Category Archives: KAWRUH KASAMPURNANING NGAHURIP

PENGETAHUAN KESEMPURNAAN HIDUP


TERJEMAHAN  KAWRUH KASAMPURNANING NGAHURIP

BUKU PENGETAHUAN KESEMPURNAAN HIDUP
MILIK RM. MANGUNDIREJA
DI MANGKUNEGARAN

Pengetahuan Kesempurnaan Hidup, tulisan JC. Sateryi.

Mengenai terciptanya wujud manusia, yaitu:

Tulisan yang dijabarkan di bawah ini jadikanlah ajaran yang ringkas untuk orang yang bersedia mencari pengetahuan dengan sungguh-sungguh supaya mendapat pengetahuan mengenai pengetahuan bangsa Hindu terhadap kesempurnaan hidup.

Pada tulisan ini sedapat-dapatnya aku menjelaskan dengan kata-kata sederhana mengenai watak kodrat manusia, derajat yang diduduki (manusia) di dunia, apa yang dinamakan dunia dan bagaimana tempat kejadiannya, singkatnya (aku) akan menjelaskan bagaimana dan (apa) sebab hidup dan juga apa tujuannya.

Mungkin aku langsung dapat mengetahui semua asal mula wujud.

Supaya dapat menangkap (makna dari) yang disebut itu, sangat perlu aku mengenali watak kodratku sendiri terlebih dahulu, nantinya aku akan mengetahui, bahwa dunia ini tidak lain hanya getar, yang bukan dari keinginannya sendiri, Tuan Khan menyebutkan: benda itu satu adanya, (benda) itu tidak dapat benar-benar sesua dengan (yang ditangkap) panca inderaku. Bila orang mengamati semua wujud benda di sekelilingnya, (maka) akan mengetahui bahwa benda itu tidak nyata adanya. Jika berdiri sendiri (tidak ada pembanding), (maka) nilai wujud semua benda harus dipikirkan dan dibenarkan menurut cara pengamatannya. Maka dari itu tidak mungkin bila aku memiliki keinginan untuk dapat mengetahui asal mula benda hanya melalui panca inderaku.

Agar dapat mengerti asal mula benda, manusia harus mengenal dirinya sendiri, demikian pemikiran banyak (tokoh) panutan di setiap negara, kata Socrates: kenalilah dirimu Pribadi, maksudnya tidak lain hanya supaya setiap orang mengenal watak kodrat yang (ada pada) diriku dan seperti itu juga maksudnya panutan Kristus ketika berkata kepada para sahabatnya: upayakan kerajaan Tuhan di dalam batinmu sendiri.

Hanya dengan sarana pencarian ke dalam dirinya sendiri, manusia akan mengetahui kenyataan dirinya dan mengetahui bahwa dirinya itu tidak hanya sama keadaannya dengan benda lainnya yang (ada) di dunia, tetapi juga sama dengan keadaan wujud kodrat dunia (kodrat pergerakan).

Kodrat itu tidak bisa dibagi, maksudnya: badan awalnya utuh, oleh karena itu meskipun sebutir pasir kodrat dunia itu ditemukan utuh juga, meski gaib keadaannya dan tidak dapat dinyatakan, tetapi karena sebutir pasir itu berada di luar badanku – yaitu dibabarkan maksud sebenarnya saja – maka aku tidak akan bisa mengetahui watak kodrat dengan cara mencari tahu keadaan pasir.

Hanya ada satu (cara) yang dapat dilakukan dengan sungguh-sungguh dalam pencarian, yaitu diriku sendiri. Kalau (yang) satu itu sudah dimengerti dengan sungguh-sungguh, manusia baru dapat mengetahui kodrat dunia.

Nah, itulah awal aku akan memulai perincian wujud manusia dan lama-kelamaan aku akan menuntun engkau sampai pada tempat suci, yang bertempat di dalam hati setiap orang.

Jika sudah jelas dengan sungguh-sungguh keadaan kodrat manusia dan bagaimana keadaannya pada tempat manapun di dunia, aku akan mencoba menerangkan asal mula dunia, dengan mengamati benda-benda yang ada di sekelilingku, lalu aku akan mencoba (mencari tahu) asal mulanya semua benda – menurut cara orang santri – bagaimana cara Allah menyiptakan benda – tetapi caraku menerangkan tidak seperti pada umumnya santri jika (sedang) menerangkan, yaitu tanpa keterangan (hanya dengan bercerita) sedapat-dapatnya (aku) akan (menggunakan) cara pujangga jika (sedang) menerangkan, menggunakan keterangan yang nyata. Akhirnya aku akan mencari dengan sungguh-sungguh supaya (dapat) mengetahui semuanya, yang kira-kira bisa terjadi pada nyawa manusia, aku akan mencoba (untuk) berpikir, bagaimana manusia di dunia dapat mengetahui keadaan badan halus dan bagaimana orang dapat menjadi Tuhan, malah sudah menjadi Tuhan sebelum mati.

Perkara itu akan aku jelaskan dari satu, (di)mulai dengan memperhatikan watak kodrat manusia.

Setiap orang pasti tahu bahwa badan kasar itu berbeda keadaannya dengan nalar (akal pikiran), meskipun aku tidak akan menyebutkan bahwa akal pikiran itu wujudnya dapat dianggap berbeda dengan badan kasarnya.

Orang yang tidak percaya pada keberadaan nyawa menyebutkan bahwa akal pikiran itu tidak ada bedanya sama sekali dengan badan, tetapi orang itu harus berpikir bahwa daya pikiran itu menguasai semua pekerjaan yang berbeda dengan daya kuasa pekerjaan badan kasar. Jadi di dalam manusia ada perbedaan yang jelas antara (badan) kasar dan halusnya, atau secara umum, antara badan dan nyawanya.

Aku sudah mengerti bahwa badan itu pasti dapat berubah dan selalu berganti rupa. Setiap tujuh tahun sekali berganti rupa, beserta bagian yang lembut meskipun masih memuat wujud orangnya, kemanusiaannya. Jadi di dalam kulit badan yang tidak tetap keadaannya itu, ada benda yang disebut tetap daripada badannya, yaitu yang dijadikan saksi pergantian rupa tadi (yaitu yang menjadi pikiran perubahannya), jika tidak demikian aku sama-sama tidak dapat mengetahui perubahan pada nalar (akal pikiran)ku. perubahan rupanya sama cepatnya dengan pergantian rupaku. Pasti perubahan rupanya tidak dapat diketahui.Sedapatnya orang mengetahui (cara kerja) perubahan benda, dia harus diam, sedikitnya ya berubah caranya yang berbeda dengan cara (perubahan) benda tadi.

Hukum pemikiran demikian itu berlaku pada semua benda yang terlihat. Jika tidak ada pemikiran demikian, sangat tidak mungkin aku akan membuktikan (merasakan) apa-apa.

Kejadian yang nyata itu, yaitu aku mengetahui perubahan badan, bahwa di dalam badan kasar ada sebuah benda yang mencatat (mengingat) perubahan rupanya.

Oleh karena perubahan (badan kasarnya), masih ada perubahan pada batin (halusnya) yang selalu terjadi, tetapi yang umumnya tidak diperhatikan orang, seperti penglihatan orang terhadap benda-benda. Hal itu disebabkan oleh perubahan rupa orang (yang) cepat berkesinambungan jalannya terhadap benda tadi, singkatnya dari getaran (getar).

Perubahan rupa yang demikian itu berkesinambungan dan saling terkait, yaitu yang dinamakan perasa. Jika orang tidak diberikan perasa maka tidak akan bisa melihat atau merasakan. Semua kejadian nyata yang dirasa itu bersambungan satu dengan yang lainnya lalu tercakup di dalam pikiran. Tempatnya pikiran bekerja di otak, karena otak itu benda (dari) badan kasar maka benda yang sudah terlupakan lama (seketika) datang, semua (yang) teringat terlihat jelas sekali dalam pikiran. Maka orang yang berada dalam pengaruh hipnosis (bangsa sihir) kemudian bisa lupa (dengan) semua yang (telah) dialami ketika masih anak-anak dan sudah lupa sama sekali. Sudah banyak sekali (yang) dilupakan orang yang berada di bawah pengaruh hipnosis, (namun) kemudian teringat pada kata yang pernah didengar sekali ketika masih kecil, yang demikian itu persis seperti ada benda di dalam badan yang mencatat semua yang dirasa, benda itu dinamakan mental (maksudnya batin).

Bukan maksudku membuktikan kenyataan kejadian itu berdasarkan hukum dari keterangan yang kurang jelas, sebab aku bukan bukti yang nyata. Umumnya sebuah kenyataan tidak dapat ditetapkan hanya oleh perkataan saja. Supaya dapat memperoleh bukti yang nyata, harus kamu ketahui sendiri berdasarkan pengetahuanmu bahwa adanya dirimu itu tidak tergantung dari badan kasarmu. Kamu harus bisa memisahkan (yang) halus dari badan kasarmu, maksudnya kamu harus bisa mencari tahu (dan) membuktikan kenyataan (badan) halusmu seperti umpamanya seorang ahli ilmu alam mencari tahu terjadinya benda-benda, yang akan dibuktikan berdasarkan hukum (yang membentuk)nya. Oleh karena akhirnya (pada) tulisan ini aku akan menerangkan mengenai yang disebut di atas tadi, maka aku menjelaskan pernyataan tadi. Keinginanku hanya menyediakan, apa yang akan aku ceritakan ini bukan pikiran yang sia-sia, tetapi ada sebab jelasnya, yang menjadi saksinya (adalah) syahadatku.

Yang pertama, aku dapat menyebutkan bahwa badan kasar itu berbeda dengan mental. Ya, benar perbedaan itu tidak terhadap batin (benar-benar berbeda). Ya benar sejujurnya tidak bisa (demikian), tetapi sudah pasti kelihatannya seperti juga bedanya benda padat dan benda cair.

Seumpama aku sama-sama membagi-bagi mental berdasarkan umurnya, pasti akan jelas dan juga bisa meleset perubahannya, dan sama sekali tidak tetap. Hawa nafsu itu selalu datang dan pergi pada sukma (nyawa), pergantianku berkesinambungan dan banyak macamnya. Setiap tahun akal pikiran itu naik atau tidak naik, (terbungkus) daya ingat (yang) berganti-ganti jalannya, akhirnya pikiran itu semakin sempurna sejak naiknya watak kodrat manusia. Nah, demikian perubahan pada bagian-bagian mental itu, oleh karena dari pergantian-pergantian rupanya (dapat) terlihat, maka harus ada yang lebih tetap (sifatnya) daripada mental.

Benda itu pasti adanya, yaitu asalnya (dari) roh yang sifatnya: tidak egois, cinta kasih, dan kebaikan lainnya, yang menjadikan perbedaan antara ciri-ciri orang dan hewan. Hukum perasa tadi yang umumnya menyebabkan kebahagiaan.

Sebab sukma berbeda dengan batin, seperti udara (asap) dengan benda padat atau benda cair.

Jika watak sukma tadi diamati, pasti jelas bahwa berubah-ubah juga keadaannya.

Nafsu terhadap kebaikan itu semakin lama semakin (mengalami) kenaikan, naiknya dari Nur raga, mengajarkan cinta kasih dan berbuat kebaikan.

Kebahagiaan yang dirasakan orang pada suatu waktu itu bisa berpindah lagi pada waktu lainnya, sebab perubahannya (dapat) terlihat. jadi watak sukma itu bukan Pribadi yang nyata. Di dalam watak sukma masih ada benda yang mengetahui semua perubahan rupa dari watak sukma tadi, (adanya) di tempat yang tinggi di dalam wujud manusia. (Benda) itu (adalah) Pribadinya manusia, yaitu sakti yang mencatat semua perubahan sukma, batin, dan, badan kasar. Jadi jajaran zat itu ada empat: badan kasar, batin (badan halus), roh (nafsu terhadap kebaikan), dan Pribadi yang luhur (sakti yang tidak bisa berubah). Empat jajaran zat itu merupakan bagian wujud manusia, Pribadi itu yang menjadi inti zat, lalu yang lainnya hanya sebagai pengiringnya saja.

Jika kamu mengamati ke dalam jasadmu sendiri, kamu akan merasa, entah banyak sedikitnya, daya kerja bagian-bagian tadi. Tetapi supaya yang diduduki watak yang perlu (dimiliki) pada keadaan itu, yang tidak melihat tanpa henti dengan sabar (dan) tawakal, pasti akan mengetahui kenyataannya dan dapat membedakan jajaran zat tadi. Apa lagi – dengan kesadaran terhadap keadaan dirinya – lama-kelamaan bisa mengaitkan dengan asal kejadian dirinya yang luhur dan aku bisa menyebutkan bahwa cara demikian, yaitu seterusnya bagian-bagian perincian wujud dari Pribadinya itu, menyebabkan suka terhadap kebanggaan. Bisa juga meninggalkan badan kasar sementara (lamanya berdasarkan keinginannya) supaya mendapat pengetahuan dari dirinya sendiri terhadap kedudukan halusnya zat kodrat.

(Hal yang) demikian sudah dilakukan oleh nabi ketika puasa 40 hari lamanya, hanya orang yang dapat berlaku demikian dapat membuktikan kenyataan yang akan aku jelaskan ini, bagi orang yang demikian tidak ada kira-kira dan perkiraan yang belum tentu, tetapi sayangnya hanya sementara saja yang dapat berlaku demikian, sebab sebenarnya hanya sedikit orang yang diduduki watak yang perlu (dimiliki itu), lebih jarang lagi orang yang bergiliran dengan sungguh-sungguh mencariku.

Aneh sekali bahwa banyak orang yang mengatakan bahwa nyawa itu tidak ada, tetapi tahu apa orang yang demikian itu, apakah dirinya adalah ahli mengenai hal itu, hanya orang yang ahli dalam perkara itu yang dapat berkata demikian. Misalnya jaksa, tentu merasa tidak tertandingi dalam ilmu perdukunan. Oleh karena dirinya tidak belajar ilmu itu, apalagi berusaha berdasarkan pengetahuan itu, jadi merasa rendah pemikirannya terhadap perkara itu. Meskipun tidak ada orang (yang) heran mendengar ketidakpercayaan terhadap adanya nyawa. (Pernyataan itu) keluar dari orang yang mencari pengetahuan (mengenai hal itu) tidak ada seperseribu (dari) waktu yang digunakan untuk memikirkan perkara lainnya. Jadi sebenarnya ketidakpercayaannya itu omong kosong.

Hai, mitraku. Sebelumnya kamu tidak percaya adanya nyawa, cari (tahu)lah dahulu. Lamanya hanya ada sepersepuluh waktu, yang terbuang sia-sia dipakai berpikir perkara lainnya.

Maka sekarang sama-sama memulai pembagian badan manusia.

Adapun zat manusia itu berbeda dengan zat benda yang tidak bernyawa, pada bahasa asing umumnya disebut wdarganis, artinya: fungsi. Kemudian zat benda yang tanpa nyawa disebut: anwdarganis, artinya: tanpa fungsi. Meskipun demikian aku berani memastikan bahwa para ahli kimia (juru pemisah) nantinya akan menyebutkan, sebenarnya tidak ada zat yang tidak memiliki fungsi, meskipun berbeda keadaannya.

Di dalam badan manusia juga diduduki zat yang tanpa fungsi, tetapi zat tersebut berada di bawah perintah bagian badan yang disebut daya hidup, jadi dapat berfungsi. Pada badan manusia ada dua cikal bakal (bakal benih), yaitu badan kasar dan daya hidup. Daya hidup itu dapat disebut benih dari eter (udara), jelasnya begini, jika badan manusia itu diamati, ditemukan keberadaan sebuah benda yang lebih ringan dan halus daripada gas yang disebut eter, itu yang disebut daya hidup.

Eter di dalam zat yang tanpa nyawa tidak terlalu berfungsi jika dipakai untuk membangunkan daya hidup meskipun pasti adanya, sebab eter itu merasuk memasuki setiap benda yang padat, cair, dan berwujud angin. Hanya dayanya (yang) dapat hidup di sana (sampai) hampir habis, tetapi semua benih hidup itu dihasilkan oleh zat yang rendah (badan kasar), lalu dapat mengumpulkan semua zat tadi, serta memiliki fungsi (yang) akhirnya menjadi bertumbuh.

Benih yang hidup itu diberi fungsi oleh badan kasar manusia, adapun zat eter yang menjadi dasar atau penuntun hidup dapat disebut badan eter, yaitu lapisan badan kasar.

Meskipun zat eter yang menjadi benih hidup itu menjadi satu dalam tubuh, seperti dua (hal) yang menyatu, dapat dibuktikan kebanyakan orang melalui ilmu magnetisme. Jika orang (yang) sudah mengetahui pengetahuan tersebut dengan jelas, maka akan mengerti bahwa magnetisme itu tidak lain hanya keluarnya daya hidup yang menyambar satu terhadap yang lainnya.

Dua zat yang menjadi bakal badan manusia tadi dalam Bahasa Sansekerta disebut: setula buta, artinya: badan kasar dan nafas (daya hidup), maksudnya daya hidup yang menjadi pengetahuan (tentang) keberadaanmu. Meskipun dua zat itu dapat dipisah, termasuk juga tetap badan kasar bukan halusnya watak kodrat manusia (termasuk penyatuan jasad yaitu badan kasar = debu).

Batin manusia dapat dibagi-bagi menjadi tiga bagian dan satu bagiannya dapat dipisah.

Kamu sudah mengetahui bahwa setiap orang memiliki hawa nafsu dan perasaan (pada) sekujur badan.

Perasaan itu tadi sebuah keadaan hidup (yang) nyata dan banyak macamnya,, mulai (dari) hawa nafsu hewani sampai perasaan orang yang sempurna. Perincian watak nyata yang demikian umumnya disebut perasaan saja. Dalam Bahasa Sansekerta, kama, artinya nafsu (= keinginan), zat yang lebih halus darpada zat eter, serta menjadi cikal bakal seluruh perasaan. Dalam bahasa Eropa disebut astrale stof, artinya zat yang terang (sinar = cahaya) yaitu yang menjadi perbedaan (antara) batin dengan badan kasar bagi orang yang dapat mengetahui.

Oleh karena itu kamu sudah mengetahui bahwa di dalam badan manusia ada bagian yang dapat berpikir, mengira-ngira, menimbang-nimbang, itu disebut nalar, atau pikiran. Keadaannya sesuai dengan keadaan rendah yang menjadi bakal manas (dari Bahasa Latin mens, artinya nyawa yang berpikir) yang menyebabkan keadaan manas rendah.

Ada lagi bagian yang lebih luhur derajatnya, tidak mengira-ngira, tidak menimbang-nimbang baik buruk, tidak berpikir, tetapi langsung dapat menyebutkan (bahwa) ini buruk, itu baik, entah (bagaimana) sebabnya tetapi memastikan bahwa benar-benar demikian (intusisi). Dasar (cikal bakal) demikian itu budi yang luhur atau pikiran yang utama, yaitu wujud nyata manusia dan dapat disebut (sebagai) nyawanya (= pikirannya = budi yang sejati) yaitu dalam Bahasa Sansekerta disebut pikir yang luhur (= mens = manas luhur).

Jadi dalam tubuh manusia, singgahsana nyawa, ada tiga bagian:
1.  Watak kodrat hawa nafsu, rasa kotor dan perasaan (kama).
2.  Pikiran yang menimbang-nimbang, berpikir, dan mengira-ngira (manas rendah).
3.  Pikiran yang putus sama sekali atau putus (intuisi/ manas luhur).

 Adapun keadaan alam nyawa pada saat ini aku belum bisa membagi-bagi sebab lebih banyak perinciannya, besar kecil dan hanya dapat dimengerti orang yang sempurna, maksudnya yang sudah dibuka (pikirannya) oleh yang maha kuasa.

Oleh sebab itu alam nyawa anggaplah hanya satu saja.

Demikian juga bukan anggapanmu, bahwa kamu mengamati “Pribadi manusia”.

Pribadi manusia itu sebenarnya juga memiliki tiga wujud, tetapi tiap wujudnya tidak dapat dinyatakan oleh orang pada umumnya hanya orang sempurna yang dapat mengetahui dan membedakan. Oleh sebab itu tiga wujud yang menjadi satu itu kusebut “satu” saja, yaitu mahatma. Serta tiga wujud yang menjadi satu itu (trimurti) hanya satu saja wujudnya, adapun menurut cara orang Nasrani (Kristen) disebut: bapa, putra, dan roh suci (Roh Kudus) atau tiga wujud kenyataan yang luhur.

Jadi manusia memiliki tujuh cikal bakal, seperti:

  1. Tiga wujud luhur yang dianggap menyatu yaitu Pribadi, itu sejajar (dengan) yang sejati dan adanya hanya sebuah, ya hanya itu saksi semua perubahan badan (kata mahatma artinya nyawa yanga agung, Pribadi yang agung) bangsa theosofi menyebutnya atma, tetapi bangsa Hindu menyebutnya mahatma. Atma artinya yang menggerakkan semua, yang melingkupi (dan mengatur) semuanya, sebenarnya hanya Pribadi manusia yang dapat memuat berbagai macam benda.
  2. Bakal nyawa atau pikiran, budi, artinya pintar, (pengambil) keputusan.
  3. Nyawa atau manas luhur.
  4. Pikir atau manas rendah, manas artinya benih yang terang, yang merambah semua alam, umumnya disebut pikiran.
  5. Perasaan atau kama, kama artinya hawa nafsu = keinginan.
  6. Nafas, artinya daya hidup = pergerakan.
  7. Badan kasar, yang padat, cair, dan yang berwujud udara disebut setula buta, artinya adonan badan kasar (yang menjadikan badan kasar).

Sebenarnya orang tidak perlu menghapalkan nama semua cikal bakal yang disebutkan tadi, (dengan) kembali mengenali adanya cikal bakal itu pada badan sendiri (akan) lebih bermanfaat.

Pada (bagian) pendahuluan tulisan ini, aku sudah menjelaskan bahwa di (dalam) jagat berkaitan antara satu dengan lainnya (maksudnya bergantian mengadakan wujud) dan yang sesuai dengan keadaan semua cikal bakal yang terdapat dalam watak kodrat manusia, seperti:

  1. Zat asal badan kasar manusia sesuai dengan benda padat, cair, dan yang berwujud udara yang ada di sekelilingnya, bakal yang berwujud eter tidak berbeda dengan eter benda-benda lainnya (yaitu asalnya hidup benda) jadi zat dan eter adalah bakal badan kasar semua (mahluk di dalam) jagat (termasuk matahari, bintang, dan bulan).
  2. Cikal bakal perasaan manusia sesuai dengan asalnya semua benda, yaitu cahaya (alam api).
  3. Benih budi manusia dan nyawanya sesuai dengan budi serta nyawa jagat, tempatnya di alam budi.
  4. Bakal nyawa dan Pribadi manusia sesuai dengan tempat nyawa (alam roh).

Perkara itu akan (menjadi) jelas melalui ulasan ajaran yang dipetik dari tulisan Nyonya Annie Besant ini :

Jalannya elektrik – yaitu benda tersembunyi yang hanya gejalanya saja yang dapat diketahui orang – dapat menghasilkan bermacam-macam keadaan, menarik semua yang berada di dekatnya. Jika ia melewati kawat (entah besar atau kecil), pasti keberadaannya terlihat, yaitu berupa api atau panas. Jika ia berada di air garam, bukti keberadaanya (adalah) garam tadi menjadi terpisah-pisah zatnya, dan jika ia meliliti kawat yang lunak, basi (kawat) tadi mengandung daya penarik seperti besi berani.

Nah, demikian juga kemampuan daya tunggal, sewaktu berada di dalam zat, bisa menimbulkan adanya zat, seperti: bobot elektrik, terang, hidup, dan lain-lainnya. Jika berada di dalam alam cahaya, menimbulkan adanya nyawa (batin), seperti: perasaan, nafsu, dan seterusnya. Jika berada di dalam alam budi yang luhur, menimbulkan nafsu terhadap kebaikan, seperti: kasih, cinta, merasa bahagia, dan nrima. Jika berada di alam nirwana, menumbuhkan nirwana (seperti: keadaan suci) dan bisa manunggal dengan semua keadaan. Namun pada saat ini orang belum bisa mencapai yang lebih tinggi, maksudnya: nirwana itu (merupakan) ujung pencapaian pada alam dewa, tetapi jika pada jagat bisa lebih dari itu, berdasarkan pengamatanku, yaitu menurut pandangan orang pada umumnya, nirwana berada di setiap orang, juga dapat diumpakan seperti matahari bagi orang buta sebelah. Maka dari itu ada benarnya para ulama Hindu menyebutkan bahwa nirwana itu sama saja dengan sirna.

1 Kata tempat atau alam yang digunakan dalam tulisan ini artinya tidak seperti pada kebanyakan pengetahuan, hanya tergantung dari perjanjian para ahli teosofi saja, sebab sebaiknya selalu diingat-ingat supaya tidak salah  mengerti. Tempat atau alam itu satu-satunya keadaan “zat jagat”, yang dijadikan hukum semua ajaran mengenai “daya tunggal”.  

Adapun semua tempat tadi ada di dalam jagat, seperti adanya cikal bakal manusia, tidak bersusun atau berlapis, tetapi saling memasuki, misalnya seperti air yang masuk pada benda yang padat, udara pada benda yang cair, demikian juga eter meresap pada semua barang, lalu melingkupi semua jagat, kemudian berganti benih yang berwujud cahaya, itu merasuk ke dalam eter dan benda kasat mata lainya, demikian seterusnya. Jadi semua wujud cikal bakal (manusia) saling memasuki satu sama lain, manusia hidup bersama di semua tempat dalam jagat dengan satu-persatu bakal badannya.

Di atas sudah dijelaskan, bahwa tujuh cikal bakal manusia bisa hanya ada lima tempatnya pada jagat.

Sekarang aku sudah sama-sama mengerti, bahwa cikal bakal manusia itu ada tujuh, tetapi bertempat di lima martabat dunia, tujuh cikal bakal manusia tadi dapat diringkas menjadi lima, adapun adanya tujuh itu karena tumbuh dari dua cikal bakal, yang sesuai dengan dua martabat dunia yang luhur, dan yang juga tidak dapat dibuktikan manusia, maka aku jelaskan, hanya supaya orang tahu, bahwa Agama Hindu sungguh-sungguh mengakui adanya cikal bakal dan dua martabat itu dan menyebutnya dengan Awiyakta dan Purusha.

Adapun dapat terlihat jika ada pada atma, jadi dua itu maksudnya benar-benar dua yang manunggal, itu tidak dapat dipisah-pisah, sebab atma itu jika terlihat pada manusia hanya ada satu. Bagi orang, trimurti hanya (dapat) terlihat di dalam mimpi saja (cipta).

Sekarang aku akan menjelaskan fungsi dan perubahan pada semua cikal bakal tadi, seberapa lama dan seberapa besarnya. Mulai dari cikal bakal yang luhur sampai yang paling rendah. Yang pertama adalah atma, yaitu zat yang sempurna, yang berwujud tiga tetapi berkumpul jadi satu, itu adalah cikal bakal yang abadi adanya pada manusia. Kedua adalah zat roh, tidak abadi, tetapi adanya lebih lama daripada cikal bakal yang berada di bawahnya. Demikian seterusnya sampai pada akhirnya adalah badan jasmani, adanya tidak lebih lama dari roh.

Perkara ini akan akan menjadi jelas ketika aku berpikir mengenai getaran benda. Semakin halus atau lembut bendanya, semakin lama getarannya. Hal itu menjadi ukuran panjang pendeknya waktu adanya cikal bakal manusia. Sebab adanya itu tidak lain hanya dari getaran, cikal bakal yang luhur-luhur tadi jadi sama-sama mengalami sirnanya badan jasmani (badan kasar). Seperti misalnya senar rebab, yang lembut masih bergetar, kalau yang ringan bobotnya sudah lama diamnya. Tetapi itu jangan dianggap bukti yang nyata, sebab sebenanya hanya contoh saja. Adapun yang nyata hanya melalui nalar dan dijalani sendiri oleh orang yang bisa menjalani. Sedapatnya orang menerima pengetahuan yang diberikan melalui perkataan orang lain, yang sudah menjalankan (dapat) membuktikan kenyataannya. Menurut yang dijelaskan itu, badan kasar manusia (padat, cair, dan yang berwujud udara) yang paling pendek umurnya, ketika sudah sampai waktunya meninggal, berpisah dengan badannya, dua eter yang menjadi sarana badan jasmani mempunyai daya upaya hidup. Misalnya badan jasmani itu ditinggal sebentar saja oleh dua badan eter tadi, bisa kehilangan kesadaran, seperti orang diberi kloroform. Adapun orang yang sudah sempurna bisa mengetahui keluarnya badan eter, wujudnya terlihat seperti uap yang berwarna kebiruan. Jika uap itu pisah sama sekali dari badan, tentu orangnya mati. Sebab hidupnya sudah tanpa daya terhadap kinerja tubuhnya, akhirnya mayatnya sirna menjadi debu. Mulai dari kematiannya (adat tiga harian), badan eter tadi berganti, nampak badannya yang lebih halus. Jadi mayat itu tidak hidup dan menjadi tidak jauh dari jasadnya tadi. Jasad yang kedua itu sirna, banyak orang tahu (bahwa) hantu (merupakan) gejala dari eter itu, umumnya orang akan takut atau kaget. Tetapi jika jasad itu dibakar seperti yang dilakukan Bangsa Hindu, badan eter itu seketika bisa sirna bersamaan dengan badannya.

Adapun halusnya dua badan itu masih ada, sebab sirnanya (badan jasmani) bukan penyebab adanya manusia, malah lebih hidup daripada hidupmu dan hidupku. Tetapi tidak kasat mata, karena tanpa badan kasar. Keadaan wujudnya lebih dari lembut, tidak dapat dilihat oleh orang biasa. Tetapi adanya pasti, (nampak) seperti getaran merah atau lebih keunguan, yang tidak terlihat oleh orang. Jadi yang aku sebut mati itu tidak lain hanya wujud getar (getaran) yang lebih halus, meskipun aku sama-sama tidak bisa mengira-ngira (wujud) getar itu, maka tidak tahu keadaannya. Seperti juga eter tidak dapat dilihat ketika masuk ke dalam badan kasar, demikian juga masuknya wujud yang halus-halus tadi ke dalam yang kasar-kasar.

Perginya badan roh dari dua badan kasar tadi menyebabkan perubahan pada badan Nur, yang menjadi asalnya nafsu dan sejenisnya dan menjadi sarana hidup di alam yang baru. Adapun panjang pendeknya hidup di alam yang baru itu tergantung dari banyak sedikitnya daya hawa nafsunya.

Jika hidupnya di dunia selalu menuruti hawa nafsu, hidupnya (akan berada) di alam yang dapat disebut neraka bagi Bangsa Nasrani atau Islam, ya akan lama sekali. Sebab badan Nur itu dijadikannya dari zat perasa dan hawa nafsu. Adapun jika ketika di dunia orang itu selalu berdaya upaya untuk kenaikan hawa nafsunya, mendekati janji akan menjadi badan yang lebih awet, seperti umpamanya kulit badan gajah yang tebal. Tetapi meskipun semua yang tercipta itu pasti akan sirna, cepat atau lambat manusia juga akan meninggalkan badan Nur tadi. Jika sudah dicukupkan demikian dan semua kotoran halusnya sudah terbuang, halusnya naik ke martabat budi, yaitu yang disebut “surga”, yang dibawa hanya hanya watak Nur atau cikal bakal yang gaib-gaib, yang di masa nanti menitis kembali dan menentukan badan Nur yang baru.

Adapun lamanya manusia ada di surga tadi, juga tergantung kelakuannya di dunia. Jika ketika hidup selalu berlaku benar dan merasakan kebaikan orang, apalagi selalu mencari pengetahuan dengan sungguh-sungguh dan kemampuan lain-lainnya (seperti suka mengalah, rendah hati) tentu akan lama menempati surga (manas rendah).

Di dunia, orang yang sudah sempurna dan dapat menyatakan keadaannya dapat mendengar getaran bisikan Allah dan bisa mendengar suara pada tempat yang luhur. Apalagi akan pertemuan dengan para bidadari dan juga bisa mengerti semua pengetahuan. Tetapi mungkin ada yang tidak percaya dengan perkataanku ini meskipun benarlah bahwa di alam yang gaib itu semua tidak ada yang tidak bermula.

Nah, demikian gambaran dua jagat yang luhur itu, adapun hidupnya manusia di sana menjadi akhir hidupnya di jagat ini, yaitu kesempurnaan hidupnya di dunia, sebab kebaikan orang itu dimulai dari apa yang dilakukan (selama) hidup di dunia ini, maksudnya menggunakan laku yang benar, jangan menunggu besok-besok.

Sebenarnya kasihan sekali, banyak orang yang pada dasarnya tidak buruk, tetapi menyia-nyiakan waktunya (di kala) hidup, karena keadaan pada sesudah dan sebelum mati itu akan sama saja. Ikatan kejadian itu terjadi berdasarkan hukum yang sama. Nasehatku ini mungkin semuanya tanpa guna dan kekanak-kanakan, itu akan lestari sampai pada jamannya Nur atau neraka. Jangan dianggap bahwa orang hidup itu cukup hanya dengan sedikit berdoa supaya mendapat surga.

Adanya jagat itu dikuasai oleh hukum yang lebih adil, yaitu hukum sebab akibat, jadi semua tidak ada yang tanpa sebab. Adanya surga dan neraka tidak lain hanya dari sebab penerapan hukum tadi. Maka, hai orang yang berpikir, agar berhati-hati dan bekerjalah, supaya di dunia ini sama-sama lega, dan di kemudian hari jangan sampai (menjadi) keberatan oleh kecerobohanmu sendiri.

Jadi martabat manusia itu awalnya naik di alam Nur, kemudian di alam budi. Sekarang nasehatku: yang aku sebut alam itu bukan tempat, melainkan keadaan jasad. Surga itu di mana-mana ya ada dan masuk di semua yang ada, malah lebih banyak daripada yang ditempati eter. Singkatnya, manusia di suatu alam tadi akan menerima pembalasan dari yang sudah dilakukan ketika hidup di dunia. Sewaktu sudah sampai pada waktunya, alam tadi akan ditinggal, seperti juga dunia ini akan ditinggal. Jadi manusia meninggalkan empat badannya. Adapun hidupnya itu lamanya antara 1.000-1.500 tahun di dunia, lalu sampai pada masa penitisannya menjadi manusia. Adapun perkara ini akan aku jelaskan besok, kamu pasti akan mengetahui bahwa penitisan menjadi manusia itu hanya menurut hukum jagat. Sekarang sudah cukup aku berhenti sampai di sini. Aku hanya akan berkata bahwa manusia sebelum menitis kembali (akan) membuang empat macam badannya yang rendah, bersamaan dengan waktunya menitis, keluar dari alam roh atau alam asalnya.

Jika selesai di masa penitisannya, dia merasuk (ke) badan yang rendah (manas rendah) lalu masuk ke alam Nur yang baru yang dipakai daya perasa. Adapun badan eter dan badan kasarnya diciptakan di rahim ibunya.

Jadi wujud manusia yang halus itu tumbuh terlebih dahulu, tetapi lenyapnya paling belakangan. Semakin halus benihnya, semakin lama hidupnya. Nanti aku akan mengetahui bahwa putaran dayanya lebih luas.

Adapun orang yang sudah sempurna bisa mengetahui bahwa setiap orang dikelilingi cahaya berbentuk bundar seperti telur. Seperti gambar-gambar orang kuno, maksudnya Dewi Maryam dan putranya. Maka sekarang dengarlah cerita Tuan Eisenbah yang mumpuni untuk menjelaskan adanya cahaya itu. Cahaya itu tidak lain hanyalah sinar dari cikal bakal manusia yang keluar dari dalam badan kasar. Terlihat oleh orang yang sudah sempurna berwujud lengkungan mengelilingi badan.

Jadi zat yang halus-halus itu yang paling luas tempatnya. Kejadian seperti ini sudah dijelaskan oleh para ulama. Tetapi saat ini jika aku terangkan lagi akan lebih menyulitkan pikiran para pembaca ajaran ini.

Akhirnya aku akan menjelaskan mengenai kesadaran dan pembawaan satu-persatu cikal bakal manusia. Mungkin para pembaca sudah mengerti bahwa manas rendah itu berganti setiap (kali) menitis dan hanya tinggal tiga martabat, yaitu atma budi, dan manas yang luhur. Dahulu sudah aku jelaskan bahwa orang terkadang teringat pada semua yang sudah lama terlupakan. Itu jelas-jelas (terjadi) pada orang yang terkena hipnosis dan merupakan pertanda bahwa ingatan itu tidak hanya di otak saja, tetapi juga selalu awet adanya berwujud getaran. Adapun jika otak tidak bisa menerima getaran tadi, maksudnya tidak bisa merasa, manusia tentu tidak bisa ingat apa-apa.

Aku sudah mengetahui bahwa cikal bakal yang luhur itu lebih awet dan juga (dapat) mengenali benda yang dipelajari selama menitis menjadi manusia, selalu tercatat di setiap cikal bakal, membawa keadaan yang dipelajari, dan jika otak badan kasar itu tentram (maksudnya baik untuk diajak berpikir) maka adanya getaran tadi ada fungsinya. Jadi manusia (dapat) ingat semua yang sudah lama terlupakan. Ingatan atau pikiran itu adanya pada martabat manusia yang luhur. Tetapi otak manusia ketika masih hidup seperti sekarang tidak bisa menerima. Adapun jika otak itu dihilangkan dayanya melalui hipnosis dan lalu daya itu tersambung pada suara tunda (gema), pasti orang tadi bisa menceritakan semua yang sudah sama sekali terlupakan dengan mata terbuka. Maka jelas-jelas bahwa zat halus itu lebih awet keberadaannya daripada badan kasar. Jadi manusia itu berganti-ganti membuang badan jasmaninya, daya hidup, rasa dan (sesuatu) yang terlupakan, serta bagian-bagian yang sesuai dengan pembagian (fungsi) tadi. Tetapi manas luhur asalnya roh itu selalu memegang rasa yang ada dan karena badan halus itu masih utuh di dalam penitisannya menjadi manusia, jadi manusia akan bisa ingat pada penitisannya terdahulu, jika bisa mempertemukan rohnya dengan otak badan kasarnya.

Mengenali diri Pribadi itu seperti yang sudah dijelaskan di depan, menjadi dasar semua pengetahuan, sebab sesudah aku mengetahui bagian-bagian manusia, kemudian berganti merinci benda yang ada di sekelilingku. Tetapi supaya jangan tercampur, diambil yang umum saja.

Maka cermatilah segala jenis benda yang ada di sekelilingku di dunia ini, semua entah yang kasat mata entah yang halus, jika dicermati jelas-jelas: tidak ada satu(pun) yang dapat terlihat mata (yang) tidak berasal dari adanya getaran terhadap badanku. Supaya jelas, maka sama-sama ambilah sebuah benda seperti: bunga indah warnanya, apakah bunga itu? Itu tidak lain hanya sebuah kumpulan atau campuran keadaan sementara (dari) warna, bau, wujud yang bagus, rasa, kesegaran, bobot, dan lain-lainnya. Kumpulan rasa demikian yang keluar dari benda tadi masuk ke dalam badanku, itu yang disebut bunga.

Pada bab pembagian badan manusia sudah dijelaskan, bahwa satu-satunya rasa itu (adalah) gejala dari getar. Pertama, yang disebut warna itu tidak lain hanya gejala dari getar juga, yang digunakan pada retina (jala-jala) mata, getar itu lalu merambat ke Asabat naik sampai ke otak, lalu terus ke martabat Nur (astrale natuur) lalu terus lagi sampai pada zat batin (mental). Nah, demikian keadaan benda (dapat) terlihat. Jadi jalannya getar terhadap retina dan seterusnya (terhadap Asabat, otak sampai Nur dan terakhir sampai ke zat batin) tadi yang menyebabkan orang (dapat) mengetahui warna-warna. Sebab warna yang kamu lihat itu sebenarnya bukan warna yang terlihat olehku, tetapi getarnya. Sama dengan yang terjadi pada mataku, yang digunakan pada mataku. Hanya daya terjadinya pada mataku tidak sesuai dengan daya yang digunakan oleh mataku. Warna yang terlihat oleh seseorang jadi berbeda dengan warna yang dilihat oleh yang lainnya. Hanya dari kesepakatan orang saja maka sama-sama memberi nama: kamu menyebut ini putih, begitu juga aku. Tetapi itu bukan bukti bahwa apa yang aku rasa sama dengan pikiranmu.

Sekarang sama-sama membuktikan baunya bunga itu gejala getar yang terdapat pada Asabat penciuman (hidung). Adapun ketentuan penggunaanya sama dengan yang sudah dijelaskan tadi. Demikian juga adanya rasa yang dirasa pada lidah adalah getar, yang terdapat pada lidah. Nah, demikian juga keadaan pada rasa yang kamu rasakan pada sekujur tubuhmu dan juga pada benda yang halus-halus.

Adapun orang yang tajam pendengarannya (bukan yang bisa mendengar), bunga itu bisa bercakap-cakap, malah bisa bernyanyi (seperti sinden), sebab itu rupanya (merupakan) gejala dari getar nyanyian (yang demikian sudah dibuktikan oleh Nyonya Wetces yang dapat menumbuhkan pakis dan bunga-bunga yang berharga melalui suara gendhingnya). Semua itu menjadi pertanda bahwa semua yang terdapat di dunia ini (adalah) gejala dari getar yang berkesnambungan kerjanya. Seperti itu juga nasehatnya para nabi dan semua panutanku. Jika kamu sama-sama dapat mendengar nyanyian bunga, maka itu juga gejala (dari) getar yang terdapat dalam badanmu.

Daya penolak benda yang kamu rasa sewaktu kamu (sedang) menandai (sesuatu), itu tidak lain hanya keadaan getar yang tumbuh dari keinginan yang berlawanan. Sebab di dunia ini semua berwatak demikian, jelasnya semua berwatak tarik-menarik dan tolak-menolak. Adapun daya yang demikian itu berbeda pada satu benda dengan yang lainnya agar dapat menghasilkan wujud benda yang berbeda-beda keadaannya. Oleh karena daya penarik lebih kuat daripada daya penolak, (maka) menghasilkan benda yang keras. Semakin sedikit daya penariknya, semakin kurang keras bendanya (jadi empuk). Nah, demikian seterusnya. Jadi ada benda yang cair dan ada yang berwujud gas (angin). Adapun jika daya penarik lebih sedikit dari daya penolak, (maka) menghasilkan zat yang disebut eter. Jadi keras, empuk, cair dan seterusnya (tidak) lain (karena) gejala (dari) daya penarik dan daya penolak.

Adapun bobot bunga yang kamu rasakan itu tidak lain hanya dari penolakmu sendiri terhadap bunga yang akan mendekati pusat bumi. Semua orang dan juga anak-anak juga mengetahui bahwa darah (bagian benda yang lebih halus) berwatak tarik menarik dan bumi menarik semua yang ada di jagat. (seperti) bintang-bintang ketika (terlihat) di bumi, (dan) bumi ketika (terlihat) di bintang. Seperti benda-benda yang ada di permukaan air, rupanya yang berkerlip di dunia selalu terkandung daya untuk berkumpul, seperti orang yang kasih-mengasihi. Daya alam yang demikian disebut daya bobot (singkatnya bobot saja). Rasa lembut (halus) yang kamu rasakan bila memegang benda yang halus, demikian juga rasa kasar atau yang tidak lembut itu tidak lain dari badan keadaan darah pada benda, menurut keadaan keras empuknya tadi sudah dijelaskan bahwa keras empuknya benda tercipta dari daya penarik dan penolak, yaitu pergerakan pada benda yang (bersifat) mendekati dan menjauhi.

Dari pemilah-milahan bunga itu aku jadi tahu bahwa bunga tidak lain hanya kumpulan gejala. Tetapi mungkin ada yang membagi bahwa terciptanya dari zat dan darah yang sama-sama tarik-menarik dan tolak-menolak, lalu berkumpul menjadi seperti wujudnya (bunga). Aku rasa: pemikiran yang demikian sebenarnya keliru, sebab di antara yang menerima keadaannya begitu saja ada yang mengetahui darah (yaitu darah yang dijelaskan oleh ahli ilmu alam), bukan darah yang dijelaskan oleh ahli ilmu kimia, sebab itu masih campuran. Setidaknya kamu sama-sama tahu darah itu, ya hanya tahu warna (dan) rasanya saja. Jika kamu amati dan singkatnya hanya wataknya pada sementara (ini), maka di atas sudah dijelaskan bahwa wataknya itu (adalah) gejala getar, tidak ada lain lagi. Jadi ada pada perkataan (yang) kamu sebut darah tadi, yaitu pada gagasan para ahli ilmu alam. Semua jadi berwujud getar. Orang yang belum pernah membuktikan mengenai hal itu, sudah pasti akan tidak mengerti perkataanku. Tetapi jika dia langsung mengetahui nasehat itu, jika mau berpikir serta berupaya dan membuktikan, cepat lambat tentu akan mengetahui maksud tersembunyi pada perkataanku tadi, yaitu: bahwa jagat ini tidak lain hanya gerak dan getar. Demikian nasehat para sarjana, semua benda adanya dari pikiran.

Aku rasa sudah cukup aku membuat bingung, sebab jika kamu menuruti perkataanku ini, kamu akan tahu sendiri bahwa semua benda itu diatur oleh sebuah hukum. Jika kamu sudah (dapat) menerima adanya gerak, aku akan menyelesaikan penjelasanku. Adapun gerak itu tercipta dari daya dan daya itu dapat dirasa hanya pada diri Pribadi. Lain daripada itu hanya gagasan (dari) pikiran. Hanya adanya rasa pada dirimu Pribadi yang dapat menggerakkan (sesuatu), itu dapat kamu ketahui. Misalnya tanganku bergerak, pikirku bahwa aku yang menggerakkan, jadi bukan keinginannya tanganku sendiri melainkan keinginanku. Nah, demikian gagasan yang nyata pada gerakan (yang disebabkan) oleh daya. Dari gagasan itu, menurutmu kamu sudah mengetahui watak daya yang menghasilkan gerak lainnya, yang menjadi dasar pengetahuanmu sebab kamu langsung berani membuat pertimbangan, yang menjadi keterangan jika aku menjelaskan (ini yang dijadikan teladan). Yang kamu dengar tidak lain hanya omong kosong (dari) kumpulan getar, urat-uratku yang menjadi sarana gerak (untuk) bersuara, serta menghasilkan getar yang langsung masuk ke telingamu (bagian-bagian benda yang tidak lain hanya gerak itu selalu bergetar dan berubah (menjadi) cahaya biru kuning yang terdapat pada retina mata. Jadi (dapat) terasa dan kamu (jadi) mengetahui berbagai macam warna. Omong kosong (jika) akhirnya kamu memiliki pertimbangan bahwa mengetahui orang (yang) bicara jelas-jelas hanya gagasan saja. Gagasan bahwa pasti ada daya yang menyebabkan gerak itu sebenarnya terjadi dari gagasanmu. Jika semua gerakmu itu disebabkan oleh kamu sendiri, ya hanya itu yang kamu harus tahu (ya hanya segitu pengetahuanmu). Karena hanya itu yang kamu tahu, apa sebabnya kamu punya perkiraan bahwa daya, yang menjadi sebab getar yang kamu sebut orang berbicara itu, berbeda-beda dengan daya yang menghasilkan kumpulan gerak yang kamu sebut dian. Tidak ada sebabnya sama sekali. Sebenarnya daya itu sama saja (hanya satu) tetapi terbagi oleh hukum dunia yang berbeda-beda, maka yang dihasilkan menjadi berbeda-beda (periksalah hukum yang ketiga di bawah ini). Adapun perkara itu juga dapat dijelaskan melalui ukuran waktu dan ketinggian terhadap (sesuatu) yang jatuh (ilmu alam), tetapi gagasanku akan semakin gelap pada orang kebanyakan, maka aku cukupkan segini saja keterangannya. Sudah cukup aku jelaskan demikian saja. Gerakan di dunia ini disebabkan oleh sebuah daya, jadi di dunia ini ada dua keadaan, yang pertama daya, yaitu sebab semua gejala di dunia. Yang kedua gerak, yang dihasilkan oleh daya tadi. Adapun daya itu banyak yang menamai Allah, orang Hindu menamai Brahma. Adapun bangsa-bangsa lainnya lain lagi menyebutnya, tetapi perbedaan cara menyebutnya itu tidak menjadi masalah. Yang penting keyakinan kepercayaannya, bahwa satu daya itu yang menghasilkan semuanya (daya itu menjadi bermacam-macam benda yang berlainan tetapi tidak lalu menjadi satu (tunggal)).

Supaya benar-benar jelas, maka sama-sama menjelaskan hukum (bagaimana) terbabarnya semua benda.

I. Hukum yang pertama itu mengenai pergantian atau salin rupa benda. Adapun di dunia ini tidak ada satupun benda yang benar-benar (lurus) jalannya. Semua ada batas kecepatan yang pasti, lalu mundur lagi, kemudian maju lagi lebih jauh daripada yang sudah-sudah (dan) demikian seterusnya (jadi jalannya memutar atau seperti lilitan pohon ubi). Dan juga di dunia ini ada waktu siang malam, itu tidak hanya (terjadi) pada hidup manusia dan hewan saja, tetapi juga pada benda lain-lainnya. Di mana-mana ya diam dan bergerak itu bergantian jalannya. Adapun (dalam) dunia ini juga berlaku hukum yang demikian. Dunia juga (memiliki) waktu (untuk) diam dan waktu (untuk) bergerak. Selama bergerak, asal tunggal yang agung menciptakan jagat dan selama diam jagat ini pulih seperti pada awalnya, yaitu asalnya menjadi serpihan (debu). Jika sudah sampai waktunya penyempurnaan kembali, kemudian menjadi jagat baru seperti yang sudah-sudah. Demikian adanya penciptaan itu selalu berlangsung tanpa awal dan tanpa akhir (langgeng). Tetapi adapun jagat yang tentu seperti dunia ini, yaitu ada awal dan akhirnya, sebab dijadikannya dari jagat terdahulu. Dari awalnya, nantinya juga akan menjadi jagat baru lagi, seterusnya demikian tanpa batas waktu.

Adapun yang disebut jagat yang terdahulu tadi tidak hanya matahari beserta bumi dan bintangnya saja, tetapi semua yang termasuk terbabarnya (openbaring) semua cerita mengenai terciptanya jagat yang ditemukan pada kitab suci. Umumnya hanya ada penciptaan manusia, tetapi jelasnya yang bukan diciptakan. Terkadang tidak dapat dipikir dan juga cerita itu kebanyakan hanya bercerita tentang kejadian jagat, setiap keadaan (mengenai) sebab diciptakannya semua jagat (umum), lumrahnya tidak dijelaskan awal dan akhirnya.

Adapun pergantian penciptaan tadi pada bahasa Hindu disebut siang dan malamnya Brahma, wujud Allah yang maha agung. Ada juga yang menyebut nafasnya (masuk keluarnya nafas) wujud Allah. Keluarnya nafas itu menyebabkan penciptaan, masuknya nafas menyebabkan hancurnya (ciptaan), dan semua (proses) penciptaan (sampai pada) hancurnya disebut kalpa, artinya lingkaran (bundaran). Sebenarnya seperti apa adanya kata (yang) berarti cipta, dan bahasa itu juga sesuai pada dijadikannya semua dunia, sebab dunia itu tidak lain hanya ciptaNya Allah. Perkara ini akan lebih jelas oleh keterangan di bawah ini. Sekarang yang perlu ditentukan terlebih dahulu nilainya, cipta adanya kalpa, yaitu lamanya bergilir (pergantian gerak dan diam).

II. Nah, sekarang (menurut) cipta yang kedua, yang akan aku ingatkan padamu. Penciptaan yang umum itu disebabkan menurut hukum yang disebut wiwartha, artinya sebab itu selama menumbuhkan sebuah kejadian selalu sama dengan dirinya Pribadi. Maksudnya, sebuah kejadian tidak mengubah sebab yang menyebabkan kejadian tadi, itu hukum penciptaan. Jadi berbanding terbalik dengan hukum pergantian rupa. Terciptanya rasa lemas dari hasil perasan itu (merupakan) kelebihan yang nyata, untuk menerangkan mengenai pergantian rupa pada benda, maka (seperti) hasil perasan tidak berwujud (seperti) ampasnya lagi. Adapun supaya jelas keadaan (bagaimana) perginya maka ambilah (dari) perkara ilmu gaib mengenai bara api yang diikat pada kawat kemudian dililitkan dengan cepat. Apa yang terlihat? Yaitu lingkaran (bundaran). Lingkaran itu sejatinya cipta yang dihasilkan oleh bara tadi, meskipun bara itu tidak bergerak. Nah, itu contoh yang nyata untuk menjelaskan maksud (dari) wiwartha, ketentuan terbabarnya jagat.

Sejenis benda ciptaan Allah dan Allah itu keadaannya satu (dengan) semua yang ada, meskipun Allah tidak berubah selalu utuh, sama, dan satu Pribadinya (Akad) pada sejenis benda yang diciptakan. Seperti bara yang selalu utuh pada setiap tempat yang terhalang.

Sekarang umpamakan (yang) terahasiakan itu sebuah benda dan bayangkanlah (ia) berputar pada titik lainnya, jadi menghasilkan dua wujud yang asalnya dari satu bara api, sebab kejadian itu masih sama, meskipun yang tercipta itu dua macam ciptaan yang berbeda urutannya. Jika kamu teruskan bayanganmu tadi, satu bara itu akan memenuhi ujung langit yang tanpa batas luasnya.

Adapun kejadian di jagat itu tidak berbeda dengan dengan yang disebut tadi, meskipun tidak ada satupun contoh yang dapat digunakan untuk dijadikan keterangan.

Di jagat ini tidak ada (yang) lainnya, yang ada hanya Allah, dan adanya itu hanya satu (utuh) memenuhi jagat. Jadi demikian diciptakannya jagat selalu sampai (pada) pembabaran mengenai ilmu kesempurnaan (untuk) mewujudkan Allah yang bersifat tunggal, sebab selalu bersifat sama dengan Pribadinya, meskipun benar kejadiannya (baik bakalnya maupun kejadiannya).

Bahasa Sansekerta wiwartha, yang menjadi nama (bagi) jalannya dunia itu sebenarnya berarti: pola putaran. Kata itu sesuai artinya dengan kata Latin (vortase) rotasi (pengetahuan pada jaman sekarang, ilmu alam) juga menjelaskan bahwa dunia yang terlihat ini dijadikannya dari gerak perputaran, yaitu tumbukan, yang sama-sama tarik-menarik dan tolak-menolak. Nah, demikian juga keterangannya pada bahasa Sansekerta, semua yang ada: wiwartha. Jadi gagasan bangsa Hindu dengan para sarjana jaman sekarang semuanya sesuai, dan orang-orang yang sudah sempurna dapat merinci unsur-unsur yang menghasilkan zat jagat. Hanya melalui penglihatan Nur-nya maka dapat mengetahui semua ketentuan gerak perputaran.

Nah, demikian hukum yang kedua yang menjadi ketentuan terciptanya semua dunia itu. Jagat itu wiwartha, artinya gerak perputaran tetapi asalnya tidak berubah (selalu sama) dan selama perputarannya itu menghasilkan kejadian.

Kemudian mengambil ketentuan terciptanya bintang-bintang dengan cara mengambil pemikiran lain lagi. Nanti kamu akan tahu semua gerak perputaran itu, tidak lain hanya cipta saja yaitu keterkaitan batin. Adapun jelasnya yang akan aku jelaskan, marilah sama-sama menanggapi penjelasan mengenai bagian-bagian benda.

Di atas sudah dijelaskan bahwa dunia ini tidak lain hanya gerak dan bahwa manusia hanya diberikan daya (untuk) sementara (waktu). Adapun keadaan benda lain-lainnya bisa aku ketahui pada wataknya, hanya dengan cara berpikir. Nah, apa itu yang dipikirkan terlebih dahulu, yang menjadi keterangan (mengenai) asal yang tunggal, “apakah daya itu berpikir atau tidak?”, jawabannya tidak ada lagi hanya demikian, karena daya yang ada pada jasadku berpikir (ya hanya ini yang dapat aku ketahui). Jadi tidak dapat aku menyebutkan bahwa daya pada benda-benda lainnya tanpa pikiran. Sebenarnya pada keadaan (orang) yang sudah sempurna dengan yang tunggal itu berpikir. Di bawah ini penjelasan (mengenai) perbedaan bangsa materialisme (materialisme artinya mengakui adanya benih) dan bangsa idealisme (idealisme artinya mengakui adanya cipta saja). Bangsa materialisme menyebutkan bahwa benda (dan) sejenisnya (merupakan) kejadian dari sebuah benih dan benih itu tanpa pikiran. Tetapi gagasan bangsa idealisme, asal tunggal itu (memiliki) pikiran, yaitu Allah, zat Allah.

Adapun orang Hindu tidak akan berselisih paham dengan bangsa materialisme, malah sama-sama akan saling menghargai. Katanya, semua itu baik bagi anda, saudaraku, karena gagasan (itu yang) anda senangi, tetapi apa ada bukti yang menjadi ketentuan gagasan itu? Apa anda sudah berpikir agar mengetahui kesejatiannya? Jika belum, lah, apa saudara yaitu anda sangat bernafsu (untuk) marah-marah pada saya? Sebab gagasan anda itu hanya gagasan murni, tanpa apa-apa yang dapat dijadikan bukti. Meskipun saya juga tidak memiliki bukti yang nyata, (namun saya dapat) memberi petunjuk jalan (memiliki perjalanan). Dapat anda buktikan sendiri yang nyata (dari) gagasan saya tadi jika anda hendak menjalani awalnya (dengan) sabar terhadap gagasan saya.

Nah, kawan yang percaya (terhadap) adanya benih, sesudah dijelaskan (bahwa menurut apa yang dikatakan orang-orang yang sudah sempurna) baiknya sama-sama diajak (untuk) berbagi keselamatan. Sebenarnya banyak benarnya gagasan orang-orang yang sudah sempurna itu, sebab menurut daya yang ada pada diriku Pribadi itu berpikir. Apa sebabnya bahwa daya pada benda-benda lainnya tidak demikian: pemikiran ini menjadi pertanda, bahwa tidak lupa orang mengakui asal (yang) tunggal itu berpikir. Lebih-lebih ada saksinya para sarjana yang menjadi pengukuh gagasan tadi. Oleh karena asal (yang) tunggal itu berpikir, apakah gerak yang dihasilkan itu? Jika bukan (karena) keluarnya keinginannya (pikirnya, ciptanya). Sebab tadi aku berkata bahwa dunia ini tidak lain hanya ciptanya Tuhan. Gagasan itu yang dijadikan pintu pengetahuan pada terciptanya semua jagat. Dari landasan itu aku dapat mengakui bahwa terciptanya jagat itu tumbuh pada nyawa, pikiran, dan ingatan dari Allah, meskipun Allah selalu sama, yaitu yang menjadi aliran kepercayaan Buddha dan para (tokoh) panutan di tanah Hindu. Tetapi terciptanya jagat juga dapat dibuktikan dari hukum lain, seperti: dari hukum suara, gerak yang dihasilkan oleh wujud yang memerintahkan itu berwujud getar yang urut-beruntun. Getar itu (pada) keadaan orang yang sempurna sama-sama berbunyi, seperti suara gendhing. Jadi dunia ini tidak lain hanya keselarasan suara yang keluar dari Allah. Semua dijadikannya dari getar yang berlapis-lapis urut-beruntun, seperti yang sudah aku jelaskan. Mengenai hal itu sudah ditetapkan oleh para sarjana (jaman) sekarang. Jadi jagat itu menurut ajaranya orang kuno (adalah) keselarasan gendhing yang luhur dan siapa yang dapat memisahkan panca inderanya (dari) badannya yang dapat mengetahui gendhing itu.

Di dalam kitab kuno, Nabi Yohanes mengatakan, sabda Allah yang menghasilkan benda dan sejenisnya.

Bahasa, sabda yang agung ya menjadi ciptaan yang agung, ya suara yang menjadi asal mula. Asal mula cipta itu tidak berbeda dengan surga. Lahirnya cipta itu nyata kejadiannya, yaitu dijadikannya semua jagat dari suara.

Jika aku sama-sama mengakui tempat persemayaman (yang ada) di lain tempat, jagat itu dapat tercipta (menjadi) berbagai jenis warna (yang) dikelompokan dengan susunan yang baik. Lebih mengherankan, ada juga warna itu jika dicermati sampai (dengan) fungsi lainnya yang dijelaskan tadi tidak lain hanya getar.

Orang yang sempurna dapat mengetahui warna itu, yang umumnya tidak kasat mata. Jika ada orang menabuh gamelan, pada orang umum yang terdengar (hanya) suaranya saja, tetapi orang-orang yang sempurna juga mengetahui dari gamelan tadi, tahu getaran merah dan ungu. Nah, demikian dijadikannya  (getaran yang) terbabarnya (dari) Allah atau getaran suara yang urut dapat dibuktikan dari warnanya, dari terang(nya). Para guru di tanah Hindu ada yang menganut kepercayaan demikian.

Dahulu aku sudah menjelaskan semua hukum dari awal yang menjadi cara pelaksanaan semua penciptaan, sebab yang esa (tunggal) itu seperti yang sudah dijelaskan, selalu sama pada Pribadinya (tidak berubah) meskipun menghasilkan kejadian. Sekarang sedapat-dapatnya aku menjelaskan bagaimana caranya benih yang esa, yang tidak dapat berubah, menghasilkan sejenis ciptaan pada jagat. Singkatnya, aku akan menjelaskan dijadikannya semua (jagat). Aku sudah tahu semua bahwa hanya sebab yang hanya pada awalnya itu kenyataan yang sejati. Adapun sejenisnya yang terlihat hanya ciptaan saja, wayangnya Nur Esa, yang tidak lama serta tetap adanya. Sekarang aku akan menjelaskan perkara, berdasarkan yang aku tahu, bagaimana caranya “yang esa” itu terbabar pada waktu dan ruang, sebab runtutan kejadian itu tidak lain hanya pemilahan benih dari asalnya tadi pada waktu dan ruang. Tetapi sebelum aku mulai menerangkan, aku perlu menjelaskan terlebih dahulu artinya kata waktu dan ruang, yang dahulu tidak mengetahui kata itu bisa menimbulkan salah pengertian.

Menjadikan pengetahuan keberadaanmu, bahwa kata waktu dan ruang itu hanya kata (dari) perkataanku. Kata (tersebut) dalam Bahasa Sansekerta, waktu = kala, berarti pergerakan (yang) dapat menimbulkan (sesuatu). Jadi pada Bahasa Sansekerta, waktu memiliki arti tingkat urutan (bagaimana) caraku menyatakan benda dan ruang. Arah atau tujuan pengamatanku, waktu dan ruang tidak berwujud atau (sesuatu yang) menonjol. Adanya hanya tergantung dari ketentuan pengamatan kita. Waktu itu jaman dahulu, jaman sekarang, dan besok. Artinya waktu berwujud tiga yang digunakan (untuk) menyatakan kejadian. Adapun kata ruang mengandung arti sini, situ, sana, ke sini, ke situ, ke sana. Jadi jelas bahwa ruang itu selalu berubah dan tergantung pada orang yang melihat apa yang sudah dilakukan oleh seseorang, dapat juga “sedang” (menjadi) tempat orang lainnya. Apa yang di sini (menjadi) tempatku, terkadang di sana menjadi tempatmu.

Di bumi, bumi ini di sini. Tetapi tempatnya orang yang ada di jagat lainnya apa tidak disebut di sana. Apa (yang menjadi ) di sini bagi seseorang, menjadi di sana “tempat orang lainnya”. Demikian juga yang berlaku pada waktu. Jika waktu malam aku sama-sama menyebutnya (dengan) matahari sudah tenggelam, matahari sudah hilang. Ketika aku tahu hawanya, lalu lenyap (matahari) yang aku lihat tadi. Tetapi pada orang yang (misalnya berada) di matahari, penglihatannya (terhadap matahari) tidak lenyap, jadi selalu menyebutkan sekarang saja, tidak ada lainnya.

Nah, demikian keadaan sekarang, dahulu, dan besok tidak berbeda dengan keadaan ruang. Bukan benda yang menjadi satu (tetapi berdasarkan pemikiran) ketentuan pengetahuan kita. Sebenarnya di alam ini hanya satu asal yang terlihat, berbeda-beda waktu dan ruang terlihatnya. Supaya (lebih) jelas lagi, maka buatlah lingkaran yang besar (dan) kecil yang menjadi satu (dengan) poros di tengahnya. Misalkan poros (di) tengah itu asal lingkaran atau asal sebuah awal (wujud Tuhan).

Misalnya ada yang bisa menyatu dengan Tuhan, yaitu ciptanya menyatu dengan ciptanya Tuhan bertempat di poros awal tadi. Kata juga mengetahui di se-antero jagat semua. Pada orang tadi tidak ada arah, tidak ada tingkat urutan waktu dan ruang. Semua terlihat jelas, semua, sekarang, dan di sini.

Maka misalkan orang yang sudah sempurna berada di sebuah poros pada lingkaran tadi, misalnya di A. Dari sana dia bisa mengetahui sebagian rancangan dasar hukum dari Tuhan. Jika orang sempurna itu bergeser (dari) tempatnya, misalnya di B dan menghadap ke arah lainnya, (maka ia) mengetahui bagian rancangan dasar hukum lainnya serta (titik) C. Pergantian tempat itu tidak menjadikan ruang yang jelas di dalam pikiran, tetapi juga akan terasa perubahan waktunya. Artinya orang tadi bisa membedakan, bahwa sesudah mengetahui benda secara urut-beruntun kemudian (dapat) mengetahui benda lain.

Demikian orang sempurna bisa mengetahui rancangan di tempat lain lagi orang tadi mengetahui bagian (yang) baru lagi, demikian seterusnya. Misalnya dengan kata lain orang itu sudah mengetahui semuanya apa yang kiranya terlihat.

Tidak ada lagi hanya bundaran di tengah, gambar ciptanya Tuhan. Tetapi Tuhan ada di tengah juga menjadikan (sesuatu secara) seketika. Tanpa berubah (atau) bergeser pada waktu dan ruang, sebab cipta yang mengetahui kumpulan kejadian tadi terlihat terhadap wujud yang ada di tengah, seperti sebuah titik, lingkaran, dan poros tengah yang tunggal, yaitu sebuah cipta tadi dilihat dari ruang (yang) berbeda-beda.

Maka sekarang umpamakanlah ada orang lain yang mengelilingi lingkaran kedua, yang lebih jauh dari poros tengahnya. Itu juga tahu pada poros tengahnya, urutan arahnya berlainan. Sesudah berkeliling sampai selesai juga jelas pengetahuannya terhadap wujud bundaran yang bertempat di tengah-tengah. Misalnya jalannya mengitari dua orang sama cepatnya, jadi yang kedua akan lebih lama tahunya terhadap kumpulan wujud di tengah, sebab lebih panjang jalannya. Tetapi sebenarnya pengetahuannya menjadi satu sebab benda yang dilihat hanya satu dan karena urut-urutan yang terlihat itu terbaca, maka apa yang dipikirkan dua orang itu akan sama, meskipun penglihatannya berjarak denganku, yang sama melihat perputarannya.

Nah, demikian sebabnya orang bermimpi sementara menurut saja. Terkadang mengalami macam-macam perkara yang tidak dapat dilakukan badan kasar kita selama bertahun-tahun. Karena kita jarang bisa berpikir apa yang terjadi pada waktu jika tanpa (ada) kejadian. Bangun tidur kita tadi karena rasa (yang) sudah hidup (selama) berpuluh-puluh tahun.

Adapun misalnya ada orang mengelilingi lingkaran yang ketiga, sudah pasti lebih lama jalannya daripada yang paling dekat dengan titik tengah. Meskipun sesudah bertemu putarannya tidak berbeda (dengan) yang dilihat, yaitu kumpulan cipta di tengah, tetapi wujud orang itu seperti lingkaran yang lebih luas. Jadi bundaran itu seperti yang lainnya tadi, menyatu dengan titik, semua tenggang waktu perputarannya sama jatuhnya.

NO. 2
BUKU TULISAN TUAN VAN DEN BROEK

Adapun banyak sedikitnya yang disampaikan tergantung pada halusnya budi bangsa, tergatung pada watak bangsa yang memiliki pengetahuan tadi, dan tergantung pada daya pencarian pikirannya.

Agar sesuai dengan semua (hal) tadi, maka cara penyampaiannya tadi yang disebut agama, tetapi dasarnya sama saja. Setiap kali mengajarkan bahwa keadaan Allah itu hanya satu yang terbabar menjadi tiga kumpulan atau trimurti, dan mengajarkan bahwa manusia itu keadaannya (ada) tiga rangkap, sama seperti Allah. Seterusnya manusia dapat dibagi lagi. Benihnya tiga rangkap, lalu kenaikannya menjadi tujuh rangkap, serta mengajarkan bahwa manusia itu tidak dapat mati, akan tidak lenyap. Apa lagi mengajarkan bahwa manusia sudah berkali-kali lahir di dunia, akan semakin sempurna dan semakin bertumbuh (daya) pengertiannya. Serta ada manusia yang sudah dapat mencapai kesempurnaan kemudian menjadi guru (bagi) bangsa manusia.

Para manusia yang sudah sempurna tadi, dahulu ya sama saja seperti orang pada umumnya. Sama-sama ringkih serta memiliki dosa dan tidak sempurna seperti manusia (yang) sekarang. Tetapi kemudian semakin naik kesempurnaannya. Adapun manusia jaman sekarang juga dapat (mengalami) kenaikan dan kemudian tumbuh (daya) pengertiannya. Akhirnya menjadi kuat dan dapat mencapai kesempurnaan. Seperti juga saya ini ya dapat mencapai kesempurnaan jika mau, bersama (dengan) para manusia yang sudah sempurna tadi. Lalu mulai mengajar kepada para manusia sesamanya dan kemudian membuat perkumpulan persaudaraan yang sama-sama menjadi guru besar. Sewaktu-waktu para pembesar tadi ada salah satu yang turun mendatangi manusia, supaya dapat menyampaikan agama kepada setiap bangsa. Supaya setiap trah pada satu bangsa (dapat) menerima agama, yang memang adanya digunakan sebagai pertolongan dan ajaran kepada bangsa tadi. Serta banyak para manusia sempurna yang berbeda-beda pangkatnya, yang sama-sama masuk perkumpulan persaudaraan tadi menurut keadaan kenaikan kesempurnaannya. Seperti para pendeta, orang-orang yang lebih tinggi (daya) pengertian kerohaniannya dan lebih tinggi pengetahuan kesempurnaannya atau kebijaksanaannya. Adapun orang-orang yang sudah sama-sama berlebih tadi sampai sekarang sama-sama menuntut banyak (orang) berdosa, memberi teladan bagi pemerintahan, menentukan hukum-hukum yang diberikan kepada pemerintah bangsa. Jadi orang sempurna yang mengajar kepada banyak bangsa dan menjadi para pendeta yang sama-sama menuntun bangsa tadi.

Banyak bangsa pada jaman kuno sama-sama meminta ajaran pada orang sakti, (seperti) para pendeta luhur dan para perwira yang seperti demikina tadi. Serta mencari pengetahuannya (melalui) buku-buku bacaan, melalui rumah yayasan dan sejenisnya, melalui hukum-hukum pranata negara dan lain-lainnya.

Sulit untuk tidak percaya bahwa orang-orang sempurna yang dimuliakan tadi masih sama-sama hidup, sebab dongeng yang sudah umum pada banyak buku dan peninggalan jaman kuno yang sekarang masih ada, sebagian menjadi beban. Semua itu dijadikan saksi banyak buku dan yayasan yang menyediakan (sarana untuk mencapai) kenaikan yang lebih tinggi tadi. Saya kira tidak mungkin (jika hal itu merupakan) pekerjaan orang yang masih rendah tataran kenaikannya. Tidak terkira jasa para penuntun kerohanian yang luhur. Jika saya menggunakan kesaksian (dari) buku-buku dan peninggalan (kuno) tadi, supaya tidak mengucapkan kesaksian lainnya yang (dapat) ditolak orang yang belum tahu.

Nantinya keadaan nalar yang menjadi sebab banyaknya kesamaan pada ajaran agama, karena asalnya semua ajaran tadi aslinya (adalah) satu. Sama-sama (berasal) dari perkumpulan persaudaraan para manusia sempurna yang sama-sama sampai di puncak sendirian.

Di tanah Yunani, banyak ajaran tadi semula dinamakan theosofi, artinya tidak lain yaitu kebijaksanaan para dewa. Orang Yunani tidak hanya menjadikan kebijaksanaan tadi menjadi agama, tetapi juga menjadi ilmu kesempurnaan dan pengetahuan kepintaran (filsafat), serta karena kebijaksanaan tadi yang menjadi dasar banyak agama. Sebab theosofi tidak dapat dijadikan (sebagai) lawannya agama, malah yang memurnikan agama, (yang) membabarkan nilai ajaran baku yang sudah berganti wujud menjadi (seperti) yang terlihat dari pekerjaan orang bodoh yang keras kepala dan tumbuh (dari hasil kepercayaan terhadap) takhayul. Serta theosofi yang mengarahkan hamba (kepada) kebijaksanaan yang terpilih di dalam ajaran agama melalui muatan kebijaksanaan yang terkandung dalam ajaran tadi dan yang mengayomi setiap orang.

Orang yang masuk (menjadi) warga theosofi tidak usah meninggalkan agamanya. Jika yang masuk menjadi warga tadi bangsa Kristen, ya bangsa Kristen. Jika bangsa Hindu ya tetap Hindu. Jika bangsa Islam ya tetap Islam. Sebab yang masuk menjadi warga tadi hanya akan diberikan pengertian yang termasuk di dalam agamanya sendiri dan mendapat keyakinan yang sentosa pada kesejatian agamanya, mendapat pengetahuan yang luas mengenai ajaran yang tersembunyi (rahasia).

Pada jaman dahulu theosofi yang mengadakan agama, sekarang yang mengadili dan mengayomi agama di depan pengadilan dan yang mengusulkan kembali perkumpulan serta sumpah setia manusia kepada Allah.

Ya harus diingatkan bahwa daya jiwa manusia itu tidak dirancang untuk mengetahui yang gaib-gaib. Supaya (dapat) digunakan (untuk) meninggikan manusia ketika mengetahui yang gaib-gaib tadi. Itu seharusnya hanya (digunakan) untuk mencari keselamatan (bagi) orang. Apa yang diterima orang itu sedapatnya (menjadi) penolong dan diteruskan kepada orang lain.

NO. 3
MENGENAI KEBERADAAN ALLAH

Theosofi menjelaskan keberadaan Allah dan hal mengenai hubungan manusia sendiri dengan Allah, mengajarkan bahwa keadaan Allah itu hanya satu yaitu nyawa semua yang bersifat hidup, mengajarkan bahwa hidup Tuhan hanya satu, pekerjaan Tuhan itu satu. Ada satu kekuatan yang memenuhi alam semesta. (Theosofi) mengajarkan bahwa di manapun tempat yang dapat ditelusuri manusia, di situ juga Allah hidup. Hidup Allah itu berada di tempat di mana hewan merasakan (sesuatu) atau di hati sanubari manusia. Begitu juga pada benda-benda mati dan tumbuhan, di situ juga hidup Tuhan membantu (untuk) mengupayakan dan mengembangbiakkan semuanya. Singkatnya, di dunia dan seisinya tidak ada hidup selain hidup-Nya Allah.

MENGENAI RASA TUNGGAL

Keadaan satu itu menjadi dasar semua yang diketahui manusia, oleh sebab itu theosofi mengajarkan dasarnya segala penciptaan itu hanya satu, mengajarkan hukum-hukum mengenai penyatuan keadaan, mengenai satu keadaan yang melingkupi di manapun. Penyatuan itu tumbuhnya dari Allah, yaitu asalnya semua rasa, tempat kenaikan rasa di dalam manusia dan munculnya budinya. Semua itu benihnya pada Allah.

Semua rasa yang semakin halus kemudian menjadi kebanggaan atau gagasan batin, tumbuhnya dari satu asal atau dari satu benih. Semua rasa itu hanya satu. Rasa tunggal tadi tidak dapat dipisahkan dari yang lainnya, serta tidak dapat semua manusia terpisah-pisah seperti memiliki pendirian sendiri-sendiri, manusia itu asalnya menyatu pada satu pusat. Adapun manusia sama-sama memiliki rasa itu (yang) asalnya dari satu hidup. Semua manusia itu terlingkupi (oleh) keberadaan Allah. Penyatuan rasa tadi adanya (berdasarkan) hukum-hukum penyatuan yang yang memerintah semesta.

MENGENAI KEKUATAN ATAU DAYA TUNGGAL

Tidak (bermaksud) mengatakan (bahwa) semua rasa itu satu, tetapi semua kekuatan juga hanya satu. Satu-satunya kekuatan itu tumbuh dari satu asal. Mengenai hal itu (maka) pengetahuan (mengenai) kasunyatan (realitas) sesuai dengan theosofi. Di dunia ini hanya ada satu daya besar. Semua wujud daya dan kekuatan yang sama-sama saya ketahui itu dasarnya satu. Daya dapat bertukar menjadi kekuatan, kekuatan dapat bertukar menjadi daya. Semua wujud daya yang dipelajari para pencari kepintaran dan semua kekuatan yang terlihat di sekeliling kita. Meskipun pada keadaan alam bangsa benda mati dan juga sejenisnya yang terlihat dan (yang) sejiwa, atau yang ada pada alam tumbuhan, meskipun ada pada hewan atau pada manusia. Semua kekuatan tadi dasarnya satu, hanya terbabarnya dan cara dijadikannya yang berbeda-beda. Jika diamati dengan teliti, kenyataan semua tadi hanya satu.

MENGENAI BANGSA BADAN KASAR YANG HANYA SATU

Adapun yang disebut bangsa badan kasar atau jasmani itu maksudnya sejenis wujud yang dapat diraba dan dilihat melalui panca indera, seperti tanah, air, api, debu (dan) sejenisnya. Semua itu jika dalam Bahasa Belanda disebut stof. Adapun stof atau bangsa badan kasar tadi, meskipun berbeda-beda wujudnya, tetapi keadaannya juga hanya satu, yaitu benih (bakal) yang digunakan (untuk) membuat sejenis unsur. Semua benda yang terlihat di sekeliling kita seperti bangsa padat, bangsa cair, bangsa asap dan udara. Semua itu dasarnya satu, tetapi berbeda-beda pembagian bagiannya. Di alam dunia ini keadaannya hanya satu-satu, rasa satu, hidup satu, jasmani satu. Ya tiga-tiganya menyatu itu (adalah) terabarnya keadaan Tuhan. Semua itu asalnya dari satu hidup, yaitu hidupnya Allah.

NO. 4
MENGENAI PERSAUDARAAN

Karena badan jasmani tadi hanya satu, kekuatan hanya satu, dan rasa hanya satu, maka sejenisnya yang bersifat hidup itu menjadi satu persaudaraan. Semua tadi dibuat dari satu benih (yang) sama-sama ditempati satu kekuatan. Semua rasa yang menyatu sama-sama maju atau (mengalami) kenaikan.

Di alam semesta ini (semua) menjadi satu persaudaraan besar (yaitu) ciptaan (dan) sejenisnya yang ama-sama berbeda tingkatannya. Tetapi semua itu sama-sama terkait menjadi satu karena (keadaan) jasmaninya, kekuatannya, dan rasanya yang menyatu karena pengertian satu persaudaraan itu juga mendasari satu dasar yang melingkupi apapun. Adapun theosofi mengajarkan bahwa manusia itu menjadi sebagian (dari) hidup yang menyatu, tidak dapat iti terhadap orang lain.

Manusia itu pergi menjadi segolongan angkasa, berpisahnya semua pergi menjadi segolongan yang sama tingkatannya. Harus sama niatnya kepada semua yang diarah(kan). Adapun keadaan hatiku masih iri dan (penuh) permusuhan, yang sebenarnya memang harus saling menolong terhadap sesama. Itu terjadi akibat tidak mengetahui tingkatan keberadaan Allah dan keberadaan manusia.

MENGENAI PERSAUDARAAN BERDASARKAN BADAN JASMANI

Setiap orang mengeluarkan sebagian kecil dari badannya dan menerima sebagian kecil di dalam badannya yang dikeluarkan oleh orang lain. Adapun perjalanannya yang demikian tadi sewaktu ada orang yang sedang sama-sama duduk-duduk, di sana tidak berhenti (untuk) sama-sama bertukar jasmani (stof deeltjes) yang sangat kecil. Kemudian yang demikian itu menghasilkan persaudaraan di antara (yang) dibawa dari jasmaninya. Sebab manusia sama-sama menukarkan sebagian kecil dari jasadnya, karena mau tidak mau kita sama-sama menjadi saudara menurut keadaan badan.

Maka dari itu kita sama-sama tidak berhenti saling membantu tanpa diniatkan, meskipun membantu (yang) buruk atau baik. Orang (yang) sehat (selalu) menyebarkan kesehatannya di manapun tempat yang (ia) dekati, orang (yang) sakit menularkan penyakitnya di mana saja (tempat) yang (ia) datangi.

Pergantian dan meningkatnya jasmani tadi yang menghubungkan kita, yang menjadikan sebab bahwa keselamatan badan sesama kita manusia itu perlu untuk kita.

MENGENAI PERSAUDARAAN PADA RASA HATI

Tetapi tidak hanya persaudaraan pada badan saja yang menghubungkan kita, juga masih ada persaudaraan pada batas rasa hati dan rasa tubuh. Semua manusia sama-sama saling membantu pada batas rasa hati dan rasa tubuh. Apa yan terasa pada seseorang juga terasa pada (orang) lain. Udara dipenuhi getar udara (ether) yang terjadi dari inti hawa nafsu manusia. Oleh karena itu manusia sama-sama saling membantu karena sama-sama tidak merasa.

Jika (misalnya) di (sebuah) tempat duduk ada orang yang buruk wataknya, hawa buruk tadi menyebar kepada yang lain. Demikian juga jika di dalam rumah ada orang yang pemarah, maka menyebabkan kegelisahan yang sangat kepada semua yang berada di sana.

Ada yang (ketika) sedang bersama dengan seseorang terasa tentram dan teduh hatinya, kemudian menjadi mudah jalannya. Sementara ada yang terharu (terhadap) orang lain lalu terasa risau hatinya, serta semua yang pikirannya (sedang) repot atau susah. Adapun yang menyebabkan (perasaan yang) demikian itu karena rasa hati. Sebab terjadi demikian karena manusia (pada) dasarnya memiliki badan kasar atau jasmani, juga memiliki badan rohani, yaitu badan yang tercipta dari jasad, yang halus, yang sangat terasa oleh getar yang halus.

MENGENAI PERSAUDARAAN PADA PIKIRAN

Ada lagi bentuk persaudaraan lainnya, yaitu pada batas pikiran. Jika orang berpikir, pikiran tadi mengupayakan ingatan orang lain di kiri kanannya. Badan manusia yang lebih halus, yang menggetarkan badan orang lain yang sama halusnya. Sering ada orang yang bicara apa saja kemudian ditanggapi (oleh) orang lain. Aku mendukung gagasan itu, adapun yang demikian itu takdir jalannya pikiran tadi.

NO. 5
MENGENAI AJARAN THEOSOFI

Kata theosofi itu aslinya dari bahasa Yunani. Theos, Tuhan dan shopia, kebijaksanaan. Jadi arti theosofi (adalah) kebijaksanaan Tuhan, harapan kebijaksanaan para dewa, para nabi dan sejenisnya yang sama-sama berwujud dewa, pada Bahasa Sansekerta disebut brama widya.

Nama theosofi dikenal pada tahun 300, terhitung dari lahirnya Nabi Isa. Adapun yang memprakarsai (untuk) menggunakan nama tadi (adalah) seorang guru Amoniyus beserta para muridnya yang disebut neoplatonisme.

Theosofi itu agama kebijaksanaan yang sudah kuno, (berupa) ajaran (yang) hanya untuk orang-orang yang memiliki kelebihan, yang sudah tahu setiap negara pada masa kuno, yang orang-orangnya sudah bisa (mengerti) ilmu kejiwaan yang sempurna, yaitu asalnya semua agama.

Theosofi dapat dianggap (sebagai) agama yang menjalankan kebenaran, agama yang menjalankan kasunyatan, agama yang tidak mengarahkan manusia supaya mengharap-harap kemuliaan hidup di masa mendatang di suatu tempat, tetapi menjadi dapat dibuktikan (bahwa apa yang ada) di dalam badan ini (dengan yang ada di) bumi ini, melalui bau yang jalannya melalui perpindahan ingatan (yang) berlapis-lapis dari alam yang satu ke alam lainnya sampai di alam para guru besar.

Adapun maksud theosofi itu mendengarkan semua agama dan berbagai semua jenis bangsa dengan menggunakan patokan ajaran kesusilaan yang sama (dengan) hukum kesejatian yang abadi. Theosofi bermaksud mengajarkan bahwa semua agama itu (merupakan) serapan dari pengetahuan para manusia atau yang segolongan (atau) bermitra, yang sekarang masih sama-sama menjadi juru penuntun manusia.

MENGENAI ADANYA HUKUM AJARAN BESAR

Para theosuf sama-sama menyebutkan bahwa ada patokan ajaran yang luas dan patokan pengetahuan kesempurnaan, cerdas, dan meruang yang menjadi hukum (bagi) semua dan memuat semua yang dinyatakan pada ilmu kesempurnaan, kasunyatan terhadap agama pada jaman kuno sampai sekarang.

Sejujurnya ajaran tadi banyak persamaannya terhadap ilmu kesempurnaan dan terhadap kasunyatan daripada terhadap agama, sebab ajaran (agama) bermakna supaya orang mengakui dengan menggunakan ancaman hukuman neraka atau (yang) lainnya kepada siapapun yang tidak mau mengakui, seperti itulah yang berlaku pada agama (dan) sejenisnya.

Benar (bahwa) patokan ajaran tadi dapat diangap (sebagai) agama, yang disebut agama itu artinya dipagari dalam hidup oleh cipta yang mulia. Tetapi ajarannya tetap dapat dibuktikan, tidak hanya menguasai. Jika orang tidak terlalu percaya atau memungkiri agama, maka disebut menyerongi kecucian. Beberapa orang yang mencari tidak akan tidak percaya bahwa pada waktu terdahulu ada patokan ajaran yang luhur, yang turun-temurun sampai sekarang.

Harapan Nabi Isa terhadap sahabatnya demkian: kamu itu sudah sama-sama diberi tahu mengenai rahasia kerajaan Allah, maka semua orang yang berada di luar pagar harus dibuatkan perumpamaan (tulisan Markus 4 ayat 11).

Maksud Nabi Isa berkata demikian (yaitu) memberi nasehat bahwa manusia itu sama-sama berhak mengetahui rahasia terciptanya jagat (kerajaan Allah) jika mau menggunakan dan mencari rahasia tadi. Tetapi orang kebanyakan yang masih belum kokoh budinya, maka cara pemberian pengetahuannya menggunakan perumpamaan supaya sama-sama mengetahui Allah dan kehendak-Nya.

Theosofi yang dapat memenuhi kebijaksanaan bila dipakai (sebagai) ukuran patokan ajaran yang luhur tadi. Umumnya theosofi memiliki nilai yang lebih (luhur) tadi dengan cara ditambah (dari) apa yang didapat (dari hasil) pengamatan orang-orang yang sempurna dan para bijaksana. Pembuktian dari banyak pertanda yang tidak dapat diadu. Adapun kebijaksanaan tadi sekarang dan pada jaman kuno terdapat pada perkumpulan persaudaraan yang (sampai) sekarang warganya masih sehat, yaitu yang disebut para adept, para adat, para nabi, dan para mahatma, yang tingkatan rohnya sudah berada di tataran yang luhur, mengungguli orang kebanyakan. Adapun sebenarnya yang demikian tadi dapat dibuktikan.

MENGENAI ADANYA ASAL MULA YANG ABADI

Theosofi menjelaskan keadaan dasar asal-muasal yang abadi, yang hanya diketahui dari sabda (penciptaan) dan tujuannya. Tidak ada kata yang dapat menceritakan (mengenai) asal mula tadi, sebab kata tadi hanya dibuat (untuk) membeda-bedakan. Yang menjadi asal-muasal itu (adalah) semua keadaan. Saya meminta penjelasan yang disebut asal-muasal tadi, yaitu yang maha nyata, yang tanpa akhir, yang tidak dapat tidak dipercaya. Tetapi kata itu tidak memiliki arti yang nyata. Orang bijaksana menyebut sat, artinya ada, itu sama sekali tidak berwujud atau bukan (suatu) keadaan. Hanya jika sudah mulai terbabar tadi menandakan yang tidak terbabar. Adapun yang terbabar itu tidak abadi, dapat sirna, karena harus ada yang tetap abadi.

Adapun adanya yang abadi itu harus diakui, sebab jika tidak demikian dari mana munculnya keadaan di alam dunia ini. Sebenarnya semua itu memuat zat, yang berguna (sebagai) isi benih semua (yang) diciptakan dan isi semua daya atau kekuatan.

Menurut ajaran theosofi, se-alam semesta ini (merupakan) terbabarnya sat yang utama. Peribahasa orang tanah Hindu demikian: ada waktunya bekerja dan waktunya berhenti, waktunya tercipta dan waktunya mati, waktu keluar dan masuknya nafas besar, seemua itu tetap silih berganti.

MENGENAI PENINGKATAN ATAU KEMAJUAN

Hanya theosofi sendiri yang dapat mengatakan dari mana asalnya manusia, apa perlunya hidup dan ke mana tujuannya. Theosofi mengajarkan kepada kita supaya mengenali hati (kita) sendiri, yaitu yang dapat menghilangkan semua pamrih kepada kecukupan (diri) sendiri. Memberitahukan seberapa besar (rasa) kecewa manusia pada ingatannya, (apa yag) dibicarakanya, dan pekerjaannya serta mengingatkan di dalam hati (mengenai) pengertiannya terhadap kewajiban yang benar.

Theosofi tidak menghalangi orang yang mencari dan (ingin) bertanya. Adapun jika sepi jawaban, itu sudah terpikir akan tidak mau memberi jawaban. Tetapi karena saya belum dapat mengerti jawabannya, maka mungkin (saya) akan salah menjawabnya.

Orang-orang yang sudah mendapat keterangan sendiri, mendahului para saudaranya, itu tidak (dapat) dicegah. Sebab caranya mendapatkan keterangan tadi dari (hasil) keinginannya mencari, dari caranya (yang) mau menempuh banyak kesusahan. Siapa yang kuat memanjat sampai ke puncak, (maka) tidak ada orang yang dapat memaksakan (untuk) turun lagi. Jadi kenaikan atau kemajuan itu (yang) menentukan kehidupan.

Ada banyak jiwa Manusia Sejati atau jiwa yang cepat kemajuanya, yaitu orang-orang yang senang berbuat kebaikan, (yaitu) para guru dan para guru besar.

Semua manusia sama haknya, sama-sama dapat mencari kenaikan, serta harus memastikan ingatan dan pekerjaannya sendiri. Adapun theosofi yang mengarahkan kesempurnaan serta menyediakan jalan supaya dapat dijalani (para) pencari tadi.

Ajaran theosofi banyak yang berseberangan dengan pengetahuan agama pada jaman sekarang. Tetapi theosofi tidak bermaksud menghilangkan agama. Sebenarnya tidak ada orang yang disuruh (untuk) membuang yang lama sebelum mengamati yang baru serta menagih (yang) lebih baik.

Oleh karena theosofi mengandung kumpulan kehidupan manusia (yang) menjalani (hidup) dengan menggunakan patokan ilmu kesempurnaan dan kasunyatan, sebab dari luasnya teosofi tadi menunggu orang yang bersedia mengerjakan. Hanya dapat menceritakan terbabarnya (sesuatu) yang ada di dalam (diri) sendiri. Adapun yang diajarkan theosofi seperti yang ada di bawah ini:
1.  Mengenai terbabarnya jagat.
2.  Mengenai manusia dan benihnya.
3.  Mengenai kewajiban yang harus dijalankan manusia.

MENGENAI TERCIPTANYA JAGAT

Gagasan theosofi (mengenai) terbabarnya jagat itu dari masuk keluarnya nafas hidup (yang) abadi.

Semua kodrat itu dijelaskan (bahwa) ada gerak yang tetap. Jika saya meneliti sejenis kerlip yang wujudnya rendah, bertambah rendah sampai pada hewan kecil-kecil yang hanya dapat dilihat melalui mikroskop. Jika hewan tadi saya teliti, di situ akan dapat diketahui gerak masuk keluarnya nafas yang tetap, yang menjadi bagian wujud yang rendah tadi. Di alam dunia ini orang dapat meneliti gerak yang tetap di mana-mana, tempat orang (dapat) mengetahui gerak (tersebut) bergeser, menjadi rendah, melebar atau mengerut, pasang dan surut. Nantinya theosofi mengajarkan bahwa detak jantung yang tetap, yang bergetar pada bagian yang kecil-kecil itu juga berdetak di jagat dunia (yang) berkumpul jadi satu.

Semua yang bersifat hidup tadi tidak dapat disebut hidup besar yang abadi, sebab satu-satunya hidup itu hanya pembabaran hidup abadi (itu sendiri). Hidup abadi yaitu keutuhan semuanya dan juga hidup tadi tidak dapat disebut budi, sebab budi itu hanya (sesuatu yang) sejajar (dengan) hidup. Maka hidup abadi adalah semua wujud (hidup).

Orang hanya dapat merahasiakan keadaannya yang tidak dapat dijajaki tadi, serta hanya harus ditaklukkan di dalam batin, sebab siapa yang bermaksud menjelaskan hal itu (adalah) contoh (yang) baik (sebab) tanpa pamrih.

Jadi adanya hidup abadi salah satunya terbabarkan menjadi hidup kita, itu yang menumbuhkan jagat.

Ada tujuh jajaran keadaan, yang (berada paling) di dalam berjenis roh suci, di dalam berjenis jasmani yang bersih. Adapun semua jenis dan wujud yang ditempati hidup itu sama-sama bertingkat-tingkat di antara roh dengan jasmani tadi, satu-satunya badan yang menempati bentuknya dalam hidup.

Di semua kodrat yang terbabar ini ada bilangan yang (jumlahnya) tujuh-tujuh, seperti warna cahaya ada tujuh, laras (nada) gamelan ada tujuh, dan lain-lainnya.

MENGENAI ALAM KODRAT

Jika orang sudah (ditakdirkan) mengerti jajaran ingatan seperti demikian tadi, sebenarnya akan semakin bertambah jelas pengetahuanya terhadap keadaan penciptaan mengenai sejenis wujud yang sama-sama hidup di alamnya sendiri-sendiri, yang bertemu pada jagat. Demikian juga (orang) akan dapat belajar (untuk) mengetahui keadaan yang berbeda dengan keadaan di dunia ini dan akan dapat mencipta. Bahwa satu-satunya tataran keadaan itu memang berada pada sekeliling bentuknya, serta satu-satunya (yang) mewujud. (Hal) itu sama-sama memiliki rasa yang baik pada keadaan yang ditempati. Apa lagi kita akan mengerti bahwa ada (yang) berwujud lain-lain, yang sama-sama hidup di alam lain (dari) alam dunia ini. Seperti manusia yang sama-sama hidup di dunia ini dan lagi orang akan (menjadi) jelas pengetahuannya. Apa sebabnya bangsa halus yang lebih dari manusia tadi datang, ya tidak jarang keadaannya. Karena pada bangsa halus tadi semua itu sama-sama nyata seperti pada hidup kita, tetapi ada di alam lain, serta sudah berpindah sampai di tataran lain.

Jadi jagat itu dapat disebut (sebagai) sebuah hidup besar yang berlapis-lapis pada tujuh tingkatan tataran.

MENGENAI CALON ATAU ASAL MULA MANUSIA

Manusia itu (adalah) gambaran jagat yang diperkecil. Jadi senyatanya (adalah) wujud yang makin meningkat kesempurnaannya, (hal) itu dijelaskan ada di dalam rahim (ibunya) sendiri. Manusia tadi juga seperti jagat, sama-sama memiliki tujuh lapisan, satu-satunya calon atau asal mula jagat.

Asal (bakal) manusia yang ketujuh (adalah) yang paling luhur, dapat diumpamakan (sebagai) percikan cahaya roh, yaitu hidup jagat yang nyata, yang berada pada manusia. Misalnya hidup roh yang agung tadi (adalah) api, (maka) percikan api tadi yang membara di dalam manusia, yaitu detakannya hidup abadi.

Roh manusia itu (adalah) kendaraan roh yang agung tadi dan berkaitan dengan percikan api yang abadi dan dengan budi luhur yang ada pada manusia, berkumpul menjadi trimurti, (menjadi) Manusia Sejati yang abadi (dan) tidak dapat mati.

Adapun tempatnya Manusia Sejati ada pada badan jasmani atau hewani, (hal) itu (merupakan) babaran dari asal (yang) empat rangkap. (Ter-)kumpulnya badan hewani dengan Manusia Sejati yaitu (yang merupakan peristiwa) dijadikannya manusia.

Adapun hidup manusia di bumi ini keperluannya tidak lain supaya mengarah (pada) kenaikan kesempurnaannya dan mengetahui tiga asal mula yang disebut manas luhur atau timurti. Adapun asal mula (atau bakal) yang keempat yaitu manas rendah, yang tergolong kepada bumi, harus dikalahkan serta dikuasai. Jadi kenaikan kesempurnan manusia itu tergantung pada orangnya sendiri.

Jika manusia dapat berpindah dari alam yang ditempati ke (tingkat yang) buruk (pada) tingkat kelima, yatu tempatnya roh bekerja di dalam wadahnya sendiri dan hidup menggunakan hidupnya sendiri, benar bahwa apa yang di bumi ini disebut halus, di situ disebut badan kasar. Sebab badan kasar atau kasarnya di situ tidak sama dengan kasarnya di sini, serta apa yang dapat dilihat dan didengar oleh telinga badan kasar.

Jika manusia sudah membuktikan keadaan di dalam wadah ingatan serta roh sekali saja, meskipun sangat berbeda dengan apa yang sudah diketahui di dalam wadah hidup (yang menjadi) pertemuan di bumi ini. Benar (bahwa) bakal manusia senyatanya akan terbuka. Bakal tadi terlihat lebih mulia daripada dengan yang sudah disebut pada nyanyian para pengarang, dan lebih luhur daripada yang sudah diketahui para nabi.

Jika manusia sudah dapat menjelekkan dirinya Pribadi sesungguhnya menjadi raja (pada) alam seisinya (ini), sama dengan Tuhan yang ada di surga.

MENGENAI PENJELMAAN KEMBALI MENJADI MANUSIA

Orang tidak dapat mencapai kesempurnaan hanya dalam sekali (mengalami) kehidupan di dunia, tidak mungkin kesempurnaan dapat dicapai (dalam) seumur hidup seseorang. Agar dapat sempurna harus beberapa kali mengalami penciptaan. Adapun hidupnya di bumi tidak sedang sekali ini (saja), tetapi sudah tidak berkaitan (dengan) lamanya mencari kasunyatan ketika (pada) hidupnya terdahulu. Adapun kemampuan yang sudah dimiliki dan kelebihan yang sudah dimiliki, apa lagi daya yang sudah menjadi kesenangannya, itu dapat diumpamakan (sebagai) boyongan hadiah yang didapat dari kemenangan perang. Semua itu dapat (digunakan) untuk menyirikan seperti apa perjalanannya waktu dulu. Jadi tidak hanya sekali ini hidup di dunia, tetapi sudah berkali-kali, setiap kali diciptakan mencari pengetahuan lagi. Misalnya seperti dalam buku, perjalanan di (dalam) hidupya tadi seperti menulis cerita dalam buku tadi, yang akhirnya akan dapat membaca sendiri.

MENGENAI KARMA

Yang demikian jika manusia dilahirkan kembali, setuju dengan yang sudah dijalani, yaitu takdir perjalanannya sendiri. Jadi kita sendiri yang membangun keadaan kita sekarang ini.

Adapun hukum (yang) demikian tadi disebut hukum yang (terjadi) berulang kali yang mempertemukan kehidupan setiap manusia dengan apa yang didapat sewaktu (dalam) kehidupannya terdahulu. Setiap manusia dilahirkan kembali, seperti keadaannya yang sudah disediakan sendiri.

MENGENAI PENGORBANAN

Setiap manusia sama-sama memiliki kewajiban (yaitu) harus tolong-menolong supaya sampai pada kesempurnaan. Tidak ada orang yang dapat muncul sendiri, demikian juga kemunduran seseorang, (hal) itu membuat kemunduran (bagi) yang masih ketinggalan. Tidak ada orang (yang) dapat benar-benar bahagia jika masih ada seseorang yang mendapat sengsara. Tidak ada orang (yang) bisa mendapat keselamatan dari pengarahannya sendiri, jika saudaranya sesama manusia tidak ikut mendapat keselamatan tadi, sebab tugas kita yaitu menyelesaikan kewajiban semua orang mengenai semua kebutuhan(nya), serta oleh karena dari melakukan dan menjalankan kewajiban tadi, benar (bahwa) kita akan bersama-sama bersatu dengan hidup yang luhur.

MENGENAI PERSAUDARAAN

Kita harus selalu mengingatkan bahwa kita ini menjadi segolongan persaudaraan. Kita harus sudah mengenali badan sendiri. Apa yang (sudah) diterima dijadikan kelesamatan (bagi yang) lainnya, supaya saudara kita sesama manusia (dapat) ikut merasakan kehidupan (yang) sama dengan kita. Kita harus menggunakan pengetahuan kita untuk mengajarkan (kepada) yang sama-sama belum mengerti.

Haruslah (kita) suka (terhadap) pengajaran yang baik, untuk menolong orang yang masih kekurangan pengajaran, supaya para saudara kita dapat bertambah kesempurnaannya, supaya dapat sama-sama dengan kita. Bahwa semua ini sudah dijalankan, ini akan sampai pada waktu(nya) jika kita menandai dasar kehidupan baru dan jika kita masuk di alam (yang) baru, adanya semua ini dijalankan bersama-sama.

MENGENAI PARA GURU

Orang-orang yang sudah sempurna yang berada di depan harus menunggu yang masih ketinggalan, serta apa tidak sudah jelas-jelas bahwa orang-orang yang sudah sempurna yang berada di depan harus menjalani banyak kesusahan (dalam) mengajarkan (orang) yang masih ketinggalan, supaya dapat cepat bertambah sempurnanya dengan para saudara(nya) tadi segera masuk ke (dalam) kehidupan (yang) baru, yang dijadikan benih bagi manusia sesudah kehidupannya (yang) sekarang ini.

Pada akhirnya kita akan sama-sama memanjat tangga manusia yang kakinya berada pada detakan hidup hewani. Adapun anak tangga yang paling tinggi hilang di dalam cahaya hidup abadi. Sekarang kita sudah sama-sama sampai di anak tangga tadi, tetapi sama-sama tidak dapat terus memanjat, jika kita tidak dapat membawa saudara kita serta menggunakan daya kekuatan kita untuk menolong penderitaannya, dan (untuk) menyentosakan keadaan saudara kita tadi.

MENGENAI THEOSOFI

Menurut yang disebut di atas tadi, seperti apa cepatnya cara menjalankan hukum yang besar ini, meskipun pernyataan (tersebut) harus membuktikan bahwa theosofi itu mengandung ajaran yang lebih banyak, sebab yang sama-sama belajar sangat disesuaikan dengan kemampuannya (antara) kesusahan dengan kemampuannya.

Theosofi tidak hanya mengemukakan gama saja,pengetahuan kesempurnaan saja, atau kasunyatan saja, tetapi sekaligus ketiga-tiganya itu dikumpulkan menjadi theosofi.

Tidak ada agama yang sebenarnya, jika tidak diuji melalui pengamatan kasunyatan dan kesempurnaan dan tidak dapat menyediakan jalan yang benar, yang mengantarkan manusia kepada kemuliaan yang luhur.

Sampai sekarang cara orang mendapat agama itu sudah (secara) turun-temurun (didapat) dari orang lain, misalnya seperti caranya menerima tadi setiap (kali) hanya dari mendengarkan perkataan orang (yang) dapat mencari kesaktian (yang) nyata yang dijelaskan oleh agama.

Orang bisa mendapat theosofi atau agama kebijaksanaan dari asalnya, karena yang sama-sama memerintah (adalah) para pendahulu. Makudnya begini, kebenaran theosofi itu dapat teruji dari pengamatan yang sama-sama memegang perintah sendiri.

Adapun bisa didapat orang kebenaran yang diajarkan oleh agama itu jika sudah mati. Kebenaran yang diceritakan oleh theosofi bisa didapat orang di dalam hidupnya (sekarang) ini, silahkan jika ingin ikut serta membuktikan.

Sebanyak-banyaknya (hal yang ada dalam) theosofi itu lebih luhur daripada agama, sebab agama menggantungkan (hal) yang belum tentu. Belum pernah ada orang yang sudah mengetahui dan menjelaskan yang digantungkan (oleh) agama. Adapun theosofi seperti pada umumnya pengetahuan yang nyata, misalnya keluar pembicaraan demikian: jika anda ingin dapat mengetahui apapun dari saya persilahkan jika anda mau merasakan.

Ajaran theosofi dekat dengan kasunyatan, siapa yang menyukai kasunyatan dapat meningkatkan pengetahuannya dengan mempelajari pengetahuan theosofi. Adapun keadaan agama sekarang hanya menjelaskan ajaran yang berseberangan dengan pengamatan seorang ahli. Sudah benar saja orang dapat meminta tanda bukti agama, sebab (dalam) aturan agama hanya diminta (supaya) percaya saja. Memang bagi orang yang sudah halus budinya, jelas-jelas bahwa agama itu belum mencukupi, serta tidak dapat menjelaskan tanda kebenarannya.

Kebanyakan agama sebenarnya sama-sama ajaran yang disampaikan kepada manusia (pada) waktu (jaman) kuno, ketika manusia belum banyak kemampuannya. Jadi di kala orang-orang (yang) pada waktu itu masih anak-anak, tetapi sekarang sama-sama sudah dewasa, yang sudah meningkat budinya kemudian meminta tanda bukti kebenaran yang diterima ketika masik anak-anak, itu (adalah hasil pemikiran) nalar bahwa agama tidak dapat membuat orang lega. Nantinya orang selalu mencari kebenaran sebab ada ketetapan (dalam) hatinya yang mengatakan bahwa dirinya dapat (memperoleh) sumber yang lebih baik. Ketetapan hati (yang) demikian itu yang selalu mengajak (manusia) mencari hal yang tersembunyi.

Oleh karena pada nantinya theosofi yang dijadikan (sebagai) bukti nyata kebenaran semua agama. Jadi agama yang sesuai dengan orang tua, yang (menjadi) ahli kanuragan.

Meskipun waktu dulu cara mengajarkan agama kepada orang yang masih anak-anak berbentuk cerita perumpamaan, perintah dan larangan, sekarang cara menceritakan kepada orang yang sudah matang berbentuk kanuragan atau kasunyatan.

Dahulu ketika budi manusia masih belum sempurna untuk mengetahui kebenaran yang sebenarnya, (manusia) mengetahui kebenaran yang ada pada agama (berupa) bungkus atau bebatnya saja. Sekarang theosofi yang menguraikan tali bebat kebenaran, supaya (dapat) diketahui oleh manusia. Jika pembelajaran agama dilakukan oleh theosofi, maka akan membuat (manusia dapat) merasa(kan) dan mengetahui kebenaran agama, sebab theosofi (adalah) hukum kasunyatan dan hukum kebenaran.

Perumpamaan, misalnya dengan padanan kata untuk perumpamaan (lainnya) yang digunakan untuk membuka rahasia kebenaran itu, theosofi yang akan menerangkan dan menyesuaikan.

Meskipun agama, ilmu kesempurnaan, dan kasunyatan itu, misalnya (adalah) anak-anak (yang) sama-sama satu ibu, urutan perkaranya memang dari satu, meskipun terlihat sama-sama tidak cocok, maka (akan tetap) terlihat tidak cocok, itu karena orang sama-sama tidak tahu (letak) keterkaitannya.

Hanya theosofi sendiri yang dapat mengumpulkan kembali bagian-bagian tadi, sebab theosofi (adalah) ibu yang melahirkan tiga anak tadi, sebab hanya pengajaran dan pengamatan theosofi yang sah, yang akan menetapkan (yang) sebenarnya yang disebut di atas tadi.

Siapa yang ingin berniat (untuk) mencari kebaikan (dari) kebenaran theosofi, harus sangat rajin dan sungguh-sungguh belajar, sebab hanya (dengan) belajar yang senang (untuk) dikerjakan maka kita (dapat) mengamati(nya) dengan teliti.

PERKARA YANG KEDUA:
MANUSIA DAN SELURUH BADANNYA
II. BADAN KASAR ATAU JASMANI

1. MENGENAI BADAN MANUSIA DAN BADAN

Kita harus mengerti (yang) sebenarnya mengenai perbedaan manusia dengan badannya. Orang biasanya menyampurkan (antara) Pribadinya dengan badannya, karenanya mencegah bahwa yang disebut aku itu adalah badannya, sebab perlu menghilangkan anggapan yang seperti demikian tadi, serta menghentikan (kebiasaan) menyampur (antara) Pribadi dengan bungkusnya, atau bedanya yang digunakan setelah firmannya (diberitakan) lalu diajar(kan) supaya menggunakan yang baru, jika memang masih perlu menggunakan badan lagi. Kita ini wujudnya yang hidup, adapun badan ini (adalah) bentuk atau bangunan yang ditempati.

Sebenarnya jika kita menyampurkan roh dengan badan kita yang hanya sebentar adanya, ini (menjadi) kekeliruan (bagi) orang yang menyampurkan perbedaan (dirinya) dengan pakaiannya. (Hal) itu tidak dikuasai oleh badan. Manfaat badan ditempati (oleh) roh, itu sama seperti manfaat pakaian yang dipakai (oleh) badan.

2. SEBAB MENYAMPUR

Adapun sebabnya menyampur tadi oleh karena orang umum tidak dapat memisahkan Aku yang sejati dengan badannya, tetapi karena dari belajar maka kita dapat memisahkan Pribadi kita dengan badan, seperti jika saya turun dari kereta yang saya tumpangi, yaitu jika ada di dalam (yang) saya rasa semakin (akan) selesai daripada saya (jika) tergantung pada badan tadi. Jika sudah dijalankan demikian sudah pasti saya akan tidak tersesat lagi. Kita ini (adalah) badan yang kita gunakan, serta menyalin semua perjalanan kita di dunia, mengantarkan kita kepada alam yang lebih tentram yang ada di dalam alam kehidupan, yang dapat mati ini, menempatkan kita di dalam tempat yang mudah kotor (dan) sepele setiap hari, yang kelihatannya lebih perlu untuk dipraktekkan, serta mengajarkan kita mengenai kemiripan badan yang selalu berganti-ganti (wujud) serta yang tetap lestari.

3. MENGENAI KESEJATIAN MANUSIA

Yang disebut manusia itu (adalah) Pribadinya yang hidup, yang memiliki rasa serta dapat berpikir adalah wujudnya Aku. Adapun badannya itu bungkusnya Pribadi tadi, serta satu-satunya bungkus (yang) dapat bekerja ada di alam ini atau ada yang untuk di alam lain, seperti supaya dapat ingat atau merasa di satu-satunya alam, juga oleh karena dapat memisahkan satu badan dengan badan lainnya.

4. MENGENAI PERBEDAAN DAN PERSAMAAN (DI ANTARA) SEMUA BADAN

Semua badan ini berbeda-beda bakalnya, serta campurannya berdasarkan dasar yang digunakan (untuk) merubah satu-satunya badan dan berdasarkan cetakannya, ada yang kasar, ada yang halus, ada yang singkat umurnya, ada yang panjang, ada yang dayanya kurang, ada yang lebih, tetapi seperti intinya memang tidak abadi, hanya menjadi piranti, menjadi teman manusia yang dapat terlihat gagah serta diperbaharui lagi berdasarkan dasarnya, serta disesuaikan dengan dayanya.

5. BADAN ADALAH PIRANTI MANUSIA

Badan yang ditempati hidup manusia dan (sebagai tempatnya) bekerja adalah piranti manusia, serta manusia harus mengerti bahwa adanya badan itu untuk ditempati manusia, bukan manusia yang digunakan (oleh) badan. Manusia itu lain dengan (apa yang dimiliki oleh) badan-badan supaya dapat digunakan (oleh manusia).

Badan kasar dalam Bahasa Sansekerta disebut Anamayakosha, (sedangkan) pada Bahasa Hindu setul sarira, pada Bahasa Arab (disebut) roh jasmani.

6. MENGENAI DASAR BADAN

Adapun yang disebut badan jasmani itu dimengerti (sebagai) badan kasar serta tubuh, sebab keduanya sama-sama bekerja di alam kasar, (terbuat dari) campuran jasad kasar, diwujudkan untuk berada di dunia ini. Jika badan tadi mati tertinggal di dunia, serta terurai tercampur dengan jasad kasar, Manusia Sejati lalu (pergi) ke alam astral (astraal geheid) yaitu alam yang lebih halus. Jika manusia belum melewati salah alam kasar itu, masih perlu menggunakan kedua badan tadi atau salah satu dari dua badan tadi (yang) bakalnya dari alam kasar, jadi tidak dapat digunakan untuk melewati salah satu alam tadi.

Meskipun badan tadi dapat dipisah, meskipun (berada) di dalam hidup pada bumi (yang) terpisah-pisah, serta jika pisah(nya) tidak baik, maka menandakan bahwa (manusia sedang) sakit. Jika sakit, rasa kedua badan tadi sama-sama terpisah sementara atau terikat seperti dukun, apa lagi jika orang ditidurkan (kemudian ketika) bangun langsung dapat ditanya macam-macam.

7. BEBERAPA BAGIAN BADAN

Badan kasar itu adonannya dari jasad kasar tujuh macam: berwujud badan kasar yaitu dari tiga jasad kasar, seperti: jasad padat, ini tempat manusia yang paling kasar, adapun dijadikannya pada (tempat) yang paling rendah, serta memiliki batas waktu dan tidak sempurna. Jadi manusia itu terpenjara pada jasad yang paling kasar.

Adapun dijadikannya badan kasar sudah diceritakan pada buku-buku, maka siapa yang (ingin) mengetahui cukup membaca buku-buku tadi saja. Di sini hanya akan menjelaskan apa yang dijelaskan oleh ilmu kesempurnaan.

Badan kasar itu dijadikan dari jasad kecil-kecil yang pada Bahasa Belanda disebut molekule (molekul) dengan alat untuk merasakan yaitu panca indera, alat untuk bergerak, otak, serta pembuluh darah (yang) kecil-kecil, alat untuk melakukan berbagai macam pekerjaan yang diperlukan untuk kelangsungan hidupnya.

Orang yang mencari ilmu kasunyatan akan berharap pada gagasan theosofi bahwa terciptanya manusia itu (berasal) dari banyak hidup (yang) kecil-kesil yang tanpa bilangan. Tetapi seorang ahli pengetahuan kasunyatan tidak mau menjelaskan(nya) dengan menggunakan pengetahuan (yang) dirahasiakan, supaya dapat memastikan bahwa badna manusia, badan hewan, serta tetumbuhan itu diciptakan dari semua wujud hidup tadi, seperti yang disebut bakteri, mikroba aerob, anaerob, serta lain-lainnya yang tidak dapat terlihat jika (tidak) dilihat dengan tabung alat (untuk) memperbesar (benda), termasuk yang besar-besar. Satu-satunya perincian jasad, meskipun disebut dengan atau tanpa bagian-bagian badan yang penting, semua itu hidup. Semua hidup tadi sama-sama tergolong (dalam) alam jiwa atau hidup. Tetapi terpisah serta tidak berbentuk, sama kelompoknya dengan molekul, yaitu berbentuk bundar (yang) sangat kecil yang menjadi wujud roh dan menjadi wadah pendiri roh badan kasar. Di dalam badan itu (ada) hidup, berwujud hidup (yang) kecil-kecil tadi masuk keluar serta selalu menjadi perantara hubungan manusia dengan sekitarnya.

Satu-satunya atom dan molekul di alam ini tugasnya adalah mematikan badan kasar. Jadi semua (yang) berwujud kecil-kecil tadi yang membuat badan kasar dan juga wadah roh, dibentuk (oleh) daya pikiran jiwa. Di dalamnya diperintah (oleh) yang berwujud kecil-kecil tadi tetap tugasnya membangun badan manusia. Jika hidup tadi sudah akan tidak terarah lagi, serta diberhentikan (begitu) saja oleh keinginan sendiri. (Hal) itu menjadi daya (yang) melenyapkan, lalu mempengaruhi sel buatannya sendiri, seperti buyar yang saling menyebar, maka badan kasar menjadi jasad yang baunya wangi. Badan tadi akan tidak hidup lagi jika tidak mati, tetapi hidupnya menjadi satu, hidupnya berbarengan, hidup menjadi tumpang tindih, matinya diperlengkapi. Bedanya badan manusia yang hidup serta yang mati itu jika hidup dayanya berfungsi (dengan) nyata, jika mati hanya terpercik (daya hidup) sedikit. Sewaktu mati atau setengah sadar, molekulnya menurut (pada daya) penarik yang luhur, yang berkumpul kepada molekul tadi serta tersebar di udara [h.75] penyebarannya itu menjadikan matinya badan kasar. Demikian jika itu dapat dianggap mati, sebab molekul badan yang mati juga menggelar daya hidup yang kuat, jika orang mati, asalnya tidak akan busuk. Semua molekul yang menjadikan mayat tadi hidup, sama-sama tercampur baur ketika akan buyar (untuk) berupaya mendirikan hidup (yang) lainnya.

8. KEWAJIBAN (YANG MENJADI) PEKERJAANNYA

Pekerjaan badan kasar berkaitan dengan alam dunia serta apa yang sudah terasakan pada dunia, disebabkan oleh Pribadi yang berada pada tubuhnya, yaitu Manusia Sejati. Jadi badan itu digunakan (sebagai) alat (bagi) keadaan yang memiliki rasa, yang berada pada badan supaya bisa mendapat pengetahuan di dunia ini. jika badan semakin dapat merasakan apa yang ada di dalam(nya), maka semakin bermanfaat bagi Manusia Sejati yang berada di situ, karena Manusia Sejati itu dapat dirasa hanya dari semua yang dapat (merasa) getaran badan.

Tugas atma pada badan itu menjadi kekuatan pada sel, yang (di)perlu(kan) bagi kehidupan sel tadi. Tuan Ekhel (dari) bangsa Belanda (Dutch) yang mengerti pengetahuan kodrat menjelaskan demikian: sel itu sama-sama memiliki jiwa, maka menjabarkan demikian, sebab tuan tadi mengetahui bahwa semua sel itu sama-sama memiliki fungsi, tidak menyatu dengan fungsi semua (anggota) badan. Tetapi fungsi sel yang demikian tadi terbatasi hanya yang bermanfaat bagi sel itu sendiri. Fungsi sel tadi terbatas pada kesatuan rasa (dari) sekujur badan, karena sel tadi menjadi bagian badan. Terkadan sel itu menghalang-halani manfaat (bagi) badan. Menurut ketentuan (dari) fungsinya sendiri tidak merasakan manfaat (dari) badan. Semoga teringatkan (kepada) daging yang buruk yang berada di (atas) bara.

Sekujur badan itu juga memiliki pekerjaan sendiri yang jalannya tidak menggunakan hati, jadi seperti alat untuk bekerja (saja), seperti tangan yang sudah dilatih (untuk) menulis, (namun) itu jika Manusia Sejati bersedia (untuk) menulis, tangan tadi kemudian melakukan pekerjaannya, tetapi caranya selalu tetap. Adapun cara (tangan) bergerak (dapat) menjadi tetap itu (karena) selalu niat (untuk) dipelajari, karena menulis (dengan) menggunakan cara yang (ter)tentu itu membuat badan terbiasa kemudian (dapat) bekerja seperti alat-alat (yang) dijalankan.

Badan itu memiliki hidup sendiri (untuk) menolong atau bersusah payah melakukan pekerjaan (bagi) Manusia Sejati, tetapi manusia dapat mengajari badan supaya selalu mau menolong (sesama) manusia.

Daya hidup atau jiwa itu bekerja jauh di dalam sumsum (tulang yang) panjang, serta menggunakan kekuatan yang saling berkaitan, seperti yang mengatur dan menguasai semua sel, supaya dapat sama-sama bekerja dengan selaras, serta bekerja menurut (keinginan) badan sebagai kendaran Manusia Sejati yang harus dituruti permintaannya, serta tidak hanya menjadi kumpulan bagian yang berbeda dengan yang lainnya, tetapi berkumpul menjadi suatu keutuhan yang sempuna.

9. MENGENAI RASA

Badan kasar itu tanpa rasa, hanya menerima saja lalu kemudian diteruskan kepada Manusia Sejati melalui tubuh. Benar (bahwa) badan itu memiliki rasa sendiri, yaitu rasa yang kuat. Tetapi kita sama-sama tidak tahu. Maka jika (kita) akan mengetahui badan tadi (akan) diberi tanda kepada Manusia Sejati, menjadi terasa capek sekujur badan. Jelas-jelas bahwa badan itu tanpa rasa. Jika Manusia Sejati dikeluarkan dari badan dengan cara diciumi kloroform, maka (ketika) orangnya hilang kesadaran tidak terasa. Sel yang mewujudkan badan itu memiliki rasa sendiri apa yang sama-sama saya rasakan itu bukan yang dirasakan sel.

10. MENGENAI (SESUATU YANG BERADA)

DI ANTARA JASAD YANG DISEBUT CAKRA

Pada badan kasar itu ada tujuh (bagian di) antara jasad yang disebut cakra atau bagian terdalam badan. Seperti ada tujuh bakal yang (digunakan) untuk mengeluarkan badan lainnya melalui badan kasar, karena cakra tadi dapat terasa (jika) menerima getaran (dari) badan lainnya, jadi kemudian dapat masuk seperti: badan ingatan dapat dikeluarkan hanya melalui otak, karena otak itu cakra badan ingatan, roh cakra badan astral, serta jika badan tadi bergetar (maka) jalannya rah menjadi cepat, menyebabkan cepatnya detak jantung, sebab jika keluar hawa nafsu atau keinginannya sangat mendebarkan hati.

11. MENGENAI INGATAN ATAU RASA (BEWUSTZIJN)

Di sini maksudnya yang disebut ingatan yaitu keadaan yang digunakan untuk mengingat, atau rasa yang mengetahui di dalam alam kasar dan alam yang lebih halus seperti alam mimpi (dan) sejenisnya, dalam Bahasa Belanda disebut bewustzijn, adapun kata bewustzijn tadi seterusnya supaya ringkas hanya disebut ingatan (saja).

Otak adalah alat ingatan di dalam badan kasar. Dayanya kurang dari daya badan (yang) lainnya, tetapi pekerjaannya di alam kasar lebih besar, serta orang tahu bahwa Pribadi Manusia Sejati hanya ada di dalam badan kasar, karena badan lainnya belum sempurna untuk ingat dapat menggerakkan (apa yang ada) di badan kasar.

Pembuluh yaitu urat kecil-kecil yang sudah ditetapkan ada di sekujur badan, Bahasa Belandanya disebut zenuwstelsel, wujudnya (berupa) gerombolan seperti segulung tali. Nantinya rangkaian pembuluh tadi terbagi menjadi dua bagian, (A) rangkaian pembuluh yang tidak dapat diperintah. Pada keinginan orang umum dapat juga diperintah sementar, tetapi dengan cara selalu dilatih, seperti cara (yang dilakukan) pendeta bangsa Hindu. (B) rangkaian pembuluh yang dapat diperintah oleh manusia. Semua gerak manusia yang sudah (menjadi) kodrat itu karena dari kinerja pembuluh yang disebut tadi, seperti gerakan atas dasar permintaan untuk meremukkan sesuatu sampai hancur, detak jalannya nafas dan sejenisnya (yang) dapat manusia pikirkan, rasakan, menggerakkan badan itu karena dari kinerja pembuluh yang disebut pada bagian (B) tadi, yaitu sebab manusia dapat mewujudkan keinginan dan ingatannya, serta dapat disebutkan bahwa rangkaian pembuluh tadi berada di otak. Orang tidak dapat melakukan apa-apa di alam kasar jika otaknya tidak berfungsi.

Ingatan yang bekerja pada badan kasar itu tidak dapat keluar dari pagarnya, yang dapat diketahui melalui panca indera yang (berwujud) kasar, serta dibatasi hukum ruang dan waktu. Maksudnya terbatas pada ruang tadi misalnya begini, saya tidak tahu semua benda yang tidak terlihat dari ruang tempat saya (ada) sekarang. Kemudian terbatas waktu tadi (maksudnya) begini, waktu itu rangkaiannya hanya tiga: dulu, sekarang, besok. Saya tidak ingat pada perjalanan (yang terjadi) sebelum saya diciptakan di dunia sekarang ini dan tidak tahu perjalanan yang akan datang, karena saya masih merasa (masih) ada dulu, sekarang, dan besok. Apa lagi jika rangkaian (pembuluh) tadi tidak tertata, maka ingatan tidak dapat menghasilkan kinerja yang tertata.

Jadi jika manusia mewujudkan ingatannya pada alam kasar itu terbatas oleh daya alatnya yang kasar.

Dalam tidurnya, jika bakal manusia terlelap atau tenggelam (dalam tidur), (maka) badan kasar juga memiliki rasa atau ingatan sendiri yang tidak terlalu jelas. Tetapi ingatan tadi terpisah dengan ingatan Manusia Sejati, serta terpisah dengan ingatan sel yang berlapis-lapis. Fungsinya terlihat hanya seperti alat atau alat-alat untuk bekerja saja. Kebanyakan getar umumnya tidak berkaitan, tidak ada isinya, serta tidak karuan bagiannya. Terlihat seperti tidak dapat berpikir termasuk (jika) hanya (untuk) menceritakan (apa yang) dilihat (seperti yang) dilakukan oleh Manusia Sejati, karena jika ada pekerjaan rasa dari dalam seketika langsung diciptakan.

Apa lagi ingatan mengenai arah ke sebuah tempat, itu seperti berpindah ingatannya pada tempat tadi. Misalnya membayangkan (pergi) ke negeri Cina, (dalam) sekejap sudah benar-benar pindah ke negeri Cina tadi, kemudian orangnya langsung mimpi berada di negeri Cina.

Adapun ingatan otak kasar itu hanya tahu, tidak terasa (di) hati atau merasakan, serta semua ingatannya bercampur, itu termasuk kesenangannya meningkat atau menjadis angat senang.

[NO.2]
[BUKU PENGETAHUAN KESEMPURNAAN HIDUP]
[MILIK R.M.NG. MANGUNDIREJA DI]
[MANGKUNEGARAN]

Adapun keabadian dan tempat yang tanpa batas (awang-awang) tadi ada satu waktu dan ruang yang menyatu.

Sekarang aku beri tahu, ilmu nyawa (zielkunde) sama dengan ilmu hitung ukur yang tinggi (wiskunde), (yang) itu cipta kita pada jagat ini harus mengambil patokan dari satu titik tengah. Dari titik itu muncul semua cahaya pada sekelilingnya, lalu terlihat nyata pada kita.

Adapun cipta (yang) demikian itu ditetapkan kenyataannya oleh bukti dari penciptaan benda-benda. Sebab yang nyata pada darah (atom) tentu nyata pada semua jagat , karena semua hukum dunia itu sama asalnya, seperti: di jagat ini ada matahari yang menjadi pusat perputaran semua bumi (planet), yang disebut tahun itu tidak lain hanya waktu perputaran bumi sampai kembali di titik awalnya. Waktu itu sama nilainya pada satu planet dan planer lainnya, sebab dijadikannya dari perputaran (yang) beruntun melewati ruang titik yang sama. Tetap tahun bumi kita ini daripada tahun planet lainnya jauh jaraknya, karena ruang (perputaran) bumi (ziarah planet) dengan planet lainnya itu berbeda-beda jaraknya dari titik yang diputari.

Yang perlu diingat-ingat orang (adalah) demikian, semakin jauh orang (atau benda) itu dari benih yang ada di tengah, semakin tidak jelas dan kurang pengetahuannya terhadap benih tadi. Seperti planet (ziarah planet) yang berjauhan ruangnya itu hanya sedikit saja mendapat cahaya dari matahari. Demikian juga pengetahuan manusia yang masih berada dalam badan kasarnya terhadap kenyataan. Seperti melihat bayangan, tidak jelas, karena jauh tempatnya dari benih kenyataan yang sejati.

Jika sudah jelas pengetahuanmu terhadap waktu dan ruang yang disebut tadi, mungkin lebih mudah (untuk) kamu mengerti (mengenai) terciptanya semua ciptaan yang akan aku jelaskan dengan cara mengambil urutan dari ciri-ciri sebuah jasad. Ini yang mudah serta paling baik, karena perkara yang akan aku jelaskan (adalah) mengenai kenyataan yang tunggal, yaitu rasa yang muncul sendiri.

Tetapi meskipun demikian, kamu harus memiliki pemikiran bahwa penciptaan sungguh-sungguh tanpa awal dan akhir, (selalu) bertukar berganti-ganti. Jagat kita ini juga tidak termasuk (dalam) hukum. Sebelum jagat ini ada, dahulu sudah ada yang mengadakan dan jagat baru itu lagi yang menjadi benih jagat berikutnya, demikian seterusnya melewati dua jagat abadi, yaitu dulu dan besok. Perkara itu kenyataannya tidak dapat diraih oleh orang seperti aku, tetapi (oleh) yang sudah tinggi pengetahuannya sampai tidak dapat dikira bisa menjelaskan hal itu karena sudah jelas kenyataannya. Kesaksian itu ditetapkan oleh hukum pergantian (wujud) benda yang aku jelaskan tadi. Semua yang terlihat (kasat mata) diperintah oleh hukum pergantian tadi. Apakah jagat sendiri (yang) keluar menjadi hukum itu, (tentu) tidak mungkin.

Terciptanya jagat yang tiada duanya ini pada Bahasa Sansekerta disebut kalpa, artinya cipta. Pemilihan kata yang sangat sesuai , karena sebenarnya jagat itu (adalah) ciptanya Tuhan.

Maka sekarang sama-sama mengamati penciptaan dan umpamakan (bahwa) jagat sudah terbabar. Jika sudah sampai masanya (untuk) diam, maksudnya berhenti berpikir berwujud pikiran, daya berpikir berganti, berpisah, akhirnya jagat buyar. Dalam Bahasa Sansekerta disebut Brahmasare, selamanya tidur. Tidur (seperti) mati itu semuanya (menjadi) tanpa suara, tentram, tidak ada satupun yang ada, semuanya gelap sampai waktu bangunnya Brahma.

Bakal atau asal mula itu (ada) dua wujud. Pertama Brahman (di antaranya = tidak laki-laki tidak perempuan) itu keadaan sempurna, tidak ada bandingannya, tanpa watak, tanpa pasangan, tanpa ada tandanya yang terlihat bahwa (ia) tercipta dan jagat terbabar.

Kedua, Brahma (laki-laki) yaitu asal yang sebenarnya, yang mengadakan semua jagat, (yang) menjadi gagasan dan jagat (itu sendiri). Brahman itu yang tidak dapat dijelaskan, tidak dapat dirasa. Brahma itu Tuhan, yaitu asal yang tunggal dan benih pertama. Jadi sebutannya bukan keadaan yang ada di tengah-tengah, karena yang pertama menjelaskan pangkat urutan tadi.

Kesempurnaan itu menjadi tanpa sebutan. Jika bangsa Hindu dipertanyakan mengenai hal itu, pasti jawabannya tidak dapat dijelaskan, karena jagat (hanya dapat) dicapai oleh orang yang sudah sempurna.

Hukum demikian pada Brahman menumbuhkan gagasan pada bangsa kulit putih bahwa Brahman itu tidak dapat berdiri tanpa watak satupun. Tetapi bangsa tasawuf Hindu malah tidak akan menyebutkan bahwa yang sempurna itu tidak ada wataknya, hanya diam tetap (saja) disebut yang sempurna, supaya dengan memasukkan yang sempurna maka sekarang sama-sama mulai menjelaskan asal yang pertama, yaitu Brahma, yang bangun dari tidur (kemudian) menggelar semua wujud yang ada.

Ini urut-urutannya ciptaan tadi:
1. Brahma, Tuhan, hukum atau yang ada, sat yang sejati.
2. Awidya, yang tidak ada, yang tidak nyata.
3. Mahatma, sabda, atau asal mula cipta (sabda yang ketiga).

Adapun Brahman terhitung pada urutan yang paling depan, sebab demikian bakal (yang) tidak dapat dijelaskan. Lalu Brahma, yang nyata atau sat, bakal yang pertama yang mengadakan semua wujud yang berkelip (bergerak). Baiknya orang selalu ingat bahwa Brahman dan Brahma itu berwujud dua tetapi menjadi satu wujud. Di antara (keduanya) itu tidak ada bedanya sama sekali, seperti misalnya lingkaran (pancaran panas dan cahaya) yang dihasilkan oleh api dan baranya.@@@

Advertisements

KAWRUH KASAMPURNANING NGAHURIP


Buku Kawruh Kasampurnaning Ngahurip
Kagunganipun R. M. Mangundipura
ing Mangkunegaran
Kawruh Kasampurnaning Ngahurip, anggitane Je. Se. Sateryi.

BAGIAN I

BAB DUMADINING WUJUD MANUNGSA : LIRE.

Anggitan kang kawedaraken ing ngisor iki dadiya piwulang kang cekak kanggo ing wong kang sumedya hambanjurake prasudi murih oleh susurupan ing sawatara bab kawruh ing bongsa hindu marang kasampurnaning ngahurip.

Ing anggitan iki sabisa-bisa aku bakal anggunem kalawan tembung ringkes bab tabingat kodrating manungsa, drajat kang linungguhan ing donya, apa kang diarani donya lan kapriye mungguhing kadadeyane, pendheke arep anggunem kapriye lan pasababe urip tuwin apa karepe.

Bok manawa aku banjur wenang ngawruhi sakabehe uwiting wujud.

Murih bisane nyandhak kang kasebut iku, prelu banget aku nyumurupi tabingate kodratku dhewe dhisik, mengko aku bakal weruh, dening donya iki ora liya mung geter, kang dudu saking pikarepe dhewe, tuwan kang ngarani: barang iku padha miji anane, iku ora kena kayak tenan kalawan ponca driyaku, saupama wong niti pariksa sarupaning barang ing sakukubane, bakal weruh yen barang iku ora nyata ing anane, manawa andhewe, (tanpa tandhing) ajine sarupaning barang kudu kanthi titimbangan lan owah-owah mawa-mawa patrep paniti priksane,  mulane longka yen aku dhuwe pangarep-arep bakal weruh ing uwiting barang sarana ponca driyaku.

Murih bisane sumurup ing uwiting barang, manungsa kudu ngawruhi awake dhewe, mangkono panemune sakehing panutan ing saben nagara, pangandikane Sokrates weruha ing dhirimu pribadi, karsane ora liya mung supaya padha nyumurupana ing tabingat kodrat kang awakku dhewe lan kaya mangkono uga karsane panutan Kristus kalane ngandika marang para sakabate upayanen karajaning Gusti ing batinmu dhewe.

Mung sarana mrasudi nyumurupi awake dhewe, manungsa bakal weruh ing kanyatahanane lan weruh yen awake iku ora ngemungake condhong ing kahanane bae karo barang liyane kang ing donya, ananging uga kadunungan kodrat donya (kodrate tolah) ing wujude.

Kodrate iku ora kena binagi, tegese: lairing uwite mangreti wutuh, mulane: sanajan ing wedhi sahelas kodrat donya iku tinemu wutuh uga, najan gaib ing anane lan ora kang kanyatakake, ananging sarehning wedhi sahelas iku ananging sajabane badanku – iya iku kawirit ing tegese kang sanyatane bae – dadi aku ora bakal bisa anggadhuh kodrat (tabingat) asarana mrasudi kahananing wedhi.

Mung ana siji kang kena ditemeni ing pamrasudine, iya iku: awakku dhewe, yen siji iku wus terang, manungsa lagi bisa weruh ing kodrat donya.

Lah iku mulane aku bakal miwiti sakpaparincene wujud manungsa, lan saselot-selote aku bakal anuntun kowe tutug ing panggonan suci, kang dumunung ing telenging atine saben uwong.

Yen uwis terang mungguh kodrating manungsa, lan kapriye mungguhing kahanane ana ing sawiji-wijining panggonan ing donya, aku bakal anyoba nyatakake uwiting donya, sarana niti pariksa barang-barang kang ana ing sakukubanku, nuli aku bakal ambudi bisane weruh mungguhing dumadining sawiji-wijining barang – cara santrine: – kapriye Gusti Allah enggone anitahake barang – ananging lakuku mratelakake ora kaya lumrahe santri yen mumulang, iya iku tanpa katrangan (mung sarana gunem) saoleh-oleh arep cara lakuning pujangga yen nenerangake, nganggo katrangan kang yekti, wekasane aku arep angudi murih weruh ing sakabehe, kang kira-kira bisa kadadeyan ing ngatase nyawane manungsa, aku bakal nyoba ambudi, kapriye bisane manungsa ing donya weruh kahananing alusing badan lan kapriye bisane wong dadi Gusti, malah uwis dadi sadurunge mati.

Prakara iku bakal dak nyatakake saka biji, wiwit sarana niti priksa ing tabingat kodrating manungsa.

Saben uwong mesthi sumurup yen badan wadhag iku beda ing kahanane karo nalar (budi) ewa dene aku ora arep angarani yen budi iku kawujudane kena kaanggep beda lan badane wadhag.

Wong kang maido ing kahananing nyawa, ngarani yen budi iku ora anbedane bar pisan karo badane, ananging dheweke kudu mikir (nimbang) yen daya pamikir iku sawijining pangawasa nyambut gawe kang beda karo daya pangawasa nyambut gawene badan wadhag, dadi ing jero manungsa ana bedane kang tetela antaraning wadhag lan aluse, utawa, cara lumrahe, antaraning wadhag lan nyawane.

Aku wus padha sumurup yen badan iku mesthi kena owah lan tansah malih ing rupa, saben watara pitung taun sapisan salin rupa, dalasan perangane kang lembut ewa samono isih ngemut ing wujuding wonge, kamanungsane, dadi sajroning kuliting badan kang ora ajeg kahanane iku ana barang kang kena diarani ajeg tinimbang lan wadhage, iya iku kang minongka saksining pamalihe mau (iya iku kang dadi titimbanging pamalihe), yen ora mangkonowa aku ora padha bisa weruh ing pamalihe badan wadhag ing saupama nalar (budi)ku, pamalihe padha arikate kaya pamalihing awakku, amesthi pamalihe tan kena winirsa, bisane wong weruh (gatake) obahing barang, dheweke kudu meneng apese iya mobah kang tindake beda karo tindake barang mau.

Uger titimbangan mangkono iku tumrap ing mubarang kang katon, manawa ora ana titimbangan mangkono, nglengkara banget aku padha bakal bisa ngyekteni (ngraskake) apa-apa.

Kadadeyan kang nyata, iya iku, aku padha weruh ing owah-owah ing badan ngemurasa, yen sajroning badan wadhag ana barang sawiji kang nyanyatheti pamalihe.

Kajaba saking owah-owah (wadhage) isih ana owah-owah ing batin (aluse) kang tansah lumintu ing kadadeyane, ananging kang lumrahe ora diopeni ing wong kayata: pandelenge wong marang barang-barang, iku kasababake saking pamalih wong rikatan tumaruntun tumanduke marang barang mau, cekake saking dhredeg (geter).

Pamalih kang mangkono iku urut tundha-tundha lan gegendhengan, iya iku kang diarani pangrasa, yen uwong ora kasinungana pangrasa mangkono ora bakal bisa andeleng utawa ngrasakake. Sakabeh kadadeyan nyata kang rinasa iku sasambungan siji lan sijine, nuli karegem ing sajroning angen-angen, ngendi dununge angen-angen ewuh enggone arep ngarani, yen iku dumununga ing utek awit utek iku barang wadhag ya gene barang kang wus kalalen lawas teka saka elingan wela-wela maneh ing angen-angen lan ya gene wong kang tinandukan ing hijpnoses (bongsa sihir) banjur bisa eling ing mubarang kang kalakon nalikane isih bocah, lan wus kalalen babar pisan wus akeh katatalane wong kang tinandukan ing hijpnose, banjur kelingan ing basa kang lagi rinungu sapisan dhek isih cilike, kang mangkono iku saemper kaya ana barang sajabaning badan kang anyatheti kabeh kang rinasa, barang iku ken diarani mentale (tegese batin).

Dudu maksudku netepake kanyatahaning kadadeyan iku klawan amet wawaton saking katrangan kang kurang patitis mangkono, awit ing ngatase aku iku dudu nyina kang yekti, lumrahe sawijining kanyataan ora wenang katetepake mung dening gunem bae, murih bisane oleh nyina kang yekti kudu kokawruhi dhewe, murih weruhmu, yen anamu iku ora gumantung saking badanmu wadhag, kowe kudu bisa misahake alus saking wadhagmu, tegese: kowe kudu bisa mrasudi nyatakake yektining alusmu kaya upamane wong Alitaliya (natuurkunde) ngudi weruhing kadadeyane barang-barang, kang arep dipasthekake ing papathokane, sarehning wekasane kanggitan iki aku bakal amratelakake sawatara bab kang kasebut ing dhuwur mau, dadi aku ngandharake gunem mau, karepku mung sumejanlekake, yen apa kang bakal dak caritakake iki dudu pikir kang ngayawara, ananging ana sababe tetela, kang dadi saksine wawatonku.

Kang sapisan, dadi aku padha kena ngarani yen badan wadhag iku beda karo mental, iya bener beda iku ora terus ing batin (beda temenan) iya bener sagugune ora bisa ananging wus mesthi katarane kaya dene bedane barang atos karo barang cuwer.

Saupama aku padha tumandanga amijang-mijang mental ing saantara suwene, amesthi bakal tetela yen uga bisa owah-owah gingsir, lan ora pisan-pisan ajeg, hawa nepsu iku tansah lunga teka, kahananing yitma (nyawa), solan-salinku maruntun lan akeh warnane, ing saben taun budi iku mundhak utawa suda, (kabuntel) dayane eling genti-genti tindake, wekasane angen-angen iku saya sampurna, awit dene mundhaking tabingat kodrating manugsa, lah, mangkono owah ing wijang-wijanganing mental iku, sarehning malih-malihe iku katara, dadi mesthi iya ana kang luwih ajeg tinimbang karo mental.

Barang iku mesthi anane, iya iku kamulaning roh kang sipate: ora mung awake dhewe, tresna lan kabecikan liyane, kang andadekake geseh ing titikane wong lan khewan. Pangrasa wawatedhan mau kang lumrah anjalari kabegjan.

Uwiting yitma beda lan batin, kaya dene hawa (asep) karo barang atos utawa karo kang cuwer.

Manawa tabingating yitma iku dititipariksaa, amesthi tetela yen owah-owah uga kahanane.

Napsu marang kabecikan iku saya lawas saya mundhak, undhake saking nur raraga, anggugulang ing sih katresnan lan anggawe kabecikan.

Kabegjan kang rinasa ing wong sawijining waktu, iku bisa oncat maneh ing mongsa liyane, sarehning owahe iku katara, dadi tabingating yitma iku dudu pribadi kang sanyata, sajabaning tabingating yitma isih ana barang kang ngawuningani sakehing pamalih-malihe tabingat yitma mau, ing panggonan kang dhuwur sajeroning wujud manungsa, iku pribadine manungsa, iya iku sakti kang nyatheti sakehing owah-owahing yitma, batin lan wadhag, dadi jejering dat iku papat, badan wadhag, batin (badan alus), roh (napsu marang kabecikan), lan pribadi kang luhur (sakti kang tan kena owah), patang warna iku pakolehe pamijange wujud manungsa, pribadi iku kang dadi lumuning dat, dene liyane mung minongka kanthine bae.

Yen kowe niti pariksa ing jeroning jasadmu dhewe, kowe bakal ngrasa, embuh keh sathithike, dayane tumandange wijang-wijangan mau anamging murih kang sinungan watek kang prelu ing ngatase iku, lan meleng tanpa kendhat kanthi sabar tawekal, amesthi bakal weruh ing kanyataane lan bisa ambedakake jejering dat mau, apa dene – kanthi eling ing kahanane dirine – saselot-selote bisa anggadhuh marang uwite kadadeyane awake kang dhuwur-dhuwur lan aku bisa ngarani, yen laku mangkono, iya iku sapiturute amijang-mijang paparincening wujud saking pribadine, iku anganakake kang diarani sengsem marang kabungahan, bisa uga ninggal wadhag ing saantara (suwene ing sakarepe) supaya oleh kawruh saking awake dhewe ing padunungane aluse dat kodrat.

Mangkono iku wus kalampahan dening kanjeng nabi kalane siyam 40  dina lawase, mung wong kang bisa mangkono kawasa nyatakake ing kayektene kang dak pratelakake iki, ing ngatase wong kang mangkono ora ana kira-kira lan panyana kang durung tamtu ing kira-kira mau dadine yekti, ananging emane dene mung sawatara bae kang kawasa mangkono, sabab satemene mung sathithik wong kang kasinungan watek kang prelu, luwih arang maneh wong kang genten tulaten mrasudiku.

Aneh banget dene akeh wong wani ngarani yen nyawa iku ora ana, ananging weruh apa wong mangkono iku, apata dheweke ahli ing bab iku, mung wong kang ahli prakara iku wenang ngarani mangkono, upamane jagsa, tamtu rumongsa katir ing ngelmu padhukunan, awit dheweke ora ngudi ing kawruh iku, apa dene ambudi daya murih weruhe, dadi rumongsa kasore ing panimbange marang prakara iku, ewa dene ora ana wong gumun ngrungu pamaido marang ananing nyawa, metu saking wong kang mrasudine ing kawruh iku ora ana saprasweuning waktune kang kanggo mikir prakara liyane, dadi satemene pamaidone iku ngecemong.

Heh, mitraku. Sadurunge kowe maido ing anane nyawa, prasudinen dhisik lawase mung ana asaprasapuluh ing mongsa, kang kokeceh-eceh ginawe mikir prakara liya-liyane.

Mara saiki padha ambanjurake pamijaning badan manungsa.

Mungguh dating manungsa iku ora padha karo dating barang kang tanpa nyawa, ing tembung monca lumrah diarani, wdarganis, tegese: apanggaota, dene dating barang kang tanpa nyawa, kabasakake:  anwdarganis, tegese: tanpa panggaota, ewa samono aku wani masthekake, yen para ahli kimya (juru mijang) ing tembe bakal angarani, satemene ora ana dat kang ora kapanggaota, najan beda ingkang gone.

Ing sajroning badan manungsa uga kasinungan dat kang tanpa panggaota, ananging iku kawasesalan kaereh marang wijangan badan kang kaaranan daya urip, dadi kasinungan sarana anggaota, kang iku ing badan manungsa ana purba “(bakal winih) loro, iya iku wadhag lan daya urip, daya urip iku kena kaaranan winih kang saking eter (hawa) terange mangkene, yen badan manungsa iku katitipriksa, tinemu kadunungan sawijining barang kang luwih entheng lan alus tinimbang karo “gas” diarani eter, iku kang nanangi ing daya urip.

Eter sajroning dat kang tanpa nyawa ora pati ngarani yen kanggo nangekake daya urip ewa dene masthi anane, awit eter mau rumangsukan andumunugi saben barang, kang atos, cuwer lan awujud angin, mung dayane aweh urip ing kono semune aber, ananging sama sawinihing urip iku winetokake saking kekeraning dat kang asor (wadhag), iku banjur kawasa nglumpukake sakehing dat mau, sarta kasinungan sarana anggaota wekasan thukul dadi tanem tuwuh.

Winih kang urip iku kang aweh panggaota marang wadhaging manungsa, dene dating eter kang dadi dhasar utawa panuntuning urip kena kaaranan badan eter, iya iku rangkepaning wadhag.

Sarehning dating eter lang winihing urip iku nunggal sagarba, prasasat  loro ing ngatunggal, kenane kanyatan sakehing wong sarana ambudi ngelmu mahnetisme, yen uwong wus terang susurupane marang kawruh mau iya bakal weruh, manawa mahnetisme iku ora liya mung wetuning daya urip kang tumular sawiji marang liyan.

Dat loro, kang dadi bakaling badan manugnsa mau ing tembung Sansekrita diarani: setula buta, tegese: wadhaging badan lan prana, tegese daya urip ana ing andadekna kawruh anamu sanajan dat loro iku wenang kapisah, karo pisan tetep wadhag dudu alusing tabingat kodrating manungsa, (karo pisan panunggaling jasad iya iku wadhag = lebu).

Batine manungsa kena kawijang-wijang dadi telung wijangan lan sawijange kena kapisah.

Kowe wus padha sumurup yen saben uwong kadunungan hawa nepsu pangrasa ngeres lan pangrasaning badan sakojur.

Pangrasa iku mau sawijining kahanane uriping nyata lan akeh warnane, wiwit hawa nepsuning kewan nganti pangrasaning wong kang sampurna. Parincen tabingating nyata kang mangkono kaprahe diarani, pangrasa, bae. Ing tembung Sansekrita, kama, tegese nepsu (= kakarepan) dat ing luwih alus tinimbang lan dating eter, sarta dadi purbaning sakabehing pangrasa, ing basa eropah kaaranan astrale stof (astrale setof)tegese dat kang padhang, (sorot=cahya) iya iku kang dadi bedane batin karo badan wadhag ing ngatase wong kang kawasa nyumurupi.

Kajaba saka iku kowe iya wus padha sumurup yen ing sajroning  manungsa ana wijangan kang kawasa mikir, ngira-ira, nglimbung-nglimbung, iku diarani nalar, utawa pamikir, kahanane condhong karo kahanan asor kang dadi uwiting” manas” (tembung ngalatin=mens, tegese nyawa kang mikir) mulane kahanan manas kang asor.

Ana maneh paparincen kang luwih luhur drajate iku ora ngira-ira, ora nimbang-nimbang ala becik, ora nganggo mikir, ananging nuli bisa ngarani, iki ala, iku becik, embuh sababe nanging iku masthekake yen temen mangkono, dhasar (purba) mangkono iku budi kang luhur utawa angen-angen kang eni, iya iku wujude jatining manungsa, lan wenang diarani nyawane (= angen-angene = budi kang sajati) iya iku kang ing tembung Sansekrita kaaranan pikir kang luhur (=mens=manas kang luhur).

Dadi ing garbane manungsa, padununganing nyawa, ana wiwijang tetelu:

  1. Tabingating kodrating hawa nepsu, rasa ngeres lan pangrasa (kama).
  2. Angen-angen kang nimbang, mikir, ngira-ira (manas kang asor).
  3. Angen-angen kang tatas utawa putus (nyawa=manas kang luhur).

Dene mungguh alaming nyawa, ing samengko aku durung bisa mijang-mijang, awit luwih akeh paparincene, gedhe cilik lan mung wenang ginayuhing wong kang sampurna tegese kang wus binuka dening kang maha kwasa.

Kang iku alaming nyawa anggepen yen mung “siji” bae.

Mangkono uga kudu panganggepmu, yen kowe padha anitipariksa, “pribadine manungsa”.

Pribadine manungsa iku satemene uga awujud telu, nanging sawiji-wijine ora kena nyatakake ing wong lumrah, mung wong sampurna kawasa anyumurupi lan ambedak-bedakake, mulane telu ning ngatunggalan iku dak arani “siji” bae, iya iku, mahatma, caritaku dak pathet, sarta telu ing ngatunggal (trimurti) mung siji bae ing wujude, mungguh cara uwong agama Nasarani (Kristen) diarani: rama, putra, lan roh suci (rokhul kudhus) utawa wujud kanyatahan telu kang luhur.

Dadi manungsa ana purbane pipitu kayata:

  1. Wujud luhur telu kang kaanggep nunggal iya iku pribadi, iku jejer kang sajati lan mung sawiji anane, iya mung iku saksining sakabeh owah-owahing badan (tembung, mahatma, tegese nyawa kang agung, pribadi kang agung) bongsa teosofi angarani, atma, ananging bongsa Hindu Buddha angarani: mahatma, atma tegese, kang molahake kabeh, kang mengku kabeh, satemene mung pribadining manungsa kang bisa ngemot sawarnaning barang.
  2. Uwiting nyawa utawa pangudi, budi, tegese pinter, kaputusan.
  3. Nyawa, utawa manas kang luhur.
  4. Pikir, utawa manas kang asor, manas tegese bakal kang padhang, kang nyarambahi ngalam kabeh, iku lumrahe kaaranan angen-angen.
  5. Pangrasa, utawa kama, kama tegese hawa nepsu = kakarepan.
  6. Prana, tegese daya urip = polah.
  7. Wadhage, kang atos, cuwer, lan awujud hawa diarani setula buta, tegese, adon-adon kang wadhag (dumadi kang wadhag).

Satemene ora ana prelune mungguhing wong angapalake arane, sakabeh purba kang kasebut mau, balik angawruhi anane purba iku ing badane dhewe iku luwih maedahi.

Ing bubukaning anggitan iki aku wus amratelakake, yen ing jagad akeh bakal kagandhengan siji lan sijine, (tegese genten anganakake wujud anaking anganakake) lan kang condhong ing kahanane karo sakehing purba kang tinemu ing tabingat kodrating manungsa, kayata:

  1. Dat angsale wadhaging manungsa condhong karo barang kang atos, cuwer lan kang awujud hawa, kang ana ing sakukubane, bakale kang awujud eter ora beda karo etering barang-barang liyane (iya iku uwite uriping barang), karone (dat lan eter) dadi bakaling wadhage jagad kabeh, (srengenge, lintang, rembulan).
  2. Purbane pangrasane manungsa cocog karo uwite barang kabeh, iya iku sorot (ngalaming geni).
  3. Winihing budi manungsa lan nyawane nyamleng lan budi tuwin nyawane jagad, sakarone dadi anggeni (ngalaming) budi. 
  4. Dene uwite nyawa lan pribadine manungsa condhong lan enggoning nyawa, (ngalaming roh).

Prakara iku bakal terang sarana amek pipiritan kang pinethik saking anggitane nyonyah Ani besan iki.

Ilining elektrisiteit – iya iku barang wadi, kang mung kadadeyane bae wenang kinawruh ana ing wong – bisa amujudake kahanan warna-warna mawa-mawa barange kang kataman, yen iki ning nrajang kawat (embuh gedhe cilike), amesthi katara anane, arupa geni utawa panas, yen tumanduk ing banyu uyah, kanyatahaning tumamane, uyah mau dadi pinisah-pisah date, lan manawa mili ngubengi kawat kang empuk, besi mau dadi kasinungan daya panggendeng kaya wesi purasani.

Lah, mangkono uga kawasane daya kang tunggal, samongsa tumanduk ing dat, bisa nganakake kahananing dat, kayata: bobot elektrisiteit, padhang, urip, lan liya-liyane. Yen tumama ing ngalami sorot, nuwuhake kahananing nyawa (batin) kayata: pangrasa, rasa ngeres sabanjure. Yan tumanduk ing ngalaming budi-budi kang luhur, anganakake napsu marang kabecikan (kayata: asih, tresna, rumangsa bagya nrima) yen ing ngalaming nirwana, nungkulake nirwana, (kayata: ananing suci) bisa nunggal kahanan karo sadhengah kahana, dene ing saiki uwong durung bisa anggayuh kang luwih dhuwur, tegese: nirwana iku judeging panggayuhe ing ngalame dewa, ananging yen ing jagad bisa luwih kadi iku, mungguh ing bab paningti pariksaku mau, iya iku ing ngatase wong lumrah- nirwana mungguh ing aku kabeh, uga kena kaupamake srengenge ing ngatase wong picak. Mulane para ngulama Hindu kaya-kaya ana benere ngarani, yen nirwana iku padha bae karo sirna.

Dene enggon mau kabeh ana ing jagad, kaya dene anane purbaning manungsa, ora sunsun utawa tumpangsuh, ananging manjing pinanjingan, utawane kaya dene banyu manjing ing barang kang atos, hawa ing barang kang cuwer, mangkono uga eter rumesep ing sakehing barang, nuli babar nyarambahi jagad kabeh, banjur genti uwit kang awujud sorot, iku mrasuk ing eter lan sawarnane barang kang wadhag, mangkono sabanjure. Dadi sarupaning purba padha manjing pinanjingan, manungsa dadi urip bareng ing sakehing ing enggoning jagad, kang condhong karo sawiji-wijining uwiting badane.

Ing dhuwur wus kapratelakake, yen purbaning manungsa pipitu bias ana mung limang panggonan ing jagad.(i)

 ————————————————————————————————————————-

 Katerangan: tembung enggon utawa ngalam kang kanggone ing anggitan iki ora kaya kawruh ing akeh, mung gumantung saka prajanjiyane para ahli teosofi bae, mulane prayoga tansah dieling-elinga, supaya aja nganti kliru tampa, enggon utawa ngalam iku sawiji-wijining kahanane “dating jagat”, kang minangka wawaton sakehing wawarah bab “daya kang tunggal”.

Saiki aku wus padha sumurup, yen purbaning manungsa iku pitu, nanging dumunung ing limang martabating donya, kang iku purba pipitu mau dadi wenang karingkes kadadekake lima, mungguh anane pitu iku marga winuwuh ananing purba loro, kang condhong karo martabating donya loro kang luhur, lan kang uga ora wenang kanyatakake ing manungsa, dene iku dak andharake, mung supaya wong padha sumurupa, yen agama Hindu temen anganggep ing ananing purba lan martabat loro iku mungguh arane. Awiyakta, lan Purusha.

Dene katarane yen ana dening atma, dadi loro iku temene loroning ngatunggal, iku ora wenang kapisah-pisah, awit atma iku katone ing manungsa mung siji, trimurti iku ing ngatasing womg kaya dene katon ing impen bae, (cipta).

Saiki aku arep tutur mungguh ing gawe lan owah-owah ing purba-purba mau, pira lawas lan lan jembaring gone, wiwit saking purba kang luhur urut mangisor, kang sapisan atma, iya iku dat kang sampurna, kang awujud telu nanging kumpul dadi siji, iku purba kang langgeng anane ing manungsa, kapindho dating roh, iku ora langgeng, ananging anane luwih lawas tinimbang lan purba kang ing sangisore, lan mangkono sabanjure nganti tutug badan jasmani, anane suda-suda lawase.

Prakara iki bakal terang samongsa aku padha mikir bab dharedheging barang, saya alus utawa lembut barange, saya suwe dharedhege, iku dadi wawaton dawa cendhake mongsa anane purba manungsa, awit anane iku ora liya mung saking dharedheg, purba kang luhur-luhur dadi padha menangi sirnane badan jasmani, (badan wadhag) kaya upamane senthenge rebab, kang lembut isih geter, manawi kang anggal uwis suwe menenge. Dene iku aja dianggep nyina kang yekti, sabab satemene mung upama bae, mungguh yektine mung sarana kabudi lan dilakoni dhewe dening wong kang bisa anglakoni, sawenehing wong nrima oleh susurupan saking pituturing liyan, kang wus padha nglakoni nyatakake ing yektine. Manut kang pratelakake iku dadi badan wadhage manungsa (atos cuwer lan kang awujud hawa) iku kang cendhak dhewe umure, samongsa uwis tutug ing jangji katinggal, pisah karo badan, eter loro kang dadi saranane badan jasmani duwe daya upaya urip, saupama badan jasmani iku tininggal sawatara bae dening badan, eter loro iku, bisa dadi tanpa ngrasa, kayata: uwong diamboni kloroforem, mungguhing wong kang wus sidik bisa weruh, wetuning badan eter, katon wujude kaya kukus semu biru, yen kukus iku sah babar pisan saking badan, temtu wonge mati, uwite uripe wus tanpa daya marang anggaotane, wekasan bangkene sirna dadi lebu, awit saking patine (adat letelung dina) badan, eter mau genti katinggal ing badane kang luwih alus, dadi bathang, iku ora urip lan kembang ora adoh saking jisime mau, jisim kang kapindho iku sirna, akeh katatalane wong weruh memedi. Kang kadadeyan saking eter iku, lumrahe wong kang jirih utawa kaget, ananging yen jisim iku diobong kaya carane bongsa Hindu Buddha, badan eter mau nuli sanalika bisa sirna bareng lan wadhage.

Dene aluse badan loro iku isih, awit sirnane ora andadekake sabab ing anane manungsane, malah luwih urip tinimbang lan uripmu lan uripku, nanging ora kena sinat mata, amarga tanpa wadhag, kahananing wujude luwih dening lembut, ora wenang kanyatakake dening wong lumrah, ananging mesthi anane kaya dene getering abang utawa wunguning kaluwung, kang ora katon ing wong, dadi kang dak arani mati iku ora liya mung wujud geter (dharedheg) kang luwih alus, sarehning aku ora padha bisa nimbangi geter iku, dadi ora weruh ing kahanane. Kaya dene eter ora wenang kadaleng panjinge marang badan wadhag, mangkono uga rumangsuke wujud alus-alus mau marang wujud liyane kang agal-agal.

 —————————————————————————

(i) Katrangan : ing antaraning ngalaming jagad mau ana kang diarani: langit (swarga), naraka jahanam dening para agama, naraka iku saperanganing alam sorot, swarga, ngalaming budi ing jagad.

Lungane badan roh saking badan wadhag loro mau, anganakake owah-owahan ing badane Nur, kang dadi uwite pangrasa ngeres sapanunggalane lan kadadi garane uripe ing ngalam anyar, mungguh dawa cendhake uripe ing ngalam anyar iku gumantung saking keh sathithike dayaning hawa napsune.

Yen uripe ing donya iki tansah nuruti hawa napsune, uripe ing ngalam kang kena diarani naraka ing ngatase bongsa NaSarani utawa Islam, iya bakal lawas banget, awit badan Nur iku dumadine saking dating pangrasa lan hawa napsu, dene yen nalikane ing donya wong iku tansah budi daya murih undhaking hawa napsune, tumekaning jangji iya bakal dadi badan kang luwih dening awet, kaya upamaning pager badaning pakunjaran kang kandel, ananging sarehning samubarang kang tumitah iku mesthi bakal sirna, enggal lawas manungsa uga bakal ninggal badane Nur mau, yen wus sinucekake mangkono, lan sakehing reregeding aluse wus kabuwang, aluse munggah menya martabating budi, iya iku kang diarani “swarga”, kang kagawa mung tabingating Nur utawa purbane kang gaib-gaib, kang ing tembe samongsa nitis maneh, bakal anamtokake  badan Nur anyar,(i)

Dene lawase manungsa ana ing swarga mau, uga mawa-mawa kalakuwane angdonya, yen nalika uripe ing donya tansah alaku bener, lan angrasakake beciking uwong apa dene tansah ngudi ing kawruh, lan kabisan liya-liyane, (ngalah, andhap asor) tamtu bakal lawas adudunung ing swarga (manas kang asor).

Ing kono wong ing dunya kang wus sidik lan kawasa nyatakake ing kahanane, bisa ngrungu getering ilham, lan bisa ngrungu rujuking swara ing panggonan kang luhur, apa dene bakal patemon lan para widadari, lan maneh bisa nyakup sakehing kawruh, ananging mbok manawa banjur ana kang ora ngandel ing basaku iki najan benera, yen ing ngalam kang ghaib iku kabeh ora ana kang akawitan.

Lah mangkono gambaring jagad loro kang luhur iku, dene uripe manungsa ing kono dadi tutuge uripe ing jagad iki, yaiku kasampurnaning ngauripe ing donya, mulane prayogane wong iku miwiti urip mangkono ing donya kene, tegese: nganggo laku kang bener, aja ngenteni besuk-besuk.

Satemene mesakake banget, dene akeh uwong kang pancene ora ala, padha ngeceh-eceh mangsane urip mongka kahanan ing sawuse lan sadurunge mati iku bakal padha bae, sambung rapeting kadadeyan iku padha manut ugi papathokan kang padha, kang iku sumelangku bok menawa sakehing kang tanpa guna lan kamibocahen, iku bakal lulus nganti ing jamaning Nur utawa naraka, aja disengguh yen uwong urip iku cukup mung andonga sathithik, murih bisane oleh swarga.

Wontene jagad iku kinawasan ing uger papathokan kang luwih adil, iya iku ugering sabab lan wekasaning sabab mau, dadi kabeh ora ana kang tanpa jalaran, anane swarga lan naraka ora liya mung saking paneraking papacake uger papathokan mau, mulane eh wong kang ambudi, den angati-ati lan anyambuta gawe, supaya ing donya iki padha alega, lan ing tembe aja kongsi kabonta dening sembranamu dhewe.

Dadi martabating manungsa iku, wiwite munggah ing ngalam Nur, nuli ing ngalaming budi. Saiki pituduhku: kang dak arani ngalam iku dudu panggonan, ananging kahananing jasad, swarga iku ing ngendi-endi ya ana, lan manjing ing samubarang kang ana, malah luwih akeh tinimbang kang kaunggyanan ing eter, cekake manungsa ing ngalam sawiji-wiji mau bakale tompa wawalese kang linakonan ing nalikane urip ing donya, samongsa wus tutug ing jangjine, ngalam mau banjur katinggal, kaya dene paninggaling donya iki, dadi manungsa aninggal badane papat. Mungguh uripe mangkono iku lawase sawatara 1000 tutug 1500 taune ing donya, nuli tumeka ing mongsa panjanmane, mungguh prakara iki bakal dak gunem besuk, kowe mesthi padha bakal sumurup yen panjanmane iku mung miturut uger wawatoning jagad, saiki wus cukup tak sigeg samene, mung aku arep tutur yen manungsa sadurunge manjanma iku ambuwang badane patang warna kang asor, bareng tutug mangsane manjanma, metu kadi ngalaming roh utawa ngalaming asale.

 ———————————————————————————

(i) Katrangan : kahananing Nur (naraka) ing tembung sanskrita diarani kamaloka, tegese: jagading kakarepan. Kahananing swarga, diarani dewaloka, tegese: jagading dewa.

Yen tutug ing mongsa panjanmane dheweke ngrasuk badan kang asor (manas asor) nuli lumebu ing ngalaming Nur anyar, kang minongka dayaning pangrasa, dene badane eter lan wadhage dumadi ing guwa garbane biyunge.

Dadi wujuding manungsa kang alus iku thukul dhisik, nanging sirnane kari dhewe, saya alus winihe, saya lawas uripe, mengko aku bakal padha sumurup, yen jantraning dayane luwih jembar.

Mungguh wong kang wus sidik, bisa weruh yen saben uwong kinubenga ing cahya abunder endhog, kaya dene gambar-gambaring wong kuna, esthine dewi mariyam lan putrane, mara saiki padha rungokna caritane tuwan Eisenbah kang mrasudi nyatakake ananing cahya iku, cahya iku ora liya mung sunaring purbaning manungsa kang metu saking jeroning badaning wadhag, katon ing wong kang wus sidik ngunguwung ngubenging badan.

Dadi dat kang alus-alus iku kang jembar dhewe enggone, kadadeyan kanyata iki wus kapratelakake dening para ngulama, ananging ing samengko karuncen, yen tak terangna lan maneh dadi luwih angel panggagase angatase para kang maca piwulang iki.

Wekasan aku arep angandhakake pakeling lan mungguh tumanduke manungsa wiji-wijining purbane manungsa, bok manawa para kan maca wus mangreti, yen manas kang asor iku salin saben-saben manjanma lan mung kari martabat telu, iya iku atma, budi lan mansa kang luhur, biyen wus dak kandhakake, yen uwong terkadhang kelingan ing samubarang kang wus lalen lawas, iku tetela ing wong kang tinanduking hipnose (hijpnose) lan minongka pratondha yen keling iku ora mung ing utek bae, ananging uga tansah awet anane: awujud geter, dene yen utek ora bisa nampani geter mau, tegese ora ngrasa, manungsa tamtu ora bisa eling apa-apa.

Aku wus padha sumurup yen purba kang luhur luwih awet lan uga weruh yen barang kang digugulang salawase manjanma, tansah kacatet ing sawiji-wijining purba, mawa-mawa kahanane kang digugulang, tuwin manawa utek wadhag iku ayem, (tentrem) (tegese prayoga kanggo mikir) tumanduke geter mau ana gawene, dadi manungsa eling mubarang kang wus kalakon lawas, pakeling utawa pamikir mangkono iku anane ing martabat manungsa kang luhur, ananging uteking manungsa kalane isih urip kaya saiki ora bisa nampani, dene yen utek iku kailangake dayane sarana kataman ing hipnose (hijpnose) lan daya iku nuli kasambung ing kumandhang, amesthi wong mau bisa nyaritakake mubarang kang wus kalalen babar pisan, sajroning meleke, kang iku tetela yen dat alus iku luwih awet anane tinimbang lan wadhag, dadi manungsa iku genti-genti ambuwang badane jasmani, dayane urip pangrasa lan kapirane, lan peperangane kang condhong karo wiwijangan mau, ananging manas kang luhur uwiting roh iku tansah ngregem pangrasa kang tumanduk lan sarehning badan alus iku isih wutuh sajroning panjanmane, dadi manungsa bakal bisa eling ing panjanmane biyen, angger bisa nepungake uwite karo uteke kang wadhag.

Ngawruhi diri pribadi iku kaya dene kang wus kapratelakake ing ngarep, dadi uwiting sakabeh kawruh, mulane sawuse aku padha weruhi wiwijanganing manungsa, mara padha genti marinci barang kang ana ing sakukubanku, ananging supaya aja karoncen padha dipek ing sakaprahe bae.

Mara waspadakna sarupane barang kang ana ing sakukubanku ing donya iki, kabeh embuh kang wadhag embuh kang alus, yen dinyatakake tetela: ora ana siji, kang kenane sinat mata ora saking tumanduking geter marang badanku murih terang, mara padha ameka barang sawiji kanyata,: kembang endah ing warna, apata kembang mangkono. Iku tan liya mung sawijining pakumpulane utawa jajamborane kahanan sawatara, warna, ambu, manising rupa, rasa, seger, bobote lan liya-liyane, klumpuke rasa mangkono kang metu saking barang mau tumanduk marang badanku, iku diarani kembang.

Ing bab wiwijanganing badan manungsa wus kapratelakake, yen sawiji-wijining rasa mangkono iku kadadeyan ing geter, kapisan, kang diarani warna iku ora liya mung kadadeyan geter uga, kang tumonca ing kulit rancangan, (net + ulies = djala-djala) ing jeroning mata, geter iku nuli tumimbul marang Asabat munggah tutuging utek, banjur terus marang martabating Nur (astrale natuur) nuli bab lasmaneh tutug ing dating batin (mentale) lah, mangkono lagi katon kahananing barange, dadi tumanduking geter marang kulit rancangan sapiturute, (marang Asabat, utek uwiting nur lan wekasan marang dating batin) mau kang marake uwong weruh ing wawarnan, mulane warna kang kodeleng iku satemene dudu warna kang katon marang aku, nanging getere: padha, kan tumanduk ing mataku iya kang tumonca ing mripatku, mung dayane tumanduke marang mataku ora nyamleng karodayane kang tumonca marang mripatku, warna kang katon ing wong sawiji dadi seje karo warna kang adeleng ing liyane, mung saking pirukune wong bae dene padha enggone ngarani, kowe ngarani iki, putih: mengkono uga aku, ananging iku dudu cihna yen pangrasaku padha karo panemumu.

Mara saiki padha nyatakake ambune kembang, iku kadadeyaning geter, kang tumama marang Asabating pangambu (irung), dene patrap tumancane ora beda kang wus kapratelakake mau, mengkono uga ananing rasa kang rinasa ing ngilat iku geter, kang tumama ing ngilat, lah mangkono uga mungguh ing rasa kang korasakake ing badanmu sakojur, malah uga ing ngatase barang kang alus-alus.

Mungguhing wong kang terang pangrungune (dudu kang bisa ngrungu) kembang iku bisa cacaturan, malah bisa ngidung (sindhen) awit rupane iku kadadeyan saking getere kikidungan, (kang mangkono wus kanyatakake dening nyonyah wetces kang kawasa nuwuhake pakis lan kembang-kembang kang adi-adi sarana swaraning gendhing), kabeh iku dadi pratondha, yen sarupane kang tinemu ing donya iki kadadeyan saking geter, kang urut tumaruntun tumanduke, kaya mangkono uga piwulange para Nabi lan panutanku kabeh, saupama kowe padha wenanga ngrungu kikidunganing kembang, dadi iku kadadeyaning geter uga kang tumama marang badanmu.

Daya panulaking barang kang korasa samongsa kokgepok, iku ora liya mung kahananing geter, kang tumawuh saking kakarepan kang lalawanan, awit ing donya iki kabeh awatek mangkono, terange kabeh awatek gendeng-ginendeng lan tulak-tinulak, dne daya mangkono iku ing barang siji lan sijine ora padha, mulane nganakake wujuding barang kang beda-beda kahanane, yen dayane anggendheng luwih rosa tinimbang lan dayaning panulak, mujudake barang kang atos, saya suda dayane panggendhenge saya kurang atos barange (dadi empuk), lah, mangkono sabanjure, dadi ana barang cuwer, lan ana kang awujud gas (angin) dene manawa dayane anggendheng luwih dene kurange tinimbang panulake, anganakake dat kang kaaranan eter, dadi atos, empuk, cuwer lan sabanjure ana liya kadadeyaning daya panggendheng lan daya panulak.

Mungguh boboting kembang kang korasakake iku ora liya mung saking panulakmu dhewe marang kembang kang arep marani menyang pusering bumi, sakabeh uwong dalasan bocah uga weruh yen darah (bagiyan barang kang luwih dening alus) awatek tarik-tinarik lan bumi anggendeng marang sarupane kang ana ing jagad, lintang-lintang nalika ing bumi, bumi nalika ing lintang, kaya dene panarike barang-barang kang ana ing salumahing tosa, rupane kang kumelip ing donya tansah kasinungan daya arep kumpul, kaya dene wong sihsining dayaning alam mangkono kaaranan dayaning bobot (cekake bobot bae), rasa memes (alus) kang korasakake manawa manggepokan barang kang alus, mangkono uga rasa kakasar utawa agala-agala iku ora liya saking badaning kahananing darah ing barange, mawa-mawa atos wmpuke, mau wus kapratelakake yen atos empuke barang dumadi saking daya pangendheng lan panulak, iya iku obah ing barang kang marani lan kang ngalungani.

Saking pamijang-mijanging kembang iku, aku dadi padha weruh yen kembang ora liya mung klumpuking kadadeyan, nanging bok manawa banjur ana kang mancahi, arak dumadi saking dat lan darah, kang padha gendheng-ginendheng lan tulak-tinulak, nuli klumpuk dadi kaya dene wujude, pangrasaku: panemu kang mangkono satemene kliru, awit apa ing antara mupus ana kang andengangi darah (iya iku darah kang kapratelakake denign ahli ngelmu alam) dudu darah kang kapratelakake dening ahli kimya, awit iku isih jamboran, saenggane kowe padha weruha ing darah, iya mung weruh ing warna rasane bae, yen kogepok lan cekake mung wateke ing sawatara, mongka ing dhuwur wus kapratelakake yen wateke iku kadadeyaning geter, ora ana maneh-maneh, dadi ana ing ngandika koarani darah mau, iya iku ing ciptane para ahli ngelmu alam, kabeh dadi awujud geter, wong kang durung tau marsudi nyatakake bab iku, wus mesthi bae akal ora nuli mangreti ujarku, ananging yen dheweke banjur nurupi ing pituduh iku, yen gelema mikir sarta budi daya sarta nyatakake enggal lawas temtu bakal weruh ing wadine ujarku mau, iya iku: yen jagad iki ora liya mung obah lan geter, mengkono piwulange para sarjana, sakabeh barang anane gumantung saking panganggep.

Saiki pangrasaku wus cukup olahku anggawe lepiyan, awit manawa kowe padha miturut ing ujarku iki, kwe bakal padha weruh dhewe, yen sarupane barang iku kawase ing angger wawaton sawiji, yen kowe wus padha nganggep ing ananing obah iku aku bakal nutugake kandhaku, wondene obah iku masthi dumadi saking daya, mungguh daya iku wenang rinasa mung ing dhiri pribadi, liyane iku mung panganggep titimbangan, mung anane pangrasa ing dhirimu pribadi iku pangawasa kang bisa obahake, iku wenang kokawruhi, saupama tanganku obah, ciptaku, yen aku kang ngobahake, dadi dudu karepe tanganku dhewe, nanging karepku, lah mangkono panganggep kang nyata ing ngatase obahan dening daya, saking panganggep mangkono iku, pangrasamu kowe wus terang ing wateking daya, kang nganakake obah liyane, sing dadi lajering kawruhmu, mulane kowe banjur wani anggawe titimbangan, minongka katrangan ten aku calathu (iki minongka tuladha) kang korungu ora iya mung dhapur kumpuling geter, urat-uratku kang dadi sarananing anywara obah, sarta nganakake geter, kang banjur tumanduk ing kupingmu (peperanganing barang, kang ora liya mung obah, iku tansah geter lan angowah ila kuning sorot kang tumonca ing kulit rancangan ing mripatku, dadi kerasa, lan kowe weruh wawarnan, dhapur wasana kowe dadi duwe imbangan, yen weruh wong micara, tetela mung panganggep bae, panyana yen mesthi ana daya, kang marakake obahing ku satemene dadi saking panganggepmu, yen sakabehe obahmu iku kasababake dening kowe dhewe, iya mung iku kang kowe mesthi weruhe (iya mung samono kawruhmu) sarehning mung kuwi kang kokawruhi, apa mulane dane kowe duwe pangira, yen daya kang dadi sababe geter sing kok arani wong micara iku beda-beda karo daya kang amujudake pakumpulaning obah, sing ko arani diyan, ora ana sababe pisan-pisan, satemene daya iku padha bae (mung siji) ananging kaereh marang angger donya kang beda-beda, mulane dadi beda-beda kang kaanakake, (priksanen angger kang katelu ing ngisor iki) mungguh prakara iku uga kena katrangake sarana uger wawatone mosalan dhuwure marang kang tumiba (ngelmu alam) ananging pangiraku bakal saya peteng ing ngatase wong kang akeh-akeh, mulane dak pathet samene bae katrangane, wus cukup dak terangake mangkono bae, obahing donya iki kasababake dening sawijining daya, dadi ing donya iki ana kahanan loro, kang sapisan daya, iya iku uwiting sakabeh kadadeyan ing donya, kapindhone obah, kang kahanakake dening daya mau, dene daya iku akeh kang ngarani Allah, wong Hindu ngarani Brahma, mungguh bongsa liya-liyane seje maneh anggone ngarani, ananging mungguh beda-bedane olahe ngarani iku ora ngapaa. Kang prelu, anteping pangandele, yen daya siji iku kang nganakake kabeh, (daya iku dadi barang rupa-rupa seje-seje nanging ora sah Akad) (tunggal).

Murih terange babar pisan, mara padha anggunem angger wawatone wawejangane barang kabeh.

I.  Angger wawaton kang sapisan iku anggering genti-genti utawa solan-salining barang, wondene ing donya iki ora ana barang siji-sijiya kang ambener (ngenceng) lakune, kabeh ana watese ajune kang mesthi, nuli mundur maneh, banjur maju maneh luwih adoh tinimbang kang uwis mengkono sabanjure (dadi lakune ngulanglangi utawa kaya lilit uwi) lan maneh, ing donya ana rina wengi, iku ora ngemungake ing ngatase uripe manungsa lan khewan bae, ananging uga mungguhi barang liya-liyane, ing ngendi-endi ya meneng lan molah, iku genten tindake, dene donya iki uga kaeruh ing angger wawaton mangkono, donya uga ana kalane meneng lan ana kalane molah, sasuwene molah iku, uwit tunggal kang agung amujudake jagad lan sasuwene meneng jagad iki pulih kaya mula bukane, iya iku asale, dadi luluh (lebu) manawa wus tutug mangsane pamejange maneh, nuli dadi jagad anyar, kaya dene kang uwis, mangkono anane titah iku tansah ambanjur tanpa wiwitan tanpa wekasan (langgeng) ananging mungguh jagad kang temtu kaya donya iki, iku ana mula lan wekasane, awit dumadine saking jagad kabiyen, saka uwite ing tembe uga bakal dadi jagad anyar maneh, sabanjure mangkono tanpa wangen.

Mungguh kang dak arani jagad kang dhisik mau ora mung srengenge sakbumi lintange bae, ananging kabeh kang kalebu wewejangan (openbaring) sakabeh carita bab dumadining jagad kang tinemu ing kitab suci, lumrahe mung kanggo ana ngiciptaning wong, ananging mungguh wethane kang dudu cinipta, terkadhang ora kena ginagas, lan maneh carita iku kang akeh mung anggunem kadadeyaning jagad, siji-siji mungguhing panitahe jagad kabeh (umum), lumrah ora kapratelakake wiwit lan wekasane.

Wondene genti-gentining dumadi mau ing basa Hindu kaaranan rina lan wengine Brahma, wujude Allah kang maha agung, ana uga kang ngarani, apase (lebu wetune napase) wujude Allah, wetune napas iku nganakake wewejangan, dene lebune andadekake lebure, lan dumadine lebure kabeh kaaranan: kalpa, tegese kalangan (buweng), satemene lugune tembung ateges: cipta, lan basa iku uga wenang tumrap ing ngatase dumadine donya kabeh, awit donya iku ora liya mung ciptane Allah, prakara iki bakal luwih terang dening katerangan ing ngisor iki, samengko kang prelu diregeni dhisik, cipta ananing kalpa, iya iku lawase gilir (genti-gentining mobah lan meneng).

II. Lah, saiki nyandhak cipta kang kapindho, kang bakal dak elingake ing kowe, wewejangan kang umum iku kahanakake miturut angger wawaton kang diarani wiwartha, tegese, uwit iku sasuwene anuwuhake sawijining kadadeyan, tansah padha lan dhirine pribadi, terange: kadadeyan sawiji ora ngowahake uwite kang nganakake kadadeyan mau, iku angger papathokaning wawejangan, dadi kosok baline karo uger wawatone pamalih, dumadine keju saking puhan iku lewihan kang nyata, kanggo nerangake bab pamalih ing barang, awit puhane wus ora awujud puhan maneh, dene murih terange mungguh wiwijangan mara padha ameka wiwiridan saking geni mawa, kang tinalenan ing kawat sarta nuli kabubengake rikat, apa kang katon, iya iku kalangan (buweng), dene kalangan iku sayektine cipta kang kahanakake dening mawa mau, ewa dene mawa iku ora owah, lah iku upama kang nyata kanggo nerangake tegese wiwartha, patrap gumelar ing jagad.

Sawarnane barang dumadi saking Allah, lan Allah iku gembleng (antero) anane ing sakabeh kang ana, ewa samono Allah ora owah tansah wutuh, padha lan pribadine sawiji (Akad) ing sawarnaning barang kang kawejangake, kaya dene mawa kang tansah wutuh ing saenggon-enggone kang kalingan.

Samengko umpamakna kalingan mau barang sawiji, lan ciptanen mubeng ing titik liyane, dadi anganakake petha loro, kang asale saking geni mawa siji, uwiting kadadeyan iku isih padha, ewa dene kang gumelar iku wewejangan rong warna kang beda urutane. Yen kobanjurake ciptamu mau mangkono, mawa siji iku bakal ngebaki awang ujung kang tanpa wangen jembare.

Dene kadadeyan ing jagad iku ora beda karo kang kasebut mau, sanajan ora ana upama siji-siji ya kang minongka dadi katrangane.

Ing jagad iki ora ana liyane kang ana mung Allah, lan anane iku mung gembleng (wutuh) ngebaki jagad, dadi mengkono gumelaring jagad tansah kanthi mejang mujudi Allah kang asipat tunggal, uwite tansah asipat padha karo pribadine, ewa dene iya kadadeyane (iya bakale iya kadadeyane).

Tembung Sansekrita wiwartha, kang dadi araning lakuning dumadi mangkono iku lugune ateges: polah mubeng, tembung iku condhong tegese karo tembung latin (vortase) wortekse (kawruh ing jaman saiki, elmu alam) uga mratelakake yen donya kang katon iki dumadine saking obah kikiteran, iya iku ulekan, kang padha gendeng-ginendeng lan tulak-tinulak, lah mangkono uga katrangane ing basa Sansekrita, kabeh kang ana: wiwartha. Dadi panemune bongsa Hindu, karo para sarjana ing jaman saiki cocog kabeh, lan para kang wus sampurna kawasa, (i) marinci unsur-unsur kang andadekake dating jagad, mung sarana paningale nure, dadi iya kawasa nyumurupi angger wawatone obah kikiterane kabeh.

Lah mangkono angger kapindho kang dadi wawaton dumadining donya kabeh iku, jagad iku wiwartha, tegese obah kikiteran, ananging uwite ora owah (tansah padha) lan sasuwene kikiteran iku nganakake kadadeyan.

Nuli nyandhak angger wawatone gumelaring lintang-lintang, sarana amet titimbangan seje maneh, ing mengko kowe bakal padha weruh, obah kikiteraning kabeh iku, ora liya mung cipta bae, iya iku gegendenganing batin, murih terange kang bakal dak terangake, mara padha ambaleni gunem bab wiwijanganing barang.

Ing dhuwur wus kapratelakake, yen ing donya iki ora liya mung obah, lan yen manungsa mung kasinungan daya ing sawatara, dene mungguhing barang liya-liyane bisa kuweruh ing wateke mung sarana amet titimbangan, lah apa samengko kang ginawe titimbangan dhisik. Minongka katranganing uwit kang tunggal, “apa daya iku ambudi apa ora”, wangsulane ora ana marunah mung mangkono, sarehning daya kang dumunung ing jasadku abudi (iya mung iki kang wenang dak surupi) dadi ora wenang aku ngaranana yen daya ing barang liya-liyane tanpa budi. Sanyatane ing ngatase kang wus sidik, tuwin kang tunggal riku abudi, ing ngisor iki pratelane bedne bongsa materiyalisme (materialisme = tegese kanganggep ing ngananing bakal) lan bongsa idheyalisme (idealisme = tegese kang nganggep ananing cipta bae), bongsa materiyalisme ngarani yen sawarnaning barang kadadeyan saking sawijining bakal, lan bakal iku tanpa budi, nanging panemune bongsa idheyalisme, uwit tunggal iku abudi, iya iku Allah, dat Allah.

Mungguh wong Hindu ora bakal padudon karo bongsa materiyalisme, malah padha bakala taklim sasaliman, celathune, sadaya punika sae ing ngatasipun sampeyan ki sanak, amargi papanggih sampeyan remeni, ananging punapa wonten cihna ingkang minongka ugering pamanggih punika, punapa sampeyan sampun abudi murih sumerep ing kayektosanipun yen dereng lah punapa aki sanak dene sampeyan sereng amuring-muring dhateng kula, muka pamanggih sampeyan punika namung pamanggih wantah, tanpa punapa-punapa ingkang kenging kadamel cihnanipun, dene kula sanajan ugi boten gadhah cihna ingkang nyata, anedahaken mardi (gadhah lampah) saged dipun sampeyan anyatakaken piyambak ingkang yektosaning panganggep kula samanten wau yen sampeyan karsa nglampahi milanipun dipunsabar dhateng pamanggih kula.

 ———————————————————————————-

(i) katrangan: ponca driyaning badan, kaya dene ponca driyaning badan wadhag, prelu kalantih.

Lah mitra kang ngandel ananing bakal, sawuse kapituturan (yen miturut ujaring para sidik) becike padha kaajaka andum salamet, satemene akeh nyatane panemune para sidik iku, awit mirit saking daya kang dumunung ing dhiriku pribadi, iku abudi, apa mulane yen daya ing barang-barang liyane ora mangkonowa: pamikir iki dadi pratondha, yen ora luput uwong nganggep, uwit tunggal iku abudi, wuwuh-wuwuh ana saksine para sarjana, kang dadi pikukuh ing panganggep mau. Sarehning uwit tunggal iku abudi, apata obah kang kahanakake iku, yen dudu wawetune kakarepane, (pikire, ciptane) mulane aku mau iya tutur, yen donya iki ora liya mung ciptaning gusthi, panemu iku minongka lalawangan weruh ing gumelaring jagad kabeh, saking lalandhesan iku aku wenang nganggep yen dumadining jagad iku tuwuh ing nyawa, budi lan pakeling saking Allah, ewa semono Allah tansah padha, iya iku kang dadi uger gegendholaning Buddha lan para panutan ing tanah Hindu, ananging dumadining jagad uga wenang kanyatakake saking pathokan liya, kayata: saking pathokaning swara, obah kang kahanakake dening wujud kang nitahake, iku hawa pur geter, kang urut tumaruntun, geter iku mungguhing wong kang sampurna padha muni, kaya dene swaraning gendhing, dadi donya iki ora liya mung larasing swara, kang metu saking Allah, kabeh dumadine saking geter kang tundha-tundha urut tumaruntun, kaya dene kang wus dak pratelakake, bab iku wus katetepake nyata dening para sarjana saiki, dadi jagad iku miturut piwulange wong kuna-kuna, larasing gendhing kang luhur, lan sapa kang bisa misahake ponca driyane badane ngawag, iya kawasa weruh ing gendhing iku.

Sajroning kitab kuna, nabi Yohanes angandikakake, pangandikane Allah kang nganakake sawarnaning barang.

Basa, pangandika kang agung, iya dadi cipta kang agung, iya swara kang dadi uwit, uwit cipta iku ora beda lan swarga, lairing cipta iku nyata kadadeyane, iya iku dumadining jagad kabeh saking swara.

Yen aku padha nganggep padunungan dumunung ing liya panggonan, jagad iku wenang kacipta wawarnan lumpuk atata, luwih dening ngeramake, wondene warna iku yen kawaspadakake kanthi anggaota liyane kang kapratelakake mau, ora liya mung geter.

Wong kang sidik basa weruh warnane iku, kang lumrahe ora kena sinatmata ing wong, yen ana wong nabuh gamelan, ing ngatase wong lumrah kang karungu swarane bae, ananging para sidik uga weruh ing saking gamelan mau, weruh getering abang lan wungu, lang mangkone dumadine gumelaring Allah utawa getering swara kang urut, wenang kanyatakake saking warnane, saking padhang, para guru ing tanah Hindu ana sawatara kang anggendoli wawaton mangkono.

Biyen aku wus anggunem sakabeh uger saka wit, kang dadi tataksane wejangan kabeh, sabab kang esa (tunggal) iku kaya kang wus dak pratelakake, tansah padha ing pribadine (ora owah) sanajan anganakake kadadeyane, ing saiki sabisa-bisa aku bakal amratelakake, kapriye enggone winih kang esa, lan tan kena owah nganakake sarupane wawejangan ing jagad, cekake, aku arep amratelakake dadining dumadi kabeh, aku kabeh wus padha sumurup, yen mung sabab kang sakawit iku kanyatahana kang sajati, dene sarupane kang katon mung wewejangane bae, wawayangane Nur esa, kang ora lawas sarta ajeg anane, dene ing saiki aku arep anggunem prakara, murih sumurupku, kapriye enggone “kang esa”, iku gumelar ing mongsa lan ing don, awit tumaruntuning kadadeyan iku ora liya mung pamejanging winih saka wit mau ing mongsa lan ing don, nanging sadurunge aku wiwit anggunem, aku prelu mratelakake dhisik tegese basa: mongla lan don awiyen ora terang ign basa iku bisa anuwuhake kleru tampa.

Andadekna kawruh anamu, yen basa: mongsa lan don, iku mung lagu cacaturanku, tembunge ing basa Sansekrita, mongsa = kala, ateges, solah olehe anuwuhake, dadi ing basa Sansekrita: mongsa duwe teges tundha tumuruntune enggonku ngyektekake barang lan don, arah utawa tujuning panitiku, mongsa lan don ora ana wujud utawa jenggelege, anane mung gumantung saking patrap paniti kita, mongsa iku, jaman biyen, jaman saiki, lan ing besuk, tegese, dadi mongsa arupa telu kang kanggo anyatakake kadadeyan, mungguh tembung don ngemu teges: kene, kono, kana, mrene, mrono, mrana, dadi tetela yen don iku tansah owah lan gumantung ing wong kang andeleng, apa kang wus kalakonan ing ngatase wong sawiji, kena uga lagi “dadi”, mungguhing wong liyane apa kang ing kene ing ngatase aku, iku trekadhang ing kana mungguhing kowe.

Ing ngatase bumi, bumi iki ing kene, ananging mungguhing wong kang ana ing jagad liyane, apa ora diarani ing kana, apa ing kene ing ngatase wong sawiji, dadi ing kana “mungguhing wong liyane”, mangkono uga tumrape ing mongsa, yen wayah bengi aku padha ngarani srengenge wus surup, srengenge wus ilang, nalika hawane aku weruh, nuli kandheg weruhku mau, ananging ing ngatase wong kang (upama) ign srengenge, pandelenge ora kendhat-kendhat, dadi tansah ngarani, saiki bae ora ana liyane.

Lah mangkono kahananing saiki, biyen, lan besuk ora beda karo kahananing don, dudu barang kang miji (nanging titimbangan) patrap kawruh kita, satemene ing ngalam iki mung uwit siji kang katon, beda-beda mongsa lan done katone, murih terange maneh, mara gaweya kalangan sawatara gedhe cilik kang nunggal pusere tengah, upamakna puser tengah iku uwite kalangan, utawa uwit sakawit (wujuding Gusthi).

Upama ana kang bis anunggal ing Gusthi, iya iku ciptane nunggal ing ciptaning Gusthi, dumunung ing puser sakawit mau, tembung uga weruh ing salumahing jagad kabeh, ing ngatase wong mau ora ana ener, ora ana tundha tumuruning mongsa lan don, kabeh katon gamblang, kabeh, saiki lan ing kene.

Mara upamakna wong kang wus sidik manggon ing sawijining puser ing kalangan mau, upama ing A) saka ing kono dheweke bisa wuninga saperanganing rerengan tatalesan kang saking Gusthi, manawa wong sidik iku mingser panggenane upama ing, B) lan mandhep ing ner liyane, wuninga ing bageyane rerengan kang talesane saje, sarta C) liruning panggonan iku ora ngemukake anuwuhake terange ing don ing dalem pikir, ananging uga bakal angrasa owahing mangsane, tegese wong mau bisa ambedak-bedakake, yen sawuse weruh barang sawatara urut tumaruntun nuli weruh barang seje.

Mangkono wong sidik bisa weruh ign rengrengan ing liya panggonan maneh wong mau wuninga ing bageyan anyar maneh, mangkono sabanjure upama ing tembung wong iku wus temu gelang, apa kirane kang katon.

Ora ana maneh mung bundern ing tengah, gambar ciptaning Gusthi, ananging Gusthi ana ing tengah uga ngudaneni sanalika, tanpa owah gisir ing mongsa lan done, mulane cipta kang weruh ing gemblenging kadadeyan mau, katone marang wujud kang ana ing tengah kaya sawijining cecek, buweng lan puser tengah nunggal, iya iku cipta sawiji mau, dineleng sangking done saje-saje.

Mara saiki kaupamakna, ana wong liyane kang ngubengi kalangan kapindho, kang luwih adoh saking pusere tengah, iku uga weruh ing pusere tengah, urutan saking enere seje-seje, sawuse temu gelang uga tela ing sumurupe, marang wujud bunderan kang dumunung ing tengah-tengahe, saupama lakune ngiteri wong loro iku padha arikate, dadi kang kapindho bakal luwih lawas weruhe ing gemblenging wujud ing tengah, sabab luwih dawa dalane, nanging satemene kawruhe nunggal awit barang kang dineleng mung siji, lan sarehning urut-urutane kang tinon iku waca, dadi panemune wong loro iku bakal condhong, sanajan mongsa pandelenge ana kaceke ing ngatase aku, kang padha andeleng ubenge.

Lah mangkono mulane wong ngimpi , ing sawatara menut bae, terkadhang angalami prakara warna-warna, kang ora kena linakonan ing wadhag kita ing dalem pirang-pirang taun, sarehning kita longka bisa mikir kahananing mongsa, yen tanpa kadadeyan, tangi turu kita mau kalawan pangrasa wus urip pirang-pirang puluh taun.

Dene saupama ana wong ngiteri ing kalangan kang katelune, wus mesthi bae luwih lawas lakune, tinimbang kang cedhak dhewe marang cecek tengah, ewa semono sawuse tepung ubenge, ora beda kang dideleng, iya iku cipta gembleng ign tengah, nanging wujude ing ngatase wong iku kaya kalangan kang luwih jembar, dadi buwengan iku kaya dene liyane mau nunggal karo cecek tenggeng mangsane ubenge kabeh tibane padha,

[NO. 2]
[BUKU KEKARANGANIPUN TUWAN VAN DEN BRUK.]

Kendhateng manusa, dene kathah kedhikipun ignkang kaparingaken gumantung wonten alusing bubudenipun bongsa, gumantung wonten ing kawruh ing kasampun sumebar wonten ing manusa, gumantung wonten wateking bongsa ingkang anggadhahi kawruh mau, tuwin gumantung wonten ing daya pamarsudining budinipun.

Murih cocogipun kaliyan sadaya wau amila patrapipun amaringaken wau ingkang winastan agami, ananging dhadhasaripun sami kemawon, saben-saben amulangaken bilih kawontenaning Allah punika amung satunggal, ingkang gumelar dados kempaling titiga utawi trimurti, tuwin amulangaken bilih manusa punika kawontenanipun rangkep tiga sami kados Gusthi Allah, salajengipun manusa wau kenging kaperang malih, winihipun rangkep tiga, dene kaindhakanipun dados rangkep pitu sarta amulangaken bilih manusa punika tan kenging ing peah, badhe boten sirna, punapa malih amulangaken bilih manusa sampun rambah-rambah anggenipun tumitah badhe saya mindhak sampurna tuwin saya thukul grahitanipun sarta wonten sujanma sawatawis ingkang sampun saged anggayuh kasampurnan salajeng jumeneng guruning bongsa manusa.

Para sujanma ingkang sampun sampurna wau kala rumiyin inggih sami kemawon kados tiyang limrah punika, sami apes sarta anggadhahi dosa tuwin boten sampurna kados manusa samangko, ananging lajeng mindhak-mindhak sampurnanipun kados dene manusa jaman samangke ugi saged mindhak, tuwin lajeng thukul panggrahitanipun, wekasan [ados kiyat tuwin saged anggayuh kasampurnan, kados dene kula punika inggih saged gayuh kasampurnan manawi purun, sareng para sujanma wau sampun sami sampun, lajeng wiwit amulang dhateng para manusa saminipun, tuwin lajeng adamel pakempulaning para kadang ingkang sami jumeneng guru ageng, kala-kala para ageng wau wonten salah satunggal ingkang tumurun andhatengi manusa, supados saged amaringi agami dhateng satunggal-tunggaling bongsa, supados tunggal-tunggaling trah satunggal galing bongsa tatampi agami, ingkang pancen tumrap kangge pitulungan tuwin piwulang dhateng bongsa wau, sarta kathah para sujanma beda-beda papangkatipun ingkang sami manjing pakempulaning para kadang wau mawi-mawi kaindhakaning sampurnanipun, kadosta para Pandhidha para tiyang ingkang linangkung panggrahitanipun bab karohan, tuwin linangkung kawruhipun kasampurnan utawi linangkung kawicaksananipun, dene para ingkang sampun sami linangkung wau dumugi samangke sami anuntuni dhateng sakathahipun dosa, aparing tuladhaning paprentahan, anamtokaken angger-anggeripun saweneh jumeneng samarentah dhateng bongsa, dados tiyang sampurna ingkang amulang dhateng sakhatahing bongsa, tuwin dados para pandhidha ingkang sami anuntuni dhateng bongsa mau.

Sakathahing bongsa ing jaman kina sami anedahi para tiyang sekti, para maharsi tuwin para prawira, ingkang kadados makaten wau, sarta aken marsudi kawruhipun bab serat-serat waosan, bab yayasan griya samanunggalipun, bab angger-angger pranataning nagari tuwin sanes-sanesipun.

Angel amaibentenipun bilih para sujanma ingkang minulya wau taksih sami gesang, awit wirayat kana ingkang sampun ngebyah ing ngakathah serat-serat tuwin patilasan jaman kina ingkang samangke taksih salong dados jugrugan, sadaya punika minongka saksinipun sakathahing serat-serat tuwin yayasan ignkang nedahaken kaindhakan ingkang sakelangkung luhur wau, nglengkara kenging kula kinten damelanipun tiyang ingkang taksih andhap thataraning kaindhakanipun, boten anginten bilih yasanipun para panuntun karohan ingkang luhur, anggen kula ngangge paseksen serat-serat tuwin patilasan wau supados boten angucapaken paseksen sanesipun ingkang dipuntampik tiyang ingkang boten sumerep.

Ing mangke menggah nalaripun mila sakathahing piwulangipun agami punika sami awit pinangkanipun sadaya piwulang wau anunggal asli, sami sangking pakempalanipun para sujanma sampurna ingkang samiasa dhewekan.

Wonten ing tanah Grik sakathahing miwulang wau sakawit kanamakaken teosofi, tegesipun boten liya inggih punika pangawikaning para dewa, dene tiyang Grik boten ngemungaken andhapur pangawikan wau kadamel agami, ananging ugi andhapur ngelmi kasampurnan tuwin kawruh kagunan, sarta sarehning pangawikan wua ingkang dados wiwinihipun dhadhasaring sakathahipun agami, amila teosofi punika boten saged yen tadados samengsahipun sawenehing agami, malah ingkang ngresikaken agami, angelaraken ajinipun piwulang babon ingkang sampun kasantunan warni dados maujud ingkang katingal sangking padamelanipun tiyang bodho ingkang brengkelo tuwin sangking tuwuhipun gugon tuhon, sarta teosofi ingkang ngangkahamba kakawicaksanan ingkang piningit ing salebeting piwulang agami, sarana angemuti kawicaksanan ingkang dumunung ing piwulang wau tuwin ingkang angayomi tumrap dhengah tiyang.

Tiyang ingkang lumebet warga teosofi boten susah anilar agaminipun, manawi ingkang lumebet warga mau bongsa Kristen, inggih lestantun Kristen, manawi bongsa Hindu inggih lestantun agami Hindu, manawi bongsa Islam inggih lestantun agami Islam, awit ingkang lumebet warga mau amung badhe kasinungan panggrahita ingkang lebeting ngatasing agaminipun piyambak, tuwin angsal gondelan ingkang sentosa ing ngatasipun kajatening agaminipun, angsal seserepan ingkang wiyar ing bab piwulangipun ingkang winados.

Kala kina teosofi ingkang ngawontenaken agami, samangke ingkang ngadili tuwin ingkang angayomi agami wonten ing ngarsanipun pangadilan tuwin ingkang amungsulaken malih pangajang-ajangipun sarta prasetyanipun manusa dhateng Gusthi Allah.

Iya kedah angengeti bilih dayaning jiwanipun manusa punika boten ginadhang kanggo nyumerepi ingkang ghaib-ghaib, supados andamel misuwuripun manusa badhe kanggo nyumerepi ingkang ghaib-ghaib wau, punika kedah amung kangge murih wilujengipun tiyang, punapa ingkang katampen ing tiyang punika prelunipun supados  kanggeya mitulungi tuwin angladosi dhateng tiyang sanes.

BAGIAN 3
BAB KAWONTENANIPUN GUSTI ALLAH

Teosofi angginem kawontenanipun Gusti Allah, tuwin bab anggenipun manungsa macung manggepokan kaliyan Gusti Allah, amulangaken bilih kawontenanipun Gusti Allah punika amung satunggal, inggih punika nyawanipun sadaya ingkang sipat gesang, amulangaken bilih gesanging Pangeran ingkang amung satunggal, padameling Pangeran punika satunggal, wonten kakuwatan satunggal ingkang angebeki ing sangalam donya, amulangaken bilih ing pundi-pundi ya panggenan ingkang kening kaambah ing manungsa, ing ngriku ugi wonten gesangipun Gusti Allah, gesangipun Gusti Allah punika dumunung wonten ing sadengah panggenan ing pundi anggenipun sawarnining kewan saged angraosaken utawi anggenipun manungsa amanah, makaten ugi ing ngalaming bongsa pelikan tuwin ing ngalaming bongsa tutuwuhan, ing ngriku gesanging Pangeran amitulungi, angupakara tuwin ambebranahaken dhateng samukawis, cekakipun ing sangalam donya sadaya boten wonten gesang sajawining gesangipun Gusti Allah.

BAB RUMAOS SATUNGGAL

Kawontenan satunggal punika dumunung dados dhadhasaripun samukawis ingkang kasumerepan ing manungsa, mila teosofi amiwiti mulangaken bilih dhadhasaripun sadaya titah punika amung satunggal, amulangaken angger-angger bab panunggiling kawontenan, bab kawontenan satunggal ingkang anglimputi ing pundi-pundi, panunggal punika tuwuhipun sangking Gusti Allah, inggih punika tukipun sadaya rumaos, menggah kaindhakaning rumaos salebeting manungsa tuwin thukuling budinipun, sadaya punika wiwinihipun wonten ing Gusti Allah.

Sadaya rumaos ingkang mindhak-mindhak alusipun ngantos dados garjita utawi grahita, punika tuwuhipun sangking tuk satunggal utawi wiwinih satunggal, sadaya rumaos punika amung satunggal, rumaos satunggal wau boten kenging kapisahaken sangking sanesipun, sarta boten kenging sakathahing manungsa sami kapisah-pisah kados anggadhahi adeg pyambak-pyambak, manungsa punika pinangkanipun nunggil sami sapancer, dene anggenipun manungsa sami anggadhahi rumaos punika pinangkanipun sangking gesang satunggal, inggih manungsa sadaya punika kawedhari kawontenanipun Pangeran, inggih panunggilipun rumaos wau babaripun angger-anggeri panunggal ingkang angreh ing sapramudita.

BAB KAKUWATAN UTAWI DAYA SATUNGGAL

 Boten ngemungaken sadaya rumaos punika satunggal, ananging sadaya kakuwatan ugi amung satunggal, satunggal-tunggaling kakuwatan punika tuwuhipun saking tuk satunggal bab punika kawruh kagunan cocog kaliyan teosofi, ing donya punika amung wonten pakarti ageng satunggal, sadaya wujuding pakarti tuwin kakuwatan ingkang sami kula sumerepi punika dhadhasaripun satunggal, pakarti kenging kalintu dados kakuwatan, kakuwatan kalinthu dados pakarti, sadaya wujuding pakarti ignkang kasinau para marsudi kagunan, tuwin sadaya kakuwatan ingkang katingal wonten ing sakukuban kita, sanadyan ing kawontenan ing ngalaming bongsa papelikan dalah sawaninipun ingkang katingal lan sapanyawa, utawi ingkang wonten ing ngalaming tutuwuhan sanadyan wonten ing khewan utawi ing manusa, sakathahing kakuwatan wau dhasaripun satunggal, amung kawdharipun tuwin patraping gumelaripun ingkang beda-beda, manawi kapariksa kaliyan titi kayektosan sadaya wau amung satunggal.

BAB BONGSA WADHAG INGKANG AMUNG SATUNGGAL

Menggah ingkang kawastanan bongsa wadhag utawi jasmani, punika pikajengipun sawarnaning maujud ingkang kenging kagrayang tuwin tiningal lan sarana panca driya, kadosta, siti, toya, latu, lebu sapanunggilanipun. Sadaya punika yen ing tembung Walandi kawastanan setof (stof). Dene setof utawi bongsa wadhag wau sanadyan wujudipun beda-beda ananging kawontenanipun ugi amung satunggal, inggih punika badho (bakal) ingkang kangge andamel sawarninipun anangsir, samukawis ingkang katingal ing sakukuban kita, kadosta, bongsa atos, bongsa cuwer, bongsa asep tuwin akasa, sadaya punika dhadhasaripun tunggil amung beda-beda wiwijanganing bageyanipun. Ing sangalam donya punika kawontenanipun amung nyatunggal-nyatunggal, rumaos satunggal, gesang satunggal, bongsa wadhag satunggal, inggih tiga-tiganing ngatunggil punika gumelaring kawontenanipun Pangeran. Sadaya punika pinangkanipun sangking gesang satunggal inggih gesangipun Gusti Allah.

BAGIAN 4
BAB SADHEREKAN

Sarehning bongsa wadhag wau amung satunggal, kakuwatan amung satunggal, tuwin rumaos amung satunggal, ila sawarninipun ingkang sipat gesang punika dados pasadherekan satunggal, sadaya wau kadamel sangking badhe satunggal sami kadunungan kakuwatan satunggal, sadaya sami majeng utawi mindhak-mindhak rumaosipun ingkang anunggil.

Ing sangalam donya punika dados sagotra ageng ing ngriku sawarnining titah sami beda-beda kaindhakanipun. Ananing sadaya punika sami gandheng dados satunggal karana jasmaninipun, kakuwatanipun tuwin rumaosipun ingkang anunggal menggah mangertosipun sagotra punika alajeripun ugi wonten satunggiling dhadhasar ingkang anglimputi ing pundi-pundi, dene teosofi amulangaken bilih manungsa punika dados sabageyanipun gesang ingkang nunggil, boten kenging amerekaken dhateng tiyang sanes.

Manungsa punika kesah dados sagolongan angkasa misahe sadaya kesah dados sagolongan ingkang sami majengipun, kedah sami golong kaniyatanipun dhateng sadaya ingkang dipunangkah. Dene wontenipun manahku mere tuwin sasatron. Ingkang leresipun pancen kedah tulung-tinulung tuwin kakadangan. Punika kabeta sangking boten sumerepi pundhaking kawontenaning pangeran tuwin kawontenaning manungsa.

BAB PASADHEREKAN KABETA SANGKING JASMANINIPUN.

Satunggal-tunggaling tiyang anguwalaken sabageyan alit sangking badanipun tuwin anampeni sabageyan alit ing salebeting badanipun ingkang kauwalaken dening tiyang sanes, menggah kalampahanipun ingkang makaten wau samongsa wonten tiyang sawatawis sami jajagongan, ing ngriku boten kendhat sami alintu jasmani (stof deeltjes) ingkang alit sanget. Dados ingkang makaten punika angwontenaken pasadherekan ing ngantaraning kabeta sangking jasmaninipun. Sarehning manungsa sami alilintonan sabageyan alit sangking jasadipun, amila purun boten puruna kula sadaya sami dados sadherek miturut kawontenanipun badan.

Amargi saking punika kula sadaya sami boten kendhat sawab sinawaban tanpa kasedyakaken, sanadyan anyawab awon utawi sae, tiyang saras amenjaraken kasarasanipun ing pundi ingkang dipunpurugi, tiyang sakit anularaken sasakitipun ing pundi-pundiya ingkang dipun dhatengi.

Linta-lintunipun tuwin tumimbalipun jasmani wau ingkang anggandheng dhateng kula sadaya, ingkang andadosaken sabab, bilih kawilujenganing badanipun sasami kula manungsa punika prelu tumrapipun kula sadaya.

BAB PASADHEREKAN ING NGATASING RAOSIPUN MANAH

 Ananging boten ngemungangaken pasadherekan ing ngatasing badan kemawon ingkang anggandheng dhateng kula sadaya, ugi taksih wonten [h. 50] pasadherekan ing batasing raosipun manah tuwin karaosing badan. Sadaya manungsa punika sami sawab-sinawaban ing batasing raosipun manah tuwin karaosing badan. Punapa ingkang karaos ing satunggiling tiyang, ugi tumanduk dhateng ing sanes, ing ngawang-ngawang punika kaebekan getering akasa (ether) dumadi sangking pangretos hawa napsunipun manungsa, amargi saking punika manungsa sami sawab-sinawaban amargi sami boten rumaos.

Manawi ing pajagongan wonten tiyang ingkang awon watekanipun, pambegan awon wau sumebar dhateng ing sanes. Makaten ugi manawi salebeting griya wonten tiyang ingkang brangasan, punika inggih anuwuhaken pamuring-muring sanget utawi sawatawis dhateng sadengah ingkang wonten ing ngriku.

Wonten ingkang atutunggilan kaliyan sawenehing tiyang karaos tentrem tuwin jenjeming manahipun, kados gampil tumindakipun samukawis tuwin wonten ingkang katrenjuh tiyang sanes lajeng karaos giris miris, sarta samukawis saking pamanggihipun ribet tuwin angel menggah ingkang jalari mekaten punika amargi saking raosing manah, mila kalampahan makaten awit manungsa jawi anggadhahi badan kasar utawi jasmani ugi anggadhahi badan rohani, inggih punika badan kadadosan saking jasad, ingkang alus ingkang karaosan sanget kahaman geter ingkang alus.

BAB PASADHEREKAN ING NGATASIPUN PAMIKIR

Wonten malih patreping pasadherekan sanesipun, inggih punika ing batasipun budi, manawi tiyang amikir, pikiranipun wau anyawabi dhateng engetanipun tiyang sanes ing sakiwa tengenipun, badaning manungsa ingkang langkung alus, ingkang anggeteraken badanipun tiyang sanes, ingkang sami alusipun, asring kemawon wonten tiyang ingkang wicanten punapa-punapa, lajeng dipunwangsuli tiyang sanes makaten. Lo aku kok iya beneri gagas iku. Menggah ingkang makaten punika temahanipun tumanduking pikiran wau.

BAGIAN 5
BAB PIWULANG TEOSOFI

Tembung teosofi punika aslinipun saking tembung Grik, teyos, Gusthi Allah, kaliyan sofiyah, kawicaksanan, dados tegesipun teosofi kawicaksananing Pangeran, pikajengipun kawicaksananing para jawata, para nabi sapanunggilipun ingkang sami asarira Batara, ing tembung Sansekrita winastan brama widya.

Titimangsanipun wonten nama teosofi kala ing salebeting taun, tigang ngatus kapetang saking wiyosipun kanjeng Nabi Ngisa, dene ingkang ngawiti ngangge nama wau satunggiling guru Amoniyus, sakas kaliyan para muridipun, ingkang kanamakaken neyoplatonisten.

Teosofi punika agami kawicaksanan ingkang sampun kina-kumina, inggih piwulang amung tumrap dhateng para linangkung, ingkang sampun kasumerepan ing satunggil-tunggiling nagari kala kina ingkang titiyangipun [h.52] sampun saged-saged, inggih ngelmi kasuksman ingkang sampurna, inggih punika tuking sakathahipun agami.

Teosofi punika kenging kaanggep agami, ingkang tumidak saleresipun, inggih agami ngiras kawignyan, inggih agami ingkang boten murih supados manusa angajeng-ajeng kamulyaning gesangipun ing tembe, wonten ing sadhéngah panggenan, ananging kadados sampun kenging kanyatahaken ing salebeting badan punika wonten ing bumi ngriki, sarana ambu kang warananipun sarana angelih kaengetanipun timbal tumimbal saking satunggiling alam dhateng alam sanesipun, ngantos dumugi ing ngalamipun para guru ageng.

Menggah sedyanipun teosofi punika, angrungukaken sadaya agami tuwin sawarnaning bongsa mawi pathokaning piwulang kasusilak ingkang sami, angwawaton kajaten ingkang langgeng, teosofi sumedya anedahaken, inggih sakathahipun agami punika rembesan sangking kawruhipun para sujanma utawi ingkang sami golong apa wong mitra, ingkang samangke taksih sami dados juru panuntuning manungsa.

BAB WONTENIPUN PATHOKANING PIWULANG AGENG

Para teyosup sami amastani, bilih wonten pathokaning piwulang ingkang wiyar, tuwin pathokaning kawruh kasampurnan, kawignyan tuwin akasa ingkang dados watonipun samukawis, tuwin amot samukawis, ingkang kanyatahan wonten ing ngelmi kasampurnan kawignyan tuwin agami ing jaman kina tuwin samangke.

Salugunipun piwulang wau kathah iribipun dhateng ngelmi kasampurnan tuwin dhateng kawignyan tinimbang dhateng agami, awit dene piwulang ingkang amerdi supados tiyang anganggep mawi anggantungi hukuman naraka utawi sanesipun dhateng sinten ingkang boten purun nganggep, kados dene tindakipun sawarnaning agami.

Inggih leres pathokaning piwulang wau kenging kaanggep agami ingkang winastan agami punika tegesipun kawengku ning ngagesang dhateng cipta ingkang mulya. Ananging piwulangipun kedha kenging kanyatakaken, boten amung misesa, manawi tiyang nyujani utawi mungkiri dhateng agami lajeng kawastanan anyenyerongi kasuciyan, sadhengah tiyang ingkang angudi boten badhe maiben bilih kala kina wonten pathokaning piwulang kang luhung ingkang turun tumurun dumugi samangke.

Pangajekanipun kanjeng Nabi ngIsa dhateng sakabatipun makaten: kowe iku wus padha kaparingan sumurup marang wawadining karatoning Allah, dene wong kang ana ing jaba, kabeh padha kudu ginawekake pasemon (anggitanipun markus bab kaping 4 ayat ii).

Karsanipun kanjeng Nabi ngIsa ngandika makaten punika aparing pitedah bilih manungsa punika sami kawenangaken nyumerepi wawadosipun dumadosing jagad (karatoning Allah) anggenipun purun kangge lan angudi dhateng wawados wau, ananging tiyang ingkang kathah-kathah ingkang taksih tidha-tidha ing budi, punika anggenipun kaparingan kawruh kalayan pasemon, supados sami pirsa dhateng Gusthi Allah, tuwin karsanipun.

Teosofi ingkang wenang angebeki dhateng kawicaksanan winados, bilih pathokaning piwulang linuhung wau, dene anggenipun teosofi anggadhahi raja brana ingkang linangkung punika, mawi winewahan kalayan angsal-angsal ning titi pariksanipun para waskitha, tuwin para wicaksan, kayekten saking pinten-pinten pratondha ingkang boten kenging dipunabeni, dene kawicaksanan wau samangke tuwin kala kinanipun dumunung wonten pakempalaning pasadherekan ingkang warganipun samangke taksih misugeng, inggih punika ingkang sinebut para adhep, para adat, para Nabi, tuwin para mahatma, ingkang kaindhakaning rohipun sampun dumunung ing tataring kang luhur angungkuli tiyang ingkang kathah-kathah, menggah temenipun ingkang makaten wau kenging kanyatakaken

BAB WONTENIPUN KAMULAN INGKANG LANGGENG

Teosofi amedharaken kawontenanipun ajal kamulaning dhadhasar ingkang langgeng, ingkang amung kasumerepan saking wedharan tuwin wiwijangipun, boten wonten tembung ingkang kenging kangge nyariyosaken ajar kamulan wau, awit tembung wau amung kadamel ambedak-bedakaken, ing mongka kamulan punika kawontenan sadaya, kula matur bibisik ingkang winastan ajal kamulan wau inggih punika kang maha yekti kang tanpa pungkasan, kang tan kenging kapaiben, ananging tembung punika boten anggadhahi teges ingkang sayektos, para wicaksana amastani sat, tegesipun ana, punika boten pisan wujud utawi dede kahanan, amung manawi sampun wiwit gumelar punika tiyang saged anyebut punapa-punapa kalayan tembung ananging babaripun ingkang gumelar wau mratandhanipun ingkang boten gumelar, dene ingkang gumelar punika boten langgeng, kenging sirna, mila kedah wonten ingkang lastantun langgeng.

Menggah wontenipun ingkang langgeng punika kedah kaanggep, sabab manawi boten makaten sangking pundi tuwuhipun kawontenan ing sangalam donya punika. Saestunipun sadaya wau amot dat, ingkang minongka isenipun wijining sakathahipun dumados, tuwin isenipun sakathahing daya utawi kakuwatan.

Miturut piwulang teosofi sajagad pramudita punika gumelaring sat ingkang wawadana, paribasanipun tiyang tanah Hindu makaten: wonten kala mangsanipun nyambut damel, tuwin mangsanipun kendet, mongsanipun gumelar tuwin mongsanipun kukut, mongsa wedalipun tuwin lebetipun napas ageng, sadaya punika ajeg gilir gumantos.

BAB KAINDHAKAN UTAWI KAMAJENGAN

Amung teosofi piyambak ingkang saged sanjang saking pundi pinangkanipun manusa, punapa preluning gesangipun dhateng ing pundi purugipun, teosofi amulang dhateng kita supados aningalan manahipun piyambak, inggih punika ingkang saged ngicalaken sakathahing pamrih dhateng kacekapipun pyambak, anedahaken sapinten genging tagelanipun manusa ing ngatasing engetanipun, wicantenipun tuwin padamelanipun saha angosikaken panggrahitanipun dhateng kawajiban ingkang leres.

Teosofi boten angawisi tiyang angudi tuwin atataken, dene manawi sepen wangsulan, punika sampun kagalih badhe boten purun nyukani wangsulan, ananging rehning kula dereng saged mangretos badhe wangsulanipun, mila bok manawi badhe lepat sanganggenipun.

Para tiyang ingkang sampun angsal katerangan pyambak angrumiyini para sadherekipun, punika boten kacegah, awit anggenipun angsal katrangan wau saking purunipun angudi, sangking anggenipun purun anempuh dhateng rekaos pinten-pinten, sinten ingkang betah sumengka ngantos saged dumugi pucuk, punika boten wonten tiyang ingkang saged meksakaken mandhap malih, dados kaindhakan utawi kamajengan punika anggeri ngagesang.

Wonten pinten-pinten suksma, manusa sajati utawi jiwa ingkang rikat majengipun, inggih punika para tiyang kang remen damel kasaenan, para guru tuwin para guru ageng.

Sadaya manusa wewenangipun sami, sami wenang angudi kaindhakan, sarta kedah nanggel dhateng engetan tuwin padamelanipun pyambak, dene teosofi ingkang murih sampurnanipun, sarta anedahaken margi supados saged dipun kalampahan pamurihipun wau.

Piwulang teosofi kathah ingkang sulaya kalayan seserepanipun agami ing jaman samangke, ananging teosofi boten sumedya nyirnakaken agami, sayektosipun boten wonten tiyang ingkang kapurih bucal ingkang lami, saderengipun aniti pariksa ingkang enggal sarta winagih langkung prayogi.

Sarehning teosofi punika amot gumelenging gesangipun manusa ngiras minongka pathokaning ngelmi kasampurnan tuwin kawignyan, mila sangking wiyaripun teosofi wau ngantos tiyang ingkang sumedya anggarap, saged dipun amung nyariyosaken gumelaripun ingkang jawi piyambak, menggah ingkang kawulangaken teosofi kados ing ngandhap punika:

  1. Bab gumelaring jagad.
  2. Bab manusa miwah gadhanganipun.
  3. Bab wajib ingkang kedah linampahan manusa.

BAB GUMELARING JAGAD

Panganggepipun teosofi gumelaring jagad punika sangking lebet wedaling napasipun gesang langgeng.

Sadaya kodrat punika kawistara wonten ebah ingkang ajeg, manawi kula nyatitekaken sawarnining kumelip ingkang wujudipun asor, mangandhap ngantos dumugi kewan, alit-alit ingkang kengingipun dipun tingali amung sarana mikroskup, manawi kewan alit wau kula waspaosaken, ing ngriku badhe saged pirsa ebahipun lebet wedaling napas ingkang ajeg, ingkang dados peranganipun wujud ingkang asor wau, ing sangalam donya punika tiyang saged nyatitekaken ebah ingkang ajeg, ing pundi-pundi ya panggenan tiyang pirsa ebah minggah, mandhap, melar tuwin mingkup pasang tuwin surud, ing mangke teosofi amulangaken bilih keketeg ingkang ajeg, ingkang geter wonten ing bageyan ingkang alit-alit, punika ugi kumejot ing jagad rat gumeleng dados satunggal.

Sadaya ingkang sipat gesang wau boten kenging kanamakaken gesang ageng ingkang langgeng awit satunggal-tunggaling gesang punika amung babaripun gesang langgeng, dene gesang langgeng inggih punika kawetahipun sadaya, tuwin malih gesang wau boten kenging kawastanan budi, awit budi punika amung sajejering gesang, dene gesang langgeng inggih punika wujudipun sadaya.

Tiyang amung saged anyidhem dhateng kawontenanipun ingkang boten kenging dipun jajagi wau, sarta amung kedah nungkul salebeting batos, awit sinten ingkang ngangkah medharaken bab punika sae satu tanpa tuwas.

Dados gesang langgeng ingkang kawedharipun salah satunggal ambabaraken dados gesang kita, punika ingkang anuwuhaken jagad.

Wonten jejering kawontenan pipitu, ingkang ing jawi awarni roh suci, ing lebet awarni jasmani kang resik, dene sadaya jinis tuwin maujud ingkang kadunungan gesang punika sami sumarambah ing saantawisipun roh kaliyan jasmani wau, satunggal-tunggaling badan kangge tumrap ing wawengkonipun dianggenipun gesang.

Ing sadaya kodrat ingkang gumelar punika wonten wicalan mitu-mitu, kadosta warnaning cahya wonten pitu, larasing gongsa wonten pitu, tuwin sanes-sanesipun.

BAB ALAMING KODRAT

Manawi tiyang sampun kalampahan anyakep jejering engetan kados makaten wau, saestu badhe saya langkung terang seserepanipun dhateng ing ngatasing panyipta bab sawarnining maujud ingkang sami gesang wonten ing ngalamipun pyambak-pyambak, ingkang jumbuh kaliyan kawontenaning jagadipun, makaten ugi badhe saged sinau nyumerepi kawontenan ingkang beda kaliyan kawontenan ing donya punika, tuwin badhe saged anyipta. Bilih satunggal-tuggaling tataranipun kawontenan punika pancen tumrap dhateng sakukubenging wawengkonipun, sarta satunggal-tunggaling maujud, punika sami anggadhahi rumaos ingkang prayogi tumrap ing kawontenan ingkang dipun dunungi. Punapa malih kula sadaya badhe mangretos bilih wonten maujud sanes-sanesipun, ingkang sami gesang wonten ing ngalam sanesipun ngalam donya punika, kados dene manusa ingkang sami gesang wonten ing donya punika tuwin malih tiyang badhe terang sumerepipun, sabab punapa bongsa alus ingkang langkung saking manungsa wau teka inggih boten longka kawontenanipun, uwit ing ngatasipun bongsa alus wau sadaya-sadaya punika. Sami nyata kados dene gesang kita tumrapipun ingkang kita, ananging wonten ing ngalam sanes, sarta sampun minggah, dumugi ing tataran sanes.

Dados jagad punika kenging kawastanan satunggaling gesang ageng, ingkang sumarambah ing tataring kaindhakan pipitu.

BAB CALON UTAWI KAMULANING MANUSA

Manusa punika gambaring jagad ingkang kaalitaken, dados sanyataning wujud ingkang mindhak-mindhak sampurnanipun, punika kacetha wonten salebeting guwa garbanipun piyambak, manusa wau ugi kados dene jagad sami sap pitu, satunggal-tunggaling cacalon utawi kamulaning jagad.

Kamulaning manungsa ingkang ongka pitu inggih ingkang luhur pyambak, punika kenging keupamakaken paletiking cahyanipun roh kang amung, inggih punika sanyataning gesangipun jagad, ingkang dumunung ing manusa, upami gesangipun roh kang agung wau latu, paletiking latu wau ingkang mrangangah salebeting manungsa, inggih punika kaketegipun gesang langgeng.

Rohing manungsa punika tumpakaning roh kang agung wau, saha gandheng kaliyan paletikinh latu kang langgeng tuwin kaliyan budi luhur ingkang dumunung ing manungsa, ngempalipun dados trimurti, inggih manusa sajati ingkang langgeng boten pejah-pejah.

Dene dumunungipun manusa sajati wonten ing badan jasmani, utawi kewani, punika babaripun kamulaning rangkep sakawan, kempalipun badan kewani kaliyan manusa sajati, inggih punika kadadosanipun manusa.

Menggah gesangipun manusa wonten ing bumi punika, prelunipun boten liya supados ngangkah angindhakaken sampunipun tuwin nyumerepi kamulanipun titiga ingkang winastan manas luhur, utawi trimurti, dene kamulanipun ingkang sakawan, inggih punika manas asor, ingkang kagolong dhateng bumi, kedah kinawonaken sarta kawisesa, dados indhaking kasampurnanipun manusa sajati punika kagumantung wonten tiyangpun pyambak.

Manawi manungsa saged ngalih sangking alam ingkang dipundunungidhateng ala ongka gangsal, inggih punika panggenan anggenipun roh anyambut damel wonten salebeting wawengkonipun pyambak tuwin gesang angangge gesangipun pyambak, saestu badhe karao, bilih punapa ingkang ing bumi ngriki kawastanan alus, ing ngriku kawastanan wadhag, sabab wadhag utawi kasaripun ing ngriku boten sami kaliyan kasaripun ing ngriki, sarta punapa ingkang saged katingal tuwin kamirengaken tuwin karnanipun badan wadhag.

Manawi manusa sampun nyatakaken kawontenan salebeting wawengkonipun engetan sarta roh sapisan kemawon, sanadyan beda sanget kaliyan punapa ingkang sampun dipun sumerepi ing salebeting wawengkon gesangipun padatan ing bumi ngriki, saestu gagadhanganing manusa badhe kabuka sanyatanipun, gagadhangan wau katingal langkung mulya tinimbang kaliyan ingkang sampun kasebut ing tembang kidungipun para juru ngarang, tuwin langkung luhur tinimbang kaliyan ingkang sampun kapirsanan para Nabi.@@

Manawi manusa sampun saged ngawonaken dhirinipun pribadi sayekti dados ratuning kodrat, sami kaliyan Pangeranipun ingkang wonten ing suwarga.

BAB MANJALMA

Tiyang boten saged gayuh kasampurnan amung salebeting gesangipun sapisan wonten ing ngalam donya, nglengkara kasampurnan kenging ginayuh saumuring tiyang, amurih saged dipun sampurna kedah pinten-pinten rambahan anggening tumitah, dene gesangipun wonten ing bumi boten saweg sapisan punika, ananging sampun boten kantetan laminipun anggening marsudi kawignyan kala gesangipun rumiyin, menggah kasagedan ingkang sampun kadarbe, tuwin kalangkungan ingkang sampun karenggem, punapa malih daya ingkang sampun dadosaken kasenenganipun, punika kenging kaupamekaken boyongan anggenipun angsal-angsal sangking ungguling yudanipun, sadaya punika kenging kangge nitik kados pundi lalampahanipun kala rumiyin, dados boten amung sapisan, punika anggening gesang wonten ing donya, ananging sampun rambah-rambah, saben-saben tumitah angudi kawruh malih, upami kapemutan wonten ing serat, lalampahan ing gesangipun wau kados anyerat wewahing cariyos wonten ing buku wau, ingkang wasananipun badhe saged amaos piyambak.

BAB KARMA

 Ingkang punika mila manusa kalairaken malih, sarujuk kaliyan ingkang sampun kalampahan, inggih punika temahaning padamelanipun pyambak, dados kita pyambak ingkang andhapur kawontenan kita samangke punika.

Menggah angger-angger makaten wau winastan angger-angger ingkang sumarambah ing ngakathah ingkang anjumbuhaken pagesanganipun satunggal-tunggaling manungsa kalayan angsal-angsalipun kala gesangipun rumiyin, satunggal-tunggaling manungsa kalairaken malih, kados kawontenanipun ingkang sampun kasadhiyakaken pyambak.

BAB LABUH

Sadaya manusa sami kadunungan wajib kedah tulung tinulung amurih dumugi ing kasampurnan, boten wonten tiyang ingkang saged dedel piyambak, makaten ugi munduripun tiyang satunggal, punika andamel munduripun ingkang taksih kantun boten wonten tiyang saged begja sayektos, manawi taksih wonten tiyang satunggal ingkang nandha sasara. Boten wonten tiyang saged angsal kawilujengan saking pangangkahipun pyambak, manawi sadherekipun sasamining manusa boten tumut angsal kanugrahan wau, pramila bebahan padamelan kita inggih punika angrampungaken kuwajibanipun sadaya tiyang bab ing ngatasing kabetahanipun sadaya sarta jalaran saking anindakaken tuwin anglampahi dhateng kuwajiban wau saestu kula sadaya badhe pinareng anunggil kaliyan gesang kang luhur.

BAB PASADHEREKAN

Kita kedah tansah angengeti, bilih kula sadaya punika dados sagolonganing pasadherekan, kula kedah sampun amung manah dhateng badan piyambak, punapa ingkang dipuntampeni kaanggeya kawilujenganipun ing sanes, supados sadherek kula sasamining manusa tumut angraosaken panggesangan sami kaliyan kula, kita kedah ngangge kawruh kita kadamel mulang ingkang sami dereng mangretos.

Kedaha suka pangajaran ingkang prayogi, kangge mitulungi tiyang ingkang taksih kacingkrangan pangajaran, supados para sadherek kita saged mindhak kasampurnanipun, supados saged sami kaliyan kita, bilih sadaya punika sampun kalampahan, punika saweg badhe dumugi ing mongsa anggen kita anggepok dhadhasaring gesang enggal, tuwin anggeni kita malebet ing alam enggal, ananing sadaya punika kalampahanipun sasarengan.

BAB PARA GURU

 Para sujanma ingkang wonten ing ngajeng kedah angentosi ingkang taksih kantun, sarta punapa boten sampun tetela, bilih para sujanma ingkang wonten ing ngajeng kedah anglampahi sakathahing rekaos amulang dhateng ingkang taksih kantun, supados saged enggal mindhak sampurnanipun tuwin para sadherek wau tumunten malebet dhateng panggesangne enggal, ingkang ginadhangaken dhateng manungsa sasampuning gesangipun samarke punika.

Ing wasana kula sadaya badhe sami sasarengan menek ing andhaning manungsa, ingkang sukunipun umum pangwonten ing endhutaning gesang kewani, dene untuning ondha ingkang nginggil piyambak silem ing salebeting cahyanipun gesang langgeng, samangke kula sadaya sampun sami manjik ing ondha wau, ananging sami boten saged anglajengaken menek, manawi kula boten saged ambeta sadherek kula sarta angangge kakuwatan daya kula kadamel mitulungi kahapesanipun, tuwin kadamel nyanton sakhaken kawintenipun sadherek kula wau.

BAB TEOSOFI

Miturut intgkang kasebut ing nginggil wau, dados kados punapa kemawon rikatipun anggening nindakaken pathokan ingkang ageng punika, ewa samanten ijeng ngandika kedah angyektosan bilih teosofi punika amot piwulang ingkang sakelangkung kathah, mila ingkang sami sinau urup sanget kangelan kaliyan pituwasipun.

Teosofi punika boten ngamungaken agami thok, kawruh kasampurnan thok, utawi kawignyan thok, ananging katiga pisan punika kempalipun dados teosofi.

Boten wonten agami ingkang sanyata, manawi boten mantala dipunleler sarana pamariksanipun kawignyan tuwin kasampurnan tuwin boten saged anedahaken margi ingkang leres, ingkang nguntapaken manusa dhateng kamulyan ingkang linuhung.@@

Ngantos dumugi samangke anggenipun tiyang angsal agami punika sampun tumimbal saking tiyang sanes, liripun anggening tampi wau saben-saben amung sangking mireng sanjangipun tiyang saged ngupados paseksening kajaten ingkang kawedharaken dening agami.

Tiyang saged angsal teosofi utawi agami kawicaksanan sangking tukipun, amargi ingkang sami marentah para linangkung, liripun makaten, kajatenipun teosofi punika kenging kaleler saking titipariksanipun ingkang sami nyepeng marentah piyambak.

Menggah saged dipun tiyang angsal kajaten ingkang kawulangaken dening agami punika manawi sampun pejah, dene kajaten ingkang kacariyosaken dening teosofi tiyang saged angsal salebeting gesangipun punika, sok angger ajeng sarta purun anyatakaken.

Sakathah-kathahipun teosofi punika langkung luhur tinimbang agami, sabab agami anggantungaken ingkang dereng tinamtu, dereng nate wonten tiyang ingkang sampun nyumerepi tuwin anggelaraken ingkang ginantungaken agami, dene teosofi kados limrahipun kawruh ingkang nyata, upami kawedala wicantenipun makaten: manawi sampeyan kapengin badhe sumerep punapa-punapa, sangkign kula suwawi, sok angger sampeyan purun prekaos.

Piwulang teosofi punika celak kaliyan kawignyan, sinten ingkang remen kawignyan saged ngindhakaken seserepanipun sangking marsudi kawruh teosofi dene kawontenanipun agami samangke amung anggelaraken piwulang ingkang sulaya kaliyan titi pariksanipun tiyang alikasagedan, sampun leres kemawon tiyang ingkang saged anedha tondha yektinipun agami, awit pakenipun agami amung kawurih ngandel thok, mila tumrapipun tiyang ingkang sampun alus budinipun tetela bilih agami punika dereng nyekapi, sarta boten saged amarnekaken tondha kayektosanipun.

Sakathahing agami punika sajatosipun sami piwulang, ingkang kawarahaken dhateng manusa kala kina, nalikanipun manusa dereng kathah kasagedanipun, dados kala samanten para tiyang prasasat taksih lare, ananging sareng samangke sampun diwasa, ingkang sampun mindhak budinipun lajeng nedha tondha yektinipun kajaten ingkang katampen kala taksih lare, punika nalaripun anggening agami boten saged adamel leganipun tiyang, ing mongka tiyang tansah ngudi dhateng kajaten sabab wonten osiking manahipun ingkang asanjang bilih piyambakipun saged asal ingkang langkung prayogi, osiking manah makaten punika ingkang tansah ngajak angudi dhateng kekeran.

Pramila ing mangke inggih teosofi punika ingkang minongka tondha yekti kajatenipun sakathahing agami, dados inggih agami ingkang tumrap dhateng tiyang sepuh, ingkang ali kasagedan.

Sarehning kala rumiyin anggening mulangaken agami dhateng tiyang ingkang taksih lare kadhapur cariyos pasemon, parentah tuwin awisan, mila samangke anggenipun nyariyosaken dhateng tiyang ingkang sampun mateng kadhapur kasagedan utawi kagunan.@@

Kala rumiyin nalika budinipun manusa taksih dereng sampurna kangge nyumerepi kajaten ingkang sanyata, sumerepipun kajaten ingkang dumunung ing agami saweg ules utawi blebedipun kemawon, samangke teosofi ingkang mudhari blebedipun kajaten, supados katingala dening manusa, manusa pinten kemawonipun ana-anaken kengising kajaten.

Manawi panyinaonipun agami katindakaken dening teosofi, punika badhe adamel karaos tuwin pirsanipun manusa dhateng kajatenipun agami, sabab teosofi punika awaton pathokning kawignyan tuwin waton kajaten.

Pasemon, upami tuwin sanepa ingkang minongka pangekeripun kajaten punika teosofi ingkang badhe anelakaken tuwin anggenahaken.

Sanadyan agami ngelmi kasampurnan tuwin kagunan punika upami lare sami anunggil embok, aluran sangking pancen satunggal, ewa samanten aktingalipun sami boten cocog, dene anggenipun katingal sami boten cocog, punika amargi tiyang sami boten pirsa sambetanipun.

Amung teosofi pyambak ingkang saged ngempalaken mailh perang-perangan wau, sabab teosofi punika embok ingkang nglairaken anak titiga wau, mila amung panggulang tuwin titi pariksanipun teosofi ingkang sah, ingkang badhe anetepaken sanyatanipun ingkang kasebut ing nginggil wau.

Sinten ingkang kapengin sumedya angleler kajatenipun teosofi, kedah wekel sanget, anggenipun sinau awit amung sinau ingkang asuka dadamel anggen kita mariksa kaliyan titi.

PRAKAWIS INGKANG KAPING KALIH

MANUNGSA MIWAH SAKALIRINGE BADANIPUN

II. BADAN KASAR UTAWI WADHAG

1. BAB BADANING MANUNGSA KALIYAN BADANIPUN

Kita kedah mangretos sayektos bab bedaning manungsa kliyn badanipun, tiyang punika kulinanipun anyawuhaken pribadinipun kaliyan badanipun, karenanipun anyeguh bilih ingkang dipunwasta aku, punika inggih badanipun pramila prelu ambirat pangagepipun inggih kados makaten wau, sarta amantunan anggenipun anyawuhaken pribadinipun kaliyan urungipun, utawi bedanipun ingkang dipunangge sawatawis dangunipun lajeng kangucal, supados angangge ingkang enggal, manawi pancen taksih prelu angangge badan malih. Kita punika wujudipun ingkang gesang, dene badan punika dhapur utawi wangunipun ingkang dipundunungi.

Sayektosipun manawi kita anyawuhaken roh kaliyan badan kita ingkang amung sakedhap wontenipun, punika kablingeripun sami kaliyan tiyang ingkang anyawuhaken bedanipun kaliyan sandhanganipun, punika boten kawengku dhateng badan, paedah ing badan tumrap ing roh, punika kados dene paedah ing sandhangan tumrap ing badan.

2. SABABIPUN ANYAWUH

Menggah sababipun anyawuh wau, amargi tiyang limrah boten saged [h.70] amisahaken aku, ingkang sajati kaliyan badanipun, ananging amargi saking sinau anggen kita saged amisahaken pribadi kita kaliyan badan, kados dene manawi kula mandhap saking kereta ingkang kula tumpaki inggih punika, manawi wonten ing jawi rumaos kula saya buntas tinimbang kula gumantung ing badan wau, manawi sampun kalmpahan makaten sampun mesthi kula badhe boten kasasar malih, kita punika inggih badan ingkang kita angge, sarta anyamtuni sadaya tindak kita dhateng ing donya, anyengkakaken kita dhateng alam ingkang langkung jenjem ingkang wonten ing sanginggilipun alaming ngagesang, ingkang kenging pejah punika, amernahaken kita wonten sanginggilipun panggenan kangelan remeh-remeh saben dinten, ingkang tingalipun sakelangkung prelu tumrapipun rumaos ingkang winaragan, sarta anedahaken kita bab imbang-imbanganipun badanipun ingkang tansah suntan-santun sarta ingkang lestantun tetep.

3. BAB SAJATINING MANUNGSA

Ingkang pinastan manungsa punika pribadinipun ingkang gesang, ingkang gadhah rumaos sarta saged amikir, inggih wujudipun aku, dene badanipun punika brungkusipun pribadi wau, sarta satunggal-tunggaling brungkus kenging kangge nyambut damel, wonten ing ngalam mriki utawi wonten ingkang kangge ing ngalam sanesipun, liripun supados saged enget utawi rumaos wonten ing satunggal-tunggaling alam, pramila ugi saged amisahaken satunggaling badan kaliyan badan sanesipun.

4. BAB BEDANIPUN SARTA COCOGIPUN SADAYA BADAN

Sakatahing badan punika, beda-beda badhenipun, sarta aben-abenipun mawi-mawi dhasaripun ingkang dipunangge nyolahaken satunggal-tunggaling badan, tuwin mawi-mawi wawengkon panggenanipun anyambut damel, wonten ingkang kasar wonten ingkang alus, wonten ingkang umuripun cekak wonten ingkang panjang, wonten ingkakng dayanipun kirang wonten ingkang langkung, ananging kados wosipun pancen boten langgeng amung dados pirantos, dados rencangipun manungsa, ingkang saged garang sarta kaenggalaken malih mawi-mawi dhadhasaripun, sarta kanyamlengaken kaliyan dayanipun.

5. BADAN PUNIKA PIRANTOSING MANUNGSA

Badan ingkang dipun dunungi gesangipun manungsa tuwin anggenipun nyambut damel punika pirantosing manungsa, sarta manungsa kedah ngrahita bilih wontenipun badan punika kangge tumrap ing manungsa, boten manungsa ingkang kangge ing badan, manungsa punika sanes gadhahipun badan-badan supados kenging dipun angge.

A.  Badan wadhag ing basa sansekrita winastan Anamayakosha (Annamajakasha) ing basa Hindu: setulsarira (stula sharira), ing basa Arab roh jasmani.

6. BAB DHASARING BADAN

Menggah ingkang winastan badan wadhag punika mangertosipun badan kasar sarta lingga sarira, awit kalih pisan punika sami rumagang ing damel wonten ing ngalam kasar aben-abenan saking jasad kasar, kawujudaken kangge salebetipun gesang wonten ing donya punika, manawi pejah badan wau katilar wonten ing ngalam donya, sarta luluh awor kaliyan jasad kasar, dene manungsanipun sajati lajeng dhateng alam astral (astraal geheid) inggih punika alam ingkang langkung alus, manawi manungsa dereng ngambah sajawining alam kasar punika, taksih prelu angangge badan kalih pisan wau, utawi salih satunggal, badan kakalih punika badhenipun saking alam kasar dados boten kenging kangge ngambah sawijining alam wau.

Sanajan badan wau saged pisah sawatawis, ewa dene salebetipun gesang wonten ing bumi angisah-pisah, sarta manawi pisah boten prayogi, punika nandhakaken bilih sakit, manawi sakit rekaos badan kakalih wau sami pisah sawatawis, utawi kacengcengan kados dene prewangan, punapa dene manawi tiyang dipuntilemaken satanginipun lajeng kenging dipuntangled dipunapa-punapa.

7. ABEN-ABENING BADAN

Badan wadhag punika aben-abenan saking jasad kasar pitung warni, kawujud dipunbadan kasar inggih punika saking jasad kasar titiga, kadosta: jasad atos, punika panggenanipun manungsa ingkang kasar pyambak, inggih gumelaripun ing kang asor pyambak, sarta kawedharipun ingkang winangenan sarta boten sampurna, dados manungsa punika kinunjara wonten ing jasad ingkang kasar pyambak.

Menggah dumadosing badan kasar punika sampun kacariyos wonten ing serat-serat, mila sinten ingkang badhe ngawuningani , cekap amaos serat-serat wau kemawon, ing ngriki amung badhe pratelakaken punapa ingkang kacariyosaken dening ngelmi kasampurnan.@@@

Badan wadhag punika dumados saking jasad alit-alit ingkang ing basa Walandi winastan molekule (molecule) kalayan pirantosipun kangge ngraosaken inggih punika ponca driya, pirantosipun kangge ebah, utek sarta bayunipun alit-alit, pirantosipun kangge nindakaken sawarnining padamelan, ingkang prelu kangge widadaning gesangipun.

Tiyang ingkang marsudi kawruh kagunan sampun badhe ngajengi dhateng panampenipun teosofi, bilih dumadosipun manungsa punika sakathahing gesang alit-alit ingkang tanpa wicalan, ananging tiyang ali kawruh kagunan boten purun anglajengaken ngangge kawruh winados, supados saged mesthekaken bilih basaning manungsa badaning khewan sarta tutuwuhan punika dumadosipun saking sakathahing maujud gesang wau, kadosta ingkang winastan bakteri, mikroben eroben, aneroben sarta sanes-sanesipun, ingkang boten saged katingal manawi kapirsanan kaliyan semprong pirantos ngagengaken, kajawi ingkang ageng-ageng, satunggal-tunggaling parincenipun jasad, sanajan winastan mawi utawi boten mawi prabot riricikaning badan, sadaya punika gesang, sadaya gesang wau sami kagolong alaming prana utawi gesang, ananging misah sarta boten kawengku, punika sami ngalempak dados molekul, inggih punika kawarni bunder alit-alit sanget ingkang dados wujudipun rah, tuwin dados selah wadhahing rahipun badan wadhag, salebetipun badan punika gesang, maujud gesang alit-alit wau malebet medal sarta tansah dados lantaraning sambetipun manungsa kaliyan kanan keringipun.

Satunggal-tunggaling atum tuwin molekule ing ngalam punika damelipun inggih amejahi dhateng badan wadhag, dados sadaya maujud alit-alit wau ingkang damel badan wadhag dalasan wadhahing rahipun, kawengku daya panggrahiting prana, salebetipun kaereh maujud alit-alit wau ajeg anggenipun damel badanipun manungsa, manawi gesang wau sampun badhe boten kaerah malih, sarta kakendelaken kemawon anggenipun buyang ing sakajeng-kajengipun pyambak, punika dados daya ingkang nyirnakaken, lajeng ambingrah sel damelanipun pyambak, kados dene ngrandhal ingkang pating blesar, dene badan wadhag lajeng ambar. Badan wau badhe boten gesang malih manawi boten pejah, ananging gesangipun anggening dados satunggal, pejahipun anggening sasarengan, gesang anggening dados undhung-undhungan, pejah anggenipun dipunpraboti, bedanipun badaning manungsa ingkang gesang sarta ingkang pejah punika manawi gesang dayanipun tumanduk sayektos, manawi pejah amung monda-monda, samongsa pejah utawi layap-layap molekulipun nurut pangendeng ingkang luhur, ingkang angukut dhateng molekul wau sarta kasebar wonten ing ngawang-ngawang [h.75] panyebaripun punika andadosaken pejahipun badan wadhag, makaten punika manawi kenging dipunanggep pejah, awit molekulipun badan ingkang pejah ugi anggelaraken dayaning gesang ingkang santer, manawi tiyang pejah, mawitipun badhe boten losoh, sadaya molekule ingkang angwujudaken mayit wau gesang, sami uleng-ulengan anggenipun badhe buyar, ngupados adeging gesang sanesipun.

8. KUWAJIBANING PADAMELANIPUN

Padamelanipun badan wadhag punika supados gepokan kaliyan alam donya, sarta punapa ingkang sampun karaosaken wonten ing donya, punika kalumuntaken dhateng pribadi ingkang manggen wonten ing guwa garbanipun, inggih punika manungsanipun sajati, dados badan punika minongka pirantosipun kawontenan ingkang gadhah rumaos, ingkang manggen wonten ing badan supados geda angsal kawruh wonten ing donya punika, manawi badan saya saged ngraosaken punapa ingkang tumama, punika saya maedahi tumrap manungsa sajati ingkang manggen ing ngriku, amargi manungsa sajati punika saged dipunrumaos amung saking samukawis ingkang saged geteraken badan.

Pakartinipun atma wonten ing badan punika dados kakuwatan wonten ing sel, ingkang prelu tumrap panggesangipun sel wau, tuwan Ekhel bongsa ditse ingkang mangretos dhateng kawruh kodrat anyariosaken mekaten: sel punika sami anggadhahi jiwa, mila mratelakaken makaten, sabab tuwan wau anyumerepi merepi bilih sakathah ing sel punika sami anindakaken padamelan pyambak, boten nyunggil kaliyan pakaryanipun badan sadaya, ananging pakaryaning sel ingkang makaten wau kawngenan amung ingkang maedahi dhateng sel pyambak, padamelanipun sel wau kawengku dhateng kasarasaning badan sakojur, amargi sel wau dados peranganing badan, terkadhang sel punika ngambeng-ambengi paedahipun badan, manut paugeraning padamelanipun pyambak, boten angraosaken dhateng maedahipun badan, mugi angengetan daging awon ingkang dumunung ing tatu.

Badan sakojur punika ugi anggadhahi padamelan pyambak ingkang lampahipun boten mawi kamanah dados kados bekakas, kadosta asta ingkang sampun kasinau nyerat, punika manawi manungsanipun sajati sumedya nyerat, asta wau lajeng tumandang, ananging patrapipun tansah ajeg menggah ewahing patrap dados ajeg punika kedah karep dipunsinau, awit nyerat mawi patrap ingkang temtu punika adamel kulinaning badan lajeng tumandang kados bekakas kalampahaken.

Badan punika gadhah gesang pyambak, ingkang mitulungi utawi panggregang-anggregi pakaryanipun manungsa sajati, ananging manungsa saged anyinau badan supados tansah purun tutulung dhateng manungsa.@@@

Dayaning gesang utawi prana punika anyambut damel wonten ing telenging sungsum ula-ula, sarta minngka kakuwatan ingkang gandhengaken, kados dene ingkang mranata tuwin amisesa dhateng sadaya sel, supados sageda sami sayuk nyambut damel sadaya, sarta andamel manut miturutipun badan, kangge tumpakanipun manungsa sajati, ingkang kedah dipunenut punika ing sapanedhanipun, sarta boten ngemungaken dados paklempakaning perangan ingkang mirungga, ananging gumeleng wetah ingkang sampurna.

9. BAB KARAOS

 Badan wadhag punika tanpa raos, amung tampi kemawon sarta lajeng kalumuntakaken dhateng manungsa sajati sarana lingga sarira, inggih leres badan punika gadhah kraos pyambak, inggih punika raos ingkang rosa, ananging kula sadaya sami boten sumerep, dene manawi badhe nyumerepi badan wau asuka sasmita dhateng manungsa sajati, dados karaos cape badan sakojur sapanunggilanipun, tetelanipun manawi badan punika tanpa raos, manawi manungsa sajati kawedalaken saking badan, sarana dipunsenggruk kloroforem punika bilih tiyangipun kabedhal boten karaos, sel ingkang angwujudaken badan punik gadhah raos pyambak, punapa ingkang sami kula raosaken, punika dede ingkang dipuraosaken sel.

10. BAB JASAD ANTARA INGKANG WINASTA CAKRAM

Ing badan wadhag punika wonten jasad antara pipitu ingkang winastan cakram utawi teleng, liripun wonten badhe pipitu ignkang kangge wedharaken badan sanes-sanesipun sarana badan wadhag, amargi cakram wau saged karaos tampi getering badan sanes-sanesipun, dados lajeng saged malebet, kadosta: badan engetan saged dipun kawedar amung sarana utek, awit utek punika cakramipun badan engetan rah cakramipun badan astral, sarta manawi badan wau geter lampahipun rah laejng rikat, anjalari ngrikataken keketeging manah, mila manawi kawedal hawa napsunipun utawi pakaremanipun tab-tabaning manah sanget.

11. BAB KAENGETAN UTAWI RAOS (bewustzijn)

Ing ngriki pikajengipun ingkang winastan kaengetan wau inggih punika kawontenan ingkang kangge enget, utawi rumaos ingkang nyumerepi salebeting alam wadhag tuwin alam ingkang langkung alus, kadosta: alam supena sapanunggilipun tembungipun Walandi winastan bewusein (bewustzijn), menggah tembung bewusein wau salajengipun amurih ringkes amung kawastanan kaengetan.

Utek punika pirantosing kaengetan salebeting badan wadhag, dayanipun kirang saking dayaning badan sanes-sanesipun, ananging padamelanipun wonten ing ngalam wadhag, punik langkung ageng, sarta pirsanipun tiyang bilih pribadinipun punika manungsa sajati, amung wonten salebeting badan wadhag, awit badan sanes-sanesipun dereng sampurna, kangge enget saged anyolahaken wonten ing badan wadhag.@@@

Bayu inggih punika urat alit-alit ingkang ansalap ing saranduning badan, tembungipun Walandi winastan seniyusetelsel (zenuwstelsel) wujudipun ombyokan kados dening lawe satungkel, ing mangke tungkelaning bayu wau kaperang dados kalih bageyan, A) tungkelaning bayu ingkang boten kenging kaereh, ing sakajengipun tiyang limrah, kenging ugi kaereh sawatawis, ananging sarana tansah dipunsinau, kados patrapipun pakir bongsa Hindu. B) tungkelaning bayu ingkang kenging kaereh dhateng manungsa, sadaya lampahing badan ingkang sampun kodrat, punika jalaran saking pakartining bayu ingkang kasebut rumiyin wau, kadosta: lampahing pangejuranipun tatedhan, keketeg lampahing napas sapanunggilipun, dene saged dipun manungsa amikir, angraosaken anyolahaken badan, punika jalaran saking pakartining bayu ingkang kasebut ing aksara B) wau, inggih punika jalaranipun manungsa saged anglairaken pikajengipun tuwin kaengetanipun, sarta kenging dipunwastani manawi tungkelanipun bayu wau dumunung wonten ing utek, tiyang boten saged andamel punapa-punapa wonten ing ngalam wadhag, manawi boten saking utekipun.

Kaengetan ingkang nyambut damel wonten ing badan wadhag, punika boten saged oncat saking watesipun, ingkang kenging kasumerepan sarana ponca driyanipun ingkang kasar, sarta kawengku wawaton paugeraning papan tuwin wanci, liripun kawengku ing papan wau upaminipun makaten, kula boten pirsa dhateng samukawis, ingkang boten katingal saking papan panggenan kula samangke, dene kawengku wanci wau makaten, wanci punika gerbanipun amung tiga, rumiyin, sapunika, benjing, kula boten enget dahteng lalampahan saderengipun kula tumitah wonten donya samangke punika tuwin bwnten pirsa dhateng lalampahan ing tembe, amargi kula taksih karaos wonten rumiyin, sapunika tuwin benjing punapa malih manawi tungkelanipun wau boten tata, punika kaengetan boten saged kalair mawi lekas ingkang tata.

Dados anggenipun manungsa anglairaken kaengetanipun wonten ing ngalam kasar punika kawangenan dening dayaning pirantosipun ingkang kasar.

Salebetipun tilem, manawi kamulaning manungsa malelep utawi silep, punika badan wadhag ugi anggadhahi rumaos utawi kaengetan pyambak ingkang boten patos cetha, ananging kaengetanipun wau pisah kaliyan kaengetanipun manungsa sajati, sarta pisah kaliyan kaengetan selipun ingkang angundhung-undhung, padamelanipun katingal amung kados pirantos utawi bekakas kemawon, sakathah ing geter adat boten gendheng, kothong jatining suraos, sarta wosuh, katingalipun kados boten saged grahita kajawi amung akondha titingalan ingkang katindakaken dening manungsa sajati, pramila manawi kapanduking raos saking nglebet utawi saking jawi sanalika lajeng acakra bawa.

Punapa malih energing engetan dhateng satunggaling panggenan, punika kados dene angelih engetanipun dhateng panggenan wau, upaminipun anggagas dhateng nagari cina, sakeclapan puniika kados ngalih sayektos dhateng nagari wau, sarta tiyangipun lajeng supena wonten ing nagari cina.

Menggah kaengetan utek kasar punika amung sumerep, boten amanah utawi angraosaken sarta sadayaning engetanipun cawuh, kajawi punika remenipun angindakaken utawi anyanget.

 

[NO. 2]
[BUKU KAWRUH KASAMPURNANING NGAURIP]
[KAGUNGANIPUN R.M.NG MANGUNDIREJA ING]
[MANGKUNEGARAN]

 Mungguh kalanggenan laungyaning kang tanpa wangen (awang-uwung), mau ana mongsa lan done siji kang nunggal.

Saiki aku aweh weruh, ngelmu nyawa (zielkunde) dadine padha lan ngelmu etung ukur kang dhuwur (wiskunde) kang iku cipta kita ing ngatasi jagad iki, kudu amek waton saking cecek tengah siji, saking cecek iku thukuling kabeh sumorot marang saubenge, nuli katon nyata marng kita.

Mungguh cipta mangkono iku katetepake nyatane dening cihna saking pamejanging barang-barang. Sabab kang nyata mungguhing darah (atoom) temtu iya nyata ing ngatase jagad kabeh, awit sakabeh angger wewatoning donya iku padha wiwitane, kayata: ing jagad iki ana srengenge kang dadi puser ubenge sakabeh bumi (planeet) dene kang diarani taun iku ora liya mung mongsa ubenge bumi nganti kempute, mongsa iku padha ajine ing ngatasing bumi siji lan liyane, sabab dumadine saking ubeng tumaruntun angliwati don titik kang padha, ananging yen taune bumi kita iki, katimbang lan taune bumi liya-liyane adoh sungsate, amarga don bumi (sijarah planeet) bumi iku beda-beda doh cedhake saking cecek kang kiniteran.@@@

Dene kang prelu dieling-elingi wong mangkene, saya adoh wong (barang) iku saking wiwinih kang ana ing tengah, saya bawur lan kurang susurupane marang wiwinih mau kaya dening bumi, (sijarah planeet) kang adoh-adoh done iku mung monda-monda bae olehe sorot saking srengenge, mangkono uga manungsa kang isih sajroning wadhage sumurupe marang kanyatahan, kaya weruh wawayangan lan bawur, awit adoh ungyane saking wiwinih ing kanyatan sajati.

Yen wus terang susurupanmu mungguh ing mongsa lan don kang kasebut mau bok manawa luwih gampang kowe pada ngerti ing dumadining titah kabeh kang bakal dak pratelakake sarana amek aluran saking titikaning jasad sawiji, iki kang gampang sarta becik dhewe, awit prakara kang dak gunem bab kanyataan kang tunggal, iya iku pangrasa kang thukul dhewe.

Ananging poma – kowe kudu padha duweya cipta – yen dumadining titah temen tanpa purwa wasana, lumintu genti-genti, jagad kita iki uga ora kajabakake ing angger wawatone, sadurunge jagad iki ana, biyen wus ana, kang nganakake, lan jagad anyar iku maneh dadi winih ing jagad maneh, mangkono sabanjure ngambah jagad langgeng loro, iya iku biyen lan besuk, prakara iku kanyatahane ora kena ginayuh ing wong kaya aku, ananging kang wus dhuwur kawruhe, nagnti ora kena kinira bisa anggunem bab iku, awit wus terang ing kanyatahane, dene paseksene iku katetepake dening uger papathokane solan-salining barang, kang dak nyatakake mau, kabeh kang katon, kaereng ing uger solan-salin mau, apata jagad dhewe nyele metu kadi uger pathokan iku (arak mokal).

Dumadining jagad kang tanpa mendha mangkono iku ing tembung Sansekrita kaaranan “kalpa” tegese pa cipta, pamilih ing tembung mathuk banget, awit satemene jagad iku ciptaning Gusthi.

Mara saiki padha aniti pariksa dumadining titah, lan upamakna jagad wus gumelar, yen wus tuutg ing mangsane “meneng”, uwite leren enggone mikir wujude angen-angen, dayaning pamikir genti, pipisahan, wekasan jagade buyar, ing tembung Sansekrita kobasakake Brahmasare, sasuwene sare, sare kapati iku kabeh sidhem, tentrem, ora ana sawiji-wijiya kang ana kabeh peteng nganti mongsa wungune Brahma.@@@

Mungguh “uwit” arupa loro, kapisan, Brahman (iku nyelo = ora lanang ora wadon) iku kahanan sampurna, tanpa tandhing, tanpa watek, tanpa kanthi, tanpa ana tandhane kang katon, yen sasanggitan lan jagad gumelar.

Kapindho, Brahma (lanang) iya iku uwit kang salugu, kang nganakake jagad kabeh, dadi sasanggitan lan jagad, Brahman iku kang tan kena ginunem, tan kena winirasa, Brahma iku Gusthi, iya iku wit tunggal lan winih pratama, dadi panjenengane dudu kahanan kang nyelo, awit kang mratama, mratelakake pangkat urutan mau.

Kasampurnan iku dadi tanpa sasebutan, manawa bongsa guru Hindu kajalukan katrangane bab iku, mesthi wangsulane kasampurna ora kena tinerangake, awit loka ginayuh ing wong kang wus sidik.

Wawaton mangkono ing ngatasing Brahman nuwuhake ciptaning sawenehing bongsa kulit putih, yen Brahman iku ora bisa jumeneng awit tanpa watek pisisijiya, ananging bongsa tasawuf, Hindu, malah ora bakal ngarani yen kang sampurna iku duweya watek ora ana, mung sidhem iku ku tetep aran kang sampurna, mulane kalawan anjabakake kang sampurna, mara saiki padha amiwiti anggunem wit kang pratama, iya iku Brahma, kang wungune saking sare, anggelar sarupane kang ana.

Iki urut-urutane wejangan mau:

BRAHMAN

1.   Brahma, Gusthi, uger utawa kang ana, “sat” kang sunyata.
2.   Awidya, kang ora ana, kang ora nyata.
3.   Mahatma, pangandika, uwiting cipta (pangandika kang katelu).

Dene Brahman kapetung ing urutan ngarep dhewe, mulane mangkono awit tan kena kagunem, nuli Brahma, kang sunyata, utawa “sat” uwit kang pratama kang nganakake sarupaning kang kumelip kabeh, prayoga wong tansah eling, yen brahman lan brahma iku rupa loro, nanging wujud siji, ing antarane iku tanpa ana bedane babar pisan, kaya upamane. @@@