alangalangkumitir

Javanese Manuscripts

SUMPAH BUDAYA 2011


Situasi mental sosial-budaya bangsa yang cukup memprihatinkan sekarang ini harus segera dicarikan jalan keluarnya dan harus ada langkah raksasa agar ada keperdulian dari semua elemen bangsa untuk memelihara dan menjaga budaya nusantara tidak sekedar parsial namun dalam scope nasional secara komprehensif. Perlu pula dilakukan semacam revitalisasi budaya bangsa dengan visi menjadi bangsa Indonesia yang berkarakter (mempunyai jati diri), bermartabat dan terhormat.

Indonesia kini adalah sebuah bangsa yang telah kehilangan jati dirinya. Bangsa yang tidak lagi mengetahui apa dan bagaimana nilai-nilai interaksi manusia dengan lingkungan alam dan lingkungan sosialnya terbangun sejak ribuan tahun silam. Padahal dari nilai-nilai itu karakter jiwa suatu bangsa terlihat. Setiap celah kesadaran dan aktivitas hidup individu saat ini tidak lagi mencerminkan jati dirinya.

Bangsa kita sudah tidak berbudaya, bobrok moralitas dan etikanya. Budaya kita stagnan bahkan surut mundur ke wilayah masa lalu dimana kita hanya bisa menjadi pasif menerima budaya dari luar tanpa mampu untuk menggeliat, mewarnai dan kreatif menjalin sinergitas dengan budyaa yang dari luar. Masalah ini mutlak segera dibahas dan dipecahkan bersama-sama. Kita perlu menyadari bahwa banyaknya persoalan yang dihadapi bangsa ini sangat kompleks menyangkut kehidupan sosial, ekonomi, politik dan lainnya. Namun harus digarisbawahi kalau bidang-bidang tersebut sangat terkait dengan krisis yang berlaku di lapangan kebudayaan.

Kita mengakui budaya bangsa warisan leluhur kita sangat adiluhung. Namun kenapa perhatian semua pihak terhadap budaya bangsa semakin lama semakin rendah? Bangsa ini seakan menjadi bangsa yang tanpa budaya, dan perlahan dan pasti suatu saat nanti bangsa ini pasti lupa akan budayanya sendiri. Situasi ini menunjukan betapa krisis budaya telah melanda negeri ini. Rendahnya perhatian pemerintah untuk menguri-uri budaya bangsanya, menunjukan minimnya pula kepedulian atas masa depan budaya. Yang semestinya budaya senantiasa dilestarikan dan diberdayakan. Muara dari kondisi di atas adalah bangkrutnya tatanan moralitas bangsa. Kebangkrutan moralitas bangsa karena masyarakat telah kehilangan jati dirinya sebagai bangsa besar nusantara yang sesungguhnya memiliki “software” canggih dan lebih dari sekedar “modern”. Itulah “neraka” kehidupan yang sungguh nyata dihadapi oleh generasi penerus bangsa.

Kebangkrutan moralitas bangsa dapat kita lihat dalam berbagai elemen kehidupan bangsa besar ini. Rusak dan hilangnya jutaan hektar lahan hutan di berbagai belahan negeri ini. Korupsi, kolusi, nepotisme, hukum yang bobrok dan pilih kasih. Pembunuhan, perampokan, pencurian, pemerkosaan, asusial, permesuman, penipuan dan sekian banyaknya tindak kejahatan dan kriminal dilakukan oleh masyarakat maupun para pejabat. Bahkan oleh para penjaga moral bangsa itu sendiri. Duduk persoalannya, orang kurang memahami jika budaya bersentuhan langsung dengan sendi-sendi kehidupan manusia di segala bidang dengan lingkungan alamnya di mana mereka hidup. Sebagai contoh terjadinya kerusakan alam yang kronis menunjukkan dampak tercerabutnya (disembeded) manusia dengan harmoni lingkungan alamnya.

Undang Undang Dasar Negara RI tahun 1945 (UUD 1945) Pasal 32 ayat (1) dinyatakan, “Negara memajukan kebudayaan nasional di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasa masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai–nilai budayanya”. Sudah sangat jelas konstitusi menugaskan kepada penyelenggara negara untuk memajukan kebudayaan nasional Indonesia. Ini berarti negara berkewajiban memberi ruang, waktu, sarana, dan institusi untuk memajukan budaya nasional dari mana pun budaya itu berasal.

Amanah konstitusi itu, tidak direspon secara penuh oleh pemerintah. Bangsa yang sudah merdeka 66 tahun ini masalah budaya kepengurusannya “dititipkan” kepada institusi yang lain. Pada masa yang lampau pengembangan budaya dititipkan kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, kini Budaya berada dalam satu atap dengan Pariwisata, yakni Departemen Pariwisata dan Budaya. Dari titik ini saja telah ada kejelasan, bagaimana penyelenggara negara menyikapi budaya nasional itu. Budaya nasional hanya dijadikan pelengkap penderita saja.

Kita ingat beberapa saat yang lalu kejadian yang menyita perhatian yaitu klaim oleh negara Malaysia terhadap produk budaya bangsa Indonesia yang diklaim sebagai budaya negara Jiran tersebut, antara lain lagu Rasa Sayange, Batik, Reog Ponorogo, Tari Bali, dan masih banyak lainnya. Apakah kejadian seperti ini akan dibiarkan terus berulang?

Seharusnya peristiwa tragis tersebut dapat menjadi martir kesadaran dan tanggungjawab yang ada di atas setiap pundak para generasi bangsa yang masih mengakui kewarganegaraan Indonesia. Negara atau pemerintah Indonesia semestinya berkomitmen untuk mengembangkan kebudayaan nasional sekaligus melindungi aset-aset budaya bangsa, agar budaya Indonesia yang dikenal sebagai budaya adi luhung, tidak tenggelam dalam arus materialistis dan semangat hedonisme yang kini sedang melanda dunia secara global. Sudah saatnya negara mempunyai strategi dan politik kebudayaan yang berorientasi pada penguatan dan pengukuhan budaya nasional sebagai budaya bangsa Indonesia.

Sebagai bangsa yang merasa besar, kita harus meyakini bahwa para leluhur telah mewariskan pusaka kepada bangsa ini dengan keanekaragaman budaya yang bernilai tinggi. Warisan adi luhung itu tidak cukup bila hanya berhenti pada tontonan dan hanya dianggap sebagai warisan yang teronggok dalam musium, dan buku buku sejarah saja. Bangsa ini mestinya mempunyai kemampuan memberikan nilai nilai budaya sebagai aset bangsa yang mesti terjaga kelestarian agar harkat martabat sebagai bangsa yang berbudaya luhur tetap dapat dipertahankan sepanjang masa.

Dalam situasi global, interaksi budaya lintas negara dengan mudah terjadi. Budaya bangsa Indonesia dengan mudah dinikmati, dipelajari, dipertunjukan, dan ditemukan di negara lain. Dengan demikian, maka proses lintas budaya dan silang budaya yang terjadi harus dijaga agar tidak melarutkan nilai nilai luhur bangsa Indonesia. Bangsa ini harus mengakui, selama ini pendidikan formal hanya memberi ruang yang sangat sempit terhadap pengenalan budaya, baik budaya lokal maupun nasional. Budaya sebagai materi pendidikan baru taraf kognitif, peserta didik diajari nama-nama budaya nasional, lokal, bentuk tarian, nyanyian daerah, berbagai adat di berbagai daerah, tanpa memahami makna budaya itu secara utuh. Sudah saatnya, peserta didik, dan masyarakat pada umumnya diberi ruang dan waktu serta sarana untuk berpartisipasi dalam pelestarian, dan pengembangan budaya di daerahnya. Sehingga nilai-nilai budaya tidak hanya dipahami sebagai tontonan dalam berbagai festival budaya, acara seremonial, maupun tontonan dalam media elektronik.

Masyarakat, sesungguhnya adalah pemilik budaya itu. Masyarakatlah yang lebih memahami bagaimana mempertahankan dan melestarikan budayanya. Sehingga budaya akan menjadi bagian dalam kehidupan sehari-hari. Dengan adanya pemeliharaan budaya oleh masyarakat, maka klaim-klaim oleh negara lain dengan mudah akan terpatahkan. Filter terhadap budaya asing pun juga dengan aman bisa dilakukan. Pada gilirannya krisis moral pun akan terhindarkan. Sudah saatnya, pemerintah pusat dan daerah secara terbuka memfasilitasi partisipasi masyarakat dalam upaya penguatan budaya nasional.

Dengan dasar di atas, kami bagian dari elemen bangsa ini bersumpah:

SUMPAH BUDAYA

  1. MENDESAK KEPADA PEMERINTAH UNTUK SERIUS MEMPERHATIKAN PEMBANGUNAN BUDAYA DAN MEMPENETRASIKAN KE DUNIA PENDIDIKAN, EKONOMI, SOSIAL DAN POLITIK.
  2. MENGELUARKAN KEBIJAKAN YANG MENDUKUNG LESTARINYA NILAI-NILAI BUDAYA LOKAL DAN NASIONAL YANG POSITIF DAN KONSTRUKTIF SEHINGGA MEMPERKUAT IDENTITAS DAN JATI DIRI BANGSA.
  3. MENGGALANG SEMUA POTENSI BUDAYA YANG ADA MELALUI TATA KELOLA KEBUDAYAAN YANG BAIK DAN BENAR.

DITANDATANGANI DI YOGYAKARTA, 2 SEPTEMBER 2011

  1. SABDA LANGIT.
  2. WONG ALUS.
  3. KI CAMAT.
  4. MAS KUMITIR.
  5. SABDO SEJATI.
  6. TOMY ARJUNANTO.
  7. KANEKO GATI WACANA.
  8. KANKTONO.
  9. ANTON.S.
  10. SUPARJO.
  11. WISNU ARDEA.

Bagi saudara sebangsa dan setanah air, silahkan bergabung dengan gerakan ini dan menyebarkan sumpah budaya ini. Demikian pernyataan kami. Terima kasih. Salam Berbudaya. Asah asih asuh.

SULUK SAKING KITAB MARKUN


Anggitanipun abdi-dalem Kyai Tumenggung Arungbinang. Susuluk saking Kitab Markun, ingkang methik abdi-dalem Mas Pangulu Martalaya.

SEKAR ASMARADANA, 33 pada :

  1. Kitab Markun kang kinawi, mas’allah wiyosing salat, papager ika pamriye, aran takbiratul’ikram, pan saking kaelokan, marmane ngadeg puniku, saking ora maring ana.

  2. Ananipun saking uwit, wiwitane saking ekram, ekram angadeg wiyose, kamattekram kamattolah, nenggih tegese ngekram, cengeng tegese puniku, lali jroning ngelingira.

  3. Ekram tegesipun jati, lali pana ing pangeran, sami dipun-wruh tegese, jroning pangeran tan ana, manteping dhirenira, mring nama Al[l]ah kang agung, tegese ekram angucap.

  4. Kang angucap ing ngusali, kaelokaning dattolah, nenggih punika tegese, puniku kang rahman salat, ekrame duk aksara, alahu akbar punika, nenggih ingkang ngaran salat.

  5. Ngadek rukuk sujud nenggih, puniku tekane ngekram, selam wekasan ekrame, puji dunya lan kaldunya, kawula  datan ketang, mantep jenenging Suksma-gung, amuji-pinuji dhawak.

  6. Nyatane tan uningani, wiyose kang muji Allah, kang pinuji apadene, kang arukuk iku Allah, kang sujud iya Allah, nyatane ekram puniku, wus karem maring kang nyata.

  7. Wiyose salat kang pundi, kang tinakokaken ika, ing guru kang luwih kaot, pan dudu mahkluk punika, nenggih wiyosing salat, jatine kalek puniku, kang ngucap alahu akbar.

  8. Lir kadi kongkonan pasthi, kang ngakon nora katingal, mantep jumeneng anane, maring kang duwe kongkonan, utawi ingkang salat, jatine pan dudu makluk, nyatane iku nugraha.

  9. Tegese nugraha singgih, pan dudu gusti kawula, kumpule rasa dikaot, kenyatahan ing dattolah, iku kang ngaran salat, dudu kalek dudu makluk, puniku rasaning edat.

  10. Kang salat manusa jati, ing pundi nepsune salat, pundi rohe lan sipate, pundi balunge ing salat, miwah jasade salat, astane lan sukonipun, iku sira kawruhana.

  11. Dipun-wruh jatine kaki, nepsune salat aniyat, dudu niyat nawetune, kang sedya niyat punika, kupur kapir dadinya, dene balik karsa iku, niyad dudu basa swara.

  12. Dudu cipta reka singgih, dudu angen-angen cipta, nur johar awal jatine, kang aneng dunya ngakerat, iya uriping johar, kang langgeng sajatenipun, kang niyat jatining Sukma.

  13. Nora wenang sira kaki, kawula ngakuwa Allah, yen ngagungna pangerane, dadi kupur kapir sira, yen tn wruh pagurokna, nyatane ananireku, padha lan ananing Suksma.

  14. Roh ing salat kang sayekti, patekah dudu patekah, kang winaca alkamdune, dudu roh ilapi ika, nyatane bae tunggal, kang muni alkamdu iku, iya nyatane dattolah.

  15. Lwir kadi kongkonan yekti, pantes kang duwe kongkonan, kewala iki senene, roh ilapi lan dattolah, sapa ngarani Allah, tanapi patekah kupur, dene tan wruh ing-aranan.

  16. Balunge salat kang yekti, rukuk dudu rukuk ika, kang ngadheluk sarirane, angasoraken sarira, iku nyatane sadrah, sadrah rohani puniku, yekti rasaning Pangeran.

  17. Jasade salat kang yekti, iktidal dudu iktidal atangi saking  rukuke, den-eling yen saking ora, jatine maring ana, den-wikan ing tegesipun, jatine iktidal ika.

  18. Tangane salat kang yekti, iku ayad dudu ayat, kang winaca ing papane, kang tinulis mangsi ika, puniku juru basa, jatine Kur’an puniku, dudu basa dudu swara.

  19. Jatine jenengireki, kang ngaran Kur’an punika, kang aran Kur’an tandhane, pan sira nyataning edat, punika kawruhana, sakehe wawacanipun, iye metu saking sira.

  20. Iku tegese kang yekti, apa tangane asalat, sami ngawruhana kabeh, tangane salat pan tahyat, puniku nyatanira, sakathahing sanak ingsun, iku sari kawruhana.

  21. Sukune salat kang yekti, iku salam dudu salam, roh lan jasad sasmitane, jatine anoleh ika, jatine roh lan jasad, anane dattolah iku, punika jating salam.

  22. Ngiwa nengen ta puniki, jisim latip jatenira, kang jinaten sajatine, kaelokaning dattolah, iku tegese salam, selamet salamenipun, kang ngiwa nengen punika.

  23. Wonten kawarnaa malih, tegese salat punika, tiyang ngagama jatine, agama iku dattolah, sampurnane makripat, tunggal sih lawan sang ngulun, iku tan antara mongsa.

  24. Yen antara mongsa iki, kawula gusti punika, dadi batal nugrahane, kang muni Alahu akbar, iku dudu nugraha, jatine nugraha luhung, iya roh iku dattolah.

  25. Sembah pujinira iki, ati rohani jatinya, Kur’an telung puluh juse, wus telas marang patekah, patekah iku uga, telas mring bismillah iku, bismillah kang alip ika.

  26. Alip wus sinungan gaib, utawi kang aran salat, anganggeya patekahe, pan iku tan ana  liyan, duk durung ana jagad, bumi langit durung takyun, amung dheweke kang niyat.

  27. Tegese kang tahyat yekti, apan ora amangeran, tan ana liyan-liyane, puniku jatining tahyat, kang agung kang kuwasa, duk ingsan kamil puniku, anane minongka ora.

  28. Tan adarbe kersa singgih, tan angrungu ananing Hyang, adarbe netra jatine, tumingal nora lan mata, darbe kontha tan ngucap, sampurnane salat iku,nenggih kang teka ing tahyat.

  29. Tegese tahyat kang yekti, salam iku ananira, saking dattolah angsale, sawuse muji andonga, sami den-kawruhana, anane Ngallah duk kumpul, puniku kang aran salat.

  30. Puji donga kang sayekti, puniku nyataning Allah, amuji-pinuji dhewek, tegese iku tan ana, tandhane malih ika,kang muji kajatenipun, kang pinuji iya sira.

  31. Iku tegese pangabekti, apa karane salaman, anjawat tangan tegese, iku sira kawruhana, tegese jawat tangan, tandhane Allah puniku, yen sami asih-siniyan.

  32. Sira kawula sun abdi, tegese anjawat tangan, punika manusa kaot, kang mekradi panjenengan, nom tumeka gesang, gesang tumeka ing wujud, puniku purbaning salat.

  33. Mulane ngadek puniki, kang salat saking ing nukat, arukuk sadra angsale, asujut tan darbe polah, mliginya wong kuwasa, iya iku jatenipun, salad daim jatenira.

  34. Ingkang aran salat da’im, sami sira ngawruhana, sami dipun-wruh jatine, iku sampurnaning salat, ing-aran ngilmu ora, ngilmu iladuni iku, iya roh iku kang salat.

SEKAR SINOM, 27 pada :

  1. Kaya ngapa tumekana, tingale marang Hyang Widdhi, tinggal pakon sarta angas, angguguyu wong ngabekti, satengahe madoni, sasat maido ing  Rasul, kapire wis tetela, kadya tingkah wong yahudi, pasthi langgeng dadi dhasaring naraka.

  2. Kathah kaliru ing tompa, miarsa ujar kang dhingin, tekadira kaluputan, miarsa ujar kang jati, sisip dennya nampani, dadine saya delurung, ujare selambrangan, tinggal salat iku wajib, pan ninggaale puniku luwih sampurna.

  3. Ujar iku kasamaran, satengah ginawe batin, nyanane atilar pisan, tan wikan yen iku wajib, pangandikaning Widdhi, kadi nabi satus ewu, patlikur sewu samya, kinon sami anglampahi, pan sadaya tan ana kang tilar salat.

  4. Nabi Musa cinarita, parentahira Hyang Widdhi, seket wektu perlunira, sadina lawan sawengi, umad samya nglampahi, parentahira Hyang Agung, norana kang ngresula, iku mukmin kang kakiki, iya iku mukmin kang sampun tumeka.

  5. Atilar salat sampurna, kadi pundi angawruhi, apa wajib tilar salat, wajibipun kadi pundi, osike lahir batin, miwah sembah pujinipun, aja ngrasa anembah, anging Allah kang duweni, polahira iku polahe Hyang Suksma.

  6. Aja ngrasa duwe sembah, aja ngrasa duwe puji, miwah barang polahira, aja ngrasa anduweni, miwah tinggaling ngati, wajib darbene Hyang Agung, miwah wujud manira, punapa hukume napi, tanpa polah polahe lawan kewala.

  7. Ingkang jenenge kawula, suh sirna tan ana kari, apa ilang ujud kita, kaganten dening Hyang Widdhi, ilange wujud iki, anenggih pralambenipun, lir lintang karahinan, kasorotan sang hyang Rawi, lintang ilang kasenenan ing raditya.

  8. Kang tumeka maring salat, tangak kasdu takrul takyin, ya iku wis kawayang, ing tingal sajroning ati, kalawan ati hening, ati hening tegesipun, arep amarengena, kasdu takrul lawan takyin, lapal lalah barenge niyati tiga.

  9. Kurup sakawan punika, nenggih kang kariyin alip, kakekat niyat lan awal, kelawan lam akir nenggih, tibane sareng sami, penggawene niyat iku, Allah asmaning dat, kang sinembah kang pinuji, lapal akbar sampurna niyat sedaya.

  10. Jatine niyat utama, arep ngilangaken kalih, tan ana gusti kawula, yen maksih kawula gusti, iku durung ngutami, dereng tinggal salatipun, tegese wus anunggal, tunggale maksih kakalih, nora ilang anane roroning tunggal.

  11. Sejatine tingalira, baresihira Hyang Widdhi, kawula pan ora bisa, yen ora lawan Hyang Widdhi, bisane angabekti, ati kelawan Hyang Agung, tumiba ing kawula, kang dadi lantaran puji, dadi bareng sembah puji lan nugraha.

  12. Ing kawula gene nyata, kahanane Maha Suci, dipun-angken wujud tunggal, kang dadi sihe Ywang Widdhi, kang nembah ingkang muji, tan liyan kawulanipun, pan tajalining sipat, miwah datipun Hyang Widdhi, gih kawula punika dadi tersondha.

  13. Endi kang aran kawula, kang aran kawula yekti, iya iku kang nerima, ing sihe marang Hyang Widdhi, apan orana kalih, kang asung marga kang luhur, poma den-anarima, ing asihira Hyang Widdhi, malah mandar dadi kawula pilihan.

  14. Lamun mantep kang terima, ing siyang kalawan latri, iku ingkang tinarima, kumawula marang gusti, gusti yen sampun asih, barang kang tinedha sinung, kapriye puji sembah, tingale dereng patitis, kang rarasan waliyulah kang tumeka.

  15. Dadine wong sumentana, angrasa dadi kakasih, panembahe tuna dungkap, adhepira salah dalih, lupura dadi kapir, ingkang saya sasar agung, puniku den-pratela, iku akeh anglakoni, salah tompa patine dadi weraha.

  16. Tegese jindik punika, angrasa murka Hyang Widdhi, atawa amimisahna, ujar iku luwih rusit, rungsite iku ugi, tan kajaba tan kalebu, perak tanpa gepokan, adoh tan ana mangeni, poma-poma ing tompa dipun-waspada.

  17. Lapalipun madukara, mejja mungan mekka neki, tegesipun nora pisah, nora adoh lawan gusti, nanging pan nora kari, barang polahira melu, iku ewuh ing tompa, sisip denira nampani, upamane kumendhang kalawan swara.

  18. Kadi uruh lawan toya, kadi areng lawan geni, kadi dhalang lawan wayang, kadi papan lawan tulis, den sami lawan tulis, den sami angawruhi, tegese upama iku, malah mandar pareka, tingale maring ing gusti, den-prayidna aja sira ngloro tingal.

  19. Den tumeka tingalira, kumawula marang gusti, anging kalawan panembah, sarta kalawan pamuji, siyang kalawan ratri, supaya lamun kadulu, lamun tan muji nembah, elinga maring Hyang Widdhi, adoh pisan anggung gawe ulah dunya.

  20. Namane sembah sedaya, lilima ingkang rumiyin, ing-aran sembah jumungah, kang lahir kawektu ngati, kathah ingkang nekseni, sembah jumungah puniku, barang den-ucapena, kan kalahir saking lathi, iya iku lakune sembah jumungah.

  21. Kaping kalih sembah asta, iku tingal jroning ngati, iya iku nora pegat, tingale sajroning ati, patemon lawan Widi, kadi pundi patrapipun, upama tatemuwa, jare nora werna rupi, kaya sapa wernane kiyahi sukma.

  22. Aja sira loro tingal, jenenge kawula gusti, kawula pan ora nana, kagenten dening Hyang Widdhi, iya nora duweni, iya barang polahipun, pan solahe kang purba, ing siyang kalawan latri, aja ngrasa kawula ginawe wayang.

  23. Sembah kali kaping tiga, tan ana tingal kakalih, roh jasat lah kadi pundi, iku dadi gagenti, tajali marang Hyang Agung, iku jatine tunggal, tunggalipun kadi pundi, iya jasat iya eroh iya Allah.

  24. Kawruhana kang tetela, dadalan maring kajatin, apan ora kena pisah, ya nyawa ingkang nampani, ing sihipun Hyang Widdhi, ing siyang kalawan dalu, kinarya katunggalan, iya eroh kang nampani, iya iku ingkang dadi juru basa.

  25. Karone tan kena misah, ing siyang kalawan ratri, dadining roroning tunggal, kalawan kang Maha Suci, jisime anuruti, maring roh sajroning kalbu, iku ingkang ngatompa, parentahira Hyang Widdhi, iya iku kang den-aku wujud tunggal.

  26. Sembah ingkang kaping lima, den sami sira ngawruhi, aran sembah ismu ngalam, kadadeyan bumi langit, miwah roh lawan jisim, sedaya sami atuduh, atase iku tunggal, kenyatahane Hyang Widdhi, kang gumelar anyare lan sipat baka.

  27. Aja pegat tingalira, dadine bumi lan langit, iya iku kenyatahan, kang dadi ayat sayekti, nanging ngujaring ngilmi, tan ana roro tetelu, utamane kang keblat, keblat jati kang amuji, iya eroh puniku keblat kang mulya.

  28. Iku sira kawruhana, nenggih wirasaning wangsit, aja katungkul ing tembang, den sami murciteng budi, lamun nora kadugi, takona kang sampung weruh, maring kang sampun wikan, kang ngawruhi lahir batin, anedyaa sami tulung-tinulungan.

Kapethik saking Serat suluk jaman karaton-dalem ing surakarta.

=====###=====

SERAT SULUK GAIB


Kiriman saking :
Mas Tomy Arjunanto

Suluk Ga’ib punika piwucal peparingipun Eyang Kangjeng Susuhunan Kalijaga, punika mboten dipun tembangaken, namung dipun waos lan dipun raos.

S I N O M

Iki kang dadi lelarangan, kalimah tan kambah singgih, den ira kang sampun awas, panggolah ngelmu sejati, nugrahaning Hyang Widdi, kang wus wikan rahea iku, pan tunggal tinunggalan, tunggal wujud tunggal kapti, iya Muhammad kalawan Allah.

Tunggal karoning tunggal, tunggale maksih kekalih, Muhammad yaiku Allah, Muhammad ingkang sejati, ing jaba jero pesthi, Muhammad sirna kadulu, kaliyan sipat kidam, mulane kaya dhuk nguni, yaiku sampurnaning puji sembah.

Poma kaki den krosowa, ujar linarangan yekti, tan kena den ucapna, tanpa krasa jasadneki, pan iku sabda jati, sampurnaning pangrungu, sampurnaning paningal, paningal ingkang sejati, yaiku sampurnaning rahsa Dzat.

Anuhung satriya iku, idhepe tan polah singgih, ngarah dadining sahadat, tan wikan dununging puji, tan wruh Pangeran neki, panembahe estu suwung, kaliwat denya nembah, idhepe urip kekalih, tekad ira tuna liwat dahat sasar.

Den ora aksara punika, den estokna tan gingsir, tatanira tuna kaliwat, den umyung wartane tulis, sedaya nembah muji, panembahe estu suwung, kang utama luwih nglela, wau den ira ngabekti, satingale dadi puji lawan sembah.

Lahir batin pan katingal, Muhammad lan Allah yekti, dinulu perek gumampang, jro kandhaga isi warih, jaba jero keeling-keling, sirna kandhaga dinulu, kalingan madu mangsa, dadi madu iku singgih, sirna ilang Muhammad kalingan sukma.

Sajroning batin Muhammad, ya Muhammad lahir batin, ya Allah ing badanira, iya lahir iya batin, lir ombaking jaladri, tungagae ana ing banyu, pan tunggal tinunggalan, poma sirna den nastiti, iya iku aran ngelmu rasa.

Wonten malih cinadriya, kang dadi jagad puniki, ing salira kang sanyata, pan saking patang prakawis, bumi pan dadi Alip, angin dadi Lam puniku, banyu dadi Lam akhir ika, geni He dadi nireki, Alip iku wujuding saliranira.

Ingkang Lam awal  punika, jenenge napsu nireki, Lam kang akhir tegesira, nyawa sejatinireki, aksara He kang dadi, paningal sejatinipun, sampun jangkep sekawan, ing mangke pinusthi malih, ingkang badan Jabrail sejatinira.

Jeneng nepsu punika, Mikail sejati nireki, utawi kang saking nyawa, Isropil tegese kaki, kang saking tingal sejati, Ijroil sejatinipun, den samya ngawruhana, aja lali sira kaki, samya tunggal punika  dipun waspada.

Kang Jabrail punika, ijo warnanireki kaki, asta kanan mapanira, utawi Mikail yekti, ing roh panggonan neki, kuning warnane punika, miwah Isropil ika, putih warnanira kaki, wedaliriku kaki saking wuntat.

Ijroil ing tegesira, saking gigir wedalireki, pan ireng ing warnanira, miwah ing panebut kaki, marang kang Mha Suci, beda-beda pujinipun, lamun muji Ilallah, Ijrail pujinireki, Minallahi Isropil ing puji nira.

Yen muji Lillahi ika, Mikail iku kang muji, Jabrail muji Hu Allah, lamun ana cahya putih, wetune saking rai, ireng urub ira iku, warnaning ingkang cahya, punika nugrah Hyang Widdi, yaiku aran kang luwih utama.

Punika den kawruhana, Alip kang sahadat jati, kathahe limang prakara, sadat mutakalim wakhid, utawi guluneki, ing kana sejatinipun, kaping kalih tegesnya, Alip He namanireki, iya iku otote gulu kang kiwa.

Yen medal mandhuwur lirnya, Alip kallam nama neki, pan iku wimbuhing jagad, manungsa jati nireki, kallam panjingireki, ing puad sejatinipun, miwah ing kalbunira, yen medal anganan malih, sejatine iku kang ran mulya.

DHANDHANGGULA

Sapa wonge kang angawruhi, sejatine kang kitab punika, dadi gedhe ing begjane, wikan ing badanipun, kang waspada ing kitab iki, ingaranan pustaka, Nugrayen Hyang Agung, kang kasebut sajroning kitab, Ngalam Kabir miwah Ngalam Sapir, tan ana bedanira.

Ngalam Kabir Ngalam Sapir kaki, bedanira ana ing sira, yen wus wikan ing tuduhe, sarta wulaning pan, lungguhe Ngalam Sejati, pinanggih ngelmu rasa, ing gegebenganipun, miwah kathahing aksara, lamun malih lungguhe sawiji-wiji, kang ana ing salira.

Pira kehe bebalung puniki, kalih atus pan punjul sawidak, otot nem ewu kathahe, lawan punjul nem atus, lan sawidak punjulireki, sakethi wulunira, iku punjulipun, tigang leksa punjulira, lan tri ewu atus tri dasa nenggih, punjulu tigang lembar.

Apan rambut saleksa puniki, tigang ewu miwah punjulira, iku tri atus punjule, tri dasa lawan telu, sampun jangkep wilangan neki, padha sira estokna, rekmane Njeng Rasul, lan aja katungkul sira, angupaya ngelmu kang lewih-lewih, slamet ndonya akherat.

Wulu badan pan kathahe sami, lawan rambut iku kathahira, alis pitung atus kehe, sawidak punjulipun, lawan enem langkungireki, idep pan karo belah, ing wilanganipun, napas kang metu punika, pan karone sedina lawan sawengi, nem ewu langkungira.

Pan nem atus swidak gunggung neki, iku kaki muga estokna, aja mung katungkul, anenggih kang sumambung, parincene raga sejati, angrawruhana sira, aja salah surup, iku kaki den waspada, ngelmu kang katemu ing ngalam akhir, poma ing wekas ing wang.

Kang pinurwa carita utami, ingkang pinencer parinci nira, raga ing jaba jerone, den mantep ing pandulu, aja sasar sabarang kardi, den ambeg amartapa, martapeng pandulu, aja tuna aja kaliwat, iya iku dadine kawula Gusti, aja tinggal kaliwatan.

Mulanira ngaurip puniki, tlatenana mumpung aneng donya, wong urip akeh arale, wong lelaku ing mbesuk, dununge awit saiki, mumpung sira sih gesang, lawan susur ngulati jabane bumi, temahan ora ana.

Bumi langit banyu lawan geni, angin lintang surya lawan candra, kabeh ana ing dheweke, jurang tanapi gunung, padhang peteng wonten ing ngireki, adoh lawan perak, pan ana ing sireku, miwah salumahing jagad, atanapi miwah sakubering langit, kabeh ana ing sira.

Ujar iku apan luwih adi, sasat simpen jumanten kumala, yen wus wikan rahsane, aja sira katungkul, amintaha samaning urip, manungsa sawidak warsa, dawane kang umur, mumpung sira makih gesang, takokna jalma ingkang lewih ngerti, kaluwihaning donya.

Iku ujar kaki kang sayekti, Nabi Wali kalawan Mukminnya, kabeh ana ing dheweke, kalawan Kangjeng Rasul, dununge sawiji-wiji, Allah lawan Muhammad, kabeh neng sireku, patrapna kang prayoga, aja nganti salah surup iku kaki, Allah lawan Muhammad.

Iku tuduhe apan iku singgih, lawan pituduh ingkang sanyata, yen bangke ala dadine, tegese bangke iku, kawruhana mumpung isih urip, yen sira durung wikan, satemene iku, jatining aneng pusaka, iya iku pusakaning ingkang ening, anane kang pusaka.

Sajeroning ning iya ana urip, jroning urip pan ana ningnya, jroning ning iku rahsane, jroning rahsa puniku, pan ana sir jatinireki, sajroning sir punika, aran Dzat satuhu, sajroning Dzat ana sipat, iya iku swara kang lewih ening, jro swara ana apa.

Jrone swara ana urip, iya iku urip kang sanyata, sanyatane urip mangkene, urip ingkang satuhu, anuhoni niyat ingkang ning, ning sejati nira, rupane wa Khayu, khayune sundhul ngakasa, bumi langit asmara sejati neki, jroning asmara rupa.

Kang wikan makripatireki, sejatine muni-muna, iku panengerane, tuture asor amamadu, iya iku samane gendhis, rahsane kudu wikan, ing sajroning madu, apa ana ing jaba, miwah apa aneng jro badanireki, poma kaki den wikan.

Peksi iku pan gangsal perkawis, ingkang dhingin iya kresna, peksi ijo kapindhone, nenggih ping tiganipun, peksi kuning punika singgih, kaping catur warnanya, putih ulesipun, kang tengah peksi dewata, peksi iku yektine limang perkawis, kang neng badan manungsa.

Peksi lima padha adi-adi, iya padha angon lakunira, padha mencok dhewe-dhewe, sawiji aneng pusuh, panggonane punika nenggih, Hu Wallahu dhikirnya, kaping kalihipun, peksi ijo aneng limpa, iya panggonane ingkang peksi, Muhammad dhikir ira.

Kaping tiga peksi kuning, panggonane ana sekar gedhang, Rasulullah dhikire, anenggih kaping catur, peksi putih puniku kaki, tengah peksi dewata, dhindhing jalal iku, poma kaki den waspada, panjagane ingkang aran peksi, iku padha takokna.

Alip iku kurungane yekti, sejatine Alip iku sira, munthilane deg-adege, angadeg dhewekipun, iya saking Hyang Maha Suci, kang kaya munthila, iku mulanipun, iya kabeh apan ana, sejatine iya iku rupaning ning, endi ingkang nyata.

Pan wus nate kang tigang prakawis, ingkang dhingin Allah lan Muhammad, Rasulullah ping tigane, lawan Gusti Kang Agung, nyatakna kang tri prakawis, iku dipun waspada, yen wus wruh satuhu, yen wikan ingkang sanyata, waspadakna nora samar barang kardi, rupane kaya sira.

Lamun sira sampun anggrawuhi, wus tetela rupane kang sanyata, den awasa sak enggon-enggone, ja nganti salah surup, ing wong ngurip den angati-ati, kang sanyata wus cetha, Allah iya iku, Hu Wallah Hu iya iku, Ya Alllah Hu iya iku wus angenggoni, iya aran  pramana.

Iya iku jeneng nyata kaki, Maha Suci ing sarira nira, carita iku rupane, Gusti Kang Maha Agung, kang murba misesa jati, iya iku Kang Tunggal, kalawan Hyang Agung, kabeh iku pan kagungan, iya iku kang aran Muhammad suci, enggone aneng raga.

Yen wus wus emut anggonira kaki, iya iku poma den waspada, aja sasar pandelenge, ja nganti sasar susur, wong urip padha ngrawuhi, ngluwihi marga padhang, yen sira wus weruh, ing marga Maha Mulya, iya iku kaki den nastiti, titenana jroning tyas.

Sejatine kanyatan kaki, iya nyatane patang prakara, dununge sakabehe, warna dhikiripun, ya dhikire patang prakawis, poma den estokna, ing satunggalipun, wong urip den waspada, ing dhikirnya lawan laku kang sejati, poma yekti den wikan.

Yen wau manggon kang patang perkawis, ingkang aran wau kang amurba, endi arane samangke, lamun ora dumunung, lakunira pan ora dadi, tan sampurna kang tinggal, apa ta wong iku wong ngaji, patang perkara, iya iku wong ngaku kang during dadi, ngajine nawuyungan.

Reyang-reyong pangaji neki, anane tan adoh keblatullah, keblatullah satemen, mulane kang rumuhun, pan wus weruh, anggonira ngaji, ja sira kasmaran, ing wong ngaji iku, poma kaki kawruhana, aja sira api-api ngaji, kaki aja mangkana.

MASKUMAMBANG

Kuneng gantya ingkang cinarita nenggih, lungguhe kang sukma, aneng badane pribadi, padha sira kawruhana.

Ping sepuluh punika ingkang winarni, kaki wastanira; mannik kastuba ran neki, lungguhe aneng lak-lakan.

Ping sawelas mannik tala aneng mannik, lungguhe punika, kaping rolas mannik wijil, lungguhe aneng salira.

Ping telulas jejuluke luyut jati, lungguhe aneng badan, ping patbelas sang nurjati, aneng utek lungguh ira.

Ping limalas arane sang purwajati, neng napsu lungguhnya, ping nembelas kang winarni, buwana balung lungguhnya.

Sang Taljati lungguhnya aneng daging, walulas sangalas, sang lirmaya aran neki, ana ing otot punika.

Kaping kalihdasa punika winarni, ingkang aran burak, ngikut ping selikur nenggih, arane sang sukma mulya.

Anenggih getih kaping selikur winarni, aran sukma wisesa, lungguhe suku kekalih, ping telulikur gumantya.

Ingkang aran Sukma Purba iku kaki, asta dwi lungguhnya, kaping pitlikur winarni, aran sukma adimulya.

Pelanangan lungguhe punika kaki, kaping slawe wastanya, sukma kembar aran neki, lungguhe aneng gantungan.

Ping nemlikur sukma liyep wasta neki, lungguhe neng nala, ping pitulikur anenggih aran sukma rasa mulya.

Iya iku lungguhe ampere kaki, ping wolulikurnya, sukma ragajati nenggih, lungguhe aneng jaja.

Sangalikur ingkang aran kurasjati, neng wulu punika, tigang dasanipun winarni, sukma kuru nama nira.

Lungguhe aneng rambut iku kaki, aneng adep ira, tri dasa neng puser kaki, kang aran pas buwana.

Mulane ana nahwu usul pekih, saking ananira, saking tri dasa puniki, iya sukma tigang dasa.

Mula ana aksara Alip sawiji, Alip namanira, iku urip kang sejati, lawan malih kang Alip Lam.

Tegese Alip Lam puniku kaki, ana ing manungsa, ujare kitab nganasir, iku kaki kawruhana.

Pan mulane Allip puniku miwiti, kabehing aksara, kang dadi wiwitane Alip, marga asal saking grana.

Iya eleng grana kekalih, sangane puniku, Ba Ta Sa dadi nireki, asta kanan lawan kiwa.

Jim Kha iku epek-epek asta kalih, kalawan Kho besar, kaping kalih Dal cilik, rambut sirah Dal besar.

Ra Yha pundhak kanan lawan kering, Sin Sha bokong kiwa, Shot Dzot geger tengen neki, iya ingkang dadi manah.

To Dzo iku pupu dadi neki, Ngain wentis kiwa; aksara Kap dadi kulit, Kop gedhe ing daging ira.

Aksara Lam Alip anggitan neki, apan dadi jagad, ing manungsa dadi neki, kalimputan dening sukma.

Ula-ula Lam Mim Nun dunugireki, Wawu Ha badan manungsa.

ASMARADANA

Yogya kawruhana iki, pusering jagad dumadya, patang perkawis kathahe, ya wadi kang satunggal, madi kaping pindhonya, mani ingkang kaping tiga.

Kaping pat manikem nenggih, iku padha kawruhana, ja nganti salah ing batos, poma-poma den weruha, padha angestokna, yen tan wikan dunungipun, tuna jenenging gesang.

Iku ujare wong kang luwih, kaya ing wong kathah, pan sampun angsal gurune, yen lamun ora weruha, takokna ngelmu ika, aja sira katungkul, dipun padha anggraita.

Tegese kang aran wadi, nggone rasa ingkang mulya, tegese madi ta mangke, rasa kang luwih sampurna, mani iku tegesira, sejatine rasa iku, kaping pat tegesira.

Maningkem punika nenggih, ajima’ rasa kang mulya, wanudya lawan kakunge, tegese kang madi ika, dadinira sasotya, wadi iku napsunipun, mani uger-uger netra.

Tegesi maningkem nenggih, wewedhah jatining sukma, kaya getih daging mangke, dadi getih dagingira, kadadeyan kang rasa, sawijining rasa iku, warna rupa Johar Awal.

Ula-ula tegese neki, dhingin dhatan kadhinginan, tegese Johar samangke, iya Roh ilapi lirnya, kang dhingin kadhinginan, tegese ing uripipun, ilapi iku pratandha.

Tegese roh ilapi suci, iya kang kadim mulya, iku ing lesan jatine, kinarya la ulanira, Betal Mukhadas lirnya tegese betal puniku, kepala ingkang sampurna.

Tegese mukhadas nenggih, wadana kang mulya mangkya, liningena ing Hyang Manon, pan sotya ingkang mulya, lah iku dadinira, sajroning netra kadulu, ingaranan Jalalullah.

DHANDHANGGULA

Purwaningreh kang patang perkawis, iku kaki padha estokna, den bisa andunungake, sawiji-wijinipun, ingkang aran sarengat kaki, kalawan tarekat, hakekat ping telu, kaping pat ira makripat, den tetela prayoganira ngrawuhi, dunung kang sanyata.

Nyatakna dununge sawiji, yen tan weruh dununging sarengat, nora syah sembahyange, pan dadi sasar susur, lungguhe sarengat nenggih, iku lungguhe badan,  tarekat puniku, ana ing roh dunungira, aneng ati dununging hakekat nenggih, aneng rasa makripat.

Sampun jangkep kang patang perkawis, lungguhira satunggal-satunggalnya, kari pilahe wae, sarengate Njeng Rasul, kalawan Nabi Muhammad, yaiku dununge sawiji-wiji, sarengat Rasulullah.

Sareng Njeng Nabi puniki, lungguhira ana ing pangucap, kang mengku rasa kabeh, tarekatipun, ing pangambu dunungireki, amengku rasa mulya, hakekatireku, yaiku lungguhira, aneng kuping makripat dunungireki, kang amengku rasa nala.

%d bloggers like this: