alangalangkumitir

Javanese Manuscripts

SERAT PADHALANGAN RINGGIT PURWA III


SERAT PADHALANGAN
RINGGIT PURWA
III

Oleh
K.G.P.A.A. Mangkunagara VII

Alih aksara dan ringkasan oleh :
Mulyono Sastronaryatmo

Diterbikan kembali seijin PN Balai Pustaka
BP No. 443b
Hak Pengarang dilindungi Undang-Undang

KATA PENGANTAR 

Bahagialah kita, bangsa Indonesia, bahwa hampir di setiap daerah di seluruh tanah-air hingga kini masih tersimpan karya-karya sastra lama, yang pada hakekatnya adalah cagar budaya nasional kita. Kesemuanya itu merupakan tuangan pengalaman jiwa bangsa yang dapat dijadikan sumber penelitian bagi pembinaan dan pengembangan kebudayaan dan ilmu di segala bidang.

Karya sastra lama akan dapat memberikan khazanah ilmu pengetahuan yang beraneka macam ragamnya. Dan penggalian karya sastra lama, yang tersebar di daerah-daerah ini, akan menghasilkan ciri-ciri khas kebudayaan daerah, yang meliputi pula pandangan hidup serta landasan falsafah yang mulia dan tinggi nilainya. Modal semacam itu, yang tersimpan dalam karya-karya sastra daerah, akhirnya akan dapat juga menunjang kekayaan sastra Indonesia pada umumnya.

Pemeliharaan, pembinaan dan penggalian sastra daerah jelas akan besar sekali bantuannya dalam usaha kita untuk membina kebudayaan nasional pada umumnya, dan pengarahan pendidikan pada khususnya.

Saling pengertian antar daerah, yang sangat besar artinya bagi pemeliharaan kerukunan hidup antar suku dan agama, akan dapat tercipta pula, bila sastra-sastra daerah, yang termuat dalam karyakarya sastra lama itu, diterjemahkan atau diungkapkan dalam bahasa Indonesia. Dalam taraf pembangunan bangsa dewasa ini manusia-manusia Indonesia sungguh memerlukan sekali warisan rohaniah yang terkandung dalam sastra-sastra daerah tersebut. Kita yakin bahwa segala sesuatunya yang dapat tergali dari dalamnya tidak hanya akan berguna bagi daerah yang bersangkutan saja, melainkan juga akan dapat bermanfaat bagi seluruh bangsa Indonesia, bahkan lebih dari itu, ia akan dapat menjelma menjadi

sumbangan yang khas sifatnya bagi pengembangan sastra dunia. Sejalan dan seirama dengan pertimbangan tersebut di atas kami sajikan pada kesempatan ini suatu karya sastra Daerah Jawa yang berasal dari Balai Pustaka, dengan harapan semoga dapat menjadi pengisi dan pelengkap dalam usaha menciptakan minat baca dan apresiasi masyarakat kita terhadap karya sastra, yang masih dirasa sangat terbatas.

Jakarta, 1978

Proyek Penerbitan
Buku Bacaan dan Sastra
Indonesia dan Daerah

 

RINGKASAN
JAMAN PANDHAWA

 

  1. SANG HYANG WISNU MEMPERSUNTING DEWI PRATIWI 

Dewi Pratiwi, puteri sang hyang Wikrama dari kahyangan Ekapratala, bersedia dipersunting oleh sang hyang Wisnu, jika dapat menyerahkan bunga Jayakusuma, demikianlah sang hyang Narada melaporkannya ke hadapan sang hyang Pramesthigurudi kahyangan Jonggringsalaka.

Untuk mendapatkan bunga Jayakusuma, sang hyang Wisnu dipaksa untuk mengawini terlebih dahulu Endhang Sumarsi, puteri bagawan Kesawasidi dari wukir Argajati.

Prabu Wisnudewa, dari kerajaan Garbapitu, merasa akan dapat mempersunting Dewi Pratiwi, setelah merasa memiliki cangkok bunga Jayakusuma yang terdapat pada leher banteng-nya, demikianlah sang prabu segera berangkat dengan wadya-bala ke Ekapratala untuk melamar Dewi Pratiwi.

Dengan disaksikan para dewa, sang hyang Wisnu yang datang terlebih dahulu dengan menyerahkan bunga Jayakusuma, dipertemukan dengan Dewi Pratiwi di kahyangan Ekapratala.

Tak lama kemudian, prabu Wisnudewa datang dengan menyerahkan cangkok bunga Jayakusuma yang terdapat pada leher bantengnya. Sang hyang Wisnu yang mengetahuinya, segera mengambil cangkok bunga Jayakusuma pada leher banteng, dibunuhlah banteng oleh sang hyang Wisnu. Terjadilah peperangan antara sang hyang Wisnu dan prabu Wisnudewa, matilah sang prabu oleh sang hyang Wisnu, setelah kematiannya, badan banteng dan prabu Wisnudewa menyatukan dengan sang hyang Wisnu.

  1. BREMANA BREMANI

Atas sabda sang hyang Girinata, sang hyang Brama diperintahkan hendaknya mengawinkan puteranya dengan puteri sang hyang Wisnu dari kahyangan Untarasagara, yang bernama Dewi Sriunon.

Setelah mencari sang hyang Wisnu, sang hyang Brama bertemu dengan puteranya, yang sulung bernama Bambang Bremana menolak untuk dijodohkan dengan Dewi Sriunon, kepada adiknya Bambang Bremani diseyogyakan dapat dipertemukan saja dengan Dewi Sriunon, terlaksanalah Dewi Sriunon dipersunting oleh Bambang Bremani.

Bambang Bremana dikerajaannya Gilingwesi, menerima adiknya Bambang Bremani dan isterinya Dewi Sriunon, jatuh cintalah Bambang Bremana kepada Dewi Sriunon.

Selang beberapa lama, Dewi Sriunon dengan membawa puteranya dan Bambang Bremani menghadap ayahandanya di kahyangan Untarasagara, kepada puteranya oleh sang hyang Wisnu diberi nama Bambang Parikenan. Akhirnya Bambang Bremani menyerahkan putera dan isterinya Dewi Sriunon kepada ayahandanya sang hyang Wisnu, dengan permohonan kepada kakaknya Bambang Bremana hendaknya Dewi Sriunon dapat dijodohkan. Setelah Bambang Bremana menghadap, dikawinkanlah dengan Dewi Sriunon.

Prabu Kalayuwana yang sejak semula menaruh hati pada Dewi Sriunon merasa tersinggung lamarannya ditolak, dengan mengerahkan segenap prajurit yaksa berangkatlah ke kahyangan Untarasagara untuk berperang. Prabu Kalayuwana mati oleh Bambang Bremana, demikian pula semua prajurit dari kerajaan Mendhanggili dapat ditumpas.

  1. RESI MANUMAYASA MEMPERSUNTING DEWI RETNAWATI

Sang hyang Girinata, berkehendak akan menjodohkan bidadari Dewi Retnawati dan resi Manumayasa, Dewi Kanastri dan janggan Semarasanta. Menyadari bahwasanya resi Manumayasa belum berkeinginan akan kawin, kedua bidadari diganti perwujudannya dengan bentuk dua ekor harimau, kepada sang hyang Narada diserahkanlah agar segala kehendak sang hyang Girinata terlaksana.

Di tengah hutan belantara, resi Manumayasa dan janggan Semarasanta, yang tengah berkelana, bertemu dengan kedua harimau jadian tersebut, akhirnya harimau dapat dibunuh, sehilangnya kedua harimau, tampak kedua didadari tersebut, resi Manumayasa mengejarnya. Sang hyang Narada yang merasa berhasil dalam mempertemukan resi Manumayasa dan Dewi Retnawati, janggan Semarasanta dan Dewi Kanastri, segera mendekati sang resi, seraya berkata, “hai, resi Manumayasa, dan kau janggan Semarasanta, sudah takdir dewa, bahwasanya bidadari-bidadari, Dewi Retnawati menjadi jodoh Manumayasa, dan Dewi Kanastri dengan Semarasanta, terimalah”.

Pada suatu hari Dewi Retnawati mengajak suaminya resi Manumayasa, untuk berkelana mengelilingi wukir Retawa, di tengah-tengah hutan belantara, sang dewi melihat buah Sumarwana, berkeinginan sekali untuk memakannya, kepada sang resi dimintanya memetik.

Syahdan, buah Sumarwana itu milik gandarwa Satrutapa, sesuai dengan sabda dewa yang diterimanya, “hai, Satrutapa, jika isterimu menginginkan mempunyai anak, makanlah buah Sumarwana itu”, maka ditungguilah buah Sumarwana itu sampai saat dapat dipetik dan dimakan.

Mengetahui bahwasanya buah Sumarwana telah hilang, berkatalah gandarwa Satrutapa kepada resi Manumayasa, “hai, sang resi, jika kelak isterimu melahirkan anak lelaki, namailah Sakutrem”,hilanglah gandarwa Satrutapa, bersatu jiwa dengan Dewi Retnawati.

Datanglah kemudian prabu Karumba, raja buta dari Pringgadani dengan segenap prajuritnya, untuk menggempur wukir Saptaarga, dan menawan resi Manumayasa, sesuai dengan perintah pamandanya raja Basumurti, dari Wirata, yang diperkirakan akan memberontak terhadap kerajaan pamandanya. Prabu Karumba mati oleh resi Manumayasa, demikian pula semua prajuritnya tewas. 

  1. BAMBANG S KALINGGA (SAKUTREM) 

Kahyangan Jonggringsalaka, terancam ketentramannya oleh prabu Kalimantara, raja dari nagara Nusantara yang menginginkan mempersunting Dewi Supraba. Adik prabu Kalimantara, yang bernama raden Hardhadhedhali, dan patih nagara yang bernama Sarotama, dengan para prajuritnya mengepung kahyangan sang hyang Girinata.

Bambang Kalingga (Sakutrem), putera resi Manumayasa dari wukir Saptaarga ditunjuk oleh sang hyang Guru, untuk menanggulangi musuh, akan tetapi Bambang Kalingga kalah dalam peperangan. Disertai oleh ayahnya, berangkatlah Bambang Kalingga kembali ke kahyangan Jonggringsalaka. Prabu Kalimantara dapat dibunuh oleh resi Manumayasa, berubah wujudnya menjadi pustaka Kalimasada, raden Hardhadhedhali tewas berubah wujudnya menjadi panah, demikian pula patih Sarotama, mati juga berubah menjadi panah. Syahdan, ada seekor garudha, namanya Banarata, bertapa di awan menginginkan untuk menjadi raja segala burung, ditemuilah oleh sang hyang Narada, dan dimintalah bantuannya untuk memerangi musuh kahyangan, yalah prabu Kalimantara.

Dikarenakan salah paham, resi Manumayasa yang telah membunuh prabu Kalimantara. diserang dari angkasa, akhirnya garudha Banarata ditewaskan juga, berubah ujudnya menjadi payung Tunggulnaga.

Oleh sang hyang Girinata, Bambang Kalingga diberi panah Hardhadhedhali dan Sarotama, kelak dikemudian hari, pada keturunannya juga akan diberikan pusaka-pusaka lagi.

  1. JAMURDIPA (SAKUTREM MEMPERSUNTING DEWI NILAWATI) 

Jamurdipa. 

Syahdan raja Wiratha, prabu Basumurti berkehendak berburu binatang dan burung, terlaksanalah sudah banyak hatsil perburuhannya, atas kehendak raja, diperintahkanlah kepada patih Wiratha, Jatidhendha, untuk mengadakan sedekah uang kepada orangorang di pedesaan.

Seorang cantrik, bernama Janaloka sedang tekun menunggu pohon (kayu) Sriputa, tak tergoyahlah hatinya untuk mengumpulkan uang sedekah raja yang berserakan di sekitarnya. Raja Basumurti segera mengutus adiknya, yang bernama raden arya Basukesthi, untuk menanyainya, berkatalah, “Hai, Janaloka, apa sebab kamu tak sudi mengumpulkan uang sedekah raja?”. Dijawabnya, “Raden, takut hamba akan singit dan wingit”, raden arya Basukesthi melanjutkan pertanyaannya, “Apa, yang kaumaksud dengan kata-katamu itu?”. Janaloka menerangkannya, “Wahai, raden arya Basukesthi, hamba takut akan singitnya kayu Sriputa dan wingitnya sang raja”, segera raden arya Basukesthi menebang kayu Sriputa, Janaloka segera berucap, “Ketahuilah raden, setelah tertebang kayu Sriputa, wajah raden kelihatan sangat bercahaya, sesungguhnyalah singit dan wingit sudah ada pada raden arya Basukesthi”. Kepada Janaloka, dipesan, “Kelak, jika aku menjadi raja, Janaloka, datanglah menghadap kepadaku”.

Segera setelah prabu Basumurti (Basurata) kembali ke istana, mangkatlah beliau, adik raja, raden arya Basukesthi dinobatkan sebagai penggantinya, dengan sebutan prabu Basukesthi raja Wiratha. Janaloka memenuhi pesan raden arya Basukesthi, oleh sang prabu Wiratha, diangkatlah sebagai warga istana, dengan gelar arya Janaloka.

Kepada segenap empu dan pandai besi istana Wiratha, sang raja menginginkan dibuatnya macam ragam alat-alat bunyi-bunyian kelengkapan perang, yaitu: gurnang, thong-thong grit, gubar, puk-sur, teteg, gendhang, bendhe, gong dan beri. Patih Jatidhendhaberdatang sembah, melaporkan muksanya resi Brahmana Kestu, pula diceritakannya tampak sekarang ditempat kediaman Brahmakestu suatu keelokan, adanya Jamurdipa yang tumbuh. Sang raja segera berkenan menyaksikannya, Jamurdipa yang bercahaya bagaikan meraih angkasa segera hilang, tampak oleh sang raja cahaya pula yang terang benderang yang beralih diwajah sripaduka Basukesthi.

Raja Wiratha, Basukesthi merasa dirinya sangat waskitha dalam segala hai lagipula sangat arif dan bijaksana.

Sakutrem mempersunting Dewi Nilawati. 

Di pertapaan Saptaarga, dengan dihadap oleh puthut Supalawa (kera putih), sang resi Manumayasa menerima kehadiran puteranya, Bambang Sakutrem. Berkatalah Sakutrem, “Ayah, sepeninggal ananda dari wukir Retawu, dihutan telah ananda bunuh sepasang raksasa, bernama Haswana dan Haswati, di perjalanan dari hutan Silu, menuju wukir Retawu ananda bertemu dengan seekor naga, kami tewaskan pula. Hilangnya naga, tampak oleh ananda adanya bidadari, ananda kejar, tetapi ananda akirnya tak dapat menemukan kemana perginya”. Sang resi Manumayasa

merasa bahwa puteranya Bambang Sakutrem telah jatuh cinta pada wanita, tak lama hyang Narada berkenan berdatang dipertapaan Saptaarga, berkatalah, “Hai, resi Manumayasa, ketahuilah olehmu, sesungguhnya wanita yang tampak oleh anakmu itu, adalah bidadari, yang berasal dari naga yang dibunuh oleh Sakutrem, carilah wanita itu, di wukir Pujangkara, dia bernama Dewi Nilawati, sabda dewa. Nilawati akan menjadi jodohmu, Sakutrem cucuku, sebaiknyalah kau pergi kegunung Pujangkara, Nilawati mengadakan sayembara, kepada siapa yang dapat

meneguk air di kendi Pratola yang dihadapnya, dialah yang akan menjadi suaminya”, Berangkatlah Bambang Sakutrem ke wukir Pujangkara, untuk memasuki sayembara yang diadakan Dewi Nilawati.

Syahdan, bagawan Dwapara bersama-sama kemenakannya prabu Drumanasa, raja Madhendha, juga berangkat ke gunung Pujangkara, untuk memasuki sayembara.

Bagawan Dwapara memulai meneguk isi kendhi Pratola, mundurlah sang begawan dikarenakan isi kendhi Pratola dirasa sangat panasnya, bergantian dengan prabu Drumanasa, juga tak tahan akan isi kendhi Pratola.

Bambang Sakutrem segera meneguk isi kendhi Pratola, dihabiskannya seluruh isi kendhi tersebut, Dewi Nilawati menyerahkan diri kepada Bambang Sakutrem sebagai pemenang sayembara, diajaklah sang dewi ke pertapaan Saptaarga. Sekembalinya dari gunung Pujangkara, sang begawan merasa malu hatinya, dan berketetapan akan merebut Dewi Nilawati ke pertapaan Saptaarga. Berangkatlah sang begawan diiring oleh sang prabu Drumanasa dan segenap prajuritnya dari Badhendha. Perang terjadi di gunung Retawu, puthut Supalawa dan Bambang Sakutrem dapat menewaskan musuh-musuhnya. 

———————————————————– 

PADHALANGAN RINGGIT PURWA III  

JAMANIPUN PANDHAWA

 

  1. LAMPAHAN SANG HYANG WISNU KRAMA
  1. Jejer ing Jonggringsalaka, sang hyang Pramesthiguru, miyos siniwi ing para jawata, mungging bale Marcukundha, ingkang mungging ngarsa: sang hyang Narada, sang hyang Bayu, sang hyang Brama, sang hyang Patuk, sang hyang Temboro, sang hyang Panyarikan, ingkang rinembag, sang hyang Pramesthiguru dhawuh dhateng resi Narada kinen hanyengker yoganira bathara Ekawarna, kekasih Dewi Pratiwi, ing kahyangan Ekapratala. Sesampunira dhinawuhan, resi Narada mijil ing njawi, sang hyang Pramesthiguru jengkar.
  1. Madeg ing gupit Natyamalaya, dayinta Dewi Uma, pinarak ingadhep para waranggana, kasaru rawuhira sang hyang Girinata, ingkang kinarya imbal wacana, denira miyos amancaniti. Tan dangu lajeng manjing sanggar Asmaratantra, melingaken kadang catur warna, awarni ditya : 1 Kalakresna, 2 Kalaseta, 3 Kalarekta, 4 Kalapita, lajeng dhinawuhan angrencana sang hyang Wisnu.
  1. Madeg ing pangurakan sang hyang Narada, sang hyang Brama, sang hyang Patuk, sang hyang Temboro, sang hyang Panyarikan, sang hyang Bayu. Rembag anggenira arsa tindak ing kahyangan Ekapratala. Sasampuning siyaga bidhalan kanthi prajurit dorandara.
  1. Madeg ing njawi kahyangan Ekacakra, dutanira prabu Wisnudewa, ing Garbapitu, patih Baudhendha, tuwin para punggawa ditya, arsa ngrabasertg kahyangan, kasaru dhatenging para jawata, prang. Wadya ing Garbapitu kasor, larud sami angungsi papan.
  1. Madeg ing Untarasagara, sang hyang Wisnu. Dhatengira kyai lurah Semar, Nalagareng, Petruk, sang hyang Wisnu lajeng aleledhang parepat tiga andherek.
  1. Madeg samadyaning wana, para danawa dutanira sang hyang Girinata: Kalakresna, Kalaseta, Kalarekta, Kalapita. Rembag, arsa ngrencana sang hyang Wisnu, lajeng bidhal, kepapag sang hyang Wisnu, arsa narajang purun, dadya prang, ditya sirna sadaya, sang hyang Wisnu lajeng lampahira.
  1. Madeg ing kahyangan Ekapratala, sang hyang Ekawarna, dhatengira para jawata dinuta sang hyang Pramesthiguru, mundhut Dewi Pratiwi. Sang hyang Ekawarna matur, bilih kang putra Dewi Pratiwi njuwun sekar Jayakusuma, para jawata sami wangsul.
  1. Madeg ing wukir Argajati, bagawan Kesawasidi, punika kacariyos gadhah sekar Jayakusuma. Sang bagawan nuju mungging pacrabakan, ginubel ing sutanira estri Endhang Sumarsi, matur ingkang rama, bilih ing dalu supena dhaup kaliyan sang hyang Wisnu. Sang pandhita lajeng sagah amadosi, pangkat, lampahira dumugi ing wana, kapanggih sang hyang Wisnu kaliyan parepatira titiga. Sasampuning sinambrama,” sang bagawan nandukaken sedyanipun, sang hyang Wisnu tan arsa, sulayaning rembag, dadya prang, sang hyang Wisnu kenging cinepeng, binekta dhateng pratapanira, parepat tiga anut ing lampah. Sang Hyang Sigeg ing pratapa Argajati, dhatengira bagawan Kesawasidi, kocapa ing pagedhongan, kang putra Endhang Sumarsi kadhaupaken kaliyan bathara Wisnu. Sampun watawis dangunira sang hyang Wisnu waleh kang dadya sedya, arsa dhumateng ing kahyangan Ekapratala, nglamar Dewi Pratiwi, mangka kedah mawi sarana panyuwunira sekar Jayakusuma. Sang hyang Wisnu pamit rinilan, binektanan sekar Jayakusuma, kang garwa tinilar.
  1. Madeg ing Garbapitu, sang prabu Wisnudewa, tuwin ingkang rayi raden Wisnungkara. Srinata kagungan kalangenan bantheng langking saged tata jalma, punika gadhah cangkoking sekar Jayakusuma, mungging gulunira, srinata angajeng-ajeng dhatenge caraka. Tan dangu patih Baudhendha prapta, matur sasolahing dinuta. Sang nata panudyeng karsa, rumaos sampun andarbeni ingkang dadya papanggilira Dewi Pratiwi, saksana lajeng bidhal sawadyaning dhateng ing kahyangan Ekapratala.
  1. Madeg ing Jonggringsalaka, sang hyang Girinata, dhatengira sang hyang Narada tuwin para jawata, matur sasolahing dinuta. Sang hyang Girinata sampun uninga lalampahanira, lajeng dhawuh, sang hyang Narada kinen wangsul dhateng kahyangan Ekapratala, sang hyang Wisnu kinen handhaupaken kaliyan Dewi Pratiwi. Sang hyang Narada pangkat kanthi para jawata.
  1. Madeg ing Ekapratala, sang hyang Ekawarna, rawuhira sang hyang Narada tuwin para jawata sadaya, handhawuhaken timbalanira sang hyang Pramesthiguru, bilih Dewi Pratiwi kinen handhaupaken kaliyan sang hyang Wisnu. Aturira sang bagawan sandika. Tan dangu dhatengira sang hyang Wisnu ngaturaken sekar Jayakusuma sarta nyuwun kadhaupna kaliyan Dewi Pratiwi, lajeng kadhaupaken, panganten manjing kahyangan, kasaru dhatengira prabu Wisnudewa, nyuwun Dewi Pratiwi, ngaturaken cangkoking Jayakusuma, mungging telaking bantheng, tinampen. Bantheng pinurih manjing kadhaton, sang hyang Wisnu priksa, bantheng cinandhak rinogoh telakira, kenging cangkoking Jaya Bantheng pejah, kuwanda sirna, manjing dhateng sang hyang Wisnu. Hyang Wisnu lajeng medal ing njawi, prang kaliyan prabu Wisnudewa. Prabu Wisnudewa kenging jinemparing pejah, kuwanda manjing sang hyang Wisnu, raden Wisnungkara sawadya sami soroh amuk, pinapag sang hyang Bayu, sirna sadaya, lajeng kalempakan para jawata, bojana andrawina. Tanceb kayon.
  1. LAMPAHAN BREMANA BREMANI
  1. Jejer sang hyang Girinata (sang hyang Guru), miyos ingadhep para jawata, kang mungging ngarsa resi Narada, bathara Brama, bathara Bayu, sang hyang Panyarikan, ginem, sang hyang Guru dhawuh dhateng sang hyang Brama, ngandikakaken bebesanan kaliyan kang rayi sang hyang Wisnu, sang hyang Brama matur sandika, lajeng pamit dhateng Untarasagara, sang hyang Narada ngetutaken.
  1. Madeg ing kadhaton, Dewi Uma ingadhep para widadari. Rawuhipun sang hyang Girinata, ngandika kawontenanira amancaniti, lajeng bibaran.
  1. Madeg paseban bale Marcukundha, sang hyang Brama, sang hyang Narada, sang hyang Patuk, sang hyang Temboro, rembag arsa ngiring lampahira sang hyang Brama dhateng Untarasagara. Lajeng bidhal.
  1. Madeg prabu Kalayuwana, nata danawa Mendhanggili, miyos tinangkil wadya ditya, kang munggeng agarsa patih Kalapulastha, punggawa Kalapalasiya. Sang nata gandrung kasmaran putri Untarasagara, putranira sang hyang Wisnu, kakasih Dewi Srihadi. Kalapalasiya kautus pangkat, nglamar dhateng Untarasagara, ambekta wadya ditya. Lajeng bidhal.
  1. Madeg ing Untarasagara, sang hyang Wisnu kaadhep Bambang Srigati. Rawuhira kang raka bathara Brama, tuwin sang hyang Narada, ngemban timbulanira sang hyang Guru, kadhawuhaken sang hyang Wisnu, bilih kadhawuhan bebesanan kaliyan ingkang raka sang hyang Brama. Aturira sang hyang Wisnu, ingkang putra kadhawuhan nimbali. Sang hyang Brama mangkat nimbali ingkang putra. Kasaru gegering njawi, wonten danawa dhateng ambekta gelar sapapan, Bambang Srigati kinen mapag gya medal, dumugi ing njawi prang, Srigati barisira kalindhih, lajeng mangsuli manis, supados mundura danawa wau. Danawa kandheg masanggrahan, Bambang Srigati wangsul sowan kang rama.
  1. Madeg ing wukir Saptaarga, Bambang Bremani kaliyan parepat tiga: lurah Semar, Nalagareng, Petruk, rembag, arsa sowan kang reka Bambang Bremana, kang dhedhepok ing Gilingwesi. Lajeng pangkat kadherekaken parepat tiga. Lampahira dumugi ing margi kapapag wadya ditya ing Mendhanggili, ingkang sami anjagi ing kahyangan Untarasagara. Sulayaning rembag dados prang. Punggawa ditya kathah ingkang pejah. Kang alit lumajeng sar-saran, Bambang Bremani lajeng lampahipun.
  1. Madeg ing nagari Gilingwesi, Bambang Bremana. Rawuhipun ingkang rama sang hyang Brama. Bambang Bremana tinari rabi, angsal nak-ndherekipun piyambak, putranipun sang L/ang Wisnu, nama Dewi Sriunon, Bambang Bremana matur lenggana, dereng arsa nglampahi palakrama, aluwung ingkang rayi kemawon ketantuna. Dereng dangu dhatengipun Bambang Bremani, lajeng ngaras padane ingkang rama sang hyang Brama. Ing ngriku tinari, purun, Bambang Bremani lajeng kabekta ingkang rama sang hyang Brama dhateng Untarasagara.
  1. Madeg ing Untarasagara, hyang Wisnu lenggah kaliyan sang hyang Narada. Boten dangu praptanira Bambang Srigati, atur priksa tiwasing karya, boten saged mangsulaken danawa kang badhe minggah kahyangan, Bambang Srigati sawadyanira kasor, mila lajeng tutup seketheng lajeng oncat, boten dangu praptanira sang hyang Brama tuwin putra Bambang Bremani. Anyariyosaken Bambang Bremana lenggana, Bambang Bremani ingkang kasuwunaken jodho Dewi Sriunon, hyang Wisnu inggih sampun amarengaken sarta lajeng mratelakaken karibedanipun, Dewi Sriunon dipun lamar raja ditya ing Mendhanggili, prabu Pulagra, dutanipun taksih kandhag ngentosi wangsulan sajawining kahyangan Untarasagara, Mila sageda Bambang Bremani ngunduraken, Bremani matur sandika, lajeng bidhal.
  1. Barisanipun danawa saking Mendhanggili, patih ditya nama Pulastha, punggawa Kalasrana, Palasiya, rembagan ngentosi wangsulanira sang hyang Wisnu. Kasaru praptanira ditya alit kang sami kaplajeng, atur pariksa barisan ditya kang iring kilen dhadhal katrajang dewa lumampah nama Bambang Bremani. Para danawa sami krura nedya minggah ing kahyangan, ing ngriku sasampuning samekta lajeng ngetog baris, dumugi njawining kukuwu katingal Bambang Bremani. Lajeng tempuh prang. Para wadya diyu sami sirna dening Bambang Bremani, ditya kang alit-alit lumajeng mantuk.
  1. Madeg sang hyang Wisnu, sang hyang Brama, sang hyang Narada, dhatengipun Bambang Bremani. Lajeng atur priksa sirnaning mengsah, sadaya sami pejah. Bambang Bremani lajeng kadhaupaken kaliyan Sriunon, sang hyang Brama lajeng pamit kondur, ingkang putra panganten kabekta.
  1. Madeg ing Gilingwesi, Bambang Bremana. Rawuhira sang hyang Brama tuwin kang rayi Bremani lawan garwa Dewi Sriunon, Bambang Bremana kaparingan pariksa, tuwin Bremani nyuwun ngabekti lawan kang garwa, raden Bremana katingal melik dhateng garwanipun kang rayi. mila boten dangu kang rayi lajeng pamit kondur. Sapengkeripun kang rayi, Bambang Bremana kasmaran maring garwanipun kang rayi.
  1. Madeg ing Mendhanggili, prabu Kalayuwana, punggawa Kaladaru, dhatengipun danawa alit, kang kaplajeng saking ngepung kahyangan, angaturi pariksa, bilih patih Kalapulagra saprikancanipunkang sami pacak baris, sirna dening srayaning hyang Wisnu, nama Bambang Bremani. Sang prabu Kalayuwana langkung duka yayah sinipi, lajeng angundhangi para wadya danawa. Sampuning siyaga, lajeng bidhal nedya anggepuk dhateng kahyangan Untarasagara.
  1. Madeg ing kahyangan Untarasagara. Sang hyang Wisnu, sang hyang Brama. Ginem, wus sawatara dangu, kang putra Bambang Bremani tuwin kang garwa boten sowan, kawarti sampun nggarbini. Boten dangu dhatengipun Bambang Bremani lawan kang garwa Dewi Sriunon, sampun ngemban putra, kasuwunaken nama, lajeng kaparingan nama dening sang hyang Wisnu, jabang-bayi kanamakaken Bambang Parikenan, Bambang Bremani lajeng ngaturaken kang garwa, sampun boten saged momong, nanging nyuwun supados kadhaupaken angsal kang raka Bambang Bremana kemawon, Bambang Bremani pamit mantuk, garwa putra tinilar. Sang hyang Wisnu matur kang raka sang hyang Brama, supados nimbali raden Bremana. Sang hyang Brama gya pangkat.
  1. Madeg Bambang Bremana lawan embanipun nama Bramaneka. Rawuhipun kang rama sang hyang Brama lajeng adhadhawuh, Bremana katimbalan kang paman sang hyang Wisnu. Lajeng pangkat, dumugi ing ngarsanira sang hyang Wisnu, tinantun krama angsal tilasipun kang rayi, Bambang Bremana nampeni. Kasaru gegering njawi, mengsah saking Mendhanggili. Para jawata sami medal ing njawi. Bambang Bremana prang lawan ditya raja Kalayuwana. Ditya raja Kalayuwana kasor, pejah jinemparing, wadyanira sami bibar.
  1. Madeg sang hyang Wisnu, sang hyang Brama, dhatengipun kang mentas ungguling yuda. Kalempakan bojana andrawina Tanceb kayon.
  1. LAMPAHAN MANUMAYASA RABI
  1. Jejer prabu Basumurti, nata ing Wiratha, anuju miyos aneng sitinggil binatarata, ingkang mungging ngarsa, ingkang rayi raden Basukesthi, patih Jatikandha, para punggawa, arya Panurta, arya Walakas, ginem, srinata dahat kaweken driya mireng pawartos, bilih ingkang putra pulunan nama resi Manumayasa ing wukir Saptaarga araraton, kathah para nata ing mancapraja ingkang sami puruhita. Kawarti badhe handaga karaton Wiratha, nedya madeg ratu piyambak, raden Basukesthi langkung anggenira anduparakaken wartos makaten wau, anaging srinata adreng angyektosaken, lajeng dhawuh dhateng patih Jatikandha, kadhawuhan handuta punggawa salah satunggal dhateng prabu Karumba, nata yaksa ing Pringgadani, supados animbalana resi Manumayasa. Lajeng bibaran.
  1. Madeg ing kadhaton, prameswari nata Dewi Jatiswara, pinarak ing prabasuyasa pananggap ler wetan, angentosi kondurira srinata, ngiras ningali ajaring badhaya srimpi, boten antawis dangu srinata kondur ngadhaton, prameswari amethukaken, lajeng lenggah satata. Ginem, kawontenanipun ing pancaniti, lajeng tindak ing pambojanan.
  1. Madeg paseban njawi, raden Basukesthi, patih Jatikandha, arya Panurta, arya Walakas, rembag, siyaga dadamel, arya Panurta kapatah lumampah dhateng Pringgadani, andhawuhaken karsaning srinata wau dhumateng prabu Karumba ing Pringgadani, sasampuning samekta, lajeng bidhal sapanekarira. Kapalan.
  1. Madeg prabu Karumba, nata raseksa ing Pringgadani, den adhep ing patih Kalamangkara, punggawa Kalapulawa, Kalapudhendha. Dereng dangu dhatengipun caraka ing Wiratha arya Panurta. Sasampuning bege-binage, lajeng andhawuhaken timbalanira srinata prabu Basumurti, bilih prabu Karumba dinuta animbali resi Manumayasa, ing Saptaarga, ingkang kawarti araraton, menawi boten purun sowan dhateng Wiratha, kerid lampahira prabu Karumba, kadhawuhan masesa. Aturipun prabu Karumba sandika. Arya Panurta lajeng pamit wangsul dhateng Wiratha, prabu Karumba adhawuh dhateng patih kalamangkara, ambidhalaken punggawa kakalih, kautus dhateng. Saptaarga, andhawuhaken dhawuhing nata Wiratha. Lajeng bibaran. 
  1. Madeg paseban njawi, patih Kalamangkara, punggawa: Kalapulawa, Kalapudhendha. Rembag, siyaga dadameling ayuda badhe dhateng wukir Saptaarga. Sasampuning samapta lajeng bidhal. Togog, Sarahita dados pangajenging lampah.
  1. Madeg resi Manumayasa, miyos ing pacrabakan, den adhep janggan Semarasanta (Semar), puthut Supalawa, Nalagareng, Petruk, para cantrik janggan andher sami sumiwi. Ginem, sang resi langkung sungkawa, dene kawartosaken andaga karaton Wiratha, ambalela ing ratu. Mangka boten pisanpisan yen anyipta rnakaten, dereng dangu dhatengira cantrik, atur pariksa wonten dadamel ageng dhateng, katingal barising danawa arsa minggah ing pratapan, rame mireng swaraning tangisipun tiyang padhusunan ingkang karisak, puthut Supalawa lawan janggan Semarasanta sigra tumurun, anglempakaken puthut janggan manguyu cantrik, sami anjagi pratapan. Sareng dumugi ing njawi kasompok inggahing wadya danawa, lajeng tempuk prang. Tanpa wara-wara, puthut Supalawa lawan janggan Semarasanta ngamuk punggung manengah, kathah danawa ingkang kanin, lajeng bibar lumajeng sar-saran, puthut Supalawa, jangga Semarasanta sakancanipun wangsul ngarsaning sang pandhita Manumayasa. Sadaya wau sampun handugi, punika utusanipun sang nata ing Wiratha, lajeng bibaran, amung sang resi Manumayasa nedya angenggarenggar panggalih, mijil saking padhepokan, sadaya boten kalilan andherek, amung janggan Semaransanta, Nalagareng, Petruk, lampahira kadya binuncang ing dewa. Dumugi wana tarataban, kapapag wadya ditya saking Pringgadani, ingkang kaplajeng saking pratapan, para wadya ditya angraos angsal kaladasa, katingal bingah, resi Manumayasa lumampah pribadi, lajeng sami marepeki, sulayaning rembag dadya prang. Punggawa ditya sami pejah jinemparing. Danawa ingkang alit-alit sami ngungsi gesang. Resi Manumayasa lajeng kondur, parepat tiga tan kantun, sadumugining pacrabakan lajeng amesu semedi aneng pamelengan.
  1. Madeg ing kahyangan Jonggringsalaka, sang hyang Girinata, nuju miyos aneng bale Martyukundha. Ingkang sumiwi: sang hyang Narada, sang hyang Brama, sang hyang Bayu. Sang hyang Girinata andhawuhaken, sang hyang Narada kinen tumurun dhateng arcapadha, amaringi jodho dhatang resi Manumayasa, tuwin janggan Semarasanta, widadari kakalih, 1 nama Dewi Retnawati, punika dadya jodhonipun resi Manumayasa, 2 Dewi Kanastri dadya jodhonipun janggan Semarasanta. Ananging sarehning resi Manumayasa dahat lenggana, dados kedah kadhawuhan mawi warana. Widadari kakalih tinimbalan, lajeng binusanan dening sang hyang Narada sami warni sirna, lajeng kabekta dhateng arcapada dening hyang Narada. Sang hyang Girinata lajeng jengkar.
  1. Madeg ing wukir Retawu, resi Manumayasa kakaring dhateng petalunan, ingkang umiring amung janggan Semarasanta. Janggan Semaransanta rumiyin nuweni tetanemanipun ingkang saweg nedheng. Ing ngriku kasarengan rawuhipun sang hyang Narada, angeculaken sima kakalih. Janggan Semarasanta kapapag sima kakalih, badanipun gemeter bokong ngoplok, lajeng wangsul malajeng. Sima kakalih sami ambujeng. Sareng dumugi ngarsanipun resi Manumayasa, janggan Semarasanta ulat pucat sarwi karenggosan, karinget gemrobyos, matur nyuwun tulung kabujeng ing sima. Resi Manumayasa lajeng mapag sima kakalih wau. Sareng kapanggih sima lajeng dipun jamparing pejah sadaya, kuwandanipun sirna. Boten watawis dangu, wonten pawestri kakalih, katingal lumampah wonten ngajengipun resi Manumayasa. Ing ngriku sang resi langkung kasmaran, lajeng ngetutaken sapurugipun, sang resi kaget rawuhipun sang hyang Narada, lajeng sami lenggah satata. Puwestri kakalih sami lenggah wonten wurinipun sang hyang Narada, inggih punika Dewi Retnawati kaliyan Dewi Kanastri. Sang hyang Narada andhawuhaken dhawuhipun sang hyang Girinata, Dewi Retnawati sampun pinasthi kapareng dados jodhonipun resi Manumayasa, Dewi Kanastri dados jodhonipun janggan Semaransanta. Lajeng kadhawuhan ambekta mantuk, sang hyang Narada kondur makahyangan.
  1. Madeg prabu Karumba, nata danawa ing Pringgadani, miyos siniwi, ingadhep patih Kalamangkara, para punggawa sami mungging ngarsa. Ginem, sang nata angarsa-arsa para punggawa ingkang dinuta angrabaseng wukir Saptaarga. Boten dangu kesaru dhatengipun kyai Togog, Sarahita, atur pariksa bilih para punggawa ingkang sami dinuta dhateng Saptaarga sami pejah dening resi Manumayasa. Srinata langkung duka lajeng dhawuh dhumateng patih kinen sawega dadameling yuda. Sasampuning samapta, sang nata lajeng bidhal dalah para punggawa sawadya balanira.
  1. Madeg resi Manumayasa sakaliyan ingkang garwa Dewi Retnawati saweg papasihan, janggan Semarasanta marek ing ngarsa lawan garwanira Dewi Kanastri. Dewi Retnawati kapengin angubengi wukir Saptaarga, lajeng tindak lawan resi Manumayasa. Janggan Semarasanta lawan garwanira lajeng handherek, sareng dumugi imbanging redi ingkang sisih kilen, ing ngriku taksih wana sakalangkung wingit, wonten gandarwa tapa brata, nama Satrutapa, anengga wohing Sumarwana, amargi gandarwa wau tampi wangsiting jawata, bilih woh Sumarwana sampun mateng kapurih nedha bojonipun, awit gandarwa Satrutapa wau dereng gadhah suta, daliat kepengin darbe suta. Panuju gandarwa Satrutapa kesah nuweni bojonipun, resi Manumayasa lawan kang garwa dhateng, Dewi Retnawati sumerep woh Sumarwana sakalangkung kepengin nedha, lajeng pinethik katedha, raosipun langkung miraos satelasing nedha woh Sumarwana, gandarwa Satrutapa dhateng, sang resi lawan kang garwa langkung kaget, punapa dene janggan Semarasanta lawan bojonipun, sami gumeter sadaya. Gandarwa ngucap. “Sapa kang wanuh wani ngundhuh woh-wohan ingkang sun sengker iki mau?”. Sang resi Manumayasangaken bilih ingkang methik, lajeng kaparingaken ingkang garwa, awit dahat kepenginira. Gandarwa matur.”Yen makaten kalilana sajiwa raga. Ingkang garwa kaeliha nama. Dewi Sumarwana. Dene ing tembe bilih sampun anggarbini, mangka mijil jalu, kanamakna Sakutrem.”, awit gandarwa wau nama Satrutapa, sang resi hanyagahi. Gandarwa musna manjing guwagarbanira Dewi Sumarwana,lajeng anggarbini. Sadaya lajeng sami wangsul dhateng ing pratapan.
  1. Madeg puthut Supalawa, para puthut manguyu jajanggan rembag tatanen, tuwin ngajeng-ajeng rawuhing sang resi Manumayasa. Boten watawis dangu resi Manumayasa rawuh, lajeng lenggah satata, tuwin nyariyosaken lalampahanipun nalika kang garwa dhahar wohing Sumarwana. Dereng dangu ngandikan lawan puthut Supalawa, kasaru gegering njawi, dhatenging para danawa ing Pringgadani. Puthut Supalawa, janggan Semarasanta sakancanipun mijil ing njawi. Resi Manumayasa ugi mamanuki lampahing para jajanggan, sareng dumugi ing njawi sampun prang rame. Prabu Karumba mangsah resi Manumayasa. Sang prabu Karumba pejah jinemparing. Sang hyang Bayu tumurun nalabung. Prang sampak, para ditya Pringgadani kathah ingkang pejah. Kang kantun lajeng ngungsi gesang. Sang hyang Bayu kondur makahyangan, resi Manumayasa lenggah satata mungging pecrabakan tuwin puthut Supalawa, janggan Semarasanta, sadaya manguyu jajanggan kang sami ungguling yuda.

           Lajeng sami bojana andrawina. 

  1. LAMPAHAN BAMBANG KALINGGA (SAKUTREM)
  1. Jejer ing Suralaya, sang hyang Girinata, miyos ing bale Martyakundha. Ingkang mungging ngarsa: sang hyang Narada, sang hyang Endra, sang hyang Brama. Ingkang rinembag, ing Suralaya badhe kancikan mengsah saking nagari Nusantara, prabu Kalimantara badhe nyuwun Dewi Supraba. Sang hyang Girinata adhawuh, para jawata kinen pacak baris dhateng repat kapanasan, amangsulna para ditya ingkang sami badhe minggah ing kahyangan, aturipun sandika. Para jawata sami medal ing njawi.
  1. Madeg ing pangurakan, para jawata: sang hyang Narada, sang hyang Brama, sang hyang Endra, sang hyang Srita, para dewa pepek, ginem sami siyaga dadameling ayuda. Sasampaning samekta, lajeng bidhal dhateng repat kapanasan.
  1. Madeg para caraka saking nagari Nusantara, kaleres ari nata prabu Kalimantara, nama raden Hardhadhedhali, tuwin para punggawa ditya, Kalakukila, Kalagarudha, Kalawirada. Sami rembag badhe ngupados margi minggah ing repat kapanasan, sasampuning samapta, bidhai, lampahipun dumagi tengahing margi, kapapagaken barising para dewata. Lajeng prang. Para jawiata kaseser . Lajeng tutup saketheng. Para danawa ngepung ing Suralaya.
  1. Madeg sang hyang Girinata, dhatengipun sang hyang Narada, kaliyan para jawata. Atur pariksa tiwasing karya, para prajurit dewa sami kaseser. Sang hyang Girinata dhawuh dhateng sang hyang Narada, kisen ngupados sraya dhateng marcapada, ing wukir Saptaarga, sutanira resi Manumayasa, nama Bambang Kalingga (Sakutrem), sang hyang Narada lajeng pangkat.
  1. Madeg Bambang Kalingga wonten madyaning wana Rawisrangga, khedherekaken parepatira titiga: kyai lurah Semar,Nalagareng, Petruk, ambang Kalingga wau nedya lalana nglangut tanpa sedya, amargi katundhung ingkang rama rehne kapurihkrama dahat lenggana. Boten watawis dangu, kasaru dhatengipun hyang Narada, andhawuhaken timbalanipun sang hyang Girinata. Bambang Sakutrem katimbalan dhateng Suralaya, pininta saraya. Aturipun sandika lajeng pangkat kairid hyang Narada.
  1. Madeg para prajurit danawa, kang sami baris wonten ing repat kapanasan, saweg sami eca gigineman, mireng sasumbar. Para jawata medali, ambekta sraya. Ing ngriku lajeng prang. Para rota-danawa sami pejah. Ingkang alit sami mantuk dhateng prajanipun, kyai lurah Togog Sarahita, mantuk nedya matur ing ratunipun.
  1. Madeg prabu Kalimantara, ing nagari Nusantara, ingadep patihira nama Soratama. Ginem denira utusan ingkang rayi raden Hardhadhedhali, kanthi punggawa ditya dhateng ing Suralaya, dereng wonten wangsul, boten dangu kasaru dhatengipun raden Hardhadhedhali, dinangu matur, bilih para prajurit danawa sami sirna dening srayaning dewa, nama Bambang Sakutrem, inggih Bambang Kalingga. Srinata langkung duka, dhawuh dhateng rekyana patih, kinen ngundhangi wadya bala samekta ing ayuda, sasampunira sami siyaga, lajeng bidhal dhateng Suralaya.
  1. Madeg para jawata, ingkang sami baris ing repat kapanasan, tuwin Bambang Kalingga, dalah parepatira titiga. Kasaru dhatengipun dewa pacalang, atur pariksa dhatenging mengsang. Para jawata sami mijil ing njawi. Bambang Sakutrem dados pangajeng .Lajeng tempuk prang rame, sami ngedalaken pangabaran, Bambang Sakutrem kabuncang ing maruta kontal dalah parepatira titiga. Para jawata sami mundur. Prabu Kalimantara masanggrahan.
  1. Madeg resi Manumayasa, ing wukir Saptaarga, sang resi pinuju miyos ing pacrabakan, den adhep kakasihira warni Bambang Sakutrem rewanda pethak, nama puthut Supalawa. Ginem, ngraosi kang putra Bambang Sakutrem, dene dangu anggenira kesah. Sang resi ngajak madosi. Boten dangu kasaru Bambang Sakutrem cumlorot dhawah saking gagana, lajeng tinampen puthut Supalawa sinelehaken ing ngarsanipun ingkang rama. Parepat tiga ugi dhawah, tinampen Supalawa. Sasampuning lenggah, matur purwa madya wasananing lampahan, denya pininta sraya dewa, kasor yudanira kaliyan prabu Kalimantara. Resi Manumayasa, lajeng ngajak kang putra wangsul dhateng repat kapanasan, wasana lajeng bidhal. Puthut Supalawa lawan parepat tiga datan kantun. Madeg kaga garudha Banarata, lagya martapa wonten mega malang, nyuwun dadya. ratuning peksi. Sang hyang Narada rawuh, dinuta sang hyang Girinata. Garuda pininta sraya anyirnakaken prabu Kalimantara. Garudha matur sandika, ananging penuwunipun dadya kagaraja kaparengna. Sang Garuda Banarata hyang Narada marengaken, lajeng pangkat dhateng repat kapanasan.
  1. Madeg prabu Kalimantara, tuwin para rayi dalah wadya bala sadaya. Eca imbal wacana, kasaru dhatenging resi Manumayasa, tuwin kang putra Bambang Kalingga asusumbar. Prabu Kalimantara lajeng mapag prang, rame. Sigeg, sang hyang Narada dinuta maringaken dadamel jemparing nama Pasopati dhateng resi Manumayasa, saking sang hyang Guru. Resi Manumayasa mangsah anjemparing prabu Kalimantara, babar dadya serat Kalimasada. Raden Hardhadhedhali babar dadya jemparing, patih Sarotama babar dadya jemparing. Ing ngriku garudha raja Banarata namber resi Manumayasa, kininten mengsahipun para jawata, sinarengan jinemparing. Garudha Banarata kenging jajanira gumebrug tibeng siti, babar dadya songsong Tunggulnaga. Balanipun prabu Kalimantara sami soroh amuk, kapapagaken puthut Supalawa, kabiyantu bathara Bayu. Para wadya ing Nusantara dhadhal larut tan wonten kantun, ingkang sami ungguling yuda lajeng sami kairid sang hyang Narada dhateng ing Jonggringsalaka.
  1. Madeg sang hyang Girinata, miyos siniwi para jawata. Sang Hyang Narada dhateng, ngaturaken ingkang sami ungguling yuda: resi Manumayasa, Bambang Sakutrem (Kalingga) tuwin kukubanipun warni serat Kalimasada, jemparing Hardhadhedhali, Sarotama, songsong Tunggulnaga, miwah purwa madya wasananing lalampahan katur sadaya. Jemparing Sarotama, Hardhadhedhali kaparingaken Bambang Kalingga, sanesipun ing tembe badhe kaganjaraken dhateng turunipun, resi Manumayasa tuwin Bambang Kalingga matur nuwun.

            Lajeng bojana andrawina.

  1. LAMPAHAN JAMURDIPA (SAKUTREM RABI)
  1. Jejer prabu Basumurti ing Wiratha miyos sinewa ing para wadya punggawa. Ingkang munggeng ngarsa patih Jatidhendha, resi Wakiswara, punggawa arya Kandhaka. Ingkang ginu’nem, “Sang prabu arsa cangkrama angirup satowana.” Rekyana patih Jatidhendha dhinawuhan sawega sawadyabala. Srinata lajeng kondur ngadhaton.
  1. Madeg ing kadhaton. Prameswari nata Dewi Jatiswara mapag kondurira srinata, boten dangu kasaru srinata kondur lajeng lenggah satata, imbal wacana kawontenanipun mancaniti. Lajeng tindak dhateng pambojanan, sabibaring bojana srinata lajeng ngrasuk busana.
  1. Madeg ing paseban njawi. Panggurak ari nata raden arya Basukesthi, patih Jatikandha, punggawa arya Basunandha, bramana Kestu. Rembag ingkang pinatah ing karya tuwin kang tengga praja. Sasampuning samekta wahana, srinata miyos lajeng nitih dipangga, raden arya Basukesthi tuwin patih Jatikandha anggrubyug wurining nata, punggawa sawatawis bidhal kapalan.
  1. Madeg ing nagari Duryapura. Prabu Dwapara miyos siniweng wadya, ingkang mungging ngarsa patih Swabara, Prabu Dwapara dhawuh arsa sowan tuwi dhateng nagari Wiratha, awit nata Wiratha punika taksih kaleres nak ndherek saking ingkang ibu Dewi Kaniraras.
    Sasampuning siyaga lajeng bidhal, lampahira wadya Duryapura kapapag wadya Wiratha, sinengguh mengsah lajeng dados prang. Wasana wadya Duryapura katilapan, wadya lumajeng sapurug-purug.
  1. Madeg madyaning wana ing Silu. Wonten raksasa nama Aswana tuwin bojonipun nama raseksi Aswati sami kaluwen dangu boten angsal mangsan. Raseksa raseksi wau lajeng nyenyegat ing margi.
  1. Madeg ing pasanggrahan madyaning wana Mandeki. Sang prabu Basumurti kang mungging bale wawangunan hanggung suka andrawina, anggenipun numpu satowana tuwin misaya peksi angsal kathah. Lajeng dhawuh dhateng jurugedhong kinen adadana arta dhateng tiyang padhasunan. Kathah tiyang ningali samya suka angambil dadana arta wau. Nulya wonten tiyang satunggal anengga kajeng Sriputa, kanan keringipun kasebaran arta boten purun mendhet. Srinata utusan ingkang rayi raden arya Basukesthi kinen andangu punapa karananira. Tiyang ingkang tengga wit Sriputa wau tan arsa ngambil arta. Raden Basukesthi pangkat pinanggih cantrik Janaloka (tiyang ingkang ngadhep kajeng Sriputa wau) sareng dinangu. aturira mila tan arsa ngambil arta, saking ajrih singit lawan wingit, singit punika dumanang kajeng Sriputa, wingit punika dumuluing srinarendra. Raden Basukesthi lajeng mangsah hangethok kajeng Sriputa, wonten cahya cumlorot manjing dhateng raden Basukesthi, cantrik Janaloka lajeng ngabekti dluimateng raden Basukesthi, sarya matur singit wingit sampun dados satunggal wonten raden Basukesthi. Dados paduka ing tembe jumeneng nata. Raden Basukesthi ngandika, “Ing tembe lamun ingsun madeg nata sira sebaa.” Cantrik Janaloka lajeng pinurih kesah. Raden Basukesthi wangsul ngarsanira srinata prabu Basumurti, matur lamun tiyang ingkang tengga kajeng Sriputa wau sampun pinurih kesah, lajeng sampun tinegor. Lajeng bibaran.
  1. Madeg ing Sapta arga, resi Manumayasa, den adhep kang putra Bambang Sakutrem, lawan puthut Supalawa (kethek pethak), parepat tiga: Semar, Nalagareng, Petruk. Bambang Sakutrem tinari rabi lenggana. Saking dahat ajrihing rama, Bambang Sakutrem kesah ngenggar-enggar panggalih, dumugi ing wana tarataban kapapag ditya Haswana. Bambang Sakutrem tinubruk arsa minangsa. Dadya prang. Ditya Haswana pejah sinuduk, ditya estri sumerep nedya bela ing laki, prang lawan Bambang Sakutrem, ditya Raswati pejah jinemparing. Bambang Sakutrem rinapu parepat tiga ingajak wangsul dhateng pratapan, lajeng wangsul, wonten ing margi kapapag sarpa Prabu Basukesthi. ageng, lajeng jinamparing dening Bambang Sakutrem, sarpa naga sirna, nulya katingal widadari kakalih. Bambang Sakutrem kasmaran, putri kakalih pinurungan musna, Bambang Sakutrem langkung kasmaranira, lajeng lumampah kondur.
  1. Madeg raden arya Basukesthi, lawan patih Jatikandha. Kacarita srinata Basurata sampun kondur saking cangkrama, lajeng gerah. Dereng dangu raden Basukesthi denira imbal wacana kalawan patih Jatikandha, kasaru dhatenging parekan kautus ingkang mbak ayu sang prameswari Dewi Jatiswara, animbali raden Basukesthi sarta kaparingan parikan, lamun kang raka sri Basurata seda. Raden Basukesthi enggal malebet kadhaton, sadumugining kadhaton, pariksa bilih kang raka sri Basurata seda. Tan antara, susawa musna sareng swara jumegur, ing ngrika kadhaton kapuyengan, para wanita sami nangis, raden Basukesthi lajeng mijil ing njawi, awawarta mring patih miwah sagung para punggawa, bab sedanira srinaranata. Raden Basukesthi lajeng jinunjung dening patih tuwin para pandhita lan para punggawa. Raden Basukesthi kajumenengaken nata jujuluk prabu Basukesthi. Tan antara praptaning cantrik Janaloka, sowan mangarsa. Lajeng kadhawuhaken sang prabu, Janaloka kawisudha dadya punggawa,nama arya Janaloka. Sri Basukesthi lajeng dhadhawuh dhumathengpara empu, kinen adamel tatabuhaning ngayuda, awarni: gurnang, thong-thong grit, gubar, puk-sur, teteg, kendhang, bendhe, gong, beri. Patih Jatikandha nulya atur uninga, lamun resi Brahmanadewa lawan resi Brahmakestu sami muksa, ing mangke wonten kaelokan, wismanipun resi Brahmakestu, kathukulan Jamurdipa, mawa cahya kadya sundhul ingakasa. Sri Basukesthi tindak nedya mariksani, kadherekaken patih saha wadya. Sereng dumugi panggenanipunJamurdipa, lajeng pinarpeken srinata. Jamurdipa sirna, mung katingal cahya sasada lanang, lajeng manjing mastakanira srinata prabu Basukesthi. Ing ngriku rumaos padhang trawangan ing panggalih, waskitha ing saniskara. Sri Basukesthi lajeng kondur.
  1. Madeg ing Saptaarga, resi Manumayasa, kaadhep puthut Supalawa, tuwin bagawan Dwapara, dhatengipun kang putra raden Sakutrem dalah parepat tiga, Bambang Sakutrem lajeng mangarsa. Kacarita sarwi ngingidung rerepi. Kang rama anggarjiteng wardaya, lamun kang putra kasmaran dhateng pawestri. Kasaru rawuhipun resi Kanekaputra, andhawuhaken timbalanipun sang hyang Girinata. Nalika yoganira si Sakutrem munah sarpa iku babar dadi widadari, aran Dewi Nilawati. Samengko dhedhepok ana wukir Pujangkara. Akarya pasanggiri, duwe kendhi Pratola, sapa kang kuwat ngombe banyune kendhi Pratola mau dadi jodhone Dewi Nilawati. Ananging wus pinasthi si Sakutrem dadi jodhone Dewi Nilawati. Marma yoganira si Sakutrem, konen lumebu sayembara marang wukir Pujangkara. Sasampuning ngendika, sang hyang Kanekaputra, lajeng kondur makahyangan, bagawan Dwapara lajeng kesah ngrumiyini tanpa pamit, Bambang Sakutrem dhinawuhan ingkang rama dhumateng wukir Pujangkara, nglebeti sayembara.
  1. Lajeng pangkat kanthi parepat tiga. Madeg madyaning wana, prabu Drumanasa, nata ing Madhendha, lawan patih Dhendhaka. Ingadhep para punggawa. Sri Drumanasa nedya ngluru dhateng ingkang uwa prabu Dwapara. Tan dangu rawuhira bagawan Dwapara, lajeng sajarwa lalampahanira sadaya sarta nedya ngedegi sayembara dhateng wukir Pujangkara. Sri Drumanasa nayogyani, lajeng andherek lampahira ingkang uwa, bagawan Dwapara, lajeng bidhal.
  1. Madeg Dewi Nilawati ing wukir Pujangkara, sarwi ngadhep kendhi Pratola, dhatenging bagawan Dwapara lawan prabu Drumanasa tuwin patih Dhendhaka sapunggawanipun, kasaru dhatengipun Bambang Sakutrem, lajeng wiwit sami ngunjuk tirta ing kendhi Pratola. Bagawan Dwapara ngunjuk rumiyin tan kuwawa panasing toya, handhawah, lajeng prabu Drumanasa gantos-gantos sami tan kuwawi bentering toya, merang lajeng kesah. Bambang Sakutrem lajeng ngunjuk tirta kendhi Pratola kuwawi, tirta kaunjuk telas, sang dewi tan lengguna, sigra binekta kondur dhateng pratapan wukir Retawu.
  1. Madeg bagawan Dwapara, prabu Drumanasa lawan patihira nama patih Dhendhaka sapunggawa sadaya. Rembag, Dewi Nilawati sampun kabekta Bambang Sakutrem dhumateng Saptaarga, mila kersanipun sami nututi ngrabaseng Saptaarga, ngrebut Dewi Nilawati. Sasampuning samekta lajeng bidhal sawadya.
  1. Madeg ing wukir Saptaarga, resi Manumayasa, ingadhep puthut Supalawa. Dhatengipun kang putra Bambang Sakutrem lan Dewi Nilawati, tuwin parepat tiga ingkang umiring. Sang resi saklangkung suka, kasaru dhatenging mengsah saking Madhendha. Puthut Supalawa medal ing njawi tuwin para wasi jajanggan sadaya. Lajeng prang sampak, bathara Bayu tumurun, angembul prang. Mengsah Madhendha larut kabuncang ing angin, sabibaring prang, sang hyang Bayu wangsul makahyangan, resi Manumayasa, Bambang Sakutrem, puthut Supalawa dalah parepat tiga sami bojana andrawina. 

——@@@——

 

2 Comments

  1. Tri Buwono

    Sepada,
    Rahayu 🌻🐝 karya jaya
    Padasa.

  2. ijin menyimak pak.. salam kenal ya dari pemula

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: