alangalangkumitir

Javanese Manuscripts

PRASASTI KAMALAGYAN


Prasasti Kamalagean
Lokasi : Dusun Klagen, Desa Tropodo, Kecamatan Krian, Kabupaten Sidoarjo, Propinsi Jawa Timur.
Ukuran : Panjang 115 Cm, Tebal : 28 Cm, Tinggi : 215 Cm.
Bahan : Batu kali (batu andesit).

Keterangan Prasasti
Prasasti ini ditulis dengan huruf dan bahasa Jawa Kuno, yang isinya menyebutkan dibagunnya sebuah bendungam (dam) di Wringin Sapto oleh Raja Airlangga (Raja Kediri) bersama-sama dengan rakyat. Sebelum bendungan itu dibangun, dikatakan bahwa sungai Brantas (sungai Bengawan) selalu banjir dan airnya meluap ke beberapa Desa dan tanah Perdikan. Untuk menjaga dan memelihara bangunan bendungan tersebut, ditetapkanlah Desa Kemalagyan (Kemalagean) untuk menjadi Daerah Perdikan atau daerah bebas pajak pada tahun 959 Saka.

PRASASTI KAMALAGYAN

  1. Swasti Cakawarcatita 959 marggaciramas, rthi pratipada cuklapaksa, pa, pe, cu wara dunulan (graha) cara bayabyastha, destanaksatra cakragni dewata, dhriyoga, wawakarana, irika di wacanyajna cri.

  2. maharaja rake hulu cri lokecwara dharmmawanca airlangganama prasadottungadewa, tinadah rakyan mahamantri i hino cri  sangramawijaya prasadottungadewi, uminsor i rakyan kanuruhan pu dharmmamantri narottamajana.

  3. nacura, i pinsomyajna cri maharaja kumonakinikan ramapitaka i kamalagyan sapasuk thani kabeh, thani watek parikaja, atagan kalpurambi, gawe ma l masawah tampah 6 hinajyan ma su 10 ku 4 lon.

  4. drbyahajinin gaga, kbwan paserehan, ika rin lwah, renek, tpitpi, wulu-wulu prakara kabeh, pinda samudaya ma su 17 ma 14 ku 4 sa 4 yatika inandoan patahila drabya naji ma su 10 arkan asuji.

  5. masa i cri maharaja magilingilinan tanparik tanpa pada panleyo, tanpa pagaduh, tanpa pilihmas len drabyahajinin kalagyan sadanan ma su 2 ma 10 milu nandeh matahila ma su kakala.

  6. nan madrabyahaji ma I ku, inandeh matahila  drabyahaji ma I ateher ta kna rin pintapalaku buncan haji turnturun sakupan sarak sykha duhkha magon madmit denikan wargga hatur, wargga perih, mawan jurunin ka-.

  7. lagyan ranu rin dharmma, kewalanemwa drabyahaji in sima dawuhan i kamalagyan rin tambak rin warinin sapta juga paranahaya kalih, sambandha, cri maharaja madamel dawuhan rin warinin sapta lmahaikan anak thani kamala.

  8. gyan punyahetu tan swartha, kahaywaknanin thani sapasuk liir lasun palinjwan, sijanatyesan panjigantin, talan, decapankah, panlaja, ika rin sima parasima, kala, kalagyan, thani jumput, wihara ca.

  9. la, kamulan parhyanan, parapatapan, makamukya bhuktyan, ran hyan dharmma rin icanbhawana manaran i surapura, samankana brehnikan thani katahan kadedetan cariknya denikan kanten tmahan benawan amgat ri wa-.

  10. rinin sapta, dumadyakan unanikan drabyahaji mwan hilanakan carik kabeh, apan durllabha kawnanani katambakanikan banawan amgat de parasamya makabehan tan pisan pindwa tinambak parasamya.

  11. ndatan kawanan juga parnnahnya, samankana ta cri maharaja lumkas umatagakn ikan tanaya ri thani sakalra deni kerke mritapa cri maharaja, inatag kapwa panraba mabujcanhajya madawuhan sampun ta siddha kadamla.

  12. nikan dawuhan de cri maharaja, subaddhapagen huwus pepet hilinikan banu ikan banawan amatla hilinyanalor, kapwa ta sukha manahikan maparahu samanhulu manalap bhanda ri hujun galuh ika.

  13. rikan para puhawan prabanyaga sanka rin dwipantara, samanunten ri hujun galuh ikan anak thani sakawahan kadedetan sawahnya, atyanta sarwwa sukha ni manahnya makanta kasawaha muwah sawahnya kabeh an pinunya.

  14. n tinambak hilinikan banawan amgat ri warinin sapta de cri maharaja, dawuhan cri maharaja parnnahnikan tambak rin warinin sapta, samankana ta cri maharaja hanananan ri tan tguhanikan dawuhan.

  15. deni kwehnikan wwan mahyun, manlbura n yaca, ri sdananya n tan ringin raksan parnnahnya umahana, matanyan anak thani i kamalagyan tka  kalagyanya katuduh momaha i samipanikan dawuhan winin sapta.

  16. an sima dawuhan cri maharaja parnnahnya umiwya ikan pamananasa kahaywakna san hyan dawuhani ateher panandeh) drabya haji ma su 10 ilan i kamalagyan, tahilaknanya i cri maharaja ankan asuji ma-.

  17. sa, kapangiha rin warinin sapta, ikan kalagyan sandunan milu inandeh matahila drabyhaji ma su 2 kapangiha rin tambak denikan wargga hatur ankan asujimasa, kabalanan manadeh I kapangiha rin tambak.

  18. denikan wargga patih,  pirak salumari ri decanya patahilanya tan piriten, dalanya lmahnya dinawuhan cri maharaja, dumadyakan krtanin rat, mwan punarjiwani bbuktyan san sarwwa dharmma, sima parasima, kala kalagyan.

  19. thani jumput, wihara, cala, kamulan, palyanan para patapan kabeh, makateweka pandiri cri maharaja makadatwan i kahuripan, an sira saksat sumiram irin rat kabeh rin anuragamrta mahudanakan kirtti, u-.

  20. manun sakaparipurnnaknakna san hyan surwwa dharmma, ri pamepegni kayowananiran siniwi ri yawadwipamancala, hetuairan panglrakan dharmmakucalamula, tirutirunin rat kabeh, kapwa magawaya yaca, apan mankana sawabhawanikan.

  21. sira ratu cakrawartta, umanun pamangiranikan rat hita pratidina, panlingananikan sabhuwana ri tan swantha kewala cri maharaja, yawat kawanunanin yaca donanya, an kapwa kinalimban juga denira, sahana san hyan sarwwa dharmma ka-

  22. beh, mankana karanikan i kamalagyan an sinima de cri maharaja, wineh makmitana pracasti munwin titik wunkal mwan katmwani drabyahaji ni kala kalgyan in soen madawuhan i kamalagyan rin tambak ri warinin sap-

  23. ta denikan wargga hatur mwan wargga patih mapangiha pageha kaliliranani wka wetnya hlam tka ri dlahanin dlaha, an sima dawuhan cri maharaja parnnahnya, nayaka pratyaya tka rin pinbaiwuhuta ra. (lanjutan Prasati telah hilang).

Prasasti Kamalagyan dibuat untuk memperingati pembuatan bendungan di Waringin Sapta. Di dalam prasasti itu dikatakan bahwa raja telah menetapkan pengurangan pajak-pajak yang harus diserahkan ke kas kerajaan dari Desa Kamalagyan sewilayahnya, yang masuk wilayah Pangkaja, kebun sirih, tepian-tepian sungai dan rawa-rawanya, yang pajaknya seluruhnya sebesar 17 swarnna, 14 masa, 4 kupang, dan 4 satak, dikurangi 10 suwarnna untuk diserahkan kepada raja pada tiap bulan Asuji (September-Oktober) untuk kepentingan bendungan di Wringin Sapta itu. Dari daerah Kalagyan Sandangan, yang pajaknya 2 swarnna dan 10 masa emas, dikurangi 2 swarnna untuk diterimakan kepada wargga hatur (?) untuk kepentingan bendungan itu juga, dan dari Kakalangan yang pajaknya 1 masa dan 2 kupang, dikurangi 1 masa untuk diterimakan kepada wargga pati untuk kepentingan bendungan itu. Sementara itu, pajak-pajak perdagangan di desa itu berupa mata uang perak tidak dikurangi.

Adapun sebabnya raja mengambil tindakan demikian ialah karena Bengawan (Brantas) karena seering menjebol tanggul di Waringin Sapta, sehingga banyak desa-desa di bagian hilir yang kebanjiran, antara lain desa-desa Lusun, Panjuwan, Sijanatyesan, Panjiganting, Talan, Dasapangkah. Dan Pangkaja, demikian pula daerah-daerah sima, kalang, kalagyan, thani jumput, biara-biara, bangsal-bangsal (untuk para pertapa) kamulan, bangunan suci tempat pemujaan dewa, dan pertapaan-pertapaan, yang terutapa di antaranya ialah daerah labapura bagi sang Hyang Dharmma ring Isanabhawana di Surapura. Akibat banjir yang selalu datang itu sawah-sawah hancur, dan pajak yang masuk menjadi sangat berkurang. Tidak sekali dua kali rakyat membuat tanggul, tetapi tidak berhasil menanggulangi banjir yang setiap tahun datang. Raja pun mengerahkan seluruh rakyat bekerja bakti membuat bendungan. Karena tantangan ini cukup besar untuk memberi cambuk untuk bekerja yang lebih giat  dan jawaban ini dibuktikan pada Jaman Airlangga (tepatnya di daerah Kabupaten Sidoarjo  Jawa Timur). Air bah dengan segala macam malapetaka dijawab oleh rakyat Kediri dan sekitarnya, sehingga di daerah ini tampil kemuka dalam gelanggang sejarah Indonesia.

Selesailah sudah pembuatan bendungan oleh raja, kukuh kuat sehingga terbendunglah aliran sungai, dan kini aliran Sungai Brantas dipecah menjadi ti ke arah utara. Bersukacitalah mereka yang berperahu ke arah hulu, mengambil dagangan di Hujung Galuh, termasuk para pedangang dan nahkoda dari pulau-pulau lain yang berkumpul di Hujung Galuh. Penduduk desa yang sawahnya kebanjiran dan hancur, amat bersenang hatinya sekarang, karena sawah-sawah mereka dapat dikerjakan lagi berkat bendungan yang dibuat oleh raja. Oleh karena itu, bendungan di Wringin Sapta itu mereka sebut bendungan Sri Maharaja. Akan tetapi, kemudian raja berpikir akan kemungkinan banyaknya orang yang hendak menghancurkan karya besar itu. Oleh karena itu, raja memerintahkan agar penduduk Desa Kamalagyan  dengan kalagyaninya yang tinggal ditanah-tanah sekitar bendungan itu sebagai penjaga, untuk mengantisipasi semua orang yang hendak menghancurkan bendungan itu. Untuk itu, mereka mendapatkan bagian pajak seperti yang telah disebutkan di atas, yaitu jumlah yang dikurangkan dari pajak yang semestinya disetor ke kas kerajaan.

Sekalipun prasasti ini kemudian memuat puji-pujian terhadap raja sebagai ratu cakrawati (penguasa dunia) yang menyirami dunia ini dengan air amerta yang penuh kasih sayang, menghujankan jasa dan kemasyhuran, dengan memprbaiki semua bangunan dan tempat-tempat suci serta daerah-daerah yang merupakan sima, sebagai pendewasaan kerajaan masa pemerintahannya di mandala Pulau Jawa, karena itu raja menyebarluaskan perbuatan darma supaya ditiru rakyatnya agar berlomba-lomba berbuat kebajikan, tetapi dari kalimat yang menyatakan bahwa raja mengkhawatirkan akan adanya usaha-usaha yang hendak menghancurkan semua jasa-jasa yang diperbuat, kelihatan bahwa Airlangga masih belum yakin benar akan ketaatan seluruh wilayah kerajaan pada pemerintahannya. Seperti telah dikatakan, prasati Kamalagyan itu dikeluarkan hanya seminggu tambah sehari setelah ia berhasil mengalahkan raja Wijayawarmma, raja terkhir yang masih belum tunduk (bula Karttika tahun 959 Saka atau 10 November 1037M).

Alang alang Kumitir.

NGIRIT IKU PERLU


Pucung

Kalanipun,
mangsa paceklik tumurun,
rega barang mundhak,
dhuwite wis tanpa aji,
pra sedulur priye le ngemong kahanan.

Yoginipun,
ngirit pancen kudu perlu,
ing sadhengah mangsa,
tan ngenteni suk paceklik,
ekonomi den atur sembarang polah.

Mumpung durung,
sungsang jempalik butuhmu,
wektu ja dibuwang,
wektu padha karo dhuwit,
lan sembarang iku bisa dipun eman.

Mula iku,
sandhang pangan sarta butuh,
ing sadina dina,
iku perlu digemeni,
waton pantes ora ngganggu kasarasan.

Tansah emut,
kudu pethel anenandur,
thukulan kang guna,
dimen rejekine mili,
bagas waras sandhang pangan kacukupan.

Kapethik saka buku Warisan, Geguritan Macapat, karyane Suwardi, weton Balai Pustaka, 1983

Alang alang Kumitir

SERAT CEBOLEK


Naskah Serat Cebolek ing ngandap punika isinipun nyatur utawi bebantahan bab ajaran Islam antawisipun Islam “ORTODOK” kaliyan Islam “HETERODOKS”. Kacuplik saking Serat Cebolek kaca 1 dumugi kaca 27.

SERAT CEBOLEK

Manutoken ing tepa palupi / meksa winatu mameng pustaka / ingkang jinejer kancane / kartasura rumuhun / wonten kojah kang dadya warti / ngulama tanah Jawa / duk ing Jawanipun / Jeng Sunan Pakubuwana / Purwa dadya rerasan ambabayani para ngulama.

Saliring sarasaning ngelmi / sangking takluk mring kodrat ngaradat / kang dadya wit partutane / sruka surak kasuwur / tanpa wekas tekad binangkit / temah cacad canacad / hajuwet acucut / pasisir wetan oteran / tanah Tuban Kaji Amad Mutamangkin / nadya lawaning kathah.

Sora-saru sarengating Nabi / dhusun Cebolek bawah ing Tuban / kang dadya lok lelakune / binereg ginamurung / dening para ngalim pasisir / aja ingrusak sanak / duraka ing ratu / Sri narpati wenang niksa / jer minogka badal miyakaning bumi / bebayani ubaya.

Nanging sira Kaji Mutamangkin / datan keguh bakuh gagah / tan suminggah pakewuhe / wani ngurebi kukum / keh kang ngungkih kukuh tan kongkih / akeh ngulama prapta / manrapi pitutur / malah anginus nang nala / kilesiyangeng ing nil ingkang sawiji / ing ngaranan Sul Kahar.

Ingkang catur kikik cilik-cilik / pangarape kiki kangsa tunggal / pun lamaro dina mane / kalangkung kumalungkung / kaji Amad Kimutamangkin / wus riyen pra ngulama / mesthi katuripun / mring kang Jeng Sri  Naranata / pan wus wus katon tan kena den pituturi / mejanani negara.

Sanung wateg ngulama pasisir / dhinginaken iber-iber layang / mring para ngulama kabeh / Pajang Mataram Kedhu / ing Bagelen monca negari / sarta kang panunggilan / ing panganggepipun / tekade kang ingandheman / Ki Ceolek ngaku mukamat kakiki / wani prapteng prakara.

Duk semana oterkeh nagari / kontran wateg ngulama sadya / kakerigan ing praptani / bang wetan kyai bungsu / kawusana ing surawesthi / lawan masida sarma / myang tibanom Kudus / pangirit para ngulama / ing pasisir prapta Kartasura sami / dereng kongsi bisara.

Pan kesaru gerahnya sangaji / Prabu mangkurat ing ngriku seda / ingkang sumilih putrane / Dyanmas Prabayeksa wus / jujuluk kanjeng pangrami pati / mangkya jumeneng nata / kasusra sinebut / Jeng Sunan Seda  Nglawiyan / duk jumeneng anyar duneken prakawis / katuring Sri Narendra.

Kerik sagung ngulama pasisir / datan ana kang kaliwatan / Pajang Mataram Pagelan / monca nagara Kedhu / sipat bisa lapal sakedhik / tan kena suminggaha / dhawuh kinen ngumpul / neng dalem Kadanurejan / nulya konjuk marang Kanjeng Sri Bupati / mupakat prapangarsa.

Ing pasisir lan monca nagari / tuwin wadana ing Kartasura / sampun dadya panggusthine / sedhenge tibeng kukum / pra ngulama sanggya wus prapti / kayugung neng geladag / duk atumpuk-tumpuk / ngrenga jembangan junjunan / meh binasmi Kaji Amat Mutamangkin / ing nalika semana.

Wadana jro kang mramugareni / ing nama dyan Demang Ngurawan / kaprenah ipe sang rajeng / kang bok ayu pinundhut / Raden ajeng Supiyah dadi / Kanjeng Ratu Kencana / dyan Demang puniku / mila kandel kinasiyan / mring sang nata semana ngandikan manjing / pra prapteng ngarsendra.

Angandika Kanjeng Sri Bupati / heh Nurawan iku kaya paran / cihuwa patih ature / apa wus abiyantu / abipraya wateg ngulami / radyan Demang Nurawan / wot sekar umatur / inggih wus prapta sedaya / malah sampun pinanggihaken lan aris / rarase kang rerasan.

Estu ngelmi kang dipunraosi / Abdi dalem ngulama sedaya / kang kinerig pamanggihe satus kawandhasa mung / langkungira inggih kakalih / punika pepiliyan / den sanes ken sampun / igkang aser kalih duman / kang saduman punika ingkang pinilih / kawandasa sekawan.

Kawandasa pan pinilih malih / angsal kalih likur piniliyan / kang pinilih pethingane / mung sawelas pukulun / gangsal ingkang saking pasisir / ngulama tanah tengah / catur antukipun / monca nagari satunggal / ing Pagelen punika ingkang satunggil / majasem lan Pajang.

Pengging kemasan ing kedhung Srenggi / dene ngulama monca Negara / panamung pranaragine / pagelen Ngadilangu / ing pasisir lan monca inggih / kekalih Surabaya / Garesik sajuru / Demak Kudus ingkang tiga / kang pinilih binekta panepen gusti / sakawan Bupatinya.

Gangsal pun Wadanujadipati / ing pasisir kekalih wadan / Dipati Jayaningrate / citra soma pukulun / abdi dalem Bupati nagri / inggih pundira guna / lan priyongga ulun / sawus nyang ngabaraken sebda / wawaketé ngélmu tékad kang piningit / Kang ing nganggêp jati.

Kang sêsanga sampun mupakati / namung kekalih gusti kang nandhang / inggil kén minggah tekade / wonten kula ngulamajang / sajuga kêlayu / kêdhung gêdhé paméngakkan tadhah kukum tumutur ki mutamangkin / tyantus eka praya.

Sami ngakên mukamat kakiki / milanipun punwa danurêja / atur sumongga saparangréh / kasa dalêm sinuwun / mésêm nabda Sri Narapati / ngêndi guruné bapang / cabolék puniku / wani sangkêm mring hantaka / radén dêmang ngurawan matur wot sari / duk wau wontên marga.

Abdi dalêm gandhon kang nimbali / pun gêndhong umob lan rosa pita / pun kaji amat  samadya cabolék / wus rumaos tyasimin / badhê tampi dêduka aji / nging tan nêdya suminggah / éklas rila têrus / ngandika malih sang nata / kaya priyé rêrasané duk nang margi / umatura dén dêmang.

Sukaso kurbégja kukum pati / kina kubur sagung prangulama / néng ngabyantara sang rajéng ngadhêp néng ngalun alun / kinurmatan urutbing gêni, lék sagung wuwukiran /  kumantar murub trus /  kumêplas prapténg ngarbiyah / saking nuhu wawêjangé guru nadi / gojeni nangriyahman.

Mésêm ngandika Sri Narapati / priye bapang lamun anéng wismA / si mungatamangkin karya nora dén  dêmang umatur / ki cabolék yén wontên panti / wus bakda sêbayang / tan néndra sêndalu rêrêpén suma wicitra / kang wanahya lampah / êsang bima suci / duk gêbyar ing samodra.

Têrkadhang sêkar nyadhén lintoni / madurêtna lampah kalih wêlas / tuwin bêmara sêkaré sakêdhik  rangi kidhung, / déné jimpên sastra satunggil / kombang lampah sawêlas / namung yén linuntu bawonta lampah pat bêlas / langkung ngayang séngkéksu prandéné ugi / pun cabolék hamêksa.

Sru gumujêng jêng Sri Narapati / angandika bapang kaya paran / ing wong micara ngélmuné / têka angrib laku / ing kabudan sang Bima Suci / apané rakêsasar / rapén ing pamésu / matur nêmbah raden demang / kadi boten yen kasi kupantog ing wit / surasané ngélmu kakya.

Mung minongka samêndhêting tamsil, / kadi boten tinarus néng tekat / namung ngalapé ing dheondho / para waliyulahu / kéh kabuka si kang upaming / bima gêbyar samodra, maréntah ing guru / pandhita ing sokalima / angunangung surongga karébén sati / cipta sang mangunjaya.

Yén tan angsal kawruh ingkang sidik / têkan têlênging samodra laya / kalémbak truna gêng kang wêliwran gênjoring pupu / wêrkudara satêngah mati / kêpanggih dewa bajang, gêngi rasak kupu / mawa téja trusing wiyat / langkung kagyat kusumayuda duk myarsi / sabdané déwa bajang.

Kinén lumêbêt guwa garbaning / maganira sangking karna kiwa / wêrkudara anglêgtyasé, kamangkara yén saslun / kadi datan sedhêng jajêndhik, / krataséna pinêksa, gyamragalbéng ngriku / prapta ing jagat walikan / pan punika kaji amat pamit mutamangkin / kang minongka wiridan.

Mésém ngandika Sri Narapati / bapang atué siwa danurja / lan para punggawa gunge / rêmbug anuli ngukum / marang kaji simutamangkin / néng naglun alun ningwang / mung sijiné iku / durung dadi karasa ningwang / anuruti aturé wadana tuwin lawan para ngulama.

Krana apa kaji mutamangkin / ing ngélmu nédég anggo priyongga / tan ngajak ajak wong akéh / ngélmu mangkono iku / lamun nora nêlukên jalmi / datan aprung sak sarak / kanggo dhéwé iku, / ing suk pantês angapura / lamun kaji mutamangkin babar ngélmi /  mamrih tinurut kathah.

Sarta katon kéh kang manjing murid / iku sêdhêng tompa ukum ing / widyan dêmang nembah aturé / lêrês  karsa sapukulun / angandika malih sang ngaji / wis ngurawan mêtuwa, dhawuhna préntah sun / duduka mring pranayaka / pêpakêna anéng kêpatiyan injing / nêmbah demang ngurawan.

Wêdalira sangking byantara aji / animbali kalih punakawan / ingkang dinut paring wroh / mring kapatiyan lamun / bénjang ngénjang pêpakna sami / wadinajo lan jaba / lan ngulama sagung / pukul sanga prapta ningwang / néng danurjan angêmban dhawuh sang ngaji / dutadi winêmbah méntar.

Prapta kapatiyan atur unin / réh nang dinuta mring radén dêmang / rahadyan dipati agé / paréntah angungumpul / para watég manggala tuwin / sagung para ngulama / lastri tan winuwuns / yata énjing sami prapta / prawadana kalawan para ngulami / pêndhapa kepatiyan.

sagala nilén majêng mangétan / para wadana lênggaha /  anéng wétan sêdarum, déné kanjeng radén dipati, anéng téngah / Sawatara megung / mangilen ing tajengira / tangur mati dhumateng para tulami/ cumungkling pukul sanga.

Rawuhira raden demang mundhi / dhawuh dalem sapang ngedhak lira / niyaka wulana kateh / dyan dipati tagupuh / ngancarani lenggah pendapi / wus sira tata sang bya / palenggahanipun/ raadyan demang ngurawan sapang dhodhok kelawan raden dipati soring singgup pandawa.

Andhawuhaken timbalani pati sira rahaden demang ngurawan pan warwita diknetrane / sagunge kang karungu/ prawahaga parangu lami / kumepyur manahira / telase kang dhawuh / radiha ngapyuk deduka / sawuse sira dedukane nribupati / dipati manupaja.

Aturira sandhika anuli / lenggah nglengger gegettun sedene semunya / prabu pati pucet kabeh / lungguhira tumungkul weng bendhu / kicabole klayap-klayap / niring cahya yayah dalu wangwinawing/ lir wus mangkad sekarat.

Tawuwus samad ketip tarunni / solah nyali menjangan ketawan / mipit-mipit walikote / netra sumyak kadulu / wingwinawing ngamurup mawerdi / lir wantah angrak rura / maambek gugul agul kumyas swanita sudrisa / tawira ganalih nganan noleh ngering / kambyat tumungkul samya.

Mastibanom bangun nalih-nalih / mimba sudiran nireng wardaya / amurgani wira mano netepaken surbanipun / jubahira winingkis wingkis / mingset maju rong jengkang / ketibanom kudus / wus monces saking ngakantrah / solah kang gaswiji / lekangsat dataries / karya cingak ing kathah.

Pun anom anuwun duka kamipurun anyelani / ing deduka sri narendra / kang cumawuh dyan dipati / radika lintukedik / saknalika duk angrungu / kagyatrata den demang / ngurawan megung talinggih / ngajengaken mastibanom kang micara.

Astanira malangka dah mangkoron liswane ngrandan kang jajar manguntar-nguntar mangulat-ulat lir agni / kumerket maju gatik / menggah menggah ngunjung batu/ getere kang mulat / Punggawa kang samdya masapwi mastibanom mulat dyan demang ngurawan.

Kang samya wawan wicara/ dangu angok silih ungkih / animpuna ngaduyasa / kaprawira mrih titih / titikaning ngakrami / ing pan wikarama ngundangan / maken drama pangeran / yen menggahaning ngajurit / ramededer dikeder hideran.

Tahor kang warangulama / pandhengkule pada tangi / tuwih kang para wadana / bangun kagyat dukmiyarsi / mring kang lumawar angling / masketib banongling kudus / kelawan raden demang ngurawan ngandika wengis / saking ngendi sira narko kaluputan.

Dudukane sri narendra kang dumawuh mring mapatih / mastibanom aturira inggih gramung kirang wit / wiwindih ing prakawis / wiladyan dipati matur / wit saking prangulama / ingkang darbe atur sami/ wus santosa panggusthi padheg ulama.

Upamine tunuruta / purwane ingkang prakawis dudu kadalem narendra / dhumateng para ngulami / rahaden adipati / sates tumut-tumut/ tegese atur kula sadaya para ngulami / ingkang tampi dudukane sri narendra.

Gumujeng rahaden demnag ngurawan angentrok wentis / nebdalengga ing tyas singw nag oleh mungsuh kaum lanji / wantir wani tohpati / tambarek bias kaluruk / sawangane sembada / yen janeng wa wiring  kuning / mubal putih tambarek pindho garuda.

Lahiya ingsun kewala / kang dadya wakil sangaji / aduduka marang sira / yapa gene prangulami / taweh ruwet nagari / guwurura ngoning ratu/ ujar during sembada matur marang tuwa patih / tapa amrih dudune para ulama.

Gawe tontonanning praja / ngepami dalajad rumi / rampung dukane narendra / ketibanom matur aris/ langkung nuwun kapundhi / duka dalem kang cumawuh / dhumateng prangulama / nanging taking dasih sami / langkung saking tebih niyat kang mangkono.

Ngrunu bedim ring narendra / lamun klepas sanasami lahir batin srurumeksa / sasaget-saget tingalit/ kuwajibaning urip / sami rumeksa ing ratu/ karaharjaning praja / angimani tanah jawi / mangka wonten pratingkah saru katingal.

Sakupami kelajengan datan wandem prepeki / agempil derajating praja tamaren tekde nulari / pinanggih datan kenging / angangge pribadenipun abdi dalem sadaya / yen miyarsa gampil kang nebihaken / saking sundatul sumungah.

Dherekal lan sami ratap / kelayune sifat kuping / adipati jayaningrat / amesem sarwi / anjawil marang ki arya noruh / metoni ika mantumu / wani deder wicara / tekadatan uwas uning / lan rade Dêmang ngurawan.

Yen manungsa jamak lumeh / mesthi tan bisa cumuwit /  pinandêng lan raden demang / sasat kalalen murti /  winulat gégirisi nadyan / dadyan mralaya kusuma iku mésém muwus iriban /Asta tumawang liangri / nadyan kula sanak tur sami wadana.

Supradênê kêrataban / tyas amba lamun kepanggih / kadi unginga ing macan / Sênadyaning Ponconiti / yên nuju sénén kemis / ngaglar punggawa gung ngagung /  yên kakang emas liwat /  tuwin minggah ponyule niti / sipap samnya tagnana purundya wara.

Pikirê sami was-uwas / lirang ngeman nawanga lirik / dênê taboten kéjamak / Delajate ngaluluwihi / kakang mas mangku bumi / duk wontén ing purwa lulut / nambut karya jropura/ bubuhane dén parani / pinariksa mring kang mas dêmang ngurawan.

Sakêdap sêbari liwat / labete anggégétiri / manah teksih terataban / kang mas brata mangku bumi / lajeng marani mami /  angandika tutur-tutur /  marase sadêrêng ical / Keketeb mekasih kétawis / sumar-sumar angandika pegat-pegat.

Kula ngaturi poyokan / mring kakang mas mangku bumi / paduka kadi kawula / mring rayi dyan dêmang ajrih / mongsa wontena ugi / andhendha mring kadang sêpuh / ngandika kakang emas /  lah dênê pepadon yayi / sinten wong ngekang wani mring yayi dêmang.

Adhi mas mlaya kusuma /  datanyan awak bumi / pun adhi lurah mariksa / marang peng gaweyan bumi /  sundatan darbe getih / ayana lamun dên sêndhu / tujunê adhi lurah / mung liwat bari ngesemi / Bungah sasat bakal atoma paganjaran.

Tur puniku kadang tuwa / kakang mas mangku bumi / dênê sentana langsaran / sentana pameran yekti / prandênê langkung ngajrih / mring kang mas demang puniku / dênê kaliwat-liwat / dlajate bang ngaluluwihi / mung wong kudus kang wani lawan dicara.

Mangkê yên boten kadukan / ketibanom yata luwih / saking guna srana bisa / Jayaningrat adipati / nebta abisik-bisik / Si Amat inggih tiyang puniku/ yen lagyantuk ganjaran / kanugrahaning Hyang Widi / sampun ingkang kadidyan dêmang ngurawan.

Sarwa-sarwi basembadya / sumbaga prata mengkudi / dhasar wahya ing Narendra / senandyan tiyang tik-utik / lamun labima ngaletik / ksrambahan sih ing ratu / kawula namung darma / mongko tuladaning ngabdi / dipun samya marsudi ngereh kautaman.

Supaya dipun angêp / kapareka ing Nerpati / kasiram gengnging prabawa / wau takang wawan    angling / dangpu asilih unggih / adêdêr dinêdêr mrih tanbuk / nimpuningadu yasa / ketibanom datan kalih / sinegrangan mrari dyan dêmang ngurawan.

Ketibanom aturi rira / angger paduka manawi / anetah para ulama / bilih datan mituturi / mring kaji mudamangken / muni kapaduka dangu / sami aprang wadana / kawula kêmam dhatengi / apitutur yegah / saruning pratingkah.

Nêdha dikasumatura / kaji Amat samat mutamangkin / mumpung neng ngarsa bentara / puniki gonentoh pati / ki cabolek nauri / layab-layab anganga lentuk / inggih yektos pun anak / andhatengi mituturi / nanging kula tekeng bila itane salak.

Saking bodhone pun paman / mung wulang guru kaesti / ingsun kumaya bike walat / tan saget mrih surat malih / manah kêdah nêtêpi / ketibanom angling sedhu / lah iku pikir tapa / anyeyengit sipayakit/  nora pisan angurus raras / ing sarak.

Angger sergalan juga / ing ngaran pun kamaroden / kangangger nama punkatar / gumer kang sam / miyarsi / raden dêmang annuli / ngenton wintis sarwi guguk  ketibanom maneb / den kini kuboyo besik / demen temen dadi guguyon nagara.

Wong kudu amulang sarak / ambêk ket angluluwihi / aja anggur ing pratingkah / bêdholan gunung merapi / elih tengarang sumbing / sundara tumpang ngalawu / tidhar sangganen tangan / sebarang penggawe iki / ngaka liwat-liwati / pang saking sarak.

Ayengngel sawenang-wenang / asune pina dhajalmi / lawan pangulu ing Tuban / dulkohar asune malih / pigadha jeneng ketib / sika marodin puniku / dudu wong têmên sira / nerasak ratu ing ngelis / sejatine pangertimu ngudubilah.

Angger pramila kawula / purun matur marang patih / konjuk Sri Nara dibya / supados ngentar ngawarti / ingkang ngarus kapiyasi / inggih anaman ning ratu / lamun nêbihana / marang sarak / kejeng Nabi / kasaksaraical suraosing sastra.

Angger kanggo kocaping kitab / inggih Si Amat amirul salatin /  ngrenggah ing Nara Nata / tetep pepangkuning bumi / badal dakiling widi / wenang ganjar lawan ngukum / mila lamun wontena / Ratu nimpang sre.

Nguranguru kang lampah narpati / tanpa memanis angrerus / marang prawan dadya mesum tan prak anang / tamngupumang la bumi / tumuk pratan mawelu / tanpo teko mirbac ramya / sami rumek satir bumi / sejatine narpati katine jagat.

Sami lan atine taranya / punika kang sakpuweni / sayogya nora ngagesang / pumeksa tadan mungtali / pramila ugi / wajib rumeksa ing ratu / mobah mosing lijagat pakaryaning karapati obah ira ing badan.

Kalepataning narendra sinanandang ing wong sabumi / jeng ratu panwaming jagat manah rusak / badan sarik yen tan enggal / nelutuh neluh mring ratu radhan demang wurawan siwakep sarwi seleh trisa / natdah marang raden dipati dhan urja.

Mapati kula kan saren / pun kudus bodsan talanni bisa amrep basa/sabete depast titis / salin dapur runiki / dara dalem kedhumawah / inggih dhateng sunuwa / pun kudus ingkangnageni / nang gulung pram ngajer lelayu daludan.

Wong gagah mboten giyabah/wong trampil datan ngaruwil / wani ngamuk boten mamak / tekat kula aningali / paspati apatiten / gitik serute / mboten saru/ sudihya ing ngalaga / Asasi kituwi atin / datan neng wetan dados kunsulupingat.

Iku siwong tina raja / sawitis tur solahe marakati / datan kenging tina raja / tan keron den kanan kerin / rinuwak maremaken/ ing ngomberan bindur samabur / gawat kaliwat liwat / amungsuh wong kudus iki / sajek dereng nate kasurang.

Raden walaya kasuma / matur sarwi awot sari / kang mas padhuta sok sokan / pikowon tulakang napi / duk lecul tandhing ngupit / temah kang mas den sepuluh / gumujeng prawadhana / luwaran saking prihatin / prangulama krejet krejet darbe bingar.

Raadyan demang purawan / angandika sarwo nolih / adimas mlaya kusuma / destun kulato teng ngimpi / prapto nemu penggali / ngendherek mulih ngendhuruk uwopatih kawulo / matur srinarapati / pan sadaya inggib sami ngentosono.

K I N A N T H I

Kinanthi sak kondhuripun saking dalem kypatih / sarahadyan demang ngurawan / kasusradu ta narpatih / supana datan kawarna / sapraptaning rajapuni.

Ing ngubyan tara sang prabu /rahadyan demang wotsari / umatur rehing dinuta / mowiti malah ngikasi / langkung anuwun pun uwa / wonten nang gulang toh tati.

Pun ketip banom ing kudus / kang saget apudi kawis / sebarang pang ngrehkawula / kasorran praboto prayogi / atrang ginas baten ganggas / patitih datan ketwes.

Satunggal sanggul tinipun kalangkung / dening prayogi amradinisan danara / sang nata ngandika aris / payoendi atur pranna / dyan demang matur wot sari.

Patih ngalingi pukulun  / mringpun kaji mutamangkin wunten mang bileng mragagah / punet danira kumiter / netra pratopo sang sura / kekes lawulaneng ngali.

Tembungipun lajengse paduka geranawajani / solah nakaten punika / gih pun kaji mutamangkin  lamun emtumek tenna / tan san drenngi sakan nagri.

Mongko wajibe Amiru / rumeksa saraking Nabi / nyudamanis Sir wadana / mesum cahya ning nagari.

Saremah gan dane arus / yen narendra tan pamanis / kucem netrane pung gawa samya nistha kang wadya lit / risak pura suraosing sastro / keh probawati naritner.

Dereng dumugi umatur/selak gumujeng sang ngaji / angling yen mangkono /bapang / payo padha anglakoni / ing sun miyos si jumenggah / dawuhna mring siwa patih.

Nata malih ngandika / ruheh bang sun wiwit / eling sabanjure ingsun prambag / bapan sira sun kandhani / nuli ana ingkang crita / neng purwa lulut sun linggih.

Sijayaningngrat umatur / abrol aneng ngasamami / samepayan dalem punika / inggih ngarsakaken gusti / langen paosing kawiryan / lengen sura langen gandhing.

Langgen ringgit langen gambuh / sedene langen turanggi /  langen aben aben sat / puyuh ngerkutut kemiri / tur sarwa  sarwi prayogo / Gusti mungkirang satunggal.

Ta prabang tiyang pukulun / ing sun gumuyu tanyaras / jayaningrat apa ana / ta prabang den cara ringgit / sun watara ora kaprah.

Ature siadipati

Inggih abdi dalem kudus / pun arya mantu nyasantri / pun kalit banom naman  ngadega ken mer kang jalmi / iku kamangka ya nyata / tementura sispati.

Matura datan gumuyu / kang aran ketibmaruni / dadi dalang ngiras mayang / malah-malah asring dadi / wong menak pepakuningrat / wong egung surayang bumi.

Nuliarsa ingsun pundhut / sicakroning ngrat mambengi / ature sampun akarya / tarang kelangenan gusti / ing trataning rasullah / sayekti ambucal taklim.

Pan abdi dalem rumuhun / pun bapak dipun awisi / taretang lampah tan menak / ing madura boten kenging / Muhammat lawan mursad / sapingiasma ra supi.

Punika lelempahanipun / taretang madura gusti / namung winaos kang serat / kewalatan den awisi / dena didalem pun bapak / wasiyat saking mantawis.

Iku wurunge sun pundhut / mengko si katib tiruni / pikire memet tur bablas/ dyan demang matur wotsari / inggih pikir nyrenggarawa / bara catur maedoni.

Sang nata ngandika arum / simencal moncoling nuwih/lan ingsun wani mrakara / ukarane mikarani / mawah karingring nganit / kalabu wong satus siji.

Apa dhapure abagus / dyan dema matur wot sari / sembada bagus tur gagah / dede gaprakasa prayogi / upami lamun ringgita / arya seta sena pati.

Yen sampuna dados katum / pantesa prawira ing jurit / tetaguling ngadilaga / pamundahing satru sekti / menggah ing ngelmi wirasat / puniku kang anjang ke papi.

Adi pragal bagul-bagul / ladak lair trusing batin / byangkumo ketakma nah / atan tepurun prang rai / pontas ingkang amengku watyu aririne keris.

Gelar duruk apunang pun / miwah traja tikos walungit / sarta mangkaca candrasa, miwah gelar aga pati / wangun makaten punika /  setarang byua man nesasi.

Sri narpa ngandika anum / ya si Amat mutamakin / wangune wong kayangapa / dyandemang umatur aris / punca tolek dong uniro / kadicantrik akris ikris.

Toten kelebeting catur / dhapuripun ukur urip / inggih kong sawarni rucah / anyingkruk kelamun linggih / pasamuaninga kalah / lir tiyang den sepatani.

Sinungajang keping rukun / taslam wrin astana nabi / nayaka dipani jagat / yen sanpuna dados kaji / tiyang makaten punika / pantes namung sade pitik.

Sang Nata gumujeng guguk / iku bapang wus pinasthi / tinitah dhapure ala / asinungan pikir suci / dadi punggawaning suksma / lan dadi mardika aji.

Dyan demang nembah umatur / pramila mekaten gusti / jamal hyang jalawangaja / wus tankenging den wat ceni / dangu nawa wan wicara / kaji Amat mutamakin.

Tiyang asor dhapuripun / akepapipun tudingi / dhateng pun ketarun datan tyaton saged wangsuli / kang dadya kanep saniro / inggih pun katita runi.

Ngantos mekakaken kang dhapur / inggih kajimutamakin / sang Nata Mesem ngandika / iku bapang karsa mami / sagung kang dadi rerasan / dhawuhan mring siwajatih.

Iya sunapura iku / aja naden rerasani / kang luput wus sun aksam  kaji Amat mutamangki / yen den pindha ing pratingkah /  kang ora kaprah ing bumi.

Ing kono sedeng sun ukum / si cabolek mutangkin / sun karya pangewanewan / anengaluna len mami / dene mengko karsaning wong / cabolek sun pundhut miji.

Lawan maneh prentahingsun  kawula jroning nagari / sentana para punggawa, sedene para prajurit / prapteng kawulwng sun samya / den warata undhang mami.

Aja nang wong ang guguru / ngelmu kakjroning nagari / guguru jabaning rangkah/ ing kono ingsun lilami / sapa kang nerak parentah / kawasesa akum mami.

Sajrone pepacuh ingsun / lan dhawuhna siwa patih / wupayaha wong wulama / bapang ora sun wanggeni / antuk kase pira-pira / nuli den pacak kasami.

Panggonan jumungahipun / tuwin den panci yasami / mongsa bodho asiuwo/ mematut boboting bumi / nyelawe wewangening wang / pengarepe kang prayogi.

Sangisore anelungjung / iku desa ingkang becik / sakira kelare ngngkat / ing jumungah aja langit / kedhubagelen mantaram / ing pajang ingsun wangeni.

Ganepe wong patang puluh / dumunung desa kang mukin / sakiwa tengen nagara aja dohing gala prapti / Tunggu Neng Panepening wang, ngulamane kang prayogi.

Dene tanaliyanipun kang adoh lawan negari / ora kudu pepeliyan mung anggere ing ngrasan mri /wis bapang sira metua / rahadyan demang wotsari.

M I J I L

Siji lira ngabdyan maraji / radyan demang anjon ing nelawan nitih turonggane / punjetha yuwulu janjam kuming / hitik- hitik alit saking kedhung sidhur.

Durung sowel luhur tinang kaki / tuntut maanggemyeng/kuda sruwaka temu wangngune / dereng matuh lambe peing kendali /  meksih radi nesih,nginggadhangan jujur.

Kenging kagem watang angladosi / yata winiraos kumepyar wong kanguninga kabeh / dene raden demang wira- wiri / nyana ana kardi / yata tindakipun.

Jraptaka patihan tedhak sangking / turangga sangganom / manjing paregolan age- age / kang pinarakan aneng ing pendhapi / mudhun sing palinggih, dyan dipati metuk.

Ngacarani pinarak pendhapi / nuli tata mangnon sirep sang gya ingkang lenggah gunge / jrapta nira dutaning narpati, dasar nyangajrihi dyan demang puniku.

Wong agung nora reh gegeteri / gelare karyeroh kadya arya banjar sunguk raden dursasana remanung rabuntit / ing ngumbar anjrah mring / kanan keringipun.

Sarira lir tembaga sinangling / netran dek mencorong yen kumapah ngedap ang asmane nora wiwidadya pramugari, talitina nuri / wahdadya wong ngagung.

Sakdereng nyadhu mawuh sabdaji / numeter kang anom netra andika mindeng pamandenge / dukdumawuh lir kilang wor manis uwoadipati / tumbalah sang prabu.

Sagung rerasankang kapiyardi kang ing nganon tinon pansedya pinundhut sipape / ingkang lepat ageng alit sami / antukan pamengsih / wila sasang prabu.

Sedenepunamat mutamangkin kelamun amindho / murang langar marang ing sarake / brurusuhi marang srengat nabi / weh rurungon bumi / dek sura ing ratu.

Mesthi tampi ukuming narpati, dadya pamyating wong / radyan demang anoleh lenggahe / mring panggonane sanggyangulami / sendukang panglirih / polatane pagu.

Samya gumeter para ngulami / ngles bayu lir lolos / temah arum ing sebda wijile / osagunge kang para ngulami lyane mutamangkin tam piya kang dhawuh.

Sri narendra srunari menggalih / gung pakaryaning wong / dene rumeksa pari kramareh / padha rumeksa kawonan bumi / katempuh ing batin ngulama sawegung.

Dene kang lir kaji mutamangkin kalwbu aran wong / angregoni panjenengan rajeng / nora ngimanken tataning nagri, tur angeik anyuk mundhak banting kedhwu.

Nging wus gumantung pari kramengsih / apura sang katong / prangulama srunuwun ature / kalingga murda kapundhi pundhi / sih wilasa gusti / kang mring dasihipun.

Nuli tang radyan dipari / prangulamator / sokuring ywang kabul kamulyane / gume gumuruh ing kang ngameni / kang pangulunti ngadek donga sokur.

Luwarsa kang turida prihatin arsaya gunging wong / sakendele donga kamulyane / raden demang ngurawan ing malih / huwandipati / dhawuh basang prabu.

Kinen kerya terancang jromasjid yen samya rumojong manjing / jengandika tuwin prapang gedhe / nata arsa sembayang jro masjid / ing dumunggah ngarsi / wiwit miyosipun.

Dyan dipati sare amiyasi / wuwuh kang mangkono / supe aneng pasamuwane / saking trustha saka reninggalih / srenggruk sengruk nangis nadyan dres ingkang luh.

Sigra andonga srukulilahi / gumereh aminta lir guntur agra lir astarane / kang pangulu ing ngabanu lyankis donya genti genti / ngulama sedarum.

Pranaya kakang tansah den kirik tan lyan katibanom denya ngadeg pantes wiramane / sarung ugis kembang tetulangking / sabuk surat milis binanyumas patut.

Serban bathok lan bare cikuning / ngartiyah tetiron pepet cithak pangadum mancange / jubah salmur bangun sanulmani / rada cekake dhik pemangkinging dhuwung.

Klatang pipit manarong kalacih / trembalo mencorot wangun bantes tayuman nedere pendok baleweh suwasasirih / sangron adhamesi / werna kencanabdur.

Kladuk megospe ngadeg kecik respati yen tinon telapakan ngajeng lan wingkinge / rong tebah kang kiwaya nengersi / tur nora pinuruh / suprane nepatut.

Prawaneng kang sami ningali mesem amiraos / dhasar batete tibanom kuwe / saksolah nyata kaduk diragi sambat ing warni / pideksa abagus.

Ngadek donga ngabate solah nyalir / Ritih isalulon mangsahkake nging prapradurita heda temen lan akeh ngulami / kang akeh ngadeg lir doyong tekun ikruh.

Sawusira donga lenggah sami / mring kautamang gon ratyan demangan sarwi noleh / adi mlayapaden rasani / wus suwe sunlirikeh ngarundelipun.

Ingkang rayi ngumanguwotsari / tan pun pangomong / awon nganggur lan wajane mratme / radyan demang meksa tanyangungkih / nora becik yayi/ dora kadang sepuh.

Radyan mlayaku samawotsari / mesem mau alon kangmas inggih- inggih sayekmose ketingbanom kang dipun namosi / pengadeking ciri / suk andomya wau.

Sanes lawan sagung prangulami / pengadeg gamancol pantes dadya punggawane rajong owel dadya ngulama pasisir / radyan demang angling apan sarwi guguk.

Matur marang radyan adipati / yayi mas kalewok / orak reluku walik arane / nung ngasane mung gawan napati / mungkali wulami / laluhuranipun.

Yayi emas sira sun tuturi / yen ngulama kang wong / ingkang sidi karung kawruhe/ iku mangka punggawa ywang widi / tinbangen pribadi / Allah lawan rahi.

Mung laire baekang ngupati / gedhe cucur agrang / ngularna tan kewantar laire / ing batine luhur yayi nglim sun nander kur mati / ngulama punila.

Pan minongka pitutuh sayekti / nenerine katong / aja kan kanglir ketibabo mlewo wus kasusra / pratama ingngelmi / nadyan amung santri / bae nganggoake thu.

Lawan sira lemsih luhur santri / derajang tingendar iku yayi nungguh ing ngatine / pra ngulama sadaya miyarsi / dyan demang den nyangling / srupang ngungunipun.

Ana ingkang rerasan bibisik nora ana ingmang / raden demang wus lepas kaliyo memet mutmutur patitis wanguning priyayi / garethol lemangkung.

Watakane kaya tan ngedohi / cethek agrobah / dadi wong ngagung kawongan duren jabarang ngkhiri nemedeni / pinecah jro isi / rasane amumut.

Luwih legi nganggo semu gurih / lamu dane momot / ngambar terus amuleg gandane / baya wus srawungan ngulami / necep ngelmu suci / kepareng pamuwus.

Yata dyan demang dhawuh ken malih / timbalan sang kajong / reh paguron sajrone rangkahe / lan adeging dumungah pinaring / pepinthaning sabin punika kang dhawuh.

Matur sandika radyan dipati / jumrung karsa katong / kicabole kyus tampi dhawuhe / yen ing mangke dadya wong piniji neng dyan demang nenggih / santika atur.

P U C U N G

Sekar pocung wus sampurna dhawuh prabu / radyan tipat / ngejepi panekar / mantri / ngladosaken pupunjutan pasungatan.

Praptase lorkong ambangan kalih atus tan nanabinedo / pangremate amani / anijeni binajeng pranatan nira.

Sareng maju kerdong kalajeng tinembung / ririh jejawilan mung calempung kang pinendi / rebab gambang suling swara pepuletan.

Saron demung nikatiba tumalawung / Gambang namecalang / gleken anunjang wira sisuling ngeleng / sumlenthir ngedhasih mun.

Kang calempung pepancer ranametan duk wilet ngetimang / tibanongkine renwanti / gegambyak lan selaning kenong tuminbal.

Angles laput sabak angangkang / tumanduk ngamlening talingan / tekeman geter tan miwil / awen laras dadya lempeng lelembaran.

Gumarumung gender kalumak gumulung/ amegol sandalan cemenak panedya ranwintir/ kendhangan lan larase rarawit lonan.

Gong gemandul tingeng dhadhabi mangguyu/ den demang ngurawan tetadya marang rengari / yayim rasa kusuma kugending ngapa.

Kang sigang wuma tur gending rum arumyang / nglira adyag demang / asalakar apalami / radyan mlaya kusuma manembah aturna.

Pan puniku mila gendir kinabaku anggiduk mantaran / Jeng Sultan alur ing suni / nalikane yasapan jianeng lulang.

Sarengipun kalale kasekar gadhung / mundur sarayuda / bemara lagu myang sinir / menamenjung galekan ranumenggal.

Kadinamung punika sapanganipun ngandika dyan demang / bangete mening Sun iki / ora weli mring gending saturdaltung nalya.

Nembah matur dadya nyam layaku bumawi nyumnya pramila pasuka / toten pisan pamen gendhir / kang minarsana mung nendhir ngudungilah.

Asru guguk radya demang gujengipun Dipati janingrat / sumambung tetan / aris angger mlaya kusuma sinten punika.

Ingkang natuhna embang prayogi kelaku / Seres lan rebanya / Gendere tuli bengingsih / Ris pumatura Radyan / MAlaya kusuma.

Geh muni kumengnambang niyana/Sepuh kang namapun gondu/Mangrekak nunama rawit/Jebug karumpung/Kendhe ing kadipawyan.

Mesem tatudyan / Jayaningrat yen sardu / Selane nayahkan / Angketewak kasalastri / Datheng mondok ngampil / Seng kambangpun konda.

Dimen muruk kanga ngabdi panambang ulun / Punasuwonda / Kados bade sae ugi / Pun parikel angeng meksi ngambet desa / Sampun nglanduk sepuh pun nanda punika /Eman lamun ical.

Wontena ingkang nulihti / Medun nadyan Malaya kusuma / Matur prayana anging midun / Dyan demang paman punika / rah kitemen barang / Panggawean den openi / Nokgih sampun muklis / Kenira sembahyang.

Milung milu yayim Malaya kusuma / Demene persetan / Gamel lan tur bias gendhing / Sareng suka gumejeng / Wong nganung tina.

Dyan umatur kangmas paduka rumuhun / Darbenawing rangggah / Angsal duk saking remawis / Lamun pareng kula suwun/Dhamel rebab.

Alon matur dyan / Demang yayi ngemut / Mung kari seprapat / Ingkang akeh / Wus den diambil / Kang mastangkubumi geh kinarya rebab.

Kaya cukup lamun bias ingkang bubut / Nenari mamonthang / Sesuk paranan yayi / Matur nembah nuwun / Dyan Malaya kusuma.

Nyata sampun lekas mbojo karma kembul / Adipati jayaningrat / Ngejepi abdine alit / Ngejekaken acar timun kikinlu.

Saking kuwulan wonten tirahipun / Lorodan singpun saben jam sedoso enjing / Praptanira ing panduk jayaning pratan.

Kadang pukul sawelas saka praptaningsun / Sak parengina / Lorodan dahar sangaji / Kang sapetan ayAm lurik kemilan.

Sendeng gepuk tenjengan areng / Alemuk salawan acarti saosan singrawa / Wus den ajengaken sami / Sareng lawan acr timun pakalongan.

Dyakan dhulu dyar emang / Ngandika mius / Ngriki sasmitanya paman dipati surempel / Mesti ngenaki sawitan lorodan.

Mesem muwus dyandipati ngatan pupuh / Marang punakawan / Ngaturaken sapetan pitik / Awas mulat nadyan Malaya kusuma.

Sikrama tumun nama kang masa puniku / Mawi semesem mdya /Kalawan padipati / Kula kangmas dhawungpil dawuh paduka.

Semunipun gawat ingkang dipun pendhet / Mawi kekejempan / Nunukdyan demang nglingaris / Kaya kucing yayi Malaya kusuma.

Wrohanira kang samitan pitik / Den gemuk sangsam / Lorodan saking jropuri/Gupoh gupoh dyan anyanging layong kusuma.

Nyedak matur mring kang rakannya dang lungguh / Nora serantagan /Wanti ingkang anglameni / Tanampeni lorodan sapit lan ayam.

Merek mandur Darwi mesem duwus sipuk / Iki iwak eco / Tapak asta malem aji / Duk rame kana kang samya kujaro.

Caranipun pasisiran denya / Kembug ing jrone kang dhahar / Ulama praptama salin salin / Warna warni sarwi kanget sadayanya.

Wantu wantu kang wahartan duk tumanduk / Wus sira kapragan / Warik langreng para mantra /Awatara ngakape daklan punakawan.

Trigumuruh plataran kang dahar kembul / Sagelangkung dunya / dyandipati atur mati / Marang para ngulama lan pradipatya.

ASMARANDANA

Yayah asmarani resin beksi reng  /  Pammudyan nomangendah sinibonyanta / Sucipta amiwaha ngresamodyaning lelapunya  /  Wiranti sengdalegawa.

Susunggune dyan dipati tinamu tan beda / Prawadana jaba lan jero / Tuwin ngulama sakirna / Mewaras sipur madya wusana terus tharumarum/Praptane maruta nanda.

Bandya nyenyamikan mijil / Sinambi lan omong omong / gandika mahadyan demang / Masketeb banom ingkang / ineling dening sang prabu.

Srinarendra mundhut mijil / Kojaho pasak ananya / Kang patut lawan lungguhe / Masketeb banom aturnya / Mundhut kojah / Jawitane pingar biyu / Sasaged saged sandika.

Dyan demang ngandika aris / Iyo paman kojah / Jawa apa kana ananya / Prakara kang kuna kuna / Ngemak sajang mantaram / Wong kang pada rebut ngelmu / Masketeb banom aturna.

Pamirsa kawula alit / Wonten ugi mung  nyapisan / Warni warni kukumane / Ing nguni seh siti jenar / Kukumiraminedhang / Dumugi demak punika / Lan malih.

Alang alang kumitir

%d bloggers like this: