DAT ALLAH SWT WAJIB ADANYA


Kata Pengantar

Mengingat bahwa bangsa Indonesia itu sebahagian besar agama Islam, mengingatkan dengan ucapan perkataan Paduka Yang Mulia Soekarno pada pertemuan musyawarah besar Islam di Solo (surakarta), supaya pemuda sama-sama mengorek (menggali) isinya Islam yang sebenarnya, maka penulis terdorong untuk saling mengeluarkan pendapat.

Para pembaca; penulis menerangkan pendapat itu karena mengingat para leluhur kita yang sudah sama-sama mengijinkan pendapat ilmunya, menjadi buku-buku suluk dan Wiridan (pelajaran), yang semasa zaman para Wali sangat dirahasiakan, karena dikhawatirkan bisa salah mengerjakan (mengartikan) !.

Kata Wirid itu pada suku Jawa (kejawen Jawa), mempunyai pendapat Wirid atau Rungsid, sembahyang Ikhlas (Khusyuk) serta zikir (mengingat-ingat) nama Allah serta mempelajari kitab Al-Qur’an Nul Qarim.

Penulis akan memberi pelajaran tentang 4 (empat) pelajaran yang sangat sulit, artinya empat jalan tingkatan Shalat (sembahyang) yang sempurna. Untuk pelajaran bangsa kita sendiri menurut undang-undang Pancasila, maka menyatukan pelajaran oleh penulis sengaja memakai bahasa Jawa yang sopan (telah diterjemahkan). Jika nanti ada kata bahasa Arab atau bahasa Barat lainnya itu menjadi pedoman penguat (meyakinkan) saja.

Karena menyatukan pelajaran Wirid itu berdasar (landasan) Dalil-dalil Al-Qur’an dan Hadist, maka penulis menggunakan Dalil yang terdapat pada Al-Qur’an dan Hadist. Selain dari itu mengutip pendapat para sarjana (cendikiawan) Jawa di tanah Jawa dan negara lain, terutama surat/buku karangan Alm. Pujangga R. Ng. Ronggo Warsito.

Dan selanjutnya mengingat kata-kata Bapak Ki. MO. Hatmoyuwono dengan saudara tertua Ki Broto Kesowo, dan artinya penulis dan pembaca harus menggunakan akal pikir yang sehat. Wedaran Wirid ini umpama makanan hanya mengambil dan memasak, maka sebelumnya harus dipikir terlebih dahulu benar salahnya keterangan ini. Bacaan ini bisa jadi ada yang tidak setuju, tetapi penulis mempunyai keyakinan; siapa saja tidak mengenal agama atau kepercayaan kebatinan, umpama mau berpikir tentang isinya dengan teliti, hasilnya akan menjadi saudara sependapat. Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih.

Surabaya, 30 Mei 1957

Penulis,
Ki. R.S. Yudi Partojuwono

Bab 1
DAT ALLAH SWT WAJIB ADANYA.

Al-Qur’an surat Al-Israa : 15 ;

“Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan petunjuk (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan meng’azab sebelum Kami mengutus seorang rasul”

Keterangan tadi jika diteliti menunjukan kita, artinya seseorang harus mengetahui tentang hidup kita, walaupun hidup kita kearah jalan yang benar atau belum (salah).

Keterangan semua petunjuk dari satu-satunya orang lain belum tentu benar, karena orang itu berhak menolak dan mengolok, Karena tidak mau mengakui yang dikerjakan itu salah, walaupun orang itu banyak ilmunya.

Firman Allah SWT. Surat Al-Isra : 15, memberi peringatan siapa saya, artinya ilmu yang kita kerjakan benar atau salah yang harus merasakan adalah diri sendiri.

Untuk pekerjaan sehari-hari untuk semua pekerjaan orang itu seharusnya berhak memilih antara yang benar dan yang salah. Jadi kalau mau menggunakan kekuasaan itu tentu akan merasakan tenang. Umpama ada kegelisahan karena kurang waspada, umpamanya kita sudah menuju menuju yang benar ternyata masih salah, tetapi kita mau memperbaiki, pasti kita berbalik jalan kearah lurus (benar). Itu adalah contoh perjalanan hidup berkeluarga sehari-hari yang benar, dan salah dapat di perbaiki munurut keterangan (ramalan). Tetapi menurut ilmu sebenarnya tidak begitu, salah di dunia juga salah diakhirat. Jadi menurut Firman Allah SWT. Surat Al-Isra : 15 tadi, walaupun Allah sudah memberi petunjuk jalan yang benar melalui kitab-kitab yang disampaikan para Rasul-Rasul yaitu Agama. Walaupun begitu kita harus waspada, dan kitab-kitab suci itu semua isinya adalah petunjuk menuju kebenaran, maka kita harus berfikir yang benar. Jika orang yang membatah atau menyalahkan kebenaran, orang itu salah atau tidak benar.

Menurut masyarakat umum, orang yang tidak mau mengikuti (memeluk) salah satu agama, mempunyai keyakinan sendiri, menurutnya “makan tidak makan aku mencari sendiri, orang lain mau apa, yang penting tidak merugikan orang lain, ya sudah!!!.”
Untuk ukuran dunia, kemauan yang seperti itu memang benar, tetapi umpama dirasakan dengan isi hati kita mestinya menimbulkan pertanyaan, Tanggung jawab terhadap hidup bagaimana?, Nanti bila sudah ajal / Sekaratil maut, apa pasti bisa sempurna.

Apa percaya adanya Allah dan Gaib, apa hanya mengakui hidupnya didunia dilahirkan dengan manusia. Umpamanya mengakui jika lahir itu dari kandungan ibu, mestinya kita bisa teliti lebih jauh lagi selanjutnya. Karena percaya bila lahir dari manusia lantas mempunyai ikhtikat/kepercayaan yang menyebut sebenarnya manusia itu berdiri sendiri sebelum ada Allah dan malaikat dan lain-lain yang ada didunia. Selanjutnya diceritakan manusia itu asalnya dari adam / kosong. Walaupun orang biasa (awam) jika mau memikirkan yang lebih dalam, tentunya dalam hati timbul pertanyaan sebenarnya yang menciptakan itu siapa?, kenapa bisa melahirkan manusia lagi?, pertanyaan seperti tadi sudah tidak ada gunanya, malah menjadi perdebatan/persoalan. Sampai sekarang belum ada yang menerangkan bahwa manusia bisa membuat jangkrik atau lalat. Karena itu terpaksa mempunyai pendapat bahwa Allah itu ada tetapi hanya cerita orang terdahulu. Pikiran orang itu tambah bodoh dan juga tambah maju, terbukti adanya pendapat Allah (sang Pencipta) menyatu dengan yang diciptakan (Alam). Karena hidup dizaman modern ternyata sampai sekarang belum ada yang melihat / menyatakan Tuhan / Allah SWT. Karena sudah habis pikir / kehabisan pendapat, lantas mengatakan zat-zat atom alam seluruhnya itu adalah Allah, tetapi itu hanya pendapat segelintir orang, karena itu mempunyai pendapat dan akal yang cerdas, itupun para sarjana tidak mengetahui rahasia hidup. Artinya tidak bisa menjawab dengan tepat dari mana asalnya hidup itu. Karena habis pikir langsung timbul pendapat lagi bahwa hidup dari Allah. Itu sebenarnya hanya pendapat yang tidak ada ujungnya (buntu). Bukan karena bodoh tetapi hanya tidak bisa menjawab, buktinya menurut ilmu alam benda-benda itu terjadi dari perpaduan atom negative dan atom positif. Karena dari mana asalnya atom itu dan siapa yang membuat lalu bingung dan buntu cara berpikir langsung heran dan tegas mengatakan Allah itu sumber dari semua kekuatan / daya kekuatan gaib. Pendapat itu ibarat timbul dari keyakinan meneliti dengan keadaan daya tarik menarik dan dapat berubah-uabh menjadikan berputar, panas dan dingin, dan terjadi perputaran dunia dan bintang itu terjadi sebelum ada agama dan sangat teratur, dan manusia lahir didunia semua sudah terjadi sedemikian rupa.

Sarjana yunani yaitu Heraclitus dan Thales yang hidup antara 2500 tahun yang lalu, bertanya pada diri sendiri dari mana asalnya benda-benda dan zat-zat kimia tadi?.

Untuk dasar tentang zat yang maha suci wajib adanya, pertanyaan tersebut perlu dijawab berdasarkan hukum-hukum (proses) atom stelsel (kata atom) atau ilmu alam (Physica) modern, perlunya supaya tidak menimbulkan kepanatikan dan seharusnya menjadi kayakinan tentang zat yang Maha Suci wajib adanya. Karena seluruh keterangan disertai keterangan yang masuk akal, petunjuk yang mudah untuk menerangkan asal manusia itu dari Adam yaitu Kosong tetapi ada, dan berdiri sendiri sebelum adanya Allah.

Pelajaran itu umpama untuk orang awam (tidak tau apa-apa) sudah sangat tinggi, jadi seumpama ada orang yang Tanya manusia asalnya kosong (suwung dalam bahasa jawa) kenapa bisa jadi manusia? Lalu mereka diam (tidak ada jawaban). Hal demikian itu jika berdasarkan pengalaman untuk menjawab pertanyaan diatas samapai sekarang masih membingungkan.

Jadi ada pendapat dari beberapa ilmuwan dari barat yaitu Heraclitus dan Thales belajar membuktikan adanya Allah (Tuhan Gop Theo) untuk mencari asalnya benda-benda sampai buntu otaknya, tetapi tidak bisa membuktikan, akhirnya memutuskan bahwa asal benda-benda itu dari air. Di abad ke 19 pendapat tadi diteliti lagi oleh seorang ilmuwan Charles Darwin Faouback Karl marx, supaya bisa terbuka berdasarkan ilmu alam (kimia), air itu terjadi dari dua paduan (warna / Hidrogenium = Waterstof) dan zat baker (Oxygenium = Brandstof).

Perbandingan Hydrogenium (H) dicampur dengan 2 Oxygenium (O) bentuknya menjadi atom 2, jadi atom 2 H dan 2 atom (O) disingkat H2O bentuknya menjadi air.

Ilmuwan Dimocritus yang hidup 460 tahun sebelum Muhammad SAW lahir mempunyai pendapat bila zat cair, gas, padat dll itu terjadi dari paduan zat/benda yang halus sekali, sehingga tidak bisa dihancurkan lagi. Pendapat seperti itu dibenarkan oleh ilmuwan Aris Thoteles dan juga dibenarkan oleh ilmuwan Darwin dan mengatakan benda terjadi dari dua paduan yang sangat kecil yang tidak bisa dilihat oleh mata kepala kita, zat/benda tersebut tidak bisa dipisah-pisahkan tetapi bisa menyatu sendiri antara 2 paduan (Nitrogen dan Hydrogen) dan menjadi bentuk zat/benda yang disebut Molekul/Sel-sel. Umpamanya Alkohol terjadi dari campuran atom zat pembakar 2 atom zat arang (Koolzuur) 6 atom dan air. Selanjutnya para ilmuwan langsung menguji lagi, kenapa atom itu tidak bisa dipisah-pisahkan lagi. Percobaan tadi langsung diuji menggunakan cahaya (sinar X), kalau menurut ilmu kedokteran disebut Rontgen. Sedangkan pendapat ilmuwan Thomson tahun 1895 caranya cahaya sinar X itu disinarkan keatom tersebut dan atom tersebut hancur menjadi benda-benda yang sangat kecil-kecil sekali yang asalnya dari pusatnya sendiri (pusat atom) yang disebut “uratom”. Setelah di teliti ternyata mempunyai daya listrik negatif dan dinamakan Elektron, begitupun uratom itu sampai sekarang belum bisa diketahui besar kecilnya, walaupun dilihat memakai alat Mikroskop. Sampai sekarang Elektron tidak bisa diketahui daya alam atau daya mekanis, walaupun memakai berbagai bentuk alat. Menurut penelitian para ilmuwan tadi, pecahnya zat-zat tadi menyebabkan daya radio aktif, Radio aktif tersebut tidak bisa dibatasi dengan alat apapun. Radio aktif masih mempunyai daya tiga macam yaitu;

1. Daya Penetrasi yang bisa menimbulkan apa saja.
2. Daya Elektromagnetik
3. Lebih berat dari daya Elektron.

Mengandung daya menurut kodratnya, berjalan dengan sifatnya, maka semua yang tercipta (Gumelar bahasa jawa) itu bergerak tarik menarik satu sama lain, contohnya Bumi, Bulan dan Matahari. Penelitian para ilmuwan barat membuktikan seluruh benda yang terlihat oleh mata itu mempunyai daya magnit (listrik) negatif dan positif, atom dan intinya (uratom) itu bergerak tanpa sebab dan mengherankan para ilmuwan. Ditahun 1932 ilmuwan Rutherford dan Chadwich menemukan zat yang dinamakan Neutron yang tidak mengandung daya listrik, dan Rutherford sendiri menemukan Proton, waktunya lebih dari 1836 dari pada waktunya Elektron.

Tahun 1931 ilmuwan Pauli dan Fermi bisa mengalihkan daya Neutron, dan pendapat tadi disempurnakan lagi tahun 1955 karena daya Neutrino itu bakan zat ternyata sampai sekarang belum terlihat bentuknya kata Prof. Ac Lamok. Menurut keterangan Neutrino itu yang bisa menembus segala keadaan dialam ini dan bisa dihentikan/dibatasi oleh Timah, tebalnya bisa 30 juta km. Keterangan itu membuktikan daya Neutrino tidak ada bendingannya, umpamanya diukur dengan bulatnya dunia kira-kira 40.000 km, jadi jika Neutron-neutron tadi benturan/lawanan dengan anti Neutrino dibumi bisa hancur dan menimbulkan cahaya (daya gaib) yang menyebabkan seluruh makhluk dibumi tidak terguncang, walaupun bumi itu bulat dan berputar. Jadi daya tadi seumpama Lem yang melengket dibumi. Sesungguhnya daya yang timbul dari Neutrino adalah daya yang rendah, selama-lamanya tetap ada. Jika umpama daya tadi berhenti pasti akan terjadi kejadian yang luar biasa, semua benda-benda berantakan tidak tentu arahnya, semua terguncang oleh perputaran bumi. Sebab karena itu kita yakin bahwa Allah yang maha megetahui, sedang memikirkan keadaan Neutrino saja kita sudah pusing tujuh keliling/bingung apalagi untuk megetahui zat Allah. Apa yang dibicarakan tadi yang telah diketahui belum lagi yang tersimpan (belum diketahui) Gaibnya dunia itu tanpa pengetahuan. Maka timbullah pertanyaan siapa yang membuat atom-atom dan yang menimbulkan daya (kekuatan gaib)?. Jelas Allah SWT ada.

Dengan menggunakan ilmu yang disebut Spectraal Analyse yaitu ilmu yang meneliti apa yang ada dibumi dan diluar bumi.

Para ilmuwan mempunyai pendapat, benda-benda itu terjadi dari campuran zat atom dan zat-zat tadi. Menurut pendapat lain bahwa asal bintang atau planet-planet juga sama. Umpama Helium campuran dan surya karena Surya mengandung Helium, Calsium berasal dari Bintang Serius. Bisa mengatahui adanya itu bisa memakai alat yang meneliti keadaan cahaya-cahaya yang asalnya dari bintang tadi. Dengan bijaksana mengatakan itu mestinya harus mengagungkan nama Allah, dan berhenti disitu saja bahwa Allah semua kekuatan, umpama di piker lebih dalam oleh semua orang bisanya Cuma mengakui saja (mengatakan ya), dari lahir kedunia semua sudah ada, umpama ada orang bertanya pada bayi yang lahir antara 3 jam, “kamu kok nangis dan ketawa, kawanmu siapa?”, bayi itu tidak bisa jawab, umpama bayi umur 1 tahun, “kamu itu yang melahirkan siapa?”, bayi tetap tidak bisa jawab dengan tepat. Yang bisa menjawab hanya orang yang mengetahui keadaan ibunya waktu lahirnya sendirian, bisa tahu kalau dia lahir diberi tahu oleh yang melahirkan, jadi dia mengerti setelah dia bisa bicara dan dewasa.

Jadi sebenarnya orang lahir itu tidak tahu apa-apa, jadi kalau dipikir dengan cermat, orang tidak bisa mengatakan kalau Allah itu tidak ada. Jadi orang dilahirkan dengan tidak tahu apa-apa sampai tua dan tetap tidak tahu apa-apa yang dinamakan hidup dan mati itu apa. Orang lahir didunia itu semua sudah ada, jadi tidak perlu membuat lagi, lalu siapa yang menyediakan?, jawabnya adalah Allah, Sembahan yang tidak tampak tapi sebetulnya ada. Begitupun para Cendikiawan (ilmuwan) yang bisa meneliti atom dan zat yang lainnya juga belum bisa menjawab dari mana asalnya semua adanya atom, Oxygen dan zat-zat hidup itu?, tetap masih meraba siapa yang membuat.

Karena manusia itu dasarnya lebih sempurna dari makhluk lain, manusia mempunyai pikiran untuk memikir, bisa berusaha, itu sebabnya masing-masing merasa benar. Ada golongan mengatakan daya kekuatan itu Allah, ada mengatakan yang menciptakan kekuatan itu Allah, tetapi Dat-Nya tidak nampak. Selisih pendapat itu dari zaman ke zaman saling berebut benar. untuk menyelesaikan (menenangkan) itu semua maka Allah mengutus umatnya untuk memberi penerangan yang benar dan yang salah, dan umatnya yang disebut Rasul, para Rasul memerintahkan umatnya untuk mengakui dan meyakini bahwa Allah itu ada.

Karena zaman sekarang pikiran manusia belum berkembang maju, semua ajaran para Rasul hanya diterima begitu saja, “Allah itu ada” kata bapak dan ibu, tanpa dicari apa Allah itu, apa zat/data atau sifat dan daya kekuatan Allah. Karena masih ada yang bingung lalu timbul pikiran bahwa Allah itu hanya kumpulan bumi, matahari, udara dan air (4 anasir), ada juga yang mengatakan Anasir yang empat itu adalah sifat-Nya, jadi sampai turun temurun hingga sekarang bisa cuma percaya dan terima apa adanya. Karena itu memang benar apa kata firman Allah pada surat Al-Isra ayat 15 seperti diatas, bahwa semua kepercayaan itu tergantung diri masing-masing dan orang lain tidak turut campur. Bersambung………………

Sumber buku Wedaran Wirid I, Ki R.S. Yoedi Parto Yoewono. Surabaja : Djojobojo, 1962-64.
—————————
Alang Alang Kumitir

Advertisements

AJARAN BUDI PEKERTI DALAM SULUK GITA PRABAWA


Suluk Gita Prabawa menceritakan seorang anak raja yang bernama Gita Prabawa dengan ditemani seorang abdi yang setia yang bernama Darma Gandhul yang tak kalah jeleknya. Setelah bertapa pangeran itu menjadi orang yang sangat pandai berdebat, pandai menulis dan pandai berhitung , tanpa guru.

Pangeran lalu minta ijin ayahnya untuk berkelana mencari lawan untuk berdebat mengenai kawruh kasunyatan “ilmu kasunyatan” dan tentang hakikat Jalu Wanita (pria dan wanita), kelakuan dalam Asmara gama dan terjadinya benih manusia, akhirnya  Gita Prabawa mendapat lawan yang tangguh yang bernama  Dewi Pujiwati.

Dalam Suluk Gita Prabawa banyak terkandung pendidikan / ajaran budi pekerti yang luhur, dan menurut kaitannya dengan tahap-tahap syariat, tarikat, hakekat dan makrifat. Dalam suluk tersebut yang ada kaitannya dengan empat tahap perjalanan manusia menuju kesempurnaan antara lain sebagai beriku :

Wejangan Gita Prabawa

Darma Wasesa Kang winarna, langkung kagyat denira aningali, Gita Prabawa dene mlebu, marang guwa Siluman, pakartine Pujiwati sang Retna Yu, Darma Wasesa aturira, dhuh dhuh sampun den lampahi.

Terjemahan :

Diseritakan darma Gandhul, sangat terkejut melihat, Gita Prabawa masuk ke dalam gua siluman, itu perbuatan Sang Retna Ayu (Pujiwati), Darma Gandhul berkata, aduhai jangan dilakukan.

Dika manjing ing jro guwa, datan wande yen keneng kyeh bilai, langkung samar weritipun, ing ngriku pangalapan, kayangane sagungipun pra lelembut, Pujiwati kinuwasa, linulutas pra dhedhemit.

Terjemahan :

Tuan masuk ke dalam gua, pasti mati, sangat berbahaya, karena angker, disitu tempat tinggal para lelembut, Pujiwati yang diberi kekuasaan, dicintai para lelembut.

Niku tukang pangalapan, yen wus kapal tanpa daya samenir, yen dika kalebeng ngriku, tan wande ketiwasan, boten wonten ingkang kawula tut pungkur, yen paduka tekeng pejah, kawula kantun pribadi.

Terjemahan :

Itu sering membuat orang kalap, kalau sudah kalap tanpa daya sedikitpun, jika Tuan sampai masuk ke situ, pasti mati, tidak ada yang hamba ikuti, jika Tuan sampai mati, hamba tinggal sendiri.

Mendah dukane kang rama, Prabu Garbasumandha tembe wuri, Ki Gita Prabawa ambekuh, aywa kuwatir sira, lara pati iku dudu darbe ingsun, ing lohkhil makful wus ana, bilai lara lan pati.

Terjemahan :

Alangkah marahnya ayah anda Sang Prabu Garbasumandha nantinya, Ki Gita Prabawa mendengus, jangan kuwatirkan aku, mati hidup itu bukan kepunyaanku, di lohkhil makful sudah ada, celaka, sakit dan mati.

Ki Darma wasesa tur ira, mila amba kumapurun mambengi, saking sanget tresna ulun, darbe guru bendara, sampun ngantos manggih susah lara lampus, Gita Prabawa asru ngucap, apa sira wedi mati.

Terjemahan :

Ki Darma Gandhul berkata, hamba berani menghalang-halangi, karena rasa cinta kasih hamba, mempunyai Tuan dan Guru, jangan sampai mendapat susah, sakit atau mati, Gita Prabawa berkata dengan keras, takut matikah kau?.

Ki Darma wasesa tur ira, pejah nika tankeni denajrihi, gumantung karseng Hyang Agung, nanging tindak kang yogya, mangka ulun incen guwa peteng nglangut, pepadhas curine kathah, ting caringih mbilaeni.

Terjemahan :

Ki Darmo Gandhul berkata, mati itu tak boleh ditakuti, bergantung kehendah Hyang agung, tetapi untuk perbuatan baik, padahal hamba intip gua itu gelap sekali, padasnya runcing-runcing dan berbahaya.

Tur rupek peteng asamar, manjing guwa punapa kang denambil, tur gandane dahat arus, yekti kathah kang wisa, lamun dika anedya lumebeng ngriku, lepat pejah kenging wisa, tur wisa kang mbebayani.

Terjemahan :

Lagi pula sempit gelap berbayaha, masuk ke dalam gua apa yang diambil?, lagipula baunya amis, pasti mengandung bisa, jika Tuan bermaksud ke situ, pasti mati terkena bisa, dan bisa yang berbahaya.

Temah pejah siya-siya, tetep lamun janma bodho kepati, nir bobot lan timbangipun, suwawi kondur enggal, lamun lajeng sayekti yen manggih ewuh, manah ngong amelang-melang, tarataban ketir-ketir.

Terjemahan :

Akhirnya mati sia-sia, sungguh manusia yang bodoh, tanpa pertimbangan apa pun, mari pulang saja, jika diteruskan pasti akan mendapat bahaya, hati hamba sangat khawatir.

DALAM bait-bait tersebut, jelas dilukiskan bahwa seseorang yang mengabdi harus bertanggung jawah atas segala yang akan menimpa tuanya, memperingatkan tuannya jika akan berbuat salah, memberi nasihat jika berguna bagi keselamatannya, bahkan rela berkorban jiwa demi tuannya.

Janma Tan Kena Ingina

Gandanira apek pengus, kyai guru tan kuwawi, mambet ganda tan eca, mengo sarwi tutup lathi, idu riyak pulaeran, wenenh watuk sarta waing.

Terjemahan :

Baunya sangat tidak enak, kyai guru tidak tahan mencium bau tak enak itu, menoleh sambil menutup mulut, meludah sambil batuk serta bersin.

Sakabat kang aneng ngayun, sumingkire aneng wuri, nireng guru katri mira, waspada denira meksi, ing warnane janma prapta, mesum sayub cahya nya nir.

Terjemahan :

Sakabat yang ada dimuka, menyingkir di belakang ketiga gurunya, waspada memperhatikan, wujud orang yang datang, mesum suram tanpa sinar.

Seret denira anebut, astagafiru’llah ngalim, a’udubilahi minha, lagi iki sun udani, janma urip aneng donya, warnane tan lumrah janmi.

Terjemahan :

Tersendat mereka berucap, Astgafirullah ngalim, a’udubilahi minha, baru sekali ini aku melihat orang di dunia rupanya tidak umum.

Mengo ngucap muridipun, lah padha delengen kuwi, janma ingkang murang sarak, kurang wuruk mring agami, uripe ana ing donya, cilakane anemahi.

Terjemahan :

(Guru) menoleh berkata kepada muridnya, nah lihatlah, orang yang kurang ajar, kurang pengetahuan agama, hidupnya di dunia pasti celaka.

……….., patut dudu anak jalmi, anak wewe lan janggitan, Abduljabar nambung wengis.

Terjemahan :

……….., pantasnya bukan anak orang, anak wewe dan jangitan, Abduljabar dengan bengis menyambung.

Iki ta apa lu-ilu, lawan antu bangsa dhemit, utawa bangsa wa-uwa, kang manggon tengah wanadri, Abdulmanap aris mojar, lamun ing pembatang mami.

Terjemahan :

Apakah itu ilu-ilu dan hantu semacam dhemit, atau bangsanya wa-uwa yang hidup di tengah hutan?, Abdulmanap dengan halus berkata, kalau perkiraanku.

Bangsa uwil-uwil patut, kang uga thong-thongbret nami, Gita Prabawa mireng sabda, …………

Terjemahan :

Bangsa uwil-uwil, yang juga disebut thong-thongbret, Gita Prabawa mendengar kata, …………..

Yen ngono sira iku, nora pantes rembugan lan aku, awit sira wong munapek sun arani, durkaha marang Hyang Agung, lamun aku gelem tudoh.

Terjemahan :

Kalau begitu engkau itu, tidakpantas bicara denganku, sebab engkau orang munafik, berdosa kepada Tuhan, jika aku mau memberi tahu.

Pratingkahe laku dur, amuruki jawabe wong climut, nora wurung katularan awak mami, nadyan tan muruki, ingsun tan gelem sandhingan ingong.

Terjemahan :

Perbuatan jelek, mengajari jawaban orang curang, tidak urung akan ketularan juga diriku ini, meski aku tidak mengajari, duduk  berdekatan juga tidak mau.

DALAM bait-bait tersebut tercermin bahwa seseorang yang  merasa dirinya orang suci, pandai dalam ilmu menghina orang lain dengan seenaknya sendiri. Padahal dalam ajaran agama hal seperti itu tidaklah dibetulkan. Orang hidup harus saling harga-menghargai satu dengan lainnya tanpa memandang rupa, kekayaan, pangkat dan derajat. Dalam bait itu disebutkan ada tiga orang guru mengaji yang telah katam dalam ilmu agama, ternyata mereka menjadi takabur dengan ilmunya itu, sehingga menghina dan merendahkan orang seenaknya dan mengatakan bahwa orang-orang semacam diri merekalah yang kelak masuk surga firdaus.

Mring batal karam angrengut, sira sengguh kalal sakehipun, nadyan iwak celeng asu lawan babi, angger doyan sira kremus, nora wedi durakeng don.

Terjemahan :

Padahal yang batal dan haram geram, engkau kira halal semuanya, baik itu ikan babi hutan, anjing dan babi, asal engkau mau kau makannya, tidak takut akan durhaka.

Ki Gita Prabawa muwus, iku bener nggonira amuwus, nora luput nadyan iwak asu yekti, sun titik kamulanipun, dudu asu nggone nyolong.

Terjemahan :

Ki Gita Prabawa berkata, semua katamu benar, tidak salah meski ikan daging anjing sekalipun, jika diketahui asal mulanya, bukan anjing curian.

Deningu wiwit kuncung, lahta sapa wani ganggu-ganggu, luwih kalal saking iwak wedhus pitik, yen asale iwak wedhus, saka nggone anyenyolong.

Terjemahan :

Dipelihara dari kecil, nah siap berani mengganggu, lebih halal daripada ikan kambing dan ayam, jika asalnya ikan kambing, asalnya dari mencuri.

Sanadyan babi tuhu, ingsun titik ing kamulanipun, lamun ingon dhewe wiwit isih genjik, luwih kalal saka wedhus, nadyan iwak celeng yektos.

Terjemahan :

Meskipun babi, aku teliti asal mulanya, jika piaraan sendiri sejak kecil, lebih halal daripada ikan daging kambing, meskipun ikan babi hutan.

Kalamun antukipun, nggone mburu dhewe mring wana gung, dudu celeng colongan kalale luwih, saking ulam mesa lamun, asale nggone anyolong.

Terjemahan :

Jika didapat, dari beburu sendiri didalam hutan rimba, bukan babi hutan curian lebih halal, daripada daging ikan kerbau, yang asalnya dari mencuri.

Pan luwih karamipun, saking ulam celeng sarta asu, lan mangkono ngibarate kawruh jati, guru tiga ngucap, ……………

Terjemahan :

Itu lebih haram, daripada ikan babi hutan dan anjing, nah itulah ibaratnya ilmu jati, ketiga guru berucap, …………..

Gita Prabawa saurira, kadi paran nggon ingsun nampik milih, wus pinasthi ing Hyang Agung, sakehing karusakan, kabeh iku dadi darbeke wong lampus, dne sakehing kamulyan, dadi duweke wong urip.

Terjemahan :

Gita Prabawa menyahut, bagaimana aku harus menolak atau memilih?, sudah dipastikan oleh Tuhan, segala kerusakan itu, semua milik orang mati, dan segala kemuliaan, menjadi milik orang hidup.

Yen wong gesang iku susah, metu saking tekenane pribadi, ingkang karya susahipun, dening Hyang Mahamulya, sipat murah adil kukuh darbekipun, nanging kabet sipat samar, tan ana tinuting lair.

Terjemahan :

Jika orang hidup itu susah, berasal dari tanda tangannya sendiri, yang membuat susahnya, oleh Tuhan Yang Mahamulia, sifat murah adil dalam hukum, tetapi semua sifatnya samar-samar, tidak ada yang tampak dalam bentuk lahir.

Gita Prabawa malih mojar, adoh-adoh ingkang sira rasani, suwarga naraka, saiki wus gumelar, sapa ingkang luwih mulya uripipun, ya iku munggah suwarga, sapa apes dennya urip.

Terjemahan :

Gita Prabawa berkata lagi, jauh-jauh yang enkau sebut, surga dan neraka, sebutulnya sudah terpampang, barang siapa hidupnya mulia, yaitu naik surga, barang siap sengsara hidupnya.

Lamun sukmane wong Islam, anetepi salat limang prakawis, lan betah pangajinipun, anderes kitab Kuran, anetepi sahadat lan jakatipun, puwasa wulan Ramelan, tinarima mring Hyang Widhi.

Terjemahan :

Jika ruh orang Islam, yang mentaati salat lima waktu, dan tahan lama mengaji, membaca Qur’an,  menetapi sahadat dan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, diterima oleh Tuhan.

Denunggahken mring suwarga, wit jalaran manut parentah Nabi, akeh oleh-olehipun, kang wus kasbut ing kitab, lamun suksma nireng kaping kang tan anut, surake jeng Rassulullah, linebohake Yomani.

Terjemahan :

Dinaikkan ke surga, menurut perintah Nabi, banyak perolehannya, seperti telah disebutkan dalam kitab, jika ruh orang kapir yang tidak taat, pada perintah Nabi Rasulullah, di masukan kedalam neraka.

Gita Prabawa duk miyarsa, ………. wusana aris, pernahe iman puniku, aneng jantung nggenira, ing utek pernahe budi, otot balung punika pernahe kuwat.

Terjemahan :

Gita Prabawa setelah mendengar, ………. akhirnya berkata lembut, tempatnya iman itu, didalam jantung, sedangkan akal tempatnya otak, letak kekuatan ada pada otot dan tulang.

Pernahe wirang ing netra, ing donya kang luwih pait, wong miskin kang luwih susah, dene kang luwih pakolih, wong waras lan wong sugih, dene ingkang luwih dumuh, wong bodho tan wruh sastra, ingkang tamat ing pangeksi, iya iku janma wruh ngelmune Allah.

Terjemahan :

Letaknya rasa malu ada di mata, di dunia ini yang lebih pahit, adalah orang miskin yang menderita susah, sedang orang yang paling berbahagia, orang sehat dan orang kaya, yang lebih buta, adalah orang bodoh yang tidak tahu tengtang sastra, yang terang penglihatannya, adalah orang yang tahu tentang ilmu Tuhan.

Kang awit dina kiyamat, ing donya kang luwih gelis, luwih luhur saking wiyat, ngelmune tiba ing Nabi, jembar ngluwiji bumi, puniku jembaring kawruh, landhep ngluwihi braja, iku atine lantip, asrep luwih saking toya iku sabar.

Terjemahan :

Yang mulia pada hari kiamat, di dunia yang lebih cepat, lebih tinggi dari langit, ilmu yang turun kepada Nabi, lebarnya melebihi bumi, itulah luasnya pengetahuan, tajamnya melebihi senjata, itulah hati orang cerdas, dinginnya melebihi air itulah kesabaran.

Luwih atos saking sela, atine wong rupak, dene ta wong barangasan, luwih panas saking geni, wong jalu lawan estri, yekti kathah estrinipun, nadyan ing lair lanang, nanging tan bisa netepi, kuwajibaning priya sasat wanita.

Terjemahan :

Lebih keras dari batu, itulah hati orang yang sempit pikirannya, sedangkan orang yang pemarah, lebih panas dari api, laki-laki dan perempuan, sesungguhnya banyak perempuan, meskipun pada lahirnya laki-laki, tetapi jika tak dapat memenuhi kewajibannya sebagai laki-laki, tak ada bedanya dengan perempuan.

Wong mati lawan wong gesang, sayekti kathah wong mati, nadyan wujudira gesang, lamun nir budi pakarti, yeku prasasat mati, wong sugih lan miskin iku, iya kathah wong mlarat, senadyan sugih mas picis, lamun bodho tan wruh kawruh kasunyata.

Terjemahan :

Orang mati dan orang hidup, sesungguhnya banyak orang mati, meskipun kelihatannya hidup, tetapi jika tidak mempunyai budi pekerti, ya itu seperti orang mati, orang kaya dan miskin itu, juga lebih banyak yang miskin, sebab meskipun kaya harta benda, tapi jika bodoh ia tak tidak tahu ilmu kasunyatan.

Sayekti iku wong nistha, tanwruh wusanane benjing, nggenya mulih mring kalenggengan, wong Islam lawan wong kapir,  nadyan Islam ing lair, yen datan weruh ing ngelmu sanyatane agama, priye dadine agami, satuhune puniku kapir sadaya.

Terjemahan :

Sesungguhnya itu orang nista, tidak tahu akhirnya kelak, jika kembali menghadap Tuhan, orang Islam dan orang kafir, meskipun lahirnya islam, jika tidak tahu tentang ilmu agama, yang sesungguhnya bagaimana itu, sebetulnya itu pun kafir semua.

……, tegese wong laki rabi, lire wodon lawan lanang, aja ha cacade siji, wujude kalimat sahadat, tegese kadi pundi.

Terjemahan :

Artinya bersuami istri, artinya wadon (wanita) dan lanang (pria), jangan sampai ada cacadnya, wujud kalimah sahadat, artinya bagaimana?.

Basa lanang tegesipun, tan keni ingucap jalmi, lah tan iki warna-ningwang, yekti saru anglingsemi, wadon iku tegesira, basa wadon iku wadi.

Terjemahan :

Kata pria artinya, tidak boleh diucapkan orang, inilah ujud saya, betul-betul memalukan, kata wanita artinya, wadi (rahasia).

Mula rabi aranipun, wong lanang amengku estri, ing nedya datan sulaya, karep ala lawan becik, dadi jodho aranira, aywa kaledhong ing nami.

Terjemahan :

Maka dikatakan rabi, bagi pria kawin dengan wanita, dengan tujuan tidak akan berselisih, dalam kehendak buruk dan baik, jadi jodoh namanya, jangan terkecoh.

Aja tindak cula-cula, nganggoa patrap utami, dene ta kalimah sahadat, wong lanang kelawan estri, ingkang aneng sajro tilam, lamun arsa pulang resmi.

Terjemahan :

Jangan bertindak sembarangan, pakailah cara yang utama, yang dimaksud kalimat sahadat, adalah suami istri, yang sedang di tempat tidur, jika hendak bersetubuh.

Yen wus padha rujukipun, sami anekakken kapti, sakarone sami suka, mahanani raseng wiji, yen pinareng karseng Allah, kadadiyan putra benjing.

Terjemahan :

Juka sudah sepakat, sama-sama menyampaikan hasrat, keduanya sama-sama suka, menyebabkan rasa bahagia, jika Tuhan menghendaki, akan menjadi anak kelak.

Kalimah kalih puniku, wujude sira lan mami, tan liyan iki kang ana, dhasar samar kang sun nggoni, mila aran tapel Adam, enggon panggonan kang gaib.

Terjemahan :

Kedua kalimat itu, adalah ujudmu dan ujudku, tak lain inilah yang ada, dasar yang aku tempati tidak jelas, maka bernama tapel Adam, karena tempatnya yang gaib.

Puniku kang aran kakung, paksa kumlungkung mring rabi, aja kalah lan wanodya, iku wus mrantandhani, nalikane mong asmara, wong priya kang dipun pundhi.

Terjemahan :

Itulah yang disebut kakung (pria), memaksa diri kumlungkung (sombong) kepada istri, jangan sampai kalah dengan wanita, itulah telah tercermin, ketika sedang bermain asmara, priyalah yang dihormati.

Mila priya aranipun, wus mesthine angingoni, anyandhang estrinira, mila ing aranan estri, mung ngestreni jejerira, jumurung karsane laki.

Terjemahan :

Sebabnya disebut pria, sudah semestinya memberi nafkah, sandang dan pangan kepada istri, sebabnya disebut istri, karena hanya ngestreni (menungu) dan menyetujui, kemauan suami.

Mula wanita ranipun, kang wani temen ing laki, aja cidra lan sembrana, duk miyarsa Pujiwati, …………

Terjemahan :

Sebabnya disebut wanita, yang wani (berani) setia kepada suami, jangan ingkar dan gegabah, Pujiwati ketika mendengar, ………….

Wus pinasthikodrat ing Hyang, pepesthene janma tan kena gingsir, Darma Gandhul sru umatur menggah takdir ing badan, sinten ingkang uninga saderengipun, wikane yen wus klampahan, mupus takdire Hyang Widhi.

Terjemahan :

Kodrat Allah sudah pasti, takdir manusia tidak dapat berubah, Darmo Gandhul beseru keras adapun takdir diri, siapakah yang mengetahui sebelumnya?, bukankah tahunya itu jika telah terjadi, lalu berserah diri terhadap takdir Allah.

Saderenge kalampahan, ing agesang winenang nampik milih, de karsa tuwan puniku, sayekti yen nemaha, mring bilahi datan wande manggih dudu, dening Hyang Kang Murbeng alam, marga winastan takdir.

Terjemahan :

Sebelum terjadi, orang hidup berhak menolak dan memilih, seperti kehendak Tuan, itu pasti menempuh celaka, tak urung menemui kesalahan, dari Tuhan seru sekalian Alam, sebab yang dinamakan takdir itu.

Ingkang boten tinemaha, wusanane maksih manggih bilai, yeku takdir namanipun, lair batin sampurna, anyengaja lumebu jro guwa singup, niku takdir siya-siya, durake ing lair batin.

Terjemahan :

Yang tidak disengaja, tetapi akhirnya tertimpa celaka juga, itulah takdir namanya, lahir batin sempurna, sengaja masuk kedalam gua yang menakutkan, itu takdir sia-sia, berdosa lahir dan batin.

Laire aran kainan, winastanan janma kang tanpa pikir, ing batin yekti kasiku, marang sang Murbeng Alam, siya-siya menggih marang raganipun, mangka mung darmi ngenggea, prangrasane pasrah Widhi.

Terjemahan :

Lahirnya disebut kurang berhati-hati, dinamakan orang yang tanpa perhitungan, dalam batin sungguh salah terhadap Tuhan, menyia-yiakan badannya, padahal hanya sekedar memakai, menurut perasaannya berserah diri kepada Tuhan.

Hyang Suksma tan munasika, luwih-luwih karepe kang nglakoni, yen dika sedya rahayu, yekti yen menggih arja, lamun dika nemaha pratingkah dudu, sayekti manggih susah, Hyang Suksma amung njurungi.

Terjemahan :

Tuhan tidak akan mengganggu, lebih-lebih atas kehendak yang melakukan, jika tuan bertujuan baik, pasti akan mendapat kebahagian, tetapi jika tuan berbuat salah, pasti akan mendapat kesusahan, Tuhan hanya menyetujui.

Datan keni pinasrahan, mring bilai sakit tanapi pati, yen tan bener pasrahipun, satemah nemu duka, dene siya-siya marang dhewekipun, yen rusak katur Hyang Suksma, yek datan ayun tampi.

Terjemahan :

Tidak boleh diserahi tentang celaka, sakit atau mati, jika penyerahannya itu tidak betul, sehingga mendapat kemarahan, sebab semena-mena kepada dirnya, jika rusak diserahkan kepada Tuhan, pasti tidak mau menerima.

Jer andika kang kainan, yen wis tiwas wong liya kinen tampi, nandhang lara susah ngadhuh, lan ta dikasadhanga, aywa pasrah marang Hyang Kang Maha Luhur, Hyang Suksma tan apa-apa, boya keni dipun tagih.

Terjemahan :

Bukankah tuan yang kurang berhati-hati, jika celaka orang lain disuruh menerima, menderita sakit dan susah mengaduh, sebaiknya tuan rasakan sendiri, jangan menyerahkan kepada Tuhan, Tuhan tidak apa-apa, tidak boleh diminta (bertanggung jawab).

Takdiring Hyang wus ginawa, manut budi obah osiking ati, de ebah osike manus, manut rasa pangrasa, de kang rasa pangrasa iku pan manut, kanyataan kalairan, mungguh kanyataan lair.

Terjemahan :

Takdir Tuhan sudah dibawa, menurut kemauan hati dan pikiran, sedangkan kemauan manusia itu, menurut perasaan, dan perasaan itu menurut kenyataan lahir, kenyataan lahir itu.

Kalamun kirang prayitna, boten wande yekti manggih bilai, lampah paduka punika, nemaha kasusahan, anuruti tembung lamise wong ayu, tan wikan keneng loropan, Gita Prabawa muwus wengis.

Terjemahan :

Kalau kurang berhati- hati, tidak urung pasti mendapat celaka, perbuatan tuan itu sengaja akan menemukan kesusahan, menuruti bujuk rayu wanita cantik, tidak tahu kalau masuk dalam perangkap.

KUTIPAN pupuh diatas mengandung pendidikan budi pekerti sebagai berikut :

Pendidikan budi pekerti yang terkandung dalam Pupuh IV,24-29, menurut ajaran Islam merupakan larangan besar, tetapi dalam hal ini titik tolak pendidikan budi pekerti yang diambil adalah masalah mencuri. Barang apapun yang baik, indah dan enak jika merupakan barang curian tiada harganya juka dibandingkan dengan barang yang jelek atau rendah tetapi barang itu miliknya sendiri. Maksud dan tujuannya adalah mendidik orang agar mensyukuri segala sesuatu yang menjadi miliknya bagaimanapun wujudnya, jangan menginginkan segala sesuatu yang baik atau enak tetapi bukan miliknya, shingga kalau dipaksakan mengakibatkan orang melakukan perbuatan yang dilarang Tuhan.

Pendidikan budi pekerti yang terkandung dalam Pupuh IV,24-29, bahwa orang hidup itu susah, sengsara dan menderita itu adalah perbuatannya sendiri, sedangkan Tuhan itu selalu adil adanya. Perbuatan yang baik akan mendatangkan kebahagiaan dan ketentraman. Orang yang berbuat jahat akan mendatangkan kesengsaraan bagi dirinya sendiri. Dalam pupuh tersebut juga disebutkan bahwa surga dan neraka itu ada pada hati setiap manusia di dunia ini, barang siap yang dalam hidupnya selalu berbuat baik, mulia hatinya, tidak suka berbuat jahat terhadap sesama, hidupnya penuh kebahagian dan dapat menjaga diri dari segala macam godaan yang sifatnya menjerumuskan kedunia sesat, orang yang seperti itu sudah dikatakan  hidup di surga. Sebaliknya orang yang hidupnya selalu bebuat jahat, suka memfitnah, berbuat dengki terhadap sesama sehingga dikucilkan oleh sesamanya dan hidupnya selalu menderita, orang seperti itu dapat dikatakan hidup di neraka jahanam. Pendidikan budi pekerti disini bukan berarti orang yang kaya identik dengan masuk surga dan sebaliknya orang yang miskin masuk neraka, sebab orang kaya jika perbuatannya jahat dan tidak menjalankan perintah Tuhan itu pun akan masuk neraka.

Perumpamaan Seorang Pencuri

Sebaliknya walaupun orang miskin tetapi perbuatannya baik, suka mengamalkan apa saja dan menjalankan perintah Tuhan dengan sebaik-baiknya, dialah yang akan masuk surga. Untuk jelasnya dibawah ini diberikan satu contoh sebagai berikut :

Ada orang yang belum pernah mencuri, suatu saat terpaksa mencuri karena suatu hal. Setelah mencuri hati kecilnya merasa bersalah dan berdosa dan selalu dihantui oleh rasa berdosa ke mana pun dia pergi. Meskipun tidak ada seorangpun yang melihat perbuatannya dengan pandangan penuduh, sehingga ia merasa tersiksa, tidak ubahnya seperti hidup di neraka karena dikejar rasa berdosa.

Dalam pupuh IV, 55-54) disebutkan dalam rukun Islam, bahwa orang yang masuk surga itu adalah orang Islam yang melakukan shalat lima waktu, mengaji (membaca Al Qur’an) dengan rajin, mengucap sahadat dan berpuasa pada bulan Romadhan.   Adapun orang kafir yang masuk neraka adalah orang yang tidak menuruti ajaran Nabi Muhammad saw, meskipun mereka itu mengaku memeluk Islam.

Pendidikan budi pekerti yang terkandung dalam Pupuh IX,27-32, itu adalah tentang letak iman yang ada di jantung, letak akal yang ada di otak, letak kekuatan pada otot dan tulang, dan letak rasa malu ada di mata. Orang yang susah adalah orang yang miskin, dan orang yang bahagia adalah orang yang kaya ada sehat. Yang  dinamakan buta itu adalah orang yang bodoh tidak tahu tentang sastra ilmu Tuhan. Pengetahuan atau ilmu cepatnya melebihi putaran dunia, tingginya melebihi langit dan luasnya melebihi dunia, sedang orang yang cerdas itu tajamnya melebihi senjata dan orang yang sabar itu dinginnya melebihi air. Orang yang berpikiran sempit diibaratkan kerasnya melebihi batu. Orang yang pemarah panasnya melebihi api. Dan laki-laki dan perempuan lebih banyak perempuan, sebab meskipun lahirnya laki-laki apabila tidak dapat memenuhi kewajibannya itu bukan laki-laki. Orang mati dan yang hidup lebih banyak yang mati, sebab meskipun hidup jika tidak berakal itu tidak ubahnya seperti orang yang mati. Orang kaya dan miskin itu lebih banyak yang miskin, sebab orang yang kaya kalau tidak tahu tentang kawruh kasunyatan, ia itu tetap miskin dan hidupnya sangat hina. Orang Islam dan orang kafir lebih banyak yang kafir, sebab meski mereka mengaku Islam jika tidak tahu tengtang ilmu agama Islam yang sesungguhnya, mereka itu tak ubahnya seperti orang kafir.

Hikmah yang dapat dipetik dari uraian tersebut di atas, bahwa sebagai manusia harus belajar dengan baik dan sabar, tidak berpikir sempit, jangan marah lekas marah, harus dapat memanfaatkan kekayaan dengan sebaik-baiknya, dan harus juga menjalankan agama yang dianut sesuai dengan perintah Tuhan dengan sebaik-baiknya.

Menurut Al Qusyairi alat batin yang terhalus adalah Al sirr. Dengan Al sirr seorang hamba dapat musyahadah (menyaksikan atau melihat) Allah, apabila benar-benar telah jernih. Al sirr menurut Al Qusyairi dapat disamakan dengan telenging kalbu (mata hati terdalam atau rasa) dalam kaitannya dengan sembah rasa dalam Serat Wedatama karya  Mangkunegoro IV Pupuh Pangkur bait 13 :

“Tan samar pamoring Sukma, sinukma ya winahya ing ngasepi, sinimpen telenging kalbu, Pambukaning waana, tarlen saking liyep layaping ngaluyup, pindha pesating supena, sumusuping rasa jati”.

Al sirr itu dapat pula disamakan dengan wosing jiwangga (inti ruh) seperti diungkapkan dalam Pupuh Sinom bait 16 :

“Kang wus waspada ing patrap, mangayut ayat winasis, wasana wosing Jiwangga, melok tanpa aling-aling, kang ngalingi kaliling, wenganing rasa tumlawung, keksi saliring jaman, angelangut tanpa tepi, yeku aran tapa tapaking Hyang Sukma”, sesuai dengan penegasan Al Qusyairi “Al sirr althafu min Al ruh” al sirr lebih halus daripada ruh); atau dengan kata lain : sirr itu adalah inti ruh, karena keduanya bermakna “alat batin terdalam”.

Lebih lanjut Al Qusyairi menjelaskan pada bagian lain bahwa “…… seorang hamba yang terus menerus munajat dengan Allah dalam sirrnya ……., maka ia disebut arif dan hal perbuatannya disebut makrifat”. Makfifat, berarti mengetahui Tuhan dan dekat sehingga hati sanubari melihat Tuhan. Makrifat bukanlah hasil pemikiran manusia, tetapi bergantung kepada kehendak rahmat Tuhan. Makrifat adalah pemberian Tuhan kepada sufi yang sanggup menerimanya. Alat untuk memperoleh makrifat oleh kaum sufi disebut sirr.

Pendidikan budi pekerti yang terkandung dalam Pupuh X,7-16, mengenai arti laki-rabi atau bersuami-istri. Yang dimaksud dengan rabi artinya orang laki-laki kawin dengan perempuan dan sebaliknya, dengan tujuan tidak berselisih pendapat, bersatu dalam segala hal yang baik, dan saling harga-menghargai. Sedankang yang dimaksud kalimat sahadat dalam pupuh X adalah suami istri yang sedang ada ditempat tidur. Pendidikan budi pekerti yang dapat ditekankan di sini adalah bahwa sepasang suami-istri bila hendak bersetubuh harus bersepakat, sama-sama berhasrat, dan sama-sama suka. Jika itu diperhatikan maka kebersamaannya akan menyebabkan kebahagiaan dan kepuasan kedua belah pihak, dan jika Tuhan berkenan akan turunlah benih yang dapat menjadi anak. Dalam pupuh tersebut disebutkan bahwa seorang laki-laki berkewajiban memberikan nafkah kepada istrinya, baik lahir maupun batin. Sebaliknya istri wajib mengikuti kehendak  suami, setia, berbakti, tidak bohong, berani jujur terhadap suami, dan yang penting harus dapat menjaga rahasia suami, sebab istri adalah wanita atau wadon, artinya tempat menyimpan wadi atau rahasia.

Pendidikan budi pekerti yang terkandung dalam Pupuh XI,23-30, adalah takdir Tuhan itu sudah pasti adanya dan pasti terjadi pada setiap manusia. Manusia diberi kuwajiban berusaha memperbaiki takdirnya, tetapi takdir itu Tuhan juga yang menentukan. Adapun usaha manusia untuk memperbaiki takdirnya itu dengan cara berbuat baik, sebab dengan kebaikan Tuhan akan memberikan pahala. Jika manusia berbuat jahat, jelek atau dosa, maka Tuhan akam memberikan hukuman. Takdir sudah digariskan oleh Tuhan bagi umat-Nya, tetapi takdir itu ditentukan sendiri oleh kemauan dan pikiran manusia. Kemauan dan pikiran manusia itu ditentukan oleh perasaan menuruti kemauan lahir. Jadi dalam menuruti kemauan lahir itu manusia harus berhati-hati, jangan hanya sekehendak sendiri. Orang harus dapat mengendalikan kemauan lahir, kalau kemauan lahir itu baik patut dijalankan, tetapi jika kemauan lahir mengajak dalam perbuatan jelek atau jahat dan diturutinya maka takdir Tuhan juga akan jelek nantinya.

Pendidikan budi pekerti yang terkandung dalam Pupuh VII, bahwa sebagai umat Tuhan menurut ajaran Nabi Muhammad saw, haruslah menjalankan shalat lima waktu, yaitu : Subuh dua rekaat, Luhur empat rekaat, Magrib tiga rekaat, dan Isa’ empat rekaat. Dalam pupuh tersebut diterangkan bahwa sebahyang : (1) Shalat Subuh itu bersujud kepada Nabi Adam yang dianggap sebagai Bapak semua umat di dunia. (2) Shalat Luhur yang disujudi adalah Nabi Yunus, sebagai peringatan kepada manusia jika mendapatkan kesusahan hendaknya ingat kepada Tuhan, seperti pengalaman Nabi Yunus ketika ditelan ikan. Nabi Yunus minta pertolongan Tuhan sehingga terhindar dari petaka itu. (3) Shalat Magrib yang disujudi Nabi Musa, (3) dan Shalat Isa yang disujudi Nabi Isa, karena dianggap sebagai roh Tuhan yang menjelma ke dunia, oleh sebab itu pula Nabi Muhammad menyuruh umatnya bersujud kepada Nabi Isa.

Ajaran yang terkandung dalam pupuh XII, tentang arti ashadu allah ilaha ilallah Muhammadar rasulullah. Dalam pupuh itu juga diterangkan tentang letak nyawa, ada tiga puluh dua yang tersebar di seluruh tubuh ini.

Kabuka warang gung, tumalawung sepa sepi nglindhung, Wisnu Kresna uwus anunggal kajatin, marmenak kapenak lampus, kawengku neng rasa yektos.

Terjemahan :

Terbuka tirai agung, terpukau kosong sepi berlindung, Wisnu Kresna telah nyata bersatu padu, oleh sebab itu lebih enak dan nyaman, karena terliputi oleh rasa sejati.

Rasa Mulya satuhu, kang nduweni dene alamipun, manut karseng Pangeran Kang Mahaluwih, si raga nglakoni dhawuh, wus atas karseng Hyang Manon.

Terjemahan :

Rasa mulia sejati itu, yang sungguh-sungguh memiliki, adapun alamnya menurut kehendak Tuhan Yang Maha Kuwasa, tubuh melakukan perintah, atas kehendak Yang Maha Mengetahui.

Lamun sira tan nggugu, lah mengaa ing langit andulu, dudu sasi iku ingkang andamari, lan srengengene iku dudu, ingkang madhangi sumorot.

Terjemahan :

Jika kau tidak menurut, nah tengadahlah kelangit memandang, bukan bulan itu yang menyinari, dan matahari itu juga bukan yang menerangi, bercahaya.

Tan liya saking suwng, lah suwunge graitanen iku, yen siraasa nyatakken kawruh kang luwih, utamane wong tumuwuh, warneng damar wulan jumboh.

Terjemahan :

Tak lain daripada kosong, nah kekosongan itu renungkanlah, jika kau ingin membuktikan ilmu yang sempurna, keutamaan orang hidup, seperti sinar bulan.

Surya saksine iku, lamun siji wujude Allahu, sipat langgeng nora kena owah gingsir, wulan saksi rasa iku, owah lan gingsir enggon.

Terjemahan :

Matahari sebagai saksi, bahwa satu wujud Allahu itu, sifatnya abadi tidak dapat berubah bergeser, bulan menjadi saksi rasa itu, berubah dan bergesernya tempat.

Bisa nom tuwa iku, iya lintang iku saksinipun, tetep langgeng kawula ingkang saksi, tiga cahyane nggeguwung, seje wujude katonton.

Terjemahan :

Dapat tua dan muda itu, bintanglah yang menjadi saksi, tetap abadinya manusia itu saksinya, berbeda wujudnya kalau dilihat.

Iku ta tandhanipun, kawula gusti miwah rasa jumbuh, beda-beda jinis tan wujud tan sami, lan ora dulu-dinulu, tan tumunggal lan tan tinon.

Terjemahan :

Itu tandanya, manusia dan Tuhan bersatu raga, berbeda jenis, tak berujud dan tidak sama, dan tidak saling berpandangan, tidak melihat dan tidak kelihatan.

Adohe angelangut, luwih parek nanging datan gathuk, sesa-sesa karepe ingkang ngarani, denarani pisah kumpul, denranna parek tan nyenggol.

Terjemahan :

Jauh tanpa batas, meski dekat tak bersentuhan, terserah kemauan yang menyebut, dikatakan berpisah tetapi bersatu, dikatakan dekat tai tak bersentuhan.

Kawula gusti jumbuh, lan rasane apa bedanipun, seje-seje jinis rasa : kawula gusti, denranana tunggal kumpul, denranana seje seos.

Terjemahan :

Kawula gusti jumbuh, dalam hal rasa apakah bedanya?, berlainan jenis rasa kawula : gusti itu, dikatakan tuggal memang bersatu, dikatakan berbeda memang lain.

Ya sira iya ingsun, tunggal rupa sarana wus jumbuh, saksi nyata panitike surya mijil, cahyeng lintang wulan samun, sing haweng srengenge nyorot.

Terjemahan :

Engkaupun juga aku, satu rupa satu rasa telah jumbuh, saksi nyata ditandai dengan ketika matahari terbit, cahaya bitang dan bulan menjadi suram, karena udara sinar cahaya matahari.

Kalihnya lir linimput, kasorotan srengenge sumunu, nging yektine mor surahsa anyorot, wor nunggal cahya tetelu, Allah : Rasul : Suksma jumbah.

Terjemahan :

Keduanya seperti ditutupi, terkena sinar cahaya matahari, tetapi sesungguhnya bercampur bersatu dalam kerahasian menyinari, ketiga cahaya itu berbaur bersatu padu, Allah : Rasulullah dan Suksma jumbuh.

Yen wus srengenge surup, kari wulan lan lintang sumunu, ibarate wong kang merem datan guling, padhang ing rat tan kadulu, rasa lan pangrasa nyarong.

Terjemahan :

Jika matahari telah terbenam, tinggal bulan dan bintang bersinar, ibarat orang memejamkan mata tidak tidur, terangnya dunia tidak tampak, tapi rasa dan perasaan menerawang.

Kari suksma lan Rasul, ingkang ana wit srengenge surup, amung kari cahyanira ingkang maksih, katon dhewe-dhewe wujud, ibarate turu ngorok.

Terjemahan :

Tinggal Suksma dan Rasul, jika matahari terbenam, hanyalah sinarnya saja, yang masih tampak wujud masing-masing, ibarat orang tidur mendengkur.

Supena janma turu, kari rasa pangrasa kang kantun, Allah lawan Rasulullah ambenggangi, mung kari pribadinipun, ingkang dumunung neng kene.

Terjemahan :

Manusia tidur bermimpi, tinggal rasa dan perasaan tertinggal, Allah dan Rasulullah mengitarinya, tinggal pribadinya saja, yang masih ada di situ.

Yen eling janma turu, mendhung lelimengan kang kadulu, sirna mulih mring asale ingkang lami, apan kari asal suwung, mulih mring klangengan jumboh.

Terjemahan :

Jika orang tidur itu ingat, gelap gulita yang terlihat, hilang lenyap kembali ke asalnya yang dulu, sebab tinggal asalnya yang kosong, pulang kembali ke alam baka, jumbuh.

Gita Prabawa saurira, nora susah sira mateni mami, nganggo waos  lawan dhuwung, saiki sun wus pejah, guru tiga sugal ing pamuwusipun, amung lagi tatanira, wong mati cangkeme criwis.

Terjemahan :

Gita Prabawa menjawab, tidak usah engkau membunuh aku dengan tombak dan keris, sekarang pun aku sudah mati, ketiga guru berkata kasar, hanya kau yang berkata begitu, orang mati cerewet.

Awake wutuh lir reca, Gita Prabawa wengis denira angling, yen patine kewan iku, nganti rusaking jasat, lamun nganti aking paninireng kayu, yen ilang patine setan, lamun ingsun ingkang mati.

Terjemahan :

Badanya utuh bagaikan arca, Gita Prabawa berkata bengis, jika hewan mati, sampai rusak tubuhnya, jika sampai kering itu matinya kayu, jika hilang itu kematiannya setan, namun jika aku yang mati.

Ora wujud nora ilang, dina iki uga ingsun wus mati iku nepsuku, sakabehe kang salah, ingkang urip budi pakarti kang jujur, pisahing raga lan suksma, kinarya tandha ing lair.

Terjemahan :

Tidak hilang tidak juga berujud, saat itu juga aku sudah mati, yang mati adalah nafsuku, semua yang salah, dan yang hidup adalah budi pekerti yang jujur, pisahnya jiwa dan raga, itu sebagai tanda lahir saja.

Puniku maknane sadat, pisahira kawula lawan Gusti, pisah esah tunggalipun, dadya roh Rasulullah, yen pisah raga lawan suksma iku, pangrasa lan cahya ilang, panggonane ana ngendi.

Terjemahan :

Itu makna sahadat, berpisahnya kawula dan gusti, berpisah sama sekali kesatuannya, menjadi roh Rasulullah, jika sudah berpisah jiwa dan raga itu, perasaan dan cahaya juga hilang, dimanakah tempatnya?.

Pendidikan budi pekerti yang terkandung dalam Pupuh IV,48-62, adalah tahap manusia telah menyatukan diri dengan Tuhan. Dalam pupuh IV disebutkan bahwa jiwa manusia terpadu dengan jiwa alam semesta dan semua tidakan manusia semata-mata menjadi jalan menuju kemanunggalan dengan Tuhan. Orang yang mati telah dikuasai oleh “rasa sejati” dan dunianya menurut kehendak Tuhan, sedangkan tindakan manusia semata-mata hanya menjadi jalan menuju kemanunggalannya dengan Tuhan.

Ajaran yang termuat dalam Pupuh VI,50-52, menguraikan bahwa orang yang mati sebetulnya bukan mati yang sesungguhnya, yang mati itu hanyalah nafsunya, semua yang salah atau perbuatan jahat, dan yang hidup adalah budi pekerti yang jujur. Pisahnya jiwa dan raga telah terpisah maka perasaan dan cahaya pun hilang juga, kemana perginya, ada dimana tempatnya, tiada seorang pun yang tahu.

Pendidikan budi pekerti yang terkandung dalam Pupuh VI,52-53, menyarankan jika orang ingin bersatu dengan Tuhan hendaklah berbuat yang baik, sebab kebaikan itulah yang akan dibawa jika menghadap kepada Tuhan.

…………………………….

Alang Alang Kumitir

SANGUNE LAKU


Sekar macapat Sinom yang ditulis oleh  Ki Sasmita dibawah ini, sangat bagus untuk kita renungkan sebagai  pengingat atau senjata dalam menjalani kehidupan supaya rahayu dalam meraih kemuliaan. Dan  tidak lupa selalu mensyukuri akan segala nikmat yang telah diberikan Allah. Mari Saudara-saudaraku semua, kita baca dan hayati pelan-pelan maksud yang terkandung pada Macapat Sinom Sangune Laku (Bekal Perjalanan).

wayang wong 8

S I N O M

Dhuh kadangku para mudha,
pirengna piweling iki,
dimen kena kanggo gaman,
lakumu samargi-margi,
amrih rubeda kalis,
tansah pinanggih rahayu,
lan katekaning sedya,
datan kurang sandhang-bukti,
urip mulya ayem-tentrem trus raharja.

Kang sepisan lamun arsa,
miwiti tumandang kardi,
salwiring pakaryanira,
dipun-eling aywa lali,
sawega ambundheli,
ati kanthi niyat tulus,
dedarma mring bebrayan,
datan sineselan pamrih,
pamrihe mung asung karya kang piguna.

Kang kapindho lamun manggya,
ruwet lan bundheting pikir,
enggala ngupadi tamba,
mrih tan ambebuthek ati,
satemah lali dhiri,
sarwa wagu sarta saru,
ing saparitindaknya,
enggala den-usadani,
kanthi minta urun rembuge pra kanca.

Sabacute kudu tansah,
bungah nampani peparing,
nadyan durung jumbuh klawan,
sing dikarepaken ati,
sebab yen dituruti,
satemene ngugung nepsu,
tan wurung ngambra-ambra,
kufur mring nikmating Gusti,
pepuntone pijer koncatan raharja.

Alang Alang Kumitir.

ILMU KAMUKSAN


Peksi Nala

a. Sallahu allaihi wasallam;
Peksi Nala,
mulih he muliya,
he; Rengkulu, Saka Guru,
Sumuruping Kadratullah,
murub mumbul ing ngawang padhang,
haningali, hawang-hawang.

b. Awang dalem tinut dening iman;
Seg, padang teka padhang,
lah padhang, adoh katon cedhak,
katon byar padhang,
teka padhang,
Peksi Nala, wengakna lawang suwarga,
inepen lawang neraka.

c. Repp…. gregg….hiya iku Peksi Nala;
Kang misesa liyeping Karsa Mulya,
tan ana kerasa,
sampurna ing badane,
selamet sak parane,
teka sakajate! Amin, Amin, Amin!!!!

Bahasa Indonesia

a. Sallahu allaihi wasallama;
Peksi Nala,
Kembali…. hei…. kembalilah,
hei, Rengkulu, Matahari, Saka Guru,
yang meresap dikodratullah,
menyala dan membubung diangkasa cemerlang,
melihati langit dan angkasa.

b. Wahana-MU diturut oleh iman;
Seg, teranglah dan terang,
okh, terang, sekalipun jauh terlihat dekat,
kelihatan…. pyaar…. cemerlang terang,
sekonyong-konyong………. terang,
Peksi Nala, bukalah pintu surga ini,
tutuplah pintu neraka ini.

c. Repp…. gregg….yaitu Peksi Nala;
Yang misesa liyepnya Karsa Yang Mulia,
tiada terasa apa-apa,
sempurnalah dibadannya,
selamatlah kemana perginya,
sampailah segala niatnya! Amin, Amin, Amin!!!!

Makna bait-bait wirid di atas khusus bagi orang yang akan menuju keakhir kejadian, atau sewaktu kita hendak ajal! Karenanya, dilarang untuk bahan pembicaraan, menjaga kemurnian sastra tersebut, kalau memang diperlukan hanya dua kali di ucapkan untuk “menolong” orang-orang yang akan meninggal dunia, artinya hanya di peruntukkan dua orang pada hari itu bilama (di desa) tempat kita terdapat kematian!

Kalau wirid dibait-bait tersebut hanya dibaca saja tanpa pengertian yang mendalam samalah artinya kalau kita sewaktu meneriakkan slogan-slogan reklame; seyogyanya dihafal serta mengerti satu persatu apa dan dimana, surga, neraka dan akhirat serta bagaimana cara menyelaraskan wahana tersebut. Saya yakin apabila tidak disebar luaskan, maka Ilmu Kamuksan di atas akan lenyap bersama orang-orang Tua-tua yang mempunyai Ilmu itu atau Wirid Ilmu Khaq Sejati yang sempurna, dikarenakan uleh dua faktor:

Pertama, orang Tua-tua kita masih merahasiakan,

Kedua, dibawa oleh puputnya umur orang-orang tersebut!!!

Sungguh-sungguh akan berterimakasih para jiwa-jiwa yang meninggalkan badannya setelah mendapat “wisikan atau bisikan” bunyi ilmu tersebut, karena peribahasa memberikan tongkat  orang yang akan tergelincir, atau memberikan obor orang yang sedang kegelapan!!!

Cara untuk mengamalkan ilmu tersebut (kepada siapa ilmu itu diberikan), terserah kepada para pembaca, kalau tidak dengan wajar sebagaimana Guru mengajar muridnya, (seyampang orang-orang selagi hidup) setidak-tidaknya “berikan ilmu” ini terhadap orang yang akan menemui ajal dengan cara membisikkan melalui telinga kirinya!!!

Dengan demikian mulai sekarang, dari pada kita dicekam rasa kecewa dibelakang hari, sebab pada alam Sakarotilma’oti tidak seorangpun akan dapat menolong kita, sekalipun dengan suatu “matram” yang dianggap ampuh!!!

Untuk lebih memudahkan dan meresapi dalam mengamalkan ilmu tersebut, dengan penjelasan sebagai berikut :

a. “Peksi Nala” artinya : Peksi = burung, sedangkan Nala = hati (dari bahasa Kawi), jadi maksudnya hati laksana burung.

Sedangkan “Ilmu Kamuksan” berasal dari bahasa Kawi yang artinya : mati dengan disertai badannya, wadagnya  atau jasadnya, hal-hal mana dulu banyak dilakukan para leluhur kita seperti para Raja-raja, Pandhita-pandhita pada zamanya!”.

“Rengkulu, Srengenge-srengenge (matahari), Soko Guru” artinya : Rengkulu = bantal, Srengenge-srengenge = sifat panas, Soko Guru = tiang rumah yang jumlahnya empat; kiasannya, hati manusia itu sadar-taksadar-selalu bersandar kepada empat nafsu yang selalu panas!”.

“Sumuruping Kodratullah” bahasa ini mempunyai dua makna : “sumuruping” atau dapat diartikan meresap atau telah mengetahui. Bila “sumurup” ini disamakan dengan “surup” akan menjadi “kesurupan” artinya dimasuki; jadi yang tepat adalah “meresapi”, jelasnya semua pekertinya bathin yang berpangkal dari “hati” itu, benar-benar diresapi oleh kodratnya Allah atau hati adalah benar-benar bekerja atas kuasanya Allah! Ingat bahwa semua yang lahir maupun yang bathin adalah kehendak dan af’al-Nya!.

b. Yang terpenting dalam pengamalan Peksi Nala sewaktu “mendobrak” pintu surga dan neraka, selanjutnya surga dan neraka adalah “jodohnya” atau dapat diganti dengan sebutan : senang atau susah, sehat dan sakit adalah satu rasa yang dirasakan oleh hati, di dalam dalil Qur’an diterangkan bahwa azab neraka berpangkal dari tiga pintu, tetapi pintu-pintu yang sebenarnya berjumlah tujuh!.

Uraian-uraian selanjutnya sejajar dengan Wirid Hidayat Jati. Inilah hakekatnya dari pada Roh dan Hati Surga dan Neraka :

1. HATI PU’AT : ialah jantung, pintunya di puser, rohnya disebut Rohullah; Surganya dinamakan Jannatul Na’iem, maksudnya lebih nikmat, buktinya tidur pulas. Nerakanya Jahanam, artinya lebih panas, buktinya lapar dan sakit perut!

2. HATI MUZARAT : YAITU Syulbi, pintunya di zakar, rohnya Roh Qudus, Surganya Jannatul Adnin, maksudnya lebih elok, buktinya keluar mani, Nerakanya Zakinn, artinya lebih dingin, buktinya waktu mandi zinabat, atau kencing!

3. HATI TAWAJUH : yaitu perut, pintunya di anus (zubur), rohnya Roh Syirikul’alam, Surganya Jannatul Thawwab, maksudnya puas, buktinya kentut dan berak; Nerakanya disebut Wailun maksudnya lebih sakit, buktinya waktu sakit berak dan berak darah!

4. HATI SALIM : yaitu ginjal, pintunya di hidung, nafsunya Mutmainah; warnanya putih, kerjanya mencium, membau, rohnya Roh Ruhkani;  Surganya Jannatul  Firdaus, artinya lebih lama, buktinya keluar masuhnya nafas; Nerakanya disebut Asfala’safilien, maksudnya sesak nafas, tandanya sakit mengi (sesak nafas)!

5. HATI SANUBARI : yaitu limpa, pintunya di mata, nafsunya Sufiyah, warnanya kuning, pekernya melihat, rohnya Roh Rabani; Surganya Jannatul Syamsi, artinya lebih terang, buktinya mengetahui segala yang ada; Nerakanya Syahhir, artinya gelap, nyatanya sakit lamur atau buta!

6. HATI MAKNAWI : yaitu empedu, pintunya di telinga, nafsunya Amarah, warnanya merah,  rohnya Roh …. (?); Surganya Jannatul Ma’oti, artinya lebih elok, buktinya perpaduannya suara; Nerakanya Laliem, maksudnya pepet, nyatanya sakit telinga atau tuli!

7. HATI SAWADI : yaitu usus, pintunya mulut, nafsunya Aluamah, rupanya hitam, pekertinga bicara, rohnya Roh Ilafi, Surganya Jannatul Syukhri, artinya lebih suka, nyatanya tertawa; Nerakanya Sukhra, maksudnya risi, nyatanya waktu menangis!

Makna sebenarnya dari Ilmu Kamuksan diatas terletak bulat-bulat pada kesempurnaan badaniah yang mengharuskan kesehatan disamping latihan bathin yang khusus bagi kebatinan! Apakah hanya dengan membaca wirid Ilmu Kamuksan tersebut akan otomatis begitu saja setelah ajal kita sampai, kemudian badan dan jiwa sempurna dan lenyap? Syukurlah kalau wirid diatas tanpa dipelajari dan tanpa syarat-syarat apapun dapat menyempurnakan pati dan hidup kita! Kalau jawabannya “belum” percumalah, walaupun bagaimana keampuhan wirid-wirid tersebut tetap tidak akan dapat menolong! Sesuai falsafah Jawa, asal kita dapat melatih Semedi pada jam-jam tertentu dengan melatih juga “mengembalikan” kondisi aslinya indriya-indriya tersebut misalkan : kembalikan suara, artinya melatih tidak mendengar sesuatu, kembalikan bau artinya hidung berhenti dulu tidak membau dan sebagainya; bukan berarti seperti zaman yang sudah-sudah kita diharuskan mengembalikan “suara kepada yang punya suara”, dalam pemikiran timbul gugatan “Siapa yang punya suara”?

Menurut Wirid Hidayat Jati “Iradatnya Dat” dalan bahasa Indosnesia-nya kurang lebih sebagai berikut : ………. karena sebenar-benarnya yang menjadi larangan atau pantangan dari para ulah Ilmu Kasampurnan itu hanya terletak pada “nafsu”. Kalau dapat mengikis (mengurangi) biasanya timbul hati yang awas dan ingat (awas lan emut, Jawa).

Karena benar-benar bahwa kita hidup melulu pengemban rasa dengan keterangan-keterangan Hidayat Jati tersebut benar dan nyata bahwa surga dan neraka yang berpintu tujuh dari poko asalnya (salurannya) berpintu tiga bukan di “sana-sana” tetapi disilah, dibadan kita yang keselurahannya minta perhatian khusus, agar tidak nyeleweng yang dapat menimbulkan rasa-rasa yang kita inginkan! Sesungguhnya memang Peksi Nala-lah yang dapat mempengaruhi, misesa, memerintah atau mengendalikan semua hasrat-hasrat lahir bathin; karenanya benar-benar sukses atau tercapai segala tujuan, hanya terletah pada hati!.

Harap diingat bahwa wirid tersebut sekali lagi hanya dapat “MERINGANKAN” jalannya Roh waktu meninggalkan badan sewaktu ajal, agar tidak terperosok ke alam penasaran, lebih-lebih kalau mulai sekarang kita amalkan dan hayati sesuai petunjuk Guru masing-masing, insya’allah ajal kita menuju sempurna, kembali ke asal awalnya “DARI TIADA RASA KE TIADA RASA”!! Amin, Amin, Amin.

Sumber buku Wedaran Wirid III, Ki R.S. Yoedi Parto Yoewono.
—————————

Alang Alang Kumitir

HAKEKATE MARTABAT SANGA (SEMBILAN)


a.   Kaping wolu : akarsa malih, martabat Hayan Sabitah arane,

b.   Hayan iku sejatining urip, Sabitah teteping pati mangka tetep tinetepan, pati lan uripe tetep!

Bahasa Indonesia ssebagai berikut :

a.   Yang ke delapan : menghendaki lagi, martabat Hayan Sabitah namanya,

b.   Hayan itu ialah hidup, Sabitah ketetapan dari pati, maka saling memantapkan, hidup dan mati tetap menatapi!

Tujuan hidup yang “sebenar-benarnya” disebut dengan bahasa Arab “Hayan Sabitah” arti kata “hayan” ialah “hidup” yang bagi diri manusia, sama dengan kehidupan; dan sabitah artinya; baik, mulya, sempurna! Dengan demikian tujuan hidup ini yang paling pokok, ialah hidup senang, tentram, mulya, bahagia dan sebagainya tanpa sifat-sifat lawannya!

Dimuka telah disinggung-singgung suatu anggapan “apakah sifat wujudNYA harus manifestasinya dulu sebagai manusia?. Kalau anggapan itu benar maka sempurnalah Alam Semesta (Tuhan) mewujudkan citaNYA sebagai bentuk apa yang kita alami sekarang, kalau diingat bahwa Datwajibulwujud yang berpangkal dari kesempurnaan empat unsur tersebut sebelum keadaan ini, sudah merintis sifatNYA secara evolusi sekian juta tahun silih berganti, sifat-sifat itu tidak ada yang sesempurna sifat manusia.

Dari sifat wujudNYA yang “tidak sempurna” selanjutnya menuju kekesempurnaannya, marilah kita meninjau fa’al hidup dari beberapa serangga sebagai perumpamaan :

1.   Dari telur menetas itu lahirlah seekor ulat yang berkeliaran dari satu pohon ke lain pohon, makan daun-daun untuk kelangsungan hidupnya.

2.   Ia sama sekali tidak mengerti bahwa induknya adalah seekor Kupu-kupu yang cantik dan dapat terbang.

3.   Selang beberapa hari si Ulat berhenti sebagai pemakan daun-daunan, kemudian ia mencari tempat yang aman untuk berlindung. Selanjutnya ia mengerutkan dirinya dengan kelamad yang keluar dari mulutnya dan nanusnya, setelah cukup kuat, ia diam seribu bahasa seolah-olah bertapa, kemudian, badannya yang tadinya gembur dan bergelang-gelang, kini menjadi kepompong tetap dalam kondisi diam sama sekali tidak bergerak!

4.   Phase terahir dari “tapanya” menjadikan ia seekor Kupu seperti induknya, dan kini sempurnalah hidupnya. Tidak lagi makan daun-daunan tetapi menghisap madu yang segar dan manis itu, dan tidak lagi berjalan dengan kakinya yang 12 buah, kini dapat terbang!

Didalam hati saya bertanya : “Mungkinkah ia juga merasakan manisnya madu, mungkinkah ia merasakan senang hatinya”!? kupu-kupu itu tidak mengerti bahwa setelah bertelur lalu mati, juga ia tidak mengerti berapa lama ia harus hidup sebagai kupu-kupu? Mungkin sekali seperti kupu-kupu itu adalah fungsi daripada Hayang Sabitah; artinya sifat-sifat makhluk sepertinya dapat merasakan “rasa manis dan sebagainya” sekedar beberapa hari saja; tidak seperti manusia, ia dapat merasakan segalanya!. Timbul keyakinan bahwa : sifat dari wujudNYA bukanlah Kupu-kupu sebagai tujuanNYA, akan tetapi sifat Kupu-kupu tersebut kesempurnaannya hanya sampai disitu, ia tidak nanti berevolusi lagi menuju sifat terakhir sebagai kesempurnaan sifat hidupnya! Benarlah apa yang diucapkan Prof. A.C. Morrison, “Mungkin ada akal yang Maha Tinggi untuk mewujudkan kehendakNYA”!.

Dari proses makhluk-makhluk sendiri andai kata manusia “belum ada” sebagai manifestasiNYA maha – akal yang Tinggi itu, saya kira dunia ini hanya terisi oleh makhluk-makhluk sekian juta jenisnya itu, akalnya (nalurinya) hanya dibatasi bentuk-bentuk sifatnya. (Yang segera punah)!!

Karena itu sebagai tujuan terakhir dari sifat-sifat hidup yang membisu dan akal terbatas itu lahiriyah manusia! Manusia yang serta merta membawa segala kebutuhan-kebutuhan dari segala kemauan yang tersalur melalui bahasa dan indera-inderanya! Mungkin tepat adanya anggapan; “kehendakNYA tidak akan sampai terwujud sekaligus menuju ketujuanNYA : tanpa lebih dahulu Datwajubulwujud meleburkan kehendakNYA, sebagai manusia”!.

Suatu sanggahan misalnya, mengapa kalau harus demikian Agungnya manusia masih saja mencuri, menipu, merampok, jadi jahat dan sebagainya? Jawaban itu dapat dikembalikan, pada : sifatNYA yang secara dinamis dan panta rei bahwa adanya sifat dan watak manusia yang demikian, adalah sifat-lawanNYA sebagai keseimbangan! Dan disinilah maka tujuan hidup itu terus berkembang dan mengurangi keseluruhan sifat-sifat diats; apakah ia akan mati, berputus asa, bosan dan lain-lain sifat-sifat yang ia arungi, memang itulah tujuan hidup yang sebenarnya, menuju Hayan Sabitah!

Bagaimana bentuk serta alam Hayan Sabitah itu? Jawabannya hanya berkisar pada hati. Kita puas dan bahagia hidup dengan hasil usaha sesuai sifat lingkungan dan alam sekitar, apakah ia kuli, bakul air, atau saudagar sekalipun seharusnya merasa senang dan bahagia dengan hasil ikhtiyarnya! Banyak orang-orang mewah namun hasil daripada perbuatan yang eksesnya merugikan orang lain, bentuk korupsi, penipuan atau menghisap tenaga manusia dan lain-lain yang erat hubungannya dengan kejahatan-kejahatan!.

Kemudian, hidup yang meraka anggap senang dan puas; nafsu-nafsu mereka mungkin diselubungi adanya sifat kekurangan-kekurangan apakah dilihat dari sudut teknologi atau kesehatan, pertanian dan plitik, kesemuanya untuk mewujudkan Hayan Sabitah, kesempurnaan yang harus dicapainya apakah akan mewujudkan kendaraan ruang angkasa, pertanian-pertanian yang menghasilkan buah yang melimpah dan gemuk-gemuk, obat-obatan yang membentuk keremajaan kembali, semuanya adalah tujuan hidup menuju ke Hayan Sabitah!.

Demikian gambaran secara umum yang didasarkan kepada “kelahiran” yang aspeknya hanya mementingkan rasa; padahal tujuan yang pokok dari Hayan Sabitah adalah kesempurnaan daripada “hidup dan mati” yang seharusnya pada tingkat dan rasa yang sama!. Kalau awal kejadiannya tiada rasa apa-apa akhir kejadiannyapun seharusnya juga dapat mencapai alam yang tiada rasa (Layu Khayafu!), atau luluhnya Kawula Gusti!!.

Lanjutan dari Martabat Sanga.

c.   “Sapa kang jumeneng ing Hayan Sabitah, iya Kang Maha Suci, iku Hurip kita, sadurunge ana bumi langit, trus samengkone;

d.   Uripe Hayan Sabitah, iku purbaNE, rasa wisesane karsa, sempurnane otot-bayunira, lungguhe ing syulbi, hiya iku enggone Rasulullah”!!.

Bahasa Indonesia :

c.   “Siapakah yang bersemayam di Hayan Sabitah, ialah Yang Maha Suci, itu Hidup kita, sebelum terjadinya bumi dan langit, terus hingga sekarang;

d.   Hidupnya Hayan Sabitah, itu purbaNYA, rasa pamisesaannya kehendak, sempurnanya otot-otot dan bayumu, mukimnya di syulbi, yaitu tempatnya Rasulullah”!!.

Yang dimaksud : Dat Yang Maha Suci atau Dat Yang Menghidupi – sebelum terjadinya bumi dan langit atau kita kenal alam semesta ini sebenarnya “belum apa-apa” dan belumlah juga IA meleburkan Datnya sebagai wujud, setelah mana Dat itu mensifatkan wujudNYA, maka di sifat-sifat itulah Dat baru mempunyai tujuan, yang corakNYA terbawa oleh pengalaman hidupnya sifat-sifat tersebut!!.

Dari hasil pengalaman yang jutaan tahun inilah, maka Hidup itu pandai dan cerdas serta tangkas, hasil dari prosesnya sendiri! Diatas, pada alinea d. Terdapat kata-kata “hidupnya Hayan Sabitah itu adalah purbaNYA artinya ke-kesempurnaan yang bertolak dari rasa yang dipengaruhi oleh kehendak ialah Hayan Sabitah sebagai tujuan akhir dari hidupNYA”.

Dengan demikian corak hidup yang bagaimanapun bentuknya, adalah ber-Tujuan Satu ialah serba rasa, atau “among – rasa” yang dimaksudkan adalah hidup kita!!.

Katakanlah hidupNYA bersifat : siput, lebah, gajah dan sebagainya secara teratur, sekalipun pada sifat-sifat itu “ke Hayan Sabitahannya” terbatas; agaknya aneh sekali bahwa peranan-peranannya sifat hidup itu keseluruhannya toh bagi kepentingan manusia!!.

Suatu contoh : lembu bentina yang gemuk, selain susunya yang amat berguna bagi pertumbuhan fa’al hidup manusia, juga kulitnya, tanduknya, dagingnya, kotorannya, bulunya seluruhnya bagi kepentingan manusia, tanpa nama Hayan Sabitah masih pincang! Serangga dan margasatwa seolah-olah tidak berhak untuk hidup, namun manusialah dalam hal ini sebagai penjaga dan pemelihara demi Hayan Sabitah.

Dengan merenungkan pekerti sendiri diatas, timbullah keyakinan, bahwa wujud dari sifatNYA yang kini berakhir sebagai Manusia, sudah tiada lagi makhlik yang lebih atas lagi taraf bentuk dan sifatnya, kini “manusia Bumi” tinggal mencerdaskan otak sebagai perpaduan dan motor dari kehidupan menuju Hayan Sabitah!!.

Secara lahiriyah kita berlomba-lomba sebagai pengemban RahsaNYA, secara bathiniyah kita berlomba mengikis nafsu untuk tujuan terakhir yang akan kita hayati apakah nanti di alam pati kita beroleh layukhayafu (tujuan yang teratas), atau di alam nasut zabarut (alam Rasa), apakah di alam malakut, kita hanya berjuang untuk sekedar menyelaraskan bukan mengharuskan!!.

Kembali pada alinea d. Bernarkah rasa-rasa itu pemurbawisesaannya karsa (kehendak) atau timbulnya rasa adalah harkat dari kehendak?? Memang benar, kalau seandainya  kehendak kita hanya “nrima” atau “trima apa adanya” saya kira Hayan Sabitah hanya sebagai perisai, yang sebenarnya alam semesta (Allah, Tuhan) hanya merasakan apa yang dirintis oleh kehendak, misalnya tanpa merobah susunan rasa asli, yang bersumber pada hidup hayati dan nabati manusia hanya merasakan “rasa asin” ia tidak mengerti rasa manis, gurih, pedas dan sebagainya, tanpa ber-kemauan untuk mengikuti kehendak yang ingin merasakan!.

Kodrat dan Iradat berjalan serentak demi menggalang RahsaNYA; sebenarnyalah tanpa “kodrat dan iradat” tidak nanti akan ada Tujuan Hidup mungkin Hidup tak mau hidup, lama-lama punah!!.

Terserah para wasisi sendiri untuk menilai yang lebih bebas dan tepat.

Sumber : Buku Wedaran Wirid III, Ki R.S. Yoedi Parto Yoewono.

—————————

Alang Alang Kumitir

SULUK LING LUNG (TEKS ASLI)


SULUK LING LUNG
SUNAN KALIJAGA (SYEH MELAYA)
Karangan : Iman Anom
Tahun 19806 Caka / 1884 M

BRAMARA NGISEP SARI
PUPUH I
DHANDHANGGULA

1. Jumadilawwal puruning nulis, Isnen Kliwon tanggal ping pisan, tahun Je mangsa destone, nenggih sengkalanipun, “Ngerasa sirna sarira Ji”, turunan saking kitab, Duryat kang linusur, sampun kirang pangaksama, ingkang maca kitab niki sampun kenging, kula den apuntena.

2. Pawartane pandhita linuwih, ingkang sampun saget sami pejah, pejah sajroning uripe, sanget kepenginipun, pawartane kang sampun urip, marma ngelampahi kesah, tan unigeng luput, anderpati tan katedah, warta ingkang kagem para Nabi Wali, mila wangsul kewala.

3. Ling lang ling lung sinambi angabdi, saking datan amawi sabala, kabeka dene nafsune, marmannya datan kerup, dennya amrih wekasing urip, dadya napsu ingobat, kabanjur kalantur, eca dhahar lawan nendra, saking tyas awon perang lan nepsu neki, sumendhe kersaning Hyang.

4. Ling lang ling lung anedheng Hyang Widhi, mugi-mugi binuka Hyang Sukma, den legakna ing atine, sakayun yawunnipun, marga dadi sembah lan puji, saking telasing manah, pramila nenuwun, nanging tan apunten ing Hyang saking mboten saged nembah lawan muji, ngawur datan uninga.

5. Ling lang ling lung pan kendel pribadi, tanpa rewang pan ucek-ucekan, yetukaran pada dewe, tan adoh swaranipun, pan gumrejeg padu tan enting, pan rebut kalah menang, tan ana rinebut, lir ngrebut prajeng Ngastina, lali kadhang miwah bapa anak rabbi, jiwa raga tan ketang.

6. Ling lang ling lung tan weruh ing isin, saking kedah uningeng ing warta, sinahu tapa lan luwe, yen ana kanca rawuh, melu mangan pan datan eling yen mungkur kancanira, tan mangan saumur, saking tan ana pinangan, ling lang ling lung angon paesan pribadi, tansah nagih buruhan.

7. Ling lang ling lung tan olih, anenagih ngrejeg tanpo potang, kang tinagih meneng bae, pan nyata nora nyambut, kang anagih awira-wiri, tan ana beda nira, Syeh Malaya iku, wit puruhita atapa, mring Jeng Sunan Benang kinen tengga kang cis, tan kena yen kesaha.

8. Ling lang ling lung pan sang mendha luwih, buda teja tequde sarira, upamakken ing sanise, wonten sujalma luhung, putra Tuban Rahaden Syahid, duk sepuh nama Sunan, Kalijaga sampun, langkung sinihan Hyang Sukma, ingkang sampun dadi keramating Hyang Widhi, Mijil saking asmara.

KASMARAN BRANTA
PUPUH II
ASMARADANA

1. Kapincut ingkang anulis, denira mirsa carita, duk kina iku wartane, Jeng Suhunan Kalijaga, rikala mrih wekasan, anggeguru kang wus luhur, anepi dhukuh ing Benang.

2. Puruhita wus alami, tan antuk faedah kang nyata, mung nglakoni papa wae, pan agung kinen atapa, dateng Jeng Sunan Benang, kinen tengga gurda sampun, tan kenginganke kesaha.

3. Wonten satengah wanadri, gennya ingkang gurda-gurda, pan sawarsa ing lamine, anulya kinen ngaluwat, pinendhem mandyeng wana, setahun nulya dinudhuk, dateng Jeng Sunan Benang.

4. Anulya kinen angalih, pitekur ing kali jaga, malih karan jejuluke, sawarsa tan kena nendra, utawi yen dahara, tinilar mring Mekah sampun, dhumateng Sinuhun Benang.

5. Nyata wus jangkep sawarsi, Syeh Malaya tinilikan, pinanggih pitekur bae, Jeng Sunan Benang ngandika, Eh Jebeng luwarana, jenenge wali sireku, panutup panatagama.

6. Den becik gama nireki, agama pan tata krama, krama –kramate Hyang Manon, yen sira panata syarak, sareh iman hidayat, hidayat iku Hyang Agung, agung ing ngrahanira.

7. Kanugrahane Hyang Widhi, ambawani kasubdibyan, pangawasane pan dene, kadigdayan kaprawiran, sakabeh rehing yuda, tan liya nugraha luhur, utamane kahutaman.

8. Utama nireki bayi, dene kang sediya murba, kang amurba ing deweke, Misesani aneng sarira, nanging tan darba purba, sira kang murba Hyang Agung, den mantep ing panarima.

9. Syeh Malaya matur aris, kalangkung nuwun patik bra, kalingga murda wiyose, nanging amba matur Tuan, anuwun babar pisan, ing jatine sukma luhur, kang aran iman hidayat.

10. Kang manteb narima Gusti, kang pundi ingkang nyatanya, kulanuwun sameloke, yen ngemungna basa swara, amba anut kumandhang, yen pralena anglir kukus, tanpa karya olah sarak.

11. Jeng Sunan lingira aris, Syeh Malaya bener sira, sing atapa panggih ingong, ingkang aran panarima, kang eling maring karya, duk lagi kamulanipun, apan nora kadya mega.

12. Pan kadya hidayat wening sarupa iman hidayat, apa katon sabenere, nanging iku wruhanira, datan kena dinuga, atawa yen sira bantu, kalawan netra kepala.

13. Ulun iki lir sireki, kapingin uga weruha, mring hidayat sameloke, nanging ingsun durung wikan, meloke kang hidayat, mung werta kang sun pituhu, jer iku andikaning Hyang.

14. Umatur Jeng Sunan Kali, pukulun nuwun jinatenan, punapa wonten wiyose, ingkang aran tanpa sifat, kang sifat tanpa aran, kawula nuwun pituduh, angen-angen ingkang wekasan.

15. Sunan Benang ngandika ris, yen sira amrih wekasan, matenana ing ragane, sinauwa pejah sira, mumpung ta meksih gesang, anyepiya mring wanagung, aja nganti kamanungsan.

16. Wus telas dennya pawarti, jeng Sunan Benang wus jengkar, saking ing kalijagane, ngalor ngetan ing lampahnya, antawis sahonjotan, Syeh Malaya atut pungkur, lumebeng ing wana wasa.

17. Pan angidang lampah neki, awor lan kidang manjangan, atenapi yen asare, pan aturu tumut nangsang, kadi turuning kidang, yen asaba mapan tumut, lir kadya sutaning kidang.

18. Yen ana jalma udani, kang kidang lumayu gebras, Jeng Sunan ameli gebras, pan lumayu berangkangan, kadi playuning kidang, wayang-wuyung datan kantun, anut ing solahe kidang.

19. Nyata wus jangkep sawarsi, Syeh Malaya dennya ngidang, malah langkung ing janjine, nyata Jeng Sinuhun Benang, arsa shalat mring Mekah, sekedhep netra pan sampun, bakdane shalat glis prapta.

20. Jeng Sunan kendel wanadri, mulat mring kidang lumajar, dene sutane ngiyar-ngiyor, Sunan Benang emut ing tyas, yen wonten Wali ngidang, Syeh malaya wastanipun, aglis sira pinaranan.

21. Syeh Melaya apan gendring, pelayune nunjang palang, datan etung jurang pereng, binujung nora kecandhak, jinaring lan den kala, yen kena kala marucut, yen nunjang jaring pan liwat.

22. Bramantya Sang Maha Yekti, sasumbar sajroning nala, Wali waddat mbuh gawene, mejanani sira kidang, nguni sun nyekel barat, kang luwih lembut tan mrucut, kang agal teka agagal.

23. Yen luputa pisan iki, luhung aja dadi jalma, tan patut mung dadi sato, kurda muntap Sunan Benang, pan sarwi nyipta sega, tigang kepel mapan sampun, mundur kinarya bebalang.

PUPUH III
D U R M A

1. Sigra mara Kanjeng Sunan anerajang, ing wana langkung sungil, nyata wus kapanggya, kang lagi laku ngidang, lumayu binalang aglis, sega kepelan, tiba ing gigir neki.

2. Syeh Melaya pan aririh pelayunya, anulya piningkalih, kena lambungira, deperok Syeh Malaya, anulya binalang malih, sega kepelan, emut nulya ngabekti.

3. Pan anderu sumungkem angras pada, ngandika sang ayogi, “jebeng wruhanira, yen sira nyuwun wikan, kang sifat hidayatullah, mungga kajiya, mring Mekah marga suci.

4. Anbambila toya zam-zam mring Mekah, iya banyu kang suci, sarta ngalap barkah, Kanjeng Nabi panutan, Syeh Malaya angabekti, angaras pada, pamit sigra lumaris.

5. Sang Pandita wus lajeng hing lampahira, mring Benang dhepok sepi, nyata kawuwusa, lampahe Syeh Malaya, kang arsa amunggah kaji, dhateng hing Mekah, lampahnya murang margi.

6. Nrajang wana munggah gunung mudhun jurang, iring-iring pan mlipir, jurang sengkan nrajang, wauta lampahira, prapteng pinggir pasisir, puter driya, pakewuh marga neki.

7. Ning pangkalan samodra langkung adohnya, angelangut kaeksi, dyan jetung kewala, aneng pinggir samodra, wonten ingkang winarni, sang Pajuningrat, praptane sang Kaswasih.

8. Apan tuhu uninga ing lampahira, Syeh Malaya prihatin, arsa wruh hidayat, apan terah tinerah, sukma sinukma piningit, tangeh manggiya yen tan nugraha yekti.

9. Nyata majeng nggebyur malebeng samodra, tan toleh jiwa diri, wau Syeh Malaya, manengah lampahira, anut parmaning Hyang Widhi, ing sanalika, prapteng teleng jaladri.

10. Ya ta malih Jeng Sunan ing Kalijaga, neng telenging jeladri, sampun pinggihan, pan kadya wong leledhang, peparabe Nabi Khidir, pan tanpa sangkan, ngandika tetanyaris.

11. Syeh Malaya apa ta sedyanira, prapteng enggone iki, apa sedya nira dene sepi kewala, tan ana kang sarwo bukti, myang sarwo boga, miwah busana sepi.

12. Amung godhong aking yen ana kaleyang, tiba ingarsa mami, iku kang sun pangan, yen ora-ora nana, garjita tyas sira myarsi, Kanjeng Susunan, ngungun duk amiyarsi.

13. nabi ningrat ngandika mring kang prapta, putu ing kene iki, akeh panca baya, yen nora etoh jiwa, mangsa tumekaha ugi, ing kene mapan, sekalir padha merih.

14. Ngegungaken ciptanira maksih kurang, nora ageman pati, sabda kaluhuran, dene mangsa anaha, keweran tyas Sang Kaswasih, ing sahurira dene tan wruh ing gati.

15. dadya alon atur ira Syeh Melaya, mangsa borong Sang Yogi, Sang Wiku lingira, apan ta sira uga, kasmaran hidayat ullih, wekasan ningrat, meloke ing saiki.

16. Anglakoni pituduhe guru nira, Sunan Benang Sang Yogi, tuduh marang sira, kinen ning negri Mekah, pan arsa myang munggah kaji, mulane nyawa, angel pratingkah urip.

17. Aja lunga yen tan wruh kang pinaranan, lan aja mangan ugi, yen tan wruh rasanya, rasane kang pinangan, aja nganggo-anggo ugi, yen durung wruha arane busana di.

18. Witing weruh atakono pada jalma, lawan tetiron nenggih, dadi lan tumandhang, mengkono ing agesang, ana jugul nganggo-anggo ugi, yen durung wruha arane busana di.

19. Lamun kuning den anggep kencana mulya, mangkono ing ngabekti, pernahe kang sinembah, Syek Melaya duk miyarsi, ndeku norraga, dene Sang Wiku sidik.

20. Sarwi sandika ing atur ira, Syeh Melaya minta sih, anuwun jinatenan, sinten ta aran tuan, dene mriki peribadi, Sang Pujuningrat, Hya ingsun Nabi Kihidzir.

21. Atur sembah pukulun nuwun jinatenan,pun patik nuwun asih, ulun inggih datan, wruh puruhiteng badan, sasat satoning wanadri, tan mantra-mantra, waspadeng badan suci.

22. Lang lung mudha punggung cinacad ing jagad, keksi-keksi ning bumi, engganing curiga, ulun tanpa warangka, wecana kang tanpa siring, nyata ngandika, manis sang Nabi Khidir.

“SANG NABI KHIDIR”
PUPUH IV
DHANDHANGGULA

1. Lamun sira munggah kaji, maring Mekah thuke ana apa, hya Mekah pan tilas bae, Nabi Ibrahim kruhun, ingkang yasa kang ponang mesjid, miwah tilase ka’bah, kang arupa watu, gumantung tanpa centhrlan, apa iku kang sedya sira bekteni, dadi mangan brahala.

2. Iya kaya idhepe wong kapir, dene iya esmu ngangka-angka, trus madhep mring brahalane, nadyan wus haji iku, yen tan weruh paraning kaji, ka’bah pan dudu lemah, kayu watu dudu, margone tan kanggo lunga, mring ka’bah yen arsa wruh ing ka’bah jati, jati iman hidayat.

3. Lahgita mara Syeh Melaya aglis, amanjinga guwa garbaning wang, Syeh Melaya kaget tyase, Dadya metu gumuyu, Pan angguguk turira aris, saking pundi marganya, kawula geng luhur, antawis mangsa sedhenga, saking pundhi marganing gen kula manjing, dening buntet kewala.

4. Nabi Khidir angandika ris, gedhe endhi sira lawan jagad, kabeh iki sak isine, alas samudra gunung, nora sesak ing garba mami, tan sesak lumebewa, ing jro garba ningsun, Syeh Melaya duk miarsa, langkung ajrih kumel sandika tur neki, ningleng ma’bitingrat.

5. Iki dalan talingan iki, Syeh Melaya manjing sigra-sigra, wus prapta jero garbane, andalu samudra gung, tanpa tepi nglangut lumaris, liyep adoh katingal, Nabi Khidir nguwuh, eh apa katon ing sira, dyan umatur Syeh Melaya inggih tebih, tan wonten kang katingal.

6. Awang uwung kang kula lampahi, uwung-uwung tebih tan katingal, ulun saparan parane, tan mulat ing lor kidul, kulon wetan datan udani, ngandhap ing luhur ngarsa, kalawan ing pungkur, kawula mboten uninga, langkung bingung Nabi Khidir ngandikaris, aja maras tyasira.

7. Byar katingal madhep Nabi Khidir, Syeh Melaya Jeng nabi kawang-wang, umancur katon cahyane, nalika wruh  lor kidul, wetan kilen sampun kaheksi, nginggil miwah ing ngandhap, pan sampun kadulu, lawan andulu baskara, eca tyase dene Jeng Nabi kaheksi, aning jagat walikan.

8. Kanjeng Nabi Khidir ngandika ris, aja lumaku andeduluwa, apa katon ing dheweke Syeh Melaya umatur, wonten werni kawan perkawis, katingal ing kawula, sedaya puniku, sampun datan katingalan, anamung sekawan perkawis kaheksi, ireng bang kuning pethak.

9. Angandika Kanjeng Nabi Khidir, ingkang dihin sira anon cahya, gumawang tan wruh arane, panca maya puniku, sejatine teyas sayekti, pangarepe sarira, Pancasonya iku, ingaranan muka sipat,  ingkang nuntun maring sifat kang linuwih, yeku asline sipat.

10. Maka tinuta aja lumaris, awatana rupa aja samar, kuwasane tyas empane, ngingaling tyas puniku anengeri maring sejati, eca tyas Syeh Melaya, duk miyarsa wuwus, lagiya medhep tyas sumringah, dene ingkang kuning abang ireng putih, yeku durga manik tyas.

11. Pan isining jagad amepeki, iya iku kang telung prakara, pamurunge laku kabeh, kang bisa pisah iku yekti bisa amoring ghaib, iku mungsuhe tapa, ati kang tetelu, ireng abang kuning samya, angadhangi cipta karsa kang lestari, pamore Sukma Mulya.

12. Lamun ora kawileting katri, sida nama sirnane sarira, lestari ing panunggale, poma den awas emut, dergama kang munggeng ing ngati, pangawasane weruha, wiji wijenipun, kang ireng luwih prakosa, panggawene serengen sebarang runtik, dursila angambra-ambra.

13. Iya iku ati kang ngedhangi, ambuntoni marang kabecikan, kang ireng iku karyane, dene kang abang iku, iya tudhuh nepsu tan becik, sakabehe pepinginan, metu saking iku, panas baran papinginan, ambuntoni maring ati ingkang ening, maring ing kawekasan.

14. Dene iya ingkang rupa kuning, kuwasane neng gulang sebarang, cipta kang becik dadine, panggawe amrih hayu, ati kuning ingkang ngadhangi, mung panggawe pan rusak, linantur jinurung, mung kang putih iku nyata, ati enteng mung suci tan ika iki, prawira ing karaharjan.

15. Amung iku kang bisa nampani, mring syahide sejatine rupa, nampani nugrahan nggone, ingkang bisa tumanduk, kang lestari pamore kapti, iku mungsuhe tiga, tur sereng gung ngagung, balane ingkang tetiga, iku putih tanpa rewang mung sawiji, mila ngagung kasoran.

16. Lamun bisa iya nyembadani, mring sasuker kang telung prekara, sida ing kana pamore, tanpa tuduhan iku, ing pamore kawula Gusti, Syeh Melaya miharsa, sengkut pamrihipun, sangsaya birahi nira, iya maring kawuwusing ingahurip, sampurnaning panunggal.

17. Sirna patang prakara na malih, urip siji wewolu warnanya, Syeh Melaya lon ature, punapa wastanipun, urip siji wewolu warni, pundi ingkang sanyata, urup kang satuhu, wonten kadi retna muncar, wonten kadi maya-maya ngebati, wonten abra markata.

18. Marbudengrat Nabi Khidir angling, iya iku sejatine tunggal, sarira marta tegese, iya aneng sireku, tuwin iya isining bumi, ginambar angga nira, lawan jagad agung, jagad cilik tan prabeda, purwane ngalor kulon kidul puniki, wetan ing luhur ngandhap.

19. Miwah ireng abang kuning putih, iya iku panguripaning bawana, jagad cilik jagad gedhe, pan padha isenipun, tinimbang keneng sira iki, yen ilang warna ingkang, jagad kabeh suwung, sesukere datan ana, kinumpulken marang rupa kang sawiji, tan kakung tan wanodya.

20. Kadi ta wangunana puniki, kang asawang peputeran danta, tak pyo dulunen kiye, Syeh Melaya andulu, kang kadya peputeran gadhing, cahya mancur gumilang, neneja ngenguwung, punapa inggih puniku, rupaning dzat kang pinerih pun ulati kang sejatining rupa.

21. Nabi Khidir angandika aris, iku dudu ingkang sira sedya, kang mumpuni ambeg kabeh, tan kena sira dulu, tanpa rupa datan pawarni, tan gatra tan satmata, iya tanpa dunung, mung dumunung mring kang awas, mung sasmita aneng jagad angebaki, dinumuk datan kena.

22. Dene iku kang sira tingali, kang sawang peputeran denta ingkang, gumilang gilang cahyane, angkara kang murub, Sang Permana arane iki, uripe kang sarira, permana puniku, tunggal ana ing sarira, nanging datan melu suka lan prihatin, panggone aneng raga.

23. Datan melu suka lan prihatin, iya nora melu lara lapa, ye iku pisaha anggone, raga kari ngalumpruk, yekti lungkrah badanireki, ya iku kang kuwasa, nandhang rasanipun, inguripan dening sukma, iya iku sinusih anandhang urip, ngaken rahasya ningrat.

24. Hya iku sinandhangken mring sireki, nanging kadya simbaring kakywan, aneng hing raga enggone, uripe permaneku, inguripan sukma linuwih, misesa ing sarira, permana puniku, yen mati melu palaswan, yen lamun ilang sukmane slira urip nuli urip sukma kang ana.

25. Sirna iku iya kang pianggih, uriping sukma ingkang anyata, ingkang liwatan umpamane, lir rasane tumuwuh, permana kang amir sadhani, tuhu tunggal pinangka, jinaten puniku, umatur Syeh Melaya, ingkang pundi wernine ingkang sayekti, Nabi Khidir ngendika.

26. Nora kena yeku yen sira prih, ing kahanane semat-mata, gampang angel pirantine, Syeh Melaya umatur, kula nyuwun pamejang malih, inggih kedah uninga, babar pisanipun, pun patik ngaturaken pejah, ambengana angen-angen ingkang pesthi, sampuna nuwas ngantiya.

PUPUH V
KINANTHI

1. Nabi Khidir rum, wor perlambang esmu neki, umpamane wong rerasan, loting kang adi pantesing, kang loting bumbu sastnya, wor rahsa karasa suci.

2. Nurbuat kang rahsa iku, sejatine rahsa iki, duk ana ing sifat jamal, Johar awal yen wus mijil, Johar akhir wus dewasa, kang awal rahsa sejati.

3. Kang Johar akhir puniku, sawujud sak pati urip, johar duk sawujud tunggal, rahsa tunggal urip tunggil, tunggal lawan johar awal, kang johar akhir puniki.

4. Sawujud sagesang lampus, sapolahe johar akhir, salamine anarima, kang johar batin puniki, kang pinuji kang sinembah hya iku Allah sejati.

5. Nora nana roro iku, sira iku nuqod ghaib, nuqod ghaib duk ing kuna, nora sarta nora mati, temene nuqod punika, ghoib iku jeneng reki.

6. Wus tumiba neqdu iku duk mahune urip, tinarik alip dadinya, alid iku jisim latip, sejatine ananira, neqdu iku denarani.

7. Johar jati iya iku, jenengira iku urip, syahadat jati urip ira, ingaranan getih urip, getih urip ingaranan, Rasulullah rasa jati.

8. Syahadat jati getih, rasa jatining dzat sami, Jabrail Muhammad Allah, telune kapate iki, getih urip arannira, tingalana nyawang mati.

9. Apa ana getihipun, getih iku ilang neki, ilange awor lan sukma, sukma ilang ya ananging, padha ana alip ika, ingaranan ruh idhofi.

10. Jisim latif jatenipun, kang ingaranan jisim latip, jisim angling duk ing kuna alip winastanan angling, alip iku tanpa netra, tan angucap tan miyarsi.

11. Tanpa karsa tan andulu, iya iku ingkang alip, alip tiba ing neqdunya, norane anane dadi, alip iku jinabaran, pan ruh idlofi Dzatullih.

12. Wus kapeca sedaya wus, ruh idhofi gagetining, dzat sejati alip ika, jabar lan jere puniki, aneng johar alip ika, arane kalam birahi.

13. Birahi ananereku, aranira Allah jati, tanana kalih tetiga, sapa wruha yen wus dadi, ingsun weruh pesti nora, ngarani namanireki.

14. Sipat jamal ta puniku, ingkang kinen angarani, pepakane ana ika, akon ngarani puniki, iya Allah angandika, mring Muhammad kang kekasih.

15. Yen tanana sira iku, ingsun tanana ngarani, mung sira ngarani ing wang, dene tunggal lan sireki iya Ingsun iya sira, aranira aran mami.

16. Hannerehken sira iku, apa sira terbuka ning, araningsun iya sira, kang sawujud lawan mami, deningsun semjen lan sira, pesthine nora ngarani.

17. Aranira araningsun, apan sira iku uwis, ing donya lawan akkherat, sira iki gegentining Muhammadar rasulullah, nabiyullah ya ilahi.

18. Pertandhane Allah iku, aneng sira dipun eling, jabar jere alip ika, alip iku pese reki, budi jati aranira, ilang budi sajroning.

19. Kang micareku, angendhoraken birahi, karo dudu karo iya, ya iku kang johar budi, iku aran budi iman, alip tiba neqdu pesthi.

20. Sejatine alip iku, srwo nora dora neki, kang alip iku namanya, nora nipun ana keki, alip adi aranira, kang asih ananireki.

21. Johar awal ananipun, kang johar kahanan jati, tinja junub lan jinabat, johar awal ganda neki, iku tiba ing neqtunya, norane sajroning urip.

22. Urip jroning johar iku, urip mati sajroning, iya aneng johar awal, pagene sholat sireki, ya ana ing ndalem ndonya, purwane sholat puniki.

23. Den kawangwang maring neqdu, ghoib aneng sira iki, pagene ya ngadeg sira, sidhakep marwasa wening, sedhakep tunggal kahanan, tunggal sapari polah neki.

24. Pangucap nunggal sireku, wedale rukuk tumuli, kerasa duka lan cipta, tumetes banyu kang wening, ning urip ruh sekalirnya, rahsa iman saderahi.

25. Kang saderah ananipun, pagene sujud neng bumi, paran dadi duk wahunya, cahya ingkang sasmitaning, ya iku semune rupa, semurupeku sejati.

26. Kang agama dunungipun, iya ingkang bumi langit, ingkang ananira nika, sirnaning dunya kang ati, iya iku atenira, kang sujud aneng ing bumi.

27. Pagene linggih amangu, angawang anguwung den panggih, jatine iku tan ana, pangeran iku sejati, yeku kawula jatinya, dudu Allah sira iki.

28. Lan Muhammad iya dudu, patemon rahsa sejati, ingkang rahsa dudu rahsa, ya Allah Muhammad ciri, iya kawulane haram, lamun puasaha iki.

29. Lan haram kawulanipun, lamuna sidqoha iki, lan kawulanipun haram, iya yen munggaha Hajji, lawan kawulaning haram, lamuna sholata iki.

30. Surya nora wulanipun, norane dadi cahyeki, pan hidayat imanira, tauhid panembah reki, makrifat pangawruh kita, ya ru’yat minangka seksi.

31. Den tingali sipatipun, sipate Allah sejati, kang asli aslining Allah, ya Allah-Allah kang urip, den af’ale iya Allah, yeku duk jumeneng ru’yati.

32. Yen urip selawasipun, ru’yat jeneng khoiroti, makrifat jeneng ing donya, johar awal khoiroti, iya uwis jenengira, yeku pangasan kamil.

33. Insan kamil dzatullahu, sejatine nuqod ghoib, iya dzat sabenerira, sipatullah dzatullahi, insan kamil jenengengira, anane Allah puniki.

34. Dene kendhih jenengipun, nuqod ghoib insan kamil, iya sejatine nora, yeku aran puji budi, budi iku urip ira, lawan nyawa iku urip.

35. sarta lawan badanipun, aran badan Muhammadi, kang antuk urip sampurna, Syeh Melaya matur aris, mila mat keneng neraka, nuwun pawarta sejati.

36. Nabi Khidir ngandika rum, eh Melaya lire iki, nraka jasmani kang ana, jrone neraka ya iki, kang tan weruh Nabiyullah, ruh kang tan kena ing pati.

37. Ruh jasmani uripipun, samilan kewan puniki, iku kang aneng neraka, kang nepsu pingile iblis, yen nepsune dipun umbar, tan anut maring Hyang Widi.

38. Ngendelaken ngilmunipun, tan weruh Adam Nabi, yeku yeku aran iman tahdlat, umat kalebu jasmani, kawruh tanpa ika, kang nembah datan ningali.

39. Saya kapir tuhonipun, kang nembah kayu watuning, tan ketang apa ukumnya, kapiring kang jahanami, yeku ruh idhofi nama, ahyan syabitah ing nguni.

40. Ya cahya pan tegesipun, kang gumilang ning baresih, kang tansah kinawikanan, kang ingilo kang pinanggih, jroning pati aran Adam, idhofi sadurung neki.

41. Sirik ana wujudipun, ing panrimba ran johar ning, kapingneme johar awal, johar awal mutyara di, sesoca raga kumala, johar aran adi kapi.

42. Witing upama ping pitu, kang myarsa sabdaning gusti, ruh idhofi ta wujudnya, kang aneng dzate mutliqi, ruh sumendhe ing Dzatullah, ingaranan ruh idhofi.

43. Johar awal iya iku, kang ingaran sholat da’im, sholat da’im tan kalawan, met toya wudhlu khadasi, sholat batin sabenernya, mangan turu syahwat ngising.

44. Iya dadi sholatipun, af’ale dadi pepuji, johar wau kumpul tunggal, sasuker ananing widi, anane – anane Allah, den kendheh anane nguni.

45. Lir kelir lan wayangipun, wayang tan ngawruhi kelir, hiya junub sunar-awedya, kang resik jisim mireki, hiya Muhammad badan Allah, Muhammad tan ana keri.

46. Hidayat pan imanipun, gagentenira Hyang Widi, ingaranan Rasulullah, Muhammad kang badan mukmin, ruh mukmin apandukiya, ruh idhofi iman neki.

47. Iman maksum wastanipun, kang antuk panutan jati, pan mangkono kawruhira, yen nora urip pireki, iku padha lawan kewan, yen tan wruh wuwus kang riyin.

48. Mengku iku nora wurung, tan weruh selami reki, yaiku pati kesasar, kupur kapir badan neki, dene wus wruh ujar ika, sakeh warana ngawruhi.

49. Pangeran tan ana telu, panutan Muhammadinil, pan sejatine wong kufar, kapire patang pedhati, ewuh tanpa panganutan, feqir parek kufur kafir.

50. Feqir parek lawan kufur, krana nira ingkang feqir, wuta tuli datan ana, suwarga neraka iki, feqir tan parek pangeran, tan ana wujude iki.

51. Tan anembah pujinipun, krana nira feqir kadi, hya ingkang feqir dzatullah, iku jatine Hyang Widi, patine feqir manungsa, pesthine Allah pribadi.

52. Iya yen dzatullah iku, iya anane kang feqir, ruh idhofi aran iman, ruh idhofi tunggal kang wit, iman tauhid aranira, ya Allah ya Muhammadi.

53. Taukhid hidayat sireku, tunggal lawan sang Hyang Widi, tunggal sira lawan Allah, uga donya uga akhir, ya rumangsana pangeran, ya Allah ana nireki.

54. Ruh idhofi sireku, makrifat ya den arani, uripe ingaranan Syahadat, urip tunggil jroning urip sujud rukuk pangasonya, rukuk pamore Hyang Widi.

55. Sekarat tanana nyamur, ja melu sira wedi, lan ja melu-melu Allah, iku aran sakaratil, ruh idhofi mati tanana, urip mati urip.

56. Den rumangsa ana neku, uripe Allah puniki, yeku urip kene-kana, sastra lip gurokna kaki, jabar jer pese uninganya, ingkang weruh kafir syirik.

57. Satuhune iya iku, kang tan wruh ing araneki, kang sholat sipat pangeran, Prabete kawula gusti, kang sholat jatine raga, hya kang sholat iman urip.

58. Datan nyawa huripipun, lam tamsyur iya af’aling, sholate purba wisesa, yektine kawula gusti, iku jatine Hyang Sukma, ruh idhofi taning mukmin.

59. Sagung ruh astanipun, ya ana ing ruh idhofi sipat jamal, kahelokane dzatullah, ruh idhofi jeneng maqam, kang kubur Rosulullahi.

60. Sarat jisim latif iku, tesih rip tan keneng pati, tejane kang ruh punika, tanpa jasad dhingdhing ari, sasmitane sifat jamal, sifat jamal sasmitaning.

61. Johar awal mayit iku, sasmita sirna ananing, ya iku kang pati padha, mangkono yen wis mati, donya urip ing akhirat, tlung dina perkara dadi.

62. Saking bapa saking babu, Ba pangeran tunggal katri, yeku sasmita tlung dina, kang titipan pitung ari, mulih iku kang titipan, titipan kadi ing nguni.

63. Pan taukhid makrifatipun, titipan sedasa katri, iku iya kang titipan, semune kang pitung ari, yen angis metokaken toya, sing cipta netra yekurip.

64. Lir duk uninge  saking nur, king cahya pinangka neki, iku semune karuna, dene mengku iki sami, sira mati sun kelangan, mati sirna ngawandesi.

65. Kadi pundi semonipun, sami wrasta ing sakehing, Allah Muhammad pan tunggal, nyatus tunggal wujud neki, sasmita oleh ing cahya, cahyane Muhammad jati.

66. Tunggal karo yen manuwun, ruh jasad ilang sajroning, pangayune sewu dina, nora ana ingkang keri, olihe sampun sampurna, sampurna  kaya duk uning.

67. Syeh Melaya trang tyasipun, miyarsa weling ngireki, ing guru Syeh Mahyuningrat, pan remen tan purun mijil, neng jero garba tur sembah, wuwuse lir madu gendhis.

PUPUH VI
DHANHANGGULA

1. Yeng mekaten kula mboten mijil, sampun eca ning ngriki kewala, mboten wonten sengsarane, tan niyat mangan turu, mboten arip mboten angelih, mboten rasa kangelan, tan ngeres tan linu, amung nikmat lan munfangat, Nabi Khidir lingira iku tan keni, yen nora lan antaka.

2. Sang saya sih mring jeng Nabi Khidir, marang kaswasih ingkang panedha, lah iya den awas bae, mring pamurunging laku, aja ana sira karemi, den bener den waspada, ing anggep pireku, yen wis kasikep ing sira, aja humung den anggo parah yen anglir, yeku reh pepingitan.

3. Nora kena yen sira rasani, lan sesama samaning manungsa, yen nora lan nugrahane, yen nana nedya padu, angrasani rerasan iki, yen teka kalahana, ja nganti kabanjur, ja ngadekaken sarira, aywa kraket marang wisayaning ngaurip, balik sikepan uga.

4. Kawisayan kang marang ing pati, den kahasta pamanthenging cipta, rupa ingkang sabenere, senengker buwaneku, urip datan ana nguripi, datan antara mangsa, iya ananipun, pan wus ana sarira, tuhu tunggal sejene lawan sireki, tan kena pisahenna.

5. Datan weneh sangkanira uni, tunggal sapakertining buwana, pan tuhu pamiharsane, wus ana ing sireku, pamirsane sukma sejati, iya tan klawan karna, ing panggulanipun, iya tan kalawan netra, karnanira netranira kang kinardi, ana anenging sira.

6. Dhohire sukma wus na sireki, bathinira kang ana ing sukma. Hiya mangkene teterape, kadya wreksa tinutu, ananing kang kukusing geni, sarta kalawan wreksa, lir toya lan alun, kadya minyak aneng pohan, raganira ing reh obah lawan mosik, iya lawan Hyang Sukma.

7. Yen wruh pamore kawula Gusti, sarta sukma kang sinedya ana, den wertani sira anggone, lir wayang sariraku, saking dhalang solahe ringgit, mangka panggunge jagad, kelir badanipun, amolah lamun pinolah, sak solahe kumedhep miharsa neki, tumindak lan pangucap.

8. Kang wisesa amisesa sami, datan antara pamore karsa, jer tanpa rowa rupane, wus ana ing sireku, umpamane pahesan jati, ingkang ngilo Hyang Sukma, wayangan puniku, kang ana sajrone kaca, iya sira jenenge manungsa jati, rupa sajrone kaca.

9. Luwih ageng kalepasan iki, lawan jagad ageng kalepasan, kalawan luwih lembute, salembute banyu, apan lembut kamuksan iki, liring lembut alitnya, sa aliting tengu, pan maksih alit kamuksan liring luwih amisesa ing sakelir, lire lembut alitnya.

10. Bisa nukma ing agal alit, kalimputan kabeh kang rumangkang, gumremet tanpa bedane, kaluwihan satuhu, luwih iya  desra nampani, tan kena ngendelena, hing warah lan euruk, den sanget panguswanira, badanira wasuhen nggenira ngungkin, wruha rungsite tingkah.

11. Wuruk iku pan minangka wiji, kang winuruk umpamane papan, poma kacang lan kedhele, yen sinebar ing watu, yen watune datan pasiti, kudanan kapanasan, yekti nora thukul, lamun sira wiceksana, ningalira sirnakna tingalireki, dadya tingal sukmasa.

12. Rupanira swaraning ugi, ulihna marang kang duwe swara, jer sira angaku bae, selisih kang satuhu, nanging aja sira duweni, pekareman kang liyan, mung marang Hyang Agung, dadine angraga sukma, obah usikira wus dadi sawiji, nywarara anggepira.

13. Yen dadiya anggepira yekti, yen nrasaha rara meksih was-was, kena ing rengu yektine, yen wus sawiji sawujud, sakrenteging tyas sireki, apa ingkang cinipta ana, kang sinedya rawuh, wus kawengku aneng sira, jagad kabeh jer sira minangka yekti, gegenti den asagah.

14. Yen wus mudheng pratingkah puniki, den awingit sarta sabah-sabab, sabab amor pangakone, nanging ngibaratipun, ing sakedhap tan kena lali, dhohire sasabana, kawruh patang dapur, padha anggepen sedaya, kalimane kang siji iku premati, kanggo ing kana-kana.

15. Liring mati sajroning ngahurip, iya urip sajroning pejah, urip bae selawase, kang mati nepsu iku, badan dhohir ingkang nglakoni, katampan badan kang nyata, pamore sawujud, pagene ngrasa matiya, Syeh Melaya den padhang sira nampani, wahyu prapta nugraha.

16. Lir sasngka katerangan riris, praptaning wahyu apan nirmala, sumilak ilang regede, angling malih nulya rum, Nabi Khidir manis aririh, tan ana kang pinaran, kabeh wus kawengku, tanana ingulatana, kaprawiran kadigjayan wus kawuri, kabeh rehing ngayuda.

17. Telas wulangnya jeng Nabi Khidir, Syeh Melaya ing tiyas keweran, weruh ing namane dhewe, hardaning tyas pan wus muluk, tanpa elar anjajah batin, sawengkone jagad raya, angga wus kawengku, mentes sak matining basa, sahinggane sekar maksih kudhup lami, mangke mekar ambabar.

18. Wuwuh lan gandanireki, wus kena kang pancaretna nulya, kinen medal sing hargane, pan sampun medal gupuh, angulihi alame lami, Nabi Khidir ngandika, Melaya sireku, wis tinarima Hyang Sukma, lulus saking gandane kasturi jati, pepanasing tyas sirna.

19. Wus leksana salekering bumi, ujar sira wruh pitakonira liring wardaya malane, den mantep panrimeku, dipun kadi ngangge sutradi, maya-mayaka sarira, reh kang sarwa alus, sinukma masingemasan, Harja satya sinatya manik memanik, wruh pakenak ing tingkah.

20. Dipun alus budenira iki, wernaning dyah kita eki sumekar, kasturi jati namane, pratandha datan kerup, hing pangawikan manah deng lungit, ngongkabana kabisan, kawruh nyawa kliru, miwah iku nata nira, busanane kawilet tuliya sari, ya destar nyampingira.

21. Mangka pangemut katon ing nguni, mati duk aneng jro garbaning wang, cahya kawang-kawang dheweke, kang abang kuning iku, pamurunge laku ngadhangi, ya kang putih kang tengah, sidane pangaku, klima iku den waspada, den kahasta sanalika ajalali, den tuhu ambekira.

22. Saking marmeng sun karya ling aling, pambengkase sum’ah jabariyah, den esthi siyang dalune, pan kathah nggen sun weruh, pratingkahe para maharsi, kang padha kaluputan, hing pangeguhipun, pangucaping kawruh ira, wus abener wekansan mati adadi, kawilet ing trap trapan.

23. Ana ingkang adadi ing peksi, amung mulih pencokan kewala, kayu kang becik warnane, arsa aneng nagasantun, ana tanjung ana waringin, temah ing pinggir pasar, engkuk mangkruk-mangkruk, angungkuli wong sapasar, pindha kamukten sepele kang pinurih, kasasar ambelasar.

24. Ana ingkang anitis paraji, sugih brana miwah sugih garwa, ana kang nitis putrane, putra kang arsa mengku, karesmene wong siji-siji, samiya tuk kaluwihan, ing panitisipun, yen mengkuha jeneng ing wang, durung harsa amangga-amrih pribadi, sadyaku ingaranan.

25. Tataning wada kang datan pesthi, durung jumeneng jalma utama, ingkang mangkono anggepe, pangrasane anemu, suka sugih lan wruh ing yekti, yen nuli nemu duka, kabanjur kalantur, sak nggone nitis kewala, tanpa wekas kangelan tan nemu kasil, tan bisa babar pisan.

26. Yen luputa anyakra bawani, apa karemane aneng donya, ing pati marang tibane, ing kono karemipun, nora kuat panyanggi pati, keron tan kasamaran, milah wawor sambu, abote oleh kamulyan, nora kena toleh maring anak rabi, sajrone wruh wekasan.

27. Yen luputa pitakone bumi, luhung sira aja dadi jalma, satogampang pretikele, sirnane tanpa tutur, yen wis sira benering kapti, langgeng tanpa kerana, hangga buwaneku, humeneng tan dadi sela, eningira iya nora dadi warih, werta tanpa tuduhan.

28. Ling ning pandhita anenakapi, ingkang muksa inggih karsa nira, anjungkung kasutapane, nyana kena den angkuh, tanpa tuduh mung tapa neki, tan mawi puruhita, suwung nguwung-uwung, mung kaciptanira nika, durung antuk wuruk pratikele urip, pangukuh ngaya wara.

29. Tapa nira nganti kuru aking, wus mangkana dennya mrih wekasan, datanpa tutur sirnane, kematengan tapa wus, dene pratikel kang ngaluwih, tapa iku minangka, reragi panemu, ngilmu kang minangka ulam, tapa tanpa ngilmu iya nora dadi, yen ngilmu tanpa tapa.

30. Jeplang-jeplang nora wurung dadi, asli nora wedhar hing trapnya, kacegah agung bejane, yekti ta dhadhanipun, apan akeh pandhita sandi, wuruke sinatengah, mring shohabatipun, sobate landhep priyangga, kang linempit winedhar raose nuli, ngaturaken gurunira.

31. Pamudhare mung grahita neki, nguni uni durung mambu warah, saking tan eco raose, matur ing gurunipun, langkung ngungun tumut nganggepi, sinasmaha kelawan, pandhita gung agung, wus pesthi anggepe nyata, iku wahyu nugraha dhawuh pribadi, sobat ingaken anak.

32. Sinungga sungga agung tinari, mering guru yen wus arsa mejang, tan tebih sanding enggone, sobat katemah ing guru, guru dadi sobating bating, lepasing panggrahita, nanduk sarwa wahyu, yeku utama kalihnya, guru sobat kalihe sami ngudani, satengah kang pandhita.

33. Kudu tinut sak ujare iki, dene lumakua sinembah, nengt pucuk gunung enggone, swaranira anguwuh, angebeki pertapaneki, yen ana wong amarak, wekase berudul, lir gong beri kang tinembang, pan kumarampyang binuka kang tanpa isi, tuna kang puruhita.

34. Aja kaya mengkono ngahurip, dipun kadi wayang, kiuudang aneng enggone, blincongipun, ngibarate panggungireki, damare ditya wulan, kelir alam suwung, ingkang nengga cipta keboh bumi tetepe adege ringgit, sinangga maring nanggap.

35. Kang ananggap aneng dalem puri, datan den usik olah sakersa, Hyang Premana dhedhalange, wayang pengadekipun, ana ngalor ngidul tuwin, yeku ngulon lan wetan, sliring solahipun, pinolahaken ing dhalang, yen lumaku linakokken kabeh iki, linabehken hing dhalang.

36. Pangucape ngucapaken ugi, yen kumecap ilate, anutur-nuturake, sakarsa karsanipun, kang anonton tinoleh sami, tinonaken ing dhalang, kang ananggapiku, sajege mangsa weruha, tanpa rupa kang ananggap neng jro puri, tanpa werna Hyang Sukma.

37. Hyang premana denira angringgit, ngucapaken hing sarira nira, tanpa awas sesamane, wimbuh pan ora tumut, hing sarira upamaneki, kang miyak munggeng pohan, geni munggeng kayu, anderpi tan katedah, angelir pintaka ing kayu panggerit, landhesan sami wreksa.

38. Panggeriting polah dening angin, gesenging kayu kukusnya medal, datan antara genine, geni kelawan kukus, saking kayu wijile neki, purwa eling duk kala, mula-mulanipun, kabeh iki kang gumelar, saking ghoib manungsa tinitah luwih apan ingaken rahsa.

39. Mulya dhewe saking kang dumadi, aja mengeng ciptanira tunggal, Tunggal sapari bawane, isine buwaneku, nganggep siji manungsa jati, mengku sagung kahanan, hing manungsa iku, kawisesane satunggal, panukmane salire jagad dumadi, tekad kang wus sampurna.

40. Lahya uwis Syeh Melaya aglis, baliya marang Pulo Jawa, pan sira uga jatine, Syeh Melaya agupuh, nembah matur angasih asih, aran kalingga murda, amba setya tuhu, Nabi Khidir nulya sirna, Syeh Melaya katon aneng jeladri, datan nrasa neng toya.

41. Syeh Melaya sanget pangasweki, ing pengete guru kang sampurna, pan sanget eling elinge, hardaning tyas amengku, isining rat kajajah batin, mantep premati basa, kaeruh tan kaliru, sinukma mas ingemasan, lulus saking badane kasturi jati, pepanase tyas sirna.

42. Wus mangkono Syeh Melaya mulih, wus tan mengeng ing batin gunmawang, nora pangling sarirane, panuksmaning sawujud, nanging dhohir sasat paningit, reh sarehing satriyan, linakon winengku, pamurwane jagad raya, pan wus ngagem batine nora anilih, lir sato lan rimbagan.

43. Wus tanana ngahurip, dennya tampa ing guru wisiknya, tanana samar-samare, wisiking gurunipun, wus tamat karegem aneng ati, nastiti kang angiman, angestokken guru, sarta lan kecaping rahsa, pan dinadar ing nala suci awening, nyata lamun nugraha.

44. Temene ingkang guru sayekti, kang wus sirna jasade tanana, kagiwang ana nalane, wus tumrap walinipun, dene sanggya sukering ati, padhang dunya akherat, wus resik atemu, sukci langgeng pan wus murah, mulya suka ing sapari polah neki, pana tanpa kerana.

45. Pan wus  panakacipta ning wangsit, tan asamar hing pati kacipta, wus samar ing waragane, marga ing pati luhung, kang sinelir maring Hyang Widi, tanana rasa rumangsa, rahsa kadi iku, sirnane tinggal punika, pan wus sirna alanggeng sukci mulyadi, mulya kadi duk kuna.

46. Nora samar sejatine pati, kang rumekseng pejah ing sekala, tan rumangsa hing pejahe, ingkang rusak ing nepsu, raga sukma kerta negari, suka mulya merdika, wus tumraping kayun, jumeneng ing purba nira, padha bersih langgeng suci wus weradin, wus wruh sirnaning tunggal.

47. Datan samar satibane pati, kang sampurna kang sinelir ika, tanana keksi wujude, kasampurnan puniku, pan wus karta negara singgih, anir nakkenriku, alam pepitu wus sirna, pan wus bersih sirnane alam puniki, tunggale ibaraha.

48. Ratuning alam pan wus kahesti, abirawa wastane punika, alam nenem iku lire, sirna wetan puniku, lawan kulon kidul lor iki, ing luhur lawan ngandhap, miwah kayu watu, tuwin bumi alit ika, ngawang nguwung kumandhang ing angin warih, hya mung alam dahana.

49. Surya candra alam puniki, tiga likur alam panasaran, dene iku anyar kabeh, pan sami qodimipun, Syeh Melaya pan nora pangling, yen iku penasaran, kang jati pang sampun, ratuning alam sedaya, kang nirmakken mung alam ambiyak iki, ambiyak mrik gundanya.

Alang Alang Kumitir.

SEKAR GODHA LAN TULADHA


KINANTHI

Tansah waspadeng pandulu,
ugere manungsa urip,
nalusur marang wardaya,
den tliti lawan permati,
wit lair mung manut nalar,
yen pengin dadi wong mukti.

Wong urip kudu sing wanuh,
tumrap kabeh kang dumadi,
sabab aneng pasrawungan,
iki amung ana kalih,
yeku godah lan tuladha,
kang kudu kita petani.

Sesawangan becik iku,
durung mesthi lamun suci,
mula kudu sing premana,
mrih tan gampang den apusi,
awit setan bentayangan,
golek manungsa kang lali.

Mula anggonira ndulu,
mring sadaya kang kumelip,
sarta akeh kang den asta,
iku kudu dipun saring,
kanthi adhedhasar ngamal,
dimen besuk ‘ja kecelik.

Ngepring cuwil wohing tanjung,
milah-milah ingkang becik,
iki wajib den gegulang,
ngenggoni sipat kang adil,
iki lamun tinakonan,
mesthi akeh wong kepengin.

Lambe amben mrica kecut,
aja waton angger muni,
yen ngandika karo kanca,
kudu tanggung anetesi,
den arep-arep buktinya,
awit kandha iku janji.

Kapethik saka buku Warisan, Geguritan Macapat, karyane Suwardi, weton Balai Pustaka, 1983.

Alang Alang Kumitir.