alangalangkumitir

Javanese Manuscripts

SERAT PADHALANGAN RINGGIT PURWA III


SERAT PADHALANGAN
RINGGIT PURWA
III

Oleh
K.G.P.A.A. Mangkunagara VII

Alih aksara dan ringkasan oleh :
Mulyono Sastronaryatmo

Diterbikan kembali seijin PN Balai Pustaka
BP No. 443b
Hak Pengarang dilindungi Undang-Undang

KATA PENGANTAR 

Bahagialah kita, bangsa Indonesia, bahwa hampir di setiap daerah di seluruh tanah-air hingga kini masih tersimpan karya-karya sastra lama, yang pada hakekatnya adalah cagar budaya nasional kita. Kesemuanya itu merupakan tuangan pengalaman jiwa bangsa yang dapat dijadikan sumber penelitian bagi pembinaan dan pengembangan kebudayaan dan ilmu di segala bidang.

Karya sastra lama akan dapat memberikan khazanah ilmu pengetahuan yang beraneka macam ragamnya. Dan penggalian karya sastra lama, yang tersebar di daerah-daerah ini, akan menghasilkan ciri-ciri khas kebudayaan daerah, yang meliputi pula pandangan hidup serta landasan falsafah yang mulia dan tinggi nilainya. Modal semacam itu, yang tersimpan dalam karya-karya sastra daerah, akhirnya akan dapat juga menunjang kekayaan sastra Indonesia pada umumnya.

Pemeliharaan, pembinaan dan penggalian sastra daerah jelas akan besar sekali bantuannya dalam usaha kita untuk membina kebudayaan nasional pada umumnya, dan pengarahan pendidikan pada khususnya.

Saling pengertian antar daerah, yang sangat besar artinya bagi pemeliharaan kerukunan hidup antar suku dan agama, akan dapat tercipta pula, bila sastra-sastra daerah, yang termuat dalam karyakarya sastra lama itu, diterjemahkan atau diungkapkan dalam bahasa Indonesia. Dalam taraf pembangunan bangsa dewasa ini manusia-manusia Indonesia sungguh memerlukan sekali warisan rohaniah yang terkandung dalam sastra-sastra daerah tersebut. Kita yakin bahwa segala sesuatunya yang dapat tergali dari dalamnya tidak hanya akan berguna bagi daerah yang bersangkutan saja, melainkan juga akan dapat bermanfaat bagi seluruh bangsa Indonesia, bahkan lebih dari itu, ia akan dapat menjelma menjadi

sumbangan yang khas sifatnya bagi pengembangan sastra dunia. Sejalan dan seirama dengan pertimbangan tersebut di atas kami sajikan pada kesempatan ini suatu karya sastra Daerah Jawa yang berasal dari Balai Pustaka, dengan harapan semoga dapat menjadi pengisi dan pelengkap dalam usaha menciptakan minat baca dan apresiasi masyarakat kita terhadap karya sastra, yang masih dirasa sangat terbatas.

Jakarta, 1978

Proyek Penerbitan
Buku Bacaan dan Sastra
Indonesia dan Daerah

 

RINGKASAN
JAMAN PANDHAWA

 

  1. SANG HYANG WISNU MEMPERSUNTING DEWI PRATIWI 

Dewi Pratiwi, puteri sang hyang Wikrama dari kahyangan Ekapratala, bersedia dipersunting oleh sang hyang Wisnu, jika dapat menyerahkan bunga Jayakusuma, demikianlah sang hyang Narada melaporkannya ke hadapan sang hyang Pramesthigurudi kahyangan Jonggringsalaka.

Untuk mendapatkan bunga Jayakusuma, sang hyang Wisnu dipaksa untuk mengawini terlebih dahulu Endhang Sumarsi, puteri bagawan Kesawasidi dari wukir Argajati.

Prabu Wisnudewa, dari kerajaan Garbapitu, merasa akan dapat mempersunting Dewi Pratiwi, setelah merasa memiliki cangkok bunga Jayakusuma yang terdapat pada leher banteng-nya, demikianlah sang prabu segera berangkat dengan wadya-bala ke Ekapratala untuk melamar Dewi Pratiwi.

Dengan disaksikan para dewa, sang hyang Wisnu yang datang terlebih dahulu dengan menyerahkan bunga Jayakusuma, dipertemukan dengan Dewi Pratiwi di kahyangan Ekapratala.

Tak lama kemudian, prabu Wisnudewa datang dengan menyerahkan cangkok bunga Jayakusuma yang terdapat pada leher bantengnya. Sang hyang Wisnu yang mengetahuinya, segera mengambil cangkok bunga Jayakusuma pada leher banteng, dibunuhlah banteng oleh sang hyang Wisnu. Terjadilah peperangan antara sang hyang Wisnu dan prabu Wisnudewa, matilah sang prabu oleh sang hyang Wisnu, setelah kematiannya, badan banteng dan prabu Wisnudewa menyatukan dengan sang hyang Wisnu.

  1. BREMANA BREMANI

Atas sabda sang hyang Girinata, sang hyang Brama diperintahkan hendaknya mengawinkan puteranya dengan puteri sang hyang Wisnu dari kahyangan Untarasagara, yang bernama Dewi Sriunon.

Setelah mencari sang hyang Wisnu, sang hyang Brama bertemu dengan puteranya, yang sulung bernama Bambang Bremana menolak untuk dijodohkan dengan Dewi Sriunon, kepada adiknya Bambang Bremani diseyogyakan dapat dipertemukan saja dengan Dewi Sriunon, terlaksanalah Dewi Sriunon dipersunting oleh Bambang Bremani.

Bambang Bremana dikerajaannya Gilingwesi, menerima adiknya Bambang Bremani dan isterinya Dewi Sriunon, jatuh cintalah Bambang Bremana kepada Dewi Sriunon.

Selang beberapa lama, Dewi Sriunon dengan membawa puteranya dan Bambang Bremani menghadap ayahandanya di kahyangan Untarasagara, kepada puteranya oleh sang hyang Wisnu diberi nama Bambang Parikenan. Akhirnya Bambang Bremani menyerahkan putera dan isterinya Dewi Sriunon kepada ayahandanya sang hyang Wisnu, dengan permohonan kepada kakaknya Bambang Bremana hendaknya Dewi Sriunon dapat dijodohkan. Setelah Bambang Bremana menghadap, dikawinkanlah dengan Dewi Sriunon.

Prabu Kalayuwana yang sejak semula menaruh hati pada Dewi Sriunon merasa tersinggung lamarannya ditolak, dengan mengerahkan segenap prajurit yaksa berangkatlah ke kahyangan Untarasagara untuk berperang. Prabu Kalayuwana mati oleh Bambang Bremana, demikian pula semua prajurit dari kerajaan Mendhanggili dapat ditumpas.

  1. RESI MANUMAYASA MEMPERSUNTING DEWI RETNAWATI

Sang hyang Girinata, berkehendak akan menjodohkan bidadari Dewi Retnawati dan resi Manumayasa, Dewi Kanastri dan janggan Semarasanta. Menyadari bahwasanya resi Manumayasa belum berkeinginan akan kawin, kedua bidadari diganti perwujudannya dengan bentuk dua ekor harimau, kepada sang hyang Narada diserahkanlah agar segala kehendak sang hyang Girinata terlaksana.

Di tengah hutan belantara, resi Manumayasa dan janggan Semarasanta, yang tengah berkelana, bertemu dengan kedua harimau jadian tersebut, akhirnya harimau dapat dibunuh, sehilangnya kedua harimau, tampak kedua didadari tersebut, resi Manumayasa mengejarnya. Sang hyang Narada yang merasa berhasil dalam mempertemukan resi Manumayasa dan Dewi Retnawati, janggan Semarasanta dan Dewi Kanastri, segera mendekati sang resi, seraya berkata, “hai, resi Manumayasa, dan kau janggan Semarasanta, sudah takdir dewa, bahwasanya bidadari-bidadari, Dewi Retnawati menjadi jodoh Manumayasa, dan Dewi Kanastri dengan Semarasanta, terimalah”.

Pada suatu hari Dewi Retnawati mengajak suaminya resi Manumayasa, untuk berkelana mengelilingi wukir Retawa, di tengah-tengah hutan belantara, sang dewi melihat buah Sumarwana, berkeinginan sekali untuk memakannya, kepada sang resi dimintanya memetik.

Syahdan, buah Sumarwana itu milik gandarwa Satrutapa, sesuai dengan sabda dewa yang diterimanya, “hai, Satrutapa, jika isterimu menginginkan mempunyai anak, makanlah buah Sumarwana itu”, maka ditungguilah buah Sumarwana itu sampai saat dapat dipetik dan dimakan.

Mengetahui bahwasanya buah Sumarwana telah hilang, berkatalah gandarwa Satrutapa kepada resi Manumayasa, “hai, sang resi, jika kelak isterimu melahirkan anak lelaki, namailah Sakutrem”,hilanglah gandarwa Satrutapa, bersatu jiwa dengan Dewi Retnawati.

Datanglah kemudian prabu Karumba, raja buta dari Pringgadani dengan segenap prajuritnya, untuk menggempur wukir Saptaarga, dan menawan resi Manumayasa, sesuai dengan perintah pamandanya raja Basumurti, dari Wirata, yang diperkirakan akan memberontak terhadap kerajaan pamandanya. Prabu Karumba mati oleh resi Manumayasa, demikian pula semua prajuritnya tewas. 

  1. BAMBANG S KALINGGA (SAKUTREM) 

Kahyangan Jonggringsalaka, terancam ketentramannya oleh prabu Kalimantara, raja dari nagara Nusantara yang menginginkan mempersunting Dewi Supraba. Adik prabu Kalimantara, yang bernama raden Hardhadhedhali, dan patih nagara yang bernama Sarotama, dengan para prajuritnya mengepung kahyangan sang hyang Girinata.

Bambang Kalingga (Sakutrem), putera resi Manumayasa dari wukir Saptaarga ditunjuk oleh sang hyang Guru, untuk menanggulangi musuh, akan tetapi Bambang Kalingga kalah dalam peperangan. Disertai oleh ayahnya, berangkatlah Bambang Kalingga kembali ke kahyangan Jonggringsalaka. Prabu Kalimantara dapat dibunuh oleh resi Manumayasa, berubah wujudnya menjadi pustaka Kalimasada, raden Hardhadhedhali tewas berubah wujudnya menjadi panah, demikian pula patih Sarotama, mati juga berubah menjadi panah. Syahdan, ada seekor garudha, namanya Banarata, bertapa di awan menginginkan untuk menjadi raja segala burung, ditemuilah oleh sang hyang Narada, dan dimintalah bantuannya untuk memerangi musuh kahyangan, yalah prabu Kalimantara.

Dikarenakan salah paham, resi Manumayasa yang telah membunuh prabu Kalimantara. diserang dari angkasa, akhirnya garudha Banarata ditewaskan juga, berubah ujudnya menjadi payung Tunggulnaga.

Oleh sang hyang Girinata, Bambang Kalingga diberi panah Hardhadhedhali dan Sarotama, kelak dikemudian hari, pada keturunannya juga akan diberikan pusaka-pusaka lagi.

  1. JAMURDIPA (SAKUTREM MEMPERSUNTING DEWI NILAWATI) 

Jamurdipa. 

Syahdan raja Wiratha, prabu Basumurti berkehendak berburu binatang dan burung, terlaksanalah sudah banyak hatsil perburuhannya, atas kehendak raja, diperintahkanlah kepada patih Wiratha, Jatidhendha, untuk mengadakan sedekah uang kepada orangorang di pedesaan.

Seorang cantrik, bernama Janaloka sedang tekun menunggu pohon (kayu) Sriputa, tak tergoyahlah hatinya untuk mengumpulkan uang sedekah raja yang berserakan di sekitarnya. Raja Basumurti segera mengutus adiknya, yang bernama raden arya Basukesthi, untuk menanyainya, berkatalah, “Hai, Janaloka, apa sebab kamu tak sudi mengumpulkan uang sedekah raja?”. Dijawabnya, “Raden, takut hamba akan singit dan wingit”, raden arya Basukesthi melanjutkan pertanyaannya, “Apa, yang kaumaksud dengan kata-katamu itu?”. Janaloka menerangkannya, “Wahai, raden arya Basukesthi, hamba takut akan singitnya kayu Sriputa dan wingitnya sang raja”, segera raden arya Basukesthi menebang kayu Sriputa, Janaloka segera berucap, “Ketahuilah raden, setelah tertebang kayu Sriputa, wajah raden kelihatan sangat bercahaya, sesungguhnyalah singit dan wingit sudah ada pada raden arya Basukesthi”. Kepada Janaloka, dipesan, “Kelak, jika aku menjadi raja, Janaloka, datanglah menghadap kepadaku”.

Segera setelah prabu Basumurti (Basurata) kembali ke istana, mangkatlah beliau, adik raja, raden arya Basukesthi dinobatkan sebagai penggantinya, dengan sebutan prabu Basukesthi raja Wiratha. Janaloka memenuhi pesan raden arya Basukesthi, oleh sang prabu Wiratha, diangkatlah sebagai warga istana, dengan gelar arya Janaloka.

Kepada segenap empu dan pandai besi istana Wiratha, sang raja menginginkan dibuatnya macam ragam alat-alat bunyi-bunyian kelengkapan perang, yaitu: gurnang, thong-thong grit, gubar, puk-sur, teteg, gendhang, bendhe, gong dan beri. Patih Jatidhendhaberdatang sembah, melaporkan muksanya resi Brahmana Kestu, pula diceritakannya tampak sekarang ditempat kediaman Brahmakestu suatu keelokan, adanya Jamurdipa yang tumbuh. Sang raja segera berkenan menyaksikannya, Jamurdipa yang bercahaya bagaikan meraih angkasa segera hilang, tampak oleh sang raja cahaya pula yang terang benderang yang beralih diwajah sripaduka Basukesthi.

Raja Wiratha, Basukesthi merasa dirinya sangat waskitha dalam segala hai lagipula sangat arif dan bijaksana.

Sakutrem mempersunting Dewi Nilawati. 

Di pertapaan Saptaarga, dengan dihadap oleh puthut Supalawa (kera putih), sang resi Manumayasa menerima kehadiran puteranya, Bambang Sakutrem. Berkatalah Sakutrem, “Ayah, sepeninggal ananda dari wukir Retawu, dihutan telah ananda bunuh sepasang raksasa, bernama Haswana dan Haswati, di perjalanan dari hutan Silu, menuju wukir Retawu ananda bertemu dengan seekor naga, kami tewaskan pula. Hilangnya naga, tampak oleh ananda adanya bidadari, ananda kejar, tetapi ananda akirnya tak dapat menemukan kemana perginya”. Sang resi Manumayasa

merasa bahwa puteranya Bambang Sakutrem telah jatuh cinta pada wanita, tak lama hyang Narada berkenan berdatang dipertapaan Saptaarga, berkatalah, “Hai, resi Manumayasa, ketahuilah olehmu, sesungguhnya wanita yang tampak oleh anakmu itu, adalah bidadari, yang berasal dari naga yang dibunuh oleh Sakutrem, carilah wanita itu, di wukir Pujangkara, dia bernama Dewi Nilawati, sabda dewa. Nilawati akan menjadi jodohmu, Sakutrem cucuku, sebaiknyalah kau pergi kegunung Pujangkara, Nilawati mengadakan sayembara, kepada siapa yang dapat

meneguk air di kendi Pratola yang dihadapnya, dialah yang akan menjadi suaminya”, Berangkatlah Bambang Sakutrem ke wukir Pujangkara, untuk memasuki sayembara yang diadakan Dewi Nilawati.

Syahdan, bagawan Dwapara bersama-sama kemenakannya prabu Drumanasa, raja Madhendha, juga berangkat ke gunung Pujangkara, untuk memasuki sayembara.

Bagawan Dwapara memulai meneguk isi kendhi Pratola, mundurlah sang begawan dikarenakan isi kendhi Pratola dirasa sangat panasnya, bergantian dengan prabu Drumanasa, juga tak tahan akan isi kendhi Pratola.

Bambang Sakutrem segera meneguk isi kendhi Pratola, dihabiskannya seluruh isi kendhi tersebut, Dewi Nilawati menyerahkan diri kepada Bambang Sakutrem sebagai pemenang sayembara, diajaklah sang dewi ke pertapaan Saptaarga. Sekembalinya dari gunung Pujangkara, sang begawan merasa malu hatinya, dan berketetapan akan merebut Dewi Nilawati ke pertapaan Saptaarga. Berangkatlah sang begawan diiring oleh sang prabu Drumanasa dan segenap prajuritnya dari Badhendha. Perang terjadi di gunung Retawu, puthut Supalawa dan Bambang Sakutrem dapat menewaskan musuh-musuhnya. 

———————————————————– 

PADHALANGAN RINGGIT PURWA III  

JAMANIPUN PANDHAWA

 

  1. LAMPAHAN SANG HYANG WISNU KRAMA
  1. Jejer ing Jonggringsalaka, sang hyang Pramesthiguru, miyos siniwi ing para jawata, mungging bale Marcukundha, ingkang mungging ngarsa: sang hyang Narada, sang hyang Bayu, sang hyang Brama, sang hyang Patuk, sang hyang Temboro, sang hyang Panyarikan, ingkang rinembag, sang hyang Pramesthiguru dhawuh dhateng resi Narada kinen hanyengker yoganira bathara Ekawarna, kekasih Dewi Pratiwi, ing kahyangan Ekapratala. Sesampunira dhinawuhan, resi Narada mijil ing njawi, sang hyang Pramesthiguru jengkar.
  1. Madeg ing gupit Natyamalaya, dayinta Dewi Uma, pinarak ingadhep para waranggana, kasaru rawuhira sang hyang Girinata, ingkang kinarya imbal wacana, denira miyos amancaniti. Tan dangu lajeng manjing sanggar Asmaratantra, melingaken kadang catur warna, awarni ditya : 1 Kalakresna, 2 Kalaseta, 3 Kalarekta, 4 Kalapita, lajeng dhinawuhan angrencana sang hyang Wisnu.
  1. Madeg ing pangurakan sang hyang Narada, sang hyang Brama, sang hyang Patuk, sang hyang Temboro, sang hyang Panyarikan, sang hyang Bayu. Rembag anggenira arsa tindak ing kahyangan Ekapratala. Sasampuning siyaga bidhalan kanthi prajurit dorandara.
  1. Madeg ing njawi kahyangan Ekacakra, dutanira prabu Wisnudewa, ing Garbapitu, patih Baudhendha, tuwin para punggawa ditya, arsa ngrabasertg kahyangan, kasaru dhatenging para jawata, prang. Wadya ing Garbapitu kasor, larud sami angungsi papan.
  1. Madeg ing Untarasagara, sang hyang Wisnu. Dhatengira kyai lurah Semar, Nalagareng, Petruk, sang hyang Wisnu lajeng aleledhang parepat tiga andherek.
  1. Madeg samadyaning wana, para danawa dutanira sang hyang Girinata: Kalakresna, Kalaseta, Kalarekta, Kalapita. Rembag, arsa ngrencana sang hyang Wisnu, lajeng bidhal, kepapag sang hyang Wisnu, arsa narajang purun, dadya prang, ditya sirna sadaya, sang hyang Wisnu lajeng lampahira.
  1. Madeg ing kahyangan Ekapratala, sang hyang Ekawarna, dhatengira para jawata dinuta sang hyang Pramesthiguru, mundhut Dewi Pratiwi. Sang hyang Ekawarna matur, bilih kang putra Dewi Pratiwi njuwun sekar Jayakusuma, para jawata sami wangsul.
  1. Madeg ing wukir Argajati, bagawan Kesawasidi, punika kacariyos gadhah sekar Jayakusuma. Sang bagawan nuju mungging pacrabakan, ginubel ing sutanira estri Endhang Sumarsi, matur ingkang rama, bilih ing dalu supena dhaup kaliyan sang hyang Wisnu. Sang pandhita lajeng sagah amadosi, pangkat, lampahira dumugi ing wana, kapanggih sang hyang Wisnu kaliyan parepatira titiga. Sasampuning sinambrama,” sang bagawan nandukaken sedyanipun, sang hyang Wisnu tan arsa, sulayaning rembag, dadya prang, sang hyang Wisnu kenging cinepeng, binekta dhateng pratapanira, parepat tiga anut ing lampah. Sang Hyang Sigeg ing pratapa Argajati, dhatengira bagawan Kesawasidi, kocapa ing pagedhongan, kang putra Endhang Sumarsi kadhaupaken kaliyan bathara Wisnu. Sampun watawis dangunira sang hyang Wisnu waleh kang dadya sedya, arsa dhumateng ing kahyangan Ekapratala, nglamar Dewi Pratiwi, mangka kedah mawi sarana panyuwunira sekar Jayakusuma. Sang hyang Wisnu pamit rinilan, binektanan sekar Jayakusuma, kang garwa tinilar.
  1. Madeg ing Garbapitu, sang prabu Wisnudewa, tuwin ingkang rayi raden Wisnungkara. Srinata kagungan kalangenan bantheng langking saged tata jalma, punika gadhah cangkoking sekar Jayakusuma, mungging gulunira, srinata angajeng-ajeng dhatenge caraka. Tan dangu patih Baudhendha prapta, matur sasolahing dinuta. Sang nata panudyeng karsa, rumaos sampun andarbeni ingkang dadya papanggilira Dewi Pratiwi, saksana lajeng bidhal sawadyaning dhateng ing kahyangan Ekapratala.
  1. Madeg ing Jonggringsalaka, sang hyang Girinata, dhatengira sang hyang Narada tuwin para jawata, matur sasolahing dinuta. Sang hyang Girinata sampun uninga lalampahanira, lajeng dhawuh, sang hyang Narada kinen wangsul dhateng kahyangan Ekapratala, sang hyang Wisnu kinen handhaupaken kaliyan Dewi Pratiwi. Sang hyang Narada pangkat kanthi para jawata.
  1. Madeg ing Ekapratala, sang hyang Ekawarna, rawuhira sang hyang Narada tuwin para jawata sadaya, handhawuhaken timbalanira sang hyang Pramesthiguru, bilih Dewi Pratiwi kinen handhaupaken kaliyan sang hyang Wisnu. Aturira sang bagawan sandika. Tan dangu dhatengira sang hyang Wisnu ngaturaken sekar Jayakusuma sarta nyuwun kadhaupna kaliyan Dewi Pratiwi, lajeng kadhaupaken, panganten manjing kahyangan, kasaru dhatengira prabu Wisnudewa, nyuwun Dewi Pratiwi, ngaturaken cangkoking Jayakusuma, mungging telaking bantheng, tinampen. Bantheng pinurih manjing kadhaton, sang hyang Wisnu priksa, bantheng cinandhak rinogoh telakira, kenging cangkoking Jaya Bantheng pejah, kuwanda sirna, manjing dhateng sang hyang Wisnu. Hyang Wisnu lajeng medal ing njawi, prang kaliyan prabu Wisnudewa. Prabu Wisnudewa kenging jinemparing pejah, kuwanda manjing sang hyang Wisnu, raden Wisnungkara sawadya sami soroh amuk, pinapag sang hyang Bayu, sirna sadaya, lajeng kalempakan para jawata, bojana andrawina. Tanceb kayon.
  1. LAMPAHAN BREMANA BREMANI
  1. Jejer sang hyang Girinata (sang hyang Guru), miyos ingadhep para jawata, kang mungging ngarsa resi Narada, bathara Brama, bathara Bayu, sang hyang Panyarikan, ginem, sang hyang Guru dhawuh dhateng sang hyang Brama, ngandikakaken bebesanan kaliyan kang rayi sang hyang Wisnu, sang hyang Brama matur sandika, lajeng pamit dhateng Untarasagara, sang hyang Narada ngetutaken.
  1. Madeg ing kadhaton, Dewi Uma ingadhep para widadari. Rawuhipun sang hyang Girinata, ngandika kawontenanira amancaniti, lajeng bibaran.
  1. Madeg paseban bale Marcukundha, sang hyang Brama, sang hyang Narada, sang hyang Patuk, sang hyang Temboro, rembag arsa ngiring lampahira sang hyang Brama dhateng Untarasagara. Lajeng bidhal.
  1. Madeg prabu Kalayuwana, nata danawa Mendhanggili, miyos tinangkil wadya ditya, kang munggeng agarsa patih Kalapulastha, punggawa Kalapalasiya. Sang nata gandrung kasmaran putri Untarasagara, putranira sang hyang Wisnu, kakasih Dewi Srihadi. Kalapalasiya kautus pangkat, nglamar dhateng Untarasagara, ambekta wadya ditya. Lajeng bidhal.
  1. Madeg ing Untarasagara, sang hyang Wisnu kaadhep Bambang Srigati. Rawuhira kang raka bathara Brama, tuwin sang hyang Narada, ngemban timbulanira sang hyang Guru, kadhawuhaken sang hyang Wisnu, bilih kadhawuhan bebesanan kaliyan ingkang raka sang hyang Brama. Aturira sang hyang Wisnu, ingkang putra kadhawuhan nimbali. Sang hyang Brama mangkat nimbali ingkang putra. Kasaru gegering njawi, wonten danawa dhateng ambekta gelar sapapan, Bambang Srigati kinen mapag gya medal, dumugi ing njawi prang, Srigati barisira kalindhih, lajeng mangsuli manis, supados mundura danawa wau. Danawa kandheg masanggrahan, Bambang Srigati wangsul sowan kang rama.
  1. Madeg ing wukir Saptaarga, Bambang Bremani kaliyan parepat tiga: lurah Semar, Nalagareng, Petruk, rembag, arsa sowan kang reka Bambang Bremana, kang dhedhepok ing Gilingwesi. Lajeng pangkat kadherekaken parepat tiga. Lampahira dumugi ing margi kapapag wadya ditya ing Mendhanggili, ingkang sami anjagi ing kahyangan Untarasagara. Sulayaning rembag dados prang. Punggawa ditya kathah ingkang pejah. Kang alit lumajeng sar-saran, Bambang Bremani lajeng lampahipun.
  1. Madeg ing nagari Gilingwesi, Bambang Bremana. Rawuhipun ingkang rama sang hyang Brama. Bambang Bremana tinari rabi, angsal nak-ndherekipun piyambak, putranipun sang L/ang Wisnu, nama Dewi Sriunon, Bambang Bremana matur lenggana, dereng arsa nglampahi palakrama, aluwung ingkang rayi kemawon ketantuna. Dereng dangu dhatengipun Bambang Bremani, lajeng ngaras padane ingkang rama sang hyang Brama. Ing ngriku tinari, purun, Bambang Bremani lajeng kabekta ingkang rama sang hyang Brama dhateng Untarasagara.
  1. Madeg ing Untarasagara, hyang Wisnu lenggah kaliyan sang hyang Narada. Boten dangu praptanira Bambang Srigati, atur priksa tiwasing karya, boten saged mangsulaken danawa kang badhe minggah kahyangan, Bambang Srigati sawadyanira kasor, mila lajeng tutup seketheng lajeng oncat, boten dangu praptanira sang hyang Brama tuwin putra Bambang Bremani. Anyariyosaken Bambang Bremana lenggana, Bambang Bremani ingkang kasuwunaken jodho Dewi Sriunon, hyang Wisnu inggih sampun amarengaken sarta lajeng mratelakaken karibedanipun, Dewi Sriunon dipun lamar raja ditya ing Mendhanggili, prabu Pulagra, dutanipun taksih kandhag ngentosi wangsulan sajawining kahyangan Untarasagara, Mila sageda Bambang Bremani ngunduraken, Bremani matur sandika, lajeng bidhal.
  1. Barisanipun danawa saking Mendhanggili, patih ditya nama Pulastha, punggawa Kalasrana, Palasiya, rembagan ngentosi wangsulanira sang hyang Wisnu. Kasaru praptanira ditya alit kang sami kaplajeng, atur pariksa barisan ditya kang iring kilen dhadhal katrajang dewa lumampah nama Bambang Bremani. Para danawa sami krura nedya minggah ing kahyangan, ing ngriku sasampuning samekta lajeng ngetog baris, dumugi njawining kukuwu katingal Bambang Bremani. Lajeng tempuh prang. Para wadya diyu sami sirna dening Bambang Bremani, ditya kang alit-alit lumajeng mantuk.
  1. Madeg sang hyang Wisnu, sang hyang Brama, sang hyang Narada, dhatengipun Bambang Bremani. Lajeng atur priksa sirnaning mengsah, sadaya sami pejah. Bambang Bremani lajeng kadhaupaken kaliyan Sriunon, sang hyang Brama lajeng pamit kondur, ingkang putra panganten kabekta.
  1. Madeg ing Gilingwesi, Bambang Bremana. Rawuhira sang hyang Brama tuwin kang rayi Bremani lawan garwa Dewi Sriunon, Bambang Bremana kaparingan pariksa, tuwin Bremani nyuwun ngabekti lawan kang garwa, raden Bremana katingal melik dhateng garwanipun kang rayi. mila boten dangu kang rayi lajeng pamit kondur. Sapengkeripun kang rayi, Bambang Bremana kasmaran maring garwanipun kang rayi.
  1. Madeg ing Mendhanggili, prabu Kalayuwana, punggawa Kaladaru, dhatengipun danawa alit, kang kaplajeng saking ngepung kahyangan, angaturi pariksa, bilih patih Kalapulagra saprikancanipunkang sami pacak baris, sirna dening srayaning hyang Wisnu, nama Bambang Bremani. Sang prabu Kalayuwana langkung duka yayah sinipi, lajeng angundhangi para wadya danawa. Sampuning siyaga, lajeng bidhal nedya anggepuk dhateng kahyangan Untarasagara.
  1. Madeg ing kahyangan Untarasagara. Sang hyang Wisnu, sang hyang Brama. Ginem, wus sawatara dangu, kang putra Bambang Bremani tuwin kang garwa boten sowan, kawarti sampun nggarbini. Boten dangu dhatengipun Bambang Bremani lawan kang garwa Dewi Sriunon, sampun ngemban putra, kasuwunaken nama, lajeng kaparingan nama dening sang hyang Wisnu, jabang-bayi kanamakaken Bambang Parikenan, Bambang Bremani lajeng ngaturaken kang garwa, sampun boten saged momong, nanging nyuwun supados kadhaupaken angsal kang raka Bambang Bremana kemawon, Bambang Bremani pamit mantuk, garwa putra tinilar. Sang hyang Wisnu matur kang raka sang hyang Brama, supados nimbali raden Bremana. Sang hyang Brama gya pangkat.
  1. Madeg Bambang Bremana lawan embanipun nama Bramaneka. Rawuhipun kang rama sang hyang Brama lajeng adhadhawuh, Bremana katimbalan kang paman sang hyang Wisnu. Lajeng pangkat, dumugi ing ngarsanira sang hyang Wisnu, tinantun krama angsal tilasipun kang rayi, Bambang Bremana nampeni. Kasaru gegering njawi, mengsah saking Mendhanggili. Para jawata sami medal ing njawi. Bambang Bremana prang lawan ditya raja Kalayuwana. Ditya raja Kalayuwana kasor, pejah jinemparing, wadyanira sami bibar.
  1. Madeg sang hyang Wisnu, sang hyang Brama, dhatengipun kang mentas ungguling yuda. Kalempakan bojana andrawina Tanceb kayon.
  1. LAMPAHAN MANUMAYASA RABI
  1. Jejer prabu Basumurti, nata ing Wiratha, anuju miyos aneng sitinggil binatarata, ingkang mungging ngarsa, ingkang rayi raden Basukesthi, patih Jatikandha, para punggawa, arya Panurta, arya Walakas, ginem, srinata dahat kaweken driya mireng pawartos, bilih ingkang putra pulunan nama resi Manumayasa ing wukir Saptaarga araraton, kathah para nata ing mancapraja ingkang sami puruhita. Kawarti badhe handaga karaton Wiratha, nedya madeg ratu piyambak, raden Basukesthi langkung anggenira anduparakaken wartos makaten wau, anaging srinata adreng angyektosaken, lajeng dhawuh dhateng patih Jatikandha, kadhawuhan handuta punggawa salah satunggal dhateng prabu Karumba, nata yaksa ing Pringgadani, supados animbalana resi Manumayasa. Lajeng bibaran.
  1. Madeg ing kadhaton, prameswari nata Dewi Jatiswara, pinarak ing prabasuyasa pananggap ler wetan, angentosi kondurira srinata, ngiras ningali ajaring badhaya srimpi, boten antawis dangu srinata kondur ngadhaton, prameswari amethukaken, lajeng lenggah satata. Ginem, kawontenanipun ing pancaniti, lajeng tindak ing pambojanan.
  1. Madeg paseban njawi, raden Basukesthi, patih Jatikandha, arya Panurta, arya Walakas, rembag, siyaga dadamel, arya Panurta kapatah lumampah dhateng Pringgadani, andhawuhaken karsaning srinata wau dhumateng prabu Karumba ing Pringgadani, sasampuning samekta, lajeng bidhal sapanekarira. Kapalan.
  1. Madeg prabu Karumba, nata raseksa ing Pringgadani, den adhep ing patih Kalamangkara, punggawa Kalapulawa, Kalapudhendha. Dereng dangu dhatengipun caraka ing Wiratha arya Panurta. Sasampuning bege-binage, lajeng andhawuhaken timbalanira srinata prabu Basumurti, bilih prabu Karumba dinuta animbali resi Manumayasa, ing Saptaarga, ingkang kawarti araraton, menawi boten purun sowan dhateng Wiratha, kerid lampahira prabu Karumba, kadhawuhan masesa. Aturipun prabu Karumba sandika. Arya Panurta lajeng pamit wangsul dhateng Wiratha, prabu Karumba adhawuh dhateng patih kalamangkara, ambidhalaken punggawa kakalih, kautus dhateng. Saptaarga, andhawuhaken dhawuhing nata Wiratha. Lajeng bibaran. 
  1. Madeg paseban njawi, patih Kalamangkara, punggawa: Kalapulawa, Kalapudhendha. Rembag, siyaga dadameling ayuda badhe dhateng wukir Saptaarga. Sasampuning samapta lajeng bidhal. Togog, Sarahita dados pangajenging lampah.
  1. Madeg resi Manumayasa, miyos ing pacrabakan, den adhep janggan Semarasanta (Semar), puthut Supalawa, Nalagareng, Petruk, para cantrik janggan andher sami sumiwi. Ginem, sang resi langkung sungkawa, dene kawartosaken andaga karaton Wiratha, ambalela ing ratu. Mangka boten pisanpisan yen anyipta rnakaten, dereng dangu dhatengira cantrik, atur pariksa wonten dadamel ageng dhateng, katingal barising danawa arsa minggah ing pratapan, rame mireng swaraning tangisipun tiyang padhusunan ingkang karisak, puthut Supalawa lawan janggan Semarasanta sigra tumurun, anglempakaken puthut janggan manguyu cantrik, sami anjagi pratapan. Sareng dumugi ing njawi kasompok inggahing wadya danawa, lajeng tempuk prang. Tanpa wara-wara, puthut Supalawa lawan janggan Semarasanta ngamuk punggung manengah, kathah danawa ingkang kanin, lajeng bibar lumajeng sar-saran, puthut Supalawa, jangga Semarasanta sakancanipun wangsul ngarsaning sang pandhita Manumayasa. Sadaya wau sampun handugi, punika utusanipun sang nata ing Wiratha, lajeng bibaran, amung sang resi Manumayasa nedya angenggarenggar panggalih, mijil saking padhepokan, sadaya boten kalilan andherek, amung janggan Semaransanta, Nalagareng, Petruk, lampahira kadya binuncang ing dewa. Dumugi wana tarataban, kapapag wadya ditya saking Pringgadani, ingkang kaplajeng saking pratapan, para wadya ditya angraos angsal kaladasa, katingal bingah, resi Manumayasa lumampah pribadi, lajeng sami marepeki, sulayaning rembag dadya prang. Punggawa ditya sami pejah jinemparing. Danawa ingkang alit-alit sami ngungsi gesang. Resi Manumayasa lajeng kondur, parepat tiga tan kantun, sadumugining pacrabakan lajeng amesu semedi aneng pamelengan.
  1. Madeg ing kahyangan Jonggringsalaka, sang hyang Girinata, nuju miyos aneng bale Martyukundha. Ingkang sumiwi: sang hyang Narada, sang hyang Brama, sang hyang Bayu. Sang hyang Girinata andhawuhaken, sang hyang Narada kinen tumurun dhateng arcapadha, amaringi jodho dhatang resi Manumayasa, tuwin janggan Semarasanta, widadari kakalih, 1 nama Dewi Retnawati, punika dadya jodhonipun resi Manumayasa, 2 Dewi Kanastri dadya jodhonipun janggan Semarasanta. Ananging sarehning resi Manumayasa dahat lenggana, dados kedah kadhawuhan mawi warana. Widadari kakalih tinimbalan, lajeng binusanan dening sang hyang Narada sami warni sirna, lajeng kabekta dhateng arcapada dening hyang Narada. Sang hyang Girinata lajeng jengkar.
  1. Madeg ing wukir Retawu, resi Manumayasa kakaring dhateng petalunan, ingkang umiring amung janggan Semarasanta. Janggan Semaransanta rumiyin nuweni tetanemanipun ingkang saweg nedheng. Ing ngriku kasarengan rawuhipun sang hyang Narada, angeculaken sima kakalih. Janggan Semarasanta kapapag sima kakalih, badanipun gemeter bokong ngoplok, lajeng wangsul malajeng. Sima kakalih sami ambujeng. Sareng dumugi ngarsanipun resi Manumayasa, janggan Semarasanta ulat pucat sarwi karenggosan, karinget gemrobyos, matur nyuwun tulung kabujeng ing sima. Resi Manumayasa lajeng mapag sima kakalih wau. Sareng kapanggih sima lajeng dipun jamparing pejah sadaya, kuwandanipun sirna. Boten watawis dangu, wonten pawestri kakalih, katingal lumampah wonten ngajengipun resi Manumayasa. Ing ngriku sang resi langkung kasmaran, lajeng ngetutaken sapurugipun, sang resi kaget rawuhipun sang hyang Narada, lajeng sami lenggah satata. Puwestri kakalih sami lenggah wonten wurinipun sang hyang Narada, inggih punika Dewi Retnawati kaliyan Dewi Kanastri. Sang hyang Narada andhawuhaken dhawuhipun sang hyang Girinata, Dewi Retnawati sampun pinasthi kapareng dados jodhonipun resi Manumayasa, Dewi Kanastri dados jodhonipun janggan Semaransanta. Lajeng kadhawuhan ambekta mantuk, sang hyang Narada kondur makahyangan.
  1. Madeg prabu Karumba, nata danawa ing Pringgadani, miyos siniwi, ingadhep patih Kalamangkara, para punggawa sami mungging ngarsa. Ginem, sang nata angarsa-arsa para punggawa ingkang dinuta angrabaseng wukir Saptaarga. Boten dangu kesaru dhatengipun kyai Togog, Sarahita, atur pariksa bilih para punggawa ingkang sami dinuta dhateng Saptaarga sami pejah dening resi Manumayasa. Srinata langkung duka lajeng dhawuh dhumateng patih kinen sawega dadameling yuda. Sasampuning samapta, sang nata lajeng bidhal dalah para punggawa sawadya balanira.
  1. Madeg resi Manumayasa sakaliyan ingkang garwa Dewi Retnawati saweg papasihan, janggan Semarasanta marek ing ngarsa lawan garwanira Dewi Kanastri. Dewi Retnawati kapengin angubengi wukir Saptaarga, lajeng tindak lawan resi Manumayasa. Janggan Semarasanta lawan garwanira lajeng handherek, sareng dumugi imbanging redi ingkang sisih kilen, ing ngriku taksih wana sakalangkung wingit, wonten gandarwa tapa brata, nama Satrutapa, anengga wohing Sumarwana, amargi gandarwa wau tampi wangsiting jawata, bilih woh Sumarwana sampun mateng kapurih nedha bojonipun, awit gandarwa Satrutapa wau dereng gadhah suta, daliat kepengin darbe suta. Panuju gandarwa Satrutapa kesah nuweni bojonipun, resi Manumayasa lawan kang garwa dhateng, Dewi Retnawati sumerep woh Sumarwana sakalangkung kepengin nedha, lajeng pinethik katedha, raosipun langkung miraos satelasing nedha woh Sumarwana, gandarwa Satrutapa dhateng, sang resi lawan kang garwa langkung kaget, punapa dene janggan Semarasanta lawan bojonipun, sami gumeter sadaya. Gandarwa ngucap. “Sapa kang wanuh wani ngundhuh woh-wohan ingkang sun sengker iki mau?”. Sang resi Manumayasangaken bilih ingkang methik, lajeng kaparingaken ingkang garwa, awit dahat kepenginira. Gandarwa matur.”Yen makaten kalilana sajiwa raga. Ingkang garwa kaeliha nama. Dewi Sumarwana. Dene ing tembe bilih sampun anggarbini, mangka mijil jalu, kanamakna Sakutrem.”, awit gandarwa wau nama Satrutapa, sang resi hanyagahi. Gandarwa musna manjing guwagarbanira Dewi Sumarwana,lajeng anggarbini. Sadaya lajeng sami wangsul dhateng ing pratapan.
  1. Madeg puthut Supalawa, para puthut manguyu jajanggan rembag tatanen, tuwin ngajeng-ajeng rawuhing sang resi Manumayasa. Boten watawis dangu resi Manumayasa rawuh, lajeng lenggah satata, tuwin nyariyosaken lalampahanipun nalika kang garwa dhahar wohing Sumarwana. Dereng dangu ngandikan lawan puthut Supalawa, kasaru gegering njawi, dhatenging para danawa ing Pringgadani. Puthut Supalawa, janggan Semarasanta sakancanipun mijil ing njawi. Resi Manumayasa ugi mamanuki lampahing para jajanggan, sareng dumugi ing njawi sampun prang rame. Prabu Karumba mangsah resi Manumayasa. Sang prabu Karumba pejah jinemparing. Sang hyang Bayu tumurun nalabung. Prang sampak, para ditya Pringgadani kathah ingkang pejah. Kang kantun lajeng ngungsi gesang. Sang hyang Bayu kondur makahyangan, resi Manumayasa lenggah satata mungging pecrabakan tuwin puthut Supalawa, janggan Semarasanta, sadaya manguyu jajanggan kang sami ungguling yuda.

           Lajeng sami bojana andrawina. 

  1. LAMPAHAN BAMBANG KALINGGA (SAKUTREM)
  1. Jejer ing Suralaya, sang hyang Girinata, miyos ing bale Martyakundha. Ingkang mungging ngarsa: sang hyang Narada, sang hyang Endra, sang hyang Brama. Ingkang rinembag, ing Suralaya badhe kancikan mengsah saking nagari Nusantara, prabu Kalimantara badhe nyuwun Dewi Supraba. Sang hyang Girinata adhawuh, para jawata kinen pacak baris dhateng repat kapanasan, amangsulna para ditya ingkang sami badhe minggah ing kahyangan, aturipun sandika. Para jawata sami medal ing njawi.
  1. Madeg ing pangurakan, para jawata: sang hyang Narada, sang hyang Brama, sang hyang Endra, sang hyang Srita, para dewa pepek, ginem sami siyaga dadameling ayuda. Sasampaning samekta, lajeng bidhal dhateng repat kapanasan.
  1. Madeg para caraka saking nagari Nusantara, kaleres ari nata prabu Kalimantara, nama raden Hardhadhedhali, tuwin para punggawa ditya, Kalakukila, Kalagarudha, Kalawirada. Sami rembag badhe ngupados margi minggah ing repat kapanasan, sasampuning samapta, bidhai, lampahipun dumagi tengahing margi, kapapagaken barising para dewata. Lajeng prang. Para jawiata kaseser . Lajeng tutup saketheng. Para danawa ngepung ing Suralaya.
  1. Madeg sang hyang Girinata, dhatengipun sang hyang Narada, kaliyan para jawata. Atur pariksa tiwasing karya, para prajurit dewa sami kaseser. Sang hyang Girinata dhawuh dhateng sang hyang Narada, kisen ngupados sraya dhateng marcapada, ing wukir Saptaarga, sutanira resi Manumayasa, nama Bambang Kalingga (Sakutrem), sang hyang Narada lajeng pangkat.
  1. Madeg Bambang Kalingga wonten madyaning wana Rawisrangga, khedherekaken parepatira titiga: kyai lurah Semar,Nalagareng, Petruk, ambang Kalingga wau nedya lalana nglangut tanpa sedya, amargi katundhung ingkang rama rehne kapurihkrama dahat lenggana. Boten watawis dangu, kasaru dhatengipun hyang Narada, andhawuhaken timbalanipun sang hyang Girinata. Bambang Sakutrem katimbalan dhateng Suralaya, pininta saraya. Aturipun sandika lajeng pangkat kairid hyang Narada.
  1. Madeg para prajurit danawa, kang sami baris wonten ing repat kapanasan, saweg sami eca gigineman, mireng sasumbar. Para jawata medali, ambekta sraya. Ing ngriku lajeng prang. Para rota-danawa sami pejah. Ingkang alit sami mantuk dhateng prajanipun, kyai lurah Togog Sarahita, mantuk nedya matur ing ratunipun.
  1. Madeg prabu Kalimantara, ing nagari Nusantara, ingadep patihira nama Soratama. Ginem denira utusan ingkang rayi raden Hardhadhedhali, kanthi punggawa ditya dhateng ing Suralaya, dereng wonten wangsul, boten dangu kasaru dhatengipun raden Hardhadhedhali, dinangu matur, bilih para prajurit danawa sami sirna dening srayaning dewa, nama Bambang Sakutrem, inggih Bambang Kalingga. Srinata langkung duka, dhawuh dhateng rekyana patih, kinen ngundhangi wadya bala samekta ing ayuda, sasampunira sami siyaga, lajeng bidhal dhateng Suralaya.
  1. Madeg para jawata, ingkang sami baris ing repat kapanasan, tuwin Bambang Kalingga, dalah parepatira titiga. Kasaru dhatengipun dewa pacalang, atur pariksa dhatenging mengsang. Para jawata sami mijil ing njawi. Bambang Sakutrem dados pangajeng .Lajeng tempuk prang rame, sami ngedalaken pangabaran, Bambang Sakutrem kabuncang ing maruta kontal dalah parepatira titiga. Para jawata sami mundur. Prabu Kalimantara masanggrahan.
  1. Madeg resi Manumayasa, ing wukir Saptaarga, sang resi pinuju miyos ing pacrabakan, den adhep kakasihira warni Bambang Sakutrem rewanda pethak, nama puthut Supalawa. Ginem, ngraosi kang putra Bambang Sakutrem, dene dangu anggenira kesah. Sang resi ngajak madosi. Boten dangu kasaru Bambang Sakutrem cumlorot dhawah saking gagana, lajeng tinampen puthut Supalawa sinelehaken ing ngarsanipun ingkang rama. Parepat tiga ugi dhawah, tinampen Supalawa. Sasampuning lenggah, matur purwa madya wasananing lampahan, denya pininta sraya dewa, kasor yudanira kaliyan prabu Kalimantara. Resi Manumayasa, lajeng ngajak kang putra wangsul dhateng repat kapanasan, wasana lajeng bidhal. Puthut Supalawa lawan parepat tiga datan kantun. Madeg kaga garudha Banarata, lagya martapa wonten mega malang, nyuwun dadya. ratuning peksi. Sang hyang Narada rawuh, dinuta sang hyang Girinata. Garuda pininta sraya anyirnakaken prabu Kalimantara. Garudha matur sandika, ananging penuwunipun dadya kagaraja kaparengna. Sang Garuda Banarata hyang Narada marengaken, lajeng pangkat dhateng repat kapanasan.
  1. Madeg prabu Kalimantara, tuwin para rayi dalah wadya bala sadaya. Eca imbal wacana, kasaru dhatenging resi Manumayasa, tuwin kang putra Bambang Kalingga asusumbar. Prabu Kalimantara lajeng mapag prang, rame. Sigeg, sang hyang Narada dinuta maringaken dadamel jemparing nama Pasopati dhateng resi Manumayasa, saking sang hyang Guru. Resi Manumayasa mangsah anjemparing prabu Kalimantara, babar dadya serat Kalimasada. Raden Hardhadhedhali babar dadya jemparing, patih Sarotama babar dadya jemparing. Ing ngriku garudha raja Banarata namber resi Manumayasa, kininten mengsahipun para jawata, sinarengan jinemparing. Garudha Banarata kenging jajanira gumebrug tibeng siti, babar dadya songsong Tunggulnaga. Balanipun prabu Kalimantara sami soroh amuk, kapapagaken puthut Supalawa, kabiyantu bathara Bayu. Para wadya ing Nusantara dhadhal larut tan wonten kantun, ingkang sami ungguling yuda lajeng sami kairid sang hyang Narada dhateng ing Jonggringsalaka.
  1. Madeg sang hyang Girinata, miyos siniwi para jawata. Sang Hyang Narada dhateng, ngaturaken ingkang sami ungguling yuda: resi Manumayasa, Bambang Sakutrem (Kalingga) tuwin kukubanipun warni serat Kalimasada, jemparing Hardhadhedhali, Sarotama, songsong Tunggulnaga, miwah purwa madya wasananing lalampahan katur sadaya. Jemparing Sarotama, Hardhadhedhali kaparingaken Bambang Kalingga, sanesipun ing tembe badhe kaganjaraken dhateng turunipun, resi Manumayasa tuwin Bambang Kalingga matur nuwun.

            Lajeng bojana andrawina.

  1. LAMPAHAN JAMURDIPA (SAKUTREM RABI)
  1. Jejer prabu Basumurti ing Wiratha miyos sinewa ing para wadya punggawa. Ingkang munggeng ngarsa patih Jatidhendha, resi Wakiswara, punggawa arya Kandhaka. Ingkang ginu’nem, “Sang prabu arsa cangkrama angirup satowana.” Rekyana patih Jatidhendha dhinawuhan sawega sawadyabala. Srinata lajeng kondur ngadhaton.
  1. Madeg ing kadhaton. Prameswari nata Dewi Jatiswara mapag kondurira srinata, boten dangu kasaru srinata kondur lajeng lenggah satata, imbal wacana kawontenanipun mancaniti. Lajeng tindak dhateng pambojanan, sabibaring bojana srinata lajeng ngrasuk busana.
  1. Madeg ing paseban njawi. Panggurak ari nata raden arya Basukesthi, patih Jatikandha, punggawa arya Basunandha, bramana Kestu. Rembag ingkang pinatah ing karya tuwin kang tengga praja. Sasampuning samekta wahana, srinata miyos lajeng nitih dipangga, raden arya Basukesthi tuwin patih Jatikandha anggrubyug wurining nata, punggawa sawatawis bidhal kapalan.
  1. Madeg ing nagari Duryapura. Prabu Dwapara miyos siniweng wadya, ingkang mungging ngarsa patih Swabara, Prabu Dwapara dhawuh arsa sowan tuwi dhateng nagari Wiratha, awit nata Wiratha punika taksih kaleres nak ndherek saking ingkang ibu Dewi Kaniraras.
    Sasampuning siyaga lajeng bidhal, lampahira wadya Duryapura kapapag wadya Wiratha, sinengguh mengsah lajeng dados prang. Wasana wadya Duryapura katilapan, wadya lumajeng sapurug-purug.
  1. Madeg madyaning wana ing Silu. Wonten raksasa nama Aswana tuwin bojonipun nama raseksi Aswati sami kaluwen dangu boten angsal mangsan. Raseksa raseksi wau lajeng nyenyegat ing margi.
  1. Madeg ing pasanggrahan madyaning wana Mandeki. Sang prabu Basumurti kang mungging bale wawangunan hanggung suka andrawina, anggenipun numpu satowana tuwin misaya peksi angsal kathah. Lajeng dhawuh dhateng jurugedhong kinen adadana arta dhateng tiyang padhasunan. Kathah tiyang ningali samya suka angambil dadana arta wau. Nulya wonten tiyang satunggal anengga kajeng Sriputa, kanan keringipun kasebaran arta boten purun mendhet. Srinata utusan ingkang rayi raden arya Basukesthi kinen andangu punapa karananira. Tiyang ingkang tengga wit Sriputa wau tan arsa ngambil arta. Raden Basukesthi pangkat pinanggih cantrik Janaloka (tiyang ingkang ngadhep kajeng Sriputa wau) sareng dinangu. aturira mila tan arsa ngambil arta, saking ajrih singit lawan wingit, singit punika dumanang kajeng Sriputa, wingit punika dumuluing srinarendra. Raden Basukesthi lajeng mangsah hangethok kajeng Sriputa, wonten cahya cumlorot manjing dhateng raden Basukesthi, cantrik Janaloka lajeng ngabekti dluimateng raden Basukesthi, sarya matur singit wingit sampun dados satunggal wonten raden Basukesthi. Dados paduka ing tembe jumeneng nata. Raden Basukesthi ngandika, “Ing tembe lamun ingsun madeg nata sira sebaa.” Cantrik Janaloka lajeng pinurih kesah. Raden Basukesthi wangsul ngarsanira srinata prabu Basumurti, matur lamun tiyang ingkang tengga kajeng Sriputa wau sampun pinurih kesah, lajeng sampun tinegor. Lajeng bibaran.
  1. Madeg ing Sapta arga, resi Manumayasa, den adhep kang putra Bambang Sakutrem, lawan puthut Supalawa (kethek pethak), parepat tiga: Semar, Nalagareng, Petruk. Bambang Sakutrem tinari rabi lenggana. Saking dahat ajrihing rama, Bambang Sakutrem kesah ngenggar-enggar panggalih, dumugi ing wana tarataban kapapag ditya Haswana. Bambang Sakutrem tinubruk arsa minangsa. Dadya prang. Ditya Haswana pejah sinuduk, ditya estri sumerep nedya bela ing laki, prang lawan Bambang Sakutrem, ditya Raswati pejah jinemparing. Bambang Sakutrem rinapu parepat tiga ingajak wangsul dhateng pratapan, lajeng wangsul, wonten ing margi kapapag sarpa Prabu Basukesthi. ageng, lajeng jinamparing dening Bambang Sakutrem, sarpa naga sirna, nulya katingal widadari kakalih. Bambang Sakutrem kasmaran, putri kakalih pinurungan musna, Bambang Sakutrem langkung kasmaranira, lajeng lumampah kondur.
  1. Madeg raden arya Basukesthi, lawan patih Jatikandha. Kacarita srinata Basurata sampun kondur saking cangkrama, lajeng gerah. Dereng dangu raden Basukesthi denira imbal wacana kalawan patih Jatikandha, kasaru dhatenging parekan kautus ingkang mbak ayu sang prameswari Dewi Jatiswara, animbali raden Basukesthi sarta kaparingan parikan, lamun kang raka sri Basurata seda. Raden Basukesthi enggal malebet kadhaton, sadumugining kadhaton, pariksa bilih kang raka sri Basurata seda. Tan antara, susawa musna sareng swara jumegur, ing ngrika kadhaton kapuyengan, para wanita sami nangis, raden Basukesthi lajeng mijil ing njawi, awawarta mring patih miwah sagung para punggawa, bab sedanira srinaranata. Raden Basukesthi lajeng jinunjung dening patih tuwin para pandhita lan para punggawa. Raden Basukesthi kajumenengaken nata jujuluk prabu Basukesthi. Tan antara praptaning cantrik Janaloka, sowan mangarsa. Lajeng kadhawuhaken sang prabu, Janaloka kawisudha dadya punggawa,nama arya Janaloka. Sri Basukesthi lajeng dhadhawuh dhumathengpara empu, kinen adamel tatabuhaning ngayuda, awarni: gurnang, thong-thong grit, gubar, puk-sur, teteg, kendhang, bendhe, gong, beri. Patih Jatikandha nulya atur uninga, lamun resi Brahmanadewa lawan resi Brahmakestu sami muksa, ing mangke wonten kaelokan, wismanipun resi Brahmakestu, kathukulan Jamurdipa, mawa cahya kadya sundhul ingakasa. Sri Basukesthi tindak nedya mariksani, kadherekaken patih saha wadya. Sereng dumugi panggenanipunJamurdipa, lajeng pinarpeken srinata. Jamurdipa sirna, mung katingal cahya sasada lanang, lajeng manjing mastakanira srinata prabu Basukesthi. Ing ngriku rumaos padhang trawangan ing panggalih, waskitha ing saniskara. Sri Basukesthi lajeng kondur.
  1. Madeg ing Saptaarga, resi Manumayasa, kaadhep puthut Supalawa, tuwin bagawan Dwapara, dhatengipun kang putra raden Sakutrem dalah parepat tiga, Bambang Sakutrem lajeng mangarsa. Kacarita sarwi ngingidung rerepi. Kang rama anggarjiteng wardaya, lamun kang putra kasmaran dhateng pawestri. Kasaru rawuhipun resi Kanekaputra, andhawuhaken timbalanipun sang hyang Girinata. Nalika yoganira si Sakutrem munah sarpa iku babar dadi widadari, aran Dewi Nilawati. Samengko dhedhepok ana wukir Pujangkara. Akarya pasanggiri, duwe kendhi Pratola, sapa kang kuwat ngombe banyune kendhi Pratola mau dadi jodhone Dewi Nilawati. Ananging wus pinasthi si Sakutrem dadi jodhone Dewi Nilawati. Marma yoganira si Sakutrem, konen lumebu sayembara marang wukir Pujangkara. Sasampuning ngendika, sang hyang Kanekaputra, lajeng kondur makahyangan, bagawan Dwapara lajeng kesah ngrumiyini tanpa pamit, Bambang Sakutrem dhinawuhan ingkang rama dhumateng wukir Pujangkara, nglebeti sayembara.
  1. Lajeng pangkat kanthi parepat tiga. Madeg madyaning wana, prabu Drumanasa, nata ing Madhendha, lawan patih Dhendhaka. Ingadhep para punggawa. Sri Drumanasa nedya ngluru dhateng ingkang uwa prabu Dwapara. Tan dangu rawuhira bagawan Dwapara, lajeng sajarwa lalampahanira sadaya sarta nedya ngedegi sayembara dhateng wukir Pujangkara. Sri Drumanasa nayogyani, lajeng andherek lampahira ingkang uwa, bagawan Dwapara, lajeng bidhal.
  1. Madeg Dewi Nilawati ing wukir Pujangkara, sarwi ngadhep kendhi Pratola, dhatenging bagawan Dwapara lawan prabu Drumanasa tuwin patih Dhendhaka sapunggawanipun, kasaru dhatengipun Bambang Sakutrem, lajeng wiwit sami ngunjuk tirta ing kendhi Pratola. Bagawan Dwapara ngunjuk rumiyin tan kuwawa panasing toya, handhawah, lajeng prabu Drumanasa gantos-gantos sami tan kuwawi bentering toya, merang lajeng kesah. Bambang Sakutrem lajeng ngunjuk tirta kendhi Pratola kuwawi, tirta kaunjuk telas, sang dewi tan lengguna, sigra binekta kondur dhateng pratapan wukir Retawu.
  1. Madeg bagawan Dwapara, prabu Drumanasa lawan patihira nama patih Dhendhaka sapunggawa sadaya. Rembag, Dewi Nilawati sampun kabekta Bambang Sakutrem dhumateng Saptaarga, mila kersanipun sami nututi ngrabaseng Saptaarga, ngrebut Dewi Nilawati. Sasampuning samekta lajeng bidhal sawadya.
  1. Madeg ing wukir Saptaarga, resi Manumayasa, ingadhep puthut Supalawa. Dhatengipun kang putra Bambang Sakutrem lan Dewi Nilawati, tuwin parepat tiga ingkang umiring. Sang resi saklangkung suka, kasaru dhatenging mengsah saking Madhendha. Puthut Supalawa medal ing njawi tuwin para wasi jajanggan sadaya. Lajeng prang sampak, bathara Bayu tumurun, angembul prang. Mengsah Madhendha larut kabuncang ing angin, sabibaring prang, sang hyang Bayu wangsul makahyangan, resi Manumayasa, Bambang Sakutrem, puthut Supalawa dalah parepat tiga sami bojana andrawina. 

——@@@——

 

KITAB TOPAH


Punika serat kino mengku piwulang kabatosan kautamaning gesang

Pengarangipun sampun boten kasumerepan. Kulo babar murih boten ical tanpa lari. Kanggen nambahi kathahing serat-serat Jawi. Sinten sumerep yen ing tembe wingking wonten pigunanipun.

Ingkang ngedalaken :

Penerbit “Soemadidjojo Hadiningrat

Cetakan Kapisan

1957.

=============================================

KITAB TOPAH

Pupuh I
DHANDHANGGULA

  1. Kitab Topah winedhar ing jawi, amrih gampil wau ingkang lapal, miwah ta ing surasane, sakehe kang angrungu, miwah ingkang amaca tulis, sami sinimpen manah, agung sawabipun, sakathahe pra sujanma, ingkang sami ngawruhi rasane ngati, sami den apalena.
  2. Ri sampunune ngandika Seh Ngali, arsa nerangaken lapalipun, langkung kathah maknane singgih, mesi rasa surasa, surasane ngelmu, kang bangsa ngelmu tarekat, atanapi kang ngelmu kakekat tuwin, makrifat kang minulya.
  3. Angandika Seh Bagendha Ngali, duk anurat medhar Kitab Topah, kalawan sih nugrahane, ing Hyang Kang Maha Luhur, atanapi mami, inggih Nabi Mohammad, ya Rasulullahu, pangidhep umat sadaya, aneng donya miwah ing akerat ugi, prapteng ari kiyamat.
  4. Satuhune anane Hyang Widi, Maha Suci datan warna rupa, tan owah gingsir anane, sawusira awujud, datan owah ananireki, duk dereng wonten asma teteping Hyang Agung, duk meneng lan dhewekira, ananing Hyang ing mangke kadya ing nguni, langgeng tan kena owah.
  5. Nging sipate Hyang awarni-warni, beda-beda tanpa wiwilangan, dadya aling-aling kabeh, katon aweh pituduh, datan mulat ingkang sejati, kandheg ing warna rupa, tingale abawur, datan weruh jatinira, dadya bingung kesasar ing ndalem margi, tan wruh ing marganira.
  6. Ingkang weruh tuduh kang sejati, nora kewran aneng ing dedelan, dene wus wruh pitedahe, salire kang kadulu, katingalan rupa sejati, lan kandheg warna rupa, rupane dinulu, dinulu jroning paesan, rupa jati katingal rupa majaji, nyata neng priyangga.
  7. Priyanggeku weruh ing sejati, nora weruh mangke ananira, dene ngadam sejatine, ing rohe dewekipun, nanging lawan ingkang ndarbeni, ya dhewe ananira, wangsul solahipun, datan darbe polah dhawak, nanging lawan polahe ingkang ndarbeni, priyangga ananira.
  8. Sakathahe saliring dumadi, nora sepi saking ananing Hyang, tan kajaba sakabehe, saking wujud Hyang Agung, kawimbuhan sadaya sami, saengga ingkang sadrah, datan ana suwung, sadaya pan kawimbuhan, sadurunge gumelar jagad dumadi, miwah sawuse ana.
  9. Lawimbuhan ing sawiji-wiji, saderengira jagat gumelar, dene wus nyata anane, sadurunge awujud, wus pinethi ing ndalem ngelmi, sawuse karit tunggal, kawimbuhan iku, dene kodrat lan iradat, miwah ngelmu ing mangke kadya ing nguni, aNANE NORA BEDA.
  10. Angandika Seh Bagendha Ngali, andarbeni anane Hyang Suksma, martabat pitu anane, kang satunggil lut kayun, tegesipun martabat sepi, takjunani drung ana, ga’ib ananipun, ingaranan dat kang mutlak, pan Kun ning Hyang datan ana wong meruhi, nadyan Nabi Molekat.
  11. Malaekat kang musabah sami, tan tuminggal ing Kun Hutangala, tan ana wruh Kun yektine, tan wonten saminipun, sipat asma pan durung lahir, bainat durung ana, mung ing dhewekipun, winastan wujud mokal, nora katon ingayoman warna sepi, sapa wruh kuna-kuna.
  12. Sapa amrih ing Kun kang sejati, apan tamtu wong iku kesasar, datan weruh ing jatine, sing sapa tuduh iku, ambedhola gunung, angasatna kang samodra, nora manggih wong iku mring Kun sejati, iku unine Kitab.
  13. Sakeh martabat nora ngungkuli, maring ing martabat akadiyat, sadaya aneng ngandhape, lan kaping kalihipun, ingaranan kadiyat jati, yeku martabat wahdat, wiwit ana takyun, kakekat nyata madiyah, kang kasuksma ing rasane Hyang Sejati, ing jro suhud dattiyah.
  14. Ing sangune pra kakekat sami, dereng pisah kalawan Hyang Suksma, maksih akumpul anane, ing ndalem kukumipun, datan beda maklum sawiji, kasuksma ndalem wahdat, mangke makalipun, kakekat mukamadiyah, kang minangka dadya nggenipun tajali, ing ndalem ga’ibing Hyang.
  15. Pan angandika Seh Muhjidini, Wali Kutup ingkang bangsa Ngarab, anut kang kitab wuwuse, anane kang sun turut, kang aluhur ya ananeki, tetep ing alam murar, kalarat kang luhur, iya ingsun iya sira, ora kalih iya sira iya mami, ya Mohammad ya Allah.
  16. Tetep anane ing awal akhir, ngelmu ngalime lawan maklumat, ora beda ing kukumne, wahedat liyanipun, sagung Ismu pan maksih tunggil, khakekat mukamadiyah, pan maksih akumpul, dereng lahir ananira, gaibipun ing ndalem wahdat sejati, dereng pinisah-pisah.
  17. Pralambange pang godhong lan uwit, pan kasuksma ndalem wiji ika, dereng pisah-pisah mangke, pan godhong wijinipun, ana angucap mangke puniki, upama ananira, kang kocap karuhun, samangke pan winicara, upamane iya sira iya mami, ya Allah ya Muhammad.
  18. Pralambange umamanya sami, tatkala ing ngadalem wahdatira, sagunge aksara kabeh, ing dalem mangsi kumpul, nora beda kurup sawiji, mangkana ta ing wahdat, ing pralambangipun, sagunge pangucap ika, ing lahire iya sira mami, dereng apisah-pisah.
  19. Ping tigane den sami ngawruhi, ing dalem martabat wakidiyat, ing takyun sami enggone, pangawruhe Hyang Agung, ing datira iku pribadi, miwah ing sipat asma, mangkana ing takyun, sadaya tan pisah-pisah, sakathahe maklimat apan sun pesthi, ing ndalem ngelmuning Hyang.
  20. Datan kena angucap lir uni, ing martabat wachadiyat ika, dene wus pesthi anane, sawiji-wiji maklum, datan iku ingkang ngawali, kadya ing ndalem wahdat, kukume Hyang Agung, ing martabat wakidiyat, wus pinesthi maklum denira Hyang Widi, beda ing ndalem wahdat.
  21. Sagunge maklum ing dalem ngelmi, iya iku aran takyun awal, kang awal iku anane, mijil saking latakyun, metu saking karsa kang ga’ib, tetep aneng ngayunan, kalarat kang luhur, kang aran kurup ngaliyah, ingkang tetep ing ndalem wahdat sejati, atas dadalan mutmal.
  22. Upamane lir akyan kang sabit, pan kang karit anut wurunira, suhud anane sabite, kang aneng ndalem ngelmu, tan sulaya warnane sami, saengga warnanira, lir tunggal sawujud, tunggale tan kena tunggal, akyan sabit kalawan akyan kang karit, tan kena pinisaha.
  23. Akyan sabit lan akyan kang karit, dennya lawan tajalinireng Hyang, nyata ing akyan jatine, dat sipating Hyang Agung, datan ana kalingan sami, ndarbeni kunbainat, nyata iku tuduh, ing anane Hyang kang Mulya, ingkang sampun oleh pituduh Hyang Widi, tan samar ing paningal.
  24. Sapa wonge iku andarbeni, iya paningale karijiyah, tunggal lawan khakekate, luwih luhure suhud, paningale maring Hyang Widi, iku mulyane drajat, suhude wong iku, sing sapa arsa tumeka, tatakona ingkang sampun ngaji pati, dumadi tan sulaya.
  25. Tuduhipun kang ndarbeni tulis, yen arsa tumeka ing Hyang Suksma, yun ngawruhi sarirane, iku gegentenipun, aja pegat dennya ngalingling, satingkah paripolah, tan ana lyanipun, sayogya prihatin lampah, yen wus yekti tan ana prabedaneki, mungguh wong ahlul wahdat.
  26. Iya tunggal pan jatine urip, dipun nyata wekasane tunggal, anyipta’a ing cermine, jenenge tunggal iku, datan ana iku kakalih, sasmitane cangkriman, marmane keh kerup, lan malih jatine rasa, kasamaran idhepe pan salah tampi, den kira iku iya.
  27. Ulatane reke den kapanggih, pan anane kering lawan kanan, tanapi luhur ngisore, tan wonten ngajeng pungkur, ulatana dipun kapanggih, den yekti ingkang ana, den awas andulu, pan jati ana ing sira, den waspada tingale ingkang sejati, nyata sapolahira.
  28. Angandika satengah wong supi, satuhune akyan karijiyah, anut kang aneng dheweke, akyan kang karit iku, datan siwah anairei, kadya Wisnu lan Kresna, ing pralambangipun, lir kumandhang lan suwara, tunggilipun tan kena tinunggil jati, tunggal tan kena tunggal.
  29. Angandika wong kang ahlul ngelmi, satuhune kang akyan sabitah, kadim tabihi arane, anut kadime ngelmu, datan kena pisah mengkoni, anut kadime ngedat, tan prabeda iku, sangune kang amujud dat, datan kena pisaha kadime sami, edat kalawan sipat.
  30. Upamane maklum tanpa ngelmi, kadya ngelmi kang tanpa maklumat, lir ngelmi tan ana date, mokal ta jenengipun, mangka ana akyan kang sabit, tan lawan ngelmuning Hyang, anane puniku, kadya sipat lawan edat, datan kena pisaha kadime sami, edat kalawan sipat.
  31. Satengahe wong ahlul supi, amastani yen akyan sabitah, anyar puniku tandhane, anane anyaripun, ing anyare akyan kang karit, dene maklumat anyar, anut maklumipun, mulane winastan anyar, wus mastani ingkang ngiket insankamil, anut kang kinawruhan.
  32. Anut ing anyare akyan karit, yekti ana maklumat punika, sadurunge karit, yekti ana maklumat punika, sadrunge kari anane, mila ing sawusipun, mangkya angling Seh Yusup aris, amiwah Seh Mohammad, sing sapa wong iku, mastani puniku anyar, maksih mentah pan iku ngajiya maning, yeku wong maksih bakal.
  33. Satengahe ana kang mastani, nora kadim reke nora anyar, dene tan wujud anane, ing ndalem karitipun, datan ana liyane iki, kang kadim lan kang anyar, kang karit puniku, marmanipun tan ingaran, akyan sabitah tan anyar nora kadim, dene tan karijiyah.
  34. Ingaranan wujud ingkang sabit, saking ing roh ngelmune Hyang Suksma, dene weruh ing ngelmune, winastan ismu iku ngadam, ing roh dhewekipun, apa kersane Hyang Suksma, ingaranan istidat acawi-cawi, ing karsane Hyang Suksma.
  35. Dene maklumat ing ndalem ngelmi, lawan maklumat ing ndalem ajal, sadereng kartit anane, anyar khakekatipun, dena ana akyan kang karit, tersandha mring khakekat, anane puniku, ingaran akyan sabitah, dene apan aneng ngelmi, mangkana wuwusira.
  36. Mukmin iku reke pan kalih, kang satunggil winastan jariyah, dene wong supi anane, wujud ing ndalem ngelmu, kinawruhan ing ndalem ngelmi, kaping kalihe ngadam, anane puniku, tan weruh ing ananira, ngadam iku jatine nora ngawruhi, dene iku tan ana.
  37. Dadya sidik ingkang amastani, mring sakehe akyan karijiyah, saking ora pinangkane, bener ujar puniku, lan netepi ingkang mastani, pan tetep tinetepan, pinangkane iku, sayekti tunggal pinangka, tingalira sampun angawruhi wangsit, kang ana mring ana.
  38. Iya iku tingale utami, mungguhing wong kang ahlul khakekat, tingal kang tekeng jatine, ing wong kadya ing dangu, tan sulaya rupane sami, lir aneng ing maklumat, angucap wong luhur, dhingin ingsun pan wus ana, sadurunge gumelar jagat dumadi, aran ndalem ngayunan.
  39. Angandika wong kang ahlul supi, khakekate amaujud edat, iku rupane maklume, kang aneng ndalem ngelmu, ing tingale tekeng ing budi, de ngelmune tan ana, tan kalawan maklum, tan kena iku pinisah, marmanipun ingaran akyan kang sabit, tetep ing ngelmuning Hyang.
  40. Kadime dat sipating Hyang Widi, datan kena iku pinisahna, dene tunggal sejatine, mangkya maklumat iku, datan kena pisah lan ngelmi, lir sipat kalawan dat, upamane iku, mangka akyan sabitah, datan kena pisaha kalawan ngelmi, lir sipat kalawan dat.
  41. Wus anyegah wong kang ahlul ngelmi, yen kadime reke dhawak-dhawak, pan wilangan satemahe, kadime sipat iku, yekti ana bangsa ilapi, lan dhewek-dhewekira, kadime Hyang agung, wenang yen ta mangkonoa, yekti ana anane Hyang kang sejati, ilang jenenging Hesa.
  42. Ri sampune sami angawruhi, ing martabat kang tigang prakara, kang wus kawingking tuture, yogja sami yus weruh, kang sakawan martabat karit, arwah minsan ajean, insankamil iku, kang sakawan iku anyar, iya iku nyatane akyan kang sabit, nyata ing karijiyah.
  43. Lakunipun akyan ingkang karit, anut lakune akyansabitah, ing ndalem ngelmi, nyata ing karijiyah, lakunipun iku, mangkana kadya ing kuna, nora beda lakune akyan kang karit klayan akyan sabitah.
  44. Sangunge martabat iku sami, kumpul nyata mring martabat insan, ya insankamil prenahe, tajaline Hyang agung, nggone nyata kumpulan sami, wahdat lan wakidiyat, lan kang karit iku, jujuluk wal ngalimin ngalam, pakulpulan nggonira Hyang kang tajali, nyateng Nabi Mustapa.
  45. Ingkang minangka uwit tajali, takyun awal kang akir atunggal, ing takyunsani enggone, miwah ing karitipun, kang minangka iku wiwinih, sakehe ing asiya, umijil saking nur, minangka gedhing kastuba, pasenedan sagunge aksara sami, akumpul nur Mohammad.
  46. Wiwitane sagung kang dumadi, iya iku ing Nabi Mohammad, wiwitan asiya kabeh, anut kang aneng ngelmu, dene ana arwahe Nabi, dadya iku wiwitan, lahir ndalem ngelmu, ing martabat akadiyat, dadya ana wiwitan ing ndalem ngelmi, gantya Asmaradana.

Pupuh II
ASMARADANA

  1. Wiwitan ingkang dumadi, saderenge jagad gumlar, Nur Mohammad wiwitane, ngandika Nabi Mustapa, wiwitan kang dumadya, iya iku enuringsun, minangka asale janma.
  2. Sakehe maklumat mijil, metu saking enuringwang, maklumat ing sakathahe, sakathahira kang awal, miwah kang lahir tunggal, tan ana ing liyanipun, pan ingsun kalipahing Hyang.
  3. Yogya samiya ngrawuhi, tegese martabat arwah, jisim kang latip arane, tan kena cinakrabawa, lawan netra kepala, miwah lawan tingal kalbu, tan ana papadhanira.
  4. Martabat misal puniki, yeku kang bangsa kuniyah, ingsun anane ing mangko, kang latip kang ora kena, nrimaha sapitedah, latipe apan puniku, tan katingal dening netra.
  5. Lan malih martabat jisim, iku ingkang anarima, sapitedah ing anane, kang kandel atumpah-tumpa, lawan satengah-tengah, mangkana ingkang saestu, malihe martabat insan.
  6. Pambaukaning tajali, kang bangsa iku Pangeran, insankamil ing nyatane, dat sipat asma afngal, nyateng martabat insan, aparek khakekatipun, kumpul ing martabat insan.
  7. Ing awal kelawan akhir, ingaken rasaning tunggal, dene iku ing anane, pangandikane Hyang Suksma, manusa rasaningwang, pan ingsun rasane iku, kalbu mukmin kabeh tunggal.
  8. Atine mukmin puniki, kang ngaken wismanireng Hyang, enggone tetela reke, mukarahnya ing Pangeran, dadya mangke waspada, datan ana dhirinipun, pan kalindhih ing Nurullah.
  9. Yata ngandika Hyang Widi, ingsun akarya manusa, karana Muhammad reke, lan sira karsaning nyawa, yen tan ana’a sira, nora andadekna iku, sawiji-wiji manusa.
  10. Tatkalane Kanjeng Nabi, mekrat maring ing datollah, sakehe martabat kabeh, wus nyata Nabi Mohammad, nyata ing ananira, anane Hyang Maha Luhur, winastan loroning tunggal.
  11. Risampunira kadyeki, den samiya ngawruhana, ing ananira Hyang Manon, satuhune wujuding Hyang ndarbeni hes sampurna, kakalih ingkang karuhun, yeku sampurnane sadat.
  12. Sampurnane dat sejati, angawruhi dhirinira, kalawan iku dhirine, ing ndalem dhirine dhawak, kalawan dhewekira, tan kalawan liyanipun, miwan ingkang bangsa liyan.
  13. Kaping kalih asma jati, ngibarat tajalining Hyang, ing dalem iku erohe, tingale ing dhirinira, tan ana kang mamadha, dat sipat lan afngalipun, wus nyateng ndalem paesan.
  14. Mangkana karit Hyang Widi, ing ndalem iku paesan, Maha Suci Hyang anane, tan kena den rupakena, lawan makam satunggal, tan kena winedhar iku, kalawan takyunanira.
  15. Maha Suci Hyang sejati, lamun tunggal apisaha, lawan kang anyar anane, miwah iku ingkang anyar, atunggal apisaha, kalawan kang Maha Luhur, Maha Suci ananira.
  16. Lamun ana’a Hyang Widi, dakil karit ingkang anyar, sayekti kalih jenenge, Maha Suci ananing Hyang, yen sipat mangkonoa, yekti ilang isyanipun, iku lah wangsite Kitab.
  17. Tatkala wus kasil sami, ing rasa akyan sabitah, myang karit iku anane, dadya sira ingayunan, lawan Pangeranira, dadya andulu-dinulu, ing ndalem paesan tunggal.
  18. Paesan iku kakalih sami, kang ngilo paesan tunggal, tan kalih iku jenenge, kang dinulu katingalan, pan iya iku tunggal, kang ndulu ingkang dinulu, tan ana saweneh mulat.
  19. Den becik sira nampani, atine paesan tunggal, kakalih sami angilo, ing ndalem paesan tunggal, iku ta dipun awas, aja kaleru pandulu, ing cermin priyangga tunggal.
  20. Pan wus angucap wong sangir, tatkala wus nyata sira, Pangeran iku anane, mangka ngawruhana sira, dudu sira Hyang Suksma, kapriye pilahe iku, netepi kadya ing kuna.
  21. Yen maksih sira ningali, angrasa sira makripat, tokid suhud ing Hyang Manon, maksih tan tumeka sira, iku sira kang samar, dene kelingan kang ndulu, dene angrasa makripat.
  22. Ya iku luwih ngalingi, angrasa luwih makripat, andulu ing Pangeran, Seh Jonet mangkya ngandika, ing ndalem fatkulmanan, adawikulira iku, ya iku sirik kang samar.
  23. Yen ayun tumekeng jati, aja angrasa makripat, anembah muji ponang wong, maring tingkah pari polah, anyana sira dhawak, ananging kalawan Hyang Agung, ing satingkah pari polah.
  24. Satengah wong ahlul supi, sira ayun tumekeng Hyang, anyirnakaken ponang wong, ing edat sipat apengal, miwah ing ananira, dadya kabuka wong iku, tan liya ing kuna-kuna.
  25. Nabiyolah mangkya angling, sing sapa weruh dhirinira, mangka wruh ing Pangerane, sapa weruh ing Pangeran, tan wruh ing dhirinira, kalingan dening Hyang Agung, dat sipat lawan afengal.
  26. Iku sampurnane tokit, kang tan wruh ing dhirinira, tan wruh ing liyane kabeh, wus karip ing makam baka, iku tokit sampurna, tan wruh sembah pujinipun, amangeran lagi nora.
  27. Yen eling-eling pribadi, sumaur ing dhewekira, akon kinon ing dheweke, amuji ing dhewekira, mangeran lagi nora, pan sampun dadi sakayun, sampun weruh jatinira.
  28. Sakehe sawiji-wiji, iya iku ananing Hyang, saking ing roh kakekate, yen nora saking takyun, liyan ing ananira, lir gendhis kalawan juruh, lir ombak lawan segara.
  29. Yen sampun wruh sadat jati, khakekat mohamadiyah, manusa iku jatine, ya Mohammad iya Allah, jatine iku tunggal, tan ana liyane iku, iya Allah ya Mohammad.
  30. Tatkala wus angawruhi, maklumat satunggal-tunggal, ing makam wahdat rasane, miwah makam wakidiyat, tanapi karidiyah, weruh tunggal bedanipun, iku wong karip sampurna.
  31. Sampune mangkono malih, den sami angawruhana, kang kaparek ing Hyang Manon, kalawan ingkang satunggal, karit nawawil ika, dadalan sun ta puniku, karana amrih sihing Hyang.
  32. Ingga tan ana ngawruhi, ing puji klawan panembah, sirna luluh panembahe, datan darbe polah dhawak, kagenten sipating Hyang, ya sipat Maklumat iku, wus kerem ing sipatollah.
  33. Pangandikane Hyang Widi, kalawan ingsun angucap, miyarsa lan ingsun dhewe, kalawan ingsun anembah, lawan ingsun asalat, kalawan ingsun lumaku, lawan ingsun barang karya.
  34. Kang kaparek lan nawawil, iku wong pana ing sipat, angawruhi ing sipate, kalindhih ing sipatollah, marga kalawan sunat, kang dhumateng ing Hyang Agung, gumanti Sri Naranata.

Pupuh III
S I N O M

  1. Ping kalih karit parilah, akarem ingkang sejati, tan weruh ing jiwa raga, Hisya tan ana udani, kalingan ing Hyang Widi, tan ana liyan kang wujud, kalindhih ing Hyang Suksma, ing sagara tanpa tepi, sampun sirna kalingan sagara mulya.
  2. Dadalan tekeng ngayunan, angawruhi wahdat jati, ing ndalem martabat wahdat, tan ana liyan sejati, mangkono ta ing mangkin, tan jumeneng dhewekipun, mangkono ta ing mangkin, tan jumeneng dhewekipun, mokal jumeneng dhawak, mokale kang anyar sami, wus katutur ing rasa kitab di mulya.
  3. Ya iku mokale Hisya, jumeneng klawan pribadi, nora weruh dhirinira, Hisya tan ana udani, ing roh ing dhirineki, anging kalawan Hyang Agung, mangkono pan mulanya, kalindhih ing wahdat jati, sampun tunggal ing tingal atunggal rasa.
  4. Rasa tunggal agembolan, kang sinung rasa sejati, tan emut ing jiwa raga, tan ana liyan sejati, anging kang asung brangti, tan ana liyan kadulu, dhirine katingalan, kalingan wahdat sejati, iya iku so’ale karit parilah.
  5. Kang keparek kaping tiga, winastan Kaboasani, kang angumpulaken ika, kang kaparekan nawawil, ora kalawan tapsir, sampurna enggon kang luhur, catur karibul atna, tertamtu Nabi sinelir, iya iku kang parek tanpa watesan.
  6. Dedalan maring Hyang Suksma, luwih akeh iku mangkin, saking wiwilangan napas, dadalan maring Hyang Widi, kakalih ingkang warni, amengku sagunging enur, tegese enur ika, dadalane ing munpasil, iya iku wahdat lawan wakadiyat.
  7. Satengah wong ahlul wahdat, ningali maring Hyang Widi, ing ndalem hisya katingal, kale nora aningali, kalingan ing sejati, nanging Huang kang Maha Luhur, tan ana kang katingal, liyane ingkang sejati, iya iku paningal ingkang satengah.
  8. Tingal kang luwih utama, ningali maring Hyang Widi, ing ndalem hisya katingal, asiya iku ningali, ing enggon Hyang sejati, kalihe sami andulu, iku tingal ambiya, lan suksma anuting Nabi, katingalan kalihe tan kena pisah.
  9. Tan ngalingi ingalingan, kalihe katingal sami, amung kang para ambiya, tan kandheg maklum puniki, miwah ing kale iki, kakalih sami andulu, maklumat lawan ekak, iku tingal kang utami, tan kalingan kakalih tan katingalan.
  10. Satengah tedah ing wahdat, angandika Kanjeng Nabi, Panutan Nabi Mohammad, panguwasane Hyang Widi, lamun ana’a iki, andhawuhaken wong iku, iku talining timba, den dhawahaken aneng siji, sayekti ana tetali timbaning Allah.
  11. Nabiyolah angandika, kang sinung rahmat Hyang Widi, luwih bener ing pangucap, kang wus kasebut ing dalil, Kitab Lulbak mangkya ling, sakehe hisya puniku, liyan saking Hyang Suksma, sadaya punika napi, iya ika tingale wong ahlul wahdat.
  12. Den weruh tegese nora, napine sawiji-wiji, iku rohe dhewekira, priyangga ing ndalem cermin, napi ing roh pribadi, dat sipat afengalipun, nanging anane ika, ingkang andarbeni iki, majanggeku angilo ndalem paesan.
  13. Sirnane mayangga ika, ing Wali iku ndarbeni, mayangga iku den awas, sumektane wong kang supi, den grahita neng ngati, arungsit ujar puniku, akatah wong kasasar, andalih den dalih malih, upamane lir ujah tibeng sagara.
  14. Tegese Wali den awas, pangandikane Hyang Widi, kasebut ing ndalem Kur’an, satuhune Wali-Wali, Wali maring Hyang Widi, sakehe panggawe iku, kang ndarbeni Hyang Suksma, dadya panggawening Wali, ala becik pan iku saking Hyang Suksma.
  15. Dadya wong Ngarib tumingal, ing ndalem wahdat sejati, sakathahe kang gumelar, sadaya punika napi, iku tegese Wali, sakathahe gawe iku, tan liya ing Hyang Suksma, amung tingale wong Ngarib, iya iku tegese Wali Pangeran.
  16. Tegese Wali Pangeran, tegese kawula Wali, kawula iku kawula, Pangeran tan dadi kapti, balik iku Hyang Widi, kakekat Wali puniku, kawula nggone nyata, kahananira Hyang Widi, ora mantra-mantra ing budi wicara.
  17. Satengah wong ahlul wahdat, Seh Abuyajit mangkya ngling, pan iku ingkang anembah, amuji maring Hyang Widi, nulya grahiteng mami, anulya mungguh katengsun, ing puji sembahingwang, sembah pujine Hyang Widi, tan ndhingini ing puji sembah manira.
  18. Angandika Seh Mohammad, pira-pira iku dalil, kang atuduh maring wahdat, ing Kur’an miwah ing kadis, maring sembah wong supi, kang ora sun tulis iku, angandika Hyang Suksma, ing Masrik miwah ing Mahrip, iya iku sadaya pan darbek ingwang.
  19. Mring endi adhepira, mangkono dhateng Hyang Widi, tajali wus nyateng hisya, tetela nyata dumeling, dat sipating Hyang Widi, miwah ta afengalipun, wus nyata ndalem hisya, kalakuwaning Hyang Widi, tan kajaba ya hisya kalawan sadrah.
  20. Sing sapa ayun tan wikan, ing ngelmunira Hyang Widi, yogya sami ngguguruwa, ingkang sampun tekeng jati, ingkang tuduh ing margi, dhumateng rasa Hyang Agung, dumadi lan sulaya, sarta pituduhing Widi, wruh ing rasa pan bangsa ngelmu Pangeran.

Pupuh IV
K I N A N T H I

  1. Gitane gendhing winuwus, arsa anembang kinanrthi, apeksa akumawiya, melu lampahe wong singgih, wong anom tan wruh ing basa, peksa melu brateng Widi.
  2. Amila punuwun ingsun, dhumateng rehing Hyang Widi, mugi hamba pinaringan, pinanjang aneng donyeku, lan muga asunga berkah, supangat andika Nabi.
  3. Widada anut ing dhawuh, dhadhawuhira Hyang Widi, madhep manteptrusing manah, ngawruhi Hyang Suksma jati, awake kang kinawruhan, kalih warna kathah neki.
  4. Awake lahir kadulu, yen ayun tumekeng jati, aja na wong kang atinggal, ing sarak andika Nabi, lahir batin den kareksa, anut sarengate Nabi.
  5. Laillah haillolahu, tinulis ing sanubari, wahuwa hisim jalolah, tinulis ing ndalem kapti, tinulis kalawan kiyas, lir mas warnanira tulis.
  6. Aja sira lali ndulu, ing siyang kalawan ratri, iku kang gawe marga, tumeka maring Hyang Widi, aja na kandheg ing nama, den weruh kang darbe hisim.
  7. Hisim jalolah atuduh, ingkang andarbeni hisim, iku dat kang wajib kidam, kang langgeng kang Maha Suci, kang amor kang amisesa, salirira kang dumadi.
  8. Tatkala ajun andulu, ing hisim ingkang tinulis, lir emas gumilang-gilang, tinulis ing sanubari, aja nyana sira dhawak, ningali warnane hisim.
  9. Andulu ingkang kadulu, warnane hisim ywa lali, aja nyana sira dhawak, ciptanen sajrone kapti, tumingal hisim jalolah, warnane nora ndheweki.
  10. Aja nyana sira iku, nyana klayan kang sejati, lahire hisim jalolah, enur iku angebeki, amijil saking nurollah, anglimputi ing roh jisim.
  11. Saengga wong sirna iku, tan ngawruhi ing roh jisim, miwah ingkang pujinira, tan weruh kawula Gusti, wus kerem ing makam baka, sagara tanpa tepi.
  12. Yen ayun oleh pituduh, ciptanen siyang lan ratri, pesunen dipun waspada, aja pegat aningali, mring ing hisim jalolah, ningali sawiji-wiji.
  13. Satengah wong alim muwus, yen ayun tumekeng jati, den sami angguguruwa, mring gurunira sejati, poma ywa nganti kesasar, ngguguru mring setan baring.
  14. Ora tumeka Hyang Agung, kesasar ing dalem margi, tan oleh ngelmu kamulyan, tan weruh ing ndalem margi, tan tumeka ing Pangeran, tan oleh ngelmu sejati.
  15. Jeneng wong datanpa guru, tan antuk pituduh jati, tingale angurayangan, kesasar ing ndalem margi, lir pitik kelangan biyang, tan ana kang den tutwuri.
  16. Sampun oleh ing pituduh, tan kewran ing ndalem margi, akathah dedalaning Hyang, luwih akeh iku mangkin, saking wiwilangan napas, sadaya tuduh kang jati.
  17. Tan kandheg nggennya lumaku, yen antuk wisik kang jati, datan kandheg aneng marga, tumeka maring Hyang Widi, endi marga kang den ambah, atuduh maring Hyang Widi.
  18. Kan sampun oleh pituduh , tan kewran ing ndalem margi, wong Ngarib mangkya ngandika, yen ayun tumeka pati, yogya sami ngathahana, adhikir maring Hyang Widi.
  19. Sakehe dadalan iku, tan ngluwihi saking dhikir, kang maring dedalaning Hyang, tan ana iku madhani, luwih parek ing dadalan, kang tumekeng ing Hyang Widi.
  20. Yen ayun oleh pituduh, anut ngandikaning Widi, yen sira datan anuta, duraka maring Hyang Widi, aja pegat murakabah, wus madya saking ing dhiri.

Pupuh VI
M I J I L

  1. Tembang mijil anuwuhaken brangti, sakehing ponang wong, mirong-mirong mring ing sasamine, pra manusa kang samya dumadi, de tan wruh ing jati, tansah andelamung.
  2. Den waskitha wekasan dumadi, den weruh ing ngendon, yen leksana wuwus ing tengahe, yen anuta wekasan dumadi, lenaning taberi, ambabar tekabur.
  3. Tatkalane metu saking dhiri, tumekeng Hyang Manon, tan ningali maring ing dhirine, sirna luluh pan kadya ing nguni, liyane Hyang Widi, kang aneng sireku.
  4. Wong kang sampun tumekeng Hyang Widi, tan ningali kang wong, sembah puji amudji dhirine, wus kalindhih ing wahdat sejati, amuji-pinuji, ayun wruh wong iku.
  5. Kumpulane sembah lawan puji, puji wali koko, puji wali maring ing karsane, asung-asung pamujinireki, pamujine dasih, wangsul mring Hyang Agung.
  6. Luwih utama wong-wong kang dhikir, ayun tunggal kang wong, dhikir iku ing ndalem dhikire, tan angrasa anembah amuji, saking ing roh dhiri, tegese wus kumpul.
  7. Yen sampun wruh wirasating tulis, dadya wruh ponang wong, angawruhi maring sejatine, ingkang bisa ya iku Illahi, tan nana ngawruhi, maring ing Hyang Agung.
  8. Yen wus wruh jatine manungseki, mangkono ponang wong, sanjatane Mohammad jatine, datan samar puniku kang warni, pan nyata ing dhiri, myang ing Nabi Rasul.
  9. Yen sira yun tumeka ing jati, anut sira pakon, anyegahna sira ing cegahe, sira anuta ing srengat Nabi, ywa durakeng Nabi, miwah ing Hyang Agung.
  10. Pangandikanira Hyang Sejati, angucapna kang wong, lamun ana asihira kabeh, maring Allah ing anane ugi, mangko Allah asih, ngapura kang anut.
  11. Aja anut wong iku kang dhiri, miwah ingkang katon, yen jumeneng lawan Pangerane, sakalire sakehing dumadi, pan tan andheweki, ing ananireku.
  12. Aja nyana liyaning Hyang Widi, salire kang Katon, aja sira kleru ing lakune, kerem maring anane dumadi, kabeh iku sisip, salire kang tuwuh.
  13. Muga antuk berkating Hyang Widi, tumeka’a enggon, wirasating tulis iku kaben, muga antuka pituduh.
  14. Yen ambuka rasa kang sejati, anglampahi pakon, anjawekken ing Topah basane, kang sinurat jroning langen gendhing, antuka berkating, ing guru saestu.
  15. Sampun tamat kang Topah Mursalim, mengku rasa kaot, sakathahe ing wong supi kabeh, ngelmu rasa kang bangsa Rubani, sarta rapal neki, pamengkune agung.
  16. Miwah ngelmune kang bangsa supi, kemeng aneng njero, Kitab Mursalim kabeh isine, saking ngelmune kang bangsa Illahi, pan iku abadi, lire Topah luhur.
  17. Sakehe ngelmu Makripat Tokit, kabeh kang aneng jro, Topah iku wus kumpul murade, datan ana ngelmu kang ngluwihi, saking wirasating, ngelmu Topah iku.@@@
  18. Muga antuk ngapuraning Widi, sakehe kang maos, awit saking nglampahi tuduhe, surasane Kitab Topah iki, salat Da’im pasthi, Allah-Allahu.

— @@@ —

 

 

 

 

 

 

 

SERAT PADHALANGAN RINGGIT PURWA II


SERAT PADHALANGAN
RINGGIT PURWA
II

Oleh
K.G.P.A.A. Mangkunagara VII
Alih aksara dan ringkasan oleh .
Mulyono Sastronaryatmo

Diterbikan kembali seijin PN Balai Pustaka
BP No. 443a
Hak Pengarang dilindungi Undang-Undang

 ———————————————————————————–

 KATA PENGANTAR

Bahagialah kita, bangsa Indonesia, bahwa hampir di setiap daerah di seluruh tanah-air hingga kini masih tersimpan karyakarya sastra lama, yang pada hakekatnya adalah cagar budaya nasional kita. Kesemuanya itu merupakan tuangan pengalaman jiwa bangsa yang dapat dijadikan sumber penelitian bagi pembinaan dan pengembangan kebudayaan dan ilmu di segala bidang.

Karya sastra lama akan dapat memberikan khasanah ilmu pengetahuan yang beraneka macam ragamnya. Dan penggalian karya sastra lama, yang tersebar di daerah-daerah ini, akan menghasilkan ciri-ciri khas kebudayaan daerah, yang meliputi pulaspandangan hidup serta landasan falsafah yang mulia dan tinggi nilainya. Modal semacam itu, yang tersimpan dalam karya-karya sastra daerah, akhirnya akan dapat juga menunjang kekayaan sastra Indonesia pada umumnya.

Pemeliharaan, pembinaan dan penggalian sastra daerah jelas akan besar sekali bantuannya dalam usaha kita untuk membina kebudayaan nasional pada umumnya, dan pengarahan pendidikan pada khususnya.

Saling pengertian antar daerah, yang sangat besar artinya bagi pemeliharaan kerukunan hidup antar suku dan agama, akan dapat tercipta pula, bila sastra-sastra daerah, yang termuat dalam karyakarya sastra lama itu, diterjemahkan atau diungkapkan dalam bahasa Indonesia. Dalam taraf pembangunan bangsa dewasa ini manusia-manusia Indonesia sungguh memerlukan sekali warisan rohaniah yang terkandung dalam sastra-sastra daerah tersebut. Kita yakin bahwa segala sesuatunya yang dapat tergali dari dalamnya tidak hanya akan berguna bagi daerah yang bersangkutan saja, melainkan juga akan dapat bermanfaat bagi seluruh bangsa Indonesia, bahkan lebih dari itu, ia akan dapat menjelma menjadi sumbangan yang khas sifatnya bagi pengembangan sastra Dunia.

Sejalan dan seirama dengan pertimbangan tersebut di atas kami sajikan pada kesempatan ini suatu karya sastra Daerah Jawa yang berasal dari Balai Pustaka, dengan harapan semoga dapat menjadi pengisi dan pelengkap dalam usaha menciptakan minat baca dan apresiasi masyarakat kita terhadap karya sastra, yang masih dirasa sangat terbatas.

Jakarta, 1978

Proyek Penerbitan
Buku Bacaan dan Sastra
Indonesia dan Daerah

  ————————————————————————-

DAFTAR ISI

Halaman

Ringkasan 9

  1. Lampahan Srimahapunggung (Srisadana) 15
  2. Lampahan Bathari Sri Mantuk 23
  3. Lampahan Purwakala (Murwakala) 33

 RINGKASAN

  1. Srimahapunggung (Srisadana) 

Raden Sadana, di dhukuh Medhangagung, dengan dihadap oleh pengasuhnya : kyai buyut Tuwa, kyai empu Cukat, dan kyai Wayungyang, sedang menerima kedatangan kakandanya, Dewi Sri. Berkatalah Dewi Sri, “Duhai, dinda Srisadana, istana Medhangkamulan kutinggalkan, sebab ayahanda Srimahapunggung murka kepadaku, karena menolak kehendak beliau akan mengawinkan aku dengan prabu Pulagra dari kerajaan Medhangkumuwung. Memang sudah menjadi tekadku, tidak akan melayani priya, jika sekiranya tidak sebanding dengan keadaan dinda sendiri”. Seianjutnya juga diberitahukan bahwa prajurit-prajurit dari Medhangkumuwung masih mengejarnya, untuk itu kepada Srisadana diperintahkan untuk bersiap-siap menghadapinya. Musuh yang mengejar Dewi Sri, sesampai di dhukuh Medhangagung, dapat dialahkan oleh Raden Sadana. Dewi Sri juga menyetujui kehendak adiknya untuk bertempat tinggal di hutan Medhangagung. Untuk itu Raden Sadana perlu pergi menemui buyut Sondang di dhukuh Medhanggowong. Pergilah Raden Srisadana diikuti oleh ketiga abdinya, kyai buyut Tuwa, kyai empu Cukat, dan kyai Wayungyang.

Sesampainya di dhukuh Medhanggowong, pesan Dewi Sri disampaikan kepada buyut Sondhang. Ki buyut diharap datang di Medhangagung dengan membawa bekal benih palawija, bibit kelapa, lombok dan terong. Kepada buyut Sondhang, Raden Sadana mengatakan akan melanjutkan perjalanannya menuju ke Medhangtamtu, ke tempat kyai buyut Wangkeng.

Setelah siap semuanya buyut Sondhang berangkat dengan isteri dan segenap buyut-buyut Medhanggpwong, menuju ke Medhangagung.

Dewi Sri menerima kedatangan raden Sadana, yang melaporkan tugas untuk membebaskan ki Wangkeng telah diselesaikan. Buyut Wangkeng dan isterinya pun telah bersama-sama menghadap sang Dewi Sri. Juga buyut Sondhang, isterinya, dan lain-lainnya telah berada di Medhangagung. Para prajurit yang dikalahkan oleh raden Sadana kembali lagi di bawah pimpinan rajanya sendiri, ialah prabu Pulagra. Buyut Wangkeng, buyut Sondhang, dan semua warga dhukuh Medhangagung berusaha mengalahkannya, perang terjadi sangat ramainya. Hyang Narada, memerintahkan kepada hyang Bayu untuk membunuh prabu Pulagra, Terbunuhlah raja Medhangkumuwung. Kepada Dewi Sri, hyang Narada bersabda, “Hai, puteraku Dewi Sri, atas kehendak Hyang Girinata, jika kau menyetujuinya, maukah kau dikawinkan dengan adikmu raden Sadana ?’ Oleh Dewi Sri saran hyang Narada tersebut dengan rendah hati ditolak. Kembalilah para dewa ke kahyangan, bersukacitalah Dewi Sri. 

  1. Bathari Sri Mantak 

Syahdan beberapa negara dilanda malapetaka. Dewa bersabda kepada para raja negara-negara yang tertirnpa kenestapaan bahwa mereka akan dapat terhindar dari bahaya dan menjadi subur rnakmur negaranya, jika dapat membawa bathari Sri. Banyak usaha yang dilakukan oleh mereka. Berkatalah prabu Matswapati kepada para putra, “Hai Seta, Wratsangka, dan Untara, pergilah kalian sekarang juga ke negara Astina. Sampaikanlah permintaanku, agar prabu Kresnadipayana berkenan untuk datang ke Wiratha. Itulah sabda dewa kepadaku, dan jangan lupa membawa Dewi Sri ke Wiratha. Usahakan, jangan sampai tak terlaksana”. Berangkatlah ketiga putra prabu Matswapati ke Astina. Di negara Astina, prabu Kresnadipayana menerima ketiga putra Wiratha. Datang juga di Astina resi Nagatatmala, putra sang Hyang Anantaboga, dari Saptapratala. Berkatalah prabu Kresnadipayana, “Wahai adinda Seta, Wratsangka dan Untara, sampaikanlah pesanku kepada raja Wiratha, segala permintaannya kusanggupi”. Segera baliklah ketiga putra prabu Matswapati ke Wiratha. Adapun resi Nagatatmala dipesan oleh prabu Kresnadipayana, “Hendaknya kau putraku Nagatatmala, mencari Dewi Sri, dan sesudah kaudapati bawalah dia ke negara Wiratha. Aku akan menemui ayahandamu di Saptapratala”. Resi Nagatatmala mundur untuk mencari Dewi Sri, diiringkan oleh ketiga abdinya, Semar, Nalagareng dan Petruk. Pratalaretna, dengan rajanya prabu Darmasara sedang dirundung malang, karena kehadiran Dewi Sri di negara tersebut mengundang kerumitan masalah. Banyak raja yang melamar Dewi Sri. Kalau ditolak, tak lain ancaman yang datang. Pada suatu hari, berkumpullah prabu Darmasara, dengan istrinya, Dewi Darmawati, dan putranya, Dewi Darmarini, serta Dewi Sri. Mereka sedang menerima kedatangan resi Nagatatmala, yang akan memboyong Dewi Sri ke negara Wiratha. Dewi Sri tak berkeberatan untuk diboyong ke negara Wiratha, hanya ada satu permintaannya. Resi Nagatatmala diharap untuk menyampaikan permintaannya tersebut kepada Raden Sadana. Berangkatlah resi Nagatatmala menemui Raden Sadana, segala permintaannya diceritakan, namun oleh Raden Sadana ditolak, sehingga terjadilah perang. Raden Sadana dapat dikalahkan oleh resi Nagatatmala. Kepada Dewi Sri, segala hal ihwal diceritakan, akhirnya resi Nagatatmala diambil putra oleh Dewi Sri. Dewi Darmarini juga diambil putra, keduanya lalu dikawinkan. Bersuka citalah sang prabu Darmasara beserta istri, apalagi musuh yang mengancam negara Pratalaretna sudah dapat dialahkan oleh patih Jayalegawa.

Dewi Sri, dengan diiringi oleh raja Pratalaretna beserta istri berangkat ke negara Wiratha. Resi Nagatatmala melanjutkan perjalanannya ke Astina, untuk memboyong prabu Kresnadipayana.

Di negara Wiratha, prabu Matswapati menerima banyak tamu : Dewi Sri beserta prabu Darmasara dan istrinya, Dewi Darmarini istri resi Nagatatmala, prabu Kresnadipayana, dan juga resi Kanekaputra, yang diutus oleh hyang Girinata. Para putra pun telah menghadap raja.

Berkatalah hyang Narada, “Kaki prabu Matswapati, bahagialah anda beserta seluruh warga negara Wiratha, Dewi Sri telah berada di Wiratha, aku datang kemari, tak lain hanya akan membawa resi Nagatatmala ke kahyangan. Musuh telah mengancam ketenteraman Suralaya. Raja Guwarejeng, prabu Suryakumala, memaksakan diri meminta bidadari Dewi Warsini, untuk diperistri. Hyang Guru tak mengizinkannya”. Sang prabu Matswapati sangat bersuka hati dapat membantu para dewa, direlakanlah resi Nagatatmala ke kahyangan beserita resi Narada, dan Hyang Bayu.

Sepeninggal para dewa, laporan masuk ke istana Wiratha, musuh menyerang. Oleh sang raja diperintahkan segala prajurit menghadapinya. Ternyata prajurit dari negara Guwarejeng tumpas habis, prabu Suryakumala dan Sasradewa mati oleh prabu Kresnadipayana. Sisa prajurit dari Guwarejeng yang masih hidup melarikan diri. Bersukacitalah seluruh istana Wiratha merayakan kemenangan.

  1. Purwakala (Murwakala)

Syahdan bathara Kala merasa tidak puas dengan makanan yang telah diberikan oleh bathara Guru, ialah “lobang-lojo”; lalu mendapat ganti jenis-jenis makanan yang harus disertai diruwat terlebih dahulu, sebanyak 14 macam dan yang tidak disertai diruwat, 8 macam, ialah : 1. Ontang-anting, anak lelaki tunggal, tak bersaudara; 2. Untanganting, anak perempuan tunggal, tak bersaudara; 3. Lumunting, anak yang kelahirannya tanpa ari-ari; 4. Sarimpi, perempuan bersaudara 4 jumlahnya; 5. Saramba, laki-laki bersaudara 4 jumlahnya; 6. Pandhawa, laki-laki bersaudara 5 jumlahnya; 7. Pandhawi, wanita bersaudara 5 jumlahnya; 8. Pandhawa madhangake, lima bersaudara, 4 laki-laki 1 wanita; 9. Pandhawa ipil-ipil, lima bersaudara, perempuan 4, 1 lakilaki; 10. Uger-uger, 2 bersaudara, laki-laki kesemuanya; 11. Kembang sepasang, 2 bersaudara, wanita kesemuanya; 12. Gedhana-gedhini, 2 bersaudara laki-perempuan (lelaki yang tertua); 13. Gedhini-gedhana, 2 bersaudara perempuan-lelaki (perempuan yang tertua); 14. Sendhang angapit pancuran, 3 bersaudara, wanita 2, laki-laki 1 ditengah. Yang tidak disertai diruwat ialah : 1. Jisim lalampah, manusia yang bepergian seorang diri; 2. Bathang ucap-ucap, manusia yang bepergian berdua saja dalam jarak jauh; 3. Gotong mayit; 3 orang bepergian jarak jauh; 4. Orang yang berjalan diwaktu matahari ada di tengahtengah benar; 5. Orang yang merebahkan dandang; 6. Orang yang memecahkan gandhik; 7. Orang yang memecahkan pipisan (alas untuk melumatkan bahan-bahan jamu); 8. Orang yang sedang membangun rumah, dan belum ditempati rumah tersebut sudah roboh. Lajulah Hyang Kala memohon diri, untuk segera mencari mangsanya ke telaga  adirda. Sepeninggal Kala, bathara Guru merasa kesal hatinya, mengingat terlalu banyak jenis-jenis makanan yang diizinkan untuk dimangsa bathara Kala, lalu segera memerintahkan kepada Hyang Narada, untuk memberitakan kepada Hyang Wisnu, supaya mencabut kembali jenis-jenis makanan yang telah direlakan untuk dimakan bathara Kala. Dengan sarana Hyang Wisnu sebagai dhalang, Brama menjadi penabuh gender, dan Hyang Narada menjadi panjak (penabuh gamelan), mereka menuju ke dhukuh Dhadhapan.

Hyang Kala yang sedang berada di talaga Madirda bertemu dengan Hyang Guru, dan diberitahu pula, “Hai Kala, jenis-jenis makanan yang diperuntukkan bagimu harus kau beri tanda dengan badhama. Jika tidak kauberi tanda kuanggap sebagai anak dewa, dan lagi pula, jika kau bertemu dengan seseorang yang dapat menguraikan keadaan jasmaniahmu, akuilah dia sebagai ayahmu”. Segala perintah Guru akan diturut oleh Bathara Kala, dan segera pergilah hyang Guru.

Tersebutlah kyai buyut Wangkeng, dari dukuh Medhangkamulan, yang mempunyai anak perempuan, bernama Rara Pripen. Suaminya bernama  buyut Kaduwal. Kepada buyut Wangkeng Rara Pripen minta, agar diceraikan dari suaminya. Tetapi setelah dijelaskan oleh bapaknya, Rara Pripen menurut, dengan syarat dapat didatangkan pertunjukan wayang kulit. Buyut Kaduwal diperintahkan oleh mertuanya untuk pergi ke dukuh Dhadhapan, mencari dalang.

Di Dhadhapan, dalang Kandhabuwana yang tak lain hyang Wisnu, menerima kedatangan buyut Kaduwal. Adapun maksud dan tujuannya telah dipahami, Kandhabuwana bersedia untuk meruwat Rara Pripen dan dukuh Medhangkamulan, yang diserang oleh binatang buas dari hutan di dekatnya.

Setelah bermacam-macam sasaji diadakan, dengan mengambil cerita Manikmaya, Kandhabuwana memulai pertunjukannya. Banyak penduduk dukuh Medhangkamulan yang menontonnya, di antaranya terlihat juga bathara Kala. Juga Jatusmati, anak tunggal janda Sumawit dari dukuh Medhangkawit, yang telah melarikan diri dari talaga Madirda dari kejaran bathara Kala.

Setelah Hyang Wisnu mengetahui bathara Kala juga hadir, diuraikanlah terjadinya badan bathara Kala, sesuai dengan petunjuk Hyang Guru. Karena itu Kala mengakui Kandhabuwana sebagai bapak. Berkatalah dalang Kandhabuwana, “Hai, Kala sekarang enyahlah jangan kau ganggu ketenteraman daerah ini”. Selanjutnya Hyang Wisnu juga mengatakan bahwa ia diutus oleh Hyang Guru untuk meminta kembali jenis-jenis makanan yang telah diizinkan kepada Kala untuk menjadi mangsanya. Menyadari akan perintah Hyang Guru, Kala menurutnya, tetapi sebelum kepergiannya minta dipermandikan terlebih dahulu. Dalang Kandhabuwana memandikannya, dengan air taman sesaji, dan pergilah Kala dengan istri dan prajuritprajuritnya setelah masing-masing juga diberi sajen-sajen ruwatan. Demikian pula Rara Pripen. Untuk menghindarkan dari malapetaka, ia dimandikan dahulu. Jatusmati juga telah diruwat oleh Kandhabuwana, demikian pula bayi sampir, yang lahir pada waktu pertunjukan wayang tersebut diselenggarakan. Terhindar juga dari mangsa bathara Kala. Tentramlah dukuh Mendhangkamulan, Setelah diadakan pertunjukan wayang kulit oleh dalang Kandhabuwana, teruwatlah malapetaka. 

  1. LAMPAHAN SRIMAHAPUNGGUNG (SRISADANA)
  1. Jejer prabu Srimahapunggung, nata ing Medhangkamulan, nuju miyos ing sitinggil binatarata. Ingkang mungging ngarsa patih Jakapuring, punggawa kyai Andongdhadhapan. Ingkang rinembag icalipun ingkang putra kakung nama raden Sadana. Aturing patih sampun nyebar para wadya, angupaya boten pinanggih. Kasaru gegering jawi, wonten caraka warni ditya saking nagari Medhangkumuwung, nama ditya Kaladaru, lajeng kerid mangarsa, caraka dinangu : Dinuta ratunira nama prabu Pulagra, ngaturaken pustaka. Sareng sampun tinampen, binuka sinuksmeng jaja. Suraosing pustaka, anyuwun jodho ingkang putra Dewi Sri. Caraka kinen anganti wangsulan wonten ing jawi, caraka medal, srinata kondur ngadhaton.
  1. Madeg ing kadhaton, prameswari nata titiga nama Dewi Gemi, Dewi Nastiti, Dewi Subur, ingkang putra patutan saking Dewi Gemi nama Dewi Sri, sami angentosi konduripun srinata. Dereng dangu rawuhing nata, lajeng lenggah satata, ngandikan bab wontenipun ing pancaniti, bilih wonten caraka saking nagari Medhangkumuwung, dutanira prabu Pulagra, anglamar Dewi Sri. Dewi Sri tinantun krama angsal nata raseksa nama prabu Pulagra, aturipun boten purun. Dewi Sri matur purun laki, bilih angsal jodho ingkang warninipun kados ingkang rayi raden Sadana. Ingkang rama langkung duka, Dewi Sri tinari wanti-wanti datan purun, lajeng tinundhung kesah, medal ing kori bubutulan, kadya kinuncang ing dewa, lampahira anjog ing sajawining kitha. Sang nata lajeng animbali patih Jakapuring, kadhawuhan mangsuli caraka saking Medhangkumuwung, paring priksa : Dewi Sri musna saking kadhaton, kadhawuhan angupaya, bilih pinanggih kadhawuhan ngaturaken ing ratunipun, lajeng bibaran.
  1. Madeg ing paseban jawi, patih Jakapuring, punggawa kyai Andongdhadhapan, caraka ing Medhangkumuwung ditya Kaladaru. Patih Jakapuring andhawuhaken timbalanira sang nata, lamun Dewi Sri musna saking kadhaton. Caraka kinen ngupaya, lamun pinanggih kaaturna ing ratunipun, lajeng kagarwaa. Aturipun caraka sandika, lajeng bidhal ngupaya kesahipun Dewi Sri.
  1. Madeg padhukuhan ing Medhangtamtu, kyai buyut Wangkeng lawan somahira, sami gineman : Amepe pantunipun, sareng wanci siyang lajeng sami kapulung (dipun pendheti saking memeyan), kasaru dhatengipun Dewi Sri, sarta dipun aturi inalebet ing griya. Dewi Sri dhawuh kinen ngresiki. Sasampuning resik, Dewi Sri lajeng malebet ing griya, mundhut degan, lajeng kaunjuk toyanipun, Dewi Sri angandikakaken sadaya lalampahanipun, lamun tinundhung ingkang rama, awit lenggana kadhawuhan nglampahi krama antuk ratuning ditya. Dereng dangu, dhatengipun ditya Kaladaru saprikancanipun, kyai buyut Wangkeng amangsulaken dalah kulawarganipun. Kaladaru meksa, dadya prang rame, kyai buyut cinekel lajeng cinancang witing nangka. Para sanakipun sami bibar, Dewi Sri lajeng kesah, Kaladaru saprikancanipun raseksa anututi.
  1. Madeg ing kahyangan Jonggringsalaka, sang Hyang bathara Guru nuju miyos ing bale Marcukundha. Ingkang mungging ngarsa sang resi Kanekaputra (Narada), sang hyang Bayu, sang hyang Panyarikan, sang hyang Kuwera. Sang hyang Guru andangu gonjinging Suralaya. Aturipun sang Hyang Narada, bilih wonten titahing dewa nandhang prihatin, inggih punika Dewi Sri tinundhung kesah ingkang rama prabu Srimahapunggung. Sang Hyang Guru lajeng dhawuh dhateng resi Narada kinen tumurun anedahna dununging raden Sadana, Dewi Sri kinen ngupaya. Resi Kanekaputra sandika, lajeng pangkat. Dewi Sri lampahipun dumugi ing wana tarataban, sang hyang Narada tumurun andhawuhaken dhawuhira sang hyang Guru sadaya. Dewi Sri lajeng dhateng ing dhukuh Mendhangagung, sang Hyang Narada makahyangan.
  1. Madeg raden Sadana, aneng dhukuh Mendhangagung, den adhep parepat tiga : kyai buyut Tuwa, kyai empu Cukat, kyai Wayung-yang. Repat tiga angaturi kondur ing bendaranipun, raden Sadana mboten purun mantuk, bilih ingkang mbok ayu dereng palakrama, awit kagalih mindhak makewedi. Dereng dangu, kasaru dhatengipun ingkang mbok ayu Dewi Sri, lajeng anangisi ingkang rayi raden Sadana. Sasampuning sami tata lenggah, nyariyosaken lalampahanipun duk tinundhung kesah ingkang rama, nanging lampahipun wau taksih kakodhol ing para danawa carakanipun prabu Pulagra. Ing ngriku raden Sadana sampun prayitna. Dereng dangu, mireng swarsa gumuruh, praptaning para danawa, raden Sadana inapagaken, prang rame. Para danawa sami pejah, ingkang alit-alit sami bibar mawur sar-saran ngungsi gesang. Patih Kaladaru jinemparing kabuncang.
    Sigeg raden Sadana kaliyan ingkang mbok ayu Dewi Sri, raden Sadana matur, bilih badhe dhudhukuh wonten ing wana Mendhangagung, Dewi Sri jumurung ing karsa, ingkang rayi kinen mundhut wiji cikal, jagung, lombok, terong dhateng dhukuh Mendhanggowong. Raden Sadana lajeng mangkat kaliyan parepat tiga.
  1. Madeg ing dhukuh Mendhanggowong, kyai buyut Sondang kaliyan semahipun. Kyai buyut Sondang anyrengeni dhateng semahipun, amargi yen kadhatengan raden Sadana sanget anggenipun angajiaji.Bojonipun amangsuli, rehning katamuwan gusti. Dereng dangu dhatengira raden Sadana kaliyan repatipun titiga. Raden Sadana ngandika, bilih kautus dhateng ingkang mbok ayu mundhut wiji palawija tuwin cikal, lombok, terong, awit karsa adhudhukuh ing wana Mendhangagung. Ki buyut Sondang katimbalan sarta kadhawuhan ambekta jaro saprikancanipun, buyut Sondang matur sandika, raden Sadana kaaturan rumiyin, buyut Sondang badhe nungka saprikancanipun saha badhe ambekta punapa ingkang dadya pamundhutipun ingkang mbok ayu. Raden Sadana lajeng wangsuljcaliyan parepatira titiga.
  1. Madeg Dewi Sri, dhatengipun ingkang rayi raden Sadana, matur kautus mundhut wiji palawija dalah jaro, kyai buyut Sondang sampun sandika. Dereng dangu dhatengipun kyai buyut Sondang, dalah semahipun, ambekta kanca kathah sami amikul jaro tuwin wiji palawija. Sasampuning sami ngaso, lajeng kadhawuhan tumandang pasang jaro, Raden Sadana kautus dhateng ing dhukuh Mendhangtamtu, kinen ngluwari kyai buyut Wangkeng ingkang dipun pusara ing danawa, sarta kinen nimbali dalah semahipun. Raden Sadana pangkat.
  2. Madeg ing nagari Mendhangkumuwung, prabu Kalapulagra lawan ingkang rayi Kalapulastha, para punggawa pepak anangkil, Palaciya, Cayasiya. Rembag : Angarsa-arsa patih Kaladaru, ingkang dinuta ngaturaken pustaka panglamar dhateng ing Medhangkamulan. Dereng dangu patih Kaladaru cumlorot saking gagana, lajeng sami lenggah satata. Patih Kaladaru matur sasolahira dinuta. Srinata langkung duka, lajeng dhawuh mepak para wadya. Sasampuning samapta, lajeng bidhal dhateng dhukuh Medhangagung.
  1. Madeg ing dhukuh Mendhangtamtu, kyai buyut Wangkeng, dipun tangisi semahipun badhe nguculi pusara boten saged, kasaru dhathengipun raden Sadana dalah parepatira titiga. Ki buyut Wangkeng dipun uculi saking pusara, lajeng linggih. Raden Sadana lajeng andhawuhaken dhawuhipun ingkang mbok ayu Dewi Sri, ki buyut katimbalan sasemahipun, matur sandika, lajeng kerid raden Sadana.
  2. Madeg ing dhukuh Mendhangagung, Dewi Sri, dhatengipun ingkang rayi raden Sadana ngirid kyai buyut Wangkeng sasemahipun dalah kulawarganipun sadaya. Dhawuhipun Dewi Sri, ki buyut Wangkeng sasemahipun kadhawuhan momong Dewi Sri wonten ing Mendhangagung. Dereng dangu anggenipun imbal wacana, kasaru praptaning prabu Pulagra sawadyanira. Ing ngriku para buyut sampun sami prayitna, madeg suraning driya, lajeng sami medal ambekta dadamel, dumugining jawi pakarangan sigra sami campuh prang rame.
  1. Madeg ing Jonggringsalaka, sang hyang Guru miyos mungging bale Marcukundha, ingkang munggeng ngarsa resi Narada, para jawata pepak Ginem : ing Suralaya gonjing saking sumuking paprangan, resi Narada tuwin bathara Bayu, bathara Kuwera sami kadhawuhan tutulung dhateng ing Mendhangagung, sarta resi Narada kadhawuhan nantun dhateng Dewi Sri : Punapa purun kadhaupaken angsal ingkang rayi raden Sadana pisan. Para dewa titiga sami matur sandika, lajeng pangkat. Sadumugining paprangan, sang hyang Bayu anawung ing yuda, prabu Pulagra sawadyanipun sami sirna sadaya, sang hyang Narada lajeng lenggah tuwin para bathara ngkang mentas sami unggul ing yuda. Dewi Sri tuwin raden Sadana marek ing ngarsa, dhinawuhan mating sang hyang Narada, Dewi Sri tinantun dhaup lawan ingkang rayi raden Sadana: matur lenggana. Para jawata lajeng pamit makahyangan, Dewi Sri tuwin ingkang rayi raden Sadana dalah para buyut, bojana kasukan.
  1. LAMPAHAN BATHARI SRI MANTUK 
  1. Jejer ing nagari Wiratha, prabu Matswapati miyos ing pancaniti, ingkang sumiwi putra Raden Seta, Raden Untara, Raden Wratsangka, tuwin patih Jayanirmala. Ginem : Sang nata angsal wangsiting dewa, lamun arsa waluya prajanira, denya kenging cintaka, kinen angupaya bathari Sri. Raden Seta lajeng ingutus nyuwun pitulung mring kang raka prabu Kresnadipayana, Astina. Sasampuning dhawuh, sang nata lajeng ngadhaton.
  1. Madeg ing gupit Mandragini, sang padniwara Dewi Rekathawati, pinarak ing pananggap prabasuyasa, ingadhep ingkang putra Dewi Untari, tuwin para parekan cethi. Ginem : Angajeng-ajeng sang nata, kasaru kondurira sang prabu, pinethuk ing garwa miwah putra, kinanthi binekta lenggah satata. Sang nata imbal wacana mring garwa, awit dangu denira mancaniti, saking wangsiting dewa, kinen angupaya bathari Sri. Punika kang dados waluyaning praja Wiratha. Sang nata sampun utusan para putra mring praja Astina, mundhut pitulung ingkang raka prabu Kresnadipayana, ingaturar. angupaya. Sasampuning ngandikan, sang nata lajeng tindak ing sanggar pamelengan.
  2. Madeg ing paseban jawi Raden Seta, Raden Untara, Raden Wratsangka, patih Jayanirbita, tuwin patih Jayanirmala. Ginem : Kasidaning lampah ingutus dhumateng praja Astina, sampun siyaga, lajeng bidhal kapalan.
  1. Madeg ing nagari Guwarejeng, prabu Suryakumala miyos ingadhep patih Baudhendha, tuwin para punggawa pepak kang anangkil. Ginem : Sang nata angsal wangsiting jawata, sinten ingkang kanggenan bathari Sri, punika prajanipun waluya. Kasaru sowanipun ingkang rayi prabu Sasradewa, ing nagari Guwapitu, kadherekaken para wadyanira. Sasampuning bagya-binagya, lajeng lenggah satata, kang rayi prabu Sasradewa atur uninga, bilih angsal wangsiting dewa, sinten ingkang kanggenan bathari Sri, prajanipun waluya, tuwin Dewi Sri sapunikanipun manggen wonten ing nagari Pratalaretna, ingkang ratunipun abibisik prabu Darmasara. Mila samangke prajanipun langkung kerta tur raharja, saha keringan saking mancapraja. Sang prabu Suryakumala, sareng mireng aturing kang rayi, lajeng nimbali punggawa raksasa, sasampuning mangarsa, dhinawuhan ngaturaken serat katur sang prabu Darmasara ing Pratalaretna, kinanthenan wadya ditya sagolongan. Punggawa yaksa ingkang tampi dhawuh lajeng medal ing jawi, sang nata lajeng ngadhaton.
  1. Madeg ing paseban njawi, para pungagwa ditya, Kalarudraksa, Kalakarumba, Kalakarendhi, sami rembag denira arsa dinuta ing nata. Sasampuning siyaga, lajeng bidhal dalah panekarira, kanthi kyai lurah Wijamantri, tuwin Tejamantri. Lampahira dumugi margi kapapag prajurit ing Wiratha, sulayaning rembag, dadya prang, wasana sami sisimpangan margi.
  1. Madeg ing Saptapratala, sang hyang Anantaboga ingadhep kang garwa Dewi Superti. Tuwin ingkang putra resi Nagatatmala kinen nimbali prabu Kresnadipayana ing Astina sawadya, trang dhawuhing Guru, kinen amapag parang-muka kang minggah ing Suralaya. Prabu Suryakumala, ing Guwarejeng, nyuwun jodho widadari, Dewi Warsini. Resi Nagatamala sandika, amit lajeng pangkat kairing Semar, Nalagareng, Petruk. Mangkana lampahira resi Nagatatmala, dumugi ing ngarcapada, kapapag punggawa ditya saking Guwarejeng, dadya prang, danawa pejah sadaya, jinemparing dening resi Nagatatmala, Wasana resi Nagatatmala lajeng lampahira ingiring repat tiga.
  1. Madeg ing nagari Guwarejeng, prabu Suryakumala miyos ingadhep ingkang rayi prabu Sasradewa tuwin patih Baudhendha, miwah para wadya ditya pepak kang anangkil. Ginem : Sang nata angarsaarsa caraka kang dinuta maring praja Pratalaretna, sampun dangu datan ana wangsul, kasaru dhatengipun punggawa ditya, atur uninga, bilih para punggawa raksasa kang dinuta, wonten ing margi pinejahan dening resi Nagatatmala. Sang nata kakalih, sareng mireng aturing punggawa ditya kang dinuta, saklangkung dukanira, lajeng dhawuh mring patih Baudhendha, kinen angundhangi para wadya balanira sadaya. Sang nata arsa ngrabaseng prang, saha kinen ambekta joli kinarya nglamar Dewi Warsini. Sasampuning samapta lajeng bidhal.
  1. Madeg ing nagari Astina, prabu Kresnadipayana, ingadhep patih Jayaprayitna, miwah para punggawa pepak kang anangkil. Ginem Sang nata kondur saking pagrogolan, datan dangu sowanipun ingkang putra ing kadipaten, raden Seta, raden Untara, raden Wratsangka, tuwin patih Jayanirmala. Kasaru sowanira resi Nagatatmala, ingiring parepatira tiga. Ginem : raden arya Seta matur ing raka prabu Kresnadipayana, bilih ingutus rama prabu Matswapati. Kang rama mundhut pialung sagedipun waluya prajanira, awit angsal wangsiting jawata linuwih, manawi bathari Sri kondur dhumateng ing Wiratha, punika saged waluya jati. Mila borong raka prabu Kresnadipayana. Sang nata anyagahi, Raden Arya Seta sawadyanira lajeng amit kondur maring ing Wiratha. Sapungkurira Raden Arya Seta, resi Nagatatmala matur, ingutus ingkang rama sang Hyang Anantaboga, paduka srinata tinimbalan maring Saptapratala, sampun trang saking dhawuhipun sang hyang Pramesthiguru, kinen mapag parangmuka kang minggah ing Suralaya. Nanging resi Nagatatmala kinen ngupaya bathari Sri, bilih sampun saged kapanggih, bathari Sri dhinawuhan kondur maring praja Wiratha. Resi Nagatatmala sandika, amit rinilan bidhal ingiring parepatira tiga. Sang nata kondur ngadhaton.
  1. Madeg ing nagari Pratalaretna, prabu Darmasara, miyos ingadhep patih Jayalegawa, tuwin para punggawa pepak kang anangkil. Ginem : Sang nata anggalih denira anampi nawala panglamar saking ratu sewu nagari, para nata mancapraja, sami nyuwun jodho Dewi Sri. Kasaru dhatengipun resi Nagatatmala, matur ingutus srinata ing Wiratha, nyuwun bathari Sri. Prabu Darmasara lajeng dhawuh mring patih Jayalegawa, kinen atata-tata ing jawi, patih matur sandika, resi Nagatatmala lajeng ingirid prabu Darmasara maring kadhaton.
  1. Madeg ing gupit Mandragini, sang bathari Sri, lenggah ingadhep para parekan. Ginem : Sang bathari Sri karsa kondur angajawi, kasaru sowanipun prabu Darmasara dalah garwa putra. Dewi Darmawati, tuwin Dewi Darmarini, kanthi ngirid resi Nagatatmala, matur ingutus prabu Matswapati ing Wiratha. Sang bathari Sri ingaturan, sampun sagah, namung resi Nagatatmala kapundhut putra, lajeng ngabekti, dhinawuhan matur maring raden Sadana. Resi Nagatatmala sandika, pangkat ingiring Semar, Nalagareng, Petruk.
  2. Madeg ing Pratalaretna, ing pungkuran, raden Sadana lagya lenggah, kasaru sowanira resi Nagatatmala, dinangu matur, ingutus srinata ing Wiratha, nyuwun bathari Sri, raden Sadana duka datan suka, dadya prang rame, danguning prang raden Sadana jinemparing deling wulung, raden Sadana lajeng oncat, kondur dhateng nagari Keling.
  1. Madeg ing dhatulaya, bathari Sri, ingadhep prabu Darmasara, tuwin prameswari Dewi Darmawati, dalah putra Dewi Darmarini. Bathari Sri ngandika mring prabu Darmasara, bilih retna Darmarini pinundhut putra, sang nata dalah garwa suka jumurung, kasaru sowanipun resi Nagatatmala, tuwin lurah Semar, Nalagareng, Petruk, matur sasolah reh dinuta, bilih dados pancakara kaliyan raden Sadana. Samangke raden Sadana oncat maring nagari Keling. Sampuning telas aturira, resi Nagatatmala lajeng dhinaupaken kaliyan Dewi Darmarini, pondhongan.
  1. Madeg bathari Sri, ingadhep prabu Darmasara dalah garwa putra, sang bathari Sri dhawuh arsa kondur maring Wiratha. Sang nata tuwin garwa putra, sami andherekaken tindakira, bidhal, resi Nagatatmala karsa sowan mampir maring nagari Astina.
  1. Madeg ing Suralaya, sang hyang Narada, lenggah tuwin sang hyang Bayu, ingadhep para jawata. Ginem : sang hyang Narada miyarsa warta, bilih resi Nagatatmala maring Wiratha, sang hyang Narada tuwin sang hyang Bayu arsa tindak maring nagari Wiratha, mundhut wangsulipun resi Nagatatmala maring kahyangan, bidhal maring ngarcapada.
  1. Madeg ing nagari Astina, prabu Kresnaipayana, miyos ingadhep patih Jayaprayitna, tuwin para punggawa pepak kang anangkil. Kasaru sowanipun resi Nagatatmala, matur sasolahira dinuta, purwa madya wasana, sarta samangke bathari Sri tuwin prabu Darmasara, dalah garwa putra, sampun samya kondur maring Wiratha. Sasampuning telas aturipun resi Nagatatmala, sang prabu karsa tindak maring Wiratha, kadherekaken resi Nagatatmala, tuwin Semar, Nalagareng, Petruk. Patih Jayaprayitna kinen tengga praja, lajeng bidhal.
  1. Madeg ing nagari Wiratha, prabu Matswapati miyos ingadhep kang putra raden arya Seta, raden Wratsangka, tuwin patih Jayanirbita, patih Wijayanirbita. Ginem : Sang nata andangu mring putra denira dinuta maring Astina. Kang putra raden arya Seta matur : “Kakang prabu Krenadipayana sampun sagah”. Kasaru rawuhira bathari Sri, tuwin prabu Darmasara dalah garwa, kanthi ambekta putra panganten, bathari Sri dalah panganten ingaturan lumebet ing dalem, prabu Matswapati lajeng mangg’ihi sang hyang Narada, sang hyang Bayu, tuwin kang putra prabu Kresnadipayana. Lagya eca denira imbal wacana, kasaru sowanipun patih Jayanirbita, atur uninga, bilih ing jawi wonten parangmuka adhatengi saking praja Guwarejeng, prabu Suryakumala, tuwin prabu Sasradewa, sawadya balanira. Sang prabu Matswapati sasmita mring kang rayi prabu Kresnadipayana, lajeng samya medal ing jawi, sareng dumugi ing alun-alun sampun panggih ayun-ayunan, prabu Kresnadipayana prang tandhing kaliyan prabu Suryakumala, prang rame, danguning prang, prabu Suryakumala jinemparing pejah. Kang rayi prabu Sasradewa mangsah, jinemparing pejah. Patih Baudhendha sareng uninga gustinira kakalih sami seda, patih bramantya, lajeng mangsah, pinapag dening sang hyang Bayu. Patih Baudhendha pejah, sawadyanira ditya tumpes sadaya, tan mangga puliha, sampak kang unggul ing yuda lajeng sami mundur, arsa wangsul maring pasewakan.
    Madeg ing nagari Wiratha, sang prabu Matswapati, lenggah tuwin sang Hyang Narada. Ginem : Sang hyang Narada mundhut resi Nagatatmala, arsa binekta maring Suralaya, sang prabu ngaturaken, kasaru rawuhira para nata kang samya kondur saking ing ngayuda, lajeng pinethuk prabu Matswapati, samya kinanthi, binekta lenggah satata. Sasampuning imbal wacana, sang Hyang Narada, tuwin sang Hyang Bayu amit maring kahyangan, resi Nagatatmala dalah garwanira sami andherekaken sang Hyang Narada.
    Sapengkerira sang hyang Narada, para nata sami mangun bojana andrawina, tanceb kayon.
  1. LAMPAHAN PURWAKALA (MURWAKALA) 
  1. Jejer bathara Guru, kaadhep Dewi Uma, hyang Narada. Dereng ngantos ginem, kasaru sowanipun bathara Kala, amargi paringipun tedha ingkang rumiyin, lobanglojo, boten eca katedha, hyang Guru lajeng maringi tedha, kadosta :
    a. Ontang-anting, inggih punika lare jaler ingkang boten gadhah sadherek,
    b. Untang-unting, inggih punika lare estri ingkang boten gadhah sadherek.
    c. Lumunting, inggih punika lare ingkang lahiripun tanpa ari-ari,
    d. Sarimpi, inggih punika sadherek sakawan sami estri,
    e. Saramba, inggih punika sadherek sakawan sami jaler,
    f. Pandhawa, inggih punika sadherek gangsal sami jaler.
    g. Pandhawi, inggih punika sadherek gangsal sami estri,
    h. Pandhawa madhangake, inggih punika sadherek gangsal, jaler 4 estri 1.
    i. Pandhawa ipil-ipil,inggih punika sadherek gangsal,estri 4 jaler 1.
    j. Uger-uger, inggih punika sadherek kalih sami jaler.
    k. Kembang sepasang, inggih punika sadherek kalih sami estri.
    l. Gedhana-gedhini,. inggih punika sadherek kalih jaler estri (sepuh ingkang jaler).
    m. Gedhini-gedhana, inggih punika sadherek kalih estri jaler (sepuh ingkang estri).
    n. Sendhang angapit pancura, inggih punika sadherek 3, estri 2, jaler 1, (jaler panengah).
    o. Kajawi ingkang kasebut ing nginggil, sang hyang Guru ugi maringaken tedha malih dhateng sang hyang Kala, nanging boten mawi karuwat, kadosta :
    1.Jisim lalampah, inggih punika tiyang satunggal lumampah kekesahan,
    2. Bathang ucap-ucap, inggih punika tiyang kakalih lumampah tebih.
    3. Gotong mayit, inggih punika tiyang tiga lumampah tebih.
    4. Tiyang lumampah ing wanci tengange, boten manjang boten ngidung.

Dewi Uma ugi maringi tedha, ingkang kaparingaken tiyang ingkang tiwas angrisakaken dandananing wadon, kadosta :

  1. Tiyang ngrebahaken dandang.
  2. Tiyang nugelaken gandhik.
  3. Tiyang mecahaken pipisan.
  4. Tiyang darnel griya saweg kaadegaken dereng rampung.

Tegesipun dereng kenging dipun enggeni, lajeng ambruk.

  1. Bathara Kala lajeng pamit mundur, sapengkeripun bathara Kala, lajeng ginem, sarehning kekathahen ingkang kaparingaken dados tedhanipun bathara Kala, kagalih mesakaken sadaya titah, mila sang hyang Guru lajeng dhawuh dhateng Narada, supados andhawuhna dhateng sang hyang Wisnu, kadhawuhan lampah andhalang, kangge anjabel ingkang sampun dados dhawuhipun dhumateng bathara Kala. Bathara Brama dadosa panggender, Narada dadosa panjakipun, bathara Wisnu ingkang dados dhalang. Hyang Narada mundur, sapengkeripun hyang Narada, sang hyang Guru kaliyan Dewi Uma lajeng nitih lembu Andini anganglang jagad.
  1. Gentos kacariyos, hyang Kala kaliyan kang garwa bathari Durga, tuwin bala, Ginem badhe dhateng sendhang talaga Madirda, perlu ngupados tedha, lajeng mangkat.
  1. Madeg ing Utaralayu, Hyang Wisnu, Hyang Brama, kasaru dhatengipun Hyang Narada, andhawuhaken dhawuhipun hyang Guru dhateng Hyang Wisnu, supados anjabela ingkang sampun kadhawuhaken dhateng hyang Kala, sarananipun hyang Wisnu dadosa dhalang, Brama dadosa panggender, Narada dadosa panjak, aturipun sandika, lajeng sami bidhal, anjujug dhukuh Dhadhapan.
  1. Gentos kacariyos, Hyang Kala anggenipun dhateng talaga Madirda kapethuk sang Hyang Guru, kadangu matur ngupados tedha, lajeng kaparingan dadamel : badhajna, manawi angsal tetedhan ingkang sampun kadhawuhaken, kapaesana ing badhama, manawi mboten kapaesan ing badhama, badhe kajawekaken yoga dewa, utawi manawi wonten tiyang sumerep dhateng saranduning badanipun, punika kadhawuhan angaken bapa. Bathara Kala matur sandika, lajeng sewang-sewangan.
  1. Kacariyos ing dhukuh Mendhangkawit, mbok randha Sumawit, kaliyan anakipun nama Jaka Jatusmati, sarehning Jaka Jatusmati wau ontang:anting, miia kapurih adus dhateng Talaga Madirda, supados icala mala sukeripun, lajeng bidhal.
  1. Madeg ing talaga Madirda, hyang Kala wonten salebetipun sendhang, Jaka Jatusmati dhateng, dipun takeni dhateng bathara Kala, wangsulanipun badhe adus, lajeng kapurih malebet wetengipun bathara Kala, Jaka Jatusmati mboten purun, sarta lajeng kesah, kabujung dening Hyang Kala. Jatusmati malebet ing bumbung, bumbung kacepeng Hyang Kala, Jaka Jatusmati ical, andhelik dhateng panggenanipuri tiyang dandos-dandos griya. Jatusmati lajeng mendha-mendha tiyang dandos-dandos griya, kasumerepan bathara Kala, kabujung malih, Jatusmati mlajeng griya ambruk, Jatusmati andhelik dhateng panggenanipun tiyang mipis jampi, bathara Kala sumerep, lajeng kabujung. Jatusmati mlajeng, pipisan pecah, gandhik tugel. Jaka Jatusmati andhelik dhateng panggenanipun tiyang adang, ugi kabujung dening Hyang Kala, dandang ambruk. Jatusmati lumajeng, Hyang Kala ambujung malih, kasrimpet ing wit Waluh dhawah. Pambujungipun dhateng Jatusmati kakilapan. Sigeg genti kacariyos, wonten tiyang estri panganten enggal, ngajeng-ajeng semahipun, Jatusmati dhateng ing ngriku, lajeng nunggil tiyang estri panganten enggal wau. Hyang Kala sumerep, lajeng dhawuh dhateng Bajobarat, supados nenggani wonten panggenanipun panganten enggal wau.
  1. Madeg ing dhukuh Mendhangkamulan, kyai buyut Wangkeng, kaliyan anak estri, lan anak mantu nama buyut Geduwal, inggih punika bojonipun anak estri wau. Ingkang estri nedha dhateng bapa supados dipun pegataken, nanging bapa boten suka, sarta lajeng kaserep-serepaken, inggih lajeng narimah boten saestu nedha kapegataken, nanging nedha panggil supados katanggapaken ringgit (wayang). Bapa mituruti, mantu kakengken ngundang dhalang.
  1. Madeg ing dhukuh Dhadhapan, ingkang wonten ing ngriku :
  2. Dhalang Kandhabuwana, 2. estri, panggender nama Surani, 3. Jaler warni awon, nama panjak dhalang Klungkungan, 4. mBok randha Dhadhapan. mBok randha dipun takeni kyai dhalang Kandhabuwana, dene boten dhateng peken, wangsulanipun sampun tuwuk. Nyai randha lajeng kasantunan nama nyai randha Asemsore. Anak putu yen moyoki jangan. asem lare encok. Kasaru dhatenge buyut Geduwal, angaturi kyai dhalang Kandhabuwana dhateng griyanipun marasepuh, katanggap. Kyai dhalang anyagahi, kothak sapirantosipun kabekta rumiyin, lajeng sami bidhal.
  1. Madeg ing dhukuh Mendhangkamulan, ki buyut lan anakipun estri. Ing sapengkeripun mantu ngupados dhalang, ing padhukuhan ngriku dipun ambah buron wana. Sagedipun waluya, anakipun karuwata. Boten dangu dhatengipun anak mantu, ambekta kothak wayang sapirantosipun, katungka dhatengipun kyai dhalang Kandhabuwana. Kyai dhalang lajeng kapasrahan angruwat anakipun estri, kangge sarana nyirnakaken buron wana ingkang ngambah ing padhukuhan, kyai dhalang sagah, ki buyut dipun purih marnekaken sajen-sajen, inggih. sampun dipun wonteni sadaya. Ki buyut nedha lilah manggen wonten salebetipun kelir. Sarampungipun panata, kyai dhalang Kandhabuwana wiwit andhalang Lampahanipun Manikmaya. Tiyang ningali jaler-estri, sepuh – anem, kathah, kados dipun welingaken. Jaka Jatusmati mireng lajeng ningali, sarta tumut nabuh kethuk, ing satengahipun ringgitan. Sanes dhusun wonten tiyang alok pandung, cacahing pandung sekawan, palajengipun pandung, ingkang kalih terus, ingkang kalih dhateng panggenan ringgitan, sarta lajeng sami tumut nabuh. Ingkang satunggal nabuh kenong, satunggalipun nabuh kecer. Hyang Kala ugi mireng yen ing ngriku ringgitan, lajeng aningali, anjujug ing palataran sendhen wit cikal sarwi ngantuk, sarta cangkemipun menga. Kyai Kandhabuwana uninga, hyang Kala dipun sawat ing tigan, kenging telakipun lajeng tangi, saha lajeng aningali ringgit, rame-ramening babanyolan, hyang Kala gumujeng, tiyang ingkang ningali lajeng bibar. Bathara Kala pitaken dhateng dhalang Kandhabuwana, sababipun punapa teka lajeng bibar. Wangsulanipun kyai dhalang Kandhabuwana, amargi sami sumerep sang Hyang Kala. Hyang Kala nedha murih lekas ringgitan malih. Kyai dhalang inggih kadugi, manawi mawi sarana satak sawe dinar. Hyang Kala kadugi nyukani sarana, namung kapiliha prabotipun ingkang dipun engge kemawon, awit boten ambekta dinar, Kyai dhalang lajeng milih bedhama, hyang Kala inggih nyukakaken, nanging nedha prajangji : Aja legi dadi pahit. Wangsulanipun kyai dhalang, ora watak, lajeng wiwit andhalang malih.
  1. Sawatawis dangunipun, Hyang Kala pamitan ngisis. Dumuginipun ing njawi, Hyang Kala mambet gandaning bayi lahir, inggih punika bayi anakipun panganten enggal wau, lajeng kapendhet sarta badhe kauntal, nanging lajeng kengetan, manawi bedhamanipun wonten kyai dhalang, mila enggal wangsul dhateng ing palataran, nalika punika Jaka Jatusmati pamit dhateng kyai panjak, badhe mantuk dhateng griyanipun, kalilan, dumugi palataran dipun cathok bathara Kala. Bathara Kala enggal manggihi kyai dhalang, pikantukipun bayi tuwin Jaka Jatusmati wau kalintokaken bedhama. Kyai dhalang Kandhabuwana inggih suka, lajeng sami lintonan.
  1. Hyang Kala nedha rucatipun kelir, saha ngaken menang sepuh tinimbang kyai dhalang, kyai dhalang amangsuli : Bilih kyai dhalang ingkang sepuh tinimbang Hyang Kala, sarta Hyang Kala punapa purun dipun wastani sadaya saranduning badanipun. Hyang Kala inggih purun, kyai dhalang Kandhabuwana lajeng nandukaken sampurnaning puja, dhalang lajeng ngucapaken : Hong, prayoganira sang hyang Akasa lawan Pratiwi, mijil yoganira sang hyang Agilang-gilang ing siti, binuwang aneng samodra, kumambang lembak-lembak. ana daging dudu daging, ana getih dudu getih, aranmu sang Kama salah, akiri sakilomaya, kadya manik amesthika, gya murub angarab-arab, nekakaken prabawa, ketug lindhu lan prahara, lesus hanggung aliweran, geter pater tan pantara, murub ingkang kaladora, gumesang aneng triloka, nguni weh kang padmacakra, nguni weh bathara Guru, Awigena purnama siddi, hong namu namas swah hah.

Dhalang anglajengaken ngucap santi purwa : Hong dinuk aku purwanira ring pustaka, ginutuk ing padmacakra, ingkang minangka sirahmu, ginutuk ing kurameyan, ya ta kang dadi rambutmu, ginutuk sirengpanelan, ya ta minangka bathukmu, ginutuk ing rengas wastra, ya ta kang dadi alismu, ginutuk ing suryakantha, ya ta kang dadi netramu, ginutuk sireng kilatnya, ya ta kang dadi kedhepmu, ginutuk sireng mani, ya ta kang dadi kupingmu, ginutuk sireng momaka, ya ta kang dadi pipimu, ginutuk sireng panayan, ya ta minangka pasumu, ginutuk ing rindhung wastra, ya ta minangka irungmu, ginutuk ing langkap wastra, ya ta kang dadi tutukmu, ginutuk ing rejek wastra, ya ta kang dadi untumu, ginutuk ing waja lidhah, ya ta kang dadi ilatmu, ginutuk sireng panawan, ya ta minangka telakmu, ginutuk ing waja sumeh, ya ta minangka janggutmu, ginutuk sidhang panawan, ya ta minangka uwangmu, ginutuk ing wesi panggak, ya ta kang dadi gulumu, ginutuk wesi gulam, ya ta kang dadi baumu, ginutuk sireng candrasa, yata minangka tanganmu, ginutuk ing palempengan, ya ta minangka salangmu, ginutuk ngambil wastra, ya ta minangka dhadhamu, ginutuk sarwa sanjata, ya ta kang dadi igamu, ginutuk sireng padupan, ya ta minangka atimu, ginutuk sireng geni-tri, ya ta kang dadi amperumu, ginutuk ing sandiwiddi, ya ta kang dadi jantungmu, ginutuk sagara ampenan, ya ta minangka wetengmu, ginutuk sireng lukita, ya ta minangka ususmu, ginutuk ing rancang wastra, ya ta minangka ototmu, ginutuk ing wajasari, ya ta minangka balungmu, ginutuk pancuran racah, ya ta minangka dakarmu, ginutuk ing baka wastra, ya ta minangka wangkongmu, ginutuk sireng deksana, ya ta kang dadi pupumu, ginutuk ing bindi wastra, ya ta minangka garesmu, ginutuk ing waja niwal, ya ta kang dadi sikilmu, ginutuk ing gora wastra, ya ta kang minangka gedhemu,- ginutuk ing krama krama wastra, ya ta minangka nepsumu, kumejod molah anibegan, angadeg kagiri-giri, awakmu wegah uger asalit ajatha gimbal, angerik anguwuh-uwuh, sira mulat amangetan, sakehing para jawatan kagegeran, dening sira, awedi andeleng rupamu, aranmu si kama salah, Awignam astuna purnama siddi. Hong namu namas swah hah.

Dhalang anglajengaken ngucap aksara bathuk :

Caraka balik : Nga, tha, ba, ga, ma, nya, ya, ja, dha, pa, la, wa, sa, ta, da, ka, ra, ca, na, ha.

Lajeng aksara telak : Sang Kala lumerang sangkaning lara, Wisnu kena ing lara, lungguh ing otot lan ing amperu, kang alara mulya, mulya dening bathara Brama. Brama kena ing lara, lungguh ing Guru kena ing lara, lungguh ing tutuk, gurune lumumah lan saranduning awak, kang lara mulya, mulya dening sang hyang Wenang. Sang hyang Wenang tan kena ing lara, marang sang hyang Wenang kumpul panunggaling rasa, rasa tunggal lan jati, jati tunggal lan rasa, rasa jati mulya, mulya saking ingkang wasesa.

Dhalang lajeng ngucapaken sastra ing dhadha, sastra bedhati :

Hong ilaheng sawedana, Durga Kala sawedana, kreti ndaru tumuruna nur ring madya, aworing dewata muja, aji sang hata hati, hama raja ta ajiku, hama raja ta wuwusku, hama raja jara maya, amarani rimu maya, asi raya para siya, amidosa sadomiya, amidara rodamiya, ya midosa sadomiya, ya siya ya palasiya, ya sira para asiya, ya siya papara siya, lawagna lawagni, sikuthara sikuthari, sibrenggala sibrenggali, si-bitapa sibitapi, sibintaka sibintaki, sidurbala sidurbali, sirumaya sirumayi, sihudaya sihudayi, sisrimaya gedhah maya, sidayudi sidayiida, adiyuda adiyuda, adayudi nihudaya, hong namu namas swah hah.

Dhalang lajeng ngucapaken sastra gigir : Hong yogyanira sang Hyang Pratiwi mijil kamulan, bathari Uma mijil saking limu-limu, ingusap sariranira, mijila sang Hyang Kusika, mijila bathara Gagra, saking balung kamulanya, ana ta sang Hyang Kurusa, saking daging kamulanya, ana kang bathara Metriya, saking otot kamulanya, mijil sang Hyang Pritanjala, saking sungsum mulanira, kinen agawe lekaha, kusika milu alumeh, tinut denira sang Gagra, Hyang Gagra milu alumeh, tinut dening sang Hyang Kurusa, Kurusa milu alumeh, tinut dening hyang Metri, sang Hyang Metri milu alumeh, teher mijila wikalpa, neher ing ipat-ipatan, Kusika mesat mangetan, katemah andadi emong, Hyang Gagra mesat mangidul, atemah andadi sarpa, Kurusa mesat mangulon, atemah andadi buta, Hyang Metri mesat mangalor, atemah andadi dhengen, kuneng sang Hyang Pritanjala, ingkang kinen gawe loka, angenjali ring bathara, kang riwe arereweyan, dinilat arasa asin, atemah andadi uyah.

Kuneng bathara Uma, sinasayeng jagad nata, atemah papacintraka, cinandhak suku sinungsang, anjerit angrik anguwuh, asalit ajatha gimbal, nguni weh bathari Durga, Hong namu namas swah hah.

Sasampuning rampung, kacariyos bathara Kala lajeng ambapa dhateng kyai dhalang Kandhabuwana, sarta matur ingkang kapundhut punapa. Kyai dhalang Kandhabuwana mangsuli, ingkang kapundhut paringipun tedha sang hyang Guru sadaya, sarta bathara Kala katundhung sagarwa balanipun saking dhukuh Mendhangkamulan.

Kala matur sandika. Nanging panundhungipun nyuwun mawi santi Kukus, kyai dhalang Kandhabuwana nyagahi. Ingkang andhalang lajeng ngucapaken santi Kukus : Hong, purwa yanti yogya yanti, kaget Hyang Mandhalagiri, sinurak para jawata, amijilaken kasekten, ana banyu teka wetan, aputih mili mangulon, ngileni bathari Sri, guru warda wardi dadi. Hong, purwa yanti yogya yanti, kaget hyang Mandhalagiri, sinurak para jawata, amijilaken kasekten, ana banyu teka kidul, abang mili mangalor, ngileni bathari Sri, guru warda wardi dadi. Hong purwa yanti yogya yanti, kaget Hyang Mandhalagiri, sinurak para jawata, mijilaken kasekten, ana banyu teka kulon, kuning amili mangetan, ngileni bathari Sri, guru warda wardi dadi, Hong purwa yanti yogya yanti, kaget Hyang Mandhalagiri, sinurak para jawata, mijilaken kasekten, ana banyu teka elor, ireng amili mangidul, ngileni bathari Sri, guru warda wardi dadi. Awignam mastuna purnama siddi. Hong namunaswah hah.

Kyai dhalang lajeng ngucapaken Balasrewu : Hong ilaheng minangka ranku, ya sang Gandhusekti, ya sang ila-ila, santi guna ila warna, sang hyang hayu palungguhku, sang hyang toya pangadegku, nagaraja ing dhadhaku, naga milet ing guluku, gelap ngampar suwaraku, iduku tawa ing sakalir, netraku sang surya kembar, kilat mbarung ing cahyaku, durga durgi ngiring aku, sang Kala rumekseng aku, buta kabeh ring omahku, kaomahan dhengen kabeh, kang sun deleng padha lengleng, kang ndak pandeng teka bengeng. Hong namu namas swah hah.

Dhalang lajeng ngucapaken Banyak-dhalang : Hong resang tabe, sun angidung, kidungku si banyak-dhalang, ngendi enggonira alinggih, rajasa, kumitir, amerteng sinapragnyana, agupita narawangsa, gendere pinatut barang, hulung kenyar ing prasada, sira kaki atangiya, angadeka wringin sungsang, ameranga ampel gadhing, tugelen gawenen sanggar, sanggar-sanggar pangruwatan, pangruwatan ujar ala, pangruwatan sara supata, supataning sanak tuwa, angruwata supataning maratuwa, angruwata supataning wong ngatuwa, angruwata sagunging mala cintraka, angruwata lalara roga, rara gung rara wigena, gelah talutuh ilangna, katuta ing barat lesus, katuta ing lesus agung, lebur ajur musna ilang, ilang saking tan ana. Hong namu namaswah hah. Hong latak rowang maring sendhang, sendhang-sendhang samandhala, mandhalane wong mengari, anake ki Ulungkembang, kudu osik bisa ngaji, dhukuhe ki empu ana bale anyar tanpa galar, ana ta kang sumur bandhung, timbane timba kapala, tatali ususing maling, siwur burut tanpa kancing, garane winadu aji, sulur kamudhi waringin, banyune ludira muncar, iline mili mangetan, ala elo, katuta ing banyu mele, lebur ajur musna ilang. Hong lata rowang, ana jaka amek kembang, amemenek anguthapel, den gebagi jejomponge, anon siparawan liwat, dinulu rupane ayu, parawanan ngaku rara, lah tan mara sing rarawan, anononton kintel muni, ting caremplang ting caremplung, hanggero kang kodhok niyo, tingkahe arangkal-rangkal, sedyane arep nauta, anauta roroga, lara gung lara wigena, tatangga yen angrungokna, wong angidung Banyak-dhalang, saben dina tanpa dadar, yen ana parawan tuwa, utawa jajaka tuwa, dumadakan gelis krama, yen ana wong gring kadadak, dumadakan gelis mulya, yen ana kang sedya ala, teka mundur tanpa krana, sampurna ing Banyak-dhalang, kang ngidung temah sampurna.

Hong lata rowang, mring bangawan, anontona larung keli, larunge si Banyak-dhalang, loro sanake den larung, ing benjang jaja murdipa, akutha ing kurayana, ana manuk cucuk waja, anucuka larung keli, iberna gawanen lunga, awigna astuna purnamasiddi. Hong namu namas swah hah.

Sasampuning rampung sampurnaning puja sapanunggilanipun wau, Hyang Kala nedha adus, kyai dhalang inggih anuruti, sarta ingkang andhalang wau lajeng ambedhol dhalang Kandhabuwana kaliyan bathara Kala saking gadebog, cempuritipun kacemplungaken ing pangaron enggal, ingkang sampun kasudhiyakaken isi sekar sataman sapirantosipun. Ingkang andhalang lajeng ngucapaken japa padusaning Kala : Tunjung adus ing banyuning banyumili tlaga manik, Uma kang ngedusi, Durga kang ngosoki, Wisnu kang ngentas. Lajeng winisik ing japa : Kala den eling sira, sira muliha ing jatisorangan, asalira teka ora, sira muliha marang ora, asalira teka ing jati, iya muliha maring jati, ingsun sajatine wisesa.

Lajeng dipun kudang : Hong, anake ki Kurameyan, agedhe aseseg dhepah, mBangbang bus pasthi kamaya, ana maya-maya katon, kang anonton milu katon, kang tinonton ora katon, byang-byang byos, golong-golong gumelompong, gulung-gulung gumalumpung.

Hong namu namas swah hah.

Bathara Kala lajeng kesah, sagarwa balanipun, kaliyan sami nedha sangu sadaya, Wangsulanipun kyai dhalang Kandhabuwana : Iya padha anjupuka. Lajeng sami mendheti, (ingkang dipun pendheti sajen), lajeng kesah.

Kyai dhalang Kandhabuwana lajeng nandukaken japa Kumbalageni : Buk-buk maga rubuk, gerobyog padha rusah, suwung sepi sumleng balaning Kala.

Lajeng Dewi Sri Sadana dhateng, kapanggih kaliyan dhalang Kandhabuwana, pamit mantuk, sarta nyuwun sajen ingkang dados waijibipun, dhalang Kandhabuwana pareng, lajeng kapendhetan, sarta lajeng mantuk, kyai dhalang Kandhabuwana lajeng dhawuh dhateng panjak dhalang Klungkungan, Jaka Jatusmati supados dipun guyang. Lajeng kaguyang kaliyan dipun mantrani padusan Jatusmati, : Bogenira sira prasini, jiwanggana patrayana, prakasiwah prakasipa, boga-boga wali purna, Hong bestu waluya, waluya temah anjati, jati temahan waluya, Hong bestu waluya.

Ing sarampungipun, Jaka Jatusmati lajeng pamit mantuk, kalilan, saha lajeng mangkat, lajeng wonten nyai randha dhateng, nyuwun mantukipun bayi ingkang dhawah sampir (bayi lahir wonten salebetipun tangga nuju ringgitan) dhalang Kandhabuwana marengaken, lajeng kabekta mantuk. Pandung ingkang tumut nabuh kenong kecer sami nyuwun pamit mantuk, sarta ngaturaken prasetya, anak putunipun manawi ngantos purun ngawoni dhateng kyai dhalang mugi saturunipun sampun ngantos manggih panjang umuripun, sampun kalilan lajeng mantuk. Saantukipun pandung, buyut Wangkeng kengkenan tiyang estri, nerangaken dhateng kyai dhalang Kandhabuwana, kados pundi tindakipun rara Pripen, inggih punika anakipun estri ingkang nedha ringgitan wau.

Wangsulanipun dhalang Kandhabuwana : Aku mengko adus, sarampunge adus, kembang sataman dianggoa adus rara Pripen, iku sirna mala sukertane. Dhalang Kandhabuwana, panjak lajeng sami adus, sarta mawi japa padusan dhalang lan panjak.

Driyakdasa gunem, gramina satardi nayem, ping sapta muni dewa yu. Hong bestu waluya, waluya temah anjati, jati temahan waluya, Hong bestu waluya.

Lajeng matak aji weling. Sarampungipun, boten dangu dhatengipun Sapujagad, ingkang ngresiki balane Kala kabeh, pasangone poleng sakayuh, pantun kalih gedheng, cikal kalih, badheg sagoci, sekul wuduk ulam lembaran, sampun resik, namung kantun bala satunggal, angentosi jenang baro-baro. Sapujagad lajeng mantuk, dhalang Kandhabuwana lajeng sumbar-sumbar : Aku dhalang Kandhabuwana, angadeg pusering jagad, aningali memelok ing kalangan, tanggal pisan patbelase murub tan kenaning pati, mancur tan kena surem, aku

dhalang Jatiwasesa, ora wenang diwasesa, iya aku kang wenang misesa sakalir. Dupi kapyarsa sumbare kyai dhalang Kandhabuwana, ambaledug balanipun Kala. Tanceb kayon.

Ingkang andhalang lajeng ngucap, “Awignam astu namas sidhem, lungguhku pakuning bumi, talapakane sanggabuwana, gadebog Hyang Nagaraja, kelirku sang Tinjomayu, widadari kang anggameli, widadara kang anonton, kang anonton padha katon, kang tinonton ora katon, hong mastu namas sidhem”. @@@

%d bloggers like this: