PUCUNG MULAT SARIRA


 

1.
Pra sedulur,
dimen sira nora getun,
na ing jaman mangkya,
marang panggayuh utami,
tumrap gesang ana alam pasrawungan.

2.
Lamun dulu,
saben arsa mapan turu,
wektu kang prayoga,
mulat mring laku kang uwis,
dina mau apa kang wus dipun karya.

3.
Laku kleru,
becik tansah sira dulu,
nggo kaca benggala,
pepeling karya ing mbenjing,
kagladhia pakulinan kang prayoga.

4.
Lah uripmu,
ora cukup sambat sebut,
lan ngucap nggresula,
wit iku dosa sayekti,
sambat sebut iku cetha wong cilaka.

5.
Ora kleru,
marang urip kang mubra-mubru,
ngawula ing bandha,
nganti lali mring agami,
mangka iku ugering manungsa gesang.

6.
Sintenipun,
lamun datan nate emut,
mring atur punika,
tangeh bisa gesang becik,
tansah nglambrang galih datan nate waras.

PEPATAH JAWA


 

KEMLADHEYAN NGAJAK SEMPAL


Pepatah Jawa di atas secara harfiah berarti benalu mengajak patah. Pepatah ini dalam masyarakat Jawa dimaksudkan sebagai bentuk petuah atau sindiran bagi orang yang menumpang pada seseorang, namun orang yang menumpang itu justru menimbulkan gangguan, kerugian, dan bahkan kebangkrutan bagi yang ditumpanginya.


Benalu adalah jenis tanaman parasit yang menghisap sari-sari makanan dari pohon yang ditumpanginya. Dalam pepatah di atas benalu tersebut tidak saja digambarkan menghisap sari-sari makanan dari induk tanaman yang ditumpanginya, namun benalu tersebut justru mengajak dahan yang ditumpanginya untuk patah.


Hal ini bisa terjadi pada sebuah keluarga yang menampung seseorang (atau semacam indekosan) akan tetapi orang yang menumpang itu dari hari ke hari justru menimbulkan kerugian pada yang induk semangnya. Kerugian itu bisa berupa materiil maupun spirituil. Mula-mula orang yang indekos ini hanya menempati sebuah kamar. Akan tetapi karena kelicikan dan keculasannya bisa saja kemudian ia melakukan rekayasa sehingga orang yang punya rumah induk justru terusir karenanya.


Contoh lain dari pepatah itu dapat dilihat juga pada berbagai peristiwa sosial yang kerap terjadi di tempat-tempat indekosan. Oleh karena sebuah keluarga menyediakan kamar-kamar indekosan, tidak jarang orang yang indekos akhirnya terlibat percintaan dengan bapak atau ibu kosnya sendiri sehingga keluarga yang semula menyediakan indekosan itu hancur urusan rumah tangganya.


Persoalan semacam itu juga dapat terjadi pada sebuah perusahaan. Orang yang mendapat kepercayaan pada sebuah perusahaan oleh karena jiwa tamak dan rakusnya sering kemudian memanfaatkan kekayaan atau dana perusahaan untuk memperkaya diri sendiri. Akibatnya perusahaan mengalami kebangkrutan atauy bahkan tutup usaha atau kegiatan karenanya,

SAPA NANDUR BAKAL NGUNDHUH


Pepatah Jawa di atas secara harfiah berarti siapa menanam akan menuai. Secara luas pepatah ini berarti bahwa apa pun yang kita perbuat di dunia ini akan ada hasilnya sesuai dengan apa yang kita perbuat. Ibarat orang menanam pohon pisang, ia pun akan menuai pisang di kemudian hari. Jika ia menanam salak ia pun akan menuai salak di kemudian hari.

Secara lebih jauh pepatah ini ingin mengajarkan kepada kita bahwa jika kita melakukan perbuatan yang tidak baik, maka di kemudian hari kita pun akan mendapatkan sesuatu yang tidak baik. Entah itu dari datangnya atau bagaimanapun caranya. Intinya, pepatah ini ingin mengajarkan hukum keseimbangan yang dalam bahasa Indionesia mungkin sama maknanya dengan pepatah, siapa menabur angin akan menuai badai.

Jika Anda merasa berbuat buruk, lebih-lebih perbuatan buruk tersebut merugikan, melemahkan, mengecilkan, bahkan “mematikan” orang lain, bersiap-siaplah Anda untuk menerima balasannya kelak di kemudian hari. Balasan itu mungkin sekali tidak langsung mengenai Anda, tetapi bisa juga mengenai anak keturunan Anda, saudara, atau famili Anda.

Apabila Anda merasa telah berbuat kebajikan, Anda boleh merasa tenteram sebab Anda pun akan menuai hasilnya kelak di kemudian hari. Hasil itu mungkin tidak langsung Anda terima, namun bisa jadi yang menerima adalah anak keturunan Anda, saudara, atau famili Anda. Hasil itu belum tentu sama seperti yang Anda perbuat, namun bobot, makna, atau nilainya barangkali bisa sama.


Demikian makna pepatah yang masih banyak diyakini kebenarannya oleh masyarakat Jawa ini.


AMEMAYU HAYUNING BUWANA


Pepatah Jawa ini secara harfiah berati mempercantik kecantikan dunia. Pepatah ini menyarankan agar setiap insan manusia dapat menjadi agen bagi tujuan itu. Bukan hanya mempercantik atau membuat indah kondisi dunia dalam pengertian lahir batin, namun juga bisa membuat hayu dalam pengertian rahayu ’selamat’ dan sejahtera.


Dengan demikian pepatah ini sebenarnya ingin menyatakan bahwa alangkah indah, selamat, cantik, dan eloknya kehidupan di dunia ini jika manusia yang menghuninya bisa menjadi agen bagi hamemayu hayuning buwana itu. Untuk itu setiap manusia disarankan untuk tidak merusakkan dunia dengan perilaku-perilaku buruk dan busuk. Perilaku yang demikian ini akan berbalik pada si pelaku sendiri dan juga lingkungannya. Hal inilah yang merusakkan dunia. Untuk itu pengekangan diri untuk tidak berlaku jahat, licik, culas, curang, serakah, menang sendiri, benar sendiri, dan seterusnya perlu diwujudkan untuk mencapai hayuning buwana.


Tentu saja makna yang dimaksudkan oleh pepatah ini adalah makna dalam pengertian lahir batin. Keduanya harus seimbang. Tanpa itu apa yang dimaksud dari hamemayu hayuning buwana itu akan gagal. Sebab tindakan yang tidak didasari ketulusan dan kesucian hati hanya akan menumbuhkan pamrih di luar kewajaran atau tendensi yang barangkali justru menjadi bumerang bagi tujuan pepatah itu. Sebab hamemayu hayuning buwana mendasarkan diri pada niat yang suci atau tulus dalam mendarmabaktikan karya (kerjanya) bagi dunia.


WANI NGALAH LUHUR WEKASANE


Pepatah Jawa ini secara harfiah berarti berani mengalah akan mulia di kemudian hari.


Orang boleh saja mencemooh pepatah yang sekilas memperlihatkan makna tidak mau berkompetisi, pasrah, penakut, lemah, dan sebagainya. Namun bukan itu sesungguhnya yang dimaksudkan. Wani ngalah sesungguhnya dimaksudkan agar setiap terjadi persoalan yang menegangkan orang berani mengendorkan syarafnya sendiri atau bahkan undur diri. Lebih-lebih jika persoalan itu tidak berkenaan dengan persoalan yang sangat penting.


Pada persoalan yang sangat penting pun jika orang berani mengalah (sekalipun ia jelas-jelas berada pada posisi benar dan jujur), kelak di kemudian hari ia akan memperoleh kemuliaan itu. Bagaimana kok bisa begitu ? Ya, karena jika orang sudah mengetahui semua seluk beluk, putih-hitam, jahat-mulia, culas-jujur, maka orang akan dapat menilai siapa sesunggunya yang mulia itu dan siapa pula yang tercela itu. Orang akan dapat menilai, menimbang: mana loyang, mana emas.


Memang, tidak mudah bahkan teramat sulit dan nyaris mustahil untuk bersikap wani ngalah itu. Lebih-lebih di zaman yang semuanya diukur serba uang, serba material, hedonis, dan wadag semata seperti zaman ini. Namun jika kita berani memulai dari diri sendiri untuk bersikap seperti itu, dapat dipastikan kita akan beroleh kemuliaan di kemudian hari sekalipun sungguh-sungguh kita tidak mengharapkannya, karena kemuliaan itu sendiri tidak bisa diburu-buru atau diincar-incar seperti orang berburu burung. Kemuliaan didapatkan dengan laku serta keikhlasan. Jika kita mengharap-harapkannya, maka semuanya justru akan musnah. Kemuliaan itu sekalipun berasal dari diri kita sendiri namun orang lain lah yang menilainya. Bukan kita. Kita tidak pernah tahu apakah kita ini mulia atau tidak. Orang lain lah yang bisa menilai itu atas diri kita.


GUSTI ALLAHE DHUWIT, NABINE JARIT


Pepatah Jawa ini secara harfiah berarti Gusti Allahnya uang, nabinya kain. Pepatah ini sebenarnya ingin menggambarkan orang yang hidupnya hanya memburu uang atau harta benda, kemewahan, dan kenikmatan. Sehingga yang ada di dalam otak dan hatinya hanyalah bagaimana mendapatkan uang, kemewahan, dan kenikmatan hidup itu. Bahkan untuk mendapatkan itu semua ia rela melupakan segalanya. Baik itu etika, moral, kebajikan, dan seterusnya. Tidak ada halangan apa pun sejauh itu semua ditujukan untuk mendapatkan uang, kemewahan, dan kenikmatan. Artinya, uang, kemewahan, dan kenikmatan adalah segala-galanya.


Orang boleh saja menampik pepatah itu. Akan tetapi di balik itu semua orang juga sangat sering tidak sadar bahwa seluruh daya hidup yang ada pada dirinya hanya ditujukan untuk tujuan duniawiah tersebut.


KEBO NYUSU GUDEL


Pepatah tersebut di atas secara harfiah berarti kerbau menyusu gudel. Gudel adalah nama anak kerbau. Jadi pepatah itu menunjukkan sebuah logika yang terbalik atau dibalik.

Maksud dari pepatah itu adalah bahwa orang tua atau dewasa yang meminta pengetahuan, pelajaran, atau bahkan meminta jatah hidup kepada anaknya. Secara logika semestinya orang tua itu lebih dulu tahu, pintar, dan punya uang daripada anaknya. Akan tetapi pada banyak kasus logika semacam itu justru terbalik. Ada banyak orang tua yang minta pengetahuan atau pelajaran serta bahan untuk kelangsungan hidupnya pada anaknya.


KESRIMPET BEBED KESANDHUNG GELUNG


Pepatah Jawa ini secara harfiah berarti terjerat bebed (kain jarit) tersandung gelung.

Secara luas pepatah ini ingin menggambarkan tentang terjeratnya seorang pria pada wanita. Bebed dan gelung dalam masyarakat Jawa adalah identik dengan wanita itu sendiri. Jadi, yang dikatakan sebagai kesrimpet bebed kesandung gelung adalah peristiwa terjeratnya seorang pria (biasanya yang telah berkeluarga) pada wanita wanita lain (bisa gadis, janda, atau ibu rumah tangga).


Dalam peristiwa semacam itu si pria bisa tidak berkutik sama sekali (karena telah terjerat dan tersandung) oleh wanita tersebut sehingga kehidupannya menjadi kacau dan serba tunduk pada wanita tersebut. Apa pun yang dimaui wanita itu akan dituruti oleh pria yang terlanjur kesrimpet tersebut.


Pepatah ini ingin mengajarkan agar kita semua tidak mudah terjerat oleh hal-hal yang nempaknya memang indah dan nikmat, namun di balik itu hal demikian justru mengancam ketenteraman, keselamatan, dan kenyamanan hidup kita sendiri dan orang lain (keluarga, saudara, tetangga, dan sebagainya).


GUPAK PULUTE ORA MANGAN NANGKANE


Pepatah Jawa ini secara harfiah berarti tidak makan nangkanya tetapi terkena getahnya. Secara luas pepatah Jawa ini ingin menunjukkan sebuah peristiwa atau kiasan yang menggambarkan akan kesialan seseorang karena ia tidak menikmati hasilnya tetapi justru menerima resiko buruknya.


Hal semacam ini dapat dicontohkan misalnya ada dua atau lebih orang melakukan pencurian, namun hanya salah seorang yang kena tangkap. Orang yang kena tangkap itu kemudian dipukuli dan dihukum sedangkan temannya yang lolos berhasil membawa kabur hasil curiannya. Orang yang apes itulah yang dikatakan sebagai terkena getahnya. Sedangkan temannya yang kabur sambil menggondol curiannya itulah yang memakan nangkanya.

Dapat juga dicontohkan, ada seorang yang tidak tahu apa-apa tentang persoalan yang sedang terjadi di lingkungannya, namun tiba-tiba ia dikorbankan. Mungkin sekali ia dikorbankan karena ketidaktahuannya itu. Sementara orang yang mengambil manfaat dari perkara itu bisa melenggang dengan merdeka seperti tanpa dosa.


GELEM JAMURE EMOH WATANGE


Pepatah Jawa di atas secara harfiah berarti mau jamurnya tidak mau bangkainya.


Pepatah tersebut secara luas ingin menggambarkan keadaan (seseorang) yang hanya mau enaknya tetapi tidak mau jerih payahnya. Hal ini bisa dicontohkan dengan misalnya sebuah perhelatan besar di sebuah dusun atau organisasi. Ketika persiapan, kerja bakti, dan lain-lain sedang dilakukan ada orang yang tidak mau terlibat karena mungkin takut kotor, takut capai, takut dianggap pekerja kasar, takut dianggap sebagi buruh yang tidak berkelas, dan sebagainya.


Akan tetapi ketika perhelatan itu sukses, maka orang yang tadinya tidak mau bekerja kasar itu tiba-tiba mengaku-aku bahwa dialah perancang atau arsiteknya. Jadi dialah yang patut diberi aplaus atau pujian. Bukan yang lain.


Contoh lain dari pepatah ini bisa juga dilihat misalnya dalam sebuah kerja bareng masak-memasak. Ketika semua orang terlibat urusn memasak, ada satu dua orang yang hanya berlaku atau berlagak seperti mandor. Akan tetapi begitu masakan itu matang orang yang berlagak seperti mandor itu justru yang makan pertama kali bahkan tidak memikirkan cukup tidaknya makanan tersebut bagi orang lain yang telah mempersiapkannya.

KAYA KODHOK KETUTUPAN BATHOK


Pepatah Jawa di atas secara harfiah berarti seperti katak di dalam tempurung. Apa yang dilihat, diketahui, dan dirasakan katak di dalam tempurung tentunya hanyalah dunia di dalam tempurung itu. Katak tidak akan melihat suasana atau dunia di luar tempurung itu.

Secara luas pepatah ini ingin mengatakan bahwa orang yang pikiran, referensi, pengetahuan, dan pengalamannya tidak banyak tentu tidak akan tahu banyak hal. Orang yang tidak meluaskan pengalamannya hanya akan berbicara hal-hal yang sempit, sebatas yang dia ketahui. Orang yang pengetahuannya masih sedikit sebaiknya tidak berlaku seperti katak dalam tempurung. Karena katak di dalam tempurung itu yang dia ketahui hanya sebatas dunia tempurung itu. Ia tidak tahu ada dunia yang lebih luas di luar sana. Untuk itu orang diharapkan untuk meluaskan pengetahuannya agar tidak bersikap seperti katak dalam tempurung.


Orang yang seperti katak dalam tempurung, biasanya akan bersikap sombong atau angkuh dan sok tahu padahal dia sebenarnya belum tahu apa-apa atau pengetahuannya masih sedikit/dangkal.


SAPA GAWE BAKAL NGANGGO


Peribahasa atau pepatah Jawa di atas secara harfiah berarti siapa membuat bakal memakai. Secara luas pepatah tersebut bermakna bahwa siapa pun yang membuat sesuatu dia sendirilah yang akan memakainya. Artinya, bahwa apa pun yang dilakukan seseorang, dia sendirilah yang akan bertanggung jawab.


Jika seseorang berbuat baik, maka ia pulalah yang akan memakai kebaikan itu. Demikian juga jika ia berbuat sebaliknya. Pepatah ini sesungguhnya merupakan representasi dari kepercayaan akan adanya hukum karma atau hukum keseimbangan alam. Oleh karena itu bagi masyarakat yang mempercayai hal itu mereka akan sangat hati-hati untuk berbuat karena mereka sadar bahwa perbuatannya akan berdampak pada dirinya sendiri dan mungkin kepada famili dan keturunannya.


Hal seperti dapat dicontohkan misalnya apabila kita merusak alam, maka alam akan hancur dan kehancuran alam itu akan berdampak menghancurkan hidup kita. Dapat juga dicontohkan misalnya apabila kita selalu berbuat jahat kepada orang lain, entah disengaja atau tidak kita pun kelak akan dijahati atau dirugikan oleh tindakan orang lain atau oleh alam. Mungkin juga akibat perbuatan kita itu maka keturunan kitalah yang akan menerima akibat atau resikonya.


TUNGGAK JARAK MRAJAK TUNGGAK JATI MATI


Pepatah Jawa ini secara harfiah berarti tunggak (pohon) jarak menjadi banyak tunggak jati mati. Mrajak dalam khasanah bahasa Jawa dapat diartikan sebagai berkembang biak. Dalam realitasnya pohon jarak memang akan bertunas kembali meskipun batangnya dipatahkan. Sedangkan tanaman jati bila dipotong batangnya biasanya akan mati. Jikalau tumbuh tunas baru, biasanya tunas baru ini tidak akan tumbuh sesempurna batang induknya.


Pepatah ini ingin menggambarkan tentang keadaan orang dari kalangan kebanyakan yang bisa berkembang (mrajak) dan sebaliknya, orang dari kalangan/trah bangsawan/berkedudukan tinggi yang tidak punya generasi penerus (mati). Keadaan semacam ini kerap terjadi di tengah-tengah masyarakat.
Ada begitu banyak orang yang memiliki kedudukan tinggi, namun ia berasal dari kalangan rakyat biasa. Artinya, orang tuanya adalah orang biasa-biasa saja. Tidak kaya, tiak berpangkat, dan tidak memiliki garis keturunan bangsawan (jati).


Sebaliknya pula banyak anak-anak atau keturunan orang-orang besar/berkedudukan/berdarah bangsawan yang keturunannya tidak mengikuti atau tidak bisa meniru atau melebihi kedudukan leluhurnya.


ADIGANG, ADIGUNG, ADIGUNA, ADIWICARA


Pepatah Jawa ini dapat diterjemahkan sebagai mengunggul-unggulkan atau menyombongkan keelokan badan atau wajah, menyombongkan besarnya tubuh atau garus keturunan, menyombongkan ilmu atau pengetahuannya, dan menyombongkan kelihaian bicara atau merdunya suara.


Pepatah tersebut digunakan untuk menasihati orang agar tidak menyombongkan apa pun yang dimilikinya. Orang yang merasa diri mempunyai sesuatu, apa pun itu, kadang-kadang memang menjadi lupa bahwa semua itu hanyalah titipan dari Yang Maha Kuasa. Kesombongan karena merasa diri lebih dari orang lain ini sangat sering mengakibatkan orang yang bersangkutan berlaku semena-mena terhadap orang lain.


Orang yang merasa diri elok rupawan, punya kecenderungan menganggap orang lain tidak seelok dirinya. Orang yang menganggap dirinya besar dan kuat akan menganggap orang lain lemah. Orang yang merasa dirinya keturunan orang hebat berkecenderungan menganggap orang lain adalah keturunan orang rendahan atau tidak punya kelas sosial. Orang yang menganggap dirinya pintar cenderung menggurui dan menganggap orang lain tidak tahu apa-apa. Orang yang merasa dirinya pandai bicara akan berkecenderungan mempengaruhi orang lain dengan kelihaiannya berbicara.


Hal seperti itu dalam masyarakat Jawa dicontohkan dalam perilaku kijang atau menjangan (adigang). Kijang menganggap bahwa tanduknya adalah benda yang paling elok di dunia. Namun ia mati juga karena tanduknya itu. Entah karena diburu, entah karena tanduknya tersangkut belukar.


Perilaku adigung dicontohkan oleh binatang gajah yang tubuhnya demikian besar dan kuat. Ia merasa bahwa segalanya bisa diatasi dengan kekuatannya. Namun ia mati karena bobot tubuhnya itu karena ketika terperosok ke dalam lubang ia tidak bisa mengangkat tubuhnya keluar (saking beratnya).


Perilaku adiguna dicontohkan dengan perilaku ular yang berbisa. Ia menyombongkan bisanya yang hebat, namun mati di tangan anak gembala hanya dengan satu sabetan ranting kecil.

Perilaku adiwicara dicontohkan dalam perilaku burung yang merdu dan lihai berkicau. Ia merasa bahwa kicauannya tidak ada tandingannya di seluruh hutan, namun ia mati oleh karena melalui kicauannya itu pemburu menjadi tahu tempat bersembunyi atau tempat bertenggernya.


ADOH TANPA WANGENAN CEDHAK DATAN SENGGOLAN


Pepatah Jawa tersebut secara harfiah berarti jauh tanpa ukuran dekat tidak senggolan. Pepatah ini dalam masyarakat Jawa biasanya digunakan untuk menggambarkan keberadaan kekasih atau Tuhan.


Orang yang tengah dilanda cinta biasanya akan merasa kangen terus dengan orang yang dijatuhcintainya. Jika kekasih tersebut tidak berada di sisinya, memang terasa begitu jauh keberadaannya. Namun di balik itu sesungguhnya sang kekasih juga sangat dekat dengan dirinya, yakni berada di dalam hatinya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kekasih itu berada jauh namun sesungguhnya jua sangat dekat. Sekalipun kedekatan (di hati) itu menyebabkannya tidak bisa bersentuhan atau bersenggolan.


Hal yang sama juga sering digunakan untuk menggambarkan keberadaan Tuhan bagi manusia. Kadang orang merasa bahwa Tuhan demikian jauh, seolah-olah berada di atas langit lais ke tujuh yang jaraknya tidak dapat diukur. Namun sesungguhnya Tuhan juga begitu dekat terasa di hati masing-masing orang. Sekalipun begitu manusia tidak bisa memegangnya.

SADUMUK BATHUK SANYARI BUMI DITOHI PATI


Pepatah Jawa ini secara harfiah berarti satu sentuhan dahi, satu jari (lebar)-nya bumi bertaruh kematian. Secara luas pepatah tersebut berarti satu sentuhan pada dahi dan satu pengurangan ukuran atas tanah (bumi) selebar jari saja bisa dibayar, dibela dengan nyawa (pati).

Pepatah di atas sebenarnya secara tersirat ingin menegaskan bahwa tanah dan kehormatan atau harga diri bagi orang Jawa merupakan sesuatu yang sangat penting. Bahkan orang pun sanggup membela semuanya itu dengan taruhan nyawanya. Sentuhan di dahi oleh orang lain bagi orang Jawa dapat dianggap sebagai penghinaan. Demikian pula penyerobotan atas kepemilikan tanah walapun luasnya hanya selebar satu jari tangan. Sadumuk bathuk juga dapat diartikan sebagai wanita/pria yang telah syah mempunyai pasangan hidup pantang dicolek atau disentuh oleh orang lain. Bukan masalah rugi secara fisik, tetapi itu semua adalah lambang kehormatan atau harga diri.


Artinya, keduanya itu tidak dipandang sebagai sesuatu yang lahiriah atau tampak mata semata, tetapi lebih dalam maknanya dari itu. Keduanya itu identik dengan harga diri atau kehormatan. Jika keduanya itu dilanggar boleh jadi mereka akan mempertaruhkannya dengan nyawa mereka.


NABOK NYILIH TANGAN


Pepatah di atas secara harfiah berarti memukul meminjam tangan. Secara luas pepatah ini berarti memukul dengan meminjam tangan orang lain.


Pepatah ini ingin menunjukkan bahwa dalam kehidupan sosial sering ada orang yang bertindak tidak ksatria. Artinya, ketika dia ingin menjatuhkan, menyakiti, menyingkirkan, membunuh, dan melenyapkan orang lain ia tidak bertindak sendiri. Tidak menghadapinya sendiri. Namun dengan menggunakan (meminjam) tangan orang lain sehingga seolah-olah dirinya adalah orang yang bersih, baik, dan suci. Seringkali perkara demikian dibuat sedemikian rupa sehingga orang yang meminjam tangan itu sepertinya tidak terkait dengan persoalan yang tengah terjadi, yang menimpa orang yang kena “pukul” itu.


Ketika orang yang “dituju” dengan meminjam tangan orang lain itu berhasil disingkirkan, maka ia pun akan merasa lega. Puas. Konyolnya pula ia akan tetap merasa sebagai Mr. Clean, sekalipun segala persoalan dan kolusi jahat itu bersumber dari orang yang

ersangkutan.

AJINING RAGA DUMUNUNG ANA ING BUSANA


Secara harfiah pepatah tersebut di atas berarti harga diri dari fisik (tubuh) terletak pada pakaian.

Pepatah ini ingin menyatakan bahwa jika seseorang berbusana dengan sembarangan di sembarang tempat, maka ketubuhan (dan jati dirinya) tidak akan dihargai oleh orang lain.

Suatu contoh misalnya, kita mengenakan pakaian renang kemudian menemui tamu yang berkunjung ke kita atau sebaliknya. Dapat dibayangkan bagaimana respon atau tanggapan orang lain terhadap kita. Sungguhpun pakaian renang yang kita kenakan berharga jutaan rupiah misalnya, orang tetap tidak akan menghargai kita karena apa yang kita kenakan tidak tepat penempatannya.


Bisa juga diambil contoh kita datang ke sebuah pelayatan, namun kita datang ke
sana dengan mengenakan pakaian pesta yang dilengkapi dengan perhiasan. Orang pun bisa menanggapi kita sebagai orang yang tidak bisa menempatkan diri.


Pada intinya pepatah di atas ingin menegaskan kepada kita agar kita mampu menghargai diri sendiri dengan berbusana yang pantas, tempat yang tepat, serta waktu yang sesuai. Dengan begitu kita tidak akan jadi bahan tertawaan, juga tidak akan mengganggu keselarasan hubungan sosial.


ANCIK-ANCIK PUCUKING ERI


Pepatah Jawa di atas secara harfiah berarti bertumpu pada ujung duri. Secara lebih luas pepatah ini ingin menyatakan keadaan yang begitu gawat, kritis, dan nyaris tidak tertolong lagi. Bisa dibayangkan bagaimana keadaan seseorang yang bertumpu pada ujung duri. Tentu saja sakit dan khawatir. Ibaratnya keberlangsungan hidupnya tinggal menunggu ajal belaka.


Hal seperti itu dapat juga dicontohkan dengan keadaan seseorang yang menerima sebuah
surat pemberitahuan bahwa sebentar lagi rumahnya akan digusur. Entah dalam waktu dekat atau jauh, orang tersebut tentu sudah merasakan kekhawatirannya. Kekhawatiran dan ketiadaan harapan ini ibaratnya ancik-ancik pucuking eri.


TUNA SATAK BATHI SANAK


Pepatah Jawa ini secara harfiah berarti rugi satu tak (satu ukuran uang /segepok uang) untung saudara.


Pepatah ini ingin mengajarkan bahwa sekalipun dalam dunia dagang yang pertimbangan utamanya hanyalah mencari untung dan untung, bagi orang Jawa kerugian sekian uang tidak mengapa asal (masih) bisa mendapatkan sedulur ‘saudara’ atau teman. Teman (dalam arti sesungguhnya) tampaknya memang menjadi pilihan yang lebih mempunyai makna daripada sekadar uang (material).


Pada sisi lain pepatah ini juga mengajarkan bahwa sedulur (sanak) jauh lebih menguntungkan daripada seukuran uang dalam kesesaatan. Jika diulur, maka teman atau sedulur itu di kemudian hari dapat memberikan keuntungan yang jauh lebih besar daripada seukuran uang pada saat transaksi jual beli terjadi. Jika memang sedulur itu menyedulur ‘menyaudara’ dengan kita, dapat dipastikan bahwa ia (mereka) akan membantu kita jika kita mendapatkan kesulitan. Bantuan dari orang yang demikian itu tanpa kita sadari nilainya jauh lebih besar dibandingkan ketika kita mendapatkan uang satak pada saat kita melaksanakan transaksi jual beli di masa lalu.


Dengan adanya rasa menyedulur itu, orang yang bersangkutan tidak akan owel ‘sungkan/enggan’ memberikan bantuannya dalam bentuk apa pun yang sesungguhnya tidak bisa kita ukur dengan sekadar hanya uang atau material. Dalam kali lain, orang yang bersangkutan bisa jadi akan membeli produk atau dagangan yang kita jual tanpa perlu lagi menawar karena di masa lalu ia pernah mendapatkan kemurahan dari kita yang berupa satak (satu ukuran uang).


Pepatah ini sesungguhnya menunjukkan betapa optimisnya orang Jawa dalam menyikapi hidup.


ASU BELANG KALUNG WANG


Peribahasa atau pepatah Jawa di atas secara harfiah berarti anjing belang berkalung uang.
Secara lebih jauh pepatah ini inginmenggambarkan keadaan orang yang secara visual buruk atau secara social tidak mempunyai peringkat yang tinggi (tidak berpangkat atau berjabatan) namun ia memiliki kekayaan yang berlimpah.


Asu (anjing) dalam masyarakat Jawa termasuk binatang yang sering digunakan sebagai bahan misuh (memaki). Dengan demikian, ia memiliki derajat yang buruk sekalipun dalam praktek anjing memang banyak digunakan untuk membantu orang terutama dalam soal keamanan. Bukan hanya itu. Asu belang (anjing bercorak/berbulu belang) dalam masyarakat Jawa masa lalu termasuk kategori anjing yang bernilai paling rendah.


Jadi, pepatah di atas ingin menggambarkan orang yang di masyarakat tidak dianggap, namun ia memiliki uang (kekayaan) yang berlimpah sehingga pada akhirnya ia juga didatangi orang (karena yang datang menghendaki uangnya).


NGUNDHUH WOHING PAKARTI


Peribahasa di atas secara harfiah berarti memanen buah pekerjaan/tindakan. Secara luas peribahasa ini ingin mengajarkan tentang orang yang menuai dari buah tindakannya sendiri. Hal ini dapat dicontohkan misalnya karena seseorang selalu mencelakai atau merugikan orang lain, maka pada suatu ketika ia pun akan diperlakukan demikian pula oleh orang lain.


Peribahasa ini sesungguhnya merupakan representasi dari paham kepercayaan akan hukum karma yang sampai sekarang masing dianut oleh banyak orang Jawa (
Indonesia). Peribahasa tersebut menjadi penanda akan adanya keyakinan hukum harmonium alam raya. Hal ini bisa dicontohkan pula misalnya karena manusia menebangi hutan semaunya, maka bencana banjir, tanah longsor dan kekeringan pun mengancam. Dapat saja terjadi bahwa undhuh-undhuhan atau panen dari pakarti itu tidak mengenai orang yang berbuat namun mengenai saudara, anak, cucu, pasangan hidup, dan keturunannya. Oleh karena itu, bagi orang yang percaya pada paham ini mereka akan takut berbuat negatif karena mereka percaya bahwa hal yang negatif itu nantinya akan mengenai dirinya sendiri, saudara, dan keturunannya.


NULUNG MENTHUNG


Pepatah Jawa di atas secara harfiah berarti menolong mementhung. Secara luas pepatah ini ingin menggambarkan tentang perilaku orang yang kelihatannya nulung (menolong), namun sesungguhnya ia mementung (memukul/mencelakai) orang yang ditolongnya itu.


Hal seperti ini dapat dicontohkan misalnya ada orang yang kesulitan uang. Tiba-tiba datang orang yang menawarkan pinjaman uang. Tentu hal ini disambut dengan gembira. Akan tetapi selang beberapa saat kemudian orang yang dipinjami uang itu akan merasa kecewa karena ia harus mengembalikannya berikut bunganya yang mencekik. Alih-alih ditolong, dia malah justru dicelakakan. Dalam banyak kasus orang yang terlanjur meminjam uang itu terpaksa melepaskan rumah, tanah, dan seluruh harta bendanya karena tidak mampu mengembalikan pinjaman berikut bunganya.


Dapat juga dicontohkan, ada orang yang kelihatannya getol menolong temannya dalam bekerja. Akan tetapi ketika pekerjaan itu berjalan lancar dan sukses dengan tiba-tiba orang yang menolong itu mengklaim bahwa itu semua adalah hasil kerjanya (peran temannya dihapuskan). Sehingga orang yang ditolong bekerja itu tidak pernah dianggap (dihargai) oleh atasan dan bahkan oleh teman yang lainnya.


Hal ini biasa terjadi juga dengan penyerobotan ide atau gagasan. Misalnya A memmpunyai ide. Lalu B berusaha membantu menyelenggarakan ide itu akan tetapi di tengah jalan ide itu diklaim B sebagai idenya belaka.


ILANG-ILANGAN ENDHOG SIJI


Pepatah Jawa di atas berarti kehilangan satu telur. Pepatah Jawa ini secara luas ingin menyatakan tentang kepasrahan atau keputusasaan seseorang (biasanya orang tua) atas perilaku anaknya yang dianggap sudah di luar batas.


Hal ini dapat dicontohkan misalnya dengan perilaku seorang anak yang demikian durhaka, jahat, brengsek, dan tidak bisa dinasihati lagi. Apa pun nasihat dan oleh siapa pun nasihat itu diberikan seolah memang sudah tidak mempan lagi. Menghadapi hal yang demikian ini biasanya orang tua akan menyerah atau putus asa. Harapan tentang hal-hal yang baik pada anaknya bisa pupus seketika. Dalam kondisi semacam ini orang tua bisa pasrah atau melepaskan harapannya atas anaknya. Dalam hal seperti ini orang tua bisa merasa ikhlas atau melupakan anaknya yang sudah bisa ditolong lagi tersebut.


Harapan orang tua akan ditambatkan pada anak-anaknya yang lain. Ibarat induk mengerami telur dalam jumlah lebih dari satu, sebuah telur telah direlakannya hilang.


NAPAKAKE ANAK PUTU


Pepatah Jawa di atas secar harfiah berarti bertapa untuk anak cucu. Napakake berasal dari kata tapa atau bertapa. Napakake berarti bertapa untuk.


Secara luas pepatah ini mengajarkan atau memberikan nasihat agar orang hidup di dunia ini tidak hanya mengejar kepuasan, kepopuleran, dan kesejahteraan dirinya sendiri. Ia harus ingat bahwa ia akan mempunyai keturunan. Keturunan inilah yang perlu dibantu agar hidupnya kelak lancar, sejahtera, dan bahagia. Salah satu cara yang ditempuh adalah dengan bertapa (laku prihatin).


Bertapa dapat disamakan dengan tekun berdoa kepada Tuhan, memohon keridhaanNya agar Tuhan bersedia melimpahkan rahamtNya kepada keturunan yang didoakannya itu. Kecuali berdoa, bertapa juga selalu diikuti dengan pengekangan hawa nafsu, memperbanyak amal kebaikan dengan tanpa pamrih. Semuanya dilakukan dengan keikhlasan hati yang tulus.


Tidak mengherankan jika di lingkungan masyarakat Jawa masa lalu sekalipun ada banyak keluarga hidup dalam kemiskinan mereka tetap menjalaninya dengan tabah dan ikhlas. Mereka menganggap bahwa hal semacam itu merupakan bagian dari perjalanan hidup yang mesti dijalani sekalian sebagai latihan bertapa demi anak cucunya kelak. Tidak mengherankan juga di masa lalu sangat jarang ada orang mengemis dan bertindak kriminal sekalipun masyarakatnya hidup serba kekurangan. Mereka menjalani hidup dengan keikhlasan, apa pun kesulitan yang mereka hadapi. Mereka menyikapi semuanya itu sebagai ganjaran (hadiah) belaka dari Tuhan. Bukan cobaan, tetapi hadiah. Mereka menganggap hal itu sebagai hadiah karena di balik ketidaknimatan hidup itu mereka percaya bahwa mereka sedang diajak untuk memperkaya hati, memperkuat batin, dan lebih dekat kepada Sang Khalik. Itu adalah ganjaran.


Mungkin pepatah semacam di atas masih menjadi pegangan bagi laku hidup mereka di kala itu.


KAYA NGENTENI THUKULE JAMUR ING MANGSA KETIGA


Pepatah Jawa di atas secara harfiah berarti seperti menunggui tumbuhnya jamur di musim kemarau.

Secara luas pepatah tersebut ingin menunjukkan sebuah aktivitas (mengharap sesuatu) yang sia-sia. Jamur identik dengan kelembaban. Kelembaban tidak berkait erat dengan air.

Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat sudah bisa mengidentifikasi/memperkirakan bahwa jika musim hujan tiba, maka akan ada banyak jamur bertumbuhan di sembarang tempat. Akan tetapi jika musim kemarau tiba, jamur hampir tidak mungkin didapatkan di mana pun. Berdasarkan ilmu titen inilah kemudian muncul pepatah itu.


Jadi, sangat tidak mungkin mengharapkan tumbuhnya jamur di musim kemarau. Jika kita mempunyai pengharapan yang dinanti namun tidak pernah terwujud itu ibaratnya menunggui tumbuhnya jamur di musim kemarau. Bisa juga pepatah ini digunakan untuk aktivitas menunggu yang amat lama sehingga seperti menunggui sesuatu yang tidak jelas atau tidak berjuntrung.


WIT GEDHANG AWOH PAKEL


Pepatah Jawa di atas secara harfiah diartikan ‘pohon pisang berbuah pakel’ (sejenis mangga yang sangat harum aromanya jika matang namun agak asam rasanya).


Dalam kehidupan nyata jelaslah amat mustahil terjadi ada pohon pisang yang berbuah pakel. Dari sisi jenis pohon, marga, kelas, dan ordonya saja sudah amat jauh berbeda. Demikian juga sifat-sifat yang dibawanya.


Pepatah ini dalam masyarakat Jawa digunakan untuk menggambarkan betapa mudahnya berbicara atau ngomong. Namun begitu sulitnya melaksanakan, mengerjakan, atau mewujudkannya. Pepatah itu dapat juga digunakan untuk menggambarkan betapa sebuah teori begitu mudah diomongkan atau dituliskan namun tidak mudah untuk dipraktekkan. Begitu mudah nasihat, petuah, pepatah, bahkan kotbah diucapkan, namun untuk pelaksanaannya sungguh tidak mudah. Dibutuhkan perjuangan keras untuk mengendalikan semua pancaindra dalam diri manusia untuk dapat mengarah ke pelaksanaan yang dipandang baik dan benar itu.


Kalimat dalam pepatah tersebut dalam masyarakat Jawa sering kemudian disambung dengan anak kalimat yang berbunyi, omong gampang nglakoni angel ‘omong mudah melaksanakan sulit’.


KAYA NGENTENI KEREME PRAU GABUS, KUMAMBANGE WATU ITEM


Pepatah Jawa ini secara harfiah berarti seperti menantikan tenggelamnya perahu gabus, mengapungnya batu hitam (batu kali).


Perahu yang terbuat dari bahan gabus (semacam stereofoam) tentu sangat muskil untuk tenggelam. Demikian pun batu kali (batu andesit) sangak muskil untuk muncul ke permukaan air.


Secara lebih luas pepatah ini ingin menyatakan akan sebuah usaha yang sia-sia. Usaha yang tingkat keberhasilannya adalah nol persen. Mungkin saja pepatah ini sama artinya dengan pepatah Ibarat menunggu Godod yang sebenarnya diadopsi dari lakon drama karya Samuel Beckett. Drama ini juga menggambarkan akan sebuah penantian yang sia-sia. Penantian pada sesuatu yang tidak akan datang atau terjadi.


Jika kita mengharapkan pada sesuatu yang tidak akan mungkin terjadi, maka apa yang kita lakukan ini sama dengan ngenteni kereme prau gabus, kumambange watu item.


Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani
Pepatah Jawa di atas secara harfiah berarti di depan memberi teladan, di tengah membangun kehendak/karya, mengikuti dari belakang memberikan daya.


Pepatah ini telah menjadi pepatah atau semboyan yang digunakan di dunia pendidikan
Indonesia. Maksudnya, tentu sangat mulia agar murid atau siswa-siswa Indonesia bisa berpedoman pada semboyan yang dipopulerkan oleh Ki Hadjar Dewantara itu.


Maksud dari kalimat pertama dari pepatah ini yakni di depan (maksudnya sebagai pemimpin) hendaknya seseorang dapat memberikan teladan atau contoh. Jika seorang pemimpin tidak dapat memberikan keteladanan baik dalam sikap profesionalnya, maupun dalam sikap hidup secara keseluruhannya. Memang manusia tidaklah pernah akan sempurna. Akan tetapi seorang pimpinan hendaknya selalu berusaha menjaga dirinya agar ia benar-benar dapat menjadi teladan bagi bawahan, anak asuh, ataupun anak buahnya.

Kita dapat membayangkan sendiri jika seoang pemimpin dalam profesi maupun tindakannya tidak dapat diteladani, maka sikap atau perilaku anak buahnya pun dapat dipastikan akan lebih buruk daripadanya. Hal ini juga dapat dilihat dalam sebuah sekolah jika guru-gurunya bertindak kurang baik, maka murid-muridnya pun tentu akan bertindak lebih buruk dari gurunya itu. Tidak adanya keteladanan dari pimpinan menyebabkan anak buah akan kehilangan kepercayaan, hormat, dan segala respeknya.


Jika seorang pimpinan berada di tengah-tengah anak buahnya hendaknya ia bisa membangkitkan kegairahan agar anak buah atau anak asuhnya bisa bersemangat untuk berkarya atau bekerja. Di tengah anak buahnya ia hendaknya juga bisa menjadi teman, sahabat, atau partner yang baik.


Apabila seorang pimpinan berada di belakang anak buahnya hendaknya ia bisa mendorong, memotivasi, bahkan juga mencurahkan segala dayanya sehingga anak buahnya bisa benar-benar memiliki daya untuk berkarya.


KUTUK MARANI SUNDUK


Pepatah Jawa ini secara harfiah berarti kutuk (jenis ikan air tawar yang relatif besar) mendekati sunduk (penusuk/suji). Secara luas pepatah ini ingin menyatakan tentang kejadian atau peristiwa dari seseorang atau sekelompok orang yang mendatangi atau mendekati bahaya atau hal yang dapat membuatnya celaka.


Sunduk atau penusuk adalah pantangan bagi kutuk sebab pada penusuk itulah nyawa kutuk pasti terancam. Hal demikian dapat juga terjadi pada manusia atau orang. Misalnya, ada orang yang tidak bisa berenang, dengan tiba-tiba ia masuk ke dalam sebuah sungai yang dalam, maka tenggelam dan tewaslah orang itu. Dapat juga dilihat contoh lain misalnya, ada orang mendatangi arena peperangan atau pertikaian. Tanpa diketahui orang tersebut terkena peluru nyasar atau lemparan batu. Hal demikian dapat diibaratkan sebagai kutuk marani sunduk. Tegasnya, orang yang mendatangi marabahaya.


MENANG MENENG NGGEMBOL KRENENG


Pepatah Jawa di atas secara harfiah berarti diam-diam mengantongi kreneng. Kreneng dalam khasanah Jawa menunjuk pada pengertian sebuah benda menyerupai keranjang yang terbuat dari bilah bamboo yang diraut tipis dan lentur. Kreneng ini berfungsi untuk membungkus atau mewadahi barang-barang belanjaan yang dibawa oleh seseorang. Umumnya kreneng berfungsi sebagai kantong atau tas sementara yang kemudian bisa dibuang begitu saja setelah barang yang berada di dalamnya dikeluarkan.


Pepatah Jawa di atas secara luas ingin menggambarkan perilaku seseorang yang di permukaan (fisik, lahiriah) kelihatan pendiam, tidak banyak omong akan tetapi di pikiran dan di hatinya sebenarnya dia tengah mempersiapkan atau menyimpan sesuatu (yang umumnya tidak baik). Entah itu berupa rencana-rencana atau tujuan-tujuan yang tidak mulia. Entah itu rekayasa manipulasi, kebohongan, dan seterusnya.


DIJUPUK IWAKE AJA NGANTI BUTHEG BANYUNE


Pepatah di atas secara harfiah berarti diambil ikannya jangan sampai keruh airnya.
Pepatah ini mengandaikan pada sebuah peristiwa perburuan ikan di kolam atau di sebuah sungai. Pada umumnya pengambilan ikan di kolam atau sungai selalu menimbulkan kekeruhan pada air tempat ikan tersebut diambil. Hal ini terjadi karena gerakan tubuh manusia, benda lain, atau bahkan gerakan ikan itu sendiri di dalam air tersebut sehingga mengubak atau mengaduk air kolam/ sungai. Idealnya adalah ikan yang diincar bisa diambil namun air yang melingkupinya jangan sampai menjadi keruh atau butek.


Pepatah ini secara luas menyangkutkan persoalannya pada pengambilan kebijaksanaan atau penyelesaian masalah yang diidealkan jangan sampai menimbulkan korban atau masalah baru. Hal ini dapat dicontohkan misalnya pada kasus pencurian yang dilakukan oleh seseorang di sebuah dusun. Kebetulan ketua dusunnya mengetahui siapa pelaku pencurian itu. Agar masyarakat jangan sampai gaduh dan ribut-ribut nggak karuan, ketua dusun segera datang dan menangkap pencuri tersebut lalu pencuri tersebut disuruh untuk mengembalikan barang-barang yang dicurinya.


Setelah barang yang dicuri dikembalikan, orang yang kehilangan pun lega. Pencurinya tidak digebuki
massa. Ketua dusunnya akan semakin naik pamornya karena jeli dan terampil menangani persoalan. Masyarakatnya tetap tenang. Persoalan yang melanda dusun bisa diselesaikan tanpa ribut, tanpa korban, tanpa kegaduhan. Minim resiko.

—————————————————–

By Alang Alang Kumitir

BABAD GALUH I


Babad Galuh adalah koleksi naskah kuno dari Kraton Kasepuhan cirebon merupakan warisan karya budaya leluhur yang mempunyai nilai yang sangat tinggi baik dari sudut sejarah, sastra ataupun disiplin ilmu lainnya. Agar warisan ini tidak punah ditelan oleh zaman, maka purlu adanya penyelamatan isinya agar dapat diketahui dan dipelajari oleh generasi muda.

PUPUH I
DHANDHANGGULA

01

Ingkang rinipta carita puniki, sasi kalih tanggal kaping sanga, Senen Wage ing rangkepe, pengeting tahunipun, tahun Be kang hijrah Nabi, sewu rongatus ika, punjul wolung puluh, ing tahun Be Punika, among angsal wolulas dinten nenggih, wau ingkang kalampah.☻

02

Awong dening kang anyerat iki, pan jenenge Kyai Serengrana, kang alinggih Pulasaren, mantrine Sultan Sepuh, pan kalangkung bodho tur langip, pan ora nalasamwa, ing tawilunipun, waktu anyerat punika, … umur skeet tahun nem warsi, akatut kang …….☻

03

Nama samya ingkang sami kapti, amaosa carita punka, kang sastra langkung awone, akathah tanduk kang sigug, poma samya angapunteni, lan sampun caket pandam, sampun kari luwung, nyanggi talutuh ngalantang, lawan sampun nyaringin nang iku sami, ingkang sami sudi maca. ☻

04

Kang pinurwa Pajajaran Mangkin, samantuke sang Ciyungwanara, saking bumu Galuh nengge mentas praja ji wau, kali Ardhangbang awisik, si kakang kang mingetan, araga salimur, aneng alas Maostikta, pan si adhi mangulon ngadeg dewaji, ababaka nagara. ☻

05

….. Pajajaran sadakti, dawuh jengjenan kadang, Cipamali watesani, Ciyungwanara nurut, ngilen kali kang Ibu Dewi, Rara Kandhegkinarha, jimat tunggul payung, ingiringi pandhe dhomas, gumurudug ngilen wus dumugi maring, Babakan Pajajaran. ☻

06

Wus kapanggih lan Indang Sakati, kang pinangku panembahanira, kang gagandhi ing pilungguhe, sang Ciyung angadeg Ratu, iku Indang Gunung Saketi, kang dadi emban-emban, arjaning sapaku, sinawung galih liniga, kawula warga Sakati kang uri-uri, kang arjane sang nata. ☻

07

Cantrik Sakati ingkang anami, lawan wau kadangira, kang kocap ing namane, sikaki elu-elu, Ki Okesa kalawan malih, Empretmohe ya ika, kang sami amangun, angistreni lungguhira, Ciyungwanara angadedi Sribupati, ing Nagara Pakuwan. ☻

08

Wus rineka jati pangupami, umbul-umbul kulit wanara, ingkang acemeng ulese, akadi kulit lutung, kombala buntut sing asami, mangking kombala badhak, ing waos pangrenyu, godebak bungkul cabolan, kang ginawe rontek buntuk monyet dadi, sarengga-rengganing praja. ☻

09

Payung agung kulit maung kuning, marapit ing …. Sang Nata, sangkep sami kaprabone, …. Wus gemuk, kang ngaolatingkah negari, ical jenenging wana, dumadi praja gung, agenging kawula bala, pasar ageng pan samya suka ing ati, ing sadina-dina rena. ☻

10

Andrawina kang kawula alit, gemelane reyog ngimba sraya, tampingan gunung arame, dhog-dhog byos pan dharugdhug, kang tharokthok egar kapati, rame kang surak-surak, kidung sari baung, sundari alas langenan, kikitiran ing pucuking lingga sari, jemegur yen kaginan. ☻

11

Yen bondanan pandununging…., pan jumegurlir mariyem kang swara, kang winangun … unen-unen, ing siang lawan dalu, Maha Raja ing Pakuaji, Prabu Ciyungwana, riniyung ing sagung, warna rupaning sambawa, sato-sato kang bisa akata jalmi, sok lutung kidang ika. ☻

12

Kang mambangan ules gumaringsing, kebo bule bungkul kang pancal pat, padha icep bal makabe, gelap pon sami ngulun, angintali barat angabdi, iton-intin liwurkali, jurig dewa mambar, sabawaning ratu susupaning wasi, lir kang estu ajar padhang. ☻

13

Ajar Padhang ingkang dukmadhemit, ingkang murwa sagala jagat, ing Pajajaran tanggale nuli…., dhasar masih sedhepan daging, rai awujud buta, purwa sing Cialur, rarakandheg mila dadya, pangrampiging menak Cidahur nyungkemi, purwaning abal raja. ☻

14

Datan roro tetelu ing kapti, isa baisa Dipati Alurcenang, ing Pajajaran suude, santana kinabandu, ragem-ragem mariboting sih, sadasa sami prapta, akidang kandhuru, Kikandhuruwan babalban, seja tuhu genya karsa angabakti, amegeng sewakanira. ☻

15

Mangunaken sagung kapurati, lembah dhuwur lan pintu tundhaga, saha sri ing samandhepane, ngajangaken alun-alun, …. Pasowan panggenan aji, kang kepering angi … puraken gunung, limbung aning guwa santang, nengenaken sasagaran giri tasik, ngajengaken bomanta. ☻

16

Sabandare sing sabrang sumadhing, paningadhun sang Bima larang, Sri Jampang sarta jinggine, gul menak umbul adhu, rang-orange jinunjung inggil, anyakra kapatiyan, ing Sundha ginunggung, pating rangu rangu Sundha, pan sirnaning ratu sukma ing pati, amageng kawicaksanan.

17

Pan kapati kang duweni manis, cina Sundha kawilang lilima, ingkang kacepengan dene, Ki Ardha mangun gen trahe nenggih, ing Pahing dintenira, andhum wancinipun, anyepeng para gul menak, pasisihan utawi manca nagari, cekelan mangun gentra. ☻

18

Ki Tumenggung Sayoga nyepengi, ….ing sawancinira, angrekuricak cepenge, ing ayunan sang prabu, pan acaos basa ing aji, dupi ingkang kang nama, Demang Elu-elu, dine Wage jaganira, anyepengi putusan pra padungapti, ing bener lawan salah. ☻

19

Kang Ngabehi Lempretmonge kang jagi, dina Keliwon cinepengan, prajurit ing sawancine, ing ulu balang wau, sungga watang sarampang bandring, kukuh ing pat Pakuan, sinaroja umbul, dalem ingkang kuna-kuna, samya ngidhep ing Pajajaran angapti, nalika binathara. ☻

20

Ing Ciwindu anteng ….paning, dhalem Tepus nalika wong kuna ing Raja…..,kidhalem kuwu agung, Sendang Cibuntu ing praja ngapti, dhalem demang kangene, sindhang kasimanut, lan ki dhalem Cintangbarang, dhalem Pakulada dhalem Pakuaji, dhalem Rangga Pakuan. ☻

PUPUH II
P A N G K U R

01

Angir-angir ing buwana, pangaline rara nama Mundhing Jamparing, lan kang namane sinebut, Kalibadhaglolopak, kang kinarsa angirupi para ratu, para idhang kang primanca, nagara urut pesisir.☺

02

Nyata sang roro ponggawa, sampun mentar kalawan idhine pati, naklukaken para umbul, para dhangan pasir panjang, sang dhang bana Ujung kulon wus anungkul, Pasir Adu Pulangdhang, sura sowan sabrang pati. ☺

03

Banten …. Ujung Maladha, Menak Lampung sadasa kang ngapti, dhumateng sang Raja Ciyungwanara Pajajaran, apa maning sang dhang Jakerta panadhun, Jograt Lantan Tawangpadhang, Karawang lan Ujungmilir. ☺

04

Losaribang kulon miwa, Palimanan Carbon Girang katiti, Jepun kulon gumulung, Indramayu lan Kondha, sang Srijunti sang Kalana Kandhanghaur, sadasa akedhep samya, ing Pakuan Pakuaji. ☺

05

Amung siji ingkang nyelap, ingkang ngambek sucira angrasawani, iya iku nama ratunipun, Raja Mongkara, aneng Ujung Batagonggang …ipun, estu tan arsa kedhepa, ing titah ….aji. ☺

06

Kocap bala Pajajaran, seja lurug dhatmakaning kulilip, pirang-pirang bala maju, daman pangunjung tanah, bala Sundha ngadhaning rangseng padha kawur, dhening prahara lautan, tanpa sangkan breking angin. ☺

07

Wong Sundha ingkang prawara, pirang-pirang ambalan tan budhihi, tan maju kadhadhak kawur, tiba ing sawah-sawah, ing tetelar aniba pating talumpuk, lir walang kawur prahara, manglkana sandhenging wani. ☺

08

Salamine ing ngayuda, datan ana wau ingkang ngucili, enggal pan sira alaju, yika Badhak lolopak, sabab bareng rereping kang lisus, den age caked….., anila bimi ning angin. ☺

09

Nadyan …. lan jajal, pan pinanggih lan Sindhang Mongkara aji, yaganal pamuwusipun, la iki kene apa, wong Kajiwa bumi re gelem nyangkul tembene ya ing amendhak, ingkang kadhang raja iki. ☺

10

Puniki bumi Pasubdhan, ingkang estu warise juragan Ahing, pusaka sang Prabu Galuh, kang wus merad susirna, mangkana Ratu Sundha kang dhadha susulur, amisesa sasigar Jawa, iki kang si rajeneki. ☺

11

Kukubaning Ratu Sundha, apa gawe si rajenak ing riki, den ora gelem anungkul, ya para age bu………, ana jenek enggon kene sira iku, ….. kang ora suka, dhen dhadhi kulilip. ☺

12

Raja Mongkara panabda, Lalangkara ewong dadi kulilip, lawan Anglangkara ratu, adhuweni buwana, pan buwana Dhangwinta ingkang ngawangun, ratu mung ngaku kewala, padha ewong ambeneki. ☺

13

Padha bae suwaningwang, apa bidhane tunggal enggoning bumi, sira ingkang selang gumun, ambeg sawenang-wenang, budhi kethek napsunira kaya asu, Badhak Lolopak jal Kidang, anubruk dhateng sang aji. ☺

14

Sigra sang Raja Mongkara, matek mantra dhal emesal menginggil, anyepak maring kang musuh. Kontal Badhak Lolopak, niba tangi anubruk mali dencawuk, den balangaken …., tiba tangi ngudhak maning. ☺

15

Dedupak malih kapental, ora meneng-meneng abalik maning, anuli sira den cawuk, binalangaken tebah, nuli prapti ika wau ingkang lisus, kawur si Badhak Lolopak, kabereg-bereg ing agin. ☺

16

Tan kena aju narajang, kasektening Mongkara wantuning, putraning Bramana Laut, mila Dhikbo samana, semunira karsa angadhoni ratu, ingkang mangkono ngadheg anyar, ana ingsun ya negari. ☺

17

Ora kaya Ciyungwanara, jar akathi Indang Gunung Sakathi, ingkang kaparing …, ing Munting Jamparing, aja sira papa … iku, balikan sulusupana, api-api saha ngabdi. ☺

18

Kawula nana ngendhatna, yen wis kanggep tungkuling wong aurip, colongen ika kang tuhu, ing Kahuripanne raja, kang dhen wadhali Beruk Kalapaciyung, den wus kaebut kang jimat, mangsa suweya sasakti. ☺

19

Yata munting Jamparing, lumaksana sawisiking Yangnini, ing Batagonggang angulun, watara satus dina, wus uninga pancing surupe Yangwiku, Beruk jimate Mongkara, pan gawa minggal tumuli. ☺

20

Katur ingarsaning Ingdhang awan, Munting Jamparing angadhepi, maring panusuling musuh, yata kang bala Mongkara, gumarudug anusul …. ipun, ….. padha soroh ambek pejah, wong … angladosi. ☺

21

Ramya ingkang pancaraga, papaning bala mapan saolih-olih, bala Pajajaran kondur, sinerong ing amukan, wadya maju Badhak Lolopak alaju, bala Mongkara kokalan, kondur dening Badhak muring. ☺

22

Raja Mongkara naraji, Badhak Lolopak sampun kawalik-walik, satengah pejah dhen pupuh, Munting Jamparing lawan, lami rowang anyekep marang sang ratu, Raja Mongkara sira, pan Silepe saking wingking. ☺

23

Dug Munting Jamparing, pan satengah pejah den wali-walik, tan adangu Indhang Gunung, saka tiyang amba …., … jejel paring pitulung, andhawuhi kang udhan krama, Raja Mongkara mudhidhing. ☺

24

Angeles lumpuh entro raga, wus andhepok ing sihi tanpa sakti, yata prasami rinebut, ing bala Pajajaran, Raja Mongkara dhen asandhangi dhata tangsul, kasri ing babadhanira, miring Prabu Pakuaji. ☺

PUPUH III
S I N O M

01

Iya iku purwanira, Lalopak lawan Jamparing, Sinungan lenggah arya, Ki Arya Munting Jamparing, lan Arya Badhak Lolopak, pan iku karananipun, olih gaweyan manca nagari, Raja Mongkara sampun angangya sewaka.♥

02

Aturing kang para … kawitan, dhumateng purba nagari, Pakuwan … Ciyungwanara, Ratu Agung Sundha sakti, ingapingan jeng nini, lintang saka tipun niku, timbul salir wirasa, sastra Sundha kartajani, sastra selawe gumelar ya ing Pasundhan. ♥

03

Lan rarasaning manusa, gawe ewag saking Jawi, ngamperi rarasan sabrang, basa Sundha kang panuji, mangkana arsa aji, Kanjeng sapta loka, iku ingkang sawiji, Kutha Manggung Kutha Raja kutha Gara. ♥

04

Kutha Larang kutha Jampang, kutha Idhang apa maning, kali prakwise nama, gara tengah gara jati, gara … gara wangi, gara aji gara pagu, gara jaya kang …, … tigang prakawise nami, Sundha sari Sundha lengdha Sundha larang. ♥

05

Sundhawestu Sundhasana, Sundhalayang Sundhajahi, lawan prakawise nama, Ujungkulan Ujungbumi, Ujungkembang Ujungsemi, Ujungtana Ujungbarung, lawan Ujungkandhi, lan gangsal prakawise, Bantalwaru Bantalwire Bantarjaya. ♥

06

Bantarwangi Bantarpanji, Bantaraung Bantarjati, nem prakarane ingaran, Raja Galuh Raja Cingcing, Raja Jawa lan malih, Raja Larang Raja Dhanu, Raja Kowek kalawan, Raja Wetan miwah malih, pitung prakawis anama medhang kamulan. ♥

07

Medhangdhatar Medhangpala, Medhangrasa Medhangterik, lawan Medhangkawiraja, Medhangko … sajati, sapta loka wus dadi, gumelar rajaning ratu, Sundha Amalatra, Ciyungwanara pakolih, garwa padmi saking Gembong arah wetan. ♥

08

Kang kasebut ing paparab, kang nama rara Cunggilis, kang pinangka prameswara, ing Pajajaran sang aji, ing wuri-wuri jati, ing kadhaton dhalem agung, ratu Cunggilis krama, Ciyungwanara wus mijil, putra estri kang paparab ing arja. ♥

09

Putri Purbasari mulya, ing pura Sundha negari, pinutri-putri ing nata, ingadhang agung ing aji, karaname narpati, … putra jalu, amung ika wanodya, … jayeng aji, dumadiya turun saluraning raja. ♥

10

Putrining Ciyungwanara, ika putri Purbasari, komalaning dhalem pura, Sundha ora nana maning, dupi garwa sembar ayu, putri saking Bangbayang, sang korone becik-becik, nami Dewi Tingtrim wawanginira. ♥

11

Lan Dewi Markeseh kembaran, Martingtrim ingkang yumani, iku kang Pajajaran, Markeseh ingkang yumanibini aji ing puri, Pajajaran kaliyipun, kagarwa dhening nata, nanging boya amiyosi, sakaliye ing gigabug tan aputra. ♥

12

Mila … Banghayang, sanget kaul-kaul mambri, … kagungan waya, kang miyos saking narpati, prandene … yakeni, esi tan kena tinedhu, akathah ajar bramana, kang jinalukan jajampi, parandene oranana siji laksana. ♥

13

Martingtrim Merkedheng lunta, gabuk ora amutrani, nuli sang Ciyungwanara, ngalap garwa malih milih, ingkang tedhak sisiwi, dreman ing sabronjotipun, wonten malih kang putra, menak Cicilutung gelis, kang kekasih iku Jeng Dewi Anjatan. ♥

14

Ing Pakuwan pinakrama, wus angapti maha dewi, dinama-nama ing marma, parandene tan mutrani, gabug salami-lami, usada … wus tepung, tan ana leksanannya, sang Prabu …, agagarwa saking bebeting Bramana. ♥

15

Putri saking Kandhanglarang, sinedhepira dumadi, katur ing nata Pakuwan, nami Dewi Kilikmangi, ginawa ing sang aji, mapan mangkana agabug, datan miyos putra, jajampi sing ngenda-endi, ora nana ingkang darbe laksana. ♥

16

Lir ta selirnya marapag, langkung kawandasa sasi, ingkang ngadining-ngadenan, rinegep sari ngumining, iya orana siji, ingkang amiyos sinunu, gawok kasri nalendra, dening mung kalethek siji, Purbasari wadon kang winadhang-wadhang. ♥

17

Saluraning Pajajaran, mila saderenge lalis, sang Prabu Ciyungwanara, krajahan dhen palipur, saparoning pribadi, saparo ing sunu ayu, … kang upacara, cathik-cathik raja peni, sapaliye Purbasari kang ngagem. ♥

18

Dugi maring pabarisan, sapalih ngapti ing siwi, Bawatbenggi sari Manglar, Bawatciyung Naga Sakti, judhipatnantang weri, judhialiman sang dhekur, suradhadhu sarabang, kereronce kereampit, dhadakpulur wigalba wiragalba. ♥

19

Purbasari lan kang rama, kadi kembaran narpati, supaya wadon lan lanang, ajumbula moning angaksi, dereng karsa alaki,yen tinaros banget lumuh, tan kenging dipun purba, dening karsaning narpati, para ratu kang karsa … lesan. ♥

20

Pirang-pirang kang sewaka, ambaka … pikulih, kang arsa sewa panglami, nanging datan den pidhuli, akeh kalesan balik, ana baliking dhalanggung, sing sabrang saking Jawa, kang akarsa samya balik, padha mundur mulak ora tinampanan. ♥

21

Ajaja sipating jalna, sedhengane dewa aji, padha mengga ing ngalama, kapepes ing tan kaconggi, ingkang mara-mara balik, ingkang mara-mara kondur, Prabu Ciyungwanara, rada melang-melang kapti, bok sang putri kencok aning mamala. ♥

PUPUH IV
K I N A N T H I

01

Sagung papalisanipun, saking kang rama narpati, kang ingarsane si rara, pan mangkana wangun mali, sapta loka pari mina, ing ngarsane sang Dewi. ☺

02

Saprakara kang sinebut, Budiwati Budiminging, Budirujit … Budi …, Budisari Budigolis, Budipandhang miwah ika, rong prakara ingkang nami. ☺

03

Luwilaja Luwilidhung, Luwiseeng Luwimundhing, Luwiladha Luwidhingding, telung prakarane nama, Sokapura Kokaaji. ☺

04

Sokapolang Sokaratu, sokawiyana lan malih, Sokamanah miwah ika, Sokanegara apa maning, patang prakarane kang nama, Kawungluwih Kawungaji. ☺

05

Kawunglarang malih ipun, Kawunginten Kawungsari, Kawunggehe Kawungomas, limang prakarane kang nami, padhapenah padha bongor, padhamatang lawan…..☺

06

Padhamuhi padhamadhung, padhareka padhamuraging, nem prakarane kang nama, Sabdanawa Sabdasari, sabdamenyat Sabdawangi. ☺

07

Sabdalarang malihipun, pitung prakarane kang nami, Sindhangkempeng Sindhangbarang, sindhangayu Sindhangaji, Sindhangwangi Sindhangpala, miwah ingkang Sindhangkasih. ☺

08

Sampun ing kadya puniku, kng simaan rama aji, dupu rangga kapatihan, dumateng putri Pakuwan, Jeng saputri Purbasari. ☺

09

Dupi ingkang rama prabu, Ciyungwanara ingabdi, dening Arya Mangunkentra, Karapu Yudanegari, ing sapandum-pandum nira, Mangunkentra rada ….☺

10

Rang-urange pandumipun, Menak Mangun … praniti, raja Galuh lan Talaga, Kuningan lan Sindhangkasih, Ciamis lan Sokapura, Panjalu muwakawali, pusaka kawuri-wuri. ☺

11

Cikaso lawan Luragung, Makber lan Cipamali, Lebakwangi lan Cikuwang, sapure kang katiti, Cigugur lawan Cirayap, Cionje lawan Ciori. ☺

12

Cikendheng lan juga Cigintung, Cibarangbang Cipaburi, Cikandhang Cicaridhangan, Ciakarwangi katiti, salwe princi kawilang, Menakwacacayan istri.

13

Purbasari kang amengku, la iku dadi laluri, teka ing satedhak-tedhak, lamun pajajahan istri, iku sun dak sigar wetan, prawatesanipun kali. ☺

14

Bayabang kali Cilutung, mangetan jajahan istri, Menak Pakuwan ingaran, pusaka kawuri-wuri, dupi sing kalih bayabang, mengulon iku kang dadi. ☺

15

Pasawahan ramanipun, Ciyungwanara apa maning, Menak Pacacahan lanang, laluri ugi salami, kang nama Menak Pradhangan, sigar kulon sun dapuri. ☺

16

Pon salawe princi umtul, Ujungkulon apa maning, Bogor lawan Kanjapura, Kadangladhang Pasiraji, Cianjur Kujang Limbangan, Sumur Bandung Sunedang aji. ☺

17

Manonjaya Garut Ciaur, Batuwalang lan Biribis, Sawung … Gantilah Munoro, Tegaluwar apa maning, Cikokok lan Nungkalaya, Sokowiyana lan malih. ☺

18

Wanabaya Cibalagung, ukurlantara Juangin, salawe princi kawilangan, ing pajajahan angabdi, wengkuning Arya magentra, ing ngarsa Sri Pakuaji. ☺

19

Wus kukuh kang bala ratu, jajahan Sundha nagari, sang Prabu Ciyungwabara, kang angresa hawa aji, karata gampang pangulatan, kang sarwa tinandur dadi. ☺

20

Sakalir karsa kadulur, agung kacipta dumadi, nuli ika garwa lima, jeng pawestri Cunggelis, maringtrim Merkedheh mewah, Anjatan lan Giliwengi.

21

Sami sinunut cangkohipun, mangkana kang prameswar sinung cacapagunungan, gunung Ga Gunung Licin, gunung dhukut gunungsira, gunung Lajer gunung Kelir. ☺

22

Kapituning gunung wupu, Parakatan pawestri, dhupi iku aneng ana, sinung pobojongan menggih, Bojonggaluh Bojonglapang, Bojongnerwasa Bojongleppit. ☺

23

Bojongmuntas Bojongwindu, Bojongrentan ingkang dadi, Parekatan iku Sundha, dhupi sang jeng bini aji, sinung sasapetegalan, Tegalkolot Tegalpakaji.

24

Tegalmenak Tegalbaput, Tegalgubug Tegalkunyit, Tegalmoto ingkang dadya, Parekatan bini aji, dupi maha Dewi Sundha, kang sinung sasapan indhi. ☺

25

Paindhon kang winalungun. Indhupari Indhuaji, Indhujanten Indhugirang, Indhuraga Indhusari, Kapitune Inddhujaya, Paraketan nini aji. ☺

26

Dupi ingkang Dewi matur, sinung palebak kalepti, Lebakcenang Lebakcehang, Lebakpanjang Lebakwangi, Lebaksidhu Lebaklenggar, Lebaklawang wus dumadi. ☺

27

Sawawasa prati umbul, ora selang surup apti, iku rerekan Pakuwan, bedha lawan Majapahit, golong sapurba sasmaya, dhupi Pakuwan Marinci. ☺

28

Temah dedeake Ratu, ing Pakuwan ikut yakti, prasasat den prenca-prenca, kamukten den bagi-bagi, mangkana adat Pakuwan, kang kanggo salami-lami.

29

Mula akeh menak umbul, ingkang satta sabumi, mila-mila kawisesan, angreka sabagi-bagi, waneh kang campur wong sabrang, anggelar enak ing urip. ☺

30

Padha among sanak sambung, kinalilan purba bumi, waneh ingkang leletana, kasilane den remani, dening kang padha anyewa, maring bumi ming narpati.

31

Sewa aning paken agung, pamule pegantang salir, ingkang mawa tatakeran, pamajeganing pangumping, anut maring kasabpolah, tukang maring pajeg trasi. ☺

PUPUH V
ASMARANDANA

01

Ki Lurah Rawaprasmi, pamajegane gugubar, iku Ratu kang dheres, pamajeganipun gula, Ki Lurah gurupadha, pagantang pajeganipun, mangkana kang lurah wana.☼

02

Ateka yu kang lumari, kang sabandar pajeg ira, kekendhangan kang isine, lelemes buwatan sabrang, ingkang lumampah ing Sundha, kethang prunggu kang sinundhuk, ing tatali karompyangan. ☼

03

Bolong-bolong kaya dhuwit, bendher den cap sastra Sundha, kus jembar kahuripane, sawah tan mawi lalanjan, mung den wis panepadha, atur catur baktinipun, wus dadi anak Pakuwan. ☼

04

Palawijaning wong cilik, den elus sakamya-kamya, ora nana pajegane, sailing-elinge padha, babakti ing majikan, yen wis padha ngundhuh-undhuh, tangu gegel ing majikan. ☼

05

Warnanen sang Pakuaji, ing salamine amurba, ing Pajajaran tuwuhe, kewuhan dening kapadha, akarsa ing sang rara, Purbasari naminipun, mingkung dhatan arsa krama. ☼

06

Wanti naros ingkang yudi, ature wau kang putra, tan arsa akrama ingong, sanadyan para nalendra, kang karsa dhateng kula, besane lamon kinuwu, pinardhi ingwang tuwa. ☼

07

Kaul alukan mati, sumadi isun akrama, iku kang dadi pegele, manahe Ciyungwanara, re kang putra samana, tatambah wus mider tepung, ora nana kang tumama. ☼

08

Wus pirang-pirang pamuji, wiwiku lan ajar-ajar, ponora tumama kabeh, japa mantra lan istiar, ora nana kang misata, sang nata sanget gegetun, tumon adate kang putra. ☼

09

Kalangkung bebek ing pikir, reiku kang kinudhang, winadhang-wadhang wiyose, turunanira drapona, marna bangsa raja, dhupi iku teka mingkung, tan ana turun tedhakan. ☼

10

Du uwis amung sawiji, wadon tumuli mangkana, tan kena den palar mangke, turunan lantaran krana, dupi den lumuh krama, temah puthes anak putu, kang dadi bebeging manah. ☼

11

Ratu Sabrang Ratu Jawi, kang asresewa panglamar, iku dhipati Manglewat, saking anagara Tuban, lawan Dhipati Japara, lawan Dhipati Cidah, lawan Arya Balangbangan.

12

Saking sabrang Raja Kelir, lan Dhipati Singgapura, lan Arya Dhagdhagase, suradil pan titah raja, sakabeh ika padha, anggondhel prakara iku, ing Prabu Ciyungwanara. ☼

13

Ruru bae anggonturi, wus loba tanpa wilangan, mila sanget kewuhane, enggone nari kang putra, dhadhak sakala ika, Purbasari inggal mangun, tumanga geni sakala. ☼

14

Ageng ilur sundhul ing langit, marakbak kagila-gila, lir baronggong beledhoge, wuku pring apilar wangwa, Purbasari dhuk sabda amit pejah rama prabu, den kula pinardi krama. ☼

15

Alum kula anglabuhi tumangan geni sakala, jasad kawula sanggine, tumpes aja katingalan, ing kadang ing ngakin, den nama kumudu-kudu, kawula sumangga pejah. ☼

16

Sumandika umalaki, kaprawasa dening priya, tan kangkat to nandhang, wirang nekaringgit ing jasad kula, kang dados sakiting manah, ajur kula dados awu, sama dening kula wirang. ☼

17

Jaler punika kamangi, sasada susut den wis waya, way kalereng anggepok, den sampun gepok ing rasa, mundure tut sausap, atemah boten mambu, boten memper dhateng rasa. ☼

18

Rasa kang sampun binukti, istri kang kabobongganan, mila kula angedados, purnapa awu sahana, sang Prabu Ciyungwanara, angandika aja babu, nini labuh geni sira. ☼

19

Lan aki sumamung aji, mung sira tan ana liyan, kang dadi ati ewuhe, sipat matane si rama, mongsa pira gesang, sanadyan nama sihing rupa, anak putu den arampak. ☼

20

Babarayan ngadek aji, ing kamukten padha uman, padha bareng mukti kabeh, lan anak putu den rampak, ingson kang urip dawa, anunggoni anak putu, sing purwa teka daksina. ☼

21

Mangkana prangregep mami, Dewi Purbasari girang, mintuhu sakadikane, kang rama kadi mangkana, nanging ika tumangan, tan asung pinancas parum, masih munjuk kang dahana. ☼

22

Den pinaksa alaki, sejane labuh dahana, mila tumangan masihe, kang geni gupak cawisan, Den Purbasari medho, wawadine kayak iku, ora jamak lan manusa.

23

Sang Ciyungwanara aji, sak akal budi pandaya, amangsuli kang anggondhel, raja-raja atas sabrang, maredheng … maksa, jamak istri asasdhu, tinari laki popoyan. ☼

24

Mangsa wontena pawestri, tinaros mangsuli iya, utawi kaluncurane, sesaengek jamak wanudya, tan nilapaken rama, den jeng rama sampun asung, sang putri juwala purap. ☼

25

Ciyungwanara mangsuli, den kula pundhi kentasa, mangke kang dados parenge, kang suka punika rara, den sampun bubudayan, karanten dan mangke tulus, dados awu lelebaran. ☼

26

Ika iki kangngangking, kawula kelangan anak, prandene den anakake, tan kaya dening dadaman, amung siji anak kula, nuli ika temahan lampus, karinggi awak kawula. ☼

27

Raja sabrang mangkeya angling, sak lilaha ing jeng rama, aweyos geni jatine, tumangan kita pri pejah, rumuhun kita lanat, sasampuning geni urut, kita sami medhek sowan. ☼

28

Ling sang Putri Purbasari, andhadhanr untunging awak, sing ngakenggep ing babajane, kang boten kanggep sanjata, ing cilakane awak, tapi punika satuhu, boten dados pana sarana. ☼

29

Panuhun raja tas angin, kasabrangan pan sadaya, maketen ugi ciptane, memanten dados ing karsa, raja rama Ciyungwanara, dipun jemba ing pamuhung, ing songonging kasabrangan. ☼

30

Bilih boten angrakepti, ing adat tabidat Sundha, nanging putra sabrang kabeh, rempage kadi mangkana, munggi kang rama lila, saduka-duka kasuhun, anuhuning palamarta. ☼

PUPUH VI
MIJIL

01

Ya Prabu Ciyungwanara mangsuli, boten wonten roro, ya tetelu aturku sajatine, gih punapa karsa putra aji, kawula dhuluri, sok dadiya arju.®

02

Sampun nelangsa ing salasa tunggil, punika kang dados, panedha kula ing sadayane, para putra sing ngatas angin, pan rama ing uni, dhateng saenipun.

03

Kula tempuhaken lawan nalisip, bilih putra mangko, nuntenweleh geni boten moset, karanane punika kang geni, dede geni pranti, sampun kadhalangsu. ®

04

Heran kula ika geni, tan wonten sosolot, manther angger tan ana surude, kula dhugi wonten nyurupi, adhining asakti, kaduk mahinggurut. ®

05

Raja-raja sabrang aturnya aris, gih cobi kemawon, geni lawan toya musuhe, kang atos inggih dipun linggis, mangkana kang inggil, dipun sengget runtuh. ®

06

Ingkang letak dadi pujajagi, kang suker tinatas entong, lagi laut kang jro jembare, kenging ugi den silulupi, lan dipun langeni, kalawan parahu. ®

07

Punika malih wernine kang geni, gampile kang mangko, Prabu Ciyungwanara sahure, la inggih sakarsane sami, kahula kang nguning, dhateng saenipun. ®

08

Ya ta raja sabrang ting padhigdhing, reka-reka gatos, ting surakata ing sahakale kabeh, gawe pongpa kang anemburwarih, wane gobakwari, sisrate mancur.

09

Ana gawe banyu janantrawis, warna-warna katon, banyu pecut kang munjuk mancure, akal sabrang ing sabagi-bagi, ana gawe banjir, bumi metu banyu. ®

10

Sigegen ingkang sabagi-bagi, kocapan sang katong, ya sang prabu Ciyungwanara jatine, kawalahan anglaladeni, maring kang ngamambri, dhateng putrinipun. ®

11

Sya kathah kang para bupati, kang sadya patakon, kang anglamar tiban sampire, ruru bae wus anjaladri, pangumbuk-umbaking, rurubahing ratu. ®

12

Ing alun-alun wus dadi ukir, kang murut mrangmong-mong, ya sang Prabu dereng nampani karsane, dening ewuhe putraneki, lumuhe tan apti, ewu mana para ratu. ®

13

Kang wus sewaka kulina ngasi-asih, ing praja gung kono, ratu papat iku rurubahe, Palimanan kalawan Junti, Ujungtanah malih, lawan Kandhanghaur. ®

14

Sakapate anjum aminta kasih, lan putri ajodho, dhalem Palimanan wau sewakane, sayajenggi lawen manggi kardi, den panjer dumadi, buta geng asiyung. ®

15

Parandene ing putri den tampik, enggo apa thongsot, buta ngengenggo apa gawene, aneng kene anjejemberi, gewe ingkang tewi, lan gawe tahinipun. ®

16

Dalem Ujungtanah kang panggapti, maring putri kono, Sadhajenggi matur kasaktene, la den nemu gawe ika nuli, den panjer dumadi, musuh datan weruh. ®

17

Dasa rupa merat sampurna lalais, la ika duk pahor, ya prandene tan kanggep sawakane, dedenira jeng putri anampik, enggo apa sakti, kaya kuwi niku. ®

18

Merat-merat apadu menesi, esak-esak katon lawan katon, la saka sanake, ora papa mungguhing mami, sakti kaya bellis, anyiluman kidul. ®

19

Dalem Munti ingkang pangupami, dateng putri kono, kang walira katimaha gawene, la den karsa lulumbaning tasik, binuwang dumadi, buhaya tan untung. ®

20

Jajar-jajar kaya gethek ramping, atur karsa kang akon, parandene tan kanggep sewakane, ing putri den tampik malih, enggo apa sakti, bubuhayaniku. ®

21

Gigilani mungguh ingsun iki, ora rerengkono, endah rama malih prahuake, anganti kang buhaya jiji, ora sudi mami, ingkang kaya iku. ®

22

Dalem Kandhanghaur kang pangapti, rasukan kang poleng, kang ulese loreng lir kulite, wohing lir kulite, wohing rarawe lir wulu kucing, saktine den manggih, gawewan rinusak.

23

Nuli katon macan ageng wingit, nangkono den panor, parandene tan kanggep sewakane, dening putri tinampik malih, enggo maning, baju kaya ikut. ®

24

Dadi macan apa gunaneki, esak-esak ewong, nuli dadi dato sanepane, ina temen mungguhing mami, jalma nyarupaning, maun padha iku. ®

25

Ora layak temen mungguhing mami, sakti kang samono, ya ta atur-atur balik kabeh, datan ana kang kanggeping putri, Purbasari apik, nanging kersane sang Prabu. ®

26

Ciyungwanara mgadheg pangabekti, sanadyan tan kanggo, tan kaserep ing putri karsane, iya Endah Kitarawati, jingika kasaktin, bok menawa besuk. ®

27

Ana gunane ing sawuri-wuri, ngulatana ayo, dupi iki yawis teka dhewek, amung kita darma ngopeni, simpenen kepati, rang-urange gupuh. ®

28

Gemenana ing kawan prakawis, ing gedhong kilempong, gadha dalem pakuncen kang gedhe, pramilane Pakuwan darbe asakti, ingkang kawan warni, iya saking iku. ®

29

Saprakara Pajajaran bangkit, nyipta buta ijo, iya saking Palimanan asale, rong prakara ing Pakuwan bangkit, ora katon dening, pambereging musuh. ®

30

Kadi merad sapadhaning lalis, sada kang den enggo, den panjer dadi ing wiyange, Pangroban ya sakti saking, Ujungtanah pasthi, ning mongkara windhu. ®

31

Telung prakara Pakuwan bangkit, cipta buhayangon, saking Juntu tudu pinangkane, patang prakara ya bisa dari, macan cipta saking, dalem Kandhanghaur. ®

PUPUH VII
M E G A T R U H

01

Kawarnae ingkang padha sungguh-sungguh, sadaya pangngabakti, warnanen ika sang prabu, sabrang amateni geni, sareka budine entong.©

02

Banyu singsor sing dhuwur padha maribu, rebut dhingin den dhingini, duga kaya udan ribut amalabar ingkang banjir, sing lor sing kidul sing kulon. ©

03

Saking wetan campuhe wau kang banyu, prandene tanmigateni, geni manjer tanpa surud, urube angger tan gigis, gumuruh sorak bala wong. ©

04

Ladalah rekaning wong sabrang gathul, prandene pating padhig-dhig, angraba kena ing banyu, banyune cabar cawiri, ratu sabrang nyata wadon. ©

05

Ora pira budine pating dharug-dhug, tan bisa meteni geni, prandene kadhuk asanggup, sumagar ngarepi putri, iku dumehne wong wadhon. ©

06

Kaparimen yen wis geni ora purum, iku geni ngisin-isin, wong Pajajaran gumentur, surake kang para aji, raja sabrang kaliwat ing sor. ©

07

Saya santek geni tinuruwan banyu, kaduga pitung bengi, tan ana endhaning banyu, naging tan bisa mateni, maring genining manon. ©

08

Manonjaya pawestri jeng Listupaku, dangu-dangu ika warih, dadi wedang mulak metu, gawok para narpati, budi rekane wus pokok. ©

09

Kawirangan dadi sira padha ngandhu, prasami apikir-pikir, iya bener ing sang prabu, Ciyungwanara duk angling, ora yamane ya ewong. ©

10

Purbasari genine patut den iku, iya ana kang nyumurupi, gelare ya kaya iku, ora mati dening warih, la iki intening wadon. ©

11

Duk angandut nuli ana ingkang laju, kang anglosot anganjerki, niyat sami tur garumbyung, seja amateni geni, saha kala akalengkono. ©

12

Dalem iban Palimanan lanunipun, anyangking sadanya jenggi, dadi buta sada iku, prakasa raksasa gasik, munggah ing gunung den enggo. ©

13

Angurugi geni wus jumegur-jegur, nanging ora dadi mati, mundhak dadi urub-urub, lema dadi wangwa geni, muwuhi gedhene katon. ©

14

Ya muwuhi gedhene ing urubipun, buta ilang tan nguwali, atemah geni dhuwur, dhumadi ana gumanti, dalem junti denya norong. ©

15

Lan walira katimaha buhaya muncul kapethakan ngebyuki, padha anyunguri urub, wangwa ambles geni masih, buhaya musnah kalowos. ©

16

Gene pager ora nan sudanipun, jer si geni den surupi, dening rara panas nenggu, dewaji dhemit, Sunan Tambalayung Kolot. ©

17

Nuli ana gumantine kang lumaju, dalem Kandhanghaur sakti, macane kang di adhu, sigra angrehai geni, lelewane galak katon. ©

18

La yen nyenggreng ing geni adadi parum, ora kaya urip maning, yen den senggreng pesparum, ora suwe jebul maning, mangkana layan mangkono. ©

19

Mati urip mati urip urubipun, suwe-suwe urip jati, macan sirna geni murub, kalesan kangarah pati, ning geni lawan gumantos. ©

20

Dalem Ujungtanah anyangking sadha dipun den sabetaken tumuli, maring geni lawan parum, yen den sabet pes mati, tan suwe jebul kemawon. ©

21

Datan mendha mati maning jebul murub, kalesan kang mikarani, dening geni delap timbul, kawirangan para aji, dening welehing wigatos. ©

22

Wusing kadi mangkana welehing ratu, egare sang Purbasari, kadya kaduk wuwusipun, payu ayonana iki, putri Sundha kang wulangon. ©

23

Aja wonge genine panika punjul, singa-singa kang sakti, bisa mepes geni isun, pasthine sun aku laki, la iku sembaran ingon. ©

24

Iya iku kang dadi nereging laku, ratu salawe prasami, miyarsa sembara ratu, dadi padha minangkani, anglabuhi sembara wong. ©

25

Ratu salawe nagara la iya ku, satriya sanusantawis, padha karsa tegal lan ratu, saking awu-awu langit, Manggadapura agatos. ©

26

Mangka dipati Surawangga malihipun, para mantri lawan malih, gembong Pasuruwan agung, rujitmanlawe lan malih, malapati ing kadhaton. ©

27

Bongdaraji manggala sarebo jagung, sasra yuga dasa pati, bimakkendra gili uri, carat sewu sumarongbong. ©

28

Tobasruyungan sarayaksa kendha layu, pangulawat sampun sami, agunem-gunem anglabu, seja amateni geni, geni apetaka den go. ©

29

Kang den enggo sayembara atiku kuwung, geni adhune warih, gampang adat kang kalaku, sewanehe amangsuli, mangsa kilapa kang ngenggo. ©

30

Pati-pati den sembaraaken ikut, saking ora paranti, geni tan mati neng banyu, wawartose angabati, dening banyu datan kawon. ©

31

Pramilane cacak coba samya rawuh, alagelar dening yakti, kita padha dhulu-dhulu, tan kawagang ing ginisi, sinten kang bagja kemawon. ©

PUPUH VIII
DURMA

01

Ya tawiyang ratu salawe nagara, Mingsun dhahang ngayoni, ing geni sakala, apara ratu wira sakti, anyipta awan deres kagiri-giri.

02

Ilen-ilen banjir bena amalabar, dupi ika kang geni, amsih ngenak-enak, pon masih kaya saban, gawoke para narpati, ana kang cipta, topan kagiri-giri.

03

Tampek geni iku ora kara-kara, dhatan dhoyong samendhing, urube tan obah, kabenan dening topan, masih ngayeg ingkang geni, ana kang nyipta gelap namber ing geni.

04

Parandene geni tan kage tan obah, angger urubing geni, heran kang tuminggal, lan geni apa baya, guru gelap tan mateni, waneh kang yipta udan kalalar wedhi.

05

Angebyuki ing geni tan kara-kara, kaurungan ing wedhi, ora dadi apa, suraking bala Sundha, ningali ungguling api, para sang nata, kang sami hebat ningali.

06

Karsa waneh ana ratu nrajang lan pana, deni dipun panahi,lan sabalanira, padha angrobi pana, ya ora nana ngudhili, kang geni waluya, kaya saban duk lagi.

07

Ana ingkang maju sabalanira, geni dipun bedhili, sawancining sanjata, sadaya awurahan, prandene geni tan mati, sangsaya mundhak, gedhene ingkang geni.

08

Waneh ingkang para ratu lajune rampak sabalane ngebyuki, kalawan kabalang, watu kang sakalapa, kang sapendhil sakalenthing, dengo ambalang, maring urubin geni.

09

Ora nana bisa ingkang matenana, ing geni apa maning, raja-raja ingkang, sabalane arampak, sikep bandring-abandringi, agni sakala, pan angger tan mati.

10

Kang saweneh ana ratu kang narajang, geni dipun pendhangi, ya ora karasa, wus entong kang tanaga, waneh ingkang anyudhuki, maring dahana, ana ingkang numbaki.

11

Nonohogi wis sabagi-bagi tingkah, tan nana miyatani, geni masih lunta, urube kaya saban, surake wong Pakuaji, lawan nyata, para ratu tan sakti.

12

Datan ana gunane mipis dahana, prandakane kumaki, dipun wasa-wasa, panyanane la apa, den arani kaya geni, kang saban-saban, iki geni dhudhu geni.

13

Dewi Purbasari langkung bungah, ngrasa kagungan asri, pangameng-amengan, tur ta laya tuwana, saestu kang pasang giri, kocak kang jagad, putri Sundha asakti.

14

Pan sinegeg kang pasang giri punika, kocap ratu sadhasaring, Sanghyang talaga, yang tala kaherang, tedhak Prabu Galuh dhingin, wau kang nama, Sanghyang Bulusputih.

15

Kang ayoga Sanghyang Panggungkancane, adarbe siwi panendhi, iku kang anama, Sanghyang Maharaja, Lutungkasarung asakti, ana guneman, sajane angaoni.

16

Genem kalih sodara wedhi kang nana, Sanghyang Ngacihiki, awit putraning Sanghyang, Talagamanggung nama, adarbe siwi pandendhi, ingkang anama, Hyang Jakahawa sakti.

17

Sanghyang Talagamanggung duk pangandika, aputra-putra mami, den sira sumeja, Lutungkasarung sira, tangtu sira amakolih, ajodho lawan, maraja Purbasari.

18

Seblakana iku geni tangtu pejah, lawan sasabet iki, si jajaka tawa, iku kang pindah-pindhah, tan kena gagabah, denora acining warih.

19

Banyu pitung windu gawanen nyeblak, kang geni pasang giri, bareng uculena, dhiwone padha mesat, camethi kalawan geni, weruha sira, kang nuksma aneng geni.

20

Iku putra Sunan Tambalayun ika, iku kang anami, Putri Rara Panas, ya Indhang Telubraja, mengko den kaseblak pasthi, mesat aniba, ing Banten prananeki.

21

Saendenge intri alumuha krama, panas bawane benjing, kang singa kadhokan, tan kuwat ing sangsara, besuk mari-mari mandi, den wis kapendhak, lan Jakatawa benjing.

22

Pecut iku tibane ing bumi Selan, besuk tinemu wuri, si Jakatawa, jodho lan Rara Panas, besuk aneng guwa jati, gene panggiya, praciptanen den jati.

23

Pan wus tutug kang pangandika samana, enggalira tumuli, Jakatawa dadya, golethak sampun rupa, cemethi sihaciwara, kena ing sabda, ingkang sayoga mandhi.

24

Layan Lutungkasarung pamit anembah, sarta nyangking cemethi, dinulur ing karsa, dhateng ing Pajajaran, nembah matur ing sang aji, yenara numpak, sayembara raja putri.

25

Prabu Ciyungwanara ngandika liya, kamanyangan den yakti, munggapa kang salah, ing seja sudi malar, kaputren Sundha negari, ambabarena, si bapa kang ningali.

26

Yata oreg kalabandhu Pajajaran, seja nonongton mangkin, ing sagelar ira, kang ngarama rawasa, nyata geni den cemethi, geblas asirna, bareng lawan cemethi.

27

Bareng mesat cemethi lawan dahana, suraking Pakuaji, den ini satriya, olih gawe gadhang dadi, majikan kita, pan ora pindho gaweni.

28

La ya iki nyata tegese wong lanang, ladining sajati, nyata tedhaking nata, wani ing Sundha negari, tangtune ika, mangsa liyana maning.

PUPUH IX
LADRANG

01

Kawarnaa jeng suputri Purbasari, pareng mulat, ing geni mepes wus lalis, dadi mujungbaheng pagulingan.

02

Ya sang Prabu Ciyungwanara sedhep manggihi, maring ika, Lutungkasarung den angling, ya ki mantu ingkang murba sigar wetan.

03

Menak pra kuwu kapurba sira, kang ngimponi, iku cacangkoking putri, pra watesan bangbayang purbaning anak.

04

Sakarepa angolahi ngadeg narpati arimbitan, ki mantu kalawan rabi, Purbasari la iku ing jodhonira.

05

Lutungkasarung ing sembah ira kapundhi, si jeng rama, pati rang-urange gasik, byantarakaken dhateng ing kawula wadya.

06

Apa kaya adating ngadeg narpati, maha raja, Lutungkasarung muponi, sigar wetan Pajajaran ingkang murba.

07

Menak pra kuwu dupi ingkang ngapti aji, dupi menak, prayangan masih nyungkemi, maring sang prabu sepuh Ciyungwanara.

08

Sang maraja Lutungkasarung winarni, genya ripta, pan nagara anyar dadi, arah wetan pan katelah Pajajaran.

09

Karajaan gumelar punapa kadi, ya para raja, lan jalma ing Pakuaji, wus ora nana paja-pajaning manusa.

10

Ya wus apa dudune mara jabali gene raja, ing Kiskendha duk ing dhingin, ya amangku garwa widadari pelag.

11

Mung siwane Lutungkasarung saiki agagarwa, dereng patut sarasmine, durung becik durung sajejeging akrama.

12

Nanging iku wus sangkep kang bini aji, miwah ingkang, garwa kalingking kang nami, matur dewi marapag selir akatha.

13

Kawandasa sisihing selir kang selir aji, amung iku, prameswari Purbasari, masih elik durung sakastaning krama.

14

Dhudhukune singdhi ora kang nambani ora nana, tatambah kang miyatani, ajar cantrik nusa Jawa pan kalesan.

15

Kalesane ora sanggup anambani prameswara, Purbasari denya elik, maha raja Lutungkasarung asabar.

16

Sabab kapuhung pyambege madeg aji lantarane, saking Dewi Purbasari, ratna iyang jongratna sapa kang gawa.

17

Tan na liyan Lutuingkasarung prayogi putraningkang, panggung kancana asakti, lami-lami sang raja amanggih warta.

18

Ya sang raja Lutung kasarung miyarsa wartyi, pulo lingga, yen ana brahmana sakti, ingkang ana ing lingga ing kasabrangan.

19

Kaya-kaya ika bisa anambani prameswari, namaning brahmana kuwi, kaki brahmana Maniklingga Buwana.

20

Ya ta Prabu Lutungkasarung nimbali patih ira, patih rang-urange pinrih, kang pinutus nabrang maring sang pandhita.

21

Den sawawi ature ajar maniklingga wayang, rawuh aneng Sundha puri, kang sun ajap sun gondhela ingkang usada.

22

Badan tampi rang-urange timbalaning karsa nata, dadya sejanira gasik, sarta Panglima kakalih ingkang binakta.

23

Lalawaran ya iku panglima nami, Ki Lagondhang, kalawan Ki Gumariming, sarta dipun binaktan adhi rurubah.

24

Kang babasan panglalandhep lawan wajani sabaita, isi gula aren jawi, sabaita isi empon-empon jawa.

25

Saparahu isi pucung lan kamiri, boleh Sundha, sapara umaning isi, minyak jarak kalawan minyak kalapa.

26

Minyak kacang miwah saparahune maning kang sasoca, sela weweton sing jawi, lan lelemes sewetweton buwat Sundha.

27

Sigra layar ki patih dhateng jaladri sartanira, parahu pitu lumiring, lalawaran wus teka ing pulo Lingga.

28

Pan wusmedhek ing ngarsane bramana luwih aba saja, den kaputus ing sang aji, ngaturaken pasihan dalem Pakuwan.

29

Pitung prahu kang kaisi warna-warni, gegel nata, dhateng madhigda ing mriki, inggih tuan yen katuran.

30

Angrawuhi dhumateng Sundha negari inggih ara, woten kersane sang aji, ki brahmana Linggabuwana anabda.

31

Sarta gumujeng asuka rena kang ati aturena, puji pangesthi kang jati, ing prakara gegele Sri Pajajaran.

32

Iya ika luwih nuhun nanging kangsi iku barang, pitung prahu gawanen balik, aturena maning ing Sri ing Pakuwan.

33

Aja sumlang ing karsane sri bupati, mapan ingwang, pan wis karsa aji, isun medhek ing Pakuwan.

34

Aja lawan den ruruba iku maning isun seja, tulung usada kang jati, patih rang-urange wus age balika.

35

Patih rang-urange ature ariris bok punapa, sareng ngalempa pribadi, tumindake jengmadigda lan kawula.

36

Ki brahmana sabdane patih ya patih aja kurang, pracaya kang maring mami, data ana kang bramana iku bobad.

PUPUH X
PUCUNG

01

Ya sang patih rang-urange sigra wangsul sabaitanira, sampun abalik sakabeh, lalayaran dumugi ing Pajajaran.

02

Pan wus katur ing ratu Lutungkasarung, karsane madigda, sejanipun medhek dhewek, pun bramana sampun ngartos dhateng karsa.

03

Ya sang raja aris ing pamuwusipun, den estu pramana, tangtu mangsa bobat gedhe, lawan mangsa suwe laku den lalampah.

04

Tangtu jagad pandelenge mung sagandhu, lan mangsa gelema, ing rurubaku prantine, miskin tan ngulati sugiye tan rarawat.

05

Wis becike anti ratuhipun, nanging lamon bobad, padha kita lurugane, kita tumpes ya ika sang bramana lingga.

06

Ya ta lawas bramana pan durung iku rawuhira, ngenten tanpa anten-anten, malah prabu Lutungkasarung wus gawa.

07

Putra saking ikut ika den pilungguh, lanang nama ira, ingkang sarta lulungguhe, Raden Rangga lanwan Mantri Kethebasa.

08

Linggihan ing Bnaten angarta dhatu, terang layan karsa, dipun prabu sepuh mangke, Raden putra inggih ing Bantana warsa.

09

Dupi putra saking bini ajinipun, lanang pinangaran, Raden Mantri Ranggalawe, Jayakarta alinggih ing rat Jakerta.

10

Pon kalawan lilane sang prabu sepuh, sampun gelar tata, karajaan kaprabone, kang angrengga iku saking Pajajaran.

11

Dupi putra saking maha dewinipun, lanang karya parab, Sanghyang Resi Luwiluwe, kang amangku indhahan nang Ujungkulan.

12

Dupi putra ingkang saking dewi matur, lanang kang namane, Sanghyang Sancakrit namane, kang amengku indhahan nang Ujungkaras.

13

Ingkarsane snang prabu Lutungkasarung, aneng Pajajaran, dipun rangkepa patiye, patih jero patih Burbutjalang.

14

Rang-urange kang dadi papatihipun, arja aneng jaba, roro tumenggung anyare, kang anama ki Tumenggung Sanggrarungan.

15

Ki Tumenggung Selangkuyit naminipun, lan roro kang anyar, kademangan ing namane, DemangGogok lempog kalawan kang nama.

16

Demang Bangkong sendhong andeling pamuk, gumelara kata, jirnapura pulung beler, pan samono lawase kang prameswara.

17

Durung becik kelawan Lutungkasarung, nuli tan antara, bramana Lingga rawuhe, maring Sundha wis den mulya-mulya ika.

18

Atur makca pangandikane sang prabu, he paman bramana, manira nedha tulunge, ya kongsiya adhepe nama sang rara.

19

Gone elik wis windon takeran tahun, kaduga manira, barangahan anakake, saking rabi liyan kang metoni anak.

20

Dupi rabi babaku durung sapundhul, iku bebeg ingwang, paman bramana tulunge, idhepena iku paman garwaningwang.

21

Pira bae ing mangko wajaninipun, seja sun pilala, ya duk jurung saragane, sang bramana gumujeng atur sandika.

22

Sampun sumlang bapa prakawis puniku, prakawising garwa, dalem tangtu mangke sae, lan sang prabu nanginging punika sang rara.

23

Mangke sae sacombana lan sang prabu, pun paman tumuta, uninga dhateng raose, tan asusah wajani punapa-punapa.

24

Aleng pundi tan awor sandeng saumur, gagarwa carapa, binandhing combana mangke, uning raose pun paman ginawa kawan.

25

Maharaja Lutungkasarung abendu, tegane ta sira, bramana cora nalosor, dan sang prabu ngunus dhuhung pan tumandhang.

26

Sigra nudhuk bramana ajaja terus, dhumateng walikat, nuntak ludira maleber, pan tinarik kang dhuhung bramana pejah.

27

Ingkang layong angucap tegane ratu, sun dhaku mendrassa, ana wong jaluk nrasane, kang pakenak teka sinung rasa lara.

28

Nyata kumed maraja Lutungkasarung, ya mangsa luntaha, dadi ratu Sundha kene, sabab dening kumet arep bapa garap.

29

Yata prabuLutungkasarung mituhu, sabdane babathang, dadi gumaregeten sewot, kakeyan bacot si bramana camera.

30

Iku padha obomgen babathang iku, sirnaken pisan, ambri aja ababacot, ya tumangen cone dadi awu pisan.

31

Ki patih Brubutjalang tanpa wuruk, narik kang babathang, maring jaba adhan rame, bandhu kula warga agawe tumangan.

32

Tan adangu ingkang geni amurub, kurnapa bramana, wue sirna purna den obong, ora kaya aluse bramana Lingga.

33

Manjing garba garwane Lutungkasarung, sumerep sumanira, sabadhan sedya wa-awor, Lutungkasarung dumadya raga asiyan.

34

Dewi Purbasari sira andulu, maring maha raja, Lutungkasarung warnane, dadi mundhak bagus katone gumawang.

35

Ya sang putri Purbasari remen kalangkung, kena ing asmara, dadi kakatonen bae, maring kakung tan kena pisah sadhela.

36

Praciptane gawok temen atinisun, saiki kena ngapa, guranggame sapatemon, teka sejen pisan lagi mula-mula.

37

Poning mau ewo bae atinisun, luwih sengit pisan, ajaja rep sapatemon, ngrungu bae abane ing ati ewa.

38

Jember bae rupane deleng iku, ing ati mengkarang, mengkorog saking jijithok, dupi iki teka ati kangen semang.

PUPUH XI
KINANTHI

01

Warnanen Lutungkasarung, ningali kang prameswari, teka kapareng kang garwa, mesem manis awe sira, sang raja sigra trangginas, angrungrum ing prameswari.

02

Kang garwa lumados sampun, tumulus adhicombani, tutuging asisiyan, kaya pa adating krami, carema la pitung dina, kaduk sang prameswari.

03

Wus bobot ing wancinipun, kalangkung ing lelesneki, bersih kuning gilang-gilang, Lutungkasarung langkung asih, dhumateng kang prameswara, Purbasari kang pinundhi.

04

Kinundang putra ajalu, sumulura maring mami, dhateng karajaan ingwang, duga nyidham sanga sai, binakta amadhang wulan.

05

Sang prabu Lutungkasarung, angaras-aras kang rayi, kalangkung den kumadana, ing marma tur eman arsi, wau amiyarsa swara, ing sajroning wetengneki.

06

Mangkana pamuwusipun, asang prabu ta sireki, saiki dumama eman, ing isun kalimat lewih, nanging besuk yen wis medal, ingsun males ing sireki.

07

Sira iku aja tambuh, iya sun bra … luwih, kang sira dhingin prajaya, mulane engatna benjing, anak-anak maring ingwang, aja tungkul eman nesip.

08

Pareng semana sang prabu, myarsa swaraaruntik, tan eca guling adhahar, yen kengetan ingkang wngsit, emar lesu les-elesan, kalangkung ing ruhing galih.

09

Malah sedheng babar sampun miyos lanang kang prayayi, la bagus suwarnanira, cayane gumilang bening, tan antara dangunira, kang rama anyandhak aglis.

10

Dhateng jabang bayinipun, dinulang upan mandi, iku jabang ora pejah, tanpa kara-kara nuli, enggal ngunus pedhangira, sinumbele kang prayayi.

11

Prandene tan pasha iku, Purbasari aningali, kang putra dipun prajaya, anjerit lumajeng agasik, karsa ingayun ing rama, prabu Ciyungwanara aji.

12

Umatur ing ramanipun, Lutungkasarung alali, punika mejani putra, nembe siji dipejahi, sang prabu Ciyungwanara, miyarsa aturing siwi.

13

Lumajeng malah ambendhung, maring mantu ingkang lali, sigegen ana ing marga, kocap kang mrajaya siwi, kang putra den wasa-wasa, pon tan kena ing pati.

14

Dadya winadhahan sampun, pethi winuwang tumuli, kali cilutung ya nyata, wis kabekta dhateng warih, ageng santer ilinira, wus sirna kagawa warih.

15

Sareng wis binuwang sampun, arawuh kang rama neki, kalih garwa takon jabang, matur kula birat kali, ing lepen cilutung sirna, sampun kabekta ing warih.

16

Yata prameswari wau, Purbasari nibang siti, kasirep lelohing putra, prabu sepuh ngendika ris, embaning turun ingwang, pon isun binuwang dhingin.

17

Kali iku ing ramanipun, prabu Galuh duk ing dhingin, prandekane iya welas, papasthene jabang bayi, kudu anurut ing eyang, kang gaib luwih ningali.

18

Kawarnaa sira sang ayu, Purbasari sawunguning, sajrone wau kantaka, ana ingkang swara jati, Purbasari aja sira, melang maring anak siji,

19

Kang bunuwang iya iku, si jabang mangsa amati, tangto kena ika dhelap, besuk bias muter nagri, anyuluri bapanira, den pracaya kang murbeng bumi.

20

Sang cinta tan cidra iku, besuk titenana mangkin, sang putrid dadak sakala, dewi Purbasari lilir, egar suka manahira, sampun ngunjung kang ayugi.

21

Angunjung kaliyan kakung, kang mratuwa den unjungi, ing manah wus palipurna, prabu sepuh ngandika ris, he mantu wruha sira, awake kang gadhang niladi.

22

Rama Galuh dun rumuhun, den idhep ing pameradning, karana sabebet kita, ora aliyan panukmaning, alalise iya merad, Lutungkasarung aturnya ris.

23

Sih jati waraha nuhun, pameradan pocapaning, sawadose kula ngalap, ing rama prapona benjing, yen dugi ing ajal kula, boten susah angilari.

24

Angadika prabu sepuh, ki mantu la tampeni, pungpung saiki purnama, kang aji pamerdaning, sabebet kula Santana, ing Galuh ora na liyan maning.

25

Yata prabu Lutungkasarung, enggal sira anampani, mratuwane kang ambabar, ing ilmu pameradaning, ya sang prabu Ciyungwanara, kandikane sira nini.

26

Purbasari nyingkira babu, manjinga ing dalem puri, sebab sira ora pacak, panukmanira lan laki, enggal Purbasari memba, maring dalem Kenya puri.

27

Wus tanpa Lutungkasarung, jati wisik ingkang yugi, ungelling ingkang piwara,onya ing sukma lewi, sukma rasa sukma larang, gumawang tanpa cantelaning.

28

Kadhaton tanpa gon iku, gumilang sarira mami, lenyep ilang dat pes ilang, angles-les angluwar ragi, oranana ing rat jagat, sakabeh-kabeh tan kari.

PUPUH XII
P U C U N G

01

Prabu Lutungkasarung wus tampi wuruk, aji pamedaran, purwa saking mratuwane, awor daging awor getih sumarira.

02

Pan sinegeg caritane yan sang prabu, kawarna ajabar, kang dhingin binuwang mangke, wus rumanjing kayangan kipethes peras.

03

Tukang pethes peres ingkang luluhur, buhaya bangawan ika, sang jabang wus panggih mangke, den openi dening ki Pethesperas.

04

Dipun aken anak jabang bayi ikut, duk umur sawulan, bias rarasan basane, ngerti dening basane, ngerti dening basane wong pathes desa.

05

Jabang bayi kangucap abeluk-beluk, bapa y ailing wang, bapa aranan reki, ingga iyang bapak ikut namaning wang.

06

Kaki Pathes peres nembe tumon rungu, bocah cilik bias, kaya wong tuwa basane, pan tembene mung ta iki anake sapa.

07

Patut iku ana kadadiyanipun, besuk mengku bala, kasungsun arane angger, inggih iyang iku nama wis prayoga.

08

Pan katelah ing desa pethis puniku, anak pupone ki tukang, esaktemening namane, wis koncara inga iyang ingkang nama.

09

Cilik-cilik bias rerasan satuhu, bocah patut kasurupan, dudu bocah salumrahe, patut ikut tuturunan ing kusuma.

10

Ya putute yen selamet urip tuwu, tungtu besuk ika, dadi raja suntangguhe, yakti ika tengeraning andana wirya.

11

Lawas-lawas pareng umur tigang tahun, Lingga hiyang ika, lalayaran pangameng-amenge, paparahon buhaya putih tinungganga.

12

Wong kang paca ningali gawok andalu, mung tai ka apa, bocah apa setan kene, udan angina mudhik milir nunggang buhaya.

13

Nurut bae buhaya sakarsanipun, den parani ika, dening wong nuli gacike, silem ilang yen wis sadina rong dina.

14

Iya nuli ana maning nyata timbul, umreg wong Pakuwon, katular-tular wartane, katur maring sri bupati Pajajaran.

15

Engandika sang prabu Lutungkasarung, warta anak setan, buhaya putih tunggangane, wong ningali padha wedhi sadaya.

16

Ya gustine pareng nabda semana iku, dadi sirep kang warta, wedi bok den salah artos, sisikune ratu ratu mandi salah dadya.

17

kawarnaan ki empu kang namanipun, ki Calancang nama, kaliya ing comas pandhe, lagya ngalenthung miminggira nang walahar.

18

Maring kali Cilutung kapanggih wau, lare ingga iyang, lagi eca paparahon, pan sinawanganing ki empu calangcang.

19

Sira bocah cilik saking endi kacung, neng bengawan priyangga, sapa sira kang ayuga, Lingga iyang mangsuli kula punika.

20

Kula lare tanpa bapa tanpa ibu, lola dhiri kula, kasur bumi mega kemule, kali bangawan kang nusoni dhateng kula.

21

Pun buhaya kanga sung tedha puniku, inggih wasta kula, Lingga iyang ing namine, ki Kalipa andaringeng manah ira.

22

Nembah tumon lare nabda kaya iku, bangkit yen rarasan, patitis ing wicarane, nyata iki tereheng andanawriya.

23

Empun nabda sira sunimponi kacung, padha maring omah ingwang, sun aku anak temene, Linggahiyang teka dumulur ing karsa.

24

Ki Calangcang ngiring wus dumading aku, prapta wismanira, nyi Calangcang girap gawok, dika iki olih saking ngendi bocah.

25

Lawan iku sapa ingkang duwe sunu, winangsulan enggal, manggih pinggir kali gedhe, datan weruh embok bapaneku bocah.

26

Sun takoni wangsulane iya iku, tan duwe bok bapa, kasur bumi mega kemule, welas ati sun ajak mulih maringwang.

27

Nyi Calangcang nabda bok den salah tanggu, dika nemu bocah, den tututi wekasane, dika dadi den tareka nyolong anak.

28

Toli dika ing sang aji ya di ukum, Linggaiyang nabda, dipun pracaya si embok, inggih kula kang tango bala witanya.

29

Banggi bapa kikukum dening sang prabu, kula purun nalang, abentak lawan sang katong, dhasar enggih musuh kahula ing kuna.

30

Ki Calangcang Nyi Calangcang getun-getun, ana bocah bias, rarasan ingkang samono, patut ini dudu bocah samaneya.

31

Iku bocah ana kada dene besuk, Linggaiyang ika, ngaku bapa ngaku embok, maring empu Kalipa langkung minulya.

PUPUH XIII
DHANDHANGGULA

01

Nyi Calangcang sajege angimponi, Linggaiyang ora kakurangan, dumadi kasugiyane, karana lare iku, angrewangi agawe wesi, watu ingkang kinarya, wesi wus brapikul, agaweyan kang tahuna, pan sinambut palastha sadina becik, saktine sang Linggahiyang.

02

Lawas-lawas kirane andugi, Linggaiyang umur rolas warsa, iku teka reremane, angalasan awangun, omah wesi aneng wanadri, aran wana Cikandhang, jar ai wesi nurut, wesi lir lempung kewala, omah wesi nem dina sampun waradin, kukuh kikib agarba.

03

Ki Calangcang Nyi Calangcang angling, mung ta sira kacung gawe omah, wesi ing ngalas genahe, la dingo apa iku, aja patiya sugih wani, embok sisikuning raja, yen iku karungu, dadi apa awak ira, ya si bapa si embok tan wurung dadi, milu kara baraba.

04

Linggahiyang wangsulane aris, bapak embok sampun tan pracaya, dhateng kula ingkal awon, digjabenduning ratu, gisik bapa sampun uning, pun embok tingalana, jogede kang sunu, ingkang aran Linggaiyang, wani mati kendel wani ambelani, angrebut bapa biyang.

05

ora lawas la ika tumuli, Linggaiyang wangun rante tosan, kang adi warna lekere, lemes kadya tatangsul, lan kena dienggoa bebenting, nanging yen digelar dadya, bale rante bagus, nanging lamon lininggiyan, iku bale ora karuwan maning, ya iku dhadhak sakala.

06

Dadi rante anjiret kang linggih, akeh jalma padha kagawokan, kasuhur ing kasaktene, Linggaiyang apunjul, ki Calangcang ta ingucap aris, kacung iku dingo apa gawe bale iku, ya kene ginegem ginelar, dingo apa teka sun maras kang ati, ya wedi maring nata.

07

Ya sang prabu Lutungkasarung linuwih, sapa wruha bok kadengangan, tur ta ora sanyatane, sira katiti luput, tanpa bayanya lampahi, ing siasating nata, tiwas temahipun, jar kasndhung ing arata, yaw is aja ilok gawe tanpa tut dadi, riringganing nagara.

08

Linggaiyang matur boten sanggi, kadengangan ingkang kula ajap, kula ngilari lalangen, ya ra pon dipun siku, marga anglanggar narpati, dhasare ratu Sundha, nunggang tawa musuh, mrajaya bramana Lingga, wong tan dosa mamateni den pateni, ika sang ratu apa.

09

Pan sakedhap ki Calangcang ngarti, nititeni apa iki bocah, anaking bramana reko, dening si namanipun, Linmggaiyang patute iki, seja males puliya, mring bapane mau, buktine kakecap menga, ing basane arep males ing sang aji, sung sengge iya nyataa.

10

Ora suwe Linggaiyang mijil, sarta nggegem arante mandira, mring alun-alun puruge, munggah ing lemah dhuwur, para mantra datan upaksi, Linggaiyang wus ngangkat, anabuh adhenggung, pusakaning Pajajaran, datan kena tinabuh puniki, yen tan pejah nalendra.

11

waktu iku tinabuh den titir, geger samya bala Pajajaran, nyana sang ratu sumered, umreging bala agung, atandha sing enda-endi, pra mantra acingak, waspaos andulu, katingal sanyata bocah, surak ing wong iki bocah saking endi, nakal si gila basa.

12

Iya sira ngajaraken nangkis, ya rinujak ing wong Pajajaran, kadeleng apa si monyet, pan ratu agung ing Paku, alun-alun jembar tur radin, andher ingkang aseba, pancaniti penuh, mung ta sira deleng apa, sudi wani angunggahi siti inggil, bedhul sapa kang mrentah.

13

Nitir ganjur pusakaning aji, kaya cumra si tembe wara, Linggaiyang wangsulane, sira kang selang gumun, ora idhep ing karta jani, pati-pati manira wani-wani ngaku, ya saking waris manira, matanira baloloken mataning pring, mada dudu ponggawa.

14

Wong Pajajaran surake la iki, wis karuwan bocah iki ala, budine lawan anggkohe, sanyata kethek beruk, sumantana si tai anjing, ngaku waris nalendra, bubuyute ajur, sawaneh ingkang angucap, aje kakeyan tutur rujak gendhen gelis, mung ta anganti apa.

15

Pajajaran kang bala ngebyuki, gagamane wus padha malesat, pada arontok sakabehe, dadi padha sap maju, nyandhak bocah tan kena kenging, lir nyekel wawadhangan, ibur lir pinusus, akeh kang para ponggawa, kang malesat dening padha densepaki, dening sang Linggaiyang.

16

Saya dangu saya angranohi, ki patih rang-urange kapental, kapental ora menange, sawaneh para sepuh, ingkang padha awangun piker, kaprimen den wis tanggal, iya bocah iku, demene iku bocah, ya kaprimen den wis metu budine ngancil, angluwihi nagara.

17

La yen isun iki sun pikiri, bok iku susupaning bramana, kang dhingin denkaropoke, la iki timbulipun, ora kena saloro ngarti, bokmanawane kuhana, dudu musuh iku, puharane dadi majikan, ya batur dhengawas aja saloro ngarti, den titening talata.

PUPUH XIV
PANGKUR

01

Dupi sang nata miyarsa, geger gumuruh kang anan Jawi, sang prabu Lutungkasarung, sigra amiyos enggal, angliga dhuhung Linggaiyang den suduk, sapisan madhuwa raga, dadi roro den pindhoni.

02

Sinuduk pan dadi papat, pining telu dadi wolu sayakti, pining pat panyudukipun, dadi bocah nembelas, pa wus dadi akeh enggal ngarubut, sang prabu ngebyuki padha, tan bias polah kawingkis.

03

Rinejeng tanpa wisesa, lininggihaken ing rante wesi, Lutungkasarung wus lungguh, ing rante tanpa sesa, aneng bale rinengku ya pinikul, dening lare kanembelas, den babayang den suraki.

04

Basane lare akathah, ya sang prabu Lutungkasarung lali, buang jabang aneng banyu, ing kali cibayabang, prabu Lutungkasarung wansulanipun, iya isun eling pisan, telu kena ing saiki.

05

Iku ing sakarep ira, pan si bapa uwis seja sumingkir, sulurana lungguh isun, yata lare pra samya, surak-surak ing sapanjanging dalam gung, anggotong kang babaleyan, braise kalaras aking.

06

Para ponggawa Pakuwan, gumurudug iku padha tut wingking, sapuruge gustinipun, den bakta maring alas, ing Cikundhang goning omah wesi mau, Lutungkasarung pinarna, wonten ing pagriyan wesi.

07

Wus pinutup tanpa sesa, kedya wong den panjara tan bias mijil, lare nembelas surak kasruh, la ya kita jaya, Prabu Lutungkasarung yata aja tambuh, ya iki pamales ira, bramana Lingga duk wingis.

08

Yata mantra Pajajaran, andaringen ningali pohal-pahil, ing bocah nembelas iku, dening bapa ing laksana, hadan Prabu Lutungkasarung amuwus, he wong Pajajaran sira, den idhep angaku gusti.

09

Ing bocah iku kang nyata, anak isun sing rayi Purbasari, prayoga gaganti isun, dupi manira pejah, mulih maring ajala kasuciyan isun, agadhaton tanpa genah, lawan patinisun benjing.

10

Ana ing dina wekasan, wusing nabda samana adanuli, sang prabu Lutungkasarung, mereh kadya wanara, amengkorog sarta mealakken buntut, mesate ing jomantara, musna ilang tan ing ngaksi.

11

Bale rante bus malesat, tiba bumi mila den arani, Balerante iya iku, wuryataning akuna, wus mangkana lare nembelas pun wau, wus polih dadi sajuga, kadi duk wau tumuli.

12

Kulawarga Pajajaran, padha ngiyung ing Linggaiyang ngapti, samatuke saking ngriku, karsa medhek ingkang eyang, ya sang prabu Ciyungwanara puniku, Purbasari wus ing kana, ing ayunan rama aji.

13

Wus kempal amatepungun, prabu sepuh Ciyungwanara angling, la ta bener ujar isun, sing bangdiwenka apa, Lutungkasarung anuruni rama Galuh, merade saking panjara, anake kang mikarani.

14

Purbasari lan momonga, anakira Linggaiyang iki, kang dhingin dibuwang ngebur, ingbangawan ya ika, saikine sabetahan ya tinemu, katemu maning denira, den becik sira ngopeni.

15

Maring iku anak ira, istrinana dumadiya susuluring, bapane ingkang wus lampus, ya tai ka kang liningan, sami atur sembah sadaya sumuhun, sinauran dening jagad, geter pater ketug muni.

16

Samantuke saking kana, Linggaiyang binakta mantuk dening, Dewi Purbasari agung, wus prapta pura Pakuwan, ing istrenan sampun sira ngadeg ratu, jeneng prabu Linggaiyang, amurba Sundha negari.

17

Ratu anyar Pajajaran, Linggaiyang Sinarojang Bupati, bandhu warga kawula iku, papatihe winastan, Kyai Patih sempokwaja parab ipun, katumenggung Jatipamor sakti.

18

Lan Ki Demang Dhungkabadhag. Ki Ngabehi Kolotbuntut asakti, wong sanak singraja Galuh, lan Ki Dalem Tegaljamang, Sindhangkasih nama dalem Somaluhur, ajujuluk Somahita, sanak medhoke sang aji.

19

Ya sang Prabu linggaiyang, kacarita ora jengjem mengku rabi, sing awadon kang karungrum, ya babar pisan pejah, katarajang Dakar waja landhepipun, kaya keris landhep pisan, amedal pamore mandi.

20

Dadya pirang-pirang garwa, akathah selir kawangking angemasi, kang den wangking angemasi, kang den wangking ingalulut, padha babar pisan pejah, pan sakehing istri sisiriha maju, wedi yen den rabenana, wados ginawa sarasmi.

21

Kapokoh pinaksa-paksa, parandene yen kacebak nuli mati, pramila ika sang prabu, Linggaiyang dumadya. La yen santek esir nora pilih lawuh, kidang manjangan den jamah, mulane nuli nedhaki.

22

Kidang manjangan kang nyangga, ora mati kaduga ana titis, kang tumurunita besuk, kang katelah sesebatan, kang prayayi kang turun kidang pananjung, saking kono ruru ira, taliti turunan aji.

23

Selir kidang lan majangan, besuk ana katela ingkang nami, prayayi kang katurun, ana ingkang kasebat, gih manjangan gumarang sing naminipun, taliti purba wisesa, waris Yang Sundha negari.

PUPUH XV
S I N O M

01

Iya iku kang dumadya tan sakeca ing sang dewi, Purbasari tumon putra, datan jamak lawan jalmi, dadya tandha rabi, Linggaiyang jalma wudhu, tan ana musuhira, ing anguling ing sarasmi, acombana istrine nuli apejah.

02

Mangkana lawan mangkana, nuli ana jati wisik, kang eyang Ciyungwanara, angandika ingkang siwi, pitutur kang sajati, kandikane isun rungu, ki bramana tali atma, ing pulo gunung surandhil, iku duwe anak wadon kang anama.

03

Namane ingkang sinebat, ika Dewi Brajawati, patut den ika dadiya, rabine si Lingga aji, karana Brajawati, bagane wesi atutup, mung ana wara gatra, kasulur tan ana bangkit, marawani saking atose kang baga.

04

Duginipun ora liyan, among Linggaiyang sayakti, sacombana lawan ika, jar padha wesineki, kawagang ing sarasmi, coba ta sungsungen iku, robbana lan panglamar, la iku gawanen rabi, katalihatma mokal tan pasrah.

05

Ya ta prabu Pajajaran, Linggaiyang sampun niti, duta maring kasabrangan, ing pulo gunung surandhil, ponggawa kang den titi, Patih Sempokwaja wau, kalawan katumenggungan, Jatipamor apa maning, ki demang Wukubadhak ingkang sami layer.

06

Ingkang sami kesah ika, Ki Ngabehi Kolotbuntit, sarma bakta palwa sapta, kang isi panglamar aji, ruruba saking Jawi, barang saking Sundha katur, maring bramana ana ing gunung surandhil, tan kawarna layare aneng sagara.

07

Kocapa sadhatengira, ing pulo gunung Surandhil, dhuta raja ing Pakuwan, pinanggih bramana aji, sarta ngesrahken adi, sedhah panglamaring ratu, sang prabu Linggaiyang, karsane aminta krami, Dewi Brajawati kang dinuking karsa.

08

Lamarane wus katampan, denira bramana luwih, ing mana suka arena, sinuba ing Linggi, ingkang pra menak prapti, sukane ingkang nanamu, ki bramana taliatma, kali ira ingkang siwi, Danyang Brajangkawat, wus ana ngayunan.

09

Bramana aris wacana, katur ing sakarsa aji, nayangger Pajajaran, mangke karya angimponi, pecile tiyang dherwis, meng sampun kirang pamuhung, lare istri badhigal, derenguning tata Jawi, nata sundha nayangger mung gamulunga.

10

Lan malih mangke sakedhap, angantos kadange malih, jaler Dangyang Talibarat, jaler Dangyang Parwatali, sebab ika sakalih, ngumbara ing karsanipun, anglalana ing tawan, tan mudhun-mudhun ing siti, den saingga wonten damel kula petak.

11

Den sampun kula petak, tangtu punika sakalih, sami tedhak ing ngawiyat, ya ta bramana tali, sigra petak tumuli, sakalih nulya tumurun, ingkang nama talibarata, lan kang nama Prawatali, sakarone wus, minggah ngayunan rama.

12

Sukaliye pinuturan, adhinira Brajawati, ana kang sudi santosa, Prabu Linggaiyang mangkin, Pajajaran maringi sedhah panglamar amundhut, sukane adhinira, putra sakalih ngastuti, ya subagja adhi sinarwehing nata.

13

Malak mandar darbe tedhak, amangku sundha nagari, Dangyang Brajakawat nabda, mung wonten melang sakedhik, pun adhi Brajawati, wewesen sarananipun bilih sang nata Sundha, mange boten miyatani, dados wudhu ing Sundha den antuk wiring.

14

Dhayang parwatali nabda, mangsa ngijira sang aji, karana pidhanget kula, Prabu Linggaiyang sami, sarananipun wesi, pinten-pinten selir lampus, ingkang pejah dinahar, botenamindhoni malih pramilane angupaya tandhangira.

15

Dhayang Talibarat nabda, tan kaping kalih adhi, kedah tinaros kentasa, punika ingkang nglakoni, kranten dede lare alit, bokmanawi mangke sigug, dados kita kesseman, ing wedra kirang panari, boten dados basa jadra ponsasmata.

16

Ya taDEWI Braja rara, punika sampun tinari, den piyambeke kinarsa, ing ratu Sundha negari, paran ati lumiring, atawa ing tan purun, Brajawati aturnya, kahula amdherek maring, sakarsane andherek dhateng jeng rama.

17

Kahula darma lumampah, awon penes panitihing, wongtuwa datan pejah, kahula liwarsa demi, ya ta bramana Tali, ing manah kalangkung sukur, re kang putra sumandha, ing karsane rama yugi, dadya turun rena ngaturaken putra.

18

Brajawati wus pinuja, ing jati dipun dandosi, sarananing katewangan, ing parahu kang den apti, dening kadangkakalih, Parwatali namanipun, kalawan sang Talibarat, kang angeteraken rayi, Brajawati lalayaran maring Sundha.

19

Kering marang sang potusan, saking Sundha angsal kardi, angsal putrining bramana, sing pulo gunung surandhil, putri Sundha negari, kalangkung ing rena ipun, giyak-giyak anembang, genya layar enggal prapti, aneng nagri Sundha ingarsa sang nata.

PUPUH XVI
KINANTHI

01

Sang prabu Linggaiyang langkung, rena karawuhan putri, kadi sutaning bramana, oliye alaki rabi, wus angrasa katimbangan, lanang wesi wadon wesi, mulane arjaning krama, malah sampung Brajawati.

02

Bobot angsal pitung tangsul, salamine anggar binim pepengene warna-warna, kang ora jamak dening, pinangan dening manusa, parandene den esiri.

03

Kapengen adhahar kunyuk, ora den sembelih maning, ora lawan minatengan, mung den panjingaken dening, kadut den kocok kaduga, kunyuk mati den tonyoi.

04

Kulite deng masih wulu, daginge benyo ayiyid, den enggo embut-tembutan, dharahe den palothoti, mangkana den kadengngangan, dening Linggaiyang dadi.

05

Sedhot hawa manah ipun, ningali dhateng kang rayi, ora kaya Braja rara, kang ngemong kadang kakalih, Parwatali Talibarat, atumon ipene runtik.

06

Anulya sigra tumurun, sing awang-awang tumuli, kang ngusap ing bathuk ira, Brajawali enggal dadi, kang sengit dumadi welas, teka eman teka sih.

07

Lami-lami ning tumuwus, Brajawati sajen maning, pepengen ing dhaharan, cicindhil kang masih abrit, den dhahar urip-eripan, den tutulaken ing petis.

08

Den kadengangan sang prabu, iya timbul sengit maning, dhumateng sang Braja rara, ora kaya Parwatali, Talibarat ngusap muka, kang sengit babalik asih.

09

Lami-lamining tumuwuh, pepengene sajen maning, ing cacing urip-uripan, tengtu lelet den patheni, mangkana yen kadengangan, mring nata girig sengit.

10

Tan kaya yen wus tumurun, Talibarat Parwatali, angusp bathuking kadang, kang mungga kirig ika dadi, kumokod babalan pisan, dumadi kanggep alaki.

11

Lami-lamining tumuwuh, ana kang dadi kulilip, maring karajaan Sundha, ora nama liyan maning, Suhunan Panggungkancana, darbe manah tulak serik.

12

Re kang putra wau lampus, Lutungkasarung kalindih, dening Prabu Linggaiyang, dening parecel kumaki, wani wong tuwa si setan, pangganggo asu griwani.

13

Pira wareke wong munggu, ora sabar angenteni, ing sirrane kang yuga, angrumpak turus abecik, mapan den mepes kang yuga, apa layak anyuluri.

14

Ari iku sawat-sawud, godhog rontok rug-rug wit, pasthine ya sinangkasal, nagning ora arju margi, kaya ta beyating jalmi ditya, duduta beyating jalmi.

15

Mengko uga tanggu isun, mangsa lawas angartoni, iku kang Lokambadhigal, lawan ora arju margi, nandhang sekeling wong tuwa,aja dumeh anduluri.

16

Anduluri sota iku, kapokok broktak dening, anak lagi duwe pejah, samono lagi ngalahi, wong tuwa kendhang sangaja, nyingkiri wirang lan isin.

17

Wondene Lutungkasarung, semaune amateni, bramana Linggabuwana, ora paido wong lagi, ngambing-ngambing rabi mula, kang lagi penyakit elik.

18

Teka anuli den jaluk, di akon nganggo wajani, la iku lebune apa, tumon nambakaken rabi, ya ika bramana kaparat, binatang si tai olih.

19

Nah kala napsune metu, ika dadi banaspati, ngejer ana ing gegana, malang-miling saban bengi, wong Pajajaran pra samya, kaget ketembe ningali.

20

Mung ta apa murub iku, katone ing wektu bengi, ana kang ngarani teja, ana nengge lintang ngalih, waneh ngarani kamangmang, ana nyana tapak angin.

21

Waneh angrebut kang dudu, deningan sinaban bengi, kaya latune ing lintang,kanggo surup nganggo kedhing, parek maring sulaksana, sutejane wong abecik.

22

Parek ing lintang kemukus, datan bengi sawatawis, lawase wis sangang dina, pareng wengine tumuli, anyarengi sri narendra, Linggaiyang sami didis.

23

Kalih garwa ingkang wau, siweg bobot madhang sasi, angideri tataman, murnama dening ring-ring, para bibi para inya, kalangkung ing suka ati.

24

Ameng-ameng ing lalangun, rembesa angulinting, kesel sira ganti siram, ing pancuran sanga sami, patelesan cindhe jenar, sang aji atilar guling.

25

Sabab agamaning Galuh, yen purnama tilar guling, yen tanggal pisan apantang, yen combana lan istri, yen tengange lawan pajar, apantang barang den bukti.

26

Sadangune ing dalu, nelasaken agiyak-giyak, purnama sajroning putri, waneh ingkang makidungan, anggending jala wekunyit.

27

Kang murup-murup sing dhuwur, tema warna banaspati, namber lir kilat sayuta, Linggaiyang sirna lalis, den samber sinawa musna, dhumateng jongging sawargi.

28

Wong dalem geger gumuruh, tangise kelangan gusti, awit suka teka dhuka, Brajawati karuna jrit, kantaka ping nem sadela, kagete kelangan laki.

PUPUH XVII
ASMARANDANA

01

Prabu sepuh atitilik, lalayad wusa ing waya, gapuh aris kandikane, e-putuku Braja rara, wuwusen lamonika, wus papasthene Yang Agung, kudu mung samono sira.

02

Jodho lawan putu mami, mung siwewetengan ira, ingkang gedhe pangrekdane, tarimane ati nira, iku kang mangko gadhang, susulure ramanipun, den salamet urip delap.

03

Aja sira gawe ati, sasirnane lakinira, mangksa dadiya sangsayane, awak ira wuseng arja, sira momonga anak, salamet besuk yen metu, estrenana madeg nata.

04

Ing sacangkoke sudarmi, kawasa sira murbaa, apa lakinira bae, lan ika sadulur ira, loro becik jagaa, kaponakane yen metu, iku padha den kareksa.

05

Talibarat Parwatali, duk lagi ingucap teka, dadak sakala turune, saking awang-awang nembah, ing ngarsane sang nata, pinarcaya sira gupuh, kadika Ciyungwanara.

06

Talibarat den abecik, jaga kaponakan nira, Parwatali aja gape, embok ana bala wita, isun pracaya ing sira, ya Talibarat matur sandika ing karsa nata.

07

Ya ta lami-lami, wewetengane si rara, Brajawati dening sejen, ora kajamak lan jalma, yuganira tahunan, ana melang lara busung, sawane atur usada.

08

Dhudhukun ana anambani, ana nyempad nyata jabang, dening si goronjolane, ana nyempad banget kelang, atos kabina-bina, nyata ika lamon watu, ing jero garba punika.

09

Ya ta lamining lami, ana maning duracara, banaspati kang manglawe, tumiling ing awang-awang, seja ika nyambera, maring Brajawati wau, seja denjaragan sirna.

10

Ora kaya Purwatali, kalihira Talibarat, kalangkung ya ing jagane, anulak ing bala wita, bales pati konangan, den tulak padha kawur, tanama wani pareke.

11

Braja rara estu kapti, Talibarat kang anjaga, sirna bala wita kabeh, salinggihe Braja rara, ana ing rat Pasundhan, tan ana amaling kecu, menak pra kuwu sumembah.

12

Wus kadi raja pawestri, angreh Sundha sigar wetan, apa ingsun cacangkoke, waktu nata Linggaiyang, karta buwana ira, kaumban roro sadulur, Parwatali Talibarat.

13

Mangka dhateng waktuneki, Brajawati nulya babar, ora jamak ing rupane, prayayine dudu bocah, rupane ika kadya, galundhung lir gandhik watu, ora asipat ing jalma.

14

Nanging ika obah mosik, galang-geleng ing tatampa, baleger lir gandhik bae, geger ing wong dalem pura, ana jabang tan jamak, enggal rawuh prabu sepuh, maraja Ciyungwanara.

15

Aningali jabang bayi, girap-girap sabdanira, la iki nuli kaprimen, ana urip tanpa rupa, iki jenenge apa, gumaluntung kaya watu, ana obah ora swara.

16

Kapremen dayane iki, dening iku buyut ingwang, ora kajamak rupane, nuli kapara mentala, ambrih dadi manusa, ing mangko dadi susulur, iku kang wus ora nana.

17

La coba undangan gelis, iku embok nyai indhang, Gunung Sakati watune, ika wong tuwa manawa, sugih reka pandaya, maring kang mengkono iku, manawi wus nemu luwang.

18

Sigra mangkat angaturi, jeng Nyai Sukati indhang, tan kawarna ing lampahe, akocap sapraptanira, si Indhang Sakati ika, ningali jabang lir watu, ora endhas ora tangan.

19

Gulundhung wis apa gandhik, kipya-kipyahe nyi indhang, ora guna ora gawe, wong anak-anak bok apa, kang bener aja sarar, ting-banting aja na wuruk, sudi gawe anak Sundha.

20

Luluhur ingkang mayungi, pingnangeran ing jawata, ruruhe marga benere, aja anerus simpangan, sang kama-kama dadya, kamapmaja kamaptulus, dohena gungsu minggaha.

21

Nuli nyi Indhang Sukati, ambabar punang paesan, kinacekaken age, maring Dewi Brajawati, wusing kadi mangkana, den kakacakaken gupuh, ing jabang kang kadi tosan.

22

Sakedhap nuli anjerit, jabang bayi nangis ira, jebol katingal endhase, nuli sinembur den irag, jebol metu kang tangan, kuranggeyan nyawuk-nyawuk, nuli kinetab kang pada.

23

Jebol dadi metu sikil, sapurna wus sipat jalma, atos-atos pra semone, Indhang Sukati ngandika, kamrala isi jabang, anurut ing kaki buyut, nurut jalma dadi jalma.

24

Den saiki sun arani, si kacung munggwaya delap, si Linggawesi namane, si buyut kang gawe aran, ambridelap agesang, kanggo nunute si buyut, ana ing jagat Pasundhan.

25

Sadaya suka ing ati, Brajawati tumon ing putri, wis kajamak lawan uwong, nuwang prabu Ciyungwanara, kalangkung sukanira, ningali kang kaya wau, sampun kaya manusa.

PUPUH XVIII
M I J I L

01

Indhang Sukati awewekas jati, maring sang dewi reko, poma-poma nini aja aweh, panduman salamet benjing, si kacung den eling, sandenge tumuwuh.

02

Ya pacuwan ilok akakaca dhiri, kakaca angilo, iya kacung kon pantang sandenge, ora kena ngilo dhiri, tuwin ngilo caremin, tuwin ngilo banyu.

03

Pan mulane pantang ngilo carmin, krana iku wong, asal sing kono anane, saking kaca timbole dadi, mula ja den kakacani, embok pulih watu.

04

Pulih watu lebar ingkang jati, poma den angartos, dadi braja aris wangsulane, inggih kasuhun ing sihe nyai, yen tan ana nyai, tangtu ical ruru.

05

Tedhakane kacung Linggawesi, boten dados ewong, galang gulung wikan jenenge, dupi ika saking pun nyai, kang paring kamarin, saprakawis nuhun.

06

Inggih minanten langgeng pakeling, prakara samono, ing saweweling ing nyai sakabeh, kang sumeja kula ati-ati, miwah ta ing benjing, pun kacung aemut.

07

Kula emutaken tan ing benjing, den sampuna angartos, ing basa basuki jalma kabeh, datan wande kula wanti-wanti, pun kacung kapenging, akaca ing besuk.

08

Ya tan Indhang Sukati wus pamit, kantun prabu kolot, Prabu Ciyungwanara langkung sukane, prayayine den baraseni, den embang tumuli, pinajengan agung.

09

Pan binakta munggah sitinggil, ginrabeg kabrabon, lan kadhingdhang saruni salompret, calapitaka lawan suling, sinowara gelis, dening sang prabu.

10

Prabu Ciyungwanara sru angling, la iki dengartos, kawula menak pra kuwu sakabeh, iki jabang wus sun istreni, angadeg narpati, nyuluri kang lampus.

11

Pan sinebut Prabu Linggawesi, ing Sundha sang katong, ya pragul menak sakabeh, pan gurumu samya matur inggih, sarta den sauri, ing ketuk anglugur.

12

Geledhuging gurbaning ukir, kakseni den mangko, Linggawesi ing mangke ingistren, ngadeg ratu sing jabang bayi, enggal murud sami, malebet ing kadhatun.

13

Nelakaken prayayi sartaning, angandika reka, Parwatali Talibarat mangko, enggonira jaga ngati-ati, maring si kacung aji, den becik atunggu.

14

Kaponakan aja sira cenger ngarsi, kang babasan embok, aja gampangaken salir gawe, kang kalawan angati-ati, embok banaspati, kaya mau-mau.

15

Sapa wruha nyamber jabang bayi, la sira sakaro, ora liyan ingkang patut molek, arumaksa maring jabang bayi, mung sira sakalih, ingkang luwih patut.

16

Prabu jabang si Linggawesi, ya ta ika karo, Parwatali Talibarat, atur sembah ing sandika ugi, anulya sang aji, prabu sepuh mantuk.

17

Mring daleme wus acakapti, kocap sang katong, prabu jabang ing salami-lamine, Talibarat lan Parwatali, ingkang ngaubi maring, (?) kalekanipun.

18

Prabu jabang ya sang Linggawesi, diwegira mangko, umur tigang tahun jejege, darbe manah berag ing pawestri, sing aistri manjing, ing tobong den susul.

19

Pan bagane dipun rogohi, dipun ingok-ingok, wong jro pura agawok atine, dening iki majikan cilik, patute wus esir, maring wadon iku.

20

Dening ora kaliwat sawiji, ingkang manjing tobong, iya padha den sirik sakabeh, sarta lamon ing mangsa ing wengi, yen waktu nyarengi, wadon padha turu.

21

Den wiyak kapati den grayangi, ingiling den tonton, dadi enggo dodolan duwena, pareng tangiya iku nuli, ora dhing-dhing kelir, den rengkot den rangkul.

22

Den arasi den pareng ing istri, kang ati sumonggon, iya sida kuwel pareng karasmen, saoli-olihing cilik, tandhinge pawestri, wis gopek sakrangulu.

23

Ya pinangrengkangi budi teni, kang putra samono, ratu Brajawati age, memetheti ingkang para istri, kang cilik kang becik, pira-pira puluh.

24

Den go selir ingkang putra aji, langkung den gegembyong, den pantha-pantha adi warnane, den embani sinureni, dipun wiwidahi, burat ganda arum.

25

Kadya sekara sataman kang asri, warna-warni katon, kadya lintang gumelar aneng, langit warna ing para selir, ingkang cilik-cilik, ing watara umur.

26

Nelung tahun istri becik-becik, wus pating pancorong, sinijang abrit sakabeh, parandene prabu Linggawesi, tan karsa nyangkrami, istri cilik iku.

27

Karanane ingkang wus bibit, kang dhenok kang sempwo, kang mragaga dedege gedhe, kang wis sarwa gamoling kapti, mangkana sang aji, suk ing karsanipun.

PUPUH XIX
M E G A T R U H

01

Indhang Sukati awewekas jati, tumingal maring kang siwi, teka ing karemenipun, maring kang gedhe kang uwis, bandhot menthonge ambewok.

02

Ya pondhodhang dhadhinge masih sepanudu, ya ta ingkang ibu nuli, methet ingkang sepuh-sepuh, kang wus marga kabecik, kang gamol gandhes acemol.

03

Pirang-pirang selir kang adhenok cangking, rasti kang pirang-pirang puluh, malah agung ingkang sami, bobot ana pitu wadon.

04

Teka wayah babar sakapitunipun, dadi kaya dudu siwi, kaya adhine puniku, jabang pitu abecik, warnane rampak yen tinon.

05

Padha bae gedhene lare pipitu, prabu sepuh angrawuhi, Ciyungwanara ndulu, canggah pitu bungahi ati, kaya adhine kemawon.

06

Kaya adhine si Lingga iku, dudu kaya kang siwi, ya si Linggawewi iku, mutrani pipitu reko.

07

Lanang kabeh ing sapitunipun, Ciyungwanara ling aris, la iki ya canggah isun, pipitune sun arani, si Linggabuwana katon.

08

Kang sijine Linggapakuwan jenengipun, lawan sawijine maning, Linggasana naminipun, iku sawijine maning, Linggasri namining wong.

09

Linggaerang Linggamurti Linggarayu, sakapitune ing benjing, kon ngudang kakang la iku, ya maring si Linggawesi, den kaya sadulur medhok.

10

Linggawesi ngundanga adhi maring iku, maring kapipitu iki, karanane sira durung, pantes mangko anganaki, rong prakarane dha rapon.

11

Delap ika anak ira kang pipitu, lumayan rempeging urip, kanggo gegerebeg ngunggu, bala sadulur kumaritig, turanta anak sajatos.

12

Aeng temen inglalakon ira iku, ana ta wong masih cilik, aduwe anak pipitu, bari rampak gumariwis, gumredeg lir anak enthok.

13

Parwatali Talibarat aturipun, sandika ing titah aji, menanten uga kadulur, angraksa tedhakan aji, lumampah idhin sang katong.

14

Prabu Ciyungwanara sampun amurud, kocap sang Linggawesi, iya sate masih timur, naging pangertose kadi, ratu ginotama mangko.

15

Yen wis linggih ing korsi gadhing rinubung, ing para selir kang ngapti, kang padaha adhunuk-dhunuk, kang aputih kang akuning, kang nyenyokar melok-melok.

16

Ingkang mobyong kang empuk panggarapipun, kang cepol angaca piring, ya ikut kang raket ngayun, nalendrane sagegethik, selire abentrok-bentrok.

17

Lan kang padha anggemeng kombalanipun, ora nana liyan maning, kabelani pundha iku, wadon ireng-ireng manis, ingkang bobokong anggeyol.

18

Prabu lare Linggawesi masih timur, karemane ingkang uwis, angrambaka bokongipun, wus tuwukan sagunging, karsa kang para samono.

19

Prabu Linggawesi jengger tuwuhipun, ing Pajajaran muponi, sagunge menak pra kuwu, bang wetan salir kumilip, padha anjum sila panor.

20

Ya gul menak asribawat samya riyung, sinaroja ing bupati, Prabu Linggawesi mangun, malih kapatiyan nami, Kiyan Patih Bandhungkrayo.

21

Lan tumenggung Sukabeling naminipun, asale saking Keling, bangsaning koja guludhung, andel-andel Pakuaji, wani mati solot-pogot.

22

Ki Demang Alurkoneng kang pinangka dipun, pecat tandha adhir-adhir, Menak Podhang Ujungberung, lan Ngabehi Tegalbibis, kang lebda karya ing kono.

23

Kang tut wuntat ing sang nata ngalor ngidul, iyang-iyung kanthi wiri, ameng-ameng maring luwung, amandhikudhing jamparing, abandring cohok.

24

Ngayok alas arame surak gumuruh, paburuhe bangkit-bangkit, angungsen kidang apaul, ana pingkal salih angrok, gurnata garungune bedhil, sing kidul sing elor.

25

Pan tawura swaraning gutuk puniku, ting sariwik nganan ngering, wetan kulon ting careluk, padha retak anguneni, cala bangir kang pada lok.

26

Alok buron kaburu-buru alaju, sadaya ambedhak sami, laradan alayu-layu, ting barisat sami lari, waneh kang padha nalosob.

27

Yen wus tutug abuburu aneng luwung, nuli padha ganti ulin, nuli samya ngundha manuk, ana ameng-ameng gathik, ana panggalan agacon.

28

Ora suwe jajangkungan ngalor ngidul, nuli areyog asrih, begog anjog langunipun, sabagi-bagiha ulin, ana pingkal silih angrok.

29

Rog-rogan ting bilulung ngalor ngidul, ora suwe asukati, dodolan raraton umyung, gumuruh pating jalerit, tan suwe ujungan kang wong.

PUPUH XX
M I J I L

01

Sedangune suka-sukawan tu bocah, tan adangu tumuli, ageger ing tawang, ana wowolu dhustha, banaspati ngarah aji, sapraptanira, kang seja den samberi.

02

Milang-miling kumrab ana ing tawang, sumyak amobat-mabit, ing gagana galak, kadi ulung babahak, kang sadya anyamber pitik, tan antara ika, Parwatali akali.

03

Talibarat amapang ing awang-awang, sakehe banaspati, padha tinangsulan, sakabeh pan kena, kagandheng anjok ing bumi, pating kurenyang, pating jalegir ing bumi.

04

Samya tinonton dening wong sadalem pura, aeng temen sun tingali, raining kamang-mang, awake kaya buta, sikile nungsang ming nginggil, rambut maudag, mobyong-mobyong lir geni.

05

Untunya ngisis baris sakampak-kampak, lambe kandel malenthing, ilate amedal, amelet anggigila, mana sabendhe mundelik, eluhe wisa, marakbak kadi geni.

06

Iler yiyid murub la ika padha, wowolu banaspati, padha cinancangan, ing witing pakujajar, dadi ingon-ingonaning, nata Pakuwan, sang Prabu Linggawesi.

07

Ting burangkang aneng witing pakujajar, de go dodolan pranti, ing ameng-amengan, ing wengi suk awana, rame-rame ingkang sami, asuka-suka, ambebeda banaspati.

08

Sawengi-wengi tuwin sadina-dina, sang prabu Linggawesi, dodolan kamang-mang, sarta wong dalem pura, kalangkung sukaning ati, lan kinepokan, amawi den suraki.

09

Banaspati lamine den ingu delap, den pakan lawan daging, daging buron alas, saparti ngingu macan, lan ta ana jalmi, kang ukum pejah, den pakakaken belis.

10

Maring iku adat purba Pajajaran, den go ambuwang jalmi, mangkana ya ika, pala karta Pajajaran, kaparing lamining lami, suliha tedhak, meraja Banaspati.

11

Sadya nira angrebat ing rewangira, kapanggih sira aglis, lawan Talibarat, endhas kang sira ngusap, he madigda Parwatali, lan Talibarat, munggah suka akasmi.

12

Rencang kula wowolu kang dika cang-cang, reh ipun sampun lami, jengandika cang-cang, kokalan ing druhaka, sedheng dipun apunteni, kang muga-muga, kabeh dipun uculi, kang ukum pejah, den pakakaken belis.

13

Maring iku adat purba Pajajaran, den go ambuwang jalmi, mangkana ya ika, pala karta Pajajaran, kapareng lamining lami, suliha tedhak, meraja Banaspati.

14

Sadya nira angrebat ing rewangira, kapanggih sira aglis, lawan Talibarat, endhas kang sira ngusap, he madigda Parwatali, lan Talibarat, munggah suka akasmi.

15

Rencang kula wowolu kang dika cang-cang, reh ipun sampun lami, jengandika cang-cang, kokalan ing druhaka, sedheng dipun apunteni, kang muga-muga, kabeh dipun uculi.

16

Gih sumangga kabeh padha sarat tobat, lawan sumpah kang candri, kang babasan aja, wani-wani gaweya, ingkang kadi wingi uning, kula kang dadya, saksining seja pati.

17

Pan sejane banaspati satedhaira, tan genah wani-wani, duriyat Pajajaran, balikan kudu jaga, ing duriyat Pakuaji, ing ngendi prana, ingkang anak putu aji.

18

Pasthi iku banaspati iku jaga, kemit maring sang aji, tedhak Pajajaran. Ika kang sinambangan, sok nang gunung sok nang pasir, kamang-mang jaga, turuna Linggawesi.

19

Tan pracaya sumangga atetep jaga, dumadak lirwa jangji, ungseden maningala, rantenen pakarsa ngolahi, lan sanadyana, den pajahana mangkin.

20

Kula boten lajeng nanggel kang acidra, kang wolu banaspati, yen mangke cidraa, kula dhewek kang tandang, mejahi babu pribadi, dingge punapa, anguripi ing wewering.

21

Ya ta sira Parwatali seja marma, Talibarat pon ugi, seja apracaya, maring raja endhas bang, Yang Maraja Banaspati, prajangjinira, amintal usul ing abdi.

22

Parwatali Talibarat ing sabdanira, yen mangkono ya becik, nangi kita padha, pranjangji lawan sumpah, banaspati wolu sami.

23

Iku dhateng banaspati wolu sigra, den culaken tumuli, banaspati padha, nembah dhateng sang nata, ngaturaken ingkang abdi, kang pangawula, rumaksaa ing jeng gusti.

24

Pramilane Pajajaran akeh kamang-mang, kang kakayon ana hing, gubug sawahan, suwawona ing tetelar, nguwel-tuwel kadi geni, manecat ilang, cat katong dening jalmi.

25

Ana meled-meled aneng gubug-gubug padha, angleledhek wong ngarit, gone gigila, malayua genudhang, duga pegel kang lumari, napase kesotan, mogok kang den baleding.

26

Kamang-mang tinangkeb lawan keranjang, gelethak dadi lupi, mangkana kang adat, jar bangsa siluman, nanging kamang-mang cawiri, tan amikara, amung samemedeni.

PUPUH XXI
L A D R A N G

01

Sadangune suka-sukawan tu bocah, yawis tobat, ing wuri tat Linggawesi, satedhake dadya pangregep kewala.

02

Pramilane Praburara Linggawesi, yen kekesahan, ing wengi kang peteng nuli, ya kamang-mang pinangka damar ing lampah.

03

Mobyor-mobyor kaya obor atut margi, ing lampah, kamang-mang padha angiring, satedhake sang ratu ing Pajajaran.

04

Ya angraksa ing sabandu kulawargi Pajajaran, awake manungsang menginggil, ya kamang-mang iku endhas kewala.

05

Yen tawiri kamang-mang awake paksi wus marena, sabagi-bagi, kawarnaa Prabu Linggawesi nata.

06

Wus prajaka yuswa umur salawe warsi, ingkang putra, pipitu kadi wargi, rantab-rantab sakabeh namane lingga.

07

Linggapakuwan tanopen LinggasariLinggasana, Linggaerong Linggamurti, Linggarahayu kalawan Linggabuwana.

08

Kapitune wus alinggih bupati namanira, sakabeh sinebut nami, kang kaprabon pipitu ing Pajajaran.

09

Kang pinangka bala ratune Linggawesi jenggerjagat, Pajajaran duk jamaning, iya iku amengku purbanagara.

10

Iya iku sang prabu Yang Linggawesi Linggatosan, babalik remen ing alit, maring wadon marucupe lagya.

11

Ingkang durung susune kumaringkil, wadon ingkang, masih rata kang pepenthil, kadya kaya susuning bocah lanang.

12

Wau pupak ya iku kang karemani dadya ika, kang ibu amemetheti, wadon cilik wus angsal kang kawandasa.

13

Gumariwis pan kaya bebek memeri agiringan, sagendhongan kumraritig, denpahesi sandhangan kang adi pelag.

14

Dadya susah ingkang ibu Brajawati, genya dhana, anuku-nuku atining, bocah wadon sangkane gelem dewasa.

25

Mungguh sire iku Prabu Linggawesi maring bocah, kang tembe pupak sawiji, kumokod pisan ing bocah perawan pelag.

26

Ya sang prabu dadi ora duwe selir, maring bocah, kang wus lungse sathithik, ora esir maring bocah kang wus tarab.

27

Kang wus reseb padha miretan kawangking kaparek kang, lare ingkang durung gething, iya iku kang kinarsakaken nata.

28

Ya sang prabu Linggawesi lir lare alit yen dodolan, yen mangsaning udan nuli, ya selire padha katimbalan wuwuda.

29

Aing latar anuli dipun suraki, lawan dinar, ya ta sakathaning selir, kang wuwuda rebut dhingin ruru dinar.

PUPUH XXII

01

Kang sinebut namaning kang raja sunu, Prabu Linggawayang, sinungan kabopatene, Bantalwaru ika ing cacangkok ira.

02

Ya mangkana Prabu Linggawesi mundhut, putrine wiliyang, Dewi Cibongas namane, gih punika nembe umur dasa warsa.

03

Sacareme ing kana kinarsa jatu nata Pajajaran pinangka bini ajine, malah iku sampun miyosaken putra.

04

Lanang ingkang sinebut ing naminipun, Prabu Linggarasa, sinungan ing kabopatenen, Karangsambung Purakadhongdhong Malangya.

05

Nulya Prabu Linggawesi sira mundhut putri Barisbulan, Dewi Rasati namane, iya nembe kang umur sadasa warsa.

06

Sinaptanan sampun pinrih jatu, ing dhatu Pakuwan, pinangka iku sang katong, careming sang sampun miyosaken putra.

07

Lanang ingkang sinebut saparab ipun, ing raja kaputran, Prabu Linggaening reko, pan sinukan kabopaten Sokalaya.

08

Lami-lami Prabu Linggawesi mundhut krama putri nira, Sunan Gunung Puntanggedhe, ingkang nata Dewi Rara Lisniutama.

09

Pon ya tunggal anembe yuswa sapuluh tahun wis pinuja, prameswari aneng kono, pan amurba para garwa ing Pakuwan.

10

Intening wadon ing pura Pakuwan agung, iku prameswara, Rara Lisni ing jenenge, ketang garwa waruju nanging kang dadya.

11

La yen mangking gamparan ika sang prabu, nyarengi kang garwa, lari gulingan ya age, ing karsane inguculan kang gamparan.

12

Arumaksa bilih kagete sang jatu, garwa kinasihan, kakasihing segedhene, damak-dimik lumampahe ta sang nata.

13

Genya tumpek ponjan asigarwanipun tansah pala-pala, mila sang prameswarine, ya wus bobot ananging ora kajamak.

14

Atahunan anggene ameteng iku, ora baba-babar, wus pirang-pirang lawase, kang dhudhukun anggrarayang sing dhi ora.

15

Kang sawane angarani rara busung, kawelehe ika, dening tan ana rasane, dupi busung akundhangan rasa lara.

16

Dupi iku ya kaya wong meteng iku, sejene mung lawas, ora na bebeleyane, kang sawane ambadhek lamon kawaya.

17

Kawelehe dening katilap ing ngujum, tan katara pucat, ora rumab ora nonjok, panyanane masih gumilang padhang.

18

Kang sawane lamon ika malembung, kanginan ika, kawelehe ika deneng, ora katon urat kang pating karenyang.

19

Dupi tingal ajar lawan wiwiku, den iya sanyata, mateng sang dewi samangke, isi jabang supaya tan karsa medal.

20

Ya sang Prabu Linggawesi ing tanyanipun, la prepun baya, paman ajar tarekange, dra pon medal si jabang duk kaya saban.

21

Para ajar sabane boten pikantuk, yen mange medala, kadesak wedale dhewek, boten kenging den paksa-paksa medala.

22

Ya sang Prabu Linggawesi pan dhedhesipun, iya kena apa, paman ajar satemene, weharena aja sabda kang den garba.

23

Para ajar para wiku sabdanipun, gih boten gadug, boten kilap ing sang katong, mangsa boten ing gelar ing waskithaa.

24

Ya sang Prabu Linggawesi dhedhes gapuh, paman ajar dika, aja gamam ing awale, babarane ing suka atawa dhuka.

25

Para ajar awale babar pamuwus, ye punika jabang, ing mangke tulus wewedhe, kudu dang nata rumiyin ingkang asirna.

PUPUH XXIII
S I N O M

01

Tan anatara sang nata, tarengkep ana ing, nang latar lan prameswara, kalangenan den ideri, ing adining puri, awit rebah watangiku, ngadhem-adhem ing pantara, paninisan angemba ing, ana wang-wang lalangenan karta yasa.

02

Ingkang abanjar wangunan, wus katingal sadayaning, ingkang ngadi ing ngadhenan, giyak-giyak wong jro puri, andherek ing sang aji, sarupane parekan agung, samya suka ati, pan kalilan ing nata acangkraman.

03

Brajawati apotusan, emban amintara aglis, ing anak isun nata, tuturen den ujar mami, la sendekala iki, wong dhodholan reren kudu, gampang mengko wus miwat, sendhekala ngalas maning, ya kon manjing dhingin maring padaleman.

04

Isun iki enak, kumepyar rasaning ati, kepyar rasaning ati, kepyar-kepyur taragdagan, melang dhirine kang siwi, sendhekala sukati, duduwa dining gumuyu, ya ta caraka wus kebat, prapta nembah nuhun gusti, ing paduka gusti jandika katuuran.

05

Dening ibu dalem ratna, katuran mantuk ing puri, puniki pan sendhekala, gampil manghkin lekas malih, sapunika timbalaning,ibu dalem ratna wau, boten sakeca ing manah, dangu wonten taman sari, Prabu Linggawesi wau sabdanira.

06

Mengko isun mulih ngomah, ya mengko sadela maning, gumuruh kang suka-suka, dupi iku kapiyarsi, ingkang ibu raja dewi, wong den penging andalarung, mung siku adating apa, ora ngrungu pamarahing, banget melang ing ila-ila ing kuna.

07

Ingkang aran sendhekala, tan kena barang sukati, susulan maning la ika, age mantuk dalem puri, nembah matur ing gusti, jandika katuran mantuk, timbalane ibu nata, punika kawanti-wanti, sendhekala boten suka meng amengan.

08

Gampil mangke yen kalintang, saking wanci pacek desi, Prabu Lingawesi nabda, ya mange gak arep mulih, sira jacraweya ing mami, wis neng kene bae iku, aja balik marana, sawusing kadi kamangkin, masih kadi bocah alas wuwu cawak-wak.

09

Ganti mara asu aba, gumuruha warna-warni, abane antong wirasa, ya ta Dewi Brajawati, kalangkung dhegel ing ati, anjog sajanira nusul, dhateng panggenan putra, ya ta sang prabu wus uning, yen kang ibu rawuh pan samya umpetan.

10

Sirep ora ana kang swara, ora na abacut mewit, pating salindhut singidan, kang ibu kelangan lari, ngandika mung ta iki, kang baribin padha mampus, maring ngendi Linggatosan, rabine kapadhan maning, ya si Rara Lisni baranyak tandhungwaya.

11

Sandhekala wong kang kuna, ila-ila bari iki, dheweke lagi garbana, wong meteng ya kudu wedi, kudu duwe pamali, aja lok sawaya laku, mapan si dhewekw ika, meteng tan jamak lan jalmi, datan babar nuli lelewane pisan.

12

Mung ta padha asingidan, umpetan kang maring ngendi, dhigal temen atiningwang, dening lelewaning siwi, ora suwe ika hiji, kenang samber mata prabu, ing mamala sendhekala, buduk namber mataneki, nata anjrit agiro tur gedebugan.

13

Anjeli-jeli karuna, Rara Lisni aningali, kang raka kadi mangkana, ya dadi milu anganis, adan wong jro puri, padha nangis sambetipun, gusti kita kenang apa.

PUPUH XXIV
KINANTHI

01

Prameswari nira gupuh, Rara Lisni ical arti, duk tumingal ingkang raka, pan kadya tambuh ingkang manah, kami ruru seneng ing ati.

02

Pan dadining sakatemu, ora kalawan pamili, katharak-thaak ing tingkah, amundhut kacatu mulih, tiningalaken enggal, ingkang raka mukaneki.

03

Raka dika tingali iku, ing jro kaca kaeksi, ora wurung katingalan, iku kang dadi kalilip, pan dika jiwit kewala, tan wande kalilip kenging.

04

Saestu kang garwa iku, yen sang nata boya uning, pantangan lamon kakaca, pramilane gelis ambil, amundhut carmin punika, dipun tamengaken aglis.

05

Marang wadana sang prabu, Linggawesi aninggali, pan mangkana tan kemutan, welinge ingdhang Sakati, ya den penging akakaca, ing pantangane sang aji.

06

Ora kaya dening iku, guragapaning asakit, tan kemutan apa-apa, kang garwa mintoken carmin, ing sarira kang nata, teka tan kemutan iki.

07

Sareng ngilo kaca wau, katingalan sarira neki, adan geblang ya sang nata, iku dadi wesi malih, kaledhug ingkang sawara, ing lemah baleger gandhik, prapta ing kana lalawad, angandika mituturi, ya wis padha ing pasrah sira, wis karsaning Yangandum titi.

16

Ora ana gunane iku, ya wus katalaya dadi, kadalang suhing ngungkara, mangsa ababalik maning, wong wis dadi padha pisan, laku lalis tan ping kalih.

17

Mapan mangsanaa iku, udan kang wus timbang siti, nuli balik ing ngawiyat, mapan reke sami neki, kembang kang wis megar ika, mangsanaa kudhup maning.

18

Lalu marag kembang iku, kang padha sengkel ing ati, balikan padha rerepa, mangke gadhang timbul mijil, saking garba wewetengan, Rara Lisni tahunan iki, Linggawesi sampurna kena, ing pasentran candha warsi.

19

Ing pasisir kidul iku, pama ing pacendheneki, ya ta opyak para putra, pra sami gelar ngasreni, kurnapane ingkang rama, kang sampun sirna alalis.

20

Samapta krajaan sampun, wus gumelar pangladhenging, kangmarapit anjalana, ing margi andher awilis, tanpa pegatan lampahnya, pucuk praptangpa candhening.

21

Kang layon wau sang prabu, datan mangkat saking puri, saking kathah upacara, baris kang sabagi-bagi, pajeng asri payung kembar, payung agung dhedhet kehing.

22

Lampahnya selur adulur, pan sasilir ing angin, sangkan-sangkan bae kudu anemahi, ingkang arep cilaka.

PUPUH XXIV

01

Ora ana bedane ing jalmi, kang arep bagja sing sangkan-sangkan, kudu bae nemu eleng, pramila kudu emut, nyai Brajawati kang silib, ora opyak sawara, maring anak mantu, ing kalpantanganing anak, ya mangkana anak mantu, kang tan uning, temah nrajang pantangan.

02

Den wis nrajang pantangan tan keni, yen dangdani ingkang aran sirna, ing lalis tan kena wande, datan kena pindho laku, kudu bae amaspisani, ing pati lawan merad, tunggaleku nipun, ingkang mingsa dhasaring toya, ingkang ambes ngayangan dhasaring bumi, sakabeh iku tunggal.

03

Kang minglintang kang mingsurya sasi, kang sumurub ing jro garba, anang gunung ing jro garba, anang gunung ing wetenge, ing jro wetenging watu, pan sarupa lakuning pati, lincakan aneng buwana, dudu iku lampus, dudu mati dudu pejah, pan kewala salin nagara den panggih, ananging den wis pindah.

04

Ora mantra den abalik maning, mung sapisan sapisan kewala, tan mindhoni lincakane, mulane laku iku, wus den becik wuwusen nini, amung kari entenana, iya Rara iku, wewetengan titinggalan, Brajawati wuwuse angemu tangis, nya mungga tulungga.

05

Wewetangan dra pon gelis lahir, den kajamak kalayan manusa, punapa adat kang prantos, sampun takeran tahun, susah temen yen boten si nyai, ingkang andaya-daya, nunten kaparipun, pola kula ngajab-ajab, ya aganti tanpa anten-anten dugi, windon takeran warsa.

06

Inggih kula boten kilap nini, supayane tiyasa amedal, Indhang Sakati sahure, isun jaluk kukudhung, wastra putih ingkang abecik, den barikut sabadhan, lan ukupana kang agung, kira-kira sakalapa, isun pejah dodolan ngundhang kang gaib, atawa mangurungan.

07

Lan anjaluk kembang kang wangi, ingkang warna kalawan dasa nedha, jawada ing sawarnane, ya ing pasar kono iku, go sasajene kang gaib, boreh wangi lan lenga, suri kacinipun, lan kembang campaka pethak, karang melok aja na kari, iku sadiya kena. ☻

08

Ya ta Brajawati wus nimbali, wong jro pura kinen sadhiyaa, ya ta wus pepek sakabeh, ing sasangen pamundhut, ipun Indhang Sakati, maragsag ing ayunan, nyi Indhang kukudhung, putih sarta ngukup menyan, sadangune muja rara den adhepi, maring kang meteng lawas.

———————————————————————————————–
Wonten candakipun (ada kelanjutannya) yaitu Babad Galuh II.

By alang alang Kumitir
Mas Kumitir

WEDARAN SESAJI 8 WARNI WONTEN JANGKA JOYOBOYO


Werdinipun sasaji 8 warni ingkang kaaturaken dumateng
Prabu Joyoboyo dening Ajar Soebroto

Kacarios, ing Nagari Kediri wonten Nata Agung Binatara ajejuluk Prabu Joyoboyo.

Ing satunggaling dinten, boten angleresi dinten pasewakan, Sang Prabu katamuan Raja Pandita saking Nagari Ngerum, asesilih nama Sech Maulana Ngali Syamoejen.

Sang Prabu kaliyan Sang Raja Pandita lajeng sami imbal wacana, sarasehan bab ngelmi ingkang kaserat ing Kitab Musarar, sasampunipun dumugi anggenipun sarasehan, Sang Prabu mundut uninga babaraning sariranipun.

Sang Raja Pandita ambuka kekeraning gaib, bilih Sang Prabu punika titisipun Sang Hyang Wisnu. Panitisipun sang Hyang Wisnu taksih bade kelampahan kalih rambahan malih, ugi sami tedakepun Prabu Joyoboyo. Sasampunipun wineca, Sang Prabu puruhita dumateng Sang Raja Pandita, lajeng winisik bab ngelmi Cipta-Sasmita. Sasampunipun paripurna pamejangipun, Sang Raja Pandita lajeng muksa.

Wauta watawis sawulan saking rawuhipun Sang Raja Pandita, Sang Prabu Joyoboyo animbali putra ingkang sampun jumeneng Nata ing Kita Pagedongan ajejuluk Prabu Joyomijoyo, kadawuhan anderek cangkramadumateng Padepokanipun Ajar Soebroto ing wukir Padang.

Ki Ajar Soebrota wau ugi sampun nampi wasiyat ngelmi Cipta-Sasmita saking Raja Pandita Sech Maulana Ngali Samsoejen.

Gantos ingkang winursita, ing Padepokan wukir Padang, Ki Ajar Soebroto, lenggah ing pacrabakan den adep para cantrik wasi janggan ulu guntung miwah para endang.

Ki Ajar paring uninga dumateng para siswanipun, bilih ing Padepokan Wukir Padang bade karawuhan Nata Agung Binatara ing Kediri Prabu Joyoboyo kaderekaken putra Nata ing Pagedongan ajejuluk Prabu Joyamijoyo. Para cantrik sakancanipun kadawuhan resik-resik sarta tata palenggahan, dene para endang kadawuhan angrakit sasaji ingkang bade kahaturaken Sang Prabu.

Boten watawis dangun Prabu Joyoboyo tuwin Prabu Joyoamijoyo rawuh ing padepokan wukir Padang, Ki Ajar Soebroto amapakaken rawuhipun Sang Prabu, dene pra cabtrik wasi jajanggan sami andodok ngapurancang sarwi angaturaken sasanti pudyastuti.

Nata kakalih sami ingacaranan, lenggah ing pacraban, Ki Ajar Soebroto angadepi, linggihipun mari kelu kadya konjema ing siti. Ki Ajar Sasampunipun ngaturaken pambagyarja rawuhipun para Nata, lajeng suka sasmita dumateng endang kinen angladosaken sasaji, lumadosipun sasaji wau kasunggi dening para endang.

Menggih warninipun sasaji wau :
1.Kunir sarampang,
2.Juwadad satakir,
3.Sekar Mlati sacontong,
4.Kajar sauwit,
5.Bawang Putih satalam,
6.Geti sapitrah,
7.Endang,
8.Sekar Sruni.

Prabu Joyoboyo anguningani sasaji ingkang kaladosaken, sakalangkung duka salebeting wardaya, awit saestunipun sampun uninga dumateng werdinipun sesaji wau. Nanging sinaosa makaten Sang Prabu meksa andangu Ki Ajar Soebroto, punapa menggah pikajengipun deneangaturaken sasaji ingkang sinandi. Aturipun Ki Ajar, sarehning Sang Prabu punika sampun winisik ngelmi Cipta-Sasmita dening Sang Raja Pandita Sech Maulana Ngali Samsoedijen, mila dipun aturi ambatang piyambak.

Miyarsa aturipun Ki Ajar Soebroto ingkang makaten wau, Sang Prabu kadya sinebit karnanira, jaja bang mawinga-winga, enget panguwaosing Ratu, sigra anarik curiga sinudukaken Ki Ajar Soebroto, sakala angemasi.

Kawuwusa Prabu Jayoamijoyo, anguningani kadadosan ingkang makaten wau sakalangkung ngungun sarta anjetung salebeting panggalih, nanging kabekta saking sanget sungkemipun dumateng Raja-Nata mila ajrih bade mambengana.

Prabu Joyoboyo lajeng anilar padepokan wukir Padang dinerekaken ingkang putra kundur dateng Kediri. Labet saking hardaning rengu, sang Prabu boten wawan sabdo wonten ing margi.

Kacarios, sareng sampun dumugi ing Kadaton Kadiri, Sang Prabu andangu Putra Nata, punapa mangertos dateng sasaji ingkang sinandi wau.

Prabu Joyoamijoyoangaturaken ingkang balilunipun, wusana Sang Prabulajeng paring pangandika.

²Wruhanira kaki Prabu, marmane panjenengan ningsun amrejaya Ajar Soebrata, awit deweke nandang dosa rong prakara, sapisan dosa marang Ratu, kapindo dosa marang Guru.

Lire kang dosa marang Ratu : Ajar Soebroto kadunungan pikir jail dene sumedya anyupet para Narendra ing tanah Jawa.

Wondene dosa kang tumrap marang Guru : Ajar Subroto duwe watak kumingsun, dene wani-wani ambuka kekeraning gaib kang isih sinandi Hyang Sukma, sarana marsitakake ngelmu sandi kang winisikake dening guruningsun duk ing nguni. Kang mangkono iku kaki, Ajar Soebroto wajib ngadiling Hyang Sukma kudu pinatenan.²

Prabu Joyoamijoyo nembah andeku, ingkang rama lajeng ngandika malih.

Ing samengko sira Ingsun wisik, manawa sejatine Panjenenganingsun iku titise Sang Hyang Wisnu Murti.

Panitisingsun mung kari rong rambahan, katelu ingsun pribadi iki. Sawuse iku Ingsun wus mari angejawantah ing tembe ana nagara Jenggala.²

Iku sun lambangi : Catur nata semunesagara asat, tegese patang nagara yaiku :

1.JENGGALA,
2.KADIRI,
3.NGURAWAN,
4.SINGASARI.

Ratu patang nagara iku isih mbutuhake rumeksa isining bawana, murih rahayune jagad, ingsun winenengake anggempur para angkara murka lawase kongsi satus taun nuli salin jaman. Ingkono ingsun wus tan kena melu-melu, karana ingsun wus pinisah lawan sadulur bapa kakiningsun. Dene prenahing panggonaningsun ginaib ana ing sajroning kekarah tekane guruningsun.

Kaki, ing tembe sapungkuringsun kawruhana, bakal ana jaman pitung prakara.

Sira wajib ameruhana marang turun-turunira, karana sasajine Ki Ajar Soebroto cacah pitung warna, kawulo karo endange, iku dadi samitaning jaman.

Lire kang sawiji-wiji :

1.Kunir Sarampang.

Iku sasmitane jaman Anderpati Kawasesa wekasane jaman. Ratune den lambangi : ²Ganda kentir semuni liman pepeka ². Negarane aran Pakrama Pajajaran, Yudanagara tan anglabeti, pametune bumi duwit mas. Oleh satus taun sirna, awit perang pada kadang.

2.Juwadah satakir.

Iku samitaning jaman Anderpati Kalawisaya. Ratune den lambangi : ²Sri Kala Rajapati Dewanata². Negarane aran Majalengka lawase sepuluh windu. Pametune bumi pcis, nanging lambange : ²Bebasahan datan kongsi tutug kaselak kampuhe bedah².

3.Kembang Mlati sacontong.

Iku sasmitane jaman Kalawisesa. Ratune kekuta ing Glagahwangi, aran nagara Demak. Ing kono salin agama. Raja jagade, panjenengane ratu adil parentahe lan ana ratu pandita kang memuruk agama islam.

4.Kajar sauwit.

Iku sasmitane jaman Kalajangga. Ratune bodo den lambangi : ²Lunga perang putung watange². Kekuta ana Pajang. Barang pratingkahe aniru Demak. Pametune bumi picis lan sandang. Lawase patang windu punjul patang candra nuli sirna.

5.Bawang Putih satalam.

Iku sasmitane jaman Kalasakti. Ratune kekuta ana tanah Mataram. Ratune kang kawitan den lambangi : Sarakah semune lintang sinipat, jadug Senapatine. Nuli linambangan : Kalpa sru kenaka putung. Banjur salin lambang : Kembang sempal semune lebu keketu. Ratune sugih, kuwat perang, kinalulutan ing bala, kineringan ing mungsuh.

Dadi gegetining para : Ajar, Pandita, Wali, Nujum, kagulung dadi sawiji. Ratu sakti ambeg adil para marta, marang dasih.

Pametune bumi reyal, ing kono ana nangkoda dagang nring tanah Jawa, nyuwita ngempek bumi satitik, lawas lawas ambiyantu perang, unggul sesolahe, kedep sanusa Jawa.

6.Geti sapitrah.

Iku sasmitane jaman Dupara. Ratune kekuta ing Wanakarta. Kang kawitan linambangan : Layon keli semune satriya branta.

Ratune abala bacingah, kineringan ing jagad, tumurune kasundang rowang.

Tegese salin ratu sempalan saka akrabe. Nuli salin lambang : Gunung kendeng semuni kenya nusoni. Banjur salin lambangmaneh : Gajah meta semune tengu lelaken. Pametune bumi anggris lan duwit ing kono sangsaya retu negarane, ilang barkating bumi, rusuh tataning peprentahan, wong cilik akeh kasrakat, bilahi matumpa-tumpa datan kena tinambak. Ratune sowang-sowangan, denya ngungsi tan pernah.

Pra Bupati apuyengan, para sentana pating salebar, wong cilik akontrang-kantring tambuh lor kidul.

7.Endang.

Iku samitaning jaman kutila, Ratune angkara murka pindah marang Kuta sala, Linambangan ; Panji loro semune Pajang Mataram. Nangkoda melu masesa praja, sugih banda kaduk wani kurang duga. Para sarjana-sujana kontit.

Wong cilik kawlasasih omah bosak-basih keh katrajang ing dalan gede.

Nangkoda puwa-puwa, cidra lali marang wong Jawa satemah apes kaswasih. Panji loro sirna, nuli rara ngangsu, randa loro nututi pijer tukaran. Pametune bumi duwit, mundak-mundak lir pineres akehe, yen panen datan maregi. Dursila durjana saya andara, wong sugih isi jail tan welas marang kawulane. Mundak taun wuwuh musibating praja. Adiling kukum lan yudanagara datan anglabeti, ratu patraping bebener. Sali-salin paprentahan, kang jujur kontir, kang bandol lulus, kang mulus rampus. Tan ana wahyu nyata, eblis lanat menda-menda wahyu.

Akeh lali marang sanak sadulur lan wong tuwa. Sirna kawiranganing wanita, Wong mati tanpa aji. Nagara rengka, akeh gara-gara, udan salah mangsa, dalajad warna-warna, akeh tontonan salin-salin. Kerep lindu gonjang-ganjing, kerep ana grahana, anutugi ing taun 1881 tanah Jawa potar patir. Kang raharja mung wong rahayu ing budi sarta temen.

8.Kembang Sruni.

Iku sasmitane jaman Kalaguba. Lambange Ratu tunjung putih umure pudak sinumpet. Tegese pudak kasungsang. Karsaning Hyang Sukma akarya buwana balik, anitahake ratu adil aran Raden AMISAN, jumeneng Sultan Herucakra, kekuta ing Katangga Petik, jumenenge datan nganggo sarat sadawir iku wiwite ana pangapura, satemah luwar musibating tanah Jawa. Ratu iku anggelarake dana, lumuh marang donya, asih ing bala. Nangkoda eling nalangsa, nywita manjing anderek pasamuan.

Kang mogok masgul sirna, Sultan Herucakra iku trahing Waliyullah, luwih dening sakti amalat.

Pametune bumi dinar, wong cilik pada kapenak, awit pajeg sewu dinar sinuda mung kari satus dinar.

Sawah sanjung pinajegan sadinar. Dene ratune lumuh marang arta dahare amaung pinanci pitung ewu reyal satahune luwihe saka iku kinaramake.

Akeh para para Sabrang pada nungkul. Saking adiling ratu para wadya lan kawulane pada wedi asih trusing lahir batin.

Besuk yen umure tanah Jawa angancik 1901 taun, ratu dalah karatone ginaib dening Hyang Sukma. Nuli Hyang Sukma anitahake ratu turun Waluyullah, angadaton ana Katongga kajepit ing Karangbaya, kaprenah lorwetaning gunung Prau, sakuloning Tempuran. Ratu iku rinengga ing buwana, luwih harja negarane iku amarengi umuring tanah Jawa ganep 1909 taun.

Sasirnane ratu iku nuli rusuh maneh. Ing tanah Jawa tan karawan tatanane, akeh para Bupati pada lunga marang manca praja asowang sowangan.

Sang Hyang Sukma nuli anitahaken ratu maneh peparab Sang Asmara Kingkin, bagus anom linulutan ing wadya, kadatone ing Kadiri lan Madura jamane harja lan tentrem. Tanah jawa umure wus ngacik 1999, kratone banjur sirna.

Sasirnane rau iku Tanah Jawa rusuh maneh ingkono tanah Jawa rinabasa wong saka nusa Prenggi. Ratu Ngerum ngirimake bebantu angusir wong Prenggi. Rame prang pupuh akeh long-linongan. Awit saka banget rusake tanah Jawa, mula akeh rerusuh. Img kono duta saka Ngerum akarya ratu trahing ratu adil ing Katangga Petik, nanging isih cilik sarta nandang kaswasih angeger buruh angon.

Jumenenge ratu ing Waringin-rubuh tanah Wedi, ingaran nagara Ngamartalaya.

Nalika iku tanah Jawa umure wis ngancik 2042 taun. Jamane den lambangi : Gandrung-gandrung pinggir marga andulu gelung kekendon, tegese akeh para wanita kang pada ngasin turasing kakung. Samana wus tan ana paprangan, wus tan ana angaji-aji keris parung.

Yen tanah Jawa wus ngancik umur 2100 taun, iku wus tumeka pareking kiyamat kobra, pulo Jawa banjur kinelem ing banyu dadi sagara.

Kaki Prabu, wus tutug anggoningsun misik marang sira, ambabarake werdaning sasaji 8 warna kang diaturake dening Ajar Soebroto marang ingsun.

————————————————————————————————
Kapetik saking Buku Serat Jangka Pandoming Agesang.
By Alang Alang Kumitir

SERAT JANGKA SECH SUBAKIR


 

PUPUH I
ASMARANDANA

— 01 —

Karya penget genya nulis, supadya dadya tututunan, mring weka kadang wargane, tuwin antuka kang rahmat, timbang nganggur klekaran, becik ngleluri leluhur, caritane jaman kuna.

— 02 —

Sejarah para Narpati, kang mengku rat nata praja, tanah Jawa sedaya, mugi paringa nugraha, marang para kawula, tinebihna ing bebendu, kalawan ing ila-ila.

— 03 —

Mangkana purwani nguni, saka ing Kitab Musarar, binabar tembung Jawine, wiwit alam babu alam, dumugining kiyamat, pan saleksa wolung atus, donya lamine gumelar.

— 04 —

Jamane limang prakawis, kang dihin Ingaranan Tirta, nulya Karta kapindone, Dupara kaping telunya, Kaliyup ping sekawan, jangkep kaping limanipun, winastan jaman Sengara.

— 05 —

Tirta jaman ingkang dihin, saleksa warsa laminya, Karta kapindo jamane, namung wolung ewu warsa, ganti jaman Dupara mung nem ewu kawan atus, langkung sangangdasa warsa.

— 06 —

Jaman Kaliyup gumanti, para Mukminkas angira, kalih ewu warsa maneh, lawan sagangatus warsa, ganti jaman Sengara nenggih wawatesan umur, namung kalih ewu warsa.

— 07 —

Lalanjon titahing Widi, laminipun kalih leksa, sangang ewu ing taune, kalanira Nabiyullah, taksih munggwing suwarga, Malekat bangsanipun, sagung para Malekat.

— 08 —

Sami wonten ing Rochani, datan wonten kenging pejah, luput duraka sakehe, datan wonten nadah nendra, lan sagung titahing Hyang, wignya ngucap lir jalmeku, tumut langgeng lir manungsa.

— 09 —

Lembu ingkang nyangga bumi, isih sekawan sukunya, pramana ati enggone, Nabi ADAM munggwing swarga, lamine satus warsa, wohing kuldi kang tinunggu, Babu Kawa rowangira.

— 10 —

Kadukan marang Hyang Widi, tinurunaken mring donya, tanpa sandang sarirane, anuju wulan Mucharam, ing tahun Alip ika, tanah Arab kang jinujug, amanggih kayu satunggal.

— 11 —

Den wastani kayu tanjir, dadya sandang salaminya, nulya panggih lan garwane, cinarita salin jaman, ingaran jaman Karta, nenggih wolung ewu tahun, dahar sapisan sawulan.

— 12 —

Samana kalane wiwit, manungsa kena durhaka, kena pati saturute, sagunging wong darbe manah, duwure randuwara, ora kurang depa satus, lembu sukune mung tiga.

— 13 —

Marmanira ana daging, lumrah manungsa kuwasa, nuli salin jaman maneh, gumanti aran Dupara, alam Nabi samana, lumrah manungsa punika, mangan ping kalih sawulan.

— 14 —

Gegaman mung tigang warni, panah pedang lawan gada, isih kuwasa punang wong, kono mari ararasan, wong donya lan wong kerat, randuwana duwuripun, amung kari satus depa.

— 15 —

Lembu ingkang nyangga bumi, atinggal kalih sukunya, marmane getih enggone, limang ewu warsa gantya, anulya salin alam, jaman wali kang sumuyut, alame wali sadaya.

— 16 —

Jaman wali kaping kalih, Mukmin Ngamya wastanira, sadasa dina dahare, de Wali ingkang taksih kas, dahar pindo sawulan, Wali ingkang apes iku, dahar ping kalih sadina.

— 17 —

Lembu ingkang nyangga bumi, sukune kantung satunggal, premana neng kulit gone, duwure kang randuwana, kari salawe depa, keneng duraka wong iku, paes katemenanira.

— 18 —

Gagaman mawarni-warni, keris towok lawan tumbak, tigang ewu warsa maneh, asalin jaman Sengara, alame Mukmin ika, Mukmin Ngam ing lampahipun, rina wengi amemangan.

— 19 —

Datan wonten tuwukneki, lumrah wong akekadangan, premanane suket rondon, duwure kayu wus suda, mung kalih dasa depa, ingkang nyangga bumi rubuh, sukune sirna sadaya.

— 20 —

Apan taksih nyangga bumi, gara-gara agung prapta, bumi wus sirna brekate, suda wiranging pandita, kapundut mring Hyang Sukma, ilang adile Sang Prabu, wanita keh laden priya.

— 21 —

Kawula lali maring Dusti, Gusti lali mring awula, fakir lali agamane, wong agung katah kahinan, wong cilik keh dursila, lali bapa lawan guru, ilang sihe wong kekadang.

— 22 —

Gegamane amepegi, barang cipta dadi gaman, patine lawan gamane, wewah kestul lan senjata, mariyem lan kala kunta, lumrah keh wong ambeg rusuh, akeh wong wedi melarat.

— 23 —

Sinung ayat sewu warsi, nenggih alame Sengara, nuli sinalin alame, bali marang Tirta, ratune Waliyullah, satus tahun laminipun, anumpak ari kiyamat.

— 24 —

Sasampunira kapanggih, lawase neng alam donya, marang Kang MurbengUripe, anenggih mung tigang leksa, tri ewu satus warsa, punika langkung ta ingkang kantun, wus parek ari kiyamat.

— 25 —

Yen wus prapta satus warsi, mati wiji kang tumitah, warata ing jagad kabeh, tan wonten tiyang anak-anak, tan wonten jawah niba, wus ginaib mring Hyang Agung, tan wikan ari kiyamat.

— 26 —

Wonten crita kang tinulis, tumrap tanah Jawa, aking Arab pinangkane, gancare ing pulo Jawa, duk taksih dadya wana, peteng alas gung asamun, ambelasah roning kamal.

PUPUH II
S I N O M

— 01 —

Purwane kang ginupita, duk suwunge tanah Jawi, taksih wana langkung pringga, isina amung dedemit, pari prayangan lan jim, miwah sagunging lelembut, kalawan brekasakan, gandarwo lan banaspati, ilu-ilu janggitan lawan kemamang.

— 02 —

Anenggih kang kawuwusa, jeng Sultan Rum kang winarni, angsal sasmitaning Sukma, dinawuhan angiseni, manungsa pilo Jawi, anenggih Sultan ing Ngerum, nimbali patihira, prapteng ngarsa awotsari, Sang Aprabu alon denira ngandika.

— 03 —

Heh Patih Ingsun tatanya, marang sira kang sayekti, wartane ing Pulo Jawa, apa sira wus udani, kabare taksih sepi, durung isi manungseku, pan isih dadi wana, Kyana Patih atur bekti, inggih Gusti dereng isi kang manungsa.

— 04 —

Rembage para nangkoda, Gusti kang sampu udani, ingkang layar tanah Jawa, tan wonten ingkang nglangkungi, wartanipun anenggih, ageng-ageng hardinipun, pilo mujur mangetan, sakilene pulo Bali, Sri Nalendra alon wijiling wacna.

— 05 —

Heh Patih sira mepaka, wong rong leksa somah aglis, tanduren ing pulo Jawa, dimen pada gaga sabin, sandika Kyana Patih, menembah lumengser gupuh, samekta lajeng bidal, wong rong leksa somah prapti ing muwana kamot ingemot baita.

— 06 —

ing marga datan winarna, gancare carita nenggih, janma kang rong leksa somah, pinrenahkenpulo Jawi, Kya Patih wangsul nuli wus prapta nagari Ngerum, matur rehning dinuta, purwa madya amekasi, Sri Narendra kalangkung sukeng wardaya.

— 07 —

Wus kalayan karsa Nata, yata kang kocapa mangkin, janma kang samya tinilar, aneng jroning pulo Jawi, binadog ing dedemit, meh telas pan amung kantun, sakawan dasa somah, giris manahira sami, lajeng layar mantuk mring Ngerum Negara.

— 08 —

Wus prapta Ngerum nagara, lajeng katur Kyana Patih, nulya konjuk Sri Narendra, yen janma rong leksa nguni, somah pan namung kari, kawandasa somahipun, dene prikancanira, binadog para dedemit, duk miyarsa jeng Sultan ngungun ing driya.

— 09 —

Puwara renge ngandika, timbalana Sech Subakir, tan anatara prapteng ngarsa, ngandika Sri Narapati, bapa sira sun tuding, layar mring pulo Jaweku, sira masanga tumbal kang hardi-hardi, dimen lunga lelembute pulo Jawa.

— 10 —

Wong keling sira angkatna, prenahno ing pulo Jawi, semektowa gagawanya, nuli angkatna den aglis, layar mring pulo Jawi, sira patih aja kantun, Sech Bakir aturira, sandika pamit wot sari, wusnya beber layar dateng tanah Arab.

— 11 —

Wus prapta ing Keling praja, dawuhaken amundut janmi, rong leksa somah katahnya, laju layar pulo Jawi, Sech Bakir kang winarni, ing marga datan wuwus, anjujug hardi Tidar tumbal pinasang tumuli, awarata pucuking hardi sadaya.

— 12 —

Gya jumegur swaranira, gara-gara andatengi, gumelar gora prahara, teja lawan obar abir, peteng mendung nglimputi, geger sagunging lelembut, jin setan brekasakan, sami lunayu anggendring, ilu ilu banaspati lan kemamang.

— 13 —

Wewe peri prayangan, angebyur marang jaladri, gandarwa gandarwa mlayu sarsaran, tetekan keblak memedi, sedaya samya ngungsi, tan kawawa panasipun, gantiya kang winursita, pan wonten danyang kakalih, gih punika tetuwane brekasakan.

— 14 —

Sang Hyang Semar aranira, lawan Danyang Togog nenggih, dedukuh wonten ing wana, prenah pucuking kang wukir, Merbabu ingkang hardi, samana kekalihipun, samya ajejagongan, ginenira ting kalesik, Sang Hyang Semar kagyat denira miyarsa.

— 15 —

Sang Hyang Semar lon wuwusnya, kiraka wonten punapi, sagung demit kagegeran, gara-gara apa iki, bumi agonjang-ganjing, prakempa asindung riwut, bayu braja liweran, kilon geter obar-abir, gumaleger swaraning kang punang harga.

— 16 —

Daweg kiraka jarwaha, de gara-gara kagiri, prabawa apa ta ika, Danyang Togog awawarti, yen sira tan udani, iki ana Resi Ngerum, prapta ing pulo Jawa, arsa ngrabaseng dedemit, pirantinya pinasang sakeh haldaka.

— 17 —

Yeng mangkana daweg enggal, manggihi lawan Sang Resi, utusana Sri Narendra, Ngerum ingkang nundung demit, pada atakon warti, baya ana karsanipun, dene kagila-gila, karya gegering kang demit, Sang Hyang Semar sumaur ya bener sira.

— 18 —

Danyang Togog malih ngucap, ya age adi prayogi, aywa kongsi kalayatan, kiraku payo den gelis, anulya pangkat sami, wus prapta panggih Sang Wiku, ana ing ardi Tidar, tuwan Sech Bakir ningali, ing praptane kalihira ta pa sangkan.

— 19 —

Sech Bakir alon tatanya, ki sanak dika ing pundi, manira nembe tumingal, dateng pakenira kalih, sira harsa punapi, dene prapta ngarsaningsun, Sang Hyang Semar saurnya, inggih kula tiyang Jawi, dika prapta punapa ing karsanira.

— 20 —

Sech Bakir wau ngandika, wartane ing pulo jawi, pan durung ana manungsa sadaya isih wanadri, sepi ulun tingali, karsane Jeng Sultan Ngerum, ing mangke winijenan, rong leksa somah kang janmi, dimen harja sami kinen asesawah.

— 21 —

Sang Hyang Semar lon wuwusnya, gih sumangga karsa Aji, sajatine gih kawula, lan kiraka tiyang Jawi, ing kina prapteng mangkin, kawak daplak inggih ulun, wong Jawa kuna mula, saderenga dika prapti, kula manggen Marbabu pucak haldaka.

— 22 —

Sampun sangang ewu warsa, inggih wonten pulo ngriki, dedukuh ing hardi Tidar, saweg antuk sewu warsi, langkung taun puniki, Sech Bakir gawok angrungu, dika niku wong napa, napa ta ayekti janmi, umur dika dene ta kaliwat-liwat.

— 23 —

Lamun janma durung ana, kang umur saleksa warsi, Sang Hyang Semar saurira, yeku kawula puniki, pan inggih dede janmi, danyang tanah Jawa ingsun, danyang sepuh priyangga, titise Jeng Kawa Dewi, kang jejuluk Sang Hyang Maya inggih kula.

— 24 —

Sang Hyang Sis inggih kawula, Sang Srinata inggih mami, Durgulowya inggih kula, Sang Hyang Wenang inggih mami, Joyokusumo tuwin, Joko Panduduk nggih ulun, Tuwawana gih kula, Manikmaya inggih mami, inggih kula ingkang paparab Sang Hyang Semar.

— 25 —

Wonten ngriki wiwit kuna, duk Ibu Kawa rumiyin, nglunturaken rasa mulya, tinadahan mring Ijajil, cinipta rama nguni, den wor lawan kamanipun, anulya dadya kula, lamun dika dereng ngreti, gih punika gancare badab kawula.

— 26 —

Sawarnane para dewa, sadaya gih darah mami, lan para danyang sedaya, tanah Sabrang miwah Jawi, sadaya turun mami, miwah sagunging lelembut, inggih turun kawula, jim prayangan lawan peri, ilu-ilu sadaya anak manira.

— 27 —

Dene kiraka punika, titise Siti Sendari, sun karya kadang ngong tuwa, dedukuh wonten ing Jawi, milane kula mriki, panggih lawan dika wau nyuwun taken pawarta, dateng andika sayekti, punapa ta andika angrusak Praja.

— 28 —

Sadaya nak putu kula, pra samya bingung angungsi, kenging tenung taragnyana, andika ingkang masangi, ngungsi marang jaladri sadaya para lelembut, Sech Bakir alon mojar, kula punika kiai, pan dinuta jeng Sultan Ngerum negara.

— 29 —

Apan kinen ngisenana, janma pulo Jawa ngriki, dimene tangkar-tumangkar, reja ambubak wanadri, kang sun prenahaken iki, wong Keling nagaranipun, cacah rong leksa somah, iku karsane Hyang Widi, boten kena yen dika amalangana.

— 30 —

Sang Hyang Semar saurira, sokur jumurung saketi, yen karsane Sri Narendra, ing Rum dawuhing Hyang Widi, kadawuhan ngiseni, ing pulo Jawa puniku, kinen ambubak wana, nanging ta panyuwun mami, inggih kula tumuta ngadani Jawa.

— 31 —

Sech Bakir alon ngadika, kisanak kula tuturi, karsane Hyang Maha Mulya, lalakone Jawa benjing, winates ing Hyang Widi, rong ewu lan satus taun, pan nuli sirna, wiwit saking taun iki, satus taun durung ratu ora praja.

— 32 —

Iku karsaning Hyang Sukma, tataning wong kadi peksi, yen wus jangkep satus warsa, lawan punjul seket siji, Hyang Sukma karya Aji, ing Gilingwesi Kedatun, lawan ing Panataran, niku wiwite Narpati, ajejuluk Maharaja Selaprawata.

— 33 —

Andika ingkang ngemonga, dika awor lawan janmi, nalikanira Sang Nata, ratu ingkang nata janmi, satus warsa ingkang benjing, Gilingwesi sirnanipun, wiwite jaman Buda, nayebut ratune sami, pangucape tan liya Dewa Batara.

— 34 —

Sirnane Selaprawata, nulia karsane Hyang Widi, akarya alih Nerendra, titise Hyang Wisnumurti, ngedaton Mendangkawit, satus taun sirnanipun, Hyang Sukma nuli nitag ratu agung ambawani, sakembaran bala banta lan wanara.

— 35 —

Siji ngadaton Ngalengka, abala sagung raseksi, ing Pancawati sajuga, titise Hyang Wisnumurti, bala wanara benjing, paramarta ratunipun, Kyahi Togog sira, angemonga sira benjing, kang jumeneng ratu Ngalengkadiraja.

— 36 —

Besuk rusake ngalengka, tumpes tapis datan kari, amung pitung puluh warsa, sirnane karatoneki, Hyang Sukma nitah malih, ratu binatara agung, ngadatong ing Wirata, lawan Maduran agrai, seket warsa karatone nuli sirna.

— 37 —

Hyang Sukma anulya nitah, karatone Ngastina benjing, Ngamarta pudak sategal, lawan Ngawu-ngawu langit, lawan ing Dwarawati, poma Kyai iku besuk, poma dika emonga, watese sawiji-wiji, satus taun sirnane karaton benjang.

— 38 —

Iku karsane Hyang Sukma, sirnane karaton benjing, pada aprang lawan kadang, awite rebut nagari, minangka penget Kyai, kang jumeneng ratu besuk, sirnane campuh aprang, nulya karsane Hyang Widi, Mlawapati kalawan Bojonegara.

— 39 —

Iku pada turunira, Sang Hyang Wisnu ingkang nitis, ananging ta wekas ingwang, marang andika Kiyahi, alame ratu kalih, awyandika emong besuk, andika wangsul dewa, watesane satus warsi, nuli sirna Hyang Sukma akarya Nata.

— 40 —

Kekuta ing Galuh benjang, laminira seket warsi, sirnane Gakuh nagara Hyang Sukma anitah malih, ratu Sindula nagri, mung sawidak taun besuk, nuli ana Narendra, ing Medangkamulan nagri, ratu iku amangsa pada manungsa.

— 41 —

Patangpuluh taun sirna, ratu pandita gumanti, saking Arab pinangkanya, Ajisoko Sango Aji, pinanjingan ing eblis, ratune ijajil besuk, angaggit sastra Jawa, pan iku kang den leluri, aywandika emong ing sapungkurira.

PUPUH III
PA N G K U R

— 01–

Mung sawidak taun sirna, sang Hyang Sukma anitah ratu malih, sang Prabu Maha punggung, papatih, Jugulmuda angada-on neng sukuning hardi Lawu, karsa pranataning praja, medal adiling Narpati.

— 02 —

Satus taun nuli sirna, Sang Hyang Sukma anitah ratu malih, Kauripan nagrinipun, satus taun wus sirna, turun telu jejege karatonipun, nuli karsaning Hyang Sukma, nitahaken ratu malih.

— 03 —

Sakawan kang dadya raja, akekuta Jenggala lan Kadiri, Ngurawan lan Singasantun, niku andika monga, ngawulaha satuhu andika besuk, andika siliha aran, Ki Prasonto aprayogi.

— 04 —

Ki Togog dika arana, Ki Jarudeh ing benjing iku becik, titising Batara Wisnu, poma ywa kongsi pisah, pan jumeneng ing Jenggala prajanipun, wasta Panji Rawisrengga, digdaya prawireng jurit.

— 05 —

Satus taun nuli sirna, karsaning Hyang nitahaken ratu malih, Pajajaran kutanipun, pindah saking Jenggala, satus taun sirnane karatonipun, pan kongsi turun ping tiga, rusake lawan kang siwi.

— 06 —

Yaiku wekas manira, pan ing kono awora demit malih, mariya amomong ratu, iku karsaning Sukma, dika kinen awor lawan anak putu, andika dukuha benjang, sukunira hardi kendil.

— 07 —

Andika ngaliha aran, Ki Rumadi iku luwih prayogi, Ki Togog dika ing besuk, Lodaya dukuhana, dika angaliha aran Ki Barjamos, sirnanira Pajajaran, anulya karsaning Widi.

— 08 —

Ratu Agung adiningprang, akekuta ing nagri Majapahit, satus taun sirnanipun, kongsi turun ping lima, rusakira nagri Majapahit besuk, aprang lawan putranira, nulya karsaning Hyang Widi.

— 09 —

Nitahaken ratu Demak, akeh sagung para Wali nge Jawi, saking tanah Arab iku, pra sami amemulang, nglampahaken sarengatting Kanjeng Rasul, wus sirna jamaning Buda, pra sami agama Suci.

— 10 —

Angrasuk Aagama Islam, manjing marang agama Kanjeng Nabi, Kraton Demak sirnanipun, namung sawidak warsa, punjul papat tetepe etanganipun, nuli karsane Hyang Sukma, nitahaken ratu malih.

— 11 —

Ing Giring kalawan Pajang, Kalajangga jejuluking Narpati, umure salapan taun, sirnane kutanira, apan nuli ana karsane Hayang Agung, nitahaken ratu Mataram, jejuluk Sang Kalasekti.

— 12 —

Digdaya prawireng aprang, aprakosa ngadoni jayeng jurit, ratu sekti sudibya nung, sembada tan apada, iya iku turune pandita luhung, Senapati jajuluknya, para ratu keh kang nagkil.

— 13 —

Sumewa mring tanah Jawa, wiwit iku dumugi ing Matawis, sewu limang atus taun, kutane ing Mataram, kongsi ping pat turunan kang madeg ratu, wangening nagri sirna, nulya karsaning Hyang Widi.

— 14 —

Rusake nagri Mataram, pan binedah wong Makasar lan Bugis, Madura rewang sekutu, lawan putra priyangga, wus alami janji watesaning umur, nulya karsaning Hyang Sukma, nitahaken ratu malih.

— 15 —

Kekuta ing Wanakarta, sakulone kuta Pajang winarni, sugih rowang ratunipun, sirna kratone, laminipun satus tigang dasa taun, tan antara laminira, ana nangkoda datengi.

— 16 —

Rusake ing Kartasura, pan binedah dening wong Cina benjing, nulya karsane Hyang Agung, nitahaken Narendra, angadaton kuloning Mataram iku, siji sawetaning Pajang, wus jamang Sengara benjing.

— 17 —

Wong Jawa akeh pitenah, marang pawong mitranira ing benjing, keh kiyamat mring sadulur, dora-carane katah, lawan suda pemetune bumi besuk, ilang wirange wanita, keh priya etung pawestri.

— 18 —

Setan wus awor manungsa, datan kena kinawruhaken becik, ing jaman Sengara iku, keh anak lali bapa, bapa lali marang anake satuhu, wong mati tukaran katah, akeh wong kanjingan eblis.

— 19 —

Lan akeh musibat prapta, bebendune Hyang Sukma andatengi, gunung muni gumaludug, obah bumi prakempa, lir ginonjing bumi molah gunung jugrug, sol gempal ladu geng prapta, udan awu lawan pasir.

— 20 —

Cleret taun angragancang, oban-abir kilat tatit datengi, akeh wong tukar prang pupuh, akeh mati kobongan, saya lami wuwuh bebendu geng rawuh, musibate tanah Jawa, arang manungsa kang eling.

— 21 —

Akeh wong murka angkara, bocah cilik wis pada etung picis, wong agama saya sengkud, nanging tanpa tatanya, akeh janma pada tinebusan besuk, wong dagang akeh kang tuna, malah pawitane enting.

— 22 —

Keh anjamah pada priya, datan marem jamah marang pawestri, akeh wong kang pada riwut, dursila saya dadra, apa wite kalane wong pada riwut, wong niyat harja katriwal, wong dursila akeh sugih.

— 23 —

Akeh wong maido Kitab, keh wong dora gegampang gawe becik, keh lali marang Hyang Agung, akeh nembah brahala, ana ingkang mangeran marang lelembut, saweneh mangeran arta, ana mangeran Serani.

— 24 —

Kang ngadani tanah Jawa, apa maksih Walanda nguwasani, satus taun laminipun, musibat saya katah, tindak juti dursila saya andarung, nuli marmaning Hyang Sukma, aparing pitulung yrkti.

— 25 —

Anitahaken Narendra, duk timure babaran hardi Srandil, maksih tedak Kanjeng Rasul, ibu darah Mataram, paselongan iya iku wijinipun, angadani tanah Jawa, pan jumeneng Ratu Adil.

— 26 —

Ratu iku luwih mlarat, datan mawi sangu amung sadremi, mung semende mring Hyang Agung, tan ana janma wikan, pan kasandang kasampar-sandung tan weruh, pudak sinumpet punika, timbule kang tunjung putih.

— 27 —

Mungsuh ngarep ekeh sirna, ingkang pada wani samya mati, tumpes tapis sirna larut, balane mung sir’olah, mung kalabang kalajengking gamanipun, Kyai niku waspadakna, dika ladenana benjing.

— 28 —

Bala sagunging lelembat, anjurungi marang Sang Ratu Adil, ana dene kutanipun, alas bumi Ketangga, pan rineka kedatonira Sang Prabu, Juluk Sultan Herucokro, enak atine wong cilik.

— 29 —

Ilang wong kang dora cara, wong dursila ilang pan sirna enting, botoh keh pada kabutuh, awit adil Sang Nata, akeh ngungsi mring masjid pada asujud, eling marang kabecikan, pada dadi santri mursid.

— 30 —

Pajege wong cilik suda, sawah sajung sadinar pajeg neki, winatesan amung sewu, dadya dahar Narendra, datan mundut langkungane saking sewu, ratu iku lumuh arta, blaba asih marang dasih.

— 31 —

Murah sandang murah pangan, keh wong cilik pada suka singgih, iya amung satus taun, jumeneng adil Nata, sasirnane kuta Katangga puniku, nulya ana ratu kembar, iya ana kuta benjing.

— 32 —

Salere hardi Barata, inkang siji kutane iku benjing, ana ing Madura iku, lamine seket warsa, sasirnane Hyang Sukma nitahaken ratu, kekuta Waringin rebah, iya amung sekt warsi.

— 33 —

Waringin rubuh wus sirna, nulya ana ratu gumanti malih, kang sinedya kutanipun, ana ing Baleberan, mung sawidak taun watesane iku, anulya wong Prenggi prapta, angratoni tanah Jawi.

— 34 —

Manungsa Jawa pan katah, den usungi marang nagara Prenggi, sewu sewu saben taun, mung tigang dasa warsa, nulya Kanjeng Sultan ing Ngerum atutulung, patih maju sabalnya, anumpes wong nuswa Prenggi.

— 35 —

Wadya ing Rum yutan wendran, tan petungan layar mring pulo Jawi, ing riku rame prang pupuh, wong Prenggi lebur lebur sirna, tedakira Sang Nata Waringin Rubuh, gya jinunjung dadya raja, kekuta nang Majapahit.

— 36 —

Telung puluh sanga warsa, sampun jangkep watese tanah Jawi, gunung Sumbing nulya jugrug Merapi mubal brama, ing Merbabu swaranira gumaludug, gunung Tidar mubal toya, sirna ilang pulo Jawi.

— 37 —

Wus tutug carisaningwang, ulun arsa wangsul mring Rum nagari, reksanen sapungkur ulun, poma den kalampahan, lah engeta sakehing piweling ulun, aywa nganti manggih papa, wong Keling kinarya wiji.

— 38 —

Sigra bidal Sang Pandita, Sang Hyang Semar ngaterken mring jaladri, Danyang Togog rowangipun, wangsul mring padukuhan, kawarnaha wong rong leksa somah sampun, samya ambabadi wana, tegal gaga miwah sabin.

— 39 —

Sang Hyang Semar dadya lurah, Danyang Togog dadya sor-soraneki, wus awor manungsa iku, sinembah ing wong katah, pan sadaya anurut parentahipun, datan wonten kang suwala, mring parentah hira kalih.

— 40 —

Titi tamating carita, Jayabaya bebere kang linuri, sakiing Kitab mulanipun, Musarar kang carita, ganti ganti kang samya umadeg ratu, lalakone pra Narendra, wates umuring nagari.


————————————————————————————————————
Kapethik saking Buku Serat Jangka Pandoming Agesang.

By alang alang kumitir

SERAT REREPEN


Karanganipun R.Ng. Ronggowarsita, Kliwon Pujangga Karaton Surakarta.

G A M B U H

01

Barkate bumi mamprung, hardaning wong sangsaya andarung, datan kena tinatahan malah dadi ambyuk samya ambeg liwung, kadya wus karsaning Manon.ά

03

Ubale pakarti dur, sinirep ing puja ora mundur, kang pangajar pra sastraarja talak kardi, agama lebur kasingkur, ora paja dadi obor. ά

04

Rame arebut puluk, suwe-suwe saya saya ngrebut desuk, golek milik sing alane-alane abilahi, gegedug saja macungul, kang bandol saja mantongol.

05

Tyase wong saya kuwur, singa apes pepes dadya tawur, sugih miskin tyase banjur rontang-ranting, krana gumelare rukun, nanging kaya prang rerampon. ά

06

Karsaning Hyang Maha gung, kadi lagi kinarya pangugung, mring kang agung anggugu murkaning ati, marma sakeh tulak tanggul, guna bisa tanpa dados.

07

Malah muwuhi ewuh, warna-warna tuwuhing pakewuh, wahanane mung saya muwuhi sedih, saya akeh kang kapiluh, udan tangis jroning batos. ά

08

Wit durung prapteng wektu, sirna kanang jaman kala bendu, ing gendinge kang samya anladar budi, tetulung yekti tan wurung, salah kadaden sayektos.

09

Ujare para pinunjul, ingkang kena kanggo tulak tanggul, amung kudu bisa ngedem edem ati, gumolong geleng gumulungi, nglakoni karsaning Hyang Manon. ά

10

Nyenyirep hawa nepsu, amerangi kahardaning kalbu, nyantosani ing panarimaning ati, lan tumindah reh rahayu, dinasaran andap asor. ά

11

Ing kono bisa nemu, kalis saking ruharaning kalbu, kombak-kumbul aluning budi, luwar saking kala bendu, antuk aksameng Hyang Manon.

S I N O M

01

Kang jumeneng ping Dwiwelas, ilange Gupermen Walandi, sayuk sagung pra kawula, sahiyeg kapti, tumuju mring sawiji, angidep satriya luhur, angidep rajabrana, mung alam ingkang den pundi, kirdiyating tiyas cipta ngesti janma. ά

02

Satriya dibya sunyata, wartanira nunggil kardi, wecanira para kuna, ing gumuk asalireki, ginondol ing dedemit, binongkok den uwus-uwus, satemah bangkit wudar, cinolong wanara julig, pinilala kinalungan agni jenar.

03

Tan sirna malah kruraya, sang patut anggentur wening, ingampingan pra kawula, gegaman ludiro putih, ngrabaseng kang dedemit medana wanara pingul, ing kana katemahan, banda-yuda siyang ratri, long-ilongan demit prang kawula nglawan. ά

04

Demite pada ampingan, keteke pating karalip, kawula saya santosa, kang katri mungkir jaladri anut lakuning alip, kang den anut ing sang apuput, ngener para druhaka, ing siyang pantara ratri, caritanya udan sarik banjir batang.

05

Puluh-puluh kadiparan, pan wus karsaning Hyang Widi, lelakone nuswa Jawa manungsane kena sarik, bebendu gung ndatengi, tidem tandaning tumuwuh, pantoging kang cintraka, yen samya anguntal alip, ciptanira lir wiku angesti tunggal. ά

06

Rarasira den pracaya, ngadeg ing gigiring alip, beda lan kang wus santosa, ilange budaya yekti, ronge tan amratani, gagapi kapeksa luput, wartane pra sarjana, siriking paningal pasti, tataning rong lorone tetep warsita.

————————————————————————————————————————————————-
Kapethik saking Buku Serat Jangka Pandoming Agesang.

By alang alang kumitir

SERAT LAKSITA CANDRA


Anggitanipun KGPAA. Mangkunegara IV

S I N O M

01

Sinom purwaning wilapa, nujuwari Dite merengi, Dwidasa Eka kang wulan, Rangbingulakir warsa Lip, Guna catur Hasta Dji, laksita candraning Ratu, candra atma kalawan, kawuladalem warni-warni, kang pinurwa candra Dewa Daniswara.

02

Djeng Sunan Prabu Mangkurat, ing Kartasura nagari, nata binatara tama, sudibya yu jayeng bumi, marta aksameng dasih, yitna wekasaning luhur, darma kendel waskita kasujanan sastra titi, candranira lir Dewadji ing Jenggala. ά

03

Sinuhun Pakubuwana, kang murwani asma salin, ping kalih ing Kartasura, rusuh pangolahing nagri, dadiya parmaning Widi, pindah datulaya agung, praja di Surakarta diningrat iku candraning, meswandanu Daniswara Pajajaran (maesa Daniswara ing Pajajaran).

04

Djeng Sunan Pakoe Boewono, kapin tri tuhu linuwih, santosa kuwat ing prana, laksita rahayu budi, binatara mungkasi, sekti sura rosa pengkuh, sudibya binatara, bratane iku amirib, Gilingwasi Hyang Cingkara Dewanata. ά

05

Sinuwun Pakoe Boewono, kang kaping pat amandri, babangun agama mulya, sidik ratu wali mukmin, jatine kang miwiti, rusake karatonipun Enis kang binatara, nir kuwasaning Narpati, candranira Brawijaya kang wekasan. ά

06

Narendra kang kaping gangsal, Pakoe Boewono linuwih, sudibya kretarta tama, amumpuni jayeng bumi, asih aksameng dasih, ratu ambeg lir dewa gung, sedane ing apanjang ing yuswa mirib candraning, Majapahit Daniswara Pajajara.

07

Kaping Nem Kanjeng Susunan Pakoe Boewono linuwih, bandel benter ora nalar, purune sok gedea-gedig, datan yitna ing galih, arsa djabel prajanipun, pasisir mancapraja pinaeka catur janmi, cekakira jengkar aneng Ambon nagara. ά

08

Ping Sapta gumantiya kadang Pakoe Boewana mandiri, raja esmu darma-maya, katungkul wibawa mukti, prenah Paman Sang Aji, kang nem pulo Ambon iku, ping Sapta ruba telas, pasisir manca nagari estu kena bangsa Landa. ά

09

Ping Hasta gumantya Raja, prenah kadange Narpati, ping Sapta Pakoe Bouwono, saking garwa kang paminggir, rusak malarat nagri, tan panjang jumenengipun, nata guru minulya, kang kaping Sanga gumanti, putra dalem Sri Narendra ingkang jengkar.

10

Neng pulo Ambon atilar, weka sigid madeg Aji, Pakoe Boewono ping Sanga, babangun rusaking nagri, miwiti amungkasi, kiyating bawana punjul, durma apureng wadya, samekta praja was rakit wreksa tama sumengka pangawak braja. ά

11

Narendra kang kaping Sanga, ratu ambeg lir jahnawi, ping Sada Djeng Susunan, madya laksitaning galih, ana prang catur, benjing ruhara praja meh rusuh, ajrih anglahirena, iku wadi kang piningit, ping sadasa nemu mukti sawatara. ά

12

Lawan ana gung prakara, kang ngrampungi praja adi, risang wresniwiratama, Senapati pulo Jawi, ping sadasa mumpuni, ana geng sujana turun, sajuga wiji priya, pancer kakung sing Narpati, kaping Nenem sawarga kang tilar praja. ά

13

Saking wayah iku papat djeng Gusti Pangeran Dipati, Mangkubumi ingkang jengkar, twin Djojokartika nguni, katri kang lena jurit, Kali Abu bawah Kedu, ugeling Tirtamaya, Kanjeng Pangeran kang mandiri, Harya Hadiwidjaja tri sakawannya. ά

14

Singaprana dusun Sima, kabawah Ngampel winarni, Catur Gata Rasa Hena, tukule dadi sawiji, wit watak wiku sari, iku kekeraning ratu, kang gumantya Sawelas, Srimaha Narpati wiki, wida darma madya nista sawatara. ά

15

Wudaring senening Nata lawan bangsa kulit putih, ping Rolas iku gumantya, iku ratu wali mukmin, prajurit pandita di, pandaming jagad linuhung, mumulih nagri Jawa, raharjanya pinarsudi, ping Telulas ratu Oliyaning Jagad. ά

16

Anangung kaping sawelas, wonten wadi kang piningit, kang gumanti nata wreda, isih sinengker Hyang Widi, iku ruhara benjing, kang sumela dadi ratu, turune ping sadasa, anutug wibawa mukti, salin jaman praja wirya mulya tata. ά

17

Kula mengeti riwayat, wonten Walandi Ustenrik, Dislan Wenen prajanira, pepara mring tanah Jawi, minggah mariksa wukir, anyuwun Idi Sang Prabu, ningali kawahira, pucake ardi Merapi, wangsulira Walandi asung wirayat. ά

18

Dateng djeng Gusti kaping Pat, enget kula nyengkalani, Ngesti Gusti Saptya Nata, kang redi pecah ing benjing, kobong wit sengkalaning, Ngesti Catur Slira Ratu, pejah kang hardi sigar, Yogja Kedu risak sami, amung Sala risak sawatara nira. ά

19

Yogja karatone sirna, pecahing hardi amili, tirta dadya Sala Yogja, pecah tanpa nunggil siti, tenggahing harga dadi, bengawan wiyar tur agung, dadya ing pulo Jawa, pupute dadi kakalih, ing Madura gatuk lawan Surabaya. ά

20

Wirayate Resi Landa, payo pada den titeni, cinatetan mbokmawa, anak putu amenangi, Si Landa banjur bali, marang Wenen praja gung, lawan hardi Cilacap, baren samya mubal geni Cilacap Kedu Semarang lan Salatiga. ά

21

Kendal kelawan Banyumas, bawah Kutareja nguni, sami nandang kasangsaran, kututuh iku barengi, bledose Rawa Pening, ing Bahrawa rusak mawut, sareng murub dahana, kaote amung tri ari, lan Merapi benjing wisma mawut rusak. ά

22

Sawuse kebut gya prapta, tanaj Jawa harja malih, sami babangun kang wisma, antuk tulung liyan nagri, nuju Sala nagari, kang jumeneng ratu agung, kaping Rolas minulya, kata salin setya nguni, jenganira djeng Jayoboyo. ά


————————————————————————————————————————————————–
Kapethik saking Buku Serat Jangka Pandoming Agesang.

By alang alang kumitir