrat-Ku.
  2. Melepaskan
    Hanyalah jasad atau badan saja yang tertinggal nantinya di dunia ini, apabila telah tiba masa kiamat dari Yang Maha Mulya, bulu, kulit, daging, darah, tulang, sungsum dan lain sebagainya tadi yang berasal dari cahaya akan kembali menjadi cahaya, sempurna kembali kepada-Ku lagi, itulah kodrat-Ku.
  3. Menarik
    Ragaku dari bawah sampai atas, semuanya akan kembali kepada jaman dan alamnya masing-masing, yaitu kepada kesucian dan kemuliaan yang sempurna seperti-Ku.
  4. Membereskan
    Aku jadikan didalam alam dunia ini, dengan seluruh isinya, apabila telah sampai pada waktunya untuk-Ku ambil kembali, menjadi mulia dan bersatu kembali, tiada kekuatan yang dapat melawan kodrat-Ku.
  5. Menjabarkan
    Tidak ada yang tertinggal satupun dari dunia ini, semoga semua menemukan kebahagiaan, kaya tidak ada yang merasa kekurangan, semoga selamat dan bahagia dari bawah sampai atas.
  6. Memasang kamayan (pengasihan)
    Sebanyak- banyaknya semua perintah-Ku, yang sudah terdahulu, yang sudah mendengar, saling mengasihi, dari kodrat-Ku.
  7. Memasang kamayang (kebencian)
    Sebanyak-banyaknya makhluk ciptaan-ku, yang tidak mengindahkan aturan-aturan-ku.

Disitu kemudian nafas dikelurkan melalui hidung secara perlahan,  jangan sampai tergesa-gesa, kemudian berpasrah diri kepada Dzat Yang Maha Kuasa.

Didalam menjalankan perintah Yang Maha Kuasa tersebut, apabila dirangkum menjadi satu, ada keterangan nya, sejak mengambil nafas hanya ada satu saja, demikian yang bisa dijalankan ada dibawah ini keterangannya :

Setelah mengalirnya cahaya semua, bersama-sama diliputi oleh Dzat-Ku, yaitu Allah Yang Maha Esa, yaitu Dzat Yang Maha Suci dan besifat langgeng, yaitu Dzat Yang Maha Luhur, berkedudukan sebagai Ratu Agung, yang berkuasa dan berkehendak, yang berkuasa atas melebur jasad hamba-Nya, menarik jasad, melebur alam semesta dengan isinya, tidak menyisakan satupun isi dunia, semua itu adalah kehendak-Ku yang harus terjadi, dan semuanya sudah menjadi kodrat-Ku.

Adapun lepasnya didalam menarik nafas tadi, apabila kita selalu teringat akan cipta sa ja, penerapannya semua itu telah cukup di jelaskan diatas. sebab dalam jaman karamatullah, dikemudian nantinya waktunya makam yabah artinya adalah tempat untuk menerima, seperti halnya wa jah. mudah inilah Dzat dari hamba, sedangkan wa jah adalah Dzat gusti yang bersifat kekal.

Apabila telah menjadi satu, nafas, tan nafas, anfas, nufus tadi, kemudian menarik keatas secara perlahan-lahan, diam sesaat ditata di dalam tata malige Baitul Makmur, yaitu kepala, disitu tercipta menjadi nukat gaib, artinya adalah saliring jasmani , tercipta aluluh menjadi air, kemudian tercipta aluyud menjadi nyawa, kemudian tercipta alenyep menjadi rahasia, kemudian tercipta alayad menjadi cahaya yang terang tidak ada bayangan, di keadaan kita yang sejati.

Apabila telah demikian, darah yang kita miliki kemudian terasa membalik seluruh badan, menjadikan mata kita kabur, telinga terasa berdengung, hidung tersumbat, lidah terasa kelu. Pada akhirnya nanti mengakibatkan cahaya badan kita suram, suara hilang, tidak dapat melihat, mendengar, mencium, merasakan. Hanyalah tersisa cipta semata, sebab telah diambil dan dibereskan dengan adanya tatanan syareat, tarekat, hakhekat, makrifat.

Syareat itu adalah perjalanan badan kita, keberadaan nya ada di mulut kita, tarekat perjalanannya ada dihati kita keberadaannya berada dihidung, hakhekat perjalanan nyawa keberadaannya ada di telinga, makrifat perjalanan dari rahasia keberadaannya ada di mata. Maka sesungguhnya syareat adalah mulut, tarekat hidung, hakhekat telinga, makrifat mata. Adapun yang diambil pertama kali adalah pengelihatan mata kita, diumpamakan dengan bayangan yang ada pada cermin atau keringnya air zamzam, kemudian adalah pendengaran dari telinga, diumpamakan gugurnya daun sajaratil muntaha, ataupun lepasnya hajar aswad, selanjutnya adalah indera membau hidung kita, diumpamakan meletusnya gunung ikrap seperti gempa bumi, selanjutnya adalah perasa dari indera pengecap, diumpamakan jebolnya jembatan siratal mustaqim, atau rusaknya kakbattulah. Disitu kemudian terasa nikmat dari seluruh badan, melebihi nikmat dari segala rahasia. Sebab sejak terbukanya hijab dari Allah, waktunya adalah ketika hilangnya rahasia.

Selanjutnya terlihatlah jaman  karamattullah, merasakannya didalam alam adam. Datangnya sebanyak­ banyaknya cahaya, yang meliputi seluruh Dzat yang ada di keraton. pada waktu itu hanya ada keharusan akhir dan tekatnya seperti aksara alip yang merupakan tanda dalam tulisan arab, berbunyi : a, i, u, yang artinya adalah aku ini hidup. Kemudian menciptakan rasa gila asmara atau kecintaan pada semua Dzat. Seharusnya jangan sampai teringat dikala kita sudah sampai pada akhirnya dengan kata lain terlambat pada akhirnya.

Inilah wirid yang disebutkan dalam bab 4 :

lni adalah wirid yang menjadi pembukanya ilmu makrifat kesejatiannya hidup, yang jelas dan nyata dalam asal muasal dan tujuan akhir nantinya, kemuliaan keadaan yang sejati yang berasal dari dalil apa yang difirmankan Allah dikala  itu berdasarkan musyawarah, bersama-sama, berada digunung nglawet. Pada saat itu pelajaran diberikan oleh Nabi Muhammad kepada Sayidina Ali, serta kumpulan para nabi seluruhnya. Oleh karenanya sebagian besar tempat yang terdekat dengan gunung nglawet, bersama-sama tunduk sehingga mendengarkan pembabahasan rahasia gaib kehidupan yang sejati. Pada jaman terdahulu telah dapat dilihat oleh para Wali Allah di Tanah Jawa. Pada masa kemudian diterangkan semuanya kehidupan yang sejati, supaya dapat diketahui kematian nantinya, serta kemuliaan keadaan jati (sesungguhnya), didalam jaman yang kekal abadi, jangan sampai nantinya dikuasai oleh rasa penasaran. seperti dibawah inilah keterangannya :

  1. Yang pertama;
  2. Yang kedua;
  3. Yang ketiga;
  4. Yang keempat;
  5. Yang kelima;
  6. Yang keenam;
  7. Yang ketujuh;
  8. Yang kedelapan

Inilah pengetahuan anamas Allah, mati yang empat perkara. Seperti yang ada dibawah ini  :

  1. Yang pertama adalah mati nafsu atau keinginannya, seperti apa yang dikatakan oleh Allah Swt, artinya seluruh keinginan atau nafsu juga merasakan kematian;
  2. Yang kedua, adalah mati ruhnya, seperti apa yang dikatakan Allah Swt, artinya yang mati adalah imannya;
  3. Yang keempat adalah, diucapkannya dengan mulut pada waktu ini hendaknya diketahui yang termasuk dalam kelompok khukmi, yang memiliki maksud khukum balaka, keterangannya seperti dibawah ini :
    a. Yang pertama sebab-sebabnya kematian;
    b. Yang kedua kedudukan kematian;
    c. Yang ketiga menemukan kematian;
    d. Yang keempat tempatnya kematian.

Disitu harap ketahuilah, keempat perkara yang tersebut diatas adalah, terbukanya hal yang ghaib Dzat Yang Maha Suci, seperti dibawah ini :

Jalannya kematian itu adalah hidayat dari Allah, kepada yang hidup dan berada pada manusia, jadi letaknya sudah tidak dapat dirubah oleh siapapun juga.

Kedudukan kematian, adalah petunjuk dari Allah ta’ala, selamatnya keadaan sejati, artinya adalah mengetahui dengan pasti kesempurnaan asal muasal dan tujuan akhir.

Menemukan dalam kematian, itu adalah tawakal, artinya selalu berpasrah diri pada Allah ta’ala, jika menemui kematian itu adalah iradat dari Allah SWT.

Tempatnya kematian, itu berada pada kehendak-Nya, artinya itu adalah Dzat yang bersifat tunggal.

Demikian hendaknya jangan diselewengkan, masalah syahadat tanpa iman, takbir tanpa tauhid, sakarat tanpa makrifat. Artinya syahadat tanapa iman ini adalah kenyataan, dalam satu kesatuan, adapun takbir tanpa tauhid nantinya hilangnya kesatuan, serta yang menjadi akhir adalah Dzat Allah itu kenyataannya adalah satu, atau dengan kata lain rasa yang dimilki oleh Allah adalah satu, itu apabila telah merasuk dalam sifat-Nya, yaitu telah sempurnanya sukma atau jiwa.

lni adalah pratingkah dari sifatnya ruh.

Yang pertama adalah berasal dari badan, dari dalam demikian doanya : layukkriyula ilullah maka terlepaslah ruh itu tidak dapat langsung dan terhenti di lutut, doanya illullah maka terlepaslah lagi ruh itu dan tidak dapat langsung dan terhenti di wudu, doanya: la mujudwun illullah, maka terlepaslah ruh itu dan tidak dapat langsung atau terhenti di hati, doanya: yaa u illullah, maka terlepaslah lagi ruh itu terhenti dan tidak langsung dimata, doanya dengan mengucap nyawa itu masih pergi dari badan, wallahu aklam yang disebutkan dibawah ini adalah untuk diketahui keadaan yang sesungguhnya, ada enam hal seperti inilah keterangannya :

  1. Yang pertama, terlihatnya jaman penciptaan keadaan yang sejati, warnanya hitam. artinya adalah jaman yang hilang dan berasal dari diri pribadi, tetapi apabila ada salah satunya terlewatkan, disitulah dikuasai akan rasa penasaran.
  2. Yang kedua melihat warna merah , artinya masih dalam pengerjaan yang samar-samar.
  3. Yang ketiga adalah melihat warna, artinya merencanakan nyanyamur yang sejati, apabila tergesa-gesa dalam pengelihatan, maka juga dalam pengerjaannya menjadi tidak terarah;
  4. Yang keempat, melihat warna tangan, artinya adalah warna cahaya putih, semuanya telah terkumpul menjadi satu, bercahaya gemerlap, pada keadaan yang sejati.

Sempurna jelas tidak kekurangan suatu apapun, yaitu bukanlah kesejatian yang sama-sama digabungkan oleh keadaan jati (sesungguhnya), dengan bahasa lain sudah di jabarkan oleh ajaran para wali Allah. Tetapi masih jauh dari kesamaan pelajaran rahasia ilmu gaib, disitulah melaksanakan yang telah disebutkan pada keadaan seluruh badan. Padahal mengimani adalah mempercayai, yang dipercayai adalah kodrat, artinya adalah kodrat Yang Maha Kuasa. Tauhid, artinya hanya satu, yaitu pasrah atas irodat-Nya, artinya maksud dari irodat.

Makrifat, artinya ilmu pandangan tentang sifat Tuhan. Islam artinya yang telah selamat pada keadaan yang sebenamya.

  1. Yang kelima, terlihat secara samar kenyataan warna, artinya yaitu kenyataan dalam kebersatuan-Ku terhadap keadaan yang sebenar-benarnya. Jadilah hal ghaib menjelma kembali pada jiwa-Ku, oleh karenanya dengan kata lain ini telah diterangkan dengan sifat ke-Esaan-Ku, keadaan yang mulia, juga tanpa batas selama­-lamanya. Seperti inilah gambamya :
  2. Yang keenam, lengkaplah ajarannya para wali Allah, yang telah menerima anugerah dari Allah ta’ala. Ajaran yang telah diketahui sebelumnya oleh para wali di Tanah Jawa, yang menunjukkan keraton yang agung, yaitu didapat atas petunjuk, diterima pada telinga sebelah kiri. Demikian gambarnya keraton tempatnya hilangnya jasmaniah secara nyata dengan memanjatkan doa: hu artinya menyebut asma Allah.

Pada akhirnya melaksanakan aturan-aturan satu- persatu, agar dapat sepaham dengan apa yang telah di jabarkan dalam wirid, yang berasal dari ajarannya para guru yang telah ada didalam bab 5 wirid. sehingga tidak khawatir ataupun was-was dalam pengetahuannya.

Dengan kemudian diterangkan murid yang tidak bisa menerima, yang telah disebutkan diatas semuanya. Hal ini menjadikannya tidak diperbolehkan untuk menjalankan dalam kehidupannya. Seperti dibawah ini adalah keterangannya :

  1. Gila;
  2. Mempunyai penyakit ayan;
  3. Kedhengdheng;
  4. Sakit jiwa;
  5. Hilang akal.

Kemudian keterangan mengenai ajaran yang di­ sampaikan oleh para guru satu persatu, inilah penjabarannya rahasia ilmu yang telah diajarkan bermacam-macam. Semuanya dijadiakan urut-urutan dalam kiasan-kiasan yang berasal dari dalil atau firman Allah Yang Maha Suci, yang diperintahkan pada Kanjeng Nabi Muhammad saw yang tersebut dibawah ini :

  1. Ada ajarannya guru yang menjelaskan rahasia ilmu bisikan atau ilham adanya Dzat, kiasan-kiasan dari dalil yang pertama;
  2. Ada ajaranya guru yang menjelaskan rahasianya ilmu uraian tentang keadaan Dzat, kiasan-kiasan dari dalil yang kedua;
  3. Ada ajaranya guru yang men jelaskan rahasianya ilmu paparan tentang keadaan zat, kiasan-kiasan dari datil yang ketiga;
  4. Ada ajaranya guru yang menjelaskan rahasianya ilmu kesejatian atau kenyataan keadaan kiasan-kiasan dari dalil yang keempat, ayat yang pertama membukanya tata kebahagiaan di dalam Baitul Makmur, kemudian ayat yang kedua membukanya tata kebahagiaan di dalam Baitul Mukhadas;
  5. Ada ajaranya guru yang menjelaskan rahasianya ilmu kekuatannya iman yang membuka sahadat jati, atau berasal dari sasahidan.

Adapun keadaanya semua itu, sama-sama saja. maka tingkatan dalam ilmu tadi tertata menjadi satu. Yang harus di sepakati keadaanya. Di Jawa tingkatannya adalah ilmu talak, dengan ilmu fatah, apabila menyimpang menjadi ilmu penitisan. Hal itu dengan dipadukan tempat atau keberadaan masing-masing. artinya ilmu talak itu ilmu yang memper­cayakan keindahan, ada tujuh perkara :

  1. Ilmu sepi;
  2. Ilmu mungin;
  3. Ilmu mubin;
  4. Ilmu ahyan;
  5. Ilmu barayan;
  6. I lmu mahbut;
  7. Ilmu ghaibul guyub.

Kesemuanya itu adalah keberadaannya, hanyalah alat untuk mewujudkan tingkatan-tingakatan dari kebaikanan. Yang menjadi penanda dan pengingat secara lahiriah atau yang tampak saja. Artinya ilmu patah tersebut adalah ilmu pengantar, banyaknya ada sembilan hal atau perkara :

  1. Ilmu makdum sarpin;
  2. Ilmu patariyah;
  3. Ilmu sirasab;
  4. Ilmu karajek;
  5. Ilmu majalis;
  6. Ilmu patakurrahman;
  7. Ilmu supi;
  8. Ilmu khapi;
  9. ilmu nakis bandiyah, juga biasa disebut ilmu nakis bandiyatulkhak.

Semua itu cara yang dipakai malaekat untuk mewujud-kan, dan menjadi tanda sebagai badan halus, berada didunia saja. Tidak mufakat dengan rahasia ilmu kesempurnaan, apabila masih menyatu dengan tingkat ilmu yang sebenar­nya. Apabila salah dalam mengartikan dan mengetahuinya, mungkin saja akan mendatangkan kebohongan. Kebohongan nantinya menjadikan pertengkaran dan perselisihan. Pertengkaran tersebut karena masih kekurangan, kekurangan itulah yang menjadikan kepanasan. Kepanasan mendatangkan saling berbantah dengan perdebatan. Berdebatpun yang didapat hanyalah saling berebut dalam pengetahuan dan kepandaian. Sehingga menyebabkan perselisihan atau pertengkaran.

Oleh karena itu para cerdik pandai yang mengakhirinya menyatakan, walaupun dengan tanpa perdebatan tidak akan mendatangkan hati panas atau emosi pada akhirnya. Dengan hati lembut dan sopan santun memakai aturan maksud yang akan disampaikan jelas diterima dengan baik. Sedangkan apabila ada yang berniat mem­bantahnya, semoga dapat dikalahkan saja jangnlah menjadi masalah dikemudian hari. Pada akhirnya akan berkurang, apabila memaksa dan mengejar-ngejar dengan berdalih masih kurang paham ataupun mengerti, demikian saja.

Inilah yang namanya ungkapan ilmu khakekat, tidak termasuk didalam wirid. Hanyalah untuk diketahui bila ada pertanyaan dari orang kebanyakan. Yang berasal dari teka­ teki, seperti dibawah inilah keterangannya :

  1. Kuda berlari cepat dipandangan, artinya angan-angan;
  2. Kumbang terbang kelangit, atau kumbang mengaji di langit, artinya cipta;
  3. Mengambil api untuk penerangan, artinya nafsu atau kemauan hati;
  4. Mengambil air dengan pikulan, artinya persaan;
  5. Kerbau menyusu pada anaknya, artinya perasaan;
  6. Jung sumengkeng di bumi, artinya budi;
  7. Orang lumpuh mengelilingi dunia, artinya hanya angan- angan;
  8. Orang cebol menggapai rembulan, artinya hanya angan-angan;
  9. Orang bisu menyudahi pertengkaran, artinya budi;
  10. Katak menyelimuti lubangnya, artinya nyawa;
  11. Tanggal satu purnama, artinya ruh ilafi;
  12. Berkata-kata sekali jadi, artinya ruh jasmani;
  13. Dalamnya senapan atau bedil adalah orang-orang, artinya angen-angen;
  14. Punggungnya peluru, artinya angan-angan;
  15. Tapak kaki burung kuntul yang melayang, artinya angan-angan;
  16. Burung terbang suaranya melebihi langit, artinya angan-angan;
  17. Bunga tumbuh dilangit, artinya angan-angan;
  18. Ada kayu muncul dengan sendirinya, artinya rahasia;
  19. Pohon dunia, artinya rahasia;
  20. Cabang menu ju empat arah, artinya rahasia;
  21. Daun muda berpelangi, artinya wahyu;
  22. Bunga bintang, artinya cahaya;
  23. Kelopak bunga langit, artinya cahaya;
  24. Sari bintang yang besar dan berkilat, artinya cahaya;
  25. Buah matahari dan bulan, artinya cahaya;
  26. Berujung angkasa dan berpangkal bumi, artinya cahaya;
  27. Memancarnya sinar melawan hu jan, artinya cahaya;
  28. Berakar angin kilat dan petir, artinya cahaya;
  29. Gadis yang menangis dan tangisnya memenuhi dunia, artinya cahaya;
  30. Berdiri dipuncaknya gunung,dan berpegangan pada matahari dan rembulan artinya cahaya;
  31. Penjuru empat termasuk lautan yang kering, artinya cahaya;
  32. Raden roro hilangnya bersamaan dengan intan, artinya cahaya;
  33. Angin terbang dengan air, artinya cahaya;
  34. Ada suara tidak ada wujudnya, artinya Gusti atau Tuhan;
  35. Ada wujud tidak ada suaranya, artinya adalah manusia;
  36. Melayang terbang tanpa angin, artinya manusia;
  37. Tempat air atau jun berisi angin, artinya rasullullah;
  38. Tikar diisi dengan air, artinya Allah;
  39. Bergetar bersura didalam tabung bambu, Allah.

Tamat wirid bab yang keempat

  1. Giliran peluru kecil, artinya gilirannya peluru kecil, yaitu mengibaratkan keindahan dari Dzat, meskipun tidak berarah dan bertempat, dimanapun keberadaannya sendiri sebenarnya itulah tempatnya. yang benar hanyalah bertempat pada Dzat hidup kita sendiri;
  2. Akarnya pohon pinang, artinya yaitu mengibaratkan keindahan sifat Dzat, meskipun sangat dahsyat, bukan laki-laki, bukan perempuan, dan juga bukan banci, seperti apa sebenarnya zat itu, yang benar hanyalah dimana ia bertempat yaitu pada hidupnya kita sendiri. Ada yang mengira bahwa akar pohon pinang itu, lubangnya hidung dari perkiraan kemungkinan juga keliru dalam mengetahuinya;
  3. Penghabisan langit yang terakhir, ayitu artinya mengibaratkan batas kekuasaan rahasia, sehingga sampai keadaan sifat kita;
  4. Api yang seperti kunang-kunang, kelihatan seperti lautan, artinya yaitu mengibaratkan seperti hawa nafsu, dan bertambahlah di dalam panca indera kita;
  5. Pohon kangkung, artinya yaitu mengibaratkan tempat­nya jiwa, mengibaratkan tumbuhnya jiwa, yang menjalar sampai pada sifat kita;
  6. Burung terbang melebihi tingginya langit, artinya yaitu mengibaratkan kekuatan budi pekerti, menambah dan masuk pada afngal kita;
  7. Lautan yang penghabisan tanpa batas, artinya yaitu mengibaratkan batas sorotnya cahaya berkali-kali sampai pada keadaan sifat kita.
  8. Angin ketarik oleh perahu, artinya yaitu diibaratkan perjalanan nafas, keluar dari jagad atau alam dunia;
  9. Sarang angin, artinya yaitu ibaratnya tempat berdiamnya nafas, berada pada jantung, ada yang mengatakan sarangnya angin itu adalah rambut, kemungkinan diambil dari nasehat atau anjuran.
  10. Dunia ada didalamnya tanah, artinya yaitu ibarat dari wujud kita, yang berasal dari aturan dan dikemudian tertanam ditanah yaitu keberadaannya menjadi daging;
  11. Mengambil api untuk lampu penerangan atau api terbakar api, artinya yaitu mengibaratkan wujud kita yang berasal dari api lalu menjadi api dan keberadaannya menjadi nafsu keinginan;
  12. Angin tertiup angin, sama dengan angin ribut atau topan, artinya itu adalah ibaratnya wujud kita, yang berasal dari angin dan juga mengeluarkan angin;
  13. Mmengambil dan memikul air, atau air meminum air, sama dengan artinya air di dalam air, yaitu tempatnya darah;
  14. Matahari beijemur, keadaannya sama dengan cermin yang memuat matahari, artinya mengibaratkan cahaya berpakaian matahari atau matahari berada didalam cahaya, yaitu menjadi tempat dari jiwanya mata;
  15. Biji yang ada didalam pohon, atau pohon yang berada didalam biji, artinya yaitu mengibaratkan manusia berada di dalam Gusti atau Gusti yang berada di dalam diri manusia, dibahasakan meleburnya tulisan diatas papan tulis;
  16. Kakak dari yang sulung, adiknya dari yang bungsu, artinya yaitu mengibaratkan tingkatan insan kamil, pada saat sekarang turun kebawah pada akhir kemudian, sama juga artinya dengan dikemudian akan menjadi permulaan, adapun insan kamil tersebut tempatnya berada pada kehidupan sendiri.

Kemudian dilanjutkan wirid yang disebut dalam bab lima.

lni adalah wirid yang disebutkan pada Bab lima

Inilah pembukaan wirid kehidupan yang sejati, yang dapat terus dipandang mata di dalam kesempurnaan asal­ muasal dan tujuan, kemuliaan keberadaan sejati, berasal dari dalil yaitu sabda Allah SWT, pada jaman dahulu yang telah diteropong terlebih dahulu oleh para wall, diwaktu selanjutnya akan dipaparkan semuanya, supaya bisa mengetahui yang namanya inti dari kejadian, sampai kepada kematian yang sempurna, seperti yang ada dibawah ini adalah keterangannya :

Yang pertama adalah, terwujudnya inti dari kehidupan nantinya yang berasal dari sabda Allah SWT, seperti inilah gambarnya, gambar 1.

Artinya adalah roh yang bemama rokhani bercampur dengan roh jasmani, dan ditambah dengan kodrat yang berasal Allah SWT. kemudian menetes jatuh di bumi yang suci, pada saat itu berada di dalam rahim, sedang berwujud seperti pada gambar 1 .

GB 1

Gambar 1

Dalam waktu kira-kira satu bulan berwujud seperti gambar dua, yang berarti bahwa pada saat itu telah ditambahi yang berasal dari Nabi Muhammad SAW, yaitu keadaan dibumi yang suci ini telah merasa takut atau khawatir.

GB 2

Gambar 2

Dalam waktu kira-kira dua bulan kemudian berwu jud seperti gambar tiga, yang berarti telah ditambahi dari nabi muhammad saw: wama, maka dari itu ketika dibumi suci ini, telah dapat berkibas-kibas walaupun lemah, yaitu telah berwujud manusia dan telah berdenyut.

GB 3

Gambar 3

Dalam waktu kira-kira tiga bulan, kemudian berwujud seperti gambar empat, dari Allah SWT bersabda kepada Nabi Muhammad SAW, mendapat tambah kulit, maka ketika pada saat itu ketika bumi suci sudah bisa bergerak, dengan tiba-tiba menjadi hamil, ini adalah kodrat dari Allah SWT.

GB 4

Gambar 4

Dalam waktu kira-kira empat bulan kemudian berwujud seperti gambar lima, atas perintah Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW, ditambah dengan otot, maka pada saat itu ketika dibumi suci sudah dapat menggertak.

GB 5

Gambar 5

Dalam waktu kira-kira lima bulan, kemudian berwujud seperti gambar enam, atas perintah Allah SWT, kepada Nabi Muhammad SAW, ditambah dengan otot maka merasa lelap dan nyaman.

GB 6

Gambar 6

Dalam waktu kira-kira enam bulan, kemudian berwujud seperti gambar tujuh, atas perintah Allah SWT pada Nabi Muhammad SAW, ditambahi dengan; tulang, maka pada saat itu ketika berada di bumi suci, sudah dapat bergerak naik-turun, dan berputar di dalam rahim.

GB 7

Gambar 7

Pada saat kira-kira tujuh bulan, kemudian berwujud seperti gambar delapan, atas perintah Allah SWT pada Nabi Muhammad SAW, ditambah dengan rupa/wajah, kemudian ditambahi yang berasal dari kodrat Allah SWT seperti rambut, darah dan daging.

GB 8

Gambar 8

Pada saat kira-kira delapan bulan, kemudian berwujud seperti gambar sembilan, atas perintah Allah SWT pada Nabi Muhammad SAW, yaitu bersaudara empat dan yang kelima adalah pusat (keturunan), telah terpasang didalam perut jabang bayi, keterangannya seperti yang tersebut dibawah ini :

  1. Yang pertama adalah air ketuban;
  2. Yang kedua adalah wadah atau bungkus;
  3. Yang ketiga ari-ari;
  4. Yang keempat adalah darah.

GB 9

Gambar 9

Adapun air ketuban tersebut diartikan sebagai khasiat, maka ketahuilah bahwa air ketuban adalah malaikat Jibril, wadah atau bungkus adalah malaikat Mikail, ari-ari adalah malaikat lsrofil dan darah adalah malaikat Ijro’il.

Jibril tempatnya di kulit, Mikail tempatnya di tulang, lsrofil tempatnya di otot, Ijro’il tempatnya di daging, kesemuanya itu tadi menjadi akhir dan tetap teguh, sejahtera dan selamat, dan terlihat dari kodrat Allah SWT.

Setelah masuk kira-kira sembilan bulan, kemudian telah berwujud seorang bayi, atas perintah Allah SWT. kepada Nabi Muhammad SAW,  yang berasal dari Allah SWT ada empat hal, yang telah terpasang secara otomatis dan berasal dari kodrat Allah SWT, seperti dibawah ini adalah keterangannya :

  1. Yang pertama adalah budi pekerti atau tingkah laku;
  2. Yang kedua adalah rahasia;
  3. Yang ketiga adalah pikiran;
  4. Yang keempat adalah kehidupan.

Yaitu Nabi Muhammad SAW menambahi ambuh dengan memakai sahadat jati atau nyata yang berarti mantap.

Arti sahadat jati yang sudah diketahui adalah Dzat Allah SWT agar sentosa di ketetapannya kepada-Nya, tidak boleh mengingkari sampai kematian datang.

Perintah Allah SWT yang lain kepada Nabi Muhammad SAW adalah untuk mengatur malige di dalam hatinya manusia, di dalam jantung itu adalah budi pekerti atau tingkah laku didalam adalah jinem, didalam jinem adalah jiwa atau nyawa, di dalam nyawa adalah rahasia, di dalam rahasia itu adalah aku, tiada Tuhan selain Allah, wujud bayi seperti pada gambar sepuluh. kemudian terbukanya dan sudah menjadi kodrat Allah SWT, kekluar dari rahim dan segeralah tangis bayi memecah, itu sudah menjadi tanda awal mula hidup, itu dinamakan dengan jaman sangat mulia.

Apabila ternyata ada juga bayi yang terlahir dari rahim, sampai pada usia sepuluh bulan, itu biasanya karena kesalahan dalam penghitungan bulan, pada saat itu mengeluarkan rahasia dengan kamanah, yang telah diperintahkan oleh Allah SWT, kepada Nabi Muhammad SAW, jangan bersama-sama dalam satu hitungan tahun, Dzat yang bagus nantinya menentukan lahirnya dari rahim ibu selama sembilan bulan, dan pada akhirnya akan men­datangkan hal yang terpuji, hanya Allah saja yang mengetauhi.

Ini apabila bersama-sama untuk mengetahui tanggal sahadat, dan purnama sahadat, bulan mati sahadat, dan matinya sahadat. Adapun tanggalnya sahadat, itu artinya adanya manusia, dan ada di dalam keadaan manusia men jadi nyata karena kehendak Allah SWT.

Adapun bulan purnama sahadat, itu artinya hati yang bening, artinya bening itu tidak ada wujudnya, keduanya adalah kehendak Allah SWT. yang meliputi keadaannya dua wujud tersebut.

Adapun bulan mati sahadat, itu artinya roh yang sempurna, roh tersebut adalah rahasia Allah SWT. artinya tidak ada roh tersebut, hanyalah keberadaan Allah SWT. Jadi hilang keadaannya hanya satu-satunya, artinya adalah bulan mati masih ada pada jaman akhadiyat.

Adapun matinya sahadat, itu adalah rahasia yang berasal dari Allah SWT. artinya mati itu tidak ada, yang dimaksud adalah matinya nafsu, hanya Allah SWT yang abadi atau kekal keberadaanya.

Ini adalah sempurnanya jalan dengan lima hal, seperti yang tersebut dibawah ini :

  1. Yang pertama, sempurnanya niat;
  2. Yang kedua sempurnanya takbir;
  3. Yang ketiga sempurnanya sahadat;
  4. Yang keempat sempurnanya sekarat;
  5. Yang kelima sempurnanya hidup.

Sempurnanya niat, itu artinya tanpa : mempunyai maksud lain yaitu hanyalah kepada-Ku, ditambah oleh sifat muridan, hilanglah maksudmu.

Sempumanya takbir itu artinya, tidak memiliki maksud untuk pandangan yang lain, apabila demikian hilanglah penglihatan-Ku yang sejati.

sempurnanya sahadat, itu artinya tanpa mempunyai maksud tertentu, hanyalah anugerah dari Allah SWT.

Sempurnanya sekarat, itu artinya tidak akan ada kematian, kembali pada kesejatian hidup, ditambah oleh sifat yang kayun.

sempurnanya hidup, itu artinya tidak ada yang menghidupi, tetapi Dzat-Ku adalah nyata, artinya Dzat itu adalah Aku.

Oleh karena itu hendaklah diketahui, adanya manusia yang sempurna pada keadaan yang sejati adalah milik-Ku, yang pulang pada jamannya sendiri-sendiri, seperti dibawah ini hendaklah dicermati.

Apabila telah lepas dari alamnya sendiri, itu artinya telah berwujud satu, maka dari itu lepaslah nyawa untuk kembali menghadap tanajul tarki, seperti disebutkan dibawah ini :

  1. Cahaya, turun kembali bercahaya terang benderang pada alam insan kamil.
  2. Budi, turun kembali pada alam A
  3. Rahasia, turun kembali pada alam misal.
  4. Wujud, turun kembali pada alam ar
  5. warna, turun kembali pada alam w
  6. Ambu, turun kembali pada alam wahdat.
  7. Angan-angan, turun kembali pada alam akadiyat.
  8. Hidup, turun kembali pada alam insan kamil, kembali sempurna terang kebijaksanaan, dari kodrat-Ku

Inilah yang sempurna dalam alam kubur di dalamnya bumi suci, seperti yang tersebut dibawah ini :

  1. Kulit;
  2. Otak;
  3. Otot;
  4. Tulang;
  5. Rambut;
  6. Daging;
  7. Darah;
  8. Sumsum.

Sedangkan keempat saudara, dan yang kelima adalah pusatnya, juga akan menjadi sempurna kembali pada bumi suci, seperti yang tersebut dibawah ini :

  1. Air ketuban;
  2. Wadah atau bungkus;
  3. Ari-ari;
  4. Darah;
  5. Pusat,

Yaitu sudah kembali sempurna, kembali pada kodrat-Ku lagi, yang sempurna kembali pada keadaan Yang Maha Mulia, yang tidak memiliki wewangian, selama-lamanya yang hitam nyalanya merah, yang warana merah nyalanya kuning, yang kuning nyalanya putih, yang putih nyalanya hanya satu dalam Dzat Allah SWT.

Kesemuanya memiliki arti sebagai berikut : kulit nyalanya daging, daging nyalanya darah, darah nyalanya tulang, tulang itu menyala akan hancur menjadi cahaya dan juga dengan sifat kewat, kewat itu nyalanya Aku, karena Aku adalah yang terdahulu hukumnya, adanya Aku itu hanyalah Dzat Allah semata.

Setelah ditekan, terkubur dalam liang kubur dalam bumi suci, dalam wujudnya manusia memasuki hari ketiga seperti gambar nomor sebelas, artinya sedang dalam keadaan melepuh, bahkan ada yang hilang.

GB10

Gambar. 11

Memasuki hari ketujuh seperti gambar nomor dua belas, artinya telah hilang wujud manusia yang selayaknya, ditambah lagi perutnya membesar dan pecah.

GB11

Gambar 12

Memasuki hari keempat puluh seperti gambar nomor ketiga belas.

GB12

Gambar 13

Memasuki hari ke seratus dinamakan pulan seperti gambar nomor empat belas.

GB13

Gambar  14

Seperti gambar nomor lima belas adalah keadaan satu tahun pertama,

GB14

Gambar 15

Gambar nomor enam belas adalah keadaan pada satu tahun kedua disini keadaan tulang-tulang sudah bersih.

GB15

Gambar 16

Dalam seribu hari seperti pada gambar tujuh belas, artinya bahwa keseluruhan tulang yang ada sudah mengumpul menjadi satu, semua itu adalah kehendak Allah SWT. Wallahu Allam.

GB16

Gambar 17

Semua itu keadaan yang sempurna yang berasal dari kodrat Dzat Yang Maha Mulia, sudah tidak ada rasa didalamnya, tinggalah nama Allah yang terpatri dan ditambah lagi apa yang dikatakan Allah SWT, yaitu berada dalam kodrat Dzat Yang Maha Suci.

Sedangkan yang turun kepada alam istana atau keraton agung, seperti yang ada dibawah ini :

  1. Bisikan adanya Dzat.
  2. Penjabaran adanya Dzat.
  3. Pembabaran adanya Dzat.
  4. Penjabaran keadaan Dzat.
  5. Penjabaran ilmu kekuatan iman, membukanya sahadat jati, atau dari ilmu sasidan.

Semuanya itu dapat ada terus-menerus pada alam istana atau keraton agung, karena Dzat Yang Maha Suci, karena dari perintah Allah SWT, kepada Nabi Muhammad SAW, yang juga telah dipertntahkan pada sayidina ali, serta nasehat dan petun juk yang diberikan oleh guru, yang sudah jelas dan nyata kepada asal muasal, kemulyaan keadaan yang sejati.

Seperti yang disebutkan seperti dibawah ini :

  1. Nafas.
  2. Tan nafas.
  3. Anpas.
  4. Nupus.
  5. Bawuring kaca wirangi.
  6. Roh jasmani.
  7. Roh rohani.
  8. Sareat.
  9. Tarekat.
  10. Hakekat.
  11. Ilmu pandangan atas sifat Allah.

Kembali menjadi satu hal yang ghaib, dengan tiba­ tiba, sempurna dan menjadi terang benderang dalam pengertian, tidak ada kekurangan, tidak memilki rasa khawatir, didalam satu-satunya keberadaan kodrat-Ku.

Maka semua itu tertata menjadi satu pada para wali Allah, oleh sebab itu janganlah menjadi tumpang tindih pengertian yang didapat. Hal itu disebutkan kembali oleh para guru dengan ajaran yang diberikan, janganlah menerima hanya sesaat tanpa bisa diterima sepenuhnya.

Sejatinya ilmu tersebut jangan sampai dilakukan dengan berakhir hanyalah rasa penasaran saja. Apabila yang melaksanakan ilmu tersebut meninggal, para ahli waris atau yang ditinggalkan harus memohon petunjuk pada para ahli yang sudah nengetahui akan hukumnya, atau yang telah sempurna atas pengetahuan akan asal muasal (dari mana dan arah tujuan kemana), kemulyaan keadaan yang sejati.

Kemampuan untuk dapat menjadi murid ada delapan perkara :

  1. Berhati-hati.
  2. Bertapa.
  3. Terlatih.
  4. Kuat
  5. Dewasa.
  6. Ingatan.
  7. Siap.
  8. Berperasaan

Kemustahilan untuk menjadi murid :

  1. Gila;
  2. Buta;
  3. Tuli;
  4. Ayan;
  5. Bisu;
  6. Anak belum cukup umur;
  7. Orang tua yang telah pelupa.

Pokok-pokok untuk menjadi murid ada delapan perkara :

  1. Meng-imankan atau mempercayainya, pantang apabila mendustakan/tidak mempercayainya.
  2. Memperlihatkan, pantang apabila menyembunyikannya.
  3. Memperhatikan, pantang apabila menyelewengkan.
  4. Menerangkan, pantang apabila mempersoalkan.
  5. Musyawarah, · pantang apabila hanya mengira-ira.
  6. Menerangkan, pantang apabila menyembunyikannya.
  7. Meluruskan, pantang apabila membesarkan.
  8. Menjalankan, pantang apabila berbantah atau menolak.

Atau syarat-syarat itu ada empat perkara :

  1. yang pertama adalah hanyalah berserah pada maksud,
  2. yang kedua adalah suka akan hukum Allah
  3. yang ketiga adalah akan merasa, tanpa memiliki hakekat dengan sangat teristimewa sudah menerima.
  4. Yang keempat akan menerima apa yang menjadi cita- cita Allah SWT.

inilah doa yang dipanjatkan apabila orang sekarat, atau untuk membisiki orang yang sedang sekarat, untuk membisikkan pada ayah atau ibu, anak, saudara atau istri/ suami dan lain-lain, yang agar supaya telah mendapat 5 malapetaka dari sekarat.

Niat berfikir jernih/hening, masuk dalam badan yang jernih, tetaplah berada dalam angan-angan, selalu dan senantiasa jadikanlah Allah SWT berada dalam angan­-angan untuk menguasai dan memperlakukan makhluk dengan kekuasan-Nya.

Sedangkan dijaman karamattullah, berasal dari bisikan atau wangsit yang didapat oleh Sunan Kalijaga, demikian keterangannya :

Apabila ada aral atau halangan kita haruslah sudah tahu, apabila tidak kita akan menjadi gila. Artinya batas-batas yang dipunyai oleh manusia dapat berubah atau lepas, yaitu akan menjadi pertanda saat naas atau apes manusia. Kenyataan didalam hukum Adam, terlihat pada perasaan, seperti yang ada dibawah ini.

  1. Yang pertama terlihat alam rohkiyah, artinya alam ini di dalam nyawa, keadaannya terang benderang tetapi bukan terang pada saat siang hari. Tiada kiblat arah yang pasti, utara, selatan, timur, barat, tengah dan atas. Disitulah terlihat lautan tanpa tepi, itulah tempat hati yang ditambahi oleh cahaya, otak. Ditengah lautan terdapat kebahagiaan asing dan semu, warnanya seperti pelangi yang cahayanya terang, ini adalah tempat jantung yang ditambah cahaya dari johar awal, yang meliputi jati dari hati dan menjadi isi dari badan, rasa sayang berada pada cipta yang terletak antara mata, penglihatan, pembau, perasa, merasakan dinamakan sifat muka, pengawasannya hanya menuntun kepada tanda­ tanda-Nya muka yang sejati.
  2. Yang kedua, setelah hilangnya alam rokhiyah. Terlihatlah alam siriyah, disitu datangnya cahaya empat wama : hitam, merah, kuning, putih itu adalah tempat dari budi. Yang mengeluarkan keberadaan nafsu empat perkara, yang akan menjadi bahaya atau halangan hati . terlihatnya berurutan satu persatu.

Yang terlihat permulaan, dan merupakan pendahuluan adalah cahaya hitam. Ini adalah adanya nafsu keinginan hati. Ketika manusia hidup keinginan inilah yang menjadikan rasa mengantuk, lapar dan lain sebagainya. Tempatnya berada diperut, dan lahirnya keinginan dari mulut. Dalam cahaya hitam ini terjadilah seperti bermacam hewan sampai pada yang sifatnya melata. Semua harus mempercayai pada Tuhan, didalam kekuasaan bumi nafsu dinamakan alam keburukan. Artinya kelalaian, pada masa itu tempatnya lupa atau lalai, yang harus diingat janganlah curang dan masuk dalam cahaya hitam, apabila nanti dilain waktu menitis pada hewan sampai yang melata.

Tidak berapa lama cahaya hitam akan hilang, segera saja terlihat cahaya merah. Itu adalah tempat nafsu amarah, suasana yang diciptakan dalam kehidupan menyebabkan angkara muraka atau mudah emosi, selalu marah-marah dan lain sebagainya. Letaknya ada di empedu, lahirnya dari telinga terjadinya berasal dari cahaya merah. Ditampakkan dengan tingkah laku kasar, kekuatannya seperti api yang menyala besar dan berkobar-kobar. Dialam nafsu ini dinamakan dengan alam jabarut, artinya sangat bengis, pada saat itu tempatnya kesulitan. Yang harus selalu diingat adalah janganlah berbuat curang. Apabila menitis pada hal yang kasar.

Tidak berapa lama cahaya merah hilang, tidak berapa lama terlihat cahaya kuning. Itu adalah keadaan nafsu sufiah. suasanaya yang ditimbulkan masih sama yaitu rasa amarah tetapi berhubungan dengan kesenangan dan semacamnya. Tempatnya berada di limpa, lahirnya berasal dari mata . terjadinya dalam cahaya kuning. Akan menjadikan keberadaan seperti burung atau binatang yang bersayap jika teijadinya dalam cahaya kuning. Kekuatannya seperti angin lima musim besar. Didalam alam nafsu dinamakan alam lahut, artinya dapat bergeser dan berpindah­ pindah. Pada saat masih hidup berada diantara semua anggota badan. Cahaya kuning apabila menitis pada binatang bersayap atau burung.

Tidak berapa lama cahaya kuning akan hilang, tidak berapa lama akan terlihat cahaya putih hidup yang menyebabkan kelebihan akan sifat-sifat yang utama. Seperti halnya menjalankan tirakat seperti tapa brata yang secara terus menerus, tidak hanya sesaat saja. Keberadaanya pada tulang, lahirnya dari hidung, terjadinya didalam cahaya putih. Terlihat seperti ikan dan binatang yang hidupnya di air. Ada di dalam lautan, kekuatannya seperti air bening nan jernih tiada asal. Di dalam alam nafsu dinamakan dengan alam malakut, artinya istana yang tersusun atas kehendak Yang Maha Mulia. didalam cahaya putih, apabila menitis pada ikan serta binatang yang hidup diair.

  1. Yang ketiga, setelah hilangnya alam siriyah, terlihat alam nuriyah. Artinya adalah alam cahaya, terangnya melebihi alam siriyah. Disitu datangnya cahaya luar dengan warna : hitam, merah, kuning, putih, hijau, terbentang bersama-sama dan tertinggal pada istana serta selaras semuanya. lni adalah tempatnya lima indera, yang ditambah dengan cahaya milik jiwa atau nyawa. Alamnya lima indera dinamakan dengan alam hidayat, artinya petunjuk. Maka menjadikan istana, tetapi bukanlah istana yang sejati. disusun oleh Allah SWT Tuhan Yang Maha Mulia, seperti :
  1. Istana yang disusun, terlihat cahaya hitam keberadaannya milik binatang atau hewan, sampai pada hewan yang melata.
  2. Istana yang disusun, terlihat cahaya merah keberadaannya milik sifat yang kaku, kasar dan cenderung brutal.
  3. lstana yang disusun terlihat cahaya kuning keberadaannya milik bangsa burung dan hewan bersayap.
  4. Istana yang disusun terlihat cahaya putih keberdaannya milik bangsa ikan dan binatang yang hidup di air.
  5. Istana yang tersusun terlihat cahaya hijau keberadaannya milik tumbuhan. Pada saat ini terdengar suara yang selalu mengingatkan akan kesejahteraan dan kesentosaan.

  1. Yang keempat, masih didalam alam nuriyah. Disitulah terlihat akan cahaya nuriyah, cahaya yang bening didalamnya terdapat cahaya yang menyala hanya satu berdiri agak sedikit besar. Memiliki sorot delapan warna : hitam, merah, kuning, putih, hijau, biru, ungu, merah muda. Terbentang bersama-sama terlihat seperti surga. Suasana sangat asri. lni adalah tempat keberadaan jiwa dinamakan dengan alam ngistsat, artinya rasa birahi. Adapun keberadaanya adalah rasa asmara dari suasana surga.

Tetapi sejatinya bukanlah surga Yang Maha Suci. Keberadaannya adalah tempat yang nikmat ataupun manfaat dari belas kasih, yaitu tempat para dewa yang ada pada jiwa semua, seperti :

  1. Yang terlihat adalah seperti surga tetapi serba hitam legam dan mengkilat. Menyerupai mahkota bumi ini, tercipta dari kehinaan cipta. Apabila bertempat disitu kemungkinan menjadi jin hitam.
  2. Yang terlihat adalah seperti surga serba merah, terang seperti merah delima. Menyerupai pertapa yang tidak makan dan minum. lni akan menjadikan asal ke­ bohongan cipta. Apabila bertempat keberadaannya akan menjadi jin merah.
  3. Yang terlihat surga serba kuning, bersinar menyerupai intan. Juga akan menciptakan kebohongan. Keberadaannya menjadikan jin kuning.
  4. Yang terlihat surga serba putih bersih, menyerupai intan berlian. Disini akan menciptakan setianya cipta. Jika keberdaannya bertempat akan menjadi ratunya jin putih.
  5. Yang terlihat surga serba hijau. Menyerupai tempat yang ditutupi oleh bayangan atau semu. Terjadinya akan rasa sentosanya cipta. Apabila keberadaannya bertempat disitu menjadi ratunya hijau.
  6. Yang terlihat surga serba biru dan sudah bercampur intan berwarna biru. Berasal dari sesuatu yang ada dari cipta. Apabila keberadaannya bertempat menjadikan ratunya jin biru.
  7. Yang terlihat surga serba ungu, menyerupai bunga yang bersal dari cipta pesona. Apabila keberadaannya bertempat akan menjadi ratunya jin ungu.
  8. Yang terlihat surga serba merah muda, bercampur dan menyerupai warna merah muda. Terjadinya karena merubah daya cipta. Disaat inilah terciumlah aromanya, sebanyak suasana yang ada di istana. Bau harum menyebar semerbak seperti menggugah rasa. Apabila sudah merasakan, termasuk juga dalam surga penasaran.
  1. Yang kelima, setelah hilangnya alam nuriyah, terlihatlah alam uluhiyah. Artinya adalah alam Pangeran (Tuhan), terangnya melebihi terang pada alam nuriyah. disitulah terlihatnya cahaya memancar dan didalamnya cahaya terdapat bentuk yang menyerupai lebah berdiri di makam. Inilah warnanya jiwa. Yang ditambah dengan semua warna dari dunia kecil dengan isinya dan dunia besar tetapi hidupnya dari denyut nadi atau jantung dan rahasia. Di waktu itu datangnya malaekat, menyerupai bapak, ayah juga kakek serta seluruh saudara laki-laki satu keturunan, mengakui adanya utusan dari Dzat Yang Maha S Mereka ditugaskan untuk melakukan wirid kepada karamatullah. Sangatlah istimewa dan akan menjadikan keadaan sentosa serta akan diistimewakan, apabila telah mengamalkannya.
  1. Yang keenam, masih didalam alam uluhiyah, makin bertambah terangnya, disitu terlihatlah cahaya yang bersinar. Didalamnya cahaya yang menyerupai boneka atau anak-anakan seperti warna gading. Apabila dipandang seperti pancaran mutiara. Bukan perempuan, bukan pula laki-laki, juga bukan waria/banci berdiri dimakam yang kekal. Inilah jawa atau nyawa yang rahasia, yang memperlakukan dan menguasai seluruh alam. Tetapi hidupnya berasal dari roh atau nyawa pada waktu itu berdatangan bidadari, warna dari ibu, nenek dan seluruh saudara perempuan satu keturunan, mengakui adanya Dzat Yang Maha S Ditugaskan untuk melakukan wirid kepada karamattullah, sangatlah diistimewakan dan akan sentosa apabila telah mengimankan.
  1. Yang ketujuh, masih didalamnya alam uluhiyah. Terangnya menjadi-jadi disitu tidak terlihat apapun juga. Hanyalah cahaya yang gemilang tanpa ada bayangan. inilah Dzat yang berasal dari roh atau nyawa, yaitu Dzat yang tunggal, tanpa arah, tanpa tempat, tanpa warna, tanpa wujud, tidak ada ajal dan kekal. Yang memperlakukan dan menguasai alam seluruhnya yang berkuasa memerintahkan sekalian alam. Meliputi seluruh isi alam, berkuasa dan Maha S Hidup tidak ada yang menghidupkan, yaitu sejatinya Gusti Yang Maha Suci, Yang Agung dan besar akan Dzat-Nya. Yang bagus dan indah akan sifat-nya. Berada pada kehidupan kita masing-masing, disitulah antaranya bersatunya hamba dengan Gusti Tuhan Yang Maha Esa.

Janganlah berprasangka dan khawatir lagi, diterima pada akhirnya nanti. Hamba berkewajiban mengumpulkan seluruh ilmu pengetahuan atas pengajaran para guru satu persatu. Perasaan hati telah lengkap walaupun kurang tidaklah banyak. Kecuali hanyalah hilang wanginya saja. Apabila bisa membau dengan baik, hamba belum dapat pengganti. Dipersilahkan menerapkan dan melaksanakan. 

Sedangkan petuahku, wirid ini tidak boleh diper­lihatkan pada orang yang belum satu faham atau seilmu. Apabila nanti menimbulkan perdebatan atau perbedaan pendapat. Maka dari itu sekali lagi ingatlah yang menjadi pesanku, janganlah samapai berbeda pendapat.

Semoga ini menjadi pemikiran dan perenungan yang dapat mewujudkan kenyatan dan kebenaran.

tamat,

wAllahhu alam.

@@@


R.Ng. Ronggowarsito

Raden Ngabehi Ronggowarsito terlahir dengan nama kecil Bagus Burhan pada hari Senin Legi tanggal 10 Tahun Be atau 15 Maret 1802 M Bulan Dulkaidah (Jawa) , Wuku Sungsang, Dewi Sri, Surukung Huwas, Musim Jita. Bagus adalah gelar kebangsawanan untuk keturunan yang ke tujuh, Burhan berarti bukti nyata.

Bagus Burhan atau R. Ng. Ronggowarsito ini dikenal dengan sebutan R. Ng. Ronggowarsito III. Dari garis ayah ia keturunan ke 10 Sultan Hadiwijoyo, pendiri kerajaan Pajang. Dari pihak ibu, ia keturunan ke 13 Sultan Trenggono raja ketiga kerajaan Demak. Ia adalah putra sulung M. Ng. Pajangsworo atau M. Ng. Ronggowarsito II dengan Mas Ajeng Ronggowarsito, putri R. Ng. Sudiradirdja Gantang yang mahir dalam bidang seni, terutama sekar macapat “cengkok” lagu palaran (dari desa palar). Darah seninya mengalir baik dari pihak ayah maupun ibu. Dari pihak ayah, berasal dari neneknya yaitu R. Ng. Ronggowarsito I atau R. Ng. Yasadipuro II atau disebut juga R.T. Sastranegoro seorang pujangga Surakarta dengan pangkat Bupati Anom, juga nenek piutnya yang bernama R. Ng. Yasadipuro I adalah pujangga dengan pangkat Kliwon. sejak kecil Bagus Burhan sudah menampakkan bakat yang luar biasa.

Sebelum R. Ng. Yasadipuro I (nenek piutnya) meninggal, ia meninggalkan pesan kepada R.T. Sastranegoro, bahwa Bagus Burhan akan menjadi : “.Pujangga penutup dari keraton Surakarta Hadiningrat”. Pada waktu masih kecil, Bagus Burhan diasuh oleh Ki Tanujaya, abdi R.T Sastronegoro yang paling setia. Ki Tanujayalah yang membentuk watak/ pribadi Bagus Burhan. Pada Tahun 1740 Jawa atau 1813 Masehi, ketika Bagus Burhan berusia 12 tahun, dikirimlah ia ke Panaraga untuk berguru dan belajar mengaji kepada Kyai Imam Besari di pondok Gebang Tinatar. Kanjeng Kyai Imam Besari adalah menantu Sri Paduka PB IV (1788 – 1820) dan juga teman seperguruan R.T. Sastronegoro, neneknda Bagus Burhan.

Tanggung jawab selama berguru ke Panaraga sepenuhnya diserahkan ketangan Ki Tanujaya. Namun pada saat itu agaknya Bagus Burhan belum sepenuhnya berniat untuk berguru dan mengaji, sehingga ia tidak mendapat kemajuan apa-apa, bahkan sifatnya yang pemboros dan suka main judi dalam tempo kurang 1 Tahun bekal 500 reyal habis, bahkan 2 kudanyapun telah teRjual, sangat menyulitkan gurunya. Akibatnya Ki Tanujaya dan Bagus Burhan meninggalkan Gebang Tinatar menuju Desa Mara, tempat tinggal Ki Kasan Ngali, sepupu Ki Tanujaya. Menurut rencana dari situ mereka akan melanjutkan peRjalanan ke Kediri tempat tinggal Pangeran Adipati Cakraningrat. Atas petunjuk Ki Kasan Ngali mereka tidak jadi ke Kediri, karena Pangeran Adipati Cakraningrat akan ke Surakarta. Mereka berdua hanya menunggu di Madiun. Untuk menyambung hidupnya, mereka bejualan klitikan di pasar Madiun. Di sinilah Bagus Burhan bertemu dengan Raden Ajeng Gombak, Putri Pangeran Adipati Cakraningrat dari Kediri yang kelak akan menjadi istrinya. Pertemuan ini terjadi pada waktu Raden Ajeng Gombak akan membeli cincin yang dipakai oleh Bagus Burhan.

Kyai Imam Besari telah melaporkan kepergian Bagus Burhan dan Ki Tanujaya kepada ayah dan nenek Bagus Burhan. Neneknya R.T. Sastranegara telah menyuruh Ki Jasana untuk mencarinya. Baru beberapa bulan mereka dapat bertemu dan diajak kembali ke Gebang Tinatar. Kenakalan Bagus Burhan belum berkurang, akhimya Kyai Imam Besari menasehati dengan hati-hati. Akhimya Bagus Burhan sadar, menyesal atas segala perbuatannya yang tidak terpuji. Dengan penuh kesadaran Bagus Burhan yang memiliki kemauan yang keras akhirnya berusaha dengan sekuat tenaga untuk menebus kesalahan-kesalahannya. Ia mulai memperhatikan sekelilingnya dan bertekad untuk berbuat kebaikan setingkat dengan kecakapan yang dimilikinya. Ia mulai prihatin dan mendapat bimbingan serta petunjuk dari Ki Tanujaya. Oleh Ki Tanujaya Bagus Burhan dibawa ke tempat yang jauh dari pergaulan manusia untuk bertapa.

Bertapa adalah cara yang lazim dilakukan pada masa itu untuk mendapatakan suatu penerangan batin dan keteguhan iman. Karena kemauan yang keras itulah Bagus Burhan dapat melampaui teman-teman seperguruannya. Bahkan karena kemajuan yang sangat pesat, Oleh Kyai Imam Besari dikatakan bahwa Bagus Burhan telah mendapat ilham, yaitu penerangan batin dari Yang Maha Kuasa, akhirnya Bagus Burhan diangkat wali guru oleh Kyai Imam Besari. Setelah dirasa cukup, Bagus Burhan kembali ke Surakarta dan dididik langsung oleh neneknda R.T. Satronegoro.

Pada tanggal 12 Mei 1815 atau 12 Jumadilakhir 1742, setelah Bagus Burhan dikhitankan, kemudian diserahkan kepada Panembahan Buminta (ayah angkat Raden Ajeng Gombak) untuk berguru dan mencari ilmu dalam bidang :

JAYA KAWIJAYAN (kepandaian untuk menolak perbuatan jahat), kadigdayan (kekebalan), kagunan­ kanuragan (kecerdasan dan kesaktian). Jadi dalam hal ini pembentukan jiwa dan kepribadian Bagus Burhan mengalami tiga tingkatan :

  1. Pembentukan Jiwa Dasar
    Pembentukan cinta kasih dari Kyai Imam BesarI serta ditunjang oleh Ki Tanujaya, mengakibatkan Bagus Burhan berperasaan halus, tegas dan keras. Kyai Imam Besari adalah seorang rokhaniawan dan pendidik.
  1. Pembentukan Jiwa Sastra
    Pembentukan ini diberikan oleh neneknya sendiri R.T. Sastronegoro, seorang sastrawan yang berpengetahuan luas juga seorang pendidik. Sebagai seorang pendidik R.T. Sastronegoro terkenal dengan gubahannya “sasana sunu” dan “dasanama djarwa”.
  1. Pembentukan Rasa Harga Diri
    Didikan ini didapatkan dari Gusti Panembahan Buminta, sehingga Bagus Burhan mendapatkan pendidikan mental yang kuat, juga kekuatan batin terhadap gangguan jahat dari pihak luar. Karena pendidikan-pendidikan yang kuat dan ditambah dengan pengalaman-pengalaman semasa merantau ke Desa Ngadiluwih, Raga Jampi dan Tabanan Bali, Bagus Burhan menjadi dewasa jiwanya, siap menghadapi hidup di masyarakat luas dengan segala peristiwanya.

Pada tanggal 28 oktober atau hari Senin Pahing tanggal 8 Sura Tahun Alip 1747, dengan sengkalan “amuji suci panditaning ratu”. Bagus Burhan diangkat menjadi abdi dalem Carik Kadipaten Anom dengan sebutan Rangga Pujangga Anom atau lazim disebut Mas Rangga Pajanganom.

Berdasarkan etimologi / arti katanya ialah, Mas : gelar kebangsawanan untuk tingkat ke enam, Rangga : gelar untuk pangkat di bawah mantri atau di bawah Ngabehi, Pujangga Anom untuk memberi penghormatan, karena ia masih muda, tetapi sudah memiliki kepandaian setingkat dengan Pujangga/Pendeta. Dimasa kematangannya sebagai pujangga, Ronggowarsito dengan gamblang dan wijang mampu menuangkan suara jaman dalam serat-serat yang ditulisnya.

Pada tahun itu juga Bagus Burhan atau Mas Rangga Pujangga Anom yang berumur 20 tahun melaksanakan perkawinannya dengan Raden Ajeng Gombak di Buminatan. Tiga puluh lima hari setelah perkawinan, keduanya berkunjung ke Kediri bersama-sama dengan Ki Tanujaya, sambil minta diri untuk pergi ke Surabaya dan Bali dengan berguru kepada Kyai Tunggulwulung di Ngadiluwih, Kyai Ajar Wirakanta di Raga Jampi dan Kyai Ajar Sidalaku di Tabanan Bali.

Dari ketiga guru tersebut, Kyai Ajar Sidalaku lah yang banyak memberi kesan dan ujud ramalan serta kemukjijadan. Ia berhasil membawa catatan peringatan perjalanan serta kumpulan kropak-kropak dari Bali dan Kediri ke Surakarta.

Pada Tahun 1822 Masehi atau 1749 Jawa, Mas Rangga Pajanganom diangkat menjadi mantri carik dengan gelar Mas Ngabehi Sarataka, dengan sengkalan: terus dadi panditaning ratu. Ketika terjadi perang Diponegoro yaitu pada jaman Sri Paduka PB IV (1823 – 1830). Mas Ngabehi Sarataka diberi tugas untuk menjaga Desa Nusupan dan mendapatkan kemenangan. Pada tanggal 13 Juni 1839 M atau tanggal 23 Besar Tahun 1757 Jawa, Mas Ngabehi Sarataka diangkat menjadi abdi dalem panewu carik Kadipaten Anom dengan gelar Raden NNgabehi Ronggowarsita selanjutnya ia tinggal di pasar kliwon.

Arti nama Raden Ngabehi Ronggowarsito adalah, Raden : gelar untuk keturunan raja tingkat V atau piut wareng oleh karena itu pengangkatan Raden bagi beliau yang Merupakan keturunan ke sebelas merupakan anugerah yang telah disesuaikan dengan pangkatnya. Sedangkan Ronggowarsito, Warsito berarti ucap, petuah atau mencipta (Jawa: nganggit). Jadi Warsito dapat berarti pembicara, penilaian dalam bidang kepujanggan. Sejak itu ia terkenal sebagai ahli atau guru kesusas­teraan Jawa. Ia mempunyai murid para bangsawan, bahkan juga bangsa Belanda, misalnya : CF. Winter, Jonas Portier, Dowing, Jansen dan lain-lain. Ada satu peristiwa ketika Ronggowarsito ditanya sahabatnya Winter yang orang Belanda mengenai kapankah penjajahan Belanda akan berakhir? Ia menjawab, Belanda akan hengkang ketika ada “ori” (sejenis bambu) yang berbuah padi gaga dan ketika ada patih yang wuda (telanjang). Jika dinalar jelas ramalan itu tidak masuk akal, bahkan sangat tidak mungkin akan terjadi. Namun ramalan itu menjadi kenyataan. Ori yang dimaksud bukan bambu melainkan nama seorang Gubernur Jenderal Belanda yang bernama Ori, sedangkan kata gaga, merupakan simbol anagaka 11 pada hitungan Jawa. Maksudnya tatkala Surakarta di bawah pemerintahan Paku Buwono XI. Sedangkan misteri patih telanjang terpecahkan ketika patih tersebut naik tahta, yakni Patih Jayengnegoro, yang dalam penulisan Jawa tak perlu diberi pakaian alias wuda.

Boleh jadi pemikiran-pemikiran Ronggowarsito itu disebut nujum, namun terlepas dari semua itu, kekayaan idenya merupakan karya filsafat tingkat tinggi dan kedua bidang itu telah melebur satu sama lainnya, bisa jadi tulisan itu memiliki makna yang luas, seluas pemikiran penulisnya. Mungkin tak banyak karya sastra pujangga negeri ini yang begitu hebatnya sehingga banyak para pemimpin mengutipnya adalah serat kalatidha. Mereka banyak mengutip karena memiliki kepentingan tertentu. Dan bait ke tujuh dari 12 bait tembang sinom adalah yang paling sering dikutip. Ir. Soekarno mengucapkan kalimat yang sama pada saat meresmikan museum Radya Pustaka di Solo pada 11 November 1953. Ucapan ini ditujukan untuk kondisi Indonesia ketika itu. Gejolak dan perpecahan memang demikian hebat terasa saat itu, antara lain di Jawa Barat, Kalimantan dan Sulawesi.

Lebih dari empat dasawarsa kemudian Soeharto kembali mengutip karya sastra itu saat merasa kewibawaan kekuasaannya mulai dirongrong. Ketika itu Soeharto mendapat perlakuan yang sepanjang karir tak pernah dialami, yaitu didemo oleh ratusan mahasiswa.

Raden Ngabehi Ronggowarsito atau Bagus Burhan atau Mas Rangga Pujangga Anom atau Mas Ngabehi Sarataka diangkat men jadi Kliwon Kadipaten Anom dan sebagai pujangga kraton Surakarta Hadiningrat pada tanggal 14 september 1845 atau tanggal 12 Ruwah Tahun Jimawal 1773, yang ditandai dengan sengkalan “katon pandita sabdaning ratu”.

Pada tanggal 3 Februari 1 852 R. Ng. Ronggowarsito menikah lagi dengan R.M. P Jayengmrujaya. Pada tanggal 19 desember 1848, Raden Ayu Ronggowarsito meninggal dan dimakamkan di Palar kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten. Sedangkan R. Ng. Ronggowarsito sendiri wafat pada tanggal 24 Desember 1873 dalam usia 71 Tahun, dengan meninggalkan tiga orang istri : Putri R.M. Panji Jayeng­ Maijaya, Mas Ajeng Pujadewata, Mas Ajeng Maradewata. Sedang putra-putrinya adalah : R. Ajeng Sudinah, R. Ajeng Ranakusuma, R.M. Ranakusuma, R.M. Sembada, R.M. Sutamadan Rara Mumpuni.

Bung Karno begitu menghormati sosok Ronggowarsito, hingga beliau memutuskan untuk membangun makam yang indah bagi sang pujangga. Berdiri di atas areal tanah seluas 1.000 meter persegi, tepatnya di Desa Palar, Kecamatan Trucuk Kabupaten Klaten Jawa Tengah. Bangunan makam merupakan perpaduan arsitektur joglo dan Islam. Sampai sekarang bangunan di Palar tersebut masih terawat dengan baik merupakan makam keluarga dan banyak diziarahi masyarakat dari berbagai daerah.

Hasil karya beliau antara lain adalah : Babad Iteh, Babon Serat Pustaka Raja, Hidayat Jati, Mardawalagu, Parama Sastra, Purwakaning Serat Pawukon, Pustaka Raja, Rerepan Sekar Tengahan, Sejarah Pari Sawuli, Serat Iber-iber, Uran-uran Sekar Gambuh, Widya Pradana, Aji Darmo, Aji Darma-ajinirmala, Aji Pamasa, Budayana, Cakrawati, Cemporet, Darma Sarana dan Jaka Lodang.

Demikianlah sedikit riwayat R. Ng. Ronggowarsito, pujangga besar dari keraton Surakarta, seorang yang telah banyak berkarya dengan meninggalkan nama harum. Untuk selalu mengenangnya nama beliau juga di jadikan nama museum Jawa Tengah.

PENUTUP

Perjalanan hidup merupakan ketentuan yang diciptakan Tuhan. Sesudah mencipta tingkatan hidup itu Tuhan berkenan mencipta mahligai zat yang diatur dalam Baitullah menjadi tiga keadaan yang disebut ajaran wirid yang bersisi ajaran tiga dunia beserta isinya yaitu :

  1. Baitulmakmur, sebagai tempat yang serba menyenang­kan,
  2. Baitulharam, sebagai tempat yang bersih dari segala larangan Tuhan,
  3. Baitulmukadas, sebagai tempat untuk menyucikan diri.

Sedangkan yang diizinkan mengajarkan wirid hanyalah delapan orang, yaitu Sunan Giri, Sunan Kudus, Sunan Panggung, Sunan Majaagung, Sunan Pancuran, Sunan Cirebon, Seh Maulana Ibrahim Jatiswara, dan Sunan Kajenar. Ajaran wirid itu merupakan ajaran ilmu kesempumaan. Ilmu itu diajarkan setelah Sunan Kalijaga tiada, beliau moksa menjadi Waliullah Gaib.

Ilham yang diterima Sultan Agung perihal berbagai kejadian orang mati, diberitahukan kepada kerabat Raja dan para ulama untuk dimusyawarahkan. Mereka yang diajak bermusyawarah ialah Panembahan Purubaya, Pangeran Juminah, Ratu Pekik (Surabaya), Panembahan Juru Kiting, Pangeran Kadilangu, Pangeran Kudus, Pangeran Tembayat, Pangeran Kajoran, Pangeran Wangga dan Penghulu Kategan.

Perbuatan manusia dan akibatnya akan terlihat sesudah kematian. Jika orang semasa hidupnya banyak berbuat jahat atau dosa, maka nanti setelah mati akan tersesat. Sebaliknya, jika orang selama hidupnya berbuat baik, sabar, sopan dan sejenisnya, maka nanti setelah mati akan mendapatkan kemuliaan dan kesempurnaan, serta rohnya akan bersatu dengan zat Tuhan. Orang yang mendapatkan kemuliaan itu tergolong orang yang kuat imannya.

Sunan Kalijaga berwasiat kepada anak cucunya bahwa ia tetap hidup abadi meskipun nanti musnah dari dunia. Hidup abadinya diperoleh karena ia memiliki ilmu kesempurnaan yang diberikan Tuhan kepadanya.

Sunan Ampel berpesan bahwa siapapun yang ingin memiliki keistimewaan seperti para Nabi, para WalI, dan para ulama terkenal, agar mau melakukan tapa brata, diantaranya ialah menahan nafsu jahat, menahan sahwat, mencegah berbicara kotor, berpuasa, mengurangi tidur, dan bersemadi.

Panembahan Purubaya menguraikan kewajiban guru dan murid sebagai jawaban pertanyaan Sultan Agung. Berdasarkan ilmu dan pengalaman yang diperolehnya, guru itu harus dapat dipercaya dan diteladani. Segala ilmu yang diberikan kepada muridnya harus benar paling tidak mendekati kebenaran, dan segala tingkah atau perbuatan guru harus baik sebab akan dicontoh oleh muridnya. Sebaliknya, murid harus selalu rajin dan taat. Ia harus ra in belajar, rajin berkarya, dan harus taat kepada nasehat gurunya. Itulah inti kewajiban guru dan murid yang diambilkan dari ajaran Sunan Kalijaga. Selanjutnya berhubungan dengan itu bahwa orang hidup di dunia harus selalu ingat kepada Tuhan dimanapun berada dan dalam keadaan bagaimanapun. Sebab jika lalai, orang akan mudah terpengaruh dan akan mudah melakukan perbuatan yang tidak terpuji, dan akhirnya akan menyesatkan dirinya sendiri.

Sultan Agung menanyakan perbedaan antara ngraga sukma dan berdoa. Ahmad Kategan menjawabnya bahwa keduanya hampir sama hanya tujuannya yang berbeda. Ngraga sukma tujuannya mengetahui hakekat Tuhan, sedang berdoa bertujuan memohon kemurahan Tuhan. Namun keduanya harus dilakukan dengan hati yang benar­ benar ikhlas, menyucikan diri, niatnya bulat dan mantap, segala sifat keduniawian harus dihilangkan jauh-jauh, dan yang diharapkan hanyalah petunjuk dan kemurahan Tuhan.

Berdasarkan ajaran para Wali, perjalanan hidup didunia dan di akhirat melalui tingkatan-tingakatan secara berturut­ turut seperti berikut :

  1. Sajaratulyakin, yaitu zat yang berada di alam gaib atau di alam akadiat.
  2. Nur Muhammad, yaitu cahaya hakiki berada di alam wadat, yang memberi sifat zat itu.
  3. Miratulhayati, yaitu rasa hakiki di dalam hati, berada di alam akadiat.
  4. Ruh Ilapi, yaitu ruh suci berasal dari Nur Muhammad, berada di alam arwah.
  5. Kandil, yaitu angan-angan hakiki, berada di alam misal.
  6. Darah, yaitu budi hakiki, berada di alam aj
  7. Kijab, yaitu keadaan makhluk hidup di dunia merupakan tirai yang amat besar.

Aapabila semakin mendekatkan diri kepada Tuhan maka apa yang diinginkan dapat terkabul. Selanjutnya Sultan Agung berpesan pada yang hadir, bahwa mereka dianjurkan agar mengajarkan ilmu kesempurnaan yang dimilikinya kepada para Adipati dan pembesar kerajaan bersumberkan ajaran Al Quran, Hadis, Ijmak, dan Kiyas.

—@@@—

SERAT PEDHALANGAN RINGGIT PURWA I


SERAT PEDHALANGAN RINGGIT PURWA I 

Oleh
K.G.P.A.A. Mangkunagara VII
Alih aksara dan ringkasan oleh
Mulyono Sastronaryatmo

TIDAK DIPERJUALBELIKAN

Proyek Bahan Pustaka Lokal Konten Berbasis Etnis Nusantara
Perpustakaan Nasional, 2011
Perpustakaan

 

LAMPAHANIPUN PARA DEWA

I. LAMPAHAN NGRUNA NGRUNI

  1. Madeg ing kahyangan Jonggringsalaka, : Sang Hyang Girinata (sang Hyang Guru), miyos siniwaka para jawata, mungging baia Marcukundha. Ingkang mungging ngarsa,: Sang Hyang Narada, sang Hyang Kuwera, sang Hyang Sriyana, sang Hyang Surya, sang Hyang Yamadipati, sang Hyang Brama, sang Hyang Patuk, sang Hyang Tamboro. Ingkang rinembag: Gegering Suralaya, dene wonten nataning raseksa nama prabu Sengkanturunan, badhe anginggahi Suralaya, nedya nyuwun jodho widadari nama Dewi Ngruna tuwin Dewi Ngruni. Sang prabu wau sampun anduta patihipun, kanthi prajurit rotadanawa, pacak baris wonten ing Repatkapanasan, sarta damel pasanggrahan, ing mangka Dewi Ngruna tuwin Ngruni wau sampun kaparingaken dados jodhonipun sang Hyang Surya, dados sang Hyang Girinata dhawuh dhateng sang Hyang Surya kinen angatos-atos, tuwin dhawuh dhateng sang Hyang Narada kinen ambekta para jawata, kanthi prajurit dorandara dhumateng Repatkapanasan, angundurna para danawa. Lajeng bibaran.
  1. Madeg ing kadhaton, : Dewi Urna, pinarak para widadari, angentosi kondurira sang Hyang Girinata. Dereng dangu sang Hyang Girinata kondur, ingkang garwa methuk ing njawi wiwara, lajeng lenggah satata, ngandikakaken kawontenanipun ing pancaniti.
  1. Ing bale Marcukundha, sang Hyang Narada, sang Hyang Brahma, sang .Hyang Sriyana, tuwin sang Hyang Patuk, Tamboro, para jawata pepak mungging ngarsa. Ingkang rinembag: Siyaga ing damel, para jawata ingkang sapalih tengga kahyangan, ingkang sapalih bidhal dhateng Repatkapanasan.
  1. Madeg patih ditya, nama patih Jaksendra, carakanira prabu Sengkanturunan, kaliyan para punggawa, nama Kalajaksa, Kalajaksina, Kalajakjara, tuwin kyai Togog, Sarahita. Rembag anggenipun damel pasanggrahan, dereng dangu dhatengipun para jawata sami tumurun anggunturi sela, lajeng prang rame, patih Jaksendra sawadyanipun sami unggul ing yuda, para jawata sami tutup saketheng.
  2. Madeg kahyangan Ekacakra, sang Hyang Surya, ingadhep garwa kakalih: Dewi Ngruna, Dewi Ngruni. Ingkang garwa pinaringan parikan bab dhawuhipun sang Hyang Guru, manawi wonten ratuning danawa anginggahi ing kahyangan anyuwun jodho garwa kakalih wau. Ingkang garwa sami sungkawa. Wusana lajeng matur, manawi anggenipun maringi tigan nyatunggal-nyatunggal kaengremaken sawer ageng, sapunika sampun netes sadaya, tigan gadhuhanipun Dewi Ngruna netes peksi kakalih, ingkang sepuh brondhol, tigan gadhuhanipun Dewi Ngruni netes warni naga ageng satunggal, sawer alit-alit kathah. Sang Hyang Surya ngandika: “Tigan wau paringipun sang Hyang Guru,” lajeng sami tinimbalan mangarsa, ingkang warni peksi kaparingan nama, ingkang sepuh nama peksi Sempati, ingkang enem nama peksi Jathayu.
    Sawer naga kaparingan nama naga Gumbang, sawer ingkang alit-alit nama sawer wisa. Peksi kalih lajeng sami saba, Jathayu lajeng miber kalangan ing gagana, sawer naga dalah sawer alit-alit sami saba sapurug-purug, Dewi Ngruna lajeng batangan (badheyan). Sinten ingkang kawon ngemong anakipun, Dewi Ngruni sagah, ingkang kinarya badheyan: Lembu, kabadheya jaler estrinipun, nanging lembu wau purusipun katekuk dhateng lakang, Dewi Ngruni ambadhe: Estri. Sareng dipun celaki katingal purusipun, lajeng merang. Peksi kakalih tuwin sawer sadaya sampun sami marek ing ibu, sareng sumerep kang ibu Dewi Ngruni kalingseman, sawer alit-alit sami nyakoti peksi kakalih wau, nanging sawer kathah ingkang pejah dipun cucuki, ingkang ibu Dewi Ngruni duka, badhe anjemalani peksi kakalih, lajeng dipun sotaken dhateng Dewi Ngruna.” Yayi Ngruni angrewangi anakira, kok kaya budining diyu.” Sanalika Dewi Ngruni santun warni diyu, lajeng nangis sambat nyuwun aksama. Dhawuhipun sang Hyang Surya, Dewi Ngruni kadhawuhan nyuwun ruwat dhateng sang Hyang Wisnu, tuwin peksi Jathayu kinen nyuwita. Lajeng sami pangkat, peksi Sempati kadhawuhan martapa ing redi Windu, sawer naga kadhawuhan manggen ing jaladri dalah kadangipun sawer alitalit sadaya, lajeng bibaran.
  1. Madeg Repatkapanasan, para jawata sami rembag angupados sraya. Sang Hyang Narada lajeng pangkat dhateng Utarasagara.
  1. Madeg kahyangan Utarasagara, sang Hyang Wisnu anuju lenggah, kaadhep parepat tiga : Semar, Nalagareng, Petruk, rembag denira kahyangan kaancikan mengsah saking Parangsari. Kasaru dhatengipun Dewi Ngruni (denawa estri), kaliyan kang putra peksi Jathayu. Dinangu Dewi Ngruni matur purwa duksina, sarta nyuwun waluya jati, warniya estri ayu malih kados ing nguni. Sang Hyang Wisnu rumaos bilih peksi Jathayu punika ingkang wayah piyambak, amargi ing ngajeng putranipun sang Hyang Wisnu nama Dewi Kastapi katarimakaken peksi Brihawan, puputra tigan kalih kapundhut sang Hyang Guru, kaparingaken sang Hyang Surya. Dene peksi Jathayu kasuwunaken suwita, katampen, ananging Dewi Ngruni tinuduh dhumateng nagari Parangsari andhustha putri atmajanipun prabu Sengkanturunan, kakasih retna Jathawati, lamun lebda ing karya, benjing badhe ingusadanan mamalanipun, Dewi Ngruni sandika lajeng pangkat.
  1. Sang Hyang Narada rawuh, sasampuning lenggah, ngandika bab pabarisaning para jawata sami kasor, sang Hyang Narada mundhut tulung. Sang Hyang Wisnu matur sandika, nanging namung ngaturaken susulih peksi Jathayu. Sang Hyang Narada pamit wangsul, Jathayu binekta, parepat tiga sami tumut.
  1. Madeg pabarisan denawa, patih Jaksendra, tuwin para punggawa denawa, rembag badhe nginggahi suralaya, badhe anjebol saketheng, kasaru praptaning mengsah anggunturi sela, para danawa geger, prang rame. Peksi Jathayu anyamberi saking awiyat, patih Jaksendra pejah, para punggawa kathah kang pejah, sinamber peksi Jathayu, denawa alit-alit dhadhal, sang Hyang Narada tuwin peksi Jathayu dhateng Utarasagara, para jawata bibaran makahyangan.
  1. Madeg nagari Parangsari, prabu Sengkanturunan, pinarak ing pandhapi, kaadhep denawa punggawa, kasaru dhatenging Togog, Sarahita, atur uninga, manawi patih Jaksendra dalah punggawa sami pejah dening sarayaning dewa warni peksi nama Jathayu. Sang nata sakalangkung duka, adhawuh dhateng para punggawa danawa kapurih siyaga dadameling prang. Kasaru dhatengipun ingkang garwa nama retna Diwati atawan tangis, atur pariksa manawi ingkang putra retna Jathawati ical kacidra danawa estri saking gagana, dutanira sang Hyang Wisnu, ing kahyangan ing Utarasagara. Sang prabu Sengkanturunan langkung duka, lajeng pangkat anglurug sawadyanira dhateng Utarasagara.
  1. Madeg Utarasagara, sang Hyang Wisnu, dhatengipun sang Hyang Narada kaliyan peksi Jathayu, paring pariksa ungguling ayuda. Sang Hyang Narada lajeng pamit kondur, kasaru dhatengipun Dewi Ngruni ambekta Dewi Jathawati, badhe kadhaupaken kaliyan peksi Jathayu. Dene Dewi Ngruni ingkang warni diyu lajeng dipun usadani ingusap mukanipun dening sang Hyang Wisnu, Dewi Ngruni waluya jati sulistya warni ing nguni-uni. Dereng dangu dhatengipun sang Hyang Surya, sakalangkung suka mirsa Dewi Ngruni. Sarehning sampun waluya lajeng kasuwun, sang Hyang Wisnu marengaken, nanging Dewi Ngruni mboten purun, kajiat puguh saha matur sang Hyang Wisnu. Satemah sulayaning rembag, sang Hyang Wisnu apancakara, sang Hyang Surya kasor, lumajeng dhateng Jonggringsalaka.
  1. Madeg ing Jonggringsalaka, sang Hyang Guru miyos, ingkang mungging ngarsa sang Hyang Narada miwah para jawata. Kasaru dhatengipun sang Hyang Surya, matur lamun Dewi Ngruni tuwin putrì saking nagari Parangsari, kapendhet sang Hyang Wisnu, mangka ingkang unggul ing yuda putranipun ingkang nama peksi Jathayu. Sang Hyang Narada kautus mundhut Dewi Ngruni tuwin putri boyongan nama Dewi Jathawati, kabektaa dalah peksi Jathayu. Sang Hyang Narada pangkat.
  1. Madeg sang Hyang Wisnu, Dewi Ngruni lawan peksi Jathayu, Dewi Jathawati. Sang Hyang Wisnu adhawuh dhateng Dewi Ngruni supados puruna mantuk, sarta dhawuh dhateng peksi Jathayu badhe kadhaupaken angsal Dewi Jathawati. Kasaru rawuhipun sang Hyang Narada andhawuhaken timbalanipun sang Hyang Guru, sampun katampen sadaya. Dewi Ngruni, peksi Jathayu, Dewi Jathawati, kapundhut kaaturaken sarta sampun kapratelakaken, bilih sang Hyang Wisnu badhe andhaupaken peksi Jathayu angsal Dewi Jathawati. Sang Hyang Narada pangkat, Dewi Ngruni, Jathawati, peksi Jathayu sami andherek.
  1. Madeg ing Jonggringsalaka, sang Hyang Guru, ingadhep para jawata. Dhatengipun sang Hyang Narada ambekta Dewi Ngruni, Jathawati, peksi Jathayu. Dewi Ngruni dhinawuhan manut sang Hyang Surya, Jathawati kadhaupaken angsal peksi Jathayu. Kasaru sang Hyang Patuk sowan mangarsa, atur pariksa dhatengipun mengsah saking nagari Parangsari, ingkang ngluru putra Dewi Jathawati, para jawata sami medal ing njawi, prang sampak, sang Hyang Bayu mijilaken pangabaran, mengsah sima sadaya.Madeg sang Hyang Guru dalah pisowanira ingkang unggul ing yuda. Tanceb kayon.

II. LAMPAHAN WATUGUNUNG

  1. Jejer prabu Watugunung (Selacala), ing nagari Gilingwesi, pinuju miyos ing sitinggil binatarata, alenggah dhampardenta, siniwi ing para wadya, ingkang mungging ngarsa patih Suwelacala, santana ngiras punggawaning praja, raden Dhukut, Kurantil, Tolu, Gumbreg, Kuningan, rembag,: Srinata badhe mangun prang ambedhah Suralaya, amargi nyuwun jodho widadari pipitu, sang Hyang Endra mboten amarengaken, mila sang nata nyuwun jodho widadari pipitu wau, saking panuwunipun ingkang garwa Dewi Sinta, adreng nyuwun kamaru kaliyan widadari pipitu. Inggih punika, Dewi Supraba, Dewi Gagarmayang, Dewi Tunjungbiru, Irimirim, Warsiki, Prabasini, Surendra. Wontenipun ingkang garwa gadhah panuwun makaten wau, awit sajatosipun, Dewi Sinta punika ibunipun prabu Watugunung, amargi prabu Watugunung nalika taksih alit nama raden Dite, saking dremba panedhanipun ngantos kathuthuk ing enthong dening ingkang ibu Dewi Sinta. Raden Dite (prabu Watugunung) lajeng kesah sapurug-purug, dene Dewi Sinta sasedanipun ingkang raka kalunta-lunta dumugi samadyaning wana, ngantos kapupu ing punggawa, katur sang prabu Watugunung, lajeng kagarwa ngantos patutan satunggal jalu nama raden Sindhula, ananging Dewi Sinta sareng rnirsa bilih sang nata punika putranipun, langkung merang, lajeng gadhah panuwun maru widadari wau. Sang nata dhawuh dhateng patih Suwelacala, kinen bidhal sawadya bala mukul prang dhateng Suralaya. Lajeng bibaran.
  1. Madeg ing kadhaton, risang prameswari Dewi Sinta, tuwin para garwa putri saking mancanagari, kathahipun ngantos kawandasa, sadaya sami miyos ing prabasuyasa, ngentosi konduripun srinata, ngiras amriksani ajaring beksa bedhaya tuwin sarimpi. Boten antawis dangu srinata kondur, ginem ing bab pancaniti, lajeng tindak dhateng pambojanan.
  1. Madeg ing paseban njawi, patih Suwelacala, para punggawa, : raden Dhukut, Gumbreg, Kuningan, Kurantil, Tolu. Rembag sami siyaga dadameling prang, lajeng ngundhangi para wadya danawa. Sasampuning samapta lajeng bidhal dhateng Suralaya sawadya balanipun.
  1. Madeg ing ka-Endran, sang Hyang Endra pinuju miyos, ingkang mungging ngarsa para putra,: sang Hyang Citragada, Citrasena, Citrarata, Bambang Arjunawinanga. Rembag bilih badhe kadhatengan parangmuka saking nagari Gilingwesi, para putra sami kadhawuhan mirantos dadameling yuda, lajeng kadhawuhan anjagi dhateng Repatkapanasan, kanthi prajurit dorandara. Sasampuning siyaga lajeng bidhal, dumugining Repatkapanasan, wadya ing Gilingwesi sampun apacak baris, mila lajeng tempuh prang, prajurit dorandara kaseser, sami ngungsi malebet ing karang ka-Endran, lajeng tutup sakatheng, sang Hyang Endra langkung sungkawa. Kasaru rawuhipun sang Hyang Girinata kaliyan sang Hyang Narada, dhawuh dhateng sang Hyang Endra kinen ngupados sraya,: Pandhita martapa ing wukir Candrageni. Sang Hyang Girinata sampuning dhawuh lajeng kondur dhateng ing Jonggringsalaka. Sang Hyang Narada kantun, sarta sagah ngupados sraya, sang Hyang Narada lajeng mangkat.
  1. Madeg ing padhepokan Kandhayana, ing ngandhaping waringin Jamurpitu, Dewi Sriyati kaliyan ingkang putra Bambang Srigati, katilar ingkang raka prabu Setmata dhateng wukir Candrageni. Ingkang putra Bambang Srigati ngajak ingkang ibu nusul ingkang rama dhateng wukir Candrageni, lajeng pangkat kaliyan ingkang ibu, kadherekaken parepat tiga, : kyai Semar, Nalagareng, Petruk, lampahipun medal ing wana, kapapag para wadya ing Gilingwesi, ingkang sami babantu dhateng Repatkapanasan, nama Kalacuwiri, sulayaning rembag dados prang, Kalacuwiri pejah sinuduk, Kalagragalpa majeng prang, Kalagragalpa pejah jinemparing. Para ditya alit-alit bibar ngungsi gesang, Bambang Srigati lajeng lampahipun kaliyan ingkang ibu, parepat tiga tan kantun.
  1. Madeg ing wukir Candrageni, prabu Setmata, ingkang suwau nata ing Mendhangkamulan, kasiku dening sang Hyang Girinata, amargi mendhet garwa Dewi Sriyati, Ing mangka Dewi Sriyati punika sesengkeranipun sang Hyang Girinata, lajeng kasebut nama resi Setmata, misuwur mancanagari guna kasaktenipun, resi Setmata nuju lenggah kaliyan ingkang rayi ipe nama sang Hyang Sriyana, dereng dangu kadhatengan tiyang estri kakalih, satunggal nama pun Mayi, tiyang ing dhusun Karja, nyuwun pitaken,: Barangipun awarni supe kancana ical, winarah ing resi, lamun susupenipun badhe pinanggih. Setunggalipun nama pun Milak, nyuwunaken jampi anakipun nandhang sakit barah, kaparingan usada kunir, tiyang estri kakalih wau lajeng sami lumengser saking ngarsa mantuk dhateng griyanipun, lajeng kasaru dhatengipun ingkang garwa Dewi Sriyati kaliyan ingkang putra Bambang Srigati, sang resi sakalangkung suka. Dereng dangu kasaru rawuhipun sang Hyang Narada, andhawuhaken timbalanipun sang Hyang Girinata, lamun sang resi kapinta sraya dening sang Hyang Endra, anyirnakna mengsah saking Gilingwesi nama prabu Watugunung. Sasampunipun andhawuhaken, sang Hyang Narada kondur makahyangan, resi Setmata pamit ingkang garwa, lajeng semadi rnatek aji pameling. Boten dangu kapal mawi elar (kapal Sembrani) dhateng, katitihan ing resi Setmata kaliyan sang Hyang Sriyana, napak ing gagana dumugi ing karang ka-Endran, sapengkeripun resi Setmata, Bambang Srigati pamit ingkang ibu nedya nusul ingkang rama, lajeng pangkat.
  1. Madeg ing karang ka-Endran, sang Hyang Endra, miyos ingadhep para putra, sang Hyang Citragada, Citrasena, Citrarata, Bambang Arjunawinanga. Sang Hyang Endra langkung sungkawa, ginem ngarsa-arsa dhatengipun ingkang uwa sang Hyang Narada, ingkang sagah ngupaya sraya. Dereng dangu sang Hyang Narada rawuh ambekta resi Setmata kaliyan sang Hyang Sriyana. Sasampunipun bage-binage, sang Hyang Narada ngandika, bilih resi Setmata sagah kapinta sraya. Sang Hyang Endra langkung suka, resi Setmata kadhawuhan anyirnakaken mengsah saking ing Gilingwesi, sagah. Kasaru dhatengipun Bambang Srigati, sang Hyang Endra andangu,” Sinten lare dhateng punika”, resi Setmata matur, : Bilih punika ingkang putra Bambang Srigati. Sasampunipun para jawata sami siyaga dadameling yuda, lajeng bidhal saking karang ka-Endran, kanthi prajurit dorandara umiring resi Setmata. Sareng dumugi ing Repatkapanasan, para wadya dorandara tempuh prang kaliyan wadya ditya saking Gilingwesi, para dorandara prangipun kaseser, resi Setmata kaliyan Bambang Srigati magut ing yuda, para wadya ing Gilingwesi kathah kapupu pejah, kuwandanira muksa, patih Suwelacala lalayu, mantuk dhateng ing Gilingwesi, nedya matur ing gustinipun.
  1. Madeg prabu Watugunung, kaadhep ingkang putra raden Sindhula, tuwin para punggawa, ginem angarsa-arsa carakanira ingkang kautus ambedhah ing Suralaya. Dereng dangu dhatengira patih Suwelacala, atur pariksa, bilih para rayi sami sima ing rana dening pamukipun resi Setmata. Sang prabu Watugunung duka yayah sinipi, lajeng angundhangi para wadya, kebut bidhal dhateng Suralaya, nedya ngantep prang. Raden Sindhula kaliyan patih Suwelacala kantun tengga praja.
  1. Madeg ing pabarisan, para dewa tuwin resi Setmata, ingkang taksih makuwon ing Repatkapanasan, ing ngriku sami mangalembana dhateng kadibyaning resi Setmata, tuwin ingkang para jawata saking Suralaya, dutaning sang Hyang Girinata, : sang Hyang Brama, sang Hyang Bayu, sang Hyàng Yamadipati, sami arsa ambantu ing yuda. Kasaru dhatengipun dorandara ngaturi priksa, bilih mengsah saking Gilingwesi dhateng, sadaya wau lajeng sami angirabaken para prajurit dorandara, ingkang dados senapati Bambang Srigati, tuwin resi Setmata, sang Hyang Brama, sang Hyang Bayu, sareng dumugi ing rana, tempuh prang langkung rame. Bambang Srigati tandhing lawan raden Dhukut, raden Dhukut pejah jinemparing. Prabu Watugunung mangsah, kapapagaken kaliyan resi Setmata, prang langkung rame, gantya kalindhih. Dangu-dangu prabu Watugunung kenging kacepeng, tinaman sagung dadamel tan pasah, lajeng katrap rodhining pedhati, piniles ing pedhati sirna, kuwandanira musna dados dewa, sakantunipun wadya ing Gilingwesi sami teluk, saweneh wonten ingkang lumajeng.
  1. Madeg sang Hyang Endra, dhatengipun para ingkang sami unggul ing yuda, sang Hyang Endra langkung suka, sang Hyang Narada ugi langkung suka lawan ngungun dhateng kadibyanipun resi Setmata, lajeng kairid sowan dhateng ing ngarsanipun sang Hyang Girinata.
  1. Madeg ing kahyangan Jonggringsalaka, sang Hyang Girinata miyos, ingadhep para jawata, dhatengipun sang Hyang Brama, sang Hyang Bayu, sang Hyang Yamadipati, matur solahira dinuta. Dereng dangu dhatengipun sang Hyang Narada ambekta resi Setmata, katur sang Hyang Girinata, denira mungkasi kardi. Sang Hyang Girinata lajeng adhadhawuh, resi Setmata katetepaken madeg nata malih wonten ing medhangkamulan, nama prabu Setmata, inggih prabu Wisnupati, lawan praja ing Gilingwesi kabawah dhateng Medhangkamulan, sang prabu Setmata matur sandika, lajeng bidhal, para jawata sami umiring, sapraptaning praja Medhangkamulan lajeng sami lenggah satata, kasaru dhatengipun punggawa, atur uninga, wonten danawa kathah damel reresah wonten alun-alun, inggih punika para danawa, wadyanipun prabu Watugunung sisaning pati. Resi Setmata medal kaliyan para jawata, prang sampak, danawa sami pejah sadaya. Lajeng sami lenggah mangun bojana andrawina, sang Hyang Bayu uwin ingkang raka sang Hyang Brama pamit kondur. Tanceb kayon.

III. LAMPAHAN MUMPUNI

  1. Jejer ing Suralaya, sang Hyang Pramesthiguru, miyos ing pancaniti, siniwi sang Hyang Narada, sang Hyang Brama, sang Hyang Bayu, sang Hyang Endra, sang Hyang Panyarikan, sang Hyang Patuk, sang Hyang Tamboro, pepak para dewa kang anangkil, ingkang rinembag,: Ing Suralaya badhe kainggahan mengsah saking Jurangparang, dutanira prabu Karungkala. Awit sang yaksendra tinampik panglamarira maring Dewi Mumpuni, ingkang samangke sampun pinaringaken dados garwanira sang Hyang Yamadipati. Sang Hyang Guru dhawuh mring sang Hyang Narada, wadya dorandara kinen sami pacak baris wonten Repatkepanasan, sasampunira dhawuh, sang Hyang Pramesthiguru lajeng kondur ngadhaton.
  1. Madeg ing gupit Mandragini, sang padniwara Dewi Uma, pinarak ing pananggap prabasuyasa, ingadhep para parekan cethi. Kasaru rawuhira sang Hyang Pramesthiguru, pinethuk ingkang garwa Dewi Uma, kinanthi binekta lenggah satata. Sang Hyang Pramesthiguru imbal wacana mring garwa, bilih ing Suralaya badhe kainggahan mengsah saking Jurangparang. Kang garwa esmu sungkawa, sang Hyang Guru minggah ing sanggar pamelengan.
  1. Madeg ing paseban njawi, sang Hyang Narada, sang Hyang Brama, sang Hyang Bayu, sang Hyang Endra, sang Hyang Panyarikan, sang Hyang Yamadipati, sang Hyang Patuk, sang Hyang Temboro. Ginem, : Denira tampi dhawuhing sang Hyang Guru, kinen sami pacak baris wonten Repatkapanasan, sasampunira siyaga lajeng bidhal.
  1. Madeg ing Saptapratala, Dewi Superti, kasaru rawuhira sang Hyang Anantaboga, sang Hyang Anantaboga dhawuh mring kang garwa Dewi Superti, kinen adamel gambaripun para widadari sadaya, sarta sawarnining anaking para dewa, kang sampun kangkat ambekta gamaning ngrajurit kinen tumut aprang. Sasampuning tampi dhawuh, Dewi Superti lajeng tindak ing panyeratan, lajeng anggambar para widadari, sampun dados, Dewi Superti lajeng medal ing njawi murugi kang putra Bambang Nagatatmala, Dewi Superti ngandika mring putra, dipun purih sampun kesah-kesah, awit saking dhawuhing sang Hyang Narada, anakipun para jawata ingkang sampun kuwawi nyepeng gagamaning ngayuda, kadhawuhan dados prajurit, sarta lajeng baris dhateng Repatkepanasan, mapag ing yuda. Dewi Superti sasampuning dhawuh mring putra Bambang Nagatatmala lajeng kondur, arsa nusul sare ingkang raka sang Hyang Anantaboga. Mangkana sakondurira Dewi Superti, Bambang Nagatatmala, ingadhep Semar, Nalagareng, Petruk, Bambang Nagatatmala dhawuh mring Semar, kados punapa gambaring widadari. Semar matur, bilih kang ibu sare kapendheta. Sasampuning malebet panyeratanipun ingkang ibu, ingkang gambar kapendhet Bambang Nagatatmala, lajeng kabekta medal tinedahaken Semar, sarwi kinen mastani satunggal-satunggaling widadari. Semar matur, “Punika gambaripun Dewi Mumpuni, garwanipun sang Hyang Yamadipati, saweg panggih enggalenggalan, dereng patos carem”, Bambang Nagatatmala dahat kasmaran ing panggalih, lajeng andangu dhateng Semar, “Kahyanganipun ing pundi, sang Hyang Yamadipati punika?”.
  2. Semar matur,” Ing Argadumilah”. Bambang Nagatatmala dhawuh mring Semar kinen andherek, sendika, lajeng pangkat, Bambang Nagatatmala lajeng ambutul bumi Kasapta, dumugi dharatan lajeng mumbul ing ngawiyat, kairing Semar, Nalagareng, Petruk, nedya dhateng kahyangan Argadumilah. Madeg ing kahyangan Argadumilah, sang Hyang Yamadipati tuwin sang Hyang Brama. Ginem,: Sang Brama amit arsa ngluruk, sang Hyang Yamadipati murugi kang garwa Dewi Mumpuni, kang garwa Dewi Mumpuni rinungrum dipun ariharih datan purun anglawani karsaning kakung, Dewi Mumpuni lajeng malebet ing ndalem, emban ingutus sang Hyang Yamadipati amundhut gantos mring sang dyah, emban lajeng kesah, emban damel reka-reka, damel piyambak, lajeng ingaturaken mring sang Hyang Yamadipati, sanget bingahira, lajeng pangkat arsa nglurug, palataranira sami dipun awoni sadaya waradin, lajeng bidhal, sakesahira kang raka sang Hyang Yamadipati, Dewi Mumpuni medal dhateng ing patamanan, kasaru dhatengira Bambang Nagatatmala, anjujug wonten ing njawi patamanan kaliyan Semar, Bambang Nagatatmala ngandika mring Semar, kinen nangisi. Semar lajeng tangisan, ing lebet patamanan, sang dewi mundhut andha, emban ngupados sampun angsal, lajeng ingaturaken, ing njawi banon wonten tiyang nangis, Dewi Mumpuni mireng tiyang sami nangis, lajeng amenek ing andha, nganguk ing njawi, uninga Bambang Nagatatmala dipun tangisi, sang Dewi Mumpuni lajeng mandhap pitaken Semar, Semar matur, “Punika bandaranipun pinuju sakit, sarta punika putranipun sang Hyang Anantaboga”, Dewi Mumpuni lajeng maringi ganten, Bambang Nagatatmala wungu, sang Dewi Mumpuni lajeng pinondhong, binekta malebet ing patamanan emban sumerep lajeng kesah, atur uninga ing sang Hyang Yamadipati, dhateng Repatkepanasan.
  1. Madeg ing Selapanangkep, para danawa dewa ingkang tengga kori ing Suralaya, nama bathara Cingkarabala, kasaru dhatengira Bambang Nagatatmala tuwin Semar, tanya-tinanya, Semar, nedha menganipun kori, bathara Cingkarabala boten suka, wusana dados prang, bathara Cingkarabala kenging kacepeng, lajeng dipun engkuk-engkuk, sareng uwal lumajeng, Bambang Nagatatmala tuwin repat tiga lajeng lampahipun.
  1. Madeg ing njawi bale Mar’cukundha, para dewa, tuwin resi, kang sami pasak baris, ginen arsa mapag ing prang, pan kasaru dhatengipun Cingkarabala, atur uninga mring sang Hyang Narada, bilih wonten satriya sumengka pangawak braja. Sang Hyang Narada dhawuh mring para dewa, kinca sami mantuk mring kahyanganipun piyambak-piyambak, lajeng sami mantuk sawongan-sawongan. Mangkana lampahira sang Hyang Yamadipati, dumugi ing margi kapapak embanira sang Dewi Mumpuni, dinangu matur, atur uninga, bilih kang garwa Dewi Mumpuni pinothapotha satriya saking Saptapratala wonten ing patamanan, sang Hyang Yamadipati sareng mirang aturing emban lajeng rikat lampahira. Mangkana ing salabeting taman, sang kusuma Dewi Mumpuni, tuwin Bambang Nagatatmala, saweg lenggah ingadhep Semar, Nalagareng, Petruk, kasaru rawuhira sang Hyang Yamadipati, dadya prang, sang Hyang Yamadipati kasor, lumajeng atur wuninga ing ngarsanira sang Pramesthiguru.
  1. Madeg ing Suralaya, sang Hyang Guru, miyos lenggah ing bale Marcukundha, siniweng para dewa, kang munggeng ngarsa Hyang Narada. Ginen demira kainggahan satriya saking Saptapratala, Cingkarabala kasor. Kasaru dhatengira sang Hyang Yamadipati, atur uninga, bilih garwa Dewi Mumpuni dipun remeni kaliyah satriya saking Saptapratala, anakipun sang Hyang Anantaboga, sapunika wonten ing lebet petamanan, sang Hyang Guru dhawuh mring sang Hyang Narada, para dewa dhinawuhan anyepeng, lajeng sami pangkat.
    Madeg ing patamanan Argadumilah, Bambang Magatatmala, tuwin Dewi Mumpuni, ingadhep Semar, Nalagareng, Petruk, kasaru rawuhira sang Hyang Narada, tuwin para prajurit dorandara, sasampunira tinanya, Bambang Nagatatmala cinepeng ing kathah, para dewa kasor, lajeng sami lumajeng mring ngarsanira sang Hyang Guru.
  1. Madeg ing Suralaya, sang Hyang Guru, miyos lenggah ing Marcukundha, kasaru dhatengira sang Hyang Narada, tuwin para dewa, sang Hyang Narada atur uninga, bilih prajurit dorandara prangira sami kasor, samangke Bambang Nagatatmala taksih wonten patamanan, sang Hyang Guru dhawuh mring sang Hyang Narada, kinen animbali sang Hyang Anantaboga, sandika, lajeng pangkat mring Saptapratala.
  1. Madeg ing Saptapratala, sang Hyang Anantaboga, lenggah, kasaru rawuhira sang Hyang Narada tuwin sang Hyang Panyarikan, sang Hyang Narada andhawuhaken timbalanira sang Hyang Guru, sang Hyang Anantaboga sandika, lajeng bidhal mring Suralaya.
  1. Madeg sang Hyang Guru, lenggah ingadhep para dewa, kasaru praptanira sang Hyang Narada tuwin sang Hyang Anantaboga. Sang Hyang Guru dhawuh mring sang Hyang Anantaboga, paring uninga ing lepatira kang putra Bambang Nagatatmala, sang Hyang Guru dhawuh malih mring sang Hyang Anantaboga sandika sagah. Sang Hyang Guru dhawuh mring para dewa, kinen angiring mring patamanan, sandika, lajeng pangkat mring taman Argadumilah.
  1. Madeg ing taman Argadumilah, Bambang Nagatatmala, tuwin Dewi Mumpuni, ingadhep Semar, Nalagareng, Petruk, kasaru rawuhira kang rama sang Hyang Antaboga, ingiring para dewa, Bambang Nagatatmala sarawuhira kang rama cinepeng, Bambang Nagatatmala binekta mring kawah Candradimuka, lajeng cinemplungaken, para dewa sami bingah sadaya. Sang Hyang Anantaboga lajeng amit mantuk, rinilan lajeng pangkat.
  1. Madeg ing Saptapratala, sang kusuma Dewi Suparti, lenggah ingadhep para parekan, kasaru rawuhira kang raka sang Hyang Anantaboga, sasampuning lenggah, sang Hyang Anantaboga, wawarta mring garwa Dewi Superti, bilih kang putra Bambang Nagatatmala, lepat lambangsari kaliyan garwanira sang Hyang Yamadipati, sapunika Bambang Nagatatmala linebetaken kawah Candradimuka. Kang garwa sasampuning winartan lajeng melebet ing ndalem angungkeb-ungkeb dangu, wungu lajeng anjedhul saking Saptapratala, lajeng minggah ing Suralaya.
    Mangkana lampahira Dewi Superti, dumugi Repatkepanasan, lajeng uninga kawah Candradimuka, wonten mancur sacakra manggilingan, lajeng cinepeng, inggih punika tirta gesang, lajeng malebet ing nglebet kawah Candradimuka, layonira kang putra Bambang Nagatatmala, pinendhet kaentasaken, sasampunira wonten ngentasan satepi kawah Candradimuka, layonira kang putra wau tinetesan toya pagesangan, lajeng gesang, kang putra Bambang Nagatatmala jinarwan mring kang ibu, ingemutaken mantuk mring Saptapratala, pinenging wonten ing Suralaya, kang ibu Dewi Superti sanget kuwatirira. Bambang Nagatatmala dhinawuhan mring nagari Amarta, Bambang Nagatatmala matur sandika, lajeng pangkat, ingiring parepatira tiga.
  1. Madeg ing Suralaya, sang Hyang Brama, sang Hyang Sambu, sang Hyang Kuwera, sang Hyang Panyarikan, tuwin para prajurit dorandara. Ginem, : Sang Hyang Brama dhawuh pacak baris wonten sangandhaping Suralaya, sasampuning sarembag lajeng bidhal.
  1. Madeg ing nagari Jurangparang, sang prabu Karungkala, miyos ingadhep patih ditya Kalamuka, tuwin para punggawa ditya, pepakkang anangkil, ginem,: Sang nata arsa krama widadari, karsanira sang nata arsa minggah mring Suralaya pribadi, patih ditya Kalamuka anjurungi, sang prabu Ka rungkala lajeng dhawuh mring para punggawa ditya, kinen siyaga dadameling prang. Sasampuning siyaga lajeng bidhal sawadya balanira maring Suralaya.
    Madeg baris kang tugur wonten sangandhaping Suralaya, para dewa tuwin prajurit dorandara. Ginem, sampun dangu denira pacak baris, kasaru rawuhira prabu Karungkala, sawadya balanira, arsa minggah mring Suralaya. Pasulayaning rembag dadya prang, wasana para dewa kasor ing prangira, lajeng lumajeng, arsa atur uninga ing ngarsa sang Hyang Guru.
  1. Madeg ing Suralaya, sang Hyang Guru miyos ingadhep sang Hyang Narada, ginem,: Sang Hyang Guru, angarsa-arsa para dewa kang baris tugur, boten watawis dangu dhatengira para dewa prajurit dorandara, atur uninga, bilih kainggahan mengsah saking Jurangparang, raja ditya prabu Karungkala, sawadyanira, dadya prang, para dewa sami kasor sadaya, sang Hyang Guru dhawuh mring sang Hyang Narada, kinen minta sraya dhateng ing Amarta, sang Hyang Narada sandika, lajeng pangkat.
  1. Madeg ing nagari Amarta, prabu Yudhisthira, miyos ingadhep kang rayi raden arya Wrekodara, raden Janaka, tuwin raden arya Nakula, raden arya Sadewa. Kasuru dhatengira Bambang Nagatatmala, ingiring Semar, Nalagareng, Petruk, kinen mangarsa, lajeng dinangu matur, sasolahira sampun katur sadaya, lajeng tinampen, pan kasaru rawuhira sang Hyang Narada, sasampuning lenggah satata, sang Hyang Narada andhawuhaken timbalanira sang Hyang Guru, ingutus minta sraya, awit ing Suralaya kainggahan mengsah saking Jurangparang, prabu Karungkala sawadya balanira, para dewa sami kasor. Sang prabu Yudhisthira anyagahi, kang rayi raden arya Wrekodara, tuwin rayi raden Janaka kinen andherekaken ing sang Hyang Hyang Narada, sandika. Sang Hyang Narada lajeng amit pangkat ingiring raden arya Wrekodara, tuwin raden Janaka mring Suralaya.
  1. Madeg ing ngandhaping Suralaya, prabu Karungkala, ing Jurangparang, tuwin para punggawa ditya, kang mentas aprang kaliyan para dewa, taksih sami pacak baris, kasaru dhatengira sang Hyang Narada, kanthi raden arya Wrekodara, tuwin raden Janaka, lajeng aprang. Raja ditya prabu Karungkala tandhing kaliyan raden Janaka, prang rame. Danguning prang, raja ditya prabu Karungkala jinemparing pejah, patih sapunggawanira mangsah, pinapag raden arya Wreko dara, patih ditya Kalamuka tuwin para ditya sami pejah dening raden arya Wrekodara, sampak, para ditya sirna sadaya tan menggapuliha, raden arya Wrekodara, tuwin raden Janaka, lajeng sami marak mring sang Hyang Narada, sampun mangarsa, raden arya Wrekodara, tuwin kang rayi raden Janaka, sami amit mantuk mring Amarta, Wasana bojana andrawina. Tanceb kayon.

III. LAMPAHAN MIKUKUHAN

  1. Jejer prabu Dremamikukuhan ing nagari Medhangkamulan, inggih ing Purwacarita, nuju miyos siniwi mungging sitinggil binatarata, lenggah dhampar denta, siniwi ing para wadya, ingkang mungging ngarsa patih Jakapuring, brahmananing praja nama Brahmanacrita, punggawa tuwin para empu pepak mungging ngarsa, ingkang ginunem, tata tentreming praja. Kasaru rawuhira sang Hyang Narada, dinuta sang Hyang Girinata, maringaken wiji pantun, pisang, kalapa, tuwin wiji pala kapendhem, pala kesimpar, pala adeg, pala kependhem punika,: uwi, gembili, kimpul sapanunggalanipun, pala kesimpar punika,: waloh, bligo sapanunggalanipun,: pala adeg punika, : jagung, tebu, otek sapanunggalanipun, kadhawuhan nanem ing nagari Medhangkamulan, supados mirah tedha. Sasampuning katampen, sang Hyang Narada lajeng kondur makahyangan, sang prabu lajeng dhawuh dhumateng patih Jakapuring, kinen maradinaken dhateng padhusunan, lajeng bibaran.
  1. Madeg ing kadhaton, risang prameswari nata Dewi Darmastuti, pinuju lenggah ing prabasuyasa, ngentosi kondurira srinata. Sarawuhira saking pasewakan, srinata lajeng lenggah satata, ingkang ginunem, kawontenaning pancaniti, lajeng tindak ing pambojanan.
  1. Ing pangurakan patih Jakapuring, punggawa, : kyai empu Cakut, kyai Tuwa, kyai Baru, rembag badhe lampahipun, sasampuning samapta, lajeng bidhal kapalan.
  1. Madeg ing Suralaya, ing kahyangan Jonggringsalaka, sang Hyang Guru nuju miyos mungging baie Marcukundha, ingadhep para jawata, sang Hyang Brama, sang Hyang Bayu, sang Hyang Pritanjala, sang Hyang Yamadipati. Dhatengipun sang Hyang Narada, matur sarehing dinuta. Sang Hyang Guru utusan nyataken dhateng ing Purwacarita, ingkang kautus sang Hyang Pritanjala, tuwin sang Hyang Tantra, jawata kakalih sami pangkat, sarta warni peksi emprit.
  1. Madeg prabu Sarkil, ing nagari Najran, (tanah sabrang) pinuju miyos ing pandhapi, ingkang sumiwi patih Talkandha, punggawa sawatawis, ingkang ginunem, : Ingkang putra putrì nama Dewi Sakati, supena ginarwa empu ing Gajali, ing tanah Jawi, punika sang putrì sanget kayungyuning driya, anggubel datari kesah saking ngarsaning rama nata. Sang nata lajeng anuruti, wasana lajeng tindak dhateng tanah Jawi, ambekta wadya nitih palwa.
  1. Madeg empu Hanggajali, mungging tepining samodra, ngemban dhawuhira sang Hyang Guru, kinen damel gagamaning ayuda. Sang Hyang empu nuju damel warastra, dhuwung sasaminipun, ingkang ngladosi kyai lurah Semar, Nalagareng, Petruk, sabibaring pandhe, empu Hanggajali leladhang. Sigeg, prabu Sarkil, ingkang numpak palwa, kadi binuncang ing dewa, baita kerem, prabu Sarkil kentir ing tirta samodra, sareng empu Hanggajali sumerep, prabu Sarkil tinulungan kabekta dhateng ing gisik, lajeng taken-tinaken, sami waleh nama tuwin sedyanira. Empu Hanggajali tinantun dadya mantunipun, lajeng kabekta dhateng nagarinipun prabu Sarkil sarwi numpak baita malih, parepat tiga andherek.
  1. Madeg ing nagari Najran, Dewi Sakati, dhatengipun ingkang rama prabu Sarkil, sampun ambekta empu Hanggajali, wasana ajeng kadhaupaken, empu Hanggajali tan suwala, watawis laminipun Dewi Sakati anggarbini, empu Hanggajali pamit mantuk dhateng pulo Jawi, awit taksih anglampahi ayahaning Hyang Girinata, kinen pandhe dadamel, lajeng bidhal numpak baita, parepat tiga tan kantun.
  1. Madeg patih Jakapuring kaliyan para punggawa, kyai empu Cakut, kyai Tuwa, kyai Buru, sami andum wiji dhateng tiyang padhusunan, kacarita jawata kalih ingkang malih emprit sami ngrisak taneman pantun, katinggal risak tanemanipun gaga padhusunan wau, jinemparing dening patih Jakapuring, lajeng babar dadya jawata kalih, sang Hyang Pritanjala, sang Hyang Tantra, patih Jakapuring madhep mangarsa, pinaringan pariksa, bilih dinuta sang Hyang Girinata, anuweni hanggenipun mandum wiji wau, rehning sampun, sang Hyang Girinata sanget bingahipun, sarta winangsit lamun badhe kadhatengan dutaning Hyang Girinata malih. Patih Jakapuring kinen mantuk saprikancanipun dhateng praja, jawata kakalih lajeng makahyangan, patih Jakapuring saprikancanira sami mantuk dhateng Medhangkamulan.
  1. Madeg ing Purwacarita (Medhangkamulan), Prabu Dremamikukuhan lenggah kalawan kang garwa Dewi Darmastuti, kasaru dhatengipun ingkang rayi patih Jakapuring, matur sasolahira sadaya hanggening dinuta. Kasaru gegering njawi, wonten celeng ngamuk, srinata miyos kaliyan patih Jakapuring, para punggawa mapag pangemuking celeng, sami kasoran, sang nata krodha anglepasi jemparing, celeng kenging jinemparing babar dados Kalagumarang, lajeng wangsul dhateng wana Krendhayana. Dereng dangu sang Hyang Endra rawuh, sang nata anembah, sang Hyang Endra maringaken gangsa Surendra, handadosna tuladanira tiyang ngarcapada, sang prabu matur nuwun, sang Hyang Endra lajeng makahyangan.
  1. Madeg ing wukir Andaga, puthut Jantaka kaliyan anak-anakipun warni buron wana, ginem badhe dhateng praja Purwacarita, nedya pados tedha, lajeng bidhal.
  1. Madeg prabu Dremamikukuhan, miyos siniwi patih Jakapuring, para punggawa, kasaru sowanipun punggawa, atur pariksa bilih ing dhusun-dhusun, sadaya taneman sami risak hadhapan, lajeng bidhal kanthi para punggawa.
  1. Madeg ing dhukuh Dhadhapan, bagawan Kanda, tuwin kang rayi bagawan Nada, kaadhep ingkang putra kakalih nama raden Sengkan, raden Turunan, patih Jakapuring dumugi ngriku matur dinuta ingkang raka nata, mundhut pitulung sarana icaling ama sadaya, bagawan Kanda ambektani ingkang putra kakalih raden Sengkan tuwin raden Turunan wau, kanthi abdi kalih anama Wayungyang kaliyan Candramawa, raden Sengkan dipun wulang mantra sarana, makaten, : Hong wirineh, wirihoyeh, masrana maswaha, kaliyan kabektanan kenthongan, raden Turunan kabektanan towok, lajeng bidhal, sadumugining Purwacarita, anjujug panggenaning ama kanthi susumbar, ama sami medal sadaya, perang rame, raden Sengkan ngungelaken kenthongan kaliyan matek mantra kadya ing nginggil wau, raden Turunan ngasta towok, kyai Wayungyang ngedalaken pangabaran, warni sagawon ayutan, kyai Candranawa ngedalaken kucing langkung kathah, sagung ama sami sima sadaya. Ing ngriku puthut Jantaka kródha ngamuk punggung, kasarengan rawuhipun prabu Dremamikukuhan, lajeng mapagaken puthut Jantaka, kenging kacepeng teluk, nyuwun papan sarta nyuwunaken papanci anakipun, ingkang taksih gesang, lajeng pinaringan papanci, nanging kang wami lembu, maesa lajeng kaingah dados sarananipun tiyang anggarap sabin, puthut Jantaka tinuduh dhateng wana Lokapala, kesah. Sang nata sawadyanira mangun suka andrawina.

Tanceb kayon.

—@@@—

 

KITAB PUNTIR PALAKIYAH


 

Bab punika ingkang gadhah pikajengan badhe sires mawi kalantaran2 iji dhadhu, namung bucal sapindhah kadosta main dhadhu.

PUNTIR FALAKIYAH

Kadosta: manawi badhe mitaken ing bab prakawis jangka 13 ”ingkang sakit  punika saget saras punapa boten?” sesampunipun dhadhu kabucal ing mangka cecegan ing dhadhu medal 3 kaliyan 4, lajeng kacocogna kaliyan gambaring dhadhu. Sangandaping dhadhu angka 6. Lajeng terus kauruta mangandhap dumugi kothaking aksara, sarta lajeng kajejeraken ing angka 13 kapering kiwanipun. Ing ngriku pinanggih aksara ”ga” lajeng ngupadosana ing kaca aksara ”ga” nunten angupadosa  angka 6. Ing ngriku mungel ” wong kang lara kaparingan mulya dening Allah”. Insya Allah tiyang ingkang sakit tamtu saget waluya sarana sadhengah jampi kemawon.

Ingkang  gadhah  Kitab  Puntir  Palakiyah  punika  Raden Ngabei Mangun Utama mantri pulisi ing Wotgaleh dhistrik Kitha Ageng Kalasan. Kaserat kaping 12 Sapar Dal 1839 utawi kaping 5 Maret taun 1909.

Punika salebetipun 21 prakawis pitakenan. Pundi ingkang katakekaken :

  1. Pikajengan punika pikantuk punapa boten?.
  2. Saged manggih kauntungan punapa boten?
  3. Punapa untung punapa katunan?.
  4. Punapa tetep manggen ing ngriki punapa sanes panggenan?.
  5. Tiyang ingkang kesahan wangsul malih punapa boten?.
  6. Barang ingkang ical punika saged pinanggih punapa boten?.
  7. Sobat punika sae manahipun punapa boten?.
  8. Lampah punika klayan wilujeng punapa manggih susah.
  9. Tiyang punika sanget asih punapa boten?.
  10. Paningkah punika dados sae punapa awon?.
  11. Punapa estri punapa priya ingkang manggih kauntungan?.
  12. Tiyang ingkang wawrat punika medal jaler punapa estri?.
  13. Ingkang sakit punika saged saras punapa boten?.
  14. Ingkang susah punika angsal pangapunten punapa boten?.
  15. Sapunika kacilakan punapa kabegjan ingkang dados?.
  16. Punapa jarwanipun supenan punika?.
  17. Kedut punika awon punapa sae?.
  18. Manggih kauntungan ing dharatan punapa ing lautan?.
  19. Paten punika menang punapa kawon?.
  20. Tiyang ingkang kesah prang  punika kawon punapa menang?
  21. Tiyang pegatan punika saged rujuk malih punapa boten?

Ing saderengipun ngasta dhadhu mawi maca patekhah rumiyin sapindhah, lajeng ngastadhadhu sarta malih maca salawat kaping tiga.

ha na ca ra ka TABEL

A: angka urut terusaning pitakenan 21 prakawis.

B: angka urut terusaning jarwaning pitakenan.

A
ALLAH IKU KALUWIH DENING KUASA

  1. Apa kang sira ajap sayekti katekan lan kadadian.
  2. Aja sira kuwatir sayektine ora sida pegatan.
  3. Iku wong nora mati nanging kataton paprangan.
  4. Ing dina iki aja kongsi nepsu, mesthi nemu cilaka badanmu.
  5. Ing laut sira nemu untung yen tinimbang lawan ing dharatan.
  6. Sira oleh kabar luwih saka susah.
  7. Awit impen iku wahanane sira bakal nemu susah.
  8. sajrone dina iki sayekti akeh cilaka anekani.
  9. Aja susah atinira sawatara dina sayekti antuk ngapura.
  10. Lara iki sayekti ora bisa waras nganti tumeka patine.
  11. Wetengan iku metu wadon.
  12. Lanang oleh rabi becik yen wadon lakine ala.
  13. Nikahan iki dadine kalawan akeh kacilakan.
  14. Dheweke ora tresna terusing atine.
  15. Yen lumaku dina iki oleh pakurmatan lan slamet.
  16. Mitra iki aja kopracaya marga tan jujur atine.
  17. Barang iku nora ilang kang sareh mengko bisa katemu.
  18. Sajroning rong sasi dheweke teka tan nganti setaun.
  19. Sira ora ngalih marang liyan nagara.
  20. Dina iki Allah ngadohake marang kerugianira.
  21. Kauntunganira kalawan susah bisane oleh.

HA
ELINGA PENGGAWE BECIK

  1. Kauntunganira tan oleh ing sajroning nagara kene.
  2. Pakarepanira tan ana dadine yen kanthi lelungan.
  3. Ora kena pegatan sarta uripe salawase becik.
  4. Wong kang sajroning paprangan iku wus tumeka patine
  5. Padune ora kalah nanging kelangan ragad akeh.
  6. Ing dharatan sira luwih untung katimbang ana ing lautan.
  7. Sira arep katekan sanak sadulur liyan nagara.
  8. Impen iku sira bakal tampa dhuwit.
  9. Dina iki tan ana kacilakan kang tumeka.
  10. Ora oleh pangapura kongsi tumeka patine.
  11. Wong kang lara mengko dadi becik utawa waras.
  12. Wetengan iku metu lanang lan dawa umure.
  13. Lanang oleh ala yen wadon lakine oleh becik.
  14. Nikahan iki klawan Asmaning Allah dadi becik,
  15. Dheweke asih mulane sira aja lali dheweke.
  16. Yen lumaku dina iki cedhak marang cilakane.
  17. Mitra iki bener atine sarta kena dipracaya.
  18. Barang iku tan ketemu maning kang nyolong nemu susah.
  19. Wong kang lunga saka kene ora bisa bali.
  20. Sira mengko manggon ing liyan nagara.
  21. Ing dina iki sira kacedhakan kacilakan lan karugian.

NA
NUDUHNA MARANG PATAKONAN KANG NYATA

  1. Saka prakara wong wadon siji sira dadi katunan.
  2. Aja sira ngajap kauntungan krana durung tutug mangsane.
  3. Apa kang dadi pangajapmu kalawan malarat ngakire kadadian.
  4. Sira bakal pegatan ananging nora lawas bakal tepung maning.
  5. Wong kang ana ing paprangan menang sarta tumuli teka.
  6. Prakaranira bakal menang sarta ora katunan.
  7. Ing dharat oleh uga kauntungan nanging kalawan susah.
  8. Arep oleh kiriman saka liyan nagara.
  9. Aja lunga saka ngomah karana impenira tan becik.
  10. Akeh wong arep gawe cilaka nanging siji tan ana tumeka.
  11. Sapisan iki oleh ngapura, nanging liya wektu ora.
  12. Lara iku mesthi waras.
  13. Wetengan iku wadon nanging cendhak umure.
  14. Lanang oleh wadon ala, yen wadon becik.
  15. Ningkah iki tan slamet sarta mlarat.
  16. Katon dheweke asih nanging buri gawe cilaka uga.
  17. Ing dina iki kena lumaku tan ana siji kang ngaru biru.
  18. Kena uga kopracaya nanging aja banget-banget.
  19. Barang kang ilang wis dibagi lan ora katemu maneh.
  20. Wong kang lunga saka kene mengko gelis bali maneh.
  21. Sira ora ngalih saking nagara iki.

CA
CARITAA MARANG LABET KANG LUWIH RAHARJA

  1. Kowe ngalih uga saka kene nanging dadi malarat.
  2. Sira uga sawatara katunan nanging gelis untung maneh.
  3. Kauntunganira kena uga diarep nanging kalawan susah.
  4. Ing pangajapira kena diarep nanging ana kang jahili.
  5. Ing buri sira pegatan tumeka pati.
  6. Wong kang ana paprangan iku kanin sahingga mati.
  7. Padu iku nganti lawan durung bisa pedhot.
  8. Tan ana kang ngaru biru sira kena manggon ing dharat.
  9. Bakale oleh kabar saking sanak sadulur lara banget.
  10. Sira aja nglarakake ati impen iku dadi becik.
  11. Saka kanane badanira dina iki tumiba ing cilaka.
  12. Dheweke tan antuk ngapura salawase ana sajrone susah.
  13. Sadiyanana bae mesthi karana dheweke bakal mati.
  14. Wetengan iku metu wadon sarta begja wong tuwane.
  15. Wadon oleh laki ala, lanang bojone apik,
  16. Aja sira ningkah karana dudu untungira ing kono.
  17. Dheweke ora asih sarta akire gawe susah.
  18. Sawuse rong dina iki sira kena lumaku.
  19. Aja pisan sira ngandel marang mitranira iku.
  20. Barang kang ilang mengko bisa katemu manih.
  21. Wong kang lunga tan bisa bali marga wus laki rabi liyan nagara.

RA
RACIKANA LAN SABAR TAWEKALIRA

  1. Dheweke nuli teka nanging gelis nuli lunga maneh.
  2. Sira nuli lunga seka kene yen tan lunga bakal nemu susah.
  3. Ora katunan nanging ya ora untung akeh.
  4. Sira tan nemu kauntungan lamun tan tumemen lakumu.
  5. Apa kang sira ajap sajroning dina iki ora oleh.
  6. Aja sira niyat pegatan karana dheweke temen-temen.
  7. Wong kang aneng paprangan oleh pangkat gedhe.
  8. Bicara iku ora dadi apa.
  9. Aja setiyar ing dharat, marga akeh kang gething.
  10. Sira bakal nemu sabab kawanuhanira kang becik.
  11. Impen iku kadadeane ora becik.
  12. Ing dina iki caket banget saka kacilakanira.
  13. Bakale oleh ngapura nanging ora dawa umurira.
  14. Lara iku slawase tan waras kasi tumeka patine.
  15. Wetengan iku metu lanang nanging akeh cilakane.
  16. Sira mengko oleh bojo sugih.
  17. Oleh sira ningkah nanging aja rame-rame.
  18. wong iku tresna marang sira kasi mati.
  19. Ing dina iki sira kena lumaku nanging nemu kasusahan.
  20. Sesanakan iki duwe pangarah marang rayat bojomu.
  21. Barang kang ilang iku wong wadon kang jupuk.

KA
KADARIRA ANENG DUNYA DADYA MANUSA

  1. Kawanuh  kang wus sira pracaya kang nyolong barang iku.
  2. Dheweke nuli teka nanging lagi nyampurnakna prakarane.
  3. Karepira ora tetep manggon ing kene.
  4. Sira mengko bakal nemu pitulungan gedhe.
  5. Ora tinemu kauntungan sira salawase.
  6. Sira tan susah ngajap apa-apa kabeh ora tinemu.
  7. Dadi pegatan marga ana wong kang nyetani.
  8. Wong kang ana paprangan wis mati ilang sirahe.
  9. Padu iku pakolehe ora kalawan gamarang.
  10. Ing dharatan sira oleh untung tinimbang lautan.
  11. Arep kapaten sanak kang ana liyan negara.
  12. Wahanane impen iku sira arep nemu cilaka.
  13. Ing dina iki arep tumeka cilakanira, kang ngati-ati.
  14. Tan olehing ngapura nganti tumeka ing patine.
  15. Lara iku dadi waras nanging ragade akeh.
  16. Iku wetengan metu wadon nanging gawa malarat.
  17. Sira oleh bojo gawe padu rina wengi.
  18. Aja ningkah karana akeh wuruging wong kang ala.
  19. Uwong iku ora asih kalawan bener atine.
  20. Aja lumaku dina iki marga keh  cilaka ing dalan.
  21. Kawanuhanira iki mengko gawe kacilakanira.

DA
DADI LAN DEN ELING KAHANANIRA

  1. Kawanuhan iku arep ngalani marang sira.
  2. Barang kang ilang cinolong marang wong lanang sarta tan bisa bali.
  3. Dheweke yekti gelis teka.
  4. Sira tan oleh untung ing nagara kene.
  5. Sira mengko anemu kauntungan gedhe.
  6. Sira mengko nemu kauntungan nanging lawan akehing susah.
  7. Kena sira ajap nanging aja nganti katara ing wong liya.
  8. Nadyan sapira pangojoking  wong ora dadi pegate.
  9. Wong kang aneng paprangan iku kanin nanging tan dadi patine.
  10. Saka prakara iku gampang pinanjus.
  11. Ing dharatan sira luwih untung katimbalaning lautan.
  12. Sira bakal tampa rejeki ning Allah.
  13. Anane impen iku sira nemu kasenengan becik ripane.
  14. Ana sawijining wong mengko gawe cilakaning awakira.
  15. Saka pitulunganing wong dheweke luwar saka susah.
  16. Tan susah tinambanan, iku lara bisa waras.
  17. Wetengan iku metu lanang, bocah iku gawa kauntungan.
  18. Sira mengko nemu jodho lan gawa kauntungan.
  19. Aja nikah ing kene karana tan becik, wadon gawa untung.
  20. Uwong iku asihe ana kang dadi sabab.
  21. Antara rong dina telung dina mangkata dadi becik.

TA
TAN KENA SAKEHING LAKU KANG NYATA

  1. Yen sira arep lumaku aja kaliwat ing dina iki.
  2. Kawanuhan iki akeh lara atine marang sira.
  3. Barang kang ilang kalawan kaget bisa katemu.
  4. Dheweke tan nuli teka marga ana kang dienteni.
  5. Sira becik lunga saka nagara iki supaya aja cilaka.
  6. Sira mengko dadi katunan marga saka sawijining wong.
  7. Wis parek saka tekane kauntunganira.
  8. Aja sira akeh pangajap karana tan ana kang kadadiyan.
  9. Nadyan becika ing tembe dadi pegatan.
  10. Wong kang ana paprangan iku wis mati sarta ilang jisime.
  11. Bicara iki bakal kapancus kene, nanging ana susahe.
  12. Sarehna ing dharatan bakal tumeka untungira.
  13. Kedutira iku pangertine, begjanira isih adoh.
  14. Awit impenira iku sira bakal nemu susah.
  15. Ana siji wong kang tulung marang kowe jroning dina iki.
  16. Dheweke aja pegat nunuhun ing Gusti Allah.
  17. Dhukun saka liyan nagara kang bakal marasna laranira.
  18. Wetengan iku metu lanang nanging patine kamangsa macan.
  19. Sira mengko olih jodho becik.
  20. Enggal nuli ningkaha aja kangsi tlangke sasi maneh.
  21. Uwong iku banget asihe marang sira.

SA
SATEMENE SIRA MUNG KINARYA MARGA

  1. Katon asih marang sira nanging uga dhemen marang liyane.
  2. Antara sapuluh dina maneh sira kena lumaku.
  3. Mitramu iku luwih asih marang sira lan bener atine.
  4. Barang ilang iku wus adoh ora bisa katemu.
  5. Kang lunga iku nuli teka nanging mawa lelara.
  6. Aja sira gingsir panggonan iki karana wus cedhak untungmu.
  7. Nemu untung saking sadulur utawa kawanuhan.
  8. Trimanen kalawan sabar, sira antuk kauntungan.
  9. Yen kelawan sabar mengko sira bakal tampa.
  10. Prakara dhuwit mengko dadi pegatan.
  11. Wong kang lunga perang mesthi menang sarta antuk ganjaran kasenengan.
  12. Prakara iku bakal pinutusan saka liya nagara.
  13. Ing taun iki dharatan ing lautan sira nemu kauntungan.
  14. Anane  kedut iku Gusti Allah aweh kauntungan marang sira.
  15. Impen iku sira bakal nemu kasusahan gedhe.
  16. Sawijining wong kang bakal gawe cilakanira.
  17. Ora pisan-pisan sira nemu pangapura.
  18. Wong kang lara aja diarep warase sarta tumeka patine.
  19. Wetengan iku wadon nanging besuk ala lakune.
  20. Sira oleh jodho becik lakune.
  21. Becik sira ngantia telung sasi maneh nikaha.

WA
WAJIB WERUH MANUSA MARANG PANGERAN

  1. Taun iki aja sira ningkah dhingin.
  2. Dhewekne luwih asih marang sira.
  3. Aja sira lumaku sadurunge dina Akad.
  4. Mitramu iku luwih asih marang sira nanging tan katara.
  5. Kang jupuk barang wong wadon wus diwehake wong liya.
  6. Dheweke gelis teka kalawan rena atine.
  7. Sira tan duwe untung ing kene  prayoga ngalih nagara.
  8. Sajrone sasi iki sira bakal kauntungan.
  9. Sira tan duwe untung lamun tan ana wong kang nulungi.
  10. Apa kang dadi pangajapira dina iki ora oleh.
  11. Saka pangojoking sanak sadulure dadi pegatan.
  12. Wong kang perang iku lagi ginanjar.
  13. Prakara iku tan bisa putus yen tan tekan dhuwur.
  14. Ing taun iki ana kauntunganira nanging aja ing dharatan.
  15. Arep nemu susah sarta katunan, wahananing kedut iku.
  16. Impen iku sira bakal nemu susah luwih banget.
  17. Wong wadon mengko kang gawe kauntunganira.
  18. Ngantia sawatara dina mengko oleh pangapura.
  19. Wong lara kena kaarep warase nanging turuten karepe.
  20. Wetengan iku metu lanang nanging kapundhut wong gedhe.
  21. Bisa oleh jodho becik tur sugih nanging nglarake ati.

LA
LABUHANA WASKITHANE KAWRUHIRA

  1. Sira oleh wanita kang becik tingkah polahe.
  2. Sajrone  taun iki becik sira ningkaha.
  3. Sayekti banget asihe marang sira.
  4. Aja sira lumaku lamun ora dina Slasa.
  5. Katon ala, tan becik, nyatane becik atine.
  6. Barang ilang dicolong wong lanang nanging wis didol.
  7. Dheweke teka kalawan susah atine.
  8. Sajrone  nagara kene ora becik ana ira.
  9. Oleh kauntungan ananging kalawan susah.
  10. Ana kauntunganira nanging saka margane wong wadon.
  11. Apa kang dadi pangajapira ora lawas tinekan.
  12. Marga saka wong wadon sira mengko pegatan.
  13. Wong kang ana paprangan nemu kanin pupune.
  14. Prakara iku ora suwe  bakal kapanyus.
  15. Taun iki dharat padha uga, krana adoh cilakanira.
  16. Ananing kedut iku sira bakal nemu untung saka wanita.
  17. Impen iku sira bakal diulemi rame-rame.
  18. Dina iki bakal nemu cilaka saka sawijining wong.
  19. Ora antuk pangapura malah-wus takdire lunga saka nagara.
  20. Ananing ati dadi waras mulane  aja diaru-biru.
  21. Wetengan lair wadon besuk jodhone  wong gedhe.

PA
PASTI TAN LANGGENG SIRA ANA ING DUNYA

  1. Metu anak lanang, nanging bocah iku slawase mlarat bae.
  2. Bakale oleh jodho tedhak wong gedhe nanging miskin.
  3. Yen kena aja sira ningkah karana akeh sengkalane.
  4. Dheweke ora pati asih marga atine tan tetep.
  5. Kena lumaku saiki nanging aja kasi kliwat jam 10.
  6. Kawanuhanira iki ngarah barangira bae.
  7. Barang Iku ora katemu kang nyolong wong wadon.
  8. Dheweke mengko teka kalawan bungah nanging gelis lunga maneh.
  9. Enggal gingsira saka kene karana cilaka are p nekani.
  10. Ora oleh kauntungan karana sengkala saking sanakmu.
  11. Tan nemu kauntungan marga saking sedulurira.
  12. Apa kang sira ajap lawas tekane.
  13. Ora sida pegatan marga anata elingane  becik.
  14. Wong kang ana paprangan iku lara banget.
  15. Saka prakara iku kapancus ing ngisor tangan.
  16. Taun iki ing lautan untungira luwih adoh.
  17. Arep nemu cilaka, jalaran saka wong wadon.
  18. Sira iku katimbalan wong gedhe marga saka kasusahan.
  19. Dina iki akeh cilaka marga akeh wicara kang nasar.
  20. Sapisan iki kalawan pesthi oleh ngapura.
  21. Yen ora sabar lan alon lara ira tan waras.

DHA
DESTHI SADUSA YOGYA DEN ADOHANA 

  1. Lara iku waras tinulungan saka ruh-karuhe.
  2. Wetengan iku metu lanang nanging amlaratake.
  3. Oleh jodho saka liyan nagara.
  4. Yen sira ningkah marga ora ana alane.
  5. Dheweke tresna nganti kaya badane  dhewe.
  6. Kena lumaku dina iki nanging aja kasi kliwat patang dina.
  7. Mitramu iki delengen kang becik-becik sarta jaganen.
  8. Barang iku isih kependhem lemah ana sajroning omah.
  9. Ora teka, dheweke kena prakara.
  10. Katahana ing nagara kene mengko ana kang tulung.
  11. Sajroning taun iki sira bakal nemu untung,
  12. Kauntunganira isih tangeh.
  13. Pangajapira tan kena sira arep-arep.
  14. Yen andadekna tukar sayekti dadi pegate.
  15. Wong kang aprang mengko gelis teka.
  16. Prakara iki bakale dadi dawa.
  17. Taun iki yen sira ing lautan sira anemu cilaka.
  18. Arep oleh kiriman saka sadulur adoh.
  19. Sira arep diundang wong kang arep takon siji prakara.
  20. Dina iki ora ana pisan cilakanira.
  21. Amesthi oleh ngapura tulungan saka wanita.

JA
JALARANING ARJA SAKING UTAMA

  1. Wong kang ana jroning susah tan oleh apura.
  2. Wong kang lara, ngenteni tamba saking liyan sarah.
  3. 3 Wetengan iku metu wadon, bocah gawa kauntungan.
  4. Yen lanang nemu kauntungan yen wadon nemu laki miskin.
  5. Nikah iki ana kang nyegah marga prakara dhuwit.
  6. Ya bener dheweke asih, nanging ora lawas.
  7. Dina iki aja lumaku, sesuk bae lumakua.
  8. Mitramu iku tan bener atine  manawa nedya gawe  ala.
  9. Barang iku ora ilang marga lali bae.
  10. Dheweke arep bali nanging ana kang tan aweh.
  11. Becik sira lunga saka kene marga akeh kacilakan.
  12. Sajroning taun ioki sira katunan bae.
  13. Kauntunganira wus parek.
  14. Kang dadi pangajapira mengko gelis oleh.
  15. Prakara kang tan mirsa mengko dadi pegatan.
  16. Wongkang ana paprangan dupateni bature dhewe.
  17. Prakara iki ora dadi apa-apa.
  18. Taun iki kauntunganira ing lautan.
  19. Kedut iku sira bakal nemu kabar sadulurira mati.
  20. Sira are p ditimbali wong gedhe dijak sukan-suka.
  21. Dina iki akeh cilaka marga saka wanita.

YA
YEKTINE MANUSA TINITAH MULYA

  1. Dina iki akeh cilakanira marga akeh suka nira.
  2. Wong kang ana jroning susah oleh ngapura.
  3. Wong kang lara rada samar yen tan oleh tamba becik.
  4. Wetengan iku metu wadon nanging tan dawa umure.
  5. Yen lanang oleh bojo becik, yen wadon sugih.
  6. Nikah iku becik tur slamet bisa golek sandhang pangan.
  7. Dheweke tan asih sajroning rong sasi iki.
  8. Dina iki kena lumaku nanging ngantia jam 10 awan.
  9. Wong iku atine becik nanging gelis mati.
  10. Barang iku cinolong wong wadon tan bisa kat
  11. Sajroning 6 utawa 7 dina pasthi teka.
  12. Kena ana kene nanging atinira kang gedhe.
  13. Kowe katunan marga saking rabinira dhewe.
  14. Sira tan untung marga saka prasanakanira.
  15. Pangajapira mengko katekan nanging liyan nagara.
  16. Marga saking keh ing papacak mengko dadi pegate.
  17. Wong kang ana paprangan bakal nemu kahurmatan.
  18. Prakara iki kapancus ing ngisor adan.
  19. Taun iki tumiba katunanira margi dikemplang uwong.
  20. Sira nemu kabar saka paningkahe sanakira.
  21. Impenira iku tan dadi ngapa.

NYA
NYAKETANA PANGGAWE INGKANG SAMPURNA

  1. Impen iku mengko sira kaundang nglayat wong mati.
  2. Dina iki ana rong prakara cilakanira kang bisa dadi.
  3. Wong kang susah diwuwuhi susah marga bakal tumeka patine.
  4. Wong lara iku nuli waras nanging tan lawas nuli lara maneh.
  5. Wetengan iku metu lanang nanging tan dawa umure.
  6. Yen lanang oleh wong ayu yen wadon laki becik.
  7. Nikah iku tan prayoga karana salawase padu bae.
  8. Dheweke luwih akeh gething tinimbang lan asihe.
  9. Aja lumaku yen durung kaliwat pukul 1 awan.
  10. Sanakan iku katon becik awit duwe karep.
  11. Barang kang ilang kacolong wong lanang wus ora katemu.
  12. Dheweke durung duwe kaingetan arep bali maneh.
  13. Ana liyan nagara tumeka kauntunganira.
  14. Sira ika akeh katunan marga kerep lali.
  15. Sira bakal nemu kauntungan saka mitramu katulung.
  16. Bakal tinekan kang dadi pangajapira.
  17. Awit saka mitramu dadi wurunge pegatan.
  18. Wong kang ana paprangan ginanjar lara sikile.
  19. Prakara iku mengko kapancus dening wong agung.
  20. Taun iki sira becik ana ing lautan.
  21. Sira bakal kena prakara karo wong agung.

MA
MANTRI PIKALANG INGKANG UTAMA

  1. Kedut iki sira arep nemu prakara karo wong gedhe.
  2. Impen iku arep ana wong dhemen marang sira.
  3. Dina iki kareksaa kang becik cilaka bakal teka.
  4. Wong kang ana ing kasusahan mengko sadulure kang nulungi.
  5. Wong kang lara tan oleh tamba lan wus tekan janjine.
  6. Wetengan iku metu lanang sarta ana kauntungane.
  7. Yen lanang bojo becik yen wadon laki ala.
  8. Nikah iku marga saka wong tuwane dadi ora becik.
  9. Dhemen asihe marga ana sababe, waspadakna kang trang.
  10. Dina iki akeh kacilakan aja lumaku.
  11. Mitra karuh iku bener atine nanging uga antarakna.
  12. Barang iku ora ilang marga kaleru pandokoke.
  13. Banget arep mulih ananging ana kang gegodha.
  14. Ana untungira nanging sira wis laku salah dadi angel tine
  15. Mengko dadi untung nanging wis lumaku salah, dadi ora ol
  16. Untungira tan tumeka isih ginanjar malarat.
  17. Pakare p pangajapira katekan nanging isih lawas.
  18. Wis tan bali meneh marga wus duwe karep seje.
  19. Wong kang ana ing paprangan ora kurang apa-apa.
  20. Prakara iku nganti mati salah siji durung dipancus.
  21. Ing dharatan sira tan oleh kauntungan.

GA
GARAYANG SAKEHING JARWA INGKANG PRAYOGA

  1. Ananira tan duwe kauntungan ing lautan.
  2. Satrunira anduweni eling becik ananing kedut iku.
  3. Jarwane impen iku bakal tampa arta saka wong.
  4. Ing dina iki tan ana apa-apa, adoh cilakanira.
  5. Kang ana jroning kasusahan iku kadange  kang susah ing susah.
  6. Wong kang lara kaparingan mulya dening Allah.
  7. Wetengan iku metu lanang nanging tan dawa umure.
  8. Wadon oleh laki bagus lanang oleh mlarat.
  9. Ningkah iku mung ngarah arta tan murih prawan kang apik rupane.
  10. Asihe marga saka prajanjian.
  11. Dina iki kabener cilaka yen lumaku wektu asar.
  12. Mitranira iku apik atine karana ana kang di elingi.
  13. Barang iku kacolong wong wadon.
  14. Wis mulih ananging mampir ana ing dalan.
  15. Aja manggon nagara kang akeh gununge.
  16. Sira katunan marga ana kancanira kang lumaku salah.
  17. Kauntunganira wis penak saking badanira.
  18. Pangajapira ora katekan.
  19. Ora sida pegatan marga katarik ing prakara.
  20. Wong kang perang kalah bareng lan kancane.
  21. Prakara iki gelis kapancus nanging sira kalah kasusahan.

BA
BABU BAPA WAJIB SIRA BEKTENANA

  1. Saka prakara iku menang nanging akeh metuning ongkos.
  2. Sira dagang ing lautan ora duwe kauntungan.
  3. Kedut iku katekan sedyanira panggaotan.
  4. Impen iku sira arep nemu susah ati.
  5. Dina iki tau ana kacilakan lamun lan metu saka ngomah.
  6. Wong kang sajroning susah tinulungan wong saka liyan nagara.
  7. Wong kang lara yen kurang seneng atine dadi patine.
  8. Wetengan metu lanang nanging bapakne kalah.
  9. Lanang oleh jodho ala,wadon oleh becik.
  10. Aja ningkah karana tan lawas nuli pegatan.
  11. Asihe mung sedhela bae.
  12. Dina iki keh cilaka mangkata jam 9 esuk.
  13. Mitra karuh iki tan bener atine.
  14. Kaya arep mulih kaya ora nanging tunggunen bae.
  15. Barang ilang wong lanang kang jupuk wis ginawa metu nanging ketemu.
  16. Aja sira manggon negara gedhe. Nemu cilaka.
  17. Tunggunen ing dalem, jam 12 iku tumekaning untungira.
  18. Untungira iku antinen rong taun lawase.
  19. Elinga bae ing Allah apa karepe ira katekan.
  20. Dheweke sih padha sih nanging isin sida dadi pegat.
  21. Wong kang ana paprangan lan nedya mulih marga wis seneng atine.

THA
THENANGIRA WAJIB ANGAWASNA

  1. Wong kang ana paprangan wis mati ilang jisime.
  2. Prakara iki sira menang nanging kalawan ragat akeh.
  3. Ing dharatan lamun sira dagang bisa dadi untung.
  4. Kedut iku mitramu wus lali eling maneh.
  5. Impen iku sira bakal dipondhoki wong.
  6. Dina iki akeh cilakanira marga saka wong liya.
  7. Wong ing sajroning susah oleh ngapura.
  8. Wong kang lara kalawan kabuling donga nuli waras.
  9. Wetengan metu wadon nanging gawe mlarat.
  10. Yen lanang jodho becik wadon demen dolan lakine.
  11. Ningkah iku aja klakon karana kang lanang gelis mati.
  12. Mulane asih marga wus antuk marang kalakuhane.
  13. Dina iki lumakua slamet.
  14. Prasanakanira iki becik atine ing salawase.
  15. Iku barang cinolong wong lanang wis tan tinemu.
  16. Dheweke gelis mulih nanging mlarat.
  17. Sira tetep ing kene nanging aja gugu ajare wong liya.
  18. Saka ngawal tumeka akir nemu katunan.
  19. Sajrone  taun iki untungira teka.
  20. Pangajapira oleh kang sabar bae.
  21. Prakara pegatan iku tan bisa atut maneh.

NGA
NGAKIRIRA MURIHA MARGA UTAMA

  1. Pegatan iku atut nuli pegatan maneh.
  2. Wong kang prang ora sida mengko bali meneh.
  3. Prakara iku sira dadi kalah lan akeh ongkos.
  4. Ing laut sira untung sathithik yen dharatan ora oleh.
  5. Bakal diulemi rame-rame nanging kasusahan.
  6. Impen iku sira nemu susah marga saka arta.
  7. Dina iki slamet.
  8. Jroning susah nemu ngapura.
  9. Wong kang lara gelis waras.
  10. Metu anak wadon nemu kauntungan.
  11. Lanang oleh liyan bangsa becik wadon laki ala.
  12. Ningkah iku slamet nanging tan duwe anak.
  13. Asihe  marga saka arta, liyane tan ana.
  14. Dina iki aja sira lunga marga ing dalan sira cinegat begal.
  15. Kuwanuhanira tan bener atine mung prayoga ucape.
  16. Barang kang ilang gelis katemu saking tanganing bocah.
  17. Susah ing dalan mulane lawas tekane.
  18. Liya sasi sira banget arep ngalih saka ing kene.
  19. Marga saka panggewene baturmu sira katunan akeh.
  20. Taun iki sira ana kauntunganira nanging durung nyukupi.
  21. Saka pangajapira katekan jalaran saka wanita. 

 

TAMAT

—@@@—

%d bloggers like this: